Sesudah beriman apa lagi yang kurang?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1:5-7

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa untuk menjadi umat Tuhan, percaya saja sudah cukup. Keyakinan ini malah sudah pernah dinyatakan dengan lagu lama “Percaya saja”, yang syairnya berbunyi:

Percaya saja, percaya saja
Percaya yang b’ri kita menang
Percaya saja di dalam darah-Nya
Percaya, tentu kita menang

Percaya saja, pasti kita diselamatkan. Lalu percaya apa? Yakobus 2:19 mengajar, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Yakobus disini sedang menyorot perbedaan antara pengakuan fakta secara intelektual dengan iman sejati yang menyelamatkan. Rupanya ada yang mengklaim bahwa, karena mereka mempercayai Allahnya Musa dan mereka dapat mengulangi Ulangan 6:4, yang berbunyi, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” maka mereka sudah berada dalam hubungan baik dengan Allah. Yakobus menolak anggapan itu dengan membandingkan kepercayaan itu dengan pengetahuan yang dimiliki para iblis. Para iblis lebih paham akan realita Allah dibanding sebagian besar manusia, namun mereka tidak berhubungan baik dengan Allah. Para iblis “percaya” beberapa hal yang benar tentang Allah – mereka tahu Ia berdaulat, Mahakuasa, dsb. – tetapi teologi mereka tidak dapat digolongkan sebagai iman. Tidak ada keselamatan bagi para iblis, meskipun mereka mengakui kebenaran tentang esanya Allah.

Dalam kitab 2 Petrus 1, Petrus pada awalnya merangkum manfaat luar biasa yang telah kita terima dalam mengenal Allah melalui iman kepada Kristus. Kita telah diperlengkapi untuk mengikuti teladan kemuliaan dan kebaikan Yesus. Kita tidak kehilangan apa pun yang kita butuhkan untuk menjalani hidup yang Dia panggil untuk kita jalani. Lebih dari itu, melalui iman kepada Yesus, kita telah diberi hak untuk berpartisipasi, saat ini juga, dalam kodrat Allah. Kita dapat bermitra dengan Kristus dalam memenuhi tujuan Allah di bumi. Kita telah dibebaskan dari kerusakan akibat dosa.

Semua itu terdengar fantastis, tetapi apa artinya bagi kita saat ini? Mengapa tampaknya banyak orang Kristen begitu jauh dari berpartisipasi dalam kodrat Allah, tidak hidup dengan tujuan, sukacita, dan kasih Kristus? Mengapa sebagian orang terus hidup dalam dosa yang darinya kerusakan seharusnya telah kita bebaskan? Lebih dari itu, banyak pendeta yang di zaman ini tidak mau mengajarkan prinsip hidup saleh, dan sebaliknya sering menekankan bahwa “sekali diselamatkan, tetap selamat”. Mereka selalu bersemangat mengajarkan kedaulatan Tuhan, tetapi mengabaikan pentingnya hidup saleh dan moralitas Kristen. Masih perlukan kesalehan sesudah kita diselamatkan?

Ayat 2 Petrus 1: 5-7 memberi kita petunjuk hidup saleh kepada kita. Jika kita benar-benar orang percaya, Allah telah memberi kita semua yang kita butuhkan untuk hidup seperti Yesus,. Dengan demikian, sekarang kita harus benar-benar menggunakan karunia-karunia itu. Dan itu berarti bekerja untuk kemuliaan Tuhan. Sebelum kita menerima anugerah kasih karunia Allah, kita tidak memiliki kemampuan dan keinginan untuk hidup dalam kemuliaan dan kebaikan Yesus. Sekarang setelah kita diberi kuasa untuk melakukannya, kita harus “berusaha keras” untuk menambahkan kualitas-kualitas kekristenan ke dalam iman kita, atau “bersama-sama dengan iman kita”.

Sebagai orang percaya, kita harus mau hidup baru karena apa yang kita yakini benar adanya. Dengan iman, kita datang kepada Kristus. Sekarang, dengan kuasa Kristus, kita harus berusaha untuk menambahkan kebaikan ke dalam iman kita, dan menambahkan pengetahuan ke dalam kebaikan kita dan seterusnya. Ayat-ayat di atas membahas gagasan-gagasan tambahan tentang rangkaian sifat-sifat yang harus kita, sebagai orang Kristen, upayakan untuk membangunnya dalam kehidupan kita.

Ringkasan konteks 2 Petrus 1:3-15 mendesak orang Kristen untuk memahami bahwa mereka, saat ini, diperlengkapi sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang telah Allah panggil bagi mereka. Karena mereka diperlengkapi, mereka harus menggunakan alat-alat tersebut melalui upaya pribadi. Mereka harus berusaha untuk menambahkan kebaikan Kristus dan kualitas-kualitas rohani lainnya ke dalam iman yang telah mereka jalani.

Petrus memulai surat singkat ini kepada orang Kristen dengan mengingatkan mereka bahwa mereka tidak kehilangan apa pun yang mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh yang menjadi panggilan mereka. Oleh karena itu, mereka harus bekerja untuk menambahkan kebaikan dan sifat-sifat Yesus pada iman mereka. Ini membutuhkan usaha, tidak seperti keselamatan kekal yang tidak didasarkan pada pekerjaan kita. Mereka yang tidak memiliki sifat-sifat positif ini akan hidup sebagai hamba Tuhan yang tidak produktif dan tidak efektif, hampir sama butanya dengan orang-orang yang tidak percaya dan lupa bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Petrus, yang hampir meninggal, bersikeras bahwa kesaksiannya sebagai saksi mata tentang transfigurasi menegaskan bahwa nubuat-nubuat tentang Mesias adalah benar. Yesus akan datang kembali.

Bertumbuh dalam kualitas-kualitas tersebut menuntun kepada kehidupan yang produktif dan efektif dalam mengenal Tuhan. Tidak memiliki sifat-sifat Kristus akan berakibat sebaliknya. Petrus terus mengingatkan pembaca tentang apa yang sudah mereka ketahui, untuk terus menggugah mereka, untuk memastikan mereka mengingat semua ini setelah Ia meninggal (yang akan segera terjadi).

Dalam ayat 3 dan 4, Petrus memberi tahu kita bahwa orang Kristen, melalui iman, telah menjadi peserta dalam kodrat ilahi. Kita diperlengkapi sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang Tuhan panggil kita untuk jalani. Kemudian dalam ayat 5, ia menyatakan bahwa kita harus “berusaha keras” untuk menambahkan daftar kualitas seperti Kristus ke (atau di samping) iman kita. Jika digabungkan, daftar kualitas ini menggambarkan kehidupan seorang Kristen yang berpartisipasi dalam kodrat Allah. Seperti yang ditunjukkan dalam daftar ini, ada urutan logis untuk karakteristik ini. Masing-masing merupakan persyaratan yang diperlukan untuk kualitas yang mengikutinya.

Pertama, karena kita telah diperlengkapi untuk hidup seperti Yesus, kita harus berusaha untuk menambahkan kebaikan, atau “keunggulan moral,” ke dalam iman kita. Ini berarti bahwa kita akan berusaha untuk berbuat baik, dengan kuasa Allah, di dunia sekarang, seperti yang Yesus lakukan di tempat kita. Kebaikan ini menjadi dasar bagi kualitas-kualitas lainnya.

Kita juga harus menambahkan pengetahuan. Ini adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan kita, melalui Firman-Nya, doa, dan sebagainya, yang menginformasikan kebaikan kita. Sekadar ingin berbuat baik saja tidak cukup; kita harus tahu apa itu kebaikan dengan mengenal Tuhan.

Selanjutnya, kita harus menambahkan pengendalian diri. Tanpa kemampuan untuk mengendalikan diri, pengetahuan kita tentang kebaikan, dan keinginan untuk melakukannya, keduanya tidak ada nilainya. Pengendalian diri adalah pengekangan dorongan kita dari waktu ke waktu. Ini adalah kemampuan untuk membuat pilihan yang tepat, di saat-saat ketika godaan menyerang kita.

Kemudian kita harus menambahkan ketekunan. Ketekunan adalah kemampuan untuk mempraktikkan pengendalian diri dari waktu ke waktu. Lari cepat kita untuk berbuat baik berubah menjadi maraton. Pilihan kita dari waktu ke waktu, jam ke jam, hari ke hari akhirnya berubah menjadi gaya hidup. Ketekunan adalah kemampuan untuk mempertahankan pengendalian diri, bahkan ketika tekanan godaan terus menyerang kita.

Selanjutnya, Petrus menambahkan kesalehan. Ini menjaga kebaikan kita agar tidak sekadar kebaikan manusiawi. Ini adalah kebaikan ilahi. Ini adalah keunggulan moral yang mencerminkan sifat Tuhan sendiri, bukan “kebaikan” manusia yang bersifat sementara dan terikat pada dunia.

Petrus menulis bahwa kita juga harus menambahkan kasih sayang persaudaraan, atau kasih sayang, di samping kesalehan. Idenya adalah bahwa kita menjadi termotivasi untuk berbuat baik bagi satu sama lain. Ini seharusnya datang dari rasa keterhubungan. Ini adalah jenis hubungan yang dialami dalam keluarga terdekat. Dan, sungguh, saudara-saudari kita di dalam Kristus adalah keluarga kita. Petrus memanggil kita untuk “berusaha keras” untuk mengembangkan kasih sayang kekeluargaan bagi satu sama lain. Meskipun terkadang sulit, kita harus berusaha untuk benar-benar bisa “menyayangi”satu sama lain, sehingga kita ingin berbuat baik bagi satu sama lain. Ini tidak mudah karena dalam kenyataannya, di dalam gereja sering terjadi permusuhan atau pertengkaran antar saudara seiman.

Pagi ini, kita melihat bahwa puncak kualitas-kualitas kesalehan adalah kasih. Tuhan adalah kasih, dan kebaikan Yesus dimotivasi oleh kasih-Nya kepada Bapa dan kasih-Nya kepada kita. Istilah Petrus untuk “kasih” di sini berasal dari akar kata Yunani agape, yang merujuk pada kepedulian tanpa pamrih dan penuh pengorbanan demi kebaikan orang lain. Jadi, masuk akal jika alasan utama kita untuk berbuat baik adalah kasih yang rela berkorban yang sama yang ditunjukkan Kristus bagi kita. Hanya dengan mengasihi orang lain, kita akan bisa merasakan betapa besarnya kasih Yesus kepada kita.

“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 2 Petrus 1: 8

Bagaimana Tuhan mengasihi semua orang melalui dua anugerah

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apa arti Yohanes 3:16? Ini adalah inti dari Kekristenan: bahwa Allah begitu mengasihi dunia hingga Ia datang dalam wujud manusia—Yesus, yang mati untuk kita, sehingga siapa pun yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan dari dosa. Ini tentu saja merupakan ayat yang paling terkenal dalam Alkitab. Ini mungkin merupakan bagian yang paling banyak dihafal dari semua teks suci dalam sejarah manusia.

Yohanes 3:16 adalah ringkasan dari seluruh Injil. Namun, ayat-ayat berikutnya sama pentingnya untuk memahami pesan Kristen. Kristus tidak diutus untuk menghakimi dunia, tetapi untuk membawa keselamatan. Ini adalah ungkapan kasih Allah yang luar biasa. Pada pihak yang lain, mereka yang tidak percaya kepada Yesus Kristus dikutuk di mata Allah. Adalah kenyataan bahwa kecenderungan manusia untuk menyenangi dosa menyebabkan banyak orang memilih kegelapan daripada Terang.

