Pilihan kita dan kehendak Tuhan dalam tahun 2024

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” Pengkhotbah 3:1-8

Bagi banyak pekerja di Australia, tanggal 8 Januari 2024 adalah hari pertama pada tahun yang baru untuk kembali bekerja setelah berlibur Natal dan tahun baru. Kebanyakan orang merasa bahwa liburan sangat cepat berlalu; tetapi tentu saja tidak ada liburan yang tidak berakhir. Segala sesuatu di dunia tidak akan berlangsung untuk selamanya. Pengkhotbah 3:1–8 adalah sebuah ayat terkenal yang membahas tentang keseimbangan, siklus kehidupan dan mengatakan bahwa segala sesuatu ada waktunya. Penulis ayat-ayat itu mengilustrasikan kebenaran ini dengan menyandingkan hal-hal yang berlawanan: empat belas pasang aktivitas yang kontras sebagai contoh bagaimana kehidupan terdiri dari berbagai musim.

Anda mungkin pernah mendengar sebagian dari ayat-ayat terkenal ini dibacakan di pemakaman, namun kita jarang meluangkan waktu untuk memikirkannya. Ini adalah meditasi pada ritme kehidupan – ada yang tidak bisa kita kendalikan dan ada yang bisa kita kendalikan. Kitab Pengkhotbah, atau Qohelet dalam bahasa Ibrani, dimulai dengan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan – kelahiran dan kematian, menanam dan memanen. Betapapun kerasnya kita berusaha mempengaruhi mereka, pada akhirnya kita harus mengikuti ritme pekerjaan Tuhan di dunia. Apakah ini sesuatu yang membuat Anda merasa nyaman atau seabaliknya? Atau apakah Anda merasa bahwa kita harus memiliki kendali lebih besar dalam bidang-bidang seperti ini? Adakah sesuatu yang harus kita lakukan, jika Tuhan yang menentukan?

Sebagian orang ingin memperpanjang hidup mereka, dan sebisa mungkin ingin menunda kematian, atau bahkan, kalau bisa, ingin menghilangkannya sama sekali. Jika kita tinggal di negara yang sudah maju dalam bidang kedokteran dan pengobatan, kita berpikir bahwa kematian seharusnya bisa dihindari. Tapi, sekalipun seseorang bisa bertambah lama hidupnya dengan perawatan medis yang canggih, pada akhirnya kematian akan datang, dan malahan sering kali dengan membawa penderitaan yang berkepanjangan bagi orang itu maupun keluarganya. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa baik kehidupan maupun kematian adalah bagian dari kehidupan. Cara hidup kita adalah pilihan kita, tetapi apa yang kita alami adalah dengan seizin-Nya. Puisi ini menegaskan bahwa inilah cara Tuhan bekerja di dunia dan kehendak-Nya harus terjadi. Walaupun demikian, apa yang kita lakukan dan alami adalah bagian dari rencana-Nya.

Pembacaan langsung dari ayat-ayat di atas mengungkapkan beberapa konsep:

Pertama, pengaturan waktu aktivitas kita itu penting. Membunuh seseorang (Pengkhotbah 3:8) umumnya dianggap jahat dan kriminal, namun hal ini dapat berubah ketika terjadi perang, ketika membela negara dapat dianggap sebagai tindakan yang mulia. Menari (ayat 4) mungkin cocok pada saat perayaan, namun tidak pantas untuk pemakaman. Baik tindakan kita maupun kapan kita bertindak adalah penting bagi rencana Tuhan.

Kedua, musim-musim di mana kegiatan-kegiatan tertentu layak dilakukan, dan adanya kejadian-kejadian yang meminta kita bertindak, seperti yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Rencana hidup manusia melibatkan berbagai pengalaman dan aktivitas. Menangis mungkin merupakan bagian dari kehidupan, namun hidup tidak hanya berupa tangisan; tertawa juga ada tempatnya (Pengkhotbah 3:4). Konstruksi memang baik pada waktunya, namun terkadang dekonstruksi diperlukan (ayat 3). Kunci dari bagian ini ditemukan beberapa ayat kemudian: “Dia menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya” (Pengkhotbah 3:11). Aktivitas dan pengalaman manusia yang terjadi pada waktu yang tepat, yang mewujudkan tujuan Tuhan, adalah bagian indah dari keseluruhan rencana Tuhan. Sebuah permadani, jika dilihat dari belakang, tampak seperti karya yang kacau dan tidak indah; namun pembuat permadani mempunyai tujuan yang bijaksana atas penempatan setiap benangnya.

Ketiga, Pengkhotbah 3:1-8 menjadi jembatan antara dua pasal pertama dan bagian berikutnya. Manusia harus menerima setiap hari, dengan segala apayang terjadi, sebagai anugerah dari tangan Tuhan (2:24-26). Mengapa? Pengkhotbah 3:1–8 menjelaskan hal ini karena Allah mempunyai alasan dan waktu untuk segala sesuatu. Manusia mungkin tidak mengetahui waktu dan rencana Tuhan (3:9-11), namun mereka dipanggil untuk menikmati kehidupan dan bertanggungjawab atasnya pada saat ini (3:12-13) dan juga percaya pada kedaulatan Tuhan (3:14-15). Banyak hikmah yang Tuhan berikan dalam firman-Nya, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Tuhan itu berdaulat. Aktivitas kita di dunia ini bermakna jika kita mengandalkan hikmah-Nya, menantikan waktu-Nya, dan percaya pada kebaikan-Nya.

Suatu waktu yang ditentukan, kapan segala sesuatu akan terjadi, berapa lama hal itu akan berlangsung, dan dalam keadaan apa; segala sesuatu yang telah, sedang, atau akan terjadi, telah ditentukan sebelumnya oleh Allah, dan Dia telah menentukan keberadaan, durasi, dan akhir hal-hal tersebut. Waktu dan musim berada dalam kuasa-Nya sendiri: ada suatu waktu yang ditentukan bagi seluruh alam semesta, dan bagi semua orang dan benda-benda di dalamnya. Ada suatu saat yang telah ditetapkan untuk terjadinya dunia; karena semua ciptaan-Nya tidak ada sejak kekal, tidak muncul dengan sendirinya, juga tidak terbentuk oleh kumpulan atom-atom yang terjadi secara acak atau kebetulan, melainkan oleh kebijaksanaan dan kuasa Tuhan; dan hal itu tidak akan ada lebih cepat atau lambat; hal itu muncul pada saat yang seharusnya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Jika pada mulanya Tuhan menciptakan alam semesta, dan Dia telah menetapkan berapa lamanya dan kapan berakhirnya; karena hal itu tidak akan terus berlangsung secara abadi, tetapi akan mempunyai akhir. Dalam hal ini, hanya Dia yang tahu kapan itu akan terjadi: jadi ada waktu yang ditentukan untuk kebangkitan, kemajuan, dan kemerosotan negara-negara dan kerajaan-kerajaan di dunia; seperti a[pa yang terjadi pada kerajaan-kerajaan kecil, demikian pula kerajaan-kerajaan besar; dan untuk semua periode dan zaman yang berbeda di dunia; dan untuk setiap musim sepanjang tahun di segala zaman; untuk keadaan gereja di dalamnya, baik yang berada dalam keadaan menderita atau berkembang.

Adanya orang-orang yang menghancurkan Yerusalem; nabi-nabi yang bernubuat, orang-orang yang membunuh pengikut Kristus dan munculnya saksi-saksi Kristus di seluruh dunia; adanya pemerintahan antikristus dan kehancurannya; untuk pemerintahan Kristus di bumi, dan untuk kedatangan-Nya yang kedua kali guna mengadili seluruh manusia, semua itu terjadi dan akan digenapi karena ada waktu yang ditentukan dalam pengarahan dan pemeliharaan Allah.

