Bergantung kepada Raja segala raja

“Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” – 1 Korintus 2:5

Bagi Anda yang seumur saya mungkin pernah mendengar tentang film berjudul “King of Kings” (Raja segala raja) rilis tahun 1961 yang menceritakan kisah Yesus. Film ini disutradarai oleh Nicholas Ray dan dibintangi oleh Jeffrey Hunter sebagai Yesus. Film ini mencakup peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus, termasuk khotbah di bukit, perjamuan Terakhir, kesengsaraan, dan kebangkitan Yesus. Dalam konteks kekristenan, “Raja segala raja” adalah gelar yang diberikan kepada Yesus Kristus, yang menunjukkan keagungan-Nya sebagai pusat kehidupan dan pemerintahan ilahi.

Di zaman modern ini, agaknya banyak orang yang tidak mengerti atau tidak tahu bahwa Yesus adalah Raja segala raja. Mereka mungkin mengenal nama Yesus, tapi tidak percaya bahwa Ia adalah Tuhan. Mereka mungkin lebih terbiasa dengan adanya tokoh-tokoh publik, pemimpin politik, influencer media sosial, bahkan tokoh-tokoh agama yang menjadi acuan utama dalam menentukan apa yang benar, apa yang salah, apa yang patut diikuti, dan bagaimana seharusnya hidup ini dijalani. Manusia terus mencari sosok “raja” baru—mereka yang dianggap hebat, pintar, populer, atau berpengaruh. Namun, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus memberikan peringatan yang tajam: jangan menaruh iman pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.

Hikmat Dunia vs Hikmat Allah

Rasul Paulus, dalam konteks pasal ini, sedang menjelaskan bahwa Injil Kristus bukanlah hasil filosofi manusia atau kebijaksanaan duniawi. Dunia pada masa Paulus sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan orator-orator hebat. Tetapi Paulus dengan sengaja tidak memakai kata-kata indah atau argumentasi rumit ketika menyampaikan Injil. Ia datang dengan kesederhanaan, dengan gemetar dan rasa takut (1 Korintus 2:3), karena ia ingin agar perhatian orang tidak tertuju kepada dirinya, tetapi kepada Tuhan Yesus Kristus.

Dalam bahasa Indonesia, “Tuhan” secara umum merujuk pada oknum ilahi yang Mahatinggi dan Mahakuasa, yang diyakini sebagai pencipta dan pengatur alam semesta serta menjadi objek pemujaan manusia. Tetapi, karena Tuhan itu roh banyak manusia tidak dapat melihat-Nya dan tidak dapat percaya kepada-Nya. Sebaliknya, banyak orang yang tertarik kepada apa yang bisa dilihat, yaitu penampilan luar: khotbah yang retoris, ajaran yang menyenangkan telinga, atau pemimpin yang kharismatik. Namun, semua itu adalah bentuk hikmat manusia yang sering kali mengalihkan perhatian dari kekuatan Tuhan.

Raja-Raja Dunia yang Menjadi Pusat Perhatian

Di berbagai bidang kehidupan, manusia cenderung mengidolakan figur-figur manusia:

  • Dalam dunia Krsten, orang sering lebih terpesona oleh pengkhotbah terkenal dan ajaran manusia daripada oleh kebenaran Alkitab itu sendiri. Banyak yang mengikuti ajaran tokoh karena popularitasnya, bukan karena keakuratan firman Tuhan. Kadang, bahkan saat ajaran mereka menyimpang, orang tetap setia karena mereka lebih suka mengandalkan manusia daripada Tuhan.
  • Dalam pemerintahan dan politik, manusia mencari pemimpin kuat yang bisa menyelamatkan ekonomi, memberikan keamanan, atau menyatukan bangsa. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa bahkan pemimpin terbaik pun tetap manusia berdosa yang terbatas dan bisa gagal.
  • Dalam dunia sosial dan budaya, para influencer dan selebriti dijadikan panutan hidup. Banyak orang meniru gaya hidup mereka, cara berpakaian, berbicara, dan bahkan nilai-nilai moral mereka. Tapi apakah semua itu membawa manusia lebih dekat kepada kebenaran dan kekudusan?

Alkitab mengingatkan kita bahwa hanya satu Raja yang layak menerima ketaatan dan penyembahan kita: Tuhan Yesus Kristus, Raja segala raja.

Bahaya Ketergantungan pada Manusia

Ketika manusia mulai mengandalkan manusia lain untuk arahan hidup, banyak bahaya yang bisa muncul:

  • Disesatkan oleh ajaran palsu: Jika kita tidak menguji ajaran berdasarkan Firman Tuhan, kita bisa dengan mudah disesatkan oleh pengajaran yang terdengar “bijak”, tetapi sebenarnya menyesatkan (Lihat Matius 24:24).
  • Mengidolakan manusia dan bukan Tuhan: Ketika seorang pemimpin atau tokoh spiritual lebih dihormati daripada Kristus sendiri, itu sudah menjadi bentuk penyembahan berhala terselubung.
  • Kekecewaan yang mendalam: Manusia bisa gagal. Pemimpin bisa jatuh dalam dosa. Ketika kita terlalu menggantungkan harapan kepada manusia, maka saat mereka jatuh, iman kita bisa goyah.

Oleh karena itu, Paulus mengarahkan jemaat kepada kekuatan Allah—bukan kepada dirinya, bukan kepada kefasihan bicara atau keindahan pengajaran, tetapi kepada Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.

Iman yang Tertanam pada Kekuatan Allah

Apa artinya menaruh iman pada kekuatan Allah?

  • Mengakui keterbatasan manusia: Baik kita sendiri maupun pemimpin rohani atau pemimpin politik, semua manusia adalah makhluk berdosa yang terbatas. Hanya Allah yang sempurna.
  • Mengandalkan Roh Kudus sebagai Penuntun Kebenaran: Dalam ayat-ayat selanjutnya di pasal yang sama, Paulus menjelaskan bahwa kebenaran rohani hanya bisa dipahami melalui pencerahan Roh Kudus, bukan dari akal manusia semata (1 Korintus 2:10-14).
  • Membangun relasi pribadi dengan Tuhan: Kita tidak bisa hanya hidup dari “makanan rohani” yang disampaikan oleh orang lain. Kita perlu mengenal Tuhan secara pribadi, membaca firman-Nya, berdoa, dan membangun relasi yang nyata dengan-Nya.
  • Menjadi rendah hati: Mengakui bahwa iman kita bukan karena kepandaian atau logika kita, tetapi karena kasih karunia Allah yang menarik kita kepada-Nya. Ini mencegah kesombongan rohani.

Menjadi Umat yang Bergantung pada Sang Raja

Kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh “raja-raja dunia”—tokoh, sistem, ideologi, dan budaya yang menuntut perhatian dan kesetiaan kita. Tetapi kita dipanggil untuk hidup berbeda. Kita dipanggil menjadi umat yang hanya mengakui satu Raja: Tuhan Yesus Kristus.

Yesus bukan hanya Raja dalam makna rohani. Dia adalah Raja segala raja, Penguasa atas sejarah, dan satu-satunya yang layak diandalkan. Tidak ada penguasa dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwa manusia. Tidak ada ideologi atau teologi yang bisa memberi damai sejati. Hanya Yesus yang sanggup memberi hidup kekal dan makna sejati.

Renungan pagi ini hendak mengajak kita semua untuk memeriksa di mana kita meletakkan kepercayaan dan harapan kita. Apakah kita sedang bergantung pada tokoh-tokoh besar dunia ini? Apakah kita terlalu bergantung pada para pemimpin rohani tanpa menguji ajaran mereka? Apakah kita sedang mencari “raja” lain yang bisa menyelamatkan kita selain Kristus?

Mari kita kembali kepada salib. Mari kita kembali menaruh iman bukan pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah yang dinyatakan di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Hanya Dia yang layak kita ikuti, kita andalkan, dan kita sembah.

“Terpujilah Tuhan, Gunung batuku, yang mengajar tanganku berperang, dan jari-jariku untuk bertempur; Dialah kasih setiaku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku, Dialah yang padanya aku berlindung.” Mazmur 144:1–2

Tidak ada orang Kristen yang setengah percaya

Kata Yesus: ”Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ”Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14:29-31

Matius 14:22–33 berisi mukjizat Yesus berjalan di atas air. Segera setelah memberi makan ribuan orang dari satu porsi kecil, Yesus naik ke gunung untuk berdoa. Para murid menghabiskan malam yang panjang dengan mendayung melawan angin kencang. Yesus berjalan menyeberangi danau untuk menemui mereka. Petrus berjalan di atas air bersama Yesus sebentar sebelum menjadi takut terhadap angin dan ombak dan mulai tenggelam. Yesus menyelamatkan Petrus dan bertanya mengapa ia ragu. Angin berhenti ketika Yesus naik ke perahu, dan para murid menyembah-Nya sebagai Anak Allah.

Beberapa hal terjadi dalam ayat pendek ini.

Pertama, Yesus menyelamatkan Petrus, membuat mukjizat berjalan di atas air menjadi lebih mengesankan (Matius 14:24–25). Petrus hampir tenggelam (Matius 14:28–30), dan Yesus mampu memegangnya tanpa tenggelam ke dalam air. Untuk melakukan ini, Yesus pasti telah berdiri kokoh di atas air. Pastilah itu merupakan hal yang menakjubkan untuk disaksikan.

Kedua, Yesus sekali lagi menentang harapan manusia normal kita. Ia tidak menanggapi Petrus seperti yang mungkin kita duga. Petrus baru saja berjalan di atas air. Kita tidak diberi tahu seberapa jauh ia berjalan, tetapi ia melakukannya. Ia menaruh keyakinan penuhnya pada kuasa Yesus untuk bekerja melalui dirinya dan memungkinkannya berjalan di atas air juga. Tidak ada orang lain yang bukan Anak Allah yang pernah melakukan hal seperti itu. Itu luar biasa.

Kita mungkin berharap Yesus akan berkata, “Bagus sekali.” Atau bahkan, “Bagus sekali, tetapi…” Sebaliknya, Yesus tidak memuji. Setelah menyelamatkan Petrus dari tenggelam, Ia berkata dengan nada yang terkenal, “Hai, kamu yang kurang percaya.” Ia menegur kurangnya iman Petrus alih-alih memuji iman yang dimilikinya sejak awal. Yesus menambahkan, “Mengapa engkau ragu?”

Sebagai pembaca, kita mungkin terkesan dengan iman awal Petrus, tetapi Yesus lebih peduli tentang apa yang menghentikan Petrus untuk dengan sepenuhnya percaya kepada-Nya. Petrus berjalan di atas air dengan kuasa Allah! Apa yang mungkin membuatnya berpikir bahwa ia tidak dapat berjalan di atas air dengan kuasa Allah setelah ia mulai melakukannya? Ayat sebelumnya memberikan jawabannya: Ketakutan Petrus menguasai imannya. Ketakutan adalah titik kelemahan yang membuatnya tidak dapat terus percaya kepada Yesus untuk memberinya kuasa untuk melakukan hal yang mustahil.

Tanggapan Yesus mungkin tampak kasar, tetapi itu menunjukkan terang benderang tentang apa yang perlu disadari Petrus: Iman kepada Yesus membuat segalanya mungkin, tetapi ketakutan bisa membuat iman menjadi kecil.

Kisah Petrus berjalan di atas air ini memang menarik karena banyak orang dan mungkin Anda sendiri pernah mengalami keadaan serupa dalam hidup. Seringkali kita mendengar ungkapan seperti “dia itu setengah percaya,” atau “masih belum sepenuhnya Kristen.” Namun sebenarnya, secara Alkitabiah, tidak ada istilah “setengah percaya” atau “setengah Kristen.” Kita percaya, atau tidak. Kita mengikut Kristus, atau tidak. Tapi bukan berarti tidak ada perbedaan antara iman yang kuat dan iman yang lemah. Ada perbedaan antara orang yang sudah percaya tetapi sedang bergumul dalam kelemahan, dan orang yang belum pernah menyerahkan hatinya kepada Kristus.

Iman bukanlah hasil usaha manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan imannya sendiri. Rasul Paulus berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” (Efesus 2:8). Jadi, percaya bukanlah soal seberapa kuat kita berusaha untuk meyakinkan diri sendiri. Iman adalah pemberian, anugerah Tuhan. Dan karena itu, kita tidak bisa menyombongkan diri, ataupun merasa lebih baik dari mereka yang sedang berjuang dalam kelemahan iman.

