Bersyukurlah karena keselamatan kita hanya karena karunia

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita oleh kasih karunia kamu diselamatkan” Efesus 2:4-5

Surat Efesus ditulis oleh Paulus kepada orang-orang Kristen di kota Efesus, yang mempunyai populasi orang percaya non-Yahudi dalam jumlah besar. Paulus menghabiskan Efesus pasal 1 untuk memberi tahu mereka tentang berkat luar biasa yang mereka miliki di dalam Kristus. Dia memberi tahu mereka bagaimana mereka telah dipilih dan dimeteraikan dengan Roh Kudus. Ia juga berdoa agar mereka memahami sepenuhnya semua berkat rohani yang mereka miliki di dalam Kristus.

Bab 2 dimulai dengan membandingkan posisi orang-orang percaya saat ini di dalam Kristus dengan kondisi mereka di luar Kristus—mereka telah mati dalam dosa-dosa mereka. Di dalam Kristus mereka telah diperdamaikan dengan Allah, dan orang percaya Yahudi dan bukan Yahudi telah diperdamaikan satu sama lain.

Efesus 2:8-9 adalah ayat yang sering kita dengar tentang kasih karunia Allah dalam hal keselamatan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Namun ayat 4-5 di atas adalah penting juga untuk dipelajari karena melalui ayat ini kita bisa merasa sangat bersyukur.

Allah telah memilih untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, bukan berdasarkan kebaikan mereka tetapi atas kebaikan-Nya. Dalam ayat 4 dan 5 tertulis bahwa Dia melakukan ini untuk menunjukkan kasih karunia-Nya, yaitu menunjukkan kemurahan-Nya yang tidak selayaknya diperoleh oleh manusia. Menurut definisi, kasih karunia adalah suatu berkat yang tidak selayaknya diperoleh seseorang. Kasih karunia adalah suatu pemberian yang diberikan secara cuma-cuma berdasarkan niat baik si pemberi kepada penerimanya yang tidak berhak atasnya.

Kalau kita diselamatkan karena kasih karunia, ini berarti bukan karena kita baik atau layak; sebaliknya, ini karena Tuhan itu baik dan murah hati. Kemurahan hati inilah yang harus kita ingat, karena sekalipun Tuhan tidak menyelamatkan semua orang, Ia telah memilih mereka yang akan diselamatkan karena kasih-Nya yang besar. Jika keselamatan manusia bergantung pada perbuatan baik, tidak akan ada yang bisa diselamatkan. Jadi, karunia Allah adalah sesuatu yang harus sangat kita hargai dan syukuri. Bahwa hanya karena melalui kasih karunia (by grace only) kita diselamatkan, seharusnya membuat kita ingin membalas kasih-Nya dengan mengasihi Dia dan membaktikan hidup kita kepada-Nya.

Jika rencana dan proses keselamatan berasal dari diri kita sendiri, berdasarkan perbuatan baik kita, maka ketika kita mencapai tingkat kebaikan yang diperlukan untuk menjamin keselamatan, kita bisa bermegah. “Saya melakukannya!” kita mungkin berkata, atau, “Saya memberikan segalanya dan mengatasi rintangan yang sangat besar, namun saya akhirnya naik ke tingkat kebaikan dan kesucian tertinggi, dan Tuhan memberi saya apa yang pantas saya terima!” Dan kita bisa meremehkan mereka yang tidak berhasil: “Yang lain gagal karena mereka tidak memiliki ketabahan, wawasan, dan kesalehan seperti yang saya kembangkan.” Kesombongan kita akan berlimpah, dan Tuhan tidak menghendaki ini.

Perlu dimengerti, agar dapat diselamatkan, diperlukan tanggapan manusia terhadap kasih karunia Allah. Responsnya bukanlah berusaha menjadi “cukup baik” untuk diselamatkan. Responsnya hanyalah percaya (beriman kepada) Tuhan untuk menyelamatkan berdasarkan kebaikan Kristus. Lebih jauh lagi, kita harus memahami bahwa iman bukanlah suatu perbuatan baik yang mendapat pahala dari Tuhan. Iman hanyalah menyerahkan diri kita yang tidak layak ke dalam belas kasihan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Tetapi, jika keelamatan “hanya karena iman”, ini bukan berarti “iman yang sendirian”. Iman yang benar selalu berbuahkan perbuatan baik.

Kita tidak diselamatkan dengan melakukan perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan dengan tujuan melakukan perbuatan baik:

“Karena kita ini buatan a Allah, diciptakan b dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Perbuatan baik adalah bagian penting dalam kehidupan Kristen karena berbuat baik adalah salah satu alasan Tuhan menyelamatkan kita – Dia punya banyak hal untuk kita lakukan. Namun urutannya adalah yang paling penting – perbuatan baik bukanlah penyebab keselamatan, melainkan tujuannya. Tuhan menyelamatkan kita sehingga kita bisa pergi ke dunia, melakukan perbuatan baik dalam nama-Nya, dan ini membuat Dia semakin dimuliakan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Mengingat kebenaran ayat-ayat di atas, penting untuk kita bertanya pada diri sendiri, “Apa yang saya andalkan untuk keselamatan saya?” Apakah Anda mengandalkan hal-hal baik yang telah Anda lakukan, atau apakah Anda menyadari bahwa Anda tidak punya apa-apa untuk disumbangkan dan hanya menyerahkan diri Anda pada kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus Kristus? Selanjutnya, kita juga harus bertanya, “Jika Tuhan demikian kasih kepada saya, apa yang seharusnya saya lakukan untuk bersyukur kepada-Nya?”. Hanya Anda yang bisa menjawab dua pertanyaan ini.

Jangan bangga atas apa yang seharusnya kita lakukan

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Dalam Injilnya, Lukas sering menyusun peristiwa-peristiwa berdasarkan tema dan bukan berdasarkan urutan waktu. Hal ini tampaknya mungkin terjadi di sini bersamaan dengan serangkaian ajaran tentang hidup sebagai pengikut Kristus dan duta Allah di dunia. Perumpamaan tentang hamba-hamba yang tidak layak berakhir ketika Yesus melengkapi pengajaran tentang kepemimpinan. Para murid perlu berhati-hati untuk menghindari godaan seseorang untuk berbuat dosa, menghadapi orang yang berbuat dosa, dan mengampuni orang berdosa yang bertobat (Lukas 17:1-4). Mereka perlu percaya bahwa betapapun kecilnya iman yang mereka miliki, cukup bagi Tuhan untuk melakukan perbuatan baik melalui mereka (Lukas 17:5-6). Dan mereka perlu melayani Tuhan dengan rendah hati, tanpa mengharapkan imbalan atau ucapan terima kasih (Lukas 17:7-10). Mengapa demikian? Paulus berkata kepada jemaat di Korintus, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:20). Memuliakan Allah sudah seharusnya kita lakukan karena kita sudah ditebus oleh darah Kristus sehingga kita bebas dari kematian abadi.

Sikap inilah yang harus kita miliki ketika melayani di gereja, namun itu bukanlah akhir dari pekerjaan Tuhan. Yesus tidak mengidentifikasi kita sebagai “hamba” dan berhenti di situ saja. Dia menyebut kita sahabat (Yohanes 15:15). Allah Bapa menyelamatkan kita dari semangat perbudakan dan mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya (Roma 8:15). Karena kasih karunia-Nya, Allah akan membalas perbuatan baik kita pada saat penghakiman (1 Korintus 3:12-14). Ini mungkin jarang disebut di dalam khotbah untuk menghindari iktikad yang kurang baik dalam pelayanan, jika seseorang mempunyai motivasi yang tidak tulus. Mengapa bisa begitu?

Adalah sifat manusia untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Ketika para murid berdebat mengenai siapa yang terbesar, Yesus berkata, “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. ” (Lukas 22:25-26). Mengharapkan perlakuan khusus adalah hal yang tidak pantas bagi seorang hamba Tuhan. Apalagi, jika kita menuntut pahala dari Tuhan jika kita hidup menurut perintah-Nya.

Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa perbuatan baik kita tidak berperan dalam pembenaran kita – pernyataan Tuhan bahwa kita benar di hadapan-Nya (Roma 3:21–26; 4; Galatia 2:15–16). Oleh karena itu, kehidupan kekal hanya bisa kita miliki ketika kita meninggalkan segala upaya sendiri untuk mendapatkan pengampunan Ilahi, tetapi sebaliknya harus berbalik dari dosa kita, dan menaruh iman kita hanya kepada Kristus Yesus. Meskipun demikian, sebagaimana diakui oleh Katekismus Heidelberg dalam tanya jawab 63, Allah menjanjikan pahala atas ketaatan kita. Bagaimana ini mungkin?

