Perbuatan baik muncul setelah pertobatan

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 1-10

Cerita tentang Zakheus sangatlah terkenal, terutama di antara anak-anak sekolah Minggu. Kita sering membaca tentang pemungut cukai yang datang kepada Kristus; tetapi di sini Zakheus adalah kepala pemungut cukai telah mengumpulkan harta yang banyak. Kristus sebelumnya telah menunjukkan betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, namun kisah Zakheus adalah sebuah contoh tentang satu orang kaya yang telah hilang, dan ditemukan, dan bukan sebagai anak yang hilang yang bertobat karena kekurangan. Bagi Kristus tidak ada hal yang mustahil.

Zakheus memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk melihat Yesus, untuk menari tahu orang macam apakah Dia, setelah mendengar banyak pembicaraan tentang Dia. Ini mungkin seperti mereka yang ingin melihat orang-orang yang ketenarannya telah memenuhi media, setidaknya agar mereka akan dapat mengklaim pernah melihat orang-orang hebat itu.

Zakheus bertubuh rendah sehingga dia tidak dapat melihat Yesus. Karena dia tidak ingin mengecewakan keingintahuannya, dia melupakan kedudukannya sebagai kepala pemungut cukai, dan seperti anak laki-laki, ia memanjat pohon ara, untuk melihat Yesus. Memang, mereka yang dengan tulus ingin melihat Kristus akan menerobos banyak kesulitan dan halangan, dan rela bersusah payah untuk itu.

Bagaimana Yesus mengundang dirinya sendiri ke rumah Zakheus, dan tidak meragukan sambutan Zakheus yang hangat di sana, menyatakan bahwa Ia tahu siapa Zakheus dan apa yang ada dalam hatinya. Yesus pasti sudah membuka hati Zakheus, dan mendorongnya untuk menerima-Nya. Zakheus datang untuk melihat Kristus, dan memutuskan untuk naik kepohon, tetapi ia tidak berharap untuk diperhatikan oleh Kristus. Yesuslah yang melihat ke atas ke pohon, dan Ialah yang menemukan Zakheus.

Bagi Zakheus, perhatian Yesus adalah suatu hal yang sulit dipercaya. Itu adalah kehormatan yang terlalu besar, dan terlalu jauh di atas kemampuannya untuk dipikirkan. Seperti itulah, mereka yang datang ke gereja, seperti yang dilakukan Zakheus, hanya karena ingin tahu, kemudian sadar bahwa firman-Nya melebihi apa yang mereka pikirkan, membuat hati nurani mereka terbangun dan berubah.

Bagi kita, kenyataan bahwa Kristus memanggil Zakheus dengan namanya, itu pasti karena Dia tahu siapa orang yang dipilih-Nya. Yesus bisa saja bertamu ke tempat orang lain, tetapi Ia memilih Zakheus. Dia menyuruhnya Zakeus bergegas, dan turun. Begitu juga, mereka yang dipanggil Kristus harus turun, harus merendahkan diri. Orang Kristen sejati tidak akan berpikir untuk bisa ke surga dengan kebenaran mereka sendiri.

Zakheus sangat gembira menerima kehormatan seperti itu datang dari Yesus. Ia bergegas, turun, dan menerimanya dengan gembira; dan ini merupakan indikasi dan tanda dia sudah menerima Yesus ke dalam hatinya. Seperti itu juga, ketika Kristus memanggil seseorang, ia harus segera menjawab panggilan-Nya; dan ketika Dia datang, orang itu harus menerima-Nya dengan gembira.

Zakheus tidak ragu-ragu, tetapi bergegas; dia tahu bahwa sekalipun tidak siap menjamu, dia harus menyambut Tamu Agung itu di rumahnya. Dia harus turun, karena Kristus bermaksud pada hari ini untuk mengunjungi rumahnya, dan tinggal satu atau dua jam bersamanya. Seperti itulah apa yang terjadi jika Yesus ingin menyelamatkan orang yang dipilih-Nya di zaman ini, Dia berdiri di depan pintu hati mereka dan mengetuk. Keputusan untuk membuka pintu hati harus dilakukan secepatnya, dan mereka tidak perlu memikirkan keadaan hidup mereka yang tidak layak, karena Tuhan sendiri yang memutuskan untuk datang.

Meskipun Zakheus adalah orang berdosa, itu tidak berarti bahwa dia adalah orang yang tidak dapat diperbaiki. Tuhan memberikan ruang bagi setiap orang untuk pertobatan, dan demikian pula bagi kita. Tapi mata Zakheus tidak puas dengan melihat Yesus dengan mata; lebih dari itu ia melihat Yesus dengan hatinya dan kemudian menyadari bahwa cara hidupnya harus berubah. Seperti itu, kita harus berusaha untuk melihat Yesus dengan mata iman, untuk melihat siapa Dia; agar kita bisa mempunyai hidup baru.

Bukti-bukti yang diberikan Zakheus di depan umum bahwa, meskipun ia pernah menjadi orang berdosa, ia sekarang adalah seorang yang bertobat, dan benar-benar bertobat. Ia tidak berharap untuk dibenarkan oleh perbuatannya sebagai orang Farisi yang menyombongkan apa yang telah ia lakukan, tetapi dengan perbuatan baiknya ia akan, melalui kasih karunia Allah, membuktikan ketulusan iman dan pertobatannya; dan di sini dia menyatakan apa tekadnya. Dia membuat pernyataan ini dengan berdiri, agar dia dapat dilihat dan didengar oleh mereka yang menggerutu kepada Kristus karena datang ke rumahnya. Dengan mulutnya keluar pengakuan yang terbuat dari pertobatan serta iman. Dia berdiri, yang berarti dia mengatakannya dengan sengaja dan dengan khidmat, dalam janji kepada Tuhan. Seperti itu juga, apa yang baik harus kita lakukan setelah pertobatan kita; kita harus berjanji untuk berbuat baik.

Zakeues menampakkan bukti perubahan dalam hatinya (dan itu adalah pertobatan), karena ada perubahan dalam jalan hidupnya. Keputusannya untuk melakukan apa yang baik adalah tugas yang dilakukannya karena Kristus, dalam segala kesempatan, memberikan tekanan besar pada dia. Zakheus tidak menghindari dorongan hati untuk membuktikan imannya kepada orang lain. Seperti itu juga, bagi kita yang sudah bertobat, dipanggil untuk melakukan apa yang baik sesuai dengan kondisi dan karakter kita, agar nyata bagi semua orang apa yang menjadi buah-buah pertobatan kita.

Mirip dengan Zakheus, Paulus pernah menganiaya gereja dengan kejam tetapi ia bertemu Yesus dalam perjalanannya ke Damaskus. Yesuslah yang menemukan Paulus. Alih-alih menyerang orang Kristen, Paulus kemudian menjadi orang percaya dan menyatakan buah-buah pertobatannya dalam bentuk pelayanan yang luar biasa. Seperti itulah, kita diajak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan kita.

“Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Kisah Para Rasul 26:20

Melalui doa kita mengenal sifat Tuhan

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya ..” Ibrani 1: 1-2

Banyak orang Kristen kurang berdoa karena mereka tidak mengerti bahwa doa adalah hak istimewa dari orang yang istimewa. Doa adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan bagi umat Tuhan. Orang yang tidak mengenal Yesus tidak memiliki hak isttimewa ini, karena sekalipun mereka berdoa, tidak ada yang mendengarnya. Mereka tidak mempunyai Yesus sebagai perantara antara diri mereka dan Allah yang mahakuasa.

Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk berdoa dalam nama Yesus. Kita berdoa sesuai dengan kebenaran Allah, Firman-Nya, karakter-Nya, dan kehendak-Nya. Ada jaminan besar dalam doa seperti itu. Alkitab memberi tahu kita bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan, kita akan mendapatkannya. Dia yang memiliki semua hikmat, semua kekuatan, dan selalu hadir telah mengundang kita dan telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya dengan permintaan kita. Dia berjanji untuk menjawab doa-doa kita.

Kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab kita untuk berdoa. Kita bukanlah robot-robot ciptaan Allah. Sebaliknya, Tuhan yang berdaulat yang memegang kendali, dan Tuhan yang berdaulat ini telah memberi kita tanggung jawab untuk memohon apa pun kepada-Nya, dengan itu kita akan tahu lebih banyak tentang karakter dan kehendak Tuhan ini. Doa adalah ajakan bagi kita untuk membangun hubungan dengan Bapa Surgawi kita. Ketika kita melakukannya, doa kita seharusnya selaras dengan karakter-Nya dan mengakui kedaulatan-Nya.

Dalam doa, kita tidak berurusan dengan seseorang yang mungkin tidak mendengar kita. Tuhan mendengar kita. Kita tidak berurusan dengan seseorang yang tidak bisa berbuat apa-apa tentang permintaan kita. Tuhan memiliki semua kuasa atas alam semesta. Kita tidak berurusan dengan seseorang yang tidak peduli. Tuhan telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya. Ini tidak harus dilakukan secara formal seperti di gereja, tetapi di setiap saat dan tempat, kita bisa berkomunikasi dengan Dia baik dengan mulut maupun di dalam hati.