Ayat di atas secara tradisional diterjemahkan sebagai “Allah begitu mengasihi dunia ini.” Bagaimana cara Tuhan menunjukkan kasihnya kepada semua orang? Apa saja yang Dia lakukan? Allah menunjukkan kasih-Nya dengan berbagai cara, termasuk melalui penciptaan dunia dan penyediaan kebutuhan kita (anugerah umum, common grace); tetapi, yang paling mendalam adalah melalui pengorbanan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk pengampunan dosa manusia (anugerah khusus, anugerah keselamatan, saving grace).

Tindakan menciptakan dunia dan segala isinya, termasuk manusia, merupakan bukti kasih dan keinginan Allah untuk dunia yang penuh dengan keindahan dan potensi. Allah menyediakan kebutuhan kita, baik jasmani maupun rohani, yang menunjukkan kepedulian dan perhatian-Nya terhadap kesejahteraan kita. Allah mengasihi semua orang, terlepas dari latar belakang, kepercayaan, atau tindakan mereka, dan karena itu Ia memanggil kita untuk mengasihi sesama (semua orang) seperti mengasihi diri kita sendiri.

Tidak semua orang Kristen mengamini adanya kasih Allah kepada semua orang. Sebagian kecil orang Kristen menyatakan bahwa konsep anugerah umum tidak sejalan dengan kebencian Allah kepada mereka yang ditolak-Nya. Konsep anugerah umum yang bisa membawa “kebaikan” bagi semua orang, atau yang bisa membuat semua orang menghindari apa yang jahat dan memilih apa yang baik adalah bertentangan dengan Tuhan yang hanya mempunyai rancangan yang baik untuk umat-Nya. Tetapi, ini jelas keliru.

Anugerah umum, sebagai ungkapan kebaikan Allah, adalah setiap kebaikan-Nya yang berada di luar anugerah keselamatan. Anugerah umum mencakup semua berkat yang tidak layak diterima, tetapi yang diterima manusia berdosa secara alami dari tangan Allah: hujan, matahari, kemakmuran, kesehatan, kebahagiaan, kapasitas dan karunia alami, pembatasan dosa dengan hukum dunia, dll. Doktrin anugerah umum menjelaskan bagaimana seseorang dapat benar-benar bejat namun tetap bisa melakukan tindakan yang, dalam beberapa hal, bisa dikatakan “baik.” Namun, anugerah umum ini tidak mencapai anugerah keselamatan; karena itu, semua manusia masih membutuhkan karya penyelamatan Roh untuk mendamaikan mereka dengan Tuhan. Mengapa anugerah umum adalah sesuatu yang baik yang datang dari Allah untuk semua orang?

Kita harus mengakui sejak awal bahwa kata sifat “umum” tidak muncul dalam Alkitab sebagai kata sifat untuk kata benda “anugerah.” Namun, kita dibenarkan untuk menggunakannya mengingat bagaimana hubungan Yesus dengan orang-orang yang tidak percaya digambarkan bagi kita dalam Kitab Suci. Sampai pada akhir hidup-Nya, Yesus masih meminta pengampunan kepada orang-orang yang menyalibkan Dia.

Yesus berkata: ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23:34

Pengampunan Yesus di sini bukan merupakan indikasi bahwa orang-orang, imam, ahli Taurat, tua-tua, dan prajurit menerima keselamatan dan rekonsiliasi dengan Tuhan pada saat itu. Mereka menerima anugerah umum dari Yesus: Dia tidak menghalangi jalan mereka kepada Tuhan. Yesus memberikan izin agar pengorbanan-Nya pada saat itu digunakan untuk menutupi dosa setiap orang yang terlibat. Dia “berdoa syafaat bagi para pelanggar” (Yesaya 53:12).

Kata-kata-Nya efektif. Salah satu pencuri, yang tampaknya ikut mengejek pada awalnya (Matius 27:44), mempertimbangkan kembali dan menerima tawaran Yesus (Lukas 23:39–43). Dia bukan satu-satunya. Setelah Yesus naik ke surga dan Roh Kudus turun atas para pengikut-Nya, “banyak imam menyerahkan diri dan percaya” (Kisah Para Rasul 6:7); mereka memohon pengampunan dari orang yang mereka salibkan! Ini adalah anugerah yang ajaib.

Bagaimana mungkin manusia yang masih berada di bawah murka dan kutukan Tuhan dan menjadi pewaris neraka menikmati begitu banyak karunia yang baik dari tangan Tuhan? Bagaimana mungkin manusia yang belum diperbarui secara menyelamatkan oleh Roh Tuhan tetap bisa menunjukkan begitu banyak kualitas, karunia, dan prestasi yang mendorong pelestarian, kebahagiaan duniawi, kemajuan budaya, peningkatan sosial dan ekonomi bagi diri mereka sendiri dan orang lain? Bagaimana mungkin ras dan bangsa yang tampaknya tidak tersentuh oleh pengaruh penebusan dan regenerasi Injil berkontribusi begitu banyak pada apa yang kita sebut peradaban manusia? Sebagian kecil umat Kristen menyebut semua yang dilakukan orang yang bukan Kristen itu adalah sia-sia. Ini tentu tidak benar.

Semua umat manusia adalah penerima curahan anugerah Allah ini, tetapi tidak semua mengalaminya dalam tingkat yang sama atau dengan cara yang sama. Penggunaan istilah “umum”, “tidak berarti ‘dalam ukuran yang sama untuk semua’ tetapi ‘universal,’ yang diperluas kepada semua orang. Tidak juga berarti ‘biasa-biasa saja,’ meskipun kasih karunia umum sering dianggap biasa saja dan terpisah dari sumbernya, yaitu Tuhan. Kasih karunia umum sama sekali tidak membosankan dan biasa-biasa saja, seperti yang terlihat dalam ladang-ladang yang melimpah, kemajuan medis, kejeniusan artistik, keluarga-keluarga yang penuh kasih, inisiatif-inisiatif global melawan perdagangan manusia, dan masih banyak lagi.

Pertimbangkan, misalnya, kasih karunia umum Allah seperti yang terlihat dalam Kejadian 39:5 di mana Allah dikatakan telah “memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf.” Di Listra, Paulus menyatakan bahwa Allah “berbuat baik dengan menurunkan hujan dari langit dan musim-musim yang subur, memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (Kisah Para Rasul 14:17). Yesus sendiri berkata bahwa Allah “membuat matahari-Nya terbit atas orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan atas orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45). Bapa digambarkan sebagai “baik terhadap orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang yang jahat” (Lukas 6:35; lihat juga Lukas 16:25). Lalu adakah karunia umum dalam hal rohani?

Roh Kudus sebagai Roh kebenaran, kekudusan, dan kehidupan dalam segala bentuknya, hadir dalam setiap pikiran manusia, menegakkan kebenaran, menjauhkan dari kejahatan, membangkitkan kebaikan, dan memberikan hikmat atau kekuatan, kapan, di mana, dan dalam ukuran apa yang menurut-Nya baik. Inilah yang dalam teologi disebut kasih karunia umum. Anugerah umum adalah setiap kebaikan hati, apa pun jenis atau derajatnya, yang tidak mencapai keselamatan, yang dinikmati oleh dunia yang tidak layak dan terkutuk oleh dosa ini dari tangan Allah. Sebagian orang Kristen menolak adanya pikiran yang “baik” sekalipun semua yang baik sebenarnya datang dari Allah.

Kebaikan Allah sebagaimana terlihat dalam anugerah umum pertama kali ditemukan dalam cara anugerah umum memberikan pengaruh pengekangan pada ekspresi kebejatan atau dosa manusia. Tindakan pencegahan kebaikan Allah ini tidak menyeluruh, atau tidak akan ada dosa sama sekali. Tindakan tersebut juga tidak seragam, karena jika demikian, semua pria dan wanita akan sama-sama jahat atau sama-sama baik. Jadi, yang kita maksud adalah bahwa manifestasi dan dampak kebejatan moral manusia tidak diizinkan mencapai batas maksimal yang mampu dicapainya. Fakta empiris yang sederhana adalah bahwa jika hal ini tidak terjadi, kehidupan di bumi hampir mustahil terjadi.

“Tanda” yang Allah berikan pada Kain, “supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.” (Kejadian 4:15) adalah salah satu contohnya. Dalam setiap kasus sperti ini, Tuhan memberikan pengaruh pencegahan terhadap apa yang seharusnya merupakan tindakan kejahatan. Jadi, salah satu tujuan dari aktivitas Roh di dunia kita adalah untuk menghalangi atau menghambat atau mengekang ekspresi lahiriah dari kecenderungan batiniah hati yang berdosa. Jika Ia tidak melakukannya, jika Ia sepenuhnya mengangkat atau menarik atau menangguhkan aktivitas khusus ini, masyarakat kita pada akhirnya akan menjadi tidak layak huni. Tanpa anugerah umum, kejahatan umat manusia akan menelan dunia dan membawanya ke ambang kekacauan dan kerusakan total.

Anugerah umum adalah keputusan Allah yang penuh belas kasihan untuk menangguhkan manifestasi langsung dari murka dan penghakiman-Nya yang dibenarkan oleh dosa manusia. Allah masih menanti semua anak yang hilang untuk pulag kembali dan bertobat. Paulus mengemukakan kebenaran ini dalam bentuk pertanyaan di Roma 2:4: “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Dengan cara yang sama, Allah memberikan berbagai pengaruh yang menuntun setiap manusia ke arah pertobatan.

Tuhan tidak hanya menahan tindakan dan dampak dosa dari hati manusia, Dia juga menganugerahkan berkat yang berlipat ganda baik secara fisik maupun rohani kepada alam dan manusia. Namun, berkat-berkat ini tidak cukup untuk menebus dosa itu sendiri. Kita harus ingat bahwa kebaikan yang dikaitkan dengan orang-orang yang belum dilahirkan kembali pada akhirnya hanyalah kebaikan relatif. Itu tidak baik dalam arti memenuhi dalam motivasi, prinsip, dan tujuan persyaratan hukum Allah dan tuntutan kekudusan-Nya. Untuk bisa mendapat penebusan, manusia perlu mendapat karunia khusus. Konsep “Anugerah umum” dengan demikian dapat dilihat sebagai penekanan akan perlunya misi gereja. Tuhan tetap bekerja di dunia sampai saat ini, dan Roh Kudus bekerja dalam hati setiap orang, sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Untuk itulah kita yang sudah mendapat anugerah keselamatan harus mau menggunakan anugerah umum-Nya untuk berbuat baik agar banyak orang bisa mengenal Tuhan yang mahakasih, sehingga mereka kemudian mau bertobat dari hidup lama mereka.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10:31

Hidup belebihan belum tentu membawa kebahagiaan

“6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:6-10

Sejak dulu, banyak orang tua memiliki semacam target kesuksesan bagi anak-anak mereka semenjak mereka masih kecil. Dan tentu saja kekayaan adalah salah satu ukuran kesuksesan tersebut. Agar tujuan tersebut tercapai, banyak orang tua yang percaya bahwa anak-anak mereka harus berhasil dalam pendidikan dengan memilih jurusan yang “laku” di dunia kerja dan yang akan menjanjikan gaji yang besar di masa depan.

Dalam komunitas dan budaya tertentu, kesuksesan anak-anak menjadi obsesi seisi keluarga, sehingga sering menjadi kenyataan bahwa jika anak-anak kelak sukses dalam hidup dan menjadi orang dewasa yang kaya, mereka yang sudah terbiasa dalam hal berkompetisi dan berfokus kepada diri sendiri akan mendidik anak-anak mereka dengan cara yang sama. Tidaklah mengherankan, bahwa pada awal tahun dan bahkan setiap hari, orang tua selalu berdoa dan berharap agar anak-anak mereka menjadi orang kaya-raya karena percaya bahwa kekayaan adalah identik dengan kebahagiaan.