Ketika Yesus berkata, “Datanglah!”, Petrus melangkah turun dari perahu dan berjalan di atas air menuju Yesus. Pada saat itu, Petrus sungguh percaya. Ia merespons undangan Yesus dan mengambil risiko untuk melangkah di atas sesuatu yang tidak mungkin secara manusiawi. Tapi kemudian, ketika ia melihat tiupan angin, ia menjadi takut dan mulai tenggelam. Lalu ia berseru, “Tuhan, tolonglah aku!”

Apa reaksi Yesus? Ia tidak menunggu atau menghukum. Alkitab berkata, “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?’” Kata yang digunakan Yesus adalah “kurang percaya,” bukan “tidak percaya,” apalagi “setengah percaya.” Artinya, Petrus memang memiliki iman, tetapi imannya belum matang. Ia masih mudah goyah oleh keadaan sekitarnya.

Inilah penghiburan besar bagi kita. Tuhan tidak hanya bekerja bagi mereka yang memiliki iman sempurna. Ia justru datang bagi yang lemah, yang ragu, yang tenggelam dalam ketakutan dan kegagalan. Iman tidak selalu berarti berjalan dengan mantap di atas air. Kadang iman berarti berani melangkah, dan saat tenggelam, masih punya keberanian untuk berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Petrus diselamatkan bukan karena kekuatan imannya, tetapi karena Yesus setia menolong. Ini menunjukkan kepada kita bahwa keselamatan bukan berdasarkan seberapa besar iman kita, tetapi seberapa setia Tuhan dalam memegang janji-Nya.

Jadi bagaimana dengan mereka yang tampaknya “setengah percaya”? Seringkali kita melihat orang-orang yang belum hidup konsisten dalam iman mereka. Mereka masih jatuh dalam dosa yang sama, masih ragu untuk bersaksi, atau belum menunjukkan perubahan yang nyata. Tapi kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka “setengah Kristen.” Bisa jadi mereka adalah anak-anak Allah yang sedang bertumbuh, sedang dibentuk, sedang diperkuat oleh Roh Kudus. Sama seperti bayi yang baru belajar berjalan, mereka pun sedang belajar melangkah dalam iman.

Tuhan tidak akan menolak orang yang imannya kecil. Dia hanya memperingatkan, dan dengan kasih mengangkat kembali mereka yang jatuh. Dalam Matius 17:20, Yesus berkata bahwa jika iman kita hanya sebesar biji sesawi, kita dapat memindahkan gunung. Iman yang kecil pun memiliki kekuatan besar, bukan karena iman itu sendiri, tetapi karena kepada siapa iman itu bersandar.

Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17:20

Itulah sebabnya kita tidak boleh menghakimi iman orang lain, dan tidak boleh merendahkan orang percaya yang masih berjuang. Mungkin kita melihat mereka ragu, mudah goyah, atau kadang terseret oleh dunia. Tapi jika mereka telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, jika mereka percaya, walau dengan iman yang kecil, maka mereka adalah milik-Nya. Dan Dia akan terus bekerja dalam hidup mereka sampai mereka kuat.

Paulus menulis dalam Filipi 1:6, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Pekerjaan iman dalam diri seseorang adalah karya Allah dari awal sampai akhir. Tidak ada orang yang diselamatkan karena kekuatan pribadinya. Kita semua adalah penerima kasih karunia yang sama. Kita semua pernah seperti Petrus, melangkah dengan berani lalu tenggelam karena takut. Dan kita semua hanya bisa berseru: “Tuhan, tolonglah aku!”

Tuhan kita tidak pernah menolak seruan seperti itu. Ia tidak mencari orang yang sempurna, tetapi mereka yang mau datang dan menyerahkan hidupnya. Maka, tugas kita bukanlah untuk mengukur iman orang lain, tetapi untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan akan kasih Tuhan yang tidak berubah.

Bagi Anda yang mungkin merasa imann Anda sedang lemah, atau hidup rohani Anda tidak seperti dulu, jangan menyerah. Anda bukan “setengah Kristen.” Anda yang mengenal Kristus adalah anak yang dikasihi Tuhan. Datanglah kembali kepada-Nya. Berserulah seperti Petrus: “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Dia akan mengulurkan tangan-Nya. Ia tidak akan membiarkan Anda tenggelam.

Bagi Anda yang merasa telah lama berjalan dengan Tuhan, jangan menjadi sombong rohani. Ingat bahwa Anda pun dulu lemah sebelum menerima anugerah Tuhan, Anda tidak akan bisa berdiri hari ini jika tidak karena kasih-Nya. Jangan mencela mereka yang masih bergumul. Doakan mereka. Peluk mereka. Tuntun mereka untuk kembali melihat kepada Kristus, bukan kepada kelemahan mereka. Karena iman yang sejati, sekuat atau selemah apapun, tetap berasal dari Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah gagal memelihara milik-Nya.

Tidak ada orang setengah percaya. Tidak ada orang setengah Kristen. Yang ada hanyalah mereka yang telah menerima anugerah iman dari Tuhan, dan sedang bertumbuh di dalam kasih karunia-Nya. Ada yang sudah kuat, ada yang masih lemah. Tapi semuanya adalah milik Kristus. Seperti Petrus, kita semua bisa tenggelam. Tapi Yesus selalu siap mengulurkan tangan-Nya dan menarik kita kembali ke dalam pelukan-Nya. Iman mungkin kurang, tapi kasih Tuhan tidak pernah kurang. Mari datang dan berseru: “Tuhan, tolonglah aku!”

Hidup jangan untuk makan nasi saja

Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Matius 4:4

Apakah Anda suka makan roti? Saya percaya, semua orang di Indonesia suka makan roti tertentu sebagai makanan pelengkap. Tapi itu bukan untuk mengganti nasi karena agaknya “belum terasa makan kalau belum makan nasi”. Walaupun demikian, mungkin tidak ada orang yang merasa sudah cukup dengan makan nasi saja. “Empat sehat, lima sempurna” sudah menjadi motto makan sehat sejak lama, dan semua orang tentunya berusaha untuk tidak makan nasi saja, sekalipun nasi adalah makanan utama di Indonesia.

Bagaimana nasi bisa menjadi makanan utama rakyat Indonesia? Padi sebenarnya telah masuk ke Indonesia sejak sekitar 1500 SM, kemungkinan berasal dari India atau Indocina. Namun, nasi baru benar-benar menjadi makanan pokok secara nasional setelah Indonesia merdeka. Hal ini terjadi seiring dengan fokus pemerintah dalam pembangunan pertanian melalui program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) pada 1969–1974.

Beras kemudian dijadikan simbol kemakmuran oleh negara. Pemerintah mendorong produksi dan konsumsi beras secara masif sebagai bagian dari target swasembada pangan. Akibatnya, makanan lokal seperti tiwul, jagung, dan sagu mulai tergeser dan perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Bahkan, beras sempat dijadikan komoditas politik. Sejak saat itu, nasi menjadi makanan utama sebagian besar masyarakat Indonesia. Tak hanya soal rasa atau gizi, tetapi juga menyangkut citra sosial. Bagaimana kalau makan nasi dijadikan salah satu syarat untuk hidup kita? Ya itu boleh saja karena orang harus makan untuk bisa hidup; kecuali kalau Anda mau mengganti nasi dengan roti seperti dalam ayat di atas.

Matius 4:1–11 menggambarkan godaan Yesus di padang gurun. Setelah berpuasa selama 40 hari dan malam, Yesus menghadapi tiga godaan dari Setan. Setiap godaan berusaha untuk memikat Kristus agar menyalahgunakan kuasa-Nya; untuk segera mengambil apa yang telah dijanjikan Allah Bapa untuk disediakan di kemudian hari. Yesus menolak setiap godaan dengan mengutip dari Kitab Ulangan, menolak untuk memberontak terhadap rencana Allah Bapa. Akhirnya, Yesus menolak untuk menyembah iblis sebagai ganti kerajaan-kerajaan di bumi. Ia menyuruh iblis untuk pergi, dan para malaikat datang melayani-Nya.

Apa artinya hidup bukan dari roti saja? Bukankah kita memang butuh makan? Tuhan Yesus menyatakan bahwa bukan hanya makanan yang memberi manusia kehidupan. Tanpa Firman Allah yang diberikan secara ilahi, makanan apa pn tidak akan tersedia. Kita tidak hidup hanya dengan roti saja, tetapi dengan segala sesuatu yang keluar dari mulut Tuhan—yaitu, apa pun dan segala sesuatu yang Allah pilih untuk diberikan kepada kita. Hanya Allah yang merupakan sumber kehidupan dan segala sesuatu dalam kehidupan itu bagi umat-Nya (Yohanes 15:1-5; Yohanes 14:6). Dialah segalanya bagi kita.

Selain itu, ada beberapa poin penting yang harus kita pahami:

Yesus Tidak Bisa Berdosa, Bukan Sekadar Tidak Mau Berdosa

Dalam pencobaan di padang gurun, Yesus dicobai bukan karena Ia bisa berdosa, tetapi untuk menunjukkan bahwa Ia tidak bisa berdosa.

  • Ia adalah Anak Allah yang kudus, inkarnasi dari Allah sendiri (Yohanes 1:14).
  • Sebagai manusia sejati, Ia lapar. Tapi sebagai Allah sejati, Ia tidak mungkin berdosa.

Mengapa Setan Tetap Mencobai Yesus?

Pertanyaan yang sering muncul: Mengapa Setan mencobai Yesus, jika ia tahu siapa Yesus itu?

  • Mungkin Setan tidak percaya sepenuhnya bahwa Yesus adalah Allah.
  • Mungkin ia tahu, tetapi ingin menjatuhkan Yesus dalam kelemahan manusia-Nya.
  • Mungkin karena kesombongan, Setan tetap berusaha menggagalkan rencana Allah.
  • Atau mungkin untuk memikat Kristus agar menyalahgunakan kuasa-Nya.

Ini adalah pelajaran bagi kita: Setan tidak berhenti hanya karena kita rohani. Semakin kita dekat dengan Allah, semakin kita menjadi sasaran pencobaan. Tapi puji Tuhan, Yesus telah menang, dan kita akan menang bersama-Nya (1 Yohanes 4:4).

Ketika Manusia Mencobai Tuhan

Sikap mencobai Tuhan tidak hanya dilakukan oleh Setan. Banyak orang yang menolak percaya, dan tetap menantang Tuhan:

  • Mereka berkata, “Kalau Tuhan itu ada, buktikan!”
  • Mereka berkata, “Kalau Tuhan baik, kenapa dunia seperti ini?”
  • Mereka berkata, “kalu Tuhan mahakuasa, tentu Dia kan segera bertindak!”

Pagi ini, kita harus mengerti bahwa iman sejati tidak menuntut bukti, tetapi menyambut kebenaran firman Tuhan. Jangan jatuh ke dalam dosa mencobai Tuhan dengan ketidakpercayaan, ketegaran hati, atau hidup yang sembarangan.

Yesus mengajarkan kita untuk hidup di dunia ini dengan arah mata ke surga.

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Jadi kita akan tetap bekerja. Kita tetap berumah tangga. Kita tetap sekolah. Tapi semua itu bukan tujuan utama. Tujuan hidup kita adalah memuliakan Allah, karena kita sudah dimiliki oleh-Nya. Biarlah kita menjadikan firman sebagai makanan utama, bukan pelengkap. Hidup kita akan kuat, jiwa kita akan segar, dan kita akan menang dalam setiap pencobaan, karena kita hidup dalam kuasa firman Tuhan.

Dunia ini sementara. Firman Allah kekal.
Dunia ini fana. Kerajaan Allah abadi.
Maka hiduplah menurut apa yang kekal, bukan yang fana.

Adanya neraka: membuat orang jadi percaya atau tidak?

“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.” Matius 25:41

Doktrin Kristen tentang neraka memang telah lama menjadi titik ketegangan – baik di dalam gereja maupun dalam imajinasi publik. Perdebatan antara orang yang percaya bahwa neraka adalah siksaan kekal dalam kesadaran yang penuh dan mereka yang percaya anihilasionisme (pelenyapan orang jahat) tidak hanya bersifat akademis. Perdebatan ini menyentuh pertanyaan inti tentang karakter, keadilan, dan inti penginjilan Tuhan.

Anihilasionisme (juga dikenal sebagai ekstinksionisme atau destruksionisme) adalah sebuah keyakinan bahwa setelah penghakiman terakhir, manusia durhaka dan seluruh malaikat jatuh (semuanya yang terkena hukuman kekal) akan secara bulat dihancurkan sampai kesadaran mereka akan padam. Ini berbeda dengan pandangan yang menyatakan bahwa orang durhaka akan hukuman dibakar api tak berkesudahan di neraka. Anihilasionisme juga berkaitan dengan keabadian kondisional, gagasan bahwa roh manusia tidaklah abadi dan karena itu bisa dimusnahkan.

