Apakah Anda punya rasa takut akan Tuhan?

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” Roma 3:12-18

Kejadian yang saya ungkapkan kemarin, yaitu mengenai seorang tokoh gereja yang baru-baru ini mengakui bahwa ia sudah memlakukan hubungan yang tidak pantas dengan seorang wanita yang bukan istrinya selama lima tahun masih terbayang dalam pikiran saya. Bagaimana itu terjadi pada awalnya, tidaklah ada yang tahu. Namun kita tentu percaya bahwa Tuhan tahu segalanya, bahkan sebelum dosa itu terjadi. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa Tuhan juga tahu segala apa yang kita perbuat, katakan atau pikirkan sekalipun kita berusaha menyembunyikannya.

Roma 3:9–20 memuat serangkaian kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Paulus menggunakan kutipan-kutipan ini untuk menunjukkan bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani sama-sama berada di bawah dosa. Apakah itu termasuk diri kita? Tentu! Setelah menetapkan bahwa ”tidak ada seorang pun yang berbuat baik” dari Mazmur 14:1, Paulus menggunakan kutipan dari Mazmur dan Yesaya untuk menunjukkan bagaimana kita dengan sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, selalu menggunakan tubuh kita—tenggorokan, lidah, bibir, kaki, dan mata—untuk mengekspresikan keberdosaan kita. Ia menyimpulkan bagian itu dengan pernyataannya yang paling kuat, yaitu bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan di hadapan Allah dengan mengikuti hukum Taurat. Hukum Taurat hanya dapat menunjukkan dosa kita, bukan menyelamatkan kita darinya.

Dengan demikian,semua orang Kristen seharusnya tahu bahwa tidak ada orang, tidak seorang pun di dunia ini, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan dengan mengikuti hukum Taurat. Namun, akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah ada tersedia terlepas dari hukum Taurat melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib.

Paulus mengingatkan bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengekspresikan sifat hakiki kita. Ketika kita berbicara, dosa keluar. Ke mana pun kita berjalan, kita meninggalkan dosa. Dan sekarang, ia menunjukkan bahwa kita tidak pernah menggunakan mata rohani kita untuk bisa mempunyai rasa takut—atau “rasa hormat”—kepada Tuhan. Karena kita tidak dapat melihat Tuhan yang roh, sering kita mengabaikan-Nya dalam hidup sehati-hari. Tuhan agaknya “jauh di mata, jauh di hati”.

Kutipan terakhir ini (Roma 3:18) berasal dari Mazmur 36:2-3, di mana Daud menggambarkan “orang fasik” sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan di depan mata mereka. Mereka juga berusaha menutupi kesalahannya dari orang lain sampai terbongkar rahasianya.

“Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya.” Mazmur 36:2-3

Paulus menegaskan bahwa kita semua, setiap manusia, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, memenuhi gambaran ini (Roma 3:10). Kita pada mulanya tergolong orang fasik. Kita masing-masing pantas menerima penghakiman murka Tuhan atas dosa-dosa kita. Dosa kita, dalam hal ini, adalah bahwa kita mengabaikan atau meremehkan Tuhan. Kita merendahkan-Nya sesuai dengan ukuran kita di dalam hati kita. Mungkin kita berpura-pura bahwa Dia tidak ada, terlepas dari kenyataan bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya dan sifat-Nya melalui apa yang telah Dia ciptakan (Roma 1:20). Atau kita mungkin menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa Allah dan orang lain tidak dapat menemukan dosa kita (Mazmur 36:2), atau bahwa Ia tidak akan menghakimi kita karenanya.

Pernyataan ini selalu berlaku bagi orang berdosa yang secara terbuka menyangkal Kristus, namun, pernyataan ini juga semakin berlaku bagi banyak orang Kristen yang menyadari dan mengakuinya. Hal ini sebagian terjadi karena banyak pendeta di zaman sekarang tidak hanya menghindari pembicaraan tentang takut kepada Allah, tetapi mereka juga menghindari pembicaraan tentang apa pun yang akan memberi orang alasan untuk takut kepada Allah. Mereka menghindari penyebutan tentang dosa, neraka, dan kutukan. Terlebih lagi, mereka menghindari semua pembicaraan tentang kekudusan yang diharapkan Tuhan kepada umat-Nya.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”1 Petrus 1:15-16

Jemaat di zaman ini tidak menginginkan Tuhan yang kudus dan bisa murka, mereka hanya menginginkan Tuhan yang penuh kasih dan damai. Mereka tidak menginginkan Tuhan yang membenci dosa mereka, mereka menginginkan Tuhan yang lembut yang akan menjadi sahabat karib mereka. Mereka juga merasa sangat yakin bahwa Tuhan sudah menetapkan mereka dari awalnya untuk diselamatkan. Kenyataannya adalah bahwa orang tidak ingin takut kepada Tuhan karena mereka tidak menginginkan Tuhan ikut campur dalam hidup mereka. Beberapa orang Kristen mengaku tidak takut kepada-Nya karena mereka tidak benar-benar mengenal Tuhan dalam Kitab Suci, sementara mereka menganggap enteng kasih karunia-Nya melalui pengurbanan Yesus Kristus untuk menyelamatkan diri mereka. Mungkin saja mereka bukan orang yang benar-benar Kristen!

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah jika kita mengaku kenal Tuhan, kita takut kepada-Nya, karena Dia telah menaruh takut kepada diri-Nya ke dalam hati kita (Yeremia 32:40). Sebagai orang Kristen, kita tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan seperti budak kepada majikannya. Sebaliknya, kita memiliki rasa takut kepada Tuhan yang seperti anak, hormat, dan rendah hati. Injil adalah perbedaan antara takut kepada Tuhan dan hormat kepada Tuhan. Hanya ketika kita takut kepada Tuhan, Tuhan memberi tahu kita untuk tidak takut. Sebab ketika kita mengenal kasih Allah di dalam Kristus, Roh Kudus mengusir segala ketakutan dan menanamkan di dalam kita kasih dan penyembahan, sehingga kita makin lama makin bisa taat kepada firman-Nya (mengerjakan keselamatan kita) dengan sunguh-sungguh (dengan takut dan gentar).

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentarbukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Kita bukan budak, tetapi anak yang hilang yang sudah pulang ke rumah

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ”ya Abba, ya Bapa!” Roma 8:15

Roma 8:15 adalah salah satu ayat Kitab Suci yang paling indah tentang hubungan kita dengan Tuhan melalui iman kepada Kristus. Ayat ini menggambarkan bagaimana Tuhan telah mengubah hubungan setiap orang Kristen dengan-Nya melalui kuasa Roh Kudus. Kita tidak lagi perlu kuatir atau takut menghadapi perjuangan dan penderitaan dalam hidup karena itu tidak ada bandingnya dengan kasih Bapa dan kemuliaan yang akan kita terima sebagai anak-anak-Nya.

Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan tentang keamanan mutlak orang Kristen di hadapan Allah. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Yesus dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15: 11-24). Sebagai anak yang hilang kita sudah mengambil keputusan untuk pulang kembali ke rumah setelah mengembara dan hidup dalam dosa. Kita merasa bersyukur karena Bapa yang telah menunggu kita sejak lama, ternyata menyambut kita dengan tangan terbuka.

Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Allah. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Allah Abba Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama seluruh ciptaan sambil menunggu Allah menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya (Roma 8:19). Dengan bantuan Roh Kudus, kita yakin bahwa Allah bersama kita selama kita masih hidup di dunia dan mengasihi kita di dalam Kristus.

Roma 8:12–17 menggambarkan posisi kita di dalam Kristus sebagai anak-anak Allah; mereka yang telah diselamatkan melalui iman kepada Kristus. Namun, pertama-tama, Paulus memperingatkan kita bahwa jika kita ingin menjadi anak-anak Allah, kita tidak boleh terikat pada kehidupan lama kita dalam daging. Itu bukan lagi jati diri kita. Allah tidak memberikan kepada kita roh perbudakan, tetapi roh adopsi ke dalam keluarga-Nya. Oleh Roh Allah, kita berseru kepada-Nya sebagai ”Abba” kita, yang merupakan istilah informal untuk ”Bapa.” Dia juga menegaskan dalam roh kita bahwa kita adalah anak-anak-Nya.

