Jangan cari masalah

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Sudah lama saya meninggalkan Indonesia, tetapi saya masih ingat beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa. Salah satu di antaranya yang cukup berkesan adalah: “”Urip iku mung sedelo, molo ojo seneng golek molo” yang berarti “Hidup ituhanya sebentar, karena itu jangan senang mencari musibah”. Karena itu, jika seseorang mengucapkan “ojo golek molo” kepada kita, itu mungkin dimaksudkan agar kita tidak berbuat sesuatu yang bisa menyebabkan masalah.

Alkitab sebenarnya mempunyai banyak ayat yang menyatakan hal yang serupa. Mungkin Anda ingat akan kalimat “Jangan mencobai Tuhan, Allahmu” (atau variasi serupa) muncul di beberapa tempat dalam Alkitab, seperti dalam Matius 4:7 dan Ulangan 6:16. Peringatan dari Tuhan ini sering di jumpai dalam Perjanjian Lama agar bani Israel tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan murka Allah. Berkali-kali umat Israel diperingatkan, namum mereka tidak jera-jeranya “golek molo”.

Di Perjanjian Baru, ayat-ayat dari 1 Korintus 10:1–13 menjelaskan bagaimana generasi orang Israel yang melarikan diri dari Mesir diberkati oleh Allah tetapi berulang kali jatuh ke dalam penyembahan berhala. Allah menghukum banyak dari mereka dengan keras, termasuk nasib mengembara di padang gurun sampai mati.

Penyembahan berhala adalah dosa yang sangat serius. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus yang dipenuhi berhala tentang hal itu dengan merujuk pada sejarah orang Israel yang mengembara di padang gurun. Meskipun diberkati oleh Allah, mereka menyembah berhala palsu. Allah membinasakan banyak dari mereka karenanya.

Paulus menasihati jemaat Korintus agar membaca apa yang terjadi pada bani Israel sebagai peringatan karena mereka bisa juga jatuh di hadapan Allah karena berpartisipasi dengan berhala. Kedudukan mereka di dalam Kristus tidak berarti bahwa Allah tidak akan bertindak terhadap ketidaksetiaan kepada-Nya dengan adanya penyembahan dewa-dewa palsu. Bagi jemaat Korintus, godaan seperti itu sering terjadi, dan Allah selalu menyediakan anak-anak-Nya jalan untuk terbebas dari dosa jika mereka memang mau menghindarinya.

Paulus memerintahkan para pembacanya untuk menjauh dari penyembahan berhala. Berpartisipasi dalam penyembahan berhala dengan cara apa pun berarti berpartisipasi dengan setan. Allah selalu menyediakan cara untuk menghindari dosa. Jadi, mereka tidak boleh menyatakan kepada siapa pun bahwa mereka menyetujui penyembahan berhala. Memang, sekalipun kita mungkin merasa tidak mempunyai berhala, tetapi kita mempunyai banyak kegiatan, harta, benda dan orang yang sangat kita sukai, untuk tidak dikatakan kita puja, dalam hidup kita. Pertanyaan pertama mereka harus selalu, ”Apakah kebiasaan ini akan memuliakan Allah?” Jika tidak, ada bahaya bahwa kita sudah mempunyai berhala.

Perkataan Paulus dalam ayat sebelumnya mungkin menimbulkan kekhawatiran yang dapat dimengerti, bahkan bagi orang Kristen: “Barangsiapa menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Konteks dari komentar itu adalah menghindari dosa, dan tidak berasumsi bahwa keselamatan memberi kita kekebalan dari konsekuensi duniawi dari perilaku kita sendiri. Jika dikaitkan dengan komentar lain yang dibuat oleh Paulus (2 Korintus 13:5; Galatia 6:3), hal itu juga berfungsi sebagai peringatan bagi mereka yang sombong atau ceroboh tentang kedudukan mereka di dalam Kristus, sebab kita mungkin sangat senang dipanggil orang Kristen, tetapi bukan senang untuk mengikut perintah Kristus. Kita mungkin senang belajar teologi, tetapi kurang senang melaksanakan firman Tuhan. Kita lebih senang berkat Tuhan daripada Tuhan yang memberi berkat.

Godaan adalah bagian rutin dari kehidupan. Apalagi godaan untuk melupakan adanya Tuhan yang mengawasi kita. Keinginan kita untuk berbuat dosa terkadang terasa jauh lebih kuat daripada keinginan kita untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Bagaimana jika kita tidak dapat menolak godaan-godaan itu? Bagaimana jika, seperti yang dikatakan sebagian orang, Tuhan menempatkan kita dalam posisi di mana penolakan atas dosa tidak mungkin dilakukan: skenario di mana kita tidak punya pilihan lain, selain berbuat dosa? Atau, setidaknya, tidak ada harapan untuk menolak godaan itu? Bolehkah kita menganggap bahwa semua itu sidah dalam penetapan Tuhan? Tidak!

Sebagai tanggapan terhadap ketakutan dan kebodohan semacam itu, Alkitab memberikan jaminan: mengatasi godaan apa pun sepenuhnya mungkin. Itu berlaku bagi setiap orang Kristen. Pertama, Paulus menunjukkan bahwa tidak seorang pun dari kita secara unik tergoda oleh dosa—dalam arti bahwa keinginan kita untuk berbuat dosa, apa pun bentuknya yang unik bagi kita, adalah hal yang umum dan biasa. Hal itu telah dialami oleh banyak orang lain dari generasi ke generasi. Kita tidak lebih atau kurang rentan terhadap godaan daripada mereka yang datang sebelum kita atau berjalan bersama kita. Pengalaman godaan manusia adalah bagian dari apa yang membuat hubungan Kristus dengan kita menjadi hubungan kepercayaan dan harapan (Ibrani 4:14–16). Adanya godaan seharusnya membuat kita lebih sadar bahwa kita harus dekat dan bergantung kepada-Nya.

Kedua, Allah kita masih bersama kita. Dia mengasihi kita. Dia tidak menunggu atau menakdiirkan kita gagal; Dia siap membantu kita. Salah satu cara Dia membantu orang percaya adalah dengan secara aktif bekerja dalam hidup kita untuk menjauhkan kita dari godaan yang melampaui apa yang dapat kita tolak. Kita mungkin tidak selalu percaya bahwa kita dapat mengatasi godaan. Setan mungkin mendorong kita untuk melihat beberapa godaan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak. Tetapi, Allah berjanji bahwa kita dapat, dengan kuasa Roh Kudus, menanggapi godaan apa pun dengan melawannya.

Akhirnya, Paulus menambahkan janji ini bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dari godaan apa pun yang ada di hadapan kita. Jika kita mencari jalan untuk mengatakan “tidak” kepada dosa apa pun yang memaksa kita, Allah berjanji kita akan menemukannya. Dalam beberapa kasus, itu mungkin berarti secara harfiah “melarikan diri” dari suatu situasi, seperti Yusuf yang melarikan diri dari istri tuannya (Kejadian 39:7–12). Allah secara aktif bekerja untuk membantu mereka yang ada di dalam Kristus, yang ingin melakukan apa yang benar, agar berhasil.

Tentu saja, kita dapat menolak bantuan Allah dalam mengatasi godaan, jika kita memilih untuk menuruti keinginannya dengan sengaja. Dan pada akhirnya, itulah inti dari semua dosa: pilihan yang disengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah (Roma 3:10), yang pada hakikatnya menyatakan bahwa kita tidak pernah mau bertobat. Sebagian orang mungkin berkata bahwa mereka tidak mampu melawan takdir Allah. Sebagian lagi percaya bahwa Allah panjang sabar dan mahapengampun. Dan ada juga yang berkata segala sesuatu akan terjadi pada waktunya. Apa pun alasannya, jika Anda tidak mempunyai kemauan untuk bertobat saat ini, pesan firman Tuhan adalah: Ojo golek molo!

Orang Kristen dan moralitas seksual

“Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6: 18-20

Hubungan seksual adalah bagian hidup manusia yang sebenarnya merupakan berkat dari Tuhan yang menciptakan pria dan wanita. Walaupun demikian, selama sejarah manusia hal ini bisa menjadi berkat atau kutukan, tergantung pada mereka yang memakainya. Raja Dayd misalnya, jatuh ke dalam berbagai masalah karena tergiur kepada Betsyeba.

Kisah Daud dan Batsyeba adalah salah satu kisah paling dramatis dalam Perjanjian Lama. Suatu malam di Yerusalem, Raja Daud sedang berjalan di atas atap istananya ketika ia melihat seorang wanita cantik sedang mandi di dekatnya (2 Samuel 11:2). Daud bertanya kepada para pelayannya tentang wanita itu dan diberitahukan bahwa wanita itu adalah Batsyeba, istri Uria, orang Het, salah satu pahlawan Daud (2 Samuel 23:39). Dosa Daud bermula dari matanya dan berlanjut dengan berbagai dosa lain. Terlepas dari status pernikahannya, Daud memanggil Batsyeba ke istana, dan mereka tidur bersama.

Batsyeba kemudian mengetahui bahwa ia hamil (2 Samuel 11:5), dan ia memberitahukannya kepada Daud. Reaksi raja Daud adalah berusaha menyembunyikan dosanya. Daud memerintahkan Uria untuk melaporkan kepadanya dari medan perang. Suami Batsyeba itu dengan patuh memenuhi panggilan Daud, dan Daud menyuruhnya pulang, dengan harapan Uria akan tidur dengan Batsyeba dan dengan demikian menutupi kehamilannya. Alih-alih mematuhi perintah Daud, Uria malah tidur di kamar para pelayan istana, menolak untuk menikmati waktu istirahat dengan Batsyeba sementara anak buahnya di medan perang masih dalam bahaya (2 Samuel 11:9-11). Uria juga melakukan hal yang sama pada malam berikutnya, menunjukkan integritas yang sangat kontras dengan Daud yang tidak memilikinya.

Daud adalah orang yang bersalah atas dosa seksual ini, dan penghakiman akan ditimpakan ke atas keluarganya dalam bentuk kekerasan yang berkelanjutan. Daud dihukum Tuhan. Anak Daud meninggal seminggu sesudah lahir, dan rumah tangga Daud mengalami kesulitan lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya. Secara keseluruhan, empat anak Daud mengalami kematian yang terlalu cepat – penghakiman “empat kali lipat” yang diucapkan Daud kepada dirinya sendiri.

Dalam kisah Daud dan Batsyeba, kita menemukan banyak pelajaran. Pertama, dosa yang tersembunyi akan ketahuan. Kedua, Tuhan akan mengampuni siapa saja yang bertobat. Ketiga, konsekuensi dosa tetap ada meskipun dosa itu telah diampuni. Keempat, Tuhan dapat bekerja bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Anak Daud dan Batsyeba yang berikutnya, Salomo, menjadi pewaris takhta. Bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun, Tuhan memiliki rencana yang sesuai dengan tujuan-Nya yang berdaulat. Tetapi ini bukan berarti bahwa Tuhan merencanakan kejatuhan Daud agar Ia mencapai tujuan-Nya. Setiap umat Tuhan mempunyai pilihan atas apa yang baik dan apa yang buruk. Adalah kewajiban kita untuk taat kepada Tuhan dan menghindari dosa apa pun.

Kitab 1 Korintus 6 melanjutkan konfrontasi Paulus dengan orang-orang Kristen Korintus mengenai berbagai masalah di gereja. Bagian-bagian sebelumnya membahas masalah perpecahan menjadi beberapa golongan, dan toleransi terhadap dosa seksual yang merajarela di sana. Paulus juga marah karena mereka akan membawa satu sama lain ke pengadilan dalam gugatan atas masalah-masalah kecil. Daripada saling menuntut di hadapan orang-orang yang tidak percaya, mereka seharusnya menyelesaikan masalah-masalah sepele di gereja. Kedua, Paulus mendesak mereka untuk hidup sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus daripada hidup sesuai dengan standar-standar budaya yang tidak bermoral secara seksual. Hal ini memicu diskusi tentang pernikahan di bab 7.

Ayat 1 Korintus 6:12–20 menggambarkan keberatan Paulus kepada mereka di gereja Korintus yang memiliki sikap acuh tak acuh terhadap amoralitas seksual. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota di mana penduduknya menikmati berbagai dosa seksual. Ini mungkin sering dibayangkan orang secara berlebihan, tetapi kota-kota modern seperti Bangkok dan Jakarta mungkin tidak banyak berbeda.