Apa kata Alkitab tentang mereka yang ingin jadi kaya? Ayat 1 Timotius 6:6-10 adalah penjelasan singkat tentang pandangan Kristen yang benar tentang kekayaan. Berbeda dengan kehidupan dunia yang penuh dosa dan keinginan untuk mendapatkan kekayaan materi sebesar-besarnya, ayat 6 menyatakan bahwa “ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Ibadah adalah tema di seluruh 1 Timotius, yang digunakan beberapa kali dalam surat pendek ini. Ibadah dalam arti hidup sebagai orang Kristen.

Rasa cukup berbeda dengan kaya. Mereka yang merasa hidup dalam kecukupan, belum tentu kaya. Sebaliknya, mereka yang sudah kaya sering kali tidak merasa cukup karena mereka ingin untuk menjadi lebih kaya. Dengan demikian, rasa cukup akan bisa membawa kebahagiaan; sedangkan tidak adanya rasa cukup akan mengurangi kebahagiaan, dan bahkan bisa mendatangkan kesusahan. Rasa cukup bisa membuat sesorang bersyukur kepada Tuhan, sedang tidak adanya rasa cukup akan membuat Tuhan terasa jauh.

Dalam 1 Timotius 6, ayat-ayat awal menggambarkan kelemahan yang umum pada guru-guru palsu. Ini termasuk aspek-aspek seperti pertengkaran, keserakahan, dan keras kepala. Iri hati juga disebutkan; guru palsu sering kali berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain.

Masih adakah guru-guru palsu di zaman sekarang? Tentu! Bukan saja mereka yang bekerja sebagai “influencer” di berbagai media yang menggembar-gemborkan cara mencapai kesuksesan dan kekayaan, di banyak gereja juga ada pendeta yang mengajarkan bahwa besarnya kekayaan adalah bukti besarnya iman. Banyak di antara mereka adalah pendeta-pendeta kaya yang mengenakan berbagai barang berharga.

Rasa cukup adalah tema penting yang juga ditekankan Paulus di tempat lain. Misalnya, Filipi 4:11 menyatakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Paulus dapat hidup dengan sedikit atau berkelimpahan karena ia tahu Tuhan dapat memenuhi kebutuhannya. Namun, bagaimana kesalehan yang disertai rasa cukup bisa menjadi keuntungan besar? Mereka yang hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan, dan yang merasa puas dengan apa pun yang mereka miliki, memiliki kehidupan rohani yang kuat. Ini dapat membantu mereka melewati kesulitan hidup apa pun.

Dari hal merasa cukup, Paulus kemudian beralih ke fokus untuk bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 4:4). Orang Kristen tidak boleh khawatir tentang apa pun, tetapi sebaliknya harus memanjatkan segala macam doa kepada Tuhan (Filipi 4:6). Ini tidak berarti sama sekali tidak berpikir. Melainkan, ini berarti tidak ada rasa takut atau cemas. Kedamaian Allah melindungi (Filipi 4:7). Paulus juga mendorong para pembacanya untuk berfokus pada hal-hal yang baik (Filipi 4:8). Ini mencakup semua yang telah mereka pelajari dan terima, dengar dan lihat dalam diri Paulus (Filipi 4:9). Orang Kristen di Filipi diperintahkan untuk memikirkannya, dan menerapkannya, dengan mengetahui bahwa kedamaian Allah akan menyertai mereka (Filipi 4:9).

Ayat 1 Timotius 6:7 terhubung dengan ajaran Perjanjian Lama. Ayub 1:21 mencatat perkataan Ayub, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”.” Berbicara tentang kefanaan harta, Pengkhotbah 5:15 mengatakan, “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya.”

Gagasan untuk tidak membawa apa pun ke dunia ini sudah jelas bagi Timotius. Kontras yang lebih besar dengan gagasan agama lain, mengumpulkan kekayaan dan barang-barang materi, terutama demi barang-barang itu sendiri, tidak ada gunanya. Semua hal itu akan ditinggalkan saat kita meninggal. Alkitab menekankan sifat sementara dari uang dan harta benda (Matius 6:19). Orang percaya harus bisa merasa cukup tanpa memandang tingkat ekonomi atau peningkatan atau penurunan harta duniawi. Ini tidak berarti kita harus memandang kekayaan sebagai sesuatu yang jahat, atau menghindari kemakmuran. Akan tetapi, sukacita sejati kita berasal dari pengenalan akan Tuhan dan bukan melalui obsesi terhadap kekayaan atau kesuksesan.

Dalam 1 Timotius 6:8, Paulus melanjutkan ajarannya tentang rasa cukup. Ayat ini berbicara tentang aspek-aspek yang paling mendasar dan penting untuk bertahan hidup. Hal-hal pokok ini diberikan untuk menyoroti perbedaan antara hal-hal pokok dan kekayaan. Atau, dalam ungkapan modern yang lebih umum, perbedaan antara “kebutuhan” dan “keinginan.” Dalam kasus ini, khususnya, Paulus berbicara dari sudut pandang pengalaman pribadi. Menurut Paulus, kemampuan kita untuk menanggung kekurangan dalam apa yang kita ingini dan bahkan kelangkaan dalam apa yang kita butuhkan adalah kekuatan unik orang Kristen (Filipi 4:10–13).

Perspektif dalam ayat 8 ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran ayat 7. Tidak ada yang kita “miliki” dalam hidup ini yang menjadi milik kita selamanya. Kita memulai dan mengakhiri hidup tanpa harta benda. Allah tidak berutang atau menjanjikan kesuksesan duniawi kepada kita. Bahkan saat kita memberikan upaya terbaik kita untuk menumbuhkan apa yang telah dipercayakan Allah kepada kita, kita perlu merasa puas dengan apa yang kita miliki.

Ayat berikutnya menyoroti bahaya terlalu terobsesi dengan keinginan, bukannya sekadar memenuhi kebutuhan kita. Mereka yang menginginkan kekayaan atau mencintai uang akan jatuh ke dalam godaan. Sebagai orang percaya, tujuan kita seharusnya adalah berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan hidup untuk Tuhan, bukan kekayaan dan kemewahan. Yesus secara pribadi mencontohkan kesederhanaan semacam ini dalam tahun-tahun pelayanan-Nya bersama para murid-Nya. Alih-alih mencari kekuasaan dan kekayaan dalam mengajar masyarakat Yahudi, Ia bergantung pada dukungan finansial orang lain, bahkan terkadang hidup tanpa rumah (Matius 8:20).

Ayat 1 Timotius 6:9 ini menjelaskan tiga hal yang terjadi pada mereka yang menginginkan kekayaan. Pertama, meskipun setiap orang tergoda dalam beberapa hal, mereka yang menginginkan kekayaan “jatuh” ke dalam godaan. Dorongan untuk “menjadi kaya,” atau mencari kemakmuran materi dengan segala cara, menuntun pada bencana. Karena itu, orang percaya harus melawan godaan dan hidup bagi Kristus.

Kedua, mereka yang ingin menjadi kaya jatuh “ke dalam jerat.” Kata Yunani yang digunakan Paulus di sini adalah pagida: perangkap binatang, biasanya dipasang dengan tali atau jaring, yang digunakan untuk menangkap binatang yang dipancing dengan umpan. Dengan cara yang sama, mereka yang menginginkan kekayaan mengikuti godaan sampai akhirnya menuntun pada kehancuran. Ini adalah ciri khas lain dari ajaran Kristen tentang dosa dan moralitas: Setan akan sering menggunakan godaan untuk “memikat” kita agar menjauh dari apa yang seharusnya kita lakukan, untuk menjebak kita dalam konsekuensi dosa kita sendiri (Mazmur 119:110; 2 Timotius 2:26).

Poin ketiga terkait erat dengan poin kedua. Kerinduan akan kekayaan memperkuat godaan lainnya. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan di sini, beberapa di antaranya dapat mencakup keinginan untuk menipu, mencuri, atau berbohong untuk menambah penghasilan. Sejarah dipenuhi dengan contoh-contoh orang yang menggunakan ketidakjujuran, kejahatan, atau penipuan dalam upaya untuk menjadi kaya. Ini juga mengulangi cacat karakter yang dikaitkan Paulus dengan guru-guru palsu (1 Timotius 6:4-6), yang masih sering kita jumpai sekarang ini.

Seperti yang pernah dibahas dalam tulisan saya “Dosa yang membawa kebinasaan” – 30 April 2022, godaan-godaan ini menjerumuskan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Keinginan akan kekayaan dapat menghancurkan kehidupan seseorang dan dalam beberapa kasus menyebabkan kematian dini. Keserakahan dapat menyebabkan hancurnya hubungan pribadi, kesehatan fisik, dan kesehatan rohani seseorang. Dan, itu dapat menyebabkan konsekuensi yang lebih langsung dan serius. Ini termasuk keterlibatan dalam kejahatan, rasa sakit dan penderitaan bagi teman-teman dan keluarga kita, dan bahkan balas dendam dari orang-orang serakah lainnya.

Sekarang, apa arti 1 Timotius 6:10? Frasa pembuka ayat ini terkenal tetapi bisa disalahtafsirkan. Frasa ini terkenal karena menjadi inspirasi bagi pepatah umum “uang adalah akar segala kejahatan.” Tetapi ayat tersebut sebenarnya tidak mengatakan hal seperti itu. Sebaliknya, apa yang dicela adalah cinta akan uang. Kekayaan dan kesuksesan sama baik atau buruknya dengan apa yang dilakukan seseorang dengannya. Keserakahan, dan obsesi terhadap uang, menjadi dasar berbagai macam dosa, sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam ayat 9.

Ayat 10, intinya bukanlah bahwa semua dosa selalu merupakan hasil dari keserakahan materi. Melainkan, intinya adalah bahwa cinta uang dapat menuntun seseorang pada hampir semua dosa lainnya. Keserakahan dapat meningkatkan, mengilhami, dan memperbesar godaan dosa lainnya, dan menuntun kita pada bencana. Inilah sebabnya Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang percaya yang tergoda oleh cinta uang dapat meninggalkan hubungan yang dekat dengan Tuhan. Mereka cenderung menukar kekudusan dengan fokus pada membangun kekayaan untuk keuntungan pribadi. Paulus mencatat bahwa mereka yang telah melakukannya telah “menusuk diri mereka dengan banyak kepedihan.” Gambaran kata yang digunakan di sini adalah salah satu luka yang ditimbulkan sendiri.

Pagi ini, perlu kita catat bahwa mendidik anak tentang kekayaan dalam Alkitab berarti mengajarkan mereka untuk mengelola uang dengan bijaksana, tidak mementingkan harta benda, dan mengutamakan kebaikan rohani serta pelayanan kepada sesama, bukan sekadar mencari kekayaan duniawi. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat Anda ajarkan kepada anak-anak Anda berdasarkan Alkitab:

  1. Kekayaan rohani lebih penting: Ajarkan anak Anda bahwa kekayaan rohani, seperti iman, kasih, dan kebaikan, lebih berharga daripada kekayaan duniawi.
  2. Kekayaan adalah anugerah, bukan tujuan: Kekayaan adalah anugerah dari Tuhan, bukan tujuan yang harus dikejar dengan segala cara.
  3. Mengelola uang dengan bijaksana: Ajarkan anak Anda untuk tidak memboroskan uang, menabung, dan menggunakan uang untuk kebutuhan yang penting.
  4. Berbagi dan memberi: Ajarkan anak Anda untuk berbagi dan memberi kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.
  5. Jangan terjerat kekayaan: Kekayaan dapat menjadi jerat dan mengalihkan perhatian dari Tuhan dan hal-hal yang lebih penting.

