Satu hari demi satu hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6:34

Siapa yang belum kenal lagu “One Day at a Time“? Lagu ini adalah lagu Kristen populer bergaya country dan western yang ditulis oleh Marijohn Wilkin dan Kris Kristofferson. Lagu ini telah direkam oleh lebih dari 200 artis dan telah mencapai No. 1 di beberapa wilayah dunia. Penyanyi Skotlandia Lena Martell berhasil menduduki peringkat pertama di UK Singles Chart dengan versinya pada tahun 1979. Lagu ini pertama kali direkam oleh penyanyi country Amerika Marilyn Sellars pada tahun 1974. Versi ini menjadi hit top 40 AS dan hit top 20 di tangga lagu Country. Di Indonesia, lagu Kristen ini pernah dinyanyikan oleh artis Meriam Bellina. Perlu diketahui, lagu ini mempunyai versi non-kristen yang berupa lagu romantis.

Mengapa lagu “One Day at a Time” atau Satu hari demi satu hari” ini menjadi lagu yang sangat populer di kalangan orang Kristen? Menurut kamus Inggris Merriam-Webster, menjalani hidup sehari demi sehari berarti, “menangani masalah yang muncul setiap hari alih-alih mengkhawatirkan masa depan. Frasa ini umumnya digunakan sebagai nasihat ketika seseorang berpikir terlalu jauh ke depan atau mengharapkan masalah atau perubahan terjadi dalam semalam. Sebenarnya, Yesuslah yang mengajarkan hal ini dalam khotbah-Nya di bukit.

Matius 6:25–34 menyimpulkan bagian Khotbah di Bukit ini dengan ajaran Yesus tentang kecemasan. Bahkan kepada orang yang sangat miskin, Yesus berkata untuk tidak khawatir tentang makanan atau pakaian. Tuhan memberi makan burung-burung dan mendandani bunga bakung dengan indah, dan anak-anak-Nya jauh lebih berharga daripada burung. Perasaan cemas tidak dapat menambah satu jam pun dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk percaya kepada Tuhan untuk menyediakan apa yang benar-benar mereka butuhkan. Akan tetapi, konteks dari apa yang kita ”butuhkan” adalah kehendak Tuhan—yang mungkin terlihat sangat berbeda dari apa yang kita inginkan (Matius 5:3–12).

Khotbah di Bukit berlanjut di bab 6, yang seluruhnya terdiri dari perkataan Kristus. Yesus mengajarkan bahwa Tuhan memberi pahala atas perbuatan yang dimotivasi oleh pengabdian yang tulus kepada-Nya, bukan oleh persetujuan dari orang lain. Ia mengajarkan contoh doa yang sederhana dan autentik. Kristus memperingatkan agar tidak menimbun uang dan harta benda di bumi. Sebaliknya, orang percaya harus membuat pilihan yang menyimpan harta di surga. Prioritas utama seseorang dapat berupa Tuhan, atau uang, tetapi tidak dapat keduanya. Bersamaan dengan itu, Yesus mengatakan orang percaya harus berjuang melawan kecemasan tentang kebutuhan sehari-hari. Bapa surgawi tahu apa yang kita butuhkan. Yang perlu kita lakukan adalah mengejar kerajaan dan kebenaran-Nya; Ia akan memenuhi kebutuhan kita, satu hari demi satu hari.

Barangkali kita harus belajar untuk hidup sehari demi sehari seperti seorang pecandu obat bius. Mereka yang berjuang melawan kecanduan, saat dalam pemulihan, sering kali berpegang teguh pada serangkaian pernyataan panduan saat mereka berusaha untuk tetap sadar. Mantra umum yang digunakan dalam situasi tersebut adalah “satu hari pada satu waktu.” Tidak ada gunanya bagi orang tersebut untuk khawatir apakah mereka akan jatuh ke dalam godaan besok. Kecanduan mereka harus diperangi hari ini. Perjuangan besok akan terjadi besok. Dalam mengatasi kecanduan secara efektif, orang-orang seperti itu diajarkan untuk berfokus pada memenangkan pertempuran hari ini.

Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditemukan dalam perintah Yesus ini. Ia memberi tahu para pengikut-Nya untuk tidak khawatir tentang hari esok. Seperti yang telah Ia katakan, khawatir tidak memperbaiki apa pun. Kecemasan atas hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, atau di luar jangkauan kita, tidak masuk akal (Matius 6:27). Allah mengasihi kita dan sudah tahu bukan hanya apa yang ingin Ia capai, tetapi apa yang kita butuhkan untuk mewujudkannya (Matius 6:33).

Pagi ini, Yesus berkata bahwa orang percaya yang telah lahir baru harus membiarkan hari esok mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak dapat atau tidak boleh membuat rencana yang bijaksana. Orang Kristen bukan orang yang fatalis, apatis atau malas. Ia juga tidak mengatakan bahwa orang percaya harus benar-benar mengabaikan apa pun kecuali pertanyaan yang paling mendesak. Konteksnya di sini adalah tentang emosi ketakutan dan kecemasan yang bisa membuat kita merasa lemah dan bahkan jatuh dalam berbagai dosa.

Mereka yang percaya kepada Tuhan seharusnya tidak membiarkan diri mereka berkubang dalam kekhawatiran yang tidak berguna tentang masa depan. Perjuangan untuk mempercayai Tuhan akan terjadi besok. Perjuangan untuk mempercayai Tuhan selalu terjadi di masa sekarang. Hari ini ada banyak masalah yang harus kita percayai. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk berfokus pada kepercayaan kepada Tuhan setiap saat. Kita seharusnya tidak mencoba menyelesaikan semua masalah kita, untuk selamanya, sekaligus. Biarkan Tuhan menyediakan apa yang dibutuhkan hari demi hari.

Mana yang Anda pilih: cukup atau berlebihan?

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6:6-9

Saya masih ingat di zaman saya masih di universitas, ketika seseorang menyapa teman setelah lama tidak berjumpa, terkadang muncul sapaan “wah tambah makmur ya?”. Ini mungkin bukan dimaksudkan bahwa sang teman terlihat kaya, tetapi telihat lebih gemuk. Ada beda besar di antara arti kata “makmur” dan “gemuk”, tetapi kesan banyak orang pada waktu itu adalah bahwa kemakmuran sering membuat orang gemuk karena adanya kesempatan dan kemampuan untuk sering membeli makanan yang serba enak.

Apakah kebanyakan orang ingin makmur? Mungkin saja! Siapa pula yang tidak ingin makmur, jika kemakmuran bisa membuka kemungkinan untuk hidup sehat? Dengan kemampuan finansiil kita bisa mengkonsumsi makanan “empat sehat lima sempurna”, hidup di rumah yang sehat, berolahraga di gym secara teratur dan pergi ke dokter untuk check up secara teratur. Lain halnya kalau orang sengaja memakai uangnya untuk sering makan enak, berpesta pora dan pergi ke tempat minum, karena semua itu akan membuat mereka sering ke dokter untuk berobat. Walaupun demikian, banyak orang Kristen yang memilih kecukupan daripada kemakmuran karena sadar akan dampak negatif kemakmuran. Kekayaan memang tidak menjamin bahwa orang merasa puas dan cukup, tetapi orang bisa merasa cukup tanpa menjadi kaya raya.

