Jika setan menyerang kita, itu dengan seizin Tuhan

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Anda dan saya memiliki musuh bernama setan atau iblis yang berkeliaran di bumi dengan misi melahap siapa pun yang dapat ditelannya. Alkitab juga mengatakan hal itu dalam Wahyu 2:10.

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Wahyu 2:10

Dalam Alkitab, kita melihat iblis dan anak buahnya mendatangkan malapetaka dan penderitaan di bumi dan dalam kehidupan manusia. Kita tahu bahwa Adam dan Hawa digoda dan ditipu iblis (Kejadian 3:1-5), yang mengakibatkan kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa. Ini merupakan masalah besar seluruh umat manusia sampai sekarang karena kita mewarisi dosa mereka.

Di kitab Tawarikh dikatakan bahwa yang mendorong Daud untuk sombong adalah iblis, “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” (1Tawarich 21:1). Tetapi, dalam kitab Samuel, dikatakan bahwa yang mendorong Daud melakukan sensus adalah Allah: “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” (2 Samuel 24:1). Dari kedua ayat ini dapat disimpulkan bahwa Iblis-lah yang membujuk Daud untuk melakukan sensus, namun Allah mengizinkan hal tersebut. Atau, Allah membuka pintu/ mengizinkan Iblis mencobai Daud, sebagaimana Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menghadapi kekuatan kegelapan di setiap sudut dalam diri orang-orang yang sakit, lumpuh, dan dirasuki oleh kekuatan iblis. Petrus dalam ayat di atas memperingatkan kita bahwa Setan terus bergerak. Ia mencari yang lemah, terisolasi, dan rentan untuk dilahap. Ia tidak pernah menghargai keadilan. Ia tidak pernah libur, atau merasa kasihan kepada siapa pun. Lalu, apakah peringatan Petrus itu menyangkut kemungkinan bahwa orang Kristen, domba Yesus, bisa dirasuki setan?

Meskipun Alkitab tidak secara eksplisit menyatakan apakah seorang Kristen dapat dirasuki setan, kebenaran Alkitab yang terkait menjelaskan dengan sangat jelas bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki setan. Ada perbedaan yang jelas antara dirasuki setan dan ditindas atau dipengaruhi oleh setan. Kerasukan setan melibatkan setan yang memiliki kendali langsung/penuh atas pikiran dan/atau tindakan seseorang (Matius 17:14-18; Lukas 4:33-35; 8:27-33). Tetapi, untuk orang Kristen penindasan atau pengaruh setan menyangkut serangan rohani dan/atau mendorongnya ke dalam perilaku berdosa.

Dalam semua bagian Perjanjian Baru yang membahas peperangan rohani, tidak ada instruksi untuk mengusir setan dari orang percaya (Efesus 6:10-18). Orang percaya diperintahkan untuk melawan iblis (Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9), bukan menengking iblis dari saudara seiman. Orang Kristen didiami oleh Roh Kudus (Roma 8:9-11; 1 Korintus 3:16; 6:19). Tentunya Roh Kudus tidak akan membiarkan setan merasuki orang yang sama yang didiami-Nya. Tentunya tidak mungkinl bahwa Allah akan membiarkan salah satu anak-Nya, yang telah Ia beli dengan darah Kristus (1 Petrus 1:18-19) dan dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17), untuk dirasuki dan dikendalikan oleh setan. Allah sudah tentu jauh lebih berkuasa dari pada setan!

Sebagai orang percaya, kita memang berperang melawan setan dan roh-roh jahatnya, tetapi bukan setan yang berdiam dalam diri kita sendiri. Rasul Yohanes menyatakan, “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Siapakah Roh yang ada di dalam kita? Roh Kudus. Siapakah Roh yang ada di dalam dunia? Setan dan roh-roh jahatnya. Siapakah yang mengalahkan kuasa setan di kayu salib? Yesus dengan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Oleh karena itu, dengan adanya kuasa Yesus yang telah mengalahkan dunia roh jahat, kasus kerasukan setan pada orang percaya tidak dapat dijelaskan secara alkitabiah. Jadi, jika ada orang yang kerasukan setan, orang itu pasti bukan atau belum menjadi domba Yesus.

Dengan bukti Alkitab yang kuat bahwa seorang Kristen tidak dapat dirasuki setan, beberapa tokoh gereja menggunakan istilah “demonisasi” untuk merujuk pada setan yang menguasai seorang Kristen. Kisah demonisasi malah sering muncul dalam film di layar putih maupun TV. Beberapa berpendapat bahwa meskipun seorang Kristen tidak dapat dirasuki setan, seorang Kristen dapat dimasuki setan. Biasanya, deskripsi tentang dimasuki setan hampir identik dengan deskripsi tentang kerasukan setan. Jadi, hasilnya adalah masalah yang sama. Mengubah terminologi tidak mengubah fakta bahwa setan tidak dapat menghuni atau menguasai sepenuhnya seorang Kristen. Pengaruh dan penindasan setan adalah kenyataan bagi orang Kristen yang tidak dapat diragukan, tetapi tidaklah alkitabiah untuk mengatakan bahwa seorang Kristen dapat dimasuki setan atau dirasuki setan.

Melihat seseorang yang kita kira orang Kristen menunjukkan perilaku kerasukan setan seharusnya membuat kita mempertanyakan keaslian imannya. Hal itu seharusnya tidak membuat kita mengubah sudut pandang kita tentang pengaruh setan. Mungkin orang itu benar-benar orang Kristen tetapi sangat ditindas setan dan/atau menderita masalah psikologis yang parah. Namun sekali lagi, pengalaman kita harus menaati kata Alkitab, bukan kata hati atau pikiran kita. Tidak ada orang Kristen sejati yang bisa dikuasai setan.

Namun, apa yang telah kita katakan sejauh ini seharusnya menimbulkan pertanyaan: Bagaimana kita bisa hidup di dunia yang diperintah oleh Tuhan, diatur oleh Tuhan, dan sepenuhnya bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan-Nya, tetapi Tuhan membiarkan setan menimbulkan berbagai malapetaka di bumi? Bagaimana Tuhan membiarkan kita diserang setan tanpa kita menyadarinya? Di manaka perlindungan Tuhan untuk umat-Nya?

Jawaban singkat yang sesuai dengan teologi Kristen adalah: Tuhan mengizinkan peran setan di bumi dan penderitaan manusia karena semua itu adalah bagian dari rencana kekal-Nya. Salah satu cuplikan terbesar mengenai misteri Tuhan yang mengizinkan aktivitas dan penderitaan setan yang dibawanya, diungkapkan dalam kitab Ayub. Di dalamnya, kita melihat setan masuk ke hadirat Tuhan. Tuhan bertanya kepadanya di mana dia berada, dan setan berkata bahwa dia telah berkeliaran ke sana kemari. Terjadilah perdebatan antara Tuhan dan setan tentang Ayub, seorang pria yang makmur dan takut akan Tuhan di bumi.

Tuhan memberi tahu setan bahwa dia dapat menyiksa hidup Ayub. Dan setan dengan senang hati melakukannya. Ayub kehilangan harta benda dan anak-anaknya, tetapi Ayub tidak kehilangan imannya. Setan kecewa dan berkata kepada Tuhan bahwa jika Ayub secara pribadi disiksa, dia akan mengutuk Tuhan. Tuhan lagi-lagi mengizinkan setan menyiksa Ayub, tetapi Dia menetapkan syarat tentang apa yang dapat atau tidak dapat dia lakukan. Kali ini Setan tidak diizinkan untuk mengambil nyawanya, tetapi semua hal lainnya masih bisa terjadi. Ayub kemudian menderita penyakit fisik dan kesengsaraan sebagai akibatnya. Banyak orang percaya bahwa Ayub telah tidak menaati Tuhan dan sedang dihukum. Yang lain percaya bahwa ia harus mengutuk Tuhan dan berpaling dari-Nya. Ayub tidak melakukannya. Ayub tetap percaya kepada kasih Tuhan.

Ada banyak sudut pandang untuk membahas kisah Ayub ini, tetapi jelas bahwa kemampuan setan untuk bertindak di bumi adalah dengan seizin Tuhan. Setan tidak berdaulat. Setan tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Hanya Tuhan yang berdaulat, dan hanya Tuhan yang dapat melakukan semua yang Ia inginkan (Mazmur 115:3).

Ada pertanyaan alami yang muncul begitu Anda mulai merenungkan hal-hal ini: Mengapa Tuhan tidak menghancurkan setan saja? Mengapa Tuhan mengizinkan setan berkeliaran di bumi sampai sekarang? Mengapa Tuhan menciptakan setan jika Dia tahu ia akan memberontak? Alasan apa yang mungkin dimiliki Tuhan dalam mengizinkan setan mendatangkan rasa sakit, kesengsaraan, kehancuran, dan penderitaan di dunia?

Ada beberapa jawaban yang bisa kita pelajari:

Pertama, Tuhan dapat menggunakan setan sebagai alat penghakiman atas dunia. Kita tidak boleh lupa bahwa semua manusia adalah anak-anak murka sebagai akibat dari dosa (Efesus 2:3). Allah tidak harus menunda penghakiman sampai kita mati, tetapi bebas untuk memberikan keadilan atas pemberontakan di bumi saat ini.

Kedua, Allah dapat menggunakan setan sebagai alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan-Nya yang baik. Kedengarannya aneh untuk menghubungkan apa pun yang dilakukan iblis dengan tujuan-tujuan baik Allah, tetapi kisah penyaliban Yesus adalah secuah contoh yang baik. Setan menuntun Yudas untuk mengkhianati Yesus, yang akhirnya mengakibatkan penyalibannya di kayu salib. Tanpa salib tidak ada keselamatan. Setan bermain tepat sesuai rencana Allah. Itu karena Allah memberi setan kesempatan. Dan kita harus menyadari ada 1001 cara lain yang Allah lakukan yang tidak selalu bisa kita mengerti.

Ketiga, Allah dapat menggunakan setan sebagai alat untuk memperlihatkan kemuliaan Kristus yang tak terukur. Bagaimana caranya? Ketika Yesus kembali dalam kemuliaan di atas awan, dan mata-Nya menyala-nyala dengan api dan pedang ada di tangan-Nya, setan akan menemui kekalahan terakhirnya. Kristus akan menerima kemuliaan yang lebih besar dalam kekalahan setan pada akhirnya daripada yang akan diterimanya jika setan dikalahkan secara langsung. Kedatangan Yesus kembali akan mengakhiri pekerjaan setan yang merusak di dunia, dan pemberontakannya akan dipadamkan saat ia dilemparkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:10), tidak pernah untuk bisa bangkit kembali. Pada saat itu, kita akan merayakan kemenangan Raja kita, yang menang atas semua musuh-Nya dan musuh kita. Haleluya!