Hidup berarti berdoa dan mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan

Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.” Kisah Para Rasul 27:31

Baru-baru ini, 14 anggota kelompok agama di Toowoomba, Australia telah dihukum karena membunuh seorang anak perempuan penderita diabetes berusia delapan tahun yang tidak diberi insulin selama hampir seminggu. Elizabeth Struhs meninggal di rumah pada tahun 2022 karena ketoasidosis diabetik, yang menyebabkan penumpukan keton yang berbahaya – sejenis asam – dan lonjakan gula darah. Pengadilan mendengar bahwa perawatan Elizabeth dihentikan karena kelompok tersebut, yang dikenal sebagai kelompok Orang Suci (The Saints), menentang perawatan medis karena percaya Tuhan akan menyembuhkannya.

Ketika menjatuhkan putusannya yang hampir 500 halaman, Hakim Martin Burns mengatakan bahwa meskipun jelas orang tua Elizabeth dan setiap anggota kelompok menyayangi Elizabeth, tindakan mereka telah mengakibatkan kematiannya. “Tidak dapat diragukan lagi bahwa Elizabeth dirawat dengan penuh kasih sayang dalam hampir segala hal,” katanya. “Namun, karena keyakinan mereka yang kuat pada kekuatan ajaib dari penyembuhan Tuhan… Elizabeth kehilangan satu hal yang pasti akan membuatnya tetap hidup.”

Kisah nyata di atas sudah tentu adalah hal yang menyedihkan, yang untungnya tidak sering terjadi. JIka itu terjadi, biasanya disebabkan oleh ajaran sesat dari kaum bidat. Seperti kelompok di atas, orang Kristen yang tersesat bisa memiliki kepercayaan bahwa Tuhan yang mahakuasa menetapkan segala sesuatu yang terjadi di dunia, sedemikian rupa sehingga umat-Nya tidak perlu atau tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagian percaya tentang adanya takdir, dan sebagian lagi percaya bahwa apa yang perlu dilakukan manusia dalam keadaan kritis hanyalan berdiam diri , berserah, dan berdoa. Ini sudah tentu bukanlah iman yang benar karena setiap orang Kristen tidak boleh melarikan diri dari kenyataan, tetapi harus berdoa dan berbuat sesuatu untuk mengatasi persoalan. Inilah yang dilakukan oleh Paulus dalam Kisah Para Rasul 27 tentang perjalanan laut yang terkenal.

Julius adalah seorang perwira dari kelompok Augustan. Ia dan para prajuritnya ditugaskan untuk membawa sekumpulan tahanan dari Kaisarea Maritima ke Roma. Setidaknya salah satu dari mereka, Paulus, akan pergi karena ia telah mengajukan banding atas kasusnya dan akan menghadapi pengadilan Kaisar. Meskipun Paulus berstatus tahanan, Julius menghormati Paulus; ketika mereka tiba di Sidon, Julius mengizinkan teman-teman Paulus di sana untuk mengurus kebutuhannya (Kisah Para Rasul 27:1–3).

Dalam kisah perjalanan itu, kapal yang ditumpangi Paulus diterpa badai. Selama empat belas hari angin dan ombak mengombang-ambingkan kapal, dan jarak pandang menjadi sangat minim. Paulus tampaknya telah berdoa karena Tuhan telah mengatakan kepadanya bahwa meskipun kapal dan muatannya akan hilang, semua orang akan selamat (Kisah Para Rasul 27:21–26).

Para awak kapal akhirnya menyadari bahwa mereka sudah mendekati daratan, tetapi saat itu malam. Mereka dapat memperkirakan di mana daratan itu, tetapi mereka tidak dapat mengetahui apakah ada batu atau terumbu karang di antara kapal dan pantai. Para awak kapal berpura-pura menurunkan jangkar di haluan agar ombak tidak memutar kapal. Tetapi, mereka sebenarnya menurunkan sekoci penyelamat untuk melarikan diri (Kisah Para Rasul 27:27–30). Paulus yang menyadari hal ini, kemudian memperingatkan Julius bahwa awak kapal harus tetap ada di kapal agar semua orang selamat. Julius kemudian memerintahkan prajuritnya untuk memotong tali sekoci itu agar hanyut sebelum bisa dipakai awak kapal.

Apa yang dikatakan Paulus adalah bertolak belakang. Ia bernubuat bahwa semua penumpang akan selamat. Tetapi, ia kemudian berkata bahwa jika awak kapal meninggalkan kapal, penumpang kapal akan binasa. Lalu, kepada siapa penumpang kapal harus berharap? Kepada Tuhan yang berkuasa dan berjanji untuk menyelamatkan atau kepada usaha manusia? Mengapa mereka tetap harus mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu sekalipun Tuhan sudah menyatakan hasil akhirnya?

Jelas bahwa dalam kejadian di atas, keduanya penting dan bekerja sama untuk keselamatan semua penumpang. Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya, dan penumpang kapal harus mengambil keputusan yang sesuai dengan itu. Mereka yang dekat dengan Tuhan akan mengerti apa yang terbaik untuk dilakukan. Tuhan sudah menyatakan bahwa semua akan selamat dan karena itu Paulus kemudian mendorong awak kapal dan seluruh penumpang untuk makan untuk pertama kalinya dalam empat belas hari. Seperti yang kita dapat baca, kapal kemudian menabrak karang di Malta dan semua orang berenang untuk menyelamatkan diri. Kapal dan muatannya hancur total, tetapi tidak ada penumpang yang meninggal, seperti apa yang dinubuatkan Paulus sebelumnya.

Bagian ini menunjukkan beberapa pertanyaan menarik tentang hubungan antara janji-janji Allah dan tindakan manusia. Dua tahun sebelumnya, Allah telah berjanji kepada Paulus bahwa ia akan sampai di Roma (Kisah Para Rasul 23:11). Mengapa Paulus memperingatkan bahwa semua orang di atas kapal akan mati? Apakah peringatannya didasarkan pada wahyu Allah atau pengalaman perjalanannya yang luas—ia telah mengalami karam kapal tiga kali dan menghabiskan satu malam terombang-ambing (2 Korintus 11:25). Dan bagaimana peringatannya yang kedua—bahwa kapal dan muatannya akan hilang tetapi semua nyawa akan diselamatkan—sesuai dengan peringatannya di sini bahwa jika Julius tidak bertindak, ia dan para prajurit akan mati?

Pada contoh pertama, tampaknya Paulus memberikan peringatan umum berdasarkan pengalamannya. Tentunya, ia memercayai janji Allah bahwa ia akan sampai di Roma, entah karena tindakan awak kapal atau karena campur tangan supranatural Allah (Kisah Para Rasul 8:39). Dalam contoh kedua ini, Tuhan berjanji kepada Paulus bahwa semua orang akan hidup, tetapi penggenapan janji-Nya melibatkan tindakan para prajurit—yang telah ditetapkan Tuhan sebelumnya. Para penumpang akan mati jika awak kapal meninggalkan kapal, tetapi Tuhan memiliki cara untuk mencegahnya.

Saat ini, apakah Anda memiliki tujuan atau rencana tertentu untuk dilaksanakan? Percayakah Anda bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa membuat semua terjadi jika Ia memang menghendaki? Jika Anda percaya, apakah yang harus Anda lakukan? Apakah Anda percaya bahwa ketekunan dalam doa adalah satu-satunya yang perlu untuk mencapai tujuan Anda? Ataukah Anda percaya bahwa usaha Anda juga menentukan apa yang akan terjadi? Paulus dalam kisah perjalanannya sudah menyatakan bahwa sekalipun apa yang terjadi harus sesuai dengan kehendak Tuhan, apa yang baik bisa tercapai jika Anda melakukan apa yang sesuai dengan kehendak-Nya karena Anda mengasihi Dia.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Adanya penderitaan seharusnya membuat kasih kita mengalir

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1:3-4

Saat ini, penduduk sepanjang pesisir tenggara negara bagian Queensland di Ausralia merasa gundah dan berdebar-debar karena adanya berita tentang akan datangnya angin topan Alfred pada hari Jumat pagi mendatang. Angin topan (cyclone) yang diramalkan akan mempunyai tingkat 2 atau 3 ini akan mendarat di sekitar kota Brisbane, membawa curah hujan 500 mm atau lebih dalam waktu beberapa jam, disertai dengan angin kencang yang bisa mencapai kecepatan setidaknya 150 km/jam. Semua penduduk kota Brisbane dan sekitarnya (termasuk saya yang tinggal di Sunshine Coast) sudah diperingatkan untuk bersiap-siap untuk menghadapi bahaya banjir dan angin kencang yang bisa memakan korban jiwa.

Adalah kenyataan bahwa adanya bencana alam di suatu tempat membawa penderitaan yang besar bagi penduduknya. Tidak hanya rumah penduduk bisa musnah, tetapi jalan raya, gedung sekolah dan pertokoan juga sering mengalami kesusakan berat. Sesudah terjadinya bencana alam, biasanya perlu waktu 2-3 tahun untuk memulihkan kehidupan masyarakat yang terkena musibah itu. Walaupun demikian, sekalipun bencana alam membawa hal-hal yang menyedihkan, itu juga bisa membawa hal yang baik dengan adanya banyak orang yang yang merasa terpanggil untuk memberi sumbangan atau berbagai bentuk bantuan lainnya kepada mereka yang terkena bencana. Karena itu, sering kali mereka yang terkena musibah sering kali tidak dapat melupakan kebaikan dan pertolongan dari sesama manusia. Bagi mereka yang beriman, tentunya ada rasa syukur karena mereka masih selamat sekalipun harus kehilangan tempat tinggal dan harta. Musibah adalah suatu hal yang buruk, tetapi bisa menghasilkan apa yang baik.

Ayat 2 Korintus 1:3–11 berisi pujian yang mendalam kepada Allah atas penghiburan-Nya bagi semua orang yang sedang menderita. Paulus menghubungkan penderitaan orang Kristen dengan penderitaan Kristus. Hal ini menunjukkan kepada jemaat Korintus bagaimana penderitaan Paulus dan penghiburan yang diterimanya dari Tuhan selama penderitaan itu telah mendatangkan manfaat bagi mereka. Paulus baru saja mengalami penderitaan yang berat, yang membawa dia dan rekan-rekannya ke ambang kematian. Tuhan yang membangkitkan orang mati telah menyelamatkan mereka. Karena itu, Paulus mengundang jemaat Korintus untuk berpartisipasi dalam perayaan kuasa Tuhan dengan terus berdoa bagi Paulus dan rekan-rekannya serta mengucap syukur atas pembebasan Tuhan.

Paulus menegaskan bahwa penderitaannya dan penghiburan yang diterimanya dari Tuhan telah mendatangkan manfaat bagi jemaat Korintus. Paulus sering kali memulai surat-suratnya dengan mengucap syukur kepada Tuhan bagi mereka yang kepadanya ia menulis surat, dan juga berdoa bagi mereka dengan cara tertentu. Tetapi, kali ini suratnya berbeda. Ia memulai dengan berfokus pada penghiburan Tuhan bagi mereka yang mengalami kesengsaraan. Seperti yang akan diungkapkan ayat-ayat berikutnya, Paulus menyatakan bahwa ada peristiwa yang sangat traumatis dalam hidupnya. Alih-alih berdoa bagi para pembacanya, ia akan meminta mereka untuk berdoa baginya.

