Jika kita tidak percaya, itu adalah pilihan kita

“Lalu Ia menjawab: ”Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” Lukas 8:10

Lukas 8:4–15 memperkenalkan berbagai cara orang menanggapi Injil. Sang Penabur – Yesus -menyebarkan “benih” Injil, dan orang-orang menerima atau menolak pesan tersebut dalam tingkat yang berbeda-beda. Perumpamaan tentang penabur juga terdapat dalam Matius 13:1–23 dan Markus 4:1–20.

Dalam konteks percaya, banyak orang mengartikan ayat di atas bahwa Tuhanlah yang membuat orang tertentu untuk tidak percaya, supaya mereka bisa dihukum. Tetapi, itu bukanlah pengertian yang benar. Jika ada orang yang dihukum, pada akhirnya mereka akan mengerti bahwa mereka pantas dihukum karena apa yang dilakukan dalam hidup mereka. Mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan.

Ayat ini mempunyai dua konteks yang berbeda. Yang pertama adalah amanat Tuhan kepada nabi Yesaya dalam Yesaya pasal 6. Tuhan memerintahkan Yesaya untuk menyebarkan firman-Nya: peringatan kepada bangsa Israel bahwa jika mereka tidak berbalik dari dosa mereka akan dikirim ke pengasingan. Tuhan tahu bangsa Israel tidak mau mendengarkan, tapi Dia tetap mengutus Yesaya untuk pergi. Dengan melakukan hal ini, Tuhan membuktikan bahwa Dia melakukan upaya dengan itikad baik untuk menyelamatkan umat manusia dan Dia membuktikan bahwa bangsa Israel layak menerima hukuman pengasingan. Bangsa Israel tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang semena-mena.

Konteks kedua terdapat dalam perumpamaan tersebut. Yesus telah mengajarkan perumpamaan tentang penabur kepada banyak orang. Sekelompok kecil murid menanyakan kepada-Nya arti perumpamaan tersebut (Lukas 8:9); Matius mencatat bahwa mereka juga bertanya kepada-Nya mengapa Dia menggunakan perumpamaan (Matius 13:10).

Orang-orang yang mendengar Yesus diwakili oleh tiga jenis tanah (Lukas 8:5-7). Dengan berbicara dalam perumpamaan, Yesus memberikan ujian kepada orang-orang. Ada orang-orang yang mendengar Injil tetapi tidak berupaya untuk menanggapinya dengan serius dan membiarkannya mengubah hidup mereka. Jika mereka memilih untuk merenungkan perumpamaan tersebut dan menerima maknanya, mereka lulus ujian dan terbukti menjadi murid-murid-Nya. Jika perhatian mereka teralihkan oleh kesulitan dan kesenangan dunia, itulah keputusan mereka – mereka memilih untuk tidak mencoba memahami, dan karena itu mereka tidak akan memahaminya.

Apa yang terjadi di zaman Yesus berarti nubuatan Yesaya masih digenapi sampai sekarang – dimana-mana ada orang-orang yang masih menolak Firman Tuhan. Bahkan itu terjadi di gereja, di kalangan orang mengaku Kristen. Selama pelayanan-Nya, keluarga Yesus dan para imam serta orang-orang Farisi gagal dalam ujian tersebut. Namun keluarga-Nya dan banyak pemimpin agama kemudian menjadi percaya (Kisah Para Rasul 1:14; 6:7). Kondisi penolakan Kristus dapat bersifat sementara.

Lukas berfokus pada tanggung jawab manusia untuk mendengarkan ketika Firman Tuhan disampaikan. Mereka yang tidak mengikuti Kristus perlu mendengar bahwa keselamatan adalah bagi mereka yang bertobat dan percaya. Mereka yang ingin menjadi orang percaya, perlu mengalami pengudusan setiap hari melalui bimbingan Roh Kudus. Adalah penting untuk setiap orang Kristen untuk tidak mendukakan Roh KUdus yang akan membimbing mereka ke arah kebenaran.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Yohanes 16:13

Bagi kita, ini berarti kita perlu membaca Alkitab dan merenungkan apa yang dikatakannya serta melaksanakannya dalam hidup kita.. Mazmur 119:27 adalah sinopsis yang bagus dari pasal ini: “Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.” Inilah maksud Lukas dalam pasal ini. Kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri. Ketika Tuhan mengungkapkan kebenaran-Nya, kita bertanggung jawab untuk mendengarkan dan menerimanya, dan kemudian melaksanakannya. Tetapi, sebagian orang Kristen percaya bahwa sekali percaya, mereka akan tetap percaya sekalipun tidak melaksanakan firman-Nya.

Bangsa Israel pada zaman Yesaya mempunyai kebenaran Allah dalam Hukum Taurat, namun mereka menjalaninya dengan setengah hati. Mengikuti Tuhan dengan setengah hati itu berbahaya. Hal ini mungkin terlihat baik dari luar, namun hal ini menunjukkan iman yang sangat lemah sehingga tidak dapat menyelamatkan (Yakobus 2:26). Jadi, Tuhan menghilangkan sedikit pemahaman yang dimiliki bangsa Israel; seperti yang kemudian Yesus katakan,

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” (Lukas 8:18 ).

Orang Kristen yang bersikeras bahwa Allah tidak akan pernah menempatkan penghalang antara kebenaran dan manusia adalah orang yang memberontak; mereka bahwa Yesus adalah batu sandungan (1 Korintus 1:23). Memang benar bahwa Allah “sabar terhadap kamu, tidak menghendaki supaya ada yang binasa, tetapi supaya semua orang bertobat” (2 Petrus 3:9). Namun Dia juga mengatakan kepada para murid bahwa jika suatu kota tidak menerima kabar baik-Nya, para murid harus “mengebaskan debu dari kakimu sebagai kesaksian terhadap mereka” (Lukas 9:5).

Ketika seseorang dengan sengaja mengeraskan hatinya terhadap Tuhan, Dia berhak dan bisa menghilangkan hambatan itu. Hati yang mengeras, bukan kejahatan, adalah alasan Yesus berbicara dalam perumpamaan. Mereka yang hatinya melunak terhadap Kristus dan kebenaran-Nya, seperti para murid yang bertanya, akan mencari maknanya dan menghasilkan buah (Lukas 8:8). Mereka yang memiliki hati yang keras tidak akan membiarkan Firman Tuhan masuk ke telinga mereka, mengabaikan semua itu dan malah membiarkan musuh mengambilnya (Lukas 8:5). Bagi mereka ini sampai akhir hidup tidak akan ada karunia untuk mengerti arti kebenaran.

Kata “rahasia” mengacu pada sesuatu yang bersifat pribadi, atau tidak diungkapkan, yang berasal dari pengetahuan Tuhan. Sekalipun hati seseorang lembut terhadap kebenaran Tuhan, bukan berarti kebenaran itu mudah dipahami secara perorangan. Para murid menanyakan maksud Yesus, dan Dia memberikannya (Lukas 8:11-15). Saat ini, setiap orang percaya memiliki Roh Kudus (1 Korintus 2:10-16), dan Tuhan telah memberikan itu kepada sanak keluarga dan teman-teman yang sudah percaya. Sejak hari pertama, gereja mengandalkan komunitas dan pengajaran para pemimpin untuk mengungkapkan kebenaran-Nya (Kisah Para Rasul 2:42). Oleh karena itu, setiap orang yang ingin mengerti arti firman Tuhan haruslah mau untuk belajar bersama-sama dengan orang seiman, di persekutuan dan di gereja. Jika kita masih tidak percaya kepada kebenaran dan melaksanakannya, itu adalah pilihan kita. Kesabaran Tuhan ada batasnya.

