Natal seharusnya membuat kita rendah hati

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:45

Penulis Kristen terkenal, C. S. Lewis, dalam bukunya “Mere Christianity” mencatat bahwa kesombongan adalah keadaan “anti-Tuhan”, posisi di mana ego dan pendirian manusia secara langsung menentang kebesaran Tuhan. Jika ketidaksucian, kemarahan, keserakahan, kemabukan, adalah jahat di mata Tuhan, semua itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kesombongan. Melalui kesombonganlah iblis menjadi jahat, dan hal itu menuntun dia kepada setiap kejahatan lainnya. Keseombongan adalah keadaan pikiran yang sepenuhnya anti-Tuhan. Kesombongan dipahami sebagai sesuatu yang memisahkan roh kita dari Tuhan yang sudah memberi kita hidup dan kasih karunia.

Kesombongan umat Kristen, mungkin paling mencolok pada saat kita merayakan hari Natal. Sebagian orang Kristen menyambut hari Natal sebagai satu kesempatan untuk bersuka-cita dan berpesta pora, baik di gereja, di rumah, maupun di tempat lain. Mereka bisa merasa bangga karena banyak orang yang bukan Kristen juga merayakan Natal. Suasana Natal dengan lagu-lagu Natal, hiasan Natal yang berkerlap-kerlip, dan banyaknya pengunjung gereja yang datang untuk merayakan Natal adalah satu tanda bahwa agama Kristen adalah agama yang hebat. Natal adalah kesempatan untuk berlomba untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa gereja kita adalah yang terbesar, terbaik, dan terkaya. Begitu mungkin perasaan mereka. Mereka lupa bahwa panggilan Natal adalah agar umat Tuhan untuk menjadi orang yang rendah hati.

Markus 10:35-45 menggambarkan permintaan arogan Yakobus dan Yohanes untuk memiliki posisi berkuasa dan berwenang dalam kerajaan Yesus yang akan datang. Ini terjadi setelah mengetahui bahwa Yesus menghargai orang-orang yang tidak berdaya seperti wanita dan anak-anak (Markus 10:1-16). Yesus juga menyatakan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan duniawi sering mengalami kesulitan mengikuti Tuhan karena mereka cenderung lebih menghargai harta benda mereka (Markus 10:17-22).

Dalam ayat di atas, Yesus yang kelahiran-Nya akan kita rayakan esok hari. datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Seperti Dia yang sudah merendahkan diri-Nya untuk menjadi manusia. Yesus memanggil kita untuk menjadi hamba (Markus 10:43) dan budak (Markus 10:44). Sikap kita harus seperti Dia, di mana kita secara harfiah harus menempatkan diri kita dalam posisi hamba atau budak bagi orang lain.

Yesus mengambil “rupa seorang hamba” bagi Allah, bukan bagi kita (Filipi 2:7–8). Agar kita dapat menyambut dan menjadi bagian dari kerajaan Allah, kita harus menjalani pemahaman kita bahwa pada dasarnya kita adalah makhluk yang tidak berdaya (Markus 10:14–15). Allah yang berdaulat adalah Tuhan yang memiliki kuasa yang nyata, dan harus kita muliakan terlepas dari posisi kita dalam hidup di dunia. Bahkan jika kita diakui sebagai pemimpin di gereja, peran kita pada hakikatnya tetaplah seorang hamba. Kita wajib melayani dan bukan menuntut untuk dilayani orang lain.

Kata “tebusan” dalam ayat di atas berasal dari akar kata Yunani lutron dan merujuk pada harga yang dibayarkan untuk menebus seorang budak atau tawanan (Imamat 25:51–52) atau anak sulung (Bilangan 18:15), atau ganti rugi atas kejahatan (Bilangan 35:31–32) atau cedera (Keluaran 21:30). Yesus mampu “memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara bagi mereka yang terkurung” (Yesaya 61:1; lih. Lukas 4:18–19) karena Dia adalah Hamba yang Menderita dari Yesaya 53 yang datang untuk menanggung kejahatan banyak orang, sehingga mereka dapat dianggap benar (Yesaya 53:11).

Mendengar kata-kata ini untuk pertama kalinya, para murid berpikir bahwa yang akan ditebus adalah “tawanan”, yaitu orang-orang Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Romawi. Yesus mengatakan bahwa tawanan sejati adalah mereka yang menjadi budak dosa (Yohanes 8:34). Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita dapat dibebaskan dari sifat dan akibat dosa yang memisahkan kita dari Allah (Roma 6:18). Kebebasan dari dosa ini bersifat penuh (Yohanes 8:36), tetapi kemerdekaan ini mengalihkan perbudakan kita dari dosa kepada kebenaran Allah (Roma 6:16–18). Kebebasan kita yang datang dari Tuhan, seharusnya memerdekakan kita dari keegoisan, kesombongan, dan keinginan untuk mengendalikan segala seuatu menurut kemauan kita. Perbudakan kita kepada Allah memberikan kita kemerdekaan untuk bisa mengasihi orang lain dan menerima hidup kekal (Roma 6:23).

Kebebasan ini adalah manifestasi kerajaan Allah di dalam diri kita. Namun, ini juga merupakan konsep yang sangat asing bagi orang Yahudi yang misinya adalah kemerdekaan duniawi dari jajahan Romawi, bukan kemerdekaan surgawi dari dosa. Dalam sejarah Yahudi, para pemimpin besar adalah mereka yang membawa kutuk kepada rakyatnya karena penyembahan berhala dan memimpin pasukan mereka untuk mempertahankan perbatasan daerah mereka. Kepemimpinan Yesus mengurapi zaman baru. Itu dibangun di atas ketundukan kepada Allah dan pengorbanan bagi orang lain. Sering kali, “orang lain” itu adalah gereja-gereja yang miskin, orang-orang buangan dunia, wanita-wanita yang tidak berdaya (Markus 10:1-12), anak-anak yang berkekurangan (Markus 10:13-16), dan orang-orang yang tidak berdaya serta patah semangat (Markus 10:46-52), bukan para pemimpin kaya atau berkuasa yang dianggap perlu dihormati (Markus 10:17-31).

Hari ini, marilah kita mengingat bahwa Yesus datang membawa karunia keselamatan bagi mereka yang percaya. Karunia yang tidak perlu kita beli, karunia yang tidak dapat kita bayar, karena karunia itu adalah karunia pengampunan dosa kita dari Allah yang mahasuci. Kita harus merasakan betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita yang tidak layak di hadapan-Nya. Hanya karena kasih-Nya kita diselamatkan dan itu bukat karena hasil jerih payah kita.

Sebagai orang-orang percaya, seharusnya kita menempatkan diri kita sebagai hamba yang dimeredekakan dan bukannya orang-orang pilihan Allah yang lebih baik dari orang lain. Kita bukan juga orang Kristen yang merasa lebih baik dari orang Kristen lain karena teologi, kekayaan gereja atau kemasyhuran pendeta kita. Adalah panggilan bagi kita untuk menjadi seperti Yesus yang lahir di palungan, yang tidak membanggakan kemegahan diri-Nya sebagai Anak Allah. Hari Natal adalah panggilan bagi kita untuk selalu siap untuk merendahkan diri di hadapan orang lain dan siap melayani mereka yang membutuhkan pertolongan sambil mengaku bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa yang sudah menerima belas kasihan Allah!

Selamat Hari Natal 2024

Gloria in excelsis Deo belum tentu dapat diucapkan semua orang Kristen

”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14

Gloria in excelsis Deo (bahasa Latin dengan arti harafiah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi”) adalah reffrain dari sebuah himne Natal terkenal “Angels we have heard on high” atau “Para Malaikat Bernyanyi”. Lagu ini juga dikenal dengan judul lain seperti “Alam Raya Berkumandang” dengan lirik karya James Chadwick, dan nada kidung “Gloria” dari lagu Prancis tradisional dengan asal usul yang tidak diketahui yang berjudul Les Anges dans nos campagnes. Lirik Chadwick diambil dan terinspirasi, dan sebagian diterjemahkan, dari karya Prancis asli tersebut. Tema lagu tersebut adalah kelahiran Yesus yang dikisahkan dalam Injil Lukas, khususnya peristiwa dimana para gembala dari luar Betlehem dihampiri para malaikat yang bernyanyi dan memuji anak yang baru lahir tersebut, seperti yang ditampilkan dalam ayat di atas dan tertulis dalam sayir lagu di bawah ini:

Angels we have heard on high,
Sweetly singing o’er the plains,
And the mountains in reply
Echoing their joyous strains.

Refrain:
Gloria in excelsis Deo.
Gloria in excelsis Deo.

M’laikat t’lah kami dengar,
Nyanyi merdu di lembah,
Dan gunung pun membalas
Gemakan lagu ria

Reffrain:
Gloria in excelsis Deo.
Gloria in excelsis Deo.

