Untungnya menjadi orang percaya

Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Kolose 1:9-12

Perhitungan untung -rugi secara materi agaknya juga sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat, sampai-sampai untuk berteman ataupun berkeluarga, ada orang-orang yang mengambil keputusan berdasarkan besarnya keuntungan di masa depan. Jika hubungan antar manusia tidak bisa membawa keuntungan, orang mungkin akan kehilangan minat untuk meneruskannya. Dalam hal ini, adanya orang yang mempunyai kedudukan, pengaruh atau harta seringkali memberi insentif bagi orang lain untuk mau membina hubungan yang baik dengan mereka.

Jika untung rugi sering diperhitungkan dalam kehidupan bermasyarakat, ada orang -orang yang mempertimbangkan hal yang serupa dalam kehidupan rohani. Apa untungnya untuk menjadi Kristen? Buat apa rajin ke gereja atau membaca Alkitab? Bukankah untuk menjadi orang benar-benar Kristen itu tidak mudah? Jika orang sudah kurang punya waktu untuk menikmati hidup, mengapa pula mereka harus peduli dengan soal rohani?

Ada banyak keuntungan dari Tuhan yang kita peroleh sebagai orang Kristen. Dalam Kolose 1, Paulus pertama-tama memperkenalkan dirinya, bersama dengan rekan penulisnya Timotius. Seperti yang sering dilakukannya, Paulus bersyukur atas apa yang didengarnya tentang iman orang-orang percaya di Kolose. Paulus menyertakan doa untuk pertumbuhan dan kekuatan rohani mereka. Surat itu kemudian beralih ke pujian kepada Yesus, menyatakan-Nya sebagai Tuhan (Lord).

Semua ciptaan diciptakan melalui, oleh, dan untuk-Nya. Dan, karena pengorbanan-Nyalah yang menyelamatkan kita dari dosa, kita dapat yakin pada karunia keselamatan kita. Ini adalah keuntungan terbesar bagi kita. Dalam doanya, Paulus mengingatkan orang-orang percaya di Kolose bahwa keselamatan sepenuhnya adalah pekerjaan Tuhan, yang secara drastis mengubah nasib mereka dengan menyelamatkan mereka dari dosa.

Paulus berdoa agar mereka terus bertumbuh secara rohani, termasuk pengetahuan tentang Tuhan, pengetahuan tentang kehendak-Nya, dan hikmat rohani. Ini memungkinkan kita untuk berjalan di jalan yang benar. Paulus juga berdoa agar mereka memiliki kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi persoalan hidup. Ini penting karena menjadi umat-Nya bukan berarti semua hal akan berjalan mulus dan lancar.

Selanjutnya, Paulus melanjutkan doanya bagi jemaat di Kolose dengan meminta agar mereka diberi kuasa tambahan. Secara khusus, Paulus berdoa agar mereka menerima kuasa dari Allah. Kekuatan Tuhan, atau kuasa yang dahsyat, merupakan tema umum dalam Kitab Suci (Zakharia 4:6). Kejadian 49:24 juga menyebut Allah sebagai “Yang Mahakuat pelindung Yakub.” Kuasa Allah yang bagaimana?

Pertama, kuasa Allah memberikan ketahanan, yaitu kemampuan untuk menahan kesulitan. Tuhan adalah “Allah yang penuh dengan ketekunan dan penghiburan”, yaitu apa yang dibutuhkan oleh semua orang Kristen dalam hidup di dunia sehingga mereka dapat hidup saling menolong dengan sesamanya.

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus” Roma 15:5

Kedua, kuasa Allah memberikan kesabaran. Kesabaran merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) dan merupakan bagian penting dari kedewasaan Kristen. Ketiga, kuasa Allah memberikan sukacita. Sukacita juga merupakan bagian dari buah Roh dan merupakan salah satu perbedaan yang paling jelas antara kehidupan orang percaya dan orang yang tidak percaya. Orang percaya tidak selalu hidup berkelimpahan secara jasmani, tetapi selalu bisa meraca cukup atas apa yang ada.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” 1 Timotius 6:6-8

Selain berdoa memohon kekuatan Tuhan bagi orang-orang Kristen di Kolose, Paulus berdoa agar mereka mengucap syukur. Sama seperti Paulus berdoa, mengucap syukur terus-menerus (1 Tesalonika 5:16-18), mereka juga harus mengucap syukur dalam setiap keadaan.

Pada akhirnya, Paulus juga menyebutkan tentang terang, yang merupakan bagian penting dari pemikiran Ibrani. Menurut orang-orang Yahudi, semua pengetahuan dan kebaikan dilambangkan dengan “terang,” sementara dosa dan ketidaktahuan dicirikan oleh “kegelapan.” Ini juga merupakan tema rasul Yohanes, yang sering digunakan dalam surat-suratnya dan Injil Yohanes. Semoga terang Kristus membuka mata rohani kita agar kita yakin bahwa kita adalah orang-orang yang beruntung!

Menghadapi penderitaan sebagai orang Kristen

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” 1 Petrus 4:16

Pernahkah Anda menderita? Saya yakin Anda akan menjawab “ya”. Orang manakah yang tidak pernah menderita akibat sakit, kegagalan, masalah pekerjaan dan sebagainya? Itu semua adalah konsekuensi Adam dan Hawa yang telah jatuh dalam dosa (Kejadian 3:18-19). Walaupun demikian, jawaban kita mungkin berbeda atas pertanyaan ini: “Pernahkah Anda menderita demi Kristus?”. Menderita demi Kristus? Apa maksudnya? Bukankah kita ingin berbahagia dan bukannya menderita dalam Kristus? Bukankah Kristus sudah menang atas kematian?

Ayat-ayat dari 1 Petrus 4:12–19 mengingatkan orang Kristen untuk tidak terkejut bahkan oleh penderitaan dalam mengikuti Yesus, tetapi sebaliknya melihat keikutsertaan dalam penderitaan Kristus sebagai sesuatu yang layak untuk disyukuri. Kita akan bersukacita ketika kemuliaan Kristus akhirnya dinyatakan, dan kita saat ini diberkati sekalipun mempunyai masalah karena Roh Allah menyertai kita. Pada saat yang sama, kita tidak akan mendapatkan pujian atas hukuman karena kejahatan kita sendiri, atau karena ingin membalas dendam terhadap mereka yang menyakiti kita. Ketika kita sebagai orang beriman dianiaya karena berbuat baik, Allah mampu menegakkan keadilan intuk umat-Nya, untuk memperkuat iman kita kepada-Nya. Sebaliknya, Dia akan menghakimi dengan keras semua orang yang menolak Kristus.

Kata “Kristen” sebenarnya hanya muncul enam kali dalam Alkitab. Sangat mungkin kata itu digunakan sebagai penghinaan oleh orang-orang yang tidak percaya pada zaman Petrus. Namun, Petrus menolak gagasan bahwa berhubungan dengan Kristus seharusnya dianggap sebagai penghinaan. Orang-orang percaya harus menolak rasa malu karena benar-benar menderita demi Yesus. Sebaliknya, kita harus dengan berani memuliakan Tuhan, dalam nama Kristus, tepat di tengah-tengah penderitaan kita bagi-Nya. Kita tidak boleh menjadi malu karena orang lain mengejek kita karena sebagai orang Kristen kita masih mengalami kekurangan, penderitaan dan pergumulan dan bukannya selalu mengalami kelimpahan, kesuksesan dan kemakmuran seperti yang diajarkan beberapa orang.

Petrus terus menjelaskan bagaimana orang Kristen harus menanggapi ketika menghadapi penganiayaan, pencemoohan, ejekan, dari dunia dan bahkan dari sesama orang Kristen. Ambillah sikap Kristus, dan harapkan tujuan Allah bagi hidup Anda mencakup penderitaan. Jauhkan jalan hidup Anda dari pencarian kenikmatan dan kemakmuran duniawi. Waspadalah sehingga Anda dapat berdoa secara efektif di akhir zaman ini. Bahkan, bersukacitalah jika Anda ambil bagian dalam penderitaan Kristus yang pernah ditolak bangsa-Nya dan bahkan dua murid-Nya. Tuhan menggunakan penderitaan untuk memurnikan iman umat-Nya, dan penderitaan kita saat ini berkontribusi pada kemuliaan di masa depan. Jika Anda menderita dalam bentuk apa pun, teruslah berbuat baik dan hidup saleh sambil mempercayakan jiwa Anda kepada Sang Pencipta dengan iman yang teguh. Lalu apa pentingnya iman dalam penderitaan kita?

Iman didefinisikan sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Iman adalah percaya dengan sungguh-sungguh. Bagi umat Kristen, iman adalah karunia Allah yang dikerjakan di dalam hati oleh Roh Kudus, yang menghidupkan dan memandu semua kemampuan kita menuju satu tujuan. Kita harus berdoa untuk memiliki iman, dan supaya iman kita bertumbuh. Iman kita juga akan diperkuat dengan selalu mengingat janji-janji Kristus yang berulangkali diucapkan bahwa doa-doa kita kepada Bapa, dalam nama-Nya, pasti akan dijawab kalau kita memintanya dengan iman, dan percaya sewaktu kita memintanya. Lihat Matius 7:7; Lukas 11:9; Yohanes 14:13, 15, 16; Yakobus 4:2; I Yohanes 3:22, 5:14; Lukas 11:10.

