Berbahagia dalam penderitaan

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus‬ ‭1‬:‭6‬‬

Tidak ada seorang pun yang memilih penderitaan sebagai bagian dari rencana hidupnya. Setiap manusia, dari sejak kecil hingga usia lanjut, selalu mendambakan kenyamanan, keamanan, dan kebahagiaan. Namun pengalaman hidup menunjukkan bahwa tidak seorang pun dapat mengendalikan seluruh jalan hidupnya. Harapan bisa pupus, rencana bisa runtuh, dan kebahagiaan bisa diguncang oleh berita atau peristiwa yang datang tiba-tiba.

Peribahasa lama berkata, “Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Sekalipun kalimat itu kurang benar karena menekankan adanya takdir, orang percaya memang tidak kebal terhadap kemalangan, penyakit, kekecewaan, atau kehilangan. Bahkan boleh dikatakan bahwa hidup orang percaya sering kali justru dicampur dengan tantangan yang lebih tajam karena ia berusaha setia kepada kebenaran.

Ayat di atas memberikan perspektif yang berbeda tentang penderitaan. Sekilas, ayat itu terasa paradoksal—bagaimana mungkin seseorang dapat bergembira sementara ia sedang berdukacita? Bagaimana mungkin sukacita dan pencobaan hadir bersama dalam hati yang sama? Tetapi justru di sinilah kedalaman ajaran Kristen: sukacita orang percaya tidak berdiri di atas keadaan hidup, tetapi berakar pada kepastian tentang apa yang kekal.

Penderitaan, bagi banyak orang, adalah tanda kutuk atau kegagalan. Tetapi bagi orang percaya, penderitaan sering kali menjadi cermin yang memantulkan kenyataan bahwa hidup ini rapuh, dunia ini fana, dan segala yang kita miliki hanya bersifat sementara.

Banyak orang tidak menyadari betapa hidup ini mudah berubah sampai mereka menghadapi situasi yang memaksa mereka berhenti, berdiam, dan merenung. Dalam saat-saat seperti itu, dunia yang selama ini tampak begitu kuat dan menggiurkan ternyata tidak lebih dari bayang-bayang yang cepat berlalu. Yang dulu dianggap penting, mendadak terasa remeh. Yang dulu membanggakan, mendadak tidak memberi penghiburan apa-apa. Maka, tanpa disadari, penderitaan menarik pandangan kita dari dunia dan mengarahkannya kepada Kristus.

Harapan orang percaya bukanlah kenyamanan di bumi, melainkan keselamatan yang telah dinyatakan melalui darah Yesus. Keselamatan itu bukan teori, bukan slogan, bukan sekadar penghiburan murah. Keselamatan adalah realitas kekal yang dibayar dengan harga yang tak terukur.

Bila penderitaan hidup membawa kita kembali kepada kesadaran akan karya Kristus di kayu salib, maka penderitaan itu—sehancur apa pun bentuknya—tidaklah sia-sia. Justru di dalam luka, kita menemukan betapa besar kasih Tuhan. Di dalam air mata, kita melihat betapa dekat-Nya Ia kepada kita. Dan di dalam keputusasaan, kita menemukan tangan-Nya yang tidak pernah melepaskan.

Iman bukanlah kemampuan untuk tersenyum ketika hati terluka, melainkan keberanian untuk percaya bahwa Tuhan tetap berdaulat meskipun keadaan tidak seperti harapan kita.

Iman berkata, “Aku tidak mengerti mengapa ini terjadi, tetapi aku percaya Tuhan tahu apa yang Ia kerjakan.” Iman tidak menutup mata terhadap realitas derita, tetapi menatap lebih jauh kepada kemuliaan yang akan datang. Itu sebabnya para saksi iman di sepanjang sejarah mampu berjalan dengan kepala tegak meskipun kaki mereka berada di jalan yang berat. Mereka tahu bahwa apa pun yang mereka hadapi hari ini hanyalah sekejap bila dibandingkan dengan kekekalan bersama Kristus.

Penderitaan bukan hanya mengajarkan tentang kefanaan, tetapi juga memurnikan iman. Dalam kenyamanan, iman mudah menjadi dangkal. Kita cenderung bersandar pada diri sendiri, kekuatan sendiri, dan kemampuan sendiri. Tetapi ketika hidup terguncang, barulah iman diuji. Di saat itulah tampak apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan atau hanya mengikuti-Nya selama keadaan baik.

Petrus menegaskan bahwa berbagai pencobaan itu diperlukan untuk membuktikan kemurnian iman, seperti emas yang dimurnikan dengan api. Api itu panas, menyakitkan, bahkan dapat membuat kita ingin menyerah. Namun api pemurnian tidak merusak emas—ia justru mengangkat nilai emas itu. Demikian pula Tuhan mengizinkan pencobaan untuk membuat iman kita semakin murni, semakin teguh, dan semakin mengakar dalam kasih karunia-Nya.

Sering kali penderitaan juga membuka mata kita terhadap karya Tuhan yang tak terlihat pada masa-masa nyaman. Dalam kelemahan, kita baru menyadari bahwa kasih Allah tidak pernah berhenti menopang. Dalam ketidakpastian, kita menemukan bahwa janji-Nya lebih kokoh daripada apa pun di dunia ini. Dan dalam kesedihan yang terdalam, kita merasakan kehadiran Tuhan yang paling lembut—bukan dalam suara gemuruh, tetapi dalam bisikan lembut yang menguatkan hati.

Banyak orang justru merasakan pertumbuhan rohani terbesar bukan ketika semuanya berjalan lancar, tetapi ketika mereka berjalan di lembah kekelaman.

Alkitab tidak pernah memerintahkan kita untuk menikmati penderitaan itu sendiri. Namun Alkitab memanggil kita untuk bersukacita karena karya Tuhan yang dinyatakan melalui penderitaan. Sukacita itu bukan tawa yang dibuat-buat, bukan juga keberanian palsu yang dipaksa.

Sukacita dalam penderitaan adalah ketenangan yang lahir dari kesadaran bahwa hidup kita berada dalam tangan Tuhan yang Mahabijaksana. Ia tidak pernah salah. Ia tidak pernah terlambat. Ia tidak pernah meninggalkan kita walau sekejap pun. Penderitaan boleh mengguncang tubuh dan perasaan kita, tetapi tidak dapat mencabut keselamatan yang telah dijanjikan kepada kita.

Sesungguhnya, adanya penderitaan bisa mengingatkan kita bahwa kita sedang menuju rumah sejati kita. Ketika Petrus menulis suratnya, ia menulis kepada jemaat yang sedang ditekan dan dianiaya. Namun ia mengajak mereka bergembira karena mereka sedang berjalan menuju warisan yang kekal, murni, tidak layu, dan tidak dapat dirusakkan.

Dunia dapat mengambil banyak hal dari kita—kesehatan, keamanan, ketenangan, pekerjaan, bahkan orang-orang yang kita kasihi. Tetapi dunia tidak dapat mengambil Kristus dari kita, dan tidak dapat mengambil kita dari tangan Kristus. Itulah sumber sukacita sejati dalam penderitaan: bahwa sekalipun dunia berubah dan tubuh kita semakin lemah, pengharapan kita tetap kokoh di hadapan Allah.

Ketika pencobaan datang, janganlah kita heran seolah-olah sesuatu yang aneh sedang terjadi. Sebaliknya, pandanglah penderitaan itu sebagai kesempatan untuk mengenal Tuhan lebih dalam, mengerti kehendak-Nya lebih jelas, dan mengalami pemeliharaan-Nya lebih nyata. Di tengah air mata, percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja. Di tengah kehilangan, percayalah bahwa Ia tetap setia. Dan di tengah dukacita, percayalah bahwa sukacita sejati tidak pernah bergantung pada keadaan, tetapi pada Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita.

Pada akhirnya, kebahagiaan dalam penderitaan bukanlah hasil kekuatan manusia. Kebahagiaan itu adalah karya Roh Kudus dalam hati orang percaya. Roh Kuduslah yang menuntun kita untuk memahami firman, yang memberi damai di tengah badai, dan yang menolong kita berkata, “Tuhan, kehendak-Mu yang jadi,” sekalipun jalan yang harus kita tempuh terasa berat.

Dengan pertolongan-Nya, kita dapat melangkah dengan keyakinan bahwa tidak ada penderitaan yang sia-sia bagi orang yang mengasihi Tuhan. Setiap luka membawa pelajaran, setiap air mata membawa penghiburan, dan setiap pencobaan membawa kita lebih dekat kepada kemuliaan yang telah disediakan bagi kita.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, kami mengangkat hati kami kepada-Mu dengan segala beban dan pergumulan yang kami alami. Engkau tahu setiap air mata, setiap kekhawatiran, dan setiap luka yang tersembunyi di dalam hati kami. Ajarlah kami untuk melihat penderitaan dengan mata iman, bukan dengan keputusasaan. Isi hati kami dengan sukacita yang berasal dari pengharapan akan keselamatan yang telah Engkau berikan melalui Kristus. Murnikan iman kami, kuatkan langkah kami, dan tuntun kami untuk tetap setia meskipun jalan hidup tidak selalu mudah. Kiranya Roh Kudus yang menghibur senantiasa menyertai kami dan menopang kami sampai akhirnya kami tiba di rumah kekal yang Engkau sediakan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Siapa yang bisa serupa dengan Yesus?

