Mencari kesuksesan hidup

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26

Siapa orang terkaya di dunia? Sebagian orang mungkin mengira itu adalah Bill Gates, pendiri perusahaan perangkat lunak Microsoft. Tetapi itu kurang tepat. Bill Gates memang pernah menduduki posisi pertama selama 18 tahun dari 24 tahun sebelum tahun 2018. Pada tahun 2018, pendiri Amazon (perusahaan teknologi multinasional Amerika Serikat yang bergerak di berbagai bidang), yang bernama Jeff Bezos menduduki peringkat nomer satu sedunia. Pada tahun 2022, setelah menduduki puncak daftar selama empat tahun, Bezos dikalahkan oleh Elon Musk. Ketiga orang di atas adalah orang Amerika, yang bersama 6 orang Amerika lain sekarang termasuk dalam 10 besar di dunia (9 dari 10 orang terkaya di dunia adalah orang Amerika).

Elon Reeve Musk (lahir 28 Juni 1971) adalah orang terkaya di dunia sejak Maret 2025; majalah Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai US$345 miliar. Kekayaan Elon Musk ludes US$52 miliar atau sekitar Rp852 triliun sejak awal 2025, antara kain karena anjloknya penjualan mobil listrik Tesla. Namun, dia tetap menyandang status orang terkaya di dunia saat ini. Pada tahun 2025, Elon Musk dipilih presiden Donald Trump untuk memimpin usaha meningkatan efisiensi badan-badan pemerintahan Amerika.

Sekalipun Musk adalah seorang businessman yang sangat sukses, ia kurang sukses dalam kehidupan berumah tangga. Musk pernah menikah dengan dua wanita dan dilaporkan memiliki 14 anak dengan empat wanita berbeda. Elon bukan orang Kristen, sekalipun ia menhargai budaya Kristen. Pertanyaan saya: Apakan Anda ingin sukses seperti Elon Musk dan tetap menjadi orang Kristen? Anda harus berhati-hati karena definisi kesuksesan menurut Alkitab adalah berbeda jauh dengan definisi dunia.

Dalam hal ini, saya ingin memberi Anda pilihan lain. Mungkin Anda pernah mendengar nama Norman Vincent Peale yang pernah menulis buku penuntun hidup sukses yang berjudul “Bible Power for Successful Living: Helping You Solve Your Everyday Problems” yang berarti “Kekuatan Alkitab untuk Hidup Sukses: Membantu Anda Memecahkan Masalah Sehari-hari“.

Norman Vincent Peale (lahir 31 May 1898) adalah putra seorang dokter yang beralih menjadi pendeta Metodis. Ia tumbuh menjadi penulis 46 buku, termasuk buku terlaris yang menginspirasi sepanjang masa yang berjudul “The Power of Positive Thinking” (Kekuatan dari Pikiran Positif). Setelah ditahbiskan, Dr. Peale memperoleh reputasi sebagai pendeta yang dinamis yang gerejanya bertumbuh. Di University Methodist Church di Syracuse, N.Y., ia bertemu dan menikah dengan Ruth Stafford, pasangan hidupnya selama 63 tahun.

Pada usia 34 tahun, Dr. Peale menerima panggilan ke Marble Collegiate Church. Kesan umum selama bertahun-tahun di gereja itu adalah banyaknya turis yang mengantre di sekitar blok untuk mendengarkannya. Pada tahun 1933, ia memulai siaran radio mingguan yang berlanjut selama 54 tahun yang memecahkan rekor. Pada tahun 1984, Dr. Peale dianugerahi Presidential Medal of Freedom oleh presiden Ronald Reagan.

Pertanyaan saya: Apakah Anda ingin sukses seperti Vincent Peale? Anda harus berhati-hati karena definisi kesuksesan dan kekristenan menurut Alkitab adalah berbeda jauh dengan definisi dunia.

Menurut Alkitab, ukuran kesuksesan adalah apakah Anda pada akhirnya akan masuk ke surga. Sebagian orang Kristen berpandangan bahwa hal masuk ke surga adalah urusan Tuhan semata-mata. Tuhan memilih orang baik atau orang jahat sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, ayat di atas menyatakan hal yang berbeda. Tuhan memberi kesempatan, tetapi Anda yang harus memilih. Sebagai pilihan, Anda mau mempertahankan kepentingan duniawi Anda, atau Anda mau menyelamatkan jiwa Anda. Itulah pernyataan inti Yesus dalam bagian Matius 16:24–26.

Dalam bentuk dua pertanyaan, Yesus meninggalkan mereka yang mau mendengar-Nya dengan hanya dua alternatif saja. Apa manfaat utama bagi seseorang yang memperoleh segala sesuatu yang mungkin ditawarkan dunia, hanya untuk menghabiskan kekekalan dengan menderita terpisah dari Tuhan? Berapa nilai jiwa? Apa yang harus diberikan seseorang sebagai imbalan atas keselamatan jiwanya? Ini adalah pertanyaan utama jika Anda mau menjadi orang Kristen yang sukses.

Yesus telah berkata bahwa mereka yang mengikuti-Nya harus rela mengorbankan diri mereka dalam segala hal. Mereka harus rela menyangkal keinginan dan pilihan mereka sendiri, memikul salib mereka seperti yang Dia lakukan, dan akan segera melakukannya dalam arti yang sangat harfiah. Dengan kata lain, mereka harus menyerahkan setiap agenda mereka sendiri untuk sepenuhnya tunduk pada kehendak Tuhan dan tujuan-Nya. Itu sepertinya “mengorbankan” segalanya bagi mereka, tetapi apa yang diserahkan adalah sesuatu yang bersifat sementara dan relatif tidak berharga.

Mereka yang menolak pengorbanan diri dapat hidup untuk diri mereka sendiri. Mereka boleh membanggakan kesuksesan duniawi mereka kepada seisi dunia. Mungkin mereka bahkan akan mendapatkan seluruh dunia untuk diri mereka sendiri. Masalahnya adalah bahwa kesuksesan duniawi seperti itu hanya dapat bertahan sampai kematian datang dan menimbulkan pertanyaan tentang jiwa yang tertinggal yang akan memasuki kematian kekal.

Pada akhirnya, setiap orang harus memilih satu dari hanya dua pilihan (Yohanes 14:6). Kehilangan semua yang kita miliki di dunia, untuk mengikuti Yesus dan diselamatkan selamanya, atau mempertahankan semua yang kita miliki di dunia, untuk melayani diri kita sendiri, dan kehilangan jiwa kita sendiri selamanya pada akhirnya. Itulah satu-satunya pilihan yang Yesus tawarkan dalam bagian ini, dan hanya dua pilihan yang disajikan dalam seluruh Alkitab.

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6

Konsep “hidup sukses” dalam kerangka teologi Kristen yang benar selalu menekankan hal menjalani hidup yang memuliakan Tuhan dan mencerminkan karakter-Nya, daripada hanya berfokus pada kesuksesan atau pencapaian duniawi. Lebih dari sekadar pengertian teologi yang hebat, konsep ini melibatkan kerendahan hati, mencari kemuliaan Tuhan, dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, bahkan di tengah tantangan dan pencobaan.

Dalam konteks ini, kesuksesan tidak didefinisikan terutama oleh kekayaan, ketenaran, atau pencapaian duniawi, melainkan oleh kesetiaan kepada Tuhan dan menjalani hidup yang mencerminkan karakter-Nya. Orang Kristen didorong untuk mencari kemuliaan Tuhan di atas kemuliaan mereka sendiri, dan menggunakan bakat dan kemampuan mereka untuk tujuan-Nya. Berikut ini adalah ringkasan dari apa yang bisa kita mengerti:

Prinsip-prinsip Utama Hidup Sukses:

  • Kerendahan hati: Mengenali ketergantungan seseorang pada Tuhan dan menghindari kesombongan atau mengandalkan diri sendiri.
  • Mencari Kemuliaan Tuhan: Mengutamakan kehormatan dan tujuan Tuhan di atas ambisi pribadi.
  • Kesetiaan: Tetap setia pada Firman Tuhan dan mengikuti perintah-perintah-Nya.
  • Pelayanan: Menggunakan karunia dan kemampuan seseorang untuk melayani orang lain dan memajukan kerajaan Tuhan.
  • Ketahanan: Mengatasi tantangan dan cobaan dengan kasih karunia dan ketekunan, mengetahui bahwa Tuhan menyertai mereka.

Contoh Alkitabiah:

  • Kehidupan Yesus: Kehidupan Yesus, yang dicirikan oleh kerendahan hati dan ketaatan, menjadi model untuk kehidupan yang sukses.
  • Tokoh Alkitab: Contoh individu yang menjalani kehidupan yang sukses, seperti Abraham, Daud, dan Daniel, menunjukkan prinsip-prinsip iman, ketaatan, dan pelayanan.
  • Rasul Paulus: Penekanan Paulus pada kerendahan hati dan pelayanan dalam surat-suratnya kepada gereja-gereja memberikan bimbingan lebih lanjut.

Aplikasi Praktis:

  • Pekerjaan dan Panggilan: Orang Kristen didorong untuk mengejar panggilan mereka dengan tekun dan integritas, berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam pekerjaan mereka.
  • Keluarga dan Hubungan Sosial: Membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih dalam keluarga dan masyarakat sangat penting untuk kehidupan yang memuaskan.
  • Pelayanan dan Misi: Berpartisipasi dalam tindakan pelayanan dan membagikan Injil kepada orang lain merupakan cara penting untuk menjalankan iman seseorang.

Pagi ini, kita bisa melihat bahwa berbeda dari gagasan umum tentang kesuksesan yang sering kali berfokus pada harta benda, ketenaran, dan kekuasaan, umat Kristen didorong untuk mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dengan mengetahui bahwa Dia akan memenuhi kebutuhan mereka. Bagaimana dengan Anda?

Jangan mudah dibodohi orang

(6) Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. (7) Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. (8) Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, (9) karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, (10) dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Efesus 5:6-10

Seorang influencer adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini, perilaku, dan keputusan pembelian orang lain melalui konten yang mereka bagikan di platform media sosial. Mereka adalah orang-orang yang memiliki banyak pengikut (follower) dan mampu mempengaruhi orang lain berasal dari keahlian, pengetahuan, atau gaya hidup yang mereka tunjukkan. Sebagai contohnya, berbagai selebriti, blogger, YouTuber, tokoh publik dan bahkan tokoh gereja yang sering menerbitkan berbagai ulasan, pendapat, ajaran dan kupasan di media sosial.

