“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1:31
Hari ini hari yang kedua dalam tahun 2024. Bagi sebagian orang, hidup sehari-hari dimulai lagi dengan mencari nafkah. Yang lain, mungkin masih bisa berlibur untuk beberapa hari lagi. Bagi banyak orang, adanya tahun baru adalah kesempatan untuk memulai hidup dengan harapan, rencana dan target baru, Entah itu dalam bidang bisnis, studi, hubungan antar manusia, atau hal yang lain, adanya tahun baru bisa digunakan untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi pada tahun yang lalu. Bagi umat Kristen, ini juga membuka kesempatan untuk lebih aktif dalam melayani Tuhan, lebih ingin memelajari firman Tuhan, atau lehih taat kepada perintah-Nya. Hidup untuk memuliakan Tuhan.
Walaupun demikian, tidaklah mudah untuk melaksanakan apa yang kita inginkan. Sebagian dari apa yang kita rencanakan, tidak hanya bergantung pada kemauan dan kemampuan kita, tetapi juga dipengaruhi oleh apa yang ada di sekitar kita. Selain itu, sebagai manusia berdosa yang tidak sempurna, apa yang kita sadari sebagai sesuatu yang baik, sering kali menjadi sesuatu yang kita hindari.
“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15
Dalam keadaan frustrasi, Paulus dalam Roma 7 merasa bahwa hidup untuk kemuliaan Tuhan itu luar biasa sulitnya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang kemudian menyerah, tidak lagi peduli atau bersemangat untuk berusaha hidup baik. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (Roma 7:24-25 ).
Tahun baru ini seharusnyamengingatkan kita bahwa pada mulanya Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya dengan maksud baik. Oleh karena itu, setelah Ia menjadikan semuanya, termasuk Adam dan Hawa, Ia kemudian melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. (Kejadian 1:31). Tuhan tidak menciptakan seisi alam semesta dengan maksud buruk atau jahat; karena Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih tidak dapat menciptakan sesuatu yang buruk dan jahat, dan kemudian merasa gembira atau berpura-pura senang atas apa yang diperbuat-Nya. Tuhan juga menciptakan Adam dan Hawa dengan maksud baik, bukan dengan maksud untuk membuat mereka jatuh datam dosa. Hidup Adam dan Hawa seharusnya sangat nikmat dan penuh kebahagiaan sebelum mereka jatuh datam dosa, karena segala sesuatu sudah disediakan untuk mereka.
Seperti itulah, tahun 2024 ada dan datang dari Tuhan yang mempunyai maksud baik untuk umat-Nya. Jika kita diizinkan-Nya untuk memasuki baru ini, Tuhan memberi kita kesempatan bagi kita untuk hidup, bekerja dan mengasihi Dia dan sesama kita. Seperti pada waktu setelah Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, tahun 2024 dilihat-Nya sebagai sesuatu yang baik. Tuhan tidak menciptakan 2024 dengan maksud buruk atau jahat bagi kita; karena Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih tidak dapat menciptakan sesuatu yang buruk dan jahat bagi umat-Nya. Dengan demikian, Ia juga memerintahkan kita untuk bekerja dan hidup bagi kemulian-Nya.
Pada awal tahun ini kita harus ingat bahwa Tuhan memberkati Adam dan Hawa, lalu berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” (Kejadian 1: 26-27). Ini juga pesan Tuhan kepada kita. Apakah tanggapan Anda?
“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” Lukas 12:32
Apakah yang Anda harapkan untuk tahun yang baru? Sudahkah Anda membuat rencana dan prioritas untuk mencapai hasil yang lebih baik dari apa yang sudah diperoleh pada tahun 2023? Agaknya ada banyak orang yang saat ini menyambut datangnya tahun baru dengan keinginan untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar pada tahun 2024. Tidaklah mengherankan bahwa banyak khotbah gereja pada hari ini yang berthemakan pengharapan akan berkat Tuhan yang lebih besar untuk diri sendiri dan keluarga. Thema mencapai kesuksesan dan kemakmuran di tahun baru adalah suatu hal yang menarik untuk sebagian orang Kristen yang percaya bahwa karena Tuhan mahakaya dan mahakuasa, orang yang beriman tidak mungkin akan mengalami kemiskinan atau kegagalan.
Berbeda dengan pengharapan banyak orang, Lukas 12:22–34 mencatat Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk melepaskan kekhawatiran mereka, dan sebaliknya memercayai Tuhan untuk segala kebutuhan fisik mereka. Dia telah mengatakan kepada mereka untuk menolak kehausan akan ketenaran, ketakutan akan kematian, dan ketergantungan pada kekayaan (Lukas 12:1-21). Dia juga memberi tahu bahwa hidup sebagai umat Tuhan bukanlah mudah, bahwa mereka mungkin juga harus meninggalkan keluarga (Lukas 12:49–53). Karena itu, mereka perlu berfokus pada tugas yang akan diberikan Yesus kepada mereka (Lukas 12:35-48), yaitu membangun gereja setelah kenaikan-Nya. Matius 6:25–34 mencakup ajaran yang sama, meskipun mungkin pada waktu dan tempat yang berbeda.
Yesus mengajar para murid tentang prioritas yang tepat dalam hidup orang percaya. Hal ini termasuk mengakui bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu, bahkan semua rahasia. Karena itu, orang-orang beriman hendaknya menghormati Tuhan lebih dari rasa takut mereka akan kegagalan dan kematian, atau khawatir terhadap hal-hal seperti makanan dan pakaian. Umat Kristen harus tetap siap menyambut kedatangan Kristus kembali, meskipun iman mereka akan memisahkan mereka dari orang yang tidak beriman. Ide-ide ini berkisar pada tema sentral ayat 34: bahwa hati seseorang mencerminkan apa yang paling mereka hargai.
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Lukas 12:34
Yesus sedang mengajar murid-murid-Nya tentang prioritas dalam kerajaan Allah. Hal ini terjadi sebagai respons terhadap seorang pria yang marah karena saudara laki-lakinya tidak membagi warisan keluarga sesuai dengan keinginannya. Orang ini mendambakan apa yang dimiliki saudaranya dan ingin mengumpulkan kekayaan. Untuk menunjukkan kesia-siaan sikap seperti itu, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang menghasilkan banyak panen dan membangun lumbung untuk menyimpannya, namun kemudian mati. Kekayaannya tidak akan ada gunanya baginya ketika dia meninggal (Lukas 12:13-21). Dengan demikian, Yesus menolak pandangan teologi kesuksesan yang diajarkan oleh banyak gereja di zaman ini.
Baik pria yang marah kepada saudaranya maupun petani kaya dalam perumpamaan itu ingin “mengumpulkan harta” di bumi namun tidak “kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:21). Mereka seharusnya mencari kerajaan Allah terlebih dahulu (Lukas 12:31). Harta benda dapat hilang karena pencurian atau perusakan, dan pasti akan hilang jika pemiliknya meninggal dunia. Adalah bodoh bagi seorang Kristen untuk memprioritaskan akumulasi benda-benda fana ketika Allah ingin memberinya warisan dalam kerajaan kekal-Nya (Lukas 12:33-34).