Tentu saja, Pencipta kita berjanji untuk memberkati umat-Nya atas ketaatan mereka terhadap seluruh Kitab Suci. Ulangan 28:1–14, misalnya, berisi janji Allah kepada bangsa Israel zaman dahulu bahwa Dia akan membuat mereka makmur jika mereka mengikuti hukum Musa. Mazmur 19:11 menjelaskan bahwa ada pahala yang besar bagi mereka yang menaati perintah Tuhan. Lebih jauh lagi, Ibrani 11:6 memberitahu kita bahwa iman yang sejati mencakup keyakinan bahwa Allah memberi pahala kepada mereka yang mencari Dia. Kita tidak perlu meminta tetapi harus yakin bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mengasihi umat-Nya.

Ayat-ayat tentang pahala dan berkat tidak bertentangan dengan doktrin pembenaran hanya karena iman karena ayat-ayat ini berkaitan dengan pengudusan, bukan pembenaran. Pada dasarnya, pembenaran adalah tentang bagaimana kita diperbolehkan masuk ke dalam kerajaan. Pengudusan menggambarkan apa yang terjadi ketika kita menjadi warga kerajaan. Tidak ada orang berdosa yang menjadi warga surga melalui perbuatan baiknya, karena kewarganegaraan hanya diperuntukkan bagi mereka yang sempurna. Oleh karena itu, kita bersandar pada kesempurnaan Kristus saja, yang diterima melalui iman saja, untuk mendapatkan tempat kita di surga (2 Korintus 5:21).

Namun, seperti di kerajaan mana pun, warga surga sejati selalu hidup dan bertindak dengan cara tertentu sesuai dengan perintah penguasa kerajaan. Dalam pengudusan, yaitu pertumbuhan kita dalam kekudusan, kita mengamalkan hukum Allah, bukan untuk mendapatkan tempat kita di surga tetapi untuk berterima kasih kepada-Nya karena memberi kita kewarganegaraan hanya karena anugerah melalui iman di dalam Kristus saja. Kita harus bisa membedakan pembenaran dari pengudusan, namun kita tidak dapat memisahkan keduanya. Tidak mungkin orang yang dibenarkan tidak memiliki keinginan untuk menaati hukum Allah, dan tidak mungkin orang memiliki keinginan yang benar untuk mengikuti perintah Tuhan kecuali mereka telah dibenarkan (Yakobus 2:14-26).

Hari ini kita diingatkan akan janji Allah bahwa Ia akan memberi pahala kepada kita atas ketaatan kita, dan usaha kita untuk melakukan kehendak-Nya dalam pengudusan kita. Namun hal ini pada akhirnya terjadi juga karena anugerah. Dalam kebaikan-Nya, Tuhan memberi pahala atas ketaatan anak-anak-Nya yang dibenarkan karena iman saja. Jadi, bahkan dalam pengudusan kita, kita hanyalah hamba yang tidak mempunyai tuntutan terhadap Allah (Lukas 17:7-10). Hindarilah kebanggan karena kita melakukan apa yang diperintahkan Allah!

Mengapa berusaha hidup baik?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1:5-7

Saya sering menulis artikel tentang peran usaha dalam kehidupan Kristen. Hal ini lahir dari keprihatinan bahwa dalam hasrat kita untuk mengagungkan petunjuk-petunjuk Injil, kita berada dalam bahaya mengabaikan perlunya menaati perintah-perintah alkitabiah. Kekhawatiran saya adalah bahwa kita takut atau segan untuk menasihati satu sama lain, seperti yang dilakukan Kitab Suci, untuk berjuang, berjuang, menghidupkan, dan melakukan segala upaya demi kesalehan.

Keseganan kita biasanya disebabkan oleb beberapa pertanyaan:

  • Bisakah orang percaya yang dibenarkan menyenangkan Tuhan dengan ketaatannya?
  • Apakah orang pilihan akan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah ketika ia berbuat dosa?
  • Bagaimana hubungan pembenaran dan pengudusan?
  • Bisakah kita menaati Tuhan karena kita bukan orang yang sempurna?
  • Tidakkah usaha hidup baik kita akan menyebabkan timbulnya kesombongan?
  • Bagaimana Kitab Suci memotivasi kita untuk bisa taat?

Kekhawatiran saya adalah banyak pendeta dan umat Kristen di zaman ini tidak menganggap pengudusan sebagai sesuatu yang perlu sesudah pembenaran. Ini pandangan yang salah. Sangat umum bagi orang Kristen untuk berpikir (jika tidak diucapkan secara eksplisit): “Saya diselamatkan oleh kasih karunia dan terjamin akan kehidupan kekal. Tapi sekarang saya diharuskan untuk melakukan banyak pekerjaan untuk menjadikan diriku lebih baik. Tuhan memasukkanku ke dalam umat-Nya secara sepihak, tapi sekarang semuanya tergantung padaku untuk menjadi seperti Dia.” Karena itu, pembenaran terasa seperti kabar baik dan pengudusan terasa seperti hukuman. Karena itu banyak orang Kristen tidak mau memikirkannya.

Kita harus mengakui bahwa “pengudusan adalah proses yang sangat melelahkan.” Itu membutuhkan usaha kita. Namun upaya pengudusan kita adalah mempercayai kabar baik tentang pembenaran kita. Mengingat, meninjau kembali, dan menemukan kembali realitas pembenaran kita setiap hari, adalah kerja keras yang harus kita lakukan jika kita ingin bertumbuh. Pengudusan adalah kerja keras untuk kembali pada kepastian pengampunan yang sudah kita peroleh di dalam Kristus dan menekan tombol penyegaran berulang kali. Sekali lagi: pengudusan adalah kerja keras untuk membiasakan diri dengan pembenaran kita. Maksudnya dalah bahwa pengudusan membutuhkan kerja keras berjuang untuk percaya bahwa kita dibenarkan oleh iman saja, terlepas dari perbuatan baik atau kontribusi apa pun.

Saya setuju bahwa pengudusan membutuhkan perjuangan iman untuk mempercayai kabar baik injil pembenaran. Tetapi ini bukan satu-satunya upaya yang diperlukan dalam pengudusan. Bertumbuh dalam kesalehan adalah perjuangan iman – perjuangan untuk mempercayai kebenaran tentang pembenaran kita, pengangkatan kita sebagai anak, perjuangan untuk mempercayai semua yang Tuhan katakan tentang kita berdasarkan kesatuan kita dengan Kristus. Namun bertumbuh dalam kesalehan lebih dari sekadar percaya; itu juga menuntut kita untuk mematuhi. Perjanjian Baru memberi kita perintah, dan perintah ini mencakup lebih dari sekedar mengingat, meninjau kembali, dan menemukan kembali realitas pembenaran kita. Kita juga harus memakai, menunda, mematikan, bekerja, dan berusaha semaksimal mungkin.

Jelas, upaya ini selalu dihubungkan dengan kasih karunia Injil. Namun kita tidak bisa memperkecil “usaha” hanya sekedar percaya pada pembenaran. Kita haeus sadar bahwa setelah Petrus memerintahkan kita untuk “berusaha semaksimal mungkin” (2 Petrus 1:5), ia memperingatkan kita agar tidak lupa bahwa kita telah disucikan dari dosa-dosa kita sebelumnya (1:9). Jika kita menjalani kehidupan yang tidak saleh, kita menunjukkan bahwa dalam hal itu kita telah melupakan belas kasihan Tuhan dalam hidup kita. Penangkalnya adalah dengan mengingat siapa diri kita di dalam Kristus dan “semakin meneguhkan panggilan dan pilihanmu” (1:10).

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” 2 Petrus 1:10

Pengudusan berasal dari Allah dan melalui iman, namun tidak seperti pembenaran, pengudusan tidak dilakukan melalui iman saja. Ketika kita bekerja keras untuk mengingat realitas pembenaran, kita juga harus bekerja keras dalam Roh untuk berhenti melakukan hal-hal yang berdosa dan mulai melakukan yang benar. Benar, ada banyak orang Kristen yang perlu mengetahui kabar baik tentang pengampunan yang mereka terima. Namun yang pasti, ada banyak orang yang mengaku Kristen (dan non-Kristen!) yang merasa dibenarkan namun tidak bertumbuh dalam kesalehan dan bahkan mungkin bukan anak-anak Tuhan. Mereka tidak ragu bahwa Tuhan mengasihi mereka. Mereka tidak khawatir kalau-kalau mereka tidak diterima. Mereka tidak punya masalah dengan kasih karunia. Tetapi mereka merasa tidak perlu bekerja keras untuk menemukan kembali arti pengampunan Tuhan.

Mereka sebenarnya perlu bekerja keras untuk hidup seolah-olah mereka telah mati terhadap dosa dan dibangkitkan bersama Kristus. Perjanjian Baru menyerukan kepada kita untuk mengambil tindakan; hal ini tidak memberitahu kita bahwa seluruh pekerjaan pengudusan akan dilakukan Tuhan untuk kita. Kita berada dalam ‘pertarungan iman yang baik’, dan kita sendiri harus melakukan perjuangan tersebut. Namun syukur kepada Tuhan, kita dimampukan untuk melakukannya; bagi kita yang percaya dan dibenarkan karena iman, dan dilahirkan kembali dari Roh Tuhan, kita mempunyai kesanggupan. Jadi metode pengudusan dalam Perjanjian Baru adalah untuk mengingatkan kita akan hal itu; dan setelah mengingatkan kita akan hal itu, ia berkata, ‘Sekarang, pergilah dan lakukanlah’. Kita semua membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk mempercayai apa yang benar dan melakukan apa yang benar. Kita mati terhadap dosa dalam kematian Kristus. Sekarang kita harus mematikan perbuatan daging hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia.

