Mengapa Tuhan membiarkan sebagian orang tenggelam dalam dosa mereka

“Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 9: 18

Ayat diatas adalah ayat yang sulit dimengerti, yang bersangkutan dengan hal kedaulatan Tuhan dalam memilih manusia untuk menjadi pengikut-Nya. Ayat ini sudah sering didiskusikan di kalangan umat Kristen.

Bagaimana Tuhan yang mahakasih dan mahaadil juga bisa menjadi Tuhan yang menghukum dan seolah berat sebelah? Mengapa Tuhan memilih orang-orang tertentu untuk menjadi pengikut-Nya dan orang-orang lain untuk menjadi musuh-Nya? Mengapa Tuhan membuat musuh-Nya akhirnya dipermalukan dan dihancurkan? Banyak orang Kristen yang menyatakan bahwa Tuhan tentu boleh dan bisa melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Walaupun begitu, kita tahu bahwa orang dapat mengenal Tuhan dan diampuni melalui darah Kristus karena belas kasihan Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang dalam kebebasan mereka memilih hidup dalam dosa dan hidup tanpa mengenal Tuhan yang benar, akhirnya mendapat hukuman yang setimpal. Lalu mengapa Tuhan tidak membuat semua orang di dunia untuk takluk kepada-Nya?

Jauh sebelum Yesus datang ke dunia, ada seorang Firaun di Mesir yang keras kepala. Berkali-kali Musa memintanya agar membiarkan umat Israel untuk keluar dari tanah Mesir, tetapi Firaun itu selalu berkeras hati dan tidak mau memberi izin. Dengan keangkuhannya, ia sudah menentang Tuhan dan utusanNya, Musa dan Harun. Karena tindakan Firaun itu, yang berkali-kali diambilnya dengan kesadaran penuh, Tuhan tidak lagi mau mengasihaninya. Tuhan membuat hati Firaun menjadi semakin keras, dan akhirnya ia harus membayar keangkuhannya dengan berbagai malapetaka di Mesir dan kematiannya yang tragis (baca Keluaran 7 – 14). Semua orang dalam peristiwa ini (orang Israel dan orang Mesir) adalah orang berdosa, tetapi Tuhan tidak menunjukkan perlakuan yang sama. Mereka yang jelas-jelas memusuhi Dia, akan menerima hukuman yang lebih berat; semua itu adalah hak Tuhan, tetapi Dia bukannya Tuhan yang semena-mena.

Menimbang situasi dunia saat ini, mungkin ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita. Mengapa ada orang yang mau dan bisa percaya kepada Tuhan, tetapi ada juga orang yang tidak mau dan tidak bisa percaya? Mengapa ada orang yang bukan saja tidak mau percaya kepada Yesus, tetapi juga sangat membenci Dia dan pengikut-Nya?

Setiap manusia pada hakikatnya adalah orang berdosa yang tidak dapat menyenangkan Tuhan. Dengan demikian, manusia tidak akan bisa mengenal Tuhan jika Tuhan tidak memberinya kemampuan untuk itu. Dengan kodratnya, manusialah yang dari mulanya dengan sadar memilih untuk menjadi musuh Tuhan. Tuhan mungkin membiarkan manusia menentang kehendak-Nya untuk sementara waktu. Cepat atau lambat, Tuhan akan bertindak untuk membuat apa yang dikehendaki-Nya terjadi. Jika demikian, hal ini bisa terjadi melalui kejadian-kejadian yang luar biasa yang bisa membuat manusia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak dapat dihentikan manusia.

Tuhan bisa memakai reaksi manusia untuk mencapai maksud-Nya dan menunjukkan kebesaran-Nya. Apa yang terjadi pada Firaun di Mesir menunjukkan penolakan Tuhan atas mereka yang menutup hati mereka kepada Tuhan, dan apa yang terjadi pada Saulus dengan pertobatannya kepada Yesus Kristus menunjukkan penerimaan Tuhan atas mereka yang mau mengikut Dia (Kisah Para Rasul 9: 1 – 20). Tuhan berkuasa dan berhak untuk memilih orang-orang tertentu untuk melayani Dia, dan Ia bisa membiarkan orang yang tidak tunduk kepada-Nya untuk memilih jalan kehancuran. Tuhan tidak perlu menjerumuskan manusia yang melawan Dia ke dalam dosa yang lebih besar, atau membuat mereka untuk berbuat dosa terus menerus; karena manusia yang sudah berdosa itu hanya perlu dibiarkannya untuk tetap hidup bebas dalam dosanya sehingga lambat laun akan mati tenggelam dalam dosanya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa sebagai manusia kita adalah seperti tanah liat di tangan seorang tukang pembuat periuk. Apakah kita mau membiarkan Tuhan menolong kita, ataukah kita ingin berusaha dengan kekuatan diri sendiri untuk tidak tenggelam dalam dosa? Jika kita percaya bahwa Tuhan adalah makakuasa dan mahakasih, haruslah kita menyambut uluran tangan-Nya yang menyelamatkan dengan taat kepada hukum dan firman-Nya!

Kedaulatan Tuhan yang harus diakui dalam hidup kita

“TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya.” Mazmur 135:6

Salah satu yang paling penting dari hakiki Tuhan adalah kedaulatan-Nya. Karena itu, banyak orang Kristen yang meninggikan kedaulatan Tuhan (souvereignty) di atas sifat mahakasih, mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir-Nya. Bahkan, untuk sebagian kecil orang Kristen, kedaulatan Tuhan ini sangat ditonjolkan sehingga bagi mereka manusia tidak mempunyai kemampuan apa-apa, dan tidak dapat diharapkan untuk bertanggung jawab atas hidupnya.

Pada pihak yang lain, jika Anda mencoba menemukan kata “daulat” dalam Alkitab, Anda akan kecewa. Dalam Alkitab tidak ditemukan kata “daulat”, baik dalam bentuk “kedaulatan” atau “berdaulat”. Walaupun demikian, kedaulatan Tuhan adalah konsep alkitabiah yang penting. Seorang yang berdaulat adalah seorang penguasa atau seorang raja, dan Kitab Suci sering menyebut Allah sebagai yang memerintah atas segalanya.

Nama Allah yang paling umum, Yahweh (lihat Keluaran 3:14) sering diterjemahkan Tuhan, atau “Lord” dalam Alkitab bahasa Inggris. Dan kata Tuhan, muncul di Alkitab ribuan kali, khususnya sebagai nama Yesus Kristus. Menurut KBBI, Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa dan Mahaperkasa. Jadi, membahas kedaulatan Tuhan adalah membahas ketuhanan Tuhan – yaitu membahas sifat-sifat yang membuatnya menjadi Tuhan, dan yang meletakkan apa saja dibawah kehendak dan kuasa-Nya, di mana saja dan kapan saja.

“TUHAN semesta alam telah bersumpah, firman-Nya: ”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana.” Yesaya 14:24

Komponen utama dari konsep alkitabiah tentang kedaulatan atau ketuhanan ilahi adalah kendali, otoritas, dan kehadiran Allah. Kendali-Nya berarti bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rencana dan niat-Nya. Otoritas berarti bahwa semua perintah-Nya harus dipatuhi. Kehadiran berarti bahwa kita menjumpai kendali dan otoritas Tuhan dalam semua pengalaman kita, sehingga kita tidak dapat lepas dari keadilan-Nya atau dari kasih-Nya. Ketiga hal inilah yang harus kita ingat jika kita mengakui bahwa Tuhan adalah berdaulat atas hidup kita. Kita tidak dapat mengakui kedaulatan Tuhan dengan hanya mengakui satu atau dua dari ketiga aspek ini.