Para influencer media sosial memiliki efek yang luas, baik positif maupun negatif, yang mencakup peningkatan penjualan, pengaruh terhadap gaya hidup, dan bahkan dampak psikologis pada pengikut. Selain itu mereka mungkin juga mempunyai peran dalam membentuk pandangan sosial, agama, politik dan budaya orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa dalam suasana globalisasi abad ini, negara-negara tertentu memakai banyak influencer untuk mengabarkan apa yang baik tentang negara itu sambil menjelek-jelekkan negara lain. Bahkan, dalam bidang keagamaan, banyak tokoh-tokoh agama/gereja yang melakukan hal yang serupa dalam hal kerohanian.

Pengikut influencer mungkin salah menganggap konten yang dipromosikan oleh influencer sebagai fakta atau saran yang valid, yang dapat menyebabkan keputusan yang salah atau berbahaya. Dalam kenyataannya, banyak influencer menampilkan berita bohong atau hoax yang dapat menimbulkan keresahan, kerugian finansial, dan merusak reputasi orang/golongan lain. Hoax seringkali juga digunakan untuk menyulut kebencian, kemarahan, dan hasutan yang dapat mengganggu kestabilan politik dan keamanan negara.

Jika istilah influencer media sosial baru dikenal pada abad 21, kata influencer seharusnya bisa dipakai sejak zaman Adam dan Hawa, yang ditipu oleh influencer besar: iblis. Untuk melawan pengaruh iblis, dalam Efesus 5 Paulus memberi nasihat kepada jemaat Efesus untuk meniru Kristus. Paulus berpesan bahwa orang Kristen harus menghindari amoralitas seksual, bahasa vulgar, kebodohan, dan sikap tidak pantas lainnya yang mungkin disampaikan oleh para “influencer” di Efesus. Paulus memperingatkan bahwa mereka yang terus-menerus melakukan dan mengajarkan perilaku ini bukanlah bagian dari kerajaan Allah.

Efesus 5:1–21 melanjutkan petunjuk Paulus yang sangat berharga tentang bagaimana orang Kristen harus menjalankan iman mereka. Daripada meniru dunia, atau dikendalikan oleh hal-hal duniawi, orang Kristen harus dipenuhi dengan Roh. Cacat-cacat tertentu seperti amoralitas seksual, ucapan kasar, dan pemborosan waktu tidak dianjurkan, dan bahkan harus dihindari. Orang percaya harus tunduk satu sama lain karena menghormati Kristus, dan mau memberikan kesaksian yang kuat kepada dunia tentang apa yang baik di mata Allah.

Paulus memperingatkan orang-orang Kristen agar tidak disesatkan oleh pengaruh duniawi. Ada banyak orang (di luar dan di dalam lingkungan gereja) yang dapat menjadi influencer yang menipu orang-orang Kristen untuk merasa “aman” dalam melakukan amoralitas seksual; atau berbicara secara bodoh, biasanya dengan menyarankan bahwa tidak ada salahnya melakukan hal ini dan itu jika mereka adalah orang pilihan. Dalam hal ini, orang-orang Kristen sejati tidak kebal terhadap godaan seksual (Ibrani 4:15), tetapi sebenarnya sudah diberdayakan Tuhan untuk mengenalinya, menolaknya, dan menggantinya dengan tindakan-tindakan saleh (1 Korintus 10:13).

Paulus kemudian mengingatkan para pembacanya tentang masa depan orang-orang yang berusaha menipu mereka: penghakiman Allah. “Murka Allah” disebutkan oleh Yesus (Yohanes 3:36), dan sering kali oleh Paulus (Roma 1:18; 5:9; 12:19; Kolose 3:6), serta rasul Yohanes (Wahyu 14:19; 15:1, 7; 16:1; 19:15). Penghakiman ini sekali lagi mencerminkan keyakinan Paulus bahwa mereka yang tidak mau berusaha meniru Allah adalah orang-orang yang tidak percaya dan yang akan mengalami murka Allah. Sebaliknya, orang-orang percaya diselamatkan dari murka Allah oleh darah Kristus (Roma 5:9). Sekali lagi, ini bukan merujuk pada dosa-dosa yang terjadi sesekali, tetapi kepada mereka yang “berjalan dalam kegelapan,” atau menjadikan perilaku seperti itu sebagai kebiasaan.

Kata-kata Paulus dalam ayat 7 memberikan instruksi yang singkat namun kuat. “Rekan sekerja” adalah mereka yang bekerja sama dalam suatu hubungan yang saling terhubung. Orang percaya dan orang yang tidak percaya tidak boleh berhubungan dekat. Segala perbuatan orang yang mengaku Kristen tetapi hidup dalam dosa dapat menodai orang percaya dan dapat merusak reputasi gereja (Efesus 5:3-4).

Tentu saja, ini tidak berarti orang Kristen harus menghindari semua kontak atau pergaulan dengan orang yang bukan Kristen. Dunia ini dihuni oleh anak-anak terang dan anak-anak gelap (Matius 5:45). Yesus adalah sahabat orang berdosa (Matius 11:19). Meniru Dia mengharuskan kita untuk menunjukkan kasih dan teladan yang baik kepada orang yang belum diselamatkan di saat kita menginjili mereka. Namun, ada batasan tertentu dalam Alkitab. Jika kita melanggar batas-batas firman Tuhan, kita dapat memberi kesan pada orang lain bahwa kita menyetujui apa yang Tuhan sebut dosa.

Orang percaya harus dikenal karena kehidupan mereka yang kudus (Efesus 5:3-4) yang berbeda dari dunia (Efesus 5:5-6). Ini bukan cara hidup orang Farisi yang munafik. Gereja, termasuk semua orang percaya di dalam Kristus, adalah mempelai Kristus (Efesus 5:25-33) dan tiang kebenaran (1 Timotius 3:15-16). Orang percaya tidak dapat lagi hidup seperti sebelum mengenal Kristus (Efesus 5:8), tetapi harus melakukan apa yang menyenangkan Allah (Efesus 5:9). Instruksi Paulus dalam Efesus 5:8-21 terus menekankan tema-tema ini, yang membedakan kehidupan orang percaya dan orang yang tidak percaya. Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen sejati, kita tidak boleh ragu dalam melaksanakan firman Tuhan untuk hidup kudus. Kehidupan orang percaya harus terlihat sangat berbeda dari orang yang tidak percaya. Ini memerlukan usaha kita. Bukan Que Sera Sera (apa yang akan terjadi biarlah terjadi). Dalam banyak kasus, ini berarti kita sengaja menjaga jarak hidup kerohanian dan moralitas antara kita yang diselamatkan dan mereka yang tidak diselamatkan. Jangan sampai kita dipengaruhi oleh mereka yang mungkin mengaku Kristen atau simpatisan Kristen, dan mungkin juga tokoh gereja, tetapi hidup mereka tidak menunjukkan ciri-ciri kekristenan.

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus‬ ‭6‬:‭14‬‬

Dalam Efesus 5:8, Paulus membandingkan masa lalu para pembacanya dengan status mereka saat ini. Setiap orang Kristen sejati pasti dapat melihat adanya perbedaan antara cara hidup di masa lalu dan cara hidup sekarang. Perbedaan prinsip moralitas ini adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Sebelum mengenal Kristus, semua manusia berada dalam “kegelapan.” Sebagai orang percaya, mereka adalah “terang di dalam Tuhan.” Kontras antara gelap/terang sudah ada sejak Kejadian 1 dan umumnya dikaitkan dengan kejahatan versus kebaikan, persis seperti yang Paulus gunakan dalam konteks ini.

Berdasarkan status baru mereka, Paulus memerintahkan para pembacanya untuk, “Hiduplah sebagai anak-anak terang.” Paulus menggunakan frasa ini dalam satu bagian lain, 1 Tesalonika 5:5, di mana ia menggambarkan orang Kristen sebagai “anak-anak terang, anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” Dalam bagian itu, penekanannya adalah pada hidup “terjaga,” waspada untuk menaati Tuhan. Ini adalah tema yang Paulus catat lagi dalam Efesus 5:14. Penerapan serupa Paulus di sini adalah hidup dalam ketaatan sebagai orang percaya. Orang Kristen harus meniru Allah (Efesus 5:1), hidup dalam kasih (Efesus 5:2), dan menjauhi tindakan berdosa (Efesus 5:3-6). Mereka tidak boleh hidup seperti orang yang tidak percaya atau menjadi “mitra” dengan mereka (Efesus 5:7).

Dalam ayat 9, Paulus menyisipkan penjelasan tambahan tentang apa artinya hidup sebagai anak-anak terang. Paulus menyebutkan “buah terang” sebagai rujukan kepada “hasil” kehidupan. Dengan kata lain, ketaatan Kristen ditemukan dalam “segala yang baik, adil dan benar.” Ketiga kata tersebut mengungkapkan konsep yang sama tentang tindakan yang mulia dan menyenangkan Allah.

Dua tema dicatat dalam ayat 10. Pertama, orang percaya harus memiliki kebijaksanaan. Paulus mencatat di tempat lain hubungan antara kebijaksanaan dan menyenangkan Tuhan, dalam Roma 12:2: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kedua, orang percaya harus menyenangkan Tuhan. Orang percaya tidak boleh hidup hanya untuk menyenangkan orang lain (Efesus 6:6) sekalipun ketika kita bekerja untuk orang lain, kita harus melayani dia dengan baik. Namun, tujuan utama orang percaya adalah untuk menyenangkan Tuhan, bukan manusia (1 Tesalonika 2:4).

Pagi ini, kita harus sadar bahwa di dunia ini ada banyak influencer yang ingin memengaruhi kita. Iblis adalah bapa semua influencer, baik yang ada di luar gereja maupun di dalam gereja. yang berusaha membuat cara hidup kita jauh dari apa yang dikehendaki Allah. Iblis, dalam konteks Alkitab, dikenal sebagai “bapa segala dusta” (Yohanes 8:44) karena ia adalah sumber kebohongan dan penentang kebenaran. Biarlah kita tetap waspada selama hidup di dunia dan rajin memelajari serta melaksanakan firman Tuhan!

