Jika kita mengalami kesedihan

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah tulangnya.” Mazmur 34:18-20

Siapakah orang yang tidak pernah bersedih? Orang bisa bersedih karena ditinggal kekasih, kehilangan pekerjaan, jatuh sakit ataupun pailit. Kesedihan manusia jelas bisa membuatnya lemah, putus asa ataupun depresi. Apalagi, jika ada masalah yang besar yang kelihatannya tidak mungkin bisa diatasi. Sudah tentu, penderitaan mereka bukan hanya dalam hal fisik dan materi, tetapi yang lebih sukar ditangani adalah penderitaan moril atau rohani.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan dapat melihat apa yang terjadi pada diri manusia, mungkin membuat mereka bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa merasa sedih seperti manusia. Jika Tuhan memang bisa merasa sedih, apakah Ia bisa berbelas kasihan kepada mereka yang mengalami kesusahan dan kemudian berbuat sesuatu untuk mereka?

Dalam ayat di atas Daud menulis bagaimana Tuhan memahami perasaan kita dan membantu kita menanggung beban kesedihan. Berbeda dengan dewa-dewa kafir, atau benda pujaan ateisme yang tidak berperasaan, Allah yang alkitabiah sangat peduli terhadap penderitaan kita. Daud memuji Tuhan karena telah melepaskan dia dari orang Filistin, dan dia mengundang orang lain untuk ikut bernyanyi bersama dengan sukacita bagi Tuhan. Dia mengagungkan pentingnya takut akan Tuhan dan mengingat kebaikan-Nya. Dia mendorong umat Tuhan untuk menghormati Tuhan dan menawarkan kebijaksanaan yang menuntun pada kehidupan yang bahagia.

Mazmur 34:15–22 membandingkan apa yang Tuhan lakukan bagi mereka yang takut akan Dia dengan apa yang menimpa orang jahat. Tuhan mengawasi orang-orang benar dan menjawab seruan minta tolong mereka. Kemalangan orang benar memang banyak, tetapi Dia melepaskan mereka dari kesusahan mereka dan mendekatkan diri kepada mereka. Dia melindungi orang benar dan menebus mereka. Di sisi lain, Dia menentang orang jahat dan mengutuk mereka.

Meskipun Daud mengalami kemenangan dalam hidupnya, dia juga memahami bahwa kasih dan pemeliharaan Tuhan mempunyai perspektif kekal (Roma 8:28-30). Ayat 20 “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah tulangnya” memuat referensi yang Injil Yohanes kaitkan dengan peran Yesus sebagai Mesias: Yesus mengalami apa yang terburuk yang bisa terjadi pada manusia, tetapi Allah Bapa mememberi Dia perlindungan dan kekuatan. Dia tahu bagaimana perasaan manusia yang mengalami penderitaan.

Benarkah Yesus Anak Allah bisa merasakan kepedihan hati kita? Tentu! Ketika Yesus mengetahui sahabat-Nya Lazarus telah meninggal, Dia pergi ke rumah saudara perempuan Lazarus yang berduka dan menghibur mereka. Ketika Dia melihat air mata Maria, “masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yohanes 11:33). Ketika Dia mendekati makam Lazarus, Dia menangis (Yohanes 11:35) dan “sangat terharu lagi” (Yohanes 11:38). Yesus mengalami semua ini, meskipun Ia tahu bahwa Ia akan membangkitkan sahabat-Nya dari kematian (Yohanes 11:11).

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4:15

Ibrani 4:15 juga meyakinkan kita bahwa Yesus, Imam Besar Agung kita, bersimpati dengan kelemahan kita. Hal ini mencakup makna penderitaan manusia dan perjuangan melawan dosa. Dia dicobai seperti manusia lainnya namun tetap tidak berdosa. Mengetahui bahwa Dia memahami dan peduli, kita dapat mengerti ajakan Paulus: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16).

Ada yang mengatakan bahwa “doa adalah tempat memindahkan beban dari pundak kita”. Bahu Tuhan kita dapat memikul beban kita ketika kita patah hati dan roh kita remuk (Matius 11:28–30; 1 Petrus 5:7). Karena itu, jika kita mengalami kesedihan saat ini, biarlah Roh Kudus menggerakkan kita untuk mau menyampaikan doa kita kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dan pengihiburan. Tuhan beserta kita.

Mengapa aku ada?

“Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43:6-7

Kenapa saya ada? Ini adalah pertanyaan abadi, yang pasti terkait dengan pertanyaan tentang tujuan hidup dan nilai pribadi. Ini adalah pertanyaan penting untuk ditanyakan, dan jawaban yang diperoleh seseorang menentukan cara seseorang berpikir tentang dirinya sendiri dan berinteraksi dengan dunia.

Beberapa orang mendukung gagasan bahwa manusia muncul melalui proses evolusi yang tidak ada kaitannya dengan penciptaan dan bahwa kehidupan hanyalah sebuah kebetulan. Jika itu masalahnya, maka tidak ada alasan nyata mengapa kita ada di sini, karena kehidupan tidak memiliki tujuan akhir. Alkitab mengatakan sebaliknya. Kejadian 1:1–27 menjelaskan bagaimana Pencipta yang mahabijaksana dengan sengaja menciptakan segala sesuatu dalam enam hari, termasuk pria dan wanita yang pertama. Tuhan menciptakan umat manusia untuk memiliki gambar-Nya dan memerintah ciptaan-Nya, namun manusia pertama memilih untuk tidak menaati Allah dan membawa dosa dan kematian ke dalam dunia. Sejak saat itu, umat manusia telah terasing dari Tuhan. Tanpa hubungan yang mengikat dengan Sang Pencipta, kita akan bertanya-tanya siapa diri kita, mengapa kita ada di sini, dan apa tujuan kita.

Dari ayat Yesaya 43:6–7 kita akan tahu tanpa keraguan mengapa kita diciptakan. Kita diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Bukankah menakjubkan jika kita bisa berdiri di depan orang-orang dan berkata, “Saya tahu sepenuhnya dengan yakin mengapa Anda semua di ruangan ini diciptakan. Anda diciptakan untuk kemuliaan Tuhan”? Namun, itu adalah pernyataan yang ambigu di telinga orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Siapa Tuhan yang tidak kelihatan itu, dan mengapa Ia ingin dimuliakan? Apakah Ia gila hormat sehingga menciptakan boneka-boneka untuk menyembah-Nya? Tentu tidak!

Allah justru melakukan semua yang Dia lakukan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya demi kenikmatan penuh dan kekal bagi semua orang yang menerima Kristus sebagai harta tertinggi mereka. Allah melakukan segala sesuatu yang Dia lakukan – segala sesuatu yang Dia lakukan – untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya demi kenikmatan semua orang yang menemukan harta tertinggi mereka di dalam Kristus.