Masalah hidup baik penting karena, di satu sisi, beberapa orang Kristen berusaha keras untuk menjadi lebih serupa dengan Yesus ketika mereka menyadari bahwa di dalam Kristus mereka telah mati terhadap dosa dan dibangkitkan bersama Kristus. Dan di sisi lain, beberapa orang Kristen terhambat dalam pengudusan mereka karena kurangnya usaha. Mereka malas dan mungkin terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Selain itu, ada orang-orang yang bingung dan bertanya-tanya mengapa pengudusan tidak secara otomatis mengalir dari pembenaran yang mereka terima. Pagi ini, mereka perlu diingatkan dan bangkit dan, seperti yang dinyatakan dalam ayat di atas:” Kamu harus dengan sungguh-sunguh berusaha”!

Disadur secara bebas dari “Gospel-Driven Effort” oleh Kevin DeYoung (2011)

Arti hidup di bawah kasih karunia

“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Roma 6:11-14

Konteks ayat-atat ini adalah kondisi rohani orang-orang yang diselamatkan. Pernyataan Paulus di sini adalah tentang mereka yang telah menyatakan iman yang menyelamatkan di dalam Kristus, bukan tentang seluruh umat manusia (Roma 5:1). Paulus menyimpulkan perintahnya untuk tidak membiarkan dosa memberi tahu kita apa yang harus kita lakukan. Ia sekali lagi mengingatkan pembaca bahwa dosa tidak lagi mempunyai otoritas dalam hidup kita. Mereka yang tidak memiliki Kristus, yang berdiri sendiri dan terpisah dari Allah, terpaksa berbuat dosa. Seperti kita dulu, mereka adalah budak dosa. Karena Kristus menyelamatkan kita, kita tidak lagi seperti itu. Dosa bukanlah bos kita.

Dalam ayat 11, Paulus menyuruh kita untuk menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah sama seperti Kristus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Kemudian dia memberitahu kita untuk tidak membiarkan dosa berkuasa atau menguasai tubuh kita yang fana saat ini. Kita tidak boleh membiarkan dosa membuat kita menaatinya. Mengapa demikian? Karena kita hidup di bawah kasih karunia Allah. Hidup dalam kasih karunia Allah bukan berarti bahwa kita boleh bermalas-malasan dalam iman, tidak menngerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Filipi 2:12) karena kita merasa sudah pasti akan masuk ke surga.

Hal ini menurut sebagian pembaca mungkin membingungkan. Bukankah Paulus mengatakan bahwa kita mati terhadap dosa (Roma 6:1)? Bukankah Ia sudah memberitahu kita bahwa “tubuh dosa” sudah dilenyapkan (Roma 6:6) dan bahwa kita sudah dibebaskan dari dosa melalui kematian bersama Kristus ketika kita percaya kepada-Nya (Roma 6:7)? Jadi bagaimana mungkin dosa bisa menguasai kita atau membuat kita menuruti hawa nafsu kita? Mengapa kita tetap harus bertanggung jawab atas dosa kita? Jawaban sederhananya adalah: memang kita sudah terbebas dari kuasa dosa, namun kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Singkatnya, dosa masih terasa menarik dan nikmat bagi kita. Sangat mudah bagi kita untuk lupa, atau bahkan tidak percaya, bahwa kita tidak boleh melakukan perbuatan dosa (1 Korintus 10:13). Kita yang seharusnya bukan budak dosa, sekarang masih menjadi sukarelawan dosa. Kita tetap melakukannya karena kita suka dan memilih untuk berdosa.

Paulus memerintahkan kita untuk melakukan percakapan mengenai dosa dengan diri kita sendiri secara berkelanjutan. Dia memerintahkan kita untuk terlibat dalam pertempuran melawan keinginan kita. Jangan biarkan dosa memberi tahu Anda apa yang harus Anda lakukan, tulisnya. Bagi orang percaya Kristen yang sudah diselamatkan, keinginan duniawi bukanlah hal yang utama lagi. Kita mengakui adanya kelemahan kita, tetapi tahu bahwa Roh Kudus ada beserta kita untuk menolong kita melawan godaan dosa.

Roma 6:1–14 mengeksplorasi bagaimana orang Kristen seharusnya memikirkan dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita telah diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita beriman kepada Kristus. Secara rohani kita lahir baru, kita mati bersama Dia, dan terhadap dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru. Kini Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita bukan lagi budak dosa. Kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk digunakan dalam dosa, namun kita harus menyerahkan diri kita sendiri sebagai alat kebenaran.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen “lumrah” untuk terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak seharusnya melakukannya. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita bukan lagi budaknya. Kedua, apa manfaat hidup demi dosa bagi kita? Kita sudah diberi karunia untuk menyadari bahwa hal ini hanya menyebabkan rasa malu dan kematian rohani. Kebenaran yang diberikan Allah kepada kita secara cuma-cuma di dalam Kristus Yesus membawa kita menjadi seperti Yesus dan hidup kekal. Kita harus mengabdi pada kebenaran, bukannya dosa.

Kini Paulus menambahkan sebuah pemikiran yang mengejutkan. Kita tidak berada di bawah kuasa dosa karena kita tidak berada di bawah hukum. Dalam arti tertentu, berada di bawah hukum Taurat menunjukkan betapa tidak berdayanya kita melawan keinginan kita untuk berbuat dosa. Sebaliknya, Paulus menulis, kita berada di bawah kasih karunia. Ini bukan meniadakan hukum Taurat, karena semua hukum Taurat dirangkum dalam dua hukum yang utama: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Karena kasih karunia Allah, kita tidak lagi dipaksa oleh hati kita untuk berbuat dosa. Kasih karunia justru bisa memberi kita kemauan dan kemampuan untuk melawan dosa jika kita mau menerima karunia itu. Sebaliknya, Roh Kudus tidak memaksa kita untuk menghindari dosa, tetapi Ia mau memberi kita karunia kekuatan untuk menghadapi godaan iblis.

Paulus menggambarkan kematian Yesus di kayu salib demi dosa umat manusia sebagai peristiwa yang terjadi satu kali saja dan untuk selama-lamanya. Dia menyerah pada kematian pada saat itu, namun begitu Dia bangkit, kematian dikalahkan. Hal itu tidak lagi menguasai Dia. Yesus bebas dari kematian selamanya. Karena, secara rohani, mereka yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan mereka juga mati, dikuburkan, dan kemudian dibangkitkan ke kehidupan rohani yang baru, kita berada di jalan yang sama dengan Yesus. Kita sekarang begitu dekat dengan Kristus sehingga Allah memberi kita penghargaan atas kebenaran Kristus dan menanggung pembayaran kematian-Nya atas dosa kita. Kristus secara harfiah adalah “hidup kita” (Kolose 3:4).

Paulus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kita yang berada di dalam Kristus harus terlibat dalam peperangan melawan diri kita sendiri. Kita telah dibebaskan, melalui kematian rohani dan kebangkitan bersama Kristus, dari kekuatan dosa. Manusia lama kita telah disalibkan secara rohani sama seperti Kristus disalibkan secara rohani. Hasilnya adalah dosa tidak lagi berkuasa atas kita. Kita telah dimerdekakan.

Namun, selama hidup di dunia, kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Kadang-kadang kita masih ingin berbuat dosa, meskipun kita tahu betapa merusaknya dosa kita. Paulus telah memerintahkan kita untuk tidak melakukan dosa secara sukarela, dan tidak membiarkan dosa menguasai tubuh kita. Sekarang dia memberikan poin yang lebih tegas lagi pada perintahnya. Kita tidak boleh menyerahkan anggota-anggota tubuh kita, bagian mana pun dari tubuh kita, untuk digunakan oleh dosa dalam melakukan hal-hal yang tidak benar.

Perhatikan sesuatu tentang perintah itu: Perintah ini menegaskan bahwa kita memiliki kendali atas apa yang kita lakukan dengan tubuh kita sendiri. KIta tidak boleh membohongi diri kita dengan mengaku bahwa kita todak bisa mengendalikan hidup kita. Kematian Kristus dan kuasa roh Allah sudah memberi kita kendali itu. Mereka yang diselamatkan hanya dapat berbuat dosa jika memilih untuk melakukan hal tersebut.

Sebaliknya, Paulus menulis, kita harus menyerahkan tubuh kita kepada Tuhan untuk dipakai dalam kebenaran. Memang seharusnya kita melakukannya dengan sengaja seperti orang yang dihidupkan dari kematian. Bagaimana kita melakukan itu? Kita mulai dengan terus-menerus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita sebenarnya dan sungguh-sungguh telah dihidupkan dari kematian. Itulah diri kita sekarang, dan itulah takdir hidup yang harus kita jalani.

