“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33
Ini adalah salah satu ayat kunci dalam seluruh ajaran Yesus, yang biasa digunakan dalam kutipan, tulisan, karya seni, dan khotbah. Seperti halnya pelajaran lain dari Kristus, pelajaran ini harus dipahami dalam konteks ayat-ayat sebelumnya. Sering kali, kata-kata Yesus di sini disingkirkan dari konteks tersebut dan digunakan untuk memberi kesan bahwa Allah akan memberikan berkat materi yang tidak ada habisnya jika anak-anak-Nya terlebih dahulu mencari Dia. Sama sekali bukan itu maksud dari kalimat ini. Ayat ini bukan tentang syarat untuk hidup makmur dan berkelimpahan.
Matius 6:25–34 mengakhiri bagian Khotbah di Bukit ini dengan ajaran Yesus tentang kekhawatiran. Kepada orang-orang yang sangat miskin pada saat itu, Yesus berpesan untuk tidak khawatir mengenai makanan atau pakaian. Tuhan memberi makan burung-burung dan mendandani bunga lili dengan indah, dan anak-anak-Nya jauh lebih berharga daripada burung. Emosi cemas tidak dapat menambah satu jam pun dalam hidup seseorang. Sebaliknya, Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya untuk memercayai Allah untuk menyediakan apa yang benar-benar mereka perlukan. Namun, konteks dari apa yang kita “butuhkan” adalah kehendak Allah – yang mungkin terlihat sangat berbeda dari apa yang kita inginkan (Matius 5:3-12).
Konteks “semuanya itu” adalah kebutuhan dasar hidup: sandang dan pangan, bukan segala kemewahan, kenyamanan dan kebesaran. Yesus telah memerintahkan para pengikut-Nya untuk tidak terus-menerus khawatir tentang bagaimana mereka akan mendapatkannya, bahkan jika mereka tidak tahu dari mana makanan berikutnya akan datang. Dia ingin mereka memercayai Bapa surgawi untuk menyediakan apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya karena Dia sangat mengasihi mereka (Matius 6:25–32). Daripada terus-menerus hidup dalam kekhawatiran yang sia-sia, Yesus memberikan para pengikut-Nya jalan keluar yang berbeda untuk menyalurkan energi mereka: mencari kerajaan Allah, memercayai kebenaran-Nya, dan berserah kepada-Nya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup kita.
Panggilan untuk “mencari dahulu” kerajaan dan kebenaran Allah berhubungan dengan ajaran lain yang Yesus berikan dalam Khotbah di Bukit ini (Matius 6:1–2, 5–6, 16–17). Motif itu penting, dan hanya dengan ketulusan dalam mendahulukan Tuhan kita bisa mengejar kebenaran. Pengikut Kristus hendaknya memprioritaskan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah Dia ajarkan (Matius 6:24; Yohanes 14:15). Pesan awal Yesus sama dengan pesan Yohanes Pembaptis, “”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 4:17). Keselamatan dan kebahagiaan dalm Kristus adalah jauh lebih berharga dari hal-hal duniawi. Kasih Kristus juga lebih berharga dari apa yang bisa diberikan teman-teman atau sanak kita di dunia.
Mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya berarti hidup dalam pertobatan terus-menerus dari dosa, dan menjalani gaya hidup yang tulus, dari hati, dan mengabdi kepada Allah seperti yang Yesus gambarkan. Sebagai tanggapan, Tuhan akan menyediakan apa pun yang benar-benar kita butuhkan (bukan apa yang kita inginkan) untuk mencapai kehendak-Nya. Yesus mengajarkan bahwa Allah memberi imbalan atas perbuatan yang dimotivasi oleh pengabdian yang tulus kepada-Nya, bukan karena persetujuan atau anjuran dari orang lain.
Banyak orang Kristen yang tergoda oleh semboyan bahwa uang dan teman adalah sumber kebahagiaan. Tetapi, bukan itu yang diajarkan firman Tuhan. Kehendak Tuhan bagi umat-Nya adalah untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya. Barangkali Anda, seperti banyak orang Kristen lainnya, merasa bahwa ini tidak mudah dilakukan. Mengapa? Sekalipun Anda mengetahui kehendak Tuhan ini, Anda masih dapat memilih untuk menaati atau tidak menaati-Nya. Karena satu dan lain hal, mungkin Anda memilih untuk tidak melakukannya. Itu bukan karena kehendak Tuhan.
Godaan dalam hidup memang banyak, namun pada akhirnya, Tuhan tetap memegang kendali. Kehendak-Nya akan terjadi. Ketidaktaatan kita tidak dapat menggagalkan rencana utama Tuhan. Sebaliknya, ketidaktaan kita bisa membawa masalah dalam hidup. Kalau ini terjadi, jamganlah kita menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak hanya membimbing Anda dari luar diri Anda. Jika Anda benar-benar telah mempercayakan hidup Anda kepada Yesus, Roh Kudus-Nya tinggal di dalam Anda. Roh Kuduslah yang bisa menolong Anda untuk kembali ke jalan yang benar.
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:10
Saat ini, jika Anda ingin mengetahui apa yang Tuhan ingin Anda lakukan, tanyakan kepada-Nya, dan Dia akan dengan senang hati memberi tahu Anda, karena Dia selalu siap memberikan hikmah yang melimpah kepada semua orang yang meminta kepada-Nya; Dia tidak akan membenci mereka. Namun ketika Anda bertanya kepada-Nya, pastikan Anda benar-benar mengharapkan Dia memberi tahu Anda (Yakobus 1:5-6). Tuhan ingin Anda menjalani proses mencari kehendak-Nya tanpa mempercayai kebohongan Iblis yang mencoba mematahkan semangat Anda. Jika Anda memercayai tipu daya iblis itu, Anda akan kesulitan melihat Tuhan sebagai Bapa yang mahakasih.
Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Kejadian 22:12
Kejadian 22:1–19 terjadi selama beberapa hari, ketika Ishak mungkin masih remaja. Sebagai ujian terhadap iman dan ketaatan Abraham, Tuhan memerintahkan Abraham untuk melakukan hal yang mengerikan: membunuh dan mempersembahkan putranya yang dia cintai, sebagai korban bakaran. Abraham bertekad untuk taat tanpa ragu-ragu, setelah belajar memercayai kebaikan Tuhan melalui berbagai kesalahan yang diperbuatnya sebelumnya.
Dalam ketaatan penuh, Abraham bersiap untuk membunuh Ishak saat dia terbaring terikat di altar. Tetapi Abraham dihentikan oleh suara dari surga yang memanggil namanya. Seorang malaikat Tuhan berseru: “jangan kauapa-apakan dia….” Ini adalah rencana Tuhan selama ini, dan Abraham telah lulus ujian imannya dari Tuhan. Karena ketaatan Abraham, Tuhan memperbarui dan menekankan janji-janji-Nya tentang berkat, keturunan yang berlipat ganda, dan kemenangan atas musuh-musuh Israel di masa depan.
Malaikat Tuhan, sesungguhnya Tuhan dalam wujud lain, melanjutkan: “..sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Lama, “takut akan Tuhan” berarti memiliki rasa hormat dan penghargaan yang besar terhadap kuasa dan kebenaran Tuhan sehingga seseorang menaati Dia di atas segalanya.
Ujian dari Tuhan ini menjawab pertanyaan apakah Abraham “takut” akan Tuhan. Walaupun demikian, perlu kita perhatikan bahwa Abraham tidak mempunyai iman yang bodoh atau buta. Sebaliknya, dia memilih untuk memercayai Tuhan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Berkali-kali Tuhan membuktikan bahwa Abraham tidak perlu memahami setiap detail dari firman-Nya, ia hanya perlu taat. Tuhan akan bekerja untuk membuktikan kebenaran-Nya sendiri pada akhirnya. Sekali lagi, hal ini terbukti benar, meskipun dalam bentuk yang jauh lebih mencekam dan dramatis.
Perlu dicatat bahwa Allah menyebut Ishak sebagai “anakmu yang tunggal” kepada Abraham. Kita tidak boleh mengabaikan adanya kemiripan ungkapan ini dengan apa yang ada dalam Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Di sini kita sadari bahwa Allah menuntut kesetiaan umat-Nya karena Ia sendiri adalah setia kepada mereka.
Jika Allah mengatakan bahwa Ia sekarang tahu bahwa Abraham takut akan Dia setelah Abraham tidak segan-segan untuk menyerahkan anaknya, sebagian orang Kristen memertanyakan apakah Allah tidak tahu sebelumnya bahwa Abraham takut kepada-Nya? Penganut ajaran Teisme Terbuka (Open Theism) menyimpulkan bahwa karena Tuhan harus mengetahui apa yang akan dilakukan Abraham, Tuhan harus selalu mengikuti dan belajar dari apa yang terjadi. Namun jika kita berasumsi bahwa Tuhan harus belajar, maka masalah lain akan muncul. Tuhan bukan lagi Tuhan yang kita kenal.