Pertanyaan yang harus kita jawab di hati kita pada hari ini adalah: akankah kita percaya kepada Tuhan? Apakah kita percaya bahwa hikmat, kuasa, dan kasih Tuhan membuat rencana-rencana-Nya dapat dipercaya bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya?

Kehidupan kita sebagai orang Kristen sering terasa berat, yang harus dijalani dengan mengetahui bahwa setan itu nyata, aktif, dan jahat. Kita sendiri tidak berdaya melawan setan. Namun, Tuhan kita berkuasa. Apa pun yang ingin dilakukan setan, harus dengan seizin Tuhan, atau setan tidak dapat melakukannya. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak mudah untuk menanggung apa yang setan lemparkan kepada kita, kita harus tetap percaya bahwa jika kita bersandar pada Tuhan yang mengizinkannya dalam hidup kita, pada saat yang tepat kita akan menang bersama Dia.

Siapakah yang tidak pernah kecewa?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 16:33

Adakah orang yang tidak pernah kecewa? Saya yakin tidak ada, termasuk di antara umat percaya. Ada banyak hal yang bisa membuat orang Kristen kecewa. Orang tua membesarkan anak mereka di dalam Tuhan, tetapi sang anak kemudian berperilaku dengan cara yang menghancurkan hati mereka. Seorang menikahi pasangannya di gereja, yang berjanji untuk mencintai, menghormati, dan menghargainya sampai maut memisahkan mereka, tetapi selang beberapa bulan sang pasangan bertindak seolah-olah dia lebih mencintai pekerjaannya. Anda mungkin saja bergabung dengan sebuah gereja dan yakin bahwa itu adalah pilihan yang dibuat Tuhan di surga, tetapi kemudian Anada menemukan bahwa gereja itu dipimpin oleh orang-orang yang tidak sempurna dan lemah seperti di gereja yang Anda tinggalkan.

Agaknya keadaan, pekerjaan, keuangan, kesehatan, rumah, mobil, orang-orang, dan segala sesuatu yang ada di dunia memiliki kemampuan untuk membuat kita kecewa. Benarkah begitu? Ataukah kita yang justru memiliki kelemahan dalam hal bisa dikecewakan oleh apapun yang ada dan yang terjadi di dunia? Sudah tentu di luar sesama manusia, tidak ada yang mampu mengewakan kita. Benda mati, tumbuhan dan hewan tidak mampu, tidak bisa, melakukan sesuatu untuk mengecewakan manusia. Tetapi manusia mana pun bisa merasa kecewa atas apa yang terjadi di dunia jika itu tidak sesuai dengan keinginannya. Jika seseorang merasa adanya kekecewaan, itu berasal dari diri (pikiran) sendiri.

Sering orang kecewa atas apa yang dipandang tidak adil. Orang Kristen juga bisa kecewa kepada Tuhan jika harapannya tidak terpenuhi. Mengapa Tuhan tidak adil? Kisah nabi Yunus yang kecewa karena Tuhan batal menghukum orang-orang Niniwe, dan juga karena matinya pohon jarak yang ditumbuhkan Tuhan, menunjukkan bahwa orang percaya bisa terpuruk dalam kekecewaan. Seperti Yunus, kita mudah putus asa dan marah atas apa yang dianggap tidak adil, yang terjadi pada diri kita.

Sepanjang pengajaran-Nya dalam perjamuan terakhir (Yohanes 13:1–5), Yesus sering mengemukakan fakta bahwa Ia memberikan peringatan dini kepada para pengikut-Nya (Yohanes 13:19; 14:25). Maksud-Nya adalah untuk memberikan semangat dalam menghadapi penganiayaan sebagai akibat dari iman mereka tidak dapat dihindari. Sesuai dengan kepastian akan adanya penderitaan itu, Yesus kembali menjanjikan kedatangan Roh Kudus. Ia menjelaskan bahwa setelah masa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam, para pengikut-Nya akan mengalami sukacita dan kejelasan yang besar. Ini diakhiri dengan janji yang sangat dikasihi bahwa Kristus telah “mengalahkan dunia.”

Yohanes 16:25-33 melengkapi kombinasi dorongan dan peringatan Kristus saat Ia mempersiapkan para murid untuk penangkapan-Nya yang akan datang (Yohanes 18:1-3). Bagian ini merangkum pesan umum dari wacana itu: bahwa kesulitan dan penganiayaan akan datang, tetapi orang percaya harus tetap setia, mengetahui bahwa ini semua adalah bagian dari pengetahuan Allah dan kehendak-Nya. Alih-alih bereaksi dengan panik atau ragu, para pengikut Kristus harus merasakan kedamaian. Keyakinan ini diilhami oleh pengetahuan bahwa tidak ada yang mereka alami yang mengejutkan Allah. Ungkapan “kuatkan hatimu” menyiratkan keberanian: mengetahui kemenangan Kristus akan mengatasi semua masalah itu.

Perkataan Kristus, yang dicatat di sini, termasuk yang paling dihargai dalam Injil Yohanes. Pernyataan ini menggabungkan pengajaran, peringatan, dan dorongan. Menjadi seorang Kristen tidak menjamin kehidupan yang mudah. ​​Bahkan, Yesus telah menjelaskan dengan jelas bahwa mengikuti-Nya dapat menuntun pada penganiayaan (Yohanes 16:1-4). Sukacita yang dimiliki oleh orang percaya yang lahir baru berasal dari pengetahuan bahwa Kristus telah memperoleh kemenangan akhir, dan tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat membatalkannya (Roma 8:38-39). Bahwa Kristus menjelaskan, sebelumnya, bahwa masa-masa sulit akan datang (Yohanes 15:20-21) seharusnya meyakinkan semua orang percaya: situasi-situasi yang kita hadapi saat ini tidak mengejutkan Tuhan. Tuhan selalu memegang kontrol. God is always in control.

Bukannya bereaksi dalam ketakutan atau kebingungan, semua orang Kristen harus menyadari bahwa pengalaman pahit mereka merupakan bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi di dunia jika Tuhan tidak mengizinkannya. Kitab Ibrani, khususnya pasal 11, merayakan para pahlawan iman yang memilih untuk “berpegang teguh” dan percaya kepada Allah. Kepercayaan itu, sebagaimana ditunjukkan oleh Alkitab, harus dipelihara dengan baik, bahkan jika pemenuhan janji-janji Allah belum terjadi sampai saat orang-orang percaya itu meninggal. Itu karena segala sesuatu pasti terjadi pada saat yang ditetapkan Tuhan. Yesus sudah menang atas kematian, kubur dan neraka. Dia akan menghapus air mata kekecewaan dari wajah kita untuk terakhir kalinya dan menunjukkan kepada kita bagaimana penderitaan kita saat ini tidak sebanding dengan sukacita surgawi yang akan kita terima.

“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4:17

Sampai saat kita datang, kekecewaan akan menjadi bagian dari pengalaman manusiawi kita. Ketika kita mengalaminya, dan karena itu kita boleh saja menangis. Dengan bantuan Roh Kudus, kita dapat dengan sungguh hati menyatakan harapan-harapan kita, memperoleh penghiburan dalam janji-janji Tuhan, membawa keinginan-keinginan kita kepada-Nya, dan berserah kepada kehendak-Nya. Dengan kekuatan kita sendiri, ini tidak mungkin, tetapi dengan bantuan Tuhan kita dapat melakukannya. Setiap kekecewaan baru membawa kesempatan lain untuk memercayai-Nya. Ketika kita melakukannya, Dia menghibur hati kita dan menumbuhkan iman kita. Semoga Tuhan memberi kita ketabahan yang makin besar dalam menghadapi hidup ini.

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 3

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22:14

Manakah yang lebih banyak penghuninya, surga atau neraka? Manakah yang lebih populer, surga atau neraka? Pertanyaan ini dijawab oleh Yesus sendiri: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13–14).

Hanya mereka yang menerima Yesus Kristus dengan iman sejatilah yang diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah: ” Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”(Yohanes 1:12). Yesus pernah berkata: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Kita tidak dapat masuk surga melalui Muhammad, Buddha, atau dewa-dewa palsu buatan manusia lainnya. Kita juga tidak dapat ke surga melalui amal-sedekah. Kehidupan kekal bukanlah untuk mereka yang menginginkan jalan yang bisa dibeli dan mudah dicapai, menuju surga sambil terus menjalani kehidupan mereka yang egois dan duniawi. Yesus hanya menyelamatkan mereka yang sepenuhnya percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 4:12). Apakah Anda termasuk dalam kelompok ini? Marilah kita meneliti pilihan kita.

Ada dua pintu gerbang dalam Matius 7:13–14? Keduanya adalah pintu masuk ke dua “jalan” yang berbeda. Gerbang yang lebar mengarah ke jalan atau jalan yang lebar. Gerbang yang kecil dan sempit mengarah ke jalan yang sempit. Jalan yang sempit adalah jalan orang saleh, dan jalan yang lebar adalah jalan orang fasik. Jalan yang lebar adalah jalan yang mudah. ​​Jalan itu menarik dan memanjakan diri sendiri. Jalan itu permisif. Jalan itu adalah jalan dunia yang inklusif, dengan sedikit aturan, sedikit batasan, dan lebih sedikit persyaratan.

Toleransi terhadap dosa adalah norma di mana Firman Tuhan tidak dipelajari dan standar-Nya tidak diikuti. Jalan ini tidak mengembangkan atau memperjuangkan kedewasaan rohani, karakter moral, komitmen, atau pengorbanan. Jalan ini melibatkan ketaatan kepada “penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Efesus 2:2). Jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Mereka yang mengkhotbahkan injil inklusivitas di mana “semua jalan menuju surga” mengkhotbahkan injil yang sama sekali berbeda dari yang dikhotbahkan Yesus. Gerbang penipuan, keegoisan, dan kesombongan adalah gerbang dunia yang lebar yang menuju neraka, bukan gerbang sempit yang menuju kehidupan kekal. Kebanyakan orang menghabiskan hidup mereka mengikuti orang banyak yang berada di jalan yang lebar, melakukan apa yang dilakukan orang lain, dan mempercayai apa yang diyakini orang lain.

Mereka yang mengkhotbahkan injil ekslusivitas di mana “asal terpilih akan ke surga” juga menyampaikan pesan yang keliru karena pertimbangan akan hidup suci dan ketaatan kepada firman Tuhan dinomer-duakan atau diabaikan. Mereka yang tidak mempunyai moral yang baik dan hidup dalam dosa adalah orang yang memilih jalan yang lebar, yang menju ke arah kebinasaan.