Gereja adalah tempat untuk belajar menjadi dewasa

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” Efesus 4: 11-13

Mengapa kita perlu ke gereja? Mengapa kita perlu memilih gereja yang baik? Apakah tanda gereja yang baik? Ini adalah pertanyaan untuk setiap orang Kristen, bukan saja bagi mereka yang baru mengenal Kristus, tetapi bagi mereka yang sudah lama menjadi orang beriman. Gereja adalah tubuh Kristus, persekutuan orang percaya, dan tempat bagi umat Kristen untuk bersatu dalam doa dan pujian kepada Tuhan, dan tempat kita mendengarkan firman Tuhan. Lebih dari itu, gereja adalah sarana untuk pertumbuhan kedewasaan rohani orang Kristen. Oeh karena itu, setiap pemimpin gereja bertugas menggembalakan jemaatnya dan membimbing mereka ke arah kedewasaan dalam Kristus. Dengan menjadi orang Kristen yang dewasa kita akan makin bisa menyadari bahwa tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Kristus.

Ayat Efesus 4:11 menyebutkan beberapa pemimpin rohani yang Kristus karuniakan sebagai “pemberian” kepada gereja. Ini mengandung arti yang dalam. Pertama, para pemimpin ini diberikan oleh Tuhan. Meskipun Tuhan mendorong pembelajaran dan pelatihan, panggilan Tuhan adalah prioritas utama bagi para pemimpin ini.

Kedua, pemimpin gereja bukan hanya satu, tetapi beragam. Para rasul pada waktu itu tmempunyai tugas untuk melakukan perjalanan untuk membagikan Injil dan memulai jemaat baru. Para gembala dan guru berfokus pada memimpin jemaat tertentu atau mungkin kelompok gereja rumah setempat. Struktur bahasa Yunani aslinya sepertinya menghubungkan “gembala” dan “guru” sebagai satu jabatan.

Ketiga, penting untuk dicatat bahwa daftar ini ditulis untuk audiens tertentu. Paulus menulis kepada umat Kristen di Efesus mengenai tipe-tipe pemimpin yang mereka temui. Ini termasuk Paulus sebagai rasul. Kita sekarang hidup di masa setelah periode awal para rasul dan nabi. Meskipun para pemimpin gereja di zaman ini mungkin melayani dengan cara yang sama, mereka berbeda dari para rasul dan nabi Perjanjian Baru.

Para pemimpin gereja harus memperlengkapi orang percaya untuk melayani, guna membangun komunitas orang percaya (Efesus 4:12). Ayat ini menambahkan tiga alasan tambahan. Pertama, Paulus ingin agar orang percaya hidup dalam kesatuan. Kesatuan ini didasarkan pada esensi iman kita. Hal ini tidak berarti mengkompromikan keyakinan yang diperlukan, atau kurangnya keyakinan.

Kedua, orang-orang percaya harus bertumbuh dalam “pengetahuan tentang Anak Allah.” Fokus para pemimpin gereja adalah mempersiapkan umat Kristiani untuk melayani orang lain, dengan cara yang praktis. Namun, pengetahuan tentang karunia Tuhan merupakan bagian yang sangat penting dalam pelayanan yang efektif.

Ketiga, Paulus ingin setiap orang percaya bertumbuh dalam kedewasaan. Jelas sekali, Paulus tidak mengacu pada jasmani. Yang dimaksudnya adalah pertumbuhan rohani, yang mencakup peningkatan buah Roh (Galatia 5:22-23) dan kasih kita kepada Allah dan sesama (Matius 22:37-40). Tujuan akhirnya adalah menjadi “penuh” dalam Kristus atau “kepenuhan Kristus” (juga Efesus 1:23:3:19). Paulus memang sering menulis tentang pentingnya kedewasaan bagi orang percaya (1 Korintus 2:6; 14:20; Filipi 3:15; Kolose 1:28; 4:12). Ibrani 5:14 menambahkan bahwa “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”

Efesus 4:11–16 membahas baik karunia pemimpin rohani maupun pentingnya kekristenan yang matang, penuh kasih, dan bersatu. Beberapa orang diberkahi dengan karunia mengajar, berkhotbah, dan sebagainya. Penting bagi kesehatan jemaat Kristen agar para anggotanya menggunakan talenta yang diberikan Tuhan dengan tepat. Pada saat yang sama, anggota gereja yang berbeda memiliki kemampuan yang berbeda pula. Komunitas umat beriman akan berfungsi dengan baik bila seluruh bagiannya bekerja sama melalui peran unik mereka. Gereja yang sehat jauh lebih kuat dibandingkan gereja yang “besar”. Anggota gereja yang dewasa mengeri bahwa mereka berbakti di gereja untuk kemuliaan Tuhan; bukan untuk menikmati kemegahan gedung gereja, mendengarkan khotbah pendeta yang berapi-api, atau menikmati indahnya musik dan paduan suara.

“Penginjil” atau “Pemberita Injil” secara harafiah adalah mereka yang membagikan kabar baik dari Alkitab tentang kasih Allah, dan bukannya mengajarkan teologi. Kata ini digunakan di tempat lain hanya untuk Filipus (Kisah 21:8) dan Timotius, yang diperintahkan untuk melakukan pekerjaan penginjil (2 Timotius 4:5). Pelayan gereja disebutkan di tempat lain sebagai penatua (1 Timotius 3; Titus 1) dan pemimpin jemaat lokal. Guru adalah mereka yang mempunyai kemampuan untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan secara efektif kepada orang lain. Semua pemimpin gereja harus mempunyai kemampuan untuk mengajar (1 Timotius 3:2), namun ada orang yang diberi karunia mengajar namun tidak dipanggil untuk melayani (Roma 12:7).

Dalam gereja kita belajar tentang kasih karunia Tuhan yang menyelamatkan, seperti yang dijelaskan Paulus dalam bab-bab sebelumnya. Itu adalah motivasi pertama orang Kristen untuk mau menjalani kehidupan yang saleh, yang memuliakan Tuhan. Dalam kitab Efesus, Paulus mendorong orang-orang percaya untuk hidup dengan cara yang menghormati karunia itu dengan tidak mensia-siakan hidup mereka. Semua orang Kristen yang diselamatkan adalah bagian dari satu keluarga yang bersatu, bagian dari “tubuh” Kristus yang kudus. Semua orang Kristen hendaknya berpaling dari ”manusia lama” yang ada sebelum diselamatkan. Memang tidak semua jemaat mau untuk itu dan tidak semua jemaat sering mendengar nasihat itu dalam gereja, karena tidak semua pemimpin gereja tergerak untuk mengajarkan pentingnya hidup baru sebagai pernyataan syukur kita kepada Tuhan atas anugerah keselamatan-Nya.

Misi keseluruhan setiap pemimpin Kristen adalah “memperlengkapi orang-orang kudus untuk pekerjaan pelayanan.” Hal ini mencakup gagasan untuk melatih orang percaya untuk melayani Tuhan di bumi ini. Untuk apa? Untuk memuliakan Tuhan! Perlu diperhatikan bahwa pelatihan untuk jemaat ini tidak boleh hanya berfokus pada teologi, namun harus menekankan praktik kekristenan. Para pemimpin harus melatih jemaat gereja untuk memuliakan Tuhan dengan tubuhnya, dengan perbuatannya, dengan pikirannya, dengan perkataannya. Dengan seluruh hidupnya. Ini adalah adalah “pekerjaan baik”. Ini melibatkan pengeluaran energi dan mengutamakan kebutuhan orang lain dan bukan kepentingan diri sendiri. Ini untuk memuliakan Tuhan dan akan mempercepat pertumbuhan kedewasaan rohani.

Saat ini, apakah Anda pergi ke gereja setiap minggu? Apakah Anda mengerti perlunya menjadi orang Kristen yang dewasa? Apakah Anda mengerti bahwa tujuan hidup setiap orang Kristen adalah untuk memuliakan Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan kita? Jika Anda menjawab “ya”, bersyukurlah kepada Tuhan yang memberi Anda kebijaksanaan Ilahi.

“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amsal 1:7

Tuhan menghendaki semua orang berbuat baik

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13:3

Hal “berbuat baik” adalah salah satu pokok pembicaraan yang sering menyebabkan perdebatan di antara golongan Kristen. Apa arti perbuatan baik? Perbuatan baik dalam hidup sehari-hari mungkin saja didefinisikan sebagai segala sesuatu yang kita lakukan, pikirkan, dan katakan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan kaidah moral yang berlaku setempat. Tetapi masalahnya, kaidah moral yang berlaku di satu negara mungkin adaah sesuatu yang tidak bermoral di negara lain. Contohnya: hidup bersama di luar nikah, hubungan antar sejenis, aborsi dll. yang dipandang normal di banyak negara barat.