Bab 1 Timotius 6 melengkapi instruksi Paulus yang sangat praktis kepada teman dan muridnya, Timotius. Fokus utama dari bagian ini adalah perilaku Kristen yang tepat, dan menghindari kejahatan. Paulus memberikan beberapa kelemahan karakter yang umum pada mereka yang mengajarkan doktrin Kristen palsu. Ia juga memberikan peringatan keras tentang bahaya keserakahan dan materialisme. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan membuka diri terhadap hampir semua dosa lain yang dapat dibayangkan. Timotius diberi amanat yang jelas untuk menjunjung tinggi iman dan kesaksiannya, disertai berkat dan dorongan dari Paulus.

Ayat 1 Timotius 6:3–10 menggambarkan kelemahan karakter yang umum di antara para guru palsu. Mereka yang menolak untuk menerima doktrin yang benar sering kali dicirikan oleh sifat-sifat seperti keras kepala, keserakahan, fitnah, dan pertengkaran. Penyebab utama dari kesalahan-kesalahan ini adalah keengganan untuk menerima kebenaran, dan desakan untuk berpegang teguh pada ajaran-ajaran palsu yang mengajarkan bahwa mengejar kekayaan adalah baik karena sebagai anak-anak Tuhan yang mahakaya kita harus bisa kaya, dan dengan kekayaan kita akan lebih bisa memuliakan Tuhan. Paulus juga memberikan penjelasan yang lebih luas tentang bagaimana dan mengapa keserakahan dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Tidak adanya rasa cukup dan puas bisa menyebabkan berbagai dosa.

Ayat-ayat sebelumnya memang menggambarkan kelemahan yang umum pada guru-guru palsu. Ini termasuk aspek-aspek seperti pertengkaran, keserakahan, dan keras kepala. Iri hati juga disebutkan; guru palsu sering kali berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain. Ayat 6 sampai 10 adalah penjelasan singkat tentang pandangan Kristen yang benar tentang kekayaan. Berbeda dengan kehidupan yang penuh dosa dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan oleh guru-guru palsu, “ibadah dengan rasa cukup memberi keuntungan besar.” Kesalehan dan ibadah adalah tema di seluruh 1 Timotius, dan dinyatakan beberapa kali dalam surat pendek ini.

Kepuasan/kecukupan adalah tema yang juga dikembangkan Paulus di tempat lain. Misalnya, Filipi 4:11 menyatakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dia bisa hidup baik dengan sedikit atau berkelimpahan karena dia tahu Tuhan dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi bagaimana ibadah dengan rasa cukup bisa menjadi keuntungan besar? Idenya secara harfiah adalah keuntungan atau keuntungan yang besar atau luar biasa. Mereka yang hidup dengan cara yang menghormati Tuhan, dan yang merasa puas dengan apa pun yang mereka miliki, memiliki kehidupan rohani yang kuat. Ini dapat membantu mereka melewati kesulitan hidup apa pun.

Ajaran ini menggemakan ayat-ayat Perjanjian Lama seperti Amsal 15:16 dan Mazmur 37:16.

Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.” Amsal 15:16

“Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik.” Mazmur 37:16

Pagi ini, adalah panggilan bagi kita untuk tidak merasa terbebani oleh harta benda selama hidup di dunia, yaitu dengan memilih untuk memiliki hati yang ceria dengan menghitung berkat Tuhan yang sudah kita terima, terutama karunia keselamatan.

“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” Amsal 15:15

Menjadi layak, tetapi tidak sombong

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 2 Timotius 2:15

Dapatkah kita menjadi layak di hadapan Allah? Bagi sebagian orang Kristen, menjadi “worthy” di hadapan Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci adalah suatu kemustahilan. Bagaimana kita, manusia yang berdosa, bisa dipandang layak oleh Tuhan? Layak dalam hal apa? Itu adalah kesombongan, begitu kata mereka. Tetapi dalam hal ini, mereka lupa apa yang terjadi pada anak yang hilang ketika ia pulang kerumah bapanya:

“Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.” Lukas 15:21-23

Orang Kristen adalah seperti anak yang hilang yang sadar bahwa sebenarnya mereka tidak layak untuk diterima sebagai anak-anak Allah karena dosa mereka. Tetapi, karena kemurahan Allah Bapa semata-mata, mereka sudah dilayakkan; dan karena itu boleh merasa layak dan bahkan harus berusaha untuk hidup dan bekerja sebagai anak yang sama haknya dengan anak yang sulung. Orang Kristen tidak boleh merasa bahwa makin lama ia adalah orang yang makin tidak layak di hadapan Tuhan, tetapi harus berusaha untuk makin lama makin taat kepada perintah Bapa.

Ayat-ayat dari 2 Timotius 2:14–26 berisi instruksi Paulus kepada Timotius tentang memimpin orang percaya lainnya. Dua tema penting di sini adalah menghindari pertengkaran yang tidak ada gunanya dan berpegang pada ajaran Alkitab yang benar. Perdebatan tentang masalah yang tidak penting dengan cepat berubah menjadi perseteruan, meracuni tubuh Kristus seperti gangren menyerang tubuh fisik. Paulus menyebutkan guru-guru palsu tertentu, tetapi menyampaikan nada belas kasihan. Di sini, ia mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah kuncinya. Bagaimanapun, mereka yang tidak percaya bukanlah musuh kita: mereka adalah orang-orang yang sedang kita coba selamatkan dari kendali Iblis!

Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran itu penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan. Ia menganggap “omong kosong” dan perdebatan tentang hal itu sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti gangren, pertengkaran ini hanya menyebar dan menyebar hingga menjadi bencana besar. Tujuan akhir dari penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” sebuah perdebatan, tetapi untuk menyelamatkan orang-orang yang terhilang. Ini seringkali memang terjadi di kalangan umat Reformed di mana, karena perasaan bahwa teologi kita sangat sistematik dan sempurna, kita merasa senang dan bahkan ingin berdebat dengan golongan lain.

Setelah mengomentari tentang guru-guru palsu di ayat sebelumnya, Paulus mendesak Timotius untuk memandang dirinya sebagai seorang pekerja yang berusaha menyenangkan Tuhan, bukan untuk mencari kepuasan diri atau golongan sendiri. Setiap pekerja atau hamba harus berhasrat untuk memenuhi harapan atasannya. Timotius harus memandang pekerjaannya bagi Tuhan dengan cara yang sama. Ia tidak melayani untuk menyenangkan orang lain, tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Paulus tahu betul banyak cara dunia dapat mengalihkan fokus orang Kristen. Kekuatan-kekuatan duniawi ini akan berusaha menarik perhatian Timotius untuk membuat orang lain atau diri sendiri bangga dan bahagia, daripada memandang Tuhan sebagai pribadi yang harus disenangkan.

Tantangan Timotius bukan hanya untuk disetujui, tetapi untuk menjadi seorang pekerja “yang tidak perlu malu.” Paulus telah berbicara tentang tidak malu pada tiga kesempatan di pasal sebelumnya (2 Timotius 1:8, 12, 16). Selama masa-masa penderitaan, Paulus merasa perlu untuk menekankan keberanian dalam iman kepada mereka yang tergoda untuk menghindari kesulitan dan penganiayaan. Keberaniannya juga melibatkan “menangani firman kebenaran dengan benar.” Berbeda dengan guru-guru palsu yang berdebat tentang perkataan, Timotius telah mempelajari Kitab Suci sejak masa mudanya dan harus menanganinya dengan tepat.

