“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18
Baik saat kita bermain game, mengendarai mobil, atau membuat kue, ada aturan tertentu yang harus dipatuhi demi keberhasilan kita. Begitu juga, sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus mau menaati hukum dan firman Tuhan untuk menjadi orang Kristen yang baik.
Alkitab mengajarkan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang terus bertumbuh. Ketika Anda dilahirkan kembali, Anda dilahirkan ke dalam keluarga Tuhan. Adalah tujuan Tuhan agar Anda bertumbuh menjadi dewasa dan menjadi dewasa di dalam Kristus. Adalah melanggar hukum Tuhan dan hukum alam jika Anda tetap menjadi bayi dan kemudian menjadi kerdil secara rohani.
Dalam ayat di atas, Alkitab mengatakan bahwa kita harus bertumbuh. Ini menyiratkan perkembangan yang mantap, perluasan yang terus-menerus, peningkatan kebijaksanaan.
Agar seseorang dapat bertumbuh dengan baik, aturan-aturan tertentu harus dipatuhi demi kesehatan rohani yang baik.
Bacalah Alkitab Anda setiap hari. Jangan puas membaca satu bab hanya untuk memuaskan hati nurani Anda. Simpanlah Firman Tuhan di dalam hati Anda. Firman Tuhan menghibur, membimbing, mengoreksi, memberi semangat – semua yang kita perlukan ada di sana.
Pelajari rahasia doa. Doa adalah komunikasi. Setiap doa yang Anda panjatkan akan didengar-Nya. Terkadang jawabannya mungkin “Ya” dan terkadang “Tidak”, dan terkadang “Tunggu”, namun tetap saja jawabannya pasti akan diberikan Tuhan.
Andalkan terus-menerus pada Roh Kudus. Kita tahu bahwa Roh Kudus berdoa bagi kita (Roma 8), dan hal ini seharusnya menjadi penghiburan bagi kita yang merasa lemah. Tenangkan hati Anda dan biarkan Dia mengambil alih semua pilihan dan keputusan dalam hidup Anda.
Menghadiri gereja secara teratur. Gereja yang kelihatan adalah organisasi Kristus di bumi. Umat Kristen saling membutuhkan satu sama lain, kita perlu berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan dan tidak ada yang bisa menggantikan kehadiran Anda secara pribadi di gereja.
Jadilah orang Kristen yang memberi kesaksian. Kita bersaksi dalam dua cara: melalui kehidupan dan perkataan – dan keduanya, jika memungkinkan, harus berjalan beriringan.
Biarkan kasih menjadi prinsip utama hidup Anda. Yesus berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Bukti terbesar dari fakta bahwa kita adalah orang Kristen sejati adalah bahwa kita saling mengasihi, bukan memusuhi dan membenci orang lain.
Jadilah orang Kristen yang taat. Biarlah Kristus mendapat tempat pertama dalam semua pilihan hidup Anda. Ini bukan untuk menjamin keselamatan Anda, tetapi pernyataan rasa syukur Anda atas keselamatan yang diberikan-Nya secara cuma-cuma.
Pelajari cara menghadapi godaan. Godaan bukanlah dosa. Menyerah itulah dosa. Biarkan Kristus melalui Roh Kudus yang berperang untuk Anda, jangan terus-menerus mengabaikan atau menghalangi Dia.
Jadilah orang Kristen yang sehat. Kehidupan dan penampilan kita hendaknya menyatakan cahaya Injil dan menjadikannya menarik bagi orang lain.
Hiduplah di atas keadaan Anda. Jangan biarkan keadaan membuat Anda putus asa. Belajarlah untuk hidup dengan rasa syukur dan cukup atas rahmat-Nya yang ada di dalam diri Anda, menyadari bahwa Tuhan sendiri ada bersama Anda.
Pedoman Hidup Kristen dikutip dari “Peace with God” oleh Billy Graham, diterbitkan pada tahun 1953, direvisi dan diperluas pada tahun 1984.
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1
Perayaan Paskah, hari kemenangan Yesus atas maut baru saja berlalu. Jika kita memperingati penderitaan dan kenatian Yesus pada hari Jumat Agung, pada hari Minggu sesudahnya kita merayakan kebangkitan-Nya. Karena kematian-nya, kita sudah ditebus-Nya dari hukuman mati, dan karena kebangkitan-Nya kita akan dibangkitkan dan hidup bersama Dia di masa depan. Yesus sudah berkurban untuk kita karena kasih-Nya, dan itu sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang dinyatakan segera setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Sudah tentu, sebagai orang Kristen yang dibenarkan kita seharusnya mengerti bahwa kita sepatutnya selalu bersyukur atas kasih Tuhan.
Sebagai orang yang beruntung, kita harus berjuang untuk bisa menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan. Itu jika kita mempunyai kebijaksanaan, sebab banyak orang Kristen yang merasa bahwa sesudah diselamatkan mereka tidak perlu berbuat apa-apa untuk Tuhan. Selain itu, ada orang Kristen yang justru memandang sesama orang Kristen yang berusaha berbuat baik sebagai orang yang “sok” karena beranggapan bahwa tidak ada apa yang baik yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan. Mereka lupa bahwa kita adalah bani pilihan Tuhan yang baru, yang tetap harus mempersebahkan kurban meskipun bukan untuk mendapatkan keselanatan.
Bagian baru dari surat Paulus dimulai dengan Roma 12. Ia menyimpulkan bagian yang membahas doktrin keselamatan dan apa artinya datang kepada Allah melalui iman di dalam Kristus. Sekarang dia mulai menjelaskan bagaimana kita yang berada di dalam Kristus seharusnya hidup. Bagaimana seharusnya kita menyikapi kemurahan Tuhan yang begitu besar kepada kita?
Paulus mulai menyampaikan permohonannya kepada saudara-saudara rohaninya: saudara-saudarinya di dalam Kristus. Meskipun dia adalah rasul yang diutus oleh Yesus sendiri untuk membawa Injil ke dunia, Paulus juga “salah satu dari kita.” Ia adalah manusia berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kepada Yesus. Dia menyebut Tuhan sebagai Bapa, sama seperti kita, menjadikannya saudara kita.
Paulus mendesak kita untuk menyadari bahwa Tuhan telah menunjukkan belas kasihan yang sangat besar kepada kita, yang dijelaskan secara rinci di awal surat ini. Nyanyian pujian pada empat bait sebelumnya memperjelas bahwa Tuhan tidak berhutang apa pun kepada kita. Namun, alih-alih kematian, Dia telah memberi kita kehidupan dan tujuan di dalam Kristus. Dia telah mengampuni dosa kita dan membagikan kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita. Kita sebenarnya tidak pantas menerima semua itu. Bagaimana seharusnya kita menanggapinya?
Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, ”Bagaimana seharusnya kita menanggapi kemurahan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah dengan menjadi umat yang selalu setia untuk mempersembahkan kurban, menggunakan hidup kita dalam pelayanan kepada Allah sebagai tindakan ibadah yang berkelanjutan (Ibrani 9:14). Itu yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, namun respon alami yang harus kita miliki setelah diselamatkan. Untuk melakukan hal ini, kita perlu melepaskan diri dari pola dunia yang mengutamakan diri sendiri dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Tuhan inginkan. Maka kita akan tahu bagaimana cara hidup di dunia untuk memuliakan-Nya.
“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5:1-2
Paulus menulis bahwa ketika orang-orang Yahudi mempersembahkan hewan yang telah dibunuh sebagai kurban kepada Tuhan, orang Kristen seharusnya mempersembahkan diri kita sendiri, tubuh kita, kepada-Nya sebagai kurban yang hidup. Dengan kata lain, satu-satunya tanggapan rasional terhadap kemurahan Allah yang memberi kita kehidupan kekal adalah dengan memberikan hidup kita kepada-Nya sebagai pengurbanan untuk digunakan demi tujuan-tujuan-Nya saat ini.
Hewan kurban di bawah sistem pengorbanan perjanjian lama harus dipisahkan dari kawanannya untuk tujuan tersebut dan dipilih dengan hati-hati untuk memastikan bahwa pengorbanan tersebut dapat diterima—tidak cacat dan tidak terluka. Sebagai korban yang hidup, Allah telah memisahkan kita dari umat manusia untuk tujuan-tujuan-Nya dan menyatakan kita dapat diterima karena Dia melihat kita berada pada posisi kita di dalam Kristus. Dengan kata lain, kita tidak perlu menunggu untuk menjadi orang yang benar-benar saleh 100 persen sebelum kita bisa mempersembahkan tubuh dan hidup kita kepada Tuhan. Sebagai umat di dalam Kristus, Dia akan menerima pengorbanan hidup kita sehari-hari saat ini, sebagaimana adanya, tetapi yang akan terus berkembang menuju kesempurnaan (Matius 5:48). Maka, kehidupan beribadah yang terus bertumbuh dalam iman dan perbuatan ini merupakan respon yang tepat terhadap rahmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita.
Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan kita sebagai pengurbanan yang hidup kepada Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dalam hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk saling melayani di gereja dan dalam masyarakat dan keluarga. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri. Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan meninggikan Tuhan. Kita harus memusatkan pengharapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan sabar dan berdoa agar Bapa kita menyediakannya. Kita harus menolak untuk tenggelam dalam berbagai bentuk kejahatan, seperti memberi kebaikan pada orang yang merugikan kita, bukan membalas dendam.
“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5:17
Hari ini, firman Tuhan menegaskan bahwa barangsiapa berkata: aku mengenal Tuhan, tetapi ia tidak mau menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.
“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yohanes 2:6
Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Matius 26: 21 – 22
Ketika itu Yesus dan murd-muridNya merayakan hari Paskah dengan makan malam bersama. Hari raya Paskah (Passover dalam bahasa Ingris dan Pesach dalam bahasa Yahudi) adalah hari peringatan keluarnya orang Israel dari tanah Mesir setelah Allah menulahi orang Mesir sehingga semua anak sulung mereka mati bersama anak sulung hewan peliharaan mereka (Keluaran 12: 27). Hari besar utama bangsa Yahudi ini masih diperingati sampai sekarang.
Bagi kita yang bukan pengikut agama Yahudi, perayaan Paskah yang adalah perayaan hari kebangkitan Yesus. Jika orang Israel mengingat saat dimana mereka luput dari tulah Allah melalui tanda darah domba yang dilaburkan pada ambang atas dan jenang-jenang pintu rumah mereka (Keluaran 12: 23), orang Kristen memperingati kemenangan Kristus atas maut.
Kematian Kristus di kayu salib sudah tentu adalah satu hal yang sangat penting bagi kita orang Kristen, karena melalui darah Kritus kita memperoleh pengampunan Allah atas dosa-dosa kita. Tetapi, dengan memperingati kebangkitan Kristus, kita menyatakan keyakinan iman bahwa kita akan bisa hidup bersama Dia di surga sesudah kita meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan kemenangan Kristus atas maut, iman kita tidak akan sia-sia (1 Korintus 15: 14).
Pada waktu itu murid-murid Yesus sudah mulai mendapat gambaran bahwa Guru mereka akan mengalami penderitaan dan kemudian mati disalibkan. Ia berkata: “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan” (Matius 26: 2). Mereka tentunya merasa sedih, walaupun mereka tidak benar-benar mengerti mengapa itu harus terjadi. Kesedihan mereka bertambah besar ketika Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Mereka seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Mereka tentunya berharap bahwa kematian Kristus bukanlah akibat kesalahan mereka.
Alkitab menulis bahwa Yesus mengungkapkan bahwa Yudas yang mencelupkan roti ke dalam pinggan bersamaan dengan Yesus adalah orangnya. Yudas adalah pengkhianat yang menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang perak. Yudas dengan demikian adalah murid durhaka. Tidaklah mengherankan, bagi kita umat Kristen nama Yudas adalah nama yang identik dengan orang yang tidak bisa dipercaya, orang jahat yang tidak ada bandingnya. Kesimpulan yang mudah diambil adalah bahwa Yudas sudah patutnya menemui kematian yang mengerikan karena sangat besar dosanya.
Pada pihak yang lain, sulit diterima oleh pikiran kita adanya kenyataan bahwa di dunia ini ada banyak Yudas. Di hadapan Allah, setiap manusia adalah berdosa dan patut menerima kematian, tidak hanya secara tubuh tetapi juga secara roh. Jika Yudas sudah mengkhianati Yesus, kita juga sering mengkhianati Dia dalam hidup kita ketika kita mendahulukan kepentingan kita dan kepentingan orang lain di atas kepentingan Tuhan. Mungkin kita mengaku kenal dengan Yesus, tetapi seringkali kita mengorbankan kebenaran Kritus dengan memilih cara hidup duniawi yang tidak berkenan di hadapanNya.
Pernahkah kita memikirkan bahwa kita mungkin sudah lama hidup dan bertingkah laku seperti Yudas? Jika Yudas tidak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, kita harus bersyukur bahwa masih ada waktu bagi kita untuk menjadi pengikutNya yang setia. Sekarang, dan bukan esok hari.
