Penulis: Dr. Andreas Nataatmadja
Tuhan harus makin besar, tetapi kita harus makin kecil
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30

Ayat di atas mungkin cukup dikenal, tetapi agaknya tidak terlalu sering dikhotbahkan di gereja. Perlu diketahui, ayat itu menjelaskan dua aspek kehidupan orang Kristen:
- Hubungan antara dua tokoh
- Hubungan umat Kristen dengan Tuhan
Ayat di atas adalah tentang hubungan vertikal dan bukan meengenai hubungan horisontal manusia, yaitu hubungan antar manusia secara umum.
Yohanes Pembaptis datang untuk mengumpulkan orang bagi Mesias yang akan datang, yaitu Yesus (Yohanes 1:23; Yohanes 3:28). Seiring waktu, ketika Yesus sudah dikenal, lebih banyak orang mengikuti Dia daripada Yohanes. Ini sama sekali tidak menunjukkan adanya suatu masalah. Tidak ada yang salah dengan pesan Yohanes, atau pelayanannya. Tujuan dia berkhotbah adalah untuk mendorong orang untuk mengikuti Mesias. Jadi, ketika Yesus nenjadi lebih terkenal, dia justru senang. Di ayat 29, dia membuat analogi tentang seorang sahabat dari pengantin pria di pesta pernikahan. Sahabat itu merasakan kegembiraan ketika pengantin pria mendapat perhatian. Tidak ada iri hati, tidak ada penyesalan.
Yohanes Pembaptis juga tahu bahwa orang tidak dapat mengikuti dia dan Yesus secara bersamaan. Jika pesannya diturut pengikutnya, mereka pindah dari pelayanannya, dan menjadi murid Yesus. Ini adalah situasi yang sama yang dialami oleh para pemimpin Kristen saat ini. Tujuan utama penginjilan, pengajaran dan khotbah seharunya untuk mengajak masyarakat untuk mengikut Yesus, bukan untuk memenuhi gereja mereka. Dan pada titik tertentu, orang-orang itu harus tumbuh dan menjadi dewasa dalam iman. Inti dari pelayanan bukanlah untuk membuat pendeta dan gerejanya terlihat baik, atau membuat pendeta dan gereja lain terlihat buruk, tetapi untuk membantu sesama manusia, siapa pun juga, dalam kerohanian mereka.
Dengan meniru jejak Yohanes, pemimpin Kristen yang baik tidak akan menjelek-jelekkan orang atau gereja yang berlainan teologinya. Seorang Kristen sejati akan percaya bahwa Tuhanlah yang harus makin dipermuliakan, dan bukan diri sendiri atau pengajarannya. Dalam segala tindak tanduk, cara mengajar dan memimpin, pemimpin Kristen sejati tidak akan meninggikan egonya dan menganggap semua orang yang berbeda teologinya adalah keliru. Ini tentu saja berbeda dengan kenyataannya, di mana banyak tokoh-tokoh gereja di saat ini sering saling menyerang dan menista di berbagai media elektronik. Mereka lupa bahwa membesarkan nama Tuhan dan menggembalakan domba-Nya adalah tugas utama mereka.
Sebenarnya, Yohanes Pembaptis lebih tepat disebut, Yohanes Saksi. Dari saat konsepsinya, dia bersaksi tentang Mesias. Malaikat mengumumkan bahwa Yohanes akan dipenuhi dengan Roh Kudus ketika dia masih dalam kandungan, dan dia akan memimpin orang Israel kembali kepada Tuhan, Allah mereka. Dia adalah pendahulu Yesus yang dinubuatkan, yang datang dalam roh dan kuasa Elia. Ayah Yohanes mengumumkan bahwa Yohanes akan menjadi seorang nabi besar dan membawa umat Allah ke arah pengetahuan tentang keselamatan melalui pengampunan dosa mereka.
Dalam pelayanannya, Yohanes memberikan kesaksian tentang pribadi dan karya Kristus. Seperti Yohanes, setiap orang Kristen sejati yang sudah dikaruniai Roh Kudus patutlah disebut sebagai saksi Kristus. Kita menjadi saksi-Nya di rumah, di sekolah, di kantor dan di mana saja, dan mau mengajak orang lain ke jalan yang benar dengan kesabaran dan kelemahlembutan. Dalam kita bersaksi kita harus menghindari debat terbuka, karena hal itu sama sekali tidak berguna untuk kemuliaan Tuhan, dan malah mengacaukan jemaat gereja yang mendengarnya (2 Timotius 2: 14). Kita harus dengan sabar dan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat (2 Timotius 3: 24-25). Kita harus memimpin mereka sehingga mereka rajin mencari kebenaran firman Tuhan. Kita menempatkan diri kita sebagai hamba Kristus.
Jika kita mempertimbangkan cara Yohanes memberikan kesaksian tentang Kristus, kita memahami mengapa dia menulis, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Meskipun Yohanes mendapat pujian besar sebagai nabi Allah setelah 400 tahun keheningan kenabian, Yohanes tidak segan untuk menyatakan bahwa Yesus harus menjadi semakin penting, sementara ia menjadi semakin tidak penting. Tidak ada nabi yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis, tetapi dia menyatakan bahwa dirinya tidak cukup layak untuk membawa kasut Yesus, untuk siapa dia bersaksi.
Yohanes mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias yang diurapi, setara dengan Bapa. Dia memproklamasikan Dia sebagai Dia yang kekal, yang datang setelah dia dan sudah ada sebelum dia. Yohanes juga mengidentifikasi Yesus sebagai Dia yang diutus untuk menghalau kegelapan rohani dan yang datang sebagai Tuhan dari surga.
Baik Yohanes maupun para pengikut setianya harus sepakat bahwa Yesus, dan bukan Yohanes, adalah Manusia yang harus diikuti. Seandainya Yohanes tidak setia pada wahyu yang diterimanya, dia dapat membujuk para pengikutnya untuk menghormatinya lebih tinggi daripada Tuhan Yesus, tetapi Yohanes mengetahui kebenaran dan dia bersaksi, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.“
Seperti Yohanes, kita harus menahan godaan untuk menjadi hebat di hadapan orang lain, sedemikian rupa sehingga mengurangi pentingnya Kristus dan panggilan-Nya – agar setiap orang mau bertobat untuk menerima keselamatan. Kita juga tidak boleh mengabaikan berbagai perintah Yesus yang sudah diberikan kepada murid-murid-Nya, sebab kita tidaklah lebih tinggi dari mereka yang sudah dikuduskan sebelum kita. Jika mereka tunduk kepada perintah Yesus, kita pun harus demikian. Apa yang diperintahkan-Nya (yang sering dimulai dengan kata “hendaklah”) sering kali kita baca di Alkitab, tetapi karena berbagai alasan kita mungkin merasa segan untuk melakukannya. Yohanes mengingatkan kita: “Yesus harus bertambah penting dan berpengaruh dalam hidup saya, dan saya harus tunduk kepada perintah-Nya”.
