Perjanjian Bersyarat dan Tanpa Syarat (Lanjutan tulisan tentang JIKA-MAKA)

Pertanyaan
Saya pernah mendengar di kalangan Reformed diajarkan bahwa perjanjian Nuh, Abraham, dan Daud bersifat tanpa syarat, dan bahwa perjanjian Adam dan Musa bersifat bersyarat. Apakah ini benar?

Jawaban

Oleh RA McLaughlin, Wakil Presiden Keuangan dan Administrasi di Third Millennium Ministries

Garis besar tentang kondisionalitas/tanpa syarat dari perjanjian yang Anda sampaikan adalah yang menjadi ciri pemikiran dan ajaran Reformed tradisional. Namun, ini adalah area yang membuat saya berbeda dari para pendahulu Reformed kita. Di Third Millennium kita mengajarkan bahwa semua perjanjian bersifat bersyarat.

Salah satu cara untuk menegaskan hal ini adalah dengan mengacu pada ajaran Reformed tradisional lainnya bahwa ada satu perjanjian kasih karunia di bawah berbagai pelaksanaan. Jika hanya ada satu perjanjian, tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa perjanjian ini berubah-ubah antara bersyarat dan tanpa syarat. Karena pelaksanaan berikutnya mengasumsikan dan membangun ketentuan-ketentuan dari pelaksanaan sebelumnya, ketentuan-ketentuan dari perjanjian sebelumnya juga berlaku untuk perjanjian-perjanjian selanjutnya.

Kitab Suci juga menunjukkan bahwa setiap pelaksanaan perjanjian benar-benar bersyarat. Mungkin cara termudah untuk melihat ini adalah dengan memperhatikan bahwa tidak ada pelaksanaan perjanjian yang benar-benar memberikan berkatnya kepada setiap orang (semua, tanpa perkecualian) yang berada di bawah perjanjian itu:

Adam: Semua umat manusia berada di bawah perjanjian Adam, tetapi tidak semua umat manusia diselamatkan – beberapa orang masuk neraka. Ini tidak mungkin terjadi jika Adam dijanjikan keselamatan tanpa syarat. Jika salah satu berkat dari perjanjian Adam adalah penebusan, dan kalau pelaksanaannya tidak bersyarat, maka semua orang harus diselamatkan.

Nuh: Semua umat manusia berada di bawah perjanjian Nuh, tetapi tidak semua umat manusia diselamatkan. Administrasi perjanjian Nuh mengasumsikan semua ketentuan perjanjian sebelumnya, berkat, kutukan, dll., khususnya perjanjian Adam. Oleh karena itu, ia juga menawarkan penebusan/keselamatan sebagai berkat. Karena tidak semua orang diselamatkan, itu harus bersyarat. Lebih jauh, ada ketentuan dan kutukan yang tercantum dalam penetapan perjanjian Nuh, yaitu bahwa orang yang menumpahkan darah manusia harus mati. Tidak menumpahkan darah manusia adalah syarat yang jelas untuk menerima berkat-berkat perjanjian.

Abraham: Sekali lagi, jika perjanjian itu tidak bersyarat, maka setiap orang yang terikat di dalamnya harus diselamatkan. Namun, jelas tidak semua orang yang terikat dalam perjanjian Abraham telah, sedang, atau akan diselamatkan. Misalnya, banyak orang Israel kuno binasa dalam dosa-dosa mereka. Selain itu, syarat-syarat perjanjian yang jelas tercantum dalam penetapan dan peneguhan perjanjian Abraham. Dalam Kejadian 17:1-2, syarat perjanjiannya adalah: hidup di hadapan Allah dan tidak bercacat. Dalam Kejadian 17:14, kita juga belajar bahwa orang yang tidak disunat jatuh di bawah kutukan perjanjian karena ia telah melanggar perjanjian. Seseorang tidak dapat melanggar perjanjian yang tidak bersyarat; melanggar perjanjian berarti melanggar syarat-syaratnya.

Musa: Sepengetahuan saya, tidak seorang pun yang berpendapat bahwa perjanjian ini tidak bersyarat. Bagaimanapun, syarat-syaratnya dirinci dengan jelas dalam kitab-kitab Hukum, dan pasal-pasal seperti Imamat 26 dengan jelas menunjukkan sifat bersyarat dari berkat dan kutukannya. Dan tentu saja, banyak orang di bawah perjanjian ini belum menerima berkat-berkatnya (misalnya, generasi pertama orang Israel yang meninggalkan Mesir dan binasa di padang gurun).

Daud: 2 Tawarikh 6:16 mencatat bahwa janji yang dibuat kepada Daud mencakup syarat yang jelas: “asal anak-anakmu tetap hidup menurut hukum-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku.”

Akhirnya, puncak dari semua pelaksanaan perjanjian adalah pelaksanaan di bawah Kristus. Kristus sendiri harus mati untuk memenuhi syarat-syarat perjanjian, yang membuat pelaksanaan-Nya tidak diragukan lagi bersyarat. Semua ini tidak berarti bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan usaha kita sendiri; tidak peduli pelaksanaan perjanjian mana yang kita lihat, kita tidak dapat menaati semua syarat-syaratnya. Karena itu, kita selalu mengandalkan kasih karunia dan pengampunan Allah agar dapat menerima berkat-berkat perjanjian-Nya. Tidak ada berkat yang dapat kita klaim jika kita menolak-Nya; dan jika kita menerima-Nya, kita juga menerima berkat-berkat-Nya hanya karena Kristus telah memenuhi persyaratan-persyaratan itu bagi kita.

Pentingnya kata “jika” dan “maka” dalam Alkitab

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9

Kali ini saya tidak akan membahas arti ayat di atas secara langsung. Saya ingin membahas sebuah kata yang sangat penting di seluruh Alkitab. Kata ini adalah salah satu kata yang paling sering diabaikan di seluruh Alkitab. Kata “jika” atau “if” dalam bahasa Inggris adalah salah satu kata penting yang terpendek dalam Alkitab. Sebuah kata yang seimg muncul bersamaan dengan kata itu adalah kata “maka” atau “then” dalam bahasa Inggris.

Ketika belajar pemrograman komputer sekitar 45 tahun yang lalu, saya mempelajari instruksi mengenai pernyataan JIKA-MAKA atau IF-THEN yang akan digunakan dalam program saya. Pernyataan tersebut menciptakan opsi bagi komputer untuk membuat pilihan tergantung pada keadaan apa (input) yang harus dipertimbangkan. JIKA ini kondisinya, MAKA lakukan ini; JIKA itu situasinya, MAKA ini harus dipilih, dan sebagainya. Menurut Alkitab, ternyata Tuhan pun menggunakan pernyataan yang serupa. Ini jelas berlaku di alam semesta, dan tentunya juga berlaku dalam kejadian alami, keadaan lingkungan dan kehidupan semua makhluk di dunia.

Apa yang terjadi di dunia pada ciptaan Tuhan selalu ada penyebabnya yang disebut “penyebab sekunder”, dan semuanya terjadi dengan seizin Tuhan sebagai “penyebab primer”. Gunung meletus karena tekanan magma yang menembus muka bumi, gempa bumi terjadi gerakan-gerakan batu dalam bumi, pemanasan global dan musnahnya flora dan fauna terjadi karena polusi manusia, dan sebagainya. Dalam hal ini, sebagian orang secara mudah menyatakan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menghendaki.

Dalam banyak hal manusia bertanggung jawab atas apa yang terjadi di bumi karena Tuhan sudah mengutus manusia sebagai wakil-Nya (Kejadian 2:19-20). Manusia seharusnya mengerti bahwa prinsip JIKA-MAKA berlaku di dunia sesuai dengan kehendak Tuhan yang menetapkan bahwa segala sesuatu berjalan secara teratur sesuai dengan aturan tertetu, sekalipun Tuhan yang berdaulat dan mahakuasa terkadang melalukan keajaiban untuk mencapai maksud-maksud dan rancangan-Nya.

Seberapa pentingkah kata “IF” dalam Alkitab? Kata ini muncul dalam Alkitab berbahasa Inggris sekitar 1.637 kali. Anda akan menemukannya 993 kali dalam Perjanjian Lama dan 602 kali dalam Perjanjian Baru. Dua puluh empat kali dalam surat-surat Yohanes.