Apakah Tuhan membuat orang ke neraka?

“Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.” Lukas 12: 45-46

Bacaan: Lukas 12:37-48

Hari Minggu ini saya ke gereja seperti biasanya. Apa yang tidak biasa adalah bahwa khotbah hari ini agaknya bernuansa lain. Faktanya, pendeta saya menyebutkan menyebut nama pendeta abad 18 yang terkenal, John Wesley, sebagai orang Kristen yang patut ditiru cara hidupnya karena beliau selalu siap menghadapi kedatangan akhir zaman. Beliau selalu tekun mengerjakan tugas sehari-hari tanpa memikirkan kapan Tuhan Yesus akan datang kembali.

Selalu siap untuk menghadap Tuhan adalah hal yang mungkin kurang dipikirkan orang Kristen di zaman ini. Karena tanda-tanda akhir zaman sudah dicanangkan sejak dulu, orang-orang di zaman ini mungkin berpikir bahwa mereka bisa hidup semaunya selagi masih bisa. Mengapa mereka hidup secara terang-terangan melanggar hukum Tuhan dengan berbagai perbuatan jahat, kekejaman, dan hawa nafsu? Apakah mereka ditakdirkan Tuhan untuk ke neraka?

Jika kita membaca ayat di bawah ini, mungkin kita bisa menemukan sebuah penjelasan, sekalipun ini bisa membuat kita bingung.

“Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.” 2 Tesalonika 2:9-12

Memang, ketika ayat 2 Tesalonika 2:9-12 dibahas, dinyatakan bahwa orang durhaka dihukum karena mereka tidak mau percaya kepada Tuhan. Kalau dibalik, tentunya orang dibebaskan dari hukuman karena mereka menerima dan mengasihi kebenaran (Kristus) yang dapat menyelamatkan mereka. Ini hanya bisa terjadi katena dimungkinkan oleh Tuhan. Lalu apakah Tuhan yang membuat orang tertentu tidak percaya?

Ayat-ayat dari Lukas dan Tesalonika di atas adalah bagian Alkitab yang sulit dimengerti oleh banyak orang Kristen. Apakah Tuhan menakdirkan sebagian manusia ke neraka dan orang lain ke surga? Bagi sebagian orang Kristen, ini adalah kebenaran – karena jika kita dapat diselamatkan semata-mata karena pilihan Tuhan, maka mereka yang tidak terpilih bisa dianggap “dipilih untuk ke neraka”. Masalahnya, apakah Tuhan hanya membuka dua kemungkinan. Apakah surga dan neraka itu seperti sebuah koin mata uang yang hanya memiliki dua muka?

Tokoh gereja John Wesley tidak berpikir demikian. Saya juga tidak berpendapat begitu. Ayat-ayat di atas jelas menggambarkan orang-orang, yang karena perbuatan mereka sendiri, akan masuk neraka, Dalam Lukas, digambarkan bahwa orang-orang yang dipilih sang tuan untuk menjadi hambanya ternyata berlaku kejam dan bermabuk-mabukan ketika tuannya tidak ada di rumah. Mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja melawan kehendak tuannya dan karena itu mendapat hukuman mati, supaya senasib dengan orang-orang jahat yang lain. Orang Kristen yang tidak setia, mendapatkan hukuman karena perbuatan mereka sendiri. Hamba-hamba, umat pilihan, yang tidak mau bertobat, akan sama nasibnya dengan orang yang tidak terpilih.

Ayat-ayat dari 2 Tesalonika kemudian menggambarkan bahwa ada orang -orang yang karena pekerjaan Iblis, bisa melakukan perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang lain. Orang-orang ini harus binasa bukan karena mereka disesatkan oleh iblis dan pengikutnya, tetapi karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran (Kristus) yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Tuhan membiarkan mereka sesat, sehingga mereka percaya akan dusta-dusta di atas. Dengan demikian, Tuhan akan mencapai rencana-Nya untuk menghukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang lebih suka melakukan kejahatan.

Dari Lukas 12 dan 2 Tesalonika 2, dapat disimpulkan bahwa sekalipun ada orang-orang yang tidak dipilih Tuhan untuk ke surga (Tuhan memiliki hak untuk memilih mereka yang akan ke surga dan mereka yang tidak akan ke surga), tetapi semua orang yang gagal untuk menjadi hamba yang setia dan takut akan Tuhan, dihukum karena mereka tidak mau menerima dan mengasihi Tuhan yang berkuasa atas diri mereka, Hamba-hamba yang dipilih Tuhan, tapi pada kenyataannya lebih senang untuk menjadi orang-orang durhaka, yang asusila, dan yang sengaja hidup dalam dosa, akan menerima nasib yang sama dengan orang-orang yang tidak terpilih.

Jika ada hamba-hamba yang tahu akan kehendak Tuhan tetapi sengaja melanggarnya, hukuman yang berat akan menunggu. Lalu bagaimana nasib mereka yang kurang tahu akan kehendak Tuhan? Lukas 12: 47-48 menyatakan:

“Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

Jika kita sudah lama menjadi orang Kristen, rajin ke gereja tetapi tetap hidup dalam dosa, sudah tentu tidak ada alasan bagi kita untuk menolak hukuman Tuhan! Kutukan kekal, sebagaimana disebutkan dalam Markus 3:29, adalah konsekuensi dari penolakan atas dorongan batin dari Roh Kudus untuk bertobat dari dosa dan percaya kepada Yesus Kristus.

”Tetapiw apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Markus‬ ‭3‬:‭29‬

Apakah yang akan terjadi pada orang-orang yang selama ini dengan sadar memilih hidup di luar Tuhan? Ayat 2 Tesalonika 2: 11-12 menyatakan bahwa Tuhan mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya bahwa apa yang mereka rasakan dan nikmati adalah baik. Mereka yang lebih suka hidup dalam dosa akan dibiarkan Tuhan untuk hidup makin sesat, sehingga pada akhirnya mereka tidak dapat menerima pengampunan.

Lalu, apakah orang-orang yang durhaka tidak lagi mempunyai harapan? Apakah tidak ada gunanya bagi kita untuk mengingatkan dan mendoakan mereka? Teolog terkenal John Piper membahas pertanyaan ini dan menyatakan bahwa siapa pun yang mau bertobat akan mendapat pengampunan. Hamba yang sudah bersalah kepada tuannya mungkin tidak akan dihukum berat jika ia mengakui kesalahannya dan menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya atas kesalahannya. Semua orang yang bertobat dan menerima Kristus akan diselamatkan.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Alkitab sudah memberitakan bahwa sebagai orang Kristen kita harus selalu berjaga-jaga, tanpa memikirkan kapan Yesus akan datang. Kita harus siap setiap waktu karena kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Kita sebaliknya tahu bahwa karena kita mengaku Kristen dan mengetahui apa yang sudah difirmankan Tuhan, kepada kita diberikan tanggungjawab yang lebih besat untuk hidup dalam kebenaran setiap hari. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi banyak pengetahuan tentang kebenaran Kristus, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Karena itu, baiklah kita menggunakan hidup kita untuk bekerja keras dan menghindari dosa demi kemuliaan Tuhan.