Ketika kita mau memberikan Yesus tempat yang selayaknya dalam hidup kita, sebagai Raja kita, kita dapat yakin bahwa kita berada dalam kehendak Allah, dan dapat melayani tujuan-Nya dalam hidup kita. Di mana pun kita berada, apa pun pekerjaan kita, apa pun peran kita dalam Tubuh Kristus, dan betapapun luas atau kecilnya pelayanan kita – ketika Yesus menjadi pusat dalam setiap bidang kehidupan, kita harus mau berkata, “Peran Dia harus ditinggikan, tetapi peran saya harus direndahkan.” Jika kita dapat bersaksi tentang kebenaran ini, kita dapat yakin bahwa kita adalah umat-Nya yang sejati, yang berada di tempat yang tepat dan berada di pusat tujuan dan rencana-Nya bagi hidup kita.
“Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Filipi 2:2
Apakah Anda masih kehilangan kemuliaan Allah?
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24

Roma 3:23 adalah sebuah ayat yang sangat dikenal dalam mendalami iman Kristen. Mereka yang menolak iman Kristen biasanya menentang pernyataan bahwa semua orang sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan. Sebagian merasa bahwa jika mereka hidup sebagai “orang yang baik”, itu sudah cukup untuk menjamin keselamatan mereka sesudah meninggalkan dunia ini. Sebagian lagi mungkin berusaha berbuat baik untuk mendapatkan keselamatan di surga. Tetapi, ayat itu menyatakan semuanya sia-sia jika tidak melalui Kristus Yesus.
Ayat 23 sangat dalam artinya karena menyangkut hakikat manusia berdosa yang tidak dapat dengan usaha sendiri untuk memenuhi standar kesucian Allah. Walaupun demikian, ayat ini tidak boleh dibaca tanpa dilanjutkan dengan ayat 24, karena kedua ayat ini adalah sebuah kesatuan. Kedua ayat ini tidak boleh dibalik urutannya karena keduanya menunjukkan dua fase kehidupan orang Kristen: sebelum dan sesudah diselamatkan. Before and after. Dua keadaan akibat dari satu kejadian.
Manusia yang sudah ditebus oleh darah Kristus adalah manusia sudah lahir baru, menjadi ciptaan baru. Ini diulas oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Kata “jadi” merujuk kepada ayat 14-16 di mana Paulus memberitahu bahwa semua orang percaya telah mati bersama Kristus dan menjadi manusia baru yang layak di hadapan Allah. Paulus juga menulis hal yang serupa kepada jemaat di Efesus:
“dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” Kolose 1:12-14
Kehidupan kita yang dulunya diarahkan ke hal-hal duniawi; sekarang diarahkan ke hal-hal yang rohani. “Kelepasan dari kuasa kegelapan” adalah kematian atas dosa lama kita yang telah disalib bersama Kristus. Kita telah dikuburkan bersama-Nya, dan sama seperti Ia telah dibangkitkan oleh Allah Bapa, kita juga dibangkitkan untuk “hidup yang baru” (Roma 6:4). Kita sudah dilayakkan oleh darah Kristus sebagai anak-anak Allah karena dosa kita sudah dicuci bersih.
“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18
Di dalam kodrat lama kita, ada kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, kemalasan dan berbagai hal yang jahat, yang sering kita lakukan. Dalam kodrat yang diperbarui, semua hal yang dahulunya kita kasihi telah berlalu, terutama kasih akan diri-sendiri dan pembenaran diri dan promosi diri sendiri. Ciptaan yang baru menatap kepada Kristus, bukan menatap kepada diri sendiri. Semua hal yang lama telah mati, disalibkan bersama kodrat lama kita. Semua ini adalah satu proses yang terjadi pada saat seseorang menerima keselamatan yang tidak bisa dibalik lagi, kecuali jika seseorang yang belum benar-benar menjadi orang Kristen, kemudian kembali ke kodrat asalnya (Ibrani 6: 4-6), dan dengan demikian kehillangan kesempatan untuk diselamatkan.
Dengan berlalunya yang lama, “yang baru sudah datang”. Ini terhadi pada saat lahir baru. Hal-hal yang usang dan mati telah digantikan dengan hal-hal baru, yang penuh dengan kehidupan dan kemuliaan Allah. Jiwa yang baru lahir ini berkenan terhadap hal-hal ilahi dan membenci hal-hal duniawi serta berbau kedagingan. Tujuan, perasaan, keinginan, dan pengertian kita baru dan sangat berbeda dari yang lama. Itu seharusnya terjadi melalui pertobatan yang benar, yaitu saat dimulainya proses pengudusan dengan adanya kemampuan yang diberikan kepada kita untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan.
Apa yang terjadi pada saat lahir baru adalah dimulainya hidup baru di mana proses pengudusan bekerja melalui pekerjaan Roh Kudus, dan itu berlangsung terus sampai mati. Lalu bagaimana dengan orang Kristen yang masih terus berdosa? Ada perbedaan antara berdosa dan terus hidup dalam dosa. Tidak seorang pun yang dapat mencapai kesempurnaan tanpa dosa dalam kehidupan di dunia ini, namun orang Kristen sejati dikuduskan setiap hari, di mana kuasa dosa akan terasa semakin kecil dan kebencian akan dosa akan semakin besar. Ini bukan berarti hidup kekristenan kita akan semakin mudah dijalani! Karena kita makin sadar akan kelemahan kita, kita akan merasakan perjuangan berat seperti Paulus. Orang Kristen yang sejati tidak akan terus puas melihat “kesuksesan” nya dalam mengikuti Yesus, tetapi justu bisa berduka atas kegagalannya. Karena itu, ia akan makin bergantung kepada pertolongan dari Roh Kudus.
“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:19
Sebagai orang yang sudah layak di hadapan Allah, yaitu orang kudus, kita masih dapat berbuat berdosa, dan sebagian besar dosa kita mungkin secara tidak disengaja. Tetapi, karena proses pengudusan kita yang terus berlangsung, kita akan semakin sensitif atas dosa kita. Diri kita yang sudah lahir baru membenci dosa yang masih muncul, dan menyesalinya, bukan mengabaikannya seperti pada saat sebelum itu. Karena itu, semakin lama kita hidup sebagai orang pilihan, semakin keras kita berusaha untuk hidup baik, seperti seorang pelari maraton yang ingin menyelsaikan perlombaan dengan baik sekalipun kaki sudah terasa sangat sakit menjelang garis finis.