Menariknya, dalam hal rohani banyak orang Kristen tahu adanya pernyataan JIKA-MAKA dari Tuhan, tetapi mereka seakan mengabaikannya. Ini mungkin karena dalam Alkitab pernyataan JIKA-MAKA sering kurang jelas, tidak seperti kata IF-THEN dalam terjemahan bahasa Inggris. Ayat di 1 Yohanes 1:9 adalah perkecualian. Pernyataan-pernyataan JIKA-MAKA ini diberikan kepada kita agar kita dapat menggunakan penalaran, menghasilkan pemahaman, dan kemudian penerapan, untuk ‘membuat pilihan yang tepat’ dengan aktivitas hidup kita. Pernyataan JIKA-MAKA membantu kita secara logis untuk memahami kehendak Tuhan.

Jika Alkitab penuh dengan pernyataan JIKA-MAKA, mengapa konsep kausalitas ini jarang dibahas dalam khotbah? Kausalitas ini menyangkut hubungan sebab-akibat (kausal) antara dua atau lebih peristiwa. Secara umum pengetahuan tentang hubungan sebab akibat sangat penting dalam mempelajari sejarah terutama untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu peristiwa itu terjadi. Salah satu di antara penyebab keseganan orang Kristen untuk mendalami arti ayat-ayat yang mengandung pernyataan kausalitas adalah keyakinan yang keliru bahwa semua yang terjadi di dunia sudah ditentukan Tuhan dan tidak ada pilihan lain untuk manusia yang diutus-Nya untuk menjadi seperti Dia.

Berikut ini adalah beberapa contoh kausalitas JIKA-MAKA dalam Kitab Suci yang menyatakan adanya opsi manusia:

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga (maka) Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Markus 11:25

Perlu dicatat bahwa sekalipun kata JIKA-MAKA itu tidak ditemui, bentuk kausalitas itu tetap ada:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya (jika) setiap orang yang percaya kepada-Nya (maka) tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Jawab Yesus, “Jika seorang mengasihi Aku, (maka) ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14:23

Apa yang harus kita sadari adalah bahwa begitu banyak hal yang kita harapkan dari hubungan kita dengan Tuhan bersifat bersyarat, dan bukan sudah ditentukan Tuhan. Tuhan seakan berjamji, “JIKA kamu mau, MAKA Aku akan melakukannya; dan JIKA kamu tidak mau, MAKA Aku tidak akan melakukannya.” Apa yang lebih sering didengungkan oleh mereka yang fatalis adalah: JIKA Aku mau, Aku akan melakukannya, MAKA tidak ada hal apa pun yang bisa mengubah keputusan-Ku”. Inilah yang menyebabkan keraguan orang Kristen untuk berdoa guna memohon belas kasihan dan pertolongan Tuhan dan keseganan mereka untuk berbuat baik. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan yang mahatahu sudah mempertimbangkan semua jalan manusia dan ikut bekerja dalam segala seuatu untuk mencapai rencana-Nya. Manusia harus berusaha sekalipun pada akhirnya (ultimately) rencana Tuhanlah yang terjadi.

Tentu saja ada Perjanjian-Perjanjian yang dibuat Tuhan yang tidak ada hubungannya dengan tanggapan kita, seperti pelangi di langit dan janji Tuhan untuk tidak pernah lagi menghancurkan seluruh bumi dengan air. Itu adalah Perjanjian Tuhan yang ‘berdiri sendiri’, dan apa yang kita lakukan atau tidak lakukan tidak akan mengubah apa yang akan Tuhan lakukan terhadap janji itu.

Saya harap Anda akan tertantang untuk melakukan studi pembacaan Kitab Suci dengan memperhatikan pernyataan kausalitas JIKA-MAKA yang bisa membantu Anda untuk menjadi dewasa secara spiritual. Pernyataan ini dapat membuat perbedaan antara kebenaran dan kesalahan, menaati Allah dan tidak menaati Allah, diselamatkan dan tersesat, berada di Surga atau berada di neraka.

Pemahaman yang tepat tentang hal ini bisa mencegah timbulnya dua masalah serius. Salah satunya adalah otomatisme – gagasan bahwa keanggotaan keluarga Tuhan adalah tiket sekali jalan otomatis ke surga yang tidak melibatkan tanggung jawab pribadi untuk mempercayai Injil. Pandangan seperti ini muncul dalam betuk ajaran hyper grace. Ini keliru karena Anda tidak dapat berada dalam hubungan yang hidup dan vital dengan Tuhan tanpa benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Masalah lainnya adalah fatalisme – gagasan bahwa, karena Tuhan berdaulat, tidak ada yang perlu saya lakukan atau dapat saya lakukan dalam hubungan saya dengan-Nya. Ini muncul dalam bentuk hyper Calvinism. Namun, Kitab Suci jelas: Tuhan berdaulat dan Anda bertanggung jawab. Anda bertanggung jawab untuk percaya kepada Kristus, dan juga untuk bertobat serta menjalani kehidupan saleh sebagai tanggapan atas anugerah keselamatan yang cuma-cuma.

Ketika Anda memikirkan hampir setiap janji sepanjang sejarah yang telah diberikan Allah, itu semuanya bersyarat – termasuk janji keselamatan. Itu dikondisikan pada kata JIKA. Bangsa Israel akan memiliki tanah perjanjian, JIKA mereka tetap tinggal di tanah perjanjian, JIKA mereka tetap berada di jalan Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Mereka diberi tahu bahwa JIKA mereka melanggar, mereka akan diusir, dan itulah yang sebenarnya terjadi.

Kita memiliki terlalu banyak orang Kristen yang mencoba hidup menurut cara dunia dan di dalam Kristus pada saat yang sama. Kadang-kadang, kita semua bersalah akan hal ini. Kita mencoba untuk mengabdi kepada keduanya, untuk hidup dengan dua cara. Kita tidak dapat menyenangkan Tuhan ketika kita melakukan ini. Kita menipu diri sendiri ketika kita percaya bahwa kebenaran Tuhan tidak mutlak atau tidak dapat dicapai. Atau, ketika kita mencoba mengubah hukum Tuhan agar sesuai dengan situasi kita (dalam hal pernikahan, gender, pekerjaan, perceraian, koripsi, kemarahan, mabuk, mencuri, bergosip, kebohongan putih dan sebagainya).

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa JIKA kita mengaku dosa kita, MAKA Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Mengaku atau tidak mengakui adalah pilihan kita yang membawa hasil yang berbeda. Jika kita menolak untuk mengakui dosa kita dan bertobat, maka Allah tidak dapat mengampuni.

Jika kita hidup dalam terang, maka darah Kristus membersihkan kita dari dosa-dosa kita. Tetapi hidup dalam terang berarti bahwa jika kita berbuat dosa, maka kitaa segera mengakuinya, sehingga Ia dapat terus-menerus membersihkan kita. Itulah bagian yang bersyarat (kausal). Kita harus mengakui dosa-dosa kita untuk menerima pembersihan yang terus-menerus itu. Kita harus mau mengubah hidup kita sesuai dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi umat Tuhan yang sejati. Jika kita mau sadar dan bertobat, maka dosa kita akan dihapuskan.

“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” Kisah Para Rasul 3:19

Apakah Tuhan membuat Simson jatuh cinta kepada Delila?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1:13-4

Anda tentu tahu kisah Simson dan Delila yang sudah ditampilkan di layar perak Amerika Serikat pada tahun 1949, yang diproduksi dan disutradarai oleh Cecil B. DeMille dan dirilis oleh Paramount Pictures. Film ini menggambarkan kisah Alkitab dalam kitab Hakim-hakim 16:4-22 tentang Simson, seorang pria kuat yang rahasianya terletak pada rambutnya yang tidak dipotong, dan cintanya kepada Delilah, wanita yang merayunya, menemukan rahasianya, dan kemudian mengkhianatinya kepada orang Filistin.

Kehidupan Simson adalah sebuah kehidupan yang penuh kontradiksi. Ia adalah pria yang memiliki kekuatan jasmani yang hebat namun moralitas yang lemah. Ia adalah seorang hakim selama 20 tahun dan seorang yang “sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah” (Hakim-Hakim 13:5), namun berulang kali ia gagal memelihara peraturan nazir. Kelemahan moral Simson adalah penyebab kejatuhannya. Kelemahan Simson ini bukanlah sesuatu yang dibuar oleh Tuhan, tetapi adalah kesalahannya sendiri. Sebaliknya, adalah menarik bahwa Roh Allah datang menguasai Simson dan memberinya kekuatan yang besar untuk melawan kaum Filistin, kaum penindas umat Israel. Hal ini dilakukan meskipun Simson mata keranjang dan pendendam.