Iman adalah pekerjaan jiwa yang dengannya kita merasa pasti akan keberadaan dan kebenaran dari sesuatu yang tidak ada di depan kita, atau tidak tampak bagi indera manusia. Setiap orang menilai iman secara berbeda, yang akan dirasanya sukar bahkan tidak mungkin untuk menunjukkannya dengan cara-cara yang tampak. Ini merupakan hal mempraktikan iman – latihan sukarela – yang memampukan kita untuk bertambah dalam mempercayai kebenaran-kebenaran besar yang Allah berkenan nyatakan. Paulus menyatakan “– sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). Yesus sendiri berfirman: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29)

Dengan demikian, sementara mempercayai apa yang kita lihat dan pahami akan mendatangkan manfaat sekalipun terasa pahit, percaya pada apa yang tidak terlihat dan hanya dipahami secara samar-samar mendatangkan manfaat yang lebih besar. Ada banyak hal di alam semesta ini yang kita percayai, tanpa harus kita pahami sepenuhnya; kita percaya karena kita mendapatkan buktinya dari orang lain, meskipun bukan dari panca indera kita sendiri. Iman yang begitu saja percaya pada apa yang bisa ia lihat, pahami, jelaskan dan tunjukkan sama sekali bukan iman. “Tidak seorang pun melihat Allah”, akan tetapi semua orang percaya kepada Allah. Hal-hal dalam dunia rohani tidak dapat ditunjukkan melalui perantara-perantara materiil, melainkan hanya bisa melalui perantara-perantara rohani. Dengan demikian, menggunakan iman akan meningkatkan kerohanian kita, memampukan kita memahami berbagai hal yang saat ini terasa pahit, tetapi yang sebenarnya adalah bentuk latihan dan ujian dari Tuhan yang pada akhirnya akan membuat kita lebih dekat dan bergantung kepada-Mya.

“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12:6-7

Perjuangan melawan dosa harus terus belangsung karena dosa kita tidak ditetapkan Tuhan

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Roma 7:15-20

Apakah ayat-ayat di atas menggambarkan Paulus sebelum atau sesudah menjadi seorang Kristen? Para ahli Alkitab tidak sependapat satu sama lain, dan perbedaan tersebut memiliki beberapa arti penting. Secara harfiah, bahasa Yunani Paulus dalam bagian ini berubah menjadi bentuk orang pertama, tunggal, dan bentuk sekarang. Hal ini berbeda dengan bagian lain dari Kitab Roma yang menggunakan istilah yang lebih umum. Setidaknya menurut pilihan bahasanya, Paulus tampaknya berbicara tentang dirinya sendiri secara langsung dan harfiah.

Roma 7:7–25 membahas hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukum adalah cara ia mengetahui dan memahami dosa secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ia juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum tidak membuat seseorang lebih suci; hukum justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi! Paulus mengubah perspektifnya dalam bagian ini, dia berbicara sebagai orang pertama, sebagai seorang Kristen yang ingin melakukan apa yang benar tetapi mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dibebaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.

Mereka yang percaya bahwa Paulus menggambarkan hidupnya sebelum menjadi seorang Kristen memahami bahwa Paulus bermaksud bahwa mereka yang masih berada di bawah hukum bingung tentang mengapa mereka tidak dapat menaati hukum. Mengapa mereka terus-menerus tidak menaati perintah-perintah Allah bahkan ketika mereka tidak mau begitu? Sebagian orang Kristen percaya bahwa itu adalah “takdir”, sudah ditetapkan Allah agar dapat memenuhi rencana-Nya. Tetapi, pandangan seperti itu adalah fatalis.

Sebenarnya, Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen percaya bahwa ia sangat jujur ​​tentang perjuangan yang sedang berlangsung melawan dosa. Meskipun orang Kristen telah terbebas dari kuasa dosa, kita terus hidup di bawah pengaruhnya yang kuat. Terkadang kita mungkin merasa persis seperti yang dijelaskan Paulus. Kita terus melakukan apa yang kita benci—kita berdosa—bahkan ketika kita bermaksud melakukan apa yang benar. Bukan berarti kita masih menjadi budak dosa, tetapi kita terbagi oleh keinginan-keinginan kita sendiri yang saling bersaing. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari menjadi manusia yang dapat berbuat salah dan fana (2 Korintus 5:2).

Paulus menggambarkan dirinya sebagai orang yang terus-menerus melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang ingin ia lakukan. Alih-alih melakukan hal-hal yang ingin ia lakukan, ia malah melakukan apa yang ia benci. Hal ini membuat frustrasi—mengapa hal ini terjadi? Beberapa orang Kristen mungkin mencoba mengartikan ayat ini sebagai perkataan Paulus bahwa ia tidak bisa bertanggung jawab atas perbuatan dosanya sendiri. Namun, konteks bagian ini memperjelas bahwa bukan itu yang dimaksudkan Paulus. Ia telah menulis bahwa meskipun ia ingin berbuat baik, ia malah melakukan apa yang ia benci: ia berdosa. Keinginan pribadinya adalah melakukan hal yang benar, menaati hukum Allah. Bahkan dalam kasus Paulus, tumbuh sebagai orang Yahudi yang taat (Filipi 3:4–7), tidak cukup untuk mencegahnya dari ketidaktaatan kepada Allah. Daya tarik dosa mengalahkan minat Paulus yang tulus untuk berbuat benar. Dengan cara ini, Paulus mengatakan bahwa masalahnya bukan pada niatnya. Sebaliknya, dosa dalam dirinyalah yang mengalahkan niatnya dan menuntunnya untuk tetap melakukan apa yang salah.

Setiap orang Kristen sedang berjuang dalam peperangan besar yang terjadi di dalam diri mereka. Mereka menghadapi musuh-musuh dari luar di dunia ini dan iblis yang berperang melawan mereka. Namun, ada lawan yang lebih kuat lagi yang telah bercokol di dalam diri setiap orang percaya. Ini melibatkan kita dalam pertempuran tanpa henti antara manusia baru kita di dalam Kristus dan daging lama kita yang berdosa. Kedua rival ini saling bertentangan. Mereka saling bermusuhan. Mereka menimbulkan pertikaian internal di medan perang dalam jiwa setiap orang percaya. Tidak pernah ada gencatan senjata yang disepakati antara kedua kekuatan ini. Tidak pernah ada bendera putih yang dikibarkan dalam pertikaian ini. Tidak pernah ada gencatan senjata. Pertempuran ini terus berlangsung sampai akhir hidup kita di dunia.

Jika Anda pada saat ini merasakan intensitas pertikaian internal ini, itu karena Anda telah lahir baru. Setelah Anda dibenarkan oleh iman, pertempuran internal pun terjadi di dalam diri Anda. Ada keinginan baru di dalam diri setiap orang percaya yang ingin melakukan yang benar. Itu datangnya dari Tuhan. Kita sekarang mengasihi Tuhan, gereja, kebenaran, dan kehendak Tuhan. Namun, ada keinginan lain di dalam diri kita yang mengasihi diri kita sendiri dan dunia. Hasilnya adalah tarik-menarik internal.

Bagian dalam Roma 7:15-20 ini memberi kita kisah langsung tentang pertempuran antara sifat baru dan daging yang berdosa di dalam diri rasul Paulus. Ia menulis ayat-ayat ini sebagai orang percaya yang dewasa di dalam Kristus. Kehidupan Paulus sendiri menunjukkan bahwa pergumulan dengan daging kita yang berdosa ini tidak pernah berakhir selama kita berada di bumi. Paulus sedang berjuang untuk kekudusan, sama seperti Anda dan saya, karena Tuhan menghendakinya.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15-16

Bukannya menyerah kepada keadaan, kita harus mengambil tindakan untuk menguji tubuh kita dan menjadikannya budak kita. Kita harus melawan godaan dan berjuang dalam pertarungan yang baik. Kita harus melawan godaan dan menjauhi amoralitas. Kehidupan Kristen adalah perjuangan untuk kekudusan. Pergumulan di dalam diri kita ini nyata, intens, berkelanjutan, internal, rohani, dan ditemukan dalam diri semua orang percaya sejati. Ayat-ayat ini seperti melihat ke dalam cermin dan melihat pergumulan dengan dosa yang ada di dalam diri kita masing-masing.

Alkitab berbicara dengan sangat akurat mengenai kondisi manusia kita. Alkitab menyingkapkan hal-hal terburuk tentang manusia. Manusia yang sering lupa bahwa ia bertanggung jawab kepada Penciptanya. Ini adalah bukti lain bahwa Alkitab adalah firman Allah yang diilhami dan tidak salah. Jika ini hanya sebuah buku manusia, Alkitab akan menampilkan manusia dalam cahaya yang terbaik, selalu menampilkan sisi terbaiknya. Namun, bukan itu yang kita baca dalam Kitab Suci. Sebaliknya, kita menemukan di halaman-halamannya pergumulan nyata dengan dosa yang dihadapi orang percaya. Alkitab memuat diagnosis Allah tentang dilema manusia.

Dalam Roma 7:15-20, kita melihat pergumulan Paulus yang terus-menerus dengan dosa. Ini adalah pengalamannya bahkan sebagai orang percaya yang dewasa dalam Yesus Kristus. Pergumulan dengan dosa inilah yang membingungkan Paulus. Sebagai orang percaya yang dewasa, ia tidak mengerti mengapa ia masih berbuat dosa, padahal ia memiliki hati yang baru yang mengasihi Tuhan. Mengapa ia masih berbuat dosa padahal ia memiliki sifat yang baru dengan kasih sayang yang baru, dan Roh Kudus sekarang tinggal di dalam dirinya? Ia tidak dapat mengerti mengapa ia masih berbuat dosa. Hal itu membingungkan Paulus. Ini adalah titik frustrasi yang besar, karena ia selalu menginginkan kesalehan dan kekudusan. Ia mengerti bahwa cara hidupnya adalah dalam tanggung jawabnya. Namun, ia terus jatuh ke dalam dosa. Paulus bingung dan dibuat bingung oleh misteri yang tidak dapat dijelaskan ini tentang dirinya sendiri. Apakah itu sudah ditetapkan Tuhan?