Meskipun Alkitab harus selalu menjadi otoritas terakhir, ada hikmat dalam bertanya: Apa dampak doktrin neraka kita terhadap cara orang mendengar Injil? Dalam terang itu, mungkin diskusi tentang neraka tidak hanya ada di ruang debat teologis tetapi juga dalam konteks penginjilan praktis.

Pad waktu itu, Yesus menggunakan dua perumpamaan untuk menggambarkan keadaan kesiapan yang terus menerus untuk menyambut kedatangan-Nya kembali setelah Ia berangkat ke surga. Para pengikut-Nya harus bekerja untuk-Nya sementara mereka menunggu. Mereka tidak boleh seperti para wanita muda bodoh yang melewatkan pesta pernikahan karena mereka lupa membawa minyak untuk pelita mereka. Mereka harus seperti para hamba yang melipatgandakan investasi tuan mereka yang kejam saat Ia pergi. Yesus mengakhiri dengan bagian deskriptif ketiga, yang menunjukkan bagaimana Ia akan menghakimi antara orang benar dan orang jahat ketika Ia kembali sebagai Raja.

Matius 25:31–46 menggambarkan penghakiman besar Yesus, yang akan terjadi ketika Ia kembali sebagai Raja bersama para malaikat-Nya dan mengambil tempat-Nya di atas takhta. Ia akan membagi mereka yang dihakimi menjadi dua kelompok: “domba” dan “kambing.” Domba akan disambut dan dipuji karena melayani mereka yang membutuhkan. Kambing akan disingkirkan dari Yesus ke api kekal dan dikutuk karena tidak melayani mereka yang membutuhkan. Ini terjadi di akhir Khotbah di Bukit Zaitun, yang dimulai ketika para murid bertanya kepada Yesus tentang akhir zaman (Matius 24:3). Bagian ini terkenal sulit untuk ditafsirkan, sehingga sangat penting untuk ditangani dengan hati-hati. Meskipun disebut sebagai “perumpamaan,” berkat penggunaan istilah penggembalaan, situasi yang digambarkannya tampak sangat nyata.

Setelah melewati masa penderitaan dan kesengsaraan yang hebat di bumi (Matius 24:21–22), Yesus akhirnya akan kembali sebagai Raja dan Hakim (Matius 25:31–32). Yesus menyambut kelompok pertama, domba, untuk menerima tempat yang sah di kerajaan-Nya di bumi. Ia menggambarkan kelompok itu sebagai kelompok yang diberkati oleh Bapa-Nya dan menyatakan bahwa Ia telah menerima setiap tindakan kebaikan yang mereka lakukan untuk saudara-saudara-Nya yang paling hina, orang-orang percaya lainnya, sebagai tindakan yang dilakukan untuk-Nya secara pribadi (Matius 25:34–40).

Beralih ke kelompok kedua, kambing, Kristus menyampaikan pesan yang sangat berbeda. Ia menyebut mereka terkutuk dan mengusir mereka ke tempat hukuman kekal bersama dengan setan dan para iblis pengikutnya. Tidak seperti kelompok pertama, orang-orang ini jelas bukan orang percaya kepada Yesus—terbukti dari fakta bahwa mereka tidak setia kepada-Nya.

Dalam Alkitab, iblis adalah malaikat yang bergabung dengan setan dalam pemberontakannya terhadap Tuhan. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus mengusir banyak iblis dari orang-orang yang menderita (Markus 1:34). Uraiannya tentang mereka di sini menunjukkan bahwa setan pada akhirnya bertanggung jawab atas gerombolan malaikat yang jatuh, yang bersama setan, melawan Tuhan. Mereka semua ditakdirkan untuk ke neraka (Markus 9:48), yang juga merupakan tempat di mana roh manusia yang menolak Kristus akan tinggal (Markus 9:43).

Jika surga sering disalahpahami karena kekeliruan dan kepalsuan yang ditampilkan dalam berbagai agama di luar agama Kristen, atau yang tampil dalam mitos dan budaya populer, realitas neraka lebih mudah lagi untuk disalahpahami oleh jemaat Kristen. Ini sehubungan dengan kenyataan bahwa banyak pendeta dan guru Alkitab menghindari pembahasan tentang neraka karena takut membuat jemaat mereka kesal atas apa yang dipandang sebagai tempat yang mengerikan. Jarang ada khotbah atau penginjilan yang bertema neraka. Memang, neraka adalah topik yang paling tidak menyenangkan, tetapi karena Tuhan Yesus mengajarkan tentang neraka, kita tidak boleh tinggal diam tentang masalah ini. Lalu bagaimana pengertian kita tentang neraka?

Ajaran siksaan kekal dalam kesadaran mengajarkan bahwa orang jahat akan dibangkitkan untuk diadili dan dilemparkan ke neraka, di mana mereka secara sadar akan menderita selamanya tanpa akhir. Ini telah menjadi pandangan dominan dalam kekristenan sampai saat ini. Sebaliknya, ajaran anihilasionisme mengajarkan bahwa orang jahat akan menghadapi penghakiman yang nyata, tetapi hukumannya akan berpuncak pada kehancuran terakhir mereka – mereka akan binasa (Yohanes 3:16), dihancurkan (Matius 10:28), dan tidak ada lagi (Maleakhi 4:1-3). Pandangan ini menyatakan bahwa keabadian roh adalah anugerah yang hanya diberikan kepada orang yang ditebus (Roma 6:23; 1 Korintus 15:53-54).

Menurut Alkitab, neraka itu nyata (Markus 9:43), tempat orang berdosa dihukum (Matius 5:22), tempat siksaan (Wahyu 14:11), dan kekal (Markus 9:48). Neraka pada awalnya diciptakan untuk Setan dan para malaikatnya (Matius 25:41), tetapi juga dipakai sebagai tempat menghukum orang durhaka. Dalm hal ini, ada orang yang percaya bahwa neraka hanya diperuntukkan bagi para pelaku kejahatan terburuk seperti diktator yang kejam dan pembunuh berantai. Ada pula orang yang percaya bahwa Tuhan yang penuh kasih tidak akan mengirim orang ke api neraka. Selain itu, ada yang percaya bahwa neraka bukanlah realita, tapi keadaan di mana orang durhaka akan menderita karena terasing dari Tuhan dan orang percaya. Lebih dari itu, ada yang mengajarkan bahwa api neraka bukanlah hukuman yang terus menerus atau kekal, tetapi sekali saja; dan setelah itu orang durhaka akan lenyap. Apapun pengertian orang tentang neraka, itu adalah tempat yang akan dihuni oleh orang-orang yang memilih untuk tinggal di sana, yaitu karena mereka memilih untuk hidup dalam dosa; bukan karena mereka dilemparkan Tuhan ke neraka dengan semena-mena.

Alkitab menyatakan bahwa neraka adalah realita dan roh manusia adalah abadi. Tetapi, ada orang yang percaya bahwa konsep neraka hanyalah cara Tuhan untuk menakut-nakuti manusia, guna menegakkan kesetiaan atau perilaku tertentu. Tetapi, Yesus memperingatkan tentang bahaya neraka (Matius 10:28). Apakah Dia akan memperingatkan kita tentang bahaya neraka jika bahaya itu tidak nyata? Apakah mereka yang menyangkal keberadaan neraka lebih bijaksana, lebih pintar, dan lebih terinformasi daripada Yesus? Menyangkal bahaya neraka sama saja dengan meragukan perkataan Juruselamat kita.

Hakikat neraka adalah tempat kesengsaraan dan penderitaan yang tidak pernah berakhir (Wahyu 14:11). Walaupun demikian, perdebatan antara mereka yang percaya dan yang tidak percaya akan hakikat neraka masih sering terjadi. Dalam hal ini, apakah api itu nyata dan kekal, atau melambangkan malapetaka yang lebih besar, sebenarnya bukan masalah. Kita semua yakin bahwa semua keuntungan yang ditawarkan dunia ini—uang, ketenaran, reputasi, kekuasaan, atau kepuasan seksual—tidak sebanding kerugian yang akan terjadi dengan hilangnya nyawa kita. Neraka jelas harus dihindari.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya.” Markus 8:36-37

Berbeda dengan pandangan sebagian orang, Allah tidak senang dengan kematian orang jahat (Yehezkiel 18:32). Ia sedih jika ada orang yang memilih neraka daripada memilih Dia. Sebaliknya, Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dan menebus kita (Yohanes 3:16). Karena itu, malaikat-malaikat di surga bersukacita jika ada orang yang bertobat dan lolos dari neraka.

“Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”Lukas 15:10

Kematian dan kebangkitan Yesus adalah kabar baik bagi orang berdosa yang terhilang yang bersedia percaya bahwa hutang dosa kita telah dibayar lunas. Mereka yang menerima kasih karunia Allah melalui iman dalam Kristus akan hidup selamanya bersama-Nya.

Yesus adalah yang terbaik yang dapat diberikan Allah kepada kita. Allah tidak memiliki sesuatu yang lebih besar untuk ditawarkan selain Anak-Nya. Mereka yang telah menaruh iman mereka kepada Yesus Kristus tidak memiliki alasan untuk takut akan kematian dan kuburan; sebaliknya, mereka menunggu yang terbaik, yang belum datang. Namun, ada orang-orang yang mengeraskan hati dan lebih tertarik untuk mendapatkan apa yang ditawarkan dunia karena itu bisa dilihat mata. Sungguh tragis hal ini, karena Kristus telah mengalahkan dosa, kematian, dan neraka demi kita.

Kedua pandangan tentang hakikat neraka bertujuan untuk menanggapi Kitab Suci dengan serius. Para pendukung api neraka yang abadi menekankan keadilan dan kekudusan Tuhan; penganut anihilasionisme menekankan makna istilah-istilah Alkitab seperti “kematian,” “kehancuran,” dan “binasa,” serta masalah moral tentang siksaan kekal. Namun, perdebatan tersebut sering dilakukan untuk mencapai kemenangan teologi daripada unuk mencari jalan agar orang mau memilih jalan yang sempit yang menuju ke arah keselamatan. Dengan demikian, pendekatan itu lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Perjanjian Baru tidak menjabarkan doktrin neraka yang sepenuhnya sistematis; sebaliknya, ia memberikan peringatan yang jelas yang dirancang untuk mendesak pertobatan dan kepercayaan kepada Kristus.

Di sinilah letak pertanyaan yang lebih dalam: Mengapa orang harus berpaling kepada Tuhan? Apakah itu hanya untuk menghindari hukuman? Ataukah itu karena menyadari kasih Tuhan? Dan jika demikian, pandangan neraka mana yang bisa memotivasi lebih baik?

Beberapa orang berpendapat bahwa api neraka abadi bisa menciptakan urgensi yang lebih besar – “Jika neraka itu kekal, bagaimana kita bisa menghindarinya?” Tetapi rasa takut adalah motivator yang rapuh di zaman ini. Banyak orang muda saat ini menolak Kekristenan bukan karena mereka tidak takut akan penghakiman, tetapi karena mereka menganggap gagasan tentang siksaan kekal tidak realistis dan menjijikkan secara moral – karena adanya penggambaran Tuhan yang lebih menyerupai seorang tiran daripada seorang Bapa yang penuh kasih. Pada pihak yang lain ada pendapat bahwa pemusnahan roh terdengar “terlalu lunak.” Memang pemusnahan roh melibatkan rasa sakit, menunjukkan keadilan Tuhan, dan kehilangan manusia secara nyata, tetapi menurut mereka itu seharusnya terus berlanjut tanpa akhir.

Perdebatan ini bisa memengaruhi cara kita menggambarkan karakter Tuhan dalam penginjilan. Apakah Tuhan lebih dimuliakan dengan menekakan kasih dan keadilan-Nya, atau dengan menekankan keadilan dan kesucian-Nya? Pada akhirnya, inti penginjilan bukanlah kabar buruk untuk menakut-nakuti orang, tetapi kabar baik untuk mengungkapkan keindahan Kristus, keseriusan dosa, dan harapan penebusan. Seseorang yang tidak mengasihi Tuhan tidak akan menikmati surga, tidak peduli apa yang mereka “hindari.” Karena itu, doktrin neraka tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak boleh menjadi inti dari Injil kita. Injil bukanlah “Hindari hukuman,” tetapi “Datanglah kepada Tuhan yang memberi hidup.”