Melalui doa, kita mencapai kesepakatan dengan Pencipta Alam Semesta tentang hidup kita. Doa bukanlah tentang mengubah pikiran Tuhan; ini tentang bagaimana membuat pikiran dan hati kita setuju dengan Dia. Jadi tujuan doa bukanlah untuk memaksakan kehendak kita pada Tuhan. Kita harus berdoa dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya dan memperhatikan saat Dia bekerja melalui sarana yang telah Dia tetapkan untuk melakukan apa yang telah Dia putuskan untuk capai.

Kuasa Allah harus menjadi penggerak kehidupan doa kita. Merupakan suatu kegembiraan untuk bersepakat dengan Pencipta Alam Semesta yang peduli pada kita dan memikirkan kehendak-Nya yang terbaik untuk kita. Tuhan yang mahakuasa telah memerintahkan kita untuk datang kepada-Nya dengan permohonan kita dan telah berjanji untuk bekerja melalui proses itu.

Ini mirip dengan hubungan anak-anak dengan orang tua mereka. Jika seorang anak diberi kesempatan untuk meminta sesuatu kepada orang tuanya, anak ini akan mempelajari sifat orang tua. Anak akan tahu apa yang harus diminta, setelah mempelajari hal-hal mana yang selaras dengan nilai, standar, dan kebajikan orang tua. Anak juga akan mempelajari kepribadian orang tua untuk memahami cara bertanya. Karena kita harus meminta apapun yang kita inginkan dari Tuhan sesuai dengan karakter-Nya, kehendak-Nya, dan standar-Nya, kita perlu mengenal Dia lebih baik.

Dengan kata lain, doa menjadi kesempatan yang kuat bagi kita untuk tidak hanya menjalankan tanggung jawab kita, tetapi juga untuk mempelajari karakter Allah dalam prosesnya. Saya dapat berkata, “Wow, Tuhanku yang Mahakuasa dan Mahakasih berjanji untuk memberi saya apa pun yang saya butuhkan. Tetapi saya perlu tahu bahwa apa yang saya minta sejalan dengan siapa Dia. Biarkan saya berpikir dengan hati-hati tentang apa yang saya minta dan alasan memintanya.” Di sinilah Roh Kudus membantu kita.

Pagi ini kita belajar bahwa jika kita mendekat kepada Allah dalam doa, kita akan mengenal Dia lebih baik. Kita belajar karakter Allah. Tapi itu bukan semua yang terjadi. Doa juga mengubah kita. Saat kita mencurahkan lebih banyak waktu untuk berdoa, kita menjadi orang yang lebih baik. Semakin banyak kita berdoa, semakin kita berubah menjadi gambar Allah.

Jika Tuhan berdaulat, untuk apa kita berdoa?

”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Matius 7:7

Yesus berkata, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” dalam Yohanes 16:24. Pernyataan serupa ditemukan dalam ayat di atas. Apakah ini janji tanpa syarat? Jika kita meminta sejuta dollar dikirimkan ke rumah kita, apakah Allah akan memberikannya kepada kita? Atau apakah kata-kata Yesus harus dipahami dalam terang ayat lain?

Jika kita berasumsi bahwa “mintalah dan kamu akan menerima” berarti “mintalah apa saja yang kamu inginkan dan Aku akan memberikannya kepadamu”, maka kita telah mengubah Tuhan menjadi jin yang melayani setiap keinginan kita. Ini adalah pesan teologi kemakmuran dan juga ada dalam agama lain. Sebagai contoh, ada doa sebuah agama yang berbunyi: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kemakmuran yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Anda mungkin mengerutkan kening mendengar doa seperti ini. Betapa mudahnya orang bisa menjadi makmur dan menjadi orang terkaya sedunia, kalau rajin berdoa!

Tetapi, dalam Khotbah di Bukit, Yesus memang berkata bahwa siapa pun yang meminta akan menerima, siapa pun yang mencari akan menemukan, dan siapa pun yang mengetuk akan menemukan pintu terbuka (Matius 7:7-8). Tetapi dengan ayat ini dan semua ayat lainnya kita harus memeriksa konteksnya. Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak akan gagal untuk memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya. Hal yang baik menurut Dia, sebab kita sendiri tidak tahu apa yang benar-benar baik. Inilah yang sering ditafsirkan oleh banyak orang Kristen secara keliru karena mereka mengira apa yang diingini mereka adalah baik, dan semua yang mereka miliki adalah dari Tuhan sekalipun berasal dari tindakan yang melibatkan dosa.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7:11

Jadi, salah satu syarat untuk janji “minta dan terima”: apa yang kita minta harus baik menurut penilaian Tuhan. Tuhan akan memberikan hadiah yang bermanfaat bagi anak-anak-Nya; Dia tidak akan memberi kita hal-hal yang buruk, yang mencelakakan, dan yang menjauhkan kita dari Dia, tidak peduli berapa sering kita menuntutnya. Contoh terbaik dari pemberian yang baik adalah Roh Kudus, menurut Lukas 11:13. Dengan adanya bimbingan Roh Kudus kita bisa melihat dua tujuan doa – untuk meningkatkan pemahaman kita tentang apa yang Allah sebut “baik” dan untuk memupuk hasrat dalam diri kita untuk menginginkan dan melakukan apa yang baik.

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Lukas 11:13

Doa kita kepada Tuhan tidak seperti permintaan kita kepada seseorang. Doa kita didasarkan pada suatu hubungan, seperti yang Yesus tunjukkan dalam Matius 7:8. Jika seorang anak meminta kepada ayahnya sesuatu yang menurut sang ayah tidak baik, permintaan itu ditolak. Anak itu mungkin frustrasi dan tidak senang ketika dia tidak mendapatkan apa yang dia minta, tetapi dia harus mempercayai ayahnya. Dalam hal ini, sang anak mungkin saja berhenti meminta karena tidak yakin akan kasih ayahnya. Tetapi, jika sang anak meminta sesuatu yang sang ayah tahu bermanfaat, sang ayah tentu akan memberikannya dengan penuh semangat karena ia sayang pada anaknya.

“Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Matius 7:8

Ketika kita berpikir tentang kedaulatan Tuhan, kendali dan kekuasaan mutlak-Nya atas segalanya, muncul pertanyaan: mengapa Tuhan yang berdaulat, yang memiliki kehendak-Nya sendiri atas segala sesuatu, memerintahkan kita untuk berdoa? Bagaimana kita menyelaraskan doa kita dengan kedaulatan Allah? Dalam hal ini sudah tentu kita harus meminta apa yang terbaik, yang sudah jelas akan diberikan-Nya, yaitu bimbingan Roh Kudus. Kita harus mengerti bahwa tanpa bimbingan Roh, kita tidak bisa mempunyai hidup yang baik dan berkenan kepada-Nya. Tanpa bimbingan Roh, kita bisa saja merasa bahwa cara hidup dan keinginan kita yang kurang baik adalah apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Tanpa bimbingan Roh Kudus kita mungkin juga merasa bahwa Tuhan itu kejam karena tidak memenuhi permohonan kita.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” Roma 8:26-27

Doa adalah sarana yang Tuhan dalam kedaulatan-Nya memilih sesuatu untuk kita kerjakan. Misalnya, Tuhan yang berdaulat menyediakan makanan sehari-hari untuk dimakan keluarga kita. Namun demikian, kita harus pergi bekerja untuk mendapatkan uang untuk membayar makanan ini. Tuhan menyediakan makanan kita melalui pekerjaan kita. Dia beroperasi melalui orang-orang yang menanam ladang dan memanen tanaman. Dia juga telah memilih untuk bekerja melalui alam, sinar matahari, dan hujan untuk memenuhi ciptaan-Nya. Inilah cara Tuhan menyediakan. Tuhan 100% berdaulat atas alam semesta, tetapi kita 100% bertanggung jawab atas hidup kita, dan itu termasuk kewajiban kita untuk berdoa dan bekerja.

Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah berdaulat. Dia membimbing semua jalan dan tindakan manusia dengan pemeliharaan-Nya. Allah memegang kedaulatan-Nya untuk kebaikan umat-Nya dan ciptaan-Nya. Kamus mendefinisikan “berdaulat” sebagai memiliki kekuatan tertinggi atau tertinggi. Ini berarti bahwa Tuhan yang berdaulat memiliki kendali penuh atas ciptaan-Nya. Pada saat yang sama, Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa. Kitab Suci menjanjikan kepada kita bahwa Allah mendengarkan permintaan dan permohonan kita; Dia mendengar doa kita. Kitab Suci juga meyakinkan kita bahwa Allah akan bertindak pada saat yang tepat jika kita berdoa. Berdoa adalah perintah Tuhan. Yesus bahkan memberi kita contoh bagaimana berdoa.

