Kemudaan bukan berarti aib

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Ayat penting ini sering dikutip kepada pelayanan pemuda dan pemimpin muda. Meskipun Timotius kemungkinan berusia awal 30-an ketika surat ini ditulis, kata-kata itu berlaku bagi setiap pemimpin gereja, bahkan setiap orang Kristen tanpa memandang usia. Timotius tidak boleh membiarkan siapa pun memandang rendah dirinya karena usianya. Kita tidak boleh mengabaikan ayat ini karena setiap orang percaya diberi kemampuan dan kesempatan untuk memimpin orang seiman.

Sepanjang sejarah manusia, ada kecenderungan generasi yang lebih tua untuk mengabaikan guru yang lebih muda, hanya karena mereka masih muda. Untuk melawan hal ini, pengaruh seorang pemimpin muda harus datang melalui teladannya. Selain itu, di antara kaum muda, ada kecenderungan untuk menuduh sesama teman sebagai orang yang “sok alim” jika mereka selalu berusaha menghindari hal yang buruk. Selain itu, ada orang-orang yang gemar menuduh orang lain “munafik” karena mereka sering mengajarkan pentingnya hidup baik. Dalam konteks khusus ini, “teladan” adalah yang diberikan orang Kristen kepada orang Kristen lainnya, bukan untuk orang yang tidak percaya. Meskipun keduanya penting (Matius 5:16), Paulus berfokus pada hubungan anggota gereja dalam ayat ini.

Ayat-ayat dalam 1 Timotius 4:11–16 berfokus pada perilaku pribadi Timotius sendiri sebagai pemimpin gereja Kristen. Paulus menekankan gagasan-gagasan seperti kegigihan, keyakinan, dan ketekunan. Yang paling penting adalah bahwa Timotius hidup sebagai teladan bagi orang percaya lainnya. Di antara penangkal paling ampuh terhadap ajaran sesat adalah hasil positif dalam hidup yang dapat diperoleh dari kebenaran rohani. Selain mengajarkan kebenaran, Timotius harus menjalaninya. Dengan mengabdikan dirinya pada prinsip-prinsip ini, Paulus meyakinkan Timotius bahwa ia dapat menjadi pengaruh positif yang kuat bagi pengikut Kristus.

Paulus memberikan lima bidang khusus di mana Timotius (dan kita semua) harus menjadi teladan. Pertama adalah perkataannya. Kedua tindakannya, yang harus mencerminkan teladan kesalehan. Ketiga, kasihnya harus menjadi teladan (1 Timotius 1:5, 14; 2:15). Keempat, Timotius harus menjadi teladan dalam iman. Hal ini serupa dengan 1 Timotius 1:5 di mana Paulus berkata, “Tujuan tugas kita ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, hati nurani yang murni, dan iman yang tulus ikhlas”. Kelima, teladan Timotius adalah mencakup “kemurniannya,” baik secara fisik dalam perilakunya di sekitar wanita muda (1 Timotius 5:2) maupun dalam kerohaniannya (1 Timotius 5:22).

Perkataan kepada Timotius juga merupakan dorongan bagi semua orang percaya yang lebih muda di mana pun. Wajar bagi orang untuk memandang rendah generasi muda hanya karena mereka masih muda dan belum berpengalaman. Paulus mengatakan bahwa orang muda dapat melawan kecenderungan itu pada orang yang lebih tua dengan memperhatikan karakter mereka sendiri. Seorang Kristen muda dapat dan harus menjadi teladan bagi orang lain dan mengarahkan mereka kepada Tuhan. Dengan cara itu, tidak seorang pun akan “meremehkan” masa muda mereka.

Perintah Paulus kepada Timotius, “Jangan seorang pun menganggap rendah kamu karena kemudaanmu,” diikuti dengan instruksi lebih lanjut untuk mencegah sikap seperti itu di gereja. Meremehkan berarti menunjukkan penghinaan, mencemooh, atau mengabaikan. Timotius dapat menghindari penghinaan dengan menjadi teladan bagi orang lain dalam perkataan, perilaku, kasih, semangat, iman, dan kemurniannya serta dengan mengabdikan dirinya untuk membaca Kitab Suci di depan umum, menasihati, dan mengajar (1 Timotius 4:13). Semua orang Kristen, khususnya orang Kristen muda dalam hidup baru, tetap memiliki panggilan yang sama.

Orang Kristen harus hidup sedemikian rupa sehingga mereka tidak diremehkan sebagai orang yang belum dewasa, naif, atau emosional. Kita dapat mencegah penghinaan tersebut dengan menjadi teladan dalam segala hal dan melakukan apa yang baik: “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (Titus 2:7–8).

Ada pemimpin Kristen yang mengajarkan bahwa sebagai orang pilihan kita seharusnya makin lama makin sadar akan ketidakmampuan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ini bukanlah apa yang diajarkan Paulus kepada Timotius. Justru karena kita adalah orang piilihan Tuhan, cara hidup dan perilaku kita penting untuk dijaga sekuat tenaga. Dalam hal ini ada dua kemungkinan: apa yang kita lakukan dan katakan bisa mencerminkan Kristus dengan baik kepada dunia, atau cara hidup kita salah menggambarkan kesucian Kristus dan menodai nama-Nya. Terlepas dari tahap kehidupan rohani kita, tujuan kita seharusnya adalah untuk “jangan biarkan seorang pun meremehkan kemudaanmu.” Jangan biarkan orang lain meremehkan kesungguhan usaha kita dalam menjadi pengikut-Nya. Jika kita mundur atau segan untuk berbuat baik untuk kemuliaan Tuhan, hanya iblislah yang akan senang.

Sebagai bagian dari pencegahan terhadap orang-orang yang meremehkan masa mudanya, Timotius juga dinasihati untuk mengabdikan dirinya dalam kegiatan rohani di gereja (1 Timotius 4:13). Firman Allah mengubah kita, menguduskan kita, dan memberi kita kesempatan untuk melihat dan mengenal Allah. Dengan berfokus pada disiplin-disiplin ini dan bertumbuh dalam karakter yang saleh, Timotius akan menjadi pengaruh yang kuat bagi Kristus. Tidak seorang pun akan memandang pelayanannya dan meremehkan masa mudanya. Timotius akan mengalami kemajuan dalam kedewasaan rohani dan menjadi garam dan terang yang Allah panggil untuk menjadi dirinya (lihat Matius 5:13-15).

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa di saat banyak orang Kristen tampaknya mulai meninggalkan pengertian dan pelaksanaan yang benar atas firman Tuhan, kita dapat tetap bersemangat untuk bersinar terang bagi Kristus dan menjadi teladan bagi semua orang percaya, tanpa memandang usia. Masa muda secara jasmani maupun rohani tidak perlu menjadi aib. Dengan pertolongan Roh Kudus, karakter dan prioritas hidup seorang Kristen muda (muda usia atau baru menjadi Kristen) pasti dapat mengarahkan orang lain kepada keselamatan yang ditawarkan Kristus. Cara terbaik untuk “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda” adalah dengan “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Hal menghindari kehancuran masyarakat

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” Yesaya 1:16-17

Apakah kitab Perjanjian Lama masih relevan untuk orang Kristen di zaman ini? Sebagian orang Kristen mungkin menganggap bahwa itu kurang relevan karena hubungan Tuhan dan umat pilihan-Nya, umat Israel, adalah berbeda dengan hubungan-Nya dengan umat pilihan-Nya sesudah Yesus datang ke dunia. Itu memang ada benarnya, karena sebelum Yesus datang ke dunia, Allah secara khusus membimbing kehidupan bani Israel melalui perintah-Nya yang disampaikan kepada para nabi guna mewujudkan rencana penyelamatan umat manusia. Sesudah Yesus datang, bimbingan Tuhan sekarang dinyatakan secara langsung kepada setiap umat-Nya melalui Alkitab dengan pencerahan dari Roh Kudus. Walaupun demikian satu perintah yang sama dari dulu sampai sekarang bagi semua orang yang dipanggil Allah untuk menjadi umat-Nya adalah agar kita hidup sebagai umat Tuhan yang berbeda dari orang lain, dengan menghindari dosa dengan sepenuh tenaga.

”Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.” Imamat 19:2

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1: 14-16

Yesaya 1:2-20 memulai presentasi yang agak seperti gugatan terhadap orang-orang Yehuda di Israel. Tuhan akan menunjukkan banyak cara mereka melanggar perjanjian dengan-Nya. Umat itu dipenuhi dengan dosa. Mereka telah meninggalkan-Nya. Yesaya menggambarkan penyakit rohani yang tidak mau diobati oleh Israel. Penyakit itu akan menyebabkan kehancuran fisik bangsa Israel oleh para bangsa penjajah dan musuh. Persembahan mereka tidak ada artinya karena pemberontakan mereka yang hidup dalam dosa. Tuhan memanggil mereka untuk berhenti berbuat dosa dan berbuat baik. Dia menawarkan untuk membuat dosa-dosa mereka seputih salju jika mereka bertobat dan untuk menghancurkannya jika mereka memberontak.