Perbedaan yang disajikan di sini penting. Dalam ayat sebelumnya, Paulus mengutuk pertengkaran yang tidak ada gunanya. Di sini, ia memuji pembelajaran yang lebih mendalam. Menggabungkan kedua gagasan ini memberi kita gambaran yang akurat tentang seperti apa seharusnya kebijaksanaan Kristen. Ada beberapa masalah yang melibatkan “kebenaran” pesan Injil, dan yang lainnya tidak. Kita perlu belajar dengan tekun, tidak hanya untuk mempertahankan iman, tetapi juga untuk mengetahui perbedaan antara sesuatu yang layak diperdebatkan, dan sesuatu yang hanya merupakan argumen yang mengganggu.

Hari ini kita belajar bahwa seorang pekerja yang layak adalah orang yang tidak ragu-ragu dalam melaksanakan perintah tuannya. Ia akan berusaha keras untuk menghasilkan apa yang baik untuk tuannya. Seorang pekerja yang baik tidak membuang waktu dengan melakukan yang kurang berguna. Seorang pekerja yang baik tidak hidup secara sembarangan sehingga mempermalukan tuannya, tetapi akan berusaha keras untuk nama tuannya dikenal dan disegani oleh orang lain. Segala apa yang dikerjakannya adalah sesuai dengan apa yang diperintahkan tuannya, tidak bisa lebih dan bisa tidak kurang. Seorang pekerja yang baik tetap akan rendah hati sekalipun ia berhasil melaksanakan tugasnya karena semua itu dimungkinkan oleh bimbingan dan kesempatan yang diberikan tuannya.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Antara bisa dan mau menjadi kudus

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Filipi 3:13-16

Filipi 3:12 – 4:1 menjelaskan sikap yang tepat yang seharusnya dimiliki orang Kristen dalam proses ”pengudusan.” Ini adalah jalan bertahap seumur hidup untuk menjadi semakin seperti Yesus. Tempat kita dalam kekekalan aman sejak saat kita percaya kepada Kristus, tetapi butuh waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi seperti-Nya. Paulus mencatat bahwa ia tidak sempurna, tetapi mendorong orang Kristen untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Paulus juga menangisi mereka yang menolak Injil, sebuah pilihan yang akan mengakibatkan kehancuran mereka.

Kedua sikap Paulus ini mungkin cukup mengherankan orang Kristen yang percaya bahwa manusia tidak perlu atau bisa menanggapi karunia penyelamatan dan pengudusan dari Tuhan karena semua itu hanya bergantung pada kehendak-Nya semata-mata. Tetapi kita harus yakin bahwa Tuhan menghendaki kita mau untuk diselamatkan dan dikuduskan karena Tuhan sudah memungkinkan hal itu bagi setiap orang yang dipilih-Nya. Seperti yang Paulus katakan di atas, respons kita adalh perlu karena kita bukan robot-robot Allah.

Paulus merinci riwayat hidupnya yang mengesankan sebagai orang Yahudi. Tidak seorang pun dari kritikus atau musuhnya yang dapat membanggakan silsilah yang dimiliki Paulus. Ia menyebutkan hal ini hanya untuk menekankan betapa kecilnya hal-hal tersebut, dibandingkan dengan iman kepada Kristus. Bahasa Paulus di sini tajam dan langsung ke intinya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana fokus orang Kristen seharusnya hanya pada Kristus, seperti halnya seorang pelari yang berkonsentrasi pada tujuannya agar dapat berlari dengan efektif. Daripada melihat ke masa lalu, atau pada diri kita sendiri, kita seharusnya melihat ke depan, ke kekekalan bersama Tuhan. Ini harus kita putuskan dan lakukan dalam hidup kita – kita tidak bisa tinggal pasif dan merenungi karunia Tuhan, tetapi memakainya dengan bersemangat.

Tujuan Paulus adalah kesempurnaan, tetapi ia belum mencapainya. Ia tidak sempurna, dan ia juga tidak berharap untuk mencapai kesempurnaan sebelum kematiannya. Sebaliknya, ia menggunakan analogi seorang pelari dalam perlombaan untuk menggambarkan motivasi kehidupan rohaninya. Seperti seorang pelari yang berdedikasi, ia memiliki satu tujuan. Sama seperti seorang pelari tidak dapat berhasil kecuali ia berkonsentrasi pada perlombaan, Paulus juga tidak dapat berhasil bertumbuh dalam Kristus jika ia membiarkan hal lain mengganggunya. Bagi kebanyakan orang Kristen, hal lain itu adalah ketidakpedulian akan perintah Tuhan untuk melangkah maju dalam iman.

Melanjutkan analogi berlari, Paulus juga memilih untuk hidup dengan prinsip penting: menjaga perhatiannya pada jalan di depannya. Seorang pelari tidak dapat melihat ke belakang dan tetap fokus pada tujuan di depannya. Kedua gagasan tersebut saling eksklusif. Tujuan seorang pelari adalah untuk fokus pada langkah berikutnya menuju tujuannya. Maju ke depan dan bukan berhenti. Kehidupan rohani Paulus juga sama. Ia tidak akan melihat kembali langkah-langkah sebelumnya, tetapi fokus untuk meningkatkan setiap langkah dalam perlombaannya hingga mencapai tujuan bersama Kristus.

Orang Kristen dapat belajar dari masa lalu, tetapi kita tidak terikat pada hal-hal yang telah kita lakukan. Alih-alih dibelenggu oleh kesalahan masa lalu, atau tetap melakukan kesalahan yang sama, kita harus mau untuk terus maju, dengan mengetahui bahwa kita sudah diberi kemampuan untuk itu karena adanya pengampunan Kristus. Paulus menggunakan analogi seorang pelari yang mendapat kesempatan untuk bertanding, yang harus berfokus pada tujuan di depannya. Ini mencegah kemungkinan terganggu dan tersandung selam hidup di dunia. Tujuan rohani Paulus dinyatakan secara langsung di sini: “hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”

Apa yang dilakukan Paulus sebagai orang Farisi yang belum bertobat bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Ia memenjarakan orang Kristen dan mungkin menyebabkan kematian beberapa orang. Tetapi, fokus Paulus adalah pada momentum ke depan, bukan kesalahan sebelumnya. Seseorang tidak dapat bergerak maju jika pikiran dan visinya terfokus pada masa lalu. Merasa berdosa, bersalah, dan tidak pantas. Paulus memiliki tujuan yang jelas: berada di surga bersama Tuhan. Ia menantikan pahala tertinggi atas pelayanannya yang setia.

Paulus menulis tentang tujuan mengejar Kristus sampai ia bertemu dengan-Nya setelah kehidupan di dunia ini berakhir. Ini adalah fokus yang berguna bagi orang percaya saat ini juga. Karena itu, jangan terlalu khawatir tentang apakah kita akan mati terlebih dahulu, atau apakah Kristus akan kembali. Sebaliknya, kita harus siap kapan pun dan bagaimana pun kita bertemu dengan Kristus. Ajaran Paulus adalah untuk tidak menoleh ke masa lalu, tetapi sebaliknya berfokus pada apa yang dapat kita lakukan hari ini dan di masa mendatang untuk hidup bagi Kristus sampai kita bertemu dengan-Nya.