Perlu kita perhatikan bahwa Paulus memulai suratnya dengan memuji Tuhan dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus sering kali memfokuskan doanya kepada Tuhan Bapa, sesuatu yang hanya mungkin melalui iman pribadi kepada Kristus Sang Anak, yang adalah Tuhan kita (Yohanes 14:6). Paulus menyebut Tuhan dengan dua nama: Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan.

Karena Tuhan berdiri di posisi hakim atas semua orang, Ia juga merupakan sumber segala belas kasihan. Alih-alih menghakimi semua orang yang berdosa—yaitu kita semua—Ia dengan cuma-cuma memberikan belas kasihan-Nya kepada mereka yang datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Yohanes 3:16–18). Paulus memahami bahwa di tengah penderitaan dan kesengsaraan kita, kita yang termasuk orang percaya harus mengingat bahwa Allah telah memberikan kita belas kasihan dan menyelamatkan kita, dan akan terus melakukannya.

Tuhan juga adalah Allah sumber segala penghiburan. Dalam penderitaan, orang Kristen sejati tidak lari dari Allah untuk mencari kelegaan dari rasa sakit mereka; mereka justru berlari kepada-Nya sebagai sumber penghiburan. Penghiburan Allah merupakan tema utama dari 2 Korintus. Beberapa bentuk kata yang diterjemahkan sebagai penghiburan, paraklesis dalam bahasa Yunani, muncul 29 kali dalam surat ini. Gagasan kata tersebut lebih dari sekadar kelegaan sesaat dari rasa sakit; kata itu juga melibatkan dorongan dan penguatan. Penghiburan Allah memungkinkan kita untuk berhenti berjuang dengan kekuatan kita sendiri melawan penderitaan dan kesengsaraan kita, agar kita bisa beristirahat, menjadi kuat, dalam kekuatan-Nya.

Masuk akal jika Paulus memulai dengan berfokus pada belas kasihan dan penghiburan Allah bagi mereka yang sedang “menderita,” yang berarti penderitaan yang sulit. Paulus sendiri telah mengalami peristiwa traumatis tidak lama sebelum menulis surat ini kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 1:8). Ia sekarang melanjutkan bahwa Allah menghibur orang percaya dalam segala penderitaan kita. Paulus sengaja menggunakan kata “segala” dua kali berturut-turut untuk menunjukkan bahwa Allah menyediakan segala sesuatu bagi orang Kristen dalam bermacam-macam (segala) jenis penderitaan. Allah tidak pernah menjadi solusi parsial untuk penderitaan kita, meskipun Ia bisa menolong kita dalam berbagai cara. Ia adalah sumber segala belas kasihan dan penghiburan bagi mereka yang terluka.

Penderitaan yang digambarkan Paulus kemungkinan ada hubungannya dengan penganiayaan karena iman kepada Kristus atau penentangan terhadap Injil. Namun, kita tidak perlu membatasi penerapan ayat-ayat ini. Allah menghibur anak-anak-Nya ketika mereka menderita, apa pun penyebabnya. Penghiburan di sini berarti lebih dari sekadar kelegaan sementara dari rasa sakit atau merasa tenang, seperti dalam pengertian modern dari kata tersebut. Ini melibatkan kemampuan untuk beristirahat karena Tuhan menanggung beban kita dan memberi kita kekuatan untuk terus maju.

Penderitaan kita dalam hidup ini sering kali terasa tidak berarti jika dibandingkan dengan penderitaan yang dialami banyak orang lain. Alkitab memberikan tujuan bagi penderitaan kita. Jika kita telah dihibur oleh Tuhan—dikuatkan, didorong, dibebaskan dari beban—Tuhan juga memberi kita kesempatan untuk menyampaikan penghiburan kepada orang lain yang sedang menderita. Dalam pengertian itu, penghiburan Tuhan dapat direproduksi dan diulang. Tuhan tetap menjadi sumbernya, tetapi orang percaya dapat terus membagikan penghiburan Tuhan kepada orang lain yang menderita seperti mereka.

Pagi ini marilah kita merenungkan jdul renungan di atas: Adanya penderitaan seharusnya membuat kasih kita mengalir. Siapa yang bisa memiliki lebih banyak empati dan belas kasihan bagi seseorang yang sedang menderita, secara batiniah atau lahiriah, daripada orang percaya yang telah mengalami penderitaan yang sama karena penyebab yang sama? Siapa yang lebih mampu mengungkapkan bagaimana Tuhan menghibur mereka pada saat yang sama daripada seseorang yang telah menempuh jalan yang sama? Kita yang sudah menerima belas kasihan dan penghiburan Allah, seharusnya bisa menyalurkan kasih Allah kepada sesama kita yang sedang menderita.


Tidak semua orang yang dianggap saleh akan ke surga

“Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Seperti peribahasa “Ada banyak jalan menuju Roma”, kita menjumpai orang Kristen di zaman ini, yang mungkin dengan alasan toleransi antar agama dan keadilan Tuhan, mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju kebahagiaan sejati. Mereka mungkin menyatakan bahwa ada banyak agana yang mengajarkan kebenaran, berbagai cara untuk hidup bahagia, cara mencapai surga, dan cara menemui Tuhan semesta alam. Karena itu, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa bukan orang Kristen saja yang bisa masuk ke surga. Dan tidak mengherankan bahwa ada orang yang mengangap bahwa klaim bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk ke surga adalah sebuah ilusi dan kesombongan.

Dengan “kemajuan” pemikiran manusia, banyak orang yang berpendapat bahwa asal hidup kita diisi kebajikan, pada saatnya kita akan sampai ke “Roma”, surga yang kita impikan. Juga dengan anggapan bahwa kebenaran ada dalam semua agama dan ajaran yang beraneka ragam, sebagian orang menggabungkan segi-segi yang dianggap baik dari berbagai sumber untuk dijadikan pedoman hidup modern. Seiring dengan itu, muncul pemikiran bahwa setiap orang yang mau berusaha hidup saleh, pasti akan bisa ke surga. Bagaimana kata Alkitab?

Yohanes 6:40 adalah salah satu bagian terpenting dalam Perjanjian Baru. Ayat ini telah terbukti menjadi pesan penginjilan penting yang dikhotbahkan ke seluruh dunia. Itu adalah pernyataan sederhana tentang kehendak Bapa, keselamatan kita, dan tujuan kekal kita di dalam Kristus. Ayat ini sejalan dengan Yohanes 3: 16 yang menyatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Dalam Yohanes 6:40 (bandingkan dengan Yohanes 3:16), ada kata yang mencolok mata, yaitu kata “setiap orang”. Siapakah yang dimaksudkan dengan “setiap orang”? Apakah itu semua orang yang terlihat saleh? Apakah itu siapa saja yang mengaku Kristen? Ataukah mereka yang rajin ke gereja? Ataulah siapa saja yang sudah mengaku percaya kepada Yesus? Mungkinkah itu hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai hidup baik dan selalu taat kepada firman-Nya? Ataukah itu adalah orang yang sudah dipilih Allah dari awalnya menurut kedaulatan-Nya?

Dalam Yohanes 6, Yesus memberi makan ribuan orang yang telah mengikuti-Nya. Ia melakukan ini dengan membagi-bagi isi makanan kecil secara ajaib, menyisakan lebih banyak daripada yang Ia miliki sebelumnya. Awalnya, orang banyak merasa takjub dan mereka dengan antusias memuji Yesus. Setelah mengutus para murid menyeberangi Laut Galilea dan menyelamatkan mereka dari badai dengan berjalan di atas air, Yesus sekali lagi berbicara kepada orang banyak. Kali ini, Ia menekankan pelajaran rohani di balik mukjizat-Nya sebelumnya. Sayang, tidak seperti apa yang terjadi sebelumnya, kali ini sebagian besar dari mereka yang dulunya memuji Yesus ternyata kecewa.

Keinginan sebenarnya dari orang banyak adalah untuk tontonan supranatural lainnya dan lebih banyak makanan gratis. Bukannya membuat keajaiban lagi, Kristus mulai menjelaskan makna sebenarnya di balik mukjizat dan pelayanan-Nya. Ini termasuk yang pertama dari tujuh pernyataan ”Akulah” dalam Injil Yohanes—momen-momen ketika Yesus menyatakan keilahian-Nya sendiri. Yesus menjelaskan bahwa hal-hal fisik seperti roti adalah simbol kebenaran rohani. Dengan demikian, manusia bisa hidup kekal bukan karena makanan dan minuman yang bersifat jasmani, tetapi dari apa yang rohani, yang berassal dari Yesus.

Di sini, Yesus menetapkan perlunya kepercayaan bagi mereka yang mencari kehidupan kekal. Selain itu, Kristus membuat pernyataan lain yang jelas tentang doktrin keamanan kekal. Mereka yang diberikan kepada Yesus oleh Bapa, Dia pasti akan menyelamatkannya. Mereka yang Dia selamatkan pasti akan tetap diselamatkan, untuk “[dibangkitkan] pada hari terakhir.” Begitu seseorang benar-benar diselamatkan oleh Kristus, keselamatan mereka tidak akan pernah hilang.

Kita selalu dapat menggambarkan apa yang terjadi di dunia dari dua sisi — dari sisi manusia dan tanggung jawabnya untuk menerima apa yang Tuhan tawarkan — dan dari sisi Tuhan dan kedaulatannya untuk mencapai tujuan penyelamatan-Nya. Mengenai tanggung jawab, bangsa Israel telah gagal untuk memilih apa yang benar, mereka lebih senang dengan hal jasmani. Begitu juga pada zaman ini, meskipun Allah sudah menyatakan diri-Nya dalam bentuk manusia Yesus, manusia tidak tertarik untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan yang menyelamatkan. Mereka lebih tertarik pada hal kesalehan untuk mendapat keselamatan. Dan sebagian orang Kristen merasa bahwa “orang-orang saleh” itu tentu akan masuk ke surga.

Dalam Yohanes 6, Tuhan menawarkan roti-Nya – Yesus – kepada umat-Nya sendiri, tetapi mereka tidak menerimanya. Allah mengirim Anak-Nya, dan manusia bertanggung jawab untuk melihat dan percaya. Tapi bangsa Israel menolak-Nya. Sampai sekarang, masih banyak orang tahu nama Yesus, tetapi tidak mau mengakui Yesus sebagai Tuhan. Mereka mungkin nampak saleh, tetapi menolak Yesus. Mereka bukan milik Yesus.