Lukas 2:8–21 menggambarkan para gembala yang dikunjungi oleh banyak malaikat. Bagian kitab Lukas ini biasanya dibacakan pada hari Natal, saat merayakan kelahiran Yesus. Makhluk-makhluk surgawi ini memberitakan kelahiran Kristus dan menjelaskan di mana Dia dapat ditemukan. Para gembala kemudian mengikuti arahan mereka dan menemukan Yesus, Yusuf, dan Maria.

Sebagian besar terjemahan ayat di atas menghubungkan “damai” yang diberitakan dengan kesenangan Tuhan terhadap suatu kelompok tertentu. Ini secara bergantian diungkapkan sebagai “mereka yang berkenan kepada-Nya,” atau “orang-orang yang berkenan kepada-Nya.” Ini menggambarkan Tuhan selalu menggunakan orang-orang sederhana untuk memberitakan kebenaran-Nya yang paling penting. Tuhan selalu memilih orang yang rendah hati, bukan mereka yang suka bermegah dan sombong.

Sementara Injil Yesus Kristus adalah pesan rekonsiliasi dan harapan (Yohanes 3:16–17), harapan itu hanya dapat diakses oleh mereka yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:18, 36). Jika diterjemahkan secara akurat, para malaikat tidak menyatakan kebaikan hati Tuhan kepada seluruh umat manusia; mereka merayakan belas kasihan-Nya kepada mereka yang mengikuti kehendak-Nya dengan menerima Putra-Nya (Yohanes 6:28–29; Ibrani 11:6).

Ketika para malaikat sudah pergi, para gembala bergegas ke Betlehem untuk melihat sendiri Kristus yang baru lahir (Lukas 2:15–16). Seperti itu juga, orang Kristen sejati akan berusaha untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam hidup mereka. Mereka tidak menunda kesempatan untuk memuliakan Tuhan dengan cara melaksanakan firman Tuhan secepat mungkin. Mereka sadar bahwa Tuhan sudah berbelas kasihan kepada mereka yang sudah dipilih Tuhan sebagai orang-orang yang sederhana di mata Tuhan.

Jika ada orang yang mengaku Kristen, tetapi mempunyai rasa sombong yang sering tidak terkontrol, saat menjelang hari Natal ini adalah kesempatan untuk mengingat bahwa hanya orang yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhan adalah orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Dalam Matius Yesus pernah berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 19:14).

Yesus mengizinkan anak-anak kecil untuk datang kepada-Nya. Ia memberi tahu para pengikut untuk tidak menghalangi mereka karena kerajaan surga adalah milik mereka yang seperti anak-anak. Itu adalah gambaran yang lembut, sekalipun Ia tidak mengatakan bahwa kerajaan surga adalah milik anak-anak kecil. Sebaliknya, Ia mengingatkan para pengikut tentang perlunya iman dan kerendahan hati seperti anak kecil. Orang Kristen tidak dapat memuji Tuhan dengan sepenuh hati jika mereka menempatkan kesombongan dalam hati mereka.

Pada hari Ini, menjelang datangnya hari Natal, baiklah kita mendengar gema dari ajaran yang Yesus berikan kepada para pengikut-Nya:

“Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, kecuali kamu bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” Matius 18:3–4

Yesus adalah Juruselamat semua bangsa

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3:28

Hari Natal dan Tahun Baru akan segera datang, tetapi agaknya tidak semua orang menyambutnya dengan hati riang. Adanya perang di Timur Tengah membuat suasana Natal tahun ini agak kurang nyaman di Australia karena timbulnya gesekan antara etnik Muslim Arab dan etnik Yahudi. Walaupun demikian, hal itu tidaklah sebanding dengan suasana di beberapa negara di mana hari Natal tidak bisa dirayakan. Di beberapa negara, saat ini perayaan Natal harus dilakukan secara “sepi-sepian” karena masyarakat setempat tidak menyukainya dan bahkan pemerintah melarangnya.

Natal tidak diakui sebagai hari libur umum di beberapa negara, termasuk: Afghanistan, Aljazair, Bhutan, Korea Utara, Libya, Mauritania, Republik Demokratik Arab Sahrawi, Arab Saudi, Somalia, dan Tajikistan. Bagaimana dengan Tiongkok? Pemerintah Tiongkok sudah menutup gereja-gereja yang bukan gereja pemerintah dan menangkapi pendetanya. Saat ini jutaan penduduk Kristennya mungkin ingin merayakan Natal, namun perayaan Natal telah berulang kali dikecam oleh pemerintah. Mungkinkah bangsa-bangsa di atas sudah ditetapkan Tuhan untuk tidak bisa ke surga?

Sebagai orang Kristen, kita yakin, bahwa orang dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Dengan kata lain, fakta bahwa ada satu Allah yang membenarkan manusia di pengadilan-Nya dengan satu cara – hanya oleh iman – dijadikan pengajaran ras oleh Paulus. Pembenaran oleh iman saja, kata Paulus, justru untuk meniadakan keuntungan etnis dan perasaan superioritas bangsa-bangsa tertentu atau pengucilan bangsa-bangsa lain. Tuhan kita adalah Allah bangsa-bangsa, dan Ia akan membenarkan umat-Nya hanya dengan satu cara – cara yang menjelaskan bahwa perbedaan etnis tidak menciptakan keuntungan atau kerugian. Perbedaan etnis tidak menyelamatkan dan tidak mengutuk. Pada lain pihak, Kristus menyelamatkan dan dosa mengutuk manusia, dan setiap orang dibenarkan hanya oleh iman. Karena itu, adalah keliru jika kita berpikir bahwa bangsa-bangsa tertentu sudah ditakdirkan untuk tidak diselamatkan.

Apakah orang Yahudi saja yang dipilih sebagai umat Tuhan? Tentu saja tidak. Apakah orang-orang tertentu akan ditolak-Nya? Tidak juga. Coba kita lihat keturunan Ismael, putra Abram dari hamba perempuannya, Hagar (Kejadian 16:1-12). Dari jumlah yang sedikit, bangsa Ismael menjadi bangsa yang besar dan kuat, yang hidup di Timur Tengah bertetangga degan bangsa Israel. Di kemudian hari dalam sejarah Israel, orang Ismael juga disebut sebagai orang Midian (meskipun tidak semua orang Midian adalah keturunan Ismael), dan mereka terlibat dalam jual-beli budak (Kejadian 37:28; 39:1). Hakim-hakim 8:24 mengatakan bahwa orang Ismael memiliki kebiasaan memakai anting-anting emas. Suku Midian adalah suku Arab nomaden yang tinggal di Hijaz barat laut, yang sekarang menjadi Arab Saudi.

Pada masa pemerintahan Raja Daud, orang Ismael bergabung dalam sebuah persekutuan untuk melawan Tuhan dan umat-Nya, Israel (Mazmur 83:6-7). Tujuan mereka adalah untuk “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi!” (ayat 5). Melihat kekacauan yang terjadi di Timur Tengah saat ini dan kebencian yang sering ditujukan kepada Israel melalui semboyan yang serupa oleh negara-negara tetangganya, nubuat-nubuat mengenai keturunan Ismael terbukti benar.

“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” Kejadian 16:12

Deskripsi nubuat tentang Ismael seperti ‘keledai liar’ cukup menarik. Hewan yang dimaksud adalah tidak jinak, yang berkeliaran di padang pasir sesuka hati. Kiasan ini menggambarkan dengan sangat akurat orang Badui yang mencintai kebebasan yang bergerak melintasi hamparan tanah yang luas. Nubuat ini bukanlah penghinaan untuk orang Badui atau kutukan dari Tuhan. Ismael akan menikmati kebebasan yang dicari ibunya. Tuhan menamai Ismael (Kejadian 16:11), yang namanya berarti “Tuhan mendengar,” dan Hagar menamai Tuhan (Kejadian 16:13) “Dia yang melihat.” Kedua nama ini merupakan wahyu utama tentang Tuhan: Dia mendengar dan Dia melihat.

Alkitab mengajarkan bahwa, sejak dosa asal Adam, semua manusia mati secara rohani dan secara moral tidak mampu tunduk kepada Tuhan dalam iman dan ketaatan. Kita memiliki pola pikir yang “tidak dapat tunduk kepada Allah.” Roma 8:7-8, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; memang hal itu tidak mungkin. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Alasan ketidakmampuan moral ini diberikan dalam Efesus 2:1, “Kamu dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Orang duniawi – sebagaimana kita secara alami – terlepas dari pekerjaan Roh Kudus, tidak melihat kebenaran sebagai sesuatu yang benar dan diinginkan, tetapi menganggapnya sebagai kebodohan. Jadi, kita semua adalah seperti keledai liar sebelum dilahirkan kembali.

Adanya keragaman etnis di neraka adalah doktrin gereja yang penting. Roma 2:9 menuliskannya seperti ini: “Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani”. Tuhan tidak memandang bulu dalam keselamatan atau kutukan. Umat manusia – dan setiap kelompok etnis di dalamnya – bersatu dalam kenyataan besar ini: kita semua bejat dan terkutuk. Kita semua tersesat di hutan bersama-sama, tenggelam di perahu yang sama, mati karena penyakit yang sama.