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma‬ ‭8‬:‭29‬‬

Tidak ada kerinduan yang lebih luhur bagi seorang percaya daripada menjadi seperti Kristus. Kita mungkin mengagumi sifat-Nya, kekudusan-Nya, kelembutan-Nya, ketegasan-Nya terhadap dosa, dan kasih-Nya kepada orang yang paling tidak layak. Tetapi kekaguman saja tidak pernah cukup. Kekaguman hanya menempatkan Yesus sebagai contoh; tetapi panggilan Allah adalah menjadikan Dia sebagai gambaran yang harus diwujudkan dalam hidup kita. Paulus menulis dengan tegas bahwa mereka yang dipilih Tuhan “ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29). Artinya, keserupaan dengan Kristus bukanlah pilihan tambahan, tetapi inti dari identitas orang percaya.

Namun, bagaimana kita memahami panggilan ini? Bukankah menjadi seperti Kristus terasa terlalu mulia bagi manusia yang rapuh, berdosa, dan sering jatuh dalam kegagalan? Bukankah perintah untuk menjadi seperti Dia—yang sempurna, tanpa dosa, tak bercacat—terdengar seperti sebuah tuntutan yang mustahil dipenuhi?

Justru di sinilah keindahan kasih karunia bekerja. Allah tidak memanggil manusia untuk mencapai sesuatu yang tidak Ia sediakan kekuatannya. Ia tidak menuntut keserupaan itu melalui kemampuan manusia, tetapi melalui karya Roh Kudus yang diam di dalam orang percaya. Keserupaan dengan Kristus bukanlah hasil kerja keras manusia tanpa pertolongan; itu adalah buah dari penyerahan diri, ketaatan, dan perjalanan yang setia dalam bimbingan Roh.

Panggilan yang tidak otomatis

Roma 8:29 sering disalahpahami sebagai ayat yang membuat orang percaya bersikap pasif. “Kalau saya dipilih, pasti saya berubah.” Tetapi Alkitab justru menunjukkan bahwa pemilihan Allah tidak pernah meniadakan tanggung jawab manusia untuk berjalan dalam kebenaran. Karena itu Yesus berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku” (Matius 7:21).

Ayat ini hadir seperti tamparan yang membangunkan kita dari rasa aman palsu—bahwa mengakui Yesus, mengetahui doktrin yang benar, atau menjadi bagian dari komunitas Kristen tidak otomatis menjadikan seseorang serupa dengan Kristus.

Di sinilah keselarasan kedua ayat itu terlihat begitu jelas. Paulus menyatakan bahwa Allah menentukan orang pilihan untuk menjadi serupa dengan Anak-Nya. Yesus menyatakan bahwa hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa yang masuk dalam Kerajaan Sorga. Maka renungan ini membawa kita pada satu kesimpulan yang penting: orang pilihan adalah mereka yang hidupnya dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga mampu melakukan kehendak Bapa.

Orang pilihan bukan hanya mereka yang didefinisikan oleh doktrin, tetapi oleh transformasi hidup. Bukan hanya yang memiliki pengakuan iman di bibir, tetapi ketaatan dalam tindakan. Bukan hanya yang mengetahui kebenaran, tetapi yang menyerahkan diri untuk dibentuk oleh kebenaran itu.

Mengapa keserupaan dengan Kristus tidak mungkin dicapai oleh kekuatan sendiri

Siapa yang bisa menjadi seperti Kristus? Jawabannya jelas: tidak seorang pun, kecuali Allah sendiri yang mengerjakannya dalam hati orang percaya. Kita tidak mampu menciptakan kasih seperti Kristus dengan kekuatan kita. Kita tidak mampu memadamkan keinginan daging dengan tekad manusia. Kita tidak mampu mengampuni musuh, menahan lidah, merendahkan diri, menjaga kekudusan, dan tetap setia di tengah pencobaan hanya dengan moralitas atau disiplin pribadi.

Jika keserupaan dengan Kristus hanya bergantung pada usaha manusia, maka semua orang, tanpa kecuali, akan gagal. Keserupaan itu adalah karya Roh Kudus. Ia yang menginsafkan, mengajar, menegur, menguatkan, memperbaharui, dan memampukan.

Ketika kita membaca Injil, kita melihat betapa sering murid-murid gagal: mereka salah mengerti, takut, lemah, bahkan menyangkal. Tetapi setelah Roh Kudus datang, mereka berubah menjadi pribadi-pribadi yang rela mati demi Injil. Ketika Roh Kudus bekerja, hal yang mustahil pun terjadi. Sifat manusiawi yang tidak mungkin memancarkan karakter Kristus tiba-tiba berubah bagaikan besi yang dimasukkan ke dalam api: besi tidak menjadi api, tetapi ia dipenuhi panas dan cahaya api. Demikian juga orang percaya tidak menjadi Allah, tetapi hidup mereka dipenuhi karakter Anak Allah.

Mengapa sebagian orang tidak pernah mengalami perubahan

Jika demikian, mengapa ada orang yang bertahun-tahun beribadah, bertumbuh dalam komunitas Kristen, tetapi tetap sama? Mengapa ada yang tahu begitu banyak tentang teologi tetapi hidupnya tidak pernah memantulkan kasih Kristus?

Jawabannya kembali pada panggilan Yesus dalam Matius 7:21: “melakukan kehendak Bapa-Ku”. Banyak orang berseru “Tuhan, Tuhan” tanpa benar-benar membuka hidupnya bagi karya Roh Kudus. Mereka mendengar firman, tetapi menolaknya. Mereka menerima pengajaran, tetapi tetap memelihara dosa tertentu. Mereka ikut pelayanan, tetapi hati tidak mau dibentuk. Mereka ingin keselamatan Kristus, tetapi menolak salib-Nya. Mereka ingin janji-Nya, tetapi menghindari disiplin-Nya.

Keserupaan dengan Kristus hanya terjadi pada orang yang mau berjalan menurut bimbingan Roh Kudus. Roh bekerja, tetapi manusia harus menyerah. Roh memimpin, tetapi manusia harus mengikuti. Roh menegur, tetapi manusia harus bertobat. Roh memberi kekuatan, tetapi manusia harus memilih taat.

Orang pilihan tidak ditandai oleh hidup yang tanpa dosa, tetapi oleh hati yang tidak mau hidup dalam dosa. Mereka mungkin jatuh, tetapi mereka tidak tinggal dalam kejatuhan. Mereka mungkin lemah, tetapi mereka kembali mencari pertolongan Roh. Mereka mungkin menangis, tetapi mereka tidak menyerah. Ada kerinduan yang konsisten dalam hati mereka: menjadi seperti Kristus.

Keserupaan dengan Kristus adalah perjalanan

Menjadi seperti Kristus bukanlah sebuah titik, melainkan sebuah perjalanan yang berlangsung seumur hidup. Allah tidak menuntut kesempurnaan yang instan. Ia memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya setiap hari, menjalani proses pemurnian yang kadang menyakitkan tetapi selalu membuahkan sukacita.

Perubahan itu bisa muncul perlahan—melunaknya hati, menurunnya kemarahan, meningkatnya kesabaran, bertumbuhnya pengampunan, kepekaan terhadap dosa, dan kasih yang semakin menyerupai Kristus. Orang luar mungkin tidak langsung melihat perubahan itu, tetapi Roh Kudus sedang bekerja di hati, membentuk dari dalam ke luar.

Dan pada akhirnya, keserupaan dengan Kristus bukanlah tentang apa yang kita capai, tetapi tentang siapa yang sedang membentuk kita.

Hidup di bawah bimbingan Roh Kudus

Bagaimana kita berjalan di dalam bimbingan Roh?

Pertama, dengan membuka firman setiap hari. Roh Kudus memakai firman untuk mengarahkan, memperbaiki, dan membentuk hati. Tanpa firman, kita berjalan tanpa kompas.

Kedua, dengan memelihara kepekaan hati melalui doa. Doa bukan hanya meminta, tetapi membiarkan Tuhan berbicara dan membentuk kehendak kita agar selaras dengan kehendak-Nya.

Ketiga, dengan hidup dalam pertobatan yang terus-menerus. Orang yang dipimpin Roh adalah orang yang cepat bertobat ketika ditegur, bukan cepat membela diri.

Keempat, dengan ketaatan kecil sehari-hari. Terkadang keserupaan dengan Kristus tidak muncul dari keputusan besar, tetapi dari kebiasaan kecil: memilih jujur, memilih mengampuni, memilih mengalah, memilih berkata benar, memilih berlaku lembut.

Jadi, siapa yang bisa menjadi seperti Kristus? Bukan mereka yang kuat, pintar, atau berbakat. Bukan mereka yang paling disiplin atau paling religius. Jawabannya sederhana dan sekaligus dalam:

Orang pilihan—yaitu mereka yang mau berjalan menurut bimbingan Roh Kudus.

Mereka yang menyerahkan diri untuk dibentuk oleh firman.

Mereka yang memilih taat dan setia walau terasa berat.

Mereka yang membuka hati untuk ditegur, dibentuk, dan diperbaharui.

Mereka yang mau berkata setiap hari: “Tuhan, aku ingin menjadi seperti Kristus. Pimpinlah aku.”

Dan bagi mereka inilah, janji Roma 8:29 menjadi kenyataan—Allah sedang, dan akan terus, membentuk mereka menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Kiranya renungan ini menolong kita menyerahkan diri lebih dalam kepada karya Roh Kudus, sebab hanya Dialah yang mampu membuat kita menjadi seperti Kristus.