Jalan yang sempit adalah jalan yang sulit, jalan yang penuh tuntutan. Itu adalah jalan yang rendah hati, dan mereka yang menjalaninya menyadari bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan harus bergantung pada Yesus Kristus saja. Itu adalah jalan penyangkalan diri dan salib. Fakta bahwa sedikit yang menemukan jalan Tuhan menyiratkan bahwa tidak banyak yang berusaha menemukannya. Namun, Tuhan berjanji bahwa semua yang mencarinya dengan tekun akan menemukannya: “Kamu akan mencari Aku dan menemukan Aku, apabila kamu mencari Aku dengan segenap hatimu” (Yeremia 29:13).

Tidak seorang pun akan tersandung ke dalam kerajaan surga atau berjalan melalui pintu gerbang yang sempit secara kebetulan atau tanpa kesadaran dan kemauan. Seseorang pernah bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Lukas 13:23–24).

Banyak orang akan ingin masuk dari pintu yang sempit itu, pintu keselamatan, tetapi “tidak akan dapat.” Mengapa? Mereka tidak mau percaya kepada Yesus saja. Mereka tidak mau meninggalkan dunia dan daya tariknya. Jalan Kristus adalah jalan salib, dan jalan salib adalah jalan penyangkalan diri. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 9:23–24). Ini adalah perintah Tuhan yang mutlak tapi sulit untuk dilakukan. Apakah Anda sudah pernah berusaha?

Yesus tahu bahwa banyak orang akan memilih pintu yang lebar dan jalan yang lebar yang menuju kebinasaan dan neraka. Dan Ia berkata bahwa hanya sedikit yang akan memilih pintu yang sempit. Dengan demikian, menurut Matius 7:13–14, tidak diragukan lagi bahwa lebih banyak orang akan masuk neraka daripada ke surga. Masalahnya, bagaimana orang bisa masuk melalui pintu yang sempit untuk ke surga? Bagaimana kita bisa terhitung dalam kelompaok yang lebih kecil? Ataukah Anda sudah yakin bahwa Anda termasuk dalam kelompok ini?

Matius 22, khususnya ayat ini, menimbulkan ketegangan antara dua gagasan. Kitab Suci tampaknya menyeimbangkan dua konsep yang tidak saling bertentangan, tetapi tumpang tindih dalam cara yang rumit. Di satu sisi adalah pilihan Allah atas mereka yang akan masuk ke dalam kerajaan surga. Di sisi lain adalah perintah bagi orang-orang untuk menerima undangan dan menerima anugerah kasih karunia. Allah memanggil setiap orang untuk datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Tetapi, hanya mereka yang dipilih oleh Allah yang akan percaya, dan mereka yang dipilih akan percaya atas pilihan mereka sendiri. Hanya mereka yang benar-benar percaya (Yohanes 3:16-18), mereka yang dengan tulus dan sungguh-sungguh mau menaati panggilan, adalah orang-orang pilihan.

Perlu kita ketahui, ada banyak yang dipanggil atau diundang ke dalam kerajaan, tetapi tidak ada yang dapat datang sendiri. Tuhan harus menarik hati mereka yang datang; jika tidak, mereka tidak akan datang karena tidak mampu.

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yohanes 6:44

Pola ini membantu kita memahami hakikat panggilan dalam perumpamaan ini. Itu adalah panggilan atau undangan Allah melalui hamba-hamba-Nya—nabi dalam Perjanjian Lama, pendeta dalam Perjanjian Baru. Panggilan ini meminta para pendengar untuk bertobat dan percaya pada kabar baik yang diberitakan oleh para hamba. Adalah mungkin untuk menolak, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi dan juga orang zaman sekarang. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang menolak panggilan itu bersalah karena menolaknya.

Tidak semua orang yang mendengar Injil menerimanya, tetapi hanya “sedikit” yang memiliki telinga untuk mendengar dan menerimanya. Banyak orang yang mendengar, tetapi tidak ada minat atau ada pertentangan langsung terhadap Tuhan. Banyak orang yang mendengar dan mau berusaha untuk ikut Yesus, tetai mereka masih ingin untuk menikmati hidup duniawi (Matius 19:16-26). Pada pihak yang lain, semua “orang pilihan” Allah akan diselamatkan tanpa kecuali; mereka akan mendengar dan menanggapi karena mereka memiliki telinga rohani untuk mendengar kebenaran. Menurut pikiran manusia, hal seperti ini adalah tidak mungkin, seperti onta yang ingin melewati lunang jarum (Matius 19:25). Tetapi, kuasa Allah memastikan hal ini (Matius 19:26; Roma 8:28-30).

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:28-30:

Siapakah mereka yang dengan tulus menanggapi panggilan dan menerima Kristus dengan iman? Yesus menyebut mereka sebagai “orang-orang terpilih” atau, sebagaimana kata Yunani tersebut dapat diterjemahkan, orang-orang pilihan. Mereka semua adalah orang-orang yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4). Hanya orang-orang pilihan inilah yang akan menjadi bagian dari orang-orang tebusan ketika Kristus kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan bahwa mereka akan menanggapi panggilan tersebut dengan tulus. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang. Itu adalah panggilan Allah melalui pesan Injil. Panggilan ini memanggil pria dan wanita untuk datang kepada Kristus melalui pertobatan dan iman. Namun, hanya orang pilihan yang mengalami panggilan internal. Bagi mereka, Injil memang kekuatan Allah yang menyelamatkan.

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Roma 1:16

Semoga Anda yakin akan keselamatan Anda.

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 2

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5:11-13

Jaminan keselamatan, secara sederhana, adalah mengetahui dengan pasti bahwa Anda diselamatkan. Banyak orang Kristen sepanjang sejarah telah menulis tentang pergumulan mereka dalam usaha untuk memperoleh kepastian keselamatan. Hal ini sering membuat mereka sedih dan menderita, karena sekalipun mereka sudah berusaha menjalani hidup sebagai orang Kristen, mereka tidak yakin kalau Tuhan mau memilih mereka. Bagaimana dengan Anda?

Dalam teologi Reformed, kepastian keselamatan merupakan topik yang masih sering diperdebatkan, sekalipun penganutnya percaya bahwa Tuhan sudah memilih umat-Nya hanya berdasarkan pilihan-Nya dan keselamatan yang di karuniakan-Nya tidak akan bisa hilang. Ada yang berpendapat bahwa Allah memberikan kepastian tentang keselamatan kepada anak-anak-Nya melalui Roh Kudus, yang memungkinkan mereka mengetahui bahwa mereka telah diselamatkan. Yang lain, seperti yang dinyatakan dalam Konsili Trente, berpendapat bahwa seseorang memang belum tentu bisa yakin bahwa mereka telah ditakdirkan untuk selamat. Tidak ada orang yang tahu tentang nasib akhirnya kecuali Tuhan sendiri. Jika ini benar, sungguh malang nasib orang Kristen selama hidup di dunia, seperti seorang anak yang tidak yakin kalau ia dikasihi orang tuanya.

Kita cenderung mencari kepastian keselamatan dalam hal-hal yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam pertumbuhan rohani kita, dalam perbuatan baik dan ketaatan kepada Firman Tuhan yang nyata dalam perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen. Meskipun hal-hal ini dapat menjadi bukti keselamatan, hal-hal tersebut bukanlah yang seharusnya menjadi dasar kepastian keselamatan kita. Sebaliknya, kita harus menemukan kepastian keselamatan kita dalam kebenaran objektif Firman Tuhan. Kita harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa kita diselamatkan berdasarkan janji-janji yang telah Tuhan nyatakan, bukan karena pengalaman subjektif kita.

Bagaimana Anda dapat memperoleh kepastian keselamatan? Pertimbangkan ayat di atas. Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Fakta ini ditulis rasul Yohanes agar mereka yang percaya kepada Yesus, tahu bahwa mereka memiliki hidup yang kekal. Dengan demikian, jika Anda memiliki Yesus, Anda memiliki hidup. Bukan hidup sementara, tetapi hidup kekal.

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5:13

Allah ingin kita memiliki kepastian keselamatan kita. Kita seharusnya tidak menjalani kehidupan Kristen kita dengan bertanya-tanya dan khawatir setiap hari apakah kita benar-benar diselamatkan. Itulah sebabnya Alkitab membuat rencana keselamatan begitu jelas. Dengan menghayati Firman Tuhan, Anda tidak akan meragukan kenyataan keselamatan kekal Anda.

Kepastian datang melalui bukti kehidupan yang berubah. Kepastian diteguhkan di dalam diri kita saat kita melihat Allah membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Yesus Kristus. Semua orang yang telah dilahirkan kembali akan melihat bukti yang jelas tentang kehidupan baru di dalam Kristus. Meskipun kita tidak akan pernah menjadi sempurna dalam hidup ini, kita akan mengalami kehidupan yang berubah. Transformasi batin inilah yang memberikan peneguhan yang kuat tentang keselamatan kita.

Rasul Yohanes menulis dalam 1 Yohanes 2:3: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Dengan kata lain, kita dapat yakin bahwa kita mengenal Kristus saat kita melihat di dalam diri kita ada ketaatan yang diinginkan Allah. Ketika kita melihat buah rohani ini dihasilkan oleh Roh Kudus dalam hidup kita, kita dapat yakin bahwa Kristus hidup di dalam kita. Dalam Yesus kita harus juga yakin bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang ditawarkan kepada semua orang dan diberikan kepada mereka yang percaya melalui pekerjaan Roh Kudus.

Namun, ada hal lain yang membuat banyak orang Kristen khawatir. Paulus menulis dalam Kolose 1:21-23: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”

Teks ini tampaknya menyatakan bahwa keselamatan dapat hilang karena itu bergantung pada ketekunan atau kelanjutan iman kita. Itu bukan kesimpulan yang sepenuhnya benar dari teks ini. Namun ayat itu tidak salah karena kita memang harus bertekun.

Teks tersebut mengatakan kita telah diperdamaikan jika kita terus bertekun dalam iman. Itu syarat yang nyata. Jika kita tidak terus bertekun dalam iman — yaitu, jika kita membuang iman, meninggalkan Yesus Kristus, menentang Dia dan kebenaran-Nya, tidak pernah bertobat — kita akan binasa. Itulah yang dikatakan dalam 1 Yohanes 2:19 tentang mereka yang murtad: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

Dua hal penting dijelaskan dengan jelas dalam teks itu. Pertama, jika kita tidak bertekun dalam iman, kita tidak pernah benar-benar berasal dari Allah dan umat Allah — tidak pernah dilahirkan dari Allah. “Mereka keluar, supaya menjadi jelas, bahwa tidak semua dari mereka termasuk kita” . Artinya, mereka tidak pernah dilahirkan dari Allah.