Apakah tujuan penyelamatan Allah kepada “setiap orang” kemudian gagal? Tidak, karena Dia membuat tindakan-tindakan berdasarkan kasih-Nya. Dan ayat 37–40 menjelaskan alasannya. Tuhan berdaulat atas pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan membiarkan tujuan akhir-Nya bagi siapa pun gagal. Ada lima penegasan yang kuat tentang karya kedaulatan Allah dalam ayat 37-40. Sangat penting bagi kita untuk memahaminya:

  1. Tuhan memberikan orang-orang pilihannya kepada Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku”. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang”. Allah tidak menunggu orang-orang pilihan-Nya datang kepada Yesus. Mereka sendiri tidak akan mampu. Dia memberikannya kepada Yesus. Dia memilih mereka untuk diri-Nya sendiri, karena Dia memberikannya kepada Putra-Nya.
  2. Karena Tuhan memberikan mereka kepada Yesus, mereka datang kepada Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku.” Atau, seperti yang telah kita lihat di ayat 35, mereka percaya kepada Yesus. Yesus tidak mengatakan bahwa karena orang datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus, maka Allah memberikan mereka kepada Anak. Tidak. Mereka yang Bapa berikan kepada Putra, datang kepada Putra. Allah mengamankan kedatangan mereka. Dia bekerja mendatangkan mereka. Dia menjamin kedatangan mereka. Ketika Anda datang kepada Kristus, Tuhan membawa Anda. Ketika Yesus dapat dimengerti oleh Anda, itu bukan karena Yesus terlihat memuaskan bagi Anda. Tetapi, itu adalah Tuhan yang membuka mata Anda. sehingga Anda percaya. Dan ketika Dia melakukannya, Anda datang dengan bebas, dengan semua perlawanan Anda teratasi.
  3. Mereka yang diberikan kepada Yesus akan disimpan-Nya.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Memberi dan mendatangkan adalah karya kedaulatan Bapa, dan pemeliharaan adalah karya kedaulatan Putra. Anda akan disimpan. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.” Yesus tidak akan kehilangan siapa pun yang datang kepadanya. Jika Bapa memberikan kita kepada Putra, kita datang kepada Dia. Yesus tidak akan pernah kehilangan kita, atau menolak kita. Kehidupan yang kita miliki di dalam Putra, seperti yang dikatakan ayat 40, adalah “hidup yang kekal.” Tidak seperti hidup di dunia yang sementara, hidup baru itu tidak bisa hilang.
  4. Yesus akan membangkitkan kita dari kematian pada hari terakhir.
    Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yesus tahu bahwa kematian bagi semua orang terlihat seperti kekalahan, kehilangan. Apalagi bagi mereka yang belum percaya. Setidaknya tubuh kita hilang. Dan untuk menolak kekuatiran manusia, Yesus berkata dua kali, untuk memperjelasnya, “supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu kuatir, bahkan tubuh kita tidak akan musnah seperti tubuh orang yang tidak mengenal Yesus.
  5. Landasan yang tak tergoyahkan dari keselamatan kita adalah kehendak Tuhan.
    Tidak ada yang lebih pasti di dunia ini daripada kehendak Allah yang berdaulat. Ayat 38 memberikan dasar mengapa Yesus tidak akan mengusir siapa pun yang diberikan Bapa kepadanya: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Adalah kehendak Allah yang berdaulat bahwa tidak ada milik-Nya yang hilang.

Sekarang, jika Anda bertanya: Saya melihat ada banyak orang yang lebih baik hidupnya dari saya. Jika mereka bukan milik Kristus, bagaimana saya bisa tahu jika saya termasuk yang terpilih? Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya telah diberikan Bapa kepada Yesus, dan bahwa Dia akan memelihara dan membesarkan saya? Jawabannya sangat sederhana: “Yesus berkata kepada mereka, ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”(Yohanes 6:35). Jika Anda datang kepada Yesus seperti ini, Anda telah diberikan oleh Bapa kepada Putra. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengakui Yesus sebagai sumber hidup kekal, bukanlah orang-orang yang dipilih Allah sekalipun kesalehan mereka sangat dihargai sesama manusia.

Jika sampai saat ini Anda merasa bahwa hidup Anda sudah terasa baik, mungkin Anda merasa bahwa Anda termasuk orang saleh yang akan diselamatkan Allah. Begitu juga, mereka yang sudah banyak berbuat kebaikan menurut agama masing-masing, Anda kira akan masuk ke surga. Tetapi, jika Anda benar-benar orang pilihan Tuhan, hidup Anda akan mengalami perubahan karena Anda merasa bahwa Allah sendiri yang sudah mengangkat Anda menjadi anak-Nya. Bukan karena kesalehan atau agama Anda, karena Anda tidak bisa menenuhi standar Allah yang mahasuci.

Sebagai orang pilihan, Anda akan merasa bahwa hidup Anda adalah berharga di hadapan Bapa, dan Anda merasa sangat bersyukur untuk itu sekalipun ada banyak penderitaan dan masalah yang harus Anda hadapi. Anda sadar bahwa tidak ada orang yang bisa datang kepada Yesus tanpa melalui Bapa. Tidak ada orang yang bisa bersyukur atas pengurbanan Yesus dan berubah dari hidup lamanya jika tidak dipilih oleh Bapa. Sebaliknya, tidak ada seorang yang saleh yang akan menemui Bapa tanpa mengakui bahwa Yesus dan Bapa adalah satu adanya (Yoanes 10:30). Demikian pula, tidak ada orang yang terlihat saleh, yang dapat dibenarkan di hadapan Alah dan menerima hidup yang kekal tanpa melalui Yesus.

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6

Jika Tuhan terasa jauh di tengah kekacauan

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:6-7

Ada banyak orang yang merasa bahwa setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Saya sendiri pernah merasakan hal itu. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa, kuatir, putus asa dan bahkan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang justru bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka. Bagaimana bisa begitu?

Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firman-Nya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepada-Nya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apa pun, agar kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, mahaadil dan mahabijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita. Karena itu kita tidak perlu khawatir atau kecewa.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Sebaliknya, jika doa kita terkabul, itu bukan karena kesalehan kita. Doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbingan-Nya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menjawab kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, pada saatnya kita akan mendengar suara-Nya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Jika kekuatiran kita sering menyebabkan hal yang negatif, kesadaran bahwa Tuhan mengasihi setiap umat-Nya bisa membawa perasaan positif. Paulus mencatat bahwa pengalamannya telah mengajarinya untuk merasa cukup dengan berkat materi apa pun yang dimilikinya. Ketergantungan pada kuasa Kristus ini tidak hanya memungkinkan orang percaya untuk merasa cukup, tetapi juga bisa menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Hal ini juga menuntut pilihan yang disengaja untuk mengarahkan perhatian kita pada hal-hal yang positif.

Filipi 4:2–9 adalah seruan Paulus kepada jemaat Kristen Filipi mengenai cara mereka menangani perselisihan di dalam jemaat. Paulus khususnya prihatin dengan pertengkaran antara dua wanita, Euodia dan Sintikhe. Nasihat Paulus adalah untuk berfokus pada kemampuan kita untuk bersukacita dalam persekutuan kita dengan Kristus. Hasil dari penekanan itu seharusnya adalah sikap ”masuk akal,” yang terlihat oleh semua orang. Dengan fokus yang tepat pada hal-hal positif, kita dapat mengalami kedamaian melalui kuasa Allah.

Paulus secara khusus meminta Euodia dan Sintikhe untuk menyelesaikan perselisihan pribadi mereka. Paulus mencatat bahwa pengalamannya telah mengajarkannya untuk merasa cukup dengan berkat-berkat materi apa pun yang dimilikinya. Ketergantungan pada kuasa Kristus ini tidak hanya memungkinkan orang percaya untuk merasa cukup, tetapi juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Hal ini juga menuntut pilihan yang disengaja untuk mengarahkan perhatian kita pada hal-hal yang positif.

Paulus memulai dengan kontras antara kekhawatiran dan doa. Ia mencatat orang percaya tidak boleh “khawatir tentang apa pun.” Ini tidak berarti sama sekali tidak peduli akan perbuatan atau kelakuan orang lain. Ini juga tidak berarti orang Kristen boleh ceroboh dalam hubungan sosial. Tidak juga berarti bahwa mereka tidak boleh mengabaikan ras khawatir yang secara normal bisa muncul pada manusia mana pun dalam hidup sehari-hari. Sebaliknya, ini berarti bahwa orang percaya tidak boleh takut, paranoid, atau gelisah dan lupa bahwa Tuhan tahu apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Itu karena orang percaya dapat berbicara langsung dengan Tuhan, pencipta langit dan bumi, yang memiliki semua kuasa dan otoritas, yang memegang kendali penuh atas situasi.

Daripada merasa cemas atas situasi lingkungan, orang percaya harus dengan rendah hati dan bersyukur mendekati Tuhan dengan apa pun yang ada dalam pikiran mereka. Doa yang dewasa mencakup ucapan syukur kepada Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan selain meminta bantuan-Nya di bidang-bidang yang membutuhkan. Ini adalah resep Kristen untuk mengurangi kecemasan di semua bidang kehidupan. Ini tidak berarti orang percaya akan menjalani hidup tanpa kekhawatiran. Ini juga tidak berarti bantuan tambahan tidak akan diperlukan. Akan tetapi, hal itu menunjukkan bahwa mengatasi masalah dalam hidup kita harus dimulai dengan doa yang berkelanjutan.

Mereka yang memilihuntuk rajin berdoa dan percaya kepada-Nya selama masa-masa kecemasan akan mengalami “damai sejahtera Allah.” Kedamaian ini menawarkan tiga hal positif yang penting. Pertama, kedamaian Allah bersifat supranatural dan tidak dapat dijelaskan. Sungguh menakjubkan bagaimana Allah dapat dan akan menanggapi selama masa-masa sulit.

Kedua, kedamaian Allah “akan memelihara hatimu.” Hati dipandang sebagai sesuatu yang harus dilindungi dengan segala cara, karena hati memengaruhi seluruh kehidupan (Amsal 4:23). Paulus memegang jemaat Filipi “di dalam hatiku” (Filipi 1:7).

Ketiga, kedamaian Allah akan memelihara “pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Konsep ini terkait dengan kasih kepada Allah dan sesama (Matius 22:37–40), serta persatuan. Di seluruh Filipi Paulus mengungkapkan keprihatinan tentang kesatuan jemaat Filipi, khususnya dalam pikiran (Filipi 1:27; 2:2, 5). Ia menyebutkan pikiran lagi kali ini sebagai pernyataan bahwa di tengah perselisihan dan kekuatiran yang ada, kita membutuhkan pikiran yang dikendalikan oleh kedamaian dari Allah.

Saat ini, jika kita merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak perlu merasa kecewa atau putus asa. Mungkin kita merasa bahwa tidak ada seorang pun yang peduli atau mau menolong kita. Mungkin saja kita merasa bahwa semua orang memusuhi kita. Kita berdoa minta tolong, tetapi Tuhan terasa membisu. Walaupun demikian, Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umat-Nya pada saat yang tepat.

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda tetap mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya. Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita, tetapi dengan kebijaksanaan-Nya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikan-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Anda ikut pertandingan apa?

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” 2 Timotius 4:7

“Hidup adalah sebuah perjuangan”. Ini adalah sebuah pernyataan tentang kenyataan. Siapakah yang mengucapkannya untuk pertama kali? Ada sebagian orang yang menyebutkan nama Karl Marx. Tetapi, ada kemungkinan bahwa ia mengucapkan sesuatu yang sudah pernah diucapkan orang lain. Yang jelas adalah bahwa Alkitab sudah mengungkapkan hal ini dalam Kejadian 3:16-19. Memang, perjuangan untuk hidup di dunia yang kita tinggali saat ini adalah akibat dari dosa. Walaupun demikian, kata “pertandingan” dalam ayat di atas bukanlah perjuangan setiap orang untuk bisa survive atau enjoy di dunia, tetapi adalah perjuangan untuk hidup sebagai anak Tuhan di dunia.

Di dalam Alkitab, khususnya dalam ayat di atas, Rasul Paulus menggambarkan penyelesaian tugas dengan frasa yang pada dasarnya menandakan bahwa ia telah menyelesaikan misinya dengan dedikasi dan ketekunan, bahkan dalam menghadapi tantangan.

Poin-poin penting tentang ayat ini:

  • “Telah mengakhiri pertandingan yang baik”: Mewakili perjuangan dan tantangan yang dihadapi Paulus saat menyebarkan pesan Kristen.
  • “Telah mencapai garis akhir”: Menunjukkan bahwa ia telah menyelesaikan perjalanannya dan memenuhi tujuannya.
  • “Telah memelihara iman”: Menyoroti komitmennya yang teguh terhadap kepercayaan Kristen.

