Apa arti Natal yang sebenarnya?

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ”Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Lukas 2:10-11

Natal benar-benar merupakan salah satu saat terindah dalam setahun. Bagi banyak orang, ada pesta yang hangat, rumah yang nyaman, tradisi yang menyenangkan untuk dirayakan, dan hadiah untuk dibagikan. Ini adalah saat perayaan yang menggembirakan. Namun, terkadang kita terbuai suasana dan melupakan alasan kita merayakannya. Di tengah kesibukan, fokus kita hilang dengan berbagai prioritas tidak selaras.

Kebanyakan orang dapat memberi tahu Anda asal muasal Natal, bahwa itu adalah peringatan akan kelahiran Kristus. Namun entah itu sebatas pengetahuan mereka atau mereka lupa akan hal ini di tengah kesibukan liburan. Mengapa kita benar-benar merayakan Natal? Bukan Sinterklas, atau pohon Natal, atau berbagai tradisi lainnya yang dirangkai dalam Natal. Mengapa kita merayakan peristiwa ini – apa arti sebenarnya?

Selama ribuan tahun umat manusia menantikan kedatangan Kristus; mereka rindu akan datangnya seorang Raja untuk membebaskan mereka dari penindasan. Perjanjian Lama penuh dengan nubuatan, termasuk nubuatan dari Yesaya 9.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9:5

Alkitab penuh dengan Kitab Suci yang menunjuk langsung kepada Dia yang akan menyelamatkan umat manusia dari dosa-dosa mereka. Ketika Yesaya menggambarkan kedatangan-Nya, dia menggambarkan kedatangan-Nya sebagai seorang bayi. Namun anak ini akan bertumbuh dan mendirikan Kerajaan kebenaran selama-lamanya. Saat kita merayakan Natal, kita sedang merayakan momen dalam sejarah ketika nubuatan digenapi. Tuhan datang untuk menyertai kita.

Sebab ketika Yesus datang, Ia juga meninggalkan anugerah keselamatan kepada kita. Kelahiran-Nya penting karena kematian-Nya. Selama tiga puluh tiga tahun Yesus menjalani kehidupan yang bebas dari dosa sehingga Ia dapat menjadi domba kurban yang sempurna untuk penebusan dosa kita. Di Golgota, Kristus membayar harga dan mengalahkan kematian sehingga kita dapat memperoleh kemenangan atas dosa dan penghukuman. Jadi, ketika bayi yang berharga itu lahir dan ditempatkan di palungan, itu bukan sekedar kelahiran biasa. Ini adalah awal dari rencana penebusan Allah bagi umat manusia. Suatu tindakan yang tidak harus Dia lakukan tetapi Dia memilihnya karena kasih.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Filipi 2:5-11

Tindakan kerendahan hati dan pilihan-Nya untuk mati di kayu salib inilah yang menyebabkan kita berlutut dan mengangkat tangan. Memang kesibukan tahun ini bisa menyebabkan waktu berlalu begitu saja dan tanpa kita sadari, hari libur telah berlalu dan kita lupa merayakan alasan kita merayakannya. Namun jangan teralihkan – dapatkan perspektif yang benar. Pilihlah rasa hormat dan berikan kehormatan di mana kehormatan itu pantas untuk dinyatakan.

Luangkan waktu di akhir tahun ini untuk merayakan makna Natal yang sebenarnya dengan memuliakan Dia yang memberikan semuanya. Seorang anak dilahirkan dalam keadaan sederhana dan kematian-Nya sebagai kurban mencerminkan hal yang sama, namun keduanya penting bagi kemanusiaan. Tanpa kematian Kristus, keselamatan tidak mungkin terjadi. Jadi tanpa kelahiran-Nya, hal ini juga tidak mungkin terjadi. Kedatangan Yesus ke bumi mengubah segalanya dan ini adalah momen yang harus kita rayakan dengan sepenuh hati. Tentu saja Anda boleh menikmati pesta, makanan, hadiah Natal, dan acara Natal gereja yang meriah, namun jangan lupa untuk mengarahkan hati Anda, keluarga Anda, jemaat Anda, dan orang-orang di sekitar Anda pada makna Natal yang sebenarnya: Kristus datang dengan rencana penebusan kita.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Yesus, bayi yang lemah tetapi berkuasa

“Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” Lukas 2:7

Pada saat menjelang Natal ini, di banyak tempat kita bisa melihat hiasan Natal yang berbagai ragam. Salah satu hiasan yang klasik tetapi masih sering dijumpai ialah bayi Yesus di dalam palungan. Saya dapat memahami Tuhan sebagai Tuhan yang mulia, Tuhan yang kudus, Tuhan yang penuh kasih. Tapi Tuhan yang lemah dan lahir di tempat makanan hewan? Kedengarannya ini memalukan. Ini mungkin merupakan paradoks yang pertama dalam sejarah kehidupan Yesus di dunia. Kata Tuhan dan kelemahan tidak bisa disatukan. Begitulah ujar mereka yang kurang mengerti.

Dunia mengharapkan satu hal sementara Tuhan memberikan sesuatu yang lain. Orang-orang Yahudi menginginkan seorang Mesias untuk menyelamatkan mereka dari penindasan Romawi; tetapi Tuhan mengutus Juruselamat yang dibungkus dengan kain lampin untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Tuhan kita adalah Tuhan yang tak terduga bagi banyak manusia. Firman Tuhan sungguh menakjubkan untuk dilihat, dan itu sepadan dengan seluruh waktu berharga yang diperlukan untuk mempelajarinya dan untuk mengenal Tuhan melaluinya. Mereka yang tidak bisa menyelami arti kelahiran Yesus sebagai bayi yang tidak berdaya, tidak akan dapat mengenal Yesus sebagai Allah.

Yesus dinubuatkan akan datang dengan lemah lembut dan rendah hati, dan seperti bayi yang terbaring di palungan. Para ahli Taurat mengetahui nubuat tersebut namun memilih kehendak manusiawi mereka sendiri dibandingkan kehendak Allah. Sampai sekarang, banyak orang Yahudi yang masih menantikan kedatangan Mesias itu. Jika mereka sudah mengabaikan kelahiran Mesias di Betlehem, Mesias yang sudah datang itu tidak akan membiarkan mereka (atau siapa pun) mengabaikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11).

Sekalipun Yesus datang sebagai bayi yang rendah hati, dan Ia bertumbuh kuat dalam roh dan kasih karunia Allah (Lukas 1:80). Kita datang ke dunia ini dengan cara yang sama seperti Yesus – lemah dan lemah dalam kemanusiaan. Tetapi, oleh kasih karunia-Nya, kita menjadi anak-anak Allah, ahli waris-Nya (Titus 3:7). Seperti Dia yang bertumbuh, maka kita dapat bertumbuh semakin serupa dengan Dia dan suatu hari nanti kita akan melihat Dia dengan wajah yang tidak terselubung (1 Yohanes 3:2).

