Menghadapi masa depan dengan keyakinan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23:4

Pernahkah Anda merasa takut? Adalah normal jika orang merasa takut ketika menghadapi situasi tertentu. Rasa takut adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia agar manusia menyadari adanya bahaya dan mengerti akan batas-batas kemampuannya. Orang yang tidak mengenal takut mempunyai risiko untuk tidak menyadari adanya situasi yang mengancam jiwanya – itu tentu saja bisa membawa bahaya besar.

Dalam bidang medis, situasi yang mengancam jiwa adalah situasi yang memiliki kemungkinan besar menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Situasi ini memerlukan perhatian medis segera dan dapat mencakup kondisi seperti pendarahan berat, kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, atau cedera serius. Walaupun demikian, seseorang yang selalu memikirkan adanya bahaya dan risiko yang mengancan kesehatannya tentu akan hidup dalam tekanan jiwa karena rasa tahut yang terus menerus (phobia).

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendatangkan situasi yang bisa mengancam jiwa kita. Hidup memang tidak pernah tanpa tantangan, tetapi keberanian untuk menghadapi tantangan hidup sebenarnya baik untuk kita. Jika kita selalu berusaha menghindari ancaman dan tantangan, mungkin kita harus mengurung diri dalam kandang yang steril. Betapa membosankan dan terbatasnya hidup ini jika kita tidak pernah mau menghadapi tantangan!

Ada orang-orang yang menyebut rasa takut dan kuatir sebagai berkat bagi orang beriman. Saya setuju. Rasa takut kepada Tuhan hanya dimiliki oleh orang percaya. Rasa takut atas hukuman Tuhan hanya dimiliki oleh mereka yang sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu dan mahaadil. Dengan demikian, setiap orang percaya tentunya berusaha untuk menaati firman Tuhan. Walaupun demikian, setiap orang yang takut akan Tuhan tidak dijanjikan untuk mengalami hidup tanpa bahaya. Justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita akan dimusuhi oleh orang dunia dan bisa mengalami banyak tantangan kehidupan.

Beberapa ayat Alkitab membahas konsep ancaman untuk orang percaya. Salah satu yang menonjol adalah Matius 5:11, yang menyatakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”. Selain itu, Matius 10:22 mengatakan, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”. Ayat-ayat ini, bersama dengan ayat-ayat lainnya, menunjukkan bahwa penganiayaan dapat menjadi pengalaman umum bagi mereka yang mengikuti Kristus atau menjalani kehidupan yang benar.

Adanya situasi yang mencengkam bisa menjadi sarana penyempurnaan yang berkelanjutan dalam wadah pengudusan Tuhan, sehingga orang Kristen dapat merasakan bahwa ia dijadikan alat yang lebih baik untuk tujuan-Nya. Selain itu, melalui rasa sakit dan penderitaan, seseorang bisa tumbuh dalam karunia rohani tertentu. Misalnya, orang bisa dikaruniai dengan empati yang lebih besar terhadap orang lain serta kemampuan untuk benar-benar mendengarkan hati seseorang yang bermasalah. Berkat lain dari rasa takut adalah bahwa pengalaman seseorang dapat menjadi mercusuar harapan bagi orang lain yang perlu melakukan perjalanan berbahaya melalui “lembah kekelaman” seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas.

Dengan 6 ayat, Mazmur 23 termasuk dalam daftar mazmur yang sedikit jumlah ayatnya. Mazmur terpendek dalam Alkitab adalah Mazmur 117, yang hanya terdiri dari dua ayat. Mazmur 117 juga merupakan bab terpendek dalam seluruh Alkitab. Mazmur 23, yang juga cukup pendek, dikenal karena pesannya yang sederhana dan universal tentang kepercayaan kepada Tuhan. Ayat 4 dari Mazmur 23 ini sering dibacakan ketika keadaan yang kurang baik terjadi.

Mazmur 23:4–6 berubah dari suasana dari ketenangan yang digambarkan dalam ayat 1–3. Bagian ini muram, tetapi mengandung kepastian bahwa Tuhan melindungi domba-domba-Nya dan memenuhi hari-hari mereka dengan berkat-Nya. Bagian ini berbeda dari tiga ayat pertama karena berbicara langsung kepada Tuhan, gembala Daud. Dalam ayat 1–3 Daud berbicara tentang Tuhan, tetapi dalam ayat 4–6 ia berbicara kepada Tuhan.

Daud bersyukur atas perlindungan dan bimbingan Tuhan. Domba-domba yang dijaga oleh seorang gembala yang terampil dituntun ke makanan dan air, serta dilindungi dari bahaya. Dengan cara yang sama, Daud memuji Tuhan karena memberinya kedamaian. Pengetahuan tentang perlindungan dan pemeliharaan Tuhan merupakan penghiburan yang luar biasa. Mazmur ini menggabungkan tema-tema tentang berkat, pembelaan, kepastian, dan pemeliharaan dari Tuhan.

Daud dapat berjalan melewati jurang yang gelap, bahkan mungkin kematian, tanpa rasa takut, karena Tuhan berjalan bersamanya. Daud menjelaskan bahwa ia tidak takut karena “Engkau besertaku.” Menarik untuk mengamati bahwa “dalam lembah kekelaman” mendekatkan Daud kepada Tuhan. Ia memanggil Tuhan dengan sebutan “Engkau,” sedangkan di tempat-tempat yang damai ia memanggil Tuhan dengan sebutan “ia.”

Seorang gembala pada zaman Alkitab membawa gada dan tongkat untuk melindungi domba-dombanya. Gada adalah tongkat yang pendek, tebal, dan berat, mirip dengan apa yang orang modern sebut sebagai tongkat pemukul, seperti yang dipakai polisi. Gada ini digantung pada ikat pinggang gembala. Tongkat adalah galah yang panjang dan ringan dengan ujung yang melengkung, yang digunakan gembala untuk memindahkan, menghitung, dan memeriksa domba-dombanya di malam hari ketika mereka kembali ke kandang.

Daud percaya bahwa Tuhan akan melindunginya, sama seperti seorang gembala melindungi domba-dombanya dari binatang yang menyerang. Yesus, Sang Gembala yang Baik, selalu menyertai orang percaya (Yohanes 10:11, 14). Ia berjanji akan selalu menyertai kita (Matius 28:20). Ia menyertai kita saat kita berjalan “dalam lembah kematian” sama pastinya seperti Ia menyertai kita “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2). Yesus berkata, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28).

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup sebagai orang Kristen bukanlah berarti hidup yang penuh kenyamanan. Sebaliknya, hidup kita penuh dengan tantangan karena kita harus berusaha hidup menurut firman Tuhan. Dunia membenci kita, iblis berusaha menjatuhkan kita. Tetapi, satu hal yang kita tahu, seperti Daud yang mempunyai seorang Gembala yang setia, kita pun memiliki Gembala yang sama. Gembala yang tidak penah berubah. Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia senantiasa menyertai kita dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, adanya rasa takut dan rasa kuatir justru aan membuat kita makin bergantung kepada-Nya.

Kepada Allah pengharapanku
Di darat, laut, di waktu manapun
KepadaNya ‘ku percaya
Bapa di Surga sumber hidupku

Walaupun badai, ombak menderu
Aku berharap pada Allahku
‘Ku tak gentar, kar’na ‘ku tau
Tuhan s’lalu menjaga hidupku

Mengapa aku harus menderita?

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12:9

Hanya sedikit kebohongan yang lebih memikat dan beracun dari klaim bahwa mengikuti Tuhan adalah sarana untuk meraih kesuksesan duniawi (1 Timotius 6:3–5). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa kehidupan setiap manusia di dunia dapat melibatkan kesulitan, bahkan suatu kepastian bagi umat Kristen yang setia (Yohanes 15:19; 2 Korintus 5:2–6). Karena itu, ajaran eksplisit Yesus adalah bahwa orang Kristen harus siap menghadapi kesulitan, sebuah peringatan yang Ia berikan secara khusus untuk mencegah keputusasaan dalam menghadapi masa-masa sulit (Yohanes 16:33). Mereka yang mengajarkan bahwa kekayaan, penyembuhan, kemakmuran, atau keuntungan lainnya sedang menunggu siapa pun dengan iman yang “cukup”, bukan saja tidak alkitabiah, tetapi berpotensial untuk menghancurkan iman yang ada pada diri seseorang. Pengalaman Paulus dalam merupakan salah satu bukti paling kuat dalam Kitab Suci bahwa “kenyamanan adalah tanda iman” dan bentuk-bentuk lain dari teologi kemakmuran adalah palsu.

Ayat-ayat dalam 2 Krintus 12 mencakup pengalaman surgawi Paulus yang luar biasa (2 Korintus 12:1–3). Momen ini memberinya wawasan yang harus dirahasiakan (2 Korintus 12:4). Karena itu, dengan kerendahan hati semaksimal mungkin, Paulus menggambarkan pengalaman yang mencengangkan. Ia diangkat ke ”surga tingkat ketiga” dan menerima wahyu dari Allah yang tidak dapat ia ungkapkan di bumi. Ia menolak untuk menyombongkannya, tetapi menyebutkannya untuk menjelaskan konsekuensi dari pengalaman itu. Konsekuensi yang serupa bisa dialami oleh setiap orang Kristen, untuk mencegah orang Kristen menjadi sombong.

Untuk mencegah Paulus menjadi sombong tentang wawasan ilahi yang diperolehnya, Allah mengirimkan Paulus sebuah “duri dalam daging” yang tidak disebutkan secara spesifik. Alkitab tidak menjelaskan apakah ini suatu penderitaan yang bersifat fisik atau mental. Yang diceritakan kepada kita hanyalah bahwa seorang yang beriman dan berkomitmen kuat bisa saja terserang penyakit atau menderita, yang menyebabkannya berseru kepada Allah berulang kali memohon keringanan (2 Korintus 12:7–8).

Entah bagaimana, Paulus kemudian memahami bahwa jawaban Allah atas permintaannya adalah “tidak”, dan penolakan ini bersifat permanen alias tidak dapat ditawar. Seperti yang ditunjukkan ayat-ayat sebelumnya, Paulus kemudian menyadari tujuan dari penyakit itu adalah untuk mempertahankan kerendahan hati. “Kelemahan” yang terus-menerus dalam kehidupan Paulus ini membantunya untuk tidak menjadi sombong, dan mengerti bahwa apa yang menjadi kehendak Allah tidak dapat dibantah.

Allah menyatakan bahwa kasih karunia-Nya sepenuhnya mampu menyediakan segala sesuatu yang Paulus butuhkan untuk menanggung penderitaan ini. Allah memberi tahu Paulus bahwa kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan Paulus. Kata Yunani untuk “cukup” di sini adalah arkei, yang menyiratkan ketahanan, kekuatan, atau kepuasan. Paulus telah menulis bahwa ia hanya akan bermegah dalam kelemahannya (2 Korintus 12:5), dan sekarang ia menunjukan antusiasmenya. Ia akan bermegah dengan senang hati tentang kelemahannya, termasuk duri dalam daging ini. Seperti itu, sebagai orang Kristen kita tidak perlu malu atau merasa sedih jika kita mengalami sakit atau penderitaan dalam hidup.

Mengapa seseorang seperti Paulus “merayakan” keadaan yang membebani dia selamanya dengan beberapa pergumulan yang menyakitkan? Karena kuasa Kristus menjadi paling jelas dalam situasi di mana orang percaya merasa paling lemah. Kata yang diterjemahkan sebagai “sempurna” di sini adalah teleitai, yang sebagian besar mengacu pada penyelesaian atau pencapaian. Fokusnya adalah pada sesuatu yang dicapai, bukan pada kekurangan yang disingkirkan. Ini adalah akar kata yang sama yang digunakan oleh Kristus ketika menyatakan “sudah selesai” pada waktu Ia di salib.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ”Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19:30

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan beberapa kebenaran tentang bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan duniawi orang Kristen:

  • Pertama, Allah bisa menggunakan iblis dan orang-orang jahat di dunia untuk mencapai tujuan-Nya. Sekalipun Allah bukan pembuat kejahatan dan malapetaka, hal-hal yang jahat yang dapat mengganggu umat Tuhan dapat menjadi bagian dari strategi Allah untuk mencapai tujuan-Nya yang tepat di dunia.
  • Kedua, jawaban Tuhan atas doa selalu bergantung pada kehendak-Nya secara keseluruhan. Ia mungkin menjawab “tidak” atas permintaan untuk meringankan beban orang percaya, terlepas dari apakah beban itu berasal dari iblis atau tidak. Jika penderitaan itu membantu orang Kristen untuk lebih taat dan bergantung pada Tuhan, penderitaan itu mungkin sedang menggenapi apa yang Ia inginkan di dalam diri kita.
  • Ketiga, penderitaan itu menunjukkan kepada kita bahwa perhatian utama Tuhan bagi anak-anak-Nya bukanlah untuk membuat kehidupan mereka terasa mudah dan nyaman. Seperti apa yang dialami murid-murid Yesus, tujuan pertama-Nya adalah agar mereka percaya dengan sepenuhnya kepada-Nya. Itu berarti membiarkan Kristus menjadi kuat di tempat-tempat yang membuat kita lemah, dan seperti Ayub, kita tidak membenci-Nya jika Ia membiarkan kita mengalami kelemahan itu.

Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:9-10

Mungkin Anda pernah membaca the Serenity Prayer atau Doa Ketenangan ditulis oleh Reinhold Niebuhr, seorang teolog Amerika, pada tahun 1930-an. Ia menulisnya sebagai bagian dari sebuah khotbah dan kemudian menyusunnya kembali menjadi versi yang kita kenal sekarang. Tujuan doa tersebut adalah untuk menawarkan suatu kerangka kerja dalam menghadapi kenyataan hidup, mendorong penerimaan terhadap apa yang tidak dapat diubah, keberanian untuk menghadapi apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya.

O God and Heavenly Father, Grant to us the serenity of mind to accept that which cannot be changed; courage to change that which can be changed, and wisdom to know the one from the other, through Jesus Christ our Lord, Amen.

Ya Tuhan dan Bapa Surgawi, berikanlah kepada kami ketenangan pikiran untuk menerima apa yang tidak dapat diubah; keberanian untuk mengubah apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan yang satu dari yang lain, melalui Yesus Kristus Tuhan kami, Amin.

Semoga Tuhan memberi kita ketenangan pikiran dan kedamaian!

Apa arti kematian dan kebangkitan Yesus?

“Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” 1 Yohanes 5:12

Kemarin kita memperingati hari kematian Yesus di kayu salib. Besok pagi, kita akan memperingati hari kebangkitan-Nya. Jika kita mengerti bahwa kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, kita mungkin kurang megerti mengapa Yesus harus mati secara mengenaskan. Mengapa Yesus harus mati? Mengapa Anak Allak bisa ditaklukkan kematian?

Pandangan naturalistik adalah bahwa manusia hanyalah makhluk biologis dan kematian fisik menandai akhir dari keberadaan seseorang. Dalam kematian, eksistensi Anda tidak ada lagi. Iklan bir lama mengungkapkan sentimen yang mengalir dari pandangan ini: “Anda hanya hidup sekali dalam hidup, jadi raihlah semua kesenangan yang bisa Anda nikmati.” Nasihat lain yang senada adalah: “Makan, minum, dan bergembiralah karena besok kita akan mati.” (1 Korintus 15:32).

Kekristenan tidak setuju dengan pandangan di atas. Kekristenan menganggap keberadaan manusia adalah untuk selamanya. Kehidupan memiliki awal pada saat pembuahan tetapi tidak memiliki akhir. Kematian fisik hanyalah sebuah perjalanan menuju alam keberadaan lain di luar kubur. Keberadaan itu mungkin sangat indah atau mimpi buruk yang nyata tergantung pada bagaimana Anda berhubungan dengan pencipta Anda, penulis buku kehidupan dan kematian.

Memang manusia menggunakan istilah “kematian” dalam pengertian populer tentang berakhirnya kehidupan fisik seperti dalam laporan, “Yusuf mati pada usia 110 tahun” (Kejadian 50:26). Sebagai hukuman atas dosa Adam, Allah mengutuk tanah dan segala sesuatu yang berasal darinya: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”(Kejadian 3:19).

Dalam ayat pembukaan di atas, Yohanes menggemakan ajaran Yesus yang ditemukan dalam Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yesus yang memiliki hidup dan adalah hidup bagi kita, baik hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10) maupun hidup kekal (Yohanes 3:16). Salah satu tujuan Yohanes menulis surat ini adalah untuk melawan keputusasaan banyak orang yang takut menghadapi kematian tubuh. Guru-guru palsu, seperti banyak manusia modern, tampaknya, memberi tahu orang-orang percaya bahwa semua manusia tidak bisa memiliki hidup yang kekal (1 Yohanes 2:25–26). Tetapi ini tidak benar, karena mereka yang percaya kepada Yesus adalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

Dalam memperingati Jumat Agung dan Paskah, kita mendapat kabar baik bahwa dalam pengertian kematian yang lebih mendalam kita bisa diyakinkan bahwa kita dibenarkan Allah karena Yesus sudah mati menggantikan kita. “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23), yang berarti pemisahan dan keterasingan dari Allah. Inilah yang dialami Yesus di kayu salib sekitar jam kesembilan ketika ia mengutip Mazmur 22:1: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Tetapi, Rasul Paulus menjelaskan lagi, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Inilah tujuan kematian Yesus.

Dari kematian yang Yesus alami terhadap dosa yang kita peringati pada Hari Jumat Agung, kita telah menerima hidup melalui iman kepada-Nya. Hidup, dalam pengertian ini, berarti persekutuan yang penuh kasih yang dipulihkan dengan Pencipta dan Penebus kita. Rasul Yohanes menyatakan: “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:12).

Hari-hari kita di dunia yang telah jatuh ini dihitung oleh sang pencipta kehidupan dan kematian. Ia memberi kehidupan, dan Ia mengambilnya kembali (Ayub 1:21). Ini adalah hukuman atas dosa dan tindakan belas kasihan dari Sang Pencipta dan Penebus kita. Kita yang beriman tidak harus menanggung rasa sakit dan penderitaan dari keberadaan kita selamanya, tetapi hanya untuk sementara waktu. Yesus tidak berada di kubur untuk selamanya, tetapi bangkit pada hari yang ketiga agar kita ikut dibangkitkan.

Selama hidup di dunia, kita dapat meratap bersama rasul Paulus: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Namun, kita juga dapat bersukacita bersama-Nya: “Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!…Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 7:25a, 8:1). Tidak ada kemungkinan lain, dan kita harus yakin akan hal itu.

Siapa yang membunuh Yesus?

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:39

Hari ini adalah hari Jumat Agung. Pada hari ini banyak orang pasti mendengarkan khotbah tentang kematian Kristus di gereja; dan karena itu, ada dua fakta teologis yang sangat penting yang harus selalu kita ingat ketika kita merenungkan kematian-Nya di kayu salib.

  • Yesus dengan suka rela mati bagi kita.
  • Kematian Yesus disebabkan oleh kehendak Allah dan tindakan manusia.

Yesus dengan suka rela mati bagi kita.

Ayat di atas sudah sering kita baca. Tetapi, jika kita tidak memahami kematian Kristus sebagai sesuatu yang sukarela, maka kita tidak memahami intisari kematian-Nya. Jika kita berpendapat bahwa kematian Yesus hanya karena sudah ditetapkan oleh Allah Bapa saja, maka kita masih belum bisa membayangkan betapa besar kasih-Nya.

Yesus sendiri bersaksi tentang pengorbanan-Nya yang sukarela: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).

Yesus, sang gembala yang baik, menyerahkan diri-Nya sendiri, tapa paksaan, untuk keselamatan kita. Seperti itu juga, kita seharusnya ingin untuk melakukan hal yang sama: “dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2).

Kesediaan Kristus tidak hanya mencakup kematian sukarela-Nya di kayu salib. Sebaliknya, seluruh hidup-Nya merupakan persembahan dan ketaatan yang sukarela kepada kehendak Allah. Dari palungan sampai ke kubur, Yesus bertindak atas dasar kasih melalui kehendak suci-Nya, yang membuat ketaatan-Nya dapat diterima oleh Allah. Seperti itu juga, kita harus persembahkan diri kita secara sukarela untuk menjadi persembahan hidup yang kudus.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu: persembahkanlah dirimu sebagai persembahan hidup yang kudus, yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Kematian Yesus disebabkan oleh kehendak Allah dan tindakan manusia.

Banyak peristiwa yang membawa ke arah penyaliban Yesus, dan ada orang-orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kematian-Nya. “..Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.” (Matius 20:18). Petrus juga menjelaskan hal ini dengan tegas dalam khotbahnya pada hari Pentakosta kepada orang-orang Yahudi, “telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka Yesus ini, …..yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kisah Para Rasul 2:23, 36). Namun, pada saat yang sama, Petrus memberi tahu kita bahwa Yesus adalah “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya” (Kisah Para Rasul 2:23). Dalam satu ayat, Petrus menempatkan kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia secara berdampingan dan tanpa pertentangan, seolah-olah berkata, “Kamu orang Yahudi telah membunuh Yesus yang disalibkan Allah.”

Dalam hal ini, ada 2 pertanyaan yang mungkin sulit dijawab.

  • Bagaimana manusia harus bertanggung jawab, jika semua yang terjadi sudah ditetapkan Allah?
  • Siapakah yang sebenarnya menyebabkan kematian Yesus di kayu salib?

Ini adalah pertanyaan yang sering didiskusikan banyak orang Kristen karena nampaknya kebebasan manusia dan kedaulatan Allah tidak kompatibel. Untuk itu, kita perlu mengenal prinsip kompatibilisme.

Kompatibilisme adalah upaya untuk menyelaraskan proposisi teologis bahwa setiap peristiwa ditentukan, ditahbiskan, dan/atau ditetapkan oleh Tuhan secara kausal, dalam arti segala sesuatu ada alasan atau penyebabnya (ini disebut faham determinisme lunak) – dengan adanya kehendak Tuhan dan kehendak bebas manusia. Determinisme berbeda dengan fatalisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan tanpa membutuhkan alasan atau sebab, dan tanpa peranan manusia (ini disebut faham determinisme keras).

Landasan konsep kompatibilisme adalah cara mendefinisikan “kehendak bebas” manusia. Dari sudut pandang teologis, definisi kehendak bebas harus dikaitkan dengan dosa asal dan kerusakan rohani manusia. Kedua kebenaran Alkitab ini memberikan definisi “kehendak bebas” dalam kaitannya dengan manusia yang telah jatuh sebagai “tawanan dosa” (Kisah Para Rasul 8:23), “hamba dosa” (Yohanes 8:34; Roma 6:16-17) dan hanya tunduk kepada “tuannya,” yaitu dosa (Roma 6:14). Apa arti semua ini?

Meskipun manusia “bebas” untuk melakukan apa yang diinginkannya, ia ingin bertindak sesuai dengan sifatnya. Karena sifat manusia yang telah jatuh adalah berdosa, setiap maksud dari pikiran hati manusia yang telah jatuh adalah “selalu jahat” (Kejadian 6:5, Kejadian 8:21). Manusia secara alami memberontak terhadap apa yang baik secara rohani (Roma 8:7-8; 1 Korintus 2:14), dan “hanya cenderung memberontak” (Amsal 17:11). Jika manusia berbuat jahat, itu adalah hasil pilihannya sendiri, bukan karena Tuhan yang membuatnya.

“Janganlah seorang berkata, waktu ia tergoda, ia tergoda dari Allah, karena Allah tidak dapat tergoda oleh yang jahat dan Ia juga tidak menyesatkan orang lain. Tetapi setiap orang tergoda oleh keinginannya sendiri, yang ditarik dan yang diikat oleh dosa itu.” Yakobus 1:13-14

Jadi, pada hakikatnya, manusia “bebas” untuk melakukan apa yang diinginkannya, dan ia dapat melakukan hal itu, tetapi manusia tidak dapat melakukan tindakan yang bertentangan dengan sifatnya. Apa yang “diinginkan” manusia untuk dilakukan tunduk pada, dan ditentukan semata-mata oleh kodratnya, yaitu dosa.

Secara teologis, meskipun manusia alami tidak dapat menundukkan dirinya kepada hukum Allah (Roma 8:7-8) dan tidak dapat datang kepada Kristus kecuali Bapa menariknya kepada-Nya (Yohanes 6:44), manusia alami tetap bisa bertindak bebas sehubungan dengan kodratnya. Dia dengan bebas dan aktif menolak kebenaran dan memilih ketidakbenaran (Roma 1:18) karena sifatnya yang membuatn dia tidak mampu melakukan yang sebaliknya (Roma 3:10-11).