Dengan demikian, kita harus yakin bahwa apa yang akan terjadi pada tahun 2024, dengan segala rencana dan tindakan kita , demikian pula segala sesuatu yang direncanakan seluruh umat manusia menurut waktu untuk segala tujuan mereka di bawah langit; untuk setiap tujuan manusia yang dilaksanakan; ataupun yang tidak terlaksana, semua itu dipengaruhi oleh kehendak Tuhan. Allah bisa mendorong manusia ke arah tertentu atau menjauhkan manusia dari hal-hal tertentu melalui berbagai cara sehingga apa yang dapat dilaksanakan atau gagal akan terjadi pada waktunya. Allah mengatur manusia untuk bisa memenuhi tujuan-tujuan mereka sendiri; karena hal-hal itu terjadi secara bebas dan sukarela, sekalipun berada di bawah arahan dan pemeliharaan Tuhan. Untuk setiap tujuan Tuhan, ada waktunya; untuk segala sesuatu yang dilakukan manusia di dunia ini pada akhirnya akan sesuai dengan tujuan-tujuan-Nya, yang terbentuk dengan bijaksana di dalam diri-Nya, dan bersifat kekal serta tidak dapat diganggu gugat. Biatlah kita mau bekerja dengan giat dan menurut firman-Nya, sambil berserah kepada-Nya dengan iman yang teguh.

Apakah beda manusia dan hewan?

“Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar.” 2 Petrus 2:12

Kitab Petrus menyatakan bahwa guru-guru palsu telah memasuki komunitas Kristen mula-mula. Para penipu ini berbohong kepada orang-orang percaya dan menantang otoritas Yesus. Mereka juga mengundang orang lain untuk menuruti dosa seksual mereka. Seperti itu, masih ada versi guru-guru palsu yang mengganggu komunitas Kristen modern dengan mengajarkan bahwa dosa-dosa tertentu adalah lumrah, dan bahwa manusia pilihan Tuhan tidak perlu memikirkan dosa mereka. Petrus dengan tegas menggambarkan dosa-dosa “anak-anak terkutuk” ini, dan menegaskan bahwa penghakiman kekal menanti mereka, dan menjelaskan dampak tragis penipuan mereka terhadap orang-orang yang terpikat oleh mereka.

Ayat-ayat dari 2 Petrus 2:10–22 menjelaskan lebih lanjut dosa para guru palsu yang menyebarkan penipuan di gereja mula-mula. Ayat-ayat sebelumnya menjelaskan bagaimana Tuhan menghakimi kejahatan di masa lalu, sekaligus menyelamatkan mereka yang setia. Bagian ini menggambarkan orang-orang yang menolak Kristus demi kepentingan dunia sebagai orang yang “diperbudak” oleh dosa-dosa mereka sendiri. Tidak peduli apa yang mereka klaim, orang-orang seperti itu membuktikan kondisi rohani mereka dengan terus-menerus kembali ke kekotoran moral mereka.

Petrus melanjutkan kutukannya terhadap guru-guru palsu di antara umat gereja, dengan menggambarkan dosa-dosa mereka yang sembrono di hadapan Allah dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa-dosa itu bagi mereka. Petrus telah mengungkapkan bahwa guru-guru palsu ini, tampaknya, menghina atau mengejek makhluk surgawi sebagai bagian dari pengajaran mereka. Petrus menyebut hal itu sebagai penghujatan: berbicara tanpa rasa hormat yang pantas tentang hal-hal yang sakral. Kita tidak tahu secara spesifik apa yang mereka katakan, atau mengapa mereka mengatakannya, namun Petrus memperjelas bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Karena alasan ini dan alasan lainnya, Petrus membandingkan guru-guru palsu ini dengan binatang yang hanya didorong oleh naluri dan bukan oleh pemikiran rasional. Ia menulis bahwa mereka melakukan hal yang alami seperti hewan liar, misalnya, menyerang manusia tanpa sebab yang jelas. Seperti binatang buas itu, Petrus berkata bahwa guru-guru palsu ini akan ditangkap dan dimusnahkan. Namun dalam kasus mereka, Tuhanlah yang akan membinasakan mereka. Kemungkinan besar, Petrus memaksudkan penghakiman kekal atas mereka.

Menariknya, Petrus membandingkan mereka yang bertindak seperti binatang dengan mereka yang bertindak berdasarkan akal budi. Kekristenan, sejak awal, menunjang kebijaksanaan dan pikiran sehat. Faktanya, aspek utama dari iman adalah pengendalian yang disengaja atas kehidupan dan cara berpikir seseorang (Roma 12:2). Gagasan untuk mengabaikan kecerdasan, dan hanya berfokus pada perasaan, sangat bertentangan dengan iman alkitabiah. Memang, dari Alkitab kita tahu bahwa cara hidup dan berpikir manusia adalah hal-hal yang membedakan manusia dan hewan.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Selanjutnya, Alkitab dengan jelas membedakan antara manusia dan hewan:

“Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan.” 1 Korintus 15:39

Secara terperinci, manusia berbeda dari semua binatang lainnya dalam beberapa hal:

  1. Mampu berpikir secara analitis

Manusia dapat menganalisa masalah dan menemukan solusi kreatif. Ia mampu bernalar dan berfilsafat tentang kehidupan. Kekuatan penalaran pada hewan terbatas.

  1. Memiliki bahasa yang sejati

Hanya manusia yang memiliki bahasa dan pemikiran konseptual yang benar. Ia dapat berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol abstrak. Alkitab mengatakan salah satu tanggung jawab pertama yang diberikan Tuhan kepada Adam adalah memberi nama binatang (Kejadian 2:19-23). Hewan tidak mempunyai kapasitas seperti itu.

  1. Mampu merekam sejarah

Perbedaan lainnya adalah manusia dapat mencatat dan menentukan sejarah. Sejak dahulu kala, manusia telah mencatat hidupnya untuk dipelajari oleh generasi mendatang. Tidak ada satupun hewan yang mencatat amalnya untuk anak cucu.

  1. Menjalankan ekonomi

Manusia adalah makhluk ekonomi, mampu melakukan transaksi bisnis yang rumit dan mengelola barang dan jasa di bawah kendalinya. Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk menguasai bumi dan “menaklukkannya” (Kejadian 1:28). Hewan tidak melakukan transaksi bisnis satu sama lain.

  1. Mempunyai kesenian

Manusia adalah makhluk estetis yang mampu mempersepsi dan mengapresiasi keindahan dan nilai-nilai tak berwujud. Ketika hewan membangun sesuatu, proses dan objek yang dihasilkan memiliki tujuan fungsional saja. Hewan tidak menciptakan objek untuk tujuan apresiasi.

  1. Menghargai moralitas

Manusia adalah makhluk yang beretika. Dia bisa membedakan antara benar dan salah. Dia dapat dan memang membuat penilaian moral. Dia memiliki hati nurani. Hanya kepada manusialah Tuhan dapat berbicara tentang “kebaikan” dan “kejahatan”. Karena rasa keadilan dan orientasi etis manusia, Tuhan dapat menghukumnya dengan adil karena ketidaktaatannya yang disengaja di Taman Eden.

  1. Melaksanakan ibadah

Hanya manusia yang dapat mempunyai iman, karena karunia Tuhan. Hanya manusia di antara seluruh ciptaan di bumi yang dapat menyembah Penciptanya. Hanya dia yang bisa menaruh kepercayaannya pada bimbingan dan kepemimpinan Tuhan.

  1. Menguburkan yang mati

Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang menguburkan kematiannya. Tidak ada contoh hewan yang melakukan upacara penguburan apa pun seperti yang dilakukan manusia.

Daftar di atas, meskipun tidak menyeluruh, menunjukkan bahwa ada banyak hal yang membedakan manusia dari hewan. Kita juga bisa menambahkan hal-hal seperti: kreativitas, penemuan, imajinasi, penalaran abstrak, cinta (di berbagai tingkatan), kemauan, dan hati nurani.

Kehidupan manusia beriman harus berbeda dari kehidupan hewan.

Penting untuk diperhatikan perbedaan signifikan antara manusia dan bentuk kehidupan lainnya. Tidak hanya berbeda dengan tumbuhan, manusia juga berbeda dengan hewan. Hanya manusia, menurut Alkitab, yang diciptakan menurut “gambar Allah”. Hanya manusia yang memiliki kemauan dan kesadaran diri yang membedakan kita dengan hewan yang paling “maju” dan cerdas sekalipun.

Bagi para ilmuwan, manusia adalah seekor binatang, yang dengan anggun menyebutnya sebagai homo sapiens. Tetapi, dari Alkitab, dan juga dari pengamatan terhadap manusia dan hewan, terlihat bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar di antara keduanya. Sejarah sekuler dapat memberi tahu kita banyak hal tentang masa lalu kita sebagai umat manusia, dan juga posisi kita di dalamnya. Namun tidak peduli berapa banyak tulisan yang kita temukan dan terjemahkan, tidak peduli berapa banyak penggalian yang kita lakukan dan berapa banyak artefak yang kita pelajari, sejarah sekuler belum menemukan petunjuk untuk membantu menjelaskan mengapa manusia sejati harus berbeda dari hewan.