Perspektif Paulus ini adalah hasil dari hikmat, kedewasaan, dan pengalaman dari Tuhan. Paulus mengharapkan para pembacanya untuk bergabung dengannya dalam mengejar Kristus di atas segalanya. Ia sangat yakin bahwa ini adalah pendekatan yang benar sehingga ia tidak memberi ruang bagi kita untuk beralasan. Meskipun Paulus di tempat lain berbicara tentang ruang untuk ketidaksepakatan di antara orang-orang percaya Kristen (Roma 14), ini adalah satu hal yang tidak ada ruang untuk pandangan alternatif. Jika Anda tidak setuju, harapan Paulus adalah bahwa Tuhan akan mengubah pikiran kita. Kita sudah dimampukan Tuhan, tetapi kita harus mengambil keputusan untuk menjawab “ya”.

Hal-hal ini penting karena satu alasan utama. Tujuan untuk menjadi lebih seperti Kristus tidak hanya berlaku bagi para pemimpin Kristen. Ini bukan panggilan hanya untuk “orang-orang Kristen super,” ini adalah untuk menjadi tujuan setiap orang percaya. Jalan yang diberikan Paulus merupakan harapan bagi setiap orang Kristen, di gereja Filipi, dan juga diri kita sendiri saat ini. Sebagai orang percaya, kita diajarkan untuk menganggap segala sesuatu dalam hidup tidak berharga jika dibandingkan dengan mengenal Kristus dan menjadi lebih seperti Dia. Ada berbagai karunia dan panggilan, tetapi hanya ada satu sikap yang harus dimiliki dalam hal pertumbuhan rohani: mengejar Kristus di atas segalanya.

Apakah orang Kristen bebas dari semua hukuman?

“Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” Wahyu 2:5

Barangkali Anda sering mendengar kbotbah bahwa sebagai orang Kristen kita sudah menerima tebusan sebagai karunia (grace) Allah, yang berarti secara cuma-cuma. Dengan penebusan Kristus, kita dibebaskan dari hukuman utama dosa, yaitu kematian yang kekal jika kita meninggalkan dunia ini. Sebagian pengkhotbah mungkin terlau menekankan kebenaran ini sehingga pesan mereka bisa disalah tafsirkan bahwa orang Kristen tidak akan menerima hukuman apa pun, baik di dunia maupun di surga. Ini adalah pandangan yang salah, yang bisa menyebabkan orang Ktisten tidak peduli akan cara hidupnya.

Umat Kristen masih harus menghadapi pengadilan di hadapan Allah setelah meninggalkan dunia ini. Mereka harus mempertanggungjawabkan cara hidupnya dan juga apa yang ditugaskan kepadanya. Sebagai hamba Kristus, kita akan diadili dan menerima ganjaran yang sesuai. Untunglah Kristus akan menjadi pembela kita sehingga kita tidak akan dijatuhi hukuman mati, tetapi setiap orang akan menerima ganjaran yang sesuai dengan apa yang sudah dilakukannya untuk Kristus. Mereka yang sudah mengerjakan tugasnya dengan baik akan menerima punjian dan ganjaran yang baik.

Selama hidup, orang Kristen mungkin mengenal apa yang seing disebutkan oleh pemimpin-pemimpin gereja sebagai “Tujuh Dosa yang Mematikan”(Seven Deadly Sins ) yang merupakan pengelompokan dan penggolongan atas dosa-dosa atau tindakan-tindakan tercela dalam ajaran Kekristenan, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam Alkitab. Suatu sifat, tingkah laku, tindakan, atau kebiasaan digolongkan dalam kelompok ini jika hal-hal tersebut secara langsung bisa menimbulkan dosa-dosa, tindakan-tindakan tercela, atau kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya. Seperti penyakit kanker.

Sebagai contoh, seseorang yang membiarkan dirinya terus dikuasai kemarahan dapat melakukan balas dendam dengan cara membunuh, seseorang yang dikuasai ketamakan dapat melakukan korupsi (mencuri) jika ada kesempatan. Membunuh, mencuri, dan dendam merupakan dosa-dosa akibat yang ditimbulkan oleh kemarahan dan ketamakan yang merupakan dosa-dosa pokok yang bisa membawa berbagai hukuman selama hidup di dunia, tidak hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga kepada anak-cucu mereka.

Berdasarkan daftar baku yang umum dewasa ini, tujuh dosa pokok terdiri dari kesombongan, ketamakan, kemarahan (kemurkaan), iri hati (kedengkian), hawa nafsu (percabulan), kerakusan, dan kemalasan (kelambanan atau kejemuan). Dosa-dosa atau kecelaan-kecelaan pokok ini merupakan lawan dari kebajikan, yang mana diakibatkan oleh kebiasaan-kebiasaan yang melenceng dari kasih. Dosa-dosa ini mengaburkan suara hati dan membuat seseorang melakukan hal buruk, untuk mana ada huluman dari Tuhan kepada setiap orang selama hidup di dunia, tidak terkecuali orang Kristen.

Isi Wahyu 2 adalah surat-surat mini kepada empat gereja, yang didiktekan oleh Yesus kepada Yohanes. Efesus dan Smirna adalah kota-kota pesisir, sedangkan Pergamus dan Tiatira adalah kota-kota pedalaman. Setiap pesan ini berisi deskripsi unik tentang Yesus, sebuah perintah, sebuah janji. Semua jemaat – kecuali jemaat di Laodikia – menerima pujian. Semua surat kecuali dua dari tujuh surat -yang ditujukan kepada jemaat di Smirna dan Philadelphia -juga berisi teguran kritis. Seperti jemaat saat ini, sebagian besar jemaat yang disapa oleh Yesus memiliki karakteristik yang baik dan setidaknya satu hal yang perlu diperbaiki.

Wahyu 2:1–7 adalah surat pertama yang Yesus diktekan kepada Yohanes, yang ditujukan kepada gereja di Efesus. Jemaat ini dipuji karena kesabaran dan penolakan mereka terhadap rasul-rasul palsu. Meskipun awalnya sangat baik, Efesus telah meninggalkan kasih mereka yang mula-mula. Mereka hanyut dalam sikap dingin dan religiusitas yang monoton. Yesus memerintahkan gereja untuk mengingat hari-hari awalnya, bertobat, dan berperilaku seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya. Yesus menjanjikan berkat dan pahala bagi pemenang.

Dalam Wahyu 2:5 kita membaca perintah ganda Yesus kepada jemaat di Efesus: ingatlah dan bertobatlah. Ia menyerukan jemaat di Efesus untuk mengingat kasih yang telah meninggalkan mereka. Komitmen mereka terhadap kebenaran adalah hal yang baik, tetapi jika tidak dimotivasi oleh kasih, ketaatan itu tidak sepenuhnya menyenangkan Allah (Wahyu 2:1-4).

Perjanjian Baru menempatkan kasih kepada Tuhan sebagai prioritas tinggi. Yesus mengajarkan bahwa kasih kita kepada-Nya harus melebihi kasih kita kepada saudara-saudara terdekat kita (Matius 10:37). Rasul Paulus menyatakan bahwa kasih kita kepada Tuhan harus melebihi kasih kita kepada pasangan kita (1 Korintus 7:32-35). Dalam 1 Korintus 13:3 Ia menyatakan bahwa bahkan mati sebagai martir secara sukarela tidak ada artinya jika tidak ada kasih.