“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6
Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa menurut kodratnya semua orang sudah berdosa, tetapi tidak semua tetap tinggal dalam dosa. Mereka yang sudah menerima karunia keselamatan Kristus sudah menerima pengampunan atas semua dosa lamanya, dan karena itu tidak mau mengulanginya. Setiap orang Kristen sejati tidak mempunyai alasan untuk hidup dalam dosa lama. Mereka tidak dapat menolak untuk berbuat baik karena sudah disucikan Allah. Sebagai umat pilihan, mereka akan mati-matian melawan godaan dosa-dosa baru yang setiap hari muncul, dengan mempertahankan kesuciaan mereka sebagai mempelai Kristus melalui kekuatan yang sudah diberikan Tuhan, sampai saat berjumpa dengan Dia.
“Hai ssaudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”. Filipi 2:12a
Siapakah yang dapat melihat Allah?
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Matius 5: 8

Siapakah yang pernah melihat Allah? Tidak seorang pun. Walaupun demikian, Allah bisa menampakkan diri dalam bentuk yang bisa dilihat atau dirasakan manusia. Ini yang dalam teologi dinamakan teofani. Teofani merupakan manifestasi atau penjelmaan Allah di Alkitab, yang dapat diterima atau dirasakan oleh indera manusia. Makna yang paling tepat dari istilah teofani bisa dimengerti dari Alkitab, khususnya pada masa Perjanjian Lama di mana Allah menampakkan diri sehingga dapat dilihat oleh manusia, yang seringkali, walaupun tidak selalu, dalam bentuk manusia.
Allah yang merupakan Roh yang mahasuci tidak dapat dilihat oleh Musa yang bertemu dengan Dia dalam wujud api di semak-semak. Kita pun tidak dapat melihat-Nya sampai kita berjumpa dengan Dia muka dengan muka di surga. Lalu, bagaimana Yesus dalam ayat di atas menyebutkan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang suci hatinya karena ia bisa melihat Allah?
Syarat untuk bisa melihat Allah dan merasakan kehadirann-Nya adalah hati yang suci. Mengapa keadaan hati sangat penting dalam hubungan kita dengan Tuhan? Matius 15:18-19 menyebutkan bahwa apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Jadi apa yang kita pikirka, katakan atau perbuat, yang merupakan hal yang baik maupun yang jahat, bersumber dari hati kita. Lalu siapakah yang bisa mempunyai hati yang suci? Bukankah semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)?
Kita tidak dapat melihat Allah jika hati kita berisi kenajisan. Jadi hati manusia sangat penting bagi Yesus yang datang ke dunia. Apa yang kita berada di relung pribadi yang dalam dari hidup kita adalah apa yang paling Dia pedulikan. Yesus tidak datang ke dunia hanya karena kita memiliki beberapa kebiasaan buruk yang perlu dihilangkan. Ia tidak datang untuk menegur orag Farisi. Dia datang ke dunia karena kita memiliki hati yang begitu kotor yang perlu disucikan. Karena Yesus, mereka yang benar-benar percaya kepada-Nya dan bertobat dari dosa mereka akan dapat melihat hadirnya Allah dalam hidup mereka.
“Damai wsejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:7
Orang Kristen harus mau memancarkan terang dalam masyarakat
“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” 1 Timotius 2: 1 – 2

Tidak terasa, Pemilu akan kembali dilaksanakan pada tahun 2024. Sejumlah persiapan telah dilakukan oleh KPU dalam tahapan penyelenggaraan Pemilu. Jika pencalonan anggota DPD, DPR, DPRD, calon Presiden dan wakil Presiden akan berlangsung di akhir 2023, pemungutan suara akan dilangsungkan pada bulan Februari 2024. Semua rakyat tentunya diharapkan untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi terbesar di Indonesia itu.
Bagaimana dengan tanggung jawab orang Kristen dalam kehidupan bernegara? Alkitab menekankan pentingnya agar setiap umat Tuhan untuk tunduk kepada pemerintahnya.
“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1
Sebagian orang Kristen di zaman ini mungkin tidak memandang ayat di atas sebagai sesuatu yang masih berlaku saat ini karena adanya pemisahan antara gereja dan agama. Selain itu, hampir tidak ada negara di dunia yang sepenuhnya dipimpin oleh orang-orang Kristen. Walaupun demikian, kita harus tetap percaya bahwa adanya sebuah pemerintah ditetapkan oleh Allah untuk kesejahteraan/kebaikan rakyatnya. Salah satu perbuatan baik yang lahir dari iman orang Kristen adalah ketundukan kepada pemerintah.
Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa manusia mana pun tidak bisa melakukan apa yang baik di hadapan Allah. Tetapi jika pandangan ini diterapkan pada sebuah pemerintahan, konsekuensinya akan menyatakan bahwa kita tidak mungkin bisa tunduk kepada pemerintah, dan bahwa Tuhan mungkin memilih pemimpin-pemimpin yang tidak bisa berbuat baik untuk melakukan apa yang baik untuk rakyatnya. Benarkah begitu?
Jawab pertanyaan ini ada di Alkitab, yang menyatakan bahwa sekalipun pemimpin yang terpilih bukanlah orang yang kita senangi, kita harus tetap menghormati hasil pemilu. Tuhan tetap bekerja dalam keadaan apa pun untuk kebaikan umat-Nya. Apa yang baik harus dipisahkan antara apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan, dan apa yang baik untuk kesejahteraan manusia. Seluruh rakyat harus bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan siapa pun yang terpilih haruslah dihormati sebagai wakil Tuhan. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dan semua orang di dunia , sebaik apa pun, tidak akan bisa dipandang suci oleh Tuhan, tetapi bisa dipakai untuk maksud-maksud suci-Nya di dunia.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28
Karena pemerintah negara mana pun seharusnya mewakili Tuhan, sudah sewajarnya kalau setiap umat Kristen memilih pemimpin yang takut akan Tuhan. Ini adalah syarat utama, bahwa pemimpin yang baik, sekalipun bukan orang Kristen, adalah orang yang mau dan bisa mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, seperti kerohanian, hak asasi, perdamaian, keamanan, keadilan, kejujuran, dan sebagainya. Semua itu adalah hal yang baik yang disenangi Tuhan karena Ia tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.
Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.1 Korintus 14:33
Jika pekerjaan pemerintah yang baik adalah syarat untuk kesejahteraan rakyatnya, semua orang Kristen juga dituntut (dan lebih diharuskan) untuk bisa melebihi apa yang bisa dilakukan oleh orang yang bukan Kristen, karena adanya Roh Kudus yang sudah dikaruniakan kepada mereka. Orang Kristen harus bisa melakukan apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi terang di antara mereka yang belum mengenal Kristus. Orang Kristen tidak dapat menolak keewajiban untuk menjadi terang dunia dengan alasan apa pun. Tuhan memberi setiap orang beriman kemampuan untuk berbuat baik dalam keterbatasan mereka.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16
Adalah baik jika semua orang yang duduk dalam pemerintahan adalah orang-orang yang takut akan Tuhan. Tetapi, dalam kenyataan hidup, orang-orang yang tidak disenangi Tuhan bisa saja terpilih sebagai pemimpin-pemimpin negara sekalipun tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dan kalau itu terjadi, seisi negara harus bertanggung jawab kepada Tuhan, sekalipun apa yang terjadi adalah seizin-Nya.
“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi dengan tidak setahu-Ku. Dari emas dan peraknya mereka membuat berhala-berhala bagi dirinya sendiri, sehingga mereka dilenyapkan.” Hosea 8: 4
Apa yang terjadi di muka bumi ini tentunya dengan seizin Tuhan, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tidak akan menyenangkan Tuhan. Karena itu, Tuhan tidak akan memberkati adanya pemerintah dan bangsa yang menentang hukum-Nya, dan yang tidak akan berfungsi seperti yang diharapkan-Nya. Walaupun demikian, Tuhan dalam hal ini tidak akan kehilangan kontrol, Ia berkuasa untuk mewujudkan rencana-Nya di tengah kebingungan manusia. Dalam keadaan sedemikian, orang Kristen justru harus bisa memberikan sumbangan yang positif dalam memberi teladan kepada orang lain dalam cara hidup yang baik.
Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita mempunyai Tuhan yang hidup, Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana. Karena itu, umat Kristen harus selalu mau menaikkan permohonan dan doa syafaat agar orang-orang yang terpilih dalam pemerintahan dapat memberi rakyat mereka hidup yang tenang dan tenteram. Itu juga salah satu perbuatan baik yang muncul dari iman yang sejati. Orang Kristen tidak boleh menuruti bujukan iblis yang sering menyatakan bahwa segala perbuatan baik kita di dunia adalah sia-sia dihadapan Tuhan, dan segala tindakan kita sudah ditetapkan Tuhan, agar kita tidak ikut melakukan hal-hal yang baik untuk bangsa, negara, dan sesama manusia.
Sebagai orang Kristen, kita harus ikut berpartisipasi dalam memikirkan, dan dalam mengemukakan pendapat kita secara kritis , tentang apa yang akan dan sudah dilakukan oleh para pemimpin kita – agar mereka dapat mawas diri dan bisa melaksanakan mandat mereka dengan baik dan adil. Kita harus berdoa agar mereka dapat mempunyai kebijaksanaan untuk bisa menciptakan kehidupan yang tenang dan tenteram bagi seluruh rakyat, seperti yang dikehendaki Tuhan kita. Biarlah kita boleh mengingat pesan terakhir Raja Daud kepada rakyatnya:
“Allah Israel berfirman, gunung batu Israel berkata kepadaku: Apabila seorang memerintah manusia dengan adil, memerintah dengan takut akan Allah, ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.” 2 Sanuel 23: 3 – 4
Doa adalah salah satu perbuatan baik
“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Ada orang yang berpendapat bahwa perbuatan yang baik di mata Tuhan adalah kesadaran bahwa kita tidak dapat berbuat baik. Ada juga yang menyatakan bahwa jika kita merasa dapat berbuat baik itu hanya bukti kesombongan. Jika ini benar, sia-sialah Yesus dibangkitkan. Jika ini benar, sia-sialah umat Tuhan bersekutu dalam satu iman. Mereka tidak dapat mengasihi sesama manusia, terutama saudara-saudara seiman.
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10
Pendapat-pendapat di atas sudah pasti keliru. Bukan kekeliruan kecil, tetapi sangat besar, yang bisa memadamkan api Roh Kudus. Alkitab mencatat bahwa ada banyak hal yang baik yang dilakukan oleh murid-murid Yesus setelah menerima Roh Kudus. Kepada mereka dikaruniakan penyataan Roh dalam berbagai bentuk untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Itu terjadi pada zaman rasul-rasul, dan pada zaman sekarang tetap ada berbagai hal yang baik yang dimampukan oleh Tuhan – yang tidak dapat diremehkan.
Anda mungkin merasa tidak mampu untuk berbuat baik. Tetapi, pernahkan Anda memohon Tuhan untuk memberi karunia-Nya untuk bisa berbuat baik? Ataukah Anda merasa bahwa Anda harus menunggu Tuhan membuat Anda bisa melakukan apa yang baik? Saya anjurkan sekarang juga Anda memohon agar diberi kemampuan untuk bisa mendoakan orang lain. Doa adalah salah satu kemampuan berbuat baik yang dijanjikan Yesus untuk semua umat-Nya. Siapapun tanpa perkecualian.
Mungkin Anda merasa malu atau canggung berdoa di depan orang lain. Itu bukan masalah. Anda dapat berdoa di mana pun, karena Tuhan ada di mana saja. Lagi pula, dalam melakukan perbuatan baik, apa yang penting adalah Tuhan melihat hati kita; doa bukan untuk dipamerkan.
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6
Jika Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang, orang itu akan dapat hidup dalam karunia-Nya. Orang itu akan dapat mendoakan orang lain dan bukannya membiarkan orang lain hidup dalam kesalahan atau penderitaannya. Berdoa adalah perbuatan baik yang sering diremehkan orang. Mereka yang merasa belum dapat berbuat baik mungkin belum bisa mengasihi Tuhan dan sesama, dan karena itu belum bisa mendoakan orang-orang lain untuk kebaikan mereka.
“Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:27-28
Pernahkah anda beribadah?
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Pernahkah Anda beribadah? Pertanyaan ini tentunya akan membuat heran mereka yang rajin ke gereja. Bukankah beribadah menyangkut kegiatan menghadiri kebaktian gereja dan berdoa? Itu benar, tetapi belum sepenuhnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), ibadah atau ibadat artinya adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mungkin Anda menjawab, itu bukan definisi yang benar karena itu hanya definisi orang dunia. Anda tidak salah, karena kamus bahasa bukanlah kitab suci. Pengertian KBBI belumlah lengkap. Pengertian ibadah yang benar adalah seperti yang tertulis dalam ayat di atas.