Perdebatan antara pemusnahan roh dan siksaan kekal kemungkinan akan terus berlanjut. Tetapi kita harus ingat: doktrin ada untuk melayani misi – bukan untuk menjadi penghalangnya. Jika ada pendekatan yang bisa membantu lebih banyak orang memahami keadilan, belas kasihan, dan karunia Tuhan, kita tidak boleh ragu untuk menggunakannya dalam kasih dan kebenaran. Neraka bukanlah akhir dari cerita. Kasih Kristuslah yang merupakan akhir dari cerita!

Manusia tidak bisa melupakan, tapi Tuhan bisa

”Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” Ibrani 10:16-17

Salah satu pernyataan yang paling umum kita dengar dalam percakapan tentang pengampunan adalah ini: “Saya dapat mengampuni, tetapi saya tidak dapat melupakan.” Kedengarannya mulia—jujur, bahkan praktis. Lagi pula, bagaimana seseorang dapat benar-benar melupakan pengkhianatan, luka, atau kekecewaan yang mendalam? Daya ingat kita sangat kuat. Kenangan yang ada dalam pikiran kita membentuk siapa diri kita dan memberi tahu cara kita berinteraksi dengan dunia. Wajar saja jika kita membawa kenangan tertentu—terutama yang menyakitkan—dalam diri kita.

Namun, pernahkah Anda berhenti sejenak untuk mempertimbangkan betapa berbedanya Allah dengan kita? Ibrani 10:16–17 berisi salah satu janji yang paling mengejutkan dalam Alkitab. Allah, berbicara tentang perjanjian yang baru yang dimungkinkan melalui Yesus Kristus, menyatakan bahwa Ia akan “menaruh hukum-hukum-Nya di dalam hati mereka” dan “menuliskannya dalam pikiran mereka.” Kemudian, seolah-olah untuk menyegel perjanjian itu dengan sesuatu yang bahkan lebih radikal, Ia berkata: “Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran hukum mereka.”

Ibrani 10:16 dikutip dari Yeremia 31:33. Ayat yang sama disebutkan sebelumnya dalam Kitab Ibrani, untuk menunjukkan bahwa Allah telah berjanji untuk mengganti perjanjian yang lama. Maksud Allah bukanlah untuk menggunakan imamat Lewi sebagai solusi utama bagi umat manusia untuk dosa. Sebaliknya, ritual dan objek perjanjian Tuhan yang lama dimaksudkan untuk mengarahkan umat manusia kepada Mesias, Yesus Kristus. Penulis litab Ibrani sangat berhati-hati untuk mendukung klaim ini dengan menggunakan Firman Allah sendiri, dari Alkitab Perjanjian Lama. Ayat sebelumnya secara eksplisit mengingatkan pembaca bahwa itu adalah firman Allah—Roh Kudus yang berbicara kepada kita—sebagai cara untuk mendorong pembaca agar menganggap serius firman tersebut.

Yeremia 31:33 menekankan aspek utama dari perjanjian Tuhan yang baru. Sementara perjanjian Tuhan yang lama bersifat eksternal dan bergantung pada hukum tertulis, perjanjian yang baru bersifat internal dan “tertulis” di hati dan pikiran setiap orang percaya.

Ibrani 10:17 muncul di akhir diskusi panjang di mana penulis Ibrani sering mengutip ayat dari Perjanjian Lama. Alasan kutipan ini adalah untuk membuktikan bahwa Allah, sejak awal, berjanji untuk mengutus Yesus sebagai penggenapan akhir dari rencana-Nya untuk menyelesaikan dosa kita. Pada waktu itu, orang-orang Kristen Yahudi yang membaca kata-kata ini pasti akan terpengaruh terutama oleh seruan kepada Kitab Suci mereka sendiri.

Salah satu bagian yang digunakan adalah Yeremia 31:31–34. Di sana, Allah secara langsung mengatakan bahwa Ia akan membentuk “perjanjian yang baru” dengan Israel, terpisah dari perjanjian yang diberikan kepada Musa dan dilaksanakan oleh para imam Lewi (Ibrani 8:7–13). Komponen utama dari perjanjian yang baru ini adalah kehadirannya di dalam setiap orang. Berbeda dengan perjanjian Tuhan yang lama yang ditulis di atas batu dan bergantung pada pengorbanan hewan yang berulang, perjanjian yang baru ini akan “ditulis” di dalam pikiran dan hati manusia.

Perjanjian yang lama bukanlah penyembuhan permanen untuk dosa; ini hanyalah pengingat sementara akan dosa dan simbol rencana akhir Allah. Sebaliknya, perjanjian yang baru, menurut Yeremia, akan menghasilkan sesuatu yang tidak dapat ditawarkan oleh perjanjian yang lama: pengampunan dosa yang sesungguhnya. Pengorbanan tunggal Yesus untuk dosa sekali untuk selamanya akan benar-benar membersihkan manusia, dari dalam, alih-alih hanya menutupi dosanya untuk sementara waktu.

Allah—yang mahatahu, yang mengetahui segala sesuatu—mengatakan bahwa Ia akan melupakan. Ini bukan masalah kegagalan ingatan ilahi. Ini adalah tindakan Tuhan dengan kehendak yang disengaja dan penuh kasih. Allah memilih untuk tidak mengingat dosa-dosa kita. Ia memilih untuk tidak mengingatnya ketika berurusan dengan kita. Ia menghapus semua kesalahan—tidak hanya sementara, tidak hanya bersyarat, tetapi selamanya.

Kelupaan ilahi ini tidak seperti kelupaan manusia. Ini bukan sesuatu yang tidak disengaja atau tidak lengkap. Ini sempurna dan bertujuan. Allah, karena Ia adalah kasih, memilih untuk melupakan dosa-dosa kita. Ia melakukan ini karena Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, telah membuat penebusan penuh atas dosa-dosa kita. Keadilan Allah telah dipuaskan di kayu salib. Dan karena itu, Tuhan sekarang dapat berkata: “Aku tidak mengingat dosa-dosamu lagi.” Sungguh pemikiran yang luar biasa.

Jika kita taat pada firman Tuhan, kita berusaha untuk menghentikan kemarahan kita secepat mungkin. Kita berjuang untuk melupakan kesalahan orang lain yang dilakukan kepada kita. Tetapi ini tidak mudah. Kita lebih sering menyimpan dendam, mengingat luka masa lalu, dan terkadang bahkan memendamnya. Bahkan ketika kita mengatakan kita mengampuni, kenangan itu masih menghantui kita. Kenangan itu muncul dalam pikiran kita, hubungan kita, dan reaksi kita. Namun, Tuhan semesta alam—yang memiliki hak penuh untuk menghukum kita—berkata, “Aku tidak akan mengingatnya lagi.” Seperti inilah rupa kasih karunia.

Sebagian orang mungkin berkata, “Begitulah Tuhan. Aku bukan Tuhan—aku tidak bisa melupakan seperti itu.” Itu benar. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Namun, jika Kristus hidup di dalam kita, maka Roh-Nya memberi kita kekuatan untuk hidup secara berbeda. Kita mungkin tidak dapat melupakan seperti yang Tuhan lakukan, tetapi kita dapat memilih untuk tidak memikirkan pelanggaran itu. Kita dapat memilih untuk tidak terus-menerus mengungkitnya—baik dalam pikiran kita maupun dalam hubungan kita.

Kita dapat memilih untuk melepaskan cengkeraman kepahitan. Jadi, pengampunan bukan hanya peristiwa satu kali—sering kali merupakan keputusan yang harus diambil setiap hari. Dan melupakan bukan berarti tidak adanya ingatan, tetapi penolakan untuk membiarkan ingatan mengendalikan sikap dan tindakan kita. Ketika kita berkata, “Saya mengampuni, tetapi saya tidak bisa melupakan,” kita sering kali mengakui tetap adanya pergumulan alih-alih keadaan yang sudah mapan dan aman. Itu normal bagi manusia yang lemah. Namun, kita juga harus bersedia untuk bertumbuh. Kita harus mengizinkan Kristus melakukan pekerjaan transformasi-Nya di dalam diri kita.

Penting untuk dicatat bahwa melupakan tidak berarti meremehkan apa yang terjadi. Itu tidak berarti menyangkal rasa sakit atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tuhan tidak melupakan karena dosa-dosa kita tidak serius—Dia melupakan karena pengorbanan Kristus sudah cukup. Dan dengan cara yang sama, kita tidak melupakan karena kesalahan itu tidak enar-benar terjadi, tetapi karena kasih karunia Yesus memampukan kita untuk bangkit darinya.

Inilah kebenaran yang lebih dalam: Ketika kita berpegang teguh pada ingatan tentang dosa orang lain terhadap kita, kita sering kali mengikat diri kita pada rasa sakit itu. Kita sendiri bisa menderita. Namun, saat kita menyerahkannya kepada Tuhan, kita tidak hanya meniru kasih-Nya—kita melangkah menuju kebebasan. Kita membiarkan belas kasihan yang sama, dari Tuhan, yang mengalir atas kita mengalir melalui diri kita kepada orang lain.

Semakin kita berjalan bersama Yesus, semakin hati kita dibentuk oleh-Nya. Dan semakin hati kita dibentuk oleh-Nya, semakin kita mulai mencerminkan karakter-Nya—bahkan dalam cara kita mengampuni, bahkan dalam cara kita memilih untuk melupakan. Jadi, lain kali Anda tergoda untuk berkata, “Saya tidak bisa melupakan,” ingatlah ini: Tuhan bisa. Dan Dia hidup di dalam Anda.

Doa:

Bapa, terima kasih atas mukjizat kasih karunia. Terima kasih karena Engkau tidak hanya mengampuni dosa-dosaku melalui Yesus, tetapi Engkau memilih untuk tidak mengingatnya lagi. Bantulah aku untuk memahami kedalaman kasih itu dan menyebarkannya kepada orang lain. Ajari aku cara mengampuni dari hati dan melepaskan cengkeraman kemarahan masa lalu yang masih ada padaku. Bahkan saat aku berjuang untuk melupakan, bantulah aku untuk tidak berkutat pada rasa sakit. Jadikanlah aku lebih seperti-Mu, Tuhan. Dalam nama Yesus, Amin.

Ketika kemuliaan manusia memudar

“Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.” 1 Samuel 15:23

Pada saat itu Samuel memberi raja Saul sebuah misi dari Tuhan untuk menggenapi penghakiman Tuhan atas orang Amalek dengan membunuh semua orang dan hewan. Kemudian Saul dan pasukannya mengalahkan Amalek, tetapi mereka menyelamatkan raja dan hewan-hewan terbaik. Tuhan memberi tahu Samuel bahwa tindakan Saul—yang merupakan penolakan terhadap perintah Tuhan—akan mengakibatkan berakhirnya pemerintahan Saul.

Tentang mengapa Saul tidak membunuh semua hewan milik orang Amalek, sang raja membuat alasan dan mengklaim bahwa ia sebenarnya bermaksud mengorbankan hewan-hewan yang dikutuk itu kepada Tuhan. Samuel menanggapi dengan pernyataan puitis tentang bagaimana Tuhan menginginkan ketaatan, bukan upaya arogan untuk “memperbaiki” perintah-perintah-Nya.

Tidak jelas apakah Saul dan orang-orang pada awalnya memang bermaksud untuk mempersembahkan barang rampasan di Gilgal, atau apakah mereka sengaja berencana menyimpan hewan-hewan itu untuk diri mereka sendiri. Tapi, mengingat bahwa Saul mendirikan sebuah monumen untuk dirinya sendiri (1 Samuel 15:12) dan bahwa perintah dari Allah tentang kehancuran total sudah begitu jelas (1 Samuel 15:3), niat untuk menggunakan hewan-hewan untuk penyembahan perlu dipertanyakan. Bahkan sekalipun jika Saul jujur, ketidaktaatannya masih merupakan pemberontakan terhadap perintah langsung Tuhan. Tuhan menghendaki ketaatan, bukan persembahan (1 Samuel 15:22).

Samuel menyatakan keputusan Tuhan untuk menolak Saul sebagai raja. Sebagai tanggapan atas ketidaktaatan Saul, Tuhan telah menyatakan bahwa garis keturunan Saul tidak akan menduduki takhta Israel (1 Samuel 13:14). Tuhan menolak Saul sekalipun Ia memilih Saul pada awalnya.

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah Tuhan kepadanya: ”Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” 1 Samuel 9:17

Sekalipun Tuhanlah yang menghendaki Saul menjadi raja, itu bukan berarti bahwa Saul tidak perlu bertanggungjawab atas tindakannya. Tuhan yang mengangkat Saul, tetapi bukanlah Tuhan yang bermaksud menjatuhkan Saul ke dalam dosa. Saul telah menolak firman Tuhan, dan dengan demikian Tuhan kemudian menolaknya sebagai raja. Ketidaktaatan Saul sangat parah, dan konsekuensinya sangat berat.