Pagi ini, Yesus memerintahkan kita – seperti jemaat di Efesus – untuk bertobat. Jemaat di Efesus perlu membalikkan kemunduran rohani mereka dan melayani-Nya seperti yang mereka lakukan ketika jemaat dimulai. Kita pun harus demikian, dan bukannya merasa puas karena merasa bahwa kita adalah orang pilihan Tuhan. Kegagalan untuk mengindahkan perintah Yesus akan mendatangkan hukuman yang pantas bagi kita, baik selama hidup di dunia atau ketika kita sudah di surga.

Berserah kepada Tuhan menuntut kerendahan hati

“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5:6-7

Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian istilah “rendah hati” dan “rendah diri” sering tertukar. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, “rendah hati” dan “rendah diri” memiliki arti yang berbeda. Kata “rendah diri” memiliki arti merasa dirinya kurang; sedangkan “rendah hati” memiliki arti tidak sombong atau tidak angkuh. Istilah “rendah hati” mengarah pada konsep kerendahan hati (humility), sedangkan “rendah diri” merujuk pada konsep penghargaan diri yang rendah (low self-esteem). Berdasarkan makna kata tersebut, “rendah diri” memiliki nuansa negatif, sedangkan “rendah hati” memiliki rasa bahasa lebih positif. “Rendah hati” mengarah pada konsep kerendahan hati (humility), sedangkan “rendah diri” merujuk pada konsep penghargaan diri yang rendah (low self-esteem). Pengertian ini kurang cocok jika kita memelajari ayat-ayat di atas. Alkitab memakai kedua istilah itu dalam konteks humility yang positif, bukan negatif.

Petrus mengingatkan kita bahwa selama hidup kita harus dengan rela merendahkan diri di bawah tangan Tuhan dan kepada pemimpin kita (lihat 1 Petrus 5:5). Pada pihak yang laini, kita harus rendah hati kita kepada semua orang (Efesus 4: 2,Filipi 2: 3). Ketika waktu yang tepat tiba, Dia akan meninggikan kita di dunia, atau di kehidupan yang akan datang, atau keduanya, sampai batas tertentu. Kesediaan kita untuk melayani misalnya, bukanlah pernyataan bahwa kita sebenarnya tidak berarti. Kerendahan hati kita dalam pelayanan merupakan pernyataan bahwa Allah kita yang perkasa dapat dipercaya untuk memberikan kita semua kemuliaan dan pengakuan yang kita dambakan ketika waktunya tepat.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Dalam hidup, kita sering berusaha mengatasi penderitaan dan tantangan dengan berusaha keras untuk mengatasinya dengan memakai cara kita sendiri. Kita mencari kemenangan akan hal-hal itu dan sering tidak sabar menunggu Tuhan bekerja. Jika kita berhasil, mungkin kita merasa puas karena dengan usaha sendiri kita mendapatkan keberhasilan. Tetapi, kekuatiran akan gagalnya mendapat “kemuliaan” membuat hidup kita merana.

Kunci pandangan Kristen yang alkitabiah tentang kemuliaan manusia adalah memperhatikan dengan saksama apa yang Tuhan katakan tentang bagaimana cara mencarinya. Alkitab mengajarkan kita untuk berhenti berjuang keras dengan tenaga sendiri untuk mewujudkannya, tetapi percaya kepada Tuhan untuk meninggikan kita pada waktu dan tempat yang tepat sesuai dengan yang Dia inginkan. Kita tidak perlu memaksakan keinginan kita kepada orang lain, apalagi menuntut hal itu kepada Tuhan. Dia adalah Bapa yang baik yang mengasihi kita; jadi kita harus berserah kepada Dia yang bertanggung jawab untuk mendatangkan kemuliaan bagi kita menurut kemurahan-Nya pada waktu yang tepat.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filip1 2: 5-8

Yesus menunjukkan kepada kita cara melakukannya. Paulus dalam Filipi 2:5-8 mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi ketika Dia datang ke bumi, Dia tidak menjadikan diri-Nya apa pun. Sebaliknya, Dia menjadi hamba bagi semua orang. Kemudian, pada waktu yang tepat, Bapa mengangkat Yesus ke posisi tertinggi di alam semesta. Petrus menegaskan gagasan yang serupa dalam 1 Petrus 5:6-7. Mengapa kita begitu takut untuk merendahkan diri terhadap orang Kristen lain? Mengapa kita merasa terganggu untuk hidup dalam ketundukan kepada orang lain dalam hubungan keluarga, pekerjaan dan gereja? Mungkin sekali kita takut menjadi tidak berarti, tidak dikenali, dan tidak berarti apa-apa. Ini serupa dengan Adam dan Hawa yang ingin menjadi seperti Allah dan kemudian mendengarkan bujukan iblis (Kejadian 3: 4-6).

Mungkin kita pernah menjumpai orang-orang yang mempunyai “percaya diri” dan “iman” yang sangat besar. Tetapi, di luar kesadaran kita orang-orang itu sering kali punya perasaan takut untuk gagal atau tidak dihargai orang lain. Mereka terlihat yakin karena berusaha untuk meyakinkan orang lain akan kemampuan dan keuletan mereka. Mereka takut dipandang lemah. Mereka tidak sadar bahwa dalam Alkitab, “merendahkan diri” tidak berarti kelemahan atau kebencian terhadap diri sendiri. Itu berarti penghargaan yang tepat tentang diri kita, dalam hubungan dengan Tuhan. Itu berarti kekuatan yang terkendali dalam rasa hormat kepada Sang Pencipta. Seperti yang dikatakan C.S. Lewis, “Kerendahan hati bukanlah berpikir bahwa diri Anda adalah kurang mampu, tetapi kurang memikirkan kemampuan diri Anda sendiri.” Sebaliknya, kita harus lebih sering memikirkan kemampuan dan kemurahan Tuhan.

“Humility is not thinking less of yourself, but thinking of yourself less”

C.S. Lewis on humility in Mere Christianity

Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang memelihara kita. Dalam kewaspadaan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita dan memercayai Allah untuk menepati janji-janji-Nya. Dengan rendah hati, kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya.

Petrus menulis bahwa kita harus mengambil rasa takut dan kekhawatiran kita, dan kemudian menyerahkannya kepada Bapa kita. Ia sudah memberi tahu kita untuk menyerahkan segala sesuatu yang membuat kita gundah, dan menyerahkannya kepada Dia yang sangat peduli pada kita. Ini bukan janji bahwa Tuhan akan memperbaiki segala sesuatu yang membuat kita khawatir. Tuhan tidak berkewajiban untuk mengikuti naskah apa pun yang kita tulis untuk-Nya. Ini adalah janji bahwa Tuhan yang perkasa akan menerima kekhawatiran kita, dan peduli terhadapnya. Ia akan menanggungnya bagi kita. Ia dapat dipercaya untuk menanganinya dengan cara yang terbaik.

Perkataan Petrus pagi ini adalah sebuah perintah. Bukanlah kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya untuk terus hidup di bawah beban-beban kehidupan. Percaya bahwa Tuhan itu perkasa dan peduli pada kita seharusnya menghasilkan penyerahan kekhawatiran kita kepada-Nya. Dalam kerendahan hati, kita menunggu dan memercayai Tuhan untuk meninggikan kita pada waktu-Nya. Kita juga dipanggil untuk tetap waspada terhadap iblis, dan melawannya dengan berfokus kepada Tuhan. Sekalipun kita mungkin mengalami banyak penderitaan dan tantangan dalam hidup yang singkat ini, Tuhan kita akan mengakhiri penderitaan kita dan membuat kita bahagia pada waktunya.