Kehidupan Simson mengajar bahwa:

  • Allah bukan penyebab dosa,
  • memelihara moralitas yang baik, kita harus berkata “tidak” pada godaan jasmani,
  • Allah dapat menggunakan manusia yang berdosa untuk menggenapi rancangan-Nya,
  • setiap dosa selalu ada akibatnya, dan
  • Allah bisa berbelas kasihan.

Kitab Hakim-Hakim 16 menceritakan kejadiannya ketika Simson hendak mencari istri. Ia ingin menikahi seorang wanita Filistin meskipun orang tuanya menentang, dan bertolak belakang dengan hukum Allah yang melarang perkawinan dengan kaum berhala. Sekalipun Simson menikahi Delila atas kehendaknya sendiri, peristiwa buruk ini digunakan oleh Allah untuk melaksanakan rencana-Nya: “…hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel.” (ayat 4).

Dengan kehendak sendiri, secara sukarela Simson memasuki situasi yang berujung pada dosa, namun, tiap kali, Allah menggunakan Simson bagi kemuliaan-Nya. Dosa kita tidak dapat membendung kehendak berdaulat Allah terjadi. Simson, penuh dengan amarah dan dendam, bersumpah mencelakai kaum Filistin karena telah mencuri istrinya (Hakim-Hakim 15:3). Ia membakar ladang pertanian kaum Filistin (ayat 4-5) dan, kemudian, setelah kaum Filistin membunuh istrinya, “dengan pukulan yang hebat ia meremukkan tulang-tulang mereka” (ayat 8).

Kehendak Allah menaklukkan bangsa Filistin dilakukan melalui Simson, namun Simson juga dituntut pertanggung-jawabannya atas dosanya, dan ia mengalami akibat dari ketidak-taatannya dan kebodohannya. Pelanggaran Simson yang terus-menerus dilakukan telah mencapai titik akhirnya. Ia terlalu yakin pada kekuatannya sehingga ia merasa dirinya dapat mengabaikan hukum apapun juga; tampaknya ia merasa ia sudah tidak lagi membutuhkan Allah. Sebagai akibatnya, ” Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling” (Hakim-Hakim 16:21). Simson akhirnya menghadapi akibat dari tindakannya.

Para Filistin ingin merayakan kemenangan mereka atas Simson, dan para penguasa berkumpul di kuil Dagon, dewa mereka, untuk memujinya karena telah menyerahkan Simson pada mereka (Hakim-Hakim 16:23). Pada pesta itu, mereka mengeluarkan Simson dari penjara untuk mengoloknya. Dengan bersandar pada tiang-tiang penyangga kuil itu, “berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: ‘Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin'” (ayat 28). Allah mengabulkan permintaan Simson. “Membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (ayat 30). Simson membunuh lebih banyak kaum Filistin pada waktu itu — sekitar 3,000 orang Filistin — dibanding ketika ia masih hidup.

Jangan sampai Anda berpikir bahwa Simson adalah orang tidak mengenal Tuhan. Simson adalah pria beriman — namanya dikutip dalam pasal peringatan tokoh-tokoh beriman (Ibrani 11:32). Pada waktu yang sama, ia mungkin bisa digolongkan orang Kristen duniawi atau kedagingan jika ia hidup di zaman sekarang, dan berbagai kesalahannya seharusnya menjadi himbauan bagi kita yang bermain dengan api dan beranggapan tidak akan terbakar. Juga sebuah pringatan bagi mereka yang percaya bahwa semua tidakan manusia, baik atau buruk, sudah ditentukan Tuhan. Kehidupan Simson mengajar kita akan pentingnya mengandalkan kekuatan Allah, bukan kekuatan pribadi kita; mengikuti kehendak Allah, bukan sengaja melanggar hukum Allah dengan kemauan kita yang keras kepala; dan mencari hikmat Tuhan, bukan pengertian pribadi kita.

Karena kita adalah orang berdosa, kita mungkin tidak menghadapi ujian dengan baik. Terkadang kita terjebak dalam pikiran bahwa Allah mungkin menggoda kita untuk berbuat dosa di tengah kesulitan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan tidaklah memunculkan Delila untuk menggoda dan menjatuhkan Simpson. Ketika Tuhan mengizinkan masa kesulitan keuangan dalam hidup kita, kita mungkin berpikir Dia menggoda kita untuk mencari keuntungan yang tidak sah. Kesulitan dalam pernikahan kita mungkin membuat kita merasa bahwa Tuhan menggoda kita untuk mencari teman kencan atau memilih perceraian. I

Namun, ayat bacaan hari ini menyatakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Tuhan memang mengizinkan iman kita diuji, tetapi jika kita tergoda untuk melakukan kejahatan sebagai akibatnya, maka Dia tidak pernah menjadi sumbernya. Seseorang yang menunjukkan iman yang sejati melihat keadaannya, dan, di tengah godaan, menyadari bahwa meskipun Tuhan mungkin telah mengizinkan pencobaan datang, keinginan untuk melanggar hukum-Nya bukanlah dari-Nya. Rendahnya moral Simpson dan ketundukannya kepada hawa nafsu bukanlah dibuat Tuhan. Itu karena Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia tidak mencobai seorang pun untuk berbuat dosa (Yakobus 1:13).

Kesalahpahaman tentang posisi Reformed tentang kedaulatan Allah dapat membuat hal ini sulit diterima. Beberapa penganut hiper-Calvinis, misalnya, mengatakan bahwa Allah bertanggung jawab atas kejahatan dan menggoda orang untuk berbuat dosa.

Hubungan Allah yang tepat dengan dosa adalah misterius. Allah telah menetapkan segala sesuatu yang pernah terjadi, termasuk kejahatan. Namun, bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa Allah bukanlah pencetus kejahatan atau bahkan godaan yang mengarah kepada kejahatan. Kita tidak boleh menyalahkan Allah atas dosa atau godaan yang kita alami. Sebaliknya, seperti yang dicatat dengan tepat dalam ayat 13-14, godaan untuk berbuat dosa berasal dari sifat jahat kita sendiri, pilihan kita dan tidak pernah berasal dari Tuhan.

Allah tidak pernah bertanggung jawab atas kejahatan di dunia ini atau godaan yang mungkin ditimbulkan oleh iblis. Dia mungkin mengizinkan adanya kejahatan untuk tujuan rencana-Nya yang baik, tetapi semua kejahatan yang terjadi berasal dari kecenderungan jahat dari pelaku sekunder (manusia) dan tidak disebabkan oleh Allah. Hari ini, lihatlah pergumulan yang Anda hadapi, dan tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda menyalahkan Allah atas kejahatan, pilihan atau pengalaman yang terjadi dalam hidup Anda atau apakah Anda pikir Dia menggoda Anda untuk berbuat dosa. Jika demikian, bertobatlah dari sikap seperti itu saat Anda merenungkan ayat-ayat hari ini.

Pentingnya berdoa sambil mengakui kedaulatan Tuhan

“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Yesus mengajarkan para pengikut-Nya cara berdoa kepada Bapa dengan memberi contoh doa bagi mereka (Matius 6:9-13). Doa ini dikenal di seluruh dunia sebagai Doa Bapa Kami. Bahkan banyak orang yang tidak percaya pun familier dengan doa ini (setiap sidang parlemen Australia dimulai dengan doa ini walau mungkin hanya 10% dari anggota parlemen adalah orang Kristen). Meskipun tidak ada yang salah dengan doa ini, Yesus pada dasarnya memaksudkan kata-kata ini sebagai teladan atau pedoman. Bagian ini bukanlah mantra ajaib, atau nyanyian wajib: ini adalah sesuatu yang dapat ditiru atau dijadikan pedoman oleh orang Kristen dalam doa pribadi mereka sendiri (Matius 6:5-8).

Dalam Alkitab, Kristus selalu menekankan pentingnya ketundukan umat kepada kehendak Tuhan, agar mereka berbicara kepada-Nya dengan cara yang mengakuinya. Bahkan Ia sendiri tunduk kepada kehendak Allah Bapa di taman Getsemani. Berdoa agar apa yang Tuhan inginkan terjadi berarti menerima bahwa rencana-Nya benar dan baik bagi semua orang. Yesus menyiratkan bahwa ini mencakup segala waktu dan tempat. Ia berdoa agar kerajaan Tuhan datang dan penggenapan kehendak-Nya, di semua tempat dan sepanjang masa. Berdoa dengan tulus juga berarti meminta kepada Tuhan hal yang akan Yesus capai: mendatangkan kerajaan surga ke bumi di masa mendatang.

