Mengakui kedaulatan Tuhan dan berdoa “Jadilah kehendak-Mu”

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:9-10

Apakah Anda masih sering berdoa “Doa Bapa Kami”? Doa ini (The Lord’s Prayer) sudah jarang dipakai dalam acara kebaktian gereja Australia. Mungkin sudah dianggap “kuno”, banyak gereja Protestan yang tidak lagi memakai doa ini dan Pengakuan Iman Rasuli dalam acara kebaktian mereka. Pada pembukaan rapat Parlemen Australia doa ini masih dibacakan, tetapi sudah banyak orang yang menentang kebiasaan itu karena penduduk Australia sekarang tidak lagi bermayoritas orang Kristen. Walaupun demikian, sebagai orang Kristen kita harus mengerti apa isi doa ini.

“Jadilah kehendak-Mu” adalah salah satu permohonan yang utama dalam Doa Bapa Kami. Yesus sendiri memohon agar kehendak Tuhan terjadi di Taman Getsemani. Sebelum penyaliban-Nya, Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”” (Matius 26:39). Yesus berkomitmen untuk melihat kehendak Allah terlaksana, dan doa “Jadilah kehendak-Mu” adalah tema kehidupan-Nya.

Sederhananya, jika kita berdoa “Jadilah kehendak-Mu,” kita meminta Tuhan agar melakukan apa yang Dia inginkan. Tentu saja, kita berdoa kepada Tuhan yang pernah bersabda, “Jadilah terang,” dan terang itu kemudian terjadi (Kejadian 1:3). Dengan demikian, kita tahu bahwa keputusan dalam kedaulatan-Nya akan digenapi, baik kita mendoakannya atau tidak. Walaupun demikian, kehendak Tuhan bukan hanya dalam arti kehendak mutlak.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Firdaus, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3). Dengan demikian, ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita memohon kepada Tuhan untuk meningkatkan kebenaran di dunia, membawa lebih banyak orang kepada pertobatan, dan memajukan kerajaan Putra-Nya. Ini juga menyangkut penyerahan hidup kita kepada-Nya.

Ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita mengakui hak Allah untuk memerintah hidup kita. Kita tidak berdoa “Terjadilah kehendak-Ku”; tetapi kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu.” Permohonan kita agar kehendak Tuhan untuk dilakukan-Nya merupakan bukti kepercayaan kita bahwa Dia tahu yang terbaik. Ini adalah pernyataan ketundukan pada jalan dan rencana Tuhan. Kita mohon agar kehendak kita selaras dengan kehendak-Nya, dan mengakui bahwa kehendak kita tidak dapat dibandingkan dengan kehendak-Nya yang sempurna.

Bahwa kehendak Allah dimohonlan untuk terjadi sebagai “di bumi seperti di surga” (Matius 6:10) adalah suatu perbandingan antara hidup kita di dunia dan hidup semua makhluk di surga. Di surga, para malaikat melaksanakan keinginan Tuhan dengan lengkap, penuh sukacita, dan segera. Karena itu, di surga ada sukacita dan kedamaian – betapa jadinya dunia ini jika semua manusia di dunia bertindak seperti itu!

Perlu dicatat, “Jadilah kehendak-Mu” bukanlah doa penyerahan diri yang tanpa ekspresi. Doa Yesus di Getsemani sama sekali tidak bersifat pasif atau fatalistik. Yesus memperlihatkan isi hati-Nya di hadapan Bapa dan mengungkapkan keinginan utama-Nya: agar kehendak Tuhan terlaksana. Berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” berarti mengakui bahwa Tuhan memiliki lebih banyak pengetahuan daripada kita dan bahwa kita percaya bahwa jalan-Nya adalah yang terbaik. Dan ini merupakan komitmen kita untuk bekerja secara aktif guna memajukan pelaksanaan kehendak Tuhan, dan bukannya tidak peduli lagi atas hidup kita.

Memahami siapa Tuhan itu, kita harus menyerahkan diri kita kepada-Nya dan membiarkan Dia mengubah kita. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin mudah doa kita selaras dengan kehendak-Nya dan kita dapat dengan sungguh-sungguh berdoa, “Jadilah kehendak-Mu.” Kita dapat menghampiri Allah dengan keyakinan bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, maka Ia mendengarkan kita. Dengan iman, kita tahu bahwa berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” adalah hal terbaik yang bisa kita minta.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. ” 1 Yohanes 5:14–15.

Sekali dimulai, pasti akan diselesaikan

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6

Ayat di atas adalah salah satu ayat yang bisa membingungkan umat Kristen karena aplikasinya. Dalam Filipi 1, Paulus berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Bahkan ketika Paulus dipenjara, atau dianiaya, mereka murah hati dan setia. Paulus menyemangati orang-orang Kristen ini dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Bahkan yang lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus ini sebenarnya telah menyebabkan Injil menyebar keman-mana. Untuk itu, Paulus berterima kasih kepada Tuhan. Walaupun demikian, Paulus tentunya berharap untuk dibebaskan, dan bisa bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi. Pada saat yang sama, Paulus menaruh harapan besar agar gereja Filipi terus mendewasakan diri dan mempererat hubungan mereka dengan Kristus.

Kemudian, ketika Paulus berkata bahwa jemaat Filipi adalah mitra sejak hari pertama sampai sekarang, kata “sekarang” (Filipi 1:5) merujuk secara spesifik pada pembelaan dan peneguhan Injil oleh Paulus di Roma (Filipi 1:7). Setelah berdiri bersama Paulus sejak awal di Filipi dan sampai ke Roma, jemaat Filipi mengambil bagian dalam kasih karunia yang diterima Paulus. Mereka ikut serta dalam pekerjaan supranatural dalam pelayanan kerasulannya dengan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pekerjaan yang Tuhan mulai berlanjut hingga sekarang dan bergerak menuju akhir yang gemilang.

Aibnya bergaul dengan penjahat yang sedang dipenjara dapat dengan mudah mengancam kesediaan jemaat Filipi untuk tetap setia kepada Paulus. Jadi dia menulis surat untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian mereka dan mendorong mereka untuk bertahan dalam kemitraan mereka. Inilah sebabnya Paulus menyoroti peran mereka dalam pekerjaannya (Filipi 1:7). Berdasarkan persekutuan saudara seiman, apa pun yang terjadi di dalam dan melalui Paulus juga terjadi di dalam dan melalui mereka. Jadi, ketika mereka bermitra dengan rasul yang dipenjarakan itu, mereka ikut menderita. Namun, dengan cara yang sama, mereka juga mempunyai persekutuan dalam kemuliaan penyebaran Injil yang tak terbayangkan di kalangan pengawal istana (Filipi 1:12-13).