Lahir di palungan sebagi bayi seolah menunjukan ketidakberdayaan dan kelemahan. Tetapi Paulus pernah mengatakan: tidak ada yang lemah dalam diri Yesus sendiri. “Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu.,” tulisnya (2 Korintus 13:3). Dia adalah gambar Allah dan seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Dia (Kolose 1:15-20). Siapa yang bisa menganggap Yesus lemah? Namun, Paulus juga berkata bahwa Yesus disalib dalam kelemahan. Di kayu salib, Yesus memilih sikap lemah. Dengan demikian, Tuhan kita Yesus Kristus mencapai tujuan besar-Nya dengan menjadi lemah. Melalui kelemahan-Nya Ia mampu merasakan penderitaan kita dan bahkan sampai mati – untuk menyelamatkan kita dari perbudakan dosa.

Kelahiran Yesus di palungan dan kematian-Nya di kayu salib bukan sekedar catatan sejarah, namun paradigma kehidupan Kristiani. Kita yang mengikuti Yesus tidak dipanggil untuk menguasai orang lain. Sebaliknya, kita dipanggil untuk taat dengan rendah hati, sebuah kepatuhan yang seringkali membawa penderitaan. Menurut Paulus, kelemahan adalah bukti bahwa pelayanannya otentik. Kita cenderung melihat kelemahan sebagai sebuah masalah. Paulus melihatnya sebagai kehidupan Kristen yang normal.

Jika Yesus lahir sebagai bayi yang lemah, apakah agama Kristen berkembang karena kerja keras pengikut-Nya? Apakah karena orang Kristen merayakan hari kelahiran Yesus, orang sedunia ikut-ikutan merayakan hari Natal dan mengenal Yesus sebagai Anak Allah? Tidak! Pendeta terkenal dari abad 19 Charles Surgeon pernah berkata: “Dia tidak menyelamatkan manusia saat ini karena kekuatan para pelayan-Nya, namun karena kelemahan mereka,” lanjut Spurgeon, “dan bukanlah kekuatan Injil, yang dinilai menurut cara daging, yang dapat menaklukkan bangsa-bangsa; namun, seperti halnya Tuhan kita, kemenangan diraih melalui kelemahan kita.” Kita tidak dapat membawa orang lain kepada Kristus tanpa menunjukkan ketergantungan kita kepada Tuhan dan kasih kita kepada mereka.

Saya merasa kurang enak dengan sebutan “Tuhan yng lemah” yang diberikan orang untuk Yesus karena hal itu tidak menggambarkan kemuliaan Tuhan. Namun itu adalah gelar yang cocok, setidaknya ketika kita melihat palungan dan bayi Yesus. Mereka yang bertanya-tanya apakah Tuhan adalah manusia yang tidak berdaya, belumlah mengenal jalan Tuhan. Tuhan orang Kristen bekerja melalui kelemahan. Begitulah cara Dia menunjukkan kekuatan-Nya.

Cendekiawan Richard Dawkins yang atheis pernah mengejek seorang Kristen karena kepercayaan mereka kepada Yesus: “Mereka yang percaya bahwa pencipta alam semesta, Tuhan yang merancang hukum fisika, hukum matematika, konstanta fisika… percaya bahwa Tuhan yang jenius matematika dan ilmu fisika ini tidak dapat memikirkan cara yang lebih baik untuk membersihkan dunia dari dosa selain untuk datang ke titik kecil debu kosmik ini dan menyiksa serta mengeksekusi diri-Nya sendiri agar Dia bisa memaafkan manusia.”

Memang. Siapa yang bisa membayangkan bahwa Tuhan akan memilih untuk bekerja dengan cara seperti ini? Bagi Dawkins, ini merupakan argumen yang menentang iman Kristen. Bagi kita orang percaya, ini adalah inti dari iman Kristen. Palungan dan salib menyatakan bahwa Tuhan bekerja melalui kelemahan untuk mencapai kemenangan. Dia melakukannya dari awal sampai akhir hidup-Nya, dan Dia terus melakukannya hingga hari ini dalam hidup kita.

“Karenaw itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12:10

Yesus adalah Allah Raja Damai

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesaya 9:5

Sepeluh hari lagi hari Natal akan datang, dan pada saat ini banyak rumah di Australia sudah dihias dengan berbagai lampu hias dan pohon Natal. Di beberapa daerah ada banyak rumah yang dihiasi dengan ratusan dan bahkan ribuan lampu yang berkedip-kedip, dan berbagai hiasan Natal yang dipasang dari lantai sampai ke atapnya. Mereka mungkin ikut berlomba hiasan Natal dan karena itu banyak orang yang datang sekadar untuk mengagumi teran benderangnya lampu Natal mereka. Sekalipun indah, hiasan Natal itu biasanya akan dibongkar seminggu sesudah tahun baru, dan setelah itu rumah-rumah itu kehilangan terangnya karena lampu-lampu hias itu tidak dipasang secara permanen.

Pada zaman Yesaya, penghakiman Allah akan menimpa Israel yang durhaka. Allah akan melenyapkan para pemimpin mereka. Kejahatan membakar seluruh bangsa seperti api. Walaupun demikian, Yesaya telah menggambarkan masa depan Israel, ketika Tuhan akan mengembalikan terang ke negeri mereka yang gelap (Yesaya 9:1-2). Dia akan memberikan istirahat, keamanan, dan kelimpahan kepada mereka dengan mematahkan penindasan musuh-musuh mereka. Dia bahkan akan mengakhiri perang itu sendiri (Yesaya 9:3-4). Bagaimana Tuhan akan mewujudkan semua kemegahan ini bagi Israel?

Yesaya 9:1–7 dimulai dengan bagian akhir dari Yesaya 8. Kegelapan yang disebutkan dalam pasal itu suatu hari nanti akan digantikan secara permanen dengan kemuliaan. Israel akan berlimpah dalam kehidupan dan sukacita. Bangsa ini akan aman dan bebas dari penindasan. Perang akan berakhir. Perdamaian akan bersifat permanen. Bagaimana ini akan terjadi? Tuhan akan mengirimkan seorang anak yang akan menjadi raja selamanya di atas takhta Daud. Dia akan disebut Allah yang Perkasa dan Raja Damai. Dan Dia akan memerintah dengan kebenaran dan keadilan. Allah akan menyebabkan semua ini terjadi.

Yesaya 9 mengawali nubuatan tentang masa depan ketika kegelapan akan disingkirkan dari Israel. Bangsa ini akan bebas, makmur, dan damai selamanya. Hal ini terjadi karena Tuhan akan mengirimkan seorang anak yang akan menjadi raja di atas takhta Daud. Pemerintahan raja ini atas Israel dan bumi tidak akan menjadi pemerintahan yang penuh pertumpahan darah dimana Dia memerintah dengan tangan besi. Raja ilahi ini akan begitu berkuasa sehingga Dia akan menciptakan perdamaian abadi di bumi, mengakhiri segala perang. Dia berhak diberi gelar “Raja Damai”. Ini adalah salah satu nama yang dengannya kita mengenal Juruselamat dan Tuhan kita Yesus Kristus, penggenapan nubuatan Yesaya.