Janganlah kita menaruh keinginan hati pada mengumpulkan hal-hal duniawi yang akan binasa. Kita juga tidak perlu cemas untuk mendapatkan apa yang kita perlukan selama kita berada di sini. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia akan menyediakannya. Hidup kita lebih berharga daripada mengkhawatirkan makanan dan pakaian. Kita mempunyai hak istimewa untuk mencari kerajaan Allah. Jika kita memprioritaskan harta kekal ini, kita tidak akan mendambakan kebutuhan duniawi (Lukas 12:22-31).
Walaupun demikian, ada orang-orang Kristen yang mendambakan kekayaan dengan alasan untuk bisa menyumbang gereja dan Tuhan. Alasan yang sedemikian adalah sesuatu yang dibuat-buat untuk pembenaran ajaran teologi kemakmuran yang dipegang mereka. Kita boleh meminta berkat Tuhan untuk lebih bisa menyokong pekerjaan-Nya di bumi, tetapi kita tidak boleh meminta kekayaan untuk bisa mengembalikannya kepada Tuhan. Tuhan adalah yang empunya segala sesuatu, dan Ia tidak membutuhkan barang apa pun dari manusia. Ia hanya mau menerima persembahan yang dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kerakusan.
Meskipun memberi adalah bagian yang sah dari program pelatihan Tuhan bagi umat Kristen, rencana Tuhan tidak akan gagal jika kita tidak memberikan uang kita kepada-Nya. Tuhan tidak butuh uang kita. Manusia duniawi selalu membutuhkan uang – bukan Tuhan. Sebaliknya Tuhan mengincar hati manusia, bukan uang mereka. Sungguh menggelikan memikirkan adanya Tuhan yang membutuhkan, padahal Dia bisa berfirman untuk menciptakan planet. Hanya dengan mengucapkan firman, Tuhan dapat menciptakan apa pun yang Dia perlukan atau inginkan.
“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Kisah Para Rasul 17:24-25
Hari ini, baiklah kita menyadari bahwa dalam tahun yang baru, kitalah yang akan membutuhkan Tuhan. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya dalam Kisah Para Rasul 17, kitalah yang hidup dan bergerak serta berada di dalam kuasa Allah. Adakah sesuatu yang dapat Anda lihat, dengar, sentuh, rasakan, atau cium yang pada akhirnya tidak berasal dari Tuhan? Indra kita yang memungkinkan kita untuk menyadari dunia di sekitar kita datang karena rancangan Tuhan terhadap kita. Dialah yang menopang kehidupan kita. Tanpa Dia kita bahkan tidak bisa ada, karena Dia menopang hidup kita.
Ketergantungan manusia pada Tuhan adalah mutlak. Perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman adalah bahwa orang Kristen mengakui kebenaran ini dan bersyukur serta memuji Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan, sementara orang non-Kristen terus berada dalam ketidaktahuan, pembangkangan, atau ketidakpuasan. Orang non-Kristen ingin memuji dirinya sendiri, dan bukan Tuhan; dan karena itu selalu memproritaskan diri sendiri.
Banyak manusia yang tidak menyukai gagasan tentang ketergantungan kepada Tuhan dan menolak adanya Tuhan. Mereka secara langsung menyatakan bahwa manusia itu mandiri dan mampu, dan ia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Orang lain mungkin punya pendapat yang tidak begitu mencolok, namun dalam praktiknya sama saja. Mereka ingin menjadi kapten kapal kehidupan mereka sendiri, menentukan arah mereka sendiri, dan melakukan apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri. Namun ketika manusia mencoba melakukan hal ini mereka tidak sadar akan apa yang dikatakan Amsal 14:12, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Menolak atau mengabaikan Tuhan selama hidup di dunia tidak akan mengurangi ketergantungan manusia pada Tuhan. Biarlah kita insaf akan apa yang harus kita prioritaskan dalam hidup: Tuhan. Selamat tahun baru!
“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15
Sebentar lagi kita memasuki tahun baru 2024. Bagaimanakah perasaan Anda saat ini? Banyak orang yang menantikan datangnya tahun baru karena itu adalah kesempatan untuk merayakannya bersama teman-teman dan sanak saudara. Tetapi banyak juga orang yang menganggap bahwa tahun baru adalah bukan hari yang istimewa untuk dirayakan, karena sebenarnya tidak ada beda antara hari Tahun Baru dengan hari-hari sebelumnya. Bukan seperti hari ulang tahun atau hari Natal. Walaupun demikian, adanya perayaan tahun baru sudah tentu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk memikirkan kehidupannya. Apakah kita merasa puas dan bahagia dengan apa yang kita capai pada tahun yang lalu? Apakah Anda akan berusaha untuk menjadi orang Kristen yang lebih baik dari tahun yang lalu?
Bagi sebagian orang Kristen, menjadi orang yang lebih baik secara rohani bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan. Ada yang beranggapan bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah karunia Tuhan semata-mata, sehingga mereka hanya bisa menyampaikan doa permohonan. Ada yang yakin bahwa Tuhan sudah menentukan orang yang akan diselamatkan, jadi mereka merasa tidak perlu untuk berubah menjadi makin baik di mata Tuhan. Ada juga mereka yang berpikir bahwa segala seuatu terjadi karena kehendak Tuhan, sehingga mereka tidak perlu berusaha untuk menjadi makin baik. Semua alasan seperti itu adalah pikiran yang sesat, yang tidak berlandaskan pada firman Tuhan. Mengapa begitu? Alkitab penuh dengan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berusaha menjadi domba yang baik dan setia.
2 Petrus 1 : 10 “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”
2 Timotius 3 : 16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Galatia 6 : 7-8 “Jangan sesat ! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”
Galatia 1 : 10 “Jadi bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
Yohanes 14 : 15 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”
Dalam Roma 7, Paulus menggambarkan hubungan antara orang Kristen dan hukum Musa dan antara hukum dan keberdosaan manusia. Karena kita sebenarnya sudah mati secara rohani pada waktu kita beriman kepada Kristus, umat Kristiani telah dibebaskan dari kewajiban kita untuk mengikuti hukum. Namun, Paulus menegaskan bahwa hukum itu suci dan baik dalam arti bahwa hukum itu menyingkapkan kepada semua orang yang berusaha mengikutinya betapa berdosanya diri kita. Hukum Taurat menunjukkan kepada kita bahwa betapapun baiknya niat kita, kita tetap saja jatuh dalam dosa dan membutuhkan pembebasan yang hanya tersedia melalui iman kepada Yesus.
Apakah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya menggambarkan Paulus sebelum dia menjadi seorang Kristen atau sesudahnya? Para pakar Alkitab tidak sepakat satu sama lain, dan perbedaan ini mempunyai arti penting. Secara harafiah, bahasa Yunani Paulus dalam ayat ini berubah menjadi bentuk orang pertama, tunggal, dan bentuk waktu sekarang. Hal ini berbeda dengan bagian lain dari kitab Roma yang menggunakan istilah-istilah yang lebih umum. Setidaknya menurut pilihan bahasanya, Paulus tampaknya berbicara tentang dirinya sendiri secara langsung dan literal.
Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai sudut pandang Paulus di sini, para ahli Alkitab sepakat bahwa baik orang non-Kristen maupun orang Kristen boleh mengungkapkan perasaan ini. Keduanya mungkin bermaksud melakukan hal yang benar, tetapi malah mendapati diri mereka melakukan hal yang salah, tanpa mengetahui sepenuhnya alasannya. Ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari manusia yang bisa berbuat salah dan fana (2 Korintus 5:2).
Paul mencirikan dirinya sebagai orang yang terus-menerus melakukan kebalikan dari apa yang ingin dia lakukan. Alih-alih melakukan apa yang dia ingin lakukan, dia malah melakukan apa yang dia benci. Ini membuat frustrasi – mengapa ini bisa terjadi?
Mereka yang percaya bahwa Paulus sedang menggambarkan kehidupannya sebelum menjadi seorang Kristen memahami maksud Paulus; yaitu bahwa mereka yang masih berada di bawah hukum bingung mengapa mereka tidak dapat menaati hukum. Mengapa mereka tetap tidak menaati perintah Tuhan meski mereka ingin untuk taat? Para ahli Alkitab dengan pandangan ini memahami ayat sebelumnya untuk menggambarkan seseorang yang masih menjadi budak dosa, bukan seseorang yang sudah terbebas dari kungkungan dosa melalui iman kepada Kristus (Roma 6:2, 18, 22).
Para ahli Alkitab yang percaya bahwa Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen percaya bahwa dia sangat jujur dalam perjuangannya melawan dosa. Meskipun orang-orang Kristen telah dibebaskan dari kuasa dosa, kita masih hidup di bawah pengaruh kuasa dosa. Di sinilah peranan kita untuk berusaha hidup baik menjadi sesuatu yang dimungkinkan Tuhan jika kita sadar akan firman-Nya. Memang kadang-kadang kita mungkin merasa persis seperti apa yang Paulus gambarkan. Kita terus melakukan apa yang kita benci – berbuat dosa – meskipun kita tahu akan apa yang baik dan bermaksud melakukan apa yang benar. Bukan berarti kita masih menjadi budak dosa, namun hidup kita sering diombang-ambinkan oleh berbagai keinginan yang saling bersaing.
Roma 7:7–25 menelusuri hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukumTuhan adalah cara dia mengetahui dan memahami dosa, secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ini berlaku bagi kita sampai sekarang. Tetapi, Paulus juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum tidak membuat seseorang menjadi lebih suci; hal ini justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi! Ini persis seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa di taman Eden. Paulus mengubah sudut pandangnya dalam ayat ini, dengan menggunakan sudut pandang orang pertama di sini dan saat ini, sebagai seorang Kristen, ingin melakukan apa yang benar dan malah mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan hal yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dilepaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.
Saat ini, adakah kesedihan dalam hati Anda karena Anda sering gagal untuk menaati Firman Tuhan dalam hidup? Adakah perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaan dan masalah Anda? Firman Tuhan berkata bahwa jika manusia tidak dapat mengerti jalan pikiran Anda, Tuhanlah yang bisa melihat apa yang Anda pikirkan dan kuatirkan. Ia yang mahakuasa selalu mau menyelidiki dan mengenal siapa Anda, sekalipun Anda sendiri kurang sadar akan cara hidup Anda. Ialah yang bisa menolong Anda, mengampuni Anda dan mengembalikan Anda ke jalan yang benar, agar Anda bisa hidup berbahagia dan menemukan kedamaian di dalam Dia.
Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada di mana pun dan kapan pun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apa pun terjadi, karena Dia ada sebelum ciptaan-Nya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan. Karena itu, tidaklah mungkin kita menutup diri kita dari pandangan mata Tuhan. Sebaliknya, kita harus menyerahkan hidup dan isi hati kita kepada Dia dan mau belajar untuk bisa makin menaati Firman-Nya di tahun 2024.
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24
“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91:7
Setiap akhir tahun saya merasa sedih jika membaca berita tentang adanya orang-orang yang tidak sempat memasuki tahun yang baru. Mereka yang tertimpa bencana, mengalami kecelakaan atau mengalami sakit akut, hidupnya terhenti dengan tiba-tiba. Perasaan sedih lebih terasa mendalam jika mereka yang mengalami hal itu adalah anak-anak yang sebelumnya masih sempat bermain dan bercanda. Juga, hati menjadi sedih memikirkan bahwa banyak di antara mereka belum mengenal Kristus.
Memang kejadian yang menyedihkan terjadi setiap hari dimana saja, dan itu bisa terjadi pada semua orang, baik Kristen maupun bukan. Sudah tentu mereka yang merasa berTuhan ingin agar Tuhan melindungi mereka dari segala bencana. Sebagian yakin bahwa Tuhan akan menghindarkan mereka dari apa yang jahat. Dan mereka yang Kristen tentunya berdoa dalam nama Yesus agar Tuhan tidak membiarkan mereka jatuh dalam pencobaan.
Ayat di atas adalah ayat yang sering dipakai oleh orang Kristen untuk menguatkan iman mereka yang kuatir akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak pendeta yang sering memakai ayat ini untuk memberikan semangat baru kepada jemaatnya, seperti seorang motivator yang sering mengumandangkan ucapan atau slogan yang bernada positif atau positive thinking.
Memang tidak ada salahnya jika orang yang mempunyai sikap positif dalam menghadapi hidup. Malahan ada baiknya jika orang mempunyai sikap yang optimis dalam menghadapi kesulitan. Pada pihak yang lain, sikap optimis dan pikiran positif tidak menjamin bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan selalu indah dan berjalan aman. Ada kalanya, kejadian yang menyedihkan terjadi di luar dugaan.
Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana dalam hidupnya? Jika kita menerima nasihat yang secara literal mengartikan bahwa orang beriman tidak akan pernah mengalami kekalahan atau malapetaka, ada kemungkinan bahwa kita akan kecewa dan bahkan menyesali Tuhan. Jika kita percaya bahwa hidup kita ada di tangan kita dan semangat kita bisa menghilangkan kesedihan atau ketakutan kita, kita mungkin akan sadar bahwa itu adalah sebuah fatamorgana. Itu karena ayat diatas bukan merupakan janji Tuhan untuk membebaskan umat-Nya dari segala masalah selama hidup di dunia.
Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang justru mengalami bencana dalam hidup karena iman mereka. Mengikut Yesus berarti ikut memikul salib-Nya dan hal-hal yang jahat sering terjadi karena iblis yang tidak mau tunduk kepada Tuhan. Selain itu, karena dunia yang sudah jatuh dalam dosa, berbagai masalah bisa terjadi pada siapa saja. Jika demikian, perlukah kita percaya akan kebenaran ayat di atas?