Pada pihak yang lain, beberapa penafsir Alkitab menolak gagasan bahwa Filipi 1:6 merupakan janji Tuhan bagi mereka yang bermitra dalam upaya penginjilan. Mengapa? Pertama, Paulus menulis bahwa pekerjaan Tuhan terjadi di antara jemaat Filipi (bukan melalui mereka). Selanjutnya, pekerjaan itu selesai (atau sampai)pada hari Kristus Yesus. Tentu saja, menurut mereka, Paulus tidak berasumsi bahwa jemaat Filipi akan memenuhi kebutuhan fisiknya sampai akhir zaman. Sebaliknya, banyak orang percaya bahwa ayat ini paling baik dipahami sebagai pengudusan pribadi, yaitu untuk setiap umat Kristen yang menghasilkan buah kebenaran ketika mereka berdiri di hadapan Tuhan (Filipi 1:11). Hal ini masuk akal karena isi doa Paulus dengan jelas memuat aspirasi untuk pertumbuhan rohani mereka (Filipi 1:9).

Paulus memang memulai ayat ini dengan pernyataan keyakinannya yang besar terhadap orang Kristen Filipi. Meskipun keselamatan dari hukuman dosa terjadi pada saat seseorang menerima Kristus, perubahan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus adalah sebuah proses yang diperlukan. Paulus sangat yakin bahwa “pengudusan” ini akan berlanjut terus dalam kehidupan orang-orang percaya di Filipi. Secara khusus, kepastian ini didasarkan pada pekerjaan Yesus Kristus. Baik keselamatan dan pengudusan adalah karena anugerah Kristus. Dengan kata lain, Paulus tidak meragukan keselamatan mereka dan pelayanan mereka kepada Kristus.

Pekerjaan Allah di dalam kita seperti yang dijelaskan dalam Filipi 1:6 dapat mengacu pada pengudusan pribadi dan tugas penginjilan. Mungkin saja, jika tidak sepenuhnya mungkin, bahwa Paulus memaksudkan kedua arti tersebut. Di bagian lain surat yang sama, sang rasul dengan jelas menyatakan bahwa pekerjaan Allah yang efektif di jemaat Filipi melampaui kemitraan penginjilan mereka dan melibatkan upaya aktif mereka untuk mencapai kekudusan (Filipi 2:12-13, 16). Pekerjaan keselamatan – seperti pekerjaan misi – adalah milik Allah dari awal hingga akhir. Tapi itu pasti melibatkan usaha dan pengorbanan kita.

Pagi ini, firman Tuhan mengajak kita berpikir dalam-dalam. Tuhan sudah memulai pekerjaan-Nya dalam diri kita. Dari memperkenalkan diri-Nya kepada kita sampai membimbing kita ke arah keselamatan, Ia selalu mendampingi kita. Kita yang sudah menyambut tawaran-Nya agar kita bertobat dan percaya kepada-Nya, sudah menerima karunia keselamatan yang abadi. Pada pihak yang lain, Dia yang sudah memulai pekerjaan pengudusan-Nya atas diri kita, juga mengajak kita untuk hidup kudus guna memuliakan Dia. Jika kita memang bersyukur atas anugerah keselamatan-Nya, seharusnya kita mau untuk menyambut panggilan-Nya dengan mau berusaha dan berkorban dalam hidup kita agar makin banyak orang yang mengenal Dia. Tuhan yang sudah memulai, Tuhan juga yang akan menyelesaikan perjuangan kita jika kita tunduk kepada Dia.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16




Upah dosa adalah kematian

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 6:23

Ayat terkenal ini sering digunakan ketika mengabarkan Injil untuk menunjukkan bahwa orang berdosa yang belum diselamatkan akan membayar dosa mereka dengan pemisahan kekal dari Allah, dan bahwa mereka dapat lolos dari takdir itu melalui karunia hidup kekal yang disediakan Yesus Kristus. Begitukah seharusnya ayat ini ditafsirkan dan diterapkan?

Jika kita membahas kitab Roma 6 dari awal, terlihat jelas bahwa konteks Roma 6 adalah pembahasan tentang kehidupan orang Kristen. Ayat 23 merupakan kesimpulan atau rangkuman dari pemikiran sebelumnya dalam 6:1-22. Pasal ini dengan jelas ditulis untuk orang percaya yang dibaptis ke dalam atau dipersatukan dengan Kristus (6:3-5), yang telah mati dengan Kristus, dan sekarang hidup dengan Dia (6:6-11). Nasihat bagi orang-orang percaya ini adalah untuk tidak mengabdi kepada dosa, melainkan kepada Allah, karena mereka tidak lagi berada di bawah kekuasaan dosa, melainkan di bawah kasih karunia (6:12-14).

Dalam ayat 15, muncul penolakan terhadap pertanyaan apakah hidup di bawah kasih karunia dapat mendorong orang percaya untuk berbuat dosa. Meskipun 6:16-23 memberikan kemungkinan bahwa orang percaya dapat memilih untuk berbuat dosa, ayat ini juga memberikan alasan mengapa orang percaya tidak boleh melakukan dosa. Ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Rasul Yakobus, yang mengingatkan orang percaya untuk berhati-hati dalam menjalani hidupnya, karena keinginan jahat ada pada setiap orang.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus‬ ‭1‬:‭14‬ ‭


Adalah alkitabiah dan penting untuk memahami kematian (maut) dalam Roma 6:23 dalam pengertian pemisahan daripada penghentian. Seseorang yang mati secara fisik tidak berhenti ada; mereka baru saja dipisahkan dari tubuh duniawi mereka. Pada tingkat spiritual, kematian bagi orang yang tidak percaya berarti mereka terpisah dari kehidupan Tuhan sekarang dan mungkin selamanya. Misalnya, Adam diberi tahu bahwa pada hari ia memakan buah dari pohon terlarang ia akan mati (Kejadian 2:17). Ketika dia makan buah itu, dia memang mati, tetapi dia tidak mati secara fisik atau lenyap. Dia mati secara rohani dalam arti bahwa dia terpisah dari kehidupan kekal Allah dalam pengalamannya saat itu dan berpotensi selamanya.

