Sukacita bergantung pada keadaan Anda

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Banyak orang yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang, dan karena itu setiap orang seharusnya mencari dan bahkan berusaha keras untuk memperolehnya. Dalam hal ini, ada juga yang berpendapat bahwa pemerintah berkewajiban untuk memberikan kebahagiaan bagi rakyatnya, dan orang tua berkewajiban untuk memberikan kebahagiaan kepada anak-anak-nya. Betulkah begitu?

Kebahagiaan sebenarnya bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang kita terima. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia. Tuhan sendiri memberikan berbagai berkat-Nya kepada semua insan, tetapi Ia tidak secara langsung memberikan kebahagiaan kepada mereka. Karena itu, ada banyak orang yang sudah menerima berbagai berkat Tuhan, tetapi tidak pernah merasa puas, bahagia atau bersyukur. Sebaliknya, ada banyak orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi bisa merasa cukup dan berbahagia dalam perlindungan Tuhan.

Jika sukacita tidak datang secara langsung dari Tuhan, dari mana datangnya rasa sukacita itu? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati dimungkinkan oleh Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita bisa timbul karena adanya karunia khusus dari Tuhan kepada anak-anak-Nya. Ini berbeda dengan karunia umum Tuhan yang diberikan-Nya kepada semua orang, seperti makanan, kesehatan, kekuatan dan sebagainya. Tetapi karunia umum yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki umat-Nya untuk mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaan-Nya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati dengan demikian, hanya bisa muncul dalam hati orang yang percaya.

Bagi orang beriman, keadaan akhir yang akan kita alami adalah fakta yang membahagiakan. Kemahatahuan Tuhan berarti Dia mengetahui kebutuhan kita; kemahakuasaan-Nya memastikan Dia bisa menemui mereka; belas kasihnya menggerakkan Dia untuk peduli terhadap mereka; pemeliharaan-Nya menegaskan bahwa setiap kebutuhan yang tidak terpenuhi mempunyai tujuan yang penuh kasih (meskipun saat ini masih tersembunyi). Fakta-fakta seperti kekekalan Allah, penebusan orang berdosa, kebangkitan Kristus yang berkemenangan, pembenaran hanya melalui iman, dan janji hidup yang kekal, seharusnya membentuk lingkaran keadaan kita. Sukacita kita sepenuhnya bergantung pada keadaan akhir ini.

Pada hari terakhir, sukacita surgawi akan menelan keadaan-keadaan yang ada di sekitar kita, dan setiap air mata akan terhapus. Sampai saat itu tiba, atas karunia Tuhan, kita akan mengejar sukacita dengan menerima setiap keadaan yang diijinkan Tuhan untuk terjadi melalui hikmat alkitabiah. Kita akan menerima setiap keadaan menyedihkan yang tidak dapat kita ubah sebagai bagian rencana Tuhan yang mahabijaksana. Dan kita akan mengingat bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Bagaimana reaksi Anda atas perintah Tuhan dalam ayat di atas untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan Anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita.

Siapakah musuh Anda?

Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” 2 Korintus 11: 14-15

Apakah ada orang yang tidak mempunyai musuh? Anda mungkin mengenal seorang yang begitu ramah kepada semua orang, dan disenangi oleh semua orang. Mungkin saja Anda merasa bahwa tidak ada orang yang memusuhi Anda karena Anda selalu berbaik hati kepada semua orang. Mungkin juga, Anda menasihati anak Anda untuk berteman dengan semua orang, agar tidak mempunyai musuh. Teman sejati adalah sulit didapat, satu musuh saja sudah terlalu banyak – mungkin itu nasihat Anda. Tetapi dalam kenyataannya, setiap orang Kristen pasti mempunyai musuh sekalipun ia tidak sadar. Yesus bahkan mempunyai banyak musuh, dan pada akhirnya Ia disalibkan karena ulah orang-orang yang menjahati-Nya.

Musuh adalah orang yang tidak menyukai atau membenci orang lain dan berusaha menyakiti, menentang, dan melawan orang yang menjadi lawannya. Jadi, musuh Tuhan adalah orang yang menentang kehadiran dan tujuan Tuhan di dunia ini. Iblis dan pengikutnya.

Setelah pertobatan kita kepada Kristus, kita mendapatkan beberapa musuh yang berusaha menghambat pertumbuhan rohani kita dan bahkan menyebabkan kita meninggalkan jalan kesetiaan. Beberapa dari musuh ini bersifat eksternal. Misalnya, dunia yang sudah jatuh dalam dosa membenci Kristus dan semua orang yang dipersatukan dengan-Nya oleh iman (Yohanes 7:7), dan dunia ini berusaha membuat kita berbagi prioritas dan kasih secara tidak teratur. Musuh lainnya adalah musuh internal. Kita harus berperang melawan kedagingan -sisa-sisa dari sifat kita yang berdosa – jika kita ingin mengembangkan kasih terhadap apa yang Allah kasihi (Roma 8:1-11).

Musuh terbesar yang harus kita hadapi dalam pengudusan kita juga bersifat eksternal. Kita berbicara tentang iblis, malaikat yang jatuh yang telah memberontak melawan Tuhan dan berupaya mengajak orang lain untuk ikut serta dalam perjuangannya. Iblis adalah musuh yang nyata, meskipun banyak orang yang menganggapnya enteng. Kita jarang mendengar orang-orang berjuang mati-matian melawan iblis di saat ini, namun catatan sejarah gereja dipenuhi dengan kisah-kisah tentang orang-orang kudus yang berperang melawan iblis dan antek-anteknya. Martin Luther, misalnya, sering menulis tentang pertarungannya melawan iblis, bahkan mengaku pernah melihatnya sesekali. Masuk akal jika Luther memiliki pengetahuan pengalaman yang begitu kuat tentang iblis, karena iblis sangat suka menyerang Injil, dan Luther berada di garis depan dalam pemulihan Injil terbesar sejak masa para rasul.

Iblis kemungkinan besar mengincar sasaran yang lebih besar daripada kebanyakan dari kita, namun itu tidak berarti kita tidak akan diserang oleh roh jahat atau setan. Kita tidak boleh menganggap bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak dapat disiksa iblis. Kita tahu bahwa ada sekumpulan setan yang mengikuti petunjuk iblis (Markus 5:1-20), dan kita akan berada dalam bahaya rohani yang besar jika kita tidak siap untuk mengakui pekerjaan mereka.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Tidak semua musuh yang kita hadapi mempunyai iblis di baliknya. Sifat kedagingan kita dan dunia tidak memerlukan bantuan dalam menggoda kita untuk berbuat dosa. Namun, iblis berkeliaran di bumi seperti singa, berupaya memangsa mangsanya, dan kita perlu menyadari bagaimana dia dan pasukannya sering kali menampilkan diri. Musuh-musuh licik ini sering kali tidak terlihat jahat. Faktanya, mereka cenderung menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:14-15).

Iblis dan pengikutnya dapat dan bahkan sering menyembunyikan apa yang jahat di bawah apa yang kelihatannya baik, indah, dan menarik. Mereka memutarbalikkan kebenaran, menjadikan kebohongan tampak masuk akal di telinga kita karena mereka berusaha membawa kita ke dalam kesalahan rohani yang serius. Misalnya, ke arah kesimpulan bahwa sesudah diselamatkan kita pasti aman dan bahagia. Hanya orang-orang Kristen yang bijak yang akan mengenali iblis ketika ia sedang bekerja. Oleh karena itu, kita harus berupaya untuk “melatih daya pengamatan kita melalui praktik yang terus-menerus untuk membedakan yang baik dari yang jahat” (Ibrani 5:14). Kita melakukan ini dengan bertumbuh dalam pemahaman kita akan doktrin alkitabiah.