Sekarang, ke arah mana Anda dipanggil untuk mengagungkan Tuhan? Jawabannya seperti apa yang terlihat dari teleskop, bukan dari mikroskop. Merupakan penghujatan jika kita membayangkan Tuhan seperti Ia terlihat melalui mikroskop: “Ya Tuhan, kasihan sekali. Dia sangat kecil, dan sangat kecil, sekarang saya harus membuatnya terlihat lebih besar dari dirinya.” Itu adalah penghujatan. Namun faktanya, di dunia setelah kejatuhan ini, Tuhan bagi sebagian besar orang tidak ada dalam radar mereka sama sekali, atau hanya sebuah titik kecil yang mungkin muncul di tengah kabut dosa – setiap dua atau tiga minggu hanya dengan sekejap saja. Mungkin dikatakan ada – tetapi tidak ada signifikansinya. Seperti itu juga, orang yang hanya pergi ke gereja sekali setahun dan hanya kadang-kadang berdoa. Tuhan sangat kecil dan tidak berarti bagi mereka.

Panggilan kita adalah untuk memasang teleskop rohani. Agar kita menyadari bahwa apa yang terlihat jauh itu adalah sangat besar. Bahwa apa yang mahabesar itu tidak akan dapat kita lihat dengan mata kita, kecuali mata kita sudah dicelikkan oleh Yesus.

Kenapa saya disini? Untuk memuliakan Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya; tujuan kita adalah untuk memuliakan Dia dan, di dunia yang berdosa ini, untuk memperkenalkan Dia kepada orang lain. Manusia bukanlah sebuah kebetulan; keberadaan kita di sini bukan tidak direncanakan. Banyak ayat dalam Alkitab yang memperjelas bahwa tujuan manusia adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan, karena Dia menciptakan kita dan memberi kita kehidupan.

Alasan umum mengapa kita berada di sini – untuk memuliakan Allah – memiliki cakupan yang lebih spesifik bagi kita masing-masing. Mazmur 139:16 menunjukkan bahwa tujuan Allah bagi kita sama persis dan bersifat pribadi: “..mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak bahwa Tuhan mengenal kita secara pribadi, karena Dia menciptakan kita secara pribadi. Anda dapat mengenal Dia secara pribadi dan mengerti mengapa Anda ada di sini jika Anda percaya akan kuasa dan kasih-Nya.

Berjuang melawan iblis

“dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6:`13

Sebagaimana dicatat dalam Injil menurut Matius, kata-kata terakhir dari Doa Bapa Kami adalah “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”. Namun bagaimana Yesus dapat mengucapkan kata-kata seperti itu? Bukankah Alkitab memberitahu kita bahwa Allah tidak mencobai siapa pun (Yakobus 1:13)?

Ayat ini berpotensi membuat kita sangat khawatir, namun melihat beberapa pertimbangan tata bahasa yang berbeda akan membantu kita memahami dengan tepat apa yang Yesus doakan dalam bacaan hari ini. Pertama, Matius 6:13 tidak perlu mengacu pada godaan langsung untuk berbuat dosa yang biasanya kita kaitkan dengan kata godaan. Jika Juruselamat kita menyiratkan bahwa Bapa dapat memikat kita ke dalam dosa, maka Ia bertentangan dengan kesaksian Kitab Suci. Namun, bukan ini yang Dia katakan.

Meskipun Tuhan tidak memikat kita dengan dosa, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Dia mengizinkan umat-Nya melewati masa-masa pencobaan. Misalnya, Yesus sendiri diuji di padang gurun oleh iblis sebagai sarana untuk memenuhi panggilan-Nya sebagai Adam kedua (Matius 4:1–11). Dalam hal ini, Sang Pencipta mengijinkan Iblis membujuk Mesias untuk berbuat dosa, namun Allah sendiri bukanlah pelaku godaan tersebut. Ketika Yesus meminta Bapa untuk tidak membawa kita ke dalam pencobaan, Dia memohon agar Dia tidak membiarkan umat-Nya menghadapi ujian yang tidak dapat diatasi dimana musuh kita menggoda kita untuk berbuat dosa.

Klausa paralel “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” lebih lanjut menunjukkan kebenarannya. Poneros adalah istilah Yunani yang berada di belakang kata “jahat” dalam ayat ini, namun kata ini lebih baik diterjemahkan sebagai “si jahat.” Oleh karena itu Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kita hendaknya berdoa memohon perlindungan terhadap iblis. Oleh karena itu, kita dapat berdoa: “Tuhan, mohon jangan biarkan aku dihadapkan pada masa ujian yang mana aku akan menghadapi keganasan serangan iblis. Lindungi aku dari musuh dan bebaskan aku dari tangannya.”

Makna “bebaskan kami dari pada yang jahat” tidak ditujukan pada dosa-dosa tertentu, tapi pada semua dosa. Iblis pada dasarnya adalah dalang di balik semua kejahatan, jadi tidak ada bedanya apakah kita meminta pembebasan dari kejahatan secara umum (dosa) atau dari kejahatan secara khusus, karena keduanya berkaitan. Demikian pula, setiap saat “ujian yang berat” adalah sebuah kesempatan untuk mempercayai Tuhan atau untuk berkompromi dan menyerah pada godaan dosa dan dengan demikian sampai batas tertentu berada di bawah kendali dosa dan iblis. Dalam Doa Bapa Kami, kita diperintahkan untuk berdoa agar Tuhan melindungi kita dari situasi yang menggoda kita untuk berbuat dosa. Ini adalah permohonan agar dosa tidak pernah mendapat pijakan dalam hidup kita.

Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk berdoa “bebaskan kami dari iblis”, karena kita tidak dapat melawan iblis dengan kekuatan kita sendiri. Orang yang percaya kepada Kristus telah dibebaskan dari hukuman dosa (Roma 8:1), namun kita masih berjuang setiap hari melawan dosa dan iblis. Kita perlu mengandalkan Roh Kudus untuk membantu kita melawan godaan dan mengatasi dosa dalam hidup kita. Berdoa untuk “pembebasan dari kejahatan” adalah pengakuan atas keterbatasan kemampuan kita dan merupakan sarana untuk meminta Tuhan turun tangan dan membantu kita. Meskipun kita dapat berdoa memohon bantuan untuk mengatasi godaan dan dosa, kita juga dapat berdoa dan berusaha agar kita tidak berada dalam posisi di mana kita akan menghadapi godaan yang berat. Seorang pria yang berjuang melawan alkohol harus menghindari tempat-tempat di mana minuman beralkohol akan disajikan, namun ia juga harus berdoa agar ia tidak menemui undangan minum yang tidak terduga sepanjang harinya. Seseorang yang sedang bergelut dengan hawa nafsu tentunya harus menghindari tempat dan aktivitas tertentu, namun ia juga dapat berdoa agar situasi di luar kendalinya tidak muncul di hadapannya. Semua dosa harus dihadapi dengan kesadaran akan bahayanya sehingga kita mau berdoa dan berjuang.