Tetapi, karena ayat 23 ditulis untuk mereka yang percaya, kita harus mengerti mengapa mereka diberitahu bahwa dosa menyebabkan kematian, atau lebih tepatnya, bahwa dosa membayar (“upah”) dalam kematian. Hal dosa yang membawa kematian ini sudah pernah ditampilkan dalam renungan sebelumnya. Mengingat penegasan lain tentang karunia keselamatan yang kekal di kitab Roma, ini tidak berarti bahwa orang percaya yang berdosa akan kehilangan keselamatan mereka dan dipisahkan dari Allah di neraka (lih. 4:16; 8:18-39). Lalu apa arti kematian bagi orang percaya?

Kematian bagi orang beriman berarti mereka terpisah dari berkat Tuhan dalam hidup mereka saat ini. Inilah sebabnya ada dosa-dosa utama yang bisa membinasakan kebahagiaan orang Kristen selama hidup di dunia. Orang percaya memiliki hidup yang kekal sebagai milik sekarang dan janji masa depan. Mereka tidak dapat dipisahkan dari kepemilikan hidup yang kekal baik di masa kini atau masa depan, tetapi mereka dapat dipisahkan dari manfaat karunia itu dalam hidup di dunia (misalnya kedamaian, kebahagiaan, kuasa atas dosa, dll.). Ini bukan saja bisa menyangkut hidup pribadi mereka, tetapi juga keluarga mereka dan orang disekitar mereka.

Ketika orang percaya berdosa, mereka hidup dalam pengaruh pengalaman duniawi yang sama seperti yang dihasilkan oleh dosa ketika mereka belum diselamatkan (6:19-21), pengalaman pahit, penderitaan, kehancuran hidup dan sebagainya. Pada pihak yang lain, keyakinan akan hidup kekal datang pada saat pembenaran melalui iman kepada Kristus (3:24; 5:18), dan kesabaran, kedamaian atau pengalaman hidup yang penuh ketabahan adalah buah dari kehidupan yang saleh.

Penafsiran yang benar dari ayat ini dalam konteksnya mengakui bahwa itu ditulis untuk orang percaya untuk menasihati mereka agar tidak melayani dosa, tetapi melayani Tuhan. Walaupun demikian, ayat di atas dinyatakan sebagai prinsip umum yang dapat diterapkan pada semua orang baik yang diselamatkan maupun yang tidak diselamatkan.

Ayat ini juga berlaku untuk orang-orang kafir dalam arti bahwa mereka, dalam dosa mereka, telah mati bagi Allah. Solusi bagi keterpisahan mereka dari Allah adalah pemberian cuma-cuma berupa hidup kekal yang datang melalui iman kepada Yesus Kristus (bdk. 3:22-26). Semua orang sudah berdosa dan dapat mengalami kematian, dan satu-satunya solusi bagi mereka adalah pemberian hidup kekal secara cuma-cuma melalui Yesus Kristus.

Meskipun Roma 6:23 ditulis khusus untuk orang-orang percaya sebagai kesimpulan argumen agar mereka hidup untuk Tuhan dan bukan dosa, prinsip ringkasannya dinyatakan cukup luas untuk memberi tahu orang-orang tidak percaya yang masih berada dalam dosa bahwa satu-satunya hasil hidup mereka adalah pemisahan total dari Tuhan, sekarang dan selamanya.

Pagi ini kita belajar dari ayat yang dapat digunakan secara efektif dalam pemberitaan Injil untuk menunjukkan akibat dari tidak percaya kepada Kristus. Namun, orang percaya tidak boleh mengabaikan tujuan utama dari pernyataan ayat tersebut, yaitu untuk menggerakkan mereka untuk melayani Tuhan dan menghindari dosa. Orang-orang percaya telah diberi karunia hidup Allah yang luar biasa yang hanya dapat mereka nikmati ketika mereka hidup kudus untuk Dia.

Kita harus menguji iman kita

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” 2 Korintus 13:5

Bagaimana Anda mengetahui kekuatan iman Anda? Banyak orang berpikir bahwa iman seseorang akan diuji dengan adanya masalah kehidupan. Tetapi, ayat di atas menyuruh kita menguji iman kita sendiri. Apakah ini berarti kita harus mencobai diri kita sendiri dengan cara mencari gara-gara? Ataukah kita harus membayangkan bagaimana reaksi kita terhadap pencobaan dengan memikirkan hal-hal yang menggoda?

Pada zaman kuno, pembuat senjata akan menguji senjata yang mereka buat untuk memverifikasi kekuatan dan daya tahannya sebelum prajurit membawanya ke medan perang. Pedang akan diuji dengan berbagai tes selama masa damai sehingga para prajurit akan memiliki kepercayaan pada kekuatan pedangnya selama pertempuran. Mereka menguji pedang itu dengan mengadu pedang itu dengan benda-benda yang keras maupun yang ulet sehingga mereka tahu bahwa pedang itu memang kuat dan tajam, bukan dengan cara menebak atau berharap bahwa pedang itu cukup kuat.

Penghuni gedung-gedung perkantoran mengadakan latihan menghadapi kemungkinan kebakaran dan adanya situasi berbahaya pada saat tidak ada bahaya, sehingga semua orang tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Di lapangan sepakbola, melalui latihan dan pertandingan persahabatan para pemain menyadari seberapa kuat atau lemahnya mereka, menemukan apa yang perlu mereka perbaiki sebelum pertandingan yang sesungguhnya, dengan melatih dan mencoba teknik permainan sampai mereka bisa melakukannya secara otomatis.

Seperti itu juga, sebagai orang Kristen kita harus melatih iman kita. Jauh lebih penting dari apa pun, dalam hidup kita memerlukan iman yang kuat. Latihan itu diperlukan setiap hari sepanjang hidup kita, untuk membantu kita tetap berfokus pada apa yang penting selama masa kemakmuran dan pencobaan, dan menjaga kita sampai akhir hidup kita. Seperti halnya pedang, kita perlu menguji iman kita ketika keadaan damai sehingga kuat dalam menghadapi kesulitan yang sebebarnya dan bisa bertahan sampai akhir.

Ada beberapa tes yang harus kita hadapi untuk menguji iman kita.

Tes 1: Apakah Anda taat pada iman?
Pertanyaan pertama sederhana: apakah Anda menaati Tuhan? Sudahkah Anda datang kepada Bapa melalui Yesus Kristus untuk pengampunan dosa dan menyerahkan hidup Anda pada pemerintahan Raja dari segala raja dengan memercayai pesan Injil, berbalik dari kehidupan duniawi dan pemikiran yang tidak kudus, mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan mau diadopsi sebagai Anak-Nya dan menikmati penyucian dosa melalui baptisan (Roma 10:6-15; Galatia 3:26-27)? Semua itu adalah langkah pertama agar orang bisa menjadi anak Tuhan.