Selain iblis, Alkitab menyebutkan banyak musuh lain dari Allah dan umat-Nya. Siapa pun yang tidak menaati perintah Tuhan dinyatakan sebagai musuh Tuhan. Dosa membuat kita menentang Allah: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat” (Kolose 1:21a). Rasul Paulus menyebut orang-orang berdosa yang belum diselamatkan sebagai musuh Allah: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5: 10).

Alkitab mengidentifikasi Setan, iblis, sebagai musuh spesifik Allah (1 Timotius 5:14-15). Sepanjang sejarah, sebagai musuh Tuhan, Setan berupaya menggagalkan rencana Tuhan, merugikan manusia, dan menjauhkan mereka dari Tuhan. Sepanjang sejarah umat Israel, umat Allah berjuang melawan musuh-musuh yang berkomitmen untuk menghancurkan mereka. Bangsa Mesir, Kanaan, Filistin, dan Babilonia hanyalah beberapa dari sekian banyak bangsa musuh yang kejam dan menindas yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Bangsa-bangsa tersebut, ketika menentang umat Allah, dianggap sebagai musuh Allah, dan Allah berperang demi kepentingan Israel (lihat 2 Raja-Raja 19). Sampai sekarang, bangsa Israel masih mengalami hal ini, sekalipun keadaan itu mungkin berkaitan dengan sikap mereka yang menentang Kristus.

Hari ini kita diingatkan bahwa Kristus sudah memberikan teladan bagi umat Kristiani untuk diikuti setiap kali mereka menghadapi musuh-musuh Allah dan ancaman-ancaman mereka: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.’” (1 Petrus 2:21–24).

Rendah hati bukanlah rendah diri

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Ayat penting ini sering dikutip pada pelayanan pemuda dan pemimpin muda. Meskipun Timotius kemungkinan besar berusia awal 30-an ketika surat ini ditulis, kata-kata tersebut berlaku untuk pemimpin gereja mana pun, berapa pun usianya. Timotius tidak boleh membiarkan siapa pun meremehkannya karena usianya. Sepanjang sejarah umat manusia, terdapat kecenderungan generasi tua memandang rendah mereka yang lebih muda, hanya karena mereka masih muda. Sebaliknya, pada zaman sekarang banyak kaum muda yang mengabaikan mereka yang lebih tua karena dianggap ketinggalan zaman. Untuk mengatasi hal ini, pengaruh seorang pemimpin harus datang melalui teladannya. Dalam konteks khusus ini, “teladan” yang diberikan orang Kristen kepada orang-orang Kristen lainnya, bukan kepada orang-orang yang tidak beriman. Meskipun keduanya penting (Matius 5:16), dalam ayat ini Paulus berfokus pada kepemimpinan dalam gereja.

Paulus memberikan lima bidang spesifik yang patut diteladani Timotius. Yang pertama adalah kata-katanya. Kedua, tindakannya, yang harus mencerminkan teladan kesalehan. Ketiga, kasihnya harus menjadi teladan (1 Timotius 1:5, 14; 2:15). Keempat, Timotius harus menjadi teladan dalam iman. Hal ini mirip dengan 1 Timotius 1:5 dimana Paulus berkata, “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” Kelima, teladan Timotius adalah dengan memasukkan “kemurnian” dirinya, baik secara fisik dalam perilakunya di sekitar kaum wanita (1 Timotius 5:2) maupun dalam spiritualitasnya (1 Timotius 5:22).

Satu Timotius 4:11–16 berfokus pada perilaku pribadi Timotius sebagai pemimpin gereja Kristen, dan itu berlaku juga untuk kita yang memimpin anggota keluarga, murid di sekolah atau pegawai di kantor. Paulus menekankan gagasan seperti ketekunan, keyakinan, dan kesabaran. Yang paling penting adalah Timotius memberikan teladan bagi orang percaya lainnya. Salah satu perlawanan paling ampuh terhadap ajaran palsu adalah hasil positif yang dapat dihasilkan oleh kebenaran rohani. Selain mengajarkan kebenaran, Timotius juga harus menghayatinya. Dengan mengabdikan dirinya pada prinsip-prinsip ini, Paulus meyakinkan Timotius bahwa dia dapat memberikan pengaruh positif yang kuat bagi Kristus.

Satu Timotius 4 memberikan perspektif penting sebelum instruksi Paulus yang akan datang. Setelah memberikan rincian kepada Timotius tentang cara memilih pemimpin gereja, dan perilaku yang baik dari anggota gereja, pasal ini sebagian besar berfokus pada pilihan rohani pribadi Timotius. Secara khusus, Paulus memerintahkan dia untuk rajin, setia, dan siap sedia. Taruhannya besar, baik bagi Timotius maupun bagi mereka yang dipanggil untuk dipimpinnya. Bab ini menekankan pentingnya latihan spiritual yang baik, yang merupakan kunci ketika mempertimbangkan nasihat Paulus di bagian lainnya.

Umat ​​Kristen harus hidup sedemikian rupa sehingga mereka tidak dianggap rendah diri, naif, atau tidak dewasa. Kita dapat mencegah penghinaan tersebut dengan menjadi teladan dalam segala hal dan melakukan apa yang baik:

“..dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2:7–8.

Baik di hadapan Tuhan maupun dihadapan manusia, perilaku kita penting. Apa yang kita lakukan dan katakan mencerminkan Kristus dengan baik di mata dunia atau salah menggambarkan Dia. Apa pun tahap kehidupan kita, tujuan kita hendaknya adalah “jangan ada seorang pun yang memandang rendah dirimu.” Ini bukan berusaha menyombongkan diri. Sebaliknya, kita berusaha untuk mejadi orang yang rendah hati dengan tidak merendahkan diri, tetapi dengan tidak selalu memikirkan diri sendiri.

Paulus memberi Timotius bidang-bidang spesifik di mana ia dapat mewakili Kristus dengan baik: dalam perkataan, perilaku, kasih, roh, iman, dan kemurnian. Seorang Kristen telah menyerahkan hidupnya kepada ketuhanan Kristus dan terus tunduk pada Firman dan pekerjaan Roh untuk bertumbuh dalam karakter yang saleh. Seorang Kristen yang bijak ingin tunduk pada ketuhanan Kristus dalam segala bidang sehingga tidak ada seorang pun yang memandang rendah cara hidupnya. Firman Tuhan menyampaikan banyak hal dalam hidup tiap orang Kristen, dan orang yang bijaksana akan dengan sungguh-sungguh memeriksa kehidupan mereka untuk melihat apakah mereka mencerminkan Tuhan dengan baik.

Sebagai bagian dari pencegahan terhadap orang-orang yang meremehkan masa mudanya, Timotius juga harus mengabdikan dirinya untuk membaca Kitab Suci, berkhotbah, dan mengajar di depan umum (1 Timotius 4:13). Firman Tuhan mengubah kita, menguduskan kita, dan memberi kita kesempatan untuk melihat dan mengenal Tuhan. Dengan berfokus pada disiplin ini dan bertumbuh dalam karakter yang saleh, Timotius akan memberikan pengaruh yang kuat bagi Kristus. Tidak seorang pun akan memandang rendah pelayanannya dan memandang rendah masa mudanya. Timotius akan mengalami kemajuan dalam kedewasaan rohani dan menjadi garam dan terang sebagaimana Allah memanggilnya (lihat Matius 5:13–15).