Dengan cara yang sama, Tuhan bekerja dalam urusan manusia melalui doa. Doa adalah sarana melalui mana Tuhan bekerja dalam hidup kita. Inilah mengapa doa sangat penting. Kita dapat berkata, “Tuhan telah memutuskan untuk memberi saya makan.” Tetapi jika kita tidak pergi bekerja, tidak pergi ke pasar atau ke supermarket, dan tidak memasak makanan, kita akan kelaparan. Dalam hal ini, kita salah mengerti bagaimana Tuhan yang berdaulat telah memilih kita untuk bekerja dan hidup dengan baik dalam hidup kita.

Tanggung jawab kita bukan hanya soal jasmani, tetapi juga dalam hal rohani. Jika kita menjalani kehidupan tanpa doa, kita akan kelaparan secara rohani. Tuhan bertekad untuk bekerja dalam hidup kita melalui doa. Jadi jika kita ingin lebih mengenal Tuhan, kita perlu berdoa memohon hikmat dari Dia. Jika kita ingin Tuhan memberi kita cara hidup yang lebih baik atau melakukan apa yang baik dalam keluarga kita, kita perlu berdoa. Doa adalah sarana yang dipilih Allah untuk bekerja dalam hidup kita, melalui itu Ia mewujudkan kehendak-Nya yang berdaulat dalam hidup kita.

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus 1: 5

Adakah dosa kecil dan dosa besar?

“Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Yakobus 2:10

Apakah beda antara “bohong kecil” dan “bohong besar”? Sebagian orang berpendapat bahwa bohong kecil adalah kebohongan yang tidak terlalu merugikan orang lain, sedangkan bohong besar adalah apa yang bisa merugikan orang lain secara signifikan. Atau bohong kecil adalah kebohongan yang tidak melanggar hukum negara, sedangkan bohong besar bisa menyeret orang ke pengadilan. Benarkah begitu? Terelepas dari benar tidaknya, banyak orang Kristen yang berpendapat demikian. Lebih dari itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa sekali-sekali berbohong adalah aman, jika tujuan berbohong adalah “kebaikan” atau untuk “memuliakan Tuhan”.

Sebenarnya, berbohong secara dan dalam bentuk apa pun adalah salah satu dari berbagai dosa manusia terhadap Tuhan. Lalu perlukah kita mendefinisikan dosa kecil dan dosa besar di hadapan Tuhan? Pada umumnya, orang Kristen percaya bahwa semua dosa adalah sama bagi Tuhan; itu adalah apa saja yang tidak mencapai standar Kesucian Tuhan. Kata “dosa”, seperti yang muncul dalam Alkitab, berasal dari kata Yunani Hamartia atau kata Ibrani Hata, yang keduanya berarti “meleset” atau “cacat”. Kata itu digunakan dalam memanah dan melempar tombak. Ketika seseorang tidak mencapai pusat target (baik jauh atau dekat dengan pusat target), mereka sudah berdosa atau meleset dari kesempurnaan Tuhan yang suci dan benar. Tetapi, dalam hidup sehari-hari banyak orang Kristen mengukur besar kecilnya dosa dengan mengukur seberapa besar keberanian mereka untuk melanggarnya dan menerima konsekuensinya. Ini sudah tentu adalah tindakan yang bisa digolongkan sebagai “nekad”.

Bunyi ayat di atas berarti bahwa apa pun dosa yang kita lakukan, kita akan benar-benar bersalah atas semua hukum Tuhan. Oleh karena itu setiap dosa, kecil maupun besar, sama-sama memberatkan kita. Hal ini bukannya membuat orang segan untuk berbuat dosa sekecil apa pun, tapi justru membuat sebagian orang Kristen untuk tidak ragu untuk berbuat dosa yang besar karena adanya keyakinan bahwa Tuhan yang menganggap semua dosa sama besarnya, adalah Tuhan yang sanggup mengampuni dosa sebesar apa pun (Yesaya 1:18).

Pengertian bahwa semua dosa adalah sama belumlah lengkap karena mempunyai kelanjutan. Pertama, tidak semua orang akan terluka dengan cara yang sama oleh setiap dosa yang kita lakukan. Jika saya menembak mati si A sekarang, atau jika saya hanya meludahinya, keduanya adalah dosa yang sangat buruk karena Yesus menyebut kebencian sebagai pembunuhan. Tetapi, si A tidak akan mati jika saya hanya meludahi dia. Sebaliknya, jika saya menembak mati dia, keluarganya akan sangat berduka dan saya mungkin akan mendapatkan hukuman berat dari wakil Tuhan di dunia yaitu pemerintah.

Alkitab sebenarnya mengajarkan bahwa ada tingkatan hukuman bagi umat Tuhan di dunia. Jika Anda tahu apa yang benar dan tidak melakukannya, Anda mungkin dihukum dengan lebih banyak pukulan daripada jika Anda tidak tahu yang benar dan melakukan yang salah (Roma 2:12). Hukuman dosa bisa dijatuhkan Tuhan kepada si pembuat dosa dan mungkin juga kepada sanak keluarganya di dunia. Karena itu, adalah penting bagi semua orang tua untuk memberi pengertian yang benar kepada anak-anaknya, yaitu tentang apa yang ditulis dalam Alkitab: bahwa setiap orang, Kristen maupun bukan, harus mempertangung-jawabkan hidupnya kepada Tuhan.

Ketika seorang ayah memiliki gaya hidup dan cara bekerja yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, anak-anaknya cenderung memiliki hal yang serupa. Sekalipun sang ayah tahu akan apa yang benar, ia akan mengalami kesulitan untuk mengajarkannya, sebagai teori tanpa praktik, kepada anak-anaknya. Itulah mengapa adil bagi Allah untuk menghukum dosa hingga ke generasi ketiga atau keempat – karena mereka melakukan dosa yang sama seperti yang dilakukan para leluhur mereka. Sebenarnya mereka sedang dihukum karena dosa-dosa mereka sendiri, bukan dosa para leluhur mereka (Keluaran 20:5; 34:7; Bilangan 14:18; Ulangan 5:9). Walaupun demikian, jika ada perbedaan hukuman dan akibat dari dosa, berarti ada tingkat kesalahan, dan ini berarti bahwa beberapa dosa lebih tercela daripada yang lain.

Kita mungkin pernah mendengar tentang tujuh dosa utama (seven capital sins) atau tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang pernah disebut dalam tradisi gereja di abad mula-mula. Sekalipun kita tahu bahwa di hadapan Tuhan semua dosa bisa membawa kematian kekal, dan karena pengampunan kita bisa diselamatkan dari murka Allah, angka tujuh menempati posisi yang unik dalam kehidupan umat Kristen di dunia. Ketujuh dosa utama yang bisa “diturunkan” kepada anak-cucu kita adalah:

  • Kesombongan (Pride, Superbia)
  • Iri hati (Envy, Invidia)
  • Kemarahan (Anger, Ira)
  • Ketamakan (Greed, Avaritia)
  • Nafsu-birahi (Lust, Luxuria)
  • Rakus (Gluttony, Gula)
  • Kemalasan (Sloth, Acedia)

Sebagian orang Kristen memang berpikir bahwa membuat kategori “tujuh dosa” adalah sia-sia, karena di mata Tuhan semua dosa adalah sama. Selain itu, karena darah Kristus tidak ada dosa yang akan membawa kematian kekal bagi mereka yang beriman. Namun, dalam tradisi Kristen yang sudah lama ketujuh dosa utama ini terus didengungkan karena sikap realistis bahwa ketujuh dosa ini memang “utama,” dalam arti ia bisa melahirkan banyak dosa-dosa lainnya yang bisa membawa kesengsaraan kepada umat manusia selama hidup di dunia. Karena itu mereka disebut dosa utama (capital, caput, kepala).

Ketujuh dosa tersebut bersifat generatif, melahirkan dosa lain yang lebih besar. Membunuh istri tentu saja dosa yang berat, demikian pula di mata hukum, namun bagaimana dengan keserakahan (greed), satu dari tujuh dosa utama, yang melandasi tindakan membunuh tersebut, keserakahan karena mengingini uang asuransi kematian sang istri? Apakah memang pemerkosaan yang dilakukan seorang pria dewasa tidak berkorelasi dengan nafsu berahi orang itu saat ia masih remaja dan asyik-masyuk dengan gambar-gambar di majalah porno? Apakah kita mampu memahami pembasmian orang-orang Yahudi oleh Nazi tanpa mengaitkannya dengan kesombongan (pride) ras Aria?

Pada pihak yang lain, ada orang yang berpendapat bahwa tidak ada dosa yang bisa membawa kebinasaan kepada orang percaya. Orang yang sudah diselamatkan sudah dibasuh dengan darah Kristus dan karena itu tidak ada dosa yang bisa membatalkan penyelamatan itu. Sudah tentu pandangan ini ada benarnya, yaitu jika orang berdosa sudah menerima hidup baru dari Tuhan dan berubah dari hidup lamanya, ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Tuhan. Pada pihak yang lain, ini bukan berarti bahwa setiap orang yang rajin ke gereja, tetapi tetap bergelimang dalam dosa, adalah orang yang sudah dipilih Tuhan.

Satu dosa lain yang saya rasa perlu ditanbahkan adalah ketidakpedulian (ignorance, agnoia) yang nampaknya sepele tapi dampaknya sangat serius. Ketidakpedulian, seperti apa yang tertulis di bawah ini, bisa menyebabkan banyak akibat yang serius.