Tidak ada orang yang patut kita benci

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius‬ ‭5‬:‭44‬‬

Daftar panjang koreksi atas pedoman hidup orang Yahudi yang Yesus lakukan dalam pasal 5 diakhiri dengan ayat yang satu ini. Para pendengar-Nya telah tumbuh di bawah ajaran yang sebagian memang benar tapi bisa menyesatkan. Firman Tuhan memang memerintahkan kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Imamat 19:18). Namun, tampaknya para pemimpin agama juga mengajarkan bahwa membenci musuh diperbolehkan—bahkan mungkin wajib (Matius 5:43). Yesus kembali menyatakan bahwa adalh maksud Allah agar kebenaran umat-Nya melampaui keegoisan dan legalisme. Ini menyiratkan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dilakukan karena itu menuntut kita untuk bisa menyerupai Allah sendiri.

Alih-alih hanya bertindak dalam kasih terhadap sesama, Yesus memberi tahu murid-murid-Nya untuk mengasihi musuh mereka dan bahkan berdoa bagi mereka yang menganiaya mereka. Meskipun hanya sedikit orang yang mengamalkannya secara bermakna, gagasan ini telah tertanam kuat dalam budaya modern. Banyak orang zaman ini yang telah mendengar ajaran ini, atau variasinya, sepanjang hidup mereka; walaupun mereka mungkin memandangya sebagai “teori” yang indah. Hal itu membuat kita mudah melupakan betapa radikalnya ajaran tersebut pada saat Yesus mengucapkannya, terutama bagi mereka yang hidup dengan ancaman musuh bebuyutan setiap hari, seperti halnya bangsa Israel abad pertama.

Di satu sisi, menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi membawa manfaat. Roma biasanya tidak menghancurkan mereka yang mereka taklukkan—sebaliknya, mereka memberikan kebebasan relatif dengan serangkaian syarat. Israel tetap berfungsi sebagai Israel dalam banyak hal, dan mereka mengalami suatu bentuk perdamaian di bawah kekuasaan Romawi. Meskipun demikian, Roma memerintah bangsa-bangsa yang ditaklukkan secara absolut dan keras. Perbedaan pendapat di luar batas yang ditetapkan dihukum dengan kejam. Penyaliban adalah hal yang biasa dan brutal. Tentara Romawi menikmati hak istimewa dan mengambil kebebasan dengan warga negara Yahudi di bawah kendali mereka. Beban pajak Romawi membuat banyak orang hampir jatuh miskin. Wajar jika orang Yahudi memandang Roma sebagai musuh mereka. Seperti bangsa Indonsia sebelum 1945, bangsa Israel ingin untuk merdeka dari penjajahan.

Namun, seseorang yang lahir di kandang domba di Betlehem dan kemudian dianggap oleh banyak orang sebagai Mesias, Juruselamat yang seharusnya membebaskan Israel dari musuh-musuhnya, baru saja memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengasihi dan mendoakan musuh-musuh mereka. Lebih buruk lagi, Ia menyamakan hal ini dengan kehidupan benar yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Hal ini cukup sulit dipahami sampai sekarang, tetapi ketika kata-kata itu pertama kali diucapkan, pastilah akan mengejutkan.

Ayat di atas bisa diterjemahkan sebagai “Tidak ada orang yang patut kita benci”. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan panggilan yang paling menantang dalam kehidupan umat percaya. Ketika Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” , Ia tidak sedang memberikan sebuah opsi spiritual yang hanya berlaku bagi mereka yang sudah “lebih rohani.” Ia sedang membuka jantung ajaran Kerajaan Allah: bahwa kasih tidak pernah berhenti pada batas-batas manusiawi kita, dan bahwa kebencian kepada sesama manusia bukanlah ruang yang boleh dihuni oleh murid-murid-Nya.

Kasih yang diajarkan Alkitab bukanlah emosi manis yang muncul secara otomatis. Kasih itu bukan kesukaan, bukan persetujuan, bukan pula toleransi tanpa arah. Kasih yang dimaksud Yesus adalah keputusan untuk memandang sesama—bahkan yang menyakiti kita—sebagai ciptaan yang berharga di hadapan Allah. Namun, kasih ini tidak pernah menyamakan orang dengan dosanya. Firman Tuhan konsisten mengajar bahwa “mencintai orang berdosa” tidak berarti kita ikut merangkul, menikmati, atau menyetujui dosa yang mereka lakukan. Kita dapat memegang teguh nilai-nilai kebenaran, sambil tetap menegakkan kasih terhadap pribadi yang mungkin telah gagal, tersesat, atau menyakiti kita.

Bahkan, kasih sejati sering kali justru lahir dari ketegangan itu—antara menghargai seseorang sebagai ciptaan Allah, tetapi membenci tindakan yang merusak, menghancurkan, atau melukai diri sendiri dan orang lain. Kita dapat menolak perilaku yang salah, sambil tetap mendoakan pemulihan pelakunya. Kita dapat berkata “tidak” terhadap dosa, sambil tetap mengatakan “ya” terhadap kemungkinan seseorang berubah oleh anugerah Tuhan. Kasih semacam inilah yang membuat Yesus berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya.

Menerapkan Matius 5:44 bukanlah perkara mudah ketika musuh yang dimaksud bukan sekadar orang yang tidak sepaham dengan kita, tetapi orang yang benar-benar melukai, merendahkan, atau melecehkan kita. Luka seperti itu menyentuh bagian terdalam dari martabat manusia, dan Tuhan tidak menuntut kita untuk memungkiri rasa sakit itu. Ayat ini tidak pernah berarti bahwa kita harus pura-pura tidak terluka, pura-pura semuanya baik-baik saja, atau bahkan membiarkan pelaku terus berbuat jahat. Tuhan tidak pernah memerintahkan kita untuk mencintai dosa; Ia memerintahkan kita untuk mengasihi orangnya, sambil membenci tindakan yang menghancurkan itu. Bagaimana kita bisa melakukannya?

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa kasih yang diperintahkan Yesus dalam ayat ini bukanlah rasa sentimental yang lembut, bukan perasaan hangat, dan bukan penerimaan tanpa syarat terhadap perilaku jahat. Kasih yang dimaksud adalah tindakan rohani: sebuah keputusan untuk menyerahkan orang itu ke dalam tangan Tuhan—bukan tangan kebencian kita. Mendoakan orang yang menganiaya kita berarti berkata, “Tuhan, Engkaulah Hakim yang adil. Bukan aku. Aku serahkan luka dan keadilan ini kepada-Mu.” Ini bukan pengampunan murahan; ini adalah penyerahan diri kepada keadilan Allah yang sempurna.

Kedua, mengasihi musuh berarti tidak menginginkan mereka binasa dalam dosa mereka. Kebencian selalu menginginkan kehancuran seseorang. Kasih yang datang dari Roh Kudus bekerja sebaliknya: ia ingin bahkan orang yang jahat berubah, bertobat, dan menemukan keselamatan. Kita boleh membenci pelecehan itu dengan seluruh keberadaan kita—bahkan Tuhan sendiri membencinya lebih dari kita—tetapi kita tidak dibiarkan menginginkan neraka bagi siapa pun. Neraka adalah akhir yang terlalu tragis, bahkan bagi seseorang yang telah menyakiti kita dalam kehidupan ini. Ketika kita berkata, “Aku tidak ingin dia masuk neraka,” itu bukan berarti kita menyetujui dosanya; itu berarti kita memahami hati Allah. Tuhan “tidak menghendaki seorang pun binasa” (2 Petrus 3:9). Dan ketika kita berdoa agar pelaku bertobat, berubah, atau dihentikan oleh Tuhan dari perbuatannya, kita sebenarnya sedang bekerja sama dengan kerinduan hati Allah sendiri.

Ketiga, mengasihi musuh tidak berarti berhubungan kembali, berdamai secara sosial, atau membuka diri untuk disakiti lagi. Mengampuni tidak sama dengan mengizinkan seseorang masuk kembali ke dalam hidup kita. Mendoakan seseorang bukan berarti menghapus batasan; justru sering kali itu berarti menetapkan batasan yang lebih sehat. Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi, tetapi Ia juga memberikan kebijaksanaan untuk menjaga diri. Kasih dalam Matius 5:44 tidak meniadakan perlindungan diri. Justru, untuk dapat mengampuni dan melepaskan kepahitan, kita sering memerlukan jarak, perlindungan, bahkan proses penyembuhan yang panjang.

Keempat, kasih kepada musuh yang menyakiti kita selalu dimulai dengan memohon kuasa Roh Kudus. Tidak seorang pun mampu melakukan ini dengan kekuatan manusia. Ini adalah pekerjaan ilahi di dalam hati manusia yang rapuh. Ketika kita mengatakan, “Tuhan, aku tidak sanggup mengasihi orang ini. Tetapi aku tidak ingin hatiku menjadi rusak oleh kebencian. Tolong aku untuk menyerahkan dia kepada-Mu,” maka kita sudah sedang menaati perintah Yesus. Kasih seperti ini tidak diukur dari perasaan yang muncul, tetapi dari kesediaan untuk tidak membalas, tidak mendoakan keburukan, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.

