Tuhan adalah pelindung kita

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8:31

Siapa pun orangnya, pasti ia pernah merasakan kesengsaraan. Anda percaya itu? Mungkin Anda membantah dengan memberikan sebuah contoh di mana sesorang nampaknya selalu hidup dalam kecukupan, untuk tidak dikatakan dalam kelimpahan, dan keluarganya terlihat hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Tetapi, itu mungkin bukan kisah kehidupan manusia yang benar-benar terjadi di dunia. Mungkin hanya ada dalam cerita saja, sebab Alkitab menyatakan dengan jelas:

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh m engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17-19

Selama di dunia, hidup anak Tuhan juga tidak luput dari kesusahan dan kematian, tetapi dalam Roma 8 ada pernyataan tentang keamanan mutlak umat Kristen di hadapan Allah. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya Injil, kita sekarang hidup di dalam Roh Allah. Itu memungkinkan kita menyebut Tuhan sebagai Abba atau Bapa. Saat ini, kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama seluruh ciptaan sementara kita menunggu Allah menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan bantuan Roh, kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita dan mengasihi kita di dalam Kristus, sekalipun hidup kita terasa berat.

Jika penderitaan karena sakit, kemiskinan dan kelaparan mungkin lebih sering menimpa mereka yang hidup dalam kekurangan, bencana alam atau peperangan, kesulitan hidup bisa juga terjadi karena adanya orang-orang yang memusuhi kita. Tentu saja, siapa pun mungkin menentang kita; karena secara harfiah, orang atau kelompok mana pun mungkin mencoba menentang atau menyusahkan kita karena berbagai hal seperti perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan. Selain itu, dalam kehidupan keluarga, kita mungkin juga merasakan adanya pertentangan dengan saudara, orang tua, anak, menantu dan sebagainya.

Dalam hal ini, pertanyaan Paulus adalah siapakah yang bisa melawan kita jika kita hidup dalam terang-Nya? Apa yang ingin dicapai oleh orang yang menentang kita, jika Tuhan sendiri ada di pihak kita? Apakah ada kemungkinan seseorang dapat menggagalkan maksud Allah untuk menyelamatkan mereka yang dibenarkan karena iman kepada Anak-Nya? Pertanyaan ini bersangkutan dengan pertanyaan utama: apakah kita percaya Tuhan benar-benar ada untuk kita? Paulus menawarkan jawaban pasti atas pertanyaan itu dalam ayat-ayat berikut.

Roma 8:31-39 adalah ayat-ayat yang paling membesarkan hati dan meneguhkan dalam seluruh Firman Allah. Paulus telah menegaskan bahwa Allah ada bagi kita semua yang ada di dalam Kristus; bagi mereka yang telah diselamatkan oleh iman mereka. Tuduhan atau tuduhan apa pun terhadap kita tidak dapat menjatuhkan kita karena Allah telah menyediakan pembenaran kita dan Kristus menjadi perantara bagi kita. Hal-hal sulit memang akan terjadi selama kita hidup di dunia. Namun, tidak satu pun dari hal-hal tersebut yang akan membuat Bapa kita berhenti mengasihi kita, juga tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang merupakan tanda bahwa Dia telah meninggalkan kita. Keselamatan kita terjamin sepenuhnya karena kasih-Nya yang besar, dan itu kekal adanya. Sekali selamat tetap selamat.

Paulus terus memberikan dorongan kepada orang-orang Kristen di sisi kekekalan ini. Benar bahwa kita menderita, sama seperti seluruh ciptaan, saat kita menunggu untuk dimuliakan bersama Tuhan selamanya. Meskipun kita menderita, bukan berarti Tuhan tidak menyertai atau mendampingi kita. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus telah menunjukkan bahwa Allah sedang bekerja untuk menyelesaikan suatu tujuan dalam diri kita yang telah Ia rencanakan bahkan sebelum Ia membentuk dunia.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Efesus 1:4

Sekali lagi, dalam ayat ini, Paulus berbicara dari sudut pandang orang percaya Kristen yang sudah diselamatkan. Yang dimaksud dengan “kita” di sini tidak mencakup seluruh umat manusia, tetapi hanya mereka yang telah menerima Kristus dalam iman. Tujuan Tuhan dalam memilih kita adalah unyuk menjadikan kita serupa dengan Kristus, dan Allah menggunakan “segala sesuatu” untuk menyelesaikan proses ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Mengingat fakta bahwa Allah telah mengenal kita dari awalnya, Dia menentukan nasib kita, memanggil kita, membenarkan kita, dan akan memuliakan kita, Paulus sampai pada kesimpulan yang tidak dapat disangkal: Allah pasti ada di pihak kita. Allah harus ada bagi kita semua yang ada di dalam Kristus karena iman. Sungguh pemikiran yang luar biasa dan mengubah hidup. Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala sesuatu, diperuntukkan bagi kita. Dengan Dia di pihak kita, siapakah yang mungkin bisa melawan kita?

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30

Antara orang dalam dan orang luar

“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4:5-6

Dalam ayat di atas ada kata “orang-orang luar”. Apa maksudnya? Apakah itu orang-orang yang tidak termasuk segolongan, serumah, sekawan, sekantor dan sebagainya? Ya, memang dengan adanya kata “orang luar” tentunya ada kata “orang dalam”, yaitu orang yang kita kenal dengan baik, yang bisa kita percaya. Tetapi, itu bukan maksud ayat di atas. Kata “orang luar” di atas ditujukan kepada orang yang belum percaya kepada Kristus, yang dalam kenyataannya bisa saja adalah sanak saudara kita yang kita kenal sebagai “orang dalam” dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang sering menimbulkan masalah dan kesedihan bagi orang Kristen yang berusaha membawa sanak saudara dan teman-teman ke arah pengenalan akan Yesus, Sang Juruselamat.

Ayat di atas juga bisa membawa kebingungan bagi kita karena Paulus mengajak kita untuk memberi perhatian kepada orang luar. Bukankah kita tidak perlu memikirkan hidup orang luar jika kita ingin mengikut Dia? Dalam hal ini, Yesus pernah berkata bahwa Ia membawa perpecahan di antara orang-orang dalam karena siapa yang mau mengikut Dia, tidak boleh mengutamakan sanak saudara.

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:34-37

Perintah Paulus sudah tentu berhubungan dengan misi orang percaya. Amanat Agung dari Yesus menyatakan bahwa sesudah menjadi “orang dalam”, kita harus mau membetitakan Injil kepada orang luar.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 26:19

Bagaimana kita bisa bergaul dan berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di luar Kristus? Salah satu bagian dari pemberitaan Injil (Kolose 4:3-4) bisa dijumpai dalam tindakan orang percaya terhadap orang yang tidak percaya. Dua prinsip penting disajikan di sini.

Pertama, kebijaksanaan atau kearifan harus digunakan sehubungan dengan tindakan kita terhadap orang-orang yang tidak percaya. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan harus konsisten, seiring berjalannya waktu, dan satu sama lain, agar pesan Yesus dapat disampaikan dengan jelas.

Sejauh ini, Paulus menggambarkan penginjilan sebagai sebuah karya doa (Kolose 4:2-3), sebuah karya komunikasi yang jelas (Kolose 4:4), dan sebuah hikmah, serta pemanfaatan setiap kesempatan (Kolose 4:5). ). Prinsip kelima untuk penjangkauan yang efektif diberikan di sini, gagasan tentang ucapan yang ramah atau baik hati. Sekalipun mereka yang belum mengenal Kristus tidak menyenangi kita, kita tetap harus mau melakukan pendekatan dengan kasih.