Dalam budaya penyembah berhala Yunani-Romawi pada zaman Paulus, seks dalam bentuk apa pun telah menjadi hal yang normal bagi hampir semua orang. Itu termasuk pelacuran, perzinahan, pedofilia, homoseksualitas, dan sebagainya. Tumbuh dalam lingkungan ini, tidak mengherankan jika beberapa orang Kristen di Korintus merasa kesulitan untuk melihat seks di luar nikah sebagai masalah besar. Paulus telah menghabiskan bab ini untuk menunjukkan mengapa menghindari amoralitas seksual sangat penting bagi orang percaya. Dengan kata lain, sekalipun keselamatan kita bukan berdasarkan kesucian, kesucian adalah tujuan hidup kita karena itu adalah perintah Tuhan kepada setiap umat-Nya.

Di luar hukum formal dan harfiah, Paulus menegaskan standar untuk perilaku Kristen merupakan jawab atas pertanyaan apakah suatu tindakan akan bermanfaat atau memperbudak. Seks lebih dari sekadar fungsi tubuh; Allah merancangnya untuk menyatukan dua orang menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Persatuan dengan orang lain itu menggambarkan Kristus, yang juga mempersatukan kita dengan Dia, ke dalam persatuan abadi. Di masa depan tubuh kita akan dibangkitkan, tetapi pada saat ini hidup kita dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Allah. Sayang sekali, pesan Paulus ini jarang diucapkan di mimbar gereja sekalipun bentuk penyelewengan seksual di zaman ini ada berbagai macam, seperti hubungan seksual antar sejenis, hubungan seksual antara manusia dan hewan, dan hubungan seksual dengan anak dibawah umur. Lebih dari itu, ada banyak penyelewengan seksual yang dilakukan oleh pimpinan gereja.

Paulus memberi mereka strategi untuk menghadapinya: lari. Ia memberi tahu mereka untuk menjauh dari amoralitas seksual. Tindakan defensif yang paling baik dalam menghadapi musuh yang kuat adalah lari untuk menjauhkan diri. Larilah seolah-olah Anda sedang melarikan diri dari sesuatu yang mungkin akan menyakiti Anda, karena itu akan terjadi. Bahkan jika budaya zaman sekarang membenci Anda karenanya, lebih baik melarikan diri dari dosa seksual daripada ditaklukkan olehnya (Kejadian 39:7–12).

Banyak orang Kristen yang menganggap semua dosa adalah sama. Itu benar dalam hal kontras dengan kemahasucian Tuhan. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa amoralitas seksual berbeda dari jenis dosa lainnya karena itu adalah bentuk menyakiti diri sendiri. Kita mungkin melakukan dosa-dosa lain dengan tubuh kita, tetapi amoralitas seksual menyatukan kita dengan orang lain secara berdosa. Ini terjadi pada tingkat fisik dan spiritual yang mendalam. Kita akan mengalami konsekuensi alami dari dosa itu pada tingkat yang mendalam juga. Dosa seksual (nafsu birahi, lust) adalah salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan.

Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menulis bahwa amoralitas seksual adalah dosa terburuk dari semua dosa, seperti yang kadang-kadang kita simpulkan. Sebaliknya, ia memerangi sikap acuh tak acuh terhadap dosa seksual yang dimiliki oleh beberapa orang Kristen dalam budaya dan pengertian teologis tertentu. Selain menyakiti orang lain, amoralitas seksual berkontribusi pada rasa sakit kita sendiri yang mendalam. Itu tidak lebih atau kurang dibandingkan dengan dosa-dosa yang lain, tetapi budaya manusia zaman sekarang (dan gereja juga) cenderung memperlakukannya lebih acuh tak acuh daripada kesalahan lainnya.

Paulus menegur orang-orang Kristen di gereja Korintus tentang amoralitas seksual. Tegurannya berlaku untuk kita juga. Rupanya, beberapa orang berpendapat bahwa karena tubuh kita akan mati dan membusuk, tidak masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Yang penting hanyalah roh di dalam diri kita, kata mereka. Yang penting adalah sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, kata beberapa orang Kristen zaman sekarang. Dengan demikian, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas untuk melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka suka (1 Korintus 6:12–13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran sesat ini.

Anggapan bahwa tubuh kita tidak penting pada dasarnya salah. Tubuh orang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat sebagai bait suci, tempat kudus, yang menampung Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13–14). Secara misterius, kita membawa Roh-Nya di dalam tubuh kita.

Dengan mengingat hal itu, Paulus menambahkan bahwa tubuh kita sebenarnya bukan lagi tubuh kita karena Allah telah membeli kita. Dia telah membayar penebusan dosa kita dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus telah menebus kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi kutukan bagi diri-Nya sendiri (Galatia 3:13). Dalam pengertian itu, kita menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Semua orang pilihan adalah orang yang tunduk kepada Yesus. Itulah sebabnya kita tidak boleh menggunakan tubuh dan pikiran sesuka hati kita.

Jika kita benar-benar di dalam Kristus, kita akan sadar benar-benar bukan milik kita sendiri. Hidup kita, termasuk tubuh kita, adalah milik Allah. Ini berarti memberi Roh Kudus otoritas tertinggi untuk memberi tahu kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dengan tubuh kita. Orang kristen yang sejati seharusnya sadar untuk tidak mendukakan Roh Kudus.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Penting untuk memperhatikan sesuatu tentang argumen terakhir terhadap amoralitas seksual ini. Ini hanya berlaku bagi orang percaya. Hanya mereka yang ada di dalam Kristus yang telah ditebus oleh darah-Nya dan dibawa dari kegelapan kepada terang (1 Korintus 1:12–13). Kata-kata ini bukan untuk mereka yang tetap berada dalam kegelapan. Paulus tidak memerintahkan mereka yang berada di luar gereja, orang-orang yang tidak percaya, untuk hidup sesuai dengan standar-standar Allah mengenai moralitas seksual (1 Korintus 5:12). Dosa mereka tetaplah dosa, tetapi kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk mengenalinya sebagai dosa (1 Korintus 2:14). Karena itu, kita tidak dapat memakai dalih bahwa kita melakukan suatu dosa karena semua orang juga melakukan hal yang serupa, yang mungkin tidak melawan hukum dunia.

Sebaliknya, mereka yang menjadi milik Allah diperintahkan untuk memuliakan Allah dengan tubuh mereka. Kita wajib taat kepada perintah-Nya. Hanya mereka yang berada di dalam Kristus yang wajib dan dimampukan untuk menggunakan tubuh mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Karena dosa seksual juga bisa melibatkan mata, pikiran, dan perkataan kita, kita harus menjaga kebersihan semua anggota tubuh kita. Jangan sampai kita terlena, karena itu adalah tujuan hidup kita saat ini. Keterlibatan diri dalam dosa seksual secara egois menghalangi kita sebagai orang Kristen untuk memenuhi tujuan penciptaan dan penyelamatan kita.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Matius 6:22-23

Mengapa banyak orang Kristen yang berani mati

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Roma 6:1

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak boleh. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua, apa yang pernah kita dapatkan dari hidup demi dosa? Itu menuntun kita pada rasa malu dan kematian (berbagai masalah hidup). Kebenaran yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah di dalam Kristus Yesus seharusnya menuntun kita untuk menjadi seperti Yesus dan kepada hidup kekal. Kita seharusnya melayani kebenaran dan bukan dosa. Lalu mengapa ada orang Kristen yang berani mati – tetap hidup dalam dosa?

Roma 6:1–14 membahas bagaimana orang Kristen seharusnya berpikir tentang dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita menaruh iman kita kepada Kristus. Dalam pengertian rohani, kita mati bersama-Nya, dan terhadap dosa-dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru. Sekarang Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kita tidak boleh mempersembahkan tubuh kita untuk digunakan bagi dosa, tetapi kita harus mempersembahkan diri kita sebagai alat kebenaran. Tetapi, apa yang bisa mendorong kita untuk menhindari dosa jika kita tidak takut kepada Tuhan? Apa yang bisa mengurangi hasrat kita untuk berbuat dosa jika kita yakin bahwa Tuhan mahakasih dan mahapengampun?

Paulus memulai bab ini dengan mengajukan pertanyaan tentang implikasi dari pernyataan yang mengakhiri Roma 5. Di sana, ia menulis bahwa di mana dosa bertambah, kasih karunia Allah “bertambah banyak.” Artinya, ketika dosa bertambah, kasih karunia Allah pun berlimpah untuk menutupi dosa semua orang yang percaya pada kematian Kristus untuk menutupi dosa mereka. Dosa manusia benar-benar tidak dapat mengalahkan kasih karunia Allah.

Namun, apa artinya itu bagi mereka yang telah didamaikan dengan Allah melalui iman kepada Kristus? Apa yang seharusnya dilakukan orang Kristen terhadap dosa sekarang setelah kita menjadi orang Kristen? Seperti yang ditanyakan Paulus di sini, haruskah kita terus berbuat dosa sehingga kasih karunia Allah dapat terus bertambah? Ini tampaknya menjadi kritik umum terhadap ajaran Paulus, karena ajaran itu sering ia bantah dalam tulisan-tulisannya di bagian Alkitab yang lain (Roma 3:8; 2 Korintus 5:17; Galatia 5:19–24).

Ini adalah tuduhan yang sering ditujukan kepada Kekristenan, bahkan hingga saat ini. Orang menuduh bahwa agama Kristen membuka kesempatan bagi manusia untuk berbuat lebih banyak dosa karena Tuhan memilih umat-Nya tidak berdasarkan perbuatan baik mereka. Mereka menyatakan bahwa agama Kristen adalan izin untuk berbuat dosa karena perbuatan baik tidak dperlukan untuk menjamin keselamatan. Karena itu banyak orang Kristen yang “berani mati”, berani berbuat dosa sekalipun Tuhan membenci dosa.

Dalam ayat-ayat berikut, Paulus akan menjelaskan bahwa tuduhan fitnah tidak benar. Orang Kristen makin banyak berbuat dosa bukan karena mereka percaya bahwa Tuhan tidak peduli akan dosa mereka, tetapi karena mereka tidak lagi takut akan Allah.

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” Roma 3:12-18

Roma 3:9–20 memuat serangkaian kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Paulus menggunakan kutipan-kutipan ini untuk menunjukkan bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani sama-sama berada di bawah dosa. Apakah itu termasuk diri kita? Tentu! Setelah menetapkan bahwa ”tidak ada seorang pun yang berbuat baik” dari Mazmur 14:1, Paulus menggunakan kutipan dari Mazmur dan Yesaya untuk menunjukkan bagaimana kita dengan sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, selalu menggunakan tubuh kita—tenggorokan, lidah, bibir, kaki, dan mata—untuk mengekspresikan keberdosaan kita.

Dengan demikian,semua orang Kristen seharusnya tahu bahwa tidak ada orang, tidak seorang pun di dunia ini, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan dengan mengikuti hukum Taurat. Namun, akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah ada tersedia terlepas dari hukum Taurat melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib. Tetapi ini bukanlah semacam “surat izin” untuk berbuat dosa.

Paulus mengingatkan bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengekspresikan sifat hakiki kita. Ketika kita berbicara, dosa keluar. Ke mana pun kita berjalan, kita meninggalkan dosa. Dan sekarang, ia menunjukkan bahwa kita tidak pernah menggunakan mata rohani kita untuk bisa mempunyai rasa takut—atau “rasa hormat”—kepada Tuhan. Karena kita tidak dapat melihat Tuhan yang roh, sering kita mengabaikan-Nya dalam hidup sehati-hari. Tuhan agaknya “jauh di mata, jauh di hati”.

Kutipan terakhir ini (Roma 3:18) berasal dari Mazmur 36:2-3, di mana Daud menggambarkan “orang fasik” sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan di depan mata mereka. Mereka juga berusaha menutupi kesalahannya dari orang lain sampai terbongkar rahasianya.

“Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya.” Mazmur 36:2-3

Paulus menegaskan bahwa kita semua, setiap manusia, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, baik Kristen maupun bukan Krisen, memenuhi gambaran ini (Roma 3:10). Kita pada mulanya tergolong orang fasik. Kita masing-masing pantas menerima penghakiman murka Tuhan atas dosa-dosa kita. Dosa kita, dalam hal ini, adalah bahwa kita mengabaikan atau meremehkan Tuhan. Kita merendahkan-Nya sesuai dengan ukuran kita di dalam hati kita. Mungkin kita merasa bahwa Dia yang mahakasih kepada umat-Nya, akan membasuh semua dosa yang sudah kita lakukan dan semua dosa yang kita rencanakan dan akan kita lakukan di masa depan (Yesaya1:18). Jika kita minta ampun , itu hanyalah sekadar formalitas saja. Atau kita mungkin menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa Allah dan orang lain tidak dapat menemukan dosa kita (Mazmur 36:2), dan karena itu kita jarang berdoa memohon pengampunan Tuhan.

Pernyataan tentang tidak adanya rasa takut kepada Tuhan ini selalu berlaku bagi orang berdosa yang secara terbuka menyangkal Kristus, namun, pernyataan ini juga semakin berlaku bagi banyak orang Kristen yang menyadari dan mengakui-Nya. Hal ini sebagian terjadi karena banyak pendeta di zaman sekarang tidak hanya menghindari pembicaraan tentang takut kepada Allah, tetapi mereka juga menghindari pembicaraan tentang apa pun yang akan memberi orang alasan untuk takut kepada Allah. Mereka menghindari penyebutan tentang dosa, neraka, dan kutukan. Terlebih lagi, mereka menghindari semua pembicaraan tentang kekudusan yang diharapkan Tuhan kepada umat-Nya karena adanya kekuatiran bahwa masyarakat akan menuduh mereka munafik.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”1 Petrus 1:15-16

Jemaat di zaman ini tidak menginginkan Tuhan yang kudus dan bisa murka, mereka hanya menginginkan Tuhan yang penuh kasih dan damai. Mererka ingin memiliki Tuhan yang mempunyai karunia yang tidak terbatas (ajaran hyper grace). Mereka tidak menginginkan Tuhan yang membenci dosa mereka, mereka menginginkan Tuhan yang lembut yang akan menjadi sahabat karib mereka (ajaran universalism). Mereka juga merasa sangat yakin bahwa Tuhan sudah memilih mereka dari awalnya untuk diselamatkan dan karena itu hidup mereka yang bergelimang dalam dosa tidak dapat ditolak Tuhan (ajaran hyper calvinism).

Dalam usaha untuk hidup baik, kita mungkin justru mendapat cemooh dari saudara-saudara seiman yang mungkin menduh kita “sok suci” atau “munafik”. Dalam hal ini kita , kita harus ingat bahwa jika kita ingin berbuat baik, iblislah yang tidak senang karena ia adalah bapa segala pendusta (Yohanes 8:44). Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Iblislah yang sudah menipu Adam dan Hawa sehingga mereka tidak takut kepada Tuhan, dan pada saat ini banyaklah manusia yang berusaha menipu kita untuk meninggalkan rasa takut kepada Tuhan dengan berbagai alasan.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah jika kita mengaku kenal Tuhan, kita takut kepada-Nya, karena Dia telah menaruh takut kepada diri-Nya ke dalam hati kita (Yeremia 32:40). Sebagai orang Kristen, kita tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan seperti budak kepada majikannya. Sebaliknya, kita memiliki rasa takut kepada Tuhan yang seperti anak, hormat, dan rendah hati. Injil adalah perbedaan antara takut kepada Tuhan dan hormat kepada Tuhan. Hanya ketika kita takut kepada Tuhan, Tuhan memberi tahu kita untuk tidak perlu takut. Sebab ketika kita mengenal kasih Allah di dalam Kristus, Roh Kudus mengusir segala ketakutan dan menanamkan di dalam kita kasih dan penyembahan, sehingga kita makin lama makin bisa taat kepada firman-Nya (mengerjakan keselamatan kita) dengan sunguh-sungguh (dengan takut dan gentar).

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentarbukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Jangan remehkan kekudusan

“Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.” Roma 1:7

Kata “orang kudus” berasal dari kata Yunani hagios, yang berarti “dibaktikan kepada Tuhan, suci, sakral, saleh.” Kata ini hampir selalu digunakan dalam bentuk jamak, “orang-orang kudus.” Dua contoh dalam Alkitab:

“…Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.” Kisah Para Rasul 9:13.

“Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida.” Kisah Para Rasul 9:32.

Ide dari kata “orang kudus” adalah sekelompok orang yang dipisahkan bagi Tuhan dan kerajaan-Nya. Oleh karena itu, secara Alkitabiah, “orang-orang kudus” adalah tubuh Kristus, orang-orang Kristen, gereja. Semua orang Kristen dianggap orang-orang kudus, yaitu orang-orang yang dikuduskan oleh darah Kristus. Orang Kristen yang dulunya orang durhaka, dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus untuk semakin membiarkan kehidupan sehari-hari mereka lebih sesuai dengan posisi mereka di dalam Kristus. Ini adalah deskripsi dan panggilan Alkitab tentang orang-orang kudus yang hidup di dunia.

Harus dibedakan antara orang kudus yang hidup di dunia dengan orang-orang kudus berada di surga. Umat percaya yang sudah di surga, sudah sepenuhnya menjadi kudus. Walaupun demikian, dalam ajaran gereja tertentu, seseorang tidak dapat menjadi orang kudus kecuali sudah ditetapkan oleh pimpinan gereja melalui syarat-syarat tertentu. Dengan demikian, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa orang-orang kudus (saints, santo, santa) di surga patut dihormati, didoakan, dan dalam beberapa kasus, disembah. Tetapi dalam Alkitab, orang-orang kudus di dunia dipanggil untuk menghormati, menyembah, dan berdoa kepada Tuhan saja.

Pada pihak yang lain, ada gereja di mana khotbah-khotbahnya selalu memberikan penekanan berlebihan pada kedaulatan Tuhan. Gereja semacam ini kurang menekankan pentingnya kekudusan pribadi dan penginjilan, karena meminimalkan tanggung jawab moral individu dan adanya panggilan universal untuk bertobat dan beriman. Mereka menganggap bahwa Tuhan hanya memanggil orang-orang tertentu dan pilihan-Nya tidak ada hubungan dengan cara hidup mereka. Bagi mereka, tidak ada panggilan bagi umat Tuhan untuk mengejar kekudusan atau untuk menjadi orang kudus. Perlu ditekankan bahwa pandangan Alkitabiah selalu menekankan kedaulatan Tuhan tetapi juga menegaskan pentingnya tanggung jawab manusia dan panggilan universal untuk bertobat dan beriman.

Roma 1:1–7 memulai surat Paulus kepada orang-orang Kristen di Roma dengan memperkenalkan dirinya sebagai hamba dan rasul Yesus. Ia telah dikhususkan untuk memberitakan Injil, atau kabar baik, tentang Yesus. Paulus menyela pengantarnya sendiri dengan segera mulai mengajarkan Injil, bahwa Yesus Kristus Tuhan kita adalah Anak Allah yang telah bangkit dari antara orang mati. Ia mengalamatkan suratnya kepada orang-orang di Roma yang dikasihi oleh Allah dan dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus. Ini akan mencakup semua orang percaya kepada Yesus.

Kemudian, dalam ayat 7 ia melanjutkan untuk menjelaskan secara tepat kepada siapa surat ini ditujukan. Ia menulis kepada semua orang di Roma pada saat itu yang dikasihi oleh Allah dan dipanggil oleh Allah untuk menjadi orang-orang kudus. Lebih jauh, Paulus memahami bahwa Allah telah memanggil mereka yang membaca suratnya untuk menjadi “orang-orang kudus” atau “orang-orang saleh”. Dalam Perjanjian Baru, semua orang yang percaya kepada Yesus menyandang gelar “orang-orang kudus” (Efesus 2:19). Itu bukan sebutan yang hanya ditujukan bagi mereka yang dianggap sebagai orang Kristen yang sempuna. Karena orang-orang percaya “di dalam Kristus,” dan Kristus itu kudus, kita semua secara resmi juga adalah “orang-orang kudus.”

Dalam bacaan hari ini, Petrus memberi tahu kita bagaimana hidup dalam terang keselamatan yang kita nikmati. Asumsi tersirat di seluruh bagian ini adalah bahwa jika kita benar-benar memiliki harapan keselamatan, dan jika kita benar-benar telah mengarahkan hati dan pikiran kita pada harapan ini, maka kita akan hidup sesuai dengan harapan tersebut.

Salah satu bukti dalam Alkitab bahwa kita memiliki harapan ini terletak pada fakta sederhana bahwa kita sekarang memiliki kapasitas untuk menjadi anak-anak yang taat (1 Petrus 1: 14). Kita tidak dapat lagi hidup seperti yang kita lakukan sebelum kita mengenal hukum Allah. Sebaliknya, kita harus menaati-Nya dalam segala hal.

“14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:14-16

Bukti kedua bahwa kita memiliki harapan keselamatan adalah kekudusan (ayat 15). Sama seperti Israel perjanjian lama dipanggil untuk menjadi kudus, demikian pula Israel perjanjian baru harus menjadi kudus (ayat 16). Tidak mengherankan, kekudusan dan ketaatan saling terkait. Bagaimanapun, Tuhan memerintahkan kita untuk menjadi kudus, dan hanya mereka yang dipisahkan sebagai orang kudus yang mau dan bisa menaati-Nya.

Ini tidak berarti bahwa kekudusan yang sempurna dapat dicapai saat kita hidup di dunia ini. Meskipun Allah memanggil kita untuk bekerja sama dengan-Nya dalam pengudusan, kita perhatikan bahwa bahkan sebelum kita mulai mematikan dosa, Allah telah terlebih dahulu memisahkan kita bagi diri-Nya (1 Korintus 6:11). Oleh karena itu, orang Kristen sejati dapat dan akan menjalani kehidupan yang kudus, meskipun tidak sempurna.

John Calvin menulis, “Karena yang paling sempurna pun di dunia selalu sangat jauh dari sempurna, kita harus berusaha lebih sempurna dan lebih lagi setiap hari. Dan kita harus ingat bahwa kita tidak hanya diberi tahu apa tugas kita, tetapi Allah juga menambahkan, ‘Akulah yang menguduskan kamu.’” Allahlah yang pertama-tama menandai kita sebagai orang kudus, dan kita menunjukkan bahwa Dia secara aktif dan terus-menerus menguduskan kita jika kita mau meninggalkan kejahatan dunia ini dan berusaha untuk hidup dalam kekudusan di hadapan-Nya. Bagaimana dengan hasrat Anda?

Sesudah beriman apa lagi yang kurang?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1:5-7

Banyak orang Kristen yang percaya bahwa untuk menjadi umat Tuhan, percaya saja sudah cukup. Keyakinan ini malah sudah pernah dinyatakan dengan lagu lama “Percaya saja”, yang syairnya berbunyi:

Percaya saja, percaya saja
Percaya yang b’ri kita menang
Percaya saja di dalam darah-Nya
Percaya, tentu kita menang

Percaya saja, pasti kita diselamatkan. Lalu percaya apa? Yakobus 2:19 mengajar, “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Yakobus disini sedang menyorot perbedaan antara pengakuan fakta secara intelektual dengan iman sejati yang menyelamatkan. Rupanya ada yang mengklaim bahwa, karena mereka mempercayai Allahnya Musa dan mereka dapat mengulangi Ulangan 6:4, yang berbunyi, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” maka mereka sudah berada dalam hubungan baik dengan Allah. Yakobus menolak anggapan itu dengan membandingkan kepercayaan itu dengan pengetahuan yang dimiliki para iblis. Para iblis lebih paham akan realita Allah dibanding sebagian besar manusia, namun mereka tidak berhubungan baik dengan Allah. Para iblis “percaya” beberapa hal yang benar tentang Allah – mereka tahu Ia berdaulat, Mahakuasa, dsb. – tetapi teologi mereka tidak dapat digolongkan sebagai iman. Tidak ada keselamatan bagi para iblis, meskipun mereka mengakui kebenaran tentang esanya Allah.