Kelima, perlahan-lahan kita akan menemukan bahwa kasih kepada musuh bukan pertama-tama tentang karena mereka layak dikasihi, tetapi karena kita sendiri telah dikasihi Tuhan ketika kita tidak layak. Kita pernah menjadi musuh Allah, namun diselamatkan. Dari pengalaman itu, lahir kemampuan untuk berkata, “Tuhan, biarlah anugerah-Mu juga menyentuh orang itu—entah melalui pertobatan, teguran, kebenaran, atau menghentikan perbuatannya.”

Pada akhirnya, kasih kepada orang lain—termasuk kepada mereka yang menyakiti kita—adalah cermin apakah kita sudah benar-benar mengasihi Tuhan. Tidak seorang pun patut kita benci, bukan karena mereka selalu benar, tetapi karena Tuhan selalu benar. Tuhan memanggil kita untuk membenci dosa, tetapi tidak pernah memerintahkan kita untuk membenci manusia. Dan di antara kedua kebenaran itu, kita belajar bahwa kasih adalah jalan yang paling sukar sekaligus paling indah, jalan yang membawa kita semakin dekat kepada hati Allah sendiri.

Namun, Alkitab tidak berhenti di situ. Kasih yang benar selalu menempatkan Tuhan sebagai pusat. Ketika Yesus berkata bahwa siapa pun yang mengasihi ayah, ibu, atau anaknya lebih daripada Dia tidak layak menjadi murid-Nya, Ia sedang menunjukkan bahwa kasih manusiawi, betapapun pentingnya, tidak boleh merampas posisi Tuhan sebagai sumber utama cinta. Bila kasih kita kepada manusia tidak lahir dari kasih kepada Tuhan, kasih itu akan mudah berubah menjadi kebanggaan, ketergantungan, atau bahkan idolatri. Hanya ketika Tuhan menjadi prioritas, kita mampu mengasihi orang lain dengan benar—bukan berdasarkan kepentingan diri sendiri, bukan berdasarkan keinginan untuk mendapat balasan, tetapi berdasarkan karakter kasih-Nya yang tetap.

Dan di sinilah tantangan terbesar itu berada: kita tidak dapat mengklaim bahwa kita mengasihi Tuhan bila kebencian masih memerintah di dalam hati kita. Rasul Yohanes menyatakannya dengan tegas: bagaimana mungkin seseorang berkata ia mengasihi Allah yang tidak dapat ia lihat, sementara ia membenci saudaranya yang dapat ia lihat? Bagi Alkitab, kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama bukanlah dua perintah yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Kasih kepada sesama adalah bukti nyata cinta kepada Tuhan. Tidak ada ruang abu-abu di antara keduanya.

Maka ketika kita menyimpan kebencian terhadap seseorang—entah karena konflik lama, luka masa lalu, atau perbedaan yang tidak pernah didamaikan—sesungguhnya kita sedang memutus aliran kasih Allah dalam hidup kita. Kebencian bukan hanya memenjarakan orang lain, tetapi juga memenjarakan kita sendiri. Ia mengaburkan mata rohani, merampas kedamaian, dan menciptakan jarak antara diri kita dan Tuhan. Sebaliknya, ketika kita memilih mengasihi, bahkan saat itu terasa pahit dan berat, kita sedang membuka pintu bagi Roh Kudus untuk bekerja menyembuhkan, memulihkan, dan membentuk kita menjadi seperti Kristus.

Kasih dalam Alkitab bukanlah perasaan lembut yang harus muncul terlebih dahulu. Kasih adalah keputusan untuk taat. Kita mengasihi karena Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita. Kita mengasihi karena itu mencerminkan siapa Allah itu. Kita mengasihi karena di sanalah kehadiran Kristus dinyatakan melalui hidup kita. Kita mengasihi bukan karena orang lain layak menerima kasih itu, tetapi karena Tuhan layak untuk ditaati.

Pada akhirnya, membenci kejahatan sambil tetap menginginkan keselamatan bagi pelaku bukanlah kelemahan. Itu adalah kekuatan spiritual yang hanya dimiliki anak-anak Tuhan. Itulah wajah kasih Yesus di kayu salib: membenci dosa sampai mati karenanya, tetapi tetap berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Dan di situlah kita menemukan kedamaian yang sesungguhnya—bukan karena pelaku berubah, tetapi karena hati kita tidak lagi dikuasai oleh kebencian, melainkan oleh Tuhan.

Pentingnya delegasi dalam pelayanan di masa depan

“Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.” Matius‬ ‭10‬:‭1‬‬

Ada satu momen yang begitu menentukan dalam pelayanan Yesus di bumi—momen ketika Ia memanggil kedua belas murid, memberi mereka kuasa, dan mengutus mereka berdua-dua. Matius 10:1–15 mencatat bagaimana Yesus memanggil mereka satu per satu, memberikan otoritas untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan segala penyakit, lalu mengutus mereka untuk memberitakan bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat. Ini adalah titik balik penting: Yesus tidak lagi melakukan semua pekerjaan seorang diri, tetapi mulai memperluas pelayanan-Nya melalui orang-orang yang Ia latih.

Sering kali kita membaca bagian ini hanya sebagai kisah “pengutusan murid”, tetapi sesungguhnya ini adalah pelajaran emas tentang delegasi. Yesus, yang memiliki kuasa ilahi dan tidak terbatas, memilih untuk melibatkan manusia yang penuh kelemahan. Ia tidak membutuhkan mereka—tetapi Ia memilih untuk memakai mereka. Di sini, delegasi bukan sekadar strategi kepemimpinan, melainkan bagian dari cara Allah bekerja dalam sejarah: Ia memberkati, lalu Ia mengutus; Ia memperlengkapi, lalu Ia memercayakan; Ia memimpin, tetapi Ia juga membiarkan orang lain turut ambil bagian di masa sekarang maupun masa depan.

Yesus mengetahui batasan fisik manusia ketika Ia mengambil rupa sebagai manusia. Namun lebih dari itu, Ia ingin para murid mengalami pertumbuhan melalui keterlibatan, bukan hanya pengamatan. Ia bisa saja menjangkau seluruh kota sendirian dengan kuasa-Nya, tetapi Ia memilih menjangkau dunia melalui para murid—dan melalui gereja dari generasi ke generasi.

Delegasi Yesus bukan karena Ia tidak mampu, melainkan karena Ia ingin membentuk murid menjadi pemimpin di masa depan. Ia tahu bahwa pertumbuhan rohani sering terjadi ketika seseorang diberi tanggung jawab. Ada kedewasaan yang tidak dapat dibentuk hanya lewat pengajaran, tetapi harus ditempa melalui praktek. Ketika seseorang melangkah seperti burung muda yang keluar dari sarangnya, mencoba terbang, menghadapi tantangan, gagal, bangkit lagi, dan ia melihat kuasa Allah bekerja di tengah keterbatasannya—di situlah orang itu ditempa menjadi dewasa.

Yesus mendelegasikan karena Ia melihat masa depan. Ia tahu bahwa setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Injil harus terus diberitakan hingga ke ujung bumi. Tanpa delegasi, tidak akan ada penginjilan global. Tanpa delegasi, gereja tidak pernah lahir.

Di zaman sekarang, delegasi juga merupakan hal yang sangat penting dalam tiap keluarga, organisasi, gereja dan badan pemerintahan. Dalam delegasi, mereka yang lebih muda atau lebih junior diberi penguatan (empowerment) dari yang lebih tua atau lebih senior agar mereka bisa berdiri sendiri di masa depan. Ini juga merupakan bagian dari proses transisi yang sehat dalam semua bentuk persekutuan umat manusia.

Namun kenyataannya, delegasi bukan perkara mudah. Banyak pemimpin—baik di pelayanan, di keluarga, dalam pekerjaan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari—sering gagal mendelegasikan. Alasannya beragam, dan menariknya, alasan-alasan itu muncul dari hati manusia yang rapuh.

Ada pemimpin yang berkata, “Saya tidak punya waktu untuk melatih orang lain.” Ironisnya, mereka justru akan kelelahan karena mengerjakan semua seorang diri. Orang seperti ini lupa bahwa melatih orang membutuhkan waktu di awal, tetapi menghemat banyak waktu di kemudian hari.

Ada pula mentalitas “kalau mau hasil yang bagus, ya lakukan sendiri.” Ini adalah bentuk perfeksionisme yang sering kali tidak sehat. Ia menolak menerima variasi cara, gaya, dan kualitas, padahal orang lain dapat diajar dan ditumbuhkan.

Beberapa pemimpin merasa bahwa jika mereka menyerahkan tugas, mereka kehilangan kendali. Delegasi dianggap sebagai ancaman terhadap posisi mereka. Ada pula yang berpikir, “Saya bisa mengerjakan lebih baik daripada dia.” Betul—setidaknya sementara. Tetapi jika itu menjadi alasan selamanya, orang lain tidak akan pernah berkembang dan organisasi apa pun akan mundur karenanya.

Sebagian pemimpin bahkan terlalu keras kepala atau sombong untuk meminta bantuan. Mereka ingin terlihat kuat, tidak butuh orang lain, tidak ingin menunjukkan kelemahan. Dalam gereja, ada yang takut jika orang lain melakukan pekerjaan lebih baik daripada mereka—dan ketakutan itu menyingkap bahwa mereka melayani bukan demi kemuliaan Tuhan, tetapi demi citra diri.