Teisme terbuka menyatakan bahwa karena Tuhan dan manusia itu sama-sama mempunyai kehendak bebas, pengetahuan manusia tentang Tuhan bersifat dinamis dan dengan itu, pemeliharaan Tuhan bersifat fleksibel. Sementara beberapa aliran Kristen klasik menggambarkan pengetahuan Tuhan tentang masa depan sebagai lintasan yang tunggal dan tetap, teisme terbuka melihatnya sebagai beragam kemungkinan yang bervariasi, dengan beberapa kemungkinan yang kemudian menjadi stabil seiring berjalannya waktu. Dengan kata lain, tindakan Tuhan harus bergantung pada “sikon”.
Dengan demikian, masa depan, serta pengetahuan Tuhan tentangnya, bersifat terbuka (karenanya, disebut “teisme terbuka”). Versi lain dari teologi Kristen klasik berpendapat bahwa Tuhan sepenuhnya menentukan masa depan, yang berarti tidak ada kebebasan memilih (masa depan tertutup dan manusia seperti robot). Namun versi lain dari teisme klasik berpendapat bahwa, meskipun ada kebebasan memilih, kemahatahuan Tuhan membuat Tuhan mengetahui terlebih dahulu pilihan bebas apa yang akan diambil manusia. Ini berarti manusia bukan seperti robot dan Tuhan adalah mahatahu.
Penganut teisme terbuka berpendapat bahwa semua versi teisme klasik tidak sesuai dengan konsep alkitabiah tentang Tuhan; tentang kebebasan ilahi dan kebebasan yang diberikan Tuhan kepada ciptaan-Nya. Mereka cenderung menekankan bahwa ciri karakter Tuhan yang paling mendasar adalah kasih dan sifat ini tidak dapat diubah. Mereka juga (berbeda dengan teisme klasik) cenderung berpendapat bahwa gambaran alkitabiah adalah tentang Tuhan yang sangat tergerak oleh ciptaan-Nya, mengalami berbagai perasaan sebagai tanggapan terhadap tingkah laku ciptaan tersebut. Ini tentunya aneh karena Tuhan yang mahakuasa bisa dipengaruhi oleh tindakan ciptaan-Nya.
Jika Tuhan tidak tahu apakah Abraham akan membunuh Ishak atau tidak, lalu tahukah Tuhan jika Abraham akan membawa Ishak ke bukit, menyuruh Ishak untuk membawa kayu tersebut, dan segudang keputusan lain yang harus diambil dalam rangka agar semuanya berhasil? Tentunya tidak. Itu adalah hanya keinginan Tuhan yang penuh harapan, berharap Abraham akan melakukan apa yang pada akhirnya Tuhan ingin dia lakukan. Tuhan yang sedemikian bukanlah mahakuasa dan mahatahu. Lebih jauh lagi, bagaimana Tuhan tahu bahwa begitu Abraham mengangkat pisaunya, maka pada saat-saat terakhir, Abraham tidak akan batal membunuh putranya? Menurut teisme terbuka, Tuhan sebenarnya tidak mengetahuinya karena ada saat lain di mana Abraham bisa berubah pikiran.
Firman Tuhan dalam Kejadian 22:12 diucapkan setelah Abraham hendak mengorbankan Anaknya Ishak di atas mezbah. Abraham mengangkat pisau yang akan digunakannya untuk membunuh Ishak, dan saat itulah Tuhan menyuruh Abraham untuk berhenti. Allah berfirman, “…sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah”. Apakah ini berarti Tuhan tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan Abraham sampai Dia melihat pisau yang teracung? Apakah ini juga berarti bahwa Tuhan tidak tahu apakah Abraham takut atau tidak kepada-Nya sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut?
Teisme terbuka dihadapkan pada suatu masalah karena Tuhan yang mahatahu tentu mengetahui semua yang ada saat ini secara lengkap dan total. Jika Tuhan mengetahui segala sesuatu yang ada saat ini secara mendalam, bukankah Tuhan mengetahui keadaan hati Abraham mengenai rasa takut Abraham terhadap Tuhan? Ayat 1 Tawarikh 28:9 mengatakan, “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” Karena Allah mengetahui maksud hati semua manusia, maka Dia mengetahui apa maksud hati Abraham selama tiga hari perjalanan menuju tempat pengorbanan, serta takut atau tidaknya Abraham kepada-Nya. Jelaslah Dia pasti tahu bahwa Abraham takut kepada-Nya, dan ujian tidak diperlukan untuk membuktikan fakta ini.
Kita dapat memperhatikan bahwa Kejadian 22:5 menulis bahwa Abraham berkata kepada kedua bujangnya: ”Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Abraham siap mengorbankan putranya, tetapi dia mengharapkan Allah untuk membangkitkan Ishak. Inilah yang dikatakan dalam bahasa Ibrani. 11:19, “Karena ia (Abraham) berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati….”. Jadi, Allah tentu tahu bahwa Abraham percaya sepenuhnya kepada Dia. Lalu mengapa Allah masih perlu menguji Abraham?
Dalam Kejadian 3:9, setelah Adam berdosa, Allah memanggil dia dan bertanya, “Di manakah engkau?” Apakah kita bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak tahu di mana Adam berada di taman itu? Tentu saja tidak. Tuhan sering membuat pernyataan yang dirancang untuk mengungkapkan kepada manusia sebuah kebenaran yang perlu disampaikan. Memang, Tuhan sering mengajukan pertanyaan yang Dia sudah tahu jawabannya. Dalam kasus Adam, kata “di mana” berhubungan dengan kondisi spiritual, bukan lokasi fisik. Dalam kasus Abraham, Tuhan hanya menyampaikan hubungannya dengan Abraham sesuai dengan apa yang Abraham pahami, khususnya setelah kejadian nyata dengan Ishak di altar. Kata-kata “Telah kuketahui sekarang” bukan untuk Tuhan, tapi untuk Abraham yang perlu mendengar Tuhan menegaskan kesetiaannya.
Hari ini, biarlah kita yakin bahwa Tuhan mengetahui kondisi hati kita saat ini, karena Tuhan mahatahu. Tuhan tahu apakah kita takut kepada-Nya. Tuhan sudah mengetahui, berdasarkan Kejadian 22:5, apakah kita berharap bahwa Tuhan akan menolong kita pada saatnya. Tuhan tidak melupakan hal ini ketika kita mengalami ujian hidup. Memang kita manusia mempunyai kehendak bebas,tetapi Ia yang sudah memilih kita akan ikut bekerja dalam setiap kesempatan untuk membawa kita ke arah kebaikan. Bisakah kita mempercayai Tuhan yang tidak pernah membuat kesalahan?
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12
Benarkah ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya? Terkadang orang berkata, “Tidak, tidak, tidak. Dia hanya berbicara tentang predestinasi atau penyelamatan orang Kristen.” Tetapi, Alkitab secara garis besar mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia, pada akhirnya, adalah kehendak Tuhan.
Jika Anda memberikan perhatian yang lebih cermat, yang Anda sadari adalah bahwa Paulus menggunakan kata ” segala sesuatu” sebagai pernyataan umum tentang Allah yang mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya sebagai dukungan terhadap pernyataan spesifik tentang predestinasi. Kita semua tahu bahwa penerapan spesifik dari pernyataan umum tidak meniadakan atau membatasi kebenaran pernyataan umum.
Misalnya, jika saya mengatakan bahwa teman saya (yang tahu cara mengemudikan semua jenis mobil) bisa mengendarai mobil listrik tanpa instruksi pada saat pertama kali ia mengendarainya, Anda tidak akan mengira dia hanya tahu cara mengendarai mobil listrik. Tentu saja, jika kita mengaku bisa mengendarai mobil listrik, itu hanya menunjukkan bahwa kita mampu mengendarai semua jenis mobil. Hal yang spesifik bisa terjadi karena adanya hal yang umum.
Ketika Paulus berkata, “Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya, telah menentukan kita sejak semula,” itu bukan berarti “Dia benar-benar tidak mengerjakan segala sesuatu menurut kehendak-Nya; Dia hanya menentukan takdir kita.” Hal ini justru bertolak belakang dengan cara Paulus berargumentasi.
Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika Ia mengatakan segalanya, tidak ada alasan untuk mengasumsikan pengecualian apa pun di sini (karena Ia mahakuasa dan mahabijaksana). Tetapi bagaimana pula dengan manusia yang sejak mulanya sudah diberinya kemampuan untuk bertindak menurut kebijaksanaan mereka?