Walaupun demikian, jika orang membahas kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia, mereka sering hanya berfokus pada salah satu dari tiga aspek kedaulatan Tuhan, yaitu kendali-Nya. Ini jugalah yang menjadi pusat perhatian kelompok orang Kristen tertentu, yang menolak adanya kebebasan manusia dalam segala bentuknya. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa kendali Tuhan atas dunia hanyalah salah satu aspek dari pemerintahan-Nya. Jika kita hanya mempertimbangkan kendali-Nya, kita cenderung lupa bahwa Tuhan juga mahakasih, mahasabar, mahapemurah dan seterusnya. Kedaulatan Allah adalah penerapan semua atribut ilahi-Nya, bukan hanya kuasa-Nya. Kedaulatan Tuhanlah yang memungkinkan manusia menanggapi firman-Nya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Tuhan menunjukkan kepada Israel bahwa Dia benar-benar Tuhan dengan mengalahkan kerajaan Mesir dan otoritas Firaun, dan dengan memberikan Israel tanah air yang dijanjikan berabad-abad sebelumnya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub pada saat yang ditentukan-Nya. Tidak ada yang bisa mengalahkan kedaulatan Tuhan. Dia menepati janji-Nya, menunjukkan kekuatan pengendalian yang luar biasa, atau Dia bukan Tuhan. Seperti itu juga, Tuhan yang menjanjikan keselamatan bagi umat manusia setelah kejatuhan Adam dan Hawa, sudah menepati janji-Nya dengan kedatangan Kristus ke dunia, penyaliban dan kebangkitan-Nya.

“Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya!” Mazmur 115:3

Mengingat kekuatan luar biasa dari kendali kedaulatan Tuhan, efektivitas dan universalitasnya, apakah manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya? Jika manusia tidak memiliki kebebasan atau pilihan, apakah manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya? Alkitab menjawab bahwa kita memiliki kebebasan dalam batasan tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara tentang “bebas”, kita mungkin tidak menyadari bahwa kita memikirkan kebebasan yang berupa kompatibilitas, yaitu apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tuhan menyuruh Adam untuk tidak memakan buah terlarang, tetapi Adam memiliki kemungkinan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Pada akhirnya, mereka melakukan hal yang salah, tetapi mereka melakukannya dengan bebas. Kedaulatan Allah tidak menghalangi mereka untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Tetapi, apa yang terjadi adalah sesuai dengan kehendak-Nya, sebab apa yang tidak dikehendaki-Nya tentu tidak akan terjadi. Semua yang terjadi di dunia haruslah kompatibel atau sesuai dengan rancangan Tuhan, sekalipun Tuhan belum tentu adalah penyebab langsung dari kejadian itu.

Pagi ini, jika kita memikirkan hidup kita, mungkin kita merasa bahwa Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu dalam hidup kita sehingga kita tidak bisa mengambil keputusan. Lebih dari itu, kita tidak perlu memikirkan bagaimana kita harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan karena semua aspek kehidupan kita ada ditangan-Nya. Mungkin juga kita sudah tidak peduli akan kesehatan dan mati-hidup kita karena kita merasa bahwa semua itu terserah pada kedaulatan-Nya. Semua itu adalah salah pengertian kita. Firman Tuhan yang kita pelajari saat ini bukanlah menyatakan bahwa kita adalah boneka Tuhan,

Tuhan berkuasa, tetapi Ia yang berkuasa juga memberikan kuasa dan kemampuan bagi manusia untuk bertanggung jawab atas hidupnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita, karena semuanya ada dalam kendali-Nya, tetapi kita tetap harus tetap mau tunduk kepada perintah-Nya karena Tuhan adalah pemegang otoritas atas hidup-mati kita. Lebih dari itu, kita harus sadar bahwa kedaulatan Tuhan memungkinkan Dia hadir dalam hidup kita dan membimbing serta menguatkan kita untuk menghadapi segala tantangan dalam hidup ini agar segala yang terjadi akan sesuai dengan rencana-Nya.

Ada berapa jenis orientasi seksual menurut Alkitab?

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: ”Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.” Kejadian 4:1

Apa itu gender dan apa pula orientasi seksual? Pada zaman sekarang seorang pria bisa saja merasa bahwa dirinya lebih cocok menjadi wanita, dan sekalipun ia berjenis kelamin pria, ia mungkin ingin dianggap sebagai wanita sebagai gendernya. Gender mengacu pada karakteristik perempuan, laki-laki, anak perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial. Ini termasuk norma, perilaku dan peran yang terkait dengan menjadi perempuan, laki-laki, perempuan atau laki-laki, serta hubungan satu sama lain. Sebagai konstruksi sosial manusia, gender bisa bervariasi dari masyarakat ke masyarakat dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Gender berinteraksi dengan tetapi berbeda dengan jenis kelamin, yang mengacu pada karakteristik biologis dan fisiologis yang berbeda pada perempuan, laki-laki dan orang interseks: seperti kromosom, hormon, dan organ reproduksi yang berlainan. Identitas gender mengacu pada pengalaman gender seseorang yang dirasakan, secara internal dan individual, yang mungkin atau mungkin tidak sesuai dengan fisiologi seseorang atau jenis kelamin yang ditunjuk saat lahir.

Orientasi seksual adalah tentang dengan siapa seseorang tertarik dan ingin menjalin hubungan. Orientasi seksual termasuk gay, lesbian, lurus, biseksual, dan aseksual. Orientasi seksual berbeda dengan gender dan identitasnya. Orientasi seksual adalah tentang kepada siapa orang tertarik secara romantis, emosional, dan seksual. Ini berbeda dengan identitas gender. Identitas gender bukan tentang siapa Anda tertarik, tetapi tentang siapakah Anda menurut pendapat Anda – pria, wanita, genderqueer, dll.

Ini berarti bahwa menjadi transgender (merasa jenis kelamin yang Anda tetapkan sangat berbeda dari jenis kelamin yang teridentifikasi secara medis) tidak sama dengan menjadi gay, lesbian, atau biseksual. Orientasi seksual adalah tentang dengan siapa Anda ingin bersama. Identitas gender adalah tentang siapa Anda menurut pendapat Anda sendiri. Ini menurut pengertian zaman ini yang tidak sesuai dengan ayat di atas.

Untuk jelasnya, menurut pandangan duniawi, saat ini ada banyak orientasi seksual, amtara lain:

  • Orang yang tertarik pada jenis kelamin yang berbeda (misalnya, wanita yang tertarik pada pria atau pria yang tertarik pada wanita) sering menyebut dirinya heteroseksual atau heteroseksual.
  • Orang yang tertarik pada sesama jenis sering menyebut diri mereka gay atau homoseksual. Wanita gay mungkin lebih suka istilah lesbian.
  • Orang yang tertarik pada pria dan wanita sering menyebut diri mereka biseksual.
  • Orang yang ketertarikannya mencakup banyak identitas gender yang berbeda (pria, wanita, transgender, genderqueer, interseks, dll.) dapat menyebut diri mereka panseksual atau queer
  • Orang yang tidak yakin dengan orientasi seksualnya mungkin menyebut diri mereka “questioning” atau bertanya-tanya
  • Orang yang tidak mengalami ketertarikan seksual kepada siapa pun sering menyebut diri mereka aseksual.

Dunia modern sekarang berusaha menyakinkan kita bahwa orientasi dan identitas seksual Anda dapat Anda pilih untuk tetap sama sepanjang hidup Anda, atau itu dapat bervariasi tergantung pada siapa Anda tertarik, atau ingin berpasangan secara romantis atau aktif secara seksual. Ini dianggap benar-benar normal karena setiap orang dianggap mempunyai kehendak bebas atau free will. Dengan demikian, setelah Anda mengklaim label tertentu, tidak ada alasan mengapa label tidak dapat diubah saat Anda ingin mengubahnya. Banyak orang, tua dan muda, ingin memakai kebebasan mereka untuk menentukan kepada siapa mereka tertarik secara seksual dan bagaimana mereka mengidentifikasi orientasi seksual mereka. Ini disebut “fluiditas”, yang berarti bisa berubah-ubah. Selanjutnya, setiap pasangan dengan gender dan orientasi seksual apa pun dianggap berhak mempunyai keturunan, yang setelah mencapai umur tertentu akan memilih gender dan orientasi seksualnya sendiri. Ini sudah tentu merupakan hal yang mulai menggoncangkan iman Kristen.