Di saat banyak orang mulai murtad, orang-orang Kristen yang setia dapat tetap terdorong untuk bersinar terang bagi Kristus dan menjadi teladan bagi semua orang percaya, tanpa memandang usia. Masa muda maupun masa tua tidak perlu menjadi stigma. Karakter dan prioritas hidup seorang Kristen dapat mengarahkan orang lain kepada keselamatan yang ditawarkan Kristus. Cara terbaik untuk “jangan biarkan seorang pun memandang rendah masa mudamu” adalah dengan “biarkan terangmu bercahaya di depan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan baikmu dan memuliakan Bapamu di surga” (Matius 5:16).

Apakah Anda domba Yesus?

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Yohanes 10:27-28

Apakah Anda yakin bahwa Anda adalah orang Kristen sejati yang sudah diselamatkan? Jika Anda yakin, tentunya Anda akan bisa meresapi dan mengerti ayat di atas. Yesus membuat pernyataan di atas dalam suasana yang gawat. Para pengkritiknya telah menjebak Dia di sudut Bait Suci (Yohanes 10:24), menantang Dia untuk mengulangi klaim-Nya, dan tampaknya bersiap untuk melakukan kekerasan (Yohanes 10:31). Dengan cara yang khas, Yesus tidak hanya menanggapi dengan kebenaran yang berani, tetapi Ia melanjutkan, seperti yang ditunjukkan dalam ayat-ayat berikut (Yohanes 10:28-29), yang berpuncak pada pernyataan yang tampaknya sengaja dimaksudkan untuk membuat marah para pengkritik-Nya: ” Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30).

Yohanes 10:22–42 terjadi beberapa bulan setelah kontroversi yang dijelaskan dalam pasal 9 hingga paruh pertama pasal 10. Di sini, Yesus dipojokkan, dalam sebuah ancaman terang-terangan, oleh para pemimpin agama yang sama yang telah Dia cela selama bertahun-tahun. Dia menggemakan metafora tentang domba dan gembala yang Dia gunakan setelah memberikan penglihatan kepada orang buta. Yesus menunjukkan bahwa ajaran dan mukjizat-Nya semuanya konsisten dengan ramalan tentang Mesias, namun mereka menolak untuk menerima-Nya. Hal ini berpuncak pada upaya mereka untuk membunuh Yesus, yang entah dengan cara bagaimana bisa dihindari-Nya. Setelah itu, Yesus meninggalkan daerah tersebut dan kembali ke daerah dimana Yohanes Pembaptis pernah berkhotbah. Ini adalah kali terakhir Yesus mengajar di depan umum sebelum penyaliban-Nya.

Sebenarnya banyak orang Israel yang sampai saat ini tidak mengerti konsep gembala dan domba yang dipakai Yesus. Hubungan umat Israel dengan Allah sebelum Yesus disalibkan adalah hubungan formal dan satu arah, dan sampai sekarang, orang Yahudi yang belum menjadi Kristen tidak dapat membayangkan bahwa Yesus adalah Gembala yang penuh kasih sayang. Seperti nenek moyang mereka, orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, percaya bahwa Allah berfirman dengan perantaraan para nabi dan mereka tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Secara umum tidak ada kemesraan antara Allah dan umat-Nya.

Jika Anda bertanya kepada orang-orang Yahudi di jalan apakah mereka berdoa, kemungkinan besar Anda akan diberitahu bahwa mereka melakukannya. Jika ditanya lebih jauh tentang apa yang dilakukan mereka, kemungkinan besar Anda akan diberitahu bahwa mereka mengucapkan kata-kata siddur, atau mengucapkan berkat.

Jika Anda mendesak lebih jauh, untuk menanyakan apakah orang-orang Yahudi berdoa langsung kepada Tuhan, dengan kata-kata mereka sendiri, di luar sinagoga atau momen ritual yang ada, kemungkinan besar Anda akan mendapat jawaban negatif. “Kami tidak melakukan itu! Itu adalah cara orang lain berdoa”. Namun, ada sejarah panjang doa pribadi orang Yahudi, yang diungkapkan langsung kepada Tuhan. Ini adalah doa-doa sukacita dan syukur, doa-doa kesedihan dan keputusasaan, doa-doa kebutuhan dan penantian, seperti yang diucapkan Daud. Beberapa dari doa-doa ini berisi permohonan – “tolong bantu saya” – namun ada juga yang sekadar pernyataan kebenaran – “Inilah yang saya rasakan. Apa Engkau di sana?” Terlepas dari sejarah ini, doa pribadi orang Yahudi di zaman ini sebagai praktik spiritual hampir tidak diketahui, dan bahkan lebih sedikit lagi yang dilakukan.

Tidak adanya doa seperti itu dalam kehidupan orang Yahudi melemahkan potensi doa komunal dan liturgi menjadi bermakna. Sulit sekali membangkitkan tenaga untuk berdoa – sekalipun menggunakan perkataan orang lain – jika tidak mempunyai pengalaman berdoa. Ketidakhadiran Tuhan juga menguras sebagian besar energi vital kehidupan keagamaan Yahudi. Mereka mungkin mengucapkan kata-kata doa yang indah, namun kata-kata tersebut tidak mempunyai arah, tidak ada harapan untuk diterima, tidak ada perasaan bahwa doa-doa tersebut mempunyai arti selain dari tradisi.

Allah tidak menyukai hubungan dengan umatNya yang serba formal seperti yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi itu tidak bisa dihindari karena bagi sebagian orang Mesias belum datang. Mereka tidak mengerti bahwa Allah yang mengasihi manusia, menginginkan hubungan yang intim dengan umat-Nya. Karena itu Ia mengirimkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Dengan penebusan Kristus, hubungan kita dengan Tuhan bisa menjadi hubungan pribadi yang intim sesuai dengan tujuan penciptaan manusia pada awalnya.

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa sesudah pengurbanan Kristus, tidak semua orang yang mengaku sebagai domba-domba Kristus di zaman ini mengenal suara-Nya. Mereka terlalu sibuk dengan acara dan kesibukan mereka sehingga sebagian kembali memakai hubungan formal dengan Tuhan: berdoa bersama dan ke gereja sekali seminggu. Mereka mendengarkan khotbah dan pengalaman pribadi pendeta. Tetapi hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan tidak terjadi karena “tidak ada waktu”.

Lebih parah lagi, banyak orang Kristen yang dalam hidup bebasnya hanya mempunyai hubungan casual dengan Tuhan. Jarang-jarang, tidak teratur, dan hanya kalau perlu, atau kalau sempat. Apalagi, saat ini rasanya lebih asyik dan nikmat untuk “bersekutu” dengan teman-teman lama lewat sosmed dan sesekali mengirim gambar-gambar “rohani” dan semboyan-semboyan agama. Seolah kita tidak lagi memerlukan seorang Gembala yang nyata dan hidup.

Kita harus sadar bahwa Yesus, sebagai gembala yang baik, menjaga domba-domba-Nya siang dan malam. Ia juga yang dengan setia selalu memanggil domba-domba-Nya untuk mengikuti jalan-Nya. Pagi ini, kita dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan usaha untuk membina hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, atau hidup untuk diri kita sendiri dan merasa puas mempunyai hubungan formal atau casual dengan-Nya. Mana pilihan anda?

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4

Apakah Israel masih relevan di zaman ini?