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1:28
Izin Tuhan bagi manusia untuk bertindak juga adalah bagian dari rancangan dan kendali akhir Tuhan. Ada orang yang berkata, “Tuhan tidak mengendalikan segalanya, tapi Dia mengizinkan banyak hal.” Itu benar. Dia tentu saja mampu mengizinkan banyak hal sekalipun manusia ingin bertindak semaunya sendiri. Tuhan yang mahakuasa tidak takut bahwa rencana-Nya akan batal jika sesuatu yang tidak disukai-Nya terjadi. Apalagi Tuhan sudah tahu apa yang akan terjadi. Lalu bagaimana seharusnya kita memahami Tuhan yang Mahatahu, dengan pengetahuan awal yang sempurna, mengizinkan sesuatu dalam kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas?
Inilah yang Yesus katakan dalam Lukas 22:31-32: “Simon, Simon, lihat, iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”.” Perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan, “kalau engkau nanti insaf lagi,” tetapi “jika engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”
Dengan kata lain, “Ya, Aku akan memberikan izin kepada iblis untuk menyaring engkau seperti gandum, dan Aku tahu ini akan melibatkan tiga penyangkalan. Aku tahu engkau akan melarijan diri, tetapi Aku akan membawamu kembali sesuai dengan doa-Ku adalah agar engkau dapat menguatkan saudara-saudaramu.”
Susah tentu, dalam situasi di mana Tuhan mengizinkan, Dia memang sengaja mengizinkannya, buka karena Dia tersudut dan tidak mempunyai jalan lain. Ketika Anda mengizinkan sesuatu dan Anda tahu apa yang akan terjadi dan Anda tahu semua hasilnya dan Anda mungkin akan terus maju dan mengizinkannya, Anda mengizinkannya dengan bijak jika Anda adalah Tuhan. Karena Tuhan adalah mahabijaksana, segala sesuatu akan sesuai dengan pola keseluruhan diri-Nya dalam merencanakan dan melakukan.
Saat ini saya ingin bertanya kepada Anda. Apakah Alkitab mempunyai contoh-contoh di mana manusia itu pernah diminta Tuhan untuk bertanggung jawab? Tentu! Jika demikian, manusia pasti diharapkan untuk bertanggung jawab. Karena itu ada manusia yang dipuji Tuhan, atau dicela atas apa yang dilakukannya. Alkitab penuh dengan kisah tentang manusia dengan karakter yang berlainan. Tuhan tidak menyenangi mereka yang tidak mau bertanggungjawab, yang culas, suka berbohong dan melanggar firman Tuhan. Kedaulatan Tuhan tidak mengurangi akuntabilitas manusia.
Pada awal tahun 2024 ini, pertanyaan untuk Anda adalah, di dunia mana Anda lebih suka tinggal? Di dunia di mana manusia atau iblis berkuasa, atau di tempat di mana faktor kebetulan mengatur apa yang terjadi pada diri Anda? Ataukah di dunia, di mana Tuhan yang sangat mahakasih, mahabijaksana, dan penuh kuasa yang tak terbatas, bekerja bersama-sama dengan segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang percaya kepada-Nya dan demi kemuliaan-Nya?
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.” Ulangan 4: 9
Perayaan Natal dan Tahun Baru sudah lewat dan bagi banyak orang, apa yang sudah mereka alami sudah dilupakan. Apakah pada akhir tahun ini pengalaman yang serupa akan kita alami? Tidakkah ada yang berbeda antara tahun yang lalu dengan tahun ini?
Bagi orang lain, natal-natal yang lalu masih teringat sampai sekarang. Mungkin saja karena Natal kali itu dirayakan di tempat tertentu, atau bersama dengan orang tertentu. Tetapi mungkin juga di saat itu, Natal dirayakan seorang diri tanpa kehadiran orang yang dikasihi. Barangkali pada Natal saat itu ada hal besar, sesuatu yang baik atau buruk, yang terjadi dan yang tidak bisa dilupakan.
Kebalikan dari hal mengingat apa yang terjadi pada masa lalu, orang sering mudah melupakan apa yang terasa sebagai hal yang terasa biasa dalam hidup mereka. Jika hidup terasa normal, tidak ada gejolak yang berarti, orang lupa bahwa dibalik semua itu tentu ada penyebabnya. Pada pihak yang lain, jika ada hal yang tidak diingini, manusia juga sering berusaha melupakannya tanpa menyadari bahwa segala sesuatu terjadi bukannya tanpa sebab dan tujuan. Manusia sering lupa bahwa Tuhan yang mahahadir adalah Tuhan yang ada dan kita jumpai selagi kita mengalami peristiwa apapun.
Pesan Musa kepada bani Israel dalam Ulangan 4 menggaris-bawahi pentingnya bagi umat Israel untuk tidak melupakan bahwa Tuhan ada dalam setiap kejadian yang mereka lihat. Baik hal yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, mereka harus yakin bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mengasihi dan yang mempunyai rencana yang baik bagi orang yang takut kepadaNya. Oleh sebab itu sampai sekarang mereka tetap harus mengajarkan hal itu kepada semua anak-anak, cucu dan cicit mereka.
Pagi ini, kita tahu bahwa ada berbagai hal yang sudah lewat yang akan kita lupakan. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa ada hal-hal tertentu yang pernah kita alami yang meyakinkan kita akan kuasa Tuhan. Marilah kita selalu ingat akan apa yang sudah dilakukan Tuhan dalam hidup kita dan mau memberitakan kebesaran Tuhan kepada orang di sekitar kita.
“Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” Ulangan 4: 35
”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15
Sekalipun memakai pernyataan yang singkat dan sederhana, ayat ini bisa dilebih-lebihkan atau sebaliknya, bisa diabaikan. Ketika itu,Yesus meyakinkan para murid pada saat Dia mendekati saat kematian dan kebangkitan-Nya. Salah satu bagian dari hal ini adalah dukungan-Nya kepada para murid bahwa pengenalan mereka tentang Dia, adalah jalan menuju Allah (Yohanes 14:4-6). Mereka yang percaya kepada-Nya mempunyai kesempatan untuk melakukan “pekerjaan yang lebih besar” daripada yang pernah Dia lakukan (Yohanes 14:12). Ungkapan tepat sebelum ayat ini merupakan janji bersyarat bahwa Yesus akan melakukan apa pun, asalkan diminta “dalam nama-Nya.” Kondisi ini menolak penafsiran yang menjadikan Tuhan sebagai hamba manusia.
Langsung dari hal tersebut, Yesus menghubungkan kasih seseorang kepada-Nya dengan ketaatan mereka terhadap ajaran-ajaran-Nya. Ada dua kemungkinan ekstrim yang dapat dijadikan sasaran ayat ini. Salah satunya adalah legalisme, atau keselamatan berdasarkan perbuatan. Cara lainnya adalah dengan mengesampingkan pernyataan tersebut seolah-olah perilaku seseorang tidak menunjukkan apa pun tentang takdir kekalnya. Keduanya salah. Kristus baru saja memperjelas bahwa Dialah, bukan para pengikut-Nya, yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka (Yohanes 14:5-6; Titus 3:5). Ia juga menunjukkan bahwa pengikut yang sah masih memerlukan “pembersihan” tertentu dari dosa (Yohanes 13:10; 1 Yohanes 1:9-10). Jelas bahwa semua manusia harus bertanggungjawab atas cara hidup dan tingkah laku mereka sekalipun mereka diselamatkan oleh Kristus.
Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa mereka yang mengikuti-Nya wajib menunjukkan kasih terhadap orang lain (Yohanes 13:12–15, 34). Itu adalah tanda utama iman kepada dunia luar (Yohanes 13:35). Di sini, Dia menunjukkan bahwa ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya adalah tanda utama kasih kita kepada-Nya. Seseorang tidak dapat mengaku mengenal Kristus dan membenci orang Kristen lainnya (1 Yohanes 4:20). Seseorang juga tidak dapat mengaku mengenal Kristus namun mengabaikan ajaran-ajaran-Nya (1 Yohanes 2:4).i
Dalam sebagian besar situasi duniawi, gagasan seperti ini tidak kontroversial. Semuanya jelas, hitam atau putih. Misalnya, kaum “pecinta damai atau pasifis” sejati tidak akan memulai peperangan. Kaum “vegetarian” sejati tidak makan daging. Tetapi heran, ada yang menolak pandangan bahwa “orang Kristen” yang sudah dilahirkan kembali tidak akan mempunyai kebiasaan mengabaikan ajaran Yesus. Mereka menolak hal ini dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang diselamatkan karena sudah sempurna. Sedah tentu bukanlah orang percaya itu sempurna, tetapi justru mereka tahu bahwa diri mereka adalah jauh dari kesempurnaan (1 Yohanes 1:9-10).