Dalam kisah di atas, kita membaca tentang ambisi manusia yang salah tempat dan kebenaran bahwa Tuhan terkadang mengizinkan kita berjalan melewati pintu-pintu yang sebenarnya bukan apa yang Ia buka untuk memberkati kita. Saul tidak merebut kekuasaan untuk dirinya sendiri; ia dipilih oleh Tuhan sebagai tanggapan atas permintaan Israel yang terus-menerus akan seorang raja. Namun, jabatan raja yang dimulai dengan pengurapan ilahi berakhir dengan aib — bukan karena Tuhan berubah, tetapi karena Saul yang berubah. Saul bukanlah robot Allah dan karena itu ia bisa jatuh dalam dosa.

Hal ini membawa kita pada pertanyaan yang menghantui: Bagaimana jika Tuhan mengizinkan kita untuk berhasil — hanya untuk menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan tanpa Dia adalah hampa? Apa yang akan terjadi pada hidup kita jika Tuhan menyatakan bahwa kita sudah sengaja melanggar perintah-Nya?

Pertanyaan ini bukan untuk mengada-ada. Sekalipun kita pada saat ini berada dalam keadaan aman dan mungkin juga nyaman, belum tentu Tuhan senang dengan cara hidup kita! Mengapa demikian?

1. Karunia Tuhan yang bisa menjadi jerat

Sebelum Saul menjafi raja, Israel telah lelah dengan pemerintahan Tuhan. Mereka ingin menjadi “seperti bangsa-bangsa lain” (1 Samuel 8:5). Para tua-tua datang kepada Samuel, bukan untuk meminta kebangkitan rohani atau petunjuk ilahi, tetapi untuk sebuah sistem pemerintahan yang dapat mereka kendalikan. Allah melihat apa yang ada dalam hati bani Israel: “… tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (1 Samuel 8:7).

Alih-alih mengirimkan penghakiman, Allah mengirim Saul — tinggi, tampan, karismatik. Ia tampak seperti pemimpin yang ideal, tipe yang menginspirasi rasa percaya diri. Dengan melakukan ini, Allah memberi orang-orang itu apa yang mereka inginkan, bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai pelajaran. Ia memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan, tetapi yang mendatangkan kekeringan ke dalam jiwa mereka. Secara lahiriah, mereka menerima kemuliaan — seorang raja, prestise, kekuasaan. Namun secara batiniah, ada sesuatu yang layu.

Kita sering berasumsi bahwa jika kita menemukan kesuksesan, rencana kita pasti benar dan Tuhan memberi kita berkat-Nya. Namun Kitab Suci menunjukkan bahwa tidak setiap pintu yang terbuka adalah apa yang terbaik dari Allah. Terkadang, Allah membiarkan kita berjalan untuk mencapai mimpi kita sendiri — untuk mengajar kita bahwa mimpi kita tanpa Dia akan menjadi mimpi buruk.

2. Pergeseran menuju rasa puas hati

Awalnya, Saul tampak rendah hati dan sabar. Namun, adanya kekuasaan dengan cepat menyingkapkan apa yang ada di balik permukaan: rasa takut kepada manusia, rasa tidak aman, dan hati yang gelisah yang tidak mau menanti Tuhan. Dalam 1 Samuel 13, Saul panik dan mempersembahkan korban yang tidak sah. Dalam pasal 15, ia tidak menaati perintah langsung Tuhan, lalu mencari-cari alasan. Dalam kedua momen itu, ia lebih peduli pada penampilannya daripada ketaatan. Ia lebih tunduk kepada kehendak dunia daripada kepada Tuhan.

Inilah tragedi kepuasan rohani. Saul lupa siapa yang memberinya mahkota. Saul lebih mengandalkan posisinya daripada suara Tuhan. Hasilnya? Tuhan menyesal telah mengangkatnya menjadi raja (1 Samuel 15:11), dan kerajaan itu pun terkoyak darinya. Kebesaran yang sangat diinginkan Israel dan Saul berubah menjadi kesedihan mereka.

3. Bahaya harapan manusiia

Kita hidup di dunia yang menghargai kesuksesan — dalam studi, karier, bahkan dalam kehidupan dalam keluarga dan gereja. Ada tekanan terus-menerus untuk berproduksi, memberi kesan, dan berprestasi. Entah itu berupa kenyamanan, kemewahan, penampilan atau hal lain yang bisa dikagumi orang lain. Dan sering kali, kita menerjemahkan harapan-harapan ini ke dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita berasumsi bahwa pertumbuhan, pengaruh, dan pintu-pintu yang terbuka selalu merupakan tanda-tanda kebaikan ilahi. Kesuksesan dunia yang kita miliki, sering kita pandang sebagai bukti iman dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Namun, Kitab Suci memperingatkan kita: Tuhan terkadang mengizinkan kita untuk meraih apa yang kita dambakan — bukan karena itu yang terbaik bagi-Nya, tetapi karena itu akan mengajarkan kita untuk mendambakan-Nya sebagai gantinya. Suatu pelajaran pahit bagi umat-Nya agar mereka bertobat.

karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Ibrani 12:6-7 TB

Ini tidak berarti Tuhan senang dengan kejatuhan manusia. Jauh dari itu. Tuhan memberi Saul setiap kesempatan. Dia mengurapinya. Dia memberinya kuasa dengan Roh Kudus. Dia mengutus Samuel sebagai mentor. Namun, hati Saul bimbang. Peringatannya jelas: semakin besar karunia kita yang kita terima, semakin besar pula kebutuhan kita untuk taat kepada firman-Nya. Kita harus menghindari pemikiran bahwa kita adalah orang-orang yang “istimewa” di hadapan Allah.

4. Rasa takut yang kudus, bukan ketakutan yang melumpuhkan

Jadi, haruskah kita takut bahwa Tuhan akan mengambil “kemuliaan” kita jika kita menjadi puas diri?

Ya — tetapi bukan dengan rasa takut yang menyiksa. Melainkan, rasa takut yang kudus dan penuh hormat yang merendahkan hati. Jenis rasa takut yang Paulus bicarakan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi:

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12–13:

Ini bukanlah rasa takut akan hukuman, tetapi rasa kagum yang membuat kita tetap bergantung pada-Nya.

Ketakutan, dalam pengertian Alkitab, bukanlah keraguan dan ketidakmampuan untuk bertindak. Seperti apa yang dialami Petrus yang berjalan di atas air, kita harus percaya bahwa jika Ia beserta kita dan kita taat kepada-nya, tidak ada bahaya yang bisa menghancurkan kita. Ketakutan adalah kesadaran bahwa tanpa Dia, bahkan keberhasilan terbesar kita malahan bisa menjadi beban. Takut pada Tuhan akan membuat kita lebih bijaksana, tidak tenggelam dalam kesombongan, tidak membangun menara tanpa fondasi, tidak melupakan bahwa segala kemuliaan adalah milik-Nya, bukan milik kita.

Kata Yesus: ”Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ”Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”Matius 14:29-31

5. Kemuliaan yang lebih baik

Tuhan akhirnya membangkitkan Daud — seorang yang berkenan di hati-Nya. Daud juga orang berdosa, tetapi tidak seperti Saul, ia cepat bertobat. Ia mengetahui sumber kemuliaan yang sejati:

“Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” (Mazmur 115:1).

Itulah sikap yang mempertahankan kebesaran Tuhan. Itulah jenis hati yang dapat dilihat Tuhan untuk memberikan berkat-Nya yang terbaik.

Hari ini, di mana pun Anda berada — baik dalam kelimpahan atau kekurangan, keberhasilan atau perjuangan — tanyakan pada diri Anda:

  • Apakah saya mengejar kehendak Tuhan, atau hanya kebenaran versi saya sendiri?
  • Apakah saya lebih takut kehilangan reputasi saya daripada kehilangan hadirat-Nya?
  • Apakah saya menggunakan Tuhan untuk memenuhi impian saya, atau membiarkan Dia membentuk rencana-Nya dalam diri saya?
  • Apakah saya menikmati berkat Tuhan untuk kepentingan saya sendiri, tanpa mau mencari maksud Tuhan?

Biarlah kisah Saul menjadi lebih dari sekadar sejarah. Biarlah itu menjadi panggilan kita untuk keintiman yang lebih dalam, penyerahan diri yang terus-menerus, dan rasa takut yang kudus kepada Tuhan. Karena ketika kita berjalan dekat dengan Tuhan, bahkan jika dunia melupakan nama kita — kita berjalan dalam kemuliaan yang tidak pernah pudar.

Kita tidak dapat membuat pilihan yang lebih baik daripada Allah, dan kita tidak dapat mempengaruhi-Nya untuk mengampuni pengabaian dan penolakan kita terhadap-Nya. Kebenaran ini memanggil kita untuk berwaspada, rendah hati, dan bergantung kepada Tuhan— bukan dengan rasa takut dalam pengertian duniawi, tetapi rasa kagum dan bersyukur kepada Dia yang bisa membuat kita tetap teguh sampai sekarang.

Setiap orang berpotensi menjadi Mesias palsu

“Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Matius 24:5

Matius 24:1–14 mengikuti Yesus dan para murid keluar dari bait suci. Ini terjadi setelah kritik-Nya yang pedas terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi dalam pasal 23. Ia meramalkan saat ketika bait suci akan dihancurkan tanpa satu batu pun tersisa di atas batu lainnya. Segera setelah ini, ketika duduk di Bukit Zaitun, Yesus menjawab pertanyaan dari para murid. Mereka bertanya kapan penghakiman akan datang dan tanda-tanda apa yang akan menandai kedatangan-Nya kembali.

Yesus kemudian menggambarkan adanya banyak kekacauan dan penganiayaan di dunia yang tak terbayangkan. Ia menunjuk pada saat tertentu ketika bait suci dihancurkan, dan orang-orang harus lari menyelamatkan diri. Yesus lebih lanjut berbicara tentang kesengsaraan yang mengancam dunia yang akan dipersingkat tepat sebelum Ia kembali sebagai Raja dan Hakim. Karena tidak seorang pun mungkin tahu kapan Ia akan kembali, para pengikut-Nya harus hidup dalam kesiapsiagaan. Itu termasuk kita sekarang ini.

Pada saat penantian, banyak penipu akan datang dengan mengatakan bahwa mereka adalah Kristus, Sang Mesias. Yesus tidak bermaksud bahwa mereka akan berpura-pura menjadi Dia. Sebaliknya, Ia mengatakan bahwa banyak orang akan datang yang mengklaim bahwa Yesus sebenarnya bukan Mesias, tetapi merekalah yang benar-benar Mesias. Yesus menambahkan bahwa banyak dari para pendusta ini akan berhasil: banyak orang akan tertipu. Karena Yesus adalah satu-satunya jalan yang benar menuju kerajaan surga, mereka yang tersesat akan dituntun menuju kehancuran. Itu termasuk orang-orang yang saat ini mengenal Yesus, tetapi kemudian mengingkari-Nya.

Sejarah mencatat contoh-contoh orang yang mengaku sebagai Mesias setelah pelayanan Yesus di bumi berakhir. Salah satu Mesias palsu tersebut, Simon Bar Kokhba, gagal dalam upayanya untuk memberontak terhadap Roma pada tahun 135 M. Yesus tidak ingin para pengikut-Nya terperangkap dalam tipu daya bodoh seperti itu. Yesus juga tidak ingin kita terperangkap dalam hal yang serupa.

Mungkin Anda kurang percaya kalau di zaman ini ada orang yang berani mengaku bahwa ia adalah sang juru selamat. Tapi sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang tinggi hati, yang merasa bahwa ia adalah orang yang dipilih Tuhan untuk menyelamatkan seisi bangsa, sering muncul. Malahan baru- baru ini ada seorang presiden negara besar yang menyatakan bahwa dia adalah pilihan Tuhan dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan dia!

Ayat di atas adalah sebuah peringatan—tetapi bukan sekadar peringatan tentang apa yang “ada di luar sana.” Itu adalah peringatan yang menyentuh setiap hati manusia, dalam lingkungan kita, dan mungkin untuk kita sendiri. Mudah untuk mendengar perkataan Yesus dalam Matius 24 dan berpikir bahwa Dia hanya berbicara tentang penipu akhir zaman, pemimpin aliran sesat palsu, atau gerakan anti-Kristen. Namun, hari ini ayat di atas menantang kita untuk mempertimbangkan hal ini:

“Mungkinkah saya adalah mesias palsu yang diperingatkan Yesus?”

Saya tidak bermaksud Anda benar-benar pernah mengaku sebagai Kristus. Namun, dapatkah kita—melalui cara hidup, kesombongan, atau bahkan sikap rohani kita—bertindak seolah-olah kita adalah juru selamat, seolah-olah kita adalah standar, contoh, “orang benar” yang harus diikuti orang lain?