Pad phak lain, Alkitab mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia merupakan klimaks ciptaan Tuhan, yang diciptakan pada hari keenam. Meskipun urutan terakhir, manusia adalah yang ciptaan Tuhan yang paling penting:

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:27

“Pada waktu Allah menciptakan manusia, Allah membuat mereka mencerminkan sifat-sifat-Nya. Allah menciptakan mereka sebagai laki-laki dan perempuan, memberkati mereka, dan menyebut mereka ‘manusia’.” Kejadian 5:1,2

Kita sudah belajar bahwa manusia diciptakan sebagai gambar Allah. Kita juga sudah belajar bahwa manusia pada akhirnya jatuh ke dalam dosa. Pertanyaan: Apakah dampak dosa bagi manusia sebagai gambar Allah? Apakah dosa menghilangkan/menghancurkan gambar Allah dari diri manusia? Dosa tidak menghilangkan atau menghancurkan gambar Allah dalam diri manusia, tetapi dosa merusak gambar Allah. Dosa memang membuat manusia bisa hidup dan bertingkah laku seperti hewan, tetapi mereka tetap merupakan gambar Allah.

Sebagai contoh, setelah peristiwa Kejadian 3, yaitu kejatuhan manusia dalam dosa, dalam Kejadian 5:1-3, dikatakan demikian: “Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; . . .Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.” Demikian juga yang dinyatakan dalam Kejadian. 9:6, “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Jelas, alasan Tuhan melarang manusia membunuh sesamanya adalah karena manusia diciptakan menurut gambar Allah.

Perjanjian Baru juga memberikan penjelasan yang sama. Di dalam Yakobus 3:9, dituliskan “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita. Dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,” Yakobus melarang penerima suratnya bersikap tidak konsisten, mulut mereka dipakai memuji Tuhan, tetapi pada saat yang sama, mulut mereka dipakai mengutuki sesamanya yang diciptakan menurut gambar Allah. Dari ayat-ayat ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa gambar Allah dalam diri manusia tidak hilang. Manusia tetap sebagai gambar Allah; tetapi gambar Allah di dalam diri manusia telah mengalami kerusakan.

Roma 3:23 menyatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Mayoritas Alkitab versi bahasa Inggris, menerjemahkan kata ‘”kehilangan” dengan lebih tepat, yaitu “kekurangan”. “For all have sinned, and fall short of the glory of God.” Manusia mengalami kekurangan dari kemuliaan yang pertama Allah berikan kepada mereka. Jadi manusia tidak sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah, tetapi manusia mengalami kekurangan kemuliaan Allah (fall short of the glory of God). Manusia yang berdosa tetap sebagai gambar Allah, tetapi gambar itu telah menjadi rusak. Karena itu, mereka yang tetap hidup dalam dosanya bisa dikatakan mirip dengan hewan.

Puji Tuhan, Allah tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan yang tanpa harapan. Ketika Dia melihat manusia berada dalam keadaan yang telah mengalami kerusakan maka Allah melakukan sesuatu, yaitu mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk menebus gambar-gambar yang rusak itu. Menariknya, beberapa kali Alkitab menyebut Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia disebut sebagai gambar Allah atau wujud Allah. Misalnya di dalam Kolose 1: 15 dikatakan “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,” Begitu juga dalam Ibrani 1:3, dikatakan “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”

Manusia sebagai gambar Allah sudah rusak, tetapi Allah mengirim Anak-Nya sendiri, yaitu gambar-Nya yang sempurna untuk menjadi manusia, menebus gambar-gambar yang rusak itu, supaya gambar yang rusak itu terus menerus mengalami transformasi untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah. Hal ini dicatatkan oleh Paulus dalam Rom. 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Demikian pula dalam Kolose 3:10, Paulus mengatakan: “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik-Nya.” Kita harus ingat bahwa dalam 2 Korintus 5:17 Paulus menulis: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Semoga kita mengerti apa beda antara manusia baru dan hewan, dan memilih untuk hidup sebagai gambar Allah yang sejati yang akan berjumpa dengan Dia di surga.

Adakah orang yang mau memikul salibnya?

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Markus 8:34 

Dalam tahun yang baru ini, adalah cocok jika kita memelajari arti Markus 8:34. Sebagian orang menjadi Kristen dengan keinginan untuk masuk ke surga, tetapi sebagian juga ingin untuk hidup nyaman di dunia. Tetapi, ayat di atas tidak mengajak kita untuk mengikut Yesus untuk mendapat karcis gratisan untuk ke surga atau kupon untuk mendapat kekayaan dan kenikmatan di dunia.

Dalam Markus 8:33, Yesus menghadapi godaan yang serupa dengan godaan ketiga dari Setan di padang gurun (Matius 4:8-10), yaitu untuk mengambil jalan yang lebih mudah yang terlihat seperti jalan keselamatan namun sebenarnya menuju neraka. Yesus mengajarkan bahwa kita akan menghadapi godaan yang sama. Beberapa pembaca Markus, yang hidup dalam penganiayaan dari Roma, harus menanggung salib secara literal demi iman mereka, termasuk kemungkinan sumber Markus, yaitu Petrus yang menemui ajalnya melalui siksaan.

Di zaman sekarang, kebanyakan orang Kristen tidak dapat membayangkan bagaimana mereka harus berati menderita dan bahkan mati karena iman kepada Kristus. Namun, sebagai pengikut Yesus, kita semua perlu menolak kehidupan yang lebih mudah dari iman yang dangkal dan sesuai dengan budaya modern, atau “kepercayaan yang mudah” yang bersifat egois dan duniawi agar kita menyerah kepada keadaan sekitar kita. Ayat di atas berkata bawa jika kita tidak mau menyangkal diri kita sendiri, dan mengikuti teadan Kristus dalam tindakan kita serta respon kita terhadap hidup kita, maka kita sama sekali tidak “mengikuti” Dia.

“Menyangkal” berasal dari akar kata Yunani aparneomai dan berarti menegaskan bahwa Anda tidak berhubungan dengan seseorang. Menyangkal diri sendiri berarti melupakan kepentingan diri sendiri. Ini tidak berarti meninggalkan segala kenyamanan di dunia seperti seorang bhiksu, atau mengendalikan tindakan seseorang melalui disiplin spiritual yang kaku, tetapi menolak segala sesuatu yang menghalangi kerajaan Tuhan. Secara spesifik, apa yang harus kita tolak bergantung pada situasi kita. Itu bisa berupa kenyamanan, tanggung jawab duniawi, atau bahkan hubungan dengan keluarga atau masa lalu kita (Lukas 9:57–62).

Banyak orang yang menerjemahkan “salib” sebagai rujukan atas segala beban yang harus mereka pikul di dalam kehidupan mereka; seperti sebuah hubungan keluarga yang tidak harmonis, pekerjaan yang tidak dihargai, atau penyakit fisik yang dialami diri sendiri atau anggota keluarga. Dalam kesaksiannya seseorang kemudian berkata, “Itulah salib yang harus aku tanggung.” Terjemahan seperti itu bukanlah pada hakekatnya merupakan arti memikul salib dan mengikuti Dia. Memikul salib bukan berarti menerima beban atau penderitaan hidup yang umum sebagai manusia.

Memang, orang-orang percaya cenderung menganggap segala ketidaknyamanan sebagai “salib” dan kemudian menjadikannya sebagai bagian dari pemuridan. Arti kata “memikul salib” sebenarnya sejajar dengan “menyangkal diri sendiri”. Jika kita belajar untuk mengorbankan diri kita demi Tuhan, kita tidak akan resah mengorbankan harta benda kita. Kita akan menjadi milik Tuhan, bukan hamba dari harta, kedudukan, reputasi, atau kenyamanan kita. Semua itu adalah kerelaan dan keputusan kita sendiri.