“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” 1 Tesalonika 4:1

Semua orang sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan

“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13:4-5

Bagi sebagian orang, malapetaka seperti adanya gempa bumi di Myanmar dan Thailand beberapa hari yang lalu bisa menimbulkan tanda tanya. Apakah yang terjadi di kedua negara itu sehingga ada banyak orang yang mengalami kematian yang tragis? Jika orang tewas karena mengalami kecelakaan ketika mengebut, itu dapat dimengerti. Jika seseorang tewas karena ditabrak oleh orang lain yang mengebut, itu pun bisa diterimai sebagai nasib malang. Walaupun demikian, ada yang berpendapat bahwa adanya kematian yang tidak “normal” adalah karena adanya kesalahan besar atau dosa yang diperbuat manusia kepada Tuhan. Benarkah begitu?

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca berita media tentang seorang pengemudi mobil di Jawa Timur yang meninggal ketika sebuah kotak kontainer pengangkut barang dari kapal (shipping container) terguling jatuh dari truk yang mengangkutnya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi karena setiap kontainer seharusnya dikunci dengan alat khusus ke bak truk pengangkutnya. Tetapi malang tak dapat ditolak, pengemudi mobil di sebelah truk tidak sempat melarikan diri ketika kontainer besi yang beratnya beberapa ton itu kemudian jatuh terguling secara tiba-tiba. Apakah pengendara mobil itu tewas secara mengenaskan karena dihukum Tuhan?

Alkisah, pada waktu itu berita tersebar bahwa Pilatus membunuh beberapa orang Yahudi dari Galilea. Rupanya, orang-orang itu pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban, mungkin untuk Paskah. Mereka bermaksud baik, tetapi tewas secara menyedihkan. Yesus menunjukkan bahwa tragedi ini tidak membuktikan bahwa orang yang mati secara tidak “normal” sudah melakukan kesalahan besar kepada Tuhan. Kematian orang-orang itu adalah akibat dari kekerasan yang mengerikan dan tidak adil, tetapi itu bukannya sesuatu hal yang harus dihunungkan dengan murka Tuhan. Kemudian dalam ayat 4 dan 5, Yesus menyebut sebuah contoh lain tentang kematian yang tidak “normal”. Sebuah menara di waduk di Yerusalem telah runtuh, menewaskan delapan belas orang. Seperti korban Pilatus, mereka yang terbunuh oleh menara itu tidak melakukan dosa tertentu untuk pantas menerima hukuman ini. Mengapa begitu?

“Pelanggar hukum” mengacu pada seseorang yang berutang besar. Tetapi, malapetaka di atas bukan hukuman langsung dari Allah atas dosa mereka. Allah tidak mengurung orang-orang yang paling berdosa di Yerusalem di bawah menara dan kemudian menggunakan jari-Nya untuk menjatuhkan menara. Meskipun Tuhan memegang kendali atas segala sesuatu, tidak semua yang terjadi pada seseorang merupakan respons langsung dari Tuhan atas dosa pribadinya. Runtuhnya menara adalah tragedi fisik secara spontan yang terjadi dengan izin Tuhan.

Runtuhnya menara Siloam tidak disebutkan dalam catatan sejarah lainnya, dan, karena Alkitab tidak memberikan perincian lebih lanjut tentang keruntuhan bangunan itu, kita tidak dapat memastikan untuk apa menara itu dibangun atau mengapa runtuh. Tragedi itu jelas diketahui oleh para pendengar Yesus. Siloam adalah daerah di luar tembok Yerusalem di sisi tenggara kota. Ada sebuah kolam yang dialiri mata air di sana, yang menjadi tempat terjadinya salah satu mukjizat Kristus (Yohanes 9). Menara Siloam mungkin merupakan bagian dari sistem saluran air atau proyek konstruksi yang dimulai oleh Pilatus. Bagaimanapun, menara itu runtuh, dan delapan belas orang tewas dalam bencana itu.

Baik Alkitab maupun tulisan-tulisan di luar Alkitab tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kekerasan Pilatus terhadap orang-orang Galilea atau runtuhnya menara Siloam. Itu tidak berarti bahwa peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi, hanya saja dalam konteks Kekaisaran Romawi yang lebih besar, peristiwa-peristiwa itu adalah peristiwa-peristiwa kecil. Sayang bahwa sebagian orang Kristen membesar-besarkan peristiwa-peristiwa itu dan memakainya untuk mengajarkan bahwa kematian yang tragis adalah berasal dari dosa yang besar.

Ketika tragedi menimpa, seperti yang terjadi di menara Siloam, wajar saja jika orang-orang mulai bertanya mengapa. Pikiran-pikiran muncul seperti mungkin para korban memang pantas menerimanya. Mungkin mereka orang jahat, dan mungkin juga mereka berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan itulah sebabnya hal-hal buruk terjadi pada mereka. Namun, terkadang orang-orang yang terdampak tragedi tampaknya bukan orang jahat. Terutama ketika korbannya adalah anak-anak. Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang baik? Mengapa Lukas menyebutkan kedua kejadian di atas?

Dalam mengomentari kejatuhan menara Siloam, Yesus menolak empat asumsi yang sering dibuat orang:

  • Penderitaan sebanding dengan dosa.
  • Tragedi adalah tanda pasti penghakiman Allah.
  • Hal-hal buruk hanya terjadi pada orang jahat.
  • Kita berhak membuat penghakiman seperti itu.

Untuk setiap asumsi ini, Yesus menolaknya.

Lukas rupanya ingin mengajar kita bahwa maksud Yesus dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa orang-orang meninggal secara tiba-tiba setiap hari. Anda tidak dapat menghindari kematian. Yang dapat Anda lakukan adalah memastikan bahwa Anda dibenarkan di hadapan Tuhan sehingga setelah kematian fisik, Ia akan membawa Anda pulang kepada-Nya. Suatu hari nanti tidak akan ada lagi air mata, kekerasan, atau tragedi yang tidak masuk akal (Wahyu 21:4).

Lukas 13:1–5 menguraikan pelajaran yang baru saja diajarkan Yesus. Dalam Lukas 12:57–59, Yesus memberi tahu orang banyak untuk berdamai dengan orang lain yang telah mereka sakiti. Sekarang, Yesus memakai tragedi dunia nyata untuk menunjukkan bahwa menjadi “orang saleh” tidak akan melindungi kita dari kematian fisik. Namun, pertobatan kepada Tuhan akan melindungi kita dari kematian kekal.

Yesus menggunakan contoh-contoh dunia nyata untuk menunjukkan bahwa tragedi dan kematian dapat menimpa siapa saja, bahkan orang benar. Karena itu, tidak seorang pun boleh menunda saat untuk berdamai dengan Tuhan karena waktu hampir habis. Yesus menyembuhkan seorang wanita di sinagoge, pada hari Sabat, yang memicu respons marah. Yesus menegur pemimpin sinagoge, lalu berkhotbah tentang penyebaran Injil yang tak terelakkan ke seluruh dunia. Namun, Ia juga mencatat bahwa kebanyakan orang akan menolak pesan ini, termasuk orang-orang Israel. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa waktu yang ada masih panjang.

Yesus mengulangi peringatan-Nya. Ia mengajar orang banyak tentang prioritas dalam hidup. Ia memulai dengan perumpamaan tentang seorang petani kaya yang menuai panen yang sangat banyak sehingga ia bisa pensiun. Namun, ia meninggal malam itu. Dalam kematian, ia tidak membutuhkan lumbung-lumbungnya yang penuh dengan gandum dan ia tidak mencurahkan usaha apa pun untuk membangun hubungannya dengan Tuhan. Ia menghargai harta duniawi yang tidak berarti dengan mengorbankan jiwanya yang kekal (Lukas 12:15-21).

Maksud Yesus adalah bahwa kematian menimpa semua orang, dan terkadang kematian itu datang secara tiba-tiba dan tidak adil. Inilah alasan lebih lanjut mengapa orang perlu bertobat dari dosa-dosa mereka dan berdamai dengan Tuhan sekarang. Pesannya sama bagi kita. Kita memiliki waktu yang terbatas di bumi dan kita tidak tahu kapan itu akan berakhir (Yakobus 4:14; 2 Korintus 6:2). Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengalami “pertobatan menjelang ajal.” Jauh lebih baik untuk memanfaatkan waktu yang kita miliki, mengakui dosa-dosa kita, menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, dan memastikan kita akan hidup selamanya di surga bersama Tuhan.

Apakah Anda berasal dari Galilea atau Yerusalem, dari Jakarta atau Surabayaa, dari desa atau kota; apakah Anda kaya atau miskin, muda atau tua; apakah Anda menganggap diri Anda sebagai orang berdosa atau orang suci; dan apakah Anda ingin memikirkan hal-hal rohani atau tidak—faktanya adalah Anda berada di bawah penghakiman Tuhan kecuali Anda bertobat dan beriman kepada Yesus.

Mengapa hidup ini begitu sulit?

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5:3-5

Bagaimana Anda menilai kehidupan Anda saat ini? Mudah-mudahan Anda baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa. Hidup bahagia tidak mudah dicapai, karena itu Anda harus bersyukur kepada Tuhan jika Anda mengalaminya. Anda termasuk dalam kelompok kecil yang beruntung!

Bagi banyak penduduk Australia saat ini, hidup ini terasa berat. Terutama sejak COVID-19, keadaan perekonomian terasa merosot dan karena itu banyak orang merasakan bahwa hidup makin sulit. Bagaimana tidak? Mereka yang belum bisa memiliki rumah sendiri, sekarang sulit mencari rumah sewa. Karena itu, makin banyak orang yang kemudian tidak bisa tinggal di rumah (homeless), yang kemudian harus tinggal di mobil atau dalam tenda di taman umum. Ini mirip keadaan di Amerika, walaupun masih dalam skala yang lebih kecil.

Jika kita termasuk dalam kelompok yang mengalami kesulitan hidup saat ini, mungkin kita mencari jawaban mengapa kita harus menderita. Kita mungkin heran jika Alkitab menyatakan bahwa kerumitan dan cobaan hidup merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk pertumbuhan, ketahanan, dan pengembangan karakter, sekaligus mengakui bahwa dunia akan menghadirkan tantangan, tetapi orang yang percaya dapat menemukan kedamaian dan harapan di dalam Kristus. Alkitab tidak menyangkal adanya kesulitan atau penderitaan, tetapi Alkitab membingkai pengalaman-pengalaman ini dalam konteks yang lebih luas tentang tujuan dan kasih Allah.