Dalam kitab 2 Petrus 1, Petrus pada awalnya merangkum manfaat luar biasa yang telah kita terima dalam mengenal Allah melalui iman kepada Kristus. Kita telah diperlengkapi untuk mengikuti teladan kemuliaan dan kebaikan Yesus. Kita tidak kehilangan apa pun yang kita butuhkan untuk menjalani hidup yang Dia panggil untuk kita jalani. Lebih dari itu, melalui iman kepada Yesus, kita telah diberi hak untuk berpartisipasi, saat ini juga, dalam kodrat Allah. Kita dapat bermitra dengan Kristus dalam memenuhi tujuan Allah di bumi. Kita telah dibebaskan dari kerusakan akibat dosa.

Semua itu terdengar fantastis, tetapi apa artinya bagi kita saat ini? Mengapa tampaknya banyak orang Kristen begitu jauh dari berpartisipasi dalam kodrat Allah, tidak hidup dengan tujuan, sukacita, dan kasih Kristus? Mengapa sebagian orang terus hidup dalam dosa yang darinya kerusakan seharusnya telah kita bebaskan? Lebih dari itu, banyak pendeta yang di zaman ini tidak mau mengajarkan prinsip hidup saleh, dan sebaliknya sering menekankan bahwa “sekali diselamatkan, tetap selamat”. Mereka selalu bersemangat mengajarkan kedaulatan Tuhan, tetapi mengabaikan pentingnya hidup saleh dan moralitas Kristen. Masih perlukan kesalehan sesudah kita diselamatkan?

Ayat 2 Petrus 1: 5-7 memberi kita petunjuk hidup saleh kepada kita. Jika kita benar-benar orang percaya, Allah telah memberi kita semua yang kita butuhkan untuk hidup seperti Yesus,. Dengan demikian, sekarang kita harus benar-benar menggunakan karunia-karunia itu. Dan itu berarti bekerja untuk kemuliaan Tuhan. Sebelum kita menerima anugerah kasih karunia Allah, kita tidak memiliki kemampuan dan keinginan untuk hidup dalam kemuliaan dan kebaikan Yesus. Sekarang setelah kita diberi kuasa untuk melakukannya, kita harus “berusaha keras” untuk menambahkan kualitas-kualitas kekristenan ke dalam iman kita, atau “bersama-sama dengan iman kita”.

Sebagai orang percaya, kita harus mau hidup baru karena apa yang kita yakini benar adanya. Dengan iman, kita datang kepada Kristus. Sekarang, dengan kuasa Kristus, kita harus berusaha untuk menambahkan kebaikan ke dalam iman kita, dan menambahkan pengetahuan ke dalam kebaikan kita dan seterusnya. Ayat-ayat di atas membahas gagasan-gagasan tambahan tentang rangkaian sifat-sifat yang harus kita, sebagai orang Kristen, upayakan untuk membangunnya dalam kehidupan kita.

Ringkasan konteks 2 Petrus 1:3-15 mendesak orang Kristen untuk memahami bahwa mereka, saat ini, diperlengkapi sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang telah Allah panggil bagi mereka. Karena mereka diperlengkapi, mereka harus menggunakan alat-alat tersebut melalui upaya pribadi. Mereka harus berusaha untuk menambahkan kebaikan Kristus dan kualitas-kualitas rohani lainnya ke dalam iman yang telah mereka jalani.

Petrus memulai surat singkat ini kepada orang Kristen dengan mengingatkan mereka bahwa mereka tidak kehilangan apa pun yang mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh yang menjadi panggilan mereka. Oleh karena itu, mereka harus bekerja untuk menambahkan kebaikan dan sifat-sifat Yesus pada iman mereka. Ini membutuhkan usaha, tidak seperti keselamatan kekal yang tidak didasarkan pada pekerjaan kita. Mereka yang tidak memiliki sifat-sifat positif ini akan hidup sebagai hamba Tuhan yang tidak produktif dan tidak efektif, hampir sama butanya dengan orang-orang yang tidak percaya dan lupa bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni. Petrus, yang hampir meninggal, bersikeras bahwa kesaksiannya sebagai saksi mata tentang transfigurasi menegaskan bahwa nubuat-nubuat tentang Mesias adalah benar. Yesus akan datang kembali.

Bertumbuh dalam kualitas-kualitas tersebut menuntun kepada kehidupan yang produktif dan efektif dalam mengenal Tuhan. Tidak memiliki sifat-sifat Kristus akan berakibat sebaliknya. Petrus terus mengingatkan pembaca tentang apa yang sudah mereka ketahui, untuk terus menggugah mereka, untuk memastikan mereka mengingat semua ini setelah Ia meninggal (yang akan segera terjadi).

Dalam ayat 3 dan 4, Petrus memberi tahu kita bahwa orang Kristen, melalui iman, telah menjadi peserta dalam kodrat ilahi. Kita diperlengkapi sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang Tuhan panggil kita untuk jalani. Kemudian dalam ayat 5, ia menyatakan bahwa kita harus “berusaha keras” untuk menambahkan daftar kualitas seperti Kristus ke (atau di samping) iman kita. Jika digabungkan, daftar kualitas ini menggambarkan kehidupan seorang Kristen yang berpartisipasi dalam kodrat Allah. Seperti yang ditunjukkan dalam daftar ini, ada urutan logis untuk karakteristik ini. Masing-masing merupakan persyaratan yang diperlukan untuk kualitas yang mengikutinya.

Pertama, karena kita telah diperlengkapi untuk hidup seperti Yesus, kita harus berusaha untuk menambahkan kebaikan, atau “keunggulan moral,” ke dalam iman kita. Ini berarti bahwa kita akan berusaha untuk berbuat baik, dengan kuasa Allah, di dunia sekarang, seperti yang Yesus lakukan di tempat kita. Kebaikan ini menjadi dasar bagi kualitas-kualitas lainnya.

Kita juga harus menambahkan pengetahuan. Ini adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan kita, melalui Firman-Nya, doa, dan sebagainya, yang menginformasikan kebaikan kita. Sekadar ingin berbuat baik saja tidak cukup; kita harus tahu apa itu kebaikan dengan mengenal Tuhan.

Selanjutnya, kita harus menambahkan pengendalian diri. Tanpa kemampuan untuk mengendalikan diri, pengetahuan kita tentang kebaikan, dan keinginan untuk melakukannya, keduanya tidak ada nilainya. Pengendalian diri adalah pengekangan dorongan kita dari waktu ke waktu. Ini adalah kemampuan untuk membuat pilihan yang tepat, di saat-saat ketika godaan menyerang kita.

Kemudian kita harus menambahkan ketekunan. Ketekunan adalah kemampuan untuk mempraktikkan pengendalian diri dari waktu ke waktu. Lari cepat kita untuk berbuat baik berubah menjadi maraton. Pilihan kita dari waktu ke waktu, jam ke jam, hari ke hari akhirnya berubah menjadi gaya hidup. Ketekunan adalah kemampuan untuk mempertahankan pengendalian diri, bahkan ketika tekanan godaan terus menyerang kita.

Selanjutnya, Petrus menambahkan kesalehan. Ini menjaga kebaikan kita agar tidak sekadar kebaikan manusiawi. Ini adalah kebaikan ilahi. Ini adalah keunggulan moral yang mencerminkan sifat Tuhan sendiri, bukan “kebaikan” manusia yang bersifat sementara dan terikat pada dunia.

Petrus menulis bahwa kita juga harus menambahkan kasih sayang persaudaraan, atau kasih sayang, di samping kesalehan. Idenya adalah bahwa kita menjadi termotivasi untuk berbuat baik bagi satu sama lain. Ini seharusnya datang dari rasa keterhubungan. Ini adalah jenis hubungan yang dialami dalam keluarga terdekat. Dan, sungguh, saudara-saudari kita di dalam Kristus adalah keluarga kita. Petrus memanggil kita untuk “berusaha keras” untuk mengembangkan kasih sayang kekeluargaan bagi satu sama lain. Meskipun terkadang sulit, kita harus berusaha untuk benar-benar bisa “menyayangi”satu sama lain, sehingga kita ingin berbuat baik bagi satu sama lain. Ini tidak mudah karena dalam kenyataannya, di dalam gereja sering terjadi permusuhan atau pertengkaran antar saudara seiman.

Pagi ini, kita melihat bahwa puncak kualitas-kualitas kesalehan adalah kasih. Tuhan adalah kasih, dan kebaikan Yesus dimotivasi oleh kasih-Nya kepada Bapa dan kasih-Nya kepada kita. Istilah Petrus untuk “kasih” di sini berasal dari akar kata Yunani agape, yang merujuk pada kepedulian tanpa pamrih dan penuh pengorbanan demi kebaikan orang lain. Jadi, masuk akal jika alasan utama kita untuk berbuat baik adalah kasih yang rela berkorban yang sama yang ditunjukkan Kristus bagi kita. Hanya dengan mengasihi orang lain, kita akan bisa merasakan betapa besarnya kasih Yesus kepada kita.

“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 2 Petrus 1: 8

Bagaimana Tuhan mengasihi semua orang melalui dua anugerah

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Apa arti Yohanes 3:16? Ini adalah inti dari Kekristenan: bahwa Allah begitu mengasihi dunia hingga Ia datang dalam wujud manusia—Yesus, yang mati untuk kita, sehingga siapa pun yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan dari dosa. Ini tentu saja merupakan ayat yang paling terkenal dalam Alkitab. Ini mungkin merupakan bagian yang paling banyak dihafal dari semua teks suci dalam sejarah manusia.

Yohanes 3:16 adalah ringkasan dari seluruh Injil. Namun, ayat-ayat berikutnya sama pentingnya untuk memahami pesan Kristen. Kristus tidak diutus untuk menghakimi dunia, tetapi untuk membawa keselamatan. Ini adalah ungkapan kasih Allah yang luar biasa. Pada pihak yang lain, mereka yang tidak percaya kepada Yesus Kristus dikutuk di mata Allah. Adalah kenyataan bahwa kecenderungan manusia untuk menyenangi dosa menyebabkan banyak orang memilih kegelapan daripada Terang.

Ayat di atas secara tradisional diterjemahkan sebagai “Allah begitu mengasihi dunia ini.” Bagaimana cara Tuhan menunjukkan kasihnya kepada semua orang? Apa saja yang Dia lakukan? Allah menunjukkan kasih-Nya dengan berbagai cara, termasuk melalui penciptaan dunia dan penyediaan kebutuhan kita (anugerah umum, common grace); tetapi, yang paling mendalam adalah melalui pengorbanan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk pengampunan dosa manusia (anugerah khusus, anugerah keselamatan, saving grace).

Tindakan menciptakan dunia dan segala isinya, termasuk manusia, merupakan bukti kasih dan keinginan Allah untuk dunia yang penuh dengan keindahan dan potensi. Allah menyediakan kebutuhan kita, baik jasmani maupun rohani, yang menunjukkan kepedulian dan perhatian-Nya terhadap kesejahteraan kita. Allah mengasihi semua orang, terlepas dari latar belakang, kepercayaan, atau tindakan mereka, dan karena itu Ia memanggil kita untuk mengasihi sesama (semua orang) seperti mengasihi diri kita sendiri.

Tidak semua orang Kristen mengamini adanya kasih Allah kepada semua orang. Sebagian kecil orang Kristen menyatakan bahwa konsep anugerah umum tidak sejalan dengan kebencian Allah kepada mereka yang ditolak-Nya. Konsep anugerah umum yang bisa membawa “kebaikan” bagi semua orang, atau yang bisa membuat semua orang menghindari apa yang jahat dan memilih apa yang baik adalah bertentangan dengan Tuhan yang hanya mempunyai rancangan yang baik untuk umat-Nya. Tetapi, ini jelas keliru.

Anugerah umum, sebagai ungkapan kebaikan Allah, adalah setiap kebaikan-Nya yang berada di luar anugerah keselamatan. Anugerah umum mencakup semua berkat yang tidak layak diterima, tetapi yang diterima manusia berdosa secara alami dari tangan Allah: hujan, matahari, kemakmuran, kesehatan, kebahagiaan, kapasitas dan karunia alami, pembatasan dosa dengan hukum dunia, dll. Doktrin anugerah umum menjelaskan bagaimana seseorang dapat benar-benar bejat namun tetap bisa melakukan tindakan yang, dalam beberapa hal, bisa dikatakan “baik.” Namun, anugerah umum ini tidak mencapai anugerah keselamatan; karena itu, semua manusia masih membutuhkan karya penyelamatan Roh untuk mendamaikan mereka dengan Tuhan. Mengapa anugerah umum adalah sesuatu yang baik yang datang dari Allah untuk semua orang?