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46
Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.
Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.
Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.
Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah sama dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia. MisiNya di dunia sudah selesai!
Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.
Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib menunjukkan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!
Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 14-15
Ayat di atas adalah apa yang sering diucapkan dalam kebaktian kebangunan rohani, di mana para penginjil berusaha menjelaskan bagaimana orang bisa menjadi orang Kristen. Tidak ada penginjil yang menyatakan hal yang sebaiknya: yaitu bahwa mereka tidak perlu berbuat apa-apa dalam menanggapi Injil, karena semua akan diperbuat Tuhan untuk mereka pada waktunya, jika Tuhan menghendaki. Paulus mengklarifikasi hal itu dalam Kisah Para Rasul 20:20-21: “Aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus”. Paulus bekerja keras agar orang lain bertobat dan percaya, atau untuk percaya kepada Tuhan yang berkat-kata melalui Roh Kudus dalam hati mereka, agar mereka kemudian bisa bertobat melalui karunia-Nya. Baik percaya maupun bertobat adalah karena rahmat-Nya semata-mata, tetapi untuk itu manusia harus meresponi.
Tanggapan yang tepat terhadap kabar baik adalah sederhana dan mendalam. Kita harus bertobat dan percaya Injil. Namun apa yang Alkitab maksudkan dengan “bertobat” dan “percaya”? Seperti biasa, ketika kita membaca Firman Tuhan, kita harus menemukan arti sebenarnya dari kata-kata di dalam Firman tersebut. Jadi, mari kita lihat apa arti kedua istilah penting dalam Alkitab ini.
Ketika Yesus berkata “Bertobat,” Dia sedang berbicara tentang perubahan hati terhadap dosa, dunia, dan Tuhan; perubahan batin yang memunculkan cara hidup baru yang meninggikan Kristus dan memberikan bukti kebenaran Injil.
Apa artinya bertobat? Kata Yunani Perjanjian Baru yang diterjemahkan sebagai “bertobat” adalah METANOEO. Ini memiliki dua bagian: META dan NOEO. Kata META, merupakan awalan yang berarti pergerakan atau perubahan. Kata NOEO, mengacu pada disposisi batin Anda, “pengaturan standar” Anda terhadap kenyataan. META, atau “perubahan,” ditambah NOEO, atau “disposisi” sama dengan “mengubah disposisi Anda terhadap kehidupan dan kenyataan, untuk mengubah pengaturan standar Anda tentang apa yang penting.”
Yesus menjelaskan bahwa ketika pengaturan standar kita diubah oleh Roh Kudus, hal ini terlihat ketika kita “menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3:8). Pertobatan sejati adalah perubahan hati batin yang menghasilkan buah dari perilaku baru. Bertindak berbeda, berbicara berbeda, dan hidup berbeda (inilah buahnya) adalah hasil lahiriah yang tak terhindarkan dari perubahan batin secara total (itulah pertobatan).
Yesus menjelaskan dengan jelas bahwa pertobatan dan iman ibarat dua sisi mata uang yang saling sama. Markus 1:15 mencatat ringkasan pesan Yesus yang terilham ketika Dia memulai pelayanan-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Pertobatan dan iman berjalan seiring karena jika Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan (iman), pikiran Anda berubah tentang dosa dan diri Anda (pertobatan); dan jika Anda bertobat, itu karena Anda percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan.
Hal ini karena iman, seperti yang dijelaskan dalam Kitab Suci, adalah percaya bahwa Yesus adalah seperti yang Dia katakan dan bahwa Dia melakukan apa yang Dia katakan akan Dia lakukan. Hal penting tentang definisi iman yang alkitabiah ini adalah bahwa definisi ini berfokus pada siapa Yesus itu, bukan pada Anda atau usaha Anda. Inilah artinya bagi Anda. Anggaplah iman memiliki tiga bagian: mengetahui, menyetujui, dan mengandalkan.
Bagian mengetahui dari iman berarti Anda belajar dari Firman Tuhan Siapakah Yesus dan apa yang telah Dia lakukan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).
Bagian iman yang menyetujui datang ketika Roh Kudus meyakinkan Anda tentang kebenaran tentang Yesus. Engkau setuju dengan kesaksian Tuhan dan mengakui, “Apa yang Tuhan katakan adalah benar.” Ini adalah salah satu pelayanan utama Roh Kudus. Dalam Yohanes 16:13, Yesus berkata, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;…”
Bagian mengandalkan iman berarti Anda mempertaruhkan hidup Anda pada kebenaran yang Anda ketahui dan setujui. Di sinilah iman menjadi pribadi, ketika Anda mempercayakan jiwa kekal Anda hanya kepada Yesu: “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena orang yang benar akan hidup oleh iman.” (Galatia 3:11).
Dua bagian pertama dari iman – mengetahui dan menyetujui – adalah seperti pergi ke bandara, melihat orang naik pesawat, dan melihat pesawat lepas landas. Melalui pengamatan, Anda mengetahui bahwa benda bersayap besar ini dapat membawa manusia sejauh ribuan mil dengan kecepatan luar biasa; dan Anda setuju bahwa hal itu terjadi setiap saat. Bagian ketiga dari iman, mengandalkan, adalah seperti Anda menaiki pesawat terbang. Mengetahui dan menyetujui bahwa pesawat dapat membawa orang ke tempat yang jauh adalah satu hal. Naik pesawat sendiri adalah hal lain yang membutuhkan keputusan Anda.
Iman alkitabiah memang seperti itu. Anda jadi tahu dari Firman Tuhan kebenaran tentang Siapa Yesus itu dan apa yang telah Dia lakukan bagi Anda. Kemudian, Roh Kudus meyakinkan Anda tentang kebenaran Firman Tuhan, dan Anda setuju bahwa Injil itu benar. Dan kemudian Anda menganggapnya sebagai masalah pribadi: Anda tidak lagi bergantung pada upaya Anda sendiri untuk mencapai keselamatan, dan menyerahkan hidup Anda di tangan Yesus, percaya bahwa Siapa Dia dan apa yang Dia lakukan sudah cukup untuk menyelamatkan Anda.
Pagi ini, Anda mungkin bersiap untuk pergi ke gereja. Anda yakin bahwa Anda adalah orang yang dipilih Tuhan untuk percaya kepada Yesus Penebus. Tetapi, sudahkah Anda bertobat? Jika belum, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa itu belum terjadi? Apakah Anda tidak percaya bahwa pertobatan adalah bagian dari keselamatan? Apakah Anda sudah berusaha menghentikan dosa-dosa Anda tetapi sampai saat ini kurang berhasil? Sudahkah Anda mengandalkan Yesus saja untuk pertobatan Anda? Jika belum, maukah Anda meminta Yesus untuk menolong Anda dalam setiap langkah kehidupan Anda?