Doa adalah ekspresi iman yang benar dan alkitabiah, namun terkadang pengertian teologi kita dapat membengkokkan iman kita. Ini bukan karena kesalahan kebenaran Alkitab, tetapi merupakan kecenderungan manusia yang telah jatuh. Pikiran kita jahat (Kejadian 6:5) dan pengalaman hidup kita sering membuat kita salah memahami atau salah menerapkan kebenaran Allah. Jika sebagian orang Kristen merasa bahwa dengan “doa yang bersemangat” mereka dapat mengubah kehendak Tuhan, sebagian lagi merasa bahwa doa hanyalah formalitas yang diminta Tuhan. Dalam kelompok yang kedua, pertanyaan ini sering muncul: Jika Allah telah menetapkan dan mengendalikan segala sesuatu, mengapa saya harus berdoa untuk apa pun? Akankah Allah mengubah rencana-Nya untuk memenuhi kebutuhan saya? Mengapa saya harus memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan teman-teman dan tetangga saya jika mereka telah dipilih atau ditolak sejak kekekalan?

Di satu sisi, kehendak Allah tidak dapat diubah. Di sisi lain, Alkitab memerintahkan kita untuk berdoa. Di seluruh Kitab Suci, orang-orang saleh menyampaikan permohonan mereka di hadapan Tuhan. Sebagian berdoa untuk kesehatan (Kejadian 20:17; 2 Raja-raja 20:1-5). Paulus berdoa agar “atas kehendak Tuhan” ia dapat mengunjungi Roma (Roma 15:30-32). Mengapa menyampaikan permohonan seperti itu kepada Tuhan yang sudah menetapkan segala sesuatu?

Kita dapat membahas pertanyaan teologis ini dari tiga perspektif:

Pertama, Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa. Alkitab sangat jelas menyatakan bahwa Tuhan ingin kita berdoa. Bahkan, kita mengetahui beberapa bagian Kitab Suci yang memberi tahu kita untuk berdoa tanpa henti. Ini adalah masalah ketaatan ketika kita terlibat dalam praktik berdoa.

Kedua, sebagai orang Kristen, berdoa adalah napas kehidupan. Sudah menjadi hal yang otomatis jika ada kehidupan baru di dalam diri kita, kehidupan baru itu menemukan ungkapannya dalam doa. Kita tahu bahwa kehidupan fisik itu ada karena kita bernapas. Dengan cara yang sama, kita tahu bahwa kehidupan rohani itu ada karena kita berdoa.

Ketiga, kita berdoa karena Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang memiliki dan bisa memakai berbagai sarana. Tuhan mampu melakukan apa pun yang Dia inginkan, kapan pun Dia ingin melakukannya, dan dengan cara apa pun Dia ingin melakukannya. Dia dapat bekerja secara seketika, dan Dia dapat bekerja tanpa sarana, tetapi Tuhan hanya melakukan itu dalam keadaan yang luar biasa. Yang lebih umum, Tuhan bekerja di dalam dan melalui doa dan tindakan umat-Nya.

Jadi, kita berdoa karena Tuhan bisa mengubah kita, Dia bisa mengubah banyak hal, dan Dia bisa mengubah jalannya peristiwa dalam mencapai apa yang menjadi rencana akhir-Nya. Tuhan tidak perlu harus mempersiapkan segala sesuatu dari awalnya, karena Dia yang mahakuasa mengizinkan banyak hal untuk berubah di sepanjang zaman, untuk mana umat Kristen harus selalu berusaha untuk mencari kehendak-Nya.

Sungguh menakjubkan betapa banyak peristiwa besar dalam Alkitab bisa terjadi sebagai respons Tuhan terhadap doa manusia. Kita dapat memikirkan tentang tulah-tulah di Mesir dan berapa banyak dari tulah-tulah itu yang datang atau diangkat sebagai respons atas doa-doa Musa. Jika kita membaca Kitab Suci, kita akan melihat berulang kali bahwa Allah menggunakan doa dan tindakan umat-Nya untuk mewujudkan tujuan-Nya yang sempurna.

Kita semua sebagai orang Kristen dengan mudah mengakui pentingnya doa—terutama doa bagi mereka yang kita kasihi. Namun, sebagian besar, jika tidak semua, dari kita harus berjuang untuk benar-benar bisa mempraktikkan keyakinan ini. Kita tahu bahwa kita harus berdoa lebih sering daripada yang kita biasa lakukan, tetapi kita gagal melakukannya. Mungkin itu karena kita merasa bahwa Tuhan yang berdaulat tidak akan mendengarkan kita karena apa pun yang terjadi di alam semesta adalah tujuan akhir-Nya.

Martin Luther pernah mengeluh bahwa setiap kali ia mencoba berdoa, seolah-olah “seratus ribu rintangan sekaligus menghalangi” dan iblis sendiri berusaha memberikan segala macam alasan agar ia tidak berdoa. Terlalu sering, bahwa sekalipun saya berjuang untuk mengatasi banyak masalah yang muncul dalam hidup saya, dan saya membiarkan “alasan teologi” menghalangi saya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya harus mengakui bahwa saya sering bertindak seperti orang fatalis yang percaya kepada “takdir”. Dan saya kira banyak orang Kristen yang merasa seperti saya dalam hal ini.

Hal pertama yang perlu kita ingat adalah bahwa doa itu penting karena Tuhan berdaulat untuk menjawab doa kita menurut kebijaksanaan-Nya. Yesus Sendiri memberi tahu kita bahwa ini benar sekitar 9 kali dalam catatan Injil (lihat, misalnya, Matius 7:7-11; 18:19; 21:22; Markus 11:24; Lukas 11:1-13; Yohanes 14:13-14; 15:7; 15:16; dan 16:23); dan teladan-Nya sendiri dalam doa menunjukkannya berulang kali juga. Di luar Injil, kita melihat Yakobus dengan gamblang menyatakan bahwa alasan orang Kristen kekurangan secara langsung terkait dengan fakta bahwa mereka tidak berdoa (Yakobus 4:2); dan kita melihat Yohanes bersikeras bahwa “Tuhan mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14-15). Yang pasti, dalam setiap bagian ini, ada kualifikasi atau ketentuan yang diberikan: kita harus meminta “menurut kehendak-Nya” atau dalam nama Yesus, dan kita tidak boleh meminta “dengan cara yang salah, menghabiskannya untuk keegoisan kita.” Ketentuan ini seharusnya cukup untuk mencegah kita berasumsi bahwa doa kita akan selalu dijawab dengan “ya” terlepas dari apa yang kita minta.

Pada pihak yang lain, doa bukanlah lampu jin yang dapat kita gosok untuk memperoleh apa saja yang kita ingini. Namun, kita tidak boleh membiarkan pengertian ini membuat kita mati rasa dan mencegah kita untuk merasakan apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab, yaitu bahwa Tuhan menjawab doa yang disampaikan dengan iman.

Hal kedua yang perlu kita ingat adalah bahwa doa itu penting karena kita semua menjalani kehidupan yang sibuk. Sering, karena kita sibuk, kita tidak berdoa sesering yang seharusnya. Kita mungkin merasa terlalu sibuk untuk berdoa. Namun, kita perlu diingatkan bahwa hidup kita sebenarnya terlalu sibuk, terlalu berat, untuk tidak berdoa. Hidup tanpa doa adalah hidup penuh risiko, semakin sibuk diri kita semakin perlu kita berdoa. Kita perlu mengingat bahwa Tuhan adalah Tuhan dan kita bukan. Dan kita perlu membawa kesibukan dan masalah kita—dan kesibukan serta masalah keluarga kita—kepada Tuhan dalam doa.

Hal ketiga yang perlu kita ingat adalah bahwa doa itu penting karena kita begitu mudah kehilangan fokus dalam hidup kita. Kita tidak dapat melihat puncak gunung karena melihat pepohonan di sekitarnya. Kita terjebak dalam kesibukan usaha dan kegiatan. Kita bahkan terjebak dalam pekerjaan yang nampaknya baik, seperti mempersiapkan khotbah. Mungkin kita terus-menerus berada dalam kesibukan, dan mungkin ketegangan, untuk merancang metode baru, rencana baru, organisasi baru untuk memajukan gereja dan mengamankan perluasan dan efisiensi kegiatan gereja.