Masalah lainnya adalah kurangnya kepercayaan kepada kemampuan orang lain. Pemimpin yang demikian cenderung untuk menghindari perubahan karena terlalu takut mengambil risiko. Ia selalu berusaha mengontrol bawahannya. Ia lupa bahwa setiap murid, sebelum menjadi matang, pasti melewati masa-masa kaku, ragu-ragu, belajar dari kesalahan, dan membutuhkan kesempatan untuk terbang solo. Pemimpin yang tidak memikirkan masa depan dan pergantian posisi adalah orang yang egois dan kurang bijaksana.

Jika Yesus saja mempercayakan kuasa ilahi kepada murid-murid yang masih ragu-ragu, emosional, dan belum stabil sepenuhnya, bagaimana mungkin kita menuntut kesempurnaan mutlak dari orang yang akan kita delegasikan?

Di sisi lain, delegasi sering gagal bukan hanya karena pemimpin enggan menyerahkan tugas, tetapi juga karena penerima delegasi tidak melaksanakannya dengan baik. Ini pun terlihat dalam perjalanan para murid. Ada masa ketika mereka tidak berhasil mengusir roh jahat, ada ketika mereka saling iri hati, ada ketika mereka salah memahami misi Yesus.

Seseorang bisa gagal menjalankan tugas yang diberikan karena ia tidak memahami instruksi dengan jelas. Ia mungkin tidak merasa memiliki tugas itu—sekadar melanjutkan pekerjaan orang lain, bukan sebagai panggilan pribadi. Ada yang gagal karena takut, kurang percaya diri, kurang dihargai, atau tidak mau menanggung risiko. Ada pula yang tergoda menyimpang dari misi utama, sibuk dengan hal-hal lain yang kelihatan lebih menarik.

Kegagalan ini bukan alasan untuk berhenti mendelegasikan. Bahkan Yesus, yang sempurna, memiliki murid-murid yang tidak selalu berhasil. Namun Ia tetap memberi mereka kesempatan. Ia menegur, tetapi Ia tidak mencabut mandat itu. Delegasi adalah proses membentuk orang, bukan hanya memindahkan pekerjaan.

Delegasi sebagai Bagian dari Kerajaan Allah

Ketika Yesus mengutus kedua belas murid, Ia sebenarnya sedang menunjukkan model kepemimpinan Kerajaan Allah: kepemimpinan yang membangun orang lain, bukan kepemimpinan yang menumpuk kekuasaan pada satu individu atau hidup di masa lalu. Dalam dunia, banyak pemimpin takut kehilangan posisi atau penghormatan orang lain. Tetapi dalam Kerajaan Allah, pemimpin sejati justru ingin orang lain bertumbuh dan menjadi lebih baik. Pergantian generasi adalah salah satu tugas mulia seorang pemimpin.

Delegasi yang benar bukan sekadar membagi tugas, tetapi membagi kepercayaan. Itulah yang Yesus lakukan. Ia memberi kuasa, bukan hanya perintah. Ia memberikan visi yang jelas, bukan hanya daftar tugas. Ia membekali dengan pengajaran, tetapi juga dengan pengalaman langsung di lapangan.

Tugas yang didelegasikan kepada murid-murid itu bukan hal yang kecil. Mereka diutus untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menyucikan orang kusta, dan mengusir setan. Ini adalah bentuk delegasi yang luar biasa. Yesus memberikan kepada mereka sebagian dari pekerjaan inti pelayanan-Nya. Mereka menjadi perpanjangan tangan Sang Mesias.

Pagi ini kita membaca bahwa delegasi bukan tanda kelemahan, melainkan tanda hikmat. Delegasi bukan kehilangan kendali, melainkan memperluas hasil. Delegasi bukan sekadar memindahkan beban, tetapi membangun generasi penerus. Dan delegasi bukan hanya strategi manajemen, tetapi bagian dari misi Kristus untuk membentuk murid, bukan penonton.

Jika Yesus mempercayakan pelayanan kepada murid-murid yang masih belajar, tidakkah kita pun harus belajar mempercayakan tugas kepada orang lain?

Pelayanan akan mandek jika hanya bergantung pada satu orang. Tetapi pelayanan akan berkembang ketika setiap orang diberi kesempatan untuk melayani sesuai panggilan dan karunia yang Tuhan berikan.

Semoga kita belajar dari Sang Guru Agung—pemimpin yang tidak hanya bekerja, tetapi juga membangun pekerja; yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mengutus; yang tidak hanya berkhotbah, tetapi juga mendelegasikan.

Tuhan menolong kita menjadi pemimpin yang mempersiapkan orang lain, bukan pemimpin yang menutupi mereka. Sebab Kerajaan Allah adalah kerajaan di mana semua orang dipanggil untuk melayani. Tuhan mengutus, dan kita pun harus belajar mengutus. Karena di situlah letak pertumbuhan, pembaruan, dan berkat yang melimpah.

“Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”2 Timotius‬ ‭3‬:‭17‬‬

Jalan menuju kemuliaan menurut Yesus

“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” Lukas 22:26

Di sepanjang sejarah manusia, perebutan kuasa adalah sesuatu yang terus berulang. Dari istana kerajaan di masa kuno hingga ruang rapat modern, manusia selalu berjuang untuk menjawab satu pertanyaan yang sama: Siapa yang terbesar? Pertanyaan itu muncul dalam banyak bentuk—siapa yang berpengaruh, siapa yang paling penting, siapa yang harus didengar, siapa yang harus mendapat tempat terhormat. Kadang-kadang kita bahkan tidak menyadari bahwa kita sendiri ikut terlibat dalam dinamika yang sama, baik di tempat kerja, dalam komunitas, maupun dalam lingkup rohani.

Menariknya, pergumulan seperti itu tidak hanya terjadi di dunia sekuler, tetapi juga pernah muncul di antara para murid Yesus. Pada malam ketika Yesus sedang mempersiapkan diri menuju salib—momen yang menjadi pusat keselamatan manusia—para murid justru sedang berdebat tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka melihat Yesus melakukan banyak hal yang luar biasa, dan mereka mungkin berpikir bahwa kerajaan duniawi akan segera datang. Dalam bayangan mereka, kedudukan dalam kerajaan itu harus ditentukan sejak sekarang. Namun Yesus melihat lebih dalam daripada sekadar perdebatan mereka. Ia melihat hati yang masih dipengaruhi ambisi dunia, hati yang belum sepenuhnya memahami siapa Tuhan yang sedang mereka ikuti.

Yesus lalu berbicara tentang raja-raja bangsa-bangsa dan cara mereka memerintah rakyat. Mereka memegang kuasa sebagai alat untuk menunjukkan kekuatan, membuat orang tunduk, dan memberi jarak antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Kepada orang-orang seperti itu, masyarakat memberikan gelar “pelindung”—suatu sebutan yang terdengar mulia namun sering kali lebih menggambarkan prestise daripada pelayanan. Dan di tengah gambaran itu, Yesus meletakkan sebuah garis demarkasi yang sangat tegas, sebuah kalimat yang benar-benar membedakan cara berpikir murid-murid-Nya dari cara berpikir dunia: “Tetapi kamu tidaklah demikian.”

Tiga kata itu mengubah segalanya. Yesus tidak hanya memberikan nasihat moral; Ia membangun ulang pandangan mereka tentang kepemimpinan, kebesaran, dan kemuliaan. Pernyataan itu seperti sebuah pintu yang memisahkan dua kerajaan—kerajaan dunia dan Kerajaan Allah. Yang satu mengangkat diri, yang satu merendahkan diri. Yang satu ingin dilayani, yang satu ingin melayani. Yang satu mengejar kehormatan, yang satu justru meninggalkan kehormatan demi kasih.

Yesus lalu menyampaikan pernyataan yang begitu radikal sehingga terus mengguncang pemikiran manusia sampai hari ini: “Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi seperti yang paling muda.” Dalam budaya Timur Dekat pada zaman itu, yang paling muda bukan sekadar lebih kecil, tetapi juga yang paling tidak memiliki hak dan kehormatan. Ia bukan pusat perhatian, melainkan orang yang ditugaskan mengerjakan hal-hal sepele. Tetapi Yesus berkata bahwa di Kerajaan-Nya, itulah posisi yang paling layak bagi orang yang ingin menjadi besar.

Yesus tidak hanya mengajarkan kalimat itu; Ia menjalankannya. Seluruh hidup-Nya adalah perwujudan dari kerendahan hati yang sempurna. Ia yang sejak kekal bersama Bapa turun menjadi manusia. Ia yang menciptakan alam semesta lahir sebagai bayi tak berdaya. Ia yang disembah malaikat tumbuh di sebuah desa kecil dan bekerja sebagai tukang kayu. Ia yang berhak memerintah semua bangsa justru menjalin persahabatan dengan orang-orang sederhana—nelayan, pemungut cukai, perempuan-perempuan yang tersisih, dan orang-orang yang dianggap tidak layak oleh masyarakat.

Dalam setiap langkah hidup-Nya, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak ditemukan melalui kedudukan, tetapi melalui karakter. Ia tidak pernah membangun bala tentara. Ia tidak memiliki istana. Ia tidak mengumpulkan kekayaan. Tetapi dunia berubah melalui hidup-Nya, karena kerendahan hati-Nya memancarkan wibawa yang tidak bisa dipalsukan. Inilah paradoks Kerajaan Allah: semakin seseorang merendahkan diri, semakin terang kemuliaan Allah tampak dalam dirinya.