Paulus dalam ayat di atas menggunakan metafora garam. Garam, pada zaman Paulus, cukup berharga untuk digunakan sebagai uang, dan dihargai karena kemampuannya mengawetkan dan memberi rasa pada makanan. Dengan cara yang sama, perkataan seorang Kristen harus bermanfaat dan berharga, “diberi rasa” yang berbeda dari ucapan orang-orang yang tidak beriman, dan melestarikan pesan Kristus. Cara hidup dan tindakan kita yang bisa terlihat atau dirasakan orang lain tidak boleh terasa hambar bagi mereka.

Adanya tambahan garam tentu mengubah rasa makanan. Dalam hal ini, penggunaan metafora ini oleh Paulus mempunyai lebih dari satu makna. Perkataan orang percaya adalah untuk melestarikan pesan Kristus, membantunya menjangkau sebanyak mungkin orang secara efektif. Apa yang dikatakan oleh seorang Kristen harus memberi nilai tambah pada percakapan; kata-kata kita harus membangkitkan semangat atau membantu. Dengan demikian, kebenaran kehidupan Kristen kita yang telah diperbarui harus terlihat jelas dalam “rasa” yang berbeda dalam cara kita berbicara dan bertindak. Orang Kristen adalah orang dalam persekutuan dengan Kristus, dan karena itu tidak mungkin tetap hidup bergelimang dalam dosa seperti orang-orang luar. Orang Kristen yang tidak dapat menunjukkan terang Kristus adalah orang-orang Kristen palsu yang justru menjauhkan orang-orang luar dari pintu masuk kerajaan surga.

Prinsip kedua, Paulus juga menyatakan bahwa orang-orang dalam harus memanfaatkan waktu yang ada secara efektif. Beberapa terjemahan mengartikan frasa ini sebagai “memanfaatkan setiap peluang sebaik-baiknya”. Setiap momen kehidupan kita adalah penting dan harus dimaksimalkan dalam pelayanan kepada Kristus. Lebih dari kebanyakan orang, Paulus sangat menyadari hal ini, karena dia telah dipukuli, dipenjarakan, dan mengalami karam kapal selama pelayanannya. Perspektif ini mengilhami Paulus untuk dengan berani dan bersemangat memberitakan kabar baik tentang iman kepada Yesus kepada orang-orang yang belum percaya.

Menggunakan waktu yang ada untuk memberitakan Injil adalah bagian penting dari kehidupan kita karena waktu yang kita punyai adalah singkat. Baik karena kecelakaan, peristiwa alami, atau kedatangan Kristus kembali, setiap orang dapat bertatap muka dengan Tuhan kapan saja. Orang-orang percaya harus dimotivasi oleh pengetahuan bahwa orang-orang luar yang ada di sekitar kita, dan itu termasuk anggota keluarga kita, akan mati terpisah dari Kristus kecuali mereka mendengar dan menerima Injil.

Aspek penting dari penginjilan adalah kemampuan menjawab pertanyaan orang-orang luar dengan ramah. Petrus juga mencatat pentingnya bidang pelayanan ini, dengan mengatakan:

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” 1 Petrus 3:15

Mengkomunikasikan Kristus mencakup penyampaian Injil yang positif dan kemampuan untuk mempertahankannya (Titus 1:9). Pengetahuan belaka bukanlah satu-satunya hal yang diperlukan. Untuk memberikan jawaban dengan cara yang benar-benar “Kristen”, seseorang harus menyampaikan kebenaran dengan kata-kata yang tepat dan sikap hidup yang benar.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Apakah Tuhan selalu mengabulkan doa kita?

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” Matius 7:7-8

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga pasal yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka memintanya.

Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk meminta, mencari, dan mengetuk, dengan janji bahwa setiap perbuatan akan mendapat pahala. Dia memperjelas bahwa Dia berbicara tentang doa: meminta dari Bapa, mencari dari Bapa, secara simbolis mengetuk pintu Bapa. Beberapa komentator berpendapat bahwa kata-kata ini menyiratkan suatu peningkatan usaha. Ada kemungkinan bahwa “meminta” berarti membuat permintaan, “mencari” berarti kegigihan atau semangat, dan “mengetuk” berarti kegigihan yang terus menerus.

Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang meminta kepada Tuhan akan menerima jawaban. Setiap orang yang mencari Dia akan menemukan Dia. Pintu dibukakan bagi siapa saja yang mengetuk. Dengan melibatkan semua orang, Yesus menunjukkan bahwa respons Allah terhadap doa tidak didasarkan pada kebaikan orang yang berdoa, namun pada kebaikan Allah. Kita semua tahu bahwa di antara semua orang, ada yang tidak layak. Tuhan tahu bahwa semua orang tidak layak. Yesus menunjukkan bahwa Bapa-Nya tidak hanya menjawab doa-doa orang yang super religius, seperti orang Farisi (Matius 5:20). Dia siap menjawab permohonan, pencarian, dan ketukan tulus setiap umat-Nya. Hanya saja, kita harus sadar bahwa jawaban Bapa belum tentu sama dengan yang kita harapkan.

Kebanyakan orang sering berdoa ketika perlu untuk mendapatkan apa yang diingininya. Itu mungkin kesembuhan, perlindungan, keberhasilan dan sebagainya. Hal ini bisa dimaklumi karena manusia pada umumnya tidak menyadari bahwa mereka seharusnya berdoa untuk apa yang dibutuhkannya. Manusia sering tahu apa yang diingini, tetapi tidak sadar akan apa yang dibutuhkan. Tuhanlah yang sepenuhnya tahu apa yang kita butuhkan dan Ia selalu memberikannya pada waktu yang tepat.

Ada orang yang menyamakan doa dengan restu, permohonan, ucapan kasih dan lain-lain. Karena itu banyak “doa” yang diucapkan orang yang berisi kata-kata yang indah dan membawa harapan. Tetapi, bagi orang Kristen doa adalah sebuah komunikasi manusia dengan Allah Sang Pencipta melalui Yesus Sang Penebus. Dengan demikian, untuk bisa berdoa dengan efektif tentunya orang harus mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan menyadari kedudukannya di hadapan Dia yang mahabesar. Doa yang sedemikian memang dapat membawa banyak kebaikan.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Jika Tuhan menghendaki kita berdoa kepadaNya, itu sudah tentu berguna untuk memupuk hubungan yang baik dengan Dia. Dengan hubungan yang baik itu, kita bisa mengerti kasihNya yang besar yang menyertai kita setiap saat. Selanjutnya, kita bisa mengerti apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita dan menyadari apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup, dan bukan apa yang kita ingini.

Mungkin Anda pernah membaca bahwa Paulus ingin agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan fisik yang ada sejak lama. Ia tiga kali berseru kepada Tuhan untuk menolongnya, tetapi Tuhan tidak menuruti permohonannya. Mengapa demikian? Dari ayat itu juga kita membaca bahwa apa yang diingini Paulus bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan. Paulus berdoa untuk apa yang diingininya, tetapi Tuhan memberi apa yang dibutuhkannya.