Jika kita kembali ke Yakobus, alasan mengapa kita bersalah atas semua dosa jika kita melakukan suatu dosa adalah karena adanya satu Tuhan yang mahasuci, yang menentang semua bentuk dosa. Oleh karena itu, jika saya berkata kepada Tuhan, “Saya akan melakukan ini terhadap-Mu” – dosa kecil ini, katakanlah, meludahi seseorang; atau “Saya akan melakukan dosa besar ini terhadap-Mu”, dalam kedua kasus ini saya telah menentang Tuhan. Dalam kedua kasus ini, saya tidak mempedulikan kemahasucian Tuhan.

Sebagian orang Kristen mengambil cara yang mudah untuk memisahkan dosa besar yang membawa kematian dari dosa kecil yang tidak membawa kematian. Mereka mendefinisikan dosa yang tidak membawa kematian adalah dosa sebesar apa pun yang dilakukan oleh orang pilihan, sedangkan dosa sekecil apa pun jika dilakukan oleh orang bukan pilihan akan membawa kematian. Ini adalah pandangan yang secara teologis benar, tetapi dalam kenyataan hidup menjadi sebuah tanda tanya. Mengapa orang bisa merasa yakin bahwa Tuhan yang mahasuci sudah memilih mereka dan memberikan Roh-Nya, membiarkan mereka tetap hidup bergelimang dalam dosa? Jawaban yang lebih realistik adalah bahwa orang-orang yang nyata-nyata tidak mempedulikan firman Tuhan adalah bukan orang pilihan.

Pendapat bahwa orang pilihan tidak perlu memikirkan cara hidupnya biasanya disebabkan oleh kekeliruan teologi, terutama kedangkalan Kristologi, seperti apa yang dialami oleh sebagian orang Kristen di Roma yang pernah ditegur oleh rasul Paulus. Mereka yang menganut pandangan ini mengabaikan kenyataan bahwa Kristus menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus (1 Petrus 1:14-16). Selain itu, pandangan keliru ini seolah menyatakan bahwa Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang mahakuasa dan mahabijaksana jika Ia membiarkan orang pilihan untuk terus berbuat dosa dan mempermalukan Dia. Keadaan yang sedemikian sudah tentu akan membuat banyak orang tidak mempedulikan panggilan Injill Kristus karena tidak dapat melihat apa yang baik dalam hidup umat Kristen.

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1-2

Pagi ini, Tuhan ingin kita merasakan bahwa setiap dosa, dari yang terkecil sampai yang terbesar, adalah melawan Tuhan dan bukan hanya melawan hukum manusia. Tidak mempedulikan panggilan dan firman Tuhan adalah dosa. Apa yang tidak terdeteksi oleh hukum manusia, tidak akan bisa luput dari pandangan mata Tuhan. Dan dalam pandangan Tuhan, setiap dosa adalah sangat keji. Jadi kita hanya perlu ingat bahwa ketika Tuhan dinodai di dalam hati kita yang berisi dosa, kita melakukan kejahatan yang tak terbatas terhadap-Nya. Kita harus menyadari bahwa ketika umat manusia menghadapi pengadilan Tuhan, tidak ada seorang pun yang bisa menuduh Tuhan tidak adil karena menerima hukuman Tuhan yang tidak sesuai dengan kejahatannya. Bagaimana dengan cara Anda untuk berdalih tentang dosa kecil dan dosa besar Anda di hadapan pengadilan-Nya?

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” Roma 1:19-22

Dapatkah kita bersikap netral?

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Matius 12:30

Gerakan Non-Blok (GNB) (bahasa Inggris: Non-Aligned Movement/NAM) adalah suatu organisasi internasional yang terdiri lebih dari 100 negara-negara yang menganggap dirinya tidak beraliansi dengan kekuatan besar apa pun. Indonesia merupakan salah satu negara pendiri GNB dan menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang melahirkan Deklarasi Bandung sebagai asas fundamental dan cikal bakal terbentuknya GNB pada tahun 1961.

Jika sebuah negara bisa menutuskan untuk tidak beraliansi dengan kekuatan besar apa pun, seseorang mungkin bisa berusaha tidak berpihak kepada siapa pun dalam pergaulannya sehari-hari. Orang itu mungkin mengambil keputusan untuk bisa berteman dengan semua orang; tetapi, jika ada pertentangan di antara mereka yang dianggapnya sebagai teman, ia bisa menjadi sendirian terjepit di tengah dua pihak. Pepatah lama menyatakan hal ini sebagai keadaan dimana “gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”.

Yesus menegur orang Farisi (Matius 12:25–28) karena menuduh Dia mengusir setan dengan kuasa setan (Matius 12:22–24). Ini tentu tidak benar. Kebalikannya justru benar. Dia mengatakan di ayat sebelumnya, dalam bentuk analogi, bahwa untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, Dia harus mengikat “orang kuat” terlebih dahulu, yaitu setan, sehingga Dia dapat merampas isi wilayah kekuasaan setan (Matius 12:29).

Dengan kata lain, Yesus datang ke bumi untuk mengumpulkan warga bagi kerajaan Allah dengan kuasa Roh Kudus (Matius 12:28). Mereka yang menerima Dia dengan iman akan diselamatkan dari wilayah kegelapan setan dan dibawa ke kerajaan Yesus (Kolose 1:13). Bertentangan dengan tuduhan orang Farisi, Yesus menyatakan kepada mereka dan orang banyak yang mendengarkan-Nya, betapa kerasnya Dia bekerja melawan setan.

Kemudian Yesus menatap mata orang Farisi dan menarik garis di pasir. Siapa pun yang tidak bersama-Nya dalam pekerjaan yang Dia lakukan ini, menurut definisi-Nya, adalah melawan Dia. Siapa pun yang tidak membantu-Nya dalam misi-Nya untuk mengajak dan mengumpulkan manusia untuk menjadi warga kerajaan-Nya bersalah karena mencerai-beraikan mereka. Itu berarti bahwa orang-orang Farisi, dalam persekongkolan mereka untuk menghancurkan Yesus, telah menentang Roh Kudus dan kerajaan Allah. Bersama setan, mereka melawan pekerjaan Tuhan.

Yesus menjadikan pernyataan keras dan mutlak ini sebagai peringatan bagi semua orang yang mendengarkan Dia. Tidak ada yang bisa tetap netral dalam hubungan kerja dengan Yesus (Kisah Para Rasul 4:12). Dia menuntut ketundukan dan partisipasi penuh dalam misi-Nya dari mereka yang ingin bersama Dia. Siapa pun yang tidak bergabung dengan-Nya dan tetap pasif dalam hidupnya akan dihitung sebagai lawan, tidak peduli seberapa besar keinginannya untuk tidak berpihak (Yohanes 3:36). Apa arti semua ini?

Kita yang mengaku orang Kristen adalah tentara yang berperang melawan kuasa gelap dunia. Seorang serdadu yang tidak mau berjuang bersama Yesus dalam peperangan melawan setan adalah serdadu yang melakukan desersi. Mereka yang mau terbilang warga-Nya, tetapi tidak mau bekerja dan hidup untuk Dia adalah musuh-Nya. Hanya mereka yang mempunyai iman yang dinyatakan dalam cara kerja dan hidup yang berguna untuk kemuliaan-Nya adalah serdadu Kristen yang berguna dalam perang menghadapi setan. Sebaliknya, mereka yang sudah diberi selengkap persenjataan tetapi tidak mau mengenakannya adalah serdadu yang ceroboh dan merugikan kerajaan Tuhan.

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.” Efesus 6:11-18

Maju tent’ra Kristus!
Maju berperang.
Dengan salib Yesus,
Kita berjuang.
Kristus Sang Panglima,
Memimpin kita;
Majulah bersama,
Lihat panji-Nya.

Antara iman dan pertobatan

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1:14-15

Iman dan pertobatan adalah respon yang diperlukan terhadap Injil. Iman adalah alat yang dengannya Allah mempersatukan orang-orang pilihan dengan Yesus Kristus dan menjadikan mereka penerima berkat-berkat penyelamatan yang Dia dapatkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Sehubungan dengan pembenaran orang percaya, iman perlu bersandar pada Kristus dan menerima pribadi-Nya dan bekerja sendiri untuk keselamatan. Dalam pengudusan, iman menghasilkan buah yang aktif saat kita menjalani kehidupan Kristiani.

Seluruh kehidupan orang Kristen dihayati oleh iman. Kehidupan Kristen dijalani oleh iman yang bekerja melalui kasih. Dengan cara yang sama, seluruh hidup orang percaya dijalani dengan pertobatan. Pertobatan juga merupakan anugrah keselamatan. Tidak seperti iman yang membenarkan, pertobatan bersifat aktif. Dalam pertobatan, orang percaya berpaling dari dosa-dosa mereka dan kepada Allah dalam penyesalan dan kehancuran – berharap dalam belas kasihan yang Dia berikan kepada orang-orang berdosa di dalam Kristus.