Kita harus mengakui sejak awal bahwa kata sifat “umum” tidak muncul dalam Alkitab sebagai kata sifat untuk kata benda “anugerah.” Namun, kita dibenarkan untuk menggunakannya mengingat bagaimana hubungan Yesus dengan orang-orang yang tidak percaya digambarkan bagi kita dalam Kitab Suci. Sampai pada akhir hidup-Nya, Yesus masih meminta pengampunan kepada orang-orang yang menyalibkan Dia.

Yesus berkata: ”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. Lukas 23:34

Pengampunan Yesus di sini bukan merupakan indikasi bahwa orang-orang, imam, ahli Taurat, tua-tua, dan prajurit menerima keselamatan dan rekonsiliasi dengan Tuhan pada saat itu. Mereka menerima anugerah umum dari Yesus: Dia tidak menghalangi jalan mereka kepada Tuhan. Yesus memberikan izin agar pengorbanan-Nya pada saat itu digunakan untuk menutupi dosa setiap orang yang terlibat. Dia “berdoa syafaat bagi para pelanggar” (Yesaya 53:12).

Kata-kata-Nya efektif. Salah satu pencuri, yang tampaknya ikut mengejek pada awalnya (Matius 27:44), mempertimbangkan kembali dan menerima tawaran Yesus (Lukas 23:39–43). Dia bukan satu-satunya. Setelah Yesus naik ke surga dan Roh Kudus turun atas para pengikut-Nya, “banyak imam menyerahkan diri dan percaya” (Kisah Para Rasul 6:7); mereka memohon pengampunan dari orang yang mereka salibkan! Ini adalah anugerah yang ajaib.

Bagaimana mungkin manusia yang masih berada di bawah murka dan kutukan Tuhan dan menjadi pewaris neraka menikmati begitu banyak karunia yang baik dari tangan Tuhan? Bagaimana mungkin manusia yang belum diperbarui secara menyelamatkan oleh Roh Tuhan tetap bisa menunjukkan begitu banyak kualitas, karunia, dan prestasi yang mendorong pelestarian, kebahagiaan duniawi, kemajuan budaya, peningkatan sosial dan ekonomi bagi diri mereka sendiri dan orang lain? Bagaimana mungkin ras dan bangsa yang tampaknya tidak tersentuh oleh pengaruh penebusan dan regenerasi Injil berkontribusi begitu banyak pada apa yang kita sebut peradaban manusia? Sebagian kecil umat Kristen menyebut semua yang dilakukan orang yang bukan Kristen itu adalah sia-sia. Ini tentu tidak benar.

Semua umat manusia adalah penerima curahan anugerah Allah ini, tetapi tidak semua mengalaminya dalam tingkat yang sama atau dengan cara yang sama. Penggunaan istilah “umum”, “tidak berarti ‘dalam ukuran yang sama untuk semua’ tetapi ‘universal,’ yang diperluas kepada semua orang. Tidak juga berarti ‘biasa-biasa saja,’ meskipun kasih karunia umum sering dianggap biasa saja dan terpisah dari sumbernya, yaitu Tuhan. Kasih karunia umum sama sekali tidak membosankan dan biasa-biasa saja, seperti yang terlihat dalam ladang-ladang yang melimpah, kemajuan medis, kejeniusan artistik, keluarga-keluarga yang penuh kasih, inisiatif-inisiatif global melawan perdagangan manusia, dan masih banyak lagi.

Pertimbangkan, misalnya, kasih karunia umum Allah seperti yang terlihat dalam Kejadian 39:5 di mana Allah dikatakan telah “memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf.” Di Listra, Paulus menyatakan bahwa Allah “berbuat baik dengan menurunkan hujan dari langit dan musim-musim yang subur, memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan” (Kisah Para Rasul 14:17). Yesus sendiri berkata bahwa Allah “membuat matahari-Nya terbit atas orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan atas orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45). Bapa digambarkan sebagai “baik terhadap orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang yang jahat” (Lukas 6:35; lihat juga Lukas 16:25). Lalu adakah karunia umum dalam hal rohani?

Roh Kudus sebagai Roh kebenaran, kekudusan, dan kehidupan dalam segala bentuknya, hadir dalam setiap pikiran manusia, menegakkan kebenaran, menjauhkan dari kejahatan, membangkitkan kebaikan, dan memberikan hikmat atau kekuatan, kapan, di mana, dan dalam ukuran apa yang menurut-Nya baik. Inilah yang dalam teologi disebut kasih karunia umum. Anugerah umum adalah setiap kebaikan hati, apa pun jenis atau derajatnya, yang tidak mencapai keselamatan, yang dinikmati oleh dunia yang tidak layak dan terkutuk oleh dosa ini dari tangan Allah. Sebagian orang Kristen menolak adanya pikiran yang “baik” sekalipun semua yang baik sebenarnya datang dari Allah.

Kebaikan Allah sebagaimana terlihat dalam anugerah umum pertama kali ditemukan dalam cara anugerah umum memberikan pengaruh pengekangan pada ekspresi kebejatan atau dosa manusia. Tindakan pencegahan kebaikan Allah ini tidak menyeluruh, atau tidak akan ada dosa sama sekali. Tindakan tersebut juga tidak seragam, karena jika demikian, semua pria dan wanita akan sama-sama jahat atau sama-sama baik. Jadi, yang kita maksud adalah bahwa manifestasi dan dampak kebejatan moral manusia tidak diizinkan mencapai batas maksimal yang mampu dicapainya. Fakta empiris yang sederhana adalah bahwa jika hal ini tidak terjadi, kehidupan di bumi hampir mustahil terjadi.

“Tanda” yang Allah berikan pada Kain, “supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.” (Kejadian 4:15) adalah salah satu contohnya. Dalam setiap kasus sperti ini, Tuhan memberikan pengaruh pencegahan terhadap apa yang seharusnya merupakan tindakan kejahatan. Jadi, salah satu tujuan dari aktivitas Roh di dunia kita adalah untuk menghalangi atau menghambat atau mengekang ekspresi lahiriah dari kecenderungan batiniah hati yang berdosa. Jika Ia tidak melakukannya, jika Ia sepenuhnya mengangkat atau menarik atau menangguhkan aktivitas khusus ini, masyarakat kita pada akhirnya akan menjadi tidak layak huni. Tanpa anugerah umum, kejahatan umat manusia akan menelan dunia dan membawanya ke ambang kekacauan dan kerusakan total.

Anugerah umum adalah keputusan Allah yang penuh belas kasihan untuk menangguhkan manifestasi langsung dari murka dan penghakiman-Nya yang dibenarkan oleh dosa manusia. Allah masih menanti semua anak yang hilang untuk pulag kembali dan bertobat. Paulus mengemukakan kebenaran ini dalam bentuk pertanyaan di Roma 2:4: “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Dengan cara yang sama, Allah memberikan berbagai pengaruh yang menuntun setiap manusia ke arah pertobatan.

Tuhan tidak hanya menahan tindakan dan dampak dosa dari hati manusia, Dia juga menganugerahkan berkat yang berlipat ganda baik secara fisik maupun rohani kepada alam dan manusia. Namun, berkat-berkat ini tidak cukup untuk menebus dosa itu sendiri. Kita harus ingat bahwa kebaikan yang dikaitkan dengan orang-orang yang belum dilahirkan kembali pada akhirnya hanyalah kebaikan relatif. Itu tidak baik dalam arti memenuhi dalam motivasi, prinsip, dan tujuan persyaratan hukum Allah dan tuntutan kekudusan-Nya. Untuk bisa mendapat penebusan, manusia perlu mendapat karunia khusus. Konsep “Anugerah umum” dengan demikian dapat dilihat sebagai penekanan akan perlunya misi gereja. Tuhan tetap bekerja di dunia sampai saat ini, dan Roh Kudus bekerja dalam hati setiap orang, sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Untuk itulah kita yang sudah mendapat anugerah keselamatan harus mau menggunakan anugerah umum-Nya untuk berbuat baik agar banyak orang bisa mengenal Tuhan yang mahakasih, sehingga mereka kemudian mau bertobat dari hidup lama mereka.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10:31

Hidup belebihan belum tentu membawa kebahagiaan

“6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:6-10

Sejak dulu, banyak orang tua memiliki semacam target kesuksesan bagi anak-anak mereka semenjak mereka masih kecil. Dan tentu saja kekayaan adalah salah satu ukuran kesuksesan tersebut. Agar tujuan tersebut tercapai, banyak orang tua yang percaya bahwa anak-anak mereka harus berhasil dalam pendidikan dengan memilih jurusan yang “laku” di dunia kerja dan yang akan menjanjikan gaji yang besar di masa depan.

Dalam komunitas dan budaya tertentu, kesuksesan anak-anak menjadi obsesi seisi keluarga, sehingga sering menjadi kenyataan bahwa jika anak-anak kelak sukses dalam hidup dan menjadi orang dewasa yang kaya, mereka yang sudah terbiasa dalam hal berkompetisi dan berfokus kepada diri sendiri akan mendidik anak-anak mereka dengan cara yang sama. Tidaklah mengherankan, bahwa pada awal tahun dan bahkan setiap hari, orang tua selalu berdoa dan berharap agar anak-anak mereka menjadi orang kaya-raya karena percaya bahwa kekayaan adalah identik dengan kebahagiaan.

Apa kata Alkitab tentang mereka yang ingin jadi kaya? Ayat 1 Timotius 6:6-10 adalah penjelasan singkat tentang pandangan Kristen yang benar tentang kekayaan. Berbeda dengan kehidupan dunia yang penuh dosa dan keinginan untuk mendapatkan kekayaan materi sebesar-besarnya, ayat 6 menyatakan bahwa “ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Ibadah adalah tema di seluruh 1 Timotius, yang digunakan beberapa kali dalam surat pendek ini. Ibadah dalam arti hidup sebagai orang Kristen.

Rasa cukup berbeda dengan kaya. Mereka yang merasa hidup dalam kecukupan, belum tentu kaya. Sebaliknya, mereka yang sudah kaya sering kali tidak merasa cukup karena mereka ingin untuk menjadi lebih kaya. Dengan demikian, rasa cukup akan bisa membawa kebahagiaan; sedangkan tidak adanya rasa cukup akan mengurangi kebahagiaan, dan bahkan bisa mendatangkan kesusahan. Rasa cukup bisa membuat sesorang bersyukur kepada Tuhan, sedang tidak adanya rasa cukup akan membuat Tuhan terasa jauh.

Dalam 1 Timotius 6, ayat-ayat awal menggambarkan kelemahan yang umum pada guru-guru palsu. Ini termasuk aspek-aspek seperti pertengkaran, keserakahan, dan keras kepala. Iri hati juga disebutkan; guru palsu sering kali berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain.

Masih adakah guru-guru palsu di zaman sekarang? Tentu! Bukan saja mereka yang bekerja sebagai “influencer” di berbagai media yang menggembar-gemborkan cara mencapai kesuksesan dan kekayaan, di banyak gereja juga ada pendeta yang mengajarkan bahwa besarnya kekayaan adalah bukti besarnya iman. Banyak di antara mereka adalah pendeta-pendeta kaya yang mengenakan berbagai barang berharga.

Rasa cukup adalah tema penting yang juga ditekankan Paulus di tempat lain. Misalnya, Filipi 4:11 menyatakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Paulus dapat hidup dengan sedikit atau berkelimpahan karena ia tahu Tuhan dapat memenuhi kebutuhannya. Namun, bagaimana kesalehan yang disertai rasa cukup bisa menjadi keuntungan besar? Mereka yang hidup dengan cara yang memuliakan Tuhan, dan yang merasa puas dengan apa pun yang mereka miliki, memiliki kehidupan rohani yang kuat. Ini dapat membantu mereka melewati kesulitan hidup apa pun.