‘Marilah, baiklah kita beperkara! – firman TUHAN – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.”
Yesaya 1:18-20

Di zaman sekarang, kita mungkin sering mendengar Yesaya 1:18 tentang janji Tuhan tentang pengampunan dosa yang bisa membuat dosa semerah apa pun bisa menjadi putih seperti salju, tetapi kita jarang mendengar Yesaya 1:20 yang merupakan ancaman Tuhan kepada umat-Nya yang berani melawan dan memberontak. Mengapa demikian? Mungkin karena sebagian orang Kristen menganggap bahwa dalam penebusan Kristus keselamatan kita sudah terjamin dan tidak ada hukuman yang akan dijatuhkan kepada umat-Nya. Ini sudah tentu pandangan yang keliru, karena sekalipun kita akan bebas dari hukuman kebinasaan yang kekal, kita dan bahkan bangsa kita masih bisa mendapatkan hukuman selama hidup di dunia.

Setelah mengidentifikasi dirinya sebagai putra Amos, Yesaya memulai penglihatannya dari Tuhan dengan memperkenalkan gugatan Allah terhadap umat Israel. Anak-anaknya hidup dalam pemberontakan terhadap-Nya. Mereka dipenuhi dengan dosa dan telah meninggalkan Tuhan. Penyakit rohani mereka akan menyebabkan kehancuran mereka, meskipun beberapa akan diselamatkan. Persembahan mereka tidak ada artinya karena gaya hidup mereka yang berdosa. Jika mereka bertobat sekarang, mereka akan ditebus. Jika tidak, mereka akan dihancurkan. Tuhan akan menerapkan keadilan-Nya bagi Yerusalem yang dulunya taat: semua yang tidak bertobat akan dihancurkan.

Tuhan mengubah haluan dari memberi tahu orang-orang Yehuda tentang kegagalan mereka menjadi memberi tahu mereka cara untuk mulai berubah. Keadaan hati, pikiran, dan tindakan mereka yang berdosa begitu ekstrem sehingga semua persembahan dan ketaatan agama mereka menjadi tidak berarti (Yesaya 1:11-15). Bahkan, persembahan dan ketaatan agama mereka lebih buruk daripada tidak berarti karena Allah menerimanya sebagai beban. (Yesaya 1:14)

Untuk membuat hubungan mereka dengan Allah bisa bermakna lagi, bani Israel harus membuat perubahan yang nyata. Ini adalah tugas mereka, bukan tugas Tuhan. Tuhan memberi tahu mereka untuk membasuh diri dan membersihkan diri. Dia tidak berbicara tentang pembasuhan seremonial atau lebih banyak persembahan dan korban. Allah ingin agar umat-Nya menjadi bersih dengan berhenti melakukan kejahatan. Dia melihat perbuatan jahat mereka. Satu-satunya cara agar Dia tidak melihat mereka adalah dengan berhenti melakukannya. Ini adalah langkah pertama untuk mengubah cara Allah memandang mereka dan memungkinkan hubungan yang dekat dengan-Nya.

Tuhan memberi tahu orang-orang Yehuda bagaimana cara berubah, bagaimana memulihkan hubungan mereka dengan-Nya. Dia telah menggambarkan mereka sebagai bangsa yang berdosa dan penuh dengan kejahatan (Yesaya 1:4). Dia telah menyebut pengorbanan dan persembahan mereka serta pertemuan keagamaan tidak berarti (Yesaya 1:13) karena gaya hidup mereka menyenangi dosa.

Tuhan memberi tahu mereka bagaimana cara belajar berbuat baik. Mereka harus membersihkan diri dengan menghentikan praktik-praktik jahat mereka. Bentuk kebaikan diungkapkan dalam ayat ini sebagai kebaikan yang selalu diinginkan Tuhan dari setiap orang dalam komunitas dari segala zaman: Berilah keadilan bagi mereka yang dizalimi, terutama mereka yang tidak dapat berjuang sendiri, serta campur tangan untuk menghentikan penindasan yang tidak berdaya oleh yang berkuasa.

Keadaan alami setiap kelompok masyarakat sampai saat ini adalah orang yang kaya menjadi lebih kaya dan mengambil keuntungan dari orang miskin dan yang tidak berdaya untuk keuntungan mereka sendiri. Sifat manusia yang rusak dari dulu seperti itu, dan makin parah di zaman ini. Keadilan sosial mengharuskan masyarakat untuk bertindak bersama-sama untuk menghentikan siklus ini dan meminta pertanggungjawaban dari yang berkuasa atas kesalahan sambil membela mereka yang tidak memiliki sumber daya untuk membela diri mereka sendiri. Umat ​​pilihan Allah, Israel, dan semua umat Kristen, harus mempraktikkan kebaikan ini. Di sinilah perlunya kita belajar humanisme Kristen yang didasarkan pada – dan membela – martabat dan nilai setiap orang karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Yesaya telah membandingkan orang-orang Yehuda dengan orang-orang di Sodom dan Gomora (Yesaya 1:9-10). Ia ingin mereka menjauh dari jalan yang mengarah pada kehancuran serupa. Percabulan dan kekerasan seksual Sodom bukanlah satu-satunya dosa mereka. Suatu budaya dapat rusak dalam banyak hal; semua kejahatan berarti penolakan terhadap hukum dan firman Allah. Bagian Alkitab lainnya mencatat bahwa kota-kota yang dihancurkan dalam Kejadian pasal 19 bersalah atas banyak kejahatan lainnya. Penolakan mereka untuk melakukan kebaikan yang disebutkan di sini berkontribusi pada kehancuran mereka oleh Tuhan: “Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.” (Yehezkiel 16:49).

Hari ini kita belajar bahwa orang Kristen bukanlah satu individu saja, mereka adalah bani Kristen yang seperti bani Israel diberi kewajiban untuk hidup baik dan memberi kontribusi yang bermanfaat bagi masyarakat di mana mereka hidup. Terlalu sering kita mendengar ajaran bahwa keselamatan dari Kristus adalah bersifat individu; sebaliknya, terlalu jarang kita mendengar bahwa kita harus berbuat baik karena rasa syukur kita atas kasih Allah – agar banyak orang bisa ikut merasakan berkat Tuhan selama mereka hidup di dunia.

Apakah Anda dikenal Allah dan mengenal Dia?

“Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” 1 Korintus 8:3

”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa mereka dapat mengenal Allah dengan memelajari firman Tuhan dan untuk itu tentu saja mereka harus belajar dari pendeta dan guru pembimbing. Sebagian orang Kristen mungkin merasa yakin bahwa dengan membaca Alkitab saja mereka akan mengerti apa arti setiap ayatnya. Ini tidak benar. Mereka yang ingin menafsirkan Alkitab dengan usaha sendiri harus memakai buku pembimbing Alkitab dan buku teologi. Alkitab bukan sekadar buku ilmu pengetahuan, tetapi firman Tuhan yang hanya bisa ditafsirkan dengan bimbingan Roh Kudus dan melalui cara belajar yang sistimatik dan komprehensif. Pada pihak lain, pengetahuan manusia tentang Allah tidak menjamin bahwa mereka kenal Allah dan dikenal Allah.

Selain dari itu, ada juga orang Kristen yang merasa dikenal dan mengenal Allah karena yakin sudah dipilih ole Allah sebagai umat-Nya. Bagi mereka keharusan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi (Matius 22:37) sering diabaikan karena apa yang paling penting bagi mereka, keselamatan, sudah mereka terima. Mereka merasa mengenal Allah dan dikenal Allah sekalipun kurang mengasihi dan menaati perintah-Nya. Mereka merasa cukup tahu akan Allah yang berdaulat dan rencana-Nya, tetapi tidak sadar bahwa Allah hanya mengenal orang-orang tertentu.

Dalam surat mereka sebelumnya kepada Paulus (1 Korintus 7:1), jemaat Korintus tampaknya telah mengangkat isu memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Mungkin mereka menantang ajaran Paulus sebelumnya tentang hal itu dengan mengatakan bahwa “kita semua memiliki pengetahuan.” Paulus telah menunjukkan dua masalah dengan pengetahuan. Pertama, pengetahuan saja hanya menciptakan kesombongan, sementara kasih membangun orang (1 Korintus 8:1). Kedua, hanya karena seseorang percaya bahwa mereka tahu tidak berarti mereka benar-benar tahu (1 Korintus 8:2).