Tes 2: Apakah Anda hidup dalam iman?
Ketika anak-anak saya belajar bersepeda, saya berdiri di sisi mereka dan menyuruh mereka mengayuh pedal sepeda untuk maju ke depan. Saya memberi mereka jaminan bahwa saya akan berada di sana ketika mereka maju dan saya dapat menolong mereka untuk tidak jatuh. Saya tahu mereka mencintai saya dan mematuhi saya, tetapi saya membutuhkan mereka untuk mempercayai saya. Mereka harus percaya bahwa saya akan menjaga dan melindungi mereka dan bahwa saya mengutamakan kepentingan mereka. Kita dapat mengasihi Tuhan dan menaati-Nya, tetapi kita juga harus mempercayakan hidup kita kepada-Nya.

Tes 3: Apakah iman Anda bertumbuh?
Dengan segala sesuatu yang pernah menggairahkan kita, ada ancaman bahwa itu akan menjadi rutinitas. Kelahiran baru kita harus menghasilkan pertumbuhan yang terus-menerus tetapi jika kita tidak memelihara kehidupan rohani kita, itu bisa mandek. Salah satu alasan iman banyak orang menjadi dingin adalah karena mereka berhenti bertumbuh dalam pengetahuan dan menjalankan iman mereka. Mereka menemukan tempat yang nyaman dan berhenti tumbuh. Dalam hal iman, jika Anda tidak bertumbuh, Anda sedang mendekati kematian iman.

Tes 4: Apakah iman Anda nyata bagi orang lain?
Iman Anda seharusnya tidak menjadi rahasia terbaik dalam hidup Anda. Seharusnya jelas bagi orang lain bahwa Anda adalah murid Kristus. Paulus memberi tahu pengkhotbah muda Timotius bahwa imannya harus nyata bagi semua orang, 1 Timotius 4:11-16. Dengan mempraktekkan dan “membenamkan dirinya” dalam apa yang Paulus ajarkan kepadanya, dia akan menjadi teladan yang baik dalam ucapan, tingkah laku, kasih, iman, dan kemurniannya sehingga kemuridannya menjadi jelas bagi semua orang. Orang Kristen harus hidup seperti Yesus sehingga musuh mereka pun akan memperhatikan dan memuliakan Tuhan.

Tes 5: Apakah Anda membagikan iman Anda kepada orang lain?
Jika Anda tahu bahwa Injil itu benar dan bahwa iman Anda sedang diubah, Anda tidak perlu ragu untuk membagikannya kepada orang lain. Paulus memberi tahu Timotius untuk mengajar orang lain apa yang dia pelajari. Injil mereka dimaksudkan untuk diajarkan kepada orang lain untuk membawa mereka kepada Kristus.

Pagi ini, pertanyaan kepada Anda adalah apakah Anda pernah menguji iman Anda. Selidikilah cara hidup Anda, di setiap waktu dan keadaan, dan bukannya hanya merasa yakin bahwa Anda adalah orang pilihan yang tidak berdaya, yang hanya bisa menantikan iman siap pakai dari Tuhan. Ada banyak ujian lain yang bisa digunakan seseorang untuk melihat di mana posisi kita dalam iman, tetapi lima ujian ini akan memberi kita indikasi yang baik tentang di mana kita berada dan di mana kita perlu bertumbuh.

Pertumbuhan adalah tanda kehidupan (Bagian 2)

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Bertumbuh secara rohani pertama-tama berarti kita bertumbuh dalam pengetahuan akan dosa-dosa kita, pengetahuan bahwa kita di dalam diri kita sendiri adalah orang-orang berdosa yang terhilang tanpa harapan dan tak berdaya. Pada usia 50 tahun, misalnya, kita harus mengetahui hal ini lebih dari pada usia 20 tahun. Indikator yang baik dari pertumbuhan (growth) Kristen (bedakan dengan perbuatan baik, good works, dari orang Kristen) adalah kesadaran bahwa dosa-dosa kita membawa dukacita, dan bukannya sukacita.

Indikator pertumbuhan rohan yang kedua adalah meningkatnya kesadaran akan fakta bahwa kita diselamatkan dan diperbarui hari demi hari hanya oleh kasih karunia Allah — bahwa darah dan Roh Kudus adalah satu-satunya pengharapan kita. “Tidak ada apa pun di tangan saya kecuali salib Kristus yang saya pegang.” Dalam hal ini, Kitab Suci berbicara banyak tentang kesetiaan Allah kepada kita sebagai orang Kristen yang “gagal”.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23 TB

Kata-kata, “rahmat-Nya selalu baru setiap pagi” menjadi lebih bermakna bagi kita jika kita sadar bahwa kita hanya bisa bergantung kepada Tuhan. Jadi doktrin Alkitab, tentang kerusakan diri kita akibat dosa kita dan bahwa kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia, menjadi kenyataan yang hidup bagi kita. Jika kita bertumbuh, kita akan bisa belajar menghargai janji-janji besar Allah.

Hal ketiga mengenai pertumbuhan adalah tentang rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan kita, sebagai buah iman, yaitu “buah Roh”. Itu mengacu pada kehidupan Kristen kita sebagaimana digariskan dalam Kitab Suci. Tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa kita telah diselamatkan atau bahwa kita pernah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. “Buah” juga harus jelas. Secara negatif, ini menyiratkan bahwa anak-anak Allah yang bertumbuh, akan menjadi kurang peduli terhadap dunia dan semua yang ditawarkannya. Rasa cinta untuk hal-hal materi dan bagi kepentingan diri sendiri harus berkurang, dan bukannya tidak berubah. Bertumbuh dalam Kristus berarti kita berjuang melawan dosa-dosa, seperti cinta dunia, cinta uang dan cinta diri.

Secara positif, bertumbuh dalam Kristus berarti kita bertumbuh dalam kasih kita kepada Tuhan, Firman-Nya dan gereja-Nya dan sesama kita. Ini juga menyiratkan bahwa kita menjadi lebih rendah hati dan lebih tulus di hadapan Tuhan dan manusia. Mungkin cara terbaik untuk mengatakannya adalah kita menjadi seperti Kristus.