Saat ini mungkin kita perlu diingatkan terus-menerus bahwa doa lebih penting daripada rencana, metode, program, dan kegiatan ini dan itu. Itu lebih penting karena Tuhan benar-benar menjawab doa, karena kita semua sibuk dan menderita selama hidup di dunia, dan karena Tuhan bekerja terutama di dalam dan melalui umat-Nya.

Jalan manusia belum tentu jalan Tuhan

“Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.” Yohanes 7:8

Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mengatur semua hal di dunia sehingga semua hal terjadi persis seperti apa yang dikehendaki-Nya. Pendapat semacam ini agak membingungkan karena jika ada hal yang jahat terjadi, tentunya itu juga apa yang dikehendaki-Nya sekalipun mungkin bukan Dia yang secara langsung melakukannya. Anak yang lahir cacat, orang yang mengalami kecelakaan dan berbagai hal yang mengerikan, semuanya adalah apa dikehendaki Tuhan yang tidak mau “kaget” jika itu terjadi. Pendapat seperti ini membuat Tuhan seakan monster yang bodoh, yang takut kehilangan kontrol jika sesuatu terjadi di luar kehendak-Nya.

Pada pihak lain, dapatkah manusia berbuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang dikehendaki Tuhan? Sudah tentu! Dalam Alkitab ada banyak kisah tentang manusia yang melanggar perintah dan firman-Nya sedemikian rupa sehingga Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman-Nya. Tuhan yang mahasuci tidak membuat manusia memilih apa yang jahat; sebaliknya, manusialah yang bersalah atas dosanya. Karena itu dosa bisa dibayangkan sebagai anak panah yang meleset dari sasaran yang dikehendaki Tuhah.

Memang tanpa bimbingan Tuhan, manusia cenderung untuk merencanakan dan melakukan apa yang jahat atau yang tidak baik, yang menyimpang dari rancangan dan jalan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa tidak akan kaget melihat semua itu karena Ia sudah tahu sebelum hal itu terjadi, dan Ia sanggup mengatasi semuanya agar rencana-Nya akhirnya akan terjadi. Bagi orang durhaka, ini juga memberi Tuhan alasan untuk menghukum mereka. Sebaliknya, bagi umat percaya, ini berarti bahwa Tuhan bisa memakai apa saja yang terjadi untuk kebaikan mereka.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Dari Alkitab kita bisa melihat bahwa apa yang signifikan dan krusial dalam rencana-Nya, Tuhan selalu memakai rencana dan penetapan tertentu dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak dapat dibantah manusia. Pada pihak lain, ada banyak perbuatan manusia yang tidak signifikan dan bahkan bisa dikatakan sia-sia, untuk mana Tuhan mengizinkannya terjadi sesuai dengan kebebasan yang diberikan-Nya kepada setiap insan. Itu juga merupakan bagian rencana-Nya dan keputusan yang diambil-Nya.

Segala apa yang tidak mengganggu rencana-Nya akan dibiarkan-Nya terjadi sepengetahuan-Nya dan sesuai dengan kesabaran-Nya, sampai saat yang tepat di mana Ia akan menyatakan apa yang harus terjadi.

Untuk bisa sepenuhnya memahami cara Tuhan bekerja, tidak seorang pun yang bisa. Tetapi kita bisa belajar dari kitab Yohanes bab 7 saat saudara-saudara Yesus merencanakan sesuatu yang berbeda dengan kehendak Yesus.

Dalam ayat 1-9 kita membaca tentang rencana saudara-saudara Yesus untuk menghadiri perayaan besar di Yerusalem. Pria Yahudi diwajibkan menghadiri beberapa perayaan di Yerusalem setiap tahun (Ulangan 16:16). Perayaan terbesar adalah Perayaan Pondok Daun selama tujuh hari, yang juga dikenal sebagai Perayaan Pondok Daun (Imamat 23:34). Selama waktu tersebut, Yerusalem akan dipenuhi oleh para peziarah, pengunjung, dan pelancong.

Alih-alih pergi ke perayaan itu bersama saudara-saudara-Nya, Yesus bermaksud untuk datang sendiri, agar kedatangan-Nya lebih tenang (Yohanes 7:10). Meskipun didorong oleh saudara-saudara-Nya (Yohanes 7:1-5), Yesus tidak mau mencari publisitas atau popularitas (Yohanes 6:25-29). Sebaliknya, Ia tahu bahwa orang-orang akan menentang-Nya karena tidak suka diingatkan tentang dosa mereka (Yohanes 7:7; 15:24-25). Yesus yang peka terhadap kehendak Allah Bapa, tahu bahwa pekerjaan-Nya di bumi harus mengikuti rencana Allah.

Saudara-saudara Yesus mendesaknya untuk pergi ke Yerusalem agar para pengikutnya dan dunia dapat melihat pekerjaan yang dilakukannya, tampaknya dengan asumsi bahwa ia “berusaha untuk dikenal secara terbuka” (Yohanes 7:4). Sekalipun ini seperti maksud yang baik, Yohanes menyatakan bahwa saudara-saudara Yesus belum percaya kepada-Nya.

Pernyataan saudara-saudara Yesus sebenarnya dapat dipahami setidaknya dalam dua cara. Mereka bisa saja mencemooh dan mengejek Yesus dalam permusuhan terbuka terhadapnya. Atau, mereka mungkin dapat menanggapi mukjizat Yesus secara positif tanpa memahami rencana-Nya. Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukan-Nya, dan mereka agaknya memahami bahwa Yesus adalah Mesias, dan karena itu mereka berasumsi bahwa Ia harus tampil di depan umum, sebagaimana tercermin ketika mereka menasihati, “Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.” (Yohanes 7:4).

Menuruti penikiran mereka sendiri, saudara-saudara Yesus memanggil-Nya untuk tampil di depan umum, agar Dia pergi ke pesta itu sehingga para pengikut-Nya dan dunia dapat melihat apa yang sedang Dia lakukan (Yohanes 7:4-5). Yesus menegaskan bahwa Dia tidak pergi ke pesta itu dengan cara itu untuk tujuan itu (Yohanes 7:8). Daripada bergabung dengan gerombolan orang yang menyerbu Yerusalem agar semua orang dapat melihatnya (Yohanes 7:9), Yesus pergi ke pesta itu secara pribadi (Yohanes 7:10), menghindari orang-orang yang ingin menemukan-Nya (Yohanes 7:11).

Saudara-saudara Yesus tampaknya menyarankan agar ia pergi ke pesta itu dan memasuki Yerusalem dengan cara yang sama seperti yang akan Ia lakukan ketika saatnya tiba, ketika orang banyak melambaikan daun palem dan berseru, “Hosana!” (lihat Yohanes 12:12–15). Saudara-saudara Yesus tidak sekadar menyarankan agar Yesus pergi ke pesta itu; mereka menyarankan agar ia berparade dengan orang banyak yang berbondong-bondong untuk dirayakan sehingga gerakan itu dapat membangun momentum.

Pemahaman tentang apa yang disarankan oleh saudara-saudara Yesus ini menjelaskan mengapa Yesus menjawab bahwa waktunya belum tiba (Yohanes 7:6). Yesus tidak pergi ke pesta itu seperti yang didesak oleh saudara-saudara-Nya. Mereka tidak percaya karena mereka tidak bisa, dan mereka tidak bisa percaya karena mereka tidak memahami misi-Nya. Sekalipun demikian, Yesus tidak membuat mereka batal untuk berangkat. Ia tidak melarang mereka pergi. Ia tidak marah. Sebaliknya, Ia menganjurkan mereka untuk pergi ke sana, sesuai dengan keinginan mereka. Kehadiran saudara Yesus tidak akan membawa masalah bagi Yesus, tetapi Ia tidak mau pergi bersama mereka.

Kehendak dan pilihan manusia secara umum bukanlah hal yang signifikan bagi Tuhan jika tidak menghalangi rencana-Nya. Kehendak dan pilihan saudara-saudara Yesus adalah kehendak asli manusiawi karena kemampuan mereka yang terbatas, bukan buatan Tuhan tapi dengan seizin-Nya.

