Apa pentingnya karakter bagi orang Kristen?

“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” Titus 2: 7-8

Pemilihan umum di Amerika sudah berlangsung dengan baik dan untuk itu kita harus bersyukur. Tidak ada yang lebih mengkhawatirkan daripada terjadinya kerusuhan berdarah di negara besar yang dianggap sebagai contoh negara demokrasi, seperti yang terjadi pada tanggal 6 Januari 2021 di ibukota Amerika, Washington D.C., ketika gedung Capitol diserbu oleh pendukung capres yang baru terpilih minggu lalu. Walaupun demikian, bagi sebagian orang, ada keheranan bagaimana seorang yang dianggap mempunyai karakter yang tercela bisa terpilih menjadi presiden. Dalam hal ini, jawabannya adalah bahwa rakyat pada umumnya lebih mementingkan apa yang dijanjikan seorang capres daripada apa yang terlihat sebagai karakternya. Sebagai alasan, sebagian orang berpendapat bahwa mereka tidak bisa mengharapkan setiap orang yang mengaku Kristen untuk berkarakter seperti orang Kristen. Bagi orang yang lain, setiap orang Kristen masih mempunyai karakter yang tidak baik. Jelas bahwa hasil pemilihan umum tidak dipengaruhi oleh karakter capres yang mengaku Kristen itu. Karena itu, pertanyaan bagi kita adalah: Apakah pentingnya karakter bagi orang Kristen?

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia. Inilah prasyarat pertama untuk pengaruh spiritual, yaitu bekerjanya Roh Kudus dalam diri orang pilihan Tuhan. Selanjutnya, karakter adalah prasyarat kedua untuk pengaruh spiritual. Setiap manusia diciptakan menurut gambar Tuhan, dan secara naluriah dan dalam keterbatasan mereka, menghargai sifat-sifat karakter Tuhan yang merancang kita – bahkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan. Umat manusia secara universal menghargai buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak oleh para pemimpin agama kemudian tertarik kepada Yesus karena Ia mewujudkan karakteristik ini. Sampai hari ini, karakter seperti yang Yesus miliki masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat banyak orang, tetapi bukan semua orang.

Orang non-Kristen memerhatikan kegembiraan kita ketika kita bekerja, kedamaian kita di tengah kekecewaan, dan keanggunan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, karakter semacam ini sering terasa kurang terlihat dalam hidup kita yang dituntut untuk menunjukkan karakter Yesus kepada dunia. Pada tahun 2013, ada survei yang mempelajari kemunafikan di kalangan orang Kristen. Di antara mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Kristen, penelitian berdasarkan daftar sikap dan tindakan yang dipilih untuk diri sendiri menemukan bahwa 51 persen menggambarkan diri mereka lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, menghakimi) dibandingkan dengan hanya 14 persen yang mencontoh tindakan dan sikap Yesus (tanpa pamrih, empati, kasih dan lain-lainnya). Kekurangan umat Kristen inilah yang bisa menghambat usaha penginjilan. Mengapa demikian? Teolog terkenal C.S. Lewis menjelaskan masalahnya:

“Ketika kita orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat kekristenan tidak dapat dipercaya oleh dunia luar. … Kehidupan kita yang ceroboh membuat dunia luar berbicara; dan kita memberi dunia sebuah alasan untuk berbicara dengan cara yang meragukan kebenaran kekristenan….”

Karakter didefinisikan sebagai kekuatan moral yang oleh sebagian orang Kristen dipandang tidak terlalu penting, dengan alasan bahwa semua orang adalah tidak sempurna. Walaupun demikian, penginjil terkenal A.W. Tozer menggambarkan karakter sebagai “keunggulan makhluk bermoral.” Sebagaimana keunggulan yang dimiliki emas adalah kemurniannya dan keunggulan dari seni adalah keindahannya, maka keunggulan manusia adalah karakternya. Orang yang berkarakter dikenal karena kejujuran, etika, dan kedermawanannya. Deskripsi seperti “pria yang berprinsip” dan “wanita yang berintegritas” merupakan penegasan karakter. Kurangnya karakter adalah kekurangan moral, dan orang yang tidak memiliki karakter yang baik cenderung berperilaku tidak jujur, tidak etis, dan tidak beramal.

Karakter seseorang berasal dari watak, pikiran, niat, keinginan, dan tindakannya. Perlu diingat bahwa karakter diukur berdasarkan kecenderungan umum, bukan berdasarkan beberapa tindakan yang terisolasi. Kita harus melihat keseluruhan kehidupan orang yang bersangkutan. Misalnya, Abraham yang diberkati Tuhan sekalipun tidak percaya bahwa istrinya akan memperoleh seorang putra di hari tua (Kejadian 18:1-3). Raja Daud adalah orang yang berkarakter baik (1 Samuel 13:14) meskipun ia terkadang berbuat dosa (2 Samuel 11). Sebaliknya, meskipun Raja Ahab mungkin pernah bertindak mulia (1 Raja-raja 22:35), ia tetaplah seorang yang berkarakter buruk secara keseluruhan (1 Raja-raja 16:33). Dengan demikian, sebagai orang Kristen kita tidak boleh tertipu oleh janji-janji manis dari orang yang buruk karakternya karena sekalipun orang itu dapat membuat kita puas, besar kemungkinan bahwa hasil itu dicapainya dengan cara yang salah.

Karakter juga dipengaruhi dan dikembangkan oleh pilihan-pilihan kita, bukan 100% ditetapkan oleh Tuhan melalui faktor genetika dan tempat dan situasi di mana kita hidup. Daniel “bertekad untuk tidak menajiskan dirinya” di Babel (Daniel 1:8), dan pilihan saleh itu merupakan langkah penting dalam merumuskan integritas yang tak tergoyahkan dalam kehidupan pemuda itu. Karakter, pada gilirannya, memengaruhi pilihan-pilihan kita. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya” (Amsal 11:3a). Karakter akan membantu kita menghadapi badai kehidupan dan menjauhkan kita dari dosa (Amsal 10:9a). Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya.

“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:10

Tujuan Tuhan adalah mengembangkan karakter di dalam diri kita. “Kui adalah untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, tetapi TUHANlah yang menguji hati.” (Amsal 17:3). Karakter yang saleh adalah hasil dari pekerjaan pengudusan Roh Kudus. Karakter dalam orang percaya adalah manifestasi Yesus yang konsisten dalam hidupnya. Kemurnian hati yang diberikan Allah menjadi kemurnian dalam tindakan. Allah terkadang menggunakan ujian untuk memperkuat karakter: “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4). Tuhan senang ketika anak-anak-Nya bertumbuh dalam karakter yang baik dan menjadi sempurna di dalam Dia.

Kita dapat mengembangkan karakter dengan mengendalikan pikiran kita (Filipi 4:8), mengamalkan kebajikan Kristen (2 Petrus 1:5-6), menjaga hati kita (Amsal 4:23; Matius 15:18-20), dan bergaul dengan orang baik (1 Korintus 15:33). Pria dan wanita yang berkarakter akan memberikan contoh yang baik bagi orang lain untuk diikuti, dan reputasi saleh mereka akan terlihat oleh semua orang (Titus 2:7-8).

Jika kata-kata kita berarti bagi orang lain, kata-kata itu harus mengalir dari kehidupan yang berintegritas. Jika tidak, perbuatan dan kata-kata kita akan diwarnai dengan kesombongan atau kebohongan. Sebaliknya, ketika orang melihat bahwa kita tidak hanya berpose atau melakukan pencitraan, tetapi dengan rendah hati berusaha menjalani kehidupan yang berintegritas, mereka akan menghargai pesan-pesan kita.

Orang-orang juga memerhatikan apa yang akan kita lakukan ketika kita gagal dalam menjalani tes integritas. Dalam hal ini, apakah kita mau mengakui bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki integritas sebagai anak Tuhan? Mungkin yang lebih penting daripada memperbaiki keadaan adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan, dan menebus kesalahan kita kepada mereka yang kita lukai. Salah satu elemen karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna atau manusia yang paling bijaksana.

Memang, sering kali sebagai orang Kristen kita berperilaku seolah-olah kita yang sudah lahir baru dan memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen yang belum menerima apa pun dan sama sekali rusak karakter dan moralnya. Karena itu, banyak orang mungkin merasa malu untuk mengakui kelemahan atau memperlihatkan kekurangan apa pun yang bisa merendahkan pamor kita. Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang merasa bahwa mereka tidak perlu malu dengan segala kekurangan dan cara hidup mereka yang kacau karena mereka yakin sudah terpilih. Kedua sikap ini tentunya keliru, untuk tidak dikatakan munafik!