Ini berarti bahwa Allah tidak memilih umat-Nya atas dasar warna kulit atau ciri khas etnis lainnya. Tidak ada kelompok etnis yang dapat mengatakan bahwa mereka diselamatkan karena pilihan Tuhan karena tempat mereka dilahirkan, kualitas fisik, faktor psikologis, atau spiritual mereka. Sebaliknya, tidak ada kelompok etnis yang dapat mengatakan bahwa mereka tidak dipilih Tuhan karena kualitas fisik atau tempat di mana mereka dilahirkan. Pilihan Tuhan tidak bersyarat. Itu tidak didasarkan pada apa pun di dalam diri kita. Tuhan benar-benar bebas dan tidak bisa dibatasi. Ini adalah kemuliaan-Nya, demi nama-Nya. Dan bertindak dengan cara ini adalah kebenaran-Nya.

Oleh karena itu, cara Tuhan memilih umat-Nya memutuskan akar terdalam dari semua rasisme dan semua etnosentrisme. Jika saya termasuk di antara orang-orang pilihan Tuhan, itu sepenuhnya karena kasih karunia Tuhan yang cuma-cuma, bukan keistimewaan saya atau kelompok saya. Oleh karena itu, tidak ada dasar dalam pemilihan Tuhan untuk kesombongan. Dan tidak ada dasar dalam pemilihan Tuhan untuk keputusasaan karena merasa tidak terpilih. Tidak ada apa pun dalam diri saya yang menyebabkan Dia memilih saya. Dan tidak ada apa pun dalam diri Anda yang dapat menghentikan Dia untuk memilih Anda. Dalam hal pemilihan, kita berada pada bidang belas kasihan tanpa syarat yang mutlak: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Roma 9:15).

Kristus mati untuk semua orang dalam pengertian yang dikatakan Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Itu benar adanya: Kristus mati supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Kematian Kristus cukup untuk semua orang, dan harus dipersembahkan kepada semua orang sebagai kecukupan yang mulia untuk menyelamatkan mereka jika mereka mau percaya.

Ini berarti bahwa tidak seorang pun, tidak peduli kelompok etnis apa pun, pernah memberikan kontribusi apa pun untuk tebusan yang membebaskannya dari perbudakan dosa. Keselamatan kita juga tidak bergantung pada tempat di mana kita dilahirkan sebagai etnis tertentu. Kita semua sama-sama menjadi budak dosa dan kerusakan dan kesia-siaan dan kematian dan kutukan karena kebejatan kita. Itulah perbudakan kita bersama. Sekarang kita melihat bahwa pembayaran untuk pembebasan kita – darah dan kebenaran Kristus – begitu lengkap sehingga kita tidak dapat memberikan kontribusi apa pun untuk itu – baik dengan kemauan kita, atau dengan ketaatan, atau dengan keistimewaan etnis kita. Ketika Kristus mati menggantikan kita dan untuk dosa-dosa kita, seluruh tebusan telah dibayarkan. Begitu lunasnya, pada kenyataannya, kebebasan kita tidak hanya ditawarkan tetapi juga dijamin.

Salib Kristus adalah penyamarataan yang luar biasa bagi manusia bukan hanya karena salib itu menunjukkan bahwa kita semua adalah orang berdosa yang tidak memiliki harapan, dan bukan hanya karena salib itu hanya dapat diterima melalui iman, tetapi juga karena salib itu adalah tebusan yang begitu penuh dan efektif bagi orang-orang pilihan sehingga tidak ada anak Tuhan yang berani berpikir bahwa mereka lebih berhak dari orang lain dan telah memberikan kontribusi besar untuk menebus dosa mereka. Tidak ada warna kulit, suku bangsa, kecerdasan, keterampilan, kekayaan atau kekuasaan manusia yang dapat menambah apa pun pada pengorbanan Kristus yang mahacukup dan mahaefektif. Kita adalah satu dalam ketergantungan kita sepenuhnya pada darah dan kebenaran-Nya.

Ini berarti bahwa mereka yang dipanggil Tuhan, Dia jaga. Jika Anda adalah orang percaya sejati, Anda akan bertekun dalam iman dan ketaatan (bukan kesempurnaan, karena kita bukan orang yang sudah sempurna) di mana pun Anda berada sampai saat akhir untuk diselamatkan. Tuhan akan memastikannya. “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). “

Pertanyaan saya untuk Anda menjelang hari Natal: Apakah ada sesuatu yang lebih penting dari pernyataan Alkitab bahwa Yesus, Anak Allah, telah lahir di dunia agar semua orang yang percaya boleh diselamatkan (Yohanes 3:16)? Apakah Anda bisa benar-benar bersukacita karena manusia dari bangsa atau suku mana pun bisa dibenarkan karena iman, sekalipun Anda merasa bahwa mereka tidak mungkin menjadi umat Tuhan karena cara hidup mereka di saat ini?

Natal seharusnya diperingati setiap hari

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25: 13

Sebentar lagi hari Natal. Toko-toko dan banyak rumah di Australia sudah memperlihatkan dekorasi Natal, seperti palungan dan pohon Natal; dan lagu Natal pun mulai bergema dimana-mana. Orang mulai mengucapkan pesan-pesan Natal kepada rekan-rekan yang akan memulai liburan mereka. Selamat hari Natal! Semoga anda mendapat Natal yang indah!

Ucapan selamat hari Natal sebelum tibanya hari itu, agaknya janggal di Indonesia. Biasanya, mereka yang hidup di Indonesia mengucapkannya setelah memasuki hari bertanggal 25 Desember. Malahan, beberapa gereja menganjurkan untuk tidak merayakan Natal sebelum tanggal itu. Hari Natal dipastikan sebagai tanggal 25 Desember, sekalipun Alkitab tidak pernah menyebutkan adanya orang yang merayakan hari yang dianggap hari ulang tahun kelahiran Yesus. Memang tanggal itu hanyalah berdasarkan perkiraan atau rekaan manusia saja karena pada waktu itu surat kelahiran bayi tidaklah lazim.

Hari kelahiran Yesus memang tidak sepenting kelahiran-Nya. Kelahiran Anak Allah adalah lebih penting dari saat dan tempat dimana Ia lahir, karena kelahiran-Nya sebagai manusialah yang memungkinkan Yesus untuk menebus dosa manusia. Manusia tidak dapat mencapai surga, hanya Allah yang bisa mencapai manusia. Dengan demikian, kedatangan Yesus itu sebenarnya harus dirasakan oleh setiap umat Kristen sebagai karunia yang terbesar dalam hidup mereka. Suatu hal yang harus selalu diingat setiap hari: bahwa kita sudah menerima Hadiah Natal yang tidak bisa dibeli.

Perayaan hari Natal sering kali didahului dengan 4 minggu adven, sebagai minggu penantian, dimana umat Kristen mempersiapkan diri untuk merayakan hari kedatangan Yesus ke dunia. Dalam minggu-minggu itu, hati dan pikiran mereka dipusatkan pada keajaiban kasih Allah kepada manusia. Tetapi, bagi kita yang hidup setelah Yesus dilahirkan, minggu adven itu mungkin kurang relevan; kecuali jika masih ada yang kita nantikan. Sesuatu yang besar yang mendatangi, yang harus kita hadapi dengan persiapan yang benar-benar khusyuk.

Apa yang akan terjadi sesudah kelahiran Kristus di Betlehem adalah kedatangan-Nya yang kedua kalinya dengan segala kemegahan-Nya. Kapankah itu akan terjadi? Tidak ada seorangpun yang tahu! Karena itu, kita tidak perlu mereka-reka. Memang banyak orang Kristen yang berusaha untuk menafsirkan apa saja yang terjadi di dunia, guna menebak kapan Yesus datang lagi. Tetapi semua itu adalah sia-sia.

Matius 5: 1 – 12 menggambarkan adanya sepuluh gadis yang menantikan kedatangan pengantin pria. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Hanya mereka yang bijaksana, yang menantikan pengantin pria dengan persiapan yang baik, akhirnya bisa masuk ke ruang pesta kawin. Seperti itulah kita harus selalu berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu akan hari maupun akan saatnya Yesus akan datang lagi.

Pagi ini kita diingatkan bahwa minggu adven seharusnya dijalani setiap minggu karena kita harus selalu berjaga-jaga; itu bukan untuk memperingati hari-hari tertentu saja. Lebih dari itu, hari Natal seharusnya diperingati oleh orang Kristen setiap hari, karena kita harus sadar bahwa Ia yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosa kita, Ia jugalah yang akan datang lagi sebagai Raja diatas segala raja.

Hidup orang Kristen bukan biasa-biasa saja

“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 10-12

Sudah berapa lama Anda menjadi orang Kristen? Bagaimana kemajuan rohani yang Anda rasakan selama ini? Atau, apakah Anda kmasih mengharapkan sesuatu dari Tuhan di Tahun Baru yang mendatang? Seperti seorang anak yang mengharapkan hadiah Natal dari orang tuanya, mungkin kita mengharapkan adanya kemajuan rohani dari Tuhan. Tetapi, sebelum mengharapkan sesuatu, baiknya kita memahami apa arti harapan itu.