Ayat di atas tidak menjanjikan hidup yang selalu indah kepada umat Kristen. Sebaliknya, ayat itu mengungkapkan adanya kenyataan bahwa hidup itu tidak mudah. Manusia boleh mempunyai cara berpikir positif dan penuh optimisme, tetapi ada hal-hal yang bisa menghancurkan hidup mereka jika mereka tidak mengenal Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Dalam menghadapi bencana, banyak orang yang kehilangan harapan dan hancur semangatnya jika mereka hanya bergantung pada kekuatan manusia, Tetapi, sekali pun ada banyak orang yang kehilangan harapan di sekitar kita – seribu orang rebah tak berdaya di sisi kita, dan sepuluh ribu kehilangan harapan untuk masa depan di sebelah kanan kita – kita akan tetap dapat berdiri tegak dalam iman dan percaya bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan kebaikan sesuai dengan kehendak Tuhan yang mahakasih.
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8: 35 – 37
“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Matius 7: 25
Media memberitakan adanya 7 orang yang tewas dan lebih dari 100.000 rumah kehilangan aliran listrik akibat badai petir yang melanda pantai timur Australia sesudah datangnya hari Natal, dengan peringatan akan adanya cuaca yang lebih buruk menjelang tahun baru.
Badai hebat melanda ketiga negara bagian di wilayah timur pada hari Natal. Lebih dari 1200 permintaan bantuan SOS diterima oleh layanan darurat di negara bagian New South Wales, dan bandara Sydney pun sampai kebanjiran. Polisi di negara bagian Victoria mengkonfirmasi seorang pria meninggal di sebuah properti setelah ranting pohon tumbang menimpanya pada Selasa pagi. Di negara bagian Queensland, ambulans mengkonfirmasi seorang wanita telah meninggal di Gold Coast setelah tertimpa pohon tumbang pada Senin malam. Tahun baru belum datang, tetapi badai besar sudah melanda.
Hidup manusia dalam ayat di atas dibayangkan sebagai rumah yang dilanda badai. Datangnya masalah kehidupan yang besar tentunya menggoncang hidup siapa saja. Jika badai besar dalam hidup seseorang mungkin belum datang, ia tentunya berdoa dan berharap agar itu tidak terjadi. Tetapi jika terjadi, itu tidak dapat ditolak atau dihindarinya.
Pada akhir tahun 2023, saya mengajukan pertanyaan: kapankah kita akan mengalami badai kehidupan di masa depan? Setiap orang tidak akan bebas dari ancaman badai. Berbeda dengan badai karena cuaca, badai kehidupan seringkali tidak dapat diduga datangnya maupun besarnya. Karena itu banyak orang yang mengalaminya akan mengalami goncangan atau kejutan besar. Walaupun demikian, setiap orang bisa mempersiapkan diri jika mereka sadar bahwa itu bisa datang pada saat yang tidak terduga.
Dalam dunia yang sudah tercemar dosa, siapa saja bisa mengalami masalah hidup yang besar. Saat ini, dengan adanya perang di dua tempat di dunia, penduduk setempat sudah mengalami berbagai penderitaan. Dengan adanya perubahan iklim, banyak negara mengalami badai, banjir dan kekeringan. Jika keadaan tidak membaik dengan cepat, diperkirakan bahwa wabah kelaparan akan muncul di berbagai negara. Dalam hal ini, umat Kristen tidak seharusnya berharap akan perlakuan istimewa dari Tuhan, agar mereka boleh bebas dari masalah, sedangkan orang di sekitar mereka semuanya jatuh bangun bergulat dengan penderitaan. Sekalipun sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan mampu membuat kita selalu bahagia, kita tidak bisa meminta hidup yang nikmat tanpa badai. Apa yang boleh kita minta adalah kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat kuat menghadapinya.
Seperti mempersiapkan sebuah rumah untuk menghadapi badai yang akan datang, kita harus memohon agar Tuhan memperkuat iman kita hari demi hari, dan memusatkan hidup kita kepada-Nya. Dengan demikian, jika badai kehidupan datang, kita akan tetap dapat berdiri teguh dalam iman sampai akhir. Hanya Tuhan yang tahu kapan badai akan datang, sekalipun Dia bukan penyebabnya. Dalam hal ini, kita yang beriman kepada Tuhan harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, Yesus akan menyertai kita. Inilah pondasi kehidupan kita yang menguatkan kita sehingga kita tetap bisa berdiri teguh dan berani menyongsong tahun baru.
“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Mikha 5:2
Tradisi yang sangat tua menyatakan bahwa Efrat (Efrata, Ephrata) mengacu pada Betlehem, karena penyebutan Efrata pertama kali muncul dalam Kejadian 35:16 mengacu pada tempat di mana Rahel meninggal saat melahirkan Benyamin dan dimakamkan di jalan dari Betel. Bukti bahwa dia meninggal dalam perjalanan ke sana tercermin dari makam Rahel kuno di pintu masuk kota. Di sebagian besar Alkitab, Efrata merupakan gambaran anggota suku Israel di Yehuda, serta kemungkinan pendiri Betlehem.
Efrata, atau Betlehem, dihubungkan dengan nubuatan mesianis, seperti yang ditemukan dalam ayar di atas. Nama Efrata sering dipakai sebagai nama paduan suara, mungkin karena kelahiran Yesus di Betlehem itu disambut dengan puji-pujian yang dibawakan oleh maialikat-malaikat yang memberitakannya kepada para gembala.
Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:13-14
Sebagai nama Yahudi, Efrata mempunyai arti “berbuah” atau “dihormati“. Betlehem, tempat yang kecil itu ditetapkan oleh Allah sebagai tempat yang paling utama dari mana seorang Penebus sudah datang yang membuahkan keselamatan bagi orang percaya dan untuk itu Ia dipermuliakan oleh Allah Bapa.
“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku u pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Yohanes 17:4-5
Di alam semesta, segala sesuatu telah dipersiapkan Allah sebelum kedatangan Mesias, yaitu Putra Allah yang kekal, menjadi manusia untuk menebus umat manusia. Pemeliharaan Allah yang maha bijaksana dan penuh belas kasihan, sejak kejatuhan Adam dan Hawa, secara bertahap mengatur segala sesuatu demi penggenapan janji-janji-Nya, dan penggenapan misteri terbesar-Nya, yaitu inkarnasi Putra Ilahi-Nya.
Seandainya manusia dipulihkan kepada kasih karunia Allah segera setelah ia kehilangannya, maka ia tidak akan sadar akan beratnya dosa yang dilakukannya, dan juga tidak akan merasakan kebutaan rohani, kelemahan, dan kemalangan yang di dalamnya ia terkubur. Kemurahan, kuasa, dan kebaikan Tuhan yang tak terhingga, dalam menyelamatkannya, tidak akan tampak begitu cemerlang. Oleh karena itu manusia dibiarkan merendahkan diri dalam kesengsaraannya selama ribuan tahun, dan hanya dapat membayangkan dengan iman tentang kedatangan Mesias yang kemudian terjadi pada hari Natal.