Pelajaran di sini bukanlah bahwa perilaku yang baik menghasilkan atau menjaga keselamatan seseorang (Roma 11:6). Walaupun demikian, orang yang menyebut dirinya sebagai “Kristen” dan hidup bertentangan dengan pesan Kristus adalah seperti seorang penghasut perang yang suka makan daging yang kemudian mengaku sebagai “vegetarian pasifis”. Itu hanya kebohongan. Tidak ada orang Kristen sejati yang tidak mau berbakti kepada Tuhan dan berusaha mati-matian untuk menurut segala perintah-Nya. Orang yang benar-benar percaya akan menyambut Yesus dan berusaha berbuat baik seperti yang dilakukan Zakheus (Lukas 19:1-10).
Memang untuk hidup sebagai orang Kristen sejati itu tidak mudah. Tetapi, Yohanes 14:15–31 memuat ramalan tentang Roh Kudus. Yesus menyebut hal ini sebagai Roh Kebenaran, dan berjanji bahwa Roh akan datang untuk membantu para murid melanjutkan hidup setelah Yesus naik ke surga. Sepanjang bagian ini, kasih seseorang kepada Kristus, ketaatan mereka terhadap ajaran-ajaran-Nya, dan berdiamnya Roh Kudus sadalah aling berkaitan. Seperti dalam pernyataan sebelumnya, Yesus berfokus pada penghiburan dan dorongan. Dia akan terus menekankan perlunya menjaga iman, berdasarkan semua yang telah Dia katakan dan lakukan sejauh ini. Kemudian, setelah peringatan sebelumnya tentang apa yang akan dihadapi umat Kristen (memikul salib!), Yesus kembali menjelaskan pekerjaan dan tujuan Roh Kudus di bawah perjanjian baru.
Kristus meyakinkan para pengikut-Nya bahwa iman kepada-Nya adalah iman kepada Allah. Mengenal Kristus berarti mengetahui ”jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Kata-kata, tindakan, dan mukjizat Yesus harus memberikan keyakinan kepada umat Kristen bahwa Dia akan menepati janji-janji-Nya. Diantaranya adalah jaminan-Nya bahwa Dia sedang bersiap datang menjemput kita, sehingga kita bisa berada di tempat Dia berada. Yesus juga menubuatkan berdiamnya Roh Kudus dalam diri umat-Nya. Ini hanya tersedia bagi orang yang benar-benar percaya, dan Penolong ini bertindak untuk membimbing, mengajar, dan mengingatkan kita. Baik bagi para murid, maupun bagi orang-orang Kristen masa depan, kata-kata ini dimaksudkan untuk menghibur selama masa-masa sulit. Karena Kristus telah mengetahui sebelumnya apa yang akan terjadi, kita dapat lebih yakin lagi untuk memercayai-Nya. Apakah Anda orang Kristen sejati?
“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.” Amsal 3: 11
Pasal Amsal ini ditulis oleh raja Salomo. Kata “anakkku” mungkin berlaku bagi salah satu murid Salomo di istananya atau bagi salah satu putra kandungnya. Penerapan hikmat dalam Amsal 3 menunjukkan manfaat percaya kepada Tuhan dengan segenap hati. Salomo menghubungkan ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan atas umur panjang, kesuksesan, bimbingan, kesehatan, pahala yang melebihi kekayaan moneter, kenikmatan, kedamaian, keamanan, kepercayaan diri, hubungan antar manusia yang unggul, berkat dan perkenanan Tuhan, serta kehormatan. Seperti halnya semua peribahasa, baik yang alkitabiah maupun yang lainnya, tujuannya adalah untuk memberikan hikmat secara umum, bukan nubuatan khusus untuk seseorang.
Amsal 3:1–12 merupakan nasihat dari Salomo yang mendesak mereka yang lebih muda untuk mengindahkan ajarannya dan percaya sepenuh hati kepada Tuhan. Dia mengutip beberapa hasil berharga dari ketaatan dan kepercayaan. Bagian ini didasarkan pada nasihat yang Salomo berikan dalam Amsal 2. Tuhan yang memberi petunjuk, menghilangkan rintangan, dan memberikan rezeki yang berlimpah bagi umat-Nya dapat dipercaya untuk mendisiplin mereka demi kebaikan dan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, Salomo berpesan kepada muridnya untuk tidak memandang rendah didikan Tuhan atau menjadi bosan terhadap teguran-Nya. Meremehkan didikan Tuhan berarti menolak atau meremehkannya. Dalam penggunaan umum dalam Alkitab, ini menunjukkan kebalikan dari apa yang sering dilakukan manusia duniawi yang ingin hidup bebas tanpa batasan.
Bosan terhadap teguran Allah bisa berarti muak atau benci terhadap-Nya. Didikan Tuhan bukanlah hukuman; itu adalah perbaikan. Kita belajar banyak dengan disiplin. Kita belajar untuk mengidentifikasi tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan Tuhan dan menghambat kemajuan rohani kita. Ketika Tuhan mendisiplin Yunus karena sikapnya yang memberontak, Dia menyiapkan seekor ikan besar untuk menelan Yunus. Paus adalah utusan Tuhan untuk menyelamatkan Yunus dari badai laut, namun juga merupakan sarana yang digunakan Tuhan untuk mengajar Yunus untuk menaatinya (Yunus 1:10 – 2:10). Didikan Tuhan adalah alat efektif yang Dia gunakan untuk membentuk kita menjadi orang yang mempunyai hubungan yang harmonis dengan Dia, bukan untuk membuat orang membenci Dia.
Walaupun Tuhan mendidik umat-Nya karena kasih-Nya, banyak orang yang merasa bahwa Tuhan bersikap totaliter kepada mereka. Sering kali, mereka yang kurang mempunyai hubungan baik dengan orang tua, merasa bahwa Tuhan adalah Oknum yang sewenang-wenang dan memaksakan kehendak-Nya. Tuhan itu seperti orang berumur yang bawel, begitulah ada orang mengeluh. Ia suka sekali menggurui manusia dan mengatur segala segi kehidupan manusia. Karena itu sebagian orang merasa bosan terhadap hubungannya dengan Tuhan. Malahan ada orang-orang yang marah atau tersinggung kalau mendapat peringatan Tuhan baik melalui Firman maupun lewat saudara seiman. Tuhan itu “bossy” dan “boring”, kata sebagian orang. Mereka tidak mau terlalu dekat dengan Tuhan karena tetap mau hidup “berdikari” alias berdiri diatas kaki sendiri. Mereka mau merdeka dari kungkungan Tuhan dan tidak mau terlalu diatur oleh Tuhan.
Mengapa Tuhan bisa terasa membosankan? Karena Tuhan sepertinya kuno, ketinggalan zaman.
Tuhan tidak memperbolehkan manusia beriman kepada rasul-rasul, nabi-nabi, orang suci, pemimpin gereja dan orang-orang terkenal lainnya, baik sudah mati maupun masih hidup. Padahal mereka itu adalah anak-anak Tuhan yang jempolan.
Tuhan tidak memperbolehkan manusia membaktikan diri kepada kekayaan, kesuksesan, kepopuleran, kepandaian, kesenangan dan semacamnya. Padahal itu adalah tujuan hidup manusia yang diajarkan dalam berbagai media.
Kita tidak diperbolehkan menyebut nama Tuhan secara sembarangan, sekalipun itu bisa menunjukkan bahwa kita adalah pengikut Tuhan.
Tuhan mengharuskan kita menghormati Dia khususnya pada hari Sabat/Minggu, padahal hari itu hari libur kita yang bisa dipakai untuk bersenang-senang.
Kita selalu diingatkan untuk menghormati orang tua, padahal mereka sendiri tidak pernah mengeluh atas perlakuan kita.
Tuhan melarang kita membunuh seolah kita ini memang bertampang pembunuh. Apalagi jika kita tidak diperbolehkan membenci orang lain karena itu dianggap sama dengan membunuh.
Manusia tidak diperbolehkan untuk berbuat zinah, cabul, kawin-cerai, hidup diluar pernikahan, atau berhubungan dengan kaum sejenis, padahal banyak orang modern dan ternama berbuat begitu di siang hari bolong pun.
Kita tidak diperbolehkan untuk mengambil keuntungan secara tidak benar karena itu dianggap mencuri. Padahal semua orang harus berbuat begitu kalau mau sukses dalam hidup.