Bagaimana sebagai orang Kristen bisa menanggapi fluiditas (variasri bebas) dalam kehidupan seksual manusia di zaman ini? Kebingungan akan terjadi jika kita meninggalkan pesan Alkitab. Keinginan, persepsi, dan penampilan tubuh manusia dari sepanjang zaman, semuanya bersaksi tentang kekacauan ciptaan Tuhan yang dilanda dosa. Ini sudah tentu membuat banyak orang tua Kristen merasa kuatir atas masa depan generasi muda. Tetapi, Tuhan yang mahakuasa tidak akan terancam oleh perubahan keadaan semacam ini.

Pada waktu penciptaan, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, seorang pria dan seorang wanita. Karena itu, Alkitab hanya mengakui adanya dua jenis seks atau jenis kelamin, yaitu pria dan wanita; dan dengan itu ada dua jenis karakteristik manusia atau gender: pria dan wanita. Sebagai implikasinya, seorang bayi harus dilahirkan oeleh seorang wanita. Karena adanya daya tarik seksual yang diciptakan Tuhan, seorang pria kemudian bersetubuh dengan seorang wanita pasangan hidupnya. Orientasi seksual yang benar akan membuahkan keturunan yang diberkati Tuhan seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa dalam ayat di atas.

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Matius 19: 5

Kabar baik bagi orang-orang yang mengalami kebingungan gender dan orientasi seksual, seperti bagi kita masing-masing, adalah kenyataan bahwa tubuh kita yang rusak membutuhkan penebusan (Roma 8:18-25). Dan di dalam Yesus Kristus, segala sesuatu dijanjikan untuk dijadikan baru (Yesaya 65:17; Wahyu 21:5). Meskipun kekristenan tidak menjamin kelegaan total dalam hidup ini, kekristenan menjamin kebangkitan di masa depan dari keinginan, persepsi, dan tubuh kita yang mengalami pembusukan dan kematian (1 Korintus 15:50–56). Itulah janji Tuhan kepada setiap orang yang percaya dan bertobat kepada-Nya.

Karena jenis seks secara biologis tidak berbohong dan sebaliknya karena pikiran manusia rentan terhadap kebingungan, pertobatan dan pengudusan individu yang jatuh dalam dosa memerlukan perjuangan berat untuk menyesuaikan kembali identitas gender dengan jenis kelamin biologis mereka. Seseorang mungkin tidak pernah sepenuhnya mencapai kedamaian, tetapi mengenakan diri yang baru, yang dibentuk kembali di dalam Yesus Kristus, berarti merangkul dan mempercayai otoritas Allah atas setiap segi keberadaan kita (Kolose 3:1–11) dan tidak dengan sengaja melanggar perintah Tuhan untuk taat kepada hukum-Nya. Adalah keliru jika ada orang Kristen yang meyakini bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa memilih siapa saja untuk diselamatkan, sekalipun hidup mereka tidak sesuai dengan moralitas dan hukum Tuhan. Jika itu dlakukan Tuhan, segala hukum-Nya dan pengurbanan Yesus bagi orang yang bertobat, tidak akan berguna.

Sebagai orang Kristen, kita tidak boleh merasa ragu untuk menyatakan kebenaran ayat di atas. Meskipun itu mungkin membawa kita ke arah percakapan dan pengalaman baru yang banyak dari kita tidak akan mengerti sepenuhnya, melayani mereka yang menderita kebingungan dalam hal gender dan orientasi seksual berarti berjalan dengan setiap jiwa yang berharga, melewati lembah kegelapan psikologis selama bertahun-tahun (Galatia 6:2). Gereja membutuhkan orang Kristen yang mau berjalan bersama orang-orang ini di setiap musim, dalam kemenangan dan kekalahan, mendorong masing-masing menuju iman yang lebih besar kepada Tuhan Yesus (Roma 12:12; Yakobus 1:12). Hanya orang Kristen yang cukup rendah hati untuk mengenali kehancuran mereka sendiri, akan mampu berjalan bersama orang lain melalui pergumulan yang tampaknya sangat berbeda dari perjuangan mereka sendiri. Hanya orang Kristen yang mengerti tuntutan Tuhan untuk hidup dalam kekudusan dapat memberikan bimbingan kepada mereka yang meragukan kebenaran firman Tuhan.

Ada berapa jenis manusia yang diciptakan Tuhan?

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1: 27

Istilah seks memiliki beberapa definisi. Ini sering merujuk pada tindakan hubungan seksual, tetapi juga dapat berarti kategori jenis kelamin sebagai laki-laki atau perempuan, yangmerupakan kategori biner objektif yang menggambarkan klasifikasi reproduksi tubuh. Untuk ulasan di bawah ini, kita akan berfokus pada definisi seks yang kedua.

Ayat di atas menjelaskan bahwa pada waktu penciptaan, Tuhan menciptakan manusia dalam dua jenis seks: lali-laki dan perempuan. Hanya dua jenis. Seks dalam hal ini adalah berbeda dengan gender. WHO (Badan Kesehatan PBB) menyatakan bahwa gender mengacu pada karakteristik perempuan, laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki yang dikonstruksi secara sosial. Ini termasuk norma, perilaku dan peran yang terkait dengan menjadi perempuan, laki-laki, perempuan atau laki-laki, serta hubungan satu sama lain. Sebagai konstruksi sosial, gender bervariasi dari masyarakat ke masyarakat dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Sekarang, jika ada orang yang melamar pekerjaan, jenis gender yang bisa dipilih dalam pendaftaran bukan hanya dua fungsi yaitu pria dan wanita, tetapi ada beberapa macam, termasuk non-gender. Bahkan, ada laporan bahwa jika semua jenis sebutan gender diperhitungkan, lebih dari 30 jumlahnya. Ini tentunya bisa membuat banyak orang bingung, terutama karena dalam bahasa Inggris umumnya hanya ada dua macam kata ganti orang ketiga tunggal yaitu he (untuk pria) dan she (untuk wanita). Dengan demikian, jika ada orang yang memakai nama pria, belum tentu ia senang jika kita memakai kata ganti orang he untuk dia karena dirasa tidak cocok dengan gender yang dipilihnya. Karena itu, makin banyak orang yang dalam komunikasi bisnis mencantumkan panggilan apa (he atau she) yang diharapkannya di bawah tanda tangan dan namanya.

Jika pada awalnya seks adalh identik dengan gender, sekarang tidaklan begitu. Secara umum hanya ada dua jenis seks, tetapi ada banyak jenis gender. Jika jenis seks seorang bayi adalah sesuatu yang dapat dipastikan oleh dokter sejak dalam kandungan, sekarang tidak ada seorang pun yang bisa menduga apakah jenis gender bayi itu di masa depan. Di banyak negara, hanya orang yang bersangkutan yang berhak memilih gender apa yang disukainya. Di beberapa negara, seorang anak di bawah umur boleh memilih jenis seks dan gendernya. Meskipun masyarakat modern telah kehilangan batas-batasnya dan menampilkan sejumlah besar pilihan gender, bagaimana seharusnya orang Kristen memahami redefinisi gender yang terjadi saat ini dalam terang Kitab Suci?

Banyak orang saat ini mengklaim bahwa penentuan jenis seks tidak objektif tetapi sewenang-wenang—misalnya, jika seorang dokter menyatakan jenis seks pada saat lahirnya seorang bayi. Tapi ini tidak sembarangan: jenis kelamin bayi yang baru lahir ditentukan secara fisik dari organ kelamin bayi yang terlihat dan dapat dipastikan secara genetik melalui tes DNA. Jenis kelamin memiliki fenotipe yang sangat eksplisit. Mengatakan sebaliknya sama sekali tidak ilmiah dan berarti kita harus menulis ulang setiap buku pelajaran biologi yang pernah ditulis.

Tapi bagaimana dengan orang yang mengaku sebagai “interseks”? Apakah kondisi yang sangat langka ini (dalam segala hal, satu dari ribuan, bukan ratusan) membuktikan bahwa seks adalah non-biner dan dalam spektrum? Tidak. Interseksualitas adalah fenomena biologis di mana seseorang mungkin memiliki ambiguitas genital atau varian genetik. Namun, dalam biologi manusia, anomali yang tidak umum ini tidak boleh meniadakan kategori yang binari.