Mari kita dengarkan Yesus lagi:

“Banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (Matius 24:5)

1. Makna Yang Jelas: Mesias Palsu Itu Nyata

Yesus memperingatkan bahwa orang-orang akan secara harfiah mengaku sebagai Dia atau berbicara dengan otoritas-Nya. Hal ini telah terjadi sepanjang sejarah—mulai dari pemimpin bangsa/agama hingga para tokoh yang mengaku membawa keselamatan melalui politik, agama, atau pengetahuan.

Banyak orang yang menyatakan melalui cara hidup dan kerja mereka, bahwa mereka adalah pemimpin yang patut diikuti dan dikagumi. Mereka menuntut kesetiaan dan penghormatan dari orang lain, seolah mereka adalah orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menyelamatkan orang lain.

2. Perangkap Halus: Kita Ingin Dianggap Paling Benar

Mungkin kita yakin bahwa ayat itu adalah peringatan akan adanya orang lain yang berbahaya. Kita tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Mungkin kita tidak pernah berkata, “Akulah Kristus,” tetapi kita dapat hidup seolah-olah kita adalah standar keserupaan dengan Kristus. Kita merasa bahwa kita adalah contoh orang yang paling benar atau paling beriman.

  • “Lihatlah bagaimana aku beribadah.”
  • “Lihatlah bagaimana aku hidup.”
  • “Lihatlah betapa benar teologiku.”
  • “Lihatlah betapa taatnya aku.”

Tanpa menyadarinya, kita mungkin mulai menunjuk kepada diri kita sendiri alih-alih menunjuk kepada Yesus. Kita mulai menarik orang kepada kinerja kita alih-alih kasih karunia-Nya. Dan tiba-tiba, kita telah menjadi semacam mesias palsu, seperti orang Farisi.

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Matius 6:1)

3. Sindrom Farisi: Mesias Buatan Kita Sendiri

Yesus memperingatkan orang Farisi bukan karena mereka adalah “orang Yahudi yang jahat,” tetapi karena mereka telah menggantikan rahmat Allah dengan kinerja mereka. Mereka menjadi penjaga gerbang keagamaan, pemberi pengaruh rohani yang berkata—kadang dengan kata-kata, selalu dengan sikap “Ikutlah Aku. Akulah yang tahu akan hal ini.”

Di sini terletak bahaya untuk orang lain: kita dapat melakukan ini di gereja, keluarga, dan persahabatan kita.

  • Ketika kita mempermalukan orang lain untuk meninggikan kepatuhan mereka kepada kita.
  • Ketika kita cenderung membertakan kebaikan kita alih-alih kasih karunia Tuhan.
  • Ketika kita lebih banyak berbicara tentang kesetiaan kita daripada kesetiaan Allah.
  • Ketika kita lebih sering menyatakan kebenaran teologi kita daripada kebenaran Alkitab.

Secara psikologis, hal ini menyerupai perasaan kompleks mesias (messiah complex):

  • Kepercayaan bahwa seseorang dipanggil oleh Tuhan untuk “menyelamatkan” bangsa/dunia/ gereja/orang lain.
  • Keyakinan bahwa Tuhan sudah menyatakan kebenaran-Nya hanya kepada orang tertentu.
  • Sering mencari perhatian dengan narasi penganiayaan (misalnya, “mereka membenci saya karena saya mengatakan kebenaran”).
  • Rasa sombong yang berkembang di bawah pengaruh para pengikut yang suka menyanjung mereka.

4. Bagaimana Menolak Dorongan Untuk Menjadi Mesias?

Yohanes Pembaptis melakukannya dengan benar. Ia berkata:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30)

Itulah suara seseorang yang menolak menjadi mesias palsu.

  • Ia tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri.
  • Ia mempersiapkan jalan bagi seseorang yang lebih besar.
  • Ia menyadari bahwa Yesus, bukan dirinya sendiri, adalah pusat berita Injil.
  • Ia menyadari bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan untuk manusia.

Dalam hidup kita sekarang ini, kita harus sadar akan bahaya perasaan kompleks mesias. Gereka Kristen yang benar adalah gereja yang memuliakan Kristus, bukan pemimpin gereja atau orang-orang kudus yang dianggap “istimewa”. Orang Kristen yang paling berkuasa bukanlah orang yang tampak paling bijak dan saleh dari luarnya, tetapi orang yang paling jelas menunjukkan adanya buah Roh:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

5. Cara Menguji Hati Kita

Kita mungkin yakin tidak pernah mempunyai perasaan kompleks mesias. Tetapi, kita bisa bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah saya mendekatkan orang kepada Yesus atau hanya kepada saya atau golongan saya?
  • Apakah saya membuat orang lain merasa bahwa mereka membutuhkan kasih karunia Tuhan—atau menyatakan bahwa mereka perlu meniru saya?
  • Apakah saya pernah berpikir, “Jika lebih banyak orang seperti saya, gereja akan menjadi lebih baik”?
  • Apakah saya berpendapat, surga akan lebih penuh jika orang lain pergi ke gereja saya?
  • Apakah saya merasa bahwa semua orang adalah keliru dan harus belajar dari saya?

Jika demikian, kita harus berhenti sejenak untuk berdoa dan memohon pengampunan dari Tuhan. Kita harus bertobat dan menyerahkan keinginan kita untuk dirubah menjadi benar. Karena bahkan orang Kristen yang bermaksud baik pun dapat menjadi mesias palsu—dan Yesus berkata bahwa itu menuntun orang lain ke dalam kesesatan dan bebinasaan.

Pagi ini, kita harus ingat bahwa Mesias yang sejati datang dalam kelemahan. Dia yang mahasuci tidak membangun singgasana. Dia yang mahabesar, membasuh kaki murid-Nya. Dia mati untuk orang-orang yang tidak memahami-Nya. Dan ketika Dia bangkit, Dia tidak berkata, “Sekarang jadilah seperti Aku.” Sebaliknya, Dia berkata, “Aku akan menyertai kamu selamanya.” Jadi, janganlah kita berusaha untuk terlihat seperti mesias, tetapi ajaklah setiap orang untuk selalu bersandar kepada Mesias.

“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:20

Orang Kristen dan tantangan hidup

”Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Matius 10: 16-18

Screenshot

Apakah kehidupan Anda saat ini sebagai orang Kristen mengalami berbagai tantangan? Jika tidak demikian, mungkin Anda patut mempertanyakan mengapa demikian. Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa murid-murid Yesus akan mengalami berbagai kesulitan dari berbagai jurusan karena iman mereka. Mungkin Anda mengira bahwa ayat-ayat itu hanya khusus untuk murid-murid Yesus pada zamannya. Tetapi ayat-ayat lain dalam Alkitab juga menyatakan bahwa menjadi orang Kristen sejati di tengah masyarakat dan dunia yang secara mayoritas menolak Kristus itu tidaklah mudah.

Matius 10:16–25 mengikuti instruksi Yesus kepada kedua belas rasul-Nya, memberi mereka bimbingan untuk perjalanan misi mereka yang akan datang. Di sini, Dia mulai menggambarkan peristiwa-peristiwa yang akan mengikuti kebangkitan-Nya sendiri dan kembali ke surga. Ketika saat itu tiba, para rasul akan ditangkap dan diseret ke hadapan berbagai pengadilan dan pejabat karena mereka mewakili Kristus dan bersikeras bahwa Dia adalah Anak Allah. Roh Kudus akan berbicara melalui mereka tentang Yesus. Mereka akan berlari dari satu kota ke kota lain untuk menghindari penganiayaan, sambil menyebarkan kabar baik tentang Kristus di sepanjang perjalanan. Yesus dianiaya, demikian pula mereka. Ia akan mendorong orang-orang ini untuk berdiri teguh dalam iman mereka. Mereka tidak perlu takut, tetapi percaya bahwa Bapa mereka akan menyertai mereka dan memberi mereka pahala di surga.

Yesus mengutus dua belas murid pilihan-Nya untuk menjadi rasul; kata ini secara harfiah berarti “orang-orang yang diutus.” Mereka memiliki misi khusus: memberitakan kedatangan kerajaan surga dari kota ke kota di wilayah Galilea (Matius 10:5–8). Yesus memperingatkan mereka tentang kesulitan-kesulitan yang akan mereka hadapi:

  • Ayat 16: “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala…”
  • Ayat 17–18: Memperingatkan tentang penyerahan diri kepada dewan-dewan setempat, dicambuk, dan dibawa ke hadapan gubernur-gubernur dan raja-raja.
  • Ayat 19–20: Mendorong mereka untuk tidak khawatir tentang apa yang harus dikatakan, karena Roh akan berbicara melalui mereka.
  • Ayat 21–22: Memprediksi penganiayaan yang hebat, bahkan di dalam keluarga.
  • Ayat 23: Apabila mereka menganiaya kamu di suatu kota, mereka harus lari menghindar ke kota lain. Sebelum mereka selesai menjelajahi kota-kota Israel, Anak Manusia akan datang.
  • Ayat 24–25: Menegaskan bahwa para pengikut harus menerima perlakuan yang sama seperti yang Yesus terima.

Matius 10:16–25 tidak secara khusus merujuk kepada akhir zaman (atau eskaton) sebagaimana teks-teks apokaliptik seperti bagian-bagian dari Wahyu atau Matius 24. Sebaliknya, bagian ini merupakan bagian dari instruksi Yesus kepada para pengikut-Nya saat Ia mengutus mereka untuk menjalankan misi pertama mereka. Di sini, Yesus mulai menggambarkan misi jangka panjang. Kemungkinan besar, pada saat itu para murid tidak akan sepenuhnya memahami hal itu. Apa yang Kristus maksud di sini sebagian besar akan terjadi setelah kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kembali ke surga. Selama Perjamuan Terakhir, Yesus akan memberikan peringatan dan dorongan serupa (Yohanes 15:18–20; 16:1–4).

Metafora yang digunakan Kristus di sini adalah gambaran yang mencolok. Di tempat lain, Yesus berbicara tentang Diri-Nya sebagai “Gembala yang Baik” yang akan mati untuk melindungi kawanan domba-Nya (Yohanes 10:11), khususnya dari serangan serigala (Yohanes 10:12–14). Perbedaan radikal antara orang-orang percaya kepada Kristus dan seluruh dunia terungkap dalam simbolisme tentang menjadi domba yang “dikirim” ke tengah-tengah serigala. Awalnya, ini mungkin tampak kontradiktif karena tugas seorang gembala yang sebenarnya adalah menjauhkan domba dari bahaya. Namun, Yesus telah memberi kuasa kepada kelompok yang terdiri dari dua belas orang ini untuk bertindak atas nama-Nya; mereka akan diperlengkapi untuk menghadapi bahaya yang menyertai tindakan tersebut.

Orang-orang Yahudi terbiasa menganggap diri mereka sebagai domba yang dikelilingi oleh serigala-serigala non-Yahudi. Namun, Yesus mengklaim metafora ini untuk para pengikut-Nya. Mereka akan menghadapi serigala-serigala Yahudi dan non-Yahudi saat mereka melakukan pekerjaan berbahaya untuk menyatakan Yesus dan kerajaan-Nya kepada dunia. Seperti itu juga, jika kita adalah orang Kristen sejati, kita akan menghadapi serigala-serigala yang mengaku Kristen dan yang bukan Kristen.

Dalam budaya saat itu, ular merupakan simbol kelicikan dan kelicikan. Merpati begitu polos sehingga sering kali tampak sama sekali tidak menyadari bahaya. Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk menggunakan kecerdikan yang mereka punyai untuk menghindari konflik dan bahaya tanpa kehilangan kepolosan seperti merpati yang akan memungkinkan mereka untuk terus menyatakan kebenaran tanpa rasa takut. Keseimbangan ini akan sulit dipertahankan, tetapi hal itu diperlukan agar misi tersebut berhasil. Menjadi murid Tuhan bukan berarti bahwa kita harus menjadi orang yang bodoh dan tidak bisa bersiasat.

