Memuji Tuhan adalah suatu keharusan

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Ada banyak orang yang percaya bahwa sebagai orang Kristen mereka adalah anak-anak Tuhan yang diberkati. Itu ada benarnya, karena kita tahu bahwa Yesus sudah mati untuk menebus kita dari hukuman yang berupa kematian akibat dosa. Kita adalah umat pilihan Tuhan yang harus bersyukur setiap hari atas kasih-Nya yang sungguh besar.

Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai umat Tuhan, mereka akan diberkati selama hidup di dunia dengan berbagai kenyamanan seperti keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan kesehatan. Mereka juga percaya bahwa iman yang besar akan membawa kenyamanan hidup yang makin besar. Karena itu, mereka sering bersyukur dan bahkan bangga menjadi umat Tuhan karena berkat-berkat jasmani yang mereka terima.

Adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang hidup di dunia tanpa mengalami kegagalan atau persoalan. Bagaimana sikap kita jika itu terjadi? Bolehkah kita bersyukur kepada Tuhan untuk hari-hari yang cerah, tetapi bersungut-sungut untuk hari-hari hujan? Memang dalam hidup ini selalu ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan, yang muncul pada saat yang kurang tepat, yang membuat kita berpikir “hidup akan lebih enak seandainya itu tidak ada”. Tetapi ayat diatas menyatakan bahwa kita harus menerima semuanya dan tetap bisa memuliakan Tuhan. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.

Mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang indah dan juga membiarkan munculnya hal-hal yang kurang bisa dinikmati? Banyak orang yang menghubungkan ini dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dosa seolah membuat segala sesuatu yang tidak baik muncul di dunia, baik itu berupa keadaan, benda mati maupun makhluk hidup. Benarkah begitu?

Memang menurut Alkitab, sebagian hal-hal yang terlihat kurang baik terjadi karena manusia jatuh dalam dosa dan kemudian diusir dari taman Eden. Tetapi segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik benda mati maupun makhluk hidup, selalu mempunyai fungsi dan keindahan yang tersendiri. Demikian juga, sekalipun rasa sakit dan penderitaan adalah salah satu akibat kejatuhan dalam dosa, hal-hal semacam itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam hidup dan lebih percaya akan pemeliharaan Tuhan. Hal semacam itu juga bisa datang sebagai pelajaran dari Tuhan untuk umat-Nya.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2-3

Sebagai manusia, menikmati apa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera kita adalah sesuatu yang kita dambakan. Hidup ini serasa nikmat jika kita bisa mengatur segalanya dan mendapat hasil yang baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan harapkan belum tentu terjadi. Jika harapan kita terjadi, itu belum tentu untuk selamanya.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1:21

Semua itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dan bukan kehendak kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8

Pagi ini Tuhan berfirman bahwa sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Tuhan tetap menyertai kita. Bagi setiap orang yang benar-benar percaya, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan izin Tuhan. Lebih-lebih lagi, Yesus sudah turun ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita dan membawa kita keluar dari kematian yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan demikian kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh lagi ke dalam dosa dan keputusasaan, karena Ia mengasihi semua anak-anak-Nya. Di dalam kasih-Nya selalu ada pengharapan akan berkat dan penyertaan-Nya. Karena itulah. sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, kita harus memuji dan memuliakan Dia dalam segala keadaan.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Antara bangga dan sombong

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Roma 12:16 Alkitab Terjemahan Baru (TB)

“Hiduplah rukun satu sama lain. Janganlah bersikap tinggi hati, tetapi sesuaikanlah dirimu dengan orang yang rendah kedudukannya. Jangan menganggap diri lebih pandai daripada yang sebenarnya.” Roma 12:16 Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK)

“Live in harmony with one another. Do not be proud, but be willing to associate with people of low position. Do not be conceited.” Romans 12:16 NIV

Menurut penjelasan Kecerdasan Buatan (AI), rasa bangga (pround) merupakan perasaan positif yang menghargai usaha, energi, dan pengalaman yang diraih sendiri. Sementara sombong (arrogant) merupakan perasaan negatif yang merendahkan orang lain untuk terlihat lebih baik. Berikut ini adalah perbedaan bangga dan sombong:

  • Mengenai Perasaan: Bangga merupakan perasaan positif yang memotivasi, sedangkan sombong merupakan perasaan negatif yang cenderung menyakiti diri sendiri dan orang lain.
  • Mengenai Sikap: Orang yang bangga biasanya menghargai usaha orang lain, sedangkan orang yang sombong cenderung meremehkan hasil orang lain.
  • Mengenai Hubungan sosial: Bangga menandakan hubungan yang baik dan saling dukung, sedangkan sombong mengindikasikan hubungan defensif dan diktatorial.
  • Mengenai Perilaku: Orang yang bangga biasanya tidak banyak bicara atas prestasi yang diraih, sedangkan orang yang sombong sibuk membicarakan prestasinya.

Beberapa contoh sikap sombong:

  • Merasa lebih baik dari orang lain
  • Menyepelekan orang lain
  • Iri dengan kelebihan yang dimiliki orang lain
  • Tidak suka jika diberi nasehat
  • Suka dipuja
  • Bersikap kasar terhadap orang lain
  • Suka pamer
  • Merasa diri lebih baik dari kenyataannya

Walaupun ada beda yang jelas antara rasa bangga dan sombong, sering kali rasa bangga yang besar bisa berbentuk kesombongan. Seseorang bisa merasa bangga atas hasi jerih payahnya, atas keuletannya dan menyatakan hal itu kepada orang lain untuk memberi teladan. Itu baik jika tidak berbau sombong. Tetapi kebanggan yang besar atas keberhasilan diri sendiri, anak cucu, ras, gereja, dan bangsa yang tidak terkontrol pasti akan menuju ke arah kesembongan. Mengapa demikian?

Dalam Alkitab, Allah membanggakan Ayub sebagai manusia yang hidup sesuai kehendak-Nya. Ayub hidup saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Allah menghargai umat-Nya yang taat kepada-Nya. Walaupun demikian, Allah kita bukan Allah yang sombong, yang mengira Dia lebih besar dari hakikat-Nya; dan yang memaksalan ketundukan manusia kepada-Nya. Allah memang mahakuasa dan mahabesar dan tentu saja semua ciptaan-Nya harus memuiakan Dia dan tunduk kepada Dia. Pada pihak yang lain, semua yang dimiliki manusia adalah berasal dari Tuhan dan sama sekali tidak pantas untuk ditonjolkan. Tidak mengherankan, Alkitab mengajarkan bahwa Allah menentang orang yang sombong dan mengasihani orang yang rendah hati.

Dalam Alkitab, selain kata “bangga” dan “sombong”, kata “bermegah” juga dipakai. Apakah “bermegah” bernada positif atau negatif? Paulus menyatakan:

”Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan. 2 Korintus 10:17-18 TB

Dengan demikian, satu-satunya kesempatan yang ada bagi kita adalah untuk membanggakan dan bermegah untuk Tuhan. Motivasi lain untuk merasa bangga yang tidak ditujukan untuk kemuliaan Tuhan adalah dosa. Ini bertentangan dengan motivasi orang dalam memberi update tentang hidupnya melalui berbagai medsos seperti Facebook, TikTok dan WhastApp, yang cenderung membanggakan diri sendiri.

Roma 12:9–21 adalah daftar sejumlah perintah singkat yang berisi poin-poin penting. Jika digabungkan, perintah-perintah tersebut menggambarkan gambaran tentang seperti apa seharusnya kehidupan Kristen yang berkorban dan hidup. Tema yang menyatukan daftar tersebut adalah mengesampingkan diri kita sendiri, untuk mengasihi dan melayani Tuhan, satu sama lain, dan bahkan musuh kita secara efektif. Kita harus melayani dengan antusiasme dan fokus, menguasai emosi kita untuk bersukacita atas masa depan kita dan bersabar di masa kini. Kita harus menolak untuk tenggelam ke level kejahatan dalam membalas dendam dan sebaliknya mengatasi kejahatan dengan berbuat baik kepada mereka yang menyakiti kita.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan kita sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dari kehidupan dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri kita sendiri. Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk mengasihi dan mengangkat satu sama lain. Kita harus memfokuskan harapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan kesabaran dan doa agar Bapa kita menyediakan apa yang terbaik menurut hikmat-Nya.

Paulus telah memerintahkan orang Kristen untuk saling mengasihi dan menghormati. Perintah dalam ayat ini mengandung sedikit ide yang berbeda. Harmonisasi dengan orang lain secara musikal mengharuskan setiap orang untuk menyesuaikan “nada” sendiri, bukan untuk benar-benar sama dengan yang lain tetapi agar selaras dan menyenangkan saat disatukan. Kebanggan, kesombongan dan kemegahan pribadi sesorang bisa saja merusak harmoni dalam masyarakat Kristen yang terdiri dari berbagai bangsa, suku dam ras.

Dalam gereja tidak ada tempat bagi kita untuk membanggakan keunggulan ras. Paulus menekankan hal ini dalam beberapa bagian seperti Galatia 3:28, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Gagasan sekecil apa pun tentang keunggulan etnis merupakan penyangkalan terhadap realitas teologis pembenaran. Lebih jauh, penekanan Paulus bukan hanya pada kesetaraan, tetapi pada kesatuan.

Paulus tidak memerintahkan orang Kristen untuk bersikap sama persis dalam setiap perilaku dan pendapat. Dalam Roma bab 14, ia membahas fakta bahwa orang Kristen pasti akan memiliki masalah pendapat yang berbeda. Sebaliknya, ia memerintahkan orang percaya untuk menyesuaikan diri satu sama lain dengan cara yang menghasilkan kesenangan dan ketertiban. Ini membutuhkan tingkat kepatuhan bersama: kemauan untuk membuat pilihan yang berbeda yang akan memungkinkan kita semua untuk rukun bersama dan saling menghargai. Ini tidak mudah dilakukan.

Untuk hidup dalam harmoni membutuhkan kerendahan hati dari setiap orang yang terlibat. Maka, tidak mengherankan bahwa instruksi Paulus berikutnya adalah agar kita tidak sombong atau angkuh dan keras hati. Ia menjelaskan apa yang ia maksud dengan perintah lanjutan: bergaul dengan orang yang rendah hati. Dengan kata lain, jangan menganggap diri Anda terlalu baik untuk bergaul dengan orang lain yang Anda anggap tidak setara dalam kepandaian atau status sosial dengan Anda.