Paulus sedang memberikan gambaran kepada orang percaya tentang bagaimana seharusnya mengejar kebenaran Allah melalui iman. Kebenaran berarti hidup harmonis atau hidup benar; bahan utama untuk keharmonisan; ini adalah kemauan untuk berkorban atau mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan.
Dalam kitab Roma pasal 1-11, Paulus memberi tahu pendengarnya, orang percaya di Roma, bagaimana kebenaran Allah bisa diperoleh. Dia menjelaskan bahwa itu bukan melalui Hukum Taurat, seperti yang diperdebatkan oleh beberapa “otoritas” Yahudi yang bersaing, tetapi melalui iman. Sekarang, Paulus mengatakan kepada pendengarnya seperti apa hidup yang benar melalui iman itu. Hal ini terlihat dari penggunaan kata “karena itu” oleh Paulus, yang mengatakan bahwa, karena apa yang telah dia jelaskan di Bab 1-11 (bahwa kebenaran diperoleh melalui iman) kita tahu bagaiman orang percaya seharusnya hidup. Dia mulai dengan panggilan yang kuat, mendesak kita dengan belas kasihan Allah untuk hidup dengan kudus. Itu adalah arti ibadah yang benar.
Pertama, Paulus berbicara tentang pengorbanan. Kita orang beriman dimaksudkan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan suci, yang berkenan kepada Tuhan; untuk hidup berkorban, melakukan apa yang Tuhan minta dari kita, yang semuanya merupakan cara memberikan penyembahan, pujian, dan penghormatan kepada Tuhan. Paulus menyebut pengorbanan ini sebagai ibadah rohani. Ini bukanlah sesuatu tugas yang mudah dilakukan.
Kedua, kata yang diterjemahkan “yang sejati” sebenarnya adalah kata Yunani “logikos,” yang juga dapat diterjemahkan “logis.” Tampaknya idenya adalah – dalam terang apa yang telah ditunjukkan Paulus tentang kehidupan yang benar – satu-satunya kesimpulan logis atau kesimpulan yang benar adalah kita harus menjalani hidup kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan.
Mengapa ini masuk akal, hidup sebagai pengorbanan? Tanpa sebelas bab sebelumnya, kita akan sangat sulit untuk memahami gagasan bahwa adalah “logis” untuk mengosongkan diri kita bagi kepentingan orang lain. Namun bercermin pada pasal 1-11, hidup di bawah hukum adalah hidup dalam perbudakan dosa, karena adanya hukum membuat kita tahu apa yang dianggap dosa oleh Allah. Dan dalam banyak hal, kita hidup dalam dosa. Dan meskipun orang percaya dibenarkan di hadirat Allah semata-mata atas dasar iman kepada Yesus, terlepas dari perilaku kita, jika kita tidak menjalani kehidupan pengorbanan yang mengikuti teladan Yesus, kita tergelincir kembali ke dalam dosa.
Ini berarti bahwa kita kemudian akan menderita setelah kita menerima pembebasan atau keselamatan kita oleh kuasa kebangkitan Yesus. Seperti seseorang yang dibebaskan dari penjara, tetapi memilih untuk tetap berada di selnya. Alih-alih hidup dalam kebebasan sebagai orang pilihan untuk melayani tujuan Yesus menciptakan kita, kita malah kembali menjadi budak dosa. Perbudakan dosa mengarah pada penghukuman duniawi; kita dan orang-orang yang kita kasihi akan menderita akibat dosa kita dan kematian (atau pemutusan hubungan), sebagai akibat dari penolakan untuk menjalani kehidupan spiritual yang dipersembahkan kepada Yesus. Itulah mengapa hidup berkorban begitu “logis”, karena hidup bebas di dalam Yesus seharusnya adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa.
Ketika kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup dan kudus untuk digunakan Tuhan, kita sedang menjalani kehidupan pelayanan kepada Tuhan dan sesama kita, untuk itulah kita diciptakan. Jadi sekali lagi, adalah logis bagi ciptaan-Nya untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan. Kata “mempersembahkan” (latreian, λατρείαν) ditemukan dalam teks aslinya, dan tentu cocok selama kita memahami bahwa “mempersembahkan” menurut Alkitab adalah berbeda dengan cara yang sangat terbatas yang cenderung digunakan di kalangan pengunjung gereja, untuk merujuk hanya kepada pelayanan gereja yang dijadwalkan. Bagi seorang Yahudi, seperti Paulus, ibadah adalah pengorbanan pada setiap saat selama hidup di dunia. Di sini kita digambarkan sedang berada di altar, dikorbankan untuk Tuhan. Itu berarti seluruh pribadi kita dikhususkan untuk Tuhan. Ini bukan hanya tingkat komitmen kehadiran kebaktian gereja. Dalam Kitab Suci, kata menyembah sangat luas, dan berlaku untuk segala aspek kehidupan di mana kita mengakui Tuhan.
Nasihat Paulus kepada orang-orang percaya di Roma adalah untuk mempersembahkan diri mereka kepada Allah, bukan sebagai korban di mezbah, sebagaimana Hukum Musa menuntut korban binatang, tetapi sebagai korban yang hidup. Sebagai orang percaya, bagaimana kita mempersembahkan dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup?
Di bawah Perjanjian Lama, Tuhan menerima pengorbanan hewan. Tetapi ini hanyalah bayangan dari pengorbanan Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Karena pengorbanan-Nya yang terakhir, sekali untuk selamanya di kayu salib, pengorbanan dengan cara Perjanjian Lama tidak lagi bermanfaat (Ibrani 9:11-12). Bagi mereka yang ada di dalam Kristus dan berdasarkan iman yang menyelamatkan, satu-satunya ibadah yang dapat diterima adalah mempersembahkan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Di bawah kendali Allah, tubuh orang percaya yang belum ditebus dapat dan harus diserahkan kepada-Nya sebagai alat kebenaran (Roma 6:12-13; 8:11-13). Mengingat pengorbanan terakhir Yesus bagi kita, ini hanya “masuk akal.” Masuk akal bagi semua orang Kristen? Belum tentu! Sebab banyak orang yang merasa sudah diselamatkan oleh iman saja, tetapi tidak mengerti bahwa tidak ada iman yang tidak disertai persembahan yang hidup.