Bahwa Yesus memanggil orang banyak itu kepada-Nya dan mengucapkan hal memihul salib sebelum Dia membicarakan hal-hal lain adalah sesuatu yang penting. Ini berarti bahwa Dia menyampaikan panggilan untuk menyangkal diri sendiri dan memikul salib kepada semua orang percaya, bukan hanya kepada para pemimpin Kristen. Beberapa orang dipanggil untuk menjalani kehidupan pelayanan. Beberapa orang dipanggil untuk mengorbankan hidup mereka demi kerajaan Allah. Namun kita semua dipanggil untuk menyerahkan kehidupan duniawi kita dan mengabdikan diri kita kepada Kristus. Itu bukan melalui penetapan-Nya dan bukan juga keputusan-Nya, tetapi adalah ajakan-Nya agar kita mau menuruti-Nya. Menjadi pengikut Kristus bukanlah menjadi orang yang pasif, yang percaya kepada takdir.

Ketika Yesus memikul salibNya ke Golgota untuk disalibkan di sana, tidak ada seorang pun yang memikirkan salib secara simbolik sebagai beban yang harus kita tanggung. Bagi seorang yang hidup di abad pertama, salib hanya dapat diartikan sebagai kematian dengan cara yang paling memalukan dan mengenaskan yang pernah diciptakan manusia.. Karena orang Romawi memaksa penjahat yang ditemukan bersalah memikul salib mereka ke tempat penyaliban, memikul salib bersama Yesus bermakna memertahankan iman kita di sepanjang perjalanan hidup kita sampai mati.

Ajakan untuk “memikul salib dan mengikuti Aku” juga bermakna bahwa kita siap mati demi mengikuti Yesus. Ini yang diartikan “mati kepada kehendak pribadi.” Ialah panggilan untuk berserah penuh. Setiap kali Yesus memerintahkan penanggungan salib, Ia berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:24-25). Walaupun ini adalah panggilan yang berat di dunia materialistik saat ini, pahalanya tidak tersaingi.

Mengikuti Yesus adalah hal mudah ketika hidup kita lancar dan nyaman; tetapi, komitmen kita padaNya yang asli akan terlihat di kala ada pencobaan. Yesus memastikan bahwa semua pengikutNya akan menghadapi pencobaan (Yohanes 16:33). Pemuridan mensyaratkan pengorbanan, dan Yesus tidak pernah menyelubungi hal itu. Di dalam Lukas 9:57-62, tiga orang terlihat ingin mengikuti Yesus. Ketika Yesus bertanya kepada mereka, mereka tidak berkomitmen secara penuh. Mereka gagal memperhitungkan harga yang harus dibayar demi mengikutiNya. Tidak ada yang ingin mengemban salib dan menyalibkan kepentingan pribadiNya.

  • Jika Anda sedang berfikir tentang menanggung salib, pertimbangkanlah pertanyaan-pertanyaan ini:
  • Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti kehilangan teman terdekat?
  • Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti diasingkan keluarga?
  • Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti reputasi Anda rusak?
  • Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti kehilangan pekerjaan?
  • Apakah Anda siap mengikuti Yesus jika ini berarti kehilangan nyawa Anda?

Di beberapa tempat di dunia ini, akibat dari mengikut Kristus adalah sebuah realita yang berat. Perhatikan cara pertanyaan tersebut dirangkai, “Apakah Anda siap?” Mengikuti Yesus tidak secara harafiah berarti semua hal ini akan terjadi pada Anda, tetapi apabila terjadi apakah Anda siap menanggung salib? Jika datang sebuah peristiwa di tahun 2024 dimana Anda harus memilih – ketaatan kepada Yesus atau kenyamanan duniawi – apakah pilihan Anda?

Komitmen pada Kristus berati menanggung salib setiap hari, menyerahkan harapan, impian, harta benda, dan mungkin juga nyawa Anda bagi Kristus. Hanya jika Anda siap menanggung salib maka Anda layak mengemban julukan muridNya (Lukas 14:27). Pahalanya tentu sepadan dengan harga yang harus dibayar. Yesus mengikuti panggilan kematian akan pribadiNya (“Pikullah salib dan ikutlah Aku”) dengan karunia kehidupan di dalam Kristus:

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Matius 16:25-27

Tahun baru, topan baru

“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.” Markus 4: 39

Empat rumah hancur dan ratusan lainnya rusak setelah seminggu dilanda hujan es raksasa, angin kencang, dan hujan deras di tenggara Queensland. Wilayah Gold Coast, Logan, dan Tamborine Mountain paling terkena dampak cuaca buruk yang terjadi sejak Hari Natal, yang membuat banyak keluarga berada dalam kegelapan dan menyebabkan beberapa orang dilarikan ke rumah sakit. Satu rumah di Tamborine Mountain hancur ketika sebuah pohon setinggi 40 meter menabrak properti tersebut setelah terbawa badai.

Keadaan di Gold Coast sangatlah parah sesudah hari Natal 2023, ketika air banjir menggenang di banyak jalan dan aliran listrik mengalami pemutusan selama semingu. Saya bersyukur bahwa keadaan sesudah itu mulai membaik. Pada pihak yang lain, saya juga kuatir bahwa ada kemungkinan ada badai dalam minggu-minggu mendatang. Kekuatiran saya menjadi lebih intens jika saya ingat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa memastikan apa yang akan terjadi pada minggu-minggu mendatang di pantai timur Australia. Memang bulan Januari adalah bulan topan di Australia.

Topan datang tanpa diundang. Murid-murid Yesus menurut kitab Markus diatas lagi berperahu sambil menikmati pemandangan ketika mereka menyeberangi laut Galilea yang juga dinamakan laut Tibereas. Laut ini sebenarnya adalah danau air tawar terbesar di Israel, sekitar 20 km panjangnya dan 10 km lebarnya dengan kedalaman 45 meter. Ketenangan danau itu tiba-tiba berubah diganti dengan kekacauan dan ketakutan ketika angin topan datang, yang membuat perahu mereka hampir karam.

Datangnya topan dan ombak membuat murid-murid menjadi was-was. Tetapi, sebagai penangkap ikan, sebagian mungkin sudah terbiasa menghadapi ombak besar seperti itu. Mungkin mereka pada awalnya berusaha untuk mengatasi keadaan. Tetapi sekalipun mereka kuat dan berpengalaman dengan ombak besar, ternyata keadaan menjadi sangat buruk sehingga dalam kekuatiran mereka membangunkan Yesus.

Sekuat-kuatnya manusia, tentu ada keadaan yang membuat mereka kuatir. Dengan pikiran sehat kita tentu pernah mengalami bahwa ada saatnya kita merasa takut dan kuatir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Orang-orang disekitar kita mungkin bermaksud baik dengan menyokong kita, membesarkan hati kita. Tetapi siapakah yang berani mengaku bahwa dirinya kuat dalam menghadapi gelombang hidup yang besar? Saat ini, kita adalah manusia yang sebenarnya kecil dibandingkan dengan gunung persoalan dan tantangan yang kita hadapi. Seperti murid-murid Yesus kita merasa lemah dan tak berdaya. Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita. Tidak ada nasihat dan semboyan yang bisa membesarkan hati kita.

Pada waktu murid-murid menyadari ketidak-berdayaan mereka, mereka menjerit memanggil Yesus. Mereka membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Dalam keadaan darurat seperti itu mereka sadar bahwa harapan satu-satunya adalah pada Ia yang benar- benar berkuasa, Tuhan Yesus. Yesus kemudian bangun dan menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!”.

Kata yang diterjemahkan “menghardik” berasal dari akar kata Yunani epitimao. Secara harfiah berarti memberikan atau mengakui nilai dari sesuatu. Dalam hal ini Yesus menilai angin tidak dikehendaki. Itu adalah kata yang sama yang digunakan ketika Yesus menghadapi setan (Markus 1:25; 3:12; 9:25). Kata “diam” berasal dari akar kata Yunani fimoo yang berarti tetap diam seperti diberangus, dan tetap terkendali. Menarik sekali bahwa Yesus menyikapi unsur-unsur cuaca seperti yang kita lakukan terhadap makhluk hidup. Jika Allah memberi manusia wewenang atas hewan dan tumbuhan (Kejadian 1:28), Yesus menciptakan segala sesuatu di bumi dan, oleh karena itu, berkuasa atas semua ciptaan (Kolose 1:16).