Seperti yang tertulis di atas dan diungkapkan dalam Kisah Para Rasul 2:23-25, kematian Kristus di kayu salib dilaksanakan oleh “rencana yang telah ditentukan sebelumnya dan pengetahuan Allah sebelumnya.” Kisah Para Rasul 4:27-28 selanjutnya mengungkapkan bahwa tindakan Herodes, Pontius Pilatus, orang-orang bukan Yahudi, dan orang-orang Israel telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah sendiri untuk terjadi saat mereka “berkumpul bersama melawan” Yesus dan melakukan “apa yang telah diputuskan sebelumnya oleh kuasa dan kehendak Allah untuk terjadi.”

Jadi, meskipun Allah telah menetapkan bahwa Kristus harus mati, mereka yang bertanggung jawab atas kematian-Nya tetap dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka. Kristus dibunuh oleh orang-orang jahat, “tetapi TUHAN berkehendak meremukkan Dia dan membuat-Nya menderita” (Yesaya 53:10).

Pada hari Jumat Agung ini, kita menemukan jawaban atas pertanyaan “siapa yang membunuh Yesus?” adalah Allah dan orang-orang jahat—dua tujuan berbeda yang dilaksanakan oleh dua entitas dalam satu tindakan. Manusia yang membunuh Yesus karena dosa mereka, dan Allah yang mengurbankan Anak-Nya di kayu saib untuk menebus umat manusia.

Kita yang sudah menjadi manusia baru dalam Yesus Kristus, seharusnya sudah mempunyai sifat yang baru yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kita sudah diberi kemampuan untuk membedakan apa yang jahat dan apa yang berkenan kepada Tuhan. Seperti Yesus, kita harus mau dengan sukarela untuk selalu menaati Firman Tuhan. Sebagai ciptaan baru, kehendak bebas yang kita miliki sekarang bisa membuahkan tindakan yang memuliakan Tuhan, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Pujilah Allah Bapa yang mahakasih dan mahasetia kepada umat-Nya! Pujilah Yesus yang mahakasih dan rela berkurban bagi domba-Nya!

Bagai makan buah simalakama

Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam). Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!”  Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu. Markus 14: 66-72

Pernahkah Anda memakan buah simalakama? Saya harap Anda tidak mencoba memakan buah ini. Yang disebut “buah simalakama” adalah buah mahkota dewa (phaleria macrocarpa), yang memiliki rasa pahit dan beracun jika dimakan mentah, tetapi mngkin memiliki manfaat medis jika dikelola dengan benar. Dalam bahasa Indonesia, pepatah “bagai makan buah simalakama” menggambarkan situasi sulit di mana tidak ada pilihan yang baik, dan setiap keputusan bisa membawa dampak negatif.

Sering kali dalam hidup ini kita mengalami keadaan sulit di mana kita harus mengambil tindakan yang akan membawa rasa sakit atau penderitaan, tetapi jika kita tidak mengambil tindakan ada konsekuesi yang juga membawa rasa sakit atau penderitaan. Dalam hal ini, kita akan merasa bahwa keadaan yang kita alami adalah seperti makan buah simalakama. Itu juga yang dialami Petrus ketika Yesus sedang diadili menjelang penyaliban-Nya. Kepahitan yang dialami Petrus karena tindakan penyangkalannya, kemudian menyebabkan kepahitan yang sangat besar yang tidak pernah bisa dilupakannya (Yohanes 21:17),

Setiap hari kita kita harus mengambil tindakan besar dan kecil, di mana setiap tindakan akan membawa akibat yang berbeda. Jika suatu tindakan tidak akan membawa konsekuensi yang serius, mungkin kita bisa melakukannya tanpa berpikir panjang. Ini adalah logis. Walaupun demikian, sering kali kita mengambil tindakan yang tidak logis. Misalnya, jika dokter menyuruh kita untuk menjalani operasi. Kita mungkin merasa bahwa tindakan kita untuk mau dioperasi mempunyai risiko yang tidak menyenangkan. Walaupun demikian, kita mungkin kita tidak sadar bahwa jika kita memilih untuk tidak menjalani operasi, risiko akan menjadi jauh lebih besar dan mungkin saja fatal. Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali karena takut dianggap pengikut Yesus, adalah Petrus yang kemudian secara mendalam menyesali tindakannya. Sesudah Yesus bangkit, Petrus tiga kali mengaku bahwa ia mengasihi Yesus, tetapi ia tidak tahu bahwa ia akan mati dibunuh sebagai seorang martir karena pilihannya (Yohanes 21:18-19).

“Rasa sakit karena tindakan” mengacu pada ketidaknyamanan atau tantangan yang dialami saat mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan atau membuat perubahan, sementara “rasa sakit karena akibat” mengacu pada hasil negatif atau penyesalan akibat kelambanan atau pilihan yang buruk. Rasa sakit akibat tindakan seringkali bersifat sementara, tetapi rasa sakit karena konsekuensi/akibat bisa kronis dan berbahaya. Pada umumnya, rasa sakit akibat tindakan seringkali kurang intens dan lebih mudah dikelola daripada rasa sakit karena akibat yang tidak mudah hilang.

Perlu kita ketahui bahwa kekuatiran atas kemungkinan munculnya rasa sakit karena tindakan (misalnya, karena hidup berdisiplin) adalah normal. Dalam banyak hal, kemungkinan rasa sakit ini justru sering dikaitkan dengan keputusan untuk mendorong diri melampaui zona nyaman, terlibat dalam kerja keras, atau membuat keputusan yang sulit. Contoh: Ketidaknyamanan belajar untuk ujian, mengerjakan proyek yang menantang, atau mengubah kebiasaan. Biasanya rasa sakit ini ada dalam jangka pendek dan dapat dikelola seiring dengan waktu dan usaha. Penderitaan semacam ini sering mengarah pada hasil positif, perbahan, pertumbuhan, dan kesuksesan.

Pada pihak yang lain, rasa sakit karena akibat adalah berupa penyesalan. Rasa sakit ini muncul dari kelambanan, kesempatan yang terlewatkan, atau pilihan yang tidak selaras dengan nilai atau aspirasi seseorang. Contoh: Menyesal karena tidak mengejar cita-cita, tidak mengambil kesempatan, atau tidak belajar dari kesalahan. Untuk orang Kristen, mungkin ini terjadi jika kita ditegur Roh Kudus ketika kita mengabaikan firman Tuhan. Hal ini bisa berlangsung lama dan karena itu sering kali membebani pikiran dan emosi seseorang. Seperti yang dialami Petrus pada setelah ia menyangkali Yesus tiga kali, penderitaanmya berlangsung terus sampai ia mendapat perintah Yesus yang sudah bangkit, untuk ketiga kalinya, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:17).

Rasa sakit mana yang lebih baik , dalam mengambil tindakan atau dalam mengalami akabibat tindakan kita? Meskipun kedua jenis rasa sakit bisa terasa perih, rasa sakit akibat tindakan umumnya dianggap sebagai pilihan yang lebih ringan. Rasa sakit karena tindakan seringkali merupakan langkah yang diperlukan menuju kemajuan dan kesuksesan, sementara rasa sakit karena akibat dapat menjadi pengingat konstan dan penyesalan yang kronis. Dalam hal mengikut Yesus, merangkul ketidaknyamanan atas tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan, bahkan ketika itu menantang iman kita, dapat mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan karena adanya manfaat yang kekal.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:29

Pada saat menjelang hari Paskah 2025, jika kita ingat bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai umat-Nya, kita dapat berdiri dengan aman dalam mengambil tindakan dalam hidup. Roh Kudus akan memimpin kita dalam keadaan apa pun, sehingga kita tidak khawatir akan rasa sakit yang akan kita alami jika kita hidup dalam terang-Nya. Sekalipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah mengambil tindakan, kita dapat mengetahui, sebagai orang percaya, bahwa tujuan Allah bagi kita selalu agar kita menjadi seperti Kristus.

Apa pun yang kita alami dan rasakan saat ini, ada keamanan mutlak di hadapan Tuhan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Tuhan. Sekalipun kita pernah mengambil tindakan yang salah, dan saat ini kita menderita karenanya, kita bisa memohon kepada Tuhan akan pengampunan-Nya. Kasih Kristus memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan Abba Bapa. Dalam mengambil tindakan, kita siap menderita bersama Kristus bersama dengan seluruh umat Kristen, sambil menunggu Tuhan menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan pertolongan Roh, kita yakin bahwa Allah bersama kita dalam setiap tantangan kehidupan.

Allah telah menjadwalkan masuknya kita ke dalam keluarga-Nya jauh sebelum kita dilahirkan. Jika Allah mengetahui tentang kita sebelum kita dilahirkan, Ia juga yang mengatur keselamatan kita. Apa yang di alami Petrus ketika ia menyangkal Yesus tiga kali, sudah diramalkan oleh Yesus sebelumnya. Dengan demikian, Dia pasti mengetahui tentang pencobaan dan penderitaan kita sekarang, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Itu seharusnya memberi kita penghiburan yang besar saat kita menunggu untuk bersama Bapa kita selamanya. Kita percaya bahwa Tuhan menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya. Bagi orang Kristen yang taat kepada Yesus, tidaklah ada istilah “bagai makan buah simalakama”. Marilah kita dengan teguh melangkah bersama Yesus sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari mendatang. Selamat menyambut hari Paskah!

Mengapa harus belajar bermanis budi?

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” 2 Timotius 2:23-26

“Bermanis budi” secara harfiah berarti “bersikap manis hati” atau “bersikap baik hati”. Dalam konteks peribahasa, ini berarti bersikap ramah, lembut, dan menyenangkan bagi orang lain. Ini bisa mencakup tindakan seperti bersikap sopan, murah senyum, dan bersedia membantu/menuntun orang lain.

Dalam sejarah gereja, mungkin Anda setuju bahwa tidak semua orang Kristen adalah orang yang manis budi. Bahkan pendeta pun ada yang manis budi, tetapi ada juga yang “garang” dan suka menyerang orang lain. Memang setiap manusia mempunyai sifat yang belainan, dan dengan itu ada orang yang sejak kecil bersifat lemah lembut, sabar dan murah senyum; sedangkan orang yang lain mungkin bersifat keras, kurang sabar dan mudah marah. Semua itu mungkin berhubungan dengan faktor genetika, pendidikan, pengalaman, dan lingkungan. Contoh dalam Alkitab yang tidak bisa kita lupakan adalah perbedaan antara sifat dan fisik antara si kembar Yakub dan Esau.

Walaupun setiap orang berbeda sifatnya, ayat di atas adalah perintah Tuhan kepada semua umat Tuhan, terlepas dari sifat pembawaan mereka. Sebagai umat Tuhan, kita harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan; tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Mengapa demikian? Sebab keramahan kita mungkin bisa membantu orang yang belum percaya untuk bisa melihat kebaikan Kristus di dalam diri kita, agar mereka kemudian mau menjadi orang beriman dengan pertolongan Tuhan.

Bermanis budi sebenarnya bukan hal yang mudah dilakukan. Karena hakikat setiap orang adalah manusia berdosa, sekalipun orang yang nampaknya bisa bermanis budi dan lemah lembut sebenarnya tidak bisa menjadi orang yang benar-benar mempunyai kasih yang jujur, tanpa pamrih dan tidak pilih kasih. Ini seperti apa yang kita baca tentang Yakub. Karena itu, setiap umat Kristen harus belajar kepada Yesus dan berusaha dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi orang yang manis budi. Inilah sebabnya Paulus menulis ayat-ayat di atas.

2 Timotius 2:14–26 berisi instruksi Paulus kepada Timotius tentang memimpin orang percaya lainnya. Dua tema penting di sini adalah menghindari pertengkaran yang tidak ada gunanya dan berpegang pada ajaran Alkitab yang sehat. Perdebatan tentang masalah yang tidak penting dengan cepat bisa berubah menjadi kemarahan dan perseteruan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik. Paulus menyebutkan adanya guru-guru palsu tertentu, tetapi ia menyampaikan hal ini dengan nada belas kasihan. Di sini, ia mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah kuncinya. Bagaimanapun, kita tidak boleh menganggap mereka yang belum percaya sebagai musuh kita: mereka adalah orang-orang yang sedang kita coba selamatkan dari kendali Iblis!