Ayat di atas menggambarkan bagaimana Tuhan akan mewujudkan semua ini. Dia akan melakukannya melalui seseorang: seorang manusia yang akan dilahirkan sebagai manusia. Ini adalah ayat terkenal yang cenderung dianggap oleh umat Kristen modern sebagai dongeng Natal. Itu karena meramalkan kelahiran Yesus, harapan keselamatan bagi semua orang. Namun, hal ini juga merupakan janji Tuhan kepada Israel akan seorang penyelamat, seorang Mesias, yang akan mengembalikan kejayaan dan kegembiraan bagi bangsa mereka. Anak ini akan menjadi Raja Israel dan juga Raja seluruh dunia.

Orang yang digambarkan Yesaya ini sungguh luar biasa dan luar biasa. Dia tidak dapat disangkal adalah manusia karena Dia dilahirkan sebagai seorang anak. Dia jelas akan menjadi raja, karena Yesaya menyatakan bahwa “pemerintahan ada di atas bahunya”. Bukan hal yang aneh jika raja diberi gelar mewah di era ini, namun gelar yang diberikan kepada Raja ini dengan cepat meningkat. Gelar-gelar tersebut dimulai dari tingkat putra mahkota, atau wakil Tuhan yang diberi wewenang khusus, hingga tingkat Tuhan. Yesaya tidak menyisakan ruang bagi kita untuk merasa ragu, Anak yang akan dilahirkan ini adalah Tuhan sendiri, Raja dari segala raja.

Yesaya menulis bahwa penyelamat ini akan disebut “Penasihat yang ajaib”. Ini menggambarkan kebijaksanaan raja dari seorang raja seperti Salomo. Dia akan menjadi pemimpin yang akan selalu membuat keputusan terbaik dalam setiap skenario dan memberikan nasihat yang tiada henti kepada rakyatnya. Meskipun gelar itu mungkin diberikan kepada raja manusia yang sangat bijak, gelar berikutnya tidak bisa diberikan. Orang ini akan disebut “Allah yang Perkasa”. Beberapa pakar mencoba mengartikan bahasa di sini sebagai “pahlawan besar”. Namun Yesaya dengan jelas bermaksud menyampaikan bahwa penyelamat Israel, dan dunia ini, akan bersifat ilahi di dalam diri-Nya sendiri. Dia menggambarkan Mesias, yang pada akhirnya akan dinyatakan sebagai Yesus Kristus, Anak Allah.

Hari ini kita menyadari bahwa Raja ini disebut sebagai “Bapa yang Kekal” dan “Raja Damai”. Banyak pemimpin dunia yang disebut sebagai bapak rakyatnya. Pemimpin yang dipuja-puja, tetapi pada suatu saat akan turun jabatan. Namun, peran sebagai Bapa yang kekal ini tidak akan berakhir. Dia akan terus menjadi Bapa dari generasi ke generasi dan kemudian ke seluruh generasi umat-Nya selamanya. Sudahkah Anda siap untuk merayakan kelahiran-Nya dan merasakan kedamaian yang dibawa-Nya?

Apa hadiah Natal yang Anda harapkan?

”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1:23

Ketika kita memikirkan hari raya umat Kristiani, Natal mungkin adalah hal pertama yang terlintas di pikiran kita. Natal mendapat banyak perhatian baik di dalam maupun di luar tembok gereja. Namun secara rohani, Natal hanyalah permulaan. Mengapa begitu? Natal merayakan Tuhan yang menjalankan rencana-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dengan mengutus Yesus. Jika sebagai orang Kristen, kita hanya bisa menantikan hadiah atau suasana Natal, itu berarti kita masih kurang bisa menyadari apa arti hari Natal yang sebenarnya.

Tuhan mengasihi manusia dan menginginkan hubungan dengan kita masing-masing. Tapi ada satu masalah besar. Tuhan itu sempurna, jadi kesalahan dan pemberontakan kita memisahkan kita dari-Nya. Kesempurnaan tidak bisa berada dalam hubungan dengan ketidaksempurnaan. Daripada menyerahkan nasib kita pada usaha kita, Tuhan berencana untuk menyelamatkan kita dari konsekuensi kesalahan kita dan memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Kita tidak dapat melakukan ini sendiri. Karena kita sudah tidak sempurna, tidak ada cara untuk menjadi sempurna lagi. Kita tidak bisa menjangkau Tuhan, jadi Dia menjangkau kita dengan mengirimkan seorang Juruselamat.

Pada hari Natal, Tuhan datang ke bumi sebagai manusia, Yesus, untuk mengorbankan diri-Nya bagi kita. Natal adalah perayaan kedatangan penyelamat – perayaan kelahiran Yesus. Ketika Tuhan datang ke bumi, Dia memulainya dalam keadaan lemah dan rentan seperti kita semua. Mengapa Tuhan memilih untuk datang ke bumi sebagai bayi yang tidak berdaya? Mengapa tidak menjadi dewasa dan memulai misi penyelamatan dengan menunjukkan kekuatan? Yesus menjalani kehidupan manusia sejak bayi hingga dewasa, dengan segala tantangan hidup. Dia melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan: Dia menjalani kehidupan yang sempurna, agar kita mau untuk disempurnakan-Nya.

Jika Natal adalah sebuah permulaan, Yesus kemudian membuka tindakan terakhir dari rencana penyelamatan. Dia mengorbankan diri-Nya untuk meruntuhkan penghalang antara Tuhan dan manusia dan memulihkan hubungan kita dengan Tuhan. Pada hari Jumat sebelum Paskah pertama, hari yang kita sebut sebagai Jumat Agung, Yesus mengorbankan diri-Nya dengan mati menggantikan kita. Kehidupan Yesus yang sempurna memungkinkan Dia menggantikan kita dan menanggung hukuman atas kesalahan kita. Namun mengapa Yesus harus mati? Tidak bisakah Tuhan menyelamatkan kita tanpa pengorbanan? Tuhan itu pengasih, tapi Dia juga adil, jadi Dia tidak bisa mengabaikan kesalahan dan konsekuensinya.

Konsekuensi utama dari semua kesalahan kita adalah keterpisahan dari Tuhan, atau kematian rohani. Seseorang harus membayar harga tersebut, maka Tuhan datang ke bumi dalam wujud Yesus untuk membayarnya bagi kita. Rencana penyelamatan tidak berakhir pada Jumat Agung. Yesus tidak tetap mati; Perpisahannya dengan Tuhan tidak berlangsung selamanya. Pada hari Paskah, Yesus melepaskan diri dari kematian, hidup kembali untuk menyelesaikan misi penyelamatan.