Hari ini kita belajar bahwa karakter dan moralitas yang baik adalah ciri orang Kristen sejati. Hidup sebagai saksi Kristus tidaklah mudah. Rasul Yakobus menulis bahwa imat adalah mati jika tidak disertai perbuatan (Yakobus 2: 17). Tetapi, berbuat baik saja tidak cukup untuk mmberitakan injil. Kita harus mempunyai sesuatu yang menarik dalam karakter kita. Dalam hal ini, yang terutama adalah kemampuan kita untuk mengakui kegagalan dan kehancuran, yang merupakan karakter yang sangat menonjol dalam masyarakat dan budaya di sekitar kita. Orang perlu mencium bau harum kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang paling nyata terlihat melalui karakter rendah hati yang Dia ciptakan dalam diri kita. Itu tidaklah mudah untuk dipraktikkan. Kita tidak dapat memperlihatkan karakter yang baik kepada dunia jika Roh Kudus tidak bekerja sepenuhnya dalam hidup kita. Kita tidak dapat berkarakter baik dengan meniru pemimpin yang berkarakter buruk.

Kita dapat “mendukakan Roh Kudus” dengan bertindak seperti orang yang belum percaya dengan menyerah kepada natur dosa kita, dengan berdusta, dengan kemarahan, dengan percabulan. “Mendukakan Roh Kudus” itu terjadi ketika kita melakukan hal yang berdosa baik melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, maupun melalui pikiran saja. Baik “memadamkan” dan “mendukakan” Roh memiliki dampak yang sama; keduanya menghalangi seseorang untuk hidup dalam kekudusan. Keduanya terjadi ketika orang-percaya berdosa kepada Allah dan mengikuti keinginan duniawinya. Jika kita tidak suka didukakan, kita juga tidak akan berusaha memadamkan apa yang baik. Karena itu, kita tidak boleh mendukakan atau memadamkan Roh Kudus dengan menolak mendengarkan bimbingan-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Larangan bukan untuk diabaikan

“Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Roma 6:12

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan anak sudah mengalami perubahan besar selama 40 tahun terakhir. Jika dulu, seorang anak agaknya harus menaati semua perintah orang tua, di zaman ini banyak orang tua yang kewalahan dalam usaha mendidik anak-anak mereka. Mengapa? Dengan kemajuan teknologi zaman ini anak-anak sudah terbiasa melihat berbagai hal melalui TV dan media sosial. Mereka sering merasa bahwa perintah orang tua sebagai sesuatu yang tidak relevan. Pada pihak yang lain, banyak orang tua modern merasa bahwa kebebasan untuk memilih dan belajar untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri adalah perlu bagi anak-anak mereka.

Dalam kehidupan Kristen, peruahan serupa juga terjadi sekalipun sudah berlangsung sejak lama. Dengan kemajuan cara hidup individual dan hak azasi manusia, banyak orang Kristen yang merasa bahwa hukum Tuhan adalah “optional” atau “pilihan” bagi mereka dan bukannya keharusan. Para pemimpin gereja mengalami kesulitan untuk menegur jemaat yang melakukan hal yang tidak baik. Dalam khotbah, semakin jarang disampaikan pesah untuk tidak berbuat ini dan itu, atau agar jemaat melaksanakan firman Tuhan jika mereka mengaku orang Kristen. Apalagi, di gereja tertentu agaknya ditekankan bahwa karena kita sudah menerima “grace” atau karunia keselamatan dari Tuhan, Tuhan tidak lagi menuntut kita untuk melaksanakan semua perintah-Nya. Kata “hendaklah” dan “janganlah” dalam Alkitab kelihatannya sudah pudar artinya.

Dalam Roma 6, Paulus menjawab pertanyaan apakah orang Kristen harus terus berbuat dosa. Jawabannya tegas: kita sama sekali tidak boleh berbuat dosa. Pertama, ketika kita datang kepada Allah melalui iman kepada Yesus, kita mati terhadap dosa. Kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua, apa yang pernah kita dapatkan dari hidup demi dosa? Itu menuntun kita kepada rasa malu dan kematian. Kebenaran yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah di dalam Kristus Yesus menuntun kita untuk menjadi seperti Yesus dan kepada hidup kekal. Kita harus melayani kebenaran dan bukan dosa.

Roma 6:1–14 membahas bagaimana orang Kristen seharusnya berpikir tentang dan menanggapi dosa sekarang setelah kita berada di dalam Kristus dan dosa-dosa kita diampuni. Dalam menjelaskan hal ini, Paulus mengungkapkan informasi baru tentang apa yang terjadi ketika kita menaruh iman kita kepada Kristus. Dalam arti rohani, kita mati bersama-Nya, dan terhadap dosa-dosa kita. Kita kemudian dibangkitkan ke dalam kehidupan rohani yang baru. Sekarang Paulus memerintahkan kita untuk terus mengingat bahwa kita tidak lagi menjadi budak dosa. Kita tidak boleh mempersembahkan tubuh kita untuk digunakan demi dosa, tetapi kita harus mempersembahkan diri kita sebagai alat kebenaran.

Dalam Roma 6:11, Paulus memberi tahu kita untuk menganggap diri kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah sebagaimana Kristus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Sekarang dalam Roma 6:12, ia memberi tahu kita untuk tidak membiarkan dosa berkuasa atau berkuasa dalam tubuh kita yang fana saat ini. Kita tidak boleh membiarkan dosa membuat kita menaatinya. Dosa adalah musuh kita.

Perlu dicatat, bahwa kata “hendaklah dosa jangan berkuasa” dalam Roma 6:12 muncul sebagai “jangan lagi membiarkan dosa” dalam terjemahan Alkitab versi lain. Kata “jangan” bisa dianggap sebagai larangan tegas yang harus ditaati, dan ini sesuai dengan terjemahan dalam banyak Alkitab berbahasa Inggris. Tentunya ada orang yang mengangap bahwa kata “hendaklah” sebagai sebuah anjuran dan bukan perintah.

Perintah ini bisa membingungkan beberapa pembaca. Bukankah Paulus mengatakan bahwa kita telah mati terhadap dosa (Roma 6:1)? Bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa “tubuh dosa” telah disingkirkan (Roma 6:6) dan bahwa kita telah dibebaskan dari dosa dengan mati bersama Kristus ketika kita percaya kepada-Nya (Roma 6:7)? Jadi, bagaimana mungkin dosa dapat berkuasa dalam diri kita atau membuat kita menaati hawa nafsunya? Mengapa kita tetap harus berjuang untuk melawan dosa? Jawaban sederhananya adalah ini: Kita telah dibebaskan dari belenggu dosa atas diri kita, tetapi kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Singkatnya, dosa masih menarik bagi kita. Mudah bagi kita untuk lupa, atau bahkan tidak percaya, bahwa kita tidak akan pernah lagi melakukan dosa (1 Korintus 10:13). Kita bukanlah budak dosa. Kita hanya bisa melakukan dosa dengan sukarela, alias dengan kehendak sendiri.

Paulus memerintahkan kita untuk terus-menerus melakukan percakapan dengan diri kita sendiri. Ia memerintahkan kita untuk terlibat dalam pertempuran melawan keinginan kita. Jangan biarkan dosa memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan, tulisnya. Bagi orang Kristen yang sudah diselamatkan, keinginan berdosa bukan lagi yang utama. Orang Kristen seharusnya tidak menyerahkan kendali kepada dorongan tersebut. Orang Kristen tidak seharusnya berpikir bahwa ia sudah ditakdirkan untuk mempunyai kelemahan atau berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan dalam menghadapi godaan dosa. Kita bertanggung jawab atas semua dosa kita.

Paulus telah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa kita yang ada di dalam Kristus harus terlibat dalam semacam pertempuran dengan diri kita sendiri. Kita telah dibebaskan, melalui kematian rohani dan kebangkitan kita bersama Kristus, dari kuasa dosa. Diri lama kita telah disalibkan secara rohani dengan cara yang sama seperti Kristus disalibkan secara rohani. Hasilnya adalah bahwa dosa seharusnya tidak lagi memiliki otoritas atas kita. Kita telah dibebaskan.

Namun, kita belum kehilangan keinginan untuk berbuat dosa. Kita masih ingin berbuat dosa, kadang-kadang, bahkan sekalipun sadar betapa merusaknya dosa kita. Paulus telah memerintahkan kita untuk tidak secara sukarela berbuat dosa, tidak membiarkannya mengendalikan tubuh kita. Sekarang dia menekankan perintahnya dengan lebih rinci. Kita tidak boleh menyerahkan anggota tubuh kita, bagian mana pun dari tubuh kita, untuk digunakan dosa untuk melakukan hal-hal yang tidak benar.