Salah satu alasan mengapa Kekristenan menarik begitu banyak pengikut pada masa-masa awalnya adalah karena wanita, budak, dan orang-orang dari status sosial rendah dipersilakan untuk beriman kepada Kristus. Hasilnya adalah orang-orang yang tidak akan pernah bergaul di tempat lain dalam budaya Romawi menemukan diri mereka dalam hubungan satu sama lain di gereja. Paulus memerintahkan mereka yang berada di tingkat atas masyarakat untuk menyingkirkan persaingan kelas apa pun dari gereja. Ini sulit dilaksanakan jika gereja selalu mengumandangkan pesan bahwa kemakmuran seseorang adalah hasil dari iman.

Perintah terakhirnya dalam ayat ini adalah bahwa orang Kristen tidak boleh bersikap bijak menurut pandangan kita sendiri. Ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kita tidak pernah bijak. Idenya adalah bahwa kita tidak boleh menerima pendapat kita sendiri sebagai keputusan akhir. Kita harus tunduk pada firman Tuhan, serta mau mempertimbangkan masukan dan gagasan orang lain. Kita harus mau untuk selalu rendah hati, di mana saja, kapan saja.

Hal identitas diri orang Kristen

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Filipi 3:20-21

Sebagai orang yang sering ke luar negeri, saya sering mendapat pertanyaan dari penduduk lokal negara yang saya kunjungi: Anda orang dari mana? Yang lucu, ada orang-orang yang agaknya mengalami kesulitan untuk menerka dari mana saya datang, kemudian asal menerka saja. Saya masih ingat ketika saya berjalan-jalan di Beijing, penduduk lokal menyangka saya dari Taiwan!

Ketika saya jawab bahwa saya dari Australia, ada orang yang heran karena saya bukan orang kulit putih dan bahasa Inggris saya agaknya masih berlogat Indonesia. Saya yang sudah menetap di Australia selama lebih dari 40 tahun merasa bahwa saya boleh menyatakan bahwa saya orang Australia, tetapi sebaliknya orang lain mungkin menyangka bahwa saya adalah turis asal Indonesia. Itu tidaklah mengherankan. Karena saya lahir di Surabaya dan tinggal di Indonesia selama 30 tahun, banyak orang masih bisa menerka bahwa saya adalah orang Indonesia. Semua kebingungan itu terjadi karena adanya persepsi tentang identitas Persepsi saya dan persepsi orang lain.

Mungkin Anda pernah mendengar berita bahwa pada minggu lalu Madison Keys, petenis putri asal Amerika telah menjadi juara tenis putri Australian Open 2025. Madion adalah orang dengan ras campuran karena ayahnya Rick berkulit hitam dan ibunya Christine berkulit putih. Walaupun demikian, pemain nomor 14 dunia itu dalam sebuah wawancara menegaskan bahwa dia tidak memikirkan ras dan malah mengidentifikasi dirinya sebagai “Madison”. Ia agaknya menyatakan bahwa orang apa dan ras bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan, karena siapa dan orang yang bagaimana adalah hal lebih penting untuk diketahui orang lain.

Dalam Alkitab, Paulus merinci riwayat hidupnya sebagai orang Yahudi yang mengesankan. Paulus adalah orang Yahudi asli. Tak seorang pun dari para pengkritik atau penantangnya dapat membanggakan silsilah yang dimiliki Paulus. Tetapi, Paulus menyebutkan hal ini justru untuk menekankan betapa kecilnya arti hal-hal tersebut, dibandingkan dengan iman kepada Kristus. Bahasa Paulus di sini tajam dan langsung ke intinya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana fokus seorang Kristen seharusnya murni pada Kristus, sama seperti seorang pelari berkonsentrasi pada tujuannya agar dapat berlari dengan efektif. Daripada melihat ke masa lalu, atau pada diri kita sendiri, kita seharusnya melihat ke depan, ke kekekalan bersama Tuhan. Daripada bangga akan hal yang sementara, lebih baik bersyukur akan hal yang abadi.

Filipi 3:12—4:1 menjelaskan sikap yang tepat yang seharusnya dimiliki orang Kristen terhadap proses ”pengudusan.” Ini adalah jalan bertahap seumur hidup untuk menjadi semakin seperti Yesus. Tempat kita dalam kekekalan aman sejak kita percaya kepada Kristus, tetapi butuh waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi seperti-Nya. Paulus mencatat bahwa dia tidak sempurna selama hidup di dunia, tetapi mendorong orang Kristen untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Paulus juga menangisi mereka yang menolak Injil, sebuah pilihan yang akan mengakibatkan kehancuran mereka.

Berbeda dengan guru-guru palsu yang berfokus pada “hal-hal duniawi” (Filipi 3:19), orang percaya seharusnya memiliki perspektif yang jauh berbeda tentang kehidupan. Seperti yang Paulus catat, sekali lagi, tanah air kita adalah di surga, bukan di bumi ini. Kewarganegaraan yang bertanggung jawab itu penting di dunia, tetapi tujuan akhir kita bukanlah di dunia ini, melainkan bersama Tuhan di surga. Yesus juga mengajarkan bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36) dan bahwa Dia bukan dari dunia ini (Yohanes 8:23).

Daripada berfokus pada hal-hal yang bersifat sementara di bumi, pusat perhatian orang percaya adalah pada Kristus dan kedatangan-Nya kembali. Kita seharusnya tidak berfokus pada keserakahan, dosa, kesuksesan, harta, dan hal-hal duniawi. Apalagi mempersoalkan keunggulan marga, suku atau bangsa kita, padahal kita tahu semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Sebaliknya, perhatian kita seharusnya pada apa yang menyenangkan Tuhan. Para rasul percaya bahwa Yesus dapat datang kembali kapan saja, mengajarkan bahwa Kristus akan datang seperti yang dijanjikan-Nya.

Orang percaya harus menjalani hidup yang kudus, siap untuk kedatangan-Nya kembali. Kita harus mengasihi dan menghargai sesama tanpa memandang bulu. Lebih jauh, kita harus membantu menjadikan semua bangsa murid-Nya, membagikan kabar baik kepada orang lain sehingga mereka juga dapat menghabiskan kekekalan bersama Tuhan sebagai orang pilihan (Matius 28:18–20).

Bagaimana kita bisa hidup di dunia tetapi berfokus ke surga? Itu tidak mudah, apalagi jika kita mengalami penderitaan atau masalah. Sekalipun ada rumput di lahan yang kita diami, rumput di lahan tetangga selalu terlihat lebih hijau. Dalam hal ini, orang percaya dapat menantikan saat ketika setiap rasa sakit dan masalah yang kita alami dengan tubuh duniawi kita akan ditukar dengan tubuh yang baru dan lebih baik, yang akan bertahan selamanya bersama Tuhan.

Pagi ini, Paulus mengingatkan para pembaca bahwa Allah yang sempurna ini, dengan tubuh kebangkitan yang sempurna, tentu memiliki kuasa untuk kembali dan menyediakan tubuh yang dimuliakan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Orang-orang percaya yang adalah warga surgawi dari berbagai bangsa yang dapat merasa terhibur dengan masa depan mereka, mengetahui bahwa Allah memiliki kuasa untuk mengubah tubuh kita dan menjaga kita tetap aman bersama-Nya dalam kerajaan-Nya yang akan datang.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:1-2

Bagaimana bisa untung jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi?

“Sesungguhnya, ia tak mengetahui apa yang akan terjadi, karena siapakah yang akan mengatakan kepadanya bagaimana itu akan terjadi?” Pengkhotbah 8:7

Hari ini adalah hari tahun baru Imlek yang dirayakan oleh mereka yang marganya berasal dari Tiongkok. Di Australia, hari tahun baru Imlek bukan hari libur umum, dan hanya dirayakan oleh sebagian orang Tionghoa dan sanak mereka. Salah satu ucapan tahun baru yang sangat populer di kalangan Tionghoa adalah “Gong XI Fa Cai” yang tidak ada hubungannya dengan tahun baru. “Gong Xi Fa Cai” sebenarnya berarti “Semoga Banyak Rezeki” atau “Semoga Jadi Kaya”. Walaupun demikian, sudah merupakan kebiasaan di kalangan masyarakat Tionghoa untuk mendoakan agar teman dan sanak keluarga bisa hidup sejahtera, beruntung dan memperoleh kemakmuran di tahun yang baru. Kemakmuran memang sering dianggap sebagai satu hal yang penting, untuk tidak dikatakan hal yang terpenting dalam hidup seseorang.

Hal menjadi makmur dalam arti kaya secara materi (rich) dan hal beruntung (lucky) adalah dua hal yang bertentangan dengan ajaran Kristen. Sekalipun ajaran Kristen tidak menentang usaha untuk mencari hasil dan mendapat untung (laba) dalam bisnis, mengejar kemakmuran dan berharap akan nasib mujur bukanlah apa yang dianggap benar oleh sebagian besar orang Kristen. Orang Kristen memohon kepada Tuhan agar mereka dapat merasa cukup dalam segala keadaan, dan percaya bahwa semua yang terjadi dalam hidup mereka bukanlah tergantung pada nasib baik (luck), tapi pada kehendak Tuhan.

Dalam hal saha untuk mencapai hidup sejahtera didunia, Salomo pernah berkata bahwa hati orang bijak seharusnya mengerti kapan ia harus melakukan sesuatu dan bagaimana cara yang baik untuk melakukannya.