Dari hal merasa cukup, Paulus kemudian beralih ke fokus untuk bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 4:4). Orang Kristen tidak boleh khawatir tentang apa pun, tetapi sebaliknya harus memanjatkan segala macam doa kepada Tuhan (Filipi 4:6). Ini tidak berarti sama sekali tidak berpikir. Melainkan, ini berarti tidak ada rasa takut atau cemas. Kedamaian Allah melindungi (Filipi 4:7). Paulus juga mendorong para pembacanya untuk berfokus pada hal-hal yang baik (Filipi 4:8). Ini mencakup semua yang telah mereka pelajari dan terima, dengar dan lihat dalam diri Paulus (Filipi 4:9). Orang Kristen di Filipi diperintahkan untuk memikirkannya, dan menerapkannya, dengan mengetahui bahwa kedamaian Allah akan menyertai mereka (Filipi 4:9).

Ayat 1 Timotius 6:7 terhubung dengan ajaran Perjanjian Lama. Ayub 1:21 mencatat perkataan Ayub, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”.” Berbicara tentang kefanaan harta, Pengkhotbah 5:15 mengatakan, “Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya.”

Gagasan untuk tidak membawa apa pun ke dunia ini sudah jelas bagi Timotius. Kontras yang lebih besar dengan gagasan agama lain, mengumpulkan kekayaan dan barang-barang materi, terutama demi barang-barang itu sendiri, tidak ada gunanya. Semua hal itu akan ditinggalkan saat kita meninggal. Alkitab menekankan sifat sementara dari uang dan harta benda (Matius 6:19). Orang percaya harus bisa merasa cukup tanpa memandang tingkat ekonomi atau peningkatan atau penurunan harta duniawi. Ini tidak berarti kita harus memandang kekayaan sebagai sesuatu yang jahat, atau menghindari kemakmuran. Akan tetapi, sukacita sejati kita berasal dari pengenalan akan Tuhan dan bukan melalui obsesi terhadap kekayaan atau kesuksesan.

Dalam 1 Timotius 6:8, Paulus melanjutkan ajarannya tentang rasa cukup. Ayat ini berbicara tentang aspek-aspek yang paling mendasar dan penting untuk bertahan hidup. Hal-hal pokok ini diberikan untuk menyoroti perbedaan antara hal-hal pokok dan kekayaan. Atau, dalam ungkapan modern yang lebih umum, perbedaan antara “kebutuhan” dan “keinginan.” Dalam kasus ini, khususnya, Paulus berbicara dari sudut pandang pengalaman pribadi. Menurut Paulus, kemampuan kita untuk menanggung kekurangan dalam apa yang kita ingini dan bahkan kelangkaan dalam apa yang kita butuhkan adalah kekuatan unik orang Kristen (Filipi 4:10–13).

Perspektif dalam ayat 8 ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran ayat 7. Tidak ada yang kita “miliki” dalam hidup ini yang menjadi milik kita selamanya. Kita memulai dan mengakhiri hidup tanpa harta benda. Allah tidak berutang atau menjanjikan kesuksesan duniawi kepada kita. Bahkan saat kita memberikan upaya terbaik kita untuk menumbuhkan apa yang telah dipercayakan Allah kepada kita, kita perlu merasa puas dengan apa yang kita miliki.

Ayat berikutnya menyoroti bahaya terlalu terobsesi dengan keinginan, bukannya sekadar memenuhi kebutuhan kita. Mereka yang menginginkan kekayaan atau mencintai uang akan jatuh ke dalam godaan. Sebagai orang percaya, tujuan kita seharusnya adalah berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan hidup untuk Tuhan, bukan kekayaan dan kemewahan. Yesus secara pribadi mencontohkan kesederhanaan semacam ini dalam tahun-tahun pelayanan-Nya bersama para murid-Nya. Alih-alih mencari kekuasaan dan kekayaan dalam mengajar masyarakat Yahudi, Ia bergantung pada dukungan finansial orang lain, bahkan terkadang hidup tanpa rumah (Matius 8:20).

Ayat 1 Timotius 6:9 ini menjelaskan tiga hal yang terjadi pada mereka yang menginginkan kekayaan. Pertama, meskipun setiap orang tergoda dalam beberapa hal, mereka yang menginginkan kekayaan “jatuh” ke dalam godaan. Dorongan untuk “menjadi kaya,” atau mencari kemakmuran materi dengan segala cara, menuntun pada bencana. Karena itu, orang percaya harus melawan godaan dan hidup bagi Kristus.

Kedua, mereka yang ingin menjadi kaya jatuh “ke dalam jerat.” Kata Yunani yang digunakan Paulus di sini adalah pagida: perangkap binatang, biasanya dipasang dengan tali atau jaring, yang digunakan untuk menangkap binatang yang dipancing dengan umpan. Dengan cara yang sama, mereka yang menginginkan kekayaan mengikuti godaan sampai akhirnya menuntun pada kehancuran. Ini adalah ciri khas lain dari ajaran Kristen tentang dosa dan moralitas: Setan akan sering menggunakan godaan untuk “memikat” kita agar menjauh dari apa yang seharusnya kita lakukan, untuk menjebak kita dalam konsekuensi dosa kita sendiri (Mazmur 119:110; 2 Timotius 2:26).

Poin ketiga terkait erat dengan poin kedua. Kerinduan akan kekayaan memperkuat godaan lainnya. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan di sini, beberapa di antaranya dapat mencakup keinginan untuk menipu, mencuri, atau berbohong untuk menambah penghasilan. Sejarah dipenuhi dengan contoh-contoh orang yang menggunakan ketidakjujuran, kejahatan, atau penipuan dalam upaya untuk menjadi kaya. Ini juga mengulangi cacat karakter yang dikaitkan Paulus dengan guru-guru palsu (1 Timotius 6:4-6), yang masih sering kita jumpai sekarang ini.

Seperti yang pernah dibahas dalam tulisan saya “Dosa yang membawa kebinasaan” – 30 April 2022, godaan-godaan ini menjerumuskan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Keinginan akan kekayaan dapat menghancurkan kehidupan seseorang dan dalam beberapa kasus menyebabkan kematian dini. Keserakahan dapat menyebabkan hancurnya hubungan pribadi, kesehatan fisik, dan kesehatan rohani seseorang. Dan, itu dapat menyebabkan konsekuensi yang lebih langsung dan serius. Ini termasuk keterlibatan dalam kejahatan, rasa sakit dan penderitaan bagi teman-teman dan keluarga kita, dan bahkan balas dendam dari orang-orang serakah lainnya.

Sekarang, apa arti 1 Timotius 6:10? Frasa pembuka ayat ini terkenal tetapi bisa disalahtafsirkan. Frasa ini terkenal karena menjadi inspirasi bagi pepatah umum “uang adalah akar segala kejahatan.” Tetapi ayat tersebut sebenarnya tidak mengatakan hal seperti itu. Sebaliknya, apa yang dicela adalah cinta akan uang. Kekayaan dan kesuksesan sama baik atau buruknya dengan apa yang dilakukan seseorang dengannya. Keserakahan, dan obsesi terhadap uang, menjadi dasar berbagai macam dosa, sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam ayat 9.

Ayat 10, intinya bukanlah bahwa semua dosa selalu merupakan hasil dari keserakahan materi. Melainkan, intinya adalah bahwa cinta uang dapat menuntun seseorang pada hampir semua dosa lainnya. Keserakahan dapat meningkatkan, mengilhami, dan memperbesar godaan dosa lainnya, dan menuntun kita pada bencana. Inilah sebabnya Paulus melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang percaya yang tergoda oleh cinta uang dapat meninggalkan hubungan yang dekat dengan Tuhan. Mereka cenderung menukar kekudusan dengan fokus pada membangun kekayaan untuk keuntungan pribadi. Paulus mencatat bahwa mereka yang telah melakukannya telah “menusuk diri mereka dengan banyak kepedihan.” Gambaran kata yang digunakan di sini adalah salah satu luka yang ditimbulkan sendiri.

Pagi ini, perlu kita catat bahwa mendidik anak tentang kekayaan dalam Alkitab berarti mengajarkan mereka untuk mengelola uang dengan bijaksana, tidak mementingkan harta benda, dan mengutamakan kebaikan rohani serta pelayanan kepada sesama, bukan sekadar mencari kekayaan duniawi. Berikut adalah beberapa poin penting yang dapat Anda ajarkan kepada anak-anak Anda berdasarkan Alkitab:

  1. Kekayaan rohani lebih penting: Ajarkan anak Anda bahwa kekayaan rohani, seperti iman, kasih, dan kebaikan, lebih berharga daripada kekayaan duniawi.
  2. Kekayaan adalah anugerah, bukan tujuan: Kekayaan adalah anugerah dari Tuhan, bukan tujuan yang harus dikejar dengan segala cara.
  3. Mengelola uang dengan bijaksana: Ajarkan anak Anda untuk tidak memboroskan uang, menabung, dan menggunakan uang untuk kebutuhan yang penting.
  4. Berbagi dan memberi: Ajarkan anak Anda untuk berbagi dan memberi kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.
  5. Jangan terjerat kekayaan: Kekayaan dapat menjadi jerat dan mengalihkan perhatian dari Tuhan dan hal-hal yang lebih penting.

Hidup berarti berdoa dan mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan

Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: “Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.” Kisah Para Rasul 27:31

Baru-baru ini, 14 anggota kelompok agama di Toowoomba, Australia telah dihukum karena membunuh seorang anak perempuan penderita diabetes berusia delapan tahun yang tidak diberi insulin selama hampir seminggu. Elizabeth Struhs meninggal di rumah pada tahun 2022 karena ketoasidosis diabetik, yang menyebabkan penumpukan keton yang berbahaya – sejenis asam – dan lonjakan gula darah. Pengadilan mendengar bahwa perawatan Elizabeth dihentikan karena kelompok tersebut, yang dikenal sebagai kelompok Orang Suci (The Saints), menentang perawatan medis karena percaya Tuhan akan menyembuhkannya.

Ketika menjatuhkan putusannya yang hampir 500 halaman, Hakim Martin Burns mengatakan bahwa meskipun jelas orang tua Elizabeth dan setiap anggota kelompok menyayangi Elizabeth, tindakan mereka telah mengakibatkan kematiannya. “Tidak dapat diragukan lagi bahwa Elizabeth dirawat dengan penuh kasih sayang dalam hampir segala hal,” katanya. “Namun, karena keyakinan mereka yang kuat pada kekuatan ajaib dari penyembuhan Tuhan… Elizabeth kehilangan satu hal yang pasti akan membuatnya tetap hidup.”

Kisah nyata di atas sudah tentu adalah hal yang menyedihkan, yang untungnya tidak sering terjadi. JIka itu terjadi, biasanya disebabkan oleh ajaran sesat dari kaum bidat. Seperti kelompok di atas, orang Kristen yang tersesat bisa memiliki kepercayaan bahwa Tuhan yang mahakuasa menetapkan segala sesuatu yang terjadi di dunia, sedemikian rupa sehingga umat-Nya tidak perlu atau tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagian percaya tentang adanya takdir, dan sebagian lagi percaya bahwa apa yang perlu dilakukan manusia dalam keadaan kritis hanyalan berdiam diri , berserah, dan berdoa. Ini sudah tentu bukanlah iman yang benar karena setiap orang Kristen tidak boleh melarikan diri dari kenyataan, tetapi harus berdoa dan berbuat sesuatu untuk mengatasi persoalan. Inilah yang dilakukan oleh Paulus dalam Kisah Para Rasul 27 tentang perjalanan laut yang terkenal.

Julius adalah seorang perwira dari kelompok Augustan. Ia dan para prajuritnya ditugaskan untuk membawa sekumpulan tahanan dari Kaisarea Maritima ke Roma. Setidaknya salah satu dari mereka, Paulus, akan pergi karena ia telah mengajukan banding atas kasusnya dan akan menghadapi pengadilan Kaisar. Meskipun Paulus berstatus tahanan, Julius menghormati Paulus; ketika mereka tiba di Sidon, Julius mengizinkan teman-teman Paulus di sana untuk mengurus kebutuhannya (Kisah Para Rasul 27:1–3).