Paskah merayakan keberhasilan misi penyelamatan yang Tuhan mulai pada hari Natal. Melalui pengorbanan dan kebangkitan-Nya, Yesus menawarkan anugerah menakjubkan berupa hubungan tanpa hambatan dengan Tuhan dan kehidupan kekal bersama-Nya di Surga. Sebagai manusia, kita hanya harus menerima hadiah ini. Inilah hadiah yang seharusnya kita nantikan dengan penuh pengharapan.

Dalam ayat di atas, Imanuel adalah nama laki-laki Ibrani yang berarti “Allah beserta kita.” Yesus adalah Imanuel. Ia bukanlah satu bagian dari Allah yang beserta kita; Yesus adalah Allah yang beserta kita dalam segala kepenuhan-Nya: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Yesus meninggalkan kemuliaan di surga dan mengambil rupa seorang hamba supaya kita yakin bahwa Ia dapat memahami kesukaran hidup sehari-hari kita (Filipi 2:6-11; Ibrani 4:15-16).

Imanuel adalah Juruselamat kita (1 Timotius 1:15). Allah telah mengutus Anak-Nya untuk hidup di antara kita dan mati bagi kita di atas salib. Melalui darah Kristus yang tercurah, kita dapat didamaikan dengan Allah (Roma 5:10; 2 Korintus 5:19; Kolose 1:20). Ketika kita lahir baru oleh karena Roh-Nya, Kristus datang dan hidup di dalam kita (2 Korintus 6:16; Galatia 2:20). Inilah hadiah yang harus kita pertahankan dalam iman dalam hidup kita sebagai orang Kristen sejati.

Imanuel akan selamanya menyertai kita. Setelah kebangkitan-Nya dari kematian, sebelum Yesus kembali pada Bapa-Nya, Ia memberi janji ini: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Allah serta kasih-Nya terhadap kita dalam Kristus (Roma 8:35-39). Bukankah itu yang harus kita ingat dalam menyambut datangnya hari Natal?

Menjadi dewasa di dalam Kristus

“Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” Kolose 1:28-29.1:28

Apa bunyi ayat di atas jika kita hidup seperti rasul Paulus? Kita akan mengucapkan: “Kita akan mewartakan Kristus, memperingatkan semua orang dan mengajar semua orang dalam segala kebijaksanaan, agar kita dapat menjadikan setiap orang dewasa dalam Kristus.” Inilah panggilan setiap orang Kristen. Bukan saja menjadi dewasa, tetapi juga menjadikan orang lain dewasa. Bukan sebaliknya: mengajarkan orang agar yakin bahwa sebagai orang yang diselamatkan tidak perlu lagi memikirkan hal menjadi dewasa untuk makin menyerupai Kristus.

Saya mempunyai tiga pertanyaan untuk Anda:

Yang pertama, apakah kedewasaan Kristen itu? Karena jika Anda benar-benar memikirkannya, ada banyak jenis kedewasaan. Ada kematangan fisik, mempunyai tubuh yang berkembang dan sehat. Ada kematangan intelektual, yang bisa mengembangkan pandangan dunia yang konsisten. Ada kematangan psikologis, mampu menjalin hubungan dengan orang lain dan memikul tanggung jawab. Namun yang terpenting, ada kedewasaan rohani, dan itulah yang perlu kita mengerti sehubungan dengan ayat di atas. Apa itu kedewasaan rohani?

Rasul Paulus menyebutnya kedewasaan di dalam Kristus. Berada di dalam Kristus adalah ungkapan paling umum tentang apa artinya menjadi seorang Kristen. Seorang Kristen bukan sekedar seseorang yang pergi ke gereja atau telah dibaptis atau pernah membaca Alkitab. Seorang Kristen adalah pria atau wanita di dalam Kristus. Itu tidak berarti seperti perkakas di dalam kotak atau seperti pakaian Anda di dalam lemari. Berada di dalam Kristus berarti bersatu dengan Kristus, seperti pokok anggur di cabang-cabangnya, atau seperti anggota tubuh di dalam tubuh. Berada di dalam Kristus berarti bersatu secara organik dengan Yesus Kristus. Ini tentu tidak mudah dan hanya dimungkinkan oleh Kristus.

Jadi, jika kita mau menjadi orang Kristen, itu berarti bahwa kita berhubungan dengan Kristus. Menjadi orang Kristen yang dewasa tentu saja memiliki hubungan yang dewasa dengan Kristus, suatu hubungan yang erat di mana kita bukan saja percaya kepada-Nya, tetapi juga beribadah kepada-Nya, dan menaati-Nya. Dapatkah kita membayangkan suatu hubungan seperti itu, suatu hubungan dengan Yesus Kristus di dalamnya persatuan dengan-Nya ini sudah matang? Ini adalah prospek yang luar biasa di hadapan kita, karena tidak semua orang yang mengaku Kristen mau beribadah kepada-Nya dan menaati Firman-Nya.

Kedua, bagaimana orang Kristen menjadi dewasa? Nah, perhatikan kerangka teks Paulus: “Kami mewartakan (segala hikmat) Kristus agar kami dapat mendorong agar setiap orang bisa menjadi dewasa di dalam Kristus.” Anda akan melihat pengulangan kata Kristus. Jadi itulah yang penting. Dan hal ini masuk akal karena jika kedewasaan Kristiani adalah kedewasaan dalam hubungan dengan Kristus, maka semakin jelas visi kita tentang Kristus, semakin kita yakin bahwa Dia layak untuk kita percayai, dan menerima kasih kita, ketaatan kita, penyembahan kita, dan sebagainya. Makin lama kita menjadi Kristen, makin taat kita kepada Firman-Nya. Sebaliknya, jika kita sudah lama menjadi orang Kristen, tetapi kita makin merasa “biasa-biasa saja”, kita adalah “Kristen kerdil” karena dalam hidup ini kita mempunyai Tuhan yang kerdil. Orang Kristen yang menjadi makin dewasa, akan bisa merasakan kebesaran Tuhan yang makin lama makin besar dalam hidupnya.

Kita adalah orang-orang Kristen kerdil jika kita memiliki Kristus yang kerdil. Kenyataannya adalah bahwa ada banyak kristus palsu yang ditawarkan di dunia, di supermarket kekristenan di dunia. Ada ajaran Yesus yang palsu, ada Kristus yang pintar membadut di gereja, ada Kristus yang membawa kekayaan, ada Kristus yang mengajarkan cara memperoleh kesuksesan. Bahkan sekarang ini Anda bisa berbincang-bincang dengan Kristus melalui AI (Artifical Intellegence atau kecerdasan buatan) yang dinamakan “Chatbot Jesus“. Padahal AI adalah program komputer yang dirancang untuk meniru kecerdasan manusia, termasuk kemampuan pengambilan keputusan, logika, dan karakteristik kecerdasan lainnya. Apakah Anda pernah mendengar atau mengagumi ajaran Yesus-Yesus palsu itu?