Redefinisi modern tentang “gender” mengacu pada realitas psikologis sosial yang terlepas dari seks secara biologis. Ini adalah persepsi diri subjektif tentang menjadi laki-laki atau perempuan. Mengingat bahwa seks itu objektif dan gender itu subjektif, kita seharusnya menghargai penyesuaian ide subjektif seseorang dengan kebenaran objektif. Sebaliknya, yang terjadi adalah bukan demikian: budaya kita sekarang menghargai pengubahan objektif, mengubah realitas fisik tubuh kita untuk mengakomodasi kesan subjektif dari diri kita sendiri.

Di pasal pertama Alkitab, Tuhan menciptakan langit dan bumi dan memenuhi bumi dengan makhluk hidup. Mahkota penciptaan adalah Adam, atau manusia (manusia). Dan di antara berbagai karakteristik manusia, Tuhan menyoroti satu secara khusus: laki-laki dan perempuan. Kejadian 1:27 menyampaikan hubungan yang tak terbantahkan antara “gambar Allah” dan kategori ontologis laki-laki dan perempuan. Ayat ini terdiri dari tiga baris puisi, dengan baris kedua dan ketiga disusun secara paralel, menyampaikan korelasi antara citra Allah dan “laki-laki dan perempuan”.

Diciptakan menurut gambar Allah dan menjadi laki-laki atau perempuan adalah penting untuk menjadi manusia. Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) tidak hanya bersifat biologis atau genetik, seperti halnya manusia tidak hanya bersifat biologis atau genetik. Seks, dalam definisi pertama dan terutama adalah realitas spiritual dan ontologis yang diciptakan oleh Tuhan. Menjadi laki-laki atau perempuan tidak dapat diubah oleh tangan manusia; seks adalah kategori karya tangan Tuhan, rancangan asli dan rancangan-Nya.

Sekeras apa pun orang mencoba mengubah fakta ini di tubuhnya sendiri, yang paling bisa dilakukan adalah menghilangkan atau menambah bagian tubuh secara artifisial atau menggunakan obat-obatan untuk menekan secara tidak wajar realitas biologis dan hormonal dari esensi seseorang sebagai pria atau wanita. Dengan kata lain, sekarang ini psikologi sosial menindas biologi; itu berarti “apa yang saya rasakan menjadi diri saya”. Saat menyangkal realitas fisik dan genetik ini, kita membiarkan pengalaman menggantikan esensi dan, yang lebih penting, citra Tuhan. Transgenderisme bukan semata-mata pertarungan untuk apa yang laki-laki dan perempuan, melainkan pertarungan untuk apa yang benar dan nyata.

Jadi bagaimana kita sampai di sini? Transgenderisme adalah buah postmodernitas. Postmodernisme, yang muncul dari romantisme dan eksistensialisme, memberi tahu kita bahwa “Anda adalah apa yang Anda rasakan”. Jadi, pengalaman berkuasa, dan segala sesuatu yang lain harus tunduk padanya. Sola experientia (“hanya melalui pengalaman sendiri”), oleh banyak orang Kristen yang tidak mau dianggap kolot, telah dimenangkan atas Sola Scriptura (“hanya melalui Alkitab saja”).

Tapi Tuhan berkata melalui ayat di atas bahwa Anda adalah siapa yang Ia tetapkan untuk menjadi apa, melalui penciptaan. Kebenaran bukanlah sesuatu yang kita rasakan; itu tidak didasarkan pada persepsi diri kita. Faktanya, kita tidak dapat mempercayai pikiran dan perasaan kita sendiri, jadi kita perlu menyerahkannya kepada Tuhan karena kita dapat “percaya kepada Tuhan untuk selama-lamanya, sebab Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal” (Yesaya 26:4).

Persepsi diri tentang gender dari orang yang berpegang kepada Alkitab adalah sesuai dengan jenis kelamin biologis mereka. Untuk sebagian orang lain, tidak demikian. Tekanan mental dari disonansi ini disebut disforia gender. Orang yang memilih untuk mengidentifikasi sebagai laki-laki bergender perempuan atau sebagai perempuan yang bergender laki-laki, atau sebagai pria atau wanita dengan bentuk-bentuk gender lainnya, pada dasarnya mengangkat psikologi di atas biologi.

Diletakkan dalam konteks kehancuran manusia, ketidaksesuaian antara gender dan seks pada diri seseorang mungkin tidak seaneh yang dipikirkan banyak orang. Sama seperti menyerah pada godaan adalah dosa sementara dicobai bukanlah dosa, menyerah pada persepsi diri tentang gender adalah dosa, tetapi pergulatan yang muncul dalam pikiran bukanlah dosa selama kita tidak menyerah.

Sebagai orang Kristen, marilah kita semua bersatu untuk menolak penempatan psikologi sosial di atas biologi kita. Sebaliknya, marilah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan mengakui bahwa Dia tidak membuat kesalahan dalam menciptakan kita menurut gambar-Nya sendiri.

Menikmati adanya kemiskinan

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 3

Tempat berkemah yang dipenuhi tenda di sebuah kota kecil di Australia tidak seperti yang terlihat sebelumnya – penduduknya bukanlah wisatawan, melainkan penduduk setempat yang tidak dapat menemukan rumah untuk disewa. Lebih dari 50 keluarga tahun ini telah pindah ke kota tenda di Moruya, sebuah kota tepi pantai yang indah di pesisir selatan negara bagian New South Wales, sehingga tempat berlibur tersebut tidak lagi dibuka untuk wisatawan.

Tempat berkemah biasanya memiliki batas berapa lama orang yang dapat tinggal di sana – di bawah dua bulan – tetapi pemerintah setempat sekarang mengesampingkan ini karena mereka tidak punya tempat lain untuk pergi. Keadaan yang menyedihkan itu bukan sekadar fakta bahwa tidak ada pekerjaan di daerah tersebut. Sebaliknya, memang ada kelas baru tunawisma yang disebut pekerja miskin yang memiliki pekerjaan tetap, tetapi tidak dapat menemukan sewa jangka panjang yang terjangkau di daerah mereka. Mengapa demikian? Para penghuni kota-kota besar yang meninggalkan kota mereka selama pandemi Covid telah membeli banyak properti di daerah tersebut. Apa yang tersisa di Moruya, dimiliki oleh investor yang menyimpannya sebagai persewaan liburan jangka pendek atau persewaan untuk pekerja sementara. Harga tarif rumah sewaan kemudian melonjak tinggi.

Seorang ibu yang bernama Cassie telah menyewa tempat akomodasi dan hotel selama lebih dari enam bulan – pada akhirnya harus memilih antara membayar ongkos tempat tinggal atau biaya makan. Ia membangun tendanya di Moruya agar dapat membeli bahan makanan sehari-hari. “Aku sebenarnya ingin rumah untuk anakku. Aku hanya ingin anak laki-lakiku tumbuh bahagia dan sehat dan tahu bahwa mereka punya tempat tidur setiap malam,” katanya. Sayang, sekalipun kesejahteraan masyarakat adalah salah satu hal yang penting, mereka yang menderita selalu ada di negara mana pun. Kebahagiaan adalah hal yang sulit dicari.

Ucapan bahagia atau the Beatitudes adalah ucapan berkat yang disampaikan Yesus sewaktu Ia masih di dunia. Tempat dimana Yesus menyampaikan ucapan ini diduga adalah sebuah bukit dekat kota Tabgha dan Kapernaum di Israel. Apa yang disebutkan Yesus dan dikenal umat Kristen sebagai ucapan-ucapan bahagia adalah pernyataan Yesus mengenai apa yang baik bagi manusia untuk dipakai sebagai pedoman hidup (Matius 5: 1 – 12). Meskipun ada yang mengatakan bahwa jumlahnya ada 8, 9 atau 10, secara tradisional ada 8 ucapan bahagia karena ayat 11 dan 12 memakai kata “kamu” dan bukan “orang”.