Kita tidak boleh menjelekkan nama orang lain sekalipun orang itu sering memfitnah kita. Inipun sulit dijalankan karena dalam bisnis dan politik sudah biasa manusia bersaing dan saling menyerang atau menjelekkan.
Manusia dilarang mengiri kesuksesan orang lain, padahal rasa ingin seperti orang lain bisa menjadi pendorong kesuksesan kita. Kekaguman kita atas hidup orang lain, prestasi orang lain, harta, pasangan, dan anak-anak mereka sering digolongkan sebagai rasa iri.
Hari ini kita bisa melihat bahwa Tuhan kita itu terasa berlebihan dalam mengatur hidup kita. Karena itu sering kita ingin berjalan sendirian dalam hidup kita. Kita sering bosan untuk hidup “terlalu alim”, kita ingin kebebasan. Tetapi yang tidak kita sadari adalah bahwa semakin lama dan jauh kita hidup tanpa Tuhan, semakin jauh juga kita tersesat dalam kegelapan dosa dan tidak dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Dalam hal ini, Yesus mengingatkan kita bahwa jika kita benar-benar pengikut-Nya, kita tidak akan menolak terang-Nya.
”Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.“ Mazmur 119:105
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” Pengkhotbah 3:1-8
Bagi banyak pekerja di Australia, tanggal 8 Januari 2024 adalah hari pertama pada tahun yang baru untuk kembali bekerja setelah berlibur Natal dan tahun baru. Kebanyakan orang merasa bahwa liburan sangat cepat berlalu; tetapi tentu saja tidak ada liburan yang tidak berakhir. Segala sesuatu di dunia tidak akan berlangsung untuk selamanya. Pengkhotbah 3:1–8 adalah sebuah ayat terkenal yang membahas tentang keseimbangan, siklus kehidupan dan mengatakan bahwa segala sesuatu ada waktunya. Penulis ayat-ayat itu mengilustrasikan kebenaran ini dengan menyandingkan hal-hal yang berlawanan: empat belas pasang aktivitas yang kontras sebagai contoh bagaimana kehidupan terdiri dari berbagai musim.
Anda mungkin pernah mendengar sebagian dari ayat-ayat terkenal ini dibacakan di pemakaman, namun kita jarang meluangkan waktu untuk memikirkannya. Ini adalah meditasi pada ritme kehidupan – ada yang tidak bisa kita kendalikan dan ada yang bisa kita kendalikan. Kitab Pengkhotbah, atau Qohelet dalam bahasa Ibrani, dimulai dengan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan – kelahiran dan kematian, menanam dan memanen. Betapapun kerasnya kita berusaha mempengaruhi mereka, pada akhirnya kita harus mengikuti ritme pekerjaan Tuhan di dunia. Apakah ini sesuatu yang membuat Anda merasa nyaman atau seabaliknya? Atau apakah Anda merasa bahwa kita harus memiliki kendali lebih besar dalam bidang-bidang seperti ini? Adakah sesuatu yang harus kita lakukan, jika Tuhan yang menentukan?
Sebagian orang ingin memperpanjang hidup mereka, dan sebisa mungkin ingin menunda kematian, atau bahkan, kalau bisa, ingin menghilangkannya sama sekali. Jika kita tinggal di negara yang sudah maju dalam bidang kedokteran dan pengobatan, kita berpikir bahwa kematian seharusnya bisa dihindari. Tapi, sekalipun seseorang bisa bertambah lama hidupnya dengan perawatan medis yang canggih, pada akhirnya kematian akan datang, dan malahan sering kali dengan membawa penderitaan yang berkepanjangan bagi orang itu maupun keluarganya. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa baik kehidupan maupun kematian adalah bagian dari kehidupan. Cara hidup kita adalah pilihan kita, tetapi apa yang kita alami adalah dengan seizin-Nya. Puisi ini menegaskan bahwa inilah cara Tuhan bekerja di dunia dan kehendak-Nya harus terjadi. Walaupun demikian, apa yang kita lakukan dan alami adalah bagian dari rencana-Nya.
Pembacaan langsung dari ayat-ayat di atas mengungkapkan beberapa konsep:
Pertama, pengaturan waktu aktivitas kita itu penting. Membunuh seseorang (Pengkhotbah 3:8) umumnya dianggap jahat dan kriminal, namun hal ini dapat berubah ketika terjadi perang, ketika membela negara dapat dianggap sebagai tindakan yang mulia. Menari (ayat 4) mungkin cocok pada saat perayaan, namun tidak pantas untuk pemakaman. Baik tindakan kita maupun kapan kita bertindak adalah penting bagi rencana Tuhan.
Kedua, musim-musim di mana kegiatan-kegiatan tertentu layak dilakukan, dan adanya kejadian-kejadian yang meminta kita bertindak, seperti yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Rencana hidup manusia melibatkan berbagai pengalaman dan aktivitas. Menangis mungkin merupakan bagian dari kehidupan, namun hidup tidak hanya berupa tangisan; tertawa juga ada tempatnya (Pengkhotbah 3:4). Konstruksi memang baik pada waktunya, namun terkadang dekonstruksi diperlukan (ayat 3). Kunci dari bagian ini ditemukan beberapa ayat kemudian: “Dia menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkhotbah 3:11). Aktivitas dan pengalaman manusia yang terjadi pada waktu yang tepat, yang mewujudkan tujuan Tuhan, adalah bagian indah dari keseluruhan rencana Tuhan. Sebuah permadani, jika dilihat dari belakang, tampak seperti karya yang kacau dan tidak indah; namun pembuat permadani mempunyai tujuan yang bijaksana atas penempatan setiap benangnya.
Ketiga, Pengkhotbah 3:1-8 menjadi jembatan antara dua pasal pertama dan bagian berikutnya. Manusia harus menerima setiap hari, dengan segala apayang terjadi, sebagai anugerah dari tangan Tuhan (2:24-26). Mengapa? Pengkhotbah 3:1–8 menjelaskan hal ini karena Allah mempunyai alasan dan waktu untuk segala sesuatu. Manusia mungkin tidak mengetahui waktu dan rencana Tuhan (3:9-11), namun mereka dipanggil untuk menikmati kehidupan dan bertanggungjawab atasnya pada saat ini (3:12-13) dan juga percaya pada kedaulatan Tuhan (3:14-15). Banyak hikmah yang Tuhan berikan dalam firman-Nya, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Tuhan itu berdaulat. Aktivitas kita di dunia ini bermakna jika kita mengandalkan hikmah-Nya, menantikan waktu-Nya, dan percaya pada kebaikan-Nya.
Suatu waktu yang ditentukan, kapan segala sesuatu akan terjadi, berapa lama hal itu akan berlangsung, dan dalam keadaan apa; segala sesuatu yang telah, sedang, atau akan terjadi, telah ditentukan sebelumnya oleh Allah, dan Dia telah menentukan keberadaan, durasi, dan akhir hal-hal tersebut. Waktu dan musim berada dalam kuasa-Nya sendiri: ada suatu waktu yang ditentukan bagi seluruh alam semesta, dan bagi semua orang dan benda-benda di dalamnya. Ada suatu saat yang telah ditetapkan untuk terjadinya dunia; karena semua ciptaan-Nya tidak ada sejak kekal, tidak muncul dengan sendirinya, juga tidak terbentuk oleh kumpulan atom-atom yang terjadi secara acak atau kebetulan, melainkan oleh kebijaksanaan dan kuasa Tuhan; dan hal itu tidak akan ada lebih cepat atau lambat; hal itu muncul pada saat yang seharusnya sesuai dengan kehendak Tuhan.
Jika pada mulanya Tuhan menciptakan alam semesta, dan Dia telah menetapkan berapa lamanya dan kapan berakhirnya; karena hal itu tidak akan terus berlangsung secara abadi, tetapi akan mempunyai akhir. Dalam hal ini, hanya Dia yang tahu kapan itu akan terjadi: jadi ada waktu yang ditentukan untuk kebangkitan, kemajuan, dan kemerosotan negara-negara dan kerajaan-kerajaan di dunia; seperti a[pa yang terjadi pada kerajaan-kerajaan kecil, demikian pula kerajaan-kerajaan besar; dan untuk semua periode dan zaman yang berbeda di dunia; dan untuk setiap musim sepanjang tahun di segala zaman; untuk keadaan gereja di dalamnya, baik yang berada dalam keadaan menderita atau berkembang.
Adanya orang-orang yang menghancurkan Yerusalem; nabi-nabi yang bernubuat, orang-orang yang membunuh pengikut Kristus dan munculnya saksi-saksi Kristus di seluruh dunia; adanya pemerintahan antikristus dan kehancurannya; untuk pemerintahan Kristus di bumi, dan untuk kedatangan-Nya yang kedua kali guna mengadili seluruh manusia, semua itu terjadi dan akan digenapi karena ada waktu yang ditentukan dalam pengarahan dan pemeliharaan Allah.