Tuhan, yang dengan kebijaksanaan tak terbatas membuat segala sesuatu menjadi matang dan sempurna pada waktunya, menyingkapkan hal ini kepada manusia secara parsial dan bertahap. Dia memberikan kepada Adam suatu janji dan sedikit pengetahuan tentangnya. Dia memperbarui hal yang sama kepada Abraham, dan membatasinya pada keturunannya saja. Dia menegaskannya kepada Ishak dan Yakub. Dalam nubuatan nabi Mikha di atas, kedatangan Mesias itu ditetapkan pada suku Yehuda. Setelah itu dengan jelas ditentukan bahwa tanah itu adalah milik keturunan Daud dan Salomo; nubuat yang diulangi pada semua nabi berikutnya.
Seperti apa yang sudah direncanakan Allah dari awalnya tentang kelahiran Yesus, Tuhan juga sudah merencanakan penyelamatan umat-Nya dari awalnya. Setiap orang Kristen adalah orang yang sudah dipilih Tuhan dari awalnya.
“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Efesus 1:4
Seperti para malaikat yang menyambut misteri kelahiran Yesus yang menakjubkan sebagai suatu hal yang sangat membahagiakan (Lukas 2:13-14 di atas), para malaikat juga menyambut misteri kelahiran baru orang percaya dengan sukacita.
Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Lukas 15:10
Pada hari Natal ini sesungguhnya hati kita harus peka akan sukacita yang suci ketika mengingat rahmat Allah yang begitu mulia, yang di dalamnya terpancar begitu besar kebaikan Ilahi, dan yang dengannya ditemukan manfaat yang tak terkira. Efrata bukan sekadar nostalgia yang indah. Efrata adalah tempat yang dipilih Allah untuk kelahiran Yesus yang dengan ketaatan-Nya membuahkan keselamatan uuntuk umat manusia, dan untuk itu Ia menerima kehormatan dari Allah Bapa. Efrata juga adalah panggilan kita untuk menaati Firman Allah dan berbuah untuk kemuliaan-Nya, dan untuk itu kita akan dimuliakan beserta Yesus.
“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30
“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Lukas 2:11-12
Alkisah, di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Kisah kelahiran Yesus yang dinyatakan kepada para gembala yang ditampilkan oleh Lukas di atas adalah kisah Natal yang sangat berkesan. Mengapa demikian? Karena Tuhan memberitakan kabar baik itu kepada orang-orang yang sederhana, yang rendah tingkat ekonomi dan pengetahuannya. Tuhan memberikan kesempatan pertama kepada orang-orang yang rendah hati untuk mengenal Dia. Tuhan juga memilih mereka yang mau mengabarkan kabar baik itu kepada orang lain, sehingga semua orang heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Lebih dari itu, hidup para gembala itu berubah total – mereka pulang ke tempat mereka sambil memuji dan memuliakan Allah .
Bagaimana dengan arti Natal bagi Anda? Apakah Anda mempunyai reaksi yang seupa dengan apa yang dirasakan oleh para gembala itu? Itu tergantung pada pengertian Anda tentang siap Yesus itu dan apa yang sudah dikerjakan-Nya untuk umat manusia. Pada pemahaman paling dasar, dunia tanpa Yesus sama sekali berbeda dengan dunia yang kita kenal. Segala sesuatu tentang keberadaan kita saat ini bergantung pada realitas Yesus. Tanpa Yesus Kristus, tidak akan ada Natal, tidak ada agama Kristen atau orang Kristen. Banyak hal yang kita lakukan dan siapa diri kita bergantung pada siapa Yesus bagi kita.
Kita bisa memandang Natal melalui sudut pandang seorang penyelidik untuk menemukan kebenaran tentang siapa bayi di palungan itu lebih dari 2000 tahun yang lalu. Dalam Alkitab, kita melihat pertanyaan yang sama diajukan oleh Yesus sendiri dalam Lukas 9:20: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Dan dari jawaban Petrus kita tahu siapakah Yesus itu: ”Mesias dari Allah”. Yesus adalah Tuhan dalam wujud manusia, yang turun ke bumi. Seluruh Perjanjian Baru dipenuhi dengan pernyataan bahwa jika kita mengenal Yesus Sang Mesias, berarti kita mengenal Anak Allah.
Anak Allah adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan, yang sulung di atas segala ciptaan. Sebab di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, baik yang ada di sorga maupun yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan untuk Dia. Dia ada sebelum segala sesuatu, dan di dalam Dia segala sesuatu bersatu. Dan dia adalah kepala dari tubuh, gereja; dialah yang awal dan yang sulung dari antara orang mati, supaya dialah yang lebih utama dalam segala hal. Sebab Allah berkenan jika seluruh kepenuhan-Nya berdiam di dalam Dia, dan melalui Dia mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di surga, dengan mendamaikan melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib. Melihat Yesus berarti melihat Tuhan. Mengenal Yesus berarti mengenal Tuhan. Namun, di malam Natal ini, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri: seberapa jauh kita mengenal Yesus?
Sering kali ketika kita berbicara tentang Yesus, kita cenderung berfokus pada kelahiran dan inkarnasi-Nya (Natal), serta kematian dan kebangkitan-Nya (Paskah). Hal-hal ini penting bagi identitas kita dan iman Kristen. Namun apakah hanya ini saja yang perlu kita ketahui tentang Allah? Tentu saja, mengenal Yesus dengan seutuhnya adalah suatu hal yang penting. Jika kita ingin memahami apa pun tentang iman kita atau dunia kita, kita perlu memiliki pemahaman yang benar tentang siapa Yesus. Kita harus mengakui bahwa tidak cukup hanya memiliki gagasan yang benar tentang Yesus, tetapi mengenal Dia secara dekat. Tapi bagaimana kita melakukan itu?
Dalam konteks ajarannya tentang kedatangan Roh Kudus, Yesus mengatakan hal berikut kepada murid-muridnya: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” (Yohanes 14:23-24). Yesus tidak hanya mengajak kita untuk memiliki gagasan yang benar tentang Dia, tetapi Dia ingin kita mengenal-Nya secara dekat: untuk mengasihi Dia. Jika kita mencintai-Nya maka kita akan menaati-Nya. Jika kita mengasihi Dia, Allah akan datang dan “membuat [Nya] tinggal bersama [kita]” melalui Roh Kudus. Pada saat Natal ini, bisakah kita mengatakan tanpa sedikit pun keraguan bahwa kita benar-benar mengasihi Yesus, bahwa kita benar-benar mengenal Dia sehingga kita benar-benar hidup dengan menaati firman-Nya?
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:11-14
Dua hari lagi kita akan merayakan hari Natal. Tetapi tidak semua orang Kristen merayakannya pada tanggal 25 Desember. Itu karena tanggal 25 Desember bukan hari kelahiran Yesus. Lebih lanjut, sebagian orang Kristen menyatakan bahwa perayaan Natal sekarang ini bersifat pagan.