Sumber damai sejahtera

“Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.” 2 Tesalonika 3:16

Kitab 2 Tesalonika 3:16–18 mengakhiri surat Paulus yang kedua kepada jemaat Tesalonika dengan sebuah doa, sebagai tanda bahwa suratnya asli dan bukan palsu, dan merupakan ucapan syukur. Surat Paulus ini sebenarnya dimulai dengan kecaman terhadap para pengacau gereja, namun justru diakhiri dengan pujian, ketika Paulus menyerahkan gereja kepada Tuhan dan kasih karunia-Nya.

Dalam ayat ini Paulus memohon kepada Tuhan, yang merupakan sumber kedamaian (Yohanes 14:27; Roma 5:1), untuk memberikan kedamaian-Nya kepada gereja di Tesalonika. Gereja sedang mengalami pencobaan, penganiayaan, dan masalah di dalam. Hal ini disebabkan oleh beberapa anggota yang tidak tertib, namun damai sejahtera Tuhan dapat menyelimuti jemaat dan menenangkan para anggotanya. Keinginan Paulus adalah agar damai sejahtera Tuhan senantiasa menyertai gereja dan dalam segala situasi.

Menarik untuk dicermati bahwa ia berdoa bukan hanya agar damai sejahtera Tuhan menyertai jemaat Tesalonika, namun juga agar “Tuhan damai sejahtera” menyertai mereka secara perseorangan. Lebih lanjut, ia berdoa agar perdamaian ini menyertai “sekalian” umat beriman di Tesalonika.

Di awal suratnya, Paulus merujuk pada rekan-rekan Kristen yang berbuat dosa karena kemalasan dan gosip. Bagaimanapun juga, doa ini ditujukan untuk orang-orang yang bermalas-malasan dan juga untuk orang-orang Kristen yang taat. Itu untuk mereka yang melalaikan tugas dan juga para pekerja yang giat.

Jika Gereja yang penuh damai mengalami sukacita Tuhan serta kedamaian-Nya (Filipi 4:2-7), gereja bisa memberikan kesaksian yang baik kepada mereka yang terhilang (Filipi 2:14-15). Begitu juga, orang Kristen yang merasakan kedamaian dalam Tuhan bisa menjadi saksi yang hidup untuk orang di sekitarnya. Tetapi ini tidak mudah dijalankan.

Dalam hidup, kebanyakan orang tentu pernah merasa takut dan kuatir. Rasa takut dan kuatir adalah salah satu mekanisme pertahanan diri manusia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, mereka yang kurang bijak, mungkin memilih hidup semaunya sendiri. Mereka mungkin jarang terlihat kuatir atau takut, tetapi jika mereka mengalami kejadian yang benar-benar menakutkan dan di luar dugaan, mereka tidak akan bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang mahakuasa untuk menghilangkan rasa takut mereka.

Sebagai orang Kristen, rasa takut, kuatir dan bimbang tetap ada. Kita mungkin berusaha mengingatkan diri kita sendiri ketika kita putus asa, “Jangan putus asa, Jangan cemas, Jangan takut, Tuhan akan menyertaimu kemanapun kamu pergi” . Jika Anda bisa mengucapkan kata-kata itu dan mengingatnya karena itu berasal dari janji di dalam Alkitab, Anda akan bisa juga berkata, “Terima kasih Tuhan. Saya akan mengambil langkah dengan keyakinan di masa depan.” Dan pada saat itu suatu ketenangan batin telah Anda nikmati, dan persekutuan dengan Tuhan telah Anda alami. Tetapi itu lebih mudah untuk dibayangkan daripada untuk dirasakan. Damai sejahtera memang tidak dapat diusahakan, itu harus diminta dari sumbernya.

Hari ini kita membaca kata-kata yang memberi semangat dan penghiburan yang diucapkan oleh Paulus kepada kita. Jika Kristus adalah kebenaran kita, Kristus adalah penolong kita yang selalu hadir pada saat kesusahan; dan Kristuslah yang kasih karunia-Nya selalu mencukupi segala kebutuhan kita setiap hari, karena Kristuslah yang menjadi pelindung kita.

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41:10

Tuhan adalah pelindung kita

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8:31

Siapa pun orangnya, pasti ia pernah merasakan kesengsaraan. Anda percaya itu? Mungkin Anda membantah dengan memberikan sebuah contoh di mana sesorang nampaknya selalu hidup dalam kecukupan, untuk tidak dikatakan dalam kelimpahan, dan keluarganya terlihat hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Tetapi, itu mungkin bukan kisah kehidupan manusia yang benar-benar terjadi di dunia. Mungkin hanya ada dalam cerita saja, sebab Alkitab menyatakan dengan jelas:

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh m engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3: 17-19

Selama di dunia, hidup anak Tuhan juga tidak luput dari kesusahan dan kematian, tetapi dalam Roma 8 ada pernyataan tentang keamanan mutlak umat Kristen di hadapan Allah. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya Injil, kita sekarang hidup di dalam Roh Allah. Itu memungkinkan kita menyebut Tuhan sebagai Abba atau Bapa. Saat ini, kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama seluruh ciptaan sementara kita menunggu Allah menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan bantuan Roh, kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita dan mengasihi kita di dalam Kristus, sekalipun hidup kita terasa berat.

Jika penderitaan karena sakit, kemiskinan dan kelaparan mungkin lebih sering menimpa mereka yang hidup dalam kekurangan, bencana alam atau peperangan, kesulitan hidup bisa juga terjadi karena adanya orang-orang yang memusuhi kita. Tentu saja, siapa pun mungkin menentang kita; karena secara harfiah, orang atau kelompok mana pun mungkin mencoba menentang atau menyusahkan kita karena berbagai hal seperti perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan. Selain itu, dalam kehidupan keluarga, kita mungkin juga merasakan adanya pertentangan dengan saudara, orang tua, anak, menantu dan sebagainya.

Dalam hal ini, pertanyaan Paulus adalah siapakah yang bisa melawan kita jika kita hidup dalam terang-Nya? Apa yang ingin dicapai oleh orang yang menentang kita, jika Tuhan sendiri ada di pihak kita? Apakah ada kemungkinan seseorang dapat menggagalkan maksud Allah untuk menyelamatkan mereka yang dibenarkan karena iman kepada Anak-Nya? Pertanyaan ini bersangkutan dengan pertanyaan utama: apakah kita percaya Tuhan benar-benar ada untuk kita? Paulus menawarkan jawaban pasti atas pertanyaan itu dalam ayat-ayat berikut.

Roma 8:31-39 adalah ayat-ayat yang paling membesarkan hati dan meneguhkan dalam seluruh Firman Allah. Paulus telah menegaskan bahwa Allah ada bagi kita semua yang ada di dalam Kristus; bagi mereka yang telah diselamatkan oleh iman mereka. Tuduhan atau tuduhan apa pun terhadap kita tidak dapat menjatuhkan kita karena Allah telah menyediakan pembenaran kita dan Kristus menjadi perantara bagi kita. Hal-hal sulit memang akan terjadi selama kita hidup di dunia. Namun, tidak satu pun dari hal-hal tersebut yang akan membuat Bapa kita berhenti mengasihi kita, juga tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang merupakan tanda bahwa Dia telah meninggalkan kita. Keselamatan kita terjamin sepenuhnya karena kasih-Nya yang besar, dan itu kekal adanya. Sekali selamat tetap selamat.