“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5: 10
Menara Babel
Ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang menetapkan segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat dari awalnya. Walaupun mereka percaya bahwa manusia nampaknya memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka tidak bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak mereka sendiri. Apalagi, jika kehendak manusia dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa Tuhan menentukan mereka yang akan dikirim ke surga dan mereka yang ke neraka tanpa mempertimbangkan iman dan keinginan hati mereka selama hidup di dunia.
Manusia hanya bisa diselamatkan melalui iman dan iman berasal dari Tuhan. Siapa pun yang mengambil keputusan untuk percaya dan ingin untuk diselamatkan, harus percaya bahwa itu hanya bisa terjadi karena bimbingan Roh Kudus. Dan oleh bimbingan Roh Kudus juga, mereka yang percaya akan bisa menyatakan iman mereka dalam berbagai perbuatan baik yang memuliakan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang tidak dibimbing Roh Kudus hanya bisa melakukan apa yang jahat di hadapan Tuhan, sekalipun terlihat baik di mata manusia.
“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18
Memang sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik dalam diri manusia yang bisa memenuhi standar Allah. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga dipengaruhi iblis. Dengan demikian, jika kita bersandar pada kehendak kita sendiri dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan. Itulah yang terjadi pada Adam dan Hawa ketika mereka memakan buah terlarang. Hanya karena anugerah Tuhan mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima hidup yang kekal di surga. Walaupun demikian, tidaklah benar bahwa Tuhan selalu memaksakan kehendak-Nya kepada mereka yang tidak mau percaya kepada-Nya atau tidak peduli akan adanya surga dan neraka.
Sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, manusia memang diberi kebebasan untuk memilih apa yang diingini selama hidup di dunia. (Kejadian 2: 16). Tetapi, jika manusia tidak mau tunduk kepada firman Tuhan, kehendak manusia akan membawa mereka kepada pilihan yang buruk. Kebebasan manusia dari awalnya, bukanlah sesuatu yang tidak mempunyai konsekuensi, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan dan firman-Nya. Manusialah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup mereka, apakah mereka ingin untuk menjadi orang yang diselamatkan atau tidak. Mereka yang pada akhirnya masuk ke neraka, tidak dapat menuduh Tuhan berlaku tidak adil karena mereka akan disadarkan bahwa selama hidup di dunia mereka tidak mau taat kepada firman Tuhan.
“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36
Perlu kita ingat bahwa kehendak kita hanya bisa terjadi sejauh mana Allah mengizinkan. Manusia bisa menghendaki apa pun, tapi tidak ada usaha kita yang mengalahkan kedaulatan dan rencana Tuhan. JIka Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong kita, adalah tanggung jawab kita untuk menyambutnya, Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengulurkan tangan-Nya, itu adalah keputusan-Nya yang tidak dapat dibantah.
Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Daniel 4: 35
Sebagai umat Kristen kita bebas untuk melakukan apa saja atau mengambil keputusan selama hidup di dunia. Tetapi kita tidak boleh menggunakan kebebasan itu untuk membuat murka Allah. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan karena kita bukanlah pion-pion Allah. Kewajiban kita adalah menggunakan kehendak bebas (dalam arti “tanpa paksaan”, dan bukan “bebas untuk mendapatkan apa yang dikehendaki”) yang diberikan-Nya kepada kita untuk diselaraskan dengan kehendak-Nya selama hidup di dunia. Kita tidak boleh dengan sombong memakai kebebasan yang kita punyai untuk mengabaikan kedaulatan Allah. Sebaliknya, dengan kerendahan hati kita berserah kepada-Nya:
“Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15
Satu hal penting yang harus kita sadari, Tuhan belum tentu menghentikan tindakan manusia sekalipun itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Malahan, Tuhan bisa saja membiarkan manusia yang sombong dan keras kepala seperti Firaun untuk makin sesat dan menerima hukuman yang setimpal. Manusia tidak bisa mempersalahkan Tuhan jika ia jatuh ke dalam dosa. Tuhan sudah tahu sebelum dosa dilakukan manusia dan rencana-Nya tetap bisa berjalan tanpa bergantung pada hidup dan perbuatan manusia. Itulah sebabnya ada banyak hal menyedihkan yang terjadi ketika manusia tidak mau hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa sebagai umat Kristen kita bertanggung-jawab atas apa pun yang kita sudah lakukan dengan kehendak bebas kita baik mengenai soal jasmani maupun rohani. Setiap orang, baik orang Kristen maupun bukan Kristen, akan memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya.
“Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” 1 Korintus 11:29
Banyak orang Kristen yang merasa bahwa sebagai orang yang terpilih, mereka sudah menerima pengampunan atas segala dosa mereka. Karena itu, mungkin mereka merasa bahwa mereka tidak perlu memikirkan cara hidup mereka. Memang, jika mereka adalah orang percaya, bukankah darah Tuhan Yesus sudah mengampuni semua dosa mereka? Semua dosa: bukankah itu dosa yang lalu, dosa yang sekarang, dan dosa yang akan datang? Diampuni: bukankah itu berarti tidak lagi ada hukuman, sekarang dan selamanya? Inilah hal yang sering membingungkan kita.
Bagi orang Kristen yang berpikir bahwa sebagai hamba yang sudah ditebus, mereka boleh hidup bebas tanpa kekuatiran terhadap pelanggaran dosa, Paulus pernah menyatakan:
“Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” Roma 6:15
Lebih lanjut, dalam suratnya kepada jemaat Korintus di atas, Paulus menjelaskan alasan-alasan untuk merayakan Perjamuan Tuhan dan bagaimana hal itu hendaknya dilakukan. Umat Kristen di Korintus telah menjatuhkan hukuman Allah atas diri mereka sendiri karena mempraktekkan persekutuan dengan cara yang tidak menghormati pengorbanan Kristus untuk dosa dan mempermalukan orang-orang miskin di antara mereka. Jelas, orang Kristen masih menerima hukuman atas dosa-dosa mereka selama hidup di dunia. Pertanyaan bagi kita: bagaimana ini mungkin?