Sekarang, tentu saja Anda boleh bertanya di manakah kita bisa menemukan Yesus yang asli? Dan jawabannya tentu saja ada di dalam Kitab Suci. Jika Anda adalah orang Kristen yang benar-benar dewasa, tentu Anda akan mengerti definisi Kitab Suci berikut ini: Kitab Suci adalah gambaran terlengkap dari Anak yang dilukis oleh Roh Kudus. Kitab Suci adalah potret yang paling tajam dari Anak yang dilukis oleh Roh Kudus. Alkitab penuh dengan Kristus.

Jerome, salah satu bapak gereja besar pada abad ke-4 M, menulis dalam salah satu komentarnya, “Ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus.” Dan kita dapat menyatakan sebaliknya, bahwa pengetahuan tentang Kitab Suci adalah pengetahuan tentang Kristus. Mereka yang belum dewasa, mungkin belum bisa membaca atu mengerti apa yang ditulis dalam Alkitab. Mereka yidak tertarik untuk mempelajari Firman. Mereka adalah orang orang Kristen yang masih makan bubur.

“Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.” 1 Korintus 3:2

Sejauh ini, kita telah menanyakan dua pertanyaan dalam teks kita. Pertama, apakah kedewasaan Kristen itu, dan yang kedua, bagaimana cara orang Kristen menjadi dewasa? Pertanyaan yang ketiga, siapakah yang dapat bertumbuh menuju kedewasaan Kristen? Anda akan memperhatikan tiga kali pengulangan kata, “tiap-tiap orang.” Bacalah lagi. “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.”

Jadi kedewasaan dalam Kristus jelas tidak terbuka bagi segelintir orang yang terpilih, semacam aristokrasi atau golongan elit spiritual. Anda tidak perlu merasa bahwa Tuhan tidak menetapkan Anda untuk menjadi dewasa. Anda menipu diri Abnda sendiri jika yakin bahwa Tuhan menerima tingkat kerohanian Anda “sebagaimana adanya”. Tidak, sebaliknya. Kedewasaan terbuka untuk semua orang dan tidak ada yang perlu gagal untuk mencapainya.

Apapun kedudukan sosial Anda, Anda semua, pada kenyataannya, mempunyai tanggung jawab pastoral. Mungkin Anda adalah pendeta yang ditahbiskan; beberapa dari Anda mungkin penatua atau diaken; beberapa dari Anda mungkin adalah guru sekolah minggu, dan sebagainya. JIka Anda tidak aktif dalam organisasi gereja, mungkin Anda adalah orang tua yang memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak Anda sendiri. Jadi apapun itu, kita semua mempunyai tanggung jawab pastoral ini – tanggung jawab untuk orang lain. Itu jika kita sendiri mau menjadi dewasa secara rohani.

Hari ini, kita menyimpulkan bahwa kita semua memiliki kerinduan ganda yang sama. Di satu sisi kita ingin menjadi seperti umat Kristiani di Kolose, belajar dari Paulus agar kita bisa bertumbuh ke dalam kedewasaan dalam Kristus. Di sisi lain, kita ingin sekali meniru Paulus dalam tanggung jawabnya, tanggung jawab pastoralnya terhadap jemaat Kolose dan yang lainnya. Dan kita bisa menentukan siapa pun yang menjadi tanggung jawab kita, tujuan kita adalah menemui dan mengasihi mereka. Kita ingin mengembangkan diri kita sendiri, namun kita juga ingin mereka bertumbuh menjadi dewasa di dalam Kristus.

Antara menghakimi dan membenci

”Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” ”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Matius 7:1-6

Perintah Alkitab agar kita tidak menghakimi orang lain bukan berarti kita tidak boleh menunjukkan hasil pengamatan kita. Segera setelah Yesus berkata, “Jangan menghakimi,” Dia berkata, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi”. Beberapa saat kemudian dalam khotbah yang sama (ayat 15), Dia berkata, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Bagaimana kita bisa membedakan siapakah “anjing” dan “babi” dan “nabi palsu” kecuali kita memiliki kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan doktrin dan perbuatan? Yesus memberi kita izin untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan itu berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan pikiran atau perasaan kita sendiri.

Selain itu, perintah Alkitab agar kita tidak menghakimi orang lain tidak berarti semua tindakan manusia sama-sama bermoral baik atau kebenaran itu bersifat relatif. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kebenaran itu objektif, kekal, dan tidak dapat dipisahkan dari karakter Allah. Apa pun yang bertentangan dengan kebenaran adalah kebohongan -tetapi, tentu saja, menyebut sesuatu sebagai “kebohongan” berarti menghakimi. Menyebut pernikanan sejenis, perzinahan atau pembunuhan sebagai dosa juga berarti menghakimi – tetapi juga berarti setuju dengan Frman Tuhan. Menyebut bahwa mereka yang tidak mengakui Yesus sebagai Juruselamat akan pergi ke neraka juga sesuai dengan Alkitab. Ketika Yesus berkata untuk tidak menghakimi orang lain, Ia tidak bermaksud bahwa tidak seorang pun dapat mengidentifikasi dosa apa adanya, berdasarkan definisi Allah tentang dosa.

Perintah Alkitab agar kita tidak menghakimi orang lain tidak berarti tidak ada mekanisme untuk menangani dosa. Alkitab memiliki seluruh buku yang berjudul Hakim-hakim. Para hakim dalam Perjanjian Lama diangkat oleh Allah sendiri (Hakim-Hakim 2:18). Sistem peradilan modern, termasuk para hakimnya, merupakan bagian penting dalam masyarakat. Dengan mengatakan, “Jangan menghakimi,” Yesus tidak mengatakan, “Apa pun boleh.” Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita tidak boleh takut atau sengan menyatakan kebenaran Alkitab, sekalipun orang lain (termasuk sesama orang Kristen) menuduh kita “main hakim sendiri”.

Umat ​​Kristen sering dituduh “menghakimi” atau “tidak toleran”, bahkan “membenci orang lain” ketika mereka menentang dosa. Namun menentang atau membenci dosa tidaklah salah. Ini memang ada hubungnannya dengan hal mengasihi sesama: karena kita mengasihi mereka, kita tidak ingin mereka bergelimang dalam dosa dan menemui kematian abadi. Yohanes Pembaptis menimbulkan kemarahan Herodias ketika dia menentang perzinahannya dengan Herodes (Markus 6:18–19). Dia akhirnya membungkam Yohanes, namun dia tidak bisa membungkam kebenaran (Yesaya 40:8). Walaupun demikian, sekalipun kita boleh menghakimi dan membenci dalam usaha menegakkan kebenaran Firman, kita harus sadar akan adanya aspek positif dan negatif dari kebencian.