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 8 – 9

Dalam penderitaannya Paulus membutuhkan kekuatan dari Tuhan. Dalam keadaan sedemikian, apa yang ia perlukan adalah keyakinan bahwa Tuhan mengasihi dia dan menguatkan dia. Karena itu Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu Paulus tidak bersedih hati ketika doanya tidak mendatangkan apa yang diingininya. Sebaliknya ia bermegah atas kelemahannya, karena ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Pagi ini, jika anda ingin berdoa kepada Tuhan karena adanya sesuatu yang diminta, biarlah itu disampaikan karena adanya hubungan yang baik antara anda dengan Tuhan. Dengan bimbingan Tuhan, anda akan dapat melihat perbedaan antara apa yang anda inginkan dan apa yang anda butuhkan. Apa yang anda butuhkan adalah sesuatu yang memperkuat hubungan antara anda dengan Tuhan. Sebaliknya, apa yang anda inginkan mungkin justru bisa menjauhkan anda dari kasih karunia dan penyertaanNya. Tuhan yang mahakasih tahu apa yang terbaik untuk kita semua.

“Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8

Kita bertanggungjawab atas cara hidup kita

“Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Matius 13:15

Sekelompok besar orang mengikuti Yesus dari tempat Dia mengajar di akhir pasal sebelumnya ke tepi Laut Galilea. Begitu banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya sehingga mereka semua tidak dapat melihat dan mendengar-Nya. Untuk mengatasi hal ini, Yesus naik perahu dan duduk agak jauh dari pantai. Orang banyak berdiri di pantai dan mendengarkan ketika Dia mulai mengajar mereka dalam perumpamaan yang kita kenal sebagai perumpamaan tentang seorang Penabur (Matius 13:1–3).

Perumpamaan biasanya merupakan cerita pendek yang dirancang untuk menekankan kebenaran yang lebih besar. Tujuan utama perumpamaan adalah untuk membuat gagasan besar atau abstrak lebih mudah dipahami. Dengan menghubungkan sesuatu dengan pengalaman yang lebih umum, perumpamaan membuat konsep yang lebih dalam menjadi lebih mudah diakses. Pada saat yang sama, karena mengandalkan simbolisme dan metafora, perumpamaan bisa saja menjadi agak kabur. Para murid meminta Yesus untuk menjelaskan setidaknya satu hal kepada mereka, dan itulah yang Dia lakukan dalam pasal ini.

Namun, Yesus sengaja menghindari menjelaskan arti perumpamaan tersebut kepada orang banyak. Dia memberi tahu para murid bahwa telah diberikan kepada mereka untuk mengetahui rahasia kerajaan surga. Pada waktu itu, Israel pada umumnya, terutama para pemimpin agamanya, menolak peran Yesus sebagai Mesias dan kebenaran bahwa mukjizat-mukjizat-Nya dilakukan dengan kuasa Tuhan. Oleh karena itu, Yesus berkata bahwa mereka akan menggenapi nubuat nabi Yesaya tentang orang-orang yang berhati tumpul yang tidak mau melihat, mendengar, atau memahami. Idenya adalah bahwa ada orang-orang dari awalnya menolak, dan sebagai tanggapannya, Tuhan membiarkan kesalahpahaman mereka sebagai bentuk penghakiman. Namun, murid-murid Kristus diberkati karena dapat melihat dan mendengar apa yang ingin dilihat dan didengar oleh banyak nabi dan orang benar sepanjang sejarah Israel (Matius 13:10–17).

Baik Yesaya maupun Yesus menjelaskan dua pesan utama. Pertama, masyarakat, termasuk para pemimpin agama, menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias meskipun telah mendengar perkataan-Nya dan melihat mukjizat-mukjizat-Nya. Kedua, dan oleh karena itu, Tuhan telah memastikan mereka tidak akan bisa percaya meskipun mereka telah mendengar Yesus mengajar dalam perumpamaan dan melihat mukjizat lebih lanjut. Manusia harus bertanggung jawab karena menolak memahami apa yang sudah jelas, dan sebagai akibatnya, Allah bertindak untuk menghalangi mereka untuk memahami hal tersebut di masa depan (Amsal 29:1).

Matius mencatat bahwa Yesus kemudian mengajar orang banyak melalui perumpamaan, sebagian untuk menggenapi pernyataan nubuat dalam Mazmur 78 (Matius 13:34–35). Ajaran spesifik ini berada dalam konteks respon Israel terhadap pelayanan Yesus. Meskipun ada persamaan yang berguna mengenai bagaimana Injil diterima atau ditolak, tujuan utama dari ajaran-ajaran ini bukanlah untuk memberikan ujian bagi keselamatan. Perumpamaan tentang penabur, khususnya, sering disampaikan dalam upaya untuk menjelaskan semacam “spektrum keselamatan”, yaitu beberapa macam tingkat keselamatan – dari yang tertinggi sampai yang tidak beremakna – namun ini bukanlah maksud dari pesan Yesus tersebut.

Perumpamaan pertama yang diajarkan kepada orang banyak adalah tentang seorang penabur yang sedang menanami ladang. Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, petani akan menebarkan benih tepat di tepi tanah yang telah disiapkan. Jadi, sebagian benih jatuh di jalur yang padat dan belum siap untuk ditanam; burung memakannya. Benih lainnya mendarat di tanah yang tipis dan mulai tumbuh, namun batuan di bawahnya menghambat pertumbuhan; kecambah itu mati karena gelombang panas. Benih-benih lainnya jatuh di antara duri-duri yang mencekik tanaman saat mereka tumbuh, sehingga menghambat pertumbuhannya. Akhirnya, beberapa benih mendarat di tanah yang subur dan bertumbuh dan memberikan hasil yang sangat besar (Matius 3:3-9).

Yesus menjelaskan—hanya kepada murid-murid-Nya—bahwa benih melambangkan firman kerajaan. Mereka yang tidak memahaminya adalah tanah yang keras di jalan tersebut. Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang keras kepala atau menentang, dan pesan-Nya bahkan tidak pernah bisa menembus ke permukaan. Bagaimana ini bisa terjadi tanpa seizin Yesus sendiri? Jika Yesus mahakuasa, tentu fiman-Nya akan bisa menerobos tembok hati setiap orang, kecuali Ia memang tidak bermaksud untuk memaksakan hal itu. Setan kemudian merenggut apa yang dikabarkan Yesus itu seperti seekor burung yang menyambar benih. Itu pun tentu dengan seizin Yesus.

Tanah berbatu melambangkan mereka yang tampaknya menerima kebenaran, namun tanpa kedalaman apa pun. Begitu kesulitan datang, mereka layu dan gagal. Duri mewakili persaingan kepentingan dunia, seperti uang dan kemasyhuran. Kehidupan yang terhimpit oleh gangguan-gangguan tersebut tidak mempunyai ruang untuk membiarkan kebenaran berkembang. Tanah yang baik adalah mereka yang menerima firman dan produktif dengannya, seperti yang dikehendaki oleh Sang Penabur (Matius 13:18-23).

Ketika Yesus bertanya kepada murid-muridnya apakah mereka memahami semua yang Dia katakan, mereka menjawab “ya”. Mereka tentu lebih paham tentang bagaimana kerajaan Tuhan itu nantinya, dibandingkan dengan apa yang mereka ketahui sebelumnya. Meskipun para murid bersikeras bahwa mereka tahu persis apa yang Yesus katakan, kejadian-kejadian selanjutnya dalam Injil Matius menunjukkan bahwa mereka masih kurang memahami sepenuhnya (Matius 13:51–52; 16:21–23; 26:6–13). Walaupun demikian, bagi orang-orang yang sudah dipilih-Nya, Yesus selalu mau membimbing mereka agar mereka makin dewasa dalam iman dan pengertian.

