“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13:4-7
Kasih secara historis memainkan peran besar dalam cara kita memahami tugas memperlakukan orang lain dengan baik. Banyak sistem etika atau moral berpendapat bahwa kasih adalah dasar untuk melakukan yang benar. Alkitab, misalnya, memerintahkan kita untuk “mengasihi sesamamu” – tidak hanya menghormati atau menghargai orang yang kita kenal, tetapi juga mengasihi mereka yang membenci kita. Ribuan tahun kemudian, filsuf dan novelis Iris Murdoch menulis bahwa “perhatian yang penuh kasih” adalah inti dari moralitas manusia.
Jika kasih adalah initi dari moralitas kita, itu tidaklah mudah dilaksanakan. Mengapa? Dalam pengertian Kristen tentang kata itu, kasih tampaknya melibatkan keberpihakan. Dalam semua jenis cinta, dari cinta romantis (eros) hingga cinta dalam persahabatan (philia) atau cinta keluarga (agape), mencintai seseorang tampaknya berarti tidak mencintai orang lain. Kita mencintai istri kita, bukan istri tetangga kita. Kita mencintai teman dan orang tua kita, bukan teman bos kita atau ayah sopir bus kita. Bagaimana pula dengan mengasihi Tuhan? Itu lebih sulit lagi, untuk tidak dikatakan mustahil jika kita memegang moral dunia sebagai pedoman.
“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:37
Faktanya, kita mungkin berpikir bahwa seseorang tidak mencintai pasangannya dalam arti kata yang benar, jika mereka juga mengatakan bahwa mereka mencintai semua orang secara setara. Tetapi, Alkitab menyatakan bahwa kita harus mengasihi semua orang. Bagaimana ini bisa dilakukan? Dalam kenyataan hidup, keberpihakan kasih kita mau tidak mau memengaruhi tindakan kita serta emosi kita. Orang tua, teman, dan pasangan kita menerima lebih banyak prioritas, hadiah, dan perhatian emosional dari kita daripada orang lain. Ini adalah fitur kehidupan manusia di dunia yang dihargai dan menyenangkan.
Moralitas, pada hihak yang lain, sering dianggap pada dasarnya netral. Artinya, pandangan moral memandang setiap orang sebagai sederajat; tidak memihak satu orang atas yang lain hanya karena hubungan kita dengan mereka. Filsuf Immanuel Kant, misalnya, berpendapat bahwa semua orang berhak mendapatkan perlakuan moral hanya karena mereka adalah manusia. Siapa pun yang adalah manusia menuntut agar orang lain tidak membohongi mereka, menghormati mereka, tidak memperbudak tubuh mereka atau merampas harta benda dan hak mereka. Jadi, satu-satunya hal yang diperhatikan oleh pandangan moral adalah kesetaraan manusia. Karena semua orang adalah orang, pandangan moral dunia memandang setiap manusia secara sederajat. Itu sebabnya pada zaman ini persamaan derajat antar umat manusia selalu didengung-dengungkan dalam masyarakat, dan karena itu sebagian orang menuduh orang Kristen mengingkari hukum kasih dari Tuhan.
Jika moral menuntut kita memperlakukan semua orang dengan adil, apakah kasih sebenarnya tidak bermoral (amoral)? Mungkinkah bersikap penuh kasih dan berperilaku etis menjadi dua tugas yang terpisah dan yang sering menimbulkan konflik? Jika moralitas mengandung komitmen terhadap netralitas – dan jika kasih mengandung komitmen terhadap keberpihakan – maka pandangan moral dan pandangan kasih adalah bertentangan. Apakah kasih dan moralitas meminta kita melakukan hal yang berbeda? Bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?
Pertama, harus dikatakan dengan tegas bahwa umat Kristiani harus menjadi orang yang penuh kasih, orang yang mengasihi, orang yang menunjukkan kasih, orang yang memancarkan kasih, orang yang membangkitkan kasih, orang yang mengkomunikasikan kasih, dan orang yang mengasihi dengan berkorban. Mengapa? Karena Allah adalah kasih dan kita dapat mengasihi Allah karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:18-19) dan menyerahkan diri-Nya untuk kita di kayu salib. Kita memiliki banyak alasan untuk mencintai manusia, memberikan uang, waktu, tenaga kita kepada orang lain agar mereka dapat melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa kita di surga. Setidaknya itu yang bisa kita lakukan mengingat kasih-Nya yang luar biasa yang ditunjukkan kepada kita, meskipun kita dulunya adalah orang berdosa yang harus menemui kematian di neraka. Memang, “Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5:8). Orang akan mengetahui bahwa kita adalah murid Kristus melalui cara kita saling mengasihi (Yohanes 13:35). Sayangnya, sebagai manusia yang tidak sempurna, kita gagal meniru kasih Juruselamat kita dan melakukannya berulang kali dalam dosa kita. Semoga Tuhan memberi kita rahmat untuk mengatasi prasangka dan pembenaran diri yang merampas kasih alkitabiah kita untuk orang lain.
Terkadang pandangan umum bisa menggantikan firman Tuhan. Pepatah “agama” yang populer bisa memperoleh pengaruh dan menjadi dogma sekalipun tanpa dukungan Alkitab. Pepatah “Tuhan membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri” tidak ditemukan dalam kitab suci. Hal yang sama dapat dikatakan tentang gagasan bahwa orang Kristen harus mengasihi semua orang secara setara tanpa perbedaan.
Dalam arti apa pun orang Kristen harus mengasihi orang secara umum; tetapi, ada perbedaan dalam kasih yang tidak berdosa itu, yang sebenarnya mencerminkan karakter dan perilaku Tuhan. Kita harus mengasihi musuh dan penyiksa kita, seperti yang Yesus katakan (Matius 5:43-48), dan kita harus menunjukkan kebaikan kepada semua orang (ingat kisah orang Samaria yang baik hati), tetapi tidak dengan cara yang sama seperti kita mengasihi dan memerlakukan pasangan kita, anak-anak, keluarga gereja, dan bahkan mungkin orang sebangsa. Lebih dari itu, secara logis kita tidak dapat mengasihi mereka yang membenci Tuhan seperti kita mengasihi mereka yang mengasihi Tuhan.
Ada lingkaran pembatas yang berbeda ukuran, yang secara alami dan benar dan alkitabiah mengatur pernyataan kasih kita. Misalnya, kasih yang saya miliki untuk pasangan saya seharusnya mencerminkan kasih Kristus untuk gereja-Nya (Efesus 5:25). Dia mengasihi gereja-Nya dengan cara Dia tidak mengasihi orang lain. Dia mencintai umat-Nya lebih intim dan intens. Bagaimanapun, mereka adalah domba-domba-Nya dan Dia mengenal mereka secara dekat dan mengasihi mereka dengan cara yang tidak sama dengan pengenalan-Nya atas serigala atau kambing (Yohanes 10:11-16).
Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk gereja (Efesus 5:25; Yohanes 10:15) dan tidak ada kasih yang lebih besar dari apa yang diberikan-Nya kepada manusia (Yohanes 15:13). Demikian juga, kita harus mengasihi Kristus, pasangan kita, dan sesama saudara dan saudari dalam Kristus dengan cara yang khusus pula. Dengan demikian, kita harus membeda-bedakan, mengasihi dengan pembedaan yang tepat, seperti yang dilakukan Kristus. Kita mungkin dituntut untuk mengasihi semua orang, berbuat baik kepada semua orang, tetapi tidak dengan cara yang sama atau tidak dapat dibedakan.
Paulus menyurati gereja di Galatia dan menyuruh mereka berbuat baik kepada semua orang, tetapi khususnya gereja (Galatia 6:10). Jadi kita harus membedakan, bukan berdasarkan ras atau jenis kelamin atau kelas (dihapuskan dalam Galatia 3:8), tetapi berdasarkan kedekatan dalam hubungan keluarga (Tuhan, keluarga, gereja, dll). Itu alami dan alkitabiah.
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6:10
Orang yang baik kepada orang lain tetapi mengabaikan anak-anaknya, adalah lebih buruk daripada orang yang baik kepada anak-anaknya tetapi mengabaikan orang lain. Mengapa? Dia memiliki kewajiban moral yang diberikan Tuhan kepada anak-anaknya yang lebih besar dari itu terhadap orang lain. Dengan kata lain, kasih kita kepada orang lain dilemahkan oleh tingkat kewajiban moral kita terhadap mereka.
Tuhan sendiri mencintai Yakub dan membenci Esau (Roma 9:13), Dia mencintai Israel secara khusus atas semua bangsa lain di bumi, tentu saja bukan Mesir (anak sulung laki-laki yang langsung dibantainya), Tuhan menetapkan cinta abadi perjanjian dengan Ishak dan bukan Ismael (Kejadian 17:18-21), dan Dia mengasihi umat-Nya, anak-anak-Nya (1 Yohanes 3:1), secara eksklusif disebut “anak-anak Allah”, dengan cara khusus di atas semua orang lain di bumi. Memang, di akhir zaman, Tuhan akan memisahkan domba dari kambing dan menunjukkan kasih yang istimewa kepada umat-Nya sendiri (Wahyu 7:13-17).