“Siapa yang mematuhi perintah tidak akan mengalami perkara yang mencelakakan, dan hati orang berhikmat mengetahui waktu pengadilan, karena untuk segala sesuatu ada waktu pengadilan, dan kejahatan manusia menekan dirinya.” Pengkhotbah 8: 5-6

Hikmat seseorang akan sangat berguna dalam hidup, yang melalui berkat Allah bisa dipakai untuk menyadari kapan sesuatu yang tidak baik bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya. Adam dan Hawa seharusnya sadar bahwa pada saat ular datang menjumpai mereka, mereka harus berpegang teguh pada perintan Allah untuk tidak melanggarnya. Tetapi Salomo dalam ayat 7 di atas menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang memiliki hikmat itu, dan bahwa bahkan orang yang paling bijak pun dapat dikejutkan oleh malapetaka yang tidak mereka duga sebelumnya. Oleh karena itu, pada tahun baru ini, adalah perlu bagi kita, dengan hikmat, untuk kita menyadari kemungkinan datangnya bahaya/ancaman dalam hidup kita dan mempersiapkan diri terhadap masalah yang datang secara tiba-tiba. Itu bukan soal untung atau luck.

Semua peristiwa yang menyangkut kita, dengan waktu yang tepat untuk itu, telah ditetapkan atau diizinkan Allah untuk terjadi, sesuai dengan kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya. Untuk segala tujuan-Nya ada waktu yang telah Ia tetapkan sebelumnya, dan itu adalah waktu yang terbaik bagi Dia.

Ayat di atas menegaskan bahwa kita sangat tidak tahu tentang peristiwa-peristiwa mendatang dan waktu serta musimnya. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, karena siapakah yang dapat memberi tahu dia kapan atau bagaimana itu akan terjadi? Hal itu tidak dapat diramalkan olehnya atau diberitahukan kepadanya; bintang-bintang tidak dapat meramalkan apa yang akan terjadi, demikian pula ilmu ramalan. Allah, dalam hikmat-Nya, telah menyembunyikan dari kita pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di masa depan, agar kita selalu siap menerima kehendak Tuhan dan selalu mau bergantung kepada Dia dalam setiap rencana kita. Ini tidak mudah kita terima oleh manusia yang berharap pada kesuksesan dan keberuntungan.

Dalam Perjanjian Baru, Yakobus 4:13–17 berfokus pada kesombongan dalam merencanakan kesuksesan kita sendiri tanpa mengakui bahwa kita bergantung pada Tuhan. Seperti Pengkhotbah, Yakobus menyatakan bahwa adalah kebodohan untuk mengabaikan fakta bahwa kita tidak dapat melihat masa depan. Hidup kita pendek dan rapuh. Yakobus tidak menyatakan bahwa kita tidak perlu membuat rencana. Sebaliknya, kita harus selalu membuat rencana dengan kesadaran bahwa rencana itu hanya dapat berhasil jika Tuhan mengizinkannya. Sikap lain apa pun adalah berdosa, sombong, dan picik.

Sementara Yakobus 4:13 dan Pengkhotbah 8:7 menyinggung tema tentang manusia yang tidak mampu mengendalikan masa depan, Yakobus menekankan tentang dosa kesombongan dan mengandalkan diri sendiri dalam perencanaan, sementara Pengkhotbah menyoroti kesia-siaan dalam mencoba memahami atau memanipulasi sifat kehidupan yang tidak dapat diprediksi, yang sering kali menyarankan penerimaan kedaulatan Tuhan bahkan ketika segala sesuatunya tampak tidak adil.

Yakobus 4:13-14 terutama mengkritik sikap arogan seseorang yang membanggakan rencana masa depan seolah-olah mereka memiliki kendali penuh atas hidup mereka, dengan mengatakan, “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”. Untung tidak dapat dicari, malang tidak dapat ditolak.

Pagi ini kita harus menyadari kesombongan kita sendiri jika kita mempercayai bahwa kita adalah penguasa nasib kita sendiri. Kita ingin menganggap diri kita mampu melakukan apa pun yang kita pikirkan, terutama jika itu melibatkan pengumpulan uang, status atau kenyamanan bagi diri kita sendiri. Masalah pertama dengan itu, tulis Yakobus, adalah bahwa kita tidak dapat memprediksi atau mengendalikan masa depan. Kita benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Selain itu, hidup kita bersifat sementara dan rapuh. Kita adalah kabut yang ada di sini sebentar lalu menghilang.

Jika kita mendapat sesuatu yang tidak kita harapkan, hidup kita terasa sangat pahit. Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa kita harus membuat rencana jika segala sesuatu tidak dapat kita terka. Mungkinkah itu karena nasib malang atau kurang beruntung? Yakobus tidak bersikap pesimistis. Ia tidak menyangkal nilai perencanaan atau penilaian yang baik. Seperti yang ditunjukkan ayat 14, Yakobus mengutuk pernyataan semacam ini dalam pola pikir yang tidak dipengaruhi oleh Tuhan. Ia meminta kita untuk memahami dan menerima keterbatasan manusiawi kita alih-alih mencoba mengabaikannya.

Menyadari betapa bergantung dan rapuhnya kita sebenarnya adalah langkah besar untuk melepaskan diri dari pengejaran uang, kekuasaan, dan kesenangan yang sia-sia. Pengkhotbah dan Yakobus ingin kita menyadari bahwa setiap momen, setiap gerakan kita, bergantung pada kasih karunia, belas kasihan, dan kehendak Tuhan. Kita harus percaya bahwa Dia akan menyediakan, menjadi Hakim, dan mengangkat kita pada waktu-Nya. Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa semua rencana kita bergantung pada-Nya, dan Dia dapat mengubahnya kapan saja.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi mereka yang merayakannya.

Mengapa orang Kristen tidak boleh membanding-bandingkan ras

Pada tahun 1960an, keluarga saya mempersiapkan diri untuk pergi ke negara Tiongkok. Pada saat itu, pemerintahan Tiongkok memberi kesempatan untuk penduduk Indonesia keturunan Tionghoa untuk “pulang kandang”. Saya masih ingat bahwa keluarga saya mempersiapkan diri dengan membeli koper besi besar untuk memuat pakaian dan barang keperluan lainnya, itu karena perjalanan akan dilakukan dengan kapal laut. Selain itu, kami juga membeli berbagai alat rumah tangga yang disesuaikan dengan keadaan di “tanah leluhur”, termasuk setrika pakaian tenaga arang, karena listrik mungkin belum tersedia di tempat yang kami tuju.

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pemerintah Tiongkok secara tiba-tiba membatalkan program migrasi ini. Banyak orang yang kecewa dan mengalami kerugian finansial karena sudah menjual barang-barang dan bahkan rumah mereka. Tetapi, mereka tidak sadar waktu itu bahwa mereka termasuk orang yang beruntung, karena mereka terhindar dari Revolusi Budaya. Revolusi Budaya Tiongkok adalah gerakan sosial-politik yang berlangsung dari tahun 1966 hingga 1976. Revolusi Budaya Tiongkok menelan korban jiwa yang banyak dan menyebabkan kekacauan, kelaparan, dan stagnasi perekonomian. Sejarawan memperkirakan bahwa sekitar 500.000 hingga 2 juta orang meninggal dunia akibat Revolusi Budaya. Pada tahun 1981, Partai Komunis Tiongkok mengakui bahwa Revolusi Budaya adalah langkah yang salah.

Semenjak saat itu negara Tiongkok mengalami berbagai perubahan baik dalam bidang politik, hukum maupun ekonomi. Kemajuan ekonomi yang mulanya terjadi secara perlahan-lahan, menjadi sangat pesat selama 30 tahun terakhir. Dengan itu, muncullah persaingan antara dua negara: Amerika dan Tiongkok. Kedua negara berusaha untuk menjadi negara terbesar di dunia baik dalam bidang ekonomi, budaya, teknologi maupun militer. Kedua negara sering membuat propaganda untuk menarik perhatian negara lain agar mau “berkiblat” kepada mereka. Dengan adanya persaingan antara dunia Barat dan dunia Timur itu, tidak dapat dihindari adanya orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah lebih baik dari orang lain karena etnis mereka.

Etnis adalah pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri khas sosial yang membedakannya dari kelompok lain. Ciri-ciri tersebut meliputi bahasa, adat istiadat, kepercayaan, nilai, sejarah, dan hubungan kekerabatan. Etnis juga dikenal sebagai suku bangsa. Etnisitas adalah kesadaran kolektif individu sebagai bagian dari suatu kelompok etnis. Istilah yang paling umum digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan ras dan suku bangsa lain adalah “bangsa” (Ibrani, goyim; Yunani, ethne), meskipun Alkitab juga menggunakan istilah lain.

Bagaimana orang Kristen menagggapi masalah kebanggan etnis dan suku bangsa? Alkitab diilhami secara ilahi dan tidak dapat salah, jadi apa yang dikatakannya tentang golongan etnis menetapkan standar bagi apa yang diyakini dan dipraktikkan orang Kristen.

Dalam uraian berikut, saya menguraikan 12 ayat Alkitab yang menyentuh ras dan suku bangsa, dan saya memberikan penjelasan singkat tentang masing-masing ayat. Ke-12 ayat Alkitab ini mengikuti alur cerita narasi Alkitab: penciptaan, Kejatuhan, dan penebusan. Daftar ini bersifat ilustratif, bukan menyeluruh.

1. Diciptakan menurut Gambar Allah (Kejadian 1:27)

Menurut Kejadian 1:27, Allah menciptakan semua manusia menurut gambar-Nya, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Penciptaan manusia menurut gambar Allah merupakan dasar martabat dan kesetaraan manusia, serta kesucian hidup (Kejadian 9:6).

2. Dirusak oleh Dosa (Roma 5:12)

Meskipun diciptakan menurut gambar Allah dan diberkati untuk hidup di Firdaus, Adam dan Hawa tidak menaati Allah dan memakan buah terlarang dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 3:1–24). Rasul Paulus mengajarkan dalam Roma 5:12 bahwa dosa Adam dan Hawa menjangkiti seluruh umat manusia, dan bahwa seluruh umat manusia meniru Pasangan Pertama dalam dosa mereka.
Dosa masuk ke dunia melalui satu orang, dan kematian melalui dosa, dan dengan cara ini kematian datang kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Jika digabungkan dengan poin pertama, ini berarti bahwa tidak ada ras atau suku bangsa yang lebih suci atau lebih berdosa daripada yang lain. Semua diciptakan sama, dan semua sama-sama jatuh.