Sebagai orang yang sepenuhnya bergantung pada Roh (Galatia 5:16), kita harus berdoa setiap hari agar dibebaskan dari serangan iblis. Bapa mungkin mengijinkan kita menghadapi ujian, namun Dia berjanji untuk menopang kita dan menolong kita untuk setia kepada-Nya (1 Koritus 10:13). Yang harus kita lakukan, seperti yang ditunjukkan oleh doa ini, adalah meminta pertolongan-Nya. Ketika kita dihadapkan pada serangan godaan dan kejahatan, marilah kita memohon pertolongan Tuhan dalam perjuangan kita.

Pada pihak yang lain, kita harus ingat bahwa iblis disebut sebagai penuduh orang percaya (Wahyu 12:10) karena dia suka membuat kita merasa seolah-olah Tuhan belum mengampuni kita. Ini adalah beban berat dalam hidup yang bisa menghancurkan iman kita. Sekalipun rasa bersalah adalah sebuah realitas, jika kita berpaling kepada Yesus, kita telah diampuni dan disucikan – secara objektif, nyata, dan memang terjadi. Jika Anda berpikir Tuhan menyimpan masa lalu Anda terhadap Anda, berdoalah memohon pembebasan dari si jahat dan ketahuilah bahwa Anda telah diampuni.

Doa agar Tuhan melepaskan kita dari kejahatan memiliki padanannya dalam perintah dan janji Yakobus 4:7: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”.” Jika kita menghadapi iblis dengan kekuatan kita sendiri, kita akan kewalahan. Kita hanya dapat menolak godaan, menghindari dosa, dan mengalahkan iblis dengan secara sadar bersandar pada kuasa Allah. Sama seperti kita perlu meminta “roti sehari-hari” untuk kebutuhan jasmani kita, kita juga perlu meminta “pembebasan setiap hari” untuk kebutuhan rohani kita. Doakan juga bagi saudara-saudari Kristiani yang masih mengalami kesulitan untuk memohon dan menerima belas kasihan Bapa.

Membina rasa percaya diri

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13: 5

Anda tentu mengerti istilah PD yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Menurut psikolog, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang di mana individu bisa mengevaluasi dirinya sehingga menghasilkan keyakinan kuat pada kemampuan dirinya dan optimis pada segala sesuatu. Dengan demikian, percaya diri merupakan modal dasar untuk penyataan eksistensinya. Dengan percaya diri, seseorang merasa mampu untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Sebaliknya, orang yang tidak percaya diri akan terhambat dalam potensi diri untuk berkembang.

Bagaimana orang berusaha meningkatkan rasa percaya diri mereka? Biasanya, melalui pendidikan, kedudukan, penampilan dan kekayaan. Mereka yang pandai berbicara dengan kata-kata bijak, atau yang memakai pakaian dan perhiasan mahal, dan mereka yang mengendarai mobil mewah atau yang tinggal di rumah gedongan, sering dianggap orang yang besar PD nya. Sebaliknya, orang biasa yang tidak mempunyai keistimewaan apa-apa sering kali disangka kurang memiliki percaya diri. Benarkah begitu?

Cara manusia mencapai percaya diri sangat berbeda dengan apa yang diajarkan Alkitab agar umat Kristen tidak gentar dalam menghadapi persoalan hidup. Kitab Ibrani pasal 1-9 menjelaskan bagaimana dalam Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus kita lebih dapat merasakan kedamaian dalam Tuhan jika dibandingkan mereka yang hidup dalam Perjanjian Lama yang harus memakai pengorbanan hewan. Bagi umat Kristen, percaya diri adalah berasal dari iman bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

Pasal 10-12 memakai pengurbanan Kristus untuk mendorong umat Kristen agar ”berpegang teguh” meskipun ada penganiayaan. Kesimpulan dari penerapan ini adalah bahwa orang percaya harus percaya pada iman mereka, dan memilih untuk menaati Tuhan, pada saat-saat sulit. Dalam Kristus kita sudah menang. Pasal 13 menambahkan beberapa pengingat khusus mengenai tingkah laku orang yang sudah diselamatkan. Bagian ini juga menegaskan kembali gagasan bahwa Kristus dimaksudkan untuk menjadi teladan utama kita. Surat itu diakhiri dengan permohonan doa dan kata-kata berkah.

Pasal 13 ini mencantumkan poin-poin tertentu yang dinyatakn Paulus untuk mendorong umat Kristen untuk berperilaku baik. Hal ini mencakup kasih persaudaraan (Ibrani 13:1), keramahtamahan (Ibrani 13:2), dukungan terhadap orang yang dianiaya dan dipenjarakan (Ibrani 13:3), dan penekanan pada moralitas seksual (Ibrani 13:4). Bagian lain dalam Perjanjian Baru menggemakan pentingnya menghindari dosa seksual, mengingat daya tarik dan kuasanya (Roma 1:24-27). Konsekuensi dari melakukan hal-hal yang dibenci Tuhan adalah berkurangnya rasa yakin bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih dan dikasihi Tuhan. Sekalipun orang bisa memiliki segala sesuatu, pada suatu saat ia akan sadar bahwa pada akhirnya semua itu akan lenyap bersama dengan dirinya.

Ibrani 13:1–6 berisi petunjuk praktis dan nyata bagi umat Kristen yang ingin untuk percaya diri. Hal ini mencerminkan beberapa tema umum dalam Perjanjian Baru. Kasih persaudaraan, keramahtamahan, kepedulian terhadap orang yang dianiaya, moralitas seksual, dan rasa puas diri semuanya dipuji. Paulus menghubungkan kemampuan untuk merasa puas dan setia, dengan kepercayaan kita kepada Kristus untuk selalu ada bersama kita dan untuk kita dalam semua keadaan.

Ayat di atas secara khusus menyebutkan satu bahaya besar yang bisa menghancurkan rasa percaya diri: keserakahan. Perlu dicatat bahwa ungkapan “uang adalah akar segala kejahatan” sebenarnya tidak alkitabiah, karena kekayaan dapat digunakan dan dinikmati dengan baik (Roma 14:14). Apa yang Alkitab katakan, dalam 1 Timotius 6:10, adalah bahwa “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” Ayat tersebut mencatat bahwa keinginan yang tidak sehat akan kekayaan telah menyebabkan kehancuran banyak kehidupan. Manusia yang kehilangan percaya diri karena tidak adanya uang, dan manusia yang lupa harga diri karena banyaknya uang.