Tuhan Yesus Kristus, kita akui, telah menebus dosa-dosa kita di kayu salib. Kita yakin bahwa jika Yesus Kristus benar-benar telah membayar segala dosa kita melalui pengorbanan-Nya yang sempurna di kayu salib, maka tidak ada lagi penghakiman yang tersisa bagi kita atas dosa-dosa kita. Lagipula, Allah tidak menghukum dosa yang sama dua kali – pertama pada Anak-Nya di kayu salib dan kedua kalinya pada kita yang melakukan dosa tersebut. Dan itu benar!
Namun itu bukanlah jawaban lengkap atas pertanyaan di atas. Ada banyak sekali contoh dalam Alkitab ketika anak-anak Tuhan mengalami hukuman berat dari Tuhan atas dosa-dosa mereka. Lalu bagaimana cara kerjanya? Apakah Tuhan menghukum dosa orang Kristen? Alkitab menekankan bahwa umat Tuhan pasti dapat – dan memang – mengalami penghakiman Tuhan yang adil atas dosa-dosa mereka dalam kehidupan ini. Hanya saja, banyak pendeta yang kurang mau menegaskan pentingnya hidup suci di dunia. Karena itu, di zaman ini banyak orang Kristen yang hidup semaunya sendiri, sekalipun sebagian di antara mereka yakin bahwa mereka tidak mempunyai kehendak bebas.
Bayangkanlah bangsa Israel di padang gurun. Harap diingat bahwa Israel adalah umat Allah berdasarkan perjanjian, yang dihargai oleh-Nya. Mereka bahkan memberitakan kabar penebusan kepada mereka dengan setia di dalam tabernakel yang Allah perintahkan untuk mereka bangun; pengorbanannya mengarahkan orang-orang pada bagaimana pengorbanan Yesus Kristus yang akan datang akan membasuh dosa-dosa mereka. Bangsa ini juga telah mengikrarkan kesetiaan mereka kepada Allah, menunjukkan pengabdian mereka kepada-Nya. Tetapi, bangsa pilihan Tuhan ini banyak mengalami hukuman karena dosa-dosa mereka (Bilangan 11).
Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menulis surat kepada “jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan dipanggil menjadi kudus” (1 Korintus 1:2). Ini adalah jemaat orang-orang Kristen sejati yang dibasuh dalam darah Yesus, dikuduskan dan dimeteraikan melalui Roh Kudus (seperti yang digaungkan gereja dalam ajaran Kitab Suci dalam Pasal 27, Pengakuan Iman Belgia), dan juga orang-orang yang termasuk dalam Perjamuan Tuhan. Namun di dalam jemaat ini ada orang-orang yang menghadiri Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak sehingga memakan dan meminum hukuman atas diri mereka sendiri (1 Korintus 11:29).
Atas otoritas Roh Kudus Paulus memberikan hubungan langsung antara tindakan jemaat Korintus dan penyakit yang ada di tengah-tengah mereka: “Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.” Bayangkan: Allah begitu tidak senang dengan dosa-dosa anak-anak-Nya di Korintus sehingga Ia menghukum gereja-Nya di kota itu dengan penghakiman yang adil saat itu juga! Ini bukan berarti semua dosa-dosa mereka telah diampuni dalam darah Yesus sehingga tidak ada hukuman lagi bagi mereka.
Ingat juga kata Yesus kepada gereja di Efesus. “Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.,” tulisnya. “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. (Wahyu 2:5). Pada tahun-tahun berikutnya, Tuhan Yesus Kristus benar-benar “melepaskan kaki dian” dari Efesus; cahaya Injil tidak lagi bersinar di kota itu, karena Allah dalam pemeliharaan-Nya membiarkan gereja di tempat itu mati. Mengapa? Bukan karena mereka semua adalah orang-orang fasik! Namun Dia melakukan itu karena mereka telah meninggalkan kasih semula mereka. Artinya: dalam waktu bertahun-tahun mereka telah kehilangan kedalaman persekutuan aktif dengan orang-orang kudus. Itu adalah dosa di hadapan Tuhan, dan ada hukuman atas dosa itu; oleh penghakiman Allah yang adil, terang mereka padam. Dan itulah pola yang muncul berkali-kali dalam Kitab Wahyu.
Pesan yang sama juga disampaikan dalam bacaan di Korintus itu. Karena sikap egois orang-orang Kristen ini ketika datang ke Perjamuan Kudus, banyak di antara mereka yang lemah dan sakit, dan beberapa telah meninggal. Paulus menjelaskan mengapa demikian. Dia berkata, “Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.” (1 Korintus 11:31). Maksudnya jelas: orang-orang Kristen di Korintus ini tidak memikirkan apakah mereka hidup dalam dosa, namun hanya berasumsi bahwa kematian Yesus Kristus menutupi semua pelanggaran mereka. Mereka berasumsi bahwa Tuhan sungguh penuh belas kasihan. Paulus setuju, tapi dia bersikeras: Tuhan “juga adil.
Menyadari hal ini, kita mungkin merasa bingung dan tertekan. Hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita. Apakah kenyataan bahwa sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup saya berarti saya telah berdosa dan belum bertobat?? Seperti dalam: tragedi itu salahku sendiri? John Calvin mengatakannya seperti ini: ketika seorang beriman dilanda bencana, dia “segera turun ke dalam dirinya untuk memikirkan dosa-dosanya” (Institusi, III.4.32). Artinya: menurut Calvin orang beriman menerima kenyataan bahwa Allah tidak membiarkan dosa luput dari hukuman, percaya juga bahwa dosa ditebus di dalam Yesus Kristus. Namun, orang beriman juga mengakui keberdosaannya yang terus berlanjut, termasuk keengganan untuk mengakui perbuatan tertentu sebagai dosa. Jadi, ketika menghadapi bencana, orang Kristen akan memeriksa dirinya sendiri untuk memastikan bahwa dia tidak membiarkan dosa-dosa tertentu tidak diakui. Itu, kata Calvin, adalah respons standar orang Kristen yang tepat terhadap masalah; itu adalah pemeriksaan diri.
Apakah Anda gagal untuk bertobat dari dosa-dosa tertentu? Apakah ada hal-hal yang terjadi dalam hidup Anda yang Anda tahu salah tetapi Anda hanya berasumsi bahwa Tuhan baik-baik saja dengan kesalahan tersebut? Apakah dengan kekerasan hati kita bisa menghalangi hikmat Tuhan dan menarik kutukan Tuhan? Calvin bersikeras: orang Kristen yang saleh tentu mengetahui keberdosaan dan kekeraskepalaannya, dan mengetahui bahwa tidak akan ada berkat dari Tuhan saat ini jika ia tidak berpaling dari setiap dosa yang diketahuinya, dan dengan demikian segera memeriksa kembali apakah ia benar-benar melakukan dosa tersebut. bertobat dari segala dosa.