Mungkin sebagian orang Kristen merasa heran mengapa kita harus bermanis budi kepada semua orang. Bukankah tidak semua orang akan diselamatkan? Bukankah Tuhan sudah menentukan orang-orang tertentu untuk ke neraka? Bukankah Tuhan tidak memerlukan bantuan kita? Bukankah jerih payah kita akan sia-sia jika mereka memang tidak tergolong “orang pilihan” Tuhan?

Dalam membaca ayat di atas, kita perlu meneliti kalimat “sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran”. Kita tidak tahu siapa yang akan dipilih dan siapa yang tidak dipilih oleh Tuhan, tetapi mungkin Tuhan akan memberikan kesempatan bagi sebagian orang untuk bertobat. Tugas kita yang dari Tuhan adalah untuk mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan ajaran Kristus agar mereka menjadi sadar dan akhirnya bertobat. Tuhan mau agar kita ikut bekerja sesuai dengan rencana-Nya dan demi kemuliaan-Nya.

Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran itu penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan dan bukannya bahaya. Sebagian dari masalah yang didebatkan mungkin bukan hal yang krusial, dan sebagian lagi mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab. Ia menganggap “omong kosong” dan perdebatan tentang hal itu sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti penyakit jasmani, pertengkaran ini hanya menyebar dan bertambah parah hingga menjadi bencana besar dalam kehidupan semua orang percaya. Tujuan akhir penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” suatu perdebatan atau teologi kita atas mereka yang menolaknya, tetapi untuk menyelamatkan semua anak-anak yang hilang.

Dalam 2 Timotius 2:23, Paulus melanjutkan pembahasannya tentang pertengkaran dari ayat sebelumnya dan menambahkan, “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar.” Paulus sebelumnya telah memanggil Timotius untuk menjadi “hamba Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan “hamba” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti seorang hamba atau budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai budak Tuhan, yang tidak suka bertengkar dalam melaksanakan tugasnya. Seperti Timotius, kita pun budak-budak Tuhan yang sudah dibebaskan dari kungkungan dosa.

Sebagai petunjuk, Paulus memberikan beberapa sifat positif yang harus diikuti oleh Timotius. Tiga sifat pertama ditemukan dalam ayat ini. Pertama, Timotius harus “baik kepada semua orang.” Tuhan itu baik (Lukas 6:35) dan mengharapkan hal yang sama dari para hamba-Nya. Kasih itu “sabar dan murah hati” (1 Korintus 13:4). Orang percaya harus “baik satu sama lain” (Efesus 4:32). Kebaikan hati dapat ditunjukkan bahkan oleh orang-orang yang tidak percaya (Kisah Para Rasul 28:2), tetapi merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) yang seharusnya berlaku bagi setiap hamba Kristus. Para hamba juga harus “mampu mengajar” (1 Timotius 3:1–7; Titus 1:5–9), dan “sabar menanggung kejahatan” (2 Timotius 2:10, 12; 3:11; 4:3, 5).

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” Galatia 5:22-23

Dalam 2 Timotius 2:25, Paulus menambahkan atribut positif keempat ke dalam daftarnya dari ayat sebelumnya. Kemampuan untuk memberikan jawaban yang dewasa, penuh kasih, dan efektif sangat penting bagi kepemimpinan Kristen. Petrus juga menyebutkan pentingnya sifat ini, dengan menyatakan, “Hormatilah Kristus sebagai Tuhan yang kudus di dalam hatimu! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada padamu. Tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Apologetika, atau membela iman Kristen, melibatkan kemampuan untuk mengajar (2 Timotius 2:24) dan sikap lemah lembut dalam mengajar orang lain.

Tujuan dari kebaikan hati, pengajaran, menanggung kejahatan, dan mengoreksi lawan dengan kelembutan adalah untuk pertobatan orang-orang yang terhilang. Tujuan dari pengetahuan dan percakapan Kristen bukanlah untuk memenangkan argumen demi ego, tetapi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Mereka yang memperhatikan cara hidup dan doktrin mereka dengan saksama (1 Timotius 4:16) akan menemukan pelayanan yang efektif di antara orang-orang yang tidak percaya yang mereka layani.

Dalam2 Timotius 2:26, selain pertobatan, tujuan lain bagi mereka yang dilayani Timotius adalah agar mereka cukup menyadari pengaruh Iblis atas manusia untuk berontak. Ayat ini menunjukkan bahwa serangan Iblis sering kali diarahkan ke pikiran. Iblis selalu berusaha membuat sesuatu yang salah tampak benar. Tetapi, orang yang mendengar kebenaran dan bertobat akan “terlepas” dari jeratnya. Jenis jerat yang Paulus maksudkan kemungkinan adalah jerat binatang yang umum pada zamannya. Jerat ini sering kali melibatkan tali atau batu yang akan jatuh ke binatang yang dipancing dengan makanan sebagai umpan. Demikian pula, iblis menggoda orang-orang yang tidak percaya dengan “umpan” untuk membuat mereka tetap terjebak dalam perangkapnya dan menjauh dari kebebasan yang dibawa Kristus.

Orang-orang yang tidak percaya di sini disebut bukan sebagai musuh, tetapi sebagai tawanan. Orang yang tidak percaya tidak memiliki kuasa rohani atas Iblis dan karena itu “tertawan”. Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti tipu daya Iblis kecuali kasih karunia Allah campur tangan (Efesus 2:8–9). Dalam hal ini, orang percaya harus membagikan Injil dan menunjukkan kebaikan, karena tahu bahwa Allah dapat mengubah keadaan seseorang dari kematian menjadi kehidupan (Yohanes 10:10) dan yakin bahwa Allah menyediakan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya (Yohanes 3:16).

Mereka yang mengaku Kristus sebagai Tuhan dikenali dari buah mereka. Tentu saja, beberapa orang akan lebih baik daripada yang lain dalam hal kualitas tertentu. Beberapa orang lebih mampu mengendalikan diri, sementara yang lain lebih baik dalam hal kesabaran, beberapa orang jauh lebih baik, dan seterusnya. Kita perlu, melalui kasih karunia Allah dan pertolongan Roh Kudus untuk menjadi makin menyerupai Kristus setiap hari dengan mengembangkan kualitas-kualitas ini. Kekudusan adalah tujuan utama dari kehidupan Kristen. Kita diselamatkan untuk menjadi umat yang kudus. Kita sedang dipersiapkan untuk hari ketika Allah akan memulihkan segala sesuatu.

Tuhan Yesus Kristus tidak pernah kekurangan dalam kualitas-kualitas ini. Dia sempurna (tidak dapat berbuat dosa), tidak berubah (tidak dapat berubah) dan sempurna dalam segala hal. Apa yang kita kurang, Dia gantikan. Dosa kita mati bersama-Nya dan kebenaran-Nya diperhitungkan sebagai milik kita, tetapi itu belum semuanya, sebelum pemuliaan kita di Surga, kita membutuhkan pengudusan terus-menerus di bumi. Saat kita maju dalam proses pengudusan, setiap kualitas buah Roh harus meningkat.

Menjadi orang Kristen yang lembut tidak berarti Anda harus menjadi pengecut, menoleransi dosa, menghindari kontroversi dan mengkompromikan Injil karena Anda khawatir menyinggung seseorang. Sebaliknya, itu berarti Anda mengomunikasikan kebenaran Injil dengan kasih, belas kasihan dan perhatian yang nyata bagi jiwa orang lain.

Injil pada awalnya secara alami menyinggung karena pesannya mendatangkan kutukan atas orang berdosa, tetapi dengan cepat memberikan harapan karena Yesus dikutuk menggantikan orang berdosa. Injil itu sederhana dan mudah dipahami, tetapi tetap sama dan sangat kontroversial karena menantang pandangan dunia budaya dan masyarakat sekuler.

Hari ini kita belajar bahwa apa yang harus kita lakukan saat mengomunikasikan Injil adalah menghindari bersikap kasar. Kekasaran dapat tampak sombong, bodoh, pahit, dan jahat. Seseorang pernah berkata salah kepada saya, “Tidak masalah bagaimana Anda mengomunikasikan kebenaran; kebenaran tetaplah kebenaran terlepas dari bagaimana perasaan orang.” Ini menggelikan. Injil adalah kebenaran dan tetap benar apa pun yang terjadi, tetapi ada cara untuk mengomunikasikan Injil secara salah dan ada cara untuk mengomunikasikannya dengan benar.

Bersikap kasar, keras kepala, dan tidak sabar terhadap orang yang tidak setuju dengan Anda akan membuat Anda mengomunikasikan Injil secara salah. Namun, kelembutan membantu Anda mengomunikasikan Injil dengan benar dan efektif. Kita dapat bersikap lembut dan berani dalam penginjilan tanpa bersikap kasar.

Bersikap lembut kepada orang lain akan membantu Anda menginjili dengan lebih efektif karena orang lain akan lebih siap mendengarkan Anda. Orang lain dapat memiliki masalah hidup yang nyata dan serius yang disebabkan oleh dosa mereka atau hanya karena kita hidup di dunia yang penuh dosa dan hal-hal buruk terjadi. Jadi, dengan berbicara dengan lembut kepada orang lain, kita berharap untuk mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat mereka yang mungkin memberi Anda kesempatan untuk berbicara. Anda mungkin perlu jujur, menghadapi dosa mereka dan memberi tahu mereka sesuatu yang mungkin menyakiti perasaan mereka, tetapi kelembutan tidak menghalangi Anda untuk melakukan ini. Sebaliknya, kelembutan membantu Anda melakukannya dengan penuh kasih. Kelembutan akan membuat Anda lebih mudah didekati dengan menjadi penolong, pemimpin, dan teman yang lebih baik. Selain itu, adalah penting bagi Anda untuk mempunyai cara hidup yang baik, yang bisa dijadikan contoh bagi orang lain. Tidak ada gunanya jika teori Anda hebat, tetapi praktik kehidupan Anda minim.

Siapkan diri Anda, jika Anda bisa, sebelum memasuki percakapan dengan orang lain. Siapa orang yang Anda ajak bicara? Apa yang kita ketahui tentang prasangka mereka? Dari mana mereka berasal? Apakah mereka mungkin mengalami benturan budaya? Apakah mereka seorang Muslim, Hindu, ateis, atau apakah mereka menganut kepercayaan lain? Apakah mereka hidup sebagai orang-orang yang dibenci masyarakat? Bersikaplah peka terhadap orang tersebut sehingga kelembutan Anda dapat terlihat jelas. Tujuan kita seharusnya adalah memahami pandangan dunia orang lain dengan sangat baik sehingga kita dapat mengomunikasikannya kembali kepada mereka dengan lebih baik daripada mereka dapat menjelaskannya kepada kita. Ini membutuhkan banyak kesabaran dan banyak kelembutan. Terkadang sulit untuk tetap diam ketika kita memiliki begitu banyak hal untuk dikatakan, tetapi itulah mengapa sangat penting untuk merencanakan dan mempersiapkan diri Anda – untuk memperhatikan perilaku dan cara hidup Anda.

Menginjili bukanlah tugas yang mudah. Mengenal diri sendiri sangat penting untuk tugas penginjilan. Apakah Anda pendengar yang baik atau apakah Anda cenderung menyela ketika orang lain berbicara? Apakah Anda siap untuk mendengarkan atau apakah Anda selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan? Apakah Anda benar-benar ingin belajar tentang orang yang Anda ajak bicara, atau apakah Anda hanya ingin menyampaikan maksud Anda? Jika Anda bukan pendengar yang baik, kemungkinan besar Anda suka memaksa dan tidak terlalu lembut dalam presentasi Anda.

Jika Anda ingin tahu seperti apa sebenarnya Anda sebagai pendengar, penginjil, dan komunikator, undanglah seseorang yang mengenal Anda dengan baik untuk jujur kepada Anda. Buka diri Anda terhadap kritik sehingga Anda dapat memperbaiki kelemahan dan kesalahan Anda. Orang Kristen perlu mau diajar – sebagai pelajar firman yang selalu berusaha untuk menjadi penginjil yang lebih baik. Kita harus sadar bahwa tidak ada orang yang sudah sempurna.