Obsesi yang tidak sehat terhadap uang erat kaitannya dengan ketidakpuasan. Ini adalah sesuatu yang Alkitab nyatakan dengan menggunakan kata-kata seperti “mengingini” (Keluaran 20:17; Yakobus 4:2) dan “cemburu” (Yakobus 3:16). Daripada merasa sedih atas apa yang tidak kita miliki, orang-orang Kristen seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki dan berharap atas tanah air surgawi yang suatu hari akan kita peroleh (Ibrani 11:14-16). Kita akan memiliki rasa percaya diri jika kita sadar bahwa kita adalh warga surgawi. Hamba Tuhan, bukan hamba kesuksesan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa fondasi dari perspektif yang penuh rasa percaya, puas, dan berwawasan ke depan ini adalah hubungan setiap orang percaya dengan Kristus (Ibrani 12:2). Ungkapan di sini mungkin merujuk pada janji Tuhan kepada Yosua, yang akan memperkuat kepercayaan diri kita karena keamanan yang kita miliki di dalam Tuhan:

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31:6

Keselamatan adalah anugerah, kasih adalah buahnya

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Kolose 2:6

Jika Anda menelusuri berbagai ajaran keagamaan di Indonesia, tentu Anda pernah membaca hal amal ibadah: “Orang-orang yang beriman tentu berharap kelak Tuhan akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Surga adalah tempat indah, mewah dan menyenangkan di akhirat. Karena itu, mereka berupaya melakukan amal-amal terbaik dan sungguh dala beribadah kepada Tuhan. Karena Tuhan hanya akan memasukkan hamba-hamba-Nya ke dalam surga bila mereka mampu mempersembahkan amal terbaik selama hidupnya.” Ajaran seperti ini sayangnya sering ditemui dalam masyarakat kita, yang membuat orang Kristen ikut-ikutan terpengaruh.

Seperti itulah ajaran palsu yang dihadapi jemaat Kristen di Kolose pada waktu itu. Ajaran yang menekankan kerja keras dan pengorbanan pribadi sebagai sarana untuk menyenangkan Tuhan. Memang benar bahwa perbuatan merupakan aspek penting dalam kehidupan orang Kristen (1 Yohanes 3:17-18), namun hal ini merupakan hasil dari iman yang menyelamatkan, bukan sumbernya. Perjalanan hidup kita dengan Tuhan harus berakar pada iman – dan karena itu berakar pada Dia, bukan diri kita sendiri – seperti halnya keselamatan. Jika tidak, spiritualitas kita didasarkan pada kinerja manusia dan ditakdirkan untuk gagal.

Dalam ayat ini, Paulus memperingatkan umat Kristiani agar tidak terpengaruh oleh argumen-argumen yang menyesatkan. Klaim-klaim ini menarik, namun hanyalah tipuan: kedengarannya benar, namun sebenarnya tidak. Ajaran tentang pengenalan diri, berpikir positif, melaksanakan ritual suci terentu, mengagumi pengelihatan ajaib, dan praktik lainnya hanya terlihat bagus bagi para pengamat. Tak satu pun dari hal-hal tersebut yang merupakan sumber pertumbuhan rohani yang sesungguhnya. Paulus menekankan cara Kristus menggenapi segala sesuatu yang kita perlukan untuk dibenarkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk mengejar “bayangan” palsu dan dangkal ini. Kita mempunyai hakikat yang sebenarnya: Yesus, maka kita harus mengikuti Dia. Hidup dalam Dia.

Kolose 2:6-15 menggambarkan keunggulan Kristus dalam mengalahkan dosa. Hal ini sangat kontras dengan kegagalan dunia yang tidak percaya. Paulus mendorong jemaat Kolose untuk tidak tertipu oleh argumen-argumen yang menipu. Bagian ini juga menjelaskan sifat drastis dari keselamatan. Mereka yang beriman kepada Kristus disunat secara “rohani” dan diidentifikasikan dengan Allah melalui iman mereka. Tindakan pengampunan dari Allah ini membebaskan kita dari hukuman dosa yang kekal, memulihkan hubungan kita, dan mengalahkan kekuatan jahat yang melawan kita.

Dalam ayat singkat ini, Paulus membuat pernyataan besar tentang perjalanan orang percaya bersama Kristus. Jemaat Kolose, seperti semua orang percaya lainnya yang telah diselamatkan, menerima Kristus dengan iman (Kisah Para Rasul 4:12; Roma 10:9; Efesus 2:8-9). Implikasi Paulus adalah bahwa mereka yang menerima Kristus dalam iman juga harus tetap di dalam Dia atau “berjalan” – hidup dan berpikir – dengan iman (Kolose 2:7).

Pagi ini kita harus sadar bahwa meskipun Paulus menjalani kehidupan Kristen yang penuh motivasi, dia tahu bahwa iman adalah satu-satunya cara untuk menyenangkan Tuhan. Suatu jenis pekerjaan tertentu tanpa iman dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Namun, seseorang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan akan hidup karena iman, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7). Iman seperti ini akan menghasilkan banyak perbuatan baik, namun status keselamatan kita tidak akan berubah, meskipun kita melakukan tindakan karena didasarkan pada Kristus dan apa yang telah dilakukan-Nya.

Jika Tuhan itu baik kepada kita, apa buktinya?

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”2 Korintus 9:8

Mengapa seseorang ragu memberi atau menolong orang lain dalam hal kebutuhan mereka? Salah satu kekhawatiran yang masuk akal mungkin adalah ketakutan bahwa kita tidak mempunyai sisa yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Tetapi bagi orang Kristen, seharusnya memberi adalah lebih baik dari menerima (Kisah Para Rasul 20:35) . Memberi bagi umat Kristiani menjadi suatu tindakan iman, memercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita sekaligus menjadi metode yang digunakan-Nya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Mengapa sebagian orang Kristen percaya bahwa mengikut Tuhan berarti mendapat jaminan bahwa mereka akan menjadi orang yang sukses dan kaya raya? Salah satu alasannya adalah karena Tuhan yang mahakaya adalah Tuhan yang mahabaik. Ia akan memberi kelimpahan kepada orang beriman agar mereka dapat menjadi orang yang mampu untuk menolong orang lain dan menyokong pekerjaan Tuhan di dunia. Benarkah begitu?