Tanggal 25 Desember mulai dipakai sebagai tanggal Natal pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga seperti yang diusulkan oleh sejarawan Sextus Julius Africanus. Africanus, menulis volume berjudul Chronographiai, sebuah risalah Kristen mula-mula yang berupaya membahas sejarah dunia secara kronologis mulai dari penciptaan hingga zamannya. Berdasarkan perhitungan pembacaan Injil Lukas dan Matius, Africanus menyimpulkan bahwa Yesus dikandung pada tanggal 25 Maret. Untuk kelahirannya, ia menghitung sembilan bulan ke depan yang membuatnya jatuh pada tanggal 25 Desember.
Africanus tidak sendirian dalam menentukan tanggal kelahiran Yesus. Seorang kontemporer dari Africanus, Hippolytus dari Roma, menulis komentar mengenai kitab Daniel pada awal abad ketiga di mana ia juga menyatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Pada tanggal ini juga ada perayaan pagan. Karena itu ada orang Kristen yang menyatakan bahwa hari Natal yang kita kenal tidak seharusnya dirayakan.
Memang benar Sol Invictus, festival memperingati Dewa Matahari Romawi, jatuh pada tanggal 25 Desember. Namun, ada bukti sejarah bahwa festival ini jatuh pada awal bulan Desember, bukan pada akhir bulan Desember. Dalam karyanya The Origins of the Liturgical Year, sejarawan Thomas Talley berpendapat bahwa “lebih mungkin Kaisar Romawi Aurelian memindahkan Sol Invictus ke tanggal 25 Desember untuk bersaing dengan laju pertumbuhan agama Kristen”.
Thomas Talley membuat pengamatan yang menarik bahwa pada abad ketiga dan keempat, agama Kristen jelas-jelas sedang bangkit dan para penganut paganisme tradisional Romawi sedang terjun bebas. Pergeseran praktik keagamaan ini sebenarnya dimulai satu abad sebelumnya pada masa Romawi, tulis Gaius Plinius Caecilius Secundus, yang dikenal sebagai Pliny the Younger. Pliny adalah seorang pengacara Romawi yang sukses dalam menuntut korupsi, pejabat pemerintah (termasuk bendahara), dan penulis surat-surat terkenal yang melukiskan gambaran penting dunia Romawi sepanjang masa hidupnya.Pliny mencatat (mungkin secara hiperbolik) bahwa kuil-kuil Romawi menjadi kosong karena begitu banyak warga Romawi yang berpindah agama menjadi Kristen. Julian, yang menjadi Kaisar Romawi selama tiga tahun pada abad keempat, menulis tentang rasa frustrasinya terhadap kurangnya pengabdian agama Romawi terhadap berhala, dan secara khusus menyalahkan umat Kristen atas krisis iman orang Romawi ini.
Semua data ini membuat kita bingung: apakah pada abad ketiga dan keempat semakin banyak orang Kristen yang meniru orang-orang kafir, yang jumlah penganutnya menurun tajam, dalam upaya terakhir untuk mengubah mereka yang tidak percaya? Atau, sebaliknya, apakah orang-orang kafir yang putus asa itu meniru orang-orang Kristen yang iman dan praktiknya semakin populer? Berdasarkan semua bukti yang ada, semakin banyak sejarawan kuno yang menunjukkan bahwa kesimpulan terakhir adalah yang benar.
Selain Sol Invictus, yang tampaknya ditetapkan pada tanggal 25 Desember setelah umat Kristen mengakui bahwa itu adalah tanggal kelahiran Yesus – tidak ada hari raya dan perayaan pagan kuno lainnya yang jatuh pada tanggal tersebut. Tetapi, Saturnalia, dirayakan 14 hari sebelum bulan Januari. Perlu diingat bahwa kalender Romawi kuno pada saat itu memiliki dua hari lebih banyak di bulan Desember dibandingkan kalender kita saat ini, yang menempatkan Saturnalia pada tanggal 17 Desember. Pesta Brumalia dan Bacchus juga dirayakan di awal musim, pada akhir November.
Mengingat semua perayaan ini akan jatuh sebelum tanggal 25 Desember, maka jika perayaan Natal orang Kristen merupakan upaya untuk meniru dan menggantikan perayaan pagan, maka mereka melakukan hal yang bodoh. Mengapa? Orang-orang kafir bisa saja dengan mudah merayakan hari raya kafir tradisional mereka pada hari-hari dan bulan-bulan menjelang tanggal 25 Desember dan dengan mudah merayakan Natal di akhir bulan, bukan sebagai pengganti tetapi sebagai tambahan.
Kenyataannya umat Kristiani telah mengakui dan merayakan inkarnasi dan kelahiran Yesus selama beberapa dekade sebelum munculnya berita tentang adanya perayaan kafir lainnya pada tanggal 25 Desember. Pada tahun 386 M, John Chrysostom mengatakan bahwa Natal dirayakan pada tanggal 25 Desember dan menggambarkannya sebagai “tradisi lama”. Kalender Philocalian, sebuah dokumen yang dibuat pada tahun 354 M untuk seorang Kristen Romawi kaya Valentinus, mencantumkan Natal sebagai hari libur pada tanggal 25 Desember.
Manakah yang lebih utama. merayakan Paskah atau Natal? Jika perayaan Paskah dikaitkan dengan perintah Yesus kepada para murid-Nya untuk merayakan Perjamuan Kudus di hari Jumat Agung, tidak ada satupun dalam Kitab Suci yang memerintahkan kita untuk merayakan kelahiran Yesus. Namun, hanya karena Alkitab tidak pernah secara spesifik memerintahkan kita merayakannya bukan berarti kita tidak boleh merayakan hari bahagia ini. Yesus sendiri melakukan perjalanan ke Yerusalem, sebagaimana dicatat dalam Yohanes 10, untuk merayakan hari raya pentahbisan, yang sekarang lebih dikenal sebagai Hanukkah.
Dibandingkan dengan Natal, Hanukkah bukanlah perayaan yang Alkitab nyatakan agar umat Allah turut serta di dalamnya. Hanukkah adalah perayaan orang Yahudi yang berasal dari periode antar-perjanjian, waktu antara kitab terakhir Perjanjian Lama dan permulaan kitab pertama Perjanjian Baru. Perayaan ini dimulai pada abad ke-2 SM, memperingati pemulihan Yerusalem dan peresmian Bait Suci kedua pada awal pemberontakan Makabe. Sudah tentu ini tidak ada hubungannya dengan orang Kristen bukan Yahudi.
Yesus tidak mempunyai masalah bepergian ke Yerusalem untuk merayakan hari raya pentahbisan. Meskipun tidak diperintahkan dalam Kitab Suci, hal ini sepenuhnya konsisten dengan Kitab Suci. Inkarnasi dan kelahiran Kristus, bersama dengan kematian dan kebangkitan Yesus, merupakan dua peristiwa yang paling menakjubkan sepanjang sejarah umat manusia. Karena itu, kita ingin meluangkan waktu khusus untuk merayakan peristiwa luar biasa ini. Kita dengan sengaja menyisihkan waktu dalam setahun seperti Adven, untuk mengantisipasi kedatangan Juruselamat kita.