Perlu dicatat bahwa kita sering kali lebih peduli tentang apa yang harus kita katakan daripada bagaimana kita harus bersikap. Kita harus meluangkan waktu untuk meminta Tuhan mengembangkan karakter saleh kita sebanyak waktu yang kita luangkan untuk meminta Tuhan memberi kita kata-kata yang tepat untuk diucapkan ketika kita menginjili orang-orang non-Kristen. Kita juga harus mau untuk mengampuni mereka yang sudah menyebabkan penderitaan kita, seperti sikap Yesus di kayu salib:

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34

Pada pihak lain, jebakan bagi banyak orang Kristen adalah bersikap terlalu kritis terhadap diri mereka sendiri setelah berbicara dengan orang non-Kristen (“Saya seharusnya mengatakan ini”, “Saya seharusnya tidak mengatakan itu”, “Mengapa saya tidak berpikir untuk mengatakan kebenaran ini?”). Jangan terlalu sering melakukannya karena hal itu bisa membuat kita mundur karena rasa tidak mampu. Tuhan tidak membutuhkan kita untuk memiliki gelar doktor dalam penginjilan agar dapat membawa seseorang kepada Tuhan Yesus Kristus dalam pertobatan dan iman. Ingat bahwa dibalik semua usaha kita, adalah Tuhan yang bekerja. Dia tidak peduli dengan kemampuan kita, Dia peduli dengan hati dan ketaatan kita.

Ambillah setiap kesempatan untuk membagikan Injil kepada orang-orang dalam ketaatan kepada-Nya – Dia akan memberkati ketaatan Anda, bukan kemampuan Anda. Namun, kita harus tetap bercita-cita untuk meningkatkan kemampuan penginjilan kita karena itu juga merupakan ketaatan. Saat kita bertumbuh dalam ketaatan, saat kita membaca firman Tuhan, dan saat kita bertumbuh dalam iman, kemampuan penginjilan kita pasti akan meningkat. Perhatikan karakter saleh Anda, dan komunikasikan apa yang Anda praktikkan dalam hidup dengan roh yang lembut. Tuhan memberkati kita sekalian!

Kelelahan dalam usaha untuk taat

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 26-27

Screenshot

Dalam pengertian yang paling umum, “menginjili” berarti mengabarkan Injil Kristen dan mencoba untuk mengajak orang lain untuk menjadi Kristen. Istilah ini berasal dari kata Yunani “euangelion,” yang berarti “kabar baik”.

Sebagai orang Kristen, kita mendapat perintah dari Tuhan untuk mengabarkan Injil, Ini tidak selalu harus melalui penyampaian pesan atau renungan Kristen, karena tidak semua orang diberi karunia untuk itu. Tidak semua orang bisa menjadi guru, penginjil atau pendeta (1 Korintus 12:29). Pada pihak lain, setiap orang diberi berbagai karunia untuk berbuat baik, yang dapat membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan yang dapat membawa orang lain ke arah pengenalan akan Tuhan yang mahakasih.

“Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”. 2 Timotius 3:17

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Apa pun bentuk usaha penginjilan kita, semua kegiatan untuk itu membutuhkan komitmen dan perjuangan. Ini tidak mudah dilakukan jika kita memang mau dengan secara serius mejadi pelaksana dari mandat Tuhan untuk menginjil yang sering disebut “Amanat Agung”, yang adalah perintah bagi pengikut Kristus untuk pergi ke seluruh dunia dan membuat semua bangsa menjadi murid-Nya, membaptis mereka dan mengajarkan mereka untuk menuruti segala sesuatu yang telah diperintahkan kepada mereka.

Dengan demikian, di mana pun kita berada kita harus berusaha hidup dalam terang-Nya. Ini bukanlah hal yang gampang, tetapi sering dirasakan sebagai beban berat yang melelahkan. Karena itu banyak orang Kristen yang kemudian memilih untuk hidup santai dan bebas tanpa tujuan rohani yang jelas. Mungkin mereka menghibur diri dengan keyakinan bahwa keselamatan semua orang Kristen sudah terjamin.

Thema renungan kita kali ini adalah hal kelelahan menjadi orang yang taat. Secara alkitabiah, kelelahan jasmani dan rohani dapat dikaitkan dengan konsekuensi kejatuhan Adam dan Hawa, adanya beban hidup, dan pergumulan yang terus-menerus dengan dosa dan godaan, tetapi juga sebagai pengingatan akan kebutuhan kita akan bimbingan, kekuatan dan istirahat dari Tuhan. Kelelahan mudah terjadi mngkin karena hidup kita yang tidak cukup terlatih sebagai murid Yesus, karena kita sering membuang waktu dan kesempatan untuk menaati firman-Nya.

Ayat 1 Korintus 9:24-27 berisi sebuah metafora yang membandingkan keinginan Paulus untuk memenangkan orang-orang agar beriman kepada Kristus, dengan tekad seorang atlet yang berlatih untuk memenangkan hadiah. Keduanya secara sukarela melupakan hal-hal yang seharusnya menjadi hak mereka untuk hidup santai dan nyaman. Itu membutuhkan pengorbanan diri dan pembatasan ketat terhadap keinginan diri sendiri. Paulus dan seorang atlet mau melakukan ini demi kemenangan. Namun, jika atlet hanya dapat memenangkan karangan bunga yang akan cepat layu, Paulus bertujuan untuk memenangkan hadiah yang akan bertahan selamanya. Ia juga melatih dirinya dengan cara ini agar tidak didiskualifikasi sebelum melewati garis finis. Paulus melatih tubuhnya agar tidak mudah lelah dalam menjalani hidup sebagai orang percaya yang taat kepada Tuhan.

Dalam 1 Korintus 9:26 Paulus telah menjadikan dirinya sebagai fokus. Ia telah menjelaskan apa yang harus dilakukan seorang atlet untuk memenangkan perlombaan, termasuk latihan pengendalian diri yang hebat. Program pelatihan bagi para atlet pada zaman Paulus mencakup komitmen untuk menjauhi makanan, minuman, dan pengalaman sensual tertentu agar siap berkompetisi di level tertinggi. Dalam ayat sebelumnya, Paulus melihat dirinya sebagai orang yang berkompetisi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus dan untuk menerima pengakuan kekal atas usahanya itu. “Mahkota” seperti itu akan jauh lebih berharga dari kenikmatan dan kenyamanan duniawi.

Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bekerja keras, bersaing untuk mendapatkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan, dan kebaikan untuk orang lain, dengan komitmen yang besar. Karena itu, Paulus mendorong orang Kristen untuk rela menyerahkan ”hak” duniawi mereka demi kebaikan orang-orang yang lemah imannya. Paulus menunjukkan bahwa ia juga telah menyerahkan hak-haknya, termasuk hak sebagai rasul untuk menerima dukungan finansial dari orang-orang yang dilayaninya. Sebaliknya, ia membanggakan bahwa ia melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Paulus kemudian mengarahkan perhatian pada pelatihannya sendiri untuk hadiah ini. Ia menegaskan bahwa ia tidak berlari tanpa tujuan. ebagai orang Kristen, ia tidak hidup tanpa tujuan dan dan tanpa rencana. Ia tidak hidup santai dan membuang waktu. Apa yang dilakukannya sangat disengaja, demi kemuliaan Tuhan. Kemudian ia memakai analogi kompetisi yang umum pada saat itu, tinju. Paulus menulis bahwa ia sering menggunakan teknik yang dipakai para petinju di mana mereka berlatih menyerang dan bertahan dalam menghadapi lawan yang dibayangkan (teknik ‘tinju bayangan” atau “shadow boxing“). Paulus berencana untuk memenangkan pertarungan, untuk mendaratkan beberapa pukulan serius pada lawannya. Ia mendisiplinkan dirinya untuk kompetisi yang sebenarnya.

Komitmen Paulus untuk mengesampingkan kebebasan dan hak-hak duniawinya bukanlah paksaan atau takdir. Itu adalah pilihan bebasnya. Ia mau berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari Kristus atas seberapa baik ia berjuang untuk memenangkan orang-orang agar percaya kepada Yesus. Ia menjalani hidup dengan cara ini dengan tekad sepenuhnya. Hal ini sesuai dengan tema utama metaforanya: bahwa semua orang Kristen sejati harus berkomitmen pada iman seperti halnya seorang atlet yang berdedikasi pada olahraga mereka.

Paulus berkata bahwa inilah sebabnya ia mampu tetap termotivasi sekalipun hidupnya penuh tantangan. Ia bisa mempertahankan semangat dan kekuatannya sekalipun bisa merasa lelah dari waktu ke waktu. Ia mempraktikkan pengendalian diri dengan cara yang sama seperti seorang atlet yang sedang berlatih terus – mendisiplinkan tubuhnya dengan pengendalian diri yang ketat atas pola makan, olahraga, tidur, dan perilaku lainnya. Istilah Yunani yang Paulus gunakan untuk “disiplin” di sini adalah hypōpiazō, yang secara harfiah mengacu pada pemukulan terhadap sesuatu yang hitam dan biru. Dalam penggunaan umum, istilah ini menyiratkan membuat mata seseorang lebam! Paulus berkata bahwa ia “memukul” tubuhnya, seperti seorang petinju, untuk menguatkan dirinya demi stamina rohaninya agar tidak mudah lelah. Dengan demikian, setiap orang Kristen sejati juga harus dapat mengendalikan diri atas cara dan pola hidupnya dan berusaha mati-matian untuk menjadi umat yang taat.

Paulus tetap dalam kondisi latihan yang terus-menerus ini karena ia tidak ingin didiskualifikasi. Ia tidak berbicara tentang kehilangan keselamatannya sebagai akibat dari dosa. Ajaran Paulus sendiri sangat jelas bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan sesuatu yang datang sebagai hasil dari usaha keras (Efesus 2:8–9). Hadiah yang diperjuangkannya adalah mahkota pengakuan dari Kristus bahwa ia telah melayani dengan baik. Dalam kasusnya, ini akan mencakup kehidupan semua orang yang telah percaya kepada Yesus sebagai hasil dari khotbahnya. Konteksnya adalah Paulus tidak mau gagal mencapai tujuannya untuk memenangkan hati orang lain, bukan memperoleh keselamatan.

Paulus menyatakan bahwa kita pun dapat didiskualifikasi dari hadiah kita. Pelari dalam suatu perlombaan didiskualifikasi karena keluar jalur, baik secara sengaja maupun karena ketidaktahuannya. Petinju juga didiskualifikasi karena melanggar peraturan. Paulus mengajar kita agar memahami bahwa tidak ada jaminan bahwa kita akan menyelesaikan perlombaan dengan baik. Kita tidak dijamin akan memperoleh pelayanan yang berhasil. Kita juga tidak dijanjikan akan menjadi saksi yang efektif bagi orang lain. Semua itu ada dalam kuasa dan kontrol Tuhan. Walaupun demikian, semua itu harus kita usahakan melalui hidup yang beriman dan bersyukur karena itulah tujuan Tuhan menciptakan dan memilih kita sebagai umat-Nya. Semoga Anda tidak mudah lelah untuk hidup sebagai atlet Tuhan yang sejati!

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Jangan takut sekalipun menghadapi bahaya

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38-39

Media CNBC Indonesia kemarin melaporkan bahwa presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berhasil membuat gaduh dunia pekan lalu lewat penetapan tarif tinggi untuk setiap negara, termasuk Indonesia. Ekspor RI akan dikenai tarif atau pajak hingga 32% akibat besarnya defisit dagang AS ke Indonesia. Kebijakan tarif Trump memicu ketidakpastian global hingga timbul tarif balasan dari negara lain sebagai usaha saling menyerang dalam dunia perdagangan internasional. Dampak yang dapat dirasakan rupiah diperkirakan akan besar, dimulai dengan kaburnya investor asing di pasar keuangan Indonesia hingga timbulnya gejolak eksternal yang tinggi.

Ketidakpastian dalam dunia ekonomi bukan saja akan dialami Indonesia, tetapi juga hampir semua negara di dunia. Di Asia Tenggara, negara yang dikenai kenaikan tarif baru Amerika termasuk Kamboja 49 persen, Vietnam 46 persen, Myanmar 44 persen, Thailand 36 persen, Indonesia 32 persen, Malaysia 24 persen, Filipina 17 persen, dan Singapura 10 persen. Kenaikan tarif ini kemungkinan membuat makin sulitnya negara-negara lain untuk mengambil keuntungan melalui expor barang ke Amerika, sehubungan dengan naiknya harga barang impor di AS yang akan memperkecil omset penjualan negara lain. Tidaklah mengherankan bahwa harga saham di seluruh dunia mengalami penurunan besar dalam dua hari terakhir gara-gara keputusan yang dibuat presiden Trump. Keputusan satu orang sudah cukup untuk mengguncang seluruh dunia.