Perbuatan baik dalam pandangan Kristen berbeda dengan moralitas manusia, sekalipun tidak menolak semua pedoman moralitas dan hukum yang ditetapkan dan dijalankan oleh pemerintah setempat. Roma 13 membahas tiga bidang besar yang harus ditangani oleh umat Kristen yang berkorban hidup. Pertama, karena Allah menempatkan setiap otoritas manusia untuk melaksanakan tujuan-tujuan-Nya, umat Kristiani harus tunduk kepada otoritas tersebut; ide ini hadir dengan konteks tertentu. Kedua, kita harus mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup sebagai terang Kristus dan membuang perbuatan kegelapan seperti mabuk-mabukan, percabulan, dan iri hati. Kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang melawan kegelapan dan, pada kenyataannya, mengenakan Kristus sendiri daripada menuruti keinginan kita sendiri. Semua ini adalah sebagian dari perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan.

Roma 13:1–7 menjelaskan tanggung jawab umat Kristen untuk hidup dalam ketundukan kepada otoritas manusia dalam pemerintahan, tidak peduli apakah itu pemerintah yang dipimpin orang Kristen atau bukan. Alasan yang diberikan adalah bahwa setiap pemimpin pemerintahan pada akhirnya ditetapkan oleh Tuhan untuk tujuan-Nya sendiri. Secara umum, pemerintahan manusia berfungsi untuk mengekang dan menghukum orang yang melakukan kejahatan. Pemerintah melakukan hal ini atas nama Tuhan. Umat ​​Kristen harus membayar pajak untuk mendukung pekerjaan yang dilakukan Tuhan ini. Selain itu, mereka yang berada di dalam Kristus wajib menghormati dan menghormati otoritas yang telah Allah tempatkan. Tulisan lainnya, seperti Kisah Para Rasul 5:27–29, membedakan antara ”tunduk” dan ”ketaatan.”

Paulus telah menjelaskan doktrin Kristen tentang ketundukan kepada otoritas manusia. Karena setiap pemimpin manusia ditetapkan oleh Tuhan, umat Kristiani tidak boleh menolak pekerjaan Tuhan dengan melawan otoritas tersebut. Lalu bagaimana jika pemerintah setempat memerintahkan rakyat setempat untuk melakukan apa yang bertentangan dengan firman Tuhan? Dalam hal ini, perbuatan baik adalah apa yang menempatkan Allah sebagai pedoman utama. Perbuatan baik yang benar-benar baik di mata Tuhan adalah perbuatan baik yang memuliakan-Nya.

Paulus menjelaskan mengapa Allah menetapkan otoritas manusia. Peran otoritas pemerintah yang diberikan Tuhan adalah menjaga ketertiban. Hal ini berlaku terlepas dari apakah otoritas tersebut adalah datang dari orang Kristen atau tidak. Secara umum, pemerintahan manusia adalah salah satu cara Allah mengekang pengaruh kejahatan di dunia (2 Tesalonika 2:7). Umat ​​Kristen tidak boleh menganut anarki – penolakan terhadap segala bentuk pemerintahan – atau tidak menaati otoritas hanya karena mereka tidak setuju. Orang Kristen tidak boleh melawan hukum (antinomian), tapi harus menjadi contoh yang baik untuk orang lain.

Sekalipun tidak ada perbuatan baik dan pelaksanaan hukum apapun yang membawa keselamatan atau iman, Paulus menjelaskan cara hidup tanpa rasa takut terhadap penguasa: Berbuat baiklah. Pihak berwenang bukanlah ancaman bagi mereka yang melakukan hal yang benar. Ajaran ini tentu saja masuk akal jika mereka yang berkuasa berpikiran adil dan bertindak berdasarkan rasa integritas. Tentu saja, kita bisa mengingat momen-momen dalam sejarah di mana mereka yang berkuasa jelas merupakan teror bagi orang-orang yang berbuat baik, atau setidaknya tidak berbuat salah, termasuk terhadap Paulus sendiri! Dalam hal ini, Daniel dan teman-temannya adalah contoh orang-orang yang melawan perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas (Daniel 3:16-18). Tetapi mereka tidak melawan raja dengan kekerasan atau anarki.

Nasihat Paulus di sini hanyalah kasus umum. Dia tidak tertarik – pada bagian ini – untuk membahas pengecualian. Keprihatinan Paulus yang pertama adalah agar orang-orang Kristen dikenal dalam komunitasnya sebagai orang-orang yang tunduk pada otoritas; mereka yang melakukan apa yang baik dalam masyarakat. Orang-orang beriman tidak boleh memiliki reputasi sebagai pelanggar hukum yang hidup dalam konflik yang melawan otoritas. Orang Kristen tidak boleh mengabaikan cara hidup yang baik sebagai warga dunia dan warga surga. Sekalipun kita sudah dijamin untuk menjadi warga surga, selama hidup kita harus melakukan apa yang baik bagi sesama dan bangsa dan mendukung para pemimpin negara yang bersusaha berbuat baik untuk bangsa dan negara tanpa menghakimi motivasinya. Setiap orang bertanggung jawab kepada Tuhan atas apa yang diperbuatnya selama hidup, apakah itu memuliakan Dia atau untuk keuntungan diri sendiri.

Tentu saja, Yesus dan hampir semua rasul, termasuk Paulus, dibunuh oleh penguasa, sering kali karena penolakan mereka untuk menaati hukum yang bertentangan dengan perintah Allah kepada mereka (Kisah 5:27-29). Inilah inti ajaran Paulus yang halus: “tunduk” tidak selalu berarti “taat”. Tak satu pun dari para rasul dibunuh karena melanggar hukum hanya demi menentang otoritas; mereka “tunduk” kepada pemerintah ketika mereka menolak untuk mengikuti hukum yang tidak saleh. Mereka menderita karena taat kepada Tuhan. Daniel dan teman-temannya adalah contoh orang-orang yang melawan perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas (Daniel 3:16-18). Tetapi mereka tidak melawan raja dengan kekerasan atau anarki.

Apa yang membedakan perbuatan baik orang duniawi jika dibandingkan dengan orang Kristen? Dilihat dari sudut pandangan manusia, bedanya hampir tidak ada. Malahan, mereka yang menjadi penyumbang besar dana kemanusiaan biasanya bukan Kristen. Mereka mungkin merasa terbeban untuk berbuat baik untuk sesama, tetapi bukan untuk Tuhan jika mereka tidak mengenal Tuhan. Apakah itu suatu yang buruk? Dari sudut pandangan Tuhan, tidak ada perbuatan manusia yang cukup baik untuk menebus dosa mereka. Walaupun demikian, Tuhan yang menghendaki ketertiban di dunia memberkati mereka yang hidup menurut kaidah moral dan hukum yang baik. Banyak negara yang lemah dalam bidang hukum tidak bisa berkembang karena banyaknya korupsi dalam kegiatan pemerintah dan bisnis.

Apa panggilan umat Kristen dalam hal ini? Apakah kita berhenti untuk menekankan pentingnya moralitas dan hukum? Apakah kita merasa tenteram karena merasa sudah menjadi orang pilihan? Sama sekali tidak! Gereja dan umat Kristen tetap harus menjadi contoh yang baik dalam masyarakat dalam menekankan hidup baik, hidup tertib, hidup jujur, hidup yang bermurah hati kepada sesama. Kita tidak boleh jemu untuk berbuat baik (2 Tesalonika 3:13).

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Kolose 3:23-24

Tanggung jawab dan fatalisme orang Kristen

Penjelasan singkat ini adalah tentangi sejauh mana kita bertanggung jawab kepada Tuhan, berdasarkan tulisan Arthur W. Pink

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12

Sekalipun kebanyakan orang Kristen percaya bahwa mereka harus bertanggung jawab atas cara hidupnya, ada sebagian kecil yang yakin bahwa mereka tidak sanggup untuk bertanggung jawab kepada Tuhan. Kelompok ini menolak iman sebagai kewajiban manusia untuk percaya (duty faith). Sebaliknya, mereka percaya bahwa iman tidak membutuhkan respons manusia karena Tuhan secara sepihak mengampuni semua dosa mereka. Ini bertentangan dengan ayat di atas yang jelas menyatakan bahwa Tuhan menuntut setiap orang Kristen untuk memberi pertanggungan jawab tentang dirinya.

Mungkin, dalam hal ini ada kebingungan antara keharusan bertanggung jawab dan kesanggupan untuk bertanggungjawab. Kedua hal ini jelas berbeda, karena jika seandainya Anda mengemudi mobil, Anda harus bertanggung jawab untuk keselamatan penumpang Anda sekalipun Anda tidak dapat bertanggung jawab jika Anda belum pernah mengemudi mobil. Dalam hal ini, polisi tetap menuntut tanggung jawab Anda jika kecelakaan terjadi. Dalam kitab Kejadian, Allah tetap menuntut tanggung jawab Adam dan Hawa sekalipun Ia tahu bahwa mereka tidak sanggup mempertanggungjawabkan pelanggaran mereka. Itu sebabnya Ia mengirimkan Yesus Kristus untuk ganti kita.