Praktik introspeksi diri ini telah menjadi kekuatan pendorong spiritualitas Kristen selama beberapa generasi, dan selama berabad-abad sejak Reformasi Besar, dan hal ini menghasilkan suatu gaya hidup yang menjunjung tinggi perintah Tuhan. Namun di zaman kita, perasaan bahwa Allah masih menghukum dosa yang tidak ditobati sering diremehkan atau diabaikan. Hal ini mengatakan pada kita diri sendiri bahwa dosa-dosa kita tidak mempunyai konsekuensi karena ada pengampunan dalam darah Yesus. Namun di sinilah kita membodohi diri sendiri. Melawan tren zaman kita (dan diri kita yang berdosa), kita harus kritis dan tegas dalam memeriksa diri sendiri, dan kita harus bertobat dari dosa apa pun yang kita temukan. Jangan sampai dalam hidup ini tangan Tuhan menghancurkan kita.
“Lalu Ia menjawab: ”Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” Lukas 8:10
Lukas 8:4–15 memperkenalkan berbagai cara orang menanggapi Injil. Sang Penabur – Yesus -menyebarkan “benih” Injil, dan orang-orang menerima atau menolak pesan tersebut dalam tingkat yang berbeda-beda. Perumpamaan tentang penabur juga terdapat dalam Matius 13:1–23 dan Markus 4:1–20.
Dalam konteks percaya, banyak orang mengartikan ayat di atas bahwa Tuhanlah yang membuat orang tertentu untuk tidak percaya, supaya mereka bisa dihukum. Tetapi, itu bukanlah pengertian yang benar. Jika ada orang yang dihukum, pada akhirnya mereka akan mengerti bahwa mereka pantas dihukum karena apa yang dilakukan dalam hidup mereka. Mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan.
Ayat ini mempunyai dua konteks yang berbeda. Yang pertama adalah amanat Tuhan kepada nabi Yesaya dalam Yesaya pasal 6. Tuhan memerintahkan Yesaya untuk menyebarkan firman-Nya: peringatan kepada bangsa Israel bahwa jika mereka tidak berbalik dari dosa mereka akan dikirim ke pengasingan. Tuhan tahu bangsa Israel tidak mau mendengarkan, tapi Dia tetap mengutus Yesaya untuk pergi. Dengan melakukan hal ini, Tuhan membuktikan bahwa Dia melakukan upaya dengan itikad baik untuk menyelamatkan umat manusia dan Dia membuktikan bahwa bangsa Israel layak menerima hukuman pengasingan. Bangsa Israel tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang semena-mena.
Konteks kedua terdapat dalam perumpamaan tersebut. Yesus telah mengajarkan perumpamaan tentang penabur kepada banyak orang. Sekelompok kecil murid menanyakan kepada-Nya arti perumpamaan tersebut (Lukas 8:9); Matius mencatat bahwa mereka juga bertanya kepada-Nya mengapa Dia menggunakan perumpamaan (Matius 13:10).
Orang-orang yang mendengar Yesus diwakili oleh tiga jenis tanah (Lukas 8:5-7). Dengan berbicara dalam perumpamaan, Yesus memberikan ujian kepada orang-orang. Ada orang-orang yang mendengar Injil tetapi tidak berupaya untuk menanggapinya dengan serius dan membiarkannya mengubah hidup mereka. Jika mereka memilih untuk merenungkan perumpamaan tersebut dan menerima maknanya, mereka lulus ujian dan terbukti menjadi murid-murid-Nya. Jika perhatian mereka teralihkan oleh kesulitan dan kesenangan dunia, itulah keputusan mereka – mereka memilih untuk tidak mencoba memahami, dan karena itu mereka tidak akan memahaminya.
Apa yang terjadi di zaman Yesus berarti nubuatan Yesaya masih digenapi sampai sekarang – dimana-mana ada orang-orang yang masih menolak Firman Tuhan. Bahkan itu terjadi di gereja, di kalangan orang mengaku Kristen. Selama pelayanan-Nya, keluarga Yesus dan para imam serta orang-orang Farisi gagal dalam ujian tersebut. Namun keluarga-Nya dan banyak pemimpin agama kemudian menjadi percaya (Kisah Para Rasul 1:14; 6:7). Kondisi penolakan Kristus dapat bersifat sementara.
Lukas berfokus pada tanggung jawab manusia untuk mendengarkan ketika Firman Tuhan disampaikan. Mereka yang tidak mengikuti Kristus perlu mendengar bahwa keselamatan adalah bagi mereka yang bertobat dan percaya. Mereka yang ingin menjadi orang percaya, perlu mengalami pengudusan setiap hari melalui bimbingan Roh Kudus. Adalah penting untuk setiap orang Kristen untuk tidak mendukakan Roh KUdus yang akan membimbing mereka ke arah kebenaran.
“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Yohanes 16:13
Bagi kita, ini berarti kita perlu membaca Alkitab dan merenungkan apa yang dikatakannya serta melaksanakannya dalam hidup kita.. Mazmur 119:27 adalah sinopsis yang bagus dari pasal ini: “Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.” Inilah maksud Lukas dalam pasal ini. Kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Ketika Tuhan mengungkapkan kebenaran-Nya, kita bertanggung jawab untuk mendengarkan dan menerimanya, dan kemudian melaksanakannya. Tetapi, sebagian orang Kristen percaya bahwa sekali percaya, mereka akan tetap percaya sekalipun tidak melaksanakan firman-Nya.
Bangsa Israel pada zaman Yesaya mempunyai kebenaran Allah dalam Hukum Taurat, namun mereka menjalaninya dengan setengah hati. Mengikuti Tuhan dengan setengah hati itu berbahaya. Hal ini mungkin terlihat baik dari luar, namun hal ini menunjukkan iman yang sangat lemah sehingga tidak dapat menyelamatkan (Yakobus 2:26). Jadi, Tuhan menghilangkan sedikit pemahaman yang dimiliki bangsa Israel; seperti yang kemudian Yesus katakan,
“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” (Lukas 8:18 ).
Orang Kristen yang bersikeras bahwa Allah tidak akan pernah menempatkan penghalang antara kebenaran dan manusia adalah orang yang memberontak; mereka bahwa Yesus adalah batu sandungan (1 Korintus 1:23). Memang benar bahwa Allah “sabar terhadap kamu, tidak menghendaki supaya ada yang binasa, tetapi supaya semua orang bertobat” (2 Petrus 3:9). Namun Dia juga mengatakan kepada para murid bahwa jika suatu kota tidak menerima kabar baik-Nya, para murid harus “mengebaskan debu dari kakimu sebagai kesaksian terhadap mereka” (Lukas 9:5).