3. Dihakimi Secara Tidak Memihak (Roma 2:11)

Semua manusia bersalah di hadapan Allah dan layak untuk dihakimi. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah adalah hakim yang tidak memihak. Seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam Roma 2:11, “Allah tidak pilih kasih.” Paulus membuat pernyataan ini dalam konteks menjelaskan standar yang akan digunakan Allah pada Hari Penghakiman (Roma 2:1–16). Mengacu pada Mazmur 62:12 dan Amsal 24:12, ia menulis bahwa “Allah ‘akan membalas setiap orang menurut perbuatannya’” (Roma 2:6). Secara tersirat, Allah akan menggunakan standar yang sama baik seseorang adalah “Yahudi” atau “non-Yahudi” (Roma 2:9–10).

4. Dipilih untuk Memberkati Bangsa-Bangsa (Kejadian 12:1–3,7)

Kejadian 12:1–7 menggambarkan pemilihan atau seleksi Abraham (dan keturunannya) oleh Allah. Mudah untuk salah mengartikan pemilihan Abraham oleh Allah sebagai contoh keberpihakan, seolah-olah Allah lebih memihak satu kelompok orang daripada yang lain. Namun, pada kenyataannya, pemilihan Abraham bersifat misioner. Allah memilih Abraham dan keturunannya untuk memberkati bangsa-bangsa:

Tuhan telah berfirman kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari bangsamu dan dari rumah ayahmu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau; Aku akan membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan siapa yang mengutuk engkau akan Kukutuk; dan semua bangsa di bumi akan diberkati melalui engkau. … Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berkata, “Kepada keturunanmu [harfiah, benih] akan Kuberikan negeri ini” (ayat 1–3, 7).

Dalam Perjanjian Baru, rasul Paulus mencatat bahwa Kristus adalah penggenapan janji Allah kepada Abraham (Galatia 3:16): Janji-janji itu diucapkan kepada Abraham dan kepada keturunannya. Kitab Suci tidak mengatakan “dan kepada keturunan,” dalam arti banyak orang, tetapi “dan kepada keturunanmu,” yang berarti satu orang, yaitu Kristus.

5. Diperintahkan untuk Mengasihi Orang Asing (Imamat 19:34)

Karena Allah tidak memihak dan ingin memberkati bangsa-bangsa, Ia memerintahkan umat pilihan-Nya, Israel, untuk mengasihi orang asing, yaitu memperlakukan mereka dengan tidak memihak (Imamat 19:34):
Orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu harus diperlakukan seperti orang Israel asli. Kasihilah mereka seperti dirimu sendiri, karena kamu pun orang asing di Mesir. Akulah Tuhan, Allahmu.

6. Diperintah dengan Penuh Kemurahan Hati (Kisah Para Rasul 17:26)

Meskipun alur cerita Perjanjian Lama berfokus terutama pada umat pilihan Allah, Israel, kita tidak boleh salah menafsirkan ini sebagai berarti Allah tidak menyadari atau tidak terlibat dalam sejarah kelompok orang lain. Dalam Kisah Para Rasul 17:26, Paulus menyampaikan Injil kepada jemaat Areopagus. Ia berfokus pada tata kelola sejarah yang penuh pemeliharaan Tuhan, bahwa dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa, supaya mereka mendiami seluruh muka bumi; dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dalam sejarah dan batas-batas tanah mereka. Kristus tidak pilih-pilih dalam tawaran keselamatan-Nya kepada manusia.

7. Mesias untuk Semua Bangsa (Yesaya 42:1–7)

Para nabi Perjanjian Lama untuk menceritakan kedatangan seorang raja keturunan Daud yang akan menggenapi janji-janji Allah tidak hanya kepada Israel, tetapi juga kepada bangsa-bangsa. Kita melihat ini dalam Yesaya 42:1-7, di mana Allah mengatakan ini melalui nabi: “Lihat, ini hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan; Aku akan memberikan Roh-Ku kepadanya, supaya ia memberi keadilan kepada bangsa-bangsa. … Aku, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud yang benar; Aku akan memegang tanganmu. Aku akan memelihara engkau dan membuat engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia dan terang bagi bangsa-bangsa lain (ayat 1,6). Injil Matius mengutip nubuat ini dan menyatakan bahwa Yesus Kristus menggenapinya (Matius 12:15-21).

8. Semua Dibenarkan dengan Cuma-Cuma (Roma 3:22-24)

Dalam banyak hal, rasul Paulus merenungkan lebih dalam daripada penulis Perjanjian Baru lainnya tentang hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dalam pekerjaan Kristus. Kita telah melihat apa yang Paulus tulis tentang keberdosaan manusia dan ketidakberpihakan ilahi. Dalam Roma 3:22-24, ia berpendapat bahwa “semua” dipengaruhi oleh dosa dan dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Kebenaran ini diberikan melalui iman kepada Yesus Kristus kepada semua orang yang percaya. Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan semua orang dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus.

Kristus tidak membeda-bedakan dalam tawaran keselamatan-Nya kepada umat manusia. Namun, kata semua di sini tidak berarti setiap orang akan diselamatkan terlepas dari apa yang mereka yakini. Paulus menulis “kepada semua orang yang percaya.” Ini menunjukkan bahwa Kristus membuat pendamaian bagi semua orang, sehingga setiap orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus akan diselamatkan.

9. Dicurahkan atas Semua Orang (Kisah Para Rasul 2:17)

Kristus tidak hanya menawarkan pembenaran kepada semua ras dan suku bangsa, tetapi Ia juga mencurahkan Roh Kudus tanpa pandang bulu. Lukas mencatat pencurahan Roh Kudus dan khotbah Petrus tentang hal itu dalam Kisah Para Rasul 2:1-41. Mengacu pada Yoel 2:28, Petrus mengatakan ini dalam Kisah Para Rasul 2:17: “Pada hari-hari terakhir, demikianlah firman Allah, Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia.” Dalam Kitab Kisah Para Rasul, Lukas menceritakan kisah penyebaran Injil dari Yerusalem ke Yudea dan Samaria ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Pada titik-titik kritis dalam narasi tersebut, Roh Kudus turun ke atas orang-orang yang bertobat untuk menunjukkan kepada Gereja bahwa Allah sedang memasukkan kelompok-kelompok orang baru dalam tubuh Kristus. Ini jelas dalam Kisah Para Rasul 10, di mana Injil pertama kali datang kepada orang bukan Yahudi Kornelius dan seisi rumahnya melalui khotbah Petrus. Ketika merenungkan peristiwa ini kemudian, Petrus berkata: “Allah, yang mengenal hati manusia, telah menunjukkan bahwa Ia telah menerima mereka dengan memberikan Roh Kudus kepada mereka, sama seperti kepada kita. Ia tidak membedakan antara kita dengan mereka, sebab Ia telah menyucikan hati mereka oleh iman” (Kisah Para Rasul 15:8–9).

10. Orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Galatia 3:28)

Salah satu implikasi utama dari dibenarkan oleh iman dan dibaptis dalam Roh Kudus adalah bahwa ras dan etnis tidak dapat digunakan untuk membedakan keanggotaan dalam tubuh Kristus. Galatia 3:28 menjelaskan hal ini dengan jelas, dan juga menunjukkan bahwa baik status sosial ekonomi maupun status biologis tidak dapat digunakan sebagai penanda batas: Tidak ada orang Yahudi atau orang bukan Yahudi, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Inti pernyataan ini bukanlah bahwa orang Kristen kehilangan identitas ras atau etnis mereka ketika mereka mengikuti Kristus, atau bahwa mereka berhenti menjadi laki-laki atau perempuan, atau kaya atau miskin. Intinya adalah bahwa orang Kristen tidak dapat menggunakan hal-hal ini untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih disukai (atau kurang disukai) oleh Tuhan. Kesatuan dalam tubuh Kristus melarang penggunaan penanda identitas ini untuk tujuan tersebut.

11. Misi untuk Semua Bangsa (Matius 28:18–20)

Karena Yesus Kristus adalah Mesias bagi semua bangsa, karena semua orang telah berdosa dan dihakimi tanpa pandang bulu, karena Kristus mati untuk memberikan pembenaran bagi semua orang melalui iman, dan karena Roh Kudus telah dicurahkan kepada semua manusia, Gereja memiliki mandat untuk membawa Injil kepada setiap bangsa. Itulah inti dari Amanat Agung yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada para pengikut-Nya sebelum Kenaikan-Nya (Matius 28:18–20): “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

12. Kumpulan Besar Orang Banyak (Wahyu 7:9-10)

Akhirnya, kita harus memperhatikan bahwa Kitab Wahyu menggambarkan akhir sejarah manusia sebagai kumpulan besar orang di hadapan takhta Allah dalam penyembahan (Wahyu 7:9-10): Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

Pagi ini kita harus menyadari bahwa pada sepanjang sejarah manusia, orang-orang telah menggunakan ras dan etnis untuk membedakan diri mereka dari orang lain. Terlalu sering, alih-alih mengenali gambar Allah dalam diri satu sama lain, manusia telah meninggikan kelompok ras dan etnis mereka di atas kelompok ras dan etnis lainnya. Hal ini makin terlihat pada zaman sekarang, di mana berbagai media seperti (TikTok, Facebook dan Youtube) bisa dipakai untuk pemujaan ras, etnis dan bangsa tertentu. Sayangnya, bahkan beberapa gereja Kristen dan banyak orang Kristen menyerah pada godaan superioritas ras dan etnis.

Dari tinjauan singkat 12 ayat Alkitab utama ini, jelaslah bahwa Allah tidak menoleransi rasisme atau etnosentrisme dalam bentuk apa pun. Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Jika kita memandang seluruh umat manusia, sebenarnya hanya satu genus yang tercakup: marga manusia. Ketika manusia jatuh, Allah bermaksud menebus semua orang. Ia menyelesaikan penebusan di dalam Kristus, menerapkannya melalui Roh Kudus, dan memanggil Gereja untuk bertindak tanpa memihak dan mencerminkan keberagaman surga dalam keanggotaan dan misinya kepada bangsa-bangsa.

Disadur bebas dari Twelve Bible Verses about Race and Ethnicity, George P. Wood

Apakah gelas Anda setengah kosong atau setengah penuh?

