Apakah gelas Anda setengah kosong atau setengah penuh?

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4:4

Apakah gelas Anda setengah kosong atau setengah penuh? adalah ungkapan umum yang digunakan secara retoris untuk menunjukkan bahwa suatu situasi dapat menjadi penyebab munculnya optimisme (setengah penuh) atau pesimisme (setengah kosong); atau umumnya digunakan sebagai uji lakmus untuk menentukan pandangan seseorang tentang hidup di dunia. Tujuan pertanyaan ini adalah untuk mendemonstrasikan bahwa situasi yang Anda alami dapat dilihat dalam berbagai cara tergantung sudut pandang Anda tentang masih adanya kesempatan hidup tenang, atau masih adanya masalah dalam situasi tersebut.

Idiom ini digunakan untuk menjelaskan cara orang-orang memandang berbagai peristiwa dan objek dalam hidup sehari- hari. Setiap orang memiliki beragam persepsi dan persepsi adalah penafsiran kenyataan menurut pandangan seseorang. Bagi orang Kristen ini mungkin dikaitkan dengan iman, seseorang seperti yang banyak disampaikan dalam khotbah di gereja. Jika Anda memiliki iman yang besar, Anda akan selalu melihat situasi yang kurang baik bukan sebagai gelas yang setengah kosong, tetapi sebagai gelas yang setengah penuh. Tetapi, pandangan ini tidak sepenuhnya benar.

Sebagian dari pandangan Anda tentang apa yang terjadi dalam hidup Anda dipengaruhi oleh kebiasaan Anda dalam berpikir. Mereka yang sering memikirkan apa yang kurang baik, cenderung untuk merasa bahwa gelas kehidupan selalu setengah kosong.

Filipi adalah pembahasan Paulus tentang menjalani kehidupan Kristen. Dalam surat kepada jemaat Filipi ini, Paulus menyoroti tema-tema seperti sukacita dan kemuliaan. Ia juga memberi penekanan besar pada bagaimana pemikiran orang Kristen—sikap mereka—mempengaruhi cara mereka menjalani iman mereka. Paulus sangat bersyukur atas dukungan jemaat Filipi, tetapi juga prihatin dengan pengaruh berbagai guru palsu. Surat ini kurang bersifat teologis dibandingkan sebagian besar tulisannya yang lain, dan lebih bersifat praktis.

Orang Kristen yang beriman memang masih bisa merasa kuatir dan bahkan cenderung kuatir atas terjadinya sesuatu yang dirasa kurang baik. Karena itu, Paulus menulis suratnya kepada orang di Filipi. Pasal 4 berbicara tentang kekuatan Kristus di saat-saat penderitaan dan kekacauan. Ini termasuk doa dan dorongan (Filipi 4:1-9) dan fokus pada penyediaan Allah (Filipi 4:10-20), diikuti dengan kesimpulan singkat (Filipi 4:21-23). Ayat 1 sebenarnya menyimpulkan bagian Paulus sebelumnya, dalam akhir pasal 3, dengan dorongan untuk “berdiri teguh” di dalam Tuhan.

Paulus kemudian beralih ke fokus pada bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 4:4). Orang Kristen tidak boleh merasa cemas tentang apa pun, tetapi sebaliknya harus memanjatkan segala macam doa kepada Tuhan (Filipi 4:6). Ini tidak berarti sama sekali tidak berpikir. Sebaliknya, ini berarti tidak ada rasa takut atau cemas yang berkelanjutan.

Damai sejahtera Allah melindungi umat-Nya (Filipi 4:7). Karena itu, Paulus juga mendorong para pembacanya untuk berfokus pada hal-hal yang baik (Filipi 4:8). Ini mencakup semua yang telah mereka pelajari, terima, dengar, dan lihat dalam diri Paulus (Filipi 4:9). Orang Kristen di Filipi diperintahkan untuk memikirkannya, dan menerapkannya, dengan mengetahui bahwa damai sejahtera Allah akan menyertai mereka (Filipi 4:9). Ini adalah sesuatu yang bergantung pada keputusan setiap orang Kristen untuk menerimanya.

Dalam Filipi 4:4, Paulus kembali lagi ke tema sukacita bagi umat percaya. Kali ini, ia sangat menekankan bahwa sikap seperti itu seharusnya permanen, bukan hanya untuk sementara. Ini berarti bukan buatan manusia. Paulus menggemakan kata-kata Filipi 3:1, untuk “bersukacita dalam Tuhan,” sebuah frasa yang juga digunakan Paulus dalam Filipi 4:10. Orang percaya menemukan sukacita dan harapan mereka di dalam Tuhan. Sukacita merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) dan penting bagi setiap orang percaya.

Paulus tampaknya secara khusus berfokus pada gagasan bahwa bersukacita harus terjadi setiap saat. Kita sering lupa bahwa Paulus menulis kata-kata ini saat menjadi tahanan di Roma. Ia telah ditangkap oleh pemerintah secara tidak sah selama beberapa waktu, mengalami karam kapal dalam perjalanan ke sana, digigit ular, dan menjadi tahanan rumah selama dua tahun (Kisah Para Rasul 27:39–8:16).

Paulus memiliki banyak alasan untuk mengeluh dan membenci penguasa, tetapi justru memilih untuk berfokus pada bersukacita. Baik pengajaran maupun teladannya memberikan contoh yang luar biasa. Setiap orang percaya harus berusaha untuk bersukacita di dalam Tuhan meskipun dalam situasi yang sulit, seperti yang dilakukan Paulus. Hidup di dunia sudah pasti bukanlah sempurna seperti gelas yang terisi penuh. Tetapi, untuk kebaikan Anda sendiri, semoga Anda melihat hidup Anda sebagai gelas yang setengah penuh, dan bukannya setengah kosong!

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus‬ ‭4‬:‭31‬ ‭

Hal menaati pemimpin kita di dunia

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Ibrani 13:17

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13:1

Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teologi muda Jerman yang sangat terkenal, menulis sebuah buku yang berjudul : “Harga Yang Harus Dibayar Oleh Seorang Murid Kristus.” Buku ini dilatar-belakangi oleh pengalaman penulis sendiri yang mengalami pergumulan berat di dalam mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Dua hari sebelum Hitler diangkat menjadi pemimpin di Jerman, Bonhoeffer menyampaikan sebuah khotbah melalui radio. Dalam khotbahnya, ia menyatakan pengagungan Hitler sebagai penyembahan berhala. Pemerintah Nazi Jerman menyetop siaran radio itu sebelum selesai. Dan mulai saat itu Bonhoeffer berjuang terus melawan Hitler. Bonhoeffer selalu menerima ancaman, namun ia menolak untuk menyerah.

Melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tulisannya ia selalu mengecam pemerintahan Hitler sebagai pemerintahan kafir yang akan dihukum oleh Allah. Oleh sebab itu ancaman terhadap dirinya makin gencar dan keras. Teman-temannya selalu berusaha menolongnya, mereka membujuk agar mau menyingkir ke Amerika untuk sementara waktu. Mereka telah berusaha agar Bonhoeffer dapat mengajar di Amerika paling sedikit dalam jangka waktu tiga tahun. Namun Bonhoeffer tidak kerasan di sana; ia berada di Amerika hanya sekitar satu bulan, kemudian kembali ke tanah airnya untuk melanjutkan perlawanan terhadap Hitler.

Pada tahun 1942 ketika pencobahan pembunuhan terhadap Hitler untuk kesekian kalinya gagal, ia ditawan oleh tentara Nazi. Selama tiga tahun ia hidup di dalam penjara, Bonhoeffer tidak berhenti menulis. Karena pendiriannya dan visinya tidak berubah, ia akhirnya dihukum gantung. Tragisnya, Bonhoeffer meninggal hanya beberapa hari sebelum Hitler bunuh diri, dan beberapa minggu sebelum tentara Nazi menyerah dalam perang dunia kedua.

Kisah kehidupan Bonhoeffer sudah banyak dipelajari orang Kristen. Mereka tertarik akan sikap Bonhoeffer yang berani melawan pimpinan negara. Benarkah sikap Bonhoeffer terhadap Hitler? Bagaimana orang Kristen harus bersikap terhadap para pemimpin mereka? Perlu dicatat bahwa ini menyangkut dua pimpinan yang berbeda: pimpinan gereja Tuhan di dunia dan pimpinan bangsa/negara. Marilah kita membahas Ibrani 13:17 dan Roma 13:1.

Ibrani 13 sebagian besar berisi daftar petunjuk praktis untuk kehidupan Kristen. Pesan umum dari ayat ini tampaknya adalah “janganlah membuat hidup para pemimpin rohanimu lebih sulit daripada yang sudah ada.”. Tokoh-tokoh ini menunjukkan iman meskipun mengalami kesulitan dan penganiayaan, dan mampu “berpegang teguh” untuk percaya kepada Tuhan. Penulis selanjutnya mengembangkan gagasan ini dengan mencatat bahwa orang Kristen harus mencontoh para pemimpin rohani dan dengan hati-hati menghindari perubahan doktrin (Ibrani 13:8–9). Menghormati pemimpin rohani adalah kunci untuk pemuridan (1 Tesalonika 5:12; Ibrani 13:7), sama pentingnya dengan jenis pembelajaran lainnya.