Rasul Paulus menulis kata-kata ini menjelang akhir hidupnya. Ketiga pernyataan ini mencerminkan perjuangan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus dan kemenangannya atas perjuangan-perjuangan tersebut.

Pada abad ke-1, orang Romawi merayakan pesta olahraga yang kita kenal sekarang sebagai Olimpiade. Para peserta akan menghabiskan waktu hingga sepuluh bulan dalam latihan fisik yang berat. Karena jemaat Korintus sangat akrab dengan acara-acara ini, Paulus menggunakan pertandingan-pertandingan tersebut sebagai analogi untuk kehidupan orang percaya yang penuh kesetiaan. Ia menulis kepada jemaat di Korintus dengan mengatakan,

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1 Korintus 9:24-25

Nasihat Paulus adalah agar orang percaya harus fokus dan berdedikasi seperti para pelari zaman dahulu dalam pertandingan. Hidup kita sebagai orang Kristen bukanlah hidup yang santai karena kita adalah orang pilihan. Motivasi kita dalam melayani Kristus jauh lebih tinggi dari kemauan untuk berjuang untuk mencari kebahagiaan hidup; kita “berlari” bukan untuk mahkota sementara, tetapi untuk mahkota yang kekal.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus tidak memuji dirinya sendiri karena telah “berlari sejauh-jauhnya”; sebaliknya, ia hanya menjelaskan apa yang telah dimampukan oleh kasih karunia Allah untuk dilakukannya. Ia melakukan apa yang menjadi bagiannya. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Paulus mengucapkan kata-kata yang penuh makna ini:

“Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Kisah Para Rasul 20:24

Jadi, dengan menyatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,” Paulus memberi tahu Timotius bahwa ia telah mengerahkan segala upaya dalam pekerjaan memberitakan Injil keselamatan kepada semua orang. Ia telah menyelesaikan lintasan yang ditetapkan baginya; ia tidak membiarkan apa pun terlewat. Ia siap untuk melewati garis finis menuju surga.

Dalam sebuah perlombaan, hanya satu pelari yang menang. Namun, dalam “perlombaan” Kristen, setiap umat yang setia berjuang agar Kristus dapat dimuliakan. Kita tidak bersaing satu sama lain, seperti dalam pertandingan atletik, tetapi melawan pergumulan, fisik dan rohani, yang menghalangi kita untuk meraih hadiah surgawi (Filipi 3:14).

Setiap orang percaya menjalani perlombaannya sendiri. Kita masing-masing dimampukan untuk menjadi pemenang. Paulus menasihati kita untuk “berlari sedemikian rupa sehingga memperoleh hadiah,” dan untuk melakukan ini kita harus menyingkirkan apa pun yang dapat menghalangi kita untuk menjalankan dan mengajarkan Injil Kristus. Penulis kitab Ibrani menggemakan kata-kata Paulus:

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:1-2

Tuhan memiliki rencana khusus bagi kita masing-masing. Tujuan utama orang percaya seharusnya adalah menemukan rencana Tuhan bagi hidup mereka dan kemudian mengejarnya dengan segenap kekuatan dan daya mereka. Kita masing-masing berada dalam suatu jenis perlombaan. Kata “perlombaan” adalah kata Yunani stadion, yang kemudian menjadi kata kita “stadium.” Paulus menggunakan kata ini untuk memberi tahu kita bahwa ketika kita memasuki perlombaan iman, kita ditempatkan di tengah-tengah arena. Orang-orang melihat kita saat kita berjuang dengan iman. Mereka tahu tentang pergumulan kita, dan mereka menyaksikannya untuk melihat apakah kita akan memenangkan pertandingan kita.

Pagi ini, kita harus ingat bahwa kita tidak sedang menjalankan perlombaan iman pribadi, melainkan perlombaan yang memiliki pengaruh pada kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, Paulus mendesak kita untuk menjalankan perlombaan kita dengan cara yang mendorong para pengamat yang menonton dari pinggir lapangan untuk ikut serta dalam perlombaan itu sendiri dan memenuhi tanggung jawab mereka dalam pertandingan mereka sendiri. Bagaimana dengan diri Anda? Apa pertandingan Anda dalam usaha memuliakan nama Tuhan?

Tuhan menghukum setiap orang menurut perbuatan mereka

“Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” Roma 2: 6-8

Sebagai orang Kristen, apakah Anda masih takut dihukum Tuhan? Pertanyaan ini agaknya tidak sukar dijawab karena hanya dua pilihan jawaban: ya atau tidak. Walaupun demikian, untuk menjawabnya orang harus berhati-hati agar tidak membuat kekeliruan.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa jika tidak bisa hidup baik, mereka akan kehilangan keselamatan yang sudah dianugerahkan Tuhan. Mereka mengutarakan bahwa keselamatan memang sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma, tetapi adalah tugas manusia untuk mempertahankannya. Itu seperti karunia Tuhan kepada Adam dan Hawa di taman Eden: semua sudah disediakan dan aturan hidup sudah dijelaskan; tugas Adam dan Hawa hanya untuk memelihara dan menjalankan segala sesuatu sesuai dengan perintah Tuhan. Hukuman Tuhan kepada orang Kristen yang hidupnya tidak taat pada hukum Tuhan adalah sama dengan hukuman Tuhan untuk orang yang tidak beriman: kematian abadi di neraka. Karena itu hukum Tuhan mutlak untuk ditaati.

Pada pihak lain, ada orang Kristen yang percaya bahwa sekali selamat, mereka tetap selamat. Tidak ada dosa apa pun yang bisa menghilangkan anugerah keselamatan Tuhan. Sekali Tuhan sudah memutuskan untuk menyelamatkan seseorang, hal itu tidak bisa dibatalkan. Karena itu, tidak ada lagi yang perlu ditakuti umat percaya. Orang Kristen hanya harus percaya bahwa mereka adalah orang pilihan dan tidak perlu memikirkan pentingnya untuk berjuang mati-matian untuk berbuat kebaikan. Tuhan pasti mengampuni dosa dan kekurangan umat-Nya bagaimana pun besarnya dan apa pun jenisnya, dan karena itu tidak ada lagi hukuman Tuhan yang perlu ditakuti. Mereka menjadi orang-orang yang “anti” hukum Tuhan, dalam arti mengabaikan pentingnya ketaatan pada hukum Tuhan selama hidup di dunia (antinomian).

Kedua posisi di atas adalah keliru, dan masing-masing bisa menyebabkan orang Kristen hidup dalam kegelapan. Marilah kita meneliti apa yang dikatakan Alkitab.

Mengenai posisi pertama, ayat di bawah ini memberi pedoman:

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Roma 8:13

Ayat ini dapat dibaca dengan cara yang berbeda dengan implikasi yang sangat berbeda. Tidak semua guru Alkitab atau tradisi Kristen setuju tentang maknanya, dan karena itu bisa menjadikannya contoh tentang pentingnya konteks ketika mempelajari Kitab Suci.

Paulus telah menggambarkan hidup menurut daging sebagai kehidupan di luar Kristus. Ini adalah kehidupan duniawi yang melayani diri sendiri, pertama dan selamanya. Mereka yang hidup menurut daging bukanlah orang Kristen. Mereka tidak dapat tunduk pada hukum Allah dan tidak dapat menyenangkan Allah (Roma 8:7–8).

Sekarang, Paulus menulis bahwa jika Anda hidup menurut daging, Anda akan mati. Ini adalah poin pertama dari ayat di mana konteks menjadi penting. Paulus telah menjelaskan secara eksplisit dalam bagian sebelumnya bahwa mereka yang berada di dalam Kristus tidak dapat, menurut definisi, hidup menurut daging. Itu bukan saran bahwa orang percaya yang diselamatkan tidak dapat berbuat dosa, tetapi jelas ada perbedaan antara orang yang bukan Kristen sejati dengan mereka yang sudah dilahirkan kembali. Mereka yang hidup menurut daging adalah kelompok yang sama dengan mereka yang tidak diselamatkan.

Paulus tampaknya bermaksud bahwa siapa pun yang tidak menaruh iman mereka kepada Kristus dan mengubah arah hidup melalui kuasa Roh akan mati. Ini dapat menyiratkan beberapa konsekuensi dosa dan hukuman Tuhan atas dosa selama kita hidup di dunia (lihat tulisan “Dosa yang membawa kebinasaan” – 30 April 2022), tetapi makna utama Paulus di sini adalah kematian rohani dan kekal.

Pernyataan Paulus berikutnya adalah bahwa jika oleh Roh Kudus Anda mau mematikan perbuatan dosa tubuh, Anda akan hidup. Di sini, sekali lagi, konteks surat kepada jemaat di Roma ini penting. Beberapa orang menganggap ini berarti bahwa seseorang yang tidak berhasil melepaskan semua dosa tidak akan memperoleh hidup kekal. Namun, penjelasan itu tidak sesuai dengan semua hal lain yang diajarkan Paulus tentang pembenaran kita karena apa yang telah Kristus lakukan bagi kita (Roma 5:1–11).

Sebaliknya, pernyataan ini pertama-tama berarti bahwa mereka yang benar-benar ada di dalam Kristus akan, melalui kuasa Roh Allah bersama kita, menemukan kemenangan atas keinginan untuk berbuat berdosa. Kita akan memiliki keberhasilan yang lebih besar dan lebih mampu mematikannya. Barangkali yang kedua, ini berarti kita akan benar-benar hidup, secara rohani, dalam kasih Allah yang berlimpah dengan mematikan dosa-dosa tubuh kita. Kita akan menemukan kedamaian, kebahagiaan dan rasa syukur yang berlimpah.

Karena bimbingan Roh, kita takut untuk berbuat dosa dan karena itu akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Mereka yang tidak takut akan hukuman Tuhan, bukanlah orang Kristen sejati. Pada pihak yang lain, kita harus memahami bahwa untuk memperoleh keselamatan di surga, kita memerlukan penghapusan total dari dosa-dosa kita yang hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Allah. Itu bukan sesuatu yang dapat kita capai sendiri.

Kembali ke ayat pembukaan di atas, kita harus tahu bahwa Roma 2:1–11 juga bisa menimbulkan semacam perangkap bagi setiap pembaca yang mengira bahwa daftar dosa Paulus yang membinasakan di akhir Roma 1 adalah untuk orang lain dan bukan untuk orang Kristen. Sebenarnya, setiap orang sudah bersalah karena dosanya (Roma 3:23). Tidak seorang pun akan luput dari penghakiman Allah atas dosa pribadi, termasuk orang Yahudi dan non-Yahudi yang religius. Allah pasti akan menghakimi setiap orang sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Jika ada orang yang bisa hidup tanpa dosa, dan hanya melakukan kebaikan, ia tentu akan menerima pahala dan hidup kekal. Jika tidak, ia layak mendapatkan murka dan kemarahan. Dalam hal ini. tidak ada manusia yang sempurna, yang suci, yang mampu memenuhi standar Allah. Hal ini menjadi dasar penjelasan Paulus tentang bagaimana kita dapat memperoleh keselamatan: hanya melalui kasih karunia berdasarkan iman.

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus dengan keras mengutuk setiap orang yang bermoral atau religius yang bersalah karena menghakimi orang lain atas dosa mereka (Roma 2:1-3). Paulus dengan demikian mengisyaratkan kebenaran ini: Tidak seorang pun dari kita boleh berasumsi bahwa Allah tidak akan mengungkapkan murka-Nya kepada kita karena dosa kita. Tidak ada orang Kristen sejati yang tidak takut dihukum Tuhan. Hanya orang Kristen munafik yang tidak takut akan hukuman Tuhan.