Betapa menakjubkannya, bahwa kita sebagai orang berdosa yang telah diselamatkan dipanggil untuk menjadi orang kudus dan hidup seperti Tuhan! Kitab Suci juga menunjukkan bahwa ini menjadikan kita pengabar Injil-Nya dalam hidup kita. Jika kasih Tuhan bertambah dalam hati kita seiring bertambahnya usia, kita harus menunjukkannya dalam kesaksian kita kepada dunia. Apa yang sehat dan masih bertumbuh akan berbau harum untuk Tuhan.

Pagi ini kita mungkin bertanya bagaimana kitai dapat bertumbuh di dalam Kristus. Bisakah kita sendiri membuat diri kita tumbuh? Kita dapat melakukan ini tidak lebih dari yang dapat kita lakukan dengan tubuh kita. Kita dapat tumbuh secara fisik hanya dengan menggunakan karunia yang diberikan Tuhan, terutama makanan yang baik. Demikian juga, pertumbuhan rohani hanya dimungkinkan dengan menggunakan Firman Allah yang sempurna (1 Petrus 2:2). Betapa kita semua membutuhkan Firman itu setiap hari dan juga pada hari Minggu di gereja. Di dalam Firman dan di dalam doa kita diberikan sarana untuk bertumbuh di dalam Kristus.

Sampai sejauh mana kesadaran akan pentingnya pertumbuhan rohani ini akan membawa kita? Jika kita jujur, kita akan menyadari bahwa bagaimana pun kita berusaha, pertumbuhan kita akan jauh dari sempurna. Tetapi kepada anak-anak-Nya yang tidak sempurna, Tuhan memberikan kepastian bahwa apa yang telah Dia mulai dalam diri kita, akan diselesaikan-Nya pada saat kita menjumpai Dia. Dan pertumbuhan yang kita alami sepanjang hidup kita akan tampak tidak signifikan jika dibandingkan dengan perubahan yang akan terjadi pada saat itu, dalam sekejap mata, oleh kuasa mujizat dari Kristus yang telah bangkit dan dimuliakan. Betapa menghiburnya hal ini bagi anak Allah yang mau hidup, bertumbuh, dan bergumul demi kemuliaan-Nya!

Pertumbuhan adalah tanda kehidupan (Bagian 1)

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Musim dingin hampir berakhir, dan suhu udara makin bertambah hangat. Berlawanan dengan bagian utara dunia yang akan memasuki musim gugur, musim semi di Australia dimulai pada bulan September. Pada akhir musim dingin ini, banyak orang yang membersihkan halamannya dari daun-daun yang jatuh dari pohon selama musim gugur dan musim dingin, sambil memotong ranting-ranting pohon yang berlelebihan. JIka pohon masih sehat, tentu musim semi akan membawa daun-daun baru. Pohon yang masih hidup tentu bisa terus bertumbuh, sekalipun bentuk dan skala pertumbuhannya tidak tetap sama selama hidup.

Pertumbuhan orang Kristen juga seperti pertumbuhan pohon. Dalam Mazmur 84 orang Kristen sebagai peziarah digambarkan sebagai orang yang semakin kuat berjalan sampai dia mencapai Sion. Selain itu, Paulus dalam Kolose 2:6-7 berbicara tentang orang Kristen yang berakar di dalam Kristus dan dibangun di dalam Dia, dan bertumbuh di dalam Dia dalam segala hal. Bagi orang Kristen, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa kita dilahirkan kembal; tetapi, sebagai bayi yang baru lahir mereka harus bertumbuh di dalam Kristus.

Banyak orang Kristen dilahirkan kembali ketika mereka masih muda. Dengan berlangsungnya waktu, mereka tentunya menjadi makin dewasa. Begitu juga ketika sebuah pohon cemara mencapai usia 60 atau 70 tahun, tentunya ia sudah tumbuh menjadi pohon yang besar. Bagaimana dengan kita? Orang Kristen tidak boleh berhenti bertumbuh, tetapi harus tetap bertumbuh di dalam Tuhan. Ini menyiratkan bahwa ketika kita telah mencapai sisi kehidupan yang lebih jauh, kita tidak akan bertindak seperti “anak-anak” lagi. Saat kita menjadi orang Kristen yang dewasa, kita juga bisa menerima makanan yang keras, tidak seperti seorang bayi rohani hanya bisa minum susu.

“Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya.” 1 Korintus 3:2

Kita patut bertanya pada diri sendiri secara pribadi: Berapa banyak kita telah bertumbuh di dalam Tuhan sejak kita menjadi seorang Kristen? Atau, jika kita telah menjadi dewasa selama beberapa waktu, seberapa besar kita bertumbuh selama ini? Apakah kita masih tumbuh? Apakah kita mau tumbuh?

Kita menemukan dalam kata-kata rasul Petrus di atas suatu pemikiran yang menghibur, tetapi juga nasihat yang menyadarkan – menghibur karena ketika kita bertumbuh kita akan memiliki lebih banyak buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Pada pihak yang lain, kita mungkin merasa sedih ketika kita menyadari betapa sedikitnya pertumbuhan kita selama ini.

Dengan cara apa kita harus bertumbuh? Ayat tulisan rasul Petrus di atas mengatakan bahwa kita harus bertumbuh “dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”. Ini berarti bahwa kita semakin menyadari fakta bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia, dan oleh karena itu Tuhanlah yang layak menerima segala kemuliaan. Bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus berarti kita belajar mengenal Dia lebih dalam melalui pengalaman. “Pengenalan” melibatkan persekutuan kasih. Di sini artinya kita bertambah dalam kasih Kristus, sehingga Dia terus-menerus menjadi Tuhan yang lebih kita kasihi. Ini menyiratkan bahwa kita semakin menaati perintah-perintah-Nya dan hidup menurut Firman-Nya.

Bertumbuh secara rohani pertama-tama berarti kita bertumbuh dalam pengetahuan akan dosa-dosa kita, pengetahuan bahwa kita di dalam diri kita sendiri adalah orang-orang berdosa yang terhilang tanpa harapan dan tak berdaya. Pada usia 50 tahun kita harus mengetahui hal ini lebih dari pada usia 20 tahun. Indikator yang baik dari pertumbuhan (growth) Kristen (bedakan dengan perbuatan baik, good works, dari orang Kristen) adalah kesadaran bahwa dosa-dosa kita membawa rasa sedih, yang kita rasakan bersama Paulus:

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15

Orang yang sering tidak merasakan adanya kesalahan dalam hidupnya, adalah orang yang tidak banyak bertumbuh di dalam Tuhan. Dan orang yang tetap melakukan hal yang salah dengan sengaja sekalipun ia bisa menghindarinya adalah orang yang tidak pernah bertumbuh atau mati rohaninya. Bersama Daud, kita bisa mengenang kembali masa muda kita, dan berkata,

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.” Mazmur 25:7

.