Ucapan bahagia seringkali dipakai untuk bahan renungan atau khotbah, tetapi pada umumnya umat Kristen kurang bisa memahami artinya. Itu karena apa yang dikatakan Yesus adalah berlawanan dengan apa yang bisa diterima akal manusia. Ayat di atas misalnya, mempunyai 2 hal yang sulit dimengerti: yaitu “miskin di hadapan Allah” dan “empunya kerajaan surga”. Miskin tapi kaya? Bagaimana kita bisa berbahagia jika kita hidup dalam kemiskinan seperti Cassie?

Hal miskin di hadapan Allah adalah sesuatu yang tidak mudah dijelaskan. Sudah tentu ini bukan mengenai kemiskinan jasmani. Yesus tidak mengatakan bahwa mereka yang ingin dekat dengan Allah harus menjadi orang yang tidak berharta. Bagi Tuhan, orang berharta dan orang miskin tidak ada bedanya: mereka adalah orang berdosa yang sama-sama membutuhkan Dia. Walaupun demikian, mereka yang mengejar dan mencintai harta bisa menemui kesulitan untuk menjadi muridNya.

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Markus 10: 21

Pada pihak yang lain, Yesus menyatakan bahwa mereka yang tidak kaya justru bisa mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan. Ketika Yesus melihat janda miskin yang mempersembahkan seluruh nafkanya, Ia bisa melihat bahwa hati janda ini dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan yang sudah membimbingnya. Sebagai manusia, janda ini adalah orang yang miskin di hadapan Allah, yang selalu bergantung kepada Tuhan.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Markus 12: 43 – 44

Kemiskinan jasmani di dunia adalah konsekuensi dosa, tetapi itu tidak harus berarti kemiskinan rohani. Sebaliknya, mereka yang hidupnya terlihat kaya dan nyaman tetapi tidak merasakan kebutuhan spiritualnya adalah orang-orang yang jauh dari Tuhan dan miskin secara rohani. Kaya tapi miskin.

Baik kekayaan maupun kemiskinan jasmani bukanlah hal yang bisa memadamkan kasih dan kemuliaan Tuhan jika orang selalu sadar akan ketergantungannya kepada Tuhan. Kemiskinan di hadapan Allah (poor in spirit) dengan demikian menyatakan adanya penyerahan hidup secara total kepada Tuhan. Mereka yang miskin di hadapan Allah adalah orang kaya rohani karena dekat denganNya (yang empunya kerajaan surga). Mereka akan menjadi orang yang berbahagia.

Tuhan tidak selalu menghendaki atau menjanjikan umatNya kekayaan jasmani, tetapi Ia akan memberikan kekayaan rohani jika orang selalu merasa membutuhkan Tuhan atau merasa miskin di hadapanNya. Tuhan memerintahkan mereka yang diberkati Tuhan dengan kekayaan jasmani, agar mau menolong mereka yang miskin secara jasmani agar setiap umat-Nya dapat merasakan kebahagiaan rohani.

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Amsal 19:17

Kita harus bersyukur melalui iman kita

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kolose 2:6-7

Dalam dua ayat singkat ini, Paulus membuat pernyataan besar tentang perjalanan hidup orang percaya dengan Kristus. Jemaat Kolose, seperti semua orang percaya lainnya yang sudah diselamatkan, sudah menerima Kristus dengan iman (Efesus 2:8–9). Nasihat Paulus adalah bahwa mereka yang menerima Kristus dalam iman harus berakar dalam iman juga selama hidup di dunia (Kolose 2:7). Dengan demikian, makin hari kita akan makin bersyukur kepada Yesus yang sudah menebus kita.

Ada banyak orang Efesus yang ingin bersyukur kepada Tuhan. Sayang, ajaran sesat yang mengacau jemaat Kolose pada waktu itu menekankan perbuatan dan pengorbanan pribadi sebagai sarana untuk menyenangkan Allah. Memang benar bahwa perbuatan adalah aspek penting dari kehidupan orang Kristen (1 Yohanes 3:17-18), dan iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26), tetapi perbuatan adalah hasil dari iman yang menyelamatkan, bukan sumbernya. Perjalanan hidup kita dengan Allah harus berakar dalam iman yang dikaruniakan-Nya kepada kita – dan karena itu kita berakar dalam Dia, bukan pada diri kita – sama seperti keselamatan. Kalau tidak, spiritualitas yang didasarkan pada kinerja manusia akan berakhir dengan kegagalan atau kepalsuan.

Ada banyak pekerjaan yang dapat dilakukan manusia tanpa iman. Mereka melakukannya untuk mendapatkan hasil dan penghargaan yang dapat dilihat dan diterima mereka sendiri. Namun, orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan akan hidup dengan iman, bukan dengan melihat (2 Korintus 5:7).

Meskipun Paulus menjalani kehidupan dan melakukan pelayanan Kristen yang sangat aktif, dia tahu iman adalah satu-satunya cara untuk menyenangkan Tuhan. Iman seperti ini akan menghasilkan banyak perbuatan baik untuk kemuliaan Tuhan. Kita mungkin tidak dapat melihat hasilnya pada saat ini dan tidak menerima penghargaan orang lain, tetapi kita tetap mau melakukan apa yang baik untuk menyenangkan Tuhan. Itu sama sekali bukan usaha untuk mempertahankan keselamatan kita atau menutupi dosa-dosa yang ada. Keselamatan kita tetap ada dalam segala keadaan dan itu tidak bergantung pada perbuatan kita karena sudah didasarkan pada Kristus dan apa yang telah Dia lakukan.

Tuhan ingin kita berfokus pada pertumbuhan, menabur, dan berjalan dalam iman. Pertama, Tuhan ingin agar kita bertumbuh dalam iman. Dia tidak ingin kita menjadi bayi rohani. Alkitab berkata dalam Kolose 2:7: Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Maka iman kita akan tumbuh kuat dalam kebenaran yang diajarkan kepada kita, dan dengan itu kita akan melimpah dengan rasa syukur.

Mengapa begitu penting bagi kita untuk mengembangkan iman kita? Alkitab menjelaskannya berulang kali: Tanpa iman tidak mungkin menyenangkan Allah (Ibrani 11:6 ). Segala sesuatu yang tidak dilakukan dengan iman adalah dosa (Roma 14:23). Segala sesuatu yang Tuhan lakukan dalam hidup kita dilakukan oleh kasih karunia-Nya dan melalui iman kita.

Tuhan juga ingin agar kita menabur perbuatan baik dalam iman. Dia ingin kita belajar menjadi murah hati – karena kita tidak dapat menjadi seperti Kristus tanpa menjadi murah hati. Menabur bukan berarti hanya memberikan uang persembahan kepada gereja, tetapi dalam semua hal yang baik yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan dalam hidup kita.

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9:6-7

Ini adalah hukum menabur dan menuai, dan berlaku di setiap bidang kehidupan. Jika kita menabur kritik, kita akan menuai kritik. Jika kita menabur kasih, kita akan menuai kasih. Jika kita menabur kebaikan, kita akan menuai kebaikan. Dan kita selalu menuai lebih dari yang kita tabur. Saat kita menanam satu biji jagung di tanah, kita tidak akan menuai hanya satu biji.

Kita tahu bahwa perbuatan baik yang didasarkan iman akan diterima Tuhan. Walaupun demikian, dunia ini sering mengecewakan kita. Dunia yang sudah jatuh dan perkerjaan iblis sering kali mengacaukan maksud dan perbuatan baik kita. Terkadang kita melakukan sesuatu dengan maksud baik, tetapi keadaan dan reaksi orang lain mungkin menyebabkan kita menerima hasil yang kurang baik, yang justru merugikan kita. Tetapi, Yesus juga mengalami hal yang sama, Ia harus menderita dan disalibkan karena kasih-Nya kepada umat manusia. Karena itu, dalam hidup, kita harus tetap berjalan dalam iman.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita mau melakukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita? Ketika kita hidup dengan iman, itu mungkin mengharuskan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak kita rencanakan sebelumnya: menolong orang yang memusuhi kita, pergi ke tempat yang jauh untuk mengabarkan Injil, menyumbangkan tenaga, waktu dan uang anda untuk gereja dan masyarakat umum dan sebagainya. Semua itu akan memperkuat iman kita kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Mengabaikan dosa artinya mengaku tidak berdosa

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1 Yohanes 1:8-9

Kitab 1 Yohanes 1 dimulai dengan pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Yohanes menegaskan bahwa dia secara pribadi telah melihat dan mendengar hal-hal yang Yesus ajarkan. Kebenaran Tuhan disajikan sebagai ajaran “terang”, sedangkan ajaran yang lain disajikan sebagai “kegelapan”. Mereka yang berpegang pada kebenaran diselamatkan dari dosa; mereka yang mengaku tidak berdosa adalah menipu diri sendiri.