Pengetahuan tentang Allah seharusnya membuat umat Tuhan menyadari pentingnya kasih. Paulus menyatakan bahwa kasih adalah yang benar-benar penting, terutama ketika kasih itu ditujukan kepada Allah. Di sini sekali lagi, ia menggunakan akar kata Yunani agapao, yang merujuk pada kasih yang tidak mementingkan diri sendiri dan penuh pengorbanan.

Memang lebih baik daripada memiliki pengetahuan tentang Allah adalah dikenal oleh-Nya. Mereka yang mengasihi-Nya dikenal oleh-Nya. Dikenal oleh Allah, pada gilirannya, berarti bahwa kita adalah milik-Nya. Mereka yang milik Tuhan, Paulus akhirnya akan menunjukkan, harus sepenuhnya memisahkan diri dari setan, kekuatan sesungguhnya di balik penyembahan berhala dan dewa-dewa (1 Korintus 10:20–21). Untuk kita di zaman sekarang, itu berarti pemisahan diri kita dari cara hidup yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Pada malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus Kristus memberikan pengajaran pribadi yang panjang kepada para murid-Nya. Wacana di ruang atas ini terjadi tepat setelah pengumuman Tuhan bahwa salah satu murid akan mengkhianati-Nya dan Yudas meninggalkan ruangan. Sebagai bagian dari instruksi tersebut, Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Makna yang tidak salah lagi dari bagian ini adalah bahwa ketaatan kepada perintah-perintah Kristus merupakan tanda sekaligus ujian kasih kita kepada-Nya. Dengan demikian, ini juga akan memastikan apakah kita dikenal Allah sebagai umat-Nya. Bukan mereka yang tahu banyak tentang Allah adalah umat-Nya, tetapi mereka yang benar-benar mengasihi dan mau taat kepada Allah dalam hidup mereka.

Hubungan antara kasih kepada Kristus dan ketaatan kepada-Nya merupakan tema yang berulang dalam tulisan-tulisan rasul Yohanes: “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya.” (1 Yohanes 5:2-3). Dalam wacana di ruang atas yang sama, Yohanes mengutip perkataan Yesus sekali lagi, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”” (Yohanes 14:21).

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Yohanes 15:14

Apa yang Yesus maksud ketika Ia berkata, “memegang perintah-Ku?” Apakah Yesus mengacu pada menaati daftar aturan dan hukum seperti Sepuluh Perintah Allah, atau apakah Ia memiliki maksud lain? Kata-kata yang Yohanes gunakan dalam bahasa aslinya tidak hanya dipahami sebagai menaati serangkaian instruksi moral, tetapi lebih dari itu. “Perintah-perintah” ini mencakup semua perkataan dan ajaran Yesus, yang sebenarnya adalah perkataan Allah Bapa: Jawab Yesus: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.’” (Yohanes 14:23–24). Hanya mereka yang mengasihi Yesus dan taat kepada firman-Nya dikenal oleh Allah.

Pagi ini, kita harus bersyukur jika kita memiliki kemauan untuk mengasihi Yesus dan menaati perintah-perintah-Nya. Kita sudah diberi teladan oleh Yesus dalam kasih-Nya dan kehidupan-Nya yang taat kepada Bapa (Yohanes 14:31). Menaati perintah-perintah Kristus berarti meniru teladan Yesus (Yohanes 13:15–16). Mengasihi Yesus bukan sekadar perasaan atau pengetahuan; Ini adalah hubungan yang aktif, kekal, dan terus menerus dalam mengikuti dan menaati Guru kita yang pengasih: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” (1 Yohanes 2:3).

Berkat dan karunia bagi umat Kristen

“Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.” Ulangan 11:26-28

Sering kali, orang menyebut karunia sebagai berkat. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa kita diberkati Tuhan dengan karunia keselamatan, karunia (grace) adalah kebaikan yang tidak layak diterima dari Tuhan, sementara berkat (blessing) lebih sering dipahami sebagai “upah” karena kita sudah berusaha tetap setia kepada Tuhan yang berdiam dalam jiwa kita. Sebuah contoh dari Perjanjian Baru misalnya muncul dalam Khotbah di Bukit:

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” Lukas 6:22-23

Berkat Tuhan dimaksudkan untuk mendorong kita untuk terus melakukan tindakan-tindakan baik dalam iman. Berkat dapat berupa berkat rohani yang menumbuhkan kehidupan rohani kita di dunia: pengetahuan, kebijaksanaan, kedamaian, kebahagiaan, ketabahan, dan sebagainya. Berkat jasmani bisa berupa makanan, tempat tinggal, kesehatan, kekuatan, kecukupan, kesuksesan dan sejenisnya. Jika karunia keselamatan diberikan kepada manusia karena keputusan Tuhan dan bukan karena permintaan mereka, mereka yang sudah diselamatkan sadar bahwa Tuhan yang mahapemurah juga memberi berbagai berkat kepada umat-Nya yang memintanya sesuai dengan ketaatan mereka kepada Tuhan.

Bagaimana caranya untuk mendapat berkat Tuhan? Dalam Alkitab, berkat erat kaitannya dengan kasih karunia. Mereka yang telah menerima Yesus sebagai Juruselamat diselamatkan oleh kasih karunia secara cuma-cuma melalui iman (Efesus 2:8-9). Mereka ingin menerima berkat Tuhan selama hidup di dunia. Mereka mengetahui bahwa tanpa iman, mustahil untuk menyenangkan Allah (Ibrani 11:6), tetapi mereka yang memiliki iman yang menyelamatkan kepada Anak Allah dinyatakan benar (Roma 4:5; Filipi 3:9) dan akan berusaha hidup dalam perkenanan Allah. Karena itu, jawaban paling mendasar untuk pertanyaan “bagaimana saya bisa mendapatkan berkat Tuhan” adalah “percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus.” Ini juga syarat untuk mendapat perkenan ( favour) Allah untuk hidup kita.

Allah mencari mereka yang mengasihi-Nya dan yang mengasihi perintah-perintah-Nya sehingga Ia dapat memberkati, membimbing, dan melindungi mereka (Mazmur 37:23; Amsal 3:5-6). Ini tidak berarti bahwa setiap orang Kristen yang makmur atau sehat telah mendapatkan berkat Allah (Yeremia 12:1; Mazmur 37:7; 73:16). Ini juga tidak berarti bahwa orang yang diperkenan (disenangi) Tuhan, seperti Ayub, tidak akan pernah mengalami kesulitan. Justru dalam kesulitan hidup, umat Tuhan merasakan berkat-Nya yang luar biasa. Banyak tokoh dalam Alkitab yang berkenan kepada Tuhan tetapi juga mengalami kesulitan (2 Korintus 6:4; Kisah Para Rasul 14:22; 20:23; 1 Petrus 2:19). Tokoh-tokoh seperti Nuh (Kejadian 6:8), Musa (Keluaran 32:11; 33:13), Daniel (Daniel 10:19), dan Maria (Lukas 1:28) berkenan kepada Tuhan dan diberkati-Nya, tetapi mereka juga berjuang menghadapi kesulitan seperti orang lain.

Mereka yang berkenan kepada Tuhan tahu bahwa Tuhan menyertai mereka dan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka (Roma 8:28). Mereka mendengarkan-Nya saat mereka berjalan melalui lembah-lembah yang gelap (Mazmur 34:15) dan tahu bahwa perjuangan mereka untuk tetap setia kepada-Nya tidak akan sia-sia (Matius 10:42; Wahyu 2:10).

Selain bukti-bukti lahiriah, kemurahan hati Tuhan dapat dirasakan dalam roh. Ketika kita memiliki perkenanan Tuhan, kita beristirahat dengan keyakinan yang tenang bahwa dosa-dosa kita diampuni (Roma 4:7), kita berada dalam rencana Allah (Mazmur 86:11), dan bahwa Dia ada untuk kita setiap saat (Yesaya 41:10; Matius 28:20). Ketika kita berjalan dengan Allah seperti dengan teman terdekat kita, kita akan bisa melihat dan menghargai berkat-berkat kecil yang disediakan Allah untuk kenikmatan kita—berkat-berkat yang dulu kita anggap remeh.

Salah satu cara untuk memperoleh berkat dari Tuhan adalah dengan mencari hikmat. Amsal 8:35 mengatakan, “Karena siapa mendapat hikmat, ia mendapat hidup, dan TUHAN berkenan.” Mazmur 5:12 mengatakan, “Sesungguhnya, ya TUHAN, Engkau memberkati orang benar; Engkau melindungi mereka dengan kasih karunia-Mu seperti perisai.” Mendapatkan kasih karunia dari Tuhan menjaga hidup dan pikiran kita tetap murni karena kita lebih ingin menyenangkan-Nya daripada menyenangkan diri kita sendiri. Ibrani 11:25 mengatakan tentang Musa, “Ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” Ketika hal yang sama dapat dikatakan tentang kita, kita tahu bahwa kita telah mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Kesenangan-Nya di dalam kita akan ditunjukkan melalui berkat-Nya, yang diberikan-Nya kepada kita berdasarkan keputusan-Nya dan bukan karena gigihnya doa tuntutan kita.