Paulus menjelaskan bagaimana mereka yang melalui iman kepada Kristus, telah dibenarkan dan dibenarkan di hadapan Allah dengan pengampunan dosa-dosa kita. Manfaat-manfaat ini hanya tersedia bagi orang percaya—kata “kita” yang Paulus gunakan di sini menunjukkan orang-orang Kristen yang diselamatkan, bukan seluruh umat manusia. Sejauh ini, Paulus telah menunjukkan bahwa kita hidup dalam keadaan damai dengan Allah selamanya, tidak lagi dalam bahaya menerima keadilan-Nya yang murka atas dosa-dosa kita yang sekarang telah diampuni. Selain itu, melalui iman, kita telah memperoleh akses kepada kasih karunia Allah dan bahkan sekarang menerimanya. Akhirnya, kita memiliki sukacita yang datang dari memiliki harapan yang benar-benar pasti untuk mengalami kemuliaan Allah untuk selamanya.

Mungkin Anda kurang bisa menerima bahwa penderitaan bisa membawa keuntungan. Apakah Paulus mengada-ada? Perlu dicatat, bahwa Rasul Yakobus mengawali suratnya dengan gagasan yang sama persis ketika ia berkata, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2–3). Jadi Paulus dan Yakobus sama-sama melihat kenyataan ini sebagai alasan umat Tuhan untuk bersukacita. Kita harus memahami “bersukacita” sebagai pilihan yang kita untuk menyatakan bahkan keadaan tersulit kita justru merasakan kebaikan Tuhan bagi kita, dalam arti bahwa Dia memanggil kita lebih dekat, dan untuk percaya kepada-Nya lebih dalam.

Roma 5 dimulai dengan menggambarkan beberapa manfaat yang datang dengan dinyatakan benar oleh Tuhan karena iman kita kepada Kristus. Kita memiliki kedamaian dengan Tuhan, dan kita berdiri dalam kasih karunia-Nya. Kita bersukacita baik dalam harapan akan kemuliaan Tuhan maupun dalam penderitaan sementara kita. Kita memiliki harapan yang tidak akan mengecewakan, karena Allah telah membuktikan kasih-Nya kepada kita. Paulus kemudian membandingkan pekerjaan Adam dalam mendatangkan dosa dan kematian ke dunia dengan pekerjaan Kristus dalam mati menebus dosa agar dapat menawarkan anugerah kasih karunia Allah yang cuma-cuma kepada semua orang yang percaya.

Jika kita selanjutnya membaca Roma 5:1–11, kita akan mengerti adanya manfaat luar biasa yang datang dengan dinyatakan benar di hadapan Tuhan melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita. Ini hanya bisa dimengerti oleh orang percaya. Mereka yang belum menjadi orang Kristen mungkin merasa bahwa jika mereka tidak menjahati sesama, itu sudah cukup untuk bisa ke surga. Mereka tidak takut akan murka Allah yang mahasuci. Sebaliknya, kita mengerti bahwa Tuhan perlu berdamai dengan kita melalui pengrbanan Anak-Nya. Kita sekarang bisa berdiri dalam kasih karunia-Nya, dan kita bersukacita dalam harapan yang pasti bahwa kita akan berbagi dalam kemuliaan-Nya. Penderitaan kita membawa pertumbuhan, yang mengarah pada harapan yang lebih kuat. Tuhan telah membuktikan kasih-Nya bagi kita dengan fakta bahwa ketika kita masih berdosa, Kristus mati untuk kita. Kita diselamatkan dari murka Tuhan dan didamaikan dengan Tuhan di dalam Kristus.

Roma 5:3 menggambarkan manfaat fantastis yang datang dengan dibenarkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kita kepada Kristus, Paulus memulai ayat sebelumnya dengan mengatakan bahwa kita “bermegah dalam kesengsaraan kita.” Yang ia maksud bukanlah “kita” dalam pengertian seluruh umat manusia, tetapi dalam konteks mereka yang menyatakan iman kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Abraham. Paulus juga tidak bermaksud bahwa kita merasa senang ketika keadaan sulit. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa, bagi mereka yang ada di dalam Kristus, penderitaan adalah kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah dan bertumbuh dalam iman kita. Penderitaan bagi orang percaya, tulis Paulus, menghasilkan ketahanan, kemampuan untuk terus mempercayai Allah untuk jangka waktu yang lebih lama dan melalui keadaan yang lebih sulit.

Dalam Roma 5:4, Paulus menambahkan bahwa iman ketahanan yang teruji dalam pertempuran ini menghasilkan kualitas karakter dalam diri orang Kristen. Orang Kristen yang berkarakter baik memilih untuk terus melakukan hal-hal yang benar secara konsisten. Polanya adalah bahwa penderitaan menyebabkan kita mempercayai Allah pada tingkat yang lebih dalam, dan semakin kita mempercayai Allah, semakin besar kemungkinan kita untuk secara konsisten membuat pilihan yang benar. Kita menjadi orang Kristen yang karakternya terbukti.

Karakter juga menghasilkan kualitas baru dalam diri kita: harapan. Dalam konteks Kitab Roma dan Perjanjian Baru, “harapan” adalah keyakinan bahwa Allah akan memberikan apa yang dijanjikan-Nya. Harapan menyiratkan tingkat kepastian tertentu bahwa kita akan menerima kebaikan Allah selamanya. Harapan mendefinisikan dasar atau “garis bawah” bagi pikiran dan emosi seorang Kristen. Apa pun yang terjadi, kita sepenuhnya yakin bahwa tujuan akhir kita adalah berbagi kemuliaan Allah selamanya.

Dalam Roma 5:5, Paulus memperkenalkan gagasan yang menantang dalam ayat-ayat sebelumnya: bahwa orang Kristen dapat melihat penderitaan sebagai alasan untuk bersukacita. Ia tidak bermaksud bahwa setiap orang harus merasa senang atau antusias dengan keadaan yang sulit. Sebaliknya, mereka yang diselamatkan—yang telah menyatakan iman kepada Kristus—dapat menyatakan kepada diri mereka sendiri bahwa penderitaan ini berharga. Penderitaan memberikan kesempatan untuk bertumbuh menjadi orang-orang yang dipanggil untuk menjadi seperti Kristus yang sudah pernah menderita dan kemudian menereima kemuliaan dari Bapa. Paulus menyimpulkan bahwa harapan kita tidak akan pernah mempermalukan kita. Dengan itu, Paulus berarti harapan kita akan sepenuhnya dibenarkan. Pada akhirnya, kita tidak akan pernah kecewa karena berharap untuk menerima kebaikan Tuhan selamanya.

Mengapa orang percaya dapat begitu yakin tentang tujuan akhir kita? Jawaban Paulus mengungkapkan emosi Allah terhadap kita. Kasih-Nya telah dicurahkan di dalam hati kita. Dengan kata lain, Allah akan selalu, selalu menepati janji-janji-Nya kepada kita karena Ia mengasihi kita. Bukan hanya karena Allah mampu dengan penuh kuasa untuk melakukan apa yang telah Ia janjikan. Bukan hanya karena Allah itu baik. Itu karena Ia peduli terhadap kita, mengasihi kita, begitu dalam sehingga masing-masing dari kita benar-benar membawa kasih-Nya di dalam diri kita, melalui Roh Kudus.

Dengan petunjuk Roh Kudus kita bisa mengerti bahwa perspektif Allah bukanlah bahwa hidup kita dimaksudkan untuk menjadi mudah, tetapi bahwa bahkan melalui kesulitan, Dia bekerja untuk kebaikan orang percaya dan untuk kemuliaan-Nya. Alkitab menawarkan harapan dan kepastian bahwa orang percaya dapat menemukan kekuatan dan penghiburan dalam Kristus, bahkan dalam menghadapi kesulitan. Yesus mengakui bahwa kehidupan Kristen tidak akan mudah, tetapi Dia juga berjanji bahwa kita memiliki harapan yang lebih besar di dunia yang akan datang!

Mengapa peduli atas nasib orang lain?

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6:10

Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa ada seorang teman di Indonesia yang meninggal dunia secara tidak terduga. Tidak mengalami gejala sakit yang jelas, namun tiba-tiba mengalami kesulitan bernafas. Tidak sempat ke rumah sakit, beliau meninggal agaknya karena kekurangan oksigen. Bagaimana persisnya proses kejadiannya, saya kurang tahu. Namun gejala sulit bernafas secara tiba-tiba itu mungkin ada hubungannya dengan anafilaksis. Anafilaksis adalah reaksi alergi yang sangat berat dan bisa mengancam nyawa, yang harus ditangani sebagai keadaan darurat medis karena dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan dan penurunan tekanan darah drastis.

Sebagai orang awam dalam hal medis, saya kurang mengerti apakah anafilaksis sering terjadi di Indonesia. Tetapi, sepengetahuan saya banyak orang di Indonesia yang belum pernah mendengar hal itu. Dalam hati saya timbul pertanyaan apakah saya harus peduli akan hal itu? Adakah yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan? Bukankah Tuhan yang menentukan hidup-mati seluruh umat manusia? Kemudian saya teringat bahwa sebenarnya, saya dapat memberi info tentang antifilaksis kepada teman-teman WA saya. Jadi, saya mengirim beberapa artikel terpercaya dari internet tentang anafilaksis, dengan harapan bahwa teman-teman saya bisa meneruskannya ke orang lain. Saya berpikir bahwa sudah sewajarnya saya peduli akan nasib orang lain, karena pujii Tuhan, banyak teman saya yang mengingatkan saya tentang berbagai hal yang penting di masa lalu.

Galatia 6 memuat petunjuk tentang bagaimana orang percaya tidak boleh lelah berbuat baik kepada satu sama lain. Kita tidak boleh segan untuk berbuat baik sekalipun ada orang yang menuduh kita “sok” atau “ragu atas karunia keselamatan kita”. Kita harus mengerti bahwa Galatia 6:1–10 berfokus pada bagaimana orang-orang di dalam Kristus harus memperlakukan satu sama lain melalui kuasa Roh Allah.

Kita harus memulihkan mereka yang terperangkap dalam dosa dengan kelembutan dan kerendahan hati, dan kita harus saling membantu menanggung beban jasmani dan rohani satu sama lain. Karena itu, orang Kristen harus jujur kepada diri sendiri tentang apa yang Allah lakukan melalui kita. Kita harus bersyukur atas berkat-Nya dalam hidup jasmani maupun rohani kita. Dan karena itu kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah Ia minta kita lakukan. Justru karena hidup kekal kita datang dari penanaman Roh Allah melalui iman kepada Kristus dan bukan melalui perbuatan daging, kita harus terus berbuat baik sebagai pernyataan syukur kita.