Sekalipun semua dosa di hadapan Tuhan adalah dosa yang membawa hukuman, tidak dapat disangkal bahwa ukuran tanggung jawab yang dituntut Tuhan dari manusia bervariasi dalam berbagai kasus, dan lebih besar atau lebih kecil pada individu tertentu. Standar pengukuran diberikan dalam perkataan Yesus:

“Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Lukas 12:48

Tentu saja Allah tidak menuntut banyak tanggung jawab dari mereka yang hidup pada zaman Perjanjian Lama – jika dibandingkan dengan apa yang Dia minta dari mereka yang dilahirkan sesudah Yesus datang ke dunia. Tentu saja Allah tidak akan meminta banyak hal dari mereka yang hidup di ‘zaman kegelapan’, ketika Alkitab hanya dapat diakses oleh segelintir orang saja – berbeda dengan apa yang Dia inginkan dari generasi ini, ketika hampir setiap keluarga Kristen di negeri ini memiliki Alkitab untuk mereka sendiri.

Allah tidak akan menuntut tanggung jawab yang sama dari orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil – seperti apa yang Dia kehendaki dari umat Kristen. Orang-orang yang benar-benar belum pernah menerima Injil tidak akan binasa karena mereka tidak percaya kepada Kristus – tetapi karena mereka gagal menghidupkan terang yang mereka miliki – kesaksian tentang Allah dalam alam dan hati nurani. Sebaliknya, bagi kita yang sudah lama mengenal Kristus dituntut tanggung jawab yang besar. Mereka yang menjadi pemimpin keluarga dan umat juga harus mau memikul tanggung jawab yang besar.

Fakta bahwa tanggung jawab manusia terletak pada kemampuan alaminya, disaksikan oleh hati nuraninya, dan ditegaskan di seluruh Alkitab. Landasan tanggung jawab manusia adalah bahwa ia adalah makhluk rasional yang mampu mempertimbangkan persoalan-persoalan kekal, dan bahwa ia mempunyai Wahyu tertulis dari Tuhan, yang di dalamnya hubungan dan kewajibannya terhadap Penciptanya didefinisikan dengan jelas. Besarnya tanggung jawab berbeda-beda pada setiap individu, ditentukan oleh tingkat karunia yang diterima masing-masing dari Tuhan.

Masalah tanggung jawab manusia dijelaskan dalam Alkitab, dan karena itu merupakan kewajiban serius kita serta hak istimewa untuk menyelidikinya dengan penuh doa dan kehati-hatian untuk mendapatkan pencerahan lebih lanjut, dengan mengandalkan Roh Kudus untuk membimbing kita “ke dalam seluruh kebenaran”. Ada tertulis, “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mazmur 25:9).

Dengan demikian, perlu ditegaskan bahwa merupakan tanggung jawab setiap manusia untuk menggunakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Suatu sikap yang bersifat fatalistis sebagian orang Kristen ialah menolak untuk bertanggung jawab karena alasan bahwa Allah telah menetapkan apa pun yang akan terjadi, termasuk dosa kita, dan itu tidak dapat ditarik kembali. Sikap ini adalah memanfaatkan apa yang telah ditetapkan Allah demi kenyamanan hati mereka yang sengaja mau melanggar perintah Tuhan. Tuhan yang telah menetapkan bahwa suatu tujuan tertentu akan tercapai, juga telah menetapkan bahwa tujuan tersebut akan dicapai melalui dan sebagai akibat dari sarana yang telah ditetapkan-Nya sendiri. Tuhan tidak meremehkan penggunaan sarana – kita juga tidak boleh meremehkannya.

Misalnya: Allah telah menetapkan bahwa “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:22); namun itu tidak berarti bahwa manusia tidak perlu membajak tanah dan menabur benih! Tuhan menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal tersebut, memberkati pekerjaan mereka, dan dengan demikian memenuhi penetapan-Nya sendiri. Dengan cara yang sama, Allah sejak awal telah memilih suatu umat untuk diselamatkan; namun hal ini tidak berarti bahwa para penginjil tidak perlu memberitakan Injil, atau orang-orang berdosa tidak perlu bertobat dan mempercayainya. Melalui sarana inilah nasihat-nasihat kekal-Nya dilaksanakan.

Untuk berargumentasi bahwa karena Allah telah menentukan nasib kekal setiap manusia dan ini tidak dapat ditarik kembali – adalah usaha membebaskan kita dari semua tanggung jawab atas segala kekhawatiran mengenai jiwa kita, atau usaha menolak untuk menggunakan sarana keselamatan dengan tekun; ini sama saja dengan menolak melakukan tugas duniawi kita karena Tuhan telah menentukan nasib kita di dunia. Dan hal ini sudah jelas dari Kisah Para Rasul 17:26, Ayub 7:1; 14:5, dst.

Apa yang telah dipersatukan Allah sebagai penetapan-Nya, tidak boleh kita pisah-pisahkan. Entah kita bisa atau tidak bisa melihat kaitan yang menyatukan yang satu dengan yang lain, tugas kita jelas, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan , Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” (Ulangan 29:29).

Dalam Kisah Para Rasul 27:22 Allah memberitahukan bahwa Dia telah menetapkan pemeliharaan semua orang yang menemani Paulus di kapal; namun sang rasul tidak ragu-ragu mengatakan, “Jika kamu tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.”” (ayat 31); Allah menetapkan sarana itu agar mereka melaksanakan apa yang telah Dia tetapkan. Dari 2 Raja-raja 20 kita belajar bahwa Allah benar-benar bertekad untuk menambahkan lima belas tahun pada kehidupan Hizkia – namun ia harus mengambil segumpal buah ara dan menaruhnya di atas bisul yang mematikan!

Perlu kita sadari, rasul Paulus mengetahui bahwa ia selamanya aman dalam tangan Kristus (Yohanes 10:28) – namun ia “menjaga tubuhnya tetap terkendali” (1 Korintus 9:26). Rasul Yohanes meyakinkan orang-orang yang menerima suratnya, “Kamu harus tinggal di dalam Dia” – namun di ayat berikutnya dia menasihati mereka, “Dan sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Dia” (1 Yohanes 2:27, 28).

Hanya dengan memperhatikan prinsip penting ini – kita bertanggung jawab untuk menggunakan cara-cara yang ditentukan Tuhan, maka kita akan mampu menjaga keseimbangan dalam kebenaran Tuhan, dan diselamatkan dari fatalisme yang melumpuhkan. Setiap orang Kristen bertanggung jawab kepada Tuhan atas apa saja yang dilakukan mereka selama hidup di dunia!

Anda harus mau mengambil keputusan yang baik

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10:31

Setiap orang tetentu bisa dan pernah mengambil keputusan. Itu tidaklah dapat disangkal, karena dalam hidup ini, manusia yang tidak dapat mengambil keputusan tentunya tidak dapat bertahan untuk hidup (survive). Jika seorang bayi bisa hidup dan tumbuh sekalipun tidak bisa mengambil keputusan, itu karena orang tuanya yang mewakili dia untuk mengambil keputusan. Walaupun demikian, ada orang-orang Kristen yang menentang pandangan bahwa manusia bisa dan harus mengambil keputusan sendiri dalam kebebasannya. Mereka menyatakan bahwa apa yang diputuskan setiap manusia adalah keputusan yang diambil Tuhan. Ini sudah tentu tidak benar karena faham semacam itu adalah faham fatalisme.

Apakah setelah menjadi Kristen manusia akan kehilangan kebebasannya atau kemampuan untuk memilih apa yang buruk? Sudah tentu tidak. Walaupun demikian, orang yang sudah lahir baru akan tahu bahwa apa yang harus dipilihnya adalah apa yang baik di mata Tuhan. Sebagai orang percaya, kita harus termotivasi untuk memuliakan Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan, tetapi kita masih juga bisa memilih untuk tidak melakukannya. Ini termasuk pilihan kita untuk makan atau minum, atau menolaknya. Paulus menambahkan hal ini ke dalam daftar faktor-faktor yang memotivasi penggunaan kemerdekaan kita di dalam Kristus. Apakah kegiatan ini bermanfaat bagi saya atau malah membuat saya “diperhamba” (1 Korintus 6:12)? Akankah melakukan hal ini membangun orang lain dan bermanfaat bagi sesama saya serta bagi diri saya sendiri? Dan sekarang, apakah pilihan untuk makan atau minum atau melakukan hal lain akan membawa kemuliaan bagi Tuhan?

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”1 Korintus 6:12

Paulus telah memberikan beberapa pedoman khusus dalam ayat-ayat sebelumnya tentang kapan orang Kristen harus makan dan tidak makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Jawaban-jawaban tersebut memberikan kebebasan yang luas kepada mereka yang “kuat” secara rohani dan menyadari bahwa Tuhan memberikan tujuan yang baik atas segala ciptaan-Nya (1 Timotius 4:4). Alkitab juga telah memberikan peringatan hati-hati yang mengatur bagaimana kebebasan intuk memuliakan Tuhan tersebut dapat digunakan. Di sini, Paulus meringkas segalanya menjadi satu prinsip yang seharusnya mengarahkan semua pilihan kita. Kita tidak hanya harus mengasihi Tuhan, tetapi juga mengasihi sesama kita.