Orang-orang Yahudi berusaha membunuh Yesus (Yohanes 7:1), dan saudara-saudara-Nya tidak memahami tujuan-Nya (Yohanes 7:5). Yesus menjelaskan dirinya sendiri dan menjawab saudara-saudaranya dalam ayat 6-8. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan menerima nasihat dari saudara-saudaranya dan pergi ke Yerusalem karena waktunya belum tiba.

Pagi ini kita menyadari bahwa jalan yang diambil orang Kristen belum tentu jalan Tuhan. Tetapi, seperti saudara-saudara Yesus, cara hidup kita saat ini adalah sepenuhnya tanggung jawab dan pilihan kita selama Tuhan mengizinkannya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh merasa bahwa Tuhan sudah membuat kita hidup dan mengambil keputusan yang bisa menyebabkan adanya suka atau duka karena kehendak-Nya semata-mata. Baiklah kita memohon agar kita dibimbing-Nya untuk bisa melihat rancangan dan kehendak-Nya, agar kita bisa mengambil tindakan yang memuliakan Dia.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55:8

Rambut kepala kita terhitung semuanya

“bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12:7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, terutama karena sebagian orang Kristen mengartikannya secara literal dalam konteks Tuhan menentukan segala seuatu, termasuk jatuhnya sehelai rambut dari kepala manusia. Bagi orang-orang ini, ayat di atas mendukung pandangan bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua hal terjadi karena sudah ditentukan oleh Tuhan. Tetapi, pengertian literal seperti itu adalah pengertian religius fatalis yang keliru karena ayat itu sebenarnya mengandung simbolisme yang dalam.

Yesus pada waktu itu menggambarkan penganiayaan yang akan dihadapi para pengikut-Nya, khususnya sebelum bait suci dihancurkan pada tahun 70 M. Mereka akan diburu dan ditangkap oleh para pemimpin agama. Sahabat dan keluarga akan mengkhianati mereka, bahkan sampai mati (Lukas 21:16). Sekarang, Yesus memberi para pengikut-Nya harapan. Meskipun orang-orang Yahudi dan Romawi, sebagai suatu kelompok, akan membenci mereka, Allah akan melindungi mereka (Lukas 21:17–19).

Perlu dicatat bahwa ayat di atas dan Lukas 21:18 sulit ditafsirkan, khususnya dalam budaya Barat modern yang sangat harfiah. Frasa “rambut kepalamu” mungkin merupakan teknik sastra synecdoche: sesuatu disebutkan untuk mewakili sesuatu yang lain, khususnya dengan menggunakan sebagian untuk mewakili keseluruhan. Jika Yesus merujuk pada kehidupan duniawi mereka, janji itu bermasalah. Apakah Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan menghadapi penganiayaan, tetapi mereka tidak akan disakiti? Apakah kita akan mengalami berbagai masalah hidup yang sudah ditetapkan Tuhan tetapi akan bisa mengatasinya? Bukan begitu!

Para pengikut Yesus tahu apa yang Yesus bicarakan; atau, setidaknya, mereka akan segera tahu (Yohanes 16:13). Mereka ada di sana ketika Dia menyuruh mereka memikul salib mereka dan bahwa mereka akan menyelamatkan hidup mereka dengan bersedia menyerahkannya. Itu berarti mereka akan mati bagi dunia tetapi memperoleh hidup kekal (Matius 16:24; Lukas 9:24–25). Dia juga mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi kepada Dia yang dapat mengirim jiwa ke neraka (Lukas 12:4–5). Yang dilindungi adalah kehidupan rohani dan kekal, bukan kehidupan fisik mereka—dan tentu saja bukan rambut mereka!

Lukas 12:4–7 menyatakan peringatan Yesus kepada para murid untuk menolak jalan orang Farisi (Lukas 12:1–3). Para murid akan menghadapi penganiayaan yang hebat, yang dimulai dengan tindakan para pemimpin agama Yahudi, khususnya seorang Farisi bernama Saulus (Kisah Para Rasul 8:1–3; 9:1–2). Banyak pengikut Yesus akan kehilangan nyawa mereka. Meskipun demikian, mereka yang termasuk dalam kerajaan Allah akan menerima hidup kekal. Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa ketika dihakimi orang-orang yang dapat menyakiti mereka, mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan. Roh Kudus akan membimbing mereka (Lukas 12:8–12).

Orang Farisi dan ahli Taurat menggunakan praktik-praktik yang secara rohani menyiksa, yang dikutuk Yesus tanpa rasa takut (Lukas 11:37-52). Orang-orang ini adalah tokoh pujaan orang banyak; orang Farisi ditakuti oleh para imam dan orang Saduki dari Sanhedrin karena praktik keagamaan populis mereka. Orang Farisi bersekongkol untuk menghancurkan Yesus (Lukas 11:53-54) dan setelah kenaikan-Nya akan memburu para pengikut-Nya, memenjarakan dan bahkan membunuh beberapa orang Kristen (Kisah Para Rasul 8:3; 9:1-2; 26:10).

Namun, Yesus telah memberi tahu orang-orang percaya untuk tidak takut kepada orang-orang munafik ini. Dalam keadaan terburuk mereka, mereka hanya dapat membunuh tubuh. Sebaliknya, mereka seharusnya takut kepada Allah yang akan menjatuhkan kematian kekal kepada mereka yang menolak untuk bertobat. Allahlah yang akan mengirim orang berdosa ke neraka, dan Allahlah yang mengenal setiap burung pipit (Lukas 12:1-6).

Ayat di atas memunculkan dua tema yang saling bertentangan. Para pengikut Kristus begitu berharga bagi Tuhan sehingga Dia yahu apa pun keadaan mereka. Kepemilikan-Nya yang mahatahu atas fakta-fakta diterjemahkan menjadi kasih: bekerja atas nama mereka yang menjadi milik-Nya. Kita sepenuhnya aman di dalam Dia. Namun, keamanan itu tidak berarti kita akan terbebas dari kesulitan atau bahkan kematian dalam pelayanan-Nya. Sama seperti Tuhan memperhatikan ketika burung pipit jatuh, Dia memperhatikan ketika kita menderita dan mati secara fisik (Matius 10:29).

Simbolisme dalam ayat di atas adalah kaya dan sangat bermakna. Gambaran Tuhan yang mengetahui setiap helai rambut di kepala kita melambangkan pengetahuan dan kepedulian-Nya yang mendalam terhadap setiap aspek kehidupan kita, tak terkecuali hal-hal yang kecil. Gambaran itu juga melambangkan gagasan tentang kedaulatan dan kendali ilahi, karena tidak ada satu pun dalam kehidupan kita yang luput dari perhatian-Nya.

Sebagai kesimpulan, Lukas 12:7 adalah bagian yang menyampaikan pesan tentang penghiburan, kepastian, dan nilai yang mendalam. Bagian itu berbicara tentang kepedulian dan pengetahuan yang mendalam yang Tuhan miliki bagi anak-anak-Nya dan menekankan nilai dan harga diri yang sangat besar yang Dia berikan kepada setiap individu. Ayat itu juga menyampaikan tema-tema penting tentang kepercayaan terhadap pemeliharaan Tuhan, pemeliharaan ilahi, dan nilai manusia. Simbolismenya berfungsi untuk semakin memperkuat tema-tema ini, menjadikannya ayat yang memiliki makna dan arti penting yang dalam bagi orang percaya. Percayalah kepada Dia yang mahatahu dan mahakasih!

Adakah yang kita banggakan sebagai umat pilihan Tuhan?

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Sepanjang ingatan saya, sejak adanya medsos selalu ada berita tentang orang-orang yang hebat, negara-negara yang hebat, penemuan-penemuan yang luar biasa di negara tertentu. Seiring dengan itu, selalu ada penonjolan keunggulan yang dimiliki suatu sistim, orang, ras, negara dan bahkan, agama tertentu. Dengan demikian, timbul potensi atau kecenderungan untuk merendahkan orang, golongan atau bangsa lain.

Sebenarnya, pandangan atau tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas diri itu juga terjadi di kalangan orang Kristen. Dalam masyarakat, banyak orang Kristen yang masih membanggakan keturunan, bangsa dan golongan sendiri dan dengan demikian merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam hal kerohanian, banyak orang Kristen yang merasa dirinya lebih mengenal Tuhan dan lebih dikenal oleh Tuhan, dan mungkin lebih benar atau lebih baik dari orang Kristen yang lain. Sekalipun ada yang percaya bahwa semua orang percaya adalah orang pilihan Tuhan, mereka mungkin merasa seperti orang pilihan Tuhan yang nomer satu.