Kita bisa menggunakan kata harapan setidaknya dalam tiga cara berbeda:

  • Harapan adalah keinginan untuk sesuatu yang baik di masa depan. Anak-anak mungkin berkata, “Saya harap ayah pulang lebih awal malam ini sehingga kita bisa bermain bola setelah makan malam sebelum rapatnya.” Dengan kata lain, mereka menginginkannya pulang lebih awal sehingga mereka dapat mengalami hal yang baik ini, yaitu bermain bersama setelah makan malam.
  • Harapan adalah hal baik di masa depan yang kita dambakan. Kita berkata, “Harapan kita adalah Jim akan tiba dengan selamat.” Dengan kata lain, kedatangan Jim dengan selamat adalah tujuan dari harapan kita.
  • Harapan adalah alasan mengapa keinginan kita benar-benar dapat terwujud. Kita berkata, “Angin yang baik adalah satu-satunya harapan kita untuk tiba tepat waktu.” Dengan kata lain, angin yang baik adalah alasan kita dapat, pada kenyataannya, untuk mencapai kebaikan di masa depan yang kita dambakan. Itulah satu-satunya harapan kita.

Jadi harapan bisa digunakan dalam tiga pengertian:

  • Keinginan akan sesuatu yang baik di masa depan,
  • Hal di masa depan yang kita inginkan, dan
  • Dasar atau alasan untuk berpikir bahwa keinginan kita memang dapat terpenuhi.

Ketiga pengertian di atas bersangkutan dengan Ibrani 6:10-12.

Ibrani 6 menguraikan bahaya iman yang dangkal dan belum dewasa. Iman yang dangkal yang tidak mempunyai harapan yang kuat bisa memunculkan risiko keraguan, keputusasaan, dan ketidaktaatan dalam hidup orang Kristen. Hal ini mengarah pada situasi di mana satu-satunya harapan seseorang untuk pemulihan posisinya di hadapan Tuhan yang mahasuci adalah melalui penghakiman, seperti yang dialami Israel selama empat puluh tahun di padang gurun. Orang yang sedemikian hanya bisa berharap bahwa Tuhan akan berbelaskasihan kepadanya ketika ia menghadap Dia. Hidup tanpa harapan tentunya adalah hidup yang tidak berbahagia, dan karena itu banyak orang Kristen yang tidak mau memikirkan konsekuensi cara hidupnya. Hidup sekarang untuk dinikmati, hidup yang berikutnya terserah pada Tuhan.

Penulis Ibrani telah mengkritik orang Kristen Ibrani karena kurangnya kedewasaan rohani mereka, dan memperingatkan mereka tentang bahaya serius yang ditimbulkan oleh iman yang dangkal seperti itu. Hidup kerohanian mereka pada saat itu tidak boleh dianggap sudah maksimal atau optimal. Penulis di sini adalah untuk mendorong mereka agar terus bertumbuh—bukan untuk menakut-nakuti atau mengintimidasi mereka. Ayat-ayat berikutnya memang menyoroti alasan semua orang Kristen dapat memakai iman mereka dengan percaya diri. Karena harapan kita berlabuh pada sifat Allah yang terbukti, tidak berubah, sempurna, dan mutlak, kita seharusnya percaya diri dan tekun, daripada takut atau menjauhkan diri. Allah tidak akan melupakan mereka yang senantiasa berharap kepada-Nya.

Gagasan bahwa Allah benar-benar adil dalam sikap-Nya terhadap perbuatan baik orang Ibrani merupakan pratinjau dari bagian selanjutnya. Orang-orang yang dikritik karena tidak dewasa secara rohani, dan dalam bahaya “murtad,” pada saat yang sama menerima kasih yang sangat besar seperti kasih Kristus bagi orang lain. Ini adalah poin yang berguna untuk diingat ketika membahas kedewasaan rohani. Menurut bagian ini, seseorang dapat menjadi Kristen, melayani Allah, mengasihi orang lain dengan perbuatan baik, namun masih mengalami berbagai masalah kerohanian karena pendekatan yang tidak dewasa terhadap kebenaran Kristen. Maksud penulis di sini tentu saja bukan untuk mengabaikan kasih dan pelayanan, tetapi juga tidak dimaksudkan untuk meredakan ancaman “kemurtadan.” Pelayanan kepada Tuhan adalah hal yang baik, dan tanda ketulusan. Namun, penting untuk mengasihi kebenaran, dan bertumbuh dalam hikmat, sama pentingnya dengan menjalankan kasih kita kepada orang lain.

Seperti dalam semua contoh Perjanjian Baru lainnya, istilah “orang kudus” adalah referensi umum untuk semua orang Kristen yang diselamatkan. Ini bukan kategori khusus pahlawan agama. Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa kita tidak dapat memperoleh keselamatan melalui perbuatan baik (Titus 3:5; Roma 11:6), tetapi kita dipanggil untuk mengusahakannya (Matius 5:16; Ibrani 10:24; Yakobus 3:13). Demikian pula, kita tidak dapat kehilangan keselamatan kita (Yohanes 10:28–30), tetapi kita tetap diperingatkan terhadap bahaya “jatuh” ke dalam keraguan atau ketidaktaatan (Ibrani 6:1–8) yang bisa membawa penderitaan dan masalah bagi kita dan sesama.

Tujuan ayat-ayat di atas bukanlah agar kita membayar penebusan kita sendiri, atau berusaha menghindari kehilangan keselamatan. Sebaliknya, ayat-ayat seperti ini adalah tentang bagaimana kita, sebagai orang yang tidak sempurna, memahami iman kita sendiri. Bertumbuh dalam pelayanan, seperti bertumbuh dalam kebenaran, memberi kita bukti yang meyakinkan bahwa kita mengikuti kehendak Tuhan. Ayat 10 juga mengaitkan keyakinan ini dengan karakter Tuhan. Karena Tuhan benar-benar adil—atau “adil”—tidak diragukan lagi bahwa Dia akan mengakui perbuatan baik dan kerja keras umat-Nya. Pengingat ini menetapkan tema ayat-ayat terakhir dalam pasal 6: bahwa kepercayaan kita kepada Tuhan aman karena Dia tidak berubah dan tidak mungkin berdusta.

Ibrani 6:12 mengubah nada dari peringatan yang tidak menyenangkan di ayat 6-8 menjadi pandangan yang lebih meyakinkan. Perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi yang dianiaya ini merupakan bukti yang baik bahwa mereka memiliki iman yang tulus dan hidup. Namun, bahkan dalam kepastian itu, masih ada ruang untuk perbaikan dan pengajaran. Secara khusus, para pembaca perlu mengejar pertumbuhan dalam rasa harapan mereka—kepercayaan, ketergantungan, dan keyakinan mereka—untuk sepenuhnya memenuhi panggilan mereka.

Hari ini kita mendapat peringatan tentang kemalasan dalam pendekatan kita terhadap kebenaran Kristen. Hari Natal dan Tahun Baru adalah kesempatan baik untuk mengingatkan kita akan adanya harapan masa depan. Kesempatan bagi kita untuk menjalani hidup dalam Kristus. Peringatan Kristus adalah tentang kemalasan dalam pendekatan kita terhadap harapan kita sendiri. Anda memang yakin mempunyai harapan? Jika betul, apakah yang selama ini sudah Anda usahakan untuk Tuhan, sesama dan diri Anda sendiri?

Kita perlu menjaga kepercayaan kita kepada Kristus, khususnya di dunia yang menyerangnya dan menganiaya orang percaya. Daripada menempatkan diri kita pada risiko “murtad,” dalam arti menjadi orang Kristen duniawi, kita perlu tekun berpegang pada man kita. Hidup kerohanian yang baik tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan kita, tetapi untuk mempertahankan keyakinan kita bahwa kita mengikuti kehendak Tuhan. Itulah kunci pengharapan kita akan masa depan yang akan kita lewatkan bersama Kristus dan orang-orang percaya lainnya di surga. Itulah kunci kebahagiaan selama hidup di dunia.

Nasihat untuk semua orang

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Galatia 6:7

Charles Millhuff, pengarang buku “Thunder Overhead: How a Little Boy Survived Chicago” menulis bahwa banyak situasi kehidupan manusia yang ditentukan oleh tiga pilihan dasar: disiplin yang dipilih untuk dijalani, orang-orang yang dipilih untuk berteman; dan, hukum yang dipilih untuk dipatuhi. Ini adalah kenyataan hidup karena banyak orang yang hidupnya morat-marit karena kurang adanya disiplin kehidupan, karena bergaul dengan orang-orang yang kurang baik, dan karena tidak mau menaati hukum.