Ketika seseorang dengan sengaja mengeraskan hatinya terhadap Tuhan, Dia berhak dan bisa menghilangkan hambatan itu. Hati yang mengeras, bukan kejahatan, adalah alasan Yesus berbicara dalam perumpamaan. Mereka yang hatinya melunak terhadap Kristus dan kebenaran-Nya, seperti para murid yang bertanya, akan mencari maknanya dan menghasilkan buah (Lukas 8:8). Mereka yang memiliki hati yang keras tidak akan membiarkan Firman Tuhan masuk ke telinga mereka, mengabaikan semua itu dan malah membiarkan musuh mengambilnya (Lukas 8:5). Bagi mereka ini sampai akhir hidup tidak akan ada karunia untuk mengerti arti kebenaran.
Kata “rahasia” mengacu pada sesuatu yang bersifat pribadi, atau tidak diungkapkan, yang berasal dari pengetahuan Tuhan. Sekalipun hati seseorang lembut terhadap kebenaran Tuhan, bukan berarti kebenaran itu mudah dipahami secara perorangan. Para murid menanyakan maksud Yesus, dan Dia memberikannya (Lukas 8:11-15). Saat ini, setiap orang percaya memiliki Roh Kudus (1 Korintus 2:10-16), dan Tuhan telah memberikan itu kepada sanak keluarga dan teman-teman yang sudah percaya. Sejak hari pertama, gereja mengandalkan komunitas dan pengajaran para pemimpin untuk mengungkapkan kebenaran-Nya (Kisah Para Rasul 2:42). Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengerti arti firman Tuhan haruslah mau untuk belajar bersama-sama dengan orang seiman, di persekutuan dan di gereja. Jika kita masih tidak percaya kepada kebenaran dan melaksanakannya, itu adalah pilihan kita. Kesabaran Tuhan ada batasnya.
“Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.” Lukas 12: 45-46
Bacaan: Lukas 12:37-48
Hari Minggu ini saya ke gereja seperti biasanya. Apa yang tidak biasa adalah bahwa khotbah hari ini agaknya bernuansa lain. Faktanya, pendeta saya menyebutkan menyebut nama pendeta abad 18 yang terkenal, John Wesley, sebagai orang Kristen yang patut ditiru cara hidupnya karena beliau selalu siap menghadapi kedatangan akhir zaman. Beliau selalu tekun mengerjakan tugas sehari-hari tanpa memikirkan kapan Tuhan Yesus akan datang kembali.
Selalu siap untuk menghadap Tuhan adalah hal yang mungkin kurang dipikirkan orang Kristen di zaman ini. Karena tanda-tanda akhir zaman sudah dicanangkan sejak dulu, orang-orang di zaman ini mungkin berpikir bahwa mereka bisa hidup semaunya selagi masih bisa. Mengapa mereka hidup secara terang-terangan melanggar hukum Tuhan dengan berbagai perbuatan jahat, kekejaman, dan hawa nafsu? Apakah mereka ditakdirkan Tuhan untuk ke neraka?
Jika kita membaca ayat di bawah ini, mungkin kita bisa menemukan sebuah penjelasan, sekalipun ini bisa membuat kita bingung.
“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.” 2 Tesalonika 2:9-12
Memang, ketika ayat 2 Tesalonika 2:9-12 dibahas, dinyatakan bahwa orang durhaka dihukum karena mereka tidak mau percaya kepada Tuhan. Kalau dibalik, tentunya orang dibebaskan dari hukuman karena mereka menerima dan mengasihi kebenaran (Kristus) yang dapat menyelamatkan mereka. Ini hanya bisa terjadi katena dimungkinkan oleh Tuhan. Lalu apakah Tuhan yang membuat orang tertentu tidak percaya?
Ayat-ayat dari Lukas dan Tesalonika di atas adalah bagian Alkitab yang sulit dimengerti oleh banyak orang Kristen. Apakah Tuhan menakdirkan sebagian manusia ke neraka dan orang lain ke surga? Bagi sebagian orang Kristen, ini adalah kebenaran – karena jika kita dapat diselamatkan semata-mata karena pilihan Tuhan, maka mereka yang tidak terpilih bisa dianggap “dipilih untuk ke neraka”. Masalahnya, apakah Tuhan hanya membuka dua kemungkinan. Apakah surga dan neraka itu seperti sebuah koin mata uang yang hanya memiliki dua muka?
Tokoh gereja John Wesley tidak berpikir demikian. Saya juga tidak berpendapat begitu. Ayat-ayat di atas jelas menggambarkan orang-orang, yang karena perbuatan mereka sendiri, akan masuk neraka, Dalam Lukas, digambarkan bahwa orang-orang yang dipilih sang tuan untuk menjadi hambanya ternyata berlaku kejam dan bermabuk-mabukan ketika tuannya tidak ada di rumah. Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja melawan kehendak tuannya dan karena itu mendapat hukuman mati, supaya senasib dengan orang-orang jahat yang lain. Orang Kristen yang tidak setia, mendapatkan hukuman karena perbuatan mereka sendiri. Hamba-hamba, umat pilihan, yang tidak mau bertobat, akan sama nasibnya dengan orang yang tidak terpilih.
Ayat-ayat dari 2 Tesalonika kemudian menggambarkan bahwa ada orang -orang yang karena pekerjaan Iblis, bisa melakukan perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang lain. Orang-orang ini harus binasa bukan karena mereka disesatkan oleh iblis dan pengikutnya, tetapi karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran (Kristus) yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Tuhan membiarkan mereka sesat, sehingga mereka percaya akan dusta-dusta di atas. Dengan demikian, Tuhan akan mencapai rencana-Nya untuk menghukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang lebih suka melakukan kejahatan.
Dari Lukas 12 dan 2 Tesalonika 2, dapat disimpulkan bahwa sekalipun ada orang-orang yang tidak dipilih Tuhan untuk ke surga (Tuhan memiliki hak untuk memilih mereka yang akan ke surga dan mereka yang tidak akan ke surga), tetapi semua orang yang gagal untuk menjadi hamba yang setia dan takut akan Tuhan, dihukum karena mereka tidak mau menerima dan mengasihi Tuhan yang berkuasa atas diri mereka, Hamba-hamba yang dipilih Tuhan, tapi pada kenyataannya lebih senang untuk menjadi orang-orang durhaka, yang asusila, dan yang sengaja hidup dalam dosa, akan menerima nasib yang sama dengan orang-orang yang tidak terpilih.