Istilah “orang-orang pilihan” mengandung arti orang-orang yang ditentukan Allah untuk dianugerahi keselamatan. Mereka disebut “yang dipilih” karena kata itu mengandung makna kalau ada pihak yang memilih. dalam hal ini, Allah sendiri yang memilih siapa-siapa saja yang akan diselamatkan. Mereka inilah yang disebut orang-orang pilihan Allah.

Mengenai konsep Allah memilih siapa yang akan diselamatkan tidaklah menimbulkan perdebatan. Tapi, bagaimana dan mengapa Allah memilih yang menjadi perdebatan selama ini. Selama sejarah Gereja, ada dua pandangan utama terkait doktrin pemilihan (atau predestinasi) ini.

Pandangan pertama, yang lebih sering dikenal dengan istilah pandangan pra-pengetahuan, menyatakan kalau Allah, karena kemahatahuan-Nya, akan mengetahui siapa-siapa saja yang pada akhirnya akan memilih beriman-percaya kepada Yesus Kristus. Karena pra-pengetahuan tentang iman orang-orang ini, Allah memilih mereka untuk diselamatkan “bahkan sebelum dunia dijadikan” (Efesus 1:4). Pandangan ini diyakini sebagian besar kaum Kristen.

Pandangan kedua, yang juga dikenal dengan pandangan para pengikut Agustinus, menyatakan kalau Allah tidak hanya memilih siapa-siapa saja yang akan beriman-percaya kepada Yesus Kristus, tetapi juga memilih untuk menganugerahi orang-orang ini iman supaya bisa beriman-percaya kepada Kristus. Allah memilih tidak berdasarkan pra-pengetahuan mengenai iman seseorang, tapi hanya berdasarkan kedaulatan-Nya, kasih karunia dari Allah Yang Mahakuasa. Allah memilih siapa-siapa saja yang akan diselamatkan. Mereka bisa beriman-percaya, karena Allah telah memilih mereka. Pandangan ini umumnya dipegang kaum Reformed.

Yang menjadi bahan perdebatan yang sengit adalah: siapa yang sebenarnya menjadi pihak yang menentukan anugerah keselamatan ini – Allah atau manusia? Bagi pandangan pertama, manusia yang memiliki kontrol; kehendak bebasnya menjadi faktor penentu terkait apa yang dipilih Allah. Allah memang menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus dan kemampuan untuk memilih, tetapi manusia sendiri yang harus memilih bersedia tidaknya untuk tunduk kepada Kristus supaya bisa diselamatkan.

Pandangan ini membuat Allah seolah-olah tidak berdaulat karena Pencipta yang harus bergantung pada keputusan ciptaan-Nya. Jika Allah menginginkan seseorang ada di surga, Dia harus berharap supaya orang itu, dengan kehendak bebasnya, memilih jalan keselamatan yang telah Ia sediakan. Sebenarnya, pandangan ini agaknya tidak lagi bisa sepenuhnya menyatakan bahwa “Allah memilih,” karena Allah tidak benar-benar memilih – Dia hanya bisa memberi kemampuan memilih kepada manusia dan mendukung usaha mereka serta menolong mereka untuk tetap bertekad untuk mempertahankan apa yang baik. Pada akhirnya, manusialah yang menentukan apa keputusannya.

Menurut para pengikut Agustinus, Allah yang memiliki kontrol. Dia yang berkuasa. Dengan kedaulatan-Nya, Ia dengan bebas memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan-Nya. Dia tidak hanya memilih, tetapi juga memastikan keselamatan mereka. Bukan hanya menyediakan jalan keselamatan, Allah juga memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan-Nya, dan kemudian menyelamatkannya. Pandangan ini menempatkan Allah sebagai Pencipta yang sepenuhnya berdaulat, dan manusia tidak bisa nenolak.

Pandangan ini memiliki kelemahannya sendiri. Para kritikus memandang pandangan ini meniadakan kehendak bebas manusia. Jika sejak awal Allah sudah memilih siapa yang ingin diselamatkan-Nya, mengapa manusia masih perlu beriman-percaya? Mengapa perlu memberitakan Injil? Apalagi, jika Allah memilih berdasarkan kedaulatan-Nya, bagaimana mungkin kita bisa dianggap bertanggungjawab atas pilihan kita? Bukankah ini seperti “nasib”?

Di Roma pasal 9, Paulus secara sistematis menjelaskan kedaulatan Allah dalam memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan, bahkan sejak dari kekekalan. Dia memulai dengan pernyataan yang penting: “Tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Roma 9:6). Ini berarti bahwa tidak semua keturunan dari Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Israel sejati (orang pilihan Allah).

Mengulas kembali sejarah bangsa Israel, Paulus mengingatkan kalau Allah memilih Ishak ketimbang Ismael; memilih Yakub ketimbang Esau. Sebelum orang-orang mengira kalau pemilihan ini berdasarkan iman atau perbuatan baik di masa depan, Paulus langsung menyatakan, “Sebab waktu anak-anak (Yakub dan Esau) itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat- supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” (Rom 9:11). Oleh sebab itu, Paulus menyatakan bahwa siapa pun bisa menjadi anak-anak Allah melalui iman dalam Kristus Yesus.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28

Di titik ini, kita mungkin tergoda berpikir kalau Allah tidak adil. Paulus mengantisipasinya dengan menjawab di Roma 9:14, dengan menyatakan kalau Allah tidak mungkin tidak adil. “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Roma 9:15). Jika kita betul-betul menghendaki Allah yang adil menurut pengertian kita, kita harus mau menerima hukuman mati karena dosa kita!

Allah berdaulat penuh atas ciptaan-Nya. Dia berdaulat penuh memilih siapa-siapa saja yang ingin dipilih-Nya, dan membiarkan siapa-siapa saja yang ingin dibiarkan-Nya. Ciptaan tidak punya hak untuk menuduh Penciptanya bertindak tidak adil. Pikiran bahwa ciptaan bisa berbantahan dengan Penciptanya tidak bisa diterima oleh Paulus. Begitu pula bagi setiap orang Kristen. Keselamatan mereka bersifat pasti hanya di dalam Kristus.

Terlepas dari cara bagaimana Allah memilih umat-Nya, apa yang Paulus nyatakan adalah kebenaran: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rom 8:29-30).

Dengan demikian, pada akhirnya, adakah yang bisa kita banggakan sebagai orang pilihan? Apakah kita bangga karena merasa Tuhan memilih kita karena kita lebih benar dari orang lain? Apakah golongan, ras, bangsa kita lebih baik dari yang lain? Semua kebanggaan seperti ini adalah hampa karena Tuhan tidak memilih kita karena kita lebih baik atau lebih benar dari yang lain. Apa yang bisa kita banggakan adalah kasih dan kemurahan Tuhan kepada setiap manusia dari awalnya, yang sudah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan-Nya dan memisahkan mereka dari orang-orang lain, bukan karena mereka lebih baik atau lebih unggul, tapi karena keputusan-Nya.

“Karena itu seperti ada tertulis: ”Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” 1 Korintus 1:31

Mau mendengar, lambat untuk marah

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Yakobus 1: 19-20

Sudah tentu setiap orang pernah marah. Tetapi, pernahkah Anda naik pitam? “Naik pitam” adalah idiom dalam bahasa Indonesia yang memiliki dua makna, yaitu: marah atau panas hati, dan pusing atau pening. Biasanya, idiom ini digunakan untuk menggambarkan perasaan marah besar yang mungkin bisa disertai dengan rasa pusing atau sakit kepala. Memang marah-marah bisa menyebabkan sakit kepala. Hal ini terjadi karena kemarahan dapat menyebabkan perubahan fisiologis di dalam tubuh, seperti:

  • Penegangan otot-otot di leher, kepala dan dada
  • Tarikan pada otot-otot wajah
  • Pelepasan hormon stres: adrenalin dan kortisol
  • Perubahan aliran darah ke otot sebagai tanda kesiapan untuk melawan

Selain itu, menahan emosi marah juga dapat menyebabkan ketegangan mental yang dapat memperburuk rasa sakit di bagian belakang kepala.