Ayat di atas mengajarkan bahwa orang Kristen harus mampu mempercayai Tuhan yang mengasihi kita. Dia telah membuktikan diri-Nya setia dengan memberikan rahmat-Nya kepada kita melalui iman kita kepada Yesus. Dia telah memberi kita keselamatan abadi di dalam Kristus. Pengetahuan tersebut seharusnya membantu umat Kristiani untuk yakin bahwa Dia dapat diandalkan untuk terus melimpahkan segala rahmat kepada kita. Dia akan membuat kita memiliki segala sesuatu yang “cukup” setiap saat sehingga kita dapat mencapai perbuatan baik yang Dia ingin lihat dari kita. Rasa cukup di dalam TUhan bukan kelimpahan duniawi yang justru bisa membuat kita lupa akan Tuhan dan firman-Nya kepada kita untuk mengasihi Dia dan sesama kita.

Umat Kristiani yang memberi dengan murah hati yakin bahwa sumber rezeki mereka tidak akan habis, karena sumbernya adalah Tuhan sendiri. Orang Kristen yang sejati tidak pernah berpikir bahwa Tuhan membutuhkan donasi kita untuk Dia yang mahakaya.

Ayat 2 Korintus 9:6–15 memuat penjelasan Paulus tentang manfaat dan peluang yang terkait dengan memberi dengan murah hati. Poin kuncinya adalah bahwa pemberian yang saleh adalah tindakan kasih karunia yang serupa dengan Kristus. Tuhan tidak bermaksud memberi untuk kita lakukan sebagai suatu paksaan, atau di bawah naungan legalisme. Sebaliknya, hal itu harus diilhami dan didorong oleh hati yang rela dan gembira. Memberi adalah kesempatan bagi orang percaya untuk berpartisipasi bersama Tuhan dalam memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan. Allah meningkatkan kemampuan orang beriman yang memberi dengan murah hati untuk memberi lebih banyak lagi. Hal ini mengakibatkan bertambahnya ketakwaan-Nya di muka bumi, sekaligus membuat rasa syukur kepada-Nya melimpah. Dia akan dimuliakan oleh orang yang menerima pemberian dan mendoakan orang yang memberi.

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Paulus terus mendesak jemaat Korintus untuk menepati komitmen mereka. Mereka sepakat untuk berkontribusi pada pengumpulan dana untuk umat Kristen yang menderita di Yerusalem. Mereka harus memberi dengan sukarela, bahkan dengan senang hati, sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya. Mereka tidak hanya akan berpartisipasi dengan Tuhan dalam memenuhi kebutuhan fisik orang lain, mereka juga akan berkontribusi pada rasa syukur yang melimpah kepada Tuhan. Mereka akan membangun hubungan dengan saudara mereka yang menderita di dalam Kristus yang juga akan membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Apa bukti bahwa orang Kristen percaya bahwa Tuhan itu baik? Mereka yang percya bahwa Tuhan itu baik dapat merasakan berkat Tuhan dalam hidup mereka, sehingga dalam keadaan apa pun rasa cukup ada dalam hidup mereka. Mereka tidak meminta Tuhan memberikan kelimpahan dan kenyamanan dalam hidup, tetapi kemampuan untuk bisa berbuat baik bagi orang lain. Bukti kebaikan Tuahn kepada mereka adalah ketika mereka senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Tuhan menuntun umat-Nya

Sebab itu perempuan-perempuan u berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” Rut 4:14-15

Kisah perjalanan hidup Rut dan mertuanya yang bernama Naomi cukup terkenal. Rut adalah perempuan Moab yang menikah dengan pria Yahudi yang tinggal di Moab, namun ayah mertuanya, suaminya, dan serta saudara suaminya juga meninggal. Oleh karena itu Rut harus memutuskan apakah sebaiknya ia tinggal di Moab, tanah airnya, atau pergi bersama Naomi, ke tempat yang tak dikenalnya – Yehuda.

Rut mengasihi Naomi dan berbelas kasih padanya, karena ibu mertuanya itu sudah kehilangan suami dan kedua putranya. Bersama-sama, Rut dan Naomi berkelana menuju ke kota Betlehem di Yehuda, dimana mereka hendak memulai kehidupan baru. Kesaksian hidup Rut mulai menyebar, dan Boas, pemilik ladang yang tidak jauh dari kediaman mereka, mendengar tentang kesetiaan Rut.

Rut berpergian tiap hari untuk memungut jelai yang tertinggal oleh penyabit-penyabit di ladang, demi menghidupi dirinya serta Naomi. Ia bekerja di ladang Boas tanpa mengetahui bahwa Boas adalah termasuk keluarga Naomi. Boas memperhatikan Rut dan menanyakan hambanya tentang wanita itu. Sang hamba memberitahu majikannya tentang kesetiaan Rut terhadap Naomi dan kerja kerasnya di ladang.

Ketika Rut memberitahu Naomi tempat dimana ia memungut jelai, Naomi bergembira dan memberitahu Rut bahwa Boas adalah sanak dekat suami Naomi, Elimelekh; oleh karena itu, sesuai dengan adat Yahudi, Boas memenuhi syarat menjadi “penebus” kerabatnya. Pada masa tuaian jelai, Naomi menyarankan supaya Rut mendatangi Boas dan memintanya menjadi “penebus” yaitu pengganti suaminya.

Rut dan Boas kemudian menikah dan dikaruniai putra bernama Obed. Para wanita-wanita bersukacita atas kesetiaan Allah dan berkata pada Naomi, “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” (Rut 4: 14-15).

Para ahli Alkitab membandingkan kisah Naomi dengan kisah Ayub. Pada awalnya, mereka kehilangan segalanya. Di akhir cerita mereka, keduanya telah dipulihkan. Tuhan melipatgandakan harta milik Ayub dan memberinya tujuh putra dan tiga putri terhormat (Ayub 42:10–15). Pemulihan yang dialami Naomi lebih sederhana – sebuah rumah, keluarga, dan ahli waris suaminya, yang akan memenuhi kebutuhannya – namun itu lebih dari yang pernah ia bayangkan akan ia terima. Naomi kehilangan dua putranya, namun menantu perempuannya jauh lebih berharga.

Meskipun Naomi tampak merajuk dalam Alkitab, jika kita mempelajari dengan teliti, kita dapat melihat bahwa dia sebenarnya memiliki jiwa yang manis dan penuh perhatian. Umat ​​Kristen dapat belajar banyak dari Naomi tentang ketekunan, terutama pada saat menghadapi keadaan yang sulit. Pelajaran apa saja?

1. Tuhan Terus Bergerak Selama Kesulitan

Kita sering kali merasa ditinggalkan oleh Tuhan ketika tragedi terjadi. Tetapi kita harus ingat bahwa Naomi sudah mengalami kemalangan besar. Di negeri asing dia kehilangan suami dan kedua putranya, dan kembali ke kampung halamannya tanpa prospek dan dengan sedikit sarana untuk bertahan hidup. Saat dia dengan setia melakukan perjalanan, Tuhan masih terus bekerja – dan Dia juga bekerja dalam hidup kita, ketika kita menghadapi masa-masa tersulit.