Allah menganugerahkan kedua karunia ini kepada orang percaya melalui karya Roh Kudus. Meskipun iman dan pertobatan adalah tindakan yang tidak dapat dipisahkan, namun keduanya adalah tindakan yang berbeda. Saat orang percaya hidup dengan iman dan pertobatan, mereka tetap berada di jalan sempit yang menuntun pada kehidupan. Ketekunan mereka dalam iman Kristen ditopang oleh anugerah Allah yang memelihara, yang membekali mereka dengan pembaharuan Roh Kudus untuk iman dan pertobatan yang Allah tuntut.

Ketika Injil diberitakan, tampaknya ada dua panggilan yang berbeda, yang disuarakan. Terkadang panggilannya adalah, “Bertobatlah!” Jadi, “Yohanes Pembaptis datang berkhotbah di padang gurun Yudea, dan bersero: “Bertobatlah karena kerajaan surga sudah dekat” (Matius 3:1–2). Juga, Petrus mendesak para pendengar yang hati nuraninya telah tercabik-cabik pada hari Pentakosta, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus” (Kisah Para Rasul 2:38). Belakangan, Paulus mendesak orang Athena untuk “bertobat” sebagai tanggapan atas pesan Kristus yang bangkit (Kisah Para Rasul 17:30).

Namun, pada kesempatan lain, tanggapan yang tepat terhadap Injil adalah, “Percaya!” Ketika sipir Filipi bertanya kepada Paulus apa yang harus dia lakukan untuk diselamatkan, Rasul mengatakan kepadanya, “Percayalah kepada Tuhan Yesus dan engkau akan diselamatkan” (Kisah Para Rasul 16:31). Selanjutnya dalam Kisah Para Rasul 17, kita menemukan bahwa justru di mana pertobatan diperlukan, mereka yang bertobat digambarkan sebagai percaya (Kisah Para Rasul 17:30, 34).

Iman dan pertobatan, mana yang lebih penting? Ini pasti bisa dijawab oleh fakta bahwa ketika Yesus memberitakan “Injil Allah” di Galilea, Dia mendesak para pendengar-Nya, “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:14–15). Di sini pertobatan dan iman menjadi satu. Itu menunjukkan dua aspek yang sama pentingnya. Jadi, salah satu kata menyiratkan kehadiran yang lain karena setiap realitas (pertobatan atau iman) adalah satu yang mutlak diperlukan oleh yang lain. Maka, dalam istilah tata bahasa, kata bertobat dan percaya keduanya berfungsi sebagai sinekdok, kiasan di mana sebagian digunakan untuk keseluruhan. Jadi, pertobatan menyiratkan iman dan iman menyiratkan pertobatan. Satu tidak bisa ada tanpa yang lainnya.

Tapi mana yang lebih dulu, secara logis? Apakah itu pertobatan? Apakah itu iman? Atau tidak ada yang memiliki prioritas mutlak? Telah terjadi perdebatan yang berkepanjangan dalam pemikiran teolog mengenai hal ini. Saya percaya, iman seharusnya mendahului pertobatan. Iman adalah keyakinan akan adanya Tuhan yang mahasuci dan mahaksih. Karena adanya iman, manusia bertobat untuk bisa diampuni oleh Tuhan. Jika pertobatan terjadi lebih dahulu, apa maksud dari pertobatan itu jika Tuhan tidak dikenal dan tidak ada yang dijadikan ukuran kesucian? Sekalipun pertobatan dan iman adalah karunia Tuhan, pertobatan seharusnya menjadi buah iman.

Apa yang tertulis di atas belumlah menyatakan semua yang perlu dikatakan. Dalam teologi pertobatan apa pun ada suatu psikologi pertobatan. Pada individu tertentu mana pun, pada tingkat kesadaran, rasa pertobatan atau kepercayaan dapat mendominasi. Apa yang bersatu secara teologis mungkin berbeda secara psikologis. Dengan demikian, seorang individu yang sangat diinsafkan akan kesalahan dan belenggu dosa dapat mengalami pembalikan dari dosanya sebagai nada dominan dalam pertobatannya. Orang lain (yang pengalaman imannya semakin dalam setelah pertobatan mereka) mungkin memiliki rasa yang dominan akan keajaiban kasih Kristus, dengan penderitaan jiwa yang lebih sedikit pada tingkat psikologis. Di sini individu lebih sadar untuk percaya kepada Kristus daripada pertobatan dari dosa. Namun dalam pertobatan sejati, tidak ada yang bisa ada tanpa yang lain. Pengaruh psikologis dari pertobatan dengan demikian bervariasi, kadang-kadang tergantung pada penekanan Injil mana yang disampaikan oleh gereja kepada orang berdosa (kerusakan dosa atau kebesaran karunia).

Di sepanjang Kitab Suci, Allah memanggil orang berdosa untuk bertobat dan percaya (Markus 1:15). Pertobatan dan iman adalah tanggapan yang diperlukan terhadap janji-janji Allah dan pesan Injil. Iman adalah memercayai Allah yang dijanjikan dan merangkul Tuhan Yesus Kristus sebagaimana Ia ditawarkan secara cuma-cuma kepada orang berdosa dalam Injil. Dari catatan paling awal tentang karya Allah dalam sejarah penebusan, kita menemukan bahwa iman adalah pusat kehidupan umat Allah.

Pagi ini kita belajat bahwa orang diperdamaikan dengan Allah (dibenarkan) hanya karena iman, bukan karena iman ditambah perbuatan. Namun, iman tanpa pertobatan bukanlah iman yang menyelamatkan. Iman sejati didasarkan pada karya Kristus saja, bukan pada apa pun yang kita lakukan. Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada pengampunan dosa tanpa pertobatan (Lukas 13:3; Kisah Para Rasul 17:30). Pertobatan berasal dari iman; itu tidak mendahului iman. Penyebab pengampunan kita adalah Kristus melalui iman.

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ibrani‬ ‭11‬:‭6‬ ‭

Dapatkah kita menaati hukum Tuhan?

Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40

Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, yang merupakan jawaban Yesus kepada pertanyaan orang Farisi. Ketika itu orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki bungkam. Lalu berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: ”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”. Lalu Yesus menjawab mereka dengan mengemukakan dua hukum yang paling utama itu.

Untuk apa hukum Tuhan diberikan kepada manusia? Kita tahu bahwa hukum Taurat diberikan kepada umat Israel agar mereka bisa hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, mereka tidak dapat melaksanakan hukum itu dengan baik, dan malahan sering melanggarnya. Hukum Taurat, jika kita harus jalankan seperti umat Israel dulu, tentu akan membawa kegagalan bagi kita seperti apa yang dialami mereka. Kalau begitu, apa guna hukum itu dan mengapa Tuhan memberikannya kepada umat Israel?

Pernah terjadi, ada seorang yang kaya datang kepada Yesus, dan berkata: ”Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: ”Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” (Matius 16: 17-17). Orang itu dengan yakin mengatakan bahwa ia sudah menjalankan semua hukum Taurat. Tetapi, ketika Yesus menyuruhnya untuk menjual segala hartanya dan memberikan hasilnya kepada orang miskin, orang itu mundur dan pergi dengan sedih hati. Mengapa? Ia mengasihi hartanya lebih dari Tuhannya!

Mungkin kita berpikir bahwa Yesus memberikan perintah yang terlalu berat untuk membuat orang itu tidak bisa melaksanakannya. Memang, jika kita menempatkan diri pada kedudukan orang itu, kita juga akan gagal. Siapakah yang dapat mengurbankan segala yang ada untuk mengikut Yesus? Tetapi, sebenarnya Yesus bukan sengaja membuat orang itu gagal. Orang itu gagal karena memang ia sangat mencintai hartanya, dan Yesus bisa melihat itu sekalipun orang lain tidak tahu. Orang lain mungkin melihat orang itu sebagai orang yang saleh, tetapi Yesus tahu bahwa bagi orang itu hartalah yang selalu mendapat perhatian utama.

Kedua hukum yang utama di atas adalah apa yang harus kita laksanakan sekarang. Tetapi, seperti jawaban Yesus kepada orang kaya di atas, kita diperintahkan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, dan itu berarti kita harus selalu memuliakan Dia di setiap saat dengan menaati perintah dan hukum-Nya. Ini tentu saja sangat sulit untuk dilakukan, untuk tidak dikatakan mustahil.

Memuliakan Allah juga berarti mencerminkan citra Yesus, yaitu mengasihi, dan mengasihi dengan murah hati, seperti yang dilakukan-Nya. Percaya kepada Yesus berarti percaya bukan hanya pada apa yang Dia lakukan untuk kita tetapi juga pada hikmat hidup yang Dia contohkan bagi kita. Tidak seorang pun dapat memuliakan Allah sesempurna Kristus, itulah sebabnya kita membutuhkan belas kasihan Allah.