Bagi kita yang adalah orang percaya, ini seharusnya menjadi gema dari kebingungan yang seharusnya kita rasakan di dalam hati kita sendiri. Ketika kita mengakhiri hari dalam doa, ada dosa-dosa yang harus kita akui yang tidak masuk akal mengapa kita melakukannya. Egotisme, keserakahan, hawa nafsu, keduniawian, ketamakan, dan banyak dosa lainnya masih muncul dalam kehidupan kita. Kita bertanya-tanya mengapa dosa-dosa itu terus mengganggu kita. Dosa adalah misteri yang membingungkan. Mengapa kita masih melakukan dosa jika kita telah dilahirkan kembali? Apakah itu membuktikan bahwa kita tidak bisa bertangggung jawab atas hidup kita?

Paulus menggambarkan pergumulannya dengan dosa sebagai kontradiksi total dengan sifat barunya yang diciptakan dalam kekudusan. Ia menulis, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (ayat 15). Paulus berkata bahwa apa yang ingin ia perbuat, ia tahu bahwa ia tidak melakukannya. Dan apa yang ia lakukan adalah hal yang ia benci. Segala sesuatu dalam hidupnya terbalik. Apa yang tidak ingin ia lakukan, ia lakukan. Apa yang ingin ia lakukan, ia tidak lakukan. Ada aspek negatif dan positif dari dilema terbalik ini. Ia melakukan dosa kelalaian dan perbuatan. Dosa kelalaian adalah apa yang tidak ia lakukan, tetapi seharusnya ia lakukan. Dosa perbuatan adalah apa yang ia lakukan, tetapi seharusnya tidak ia lakukan. Itu bukan takdir.

Ketika Paulus berkata, “bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat,” ia berbicara tentang melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kekudusan pribadi. Ini adalah alasan lain mengapa Paulus menyebut dirinya sebagai orang percaya. Orang yang tidak percaya tidak ingin mengejar kekudusan. Orang-orang yang tidak percaya tidak mau menyangkal diri dan memikul salib mereka – tidak mau bertanggung jawab atas hidupnya – untuk mengikuti Kristus. Orang-orang yang tidak percaya biasanya lebih suka menjadi antinomian dan hidup tanpa mempedulikan ketaatan pada firman Tuhan. Sebaliknya, orang-orang percaya tidak mau menjadi antinomian, karena Tuhan telah memberi mereka rasa lapar dan haus yang baru untuk menaati firman-Nya. Sebagai hasil dari kelahiran baru, mereka telah diberi keinginan baru untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka. Mereka memiliki hati yang baru dengan kasih sayang yang baru. Mereka ingin melakukan hal-hal yang memuliakan Tuhan, karena itu adalah perintah Tuhan.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:20

Namun, kontradiksi dalam diri Paulus adalah bahwa ia tidak selalu mempraktikkan hal-hal ini. Keinginannya adalah untuk kesalehan, tetapi praktiknya tidak selalu sejalan dengan itu. Paulus bersikap sangat jujur. Ia tidak mencoba menampilkan dirinya dengan cara yang sangat rohani. Paulus, sebagai orang percaya, justru melakukan hal-hal yang dibencinya. Ia membenci dosa yang tidak menyenangkan dan tidak menghormati Tuhan. Ia benci menyerah pada godaan. Ia benci mengorbankan kesaksiannya. Namun, ia melakukannya dan begitu juga kita. Karena itu, ketika kita berlutut dalam doa di hadapan Tuhan, kita perlu jujur ​​kepada-Nya bahwa kita tidak melakukan apa yang kita inginkan.

John Calvin menulis dalam bab satu, bagian pertama dari Institutes of the Christian Religion bahwa dengan pengetahuan tentang Tuhan datanglah pengetahuan tentang diri sendiri. Segala sesuatu dalam kehidupan Kristen Anda dimulai dengan mengetahui siapa Tuhan itu dan, pada gilirannya, mengetahui siapa Anda. Sebelum Anda mengetahui siapa Tuhan itu, Anda tidak akan pernah mengetahui siapa diri Anda. Dan sebelum Anda mengetahui siapa diri Anda, Anda tidak akan pernah maju dalam kerohanian. Paulus benar-benar jujur ​​kepada kita. Ini adalah pemikiran pribadi yang sekarang diungkapkan kepada publik untuk membantu kita belajar tentang diri kita sendiri. Jika ketika Anda berbuat dosa dan berpikir, “Apa yang salah dengan saya?”, kenyataannya adalah bahwa pikiran inilah yang salah dengan kita semua. Kita harus menerima bahwa bahkan sebagai orang percaya, kita masih berjuang melawan dosa.

Kita masih memiliki kapasitas untuk melakukan apa yang tidak ingin dilakukan oleh manusia baru kita. Begitu kita bangun, pertempuran terus berlanjut. Tidak ada waktu istirahat dari konflik internal ini. Tidak ada waktu istirahat di tengah-tengah pergumulan. Kadang-kadang, bahkan semakin tinggi kedudukan rohani kita, semakin rentan kita terhadap dosa. Bagi setiap orang percaya, dosa adalah kenyataan yang terus berlanjut dalam hidup kita bahkan setelah kita diselamatkan. Sebagai orang percaya, kita akan selalu memerangi dosa. Medan perang ada di dalam diri kita, dan konflik rohani tidak akan hilang. Dosa dan maut tidak lagi berkuasa atas kita, meskipun dosa masih ada di dalam diri kita. Dosa pernah berkuasa atas hidup kita, tetapi Kristus telah menyingkirkan dosa dari takhta kehidupan kita. Yesus sekarang bertahta sebagai Tuhan atas hidup kita. Karena itu, dalam peperangan melawan dosa kita harus bersandar kepada Dia dalam setiap saat.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1:14

Tugas kita adalah menginjil, bukan berdebat

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” 2 Timotius 2:2

Ada tulisan dari situs Reformed yang baru-baru ini saya baca tentang seorang Kristen baru, seorang mahasiswi yang sedang berkuliah di universitas. Mempelajari Alkitab merupakan hal baru baginya dan karena itu dia harus bergantung pada bimbingan dan petunjuk dari beberapa wanita yang “lebih tua” untuk membantunya memahami bagaimana dia harus menjalani kehidupan Kristen. Dia sangat ingin memahami firman Tuhan, dan penuh dengan pertanyaan untuk teman-teman dan pemimpin Kristen yang melayani kampusnya.

Tidak lama setelah beriman kepada Kristus, sang mahasiswi menyadari bahwa ada dua kelompok berbeda dalam pelayanan yang dia ikuti: mereka yang percaya pada penetapan mutlak dari Tuhan dan mereka yang tidak percaya akan hal itu. Kemudian dia menyadari bahwa nama yang lebih formal untuk kelompok-kelompok Kristen tersebut adalah Reformed dan Arminian.

Seorang teman mahasiswi itu yang dari kubu Reformed memberi tahu dia bahwa mereka telah menjuluki sudut pandang yang berlawanan sebagai “lelucon” dan bahkan “bidat”. Orang bodoh mana yang benar-benar percaya bahwa Alkitab tidak menjelaskan predestinasi dengan tegas? Sikapnya yang arogan dan mengejek, bersama dengan tanggapan sombong orang lain, benar-benar membuat mahasiswi itu tidak tertarik. Tiba-tiba dia lagi tidak tertarik mendengar bukti alkitabiah mereka. Kata-kata tajam mereka dengan cepat telah meruntuhkan sudut pandang mereka yang dulunya dia hormati. Dan sekarang, dia bahkan tidak tertarik untuk mempertimbangkan bahwa apa yang mereka katakan mungkin benar. Keselamatan bukan bergantung pada doktrin, tapi pada anugerah Tuhan.

Bahaya kesombongan teologis mengintai di balik banyak keyakinan kuat yang kita miliki dan perdebatan sengit yang sering kita lakukan — baik dalam pelajaran Alkitab, di media sosial, atau di gereja. Kita yang bersemangat mempelajari Alkitab dan memahami firman Tuhan, pasti akan membentuk keyakinan dalam bidang-bidang seperti predestinasi, peran pria dan wanita, karunia Roh, akhir zaman, dan berbagai topik lainnya.

Keyakinan adalah hal yang baik, selama kita menyampaikannya kepada orang lain dengan cara yang penuh kasih. Sebagai pengikut Reformed, saya sendiri setuju bahwa doktrin yang benar itu penting. Paulus menasihati kita untuk “mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Kita harus melaksanakan firman Tuhan dengan tekun dan hati-hati karena pegurbanan Yesus adalah sesuatu yang pernyataan kedaulatan Tuhan yang mahabesar. Yakobus memperingatkan kita bahwa tidak banyak dari kita yang boleh menjadi guru, karena kita akan dihakimi dengan lebih keras (Yakobus 3:1). Namun, sikap yang kita bawa saat kita menyatakan keyakinan kita, atau mengajarkannya kepada orang lain, memiliki kuasa untuk menarik orang lain kepada Injil, atau mengusir mereka dari hidup dalam kekudusan.

Di komunitas Reformed pada umumnya, saya melihat adanya kecenderungan untuk menunjukkan apa atau siapa yang harus kita lawan daripada mengajarkan dengan kasih apa yang kita dukung. Tampaknya banyak yang mengenakan sarung tinju mereka di dunia teologi dan ingin beradu pendapat tentang ajaran siapa yang harus kita tegaskan dan ajaran siapa yang harus kita buang. Saat ini, kita cepat-cepat melontarkan tuduhan “bidat.” Meskipun saya menyadari sebagai orang Kristen kita tidak boleh mendukung bidat, kita seharusnya tidak terburu-buru menuduh seseorang dengan sebutan yang berat itu hanya karena mereka tidak memiliki keyakinan yang sama tentang lima pokok Kalvinisme, atau apakah seorang wanita dapat bekerja sebagai pendeta atau tidak.