Perhatikan sesuatu tentang perintah itu: Perintah itu menegaskan bahwa kita memiliki kendali atas apa yang kita lakukan dengan tubuh kita sendiri. Kematian Kristus dan kuasa roh Allah memberi kita kendali itu. Mereka yang sudah diselamatkan hanya dapat berdosa dengan memilih dengan kehendak bebas untuk melakukannya.

Pagi ini, Paulus menulis bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita kepada Allah untuk digunakan bagi kebenaran. Bahkan, kita harus melakukannya dengan sengaja seperti orang-orang yang telah dibawa dari kematian menuju kehidupan. Bagaimana kita melakukannya? Kita mulai dengan terus-menerus mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita benar-benar telah dibawa dari kematian menuju kehidupan. Itulah diri kita sekarang, dan itulah kehidupan yang ditakdirkan untuk kita jalani.

Tuhan bisa memakai apa yang tidak kita sukai untuk mencapai tujuan-Nya

“Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan. Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka.” Habakuk 1:5-6

Pemilihan umum di Amerika sudah selesai dan hasilnya mungkin membuat sebagian orang sedih atau marah karena apa yang diharapkan mereka ternyata tidak terjadi. Walaupun demikian, semua itu adalah kenyataan yang harus diterima semua orang yang percaya akan azas demokrasi. Apakah kejadian semacam ini sudah ditetapkan Tuhan? Bagi mereka yang kecewa, Tuhan mungkin dituduh sebagai Tuhan yang jahat, Tuhan yang tidak peduli atau Tuhan yang tidak berkuasa untuk memilih apa yang baik.

Istilah “ditetapkan Tuhan” adalah istilah yang sering disalah-gunakan atau disalah- mengertikan. Tuhan bisa menetapkan, menyebabkan atau mengizinkan sesuatu untuk terjadi. Dalam hal ini, Tuhan adalah yang memegang kendali. Semua yang terjadi di dunia adalah dalam kuasa-Nya, dan dipakai-Nya untuk mencapai rencana-Nya. Ini bukan berarti bahwa Dia yang secara langsung membuat atau menyebabkan semua hal, tetapi semua yang baik maupun buruk terjadi dengan seizin-Nya.

Habakuk 1:5-11 adalah nubuat di mana Allah mengaitkan maksud-Nya untuk membangkitkan Babel, bangsa yang “kejam” dan “ditakuti”, untuk mencapai tujuan-Nya. Hal ini menimbulkan pertanyaan, Apakah Allah terkadang menggunakan kejahatan untuk mencapai rencana-Nya?

Ada perbedaan penting yang harus dibuat antara Allah yang mengendalikan kejahatan dan Allah yang menciptakan kejahatan. Allah bukanlah pencipta dosa, tetapi Ia dapat menggunakan manusia berdosa untuk mencapai suatu tujuan. Peristiwa-peristiwa seperti itu, meskipun kita tidak memahami alasannya, merupakan bagian dari rencana ilahi-Nya yang sempurna. Jika Allah tidak dapat mengendalikan apa yang buruk atau jahat, Ia bukanlah Allah. Kedaulatan-Nya menuntut agar Ia mengendalikan segala sesuatu, bahkan bangsa-bangsa dan orang-orang yang “ditakuti”.

Pada saat yang sama, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah tidak berdosa dan tidak melakukan kejahatan. Yakobus 1:13 mengajarkan, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.” Ulangan 32:4 mengatakan, “Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.”

Masalah dalam Habakuk adalah bahwa Allah menggunakan orang Babilonia (bangsa yang jahat) untuk melaksanakan kehendak-Nya. Allah kita yang bijaksana dan sempurna dapat dan terkadang memang menggunakan dosa yang sudah ada di dunia kita untuk memenuhi tujuan-Nya. Contoh sempurna dari hal ini adalah penyaliban Yesus: pembunuhan Kristus adalah tindakan jahat, tetapi melalui itu Allah menebus umat pilihan-Nya dan menundukkan iblis.

“Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Kolose 2:15

Wahyu Allah menyebabkan Habakuk bertanya bagaimana Allah dapat menggunakan bangsa yang lebih jahat daripada Yehuda untuk menghakimi Yehuda (Habakuk 1:12-2:1). Pada zaman Habakuk, tujuan Allah adalah untuk mendatangkan penghakiman atas Yehuda atas penyembahan berhala mereka. Babel adalah alat penghakiman-Nya (lihat Yesaya 10:5). Tanggapan Allah adalah janji bahwa Ia akan menghukum Babel juga di kemudian hari (Habakuk 2:2-20). Pada akhirnya, Habakuk hanya dapat mengakui hikmat Tuhan yang sempurna; nabi itu mengakhiri dengan nyanyian pujian di pasal 3.

Saat ini, kita mungkin bergumul dengan pertanyaan tentang metode Allah seperti yang dialami Habakuk. Bagaimana Allah memilih untuk bekerja tergantung pada-Nya. Kadang-kadang, Ia campur tangan secara ajaib. Di waktu lain, Ia bekerja di balik layar. Allah bahkan dapat memberikan kebebasan tertentu kepada kekuatan jahat di dunia untuk mewujudkan rencana-Nya. Seperti Habakuk, jika kita melihat kehidupan dari sudut pandang Allah, tanggapan kita yang benar seharusnya adalah menyembah Tuhan dan mengakui bahwa Ia memegang kendali atas segala sesuatu.

Barangkali Anda masih merasa bahwa terkadang Tuhan tidak adil dalam menetapkan, menyebabkan atau mengizinkan hal-hal yang tidak kita harapkan? Paulus membahas keputusan Allah untuk memberi kuasa kepada Firaun:

“Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ”Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Roma 8:17-18

Paulus terus menegaskan bahwa Allah bukannya tidak adil atau “tidak jujur” karena membiarkan Firaun menguasai bani Israel. Paulus kemudian merujuk pada pembebasan Firaun Israel dari Mesir, dengan mengutip dari Keluaran 9:16. Ini berasal dari firman Tuhan kepada Musa tentang apa yang harus dikatakan kepada Firaun sebelum mengirimkan tulah lainnya. Tuhan ingin Firaun tahu bahwa Ia telah mengangkat Firaun—atau Mesir—ke kekuasaan dan keunggulan sehingga Tuhan dapat menunjukkan kuasa-Nya sendiri yang jauh lebih besar dalam menundukkan Mesir. Alasan Tuhan melakukan ini adalah agar nama-Nya sendiri akan diberitakan di seluruh bumi.

Pagi ini, biarlah kita menerima apa yang terasa kurang nikmat dalam hidup kita dengan sabar. Apa yang terjadi dalam hidup manusia adalah dengan sepengetahuan Tuhan. Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana, serta mahakasih. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Roma 8:28 mengatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Kata “segala sesuatu” mencakup hal-hal yang baik dan buruk. Allah dapat menggunakan pergumulan, patah hati, dan tragedi dengan berbagai cara untuk mendatangkan kemuliaan-Nya dan kebaikan bagi umat-Nya.

Apakah Anda anak Allah?

“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.’ 1 Yohanes 3:1

Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan yang kita imani, cara hidup orang Kristen sejati mungkin dipandang sebagai keanehan. Jika dunia memandang bahwa hidup itu adalah sesuatu kebebasan yang harus dipakai dan dinikmati, orang Kristen sejati seakan menjauhkan diri dari apa yang dianggap nikmat dan nyaman oleh dunia. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa kita berusaha untuk hidup baik karena kita percaya adanya Allah yang gemar menghukum manusia. Tetapi itu bukan apa yang diimani orang Kristen. Bab ketiga dari 1 Yohanes sebagian besar berfokus pada konsep kasih Allah. Karena kasih-Nya, Allah tidak hanya menyebut kita anak-anak-Nya, Dia benar-benar menjadikan kita anak-anak-Nya. Bahkan ketika kita masih hidup dalam dosa, Allah sudah mengasihi kita (Roma 5:8).

Kitab 1 Yohanes 3:1–3 menyoroti kasih Allah yang luar biasa bagi kita. Dia tidak hanya bersedia menyebut kita anak-anak-Nya, kita benar-benar adalah anak-anak-Nya. Sebagian dari transformasi itu terjadi secara langsung, tetapi belum semua yang akan kita alami terungkap. Selama kita hidup di dunia, kita tetap bisa jatuh dalam dosa dan mengalami hal-hal yang tidak nyaman dan bahkan berbagai penderitaan. Hanya ketika Kristus kembali, kita akan melihat semua yang telah Dia persiapkan bagi kita. Keselamatan kita dan kemuliaan dari Allah akan bisa terlihat oleh semua makhluk ciptaan Allah.