Dalam ayat sebelumnya, Paulus menulis bahwa semua orang yang dipimpin oleh Roh Tuhan adalah anak-anak-Nya. Sekarang dia menjelaskannya lebih spesifik. Sebelumnya dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menulis bahwa melalui iman kepada Kristus kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan kita menjadi “hamba kebenaran” (Roma 6:18) atau “hamba Allah” (Roma 6:22). Paulus tidak mengabaikan hal itu dalam ayat ini. Kata yang digunakan untuk hamba—doulos—menggambarkan apa yang dulu dikenal sebagai kontrak untuk menjadi budak: ketika seseorang bersumpah setia untuk melayani tuan tertentu.

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 8:22

Paulus meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak memandang kita sebagai budak-Nya atau bahkan sekadar hamba yang baik. Dia tidak membebaskan kita dari perbudakan dosa hanya untuk menambahkan kita ke dalam tim-Nya. Dia menyelamatkan kita dari dosa untuk menjadikan kita anak-anak-Nya. Itu melibatkan Roh Kudus.

Jika dulu, sebagai anak yang hilang, kita ingin mengisi perut kita dengan ampas yang menjadi makanan babi (Lukas 15:16), sekarang Bapa kita telah memberi apa yang pantas untuk seorang anak yang terkasih. Allah tidak memberi kita roh perbudakan, dengan memberi kita Roh Kudus. Para budak yang dianiaya sering kali hidup dalam ketakutan terhadap tuan mereka, dan itu bukanlah hubungan yang Allah inginkan dari kita. Tidak, Paulus menegaskan, Allah memberi kita Roh adopsi sebagai anak-anak-Nya. Dengan kata lain, Allah secara hukum mengubah status mereka yang datang kepada-Nya melalui iman di dalam Kristus menjadi anak laki-laki dan perempuan.

Pagi ini, jika kita mengalami berbagai persoalan, perjuangan dan penderitaan, biarlah kita ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Roh Kudus memungkinkan kita untuk berseru kepada Allah seperti anak-anak kecil memanggil ayah yang penuh kasih. Kata Abba adalah adaptasi bahasa Yunani dan Inggris dari kata bahasa Aram untuk ayah. Itu sering kali merupakan kata yang digunakan oleh anak-anak kecil untuk “papa” atau “ayah.” Itulah hubungan yang Allah inginkan dengan kita, dan Dia telah memungkinkannya melalui Roh. Kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan karena Dialah yang akan memberi kekuatan dan penghiburan.

Tuhan bisa memakai siapa saja yang mau dipakai-Nya

“Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku. Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” 1 Timotius 1:12-14

Pada akhir bulan September 2024 ada berita besar yang menyedihkan di kalangan gereja Reformed. Seorang pendeta terkenal dan dekan sekolah teologi di Amerika ternyata mempunyai hubungan di luar nikah dengan seorang wanita yang pantas menjadi cucunya. Hubungan yang sudah berlangsung sekitar 5 tahun itu akhirnya terbongkar dan sebagai akibatnya pendeta itu dipecat dari jabatan-jabatannya. Hal ini sangat mengejutkan karena pendeta sangat aktif mengabarkan injil dan bahkan sudah menulis banyak buku teologi. Saya yakin bahwa selama ini banyak orang yang menjadi Kristen karena Injil yang pernah dikabarkan pendeta ini.

Saat ini banyak pembahasan di kalangan tokoh Reformed mengenai bagaimana kejadian di atas bisa mempengaruhi umat percaya. Mungkinkah mereka yang merasa dikecewakan oleh cara hidup pendeta ini kemudian mundur dari iman mereka? Akankah pemberitaan Injil melalui berbagai media kemudian menjadi kacau karena besarnya kontribusi yang dulunya pernah disampaikan oleh pendeta ini? Apakah buku-buku dan tulisan pendeta ini harus dicabut dari peredaran? Mengapa Tuhan mengizinkan pendeta itu untuk melakukan apa yang jahat jika Ia memakainya untuk memberitakan Injil? Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu saja ada orang yang mempertanyakan apakah pendeta munafik itu akan masuk ke surga.

Sebenarnya, Alkitab penuh dengan contoh-contoh orang pilihan Allah yang ternyata bukan orang yang benar-benar baik cara hidupnya. Misalnya saja Simson, Daud, Solomo, Petrus, dan Paulus, yang sekalipun bukan orang-orang yang tidak bercela, tetap digunakan Tuhan untuk memenuhi rancangan-Nya. Karena itu, saya yakin bahwa kejadian yang baru terjadi di atas juga termasuk dalam rancangan Tuhan dan bisa digunakan-Nya untuk maksud-maksud yang tidak atau belum kita ketahui.

Ayat 1 Timotius 1:12-14 memberikan gambaran sekilas tentang latar belakang pribadi Paulus sendiri. Dalam bagian sebelumnya, Paulus menjelaskan bagaimana Hukum Tuhan dimaksudkan untuk menghukum orang-orang atas dosa mereka. Dia memberikan daftar tindakan tidak bermoral yang sejajar dengan Sepuluh Perintah. Namun, di sini, Paulus membuktikan kerendahan hatinya secara rohani. Ia menyadari bahwa dosa-dosanya sendiri berat dan bahwa ia hanya dapat mengandalkan kasih karunia Allah yang menyelamatkannya. Perubahan hidup Paulus bukan karena usahanya sendiri, tetapi merupakan hasil dari pekerjaan Kristus yang ajaib.

Bagian pertama dari ayat-ayat di atas berfokus pada pengalaman pribadi Paulus: kesaksiannya. Ia mulai dengan bersyukur kepada Tuhan atas kuasa rohani yang dibutuhkan untuk pelayanannya. Paulus sepenuhnya menerima ajaran Kristus bahwa “… di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Kuasa Paulus berasal dari Kristus, bukan dari kemampuan manusianya sendiri. Ia tampaknya menggunakan frasa tersebut untuk menekankan iman yang sama kepada Yesus Kristus dengan para pembacanya.

Bagian kedua dari ayat ini memberikan dua aspek penting dari pelayanan Paulus. Pertama, Paulus mencatat bahwa Tuhan menyatakan dia setia—ia tidak mengatakan bahwa ia setia dan Tuhan mengakuinya, tetapi lebih tepatnya bahwa Tuhan “menganggap aku setia.” Paulus, yang sebelumnya bernama Saulus, dan seorang penganiaya gereja yang penuh kebencian (1 Timotius 1:13) tidak cukup baik untuk melayani Tuhan. Namun, Tuhan menghakimi atau memutuskan Paulus akan setia dalam melayani-Nya. Dengan kata lain, Tuhanlah yang membuat Paulus setia, karakteristik yang menentukan dari pelayanannya.

Selanjutnya, Paulus menyadari peran Tuhan dalam memilihnya untuk perannya sebagai rasul. Dia tidak layak mendapatkannya atau mendapatkannya (Efesus 2:8-10). Gagasan tentang “pelayanannya” mirip dengan seorang hamba kepada raja atau tuannya. Paulus melihat dirinya sebagai “hamba” Tuhan, yang menawarkan contoh bagi orang Kristen saat ini.

Dalam ayat 13, Paulus menjelaskan kesaksiannya sendiri. Ini penting, karena menunjukkan bahwa Paulus tidak menganggap dirinya lebih baik daripada orang-orang yang dikritiknya. Ia mengakui dosanya sendiri. Setelah berterima kasih kepada Yesus dalam ayat sebelumnya, Paulus berbicara dengan gamblang tentang dirinya yang dulu. Ini terjadi sebelum pertobatannya yang ajaib (Kisah Para Rasul 9:1–22).

Paulus merujuk pada tiga area khusus: penghujatan, agresi, dan kesombongan. Paulus berbicara menentang Yesus, menganiaya para pengikut-Nya, dan menentang gereja. Ketika Yesus menampakkan diri kepada Paulus di jalan menuju Damaskus, kata-kata pertama-Nya adalah, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kisah Para Rasul 9:4).