Ayat 2 Timotius 2:1–13 menyajikan serangkaian contoh manusia yang Paulus ingin Timotius pertimbangkan. Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan dan bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Ia menganggap semua yang kurang penting untuk dipersoalkan sebagai “omong kosong” , dan argumen tentangnya sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti gangren, pertengkaran antar golongan Kirsten ini bisa terus menyebar hingga menjadi bencana bagi umat Kristen secara umum. Tujuan akhir penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” argumen, tetapi untuk menyelamatkan orang-orang yang terhilang.

Ayat 2 Timotius 2:2 tentang pemuridan yang terkenal ini menawarkan strategi Paulus untuk meneruskan iman. Ia mulai dengan mengingatkan Timotius tentang pelajaran khusus yang Paulus berikan kepadanya. Paulus membagikan Kristus kepada Timotius dan melakukannya “di hadapan banyak saksi.” Pentingnya saksi-saksi lain bagi iman Timotius juga terbukti dalam 1 Timotius 6:12 ketika Paulus menulis: “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.“.

Timotius harus mengajarkan pesan yang sama kepada orang lain yang mampu menyampaikan pengetahuan yang sama. Ini bukan referensi untuk penginjilan, karena lebih penting dari itu mereka harus menjadi “orang-orang yang setia,” atau orang-orang yang telah percaya kepada Kristus. Jika dilakukan dengan benar, orang-orang percaya yang terlatih ini akan “dapat mengajar orang lain juga.” Ini adalah cara utama penyebaran Injil: melalui hubungan dan pemuridan.

Saya khawatir, dalam hasrat kita untuk memurnikan gereja dengan doktrin yang benar, kita melupakan kasih yang Kristus memanggil kita untuk taat kepada firman-Nya dalam hidup kita. Cara kita menjalani hidup dan perkataan yang mengalir dari mulut kita memperlihatkan Injil kepada dunia yang sedang mengamati. Semua itu harus menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita.

Saya bukan pendukung untuk menerima atau menoleransi ajaran yang jelas-jelas sesat. Kita harus bijak dan cerdas, mengambil keyakinan kita dari firman Tuhan itu sendiri. Kita harus mengevaluasi pelajaran Alkitab yang kita lakukan, buku-buku Kristen yang kita baca, dan guru serta pengkhotbah yang kita dengarkan. Segala sesuatu harus diukur berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Namun, hanya karena seseorang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan saya, tidak berarti semua yang mereka katakan tidak berharga. Saya juga tidak dapat menghakimi mereka sebagai orang-orang yang tidak terpilih.

Saya harap kita akan menyelidiki hati kita sebelum berdebat dengan sesama orang Kristen atau memposting tanggapan yang menyakitkan di media sosial dengan seseorang yang tidak memiliki keyakinan yang sama tentang masalah teologis tertentu. Berbagi keyakinan kita dengan penuh semangat dengan semangat kasih, dan bukan nya mudah mengutuk, dapat menghasilkan pengaruh yang lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan. Janganlah kita bersalah karena meninggalkan kasih yang pertama kali kita miliki, saat kita berusaha menyebarkan nama Tuhan ke seluruh bangsa.

Terus bertumbuh secara rohani

“tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Efesus 4:15

Masih ingatkah Anda kapan tubuh Anda berhenti bertumbuh? Usia saat anak-anak berhenti tumbuh tinggi tergantung pada jenis kelamin dan faktor-faktor lainnya. Meskipun anak laki-laki tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan, mereka akhirnya mengejar ketertinggalan. Kebanyakan anak perempuan berhenti tumbuh tinggi pada usia 14 atau 15 tahun. Sebaliknya, setelah masa pertumbuhan remaja awal, anak laki-laki terus bertambah tinggi secara bertahap hingga sekitar usia 18 tahun.

Apa yang terjadi setelah tubuh berhenti bertumbuh? Kekuatan jasmani tetap bertumbuh seiring dengan kesehatan dan kegiatan hidup tiap orang sehingga dalam olahraga misalnya, atlit-atlit tertentu mencapai puncak prestasi pada usia 20-30 tahun sekalipun untuh olahraga renang dan gimnastik usia 25 sudah dianggap tua. Penyebab utama hilangnya kemampuan fisik seiring bertambahnya usia adalah hilangnya massa dan kekuatan otot yang berkaitan dengan usia, yang disebut sarkopenia. Biasanya, massa dan kekuatan otot meningkat secara bertahap sejak lahir dan mencapai puncaknya pada usia sekitar 30 hingga 35 tahun, dan sesudah itu mulai menurun.

Berbeda dengan pertumbuhan jasmani, pertumbuhan rohani dimulai saat orang Kristen bertobat dan berlanjut terus hingga mereka meninggalkan dunia ini. Pertumbuhan rohani merupakan aspek penerapan penebusan di mana kedewasaan rohani dikembangkan dalam kehidupan mereka yang telah ditebus oleh Kristus. Orang Kristen bertumbuh dalam kasih karunia melalui penerapan yang tekun dari berbagai cara yang ditetapkan Allah dan disiplin rohani seperti ibadah bersama, ibadah pribadi, doa, pelajaran Alkitab, persekutuan, dan pemuridan. Pertumbuhan rohani dikaitkan dengan ajaran Alkitab tentang kepastian keselamatan dan pemeliharaan serta ketekunan orang-orang kudus. Ayat di atas menyatakan bahwa adanya pertumbuhan rohani membuat orang Kristen makin lama makin menyerupai Kristus.

Pribadi dan karya Kristus membentuk dasar pertumbuhan rohani orang Kristen. Alkitab mengajarkan bahwa Anak Allah menyatukan diri-Nya dengan kodrat manusia, dan selama hidup-Nya, Yesus “makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52). Menurut kodrat manusia-Nya, Yesus bertumbuh dalam hikmat rohani, dan dalam hal itu Ia menjadi teladan pertumbuhan. Namun, Yesus lebih dari sekadar teladan. Karya-Nya bagi orang berdosalah adalah apa yang memungkinkan pertumbuhan rohani mereka.

Yesus Kristus mati dan bangkit kembali untuk membebaskan umat-Nya dari rasa bersalah dan kuasa dosa. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Yesus menjamin pembenaran dan pengudusan orang percaya. Dalam pembenaran, Allah memperhitungkan dosa umat-Nya kepada Kristus dan kebenaran Kristus kepada orang percaya (2 Korintus 5:21). Kematian Yesus menghapuskan rasa bersalah atas dosa umat-Nya. Dalam pengudusan, Allah secara bertahap memurnikan umat-Nya. Roh Kudus adalah agen pertumbuhan rohani. Ia tinggal di dalam orang percaya, menyadarkan mereka akan dosa, dan itu membuat mereka bertambah hikmat dan makin dikasihi Allah dan manusia.

Ibadah bersama sangat penting bagi pertumbuhan rohani orang Kristen dalam kasih karunia Tuhan. Alkitab mengajarkan bahwa orang Kristen tidak boleh meninggalkanpersekutuan orang-orang seiman. Ibadah Hari Tuhan yang diadakan setiap minggu sangat penting bagi proses pertumbuhan kasih karunia yang berkelanjutan. Keanggotaan di gereja lokal sangat penting untuk berpartisipasi dalam sarana kasih karunia ini, dan itu adalah sarana yang melaluinya orang percaya saling menguatkan dan yang melaluinya pejabat gereja yang ditunjuk dengan benar mengatur akses ke sakramen untuk kebaikan rohani orang percaya.

Kekristenan yang tidak bergereja sama sekali tidak alkitabiah. Umat Allah dipanggil untuk hidup dalam komunitas yang penuh kasih dan penuh tujuan dengan satu sama lain, dan tidak pernah dalam keterasingan (Kisah Para Rasul 2:42–47). Ini, tentu saja, adalah rancangan Allah. Dia tahu apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya, dan Firman-Nya penuh dengan bagian-bagian yang menggarisbawahi peran utama yang seharusnya dimainkan oleh gereja lokal dalam kehidupan kita. Kita membutuhkan sarana kasih karunia Firman, sakramen, dan doa (Kisah Para Rasul 2:42). Kita membutuhkan pengawasan rohani (Ibr. 13:17). Kita membutuhkan dorongan dan akuntabilitas yang terus-menerus (Ibrani 3:13). Kita saling membutuhkan (Roma 12:3–8; Efesus 4:1–16).

Disiplin adalah cara lain yang digunakan orang percaya untuk mengalami pertumbuhan rohani. Kata disiplin erat kaitannya dengan kata pemuridan. Dalam Kitab Suci, seorang murid adalah seseorang yang diajar dalam ajaran Kristus. Pemuridan alkitabiah terjadi ketika orang percaya diajar dalam Firman Tuhan. Orang percaya dipanggil oleh Tuhan untuk mengejar disiplin diri dan bukannya merasa bebas untuk berbuat apa saja karena sudah mendapat jaminan keselamatan.