Sekalipun catatan Charles Millhnuff di atas adalah pedoman untuk masyarakat umum, itu juga berlaku untuk umat Kristen. Pendeta Wyatt Graham pernah menulis: “Jika saya membuat daftar kebebasan orang-orang berdosa, saya akan berkata: Bebas untuk menyenangkan Tuhan? Tidak. Bebas untuk memilih di antara pilihan-pilihan? Ya. Bebas dalam arti umum, bukan robot? Ya.” Jelas bahwa selaku orang-orang pilihan Tuhan kita harus menggunakan kebebasan kita untuk mengabdi kepada Tuhan dengan cara yag sesuai dengan firman-Nya. Kita harus mempunyai disiplin untuk itu karena kita bukan robot-robot yang bisa secara otomatis dibuat menaati atau menolak firman Tuhan sejak kita dilahirkan.

Galatia 6 memuat petunjuk tentang bagaimana orang-orang yang bebas di dalam Kristus dan berjalan oleh Roh Allah, harus memperlakukan dengan baik satu sama lain. Orang Kristen harus memulihkan mereka yang terperangkap oleh dosa, dan kita harus menanggung beban satu sama lain. Hanya mereka yang menghasikan buah Roh Allah, melalui iman kepada Kristus, yang akan menuai hidup kekal. Orang percaya tidak boleh lelah berbuat baik bagi satu sama lain.

Galatia 6:1–10 berfokus pada bagaimana orang-orang di dalam Kristus harus berinteraksi satu sama lain melalui kuasa Roh Allah. Kita harus menolong mereka yang terperangkap dalam dosa dengan kelembutan dan kerendahan hati, dan kita harus saling membantu dalam menghadapi tantangan hidup. Karena itu, orang Kristen harus jujur ​​kepada diri sendiri tentang apa yang Allah sudah lakukan melalui kita. Kita perlu bertanggung jawab atas apa yang telah Ia minta agar kita mau bertanggung jawab. Karena hidup kekal datang dari penanaman Roh Allah melalui iman kepada Kristus, dan bukan melalui perbuatan daging, kita harus terus berbuat baik. Hasil panen akan menunjukkan bahwa kita telah menanam dengan baik atau tidak.

Paulus telah mendorong orang Kristen untuk menjalani hidup yang ditandai oleh buah Roh (Galatia 5:19-25), dan untuk saling mendukung dalam pergumulan hidup (Galatia 6:1-5). Kekristenan adalah tentang kasih karunia Allah. Dia memberi kita hal-hal baik yang tidak akan pernah bisa kita peroleh dengan usaha kita sendiri. Dalam dosa kita, kita pantas menerima kematian dan penderitaan. Sebaliknya, dalam Kristus, Allah memberi kita hidup dan tujuan. Dalam hukum Kristus kita mengenal pentingnya kasih kepada Tuhan dan kepada sesama kita.

Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40

Seperti yang dinyatakan Paulus dengan jelas dalam ayat di atas, kasih karunia Allah tidak menghilangkan prinsip-prinsip pilihan dan konsekuensi. Dalam hidup ini, keputusan kita akan membawa serta hasil yang wajar. Kita tidak boleh berbohong kepada diri kita sendiri, bahwa karena kasih karunia Allah dan pengampunan dosa-dosa kita, kita tidak akan menderita kerugian apa pun jika kita terus hidup dalam dosa dan mengabaikan hukum Kristus. Mempercayai hal seperti itu berarti mengejek Allah, meremehkan pengorbanan Yesus untuk dosa kita di kayu salib. Mengajarkan hal seperti itu kepada orang lain berarti menghujat Allah yang mahasuci dan merendahkan firman-Nya.

Sampai sekarang, “tanaman” yang kita hasilkan antara saat hidup dan saat kematian kita juga ditentukan oleh “benih” yang kita tanam di sepanjang jalan. Hukum sebab akibat (JIKA-MAKA) alamiah Allah masih berlaku, baik bagi orang percaya maupun orang yang tidak percaya. Apa yang kita lakukan dalam hidup ini penting, bahkan melampaui pertanyaan apakah kita akan melihat surga atau tidak. Dalam kekekalan, pilihan kita akan tercermin dalam pahala surgawi kita, bagi mereka yang diselamatkan (1 Korintus 3:12–15; 2 Korintus 5:10), atau hukuman kekal bagi mereka yang tidak diselamatkan (Wahyu 20:11–14).

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Galatia 2:20-21

Tindakan yang harus kita lakukan dengan penyertaan Tuhan

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13

Ayat di atas agaknya cukup populer dan sering dikhotbahkan. Walaupun demikian, mungkin itu dikaikan dengan hal menghadapi kesulitan dan masalah dalam hidup. Ini kurang tepat, karena kesulitan dalam hidup sehari-hari adalah apa yang sudah ditetapkan Tuhan sebagai hukuman atas Adam dan Hawa (dan kita, keturunan mereka) akibat kejatuhan ke dalam dosa (Kejadian 3: 17-19). Kita tidak dapat menghindari hal ini karena sudah ditetapkan Tuhan. Walaupun demikian, ayat di atas berguna untuk mengingatkan bagaimana kita harus bertindak dan memilih apa yang baik selama hidup di dunia yang sudah rusak ini.

Surat Paulus dalam 1 Korintus 10:1–13 menggambarkan bagaimana generasi orang Israel yang lolos dari Mesir dibimbing dan diberkati oleh Allah tetapi berulang kali, karena kesalahan mereka, jatuh ke dalam penyembahan berhala. Tuhan menghukum banyak dari mereka dengan keras, termasuk keharusan bagi sebagian orang Israel untuk mengembara di padang gurun sampai mati. Jemaat Korintus harus membaca contoh mereka sebagai peringatan karena dalam hidup mereka juga jatuh dari jalan Tuhan karena berpartisipasi dengan berhala. Kedudukan mereka di dalam Kristus tidak berarti bahwa mereka akan bebas dari godaan atau merasa bahwaTuhan tidak akan bertindak terhadap ketidaksetiaan kepada-Nya. Namun, godaan seperti itu umum terjadi terutama jika mereka tidak berhati-hati. Dalm hal ini, Tuhan selalu menyediakan anak-anak-Nya jalan untuk membebaskan diri dari dosa. Ini bukan berarti bahwa Tuhan secara langsung akan membebaskan mereka dari dosa.

Penyembahan berhala adalah dosa yang sangat serius. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus yang dipenuhi berhala tentang hal itu dengan merujuk pada sejarah orang Israel yang mengembara di padang gurun. Meskipun diberkati oleh Tuhan, sebagian dari mereka masih menyembah berhala. Banyak di antara mereka yang meninggal karenanya. Paulus memerintahkan para pembacanya untuk menjauh dari penyembahan berhala. Berpartisipasi dalam dosa dengan cara apa pun berarti berpartisipasi dengan setan. Perlu dicatat, Tuhan selalu menyediakan cara untuk menghindari dosa. Tapi, mereka tidak boleh mengajarkan siapa pun bahwa mereka menyetujui penyembahan berhala, bahkan dengan sengaja memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Pertanyaan pertama bagi mereka sebelum melakukan sesuatu harus selalu, ”Apakah ini akan memuliakan Tuhan?”

Perkataan Paulus dalam ayat sebelumnya mungkin menimbulkan kekhawatiran yang dapat dimengerti, bahkan bagi orang Kristen: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Konteks dari komentar itu adalah menghindari dosa, dan tidak berasumsi bahwa keselamatan memberi kita kekebalan dari konsekuensi duniawi dari perilaku kita sendiri. Jika dikaitkan dengan komentar lain yang dibuat oleh Paulus (2 Korintus 13:5; Galatia 6:3), hal itu juga berfungsi sebagai peringatan bagi mereka yang sombong atau ceroboh tentang kedudukan mereka di dalam Kristus. Kesombongan atau kecerobohan bukan “takdir” yang tidak dapat dihindari manusia, melainkan adalah akibat adanya penyalahgunaan kebebasan yang diberikan Tuhan.

Godaan untuk mengabaikan Tuhan dan firman-Nya adalah bagian rutin dari kehidupan. Ini bisa dialami oleh semua orang, baik tua atau muda, kaya atau miskin, sehat atau sakit, berpendidikan tingi atau tidak. Keinginan kita untuk berbuat dosa sering terasa jauh lebih kuat daripada keinginan kita untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Bagaimana jika kita tidak dapat menolaknya? Bagaimana jika, seperti yang secara keliru dikatakan sebagian orang, bahwa Tuhan menempatkan atau “menakdirkan” kita dalam posisi di mana penolakan tidak mungkin dilakukan: skenario di mana kita tidak punya pilihan lain, selain berbuat dosa? Atau, setidaknya, tidak ada harapan untuk menolak godaan? Apakah dalam keadaan seperti ini Tuhan tetap menuntut tanggung jawab kita?