Ayat 17 khususnya mengingatkan pembaca bahwa mereka yang berada dalam posisi sebagai pemimpin rohani dijunjung oleh Tuhan. Surat-surat seperti Titus, 1 Timotius, dan 2 Timotius menjelaskan persyaratan ketat yang diterapkan kepada mereka yang mengaku mengajarkan Firman Tuhan. Yakobus 3:1 dengan jelas menunjukkan bahwa mereka yang berani mengajar akan dimintai pertanggungjawaban lebih besar oleh Allah. Orang-orang seperti itu tidak hanya lebih tahu (Ibrani 2:1-4; 10:29; Lukas 12:47-48), mereka juga sangat memengaruhi orang lain dalam perjalanan mereka bersama Kristus (Markus 9:42; 2 Petrus 2:1-3). Oleh sebab itu Tuhan membedakan mereka dari pimpinan dunia lainnya.

Konteks Ibrani 13:17 secara khusus berkaitan dengan ketundukan kepada para pemimpin Kristen di gereja. Namun, berbagai bagian Alkitab lainnya mendorong kita untuk tunduk kepada semua bentuk otoritas, bahkan pemerintahan sekuler (Roma 13:1–2; 1 Petrus 2:13–17). Tunduk kepada otoritas mencakup mengakui peran yang dimiliki para pemimpin dalam hidup kita dan mematuhi instruksi mereka. Mengenai hidup kita di dunia, tunduk kepada otoritas melibatkan pemenuhan tugas sipil kita dan mematuhi hukum negara. Pada pihak yang lain, dalam konteks gerejawi, tunduk kepada otoritas berarti menghormati para pemimpin gereja kita, mencari bimbingan mereka, menaati instruksi mereka, dan meniru mereka.

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” Ibrani 13:7

Seorang pemimpin rohani yang saleh dan mengajarkan kebenaran dimintai pertanggungjawaban langsung oleh Allah, dan harus bekerja untuk kebaikan orang lain. Ketika orang-orang di gereja atau kelompok tertentu membuat pendeta, penatua, guru, atau pemimpin lain untuk “berkeluh kesah”, mereka menambahkan beban yang tidak perlu pada beban yang sudah berat. Istilah Yunani yang digunakan di sini adalah stenazontes, yang merujuk pada kesedihan, erangan, atau keluh kesah. Singkatnya, mereka yang berada di bawah kepemimpinan rohani haruslah mau bekerja sama sebanyak mungkin, dan bukannya bersikap keras kepala atau sulit untuk bekerja sama.

Roma 13 membahas tiga bidang besar yang harus ditangani oleh orang Kristen yang mempersembahkan diri sebagai korban hidup. Pertama, karena Tuhan menempatkan setiap otoritas duniawi untuk melayani tujuan-Nya dan karena itu orang Kristen harus tunduk kepada mereka; sekalipun gagasan ini muncul dengan konteks tertentu. Kedua, kita harus mengasihi sesama (tanpa pengecualian) seperti mengasihi diri kita sendiri. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup sebagai umat terang dan membuang perbuatan-perbuatan kegelapan seperti kemabukan, percabulan, dan kecemburuan. Kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang untuk melawan kegelapan dan, pada kenyataannya melayani Kristus dan bukannya melayani keinginan kita sendiri.

Roma 13:1–7 menjelaskan tanggung jawab orang Kristen untuk hidup dalam ketundukan kepada otoritas manusia dalam pemerintahan dunia. Alasan yang diberikan adalah bahwa setiap pemimpin pemerintahan pada akhirnya ditetapkan atau diizinkan oleh Tuhan untuk tujuan-Nya sendiri. Secara umum, pemerintahan duniawi yang secara adil sudah terpilih, berfungsi untuk mengendalikan masyarakat dan menghukum mereka yang melakukan kejahatan. Pemerintah sekuler ini melakukan hal-hal ini atas nama Tuhan. Orang Kristen juga harus membayar pajak mereka untuk mendukung pekerjaan yang Tuhan lakukan ini. Selain itu, mereka yang ada di dalam Kristus berutang rasa hormat dan penghormatan kepada otoritas yang telah ditetapkan Tuhan.

Konsep ketundukan kepada otoritas memang sering bertentangan dengan sikap individualistis kita, di mana kita sering ingin berkuasa sebagai otoritas tertinggi. Bahkan di bawah kepemimpinan yang baik, ada orang-orang masih ingin memberontak. Sebagai contoh: seberapa sering kita melampaui batas kecepatan jalan raya meskipun mengetahui risiko yang terkait? Berapa banyak orang yang ingin mengurangi pajak pendapatan mereka dengan segala cara? Penolakan terhadap otoritas ini bisa ditelusur ke taman Eden, di mana Adam dan Hawa memberontak terhadap Tuhan (Kejadian 3:1–7).

Paulus dalam Roma 13 beralih ke masalah tentang bagaimana orang Kristen yang diselamatkan oleh kasih karunia Allah harus berinteraksi dengan pemerintah duniawi kita saat ini. Ia menjelaskan doktrin Alkitab tentang ketundukan kepada otoritas manusia, sesuatu yang juga diajarkan Petrus (1 Petrus 2:13–17). Sekali lagi, mereka yang ada di dalam Kristus dipanggil untuk memisahkan diri mereka dari orang yang tidak percaya dan mempercayai Allah, untuk membayar kewajiban mereka melalui pihak yang berwenang, yang kita pandang baik maupun yang kita anggap jahat.

Paulus dengan jelas menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk setiap orang. Ia menyerukan agar kita tunduk kepada otoritas pemerintah, meskipun ia tidak mengatakan bahwa kita harus menaati mereka dalam semua kasus. Paulus (Kisah Para Rasul 17:7; 2 Korintus 11:24–25) dan para rasul lainnya menolak untuk menaati perintah untuk berhenti memberitakan Injil, misalnya (Kisah Para Rasul 5:27–29). Pada zaman Hitler, ada orang Kristen yang menolak untuk melaporkan adanya orang Yahudi dikampungnya karena adanya risiko bagi orang Yahudi untuk ditangkap dan dibunuh oleh tentara Jerman. Akan tetapi, orang Kristen harus tunduk kepada mereka yang berwenang dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan Firman Allah.

Mengapa kita harus tunduk kepada pimpinan duniawi? Paulus menjelaskan dengan jelas: Setiap otoritas di dunia ditetapkan oleh Allah. Ini tentu saja mencakup pemimpin yang baik, pemimpin yang jahat, dan semua orang di antaranya. Ini adalah pengakuan bahwa pemerintahan manusia—secara umum—adalah otoritas yang sah, dan bahwa orang Kristen tidak dapat menggunakan iman mereka sebagai alasan untuk pelanggaran hukum sipil. Allah menempatkan semua pemimpin dunia pada tempatnya karena alasan-alasan khusus yang sering tidak kita mengerti.

Apakah kita harus tunduk kepada pemimpin negara yang kita anggap tidak pantas untuk dihormati? Kita harus ingat bahwa Paulus menulis surat ini kepada orang-orang Kristen di Roma. Pemerintahan Roma menguasai sebagian besar dunia yang dikenal pada saat itu. Pemerintahan itu dipimpin oleh Kaisar Nero dari tahun 54–68 M. Nero terkenal karena perlakuannya yang kejam dan tidak adil terhadap orang Kristen, di antara kelompok-kelompok lainnya. Kita tidak boleh berasumsi bahwa Paulus menulis kata-kata ini dengan enteng. Ia menyadari implikasi dari ajarannya; tidak mudah bagi kita untuk tunduk kepada pemimpin dunia yang kita anggap tidak pantas untuk memimpin. Bahkan dalam masyarakat modern seperti kita, kita masih berkewajiban untuk tunduk kepada otoritas, sama seperti yang dilakukan orang-orang Kristen mula-mula di lingkungan yang tidak bersahabat dan tidak bertuhan.

Perlu dicatat, ini bukanlah tentang nasionalisme buta atau ketaatan mutlak kepada manusia. Ketundukan kita kepada pemerintah juga harus diimbangi oleh kesetiaan kita kepada kerajaan Allah. Kita menghormati dan tunduk kepada otoritas, tetapi kita harus siap untuk menaati Allah lebih dari pada menaati manusia ketika situasi mengharuskan kita untuk memilih (Kisah Para Rasul 5:29).

Bagaimana dengan pemimpin gereja yang menyalahgunaan otoritas gereja? Sayangnya, penyalahgunaan rohani merupakan kenyataan yang menyedihkan di banyak gereja, dan kita harus memahami bahwa itu bukanlah rencana Tuhan untuk kerajaan-Nya di dunia. Dalam situasi seperti itu, kita harus mengingat otoritas Tuhan berada di atas semua otoritas, dan kesetiaan kita terutama kepada-Nya. Kita harus menghadapi dan menjauhkan diri dari semua bentuk penyalahgunaan rohani, terlepas dari konsekuensi yang dirasakan. Jika seorang pemimpin gereja mengeksploitasi posisinya, ia dapat dianggap sebagai guru palsu (2 Petrus 2:3) dan harus dihindari (Roma 16:17–18).

Berdoa tanpa henti adalah bernapas untuk hidup

“Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5:17.

Kitab 1 Tesalonika pasal 5 secara umum menegaskan kembali bahwa peristiwa “pengangkatan” akan terjadi dengan cepat, sehingga mereka yang tidak percaya tidak akan siap. Sebaliknya, Paulus menggambarkan orang-orang Kristen yang setia sebagai mereka yang sadar dan selalu siap untuk peristiwa ini. Bagian ini menggunakan kontras antara siang dan malam untuk menyoroti perbedaan-perbedaan tersebut. Paulus juga melengkapi suratnya dengan memberikan berbagai petunjuk praktis. Petunjuk-petunjuk ini mencakup perlunya bersikap damai, bekerja keras, dan saling memaafkan dalam menghadapi peristiwa ilahi yang sangat signifikan itu. Paulus juga menganjurkan doa yang terus-menerus dan sikap penuh sukacita dalam kehidupan orang percaya, sebelum menutup suratnya dengan perintah agar surat ini dibacakan dengan suara keras.