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2:17
Seperti apakah persembahan yang hidup dalam arti praktis? Ayat berikutnya (Roma 12:2) membantu kita untuk mengerti.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2
Kita adalah persembahan yang hidup bagi Tuhan dengan tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Dunia didefinisikan bagi kita dalam 1 Yohanes 2:15-16 sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Semua yang ditawarkan dunia dapat direduksi menjadi tiga hal ini. Nafsu daging mencakup segala sesuatu yang menarik selera kita dan melibatkan keinginan yang berlebihan akan makanan, minuman, uang, seks, dan hal lain yang memuaskan kebutuhan fisik. Nafsu mata sebagian besar melibatkan materialisme, mengingini apa pun yang kita lihat yang tidak kita miliki dan iri pada mereka yang memiliki apa yang kita inginkan. Kebanggaan hidup ditentukan oleh ambisi apa pun untuk apa yang membuat kita sombong dan menempatkan kita di atas takhta kehidupan kita sendiri.
Bagaimana mungkin orang percaya TIDAK serupa dengan dunia? Dengan “diubah oleh pembaharuan budi kita (Roma 12:2). Firman Tuhan, yang ditanamkan dalam hati kita oleh Roh Kudus, adalah satu-satunya kekuatan di bumi yang dapat mengubah kita dari orang Kristen duniawi (carnal Christian) menjadi orang Kristen spiritual yang sejati. Ini berarti kita harus mau menerima seluruh hukum Tuhan sebagai kaidah moral untuk bisa menyadari dosa kita agar kita bisa memperbaiki cara hidup kita.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3:16
Dapatkah aku berbuat baik?
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Roma 7: 19

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, yang menggambarkan perjuangan Raul Paulus dalam hidup kerohaniannya. Dikatakannya bahwa sekalipun ia tahu apa yang baik dan ingin melakukannya, ia justru melakukan apa yang tidak dikehendakinya, yaitu apa yang jahat. Ayat ini sering dipakai oleh sebagian orang Kristen untuk menyatakan bahwa kalau Paulus saja tidak bisa melakukan apa yang baik, tentu saja mereka tidak akan bisa berbuat baik untuk Tuhan. Jadi, usaha umat Kristen untuk melakukan apa yang baik akan sia-sia dan hanya menunjukkan kesombongan. Orang Kristen dengan kelemahannya, tidaklah perlu memikirkan perlunya berbuat baik. Kurang disadari bahwa arti ayat ini bukanlah tentang Paulus yang gagal untuk melakukan perintah Tuhan untuk hidup dalam terang-Nya, tetapi tentang sulitnya orang Kristen untuk hidup menurut firman Tuhan jika mereka hanya bersandar pada kekuatan sendiri.
Dalam Roma 7, Paulus menulis tentang hubungan antara hukum – perintah yang diberikan oleh Allah – dan keberdosaan manusia. Dia mulai dengan menjelaskan bahwa mereka yang ada di dalam Kristus telah dibebaskan dari kewajiban agama yang bertalian dengan hukum Musa, yang membuat seluruh umat manusia gagal untuk menaatinya. Paulus menjelaskan bagaimana kita dibebaskan dari tuntutan hukum Taurat untuk kesempurnaan manusia, melalui kematian dan kebangkitan dalam Kristus yang pada saatnya akan menyempurnakan orang percaya. Karena melalui kematian Yesus membuat kita mati dari kehidupan rohani yang lama, dan melalui kebangkitan-Nya kita dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru.
Paulus menggunakan ilustrasi tentang hukum pernikahan. Seorang wanita yang suaminya telah meninggal tidak lagi wajib untuk tetap setia kepadanya. Dia bebas menikah dengan pria lain. Dengan cara yang sama, kematian kita bersama Kristus membebaskan kita dari kewajiban kita terhadap hukum dan memungkinkan kita untuk melayani Allah dalam apa yang Paulus sebut sebagai jalan baru Roh (Roma 7:1-6).
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa ajaran Paulus tentang kebebasan dari hukum berarti bahwa ia percaya hukum itu sendiri adalah penyebab dosa. Dia bersikeras bahwa dia tidak menganggapnya demikian. Sebaliknya, itu adalah hukum yang mengungkapkan dosa-dosanya. Dia menyadarii bahwa dia tamak setelah diberitahu oleh hukum untuk tidak mengingini. Tetapi, sebagai manusia berdosa, karena ia mengetahui bahwa ketamakan adalah dosa justru membuatnya makin mengingini! Seperti Adam dan Hawa, sifat pemberontak kita sering membuat kita memilih untuk melanggar aturan hanya demi melanggar aturan. Hukum lama menjanjikan kehidupan kepada Paulus jika dia dapat mematuhi semua perintah-perintah, tetapi dia menemukan bahwa dia tidak dapat melakukannya. Dalam pengertian itu, hukum justru menghukumnya sampai mati. Namun demikian, Paulus menggambarkan hukum itu kudus, benar, dan baik (Roma 7:7-12). Manusialah yang lemah dan berdosa.
Paulus kemudian menggambarkan pengalamannya yang menyedihkan tentang keinginan untuk melakukan apa yang baik dan sebaliknya mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Para teolog tidak setuju atas pendapat bahwa Paulus menggambarkan dirinya sebelum dia menjadi seorang Kristen, ketika dia mencoba untuk mengikuti hukum. Berdasarkan bentuk waktu dari bahasa Yunani yang digunakan, Paulus tampaknya sedang menggambarkan pergumulan yang terus menerus dari seorang percaya melawan dosa selama hidup, dan bukan pergumulan melawan dosa yang sudah diampuni ketika dia diselamatkan (Roma 7:13-23).
Di seluruh tulisannya, Paulus berdiri di atas gagasan bahwa siapa pun tidak dapat sepenuhnya taat kepada hukum. Itu sebabnya hukum tidak bisa membuat kita benar di hadapan Tuhan. Juga benar bahwa orang-orang Kristen yang telah dibebaskan dari kuasa dosa seringkali masih merasa bahwa pengaruh dosa yang kuat sangat sulit untuk diatasi (lihat Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4). Menjadi umat Tuhan memberi seseorang kekuatan untuk mengatasi dosa (1 Korintus 10:13; Roma 6:17), tetapi itu tidak membuat dia tidak berdosa (1 Yohanes 1:9-10).
Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat. Pengakuan Westminster Bab 9 Poin 4.
Setelah menggambarkan adanya jurang antara niatnya untuk berbuat baik dan tindakan dosanya di dunia nyata, Paul berteriak dengan frustrasi bahwa dia adalah orang yang malang dan bertanya siapakah yang akan membebaskannya dari pengaruh dosa. Dia menanggapi jeritan hatinya dengan berterima kasih kepada Tuhan melalui Yesus Kristus, menyiratkan bahwa dia telah dan/atau akan menemukan pembebasan yang sempurna itu hanya melalui iman kepada Kristus (Roma 7:24–25).