Ada banyak ajaran yang keliru yang bisa kita dengar di berbagai gereja pada zaman ini. Ajaran yang populer adalan teologi kemakmuran (prosperity theology atau prosperity gospel) yang menjanjikan kesuksesan duniawi kepada setiap orang yang percaya kepada Tuhan. Kasih Allah ini diperoleh sebagai sesuatu takdir (predestinasi), atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat oleh seseorang. Teologi ini meyakini bahwa seorang Kristen yang diberkati adalah mereka yang sukses dalam hidupnya. Dalam kesehatan, seseorang yang diberkati Allah selalu sehat dan sempurna hidupnya, tidak ada cacat, mempunyai kemampuan kesembuhan ilahi. Teologi ini secara sederhana dapat disebut sebagai ajaran yang menekankan bahwa karena Allah adalah Allah yang Mahabesar, kaya, dan penuh berkat, setiap manusia yang beriman pasti akan mengalami kehidupan yang penuh berkat pula, kaya, sukses dan berkelimpahan.

Selain ajaran teologi kemakmuran, ada juga ajaran yang termasuk baru, yang menekankan kasih karunia Allah dengan mengesampingkan ajaran penting lainnya seperti pertobatan dan pengakuan dosa. Ajaran hyper-grace berpendapat bahwa semua dosa, masa lalu, sekarang, dan masa depan, telah diampuni, sehingga orang percaya tidak perlu memikirkannya. Ajaran hyper-grace mengatakan bahwa ketika Tuhan melihat kita, Dia hanya melihat orang-orang yang suci dan benar. Kesimpulan dari pengajaran hyper-grace adalah bahwa kita tidak terikat oleh ajaran Yesus, sama seperti kita tidak berada di bawah Hukum Tuhan; bahwa orang percaya tidak bertanggung jawab atas dosa mereka; dan bahwa siapa pun yang tidak setuju atas ajaran ini adalah seorang Farisi yang legalis. Singkatnya, guru-guru hyper-grace memutarbalikkan kasih karunia Allah kita menjadi lisensi untuk amoralitas (Yudas 1:4) dan bermain-main dengan antinomianisme.

Agak mirip dengan ajaran hyper-grace, ajaran hyper-Calminism adalah kepercayaan bahwa Allah menyelamatkan umat pilihan melalui kehendak-Nya yang berdaulat dengan sedikit atau tanpa menggunakan metode untuk membawa orang ke arah keselamatan (seperti penginjilan, khotbah, dan doa bagi yang terhilang). Untuk kesalahan yang tidak alkitabiah, hyper-Calvinist terlalu menekankan kedaulatan Tuhan dan meremehkan tanggung jawab manusia dalam pekerjaan keselamatan dan hidup baik yang mana juga mengakibatkan timbulnya sikap antinomianisme. Konsekuensi yang jelas dari hyper-Calvinisme adalah bahwa hal itu menekan keinginan untuk menginjili yang terhilang. Kebanyakan gereja atau denominasi yang berpegang pada teologi hiper-Calvinistik ditandai dengan fatalisme, sikap dingin, dan kurangnya kepastian iman. Di gereja seperti ini, jarang ada penekanan pada kasih Tuhan bagi yang terhilang dan umat-Nya sendiri, yang diganti dengan penekanan yang tidak alkitabiah atas kedaulatan Tuhan. Injil hyper-Calvinis adalah deklarasi keselamatan Allah bagi umat pilihan dan kutukan-Nya bagi yang terhilang. Bagi mereka yang sudah merasa terpilih, perlunya buah-buah Roh sebagai bukti keselamatan tidaklah pernah ditekankan.

Ayat di atas menyatakan pentingnya bagi umat Tuhan untuk mengakui dosanya. Adakah orang yang merasa tidak berdosa? Saya kira, setiap orang yang percaya adanya Tuhan dan mengerti beda antara perbuatan baik dan perbuatan buruk tentu percaya adanya dosa. Walaupun demikian, ada orang yang percaya bahwa dosanya sangat kecil jika dibandingkan orang lain. Sebagian lagi orang Kristen mengabaikan dosa mereka karena merasa mereka adalah orang pilihan. Selain itu ada orang yang percaya bahwa dosanya sudah ditebus oleh hidupnya yang saleh dan amal-ibadahnya yang besar.

Bagi orang Kristen, pengertian tentang dosa kepada Tuhan itulah yang membuat kesadaran bahwa tanpa penebusan Kristus, dosa kita akan membawa kematian abadi. Setiap orang Kristen percaya bahwa jika ia sudah diselamatkan, itu adalah karena penebusan oleh Kristus, Karena karunia Tuhan, bukan karena perbuatan baik kita. Oleh karena itu, semua dosa lama kita yang sudah diampuni, dan untuk setiap dosa baru kita terus meminta pengampunan-Nya. Adanya keselamatan bukannya membuat orang Krisen lupa bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya, dan mengabaikan perlunya berusaha hidup dengan cara yang saleh. Adanya kesulsesan pada diri seorang Kristen bukan bukti bahwa Tuhan menyukai segala apa yang diperbuatnya.

Selama hidup di dunia, umat Kristen tidak bisa menghindari dosa, yang terus bermunculan. Umat Kristen bukanlah orang yang sudah sempurna. Untuk itu kita mengakui dosa kita dan meminta pengampuan Tuhan setiap kali kita berdoa. Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen menanggapi dosa dengan serius, karena keyakinan bahwa pada akhirnya pengurbanan Kristus adalah cukup untuk melepaskan kita dari hukuman atas semua dosa kita. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen yang merasa bahwa adanya dosa dalam hidup mereka adalh sesuatu yang lumrah dan karena itu tidak perlu dipikirkan.

Apa yang terjadi jika orang Kristen tidak sadar pentingnya untuk mengaku dosa-dosa mereka? Mereka yang mengabaikan dosanya, lambat laun merasa tidak perlu memohon ampun secara spesifik, dan ini pelan-pelan membuat dosa sebagai bagian hidup yang normal sebagai orang Kristen. Mereka tidak perlu berusaha untuk melawan iblis dengan memakai segenap senjata Allah. Dengan demikian, mereka akan menipu diri mereka sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam hidup mereka. Dalam hal ini, ayat diatas menyatakan bahwa pengampunan atas dosa yang tidak diakui itu akan tidak diberikan oleh Tuhan. Mereka yang tidak menggunakan selengkap senjata Allah, bukanlah pengikut-Nya.

Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.” Efesus 6:14-17

Kitab 1 Yohanes 1 menyatakan bahwa Tuhan sepenuhnya adalah kebaikan dan kebenaran, dan mereka yang mengikuti Tuhan tidak bisa tidak harus memusuhi iblis. Perhatikan bahwa meskipun bagian ini ditulis untuk orang percaya, Yohanes menyatakan bahwa mereka yang mengaku dosa diampuni dan dibersihkan. Meskipun setiap orang percaya diampuni pada titik keselamatan, pertempuran kita melawan dosa masih harus tetap berlangsung setiap hari dan untuk itu sebagai orang yang tidak sempurna kita harus mau mengakui dosa-doa kita dan memohon agar Tuhan memampukan kita untuk menghindarinya di masa depan. Siapa yang mengabaikan dosanya adalah orang yang tetap hidup dalam dosa tetapi mengaku tidak berdosa: mereka tidak akan mendapat pengampunan.