Dalam Perjanjian Lama, kita melihat bahwa hanya Tuhan yang dapat mengendalikan cuaca (Mazmur 65:7; 89:9; 107:23–32), meskipun mereka yang mencari nafkah dari laut biasanya dapat memperkirakannya (Matius 16:3) . Beberapa nabi Perjanjian Lama mengumumkan kapan Tuhan akan mendatangkan atau menghilangkan hujan, atau berdoa memohon hujan berdasarkan instruksi Tuhan, namun mereka tidak pernah memerintahkan cuaca secara langsung dan berdasarkan otoritas mereka sendiri. Para murid telah melihat otoritas Yesus atas luka dan penyakit, serta setan, namun mereka baru mulai memahami siapa Yesus sebenarnya (Markus 4:41). Yesus meredakan badai karena para murid takut mati. Mereka perlu melihat bahwa otoritas-Nya mencakup keadaan-keadaan eksternal yang akan mereka hadapi.

Seperti apa yang dialami murid-murid Yesus, dalam Kisah Para Rasul 27:13–38, Paulus dan rombongannya terjebak dalam badai dahsyat yang menghancurkan kapal mereka dan memaksa mereka berenang ke tempat yang aman. Namun karena imannya, Paulus mampu memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendapatkan kepercayaan dari awak kapal dan melayani orang-orang yang mereka temui di pulau itu (Kisah 28:7-10). Stabilitas rohani kita sendiri lebih penting daripada berusaha menunjukkan kuasa Allah atas permasalahan kita.

Perlu dicatat bahwa kita tidak perlu merasa terpukul atau marah jika Tuhan tidak nampak bereaksi atas jeritan kita. Ayat di atas tidak berarti bahwa Tuhan akan selalu melepaskan kita dari segala bahaya pada saat yang kita harapkan; inilah salah satu ironi besar dalam kehidupan Kristen. Tuhan memang dapat mengendalikan segalanya dan membuat segalanya menjadi baik dan kita harus beriman kepada-Nya dan merasa puas bahkan ketika Dia tidak bertindak seperti apa yang kita maui (Filipi 4:12-13).

Hari ini kita diingatkan bahwa kita tidak diharapkan untuk selalu menang dan selalu bersemangat untuk bisa menang dalam hidup ini. Bukan seperti yang dipidatokan banyak motivator di TV dan seminar. Adakalanya kita harus merasa kalah, ada saatnya kita menyerah, untuk bisa ingat adanya Tuhan dan agar mau menjerit kepadaNya. Dan Ia akan menghardik topan kehidupan kita dan berkata: “Diam! Tenanglah!”

Mungkin kita sudah mengalami berbagai topan kehidupan di masa lalu. Dan kita ingat bahwa ketika topan itu reda, hidup kita terasa teduh kembali. Biarlah kita juga ingat bahwa Yesus berkata kepada kita: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Kita harus percaya bahwa Tuhan akan menolong kita pada waktu yang tepat. Semoga Tuhan menguatkan kita yang saat ini sedang menghadapi masalah hidup yang besar.

Ingatlah Tuhan memulai hidup setiap manusia dengan maksud baik

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” Kejadian 1:31

Hari ini hari yang kedua dalam tahun 2024. Bagi sebagian orang, hidup sehari-hari dimulai lagi dengan mencari nafkah. Yang lain, mungkin masih bisa berlibur untuk beberapa hari lagi. Bagi banyak orang, adanya tahun baru adalah kesempatan untuk memulai hidup dengan harapan, rencana dan target baru, Entah itu dalam bidang bisnis, studi, hubungan antar manusia, atau hal yang lain, adanya tahun baru bisa digunakan untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi pada tahun yang lalu. Bagi umat Kristen, ini juga membuka kesempatan untuk lebih aktif dalam melayani Tuhan, lebih ingin memelajari firman Tuhan, atau lehih taat kepada perintah-Nya. Hidup untuk memuliakan Tuhan.

Walaupun demikian, tidaklah mudah untuk melaksanakan apa yang kita inginkan. Sebagian dari apa yang kita rencanakan, tidak hanya bergantung pada kemauan dan kemampuan kita, tetapi juga dipengaruhi oleh apa yang ada di sekitar kita. Selain itu, sebagai manusia berdosa yang tidak sempurna, apa yang kita sadari sebagai sesuatu yang baik, sering kali menjadi sesuatu yang kita hindari.

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15

Dalam keadaan frustrasi, Paulus dalam Roma 7 merasa bahwa hidup untuk kemuliaan Tuhan itu luar biasa sulitnya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang kemudian menyerah, tidak lagi peduli atau bersemangat untuk berusaha hidup baik. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? (Roma 7:24-25 ).

Tahun baru ini seharusnyamengingatkan kita bahwa pada mulanya Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya dengan maksud baik. Oleh karena itu, setelah Ia menjadikan semuanya, termasuk Adam dan Hawa, Ia kemudian melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. (Kejadian 1:31). Tuhan tidak menciptakan seisi alam semesta dengan maksud buruk atau jahat; karena Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih tidak dapat menciptakan sesuatu yang buruk dan jahat, dan kemudian merasa gembira atau berpura-pura senang atas apa yang diperbuat-Nya. Tuhan juga menciptakan Adam dan Hawa dengan maksud baik, bukan dengan maksud untuk membuat mereka jatuh datam dosa. Hidup Adam dan Hawa seharusnya sangat nikmat dan penuh kebahagiaan sebelum mereka jatuh datam dosa, karena segala sesuatu sudah disediakan untuk mereka.

Seperti itulah, tahun 2024 ada dan datang dari Tuhan yang mempunyai maksud baik untuk umat-Nya. Jika kita diizinkan-Nya untuk memasuki baru ini, Tuhan memberi kita kesempatan bagi kita untuk hidup, bekerja dan mengasihi Dia dan sesama kita. Seperti pada waktu setelah Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, tahun 2024 dilihat-Nya sebagai sesuatu yang baik. Tuhan tidak menciptakan 2024 dengan maksud buruk atau jahat bagi kita; karena Tuhan yang mahakuasa, mahasuci dan mahakasih tidak dapat menciptakan sesuatu yang buruk dan jahat bagi umat-Nya. Dengan demikian, Ia juga memerintahkan kita untuk bekerja dan hidup bagi kemulian-Nya.

Pada awal tahun ini kita harus ingat bahwa Tuhan memberkati Adam dan Hawa, lalu berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” (Kejadian 1: 26-27). Ini juga pesan Tuhan kepada kita. Apakah tanggapan Anda?

Prioritas dalam tahun yang baru

“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” Lukas 12:32

Apakah yang Anda harapkan untuk tahun yang baru? Sudahkah Anda membuat rencana dan prioritas untuk mencapai hasil yang lebih baik dari apa yang sudah diperoleh pada tahun 2023? Agaknya ada banyak orang yang saat ini menyambut datangnya tahun baru dengan keinginan untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar pada tahun 2024. Tidaklah mengherankan bahwa banyak khotbah gereja pada hari ini yang berthemakan pengharapan akan berkat Tuhan yang lebih besar untuk diri sendiri dan keluarga. Thema mencapai kesuksesan dan kemakmuran di tahun baru adalah suatu hal yang menarik untuk sebagian orang Kristen yang percaya bahwa karena Tuhan mahakaya dan mahakuasa, orang yang beriman tidak mungkin akan mengalami kemiskinan atau kegagalan.

Berbeda dengan pengharapan banyak orang, Lukas 12:22–34 mencatat Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk melepaskan kekhawatiran mereka, dan sebaliknya memercayai Tuhan untuk segala kebutuhan fisik mereka. Dia telah mengatakan kepada mereka untuk menolak kehausan akan ketenaran, ketakutan akan kematian, dan ketergantungan pada kekayaan (Lukas 12:1-21). Dia juga memberi tahu bahwa hidup sebagai umat Tuhan bukanlah mudah, bahwa mereka mungkin juga harus meninggalkan keluarga (Lukas 12:49–53). Karena itu, mereka perlu berfokus pada tugas yang akan diberikan Yesus kepada mereka (Lukas 12:35-48), yaitu membangun gereja setelah kenaikan-Nya. Matius 6:25–34 mencakup ajaran yang sama, meskipun mungkin pada waktu dan tempat yang berbeda.