Malam ini, Tuhan mengundang kita untuk mencari perkenanan-Nya (Mazmur 119:58, 135; 2 Raja-raja 13:4; Yeremia 26:19; Zefanya 2:3). Ketika kita mencari perkenanan-Nya, kita merendahkan hati kita di hadapan-Nya (2 Raja-raja 22:19) karena kita sebenarnya tidak layak di hadapan-Nya. Kita mencari Dia untuk diri-Nya sendiri, bukan hanya untuk berkat-berkat yang Dia berikan (Yeremia 29:13); dan menata hidup kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita (Markus 12:30; Lukas 10:27), bukan untuk mengejar berkat-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:23

Bagaimana rasanya jika Tuhan menolong orang yang kita benci?

“Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” Yunus 4:1-4

Kitab Yunus terdiri dari empat pasal. Pasal pertama membahas panggilan Yunus untuk berkhotbah di Niniwe, upayanya untuk melarikan diri dari Tuhan, dan konsekuensi yang diakibatkannya. Tindakan Yunus menggambarkan kesia-siaan pelarian dari Tuhan: pasal ini diakhiri dengan Yunus yang dibuang ke laut dan ditelan ikan besar. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat dan sekalipun manusia bebas untuk memilih tindakannya. ia tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Pasal 2 berisi doa Yunus. Dia berseru kepada Tuhan dalam kesusahannya (Yunus 2:2) saat berada di dalam perut ikan. Tuhan kemudian menjawab doanya, berbicara kepada ikan, dan ikan tersebut memuntahkan Yunus ke daratan (Yunus 2:10).

Pasal 3 menceritakan tentang Yunus yang dengan setia menaati Tuhan untuk berkhotbah di Niniwe. Setelah panggilan kedua ini (Yunus 3:1–2), Yunus patuh dan menyatakan kepada warga Ninewe bahwa kehancuran akan terjadi dalam empat puluh hari. Penduduk Niniwe percaya kepada Tuhan, berpuasa, dan berdukacita sebagai tanggapannya (Yunus 3:5). Raja bahkan mengeluarkan keputusan yang tidak boleh dimakan oleh siapa pun atau hewan, melainkan berdoa memohon belas kasihan Tuhan (Yunus 3:6-9). Ketika mereka melakukannya, Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada mereka (Yunus 3:10). Inilah yang bisa terjadi jika manusia menyadari kedudukan mereka di hadapan Tuhan dan mau menyesuaikan kehendak mereka dengan kehendak Tuhan.

Pasal 4 menawarkan tanggapan Yunus terhadap pertobatan Niniwe dan pengampunan Tuhan. Daripada bersukacita, dia malah ingin mati (Yunus 4:3). Yunus kemudian beristirahat di luar kota di bawah tanaman yang telah disediakan Tuhan. Keesokan harinya, tanaman itu hilang dan Yunus sangat marah hingga ingin mati lagi (Yunus 4:8). Tuhan mengingatkan Yunus bahwa penduduk Niniwe jauh lebih penting daripada tanaman yang telah mati. Tuhan memilih untuk berbelas kasihan kepada mereka dan lebih memedulikan mereka daripada Yunus memedulikan tanaman yang menghasilkan keteduhan. Kasih Tuhan jelas ditunjukkan kepada semua orang yang menyambut Dia.

Tuhan menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya (Roma 9:18). Jadi, tampaknya aneh jika seorang pengkhotbah seperti Yunus marah karena pendengarnya bertobat dari dosa mereka, namun itulah reaksi Yunus terhadap pertobatan orang Niniwe. Yunus 4:2 memberi tahu kita alasannya. Yunus berdoa kepada Tuhan , katanya: ”Ya Tuhan , bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.” Yunus tahu sejak awal bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ia menyadari bahwa jika penduduk Niniwe bertobat, Tuhan akan mengampuni mereka. Yunus marah atas pertobatan mereka karena dia lebih suka melihat Niniwe dihancurkan!

Di zaman ini, masih banyak pemimpin gereja dan orang Kristen yang seperti Yunus. Mereka memusuhi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sesat yang ditakdirlan untuk ke neraka. Apa yang seharusnya diberitakan kepada orang lain adalah kabar baik dan kabar kasih tentang Tuhan yang mau mengampuni semua orang yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya. Tetapi, dalam kenyataannya sikap orang-orang Kristen seperti itu kebanyakan menunjukkan kebencian mereka kepada orang lain yang tidak sefaham dengan mereka.

Mengapa ada orang Kristen yang mengharapkan Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya dan bukan kasih-Nya? Kita dapat belajar dari kasus Yunus. Ada beberapa kemungkinan alasan Yunus ingin melihat Niniwe dihancurkan. Pertama, Niniwe adalah ibu kota Asyur, bangsa yang kejam dan suka berperang yang merupakan musuh Israel. Kehancuran Niniwe bisa dilihat sebagai kemenangan bagi Israel. Kedua, Yunus mungkin ingin melihat kejatuhan Niniwe untuk memuaskan rasa keadilannya. Bagaimanapun, Niniwe layak menerima penghakiman Tuhan. Ketiga, tidak adanya penghakiman oleh Allah atas Niniwe dapat membuat perkataan Yunus tampak tidak benar, karena ia telah meramalkan kehancuran kota tersebut.

Kita juga dapat belajar untuk menolak contoh negatif dari Yunus yang tidak memuji Tuhan atas kebaikan-Nya.

Pertama, Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, bersedia mengampuni semua orang yang bertobat (lihat 2 Petrus 3:9). Penduduk Niniwe adalah bangsa bukan Yahudi, namun Tuhan tetap memberikan keselamatan-Nya kepada mereka. Dalam kebaikan-Nya, Tuhan memperingatkan bangsa Asyur sebelum mengirimkan penghakiman, memberi mereka kesempatan untuk bertobat.

Kedua, Tuhan peduli terhadap manusia di setiap bangsa. Dia, pada dasarnya, adalah Juruselamat. Seperti yang diungkapkan Lukas 15 dalam perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang, hati Tuhan adalah untuk penebusan semua orang yang mau datang kepada-Nya. Lebih lanjut, Amanat Agung dalam Matius 28:18-20 menekankan panggilan Allah untuk menyampaikan pesan “kabar baik” Allah kepada semua bangsa. Roma 1:16 juga menekankan pentingnya memberitakan Injil baik kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi.

Ketiga, Tuhan prihatin terhadap mereka yang belum pernah mendengar pesan keselamatan-Nya. Penyebutan “lebih dari 120.000 orang yang tidak dapat membedakan tangan kanan dan kirinya” (Yunus 4:11) kemungkinan besar merujuk pada mereka yang tidak mengetahui apa pun tentang kebenaran rohani. Mengenai hal-hal tentang Tuhan, mereka tidak bisa membedakan atas dari bawah atau kanan dari kiri. Tuhan kasihan pada kebutaan rohani orang-orang kafir. Tuhan ingin memperluas keselamatan-Nya kepada semua orang yang mau bertobat dan berpaling kepada-Nya.

Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang tidak kita sukai? Mungkin kita menganggap mereka sebagai musuh kita, musuh golongan kita. Karena itu kita mungin merasa berhak untuk membenci mereka, seperti Tuhan membenci mereka (dalam bayangan kita). Tetapi ini adalah kesalahan total! Tuhan mengasihi segala bangsa, dan karena itu kita harus mengasihi sesama kita.

Hanya Tuhan yang tahu siapakah manusia yang diselamatkan di antara semua orang yang sudah diberkati-Nya dengan berbagai apa yang baik di dunia. Kita harus bersyukur jika ada orang yang takut akan Tuhan sekalipun mereka nampaknya adalah orang-orang yang patut dihukum Tuhan. Tuhan yang berdaulat berhak memutuskan siapa yang diselamatkan-Nya dan kita harus menerima semua keputusan-Nya dengan sukacita sebab kita sudah diselamatkan bukan karena kita orang yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:43-45

Kemunafikan orang Kristen zaman ini

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas d di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” Galatia 2:14

Apa arti munafik? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa munafik adalah berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Dengan demikian kemunafikan adalah ketidakjujuran. Biasanya ini berarti seseorang yang melakukan apa yang buruk tapi mengaku melakukan apa yang baik. Kebalikan dari hal ini bisa saja terjadi: adanya seseorang melakukan apa yang baik, tetapi kemudian berpura-pura melakukan hal lain agar bisa diterima oleh golongannya. Apakah ini munafik? Paulus menyebutnya demikian.