Orang yang bagaimana membenci Tuhan?

“Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua” Roma 1:30

Misotheisme adalah “kebencian terhadap Tuhan” atau “kebencian terhadap para dewa” (dari kata sifat Yunani misotheos (μισόθεος) “membenci para dewa” atau “membenci Tuhan” – gabungan dari, μῖσος, “kebencian” dan, θεός, ” Tuhan”).

Roma 1:30 mengatakan bahwa beberapa orang adalah “pembenci Allah.” Mengapa mereka membenci Tuhan? Mereka membenci Tuhan tentunya karena mereka mencintai dan melayani sesuatu yang lain. Alkitab menyebutkan bahwa tidak ada orang yang dapat mengabdi kepada dua tuan. Dia akan membenci yang satu dan mencintai yang lain.

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Matius 6:24

Sekalipun banyak orang Kristen yang mengabdi kepada dua atau beberapa tuan, mereka biasanya tidak menyadarinya. Malahan, banyak yang menyangka bahwa jika mereka ke gereja setiap hari Minggu dan duduk di sana selama 1-2 jam, itu adalah tanda pengabdian mereka kepada Tuhan.

Alkitab menyatakan bahwa jika kita mencintai satu majikan, kita akan membenci majikan lainnya. Jadi, tidak mungkin kita berkata bahwa kita mencintai Tuhan, tetapi juga menyayangi harta, kedudukan, pekerjaan dan sejenisnya. Sebaliknya, manusia sering, secara sadar atau tidak, membenci Tuhan karena lebih mencintai hal yang lain:

  1. Mereka lebih mencintai diri mereka sendiri: “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama.” 2 Timotius 3:2 
  2. Mereka lebih mencintai dunia: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” 1 Yohanes 2:15-17
  3. Mereka lebih menyukai kesenangan: “Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.” Lukas 8:14
  4. Mereka lebih mencintai uang: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6:10
  5. Mereka lebih percaya pada apa yang kelihatan: “Orang bebal berkata dalam hatinya: ”Tidak ada Allah.” Mazmur 14:1
  6. Mereka lebih mencintai perdebatan dan teologi: “Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka.” Titus 3:9

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa untuk bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, kita harus meletakkan Tuhan di atas segalanya. Dan untuk melakukannya, kita harus meninggalkan atau melepaskan kungkungan dan pengaruh dari semua hal yang kita punyai, termasuk harta, kedudukan, dan bahkan orangtua, istri, anak dan sanak saudara. Sebaliknya, dengan sepenuhnya kita harus mau dibimbing oleh firman Tuhan dan Roh Kudus yang diam di dalam kita. Hal inilah satu-satunya pedoman yang harus kita ikuti supaya bisa jadi orang yang benar-benar mengasihi Tuhan.

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Lukas 14: 26

Memuliakan Tuhan yang mahabesar

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Siapakah orang yang hidup di zaman Yesus dan yang mempunyai cara hidup yang aneh? Orang ini memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Ia berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lain dan mengajarkan pertobatan kepada Tuhan. Orang ini dikenal sebagai nabi oleh pengikut agama Islam, Kristen dan bahkan Baha’i. Anda benar, orang itu adalah Yohanes Pembaptis, Yahya Pembaptis, atau  John the Baptist. Ia adalah orang yang “nyentrik” dan unik, dan masih terhitung kerabat Yesus.

Pada waktu itu Yohanes Pembaptis mempunyai beberapa murid dan membaptis orang-orang yang mau percaya kepada Tuhan. Melihat Yesus melakukan hal yang sama, orang-orang yang mendengarkan ajaran Yohanes Pembaptis bertanya-tanya siapakah sebenarnya dia. Yohanes Pembaptis menjelaskan bahwa ia bukanlah Mesias, dan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Yesus yang datang dari surga.

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.” Yohanes 3: 31

Pernyataan Yohanes Pembaptis adalah menarik perhatian. Ia berkata bahwa Yesus yang datang dari surga adalah diatas segalanya, above all. Siapa yang datang dari surga adalah lebih berkuasa dan lebih besar dari apapun dan siapapun. Raja dari segala raja.

Yohanes Pembaptis tahu menempatkan dirinya. Di hadapan Tuhan yang sudah turun dari surga, ia sadar bahwa dirinya  tidak dapat dibandingkan dengan Tuhan. Tugasnya hanyalah untuk menjadi pembuka jalan bagi Yesus. Karena itu, dalam hidup dan tugasnya, ia menempatkan dirinya sebagai hamba yang baik. Ia sadar bahwa seorang hamba tidak bisa lebih besar dari tuannya, dan oleh sebab itu ia memberikan segala kemuliaan kepada Yesus. Yesus harus semakin besar sedangkan ia harus semakin kecil. Tuhan harus semakin dipermuliakan dan ia harus semakin bisa merendahkan diri.

Hal merendahkan diri adalah sesuatu yang sulit dilakukan manusia. Kejatuhan manusia kedalam dosa pada awalnya adalah karena Adam dan Hawa merasa bahwa mereka bisa menyaingi Tuhan pencipta semesta alam. Kejatuhan manusia zaman ini pun sering berawal dari kesombongan. Sekarang ini malah banyak motivator dan bahkan hamba Tuhan yang justru gemar menunjukkan kehebatan mereka dalam berbagai hal yang bisa mereka capai dan lakukan. Memang, mereka yang merasa pandai, kaya, sukses, saleh atau murah hati mungkin percaya bahwa Tuhan mencintai mereka lebih dari orang lain. Betapa keliru pandangan mereka! Perumpamaan orang Farisi yang berdoa di Bait Allah di sebelah seorang pemungut cukai menunjuk kepada kebencian Tuhan akan orang yang tinggi hati. Kita tidak mungkin bisa mengakui kemahabesaran Tuhan jika kita tidak mau menempatkan diri pada posisi yang rendah dihadapan-Nya. Kita tidak mungkin mengenal Tuhan jika kita tidak sadar akan kemahabesaran-Nya.