Boleh saja kita membenci hal-hal yang dibenci Tuhan; memang, ini merupakan bukti kedudukan yang benar di hadapan Tuhan. “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan!” (Mazmur 97:10a). Memang benar, semakin dekat kita berjalan dengan Tuhan dan semakin kita bersekutu dengan-Nya, kita akan semakin sadar akan dosa, baik di dalam maupun di luar. Bukankah kita berduka dan terbakar amarah ketika nama Tuhan difitnah, ketika kita melihat kemunafikan rohani, ketika kita melihat ketidakpercayaan dan perilaku yang tidak bertuhan? Semakin kita memahami sifat-sifat Tuhan dan mencintai karakter-Nya, kita akan semakin menjadi seperti Dia dan semakin membenci hal-hal yang bertentangan dengan Firman dan sifat-Nya.

Namun kebencian yang bersifat negatif tentunya harus ditujukan kepada orang lain. Tuhan menyebutkan kebencian dalam Khotbah di Bukit: “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (Matius 5:22). Tuhan memerintahkan agar kita tidak hanya berdamai dengan saudara kita sebelum kita menghadap Tuhan, tetapi juga agar kita melakukannya dengan cepat (Matius 5:23-26). Tindakan pemikiran atau tindakan kebencian apa pun adalah tindakan pembunuhan di mata Tuhan yang karenanya keadilan akan dituntut, mungkin bukan dalam kehidupan ini melainkan pada saat penghakiman. Begitu kejamnya posisi kebencian di hadapan Allah sehingga orang yang membenci dikatakan berjalan dalam kegelapan, bukan dalam terang (1 Yohanes 2:9, 11).

Yang paling buruk adalah seseorang yang mengaku beriman namun tetap bermusuhan dengan saudaranya. Kitab Suci menyatakan bahwa orang seperti itu adalah pembohong (1 Yohanes 4:20), dan ia mungkin dapat membodohi manusia, tetapi bukan Allah. Berapa banyak orang beriman yang hidup selama bertahun-tahun dengan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, berpenampilan apa-apa, namun pada akhirnya ternyata kekurangan karena mereka memendam rasa permusuhan (kebencian) terhadap rekan seiman mereka?

Kebencian adalah racun yang menghancurkan kita dari dalam, menghasilkan kepahitan yang menggerogoti hati dan pikiran kita. Inilah sebabnya Kitab Suci memerintahkan kita untuk tidak membiarkan “akar kepahitan” tumbuh di dalam hati kita (Ibrani 12:15). Kebencian juga menghancurkan kesaksian pribadi seorang Kristen karena hal itu menjauhkannya dari persekutuan dengan Tuhan dan orang percaya lainnya. Marilah kita berhati-hati dalam melakukan apa yang Tuhan nasehatkan dan selalu memperhitungkan segala hal kepada semua orang, tidak peduli seberapa kecilnya, dan Tuhan akan dengan setia mengampuni, seperti yang Dia janjikan (1 Yohanes 1:9; 2:1).

Influencer Kristen bukanlah seperti bunglon

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” 1 Korintus 9:22

Apa arti kata “inflencer“? Diambil dari kata “influence” yang berarti pengaruh, pekerjaan influencer umumnya berkutat seputar memberikan dampak dan ajakan kepada masyarakat umum. Khususnya dalam dunia bisnis, influencer adalah sosok yang memiliki peran penting dalam hal pemasaran dan promosi produk. Mereka bisa membantu meningkatkan brand awareness, memperluas jangkauan produk, dan mempengaruhi keputusan pembelian seseorang.

Seorang influencer tidak semata-mata hanya bekerja di bidang bisnis. Di dunia, seorang influencer bisa berkecimpung dalam dunia pendidikan, psikologi, agama dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Yang jelas, mereka harus bisa membuat penyajian yang berkualitas, menarik, dan relevan bagi audiens. Dengan demikian, sebenarnya influencer bukan hanya ada setelah adanya Facebook, Tiktok dan YouTube, tetapi sudah ada sejak lama. Dalam pengabaran Injil, Billy Graham terkenal sebagai penginjil besar yang sudah membawa banyak orang ke gereja melalui kebangunan rohani akbarnya.

Satu Korintus 9:19–23 menggambarkan bagaimana Paulus menjadi seorang influencer pada zamannya. Berlainan dengan influencer zaman sekarang yang sering menampilkan diri mereka secara “wah” di tengah masyarakat, Paulus menjadikan dirinya hamba dari semua orang. Dia justru membatasi hak dan kebebasannya sendiri untuk berhubungan dengan orang lain. Dia menjadi “segala sesuatu bagi semua orang” sehingga banyak orang akan dimenangkan untuk beriman kepada Kristus. Ia menjadi orang Yahudi yang berada di bawah hukum untuk memenangkan orang-orang Yahudi yang taat hukum. Menjadi seperti orang yang tidak berada di bawah hukum Taurat untuk memenangkan orang yang belum percaya. Ia bahkan menunjukkan kelemahannya demi yang lemah. Dia melakukan semua ini demi Injil, mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama demi kemuliaan Tuhan.

Apa yang Paulus maksudkan dengan “yang lemah”? Beberapa orang berpendapat bahwa ini adalah gambaran semua orang yang tidak beriman (Roma 5:6), yang berarti bahwa Paulus hidup, dalam arti tertentu, seperti orang yang tidak beriman, agar dapat menjangkau orang-orang yang tidak beriman. Mungkina dia tidak hidup dalam dosa, tapi ikut serta dalam praktik budaya mereka. Benarkah begitu? Benarkah Paulus bisa menjadi “bunglon”? Mengingat semua yang Paulus katakan tentang perlunya menghindari dosa dan munculnya kejahatan (1 Tesalonika 5:22; Efesus 5:27; 1 Timotius 3:2), tentunya tidak mungkin dia melakukan hal itu.

Yang lebih masuk akal dalam konteks ini adalah bahwa “yang lemah” mengacu pada orang-orang Kristen yang tidak sanggup memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala (1 Korintus 8:4-7). Orang-orang seperti ini mengalami pembatasan yang tidak perlu karena kurang berkembangnya iman mereka pada kasih karunia Allah. Dengan demikian, ini berarti Paulus memilih untuk tidak memakan daging tersebut demi memenangkan mereka yang lemah. Paulus tidak hanya menyelamatkan mereka dari rasa dosa karena melanggar keyakinan mereka, dia juga menghindari menyinggung perasaan mereka atau menyebabkan kebingungan rohani (1 Korintus 8:12-13). Dia bekerja sama dengan perilaku mereka yang membatasi, untuk menghindari hambatan yang tidak perlu di jalur hidup mereka.

Kesimpulan Paulus dinyatakan dengan jelas. Dia telah menjadi “segala sesuatu bagi semua orang” untuk menyelamatkan sebagian orang dengan memimpin mereka kepada iman kepada Kristus. Dia tidak pernah mengubah isi pesannya tentang menjadi berkenan kepada Allah melalui iman di dalam Kristus saja (Galatia 1:8–9; 2 Timotius 2:14–18; 1 Korintus 16:13). Sebaliknya, Paulus menggambarkan kesediaan untuk terus-menerus menyesuaikan perilakunya, mengesampingkan hak-haknya, untuk memimpin sebanyak mungkin orang kepada Kristus.