Ketika itu Petrus lagi makan bersama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi. Ini adalah hal yang baik. Tetapi Petrus kemudian mengubah sikap dan perilakunya terhadap orang Kristen non-Yahudi setelah kunjungan “kalangan Yakobus”. Alasan Petrus menarik diri dari persekutuan meja adalah ketakutan dari pihak yang bersunat, yaitu orang-orang Yahudi yang bersikeras untuk menyunat orang bukan Yahudi. Setidaknya ada kemungkinan (berdasarkan Galatia 6:12) bahwa beberapa orang Yahudi, seperti kaum Zelot, bersedia menggunakan kekerasan untuk memastikan tradisi Yahudi dipatuhi.

Jika ini masalahnya, maka mungkin ketakutan Petrus adalah ketakutan nyata akan penganiayaan yang dilakukan oleh kelompok gereja Yerusalem yang lebih bersemangat. Petrus dan Barnabas mungkin menarik diri dari persekutuan untuk menghindari potensi pembalasan kekerasan dari “orang-orang fanatik” dalam agama Kristen Yahudi.

Paulus berkata bahwa tindakan Petrus hanyalah sebuah kemunafikan. Petrus dan Barnabas pada mulanya berbuat baik dengan menerima orang non-Yahudi sebagai orang seiman, tetapi kemudian memisahkan diri dari orang-orang non-Yahudi agar bisa diterima oleh orang Yahudi yang ekstrim. Oleh karena itu, tindakan Petrus tidak sesuai dengan karakternya dan tidak sejalan dengan keyakinannya atau kesepakatan yang ia capai dengan Paulus dalam Galatia 2:1-10. Paulus berpendapat bahwa Petrus dan Barnabas telah “mundur” karena takut dan karena itu perlu dikoreksi. Jika Petrus dianggap seorang munafik, Paulus menggambarkan Barnabas sebagai orang yang “disesatkan”.

Barnabas berada dalam posisi yang buruk karena dia awalnya dikirim ke Antiokhia oleh Yerusalem, dia tidak bisa melawan “perintah” gereja yang mengirimnya ke Antiokhia (Galatia, 157). Kesetiaannya adalah kepada Yerusalem, kelompok yang dengannya dia bergabung sejak awal (Kisah Para Rasul 4), dan bukan kepada Paulus dan misi non-Yahudi. Misi orang non-Yahudi bukanlah tugas Barnabas, melainkan tugas Paulus. Semua orang Yahudi di gereja Antiokhia bergabung dengan Petrus dan Barnabas dalam menarik diri dari persekutuan dengan orang percaya non-Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa ada perpecahan di seluruh gereja yang disebabkan oleh “pengikut Yakobus.”

Paulus secara terbuka mengonfrontasi Petrus karena “perilakunya tidak sejalan dengan kebenaran”. Konfrontasi ini terjadi “di hadapan mereka semua,” yang mungkin berarti bahwa Paulus menunggu sampai gereja berkumpul. Sejalan dengan pertemuan pribadi di Yerusalem, Paulus memilih untuk membawa masalah ini ke seluruh jemaat. Tuduhan terhadap Petrus bahwa ia tidak hidup sesuai dengan apa yang diketahuinya adalah benar, sesuai dengan Galatia 2:1-10, misalnya.

Maksud Paulus adalah jika Petrus dan orang-orang Kristen Yahudi menarik diri dari orang-orang Kristen non-Yahudi, maka tidak ada kesatuan dalam tubuh Kristus. Seperti yang akan Paulus tunjukkan nanti, tidak ada orang Yahudi atau Yunani di dalam Tubuh Kristus, kita semua adalah anggota bersama “di dalam Kristus.” Memisahkan menjadi dua tubuh, yang Yahudi dan yang bukan Yahudi, sama sekali tidak memahami inti dari “satu tubuh” seperti yang dijelaskan Paulus dalam Efesus 2. Yang dipertaruhkan di sini adalah sifat Injil. Jika Paulus kalah dalam argumentasi ini, maka orang non-Yahudi akan terus menjadi “orang percaya kelas dua” di mata sebagian orang percaya Yahudi yang konservatif.

Meskipun permasalahannya berbeda, bagaimana gereja-gereja masa kini menciptakan batasan-batasan yang mendorong sebagian orang Kristen keluar dari persekutuan, atau menganggap mereka sebagai orang Kristen kelas dua? Bagaimana kita bisa berbeda pendapat mengenai batasan-batasan tanpa mengkompromikan kesatuan Tubuh Kristus?

Mungkin apa yang mirip dengan masalah sunat adalah masalah perbuatan baik. Di zaman ini ada golongan Kristen yang segan menekankan pentingnya perbuatan baik karena kuatir bahwa jemaat akan memandang bahwa keselamatan datang melalui perbuatan baik manusia. Pada pikak yang lain, ada golongan yang menekankan perbuatan baik karena pandangan bahwa itu adalah syarat untuk bisa menjadi orang yang beriman. Kemunafikan bisa saja terjadi dalam dua golongan ini karena masing-masing berusaha mempertahankan pendapat mereka sendiri. Dengan usaha itu tiap golongan membuat teologi mereka tidak konsisten.

Orang Kristen yang menentang penekanan hal berbuat baik sebenarnya berusaha menghindari kejahatan. Bahkan, mereka juga berusaha untuk hidup baik. Pada pihak yang lain, mereka yang menekankan perbuatan baik sebagai bukti keselamatan, sebenarnya juga percaya bahwa keselamatan datang dari Tuhan sebagai karunia dan bukan karena perbuatan baik manusia. Dengan demikian, boleh dikatakan kedua golongan Kristen ini adalah sama-sama munafik – mengaku apa yang tidak benar-benar terjadi, hanya demi mempertahankan penekanan teologi masing-masing. Mirip dengan golongan Yahudi dan golongan non-Yahudi pada zaman Paulus, kedua golongan masa kini ini sering bertentangan sekalipun mereka adalah sama-sama orang beriman.

Pada waktu yang silam Paulus menegur Petrus: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang bukan Yahudi untuk hidup secara Yahudi?” Mungkin Paulus akan berkata pada orang Kristen di zaman ini: “Jika engkau, seorang Kristen, tidak hidup secara Kristen yang menekankan kasih, bagaimanakah engkau dapat mengajak saudara-saudara seiman untuk hidup secara Kristen?”

Alkitab jelas menulis bahwa hidup secara Kristen berarti hidup berlandaskan karunia keselamatan yang membuahkan berbagai hal yang baik. Setiap orang Kristen sejati, dari denominasi apa pun, selalu percaya akan kedua hal ini. Kita tidak boleh menjadi orang munafik dengan mengamini keduanya dalam hidup pribadi, tetapi hanya menekankan salah satu saja dalam pengajaran agar kita tidak dianggap menyimpang dari ajaran golongan kita. Kita harus yakin bahwa kasih Kristus sudah dicurahkan untuk keselamatan seluruh orang percaya dan bukan hanya untuk golongan tertentu. Inilah sebuah teologi yang benar seperti yang pernah diajarkan oleh Paulus.

Tanda kehidupan iman adaah adanya kemauan untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kita

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6:20

Beberapa dari kita mungkin membayangkan kehidupan Kristen sebagai kehidupan yang tidak banyak membuhkan tenaga. Cukup dengan ke gereja sekali seminggu, dan memberi persemvahan. Bukankah keselamatan datang bukan karena usaha kita? Memang, adakah perlunya bagi orang yang sudah diselamatkan untuk menambah anugerah keselamatan Tuhan itu dengan berbagai perbuatan? Pendapat semacam ini adalah kekeliruan total, karena Alkitab penuh dengan seruan untuk memuliakan Tuhan dengan hidup kita yang sudah diselamatkan. JIka Anda biasa berbakti ke sebuah gereja di mana Anda tidak pernah atau jarang mendengar khotbah untuk membaktikan hidup Anda untuk Tuhan, ada kemungkinan Anda sudah menghadiri kebaktian sebuah gereja yang mati.

Gereja yang mati dapat merugikan pertumbuhan rohani Anda, jadi hindarilah gereja tersebut dengan cara apa pun. Para pemimpin gereja juga harus mengenali tanda-tanda gereja yang sedang sakit dan mengambil tindakan yang sesuai. Meskipun persekutuan Kristen sangat penting (Ibrani 10:25), kita dipanggil untuk mengenali guru-guru palsu yang siap menipu (Matius 7:5; 1 Yohanes 4:1; 2 Petrus 2:1). Sedihnya, beberapa gereja mengalami kelemahan rohani dan dapat dikatakan mati sekalipun masih banyak pengunjungnya.