Paulus terus memberikan dorongan kepada orang-orang Kristen di sisi kekekalan ini. Benar bahwa kita menderita, sama seperti seluruh ciptaan, saat kita menunggu untuk dimuliakan bersama Tuhan selamanya. Meskipun kita menderita, bukan berarti Tuhan tidak menyertai atau mendampingi kita. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus telah menunjukkan bahwa Allah sedang bekerja untuk menyelesaikan suatu tujuan dalam diri kita yang telah Ia rencanakan bahkan sebelum Ia membentuk dunia.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Efesus 1:4

Sekali lagi, dalam ayat ini, Paulus berbicara dari sudut pandang orang percaya Kristen yang sudah diselamatkan. Yang dimaksud dengan “kita” di sini tidak mencakup seluruh umat manusia, tetapi hanya mereka yang telah menerima Kristus dalam iman. Tujuan Tuhan dalam memilih kita adalah unyuk menjadikan kita serupa dengan Kristus, dan Allah menggunakan “segala sesuatu” untuk menyelesaikan proses ini.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Mengingat fakta bahwa Allah telah mengenal kita dari awalnya, Dia menentukan nasib kita, memanggil kita, membenarkan kita, dan akan memuliakan kita, Paulus sampai pada kesimpulan yang tidak dapat disangkal: Allah pasti ada di pihak kita. Allah harus ada bagi kita semua yang ada di dalam Kristus karena iman. Sungguh pemikiran yang luar biasa dan mengubah hidup. Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala sesuatu, diperuntukkan bagi kita. Dengan Dia di pihak kita, siapakah yang mungkin bisa melawan kita?

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30

Antara orang dalam dan orang luar

“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Kolose 4:5-6

Dalam ayat di atas ada kata “orang-orang luar”. Apa maksudnya? Apakah itu orang-orang yang tidak termasuk segolongan, serumah, sekawan, sekantor dan sebagainya? Ya, memang dengan adanya kata “orang luar” tentunya ada kata “orang dalam”, yaitu orang yang kita kenal dengan baik, yang bisa kita percaya. Tetapi, itu bukan maksud ayat di atas. Kata “orang luar” di atas ditujukan kepada orang yang belum percaya kepada Kristus, yang dalam kenyataannya bisa saja adalah sanak saudara kita yang kita kenal sebagai “orang dalam” dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang sering menimbulkan masalah dan kesedihan bagi orang Kristen yang berusaha membawa sanak saudara dan teman-teman ke arah pengenalan akan Yesus, Sang Juruselamat.

Ayat di atas juga bisa membawa kebingungan bagi kita karena Paulus mengajak kita untuk memberi perhatian kepada orang luar. Bukankah kita tidak perlu memikirkan hidup orang luar jika kita ingin mengikut Dia? Dalam hal ini, Yesus pernah berkata bahwa Ia membawa perpecahan di antara orang-orang dalam karena siapa yang mau mengikut Dia, tidak boleh mengutamakan sanak saudara.

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:34-37

Perintah Paulus sudah tentu berhubungan dengan misi orang percaya. Amanat Agung dari Yesus menyatakan bahwa sesudah menjadi “orang dalam”, kita harus mau membetitakan Injil kepada orang luar.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 26:19

Bagaimana kita bisa bergaul dan berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di luar Kristus? Salah satu bagian dari pemberitaan Injil (Kolose 4:3-4) bisa dijumpai dalam tindakan orang percaya terhadap orang yang tidak percaya. Dua prinsip penting disajikan di sini.

Pertama, kebijaksanaan atau kearifan harus digunakan sehubungan dengan tindakan kita terhadap orang-orang yang tidak percaya. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan harus konsisten, seiring berjalannya waktu, dan satu sama lain, agar pesan Yesus dapat disampaikan dengan jelas.

Sejauh ini, Paulus menggambarkan penginjilan sebagai sebuah karya doa (Kolose 4:2-3), sebuah karya komunikasi yang jelas (Kolose 4:4), dan sebuah hikmah, serta pemanfaatan setiap kesempatan (Kolose 4:5). ). Prinsip kelima untuk penjangkauan yang efektif diberikan di sini, gagasan tentang ucapan yang ramah atau baik hati. Sekalipun mereka yang belum mengenal Kristus tidak menyenangi kita, kita tetap harus mau melakukan pendekatan dengan kasih.

Paulus dalam ayat di atas menggunakan metafora garam. Garam, pada zaman Paulus, cukup berharga untuk digunakan sebagai uang, dan dihargai karena kemampuannya mengawetkan dan memberi rasa pada makanan. Dengan cara yang sama, perkataan seorang Kristen harus bermanfaat dan berharga, “diberi rasa” yang berbeda dari ucapan orang-orang yang tidak beriman, dan melestarikan pesan Kristus. Cara hidup dan tindakan kita yang bisa terlihat atau dirasakan orang lain tidak boleh terasa hambar bagi mereka.

Adanya tambahan garam tentu mengubah rasa makanan. Dalam hal ini, penggunaan metafora ini oleh Paulus mempunyai lebih dari satu makna. Perkataan orang percaya adalah untuk melestarikan pesan Kristus, membantunya menjangkau sebanyak mungkin orang secara efektif. Apa yang dikatakan oleh seorang Kristen harus memberi nilai tambah pada percakapan; kata-kata kita harus membangkitkan semangat atau membantu. Dengan demikian, kebenaran kehidupan Kristen kita yang telah diperbarui harus terlihat jelas dalam “rasa” yang berbeda dalam cara kita berbicara dan bertindak. Orang Kristen adalah orang dalam persekutuan dengan Kristus, dan karena itu tidak mungkin tetap hidup bergelimang dalam dosa seperti orang-orang luar. Orang Kristen yang tidak dapat menunjukkan terang Kristus adalah orang-orang Kristen palsu yang justru menjauhkan orang-orang luar dari pintu masuk kerajaan surga.

Prinsip kedua, Paulus juga menyatakan bahwa orang-orang dalam harus memanfaatkan waktu yang ada secara efektif. Beberapa terjemahan mengartikan frasa ini sebagai “memanfaatkan setiap peluang sebaik-baiknya”. Setiap momen kehidupan kita adalah penting dan harus dimaksimalkan dalam pelayanan kepada Kristus. Lebih dari kebanyakan orang, Paulus sangat menyadari hal ini, karena dia telah dipukuli, dipenjarakan, dan mengalami karam kapal selama pelayanannya. Perspektif ini mengilhami Paulus untuk dengan berani dan bersemangat memberitakan kabar baik tentang iman kepada Yesus kepada orang-orang yang belum percaya.

Menggunakan waktu yang ada untuk memberitakan Injil adalah bagian penting dari kehidupan kita karena waktu yang kita punyai adalah singkat. Baik karena kecelakaan, peristiwa alami, atau kedatangan Kristus kembali, setiap orang dapat bertatap muka dengan Tuhan kapan saja. Orang-orang percaya harus dimotivasi oleh pengetahuan bahwa orang-orang luar yang ada di sekitar kita, dan itu termasuk anggota keluarga kita, akan mati terpisah dari Kristus kecuali mereka mendengar dan menerima Injil.