2. Kita Dapat Membantu Orang Lain di Saat-saat Sulit

Sekilas, kita mungkin mengira Naomi sama sekali tidak melakukan apa yang berarti dalam kisah tersebut. Dia sedih karena keluarganya meninggal dan kemudian Ruth bekerja di ladang untuk menafkahi mereka berdua. Kita harus ingat bahwa Naomi tidak muda dan mungkin tidak bisa bekerja keras di lapangan. Terlebih lagi, kesedihan telah melumpuhkannya. Namun, begitu dia mengetahui kabar tentang Boas, dia memuji Tuhan dan membimbing Rut melalui adat istiadat orang Israel dalam mencari penebus sanak saudara. Dia secara eksplisit mengatakan dia ingin Ruth memiliki rumah dan suami yang baik. Kita pun bisa menjadi seperti Naomi yang tetap mau menolong orang lain sekalipun kita sendiri berada dalam kesulitan.

3. Tuhan Menebus yang Hilang

Naomi mengira garis keturunan keluarganya telah berakhir, namun Tuhan meneruskannya melalui seorang penebus sanak saudara. Dia mendapatkan seorang putra dan lebih banyak lagi di akhir Ruth. Kita melihat contoh-contoh lain di seluruh Alkitab tentang orang-orang yang berpikir bahwa mereka tidak akan mempunyai keturunan. Abraham dan Sarah baru mempunyai anak pertama ketika mereka masing-masing berusia 100 dan 90 tahun (Kejadian 21). Bahkan ketika kita menemui jalan buntu dan tidak dapat melihat manfaat apa pun dari keadaan kita, kisah Naomi mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu melakukan penebusan dan pemulihan atas umat-Nya.

Bagi orang pilihan hanya ada satu pilihan: berjuang

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13-14

Saat Yesus mendekati akhir dari Khotbah di Bukit (Matius 5:1-2), Dia menjelaskan serangkaian pilihan yang harus diambil oleh para pendengar-Nya. Yang pertama adalah antara gerbang sempit yang membuka jalan yang lebih sulit dan gerbang lebar yang membuka jalan yang mudah. Meskipun analogi ini sengaja dibuat sederhana, namun mengandung beberapa lapisan makna. Tetapi sebelum kita memelajarinya, kita harus menjawab pertanyaan penting: apakah kita harus berusaha keras untuk bisa diselamatkan?

Berbeda dengan kepercayaan lainnya, Tuhan Yesus Kristus mengajar kepada kita bahwa pembenaran (yaitu keselamatan) diberikan bukan karena perbuatan tetapi karena iman. Ajaran Tuhan Yesus tentang iman kembali diingatkan Rasul Paulus kepada orang Israel yang mengejar kebenaran dengan mentaati hukum Taurat. Israel berusaha keras mentaati semua tuntutan yang diminta oleh hukum Taurat. Ini adalah jalan yang mereka anggap mudah karena berada dalam kontrol mereka. Mereka tidak sadar bahwa semakin keras mereka berusaha mentaatinya, semakin mereka gagal memenuhi tuntutan hukum Taurat. Jika mereka percaya akan diselamatkan karena kesucian mereka, itu adalah impian saja (Lukas 18:9-10).

Bangsa Israel pada waktu itu tidak memahami bahwa tujuan Hukum Taurat diberikan Tuhan adalah untuk menyadarkan bahwa manusia adalah orang berdosa dan mustahil bisa diselamatkan melalui perbuatan. Keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Seperti itu, Rasul Paulus mengingatkan orang Efesus bahwa kunci orang non-Israel untuk bisa diselamatkan bukan karena menaati hukum Taurat, tetapi karena iman mereka. Mereka yang bukan orang Israel tentunya tidak mengenal hukum Taurat, tetapi hanya mengenal Yesus sebagai Sang Penebus. Di sinilah konsep jalan yang sempit itu mengena, karena siapa pun yang sudah dicelikkan matanya oleh Tuhan adalah orang yang mau berjuang untuk mengikuti Yesus yang sudah menyelamatkannya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Dalam konteks ajaran dalam Matius 5-7, jelas bahwa Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri dan ajaran-Nya tentang kebenaran rohani sebagai “gerbang sempit”. Dengan kata lain, mereka yang memang benar-benar mengikuti-Nya akan memahami bahwa mereka harus memilih jalan yang sulit, dari sudut pandang duniawi (Matius 5:10-12). Bagaimana orang bisa menaati ajaran anak tukang kayu (Matius 13:55)? Ini bukan hal yang mudah, Karena itu, mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah akan diolok-olok, menderita, dianiaya, dicela oleh dunia; namun iman merekalah akan membawa pada kehidupan.

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 2 Korintus 4:8-9

Pilihan yang diambil oleh orang dunia adalah gerbang lebar menuju jalan yang mudah: keselamatan melalui usaha sendiri. Gambaran gerbang yang “lebar” menyiratkan sesuatu yang mudah dilihat, dan mudah untuk dilewati. Hal ini juga menunjukkan sesuatu yang mengakomodasi preferensi kita: gerbang lebar memberi kita lebih banyak pilihan mengenai cara melewatinya (banyak agama, banyak jalan ke Roma) dibandingkan gerbang sempit (keselamatan melalui Yesus saja). Karena apa yang ada di balik gerbang yang lebar itu tampaknya mudah (berbuat baik, rajin berdoa, bersedekah,menghafalkan berbagai ayat dan sebagainya), itulah pilihan yang akan diambil banyak orang.

Jalan dunia “lebih mudah”, karena membuka kesempatan untuk seseorang untuk merasa menjadi orang saleh dan puas atas amal ibadah mereka. Yesus memperingatkan para pengikut-Nya bahwa ini justru terjadi pada orang-orang yang menolak Yesus, yang memilih jalan manusia dan mengarah pada kehancuran kekal. Hal ini mempunyai implikasi yang menyedihkan dan menyayat hati bagi nasib kekal kebanyakan orang di dunia. Tapi semua itu dapat dimengerti karena orang-orang itu bukan orang yang percaya kepada Yesus. Mereka yang terpilih hanya sedikit saja.

”Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius‬ ‭22‬:‭14‬

Jika semua orang pilihan Tuhan akan mengerti bahwa mereka harus melalui jalan yang sempit, apakah kita harus selalu diingatkan akan hal itu? Tentu! Para pendeta yang bijak akan mengikuti teladan Yesus pada akhir Khotbah di Bukit ketika mereka mengajak umatnya untuk mengambil keputusan untuk selalu menaati Firman. Dalam bacaan hari ini, Juruselamat kita menerapkan secara final semua yang telah Dia katakan dalam Matius 5:1–7:12. Sekarang setelah kita mengetahui apa yang Dia tuntut dari orang-orang yang dipilih-Nya, kita harus memilih untuk mengikuti Dia. Pada akhirnya, Matius 7:13-27 menunjukkan kepada kita bahwa kita tahu adanya dua pilihan. Kita akan mengikuti Kristus dengan sepenuh hati atau kita akan menempuh jalan kehancuran. Tidak ada komitmen setengah hati kepada Yesus; sebab jika kita tidak berada di jalan pemuridan yang sempit, maka kita berada di jalan lebar menuju hukuman kekal (ayat13-14).

Panggilan untuk mengambil keputusan ini bukan berarti kita mampu memilih jalan yang benar sebelum kita menjadi orang Kristen. Namun, mereka yang diubahkan oleh Bapa oleh kasih karunia pasti memilih untuk melayani Kristus. Perbuatan baik, termasuk pengakuan kita akan Yesus dan ketaatan kita pada perintah-perintah-Nya, tentu timbul dari hati yang berubah. Terlebih lagi, kita masih membutuhkan kasih karunia ini bahkan setelah kasih karunia ini pertama kali mengarahkan kita pada jalan Kristus yang benar dalam pertobatan kita.

Kita harus setiap hari berpaling kepada salib dan mencari Kristus agar kita dapat menyelesaikan perlombaan ini. Pencipta kita memberikan lebih banyak rahmat kepada semua orang yang merendahkan diri, mengakui kelemahannya, dan memohon kekuatan (Yakobus 4:6-10). Seperti yang ditulis oleh penafsir Alkitab terkenal Matthew Henry: “Kita tidak dapat masuk ke surga, atau melanjutkan perjalanan iman kita, tanpa bantuan rahmat ilahi; tetapi memang benar bahwa kasih karunia ditawarkan secara cuma-cuma, dan tidak akan kekurangan bagi mereka yang mencarinya dan tunduk padanya.”

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.” Filpi 3:13-16

Siapakah yang ingin bebas dari masalah?

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13

Pernahkah Anda mendengar nasihat yang berbunyi “Jangan berdoa untuk kehidupan yang mudah, tetapi berdoalah untuk menjadi orang yang lebih kuat.”? Ungkapan ini pernah diucapkan oleh pendeta Phillips Brooks, dalam kata sambutan pada acara makan pagi bersama presiden Amerika John F. Kennedy pada tanggal 7 Februari 1963. Ungkapan serupa kemudian pernah juga diucapkan oleh bintang film kungfu terkenal Bruce Lee.

Unkapan di atas sangat penting artinya, mengingat begitu banyak orang yang ingin mempunyai hidup yang penuh kemudahan dan kenyamanan. Bahkan, banyak orang Kristen yang percaya bahwa menjadi anak Tuhan berarti mempunyai seorang Bapa yang mahakasih dan mahakuasa, sehingga mereka akan memiliki hidup yang berkelimpahan. Mereka yang hidupnya berkelimpahan kemudian sering merasa bahwa itu adalah bukti iman mereka, padahal lebih banyak orang Kristen yang menderita dalam sejarah gereja dari mulanya hingga saat ini.

Ayat di atas adalah ayat yang mendukung ungkapan pendeta Phillips Brooks dan iman orang Kristen sejati. Paulus secara khusus meminta dua wanita Kristen, Euodia dan Sintikhe, untuk menyelesaikan perselisihan pribadi mereka. Orang-orang Kristen lainnya didorong untuk bertindak sebagai orang-orang yang berakal budi dan dipenuhi Kristus. Paulus menyatakan bahwa pengalamannya telah mengajarnya untuk merasa puas dengan berkat materi apa pun yang ia miliki. Ketergantungan pada kuasa Kristus tidak hanya membuat orang percaya merasa puas, namun juga menghasilkan kedamaian dalam hubungan kita dengan orang Kristen lainnya. Hal ini bisa kita pilih dengan sengaja untuk mengarahkan perhatian kita pada hal-hal positif. Kemudian Paulus menyampaikan terima kasih yang tulus kepada jemaat Filipi atas dukungan mereka yang murah hati.

Meskipun sering mengalami kebutuhan dan perlakuan kasar, Paulus dengan gembira menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan akan membiarkan dia menanggung apa pun. Perkataan Paulus mencerminkan ajaran Injil bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan (Matius 19:26; Markus 10:27; Lukas 1:37). Paulus telah menyatakan di tempat lain bahwa jika Tuhan di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita (Roma 8:31)?

Perspektif ini juga dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Yeremia 32:17 mencatat bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Ayub 42:2 menyatakan Tuhan mampu melakukan apa saja. Para pengikut Tuhan yang setia telah lama mengetahui bahwa bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil, baik itu Ishak, anak perjanjian Abraham, umat Israel yang menyeberangi Laut Merah, maupun umat yang memasuki Tanah Perjanjian di bawah kepemimpinan Yosua. Tuhan menyediakan tepat pada waktunya, pada waktuNya, setiap saat. Keyakinan Paulus dapat ditemukan di seluruh tulisannya (2 Korintus 3:4; 7:16; 8:22; 10:2; 11:17; Galatia 5:10; Efesus 3:12; 2 Tesalonika 3:4).

Namun, ayat ini dapat diambil di luar konteks. Komentar Paulus secara khusus mengacu pada kemampuan seorang Kristen untuk bertahan dalam kesukaran dan penganiayaan. Meskipun penggunaan kata-kata tersebut bermaksud baik, ayat ini tidak mengajarkan bahwa seorang Kristen diberi kuasa untuk bisa menyelesaikan masalah apa pun hanya karena mereka diselamatkan. Hidup setiap orang di dunia selalu mempunyai masalah, sekalipun sebagian orang tidak mau mengakui atau bisa menyadarinya.

Filipi 4:10–20 menjelaskan bagaimana orang Kristen dapat mengatasi kekhawatiran dan keinginan duniawi, apa pun keadaan mereka. Dengan membuat keputusan untuk merasa puas dalam setiap keadaan, orang percaya dapat mempercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita yang sebenarnya, dan tidak termakan oleh materialisme atau kecemasan. Paulus telah mempelajari keterampilan ini melalui banyak pencobaan dan pengalaman pelayanannya. Paulus juga mengungkapkan keyakinannya bahwa Allah akan memberkati setiap orang yang bermurah hati kepada sesamanya dalam beryukur kepada Tuhan. Bagaimana dengan sikap Anda dalam menghadapi masalah kehidupan yang ada? Apakah Anda hidup dalam ketabahan dan pengucapan syukur?