Sebagian orang Kristen tetap berpendapat bahwa tidaklah baik kita merayakan Natal pada saat orang pagan merayakan hari yang sama untuk maksud tercela. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa Rasul Paulus menulis kepada gereja di Korintus mengenai mereka yang khawatir mengenai makan daging yang dipersembahkan kepada berhala:
“Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ”tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.” Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ”allah”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak ”allah” dan banyak ”tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” 1 Korintus 8:4-6.
Tuhan membuat segalanya baik, dan hanya karena adanya orang-orang yang mencoba menafsirkan firman Tuhan menurut pengertian mereka, bukan berarti kita harus meniru mereka. Sekalipun sesuatu mempunyai arti bagi seorang penyembah berhala, bukan berarti demikianlah cara Tuhan melihatnya. Tuhan melihat hati kita, apakah kita merayakan Natal dengan ketulusan dan rasa syukur atas kasih-Nya, atau hanya sekadar untuk bersukaria.
“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” Kolose 2:16
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3:16-18
Di banyak negara, Natal adalah musim memberi dan menerima hadiah. Ini adalah tradisi yang sangat tua, dan tentu saja berakar kuat dalam budaya materialis manusia. Natal adalah musim berbelanja dan mengeluarkan uang untuk makan enak dan berpesta-pora. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hadiah dan bersuka-ria, tetapi di tengah hiruk pikuk memberi dan menerima hadiah Natal, kita tidak boleh lupa bahwa kita sedang merayakan datangnya hadiah terbesar yang pernah diberikan kepada dunia: Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal.
Yesus Kristus adalah Tuhan sejak sebelum dunia diciptakan, namun Ia menjadi manusia. Ia dilahirkan dari perawan Maria. Dia menjalani kehidupan yang kudus dan tanpa dosa dalam ketaatan yang sempurna kepada Allah Bapa, dan kemudian mati di kayu salib, menderita murka Allah dan sepenuhnya menggantikan kita. Meskipun Ia tidak berdosa, Ia menanggung segala dosa kita dan menaruh seluruh kebenaran-Nya yang sempurna kepada kita. Hasilnya, mereka yang mau menerima DIa akan diselamatkan dan layak beribadah kepada Tuhan dalam kemuliaan kemuliaan di surga kekal selama-lamanya (Yohanes 3:16).
Yesus Kristus, dan keselamatan yang Dia raih bagi umat-Nya, merupakan anugerah yang luar biasa. Itu adalah hadiah cuma-cuma yang diberikan oleh Allah Bapa. Pada hari Natal, Anda tidak perlu memberikan apa-apa kepada bayi Yesus, tetapi harus menerima-Nya dengan iman: Yesus yang dilahirkan dalam palungan adalah Anak Allah. Ayat 16 teks kita menjelaskannya dengan jelas: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tuhan memberinya sebagai hadiah cuma-cuma kepada dunia.
Mungkin banyak orang yang bertanya: apakah ada barang yang gratis tapi berharga di dunia ini? Inilah penyebab sebagian orang tidak mau menjadi orang Kristen. Mereka menganggap bahwa untuk diselamatkan, manusia harus banyak bersedekah dan berbuat baik. Tetapi Yesus adalah hadiah yang luar biasa, yang menakjubkan. Kata “menakjubkan” sering digunakan secara berlebihan dalam budaya kita saat ini. Ini kurang lebih dilontarkan sebagai sinonim untuk “bagus sekali.” Yesus adalah orang yang baik, seperti halnya dengan tokoh agama lain, begitu kata orang. Namun kata “menakjubkan” bukanlah itu maksudnya. Artinya “menakjubkan; menyebabkan kejutan atau keheranan besar.” Dan saat kita berhenti dan merenungkan anugerah besar berupa kehidupan kekal di dalam Yesus Kristus dan pengorbanan besar-Nya di kayu salib bagi orang-orang berdosa seperti kita, kita akan takjub. Kita akan tercengang. Kami akan terkejut. Kita akan mengalami keajaiban yang luar biasa. Mengapa Allah masih mengasihi manusia yang durhaka seperti kita?
Kita tentu saja tidak layak menerima anugerah apa pun dari Tuhan yang maha besar ini. Dia adalah Raja di atas segala raja, dan Tuhan di atas segala tuan. Dia mahakuasa, Dia mahasuci, dan Dia layak menerima segala pujian. Sebaliknya, kita bukanlah apa-apa. Kita ini hina, tidak berarti, dan bersifat fana: hari ini ada, dan hilang besok; sama dengan seekor ikan yang berenang di lautan. Kita tidak berarti apa-apa, kecuali Tuhan menganugerahkan arti penting kepada kita.
Tuhan menciptakan segalanya, Dia memberi kehidupan dan nafas pada segala sesuatu, dan Dia menopang segalanya, bahkan hingga saat ini. Kita hidup dan bernapas berdasarkan kehendak dan kuasa Allah yang menopang (Ibrani 1:3). Dia tentu saja tidak berhutang pemberian apa pun kepada kita, dan Dia juga tidak mendapat manfaat dengan memberikan apa pun kepada kita.
Terlebih lagi, kita tidak layak karena semua orang sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dia menciptakan dunia, termasuk umat manusia, dan menjadikan semuanya indah. Namun, dosa Adam dan Hawa menjerumuskan dunia milik Allah ini ke dalam dosa dan kegelapan. Lebih dari itu, kita tidak berhak menerima hadiah apa pun karena telah menodai ciptaan-Nya yang baik dengan dosa yang kita lakukan dalam hidup kita. Memang, setiap orang dilahirkan sebagai orang berdosa dan terus berbuat dosa setiap hari. Kita mungkin berbuat dosa ribuan, jutaan, dan mungkin bahkan miliaran kali selama hidup kita. Itu jika kita sadar dan mau mengakuinya.
Tentu saja, jika kita mempunyai pikiran yang waras, kita harus mengakui bahwa hal ini benar. Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa yang selalu berbuat dosa. Kita tahu bahwa hal ini benar berdasarkan hati nurani kita sendiri, meskipun kita mungkin tidak menyukai kenyataan buruk ini. Kita tahu bahwa kita masing-masing telah melakukan kejahatan, kita masing-masing berpikir jahat, dan kita masing-masing telah mencoba melakukan kejahatan berkali-kali dalam hidup kita. Kita tahu – setiap orang, baik yang percaya maupun yang tidak percaya – bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang bersalah dan patut menerima penghakiman dan murka Allah. Kita tidak pantas menerima hadiah; kita pantas mendapatkan murka. Untunglah, ada hari Natal.
Yesus Kristus adalah anugerah Allah, Putra kekal yang menjadi manusia. Dia adalah segalanya. Namun Alllah tidak mengutus-Nya hanya agar kita bisa memandang atau mengagumi bayi Yesus. Yesus tidak datang hanya untuk dilihat dan dirayakan. Tidak, ada hadiah yang lebih dari itu. Sebagaimana dikatakan dalam ayat 15 dan 16, Allah memberi kita karunia ini “supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Ayat 17 mengatakan bahwa Allah Bapa memberikan Anak-Nya “untuk menyelamatkan dunia melalui Dia,” melalui Anak. Dan ayat 18 mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak dihukum.” Ia tidak datang sekadar sebagai hadiah untuk diterima, sebuah gambar untuk dipajang di dinding di dekat pohon Natal. Tidak, Dia datang dengan misi: memberi jalan bagi manusia berdosa untuk diselamatkan, untuk mendapatkan hidup kekal.