Dengan demikian, kita harus yakin bahwa apa yang akan terjadi pada tahun 2024, dengan segala rencana dan tindakan kita , demikian pula segala sesuatu yang direncanakan seluruh umat manusia menurut waktu untuk segala tujuan mereka di bawah langit; untuk setiap tujuan manusia yang dilaksanakan; ataupun yang tidak terlaksana, semua itu dipengaruhi oleh kehendak Tuhan. Allah bisa mendorong manusia ke arah tertentu atau menjauhkan manusia dari hal-hal tertentu melalui berbagai cara sehingga apa yang dapat dilaksanakan atau gagal akan terjadi pada waktunya. Allah mengatur manusia untuk bisa memenuhi tujuan-tujuan mereka sendiri; karena hal-hal itu terjadi secara bebas dan sukarela, sekalipun berada di bawah arahan dan pemeliharaan Tuhan. Untuk setiap tujuan Tuhan, ada waktunya; untuk segala sesuatu yang dilakukan manusia di dunia ini pada akhirnya akan sesuai dengan tujuan-tujuan-Nya, yang terbentuk dengan bijaksana di dalam diri-Nya, dan bersifat kekal serta tidak dapat diganggu gugat. Biatlah kita mau bekerja dengan giat dan menurut firman-Nya, sambil berserah kepada-Nya dengan iman yang teguh.
“Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar.” 2 Petrus 2:12
Kitab Petrus menyatakan bahwa guru-guru palsu telah memasuki komunitas Kristen mula-mula. Para penipu ini berbohong kepada orang-orang percaya dan menantang otoritas Yesus. Mereka juga mengundang orang lain untuk menuruti dosa seksual mereka. Seperti itu, masih ada versi guru-guru palsu yang mengganggu komunitas Kristen modern dengan mengajarkan bahwa dosa-dosa tertentu adalah lumrah, dan bahwa manusia pilihan Tuhan tidak perlu memikirkan dosa mereka. Petrus dengan tegas menggambarkan dosa-dosa “anak-anak terkutuk” ini, dan menegaskan bahwa penghakiman kekal menanti mereka, dan menjelaskan dampak tragis penipuan mereka terhadap orang-orang yang terpikat oleh mereka.
Ayat-ayat dari 2 Petrus 2:10–22 menjelaskan lebih lanjut dosa para guru palsu yang menyebarkan penipuan di gereja mula-mula. Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan bagaimana Tuhan menghakimi kejahatan di masa lalu, sekaligus menyelamatkan mereka yang setia. Bagian ini menggambarkan orang-orang yang menolak Kristus demi kepentingan dunia sebagai orang yang “diperbudak” oleh dosa-dosa mereka sendiri. Tidak peduli apa yang mereka klaim, orang-orang seperti itu membuktikan kondisi rohani mereka dengan terus-menerus kembali ke kekotoran moral mereka.
Petrus melanjutkan kutukannya terhadap guru-guru palsu di antara umat gereja, dengan menggambarkan dosa-dosa mereka yang sembrono di hadapan Allah dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa-dosa itu bagi mereka. Petrus telah mengungkapkan bahwa guru-guru palsu ini, tampaknya, menghina atau mengejek makhluk surgawi sebagai bagian dari pengajaran mereka. Petrus menyebut hal itu sebagai penghujatan: berbicara tanpa rasa hormat yang pantas tentang hal-hal yang sakral. Kita tidak tahu secara spesifik apa yang mereka katakan, atau mengapa mereka mengatakannya, namun Petrus memperjelas bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Karena alasan ini dan alasan lainnya, Petrus membandingkan guru-guru palsu ini dengan binatang yang hanya didorong oleh naluri dan bukan oleh pemikiran rasional. Ia menulis bahwa mereka melakukan hal yang alami seperti hewan liar, misalnya, menyerang manusia tanpa sebab yang jelas. Seperti binatang buas itu, Petrus berkata bahwa guru-guru palsu ini akan ditangkap dan dimusnahkan. Namun dalam kasus mereka, Tuhanlah yang akan membinasakan mereka. Kemungkinan besar, Petrus memaksudkan penghakiman kekal atas mereka.
Menariknya, Petrus membandingkan mereka yang bertindak seperti binatang dengan mereka yang bertindak berdasarkan akal budi. Kekristenan, sejak awal, menunjang kebijaksanaan dan pikiran sehat. Faktanya, aspek utama dari iman adalah pengendalian yang disengaja atas kehidupan dan cara berpikir seseorang (Roma 12:2). Gagasan untuk mengabaikan kecerdasan, dan hanya berfokus pada perasaan, sangat bertentangan dengan iman alkitabiah. Memang, dari Alkitab kita tahu bahwa cara hidup dan berpikir manusia adalah hal-hal yang membedakan manusia dan hewan.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2
Selanjutnya, Alkitab dengan jelas membedakan antara manusia dan hewan:
“Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan.” 1 Korintus 15:39
Secara terperinci, manusia berbeda dari semua binatang lainnya dalam beberapa hal:
Mampu berpikir secara analitis
Manusia dapat menganalisa masalah dan menemukan solusi kreatif. Ia mampu bernalar dan berfilsafat tentang kehidupan. Kekuatan penalaran pada hewan terbatas.
Memiliki bahasa yang sejati
Hanya manusia yang memiliki bahasa dan pemikiran konseptual yang benar. Ia dapat berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol abstrak. Alkitab mengatakan salah satu tanggung jawab pertama yang diberikan Tuhan kepada Adam adalah memberi nama binatang (Kejadian 2:19-23). Hewan tidak mempunyai kapasitas seperti itu.
Mampu merekam sejarah
Perbedaan lainnya adalah manusia dapat mencatat dan menentukan sejarah. Sejak dahulu kala, manusia telah mencatat hidupnya untuk dipelajari oleh generasi mendatang. Tidak ada satupun hewan yang mencatat amalnya untuk anak cucu.
Menjalankan ekonomi
Manusia adalah makhluk ekonomi, mampu melakukan transaksi bisnis yang rumit dan mengelola barang dan jasa di bawah kendalinya. Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk menguasai bumi dan “menaklukkannya” (Kejadian 1:28). Hewan tidak melakukan transaksi bisnis satu sama lain.
Mempunyai kesenian
Manusia adalah makhluk estetis yang mampu mempersepsi dan mengapresiasi keindahan dan nilai-nilai tak berwujud. Ketika hewan membangun sesuatu, proses dan objek yang dihasilkan memiliki tujuan fungsional saja. Hewan tidak menciptakan objek untuk tujuan apresiasi.
Menghargai moralitas
Manusia adalah makhluk yang beretika. Dia bisa membedakan antara benar dan salah. Dia dapat dan memang membuat penilaian moral. Dia memiliki hati nurani. Hanya kepada manusialah Tuhan dapat berbicara tentang “kebaikan” dan “kejahatan”. Karena rasa keadilan dan orientasi etis manusia, Tuhan dapat menghukumnya dengan adil karena ketidaktaatannya yang disengaja di Taman Eden.
Melaksanakan ibadah
Hanya manusia yang dapat mempunyai iman, karena karunia Tuhan. Hanya manusia di antara seluruh ciptaan di bumi yang dapat menyembah Penciptanya. Hanya dia yang bisa menaruh kepercayaannya pada bimbingan dan kepemimpinan Tuhan.
Menguburkan yang mati
Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang menguburkan kematiannya. Tidak ada contoh hewan yang melakukan upacara penguburan apa pun seperti yang dilakukan manusia.
Daftar di atas, meskipun tidak menyeluruh, menunjukkan bahwa ada banyak hal yang membedakan manusia dari hewan. Kita juga bisa menambahkan hal-hal seperti: kreativitas, penemuan, imajinasi, penalaran abstrak, cinta (di berbagai tingkatan), kemauan, dan hati nurani.
Kehidupan manusia beriman harus berbeda dari kehidupan hewan.
Penting untuk diperhatikan perbedaan signifikan antara manusia dan bentuk kehidupan lainnya. Tidak hanya berbeda dengan tumbuhan, manusia juga berbeda dengan hewan. Hanya manusia, menurut Alkitab, yang diciptakan menurut “gambar Allah”. Hanya manusia yang memiliki kemauan dan kesadaran diri yang membedakan kita dengan hewan yang paling “maju” dan cerdas sekalipun.