Frasa berikutnya mengidentifikasi apa yang mengubah Paulus: belas kasihan Allah. Paulus akan menggunakan frasa serupa dalam ayat 16. Kata Yunani yang digunakan di sini adalah ēleēthēn, yang diterjemahkan sebagai “menerima belas kasihan.” Istilah ini pasif: Paulus tidak keluar dan memperoleh belas kasihan, Allah menyediakannya tanpa kontribusi apa pun dari pihak Paulus. Hukum Perjanjian Lama membedakan antara dosa yang disengaja dan tidak disengaja (Bilangan 15:22–31). Paulus tahu hatinya sebelum pertobatan itu tulus, tetapi tulus salah. Paulus melihat dirinya sebagai orang yang berdosa tanpa pengetahuan sampai Allah mencurahkan belas kasihan-Nya kepadanya.

Kesaksian Paulus, yang diberikan dalam ayat-ayat sebelumnya, mencakup dosa-dosa besar terhadap Tuhan. Meskipun ia tulus, Paulus pada suatu waktu dengan tulus secara salah dan menentang Tuhan (1 Timotius 1:12-13). Obat untuk ini adalah belas kasihan Tuhan. Keselamatan adalah oleh kasih karunia Allah saja melalui iman saja kepada Yesus Kristus saja (Efesus 2:8-9). Ketiga unsur ini disebutkan di sini: kasih karunia Allah, Tuhan Yesus, dan iman Paulus. Bahkan, Paulus merujuk pada kasih karunia ini “melimpah” baginya. Untuk semua dosa yang telah dilakukan Paulus, kasih karunia yang diberikan kepadanya oleh Tuhan lebih dari cukup untuk membawa keselamatan.

Di seluruh halaman Kitab Suci, kita melihat bagaimana Tuhan menggunakan orang-orang yang paling tidak terduga. Musa yang lambat bicara. Rahab yang bekerja sebagai pelacur. Daud yang berzinah. Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Paulus yang menganiaya gereja. Jika Tuhan dapat memulihkan orang-orang seperti itu dan menggunakan mereka untuk kemuliaan-Nya dan untuk kemajuan Kerajaan-Nya, maka Tuhan dapat menggunakan Anda atau orang lain secara tak terduga.

Kita memang pantas dihakimi dan dihukum oleh Tuhan. Kita memang pantas dihukum atas dosa-dosa kita. Namun, Tuhan memberi Paulus belas kasihan. Anda dan saya berada di perahu yang sama. Tidak seorang pun dari kita yang pantas diselamatkan. Tidak seorang pun dari kita yang pantas masuk Surga. Kita semua adalah orang berdosa yang bejat yang pantas menerima murka Tuhan. Namun, Dia memberikan belas kasihan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Panggilan Tuhan untuk keselamatan juga melibatkan kasih karunia Tuhan. Panggilan Tuhan untuk mengabarkan Injil bukanlah untuk orang-orang yang sempurna, tetapi untuk mereka yang mau dipakai-Nya. Jika belas kasihan adalah Tuhan tidak memberi kita apa yang seharusnya kita terima (hukuman), kasih karunia adalah Tuhan memberi kita apa yang tidak seharusnya kita terima (pengampunan).

Pagi ini, pikirkan semua hal yang Tuhan berikan kepada kita ketika kita beriman kepada-Nya. Dia memberi kita kedamaian. Dia memberi kita kehidupan yang berkelimpahan. Dia memberi kita pengampunan. Dia memberikan Roh Kudus. Dia memberi kita karunia rohani. Dia memenuhi kebutuhan kita. Dan yang terpenting, Dia memberi kita rumah kekal di dalam Kemuliaan! Puji Tuhan atas belas kasihan dan kasih karunia-Nya! Ketika kita memikirkan panggilan Tuhan untuk keselamatan, itu tidak hanya melibatkan belas kasihan dan kasih karunia-Nya, tetapi juga melibatkan tujuan Tuhan. Tujuan Tuhan adalah agar kita diselamatkan sekalipun kita masih bisa jatuh dalam dosa.

Saya suka apa yang dikatakan 2 Petrus 3:9, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Hati Tuhanlah yang paling utama agar semua orang mengenal Dia. Yesus datang ke bumi ini untuk membayar harga dosa bagi seluruh dunia. Jika Anda merasa sudah mengecewakan Tuhan, Tuhan memanggil Anda untuk kembali kepada-Nya. Mengapa? Karena Dia mengasihi Anda dan merupakan kehendak-Nya agar dosa-dosa Anda diampuni dan diberi rumah di Surga. Kedua, Tuhan memanggil Anda untuk melayani. Setiap orang yang menaruh iman dan kepercayaannya kepada Yesus dan dilahirkan kembali, mereka juga dipanggil untuk melayani Tuhan. Dalam ayat 12 kita melihat Paulus bersyukur kepada Tuhan karena telah menempatkan Dia dalam pelayanan. Jika Anda mau bertobat dan melayani, Tuhan akan membimbing Anda melalui jatuh bangunnya perjalanan hidup Anda untuk menuju ke arah kesempurnaan yang dikehedaki-Nya.

Hal menjadi garam dan terang dunia

”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5:13-14

Matius mencatat Khotbah Yesus di Bukit. Bagian sebelumnya mencatat Ucapan Bahagia, dan sekarang Kristus beralih ke serangkaian ajaran singkat tentang berbagai topik. Pertama, Yesus membahas perlunya para pengikut-Nya untuk hidup sesuai dengan kebajikan yang dijelaskan dalam Ucapan Bahagia. Ini diperlukan untuk menjadi “garam” dan “terang” di dunia.

Matius 5:13–20 menggambarkan peran penting yang dilayani oleh para murid dan pengikut Yesus di bumi. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Metafora-metafora ini menggambarkan dampak yang seharusnya dimiliki orang Kristen di dunia. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi mereka untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika tidak, mereka tidak akan lagi berguna sebagai garam dan terang. Sebaliknya, mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, membiarkan terang mereka bersinar di dunia yang gelap agar semua yang melihat akan memuliakan Tuhan. Ini adalah peran umat Tuhan selama hidup di dunia: bahwa mereka harus mengambil keputusan untuk menaati perintan Yesus tersebut.

Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Dulu, seperti sekarang, garam memiliki berbagai fungsi. Sebelum zaman pendinginan, garam digunakan secara luas sebagai bahan pengawet dengan menggosokkannya ke daging. Dalam beberapa kasus, garam dapat digunakan sebagai semacam pupuk. Tentu saja, garam juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan. Panggilan Yesus bagi para pengikut untuk menjadi “garam dunia” membawa manfaat tersebut, secara simbolis, ke dalam kehidupan rohani kita.

Seperti garam yang mengawetkan daging agar tidak membusuk, orang-orang yang percaya kepada Yesus, yang tersebar di seluruh dunia, membantu menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam ketidakbertuhanan, amoralitas, kekacauan, dan penghakiman yang diakibatkannya. Garam mengubah rasa makanan secara permanen, sama seperti pengaruh orang-orang saleh dapat mengubah suatu budaya. Inti utamanya adalah bahwa orang Kristen melayani tujuan ilahi di dunia hanya dengan menjalani apa yang kita yakini tentang Yesus.

Orang Kristen berhenti melayani tujuan itu ketika kita berhenti hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan. Mungkin mereka sudah puas dengan karunia keselamatan yang mereka terima. Mungkin mereka merasa bahwa semua yang terjadi dalam hidup mereka, baik itu hal yang baik dan benar maupun hal yang jahat dan penuh dosa adalah sesuai dengan apa yang sudah ditentukan Tuhan. Ucapan Bahagia menempatkan tujuan hidup orang Kristen itu dalam konteksnya. Ketika para pengikut Yesus berhenti menjadi miskin dalam roh, hidup dalam pertobatan dan kelembutan, memiliki keinginan untuk kebenaran, dan berbelas kasih, mereka berhenti melayani Tuhan di bumi. Ini sama dahsyatnya, dan tidak terpikirkan, seperti jika garam kehilangan rasanya.