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9

Tahukah Anda bahwa sebagian orang Kristen percaya bahwa gereja yang ada sekarang sudah menggantikan Israel sepenuhnya, sehingga umat Israel yang tidak menerima Yesus dan negara mereka tidak lagi signifikan secara teologis? Walaupun demikian, jika kita membaca apa yang terjadi pada bangsa Yahudi dalam perang dunia kedua dan terbentuknya negara Israel modern yang kita kenal saat ini, ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa Israel tetap merupakan bangsa pilihan Allah.

John Calvin pernah menulis bahwa karena orang-orang Yahudi tidak bersedia menjadi mitra dalam perjanjian Allah, maka “mereka layak untuk ditolak” (Institut 4.2.3). Hanya ada satu perjanjian bagi Calvin, jadi perjanjian baru tidak menggantikan perjanjian lama; namun gereja adalah penerima baru janji-janji Perjanjian Lama yang diberikan kepada Israel Yahudi. Tidak ada pemilihan bangsa yang berkelanjutan di Israel, yang ada hanyalah pemilihan individu Israel (orang Kristen) yang menerima Kristus (Institut 3.21.6). Maka, setelah kebangkitan Yesus, tidak ada masa depan bagi umat atau tanah Israel yang dapat memberikan arti teologis.

Sekalipun pengaruh ajaran Calvin sangat kuat, pada akhir abad ke-16, beberapa pengikut Calvin, kebanyakan kaum Puritan, mengambil pendekatan berbeda. Mereka membedakan antara janji-janji yang dibuat kepada Israel Yahudi dan janji-janji yang dibuat kepada Israel non-Yahudi yang baru. Thomas Draxe misalnya, menggunakan Roma 11 dan nubuatan Alkitab untuk berargumentasi bahwa Yesus tidak akan datang kembali sampai “orang-orang Yahudi yang terpencar-pencar pada umumnya masuk Kristen, namun sementara itu mereka untuk sementara waktu akan dikembalikan ke negara mereka sendiri,dan akan membangun kembali Yerusalem.

Dalam komentarnya terhadap kitab Wahyu, yang diterbitkan secara anumerta pada tahun 1611, Thomas Brightman (1562–1607) menulis bahwa orang Yahudi adalah “raja dari timur” dalam Wahyu 16:12 yang akan menghancurkan Islam. Dia yakin mereka akan dikembalikan ke tanah Sion: “Apakah mereka akan kembali lagi ke Yerusalem? Tidak ada yang lebih pasti: para Nabi dengan jelas menegaskannya.”

Joseph Mede (1586–1638) adalah simpatisan Puritan lainnya yang mengemukakan keyakinan Puritan yang sering diulang-ulang bahwa orang-orang Yahudi akan dikembalikan ke tanah Israel setelah kehancuran kekaisaran Turki.

Bukan hanya kaum Puritan Anglo-Amerika dalam tradisi Reformed yang menyimpang dari pandangan Calvin. Pada pergantian abad ke-18, teolog Reformed Belanda Wilhelmus à Brakel (1635–1711) menerbitkan empat jilid teologi sistematika yang menyajikan pandangan yang lebih bernuansa tentang Israel Yahudi. Brakel bersikeras bahwa rujukan Paulus pada “seluruh Israel” dalam Roma 11:25 mengacu pada Israel Yahudi sebagai bangsa yang mempunyai masa depan yang jelas. Brakel menyatakan dengan tegas bahwa orang Yahudi akan kembali ke tanah airnya: “Akankah bangsa Yahudi dikumpulkan kembali dari seluruh wilayah di dunia dan dari semua bangsa di bumi dimana mereka tersebar? Akankah mereka datang dan tinggal di Kanaan dan seluruh tanah yang dijanjikan kepada Abraham, dan akankah Yerusalem dibangun kembali? Kami yakin peristiwa ini akan terjadi.”

Jonathan Edwards (1703-1758), mungkin teolog Reformed terbesar setelah Calvin, sependapat dengan Brakel bahwa pandangan Calvin menggunakan hermeneutika hiper-spiritualis yang mengabaikan pengertian Kitab Suci. Meskipun dia setuju dengan Calvin bahwa Tuhan telah meninggalkan banga Israel karena penyembahan berhala mereka telah membuat-Nya iri, dia berargumentasi bahwa pengabaian ilahi ini hanya sementara. Akan ada hari rahmat yang kedua. Tepat sebelum milenium dimulai, Tuhan akan membuka tabir yang menutupi mata mereka dan melembutkan hati mereka dengan rahmat. Seluruh Israel kemudian akan diselamatkan. “Tidak ada yang lebih pasti dinubuatkan selain pertobatan nasional orang-orang Yahudi di Roma pasal 11.”

Edwards bertekad bahwa orang-orang Yahudi akan kembali ke tanah airnya. Hal ini tidak dapat dihindari, ia beralasan, karena ramalan tentang tanah yang diberikan kepada mereka hanya terpenuhi sebagian. Hal ini juga penting agar Tuhan menjadikan mereka “monumen nyata” akan rahmat dan kuasa-Nya pada saat pertobatan mereka. Pada saat itu agama dan pembelajaran akan berada pada puncaknya masing-masing, dan Kanaan sekali lagi akan menjadi pusat spiritual dunia. Meskipun Israel kembali menjadi negara yang berbeda, umat Kristen akan memiliki akses bebas ke Yerusalem, karena orang-orang Yahudi akan memandang umat Kristen sebagai saudara mereka.

Edwards dan para pendahulunya dari kalangan Puritan tidak hanya berfokus pada makna sederhana dari janji-janji Perjanjian Lama; mereka juga memperhatikan berbagai saran dalam Perjanjian Baru bahwa umat dan tanah Israel akan memiliki masa depan. Misalnya, Yesus meramalkan bahwa suatu hari Yerusalem akan menyambutnya (Lukas 13:34–35). Dalam Matius 24 ia mengatakan bahwa ketika Anak Manusia kembali, “semua suku di negeri itu akan berdukacita,” mengutip nubuat Zakharia tentang penduduk Yerusalem yang berduka ketika “TUHAN akan memberikan keselamatan kepada kemah-kemah Yehuda” (Zakharia 12 :7, 10).

Kemudian dalam Matius 19 Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa “di dunia baru, ketika Anak Manusia akan duduk di takhta-Nya yang mulia, kamu yang mengikuti Aku juga akan duduk di 12 takhta, menghakimi 12 suku Israel” (ayat 28 ). Ketika murid-muridnya bertanya kepada Yesus sesaat sebelum kenaikan-Nya, “Tuhan, apakah saat ini Engkau akan memulihkan kerajaan Israel?” (Kisah 1:6), Yesus tidak menentang asumsi mereka bahwa suatu hari kerajaan akan dipulihkan ke Israel secara fisik. Dia hanya mengatakan bahwa Bapa telah menetapkan tanggalnya, dan mereka belum perlu mengetahuinya.

Pagi ini, jika anda membaca berita tentang apa yang terjadi di Timur Tengah, hati Anda mungkin menjadi gundah. Apa yang akan terjadi di Palestina, Israel, Yordania dan negara-negara di sekitarnya? Kita tidak tahu jalan Tuhan, karena Dia yang mahakuasa adalah jauh lebih bijak dari manusia. Kuasa-Nya sangat besar, yang sudah terbukti pada terbentuknya negara Israel sesudah perang dunia kedua. Apalagi yang kita bimbangkan dalam hidup ini? Kehendak-Nya pasti terjadi, dan kita hanya bisa berserah kepada-Nya.

Apakah Anda memiliki sahabat yang sejati?