Menjadi anak Allah dipandang sebagai tanda kasih yang besar dari Allah Bapa. Yohanes secara khusus menyebutkan bahwa orang percaya tidak hanya “dianggap anak-anak Allah;” orang percaya benar-benar adalah anak-anak Allah. Tema ini berhubungan erat dengan kata-kata Yohanes 1:12: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” Anak-anak Allah adalah mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan percaya dalam nama-Nya sebagai Mesias yang telah bangkit.

Yohanes menyoroti konsep ini dengan menggunakan istilah Yunani ideate, yang berarti, “lihatlah!” Gagasan bahwa Allah mengasihi kita untuk menjadikan kita anak-anak-Nya adalah salah satu aspek Injil yang menakjubkan. Yohanes kemudian mencatat mengapa orang yang tidak percaya tidak “mengenal” orang percaya: Orang yang tidak percaya tidak mengenal Kristus. Seperti yang digunakan oleh Yohanes, konsep “mengenal” melibatkan lebih dari sekadar informasi. Ini merujuk pada rasa keintiman, persekutuan, dan koneksi.

Dunia yang tidak percaya tidak memiliki hubungan dengan Kristus. Karena itu, mereka tidak memiliki hubungan baik dengan anak-anak-Nya. Jika cara hidup kita tidak berbeda dengan orang dunia, dan kita dengan senang hati bergaul dan mengikuti cara hidup mereka, itu mungkin menandakan bahwa kita sendiri belum sadar akan kasih Allah. Anak-anak Allah harus semakin menjadi seperti Bapa, terlepas dari apakah orang lain mengenali kita atau tidak. Kita adalah anak-anak Allah yang sangat dikasihi-Nya, terlepas dari keadaan kita saat ini. Yohanes juga menjelaskan bagaimana dosa, termasuk kebencian, tidak pernah merupakan hasil dari hubungan yang benar dengan Allah. Orang Kristen, berbeda dengan dunia, seharusnya melakukan lebih dari sekadar ”merasakan” kasih; kita juga harus melakukannya.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Jarena itu setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, harus berusaha menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. Kita tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak ingin berbuat dosa lagi. Setiap orang yang tetap hidup dalam dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

Orang Kristen yang acuh tak acuh

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Wahyu 3:15-16

Wahyu 3:14–22 adalah pesan terakhir dan paling keras dari Yesus, yang ditujukan kepada gereja di Laodikia. Kita belajar dari penilaian ini bahwa gereja Laodikia suam-suam kuku, sombong, dan puas diri. Mereka membanggakan kekayaannya dan tidak membutuhkan apa pun. Namun gereja Laodikia menipu dirinya sendiri. Dalam hal kondisi rohaninya, gereja itu malang, menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang. Yesus mendesak gereja untuk berpaling kepada-Nya, karena Ia berada di luar gereja, mengundang siapa pun yang mendengar suara-Nya untuk membuka pintu dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja dari tujuh gereja yang hanya menerima teguran, dan tidak mendapat komentar positif.

Surat-surat terakhir di Alkitab ini melambangkan sejarah Gereja dari tahun 1500 M hingga saat memindahkan orang percaya dari bumi untuk bersama Yesus. Jemaat di Sardis memiliki reputasi yang baik, tetapi sebenarnya mati secara rohani. Gereja di Filadelfia memiliki kesempatan yang baik untuk menyebarkan Injil, dan telah menaati firman Yesus dan tetap setia kepada-Nya. Karena itu, Yesus berjanji untuk memberi pahala kepada para penakluk gereja ini. Orang Kristen di Laodikia bangga dengan kekayaannya, tetapi secara rohani suam-suam kuku, suatu karakteristik yang dibenci Yesus. Ia berjanji untuk bersekutu dengan siapa pun di gereja yang akan mengindahkan suara-Nya dan menyambut-Nya. Laodikia adalah satu-satunya gereja yang tidak dipuji oleh Kristus karena acuh tak acuh kepada Yesus.

Tidak ada yang luput dari perhatian Yesus. Dalam ayat ini, Ia memberi tahu jemaat Laodikia bahwa Ia mengetahui kondisi jemaat itu. Ia berkata jemaat itu tidak dingin atau panas, meskipun Ia lebih suka jika jemaat itu salah satu atau yang lain. Kutukan terhadap iman yang “suam-suam kuku” ini membawa konsekuensi yang mengerikan. Pada masa itu, air bersuhu ruangan adalah air yang berbahaya. Air dingin menunjukkan air segar dari mata air atau sungai yang mengalir, dan air panas adalah air yang telah dimasak atau dibersihkan. Apa pun di antara keduanya, tentu saja mencurigakan dan mungkin tidak berharga.

Jemaat di Laodikia tidak bersemangat atau dingin. Jemaat itu hanya puas mempertahankan posisi status quo. Jemaat itu tidak bersemangat tentang masalah-masalah aktuil kehidupan Kristen atau tidak berperasaan tentang hal-hal itu. Mereka tidak peduli akan keadaan di sekitarnya karena merasa aman dalam keadaan mereka sendiri. Mereka merasa sudah terpilih dan tidak mungkin kehilangan keselamatan mereka. Sementara Yesus tidak memberikan teguran kepada jemaat di Filadelfia, Ia tidak memberikan pujian kepada jemaat Laodikia. Tidak seperti jemaat di Sardis yang menyadari adanya hal-hal yang kurang dan perlu dikuatkan, jemaat di Laodikia yakin tidak memiliki apa pun yang perlu diperbaiki. Dalam beberapa hal, jemaat-jemaat yang ada saat ini tidak panas atau dingin.

Seperti itu juga keadaan beberapa gereja di zaman ini. Mereka hanya terus melakukan kegiatan tradisional yang sama, menawarkan ajaran “teologi unggulan” yang seakan menjamin keselamatan para pengunjung, mengikuti gerakan-gerakan liturgi yang “steril”, dan dengan demikian membuat para anggotanya bersikap pasif dalam usaha untuk hidup dalam kekudusan. Mereka juga tidak tertarik untuk giat menginjil karena semua itu dianggap kurang berguna sebab Tuhan yang mahakuasa sudah menetapkan segalanya.

Aspek lain dari keinginan Yesus agar gereja saat ini menjadi “panas atau dingin” berkaitan dengan bagaimana kita menanggapi Injil. Mereka yang “panas” dalam hal-hal rohani terlibat secara mendalam dan berkomitmen pada iman. Namun, mereka yang dingin, setidaknya berada dalam posisi di mana mereka mengakui kelemahan mereka dan dengan demikian dapat diubah oleh pekerjaan Roh Kudus. Mereka yang “suam-suam kuku” memiliki cukup pengetahuan teologi tentang Kristus sehingga mereka tidak menolak Yesus, tetapi tidak memiliki cukup iman sejati untuk terlibat sepenuhnya dalam hidup sehari-hari. Hidup mereka tidak pernah berubah dari cara hidup lamanya. Kondisi itu, sebenarnya, lebih sulit diubah daripada mengubah orang yang tidak percaya yang sepenuhnya dingin!

Perlu diketahui, Laodikia tidak memiliki sumber air sendiri. Mereka bergantung pada kota Hierapolis di dekatnya untuk mendapatkan airnya. Hierapolis dibangun di sekitar banyak sumber air panas, sehingga mereka menikmati pasokan air panas yang melimpah yang dikirim ke Laodikia melalui saluran air. Akan tetapi, pada saat air mencapai Laodikia, air tersebut telah mendingin hingga suhu suam-suam kuku. Air tersebut perlu didinginkan atau dipanaskan kembali sebelum layak untuk dikonsumsi. Rasa suam-suam kuku dari kehidupan keagamaan jemaat Laodikia membuat Yesus merasa sangat sakit sehingga Ia ingin memuntahkan jemaat itu dari mulut-Nya.

Dalam ayat ini Yesus menggambarkan jemaat di Laodikia sebagai jemaat yang suam-suam kuku. Pada zaman dahulu, orang-orang biasa minum minuman panas atau dingin pada pesta-pesta mereka dan dalam persembahan keagamaan mereka, tetapi mereka tidak pernah minum minuman yang suam-suam kuku. Air seperti itu tidak enak diminum, dan ada alasannya: cairan tersebut lebih mungkin mengandung kuman. Sekarang, pada hari yang panas, orang-orang merasa minuman dingin menyegarkan, dan pada hari yang dingin mereka merasa minuman panas menyegarkan, tetapi tidak seorang pun yang menyukai minuman yang suam-suam kuku.