Kedua, jika kita dilahirkan dari Allah, katanya, kita akan bertekun. Mereka akan bertekun. “Jika mereka termasuk kita” — yaitu, di antara mereka yang dilahirkan dari Allah — “mereka akan tetap bersama-sama dengan kita.” Jadi tidak perlu ada pemikiran tentang kehilangan keselamatan: tidak perlu ada pemikiran tentang dilahirkan kembali dan kemudian ternyata tidak dilahirkan kembali, dibenarkan dan kemudian ternyata tidak dibenarkan, memiliki hidup kekal dan kemudian ternyata itu tidak kekal sama sekali.

Mungkin Anda masih bertanya bagaimana mungkin ada syarat dalam Kolose 1: 23 jika Anda tidak dapat kehilangan rekonsiliasi Anda dengan Allah?

“Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman , tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Kolose 1:23

Dan jawabannya adalah bahwa Allah menggunakan peringatan tersebut untuk membuat anak-anak-Nya bertekun, dan Dia mengamankan ketekunan mereka, Dia menjaminnya, dengan kesetiaan-Nya untuk menjaga kita dalam iman. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa semua orang yang benar-benar dilahirkan kembali pada kenyataannya akan diselamatkan. Mereka akan memenuhi syarat tersebut karena pertolongan Allah.

Jaminan keselamatan dinyatakan dengan tegas dalam Roma 8:30. “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ini adalah rantai keselamatan yang tidak terputus. Semua yang dipilih dipanggil, dan semua yang dipanggil dibenarkan, lalu semua yang dibenarkan dimuliakan — tidak ada yang putus sekolah. Ia yang mahatahu sudah memilih umat-Nya dari semula hanya karena kehendak-Nya. Karena itu, keamanan kekal dari orang-orang yang suah dipilih Allah adalah kebenaran alkitabiah.

Pagi ini kita belajar bahwa keselamatan adalah sebuah peristiwa dan sebuah proses. Keselamatan memang ada kaitannya dengan ketekunan. Meskipun demikian — dan ini adalah sesuatu yang sangat mulia — keselamatan sepenuhnya pasti bagi anak-anak Allah yang telah dipilih, dipanggil, dibenarkan, dan percaya. Oleh karena itu, semua peringatan untuk bertekun, semua peringatan dalam Perjanjian Baru, harus ditanggapi dengan serius karena Allah menggunakannya untuk menjaga anak-anak-Nya tetap teguh dalam perjuangan iman. Kita akan diberi-Nya keyakinan akan keselamatan jika kita benar-benar serius dalam menanggapi semua janji-janji dan semua peringatan Kitab Suci. Kita akan hidup bahagia sekarang dan selamanya dalam ketekunan dan kesetian kita kepada Tuhan.

Menghadapi masa depan dengan keyakinan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23:4

Pernahkah Anda merasa takut? Adalah normal jika orang merasa takut ketika menghadapi situasi tertentu. Rasa takut adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia agar manusia menyadari adanya bahaya dan mengerti akan batas-batas kemampuannya. Orang yang tidak mengenal takut mempunyai risiko untuk tidak menyadari adanya situasi yang mengancam jiwanya – itu tentu saja bisa membawa bahaya besar.

Dalam bidang medis, situasi yang mengancam jiwa adalah situasi yang memiliki kemungkinan besar menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Situasi ini memerlukan perhatian medis segera dan dapat mencakup kondisi seperti pendarahan berat, kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, atau cedera serius. Walaupun demikian, seseorang yang selalu memikirkan adanya bahaya dan risiko yang mengancan kesehatannya tentu akan hidup dalam tekanan jiwa karena rasa tahut yang terus menerus (phobia).

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendatangkan situasi yang bisa mengancam jiwa kita. Hidup memang tidak pernah tanpa tantangan, tetapi keberanian untuk menghadapi tantangan hidup sebenarnya baik untuk kita. Jika kita selalu berusaha menghindari ancaman dan tantangan, mungkin kita harus mengurung diri dalam kandang yang steril. Betapa membosankan dan terbatasnya hidup ini jika kita tidak pernah mau menghadapi tantangan!

Ada orang-orang yang menyebut rasa takut dan kuatir sebagai berkat bagi orang beriman. Saya setuju. Rasa takut kepada Tuhan hanya dimiliki oleh orang percaya. Rasa takut atas hukuman Tuhan hanya dimiliki oleh mereka yang sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu dan mahaadil. Dengan demikian, setiap orang percaya tentunya berusaha untuk menaati firman Tuhan. Walaupun demikian, setiap orang yang takut akan Tuhan tidak dijanjikan untuk mengalami hidup tanpa bahaya. Justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita akan dimusuhi oleh orang dunia dan bisa mengalami banyak tantangan kehidupan.

Beberapa ayat Alkitab membahas konsep ancaman untuk orang percaya. Salah satu yang menonjol adalah Matius 5:11, yang menyatakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”. Selain itu, Matius 10:22 mengatakan, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”. Ayat-ayat ini, bersama dengan ayat-ayat lainnya, menunjukkan bahwa penganiayaan dapat menjadi pengalaman umum bagi mereka yang mengikuti Kristus atau menjalani kehidupan yang benar.

Adanya situasi yang mencengkam bisa menjadi sarana penyempurnaan yang berkelanjutan dalam wadah pengudusan Tuhan, sehingga orang Kristen dapat merasakan bahwa ia dijadikan alat yang lebih baik untuk tujuan-Nya. Selain itu, melalui rasa sakit dan penderitaan, seseorang bisa tumbuh dalam karunia rohani tertentu. Misalnya, orang bisa dikaruniai dengan empati yang lebih besar terhadap orang lain serta kemampuan untuk benar-benar mendengarkan hati seseorang yang bermasalah. Berkat lain dari rasa takut adalah bahwa pengalaman seseorang dapat menjadi mercusuar harapan bagi orang lain yang perlu melakukan perjalanan berbahaya melalui “lembah kekelaman” seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas.

Dengan 6 ayat, Mazmur 23 termasuk dalam daftar mazmur yang sedikit jumlah ayatnya. Mazmur terpendek dalam Alkitab adalah Mazmur 117, yang hanya terdiri dari dua ayat. Mazmur 117 juga merupakan bab terpendek dalam seluruh Alkitab. Mazmur 23, yang juga cukup pendek, dikenal karena pesannya yang sederhana dan universal tentang kepercayaan kepada Tuhan. Ayat 4 dari Mazmur 23 ini sering dibacakan ketika keadaan yang kurang baik terjadi.

Mazmur 23:4–6 berubah dari suasana dari ketenangan yang digambarkan dalam ayat 1–3. Bagian ini muram, tetapi mengandung kepastian bahwa Tuhan melindungi domba-domba-Nya dan memenuhi hari-hari mereka dengan berkat-Nya. Bagian ini berbeda dari tiga ayat pertama karena berbicara langsung kepada Tuhan, gembala Daud. Dalam ayat 1–3 Daud berbicara tentang Tuhan, tetapi dalam ayat 4–6 ia berbicara kepada Tuhan.

Daud bersyukur atas perlindungan dan bimbingan Tuhan. Domba-domba yang dijaga oleh seorang gembala yang terampil dituntun ke makanan dan air, serta dilindungi dari bahaya. Dengan cara yang sama, Daud memuji Tuhan karena memberinya kedamaian. Pengetahuan tentang perlindungan dan pemeliharaan Tuhan merupakan penghiburan yang luar biasa. Mazmur ini menggabungkan tema-tema tentang berkat, pembelaan, kepastian, dan pemeliharaan dari Tuhan.

Daud dapat berjalan melewati jurang yang gelap, bahkan mungkin kematian, tanpa rasa takut, karena Tuhan berjalan bersamanya. Daud menjelaskan bahwa ia tidak takut karena “Engkau besertaku.” Menarik untuk mengamati bahwa “dalam lembah kekelaman” mendekatkan Daud kepada Tuhan. Ia memanggil Tuhan dengan sebutan “Engkau,” sedangkan di tempat-tempat yang damai ia memanggil Tuhan dengan sebutan “ia.”

Seorang gembala pada zaman Alkitab membawa gada dan tongkat untuk melindungi domba-dombanya. Gada adalah tongkat yang pendek, tebal, dan berat, mirip dengan apa yang orang modern sebut sebagai tongkat pemukul, seperti yang dipakai polisi. Gada ini digantung pada ikat pinggang gembala. Tongkat adalah galah yang panjang dan ringan dengan ujung yang melengkung, yang digunakan gembala untuk memindahkan, menghitung, dan memeriksa domba-dombanya di malam hari ketika mereka kembali ke kandang.

Daud percaya bahwa Tuhan akan melindunginya, sama seperti seorang gembala melindungi domba-dombanya dari binatang yang menyerang. Yesus, Sang Gembala yang Baik, selalu menyertai orang percaya (Yohanes 10:11, 14). Ia berjanji akan selalu menyertai kita (Matius 28:20). Ia menyertai kita saat kita berjalan “dalam lembah kematian” sama pastinya seperti Ia menyertai kita “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2). Yesus berkata, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28).

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup sebagai orang Kristen bukanlah berarti hidup yang penuh kenyamanan. Sebaliknya, hidup kita penuh dengan tantangan karena kita harus berusaha hidup menurut firman Tuhan. Dunia membenci kita, iblis berusaha menjatuhkan kita. Tetapi, satu hal yang kita tahu, seperti Daud yang mempunyai seorang Gembala yang setia, kita pun memiliki Gembala yang sama. Gembala yang tidak penah berubah. Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia senantiasa menyertai kita dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, adanya rasa takut dan rasa kuatir justru aan membuat kita makin bergantung kepada-Nya.

Kepada Allah pengharapanku
Di darat, laut, di waktu manapun
KepadaNya ‘ku percaya
Bapa di Surga sumber hidupku

Walaupun badai, ombak menderu
Aku berharap pada Allahku
‘Ku tak gentar, kar’na ‘ku tau
Tuhan s’lalu menjaga hidupku

Mengapa aku harus menderita?

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12:9

Hanya sedikit kebohongan yang lebih memikat dan beracun dari klaim bahwa mengikuti Tuhan adalah sarana untuk meraih kesuksesan duniawi (1 Timotius 6:3–5). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa kehidupan setiap manusia di dunia dapat melibatkan kesulitan, bahkan suatu kepastian bagi umat Kristen yang setia (Yohanes 15:19; 2 Korintus 5:2–6). Karena itu, ajaran eksplisit Yesus adalah bahwa orang Kristen harus siap menghadapi kesulitan, sebuah peringatan yang Ia berikan secara khusus untuk mencegah keputusasaan dalam menghadapi masa-masa sulit (Yohanes 16:33). Mereka yang mengajarkan bahwa kekayaan, penyembuhan, kemakmuran, atau keuntungan lainnya sedang menunggu siapa pun dengan iman yang “cukup”, bukan saja tidak alkitabiah, tetapi berpotensial untuk menghancurkan iman yang ada pada diri seseorang. Pengalaman Paulus dalam merupakan salah satu bukti paling kuat dalam Kitab Suci bahwa “kenyamanan adalah tanda iman” dan bentuk-bentuk lain dari teologi kemakmuran adalah palsu.