Yesus memang sedang mempersiapkan kelompok yang terdiri dari dua belas murid pilihan-Nya untuk pergi sendiri ke seluruh dunia dan mengabarkan pesan-Nya tentang kedatangan kerajaan-Nya (Matius 10:1). Tetapi, Yesus juga memerintahkan kita pada saat ini untuk melakukan hal yang sama melalui Amanah Agung-Nya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20

Yesus memberikan perintah-Nya kepada para rasul sesaat sebelum Ia naik ke surga. Pada dasarnya, perintah ini menguraikan apa yang Yesus harapkan untuk dilakukan oleh mereka. Termasuk bagi orang-orang yang mengikuti para rasul ketika Yesus sudah tidak lagi bersama dengan mereka di bumi. Ia memperingatkan mereka bahwa hal itu akan berbahaya. Mereka mungkin belum mengetahuinya, tetapi Yesus menunjuk ke masa penganiayaan besar terhadap orang Kristen setelah kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kembali ke surga. Ia berkata dalam ayat sebelumnya bahwa penganiayaan akan mencakup hukuman cambuk di sinagoge oleh para pemimpin agama Yahudi setelah diadili di hadapan pengadilan Yahudi (Matius 10:17).

Meskipun kata-kata ini diucapkan kepada sekelompok pria yang unik, kata-kata ini masih memiliki makna bagi orang-orang Kristen yang beriman, saat ini. Yesus tidak mendukung kepercayaan yang naif dan dangkal. Yesus tidak menghendaki kita menjadi orang Kristen yang kedagingan, dalam arti tetap hidup seperti orang bukan Kristen. Pada pihak lain, Dia juga tidak mengizinkan orang-orang beriman menjadi orang-orang sinis yang pahit dan senang melakukan pertikaian rohani dengan orang lain. Bagian-bagian Kitab Suci lainnya menekankan kembali perlunya orang-orang Kristen untuk memiliki informasi yang benar dan akal sehat dalam kehidupan rohani mereka (1 Petrus 3:15–16; Kolose 2:8). Menjadi orang Kristen bukan berarti hidup dalam pengucilan sebagai orang yang keras kepala.

Peringatan yang diberikan di sini, pada awalnya, akan tampak rutin bagi para pendengar pria Yahudi. Mereka terbiasa dengan peringatan tentang orang-orang bukan Yahudi, khususnya orang Romawi. Namun, Yesus sekarang menunjukkan bahwa penganiayaan besar akan datang dari para pemimpin agama Yahudi. Ia menggambarkan suatu masa setelah kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kedatangan-Nya kembali ke surga di mana para rasul-Nya akan dianiaya sebagai orang Kristen oleh para penguasa Yahudi. Hal yang serupa bisa terjadi pada kita, karena di zaman ini hidup kita ada di bawah kuasa dunia yang sekuler, yang tidak mengenal Tuhan. Dunia menganggap kita bodoh jika kita tidak mau melakukan apa yang jahat.

Perlu dicatat, Rasul Paulus memberikan hukuman cambuk terhadap orang-orang Kristen Yahudi (Kisah Para Rasul 22:19) dan menerima hukuman cambuk setelah ia menjadi seorang Kristen dan mulai berkhotbah tentang Yesus (2 Korintus 11:24-25). Yesus memperingatkan para murid-Nya, tentang apa yang harus mereka korbankan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada orang-orang Israel. Yesus juga memperingatkan kita bahwa kita harus mau berkorban untuk bisa tetap hidup sebagai orang Kristen sejati.

Perlu kita catat bahwa Matius 10:23 masih sering diperdebatkan.

“Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”

Sebagian menafsirkannya “sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang” sebagai:

  • Referensi tentang kebangkitan atau kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta.
  • Yang lain melihatnya sebagai rujukan pada penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M
  • Pandangan minoritas melihatnya sebagai rujukan pada kedatangan terakhir Kristus, meskipun ini lebih spekulatif dalam konteks langsung ayat ini.

Penganiayaan di hadapan para penguasa ini memiliki tujuan tertentu. Ketika diadili, Yesus berkata bahwa para pengikut-Nya akan terus mewakili-Nya. Dengan cara ini, mereka akan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan Yesus kepada mereka yang berada di tingkat kekuasaan tertinggi, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi. Penganiayaan yang akan datang akan memungkinkan kabar baik tentang keselamatan melalui iman kepada Kristus untuk menjangkau siapa saja, bahkan mereka yang melakukan penganiayaan.

Pagi ini, pesan Yesus di atas juga berlaku untuk kita yang mengalami kesulitan hidup karena iman kita. Kita harus memandang kesulitan hidup sebagai kemungkinan untuk membuat orang lain menyadari bahwa kita dikuatkan oleh Tuhan yang mahakuasa. Setiap tindakan kita haruslah membawa kemuliaan bagi Tuhan sebagai suatu kesaksian bagi orang-orang yang belum mengenal Allah yang mahakasih.

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”Korintus 10:31

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23

Apakah Anda merasa akhir zaman sudah dekat?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Matius 24:12-14

Tidak dapat disangkal bahwa masa depan dunia adalah sebuah tanda tanya besar, terutama sesudah terjadinya pandemi COVID-19 yang masih menimbulkan berbagai masalah sampai sekarang. Sebagian orang sadar bahwa jika malapetaka seperti itu terjadi lagi dalam waktu dekat, hidup manusia akan menjadi lebih kacau. Apakah kita sudah memasuki akhir zaman?

Pad pihak yang lain, banyak orang yang kagum melihat perkembangan teknologi yang terjadi selama abad-abad terakhir. Tidak dapat disangkal bahwa kemajuan teknologi sudah sedemikian rupa sehingga manusia makin bergantung pada teknologi, terutama teknologi komputer. Apalagi, dengan adanya AI (artificial intelligence atau kecerdasan buatan), banyak orang yang menduga bahwa di masa depan hidup-mati manusia akan bergantung pada AI. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa AI bisa menimbulkan berbagai masalah besar di dunia jika manusia tidak bisa menguasainya. Apakah adanya AI menunjukkan bahwa akhir zaman sudah dekat? Jawaban saya: Belum tentu.

Perkembangan AI belum tentu merupakan tanda bahwa akhir dunia sudah dekat, tetapi dapat dimengerti mengapa beberapa orang merasa tidak nyaman tentang hal itu. Seperti alat yang ampuh lainnya, AI memiliki potensi yang luar biasa dan risiko yang serius. Apakah itu mengarah pada masa depan yang lebih baik atau masalah yang signifikan tergantung pada bagaimana umat manusia memilih untuk menggunakan dan mengaturnya. Menurut Alkitab, akhir zaman ditandai dengan munculnya banyak orang yang durhaka kepada Tuhan.

Perlu dicatat, definisi akhir zaman dalam Alkitab secara umum merujuk pada masa atau periode yang meliputi berbagai peristiwa penting yang akan terjadi menjelang akhir zaman, termasuk kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan orang mati, penghakiman akhir, dan penggenapan Kerajaan Allah. Secara lebih detail, akhir zaman bisa diartikan sebagai masa yang ditandai dengan berbagai kesengsaraan, kesulitan, dan tanda-tanda yang mengarah pada akhir sejarah dunia. Kedatangan Kristus yang kedua kali, juga disebut Parousia, adalah peristiwa eskatologis utama di mana Kristus akan kembali untuk menghakimi dunia dan mendirikan Kerajaan Allah. Ini dapat kita baca dalam kitab Wahyu, tetapi Yesus sebenarnya sudah menerangkan hal ini semasa Ia di dunia.

Matius 24:1–14 mengisahkan bagaimana Yesus dan para murid keluar dari Bait Suci. Ini terjadi setelah kritik-Nya yang pedas terhadap ahli Taurat dan orang Farisi dalam pasal 23. Kristus juga meramalkan saat ketika Bait Suci akan dihancurkan tanpa satu batu pun tersisa di atas batu lainnya. Atas hal itu, para murid-Nya meminta informasi lebih lanjut tentang peristiwa-peristiwa yang sedang mendatangi ini.

Yesus menggambarkan musim di mana dunia akan berada dalam kekacauan – tetapi itu saja tidak akan menjadi bukti bahwa akhir telah tiba. Murid-murid-Nya akan dianiaya, dibunuh, dan dibenci demi nama-Nya. Nabi-nabi palsu akan muncul dan bahkan beberapa di antara para murid akan murtad. Yesus adalah Tuhan, dan karena itu siapapun yang menjadi pengikut-Nya seharusnya percaya atas apa yang sudah diramalkan-Nya.

Memang, salah satu bukti keilahian Yesus adalah kenyataan bahwa Ia sering meramalkan masa depan. Seringkali prediksi-prediksi tersebut berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dalam waktu singkat setelah Ia membuat prediksi-prediksi tersebut, seperti hal penangkapan-Nya sendiri oleh orang-orang Yahudi dan kematian serta kebangkitan-Nya (Matius 16:21), atau pendirian Gereja setelah kenaikan-Nya (Matius 16:18; Kisah Para Rasul 1:4-8). Namun, salah satu prediksi Yesus yang paling mendalam dan mudah diverifikasi, berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi bertahun-tahun setelah Ia berada di bumi. Dengan sangat rinci, Yesus meramalkan kehancuran Yerusalem, sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi hampir empat dekade setelah kenaikan-Nya ke surga. Nubuat ini tidak hanya membuktikan keilahian-Nya, tetapi juga mendukung inspirasi Ilahi atas isi Alkitab.

Yesus menggambarkan bakal adanya musim kekacauan dan penganiayaan dunia yang tak terbayangkan. Ia menunjuk pada saat tertentu ketika Bait Suci dicemarkan, saat orang-orang harus lari menyelamatkan diri. Yesus berbicara tentang kesengsaraan yang mengancam dunia yang akan dipersingkat tepat sebelum Ia kembali sebagai Raja dan Hakim. Karena tidak seorang pun mungkin tahu kapan Ia akan kembali, para pengikut-Nya harus hidup dalam kesiapsiagaan.

Yesus menggambarkan kepada para pengikutnya kenyataan pahit yang menanti mereka setelah Ia pergi (Yohanes 16:5–7) dan sebelum akhir zaman ketika Ia kembali (Wahyu 19:11–15). Ia telah mengatakan bahwa mereka akan dibenci karena pergaulan mereka dengan-Nya, bahwa mereka akan dianiaya dan dibunuh (Matius 24:9). Banyak orang yang tampaknya mengikuti Yesus akan murtad karena tekanan itu dan beberapa bahkan akan mengkhianati yang lain. Nabi-nabi palsu akan bangkit untuk mengajarkan kesalahan dan menuntun banyak orang menjauh dari kebenaran Yesus (Matius 24:10–11).

Yesus menambahkan bahwa salah satu akibat dari ajaran palsu ini adalah kekacauan: penolakan terhadap standar kebaikan dan moralitas. Mereka yang mengikuti visi menyimpang yang ditawarkan oleh nabi-nabi palsu akan meninggalkan kebenaran. Mereka akan memberontak terhadap kebajikan atau tunduk kepada Tuhan. Hasil akhir dari pelanggaran hukum yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti diri sendiri itu adalah hilangnya kasih.

Adanya berbagai perang, terorisme, legalisasi aborsi, kebebasan memilih gender, dan hal-hal yang melawan kehendak Tuhan pada saat ini merupakan gambaran tentang kasih yang menjadi “dingin”; mengingatkan kita pada mayat: tidak hanya tidak bergerak, tetapi juga dingin dan tidak bernyawa. Ketika manusia semakin menjauh dari ajaran Kristus, kasih akan berkurang, sedemikian rupa sehingga banyak manusia yang hanya hidup untuk dirinya sendiri.

Yesus mengajarkan bahwa seluruh pesan Tuhan kepada manusia bergantung pada dua perintah Kitab Suci: mengasihi Tuhan dengan segala keberadaannya dan mengasihi sesama seperti dirinya sendiri (Matius 22:37–40). Tidak mengherankan bahwa penolakan terhadap hukum Tuhan berkorelasi dengan hilangnya kasih kepada Tuhan dan sesama.

Matius 24:13 mengarah pada salah satu pernyataan Kristus yang paling banyak diperdebatkan: hubungan antara “bertahan” dan “diselamatkan”. Seperti pernyataan Kitab Suci lainnya, mengambil ayat ini di luar konteks bisa menimbulkan salah tafsir, seolah orang Kristen harus berjuang dengan tenaga sendiri untuk mempertahankan keselamatan mereka. Keselamatan adalah karunia cuma-cuma dari Tuhan, yang tidak dapat diganggu-gugat atau dibatalkan meskipun dosa dan kelemahan masih ada dalam setiap diri orang percaya.

Surat-surat yang ditulis oleh para rasul seperti Yohanes, Petrus, dan Paulus, akan memberikan rincian yang lebih spesifik tentang kerajaan Allah yang menakjubkan. Pesan yang disampaikan murid-murid Yesus kepada dunia adalah bahwa semua orang yang beriman kepada Yesus pasti akan menerima kasih karunia keselamatan dari Allah (Kisah Para Rasul 4:12). Allah menerima kematian Yesus di kayu salib sebagai pembayaran atas dosa-dosa orang yang percaya (Roma 6:23) dan akan memberikan mereka penghargaan karena pengurbanan yang sudah Yesus jalani (2 Korintus 5:21). Singkatnya, kabar baiknya adalah bahwa semua orang yang menerima Kristus diterima di kerajaan surga melalui iman kepada Anak Allah (Efesus 2:8-9).