Bab ini diakhiri dengan perjalanan ke kampung halaman Yesus di Nazaret, di mana orang-orang menolak Dia meskipun Dia mempunyai hikmat dan mukjizat yang Dia lakukan. Karena mereka mengenal Dia—atau, lebih tepatnya, mengira mereka mengenalnya—mereka bahkan menolak untuk mempertimbangkan informasi baru. Faktanya, mereka terhina karena anggapan bahwa seseorang yang mereka anggap remeh ternyata begitu penting. Karena orang-orangnya tidak tulus dan tidak tertarik (Matius 7:6), Yesus hanya melakukan sedikit pekerjaan supranatural di sana (Matius 13:53–58). Orang-orang itu harus bertanggungjawab atas penolakan mereka.

Roma 1:20-21 memberi tahu kita bahwa sifat-sifat Allah yang tidak terlihat (kuasa-Nya yang kekal dan hakikat ilahi-Nya) jelas terlihat oleh semua orang, dan kita tidak punya alasan untuk tidak mengenali kehadiran-Nya. Pekerjaan regeneratif Roh Kudus mempersiapkan tanah—tanah di mana Injil diterima, ditaati, dan bertumbuh (Yohanes 16:8). Tetapi, mereka yang tidak mau mengakui adanya Allah yang berkuasa dalam hidup mereka, adalah orang-orang yang terus menerus menolak kebenaran, dan karena itu Allah berhak untuk menolak mereka.

Roma 9:17-18 menyatakan, “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan u hati siapa yang dikehendaki-Nya” Dari sudut pandang manusia, tampaknya salah jika Tuhan mengeraskan seseorang lalu menghukum orang yang telah dikeraskan-Nya. Namun secara alkitabiah, kita semua telah berdosa terhadap Allah (Roma 3:23), dan hukuman yang setimpal untuk dosa tersebut adalah kematian (Roma 6:23). Oleh karena itu, kekerasan dan hukuman yang dilakukan Tuhan terhadap seseorang bukanlah sesuatu yang tidak adil; itu sebenarnya penuh belas kasihan dibandingkan dengan apa yang pantas diterima seseorang dalam hidupnya.

Siapakah orang-orang yang sudah mengeraskan hati mereka sehingga Tuhan tidak lagi mau untuk mengingatkan mereka? Anda mungkin mengira bahwa mereka adalah bukan orang Kristen. Tetapi kita harus berhati-hati, karena jika kita tidak benar-benar percaya kepada Yesus dan berusaha untuk taat kepada-Nya, mungkin saja kita adalh tanah yang tidak berguna. Dalam hal ini, orang-orang yang mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan setiap minggu pun mampu mengeraskan hati mereka terhadap kebenaran yang mereka dengar. Mereka datang ke gereja, menengarkan firman, pulang ke rumah masing-masing, tetapi hidup mereka tidak pernah berubah. Mereka yang bukan tanah yang baik adalah orang-orang yang hanya berpura-pura atau merasa bahwa mereka adalah tanah yang subur. Mereka harus bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat selama hidup di dunia.

Ibadah belum tentu membawa kedamaian

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Timotius pasal 6 melengkapi instruksi Paulus yang sangat praktis kepada teman dan muridnya, Timotius. Fokus utama dari bagian ini adalah perilaku Kristen yang baik, dan menghindari kejahatan. Paulus memberikan beberapa kelemahan karakter yang umum terjadi pada guru-guru Kristen, yang sampai sekarang pun ada, yaitu yang mengajarkan doktrin palsu, yang tidak menekankan kesalehan dan yang hanya senang bertengkar dalam hal doktrin. Ia juga memberikan peringatan keras tentang bahaya doktrin kemakmuran dan materialisme. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan membuka diri terhadap dosa apa pun yang bisa dibayangkan. Timotius diberi mandat yang jelas untuk menjunjung tinggi iman dan kesaksiannya, disertai berkat dan dorongan dari Paulus.

Dalam ayat di atas ada kata “ibadah”. Apa artinya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” dipakai pada ayat yang sama. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Hidup saleh dengan rasa cukup memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang Kristen ingin untuk hidup damai dan berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

1 Timotius 6:3–10 menggambarkan kelemahan karakter yang umum terjadi di kalangan guru palsu. Mereka yang menolak menerima doktrin yang benar sering kali dicirikan oleh sifat-sifat seperti keras kepala, serakah, memfitnah, dan suka bertengkar. Penyebab utama dari kesalahan-kesalahan ini adalah keengganan atau ketidakmampuan untuk menerima kebenaran, dan kegigihan untuk berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang terihat lebih menarik. Misalnya, ajaran bahwa jika kita benar-benar beriman, kita pasti akan mendapat kelimpahan. Ajaran sedemikian membuat orang Kristen dan para pendetanya berlomba-lomba untuk mengejar kekayaan karena itu dianggap mencari berkat Tuhan. Paulus dalam hal ini justru memberikan penjelasan bagaimana dan mengapa keserakahan akan hal-hal duniawi dapat menghancurkan kehidupan seseorang.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen dan pendeta besar yang ingin kaya jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kehancuran. Mereka lupa bahwa iblis berkeliling seperti singa yang mengaum-aum, mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8).

Hidup manusia di dunia bukan hanya diisi dengan perbuatan, tetapi mencakup banyak hal seperti perkataan, pekerjaan, pikiran, tingkah laku, dan sebagainya. Dengan demikian, cara hidup manusia adalah sesuatu yang bisa membedakan keadaan manusia yang satu dengan yang lain. Kesalehan adalah hal yang membedakan orang Kristen sejati dengan orang yang hanya mengaku Kristen. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, sudah memperoleh hidup baru yang berpusat pada Dia, dan karena itu tidak lagi tertarik untuk mengejar kenikmatan duniawi. Mereka merasa cukup karena sudah dicukupkan oleh Tuhan.

Tubuh kita adalah rumah Allah

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20

Perayaan terbesar di Australia bagi komunitas LGBT yang beragam, Sydney Gay dan Lesbian Mardi Gras sudah berlangsung dari tanggal 16 Februari yang lalu dan akan diakhiri dengan parade besar di Sydney pada tanggal 3 Maret 2024. Perayaan pada tahun ini dikabarkan menncakup lebih dari 100 acara komunitas, pesta dansa, penampilan teater, dan konser musik, yang berlangsung selama 17 hari di musim panas. Para peserta dan pengunjung acara-acara ini bukan orang LGBT saja, tetapi juga orang-orang dan keluarga serta anal-anak mereka yang ikut merayakan kebebasan yang sekarang dimiliki oleh kaum LGBT di Australia. Sebagian gereja di Australia juga ikut mendukung golongan ini, dan bahkan mempunyai pendeta-pendeta yang termasuk kaum LGBT. Bagaimana respon gereja-gereja lain yang menolak cara hidup kaum LGBT ini?

Paulus menegur orang-orang Kristen di gereja di Korintus mengenai kehidupan seksual mereka. Rupanya, ada yang berpendapat bahwa karena tubuh kita akan mati dan membusuk, tidak jadi soal apa yang kita lakukan terhadapnya. Mungkin yang penting hanyalah semangat dalam diri kita. Demikian pula, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka sukai (1 Korintus 6:12-13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran ini.