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Yohanes 15:13-15

Teman adalah harta yang istimewa. Penulis buku Kristen yang ternama, C.S. Lewis, mengatakan bahwa persahabatan lahir “ketika dua orang atau lebih menemukan bahwa mereka memiliki kesamaan dalam wawasan, persoalan, minat atau bahkan selera yang tidak dimiliki oleh yang lain, dan yang sebelumnya diyakini sebagai keadaan uniknya atau bebannya sendiri” Lewis menyatakan bahwa pikiran yang muncul di awal sebuah persahabatan adalah seperti: “Apa? Kamu juga begitu? Saya pikir hanya saya satu-satunya yang mengalami.”

Secara alami, persahabatan adalah anugerah umum yang dimiliki oleh semua orang. Pengalaman dan minat yang sama dapat menghasilkan resonansi yang hangat dan bertahan lama di antara dua orang. Dan memang, ada kegembiraan tersendiri saat merasakan bahwa seseorang mengenal Anda, memahami Anda, dan menikmati kebersamaan dengan Anda dalam semua keadaan, sekalipun apa yang dialami adalah kurang menyenangkan. Sahabat yang sejati adalah teman dalam suka dan duka.

Benarlah jika seseorang berkata bahwa jika ia mempunyai satu teman sejati, ia harus menganggap dirinya diberkati. Hal ini sehubungan dengan banyaknya “teman” yang kita temui dalam hidup, sekalipun mereka kebanyakan adalah teman dalam keadaan dan saat tertentu saja. Apa yang dinamakan teman sehidup semati pun belum tentu merupakan teman yang terbaik. Karena teman sejati sulit didapat, ada ungkapan yang berbunyi: “Banyak musuh datang tanpa diundang, tapi seorang teman jarang ditemukan”.

Orang Kristen bisa berteman dengan orang yang tidak beriman seperti yang digambarkan C.S. Lewis. Persahabatan seperti itu juga bisa menjadi hal yang baik. Namun, umat beriman harus menyadari bahwa ada landasan rohani yang unik dalam persahabatan antara orang-orang Kristen yang melampaui apa yang mungkin terjadi pada mereka yang tidak mengenal Kristus. Mengapa begitu?

Umat ​​Kristen tidak hanya memiliki beberapa kesamaan; mereka memiliki seorang Sahabat yang sama. Persahabatan mereka dengan Yesus memberikan landasan spiritual dan tali pengikat yang kuat bagi persahabatan satu dengan yang lain. Sebab Yesus telah bersabda, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yohanes 15:15). Sesama umat percaya bisa menjadi sahabat sejati karena tiap-tiap orang adalah sahabat Yesus.

Persahabatan Kristiani dipupuk ketika dua orang berbagi satu sama lain bagaimana pengalaman yang mereka alami dalam Kristus diwujudkan dalam pengalaman hidup mereka yang unik sebagai orang percaya. Mereka tahu bahwa mereka adalah sahabat Kristus karena Dia mati untuk mereka (Yohanes 15:13); dan persahabatan ini berkembang ketika mereka berbagi satu sama lain bagaimana Tuhan mengungkapkan hal ini kepada mereka. Mereka tahu bahwa Yesus berkata bahwa mereka adalah sahabat-Nya jika mereka menaati-Nya (Yohanes 15:14). Persahabatan ini diperdalam ketika mereka bisa berbagi pengalaman, baik yang indah maupun yang buruk, di mana mereka dapat menggunakannya sebagai dorongan untuk bertekun dalam mengikut Kristus. Hati umat Kristiani semakin erat saat mereka mempelajari kisah kasih karunia Tuhan dalam hidup mereka.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12:15

Persahabatan Kristen biasanya memerlukan inisiatif khusus. Kadang-kadang umat Kristiani merasa kesepian dalam tubuh Kristus karena mereka tidak mengambil inisiatif untuk membuka hati satu sama lain mengenai pengalaman mereka bersama dengan Kristus. Seringkali percakapan kita tidak lebih dari sekadar pembicaraan tentang berita, pekerjaan, rekreasi, atau masalah kesehatan dan keluarga, seperti yang terjadi dalam acara reuni atau “kumpul-kumpul”. Lebih dari itu, acara kumpul-kumpul bisa memberi kesempatan untuk mendengarkan dan menyebarkan gosip.

Pada pihak lain, persahabatan yang sejati bisa lebih akrab daripada hubungan keluarga, dan sering kali seorang sahabat bisa mengenali Anda secara lebih baik. Mereka mendoakan hal yang lebih besar untuk Anda daripada Anda mendoakan diri Anda sendiri. Iman mereka bisa menguatkan Anda ketika iman Anda lemah. Mereka bisa memberi ruang kelegaan bagi Anda saat hidup tertekan, dan mereka ikut berduka jika Anda berduka, dan bersukacita bersama Anda pada saat semuanya baik-baik saja. Yang terpenting, sahabat sejati mengingatkan Anda dalam setiap pertemuan tetnang siapa dan apa yang paling penting diperhatikan dalam hidup. Yesus Kristus dan kasih-Nya.

Hakikat persahabatan Kristiani adalah persahabatan yang ditempa dalam api Roh Kudus dalam dua keyakinan:

  • Hanya Yesus yang dapat memuaskan jiwa, dan
  • Hanya kehendak-Nya yang layak untuk dilaksanakan.

Yesus adalah Roti Kehidupan kita, Air Kehidupan kita, Mutiara kita yang Sangat Berharga, Terang kita, Kebangkitan kita, Kehidupan kita. Bahaya terbesar bagi jiwa kita adalah kita mungkin tidak lagi tinggal di dalam Dia, mengikuti Dia, dan menemukan sukacita di dalam Dia. Oleh karena itu, hadiah terbaik yang bisa diberikan seorang sahabat adalah komitmen untuk memperjuangkan sukacita dan persekutuan kita dengan Kristus. Jika kita mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, kita akan bisa membina hubungan baik dengan sesama.

Sebaliknya, distorsi persahabatan yang paling buruk muncul ketika seorang teman mendorong kita, secara sadar atau tidak, untuk menempatkan kasih sayang kita di tempat lain. Tanpa disadari rasul Petrus melakukan distorsi semacam ini dalam Matius 16. Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa dia akan mati dan bangkit kembali (Matius 16:21). Petrus menegur Yesus dengan komentar yang tentunya bermaksud baik dari seorang teman setianya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Matius 16:22).

Tampaknya ini adalah bentuk persahabatan yang terdalam, paling tulus, dan paling indah, namun kata-kata Petrus menempatkannya di antara Yesus dan ketaatannya kepada Bapa. Ketidaktahuannya membuat seorang teman menjadi musuh, setidaknya untuk sesaat. “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:23). Apa yang Petrus anggap bermanfaat, Yesus sebut sebagai penghalang. Apa yang Petrus anggap sebagai persahabatan yang saleh, Yesus menyebutnya perbuatan iblis. Hal yang serupa dapat terjadi pada diri kita yang berusaha menolong seprang sahabat; tetapi karena kita tidak benar-benar mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita justru membuat mereka jatuh.