Situasi saat ini jelas membuat kuatir para pedagang, pemilik pabrik dan pemilik saham perusahaan. Besar kemungkinan bahwa akan ada banyak perusahaan yang bangkrut karena penghasilan yang menurun. Selain itu, rakyat jelata juga kuatir kalau-kalau harga barang-barang akan naik dan memperkecil daya beli mereka. Banyak negara juga kuatir akan timbulnya inflasi karena harga barang yang naik dan daya beli rakyat yang menurun. Rakyat yang penghasilannya bergantung pada harga saham, sudah tentu merasa kuatir kalau-kalau uang simpanan mereka yang berbentuk saham akan ludes karena harga saham yang terus menurun. Rasa kuatir akan gebrakan pemerintah AS saat ini mungkin akan terus berlangsung di banyak negara paling tidak sampai akhir tahun ini. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi masa depan yang suram ini?

Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan tentang keamanan mutlak orang Kristen di hadapan Allah. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Allah. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Allah sebagai Abba atau Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama dengan semua ciptaan sementara kita menunggu Allah untuk menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan bantuan Roh, kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita dan mengasihi kita di dalam Kristus.

Roma 8:31-39 adalah salah satu bagian yang paling menguatkan dan meneguhkan dalam seluruh Firman Tuhan. Paulus telah menetapkan bahwa Tuhan ada untuk kita semua yang ada di dalam Kristus; bagi mereka yang telah diselamatkan oleh iman mereka. Tidak ada tuduhan atau dakwaan yang ditujukan kepada kita yang dapat diterima, karena Allah telah menyediakan pembenaran bagi kita dan Kristus menjadi perantara bagi kita. Paulus membuat dua daftar tentang semua hal di alam semesta yang tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah bagi kita di dalam Kristus. Hal-hal yang sulit memang akan terjadi. Namun, tidak satu pun dari hal-hal tersebut akan menyebabkan Bapa kita berhenti mengasihi kita, dan tidak satu pun dari hal-hal tersebut merupakan tanda-tanda bahwa Ia telah meninggalkan kita. Keselamatan kita sepenuhnya, mutlak aman karena kasih-Nya yang besar.

Paulus tidak ingin pembacanya merasa sedikit pun tidak yakin akan kasih Allah bagi mereka di dalam Kristus. Ia telah membangun alasan mengapa Allah menyertai kita sebagai orang Kristen. Ia telah membuat daftar hal-hal terburuk yang dapat terjadi dalam hidup ini untuk menegaskan bahwa tidak satu pun dari hal-hal tersebut yang bisa menunjukkan hilangnya kasih Kristus dari kita (Roma 8:31-37). Hal-hal tersebut mungkin terjadi, tetapi seperti yang ia tulis di ayat sebelumnya, hal-hal tersebut tidak dapat menaklukkan kita dengan cara apa pun yang berarti. Mereka yang diselamatkan oleh iman kepada Kristus (Roma 3:23-26; Yohanes 3:16-18) dapat terus bertahan, dalam kuasa Roh-Nya.

Paulus memuat daftar yang mencakup hampir semua hal yang mungkin dipikirkan siapa pun untuk menantang kasih Allah bagi orang-orang pilihan-Nya (Roma 8:29-30). Paulus memulai dengan kematian, yang bagi orang percaya di dalam Kristus hanya dapat membawa kita ke dalam kemuliaan Allah dengan lebih cepat (2 Korintus 5:8). Ia terus memasukkan kehidupan, malaikat, dan penguasa.

Paulus melanjutkan daftarnya dengan masa kini dan masa depan. Tidak ada hal yang dapat terjadi sekarang atau besok atau seribu tahun dari sekarang yang dapat mengubah komitmen Tuhan untuk mengasihi kita di dalam Kristus. Selanjutnya ia mencantumkan “kuasa-kuasa,” yang merujuk pada kuasa-kuasa supernatural seperti Setan dan iblis-iblisnya atau pemerintahan duniawi seperti Roma. Konsep terakhir ini berasal dari kata Yunani archai, yang biasanya digunakan untuk pemimpin politik atau hakim, dan yang juga sering diterapkan pada iblis. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada hal, baik yang alami di bumi ini, maupun yang dari surga atau neraka, yang dapat menyebabkan Tuhan berhenti mengasihi kita.

Kita tahu bahwa Paulus sendiri akhirnya dibunuh, sejauh yang kita ketahui, oleh “kuasa-kuasa” pemerintahan Romawi. Namun, mereka tidak bisa menaklukkannya. Mereka juga tidak memisahkannya dari kasih Tuhan kepadanya, di dalam Kristus. Buktinya? Tulisan Paulus sekarang adalah bagian dari Alkitab yang menyatakan kasih dan perlindungan Allah kepada umat-Nya.

Roma 8:39 terus mencantumkan segala sesuatu, setiap wilayah, dan setiap kategori yang mungkin dibayangkan siapa pun tidak dapat mengendurkan komitmen atau kemampuan Allah untuk mengasihi kita di dalam Kristus (Roma 3:23–26; Yohanes 3:16–18). Kesulitan mungkin menguji kita (Ibrani 12:3–11), dan penganiayaan mungkin menimpa kita (Yohanes 16:33). Kadang-kadang kita akan gagal untuk taat (1 Yohanes 1:9–10). Namun, penjelasan Paulus sejauh ini telah mencakup segala sesuatu mulai dari pengalaman kita, hingga kekuatan yang dahsyat, dan bahkan dunia alamiah dan supranatural. Ia telah mencantumkan masa kini dan masa depan. Ia telah mencantumkan kekuatan, yang mungkin berarti pemerintahan yang bermusuhan.

Pada ayat 39, ia mencantumkan ketinggian dan kedalaman, yang berarti segala sesuatu yang mungkin turun dari atas atau naik dari bawah. Akhirnya, ia menyebutkan secara menyeluruh segala sesuatu yang lain dalam semua ciptaan. Paulus bersikap absolut tentang hal ini. Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita yang ada di dalam Kristus dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Mereka yang diselamatkan, melalui iman kepada Kristus, diselamatkan selamanya dan selamanya (Yohanes 10:28–29). Kita selalu dikasihi oleh Allah. Apa pun yang terjadi di dunia, Ia melindungi kita selamanya!

Doa pribadi adalah komunikasi dua arah

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6

Dalam banyak tradisi Kristen, doa seseorang dipahami sebagai cara untuk terlibat dalam percakapan dengan Tuhan, bukan saja melalui ungkapan terima kasih dan permintaan, tetapi juga berbagi pikiran dan perasaan secara formal maupun informal. Doa adalah nafas kehidupan umat Kristen, tetapi terkadang diabaikan karena kesibukan, kelupaan, atau bahkan karena keraguan. Sering kali, doa lebih dianggap sebagai daftar keinginan kepada Tuhan daripada sarana berkomunikasi dengan Bapa Surgawi kita. Namun, yang jelas doa tidak dimaksudkan sebagai komunikasi satu arah, tetapi dua arah.

Bagaimana doa menjadi jalan dua arah? Sederhana. Dengan mendengarkan Tuhan, dan bukannya hanya berbicara atau memohon sesuatu kepada Tuhan. KIta harus menyadari bahwa Tuhan yang berfirman juga Tuhan yang mendengarkan doa kita, karena itu kita harus juga mau mendengarkan Dia yang berfirman. Hal mendengarkan Tuhan tidak sesulit atau seberat yang diduga orang. Dan itu juga tidak selalu membutuhkan waktu yang lama, meskipun terkadang itu bisa terjadi. Bagi setiap orang Kristen, mendengarkan Tuhan berarti menyerahkan diri kepada Dia, meminta-Nya untuk berbicara, dan meminta-Nya untuk menerapkan Firman itu pada berbagai situasi yang dihadapi dalam hidup. Dalam hal ini kita membutuhkan tempat yang baik dan sepi agar kita dapat memusatkan perhatian kita kepada apa yang dikatakan-Nya. Yesus juga sering pergi ke tempat yang sepi untuk berdoa, seperti yang dicatat dalam Lukas 5:16, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa”.

Sebenarnya, doa adalah ungkapan iman dan kepercayaan. Mereka yang kurang percaya, pasti mengalami kesulitan untuk berdoa. Pada dasarnya, doa adalah pengakuan bahwa kita bukanlah Tuhan, kita tidak memegang kendali, dan bahwa kita membutuhkan Dia yang lebih besar dari kita. Bahkan Yesus, meskipun sepenuhnya manusia tetapi sepenuhnya Tuhan, tetap mengungkapkan kebutuhan-Nya akan bantuan dan dukungan Bapa. Lukas 6:12 menyatakan bahwa sebelum Yesus memilih kedua belas murid, pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman kepada Allah. Ia berkomunikasi dengan Allah Bapa.

Bagi sebagian pendengar Yesus, ajaran-Nya untuk melakukan hal-hal yang benar secara rahasia mungkin terdengar radikal. Dalam masyarakat yang sangat religius dan bahkan legalistik, mudah untuk berpikir bahwa tujuan dari kegiatan keagamaan adalah untuk dilihat oleh orang lain. Tetapi, percakapan seorang umat dengan Tuhan bukanlah sebuah ritual atau sebuah pertunjukan umum untuk ditonton dan dikagumi banyak orang. Masyarakat yang menekankan kehormatan pribadi menempatkan prioritas tinggi pada rasa “percaya diri”, penampilan yang keren dan doa yang indah, yang dapat diterima oleh anggota keluarga, tetangga, dan komunitas gereja. Yesus membalikkan hal ini dan memperingatkan bahwa jika kita memberi sedekah untuk mengharapkan pujian orang lain, Allah tidak akan memberi pahala atas tindakan tersebut (Matius 6:1-4).

Untuk alasan yang sama, Yesus telah mengatakan bahwa doa rutin kepada Bapa harus dilakukan secara rahasia, di balik pintu tertutup (Matius 6:5). Jika kita berdoa secara demikian, Bapa akan tetap mendengar dan memberi pahala kepada kita, karena Dia adalah satu-satunya pendengar yang penting. Perintah ini tidak boleh dibaca sebagai larangan untuk berdoa syafaat di depan umum di gereja atau di tempat lain. Adalah baik bagi perilaku orang Kristen untuk bersinar seperti terang di dunia (Matius 5:16). Yang Yesus ajarkan, adalah bagi mereka yang berdoa di depan umum—termasuk kebaktian gereja dan acara lainnya—agar mereka menyadari motif mereka. Jika kita ingin berdoa di depan umum tetapi merasa adanya keharusan harus “beraksi” di depan orang lain, kita lebih baik berdoa dalam hati atau dalam suasana pribadi untuk menghindari dosa kesombongan yang dibenci Tuhan.

Matius 6:1–6 berisi peringatan Yesus bahwa tidak ada kebenaran dalam melakukan hal yang benar dengan alasan yang salah. Ini mengalir dari ajaran-Nya dalam bab 5, yang berfokus pada gagasan bahwa pikiran dan sikap merupakan bagian dari kebenaran seperti halnya perilaku. Mereka yang melakukan hal-hal baik, yang hanya dimotivasi oleh persetujuan orang lain, tidak akan diberi pahala oleh Tuhan. Orang munafik bertingkah laku sedemikian rupa agar setiap orang memperhatikan amal serta doa-doa mereka, karena mereka sebagian besar peduli dengan motivasi duniawi. Para penyembah sejati memberi dengan tenang dan berdoa sendirian di balik pintu tertutup karena mereka berkomunikasi dengan Oknum surgawi.

Untuk memahami hakikat komunikasi Tuhan kepada kita dan komunikasi kita kepada-Nya, kita perlu memulai dengan dua prinsip utama.

  • Prinsip pertama adalah bahwa Tuhan hanya mengatakan kebenaran. Dia tidak pernah berdusta, dan Dia tidak pernah menipu. Ayub 34:12 menyatakan, “Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilan.”
  • Prinsip kedua adalah bahwa Alkitab adalah firman Tuhan sendiri. Paulus menegaskan dalam 2 Timotius 3:16 bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Mengapa dua prinsip ini relevan dengan pokok bahasan doa? Sekarang setelah kita menetapkan bahwa Allah hanya berbicara kebenaran dan bahwa Alkitab adalah kata-kata Allah sendiri, kita dapat secara logis sampai pada dua kesimpulan berikut tentang komunikasi dengan Allah. Pertama, karena Alkitab mengatakan bahwa Allah mendengar manusia (Mazmur 17:6, 77:1; Yesaya 38:5), manusia dapat percaya bahwa ketika ia berada dalam hubungan yang benar dengan Allah dan ia berbicara kepada Allah, Allah akan mendengarkannya. Kedua, karena Alkitab adalah kata-kata Allah, manusia dapat percaya bahwa ketika ia berada dalam hubungan yang benar dengan Allah dan ia membaca Alkitab, ia benar-benar mendengar firman Allah yang diucapkan. Mereka yang berdoa tetapi tidak mau mendengar suara Roh Kudus adalah orang-orang yang mengabaikan firman Tuhan.