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4:4

Apakah gelas Anda setengah kosong atau setengah penuh? adalah ungkapan umum yang digunakan secara retoris untuk menunjukkan bahwa suatu situasi dapat menjadi penyebab munculnya optimisme (setengah penuh) atau pesimisme (setengah kosong); atau umumnya digunakan sebagai uji lakmus untuk menentukan pandangan seseorang tentang hidup di dunia. Tujuan pertanyaan ini adalah untuk mendemonstrasikan bahwa situasi yang Anda alami dapat dilihat dalam berbagai cara tergantung sudut pandang Anda tentang masih adanya kesempatan hidup tenang, atau masih adanya masalah dalam situasi tersebut.

Idiom ini digunakan untuk menjelaskan cara orang-orang memandang berbagai peristiwa dan objek dalam hidup sehari- hari. Setiap orang memiliki beragam persepsi dan persepsi adalah penafsiran kenyataan menurut pandangan seseorang. Bagi orang Kristen ini mungkin dikaitkan dengan iman, seseorang seperti yang banyak disampaikan dalam khotbah di gereja. Jika Anda memiliki iman yang besar, Anda akan selalu melihat situasi yang kurang baik bukan sebagai gelas yang setengah kosong, tetapi sebagai gelas yang setengah penuh. Tetapi, pandangan ini tidak sepenuhnya benar.

Sebagian dari pandangan Anda tentang apa yang terjadi dalam hidup Anda dipengaruhi oleh kebiasaan Anda dalam berpikir. Mereka yang sering memikirkan apa yang kurang baik, cenderung untuk merasa bahwa gelas kehidupan selalu setengah kosong.

Filipi adalah pembahasan Paulus tentang menjalani kehidupan Kristen. Dalam surat kepada jemaat Filipi ini, Paulus menyoroti tema-tema seperti sukacita dan kemuliaan. Ia juga memberi penekanan besar pada bagaimana pemikiran orang Kristen—sikap mereka—mempengaruhi cara mereka menjalani iman mereka. Paulus sangat bersyukur atas dukungan jemaat Filipi, tetapi juga prihatin dengan pengaruh berbagai guru palsu. Surat ini kurang bersifat teologis dibandingkan sebagian besar tulisannya yang lain, dan lebih bersifat praktis.

Orang Kristen yang beriman memang masih bisa merasa kuatir dan bahkan cenderung kuatir atas terjadinya sesuatu yang dirasa kurang baik. Karena itu, Paulus menulis suratnya kepada orang di Filipi. Pasal 4 berbicara tentang kekuatan Kristus di saat-saat penderitaan dan kekacauan. Ini termasuk doa dan dorongan (Filipi 4:1-9) dan fokus pada penyediaan Allah (Filipi 4:10-20), diikuti dengan kesimpulan singkat (Filipi 4:21-23). Ayat 1 sebenarnya menyimpulkan bagian Paulus sebelumnya, dalam akhir pasal 3, dengan dorongan untuk “berdiri teguh” di dalam Tuhan.

Paulus kemudian beralih ke fokus pada bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 4:4). Orang Kristen tidak boleh merasa cemas tentang apa pun, tetapi sebaliknya harus memanjatkan segala macam doa kepada Tuhan (Filipi 4:6). Ini tidak berarti sama sekali tidak berpikir. Sebaliknya, ini berarti tidak ada rasa takut atau cemas yang berkelanjutan.

Damai sejahtera Allah melindungi umat-Nya (Filipi 4:7). Karena itu, Paulus juga mendorong para pembacanya untuk berfokus pada hal-hal yang baik (Filipi 4:8). Ini mencakup semua yang telah mereka pelajari, terima, dengar, dan lihat dalam diri Paulus (Filipi 4:9). Orang Kristen di Filipi diperintahkan untuk memikirkannya, dan menerapkannya, dengan mengetahui bahwa damai sejahtera Allah akan menyertai mereka (Filipi 4:9). Ini adalah sesuatu yang bergantung pada keputusan setiap orang Kristen untuk menerimanya.

Dalam Filipi 4:4, Paulus kembali lagi ke tema sukacita bagi umat percaya. Kali ini, ia sangat menekankan bahwa sikap seperti itu seharusnya permanen, bukan hanya untuk sementara. Ini berarti bukan buatan manusia. Paulus menggemakan kata-kata Filipi 3:1, untuk “bersukacita dalam Tuhan,” sebuah frasa yang juga digunakan Paulus dalam Filipi 4:10. Orang percaya menemukan sukacita dan harapan mereka di dalam Tuhan. Sukacita merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) dan penting bagi setiap orang percaya.

Paulus tampaknya secara khusus berfokus pada gagasan bahwa bersukacita harus terjadi setiap saat. Kita sering lupa bahwa Paulus menulis kata-kata ini saat menjadi tahanan di Roma. Ia telah ditangkap oleh pemerintah secara tidak sah selama beberapa waktu, mengalami karam kapal dalam perjalanan ke sana, digigit ular, dan menjadi tahanan rumah selama dua tahun (Kisah Para Rasul 27:39–8:16).

Paulus memiliki banyak alasan untuk mengeluh dan membenci penguasa, tetapi justru memilih untuk berfokus pada bersukacita. Baik pengajaran maupun teladannya memberikan contoh yang luar biasa. Setiap orang percaya harus berusaha untuk bersukacita di dalam Tuhan meskipun dalam situasi yang sulit, seperti yang dilakukan Paulus. Hidup di dunia sudah pasti bukanlah sempurna seperti gelas yang terisi penuh. Tetapi, untuk kebaikan Anda sendiri, semoga Anda melihat hidup Anda sebagai gelas yang setengah penuh, dan bukannya setengah kosong!

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus‬ ‭4‬:‭31‬ ‭

Hal menaati pemimpin kita di dunia

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ibrani 13:17

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teologi muda Jerman yang sangat terkenal, menulis sebuah buku yang berjudul : “Harga Yang Harus Dibayar Oleh Seorang Murid Kristus.” Buku ini dilatar-belakangi oleh pengalaman penulis sendiri yang mengalami pergumulan berat di dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Dua hari sebelum Hitler diangkat menjadi pemimpin di Jerman, Bonhoeffer menyampaikan sebuah khotbah melalui radio. Dalam khotbahnya, ia menyatakan pengagungan Hitler sebagai penyembahan berhala. Pemerintah Nazi Jerman menyetop siaran radio itu sebelum selesai. Dan mulai saat itu Bonhoeffer berjuang terus melawan Hitler. Bonhoeffer selalu menerima ancaman, namun ia menolak untuk menyerah.

Melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tulisannya ia selalu mengecam pemerintahan Hitler sebagai pemerintahan kafir yang akan dihukum oleh Allah. Oleh sebab itu ancaman terhadap dirinya makin gencar dan keras. Teman-temannya selalu berusaha menolongnya, mereka membujuk agar mau menyingkir ke Amerika untuk sementara waktu. Mereka telah berusaha agar Bonhoeffer dapat mengajar di Amerika paling sedikit dalam jangka waktu tiga tahun. Namun Bonhoeffer tidak kerasan di sana; ia berada di Amerika hanya sekitar satu bulan, kemudian kembali ke tanah airnya untuk melanjutkan perlawanan terhadap Hitler.

Pada tahun 1942 ketika pencobahan pembunuhan terhadap Hitler untuk kesekian kalinya gagal, ia ditawan oleh tentara Nazi. Selama tiga tahun ia hidup di dalam penjara, Bonhoeffer tidak berhenti menulis. Karena pendiriannya dan visinya tidak berubah, ia akhirnya dihukum gantung. Tragisnya, Bonhoeffer meninggal hanya beberapa hari sebelum Hitler bunuh diri, dan beberapa minggu sebelum tentara Nazi menyerah dalam perang dunia kedua.

Kisah kehidupan Bonhoeffer sudah banyak dipelajari orang Kristen. Mereka tertarik akan sikap Bonhoeffer yang berani melawan pimpinan negara. Benarkah sikap Bonhoeffer terhadap Hitler? Bagaimana orang Kristen harus bersikap terhadap para pemimpin mereka? Perlu dicatat bahwa ini menyangkut dua pimpinan yang berbeda: pimpinan gereja Tuhan di dunia dan pimpinan bangsa/negara. Marilah kita membahas Ibrani 13:17 dan Roma 13:1.

Ibrani 13 sebagian besar berisi daftar petunjuk praktis untuk kehidupan Kristen. Pesan umum dari ayat ini tampaknya adalah “janganlah membuat hidup para pemimpin rohanimu lebih sulit daripada yang sudah ada.”. Tokoh-tokoh ini menunjukkan iman meskipun mengalami kesulitan dan penganiayaan, dan mampu “berpegang teguh” untuk percaya kepada Tuhan. Penulis selanjutnya mengembangkan gagasan ini dengan mencatat bahwa orang Kristen harus mencontoh para pemimpin rohani dan dengan hati-hati menghindari perubahan doktrin (Ibrani 13:8–9). Menghormati pemimpin rohani adalah kunci untuk pemuridan (1 Tesalonika 5:12; Ibrani 13:7), sama pentingnya dengan jenis pembelajaran lainnya.

Ayat 17 khususnya mengingatkan pembaca bahwa mereka yang berada dalam posisi sebagai pemimpin rohani dijunjung oleh Tuhan. Surat-surat seperti Titus, 1 Timotius, dan 2 Timotius menjelaskan persyaratan ketat yang diterapkan kepada mereka yang mengaku mengajarkan Firman Tuhan. Yakobus 3:1 dengan jelas menunjukkan bahwa mereka yang berani mengajar akan dimintai pertanggungjawaban lebih besar oleh Allah. Orang-orang seperti itu tidak hanya lebih tahu (Ibrani 2:1-4; 10:29; Lukas 12:47-48), mereka juga sangat memengaruhi orang lain dalam perjalanan mereka bersama Kristus (Markus 9:42; 2 Petrus 2:1-3). Oleh sebab itu Tuhan membedakan mereka dari pimpinan dunia lainnya.