Pada pihak yang lain, Yesus telah menggambarkan masa-masa sulit yang akan datang bagi mereka yang mengikuti Yesus setelah Ia meninggalkan bumi (Yohanes 16:5–7). Ia telah menunjuk kepada suatu era penganiayaan yang hebat, kematian, dan kebencian terhadap siapa pun yang terkait dengan nama-Nya. Banyak orang yang dari luarnya terlihat seperti orang percaya, sebenarnya adalah orang-orang sesat yang mengikuti ajaran para nabi palsu. Mereka tidak mengenal Tuhan tetapi berpura-pura menjadi orang Kristen.

Saat ini keadaan dunia nampaknya makin buruk, dan kejahatan manusia terlihat makin meningkat. Namun, tidak satu pun dari hal ini akan menghentikan pemberitaan Injil kerajaan surgawi. Kabar baik yang Yesus khotbahkan tentang kerajaan surga adalah bahwa kerajaan itu akan datang dan akan segera ada di sini. Ia sendiri adalah Raja, dan Ia akan memerintah selamanya (Matius 4:17; 13:43; 26:29).

Selain Yudas, orang-orang yang Yesus ajak bicara (Matius 24:3) memang tetap setia selama menghadapi penganiayaan. Mereka berhasil meluncurkan penyampaian Injil ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua bangsa. Namun, mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan itu.

Para pengajar Alkitab memperdebatkan kapan dan apakah seluruh dunia telah dijangkau dengan Injil kerajaan, meskipun semua setuju bahwa kabar baik ini di saat ini telah menjangkau sebagian besar bumi. Pertanyaan ini penting, karena Yesus bernubuat bahwa ketika Injil telah diberitakan kepada semua bangsa, akhir zaman akan tiba, yang berarti bahwa Ia akan kembali sebagai raja dan hakim. Ini adalah jawaban parsial-Nya kepada para pengikut-Nya tentang tanda-tanda yang menunjukkan bahwa akhir zaman sudah dekat.

Jika demikian, mungkinkah kita sekarang hidup dalam era yang sangat dekat pada akhir zaman? Ini tidak dapat kita pastikan, tetapi kita tidak perlu kuatir jika akhir zaman terjadi, karena Yesus akan menyertai kita dalam menghadapi semua masalah saat ini dan menguatkan iman kita. Pada waktu Ia datang sesudah semuanya terjadi, Ia akan mengumpulkani semua orang yang setia kepada-Nya. Halleluya!

“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Matius 24:36

Antara kenaikan Yesus ke surga dan tugas kita

“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:14-16

Hari ini adalah hari kenaikan Yesus ke surga. Saat ini, ada sekitar 25 negara di dunia yang memperingati kenaikan Yesus ke surga, yang dirayakan 40 hari setelah Paskah, sebagai hari libur umum. Sebagian besar negara-negara tersebut adalah negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, khususnya di Eropa, Afrika, dan sebagian Karibia serta Pasifik. Australia tidak pernah menetapkan hari ini sebagai hari libur, sekalipun sebelum tahun 2021 dianggap sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ini mungkin karena Australia mengikutti tradisi Inggris yang tidak pernah menetapkan hari ini sebagai hari libur nasional. Menariknya adalah Indonesia, yang meskipun merupakan negara dengan mayoritas Muslim, menetapkan Hari Kenaikan Yesus sebagai hari libur nasional sejak tahun 1950an karena adanya dasar negara yang mengakui adanya pluralisme agama.

Di Australia, selain kenaikan Yesus tidak dinyatakan sebagai hari libur umum, banyak gereja yang tidak memperingatinya. Gereja-gereja yang menekankan liturgi (misalnya, Katolik Roma, Anglikan, Ortodoks, Lutheran) biasanya mencantumkan Hari Kenaikan Isa Almasih dalam kalender gereja mereka. Gereja-gereja Injili, Pantekosta, Baptis, dan non-denominasi sering kali tidak mengikuti kalender liturgi, dan karena itu hanya berfokus pada hari Paskah dan Natal.

Apakah kenaikan Yesus adalah hal yang penting dalam iman Kristen? Sudah tentu! Jika Yesus tidak naik ke surga, konsekuensi terbesar adalah tidak akan ada Roh Kudus yang dikirim untuk menuntun hidup dan menyembuhkan rohani umat percaya. Tanpa kenaikan-Nya, ibadah kepada Kristus mungkin akan terbatas pada tempat dan waktu tertentu, dan kita tidak akan dapat mengalami penghiburan dan kekuatan rohani yang ditawarkan oleh Roh Kudus, yang tinggal dalam hati setiap orang Kristen, di mana saja dan kapan saja. Selain itu, dengan adanya Roh Kudus, kita bisa menjadi terang dunia (Matius 5:16).

Kita perlu memahami bahwa hubungan antara kenaikan Yesus dan para pengikut-Nya sebagai “terang dunia” terletak pada pengalihan misi dan wewenang:


  1. Kenaikan Yesus Menandai Akhir Pelayanan-Nya di Bumi
  • Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri kepada para pengikut-Nya selama 40 hari dan kemudian naik ke surga (Kisah Para Rasul 1:9-11).
  • Kenaikan menandakan bahwa kehadiran fisik Yesus di bumi telah berakhir, tetapi misi-Nya berlanjut melalui para pengikut-Nya.

  1. Para Murid Mewarisi Misi Yesus
  • Sebelum kenaikan-Nya, Yesus mengutus para pengikut-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya:
    “Kamu akan menjadi saksi-Ku… sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8)
    “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (Matius 28:19)
  • Ini menjadikan mereka wakil-wakil Yesus di bumi, yang dipanggil untuk mewartakan Injil dan mewujudkan ajaran-ajaran-Nya.

  1. Para Murid Menjadi Terang Dunia
  • Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
    “Kamu adalah terang dunia… Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang lain, supaya mereka melihat perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Matius 5:14-16)
  • Sementara Yesus juga berkata bahwa Dia adalah “terang dunia” (Yohanes 8:12), melalui kenaikan-Nya, terang-Nya terus bersinar melalui para murid.
  • Kehidupan dan misi mereka sekarang dimaksudkan untuk memantulkan terang Yesus di dunia yang gelap.

  1. Roh Kudus Memungkinkan Peran Mereka
  • Setelah kenaikan-Nya, Yesus mengutus Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2), yang memberdayakan para murid untuk menjalani identitas mereka sebagai terang.
  • Tanpa Roh, cara hidup dan kesaksian mereka tidak akan memiliki kuasa dan bimbingan ilahi.

Dengan demikian, kita bisa mengerti bahwa

  • Yesus naik ke surga → Kehadiran fisik-Nya tidak terlihat lagi.
  • Ia mengutus para murid → Mereka menjadi kehadiran-Nya yang terlihat di bumi.
  • Mereka sekarang adalah “terang dunia” → Melaksanakan misi-Nya dengan kuasa Roh Kudus.

Kenaikan Yesus tidak mengakhiri pekerjaan-Nya. Yesus justru melipatgandakannya melalui para pengikut-Nya, yang sekarang menjadi tubuh-tubuh pembawa terang-Nya di dunia.

Terang adalah simbol penting dalam pandangan orang Yahudi. Sama seperti budaya Yunani yang menghargai pengetahuan, atau budaya Romawi yang menghargai kemuliaan, atau budaya barat modern yang menggembar-gemborkan kebebasan, standar ideal budaya Ibrani adalah terang. Konsep ini sangat berperan dalam penjelasan Alkitab tentang kesalehan dan kebenaran (Amsal 4:18–19; Matius 4:16; Yohanes 8:12; 2 Korintus 4:6).

Secara rohani, tidak ada terang di dunia ini selain dari Yesus Kristus. Namun, terang-Nya bersinar melalui setiap orang yang menjadi milik-Nya. Dengan cara ini, terang Kristus disebarkan ke dalam kegelapan di setiap sudut umat manusia. Bahwa terang ini dimaksudkan untuk terlihat oleh dunia juga penting. Yesus menambahkan metafora ini dengan merujuk pada sebuah kota yang terletak di atas bukit. Kota itu tidak dimaksudkan untuk disembunyikan; kota di atas bukit dimaksudkan untuk dilihat dan ditemukan bahkan dalam kegelapan malam. Pada zaman Kristus, tembok-tembok di sekeliling kota di atas bukit sering kali terbuat dari batu kapur putih, yang relatif mudah dilihat, bahkan pada malam yang redup.

Malam hari bisa sangat gelap pada zaman Yesus. Bagi kita yang terbiasa dengan lampu listrik, kegelapan malam di dunia kuno mungkin agak menakutkan. Di luar rumah, pada malam tanpa bulan atau mendung orang-orang akan kesulitan melihat tangan mereka di depan mata mereka sendiri. Di dalam rumah, cahaya tersedia dalam bentuk api, termasuk lampu minyak. Saat rumah-rumah menjadi gelap setelah matahari terbenam, lampu akan dinyalakan dan, jika tersedia, disebarkan di sekitar rumah. Penempatan adalah kuncinya. Lampu-lampu akan diletakkan di atas dudukan di tempat yang optimal untuk menyediakan cahaya sebanyak mungkin ke ruangan. Inilah inti dari komentar Yesus dalam ayat ini: mengapa seseorang menyalakan lampu di malam hari dan kemudian meletakkan sebuah gantang di atasnya? Mereka tidak akan melakukannya, kata Yesus. Cahaya lampu dimaksudkan untuk dilihat dengan cara yang sama seperti cahaya Kristus dimaksudkan untuk dilihat di dunia.

Dengan cara yang sama, terang Kristus tidak dimaksudkan untuk disembunyikan di bumi. Terang itu dimaksudkan untuk bersinar terang dari semua orang yang menjadi milik Kristus. Terang itu dimaksudkan untuk mudah ditemukan oleh mereka yang masih berada dalam kegelapan. Yesus akan menambahkan poin ini dalam ayat berikutnya bahwa terang Kristus tidak boleh ditutupi dalam kehidupan para pengikut-Nya. Terang itu dimaksudkan untuk dilihat. Sebagai orang percaya, kita tidak boleh hanya tinggal dalam lingkungan gereja atau keluarga kita dan tidak mempunyai minat untuk berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat luas yang ada.

Orang Kristen sejati adalah satu-satunya sumber cahaya rohani, yaitu cahaya Kristus. Cahaya itu dimaksudkan untuk dilihat, jadi Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk tidak menyembunyikannya atau menutupinya dengan alasan apa pun. Melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan adalah cara para pengikut-Nya akan menyebarkan cahaya-Nya. Gagal melakukan pekerjaan baik itu, sama seperti menutupi satu-satunya lampu di ruangan yang gelap; menyembunyikan cahaya membuat lampu itu tidak berguna. Terang dimaksudkan untuk dilihat oleh mereka yang berada dalam kegelapan. Terang tidak ada nilainya jika ditutupi dan disembunyikan.

Para pengikut juga wajib memperlihatkan terang Yesus dengan melakukan perbuatan baik yang Allah inginkan bagi mereka. Bahkan jika mengikut Kristus mendatangkan penganiayaan dari dunia (Matius 5:11–12), orang percaya diperintahkan untuk tetap bertahan untuk memancarkan terang itu ke dalam dunia yang gelap. Demikianlah hendaknya terang kita bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat cara hidup kita dan memuliakan Tuhan.

Dalam pelajaran lain, Yesus menjelaskan lebih lanjut tentang arti melakukan perbuatan baik. Poin penting yang Ia sampaikan kemudian dalam Khotbah di Bukit melibatkan motivasi yang tepat (Matius 6:1). Perbuatan baik yang dilakukan demi Allah, dengan cara dan tujuan yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah, seharusnya dilakukan agar dapat dilihat. Namun, dalam situasi sekarang, di mana dunia cenderung memuji orang dari tampak luarnya, lebih baik tindakan itu dilakukan “secara rahasia” untuk menghindari kesombongan dan keangkuhan.

“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:2-4

Pagi ini, kita menyadari bahwa Kristus adalah satu-satunya terang rohani di dunia, dan kebenaran itu disebarkan melalui umat-Nya: murid-murid-Nya, yang berarti orang Kristen yang dilahirkan kembali. Orang percaya berbuat baik kepada orang lain untuk menunjukkan kebenaran (Yohanes 14:6), dan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.