Alkitab juga menasihati orang tua untuk mendisiplinkan anak-anak mereka, membesarkan mereka dalam disiplin dan pelatihan Tuhan (Efesus 6:4). Dengan demikian, para pemimpin gereja juga bertugas untuk mengajarkan disiplin hidup yang benar kepada jemaat. Hal ini terbukti dari ajaran Alkitab tentang disiplin gereja (Matius 18:15–20; Ibrani 12:3–11). Disiplin gereja berfungsi sedemikian rupa untuk menjaga kehormatan nama Kristus, memulihkan saudara-saudara yang bersalah, dan mengekang kejahatan di gereja. Melalui proses ini, orang percaya dapat dibantu dalam proses pertumbuhan rohani.

Ibadah keluarga dan ibadah pribadi adalah disiplin rohani tambahan yang membantu pertumbuhan rohani dalam kasih karunia. Alkitab memerintahkan orang tua untuk dengan tekun mengajarkan seluruh nasihat Allah kepada anak-anak mereka (Ulangan 6:6-7; Efesus 6:4). Alkitab juga penuh dengan contoh-contoh individu yang merenungkan Firman Allah dan memakai waktunya dalam persekutuan dengan-Nya dalam doa (misalnya, Daniel 6:10; Mazmur 63:6).

Kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia dan dibenarkan hanya oleh iman, tetapi setelah diselamatkan, kita tidak hanya menunggu kematian. Kekristenan juga tentang pertumbuhan rohani, dan pertumbuhan rohani melibatkan usaha kita—kerja keras untuk pengudusan. Jelas kita tidak bekerja untuk kelahiran kembali atau pembenaran kita. Kedua tindakan itu bersifat monergistis, yang dilakukan oleh Allah sendiri. Hanya Roh Kudus yang dapat mengubah hati kita. Hanya kebenaran Kristus, kebenaran Anak Allah yang dijamin oleh ketaatan-Nya yang sempurna kepada Bapa, yang dapat mengamankan kedudukan kita yang benar di hadapan Allah.

Pada pihak yang lain, pengudusan mencakup usaha kita. Kita mengatakan itu sinergis karena Allah dan kita sama-sama melakukan sesuatu. Namun, kita bukanlah mitra yang setara. Allah berkehendak dan bekerja di dalam kita sesuai dengan kerelaan-Nya sehingga kita maju dalam kekudusan (Filipi 2:12–13). Namun saat Allah bekerja di dalam kita, kita juga bekerja, mencari Dia dalam doa, mengandalkan sarana kasih karunia—Firman yang dikhotbahkan dan sakramen—berusaha untuk berdamai dengan mereka yang telah kita sakiti. Tidak ada jalan pintas untuk pengudusan. Itu adalah sebuah proses, dan proses yang sering kali tampak terlalu lamban, dengan kemajuan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa dilihat dan dirasakan, tetapi sesuatu yang harus terus disyukuri.

Karena Yesus Kristus dan karya penyelamatan-Nya membentuk dasar iman kita (1 Korintus 2:2; 3:11), kita seharusnya lebih peduli tentang cara bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan tentang Kristus (2 Petrus 3:18). Pertumbuhan kita dalam kasih karunia Kristus akan sepadan dengan penggunaan sarana yang telah ditetapkan Allah. Para teolog menyebutnya sebagai “sarana kasih karunia” (media gratia). Sarana kasih karunia adalah sarana yang ditetapkan Allah yang dengannya Roh Kudus memampukan orang percaya untuk menerima Kristus dan manfaat penebusan. Meskipun Ia dapat memilih untuk segera menyatakan Kristus kepada umat-Nya, Ia telah memutuskan untuk melakukannya melalui sarana tertentu. Allah menugaskan Firman, sakramen, dan doa untuk menjadi sarana utama yang dengannya Ia mengomunikasikan Kristus dan manfaat-Nya kepada orang percaya.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa ada tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Dalam Filipi 2:12-13 ada pernyataan Paulus yang sangat membantu: “Kerjakan keselamatanmu.” Ia tidak berbicara tentang bekerja untuk memdapatkan keselamatan, tetapi bekerja keras dalam keselamatan Anda, bertumbuh dalam kasih karunia, karena Roh Tuhan bekerja di dalam Anda. Anda tidak sendirian. Roh Kudus akan menghasilkan berbagai buah sebagai persediaan yang kita butuhkan untuk bertumbuh dalam kasih karunia.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Apakah Anda benar-benar mengakui Kristus dalam hidup Anda?

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 10:32

Matius 10:26–33 melanjutkan dorongan Yesus, saat Ia mengutus kedua belas rasul dengan otoritas-Nya. Ia memerintahkan para rasul untuk menyebarkan apa yang Ia sudah katakan kepada mereka ke mana-mana. Penganiayaan akan menimpa mereka, tetapi mereka tidak perlu takut. Musuh-musuh mereka hanya dapat membunuh tubuh mereka. Sebaliknya, mereka harus takut kepada Tuhan dan memahami bahwa Bapa mereka peduli kepada mereka. Yesus menyatakan bahwa Ia juga akan mengakui kepada Bapa-Nya setiap orang yang mengakui-Nya kepada orang lain. Akan tetapi, mereka yang menyangkal identitas-Nya sebagai Putra Allah, akan Ia sangkal.

Yesus memberikan otoritas-Nya atas penyakit, setan, dan bahkan kematian kepada kedua belas rasul pilihan-Nya. Ia memberi mereka petunjuk sebagai persiapan untuk perjalanan singkat ke kota-kota Galilea dan pelayanan mereka setelah Ia meninggalkan bumi. Pertama, mereka akan mengabarkan pesan-Nya tentang kerajaan di kota-kota Israel saat mereka menyembuhkan dan mengusir setan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Kemudian, mereka akan menderita penganiayaan hebat saat mereka mewakili-Nya di hadapan orang Yahudi dan non-Yahudi. Namun, mereka tidak perlu takut, dan percaya bahwa Bapa mereka akan menyertai mereka dan memberi mereka pahala.

Pernyataan Yesus kepada kedua belas rasul pilihan-Nya ini merupakan gambaran Injil yang jelas dan lugas kepada semua orang. Ia menegaskan maksudnya dengan jelas: Yesus akan mengakui kepada Allah setiap orang yang mengakui Kristus kepada orang lain dalam hidup ini. Setiap orang Kristen sejati akan mengakui Yesus dalam arti bahwa mereka akan meneguhkan Dia sebagai Mesias, Kristus, Anak Allah. Mereka harus menunjukkan iman kepada Yesus sebagai satu-satunya jalan bagi setiap orang untuk datang kepada Bapa (Yohanes 14:6). Ini yang harus mereka nyatakan kepada orang lain dan bukannya mengakui bahwa ada banyak jalan ke Roma.

Jika orang mengakui Yesus sebagai Anak Allah, Dia akan mengakui mereka sebagai umat-Nya kepada Bapa dan menyatakan bahwa mereka adalah milik-Nya dan, dengan cara itu, menjamin tempat mereka dalam kekekalan bersama Allah Bapa. Gambaran tersebut adalah seperti seorang saksi yang benar di pengadilan yang membela terdakwa di hadapan hakim. Hakim akan lebih mempercayai perkataan Putra-Nya daripada tuduhan musuh-musuh-Nya. Dengan cara ini, pengakuan oleh Yesus akan menjadi pembeda antara hidup dan mati, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut (Yohanes 3:16–18; 3:36).

Lalu dalam praktiknya, bagaimana kita bisa mengakui Dia? Dalam Perjanjian Lama, Amsal 3:6 memberikan instruksi dan janji: “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”. Keinginan untuk mengakui Tuhan dan mengikuti pimpinan-Nya dengan saksama adalah hal yang luar biasa sebagai akibat pekerjaan Roh Kudus. Jika kita melengkapi konteksnya, Amsal 3:5 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Jadi, mengakui Tuhan dimulai dengan memercayai-Nya dan tidak memercayai hikmat kita sendiri.

Mengakui Tuhan dalam segala laku kita berarti “mengenal Dia” (yang merupakan terjemahan bahasa Ibrani), yaitu mengakui bahwa Tuhan adalah Pribadi yang bekerja dalam hidup kita dengan kuasa, hikmat, kebaikan, dan keadilan (lihat Efesus 3:20). Oleh karena itu, Dia layak untuk diikuti.

Berikut ini adalah sejumlah bidang praktis yang penting dalam kehidupan seorang Kristen yang berusaha mengakui Tuhan dalam segala laku-Nya:

  • Kita akan mulai mengakui Tuhan dalam segala laku kita ketika kita merenungkan betapa sempurnanya Tuhan telah mengampuni kita. Tuhan mengasihi Anda dengan sepenuh hati dan telah mengampuni Anda sepenuhnya. Renungkan Mazmur 103:11–12; Roma 8:1; Kolose 1:22.
  • Kita akan belajar mengakui Tuhan dalam segala hal ketika kita membaca Firman Tuhan dengan setia. Itu adalah buku panduan Anda untuk mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam hikmat-Nya. Selalu ada sesuatu yang baru untuk ditemukan dalam Kitab Suci. Cintai itu. Pelajarilah. Hafalkanlah. Pikirkan tentang apa yang dikatakannya. Saat Anda membaca, carilah seperti apa Tuhan itu—karakter-Nya. Carilah kebenaran yang perlu Anda percayai, dan carilah sesuatu yang perlu Anda lakukan. Terapkan itu dalam hidup Anda.
  • Untuk mengakui Tuhan dalam segala hal, kita harus membiarkan Alkitab mengubah kita. Jadilah rendah hati dan siap untuk taat. Dengan cara ini kita berpartisipasi dalam pengudusan kita (1 Tesalonika 4:3–5; Titus 2:11–14). Jika Firman Tuhan menyinari jiwa Anda dan menyingkapkan suatu area dosa dalam hidup Anda, bersiaplah untuk mengakuinya dan meninggalkannya. JAnganlah Anda merasa bahwa semua yang terjadi dalam hidup Anda adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari.
  • Janganlah Anda merasa bahwa sebagai orang pilihan, Tuhan akan menerima Anda “sebagai mana adanya”. Bertobatlah dengan sungguh-sungguh atas dosa tersebut dan mintalah Tuhan untuk membantu Anda melakukan apa yang benar—apa pun yang diperlukan! Jika Anda merasa telah “mengarahkan jalan Anda sendiri,” mintalah pengampunan Tuhan, sebutkan saat-saat tertentu ketika Anda tahu bahwa Anda telah menempuh jalan Anda sendiri. Bersyukurlah kepada-Nya atas pengampunan-Nya, dan jadikanlah tujuan Anda untuk menyenangkan Tuhan (2 Korintus 5:9).
  • Bagian utama dari mengakui Tuhan dalam segala jalan kita adalah “berdoa terus-menerus” (1 Tesalonika 5:17). Tuhan mengasihi Anda. Dia peduli tentang Anda dan menginginkan hubungan dengan Anda—bukan berarti Anda mengikuti daftar aturan yang legalistik dan merugikan diri sendiri yang membuat Anda bertanya-tanya apakah Anda pernah dapat “berbuat cukup.”
  • Bagikan dengan Bapa Surgawi apa yang Anda alami: sukacita, ketakutan, tujuan, keinginan, dan kegagalan Anda. Kita tidak dapat menyembunyikan pikiran kita dari Tuhan, dan kita tidak boleh mencoba menutupinya. Bersyukurlah atas berkat-berkat-Nya dan atas pencobaan-pencobaan, karena Anda tahu Dia akan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Berdoalah saat Anda meluangkan waktu bersama-Nya dan teruslah berbicara dengan-Nya sepanjang hari di mana pun Anda berada.
  • Untuk membantu kita mengakui Tuhan dalam segala hal, kita harus menjadi bagian dari gereja yang baik dan percaya pada Alkitab (Ibrani 10:24–25). Kita tidak ke gereja untuk belajar berdebat teologi atau memusuhi mereka yang tidak sealiran. Kita tidak pergi ke gereja hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, tetapi untuk menjadi penyemangat dan pembimbing orang lain. Keluarga gereja kita menjadi keluarga rohani kita yang lebih luas, yang mencakup semua orang yang mengasihi Tuhan.
  • Saat Anda bertumbuh dalam kedewasaan, Anda akan menemukan keinginan untuk melayani. Tuhan akan menempatkan di dalam hati Anda suatu bidang pelayanan, dan saat Anda mulai melayani, itu akan mendatangkan sukacita bagi diri Anda dan orang lain. Pendeta Anda dapat membimbing Anda ke tempat di mana Anda dapat menggunakan karunia-karunia Anda untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil secara efektif.

Mungkin Anda masih mempertanyakan hubungan pengakuan akan Tuhan dan pertumbuhan rohani kita. Ayat 2 Petrus 1:3–11 menjelaskan seperti apa pertumbuhan dalam keserupaan dengan Kristus. Ayat 3 mengatakan, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Allah telah memberikan kepada kita sumber daya ilahi-Nya, semua yang kita butuhkan, untuk memampukan kita hidup bagi-Nya.

Semakin Anda mengenal Allah, semakin Anda akan mengasihi-Nya. Itu adalah suatu kepastian. Semakin Anda mengasihi-Nya, semakin Anda akan ingin menaati-Nya, karena Anda tahu itu akan menyenangkan-Nya. Jalannya tidak akan selalu mudah, tetapi jika kita percaya kepada-Nya, kita dapat bersandar pada kehendak-Nya bagi kita dan membiarkan Dia mengarahkan jalan kita.

Mengakui Allah dalam segala jalan dapat dijelaskan dengan cara ini: “Tempatkan Dia di hadapan Anda; ingatlah Dia selalu; anggaplah Dia selalu hadir bersama Anda, perhatikan setiap langkah Anda; dan jangan mengambil satu langkah pun tanpa izin-Nya, dan tanpa nasihat-Nya; mintalah hikmat dari Dia yang memberi dengan murah hati; tanyakan firman-Nya, dan jadikan Kitab Suci sebagai penasihat Anda, jangan hidup menurut daging, melainkan menurut Roh; ketika segala sesuatu berjalan buruk dan bertentangan, dan tidak sesuai dengan pikiran Anda, berserahlah kepada kedaulatan-Nya.

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:10).

Seberapa besar kita perlu menaati Yesus agar diselamatkan?

”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6:46

Lukas 6:17–49 mencatat pengajaran Yesus di ”tempat yang datar,” atau ”Khotbah di Dataran,” dan panggilan kepada orang banyak untuk menjadi murid secara umum. Sebagian besar materi ini memiliki kesamaan Khotbah di Bukit dalam Matius 5 hingga 7, tetapi tidak jelas apakah kedua kisah tersebut berasal dari peristiwa yang sama. Sebagai seorang guru yang berkeliling, memang mungkin bahwa Kristus menyampaikan pesan umum yang sama beberapa kali.

Yesus menyampaikan Khotbah di Bukit setelah pergi ke atas gunung dan duduk (Matius 5:1). Dia menyampaikan Khotbah di Dataran setelah datang turun dari gunung dan berdiri di tempat yang datar (Lukas 6:17). Catatan Lukas tentang Khotbah di Dataran tidak memuat pengajaran Yesus yang diperluas tentang hukum, dan itu mencakup berbagai kesengsaraan selain ucapan bahagia. Juga, tampaknya penonton dalam Matius datang dari tempat yang berbeda dari penonton dalam Lukas (bandingkan Matius 4:25 dengan Lukas 6:17). Ada kemungkinan bahwa Khotbah di Dataran Lukas hanyalah versi ringkas dari Khotbah di Bukit Matius, tetapi tampaknya lebih mungkin bahwa Yesus mengkhotbahkan khotbah serupa pada dua kesempatan berbeda, membuat beberapa perubahan agar lebih sesuai dengan audiens yang ada.

Lukas 6:46–49 mencatat panggilan Yesus untuk menjadi murid secara umum. Ia telah memilih kedua belas murid dari antara sejumlah besar pengikut-Nya (Lukas 6:12–16). Ia menyingkapkan beberapa hal sulit yang Ia harapkan dari umat-Nya, termasuk mengampuni musuh-musuh mereka (Lukas 6:17–42). Untuk melakukannya dibutuhkan hati yang baik (Lukas 6:43–45). Sekarang Ia menyampaikan undangan kepada orang banyak untuk membangun hidup mereka di atas dasar yang pasti dari firman-Nya. Ini mengakhiri Khotbah di Dataran.

Apa arti Lukas 6:46? Yesus telah berbicara kepada banyak orang. Orang banyak ini termasuk dua belas rasul-Nya, banyak murid, dan orang Yahudi serta orang bukan Yahudi yang datang untuk meminta kesembuhan (Lukas 6:17–19). Ia telah selesai menjelaskan bahwa para pengikut-Nya akan dianiaya oleh dunia tetapi mereka perlu mengampuni dan memberkati musuh-musuh mereka (Lukas 6:20–36). Ia kemudian menjelaskan dua sifat umum yang seharusnya menggambarkan para pengikut-Nya. Pertama, mereka harus tekun mempertimbangkan dosa-dosa mereka sendiri sebelum menghakimi orang lain (Lukas 6:37–42). Kedua, jika hati mereka baik haruslah itu menghasilkan perbuatan baik (Lukas 6:43–45). Dan sifat ketiga dalam Lukas 6:46 adalah apa yang harus dipegang oleh para pengikut Yesus: mereka mendasarkan hidup mereka pada perintah-perintah-Nya.

Sebagian besar Khotbah di Dataran berkaitan dengan hal berbicara, termasuk mengutuk, memberkati, berdoa, dan mengajar. Yesus telah menjelaskan bahwa apa yang kita katakan mengungkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Di sini, Ia berbicara tentang ucapan yang ceroboh yang belum tentu datang dari hati. “Tuhan” berasal dari akar kata Yunani kurios. Secara umum, kata ini berarti penguasa—yang sering kali seseorang yang didewakan. Lukas tidak menyebut Yesus sebagai Juruselamat meskipun paralelnya dalam Matius menyebutkannya (Matius 7:21). Menyebut Yesus “Tuhan, Tuhan” tetapi menolak apa yang Dia katakan adalah menciptakan dinding pemisah antara ucapan dan isi hati. Ini bisa berakibat sebuah kepalsuan yang tragis.

Ayat ini memang sering memunculkan sebuah tanda tanya yang sering diperdebatkan antara keselamatan dan perbuatan baik. Beberapa orang menyajikan ini sebagai pilihan antara keselamatan yang diajarkan Paulus melalui kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8–9) dan catatan Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah “mati” (Yakobus 2:17). Pertanyaan ini sering disalahartikan sebagai, “Seberapa besar kita perlu menaati Yesus agar diselamatkan?”

Sebenarnya, ketaatan bukanlah yang menyelamatkan—sebaliknya, adanya keselamatan pasti menghasilkan ketaatan. Menilai “seberapa besar” ketaatan secara akurat mencerminkan keselamatan adalah bagian yang sulit. Di satu sisi ada “aliran mudah percaya” yang mengajarkan bahwa seseorang hanya perlu mengucapkan doa untuk diselamatkan. Selain itu, ada aliran yang bersikeras bahwa orang pilihan Allah tidak perlu memikirkan adanya dosa dalam hidup mereka. Di sisi lain, ada denominasi-denominasi yang sangat legalistik yang bersikeras bahwa orang Kristen sejati pasti jarang berbuat dosa. Selain itu, ada yang mengajarkan bahwa orang pilihan Tuhan masih dapat kehilangan keselamatan jika mereka tetap hidup dalam dosa.