Konteks Ibrani 13:17 secara khusus berkaitan dengan ketundukan kepada para pemimpin Kristen di gereja. Namun, berbagai bagian Alkitab lainnya mendorong kita untuk tunduk kepada semua bentuk otoritas, bahkan pemerintahan sekuler (Roma 13:1–2; 1 Petrus 2:13–17). Tunduk kepada otoritas mencakup mengakui peran yang dimiliki para pemimpin dalam hidup kita dan mematuhi instruksi mereka. Mengenai hidup kita di dunia, tunduk kepada otoritas melibatkan pemenuhan tugas sipil kita dan mematuhi hukum negara. Pada pihak yang lain, dalam konteks gerejawi, tunduk kepada otoritas berarti menghormati para pemimpin gereja kita, mencari bimbingan mereka, menaati instruksi mereka, dan meniru mereka.

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” Ibrani 13:7

Seorang pemimpin rohani yang saleh dan mengajarkan kebenaran dimintai pertanggungjawaban langsung oleh Allah, dan harus bekerja untuk kebaikan orang lain. Ketika orang-orang di gereja atau kelompok tertentu membuat pendeta, penatua, guru, atau pemimpin lain untuk “berkeluh kesah”, mereka menambahkan beban yang tidak perlu pada beban yang sudah berat. Istilah Yunani yang digunakan di sini adalah stenazontes, yang merujuk pada kesedihan, erangan, atau keluh kesah. Singkatnya, mereka yang berada di bawah kepemimpinan rohani haruslah mau bekerja sama sebanyak mungkin, dan bukannya bersikap keras kepala atau sulit untuk bekerja sama.

Roma 13 membahas tiga bidang besar yang harus ditangani oleh orang Kristen yang mempersembahkan diri sebagai korban hidup. Pertama, karena Tuhan menempatkan setiap otoritas duniawi untuk melayani tujuan-Nya dan karena itu orang Kristen harus tunduk kepada mereka; sekalipun gagasan ini muncul dengan konteks tertentu. Kedua, kita harus mengasihi sesama (tanpa pengecualian) seperti mengasihi diri kita sendiri. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup sebagai umat terang dan membuang perbuatan-perbuatan kegelapan seperti kemabukan, percabulan, dan kecemburuan. Kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang untuk melawan kegelapan dan, pada kenyataannya melayani Kristus dan bukannya melayani keinginan kita sendiri.

Roma 13:1–7 menjelaskan tanggung jawab orang Kristen untuk hidup dalam ketundukan kepada otoritas manusia dalam pemerintahan dunia. Alasan yang diberikan adalah bahwa setiap pemimpin pemerintahan pada akhirnya ditetapkan atau diizinkan oleh Tuhan untuk tujuan-Nya sendiri. Secara umum, pemerintahan duniawi yang secara adil sudah terpilih, berfungsi untuk mengendalikan masyarakat dan menghukum mereka yang melakukan kejahatan. Pemerintah sekuler ini melakukan hal-hal ini atas nama Tuhan. Orang Kristen juga harus membayar pajak mereka untuk mendukung pekerjaan yang Tuhan lakukan ini. Selain itu, mereka yang ada di dalam Kristus berutang rasa hormat dan penghormatan kepada otoritas yang telah ditetapkan Tuhan.

Konsep ketundukan kepada otoritas memang sering bertentangan dengan sikap individualistis kita, di mana kita sering ingin berkuasa sebagai otoritas tertinggi. Bahkan di bawah kepemimpinan yang baik, ada orang-orang masih ingin memberontak. Sebagai contoh: seberapa sering kita melampaui batas kecepatan jalan raya meskipun mengetahui risiko yang terkait? Berapa banyak orang yang ingin mengurangi pajak pendapatan mereka dengan segala cara? Penolakan terhadap otoritas ini bisa ditelusur ke taman Eden, di mana Adam dan Hawa memberontak terhadap Tuhan (Kejadian 3:1–7).

Paulus dalam Roma 13 beralih ke masalah tentang bagaimana orang Kristen yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah harus berinteraksi dengan pemerintah duniawi kita saat ini. Ia menjelaskan doktrin Alkitab tentang ketundukan kepada otoritas manusia, sesuatu yang juga diajarkan Petrus (1 Petrus 2:13–17). Sekali lagi, mereka yang ada di dalam Kristus dipanggil untuk memisahkan diri mereka dari orang yang tidak percaya dan mempercayai Allah, untuk membayar kewajiban mereka melalui pihak yang berwenang, yang kita pandang baik maupun yang kita anggap jahat.

Paulus dengan jelas menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk setiap orang. Ia menyerukan agar kita tunduk kepada otoritas pemerintah, meskipun ia tidak mengatakan bahwa kita harus menaati mereka dalam semua kasus. Paulus (Kisah Para Rasul 17:7; 2 Korintus 11:24–25) dan para rasul lainnya menolak untuk menaati perintah untuk berhenti memberitakan Injil, misalnya (Kisah Para Rasul 5:27–29). Pada zaman Hitler, ada orang Kristen yang menolak untuk melaporkan adanya orang Yahudi dikampungnya karena adanya risiko bagi orang Yahudi untuk ditangkap dan dibunuh oleh tentara Jerman. Akan tetapi, orang Kristen harus tunduk kepada mereka yang berwenang dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah.

Mengapa kita harus tunduk kepada pimpinan duniawi? Paulus menjelaskan dengan jelas: Setiap otoritas di dunia ditetapkan oleh Allah. Ini tentu saja mencakup pemimpin yang baik, pemimpin yang jahat, dan semua orang di antaranya. Ini adalah pengakuan bahwa pemerintahan manusia—secara umum—adalah otoritas yang sah, dan bahwa orang Kristen tidak dapat menggunakan iman mereka sebagai alasan untuk pelanggaran hukum sipil. Allah menempatkan semua pemimpin dunia pada tempatnya karena alasan-alasan khusus yang sering tidak kita mengerti.

Apakah kita harus tunduk kepada pemimpin negara yang kita anggap tidak pantas untuk dihormati? Kita harus ingat bahwa Paulus menulis surat ini kepada orang-orang Kristen di Roma. Pemerintahan Roma menguasai sebagian besar dunia yang dikenal pada saat itu. Pemerintahan itu dipimpin oleh Kaisar Nero dari tahun 54–68 M. Nero terkenal karena perlakuannya yang kejam dan tidak adil terhadap orang Kristen, di antara kelompok-kelompok lainnya. Kita tidak boleh berasumsi bahwa Paulus menulis kata-kata ini dengan enteng. Ia menyadari implikasi dari ajarannya; tidak mudah bagi kita untuk tunduk kepada pemimpin dunia yang kita anggap tidak pantas untuk memimpin. Bahkan dalam masyarakat modern seperti kita, kita masih berkewajiban untuk tunduk kepada otoritas, sama seperti yang dilakukan orang-orang Kristen mula-mula di lingkungan yang tidak bersahabat dan tidak bertuhan.

Perlu dicatat, ini bukanlah tentang nasionalisme buta atau ketaatan mutlak kepada manusia. Ketundukan kita kepada pemerintah juga harus diimbangi oleh kesetiaan kita kepada kerajaan Allah. Kita menghormati dan tunduk kepada otoritas, tetapi kita harus siap untuk menaati Allah lebih dari pada menaati manusia ketika situasi mengharuskan kita untuk memilih (Kisah Para Rasul 5:29).

Bagaimana dengan pemimpin gereja yang menyalahgunaan otoritas gereja? Sayangnya, penyalahgunaan rohani merupakan kenyataan yang menyedihkan di banyak gereja, dan kita harus memahami bahwa itu bukanlah rencana Tuhan untuk kerajaan-Nya di dunia. Dalam situasi seperti itu, kita harus mengingat otoritas Tuhan berada di atas semua otoritas, dan kesetiaan kita terutama kepada-Nya. Kita harus menghadapi dan menjauhkan diri dari semua bentuk penyalahgunaan rohani, terlepas dari konsekuensi yang dirasakan. Jika seorang pemimpin gereja mengeksploitasi posisinya, ia dapat dianggap sebagai guru palsu (2 Petrus 2:3) dan harus dihindari (Roma 16:17–18).

Berdoa tanpa henti adalah bernapas untuk hidup

“Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5:17.

Kitab 1 Tesalonika pasal 5 secara umum menegaskan kembali bahwa peristiwa “pengangkatan” akan terjadi dengan cepat, sehingga mereka yang tidak percaya tidak akan siap. Sebaliknya, Paulus menggambarkan orang-orang Kristen yang setia sebagai mereka yang sadar dan selalu siap untuk peristiwa ini. Bagian ini menggunakan kontras antara siang dan malam untuk menyoroti perbedaan-perbedaan tersebut. Paulus juga melengkapi suratnya dengan memberikan berbagai petunjuk praktis. Petunjuk-petunjuk ini mencakup perlunya bersikap damai, bekerja keras, dan saling memaafkan dalam menghadapi peristiwa ilahi yang sangat signifikan itu. Paulus juga menganjurkan doa yang terus-menerus dan sikap penuh sukacita dalam kehidupan orang percaya, sebelum menutup suratnya dengan perintah agar surat ini dibacakan dengan suara keras.

Pengangkatan adalah sebuah istilah dalam eskatologi Kristen, yaitu sebuah peristiwa akhir zaman di mana semua orang percaya yang hidup, bersama dengan orang percaya yang dibangkitkan, akan naik “ke awan-awan, untuk bertemu dengan Allah di udara”. Istilah ini berasal dari surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika dalam Alkitab, dimana Paulus menggunakan kata Yunani harpazo (bahasa Yunani Kuno: ἁρπάζω), yang berarti “mengambil” atau “merebut”, dan menjelaskan bahwa orang yang percaya dalam Yesus Kristus akan diambil dari bumi ke atas.

Hal pengangkatan terutama dilukiskan dalam 1 Tesalonika 4:13–18 yang menggambarkan bagaimana Allah membangkitkan semua orang percaya yang telah meninggal, memberi mereka tubuh baru yaitu tubuh kemuliaan, dan kemudian meninggalkan dunia ini bersama dengan orang-orang percaya yang masih hidup, yang juga telah diberi tubuh kemuliaan. Sehubungan dengan itu, dalam 1 Tesalonika 5:12–22 Paulus memberikan serangkaian nasihat kepada jemaat di Tesalonika. Sebagai anak Tuhan yang menantikan kedatangan-Nya kembali, mereka yang mengaku percaya perlu hidup benar. Sebagai jemaat, mereka perlu berhubungan baik dengan para pemimpin mereka. Paulus juga meminta mereka untuk memperlakukan semua rekan seiman mereka dengan baik dan sabar serta berbuat baik satu sama lain. Ini berdeda dengan pendapat sebagian orang Kristen yang tidak mempedulikan cara hidup yang baik karena sudah yakin akan keselamatan mereka atau percaya bahwa karunia Tuhan akan makin besar kepada orang yang makin berdosa (Roma 6:15).