Jika ada hamba-hamba yang tahu akan kehendak Tuhan tetapi sengaja melanggarnya, hukuman yang berat akan menunggu. Lalu bagaimana nasib mereka yang kurang tahu akan kehendak Tuhan? Lukas 12: 47-48 menyatakan:
“Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”
Jika kita sudah lama menjadi orang Kristen, rajin ke gereja tetapi tetap hidup dalam dosa, sudah tentu tidak ada alasan bagi kita untuk menolak hukuman Tuhan! Kutukan kekal, sebagaimana disebutkan dalam Markus 3:29, adalah konsekuensi dari penolakan atas dorongan batin dari Roh Kudus untuk bertobat dari dosa dan percaya kepada Yesus Kristus.
”Tetapiw apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus 3:29
Apakah yang akan terjadi pada orang-orang yang selama ini dengan sadar memilih hidup di luar Tuhan? Ayat 2 Tesalonika 2: 11-12 menyatakan bahwa Tuhan mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya bahwa apa yang mereka rasakan dan nikmati adalah baik. Mereka yang lebih suka hidup dalam dosa akan dibiarkan Tuhan untuk hidup makin sesat, sehingga pada akhirnya mereka tidak dapat menerima pengampunan.
Lalu, apakah orang-orang yang durhaka tidak lagi mempunyai harapan? Apakah tidak ada gunanya bagi kita untuk mengingatkan dan mendoakan mereka? Teolog terkenal John Piper membahas pertanyaan ini dan menyatakan bahwa siapa pun yang mau bertobat akan mendapat pengampunan. Hamba yang sudah bersalah kepada tuannya mungkin tidak akan dihukum berat jika ia mengakui kesalahannya dan menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya atas kesalahannya. Semua orang yang bertobat dan menerima Kristus akan diselamatkan.
Pagi ini kita harus sadar bahwa Alkitab sudah memberitakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus selalu berjaga-jaga, tanpa memikirkan kapan Yesus akan datang. Kita harus siap setiap waktu karena kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Kita sebaliknya tahu bahwa karena kita mengaku Kristen dan mengetahui apa yang sudah difirmankan Tuhan, kepada kita diberikan tanggungjawab yang lebih besat untuk hidup dalam kebenaran setiap hari. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi banyak pengetahuan tentang kebenaran Kristus, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Karena itu, baiklah kita menggunakan hidup kita untuk bekerja keras dan menghindari dosa demi kemuliaan Tuhan.
“Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.” 2 Tesalonika 3:16
Kitab 2 Tesalonika 3:16–18 mengakhiri surat Paulus yang kedua kepada jemaat Tesalonika dengan sebuah doa, sebagai tanda bahwa suratnya asli dan bukan palsu, dan merupakan ucapan syukur. Surat Paulus ini sebenarnya dimulai dengan kecaman terhadap para pengacau gereja, namun justru diakhiri dengan pujian, ketika Paulus menyerahkan gereja kepada Tuhan dan kasih karunia-Nya.
Dalam ayat ini Paulus memohon kepada Tuhan, yang merupakan sumber kedamaian (Yohanes 14:27; Roma 5:1), untuk memberikan kedamaian-Nya kepada gereja di Tesalonika. Gereja sedang mengalami pencobaan, penganiayaan, dan masalah di dalam. Hal ini disebabkan oleh beberapa anggota yang tidak tertib, namun damai sejahtera Tuhan dapat menyelimuti jemaat dan menenangkan para anggotanya. Keinginan Paulus adalah agar damai sejahtera Tuhan senantiasa menyertai gereja dan dalam segala situasi.
Menarik untuk dicermati bahwa ia berdoa bukan hanya agar damai sejahtera Tuhan menyertai jemaat Tesalonika, namun juga agar “Tuhan damai sejahtera” menyertai mereka secara perseorangan. Lebih lanjut, ia berdoa agar perdamaian ini menyertai “sekalian” umat beriman di Tesalonika.
Di awal suratnya, Paulus merujuk pada rekan-rekan Kristen yang berbuat dosa karena kemalasan dan gosip. Bagaimanapun juga, doa ini ditujukan untuk orang-orang yang bermalas-malasan dan juga untuk orang-orang Kristen yang taat. Itu untuk mereka yang melalaikan tugas dan juga para pekerja yang giat.
Jika Gereja yang penuh damai mengalami sukacita Tuhan serta kedamaian-Nya (Filipi 4:2-7), gereja bisa memberikan kesaksian yang baik kepada mereka yang terhilang (Filipi 2:14-15). Begitu juga, orang Kristen yang merasakan kedamaian dalam Tuhan bisa menjadi saksi yang hidup untuk orang di sekitarnya. Tetapi ini tidak mudah dijalankan.
Dalam hidup, kebanyakan orang tentu pernah merasa takut dan kuatir. Rasa takut dan kuatir adalah salah satu mekanisme pertahanan diri manusia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, mereka yang kurang bijak, mungkin memilih hidup semaunya sendiri. Mereka mungkin jarang terlihat kuatir atau takut, tetapi jika mereka mengalami kejadian yang benar-benar menakutkan dan di luar dugaan, mereka tidak akan bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang mahakuasa untuk menghilangkan rasa takut mereka.
Sebagai orang Kristen, rasa takut, kuatir dan bimbang tetap ada. Kita mungkin berusaha mengingatkan diri kita sendiri ketika kita putus asa, “Jangan putus asa, Jangan cemas, Jangan takut, Tuhan akan menyertaimu kemanapun kamu pergi” . Jika Anda bisa mengucapkan kata-kata itu dan mengingatnya karena itu berasal dari janji di dalam Alkitab, Anda akan bisa juga berkata, “Terima kasih Tuhan. Saya akan mengambil langkah dengan keyakinan di masa depan.” Dan pada saat itu suatu ketenangan batin telah Anda nikmati, dan persekutuan dengan Tuhan telah Anda alami. Tetapi itu lebih mudah untuk dibayangkan daripada untuk dirasakan. Damai sejahtera memang tidak dapat diusahakan, itu harus diminta dari sumbernya.
Hari ini kita membaca kata-kata yang memberi semangat dan penghiburan yang diucapkan oleh Paulus kepada kita. Jika Kristus adalah kebenaran kita, Kristus adalah penolong kita yang selalu hadir pada saat kesusahan; dan Kristuslah yang kasih karunia-Nya selalu mencukupi segala kebutuhan kita setiap hari, karena Kristuslah yang menjadi pelindung kita.
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41:10