Aspek penting dari penginjilan adalah kemampuan menjawab pertanyaan orang-orang luar dengan ramah. Petrus juga mencatat pentingnya bidang pelayanan ini, dengan mengatakan:

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” 1 Petrus 3:15

Mengkomunikasikan Kristus mencakup penyampaian Injil yang positif dan kemampuan untuk mempertahankannya (Titus 1:9). Pengetahuan belaka bukanlah satu-satunya hal yang diperlukan. Untuk memberikan jawaban dengan cara yang benar-benar “Kristen”, seseorang harus menyampaikan kebenaran dengan kata-kata yang tepat dan sikap hidup yang benar.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Apakah Tuhan selalu mengabulkan doa kita?

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” Matius 7:7-8

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga pasal yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak mengucapkan penilaian yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Allah sebagai Bapa yang murah hati dan ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka memintanya.

Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk meminta, mencari, dan mengetuk, dengan janji bahwa setiap perbuatan akan mendapat pahala. Dia memperjelas bahwa Dia berbicara tentang doa: meminta dari Bapa, mencari dari Bapa, secara simbolis mengetuk pintu Bapa. Beberapa komentator berpendapat bahwa kata-kata ini menyiratkan suatu peningkatan usaha. Ada kemungkinan bahwa “meminta” berarti membuat permintaan, “mencari” berarti kegigihan atau semangat, dan “mengetuk” berarti kegigihan yang terus menerus.

Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang meminta kepada Tuhan akan menerima jawaban. Setiap orang yang mencari Dia akan menemukan Dia. Pintu dibukakan bagi siapa saja yang mengetuk. Dengan melibatkan semua orang, Yesus menunjukkan bahwa respons Allah terhadap doa tidak didasarkan pada kebaikan orang yang berdoa, namun pada kebaikan Allah. Kita semua tahu bahwa di antara semua orang, ada yang tidak layak. Tuhan tahu bahwa semua orang tidak layak. Yesus menunjukkan bahwa Bapa-Nya tidak hanya menjawab doa-doa orang yang super religius, seperti orang Farisi (Matius 5:20). Dia siap menjawab permohonan, pencarian, dan ketukan tulus setiap umat-Nya. Hanya saja, kita harus sadar bahwa jawaban Bapa belum tentu sama dengan yang kita harapkan.

Kebanyakan orang sering berdoa ketika perlu untuk mendapatkan apa yang diingininya. Itu mungkin kesembuhan, perlindungan, keberhasilan dan sebagainya. Hal ini bisa dimaklumi karena manusia pada umumnya tidak menyadari bahwa mereka seharusnya berdoa untuk apa yang dibutuhkannya. Manusia sering tahu apa yang diingini, tetapi tidak sadar akan apa yang dibutuhkan. Tuhanlah yang sepenuhnya tahu apa yang kita butuhkan dan Ia selalu memberikannya pada waktu yang tepat.

Ada orang yang menyamakan doa dengan restu, permohonan, ucapan kasih dan lain-lain. Karena itu banyak “doa” yang diucapkan orang yang berisi kata-kata yang indah dan membawa harapan. Tetapi, bagi orang Kristen doa adalah sebuah komunikasi manusia dengan Allah Sang Pencipta melalui Yesus Sang Penebus. Dengan demikian, untuk bisa berdoa dengan efektif tentunya orang harus mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan dan menyadari kedudukannya di hadapan Dia yang mahabesar. Doa yang sedemikian memang dapat membawa banyak kebaikan.

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 16

Jika Tuhan menghendaki kita berdoa kepadaNya, itu sudah tentu berguna untuk memupuk hubungan yang baik dengan Dia. Dengan hubungan yang baik itu, kita bisa mengerti kasihNya yang besar yang menyertai kita setiap saat. Selanjutnya, kita bisa mengerti apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita dan menyadari apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam hidup, dan bukan apa yang kita ingini.

Mungkin Anda pernah membaca bahwa Paulus ingin agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan fisik yang ada sejak lama. Ia tiga kali berseru kepada Tuhan untuk menolongnya, tetapi Tuhan tidak menuruti permohonannya. Mengapa demikian? Dari ayat itu juga kita membaca bahwa apa yang diingini Paulus bukanlah apa yang dikehendaki Tuhan. Paulus berdoa untuk apa yang diingininya, tetapi Tuhan memberi apa yang dibutuhkannya.

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 8 – 9

Dalam penderitaannya Paulus membutuhkan kekuatan dari Tuhan. Dalam keadaan sedemikian, apa yang ia perlukan adalah keyakinan bahwa Tuhan mengasihi dia dan menguatkan dia. Karena itu Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” Sebab itu Paulus tidak bersedih hati ketika doanya tidak mendatangkan apa yang diingininya. Sebaliknya ia bermegah atas kelemahannya, karena ia bisa merasakan kuasa Kristus yang turun menaungi dia.

Pagi ini, jika anda ingin berdoa kepada Tuhan karena adanya sesuatu yang diminta, biarlah itu disampaikan karena adanya hubungan yang baik antara anda dengan Tuhan. Dengan bimbingan Tuhan, anda akan dapat melihat perbedaan antara apa yang anda inginkan dan apa yang anda butuhkan. Apa yang anda butuhkan adalah sesuatu yang memperkuat hubungan antara anda dengan Tuhan. Sebaliknya, apa yang anda inginkan mungkin justru bisa menjauhkan anda dari kasih karunia dan penyertaanNya. Tuhan yang mahakasih tahu apa yang terbaik untuk kita semua.

“Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 8

Kita bertanggungjawab atas cara hidup kita

“Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Matius 13:15

Sekelompok besar orang mengikuti Yesus dari tempat Dia mengajar di akhir pasal sebelumnya ke tepi Laut Galilea. Begitu banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya sehingga mereka semua tidak dapat melihat dan mendengar-Nya. Untuk mengatasi hal ini, Yesus naik perahu dan duduk agak jauh dari pantai. Orang banyak berdiri di pantai dan mendengarkan ketika Dia mulai mengajar mereka dalam perumpamaan yang kita kenal sebagai perumpamaan tentang seorang Penabur (Matius 13:1–3).

Perumpamaan biasanya merupakan cerita pendek yang dirancang untuk menekankan kebenaran yang lebih besar. Tujuan utama perumpamaan adalah untuk membuat gagasan besar atau abstrak lebih mudah dipahami. Dengan menghubungkan sesuatu dengan pengalaman yang lebih umum, perumpamaan membuat konsep yang lebih dalam menjadi lebih mudah diakses. Pada saat yang sama, karena mengandalkan simbolisme dan metafora, perumpamaan bisa saja menjadi agak kabur. Para murid meminta Yesus untuk menjelaskan setidaknya satu hal kepada mereka, dan itulah yang Dia lakukan dalam pasal ini.

Namun, Yesus sengaja menghindari menjelaskan arti perumpamaan tersebut kepada orang banyak. Dia memberi tahu para murid bahwa telah diberikan kepada mereka untuk mengetahui rahasia kerajaan surga. Pada waktu itu, Israel pada umumnya, terutama para pemimpin agamanya, menolak peran Yesus sebagai Mesias dan kebenaran bahwa mukjizat-mukjizat-Nya dilakukan dengan kuasa Tuhan. Oleh karena itu, Yesus berkata bahwa mereka akan menggenapi nubuat nabi Yesaya tentang orang-orang yang berhati tumpul yang tidak mau melihat, mendengar, atau memahami. Idenya adalah bahwa ada orang-orang dari awalnya menolak, dan sebagai tanggapannya, Tuhan membiarkan kesalahpahaman mereka sebagai bentuk penghakiman. Namun, murid-murid Kristus diberkati karena dapat melihat dan mendengar apa yang ingin dilihat dan didengar oleh banyak nabi dan orang benar sepanjang sejarah Israel (Matius 13:10–17).