Yang biasanya terlewatkan dalam perdebatan di atas adalah Efesus 2:10: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Urutan hidup Kristen sejati adalah kasih karunia Allah, iman kita, pertobatan kita, perbuatan kita, yang semuanya diberdayakan dan dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam istilah yang paling sederhana, “pertobatan” berarti seseorang yang setuju bahwa Yesus benar dan mereka salah—dan bahwa mereka tidak ingin hidup seperti itu lagi.

Perbuatan adalah ketaatan kita kepada Kristus. Baik pertobatan maupun ketaatan adalah tanggapan yang mulanya samar tetapi terus berkembang sebagai reaksi terhadap keselamatan, tetapi keduanya selalu ada selama orang hidup di dunia. Jika tidak ada pertobatan dan tidak ada perbuatan—tidak ada ketaatan—maka tidak ada iman dan tidak ada kasih karunia dalam diri orang itu.

Hubungan keselamatan dan ketaatan sangat mudah disalahpahami karena penekanan ajaran Alkitab pada perbuatan baik. Meskipun demikian, Yesus membuat perbedaan bagi orang banyak: apakah mereka memanggil-Nya “Tuhan” karena Ia menyembuhkan mereka atau karena mereka ingin mendasarkan hidup mereka pada firman-Nya (Lukas 6:40)? Kemudian, Ia akan memarahi orang banyak yang tidak peduli bahwa Ia menggenapi tanda-tanda Mesias—mereka hanya kagum bahwa Ia dapat membuat makanan secara ajaib yang muncul entah dari mana (Yohanes 6:26).

Pada saat Yesus mengucapkan ayat di atas, keselamatan kekal melalui Kristus belum sepenuhnya dijelaskan atau dipahami, bahkan oleh kedua belas rasul. Sekarang, dengan membaca dan menyelami isi Alkitab, kita bisa mengerti hubungan antara keselamatan dan perbuatan. Saat ini, Yesus menantang kita untuk berkomitmen pada apa yang Ia katakan: bahwa mengikut Dia bukan berarti asal percaya diri (PD). Diselamatkan “oleh karunia saja” bukan berarti “oleh karunia tanpa komitmen”. “By Grace alone” bukan berari “by Grace that is alone“.

Orang Kristen sejati selalu berusaha keras untuk menaati Yesus, berjuang keras seperti Paulus yang menggambarkannya sebagai seorang pelari atau petinju. Ini tidak mudah dilakukan. Walaupun demikian, Tuhan Yesus berjanji bahwa jika kita melakukan firman-Nya, hidup kita akan kokoh tidak peduli kesulitan apa yang kita hadapi. Lebih dari itu, kita tidak akan hidup dalam kepalsuan dan kepercayaan sepihak tetapi memang yakin bahwa Tuhan sudah memilih dan mempersiapkan kita dari awalnya karena kita selalu berusaha melakukan firman-Nya.

“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya – Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” Lukas 6:47-48

Apakah Anda merasa terbebani dan lelah menjadi orang Kristen?

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11:29

Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal orang Kristen dan sering dipakai dalam konteks kebahagiaan hidup orang Kristen di dunia. Hal kebahagiaan memang ada benarnya, tetapi kebahagiaan dalam hal apa? Bukan dalam hal kebutuhan jasmani, bukan juga dalam hal ketabahan menghadapi tantangan hidup. Tetapi dalam hal menjadi orang Kristen yang baik.

Matius 11:25–30 dimulai dengan doa syukur Yesus kepada Bapa-Nya karena telah menyembunyikan kebenaran Injil dari “orang besar”, yaitu mereka yang dianggap bijak menurut standar dunia. Sebaliknya, Injil telah diungkapkan kepada “orang kecil”, yaitu mereka yang dianggap orang bodoh dan lemah oleh dunia yang tidak percaya. Yesus menyatakan bahwa Dia dan Bapa saling mengenal sepenuhnya dan bahwa Dia dapat mengungkapkan Bapa kepada siapa pun yang Dia pilih. Orang yang Dia pilih bukanlah mereka yang sudah merasa hidup dalam kebenaran dan kesucian. Sebaliknya, Dia menawarkan ketenangan bagi jiwa semua orang percaya yang terbebani dan lelah jika mereka mau memikul kuk-Nya, dengan mengatakan bahwa beban-Nya mudah dan ringan.

Kuk adalah alat dari kayu yang digunakan untuk memanfaatkan tenaga kerja seekor hewan, terutama lembu. Kuk dapat dibuat untuk seekor hewan saja, atau untuk menggabungkan tenaga beberapa hewan. Orang Yahudi menggambarkan hidup dalam ketaatan kepada Hukum Taurat sebagai kuk yang harus dipikul. Pada zaman Yesus, orang Farisi membuat beban itu semakin berat dengan menambahkan persyaratan dan peraturan buatan manusia di atas hukum Musa (Matius 23:4). Di zaman sekarang, ada orang Kristen yang percaya bahwa mereka masih harus melakukan ini dan itu untuk bisa diselamatkan.

Yesus telah menyatakan bahwa Ia mengenal Allah Bapa dan bahwa Ia dapat menyatakan Allah kepada siapa pun yang Ia pilih. Kemudian Ia mengundang para pendengar-Nya untuk datang kepada-Nya dan memikul kuk-Nya, untuk sepenuhnya menyerahkan diri mereka kepada-Nya dan menempatkan diri mereka di bawah kuasa-Nya. Ia telah menjanjikan kelegaan bagi mereka yang melakukan ini (Matius 11:28). Sekarang Ia menjelaskan lebih lanjut, dengan mengundang kita untuk memikul kuk-Nya. Apa arti dari pernyataan Yesus ini?

Jika kita membiarkan Yesus memikul kuk-Nya sendiri atas kita, itu seperti seorang petani memasang kuk atas ternaknya. Berbeda dengan kuk yang dipasang manusia, ini berarti memberi Yesus kendali dan membiarkan Dia mengarahkan hidup kita. Pekerjaan yang Ia lakukan tidak akan sulit, kata Yesus. Ia ingin kita belajar dari-Nya. Tidak seperti orang Farisi yang sombong dan memaksa orang Yahudi dengan hukum-hukum mereka, Yesus menegaskan bahwa Ia lemah lembut. Ia rendah hati (Filipi 2:6–7). Ia datang bukan untuk menambah beban mereka, melainkan untuk memberi mereka ketenangan bagi jiwa mereka.

Pernyataan ini berasal dari perspektif yang sama sekali berbeda dari komentar Kristus sebelumnya tentang pintu gerbang yang lebar dan yang sempit. Di sana, Yesus mengatakan bahwa jalan menuju kehidupan itu sempit dan sulit (Matius 7:14). Dalam konteks itu, Yesus berbicara tentang perspeftif masa sekarang: bahwa mengikuti Kristus berarti menghadapi keadaan yang sulit. Ini tentu benar, karena untuk menjadi pengikut Kristus sering kali kita harus mengalami berbagai tantangan hidup dan mau menanggalkan sifat mementingkan diri sendiri. Namun, yang Yesus maksud di sini adalah perspektif tentang kekekalan masa depan. Dibandingkan dengan tugas yang mustahil untuk mendapatkan keselamatan sendiri (Roma 3:20; Galatia 2:16), Yesus menawarkan sesuatu yang jauh lebih “mudah” (Matius 11:30). Jika kita mau menerima karunia-Nya, kita akan diselamatkan. Tidak ada keraguan akan hal ini.

Dengan memberikan komentar ini, Yesus tidak menawarkan kebebasan dari komitmen orang percaya. Kuk-Nya tetaplah kuk: kuk itu tetap disertai tuntutan dari Allah yang kudus. Hidup sebagai umat-Nya bukanlah hidup yang semau kita sendiri, tanpa kewajiban, tugas atau tanggung jawab. Namun, rasul Yohanes kemudian menulis bahwa ketaatan kepada Allah yang kita kasihi tidaklah berat. Itu karena Yesus sudah menanggung beban dosa kita dan memberikan kuasa dalam Roh Kudus untuk melaksanakan kehendak-Nya.

“Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” 1Yohanes 5:1-4

Hargai dan gunakan karunia Tuhan

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12-13

Filipi 2:12–18 menjelaskan bagaimana orang Kristen seharusnya hidup, mengingat semua yang Kristus sudah lakukan bagi mereka. Perintah untuk ”mengerjakan” keselamatan adalah arahan untuk membiarkan kelahiran baru di dalam Kristus terwujud dalam tindakan nyata. Sebagai bagian dari ini, orang percaya harus melayani Tuhan tanpa menggerutu atau mengeluh. Paulus tahu bahwa pelayanannya kepada Tuhan tidaklah mudah, tetapi ini hanyalah bentuk persembahan seperti yang lain. Semua orang Kristen diundang untuk melayani dengan cara yang sama tanpa pamrih.

Ayat 12-13 ini beralih dari fokus Paulus pada kerendahan hati Kristus ke kebutuhan orang Kristen untuk menjalankan iman mereka agar dilihat dunia. Ia mencatat peralihannya dengan menggunakan “karena itu,” merujuk kepada para pembacanya sebagai “saudara-saudaraku yang kekasih” atau “orang-orang yang kukasihi”. Paulus juga menggunakan kata-kata ini kepada orang-orang Kristen di Filipi dalam Filipi 4:1. Dalam kedua konteks tersebut, fokusnya adalah untuk menekankan kasihnya kepada para pembacanya sebelum memberi mereka perintah untuk taat.