Menjalankan hukum Allah secara sempurna sudah tentu tidak dapat dilakukan oleh siapa saja, Allah tahu akan hal itu, tetapi tetap memberikannya dengan maksud bahwa setiap orang sadar akan kelemahan mereka dan hanya bergantung kepada Dia untuk kemurahan-Nya. Tuhan melihat apa yang kita lakukan bagi-Nya dengan melihat apa yang ada dalam pikiran dan hari kita, yaitu apakah kita mempunyai maksud yang tulus untuk menaati perintah-Nya – tanpa membiarkan keseganan kita dan keraguan akan kebijaksanaan-Nya menguasai hidup kita.

Banyak orang Kristen yang tidak mau berusaha untuk menaati hukum Tuhan dengan berbagai alasan, tetapi dua alasan yang paling sering dikemukakan di kalangan gereja Protestan adalah: (1) Mereka diselamatkan karena karunia dan bukan karena ketaatan akan hukum Tuhan, dan (2) Mereka tidak mampu untuk menaati hukum Tuhan dengan sempurna. Orang-orang ini lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tetapi yang ada adalah orang beriman yang makin lama makin dewasa, makin sempurna dan makin lama makin mau menaati perintah Tuhan.

Perumpamaan tentang talenta (Matius 25:15-30) dapat memberi gambaran akan ketaatan kepada perintah Tuhan. Semua orang Kristen sejati tetap harus menghargai hulum Taurat dan segala hukum dan perintah yang diberikan oleh Yesus dan berusaha menaatinya dengan berjuang keras seperti seorang hamba yang diberi sejumlah uang dan menurut perintah tuannya untuk bekerja dan mendapat laba. Sang tuan menghargai ketaatan hambanya, bukan jumlah laba yang diperolehnya.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:23

Mengapa kita harus menaati perintah Tuhan? Jawabnya hanya satu: karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Tuhan memberikan firman dan hukum-Nya bukan hanya untuk dilihat atau diingat, tetapi untuk ditaati. Ditaati oleh siapa? Ditaati oleh umat-Nya, orang yang sudah diselamatkan. Karena hanya orang yang sudah diselamatkan dapat mengerti bahwa pelaksanaan hukum Tuhan adalah baik, sekalipun tidak membawa keselamatan. Sebaliknya, orang yang belum diselamatkan akan memandang hukum Tuhan adalah suatu kebodohan dan berpikir bahwa usaha untuk menaatinya hanya membuang waktu (pendapat hamba yang mendapat satu talenta).

“Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Roma 7:12

Kembali kepada hal menaati hukum Tuhan, bagaimana kita bisa melaksanakannya jika umat Israel gagal total? Pertama, ada beda besar antara umat Israel dan umat bukan Israel. Pada zaman umat Israel, hukum Tuhan dimaksudkan agar bangsa Israel, pilihan Tuhan, dibedakan dari bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan. Mereka diajar untuk hidup menurut disiplin hukum karena mereka masih menantikan kedatangan Yesus. Hubungan mereka dengan Tuhan hanyalah melalui para nabi dan hakim yang menyampaikan kehendak Tuhan satu demi satu agar rencana-Nya terjadi.

Pada zaman sekarang, umat Kristen sudah memiliki hukum Tuhan yang tertulis secara lengkap dalam Alkitab, bersama pedoman pelaksanaannya yang ditulis oleh para rasul. Lebih dari itu, hukum itu sudah tertulus dalam hati kita (Roma 2:15), yang menunjukkan apa yang baik dan apa yang jahat. Karena Yesus sudah datang ke dunia dan menebus dosa kita, Ialah yang akan melengkapi segala kekurangan kita dalam menjalankan hukum. Tidak perlu lagi kita memakai binatang untuk kurban, karena Yesus sudah disalibkan. Dengan demikian, apa yang dituntut dari kita hanyalah iman kepada Yesus, sedangkan adanya hukum masih berguna bagi umat Tuhan sebagai sarana untuk pengudusan. Melalui hukum kita melihat kekurangan kita, mencoba memperbaikinya dengan pertolongan Roh Kudus, dan berusaha sekuat kita untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Dia yang sudah menebus kita dan memuliakan nama-Nya.

Pagi ini, masih adakah perasaan ragu atau segan bagi kita untuk menaati perintah dan hukum Tuhan? Adanya hukum Tuhan bukan untuk membuat kita sengsara. Karena kita tidak akan dapat melaksanakannya secara sempurna, usaha menaati hukum Tuhan tidak seharusnya membuat kita sombong. Sebaliknya, hukum Tuhan berguna agar kita makin mengenal Tuhan dan karakter-Nya, untuk menyadari ketergantungan kita kepada-Nya, untuk menyatakan rasa syukur kita, dan juga berguna untuk membuat kita menjadi umat Kristen yang selalu rindu untuk bertumbuh dalam iman; agar makin lama makin sempurna, karena Roh Kudus yang sudah diberikan kepada setiap orang Kristen sejati.

Jangan akui Yesus sebagai Tuhan kalau Anda tidak mau tunduk kepada Dia

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: ”Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Roma 10: 9-13

Yesus adalah Tuhan. Itu adalah kebenaran, apakah orang mengakui fakta atau tidak. Dia lebih dari Mesias, lebih dari Juruselamat; Dia adalah Tuhan dari semua. Suatu hari nanti, semua akan tunduk pada kebenaran itu: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi‬ ‭2‬:‭9‬-‭11‬ ).

Secara umum, seorang tuan (lord) adalah seseorang yang memiliki wewenang, kendali, atau kekuasaan atas orang lain; mengatakan bahwa seseorang adalah “tuan” berarti menganggap orang itu sebagai boss atau penguasa. Pada zaman Yesus kata tuan sering digunakan sebagai gelar penghormatan terhadap otoritas duniawi; dan ketika penderita kusta memanggil Yesus “Tuhan” atau “Lord” dalam Matius 8:2, dia menunjukkan rasa hormat kepada Yesus sebagai seorang penyembuh dan guru (lihat juga Matius 8:25 dan 15:25).

Fakta bahwa Yesus disebut sebagai Tuhan tidak berarti bahwa orang-orang mengakui Ketuhanan-Nya. Kata Yunani untuk Tuhan, kurios, dapat digunakan untuk nama Tuhan – Jehovah atau Yahweh. Namun kurios juga bisa menjadi cara yang sopan untuk menyapa seseorang. Misalnya, ada orang selain Yesus yang disebut sebagai kurios dalam Perjanjian Baru. Dengan demikian, ada orang-orang yang hanya menghormati Yesus sebagai manusia, dan bukan Tuhan yang berkuasa sepenuhnya atas hidup mereka.

Setelah kebangkitan, gelar “Tuhan”, sebagaimana diterapkan pada Yesus, menjadi lebih dari sekadar gelar kehormatan atau rasa hormat. Mengatakan, “Yesus adalah Tuhan,” menjadi cara untuk menyatakan ketuhanan Yesus. Itu dimulai dengan seruan Tomas ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya: “Tomas berkata kepadanya, ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’” (Yohanes 20:28). Sejak saat itu, pesan para rasul adalah bahwa Yesus adalah Tuhan, artinya “Yesus adalah Allah.” Perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang mengaku Kristen percaya bawa Yesus itu Tuhan apalagi Allah sekalipun mereka mengakui bahwa Ia adalah Juruselamat manusia. Mengapa demikian?

Dengan mengatakan, “Yesus adalah Tuhan,” kita berkomitmen untuk menaati-Nya. Yesus bertanya, “”Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Pengakuan akan ketuhanan Yesus secara logis disertai dengan penyerahan diri kepada otoritas Yesus. Jika Yesus adalah Tuhan, maka Dia memiliki kita; Dia memiliki hak untuk memerintahkan kita apa yang harus dilakukan.

Seseorang yang mengatakan, “Yesus adalah Tuhan,” dengan pemahaman penuh tentang apa artinya (Yesus adalah Tuhan dan memiliki otoritas tertinggi atas segala sesuatu) telah dicerahkan secara ilahi: “Tidak seorang pun dapat mengatakan, ‘Yesus adalah Tuhan,’ kecuali dengan Roh Kudus” (1 Korintus 12:3). Iman kepada Tuhan Yesus diperlukan untuk keselamatan (Kisah Para Rasul 16:31). Hanya Roh Kudus yang bisa membuat manusia tunduk kepada Yesus.

Para pengikut kekristenan duniawi seakan menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat tanpa harus mengakui Kristus sebagai Tuhan. Mengapa begitu? Menurut pendukung posisi ini, seseorang diselamatkan jika mereka mengakui Kristus, bahkan jika mereka tidak pernah berubah dari hidup lama mereka. Mereka yakin bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, orang tidak perlu menaati perintah dan ajaran-Nya.

Posisi ini menandai suatu perubahan yang signifikan dalam sejarah teologi Kristen terutama dalam dua abad terakhir, dan sudah membuat kekacauan dalam berbagai gereja. Bagaimana itu bisa terjadi? Para pendukung Kekristenan duniawi menuduh bahwa jika kita masih menegaskan bahwa perbuatan baik diperlukan dalam kehidupan orang percaya, kita sebenarnya menyangkal bahwa pembenaran Tuhan hanya melalui iman. Ini sudah tentu merupakan kekeliruan besar.