Beberapa orang menolak metafora ini dengan mengatakan bahwa garam tidak pernah kehilangan rasa asinnya, menurut ilmu kimia. Menurut mereka, ketika kita menjadi umat Tuhan kita menjadi garam dalam arti berbeda dengan orang lain karena adanya karunia Tuhan. Ini tidak tepat sasaran dan tidak benar dalam arti praktis. Ajaran Yesus dapat diartikan, sebagian, bahwa kualitas-kualitas tertentu sama bawaannya bagi orang percaya yang telah lahir baru seperti rasa asin bagi garam. Gagasan kehilangan sifat-sifat tersebut tidak terpikirkan. Dalam pengertian yang lebih praktis, garam yang digunakan orang setiap hari tidak murni secara kimiawi. Garam tersebut dapat diencerkan, atau bahkan terkontaminasi. Itu akan menghasilkan sesuatu yang seharusnya menjadi garam tetapi tidak terasa atau bertindak seperti garam lagi. Itu membuatnya tidak berguna, dan harus dibuang. Yesus menunjukkan hal yang sama dapat terjadi pada seorang murid yang berhenti hidup setia kepada Kristus di dunia. Intinya di sini bukanlah tentang hilangnya keselamatan, tetapi hilangnya tujuan. “Garam yang buruk” tidak dihancurkan atau dibakar, itu hanya diabaikan bersama dengan debu tanah.

Selanjutnya, Yesus membandingkan mereka dengan terang. Ia menyebut mereka “terang dunia,” bahkan. Terang merupakan simbol penting dalam pandangan dunia Yahudi. Sama seperti budaya Yunani yang menghargai pengetahuan, atau budaya Romawi yang menghargai kemuliaan, atau budaya Barat modern yang menggembar-gemborkan kebebasan, standar ideal budaya Ibrani adalah terang. Konsep ini sangat berperan dalam penjelasan Alkitab tentang kesalehan dan kebenaran (Amsal 4:18–19; Matius 4:16; Yohanes 8:12; 2 Korintus 4:6).

Secara rohani, tidak ada terang sejati di dunia ini selain Yesus Kristus. Namun, terang-Nya bersinar melalui setiap orang yang menjadi milik-Nya. Dengan cara ini, terang Kristus disebarkan ke dalam kegelapan di setiap sudut umat manusia. Bahwa terang ini dimaksudkan untuk terlihat oleh dunia juga penting. Yesus menambahkan metafora ini dengan merujuk pada sebuah kota yang terletak di atas bukit. Kota itu tidak dimaksudkan untuk disembunyikan; kota di atas bukit dimaksudkan untuk dilihat dan ditemukan bahkan dalam kegelapan malam. Pada zaman Kristus, tembok-tembok di sekeliling kota di atas bukit sering kali terbuat dari batu kapur putih, yang relatif mudah dilihat, bahkan pada malam yang redup.

Dengan cara yang sama, terang Kristus tidak dimaksudkan untuk disembunyikan di bumi. Terang itu dimaksudkan untuk bersinar terang dari semua orang yang menjadi milik Kristus. Terang itu dimaksudkan untuk ditemukan, dengan cara ini, oleh mereka yang masih berada dalam kegelapan. Yesus akan menambahkan poin ini dalam ayat berikutnya bahwa terang Kristus tidak boleh ditutupi dalam kehidupan para pengikut-Nya. Terang itu dimaksudkan untuk dilihat dan bukannya ditutupi dengan berbagai hal duniawi.

Hari ini, pertanyaan kepada kita semua: apakah kita sudah berupaya untuk menjadi garam dan terang dunia? Ataukan kita mengabaikan pentingnya untuk membagikan garam dan terang itu kepada seisi dunia? Kita harus sadar bahwa jika Tuhan sudah memungkinkan kita untuk menjadi garam dan terang dunia, kita harus mengambil keputusan untuk mau menggunakan hidup kita guna membawa orang lain kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita.

“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah , yang telah kamu terima.” 2 Korintus 6:1

Berapa besar iman yang Anda miliki?

Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17:20

Pada waktu itu, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi. Di sana, mereka melihat-Nya “berubah rupa” menjadi bentuk ilahi yang bersinar. Mereka juga melihat Kristus berbicara dengan Musa dan Elia tetapi diperintahkan untuk tidak membicarakan peristiwa ini sampai saatnya tiba.

Pada saat itu, seorang ayah yang putus asa memohon pertolongan kepada sembilan murid yang tertinggal ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung. Putra ayah itu sedang dirasuki setan, dan mengalami kejang-kejang epilepsi serta sering jatuh ke dalam air atau api. Murid-murid itu tidak dapat mengusir setan itu (Markus 9:14–29). Mereka telah gagal dalam tugas yang sangat penting. Yesus, yang jengkel dengan keraguan para murid-Nya, menegur setan itu dan menyembuhkan anak laki-laki itu.

Para murid benar-benar ingin memahami apa yang salah (Matius 17:18–19). Mereka telah bertanya kepada-Nya secara pribadi, jauh dari orang banyak, mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu. Yesus menanggapi mereka secara langsung, tetapi relatif ramah dalam ayat ini. Inti dari kegagalan mereka adalah “iman mereka yang kecil.” Mereka tidak mempercayai kuasa yang sebelumnya diberikan kepada mereka oleh Yesus (Matius 10:8) atau mereka tidak percaya kuasa seperti itu dapat dijalankan melalui mereka. Mungkin mereka melihat kasus khusus ini terlalu sulit. Bahwa mereka dapat melakukan mukjizat dengan menggunakan kuasa Kristus, merupakan kenyataan yang mencengangkan. Di sini Yesus menyingkapkan bahwa kunci kuasa itu adalah iman kepada-Nya.

Bagian dari pelajaran di sini adalah potensi iman yang sejati. Dalam memberikan peringatan ini, Kristus sekali lagi menyebutkan biji sesawi kecil sebagai metafora untuk iman yang hidup dan aktif (Matius 13:31–32). Bahkan dengan jumlah iman sekecil itu, Yesus berkata, mereka akan dapat menyuruh gunung untuk pindah dan gunung itu akan melakukannya. Bahkan dengan sedikit iman pada kuasa dan otoritas-Nya, tidak ada yang mustahil bagi mereka. Kita tidak tahu sejauh mana iman para murid itu kurang; mungkin kejang epilepsi telah mengejutkan mereka dan menyebabkan iman mereka goyah.

Yesus menggunakan momen itu untuk menekankan kuasa iman, tidak peduli seberapa besarnya (ayat 20). Bahwa iman dapat memindahkan gunung bukanlah ungkapan harfiah, itu adalah metafora yang berarti iman dapat melakukan hal yang mustahil (lihat 1 Kor. 13:2). Tentu saja, kuasa tidak melekat dalam iman itu sendiri; iman bukanlah cara ajaib untuk memanipulasi kenyataan. Sebaliknya, iman itu efektif karena iman adalah sarana yang dengannya kita memperoleh bantuan dari Allah sendiri, yang bersama-Nya segala sesuatu mungkin terjadi (Matius 19:26). Iman adalah keyakinan, seperti komentar John Calvin, bahwa “Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, jika kita tetap membuka pintu untuk menerima kasih karunia-Nya”.

Hal di atas adalah pelajaran yang penting dan kuat bagi para murid dan kita sendiri. Dalam keadaan yang tidak terilhat kritis, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Tetapi, jika ada hal yang sangat mengejutkan atau menguatirkan, kita mungkin menjadi sangat kuatir dan takut. Jika demikian, pagi ini kita ditegur oleh Yesus seperti apa yang terjadi pada murid-murid Yesus. Teguran Yesus adalah untuk memulihkan kembali iman kita.

Kita bisa melihat bahwa para murid yang sudah ditegur Yesus itu pada akhirnya akan melakukan banyak mukjizat yang tampaknya mustahil selama sisa hidup mereka di bumi. Kuasa untuk melakukannya tidak akan pernah datang dari kemampuan atau kebaikan atau status mereka sendiri. Itu akan selalu datang melalui anugerah khusus mereka, yang dimungkinkan oleh iman mereka kepada Yesus yang mereka pelihara.