Ini juga merupakan analogi yang berguna untuk penginjilan. Mereka yang “panas” secara rohani terlibat dalam iman mereka. Mereka yang “dingin” memiliki kesempatan untuk dipengaruhi dengan cara yang kuat oleh Injil. Namun, mereka yang “suam-suam kuku” sebenarnya berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada mereka yang “dingin.” Mereka tahu “cukup” tentang Yesus, jadi mereka tidak menolak, tetapi mereka juga agak tidak peduli dengan suara-Nya. Dari sudut pandang Yesus, sebenarnya lebih baik untuk menjadi “dingin” secara rohani, karena itu berarti mereka lebih mungkin memperhatikan panggilan Tuhan.

Sungguh indah untuk diingat pagi ini bahwa Juruselamat kita tidak mencurahkan diri-Nya bagi kita dengan cara yang suam-suam kuku. Dia tidak merendahkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang ragu-ragu. Dia tidak canggung dengan pergaulan-Nya dengan para murid-Nya. Sebaliknya, Dia menjadi Gembala Utama kita, dan sudah menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Allah tidak akan menoleransi kekristenan yang suam-suam kuku atau hati yang hanya sebagian menjadi milik-Nya. Mereka yang acuh tak acuh mungkin saja belum pernah menerima uluran tangan-Nya!

Apa guna berdisiplin dalam hal seksual?

Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 1 Tesalonika 4:7

Topik apakah yang jarang disampaikan dalam khotbah gereja di zaman ini? Selain masalah kolekte, mungkin masalah kehidupan seksual jemaat. Ini agaknya mengherankan karena cara hidup orang di zaman ini yang sering melibatkan uang dan seks.

Bab 4 dari kitab Tesalonika dimulai dengan dorongan bagi orang-orang percaya di Tesalonika untuk melanjutkan pertumbuhan rohani mereka. Perilaku mereka patut dicontoh, tetapi mereka perlu berusaha untuk berbuat lebih banyak lagi. Paulus secara khusus menekankan pentingnya kemurnian seksual, serta perlunya orang percaya untuk menjalani kehidupan yang damai, sopan, dan produktif. Paulus kemudian mulai membahas pokok bahasan tentang kedatangan Kristus kembali. Ini dimulai dengan suatu kepastian bahwa orang percaya yang telah meninggal sebelum kedatangan Kristus kembali akan menjadi orang-orang pertama yang dibangkitkan ketika Ia datang kembali untuk umat-Nya. Berikutnya adalah mereka yang masih hidup, yang semuanya akan bertemu Yesus ”di udara.” Pengetahuan tentang takdir kekal kita seharusnya memberi semangat, dan bukannya ketidakpedulian karena adanya “jaminan keselamatan”.

Secara khusus, 1 Tesalonika 4:1–8 mendesak orang-orang percaya di Tesalonika untuk mengingat apa yang Paulus katakan ketika ia bersama mereka. Ia telah mengajarkan mereka bagaimana berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka akan menyenangkan Allah. Mereka pada umumnya sudah mengikuti petunjuk-petunjuk ini dengan baik, tetapi Paulus menantang mereka untuk semakin menjadi lebih kudus, karena ini adalah kehendak Allah bagi mereka. Setiap orang percaya berkewajiban untuk menghindari hal-hal yang bersifat cabul (baik dalam perbuatan, perkataan maupun pikiran) dengan mengendalikan diri sendiri, karena mengetahui bahwa Tuhan membalas mereka yang melakukan dosa. Paulus menegaskan bahwa mengabaikan ajaran tentang percabulan ini sama saja dengan menolak Allah.

Memang adalah hal yang normal jika seseorang memiliki libido atau dorongan seks. Ini tidak hanya ada di antara kaum muda, tetapi pada manusia dari segala umur, baik pria maupun wanita. Namun ini bisa mengarah pada sesuatu yang tidak sehat saat dorongan seks jadi tak terkendali hingga mengalami kecanduan. Jika demikian, ini bisa membuat seseorang sulit mengontrol pikiran seks, kebutuhan serta dorongan seks, apalagi jika sudah terjadi sejak muda. Perilaku seksual kompulsif seperti ini bisa membawa konsekuensi mulai dari masalah kesehatan mental, relasi personal hingga berpengaruh pada kualitas hidup. Sudah tentu, hal sedemikian juga sangat mempengaruhi hubungan antar umat Kristen dan membuat nama Tuhan menjadi bahan ejekan.

Pad suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus menegaskan bahwa kehendak Allah adalah agar mereka dalam hidup sehari-hari menjauhi percabulan, supaya setiap pasangan hidup dalam kesetiaan dan pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mengapa demikian?

Sebagai alasan pertama, Paulus memperingatkan bahwa kenajisan mendatangkan penghakiman ilahi:

“dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” 1 Tesalonika 4:6

Dan sebagai alasan kedua adalah bahwa Allah telah memanggil orang Kristen untuk menjalani hidup yang kudus. Allah menyelamatkan kita bukan hanya untuk menyelamatkan kita dari penghakiman kekal. Ia bermaksud menjadikan kita kudus sebagaimana Ia kudus. Proses yang Ia gunakan untuk menjadikan kita kudus disebut pengudusan, dan itu melibatkan sebuah kemitraan. Ia menghendaki kita untuk menjadi mitra kerja-Nya melalui perjuangan.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15–16

Allah bekerja di dalam kita untuk menjadikan kita kudus (2 Korintus 3:18; Filipi 2:13); kita memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama dengan-Nya dalam pekerjaan itu. Filipi 2:12 memerintahkan kita untuk mengerjakan—bukan bekerja “untuk”—keselamatan kita sendiri dengan takut dan gentar.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Pagi ini, Efesus 6:10 memerintahkan kita untuk menjadi kuat di dalam Tuhan, dan ayat berikutnya memerintahkan kita untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Galatia 5 berbicara tentang hidup oleh Roh. Jelas, kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang pasif-fatalis, tetapi kehidupan yang aktif di mana Allah dan umat-Nya menjadi mitra kerja.

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Efesus 6:10-18

Mengejar kekudusan melalui perdamaian

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14

Membaca ayat di atas, mungkin ada pertanyaan mengenai bagaimana kita bisa mengejar kekudusan untuk bisa melihat Tuhan. Bagaimana kita bisa hidup damai dengan semua orang jika ada banyak orang-orang yang membenci kita atau hal-hal yang sering membuat kita marah? Apakah kita dengan demikian tetap harus berusaha keras menjadi orang yang kudus selama hidup di dunia atau haruskan kita berserah sepenuhnya kepada pertolongan Tuhan? Keduanya perlu.

Dalam kitab Kejadian tertulis bahwa setelah Allah menjadikan semua makhluk lainnya, Dia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, dengan jiwa yang berbudi dan tak dapat mati. Mereka diperlengkapi manusia dengan pengetahuan, kebenaran dan kekudusan sejati, menurut gambar-Nya sendiri, dengan isi hukum Allah tertulis dalam hati mereka dan dengan kemampuan memenuhinya. Namun, manusia dalam kebebasannya harus melaksanakan hukum itu dengan keputusan mereka yang dapat berubah-ubah. Di samping hukum ini, yang tertulis dalam hati mereka, manusia diperintahkan untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Selama dengan mematuhi perintah itu, mereka berbahagia oleh persekutuan dengan Allah, dan mereka bisa sepenuhnya berkuasa atas segala makhluk.

Sayang sekali, Adam dan Hawa terbujuk oleh kelicikan dan godaan iblis, dan berdosa dengan memakan buah yang terlarang. Allah berkenan, menurut rencana- Nya yang hikmat dan kudus, membiarkan dosa mereka itu terjadi. Oleh karena Adam dan Hawa adalah cikal bakal seluruh umat manusia maka kesalahan mereka yang disebabkan oleh dosa ini dianggap sebagai kesalahan seluruh keturunannya, dan kematian dalam dosa dan kodrat yang rusak itu diteruskan kepada setiap orang. Kerusakan semula ini membuat kita sama sekali kehilangan kemampuan dan kekuatan kita untuk melawan kejahatan, dan justru dengan senang hati melakukan apa saja yang jahat. Kita mudah membenci orang lain dan mudah marah kepada mereka yang memperlakukan kita dengan sewenang-wenang.

Sesudah Yesus datang ke dunia, dalam diri mereka yang dipanggil dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, secara perseorangan,oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus, melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Kuasa dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dilenyapkan. Mereka makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ini bukan berarti bahwa mereka bisa menjadi orang kudus sepenuhnya selama hidup di dunia. Ini bukan berarti bahwa kita dengan mudah bisa hidup berdamai dengan semua orang.