Pengangkatan adalah sebuah istilah dalam eskatologi Kristen, yaitu sebuah peristiwa akhir zaman di mana semua orang percaya yang hidup, bersama dengan orang percaya yang dibangkitkan, akan naik “ke awan-awan, untuk bertemu dengan Allah di udara”. Istilah ini berasal dari surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika dalam Alkitab, dimana Paulus menggunakan kata Yunani harpazo (bahasa Yunani Kuno: ἁρπάζω), yang berarti “mengambil” atau “merebut”, dan menjelaskan bahwa orang yang percaya dalam Yesus Kristus akan diambil dari bumi ke atas.

Hal pengangkatan terutama dilukiskan dalam 1 Tesalonika 4:13–18 yang menggambarkan bagaimana Allah membangkitkan semua orang percaya yang telah meninggal, memberi mereka tubuh baru yaitu tubuh kemuliaan, dan kemudian meninggalkan dunia ini bersama dengan orang-orang percaya yang masih hidup, yang juga telah diberi tubuh kemuliaan. Sehubungan dengan itu, dalam 1 Tesalonika 5:12–22 Paulus memberikan serangkaian nasihat kepada jemaat di Tesalonika. Sebagai anak Tuhan yang menantikan kedatangan-Nya kembali, mereka yang mengaku percaya perlu hidup benar. Sebagai jemaat, mereka perlu berhubungan baik dengan para pemimpin mereka. Paulus juga meminta mereka untuk memperlakukan semua rekan seiman mereka dengan baik dan sabar serta berbuat baik satu sama lain. Ini berdeda dengan pendapat sebagian orang Kristen yang tidak mempedulikan cara hidup yang baik karena sudah yakin akan keselamatan mereka atau percaya bahwa karunia Tuhan akan makin besar kepada orang yang makin berdosa (Roma 6:15).

Paulus menasihati orang-orang percaya untuk selalu bersukacita dan terus berdoa. Ucapan syukur yang terus-menerus sekalipun mengalami hidup yang penuh tantangan harus menjadi penanda kehidupan mereka. Lebih jauh, Paulus memberi tahu para pembacanya untuk tidak memadamkan Roh Kudus atau bersikap negatif terhadap pelayanan kenabian. Akan tetapi, mereka diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah mereka uji dan mencari kebenarannya. Terakhir, Paulus mengarahkan para pembacanya untuk menghindari segala jenis kejahatan.

Dalam ayat 17 Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus-menerus. Tentu saja, ini tidak berarti berdoa setiap saat, siang malam tanpa berhenti. Sebaliknya, ini berarti bahwa kita harus giat berdoa, dan sering berbicara kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Bahkan di tengah-tengah pencobaan, orang percaya harus menyadari nilai yang tak terukur dalam memelihara persekutuan dengan Tuhan melalui doa yang sering dipanjatkan. Mereka percaya bahwa Tuhan ikut bekerja dalam keadaan apa pun untuk mendatangkan apa yang baik bagi umat-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Yesus adalah contoh utama tentang apa artinya berdoa terus-menerus. Ia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (Matius 6:5-13). Ia berdoa sebelum memberi makan lima ribu orang (Matius 14:19-21). Ia berdoa ketika Ia memberkati anak-anak (Matius 19:13). Ia berdoa di pagi hari (Markus 1:35) dan di malam hari (Markus 6:45-47). Ia berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk semua orang percaya berikutnya (Yohanes 17). Ia berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:36-42). Ia berdoa dari kayu salib (Lukas 23:34).

Rasul Paulus juga berdoa terus-menerus. Ia berdoa dari penjara pada tengah malam (Kisah Para Rasul 16:25). Ia berdoa setelah memberikan perintah kepada para penatua gereja di Efesus (Kisah Para Rasul 20:36). Ia berdoa di Malta (Kisah Para Rasul 28:8). Ia berdoa untuk Israel (Roma 10:1). Ia berdoa untuk gereja-gereja (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filipi 1:4; Kolose 1:3–12).

Doa adalah percakapan berkelanjutan dengan Tuhan, tidak hanya terbatas pada waktu atau tempat tertentu. Doa merupakan cara untuk menumbuhkan kesadaran terus-menerus akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Mengapa ini penting? Nasihat Paulus merupakan nasihat praktis dan rohani, khususnya bagi orang Kristen awal yang menghadapi penganiayaan. Ini dapat membantu orang percaya menyelaraskan tindakan mereka dengan apa yang mereka dengar dari Tuhan, dan dapat membantu orang percaya untuk memiliki hati yang bersedia menaati Tuhan.

Ketika pikiran kita berubah menjadi kekhawatiran, ketakutan, keputusasaan, dan kemarahan, kita harus dengan sadar dan cepat mengubah setiap pikiran menjadi doa dan setiap doa menjadi ucapan syukur. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus memerintahkan kita untuk berhenti merasa cemas dan sebaliknya, menyampaikan segala hal keinginan kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4:6

Ia mengajar jemaat di Kolose untuk bertekun dalam “berdoa, berjaga-jaga sambil mengucap syukur” (Kolose 4:2). Paulus menasihati jemaat di Efesus untuk melihat doa sebagai senjata yang digunakan dalam berperang dalam peperangan rohani (Efesus 6:18). Saat kita menjalani hari, doa seharusnya menjadi respons pertama kita dalam menghadapi setiap situasi yang menakutkan, setiap pikiran yang mencemaskan, dan setiap tugas yang tidak kita inginkan yang diperintahkan Tuhan. Kurangnya doa akan menyebabkan kita bergantung pada diri kita sendiri dan bukannya bergantung pada kasih karunia Tuhan.

Doa yang tak henti-hentinya, pada hakikatnya, adalah ketergantungan dan persekutuan yang terus-menerus dengan Bapa. Bagi orang Kristen, doa seharusnya seperti bernapas. Anda tidak perlu berpikir untuk bernapas karena atmosfer memberi tekanan pada paru-paru Anda dan pada dasarnya memaksa Anda untuk bernapas. Itulah sebabnya menahan napas lebih sulit daripada bernapas. Demikian pula, ketika kita dilahirkan dalam keluarga Allah, kita memasuki atmosfer rohani di mana kehadiran dan kasih karunia Allah memberi tekanan, atau pengaruh, pada kehidupan kita. Doa adalah respons normal terhadap tekanan itu. Sebagai orang percaya, kita semua telah memasuki atmosfer ilahi untuk menghirup udara doa yang menyegarkan.

Sayangnya, banyak orang percaya menahan “napas rohani” mereka untuk waktu yang lama, merasa bahwa saat-saat singkat bersama Allah sudah cukup untuk memungkinkan mereka bertahan hidup. Namun, pembatasan asupan rohani mereka tersebut selalu disebabkan oleh keinginan dosa yang mementingkan diri sendiri. Faktanya adalah bahwa setiap orang percaya harus terus-menerus berada di hadirat Allah, terus-menerus menghirup kebenaran-Nya, agar berfungsi sepenuhnya.

Lebih mudah bagi orang Kristen untuk merasa aman dengan berasumsi bahwa mereka adalah domba-domba yang baik. Terlalu banyak orang percaya yang merasa puas dengan berkat-berkat jasmani dan kurang menginginkan berkat-berkat rohani. Ketika program, metode, dan uang menghasilkan hasil yang mengesankan, ada kecenderungan untuk mengacaukan keberhasilan manusia dengan berkat ilahi. Bila hal itu terjadi, kerinduan yang mendalam kepada Tuhan dan kerinduan akan pertolongan-Nya akan hilang. Doa yang terus-menerus, tekun, dan tak henti-hentinya merupakan bagian penting dari kehidupan Kristen dan mengalir dari kerendahan hati dan ketergantungan kepada Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa bagaimana kita bisa menghadapi tantangan hidup bergantung pada kedekatan kita kepada Tuhan. Sekalipun kita mengakui bahwa Tuhan mahakuasa, tetapi kita tidak mau untuk dekat kepada-Nya, kita tidak akan merasakan kuasa-Nya. Sekalipun kita rajin berdoa, jika doa itu hanya merupakan kebiasaan rutin dan tidak disertai rasa syukur dan penyerahan, doa itu tidak akan memberi ketenteraman kepada kita.

Yesus sobat yang setia

“Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.”Mazmur 68:6

“Yesus Sobat yang Setia”adalah himne Kristen terkenal yang diterjemahkan dari himne “What a Friend We Have in Jesus” yang aslinya ditulis oleh pendeta Joseph M. Scriven sebagai puisi pada tahun 1855 untuk menghibur ibunya, yang tinggal di Irlandia saat dia berada di Kanada. Scriven awalnya menerbitkan puisi tersebut secara anonim, dan baru menerima penghargaan penuh atas puisi tersebut pada tahun 1880-an. Nada himne tersebut dikomposisi oleh Charles Crozat Converse pada tahun 1868.

Bunyi syair lagu itu adalah sebagai berikut:

Yesus sobat yang sejati, tanggung s’gala dosaku,
tiap hal ‘ku boleh bawa, dalam doa pada-Nya.
Bila hatiku gelisah, percumalah berlelah,
bersandarlah pada Yesus, berdoalah pada-Nya.