Ayat-ayat dalam 2 Krintus 12 mencakup pengalaman surgawi Paulus yang luar biasa (2 Korintus 12:1–3). Momen ini memberinya wawasan yang harus dirahasiakan (2 Korintus 12:4). Karena itu, dengan kerendahan hati semaksimal mungkin, Paulus menggambarkan pengalaman yang mencengangkan. Ia diangkat ke ”surga tingkat ketiga” dan menerima wahyu dari Allah yang tidak dapat ia ungkapkan di bumi. Ia menolak untuk menyombongkannya, tetapi menyebutkannya untuk menjelaskan konsekuensi dari pengalaman itu. Konsekuensi yang serupa bisa dialami oleh setiap orang Kristen, untuk mencegah orang Kristen menjadi sombong.

Untuk mencegah Paulus menjadi sombong tentang wawasan ilahi yang diperolehnya, Allah mengirimkan Paulus sebuah “duri dalam daging” yang tidak disebutkan secara spesifik. Alkitab tidak menjelaskan apakah ini suatu penderitaan yang bersifat fisik atau mental. Yang diceritakan kepada kita hanyalah bahwa seorang yang beriman dan berkomitmen kuat bisa saja terserang penyakit atau menderita, yang menyebabkannya berseru kepada Allah berulang kali memohon keringanan (2 Korintus 12:7–8).

Entah bagaimana, Paulus kemudian memahami bahwa jawaban Allah atas permintaannya adalah “tidak”, dan penolakan ini bersifat permanen alias tidak dapat ditawar. Seperti yang ditunjukkan ayat-ayat sebelumnya, Paulus kemudian menyadari tujuan dari penyakit itu adalah untuk mempertahankan kerendahan hati. “Kelemahan” yang terus-menerus dalam kehidupan Paulus ini membantunya untuk tidak menjadi sombong, dan mengerti bahwa apa yang menjadi kehendak Allah tidak dapat dibantah.

Allah menyatakan bahwa kasih karunia-Nya sepenuhnya mampu menyediakan segala sesuatu yang Paulus butuhkan untuk menanggung penderitaan ini. Allah memberi tahu Paulus bahwa kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan Paulus. Kata Yunani untuk “cukup” di sini adalah arkei, yang menyiratkan ketahanan, kekuatan, atau kepuasan. Paulus telah menulis bahwa ia hanya akan bermegah dalam kelemahannya (2 Korintus 12:5), dan sekarang ia menunjukan antusiasmenya. Ia akan bermegah dengan senang hati tentang kelemahannya, termasuk duri dalam daging ini. Seperti itu, sebagai orang Kristen kita tidak perlu malu atau merasa sedih jika kita mengalami sakit atau penderitaan dalam hidup.

Mengapa seseorang seperti Paulus “merayakan” keadaan yang membebani dia selamanya dengan beberapa pergumulan yang menyakitkan? Karena kuasa Kristus menjadi paling jelas dalam situasi di mana orang percaya merasa paling lemah. Kata yang diterjemahkan sebagai “sempurna” di sini adalah teleitai, yang sebagian besar mengacu pada penyelesaian atau pencapaian. Fokusnya adalah pada sesuatu yang dicapai, bukan pada kekurangan yang disingkirkan. Ini adalah akar kata yang sama yang digunakan oleh Kristus ketika menyatakan “sudah selesai” pada waktu Ia di salib.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ”Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19:30

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan beberapa kebenaran tentang bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan duniawi orang Kristen:

  • Pertama, Allah bisa menggunakan iblis dan orang-orang jahat di dunia untuk mencapai tujuan-Nya. Sekalipun Allah bukan pembuat kejahatan dan malapetaka, hal-hal yang jahat yang dapat mengganggu umat Tuhan dapat menjadi bagian dari strategi Allah untuk mencapai tujuan-Nya yang tepat di dunia.
  • Kedua, jawaban Tuhan atas doa selalu bergantung pada kehendak-Nya secara keseluruhan. Ia mungkin menjawab “tidak” atas permintaan untuk meringankan beban orang percaya, terlepas dari apakah beban itu berasal dari iblis atau tidak. Jika penderitaan itu membantu orang Kristen untuk lebih taat dan bergantung pada Tuhan, penderitaan itu mungkin sedang menggenapi apa yang Ia inginkan di dalam diri kita.
  • Ketiga, penderitaan itu menunjukkan kepada kita bahwa perhatian utama Tuhan bagi anak-anak-Nya bukanlah untuk membuat kehidupan mereka terasa mudah dan nyaman. Seperti apa yang dialami murid-murid Yesus, tujuan pertama-Nya adalah agar mereka percaya dengan sepenuhnya kepada-Nya. Itu berarti membiarkan Kristus menjadi kuat di tempat-tempat yang membuat kita lemah, dan seperti Ayub, kita tidak membenci-Nya jika Ia membiarkan kita mengalami kelemahan itu.

Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:9-10

Mungkin Anda pernah membaca the Serenity Prayer atau Doa Ketenangan ditulis oleh Reinhold Niebuhr, seorang teolog Amerika, pada tahun 1930-an. Ia menulisnya sebagai bagian dari sebuah khotbah dan kemudian menyusunnya kembali menjadi versi yang kita kenal sekarang. Tujuan doa tersebut adalah untuk menawarkan suatu kerangka kerja dalam menghadapi kenyataan hidup, mendorong penerimaan terhadap apa yang tidak dapat diubah, keberanian untuk menghadapi apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya.

O God and Heavenly Father, Grant to us the serenity of mind to accept that which cannot be changed; courage to change that which can be changed, and wisdom to know the one from the other, through Jesus Christ our Lord, Amen.

Ya Tuhan dan Bapa Surgawi, berikanlah kepada kami ketenangan pikiran untuk menerima apa yang tidak dapat diubah; keberanian untuk mengubah apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan yang satu dari yang lain, melalui Yesus Kristus Tuhan kami, Amin.

Semoga Tuhan memberi kita ketenangan pikiran dan kedamaian!

Apa arti kematian dan kebangkitan Yesus?

“Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” 1 Yohanes 5:12

Kemarin kita memperingati hari kematian Yesus di kayu salib. Besok pagi, kita akan memperingati hari kebangkitan-Nya. Jika kita mengerti bahwa kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, kita mungkin kurang megerti mengapa Yesus harus mati secara mengenaskan. Mengapa Yesus harus mati? Mengapa Anak Allak bisa ditaklukkan kematian?

Pandangan naturalistik adalah bahwa manusia hanyalah makhluk biologis dan kematian fisik menandai akhir dari keberadaan seseorang. Dalam kematian, eksistensi Anda tidak ada lagi. Iklan bir lama mengungkapkan sentimen yang mengalir dari pandangan ini: “Anda hanya hidup sekali dalam hidup, jadi raihlah semua kesenangan yang bisa Anda nikmati.” Nasihat lain yang senada adalah: “Makan, minum, dan bergembiralah karena besok kita akan mati.” (1 Korintus 15:32).

Kekristenan tidak setuju dengan pandangan di atas. Kekristenan menganggap keberadaan manusia adalah untuk selamanya. Kehidupan memiliki awal pada saat pembuahan tetapi tidak memiliki akhir. Kematian fisik hanyalah sebuah perjalanan menuju alam keberadaan lain di luar kubur. Keberadaan itu mungkin sangat indah atau mimpi buruk yang nyata tergantung pada bagaimana Anda berhubungan dengan pencipta Anda, penulis buku kehidupan dan kematian.

Memang manusia menggunakan istilah “kematian” dalam pengertian populer tentang berakhirnya kehidupan fisik seperti dalam laporan, “Yusuf mati pada usia 110 tahun” (Kejadian 50:26). Sebagai hukuman atas dosa Adam, Allah mengutuk tanah dan segala sesuatu yang berasal darinya: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”(Kejadian 3:19).

Dalam ayat pembukaan di atas, Yohanes menggemakan ajaran Yesus yang ditemukan dalam Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yesus yang memiliki hidup dan adalah hidup bagi kita, baik hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10) maupun hidup kekal (Yohanes 3:16). Salah satu tujuan Yohanes menulis surat ini adalah untuk melawan keputusasaan banyak orang yang takut menghadapi kematian tubuh. Guru-guru palsu, seperti banyak manusia modern, tampaknya, memberi tahu orang-orang percaya bahwa semua manusia tidak bisa memiliki hidup yang kekal (1 Yohanes 2:25–26). Tetapi ini tidak benar, karena mereka yang percaya kepada Yesus adalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

Dalam memperingati Jumat Agung dan Paskah, kita mendapat kabar baik bahwa dalam pengertian kematian yang lebih mendalam kita bisa diyakinkan bahwa kita dibenarkan Allah karena Yesus sudah mati menggantikan kita. “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23), yang berarti pemisahan dan keterasingan dari Allah. Inilah yang dialami Yesus di kayu salib sekitar jam kesembilan ketika ia mengutip Mazmur 22:1: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Tetapi, Rasul Paulus menjelaskan lagi, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Inilah tujuan kematian Yesus.

Dari kematian yang Yesus alami terhadap dosa yang kita peringati pada Hari Jumat Agung, kita telah menerima hidup melalui iman kepada-Nya. Hidup, dalam pengertian ini, berarti persekutuan yang penuh kasih yang dipulihkan dengan Pencipta dan Penebus kita. Rasul Yohanes menyatakan: “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:12).

Hari-hari kita di dunia yang telah jatuh ini dihitung oleh sang pencipta kehidupan dan kematian. Ia memberi kehidupan, dan Ia mengambilnya kembali (Ayub 1:21). Ini adalah hukuman atas dosa dan tindakan belas kasihan dari Sang Pencipta dan Penebus kita. Kita yang beriman tidak harus menanggung rasa sakit dan penderitaan dari keberadaan kita selamanya, tetapi hanya untuk sementara waktu. Yesus tidak berada di kubur untuk selamanya, tetapi bangkit pada hari yang ketiga agar kita ikut dibangkitkan.

Selama hidup di dunia, kita dapat meratap bersama rasul Paulus: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Namun, kita juga dapat bersukacita bersama-Nya: “Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!…Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 7:25a, 8:1). Tidak ada kemungkinan lain, dan kita harus yakin akan hal itu.

Siapa yang membunuh Yesus?

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:39

Hari ini adalah hari Jumat Agung. Pada hari ini banyak orang pasti mendengarkan khotbah tentang kematian Kristus di gereja; dan karena itu, ada dua fakta teologis yang sangat penting yang harus selalu kita ingat ketika kita merenungkan kematian-Nya di kayu salib.

  • Yesus dengan suka rela mati bagi kita.
  • Kematian Yesus disebabkan oleh kehendak Allah dan tindakan manusia.