Yesus mengajar para murid tentang prioritas yang tepat dalam hidup orang percaya. Hal ini termasuk mengakui bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu, bahkan semua rahasia. Karena itu, orang-orang beriman hendaknya menghormati Tuhan lebih dari rasa takut mereka akan kegagalan dan kematian, atau khawatir terhadap hal-hal seperti makanan dan pakaian. Umat ​​Kristen harus tetap siap menyambut kedatangan Kristus kembali, meskipun iman mereka akan memisahkan mereka dari orang yang tidak beriman. Ide-ide ini berkisar pada tema sentral ayat 34: bahwa hati seseorang mencerminkan apa yang paling mereka hargai.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Lukas 12:34

Yesus sedang mengajar murid-murid-Nya tentang prioritas dalam kerajaan Allah. Hal ini terjadi sebagai respons terhadap seorang pria yang marah karena saudara laki-lakinya tidak membagi warisan keluarga sesuai dengan keinginannya. Orang ini mendambakan apa yang dimiliki saudaranya dan ingin mengumpulkan kekayaan. Untuk menunjukkan kesia-siaan sikap seperti itu, Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang menghasilkan banyak panen dan membangun lumbung untuk menyimpannya, namun kemudian mati. Kekayaannya tidak akan ada gunanya baginya ketika dia meninggal (Lukas 12:13-21). Dengan demikian, Yesus menolak pandangan teologi kesuksesan yang diajarkan oleh banyak gereja di zaman ini.

Baik pria yang marah kepada saudaranya maupun petani kaya dalam perumpamaan itu ingin “mengumpulkan harta” di bumi namun tidak “kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:21). Mereka seharusnya mencari kerajaan Allah terlebih dahulu (Lukas 12:31). Harta benda dapat hilang karena pencurian atau perusakan, dan pasti akan hilang jika pemiliknya meninggal dunia. Adalah bodoh bagi seorang Kristen untuk memprioritaskan akumulasi benda-benda fana ketika Allah ingin memberinya warisan dalam kerajaan kekal-Nya (Lukas 12:33-34).

Janganlah kita menaruh keinginan hati pada mengumpulkan hal-hal duniawi yang akan binasa. Kita juga tidak perlu cemas untuk mendapatkan apa yang kita perlukan selama kita berada di sini. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia akan menyediakannya. Hidup kita lebih berharga daripada mengkhawatirkan makanan dan pakaian. Kita mempunyai hak istimewa untuk mencari kerajaan Allah. Jika kita memprioritaskan harta kekal ini, kita tidak akan mendambakan kebutuhan duniawi (Lukas 12:22-31).

Walaupun demikian, ada orang-orang Kristen yang mendambakan kekayaan dengan alasan untuk bisa menyumbang gereja dan Tuhan. Alasan yang sedemikian adalah sesuatu yang dibuat-buat untuk pembenaran ajaran teologi kemakmuran yang dipegang mereka. Kita boleh meminta berkat Tuhan untuk lebih bisa menyokong pekerjaan-Nya di bumi, tetapi kita tidak boleh meminta kekayaan untuk bisa mengembalikannya kepada Tuhan. Tuhan adalah yang empunya segala sesuatu, dan Ia tidak membutuhkan barang apa pun dari manusia. Ia hanya mau menerima persembahan yang dari hati yang tulus, bukan dari hati yang penuh kerakusan.

Meskipun memberi adalah bagian yang sah dari program pelatihan Tuhan bagi umat Kristen, rencana Tuhan tidak akan gagal jika kita tidak memberikan uang kita kepada-Nya. Tuhan tidak butuh uang kita. Manusia duniawi selalu membutuhkan uang – bukan Tuhan. Sebaliknya Tuhan mengincar hati manusia, bukan uang mereka. Sungguh menggelikan memikirkan adanya Tuhan yang membutuhkan, padahal Dia bisa berfirman untuk menciptakan planet. Hanya dengan mengucapkan firman, Tuhan dapat menciptakan apa pun yang Dia perlukan atau inginkan.

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Kisah Para Rasul 17:24-25

Hari ini, baiklah kita menyadari bahwa dalam tahun yang baru, kitalah yang akan membutuhkan Tuhan. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya dalam Kisah Para Rasul 17, kitalah yang hidup dan bergerak serta berada di dalam kuasa Allah. Adakah sesuatu yang dapat Anda lihat, dengar, sentuh, rasakan, atau cium yang pada akhirnya tidak berasal dari Tuhan? Indra kita yang memungkinkan kita untuk menyadari dunia di sekitar kita datang karena rancangan Tuhan terhadap kita. Dialah yang menopang kehidupan kita. Tanpa Dia kita bahkan tidak bisa ada, karena Dia menopang hidup kita.

Ketergantungan manusia pada Tuhan adalah mutlak. Perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman adalah bahwa orang Kristen mengakui kebenaran ini dan bersyukur serta memuji Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan, sementara orang non-Kristen terus berada dalam ketidaktahuan, pembangkangan, atau ketidakpuasan. Orang non-Kristen ingin memuji dirinya sendiri, dan bukan Tuhan; dan karena itu selalu memproritaskan diri sendiri.

Banyak manusia yang tidak menyukai gagasan tentang ketergantungan kepada Tuhan dan menolak adanya Tuhan. Mereka secara langsung menyatakan bahwa manusia itu mandiri dan mampu, dan ia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Orang lain mungkin punya pendapat yang tidak begitu mencolok, namun dalam praktiknya sama saja. Mereka ingin menjadi kapten kapal kehidupan mereka sendiri, menentukan arah mereka sendiri, dan melakukan apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri. Namun ketika manusia mencoba melakukan hal ini mereka tidak sadar akan apa yang dikatakan Amsal 14:12, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Menolak atau mengabaikan Tuhan selama hidup di dunia tidak akan mengurangi ketergantungan manusia pada Tuhan. Biarlah kita insaf akan apa yang harus kita prioritaskan dalam hidup: Tuhan. Selamat tahun baru!

Apakah yang Anda perbuat di tahun 2024?

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Roma 7:15

Sebentar lagi kita memasuki tahun baru 2024. Bagaimanakah perasaan Anda saat ini? Banyak orang yang menantikan datangnya tahun baru karena itu adalah kesempatan untuk merayakannya bersama teman-teman dan sanak saudara. Tetapi banyak juga orang yang menganggap bahwa tahun baru adalah bukan hari yang istimewa untuk dirayakan, karena sebenarnya tidak ada beda antara hari Tahun Baru dengan hari-hari sebelumnya. Bukan seperti hari ulang tahun atau hari Natal. Walaupun demikian, adanya perayaan tahun baru sudah tentu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk memikirkan kehidupannya. Apakah kita merasa puas dan bahagia dengan apa yang kita capai pada tahun yang lalu? Apakah Anda akan berusaha untuk menjadi orang Kristen yang lebih baik dari tahun yang lalu?

Bagi sebagian orang Kristen, menjadi orang yang lebih baik secara rohani bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan. Ada yang beranggapan bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah karunia Tuhan semata-mata, sehingga mereka hanya bisa menyampaikan doa permohonan. Ada yang yakin bahwa Tuhan sudah menentukan orang yang akan diselamatkan, jadi mereka merasa tidak perlu untuk berubah menjadi makin baik di mata Tuhan. Ada juga mereka yang berpikir bahwa segala seuatu terjadi karena kehendak Tuhan, sehingga mereka tidak perlu berusaha untuk menjadi makin baik. Semua alasan seperti itu adalah pikiran yang sesat, yang tidak berlandaskan pada firman Tuhan. Mengapa begitu? Alkitab penuh dengan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berusaha menjadi domba yang baik dan setia.

  • 2 Petrus 1 : 10
    “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”
  • 2 Timotius 3 : 16-17
    “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
  • Galatia 6 : 7-8
    “Jangan sesat ! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”
  • Galatia 1 : 10
    “Jadi bagaimana sekarang : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
  • Yohanes 14 : 15
    “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Dalam Roma 7, Paulus menggambarkan hubungan antara orang Kristen dan hukum Musa dan antara hukum dan keberdosaan manusia. Karena kita sebenarnya sudah mati secara rohani pada waktu kita beriman kepada Kristus, umat Kristiani telah dibebaskan dari kewajiban kita untuk mengikuti hukum. Namun, Paulus menegaskan bahwa hukum itu suci dan baik dalam arti bahwa hukum itu menyingkapkan kepada semua orang yang berusaha mengikutinya betapa berdosanya diri kita. Hukum Taurat menunjukkan kepada kita bahwa betapapun baiknya niat kita, kita tetap saja jatuh dalam dosa dan membutuhkan pembebasan yang hanya tersedia melalui iman kepada Yesus.