Bila ada pencobaan, dan bimbang di hatiku,
‘ku tak akan putus asa, pada Tuhan berseru.
Tiada yang seperti Yesus, yang mau tanggung susahku,
Yesus ‘kan menguatkanku, ‘ku berdoa pada-Nya.

Adakah hatimu susah, lelah kar’na beban berat?
Yesuslah penolong kita, berdoalah pada-Nya.
Walau kawan tinggalkanmu, datanglah kepada-Nya.
Dan di dalam pelukan-Nya, hatimu sentosalah.

Himne di atas sudah tentu berkaitan dengan keadaan seseorang yang merasa kesepian, tetapi mendapat pengiburan dari Yesus. Apa itu kesepian? Dan bagaimana kita bisa mendapat penghiburan?

Meskipun definisi umum kesepian menggambarkannya sebagai keadaan menyendiri atau sendirian, kesepian lebih tepat digambarkan sebagai keadaan pikiran yang di dalamnya terdapat persepsi tentang adanya isolasi sosial. Kesepian adalah keadaan pikiran yang ditandai dengan pemisahan antara apa yang diinginkan atau diharapkan seseorang dari hubungan atau interaksi sosialnya dan apa yang dialami individu tersebut dalam hubungan atau interaksi sosialnya.

Karena didasarkan pada ekspektasi keterlibatan sosial, seseorang tidak harus terisolasi atau benar-benar sorangan wae untuk merasa kesepian. Seorang bisa saja dikelilingi oleh orang lain dan hidup dalam lingkungan yang serba cukup, tetapi mengalami kesepian. Seorang bisa kesepian di rumah sekalipun mempunyai teman hidup. Seorang bisa saja sibuk dalam aktivitas gereja, tapi tetap kesepian.

Kesepian dapat disebabkan oleh faktor situasional, baik sementara maupun permanen, oleh perubahan hidup yang secara pelan-pelan atau tiba-tiba, yang kemudian mengganggu hubungan antar manusia. Kesepian bisa juga disebabkan oleh masalah emosional seperti kecemasan atau depresi.

Seberapa umum kesepian itu? Meskipun setiap orang mungkin merasa kesepian pada suatu waktu tertentu, bagi banyak orang kesepian adalah kondisi kehidupan yang kronis, dan bisa makin memburuk dengan berjalannya waktu. Kelompok yang ditemukan berisiko tinggi mengalami kesepian meliputi wanita, baik yang lebih muda (misalnya, berusia di bawah 25 tahun) atau lebih tua (misalnya, berusia di atas 65 tahun), mereka yang tinggal sendirian, mereka yang memiliki status sosial ekonomi rendah, dan orang yang memiliki kesehatan mental dan fisik yang buruk.

Kesepian telah diidentifikasi sebagai masalah kesehatan masyarakat utama yang terkait dengan peningkatan risiko penyakit mental dan fisik, penurunan kognitif, perilaku bunuh diri, dan kematian karena semua penyebab.

Penelitian medis telah menemukan bahwa kesepian pada masa remaja dan masa muda dewasa mempunyai kaitan dengan munculnya banyak faktor risiko kardiovaskular (misalnya, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, tekanan darah, kolesterol) yang meningkat pada masa muda dewasa, dan bahwa pada masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa muda, rasa kesepian bisa menyebabkan peningkatan faktor risiko pada usia selanjutnya.

Kesepian juga dikaitkan dengan perkembangan penyakit Alzheimer, obesitas, kekakuan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, peningkatan aktivitas cortex adrenal hipotalamus-hipofisis, kurang bisa tidur nyenyak, kekebalan tubuh yang menurun, penurunan kemampuan hidup mandiri, alkoholisme, gejala depresi, keinginan dan perilaku bunuh diri, serta kematian orang di usia senja.

Apakah kesepian adalah akibat dosa? Belum tentu. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial dan Tuhan tahu bahwa tidaklah baik jika seseorang hidup sendirian:

“TUHAN Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”. Kejadian 2:18

Allah menciptakan manusia dalam bentuk pria dan wanita yang sepadan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan kebutuhan emosional, fisik, dan spiritual. Faktor sepadan ini menunjukkan bahwa Adam dan Hawa adalah sederajat sekalipun mempunyai fungsi dan kemampuan yang berlainan.

JIka Adam mendapat Hawa sebagai pasangan hidupnya, dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia membutuhkan orang-orang yang sepadan untuk mengisi hidupnya agar tidak merasa kesepian. Memang orang bisa merasa kesepian karena memang tidak ada orang lain yang bisa melengkapi kekurangannya dan menyempurnakan kebutuhan emosional, fisik, dan spiritualnya. Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang merasa bahwa tidak ada orang yang bisa dianggap sepadan dengan dirinya, yang bisa menolongnya. Hal ini bisa menyebabkan orang itu tidak bisa berinteraksi secara sehat dengan orang lain dan karena itu ada rasa kesepian sekalipun mungkin tidak disadarinya. Ini mungkin disebabkan karena adanya permusuhan dengan orang lain, kesombongan diri sendiri, rasa perfeksionis, atau ketidakmampuan untuk mempercaya orang lain.

Karena kesepian adalah bagian dari kondisi manusia, tidak mengherankan bahwa beberapa orang dalam Alkitab mengalami kesepian, sekalipun itu bukan disebabkan oleh kesalahan diri sendiri. Dalam 1 Raja-raja 19, nabi Elia tampaknya menderita rasa keterasingan sosial yang membuatnya hampir bunuh diri. Paulus mungkin mengalami kesepian, seperti ketika ia memberi tahu Timotius, “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku–kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka” (2 Timoius 4:16). Yesus juga tampaknya mengalami kesepian di taman Getsemani pada malam sebelum penyaliban-Nya (Matius 26:36-46) dan saat di kayu salib (Matius 27:46).

Daud juga mengungkapkan perasaan kesepiannya dalam Kitab Mazmur. Dalam Mazmur 25:16 ia berkata, “Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.” dan dalam Mazmur 142:4 ia berkata, “Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.”

Apa yang dapat dilakukan orang Kristen untuk mengatasi kesepian? Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.Ingatlah bahwa jika Anda saat ini seperti seorang anak yang tidak mempunyai orang tua, dan tidak mempunyai teman sepadan yang yang bisa menolong Anda, percayalah bahwa Anda memiliki seorang sahabat dalam diri Yesus.

Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat.” Efesus 2:14-17

Jangan pernah lupa bahwa Anda memiliki seorang sahabat dalam diri Yesus (Yohanes 15:15), dan bahwa Roh Kudus tinggal di dalam diri Anda untuk memberi Anda kekuatan dalam menghadapi musim kesepian ini.

Ada orang Kristen yang karena sering dikecewakan oleh orang lain mungkin merasa bahwa persahabatan manusia tidak relevan setelah seseorang berteman dengan Kristus. Tetapi ini tidak Alkitabiah. Tuhan telah menciptakan kita untuk bersekutu, untuk bersatu di dalam hati, dengan orang lain menjadi satu tubuh dalam Kristus. Karena persatuan Anda dengan Kristus, Anda terhubung secara rohani dengan keluarga saudara-saudari yang akan mengasihi Anda dan akan menyertai Anda selamanya. Temukan keluarga Anda dengan menanamkan diri Anda dalam komunitas orang-orang percaya yang dapat mengerti keadaan Anda.

Pada pihak yang lain, jika Anda menduga seseorang yang Anda kenal sedang kesepian, hubungi mereka dan beri tahu mereka bahwa Anda ingin membantu. Jangan menundanya atau membuat alasan tentang mengapa Anda tidak memiliki waktu, kemampuan, atau perhatian. Jangan juga mengabaikan mereka karena Anda kurang cocok dengan kepribadiannya. Ketika ada orang-orang yang membutuhkan teman, orang Kristen harus bergegas untuk membantu karena kita dipanggil oleh Yesus untuk mengasihi sesama kita.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”Galatia 6:10

Kenali diri Anda agar dapat mengenali orang lain

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Bagaimana Anda mengetahui siapa diri Anda? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, tapi justru sering dilupakan. Karena setiap orang berusaha mengetahui atau mengenal diri dan sifat orang lain, tetapi jarang mengenal siapa dirinya sendiri. Inilah yang menyebabkan banyak persoalan dalam hubungan seseorang dengan orang lain, bukan saja dalam hubungan pernikahan, keluarga, dan persahabatan, tetapi juga dalam hubungan antar umat Kristen. Inilah yang menyebabkan kita tidak dapat menyelami atau menerima pandangan orang lain karena kita tidak sadar akan esensi diri kita sendiri dan kurang mengerti apa yang sudah membuat kita berbeda dengan orang lain.

Esensi adalah hakikat, inti, atau hal yang pokok dari sesuatu. Esensi Anda merupakan bagian dari kenyataan siapa diri Anda yang sebenarnya. Mungkin ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengetahui siapa Anda sebenarnya:

  • Renungkan masa lalu Anda
  • Definisikan nilai-nilai inti Anda
  • Kenali kekuatan dan hasrat Anda
  • Kenali di mana Anda menemukan tujuan dan makna kehidupan Anda
  • Renungkan tantangan kehidupan Anda selama ini
  • Nilai hubungan Anda dengan Tuhan dan sesama

Jika kita merenungkan masa lalu kita, jika kita jujur, kita akan sadar bahwa dari kecil hingga dewasa diri kita ditandai dengan adanya dosa, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, dan karena alasan ini kita layak ditolak oleh Allah yang mahasuci. Hanya melalui belas kasihan dan kasih karunia-Nya kita dapat diselamatkan, dan karena itu tidak ada ruang dalam hidup kita untuk membanggakan diri. Kita tidak lebih baik dari orang lain. Ini juga berarti bahwa semua orang yang diselamatkan adalah bagian dari keluarga rohani yang sama. Tidak ada alasan untuk bermusuhan di antara orang percaya; kita semua tidak layak, dan semua diselamatkan oleh kebaikan Tuhan yang sama.