Ketika hari-hari pelayanan Yesus mendekati puncaknya, Ia mengambil tindakan yang semakin menegaskan prinsip ini. Pada malam sebelum penyaliban, Ia bangkit dari meja, mengambil sebuah kain, mengikatkan pada pinggang-Nya, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya. Dalam budaya pada zaman itu, membasuh kaki adalah tugas budak, bukan guru. Tetapi Yesus melakukannya bukan karena Ia sedang ingin membuat drama rohani, tetapi karena itulah jati diri-Nya sebagai Tuhan yang melayani. Ia ingin murid-murid-Nya melihat bahwa jalan menuju kebesaran terletak pada kerelaan hati untuk turun ke tempat terendah.

Paradoks ini juga berlaku dalam kehidupan orang percaya sekarang. Dunia modern mungkin sudah berubah, tetapi dinamika hati manusia tidak berubah. Kita masih ingin dianggap penting. Kita masih ingin didengar. Kita masih ingin dihormati. Kadang, bahkan dalam pelayanan gereja, ambisi tersembunyi bisa muncul: ingin dikenal sebagai pemimpin yang disegani, pelayan yang dipuji, atau sosok yang memiliki pengaruh. Namun Yesus berkata bahwa jika kita ingin mengikuti Dia, kita harus mengambil sikap seperti yang paling muda—bukan karena kita tidak berharga, tetapi karena dalam kerendahan hati, kita mengakui bahwa segala sesuatu adalah anugerah.

Kerendahan hati yang Yesus ajarkan bukanlah sikap merendahkan diri secara berlebihan atau berbicara dengan cara yang tampak lembut tetapi tidak tulus. Kerendahan hati sejati lahir dari hati yang telah disentuh oleh salib Kristus. Ketika seseorang menyadari bahwa ia diselamatkan bukan karena kehebatannya, tetapi hanya oleh kasih karunia, maka ia tidak lagi perlu membuktikan diri. Ia bebas untuk melayani tanpa takut tidak dihargai. Ia bebas untuk memimpin tanpa harus memperjuangkan kehormatan. Ia bebas untuk merendahkan diri karena ia tahu bahwa martabatnya berasal dari Kristus, bukan dari pujian manusia.

Di dunia yang selalu mengejar prestise, kerendahan hati mungkin terlihat seperti kelemahan. Namun dalam terang Injil, itulah kekuatan sejati. Pemimpin terbesar bukanlah orang yang paling banyak memerintah, tetapi orang yang paling banyak berkorban. Orang yang benar-benar kuat bukanlah yang berhasil menundukkan banyak orang, tetapi yang berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Dan orang yang terbesar dalam Kerajaan Allah bukanlah yang paling banyak ditinggikan, tetapi yang paling rela merendahkan diri.

Pada akhirnya, renungan tentang kerendahan hati ini membawa kita kembali kepada salib. Di sana kita melihat Anak Allah yang merendahkan diri setinggi-tingginya dan serendah-rendahnya pada saat yang sama. Di sana kita melihat kemuliaan dan kehinaan bertemu. Di sana kita melihat betapa besar kasih Kristus bagi manusia. Dan ketika kita memandang salib itu, kita menjadi sadar bahwa satu-satunya jalan menuju kemuliaan sejati adalah mengikuti jejak-Nya: berjalan dengan rendah hati, melayani dengan kasih, dan mengutamakan orang lain lebih daripada diri sendiri. Kita tahu bahwa itulah apa yang dituntut Tuhan atas umat-Nya yang setia dalam kesederhanaan.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius‬ ‭25‬:‭23‬‬

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menunjukkan kepada kami jalan menuju kebesaran yang sejati. Ajarlah kami untuk meneladani kerendahan hati-Mu. Bebaskan kami dari ambisi yang tidak perlu, dari keinginan untuk ditinggikan, dan dari dorongan untuk mencari penghormatan. Bentuklah hati kami agar semakin menyerupai hati-Mu, sehingga kami dapat memimpin dengan semangat seorang hamba dan melayani dengan kasih yang tulus. Jadikanlah hidup kami cerminan dari karakter-Mu, agar dunia dapat melihat terang-Mu melalui sikap kami. Dalam nama-Mu kami berdoa. Amin.

Hal melupakan dan mengampuni kesalahan orang lain

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”Efesus‬ ‭4‬:‭32‬‬

“Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Yesaya‬ ‭43‬:‭25‬‬

Ada satu pergumulan yang hampir semua orang alami dalam hidup—pergumulan untuk mengampuni. Setiap kita pernah disakiti, dikhianati, disalahpahami, atau dilukai oleh orang yang kita percaya. Ada perkataan yang tidak pernah bisa ditarik kembali. Ada sikap yang meninggalkan bekas dalam. Dan ada tindakan yang melukai jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari luar. Dalam situasi seperti itu, mengampuni terasa seperti beban yang terlalu berat.

Sementara itu, melupakan kesalahan orang lain terasa hampir mustahil. Ingatan manusia tidak bekerja seperti tombol “hapus.” Luka yang dalam bisa menyimpan memori yang kuat, bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Seseorang dapat mencoba mengabaikan, menyibukkan diri, atau memaksa diri untuk melupakan, tetapi memori tetap bertahan. Tidak heran banyak orang berkata, “Saya bisa mengampuni, tapi saya tidak bisa melupakan.” Kenyataannya, baik mengampuni maupun melupakan bukan perkara ringan—dan memang, keduanya tidak alami bagi hati manusia.

Namun Firman Tuhan memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, ia memberikan sebuah perintah yang tampaknya sederhana tetapi memiliki kedalaman rohani yang luar biasa: “Hendaklah kamu ramah … penuh kasih mesra … dan saling mengampuni.” Tetapi ia tidak berhenti di sana. Ia memberi alasan yang menjadi fondasi dari segala pengampunan Kristen: “sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Artinya, kita diundang untuk mengampuni karena kitalah orang-orang yang terlebih dahulu diampuni.

Yesaya menambahkan sesuatu yang bahkan lebih menakjubkan. Allah berkata: “Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Bukan hanya mengampuni, tetapi juga tidak mengingat-ingat. Bagi manusia, melupakan itu sulit. Tetapi bagi Allah, melupakan bukan berarti kehilangan memori, melainkan keputusan untuk tidak lagi memperhitungkan kesalahan kita. Ini bukan pelupaan mental, tetapi pelupaan moral—keputusan penuh kasih untuk tidak lagi menjadikan dosa itu sebagai penghalang dalam hubungan-Nya dengan kita.

Perbedaan inilah yang sering kali membuat kita terjebak dalam kebingungan: apakah mengampuni berarti harus lupa? Apakah mengampuni berarti membiarkan kesalahan terulang? Apakah mengampuni berarti memaksa hati untuk tidak merasakan sakit lagi? Firman Tuhan menunjukkan bahwa pengampunan adalah tindakan yang berakar pada kasih, tetapi bukan berarti kita menghapus memori luka; melainkan membiarkan kasih Kristus mengubah cara kita memandang luka itu.

Mengampuni adalah keputusan spiritual. Kita mengampuni karena kita memilih berjalan dalam jalan Kristus, bukan karena rasa sakit sudah hilang. Kita mengampuni karena Roh Kudus bekerja di dalam kita, bukan karena ingatan kita tiba-tiba bersih. Kita mengampuni karena kita pernah menerima pengampunan yang jauh lebih besar daripada kesalahan apa pun yang dilakukan orang kepada kita.

Namun mengampuni adalah satu hal; melupakan adalah hal yang lain. Keduanya terkait tetapi tidak identik. Mengampuni adalah tindakan hati. Melupakan adalah proses penyembuhan yang terjadi seiring waktu—dan sering kali hanya terjadi ketika luka sudah dipulihkan oleh kasih Kristus.

Seseorang mungkin tidak dapat melupakan hari ini, tetapi ketika kasih Kristus memenuhi hatinya, luka itu kehilangan kuasanya. Ingatan tetap ada, tetapi tidak lagi menyakitkan. Luka itu tetap diingat, tetapi tidak lagi menguasai respon kita. Itulah pelupaan rohani—melupakan bukan karena memori hilang, tetapi karena kasih Allah menjadi lebih besar daripada luka itu.

Mengapa sulit mengampuni? Ada banyak alasan. Ada orang yang tidak mau mengampuni karena mereka takut kesalahan yang sama akan terulang. Ada yang merasa bahwa jika mereka mengampuni, itu berarti pelaku lolos dari tanggung jawab. Ada juga yang merasa bahwa kemarahan memberi mereka kekuatan untuk bertahan. Namun, semakin lama seseorang memegang kemarahan, semakin dalam luka itu mengikat hatinya. Dendam mungkin terasa seperti perlindungan, tetapi sebenarnya ia menjadi belenggu.

Pengampunan bukanlah pengabaian. Mengampuni bukan berarti membiarkan ketidakadilan berjalan. Mengampuni tidak berarti membuka pintu untuk pelecehan atau perlakuan buruk. Pengampunan adalah keputusan untuk tidak membiarkan kepahitan merusak hati kita. Kita bisa mengampuni seseorang sambil menetapkan batas yang sehat. Kita bisa mengampuni sambil menjaga diri. Kita bisa mengampuni sambil tetap mengejar kebenaran dan pemulihan.