Dalam semua kasus, pertanyaan apakah kegiatan ini akan memberi saya kesenangan, keuntungan materi, atau status tidak boleh menjadi faktor penentu bagi mereka yang sudah bebas di dalam Kristus. Sayang, sikap ni masih ada dalam hidup banyak orang Kristen karena mereka percaya bahwa Tuhan menentukan segalanya. Dengan kata lain, banyak orang Kristen yang tidak merasa bersalah jika mereka melakukan apa yang tidak memuliakan Tuhan tetapi membawa kenyamanan pribadi. Mreka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih akan memberi mereka pengampunan. Mereka merasa tidak mampu memuliakan Tuhan. Ini jelas adalah dosa, karena mereka sebenarnya harus percaya bahwa mereka sudah dikaruniai Roh Penolong. Sama seperti segala sesuatu yang dilakukan tanpa keyakinan adalah dosa (Roma 14:23), umat Kristiani juga tidak boleh berpartisipasi dalam apa pun yang mereka rasa tidak membawa kemuliaan bagi Allah.

“Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Roma 14:23

Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan untuk bisa mengambil keputusan dan harus bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Memang, jika manusia tidak mengenal Tuhan, segala keputusan yang diambilnya tidaklah akan membawa kemuliaan bagi Sang Pencipta. Dalam hal ini, manusia dalam kebebasannya selalu memilih apa yang baik untuk dirinya sendiri, dan itu adalah memilih salah satu dari banyak alternatif yang bernoda dosa yang ada. Apa pun yang dinilai baik oleh manusia duniawi adalah dosa bagi Tuhan karena itu tidak membawa kenuliaan bagi-Nya. Hanya orang yang sudah dilahirkan kembali akan mengerti bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia. Roh Kudus akan membimbing kita untuk bisa mengambil keputusan yang baik.

Masa depan kita bukan masa lalu atau masa kini

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:13-14

Apa tujuan Anda dalam menjadi orang Kristen? Tujuan utama kita seharusnya adalah sama dengan tujuan Allah menciptakan kita, yaitu memuliakan Dia. Ini bukanlah hal yang mudah karena sekalipun kita sudah memperoleh karunia keselamatan dan karunia Roh Kudus, kita tetap harus berjuang keras untuk taat kepada firman-Nya. Hari demi hari, kita mendisiplinkan diri kita untuk menurut kepada bimbingan Roh Kudus, agar makin lama kita makin sempurna di dalam Kristus.

Tujuan Paulus adalah kesempurnaan, namun ia belum mencapainya. Ia bukannya tanpa cela, dan ia juga tidak berharap mencapai kesempurnaan sebelum kematiannya. Sebaliknya, ia menggunakan analogi seorang pelari dalam suatu perlombaan untuk menggambarkan motivasi kehidupan spiritualnya. Seperti seorang pelari yang berdedikasi, dia memiliki satu tujuan. Sama seperti seorang pelari tidak bisa sukses kecuali mereka berkonsentrasi pada perlombaan, Paulus juga tidak bisa sukses bertumbuh di dalam Kristus jika dia membiarkan tujuan lain, hal-hal duniawi, untuk menghalanginya.

Melanjutkan analogi yang ada, Paul juga memilih untuk hidup dengan prinsip penting: menjaga perhatiannya pada jalan di depannya. Seorang pelari tidak bisa melihat ke belakang dan tetap berfokus pada tujuan di depannya. Kedua gagasan tersebut adalah bertolak belakang. Tujuan seorang pelari adalah berfokus pada langkah selanjutnya menuju tujuannya. Kehidupan rohani Paulus juga sama. Dia tidak akan melihat ke belakang pada langkah-langkah yang pernah dan biasa dilakukannya, namun berfokus pada peningkatan setiap langkah dalam perlombaannya hingga mencapai tujuan bersama dengan Kristus.

Kita bisa belajar dari masa lalu dan mungkin sudah terbiasa dengan apa yang kita lakukan selama ini, tapi kita boleh tidak terikat pada hal-hal yang telah kita lakukan. Kita tidak boleh merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini tidak perlu berubah setelah kita lahir baru. Jika lahir baru tidak membawa perubahan dalam hidup kita, patutlah kita bertanya mengapa itu demikian. Setiap orang yang benar-benar lahir baru pasti akan diberi kemampuan oleh Tuhan untuk melihat apa yang pernah dilakukan pada masa yang lalu, yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita tentu bisa melihat bahwa pada masa lalu, dan bahkan sampai sekarang, apa yang kita lakukan tidak banyak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Kita mungkin bisa menyesali bahwa pada masa yang lalu dan sampai sekarang, apa yang kita perbuat dalam hidup kita tidaklah sesuai dengan tujuan penciptaan Tuhan. Kita hidup untuk diri kita sendiri, menurut cara kita sendiri. Jelas kita sudah menggunakan kehendak bebas kita untuk hidup dalam dosa. Kita melawan Tuhan karena Tuhan tentunya menghendaki kita untuk hidup dalam kesucian. Tetapi, daripada terbelenggu oleh kesalahan yang ada, kita bisa melangkah maju, karena kita tahu bahwa kita bisa menerima pengampunan Kristus melalui pertobatan.

Filipi 3:13-14 menjelaskan sikap yang tepat yang harus dimiliki orang Kristen dalam proses ”pengudusan”. Ini adalah jalan bertahap dan seumur hidup untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus. Tempat kita dalam kekekalan sudah terjamin sejak kita percaya kepada Kristus, namun dibutuhkan waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi seperti Dia. Paulus bukannya sombong, dia mencatat bahwa dia tidak sempurna, namun mendorong kita untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Ini membutuhkan kemauan kita untuk makin mau untuk menurut apa yang dibisikkan oleh Roh Kudus: menanggalkan apa yang buruk, dan memilih apa yang baik dalam hidup kekristenan kita.

Paul menggunakan analogi seorang pelari yang berfokus pada tujuan di depannya. Hal ini mencegah gangguan dan tersandung. Tujuan rohani Paulus dinyatakan secara langsung di sini: “hadiah berupa panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Fokus Paulus adalah pada momentum ke depan, bukan pada kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Seseorang tidak bisa bergerak maju jika pikiran dan pandangannya terfokus pada masa lalu. Seorang pelari tidak bisa memenangkan pertandingan dengan berlari di tempat. Paulus mempunyai tujuan yang jelas: berada di surga bersama Tuhan. Dia menantikan imbalan tertinggi atas pengabdiannya yang setia.

Hadiah tertinggi yang disebutkan Paulus ini adalah untuk bersama Kristus, tetapi ada beberapa ketidakpastian mengenai apa yang secara spesifik ia maksudkan, dalam konteks pernyataan ini. Apakah “panggilan ke atas” ini mengacu pada pengangkatan ke surga, atau kematian-Nya? Paulus tampaknya tidak membedakan kedua gagasan ini, setidaknya dalam konteks ini. Dia hanya menulis tentang tujuan mengejar Kristus sampai dia bertemu dengan-Nya setelah kehidupan ini. Ini juga merupakan fokus yang berguna bagi orang percaya saat ini. Intinya adalah jangan terlalu khawatir tentang apakah kita akan mati terlebih dahulu, atau apakah Kristus akan datang kembali. Sebaliknya, kita harus bersiap kapan pun dan bagaimana pun kita bertemu dengan Kristus. Ini berarti bahwa kita harus mengarahkan fokus hidup kita sekarang juga. Ajaran Paulus adalah untuk tidak melihat ke belakang ke masa lalu, namun fokus pada apa yang bisa kita lakukan hari ini dan di hari-hari mendatang untuk hidup bagi Kristus sampai kita bertemu dengan-Nya. Daripada melihat ke masa lalu, tinggal dalam kenyamanan saat ini, atau memusatkan perhatian kepada diri kita sendiri, kita harus melihat ke depan, menuju kekekalan bersama Tuhan.

Apakah kita pasti ke surga?

“Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, ssupaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis supaya jera mereka menghujat.” 1 Timotius 1:18–20

Kita mungkin seing mendengar ajaran baik Kristen atau lainnya, yang percaya bahwa setiap orang saleh akan diselamatkan, bahwa kita “dibenarkan melalui kematian” dan yang perlu kita lakukan untuk masuk surga hanyalah mati. Namun Firman Tuhan tentu saja tidak memberi kita kemudahan untuk memercayai hal itu. Pembacaan Perjanjian Baru yang cepat dan jujur menunjukkan bahwa para Rasul yakin bahwa tidak seorang pun dapat masuk surga kecuali mereka yang benar-benar percaya kepada Kristus saja yang menyelamatkan mereka (Yohanes 14:6; Roma 10:9-10).