Pagi ini, jika kita bersiap untuk menjalankan aktifitas sehari-hari, firman Tuhan mengingatkan bahwa jika kita percaya kepada Tuhan, kita harus juga percaya bahwa Dia diatas segala-galanya. Yesus yang datang dari surga haruslah dipermuliakan dalam segala segi kehidupan kita. Seperti Yohanes Pembaptis, kita harus mengambil keputusan untuk memuliakan Tuhan dalam segala perbuatan kita. Jika dunia mengagumi kita karena segala kemampuan dan kebaikan kita, kita harus ingat bahwa segala kemuliaan adalah untuk Dia di tempat yang mahatinggi. Tuhan mengasihi mereka yang memuliakan Dia dalam kerendahan hati.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Apakah Anda mengasihi Tuhan?

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: ”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: ”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: ”Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yohanes 21:17

Yesus menetapkan Petrus sebagai gembala.

Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” dalam Yohanes 21:15–17. Ini terjadi ketika Yesus sedang sarapan bersama murid-murid-Nya segera setelah kebangkitan-Nya. Yesus menggunakan kesempatan ini untuk mendorong dan menasihati Petrus tentang tanggung jawabnya yang akan datang dan bahkan untuk menubuatkan bagaimana Petrus akan mati. Dengan bertanya kepada Peter, “Apakah engkau mengasihi Aku?” tiga kali, Yesus menekankan pentingnya kasih Petrus dan ketaatan yang tak tergoyahkan kepada Tuhannya, yang diperlukan untuk pelayanannya di masa depan.

Percakapan ini terjadi di tepi Laut Galilea, yang adalah tempat yang mereka kenal, di mana Yesus telah menghabiskan banyak waktu di sana bersama para nelayan ini. Setelah kebangkitan Yesus, para murid masih bingung dan tidak tahu ke mana harus pergi atau apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tidak mengherankan, mereka kembali ke kehidupan yang mereka kenal sebelum Yesus – kehidupan nelayan. Mereka sangat mencintai Yesus, tetapi mereka tidak tahu harus berbuat apa atau bagaimana harus memulai hidup lagi. Seperti yang selalu dilakukan-Nya, Yesus mendatangi mereka ketika mereka mengalami masalah.

Petrus secara khusus tampaknya tidak yakin dengan posisinya bersama Yesus. Ini didasarkan pada kejadian di malam ketika Yesus dikhianati, ditangkap, dan disalibkan. Sebelum penangkapan, Petrus adalah orang yang berbicara paling keras dalam hal membela Yesus, tetapi segera setelah itu ia jatuh paling jauh. Kita membaca dalam Lukas 22:33 bahwa Petrus “siap masuk penjara dan mati” demi Yesus. Tanggapan yang Yesus berikan kepadanya pasti sangat memilukan: ”Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”” (Lukas 22:34).

Yesus mulai percakapan dengan menanyai Petrus tentang kasih-Nya kepada-Nya, dan setiap kali Petrus menjawab dengan tegas, Yesus melanjutkan dengan perintah agar Petrus menggembalakan domba-domba-Nya. Artinya adalah, jika Petrus benar-benar mengasihi Tuannya, dia harus menggembalakan dan merawat mereka yang menjadi milik Kristus. Ia harus menaati perintah Yesus. Kata-kata Yesus mengungkapkan peran Petrus sebagai pemimpin Gereja baru, Tubuh Kristus di Yerusalem yang akan bertanggung jawab untuk menyebarkan Injil setelah kenaikan Yesus ke surga.

Mengapa Yesus bertanya kepada Petrus sampai tiga Kali? Di sinilah hubungan yang sebelumnya ada antara Yesus dan Petrus ditinggalkan. Namun Petrus masih sangat mengasihi Yesus, dia hanya malu atas tindakannya dan ketidakmampuan untuk menindaklanjuti apa yang dia pernah katakan. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus apakah dia mengasihi-Nya, itu adalah pertanyaan retoris. Yesus tahu betul bahwa Petrus mengasihi-Nya (seperti yang juga diketahui Petrus), tetapi Dia meminta kepastian dari Petrus. Ada juga makna yang unik setiap kali Yesus bertanya apakah Petrus “mengasihi” dia.

Ada kemungkinan bahwa dengan pertanyaan-Nya yang berulang-ulang, Yesus secara halus mengingatkan Petrus akan tiga penyangkalannya. Tidak diragukan bahwa dengan penyangkalan itu Petrus merasa hancur hatinya ketika Yesus berpaling untuk melihatnya (Lukas 22:61-62). Tidak terpikir oleh Petrus bahwa Yesus mengulangi pertanyaan-Nya kepadanya tiga kali, sama seperti sebelumnya Petrus menyangkal-Nya tiga kali.

Ada juga kontras yang menarik ketika kita melihat kata Yunani untuk “kasih” yang digunakan dalam Yohanes 21:15–17. Ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah kamu mengasihi Aku?” dalam Yohanes 21:15–16, Dia sebenarnya menggunakan kata Yunani agape, yang mengacu pada kasih tanpa syarat. Atas dua pertanyaan Yesus itu, dua kali, Peter menjawab dengan “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”; tetapi ia menggunakan kata Yunani phileo, yang lebih mengacu pada jenis cinta persaudaraan/persahabatan. Petrus belum dapat memakai kata agape.

Tampaknya Yesus berusaha membuat Petrus mengerti bahwa dia harus mengasihi Yesus tanpa syarat untuk menjadi pemimpin yang Tuhan inginkan. Pada ketiga kalinya Yesus bertanya, “Apakah kamu mencintaiku?” dalam Yohanes 21:17, tetapi di sini Dia justru menggunakan kata phileo. Petrus kembali menjawab dengan “”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus lagi-lagi menggunakan phileo. Maksud dari kata Yunani yang berbeda untuk “kasih” tampaknya menunjukkan bahwa Yesus mendorong Petrus untuk mengganti kasih phileo ke kasih agape.

Dengan tiga pertanyaannya, Yesus menekankan kepada Petrus betapa pentingnya peran barunya dalam menggembalakan kawanan pengikut Kristus nantinya. Ketika seseorang mengulangi instruksi kepada kita berulang kali, kita segera memahami bahwa sangat penting bagi kita untuk memperhatikannya. Yesus ingin memastikan Petrus memahami tugas penting yang Dia tugaskan kepadanya dan alasan utama untuk itu, untuk mengikuti Dia dan memuliakan Allah (Yohanes 21:19). Ini memerlukan komitmen Petrus untuk kasih agape.