Jauh dari sempurna, manusia adalah mahluk yang berdosa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah dengan maksud untuk menyelamatkan manusia dari kematian akibat dosa mereka. Memang Yesus menerima manusia sebagaimana adanya, dan mau memberi anugerah keselamatan kepada siapa saja yang percaya, tetapi siapapun yang menerima Yesus haruslah mengalami perubahan hidup. Seperti apa yang ditulis Paulus, hidup lama harus berubah menjadi hidup baru untuk Kristus. Hidup yang dulunya bergelimang dosa seperti yang dinyatakan oleh hukum Tuhan, haruslah berubah menjadi hidup yang menurut Firman.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2
Perjuangan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tidaklah mudah. Iblis dari mulanya selalu berusaha membuat manusia agar menjauhkan diri dari Tuhan. Dalam berbagai kesempatan, iblis berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka adalah mahluk istimewa yang tidak memerlukan Tuhan. Mahluk yang berkuasa di dunia dan bangga atas eksistensi, hak, kebebasan, dan kemampuan mereka untuk hidup seperti yang mereka ingini. Sikap itulah yang justru bisa membawa manusia jauh dari kasihTuhan.
Seringkali, walaupun kita sadar tentang apa yang baik yang harus kita lakukan, tetapi bukanlah itu yang kita perbuat, melainkan apa yang tidak kita kehendaki, yaitu yang jahat, yang kita perbuat. Karena itu, perjuangan kita untuk mengikut Yesus adalah perjuangan untuk melawan diri kita sendiri, untuk mengalahkan keakuan kita.
Pagi ini kita diingatkan bahwa kita tidak boleh berpandangan bahwa jika Tuhan ingin agar kita menjadi pengikut-Nya, Ia harus mau menerima kita dan cara hidup kita, karena “aku adalah aku” dan “Tuhan mau menerima aku sebagaimana adanya”. Atau juga “Tuhan yang berdaulat sudah menetapkan semua bagian dari hidupku”. Sebaliknya, kita harus mengakui setiap dosa dan kelemahan kita, agar Tuhan yang maha kasih memberikan pengampunan dan kekuatan, sehingga kita bisa burubah, makin hari makin sempurna di dalam Dia.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Lukas 9: 23
Martin Luther tentang Antinomianisme
https://www.monergism.com/blog/luther-antinomianism

Mengenai teman-temanku, para Antinomian berkhotbah dengan sangat baik, saya percaya bahwa mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh – mengenai belas kasihan Kristus, pengampunan dosa, dan isi lain dari pasal penebusan.
Tetapi mereka melarikan diri dari kesimpulan ini seperti dari iblis, bahwa mereka harus memberitahu orang-orang tentang Pasal Ketiga, pengudusan, yaitu hidup baru di dalam Kristus.
Karena mereka berpendapat bahwa kita tidak boleh menakuti orang dan membuat mereka sedih, tetapi harus selalu memberitakan kepada mereka penghiburan kasih karunia dalam Kristus dan pengampunan dosa. Mereka memberitahu kita untuk menghindari, demi Tuhan, pernyataan seperti ini:
‘Dengar, Anda ingin menjadi seorang Kristen sementara Anda adalah seorang pezina, seorang pezina, seorang rakus, penuh kesombongan, keserakahan, praktik riba, iri hati, balas dendam, kedengkian, dll, dan bermaksud untuk melanjutkan dosa-dosa ini?’ Sebaliknya, mereka memberi tahu kita bahwa ini adalah cara yang tepat untuk berbicara: ‘Dengar, kamu adalah seorang pezinah, pezina, pelit, atau kecanduan dosa lainnya. Sekarang, jika Anda hanya mau percaya, Anda diselamatkan dan tidak perlu takut akan Hukum, karena Kristus telah menggenapi semuanya.’
Kata mereka kepadaku, berdoalah, bukankah ini berarti mengakui kebenaran, tetapi menyangkal kesimpulan? Sungguh, ini berarti bahwa Kristus diambil dan dibuat tidak berharga dalam nafas yang sama dengan bagaimana Dia sangat dimuliakan. Artinya mengatakan ya dan tidak dalam hal yang sama. Untuk Kristus yang mati untuk orang berdosa yang, setelah menerima pengampunan, tidak akan meninggalkan dosa mereka atau menjalani hidup baru, yang bagi mereka tidak berharga dan tidak ada.
Menurut logika Nestorius dan Eutyches orang-orang ini, dengan cara yang ahli, mengkhotbahkan Kristus yang adalah, dan bukan, Penebus. Mereka adalah pengkhotbah kebenaran Paskah yang luar biasa, tetapi pengkhotbah kebenaran Pentakosta yang menyedihkan. Karena tidak ada dalam khotbah mereka tentang pengudusan Roh Kudus dan tentang dihidupkan ke dalam kehidupan baru.
Mereka hanya berkhotbah tentang penebusan Kristus. Adalah pantas untuk memuji Kristus dalam khotbah kita; tetapi Kristus adalah Kristus dan telah memperoleh penebusan dari dosa dan kematian untuk tujuan ini bahwa Roh Kudus harus mengubah Adam Lama kita menjadi manusia baru, bahwa kita harus mati bagi dosa dan hidup untuk kebenaran, seperti yang diajarkan Paulus Rom. 6, 2 dst., dan bahwa kita harus memulai perubahan dan peningkatan ini dalam kehidupan baru ini di sini dan menyempurnakannya nanti.
Karena Kristus telah memperoleh bagi kita tidak hanya kasih karunia (gratiam), tetapi juga karunia (donum) Roh Kudus, sehingga kita memperoleh dari-Nya tidak hanya pengampunan dosa, tetapi juga berhenti dari dosa. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak berhenti dari dosanya, tetapi terus melakukan kejahatan sebelumnya pasti telah memperoleh Kristus yang berbeda – dari Antinomian. Kristus yang asli tidak bersama mereka, bahkan jika mereka berseru dengan suara semua malaikat, Kristus! Kristus! Mereka harus pergi ke kebinasaan dengan Kristus baru mereka.”
-Martin Luther, Concerning Councils and Churches St. L. Ed. XVI, 2241 f.
John Calvin: Penggunaan ketiga dari hukum Tuhan
THE GOSPOEL COALITION (Canada)
COLUMNS
https://ca.thegospelcoalition.org/columns/detrinitate/john-calvin-the-third-use-of-the-law/

WYATT GRAHAM | MARCH 29, 2021
Ketika sampai pada Hukum Musa, para reformator awal umumnya berpendapat bahwa dari tiga fungsi hukum ini hukum upacara telah dibatalkan, hukum sipil telah kedaluwarsa, tetapi hukum moral (Sepuluh Perintah) memiliki kewajiban yang terus berlanjut. Yang terakhir ini benar karena sepeluh hukum Tuhan mewakili hukum abadi Allah yang tertanam dalam jalinan alam dan hati nurani (mis., Rm 2:14; Inst. 4.20.16).