Mengapa kita harus humanis?

”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Matius 5:13

Matius mencatat Khotbah Yesus di Bukit. Bagian sebelumnya mencatat Ucapan Bahagia, dan sekarang Kristus beralih ke serangkaian ajaran singkat tentang berbagai topik. Pertama, Ia membahas perlunya para pengikut Yesus untuk hidup sesuai dengan kebajikan yang dijelaskan dalam Ucapan Bahagia.

Matius 5:13–20 menggambarkan peran penting yang dilayani oleh para murid dan pengikut Yesus di bumi. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Metafora-metafora ini menggambarkan dampak yang seharusnya dimiliki orang Kristen di dunia. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi mereka untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika tidak, mereka tidak akan lagi berguna sebagai garam dan terang. Sebaliknya, mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, membiarkan terang mereka bersinar di dunia yang gelap agar semua yang melihatnya akan memuliakan Tuhan. Inilah konsep orang Kristen humanis.

Sebagai orang Kristen yang humanis, kita diminta untuk memengaruhi budaya masyarakat untuk kebaikan. Ini merupakan mandat budaya yang kita terima dari Tuhan. Mandat budaya, dalam pengertian yang paling alkitabiah, adalah kewajiban pribadi kita untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada kehendak Tuhan, khususnya termasuk cara kita berinteraksi dengan orang lain melalui pemerintahan dan masyarakat.

Humanisme Kristen mengatakan bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Segala sesuatu harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kesombongan atau promosi diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan spiritual dalam segala hal yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan dan jalani. sebagai orang humanis, orang Kristen percaya bahwa ini termasuk kehidupan intelektual, kehidupan artistik, kehidupan rumah tangga, kehidupan ekonomi, kegiatan politik, keadilan sosial, hubungan ras, penegakan hukum dan penataan lingkungan.

Seperti garam yang mengawetkan daging agar tidak membusuk, orang-orang percaya kepada Yesus, yang tersebar di seluruh dunia, membantu menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam ketidakbertuhanan, amoralitas, kekacauan, kemelaratan dan ketidakadilan. Garam mengubah rasa makanan secara permanen, sama seperti pengaruh orang-orang saleh dapat mengubah suatu budaya. Inti utamanya adalah bahwa orang Kristen melayani tujuan ilahi di dunia hanya dengan menjalani apa yang kita yakini tentang Yesus. Menjadi orang Kristen bukan hanya sekadar beriman, tetapi juga mewujudkan iman itu dengan perbuatan baik kepada sesama dan masyarakat untuk memuliakan Tuhan.

Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Dulu, seperti sekarang, garam memiliki berbagai fungsi. Sebelum adanya lemari pendingin, garam digunakan secara luas sebagai bahan pengawet dengan menggosokkannya ke daging. Tentu saja, garam juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan. Panggilan Yesus bagi para pengikutnya untuk menjadi “garam dunia” membawa manfaat tersebut, secara simbolis, ke dalam kehidupan rohani kita.

Seperti garam yang sangat berguna dalam kehidupan, manusia memiliki martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia adalah agen yang otonom, rasional, dan bermoral itu sendiri merupakan cerminan bahwa mereka diciptakan dengan imago Dei (gambar Allah). Nilai manusia diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasih-Nya bagi orang-orang (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan perumpamaan-Nya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37).

Orang Kristen memahami bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh ke dalam pengetahuan penuh tentang setiap hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; lih. Kolose 1:9). Sebagai orang yang humanis, orang Kristen menghargai budaya manusia tetapi mengakui adanya efek noetik (yaitu, intelektual) dari sifat manusia yang sudah jatuh (1 Korintus 1:18–25) dan adanya pengaruh dosa di dalam setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Karena itu, humanisme Kristen mengatakan bahwa manusia hanya bisa mencapai potensi yang murni dan penuh dalam menjalankan mandat budaya ini ketika ia memasuki hubungan yang benar dengan Kristus. Pada saat keselamatan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan dalam setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:17) sehingga ia bisa berguna untuk memajukan dan menertibkan masyarakat. Pada waktu ia diselamatkan, ia merasakan bahwa itu hanya karena karunia Tuhan dan karena itu ia ingin menyatakan rasa syukurnya dengan berbuat berbagai kebajikan untuk masyarakat selama hidup di dunia.

Orang Kristen berhenti melayani tujuan itu ketika mereka berhenti hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan. Ketika para pengikut Yesus berhenti menjadi miskin dalam roh, tidak lagi hidup dalam pertobatan dan kelembutan, tidak memiliki keinginan untuk kebenaran, dan bisa berbelas kasih, mereka berhenti melayani tujuan mereka di bumi. Mereka berhenti menjadi orang Kristen yang humanis. Ini sama dahsyatnya, dan tidak terpikirkan, seperti jika garam kehilangan rasanya. Garam tersebut mungkin sudah diencerkan, atau bahkan terkontaminasi dengan berbagai racun. Itu akan menghasilkan sesuatu yang seharusnya menjadi garam tetapi tidak terasa atau bertindak seperti garam lagi. Itu membuatnya tidak berguna, dan harus dibuang.

Hari ini kita belajar bahwa Yesus menunjukkan hal yang sama dapat terjadi pada seorang murid yang berhenti hidup setia kepada Kristus di dunia. Intinya di sini bukanlah tentang hilangnya keselamatan, tetapi hilangnya tujuan. “Garam yang buruk” tidak dihancurkan atau dibakar, itu hanya diabaikan bersama dengan debu tanah. Orang Kristen sejati percaya bahwa gereja harus terlibat aktif dalam budaya dan bahwa mereka harus menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat manusia sambil mencegah dan melawan semua pengaruh yang tidak manusiawi di dunia.

Apakah Anda masih mengalami proses pengudusan?

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6

Dalam Filipi 1, Paulus berterima kasih kepada orang-orang percaya di Filipi karena mendukung pelayanannya. Bahkan ketika Paulus dipenjara, atau dianiaya, mereka selalu bermurah hati dan setia. Paulus menyemangati orang-orang Kristen ini dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus ini sebenarnya telah menyebabkan Injil tersebar.

Paulus bersyukur kepada Tuhan atas orang-orang Kristen ini dalam semua doanya. Pada saat yang sama, Paulus memiliki harapan besar bahwa gereja Filipi akan terus bertumbuh dan memperkuat hubungan mereka dengan Kristus. Ia sepenuhnya berharap untuk dibebaskan dari penjara, dan bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Paulus mengawali ayat di atas dengan pernyataan keyakinan yang besar kepada orang-orang Kristen di Filipi. Sementara keselamatan dari hukuman dosa terjadi pada saat seseorang menerima Kristus, hal menjadi makin menyerupai Kristus adalah sebuah proses perubahan terus menerus sampai ia berjumpa dengan Yesus Kristus. Paulus sepenuhnya yakin bahwa proses “pengudusan” ini pasti ada pada diri setiap orang percaya, dan akan terus berlanjut dalam kehidupan orang-orang percaya ini. Secara khusus, jaminan ini didasarkan pada pekerjaan Yesus Kristus. Dengan kata lain, Paulus tidak meragukan keselamatan mereka yang setia kepada Kristus, tetapi juga menyatakan bahwa orang yang diselamatkan tidak mungkin tetap tidak berubah cara hidup dan pelayanannya kepada Tuhan dan sesama.