Apakah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya menggambarkan Paulus sebelum dia menjadi seorang Kristen atau sesudahnya? Para pakar Alkitab tidak sepakat satu sama lain, dan perbedaan ini mempunyai arti penting. Secara harafiah, bahasa Yunani Paulus dalam ayat ini berubah menjadi bentuk orang pertama, tunggal, dan bentuk waktu sekarang. Hal ini berbeda dengan bagian lain dari kitab Roma yang menggunakan istilah-istilah yang lebih umum. Setidaknya menurut pilihan bahasanya, Paulus tampaknya berbicara tentang dirinya sendiri secara langsung dan literal.

Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai sudut pandang Paulus di sini, para ahli Alkitab sepakat bahwa baik orang non-Kristen maupun orang Kristen boleh mengungkapkan perasaan ini. Keduanya mungkin bermaksud melakukan hal yang benar, tetapi malah mendapati diri mereka melakukan hal yang salah, tanpa mengetahui sepenuhnya alasannya. Ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari manusia yang bisa berbuat salah dan fana (2 Korintus 5:2).

Paul mencirikan dirinya sebagai orang yang terus-menerus melakukan kebalikan dari apa yang ingin dia lakukan. Alih-alih melakukan apa yang dia ingin lakukan, dia malah melakukan apa yang dia benci. Ini membuat frustrasi – mengapa ini bisa terjadi?

Mereka yang percaya bahwa Paulus sedang menggambarkan kehidupannya sebelum menjadi seorang Kristen memahami maksud Paulus; yaitu bahwa mereka yang masih berada di bawah hukum bingung mengapa mereka tidak dapat menaati hukum. Mengapa mereka tetap tidak menaati perintah Tuhan meski mereka ingin untuk taat? Para ahli Alkitab dengan pandangan ini memahami ayat sebelumnya untuk menggambarkan seseorang yang masih menjadi budak dosa, bukan seseorang yang sudah terbebas dari kungkungan dosa melalui iman kepada Kristus (Roma 6:2, 18, 22).

Para ahli Alkitab yang percaya bahwa Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen percaya bahwa dia sangat jujur dalam perjuangannya melawan dosa. Meskipun orang-orang Kristen telah dibebaskan dari kuasa dosa, kita masih hidup di bawah pengaruh kuasa dosa. Di sinilah peranan kita untuk berusaha hidup baik menjadi sesuatu yang dimungkinkan Tuhan jika kita sadar akan firman-Nya. Memang kadang-kadang kita mungkin merasa persis seperti apa yang Paulus gambarkan. Kita terus melakukan apa yang kita benci – berbuat dosa – meskipun kita tahu akan apa yang baik dan bermaksud melakukan apa yang benar. Bukan berarti kita masih menjadi budak dosa, namun hidup kita sering diombang-ambinkan oleh berbagai keinginan yang saling bersaing.

Roma 7:7–25 menelusuri hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukumTuhan adalah cara dia mengetahui dan memahami dosa, secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ini berlaku bagi kita sampai sekarang. Tetapi, Paulus juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum tidak membuat seseorang menjadi lebih suci; hal ini justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi! Ini persis seperti apa yang terjadi pada Adam dan Hawa di taman Eden. Paulus mengubah sudut pandangnya dalam ayat ini, dengan menggunakan sudut pandang orang pertama di sini dan saat ini, sebagai seorang Kristen, ingin melakukan apa yang benar dan malah mendapati dirinya melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan hal yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dilepaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.

Saat ini, adakah kesedihan dalam hati Anda karena Anda sering gagal untuk menaati Firman Tuhan dalam hidup? Adakah perasaan bahwa tidak ada seorang pun yang mengerti keadaan dan masalah Anda? Firman Tuhan berkata bahwa jika manusia tidak dapat mengerti jalan pikiran Anda, Tuhanlah yang bisa melihat apa yang Anda pikirkan dan kuatirkan. Ia yang mahakuasa selalu mau menyelidiki dan mengenal siapa Anda, sekalipun Anda sendiri kurang sadar akan cara hidup Anda. Ialah yang bisa menolong Anda, mengampuni Anda dan mengembalikan Anda ke jalan yang benar, agar Anda bisa hidup berbahagia dan menemukan kedamaian di dalam Dia.

Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada di mana pun dan kapan pun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apa pun terjadi, karena Dia ada sebelum ciptaan-Nya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan. Karena itu, tidaklah mungkin kita menutup diri kita dari pandangan mata Tuhan. Sebaliknya, kita harus menyerahkan hidup dan isi hati kita kepada Dia dan mau belajar untuk bisa makin menaati Firman-Nya di tahun 2024.

“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Mazmur 139: 23 – 24

Janji Tuhan yang harus dimengerti

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91:7

Setiap akhir tahun saya merasa sedih jika membaca berita tentang adanya orang-orang yang tidak sempat memasuki tahun yang baru. Mereka yang tertimpa bencana, mengalami kecelakaan atau mengalami sakit akut, hidupnya terhenti dengan tiba-tiba. Perasaan sedih lebih terasa mendalam jika mereka yang mengalami hal itu adalah anak-anak yang sebelumnya masih sempat bermain dan bercanda. Juga, hati menjadi sedih memikirkan bahwa banyak di antara mereka belum mengenal Kristus.

Memang kejadian yang menyedihkan terjadi setiap hari dimana saja, dan itu bisa terjadi pada semua orang, baik Kristen maupun bukan. Sudah tentu mereka yang merasa berTuhan ingin agar Tuhan melindungi mereka dari segala bencana. Sebagian yakin bahwa Tuhan akan menghindarkan mereka dari apa yang jahat. Dan mereka yang Kristen tentunya berdoa dalam nama Yesus agar Tuhan tidak membiarkan mereka jatuh dalam pencobaan.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dipakai oleh orang Kristen untuk menguatkan iman mereka yang kuatir akan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak pendeta yang sering memakai ayat ini untuk memberikan semangat baru kepada jemaatnya, seperti seorang motivator yang sering mengumandangkan ucapan atau slogan yang bernada positif atau positive thinking.

Memang tidak ada salahnya jika orang yang mempunyai sikap positif dalam menghadapi hidup. Malahan ada baiknya jika orang mempunyai sikap yang optimis dalam menghadapi kesulitan. Pada pihak yang lain, sikap optimis dan pikiran positif tidak menjamin bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan selalu indah dan berjalan aman. Ada kalanya, kejadian yang menyedihkan terjadi di luar dugaan.

Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana dalam hidupnya? Jika kita menerima nasihat yang secara literal mengartikan bahwa orang beriman tidak akan pernah mengalami kekalahan atau malapetaka, ada kemungkinan bahwa kita akan kecewa dan bahkan menyesali Tuhan. Jika kita percaya bahwa hidup kita ada di tangan kita dan semangat kita bisa menghilangkan kesedihan atau ketakutan kita, kita mungkin akan sadar bahwa itu adalah sebuah fatamorgana. Itu karena ayat diatas bukan merupakan janji Tuhan untuk membebaskan umat-Nya dari segala masalah selama hidup di dunia.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang justru mengalami bencana dalam hidup karena iman mereka. Mengikut Yesus berarti ikut memikul salib-Nya dan hal-hal yang jahat sering terjadi karena iblis yang tidak mau tunduk kepada Tuhan. Selain itu, karena dunia yang sudah jatuh dalam dosa, berbagai masalah bisa terjadi pada siapa saja. Jika demikian, perlukah kita percaya akan kebenaran ayat di atas?

Ayat di atas tidak menjanjikan hidup yang selalu indah kepada umat Kristen. Sebaliknya, ayat itu mengungkapkan adanya kenyataan bahwa hidup itu tidak mudah. Manusia boleh mempunyai cara berpikir positif dan penuh optimisme, tetapi ada hal-hal yang bisa menghancurkan hidup mereka jika mereka tidak mengenal Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Dalam menghadapi bencana, banyak orang yang kehilangan harapan dan hancur semangatnya jika mereka hanya bergantung pada kekuatan manusia, Tetapi, sekali pun ada banyak orang yang kehilangan harapan di sekitar kita – seribu orang rebah tak berdaya di sisi kita, dan sepuluh ribu kehilangan harapan untuk masa depan di sebelah kanan kita – kita akan tetap dapat berdiri tegak dalam iman dan percaya bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan kebaikan sesuai dengan kehendak Tuhan yang mahakasih.