Hukum Musa sebagai Kitab Suci tetap otoritatif bagi orang Kristen sebagai orang Kristen sejati. Hukum upacara menunjuk kepada Kristus, dan hukum sipil menjaga kasih dan persamaan. Tetapi hukum moral mengutuk dan menahan dosa seperti yang akan dikemukakan oleh Martin Luther. Sementara Luther dan yang lainnya akan menggunakan sebagian besar hukum, adalah John Calvin yang lebih jelas di antara para reformis awal yang mengartikulasikan penggunaan hukum secara positif dalam kehidupan Kristen.
Setuju dengan Luther (yang dia kagumi sepanjang hidupnya), Calvin berbicara tentang penggunaan ketiga dari hukum moral.
Penggunaan Ketiga dari Hukum
Calvin pertama-tama melihat penggunaan hukum yang mengutuk (Inst. 2.7.6). Dia kemudian melihat hukum moral sebagai penahan dosa (Inst. 2.7.10). Kemudian ketiga, dia melihat peran positif hukum dalam kehidupan Kristen, yang dia identifikasi sebagai “penggunaan prinsip” (Inst. 2.7.12).
Dia membagi penggunaan hukum yang ketiga ini menjadi dua. Pertama, hukum moral mengajarkan kita kehendak Allah. Kedua, itu tidak hanya mengajarkan kepada kita kehendak Allah tetapi menasihati kita untuk taat. Dengan cara ini, hukum moral membantu mereka yang memiliki Roh Kudus melakukan apa yang ingin mereka lakukan: menaati Allah. Seperti yang dicatat Calvin, “Bahkan bagi manusia rohani yang belum bebas dari beban daging, hukum tetap merupakan sengatan terus menerus yang tidak akan membiarkannya berdiam diri” (Inst. 2.7.12).
Calvin melihat Daud memuji hukum dalam Mazmur 19 dan 119 karena alasan yang sangat mirip. Hukum itu baik bagi orang-orang rohani karena menunjuk pada kehendak Allah dan menasihati kita untuk taat sementara kita dibebani oleh daging.
Antara Legalisme dan Antinomianisme
Calvin di sini menempatkan hukum pada tempatnya yang diberikan Tuhan tanpa jatuh ke dalam perangkap antinomianisme (menentang hukum) atau legalisme (salah menerapkan hukum kepada orang Kristen). Calvin ingin berhati-hati ketika berbicara tentang hukum moral. Hukum moral tidak lagi memiliki kekuatan kutukan bagi seorang Kristen (Roma 7:6; Inst. 2.7.14). Paulus menekankan hal ini, seperti yang dicatat Calvin, dalam Galatia 3:13 (juga Gal 4:4–5).
Sebagai anak Tuhan, kita tidak perlu lagi khawatir tentang kutukan hukum atau ketakutan akan kematian. Dalam kebebasan ini, kita menganut hukum moral karena tindakan pembunuhan, misalnya, selalu merupakan dosa. Namun, kita tidak khawatir tentang kutukannya.
Hukum upacara menunjuk pada hal-hal rohani tetapi itu sudah dibatalkan menurut Calvin (Inst. 2.7.1, 16). Praktik-praktik ini adalah bayang-bayang (Kol 2:17). Kitab Ibrani khususnya menjelaskan kasus ini juga.
Penting untuk mendengar bagaimana Calvin membahas hukum sipil karena dia mencapai keseimbangan yang layak untuk didengarkan sepenuhnya:
Praktek-praktek seremonial itu memang termasuk dalam doktrin kesalehan, karena mereka menjaga gereja orang Yahudi dalam pelayanan dan penghormatan kepada Tuhan. Dengan cara yang sama, bentuk hukum yudisial mereka, meskipun tidak memiliki maksud lain selain apa yang terbaik untuk mempertahankan kasih yang diamanatkan oleh hukum abadi Allah, memiliki sesuatu yang berbeda dari ajaran kasih itu. Oleh karena itu, karena hukum upacara dapat dibatalkan sementara kesalehan tetap diprlihara, demikian pula, ketika hukum peradilan ini dicabut, tugas dan ajaran kasih yang abadi masih dapat dipertahankan. (Inst.4.20.15)
Calvin melihat upacara sebagai bayangan Kristus tetapi juga berguna bagi orang Yahudi untuk beribadah. Dia mengatakan hal serupa tentang hukum sipil. Mereka bertujuan untuk mempertahankan kasih, meskipun mereka masih memiliki “sesuatu yang berbeda dari ajaran kasih itu”. Oleh karena itu, hukum ini seperti hukum upacara, dapat “diabaikan” tanpa menghilangkan “tugas dan ajaran kasih yang abadi.”
Ketika berbicara tentang pemerintahan sipil hari ini, Calvin menegaskan bahwa sementara pemerintah dapat membuat hukumnya sendiri, mereka harus mengikuti “aturan kasih abadi” itu (Inst. 4.20.15).
Pemerintahan sipil khusus Israel memuat aturan kasih itu tetapi untuk Israel di tempat dan waktu serta keadaan mereka. Sekarang, bangsa-bangsa mungkin memiliki keadaan yang berbeda dari Israel, tetapi mereka harus tetap berusaha untuk memiliki hukum yang bertujuan untuk mempromosikan kasih.
Juga, mereka harus seperti yang dijelaskan Calvin, setuju dengan prinsip kesetaraan yang dapat diakses semua orang di alam dan di hati nurani (Inst. 4.20.16). Yang dengan kata lain, merupakan cara lain untuk mengatakan semua bangsa harus mengikuti hukum moral Allah:
“Adalah fakta bahwa hukum Tuhan yang kita sebut hukum moral tidak lain adalah bukti hukum kodrat dan hati nurani yang telah diukir Tuhan pada pikiran manusia” (Inst. 4.20.16).
Kesimpulan
Hukum Allah mengutuk, menahan, dan mengajar. Itu tidak bisa lagi mengutuk atau menyebabkan ketakutan akan kematian bagi mereka yang ada di dalam Kristus. Sebaliknya, itu dapat membantu orang Kristen dalam mencapai apa yang ingin mereka lakukan dengan Roh: menaati Allah dengan bebas (tanpa paksaan) melalui Roh.