Pagi ini, kita harus sadar bahwa kasih yang alkitabiah tidaklah sama dengan etika dan moralitas yang dituntut dunia. Moralitas dunia hanya mencerminkan kasih Tuhan secara umum, yang memberikan sinar matahari kepada semua orang (Matius 5:45). Tetapi, kasih yang sejati (agape) adalah satu dengan moralitas yang dituntut oleh Alkitab. Tuhan membedakan mereka yang menjadi domba-Nya dari domba lain atau serigala. Dia memberikan perhatian khusus kepada mereka yang mengasihi Dia. Moralitas dunia adalah baik sepanjang itu dibimbing oleh ajaran kasih berdasarkan Alkitab. Moralitas yang membuta pada akhirnya akan mengabaikan adanya Tuhan dan kasih-Nya yang istimewa kepada orang-orang yang mau mendengar panggilan keselamatan-Nya.
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Efesus 1: 3-8
Doktrin predestinasi secara khusus berkaitan dengan pertanyaan tentang tujuan akhir kita. Hanya ada dua tujuan yang terbuka bagi kita sebagai manusia. Pada akhirnya, tujuan itu adalah surga atau neraka, yaitu berada dalam keadaan selamat atau berada dalam keadaan terkutuk. Predestinasi berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sebelum (“pre”) kita tiba di tempat tujuan (“destinasi”) itu. Itu berkaitan dengan keterlibatan Tuhan dalam hasil akhir hidup kita.
Ketika kita berbicara tentang doktrin predestinasi, kita tidak berbicara secara khusus tentang pertanyaan apakah Tuhan secara langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan mobil, atau apakah Anda telah ditentukan sebelumnya untuk duduk di kursi yang Anda duduki saat ini. Memang ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan secara langsung menetapkan ha-hal seperti di atas karena mereka mempunyai pandangan fatalis. Mereka menafsirkan ayat dibawah ini sebagai pernyataan bahwaTuhan adalah penyebab langsung dari setiap kejadian di alam semesta.
“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Matius 10:29-31
Predestinasi tidak berkaitan dengan pertanyaan sehari-hari tentang apakah saya ditakdirkan untuk menyapu lantai hari ini atau tidak. Itu akan jatuh di bawah tajuk teologis pemeliharaan (providence) yang pada prinsipnya menyatakan bahwa Tuhanlah yang memberi kemungkinan untuk terjadinya suatu hal. Pertanyaan-pertanyaan mengenai perbuatan kita dalam hidup di dunia adalah pertanyaan yang sah untuk teologi, tentang seberapa banyak kedaulatan Allah terlibat dalam tindakan dan aktivitas kita sehari-hari dan seterusnya. Tetapi doktrin predestinasi adalah berkaitan dengan pertanyaan tentang keselamatan di surga.
Predestinasi berkaitan dengan pilihan Tuhan terkait keselamatan manusia. Barangkali tampak aneh bagi Anda, tetapi semua orang Kristen di zaman ini setuju bahwa predestinasi adalah sesuatu yang Tuhan lakukan. Mungkin juga mengejutkan Anda bahwa dua aliran teologi Protestan terbesar, Arminian dan Reformed, setuju bahwa Tuhan membuat pilihan ini tentang tujuan akhir kita bahkan sebelum kita dilahirkan, seperti apa yang tertulis dalam ayat-ayat Efesus 1: 3-8 di atas.
Pandangan pertama: Pilihan Tuhan untuk menyelamatkan Anda adalah berdasarkan pengetahuan-Nya sebelumnya tentang sesuatu yang Dia lihat di koridor waktu dan melihat bahwa Anda akan melakukannya. Misalnya, melihat ke bawah koridor waktu, Dia tahu bahwa Anda akan menanggapi Injil secara positif, bahwa Anda akan memilih Kristus ketika ada kesempatan bagi Anda, dan kemudian, karena mengetahui bahwa Anda akan memilih Kristus, Allah memilih Anda untuk diselamatkan. Tetapi Dia mendasarkan pilihan itu pada pengetahuan-Nya sebelumnya tentang keputusan Anda. Jadi Tuhan memilih Anda untuk diselamatkan, tetapi Dia memilih Anda karena sesuatu yang Dia lihat sebelumnya dalam hidup Anda. Keputusan Anda untuk memilih Kristus adalah hal yang menyelamatkan Anda.
Pandangan kedua: Apa yang Tuhan lihat sebelumnya dalam hidup Anda tidak ada hubungannya dengan pilihan-Nya atas Anda. Pilihan-Nya semata-mata karena kesenangan kehendak-Nya tanpa mempertimbangkan apa pun yang mungkin atau tidak mungkin Anda lakukan di masa depan. Walaupun demikian, respon Anda tetap diperlukan atas tawaran keselamatan yang datang dari Allah. Allah sudah memberikan karunia-Nya yang berupa iman, yang membuahkan pertobatan, kepada mereka yang dipilih-Nya. Untuk itu Anda harus memelihara iman Anda dengan kesetiaan seumur hidup seperti apa yang ditulis rasul Paulus.
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4:7-8
Gereja Katolik mengizinkan berbagai pandangan tentang predestinasi, tetapi ada poin-poin tertentu yang tegas: “Allah tidak menakdirkan siapa pun untuk pergi ke neraka; untuk dibuang ke neraka, diperlukan penolakan yang disengaja terhadap Allah (dosa moral yang berat), dan ketekunan di dalam dosa sampai akhir” (KGK 1037). Itu juga menolak gagasan pemilihan oleh Allah tanpa syarat, dan sebaliknya menyatakan bahwa ketika Allah “menetapkan rencana kekal-Nya, Allah memasukkan di dalamnya unsur kehendak bebas setiap orang terhadap kasih karunia-Nya” (KGK 600).
Dengan adanya perbedaan pandangan teologis di atas, terjadilah perdebatan yang cukup sering antar golongan. Tetapi, apa yang disetujui oleh setiap orang Kristen adalah bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang berdaulat. Bagaimana kedaulatan Allah bekerja dalam masalah keselamatan adalah apa yang memisahkan pandangan-pandangan di atas. Paulus menjelaskan hal ini dalam kitab Roma 9.
Sebab Ia berfirman kepada Musa: ”Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9:15
Roma 9 dimulai dengan Paulus menggambarkan penderitaannya bagi bangsanya Israel dalam penolakan mereka terhadap Kristus. Setelah menggambarkan semua keistimewaan yang diberikan Allah kepada bangsa Yahudi sebagai suatu bangsa, Paulus menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-janji itu. Namun, tidak setiap orang yang lahir di Israel adalah milik Israel, tulisnya. Tuhan berhak untuk menunjukkan belas kasihan kepada beberapa dan bukan yang lain, seperti yang ditunjukkan Paulus dari Kitab Suci. Tuhan itu seperti tukang tembikar yang menciptakan beberapa bejana untuk kehancuran dan yang lainnya untuk kemuliaan. Allah telah memanggil umat-Nya baik dari bangsa lain maupun Yahudi untuk beriman kepada Kristus.
Roma 9:1–18 mendapati Paulus patah hati atas penolakan terhadap Kristus oleh bangsanya, orang Yahudi. Mereka telah diberi begitu banyak berkat sebagai umat pilihan Allah, dan Paulus menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya kepada Israel. Namun, tidak semua orang yang lahir di Israel adalah benar-benar bani pilihan-Nya, tulis Paulus. Demikian juga, tidak semua orang mengaku Kristen adalah benar-benar orang pilihan-Nya. Contoh-contoh khusus dari bani Israel diberikan untuk menunjukkan bahwa Allah memang memilih mereka yang akan menerima karunia-Nya. Ia kemudian juga mempertimbangkan apakah pilihan ini, menurut kebijakan-Nya, adalah adil. Dengan demikian, pada saat penghakiman akhir, tidak ada seorang pun yang dapat berdalih dan menyatakan bahwa Allah tidak adil.
Sebelumnya, Paulus telah menolak gagasan bahwa Allah tidak adil dalam memilih Yakub dan bukan Esau untuk menerima janji-janji perjanjian-Nya bahkan sebelum anak laki-laki kembar itu lahir (Roma 9:12-14). Kemudian Paulus mengutip perkataan Tuhan kepada Musa dari Keluaran 33:19. Tuhan memberikan kepastian bahwa Dia akan bersama Musa saat memimpin anak-anak Israel. Nyatanya, Tuhan sedang bersiap untuk menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan membiarkan Musa melihat sekilas kemuliaan-Nya. Dia telah setuju untuk menunjukkan kepada Musa manifestasi fisik dari sifat sejati-Nya (Keluaran 33:21–23).
Dalam konteks itu, Tuhan berkata bahwa Dia akan menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang kepada siapa pun yang Dia pilih. Hak untuk memutuskan siapa yang menerima karunia (karunia apa pun, bukan hanya keselamatan) dari Tuhan adalah keputusan yang diberikan secara tepat oleh Tuhan sendiri. Paulus menawarkan kutipan ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan tetap berhak memilih untuk diri-Nya sendiri, hanya berdasarkan diri-Nya sendiri, kepada siapa Dia akan memberikan perkenanan-Nya. Tuhan tidak harus mengandalkan kriteria lain atau memakai satu standar “baik dan buruk” untuk membuat pilihan seperti itu karena setiap orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 4:23).