Yesus bertanya kepada Petrus pada kesempatan ketiga, apakah Petrus benar-benar mencintai (phileo) Yesus sebagai saudara dan sahabat? Hal ini menyebabkan Petrus merasa sedih, karena dia memang sebelumnya hanya berusaha mengasihi Yesus dengan cara ini, dan karena itu diliputi oleh emosi atas apa yang telah dia lakukan dan pengampunan yang tidak pantas dia terima. Petrus sangat terluka, tetapi itu bukan karena Yesus berusaha menyakitinya. Apa yang Yesus lakukan di sini adalah membangunkan Petrus dan meyakinkannya bahwa dia masih tetap orang yang dipilih-Nya, dan bahwa penyangkalannya tidak cukup kuat untuk menghentikan rancangan yang telah Tuhan mulai.

Pagi ini, interaksi emosional Petrus ini merupakan peringatan akan kasih Juruselamat yang sangat dalam bagi kita. Paulus menulis dalam 2 Timotius 2:13, “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Dengan demikian, ketika kita gagal dalam usaha untuk mengasihi (agape) dan menaati Yesus, Ia tidak akan meninggalkan kita atau membuang kita. Dia selalu memberi rahmat untuk membangun kita, dan terlebih lagi, mengingatkan kita akan kasih agape-Nya. Ketika kita benar-benar mau untuk mengasihi (agape) Kristus, itu akan terlihat dalam tindakan dan cara hidup kita yang terus berusaha keras mencapai apa yang terbaik; dan dengan demikian tidak ada kemunduran atau kegagalan yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 15:15
‭‭

Apakah Tuhan benar-benar mengasihi aku?

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Ayat di atas adalah ayat yang sangat dikenal umat Kristen, terutama untuk menguatkan iman mereka yang mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan dalam hidup. Bagaimana kita sanggup menghadapi kesedihan, kegagalan, sakit, kecelakaan dan berbagai penderitaan lainnya jika kita tidak yakin akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih? Ayat di atas menasihati kita bahwa jika kita mengasihi Allah, Ia akan ikut bekerja dengan kuasa dan kasih-Nya dalam segala yang kita alami untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Tuhan telah berjanji untuk bekerja sama dalam segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya. Jika Tuhan di pihak kita, maka pada akhirnya, tidak ada yang dapat melawan kita. Itu logis. Jika tidak, Tuhan tidak akan menjadi Tuhan. Jika ada sesuatu yang dapat bangkit melawan Tuhan yang kita percaya, dan mengalahkan Dia, sesuatu itu adalah Tuhan yang asli. Tuhan kita kemudian akan terbukti sebagai tuhan palsu – bukan Tuhan sama sekali. Tetapi sebaliknya, Paulus mengatakan bahwa pada akhirnya, tidak ada yang dapat melawan kita jika Allah di pihak kita (Roma 8:31-39). Tuhan kita adalah Tuhan yang benar-benar Tuhan.

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Walaupun demikian, pertanyaan tetap ada ketika kita mengalami penderitaan atau masalah yang sangat besar: “Apakah Tuhan di pihak kita?” Mungkin yang lebih tajam adalah pertanyaan pribadi: “Bagaimana saya tahu bahwa Tuhan mengasihi saya?” dan sehubungan dengan ayat pembukaan di atas: “Apakah saya termasuk orang yang mengasihi Tuhan?”. Nah, apakah Anda tahu akan hal itu? Bagaimana Anda bisa tahu?

Iblis sangat bersemangat untuk menayakan hal ini kepada kita dan berusaha membuat kita bingung – sesungguhnya, dia telah mengeluarkan pertanyaan ini sejak awalnya. Dia menanyakannya di Taman Eden. Kata-kata pertamanya yang tercatat adalah serangan terhadap karakter Allah yang murah hati (kita tahu betapa dia membenci Allah dan umat-Nya): “Benarkah Allah melarang kamu makan buah daripada sebarang pokok di taman ini?” Tuhan macam apa jika Ia melakukan hal yang semena-mena seperti itu? Bukankah Anda tidak berpikir Dia benar-benar ada untuk Anda, jika Dia melakukan hal semacam itu dalam hidup Anda? Inilah pergumulan yang sering muncul dalam hidup kita karena usaha iblis untuk membuat kita sangsi akan kasih Tuhan.

Anda akan menemukan pertanyaan semacam ini berulang kali dalam berbagai bentuk dan penyamaran sepanjang kehidupan Kristen Anda. Anda perlu memiliki jawaban alkitabiah untuk pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Bagaimana Anda tahu bahwa Tuhan benar-benar untuk Anda?
  • Di mana Anda harus mencari bukti bahwa Tuhan ada untuk Anda?
  • Apakah itu bergantung pada kehidupan Kristen yang berisi kebahagiaan yang abadi?
  • Apakah itu bergantung pada kehidupan Kristen yang berisi kegembiraan yang luar biasa?

Hanya ada satu jawaban yang tak terbantahkan untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Itu tidak dapat ditemukan dalam keadaan kita saat ini, karena hidup kita dan apa yang dianggap kebahagiaan di dunia adalah sementara. Itu hanya terletak pada ketentuan yang telah Allah buat bagi kita di dalam Yesus Kristus sejak mulanya.

Inilah inti dari pertanyaan Paulus di ayat 32. Kita dapat yakin bahwa Allah di pihak kita karena Allah ini, Allah dari Alkitab, Allah dan Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus, tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi memberikan Dia naik ke kayu salib untuk kita semua. Itu tidak tergantung pada kasih kita kepada-Nya, tetapi pada kasih-Nya kepada kita yang sangat besar dan abadi.

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Roma 8:32

Jika ini benar, tegas Paulus, kita dapat yakin bahwa Dia akan memberi kita semua yang kita perlukan. Ini adalah satu-satunya cara yang pasti kita dapat mengetahui bahwa Tuhan ada di pihak kita sampai saat terakhir. Kita harus bisa terus bersukacita karena kasih-Nya kepada kita, yang sudah dinyatakan dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, yang membawa keselamatan abadi bagi kita.

Pagi ini, adakah masalah besar yang harus Anda hadapi? Apakah Anda merasa ragu bahwa Tuhan mengasihi Anda karena Anda merasa bahwa kasih Anda kurang cukup bagi-Nya? Firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan dari awalnya sudah mengasihi kita, sekalipun belum tahu bagaimana kita harus mengasihi Dia. Dia tetap mengasihi kita sekalipun kasih kita kepada-Nya tidak sempurna. Percayalah bahwa segala rencana-Nya adalah baik bagi Anda.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” Roma 8: 38-39