Yesus dengan suka rela mati bagi kita.

Ayat di atas sudah sering kita baca. Tetapi, jika kita tidak memahami kematian Kristus sebagai sesuatu yang sukarela, maka kita tidak memahami intisari kematian-Nya. Jika kita berpendapat bahwa kematian Yesus hanya karena sudah ditetapkan oleh Allah Bapa saja, maka kita masih belum bisa membayangkan betapa besar kasih-Nya.

Yesus sendiri bersaksi tentang pengorbanan-Nya yang sukarela: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).

Yesus, sang gembala yang baik, menyerahkan diri-Nya sendiri, tapa paksaan, untuk keselamatan kita. Seperti itu juga, kita seharusnya ingin untuk melakukan hal yang sama: “dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2).

Kesediaan Kristus tidak hanya mencakup kematian sukarela-Nya di kayu salib. Sebaliknya, seluruh hidup-Nya merupakan persembahan dan ketaatan yang sukarela kepada kehendak Allah. Dari palungan sampai ke kubur, Yesus bertindak atas dasar kasih melalui kehendak suci-Nya, yang membuat ketaatan-Nya dapat diterima oleh Allah. Seperti itu juga, kita harus persembahkan diri kita secara sukarela untuk menjadi persembahan hidup yang kudus.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu: persembahkanlah dirimu sebagai persembahan hidup yang kudus, yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Kematian Yesus disebabkan oleh kehendak Allah dan tindakan manusia.

Banyak peristiwa yang membawa ke arah penyaliban Yesus, dan ada orang-orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kematian-Nya. “..Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.” (Matius 20:18). Petrus juga menjelaskan hal ini dengan tegas dalam khotbahnya pada hari Pentakosta kepada orang-orang Yahudi, “telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka Yesus ini, …..yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kisah Para Rasul 2:23, 36). Namun, pada saat yang sama, Petrus memberi tahu kita bahwa Yesus adalah “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya” (Kisah Para Rasul 2:23). Dalam satu ayat, Petrus menempatkan kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia secara berdampingan dan tanpa pertentangan, seolah-olah berkata, “Kamu orang Yahudi telah membunuh Yesus yang disalibkan Allah.”

Dalam hal ini, ada 2 pertanyaan yang mungkin sulit dijawab.

  • Bagaimana manusia harus bertanggung jawab, jika semua yang terjadi sudah ditetapkan Allah?
  • Siapakah yang sebenarnya menyebabkan kematian Yesus di kayu salib?

Ini adalah pertanyaan yang sering didiskusikan banyak orang Kristen karena nampaknya kebebasan manusia dan kedaulatan Allah tidak kompatibel. Untuk itu, kita perlu mengenal prinsip kompatibilisme.

Kompatibilisme adalah upaya untuk menyelaraskan proposisi teologis bahwa setiap peristiwa ditentukan, ditahbiskan, dan/atau ditetapkan oleh Tuhan secara kausal, dalam arti segala sesuatu ada alasan atau penyebabnya (ini disebut faham determinisme lunak) – dengan adanya kehendak Tuhan dan kehendak bebas manusia. Determinisme berbeda dengan fatalisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan tanpa membutuhkan alasan atau sebab, dan tanpa peranan manusia (ini disebut faham determinisme keras).

Landasan konsep kompatibilisme adalah cara mendefinisikan “kehendak bebas” manusia. Dari sudut pandang teologis, definisi kehendak bebas harus dikaitkan dengan dosa asal dan kerusakan rohani manusia. Kedua kebenaran Alkitab ini memberikan definisi “kehendak bebas” dalam kaitannya dengan manusia yang telah jatuh sebagai “tawanan dosa” (Kisah Para Rasul 8:23), “hamba dosa” (Yohanes 8:34; Roma 6:16-17) dan hanya tunduk kepada “tuannya,” yaitu dosa (Roma 6:14). Apa arti semua ini?

Meskipun manusia “bebas” untuk melakukan apa yang diinginkannya, ia ingin bertindak sesuai dengan sifatnya. Karena sifat manusia yang telah jatuh adalah berdosa, setiap maksud dari pikiran hati manusia yang telah jatuh adalah “selalu jahat” (Kejadian 6:5, Kejadian 8:21). Manusia secara alami memberontak terhadap apa yang baik secara rohani (Roma 8:7-8; 1 Korintus 2:14), dan “hanya cenderung memberontak” (Amsal 17:11). Jika manusia berbuat jahat, itu adalah hasil pilihannya sendiri, bukan karena Tuhan yang membuatnya.

“Janganlah seorang berkata, waktu ia tergoda, ia tergoda dari Allah, karena Allah tidak dapat tergoda oleh yang jahat dan Ia juga tidak menyesatkan orang lain. Tetapi setiap orang tergoda oleh keinginannya sendiri, yang ditarik dan yang diikat oleh dosa itu.” Yakobus 1:13-14

Jadi, pada hakikatnya, manusia “bebas” untuk melakukan apa yang diinginkannya, dan ia dapat melakukan hal itu, tetapi manusia tidak dapat melakukan tindakan yang bertentangan dengan sifatnya. Apa yang “diinginkan” manusia untuk dilakukan tunduk pada, dan ditentukan semata-mata oleh kodratnya, yaitu dosa.

Secara teologis, meskipun manusia alami tidak dapat menundukkan dirinya kepada hukum Allah (Roma 8:7-8) dan tidak dapat datang kepada Kristus kecuali Bapa menariknya kepada-Nya (Yohanes 6:44), manusia alami tetap bisa bertindak bebas sehubungan dengan kodratnya. Dia dengan bebas dan aktif menolak kebenaran dan memilih ketidakbenaran (Roma 1:18) karena sifatnya yang membuatn dia tidak mampu melakukan yang sebaliknya (Roma 3:10-11).

Seperti yang tertulis di atas dan diungkapkan dalam Kisah Para Rasul 2:23-25, kematian Kristus di kayu salib dilaksanakan oleh “rencana yang telah ditentukan sebelumnya dan pengetahuan Allah sebelumnya.” Kisah Para Rasul 4:27-28 selanjutnya mengungkapkan bahwa tindakan Herodes, Pontius Pilatus, orang-orang bukan Yahudi, dan orang-orang Israel telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah sendiri untuk terjadi saat mereka “berkumpul bersama melawan” Yesus dan melakukan “apa yang telah diputuskan sebelumnya oleh kuasa dan kehendak Allah untuk terjadi.”

Jadi, meskipun Allah telah menetapkan bahwa Kristus harus mati, mereka yang bertanggung jawab atas kematian-Nya tetap dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka. Kristus dibunuh oleh orang-orang jahat, “tetapi TUHAN berkehendak meremukkan Dia dan membuat-Nya menderita” (Yesaya 53:10).

Pada hari Jumat Agung ini, kita menemukan jawaban atas pertanyaan “siapa yang membunuh Yesus?” adalah Allah dan orang-orang jahat—dua tujuan berbeda yang dilaksanakan oleh dua entitas dalam satu tindakan. Manusia yang membunuh Yesus karena dosa mereka, dan Allah yang mengurbankan Anak-Nya di kayu saib untuk menebus umat manusia.

Kita yang sudah menjadi manusia baru dalam Yesus Kristus, seharusnya sudah mempunyai sifat yang baru yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kita sudah diberi kemampuan untuk membedakan apa yang jahat dan apa yang berkenan kepada Tuhan. Seperti Yesus, kita harus mau dengan sukarela untuk selalu menaati Firman Tuhan. Sebagai ciptaan baru, kehendak bebas yang kita miliki sekarang bisa membuahkan tindakan yang memuliakan Tuhan, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Pujilah Allah Bapa yang mahakasih dan mahasetia kepada umat-Nya! Pujilah Yesus yang mahakasih dan rela berkurban bagi domba-Nya!

Bagai makan buah simalakama

Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam). Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!”  Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu. Markus 14: 66-72

Pernahkah Anda memakan buah simalakama? Saya harap Anda tidak mencoba memakan buah ini. Yang disebut “buah simalakama” adalah buah mahkota dewa (phaleria macrocarpa), yang memiliki rasa pahit dan beracun jika dimakan mentah, tetapi mngkin memiliki manfaat medis jika dikelola dengan benar. Dalam bahasa Indonesia, pepatah “bagai makan buah simalakama” menggambarkan situasi sulit di mana tidak ada pilihan yang baik, dan setiap keputusan bisa membawa dampak negatif.

Sering kali dalam hidup ini kita mengalami keadaan sulit di mana kita harus mengambil tindakan yang akan membawa rasa sakit atau penderitaan, tetapi jika kita tidak mengambil tindakan ada konsekuesi yang juga membawa rasa sakit atau penderitaan. Dalam hal ini, kita akan merasa bahwa keadaan yang kita alami adalah seperti makan buah simalakama. Itu juga yang dialami Petrus ketika Yesus sedang diadili menjelang penyaliban-Nya. Kepahitan yang dialami Petrus karena tindakan penyangkalannya, kemudian menyebabkan kepahitan yang sangat besar yang tidak pernah bisa dilupakannya (Yohanes 21:17),

Setiap hari kita kita harus mengambil tindakan besar dan kecil, di mana setiap tindakan akan membawa akibat yang berbeda. Jika suatu tindakan tidak akan membawa konsekuensi yang serius, mungkin kita bisa melakukannya tanpa berpikir panjang. Ini adalah logis. Walaupun demikian, sering kali kita mengambil tindakan yang tidak logis. Misalnya, jika dokter menyuruh kita untuk menjalani operasi. Kita mungkin merasa bahwa tindakan kita untuk mau dioperasi mempunyai risiko yang tidak menyenangkan. Walaupun demikian, kita mungkin kita tidak sadar bahwa jika kita memilih untuk tidak menjalani operasi, risiko akan menjadi jauh lebih besar dan mungkin saja fatal. Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali karena takut dianggap pengikut Yesus, adalah Petrus yang kemudian secara mendalam menyesali tindakannya. Sesudah Yesus bangkit, Petrus tiga kali mengaku bahwa ia mengasihi Yesus, tetapi ia tidak tahu bahwa ia akan mati dibunuh sebagai seorang martir karena pilihannya (Yohanes 21:18-19).

“Rasa sakit karena tindakan” mengacu pada ketidaknyamanan atau tantangan yang dialami saat mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan atau membuat perubahan, sementara “rasa sakit karena akibat” mengacu pada hasil negatif atau penyesalan akibat kelambanan atau pilihan yang buruk. Rasa sakit akibat tindakan seringkali bersifat sementara, tetapi rasa sakit karena konsekuensi/akibat bisa kronis dan berbahaya. Pada umumnya, rasa sakit akibat tindakan seringkali kurang intens dan lebih mudah dikelola daripada rasa sakit karena akibat yang tidak mudah hilang.