Sebagai tanggapan pertama terhadap ketakutan semacam itu, Alkitab memberikan jaminan: mengatasi godaan apa pun sepenuhnya mungkin. Itu berlaku bagi setiap orang Kristen. Pertama, Paulus menunjukkan bahwa tidak seorang pun dari kita yang secara unik tergoda oleh dosa—dalam arti bahwa keinginan kita untuk berbuat dosa, apa pun bentuknya yang unik bagi kita, adalah hal yang umum dan biasa. Hal itu telah dialami oleh banyak orang lain dari generasi ke generasi. Kita tidak lebih rentan atau kurang rentan terhadap godaan daripada mereka yang datang sebelum kita atau berjalan bersama kita saat ini. Pengalaman godaan manusia adalah bagian dari apa yang membuat hubungan Kristus dengan kita menjadi hubungan kepercayaan dan harapan (Ibrani 4:14–16). Itu harus dihadapi oleh semua orang di dunia, tapi bagi orang Kristen bisa membawa keuntungan.

Kedua, Allah kita masih dan selalu bersama kita. Dia mengasihi semua umat-Nya. Dia tidak menunggu kita gagal; Dia siap membantu kita. Salah satu cara Dia membantu orang percaya adalah dengan secara aktif bekerja dalam hidup kita untuk menjauhkan kita dari godaan yang lebih besar dari apa yang dapat kita tolak. Kita mungkin tidak selalu percaya bahwa kita dapat mengatasi godaan, terutama jika kita hidup mengalami masalah hidup. Setan mungkin mendorong kita untuk melihat beberapa godaan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak. Allah berjanji bahwa kita dapat, dengan kuasa Roh Kudus, menanggapi godaan apa pun dengan melawannya. Ini memerlukan kita untuk memilih memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, yaitu perlengkapan yang digunakan dalam peperangan rohani melawan Iblis, seperti yang tercantum dalam Efesus 6.

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.” Efesus 6: 10-18

Akhirnya, Paulus menambahkan janji ini bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dari godaan apa pun yang ada di hadapan kita. Jika kita mau mencari jalan untuk mengatakan “tidak” kepada dosa apa pun yang memaksa kita, Allah berjanji kita akan menemukannya. Dalam beberapa kasus, itu mungkin berarti secara harfiah kita harus “melarikan diri” dari suatu situasi, seperti Yusuf yang melarikan diri dari istri tuannya (Kejadian 39:7–12). Pada kesempatan lain, Allah secara aktif bekerja untuk membantu mereka yang ada di dalam Kristus, yang ingin melakukan apa yang benar, agar berhasil. Ini bisa muncul sebagai intervensi-Nya dalam bentuk yang ajaib, yang membawa kemuliaan bagi-Nya.

Tentu saja, dengan kehendak bebas kita, kita dapat menolak bantuan Allah. Dalam menghadapi godaan, kita mungkin merasa “terpaksa” memilih untuk menurutinya dengan sengaja. Atau kita merasa Tuhan sedang mencobai kita melalui takdir-Nya yang tidak bisa ditolak. Jika begitu, pada akhirnya apa yang mungkin terjadi adalah inti dari semua dosa: kita membuat pilihan yang disengaja untuk melakukan sesuatu yang lain daripada yang Allah kehendaki (Roma 3:10). Semoga kita tetap tabah dalam menghadapi tantangan hidup dan bisa, dengan pertolongan Tuhan, mengalahkan semua godaan yang ada!

Perjanjian Bersyarat dan Tanpa Syarat (Lanjutan tulisan tentang JIKA-MAKA)

Pertanyaan
Saya pernah mendengar di kalangan Reformed diajarkan bahwa perjanjian Nuh, Abraham, dan Daud bersifat tanpa syarat, dan bahwa perjanjian Adam dan Musa bersifat bersyarat. Apakah ini benar?

Jawaban

Oleh RA McLaughlin, Wakil Presiden Keuangan dan Administrasi di Third Millennium Ministries

Garis besar tentang kondisionalitas/tanpa syarat dari perjanjian yang Anda sampaikan adalah yang menjadi ciri pemikiran dan ajaran Reformed tradisional. Namun, ini adalah area yang membuat saya berbeda dari para pendahulu Reformed kita. Di Third Millennium kita mengajarkan bahwa semua perjanjian bersifat bersyarat.

Salah satu cara untuk menegaskan hal ini adalah dengan mengacu pada ajaran Reformed tradisional lainnya bahwa ada satu perjanjian kasih karunia di bawah berbagai pelaksanaan. Jika hanya ada satu perjanjian, tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa perjanjian ini berubah-ubah antara bersyarat dan tanpa syarat. Karena pelaksanaan berikutnya mengasumsikan dan membangun ketentuan-ketentuan dari pelaksanaan sebelumnya, ketentuan-ketentuan dari perjanjian sebelumnya juga berlaku untuk perjanjian-perjanjian selanjutnya.

Kitab Suci juga menunjukkan bahwa setiap pelaksanaan perjanjian benar-benar bersyarat. Mungkin cara termudah untuk melihat ini adalah dengan memperhatikan bahwa tidak ada pelaksanaan perjanjian yang benar-benar memberikan berkatnya kepada setiap orang (semua, tanpa perkecualian) yang berada di bawah perjanjian itu:

Adam: Semua umat manusia berada di bawah perjanjian Adam, tetapi tidak semua umat manusia diselamatkan – beberapa orang masuk neraka. Ini tidak mungkin terjadi jika Adam dijanjikan keselamatan tanpa syarat. Jika salah satu berkat dari perjanjian Adam adalah penebusan, dan kalau pelaksanaannya tidak bersyarat, maka semua orang harus diselamatkan.

Nuh: Semua umat manusia berada di bawah perjanjian Nuh, tetapi tidak semua umat manusia diselamatkan. Administrasi perjanjian Nuh mengasumsikan semua ketentuan perjanjian sebelumnya, berkat, kutukan, dll., khususnya perjanjian Adam. Oleh karena itu, ia juga menawarkan penebusan/keselamatan sebagai berkat. Karena tidak semua orang diselamatkan, itu harus bersyarat. Lebih jauh, ada ketentuan dan kutukan yang tercantum dalam penetapan perjanjian Nuh, yaitu bahwa orang yang menumpahkan darah manusia harus mati. Tidak menumpahkan darah manusia adalah syarat yang jelas untuk menerima berkat-berkat perjanjian.

Abraham: Sekali lagi, jika perjanjian itu tidak bersyarat, maka setiap orang yang terikat di dalamnya harus diselamatkan. Namun, jelas tidak semua orang yang terikat dalam perjanjian Abraham telah, sedang, atau akan diselamatkan. Misalnya, banyak orang Israel kuno binasa dalam dosa-dosa mereka. Selain itu, syarat-syarat perjanjian yang jelas tercantum dalam penetapan dan peneguhan perjanjian Abraham. Dalam Kejadian 17:1-2, syarat perjanjiannya adalah: hidup di hadapan Allah dan tidak bercacat. Dalam Kejadian 17:14, kita juga belajar bahwa orang yang tidak disunat jatuh di bawah kutukan perjanjian karena ia telah melanggar perjanjian. Seseorang tidak dapat melanggar perjanjian yang tidak bersyarat; melanggar perjanjian berarti melanggar syarat-syaratnya.

Musa: Sepengetahuan saya, tidak seorang pun yang berpendapat bahwa perjanjian ini tidak bersyarat. Bagaimanapun, syarat-syaratnya dirinci dengan jelas dalam kitab-kitab Hukum, dan pasal-pasal seperti Imamat 26 dengan jelas menunjukkan sifat bersyarat dari berkat dan kutukannya. Dan tentu saja, banyak orang di bawah perjanjian ini belum menerima berkat-berkatnya (misalnya, generasi pertama orang Israel yang meninggalkan Mesir dan binasa di padang gurun).

Daud: 2 Tawarikh 6:16 mencatat bahwa janji yang dibuat kepada Daud mencakup syarat yang jelas: “asal anak-anakmu tetap hidup menurut hukum-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku.”

Akhirnya, puncak dari semua pelaksanaan perjanjian adalah pelaksanaan di bawah Kristus. Kristus sendiri harus mati untuk memenuhi syarat-syarat perjanjian, yang membuat pelaksanaan-Nya tidak diragukan lagi bersyarat. Semua ini tidak berarti bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan usaha kita sendiri; tidak peduli pelaksanaan perjanjian mana yang kita lihat, kita tidak dapat menaati semua syarat-syaratnya. Karena itu, kita selalu mengandalkan kasih karunia dan pengampunan Allah agar dapat menerima berkat-berkat perjanjian-Nya. Tidak ada berkat yang dapat kita klaim jika kita menolak-Nya; dan jika kita menerima-Nya, kita juga menerima berkat-berkat-Nya hanya karena Kristus telah memenuhi persyaratan-persyaratan itu bagi kita.

Pentingnya kata “jika” dan “maka” dalam Alkitab

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9

Kali ini saya tidak akan membahas arti ayat di atas secara langsung. Saya ingin membahas sebuah kata yang sangat penting di seluruh Alkitab. Kata ini adalah salah satu kata yang paling sering diabaikan di seluruh Alkitab. Kata “jika” atau “if” dalam bahasa Inggris adalah salah satu kata penting yang terpendek dalam Alkitab. Sebuah kata yang seimg muncul bersamaan dengan kata itu adalah kata “maka” atau “then” dalam bahasa Inggris.