Mungkin itu bukan argumen yang sangat meyakinkan bahwa Tuhan adalah adil dalam memilih satu dari yang lain. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh perikop ini, Paulus belum selesai membuat kasusnya. Ayat berikutnya berbunyi:
“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” Roma 9:16
Jelas bahwa manusia menerima keselamatan berdasarkan kedaulatan Allah untuk memilih, dan itu adalah bergantung kepada kemurahan hati Allah, yaitu kepada kasih-Nya. Kasih Allah yang sangat besar kepada seluruh umat manusia memungkinkan semua umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan seharusnya binasa, untuk bisa mendapatkan pengampunan dan menerima keselamatan. Itu jika mereka mempunyai iman kepada-Nya dan bertobat dari hidup lamanya, karena keselamatan hanya datang melalui iman dan pertobatan yang dimungkinkan oleh Allah sendiri.
Pagi ini, sebagai orang percaya, kita tidak hanya yakin atas kedaulatan Tuhan, tetapi juga kepada kemurahan dan kasih-Nya. Jika kita terlau terpukau pada kedaulatan Tuhan kita akan meremehkan kasih-Nya kepada setiap ciptaan-Nya dan mengabaikan respon manusia kepada panggilan-Nya. Sebaliknya, jika kita terlalu menekankan kasih-Nya, kita akan lupa bahwa Tuhan berhak memutuskan apa saja, menurut apa yang disenangi-Nya, dan tidak dapat dipengaruhi oleh tindakan manusia. Teologi Predestinasi tidaklah menentukan apakah kita diselamatkan atau tidak, tetapi akan memengaruhi bagaimana kita hidup di dunia sebagai orang Kristen.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16
“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yohanes 5:39-40
Anda ingat lagu “Mengikut Yesus keputusanku?” Lagu yang dipopulerkan oleh penginjil terkenal Billy Graham itu sering dinyanyikan pada saat ada kebaktian kebangunan rohani. Tetapi, sebagian orang Kristen tidak mau menyanyikan lagu ini karena menolak pernyataan bahwa seseorang dapat mengambil keputusan untuk datang kepada Yesus. Mereka dengan kata lain, mempunyai pengertian yang berlainan dari apa yang dikatakan Yesus dalam ayat di atas.
Bagi sebagian orang Kristen, manusia tidak mempunyai andil apa pun dalam keselamatan. Memang firman Tuhan menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata karunia Tuhan, dan karena itu tidak ada orang yang bisa berkata bahwa itu adalah karena usahanya dan merasa sombong (Efesus 2:8-9). Walaupun demikian, ada perbedaan antara tidak dapat berupaya dan dan tidak mempunyai peran. Jelas karena Allah yang berperan sebagai Bapa yang mau memberi pengampunan, manusia harus menyadari perannya sebagai anak yang terhilang yang sudah berdosa kepada-Nya. Jika anak yang hilang harus mau pergi menghadap bapanya, manusia yang berdosa harus datang kepada Allah untuk menerima karunia keselamatan-Nya.
Sebagai anak yang hilang, setiap orang bebas untuk melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan, tetapi di situlah letak masalahnya: kehendak bebas anak yang terhilang adalah untuk menikmati hidupnya dalam dosa dan karena itu tidak mau menaanti perintah Allah. “Ketidakmampuan” orang terhilang untuk menanggapi Injil terletak pada kehendak mereka sendiri – jika mereka tidak datang kepada Kristus, itu hanya karena mereka tidak mau. Dan karena mereka “menolak untuk datang kepada-Ku” mereka dimintai pertanggungjawaban (Yohanes 5:40). Secara ringkas, kebobrokan dan ketidakmampuan manusia tidak menghalangi tanggung jawab untuk datang kepada Yesus. Tanggung jawab universal yang berlaku untuk setiap manusia untuk percaya dan bertobat tetap ada sekalipun iman dan pertobatan adalah inisiatif Allah.
Tidak ada orang berdosa yang dapat mengetahui bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan mencoba untuk kembali menjumpai sang Bapa. Anak yang hilang memutuskan untuk kembali pulang tanpa mengetahui bagaimana sambutan bapanya. Tetapi, ia pulang karena percaya bahwa bapanya bukanlah bapa yang kejam. Dan ia diterima kembali menjadi anak hanya karena keputusan bapanya. Dengan demikian, doktrin ketidakmampuan total (total depravity) bukanlah, “Kamu tidak bisa datang”; melainkan, “Kamu tidak dapat datang terlepas dari bantuan ilahi.”
“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan uAllah.” Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” (Markus 10:25–27).
Sayang sekali, sebagian orang Kristen yang memandang bahwa manusia tidak mampu bertanggung jawab atas perannya dalam panggilan Allah, dan bahkan atas cara hidupnya di dunia sekalipun sudah dicelikkan mata rohaninya oleh Allah. Itu karena mereka terlalu menekankan kedaulatan Allah sedemikian rupa sehingga manusia dianggap tidak dapat mempunyai kehendak. Ini tentunya adalah sebuah pengertian yang keliru. Beginilah cara Yesus menjelaskan masalah ini:
“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”. Yohanes 6:37
Tanggung jawab tetap ada: seseorang yang peduli akan jiwanya tidak disuruh “menunggu untuk diselamatkan” tetapi “datang untuk mendapat keselamatan”. Pengakuan akan ketidakberdayaan bukanlah alasan untuk melanjutkan ketidakpercayaan, juga bukan penghalang untuk menerima tawaran keselamatan universal (anugerah umum).
Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat bahwa tidak perlu bagi Tuhan dengan keagungan yang tak terbatas untuk memberikan anugerah kepada mereka yang hanya akan terus memberontak. Lebih dari itu, ada yang percaya bahwa Tuhan sudah membuat orang-orang tertentu untuk menjadi anak yang hilang untuk selamanya. Oleh karena itu Tuhan tidak perlu untuk memanggil mereka untuk kembali ke jalan yang benar.
Sebaliknya, kita juga dapat mengatakan bahwa adalah di bawah kedaulatan Tuhan yang mahakasih untuk menawarkan keselamatan kepada siapa pun, terlepas dari tanggapan mereka pada akhirnya. Alkitab jelas menyatakan bahwa Dia memberikan anugerah-Nya, dan Dia memanggil setiap manusia dan berulang kali mengatakan bahwa Dia mau memberi karunia iman dan pertobatan kepada siapa pun.
“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Lukas 5:32
Sebagai bapa yang menantikan anaknya yang hilang untuk pulang kembali, dalam Alkitab kita membaca bahwa Tuhan menyuruh, Dia meminta, Dia memohon, Dia berdiri penuh kerinduan dengan tangan terulur – semua ini adalah bahasa alkitabiah yang menyatakan kebesaran kasih Allah. Lebih tepatnya, kita harus menyadari bahwa sikap welas asih ini adalah bagian dari penyataan diri Tuhan untuk dipahami sebagai salah satu aspek dari kemuliaan-Nya. Kita tidak memuja Tuhan dengan benar sampai kita mengenali kasih-Nya yang mahabesar. Dan kita tidak memberitakan Injil dengan benar sampai kita mencerminkan sikap ini sendiri kepada orang lain. Panggilan keselamatan Allah kepada umat manusia adalah panggilan kasih dan bukannya paksaan ilahi (Yohanes 3:16).
Seruan tanpa pandang bulu dan tawaran Injil yang cuma-cuma yang memiliki jaminan alkitabiah yang kuat dan eksplisit adalah posisi tradisional gereja Reformed sejak dulu. Kekhawatiran beberapa orang Kristen bahwa tawaran Injil secara cuma-cuma menyiratkan kurangnya kedaulatan Tuhan adalah keliru. Tuhan memposisikan diri-Nya terhadap orang fasik sebagai Tuhan yang mahakasih yang bersedia untuk menyelamatkan, dan Dia memohon kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar melalui juru bicaranya di sepanjang zaman. Seruan universal Injil ini adalah sarana eksternal yang dengannya Allah, pada waktu-Nya sendiri, secara berdaulat memanggil orang-orang pilihan-Nya secara individu ke dalam persekutuan Kristus.
Jika dalam Injil Allah dengan cuma-cuma mengurbankan Kristus kepada dunia, orang Kristen harus membuat tawaran yang sama. Jika kewajiban dan peran semua orang adalah untuk menjadi orang percaya, maka adalah kewajiban dan peran orang Kristen untuk memberitakan Kristus agar orang lain mau menerima perannya. Kita dapat berkata kepada siapa pun, di mana pun – dan kita tidak boleh ragu -“Jika Anda mau datang kepada Yesus Kristus, Dia akan menyelamatkan Anda dan menberi Anda peran sebagaii orang percaya yang bertobat dari dosa dan bertumbuh dalam kekudusan”. Mereka yang mengaku Kristen tetapi menolak adanya peran manusia dalam rancangan keselamatan Allah adalah otang-orang fatalis yang tidak mengenal kasih Allah.
Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” Lukas 15:7
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibrani 11:6
Ayat di atas adalah ayat populer dari kitab Ibrani, dan juga mudah disalahpahami di luar konteks. Dengan sendirinya, ayat tersebut menyajikan sebuah kebenaran yang cukup mudah untuk dipahami. Yakni, perhatian Allah yang pertama dan utama adalah pada iman kita – sikap kita terhadap-Nya dan percaya kepada-Nya – bukan pada perbuatan kita. Ini tidak membuat perilaku dan moral kita menjadi tidak penting. Sebaliknya: apa yang kita lakukan mencerminkan apa yang benar-benar kita percayai (Yakobus 2:14-17). Namun, seperti yang ditunjukkan oleh ayat ini, sekadar “melakukan perbuatan baik” bukanlah yang Allah cari. Mereka yang ingin menyenangkan Tuhan perlu memiliki iman, bukan kesepakatan sederhana untuk bekerja bagi Dia, dan bukan kerja sama dengan Dia karena terpaksa.
Masalah dengan mengutip atau membaca ayat ini di luar konteksnya adalah momok “keyakinan buta”, atau angan-angan. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian sebelumnya, penulis Ibrani tidak menganjurkan sikap yang mudah tertipu dan berangan-angan. Sebaliknya, seluruh surat ini merupakan latihan bukti dan logika. Maksud penulis dimaksudkan untuk menekankan keutamaan iman yang sejati karena perbuatan yang tidak tulus dan kepatuhan robotik tanpa kepercayaan yang benar kepada Tuhan tidaklah ada artinya. Pelajaran ini diberikan sebagai bagian dari penjelasan tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang tindakannya membuktikan iman mereka sekalipun mereka bukan orang yang sempurna. Tokoh-tokoh seperti Abraham dan Daud pernah dan sering melanggar perintah Tuhan dan mereka telah melakukan pelanggaran moral dalam hidup mereka; tetapi karena iman, mereka dibenarkan.
Begitu banyak di dalam surat-surat Perjanjian Baru yang secara keliru dianggap ditujukan kepada orang yang tidak percaya, padahal surat itu ditulis untuk orang Kristen. Surat Ibrani adalah contoh Kitab Suci yang memberikan bimbingan kepada orang percaya yang dewasa tentang bagaimana hidup dengan iman – bagaimana menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Sementara langkah pertama yang jelas untuk menyenangkan Tuhan adalah diselamatkan dengan percaya pada karya penebusan Kristus, adalah iman yang terus-menerus dan hidup dari orang percaya yang mengasihi Tuhan dan sesama.
Hanya orang percaya yang bisa menyenangkan Tuhan. Kita menyenangkan Tuhan ketika kita dibenarkan (keselamatan awal), tetapi kita juga menyenangkan Tuhan melalui kehidupan yang dikuduskan (keselamatan yang berkelanjutan). Hanya melalui kebenaran Kristus yang kita yakini kita dapat menyenangkan Allah, “karena tanpa iman tidak mungkin menyenangkan Dia.” Tetapi begitu kita diselamatkan, kita harus menyenangkan Dia dengan hidup oleh iman. Begitu kita percaya kepada-Nya, kita harus, “percaya bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia.” Setelah diselamatkan melalui iman yang membenarkan, orang percaya harus terus mempercayai Dia, dengan mempercayai Firman-Nya, hidup dengan iman, dan dengan rajin mencari wajah-Nya hari demi hari.
Setelah kita percaya pada kasih karunia Allah yang menyelamatkan melalui iman kepada Kristus, kita juga harus percaya bahwa, “Ia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia,” sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci. Ada sukacita di surga ketika seorang berdosa percaya, tetapi kita benar-benar menyenangkan Dia ketika kita hidup dengan iman. Kita menyenangkan Dia ketika kita tidak dipengaruhi oleh berbagai masalah dan godaan dalam hidup. Jika kita berhasrat untuk menyenangkan Bapa Surgawi kita, kita harus hidup dengan iman dan bukan dengan melihat. Kita percaya bahwa Tuhan melihat apa yang kita perbuat sekalipun kita tidak dapat melihat Dia. Kita harus percaya bahwa jika kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan standar kecucian dan moral Allah, yaitu dengan mengabaikan suara Roh Kudus, kita akan mendukakan Dia.
Terlalu sering, mereka yang memulai kehidupan Kristennya dengan iman, berhenti bersandar pada kebenaran Kitab Suci. Mereka mengalihkan pandangan dari Yesus dan mulai meragukan firman Tuhan dan pentingnya hukum dan perintah Tuhan. Mereka sering lalai dalam mencari Tuhan, bahkan ada yang meninggalkan cinta pertamanya. Ada beberapa orang yang kembali kepada kedagingan, menuruti kehidupan daging. Beberapa mencoba untuk menyenangkan Tuhan melalui perbuatan yang dipandang baik oleh manusia, atau mencapai hasil yang membawa nama baik bagi gereja. Tetapi semua itu akan sia-sian jika dilakukan bukan untuk kemuliaan Tuhan. Pada pihak yang lain, ada orang yang mengadopsi budaya umat Israel dan melakukan perbuatan-perbuatan menurut hukum Taurat, hanya untuk merasa yakin bahwa mereka adalah orang yang terpilih.
Orang Kristen yang mencoba untuk hidup dengan kekuatan mereka sendiri atau mengandalkan perbuatan baik mereka sendiri tidak akan menyenangkan Tuhan, karena mereka tidak mempercayai Firman-Nya – karena iman adalah bukti dari hal-hal yang tidak terlihat. Iman pada firman Tuhan adalah apa yang menyenangkan Dia. Kita menyenangkan Dia ketika kita diselamatkan, tetapi kita harus menyenangkan Dia sepanjang kehidupan Kristen kita, dengan percaya bahwa janji-janji-Nya adalah benar dan dengan percaya bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia – dengan iman.
Meskipun persatuan kita dengan Tuhan tidak akan pernah putus setelah kita dilahirkan ke dalam keluarga-Nya, persekutuan kita dengan-Nya bisa rusak ketika kita meninggalkan kehidupan yang mempercayai Tuhan dan ketergantungan pada Firman-Nya dan mulai mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tuhan tahu bahwa tanpa pertolongan dan bimbingan Kristus, kita pada akhirnya akan gagal karena Dia berkata, “tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Namun terlalu sering kita mencoba setiap cara yang mungkin sebelum akhirnya kita harus mengakui ketidakmampuan kita dan kemudian mencari pertolongan-Nya.
Terlalu sering kita lupa bahwa mereka yang rajin mencari Dia, dibalas dengan anugerah-Nya yang cukup untuk menghadapi masalah hidup. Mereka yang dengan tekun mencari Dia, menghasilkan buah Roh yang indah, sehingga mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dewasa dalam iman, yang menyenangkan Bapa Surgawi kita. Ketika kita beristirahat dalam kekuatan-Nya yang cukup dalam hidup kita, kita selalu menemukan bahwa hanya itu yang kita butuhkan; tetapi seberapa sering kita melupakan kedamaian sempurna yang Dia janjikan, hanya karena kita mengandalkan diri sendiri di hadapan Juruselamat kita, atau karena memilih hidup sesuai dengan standar dunia daripada apa yang telah Allah firmankan dan janjikan.
Pagi ini kita harus percaya bahwa semakin kita mempercayai firman Tuhan, percaya semua yang Dia katakan, beriman pada janji-janji-Nya, percaya Dia adalah pemberi upah bagi orang yang dengan sungguh-sungguh berusaha mengenal Dia, semakin kita akan bertumbuh dalam kasih karunia, dewasa dalam iman, berjalan dalam roh dan kebenaran dan menyenangkan Dia – karena barangsiapa yang memiliki banyak, lebih banyak lagi yang akan diberikan. Mereka yang mengabaikan firman dan perintah Tuhan akan mengalami kekeringan rohani yang pada akhirnya membawa kesengsaraan selama hidup di dunia akibat dosa yang makin menguasai hidup mereka.
Menurut situs Monergism, berikut ini adalah contoh dari beberapa keyakinan yang mungkin dianut oleh para hiper-calvinis. Sebagian besar Calvinis klasik menolak keyakinan yang bersifat destruktif berikut ini dan menyatakannya sebagai hal yang menyedihkan:
bahwa Tuhan adalah penyebab pertama dan pencipta dosa dan kejahatan
bahwa manusia tidak memiliki keinginan sendiri, dan penyebab sekunder tidak berpengaruh
bahwa jumlah orang pilihan setiap saat dapat diketahui oleh manusia
bahwa menginjili itu salah
bahwa kepastian pemilihan harus dicari sebelum pertobatan dan iman
bahwa orang-orang yang pernah “dengan tulus” menyatakan kepercayaan akan diselamatkan terlepas dari apa yang kemudian mereka lakukan
bahwa Tuhan telah memilih beberapa ras manusia dan menolak yang lain
bahwa Tuhan tidak memerintahkan semua orang untuk bertobat
bahwa sakramen-sakramen bukanlah sarana rahmat, tetapi penghalang keselamatan hanya oleh iman.
bahwa iman yang menyelamatkan sama dengan percaya pada doktrin predestinasi
bahwa hanya Calvinis yang beragama Kristen (Kalvinisme Neo-gnostik)
“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13: 13
Bagi sebagian orang Kristen, apa yang menjadi hal yang terbesar dalam hidup mereka adalah lahir baru, karena dengan itu mereka merasa yakin sudah menjadi orang pilihan Allah. Mereka merasa bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa. Lalu apa yang dimaksud dengan lahir baru? Alkitab menyatakan bahwa itu adalah saat di mana iman dan pertobatan datang sebagai karunia Allah. Dengan lahir baru mereka percaya kepada Tuhan dan memiliki pengharapan bahwa janji keselamatan-Nya akan terjadi sepenuhnya setelah mereka mengakhiri hidup mereka di dunia.