Hari ini, Paulus mendorong kita untuk rela menyerahkan “hak” kita demi kebaikan orang-orang yang lemah imannya. Paulus menunjukkan bahwa ia pun telah melepaskan hak-haknya, termasuk hak sebagai rasul untuk menerima dukungan dari orang-orang yang ia layani. Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa ia melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Paul menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bersaing memperebutkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan, dan kebaikan orang lain, dengan komitmen seperti itu.

Kita pun dapat menjadi seperti Paulus dalam kehidupan kita. Baik di kantor, di sekolah atau di rumah, seorang Kristen sejadi bukanlah orang yang menuntut penghormatan, penghargaan dan ketaklukan orang lain. Sebaliknya, kita diajak untuk bisa mempunyai rasa empati, rasa hormat dan rasa kasih kepada semua orang, agar makin banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus.

Apakah masih ada hikmat di tengah kesulitan?

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus 1:5

Pernahkah Anda mengalami keadaan yang kurang menyenangkan, yang membuat Anda kuatir, sehingga kehilangan akal sehat? Dalam bahasa Inggris, orang yang mengalami hal ini dikatakan senagai orang yang kehilangan kendali atas ketenangan (losing one’s cool). Orang yang sedemikian mungkin saja menjadi marah dan tegang sehingga kehilangan kebijakan atau hikmat. Ini mungkin saja terjadi ketika pencobaan mendatangi hidup seseorang.

Dalam ayat 2 sampai 4, Yakobus meletakkan dasar bagi suratnya. Ia mengungkapkan bahwa kehidupan Kristen adalah tentang menumbuhkan kepercayaan yang lebih dalam kepada Tuhan ketika pencobaan datang kepada kita. Faktanya, pencobaan-pencobaan itulah yang kita perlukan untuk belajar lebih mempercayai Tuhan. Di sini, Yakobus mulai menjelaskan bagaimana rasanya memercayai Tuhan dalam berbagai situasi.

Seberapa pentingkah bagi orang Kristen untuk mempercayai Tuhan? Sangat penting, tulis Yakobus, agar kita menyebut momen terburuk kita sebagai hal yang menggembirakan, karena pencobaan membantu kita lebih memercayai Tuhan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan meminta hikmah dari-Nya—dan kemudian mengambil apa yang Dia berikan. Orang-orang yang beriman kepada Tuhan lebih mementingkan pahala mereka di akhirat dibandingkan kekayaan mereka di kehidupan sekarang. Orang yang percaya kepada Tuhan tidak menyalahkan Dia atas keinginan mereka untuk berbuat dosa; mereka memuji Dia atas semua hal baik dalam hidup mereka. Mereka melihat ke dalam Firman-Nya, dan mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka lihat di sana.

Yakobus 1:2–18 dimulai dengan perintah yang menantang bagi orang Kristen. Kita harus mengklasifikasikan hal-hal sulit dalam hidup kita sebagai hal yang ”berguna”, karena cobaan tersebut membantu kita mengembangkan kepercayaan yang lebih dalam kepada Tuhan. Orang-orang Kristen yang memercayai Tuhan juga mencari hikmat dari-Nya—dan bukan dari sumber-sumber yang tidak saleh. Kita terus memercayai-Nya melalui pengalaman-pengalaman sulit, antara lain untuk menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan kepada mereka yang tidak berhenti. Kita tidak menyalahkan Dia atas keinginan kita untuk berbuat dosa, namun kita memuji Dia atas setiap hal baik dalam hidup kita.

Dalam konteks ini, Yakobus sedang berbicara tentang hikmat pada suatu momen tertentu. Ini adalah referensi pada saat-saat ketika kita tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang bisa kita pilih? Kemana kita harus pergi? Bagaimana kita memutuskan antara dua jalan yang berbeda? Mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan akan meminta hikmah dari-Nya. Meminta hikmat kepada Tuhan adalah bukti bahwa kita percaya kepada-Nya. Percaya kepada Tuhan membuat kita tidak kehilangan pikiran yang sehat.

Yakobus menyatakan bahwa Tuhan memberikan hikmat dengan murah hati. Ia tidak pelit memberikan wawasan kepada mereka yang bertanya bagaimana cara mengambil pilihan terbaik. Faktanya, Tuhan memberikan hikmah tanpa “celaan” atau mencari-cari kesalahan. Dengan kata lain, Dia tidak melihat semua pilihan bodoh kita sebelumnya dan memutuskan bahwa kita tidak layak menerima hikmat dari-Nya. Sungguh sebuah janji yang luar biasa! Tuhan semesta alam siap dan bersedia memberikan hikmah berlimpah kepada mereka yang meminta hanya berdasarkan kepercayaan dan keyakinan mereka kepada-Nya, bukan pada diri mereka sendiri.

Salah satu cara Tuhan mengungkapkan hikmat-Nya kepada kita adalah melalui Firman-Nya, Alkitab. Namun Firman yang tertulis bukanlah satu-satunya cara Allah membekali kita dengan hikmat. Kitab Suci lainnya mendorong kita untuk mencari hikmat Tuhan melalui sahabat yang bijaksana dan saleh (Amsal 11:14) dan melalui pengamatan terhadap ciptaan-Nya (Mazmur 19:1), misalnya. Namun sumber utama segala kebijaksanaan adalah Tuhan sendiri. Apakah umat Tuhan bisa mendapatkan hikmat yang dicari atau tidak, bergantung pada apakah mereka benar-benar mempercayai Tuhan sebagai sumber hikmat terbaik atau tidak. Bagaimana pula dengan diri Anda? Percayalah kepada Tuhan yang murah hati, maka Anda akan menerima hikmat dari-Nya.

Natal mengingatkan hubungan kita dengan Tuhan

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Bagi banyak pekerja di Australia, bulan Desember adalah bulan yang terasa aneh. Maklum, ketika banyak murid sekolah dan universitas sudah memasuki liburan panjang musim panas selama dua bulan, banyak pekerja kantor yang harus bekerja makin keras untuk menyelesaikan tugas mereka untuk tahun ini. Sebelum mereka bisa berlibur, masih ada banyak hal yang harus diselesaikan sesuai dengan target perusahaan. Bagi mereka yang berkeluarga dan mempunyai anak-anak yang sudah berumur belasan tahun, mungkin mulai timbul sedikit ketegangan karena tiap orang mempunyai prioritas dan keinginan yang berlainan. JIka sebagian ingin bebas dan bergembira-ria, sebagian lagi masih sibuk dengan pekerjaan dan pusing memikirkan besarnya pengeluaran.