Selama hidup, kerusakan kodrat itu tetap ada dalam diri mereka yang telah dilahirkan kembali. Meskipun kerusakan itu telah diampuni dan dimatikan melalui Kristus, kerusakan itu sendiri dan semua gerak geriknya sungguh-sungguh merupakan dosa dalam arti yang sebenarnya. Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan. Dari situlah lahirlah peperangan rohani yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan penyerahan, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.

Dalam peperangan rohani ini, kerusakan batin yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka bagian yang telah dilahirkan kembali akhirnya menang. Dengan demikian “orang-orang kudus” (orang-orang yang dikuduskan-Nya) bertumbuh dalam kasih karunia dan menyempurnakan kekudusannya dalam takut akan Allah. Mereka kemudian dapat hidup dalam damai dengan orang lain jika mereka mau taat kepada firman-Nya karena sadar bahwa Allah sudah berdamai dengan mereka melalui pengurbanan Yesus. Mereka yang dengan memakai dalih kebebasan Kristen mengumbar kemarahan dan hawa nafsunya, dengan demikian merusak tujuan kebebasan Kristen, yaitu bahwa kita, setelah dilepaskan dari tangan iblis. Pada pihak lain, dalam Alkitab kita bisa menemukan banyak orang-orang yang mengabdi kepada Tuhan dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya di sepanjang hidup mereka dan dengan demikian bisa hidup berdamai dengan orang lain.

Ibrani 12:3-17 dibangun dari deskripsi para pahlawan iman, yang berpuncak pada Yesus Kristus. Mereka yang datang sebelumnya dikasihi oleh Allah dan dihormati oleh Allah, namun mereka menderita kesulitan di dunia ini. Dalam bagian ini, penulis menjelaskan bahwa berbagai penderitaan sering kali merupakan cara Tuhan untuk membangun dan melatih kita, bukan berarti tanda ketidaksenangan-Nya. Orang Kristen yang menanggapi pencobaan dengan mencari Tuhan, dalam iman, dapat terhindar dari nasib orang-orang yang kurang setia, seperti Kain yang dalam kebenciannya membunuh saudaranya, Habel.

Perintah umum yang diberikan dalam Perjanjian Baru adalah agar orang Kristen mencari perdamaian antara diri mereka sendiri dan orang lain (Roma 12:18; 2 Korintus 13:11; 1 Tesalonika 5:13). Bahkan, kemampuan untuk “bergaul” ini terkait erat dengan kedewasaan rohani kita (Yakobus 3:17; 1 Timotius 3:3; Galatia 5:22). Hal ini khususnya penting dalam hal hubungan antara orang Kristen lainnya. Kasih sayang yang saling melengkapi tidak hanya membangun gereja, tetapi juga merupakan tanda utama bagi dunia bahwa kita adalah murid Kristus (Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14; 4:21).

Bersamaan dengan kedamaian bersama, Paulus mendorong kehidupan yang kudus. Sekali lagi, ini adalah tema umum ajaran Perjanjian Baru. Orang Kristen diberdayakan oleh Roh Kudus untuk menjalani kehidupan yang saleh, benar, dan bermoral (2 Timotius 1:7). Dosa selalu merupakan hasil dari penolakan terhadap kuasa itu, dalam beberapa hal (1 Korintus 10:13). Mereka yang terus-menerus berbuat dosa membuktikan bahwa mereka tidak memiliki pengaruh Roh Kudus dalam hidup mereka (1 Yohanes 1:6).

Pada saat yang sama, ayat ini tidak berarti bahwa kita dimaksudkan untuk diselamatkan berdasarkan “perilaku baik” kita. Mustahil bagi orang berdosa yang tidak sempurna dan tidak kudus untuk berdiri di hadapan Allah (Yesaya 6:5) karena kita harus benar-benar benar untuk berada di hadirat-Nya (Keluaran 33:19–20). Namun, kemampuan untuk berdiri di hadirat Allah itulah yang kita peroleh dari pekerjaan Kristus yang telah selesai bagi kita (Ibrani 9:11-12; 1 Yohanes 3:2). Kekudusan yang kita butuhkan untuk “melihat Tuhan” datang dari Kristus, melalui kasih karunia-Nya, dan melalui iman kita kepada-Nya (2 Korintus 5:21; 1 Petrus 3:18). Berusaha keras untuk hidup sesuai dengan standar itu seharusnya menjadi keinginan alami setiap orang percaya yang telah diselamatkan (Yohanes 14:15). Bersamaan dengan itu, kita harus mempunyai iman bahwa hanyalah Tuhan yang memungkinkan kita untuk bisa menjadi umat-Nya yang taat.

Jangan jemu untuk berdoa dan berbuat baik

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Lukas 18:1-8

Yesus baru saja menjelaskan kepada para murid seperti apa dunia ini saat Ia kembali. Pada waktu itu, kebanyakan orang-orang sudah tidak pernah memikirkan Tuhan. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari, menikah, sibuk bekerja, berpesta-pora, dan membuat rencana. Seperti orang-orang pada zaman Nuh dan Lot, mereka tidak akan menyadari bahwa penghakiman sudah dekat. Saat Yesus datang, Ia akan memisahkan para pengikut-Nya dari mereka yang menolak-Nya. Bahkan hubungan antar manusia yang paling dekat pun akan hancur (Lukas 17:22–37).

Tetapi, para murid tampaknya putus asa dengan peringatan Yesus. Mengapa demikian? Para murid ragu bahwa penghakiman Tuhan terhadap musuh-musuh mereka akan pernah datang. “Putus asa” berarti kehilangan motivasi terhadap sesuatu yang positif: gagal mempertahankan tekad tentang suatu subjek atau ide. Yesus tahu para pengikut-Nya akan menghadapi lebih banyak kesulitan daripada yang mereka alami sekarang. Sebagian besar dari 12 murid Yesus akan mati sebagai martir. Seperti itu, kita juga melihat keadaan dunia yang sudah bobrok saat ini dan bertanya-tanya apakah Tuhan akan pernah mendatangkan keadilan-Nya. Jawaban Yesus adalah “teruslah berdoa”.

Melihat keraguan muridnya, Yesus memberi perumpamaan tentang janda yang tekun. Perlu dicatat, hanya Lukas yang menulis tentang perumpamaan ini. Yesus membandingkan Allah dengan hakim yang korup yang hanya akan memberikan keadilan kepada seorang janda ketika ia merasa terganggu oleh permintaannya yang tidak kunjung berhenti. Berbeda dengan hakim itu, Tuhan yang mahaadil tentu ingin memberikan keadilan kepada para semua pengikut-Nya, sebagian di saat sekarang dan sepenuhnya ketika Yesus kembali. Tetapi, seperti janda itu kita harus mau meminta dalam doa dengan tekun dan dengan iman. Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa iman yang benar itu rendah hati, tidak memuji diri sendiri (Lukas 18:9-14), seperti anak kecil (Lukas 18:15-17), dan membuat kita mmengabaikan hal-hal duniawi tetapi sebaliknya, berpegang teguh kepada jandi Allah (Lukas 18:18-30).

Berdoa untuk kedatangan Yesus kembali dan keadilan yang akan Dia datangkan “selalu” tidak berarti kita perlu berdoa secara aktif setiap detik dalam keadaan terjaga. Itu berarti kita harus tekun berdoa dengan teratur. Yesus memberi kita perintah: “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Perintah ini penting, terutama saat kita merasa putus asa atau lelah dalam usaha berbuat baik. Kelelahan adalah pergumulan yang umum bagi orang percaya di setiap generasi, terutama jika apa yang benar sudah tidak banyak mendapat perhatian masyarakat. Bagian ini, dengan kontras yang kuat antara janda dan hakim yang tidak adil, memberikan dorongan dan wawasan praktis tentang bagaimana kita dapat terus berbuat baik tanpa menjadi jemu-jemu, sekalipun lingkungan kita mencemooh cara hidup kita. Ini tidak mudah dilakukan dan karena itu kita mendapat tiga pengingat untuk membantu kita tetap pada jalan yang benar.

  1. Doa yang Tekun Menopang Kita

Perumpamaan Yesus tentang janda yang tekun dan hakim yang tidak adil menekankan perlunya doa yang terus-menerus. Tekad sang janda untuk mencari keadilan meskipun ditolak berulang kali menjadi contoh bagi kita untuk terus-menerus membawa beban dan keinginan kita di hadapan Tuhan. Yesus mendorong kita untuk tidak patah semangat saat jawaban tertunda atau saat kita tidak melihat hasil langsung. Doa yang tekun bukanlah tentang membuat Tuhan lelah, tetapi tentang memperdalam kepercayaan kita pada karakter dan waktu-Nya.