Paulus menguraikan hukum mutlak tentang siapa yang akan menerima hidup kekal bersama Allah, dan siapa yang akan menerima “murka dan amarah” (Roma 2:8) dari-Nya. Paulus mengutip dari Mazmur 62:12 dan Amsal 24:12 untuk mengartikulasikan kebenaran universal bahwa Allah akan memberikan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Ia menjelaskan perbedaan antara mereka yang akan menerima murka atau pahala dari Allah.

Jika diambil di luar konteks, ini adalah pernyataan yang meresahkan. Paulus tampaknya menunjukkan bahwa Allah menghakimi semua orang berdasarkan perilaku mereka. Tetapi, ini adalah gagasan yang sama yang diungkapkan oleh Yesus sendiri (Matius 16:27). Dalam hal pahala, ini benar adanya; setiap orang dihakimi berdasarkan perbuatan mereka (Roma 14:10–12; 2 Korintus 5:10). Tuhan yang mahakasih menuntut umat-Nya untuk taat kepada-Nya, dan setiap kali kita jatuh dalam dosa kita harus meminta ampun dan bertobat, agar dosa-dosa kita tidak menjadi penghalang akan berkat-Nya.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:8-9

Namun, seperti yang akan dijelaskan Paulus dalam surat ini, pada akhirnya tidak seorang pun dapat diselamatkan oleh perbuatan baik mereka (Roma 3:23). Satu-satunya harapan kita untuk keselamatan—untuk diselamatkan dari hukuman dosa kita—adalah kasih karunia, melalui iman kepada Yesus Kristus.

Pagi ini, jika kita mengaku Kristen sejati, kita tetap takut untuk melanggar hukum Tuhan. Pada pihak lain, kita tidak takut kehilangan keselamatan jika kita tetap mau berjuang sekuat tenaga untuk taat kepada hukum-Nya (pronomian dan bukan antinomian). Kita mengerti bahwa adanya hukum Tuhan adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan kita di bumi maupun di surga. Pesan ini harus kita sampaikan kepada semua saudara seiman tanpa keraguan untuk memuliakan Allah yang sudah memberikan hukum-Nya.

Memberkati untuk bisa diberkati?

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. ” 1 Petrus 3:8-9

1 Petrus 3:8–22 ditujukan kepada semua orang percaya, memerintahkan orang Kristen untuk bersatu dan menolak untuk membalas dendam ketika disakiti. Petrus mengutip dari Daud dan Yesaya untuk menunjukkan bahwa umat Allah selalu dipanggil untuk menolak kejahatan dan melakukan kebaikan. Ini benar bahkan ketika kita menderita karena perlakuan orang lain kepada kita. Kita harus sadar bahwa mungkin adalah kehendak Allah bagi umat-Nya untuk menderita, sebagian untuk menunjukkan kuasa-Nya. Teladan kita yang baik juga dapat membawa orang lain kepada Kristus agar bertobat.

Apa arti 1 Petrus 3:8? Ayat ini memulai bagian baru dari surat Petrus. Surat ini ditulis untuk orang Kristen secara umum. Bagian-bagian sebelumnya berfokus pada isu-isu yang unik bagi berbagai kelompok, seperti budak, istri, dan suami. Tetapi di sini, Petrus menulis kepada “kamu semua”, yaitu semua orang Kristen. Setiap orang Kristen dipanggil untuk menaati perintah ini saat kita hidup dalam hubungan satu sama lain. Ini menuntut kita untuk mengakui bahwa semua orang percaya mempunyai derajat yang sama di hadapan Tuhan dan karena itu tidak boleh menempatkan diri kitai di atas orang lain. Bagaimana kita bisa melaksanakan perintah ini?

Pertama, kita harus mau untuk “harmonis,” atau berpikiran sama. Allah menghendaki agar komunitas orang Kristen bersatu dalam satu cara berpikir: cara Yesus. Kemudian, orang Kristen harus mempunyai perasaan empati satu dengan yang lain. Kita harus tergerak secara emosional, dengan tulus hati mencoba untuk mengerti akan perasaan dan keadaan orang lain. Kita harus bisa menempatkan diri kita dalam posisi mereka.

Kemudian, Petrus memerintahkan kita untuk mengasihi, seperti saudara saling mengasihi. Dengan kata lain, kasih seperti “keluarga”. Tentu saja, saudara kandung tidak selalu menyukai satu sama lain. Namun, sebagian besar bisa berkomitmen satu sama lain di atas mereka yang berada di luar keluarga. Mereka tidak saling berhantam dalam keluarga atau suka mencari kesalahan orang lain. Mengapa demikian? Karena mereka berada dalam satu marga yang dipersatukan dalam Kristus. Orang Kristen harus memiliki komitmen terhadap orang Kristen lainnya.

Selanjutnya, kita harus menyayangi atau baik hati. Ini mirip dengan bersikap simpati, tetapi ini menyiratkan bahwa kita siap untuk saling menunjukkan kebaikan, dengan keinginan untuk berbuat sesuatu demi kebaikan orang lain.

Terakhir, orang Kristen harus rendah hati dalam roh atau memiliki “pikiran yang rendah hati.” Kita harus siap untuk mengesampingkan kepentingan diri atau ego kita sendiri. Kita harus berusaha menjadikan orang lain sebagai fokus perhatian kita. Orang Kristen harus saling mengangkat, tidak menonjolkan diri dalam upaya kita untuk saling mendukung demi kemuliaan Kristus.

Bagi orang Kristen, balas dendam dan usaha untuk menhukum saudara seiman bukanlah pilihan yang tepat. Petrus menggemakan ajaran Yesus, dan juga Paulus, dengan menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mereka yang ada di dalam Kristus—mereka yang dipisahkan untuk tujuan yang baru—tidak diperbolehkan untuk “membalas dendam.” Bayangkan jika Allah berubah pikiran, menolak kita, dan kemudian ingin menghukum kita atas semua dosa-dosa kita!

Petrus menulis kepada orang-orang percaya yang mungkin mengalami baik kekerasan fisik maupun “cacian” (atau penghinaan). Cara dunia dan dorongan manusia normal kita adalah membalas dengan perlakuan menyakitkan yang sama dengan yang kita terima. Petrus memerintahkan kita untuk sepenuhnya menolak naluri duniawi itu. Itu seharusnya ada dalam kemampuan kita yang sudah menerima kasih Kristus yang luar biasa besarnya dan dianugerahi dengan Roh Kudus yang selalu siap menolong kita.

Alih-alih membalas kejahatan dengan kejahatan atau penghinaan dengan penghinaan, Petrus memerintahkan mereka yang ada di dalam Kristus untuk “memberkati,” atau memberikan berkat. Berkat adalah pernyataan positif atas kemauan kita untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6:14-15

Bagi orang Kristen, permintaan kita adalah agar Tuhan menolong orang lain untuk berhasil dalam hal yang baik, dan agar orang itu menerima pertolonganTuhan. Mengapa kita harus melakukan hal seperti itu untuk seseorang yang telah menyakiti atau menghina kita? Petrus menjawab pertanyaan itu dalam 1 Petrus 2:21–25. Kita menanggapi dengan berkat ketika diberi hal yang jahat karena itulah yang Yesus lakukan untuk kita, dan Dialah yang kita ikuti. Kita berjalan mengikuti jejak langkah-Nya.

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” 1 Petrus 2:21-25

Petrus menambahkan dua gagasan dalam 1 Petrus 3:9. Pertama, sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan memberi berkat sebagai ganti kejahatan dan hinaan. Sebagai manusia dan bukan robot, kita bisa menolak untuk menjalankan perintah Tuhan ini. Tetapi, kita harus ingat bahwa itu adalah bagian dari tugas kita sebagai umat pilihan di bumi. Ini adalah alat yang ampuh untuk perubahan sosial, karena hanya pengampunan yang dapat memutus siklus kebencian dan balas dendam. Karena adanya damai dalam keluarga Tuhan, orang yang belum percaya bisa tertarik untuk beegabung.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Kedua dan yang lebih misterius, saat kita memberi berkat untuk orang yang memberi hinaan dan kejahatan kepada kita, kita akan memperoleh atau “mewarisi” berkat untuk diri kita sendiri. Berkat ini mungkin pernah ditafsirkan sebagai kehidupan kekal yang telah dijanjikan kepada kita di dalam Kristus tetapi, yang lebih tepat, berkat ini menunjuk pada pahala tambahan dari Allah dalam kehidupan ini dan/atau kehidupan yang akan datang.

Sebagian orang Kristen jarang memikirkan atau membicarakan hal pahala di surga. Mereka seolah berpikir bahwa mengharapkan pahala adalah dosa dan karena itu mereka tidak mau memikirkan pentingnya berbuat kebaikan. Berbuat baik bagi mereka bukanlah tugas orang percaya, tetapi anugerah Tuhan. Lagi pula, apa gunanya pahala? Bukankah tinggal di surga dengan Allah sudah cukup baik? Mengenal-Nya, melihat kemuliaan-Nya, menikmati surga – sulit dipahami mengapa pahala lainnya perlu diberikan sama sekali. Dan juga, karena iman kita mengandalkan kebenaran Kristus bukan kebenaran pribadi kita (Roma 3:21-26), rupanya agak aneh jika perbuatan pribadi kita diberi penghargaan. Alih-alih mengharapkan pahala surgawi, mereka seolah merasa bahwa semua orang adalah munafik dan sombong jika berusaha berbuat baik karena manusia tidak mampu untuk menyenangkan Allah. Pandangan negatif ini harus kita tolak berdasarkan ayat 1 Petrus 3:8-9 di atas.

Allah akan membagikan pahala di surga pada takhta penghakiman Kristus, berdasarkan kesetiaan kita dalam melayani-Nya (2 Korintus 5:10). Pahala ini mencerminkan realita bahwa kita telah diangkat sebagai anak (Galatia 4:7), serta keadilan Allah (Ibrani 6:10). Allah akan memberi pahala di surga guna memenuhi hukum tabur tuai (Galatia 6:7-9) dan memenuhi janji-Nya bahwa jerih payah kita bagi-Nya tidak sia-sia (1 Korintus 15:58).

Pahala yang kita peroleh di surga bukan seperti imbalan yang kita peroleh di bumi. Kita sering membandingkannya dengan hal-hal materi – istana, batu dan logam mulia, dsb. Namun semua hal ini hanya berupa bayangan terhadap pahala yang sejati yang akan kita peroleh di surga. Seorang anak yang memenangkan lomba senang memperoleh piagam bukan demi piagamnya melainkan makna di balik piagamnya. Sama-halnya, pahala dan kehormatan yang kita peroleh di surga begitu berharga karena mencerminkan hubungan kita dengan Allah – dan semuanya mengingatkan kita akan karya yang Ia lakukan melalui diri kita di bumi.

Pagi ini kita belajar bahwa untuk diberkati Tuhan kita harus mau memberkati orang lain. Dengan cara ini, pahala kita tidak saja akan kita terima di surga, tetapi juga akan memberi kita sukacita, damai, dan pengaharapan selama kita hidup, mengingat karya Allah yang terus bekerja dalam kehidupan kita dan melalui hidup kita. Semakin dekat kehidupan kita dengan Allah, semakin kita berpusat pada-Nya dan menyadari-Nya, semakin kita mengandalkan-Nya, semakin kita menginginkan rahmat-Nya, dan semakin banyak yang dapat kita syukuri.