Baik Yesaya maupun Yesus menjelaskan dua pesan utama. Pertama, masyarakat, termasuk para pemimpin agama, menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias meskipun telah mendengar perkataan-Nya dan melihat mukjizat-mukjizat-Nya. Kedua, dan oleh karena itu, Tuhan telah memastikan mereka tidak akan bisa percaya meskipun mereka telah mendengar Yesus mengajar dalam perumpamaan dan melihat mukjizat lebih lanjut. Manusia harus bertanggung jawab karena menolak memahami apa yang sudah jelas, dan sebagai akibatnya, Allah bertindak untuk menghalangi mereka untuk memahami hal tersebut di masa depan (Amsal 29:1).

Matius mencatat bahwa Yesus kemudian mengajar orang banyak melalui perumpamaan, sebagian untuk menggenapi pernyataan nubuat dalam Mazmur 78 (Matius 13:34–35). Ajaran spesifik ini berada dalam konteks respon Israel terhadap pelayanan Yesus. Meskipun ada persamaan yang berguna mengenai bagaimana Injil diterima atau ditolak, tujuan utama dari ajaran-ajaran ini bukanlah untuk memberikan ujian bagi keselamatan. Perumpamaan tentang penabur, khususnya, sering disampaikan dalam upaya untuk menjelaskan semacam “spektrum keselamatan”, yaitu beberapa macam tingkat keselamatan – dari yang tertinggi sampai yang tidak beremakna – namun ini bukanlah maksud dari pesan Yesus tersebut.

Perumpamaan pertama yang diajarkan kepada orang banyak adalah tentang seorang penabur yang sedang menanami ladang. Untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal, petani akan menebarkan benih tepat di tepi tanah yang telah disiapkan. Jadi, sebagian benih jatuh di jalur yang padat dan belum siap untuk ditanam; burung memakannya. Benih lainnya mendarat di tanah yang tipis dan mulai tumbuh, namun batuan di bawahnya menghambat pertumbuhan; kecambah itu mati karena gelombang panas. Benih-benih lainnya jatuh di antara duri-duri yang mencekik tanaman saat mereka tumbuh, sehingga menghambat pertumbuhannya. Akhirnya, beberapa benih mendarat di tanah yang subur dan bertumbuh dan memberikan hasil yang sangat besar (Matius 3:3-9).

Yesus menjelaskan—hanya kepada murid-murid-Nya—bahwa benih melambangkan firman kerajaan. Mereka yang tidak memahaminya adalah tanah yang keras di jalan tersebut. Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang keras kepala atau menentang, dan pesan-Nya bahkan tidak pernah bisa menembus ke permukaan. Bagaimana ini bisa terjadi tanpa seizin Yesus sendiri? Jika Yesus mahakuasa, tentu fiman-Nya akan bisa menerobos tembok hati setiap orang, kecuali Ia memang tidak bermaksud untuk memaksakan hal itu. Setan kemudian merenggut apa yang dikabarkan Yesus itu seperti seekor burung yang menyambar benih. Itu pun tentu dengan seizin Yesus.

Tanah berbatu melambangkan mereka yang tampaknya menerima kebenaran, namun tanpa kedalaman apa pun. Begitu kesulitan datang, mereka layu dan gagal. Duri mewakili persaingan kepentingan dunia, seperti uang dan kemasyhuran. Kehidupan yang terhimpit oleh gangguan-gangguan tersebut tidak mempunyai ruang untuk membiarkan kebenaran berkembang. Tanah yang baik adalah mereka yang menerima firman dan produktif dengannya, seperti yang dikehendaki oleh Sang Penabur (Matius 13:18-23).

Ketika Yesus bertanya kepada murid-muridnya apakah mereka memahami semua yang Dia katakan, mereka menjawab “ya”. Mereka tentu lebih paham tentang bagaimana kerajaan Tuhan itu nantinya, dibandingkan dengan apa yang mereka ketahui sebelumnya. Meskipun para murid bersikeras bahwa mereka tahu persis apa yang Yesus katakan, kejadian-kejadian selanjutnya dalam Injil Matius menunjukkan bahwa mereka masih kurang memahami sepenuhnya (Matius 13:51–52; 16:21–23; 26:6–13). Walaupun demikian, bagi orang-orang yang sudah dipilih-Nya, Yesus selalu mau membimbing mereka agar mereka makin dewasa dalam iman dan pengertian.

Bab ini diakhiri dengan perjalanan ke kampung halaman Yesus di Nazaret, di mana orang-orang menolak Dia meskipun Dia mempunyai hikmat dan mukjizat yang Dia lakukan. Karena mereka mengenal Dia—atau, lebih tepatnya, mengira mereka mengenalnya—mereka bahkan menolak untuk mempertimbangkan informasi baru. Faktanya, mereka terhina karena anggapan bahwa seseorang yang mereka anggap remeh ternyata begitu penting. Karena orang-orangnya tidak tulus dan tidak tertarik (Matius 7:6), Yesus hanya melakukan sedikit pekerjaan supranatural di sana (Matius 13:53–58). Orang-orang itu harus bertanggungjawab atas penolakan mereka.

Roma 1:20-21 memberi tahu kita bahwa sifat-sifat Allah yang tidak terlihat (kuasa-Nya yang kekal dan hakikat ilahi-Nya) jelas terlihat oleh semua orang, dan kita tidak punya alasan untuk tidak mengenali kehadiran-Nya. Pekerjaan regeneratif Roh Kudus mempersiapkan tanah—tanah di mana Injil diterima, ditaati, dan bertumbuh (Yohanes 16:8). Tetapi, mereka yang tidak mau mengakui adanya Allah yang berkuasa dalam hidup mereka, adalah orang-orang yang terus menerus menolak kebenaran, dan karena itu Allah berhak untuk menolak mereka.

Roma 9:17-18 menyatakan, “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: “Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.” Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan u hati siapa yang dikehendaki-Nya” Dari sudut pandang manusia, tampaknya salah jika Tuhan mengeraskan seseorang lalu menghukum orang yang telah dikeraskan-Nya. Namun secara alkitabiah, kita semua telah berdosa terhadap Allah (Roma 3:23), dan hukuman yang setimpal untuk dosa tersebut adalah kematian (Roma 6:23). Oleh karena itu, kekerasan dan hukuman yang dilakukan Tuhan terhadap seseorang bukanlah sesuatu yang tidak adil; itu sebenarnya penuh belas kasihan dibandingkan dengan apa yang pantas diterima seseorang dalam hidupnya.

Siapakah orang-orang yang sudah mengeraskan hati mereka sehingga Tuhan tidak lagi mau untuk mengingatkan mereka? Anda mungkin mengira bahwa mereka adalah bukan orang Kristen. Tetapi kita harus berhati-hati, karena jika kita tidak benar-benar percaya kepada Yesus dan berusaha untuk taat kepada-Nya, mungkin saja kita adalh tanah yang tidak berguna. Dalam hal ini, orang-orang yang mendengarkan pemberitaan Firman Tuhan setiap minggu pun mampu mengeraskan hati mereka terhadap kebenaran yang mereka dengar. Mereka datang ke gereja, menengarkan firman, pulang ke rumah masing-masing, tetapi hidup mereka tidak pernah berubah. Mereka yang bukan tanah yang baik adalah orang-orang yang hanya berpura-pura atau merasa bahwa mereka adalah tanah yang subur. Mereka harus bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat selama hidup di dunia.