Hubungan yang benar dengan Tuhan yang diperlukan untuk komunikasi yang sehat antara Tuhan dan manusia dibuktikan dalam tiga cara:

  • Yang pertama adalah berpaling dari dosa, atau pertobatan. Mazmur 27:9, misalnya, adalah permohonan Daud agar Tuhan mendengarkannya dan tidak menjauh darinya dalam kemarahan. Dari sini, kita tahu bahwa Tuhan memang memalingkan wajah-Nya dari dosa manusia dan bahwa dosa menghalangi komunikasi antara Tuhan dan manusia. Contoh lain dari hal ini ditemukan dalam Yesaya 59:2, di mana Yesaya memberi tahu orang-orang, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Jadi, ketika ada dosa yang tidak diakui dan yang disengaja dalam hidup kita, itu akan menghalangi komunikasi dengan Tuhan.
  • Kedua, seperti yang sudah disebutkan di atas, apa yang juga diperlukan untuk komunikasi adalah kerendahan hati. Tuhan mengucapkan kata-kata ini dalam Yesaya 66:2, “… Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku..”
  • Hal ketiga adalah kehidupan yang benar. Bagi orang yang sudah lahir baru, inilah sisi positif dari berpaling dari dosa dan ditandai secara khusus oleh keefektifan dalam doa. Yakobus 5:16 mengatakan, “… Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Ucapan kita kepada Tuhan dapat diucapkan dengan lisan, dalam pikiran, atau tertulis. Dalam hal ini, apa yang penting adalah Tuhan yang di surga mau mendengar doa kita kapan saja, dan karena itu kita bisa berdoa kepada Dia kapan saja dan di mana saja. Kita tidak perlu terikat dengan jadwal doa dua atau tiga kali sehari, tetapi setiap saat kita bisa berbicara dengan Dia. Kita dapat yakin bahwa Dia akan mendengar kita dan bahwa Roh Kudus akan membantu kita untuk berdoa sesuai dengan apa yang seharusnya kita doakan. Roma 8:26 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Mengenai metode Allah untuk berkomunikasi kembali kepada kita, kita harus mencari Allah untuk berbicara kepada kita terutama melalui Kitab Suci, daripada mempercayai bahwa Allah akan selalu menaruh pikiran langsung ke dalam otak kita untuk membimbing kita pada tindakan atau keputusan tertentu. Karena dosa, kita mampu untuk menipu diri sendiri. Karena itu, tidaklah bijaksana untuk menerima gagasan bahwa setiap pikiran yang masuk ke dalam benak kita berasal dari Allah. Begitu juga kita terkadang merasa bahwa hati kita membisikkan sesuatu kepada kita. Ini juga harus diuji kebenarannya dengan firman Tuhan.

Terkadang, mengenai masalah-masalah tertentu dalam hidup kita, Tuhan tidak berbicara kepada kita secara langsung melalui Kitab Suci, dan wajar saja jika kita tergoda untuk mencari wahyu di luar Alkitab dalam situasi seperti itu. Namun, pada saat-saat seperti itu, adalah lebih bijaksana—agar tidak “memasukkan kata-kata itu ke dalam mulut Tuhan” dan/atau membuka diri kita terhadap tipu daya—untuk menemukan jawaban dengan merujuk pada prinsip-prinsip Alkitab yang telah Dia berikan kepada kita. Ini adalah penting untuk menghindari tindakan menipu diri kita sendiri.

Dianjurkan juga untuk berdoa dengan sungguh-sungguh memohon hikmat untuk sampai pada kesimpulan yang benar, karena Dia telah berjanji untuk memberikan hikmat kepada mereka yang memintanya. “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tanpa cela, dan itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah bagaimana kita memakai doa kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Doa adalah pembicaraan kita dari hati kita kepada Bapa surgawi kita, dan sebagai balasannya, Tuhan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya dan membimbing kita dengan tuntunan Roh-Nya. Doa pada hakikatnya bukan hanya berisi permohonan dan pengucapan syukur, tetapi juga kemauan dan jandi kita untuk melaksanakan firman Tuhan. Doa yang benar selalu melibatkan dua hal: berbicara dan mendengar!

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 1

19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 19:18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” 19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 19:25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Matius 19-16-26

Ada sebuah masalah bagi setiap orang yang percaya bahwa keselamatan hanya melalui karunia (by Grace ony atau Sola Gratia) ketika mereka ingin memastikan apakah mereka sudah diselamatkan. Apa tandanya kalau keselamatan itu sudah dikaruniakan kepada mereka? Seseorang yang masih kacau hidupnya mungkin saja percaya bahwa ia tergolong orang pilihan, sedangkan mereka yang mati-matian berusaha taat kepada hukum Tuhan mungkin saja tetap ragu atas keselamatan mereka karena sadar bahwa ketaatan manusia, yang tidak sempurna, tidak dapat menyelamatkan.

Matius 19:16–26 menggambarkan percakapan Yesus dengan seseorang yang bertanya bagaimana cara memperoleh hidup kekal. Ayat 16 mengawali percakapan antara Yesus dan seseorang yang sering disebut “pemimpin muda yang kaya.” Matius menyingkapkan bahwa ia muda dan kaya dalam ayat-ayat berikutnya (Matius 19:20, 22). Catatan Lukas menggambarkan orang itu sebagai seorang pemimpin (Lukas 18:18). Para ahli Alkitab berpendapat bahwa mungkin orang itu memegang jabatan sebagai seorang Farisi atau pemimpin agama lain di Israel.

Dua hal yang perlu kita catat:

  • Pertama, pertanyaan orang kaya itu menunjukkan bahwa ia tidak berpuas diri dengan percaya bahwa sekadar menjadi orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat akan menjaminnya mendapat tempat di surga. Banyak orang Yahudi pada masa itu tampaknya mempercayai hal ini, dan Yesus secara langsung menentang gagasan itu.
  • Kedua, ia percaya bahwa ia harus membuktikan dirinya layak bagi Tuhan. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang Yesus baru saja ajarkan dalam bagian sebelumnya bahwa kerajaan surga adalah milik mereka yang memiliki iman dan kerendahan hati seperti anak-anak. Mengakui kebutuhan dan ketergantungan seseorang kepada Tuhan adalah aspek kunci dari iman yang menyelamatkan.

Orang itu mendekati Yesus dengan pertanyaan yang sangat tajam tapi keliru. Sebenarnya, pertanyaan yang harus ditanyakan oleh setiap orang beragama dalam satu bentuk atau lainnya selama hidup mereka adalah: Bagaimana saya bisa diselamatkan? Tetapi, adalah keliru jika kita bertanya bagaimana kita harus berbuat baik untuk bisa diselamatkan.

Cara orang ini mengajukan pertanyaan itu menyingkapkan asumsi-asumsi yang dimilikinya.

  • Pertama, ia mengajukan pertanyaan itu kepada Yesus, yang ia sebut “guru” atau “rabi.” Ia telah cukup banyak mendengar dan melihat tentang Yesus dan Yudaisme untuk percaya bahwa Yesus mungkin akhirnya menjadi orang yang memberikan jawaban yang berarti untuk pertanyaan ini. Ia memulai dari tempat yang tepat.
  • Kedua, orang itu berasumsi bahwa memiliki hidup kekal bergantung pada tindakan manusia. Ia bertanya kepada Yesus “perbuatan baik” apa yang harus ia lakukan untuk memperoleh atau memperoleh jaminan hidup kekal (Yohanes 6:28). Ini adalah penggunaan pertama frasa “hidup kekal” dalam Matius. Ini sama saja dengan mengatakan, “Bagaimana saya dapat mengetahui dengan pasti bahwa saya akan diterima ke dalam kerajaan surga ketika saatnya tiba?”

Tampaknya, banyak orang pada zaman Yesus (dan juga di zaman sekarang) percaya bahwa melakukan satu perbuatan baik saja, mungkin berulang kali, sudah cukup untuk menjamin hidup kekal. Orang muda ini (dan banyak orang lain) ingin mengetahui ciri-ciri perbuatan baik itu sehingga ia dapat melakukannya dan yakin bahwa ia akan masuk ke dalam kerajaan surga. Sudah tentu, orang-orang seperti itu mempunyai pengertian yang keliru tentang keselamatan.

Jawaban Yesus terhadap pertanyaan orang itu dan percakapan yang terjadi setelahnya akan menunjukkan mengapa tidak seorang pun dapat melakukan cukup banyak perbuatan baik untuk menjamin dirinya memperoleh hidup kekal. Hanya Allah yang baik dan mampu. Kita semua bergantung pada kasih karunia-Nya untuk menyelamatkan kita melalui iman kepada Yesus (Efesus 2:1–10). Tetapi, dengan pengertian ini, banyak orang Kristen yang masih tidak yakin apakah mereka akan diselamatkan. Mereka memerlukan dan mencari bukti dan jaminan keselamatan.

Orang muda ini tidak tahu apakah ia akan diselamatkan sekalipun ia sudah berusaha keras untuk hidup baik. Yesus memulai jawaban-Nya dengan menyebutkan adanya standar kebaikan, menyarankan orang itu untuk menaati semua perintah Tuhan. Ketika orang itu berkata bahwa ia telah melakukan ini, Yesus menyarankan agar ia menyerahkan kekayaannya untuk mengikuti-Nya. Orang muda itu tidak mau melakukannya; ia pergi dengan susah hati. Reaksi orang itu membuktikan bahwa ia tidak mau menjadikan Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

Yesus memerintahkan agar orang itu menaati seluruh perintah-perintah Tuhan agar memperoleh keselamatan. Namun, Yesus tidak mengajarkan bahwa orang itu cukup untuk “menjadi orang baik saja” karena itu tidak mungkin terjadi. Ketaatan yang sempurna memang dibutuhkan jika kita ingin diselamatkan berdasarkan usaha kita sendiri, tetapi itu tidak mungkin tercapai. Tujuan dari pernyataan ini adalah untuk menunjukkan bahwa kebaikan orang itu tidak sempurna. Pada akhirnya, tanggapan orang itu menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak benar-benar bersedia mengikuti Tuhan (Matius 19:22).

Penolakan orang itu menunjukkan betapa mudahnya lebih memilih kekayaan atau kenyamanan hidup daripada bergantung pada Tuhan. Dengan menggunakan ini sebagai contoh, Yesus memperingatkan bahwa kekayaan duniawi dalam bentuk apa pun dapat menyulitkan seseorang untuk menerima keselamatan. Lalu, bagaimana manusia bisa selamat? Siapa yang bisa diselamatkan? Menanggapi pertanyaan para murid itu, Yesus berkata bahwa keselamatan tidak mungkin bagi manusia, tetapi tidak bagi Tuhan.

Jika demikian, mengapa Yesus perlu menyuruh orang itu untuk menaati hukukum-hukum Tuhan agar diselamatkan? Seperti banyak komentar lain yang dibuat oleh Kristus, ini dimaksudkan untuk dipahami dalam konteks percakapan dan alur pemikiran. Ini bukan pernyataan sederhana bahwa kita diselamatkan karena berbuat baik. Ini adalah pernyataan yang tajam, yang mendorong orang kaya itu (dan kita juga) untuk memeriksa tindakan dan motivasi kita dalam hidup.

Tanggapan Yesus (Matius 19:17) tidak dimaksudkan untuk diambil di luar konteks. Maksud-Nya adalah untuk membahas pertanyaan itu dengan orang kaya dari sudut pandang Yudaisme. Dia memberi tahu orang itu untuk menaati seluruh perintah-perintah Tuhan jika dia ingin masuk ke dalam hidup. Dengan kata lain, tidak berbuat dosa sama sekali. Yesus tidak mengatakan bahwa jika seseorang dapat menaati perintah Allah dengan sempurna, mereka akan menerima hidup kekal. Sebaliknya, Ia menyingkapkan kepada pria ini bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya menaati perintah Tuhan. Yesus ingin penguasa muda yang kaya ini tahu bahwa ia tidak benar-benar baik. Tidak ada satu manusia yang tidak berdosa.