Pagi ini, jika kita memikirkan hubungan kita dengan orang lain, perlulah kita memisahkan mereka yang tergolong dalam kelompok sahabat duniawi dan mereka yang tergolong dalam kelompok sahabat surgawi. Sebagai orang Kristen, kita boleh saja bersahabat dengan semua orang karena panggilan kita adalah untuk mengasihi siapa saja, dan bahkan musuh kita (Matius 5: 44). Walaupun demikian, kita harus sadar bahwa hanya mereka yang sudah benar-benar menjadi sahabat Yesus akan dapat mengasihi kita seperti Yesus mengasihi kita. Sahabat yang sejati adalah orang-orang yang mau berkurban untuk kita, mau berjuang untuk kita, mau mengingatkan kita akan kesalahan kita, dan selalu berdoa untuk kita.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Filipi 1: 21-24

Pernahkah Anda membayangkan suasana perang, jika itu terjadi dalam lingkungan di mana Anda hidup? Bagi kita yang mengikuti berita media, mereka yang hidup dalam suasana perang terlihat sangat menderita. Banyak orang tua, wanita dan anak kecil yang harus mengungsi di tengah hujan bom, dan mereka yang tidak bisa atau tidak mau mengungsi tentunya harus bersembunyi di tempat perlindungan jika ada bahaya mengancam. Memang hidup manusia secara umum tidaklah mendapat jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan lancar; sebaliknya, berbagai bencana bisa datang tanpa diundang.

Dalam Filipi 1, Paulus mengalami “bencana” karena ia dianiaya dan harus masuk penjara karena mengabarkan injil. Hidup dalam penjara sudah tentu tidak enak, tetapi ia berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Berbeda dengan beberapa jemaat lain yang menjauhkan diri ketika Paulus dipenjarakan, jemaat di Filipi tetap bermurah hati dan setia kepada Paulus.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menyemangati mereka dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya bukanlah membawa rasa malu atau takut, tetapi adalah patut disyukuri karena adanya tujuan Tuhan yang baik. Upaya-upaya untuk menganiaya dan memenjarakan Paulus ini sebenarnya justru menyebabkan Injil menyebar ke mana-mana. Untuk itu, Paulus bersyukur. Walaupun demikian, dia berharap untuk dibebaskan pada saatnya, agar bisa bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi.

Ayat “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” adalah beberapa kata yang paling berkesan di seluruh Alkitab, tetapi sulit untuk ditiru karena pada umumnya orang tidak pasti apa untungnya kematian jika dibandingkan dengan hidup. Paulus pun tidak dapat memilih apa yang lebih baik di antara dua pilihan itu, tetapi bukan karena ia tidak tahu apa yang paling baik baginya.

Bagi Paulus, terlepas dari apakah keputusan pengadilan atas kasusnya adalah hidup atau mati, Paulus akan tetap setia kepada Tuhan. Ia tahu bahwa hidup di bumi ini berarti hidup bagi Kristus, namun kematian akan lebih baik lagi karena ia akan berada di hadirat Tuhan. Dengan demikian, Paulus tidak merasa terburu-buru untuk mati, karena penting baginya untuk menyebarkan Injil sejauh mungkin (Filipi 1:22).

Tulisan Paulus juga penting ketika kita membahas apa yang terjadi pada jiwa orang beriman setelah kematian. Beberapa orang berpendapat bahwa “tidurnya jiwa” itu mungkin terjadi. Pandangan ini menyatakan bahwa jiwa orang percaya memasuki keadaan tidak sadarkan diri, dan tidak masuk surga bersama Tuhan sampai hari kiamat nanti. Ayat ini menunjukkan kekeliruan dari ajaran ini. Paulus dengan jelas menyatakan harapannya untuk bersama Kristus pada saat hidupnya di bumi berakhir. Pandangan ini juga direfleksikan oleh Yesus ketika Dia mengatakan kepada pencuri di kayu salib bahwa dia akan berada di surga bersama-Nya “hari ini” (Lukas 23:43). Dengan demikian, Paulus mengerti bahwa kematian baginya adalah kebahagiaan yang instan dan abadi, yang bisa diterimanya karena janji Kristus.

Secara keseluruhan, Filipi 1:19–30 memperlihatkan Paulus yang merenungkan dua keinginan yang saling bersaing. Di satu sisi, sebagai orang percaya ia ingin melayani Tuhan dan membawa orang lain kepada Kristus melalui kehidupan mereka. Di sisi lain, seorang Kristen sewajarnya rindu untuk meninggalkan dunia yang penuh kekacauan, penderitaan dan kekuatiran, untuk secara instan hidup bersama Tuhan dalam kekekalan. Dengan demikian, adalah aneh jika orang Kristen memandang bahwa hidupnya di dunia ini adalah suatu kenikmatan yang perlu dirasakan sepuasnya dan untuk selama mungkin, tanpa memikirkan kewajiban atau pekerjaan untuk memuliakan Tuhan. Adalah menyedihkan jika orang Kristen masih merasa bahwa hidup setelah meningalkan dunia ini adalah sesuatu tanda-tanya yang menakutkan.

Peperangan di Ukraina belum berakhir, dan kini ada perang baru di Timur Tengah. Banyaknya korban yang jatuh membuat saya berpikir dalam-dalam. Kematian adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sampai itu terjadi. Jika itu terjadi, kita lagi-lagi diingatkan bahwa manusia sebenarnya tidak mempunyai kontrol atas umurnya. Memang bagi banyak orang, kematian berarti akhir dari kegiatan hidup dan karena itu mereka berusaha keras untuk menghindarinya untuk tetap bisa menjalani cara hidup yang disenangi mereka. Sebaliknya, umat Kristen percaya bahwa mereka tidak dapat memperpanjang hidup mereka sedetikpun, tetapi mereka bisa memutuskan apa yang bisa dilakukan selama hidup.

Keyakinan bahwa hidup di surga itu lebih baik dari hidup di dunia seharusnya dipunyai oleh setiap orang percaya. Memang orang percaya bahwa dalam Kristus ada kebangkitan yang memungkinkan mereka untuk hidup bersama Kristus untuk selamanya. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang Kristen yang memilih untuk mati secepatnya. Kebanyakan orang Kristen mungkin mengakui bahwa saat untuk meninggalkan dunia ini ditentukan oleh Tuhan; tetapi, mereka akan memilih hidup panjang di dunia jika itu mungkin. Dalam hal ini, banyak orang Kristen merasa canggung untuk membicarakan hal kematian, karena kematian jasmani adalah suatu misteri yang tidak pernah dialami oleh orang yang masih hidup.

Apa yang harus dilakukan umat Kristen selama hidup? Sebagian orang Kristen percaya bahwa kata “harus” sudah tidak tepat karena penebusan melalui darah Kristus sudah melepaskan kita dari perlunya untuk berbuat sesuatu untuk Tuhan. Ada orang Kristen bahwa dengan berbuat baik, kita tidak menambah kebaikan pada diri kita: sebuah usaha yang sia-sia. Sebagian lagi percaya bahwa jika Tuhan ingin kita berbuat baik, Ia tentu akan membuat kita berbuat baik. Dengan demikian, sebagian orang Kristen merasa bahwa mereka tidak mampu ataupun perlu untuk memikirkan pentingnya bekerja untuk menghasilkan buah yang baik. Ini jelas tidak benar, karena dalam ayat di atas Paulus menulis bahwa hidup berarti bekerja untuk memberi buah bagi orang lain dan demi kemuliaan Tuhan. Pengertian Paulus tentang hidup ada karena ia sudah lahir baru dan disadarkan Tuhan bahwa hidup barunya adalah untuk menghamba pada Kristus. Kita patut merasa sedih jika ada orang Kristen yang masih takut akan kematian, atau masih menunda-nunda kesempatan untuk bekerja bagi Tuhan dan sesama.

Kita aman di dalam Dia sekarang, kita akan aman di hadapan-Nya pada saat kematian, dan kita akan sangat bahagia dalam tubuh yang baru dan sehat selama-lamanya di langit baru dan bumi baru. Bagaimana mungkin pengertian ini tidak akan mengubah cara hidup kita semasa hidup di dunia? Setiap orang yang sadar akan arti kematian dalam Kristus tentu akan hidup sesuai dengan firman Tuhan untuk kemuliaan-Nya karena rasa syukur yang besar!