Ibadah belum tentu membawa kedamaian

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Bacaan: 1 Timotius 6: 6 – 10

Timotius pasal 6 melengkapi instruksi Paulus yang sangat praktis kepada teman dan muridnya, Timotius. Fokus utama dari bagian ini adalah perilaku Kristen yang baik, dan menghindari kejahatan. Paulus memberikan beberapa kelemahan karakter yang umum terjadi pada guru-guru Kristen, yang sampai sekarang pun ada, yaitu yang mengajarkan doktrin palsu, yang tidak menekankan kesalehan dan yang hanya senang bertengkar dalam hal doktrin. Ia juga memberikan peringatan keras tentang bahaya doktrin kemakmuran dan materialisme. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan membuka diri terhadap dosa apa pun yang bisa dibayangkan. Timotius diberi mandat yang jelas untuk menjunjung tinggi iman dan kesaksiannya, disertai berkat dan dorongan dari Paulus.

Dalam ayat di atas ada kata “ibadah”. Apa artinya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “godliness” dipakai pada ayat yang sama. Kata ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “kesalehan”, yaitu hidup yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Hidup saleh dengan rasa cukup memberi keuntungan besar. Tetapi bagaimana mengartikan rasa cukup? Setiap orang tentunya menafsirkan ini menurut ukurannya sendiri. Bagi sebagian orang, rasa cukup sulit dicapai karena adanya keinginan dan kebutuhan yang semakin lama semakin besar. Dengan demikian, rasa bahagia dan rasa puas tentu saja sulit untuk dicapai. Karena itu Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis bahwa jika orang Kristen ingin untuk hidup damai dan berbahagia, ia justru harus bisa merasa puas dengan apa yang sudah ada.

1 Timotius 6:3–10 menggambarkan kelemahan karakter yang umum terjadi di kalangan guru palsu. Mereka yang menolak menerima doktrin yang benar sering kali dicirikan oleh sifat-sifat seperti keras kepala, serakah, memfitnah, dan suka bertengkar. Penyebab utama dari kesalahan-kesalahan ini adalah keengganan atau ketidakmampuan untuk menerima kebenaran, dan kegigihan untuk berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang terihat lebih menarik. Misalnya, ajaran bahwa jika kita benar-benar beriman, kita pasti akan mendapat kelimpahan. Ajaran sedemikian membuat orang Kristen dan para pendetanya berlomba-lomba untuk mengejar kekayaan karena itu dianggap mencari berkat Tuhan. Paulus dalam hal ini justru memberikan penjelasan bagaimana dan mengapa keserakahan akan hal-hal duniawi dapat menghancurkan kehidupan seseorang.

Paulus melanjutkan dengan menulis bahwa manusia tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan mereka tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Karena itu, asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Dengan adanya rasa cukup, rasa sukacita akan tumbuh; tetapi tanpa adanya rasa cukup orang akan selalu merasa kurang puas dan kecewa. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen dan pendeta besar yang ingin kaya jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kehancuran. Mereka lupa bahwa iblis berkeliling seperti singa yang mengaum-aum, mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8).

Hidup manusia di dunia bukan hanya diisi dengan perbuatan, tetapi mencakup banyak hal seperti perkataan, pekerjaan, pikiran, tingkah laku, dan sebagainya. Dengan demikian, cara hidup manusia adalah sesuatu yang bisa membedakan keadaan manusia yang satu dengan yang lain. Kesalehan adalah hal yang membedakan orang Kristen sejati dengan orang yang hanya mengaku Kristen. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, sudah memperoleh hidup baru yang berpusat pada Dia, dan karena itu tidak lagi tertarik untuk mengejar kenikmatan duniawi. Mereka merasa cukup karena sudah dicukupkan oleh Tuhan.

Tubuh kita adalah rumah Allah

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20

Perayaan terbesar di Australia bagi komunitas LGBT yang beragam, Sydney Gay dan Lesbian Mardi Gras sudah berlangsung dari tanggal 16 Februari yang lalu dan akan diakhiri dengan parade besar di Sydney pada tanggal 3 Maret 2024. Perayaan pada tahun ini dikabarkan menncakup lebih dari 100 acara komunitas, pesta dansa, penampilan teater, dan konser musik, yang berlangsung selama 17 hari di musim panas. Para peserta dan pengunjung acara-acara ini bukan orang LGBT saja, tetapi juga orang-orang dan keluarga serta anal-anak mereka yang ikut merayakan kebebasan yang sekarang dimiliki oleh kaum LGBT di Australia. Sebagian gereja di Australia juga ikut mendukung golongan ini, dan bahkan mempunyai pendeta-pendeta yang termasuk kaum LGBT. Bagaimana respon gereja-gereja lain yang menolak cara hidup kaum LGBT ini?

Paulus menegur orang-orang Kristen di gereja di Korintus mengenai kehidupan seksual mereka. Rupanya, ada yang berpendapat bahwa karena tubuh kita akan mati dan membusuk, tidak jadi soal apa yang kita lakukan terhadapnya. Mungkin yang penting hanyalah semangat dalam diri kita. Demikian pula, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka sukai (1 Korintus 6:12-13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran ini.

Satu Korintus 6:12–20 menggambarkan keberatan Paulus terhadap jemaat Korintus yang bersikap santai terhadap percabulan. Di luar hukum formal dan literal, Paulus menekankan bahwa standar perilaku Kristen haruslah apakah suatu praktik itu bermanfaat atau malah memperbudak. Seks lebih dari sekedar fungsi tubuh; Tuhan merancangnya untuk menyatukan dua insan menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Kesatuan dengan orang lain menyeret Kristus, yang kepadanya kita juga dipersatukan, ke dalam kesatuan dengan kita. Tubuh kita akan dibangkitkan dan bahkan sekarang dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Gagasan bahwa tubuh kita tidak penting pada akhirnya salah. Tubuh seorang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat bait suci, tempat suci, yang menampung Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13-14). Secara misterius, kita membawa Roh-Nya dalam tubuh kita kapan saja, di mana pun kita berada, dan kemana pun kita pergi.

Dengan mengingat hal tersebut, Paul kini menambahkan, mereka sebenarnya bukanlah pemilik tubuh mereka. Tuhan sudah membeli kita. Dia membayar penebusan kita dari dosa dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus membeli jalan keluar kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi diri-Nya sendiri yang terkutuk (Galatia 3:13). Dalam hal ini, kita menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Itu sebabnya tubuh kita bukanlah milik kita sendiri yang bisa kita perlakukan sesuka kita. Kita bebas dalam arti bahwa kita telah terbebas dari hukum dosa dan maut (Galatia 3:13), namun kita tidak bebas dalam arti bahwa kita kini menjadi milik dan menentukan nasib kita sendiri (1 Korintus 6:12 –13). Hal ini memberi Dia wewenang tertinggi untuk memberi tahu kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dengan tubuh kita.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” 1 Korintus 6:9-10

Penting bagi kita untuk memperhatikan argumen terakhir yang menentang imoralitas seksual. Ini hanya berlaku bagi orang beriman. Hanya mereka yang ada di dalam Kristus yang telah ditebus oleh darah-Nya dan dibawa dari kegelapan menuju terang (1 Korintus 1:12-13). Kata-kata ini bukan untuk mereka yang tetap berada dalam kegelapan. Paulus tidak memerintahkan orang-orang di luar gereja, yaitu orang-orang yang tidak percaya, untuk hidup sesuai dengan standar moralitas seksual Allah (1 Korintus 5:12). Dosa mereka tetaplah dosa, namun kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk mengenalinya (1 Korintus 2:14). Kita tidak dapat melarang mereka, dan tidak boleh membenci mereka sekalipun kita membenci apa yang mereka lakukan. Setiap orang bertanggungjawab atas hidup mereka sendiri.