Orang Kristen yang mempunyai sanak keluarga sebenarnya harus bersyukur. Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang seharusnya disambut dengan rasa gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, suasana Natal yang ada biasanya disambut dengan rasa senang. Tetapi, banyak juga orang yang jika ditanya, menjawab bahwa mereka tidak tertarik untuk merayakan hari Natal. Mungkin karena mereka jauh dari keluarga, tidak mempunyai sanak atau teman, atau sekalipun memiliki sanak keluarga, mereka sedang berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Bagi mereka, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan karena Tuhan terasa jauh.

Orang percaya seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaan-Nya. Keselamatan yang direncanakan-Nya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan Anak-Nya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbanan-Nya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umat-Nya. Allah tidak lagi Oknum Ilahi yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan-Nya kepada semua pengikut-Nya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan  seharusnya makin terasa dalam hati umat-Nya ketika hari Natal mendatangi.

Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang sering diucapkan setiap orang yang merasa bahwa mereka harus menghadapi hidup ini sendirian. Bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasih-Nya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umat-Nya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang belum bisa sepenuhnya membuka hidup dan hati kita untuk Dia.

Yakobus 5:13 mendorong mereka yang percaya kepada Tuhan untuk mempraktikkan imannya. Hal ini paling mudah ditunjukkan dengan berdoa dalam menanggapi setiap keadaan. Kita harus berdoa untuk diri kita sendiri, memuji Tuhan, dan mengundang para pemimpin rohani di gereja kita untuk mendoakan kita ketika pada saat ini kita merasa sakit, atau lemah secara rohani. Rasul Yakobus mendorong para pembacanya untuk menanggapi semua keadaan kehidupan mereka dengan doa. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Ini adalah tema yang konsisten dari surat Yakobus: tindakan seseorang membuktikan apa yang sebenarnya mereka yakini.

Jadi, setiap umat Kristiani yang sedang menderita atau berada dalam kesulitan di saat ini hendaknya rajin untuk berdoa. Jika doa tidak datang secara alami kepada kita, Yakobus mengajak kita untuk tetap melakukannya. Entah itu masih terasa canggung atau sudah senormal bernapas, doa adalah cara utama orang percaya mengekspresikan iman mereka kepada Tuhan. Kurangnya doa dalam menanggapi masalah harus menjadi tanda peringatan rohani. Itu adalah gejala seseorang yang tidak hidup dalam ketergantungan pada Tuhan. Tanda berbahaya lainnya adalah tidak cepat menyanyikan lagu pujian kepada-Nya ketika kita merasa gembira atau bahagia. Doa harus menjadi respons alami terhadap keadaan atau keadaan pikiran apa pun bagi orang-orang yang hidup dalam hubungan saling percaya yang erat dengan Bapa kita.

Hari Natal baru akan datang tiga minggu lagi, karena itu getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiran-Nya mungkin belum terasa. Tetapi mungkin juga hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual. Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk mau berdoa kepada-Nya dalam setiap saat dan keadaan, baik dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.

Menyambut hari Natal dengan keyakinan

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1: 23

Untuk mereka yang hidup di negara Barat, hiasan-hiasan Natal sudah bermunculan di banyak toserba sejak bulan November. Selain untuk berbelanja, banyak keluarga yang berjalan-jalan di sana untuk menikmati hiasan Natal. Begitu juga, rumah-rumah yang dihiasi dengan lampu berwarna-warni sudah pasti akan dikunjungi oleh banyak orang yang datang untuk menonton dalam minggu-minggu mendatang. Lebih dari itu, sebagian orang juga menaruh hiasan Natal di mobil atau sepeda motor mereka. Hari ini saya menjumpai dua orang yang berpakaian seperti Sinterklas yang mengendarai moge Harley yang dipajang meriah di jalan raya.

Hari Natal umumnya dirayakan bersama teman atau sanak keluarga. Tetapi mereka yang tidak mempunyai siapapun dalam hidup mereka, mungkin merasakan betapa sepinya Natal ini. Mereka yang sedang sakit, mereka yang dalam kekurangan, penderitaan maupun kesusahan, mungkin juga harus melewati Natal dalam kesunyian. Adalah kenyataan bahwa Natal bagi sebagian orang malahan bisa membawa kepedihan.

Pada saat ini banyak orang di Australia yang mencari rumah sewaan. Mereka yang tingkat ekonominya rendah harus bersaing memperebutkan tempat tinggal, Di kota-kota besar, hanya mereka yang bergaji besar dapat membeli atau menyewa tempat kediaman yang layak. Banyak orang yang kurang mampu, sekarang harus hidup dalam mobil mereka atau tinggal dalam tenda, sehingga mereka tidak mempunyai alamat atau tetangga. Hidup sedemikian tentunya adalah sebuah penderitaan.

Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain dan adanya orang lain disekitarnya. Setiap manusia membutuhkan suatu status yang bermakna. Dengan tidak adanya rumah atau pekerjaan, banyak orang merasa bahwa statusnya bukanlah seperti yang seharusnya. Mereka merasa kurang dihargai oleh masyarakat dunia yang hanya mementingkan kedudukan dan kekayaan.

Dari awalnya Tuhan Sang Pencipta tahu kebutuhan ciptaan-Nya; Ia tidak menghendaki manusia merasa sorangan wae, sendirian dan kesepian dalam kekurangan. Dengan demikian, dalam hidup di dunia, setiap manusia seharusnya bisa mendapati dukungan dan penyertaan dari orang-orang yang mereka cintai. Namun dukungan manusia adalah terbatas; dan kalaupun ada, belum tentu bisa cukup atau langgeng. Jadi bagaimana manusia bisa memperoleh status yang baik di tengah keadaan yang kurang baik?

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal adalah seorang pendamping manusia yang lebih dari siapapun yang ada disekitar kita. Ia adalah Tuhan dan karena itu tidak mungkin kalau kemampuan-Nya ada batasnya. Yesus sudah membuktikan kesetiaan-Nya sampai mati di kayu salib untuk ganti dosa kita, karena itu tidak mungkin kalau kasih-Nya kurang dari itu. Yesus juga Tuhan yang lahir dalam bentuk manusia biasa, karena itu tidak mungkin kalau Ia tidak tahu dan tidak bisa merasakan penderitaan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal adalah Tuhan yang Mahakuasa, Mahakasih, Mahatahu dan Mahabijaksana. Karena itulah Ia dinamakan Imanuel sebab Ialah Tuhan yang benar-benar bisa mendampingi, menyertai kita dalam setiap keadaan kita. Ia menyertai kita bukan hanya kadang-kadang, dan bukan saja pada saat-saat tertentu, tetapi setiap saat dan untuk selama-lamanya. Jika kita saat ini merasa sendirian dalam hidup dan perjuangan kita, biarlah dengan iman kita percaya bahwa Yesus, Imanuel, tidak pernah meninggalkan kita. Setiap orang percaya adalah anak-anak Allah. Tidak ada yang lebih tinggi dari status itu, yang hanya bisa diperoleh melalui anugerah Allah. Apa yang harus kita lakukan hanyalah menerima Dia sebagai Juruselamat kita dalam perjuangan hidup kita!

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b