Orang mungkin mengira gereja yang mati adalah gereja yang hanya didatangi oleh segelintir orang atau sudah ditutup secara fisik. Namun, sebuah gereja dapat saja berkembang secara jumlah dan sibuk secara sosial namun tetap seperti mayat secara rohani. Dalam kitab Wahyu, gereja Sardis digambarkan mempunyai aktivitas dan terlihat hidup, padahal sebenarnya mati (Wahyu 3:1). Ini adalah kata-kata yang memperingatkan kita. Berhati-hatilah untuk tidak mengukur kesehatan sebuah gereja dari jumlah anggotanya, kemewahan gedungnya, ketangguhan bahasan teologinya. keberhasilan jemaatnya, atau hasil duniawi lainnya. Gereja yang mati mempunyai permasalahan yang lebih dalam.

Gereja yang mati mungkin memberitakan Injil palsu atau tidak memberitakan Injil sama sekali. Injil palsu mencakup Injil kemakmuran (Yesus mati agar Anda bisa kaya dan sehat), Injil harga diri (Yesus datang untuk meningkatkan kepercayaan diri kita), dan Injil keadilan sosial (Yesus datang untuk mengatasi masalah-masalah sosial). Selain itu ada gereja yang pesan injilnya adalah Injil kebencian karena selalu sibuk menyerang teologi atau gereja lain. Ini bisa kita lihat dalam khotbah, renungan dan pembahasan yang tidak berpusat pada firman Tuhan tetapi pada pendapat manusia.

Injil yang sejati adalah tentang bagaimana Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya melalui pengorbanan Kristus untuk dosa-dosa kita. Injil mencakup pemahaman tentang dosa, murka Allah, kematian Kristus, dan arti kebangkitan-Nya, bagi manusia yang masih di dunia. Gereja yang mengabaikan atau meremehkan pesan kabar baik ini dan menggantinya dengan pesan-pesan lain adalah gereja yang sedang sakit atau sudah mati.

Gereja yang mati condong ke arah legalisme atau ke arah antinomianisme. Gereja yang mati selalu condong ke salah satu dari dua ekstrem di atas. Kaum legalis percaya bahwa mereka diterima oleh Tuhan karena mengikuti aturan yang ditetapkan. Beberapa peraturan ini tidak alkitabiah, seperti larangan berolahraga atau menonton film. Aturan-aturan alkitabiah diubah menjadi hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan, padahal hal itu tidak seharusnya terjadi. Misalnya, para legalis mungkin berkhotbah bahwa tidak memberikan persepuluhan dapat membawa seseorang ke neraka. Legalisme adalah apa yang Paulus hadapi dengan jemaat Galatia (lihat Galatia 5:2–4).

Orang Kristen sejati bisa jatuh ke dalam perangkap legalisme jika mereka menjadikan keyakinan dan teologi mereka sebagai isu utama. Membenci orang yang tidak setuju dengan mereka mengenai doktrin-doktrin yang tidak penting adalah salah satu gejala legalisme. Memiliki beberapa orang Kristen yang legalistik tidak serta merta mengklasifikasikan sebuah gereja sebagai gereja mati. Masalah baru muncul ketika ajaran dan kebiasaan gereja menunjukkan ciri-ciri tersebut, misalnya ajaran-ajaran yang berpusat pada Perjanjian Lama dan hukum Taurat.

Gereja ekstrem lainnya adalah gereja antinomianisme yang tidak mementingkan moral, yang dijelaskan dalam Yudas 1:3-4. Orang-orang sedemikian merasa bahwa sebagai orang pilihan bukanlah masalah jika mereka menuruti setiap keinginan berdosa. Kitab Suci menentang pandangan ini. Anugerah Allah memaksa kita untuk menolak kefasikan (Titus 2:11-14). Kita bebas dari hukuman dosa, bukan dari dosa (Roma 6:14–18; Yohanes 8:34–36; Galatia 5:13). Kita tidak boleh hidup dalam dosa tetapi hidup untuk Tuhan (Roma 6:11). Perbuatan amoral merupakan hal yang sering terjadi di gereja yang sudah mati, yang tidak mengerti pentingnya moralitas Kristen, seperti yang terjadi di Korintus (1 Korintus 5:1).

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menyatakan bahwa orang Kristen harus memuliakanlah Allah dengan tubuh mereka. Ini bertentangan dengan asumsi bahwa kehidupan umat Kristen yang mula-mula hanya duduk-duduk merenungkan firman Tuhan sepanjang waktu. Meskipun kita menyambut baik tuntutan untuk bermeditasi, belajar, dan tetap berada dalam hadirat Allah, kita juga menjumpai ajaran-ajaran Yesus, Petrus, Yakobus, dan Paulus, satu demi satu, yang mengantarkan kita menuju kehidupan nyata yang berdasarkan informasi Injil dan didorong oleh iman, dengan aktivitas yang bermakna. Berbakti kepada Tuhan adalah untuk secara aktif berbuat baik untuk sesama, demi kemuliaan Tuhan.

Sebagai contoh, mari kita perhatikan apa yang rasul Paulus katakan kepada rekan-rekannya yang masih muda, Timotius dan Titus. Orang kaya di zaman sekarang ini, tulisnya, tidak boleh berpuas diri pada kekayaannya tetapi “berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, murah hati dan mau berbagi” (1 Timotius 6:18). Dan Titus juga harus aktif: jangan hanya mengajar tetapi “tunjukkanlah dirimu dalam segala hal sebagai teladan dalam perbuatan baik” (Titus 2:7). Bukan sekadar menjadi teladan melalui apa yang tidak Anda lakukan, melainkan melalui perbuatan baik yang Anda lakukan.

Paulus mengharapkan perkataan yang baik dan perbuatan baik dari anak didiknya. Dan dia berharap semua orang Kristen tidak hanya bersedia berbuat baik tetapi juga “bersemangat untuk melakukan pekerjaan baik” (Titus 2:14). Ia ingin memastikan bahwa mereka yang mengaku beriman “berhati-hati dalam melakukan perbuatan baik” (Titus 3:8). Permasalahan yang dihadapi para guru palsu di Kreta adalah: “mereka mengaku mengenal Allah, namun mereka menyangkal Dia melalui perbuatan mereka. Mereka menjijikkan, tidak taat, dan tidak layak melakukan pekerjaan baik apa pun” (Titus 1:16). Sebaliknya, Paulus mengatakan, “Hendaklah umat kita belajar untuk mengabdikan diri mereka pada perbuatan baik, sehingga dapat membantu kasus-kasus yang sangat mendesak, dan jangan sampai tidak menghasilkan buah” (Titus 3:14).

Kesiapan untuk berbuat baik mungkin terdengar cukup mudah secara teori, namun dalam praktiknya hal ini merupakan sebuah panggilan yang sulit dilakukan di zaman kita. Kita lebih suka memakai tubuh kita untuk mencari apa yang kita inginkan, bukan apa yang Tuhan inginkan. Sebagai orang yang dibebaskan dati hukuman dosa kita mungkin merasa merdeka. Padahal, tubuh kita adalah anugerah yang berharga, diciptakan dan dipelihara oleh Tuhan, untuk memampukan kita hidup dan berbuat baik, demi kemuliaan-Nya, di dunia kita. Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Tubuh kita bukan hanya “tidak dimaksudkan untuk melakukan percabulan,” seperti yang Paulus tulis dalam 1 Korintus 6:13, namun secara aktif-positif, tubuh kita “untuk Tuhan” – dan ditambah lagi, “Tuhan untuk tubuh.” Tuhan itu pro-tubuh, bagi tubuh, bukan anti-tubuh, tidak curiga terhadap tubuh. Dia memberikan tubuh manusia kepada Putranya sendiri — mengapa? Sebagai wadah untuk melakukan kehendak-Nya di dunia. Kitab Ibrani menempatkan kata-kata Mazmur 40 di bibir Yesus, yang berkata kepada Bapa-Nya, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku,” dan kemudian, “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibrani 10: 5–7).

Jadi selama hidup di dunia kita mempunyai tubuh, yang dipersiapkan bagi kita oleh Bapa kita, untuk melaksanakan kehendak-Nya, untuk berbuat baik dengan tubuh kita, untuk menggunakannya untuk memajukan kerajaan dan kemuliaan Kristus dalam tindakan tubuh yang didorong oleh iman, dan perkataan yang memberi makna untuk tindakan kita. Kita tidak hanya mempunyai hal-hal negatif yang harus dihindari, namun ada hal positif yang harus kita kejar: “muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1 Korintus 6:20). Dengan demikian, gereja yang hidup tidak hanya wajib mengajarkan jemaat untuk menghindari hal-hal yang buruk, tetapi harus juga mengajarkan apa yang baik untuk dilakukan oleh jemaatnya. Gereja yang mati tidak mengajarkan jemaat untuk memerangi apa yang jahat dengan melakukan apa yang baik. Ini seperti orang yang mati.

Kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup (Roma 12:1) — dan menjadikan anggota tubuh kita bukan sebagai alat dosa tetapi sebagai alat kebenaran (Roma 6:13). Apakah itu aktif atau pasif? Kita mengerahkan anggota tubuh dan otot kita untuk bergerak di dunia, kaki melangkah menuju kebutuhan, dalam panggilan kasih, tangan terulur untuk menolong orang lain.

Pertanyaannya bukanlah apakah kita umat Kristiani membutuhkan tubuh kita untuk melaksanakan panggilan yang diberikan Tuhan di dunia fisik ini, namun apakah kita siap menggunakannya karena setiap hari memberi kita peluang baru? Atau akankah kita membiarkan usia mengrogoti tubuh kita untuk memperlambat kita, membuat kita tetap diam, merasa hidup seperti beban dan bukannya aset dalam panggilan Kristus?

Apakah kita akan “menjadi serupa dengan dunia ini” dan membiarkan dunia ini memadamkan iman dan panggilan kita, atau akankah kita “diubah oleh pembaharuan pikiranmu” sehingga kita tidak hanya mampu “mencermati apa yang sebenarnya kehendak Allah” (Roma 12:2) namun juga siap dan mampu mempersembahkan tubuh kita dan melakukannya?

Di dalam Kristus, kita memiliki jawaban atas panggialn Tuhan. Salah satunya, seperti yang ditulis Paulus kepada anak-anak didiknya, kita ingin “siap sedia untuk setiap pekerjaan baik” (2 Timotius 2:21; Titus 3:1). Kita ingin siap bergerak dan menampilkan Tuhan di dunia-Nya. Siap dengan tangan dan lengan, dengan kaki dan tungkai, yang berdenyut dengan energi dan semangat, dan merasakan kehidupan, bukan kelelahan, dengan setiap gerakan. Siap dengan pikiran, hati, dan kemauan yang lebih memilih bergerak daripada bermalas-malasan, lebih memilih bangun dan pergi dan melakukan sesuatu daripada hanya mengutik-utik teologi, lebih memilih terjun bekerja untuk membantu orang lain, baik yang Kristen maupun yang non- Kristen.

Di dalam Kristus, dalam pelayanan kasih, kita ingin mendapatkan (dan menjaga) tubuh kita, dalam berbagai musim kehidupannya, dalam kondisi sederhana yang diperlukan untuk melayani panggilan Tuhan dalam hidup kita untuk mengasihi sesama. Kita ingin menjadi tipe orang yang ingin berbuat baik bagi orang lain, dan mempunyai kemampuan untuk melakukannya dengan senang hati, mengetahui bahwa kebaikan seperti itu sering kali memerlukan pengerahan tubuh kita dengan cara yang tidak nyaman, dan penuh pengurbanan, seperti seorang atlit yang berlomba. Tetapi itu adalah tanda adanya kehidupan, karena orang mati tidak dapat merasa pegal atau bisa menggerakkan tubuhnya. Apakah Anda benar-benar memiliki kehidupan dalam Kristus saat ini?

Perlunya moralitas di kalangan umat Kristen zaman ini

“Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.” 1 Korintus 5: 9-13

Orang Kristen bukan orang tidak bermoral

Apakah agama Kristen adalah agama yang menekankan pentingnya prinsip moralitas? Sebagian kecil orang Kristen menjawabnya dengan “tidak” karena setiap orang sebaik apa pun adalah orang yang tidak bermoral di hadapan Allah yang mahasuci. Memang Raul Paulus pernah menulis dalam surat Roma 3:9-12: Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: ”Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka,dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”.

Tidak mengherankan, mereka yang memandang bahwa semua orang tidak ada bedanya dalam hal dosa kemudian mungkin menyatakan bahwa beda antara orang Kristen dan bukan Kristen adalah dalam hal pilihan Allah: Orang Kristen adalah orang pilihan Allah bagaimanapun jeleknya moral mereka, sedangkan orang bukan Kristen adalah orang yang ditolak Allah bagiamanapun baiknya moral mereka. Pandangan di atas, sekalipun ada benarnya, adalah pandangan yang bisa menjerumuskan orang Kristen lebih jauh ke dalam dosa. Mengapa? Karena agama Kristen yang berkembang dari agama Yudaisme sebenarnya mengajarkan pentingnya menjunjung nilai moral yang tinggi sesuai dengan Alkitab dan perlunya berjuang untuk hidup kudus.

Orang Kristen memang harus sadar bahwa mereka tidak dapat mengharuskan orang bukan Kristen untuk menaati hukum Tuhan. Tetapi, setiap orang beriman tentu tahu bahwa Tuhan mengharuskan kita taat kepada prinsip-prinsip kesucian hidup yang diharuskan bagi anak Tuhan. Karena itu, sebagai orang yang dipilih Tuhan, kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan perintah Tuhan dan karena itu harus mengajarkan hal itu kepada sesama orang beriman. Paulus dalam ayat-ayat dari 1 Korintus di atas memperingatkan jemaat untuk menegur mereka yang mengaki Kristen tetapi gaya hidupnya mendunia. Orang semacam itu disebut orang Kristen duniawi (orang Kristen kedagingan) atau carnal Christians.

Bisakah seorang Kristen sejati menjadi orang Kristen duniawi? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama mari kita definisikan istilah “duniawi”. Kata “duniawi” diterjemahkan dari kata Yunani sarkikos, yang secara harafiah berarti “daging.” Kata deskriptif ini terlihat dalam konteks orang Kristen dalam 1 Korintus 3:1-3. Dalam ayat ini, rasul Paulus menyebut para pembacanya sebagai “saudara,” sebuah istilah yang ia gunakan hampir secara eksklusif untuk menyebut orang-orang Kristen lainnya; dia kemudian menggambarkan mereka sebagai “duniawi.” Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa orang Kristen bisa bersifat duniawi. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tidak seorang pun tidak berdosa (1 Yohanes 1:8). Setiap kali kita berbuat dosa, kita bertindak secara kedagingan. Orang Kristen yang masih terus bergelimang dalam dosa adalah carnal Christians.

Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa meskipun seorang Kristen bisa bersifat duniawi untuk sementara waktu, seorang Kristen sejati tidak akan tetap bersifat duniawi seumur hidupnya. Beberapa orang telah menyalahgunakan gagasan tentang “Kristen duniawi” dengan mengatakan bahwa ada kemungkinan orang beriman kepada Kristus dan kemudian menjalani sisa hidup mereka dengan cara yang sepenuhnya duniawi, tanpa ada bukti bahwa mereka telah dilahirkan kembali atau mengalami kematian dari hidup lama dan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Konsep seperti ini sama sekali tidak alkitabiah. Yakobus 2 memperjelas bahwa iman yang sejati akan selalu menghasilkan perbuatan atau hidup baik. Efesus 2:8-10 menyatakan bahwa meskipun kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman saja, keselamatan itu akan ditunjukkan melalui perbuatan. Dapatkah seorang Kristen, ketika mengalami kegagalan dalam memerangi dosa dan/atau memberontak terhadap pimpinan Tuhan, tampak bersifat duniawi? YA. Apakah orang Kristen sejati akan tetap bersifat duniawi sampai mati? TIDAK.

Karena jaminan keselamatan Tuhan adalah kekal, bahkan orang Kristen yang duniawi pun tetap diselamatkan. Keselamatan tidak bisa hilang, karena keselamatan adalah anugerah Allah yang tidak akan diambil-Nya (lihat Yohanes 10:28; Roma 8:37-39; 1 Yohanes 5:13). Bahkan dalam 1 Korintus 3:15, orang Kristen yang duniawi mendapat jaminan keselamatan: “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Pertanyaannya bukanlah apakah seseorang yang mengaku Kristen tetapi hidup secara duniawi telah kehilangan keselamatannya, namun apakah orang yang mengaku Kristen tersebut benar-benar sudah diselamatkan (1 Yohanes 2:19).

Kitab 1 Korintus 5:9–13 memperkenalkan ajaran Kristen tentang disiplin gereja, penyelesaian konflik, dan kuasa Allah untuk menyucikan kita dari dosa. Setelah menuntut gereja di Korintus mengucilkan seseorang karena dosa yang mencolok, Paulus mengingatkan mereka bahwa mereka yang mengaku Kristen harus diberi standar moral yang lebih tinggi. Secara khusus, gereja tidak boleh menerima persekutuan dari mereka yang terus-menerus melakukan dosa yang terang-terangan dan keras kepala. Paulus menekankan bahwa umat Kristiani bahkan tidak boleh berbagi makanan dengan seseorang yang mengaku sebagai umat Kristiani namun menolak untuk berhenti hidup dalam dosa. Dengan demikian, orang-orang Kristen kedagingan itu terkadang harus dikucilkan dari gereja sampai mereka mau bertobat untuk tidak memberi pengaruh yang buruk pada orang lain.