Jika kita tidak pernah melihat perbuatan baik dalam diri orang lain, kita harus meragukan apakah mereka benar-benar seorang Kristen, sebab mengasihi Kristus berarti kita menaati-Nya (Yohanes 14:15). Ketaatan kita memang tidak akan sempurna dalam kehidupan ini karena adanya dosa pada setiap orang. Meskipun demikian, karena adanya Roh Kudus iman yang sejati akan menghasilkan ketaatan, betapapun tidak sempurnanya itu.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengaku Kristen tetapi tidak memiliki iman yang benar (Matius 7:21). Para pendukung kekristenan duniawi ini memberikan jaminan keselamatan palsu ketika mereka mengklaim bahwa adalah mungkin untuk dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan tanpa harus berubah hidupnya. Mereka agaknya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat tetapi bukan sebagai Tuhan karena tidak adanya keharusan untuk taat kepada perintah-Nya.

Klaim ini hanya mengungkapkan bahwa para pendukung kekristenan duniawi sudah keliru dalam memahami posisi alkitabiah tentang keselamatan yang datang dari iman saja (sola fide). Alkitab sangat jelas bahwa kita dibenarkan bukan karena perbuatan, tetapi hanya karena iman (Galatia 2:16). Tetapi Alkitab sama jelasnya dalam mengemukakan bahwa iman yang membenarkan kita tidak pernah bekerja sendirian. Iman yang sejati harus ditunjukkan melalui adanya perbuatan baik dan ketaatan kepada Kristus dalam kehidupan orang percaya (Yakobus 2:17-18).

Orang Kristen sejati menjalani kehidupan yang selalu ditandai dengan peperangan antara Roh Kudus dan daging yang merupakan natur dosa lama kita (Roma 7:13–20; Galatia 5:16–24). Orang Kristen yang tidak merasakan adanya peperangan ini adalah orang yang terlena, atau orang yang belum pernah menerima Roh Kudus. Orang Kristen duniawi belum tentu selalu mengejar kekayaan dan ketenaran, atau selalu hidup dalam kebebasan seks, narkoba, dan pesta pora. Tetapi, mereka adalah orang Kristen yang tidak mempunyai minat atau semangat untuk berubah menjadi dewasa dalam iman. Paulus dalam ayat 1 Korintus 2: 13-14 berusaha untuk menjelaskan pentingnya hidup dalam kerohanian yang baik, dan ia berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepadanya oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Sayang, orang Kristen duniawi tidak dapat menerima nasihat Paulus.

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh. Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” 1 Korintus 2: 13-14

Apakah ada orang Kristen yang tidak diselamatkan? Tidak. Tetapi, hanya Tuhan yang tahu mana yang benar-benar gandum dan mana yang ilalang. Pada pihak lain, adanya keinginan untuk taat dan beberapa perbuatan baik akan membuktikan bahwa orang Kristen bertumbuh dalam imannya. Itu berarti bahwa ketika kita tumbuh menjadi dewasa, kemenangan atas dosa yang telah dimenangkan Kristus bagi kita akan semakin nyata dalam hidup kita melalui semakin banyak kemenangan Roh atas kedagingan kita dalam hidup sehari-hari.

Hari ini, biarlah kita sadar bahwa pertumbuhan kedewasaan iman harus dinyatakan dalam hidup dalam ketaatan yang main lama makin besar kepada kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan dalam Alkitab. Itulah tanda orang Kristen sejati!

Pengudusan adalah bagian Injil yang diabaikan dalam Antinomianisme

“Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2:11-16

Jika kita benar-benar orang percaya, maka kita menyadari bahwa kedudukan kita di dalam Kristus dengan sendirinya memisahkan kita dari dunia. Bagaimanapun, kita memiliki hubungan dengan Tuhan yang hidup! Kemudian, tentunya kita setiap hari harus menjalani kehidupan baik, tidak mencoba untuk “berbaur” dengan dunia, melainkan hidup sesuai dengan firman Tuhan dan bertumbuh dalam pengertian. Ini membutuhkan usaha kita, tidak otomatis. Anda kurang yakin?

Kebijaksanaan, kesabaran, kasih dan apa yang baik lainnya adalah karunia Allah dan Roh. Jadi ketika Petrus memberi tahu kita untuk melakukan segala upaya, dia sama sekali tidak menegaskan bahwa ini [kebajikan] adalah dari kekuatan kita, tetapi hanya menunjukkan apa yang seharusnya kita miliki, dan apa yang harus dilakukan. Sekalipun ini jelas, dalam pelaksanaannya kita bisa mengalami banyak masalah yang dimunculkan oleh sebuah ajaran. Ajaran apa? Ajaran Antinomianisme.

Kata “antinomianisme” berasal dari dua kata Yunani, yaitu anti, yang berarti “melawan”; dan nomos, yang berarti “hukum.” Antinomianisme secara harafiah berarti “melawan hukum.” Secara teologi, antinomianisme adalah doktrin yang menyatakan kalau Allah tidak mengharuskan orang Kristen untuk taat kepada hukum moral apa pun. Antinomianisme memang mengambil ajaran dari Alkitab, namun kesimpulan yang ditarik tidaklah alkitabiah. Ayat di atas adalah salah satu ayat Alkitab yang bertentangan dengan pandangan mereka.

Secara sederhana, kita dapat melihat ciri antinomianisme yang merendahkan pentingnya kekudusan dan fungsi moral dalam kehidupan orang Kristen. Mereka tidak pernah atau jarang membahas ayat Alkitab yang berisi pesan untuk hidup baik.

Sebagai orang Kristen, kita adalah orang-orang yang beruntung. Terlepas dari rasa syukur kita atas kasih karunia dan pengampunan Allah, kita pasti ingin menyenangkan-Nya. Allah telah memberikan kasih karunia-Nya yang tak terhingga dalam keselamatan melalui Yesus (Yohanes 3: 16; Roma 5: 8). Respon kita seharusnya adalah menguduskan hidup kita untuk-Nya, sebagai tanda kasih, penyembahan dan syukur kita atas segala yang telah dilakukan-Nya bagi kita (Roma 12: 1-2). Antinomianisme tidak alkitabiah karena menyalahgunakan makna kasih karunia Allah. Antinomianisme adalah alat iblis untuk menghancurkan hidup orang Kristen dan mempermalukan Allah.

Dari semua klaim yang dibuat oleh kaum antinomian, mungkin yang paling mencolok mata pada saat ini, adalah bahwa mereka mengutamakan pembenaran (justification) di atas manfaat penyelamatan lainnya, khususnya pengudusan (sanctification). Masalah yang sudah ada sejak abad ke-17 di kalangan teolog antinomian adalah sejauh mana mereka memprioritaskan pembenaran dalam teologi mereka. Seperti disebutkan di atas, para antinomian pada dasarnya meletakkan pengudusan di bawah pembenaran. Injil, dalam pandangan mereka, sinonim dengan pembenaran. Tidak lebih, tidak kurang.

Ajaran antinomian menghina Roh Kudus dengan bersikeras bahwa Tuhan sepenuhnya bertanggung jawab atas kemajuan atau kurangnya kekudusan umat Kristen. Jika si pengikut ajaran masih terus hidup dalam dosa, anggapan yang tak terucapkan adalah bahwa Tuhan belum menyelesaikan pekerjaan-Nya atau Dia tidak berkeberatan atas dosa umat-Nya.

Ajaran antinomian yang pasif dan tidak memuaskan di zaman ini adalah lebih populer dari apa yang Anda duga. Ini disebabkan karena munculnya gereja-gereja yang memakai doktrin Reformed tinggi (Hyper-Calvinism). Mereka mengatakan tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk memajukan pengudusan Anda. Tuhan yang berdaulat melakukan pekerjaan di dalam diri Anda, jadi Anda harus menunggu dengan tenang dan bersikap pasif dalam prosesnya. Itu karena Anda tidak mampu untuk melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan. Saya sendiri sudah menyelidiki kasus antinomianisme di Indoseia sejak dua tahum yang lalu dan menemukan bahwa di gereja-gereja Reformed tertentu, pengajaran sesat ini sudah terjadi dan bahkan disebarkan melalui media.

Kredo orang Kristen semacam ini adalah, “Lepaskan dan biarkan Tuhan” (Let go, let God). Tidak diperlukan perjuangan; tidak diperlukan perlawanan terhadap godaan. Pengudusan adalah pekerjaan Tuhan, dari awal sampai akhir. Bukankah Dia berdaulat sepenuhnya? Bukankah Tuhan memilih aku sebagaimana adanya? Bagaimana aku bisa melawan kehendak-Nya?

Berbeda dengan doktrin Hyper-calvinism, doktrin Hyper-grace menyatakan bahwa Tuhan yang mahakasih mempunyai anugerah keselamatan yang sangat besar, dan yang membuat dosa manusia sangat kecil dan tidak berarti. Dengan demikian, penganut doktrin ini merasa tidak perlu hidup dalam kekudusan karena Tuhan yang mahakasih akan mengampuni mereka atas dosa sebesar apa pun. Golongan ini kemudian menjadi antinomian karena bagi mereka menaati hukum Tuhan tidaklah ada gunanya sebab Tuhan adalah mahakasih. Mereka tidak ragu untuk melakukan perzinahan, korupsi, penipuan dan sebagainya, asal tidak menimbulkan masalah pribadi.