Perlu kita ketahui bahwa kekuatiran atas kemungkinan munculnya rasa sakit karena tindakan (misalnya, karena hidup berdisiplin) adalah normal. Dalam banyak hal, kemungkinan rasa sakit ini justru sering dikaitkan dengan keputusan untuk mendorong diri melampaui zona nyaman, terlibat dalam kerja keras, atau membuat keputusan yang sulit. Contoh: Ketidaknyamanan belajar untuk ujian, mengerjakan proyek yang menantang, atau mengubah kebiasaan. Biasanya rasa sakit ini ada dalam jangka pendek dan dapat dikelola seiring dengan waktu dan usaha. Penderitaan semacam ini sering mengarah pada hasil positif, perbahan, pertumbuhan, dan kesuksesan.

Pada pihak yang lain, rasa sakit karena akibat adalah berupa penyesalan. Rasa sakit ini muncul dari kelambanan, kesempatan yang terlewatkan, atau pilihan yang tidak selaras dengan nilai atau aspirasi seseorang. Contoh: Menyesal karena tidak mengejar cita-cita, tidak mengambil kesempatan, atau tidak belajar dari kesalahan. Untuk orang Kristen, mungkin ini terjadi jika kita ditegur Roh Kudus ketika kita mengabaikan firman Tuhan. Hal ini bisa berlangsung lama dan karena itu sering kali membebani pikiran dan emosi seseorang. Seperti yang dialami Petrus pada setelah ia menyangkali Yesus tiga kali, penderitaanmya berlangsung terus sampai ia mendapat perintah Yesus yang sudah bangkit, untuk ketiga kalinya, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:17).

Rasa sakit mana yang lebih baik , dalam mengambil tindakan atau dalam mengalami akabibat tindakan kita? Meskipun kedua jenis rasa sakit bisa terasa perih, rasa sakit akibat tindakan umumnya dianggap sebagai pilihan yang lebih ringan. Rasa sakit karena tindakan seringkali merupakan langkah yang diperlukan menuju kemajuan dan kesuksesan, sementara rasa sakit karena akibat dapat menjadi pengingat konstan dan penyesalan yang kronis. Dalam hal mengikut Yesus, merangkul ketidaknyamanan atas tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan, bahkan ketika itu menantang iman kita, dapat mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan karena adanya manfaat yang kekal.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:29

Pada saat menjelang hari Paskah 2025, jika kita ingat bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai umat-Nya, kita dapat berdiri dengan aman dalam mengambil tindakan dalam hidup. Roh Kudus akan memimpin kita dalam keadaan apa pun, sehingga kita tidak khawatir akan rasa sakit yang akan kita alami jika kita hidup dalam terang-Nya. Sekalipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah mengambil tindakan, kita dapat mengetahui, sebagai orang percaya, bahwa tujuan Allah bagi kita selalu agar kita menjadi seperti Kristus.

Apa pun yang kita alami dan rasakan saat ini, ada keamanan mutlak di hadapan Tuhan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Tuhan. Sekalipun kita pernah mengambil tindakan yang salah, dan saat ini kita menderita karenanya, kita bisa memohon kepada Tuhan akan pengampunan-Nya. Kasih Kristus memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan Abba Bapa. Dalam mengambil tindakan, kita siap menderita bersama Kristus bersama dengan seluruh umat Kristen, sambil menunggu Tuhan menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan pertolongan Roh, kita yakin bahwa Allah bersama kita dalam setiap tantangan kehidupan.

Allah telah menjadwalkan masuknya kita ke dalam keluarga-Nya jauh sebelum kita dilahirkan. Jika Allah mengetahui tentang kita sebelum kita dilahirkan, Ia juga yang mengatur keselamatan kita. Apa yang di alami Petrus ketika ia menyangkal Yesus tiga kali, sudah diramalkan oleh Yesus sebelumnya. Dengan demikian, Dia pasti mengetahui tentang pencobaan dan penderitaan kita sekarang, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Itu seharusnya memberi kita penghiburan yang besar saat kita menunggu untuk bersama Bapa kita selamanya. Kita percaya bahwa Tuhan menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya. Bagi orang Kristen yang taat kepada Yesus, tidaklah ada istilah “bagai makan buah simalakama”. Marilah kita dengan teguh melangkah bersama Yesus sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari mendatang. Selamat menyambut hari Paskah!

Mengapa harus belajar bermanis budi?

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” 2 Timotius 2:23-26

“Bermanis budi” secara harfiah berarti “bersikap manis hati” atau “bersikap baik hati”. Dalam konteks peribahasa, ini berarti bersikap ramah, lembut, dan menyenangkan bagi orang lain. Ini bisa mencakup tindakan seperti bersikap sopan, murah senyum, dan bersedia membantu/menuntun orang lain.

Dalam sejarah gereja, mungkin Anda setuju bahwa tidak semua orang Kristen adalah orang yang manis budi. Bahkan pendeta pun ada yang manis budi, tetapi ada juga yang “garang” dan suka menyerang orang lain. Memang setiap manusia mempunyai sifat yang belainan, dan dengan itu ada orang yang sejak kecil bersifat lemah lembut, sabar dan murah senyum; sedangkan orang yang lain mungkin bersifat keras, kurang sabar dan mudah marah. Semua itu mungkin berhubungan dengan faktor genetika, pendidikan, pengalaman, dan lingkungan. Contoh dalam Alkitab yang tidak bisa kita lupakan adalah perbedaan antara sifat dan fisik antara si kembar Yakub dan Esau.

Walaupun setiap orang berbeda sifatnya, ayat di atas adalah perintah Tuhan kepada semua umat Tuhan, terlepas dari sifat pembawaan mereka. Sebagai umat Tuhan, kita harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan; tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Mengapa demikian? Sebab keramahan kita mungkin bisa membantu orang yang belum percaya untuk bisa melihat kebaikan Kristus di dalam diri kita, agar mereka kemudian mau menjadi orang beriman dengan pertolongan Tuhan.

Bermanis budi sebenarnya bukan hal yang mudah dilakukan. Karena hakikat setiap orang adalah manusia berdosa, sekalipun orang yang nampaknya bisa bermanis budi dan lemah lembut sebenarnya tidak bisa menjadi orang yang benar-benar mempunyai kasih yang jujur, tanpa pamrih dan tidak pilih kasih. Ini seperti apa yang kita baca tentang Yakub. Karena itu, setiap umat Kristen harus belajar kepada Yesus dan berusaha dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi orang yang manis budi. Inilah sebabnya Paulus menulis ayat-ayat di atas.

2 Timotius 2:14–26 berisi instruksi Paulus kepada Timotius tentang memimpin orang percaya lainnya. Dua tema penting di sini adalah menghindari pertengkaran yang tidak ada gunanya dan berpegang pada ajaran Alkitab yang sehat. Perdebatan tentang masalah yang tidak penting dengan cepat bisa berubah menjadi kemarahan dan perseteruan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik. Paulus menyebutkan adanya guru-guru palsu tertentu, tetapi ia menyampaikan hal ini dengan nada belas kasihan. Di sini, ia mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah kuncinya. Bagaimanapun, kita tidak boleh menganggap mereka yang belum percaya sebagai musuh kita: mereka adalah orang-orang yang sedang kita coba selamatkan dari kendali Iblis!

Mungkin sebagian orang Kristen merasa heran mengapa kita harus bermanis budi kepada semua orang. Bukankah tidak semua orang akan diselamatkan? Bukankah Tuhan sudah menentukan orang-orang tertentu untuk ke neraka? Bukankah Tuhan tidak memerlukan bantuan kita? Bukankah jerih payah kita akan sia-sia jika mereka memang tidak tergolong “orang pilihan” Tuhan?

Dalam membaca ayat di atas, kita perlu meneliti kalimat “sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran”. Kita tidak tahu siapa yang akan dipilih dan siapa yang tidak dipilih oleh Tuhan, tetapi mungkin Tuhan akan memberikan kesempatan bagi sebagian orang untuk bertobat. Tugas kita yang dari Tuhan adalah untuk mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan ajaran Kristus agar mereka menjadi sadar dan akhirnya bertobat. Tuhan mau agar kita ikut bekerja sesuai dengan rencana-Nya dan demi kemuliaan-Nya.

Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran itu penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan dan bukannya bahaya. Sebagian dari masalah yang didebatkan mungkin bukan hal yang krusial, dan sebagian lagi mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab. Ia menganggap “omong kosong” dan perdebatan tentang hal itu sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti penyakit jasmani, pertengkaran ini hanya menyebar dan bertambah parah hingga menjadi bencana besar dalam kehidupan semua orang percaya. Tujuan akhir penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” suatu perdebatan atau teologi kita atas mereka yang menolaknya, tetapi untuk menyelamatkan semua anak-anak yang hilang.

Dalam 2 Timotius 2:23, Paulus melanjutkan pembahasannya tentang pertengkaran dari ayat sebelumnya dan menambahkan, “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar.” Paulus sebelumnya telah memanggil Timotius untuk menjadi “hamba Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan “hamba” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti seorang hamba atau budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai budak Tuhan, yang tidak suka bertengkar dalam melaksanakan tugasnya. Seperti Timotius, kita pun budak-budak Tuhan yang sudah dibebaskan dari kungkungan dosa.

Sebagai petunjuk, Paulus memberikan beberapa sifat positif yang harus diikuti oleh Timotius. Tiga sifat pertama ditemukan dalam ayat ini. Pertama, Timotius harus “baik kepada semua orang.” Tuhan itu baik (Lukas 6:35) dan mengharapkan hal yang sama dari para hamba-Nya. Kasih itu “sabar dan murah hati” (1 Korintus 13:4). Orang percaya harus “baik satu sama lain” (Efesus 4:32). Kebaikan hati dapat ditunjukkan bahkan oleh orang-orang yang tidak percaya (Kisah Para Rasul 28:2), tetapi merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) yang seharusnya berlaku bagi setiap hamba Kristus. Para hamba juga harus “mampu mengajar” (1 Timotius 3:1–7; Titus 1:5–9), dan “sabar menanggung kejahatan” (2 Timotius 2:10, 12; 3:11; 4:3, 5).

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” Galatia 5:22-23

Dalam 2 Timotius 2:25, Paulus menambahkan atribut positif keempat ke dalam daftarnya dari ayat sebelumnya. Kemampuan untuk memberikan jawaban yang dewasa, penuh kasih, dan efektif sangat penting bagi kepemimpinan Kristen. Petrus juga menyebutkan pentingnya sifat ini, dengan menyatakan, “Hormatilah Kristus sebagai Tuhan yang kudus di dalam hatimu! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada padamu. Tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Apologetika, atau membela iman Kristen, melibatkan kemampuan untuk mengajar (2 Timotius 2:24) dan sikap lemah lembut dalam mengajar orang lain.