Paulus telah mendesak orang-orang Kristen di Galatia agar tidak jemu-jemu berbuat baik, melalui kuasa Roh Allah. Itu akan membuahkan hasil ketika “tanaman” datang, Paulus meyakinkan mereka tentang hal itu. Tanaman apa? Tanaman yang paling jelas adalah kehidupan kekal mereka sendiri di dalam Kristus. Selain itu, Paulus mungkin juga memiliki hasil positif lainnya dalam pikirannya, termasuk kehidupan kekal orang lain yang akan datang kepada Kristus. Selain itu, Paulus memikirkan pahala yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang Kristen yang melayani dengan baik dalam hidup ini (Matius 6:19-20). Karena itu adalah perintah Tuhan, kita harus peduli atas nasib orang lain.

Paulus menggambarkan kita semua yang ada di dalam Kristus sebagai bagian dari “keluarga iman.” Di dalam Kristus, kita adalah saudara kandung, dan Allah adalah Bapa kita. Berbuat baik kepada orang lain dalam keluarga kita adalah investasi yang akan membuahkan hasil bagi mereka dan bagi kita baik sekarang maupun selamanya agar nama Tuhan dipermuliakan. Berbuat baik adalah jawaban yang berlawanan dari apa yang dikatakan Kain kepada Tuhan:

Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Kejadian 4:9

Dalam kasus apa pun, musim tanam hanya berlangsung sebentar. Itu pada akhirnya harus berakhir. Paulus mengatakan ini, secara rohani, selagi kita hidup waktu yang ada adalah waktu menanam. Selama kita memiliki kesempatan untuk berbuat baik, untuk menginvestasikan hidup kita dengan kuasa Roh Allah dalam melakukan apa yang benar, kita harus menggunakannya. Ini termasuk berbuat baik dalam hal jasmani maupun rohani kepada semua orang tetapi secara khusus kepada sesama orang percaya.

Orang Kristen dan hidup sehat

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20:

Dari sudut pandang Kristen, olahraga umumnya dipandang sebagai cara merawat tubuh, yang merupakan ciptaan Tuhan, dan sarana pengelolaan – bukan sebagai persyaratan agama atau jalan menuju keselamatan. Walaupun demikian, ayat di atas menyoroti pentingnya memperlakukan tubuh kita dengan rasa hormat dan perhatian, karena tubuh adalah tempat tinggal bagi Roh Kudus.

Umat Kristen sering kali memandang tubuh mereka sebagai anugerah dari Allah, terkadang disebut sebagai “bait Roh Kudus”. Sudut pandang ini menekankan pentingnya hidup sehat, termasuk merawat tubuh dan berolahraga. Umat Kristen didorong untuk menjadi pengelola (manager) yang baik atas semua yang telah diberikan Allah kepada mereka, termasuk tubuh mereka. Berolahraga dan menjaga gaya hidup sehat dipandang sebagai cara untuk memenuhi perintah Tuhan.

Sebagian umat Kristen menganjurkan pandangan holistik terhadap manusia, dengan mengakui keterkaitan antara tubuh dan jiwa. Sudut pandang ini menunjukkan bahwa merawat tubuh dapat berdampak positif terhadap jiwa dan sebaliknya. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada ayat Alkitab yang mengharuskan atau menentang olahraga.

Apakah seseorang memilih untuk berolahraga atau tidak adalah keputusan pribadi berdasarkan tujuan dan preferensi individu. Dengan kata lain, keputusan untuk berolahraga atau tidak adalah sesuatu yang berkenaan dengan kehendak bebas manusia, bukan karena penetapan Tuhan. Jika Anda tidak mau atau tidak suka berolahraga, Anda tidak dapat mengatakan bahwa itu sudah ditakdirkan Tuhan. Jelas, jika Anda tahu apa yang baik tetapi memilih untuk tidak melakukannya, itu adalah tanggung jawab Anda sendiri dan bukan tanggung jawab Tuhan.

Meskipun kebugaran fisik dapat menjadi aspek positif dari kehidupan seorang Kristen, fokus utamanya haruslah pada menghormati Tuhan dalam semua hal, termasuk bagaimana seseorang menggunakan dan merawat tubuhnya. Itu karena tubuh dan hidup kita adalah milik Tuhan.

Beberapa orang Kristen menunjukkan contoh-contoh dalam Alkitab tentang orang-orang yang menjalani kehidupan yang aktif dan terlibat dalam pekerjaan fisik sebagai bukti bahwa Tuhan menghargai kesejahteraan fisik. Ayat-ayat berikut ini menekankan pentingnya merawat tubuh kita sebagai bait Roh Kudus, yang menunjukkan bahwa menjaga kesehatan fisik kita adalah cara untuk menghormati Tuhan.

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu berlarilah begitu rupa, sehingga kamu menang! Setiap orang yang turut serta dalam pertandingan, menguasai dirinya, supaya ia memperoleh mahkota yang tidak dapat binasa, tetapi kita tidak. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku tidak memukul angin. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:24-27:

Ayat ini menggunakan metafora perlombaan untuk menggambarkan perlunya disiplin dan pengendalian diri, yang dapat diterapkan pada tujuan kesehatan dan kebugaran fisik kita.

“Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:8

Ayat ini mengakui pentingnya latihan fisik, tetapi menekankan bahwa ibadah dan kesejahteraan rohani jauh lebih penting.

Sebagai orang Kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang Kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat pembukaan di atas mengajarkan bahwa kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh kita, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaan-Nya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau berusaha untuk memuliakan Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik akan hilang, hanya untuk diganti dengan apa yang buruk. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa lama-lama tidak bisa berdoa, dan orang yang tidak pernah bergumul dalam imannya lama kelamaan menjadi orang yang lemah. Itu adalah prinsip hukum Tuhan.

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Roh Kudus memperlengkapi kita semua dengan karunia, talenta, kemampuan, dan pekerjaan yang telah Tuhan tetapkan sebelumnya untuk kita lakukan. Roh Kudus memilih untuk memberdayakan semua orang percaya dengan cara yang unik dan khusus untuk setiap orang. Dia memperlengkapi kita untuk melaksanakan kehendak-Nya yang sempurna dalam setiap kehidupan kita jika dan ketika kita bersedia untuk tunduk pada bimbingan-Nya, saat kita berjalan dalam roh dan kebenaran, saat kita tinggal di dalam Kristus, dan membiarkan Dia menjalani hidup baru-Nya yang sempurna di dalam Kristus di dalam kita.

Semakin kita hidup, bergerak, dan berada di dalam Kristus, semakin berbuah hidup kita nantinya. Semakin kita memanfaatkan karunia, talenta, kemampuan, dan pekerjaan yang telah Tuhan persiapkan untuk kita lakukan, semakin banyak mereka akan bertambah dan membesar, dan semakin banyak mereka akan melimpah dalam kelimpahan.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip hidup sehat menurut Alkitab. Paulus mengajak kita untuk tidak melupakan kemurahan Tuhan dan mau mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Baik jasmani maupun rohani kita, keduanya adalah penting untuk dipelihara dan digunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Jangan cari masalah

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Sudah lama saya meninggalkan Indonesia, tetapi saya masih ingat beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa. Salah satu di antaranya yang cukup berkesan adalah: “”Urip iku mung sedelo, molo ojo seneng golek molo” yang berarti “Hidup ituhanya sebentar, karena itu jangan senang mencari musibah”. Karena itu, jika seseorang mengucapkan “ojo golek molo” kepada kita, itu mungkin dimaksudkan agar kita tidak berbuat sesuatu yang bisa menyebabkan masalah.

Alkitab sebenarnya mempunyai banyak ayat yang menyatakan hal yang serupa. Mungkin Anda ingat akan kalimat “Jangan mencobai Tuhan, Allahmu” (atau variasi serupa) muncul di beberapa tempat dalam Alkitab, seperti dalam Matius 4:7 dan Ulangan 6:16. Peringatan dari Tuhan ini sering di jumpai dalam Perjanjian Lama agar bani Israel tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan murka Allah. Berkali-kali umat Israel diperingatkan, namum mereka tidak jera-jeranya “golek molo”.

Di Perjanjian Baru, ayat-ayat dari 1 Korintus 10:1–13 menjelaskan bagaimana generasi orang Israel yang melarikan diri dari Mesir diberkati oleh Allah tetapi berulang kali jatuh ke dalam penyembahan berhala. Allah menghukum banyak dari mereka dengan keras, termasuk nasib mengembara di padang gurun sampai mati.

Penyembahan berhala adalah dosa yang sangat serius. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus yang dipenuhi berhala tentang hal itu dengan merujuk pada sejarah orang Israel yang mengembara di padang gurun. Meskipun diberkati oleh Allah, mereka menyembah berhala palsu. Allah membinasakan banyak dari mereka karenanya.

Paulus menasihati jemaat Korintus agar membaca apa yang terjadi pada bani Israel sebagai peringatan karena mereka bisa juga jatuh di hadapan Allah karena berpartisipasi dengan berhala. Kedudukan mereka di dalam Kristus tidak berarti bahwa Allah tidak akan bertindak terhadap ketidaksetiaan kepada-Nya dengan adanya penyembahan dewa-dewa palsu. Bagi jemaat Korintus, godaan seperti itu sering terjadi, dan Allah selalu menyediakan anak-anak-Nya jalan untuk terbebas dari dosa jika mereka memang mau menghindarinya.

Paulus memerintahkan para pembacanya untuk menjauh dari penyembahan berhala. Berpartisipasi dalam penyembahan berhala dengan cara apa pun berarti berpartisipasi dengan setan. Allah selalu menyediakan cara untuk menghindari dosa. Jadi, mereka tidak boleh menyatakan kepada siapa pun bahwa mereka menyetujui penyembahan berhala. Memang, sekalipun kita mungkin merasa tidak mempunyai berhala, tetapi kita mempunyai banyak kegiatan, harta, benda dan orang yang sangat kita sukai, untuk tidak dikatakan kita puja, dalam hidup kita. Pertanyaan pertama mereka harus selalu, ”Apakah kebiasaan ini akan memuliakan Allah?” Jika tidak, ada bahaya bahwa kita sudah mempunyai berhala.

Perkataan Paulus dalam ayat sebelumnya mungkin menimbulkan kekhawatiran yang dapat dimengerti, bahkan bagi orang Kristen: “Barangsiapa menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Konteks dari komentar itu adalah menghindari dosa, dan tidak berasumsi bahwa keselamatan memberi kita kekebalan dari konsekuensi duniawi dari perilaku kita sendiri. Jika dikaitkan dengan komentar lain yang dibuat oleh Paulus (2 Korintus 13:5; Galatia 6:3), hal itu juga berfungsi sebagai peringatan bagi mereka yang sombong atau ceroboh tentang kedudukan mereka di dalam Kristus, sebab kita mungkin sangat senang dipanggil orang Kristen, tetapi bukan senang untuk mengikut perintah Kristus. Kita mungkin senang belajar teologi, tetapi kurang senang melaksanakan firman Tuhan. Kita lebih senang berkat Tuhan daripada Tuhan yang memberi berkat.