Paulus dalam Efesus 2:1–10 dengan jelas menjelaskan hubungan antara kurangnya ketaatan kita, kasih karunia Allah, dan keselamatan kita. Mereka yang diselamatkan oleh Kristus, sebenarnya tidak layak menerima keselamatan ini. Efesus 2: 8-9 menekankan bahwa keselamatan dicapai atas dasar kasih karunia, melalui iman. Kemauan, kekuatan, dan niat terbaik kita tidak akan pernah cukup untuk bisa memperoleh keselamatan. Tidak ada orang Kristen yang dapat membanggakan ”kebaikan” atau “keunggulan” mereka, karena kita diselamatkan sepenuhnya oleh kasih karunia Allah, bukan oleh perbuatan baik atau keistimewaan kita.

Harus dimengerti bahwa Efesus 2:8–9 adalah bagian Alkitab yang sangat populer. Karena kedua ayat itu begitu sering dikutip, banyak orang tidak membaca ayat 10 ketika berusaha memahami keselamatan Allah melalui kasih karunia melalui iman. Namun, pernyataan penting ini menawarkan wawasan yang luar biasa tentang apa yang Allah inginkan setelah keselamatan. Inilah yang mendefinisikan siapa diri kita. Allah menyebut kita sebagai hasil karya-Nya atau karya seni-Nya, dari kata Yunani poiēma.

Kita adalah sesuatu yang diciptakan, dengan keterampilan dan tujuan, oleh Allah, untuk tujuan-Nya. Secara khusus, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.” Inilah tujuan dan makna hidup semua orang Kristen dan diri Anda. Pekerjaan baik tidak memberi kita keselamatan, tetapi pekerjaan itu benar-benar dimaksudkan sebagai hasil dari keselamatan.

Yang menarik, Allah telah mempersiapkan apa yang Ia ingin kita lakukan bagi-Nya sejak mulanya. Ia telah merencanakan apa yang Ia ingin kita lakukan dengan hidup kita. Kita tidak perlu meniru apa yang telah dilakukan atau sedang dilakukan orang lain. Sebaliknya, kita tidak perlu merasa bahwa orang lain harus melakukan apa yang kita anggap sebagai prioritas untuk dilakukan dalam hidup sebagai umat Tuhan. Ia memiliki rencana yang unik bagi kita masing-masing untuk melayani-Nya di dunia ini. Ini termasuk karunia rohani tertentu dan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita untuk menuntun kita dalam pelayanan kepada-Nya. Dengan demikian kita bisa menyadari keunikan setiap umat Tuhan dan adanya perbedaan talenta dan tantangan bagi setiap orang. Itulah yang membantu kita untuk bisa hidup bersama dan bekerjasama dengan saudara-sudara seiman demi kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Roma 12:3

Mencari ketenangan dalam hidup bermasyarakat

“Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” 1 Petrus 3:13-14

Saya yakin Anda pernah membaca pengalaman Ayub (Ayub 1-4). Ayub, seorang yang saleh dan takut akan Tuhan, pernah mengalami cobaan dan penderitaan yang berat. Ayub kehilangan semua hartanya, anak-anaknya meninggal, dan ia menderita penderitaan fisik yang luar biasa.

Di tengah penderitaannya, Ayub dikunjungi oleh tiga orang sahabat. Meskipun sahabat-sahabat Ayub bermaksud menghiburnya, mereka menuduhnya melakukan dosa pelanggaran hukum Tuhan. Pada pihak yang lain, istri Ayub menganjurkan dia untuk menanggalkan imannya. Hal-hal ini ini bukannya meringankan penderitaan Ayub, tetapi justru membuat Ayub mengalami apa yang bisa membuat dia kuatir, marah, dan takut. Orang-orang yang seharusnya berpihak kepada dia, sekarang ternyata meninggalkan dia sendirian dalam penderitaannya.

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 25-26,

Kita tidak dapat membayangkan betapa besarnya penderitaan Ayub. Bagi kebanyakan orang, pengalaman pahit dalam hidup yang tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman Ayub bisa saja menghancurkan atau mengakhiri hidup mereka. Lalu, bagaimana Ayub bisa survive di tengah orang-orang yang tidak bisa dan tidak mau mendukungnya? Bagaimana kita bisa tetap berdiri teguh jika teman, saudara seiman atau sanak keluarga justru memusuhi kita?

Kita tahu bahwa hidup di dunia penuh dengan masalah dan penderitaan. Walaupun demikian, setiap orang tentunya tetap ingin dan berusaha untuk bisa hidup tenang dan damai sekalipun itu tidaklah mudah untuk dicapai. Dari banyak hal yang bisa membantu usaha kita untuk mencari kedamaian, ada tiga hal yang penting yang bisa kita tiru dari Ayub: tidak kuatir, tidak marah dan tidak takut dalam menjalani hidup sehari-hari.

Pesan 1 Petrus 3:8–22 ditujukan kepada semua orang percaya, memerintahkan orang Kristen untuk bersatu dan menolak membalas dendam ketika disakiti. Petrus mengutip dari Daud dan Yesaya untuk menunjukkan bahwa umat Tuhan selalu dipanggil untuk menolak kejahatan dan berbuat baik. Ini benar bahkan ketika kita menderita. Bahkan, seperti Ayub, mungkin kehendak Tuhan bagi umat-Nya untuk menderita, sebagian, untuk menunjukkan kuasa-Nya. Selain itu, teladan kita yang baik dapat meyakinkan orang lain agar bertobat. Allah bermaksud menggunakan tanggapan kita yang penuh harapan terhadap penderitaan, untuk memancing dunia agar melihat kuasa-Nya di dalam diri kita. Kristus juga menderita dan kemudian mati, dibangkitkan, dan naik ke surga.

Ayat 1 Petrus 3:13 melanjutkan ajaran Petrus kepada orang Kristen tentang hidup rukun dengan sesama (1 Petrus 3:8). Kita harus menolak untuk membalas dendam ketika disakiti, tetapi sebaliknya berbuat baik kepada mereka yang menyakiti atau menghina kita (1 Petrus 3:9). Ayat sebelumnya mengungkapkan bahwa Allah memperhatikan orang benar, bahkan di tengah penganiayaan mereka. Ia memperhatikan keadaan mereka. Ia mendengarkan doa-doa mereka. Dan wajah-Nya menentang mereka yang berbuat jahat kepada mereka.

Di sini, Petrus mengajukan pertanyaan yang tampaknya aneh: siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Pertanyaan ini dapat dibaca dalam dua cara. Pertama, mereka yang ingin bersabar dan berbuat baik, bahkan kepada mereka yang menyakiti mereka, cenderung tidak akan diperlakukan dengan buruk. Tentu saja, di sebagian besar waktu dan tempat, itu benar. Kesabaran dan perbuatan baik kita kepada orang lain jarang membangkitkan keinginan mereka untuk menyakiti kita. Sebaliknya, kemarahan dan keinginan kita untuk membalas dendam justru akan memperburuk suasana.

Namun, seperti yang akan dikatakan Petrus dalam ayat berikutnya, orang Kristen mungkin masih menderita bahkan ketika mereka ingin dan mau berbuat baik. Terkadang, kita dapat menderita karena kita berbuat baik dalam nama Yesus. Pernyataan ini kemungkinan besar berarti bahwa orang Kristen—umat yang diselamatkan dan dipisahkan dari orang dunia oleh Tuhan, yang dijamin oleh-Nya untuk selamanya—tidak dapat benar-benar disakiti oleh siapa pun. Dengan kata lain, orang Kristen mungkin terluka atau bahkan terbunuh demi Yesus dalam hidup ini, tetapi tidak seorang pun dapat mengambil apa pun dari kita yang benar-benar berarti. Semua itu aman di tangan Bapa kita selamanya.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin mengalami penderitaan karena perlakuan orang lain,seperti Ayub. Orang yang lain, yang membaca perkataan Petrus hari ini, mungkin sedang menderita karena iman mereka dan semangat mereka untuk memertahankan kebenaran Kristus. Petrus sendiri dianiaya dan dibunuh demi Kristus. Orang Kristen mungkin saja menderita demi kebenaran. Orang Kristen yang ingin melakukan perbuatan baik atas nama Yesus, pada kenyataannya, mungkin saja dicelakai atau dimusuhi karena alasan itu. Ini bukan hanya terjadi dalam masyarakat umum, tetapi juga dalam lingkungan kelurga dan bahkan gereja.

Bagaimana perpektif kita dalam menghadapi penderitaan dalam hidup bermasyarakat? Sejauh ini dalam suratnya, Petrus telah menjelaskan beberapa hal dengan sangat jelas. Orang Kristen memiliki masa depan yang aman dan berlimpah bersama Bapa dalam kekekalan. Orang Kristen dipanggil untuk hidup berbeda dari dunia. Kita harus menjalani kehidupan yang baik, sekarang, demi Yesus. Yesus, teladan kita, menderita demi kebaikan kita, jadi kita tidak perlu heran untuk menderita demi Dia. Bahkan, dalam ayat ini, Petrus menulis bahwa menderita dengan cara seperti itu berarti diberkati. Itu adalah hak istimewa dari orang Kristen sejati untuk bisa merasakan apa yang dialami Kristus.