Bagi para ilmuwan, manusia adalah seekor binatang, yang dengan anggun menyebutnya sebagai homo sapiens. Tetapi, dari Alkitab, dan juga dari pengamatan terhadap manusia dan hewan, terlihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar di antara keduanya. Sejarah sekuler dapat memberi tahu kita banyak hal tentang masa lalu kita sebagai umat manusia, dan juga posisi kita di dalamnya. Namun tidak peduli berapa banyak tulisan yang kita temukan dan terjemahkan, tidak peduli berapa banyak penggalian yang kita lakukan dan berapa banyak artefak yang kita pelajari, sejarah sekuler belum menemukan petunjuk untuk membantu menjelaskan mengapa manusia sejati harus berbeda dari hewan.
Pad phak lain, Alkitab mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia merupakan klimaks ciptaan Tuhan, yang diciptakan pada hari keenam. Meskipun urutan terakhir, manusia adalah yang ciptaan Tuhan yang paling penting:
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:27
“Pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah membuat mereka mencerminkan sifat-sifat-Nya. Allah menciptakan mereka sebagai laki-laki dan perempuan, memberkati mereka, dan menyebut mereka ‘manusia’.” Kejadian 5:1,2
Kita sudah belajar bahwa manusia diciptakan sebagai gambar Allah. Kita juga sudah belajar bahwa manusia pada akhirnya jatuh ke dalam dosa. Pertanyaan: Apakah dampak dosa bagi manusia sebagai gambar Allah? Apakah dosa menghilangkan/menghancurkan gambar Allah dari diri manusia? Dosa tidak menghilangkan atau menghancurkan gambar Allah dalam diri manusia, tetapi dosa merusak gambar Allah. Dosa memang membuat manusia bisa hidup dan bertingkah laku seperti hewan, tetapi mereka tetap merupakan gambar Allah.
Sebagai contoh, setelah peristiwa Kejadian 3, yaitu kejatuhan manusia dalam dosa, dalam Kejadian 5:1-3, dikatakan demikian: “Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; . . .Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.” Demikian juga yang dinyatakan dalam Kejadian. 9:6, “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Jelas, alasan Tuhan melarang manusia membunuh sesamanya adalah karena manusia diciptakan menurut gambar Allah.
Perjanjian Baru juga memberikan penjelasan yang sama. Di dalam Yakobus 3:9, dituliskan “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita. Dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,” Yakobus melarang penerima suratnya bersikap tidak konsisten, mulut mereka dipakai memuji Tuhan, tetapi pada saat yang sama, mulut mereka dipakai mengutuki sesamanya yang diciptakan menurut gambar Allah. Dari ayat-ayat ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa gambar Allah dalam diri manusia tidak hilang. Manusia tetap sebagai gambar Allah; tetapi gambar Allah di dalam diri manusia telah mengalami kerusakan.
Roma 3:23 menyatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Mayoritas Alkitab versi bahasa Inggris, menerjemahkan kata ‘”kehilangan” dengan lebih tepat, yaitu “kekurangan”. “For all have sinned, and fall short of the glory of God.” Manusia mengalami kekurangan dari kemuliaan yang pertama Allah berikan kepada mereka. Jadi manusia tidak sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah, tetapi manusia mengalami kekurangan kemuliaan Allah (fall short of the glory of God). Manusia yang berdosa tetap sebagai gambar Allah, tetapi gambar itu telah menjadi rusak. Karena itu, mereka yang tetap hidup dalam dosanya bisa dikatakan mirip dengan hewan.
Puji Tuhan, Allah tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan yang tanpa harapan. Ketika Dia melihat manusia berada dalam keadaan yang telah mengalami kerusakan maka Allah melakukan sesuatu, yaitu mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk menebus gambar-gambar yang rusak itu. Menariknya, beberapa kali Alkitab menyebut Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia disebut sebagai gambar Allah atau wujud Allah. Misalnya di dalam Kolose 1: 15 dikatakan “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,” Begitu juga dalam Ibrani 1:3, dikatakan “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”
Manusia sebagai gambar Allah sudah rusak, tetapi Allah mengirim Anak-Nya sendiri, yaitu gambar-Nya yang sempurna untuk menjadi manusia, menebus gambar-gambar yang rusak itu, supaya gambar yang rusak itu terus menerus mengalami transformasi untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah. Hal ini dicatatkan oleh Paulus dalam Rom. 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Demikian pula dalam Kolose 3:10, Paulus mengatakan: “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik-Nya.” Kita harus ingat bahwa dalam 2 Korintus 5:17 Paulus menulis: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Semoga kita mengerti apa beda antara manusia baru dan hewan, dan memilih untuk hidup sebagai gambar Allah yang sejati yang akan berjumpa dengan Dia di surga.
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Markus 8:34
Dalam tahun yang baru ini, adalah cocok jika kita memelajari arti Markus 8:34. Sebagian orang menjadi Kristen dengan keinginan untuk masuk ke surga, tetapi sebagian juga ingin untuk hidup nyaman di dunia. Tetapi, ayat di atas tidak mengajak kita untuk mengikut Yesus untuk mendapat karcis gratisan untuk ke surga atau kupon untuk mendapat kekayaan dan kenikmatan di dunia.
Dalam Markus 8:33, Yesus menghadapi godaan yang serupa dengan godaan ketiga dari Setan di padang gurun (Matius 4:8-10), yaitu untuk mengambil jalan yang lebih mudah yang terlihat seperti jalan keselamatan namun sebenarnya menuju neraka. Yesus mengajarkan bahwa kita akan menghadapi godaan yang sama. Beberapa pembaca Markus, yang hidup dalam penganiayaan dari Roma, harus menanggung salib secara literal demi iman mereka, termasuk kemungkinan sumber Markus, yaitu Petrus yang menemui ajalnya melalui siksaan.
Di zaman sekarang, kebanyakan orang Kristen tidak dapat membayangkan bagaimana mereka harus berati menderita dan bahkan mati karena iman kepada Kristus. Namun, sebagai pengikut Yesus, kita semua perlu menolak kehidupan yang lebih mudah dari iman yang dangkal dan sesuai dengan budaya modern, atau “kepercayaan yang mudah” yang bersifat egois dan duniawi agar kita menyerah kepada keadaan sekitar kita. Ayat di atas berkata bawa jika kita tidak mau menyangkal diri kita sendiri, dan mengikuti teadan Kristus dalam tindakan kita serta respon kita terhadap hidup kita, maka kita sama sekali tidak “mengikuti” Dia.
“Menyangkal” berasal dari akar kata Yunani aparneomai dan berarti menegaskan bahwa Anda tidak berhubungan dengan seseorang. Menyangkal diri sendiri berarti melupakan kepentingan diri sendiri. Ini tidak berarti meninggalkan segala kenyamanan di dunia seperti seorang bhiksu, atau mengendalikan tindakan seseorang melalui disiplin spiritual yang kaku, tetapi menolak segala sesuatu yang menghalangi kerajaan Tuhan. Secara spesifik, apa yang harus kita tolak bergantung pada situasi kita. Itu bisa berupa kenyamanan, tanggung jawab duniawi, atau bahkan hubungan dengan keluarga atau masa lalu kita (Lukas 9:57–62).
Banyak orang yang menerjemahkan “salib” sebagai rujukan atas segala beban yang harus mereka pikul di dalam kehidupan mereka; seperti sebuah hubungan keluarga yang tidak harmonis, pekerjaan yang tidak dihargai, atau penyakit fisik yang dialami diri sendiri atau anggota keluarga. Dalam kesaksiannya seseorang kemudian berkata, “Itulah salib yang harus aku tanggung.” Terjemahan seperti itu bukanlah pada hakekatnya merupakan arti memikul salib dan mengikuti Dia. Memikul salib bukan berarti menerima beban atau penderitaan hidup yang umum sebagai manusia.
Memang, orang-orang percaya cenderung menganggap segala ketidaknyamanan sebagai “salib” dan kemudian menjadikannya sebagai bagian dari pemuridan. Arti kata “memikul salib” sebenarnya sejajar dengan “menyangkal diri sendiri”. Jika kita belajar untuk mengorbankan diri kita demi Tuhan, kita tidak akan resah mengorbankan harta benda kita. Kita akan menjadi milik Tuhan, bukan hamba dari harta, kedudukan, reputasi, atau kenyamanan kita. Semua itu adalah kerelaan dan keputusan kita sendiri.