Satu Korintus 13:13 mencantumkan kasih bersama dengan iman dan harapan sebagai karunia yang bertahan selamanya. Sifat langgeng dari iman, harapan, dan kasih menjadikannya lebih besar daripada semua karunia Roh lainnya, yang bersifat sementara; karunia nubuat, bahasa roh, dan pengetahuan disebutkan dalam 1 Korintus 13:8 akan segera berakhir. Dari tiga “karunia yang kekal”, kasih adalah yang terbesar.
Kasih lebih besar dari iman dan harapan karena iman dan harapan bergantung pada kasih untuk keberadaan mereka. Tanpa kasih, tidak akan ada iman yang sejati; iman tanpa kasih tidak lain adalah latihan keagamaan yang kosong. Seperti yang dikatakan Paulus, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Korintus 13:2). Tanpa kasih, tidak akan ada harapan sejati; harapan tanpa kasih adalah sebuah oxymoron (kata-kata yang memiliki arti yang bertentangan dengan satu sama lain), karena kita tidak bisa benar-benar mengharapkan sesuatu yang tidak kita kasihi. Keyakinan dan harapan adalah hal yang mati, mandul jika tidak disertai dengan kasih.
Salah satu alasan mengapa kasih adalah anugerah terbesar adalah karena itu penting bagi sifat Allah. Satu Yohanes 4:8 memberi tahu kita bahwa Allah adalah kasih. Kitab Yohanes dan ketiga surat Yohanes sarat dengan tema kasih. Allah memberi kita kasih-Nya, dan kita memantulkan kembali kasih itu kepada-Nya: “Kita mengasihi karena Ia telah terlebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19). Yesus telah memberitahukan nama Bapa kepada kita, supaya kasih yang Bapa berikan kepada Dia ada di dalam kita dan Yesus di dalam kita (Yohanes 17:26).
Yesus mengajarkan bahwa dua perintah terbesar keduanya mencakup kasih, karunia terbesar: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37–40). Sulit dibayangkan bagaimana kasih dapat dilaksanakan jika orang Kristen segan untuk berbuat baik.
John Calvin mengemukakan alasan yang sangat sederhana mengapa kasih adalah anugerah terbesar: “Karena iman dan harapan adalah milik kita sendiri: kasih tersebar di antara yang lain.” Dengan kata lain, keyakinan dan harapan menguntungkan pemiliknya, tetapi kasih selalu menguntungkan orang lain. Dalam Yohanes 13:34–35 Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Kasih selalu membutuhkan “orang lain” sebagai objek; kasih tidak bisa tinggal di dalam dirinya sendiri, dan itu adalah bagian dari apa yang membuat kasih menjadi karunia Allah yang terbesar.
Perbuatan yang di tulis oleh rasul Yakobus adalah perbuatan baik yang berlandaskan kasih kepada Tuhan dan sesama. Setiap orang yang dipilih Allah dikaruniai iman, pengaharapan dan kasih, karena itu iman dan kasih tidak dapat dipisahkan. Mereka yang mengaku beriman tetapi tidak mau melakukan perbuatan yang baik, yang sesuai dengan perintah Allah adalah orang hanya dengan mulutnya percaya, tetapi bukan dengan hatinya.
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: ”Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: ”Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Yakobus 2:17-18
Pagi ini kita membaca bahwa kasih adalah inti dari karakter Allah dan inti dari kehidupan Kristen. Hukum Kristus adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kasih menanamkan semua yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dan harus tertanam dalam semua yang kita lakukan. “Kasih tidak berkesudahan” (1 Korintus 13:8), dan tidak akan pernah berhenti. Karena itu, perbuatan kasih dalam hidup kita di dunia adalah lebih penting untuk dilakukan daripada iman dan harapan yang sudah kita punyai.
“Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” Ibrani 10: 22-24
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1:13-15
Ananias menerima hukuman Tuhan
Di antara orang Kristen, ada yang percaya bahwa karena Tuhan berdaulat dan menentukan apa saja yang terjadi di dunia, Tuhan jugalah yang memungkinkan kejatuhan mereka dalam dosa. Tetapi, jangan sampai kita berbicara demikian. Sangat buruk berbuat dosa; tetapi jauh lebih buruk, ketika kita telah melakukan kesalahan, untuk menyalahkan Tuhan, dan mengatakan bahwa membuat manusia jatuh dalam dosa adalah hak-Nya. Mereka yang menyalahkan dosa-dosa mereka di dunia, atau yang berpura-pura berada di bawah keadaan yang sudah ditetapkan Tuhan untuk berbuat dosa, secara tidak langsung menyatakan bahwa Tuhan yang salah, seolah-olah Dia adalah penyebab dosa.
Mengenai apa yang terjadi di taman Eden, ada orang Kristen yang merasa bahwa ketika Adam dan Hawa jatuh pada saat pencobaan, Tuhan membiarkan adanya tekanan besar pada mereka sehingga mereka memilih jalan yang buruk, dan membuat mereka melakukan kejahatan. Itu terjadi agar rencana Tuhan terwujudkan. Tetapi, ini tidak benar. Meskipun rencana Tuhan harus terjadi, dan karena itu mereka berusaha untuk menyalahkan Tuhan, kesalahan mereka harus sepenuhnya ditanggung oleh diri mereka sendiri. Manusia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, sekalipun ia menolak tanggung jawabnya, dan sekalipun ia tidak akan sanggup menerima hukumannya. Tuhan adalah mahasuci, dan Ia menuntut manusia ciptaan-Nya untuk tidak melalukan apa yang cemar.
Pengakuan Westminster Bab 3 Poin1 menyatakan bahwa Allah, dari kekal, telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi sebagai penyebab primer. Ia mencapai tujuan-Nya melalui rencana dan kehendak-Nya sendiri yang berhikmat sempurna dan mahakudus, dengan bebas dan tidak dapat diubah-ubah. Namun, Allah tidak menjadi penyebab dosa, karena Ia tidak menghancurkan kehendak manusia, dan Ia tidak menghilangkan kebebasan manusia atau adanya sifat kebetulan dan sebab-sebab sekunder dari munculnya dosa.
Dari apa yang ditulis raul Yakobus di atas, kita membaca bahwa Allah bukanlah pencipta dosa siapa pun. Jika ada manusia yang melakukan penipuan, penganiayaan, atau ketidakadilan dan dosa apa pun terhadap orang lain, Allah tidak bisa dituntut atas hal-hal itu. Dan dosa apa pun yang membuat manusia terprovokasi melalui keadaan, pencobaan, kesempatan dan penderitaan yang mereka alami, Tuhan bukanlah penyebabnya. Lebih dari itu, jika manusia merasa tidak dapat menolak dosa, atau terpaksa berbuat dosa, atau dengan sengaja berbuat dosa, itu bukanlah karena Tuhan tidak menghendaki mereka untuk berjuang melawan dosa. Sekalipun ada kejadian bahwa orang berbuat dosa dengan maksud yang baik, pada hakikatnya semua dosa adalah dosa yang membutuhkan pertobatan dan pengampunan.
Sebagian orang Kristen menyimpulkan bahwa, karena manusia tersesat dalam dosa dan tidak mampu dari diri mereka sendiri untuk bertobat dan percaya, adalah keliru untuk mengajar mereka untuk memikul tanggung jawab atas hidupnya. Karena tidak dapat bertanggung jawab atas hidupnya, mereka hanya bisa bergantung pada keyakinan bahwa mereka adalah orang yang sudah dipilih sekalipun tidak mempunyai hidup yang bertanggung jawab kepada Tuhan. Ini adalah sebuah penalaran melingkar dalam hidup orang Kristen yang tidak mau memikirkan dosanya.
Yakobus menulis dalam ayat di atas agar jangan kita berkata, ketika kita tergoda untuk mengambil jalan yang jahat, atau melakukan hal yang jahat: “Saya dipaksa Allah agar berbuat dosa”. Semua kejahatan moral disebabkan oleh suatu kekacauan pada orang yang bertanggung jawab atas kejahatan itu, karena keinginan mereka akan kemasyhuran, harta atau kekuasaan, atau kenyamanan (bandingkan dengan Tujuh Dosa Yang Membinasakan). Perlu dicatat bahwa orang bisa juga melakukan dosa karena keinginan diri sendiri untuk terlihat sebagai orang yang taat kepada Allah. Selain kesombongan dan kepalsuan orang Farisi yang sering dikritik Yesus , adakah contoh lain di Alkitab tentang hal ini?