Pagi ini, sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menolak naluri alami kita untuk takut kepada mereka yang mungkin sering menyakiti kita karena iman kita kepada Kristus. Kita diperintahkan untuk menolak kecemasan kita akan masa depan kita. Selain itu, kita dipanggil untuk bersabar dalam penderitaan sambil memadamkan kemarahan kita kepada orang lain dan kepada Tuhan.

Memasuki tahun baru, Allah tahu isi hati kita

Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” Lukas 16:15

Tahun 2025 adalah tahun baru yang mungkin memberi kita kesempatan untuk memperoleh apa yang lebih dari apa yang sudah kita capai pada tahun yang lalu. Jika itu berarti bahwa kita akan berusaha mencapai penghasilan, kesuksesan, kedudukan, keuangan, dan kesehatan yang lebih baik, kita termasuk sebagian dari kebanyakan orang yang mempunyai harapan dan rencana yang serupa setiap memasuki tahun baru. Walaupun demikian, banyak juga orang yang bertekad untuk menjadi orang yang lebih baik dalam hal kerohanian. Ini bukanlah hal yang mudah dicapai karena apa yang baik untuk manusia, belum tentu dipandang baik oleh Tuhan.

Saat mengajar murid-murid-Nya dan menegur orang-orang Farisi, Yesus memberikan beberapa pelajaran tentang kekayaan dan pengabdian kepada Tuhan. Lukas 16:14–18 menyingkapkan hubungan yang menyimpang antara hati manusia, hukum Taurat, dan kerajaan Allah yang dimiliki orang Farisi. Mereka begitu mencintai uang, sehingga menolak pernyataan Yesus tentang hubungan yang bertentangan antara mengejar kekayaan dan mengikuti Allah. Yesus menunjukkan bahwa ini adalah masalah yang bersumber dari hati mereka, bukan karena adanya Hukum Taurat.

Keadaan serupa terjadi pada zaman ini, dengan adanya perbedaan antara cara hidup Kristen kedagingan dan cara hidup orang Kristen sejati. Penyebab perbedaan ini bukan karena adanya Alkitab yang menuntut kita untuk hidup baik, tetapi karena apa yang ada dalam hati orang percaya, yaitu dosa. Lukas 16 adalah kumpulan ajaran tentang bagaimana orang-orang yang mengutamakan hal-hal duniawi, khususnya uang, menunjukkan bahwa mereka tidak mengasihi Tuhan. Orang-orang Farisi sangat mencintai uang tetapi mengaku mengasihi Tuhan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah mengejek Yesus, mencoba mendiskreditkan-Nya di hadapan para murid-Nya (Lukas 16:14). Pada zaman ini, orang Kristen duniawi berbuat hal yang serupa dengan mengaku percaya kepada Tuhan tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita (Matius 22:37-40).

Yesus menyatakan orang Farisi mencoba membenarkan diri mereka di hadapan manusia. Seperti orang Kristen yang rajin ke gereja setiap minggu tetapi menjalani hidup yang salah, mereka mencoba meyakinkan orang lain dan diri sendiri bahwa mereka adalah orang yang saleh, sekalipun mereka sebenarnya hanya berpura-pura. “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” (Matius 23:5–7).

Yesus juga menceritakan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9–14). Seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat berdoa kepada Tuhan, meratapi dosanya dalam pertobatan yang rendah hati. Seorang Farisi di dekatnya berdoa agar semua orang mendengar, “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11–12). Menurut Yesus, pemungut cukai yang mencari nafkah dengan memeras uang dari orang lain justru dibenarkan oleh Tuhan – bukan orang Farisi. Ini mengherankan. Mengapa demikian?

Perlu kita sadari bahwa setiap manusia sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Allah (Roma 3:23). Karena itu, setiap manusia tidak dapat memperbaiki diri mereka dengan usaha sendiri atau melalui keberhasilan yang mereka capai. Hanya Tuhan yang bisa menerima atau menolak manusia. “Pembenaran” Tuhan adalah keadaan manusia yang dinyatakan benar oleh Dia. Itu adalah keputusan dan pernyataan Tuhan yang sesuai dengan adanya iman dan pertobatan kita.

Ketika Yesus berkata, “Allah mengetahui hatimu” dalam Lukas 16:15, Ia berbicara kepada orang-orang Farisi yang menjalani kehidupan ganda. Secara lahiriah, mereka mencari persetujuan publik. Mereka nampaknya berusaha keras untuk mengikuti semua aturan agama dan berusaha keras untuk membuat orang lain terkesan sehingga mereka tampak saleh dan bijaksana. Namun, Allah mengetahui hati mereka. Ia melihat apa yang ada di dalam hati mereka melalui penampilan mereka yang palsu dan saleh.

Orang Farisi tidak dapat dinyatakan benar berdasarkan pekerjaan dan karakter mereka sendiri. Pekerjaan mereka justru membuktikan bahwa karakter mereka berasal dari iblis; mereka adalah pendusta dan kebenaran tidak ada di dalam mereka (Yohanes 8:44). Memang Yesus pernah mengemukakan dua dosa yang dianggap sebagai kekejian dalam Perjanjian Lama: ketidaksetiaan dengan uang (Ulangan 25:13–16; Lukas 16:10–13) dan ketidaksetiaan dalam pernikahan (Ulangan 24:4; Lukas 16:18).

Lukas menyebut orang-orang Farisi ini sebagai “pencinta uang” (Lukas 16:14), dan Yesus berkata kepada mereka, “Kamu suka tampil benar di depan umum, tetapi Allah mengetahui hatimu. Apa yang dihormati dunia ini adalah kekejian bagi Allah” (Lukas 16:15). Yesus baru saja selesai mengajar tentang kekayaan dan harta benda (Lukas 16:1–13). Ia menutupnya dengan peringatan tajam ini kepada orang-orang yang mencoba menjalani kehidupan ganda: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13).

Allah tahu bahwa, di dalam hati orang-orang Farisi, mereka mengabdi kepada uang. Mereka hanya bermurah hati dengan uang mereka pada acara-acara umum ketika orang lain dapat melihat mereka memberi. Meskipun mereka sangat religius, mereka memupuk nilai-nilai yang tidak bertuhan seperti orang-orang duniawi yang tidak percaya. Mereka bahkan mengklaim bahwa kekayaan mereka adalah upah Allah atas kehidupan mereka yang benar (Lukas 18:9-11). Namun, Yesus dengan keras mengkritik kesalehan lahiriah mereka: “Hati-hatilah, supaya kamu jangan melakukan kebenaran di depan orang lain supaya dilihat mereka. Sebab jika kamu melakukannya, kamu tidak akan memperoleh upah dari Bapamu yang di sorga. Karena itu, apabila kamu memberi kepada orang yang membutuhkan, janganlah kamu memberitakannya dengan terompet, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di jalan-jalan, supaya kamu dimuliakan. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka telah menerima upah mereka dengan penuh. Tetapi ketika kamu memberi kepada orang yang membutuhkan, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang diperbuat tangan kananmu, supaya pemberianmu itu tersembunyi. Maka Bapamu, yang melihat perbuatan-perbuatan yang tersembunyi, akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:1–4).

Allah menegur para pemimpin agama ini karena keserakahan, pemanjaan diri, dan kemunafikan mereka: “Celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh dengan keserakahan dan kesenangan. Hai orang Farisi yang buta! Bersihkanlah dahulu bagian dalam dari cawan dan pinggan, maka bagian luarnya juga akan bersih. . . . Kamu seperti kuburan yang dicat putih, yang bagian luarnya tampak indah tetapi bagian dalamnya penuh dengan tulang-tulang orang mati dan segala sesuatu yang najis” (Matius 23:25–27).

Orang Farisi membuktikan bahwa penampilan yang baik bisa menipu mata orang lain. Tetapi, tindakan mereka tidak sesuai dengan siapa mereka sebenarnya di dalam hati mereka. Dalam Alkitab, “hati” mengacu pada kehidupan moral dan spiritual/rohani seseorang. Jika hati kita terisi hal yang baik, kita akan mempunyai kehidupan moral dan rohani yang diminta Tuhan kepada setiap pengikut-Nya.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa tantangan Yesus kepada para pemimpin munafik ini sama halnya bagi para pengikut-Nya saat ini. Dalam tahun yang baru ini, kita harus berhati-hati untuk tidak hanya memuliakan Tuhan dengan bibir kita sementara kita hidup seperti orang Kristen duniawi karena hati kita jauh dari-Nya (Matius 15:8; Yesaya 29:13). Kita perlu berfokus untuk membersihkan bagian dalam rumah rohani kita, menangani sikap berdosa dan motif yang salah arah yang sudah kita lakukan pada tahun yang lalu.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6:45

Apakah Anda sering merasa khawatir?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5:7

Setiap orang pernah khawatir, setiap orang punya kekhawatiran. Itu adalah normal. Orang Kristen pun demikian, dan karena itu ayat di atas adalah sangat relevan. Setiap kali kekhawatiran muncul, kita menyerakannya kepada Tuhan agar kita akan mendapat kelegaan. Ini bukan berarti bahwa kemudian hidup kita akan bebas dari semua kekhawatiran. Kita harus sabar menunggu sampai kita bertemu dengan Tuhan muka dengan muka di surga untuk bisa hidup bebas dari segala penderitaan dan kekhawatiran.