  1. Kelelahan dalam Berbuat Baik Itu Wajar

Kehilangan semangat adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan dalam kehidupan Kristen. Mengikuti perintah Kristus dan melayani orang lain bisa melelahkan, terutama ketika kita melihat sedikit buah yang terlihat. Sebenarnya, kita tidak perlu kegigihan dalam berdoa jika kita hanya berniat untuk berhenti melakukan hal-hal buruk; tetapi, kita perlu kegigihan dalam berdoa untuk terus melakukan hal-hal baik. Kelelahan dalam berbuat baik bukanlah tanda kegagalan; itu adalah panggilan untuk terus mengandalkan kekuatan Tuhan. Pesan perumpamaan itu mendorong kita untuk bertekun dalam menghadapi keputusasaan, mengingatkan kita bahwa kegigihan adalah kunci ketahanan rohani.

  1. Janji tentang Hadiah di Masa Depan

Yesus meyakinkan kita bahwa kegigihan dalam doa dan perbuatan baik tidak sia-sia. Tuhan itu adil dan penuh belas kasihan, dan Dia akan segera mendatangkan keadilan kepada orang-orang pilihan-Nya. Janji ini mendorong kita untuk bertahan, dengan kesadaran bahwa kesetiaan kita akan diberi pahala pada waktu Tuhan yang sempurna.

Hari ini, jika kita membaca perintah Yesus untuk tetap berdoa, itu berarti bahwa kita tidak boleh cepat patah semangat dalam menghadapi tantangan hidup — bertekunlah dalam doa, teruslah berbuat baik, dan percayalah pada kesetiaan Tuhan untuk menopang hidup kita. Tuhan bukanlah hakim yang tidak adil dan yang hanya mementingkan diri sendiri. Tuhan adalah Hakim yang mahaadil dan mahakasih, yang selalu mau menanggapi doa-doa yang disampaikan kepada-Nya dengan iman.

Apakah Tuhan sudah melupakan kita?

Sion berkata: ”TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” Yesaya 49:14

Pagi ini, ketika saya membuka berita, saya membaca banyak berita tentang perang, terorisme, kejahatan, dan ketidakadilan. Saya tidak tahu kapan terakhir kali saya mendengar siaran berita yang tidak membuat saya merasa kuatir. Mungkinkah Tuhan telah melupakan seisi dunia yang tidak taat akan firman-Nya? Pertanyaan saya ini sebenarnya bukan saja tentang apa yang Tuhan pikirkan tentang dunia. Saya juga ingin tahu tentang apa yang Tuhan pikirkan tentang saya. Mungkinkah Tuhan melupakan saya jika saya kurang taat kepada-Nya? Apakah Anda pernah merasakan hal seperti itu?

Saya teringat akan doa pengakuan dosa yang sering diucapkan di gereja:

Ya Tuhan, kami telah berbuat salah dan menyimpang dari jalan-Mu seperti domba yang hilang. Kami telah terlalu banyak mengikuti tipu daya dan keinginan hati kami sendiri. Kami telah melanggar hukum-hukum-Mu yang suci. Kami telah mengabaikan hal-hal yang seharusnya kami lakukan; dan kami telah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kami lakukan; dan tidak ada yang baik dalam diri kami. Ya Tuhan, kasihanilah kami, para pelanggar yang malang.

Bagi saya, pengakuan dosa seperti itu sudah terlalu sering dan terasa biasa. Tidak ada yang istimewa. Kecuali jika saya kemudian mengalami kesulitan hidup. Apa yang Tuhan pikirkan tentang saya dan dosa-dosa saya? Mungkinkah Dia tidak peduli lagi kepada saya karena dosa-dosa saya yang besar, seperti yang saya akui? Mungkinkah Dia sudah melupakan saya?

Kadang-kadang kita merasa seperti Tuhan telah meninggalkan kita. Seperti itu juga, Yesaya menulis sebuah krisis yang dialami bani Israel. Umat Israel dan Yehuda percaya bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan telah memilih mereka untuk sebuah perjanjian kekal. Mereka percaya bahwa selama mereka menaati ritual dan perintah yang ditentukan, mereka akan aman. Namun pada tahun 540 SM, Asyur menghancurkan dan mengasingkan Israel. Pada tahun 586 SM, Babel menghancurkan dan mengasingkan Yehuda. Nebukadnezar menghancurkan tembok Yerusalem, Bait Suci, dan rumah-rumah warga negara yang paling penting. Nebukadnezar menangkap putra-putra raja dan para pejabat Yerusalem, dan membunuh mereka di hadapannya. Ia kemudian mencungkil mata raja dan menjebloskannya ke penjara selama sisa hidupnya.

Beberapa orang Yahudi mengira Allah telah melupakan mereka. Itu keliru. Allah lalu menunjukkan bahwa bagi-Nya hal itu mustahil (ayat 14-16). Israel akan kembali dan membangun kembali tanah airnya. Para penentang yang mencoba merusak pekerjaan Israel tidak akan berhasil dan akan pergi dengan malu dan kalah (ayat 17-18). Orang-orang yang lahir di pengasingan akan berbondong-bondong ke Yerusalem yang telah dibangun kembali. Tanah yang sebelumnya tidak berpenghuni dan hancur akan menjadi berpenduduk baik dan makmur lagi (ayat 19-21). Orang-orang Yahudi yang tersebar di negara-negara lain juga akan kembali, dibantu oleh bantuan yang murah hati dari bangsa-bangsa tempat mereka tinggal (ayat 22-23).

Di antara orang Israel itu memang ada beberapa orang yang tampaknya meragukan janji pemulihan nabi, karena Babel tampaknya tidak dapat ditaklukkan. Bagaimana mungkin orang-orang tawanan dibebaskan ketika mereka berada dalam cengkeraman seorang tiran yang begitu kuat (ayat 24)? Allah menjawab bahwa Ia dapat melakukannya. Ia mengingatkan orang-orang buangan yang ragu bahwa Ia adalah Allah yang Mahakuasa dan penebus perjanjian Israel. Ia akan menghancurkan orang Babel dalam penghakiman yang sesuai dengan penindasan kejam yang mereka timpakan kepada korban-korban mereka yang tak berdaya (ayat 25-26).

Orang-orang Yahudi lainnya menyalahkan Allah atas masalah-masalah mereka, seolah-olah Ia telah membuang mereka seperti seorang suami yang menceraikan istrinya atau seorang ayah yang menjual anak-anaknya untuk melunasi utang-utangnya. Bukankah Tuhan yang menentukan nasib malang mereka dari mulanya? Allah menjawab bahwa mereka tidak memiliki bukti untuk mendukung tuduhan tersebut, karena Ia tidak pernah ‘menceraikan’ mereka atau ‘menjual’ mereka. Sebaliknya dosa-dosa merekalah yang menjadi penyebab masalah-masalah mereka (Yesaya 50:1). Merekalah yang mengabaikan Allah ketika Ia berbicara kepada mereka melalui hamba-hamba-Nya, para nabi. Namun, Ia tetap mengasihi mereka dan memiliki kuasa untuk menyelamatkan mereka. Tidak ada satu pun ciptaan yang dapat menahan kuasa-Nya (Yesaya 50:2-3).

Kembali ke kehidupan kita saat ini, Tuhan begitu mengasihi kita sehingga mustahil bagi-Nya untuk melupakan kita semua. Dia begitu mengasihi kita sehingga keterikatan-Nya lebih besar daripada kasih seorang ibu. Kadang-kadang tampaknya Tuhan telah mengabaikan kita, tetapi pada saat-saat itu kita harus tahu bahwa Dia tidak akan pernah melupakan kita. Dia tidak mungkin melupakan kita. Dia mengasihi kita dengan kasih yang paling besar, kasih yang bahkan lebih kuat dan lebih baik daripada kasih seorang ibu kepada anaknya. Dia telah mengukir kita di tangan-Nya. Kita tidak pantas menerimanya, tetapi Dia benar-benar dan tidak dapat ditarik kembali berkomitmen kepada umat-Nya.