Perlu diingat, ayat di atas tidak mendefinisikan iman secara menyeluruh; dengan demikian, bacaan ini harus dibaca bersama dengan bacaan lain seperti 1 Yohanes 5:14, yang menekankan pentingnya kehendak Allah ketika kita berdoa. Seperti yang ditulis Dr. John MacArthur: “Iman sejati, menurut definisi Kristus, selalu melibatkan penyerahan diri kepada kehendak Allah” (The MacArthur Bible Commentary). Dengan iIman kita percaya bahwa Allah dapat melakukan apa saja, tetapi dengan iman kita juga mengantisipasi hanya hal-hal yang telah Ia janjikan, dan bukannya mengharapkan apa yang di luar kehendak-Nya.

Memelihara dan mempertahankan iman

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4:7-8

Ada orang yang bertanya apakah yang saya kerjakan sehari-hari sesudah pensiun. Saya menjawab bahwa selain adanya kegiatan menulis artikel, membaca buku/berita dan berolahraga, saya selalu mempunyai berbagai aktivitas untuk memelihara rumah saya. Bukan saja membersihkan rumah, tetapi juga memperbaiki apa yang rusak dan mengganti apa yang sudah tidak dapat diperbaiki. Seperti mobil, rumah perlu “maintenance” alias pemeliharaan karena proses penuaan yang berlangsung terus. Seperti tubuh manusia, ada bagian-bagian rumah yang sakit dan perlu “diobati” sebelum menjadi parah. Dengan demikian saya dapat mempertahankan rumah saya sebagai tempat yang layak ditinggali.

Berbeda dengan benda mati seperti sebuah rumah, tubuh manusia yang berupa jasmani dan rohani itu mengalami perubahan yang dinamis. Dengan berlalunya waktu, keadaan manusia tidak selalu berubah menjadi makin buruk, karena walaupun secara jasmani kita makin tua dan makin lemah, tubuh rohani kita seharusnya berubah makin dewasa dan makin baik jika kita adalah orang-orang yang mau memelihara dan mempertahankan iman kita dengan penyertaan Tuhan.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Sayang sekali, seperti orang yang merasa bahwa pemeliharaan rutin adalah kurang penting untuk sebuah rumah yang tidak mempunyai bagian-baian yang berputar atau bergerak, banyak orang Kristen yang percaya bahwa “sekali selamat tetap selamat” dan karena itu tidak perlulah mereka berusaha untuk memelihara dan mempertahankan iman mereka supaya tetap kuat dalam segala keadaan. Mereka lupa bahwa tubuh mereka adalah milik Tuhan yang perlu dipelihara.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 1 Korintus 6:19

Dalam suratnya, Paulus “menugaskan” Timotius untuk mempertahankan imannya, terhadap semua kesalahan dan ajaran sesat, setiap saat. Timotius akan menghadapi perlawanan dari dunia dan karena Paulus merasa bahwa hidupnya hampir berakhir, Timotius harus terus berjuang tanpa dia. Ayat-ayat 2 Timotius 4:1–8 berisi instruksi pelayanan terakhir Paulus kepada Timotius. Paulus tahu bahwa ia tidak akan selamat dari pemenjaraannya saat itu. Jadi, ia dengan jelas dan berani memerintahkan Timotius—memerintahkannya—untuk berpegang teguh pada iman yang telah ia lihat dan jalani. Timotius akan dapat melakukan ini dengan mengetahui bahwa Paulus telah melayani Tuhan dengan setia, mengharapkan pahala surgawi yang diberikan kepada semua pengikut Tuhan.

Saat Paulus memandang ke arah kematiannya yang akan datang, ia juga melihat ke belakang dan memberikan tiga pernyataan positif tentang pelayanannya. Pertama, ia menyatakan keyakinannya pada perjuangan hidupnya demi Kristus. Dalam 1 Timotius 6:12, Paulus telah memerintahkan Timotius untuk melakukan hal yang sama, “berjuang dalam pertandingan iman yang benar.”

Kedua, Paulus menyatakan bahwa ia telah menyelesaikan misi yang diberikan kepadanya oleh Allah. Di tempat lain Paulus berbicara tentang iman Kristen sebagai sebuah perlombaan, dengan mengatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (1 Korintus 9:24). Dalam Ibrani 12:1, penulis juga mencatat, “marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”

Ketiga, Paulus menulis bahwa ia secara khusus berpegang pada kebenaran. Paulus tidak memelihara iman yang samar-samar kepada Allah, tetapi “iman”, satu kepercayaan khusus kepada Yesus sebagai Mesias yang telah bangkit. Perjanjian Baru sering berbicara tentang kepercayaan kepada Yesus sebagai “iman” (Kisah Para Rasul 6:7; 13:8; 14:22; 16:5). Paulus memerintahkan orang-orang Kristen di Korintus untuk “berdiri teguh dalam iman” (1 Korintus 16:13), sesuatu yang ia praktikkan dalam hidupnya sendiri. “Iman” juga telah disebutkan beberapa kali dalam surat ini (2 Timotius 1:13; 3:8).

Karena kesetiaan Paulus kepada Kristus, ia dapat dengan yakin mengharapkan pahala surgawi. Keselamatan adalah karena kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8-9), namun pahala kekal didasarkan pada pelayanan seseorang yang setia kepada Kristus. Ini adalah satu-satunya tempat dalam Perjanjian Baru yang merujuk pada jenis mahkota khusus ini. Mahkota lainnya termasuk mahkota yang tidak dapat binasa (1 Korintus 9:24-25), mahkota sukacita (1 Tesalonika), mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10) dan mahkota kemuliaan (1 Petrus 5:4). Mahkota kebenaran ini akan datang dari “hakim yang adil” (Mazmur 7:11).

Paulus berharap untuk memperoleh mahkota ini pada “hari-Nya,” sebuah referensi yang sering diperdebatkan oleh para penafsir Alkitab. Beberapa orang percaya ini akan terjadi ketika Paulus meninggal dan berdiri di hadapan Tuhan, sementara yang lain menafsirkan ini sebagai waktu yang akan datang seperti “Hari Tuhan” pada akhir zaman. Mengingat konteks bagian ini, tampaknya ayat ini lebih mungkin merujuk pada saat Paulus meninggal. Yang sangat menggembirakan bagi orang Kristen adalah kenyataan bahwa Paulus menambahkan bahwa mahkota kebenaran adalah untuknya dan juga “semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Setiap orang percaya yang setia memelihara kemurnian imannya memiliki potensi untuk menerima mahkota khusus ini. Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda benar-benar mengasihi Yesus?

Jawab Yesus: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” Yohanes 14:23-24

Apakah Anda orang Kristen sejati? Saya yakin bahwa jika Anda mengaku Kristen dan rajin ke gereja, Anda akan menjawab “ya”, atau setidaknya berharap demikian. Tetapi, jika Anda mengaku orang Kristen sejati dalam arti sudah ditebus oleh darah Kristus, apakah Anda mengasihi Dia yang sudah mengaruniai Anda keselamatan?

Pertanyaan ini pernah dilontarkan Yesus kepada Petrus dan bagi Petrus ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab (baca Yohanes 21:15-25). Mengapa begitu? Petrus pernah mengingkari Yesus tiga kali ketika Yesus sedang diadili pada saat menjelang penyaliban-Nya. Karena itu, tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Dia sampai pada akhirnya Petrus sadar bahwa mengasihi Yesus bukan hanya dengan mulut. Seperti itulah, jika kita mengaku mengasihi Dia, kita harus mau berkurban untuk Dia. Kita tahu bahwa Petrus yang sudah menyangkal Yesus tiga kali, pada akhirnya menyatakan kasihnya dengan pengurbanan jiwanya.

Mengasihi Yesus bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Kita tidak dapat mengasihi Dia dengan kekuatan diri sendiri. Yohanes 14:15–31 berisi ramalan tentang Roh Penolong. Yesus menyebutnya sebagai Roh Kebenaran, dan berjanji bahwa Roh Kudus itu akan datang untuk membantu para murid melanjutkan hidup setelah Yesus naik ke surga. Dalam hal ini, kasih seseorang kepada Kristus, ketaatan mereka kepada ajaran-ajaran-Nya, dan tinggalnya Roh Kudus saling terkait. Seperti dalam pernyataan sebelumnya, Yesus berfokus pada penghiburan dan dorongan. Ia akan terus menyoroti perlunya mempertahankan iman, berdasarkan semua yang telah Ia katakan dan lakukan sejauh ini. Kemudian, setelah peringatan sebelumnya tentang apa yang akan dihadapi orang Kristen, Yesus kembali menjelaskan pekerjaan dan tujuan Roh Kudus di bawah perjanjian baru.