Di gereja Kristen mula – mula di Yerusalem, orang-orang percaya menjual tanah atau harta mereka yang berlebih dan menyumbangkan uangnya sehingga tidak ada yang kelaparan. Ananias dan istrinya, Safira, juga menjual sebidang tanah dan menyumbangkan hasilnya kepada gereja. Mereka mengaku sudah menyumbangkan 100 persen dari hasil penjualan tanah, tetapi mereka sebenarnya menyimpan sebagian dari hasil penjualan untuk diri mereka. Rasul Petrus, melalui wahyu dari Roh Kudus, menegur Ananias atas ketidakjujurannya. Ananias, mendengar ini, segera jatuh mati. Tiga jam kemudian, istri Ananias, Safira masuk, tidak tahu apa yang terjadi. Petrus bertanya apakah jumlah yang mereka sumbangkan adalah harga penuh tanah. “Ya, itu harganya,” dia berbohong. Sama seperti suaminya, dia langsung jatuh mati. Mengapa mereka berbohong dalam usaha menyokong gereja dan kemudian menerima hukuman Tuhan?
Yakobus 1: 14 menyatakan kepada kita di mana letak penyebab sebenarnya dari kejahatan, dan di mana kesalahan harus ditimpakan. Seperti Ananias dan Safira, setiap orang dicobai oleh keinginan diri sendiri ketika ia diseret oleh nafsunya sendiri, dan dibujuk. Dalam tulisan Alkitab lain, iblis disebut si penggoda, dan hal-hal lain kadang-kadang bisa menggoda kita; tetapi baik iblis maupun orang atau benda lain mana pun tidak boleh dipersalahkan untuk menutupi kesalahan kita sendiri; karena sesungguhnya kejahatan dan pencobaan yang asli ada di dalam hati kita sendiri. Bahan yang mudah terbakar ada di dalam diri kita, dan kita pelihara, meskipun nyala api dapat diledakkan oleh beberapa penyebab sekunder dari luar.
Pagi ini, kita dapat mengamati kuasa dan kelicikan dosa. Orang berbuat dosa yang bisa membinasakan karena dibujuk dan disanjung untuk kehancuran mereka sendiri. Mereka mungkin berbuat dosa karena tujuan yang baik, seperti untuk mendukung gereja atau keluarga. Semua tindakan dosa manusia akan membenarkan Tuhan ketika Ia memberikan penghukuman kepada mereka, bahwa mereka menghancurkan diri mereka sendiri. Tuhan menuntut tanggung jawab setiap orang, Kristen dan Non-Kristen, atas cara hidup, moralitas, dan apa yang diperbuat mereka selama hidup di dunia. Tuhan tidak pernah berubah, dari awal sampai sekarang. Satu hal yang memberi harapan kepada umat manusia adalah janji Tuhan untuk mengampuni mereka yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16
Banyak orang Kristen yang mempertanyakan manfaat perbuatan baik. Sekalipun ayat di atas adalah perintah Yesus yang tidak terlalu sulit dimengerti, ada pandangan negatif sebagian orang Kristen yang menyatakan bahwa perbuatan baik manusia adalah penyebab kesombongan dan bisa menyeret manusia ke arah pandangan pelagianisme, yang mengajarkan bahwa perbuatan baik adalah perlu untuk mendukung keselamatan. Selain itu, ada juga orang yang mengajarkan sebuah “paradox” yang berbunyi “satu-satunya perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh orang Kristen adalah menyadari bahwa ia adalah orang yang tidak layak di hadapan Tuhan, dan karena itu ia tidak dapat melakukan apa yang baik”. Sudah tentu ajaran-ajaran yang bernada negatif ini bisa membuat orang Kristen segan untuk menjalankan perintah Yesus di atas.
Pembahasan di bawah ini diambil dari Pengakuan Westminster Bab XVI tentang perbuatan baik. Ada 7 Poin yang menjelaskan peran perbuatan baik manusia, baik mereka yang sudah lahir baru maupun mereka yang tidak termasuk orang beriman. Kita bisa melihat bahwa perbuatan baik manusia adalah sesuatu yang dikehendaki Tuhan di antara semua manusia ciptaan-Nya. Tetapi, tidak semua perbuatan baik manusia diterima-Nya dengan senang hati.
Yang merupakan perbuatan baik hanya perbuatan yang Allah perintahkan dalam Firman-Nya yang kudus, dan bukannya hal-hal yang dilakukan tanpa menuruti perintah Firman, apa yang direka-reka oleh manusia, apa yang dilakukan karena fanatisme buta, atau perbuatan yang tidak baik tetapi dilakukan dengan dalih mengupayakan sesuatu yang baik.
Perbuatan baik itu, yang dilakukan dalam ketaatan pada perintah-perintah Allah, adalah buah dan bukti iman yang sejati dan hidup. Olehnya orang percaya menunjukkan rasa terima kasih, menguatkan keyakinan mereka, membangun saudara-saudaranya, menjadikan lebih indah apa yang diakui mereka tentang Injil, menyumbat mulut kaum lawan, dan memuliakan Allah. Orang percaya itu buatan Allah, yang diciptakan dalam Yesus Kristus dengan maksud supaya umat percaya beroleh buah yang membawa pada kekudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.
Kemampuan umat percaya untuk melakukan perbuatan baik sama sekali tidak datang dari mereka sendiri, tetapi seluruhnya dari Roh Kristus. Supaya mereka dibuat mampu, adalah perlu bahwa, selain karunia-karunia yang telah mereka terima, pengaruh nyata Roh Kudus itu ada untuk mengerjakan dalam diri mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Namun, seharusnya hal ini tidak menyebabkan mereka menjadi lalai, seakan-akan mereka tidak terikat untuk menunaikan tugas kewajiban apa pun kecuali atas dorongan khusus dari Roh. Sebaliknya, mereka harus berupaya membangkitkan karunia Allah yang ada dalam diri mereka.
Sekalipun umat percaya telah mencapai tingkat ketaatan tertinggi yang dapat dijangkau dalam kehidupan ini, mereka sama sekali tidak mampu menghasilkan amal yang berlebih dan berbuat baik melebihi tuntutan Allah. Mereka malah ketinggalan dalam banyak hal yang sesungguhnya wajib mereka laksanakan sekalipun tidak menyadarinya.
Kita tidak layak memperoleh pengampunan dosa atau hidup kekal dari Allah karena perbuatan yang baik apa pun, karena perbuatan kita itu sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang, dan karena jarak tidak terhingga yang ada antara kita dengan Allah. Alasannya, tidak mungkin melalui perbuatan itu kita membawa manfaat bagi Dia atau melunasi utang dosa kita yang sudah- sudah. Sebaliknya, apabila kita telah berbuat baik sedapat mungkin, itu tidak berguna. Lagi pula, sejauh perbuatan itu baik, datangnya dari Roh-Nya, dan sejauh merupakan hasil upaya kita, perbuatan itu tercemar dan tercampur dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan begitu rupa, sehingga tidak mungkin perbuatan itu bertahan di hadapan pengadilan Allah yang keras.
Meskipun demikian, karena orang-orang percaya sendiri telah diterima oleh karena Kristus, maka juga perbuatan baik mereka akan diterima di dalam Dia. Bukan seolah-olah perbuatan dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak pantas ditegur dalam pandangan Allah, tetapi Dia memandangnya dalam diri Anak- Nya, dan karena itu berkenan menerima dan mengganjar perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, meskipun disertai banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan.
Adapun perbuatan yang dilakukan manusia yang tidak dilahirkan kembali, dapat saja sesuai dengan perintah Allah dan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain. Akan tetapi, perbuatan itu tidak keluar dari hati yang disucikan oleh iman dan tidak dilakukan dengan cara yang benar seturut Firman, tidak juga tertuju ke tujuan yang tepat, yaitu kemuliaan Allah. Karena itu, perbuatan itu penuh dosa dan tidak mungkin berkenan kepada Allah atau membuat seorang manusia layak menerima anugerah Allah. Namun, kalau orang-orang itu mengabaikan kesempatan untuk berbuat baik, mereka menambah dosa mereka dan karena itu tidak mungkin menyenangkan Allah.
Setelah membaca apa yang diakui gereja sampai saat ini, bagaimana pendapat Anda? Masihkah Anda merasa segan untuk berbuat baik untuk menyenangkan Tuhan dan sesama? Jika Anda merasa sudah diselamatkan, Tuhan akan menerima perbuatan baik Anda jika itu didasarkan pada firman-Nya, sekalipun perbuatan Anda tidak sempurna. Jika Anda belum percaya kepada Kristus, perbuatan baik yang bagaimana pun tidak akan membuat Anda bebas dari murka Tuhan. Walaupun demikian, berbuat baik adalah lebih baik dari pada bersikap sinis dan tidak berbuat apa-apa, karena sebagai ciptaan-Nya setiap manusia harus bekerja untuk membawa manfaat bagi dirinya dan orang lain. Sejarah membuktikan bahwa siapa pun yang tidak berbuat apa yang dikehendaki Tuhan akan menambahkan dosa dan hukuman pada dirinya sendiri. Mereka yang mengajarkan hidup Kristen yang bebas dari keharusan untuk berbuat baik adalah guru-guru palsu yang melakukan perbuatan yang tidak baik dan yang tidak memuliakan Tuhan.