Kekhawatiran dalam hidup di dunia banyak penyebabnya. Memasuki tahun 2025, tentu kita tahu bahwa adanya kebutuhan sehari-hari yang harus kita penuhi, adanya tugas pekerjaan atau pendidikan yang harus kita gumuli, adanya penyakit yang harus kita hindari atau obati, adanya orang-orang yang kurang ramah dan bahkan jahat kepada kita, dan sebagainya, bisa membuat kita khawatir. Ayat di atas sering dipakai sebagai nasihat bagi orang yang mengalami kekawatiran, sekalipun sebenarnya ayat itu muncul dalam konteks pelayanan dan pekerjaan sehari-hari dari orang percaya.

Ayat 1 Petrus 5:1–11 memberikan instruksi khusus kepada para penatua tentang cara memimpin kawanan domba Tuhan dengan rela, bersemangat, dan dengan teladan mereka sendiri. Ayat ini juga berlaku untuk semua orang Kristen dalam kegiatan sehari-hari karena mereka sebenarnya bekerja untuk Tuhan (Kolose 3:23). Petrus menulis bahwa kita semua harus hidup dalam kerendahan hati terhadap satu sama lain dan terhadap Tuhan, yang menentang orang yang sombong. Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang peduli pada kita. Dalam kewaspadaan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita, dan memercayai Tuhan untuk menepati janji-janji-Nya.

Ayat di atas menyimpulkan pemikiran yang dimulai di ayat 6: “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Apa artinya? Orang Kristen harus pertama-tama merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang perkasa, percaya bahwa Dia akan meninggikan kita pada waktu yang tepat. Kita harus berhenti mencari kemuliaan atau kepentingan kita sendiri untuk bisa menerima pekerjaan dan tugas kita dan untuk bisa tunduk kepada orang lain. Kemudian, ketika waktunya tepat, Tuhan kita akan menggunakan tangan-Nya yang perkasa untuk meninggikan kita.

Ini adalah kata-kata dorongan yang besar, dan mungkin memberi keyakinan rohani, bagi mereka yang berjuang untuk tunduk kepada otoritas manusia yang sering terasa kejam. Ini berbicara kepada mereka yang bekerja dalam mayarakat, melayani tahun demi tahun tetapi hanya menerima sedikit penghargaan. Ini mendorong semangat mereka yang bertugas untuk menyediakan barang atau jasa yang dianggap kurang berharga dalam negara, masyarakat, gereja dan keluarga. Ketakutan alami manusia mungkin memberi tahu kita bahwa kita menyia-nyiakan hidup kita, kita berada di jalan yang salah, bahwa pilihan kita untuk melayani orang lain dengan rendah hati tanpa imbalan yang jelas adalah bukti bahwa kita adalah orang yang bodoh dan tidak berharga. Ini juga pesan iblis yang sering membuat anak Tuhan hidup dalam kesepian, keraguan, kesedihan dan kekecewaan. Ada rasa kuatir kalau-kalau Tuhan sudah melupakan kita atau bahkan menakdirkan kita untuk menderita.

Petrus menulis bahwa kitalah yang harus mengambil rasa takut itu dan menyerahkannya—melemparkannya—kepada Bapa, Allah kita. Bahkan, ia memberi tahu kita untuk menyerahkan semua penyebab kekhawatiran kita, segala sesuatu yang membuat kita khawatir, dan menyerahkannya kepada Tuhan yang sangat peduli pada kita. Ini bukan janji bahwa Tuhan akan menghilangkan segala sesuatu yang membuat kita khawatir. Selama kita hidup di dunia, Tuhan tidak berkewajiban untuk menandatangani naskah apa pun yang kita tulis untuk-Nya. Tetapi, ini adalah janji bahwa Tuhan yang perkasa akan menerima kekhawatiran kita, dan peduli terhadapnya. Ia akan menanggung kekhawatiran kita bagi kita. Ia dapat dipercaya untuk menanganinya dengan cara yang terbaik.

Pagi ini kita harus sadar bahwa perkataan Petrus adalah sebuah perintah. Bukanlah kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya untuk terus hidup di bawah beban-beban fisik maupun mental. Bukanlah Tuhan yang membuat atau menentukan kita menderita. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu perkasa dan peduli pada kita, kita seharusnya menyerahkan kekhawatiran kita kepada-Nya secara teratur setiap hari.

Pemikiran Tahun Baru: Apakah kita sudah termasuk orang baik-baik?

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:19

Bagi Anda yang mengemudi kendaraan bermotor, saya ingin bertanya apakah Anda pernah mendapat “tilang” pada tahun 2024? Kalau ya, tentu Anda berharap untuk tidak ditilang lagi pada tahun yang baru ini. Tilang merupakan singkatan dari Bukti Pelanggaran Lalu Lintas. Tilang adalah sanksi administratif yang diberikan kepada pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas. Tilang merupakan bentuk penindakan yang dilakukan oleh polisi lalu lintas (Polantas). Tilang resmi adalah sebuah surat yang berisi informasi mengenai pelanggaran si pengendara.

Di Australia, pemerintah memberikan tilang berdasarkan tingkat kesalahan dan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh pelanggaran. Bukan saja orang bisa terkena denda resmi polisi, tetapi mungkin juga kehilangan SIM jika pelanggarannya cukup serius. Di negara bagian Queensland, denda tilang menurut daftar polisi bervariasi antara $200 sampai lebih dari $1500. Sebagian orang berpendapat bahwa tilang hanya merupakan sumber pemasukan dana pemerintah, karena itu mereka sangat anti tilang. Tetapi, tanpa adanya tilang mungkin banyak orang akan mengabaikan cara mengemudi yang baik dan peraturan lalu lintas. Sekalipun kelihatannya ada banyak orang yang terkena tilang setiap hari, menurut data survey 90% pengemudi di Australia tidak pernah mendapat tilang selama setahun yang lalu.

Tentu saja, jika kita ditilang polisi ada perasaan kurang nyaman di hati kita. Bagi sebagian pengemudi, mungkin ada rasa malu kepada teman atau sanak. Sebagian lagi mungkin merasa menyesal karena kesalahan yang tidak disengaja telah berakibat denda. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa geram karena merasa bahwa kesalahan yang dianggap kecil sudah berakibat hukuman yang dirasa sangat merugikan. Karena itu, bagi orang yang sering terkena tilang, mungkin ada pemikiran betapa enaknya jika tilang ditiadakan. Sudah tentu itu tidak mungkin terjadi, karena adanya hukum selalu disertai dengan hukuman yang berupa denda dan bahkan penjara bagi mereka yang melanggarnya. Di mana pun, adanya hukum adalah berguna untuk menunjukkan kesalahan seseorang dan mengajarnya untuk tidak berbuat apa yang keliru di masa depan.

Jika orang bisa menaati peraturan lalu lintas dan berhati-hati dalam mengemudi sehingga tidak pernah mendapat tilang, lain halnya dengan hukum Tuhan. Roma 7:7–25 menyelidiki hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukum adalah cara ia mengetahui dan memahami dosa, secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ia juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum Taurat tidak bisa membuat seseorang lebih suci; hukum justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi karena godaan dosa lebih besar dari ancaman hukuman Tuhan yang mungkin tidak segera harus dialami. Itu karena banyak orang yang merasa senang jika bisa mengelabui hukum Tuhan. Paulus sebagai seorang Kristen sebenarnya ingin melakukan apa yang benar, tetapi mendapati dirinya justru melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dibebaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.

Mengenai hukum Taurat, Paulus menegaskan bahwa hukum itu kudus dan baik dalam arti bahwa hukum itu menyingkapkan kepada semua orang yang mencoba mengikutinya betapa lemahnya kita terhadap godaan dosa dan begitu berdosanya kita. Hukum itu menunjukkan kepada kita bahwa tidak peduli seberapa baik niat kita, kita tetap akan berdosa dan membutuhkan pembebasan yang hanya tersedia melalui iman kepada Yesus. Kita sendiri tidak akan mampu untuk sepenuhnya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu tidak mungkin bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian di hadapan Allah yang mahasuci.

Dalam ayat sebelumnya, Paulus menyatakan bahwa tidak ada yang baik yang tinggal dalam dagingnya. Dengan daging, ia merujuk pada dirinya sendiri, tubuhnya. Tahun demi tahun, ia mengulangi pola yang telah ia amati berulang kali dalam hidupnya: Ia tidak melakukan kebaikan yang ingin ia lakukan, tetapi ia terus melakukan kejahatan yang tidak ingin ia lakukan. Paulus menggambarkan pertikaian yang tak berkesudahan antara niat baik dan tindakan nyata.

Apakah ia menggambarkan dirinya sebagaimana adanya sebelum ia mengenal Kristus? Saat itu, ia berusaha mengikuti hukum Musa. Beberapa teolog percaya bahwa Paulus menggambarkan gambaran tentang bagaimana rasanya hidup di bawah hukum tanpa kemampuan untuk menaati hukum. Teolog lainnya berpikir bahwa Paulus menggambarkan pengalaman semua orang Kristen yang berjuang untuk berhenti berbuat dosa dan melakukan kebaikan yang mampu mereka lakukan dalam kuasa Roh Kudus sekarang karena mereka tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua pendapat itu selaras dengan pengalaman orang percaya dan informasi yang disajikan dalam ayat-ayat Perjanjian Baru lainnya. Walaupun demikian, berdasarkan analisa bahasa Yunani dari ayat di atas, tampaknya Paulus berbicara tentang pengalamannya saat ini. Orang Kristen mana pun tidak mungkin menjadi “orang baik” yang bisa menaati 100% hukum Taurat. Jika demikian, mengapa kita harus berusaha untuk menaati firman Tuhan?