Naik pitam, naik darah dan naik palak

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Tahukah Anda arti naik pitam? Pitam artinya pusing kepala (karena darah naik ke kepala). Apabila dipasangkan, naik pitam naik pitam artinya (menjadi) marah sekali (panas hati) sampai-sampai kepala menjadi pusing. Singkatnya, naik pitam memiliki arti atau makna yang sama dengan kata marah. Beberapa ungkapam yang artinya sama dengan naik pitam dan memakai kata ” naik” yaitu naik darah dan naik palak. Kalau naik darah mungkin dihubungkan dengan tekanan darah yang meninggi, naik palak berarti naiknya panas badan. Ketiga ungkapan itu serupa artinya dengan panas hati, murka, geram, geregetan, serangsang, pegal hati, mendidih, mengkal hati, meradang, dan banyak lagi lainnya.

Ayat mengenai naik pitam di atas adalah salah satu ayat yang cukup sering dikhotbahkan. Secara umum, apa yang ditulis rasul Paulus ini adalah nasihat yang baik kepada setiap orang Kristen. Dalam hidup sehari-hari, kita dinasihati bahwa apa yang buruk, seperti kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah, sumpah-serapah dan lain-lainnya seharusnya dihilangkan dari kamus perbendaharaan kata kita. Semua ini belum tentu keluar dari mulut, tetapi sudah pasti berasal dari hati.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6: 45

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan sebelum menjadi kegeraman. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan seringkali membuat orang murka dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen pada hakikatnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada individu atau golongan tertentu, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan atau menguntungkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran bagi masyarakat, terutama bagi saudara-saudara seiman. Kemarahan tidak boleh berkelanjutan, tetapi harus dipadamkan secepatnya sebelum menjadi kebencian, sekalipun masalah yang dipersoalkan belum terselesaikan.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26-27

Kemarahan kita sebaiknya ditujukan kepada apa yang menyebabkan hal itu terjadi, seperti masalah hukum, pendidikan, hak asasi dan keadilan sosial yang merupakan tanggung jawab yang berwenang. Dengan demikian, jika kita tinggal berdiam diri dan tidak mau menyuarakan apa yang baik menurut moralitas Alkitab kepada yang berwenang, kita membiarkan segala faktor yang jelek untuk mempengaruhi banyak orang di masa mendatang.

Dalam dunia orang pengikut Kristus, kita percaya bahwa kita bermoral dengan dapat berbuat baik. Pandangan yang baik mengenai hidup bermoral ialah untuk menyebarkan kasih yang sudah kita terima lebih dulu dari Tuhan Yesus, anak Bapa yang tunggal yang Bapa relakan untuk menggantikan kita dalam menebus dosa yang abadi. Hidup bermoral akan mengarahkan kita menjadi dapat berbuat baik karena kita sudah merasakan kasih-Nya terlebih dahulu

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika sekelompok manusia atau bangsa secara sengaja tidak mau menghormatiNya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau mengabaikan firman Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah terus membenci semua orang yang jahat. Kepada orang yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan juga tersedia untuknya. Sebab itu, adalah kurang tepat jika kita menumpahkan amarah dan kebencian kita kepada individu tertentu, sedangkan penyebabnya tidak kita perhatikan. Kita juga harus ingat bahwa dibalik apa yang jahat, sering kali iblislah yang menjadi biangnya.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari.

Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat. Sungguh berguna nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi agar mereka memusatkan hidup mereka bukan pada diri sendiri, tetapi pada semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini adalah tantangan bagi semua orang Kristen.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Amoral adalah antinomian

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Roma 13: 4

Minggu lalu, sewaktu saya pergi ke gym dan harus memarkir mobil, saya melihat tempat parkir yang kosong disebelah sebuah mobil yang berwarna puntih. Tetapi saya batal untuk mengambil tempat parkir itu karena mobil itu terlihat menduduki dua tempat parkir. Jika saya memarkir mobil saya di sebelahnya, itu berarti mobil saya harus menduduki dua tempat parkir juga. Garis pembatas tempat parkir sebenarnya adalah perlu untuk ketertiban pemarkir mobil guna kenyamanan mereka sendiri. Saya tidak tahu apakah mobil itu terkena “tilang”, karena sewaktu saya selesai berolahraga, mobil itu sudah tidak disitu.

Say tidak habis berpikir, mengapa orang sering melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan batasan moral. Dalam hal berpakir, pemilik mobil di atas sudah jelas melanggar peraturan. Sengaja atau tidak? Sudah pasti disengaja, karena sekalipun ia melakukan kekeliruan pada awalnya, ia tidak seharusnya membiarkan mobilnya menduduki tempat parkir lain yang disediakan untuk orang lain. Mungkin saja ia kurang mampu mengemudi, tetapi jika itu benar, tentunya ia belum siap untuk mengemudi di jalan raya. Sudah jelas perbuatan semacam ini adalah berlawanan dengan pedoman moral dan bahkan melanggar peraturan. Ini adalah perbuatan tidak sopan yang menggangu orang lain, perbuatan amoral dan juga bersifat antinomian. Perbuatan yang berlawanan dengan kasih.

“Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. ” 1 Korintus 13:5

Antinomianisme (Yunani Kuno: ἀντί [anti] “melawan” dan νόμος [nomos] “hukum”) adalah setiap pandangan yang menolak hukum atau legalisme dan menentang norma moral, baik moral agama atau moral sosial (Latin: mores), atau setidaknya dianggap melakukannya. Istilah ini memiliki makna religius dan sekuler. Dalam beberapa sistem kepercayaan Kristen, seorang antinomian adalah orang yang mengambil prinsip keselamatan dengan iman dan rahmat ilahi sampai menegaskan bahwa orang yang diselamatkan tidak terikat untuk mengikuti hukum moral yang terkandung dalam Sepuluh Perintah Allah. Antinomian percaya bahwa hanya iman yang menjamin keamanan abadi di surga, terlepas dari tindakan seseorang.

Perbedaan antara pandangan antinomian dan pandangan Kristen lainnya tentang hukum moral adalah bahwa para antinomian percaya bahwa kepatuhan terhadap hukum dimotivasi oleh prinsip internal yang mengalir dari kepercayaan dan bukan dari paksaan eksternal. Antinomianisme dianggap mengajarkan bahwa orang percaya memiliki “izin untuk berbuat dosa” dan bahwa dosa di masa depan tidak memerlukan pertobatan. Johann Agricola, seorang teman dan pengikut Martin Luther, adalah orang yang pertama kali dikaitkan dengan Antinomianisme, menyatakan “Jika Anda berdosa, berbahagialah, itu tidak akan ada konsekuensinya bagi orang pilihan”. Karena pendapat antinomiannya, ia kemudian menjadi musuh Martin Luther.

Apa guna moral dan hukum dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen? Di negara demokrasi, rasa hormat kepada orang yang berkuasa atau para pemimpin memang diharapkan dari setiap anggota masyarakat. Tetapi, biasanya penghormatan itu tidak selalu harus berdasarkan hukum. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan kaidah moral. Walaupun demikian, ada kecenderungan akhir-akhir ini bahwa rakyat, terutama kaum muda, kurang puas dengan apa yang diperbuat para pemimpin, dan kemudian melakukan ha-hal yang tidak baik, yang melanggar hukum Tuhan. Dalam keadaan sedemikian, tidak mengherankan adanya orang Kristen yang kemudian tidak peduli akan perlunya berbuat baik, dan tidak sadar bahwa itu adalah dosa.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Ayat di atas menyatakan bahwa pemerintah (baik pusat maupun lokal) adalah hamba Allah untuk kebaikan rakyatnya. Tuhan yang menghendaki adanya ketertiban menyuruh  seluruh umat-Nya untuk menghormati etika, peraturan, dan hukum negara dan menghormati mereka yang berkuasa. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Karena itu, kita harus bisa memberi contoh yang nyata bagaimana kita menghormati mereka yang berwenang (authority).