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Roma 8: 35 – 37

Dengan datangnya tahun baru, badai baru akan muncul

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Matius 7: 25

Media memberitakan adanya 7 orang yang tewas dan lebih dari 100.000 rumah kehilangan aliran listrik akibat badai petir yang melanda pantai timur Australia sesudah datangnya hari Natal, dengan peringatan akan adanya cuaca yang lebih buruk menjelang tahun baru.

Badai hebat melanda ketiga negara bagian di wilayah timur pada hari Natal. Lebih dari 1200 permintaan bantuan SOS diterima oleh layanan darurat di negara bagian New South Wales, dan bandara Sydney pun sampai kebanjiran. Polisi di negara bagian Victoria mengkonfirmasi seorang pria meninggal di sebuah properti setelah ranting pohon tumbang menimpanya pada Selasa pagi. Di negara bagian Queensland, ambulans mengkonfirmasi seorang wanita telah meninggal di Gold Coast setelah tertimpa pohon tumbang pada Senin malam. Tahun baru belum datang, tetapi badai besar sudah melanda.

Hidup manusia dalam ayat di atas dibayangkan sebagai rumah yang dilanda badai. Datangnya masalah kehidupan yang besar tentunya menggoncang hidup siapa saja. Jika badai besar dalam hidup seseorang mungkin belum datang, ia tentunya berdoa dan berharap agar itu tidak terjadi. Tetapi jika terjadi, itu tidak dapat ditolak atau dihindarinya.

Pada akhir tahun 2023, saya mengajukan pertanyaan: kapankah kita akan mengalami badai kehidupan di masa depan? Setiap orang tidak akan bebas dari ancaman badai. Berbeda dengan badai karena cuaca, badai kehidupan seringkali tidak dapat diduga datangnya maupun besarnya. Karena itu banyak orang yang mengalaminya akan mengalami goncangan atau kejutan besar. Walaupun demikian, setiap orang bisa mempersiapkan diri jika mereka sadar bahwa itu bisa datang pada saat yang tidak terduga.

Dalam dunia yang sudah tercemar dosa, siapa saja bisa mengalami masalah hidup yang besar. Saat ini, dengan adanya perang di dua tempat di dunia, penduduk setempat sudah mengalami berbagai penderitaan. Dengan adanya perubahan iklim, banyak negara mengalami badai, banjir dan kekeringan. Jika keadaan tidak membaik dengan cepat, diperkirakan bahwa wabah kelaparan akan muncul di berbagai negara. Dalam hal ini, umat Kristen tidak seharusnya berharap akan perlakuan istimewa dari Tuhan, agar mereka boleh bebas dari masalah, sedangkan orang di sekitar mereka semuanya jatuh bangun bergulat dengan penderitaan. Sekalipun sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan mampu membuat kita selalu bahagia, kita tidak bisa meminta hidup yang nikmat tanpa badai. Apa yang boleh kita minta adalah kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat kuat menghadapinya.

Seperti mempersiapkan sebuah rumah untuk menghadapi badai yang akan datang, kita harus memohon agar Tuhan memperkuat iman kita hari demi hari, dan memusatkan hidup kita kepada-Nya. Dengan demikian, jika badai kehidupan datang, kita akan tetap dapat berdiri teguh dalam iman sampai akhir. Hanya Tuhan yang tahu kapan badai akan datang, sekalipun Dia bukan penyebabnya. Dalam hal ini, kita yang beriman kepada Tuhan harus yakin bahwa apa pun yang terjadi, Yesus akan menyertai kita. Inilah pondasi kehidupan kita yang menguatkan kita sehingga kita tetap bisa berdiri teguh dan berani menyongsong tahun baru.

Apa arti Efrata bagi Anda?

“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Mikha 5:2

Tradisi yang sangat tua menyatakan bahwa Efrat (Efrata, Ephrata) mengacu pada Betlehem, karena penyebutan Efrata pertama kali muncul dalam Kejadian 35:16 mengacu pada tempat di mana Rahel meninggal saat melahirkan Benyamin dan dimakamkan di jalan dari Betel. Bukti bahwa dia meninggal dalam perjalanan ke sana tercermin dari makam Rahel kuno di pintu masuk kota. Di sebagian besar Alkitab, Efrata merupakan gambaran anggota suku Israel di Yehuda, serta kemungkinan pendiri Betlehem.

Efrata, atau Betlehem, dihubungkan dengan nubuatan mesianis, seperti yang ditemukan dalam ayar di atas. Nama Efrata sering dipakai sebagai nama paduan suara, mungkin karena kelahiran Yesus di Betlehem itu disambut dengan puji-pujian yang dibawakan oleh maialikat-malaikat yang memberitakannya kepada para gembala.

Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:13-14

Sebagai nama Yahudi, Efrata mempunyai arti “berbuah” atau “dihormati“. Betlehem, tempat yang kecil itu ditetapkan oleh Allah sebagai tempat yang paling utama dari mana seorang Penebus sudah datang yang membuahkan keselamatan bagi orang percaya dan untuk itu Ia dipermuliakan oleh Allah Bapa.

“Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku u pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” Yohanes 17:4-5

Di alam semesta, segala sesuatu telah dipersiapkan Allah sebelum kedatangan Mesias, yaitu Putra Allah yang kekal, menjadi manusia untuk menebus umat manusia. Pemeliharaan Allah yang maha bijaksana dan penuh belas kasihan, sejak kejatuhan Adam dan Hawa, secara bertahap mengatur segala sesuatu demi penggenapan janji-janji-Nya, dan penggenapan misteri terbesar-Nya, yaitu inkarnasi Putra Ilahi-Nya.

Seandainya manusia dipulihkan kepada kasih karunia Allah segera setelah ia kehilangannya, maka ia tidak akan sadar akan beratnya dosa yang dilakukannya, dan juga tidak akan merasakan kebutaan rohani, kelemahan, dan kemalangan yang di dalamnya ia terkubur. Kemurahan, kuasa, dan kebaikan Tuhan yang tak terhingga, dalam menyelamatkannya, tidak akan tampak begitu cemerlang. Oleh karena itu manusia dibiarkan merendahkan diri dalam kesengsaraannya selama ribuan tahun, dan hanya dapat membayangkan dengan iman tentang kedatangan Mesias yang kemudian terjadi pada hari Natal.

Tuhan, yang dengan kebijaksanaan tak terbatas membuat segala sesuatu menjadi matang dan sempurna pada waktunya, menyingkapkan hal ini kepada manusia secara parsial dan bertahap. Dia memberikan kepada Adam suatu janji dan sedikit pengetahuan tentangnya. Dia memperbarui hal yang sama kepada Abraham, dan membatasinya pada keturunannya saja. Dia menegaskannya kepada Ishak dan Yakub. Dalam nubuatan nabi Mikha di atas, kedatangan Mesias itu ditetapkan pada suku Yehuda. Setelah itu dengan jelas ditentukan bahwa tanah itu adalah milik keturunan Daud dan Salomo; nubuat yang diulangi pada semua nabi berikutnya.

Seperti apa yang sudah direncanakan Allah dari awalnya tentang kelahiran Yesus, Tuhan juga sudah merencanakan penyelamatan umat-Nya dari awalnya. Setiap orang Kristen adalah orang yang sudah dipilih Tuhan dari awalnya.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Efesus 1:4

Seperti para malaikat yang menyambut misteri kelahiran Yesus yang menakjubkan sebagai suatu hal yang sangat membahagiakan (Lukas 2:13-14 di atas), para malaikat juga menyambut misteri kelahiran baru orang percaya dengan sukacita.

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” Lukas 15:10

Pada hari Natal ini sesungguhnya hati kita harus peka akan sukacita yang suci ketika mengingat rahmat Allah yang begitu mulia, yang di dalamnya terpancar begitu besar kebaikan Ilahi, dan yang dengannya ditemukan manfaat yang tak terkira. Efrata bukan sekadar nostalgia yang indah. Efrata adalah tempat yang dipilih Allah untuk kelahiran Yesus yang dengan ketaatan-Nya membuahkan keselamatan uuntuk umat manusia, dan untuk itu Ia menerima kehormatan dari Allah Bapa. Efrata juga adalah panggilan kita untuk menaati Firman Allah dan berbuah untuk kemuliaan-Nya, dan untuk itu kita akan dimuliakan beserta Yesus.

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:30