Paulus mencatat orang-orang Filipi telah dengan setia mengikuti ajarannya baik ketika ia bersama mereka atau tidak. Mengikuti petunjuk guru ketika ia tidak bersama murid-muridnya adalah ujian kesetiaan yang utama, dan orang-orang Kristen di Filipi telah melakukan hal itu. Selama tahun-tahun mereka berpisah, Paulus tetap berhubungan dengan kelompok orang percaya ini. Bab 4 membahas beberapa kali mereka telah mengirimkan sumbangan keuangan kepadanya untuk membantunya dalam pelayanannya.

Paulus juga memberikan perintah menggunakan frasa yang aneh dan sering disalahpahami: “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Pernyataan unik ini berbicara tentang ketaatan yang berkelanjutan bagi mereka yang telah diselamatkan. Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menyuruh mereka untuk mengusahakan (work for) keselamatan mereka. Pernyataan ini menyiratkan perlunya untuk menjalankan (work out) —untuk mempraktikkan, menunjukkan, dan menyatakan—keselamatan yang dimiliki orang percaya di dalam Kristus.

Konsep “takut dan gentar” membahas rasa hormat yang penuh penyembahan kepada Tuhan. Ini bergema kembali ke konteks setiap lutut yang bertekuk di hadapan Tuhan yang disebutkan dalam ayat 10.

Paulus menggambarkan Yesus Kristus sebagai orang yang bersedia untuk rendah hati, dalam ketaatan kepada Allah Bapa. Untuk itu, Allah akan meninggikan nama Yesus di atas semua nama lainnya. Suatu hari nanti, dengan satu atau lain cara, semua orang akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dan tunduk kepada-Nya. Paulus ingin jemaat Filipi hidup dengan rasa cukup dan bersatu, tanpa mengeluh.

Dalam ayat 12, Paulus memerintahkan orang-orang Kristen di Filipi untuk “mengerjakan keselamatan mereka sendiri,” yang berarti mereka harus mempraktikkan kebenaran kepercayaan mereka. Siapa mereka di dalam Kristus perlu “meyatakan keselamatan” melalui tindakan dan sikap mereka. Alasan untuk perintah ini diberikan di sini dalam ayat 13: Allah sudah melengkapi orang-orang percaya dengan kekuatan dan kesempatan yang tidak boleh diabaikan. Pemahaman ini seharusnya menuntun orang-orang percaya kepada rasa kagum dan penghargaan yang mendalam atas kebesaran Tuhan.

Paulus kemudian menambahkan dua hal di mana Allah bekerja dalam kehidupan orang percaya. Pertama, Allah bekerja di dalam kita untuk “menghendaki” kesenangan-Nya. Ini termasuk gagasan tentang menaruh keinginan atau memimpin orang percaya untuk melayani Tuhan.

Kedua, Allah bekerja di dalam kita “untuk bekerja” demi kesenangan-Nya. Roh Allah di dalam orang percaya memberikan keinginan dan kekuatan untuk hidup bagi Tuhan. “Pekerjaan” muncul sebagai tema umum dalam surat ini (Filipi 1:6; 2:12, 25, 30; 4:3). Gagasan tentang “kerelaan-Nya” melibatkan ketaatan (Filipi 2:12) menurut Roh Allah. Ini bukanlah ketaatan legalistik terhadap hukum yang Paulus bicarakan dalam ajaran-ajaran sesat kelompok sunat, melainkan ketaatan yang didasarkan pada kasih kepada Allah berdasarkan Roh yang hidup di dalam orang percaya yang mau mendengar bimbingan Roh Kudus dan tidak mendukakan–Nya.

Pagi ini Paulus melanjutkan nasihatnya kepada kita:

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” Filipi 2: 14-15

Biarpun berbeda, kita hidup dalam satu iman

“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” Efesus 4:2-7

Efesus 4:1–10 adalah uraian Paulus yang meyakinkan tentang kesatuan Kristen. Efesus 2:11–22 memberikan bagian yang panjang yang difokuskan pada tema persatuan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi di dalam Kristus. Keharmonisan semacam ini telah menjadi fokus di seluruh surat Paulus dan akan kembali lagi di ayat 13.

Paulus sering berbicara tentang orang Kristen sebagai “bersama” (Efesus 2:5, 21, 22), karena tubuh adalah satu kesatuan yang terbuat dari anggota yang terpisah. Setiap orang Kristen yang sudah diselamatkan, sudah diselamatkan oleh iman yang sama kepada Allah yang sama. Oleh karena itu, setiap orang Kristen adalah bagian dari satu keluarga universal orang percaya kepada Yesus Kristus. Pada saat yang sama, Allah memberikan karunia yang berbeda kepada setiap orang, sehingga mereka dapat menjalankan banyak peran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-Nya di bumi ini. Daripada khawatir tentang karunia apa yang mungkin tidak kita miliki, dan daripada menuduh orang lain tidak mempunyai karunia sebaik karunia kita, setiap orang Kristen dapat bersukacita dalam kesatuan kita, dan berfokus untuk melayani Allah dengan kemampuan terbaik kita.

Memahami kasih karunia yang menyelamatkan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya, adalah motivasi pertama orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang saleh. Di sini, Paulus mendorong orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghormati karunia itu. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari ”tubuh” Kristus. Pada saat yang sama, setiap orang percaya diberi talenta yang berbeda. Beberapa dipanggil untuk menduduki posisi kepemimpinan dan otoritas, dan karena itu dituntut tanggung jawab yang lebih besar untuk bisa mengajarkan cara hidup ini dan menunjukkan bagaimana pelaksanaannya. Walaupun demikian, setiap orang Kristen dituntut untuk bertanggung jawab atas karunia Tuhan yang sudah diberikan kepadanya.

Tidak dapat di abaikan bahwa dengan karunia Tuhan semua orang Kristen diharuskan untuk berpaling dari ”manusia lama” yang kita miliki sebelum diselamatkan. Penjelasan Paulus tentang ”manusia baru” mencakup beberapa langkah dasar dan praktis. Ayat 2 memberikan empat penerapan khusus tentang bagaimana iman Kristen harus diterjemahkan ke dalam perilaku Kristen yang dapat mendukung perbuatan baik kita kepada sesama dan yang memuliakan nama Tuhan. Sifat-sifat tersebut adalah kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, dan kasih. Sifat-sifat ini dianjurkan sebagai cara untuk hidup layak atas panggilan yang telah diberikan Allah kepada kita.

Hidup dengan cara yang sesuai dengan panggilan Kristus (Efesus 4:1) mencakup empat sifat yang dijelaskan dalam ayat ini. Pertama, jemaat Efesus—dan semua orang Kristen—harus hidup dalam kerendahan hati. Kristus memanggil orang lain untuk hidup dengan kerendahan hati seperti anak kecil (Matius 18:4) dan mengajarkan, “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:12). Yesus lahir di palungan yang sederhana, tumbuh dalam lingkungan yang sederhana, menjalani kehidupan yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Para pengikut Kristus juga harus bertindak dalam kerendahan hati.

Kedua, orang percaya harus hidup dengan kelembutan. Menjadi lembut adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:23) dan penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Sifat ini tidak hanya membantu menghindari konflik yang tidak perlu, tetapi juga menunjukkan kasih yang seharusnya kita tunjukkan setiap saat (Yohanes 13:34–35).

Ketiga, orang percaya harus menunjukkan kesabaran. Kesabaran adalah bagian lain dari buah Roh (Galatia 5:22) dan juga suatu keharusan jika kita ingin menunjukkan kasih kepada orang lain. Di tempat lain, Paulus mengingatkan orang percaya bahwa “kasih itu sabar” (1 Korintus 13:4).

Keempat, orang percaya harus hidup dengan kasih terhadap satu sama lain. Paulus telah menyebutkan hal ini dalam Efesus dan surat-surat lainnya, khususnya dalam 1 Korintus 13 di mana “karunia Allah yang terbesar adalah kasih.” Khususnya sebagaimana digunakan dalam Perjanjian Baru, “kasih” bukan sekadar perasaan atau emosi. Itu berarti melakukan tindakan yang menguntungkan orang lain. Perasaan yang tidak menghasilkan tindakan bukanlah “kasih” yang alkitabiah dan nyata.

Kesatuan ini juga harus terjadi “dalam ikatan damai sejahtera”. Damai adalah tema lain yang disebutkan Paulus beberapa kali dalam surat ini (Efesus 1:2; 2:14, 15, 17; 6:15, 23). Kristus adalah kedamaian kita, Dia menciptakan kedamaian, memberitakan kedamaian, memberikan kesatuan dalam kedamaian, dan menawarkan Injil kedamaian. Kedamaian adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:22) dan penting bagi setiap orang percaya (Roma 5:1). Mereka yang gemar untuk bertengkar dengan orang seiman adalah bukan orang Kristen sejati, tetapi mungkin adalah utusan iblis yang berusaha memecah belah kesatuan tubuh Kristus,

Pagi ini, kita harus sadar bahwa memahami besarnya kasih karunia yang menyelamatkan dengan sungguh-sungguh, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya, adalah motivasi pertama orang Kristen untuk menjalani kehidupan yang saleh. Orang Kristen yang segan berusaha untuk hidup baik adalah orang yang kurang menghargai pengurbanan Kristus bagi semua umat-Nya. Di sini, Paulus mendorong orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghargai karunia itu dengan rajin berbuat baik satu kepada yang lain. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari ”tubuh” Kristus. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang menghargai karya penebusan Kristus bagi setiap orang Kristen yang sudah diselamatkan kepada Allah Tritunggal yang sama, terlepas dari bakat atau keterampilan mereka, denominasi gereja mereka, status, suku atau ras mereka, baik pria atau wanita.