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Sayang sekali bahwa di zaman modern ini, ada kecenderungan manusia di mana saja untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada hukum, moral, orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang seharusnya mempunyai otoritas atas beberapa segi kehidupan mereka. Kecenderungan untuk memberontak mulai muncul sejak saat mereka masih kecil, dan bertambah besar ketika mereka menjadi orang dewasa. Itu mungkin akibat cara mendidik orang tua atau pengaruh teman sebaya, dan juga karena mereka tidak mau tunduk kepada orang-orang yang dianggap “otoriter”.

Alkitab hanya memberi satu kemungkinan bagi umat Kristen untuk melawan otoritas penguasa jika mereka dengan otoriter menghalahgi kita untuk taat kepada firman-Nya. Dalam hal-hal lain, kita harus tunduk kepada otoritas pemimpin dan penguasa. Lebih dari itu, kita harus tunduk kepada kaidah moral orang Kristen:

”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:36-40

Mengapa kita perlu untuk mengerti implikasi dari hukum yang paling utama ini? Karena semua hukum dan prinsip moral orang Kristen adalah dilandaskan pada kedua hukum ini. Tuhan mengharuskan kita untuk menaatinya untuk kebaikan kita sendiri, untuk hidup damai dalam kasih Tuhan dan dalam kasih antar manusia. Ini berarti, dalam banyak hal kita harus tunduk kepada peraturan pemerintah mengenai pajak, pendidikan, obat-obatan, ketertiban sosial dan sebagainya. Kita harus bisa taat kepada semua peraturan secara obyektif dengan bimbingan Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita.

Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Roma 13: 5

Jika Tuhan menginginkan semua orang diselamatkan, mengapa tidak semua selamat?

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3-6

Semua orang Kristen percaya bahwa keselamatan adalah semata-mata aungerah Tuhan. Mengenai siapa yang akan diselamatkan, Alkitab membuat dua hal yang jelas:

  1. Allah menghendaki agar semua orang berdosa diselamatkan (1 Timotius 2:4; 2 Petrus 3:9; Yehezkiel 18:23; Matius 23:37).
  2. Allah memilih beberapa orang dari mulanya untuk diselamatkan tanpa syarat, dan hanya mereka yang terpilih yang akan benar-benar menanggapi Injil dan diselamatkan (Matius 22:14; Yohanes 6:37, 44, 65; 8:47; 10 :26–29; Roma 8:29–30; 9:6–23; 11:5–10; 1 Korintus 1:26–30; Efesus 1:4–5; 1 Tesalonika 1:4; 2 Tesalonika 2:13 ; Yakobus 2:5).

Tetapi bagaimana kedua kebenaran alkitabiah ini (yang tampaknya bertentangan) benar-benar terjadi, telah membingungkan para teolog dan mempertanyakan pikiran Kristen selama berabad-abad, shingga memicu perdebatan sengit antar umat Kristen.

Sepasang doktrin ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan seperti:

  • Bisakah Tuhan benar-benar menginginkan semua diselamatkan (1), namun hanya memilih untuk menyelamatkan hanya beberapa, yang terpilih (2)?
  • Apakah masuk akal untuk berpendapat bahwa Tuhan dapat pada saat yang sama akan menyediakan keselamatan untuk semua (1), dan bukan keselamatan untuk semua (2)?
  • Jika (1) dan (2) benar, apakah Tuhan bingung atau sengaja membuat kita bingung?
  • Atau dapatkah Tuhan yang berdaulat dan mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia suka, menyimpan keinginan untuk keselamatan untuk semua orang yang tidak dapat Dia penuhi?
  • Apakah ada kekuatan di alam semesta yang lebih besar dari Tuhan, yang menggagalkan keinginannya untuk menyelamatkan semua orang?
  • Atau bisakah Tuhan memakai cara yang berbeda secara bersamaan?
  • Atau haruskah orang Kristen modern mengabaikan hal pemilihan untuk menonjolkan keinginan Allah akan keselamatan semua orang?
  • Karena jika kita sama-sama berpegang pada pemilihan, bukankah penawaran umum Injil kita kepada semua orang berdosa tidak tulus?
  • Dan bukankah pemilihan akan mengikis semangat dan dorongan untuk misi penginjilan yang harus kita lakukan?
  • Bukankah keyakinan bahwa seseorang sudah terpilih adalah ketidakpastian yang terselubung fatalisme?

Poin-poin di atas hanya beberapa dari banyak pertanyaan sulit tentang keselamatan yang tidak mudah dijawab. Memang, sehubungan dengan kemungkinan (2) di atas, ada pertanyaan apakah kita tetap harus berusaha keras untuk menginjil. Alkitab menyatakan bahwa kita harus berdoa sebagai utusan Kristus, yang tugasnya adalah untuk memohon pria dan wanita atas nama-Nya untuk diperdamaikan dengan Allah. Dengan demikian, kita tidak mencoba untuk membatasi penginjilan hanya untuk orang-orang pilihan.

“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” 2 Korintus 5:20

Ada dua alasan untuk ini. Pertama, ketetapan pemilihan Allah bersifat rahasia. Kita tidak mengetahui siapa orang-orang pilihan itu dan tidak memiliki cara untuk mengetahunyai sampai mereka menanggapi Injil. Kedua, cakupan tujuan penginjilan Allah lebih luas daripada pemilihan. “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”” (Matius 22:14).

Tidak ada teologi alkitabiah yang benar yang mengajarkan bahwa hakiki Allah adalah senang mengutuki orang jahat. Tetapi, bagaimana kasih karunia-Nya kepada orang pilihan dapat berdiri di samping kasih-Nya bagi seisi dunia, dan keinginan-Nya agar Injil diberitakan kepada semua orang, sementara Dia tetap menganggap mereka bertanggung jawab atas penolakan mereka sendiri, adalah misteri pikiran ilahi.

Kitab Suci sebaliknya mengajarkan kasih Allah bagi dunia, ketidaksenangan-Nya dalam menghakimi orang berdosa, keinginan-Nya agar semua orang mendengar Injil dan diselamatkan. Alkitab juga mengajarkan bahwa setiap orang berdosa tidak mampu dengan usaha sendiri untuk percaya, namun bertanggung jawab untuk percaya, dan akan dikutuk jika dia tidak percaya.

”Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Matius 23:37

Tuhan dengan tulus menginginkan semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Namun dalam keinginan-Nya, Dia memutuskan untuk hanya memilih orang-orang pilihan dan melewati sisanya, meninggalkan mereka pada konsekuensi serius dari dosa mereka. Kutukan atas mereka sepenuhnya terletak pada diri mereka, karena dosa dan penolakan mereka terhadap Tuhan. Tuhan tidak bisa disalahkan atas ketidakpercayaan mereka.

Ketika Tuhan menginginkan semua manusia untuk diselamatkan, Dia benar-benar konsisten dengan hakiki-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Petrus menulis,

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Beberapa berpendapat bahwa ayat ini mengajarkan universalisme. Jika Tuhan menginginkan keselamatan untuk semua, kata mereka, maka semua orang akan diselamatkan, atau Tuhan tidak akan mendapatkan apa yang Dia inginkan. Yang lain berpendapat bahwa apa yang Tuhan kehendaki terjadi, karena semua orang berarti semua golongan manusia, bukan setiap individu. Namun, tidak satu pun dari posisi itu yang bisa dipilih. Jadi, kita harus membedakan antara kehendak-Nya yang berupa keinginan, dan kehendak-Nya yang dinyatakan sebagai keputusan (tujuan kekal-Nya).

Pagi ini, apakah Anda memikirkan apa yang akan terjadi pada teman, sanak atau saudara anda di masa depan? Akankah mereka diselamatkan? Percayalah bahwa Tuhan menginginkan semua orang untuk mengenal Dia. Anda tidak perlu ragu untuk mendoakan mereka, untuk mengabarkan Injil kepada mereka melalui pengajaran Alkitab dan cara hidup kita. Percayalah bahwa Tuhan yang mengingini semua orang untuk diselamatkan, adalah Tuhan yang dengan kehendak-Nya bisa menolong mereka untuk memperoleh iman dan pertobatan demi keselamatan.