Sebaliknya, mereka yang menjadi milik Tuhan—dan bukan milik mereka sendiri—lah yang diperintahkan untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh mereka. Hanya mereka yang berada di dalam Kristus yang mengerti apa perintah Tuhan, dan memiliki kesempatan untuk menggunakan tubuh mereka untuk memuliakan Dia. Faktanya, itulah tujuan tubuh kita yang dirancang Tuhan untuk melayani Dia. Berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam kegiatan dan cara hidup yang bertentangan dengan firman Tuhan akan menghalangi kita sebagai orang Kristen untuk memenuhi tujuan hidup kita.

Menunggu dengan iman

“Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.” Mazmur 5:3 TB

“Sebab kepada-Mu aku berdoa, ya TUHAN, dengarlah seruanku di waktu pagi. Pagi-pagi kubawa persembahanku dan kunantikan jawaban-Mu, ya TUHAN.” Mazmur 5:3 BIS

Pernahkah Anda berdoa kepada Tuhan untuk memohon sesuatu, tetapi seakan-akan Dia tidak mendengar doa Anda? Saya katakan “seakan-akan” karena sudah tentu tidak ada seorang pun yang bisa melihat Tuhan atau memastikan apakan Ia mendengarkan seruan kita. Jika kita lama menunggu jawaban-Nya, dan jawaban itu tidak kunjung muncul, kita mungkin merasa bahwa Tuhan mungkin mengabaikan doa kita. Dan itu sering juga terjadi dalam hidup setiap Kristen sejati, yang percaya sekalipun tidak melihat bahwa Ia selalu mendengarkan doa anak-anak-Nya.

Mazmur 5 dimulai dengan doa Daud yang mendesak agar Tuhan memperhatikan rintihan dan tangisannya. Ayat yang sama tapi berasal dari dua versi Alkitab yang berlainan saya tampilkan di atas, karena versi Terjemahan Baru (TB) ternyata justru yang paling berbeda jika dibandingkan dengan versi Alkitab lain, baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) terlihat adanya penekanan atas penantian dari si pembawa doa.

Dalam versi TB, Daud menyebut Tuhan sebagai Rajanya dan Tuhannya, dan versi BIS menunjukkan bahwa Daud berdoa di pagi hari dan menantikan jawaban Tuhan. Daud percaya bahwa Allah tidak menyukai orang jahat tetapi membinasakan orang-orang yang jahat, berdusta, haus darah, atau penipu. Dia mengantisipasi bahwa Tuhan yang mengasihinya akan mengizinkan dia memasuki tabernakel, di mana dia akan melakukan ibadah yang penuh hormat. Daud berdoa memohon pimpinan Tuhan agar dia bisa lolos dari musuh-musuhnya, yang dia identifikasi sebagai orang yang tidak memiliki kebenaran dan kejam. Dia berdoa lebih lanjut agar Tuhan membuat para pemberontak tersebut menanggung akibat pelanggaran mereka. Mazmur Daud ditutup dengan seruan kepada orang-orang benar untuk bernyanyi kegirangan saat mereka berlindung kepada Tuhan, dan Daud meminta Tuhan untuk memberkati dan melindungi orang-orang benar.

Mazmur 5:1–3 dimulai seperti Mazmur 4, ketika Daud berdoa kepada Tuhan dengan penuh perasaan. Nyanyian Daud ini mirip dengan Mazmur 3 dan 4. Ketiganya diciptakan oleh Daud ketika ia melarikan diri dari putranya yang memberontak dan suka membunuh, Absalom, ke padang gurun (2 Samuel 15-18). Doa Daud yang sangat intens bukanlah satu-satunya contoh pergumulan doa manusia yang mengalami masalah besar. Doa-doa intensif lainnya ada di Alkitab untuk meminta pertolongan Tuhan, termasuk doa Yunus dari dalam perut ikan besar (Yunus 2) dan doa Yesus di Taman Getsemani (Lukas 22:39–44; Ibrani 5:7). Mazmur 7:1–2 juga menyinggung doa khusyuk Daud agar diselamatkan dari kejaran musuh.

Daud memulai setiap hari dengan berdoa dengan keyakinan bahwa Tuhan mendengar suaranya. Dia mempersiapkan doanya sebagai pengorbanan kepada Tuhan. Jika para imam Israel mempersiapkan kurban hewan dengan menempatkan setiap potongan hewan secara berurutan di atas mezbah (Imamat 1:8) dan dengan meletakkan roti secara berurutan di atas meja di tabernakel (Imamat 24:8), dengan caranya sendiri Daud dengan cermat mengatur bagian-bagian doanyai secara berurutan di hadapan Tuhan. Daud adalah orang yang mampu berdoa seperti seorang biduan, dan itu karena Daud diberi kemampuan besar oleh Tuhan untuk berpuisi dan bernyanyi.

Mungkin kita tidak bisa berdoa dengan “luwes” seperti Daud. Itu bukan masalah. Tetapi, doa kita tidak harus kaku, formal, atau mekanis, sekalipun tidak boleh sembarangan. Jika kita menggunakan Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-13 sebagai contoh, kita akan menemukan beberapa komponen penting. Doa yang baik selalu mencakup pemujaan, penyerahan diri pada kehendak Tuhan, permohonan, pengakuan dosa, dan permohonan bimbingan.

Jika kita terbiasa dengan cara berdoa di gereja kita, doa pribadi tidaklah perlu mengikuti cara yang sama. Jika kita berdoa, kita dianjurkan untuk masuk ke kamar, dan karena itu kita bisa secara intim berdoa kepada-Nya.

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6

Daud menambahkan dalam Mazmur 5:3 bahwa dia tidak hanya berdoa tetapi juga berjaga-jaga. Ia konsisten dan penuh harap menantikan jawaban doanya. Doa bukan hanya berguna untuk memohon sesuatu kepada Tuhan, tetapi juga melatih kita untuk bersabar dan berserah. Kita tidak dapat memaksa Tuhan dengan mengulang-ulang pemohonan yang sama. Kita tidak bisa mempengaruhi Tuhan dengan mengucapkan janji-janji besar kita untuk berbuat sesuatu jika Ia mengabulkan permintaan kita. Kita juga tidak dapat memaksa Tuhan dengan kemarahan kita. Kepada Yunus yang marah, Tuhan berkata: “Layakkah engkau marah?” (Yunus 4:2-11).

Pagi ini, jika kita berdoa, biarlah kita bisa berdoa seperti doa Daud di atas. Janganlah ragu untuk berseru kepada-Nya, janganlah lupa untuk mempersembahkan pujian kepada-Nya, dan berharaplah kepada pertolongan-Nya dengan iman.