Satu Korintus 6:12–20 menggambarkan keberatan Paulus terhadap jemaat Korintus yang bersikap santai terhadap percabulan. Di luar hukum formal dan literal, Paulus menekankan bahwa standar perilaku Kristen haruslah apakah suatu praktik itu bermanfaat atau malah memperbudak. Seks lebih dari sekedar fungsi tubuh; Tuhan merancangnya untuk menyatukan dua insan menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Kesatuan dengan orang lain menyeret Kristus, yang kepadanya kita juga dipersatukan, ke dalam kesatuan dengan kita. Tubuh kita akan dibangkitkan dan bahkan sekarang dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Gagasan bahwa tubuh kita tidak penting pada akhirnya salah. Tubuh seorang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat bait suci, tempat suci, yang menampung Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13-14). Secara misterius, kita membawa Roh-Nya dalam tubuh kita kapan saja, di mana pun kita berada, dan kemana pun kita pergi.

Dengan mengingat hal tersebut, Paul kini menambahkan, mereka sebenarnya bukanlah pemilik tubuh mereka. Tuhan sudah membeli kita. Dia membayar penebusan kita dari dosa dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus membeli jalan keluar kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi diri-Nya sendiri yang terkutuk (Galatia 3:13). Dalam hal ini, kita menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Itu sebabnya tubuh kita bukanlah milik kita sendiri yang bisa kita perlakukan sesuka kita. Kita bebas dalam arti bahwa kita telah terbebas dari hukum dosa dan maut (Galatia 3:13), namun kita tidak bebas dalam arti bahwa kita kini menjadi milik dan menentukan nasib kita sendiri (1 Korintus 6:12 –13). Hal ini memberi Dia wewenang tertinggi untuk memberi tahu kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dengan tubuh kita.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9-10

Penting bagi kita untuk memperhatikan argumen terakhir yang menentang imoralitas seksual. Ini hanya berlaku bagi orang beriman. Hanya mereka yang ada di dalam Kristus yang telah ditebus oleh darah-Nya dan dibawa dari kegelapan menuju terang (1 Korintus 1:12-13). Kata-kata ini bukan untuk mereka yang tetap berada dalam kegelapan. Paulus tidak memerintahkan orang-orang di luar gereja, yaitu orang-orang yang tidak percaya, untuk hidup sesuai dengan standar moralitas seksual Allah (1 Korintus 5:12). Dosa mereka tetaplah dosa, namun kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk mengenalinya (1 Korintus 2:14). Kita tidak dapat melarang mereka, dan tidak boleh membenci mereka sekalipun kita membenci apa yang mereka lakukan. Setiap orang bertanggungjawab atas hidup mereka sendiri.

Sebaliknya, mereka yang menjadi milik Tuhan—dan bukan milik mereka sendiri—lah yang diperintahkan untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh mereka. Hanya mereka yang berada di dalam Kristus yang mengerti apa perintah Tuhan, dan memiliki kesempatan untuk menggunakan tubuh mereka untuk memuliakan Dia. Faktanya, itulah tujuan tubuh kita yang dirancang Tuhan untuk melayani Dia. Berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan dan cara hidup yang bertentangan dengan firman Tuhan akan menghalangi kita sebagai orang Kristen untuk memenuhi tujuan hidup kita.

Menunggu dengan iman

“Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.” Mazmur 5:3 TB

“Sebab kepada-Mu aku berdoa, ya TUHAN, dengarlah seruanku di waktu pagi. Pagi-pagi kubawa persembahanku dan kunantikan jawaban-Mu, ya TUHAN.” Mazmur 5:3 BIS

Pernahkah Anda berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, tetapi seakan-akan Dia tidak mendengar doa Anda? Saya katakan “seakan-akan” karena sudah tentu tidak ada seorang pun yang bisa melihat Tuhan atau memastikan apakan Ia mendengarkan seruan kita. Jika kita lama menunggu jawaban-Nya, dan jawaban itu tidak kunjung muncul, kita mungkin merasa bahwa Tuhan mungkin mengabaikan doa kita. Dan itu sering juga terjadi dalam hidup setiap Kristen sejati, yang percaya sekalipun tidak melihat bahwa Ia selalu mendengarkan doa anak-anak-Nya.

Mazmur 5 dimulai dengan doa Daud yang mendesak agar Tuhan memperhatikan rintihan dan tangisannya. Ayat yang sama tapi berasal dari dua versi Alkitab yang berlainan saya tampilkan di atas, karena versi Terjemahan Baru (TB) ternyata justru yang paling berbeda jika dibandingkan dengan versi Alkitab lain, baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) terlihat adanya penekanan atas penantian dari si pembawa doa.

Dalam versi TB, Daud menyebut Tuhan sebagai Rajanya dan Tuhannya, dan versi BIS menunjukkan bahwa Daud berdoa di pagi hari dan menantikan jawaban Tuhan. Daud percaya bahwa Allah tidak menyukai orang jahat tetapi membinasakan orang-orang yang jahat, berdusta, haus darah, atau penipu. Dia mengantisipasi bahwa Tuhan yang mengasihinya akan mengizinkan dia memasuki tabernakel, di mana dia akan melakukan ibadah yang penuh hormat. Daud berdoa memohon pimpinan Tuhan agar dia bisa lolos dari musuh-musuhnya, yang dia identifikasi sebagai orang yang tidak memiliki kebenaran dan kejam. Dia berdoa lebih lanjut agar Tuhan membuat para pemberontak tersebut menanggung akibat pelanggaran mereka. Mazmur Daud ditutup dengan seruan kepada orang-orang benar untuk bernyanyi kegirangan saat mereka berlindung kepada Tuhan, dan Daud meminta Tuhan untuk memberkati dan melindungi orang-orang benar.

Mazmur 5:1–3 dimulai seperti Mazmur 4, ketika Daud berdoa kepada Tuhan dengan penuh perasaan. Nyanyian Daud ini mirip dengan Mazmur 3 dan 4. Ketiganya diciptakan oleh Daud ketika ia melarikan diri dari putranya yang memberontak dan suka membunuh, Absalom, ke padang gurun (2 Samuel 15-18). Doa Daud yang sangat intens bukanlah satu-satunya contoh pergumulan doa manusia yang mengalami masalah besar. Doa-doa intensif lainnya ada di Alkitab untuk meminta pertolongan Tuhan, termasuk doa Yunus dari dalam perut ikan besar (Yunus 2) dan doa Yesus di Taman Getsemani (Lukas 22:39–44; Ibrani 5:7). Mazmur 7:1–2 juga menyinggung doa khusyuk Daud agar diselamatkan dari kejaran musuh.

Daud memulai setiap hari dengan berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan mendengar suaranya. Dia mempersiapkan doanya sebagai pengorbanan kepada Tuhan. Jika para imam Israel mempersiapkan kurban hewan dengan menempatkan setiap potongan hewan secara berurutan di atas mezbah (Imamat 1:8) dan dengan meletakkan roti secara berurutan di atas meja di tabernakel (Imamat 24:8), dengan caranya sendiri Daud dengan cermat mengatur bagian-bagian doanyai secara berurutan di hadapan Tuhan. Daud adalah orang yang mampu berdoa seperti seorang biduan, dan itu karena Daud diberi kemampuan besar oleh Tuhan untuk berpuisi dan bernyanyi.