Bagi banyak orang, pergumulan terbesar bukan hanya mengampuni orang yang menyakiti mereka, tetapi juga mengampuni orang yang tidak pernah meminta maaf. Bagaimana mungkin mengampuni seseorang yang bahkan tidak merasa bersalah? Di sinilah kita kembali kepada dasar pengampunan Kristen: kita mengampuni karena kita telah diampuni. Kristus mengampuni kita ketika kita masih berdosa, sebelum kita sadar, sebelum kita meminta maaf. Ia mengambil langkah pertama. Dan ketika kita mengampuni berdasarkan teladan Kristus, kita sedang berjalan dalam kasih yang lebih besar daripada kemampuan manusia.

Namun ada kabar yang jauh lebih indah: Allah bukan hanya mengampuni dosa kita—Dia juga memilih untuk tidak mengingatnya. “Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” Ini bukan sekadar janji, tetapi penghiburan yang dalam. Allah tidak melihat kita melalui lensa masa lalu kita. Dia tidak menahan berkat-Nya karena kesalahan kita yang lama. Dia tidak mengungkit-ungkit dosa yang sudah diampuni. Dia tidak menuntut kita membayar sesuatu yang sudah dibayar oleh Kristus di kayu salib.

Jika Allah memperlakukan kita seperti itu, mengapa kita masih menyimpan catatan kesalahan orang lain? Mengapa jatuhnya seseorang di masa lalu menjadi definisi dirinya? Mengapa kesalahan yang pernah dibuat seseorang menjadi beban yang kita gunakan melawannya? Mengampuni adalah cara kita meniru kasih Allah. Melupakan—dalam pengertian Alkitabiah—adalah cara kita membebaskan diri dari masa lalu yang seharusnya sudah diserahkan kepada Tuhan.

Ketika seseorang memilih untuk mengampuni, hatinya menjadi ringan. Hubungan yang rusak bisa dipulihkan. Luka yang lama mulai sembuh. Dan seseorang mulai melihat diri dan orang lain dengan cara yang baru—cara yang dipenuhi kasih, bukan kecurigaan. Pengampunan bukan hanya hadiah bagi orang yang bersalah, tetapi juga bagi orang yang mengampuni.

Kiranya renungan ini menolong kita melihat bahwa mengampuni mungkin sulit, melupakan mungkin lebih sulit lagi, tetapi Allah telah memberikan teladan sempurna. Dia mengampuni dengan murah hati. Dia melupakan kesalahan kita dengan kasih yang dalam. Dan melalui karya Kristus, Dia memberikan kemampuan kepada kita untuk mengikuti jejak-Nya.

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, Engkau mengenal setiap luka yang kami bawa dan setiap kesalahan yang orang lain lakukan terhadap kami. Ajarlah kami untuk mengampuni sebagaimana Engkau telah mengampuni kami. Berikanlah kami hati yang lembut, roh yang rendah, dan keberanian untuk melepaskan kepahitan. Pulihkanlah luka-luka yang masih membekas dan gantikanlah dengan damai sejahtera-Mu. Tuntunlah kami untuk hidup dalam kasih yang tidak mengingat-ingat kesalahan, sebagaimana Engkau tidak mengingat dosa kami. Bentuklah kami menjadi pribadi yang mencerminkan kasih Kristus dalam setiap hubungan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Bersatu dalam tubuh Kristus

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”1 Korintus‬ ‭12‬:‭26‬‬-27

Ada satu gambaran yang paling indah dan paling kuat tentang bagaimana umat Tuhan seharusnya hidup—gambaran tubuh. Bukan organisasi, bukan komunitas sosial, bukan kumpulan individu yang kebetulan berada di tempat yang sama, tetapi tubuh.

Paulus memakai gambaran ini bukan tanpa alasan. Sebab hanya tubuh yang bergerak, bernapas, berfungsi, dan merespons sebagai satu kesatuan yang hidup. Dan ketika ia berkata, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya,” ia sedang membuka mata kita terhadap panggilan yang jauh lebih besar daripada sekadar hadir di gereja pada hari Minggu.

Tubuh adalah organisme yang saling terhubung secara mendalam. Jika satu bagian tersayat, seluruh tubuh memberi respons. Jika satu bagian mendapat penghormatan, seluruh tubuh merasakan getaran sukacita. Tidak ada bagian tubuh yang hidup sendiri. Tidak ada bagian tubuh yang tidak penting, yang boleh diabaikan, atau dianggap remeh. Begitulah Allah memandang gereja-Nya. Dan begitulah kita seharusnya memandang satu sama lain—baik di gereja maupun di tengah keluarga.

Namun keindahan gambaran ini sering kali bertabrakan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Di banyak keluarga, orang dapat duduk satu meja tanpa saling berbicara. Di banyak gereja, orang dapat beribadah bersama tanpa tahu nama jemaat yang duduk dua bangku di belakangnya.

Dalam banyak hubungan, penderitaan seseorang tidak selalu menarik perhatian; dan keberhasilan seseorang bisa memicu kecemburuan, bukan sukacita. Itulah mengapa firman Tuhan ini penting—karena ia memanggil kita kembali kepada keutuhan, bukan sekadar kebersamaan lahiriah.

Ketika Paulus berkata bahwa jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita, ia sedang berbicara tentang empati yang lahir dari kasih. Empati bukan sekadar merasa kasihan, tetapi masuk ke dalam rasa sakit saudara kita dan menanggungnya bersama. Dalam tubuh, jika jari tertusuk duri, seluruh tubuh bereaksi. Mata langsung melihat ke arah luka itu, tangan yang lain bergerak mencabut durinya, kaki ikut berhenti melangkah. Begitu pula seharusnya gereja dan keluarga merespons penderitaan anggota-anggotanya.

Bayangkan seseorang yang datang ke gereja dengan beban berat dalam hatinya—entah karena pergumulan keluarga, kesulitan keuangan, atau sakit yang tidak terlihat. Jika gereja benar-benar hidup sebagai tubuh Kristus, beban itu tidak menjadi beban pribadi semata. Ada telinga yang siap mendengar, bahu yang siap menopang, dan hati yang mengerti. Karena tubuh tidak pernah membiarkan satu bagiannya berjuang sendirian.

Namun bagian kedua ayat itu sama pentingnya: “Jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Ini adalah ujian dari kedewasaan rohani. Tidak semua orang dapat ikut berbahagia ketika orang lain diberkati. Ada yang merasa tersaingi, ada yang tidak bahagia melihat keberhasilan saudara seiman. Tetapi tubuh yang sehat tidak iri terhadap bagian lain. Ketika mata melihat pemandangan indah, seluruh tubuh menikmati kesenangannya. Ketika kaki berhasil mencapai puncak bukit, seluruh tubuh merasakan kemenangan. Demikian pula dalam gereja dan keluarga: keberhasilan seseorang adalah berkat bersama.

Keutuhan tubuh Kristus terlihat ketika orang tidak saling membandingkan peran. Di rumah tangga, tidak ada yang mengatakan bahwa yang memasak kurang penting daripada yang bekerja mencari nafkah. Di gereja, tidak ada yang menganggap bahwa yang berkhotbah lebih mulia daripada yang mempersiapkan tempat duduk. Semua bagian tubuh memiliki fungsi, dan semuanya berharga. Keutuhan hadir ketika setiap orang menghormati peran yang lain.

Namun kenyataannya, keutuhan tubuh sering terganggu oleh luka yang tidak pernah disembuhkan. Ada anggota keluarga yang merasa tidak didengar. Ada jemaat yang merasa tidak dihargai. Ada relasi yang digerogoti oleh kekecewaan lama yang tidak pernah dibereskan. Ketika luka itu tidak disembuhkan, tubuh bergerak pincang. Gereja kehilangan kekuatannya. Keluarga kehilangan kehangatannya. Karena itu, panggilan untuk memulihkan adalah bagian penting dari kehidupan tubuh Kristus.

Keutuhan tubuh tidak berarti tidak ada perbedaan. Sebaliknya, tubuh justru kuat karena keberagaman. Mata, telinga, kaki, tangan—semuanya berbeda, tetapi tidak saling meniadakan. Gereja yang sehat menghargai perbedaan karunia, temperamen, latar belakang, dan cara berpikir. Keluarga yang sehat pun menerima keunikan setiap anggotanya. Kasih menjadi jembatan yang menyatukan semua perbedaan itu.

Mengapa ini penting? Karena dunia di luar sana sedang haus akan kesaksian nyata tentang kasih yang mempersatukan. Dunia penuh dengan perpecahan, persaingan, dan hubungan yang rapuh. Tetapi ketika gereja hidup sebagai tubuh Kristus—saling menanggung, saling mendukung, saling memulihkan—dunia melihat kilau kasih Kristus. Dan ketika keluarga Kristen hidup sebagai tubuh kecil yang utuh—saling menghormati dan saling membangun—dunia melihat terang Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Keutuhan tubuh Kristus bukan hanya panggilan teologis; itu adalah kebutuhan praktis. Tanpa keutuhan, gereja menjadi lemah. Keluarga menjadi rapuh. Namun ketika tubuh itu utuh, ada kekuatan yang luar biasa. Doa-doa menjadi lebih kuat. Pelayanan menjadi lebih efektif. Kasih menjadi lebih terlihat. Dan sukacita Tuhan mengalir lebih bebas.