Secara historis, sebagian besar umat Kristen Evangelis telah menyetujui bahwa hanya darah Kristus yang menyelamatkan. Walaupun demikian, perbedaan pendapat yang ada adalah mengenai kepastian adanya keselamatan. Orang-orang yang sebelumnya setuju bahwa hanya mereka yang percaya kepada Yesus yang akan diselamatkan, tidak sepakat mengenai apakah seseorang yang benar-benar percaya kepada Kristus dapat kehilangan keselamatannya. Dalam hal ini, ada sebagian kelompok Kristen yang mengajarkan bahwa bukan saja kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk diselamatkan, tetapi juga tidak perlu berbuat apa-apa karena sudah diselamatkan. Mereka juga mengajarkan bahwa orang Kristen tidak dapat berbuat apa yang baik di hadapan Tuhan, dan semua usaha untuk menaati Firman Tuhan tidak perlu dipikirkan karena apa yang penting adalah keyakinan akan kedaulatan Tuhan yang memilih orang untuk ke surga atau ke neraka dari awalnya.

Sebagian besar umat Kristen, baik itu golongan Arminian, Reformed maupun Katolik percaya pentingnya hidup baik dan ketaatan kepada Firman. Memang manusia tidak sempurna, tetapi mereka harus berjuang sekuat tenaga dengan pertolongan Roh Kudus untuk menjadi orang-orang yang saleh. Mereka juga percaya bahwa ada orang -orang yang akan ditolak oleh Kristus sekalipun mereka mengaku percaya. Tetapi, apakah orang-orang yang ditolak ini hanya adalah orang-orang yang bukan orang Kristen sejati alias orang-orang yang tidak terpilih?

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Secara teologis, yang kita bicarakan saat ini adalah konsep kemurtadan. Istilah ini berasal dari kata Yunani apostasia yang berarti “menjauhi”. Ketika kita berbicara tentang mereka yang murtad atau telah melakukan kemurtadan, yang kita maksud adalah mereka yang telah meninggalkan atau setidaknya menjauhi dari pengakuan iman mereka kepada Kristus yang pernah mereka buat. Dalam hal ini, banyak orang percaya berpendapat bahwa orang Kristen sejati bisa kehilangan keselamatan karena ada beberapa teks Perjanjian Baru yang sepertinya menunjukkan bahwa hal ini bisa terjadi. Saya memikirkan, misalnya, kata-kata Paulus dalam 1 Timotius 1:18–20 di atas.

Di sini, di tengah-tengah instruksi dan teguran yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Timotius, Paulus memperingatkan Timotius untuk menjaga iman dan menjaga hati nurani yang baik, dan untuk diingatkan kepada mereka yang tidak melakukannya. Rasul Paulus mengacu pada orang-orang yang membuat “iman mereka kandas,” yaitu orang-orang yang “diserahkannya kepada Iblis agar mereka belajar berhenti menghujat.” Poin kedua ini mengacu pada pengucilan Paulus terhadap orang-orang ini, dan seluruh bagian ini menggabungkan peringatan serius dengan contoh nyata tentang mereka yang sangat murtad dari pengakuan Kristen mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengaku percaya bisa jatuh dan terjatuh secara radikal. Kita memikirkan orang-orang seperti Petrus, misalnya, yang menyangkal Kristus. Namun fakta bahwa ia dipulihkan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya dan kemudian jatuh, tidak dapat kembali lagi ke jalan yang benar. Pada titik ini, kita harus membedakan kejatuhan yang serius dan radikal dari kejatuhan yang total dan final. Para teolog Reformed secara umum mencatat bahwa Alkitab penuh dengan contoh orang percaya sejati yang jatuh ke dalam dosa besar dan bahkan tidak bertobat dalam waktu lama. Jadi, umat Kristiani memang bisa jatuh dan terjatuh secara radikal. Apa yang lebih serius daripada apa yang dilakukan Petrus, sebagai murid Kristus yang sudah mengikut Dia selama tiga tahun, sebagai penyangkalan iman di muka umum terhadap Yesus Kristus?

Penyangkalan akan iman tidak perlu berbentuk penolakan secara nyata. Banyak orang Kristen yang setia melayani, menginjil, dan rajin ke gereja, menolak Firman Tuhan dan eksistensi Tuhan dalam hidup sehari-hari. Mereka tidak mau melaksanakan fukum Tuhan dan tidak memandang perlu untuk hidup dalam terang-Nya. Dalam hidup sehari-hari mereka tidak ada bedanya dengan orang yang belum beriman. Mereka mungkin, seperti Petrus, menyamar sebagai orang-orang dunia. Merka secara efektif menolak pentingnya hukum Tuhan dan moralitas serta etika Alkitabiah. Apakah penolakan ini adalah lebih ringan dari penolakan Petrus? Apakah mereka bukannya sudah jatuh dari iman mereka?

Di sini pertanyaannya adalah, apakah orang-orang yang benar-benar bersalah atas kejatuhan ini sudah terjatuh dan hilang selamanya, atau apakah kejatuhan ini hanya sebuah kondisi sementara yang, pada analisa akhir, akan diperbaiki dengan pemulihan mereka? Dalam kasus orang seperti Petrus, kita melihat bahwa kejatuhannya dapat diatasi melalui pertobatannya. Namun, bagaimana dengan mereka yang sampai akhir hidupnya tetap murtad? Apakah mereka benar-benar beriman? Jawaban kita terhadap pertanyaan ini adalah tidak. Mereka bukan orang Kristen sejati. Ayat 1 Yohanes 2:19 berbicara tentang guru-guru palsu yang keluar dari gereja karena tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari gereja. Yohanes menggambarkan kemurtadan orang-orang yang telah membuat pengakuan iman namun tidak pernah sungguh-sungguh bertobat. Tidaklah mengherankan bahwa mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja tetap hidup dalam dosa yang disadari mereka. Orang- orang yang mungkin tidak pernah merasakan peringatan atau hajaran Tuhan. Orang-orang yang berbeda dari Petrus, yang tidak pernah menyesali atau menangisi dosa mereka.

“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12:6

Sementara itu, kalau ada orang yang terjatuh masih hidup, bagaimana kita tahu kalau dia sudah murtad? Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun di antara kita adalah membaca hati orang lain. Ketika saya melihat seseorang yang telah membuat pengakuan iman dan kemudian menolak untuk hidup baru, saya tidak tahu apakah dia benar-benar orang yang sudah dilahirkan kembali, yang berada di tengah-tengah kejatuhan yang serius dan radikal, namun pada suatu saat di masa depan akan mengalami perubahan. Kita tidak bisa menghakimi orang lain. Saya tidak akan tahu apakah dia akan pulih; atau apakah dia adalah orang yang belum pernah benar-benar bertobat, yang pengakuan imannya sudah salah sejak awal. Tetapi kita tahu bahwa Allah memuliakan semua orang yang dibenarkan-Nya (Roma 8:29-30). Jika seseorang mempunyai iman sejati yang menyelamatkan dan dibenarkan, maka Tuhan akan memelihara orang tersebut. Mereka yang benar-benar diselamatkan akan sadar bahwa lahir baru selalu disertai dengan hidup baru yang berjuang untuk menaati seluruh firman Tuhan, terutama kedua hukum yang utama:

”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:36-40

Pertanyaan apakah seseorang bisa kehilangan keselamatannya bukanlah pertanyaan abstrak. Ini bukan persoalan golongan Kristen tertentu. Hal ini menyentuh kita pada inti kehidupan Kristiani kita, tidak hanya berkaitan dengan kepedulian kita terhadap ketekunan kita sendiri, namun juga berkaitan dengan kepedulian kita terhadap keluarga dan teman-teman kita, khususnya mereka yang tampaknya, secara lahiriah, telah hidup baik dan memiliki pengakuan iman yang sejati. Kita mengira pengakuan mereka dapat dipercaya, kita menganggap mereka sebagai saudara, namun kita tidak tahu jika mereka menolak keyakinan tersebut dengan bersikap antinomian dengan menolak pentingnya pelaksabaan hukum Tuhan dalm hidup sehari-hari.

Secara praktis, apa yang Anda lakukan dalam situasi seperti itu? Pertama, Anda berdoa, Anda menasihati, dan kemudian, Anda menunggu. Tuhan bekerja sesuai dengan rencana-Nya dan kita tidak dapat memaksa Dia. Kita tidak tahu hasil akhir dari situasi ini, dan saya yakin akan ada kejutan ketika hal itu terjadi saat kita sampai ke surga. Kita akan terkejut melihat orang-orang di sana yang kita pikir tidak akan ada di sana, dan kita akan terkejut bahwa kita tidak melihat orang-orang yang kita yakini akan ada di sana. Saat ini kita tidak mengetahui status batin hati manusia atau jiwa manusia. Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa. mengubah jiwa, dan memelihara jiwa umat-Nya.

Saduran bebas dari “Can a Christian Lose Their Salvation?”, R.C. Sproul, Ligonier Ministries (2020)