Mungkin kita tidak bisa berdoa dengan “luwes” seperti Daud. Itu bukan masalah. Tetapi, doa kita tidak harus kaku, formal, atau mekanis, sekalipun tidak boleh sembarangan. Jika kita menggunakan Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-13 sebagai contoh, kita akan menemukan beberapa komponen penting. Doa yang baik selalu mencakup pemujaan, penyerahan diri pada kehendak Tuhan, permohonan, pengakuan dosa, dan permohonan bimbingan.

Jika kita terbiasa dengan cara berdoa di gereja kita, doa pribadi tidaklah perlu mengikuti cara yang sama. Jika kita berdoa, kita dianjurkan untuk masuk ke kamar, dan karena itu kita bisa secara intim berdoa kepada-Nya.

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6

Daud menambahkan dalam Mazmur 5:3 bahwa dia tidak hanya berdoa tetapi juga berjaga-jaga. Ia konsisten dan penuh harap menantikan jawaban doanya. Doa bukan hanya berguna untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, tetapi juga melatih kita untuk bersabar dan berserah. Kita tidak dapat memaksa Tuhan dengan mengulang-ulang pemohonan yang sama. Kita tidak bisa mempengaruhi Tuhan dengan mengucapkan janji-janji besar kita untuk berbuat sesuatu jika Ia mengabulkan permintaan kita. Kita juga tidak dapat memaksa Tuhan dengan kemarahan kita. Kepada Yunus yang marah, Tuhan berkata: “Layakkah engkau marah?” (Yunus 4:2-11).

Pagi ini, jika kita berdoa, biarlah kita bisa berdoa seperti doa Daud di atas. Janganlah ragu untuk berseru kepada-Nya, janganlah lupa untuk mempersembahkan pujian kepada-Nya, dan berharaplah kepada pertolongan-Nya dengan iman.

Berjuang di dunia dengan berfokus pada hadiah surgawi

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.ebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” 1 Korintus 9:24-26

Di zaman ini, kita seing mendengar persoalan tentang hak azasi. Hak fundamental yang dipunyai oleh semua orang. Hak asasi manusia mencakup hak untuk hidup dan kebebasan, kebebasan dari perbudakan dan penyiksaan, kebebasan berpendapat dan berekspresi, hak atas pekerjaan dan pendidikan, dan masih banyak lagi. Setiap orang berhak atas hal-hal tersebut, tanpa diskriminasi. Ada banyak lagi hak yang dimiliki manusia, dan setiap orang sering merasa bahwa ia mempunyai hak-hak tertentu yang harus dihormati orang lain. Misanya, menurut kebudayaan Timur orang tua berhak mendapat dukungan anak-anaknya di hari tua, atau hak suami untuk diladeni istri, hak anak untuk menerima warisan, dan sebagainya. Inilah yang sering menimbulkan masalah karena membuat fokus kehidupan kita berubah. Ini juga bisa menimbulkan konflik dengan orang lain.

Orang Kristen memang tidak berbeda dengan orang lain dalam soal hak. Tetapi, Paulus mendorong umat Kristiani untuk rela menyerahkan “hak” mereka demi kebaikan orang lain. Paulus menunjukkan bahwa ia pun telah melepaskan hak-haknya, termasuk hak sebagai rasul untuk menerima dukungan keuangan dari orang-orang yang ia layani. Sebaliknya, ia bersyukur bahwa ia bisa melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Paul menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bersaing memperebutkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan dan berjuang untuk kebaikan orang lain, bukan mengejar keuntungan diri sendiri. Semua itu tentunya untuk kemuliaan Tuhan.

Paul kemudiam dalam ayat-ayat di atas mengubah metaforanya untuk menjadikan dirinya sebagai contoh. Ia telah menjelaskan apa yang harus dilakukan seorang atlet untuk memenangkan perlombaan, termasuk melatih pengendalian diri yang baik. Program pelatihan bagi para atlet di zaman Paulus mencakup komitmen untuk tidak mengonsumsi makanan, minuman, dan pengalaman sensual tertentu agar siap berkompetisi di level tertinggi. Dalam ayat sebelumnya, Paulus menunjukkan bahwa mereka melakukan semua ini untuk menerima karangan bunga setelah hidup di dunia berakhir. Paulus melihat dirinya bersaing untuk memenangkan jiwa bagi Kristus dan menerima penghargaan kekal atas usahanya. “Mahkota” seperti itu akan jauh lebih berharga untuk dipikirkan daripada apa yang hanya berguna untuk sementara di dunia.

Komitmen Paul untuk mengesampingkan kebebasan dan hak-haknya bukan sekadar pelaksanaan asal-asalan. Dia berusaha mendapatkan penghargaan dari Kristus atas seberapa baik dia berjuang untuk memenangkan orang agar percaya kepada Yesus melalui cara hidupnya. Dia sengaja hidup saleh seperti ini. Hal ini sesuai dengan tema utama metaforanya: bahwa orang Kristen harus berkomitmen pada iman seperti halnya seorang atlet yang berdedikasi pada olahraganya. Hal inilah yang jarang dibahas di gereja karena banyak orang Kristen yang percaya bahwa sesudah diselamatkan, kita tidak lagi perlu untuk berusaha hidup baik. Apalagi, ada orang Kristen yang berpendapat bahwa adalah tidak pantas bagi orang Kristen untuk memikirkan pahala dari Tuhan. Sebagai akibatnya, banyak orang yang mengaku Kristen masih hidup dalam kedagingan, mencari kenyamanan hidup di dunia.

Ayat 1 Korintus 9:24–27 membangun metafora yang membandingkan hidup di dunia dan hidup di surga. Paulus berusaha untuk membawa orang kepada Kristus, seperti seorang atlet yang berlatih untuk memenangkan hadiah. Keduanya secara sukarela menyerahkan hal-hal yang menjadi hak atau kenikmatan hidup mereka. Hal ini membutuhkan pengorbanan diri dan pendekatan yang keras terhadap perasaan sendiri. Para atlet melakukan ini demi kemenangan. Namun seorang atlet hanya bisa memenangkan karangan bunga yang akan cepat layu, atau sebuah medali yang akan terlupakan. Sebaliknya, Paulus bertujuan untuk memenangkan hadiah yang akan bertahan selamanya. Ia pun melatih dirinya dengan cara ini agar tidak gagal sebelum melewati garis finis.

Sekarang Paulus mengalihkan perhatiannya pada latihannya sendiri untuk mendapatkan hadiah ini. Dia menegaskan bahwa dia tidak berlari tanpa tujuan. Kemudian dia memasukkan kompetisi umum lainnya pada hari itu, tinju. Paul menulis bahwa dia tidak berlatih secara sembarangan. Petinju sering menggunakan “tinju bayangan” satau “shadow boxing” ebagai cara berlatih, di mana mereka menunduk dan menyerang lawan yang hanya dalam bayangan. Namun itu adalah alat pelatihan, bukan tujuan akhir dari pelatihan seseorang. Paul berencana untuk memenangkan pertarungan dalam hidup, untuk memberikan pukulan serius pada lawan yang sebenarnya. Dia mendisiplinkan dirinya untuk kompetisi yang sebenarnya, untuk hidup di dunia dan mengalahkan keinginan duniawinya.

Paulus mencatat bahwa umat Kristiani berlari untuk mendapatkan mahkota yang tidak dapat binasa – pahala yang diberikan oleh Tuhan Yesus di tahta penghakiman Kristus di garis finis dalam perlombaan yang disebut kehidupan Kristiani. Oleh karena itu, Paulus berlari sedemikian rupa untuk mendapatkan mahkota bagi dirinya. Dan dia berlari dengan setia sepanjang hidupnya. Pada akhir hayatnya, ia mengetahui bahwa Tuhan mempunyai mahkota untuknya.