Dalam kisah perjalanan itu, kapal yang ditumpangi Paulus diterpa badai. Selama empat belas hari angin dan ombak mengombang-ambingkan kapal, dan jarak pandang menjadi sangat minim. Paulus tampaknya telah berdoa karena Tuhan telah mengatakan kepadanya bahwa meskipun kapal dan muatannya akan hilang, semua orang akan selamat (Kisah Para Rasul 27:21–26).

Para awak kapal akhirnya menyadari bahwa mereka sudah mendekati daratan, tetapi saat itu malam. Mereka dapat memperkirakan di mana daratan itu, tetapi mereka tidak dapat mengetahui apakah ada batu atau terumbu karang di antara kapal dan pantai. Para awak kapal berpura-pura menurunkan jangkar di haluan agar ombak tidak memutar kapal. Tetapi, mereka sebenarnya menurunkan sekoci penyelamat untuk melarikan diri (Kisah Para Rasul 27:27–30). Paulus yang menyadari hal ini, kemudian memperingatkan Julius bahwa awak kapal harus tetap ada di kapal agar semua orang selamat. Julius kemudian memerintahkan prajuritnya untuk memotong tali sekoci itu agar hanyut sebelum bisa dipakai awak kapal.

Apa yang dikatakan Paulus adalah bertolak belakang. Ia bernubuat bahwa semua penumpang akan selamat. Tetapi, ia kemudian berkata bahwa jika awak kapal meninggalkan kapal, penumpang kapal akan binasa. Lalu, kepada siapa penumpang kapal harus berharap? Kepada Tuhan yang berkuasa dan berjanji untuk menyelamatkan atau kepada usaha manusia? Mengapa mereka tetap harus mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu sekalipun Tuhan sudah menyatakan hasil akhirnya?

Jelas bahwa dalam kejadian di atas, keduanya penting dan bekerja sama untuk keselamatan semua penumpang. Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya, dan penumpang kapal harus mengambil keputusan yang sesuai dengan itu. Mereka yang dekat dengan Tuhan akan mengerti apa yang terbaik untuk dilakukan. Tuhan sudah menyatakan bahwa semua akan selamat dan karena itu Paulus kemudian mendorong awak kapal dan seluruh penumpang untuk makan untuk pertama kalinya dalam empat belas hari. Seperti yang kita dapat baca, kapal kemudian menabrak karang di Malta dan semua orang berenang untuk menyelamatkan diri. Kapal dan muatannya hancur total, tetapi tidak ada penumpang yang meninggal, seperti apa yang dinubuatkan Paulus sebelumnya.

Bagian ini menunjukkan beberapa pertanyaan menarik tentang hubungan antara janji-janji Allah dan tindakan manusia. Dua tahun sebelumnya, Allah telah berjanji kepada Paulus bahwa ia akan sampai di Roma (Kisah Para Rasul 23:11). Mengapa Paulus memperingatkan bahwa semua orang di atas kapal akan mati? Apakah peringatannya didasarkan pada wahyu Allah atau pengalaman perjalanannya yang luas—ia telah mengalami karam kapal tiga kali dan menghabiskan satu malam terombang-ambing (2 Korintus 11:25). Dan bagaimana peringatannya yang kedua—bahwa kapal dan muatannya akan hilang tetapi semua nyawa akan diselamatkan—sesuai dengan peringatannya di sini bahwa jika Julius tidak bertindak, ia dan para prajurit akan mati?

Pada contoh pertama, tampaknya Paulus memberikan peringatan umum berdasarkan pengalamannya. Tentunya, ia memercayai janji Allah bahwa ia akan sampai di Roma, entah karena tindakan awak kapal atau karena campur tangan supranatural Allah (Kisah Para Rasul 8:39). Dalam contoh kedua ini, Tuhan berjanji kepada Paulus bahwa semua orang akan hidup, tetapi penggenapan janji-Nya melibatkan tindakan para prajurit—yang telah ditetapkan Tuhan sebelumnya. Para penumpang akan mati jika awak kapal meninggalkan kapal, tetapi Tuhan memiliki cara untuk mencegahnya.

Saat ini, apakah Anda memiliki tujuan atau rencana tertentu untuk dilaksanakan? Percayakah Anda bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa membuat semua terjadi jika Ia memang menghendaki? Jika Anda percaya, apakah yang harus Anda lakukan? Apakah Anda percaya bahwa ketekunan dalam doa adalah satu-satunya yang perlu untuk mencapai tujuan Anda? Ataukah Anda percaya bahwa usaha Anda juga menentukan apa yang akan terjadi? Paulus dalam kisah perjalanannya sudah menyatakan bahwa sekalipun apa yang terjadi harus sesuai dengan kehendak Tuhan, apa yang baik bisa tercapai jika Anda melakukan apa yang sesuai dengan kehendak-Nya karena Anda mengasihi Dia.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Adanya penderitaan seharusnya membuat kasih kita mengalir

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1:3-4

Saat ini, penduduk sepanjang pesisir tenggara negara bagian Queensland di Ausralia merasa gundah dan berdebar-debar karena adanya berita tentang akan datangnya angin topan Alfred pada hari Jumat pagi mendatang. Angin topan (cyclone) yang diramalkan akan mempunyai tingkat 2 atau 3 ini akan mendarat di sekitar kota Brisbane, membawa curah hujan 500 mm atau lebih dalam waktu beberapa jam, disertai dengan angin kencang yang bisa mencapai kecepatan setidaknya 150 km/jam. Semua penduduk kota Brisbane dan sekitarnya (termasuk saya yang tinggal di Sunshine Coast) sudah diperingatkan untuk bersiap-siap untuk menghadapi bahaya banjir dan angin kencang yang bisa memakan korban jiwa.

Adalah kenyataan bahwa adanya bencana alam di suatu tempat membawa penderitaan yang besar bagi penduduknya. Tidak hanya rumah penduduk bisa musnah, tetapi jalan raya, gedung sekolah dan pertokoan juga sering mengalami kesusakan berat. Sesudah terjadinya bencana alam, biasanya perlu waktu 2-3 tahun untuk memulihkan kehidupan masyarakat yang terkena musibah itu. Walaupun demikian, sekalipun bencana alam membawa hal-hal yang menyedihkan, itu juga bisa membawa hal yang baik dengan adanya banyak orang yang yang merasa terpanggil untuk memberi sumbangan atau berbagai bentuk bantuan lainnya kepada mereka yang terkena bencana. Karena itu, sering kali mereka yang terkena musibah sering kali tidak dapat melupakan kebaikan dan pertolongan dari sesama manusia. Bagi mereka yang beriman, tentunya ada rasa syukur karena mereka masih selamat sekalipun harus kehilangan tempat tinggal dan harta. Musibah adalah suatu hal yang buruk, tetapi bisa menghasilkan apa yang baik.

Ayat 2 Korintus 1:3–11 berisi pujian yang mendalam kepada Allah atas penghiburan-Nya bagi semua orang yang sedang menderita. Paulus menghubungkan penderitaan orang Kristen dengan penderitaan Kristus. Hal ini menunjukkan kepada jemaat Korintus bagaimana penderitaan Paulus dan penghiburan yang diterimanya dari Tuhan selama penderitaan itu telah mendatangkan manfaat bagi mereka. Paulus baru saja mengalami penderitaan yang berat, yang membawa dia dan rekan-rekannya ke ambang kematian. Tuhan yang membangkitkan orang mati telah menyelamatkan mereka. Karena itu, Paulus mengundang jemaat Korintus untuk berpartisipasi dalam perayaan kuasa Tuhan dengan terus berdoa bagi Paulus dan rekan-rekannya serta mengucap syukur atas pembebasan Tuhan.

Paulus menegaskan bahwa penderitaannya dan penghiburan yang diterimanya dari Tuhan telah mendatangkan manfaat bagi jemaat Korintus. Paulus sering kali memulai surat-suratnya dengan mengucap syukur kepada Tuhan bagi mereka yang kepadanya ia menulis surat, dan juga berdoa bagi mereka dengan cara tertentu. Tetapi, kali ini suratnya berbeda. Ia memulai dengan berfokus pada penghiburan Tuhan bagi mereka yang mengalami kesengsaraan. Seperti yang akan diungkapkan ayat-ayat berikutnya, Paulus menyatakan bahwa ada peristiwa yang sangat traumatis dalam hidupnya. Alih-alih berdoa bagi para pembacanya, ia akan meminta mereka untuk berdoa baginya.

Perlu kita perhatikan bahwa Paulus memulai suratnya dengan memuji Tuhan dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus sering kali memfokuskan doanya kepada Tuhan Bapa, sesuatu yang hanya mungkin melalui iman pribadi kepada Kristus Sang Anak, yang adalah Tuhan kita (Yohanes 14:6). Paulus menyebut Tuhan dengan dua nama: Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan.

Karena Tuhan berdiri di posisi hakim atas semua orang, Ia juga merupakan sumber segala belas kasihan. Alih-alih menghakimi semua orang yang berdosa—yaitu kita semua—Ia dengan cuma-cuma memberikan belas kasihan-Nya kepada mereka yang datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Yohanes 3:16–18). Paulus memahami bahwa di tengah penderitaan dan kesengsaraan kita, kita yang termasuk orang percaya harus mengingat bahwa Allah telah memberikan kita belas kasihan dan menyelamatkan kita, dan akan terus melakukannya.

Tuhan juga adalah Allah sumber segala penghiburan. Dalam penderitaan, orang Kristen sejati tidak lari dari Allah untuk mencari kelegaan dari rasa sakit mereka; mereka justru berlari kepada-Nya sebagai sumber penghiburan. Penghiburan Allah merupakan tema utama dari 2 Korintus. Beberapa bentuk kata yang diterjemahkan sebagai penghiburan, paraklesis dalam bahasa Yunani, muncul 29 kali dalam surat ini. Gagasan kata tersebut lebih dari sekadar kelegaan sesaat dari rasa sakit; kata itu juga melibatkan dorongan dan penguatan. Penghiburan Allah memungkinkan kita untuk berhenti berjuang dengan kekuatan kita sendiri melawan penderitaan dan kesengsaraan kita, agar kita bisa beristirahat, menjadi kuat, dalam kekuatan-Nya.

Masuk akal jika Paulus memulai dengan berfokus pada belas kasihan dan penghiburan Allah bagi mereka yang sedang “menderita,” yang berarti penderitaan yang sulit. Paulus sendiri telah mengalami peristiwa traumatis tidak lama sebelum menulis surat ini kepada jemaat di Korintus (2 Korintus 1:8). Ia sekarang melanjutkan bahwa Allah menghibur orang percaya dalam segala penderitaan kita. Paulus sengaja menggunakan kata “segala” dua kali berturut-turut untuk menunjukkan bahwa Allah menyediakan segala sesuatu bagi orang Kristen dalam bermacam-macam (segala) jenis penderitaan. Allah tidak pernah menjadi solusi parsial untuk penderitaan kita, meskipun Ia bisa menolong kita dalam berbagai cara. Ia adalah sumber segala belas kasihan dan penghiburan bagi mereka yang terluka.

Penderitaan yang digambarkan Paulus kemungkinan ada hubungannya dengan penganiayaan karena iman kepada Kristus atau penentangan terhadap Injil. Namun, kita tidak perlu membatasi penerapan ayat-ayat ini. Allah menghibur anak-anak-Nya ketika mereka menderita, apa pun penyebabnya. Penghiburan di sini berarti lebih dari sekadar kelegaan sementara dari rasa sakit atau merasa tenang, seperti dalam pengertian modern dari kata tersebut. Ini melibatkan kemampuan untuk beristirahat karena Tuhan menanggung beban kita dan memberi kita kekuatan untuk terus maju.

Penderitaan kita dalam hidup ini sering kali terasa tidak berarti jika dibandingkan dengan penderitaan yang dialami banyak orang lain. Alkitab memberikan tujuan bagi penderitaan kita. Jika kita telah dihibur oleh Tuhan—dikuatkan, didorong, dibebaskan dari beban—Tuhan juga memberi kita kesempatan untuk menyampaikan penghiburan kepada orang lain yang sedang menderita. Dalam pengertian itu, penghiburan Tuhan dapat direproduksi dan diulang. Tuhan tetap menjadi sumbernya, tetapi orang percaya dapat terus membagikan penghiburan Tuhan kepada orang lain yang menderita seperti mereka.