Jika orang Kristen mempraktikkan antinomianisme, maka mereka bisa dengan bebas melakukan dosa apa pun tanpa memandang Tuhan, karena mereka percaya tidak ada hukum moral yang harus diikuti. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa seorang Kristen dapat melakukan banyak dosa tanpa pertobatan apa pun. Adalah penting bagi kita untuk mendidik diri kita sendiri tentang antinomianisme dan maknanya, karena itu adalah ajaran berbahaya yang dapat menyesatkan banyak orang Kristen dan bahkan menghancurkan gereja seperti pada abad-abad yang lalu.

Antinomianisme adalah racun gereja, tetapi dalam bentuk terselubung tidak banyak dikenal orang di zaman modern ini. Sebagaimana dinyatakan, kata antinomianisme memiliki arti “melawan hukum”. Dalam teologi, antinomianisme digunakan dalam arti melawan hukum Tuhan. Dengan kata lain, antinomianisme mengajarkan bahwa orang Kristen tidak berada di bawah hukum moral Tuhan. Keyakinan ini menyebabkan mereka percaya bahwa sebagai orang pilihan, mereka dapat melakukan dosa apapun yang mereka inginkan tanpa adanya hukuman, masalah, atau efek samping. Mereka tidak mengerti bahwa ada dosa-dosa yang bisa membinasakan atau menghancurkan hidup mereka di dunia dan menjadikan diri mereka batu sontohan bagi orang lain, sekalipun anugerah Tuhan adalah cukup untuk keselamatan mereka di surga.

Seperti yang bisa kita bayangkan, antinomianisme tidak alkitabiah dan sesat karena melawan iman Kristen. Seperti Petrus, Paulus juga berbicara menentang antinomianisme dalam tulisannya. Meskipun Paulus tidak menggunakan istilah langsung “antinomianisme”, konsepnya tetap ada. Paulus memberi tahu kita dalam Roma 6:1-2,

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

Melalui ayat ini, kita diberi tahu bahwa kita tidak boleh terus-menerus berbuat dosa karena kita telah diselamatkan oleh Kristus. Denga demikian, jika seseorang percaya bahwa keselamatan adalah surat izin untuk berbuat dosa, maka adalah pantas bagi kita untuk mempertanyakan apakah orang tersebut benar-benar telah mengenal Tuhan.

Jika seseorang telah benar-benar menerima Kristus, mereka tidak ingin terus menyakiti Tuhan dengan berbuat dosa. Mereka juga tidak ingin menolak perintah Tuhan untuk berbuat baik agar nama-Nya dipermuliakan. Sementara kita semua akan terus melakukan dosa dalam hidup kita, kita seharusnya tidak pernah ingin dengan sengaja berbuat dosa terhadap Tuhan, atau berbuat dosa hanya untuk berbuat dosa karena itu adalah tren kesuksean menurut dunia. Roh Kudus di dalam diri kita selalu berusaha menginsafkan kita akan dosa, dan Dia secara aktif memberi kita dorongan dan kekuatan, jika kita tidak mendukakan-Nya.

Jika kita benar-benar telah mengenal Kristus, dan berterima kasih karena pengorbanan-Nya, kita pasti mau mendengarkan suara Roh Kudus. Kita seharusnya tidak mencoba untuk tidak menaati-Nya dengan melakukan tindakan dosa apa pun, atau dengan mengabaikan perintah-Nya. Ya, Tuhan mengampuni kita atas dosa-dosa kita, seperti yang dinyatakan dalam 1 Yohanes 1:9, namun tidaklah alkitabiah untuk berpikir bahwa kita dapat menggunakan kebaikan dan pengampunan Tuhan untuk terus melakukan dosa apa pun karena “Tuhan akan mengampuni saya.” Keyakinan ini tidak alkitabiah, dan bertentangan dengan inti kekristenan.

Sebagaimana dinyatakan, antinomianisme tidak percaya bahwa umat Kristiani diharuskan menaati hukum moral karena umat Kristiani tidak berada di bawah hukum tetapi di bawah kasih karunia. Mereka yang mengikuti antinomianisme menyalahgunakan ayat Alkitab dari Roma 6:14 dan memanipulasi bagian ini serta bagian lain dari Kitab Suci untuk tujuan mereka sendiri. Allah mengharapkan kita untuk mengikuti hukum moral. Meskipun kita tidak berada langsung di bawah Hukum Musa, kita tetap berada di bawah hukum moralnya. Itulah fungsi ketiga dari hukum Musa, yang membimbing kita ke arah kekudusan.

Sayang, walaupun tokoh gereja seperti Martin Luther menentangnya, antinomianisme masih ada sampai sekarang di dunia. Dalam hal ini, mungkin masih bisa diperdebatkan apakah beberapa pendeta di Indonesia memang mengajarkan antinomianisme atau tidak. Sementara beberapa orang menuduh pendeta-pendeata itu antinomianisme, yang lain menuduhnya sebagai orang yang hanya memiliki pemahaman yang buruk tentang hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mungkin juga, mereka tidak mempunyai pengalaman pribadi yang cukup untuk mengenal karakter Yesus (Christology).

Mereka yang mengajarkan antinomianisme dapat dengan mudah terlihat, karena mereka akan berkhotbah melawan hukum moral, tidak menekankan perlunya perbuatan baik, atau menghindari ayat-ayat tertentu dalam upaya untuk memutarbalikkan pesan Alkitab.

Perlu ditekankan bahwa pendeta yang antinomian tidak mengajar jemaat agar berbuat dosa, tetapi berusaha meyakinkan mereka bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan karena itu berbuat dosa adalah lumrah.

Jika Anda berada di gereja yang mengajarkan antinomianisme, tindakan yang terbaik adalah pindah ke gereja lain sebelum terpengaruh. Siapa pun yang menyuarakan antinomianisme sedang mengajarkan kepercayaan yang tidak alkitabiah. Sangat berbahaya bagi seorang Kristen yang tidak sadar, untuk percaya pada antinomianisme dan kemudian hidup menurutnya. Tidak ada pendeta Kristen sejati yang mempraktikkan kepercayaan ini, apalagi mengajarkannya kepada orang lain. Segala sesuatu yang diajarkan dalam antinomianisme bertentangan langsung dengan kebenaran Firman Tuhan. Alkitab tidak pernah memberi tahu kita bahwa “tidak apa-apa” untuk terus berbuat dosa karena kita adalah orang terpilih.

Faktanya, Alkitab memberi tahu kita secara langsung, “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1 Petrus 2:16). Ayat Kitab Suci ini memberi tahu kita secara khusus untuk tidak menggunakan kebebasan kita di dalam Kristus sebagai penutup kejahatan. Lebih lanjut, ayat ini memberitahu kita untuk hidup sebagai hamba Tuhan. Sebagai hamba Kristus, kita harus berusaha untuk memuliakan Dia, menaati Dia, dan melayani Dia dengan kemampuan terbaik kita. Jika kita bukan hamba Allah, maka kita adalah hamba daging yang berdosa. Itulah perbedaan antara hitam dan putih, di mata Tuhan tidak ada warna abu-abu yang boleh dipilih umat-Nya.

Yesus mati di kayu salib agar kita tidak menjadi budak sifat dosa kita lagi. Karena Tuhan mati untuk dosa-dosa kita, agar kita menerima pengampunan dosa dan kehidupan kekal, kita berutang segalanya kepada-Nya. Kita berutang hidup kita, hati kita, dan kepatuhan kita kepada-Nya. Yesus Kristus tidak ingin kita menggunakan kebebasan kita sebagai orang percaya untuk terlibat dalam antinomianisme. Antinomianisme bertentangan dengan semua yang diajarkan Alkitab.

Untuk percaya pada antinomianisme, Anda harus mengeluarkan Alkitab dari konteksnya dan mengubahnya untuk membuatnya mengatakan apa yang Anda inginkan karena antinomianisme tidak alkitabiah. Kita dapat menunjukkan kasih dan rasa syukur kita atas pengorbanan Yesus dengan menaati perintah-perintah-Nya. Dengan menaati Allah dengan mengikuti perintah-perintah-Nya, kita benar-benar menunjukkan bahwa kita mengenal Allah dan bahwa kita mengasihi Dia (1 Yohanes 2:3-6). Bagaimana kita hidup, apa yang kita lakukan, dan bagaimana kita bertindak membuktikan siapa yang benar-benar kita patuhi: Yesus atau pendeta kita.

Pagi ini, apakah kita mengikuti antinomianisme dan menaati natur dosa kita sendiri, atau apakah kita benar-benar mengikuti Allah dan menaati-Nya? Ingatlah, antinomianisme tidak boleh dipraktikkan, diajarkan, atau didukung oleh orang Kristen sejati. Jika Anda mempunyai rasa simpati kepada antinomianisme dalam berbagai bentuknya, berdoalah kepada Tuhan untuk memohoh pertolongan dan kekuatan dari Roh Kudus selagi belum terlambat.