Sebagai umat Kristen, selama hidup di dunia kita harus menyelesaikan tugas yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita akan berlari dengan baik. Paulus sudah berupaya mengajari kita cara menjalankan dengan baik sehingga kita juga dapat memperoleh mahkota yang tidak fana. Kita tidak harus pintar, atau berbakat, atau kuat. Faktanya dalam perlombaan ini bukanlah ide yang baik untuk bersandar pada pemahaman kita sendiri atau mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita adalah manusia yang lemah, yang ingin agar keinginan dan hak kita dipenuhi oleh orang lain. Tetapi kita bisa menjadi atlet Tuhan yang baik, jika kita tetap berjuang di dunia dengan berfokus kepada Tuhan.

Kita tahu persis ke mana tujuan kita. Tidak ada ketidakpastian sama sekali dalam pikiran kita. Kita tidak akan membiarkan apa pun menyebabkan kita menyimpang dari tujuan kita. Kehidupan di dunia memang memberikan banyak tantangan pada kita. Banyak hal, persoalan, atau orang yang membuat kita berpindah fokus. Tetapi, jika mata rohani kita tertuju pada hadiah surgawi itu, tidak ada yang akan mengganggu fokus kita.

Aturan emas yang dikenal manusia

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 7:11-12

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga pasal yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Secara singkat, pasal ini menyatakan hal Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka memintanya. Dia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memasuki gerbang sempit dan menempuh jalan yang sulit menuju kehidupan. Otang Kristen yang palsu dapat dikenali dari buahnya, yaitu tindakan dan pilihannya. Pada saat yang sama, amal ibadah bukanlah bukti mutlak bahwa seseorang mempunyai keimanan yang sejati. Hidup berdasarkan ajaran Yesus adalah seperti membangun rumah kehidupan kita di atas fondasi yang kuat dan bukannya di atas tanah yang lunak. Iman sejati yang benar-benar kokoh akan tetap beridiri dalam keadaan apa pun.

Secara khusus, dalam Matius 7:11 Yesus menjelaskan mengapa Allah siap mendengar dan menjawab setiap doa umat-Nya. Yesus bertanya kepada para pendengar-Nya di dua ayat sebelumnya apakah mereka pernah memberikan batu atau ular kepada seorang anak yang meminta makanan? Jawaban yang tersirat adalah bahwa tidak ada orang tua yang akan melakukan hal seperti itu (Matius 7:9-10). Dengan demikian, ayat 11 yang kuat ini mengungkapkan kebenaran esensial tentang sifat manusia dan sifat Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia menurut gambar-Nya manusia memang memiliki apa yang terlihat baik, tetapi itu tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan yang mahasempurna.

Yesus mengungkapkan sesuatu tentang sifat manusia. Ayat 11 bisa diartikan bahwa kita, sebagai orang tua yang baik kepada anak-anak kita, sebenarnya adalah orang yang jahat. Ini adalah salah satu bukti dan klarifikasi terkuat terhadap apa yang disebut doktrin kebobrokan (total depravity) manusia. Singkatnya, ini adalah gagasan bahwa semua manusia pada dasarnya berdosa dan tidak mampu melakukan kebenaran atau kebaikan sejati. Menurut definisinya, Yesus berkata, kita jahat di dalam hati kita. Jadi initi hidup manusia itu sudah rusak. Paulus mengatakan hal yang sama dalam Roma 3:10–12, “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.”

Yesus kemudian menegaskan kontras antara manusia dan Tuhan. Allah adalah seorang ayah yang memang baik, bukan seprti manusia. Bapa yang di surga, akan memberikan hal-hal baik kepada mereka yang meminta karena itulah yang dilakukan Dia dari awalnya, bahkan setelah manusia jatuh dalam dosa. Sudah menjadi sifat Tuhan untuk memberikan pemberian yang baik kepada mereka yang mengajukan permohonan dengan kerendahan hati dan ketulusan. Tentu saja, Yesus juga menjelaskan di tempat lain bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa dengan cara ini kecuali melalui Yesus, Dia sendiri (Yohanes 6:28–29; 14:6).

Fakta bahwa manusia pada dasarnya jahat, dibandingkan dengan Tuhan, tidak berarti kita tidak mampu melakukan kebaikan apa pun, atau bobrok sebobrok-bobroknya dalam bentuk apa pun. Kebanyakan orang tua manusia masih bisa memberikan apa yang terbaik yang mereka bisa peroleh untuk anak-anak mereka. Bahkan ada yang rela berkorban demi memenuhi kebutuhan orang lain. Tetapi, apa yang secara alami tidak mampu kita lakukan adalah kebaikan yang sejati, seperti Kristus, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak mengharapkan balasan. Ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh mereka yang tidak dibimbing Tuhan.

Pada umumnya setiap manusia ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, tetapi segan untuk berbuat baik kepada orang lain jika tidak ada hasilnya. Manusia lseing upa bahwa Allah Bapa yang sudah mengurbankan Anak-Nya adalah Tuhan yang melihat kebutuhan manusia dan sudi memberikan apa yang baik. Matius 7:12 kini menjadi salah satu pernyataan yang paling terkenal di seluruh Kitab Suci. Hal ini sering disebut sebagai “Aturan Emas” atau “the Golden Rule“. Ungkapan tradisional bahasa Inggris untuk hal ini adalah “lakukan kepada orang lain sebagaimana Anda ingin mereka memperlakukan Anda.” Sangat mudah bagi pembaca masa kini untuk melupakan betapa besarnya ajaran Kristus telah mengubah dunia, dan betapa sebagian gagasan-gagasannya telah tertanam dalam kehidupan manusiat. Pernyataan ini agak mirip dengan pernyataan yang dibuat oleh para pemimpin spiritual lainnya dalam sejarah, namun pernyataan ayat ini mempunyai perspektif yang sangat berbeda. Perspektif ke arah Tuhan yang mahabaik, yang memberi contoh dan kemampuan bagi umat-Nya.

Yesus bukanlah orang pertama yang memuji perilaku yang dinilai berdasarkan bagaimana Anda ingin diperlakukan. Guru-guru Yahudi dan Yunani sebelumnya juga menawarkan hal ini sebagai pernyataan negatif: suatu bentuk “jangan lakukan kepada siapa pun apa yang Anda tidak ingin dilakukan terhadap Anda”. Dalam hampir semua kasus, hal ini sebagian besar menyiratkan bahwa seseorang harus “tidak melakukan kejahatan”, yang berarti tidak melakukan kejahatan secara aktif. Ungkapan Yesus lebih jauh lagi: tindakan positif adalah bagian dari aturan. Tuhan mengharapkan kita untuk melakukan—untuk secara aktif mengerjakan—apa yang ingin kita lihat dari orang lain. Itu karena Tuhan yang sudah berbuat baik untuk kita.