Dalam keadaan kritis, tetaplah berdoa sambil beryukur

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Dunia saat ini lagi sakit. Perang di Ukraina belum berakhir, sekarang bakal ada perang baru di Timur Tengah. Apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang tidak ada seorang pun yang tahu. Konflik dunia yang berkelanjutan sudah tentu akan memakan banyak korban jiwa akibat perang, tetapi juga penderitaan yang berkelanjutan pada masyarakat setempat. Selain itu, keadaan ekonomi dunia akan memburuk karena biaya perang tentunya besar dan dampaknya pada dunia bisnis akan dapat dirasakan di berbagai negara. Perang adalah sesuatu yang tidak dilakukan jika tidak terpaksa.

Banyak orang Kristen menganut faham pasifisme. Pasifisme adalah penolakan terhadap perang atau kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan perselisihan. Kaum pasifis menolak, atas dasar moral atau agama, untuk memanggul senjata atau terlibat dalam segala jenis perlawanan fisik. Mereka percaya bahwa semua perselisihan dapat dan harus diselesaikan dengan cara damai dan tanpa kekerasan. Para penganut paham pasifisme biasanya menolak perang karena alasan hati nurani. Beberapa kelompok Kristen seperti Adventis menjadikan pasifisme sebagai bagian integral dari doktrin mereka.

Beberapa orang Kristen menyatakan bahwa Alkitab memerintahkan pasifisme. Mereka percaya bahwa keseluruhan ajaran Yesus mengharuskan para pengikut-Nya untuk meletakkan senjata dan mempromosikan perdamaian. Mereka mengutip ayat-ayat seperti khotbah di Bukit sebagai bukti bahwa Perjanjian Baru telah menjadikan contoh-contoh perang yang benar dalam Perjanjian Lama tidak relevan lagi. Kristen pasifis percaya bahwa mengikuti Yesus berarti melakukan apa yang Dia lakukan, dan Dia tidak pernah menganjurkan untuk membunuh musuh (Matius 5:44). Mereka mengklaim bahwa kekuatan kasih harus cukup kuat untuk melucuti musuh yang paling gigih dan bahwa kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai (Matius 5:9).

Pasifisme adalah tujuan yang mengagumkan, namun belum tentu realistis. Apakah pemikiran pasifis berhasil melawan kelompok teroris atau diktator fasis? Apa yang terjadi pada kelompok pasifis dan keluarga mereka ketika teroris mengancam? Kelompok yang tidak ikut perang sepertinya lupa bahwa kebebasan mereka untuk menjalankan paham pasifisme telah dibeli dengan darah orang-orang non-pasifis. Para prajurit yang tewas tentunya tidak menyukai perang. Mereka berkurban agar para pasifis di masa depan dapat menjelaskan dengan bebas tentang keyakinan tulus mereka tanpa rasa takut akan kematian, penyiksaan, atau pemenjaraan oleh mereka yang menolak untuk mempertimbangkan perdamaian. Tanpa kelompok non-pasifis, tidak akan ada kelompok pasifis.

Terlepas dari apa yang diinginkan oleh para penganut paham pasifisme Kristen, Tuhan bukanlah seorang penganut paham pasifisme. Alkitab penuh dengan contoh bagaimana Allah melakukan pembalasan berdarah terhadap musuh-musuh-Nya (Yesaya 63:3–6; 65:12; Ulangan 20:16–18). Dan contoh-contoh tersebut tidak terbatas pada Perjanjian Lama. Mustahil membaca kitab Wahyu tanpa melihat Anak Domba Allah berperan sebagai Singa Yehuda (Wahyu 5:5; 19:11–15). Gambarannya jelas bahwa Yesus akan mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan peperangan (Wahyu 19:19-21). Ini adalah Yesus yang sama yang dikutip oleh kaum pasifis untuk mendukung faham anti perang mereka.

Memang benar bahwa pasifisme pribadi harus menjadi tujuan utama setiap pengikut Kristus. Kita dipanggil untuk hidup dalam damai, semampu kita (Roma 12:18; Ibrani 12:14). Hendaknya kita rela memberikan pipi yang lain (Matius 5:39), meminjamkan secara cuma-cuma (Lukas 6:30), bahkan diperlakukan secara tidak adil jika itu berarti tidak mencemarkan nama Kristus (1 Korintus 6:7). Ketika perdamaian adalah sebuah pilihan, kita harus mengupayakannya semaksimal mungkin. Namun ketika kehidupan dan kebebasan orang lain terancam, hukum yang lebih tinggi akan mengarahkan kita untuk membela mereka (Amsal 24:11-12; Yohanes 15:13). Ketika suatu negara perlu mempertahankan diri dari pihak-pihak yang akan menghancurkan perdamaiannya, para pembawa perdamaian sejati akan bersatu untuk melindunginya.

Sebagai senjata yang ampuh dalam mengatasi ancaman perang adalah doa. Tetapi, banyak orang di zaman ini yang kurang percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih perlu.

Sebagian orang berpikir bahwa doa itu tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencana-Nya. Ada juga yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman karena kebiasaan saja.

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apapun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Hari ini, jika kita mempunyai kekuatiran tentang apapun juga, biarlah kita pertama-tama berusaha menguranginya. Sebaliknya, kita harus bisa menyadari bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan selalu lebih besar dari masalah kita. KasihNya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita semua. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, kita akan mendapatkan rasa damai sejahtera sekalipun kita harus menghadapi keadaan di sekeliling kita yang saat ini terlihat suram dan menakutkan. Damai sejahtera dari Tuhan juga akam memberi kita keinginan, keberanian dan kekuatan untuk bertindak melawan ancaman kekerasaan atas umat manusia dan usaha penolakan atas apa yang kita percaya dalam Yesus Kristus.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4: 7

Di luar Tuhan manusia adalah hewan

“Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” Efesus 4: 22-24

Apa yang terjadi di Israel baru-baru ini adalah sangat menyedihkan. Pemerintah Israel sudah mengkonfirmasi bahwa dalam serangan kelompok teroris Hamas, ada 40an bayi Israel yang dibunuh secara kejam. Bagi kebanyakan orang, kejadian ini membawa pertanyaan: bagaimana mungkin manusia melakukan perbuatan jahat seperti itu? Hal semacam itu memang bisa terjadi dalam dunia hewan, tetapi tidak lazim di antara kaum manusia; sekalipun pernah ada semasa Holocaust pada perang dunia kedua, ketika kaum Nazi Jerman menangkapi orang Yahudi.

Dalam hari-hari mendatang, suasana Timur Tengah akan makin memanas karena Israel akan berusaha untuk membalas dendam dan menumpas Hamas. Sudah dapat dipastikan bahwa banyak rakyat jelata dari kedua pihak akan mengalami penderitaan dan bahkan kematian. Dalam perang, tidak ada yang baik yang bisa diharapkan, kecuali jika itu dikehendaki Tuhan. Dalam peperangan mana pun, manusia sering bertingkah laku seperti hewan.

Bagi umat Kristen, penting untuk diperhatikan adanya perbedaan signifikan antara manusia dan bentuk kehidupan lainnya. Tidak hanya manusia yang berbeda dengan tumbuhan, manusia juga berbeda dengan hewan. Hanya manusia, menurut Alkitab, yang diciptakan menurut “gambar Allah”. Hanya manusia yang memiliki kemauan dan kesadaran diri yang membedakan kita dengan hewan yang paling “maju” dan cerdas sekalipun.