Sewaktu saya masih kecil, memang saya sering mendengar bahwa harapan orang tua untuk anak-anaknya adalah agar mereka menjadi “orang baik-baik”. Dalam soal mencari menantu pun mereka ingin mendapat orang baik-baik, biarpun tidak kaya atau pandai. Di zaman sekarang, jarang saya temui orang tua yang membanggakan anak menantunya karena mereka adalah orang baik-baik. Mungkin saja, jika orang tidak pernah dipenjara dan bersal dari keluarga terpandang, ia sudah termasuk orang baik-baik. Biasanya orang sekarang senang menceritakan keberhasilan anak menantu dalam karir dan keuangan. Malahan di beberapa gereja pun, hal kesuksesan lebih didengung-dengungkan daripada hal menjadi orang yang taat kepada Tuhan. Keberhasilan dianggap sama dengan, atau tanda dari, “kebaikan” seseorang. Bukankah itu karena Tuhan memberkati orang yang baik?

Jika masyarakat umum sekarang sudah mengabaikan hal menjadi orang baik yang talut akan Tuhan, mungkin ada beberapa alasan orang Kristen yang menyebabkan mereka bersikap acuh tak acuh akan perlunya hidup baik:

  • Semua orang pada waktunya akan menjadi orang baik.
  • Baik atau buruk kita tidak bisa memilih karena sudah ditentukan Tuhan.
  • Orang yang terlalu baik biasanya tidak bisa sukses.
  • Orang yang benar-benar baik itu tidak ada.
  • Kebaikan itu tidak bisa dibanggakan.
  • Baik atau buruk itu berubah menurut keadaan zaman.
  • Baik atau buruk itu adalah penilaian pribadi.
  • Semua orang juga berbuat hal yang sama.
  • Kita masih lebih baik dari orang lain.
  • Hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Jika kita yakin bahwa dalam tahun 2024 hidup kita cukup baik, dan akan menjadi lebih baik di tahun 2025, baiklah kita melihat apa yang dikatakan Alkitab. Kebaikan (bahasa Yunani agathosune) berarti watak atau sifat moral yang baik, yang berusaha tanpa pamrih untuk membuang apa yang jelek dan menggantinya dengan apa yang baik, baik dalam diri sendiri, orang lain dan juga dalam masyarakat, negara atau dunia. Tetapi, biarpun kesadaran moral itu penting, manusia di jaman ini bisa bersembunyi dibalik penampilan sopan atau tindakan sosial yang bisa mempengaruhi pandangan orang di sekitarnya. Pada pihak yang lain, mereka yang punya sarana, kedudukan, dan kemampuan, cenderung memakainya untuk mengejar kesuksesan dan kepuasan untuk diri sendiri dan anak-cucunya tanpa memikirkan hukum Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan tidak bisa kita tipu karena Ia melihat apa yang ada dalam hati kita.

” ….. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Apahah kita mau menjadi lebih baik di tahun 2025? Roma 7:19 menyatakan bahwa kita tidak bisa menaati hukum Tuhan dengan usaha sendiri. Walaupun demikian, Tuhan menghendaki kita untuk menjadi kudus, dalam arti terus berusaha untuk hidup kudus. Itu hanya bisa dijalani dengan perjuangan berat, dan untuk itu kita harus mau untuk selalu dekat dengan Tuhan dan mendengarkan bimbingan Roh Kudus-Nya.

tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. 1 Petrus 1:15-16

Penderitaan kita ada artinya

“Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 18-19

Mungkin Anda pernah membaca bahwa pandemi Covid-19 yang lalu tidak hanya membawa sakit jasmani, tetapi juga sudah membuat banyak orang mengalami berbagai masalah kejiwaan. Memang, dalam kasus long Covid ada sejumlah penderita yang tetap memiliki keluhan fisik atau mental selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah gejala awal muncul.

Mengenai gangguan mental, itu bukan hanya bisa disebabkan oleh Covid-19, tetapi adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang bisa dialami masyarakat di negara mana pun, yang bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat, merasa tertekan dan bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan pertanyaan itu adalah wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami karena tindakan orang lain. Dan mereka yang sudah bekerja keras tetapi tetap mengalami kesulitan ekonomi sering merasa bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup seperti ini, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Dalam ayat 18, rasul Petrus menulis bahwa budak-budak Kristen harus tunduk kepada tuan mereka. Perlu dicatat, perbudakan” di era Alkitab bukanlah konsep perbudakan dengan penindasan seperti yang mungkin sering kita lihat di layar perak. Para budak di Alkitab pada umumnya sudah dianggap sebagai pembantu rumah tangga dan sering mendapat kepercayaan dari majikan mereka. Walaupun demikian, tentu ada budak-budak yang merasa bahwa mereka tidak mendapat perlakuan yang baik dari majikan mereka.

Penting untuk diingat bahwa banyak pembaca Kristen Petrus adalah budak, dan sangat mungkin menghadapi perlakuan buruk dari tuan mereka. Petrus sangat menyadari hal ini. Di sini, ia mengakui bahwa penderitaan yang tidak adil akan mendatangkan rasa sakit dan/atau kesedihan bagi mereka. Ia tidak menyebut itu hal yang baik. Yang ia sebut hal yang baik adalah dengan sengaja menanggung rasa sakit dan kesedihan itu karena kesadaran akan adanya Tuhan yang berdaulat. Atau, bisa dikatakan, karena kepercayaan dan ketundukan kepada Tuhan.

Sampai sekarang banyak orang yang merasa sudah “diperbudak” oleh atasan. Perasaan tertekan, sedih, dan marah mungkin muncul bersama keinginan untuk memberontak dan membalas dendam. Tetapi, menurut ayat di atas, semua orang Kristen harus tunduk kepada setiap orang yang memiliki otoritas dalam hidup mereka. Ini seperti apa yang dilakukan oleh Yesus.

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” 1 Petrus 2:23

Dalam ayat 23, Petrus mengingatkan kita bahwa Yesus menanggung rasa sakit dan kesedihan saat diperlakukan tidak adil. Yesus membuat pilihan yang disengaja untuk mempercayakan Diri-Nya kepada hakim yang adil, yaitu Allah Bapa. Jadi, kemampuan untuk menanggung rasa sakit dan kesedihan itu adalah suatu kasih karunia dari Tuhan. Dengan kemampuan itu, kita sadar bahwa Allah kita adalah satu-satunya yang akan menghakimi semua tindakan tersebut pada akhirnya. Dia juga satu-satunya yang memenuhi kebutuhan terdalam kita saat ini.

Secara keseluruhan, 1 Petrus 2:13–25 mengungkapkan kehendak Allah bagi mereka yang merdeka di dalam Kristus: untuk dengan rela tunduk kepada setiap otoritas manusia demi Allah. Ini termasuk kaisar, gubernur, raja, dan bahkan atasan dan majikan. Petrus tidak mendukung perbudakan, tetapi ia memerintahkan “budak-budak Kristen” untuk menanggung penderitaan yang tidak adil, seperti yang Yesus lakukan demi kita di kayu salib.

Petrus menjelaskan secara spesifik tentang apa artinya hidup sebagai umat pilihan Allah. Kristus adalah batu fondasi rumah rohani yang sedang dibangun Allah. Kita harus terlibat dalam pertempuran melawan keegoisan dan keinginan untuk berbuat dosa. Ini termasuk tunduk kepada otoritas manusia, tidak peduli seberapa bengis atau kasarnya. Walaupun demikian, Paulus tidak mengharapkan kita untuk ”taat” ketika perintah itu untuk berbuat dosa. Sebaliknya, orang Kristen dipanggil untuk meniru Kristus dengan menderita karena memilih apa yang baik. Itu berarti siap untuk menanggung penderitaan, seperti yang Kristus lakukan demi kita ketika Dia mati di kayu salib. Peran kita bukanlah untuk berperang secara fisik demi keadilan di dunia, tetapi kita harus sadar bahwa penderitaan kita adalah untuk sementara.

Mengapa kuasa Tuhan agaknya tidak melakukan sesuatu ketika kita menderita dan tertindas? Mungkin pelajaran terbesar yang kita pelajari dari pengalaman Ayub adalah bahwa Tuhan tidak harus menjawab siapa pun atas apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan. Pengalaman Ayub mengajarkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah tahu alasan spesifik dari penderitaan seseorang, tetapi kita harus percaya kepada Allah kita yang berdaulat, kudus, dan adil.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang sudah terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman. Tuhan bukanlah Tuhan yang membiarkan umat-Nya menderita tanpa suatu alasan yang baik.

Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Mazmur 18: 31

Pagi ini, kita harus sadar bahwa adalah tanggung jawab dan pilihan kita untuk menaati-Nya, memercayai-Nya, dan tunduk pada kehendak-Nya, baik kita bisa memahaminya atau tidak. Karena jalan Tuhan sempurna, kita dapat percaya bahwa apa pun yang Dia lakukan—dan apa pun yang Dia izinkan—juga sempurna.

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” Ibrani 12:3-4