”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 15
Di sepanjang Kitab Suci, Allah memanggil orang berdosa untuk bertobat dan percaya. Pertobatan dan iman adalah tanggapan yang diperlukan terhadap janji-janji Allah dan pesan Injil. Iman adalah memercayai Allah yang dijanjikan dan merangkul Tuhan Yesus Kristus sebagaimana Ia ditawarkan secara cuma-cuma kepada orang berdosa dalam Injil. Dari catatan paling awal tentang karya Allah dalam sejarah penebusan, kita menemukan bahwa iman adalah pusat kehidupan umat Allah.
Dari ayat di atas, kita dapat melihat bahwa iman dan pertobatan adalah adalah tindakan yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan. Saat orang percaya hidup dengan iman dan pertobatan, mereka tetap berada di jalan sempit yang menuntun pada kehidupan. Ketekunan mereka dalam iman Kristen ditopang oleh anugerah Allah yang memelihara, membekali mereka dengan pembaharuan Roh Kudus untuk iman dan pertobatan yang dituntut oleh Allah.
Saat Abraham percaya, dia dibenarkan di hadapan Allah. Imannya bukanlah lompatan buta atau harapan yang tidak rasional. Sebaliknya, Kitab Suci mengungkapkan bahwa iman Abraham didasarkan pada kepastian janji-janji Allah dan pertimbangan yang masuk akal tentang karakter Allah (Ibrani 11:19). Iman dan akal tidak bertentangan satu sama lain (Ibrani 11:1). Iman yang dengannya Allah membenarkan umat-Nya adalah iman yang sama yang dengannya mereka dikuduskan saat mereka melanjutkan hidup Kristen. Iman memiliki berbagai tindakan yang dengannya ia dijalankan. Dalam pembenaran, iman bersifat pasif – yaitu, iman yang membenarkan hanya menerima.
Iman yang membenarkan adalah iman yang menerima dan bersandar pada Yesus Kristus saja sebagaimana Dia ditawarkan kepada kita dalam Injil. Iman bukanlah pekerjaan yang kita lakukan yang dengannya kita pantas atau bisa memperoleh kesalehan. Iman itu sendiri tidak membuktikan adanya kebenaran; itu adalah tangan terbuka yang menerima kebenaran Kristus yang menyelamatkan. Hakikat kehidupan Kristiani adalah “iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6). Kitab Suci mengajarkan bahwa mereka yang bebar-benar diberi karunia iman yang menyelamatkan oleh Allah akan tetap percaya kepada Kristus sampai akhir hayatnya karena Ia memelihara mereka dalam iman (Filipi 1:6).
Kitab Suci juga menyoroti peran pertobatan dalam kehidupan orang percaya. Pertobatan adalah tindakan manusia yang berpaling dari dosa kepada Allah dengan harapan menerima belas kasihan yang Dia sediakan dengan cuma-cuma di dalam Kristus. Doa pertobatan Daud dalam Mazmur 51 mencontohkan sifat pertobatan sejati dalam kehidupan orang percaya. Perumpamaan tentang anak yang hilang mengajarkan bahwa pertobatan mencakup pemulihan kepekaan rohani (Lukas 15:17). Rasul Paulus membedakan antara pertobatan sejati dan pertobatan palsu dalam 2 Korintus 7:10,
“Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.”
Dengan demikian, tidak semua ducacita dan penyesalan manusia akan menuju ke arah pengampunan Tuhan. Banyak dukacita dan penyesalan manusia yang justru membuat mereka membenci Tuhan dan sesamanya; dan karena mereka mengingkari kedaulatan Tuhan, sering berakibat fatal secara rohani maupun jasmani.
Pertobatan yang menyelamatkan, atau pertobatan untuk hidup baru, didorong oleh penyesalan (kesedihan sejati karena menyinggung Tuhan) atas dosa di hadapan Allah yang baik dan kudus bersamaan dengan pengakuan bahwa Dia telah menyediakan jalan pengampunan melalui pengorbanan Kristus. Seperti halnya iman, pertobatan adalah anugerah Allah yang menyelamatkan. Manusia tidak dapat bertobat kepada Tuhan, jika ia tidak diberi pengenalan akan Tuhan. Pertobatan kepada kehidupan adalah anugerah yang menyelamatkan, di mana orang berdosa, dari kesadaran yang sebenarnya akan dosanya dan pemahaman akan belas kasihan dari Allah di dalam Kristus, dengan kesedihan dan kebencian akan dosanya, berpaling kepada Allah, dengan tujuan penuh, usaha keras, dan ketaatan baru.
Seperti halnya iman, pertobatan memiliki tempat yang terus-menerus dalam kehidupan orang Kristen. Orang percaya tidak hanya bertobat dari dosa-dosa mereka pada awal hidup baru mereka, tetapi juga bertobat dari dosa-dosa baru yang terjadi sesudahnya. Itu karena manusia yang sudah diselamatkan adalah manusia yang belum sempurna selama hidup di dunia. Tidak mengheranlan, Martin Luther pernah menyatakan, “Tuhan kita Yesus Kristus menghendaki seluruh hidup orang percaya menjadi satu pertobatan.”
Kabar baik dari Injil Kristus adalah bahwa Allah membenarkan mereka yang menerima janji-Nya hanya dengan iman. Bagaimana sesuatu yang abstrak seperti itu bisa diterima manusia? Hanya karena kasih karunia, Allah Bapa menganugerahkan kebenaran Yesus Kristus kepada orang percaya. Melalui iman, orang percaya dipersatukan dengan Kristus dan mengambil bagian dalam kebenaran Kristus, yang terdiri dari ketaatan-Nya yang sempurna terhadap semua yang dituntut oleh hukum Allah. Karena itu manusia bisa dibenarkan sekalipun tidak bisa taat kepada hukum Allah secara sempurna.
Banyak yang memahami istilah pertobatan (bahasa Ibrani: teshuva) sebagai “berpaling dari dosa.” Menyesali dosa dan berpaling darinya berkaitan dengan pertobatan, tetapi bukan arti sebenarnya dari kata tersebut. Definisi alkitabiah singkat tentang pertobatan adalah “perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan tindakan.” Alkitab memang memberi tahu kita bahwa pertobatan sejati akan menghasilkan perubahan tindakan (Lukas 3:8–14; Kisah Para Rasul 3:19). Bertobat bukan hanya dalam pikiran, tapi harus dinyatakan dalam tindakan. Dalam meringkas pelayanannya, Paulus menyatakan, “mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” (Kisah Para Rasul 26:20).
Pertobatan melibatkan pengakuan bahwa kita telah salah berpikir di masa lalu dan memutuskan untuk berpikir secara benar di masa depan. Orang yang bertobat memiliki “pikiran kedua” tentang pola pikir yang dianut sebelumnya. Ada perubahan watak dan cara berpikir baru tentang Tuhan, tentang dosa, tentang kekudusan, dan tentang melakukan kehendak Tuhan. Pertobatan sejati didorong oleh dukacita yang dikehendaki Allah, dan itu menghasilkan keselamatan.
Pertobatan bukanlah pekerjaan yang bisa kita lakukan untuk memperoleh keselamatan. Tidak ada yang bisa bertobat dan datang kepada Tuhan kecuali Tuhan menarik orang itu kepada-Nya (Yohanes 6:44). Pertobatan adalah sesuatu yang Allah berikan—itu hanya mungkin karena kasih karunia-Nya (Kisah Para Rasul 5:31; 11:18). Tidak ada orang yang bisa bertobat kecuali Tuhan mendorong ke arah pertobatan. Semua aspek keselamatan, termasuk pertobatan dan iman, adalah hasil dari Allah yang menarik kita, membuka mata kita, dan mengubah hati kita. Kepanjangsabaran Allah menuntun kita pada pertobatan (2 Petrus 3:9), demikian pula kebaikan-Nya (Roma 2:4).
Sementara pertobatan bukanlah pekerjaan manusia yang menghasilkan keselamatan, pertobatan untuk keselamatan memang menghasilkan perbuatan. Tidak mungkin untuk benar-benar mengubah pikiran Anda tanpa mengubah tindakan Anda dengan cara tertentu. Dalam Alkitab, pertobatan menghasilkan perubahan perilaku. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis memanggil orang-orang untuk “menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:8). Seseorang yang benar-benar telah bertobat dari dosa dan menjalankan iman kepada Kristus akan memberikan bukti kehidupan yang diubahkan (2 Korintus 5:17; Galatia 5:19–23; Yakobus 2:14–26). Pertobatan Zakheus adalah salah satu contoh yang ada dalam Alkitab (Lukas 19).
“Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lukas 19: 8
Pagi ini firman Tuhan menyatakan bahwa pertobatan diperlukan untuk keselamatan. Pertobatan yang datang dari Tuhan pasti akan mengubah pikiran Anda tentang dosa Anda – dosa bukan lagi sesuatu untuk dipermainkan; itu adalah sesuatu yang harus ditinggalkan saat Anda “melarikan diri dari murka yang akan datang” (Matius 3:7). Itu juga mengubah pikiran Anda tentang Yesus Kristus – Dia tidak lagi dicemooh, diremehkan, atau diabaikan; Dia adalah Juruselamat untuk dilekati; Dia adalah Tuhan yang harus disembah dan dipuja d dalam hidup kita.
“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Efesus 1:7-8
Adalah suatu kenyataan, terutama jika Anda berada dalam posisi kepemimpinan, Anda akan senang mendengarkan komentar orang lain tentang kekuatan dan kemampuan Anda. Tapi mungkin Anda kurang senang mendengar kritik orang lain tentang kelemahan Anda. Dalam hal ini, ada nasihat untuk para pemimpin agar mereka mempunyai “muka yang tebal”, alias tahan kritik dan kecaman; karena semakin mereka dikenal publik, sepertinya lebih banyak perhatian orang lain yang menyoroti kesalahan dan kelemahan mereka.
Sebagai orang Kristen, sebenarnya kita adalah orang yang seharusnya sangat menyadari kekurangan kita di hadapan Tuhan. Tetapi, dalam hidup sehari-hari kita mungkin sering berfokus pada hal-hal yang kurang baik dalam hidup kita. Kita menganggap Tuhan pasti tidak senang karena kita masih belum bisa menjalankan semua perintah-Nya dengan benar. Kita menganggap bahwa Tuhan berfokus pada kesalahan kita sama seperti kita, dan ini bisa membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang.
Pada kenyataannya, sudut pandang ini tidak sesuai dengan dasar kekristenan, maupun dengan pribadi Tuhan yang kita ikuti. Allah membenci dosa. Dia membencinya karena Dia membenci apa yang bertentangan dengan kebenaran, keindahan, kehendak kasih-Nya dan keinginan-Nya untuk melindungi ciptaan-Nya. Namun kebencian Allah terhadap dosa hanyalah sebagian dari karakter-Nya. Bagian lainnya, tentu saja, adalah kasih-Nya yang tak tertandingi bagi kita – yang begitu dalam dan meliputi segalanya, sehingga Dia mau tidak mau membuat jalan bagi kita untuk lepas dari belenggu dosa.
Ayat di atas beralih ke pembayaran yang dilakukan Yesus bagi kita “melalui darahnya”. Paulus mengacu pada kematian Kristus di kayu salib sebagai pembayaran yang cukup untuk dosa semua orang yang percaya. Apa yang dicakup oleh penebusan ini? Membayar untuk membebaskan kita dari hukuman kekal dan kekuatan duniawi dari dosa-dosa kita sendiri. Kebebasan ini bukanlah hal mudah dicapai karena harus dibayar dengan kematian Kristus. Dengan demikian, bagi orang beriman harga tertinggi telah dibayar. Ini adalah kasih karunia: kemampuan kita untuk menjadi anak Allah adalah karena Allah sendiri memberikan secara cuma-cuma sebuah jalan untuk mengenal Dia dengan iman.
Anugerah Tuhan disebutkan dalam kaitannya dengan uang dengan gagasan bahwa anugerah itu sangat berharga. Anugerah adalah apa yang dibutuhkan untuk menjadikan manusia putra dan putri Allah. Semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan-Nya (Roma 3:23). Hanya melalui Yesus kita memiliki jalan (Yohanes 14:6) untuk memperoleh keselamatan (Kisah Para Rasul 4:12).
Sementara kita mengira kita mengetahui makna di balik kematian Yesus, ujian iman yang sebenarnya datang dengan tanggapan kita terhadap dosa. Jika kita hanya sibuk dengan keburukannya, menundukkan kepala dalam kecemasan dan rasa malu, kemungkinan besar kita tidak akan menyerap kebenaran bahwa kita lebih dari sekadar anak yang hilang. Kita lupa bahwa kita adalah anak yang hilang yang sudah kembali kepada ayahnya, seorang anak yang sudah mengakui segala dosanya dan disambut dengan tangan terbuka oleh sang ayah.
Jika Kristus benar-benar telah mengambil dosa-dosa kita, maka penyesalan akan dosa lama yang terus-terusan bukanlah hal yang menyenangkan Tuhan. Ketika kita merasa perlu untuk menghukum diri kita sendiri, kita sebenarnya meremehkan pengorbanan Yesus – bahkan meninggikan kemampuan kita yang dirasakan perlu untuk menebus diri kita sendiri atau untuk menyelesaikan misi penyelamatan-Nya. Kitab Suci berkata, “Tanpa iman, tidak mungkin menyenangkan Allah.” (Ibrani 11:6). Jadi kita harus bisa mengizinkan diri kita sendiri untuk melepaskan tekanan batin kita, dan kita bisa menyerah untuk percaya bahwa pekerjaan Yesus sudah genap.
Penyerahan diri inilah yang membukakan kemungkinan bagi kita untuk mengalami apa yang menjadi tujuan kita: kedamaian dalam Tuhan. “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”” (Galatia 5:1). Kita harus mengingat kenyataan ini dan belajar mempercayainya makin hari makin dalam. Daripada menggunakan kesalahan kita sebagai kesempatan untuk menghukum diri kita sendiri, mungkin kita dapat mengingatnya sebagai undangan untuk tidak hanya menjalankan iman kita, tetapi juga untuk memahami kasih Allah yang kuat. Memang, dengan habisnya gelap terbitlah terang.
Tuhan tidak mengidentifikasi kita dengan dosa-dosa kita. Dia melihat hal-hal sebaliknya – sementara kita mungkin memperbesar kesalahan kita, Tuhan mengagungkan keindahan yang diberikan kepada kita. Dia tidak terintimidasi oleh kelemahan kita, seperti yang sering kita alami. Ketika kita merasa bersalah dan menganggap Tuhan dengan tegas menunjukkan kesalahan kita, mungkin kita dapat mengenali bahwa itu sebenarnya hanya suara kita sendiri atau suara musuh. Sebaliknya, kita dapat memilih untuk mendengarkan suara-Nya yang lebih tenang yang dengan lembut mengulangi, “Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus” (Roma 8:1). Kita harus dapat mengenali bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih sayang.
Apakah ini berarti kita harus mengabaikan dosa-dosa kita? Sama sekali tidak. Sebagian orang Kristen memang sering mendengungkan ajaran bahwa kita tidak perlu berusaha untuk memperbaiki cara hidup kita yang salah. Sebaliknya, ketika kita melihat masalah dalam hidup kita, kita diminta untuk menanggapinya dengan serius, untuk menghadirkannya kepada Roh Kudus yang mampu membantu kita, mengajar kita dan menumbuhkan kita menjadi serupa dengan-Nya. Lagi pula, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9).
Kita harus mengerti bahwa Tuhan memeluk kita terlepas dari beratnya dosa kita, sehingga kita tidak mundur karena malu, tetapi datang kepada-Nya dengan perasaan damai. Kita harus memahami bahwa Tuhan tidak mencari-cari dosa kita, dan karena itu kita juga tidak seharusnya melakukan hal yang sama. Jiwa kita bisa merasa sangat lelah dengan beban yang kita bebankan pada diri kita sendiri. Kita mungkin bosan dengan kritik dan penilaian atas diri sendiri. Untuk bisa hidup baik, kita mungkin mencoba memotivasi diri sendiri dengan rasa takut dan malu – gagasan bahwa kita adalah orang jahat sampai kita berubah. Tapi taktik itu tidak akan bisa efektif.
Tetap berada dalam rasa malu membuat kita terjebak. Itu seperti Adam dan Hawa yang menyembunyikan diri setelah melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah terlarang. Dan Tuhan tahu hal ini. Jadi Dia memilih untuk mencari dan memotivasi kita dengan memberi kita pengetahuan tentang siapa kita sebenarnya, dan kesadaran akan kebaikan-Nya yang tak bersyarat. Dia tahu bahwa hanya kasih-Nya yang yang bisa memberi kita kesembuhan dan kemampuan untuk menyadari bahaya dosa; sehingga kita mau mengasihi diri kita sendiri dengan menghindari dosa. Roh Kudus memberi kita kekuatan untuk melepaskan diri dari ikatan dosa yang masih ada, dan kita bisa bergerak maju dengan harapan.
Pagi ini, ada kebenaran yang berharga dan membebaskan yang Tuhan ingin kita terima di lubuk hati kita. Dia sudah menerima kita, anak yang hilang, kembali ke dalam pelukan-Nya. Artinya, Dia menganggap kita sebagai seorang anak yang tidak bercacat dan Dia senang dengan kita. Semoga kita bersedia menerima pesan ini. Semoga itu membawa kita lebih dekat kepada-Nya, dan berfungsi sebagai air yang sejuk bagi kita yang dulu hilang dan sekarang kembali menjadi anak-Nya.
“Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Lukas 13:24