Pagi ini marilah kita merenungkan jdul renungan di atas: Adanya penderitaan seharusnya membuat kasih kita mengalir. Siapa yang bisa memiliki lebih banyak empati dan belas kasihan bagi seseorang yang sedang menderita, secara batiniah atau lahiriah, daripada orang percaya yang telah mengalami penderitaan yang sama karena penyebab yang sama? Siapa yang lebih mampu mengungkapkan bagaimana Tuhan menghibur mereka pada saat yang sama daripada seseorang yang telah menempuh jalan yang sama? Kita yang sudah menerima belas kasihan dan penghiburan Allah, seharusnya bisa menyalurkan kasih Allah kepada sesama kita yang sedang menderita.


Tidak semua orang yang dianggap saleh akan ke surga

“Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Seperti peribahasa “Ada banyak jalan menuju Roma”, kita menjumpai orang Kristen di zaman ini, yang mungkin dengan alasan toleransi antar agama dan keadilan Tuhan, mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju kebahagiaan sejati. Mereka mungkin menyatakan bahwa ada banyak agana yang mengajarkan kebenaran, berbagai cara untuk hidup bahagia, cara mencapai surga, dan cara menemui Tuhan semesta alam. Karena itu, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa bukan orang Kristen saja yang bisa masuk ke surga. Dan tidak mengherankan bahwa ada orang yang mengangap bahwa klaim bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk ke surga adalah sebuah ilusi dan kesombongan.

Dengan “kemajuan” pemikiran manusia, banyak orang yang berpendapat bahwa asal hidup kita diisi kebajikan, pada saatnya kita akan sampai ke “Roma”, surga yang kita impikan. Juga dengan anggapan bahwa kebenaran ada dalam semua agama dan ajaran yang beraneka ragam, sebagian orang menggabungkan segi-segi yang dianggap baik dari berbagai sumber untuk dijadikan pedoman hidup modern. Seiring dengan itu, muncul pemikiran bahwa setiap orang yang mau berusaha hidup saleh, pasti akan bisa ke surga. Bagaimana kata Alkitab?

Yohanes 6:40 adalah salah satu bagian terpenting dalam Perjanjian Baru. Ayat ini telah terbukti menjadi pesan penginjilan penting yang dikhotbahkan ke seluruh dunia. Itu adalah pernyataan sederhana tentang kehendak Bapa, keselamatan kita, dan tujuan kekal kita di dalam Kristus. Ayat ini sejalan dengan Yohanes 3: 16 yang menyatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Dalam Yohanes 6:40 (bandingkan dengan Yohanes 3:16), ada kata yang mencolok mata, yaitu kata “setiap orang”. Siapakah yang dimaksudkan dengan “setiap orang”? Apakah itu semua orang yang terlihat saleh? Apakah itu siapa saja yang mengaku Kristen? Ataukah mereka yang rajin ke gereja? Ataulah siapa saja yang sudah mengaku percaya kepada Yesus? Mungkinkah itu hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai hidup baik dan selalu taat kepada firman-Nya? Ataukah itu adalah orang yang sudah dipilih Allah dari awalnya menurut kedaulatan-Nya?

Dalam Yohanes 6, Yesus memberi makan ribuan orang yang telah mengikuti-Nya. Ia melakukan ini dengan membagi-bagi isi makanan kecil secara ajaib, menyisakan lebih banyak daripada yang Ia miliki sebelumnya. Awalnya, orang banyak merasa takjub dan mereka dengan antusias memuji Yesus. Setelah mengutus para murid menyeberangi Laut Galilea dan menyelamatkan mereka dari badai dengan berjalan di atas air, Yesus sekali lagi berbicara kepada orang banyak. Kali ini, Ia menekankan pelajaran rohani di balik mukjizat-Nya sebelumnya. Sayang, tidak seperti apa yang terjadi sebelumnya, kali ini sebagian besar dari mereka yang dulunya memuji Yesus ternyata kecewa.

Keinginan sebenarnya dari orang banyak adalah untuk tontonan supranatural lainnya dan lebih banyak makanan gratis. Bukannya membuat keajaiban lagi, Kristus mulai menjelaskan makna sebenarnya di balik mukjizat dan pelayanan-Nya. Ini termasuk yang pertama dari tujuh pernyataan ”Akulah” dalam Injil Yohanes—momen-momen ketika Yesus menyatakan keilahian-Nya sendiri. Yesus menjelaskan bahwa hal-hal fisik seperti roti adalah simbol kebenaran rohani. Dengan demikian, manusia bisa hidup kekal bukan karena makanan dan minuman yang bersifat jasmani, tetapi dari apa yang rohani, yang berassal dari Yesus.

Di sini, Yesus menetapkan perlunya kepercayaan bagi mereka yang mencari kehidupan kekal. Selain itu, Kristus membuat pernyataan lain yang jelas tentang doktrin keamanan kekal. Mereka yang diberikan kepada Yesus oleh Bapa, Dia pasti akan menyelamatkannya. Mereka yang Dia selamatkan pasti akan tetap diselamatkan, untuk “[dibangkitkan] pada hari terakhir.” Begitu seseorang benar-benar diselamatkan oleh Kristus, keselamatan mereka tidak akan pernah hilang.

Kita selalu dapat menggambarkan apa yang terjadi di dunia dari dua sisi — dari sisi manusia dan tanggung jawabnya untuk menerima apa yang Tuhan tawarkan — dan dari sisi Tuhan dan kedaulatannya untuk mencapai tujuan penyelamatan-Nya. Mengenai tanggung jawab, bangsa Israel telah gagal untuk memilih apa yang benar, mereka lebih senang dengan hal jasmani. Begitu juga pada zaman ini, meskipun Allah sudah menyatakan diri-Nya dalam bentuk manusia Yesus, manusia tidak tertarik untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan yang menyelamatkan. Mereka lebih tertarik pada hal kesalehan untuk mendapat keselamatan. Dan sebagian orang Kristen merasa bahwa “orang-orang saleh” itu tentu akan masuk ke surga.

Dalam Yohanes 6, Tuhan menawarkan roti-Nya – Yesus – kepada umat-Nya sendiri, tetapi mereka tidak menerimanya. Allah mengirim Anak-Nya, dan manusia bertanggung jawab untuk melihat dan percaya. Tapi bangsa Israel menolak-Nya. Sampai sekarang, masih banyak orang tahu nama Yesus, tetapi tidak mau mengakui Yesus sebagai Tuhan. Mereka mungkin nampak saleh, tetapi menolak Yesus. Mereka bukan milik Yesus.

Apakah tujuan penyelamatan Allah kepada “setiap orang” kemudian gagal? Tidak, karena Dia membuat tindakan-tindakan berdasarkan kasih-Nya. Dan ayat 37–40 menjelaskan alasannya. Tuhan berdaulat atas pekerjaan penyelamatan manusia, dan Dia tidak akan membiarkan tujuan akhir-Nya bagi siapa pun gagal. Ada lima penegasan yang kuat tentang karya kedaulatan Allah dalam ayat 37-40. Sangat penting bagi kita untuk memahaminya:

  1. Tuhan memberikan orang-orang pilihannya kepada Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku”. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang”. Allah tidak menunggu orang-orang pilihan-Nya datang kepada Yesus. Mereka sendiri tidak akan mampu. Dia memberikannya kepada Yesus. Dia memilih mereka untuk diri-Nya sendiri, karena Dia memberikannya kepada Putra-Nya.
  2. Karena Tuhan memberikan mereka kepada Yesus, mereka datang kepada Yesus.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku.” Atau, seperti yang telah kita lihat di ayat 35, mereka percaya kepada Yesus. Yesus tidak mengatakan bahwa karena orang datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus, maka Allah memberikan mereka kepada Anak. Tidak. Mereka yang Bapa berikan kepada Putra, datang kepada Putra. Allah mengamankan kedatangan mereka. Dia bekerja mendatangkan mereka. Dia menjamin kedatangan mereka. Ketika Anda datang kepada Kristus, Tuhan membawa Anda. Ketika Yesus dapat dimengerti oleh Anda, itu bukan karena Yesus terlihat memuaskan bagi Anda. Tetapi, itu adalah Tuhan yang membuka mata Anda. sehingga Anda percaya. Dan ketika Dia melakukannya, Anda datang dengan bebas, dengan semua perlawanan Anda teratasi.
  3. Mereka yang diberikan kepada Yesus akan disimpan-Nya.
    Ayat 37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Memberi dan mendatangkan adalah karya kedaulatan Bapa, dan pemeliharaan adalah karya kedaulatan Putra. Anda akan disimpan. Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang.” Yesus tidak akan kehilangan siapa pun yang datang kepadanya. Jika Bapa memberikan kita kepada Putra, kita datang kepada Dia. Yesus tidak akan pernah kehilangan kita, atau menolak kita. Kehidupan yang kita miliki di dalam Putra, seperti yang dikatakan ayat 40, adalah “hidup yang kekal.” Tidak seperti hidup di dunia yang sementara, hidup baru itu tidak bisa hilang.
  4. Yesus akan membangkitkan kita dari kematian pada hari terakhir.
    Ayat 39: “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yesus tahu bahwa kematian bagi semua orang terlihat seperti kekalahan, kehilangan. Apalagi bagi mereka yang belum percaya. Setidaknya tubuh kita hilang. Dan untuk menolak kekuatiran manusia, Yesus berkata dua kali, untuk memperjelasnya, “supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu kuatir, bahkan tubuh kita tidak akan musnah seperti tubuh orang yang tidak mengenal Yesus.
  5. Landasan yang tak tergoyahkan dari keselamatan kita adalah kehendak Tuhan.
    Tidak ada yang lebih pasti di dunia ini daripada kehendak Allah yang berdaulat. Ayat 38 memberikan dasar mengapa Yesus tidak akan mengusir siapa pun yang diberikan Bapa kepadanya: “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Adalah kehendak Allah yang berdaulat bahwa tidak ada milik-Nya yang hilang.

Sekarang, jika Anda bertanya: Saya melihat ada banyak orang yang lebih baik hidupnya dari saya. Jika mereka bukan milik Kristus, bagaimana saya bisa tahu jika saya termasuk yang terpilih? Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya telah diberikan Bapa kepada Yesus, dan bahwa Dia akan memelihara dan membesarkan saya? Jawabannya sangat sederhana: “Yesus berkata kepada mereka, ‘Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”(Yohanes 6:35). Jika Anda datang kepada Yesus seperti ini, Anda telah diberikan oleh Bapa kepada Putra. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mengakui Yesus sebagai sumber hidup kekal, bukanlah orang-orang yang dipilih Allah sekalipun kesalehan mereka sangat dihargai sesama manusia.

Jika sampai saat ini Anda merasa bahwa hidup Anda sudah terasa baik, mungkin Anda merasa bahwa Anda termasuk orang saleh yang akan diselamatkan Allah. Begitu juga, mereka yang sudah banyak berbuat kebaikan menurut agama masing-masing, Anda kira akan masuk ke surga. Tetapi, jika Anda benar-benar orang pilihan Tuhan, hidup Anda akan mengalami perubahan karena Anda merasa bahwa Allah sendiri yang sudah mengangkat Anda menjadi anak-Nya. Bukan karena kesalehan atau agama Anda, karena Anda tidak bisa menenuhi standar Allah yang mahasuci.

Sebagai orang pilihan, Anda akan merasa bahwa hidup Anda adalah berharga di hadapan Bapa, dan Anda merasa sangat bersyukur untuk itu sekalipun ada banyak penderitaan dan masalah yang harus Anda hadapi. Anda sadar bahwa tidak ada orang yang bisa datang kepada Yesus tanpa melalui Bapa. Tidak ada orang yang bisa bersyukur atas pengurbanan Yesus dan berubah dari hidup lamanya jika tidak dipilih oleh Bapa. Sebaliknya, tidak ada seorang yang saleh yang akan menemui Bapa tanpa mengakui bahwa Yesus dan Bapa adalah satu adanya (Yoanes 10:30). Demikian pula, tidak ada orang yang terlihat saleh, yang dapat dibenarkan di hadapan Alah dan menerima hidup yang kekal tanpa melalui Yesus.

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6