Godaan adalah bagian rutin dari kehidupan. Apalagi godaan untuk melupakan adanya Tuhan yang mengawasi kita. Keinginan kita untuk berbuat dosa terkadang terasa jauh lebih kuat daripada keinginan kita untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Bagaimana jika kita tidak dapat menolak godaan-godaan itu? Bagaimana jika, seperti yang dikatakan sebagian orang, Tuhan menempatkan kita dalam posisi di mana penolakan atas dosa tidak mungkin dilakukan: skenario di mana kita tidak punya pilihan lain, selain berbuat dosa? Atau, setidaknya, tidak ada harapan untuk menolak godaan itu? Bolehkah kita menganggap bahwa semua itu sidah dalam penetapan Tuhan? Tidak!

Sebagai tanggapan terhadap ketakutan dan kebodohan semacam itu, Alkitab memberikan jaminan: mengatasi godaan apa pun sepenuhnya mungkin. Itu berlaku bagi setiap orang Kristen. Pertama, Paulus menunjukkan bahwa tidak seorang pun dari kita secara unik tergoda oleh dosa—dalam arti bahwa keinginan kita untuk berbuat dosa, apa pun bentuknya yang unik bagi kita, adalah hal yang umum dan biasa. Hal itu telah dialami oleh banyak orang lain dari generasi ke generasi. Kita tidak lebih atau kurang rentan terhadap godaan daripada mereka yang datang sebelum kita atau berjalan bersama kita. Pengalaman godaan manusia adalah bagian dari apa yang membuat hubungan Kristus dengan kita menjadi hubungan kepercayaan dan harapan (Ibrani 4:14–16). Adanya godaan seharusnya membuat kita lebih sadar bahwa kita harus dekat dan bergantung kepada-Nya.

Kedua, Allah kita masih bersama kita. Dia mengasihi kita. Dia tidak menunggu atau menakdiirkan kita gagal; Dia siap membantu kita. Salah satu cara Dia membantu orang percaya adalah dengan secara aktif bekerja dalam hidup kita untuk menjauhkan kita dari godaan yang melampaui apa yang dapat kita tolak. Kita mungkin tidak selalu percaya bahwa kita dapat mengatasi godaan. Setan mungkin mendorong kita untuk melihat beberapa godaan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak. Tetapi, Allah berjanji bahwa kita dapat, dengan kuasa Roh Kudus, menanggapi godaan apa pun dengan melawannya.

Akhirnya, Paulus menambahkan janji ini bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dari godaan apa pun yang ada di hadapan kita. Jika kita mencari jalan untuk mengatakan “tidak” kepada dosa apa pun yang memaksa kita, Allah berjanji kita akan menemukannya. Dalam beberapa kasus, itu mungkin berarti secara harfiah “melarikan diri” dari suatu situasi, seperti Yusuf yang melarikan diri dari istri tuannya (Kejadian 39:7–12). Allah secara aktif bekerja untuk membantu mereka yang ada di dalam Kristus, yang ingin melakukan apa yang benar, agar berhasil.

Tentu saja, kita dapat menolak bantuan Allah dalam mengatasi godaan, jika kita memilih untuk menuruti keinginannya dengan sengaja. Dan pada akhirnya, itulah inti dari semua dosa: pilihan yang disengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah (Roma 3:10), yang pada hakikatnya menyatakan bahwa kita tidak pernah mau bertobat. Sebagian orang mungkin berkata bahwa mereka tidak mampu melawan takdir Allah. Sebagian lagi percaya bahwa Allah panjang sabar dan mahapengampun. Dan ada juga yang berkata segala sesuatu akan terjadi pada waktunya. Apa pun alasannya, jika Anda tidak mempunyai kemauan untuk bertobat saat ini, pesan firman Tuhan adalah: Ojo golek molo!

Orang Kristen dan moralitas seksual

“Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6: 18-20

Hubungan seksual adalah bagian hidup manusia yang sebenarnya merupakan berkat dari Tuhan yang menciptakan pria dan wanita. Walaupun demikian, selama sejarah manusia hal ini bisa menjadi berkat atau kutukan, tergantung pada mereka yang memakainya. Raja Dayd misalnya, jatuh ke dalam berbagai masalah karena tergiur kepada Betsyeba.

Kisah Daud dan Batsyeba adalah salah satu kisah paling dramatis dalam Perjanjian Lama. Suatu malam di Yerusalem, Raja Daud sedang berjalan di atas atap istananya ketika ia melihat seorang wanita cantik sedang mandi di dekatnya (2 Samuel 11:2). Daud bertanya kepada para pelayannya tentang wanita itu dan diberitahukan bahwa wanita itu adalah Batsyeba, istri Uria, orang Het, salah satu pahlawan Daud (2 Samuel 23:39). Dosa Daud bermula dari matanya dan berlanjut dengan berbagai dosa lain. Terlepas dari status pernikahannya, Daud memanggil Batsyeba ke istana, dan mereka tidur bersama.

Batsyeba kemudian mengetahui bahwa ia hamil (2 Samuel 11:5), dan ia memberitahukannya kepada Daud. Reaksi raja Daud adalah berusaha menyembunyikan dosanya. Daud memerintahkan Uria untuk melaporkan kepadanya dari medan perang. Suami Batsyeba itu dengan patuh memenuhi panggilan Daud, dan Daud menyuruhnya pulang, dengan harapan Uria akan tidur dengan Batsyeba dan dengan demikian menutupi kehamilannya. Alih-alih mematuhi perintah Daud, Uria malah tidur di kamar para pelayan istana, menolak untuk menikmati waktu istirahat dengan Batsyeba sementara anak buahnya di medan perang masih dalam bahaya (2 Samuel 11:9-11). Uria juga melakukan hal yang sama pada malam berikutnya, menunjukkan integritas yang sangat kontras dengan Daud yang tidak memilikinya.

Daud adalah orang yang bersalah atas dosa seksual ini, dan penghakiman akan ditimpakan ke atas keluarganya dalam bentuk kekerasan yang berkelanjutan. Daud dihukum Tuhan. Anak Daud meninggal seminggu sesudah lahir, dan rumah tangga Daud mengalami kesulitan lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya. Secara keseluruhan, empat anak Daud mengalami kematian yang terlalu cepat – penghakiman “empat kali lipat” yang diucapkan Daud kepada dirinya sendiri.

Dalam kisah Daud dan Batsyeba, kita menemukan banyak pelajaran. Pertama, dosa yang tersembunyi akan ketahuan. Kedua, Tuhan akan mengampuni siapa saja yang bertobat. Ketiga, konsekuensi dosa tetap ada meskipun dosa itu telah diampuni. Keempat, Tuhan dapat bekerja bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Anak Daud dan Batsyeba yang berikutnya, Salomo, menjadi pewaris takhta. Bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun, Tuhan memiliki rencana yang sesuai dengan tujuan-Nya yang berdaulat. Tetapi ini bukan berarti bahwa Tuhan merencanakan kejatuhan Daud agar Ia mencapai tujuan-Nya. Setiap umat Tuhan mempunyai pilihan atas apa yang baik dan apa yang buruk. Adalah kewajiban kita untuk taat kepada Tuhan dan menghindari dosa apa pun.

Kitab 1 Korintus 6 melanjutkan konfrontasi Paulus dengan orang-orang Kristen Korintus mengenai berbagai masalah di gereja. Bagian-bagian sebelumnya membahas masalah perpecahan menjadi beberapa golongan, dan toleransi terhadap dosa seksual yang merajarela di sana. Paulus juga marah karena mereka akan membawa satu sama lain ke pengadilan dalam gugatan atas masalah-masalah kecil. Daripada saling menuntut di hadapan orang-orang yang tidak percaya, mereka seharusnya menyelesaikan masalah-masalah sepele di gereja. Kedua, Paulus mendesak mereka untuk hidup sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus daripada hidup sesuai dengan standar-standar budaya yang tidak bermoral secara seksual. Hal ini memicu diskusi tentang pernikahan di bab 7.

Ayat 1 Korintus 6:12–20 menggambarkan keberatan Paulus kepada mereka di gereja Korintus yang memiliki sikap acuh tak acuh terhadap amoralitas seksual. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota di mana penduduknya menikmati berbagai dosa seksual. Ini mungkin sering dibayangkan orang secara berlebihan, tetapi kota-kota modern seperti Bangkok dan Jakarta mungkin tidak banyak berbeda.

Dalam budaya penyembah berhala Yunani-Romawi pada zaman Paulus, seks dalam bentuk apa pun telah menjadi hal yang normal bagi hampir semua orang. Itu termasuk pelacuran, perzinahan, pedofilia, homoseksualitas, dan sebagainya. Tumbuh dalam lingkungan ini, tidak mengherankan jika beberapa orang Kristen di Korintus merasa kesulitan untuk melihat seks di luar nikah sebagai masalah besar. Paulus telah menghabiskan bab ini untuk menunjukkan mengapa menghindari amoralitas seksual sangat penting bagi orang percaya. Dengan kata lain, sekalipun keselamatan kita bukan berdasarkan kesucian, kesucian adalah tujuan hidup kita karena itu adalah perintah Tuhan kepada setiap umat-Nya.

Di luar hukum formal dan harfiah, Paulus menegaskan standar untuk perilaku Kristen merupakan jawab atas pertanyaan apakah suatu tindakan akan bermanfaat atau memperbudak. Seks lebih dari sekadar fungsi tubuh; Allah merancangnya untuk menyatukan dua orang menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Persatuan dengan orang lain itu menggambarkan Kristus, yang juga mempersatukan kita dengan Dia, ke dalam persatuan abadi. Di masa depan tubuh kita akan dibangkitkan, tetapi pada saat ini hidup kita dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Allah. Sayang sekali, pesan Paulus ini jarang diucapkan di mimbar gereja sekalipun bentuk penyelewengan seksual di zaman ini ada berbagai macam, seperti hubungan seksual antar sejenis, hubungan seksual antara manusia dan hewan, dan hubungan seksual dengan anak dibawah umur. Lebih dari itu, ada banyak penyelewengan seksual yang dilakukan oleh pimpinan gereja.