“Hari Yesus Kristus” dengan jelas berbicara tentang akhir zaman, tetapi para penafsir memperdebatkan hal-hal spesifik lainnya yang terkait dengan rujukan ini. Beberapa orang melihat ini sebagai kiasan untuk pengangkatan, yang akan terjadi kapan saja (1 Korintus 15:50–58; 1 Tesalonika 4:13–18). Yang lain melihat pernyataan ini sebagai penyebutan tentang akhir masa kesukaran tujuh tahun sebelum milenium (Wahyu 19–20). Kemungkinan ketiga adalah bahwa Paulus tidak merujuk pada tanggal atau waktu tertentu, tetapi hanya berfokus pada akhir proses pengudusan yang akan terjadi ketika orang-orang percaya ini bertemu Kristus di masa depan.

Apakah Anda merasakan adanya proses pengudusan Kristus dalam hidup Anda? Dalam diri mereka yang dipanggil dan dilahirkan kembali, diciptakan oleh Kristus hati baru dan roh baru. Mereka dikuduskan lebih jauh secara sungguh- sungguh dan perseorangan oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Dalam proses ini, kuasa dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsu mereka makin hari akan makin menghilang karena adanya semua anugerah Tuhan. Adalah tidak mungkin bagi orang-orang yang sudah diselamatkan untuk tetap hidup dalam dosa=dosa lama mereka. Sebaliknya, mereka akan menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ini adalah tanggung jawab setiap orang percaya setelah diberi kemampuan oleh Kristus.

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14

Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna selama hidup di dunia, sebab di semua bagian manusia masih ada beberapa sisa kerusakan akaibat dosa. Karena itulah lahirlah peperangan yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan pendamaian, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.

“Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Galatia 5:17

Dalam peperangan ini, kerusakan yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Jika itu terjadi, kita bisa melihat bahwa orang Kristen bisa jatuh ke dalam berbagai dosa dan kecemaran. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka orang yang benar-benar telah dilahirkan kembali akhirnya akan menang melalui setiap perjuangan melawan dosa. Dengan demikian orang-orang kudus akan terus bertumbuh dalam kasih karunia dan menyempurnakan kekudusannya karena adanya rasa takut akan Allah. Bagaimana dengan hidup Anda?

“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” 2 Korintus 7:1

Hal prioritas dalam keluarga

“Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Filipi 2:1-8

Sering ada orang yang berkata bahwa ia tidak punya waktu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan orang lain. Ini tentunya bukan jawaban yang tepat. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mempunyai 24 jam sehari. Apa yang lebih tepat untuk dinyatakan adalah ia tidak dapat melakukan sesuatu hal karena ia lebih suka melakukan hal yang lain. Ini adalah soal prioritas dalam 24 jam.

Mengenai apa yang perlu kita prioritaskan selama hidup di dunia, urutannya menurut Alkitab dimulai dari Tuhan, suami/istri, anak-anak, orang tua, keluarga besar, saudara seiman, dan kemudian seluruh dunia. Meskipun terkadang keputusan harus dibuat untuk berfokus pada satu orang daripada yang lain, tujuannya adalah untuk tidak mengabaikan hubungan dengan yang lain. Keseimbangan menurut Alkitab adalah membiarkan Tuhan memberdayakan kita untuk memenuhi semua prioritas kita, di dalam dan di luar keluarga kita. Dalam bahasan kali ini, tiga proritas yang paling utama akan dijelaskan.

Fokus pertama kita seharusnya selalu pada Tuhan; pada rencana dan petunjuk-Nya, pada hal-hal surgawi. Hanya ketika kita menempatkan Tuhan di pusat dan fokus utama kehidupan kita, kita dapat merawat keluarga dan diri kita sendiri dengan sebaik-baiknya. Melalui ketaatan kepada Firman-Nya dan penyerahan kepada kehendak-Nya, kta akan dapat menjalani hidup kita dengan rasa tenteram. Karena itu, membangun hubungan dengan Kristus dan takut akan Tuhan harus menjadi prioritas utama kita dalam semua yang kita lakukan. Ini menjadi fondasi yang paling kuat bagi kehidupan kita.

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:2

Pada urutan kedua, kita berfokus pada pasangan hidup kita. Dalam hubungan yang dalam dan bersifat pribadi ini, mungkin mudah bagi kita untuk pad awalnya menempatkan pasangan kita di tempat yang paling tinggi. Apa yang mereka inginkan, dambakan, atau bahkan apa tidak mereka sukai sering kali menjadi prioritas pertimbangan kita. Namun, ada kalanya kita – cepat atau lambat – menempatkan orang lain (pekerjaan, orang tua, anak dan lain-lain) atau diri kita sendiri di atas kebutuhan pasangan kita.

Dalam Kitab Suci, pernikahan kita dibandingkan dengan Yesus dan gereja-Nya. Ini sulit diterima oleh banyak pasangan di zaman sekarang dan karena itu tidaklah mengherankan bahwa kasus perceraian makin banyak terjadi.

“Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” Efesus 5:24-25.

Jika Anda seorang istri, kata “tunduk” ini tidak berarti Anda adalah seorang hamba yang rendah dan lemah kedudukannya. Ketundukan dalam pernikahan adalah tanda kekuatan, rasa hormat, dan pengakuan bahwa Allah telah menetapkan suami sebagai kepala keluarga. “Ketundukan” ini berarti seorang istri adalah penolong sejati bagi suaminya. Amsal 31 adalah referensi yang luar biasa untuk ditelusuri lebih jauh.

‘Isteri yang cekap susah ditemukan. Dia lebih berharga daripada permata. Suaminya mempunyai keyakinan terhadap dia dan tidak akan kekurangan apa-apa. Seumur hidupnya, dia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat kepadanya.” Amsal 31:10-12

Di sisi lain, para suami dipanggil untuk mengasihi dan melindungi istri mereka. Tuhan bahkan memberi tahu kita dengan tepat bagaimana kita harus saling mengasihi di seluruh Kitab Suci. Dalam 1 Korintus kita belajar bahwa kasih itu sabar dan murah hati, tidak menghina, dan tidak egois atau sombong. Para suami tidak boleh membuat mereka merasa bersalah, merendahkan atau mempermalukan mereka. Kita melihat contoh kasih yang paling murni dalam Yesus yang mengorbankan dirinya untuk Gereja, contoh yang luar biasa dan kuat dari hubungan pernikahan.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” Efesus 5:25-28

Seorang suami harus menjadi pengasuh istrinya, sahabatnya, dan pelindungnya. Seorang istri seharusnya menjadi penolong dan orang kepercayaan suaminya. Dia dipanggil untuk menghormati dan menghargai kedudukannya sebagai pelindung dan kepala keluarga. Menjadi istri yang tunduk dan suami yang penuh kasih adalah tentang hubungan yang seimbang di mana masing-masing pihak memahami peran yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Hubungan pernikahan harus selalu menghormati kedua belah pihak. Itu bukan pembagian 50/50; itu adalah kontribusi 100/100 di kedua belah pihak.