Ketika belajar pemrograman komputer sekitar 45 tahun yang lalu, saya mempelajari instruksi mengenai pernyataan JIKA-MAKA atau IF-THEN yang akan digunakan dalam program saya. Pernyataan tersebut menciptakan opsi bagi komputer untuk membuat pilihan tergantung pada keadaan apa (input) yang harus dipertimbangkan. JIKA ini kondisinya, MAKA lakukan ini; JIKA itu situasinya, MAKA ini harus dipilih, dan sebagainya. Menurut Alkitab, ternyata Tuhan pun menggunakan pernyataan yang serupa. Ini jelas berlaku di alam semesta, dan tentunya juga berlaku dalam kejadian alami, keadaan lingkungan dan kehidupan semua makhluk di dunia.

Apa yang terjadi di dunia pada ciptaan Tuhan selalu ada penyebabnya yang disebut “penyebab sekunder”, dan semuanya terjadi dengan seizin Tuhan sebagai “penyebab primer”. Gunung meletus karena tekanan magma yang menembus muka bumi, gempa bumi terjadi gerakan-gerakan batu dalam bumi, pemanasan global dan musnahnya flora dan fauna terjadi karena polusi manusia, dan sebagainya. Dalam hal ini, sebagian orang secara mudah menyatakan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menghendaki.

Dalam banyak hal manusia bertanggung jawab atas apa yang terjadi di bumi karena Tuhan sudah mengutus manusia sebagai wakil-Nya (Kejadian 2:19-20). Manusia seharusnya mengerti bahwa prinsip JIKA-MAKA berlaku di dunia sesuai dengan kehendak Tuhan yang menetapkan bahwa segala sesuatu berjalan secara teratur sesuai dengan aturan tertetu, sekalipun Tuhan yang berdaulat dan mahakuasa terkadang melalukan keajaiban untuk mencapai maksud-maksud dan rancangan-Nya.

Seberapa pentingkah kata “IF” dalam Alkitab? Kata ini muncul dalam Alkitab berbahasa Inggris sekitar 1.637 kali. Anda akan menemukannya 993 kali dalam Perjanjian Lama dan 602 kali dalam Perjanjian Baru. Dua puluh empat kali dalam surat-surat Yohanes.

Menariknya, dalam hal rohani banyak orang Kristen tahu adanya pernyataan JIKA-MAKA dari Tuhan, tetapi mereka seakan mengabaikannya. Ini mungkin karena dalam Alkitab pernyataan JIKA-MAKA sering kurang jelas, tidak seperti kata IF-THEN dalam terjemahan bahasa Inggris. Ayat di 1 Yohanes 1:9 adalah perkecualian. Pernyataan-pernyataan JIKA-MAKA ini diberikan kepada kita agar kita dapat menggunakan penalaran, menghasilkan pemahaman, dan kemudian penerapan, untuk ‘membuat pilihan yang tepat’ dengan aktivitas hidup kita. Pernyataan JIKA-MAKA membantu kita secara logis untuk memahami kehendak Tuhan.

Jika Alkitab penuh dengan pernyataan JIKA-MAKA, mengapa konsep kausalitas ini jarang dibahas dalam khotbah? Kausalitas ini menyangkut hubungan sebab-akibat (kausal) antara dua atau lebih peristiwa. Secara umum pengetahuan tentang hubungan sebab akibat sangat penting dalam mempelajari sejarah terutama untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu peristiwa itu terjadi. Salah satu di antara penyebab keseganan orang Kristen untuk mendalami arti ayat-ayat yang mengandung pernyataan kausalitas adalah keyakinan yang keliru bahwa semua yang terjadi di dunia sudah ditentukan Tuhan dan tidak ada pilihan lain untuk manusia yang diutus-Nya untuk menjadi seperti Dia.

Berikut ini adalah beberapa contoh kausalitas JIKA-MAKA dalam Kitab Suci yang menyatakan adanya opsi manusia:

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga (maka) Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Markus 11:25

Perlu dicatat bahwa sekalipun kata JIKA-MAKA itu tidak ditemui, bentuk kausalitas itu tetap ada:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya (jika) setiap orang yang percaya kepada-Nya (maka) tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Jawab Yesus, “Jika seorang mengasihi Aku, (maka) ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14:23

Apa yang harus kita sadari adalah bahwa begitu banyak hal yang kita harapkan dari hubungan kita dengan Tuhan bersifat bersyarat, dan bukan sudah ditentukan Tuhan. Tuhan seakan berjamji, “JIKA kamu mau, MAKA Aku akan melakukannya; dan JIKA kamu tidak mau, MAKA Aku tidak akan melakukannya.” Apa yang lebih sering didengungkan oleh mereka yang fatalis adalah: JIKA Aku mau, Aku akan melakukannya, MAKA tidak ada hal apa pun yang bisa mengubah keputusan-Ku”. Inilah yang menyebabkan keraguan orang Kristen untuk berdoa guna memohon belas kasihan dan pertolongan Tuhan dan keseganan mereka untuk berbuat baik. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan yang mahatahu sudah mempertimbangkan semua jalan manusia dan ikut bekerja dalam segala seuatu untuk mencapai rencana-Nya. Manusia harus berusaha sekalipun pada akhirnya (ultimately) rencana Tuhanlah yang terjadi.

Tentu saja ada Perjanjian-Perjanjian yang dibuat Tuhan yang tidak ada hubungannya dengan tanggapan kita, seperti pelangi di langit dan janji Tuhan untuk tidak pernah lagi menghancurkan seluruh bumi dengan air. Itu adalah Perjanjian Tuhan yang ‘berdiri sendiri’, dan apa yang kita lakukan atau tidak lakukan tidak akan mengubah apa yang akan Tuhan lakukan terhadap janji itu.

Saya harap Anda akan tertantang untuk melakukan studi pembacaan Kitab Suci dengan memperhatikan pernyataan kausalitas JIKA-MAKA yang bisa membantu Anda untuk menjadi dewasa secara spiritual. Pernyataan ini dapat membuat perbedaan antara kebenaran dan kesalahan, menaati Allah dan tidak menaati Allah, diselamatkan dan tersesat, berada di Surga atau berada di neraka.

Pemahaman yang tepat tentang hal ini bisa mencegah timbulnya dua masalah serius. Salah satunya adalah otomatisme – gagasan bahwa keanggotaan keluarga Tuhan adalah tiket sekali jalan otomatis ke surga yang tidak melibatkan tanggung jawab pribadi untuk mempercayai Injil. Pandangan seperti ini muncul dalam betuk ajaran hyper grace. Ini keliru karena Anda tidak dapat berada dalam hubungan yang hidup dan vital dengan Tuhan tanpa benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Masalah lainnya adalah fatalisme – gagasan bahwa, karena Tuhan berdaulat, tidak ada yang perlu saya lakukan atau dapat saya lakukan dalam hubungan saya dengan-Nya. Ini muncul dalam bentuk hyper Calvinism. Namun, Kitab Suci jelas: Tuhan berdaulat dan Anda bertanggung jawab. Anda bertanggung jawab untuk percaya kepada Kristus, dan juga untuk bertobat serta menjalani kehidupan saleh sebagai tanggapan atas anugerah keselamatan yang cuma-cuma.

Ketika Anda memikirkan hampir setiap janji sepanjang sejarah yang telah diberikan Allah, itu semuanya bersyarat – termasuk janji keselamatan. Itu dikondisikan pada kata JIKA. Bangsa Israel akan memiliki tanah perjanjian, JIKA mereka tetap tinggal di tanah perjanjian, JIKA mereka tetap berada di jalan Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Mereka diberi tahu bahwa JIKA mereka melanggar, mereka akan diusir, dan itulah yang sebenarnya terjadi.

Kita memiliki terlalu banyak orang Kristen yang mencoba hidup menurut cara dunia dan di dalam Kristus pada saat yang sama. Kadang-kadang, kita semua bersalah akan hal ini. Kita mencoba untuk mengabdi kepada keduanya, untuk hidup dengan dua cara. Kita tidak dapat menyenangkan Tuhan ketika kita melakukan ini. Kita menipu diri sendiri ketika kita percaya bahwa kebenaran Tuhan tidak mutlak atau tidak dapat dicapai. Atau, ketika kita mencoba mengubah hukum Tuhan agar sesuai dengan situasi kita (dalam hal pernikahan, gender, pekerjaan, perceraian, koripsi, kemarahan, mabuk, mencuri, bergosip, kebohongan putih dan sebagainya).

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa JIKA kita mengaku dosa kita, MAKA Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Mengaku atau tidak mengakui adalah pilihan kita yang membawa hasil yang berbeda. Jika kita menolak untuk mengakui dosa kita dan bertobat, maka Allah tidak dapat mengampuni.