Harga karcis masuk surga

”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14:26

Seorang Farisi mengundang Yesus ke jamuan makan malam formal. Di sana, Yesus mengajarkan pelajaran tentang ajakan untuk menjadi umat Tuhan dengan menggunakan undangan pesta sebagai temanya. Hal ini menekankan kerendahan hati orang yang diundang dan pentingnya tidak membuat alasan untuk tidak datang. Setelah makan malam, Yesus memperingatkan bahwa mereka yang berusaha mengikuti-Nya akan mengalami kesulitan. Mengapa? Orang-orang beriman harus “menghitung dampak menjadi pengikut Kristus” dan memahami aspek-aspek apa saja di dunia ini yang mungkin harus mereka tinggalkan.

Lukas 14:25–33 melanjutkan pelajaran Yesus tentang siapa yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah. Orang yang rendah hati, murah hati, dan tanggap akan menerima berkat Tuhan (Lukas 14:1–24). Tetapi, mereka yang ingin menjadi murid Yesus harus memperhitungkan harga yang harus dibayar untuk mengabdikan hidup mereka kepada-Nya dan memastikan bahwa mereka bersedia membayarnya. Masuk kerajaan Tuhan itu gratis karena karunia semata-mata, tapi menjadi warga negara surgawi yang berguna butuh pengorbanan. Bagian mengenai biaya pemuridan ini mirip dengan Matius 10:37–38.

Yesus memberikan definisi kepada orang banyak tentang seperti apa pemuridan itu. Kata “tidak dapat” dalam ayat di atas mempunyai arti non-realitas. Apa maksudnya? Menjadi murid Yesus berarti menjadikan Dia sebagai prioritas tertinggi: bahkan di atas orang-orang terkasih dan kehidupan. Jika tidak, itu bukanlah realitas. Mereka yang merasa Kristen tetapi tidak mau memprioritaskan Tuhan dalam hidup mereka, bukanlah orang Kristen sejati, tetapi orang yang hidup dalam impian sebab TUhan memberi kemampuan untuk itu kepada umat-Nya.

Ayat di atas agaknya sulit dimengerti. Alkitab dimaksudkan untuk ditafsirkan langsung, dalam arti bahwa Alkitab memaksudkan apa yang dikatakannya – namun apa yang dikatakannya tidak selalu dimaksudkan untuk berasal dari pembacaan kata-kata yang kaku, mekanis, dan dangkal. Para penulis Alkitab menggunakan metafora, antropomorfisme, dan kiasan lain termasuk hiperbola. “Hiperbola” adalah pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk mengungkapkan bobot pesan meskipun mungkin tidak mengungkapkan pesan yang spesifik. “Saya sangat lapar sehingga saya bisa makan seekor kuda” adalah contoh ungkapan hiperbola dalam bahasa Inggris modern. Contoh lainnya dalam bahasa Indonesia adalah ketika orang tua berkata kepada anaknya, “Aku sudah bilang padamu jutaan kali…”

Kita tahu bahwa Yesus berbicara secara hiperbolik karena ayat-ayat harus selalu dibaca sesuai konteks: dalam bagian tersebut, dalam kitab tersebut, dalam kitab-kitab lain yang ditulis oleh penulis yang sama, dan dalam keseluruhan Alkitab. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk menghormati orang tua kita, dan itu didorong oleh kasih agape (Keluaran 20:12; Efesus 6:1–3). Suami juga harus mengasihi istrinya (Efesus 5:28). Selanjutnya, salah satu sub-konteks yang ada di seluruh Alkitab adalah bahwa orang tua yang baik secara alami mengasihi anak-anak mereka (Lukas 11:11-13; Efesus 6:4). Mengasihi keluarga kita memang adalah hal yang alkitabiah. Tetapi itu tidak boleh melebihi kasih dan penghormatan kita kepada Tuhan. Jika kita dihadapkan kepada dua pilihan: menurut perintah orang tua atau perintah Tuhan, kita harus memilih Tuhan. Ini jelas merupakan hal yang sulit dilaksanakan, terutama dalam kebudayaan Timur.

Matius membahas ajaran serupa di mana Yesus menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:37). Seperti itui juga, Lukas memberikan konteksnya: kita harus memilih untuk mengikuti Yesus meskipun anggota keluarga kita tidak mau mengikuti Yesus, meskipun hal itu akan memecah hubungan keluarga (Lukas 12:51–53).

Yesus juga mengontekstualisasikan perkataan-Nya tentang membenci hidup sendiri. Kita harus rela kehilangan nyawa di bumi jika ingin hidup kekal. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25). ” Selamjutnya “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:36-37). Secara khusus, kita tidak boleh takut akan penganiayaan agama yang mengancam jiwa (Lukas 12:4-5) dan kita tidak boleh menghabiskan seluruh energi kita untuk memastikan bahwa kita memiliki kebutuhan hidup ketika kita perlu berfokus untuk mengikuti Yesus (Lukas 12: 22–23).

Jika diabaikan, ayat-ayat seperti itu bisa menjadi hal yang menakutkan. Mengapa? Jika disederhanakan, ayat-ayat itu menyatakan bahwa mereka yang tidak mau segera melepaskan hubungan keluarga mereka tidak bisa diselamatkan. Bagi banyak orang, hal itu bukanlah sesuatu yang dapat mereka pahami. Untuk mengutamakan Tuhan di atas kekayaan dan kenyamanan saja sultnya bukan main, apalagi meninggalkan orang-orang yang dikasihi. Namun jika kita membaca dalam konteks Kitab Suci, kita akan sadar bahwa untuk menjadi orang yang dapat menaati Yesus, kita harus mengalami pengudusan, yang merupakan proses yang panjang. Tak satu pun dari kita akan menjadi sempurna ketika kita mati. Belajar untuk menghargai Yesus lebih dari sekedar persekutuan duniawi yang kita miliki dengan orang-orang terdekat kita, dan lebih dari semua aspek kehidupan kita sendiri, adalah salah satu dari banyak hal yang harus kita kembangkan.

Hari ini kita harus sadar bahwa pada masa gereja mula-mula dan juga pada masa kini, mengutamakan hidup bersama Kristus adalah pilihan yang harus diambil oleh semua orang percaya: pilihan antara iman kepada Kristus atau hidup untuk orang-orang, hal-hal, dan benda-benda yang kita sayangi. Ini tidak mudah. Penolakan masyarakat dan bahkan penganiayaan jasmani maupun rohani sering kali menjadi bagian dari mengikut Yesus. Walaupun demikian kita harus sadar bahwa dalam kenyataannya murid Kristus adalah orang-orang yang mau terus belajar untuk mengutamakan Dia terlebih dahulu dan sepenuhnya, melebihi apapun. Bukan orang- orang yang hanya mengaku Kristen.