Roh Kudus hanya tersedia bagi orang percaya, dan Penolong ini bertindak untuk membimbing, mengajar, dan mengingatkan kita. Baik bagi para pengikut Kristus maupun bagi orang Kristen di masa mendatang, kata-kata ini dimaksudkan untuk menghibur di masa-masa sulit. Menjadi orang Kristen yang baik bukanlah sebuah takdir Ilahi dan itu memerlukan perjuangan dan ketaatan kita untuk bisa mengasihi Dia. Tetapi, karena Kristus sudah tahu sebelumnya apa yang akan terjadi, kita dapat lebih yakin untuk percaya kepada-Nya bahwa Ia akan menolong kita untuk bisa mengasihi-Nya.

Salah seorang murid bertanya kepada Yesus apa artinya bahwa Ia akan “menyatakan” diri-Nya kepada mereka, dan bukan kepada dunia (Yohanes 14:22). Sebelumnya, Yesus telah menyebutkan bagaimana dunia tidak akan melihat-Nya lagi (Yohanes 14:19-21). Dalam pernyataan itu, Yesus menggabungkan gagasan tentang kasih dan ketaatan. Pernyataan pentingnya adalah bahwa mereka yang mengasihi Kristus menaati Kristus (Yohanes 14:15). Orang percaya mengasihi Kristus, dan memiliki Roh Kudus, oleh karena itu mereka menaati perintah-perintah-Nya (Yohanes 14:16-18). Inilah yang memungkinkan mereka untuk “melihat” Allah, dan mengenal Kristus (Yohanes 14:19-21), ini berbeda dari orang dunia. Kasih yang lebih dalam kepada Kristus membuka kita untuk pemahaman yang lebih dalam tentang Dia dan kehendak-Nya (Yohanes 14:28).

Ayat-ayat di atas juga memperdalam gagasan tentang Roh Kudus yang “tinggal di dalam” seseorang. Ia juga menegaskan kembali gagasan Tritunggal: bahwa Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sama-sama Allah dan identik dalam kodrat. Ini mengikuti pernyataan sebelumnya di mana Yesus mengklaim sebagai “kebenaran” (Yohanes 14:6), dan menyebut Roh Kudus sebagai “Roh kebenaran” (Yohanes 14:17). Ia juga mengklaim bahwa melihat-Nya berarti melihat Allah (Yohanes 14:9) dan bahwa Ia dan Bapa bersatu (Yohanes 14:11). Dalam pernyataan ini, Yesus secara eksplisit mengatakan “Kami akan datang…diam bersama-sama” di dalam diri orang percaya. Ini juga menggemakan gagasan tentang Allah sebagai tiga pribadi dalam satu keberadaan. Yesus menyertakan kata “diam” yang dihubungkan dengan kata “rumah,” yang merupakan kata yang sama yang digunakan dalam Yohanes 14:2, yang merujuk pada “tempat tinggal” atau “kamar.”

Kitab Suci tidak mengajarkan bahwa “perilaku baik” menghasilkan atau mempertahankan keselamatan (Titus 3:5; Roma 11:6). Tidak ada argumen Alkitab yang valid bahwa orang harus bertindak dengan cara tertentu untuk mendapatkan tiket ke surga (Yesaya 64:6; Galatia 2:21). Alkitab juga menolak gagasan bahwa orang Kristen dapat berharap untuk hidup tanpa dosa sepenuhnya (1 Yohanes 1:9-10). Kita akan gagal, kadang-kadang (Yakobus 3:2). Namun, Kitab Suci juga jelas bahwa mereka yang diselamatkan melalui iman kepada Kristus akan menunjukkan keselamatan itu dalam hidup mereka (Yohanes 14:15, 21, 23). Klaim bahwa seseorang adalah “Kristen sejati” tidak cocok dengan cara hidup yang menentang ajaran-ajaran-Nya (1 Yohanes 2:4-6). Perbuatan tidak dituntut untuk keselamatan, tetapi keselamatan sejati menghasilkan perbuatan yang sesuai (Yakobus 2:14-18).

Hari ini kita belajar bahwa Yesus adalah Tuhan (Yohanes 14:9). Mengasihi Yesus berarti menaati Firman-Nya. Menolak Yesus berarti menolak Tuhan (Yohanes 5:30; 12:49). Mereka yang menolak Tuhan berarti menolak Roh Kudus (Yohanes 14:16–17), dan itu berarti mereka akan sengaja melanggar perintah-perintah yang diajarkan oleh Yesus. Sekarang, pertanyaan untuk Anda adalah: apakah Anda benar-benar mengasihi Yesus?

Peran manusia dalam keselamatan: kebenaran yang sering dipandang sebagai kontradiksi

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”Filipi 2:12-13

Ada beberapa hal dalam teologi kita yang kita ketahui. Kita mengetahui satu kebenaran dan kita mengetahui kebenaran lain dan kita memahami bahwa kebenaran-kebenaran ini hidup berdampingan, meskipun kebenaran-kebenaran itu agak misterius bagi kita. Kita tidak sepenuhnya memahami bagaimana kedua kebenaran ini bekerja sama dalam setiap hal, tetapi mengenali aspek yang misterius tidak serta-merta berarti bahwa hal itu merupakan kontradiksi. Apakah kontrdiksi yang diperdebatkan di kalangan umat Kristen?

Tuhan memberi tahu kita dengan jelas bahwa Dia berdaulat, dan Dia juga memberi tahu kita bahwa kita memiliki tanggung jawab. Kita harus memastikan bahwa kita memenuhi syarat hal-hal tersebut sebagaimana Tuhan memenuhi syarat bagi kita. Kita harus memahami bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya. Dia mengatur segala sesuatu. Dia telah menetapkan sebelumnya semua hal yang akan terjadi. Namun, Dia juga memberi tahu kita bahwa Dia bukanlah pencipta atau penyetuju dosa. Tuhan mahakuasa atas segalanya dan berdaulat atas segalanya, tetapi Tuhan tidak mencobai kita (membuat kita jatuh).

Kita harus memahami sejak awal bahwa kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia bukanlah kontradiksi yang nyata. Keduanya tidak saling bertentangan. Saya bahkan tidak akan mengatakan bahwa keduanya saling bertentangan, karena Tuhan menetapkan tujuan dari segala sesuatu dan juga cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dia menetapkan doa. Dia menetapkan penginjilan. Dia menetapkan pekerjaan kita, perbuatan kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, apa yang kita percayai, dan tujuan dari semua hal tersebut. Dia menetapkan keduanya. Itu bukanlah kontradiksi. Semua hal ini bekerja bersama sesuai dengan rencana Tuhan yang sempurna untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak baik-Nya.

Beberapa orang mungkin berkata, “Kedengarannya terlalu sederhana.” Sejujurnya, Tuhan membuatnya sesederhana itu. Itu tidak rumit, tetapi selama bertahun-tahun saya harus memahami gagasan bahwa kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia menciptakan kontradiksi atau pertentangan yang nyata dalam Kitab Suci. Namun, saya tidak percaya bahwa begitulah cara Tuhan memberikannya kepada kita. Dia berdaulat. Kita bertanggung jawab. Dia pada akhirnya berdaulat atas segala sesuatu. Kita pada akhirnya bertanggung jawab atas apa yang Dia panggil untuk kita pertanggungjawabkan. Lalu, dapatkah manusia bertanggung jawab kepada Tuhan? Jika ya, sampai taraf apa?

Paulus berkata dalam Filipi, “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:12–13). Jelas, ada sesuatu yang disebut “kedaulatan ilahi” dan ada sesuatu yang disebut “kebebasan bertindak manusia.” Kita bukanlah robot. Kita bukanlah boneka. Kita adalah makhluk yang bertanggung jawab yang membuat pilihan moral. Kita tidak memiliki kehendak bebas dalam artian bahwa kita dapat memilih semua kebaikan yang ada di luar sana. Secara alami, kita benar-benar bejat, tetapi kita memiliki kebebasan bertindak yang menjadi tanggung jawab moral kita.

Ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah dan kebebasan bertindak manusia, kita tidak berbicara tentang hal yang sama. Kedaulatan Allah yang mahakuasa berbeda dengan pilihan kebebasan bertindak yang dibuat manusia. Kedaulatan itu tidak menyatukan dua hal yang setara. Akan tetapi, penting bagi teologi Reformed untuk menekankan kebebasan bertindak dan tanggung jawab moral sehingga kita bertanggung jawab atas pengudusan, atas pertumbuhan dan kemajuan dalam kehidupan Kristen, dan menerima tawaran Injil secara cuma-cuma, tetapi kita tidak dapat melakukannya tanpa anugerah Allah yang berdaulat dan mendahului di dalam diri kita.

Di gereja, ada orang-orang dari berbagai latar belakang. Ada sejumlah orang Kristen baru dan banyak orang yang baru pertama kali mengenal teologi Reformed. Salah satu hal yang saya perhatikan selama bertahun-tahun adalah bahwa ketika pria dan wanita, muda dan tua, mulai memahami kedaulatan Allah, terkadang mereka terjebak. Ini sering terjadi setelah mereka banyak mengalami jatuh-bangun dalam hidup. Mereka merasa tak berdaya.

Hal itu terjadi seperti ini: mereka memahami bahwa pada akhirnya Allah adalah Yang Maha Mengatur segala sesuatu. Ia mengizinkan, tetapi Ia mengizinkan “bukan dengan izin semata” sebagaimana dinyatakan dalam Pengakuan Iman Westminster. Allah bekerja di dalam dan mengatur melalui berbagai sebab, tetapi terkadang orang mengembangkan teologi yang buruk di mana mereka seolah-olah menyalahkan Allah atas dosa mereka sendiri. Kita dapat jatuh ke dalam perangkap itu, dan itulah perangkap iblis bagi kita. Kadang-kadang kita dapat berpikir bahwa Tuhan bertanggung jawab atas dosa kita dan bahwa Dialah yang harus disalahkan untuk itu.

Kita harus memahami dengan sangat jelas bahwa Tuhan tidak menyetujui dosa kita. Apakah Tuhan secara berdaulat, dengan cara yang misterius, mengizinkan kita untuk berbuat dosa (meskipun tidak dengan izin semata)? Tentu saja. Itu tidak berarti Dia adalah pembuat atau pembenaran dosa. Kita tidak dapat menyalahkan-Nya atas dosa-dosa kita karena kelalaian atau kesalahan, apa yang kita lakukan atau apa yang tidak kita lakukan. Saya tahu itu terdengar jelas, tetapi itu adalah perangkap yang banyak orang jatuh ke dalamnya, terutama ketika mereka baru mengenal teologi Reformed. Walaupun demikian, sebagian orang yang sudah lama mengikuti ajaran Reformed masih saja berpandangan seperti itu.

Saya pikir sejumlah orang Reformed bersalah karena mengambil satu prinsip teologis dan secara logis memaksakan segala sesuatu yang lain untuk menyesuaikan diri dengan satu prinsip teologis itu. Misalnya, menurut mereka, jika kita secara manusiawi bertanggung jawab atas keselamatan kita, maka itu pasti membatasi kedaulatan Tuhan. Itu hanya argumen yang logis; bukan argumen alkitabiah. Dalam hal ini, teologi Reformed telah mencoba mengambil semua unsur wahyu ilahi untuk melihat bagaimana mereka saling terkait dan membentuk sebuah sistem, tetapi justru dengan cara yang memungkinkan setiap unsur sistem memiliki integritas dan kebenarannya sendiri daripada didorong oleh semacam logika.

Paulus dalam Efesus 2 berbicara tentang bagaimana kita akan dihakimi berdasarkan perbuatan seperti yang dibicarakan di akhir Mazmur 62. Kita diciptakan oleh Tuhan untuk melakukan perbuatan baik, dan perbuatan baik adalah bukti bahwa Tuhan telah berdaulat bekerja di dalam kita. Lebih jauh, Tuhan dapat menggunakan perbuatan-perbuatan itu sebagai bukti untuk menunjukkan bahwa Dia telah bekerja di dalam kita. Hal-hal itu dapat dipertentangkan satu sama lain, dan beberapa teologi Reformed ekstrem akan mempertentangkannya satu sama lain. Namun, kaum Reformed sejati mencoba memberikan setiap unsur wahyu alkitabiah bobot dan haknya yang tepat. Bagaimana pula dengan pandangan Anda?

Ini adalah transkrip jawaban Derek Thomas, Burk Parsons, dan W. Robert Godfrey yang diberikan selama Konferensi If the Foundations Are Destroyed: Escondido 2022 dan telah disunting secara singkat agar mudah dibaca.

Apakah Anda orang Kristen sejati?

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Matius 7:16-20

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga bab yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak memberi penilaian atas orang lain dengan cara yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Tuhan sebagai Bapa yang murah hati yang ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka meminta. Ia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memasuki pintu gerbang yang sempit dan berjalan di jalan yang sulit menuju kehidupan. Nabi-nabi palsu dapat dikenali dari buahnya, yang berarti tindakan dan pilihan mereka. Pada saat yang sama, perbuatan baik bukanlah bukti mutlak bahwa seseorang memiliki iman sejati. Hidup menurut ajaran Yesus seperti membangun rumah kehidupan Anda di atas fondasi yang kokoh alih-alih memindahkan pasir.

Matius 7:15–23 berisi peringatan dua sisi tentang orang percaya palsu. Seorang pemimpin agama mungkin tampak terhormat dan bijaksana, tetapi Anda harus melihat buah hidupnya untuk mengetahui apakah ia benar-benar mewakili Tuhan. Dengan cara yang sama, mungkin saja seseorang mengaku mengikuti Yesus, menyebut-Nya sebagai “Tuhan”, padahal mereka bukanlah orang percaya sejati. Hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa yang akan diizinkan masuk ke dalam kerajaan surga—yang Yesus definisikan sebagai dimulai dengan iman sejati (Yohanes 6:28–29). Perbuatan baik kita mungkin menipu orang lain, dan bahkan mungkin menipu diri kita sendiri, tetapi perbuatan baik tidak dapat menipu Tuhan. Perbuatan baik mungkin memang baik menurut standar manusia, tetapi tidak ada perbuatan baik yang bisa diterima Tuhan sebagai ganti dosa.

Pada saat itu, Yesus telah memperingatkan bahwa nabi-nabi palsu mungkin menyamarkan diri mereka agar tampak seperti domba padahal sebenarnya mereka adalah serigala yang rakus (Matius 7:15). Ini adalah contoh lain tentang bagaimana Alkitab memanggil orang percaya untuk beriman dengan akal sehat, berpengetahuan, dan dewasa (Kisah Para Rasul 17:11; 1 Yohanes 4:1). Anda tidak dapat menilai seorang Kristen yang menyatakan dirinya sendiri dari penampilan luarnya. Tampil cerdas, berwibawa, bermoral, atau “baik” tidak berarti apa yang mereka katakan itu benar. Hidup yang serba mewah dan keberhasilan anak cucu tidak berarti bahwa mereka diberkati Tuhan karena iman mereka. Daripada menilai hidup mereka dengan dangkal, Yesus memerintahkan orang percaya untuk menggunakan cara yang benar (Yohanes 7:24). Ketika ada orang-orang yang mengaku guru atau nabi, itu berarti bahwa kita bisa melihat apa yang berasal dari ajaran dan kehidupan mereka. Begitu juga, setiap orang yang mengaku Kristen sejati bisa dilihat dari cara hidup mereka.

Anggur dan ara adalah buah yang umum dalam makanan para pendengar Yesus. Orang-orang belajar sejak awal untuk mengenali bahwa buah beri kecil pada semak berduri bukanlah anggur pada tanaman anggur; bunga pada rumput duri berbeda dari kelopak pada pohon ara. Sejalan dengan ini, orang mungkin tampak mengesankan pada pandangan pertama. Mereka mungkin tampak sangat religius dan suci. Akan tetapi, berjalannya waktu akan menyingkapkan karakter orang tersebut. Apakah tindakan mereka sesuai dengan ajaran mereka? Apakah mereka peduli kepada orang lain saat tidak ada yang melihat? Apakah mereka yang mengikuti ajaran mereka adalah orang-orang yang memiliki reputasi baik? Dalam kasus seorang nabi, apakah nubuat mereka menjadi kenyataan? Apakah sesuai dengan apa yang diketahui dari Kitab Suci?