Sejarah dapat memberi tahu kita banyak hal tentang perkembangan kehidupan umat manusia, dan juga posisi penting nya dalam alam semesta. Tetapi, hanya Alkitab yang mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia merupakan klimaks ciptaan Tuhan, yang diciptakan pada hari keenam. Meskipun menempati urutan terakhir, manusia adalah ciptaan Tuhan yang terpenting, untuk dia segala sesuatu sudah tersedia.

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:27.

“Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama “Manusia” kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan.” Kejadian 5: 1-2

Apa maksudnya manusia diciptakan menurut gambar Allah? Mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah berarti bahwa Allah dan manusia mempunyai banyak kesamaan. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia memberinya hal-hal seperti kepribadian, pilihan, emosi, moralitas, dan kreativitas. Dengan menyediakan segala sesuatu untuk manusia, Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling penting.

Baik manusia maupun Tuhan mempunyai kepribadian, artinya keduanya dapat berpikir dan berkomunikasi sebagai makhluk rasional. Mereka masing-masing mempunyai identitas pribadi yang berbeda dari makhluk lainnya dan dari benda mati. Baik Tuhan maupun manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan untuk memilih, meskipun Tuhan yang mahasuci tidak mungkin memilih apa yang jahat. Manusia tidak diprogram atau dipaksa olehTuhan untuk membuat pilihan apa pun. Kebebasan ini diberikan kepada manusia oleh Tuhan dan manusia bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya. Ini berbeda dengan hewan yang melakukan sesuatu berdasarkan naluri semata-mata.

Baik manusia maupun Tuhan mempunyai emosi. Misalnya, masing-masing bisa memberi cinta dan menerima cinta. Tuhan, dan juga manusia, bisa marah. Baik manusia maupun Tuhan memiliki kapasitas untuk merasakan dan mengekspresikan emosi. Manusia sebelum kejatuhan dan Tuhan sama-sama mempunyai pemahaman moral tentang benar dan salah. Masing-masing mengetahui dan memahami perbedaan antara yang baik dan yang jahat.

Selain apa yang tertulis di atas, manusia berbeda dari hewan dalam beberapa hal:

  1. Berpikir analitis: Manusia dapat menganalisis masalah dan menemukan solusi kreatif. Ia mampu bernalar dan berfilsafat tentang kehidupan. JIka kekuatan penalaran pada hewan terbatas, manusia bisa memikirkan bahwa ada kuasa ilahi dibalik semua yang ada dalam alam semesta. Tetapi, hanya orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan adalah oknum yang berdaulat dan mahakuasa.
  2. Menggunakan bahasa: Hanya manusia yang memiliki bahasa dan pemikiran konseptual yang benar. Ia dapat berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol abstrak. Alkitab mengatakan salah satu tanggung jawab pertama yang diberikan Tuhan kepada Adam adalah memberi nama binatang (Kejadian 2:19-23). Hewan tidak mempunyai kapasitas seperti itu. Walaupun demikian, hanya orang percaya yang bisa menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan kasih kepada sesamanya.
  3. Menulis sejarah: Sejak dahulu kala, manusia telah mencatat perjalanan hidup mereka untuk generasi mendatang. Tidak ada satupun hewan yang mencatat perbuatannya untuk anak cucu. Tetapi hanya orang Kristen yang mempunyai keinginan untuk mengisi sejarah dengan apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan.
  4. Mengatur ekonomi: Manusia adalah makhluk ekonomi, mampu melakukan transaksi bisnis yang rumit dan mengelola barang dan jasa di bawah kendalinya. Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk menguasai bumi dan “menaklukkannya” (Kejadian 1:28). Hewan tidak bisa melakukan transaksi bisnis satu sama lain. Tetapi hanya orang percaya yang bisa menggunakan milik dan kemampuannya untuk memuliakan Tuhan.
  5. Mengembangkan kesenian: Manusia adalah makhluk estetis yang mampu mempersepsi dan mengapresiasi keindahan dan nilai-nilai tak berwujud. Ketika hewan membangun sesuatu, proses dan objek yang dihasilkan memiliki tujuan fungsional. Hewan tidak menciptakan objek untuk tujuan apresiasi. Hanya umat Tuhan yang bisa menggunakan seni sebagai alat untuk memunji Penciptanya.
  6. Beribadah: Hanya manusia yang dapat mengerti adanya iman. Hanya manusia di antara seluruh ciptaan di bumi yang dapat menyembah Penciptanya. Dia adalah makhluk yang bisa menaruh kepercayaannya pada bimbingan dan kepemimpinan Tuhan. Tetapi hanya orang Kristen yang mengerti bahwa ibadah yang benar hanya dapat dilakukan melalui Kristus.
  7. Menguburkan yang mati: Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang menguburkan kematian sesamanya. Tidak ada contoh hewan yang melakukan upacara penguburan apa pun dan menunjukkan rasa sedih seperti yang dilakukan manusia. Tetapi hanya orang Kristen yang bisa bersukacita karena mengerti bahwa pada saatnya, kita akan dibangkitkan dengan tubuh yang baru untuk hidup dalam kerajaan surgawi.

Daftar di atas, meskipun tidak menyeluruh, menunjukkan bahwa ada banyak hal yang membedakan manusia dari hewan. Tetapi, tidak semua manusia mempunyai semua kemampuan di atas karena kerusakan yang terjadi oleh adanya dosa. Mereka yang jauh dari Tuhan tetap berada dalam pengaruh dosa yang besar, sehingga ciri-ciri gambar Allah tetap ditutupi oleh kerusakan dan kebobrokan. Itulah sebabnya mereka yang belum mengenal Kristus, siapapun orangnya, dari manapun asalnya, akan menumjukkan ciri-ciri tertentu yang mirip dengan binatang. Bagi mereka hanya ada satu jalan untuk mengubah mereka menjadi manusia seperti apa yang diciptakan Allah pada mulanya: bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai penebus mereka.

Kasihilah musuhmu

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Pada saat ini, selagi perang besar di Ukraine masih berlangsung, muncullah bahaya perang baru di Timur Tengah. Mengapa permusuhan antar manusia, antar bangsa dan antar negara tidak henti-hentinya membuat kekacauan dalam hidup manusia? Apakah semua itu menunjukkan bahwa Tuhan sedang murka kepada sebagian umat manusia dan memberikan hukuman-Nya?

Tuhan itu mahakasih dan kasih-Nya kepada umat-Nya tidaklah dapat diukur. Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Yesus mengasihi kita. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Tetapi, apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaan ini mungkin mudah dijawab jika kita percaya bahwa Yesus datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan sejumlah orang tertentu. Adanya orang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka, yang membuat mereka menjadi korban kutukan Tuhan.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikut-Nya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap kurang baik atau kurang pantas untuk menjadi teman kita. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, dan karena itu tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Kita mungkin juga sering merasa bahwa jika banyak rakyat yang saat ini menderita di Timur Tengah, itu adalah karena kesalahan dan kebodohan sendiri.

Apa yang kita pikirkan belum tentu sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita. Sekalipun kita tahu bahwa ada orang-orang yang kejam terhadap sesamanya, kita tidak boleh meniru mereka dengan melakukan kekejaman yang serupa kepada mereka. Biarlah dalam keadaan saat ini kita tetap bisa ikut merasakan penderitaan orang lain dan ikut prihatin, dan dengan rela mau menolong mereka yang menderita karena perbuatan orang-orang tidak mengenal Tuhan dan hukum-Nya.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Matius 5: 43-45