Yang lebih penting, alur pemikiran ini menghasilkan kesempatan bagi Yesus untuk menunjukkan apa yang benar-benar menyelamatkan, yaitu iman yang taat dan bertobat. Orang kaya itu mungkin mengaku telah “baik” dalam perilakunya, tetapi ia tidak mau mengikuti Tuhan menurut ketentuan-ketentuan Tuhan (Matius 19:21–22). Seperti itu juga, kita mungkin merasa “sudah dipilih Tuhan”, tetapi tidak mau berusaha untuk menaati perintah-perintah-Nya. Bagaimana itu mungkin?

Memahami bahwa kita tidak baik, bahwa kita berdosa, adalah langkah pertama untuk memahami Injil Yesus: Kita membutuhkan kebaikan-Nya untuk diselamatkan. Kerendahan hati yang percaya dan bergantung itu adalah sesuatu yang baru-baru ini disoroti oleh Yesus (Matius 19:13–15). Ia datang untuk mati di kayu salib di Yerusalem untuk membayar dosa kita. Allah memberikan pujian kepada mereka yang datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus atas kebaikan Yesus, bukannya menghakimi kita berdasarkan kebaikan kita sendiri. Iman yang rendah hati kepada Kristus adalah satu-satunya jalan menuju kehidupan kekal (Yohanes 14:6; Efesus 2:1–10).

Pelajaran inilah yang Yesus sampaikan kepada kita yang menanyakan keselamatan kita. Keselamatan datang kepada mereka yang mengakui kebutuhan mereka dan bersedia mengikuti Tuhan, apa pun yang diminta-Nya dari mereka. Mereka yang datang kepada Yesus untuk mendapatkan keselamatan melalui kasih karunia Tuhan melakukannya dengan memahami bahwa mereka tidak benar-benar baik dan membutuhkan kebaikan Yesus, bukan kebaikan mereka sendiri. Mereka yang bersikeras pada kebaikan mereka sendiri, atau tidak mau mengikuti ketika kehendak Tuhan tidak menyenangkan, tidak akan diselamatkan (Matius 19:21–22). Pada pihak yang lain, mereka yang merasa sudah mengikut Tuhan tetapi tidak memiliki motivasi yang benar, juga akan ditolak Tuhan.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Di permukaan, Yesus memberi orang muda itu tugas yang harus diselesaikannya agar menjadi orang baik yang sempurna. Ia memberi tahu orang kaya itu untuk menyerahkan semua kekayaannya dan menjual semua yang dimilikinya dan memberikan uangnya kepada orang miskin dan datang untuk mengikuti-Nya. Dengan cara ini, Yesus berkata, kamu akan memiliki harta di surga. Tujuan dari komentar ini adalah untuk menyingkapkan kebutaan pemuda kaya ini, dan kurangnya ketulusan hatinya. Orang itu percaya—atau ingin percaya—bahwa ia telah mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Yesus menunjukkan bahwa itu tidak benar karena orang itu masih memiliki banyak kekayaan, dan tetangganya masih miskin. Bagaimanapun, pemuda itu tidak sepenuhnya baik. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen sejati kita tidak boleh merasa bahwa kita adalah “orang baik”.

Ada dua hal dalam komentar Yesus ini. Yang pertama langsung jelas, yang kedua terungkap ketika orang kaya itu bereaksi terhadap nasihat Yesus. Pertama, ini menunjukkan bahwa tidak seorang pun cukup baik untuk dijamin hidup kekal bersama Tuhan di surga. Injil Yesus Kristus menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang cukup baik untuk mati demi menebus dosa kita dan menutupi kekurangan kebaikan kita dengan kebaikan-Nya yang sempurna. Hanya melalui iman kepada Yesus dan melalui kasih karunia serta kuasa Allah, seseorang dapat diselamatkan (Efesus 2:1–10). Sebesar apa pun harapan kita untuk menjadi “cukup baik,” kita tidak dapat memenuhi standar kesempurnaan Allah.

Tujuan kedua dan yang paling langsung dari perkataan Yesus dalam ayat ini ditunjukkan dalam ayat berikut. Ketika didesak untuk mengikuti Allah—untuk mengejar “kebaikan”—orang kaya itu menolak. Reaksinya membuktikan bahwa ia pada akhirnya tidak mau mengikuti Allah (Matius 19:22). Perintah Kristus adalah agar orang itu menyerahkan semua kekayaannya yang besar. Orang muda itu tidak senang mengetahui bahwa ia dapat memperoleh hidup kekal—ia sedih karena ia tidak ingin menaati Allah ketika ketaatan itu terlalu sulit. Ia ingin melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri dan dijamin memperoleh hidup kekal pada saat yang sama. Seperti itu juga, banyak orang Kristen yang sengaja ingin hidup dengan cara mereka sendiri tetapi juga ingin mendapat kepastian akan keselamatan mereka. Ini adalah harapan hampa. Mengapa demikian?

Yesus telah membuktikan bahwa orang kaya itu tidak sebaik yang ia kira. Pemuda itu percaya bahwa ia telah menaati semua perintah. Yesus menunjukkan kepadanya cara khusus untuk mengasihi sesamanya seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Orang itu melihat dengan jelas bahwa ia lebih mengasihi dirinya sendiri daripada sesamanya yang miskin. Dan, pada saat ini, ia membuat keputusan yang jelas bahwa ia lebih suka menyimpan kekayaannya, daripada mengikuti Kristus. Perintah Yesus bagi orang muda ini untuk menyerahkan uangnya bukanlah pernyataan bagi semua orang percaya—itu merupakan tantangan bagi dia untuk menunjukkan ketidaktulusannya yang mendalam.

Yesus menyatakan bahwa hanya dengan susah payah orang kaya (orang yang bergantung pada diri sendiri) akan masuk ke dalam kerajaan surga. Ia baru saja menjanjikan kehidupan kekal kepada seorang pemuda jika ia menjual semua miliknya, memberikan uangnya kepada orang miskin, dan mengikuti-Nya. Tantangan itu hanya ditujukan kepada orang itu—bukan semua orang—dan membuktikan bahwa orang kaya itu tidak benar-benar bersedia menaati Allah. Orang itu tidak dapat dan tidak mau melakukannya.

Komentar Kristus ini menantang asumsi yang dipegang oleh orang-orang pada zaman-Nya tentang kekayaan. Itu juga menantang asumsi banyak orang Kristen di zaman ini. Banyak orang percaya bahwa orang kaya menjadi kaya karena Allah telah memberkati mereka. Mereka berasumsi bahwa kekayaan dan kesuksesan berarti Allah melihat orang-orang itu lebih baik, lebih unggul, atau lebih setia daripada orang miskin biasa. Karena Tuhan sudah menyukai orang kaya, pasti lebih mudah bagi mereka untuk masuk ke dalam kerajaan surga, begitulah pemikirannya.

Pernyataan Yesus menunjukkan bahwa ini tidaklah benar. Pertama-tama, orang kaya tidak menjadi kaya karena mereka adalah orang yang lebih baik daripada orang miskin. Kekayaan dan kesuksesan tentu saja dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang baik (Amsal 3:1-4), tetapi itu juga bisa jadi merupakan hasil dari ketidakjujuran atau kedengkian (Amsal 20:17). Namun, yang lebih penting, tidak seorang pun akan masuk ke dalam kerajaan surga dengan menjadi cukup baik, dengan menjadi lebih baik daripada orang lain. Yesus sebelumnya memberi tahu murid-murid-Nya sendiri bahwa, “.. sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3).

Orang kaya, yang mandiri dan berkecukupan, jauh lebih sulit merendahkan diri dan mengakui kebutuhan mereka, bahkan kepada Tuhan, daripada mereka yang miskin. Itulah sebabnya mengapa sangat sulit bagi mereka untuk masuk ke dalam kerajaan dengan kerendahan hati yang dituntut dari iman kepada Yesus. Prinsip yang sama ini dapat diterapkan kepada mereka yang mengandalkan kecerdasannya, keberuntungan, atau sifat-sifat lainnya daripada Tuhan. Mereka adalah seperti hewan besar seperti seekor unta yang ingin melewati lubang terkecil yang bisa dibayangkan kebanyakan orang.

Yesus menegaskan kembali apa yang telah Ia katakan kepada para murid tentang anak-anak kecil (Matius 19:13–15). Kecuali seseorang berbalik dan menjadi rendah hati serta percaya seperti anak kecil, orang itu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Kerendahan hati dan kepercayaan bukanlah sifat alami orang-orang yang memiliki kekayaan dan kenyamanan yang besar. Secara rohani, mereka yang bangga karena mereka adalah “orang pilihan” atau “orang saleh” juga salah tentang hubungan mereka dengan Tuhan (Matius 5:3).

Ini juga menetapkan bahwa mustahil bagi siapa pun, kaya atau miskin, untuk masuk ke dalam kerajaan surga berdasarkan jasa mereka sendiri, kebaikan mereka sendiri, kelayakan mereka sendiri (Titus 3:5). Ia menetapkan kebenaran yang akan dinyatakan Paulus dengan sangat jelas dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Orang kaya tidak lebih atau kurang mungkin menjadi orang baik daripada orang lain. Uang bukanlah indikator kemurahan hati Tuhan. Maksud Yesus adalah bahwa kerendahan hati dari iman yang sederhana diperlukan untuk memasuki kerajaan surga. Orang kaya—mereka yang merasa mudah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan menyelesaikan masalah duniawi dengan uang—akan merasa lebih sulit untuk merendahkan diri. Mengakui bahwa mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka adalah pengalaman yang tidak wajar. Ini dapat berlaku untuk lebih dari sekadar uang. Mereka yang mengandalkan kecerdasan, penampilan, atau kekuasaan mereka, dapat jatuh ke dalam perangkap yang sama.

Ketika Yesus berkata orang kaya tidak dapat mencapai surga, mereka akan bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang dapat berharap untuk memperoleh keselamatan. Kristus menanggapi dengan pernyataan mengejutkan lainnya, yang mungkin membingungkan pada awalnya. Murid-murid mungkin berharap Yesus akan berkata bahwa hanya mereka yang benar-benar rendah hati atau miskin dalam roh yang dapat diselamatkan (Matius 5:3). Atau, bahwa hanya mereka yang memiliki iman seperti anak kecil dan bergantung pada Allah yang dapat diselamatkan (Matius 19:13–15). Ia tidak juga mengatakan semua itu. Sebaliknya, Yesus setuju dengan murid-murid bahwa mustahil—”bagi manusia”—bagi siapa pun untuk diselamatkan.

Namun, itu bukanlah akhir dari pernyataan Yesus. Ia mengatakan bahwa bersama Tuhan segala sesuatu mungkin terjadi. Ia tidak menutup pintu bagi keselamatan manusia, tetapi Ia menyatakan bahwa Tuhan harus mewujudkannya. Pada saat ini, Ia tidak menjelaskan bagaimana Tuhan akan mewujudkannya: melalui kematian-Nya di kayu salib untuk dosa-dosa manusia.

Doktrin pengajaran iman Kristen menyatakan bahwa keselamatan hanya datang dari Tuhan sebagai karunia. Karunia adalah suatu pemberian kasih Allah, karena itu tidak dapat dibeli (Yohanes 3:16). Dalam hal ini, Tuhan memilih orang-orang yang akan diberi karunia menurut kebijaksanaan-Nya sendiri, dan karena itu tidak ada seorang pun yang dengan perbuatannya bisa memengaruhi keputusan Tuhan yang berdaulat.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Alkitab menyatakan bahwa tidak ada manusia yang suci dan tidak berdosa (Roma 3:23). Karena itu, tidak ada manusia yang bisa diselamatkan dengan usahanya sendiri. Adanya hukum Tuhan bukanlah untuk memastikan siapa yang taat dan diselamatkan, dan siapa yang tidak taat dan yang akan dihukum.

Adanya hukum Tuhan adalah berguna sebagai peringatan bagi manusia akan apa yang jahat, yang tidak disenangi Tuhan, sehingga umat Kristen bisa berusaha untuk menghindarinya jika mereka memang mau tunduk dan bersyukur kepada Allah yang sudah menyelamatkan mereka. Keyakinan Anda akan keselamatan Anda akan muncul jika Anda, dengan bimbingan Roh Kudus, mau berusaha untuk selalu taat kepada perintah-perintah-Nya.