Tujuan dari kebaikan hati, pengajaran, menanggung kejahatan, dan mengoreksi lawan dengan kelembutan adalah untuk pertobatan orang-orang yang terhilang. Tujuan dari pengetahuan dan percakapan Kristen bukanlah untuk memenangkan argumen demi ego, tetapi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Mereka yang memperhatikan cara hidup dan doktrin mereka dengan saksama (1 Timotius 4:16) akan menemukan pelayanan yang efektif di antara orang-orang yang tidak percaya yang mereka layani.

Dalam2 Timotius 2:26, selain pertobatan, tujuan lain bagi mereka yang dilayani Timotius adalah agar mereka cukup menyadari pengaruh Iblis atas manusia untuk berontak. Ayat ini menunjukkan bahwa serangan Iblis sering kali diarahkan ke pikiran. Iblis selalu berusaha membuat sesuatu yang salah tampak benar. Tetapi, orang yang mendengar kebenaran dan bertobat akan “terlepas” dari jeratnya. Jenis jerat yang Paulus maksudkan kemungkinan adalah jerat binatang yang umum pada zamannya. Jerat ini sering kali melibatkan tali atau batu yang akan jatuh ke binatang yang dipancing dengan makanan sebagai umpan. Demikian pula, iblis menggoda orang-orang yang tidak percaya dengan “umpan” untuk membuat mereka tetap terjebak dalam perangkapnya dan menjauh dari kebebasan yang dibawa Kristus.

Orang-orang yang tidak percaya di sini disebut bukan sebagai musuh, tetapi sebagai tawanan. Orang yang tidak percaya tidak memiliki kuasa rohani atas Iblis dan karena itu “tertawan”. Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti tipu daya Iblis kecuali kasih karunia Allah campur tangan (Efesus 2:8–9). Dalam hal ini, orang percaya harus membagikan Injil dan menunjukkan kebaikan, karena tahu bahwa Allah dapat mengubah keadaan seseorang dari kematian menjadi kehidupan (Yohanes 10:10) dan yakin bahwa Allah menyediakan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya (Yohanes 3:16).

Mereka yang mengaku Kristus sebagai Tuhan dikenali dari buah mereka. Tentu saja, beberapa orang akan lebih baik daripada yang lain dalam hal kualitas tertentu. Beberapa orang lebih mampu mengendalikan diri, sementara yang lain lebih baik dalam hal kesabaran, beberapa orang jauh lebih baik, dan seterusnya. Kita perlu, melalui kasih karunia Allah dan pertolongan Roh Kudus untuk menjadi makin menyerupai Kristus setiap hari dengan mengembangkan kualitas-kualitas ini. Kekudusan adalah tujuan utama dari kehidupan Kristen. Kita diselamatkan untuk menjadi umat yang kudus. Kita sedang dipersiapkan untuk hari ketika Allah akan memulihkan segala sesuatu.

Tuhan Yesus Kristus tidak pernah kekurangan dalam kualitas-kualitas ini. Dia sempurna (tidak dapat berbuat dosa), tidak berubah (tidak dapat berubah) dan sempurna dalam segala hal. Apa yang kita kurang, Dia gantikan. Dosa kita mati bersama-Nya dan kebenaran-Nya diperhitungkan sebagai milik kita, tetapi itu belum semuanya, sebelum pemuliaan kita di Surga, kita membutuhkan pengudusan terus-menerus di bumi. Saat kita maju dalam proses pengudusan, setiap kualitas buah Roh harus meningkat.

Menjadi orang Kristen yang lembut tidak berarti Anda harus menjadi pengecut, menoleransi dosa, menghindari kontroversi dan mengkompromikan Injil karena Anda khawatir menyinggung seseorang. Sebaliknya, itu berarti Anda mengomunikasikan kebenaran Injil dengan kasih, belas kasihan dan perhatian yang nyata bagi jiwa orang lain.

Injil pada awalnya secara alami menyinggung karena pesannya mendatangkan kutukan atas orang berdosa, tetapi dengan cepat memberikan harapan karena Yesus dikutuk menggantikan orang berdosa. Injil itu sederhana dan mudah dipahami, tetapi tetap sama dan sangat kontroversial karena menantang pandangan dunia budaya dan masyarakat sekuler.

Hari ini kita belajar bahwa apa yang harus kita lakukan saat mengomunikasikan Injil adalah menghindari bersikap kasar. Kekasaran dapat tampak sombong, bodoh, pahit, dan jahat. Seseorang pernah berkata salah kepada saya, “Tidak masalah bagaimana Anda mengomunikasikan kebenaran; kebenaran tetaplah kebenaran terlepas dari bagaimana perasaan orang.” Ini menggelikan. Injil adalah kebenaran dan tetap benar apa pun yang terjadi, tetapi ada cara untuk mengomunikasikan Injil secara salah dan ada cara untuk mengomunikasikannya dengan benar.

Bersikap kasar, keras kepala, dan tidak sabar terhadap orang yang tidak setuju dengan Anda akan membuat Anda mengomunikasikan Injil secara salah. Namun, kelembutan membantu Anda mengomunikasikan Injil dengan benar dan efektif. Kita dapat bersikap lembut dan berani dalam penginjilan tanpa bersikap kasar.

Bersikap lembut kepada orang lain akan membantu Anda menginjili dengan lebih efektif karena orang lain akan lebih siap mendengarkan Anda. Orang lain dapat memiliki masalah hidup yang nyata dan serius yang disebabkan oleh dosa mereka atau hanya karena kita hidup di dunia yang penuh dosa dan hal-hal buruk terjadi. Jadi, dengan berbicara dengan lembut kepada orang lain, kita berharap untuk mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat mereka yang mungkin memberi Anda kesempatan untuk berbicara. Anda mungkin perlu jujur, menghadapi dosa mereka dan memberi tahu mereka sesuatu yang mungkin menyakiti perasaan mereka, tetapi kelembutan tidak menghalangi Anda untuk melakukan ini. Sebaliknya, kelembutan membantu Anda melakukannya dengan penuh kasih. Kelembutan akan membuat Anda lebih mudah didekati dengan menjadi penolong, pemimpin, dan teman yang lebih baik. Selain itu, adalah penting bagi Anda untuk mempunyai cara hidup yang baik, yang bisa dijadikan contoh bagi orang lain. Tidak ada gunanya jika teori Anda hebat, tetapi praktik kehidupan Anda minim.

Siapkan diri Anda, jika Anda bisa, sebelum memasuki percakapan dengan orang lain. Siapa orang yang Anda ajak bicara? Apa yang kita ketahui tentang prasangka mereka? Dari mana mereka berasal? Apakah mereka mungkin mengalami benturan budaya? Apakah mereka seorang Muslim, Hindu, ateis, atau apakah mereka menganut kepercayaan lain? Apakah mereka hidup sebagai orang-orang yang dibenci masyarakat? Bersikaplah peka terhadap orang tersebut sehingga kelembutan Anda dapat terlihat jelas. Tujuan kita seharusnya adalah memahami pandangan dunia orang lain dengan sangat baik sehingga kita dapat mengomunikasikannya kembali kepada mereka dengan lebih baik daripada mereka dapat menjelaskannya kepada kita. Ini membutuhkan banyak kesabaran dan banyak kelembutan. Terkadang sulit untuk tetap diam ketika kita memiliki begitu banyak hal untuk dikatakan, tetapi itulah mengapa sangat penting untuk merencanakan dan mempersiapkan diri Anda – untuk memperhatikan perilaku dan cara hidup Anda.

Menginjili bukanlah tugas yang mudah. Mengenal diri sendiri sangat penting untuk tugas penginjilan. Apakah Anda pendengar yang baik atau apakah Anda cenderung menyela ketika orang lain berbicara? Apakah Anda siap untuk mendengarkan atau apakah Anda selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan? Apakah Anda benar-benar ingin belajar tentang orang yang Anda ajak bicara, atau apakah Anda hanya ingin menyampaikan maksud Anda? Jika Anda bukan pendengar yang baik, kemungkinan besar Anda suka memaksa dan tidak terlalu lembut dalam presentasi Anda.

Jika Anda ingin tahu seperti apa sebenarnya Anda sebagai pendengar, penginjil, dan komunikator, undanglah seseorang yang mengenal Anda dengan baik untuk jujur kepada Anda. Buka diri Anda terhadap kritik sehingga Anda dapat memperbaiki kelemahan dan kesalahan Anda. Orang Kristen perlu mau diajar – sebagai pelajar firman yang selalu berusaha untuk menjadi penginjil yang lebih baik. Kita harus sadar bahwa tidak ada orang yang sudah sempurna.

Perlu dicatat bahwa kita sering kali lebih peduli tentang apa yang harus kita katakan daripada bagaimana kita harus bersikap. Kita harus meluangkan waktu untuk meminta Tuhan mengembangkan karakter saleh kita sebanyak waktu yang kita luangkan untuk meminta Tuhan memberi kita kata-kata yang tepat untuk diucapkan ketika kita menginjili orang-orang non-Kristen. Kita juga harus mau untuk mengampuni mereka yang sudah menyebabkan penderitaan kita, seperti sikap Yesus di kayu salib:

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34

Pada pihak lain, jebakan bagi banyak orang Kristen adalah bersikap terlalu kritis terhadap diri mereka sendiri setelah berbicara dengan orang non-Kristen (“Saya seharusnya mengatakan ini”, “Saya seharusnya tidak mengatakan itu”, “Mengapa saya tidak berpikir untuk mengatakan kebenaran ini?”). Jangan terlalu sering melakukannya karena hal itu bisa membuat kita mundur karena rasa tidak mampu. Tuhan tidak membutuhkan kita untuk memiliki gelar doktor dalam penginjilan agar dapat membawa seseorang kepada Tuhan Yesus Kristus dalam pertobatan dan iman. Ingat bahwa dibalik semua usaha kita, adalah Tuhan yang bekerja. Dia tidak peduli dengan kemampuan kita, Dia peduli dengan hati dan ketaatan kita.

Ambillah setiap kesempatan untuk membagikan Injil kepada orang-orang dalam ketaatan kepada-Nya – Dia akan memberkati ketaatan Anda, bukan kemampuan Anda. Namun, kita harus tetap bercita-cita untuk meningkatkan kemampuan penginjilan kita karena itu juga merupakan ketaatan. Saat kita bertumbuh dalam ketaatan, saat kita membaca firman Tuhan, dan saat kita bertumbuh dalam iman, kemampuan penginjilan kita pasti akan meningkat. Perhatikan karakter saleh Anda, dan komunikasikan apa yang Anda praktikkan dalam hidup dengan roh yang lembut. Tuhan memberkati kita sekalian!