Hidup kekal yang kita terima adalah hidup kekal bersama Tuhan. Kita akan terbebas dari kuasa dosa. Kita akan terbebas dari kehadiran dosa. Kita akan terbebas dari hukuman yang harus kita terima karena dosa kita. Di surga, kita akan bebas memenuhi tujuan keberadaan kita: memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selamanya. Kita akan bebas melihat Tuhan secara langsung. Kita akan bebas untuk menyembah Dia dalam Roh dan kebenaran. Jadi ini sungguh merupakan hadiah yang luar biasa, yang harus kita ingat dan rayakan.
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Galatia 6:7-8
Sebentar lagi kita akan merayakan hari Natal. Bagi umat Kristen, hari Natal adaah hari kelahiran Yesus Kristus, Allah yang turun ke dunia dalam bentuk manusia, Anak Allah. Bagi orang bukan Kristen, hari Natal mungkin adalah hari yang dinikmati secara kekeluargaan atau dengan pesta pora, bahkan dengan mabuk-mabukan. Tetapi, bagi orang lain hari Natal adalah hari libur yang tidak perlu dirayakan, dan bahkan tidak boleh dirayakan, mungkin saja karena ada kaitannya dengan agama Kristen. Jelas di sini bahwa hari Natal adalah milik orang Kristen, tetapi dikenal oleh semua orang sebagai hari libur, dan “dirayakan” oleh mereka yang tidak menentang hari Natal.
Jika tidak semua orang merayakan hari Natal dalam arti yang benar, apakah Kristus datang untuk semua orang? Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Kristus memang datang agar semua orang yang percaya bisa diselamatkan, tetapi tidak semua orang mau percaya kepada-Nya. Jadi, tidak semua orang menerima keselamatan dari Tuhan, dan Tuhan tidak mengasihi semua orang dengan derajat yang sama, sekalipun Ia memberikan matahari dan segala berkat yang ada di dunia untuk siapa saja. Ayat di atas menyebutkan bahwa Tuhan malahan membenci orang-orang yang mempermainkan-Nya. Ayat lain menyebutkan hal yang lebih spesifik:
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9-10
Semua orang memang diciptakan menurut gamnar Tuhan. Gambar Tuhan adalah doktrin alkitabiah mengenai sifat dan tujuan umat manusia. Kejadian 1:27 menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia “menurut gambar-Nya,” yang berarti bahwa umat manusia diberikan kemiripan tertentu dengan Allah. Tuhan menciptakan semua manusia sengan kasih-Nya. Sama seperti Set yang memiliki “rupa dan gambar” bapaknya, Adam (Kejadian 5:3), Allah menciptakan Adam dan Hawa untuk memiliki gambar dan gambarnya. Teologi sejarah sering kali mendasarkan gambaran Tuhan pada superioritas umat manusia atas makhluk yang lebih kecil, mengingat rasionalitas dan spiritualitas manusia yang lebih tinggi, dan khususnya pada kapasitas manusia untuk mengenal dan menyembah Tuhan. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa manusia juga mempunyai kapasitas untuk melawan Tuhan atau mengabaikan panggilan-Nya.
Refleksi lebih lanjut mencatat bahwa sebagai pria dan wanitaa, umat manusia memiliki gambar Allah dalam komunitas kasih. Penekanan dalam Kejadian 1:26 mengenai kekuasaan manusia atas makhluk lainnya membuktikan bahwa manusia berada dalam kekuasaan yang rendah dalam hal akuntabilitas kepada Allah. Refleksi Perjanjian Baru mengenai gambar ilahi menyoroti bahwa manusia diciptakan untuk persekutuan perjanjian dengan Allah dalam kebenaran dan kekudusan. Meskipun kejatuhan telah merusak citra Allah – menghancurkan kebenaran dan kekudusan yang sudah ada dalam diri kita sejak awal – Allah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk menebus umat manusia dan memulihkan citra Allah “dalam kebenaran dan kekudusan sejati” (Efesus 4 :24).
“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Efesus 4:21-24
Seorang bapa gereja yang bernama Agustinus berpendapat bahwa gambar Tuhan ada dalam ingatan, pemahaman, dan kehendak manusia, sehingga dengan cara ini ia mencerminkan kepribadian Allah yang Tritunggal. Yang lain mengacu pada kesadaran diri dan kepribadian manusia, yang lebih tinggi tingkatnya daripada binatang. Manusia selanjutnya memiliki rasa hati nurani dan melakukan pengambilan keputusan moral. Selain itu, hanya manusia saja di antara makhluk yang menyembah Tuhan dengan kesadaran spiritual, sebagaimana pengamatan Salomo: Tuhan “telah memberikan kekekalan dalam hati manusia” (Pengkhotbah 3:11). Dengan kemampuan kodrat yang mencerminkan gambaran ilahi, kita mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi tujuan utama kita sebagai pria dan wanita ciptaan Tuhan untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia selama-lamanya.
Yang paling penting dari semuanya, gambaran Allah dalam diri manusia melibatkan penciptaan kita untuk sebuah identitas dalam persekutuan dengan Pencipta dan sesama kita. Kolose 3:10 berbicara tentang pemulihan besar yang telah terjadi dalam keselamatan orang Kristen ketika manusia baru “diperbarui dalam pengetahuan menurut gambar penciptanya.” Paulus dengan demikian menunjukkan bahwa mengenal Allah merupakan hakikat penciptaan manusia menurut gambar Allah. Hewan-hewan tidak sadar akan Tuhan. Mereka tidak mencari atau menyembah Pencipta mereka. Mereka tidak mengerti apakah mereka jantan atau betina, karena mereka hidup hanya dengan naluri. Namun umat manusia, kata Paulus, mengenal Tuhan karena Tuhan telah merancang ciptaan untuk menyatakan diri-Nya kepada orang yang mempunyai gambar-Nya (Roma 1:19).
Hari Natal ini bukan untuk semua orang, tetapi hanya untuk mereka yang mengenal Tuhan. Aspek kunci kemanusiaan kita ini menjelaskan seruan Yesus bahwa “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa “mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yohanes 17:3). Sebagian orang Kristen ingin menyatakan bahwa semua orang dikasihi Allah dengan kasih yang sama, dengan demikian kita harus menghargai cara hidup mereka. Tetapi, pada hari Natal ini kita harus sadar bahwa hanya orang-orang yang taat kepada firman-Nya adalah orang-orang yang dikenal Tuhan sebagai domba-Nya. Kita tidak boleh mengajarkan kepada dunia bahwa Tuhan juga memberkati mereka yang melakukan hal-hal yang dibenci Tuhan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk memanggil mereka agar kembali ke jalan yang benar.