Kadang-kadang terasa seperti Tuhan telah meninggalkan kita, tetapi Dia tidak melakukannya. Dia berkomitmen kepada kita dengan kasih yang paling dalam yang dapat kita bayangkan. Tuhan sepenuhnya berkomitmen untuk memenuhi tujuan-Nya bagi kita. Ketika Allah mengingat orang, rencana, dan janji, Ia bekerja dengan cara yang sejalan dengan kesetiaan-Nya. Ia mengingat Nuh ketika ia bertindak sesuai dengan janji untuk melindungi keluarganya (Kejadian 8:1). Dia mengingat Rahel saat dia mandul dan memberinya seorang anak sesuai dengan perjanjian-Nya untuk menjadikan keluarga Abraham sebagai bangsa yang besar (Kejadian 30:22).

Demikian pula, Allah tidak lagi mengingat dosa kita yang kita akui. Dalam belas kasihan-Nya, Dia tidak bertindak terhadap kita sesuai dengan dosa kita. Ketika Tuhan mengampuni, Dia tidak mengingat dosa-dosa kita untuk menghukum atau mencaci kita. Sebaliknya, Allah menyingkirkan dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12). “Aku tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi” tidak berarti dosa kita luput dari pikiran-Nya, tetapi Dia tidak menyimpannya dalam hati kita (Ibrani 8:12). Dia memperlakukan kita seolah-olah kita tidak pernah berdosa.

JIka kita mengaku dosa kita, Tuhan tidak lagi mengingat dosa kita (1 Yohanes 1:9). Dia memperlakukan kita seolah-olah kita tidak pernah berbuat dosa. Allah tidak lagi mengingat kita menurut dosa kita, tetapi menurut kesempurnaan Kristus. Allah tentu saja menghukum semua dosa, tetapi jika kita berada di dalam Kristus, murka itu tidak akan menimpa kita. Salib dengan jelas memperlihatkan, dalam harmoni, aspek-aspek karakter ilahi yang mungkin tampak tidak dapat didamaikan. Betapa keadilan yang tak kenal ampun dan belas kasihan yang melimpah!

Saat ini, jika Anda mengalami kemalangan atau kesulitan hidup, janganlah Anda putus asa. Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tidak pernah lupa akan umat-Nya. Selama kita jujur akan cara hidup kita di hadapan-Nya, kasih-Nya selalu tersedia. Ia adalah Tuhan yang setia dan adil dan mau mengampuni kita serta menyertai kita dalam menghadapi berbagai badai kehidupan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9

Bagaimana kebajikan kita harus melebihi orang Farisi

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:20

Ungkapan “seperi orang Farisi” sering dipakai oleh orang Kristen dan orang yang bukan Kristen untuk menuduh orang lain yang sok alim, sok benar, tetapi yang hidupnya jauh dari kebenaran. Orang Farisi memang – pada waktu Yesus masih di bumi – di kenal sebagai guru agama yang mengharuskan orang Israel untuk menaati hukum Taurat dengan menambahkan berbagai peraturan yang sangat membebani, tetapi membuka kesempatan untuk sebagian orang agar bisa melanggarnya dengan cara-cara tertentu.

Dalam Roma 7, sebagai orang Farisi yang sudah menerima hidup baru, Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen yang jujur tentang pergumulannya yang terus-menerus dengan dosa. Seperti Paulus, meskipun sebagai orang Kristen kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, kita terus hidup di bawah pengaruhnya yang kuat. Terkadang kita mungkin merasa persis seperti yang dijelaskan Paulus. Kita terus melakukan apa yang kita benci—kita berdosa—bahkan ketika kita bermaksud melakukan apa yang benar. Bukan berarti kita masih menjadi budak dosa, tetapi kita terbagi oleh keinginan kita sendiri yang saling bersaing. Karena itu, kita cenderung memakai berbagai alasan untuk menghindari ketaatan kepada firman Tuhan. Jadi bagaimana kita bisa menjadi umat Kristen yang baik tanpa menjadi seperti orang Farisi?

“Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Roma 7:21-25

Mungkin Anda bertanya apa guna ketaatan kita kepada hukum dan firman Tuhan. Yesus telah tegas dan jelas tentang suatu hal yang mungkin sulit dipahami: Ia datang bukan untuk menghapuskan hukum Musa, tetapi untuk menggenapinya. Hukum itu tidak akan berlalu sampai semuanya telah digenapi. Mereka yang mendengar pesan Yesus tidak boleh bersikap lunak terhadap diri mereka sendiri atau murid-murid mereka dalam hal menaati perintah-perintah hukum. Mereka yang menaati hukum akan disebut besar di kerajaan surga; mereka yang tidak menaatinya dengan saksama akan disebut yang paling rendah. Ini tidak berarti bahwa perbuatan baik akan mendatangkan keselamatan, tetapi ini menunjukkan poin penting tentang maksud Allah dalam pesan-pesan sebelumnya (Matius 5:17–19).

Kemudian Yesus menuntut suatu standar yang kedengarannya mustahil bagi para pendengar-Nya—persis seperti yang seharusnya. Ahli Taurat adalah ahli Kitab Suci yang “profesional”. Orang Farisi adalah sekte yang terkenal karena sangat taat menaati hukum Musa. Orang Farisi sangat ketat terhadap murid-murid mereka dan terhadap orang-orang yang pergi ke sinagoge tentang apa yang diperlukan untuk menaati hukum agar menjadi orang benar. Mereka begitu taat, bahkan mereka menambahkan lapisan-lapisan detail, aturan, dan peraturan di atas hukum sehingga mereka tidak akan pernah melanggarnya. Pelaksanaan Hukum Taurat dengan demikian menjadi syarat untuk mendapat keselamatan.

Apakah hukum Taurat dengan demikian adalah sesuatu yang buruk, yang tidak berlaku untuk kita setelah Yesus datang ke dunia? Tidal! Paulus jelas menegaskan bahwa ia suka hukum Turat yang membawa kesadaran bahwa ia adalah orang berdosa yang tidak dapat memenuhi syarat kebajikan yang dituntut Allah. Walaupun demikian, ia sadar bahwa karena tidak dapat memenuhi syarat kebajikan Tuhan, umat manusia membutuhkan penebusan darah Kristus.

Yesus mengemukakan dua poin yang berbeda di sini. Matius telah menunjukkan bahwa kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi adalah palsu. Yohanes Pembaptis menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” yang membutuhkan pertobatan yang benar-benar akan “menghasilkan buah” alih-alih hanya terlihat baik di mata orang lain (Matius 3:7–8). Yesus juga akan berselisih dengan orang Farisi mengenai cara mereka bekerja keras untuk penampilan luar sementara dosa merusak hati mereka. Seperti yang akan Yesus tekankan dalam sisa khotbah ini, Tuhan jauh lebih peduli tentang apa yang ada di dalam hati seseorang daripada bagaimana orang lain memandangnya. Tuhan lebih menghargai kemurnian sejati yang dimotivasi oleh kasih sejati daripada kepatuhan terhadap aturan teknis yang dimotivasi oleh kesombongan rohani. Jadi, “kebenaran” sejati adalah sesuatu yang lebih baik daripada versi busuk yang diarak-arakan oleh orang-orang munafik religius.

Matius 5:17–20 mengemukakan poin penting tentang hakikat dosa. Untuk melakukannya, Yesus pertama-tama menyatakan bahwa standar kebenaran surga berada di luar kemampuan manusia. Tujuan-Nya bukanlah untuk membuang hukum Musa, tetapi untuk mencapai tujuan pemberian hukum tersebut. Landasan ajaran Yesus adalah bahwa manusia tidak dapat memperoleh keselamatan, karena kita tidak dapat berharap untuk menjadi cukup baik. Untuk memperoleh kerajaan surga, seseorang harus lebih saleh daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi—standar utama budaya itu untuk ”perilaku baik.” Dalam bagian-bagian selanjutnya, Kristus akan menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana dosa tidak hanya melibatkan apa yang kita lakukan, secara fisik, tetapi juga pikiran dan motivasi kita.

Poin lain yang dikemukakan, yang didukung oleh ajaran gereja saat ini, adalah bahwa tidak seorang pun dapat benar-benar, benar-benar benar. Tidak seorang pun dapat menjalani kehidupan yang murni secara moral yang layak untuk surga. Seperti yang akan ditulis Paulus dalam Roma 3:23, “karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, ia akan menambahkan, dalam ayat berikut apa yang akan dipahami oleh para pendengar Yesus nanti, bahwa mereka yang beriman kepada Kristus “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.s” (Roma 3:24). Yesus pada waktu itu sedang mempersiapkan para pendengar-Nya untuk memahami bahwa mereka membutuhkan kebenaran yang hanya Dia yang dapat memberikan kepada kita. Sekarang, kita yang sudah disadarkan, harus benar-benar beriman kepada Kristus dan senantiasa berusaha untuk mengasihi Dia dan sesama kita. Bagaimana dengan respon Anda?