Hubungan pernikahan yang kokoh ditemukan ketika prioritas pertama adalah Tuhan, dan hubungan tersebut dibangun di atas fondasi-Nya. Ketika kita memiliki fondasi Kristus yang kokoh dan berjuang untuk pernikahan yang sehat dan berdasarkan Alkitab, kita akan lebih siap untuk hubungan yang sehat dengan anak-anak kita. Ajari anak-anak untuk mengerti bahwa hubungan antara ibu dan bapa mereka adalah sangat penting untuk dapat menunjang usaha untuk membesarkan mereka, sehingga ketika mereka sudah menjadi orang tua, mereka tidak akan menyimpang dari prinsip ini.

Pasangan Anda adalah orang yang akan menghabiskan sisa hidup Anda bersama Anda. Ini adalah janji sehidup semati yang Anda ucapkan pada saat pernikahan. Pasangan Anda akan tetap ada bahkan setelah anak-anak Anda meninggalkan rumah untuk menjalani hidup mereka sendiri. Walaupun demikian, anak-anak Anda juga penting dan Anda perlu mengasuh mereka, mencintai mereka, bermain, berdoa, tertawa, dan tumbuh bersama mereka. Ingatlah bahwa mereka tidak meminta untuk dilahirkan, tetapi mereka ada karena keputusan yang diambil orang tua mereka. Karena itu, anak-anak ada dalm prioritas ketiga.

Apakah kita mengajar dan melatih anak-anak kita? Kualitas karakter atau perilaku apa yang kita inginkan agar anak-anak kita kembangkan? Ini adalah tanggung jawab bersama yang dimiliki oleh ayah dan ibu, tanggung jawab yang besar dan menyita banyak waktu dan pengurbanan secara jasmani dan rohani.

“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6:4

“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Amsal 29:17

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Amsal 22:6

Adanya anak seharusnya memperkuat hubungan antara suami dan istri karena adanya tujuan bersama. Tetapi, mungkin saja terjadi bahwa hubungan suami istri menjadi renggang ketika mereka sudah mempunyai anak. Ini mungkin saja terjadi karena tanggung jawab untuk membesarkan anak yang dirasa sangat besar, lebih besar dari tanggung jawab untuk mengasihi dan membahagiakan pasangan mereka. Hal ini merupakan sesuatu yang berbahaya dan akan membuat hubungan suami-stri menjadi kacau, terutama jika di hari tua mereka masih merasa bertanggung jawab untuk membesarkan cucu-cucu mereka.

Pagi ini kita belajar bahwa sebagai orang Kristen kita haris menggunakan waktu dan usaha kita dengan bijaksana. Prioritas yang kacau atau kabur membuat kita tertekan karena timbulnya rasa bersalah yang timbul dalam hati kita, atau karena munculnya perpecahan dalam kesatuan keluarga. Mementukan prioritas hidup adalah sangat penting agar kita dapat hidup dengan damai dan bahagia dalam berkat Tuhan.

Karena kecewa orang bisa menolak Yesus

“Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Matius 11:6

Matius 11:1–19 membahas tentang Yohanes Pembaptis, yang saat itu berada di penjara (Matius 4:12). Yohanes mengutus murid-muridnya sendiri untuk bertanya kepada Yesus. Itu karena kemasyghulan yang ada dalam pikiran Yohanes.

Yohanes tampaknya bertanya-tanya apakah Yesus benar-benar Mesias (Matius 11:1–3). Yesus menanggapi dengan menghubungkan mukjizat penyembuhan dan khotbah-Nya dengan nubuat-nubuat dari Yesaya (Matius 11:4–5).

Keraguan tentang identitas Yesus adalah masalah umum para pengikut Yesus sebelum penyaliban dan kebangkitan-Nya (Matius 16:21–23; Yohanes 2:22). Memang Yesus telah menyatakan bahwa Mesias akan datang dengan kesembuhan dan harapan, serta janji penghakiman Allah. Tetapi, banyak orang yang seperti Yohanes berharap bahwa Mesias akan segera mendatangkan penghakiman Allah atas orang-orang di Israel yang belum bertobat dari dosa mereka, serta para penindas Israel.

Pertanyaan Yohanes mungkin merupakan ungkapan keraguan. Atau, mungkin merupakan cara untuk mengungkapkan kebingungan, seolah-olah berkata: “Yesus, apakah Engkau akan melakukan hal-hal ini, atau tidak?”

Yesus yang sudah memberi mereka jawaban kemudian mendukung Yohanes di hadapan orang banyak. Ia mengingatkan mereka tentang ketabahan Yohanes dan menegaskan bahwa Yohanes adalah nabi yang menggenapi nubuat tentang orang yang akan mempersiapkan jalan bagi Mesias. Namun, orang-orang menolak pesan pertobatan Yohanes, dengan mengatakan bahwa Yohanes kerasukan setan dan bahwa Yesus adalah seorang pelahap dan pemabuk. Yesus menegaskan bahwa Ia dan Yohanes akan terbukti benar pada akhirnya. Yesus kemudian mengutuk kota-kota yang menolak untuk bertobat. Ia berterima kasih kepada Bapa karena telah mengungkapkan kebenaran kepada anak-anak kecil. Ia juga menawarkan kelegaan bagi mereka yang lelah dan terbebani.

Seperti orang-orang pada masa itu, kita pun bisa saja meragukan apakan Yesus masih bekerja pada zaman ini. Tepatnya, apakah Ia akan memenuhi kehendak kita. Akankah Ia menolong kita yang sedang mengalami penderitaan dan berbagai persoalan? Akankah Ia membuat keajaiban untuk kita? Kapankah Ia menjawab permohonan kita? Setelah menunggu cukup lama, kita pun bisa menjadi kecewa.

Yesus mengakhiri jawaban-Nya kepada murid-murid Yohanes dengan menyatakan berbahagialah “orang yang tidak menjadi kecewa.” Frasa ini dalam bahasa Yunani adalah hos ean mē skandalisthē en emoi. Frasa ini dapat diterjemahkan sebagai “orang yang tidak tersinggung karena Aku”. Yesus secara halus memperingatkan untuk tidak kecewa, marah atau gundah karena Dia tidak langsung memenuhi harapan seseorang. Lebih dari itu, kehendak dan rencana-Nya yang harus terjadi, bukan kehendak manusia. Jawaban Yesus atas permohonan kita bisa “ya”, “tidak”, atau “tunggu”.

Banyak orang yang menolak Yesus karena beranggapan bahwa Yesus hanya ada dalam dongeng Alkitab. Yesus bukan Allah karena mereka merasa tidak mendapat manfaat apa-apa sebagai orang Kristen. Asumsi sedemikian adalah bagian dari sifat kita yang kurang mau mendengar suara Roh Kudus, yang sering hanya memikirkan kebutuhan duniawi pada saat ini.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2:14

Pagi ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Allah Bapa (Yohanes 14:6), tetapi Dia juga merupakan batu sandungan yang akan membuat orang tersandung dalam upaya mereka untuk mencapai Allah karena mereka tidak percaya bahwa Dia adalah Kristus (Yesaya 8:14; Roma 9:33).

Banyak orang, baik di era Yesus maupun saat ini, menolak Allah secara khusus karena Dia tidak sesuai dengan pilihan atau tuntutan mereka. Dengan demikian, mereka juga menolak uluran tangan keselamatan dari Yesus. Mereka hanya ingin hidup nikmat sementara di zaman sekarang, dan tidak peduli akan hidup abadi di masa depan. Semoga Anda tidak demikian!