Paulus menasihati orang-orang percaya untuk selalu bersukacita dan terus berdoa. Ucapan syukur yang terus-menerus sekalipun mengalami hidup yang penuh tantangan harus menjadi penanda kehidupan mereka. Lebih jauh, Paulus memberi tahu para pembacanya untuk tidak memadamkan Roh Kudus atau bersikap negatif terhadap pelayanan kenabian. Akan tetapi, mereka diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah mereka uji dan mencari kebenarannya. Terakhir, Paulus mengarahkan para pembacanya untuk menghindari segala jenis kejahatan.

Dalam ayat 17 Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus-menerus. Tentu saja, ini tidak berarti berdoa setiap saat, siang malam tanpa berhenti. Sebaliknya, ini berarti bahwa kita harus giat berdoa, dan sering berbicara kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Bahkan di tengah-tengah pencobaan, orang percaya harus menyadari nilai yang tak terukur dalam memelihara persekutuan dengan Tuhan melalui doa yang sering dipanjatkan. Mereka percaya bahwa Tuhan ikut bekerja dalam keadaan apa pun untuk mendatangkan apa yang baik bagi umat-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Yesus adalah contoh utama tentang apa artinya berdoa terus-menerus. Ia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (Matius 6:5-13). Ia berdoa sebelum memberi makan lima ribu orang (Matius 14:19-21). Ia berdoa ketika Ia memberkati anak-anak (Matius 19:13). Ia berdoa di pagi hari (Markus 1:35) dan di malam hari (Markus 6:45-47). Ia berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk semua orang percaya berikutnya (Yohanes 17). Ia berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:36-42). Ia berdoa dari kayu salib (Lukas 23:34).

Rasul Paulus juga berdoa terus-menerus. Ia berdoa dari penjara pada tengah malam (Kisah Para Rasul 16:25). Ia berdoa setelah memberikan perintah kepada para penatua gereja di Efesus (Kisah Para Rasul 20:36). Ia berdoa di Malta (Kisah Para Rasul 28:8). Ia berdoa untuk Israel (Roma 10:1). Ia berdoa untuk gereja-gereja (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filipi 1:4; Kolose 1:3–12).

Doa adalah percakapan berkelanjutan dengan Tuhan, tidak hanya terbatas pada waktu atau tempat tertentu. Doa merupakan cara untuk menumbuhkan kesadaran terus-menerus akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Mengapa ini penting? Nasihat Paulus merupakan nasihat praktis dan rohani, khususnya bagi orang Kristen awal yang menghadapi penganiayaan. Ini dapat membantu orang percaya menyelaraskan tindakan mereka dengan apa yang mereka dengar dari Tuhan, dan dapat membantu orang percaya untuk memiliki hati yang bersedia menaati Tuhan.

Ketika pikiran kita berubah menjadi kekhawatiran, ketakutan, keputusasaan, dan kemarahan, kita harus dengan sadar dan cepat mengubah setiap pikiran menjadi doa dan setiap doa menjadi ucapan syukur. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus memerintahkan kita untuk berhenti merasa cemas dan sebaliknya, menyampaikan segala hal keinginan kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6

Ia mengajar jemaat di Kolose untuk bertekun dalam “berdoa, berjaga-jaga sambil mengucap syukur” (Kolose 4:2). Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk melihat doa sebagai senjata yang digunakan dalam berperang dalam peperangan rohani (Efesus 6:18). Saat kita menjalani hari, doa seharusnya menjadi respons pertama kita dalam menghadapi setiap situasi yang menakutkan, setiap pikiran yang mencemaskan, dan setiap tugas yang tidak kita inginkan yang diperintahkan Tuhan. Kurangnya doa akan menyebabkan kita bergantung pada diri kita sendiri dan bukannya bergantung pada kasih karunia Tuhan.

Doa yang tak henti-hentinya, pada hakikatnya, adalah ketergantungan dan persekutuan yang terus-menerus dengan Bapa. Bagi orang Kristen, doa seharusnya seperti bernapas. Anda tidak perlu berpikir untuk bernapas karena atmosfer memberi tekanan pada paru-paru Anda dan pada dasarnya memaksa Anda untuk bernapas. Itulah sebabnya menahan napas lebih sulit daripada bernapas. Demikian pula, ketika kita dilahirkan dalam keluarga Allah, kita memasuki atmosfer rohani di mana kehadiran dan kasih karunia Allah memberi tekanan, atau pengaruh, pada kehidupan kita. Doa adalah respons normal terhadap tekanan itu. Sebagai orang percaya, kita semua telah memasuki atmosfer ilahi untuk menghirup udara doa yang menyegarkan.

Sayangnya, banyak orang percaya menahan “napas rohani” mereka untuk waktu yang lama, merasa bahwa saat-saat singkat bersama Allah sudah cukup untuk memungkinkan mereka bertahan hidup. Namun, pembatasan asupan rohani mereka tersebut selalu disebabkan oleh keinginan dosa yang mementingkan diri sendiri. Faktanya adalah bahwa setiap orang percaya harus terus-menerus berada di hadirat Allah, terus-menerus menghirup kebenaran-Nya, agar berfungsi sepenuhnya.

Lebih mudah bagi orang Kristen untuk merasa aman dengan berasumsi bahwa mereka adalah domba-domba yang baik. Terlalu banyak orang percaya yang merasa puas dengan berkat-berkat jasmani dan kurang menginginkan berkat-berkat rohani. Ketika program, metode, dan uang menghasilkan hasil yang mengesankan, ada kecenderungan untuk mengacaukan keberhasilan manusia dengan berkat ilahi. Bila hal itu terjadi, kerinduan yang mendalam kepada Tuhan dan kerinduan akan pertolongan-Nya akan hilang. Doa yang terus-menerus, tekun, dan tak henti-hentinya merupakan bagian penting dari kehidupan Kristen dan mengalir dari kerendahan hati dan ketergantungan kepada Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa bagaimana kita bisa menghadapi tantangan hidup bergantung pada kedekatan kita kepada Tuhan. Sekalipun kita mengakui bahwa Tuhan mahakuasa, tetapi kita tidak mau untuk dekat kepada-Nya, kita tidak akan merasakan kuasa-Nya. Sekalipun kita rajin berdoa, jika doa itu hanya merupakan kebiasaan rutin dan tidak disertai rasa syukur dan penyerahan, doa itu tidak akan memberi ketenteraman kepada kita.

Yesus sobat yang setia

“Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.”Mazmur 68:6

“Yesus Sobat yang Setia”adalah himne Kristen terkenal yang diterjemahkan dari himne “What a Friend We Have in Jesus” yang aslinya ditulis oleh pendeta Joseph M. Scriven sebagai puisi pada tahun 1855 untuk menghibur ibunya, yang tinggal di Irlandia saat dia berada di Kanada. Scriven awalnya menerbitkan puisi tersebut secara anonim, dan baru menerima penghargaan penuh atas puisi tersebut pada tahun 1880-an. Nada himne tersebut dikomposisi oleh Charles Crozat Converse pada tahun 1868.

Bunyi syair lagu itu adalah sebagai berikut:

Yesus sobat yang sejati, tanggung s’gala dosaku,
tiap hal ‘ku boleh bawa, dalam doa pada-Nya.
Bila hatiku gelisah, percumalah berlelah,
bersandarlah pada Yesus, berdoalah pada-Nya.

Bila ada pencobaan, dan bimbang di hatiku,
‘ku tak akan putus asa, pada Tuhan berseru.
Tiada yang seperti Yesus, yang mau tanggung susahku,
Yesus ‘kan menguatkanku, ‘ku berdoa pada-Nya.

Adakah hatimu susah, lelah kar’na beban berat?
Yesuslah penolong kita, berdoalah pada-Nya.
Walau kawan tinggalkanmu, datanglah kepada-Nya.
Dan di dalam pelukan-Nya, hatimu sentosalah.

Himne di atas sudah tentu berkaitan dengan keadaan seseorang yang merasa kesepian, tetapi mendapat pengiburan dari Yesus. Apa itu kesepian? Dan bagaimana kita bisa mendapat penghiburan?

Meskipun definisi umum kesepian menggambarkannya sebagai keadaan menyendiri atau sendirian, kesepian lebih tepat digambarkan sebagai keadaan pikiran yang di dalamnya terdapat persepsi tentang adanya isolasi sosial. Kesepian adalah keadaan pikiran yang ditandai dengan pemisahan antara apa yang diinginkan atau diharapkan seseorang dari hubungan atau interaksi sosialnya dan apa yang dialami individu tersebut dalam hubungan atau interaksi sosialnya.

Karena didasarkan pada ekspektasi keterlibatan sosial, seseorang tidak harus terisolasi atau benar-benar sorangan wae untuk merasa kesepian. Seorang bisa saja dikelilingi oleh orang lain dan hidup dalam lingkungan yang serba cukup, tetapi mengalami kesepian. Seorang bisa kesepian di rumah sekalipun mempunyai teman hidup. Seorang bisa saja sibuk dalam aktivitas gereja, tapi tetap kesepian.

Kesepian dapat disebabkan oleh faktor situasional, baik sementara maupun permanen, oleh perubahan hidup yang secara pelan-pelan atau tiba-tiba, yang kemudian mengganggu hubungan antar manusia. Kesepian bisa juga disebabkan oleh masalah emosional seperti kecemasan atau depresi.

Seberapa umum kesepian itu? Meskipun setiap orang mungkin merasa kesepian pada suatu waktu tertentu, bagi banyak orang kesepian adalah kondisi kehidupan yang kronis, dan bisa makin memburuk dengan berjalannya waktu. Kelompok yang ditemukan berisiko tinggi mengalami kesepian meliputi wanita, baik yang lebih muda (misalnya, berusia di bawah 25 tahun) atau lebih tua (misalnya, berusia di atas 65 tahun), mereka yang tinggal sendirian, mereka yang memiliki status sosial ekonomi rendah, dan orang yang memiliki kesehatan mental dan fisik yang buruk.