Karena itu, renungan pagi ini mengajak kita semua untuk bertanya dengan rendah hati: “Apakah saya sudah hidup sebagai anggota tubuh Kristus yang memelihara keutuhan?” Apakah saya sensitif terhadap penderitaan orang lain? Apakah saya mampu bersukacita atas berkat yang diterima saudara saya? Apakah saya membangun atau justru melukai? Apakah saya merangkul perbedaan atau menolaknya? Keutuhan tubuh Kristus dimulai dari sikap hati, bukan dari struktur organisasi.

Kiranya kita menjadi pribadi yang menghadirkan kesatuan di mana pun Tuhan menempatkan kita: di rumah, di gereja, dan dalam relasi-relasi kecil yang Tuhan percayakan. Sebab ketika tubuh Kristus hidup dalam kasih yang utuh, dunia dapat melihat gambaran sejati dari Sang Kepala, yaitu Kristus sendiri.

Doa Penutup:

Tuhan, Kepala Gereja yang hidup, kami bersyukur karena Engkau telah menjadikan kami bagian dari tubuh-Mu. Ajarlah kami untuk hidup dalam kasih yang mempersatukan, bukan memecah-belah. Jadikan kami peka terhadap penderitaan saudara kami dan rendah hati untuk bersukacita ketika mereka diberkati. Pulihkanlah bagian-bagian tubuh yang terluka, baik di gereja maupun di keluarga kami. Bentuklah kami menjadi anggota-anggota tubuh yang setia, yang saling menopang dan saling menguatkan. Mampukan kami untuk memantulkan kasih Kristus dalam setiap hubungan yang kami miliki, agar melalui hidup kami, orang lain dapat melihat keindahan tubuh Kristus yang utuh. Di dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Dalam kasih tidak ada ketakutan

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” ‭‭1 Yohanes‬ ‭4‬:‭18‬‬

Kasih adalah satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Ada kalanya seseorang berkata, “Saya mengasihi dia,” tetapi kata-kata itu tidak pernah terasa aman di telinga orang yang mendengarnya. Bukan karena cinta itu tidak nyata, tetapi karena hubungan itu dipenuhi tekanan, tuntutan, dan bayangan ketakutan.

Ada orang yang setiap hari berjalan di rumahnya sendiri seperti seseorang yang menginjak lantai rapuh—takut membuat kesalahan kecil, takut suara pintu terlalu keras, takut salah menafsirkan ekspresi orang lain. Pada akhirnya, mereka lebih sibuk menenangkan kecemasan daripada merasakan sukacita dari sebuah hubungan.

Namun firman Tuhan berbicara sangat jelas: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah rohani yang indah, tetapi sebuah prinsip ilahi yang menembus sampai ke inti kehidupan manusia. Kasih yang sejati memiliki karakter yang begitu kuat, begitu murni, sehingga ia mampu mengusir ketakutan. Ia membongkar rasa cemas yang tersembunyi di lorong-lorong hati manusia. Ia melepaskan seseorang dari rasa terancam. Dan ia membentuk ruang dimana seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihukum.

Kasih yang benar tidak pernah berdiri berdampingan dengan ketakutan. Jika ada rasa takut yang pekat, rasa bersalah yang berlebihan, atau tekanan yang menggunung, itu menandakan bahwa relasi tersebut tidak berjalan dalam cahaya kasih yang Allah maksudkan. Bukan berarti kasih manusia harus sempurna sejak awal—kita semua bertumbuh, kita semua sedang diproses. Tetapi arah dari kasih itu harus jelas: kasih itu menuntun pada kedamaian, bukan kecemasan; membawa ketenteraman, bukan ancaman.

Ketakutan dalam sebuah hubungan sering kali seperti asap yang tipis. Ia tidak selalu tampak, tetapi dapat dirasakan. Ia membuat seseorang berhati-hati berlebihan. Ia membentuk pola komunikasi yang penuh kewaspadaan. Ia melahirkan jarak yang sulit dijelaskan. Ketika seseorang menjaga diri terlalu ketat, itu mungkin karena ia tidak yakin apakah dirinya aman. Di sinilah firman Tuhan menantang kita untuk melihat lebih dalam: apakah kasih yang kita terima dan berikan benar-benar memerdekakan?

Ketika ketakutan hadir, itu menjadi pesan yang halus namun tegas bahwa ada sesuatu yang kurang benar. Mungkin ada pola kontrol yang tidak disadari. Mungkin ada kata-kata keras yang sering dilontarkan. Atau mungkin ada luka lama yang belum pulih. Ketakutan bukan hanya tanda kelemahan dalam diri seseorang; sering kali ketakutan adalah respon wajar terhadap lingkungan yang tidak aman secara emosional. Karena itu, firman Tuhan tidak mengabaikan ketakutan, tetapi menunjukkannya sebagai indikator yang jujur. Kita tidak dipanggil untuk pura-pura kuat atau menekan perasaan, tetapi untuk menilai kembali apakah relasi kita berakar dalam kasih yang sejati.

Allah tidak pernah menggunakan ketakutan untuk memaksa anak-anak-Nya taat. Ia tidak bermaksud membuat manusia sebagai robot. Ketaatan yang sejati tumbuh dari kasih, bukan dari ancaman. Demikian pula relasi antar-manusia seharusnya berjalan dalam pola yang sama. Kasih yang benar tidak menakut-nakuti atau mendominasi orang lain. Ia tidak mematahkan keberanian seseorang, tidak merendahkan martabatnya, tidak menuntut kesempurnaan yang mustahil. Kasih sejati belajar mendengar sebelum menuntut, memahami sebelum menilai, dan merangkul sebelum mengoreksi. Kasih yang benar adalah kasih yang memberi kesempatan dan kemampuan bagi orang lain. Di dalam suasana seperti itu, ketakutan pun melebur seperti kabut yang tersingkir oleh matahari pagi.

Lebih jauh lagi, kasih yang murni memiliki kuasa yang dahsyat untuk memadamkan api kemarahan dan pertengkaran. Banyak konflik bermula dari ketakutan: takut tidak dihargai, takut kehilangan posisi, takut dianggap lemah. Ketika ketakutan memegang kendali, seseorang mudah tersinggung, mudah tersulut, dan mudah curiga. Namun ketika kasih mengambil alih, reaksi yang tadinya keras berubah menjadi lebih lembut. Seseorang mulai memberi ruang untuk salah paham, karena ia tahu bahwa kasih lebih besar daripada kesalahan kecil. Suara yang tadinya meninggi mulai meluruh menjadi percakapan yang membangun.

Kasih juga menghapuskan pelecehan dalam segala bentuknya. Pelecehan—baik fisik, emosional, maupun verbal— selalu lahir dari keinginan untuk menguasai. Kasih sejati tidak pernah menguasai dengan cara demikian. Kasih mengarahkan seseorang untuk menjadi pelindung, bukan penindas. Ia tidak menekan; ia menopang. Ia tidak mempermalukan; ia memulihkan. Ketika kasih bekerja, pola-pola destruktif mulai tergusur oleh pola-pola yang sehat dan penuh hormat.

Dendam pun kehilangan tempatnya ketika kasih hadir. Dendam hanyalah bentuk ketakutan lain—ketakutan bahwa keadilan tidak akan ditegakkan, bahwa luka tidak akan diperhatikan. Tetapi kasih mengajarkan kita bahwa Allah melihat dan peduli. Ketika seseorang percaya bahwa ia dikasihi dan diperhatikan, ia tidak lagi merasa perlu membalas sakit hati dengan sakit hati. Kasih menyalakan pengampunan, bukan karena pengampunan itu mudah, tetapi karena kasih membuat hati seseorang lebih besar daripada lukanya.

Yang sering kita lupakan adalah bahwa kasih seperti ini bukan produk usaha manusia semata. Kasih seperti ini berasal dari Allah. “Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.” Kasih-Nya adalah sumber keberanian kita. Semakin seseorang mengenal kasih Allah, semakin ia disembuhkan dari ketakutan terdalamnya. Semakin ia dipenuhi oleh kasih yang sempurna, semakin ia mampu mengasihi orang lain dengan cara yang menenangkan, bukan menakutkan.

Kasih Allah menuntun kita untuk bertumbuh menjadi orang yang menjadi tempat aman bagi orang di sekitar kita, terutama dalam lingkungan gereja dan rumah tangga. Tempat aman bukan berarti selalu menyenangkan atau selalu berkata “ya” pada segala hal. Tempat aman berarti seseorang tahu bahwa ia akan diperlakukan dengan hormat, dihargai sebagai manusia, dan dikasihi tanpa syarat. Dalam atmosfer seperti itu, bahkan teguran pun terasa sebagai wujud perhatian, bukan ancaman.

Pagi ini, ayat di atas mengajak kita menengok ke dalam: apakah kasih yang kita bawa membuat orang lain semakin aman atau semakin tertekan? Apakah kehadiran kita menenangkan atau menimbulkan kecemasan? Apakah kata-kata kita membangun atau malah melukai? Kita tidak dipanggil untuk sempurna hari ini juga, tetapi kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kasih yang menghilangkan ketakutan.

Biarlah kasih Kristus memenuhi hati kita hingga kita menjadi pembawa damai, penangkal ketegangan, pemadam api pertengkaran, dan sumber keberanian bagi orang-orang di sekitar kita. Sebab ketika kasih bekerja, ketakutan memudar dan kebencian menghilang. Ketika kasih memimpin, hubungan dipulihkan. Dan ketika kasih meresap dalam kehidupan kita, dunia yang kita sentuh pun akan merasakan kehangatan dari kasih yang sempurna itu—kasih yang berasal dari Allah sendiri.