Selanjutnya, dalam kitab Matius, Yesus menjelaskan serangkaian perintah lain sebagai dasar seluruh Hukum dan Kitab Para Nabi: Kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:34-40). Apa yang Yesus sebut sebagai perintah terbesar kedua—untuk mengasihi sesama dengan kasih yang dimiliki terhadap dirinya sendiri— sudah menghapus apa yang dikenal sebagai Aturan Emas: dari sekedar memperlakukan orang lain dengan sopan, menjadi tindakan yang termotivasi oleh kasih terhadap semua orang.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” 1 Yohanes 4:19

Hal mengasihi orang jahat

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: ”Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.” Lukas 9:53-55

Pemilu sudah berakhir, dan puji syukur kepada Tuhan bahwa semuanya sudah berjalan dengan baik. Memang, pemilu di mana pun bisa menimbulkan ketegangan antar pendukung capres dan partai, dan ini bisa membawa orang ke dalam kebencian terhadap mereka yang tidak sefaham. Pemilu di Amerika sebentar lagi juga akan berlangsung, dan kita tentunya boleh berdoa agar semuanya bisa berjalan dengan baik seperti pemilu di Indonesia. Tuhan tidak menghedaki kekacauan, tetapi damai sejahtera (1 Korintus 14: 33).

Dalam hidup manusia, memang perasaan tidak senang atau benci bisa membuat seseorang mengutuki orang lain. Sudah tentu kutukan manusia saja tidak akan ada hasilnya karena manusia tidak mempunyai kuasa untuk melakukan keajaiban melalui kutukan. Ini berlainan dengan Yesus, Anak Allah, yang bisa mengutuki pohon ara, orang Farisi dan tiga kota (Khorazim, Betsaida dan Kapernaum). Selain itu, iblis bisa membawa hal-hal yang jahat kepada dunia, tetapi ia pun tidak berdaya untuk menggangu orang Kristen tanpa seizin Tuhan.

Pada waktu itu, Yesus telah mengirimkan utusan ke sebuah desa di Samaria untuk “membuat persiapan bagi dia” (Lukas 9:52). Karena Yesus sedang menuju ke Yerusalem, penduduk desa Samaria yang membenci orang Yahudi menolak untuk mengabulkan permintaan mereka (Lukas 9:53). Secara agama, orang Samaria beribadah di Gunung Gerizim dan tidak percaya bahwa Yerusalem adalah tempat yang tepat untuk beribadah kepada Tuhan. Secara politis, sekitar 130 tahun sebelumnya,ada imam Israel yang membakar kuil orang Samaria. Orang Samaria mempunyai alasan kuat untuk menolak Yesus karena kesetiaan-Nya kepada Yerusalem dan karena Dia seorang Yahudi. Meski begitu, dalam budaya yang mengutamakan keramahtamahan, penolakan ini sangat menghina dan bahkan memalukan.

Jika orang Samaria masih ingat dendam lama, Yakobus dan Yohanes juga terjebak dalam pola pikir Perjanjian Lama. Mereka percaya Yesus adalah Mesias yang akan menaklukkan Roma, memberikan kemerdekaan politik kepada orang-orang Yahudi, dan memerintah, dengan pengikut-Nya di sisi-Nya (Markus 10:35–37). Mereka membela kerajaan Yesus dan kembalinya pemerintahan Yahudi: sebuah pemikiran yang menimbulkan keresahan pada setiap orang Samaria.

Selain itu, Yakobus dan Yohanes mengetahui bahwa orang Samaria tidak menyembah Tuhan sebagaimana mestinya. Perbedaan antara orang Samaria dan Yahudi nampaknya muncul pada zaman Nehemia. Namun landasan bagi pembagian itu sudah ada sejak lama. Penyembahan berhala merupakan masalah bagi bangsa Israel pada masa hakim-hakim. Hal ini semakin parah ketika kerajaan Israel di utara memisahkan diri dari putra Salomo yang bodoh, dan pemimpin baru tersebut mendirikan berhala-berhala untuk menjauhkan rakyatnya dari Yerusalem dan Bait Suci (1 Raja-Raja 12:25-33). Sepanjang sejarah mereka, mereka semakin banyak menyembah dewa-dewa asing sampai Tuhan memanggil bangsa Asyur untuk menghancurkan mereka; tetapi yang kemudian memperkenalkan lebih banyak lagi dewa-dewa kafir (2 Raja-Raja 17:24-33). Orang Samaria merupakan keturunan hasil perkawinan antara orang Israel dan orang bukan Yahudi. Mereka hanya mengikuti Taurat (lima kitab pertama dalam Alkitab) dan beribadah di Gunung Gerizim, percaya bahwa kuil di Yerusalem, dan para pendetanya, adalah tidak sah.

Yakobus dan Yohanes berupaya keras melawan ibadat palsu yang merajalela di Samaria. Mereka tidak memiliki kesabaran terhadap penolakan terang-terangan terhadap Mesias. Karena itu, mereka berharap agar Tuhan mengutuki orang Samaria. Bahkan mereka besedia untuk menjadi saluran murka Tuhan. Pikiran mereka tampaknya kembali ke raja kerajaan utara, Ahazia, yang meminta petunjuk kepada Baal-zebub mengenai apakah ia akan pulih dari cederanya. Elia menantang penyembahan berhalanya dan memanggil api dari surga untuk menghancurkan para utusannya yang tidak senonoh (2 Raja-raja 1).

Pada zaman raja Ahazia, tindakan Elia merupakan respon yang tepat. Israel menolak Tuhan mereka, yang ibadahnya hanya dilakukan di Yerusalem. Tetapi, di masa yang dijelaskan oleh Lukas dalam perikop ini, Yesus sedang mempersiapkan murid-murid-Nya menuju jalan yang baru yang berdasarkan hukum kasih. Di persekutuan Kristen, para penyembah-Nya akan meninggalkan Yerusalem dan menyebarkan kabar baik tentang kasih Tuhan ke seluruh dunia. Mereka harus setia kepada Yesus, bukan kepada Yerusalem. Inilah sebabnya mengapa Yesus telah mengatakan kepada mereka bahwa jika suatu kota menolak pesan mereka tentang Dia, mereka harus “keluar dari kota dan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan terhadap kota itu” (Lukas 9:5).

Lukas 9:52–56 mencatat bagaimana sebuah desa di Samaria menolak memberikan keramahtamahan kepada Yesus dan para murid. Ini merupakan penghinaan yang menyedihkan pada saat itu. Sebagai tanggapan, Yohanes dan Yakobus menawarkan untuk memanggil api dari surga, namun Yesus menegur mereka. Ini adalah cerita pertama dari beberapa cerita dalam Lukas 9:52—11:13 di mana Yesus mengoreksi gagasan para murid tentang apa artinya Dia adalah Tuhan. Di sini, Yesus mengajarkan kepada para murid bahwa mereka tidak perlu menghakimi mereka yang menolak Yesus. Begitu juga kita tidak boleh melakukan hal yang serupa terhadap mereka yang tidak sefaham dengan kita.

Namun, penampilan Yakobus dan Johanes tidak semuanya buruk. Pertama, mereka menyadari kekuatan Ilahi yang dapat mereka akses. Mereka akan membutuhkan keyakinan itu ketika mereka melakukan perjalanan dan mengajarkan bahwa Yesus menawarkan keselamatan. Kedua, setidaknya mereka meminta izin Yesus, daripada langsung bertindak berdasarkan dorongan hati mereka. Apa yang baik dalam diri Yakobus dan Yohanes inilah yang harus kita tiru, bukan kebodohan dan kebencian mereka terhadap orang yang tidak menyukai mereka. Kita harus sadar bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah hati manusia, dan Ia ingin agar kita mengasihi musuh kita dan berdoa untuk mereka. Dalam segala tindakan kita terhadap orang lain, kita harus meminta izin dan bimbingan dari Tuhan untuk memilih apa yang terbaik.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” Matius 5:43–44