Kesepian telah diidentifikasi sebagai masalah kesehatan masyarakat utama yang terkait dengan peningkatan risiko penyakit mental dan fisik, penurunan kognitif, perilaku bunuh diri, dan kematian karena semua penyebab.

Penelitian medis telah menemukan bahwa kesepian pada masa remaja dan masa muda dewasa mempunyai kaitan dengan munculnya banyak faktor risiko kardiovaskular (misalnya, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, tekanan darah, kolesterol) yang meningkat pada masa muda dewasa, dan bahwa pada masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa muda, rasa kesepian bisa menyebabkan peningkatan faktor risiko pada usia selanjutnya.

Kesepian juga dikaitkan dengan perkembangan penyakit Alzheimer, obesitas, kekakuan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, peningkatan aktivitas cortex adrenal hipotalamus-hipofisis, kurang bisa tidur nyenyak, kekebalan tubuh yang menurun, penurunan kemampuan hidup mandiri, alkoholisme, gejala depresi, keinginan dan perilaku bunuh diri, serta kematian orang di usia senja.

Apakah kesepian adalah akibat dosa? Belum tentu. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial dan Tuhan tahu bahwa tidaklah baik jika seseorang hidup sendirian:

“TUHAN Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”. Kejadian 2:18

Allah menciptakan manusia dalam bentuk pria dan wanita yang sepadan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan kebutuhan emosional, fisik, dan spiritual. Faktor sepadan ini menunjukkan bahwa Adam dan Hawa adalah sederajat sekalipun mempunyai fungsi dan kemampuan yang berlainan.

JIka Adam mendapat Hawa sebagai pasangan hidupnya, dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia membutuhkan orang-orang yang sepadan untuk mengisi hidupnya agar tidak merasa kesepian. Memang orang bisa merasa kesepian karena memang tidak ada orang lain yang bisa melengkapi kekurangannya dan menyempurnakan kebutuhan emosional, fisik, dan spiritualnya. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang merasa bahwa tidak ada orang yang bisa dianggap sepadan dengan dirinya, yang bisa menolongnya. Hal ini bisa menyebabkan orang itu tidak bisa berinteraksi secara sehat dengan orang lain dan karena itu ada rasa kesepian sekalipun mungkin tidak disadarinya. Ini mungkin disebabkan karena adanya permusuhan dengan orang lain, kesombongan diri sendiri, rasa perfeksionis, atau ketidakmampuan untuk mempercaya orang lain.

Karena kesepian adalah bagian dari kondisi manusia, tidak mengherankan bahwa beberapa orang dalam Alkitab mengalami kesepian, sekalipun itu bukan disebabkan oleh kesalahan diri sendiri. Dalam 1 Raja-raja 19, nabi Elia tampaknya menderita rasa keterasingan sosial yang membuatnya hampir bunuh diri. Paulus mungkin mengalami kesepian, seperti ketika ia memberi tahu Timotius, “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku–kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka” (2 Timoius 4:16). Yesus juga tampaknya mengalami kesepian di taman Getsemani pada malam sebelum penyaliban-Nya (Matius 26:36-46) dan saat di kayu salib (Matius 27:46).

Daud juga mengungkapkan perasaan kesepiannya dalam Kitab Mazmur. Dalam Mazmur 25:16 ia berkata, “Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.” dan dalam Mazmur 142:4 ia berkata, “Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.”

Apa yang dapat dilakukan orang Kristen untuk mengatasi kesepian? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.Ingatlah bahwa jika Anda saat ini seperti seorang anak yang tidak mempunyai orang tua, dan tidak mempunyai teman sepadan yang yang bisa menolong Anda, percayalah bahwa Anda memiliki seorang sahabat dalam diri Yesus.

Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat.” Efesus 2:14-17

Jangan pernah lupa bahwa Anda memiliki seorang sahabat dalam diri Yesus (Yohanes 15:15), dan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam diri Anda untuk memberi Anda kekuatan dalam menghadapi musim kesepian ini.

Ada orang Kristen yang karena sering dikecewakan oleh orang lain mungkin merasa bahwa persahabatan manusia tidak relevan setelah seseorang berteman dengan Kristus. Tetapi ini tidak Alkitabiah. Tuhan telah menciptakan kita untuk bersekutu, untuk bersatu di dalam hati, dengan orang lain menjadi satu tubuh dalam Kristus. Karena persatuan Anda dengan Kristus, Anda terhubung secara rohani dengan keluarga saudara-saudari yang akan mengasihi Anda dan akan menyertai Anda selamanya. Temukan keluarga Anda dengan menanamkan diri Anda dalam komunitas orang-orang percaya yang dapat mengerti keadaan Anda.

Pada pihak yang lain, jika Anda menduga seseorang yang Anda kenal sedang kesepian, hubungi mereka dan beri tahu mereka bahwa Anda ingin membantu. Jangan menundanya atau membuat alasan tentang mengapa Anda tidak memiliki waktu, kemampuan, atau perhatian. Jangan juga mengabaikan mereka karena Anda kurang cocok dengan kepribadiannya. Ketika ada orang-orang yang membutuhkan teman, orang Kristen harus bergegas untuk membantu karena kita dipanggil oleh Yesus untuk mengasihi sesama kita.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”Galatia 6:10

Kenali diri Anda agar dapat mengenali orang lain

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Bagaimana Anda mengetahui siapa diri Anda? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, tapi justru sering dilupakan. Karena setiap orang berusaha mengetahui atau mengenal diri dan sifat orang lain, tetapi jarang mengenal siapa dirinya sendiri. Inilah yang menyebabkan banyak persoalan dalam hubungan seseorang dengan orang lain, bukan saja dalam hubungan pernikahan, keluarga, dan persahabatan, tetapi juga dalam hubungan antar umat Kristen. Inilah yang menyebabkan kita tidak dapat menyelami atau menerima pandangan orang lain karena kita tidak sadar akan esensi diri kita sendiri dan kurang mengerti apa yang sudah membuat kita berbeda dengan orang lain.

Esensi adalah hakikat, inti, atau hal yang pokok dari sesuatu. Esensi Anda merupakan bagian dari kenyataan siapa diri Anda yang sebenarnya. Mungkin ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui siapa Anda sebenarnya:

  • Renungkan masa lalu Anda
  • Definisikan nilai-nilai inti Anda
  • Kenali kekuatan dan hasrat Anda
  • Kenali di mana Anda menemukan tujuan dan makna kehidupan Anda
  • Renungkan tantangan kehidupan Anda selama ini
  • Nilai hubungan Anda dengan Tuhan dan sesama

Jika kita merenungkan masa lalu kita, jika kita jujur, kita akan sadar bahwa dari kecil hingga dewasa diri kita ditandai dengan adanya dosa, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, dan karena alasan ini kita layak ditolak oleh Allah yang mahasuci. Hanya melalui belas kasihan dan kasih karunia-Nya kita dapat diselamatkan, dan karena itu tidak ada ruang dalam hidup kita untuk membanggakan diri. Kita tidak lebih baik dari orang lain. Ini juga berarti bahwa semua orang yang diselamatkan adalah bagian dari keluarga rohani yang sama. Tidak ada alasan untuk bermusuhan di antara orang percaya; kita semua tidak layak, dan semua diselamatkan oleh kebaikan Tuhan yang sama.

Paulus dalam Efesus 2:1–10 dengan jelas menjelaskan hubungan antara kurangnya ketaatan kita, kasih karunia Allah, dan keselamatan kita. Mereka yang diselamatkan oleh Kristus, sebenarnya tidak layak menerima keselamatan ini. Efesus 2: 8-9 menekankan bahwa keselamatan dicapai atas dasar kasih karunia, melalui iman. Kemauan, kekuatan, dan niat terbaik kita tidak akan pernah cukup untuk bisa memperoleh keselamatan. Tidak ada orang Kristen yang dapat membanggakan ”kebaikan” atau “keunggulan” mereka, karena kita diselamatkan sepenuhnya oleh kasih karunia Allah, bukan oleh perbuatan baik atau keistimewaan kita.

Harus dimengerti bahwa Efesus 2:8–9 adalah bagian Alkitab yang sangat populer. Karena kedua ayat itu begitu sering dikutip, banyak orang tidak membaca ayat 10 ketika berusaha memahami keselamatan Allah melalui kasih karunia melalui iman. Namun, pernyataan penting ini menawarkan wawasan yang luar biasa tentang apa yang Allah inginkan setelah keselamatan. Inilah yang mendefinisikan siapa diri kita. Allah menyebut kita sebagai hasil karya-Nya atau karya seni-Nya, dari kata Yunani poiēma.

Kita adalah sesuatu yang diciptakan, dengan keterampilan dan tujuan, oleh Allah, untuk tujuan-Nya. Secara khusus, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.” Inilah tujuan dan makna hidup semua orang Kristen dan diri Anda. Pekerjaan baik tidak memberi kita keselamatan, tetapi pekerjaan itu benar-benar dimaksudkan sebagai hasil dari keselamatan.

Yang menarik, Allah telah mempersiapkan apa yang Ia ingin kita lakukan bagi-Nya sejak mulanya. Ia telah merencanakan apa yang Ia ingin kita lakukan dengan hidup kita. Kita tidak perlu meniru apa yang telah dilakukan atau sedang dilakukan orang lain. Sebaliknya, kita tidak perlu merasa bahwa orang lain harus melakukan apa yang kita anggap sebagai prioritas untuk dilakukan dalam hidup sebagai umat Tuhan. Ia memiliki rencana yang unik bagi kita masing-masing untuk melayani-Nya di dunia ini. Ini termasuk karunia rohani tertentu dan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita untuk menuntun kita dalam pelayanan kepada-Nya. Dengan demikian kita bisa menyadari keunikan setiap umat Tuhan dan adanya perbedaan talenta dan tantangan bagi setiap orang. Itulah yang membantu kita untuk bisa hidup bersama dan bekerjasama dengan saudara-sudara seiman demi kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12:3