Bahwa Yesus memanggil orang banyak itu kepada-Nya dan mengucapkan hal memihul salib sebelum Dia membicarakan hal-hal lain adalah sesuatu yang penting. Ini berarti bahwa Dia menyampaikan panggilan untuk menyangkal diri sendiri dan memikul salib kepada semua orang percaya, bukan hanya kepada para pemimpin Kristen. Beberapa orang dipanggil untuk menjalani kehidupan pelayanan. Beberapa orang dipanggil untuk mengorbankan hidup mereka demi kerajaan Allah. Namun kita semua dipanggil untuk menyerahkan kehidupan duniawi kita dan mengabdikan diri kita kepada Kristus. Itu bukan melalui penetapan-Nya dan bukan juga keputusan-Nya, tetapi adalah ajakan-Nya agar kita mau menuruti-Nya. Menjadi pengikut Kristus bukanlah menjadi orang yang pasif, yang percaya kepada takdir.
Ketika Yesus memikul salibNya ke Golgota untuk disalibkan di sana, tidak ada seorang pun yang memikirkan salib secara simbolik sebagai beban yang harus kita tanggung. Bagi seorang yang hidup di abad pertama, salib hanya dapat diartikan sebagai kematian dengan cara yang paling memalukan dan mengenaskan yang pernah diciptakan manusia.. Karena orang Romawi memaksa penjahat yang ditemukan bersalah memikul salib mereka ke tempat penyaliban, memikul salib bersama Yesus bermakna memertahankan iman kita di sepanjang perjalanan hidup kita sampai mati.
Ajakan untuk “memikul salib dan mengikuti Aku” juga bermakna bahwa kita siap mati demi mengikuti Yesus. Ini yang diartikan “mati kepada kehendak pribadi.” Ialah panggilan untuk berserah penuh. Setiap kali Yesus memerintahkan penanggungan salib, Ia berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:24-25). Walaupun ini adalah panggilan yang berat di dunia materialistik saat ini, pahalanya tidak tersaingi.
Mengikuti Yesus adalah hal mudah ketika hidup kita lancar dan nyaman; tetapi, komitmen kita padaNya yang asli akan terlihat di kala ada pencobaan. Yesus memastikan bahwa semua pengikutNya akan menghadapi pencobaan (Yohanes 16:33). Pemuridan mensyaratkan pengorbanan, dan Yesus tidak pernah menyelubungi hal itu. Di dalam Lukas 9:57-62, tiga orang terlihat ingin mengikuti Yesus. Ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka tidak berkomitmen secara penuh. Mereka gagal memperhitungkan harga yang harus dibayar demi mengikutiNya. Tidak ada yang ingin mengemban salib dan menyalibkan kepentingan pribadiNya.
Jika Anda sedang berfikir tentang menanggung salib, pertimbangkanlah pertanyaan-pertanyaan ini:
Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti kehilangan teman terdekat?
Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti diasingkan keluarga?
Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti reputasi Anda rusak?
Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti kehilangan pekerjaan?
Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti kehilangan nyawa Anda?
Di beberapa tempat di dunia ini, akibat dari mengikut Kristus adalah sebuah realita yang berat. Perhatikan cara pertanyaan tersebut dirangkai, “Apakah Anda siap?” Mengikuti Yesus tidak secara harafiah berarti semua hal ini akan terjadi pada Anda, tetapi apabila terjadi apakah Anda siap menanggung salib? Jika datang sebuah peristiwa di tahun 2024 dimana Anda harus memilih – ketaatan kepada Yesus atau kenyamanan duniawi – apakah pilihan Anda?
Komitmen pada Kristus berati menanggung salib setiap hari, menyerahkan harapan, impian, harta benda, dan mungkin juga nyawa Anda bagi Kristus. Hanya jika Anda siap menanggung salib maka Anda layak mengemban julukan muridNya (Lukas 14:27). Pahalanya tentu sepadan dengan harga yang harus dibayar. Yesus mengikuti panggilan kematian akan pribadiNya (“Pikullah salib dan ikutlah Aku”) dengan karunia kehidupan di dalam Kristus:
“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Matius 16:25-27
“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39
Empat rumah hancur dan ratusan lainnya rusak setelah seminggu dilanda hujan es raksasa, angin kencang, dan hujan deras di tenggara Queensland. Wilayah Gold Coast, Logan, dan Tamborine Mountain paling terkena dampak cuaca buruk yang terjadi sejak Hari Natal, yang membuat banyak keluarga berada dalam kegelapan dan menyebabkan beberapa orang dilarikan ke rumah sakit. Satu rumah di Tamborine Mountain hancur ketika sebuah pohon setinggi 40 meter menabrak properti tersebut setelah terbawa badai.
Keadaan di Gold Coast sangatlah parah sesudah hari Natal 2023, ketika air banjir menggenang di banyak jalan dan aliran listrik mengalami pemutusan selama semingu. Saya bersyukur bahwa keadaan sesudah itu mulai membaik. Pada pihak yang lain, saya juga kuatir bahwa ada kemungkinan ada badai dalam minggu-minggu mendatang. Kekuatiran saya menjadi lebih intens jika saya ingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi pada minggu-minggu mendatang di pantai timur Australia. Memang bulan Januari adalah bulan topan di Australia.
Topan datang tanpa diundang. Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas lagi berperahu sambil menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.
Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Mungkin mereka pada awalnya berusaha untuk mengatasi keadaan. Tetapi sekalipun mereka kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga dalam kekuatiran mereka membangunkan Yesus.
Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang-orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya kuat dalam menghadapi gelombang hidup yang besar? Saat ini, kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi. Seperti murid-murid Yesus kita merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita.
Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus. Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar berkuasa, Tuhan Yesus. Yesus kemudian bangun dan menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!”.
Kata yang diterjemahkan “menghardik” berasal dari akar kata Yunani epitimao. Secara harfiah berarti memberikan atau mengakui nilai dari sesuatu. Dalam hal ini Yesus menilai angin tidak dikehendaki. Itu adalah kata yang sama yang digunakan ketika Yesus menghadapi setan (Markus 1:25; 3:12; 9:25). Kata “diam” berasal dari akar kata Yunani fimoo yang berarti tetap diam seperti diberangus, dan tetap terkendali. Menarik sekali bahwa Yesus menyikapi unsur-unsur cuaca seperti yang kita lakukan terhadap makhluk hidup. Jika Allah memberi manusia wewenang atas hewan dan tumbuhan (Kejadian 1:28), Yesus menciptakan segala sesuatu di bumi dan, oleh karena itu, berkuasa atas semua ciptaan (Kolose 1:16).
Dalam Perjanjian Lama, kita melihat bahwa hanya Tuhan yang dapat mengendalikan cuaca (Mazmur 65:7; 89:9; 107:23–32), meskipun mereka yang mencari nafkah dari laut biasanya dapat memperkirakannya (Matius 16:3) . Beberapa nabi Perjanjian Lama mengumumkan kapan Tuhan akan mendatangkan atau menghilangkan hujan, atau berdoa memohon hujan berdasarkan instruksi Tuhan, namun mereka tidak pernah memerintahkan cuaca secara langsung dan berdasarkan otoritas mereka sendiri. Para murid telah melihat otoritas Yesus atas luka dan penyakit, serta setan, namun mereka baru mulai memahami siapa Yesus sebenarnya (Markus 4:41). Yesus meredakan badai karena para murid takut mati. Mereka perlu melihat bahwa otoritas-Nya mencakup keadaan-keadaan eksternal yang akan mereka hadapi.
Seperti apa yang dialami murid-murid Yesus, dalam Kisah Para Rasul 27:13–38, Paulus dan rombongannya terjebak dalam badai dahsyat yang menghancurkan kapal mereka dan memaksa mereka berenang ke tempat yang aman. Namun karena imannya, Paulus mampu memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendapatkan kepercayaan dari awak kapal dan melayani orang-orang yang mereka temui di pulau itu (Kisah 28:7-10). Stabilitas rohani kita sendiri lebih penting daripada berusaha menunjukkan kuasa Allah atas permasalahan kita.
Perlu dicatat bahwa kita tidak perlu merasa terpukul atau marah jika Tuhan tidak nampak bereaksi atas jeritan kita. Ayat di atas tidak berarti bahwa Tuhan akan selalu melepaskan kita dari segala bahaya pada saat yang kita harapkan; inilah salah satu ironi besar dalam kehidupan Kristen. Tuhan memang dapat mengendalikan segalanya dan membuat segalanya menjadi baik dan kita harus beriman kepada-Nya dan merasa puas bahkan ketika Dia tidak bertindak seperti apa yang kita maui (Filipi 4:12-13).
Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa ingat adanya Tuhan dan agar mau menjerit kepadaNya. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”
Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Dan kita ingat bahwa ketika topan itu reda, hidup kita terasa teduh kembali. Biarlah kita juga ingat bahwa Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menolong kita pada waktu yang tepat. Semoga Tuhan menguatkan kita yang saat ini sedang menghadapi masalah hidup yang besar.