Paulus menyatakannya hal serupa dalam 2 Tesalonika 3:14-15: “Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.”

Umat Kristiani harus menerima tanggung jawab untuk membimbing dan menegur satu sama lain ketika ada orang yang mengaku berada di dalam Kristus tetapi ikut serta dalam dosa yang terus-menerus dan tidak kunjung bertobat. Kata “pertobatan” tampaknya menjadi kunci dalam percakapan ini. Dalam contoh spesifik dalam ayat-ayat ini, laki-laki yang berselingkuh dengan istri ayahnya terus berbuat dosa (1 Korintus 5:1-5). Dia tidak mengakuinya sebagai dosa atau berpaling darinya. Dia bahkan tidak berusaha untuk melepaskan kelakuan yang dia tahu salah. Dia terus melakukan dosa yang nyata dan terus-menerus, secara terang-terangan dan disengaja.

Paulus bersikeras bahwa mereka harus mengeluarkan pria tersebut dari komunitas mereka—untuk menolak partisipasinya dalam gereja—yang di sini disebut sebagai menyerahkan dia kepada setan. Seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi pada saat Paskah, mereka harus membuang ragi orang tersebut dan dosanya dari antara mereka, untuk mencegah penyebarannya ke seluruh gereja. Jemaat Kristen tidak boleh bergaul dengan mereka yang mengaku beriman, namun tetap memamerkan dosa-dosa mereka. Sekalipun semua dosa adalah sama di hadapan Tuhan, ada dosa-dosa yang dianggap signifikan oleh Paulus seperti dosa percabulan, kekikiran, penyembahan berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu, yang bisa menyebabkan kegoncangan di antara pengunjung gereja dan masyarakat di sekitarnya.

Orang Kristen yang perilakunya masih bersifat duniawi seharusnya mengerti bahwa Tuhan akan mendisiplin atau menghajar mereka dengan penuh kasih (Ibrani 12:5-11) sehingga mereka dapat kembali menjalin persekutuan yang erat dengan-Nya dan dilatih untuk menaati-Nya. Ini bisa terasa sangat menyakitkan, tetapi perlu untuk menyadarkan mereka yang tersesat. Keinginan Tuhan dalam menyelamatkan kita adalah agar kita semakin dekat dengan gambar Kristus (Roma 12:1-2), menjadi semakin rohani dan semakin berkurang keduniawian, sebuah proses yang dikenal sebagai pengudusan.

Sampai kita dibebaskan dari tubuh kedagingan kita yang berdosa, akan selalu ada wabah kedagingan. Namun, bagi orang yang benar-benar percaya kepada Kristus, ledakan sifat kedagingan ini merupakan pengecualian, bukan suatu normalitas. Artinya adalah bukan setiap orang Kristen akan dijangkiti wabah dosa – ini bukan hidup “memikul salib Kristus” yang diharuskan, tetapi hidup “memikul iblis” yang harus dibasmi.

Paulus menerapkan ungkapan umum dari hukum Musa dalam Ulangan: “Usirlah orang jahat dari tengah-tengah kamu.” Gereja-gereja Kristen tidak boleh membiarkan dosa yang terus berlanjut ini tidak terselesaikan di masyarakat. Para pemimpn gereja tidak boleh meremehkan gejala “penyakit rohani” ini dengan menganggap bahwa semua ada dalam penetapan Tuhan. Melakukan hal tersebut akan meracuni kesehatan rohani jemaat (Yudas 1:12; 2 Petrus 2:1) dan mengundang kecurigaan dari dunia yang tidak percaya (1 Petrus 2:12; 2 Petrus 2:2). Jelaslah bahwa prinsip moralitas dari Tuhan adalah penting selama hidup di dunia, dan semua orang percaya harus mau belajar untuk menaatinya.

Untuk apa hidup ini?

Semua orang agaknya hidup untuk:

1. Bisa hidup.

2. Membiayai keluarga.

3. Mendukung masyarakat, bangsa dan negara.

4. Menggunakan bakat.

5. Mencapai cita-cita.

Banyak orang Kristen yang mengira bahwa semua yang di atas adalah sia-sia, tetapi terpaksa untuk bekerja untuk tetap bisa hidup. Ini adalah kekeliruan. Tuhan tahu bahwa kita membutuhkan semua yang di atas, tetapi itu bukan sebagai priotitas utama.

“Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6:32-34.

Banyak orang Kristen bekerja untuk tujuan di atas, dan bahkan merasa bahwa “hidup adalah untuk bekeja” dan “harta bisa dipakai untuk mendukung pekerjaan Tuhan”. Ini adalah pandangan yang juga keliru. Tuhan adalah mahakaya dan Dialah sumber berkat bagi manusia. Ia tidak membutuhkan kekayaan dan sedekah dari manusia.

“Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).

“Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” Mazmur 51:16-17

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Hosea 6:6

Dengan demikian, orang Kristen yang mementingkan kekayaan sebenarnya hanya mencari alasan untuk menikmatinya. Ini adalah gaya hidup yang penuh risiko.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6:9

Pada pihak yang lain, sebagian orang Kristen merasa bahwa jika mereka percaya pada pemeliharaan Tuhan, mereka tidak perlu memikirkan poin 1-5 di atas. Lebih dari itu, ada orang yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan dari awalnya. Ini adalah pandangan keliru, apalagi jika dilandasi kemalasan atau ketidakpedulian atas panggilan Tuhan untuk memakai talenta masing-masing.

“Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” Amsal 6: 9-11

“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” 2 Tesalonika 3: 10-12

“Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah 20:33-35

Lalu bagaimana seharusnya kita hidup dan untuk apa kita bekerja? Kita hidup untuk poin 1-5 di atas, tidak berbeda dengan orang lain. Tetapi, lebih itu kita harus hidup untuk memuliakan Tuhan. Ini berarti bahwa kita harus bekerja dengan melaksanakan kedua hukum utama: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3:17

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.” 1 Korintus 10:31-33

Pagi ini kita belajar bahwa selama hidup ini ada hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang. Dalam hal ini, orang Kristen harus tahu apa yang tidak boleh ditiru. Pada pihak yang lain, ada hal-hal yang tidak perlu dihindari sekalipun itu tidak boleh menjadi fokus hidup kita. Fokus hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan. Jika kita memperoleh apa yang baik dalam hidup, biarlah kita ingat bahwa semua itu karunia Tuhan yang harus kita pakai untuk menolong sesama kita. Biarlah pekerjaan kita juga berguna untuk membawa orang lain kepada pengenalan akan Yesus Kristus!

Untuk apa Tuhan menciptakan manusia?

  1. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai korban untuk melampiaskan amarah-Nya. Ia senang setelah menciptakan manusia sebagai gambar-Nya. Ia tidak marah sebelum adanya dosa. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” (Kejadian 1:31).
  2. Sesudah kejatuhan, semua orang sudah berdosa, tidak ada yang baik. Tetapi Ia tidak memndorong siapa pun ke neraka. Sebaliknya, Tuhan memanggil setiap orang berdosa untuk kembali ke jalan yang benar. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:32).
  3. Tuhan menciptakan semua manusia karena Ia ingin agar Dia dapat mengasihi mereka, dan agar manusia mau memuliakan Dia dan taat kepada firman-Nya. Dalam hal ini Dia tahu bahwa sebagian manusia menolak Dia dan memilih dosa. Tapi Tuhan tetap mengasihi semua manusia dan tidak berhenti mencari dan memanggil mereka yang terseat untuk bertobat.
  4. Inilah rencana keselamatan Tuhan yang ada sejak mulanya karena Ia tahu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
  5. Karena kasih-Nya, Tuhan mau menolong umat manusia. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:17).
  6. Siapa yang dipilih-Nya diberi-Nya kesempatan yang tidak terbatas selama hidup untuk mengenal Dia, karena Ia panjang sabar kepada umat-Nya. “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yohanes 3:18).
  7. Walaupun demikian, Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk istimewa, yang mengerti apa yang baik dan buruk dalam hidup di dunia. Lebih dari itu, kepada umat-Nya, Tuhan memberi Roh Kudus. Karena itu, umat Tuhan sejati seharusnya mengerti apa yang baik dan apa yang buruk dan membenci kejahatan – seperti Tuhan yang membenci dosa manusia. “Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah” (Yohanes 3: 20-21).