Jika kita hidup dalam terang, maka darah Kristus membersihkan kita dari dosa-dosa kita. Tetapi hidup dalam terang berarti bahwa jika kita berbuat dosa, maka kitaa segera mengakuinya, sehingga Ia dapat terus-menerus membersihkan kita. Itulah bagian yang bersyarat (kausal). Kita harus mengakui dosa-dosa kita untuk menerima pembersihan yang terus-menerus itu. Kita harus mau mengubah hidup kita sesuai dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi umat Tuhan yang sejati. Jika kita mau sadar dan bertobat, maka dosa kita akan dihapuskan.

“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” Kisah Para Rasul 3:19

Apakah Tuhan membuat Simson jatuh cinta kepada Delila?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1:13-4

Anda tentu tahu kisah Simson dan Delila yang sudah ditampilkan di layar perak Amerika Serikat pada tahun 1949, yang diproduksi dan disutradarai oleh Cecil B. DeMille dan dirilis oleh Paramount Pictures. Film ini menggambarkan kisah Alkitab dalam kitab Hakim-hakim 16:4-22 tentang Simson, seorang pria kuat yang rahasianya terletak pada rambutnya yang tidak dipotong, dan cintanya kepada Delilah, wanita yang merayunya, menemukan rahasianya, dan kemudian mengkhianatinya kepada orang Filistin.

Kehidupan Simson adalah sebuah kehidupan yang penuh kontradiksi. Ia adalah pria yang memiliki kekuatan jasmani yang hebat namun moralitas yang lemah. Ia adalah seorang hakim selama 20 tahun dan seorang yang “sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah” (Hakim-Hakim 13:5), namun berulang kali ia gagal memelihara peraturan nazir. Kelemahan moral Simson adalah penyebab kejatuhannya. Kelemahan Simson ini bukanlah sesuatu yang dibuar oleh Tuhan, tetapi adalah kesalahannya sendiri. Sebaliknya, adalah menarik bahwa Roh Allah datang menguasai Simson dan memberinya kekuatan yang besar untuk melawan kaum Filistin, kaum penindas umat Israel. Hal ini dilakukan meskipun Simson mata keranjang dan pendendam.

Kehidupan Simson mengajar bahwa:

  • Allah bukan penyebab dosa,
  • memelihara moralitas yang baik, kita harus berkata “tidak” pada godaan jasmani,
  • Allah dapat menggunakan manusia yang berdosa untuk menggenapi rancangan-Nya,
  • setiap dosa selalu ada akibatnya, dan
  • Allah bisa berbelas kasihan.

Kitab Hakim-Hakim 16 menceritakan kejadiannya ketika Simson hendak mencari istri. Ia ingin menikahi seorang wanita Filistin meskipun orang tuanya menentang, dan bertolak belakang dengan hukum Allah yang melarang perkawinan dengan kaum berhala. Sekalipun Simson menikahi Delila atas kehendaknya sendiri, peristiwa buruk ini digunakan oleh Allah untuk melaksanakan rencana-Nya: “…hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel.” (ayat 4).

Dengan kehendak sendiri, secara sukarela Simson memasuki situasi yang berujung pada dosa, namun, tiap kali, Allah menggunakan Simson bagi kemuliaan-Nya. Dosa kita tidak dapat membendung kehendak berdaulat Allah terjadi. Simson, penuh dengan amarah dan dendam, bersumpah mencelakai kaum Filistin karena telah mencuri istrinya (Hakim-Hakim 15:3). Ia membakar ladang pertanian kaum Filistin (ayat 4-5) dan, kemudian, setelah kaum Filistin membunuh istrinya, “dengan pukulan yang hebat ia meremukkan tulang-tulang mereka” (ayat 8).

Kehendak Allah menaklukkan bangsa Filistin dilakukan melalui Simson, namun Simson juga dituntut pertanggung-jawabannya atas dosanya, dan ia mengalami akibat dari ketidak-taatannya dan kebodohannya. Pelanggaran Simson yang terus-menerus dilakukan telah mencapai titik akhirnya. Ia terlalu yakin pada kekuatannya sehingga ia merasa dirinya dapat mengabaikan hukum apapun juga; tampaknya ia merasa ia sudah tidak lagi membutuhkan Allah. Sebagai akibatnya, ” Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling” (Hakim-Hakim 16:21). Simson akhirnya menghadapi akibat dari tindakannya.

Para Filistin ingin merayakan kemenangan mereka atas Simson, dan para penguasa berkumpul di kuil Dagon, dewa mereka, untuk memujinya karena telah menyerahkan Simson pada mereka (Hakim-Hakim 16:23). Pada pesta itu, mereka mengeluarkan Simson dari penjara untuk mengoloknya. Dengan bersandar pada tiang-tiang penyangga kuil itu, “berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: ‘Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin'” (ayat 28). Allah mengabulkan permintaan Simson. “Membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (ayat 30). Simson membunuh lebih banyak kaum Filistin pada waktu itu — sekitar 3,000 orang Filistin — dibanding ketika ia masih hidup.

Jangan sampai Anda berpikir bahwa Simson adalah orang tidak mengenal Tuhan. Simson adalah pria beriman — namanya dikutip dalam pasal peringatan tokoh-tokoh beriman (Ibrani 11:32). Pada waktu yang sama, ia mungkin bisa digolongkan orang Kristen duniawi atau kedagingan jika ia hidup di zaman sekarang, dan berbagai kesalahannya seharusnya menjadi himbauan bagi kita yang bermain dengan api dan beranggapan tidak akan terbakar. Juga sebuah pringatan bagi mereka yang percaya bahwa semua tidakan manusia, baik atau buruk, sudah ditentukan Tuhan. Kehidupan Simson mengajar kita akan pentingnya mengandalkan kekuatan Allah, bukan kekuatan pribadi kita; mengikuti kehendak Allah, bukan sengaja melanggar hukum Allah dengan kemauan kita yang keras kepala; dan mencari hikmat Tuhan, bukan pengertian pribadi kita.

Karena kita adalah orang berdosa, kita mungkin tidak menghadapi ujian dengan baik. Terkadang kita terjebak dalam pikiran bahwa Allah mungkin menggoda kita untuk berbuat dosa di tengah kesulitan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan tidaklah memunculkan Delila untuk menggoda dan menjatuhkan Simpson. Ketika Tuhan mengizinkan masa kesulitan keuangan dalam hidup kita, kita mungkin berpikir Dia menggoda kita untuk mencari keuntungan yang tidak sah. Kesulitan dalam pernikahan kita mungkin membuat kita merasa bahwa Tuhan menggoda kita untuk mencari teman kencan atau memilih perceraian. I

Namun, ayat bacaan hari ini menyatakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Tuhan memang mengizinkan iman kita diuji, tetapi jika kita tergoda untuk melakukan kejahatan sebagai akibatnya, maka Dia tidak pernah menjadi sumbernya. Seseorang yang menunjukkan iman yang sejati melihat keadaannya, dan, di tengah godaan, menyadari bahwa meskipun Tuhan mungkin telah mengizinkan pencobaan datang, keinginan untuk melanggar hukum-Nya bukanlah dari-Nya. Rendahnya moral Simpson dan ketundukannya kepada hawa nafsu bukanlah dibuat Tuhan. Itu karena Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia tidak mencobai seorang pun untuk berbuat dosa (Yakobus 1:13).

Kesalahpahaman tentang posisi Reformed tentang kedaulatan Allah dapat membuat hal ini sulit diterima. Beberapa penganut hiper-Calvinis, misalnya, mengatakan bahwa Allah bertanggung jawab atas kejahatan dan menggoda orang untuk berbuat dosa.

Hubungan Allah yang tepat dengan dosa adalah misterius. Allah telah menetapkan segala sesuatu yang pernah terjadi, termasuk kejahatan. Namun, bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa Allah bukanlah pencetus kejahatan atau bahkan godaan yang mengarah kepada kejahatan. Kita tidak boleh menyalahkan Allah atas dosa atau godaan yang kita alami. Sebaliknya, seperti yang dicatat dengan tepat dalam ayat 13-14, godaan untuk berbuat dosa berasal dari sifat jahat kita sendiri, pilihan kita dan tidak pernah berasal dari Tuhan.

Allah tidak pernah bertanggung jawab atas kejahatan di dunia ini atau godaan yang mungkin ditimbulkan oleh iblis. Dia mungkin mengizinkan adanya kejahatan untuk tujuan rencana-Nya yang baik, tetapi semua kejahatan yang terjadi berasal dari kecenderungan jahat dari pelaku sekunder (manusia) dan tidak disebabkan oleh Allah. Hari ini, lihatlah pergumulan yang Anda hadapi, dan tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda menyalahkan Allah atas kejahatan, pilihan atau pengalaman yang terjadi dalam hidup Anda atau apakah Anda pikir Dia menggoda Anda untuk berbuat dosa. Jika demikian, bertobatlah dari sikap seperti itu saat Anda merenungkan ayat-ayat hari ini.