Paulus memberi mereka strategi untuk menghadapinya: lari. Ia memberi tahu mereka untuk menjauh dari amoralitas seksual. Tindakan defensif yang paling baik dalam menghadapi musuh yang kuat adalah lari untuk menjauhkan diri. Larilah seolah-olah Anda sedang melarikan diri dari sesuatu yang mungkin akan menyakiti Anda, karena itu akan terjadi. Bahkan jika budaya zaman sekarang membenci Anda karenanya, lebih baik melarikan diri dari dosa seksual daripada ditaklukkan olehnya (Kejadian 39:7–12).

Banyak orang Kristen yang menganggap semua dosa adalah sama. Itu benar dalam hal kontras dengan kemahasucian Tuhan. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa amoralitas seksual berbeda dari jenis dosa lainnya karena itu adalah bentuk menyakiti diri sendiri. Kita mungkin melakukan dosa-dosa lain dengan tubuh kita, tetapi amoralitas seksual menyatukan kita dengan orang lain secara berdosa. Ini terjadi pada tingkat fisik dan spiritual yang mendalam. Kita akan mengalami konsekuensi alami dari dosa itu pada tingkat yang mendalam juga. Dosa seksual (nafsu birahi, lust) adalah salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan.

Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menulis bahwa amoralitas seksual adalah dosa terburuk dari semua dosa, seperti yang kadang-kadang kita simpulkan. Sebaliknya, ia memerangi sikap acuh tak acuh terhadap dosa seksual yang dimiliki oleh beberapa orang Kristen dalam budaya dan pengertian teologis tertentu. Selain menyakiti orang lain, amoralitas seksual berkontribusi pada rasa sakit kita sendiri yang mendalam. Itu tidak lebih atau kurang dibandingkan dengan dosa-dosa yang lain, tetapi budaya manusia zaman sekarang (dan gereja juga) cenderung memperlakukannya lebih acuh tak acuh daripada kesalahan lainnya.

Paulus menegur orang-orang Kristen di gereja Korintus tentang amoralitas seksual. Tegurannya berlaku untuk kita juga. Rupanya, beberapa orang berpendapat bahwa karena tubuh kita akan mati dan membusuk, tidak masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Yang penting hanyalah roh di dalam diri kita, kata mereka. Yang penting adalah sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, kata beberapa orang Kristen zaman sekarang. Dengan demikian, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas untuk melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka suka (1 Korintus 6:12–13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran sesat ini.

Anggapan bahwa tubuh kita tidak penting pada dasarnya salah. Tubuh orang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat sebagai bait suci, tempat kudus, yang menampung Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13–14). Secara misterius, kita membawa Roh-Nya di dalam tubuh kita.

Dengan mengingat hal itu, Paulus menambahkan bahwa tubuh kita sebenarnya bukan lagi tubuh kita karena Allah telah membeli kita. Dia telah membayar penebusan dosa kita dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus telah menebus kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi kutukan bagi diri-Nya sendiri (Galatia 3:13). Dalam pengertian itu, kita menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Semua orang pilihan adalah orang yang tunduk kepada Yesus. Itulah sebabnya kita tidak boleh menggunakan tubuh dan pikiran sesuka hati kita.

Jika kita benar-benar di dalam Kristus, kita akan sadar benar-benar bukan milik kita sendiri. Hidup kita, termasuk tubuh kita, adalah milik Allah. Ini berarti memberi Roh Kudus otoritas tertinggi untuk memberi tahu kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dengan tubuh kita. Orang kristen yang sejati seharusnya sadar untuk tidak mendukakan Roh Kudus.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Penting untuk memperhatikan sesuatu tentang argumen terakhir terhadap amoralitas seksual ini. Ini hanya berlaku bagi orang percaya. Hanya mereka yang ada di dalam Kristus yang telah ditebus oleh darah-Nya dan dibawa dari kegelapan kepada terang (1 Korintus 1:12–13). Kata-kata ini bukan untuk mereka yang tetap berada dalam kegelapan. Paulus tidak memerintahkan mereka yang berada di luar gereja, orang-orang yang tidak percaya, untuk hidup sesuai dengan standar-standar Allah mengenai moralitas seksual (1 Korintus 5:12). Dosa mereka tetaplah dosa, tetapi kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk mengenalinya sebagai dosa (1 Korintus 2:14). Karena itu, kita tidak dapat memakai dalih bahwa kita melakukan suatu dosa karena semua orang juga melakukan hal yang serupa, yang mungkin tidak melawan hukum dunia.

Sebaliknya, mereka yang menjadi milik Allah diperintahkan untuk memuliakan Allah dengan tubuh mereka. Kita wajib taat kepada perintah-Nya. Hanya mereka yang berada di dalam Kristus yang wajib dan dimampukan untuk menggunakan tubuh mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Karena dosa seksual juga bisa melibatkan mata, pikiran, dan perkataan kita, kita harus menjaga kebersihan semua anggota tubuh kita. Jangan sampai kita terlena, karena itu adalah tujuan hidup kita saat ini. Keterlibatan diri dalam dosa seksual secara egois menghalangi kita sebagai orang Kristen untuk memenuhi tujuan penciptaan dan penyelamatan kita.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Matius 6:22-23

Mengapa banyak orang Kristen yang berani mati

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6:1

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak boleh. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua, apa yang pernah kita dapatkan dari hidup demi dosa? Itu menuntun kita pada rasa malu dan kematian (berbagai masalah hidup). Kebenaran yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah di dalam Kristus Yesus seharusnya menuntun kita untuk menjadi seperti Yesus dan kepada hidup kekal. Kita seharusnya melayani kebenaran dan bukan dosa. Lalu mengapa ada orang Kristen yang berani mati – tetap hidup dalam dosa?

Roma 6:1–14 membahas bagaimana orang Kristen seharusnya berpikir tentang dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita menaruh iman kita kepada Kristus. Dalam pengertian rohani, kita mati bersama-Nya, dan terhadap dosa-dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru. Sekarang Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kita tidak boleh mempersembahkan tubuh kita untuk digunakan bagi dosa, tetapi kita harus mempersembahkan diri kita sebagai alat kebenaran. Tetapi, apa yang bisa mendorong kita untuk menhindari dosa jika kita tidak takut kepada Tuhan? Apa yang bisa mengurangi hasrat kita untuk berbuat dosa jika kita yakin bahwa Tuhan mahakasih dan mahapengampun?

Paulus memulai bab ini dengan mengajukan pertanyaan tentang implikasi dari pernyataan yang mengakhiri Roma 5. Di sana, ia menulis bahwa di mana dosa bertambah, kasih karunia Allah “bertambah banyak.” Artinya, ketika dosa bertambah, kasih karunia Allah pun berlimpah untuk menutupi dosa semua orang yang percaya pada kematian Kristus untuk menutupi dosa mereka. Dosa manusia benar-benar tidak dapat mengalahkan kasih karunia Allah.

Namun, apa artinya itu bagi mereka yang telah didamaikan dengan Allah melalui iman kepada Kristus? Apa yang seharusnya dilakukan orang Kristen terhadap dosa sekarang setelah kita menjadi orang Kristen? Seperti yang ditanyakan Paulus di sini, haruskah kita terus berbuat dosa sehingga kasih karunia Allah dapat terus bertambah? Ini tampaknya menjadi kritik umum terhadap ajaran Paulus, karena ajaran itu sering ia bantah dalam tulisan-tulisannya di bagian Alkitab yang lain (Roma 3:8; 2 Korintus 5:17; Galatia 5:19–24).

Ini adalah tuduhan yang sering ditujukan kepada Kekristenan, bahkan hingga saat ini. Orang menuduh bahwa agama Kristen membuka kesempatan bagi manusia untuk berbuat lebih banyak dosa karena Tuhan memilih umat-Nya tidak berdasarkan perbuatan baik mereka. Mereka menyatakan bahwa agama Kristen adalan izin untuk berbuat dosa karena perbuatan baik tidak dperlukan untuk menjamin keselamatan. Karena itu banyak orang Kristen yang “berani mati”, berani berbuat dosa sekalipun Tuhan membenci dosa.

Dalam ayat-ayat berikut, Paulus akan menjelaskan bahwa tuduhan fitnah tidak benar. Orang Kristen makin banyak berbuat dosa bukan karena mereka percaya bahwa Tuhan tidak peduli akan dosa mereka, tetapi karena mereka tidak lagi takut akan Allah.

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” Roma 3:12-18

Roma 3:9–20 memuat serangkaian kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Paulus menggunakan kutipan-kutipan ini untuk menunjukkan bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani sama-sama berada di bawah dosa. Apakah itu termasuk diri kita? Tentu! Setelah menetapkan bahwa ”tidak ada seorang pun yang berbuat baik” dari Mazmur 14:1, Paulus menggunakan kutipan dari Mazmur dan Yesaya untuk menunjukkan bagaimana kita dengan sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, selalu menggunakan tubuh kita—tenggorokan, lidah, bibir, kaki, dan mata—untuk mengekspresikan keberdosaan kita.

Dengan demikian,semua orang Kristen seharusnya tahu bahwa tidak ada orang, tidak seorang pun di dunia ini, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan dengan mengikuti hukum Taurat. Namun, akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah ada tersedia terlepas dari hukum Taurat melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib. Tetapi ini bukanlah semacam “surat izin” untuk berbuat dosa.

Paulus mengingatkan bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengekspresikan sifat hakiki kita. Ketika kita berbicara, dosa keluar. Ke mana pun kita berjalan, kita meninggalkan dosa. Dan sekarang, ia menunjukkan bahwa kita tidak pernah menggunakan mata rohani kita untuk bisa mempunyai rasa takut—atau “rasa hormat”—kepada Tuhan. Karena kita tidak dapat melihat Tuhan yang roh, sering kita mengabaikan-Nya dalam hidup sehati-hari. Tuhan agaknya “jauh di mata, jauh di hati”.

Kutipan terakhir ini (Roma 3:18) berasal dari Mazmur 36:2-3, di mana Daud menggambarkan “orang fasik” sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan di depan mata mereka. Mereka juga berusaha menutupi kesalahannya dari orang lain sampai terbongkar rahasianya.

“Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya.” Mazmur 36:2-3

Paulus menegaskan bahwa kita semua, setiap manusia, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, baik Kristen maupun bukan Krisen, memenuhi gambaran ini (Roma 3:10). Kita pada mulanya tergolong orang fasik. Kita masing-masing pantas menerima penghakiman murka Tuhan atas dosa-dosa kita. Dosa kita, dalam hal ini, adalah bahwa kita mengabaikan atau meremehkan Tuhan. Kita merendahkan-Nya sesuai dengan ukuran kita di dalam hati kita. Mungkin kita merasa bahwa Dia yang mahakasih kepada umat-Nya, akan membasuh semua dosa yang sudah kita lakukan dan semua dosa yang kita rencanakan dan akan kita lakukan di masa depan (Yesaya1:18). Jika kita minta ampun , itu hanyalah sekadar formalitas saja. Atau kita mungkin menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa Allah dan orang lain tidak dapat menemukan dosa kita (Mazmur 36:2), dan karena itu kita jarang berdoa memohon pengampunan Tuhan.

Pernyataan tentang tidak adanya rasa takut kepada Tuhan ini selalu berlaku bagi orang berdosa yang secara terbuka menyangkal Kristus, namun, pernyataan ini juga semakin berlaku bagi banyak orang Kristen yang menyadari dan mengakui-Nya. Hal ini sebagian terjadi karena banyak pendeta di zaman sekarang tidak hanya menghindari pembicaraan tentang takut kepada Allah, tetapi mereka juga menghindari pembicaraan tentang apa pun yang akan memberi orang alasan untuk takut kepada Allah. Mereka menghindari penyebutan tentang dosa, neraka, dan kutukan. Terlebih lagi, mereka menghindari semua pembicaraan tentang kekudusan yang diharapkan Tuhan kepada umat-Nya karena adanya kekuatiran bahwa masyarakat akan menuduh mereka munafik.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”1 Petrus 1:15-16

Jemaat di zaman ini tidak menginginkan Tuhan yang kudus dan bisa murka, mereka hanya menginginkan Tuhan yang penuh kasih dan damai. Mererka ingin memiliki Tuhan yang mempunyai karunia yang tidak terbatas (ajaran hyper grace). Mereka tidak menginginkan Tuhan yang membenci dosa mereka, mereka menginginkan Tuhan yang lembut yang akan menjadi sahabat karib mereka (ajaran universalism). Mereka juga merasa sangat yakin bahwa Tuhan sudah memilih mereka dari awalnya untuk diselamatkan dan karena itu hidup mereka yang bergelimang dalam dosa tidak dapat ditolak Tuhan (ajaran hyper calvinism).

Dalam usaha untuk hidup baik, kita mungkin justru mendapat cemooh dari saudara-saudara seiman yang mungkin menduh kita “sok suci” atau “munafik”. Dalam hal ini kita , kita harus ingat bahwa jika kita ingin berbuat baik, iblislah yang tidak senang karena ia adalah bapa segala pendusta (Yohanes 8:44). Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Iblislah yang sudah menipu Adam dan Hawa sehingga mereka tidak takut kepada Tuhan, dan pada saat ini banyaklah manusia yang berusaha menipu kita untuk meninggalkan rasa takut kepada Tuhan dengan berbagai alasan.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah jika kita mengaku kenal Tuhan, kita takut kepada-Nya, karena Dia telah menaruh takut kepada diri-Nya ke dalam hati kita (Yeremia 32:40). Sebagai orang Kristen, kita tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan seperti budak kepada majikannya. Sebaliknya, kita memiliki rasa takut kepada Tuhan yang seperti anak, hormat, dan rendah hati. Injil adalah perbedaan antara takut kepada Tuhan dan hormat kepada Tuhan. Hanya ketika kita takut kepada Tuhan, Tuhan memberi tahu kita untuk tidak perlu takut. Sebab ketika kita mengenal kasih Allah di dalam Kristus, Roh Kudus mengusir segala ketakutan dan menanamkan di dalam kita kasih dan penyembahan, sehingga kita makin lama makin bisa taat kepada firman-Nya (mengerjakan keselamatan kita) dengan sunguh-sungguh (dengan takut dan gentar).

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentarbukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Jangan remehkan kekudusan

“Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.” Roma 1:7

Kata “orang kudus” berasal dari kata Yunani hagios, yang berarti “dibaktikan kepada Tuhan, suci, sakral, saleh.” Kata ini hampir selalu digunakan dalam bentuk jamak, “orang-orang kudus.” Dua contoh dalam Alkitab:

“…Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.” Kisah Para Rasul 9:13.

“Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida.” Kisah Para Rasul 9:32.

Ide dari kata “orang kudus” adalah sekelompok orang yang dipisahkan bagi Tuhan dan kerajaan-Nya. Oleh karena itu, secara Alkitabiah, “orang-orang kudus” adalah tubuh Kristus, orang-orang Kristen, gereja. Semua orang Kristen dianggap orang-orang kudus, yaitu orang-orang yang dikuduskan oleh darah Kristus. Orang Kristen yang dulunya orang durhaka, dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus untuk semakin membiarkan kehidupan sehari-hari mereka lebih sesuai dengan posisi mereka di dalam Kristus. Ini adalah deskripsi dan panggilan Alkitab tentang orang-orang kudus yang hidup di dunia.

Harus dibedakan antara orang kudus yang hidup di dunia dengan orang-orang kudus berada di surga. Umat percaya yang sudah di surga, sudah sepenuhnya menjadi kudus. Walaupun demikian, dalam ajaran gereja tertentu, seseorang tidak dapat menjadi orang kudus kecuali sudah ditetapkan oleh pimpinan gereja melalui syarat-syarat tertentu. Dengan demikian, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa orang-orang kudus (saints, santo, santa) di surga patut dihormati, didoakan, dan dalam beberapa kasus, disembah. Tetapi dalam Alkitab, orang-orang kudus di dunia dipanggil untuk menghormati, menyembah, dan berdoa kepada Tuhan saja.

Pada pihak yang lain, ada gereja di mana khotbah-khotbahnya selalu memberikan penekanan berlebihan pada kedaulatan Tuhan. Gereja semacam ini kurang menekankan pentingnya kekudusan pribadi dan penginjilan, karena meminimalkan tanggung jawab moral individu dan adanya panggilan universal untuk bertobat dan beriman. Mereka menganggap bahwa Tuhan hanya memanggil orang-orang tertentu dan pilihan-Nya tidak ada hubungan dengan cara hidup mereka. Bagi mereka, tidak ada panggilan bagi umat Tuhan untuk mengejar kekudusan atau untuk menjadi orang kudus. Perlu ditekankan bahwa pandangan Alkitabiah selalu menekankan kedaulatan Tuhan tetapi juga menegaskan pentingnya tanggung jawab manusia dan panggilan universal untuk bertobat dan beriman.

Roma 1:1–7 memulai surat Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma dengan memperkenalkan dirinya sebagai hamba dan rasul Yesus. Ia telah dikhususkan untuk memberitakan Injil, atau kabar baik, tentang Yesus. Paulus menyela pengantarnya sendiri dengan segera mulai mengajarkan Injil, bahwa Yesus Kristus Tuhan kita adalah Anak Allah yang telah bangkit dari antara orang mati. Ia mengalamatkan suratnya kepada orang-orang di Roma yang dikasihi oleh Allah dan dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus. Ini akan mencakup semua orang percaya kepada Yesus.

Kemudian, dalam ayat 7 ia melanjutkan untuk menjelaskan secara tepat kepada siapa surat ini ditujukan. Ia menulis kepada semua orang di Roma pada saat itu yang dikasihi oleh Allah dan dipanggil oleh Allah untuk menjadi orang-orang kudus. Lebih jauh, Paulus memahami bahwa Allah telah memanggil mereka yang membaca suratnya untuk menjadi “orang-orang kudus” atau “orang-orang saleh”. Dalam Perjanjian Baru, semua orang yang percaya kepada Yesus menyandang gelar “orang-orang kudus” (Efesus 2:19). Itu bukan sebutan yang hanya ditujukan bagi mereka yang dianggap sebagai orang Kristen yang sempuna. Karena orang-orang percaya “di dalam Kristus,” dan Kristus itu kudus, kita semua secara resmi juga adalah “orang-orang kudus.”

Dalam bacaan hari ini, Petrus memberi tahu kita bagaimana hidup dalam terang keselamatan yang kita nikmati. Asumsi tersirat di seluruh bagian ini adalah bahwa jika kita benar-benar memiliki harapan keselamatan, dan jika kita benar-benar telah mengarahkan hati dan pikiran kita pada harapan ini, maka kita akan hidup sesuai dengan harapan tersebut.

Salah satu bukti dalam Alkitab bahwa kita memiliki harapan ini terletak pada fakta sederhana bahwa kita sekarang memiliki kapasitas untuk menjadi anak-anak yang taat (1 Petrus 1: 14). Kita tidak dapat lagi hidup seperti yang kita lakukan sebelum kita mengenal hukum Allah. Sebaliknya, kita harus menaati-Nya dalam segala hal.

“14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:14-16

Bukti kedua bahwa kita memiliki harapan keselamatan adalah kekudusan (ayat 15). Sama seperti Israel perjanjian lama dipanggil untuk menjadi kudus, demikian pula Israel perjanjian baru harus menjadi kudus (ayat 16). Tidak mengherankan, kekudusan dan ketaatan saling terkait. Bagaimanapun, Tuhan memerintahkan kita untuk menjadi kudus, dan hanya mereka yang dipisahkan sebagai orang kudus yang mau dan bisa menaati-Nya.

Ini tidak berarti bahwa kekudusan yang sempurna dapat dicapai saat kita hidup di dunia ini. Meskipun Allah memanggil kita untuk bekerja sama dengan-Nya dalam pengudusan, kita perhatikan bahwa bahkan sebelum kita mulai mematikan dosa, Allah telah terlebih dahulu memisahkan kita bagi diri-Nya (1 Korintus 6:11). Oleh karena itu, orang Kristen sejati dapat dan akan menjalani kehidupan yang kudus, meskipun tidak sempurna.

John Calvin menulis, “Karena yang paling sempurna pun di dunia selalu sangat jauh dari sempurna, kita harus berusaha lebih sempurna dan lebih lagi setiap hari. Dan kita harus ingat bahwa kita tidak hanya diberi tahu apa tugas kita, tetapi Allah juga menambahkan, ‘Akulah yang menguduskan kamu.’” Allahlah yang pertama-tama menandai kita sebagai orang kudus, dan kita menunjukkan bahwa Dia secara aktif dan terus-menerus menguduskan kita jika kita mau meninggalkan kejahatan dunia ini dan berusaha untuk hidup dalam kekudusan di hadapan-Nya. Bagaimana dengan hasrat Anda?