Jika tanaman tidak menghasilkan buah anggur, itu bukanlah pokok anggur. Atau, tanaman yang sakit, menurut Yesus tidak akan menghasilkan buah yang baik. Lalu, apa tanda orang Kristen sejati?

  1. Hati orang percaya sejati berubah selamanya. Dalam Yeremia 32:39 Tuhan berkata, “Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian.” Orang munafik tidak pernah memiliki sifat yang berubah. Orang munafik menginginkan Kristus demi kebaikan yang dapat Ia lakukan bagi mereka di dunia. Namun, hati orang percaya sejati mengasihi Kristus sebagai harta yang memuaskan dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya.
  2. Perubahan hidup orang percaya sejati berasal dari hati yang mengasihi Kristus. Orang munafik dapat membersihkan perilaku lahiriah mereka agar dapat dilihat oleh manusia, untuk menenangkan hati nurani mereka yang gelisah, atau untuk menjaga diri mereka dari akibat dosa-dosa mereka. Namun, orang percaya sejati mengasihi Kristus dan menaati perintah-perintah-Nya demi Dia, untuk melayani Dia, untuk mengenal Dia, dan untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Mazmur 119:6).
  3. Orang percaya sejati mencari Kristus dan kerajaan-Nya di atas segalanya. Inilah satu hal yang diperlukan: persahabatan dan persekutuan dengan Kristus. Tetapi itu bukanlah “satu hal” dan pilihan yang memuaskan hati orang-orang munafik. Sebaliknya, orang-orang percaya sejati menginginkan agar “bagian yang lebih baik ini tidak akan pernah diambil dari mereka” (Lukas10:42).
  4. Orang percaya sejati tunduk kepada kebenaran Allah. Ia meninggalkan semua harapan pada dirinya sendiri dan kebenarannya sendiri, dan bersandar sepenuhnya pada kebenaran Kristus agar ia diterima di hadapan Allah. Orang percaya sejati bersandar pada Kristus dan Dia hanya sebagai Juruselamatnya. Orang-orang munafik tidak melakukan ini (Roma10:3). Mereka bergantung, dalam beberapa hal, pada kebenaran mereka sendiri.
  5. Orang percaya sejati percaya bahwa dirinya tidak berarti di hadapan Tuhan. Pertama, ia hancur hatinya dan dikosongkan dari kebenarannya sendiri sehingga membenci dirinya sendiri (Lukas 19:10). Kedua, ia menerima Kristus Yesus sebagai satu-satunya harta dan permata yang dapat memperkaya dan memuaskan (Matius 13:44). Ketiga, ia dengan tulus berusaha menaati seluruh perintah Kristus tanpa kecuali, menilai semua kehendak-Nya sebagai “kudus, benar dan baik” (Roma 7:12). Seorang munafik tidak mau melakukan hal-hal di atas dan mempunyai banyak alasan yang nampaknya rohani untuk tidak taat kepada-Nya.

Bila deru peperangan terdengar

“Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.” Markus 13:7

Mulai kemarin saya menjadi was-was membaca berita di media mengenai keadaan di Timur Tengah. Jika pertempuran di Gaza belum selesai, sekarang tentara Israel malah menyerbu Lebanon. Keadaan sekarang cukup prihatin karena ada kemungkinan bahwa perang ini akan menjadi makin besar dan melibatkan negara-negara lain termasuk negara-negara nuklir seperti Amerika, Rusia dan China. Sebagai orang Kristen saya percaya bahwa semua ini bukanlah kebetulan, tetapi apa yang bisa dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Walaupun demikian, sebagai manusia yang lemah saya tentu saya khawatir kalau-kalau ini merupakan awal perang dunia ke tiga. Untunglah, Alkitab memberi nasihat kepada saya untuk tetap percaya bahwa tangan Tuhan tetap memegang kontrol.

Markus 13:3–13 terjadi kurang dari seminggu setelah orang banyak berseru “Hosana!” dan mengelu-elukan Yesus sebagai Anak Daud, yang datang untuk memulihkan Israel dari para penindas Romawi (Markus 11:10). Sampai saat itu, para murid mengira Yesus menghabiskan tiga tahun terakhir mempersiapkan mereka untuk memerintah di istana kerajaan-Nya (Markus 10:35–45). Memang beberapa saat yang sebelumnya, Yesus menubuatkan bahwa bait suci dan Yerusalemlah yang akan dihancurkan, bukan orang Romawi (Markus 13:1–2). Para murid tentu saja bingung, bahkan saat Ia melanjutkan pesan-Nya dengan ramalan-ramalan lain yang mengerikan. Peringatan-peringatan Yesus juga dicatat dalam Matius 24:4–14 dan Lukas 21:8–19.

Hanya beberapa hari sebelum penyaliban, para murid memuji kemuliaan bait suci. Ketika Yesus memberi tahu mereka bahwa bait suci akan dihancurkan, mereka meminta tanda-tanda kehancuran yang akan datang itu dan kedatangan-Nya kembali (Matius 24:3). Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan informasi yang penting bagi orang percaya di akhir zaman, dan kapan pun. Kesusahan Umat Kristen akan menghadapi kesulitan dan kekerasan yang mengerikan, seperti halnya umat beriman di era mana pun, tetapi mereka harus ingat bahwa kesulitan itu tidak akan berlangsung lama. Yesus akan kembali begitu cepat, dan dengan itu setiap upaya untuk hidup sesuai aturan dunia akan sia-sia.

Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas telah bertanya kepada Yesus tentang tanda-tanda apa yang akan mendahului kehancuran Bait Suci (Markus 13:4) serta kedatangan-Nya kembali dan akhir zaman (Matius 24:3). Yesus memulai dengan peristiwa-peristiwa yang bukan merupakan tanda-tanda tersebut: Ia menjelaskan peristiwa-peristiwa buruk di dunia yang tidak menyiratkan bahwa akhir zaman sudah dekat. Kristus menjelaskan bahwa hanya karena dunia menjadi berbahaya, atau “lebih buruk,” tidak secara otomatis berarti akhir zaman sudah dekat. Sekalipun kita merasa harinya sudah dekat, tetapi kita tahu bahwa kita tetap harus berjuang untuk menjadi umat Tuhan yang baik dan setia dalam hidup kita.

“Perang” berarti pertempuran aktif di tempat tinggal Anda sementara “desas-desus tentang perang” mengacu pada pertempuran yang Anda dengar tetapi tidak secara langsung memengaruhi Anda. Perang yang tak terhitung jumlahnya telah terjadi dalam dua ribu tahun terakhir. Diperkirakan 123 juta orang telah tewas dalam sekitar tiga puluh perang di abad ke-20. Tetapi bahkan jika perang nuklir di seluruh dunia terjadi besok, itu belum tentu berarti bahwa Yesus akan segera kembali.

Perang dan desas-desus ini perlu. Sebagian besar dari kita tidak tahu mengapa Tuhan menggunakan tragedi perang untuk menyiapkan rencana-Nya. Kita tahu bahwa Perang Dunia II mengakibatkan terbentuknya kembali bangsa Israel. Tentu saja, kita sulit memahami bagaimana Tuhan dapat mengizinkan kekejaman seperti Holocaust atau perang parit di Perang Dunia I untuk rencana-Nya. Namun, kecenderungan kita sebagai manusia berdosa adalah bersikap kasar dan kejam terhadap satu sama lain. Sudah menjadi sifat Tuhan untuk memberikan kesempatan bagi penebusan manusia. Dia melakukan ini meskipun dan melalui dosa-dosa manusia sendiri. Sama seperti kekejaman manusia yang menyalibkan Yesus, kekejaman manusia di zaman sekarang pun akan mempersiapkan dunia bagi kedatangan Yesus kembali. Semua kejadian di dunia tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan dan seizin-Nya, sekalipun belum tentu Tuhan yang menyebabkannya. Karena itu janganlah kita gelisah, tetapi makin giatlah kita berdoa: “…datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”