Dari segi medis, pada saat marah pembuluh darah di sekitar jantung mengkerut sehingga aliran darah tidak lancar. Hal ini dapat menyebabkan jantung kekurangan oksigen dan menimbulkan nyeri dada. Kemarahan juga dapat memperburuk kondisi disfungsi mikrovaskuler koroner, yaitu penyumbatan di pembuluh darah kecil di sekitar jantung. Saat marah, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang dapat mempercepat detak jantung dan pernapasan. Selain serangan jantung, kemarahan juga dapat meningkatkan risiko stroke dalam beberapa jam setelah marah. Semakin sering seseorang marah, semakin besar risikonya untuk terkena penyakit kardiovaskular.

Umumnya kita marah karena adanya keadaan yang sulit diterima atau orang yang sulit diajak bicara. Dalam hal ini, bagian pembukaan kitab Yakobus memerintahkan orang Kristen untuk tetap percaya kepada Tuhan, bahkan selama masa-masa sulit. Bahkan, orang percaya harus menganggap kesulitan mereka sebagai “sukacita,” karena adanya tes kehidupan adalah cara Tuhan memperkuat iman. Hal ini memberikan penegasan tentang apa artinya tetap setia kepada Tuhan—terus percaya kepada-Nya—bahkan ketika tantangan hidup menghampiri kita. Salah satu alasannya, mereka yang percaya kepada Tuhan akan terus menaati-Nya. Dimulai dari ayat 19, Yakobus mulai menjelaskan seperti apa ketaatan itu.

Mereka yang percaya dan menaati Tuhan belajar untuk menyesuaikan kecepatan mendengar dan berbicara mereka. Jika Tuhan benar-benar memegang kendali, kita mampu meluangkan waktu untuk memahami. Itu memerlukan waktu dan kesabaran. Daripada bertindak gegabah, kita dapat menanggapi dengan cara yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Jika kita gegabah itu adalah karena kesalahan kita sendiri, karena Tuhan bukanlah yang mempercepat mulut atau reaksi kita dan bukan juga memperlambat atau menghambat pikiran sehat kita.

Sebagai orang percaya, kita tidak boleh terobsesi untuk memastikan bahwa kita harus didengar dan dipahami orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita bertindak sesuai dengan keinginan langsung kita dan reaksi langsung kita, kita akan mudah kehilangan kendali. Dan ketika kita merasa kehilangan kendali, kita akan marah. Dengan kemarahan yang tidak terkendali, kita bisa menjadi “mata gelap” atau melakukan apa yang jahat.

Perhatikan bahwa ini bukanlah perintah untuk tidak pernah merasa marah. Kemarahan adalah emosi manusia yang dialami setiap orang, dan itu dapat dibenarkan. Namun, instruksi Yakobus di sini menjelaskan dengan jelas bahwa kita dapat belajar untuk mengendalikan—atau setidaknya memperlambat—respons kemarahan kita. Bahkan, jika kita menolak untuk membiarkan kemarahan mengendalikan kita , itu merupakan tindakan iman. Merupakan pilihan kita untuk percaya bahwa Bapa memegang kendali, bahwa Dia mengasihi kita, dan bahwa Dia baik.

Mengapa kita, sebagai anak-anak Tuhan melalui iman kepada Kristus, harus belajar mengendalikan amarah kita, memperlambatnya, dan mengendalikannya? Bagi Yakobus, intinya adalah ini: Amarah tidak akan menghasilkan apa yang baik. Mengapa begitu? Secara praktis, kemarahan manusia yang berdosa adalah alat yang tidak efektif untuk berkontribusi pada kebenaran Allah. Membiarkan kemarahan meluap mungkin dianggap sebagai alat yang tangguh untuk mencapai keinginan kita sendiri, tetapi bukan untuk melakukan kebajikan yang diminta Allah.

Dunia memberi tahu kita bahwa kemarahan dapat memanipulasi atau mengintimidasi orang-orang di sekitar kita. Kemarahan memberi kita perasaan bahwa kita mengendalikan orang-orang dalam hidup kita, bahkan membuat diri kita merasa lebih baik untuk beberapa saat. Karena itu, secara sengaja kita sering memilih untuk marah. Namun, bahkan dari sudut pandang non-spiritual, hal ini biasanya harus dibayar dengan harga yang mahal. Kita akan kehilangan integritas, kepercayaan orang lain, rasa hormat dan kasih orang lain dan pengendalian diri kita ketika kita hidup dalam kemarahan.

Ajaran Yakobus di sini mengungkapkan sebuah gagasan yang sangat besar: Kita diciptakan untuk lebih dari sekadar menyingkirkan hal-hal yang dangkal dari kehidupan. Bagian dari tujuan kita sebagai orang percaya adalah untuk digunakan oleh Allah untuk membantu berkontribusi pada kebenaran-Nya, untuk membantu mencapai tujuan-Nya di dunia. Kita memiliki tujuan yang mulia dan kekal, jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita capai melalui kemarahan atau dosa.

Seberapa penting bagi orang Kristen untuk memercayai Tuhan? Yakobus menulis, sangatlah penting bagi kita untuk menyebut saat-saat terburuk kita sebagai saat-saat yang menyenangkan, karena pencobaan membantu kita untuk lebih memercayai Tuhan. Orang yang memercayai Tuhan meminta hikmat kepada-Nya—dan kemudian menerima apa yang Dia berikan. Orang yang memercayai Tuhan menganggap pahala mereka di kehidupan berikutnya lebih penting daripada kekayaan mereka di kehidupan ini. Orang yang memercayai Tuhan tidak menyalahkan-Nya atas keinginan mereka untuk berbuat dosa; sebaliknya, mereka memuji-Nya atas semua hal baik dalam hidup mereka. Mereka menyelidiki Firman-Nya, dan mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka lihat di sana.

Yakobus membedakan antara kemarahan manusia dan kemarahan Allah. Segala sesuatu yang Allah rasakan dan ungkapkan adalah benar, termasuk kemarahan-Nya. Sebaliknya, kemarahan manusia hampir selalu merupakan ekspresi keegoisan manusia, ketakutan, atau keinginan untuk mengendalikan dunia dan manusia di sekitar kita. Mereka yang percaya kepada Bapa untuk memegang kendali, menyediakan apa yang dibutuhkan, dan menegakkan keadilan pada saat yang tepat, mampu melepaskan kemarahan manusia.

Yakobus 1:19–27 menekankan bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak puas hanya dengan tampil religius. Mereka berhenti mencoba mengendalikan dunia dengan kata-kata dan kemarahan mereka. Mereka dengan rendah hati menerima Firman yang telah ditanamkan Tuhan di dalam diri mereka, mendengarkannya, dan melanjutkan untuk melakukan apa yang dikatakannya. Bagian dari apa yang Firman katakan kepada kita adalah bahwa kita harus mengendalikan perkataan kita, memperhatikan mereka yang lemah dan menderita, dan menjaga diri kita agar tidak tercemar oleh dunia di sekitar kita.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4:26-27

Apakah Tuhan ingin kita bahagia?

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Ibrani 11 menjelaskan kemenangan beberapa pahlawan iman terbesar dalam Perjanjian Lama. Bab ini juga menjelaskan penderitaan dan penganiayaan mereka. Bab ini menggunakan contoh-contoh tersebut sebagai ”awan saksi” untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita saat kita menderita. Dalam banyak kasus, Dia menggunakan pengalaman-pengalaman tersebut untuk ”melatih” kita, seolah-olah kita adalah atlet, untuk membuat kita lebih kuat. Dalam kasus lain, itu adalah jenis disiplin yang sama yang diterima seorang anak dari seorang ayah yang penuh kasih. Tidak seperti Perjanjian Lama, yang dengan tepat mengilhami rasa takut dan gentar, perjanjian baru menawarkan kita kedamaian. Seperti halnya masalah kebenaran atau kepalsuan lainnya, kita harus berpegang teguh pada apa yang benar, sehingga kita dapat menjadi bagian dari ”kerajaan yang tidak dapat digoyahkan.”

Ibrani 12:3–17 dibangun dari deskripsi para pahlawan iman di atas, yang berpuncak pada Yesus Kristus. Mereka yang datang sebelumnya dikasihi oleh Allah dan dihormati oleh Allah, namun mereka menderita kesulitan di dunia ini. Dalam bagian ini, penulis menjelaskan bahwa penderitaan sering kali merupakan cara Allah membangun dan melatih kita, bukan selalu merupakan tanda ketidaksenangan-Nya. Orang Kristen yang menanggapi pencobaan dengan mencari Tuhan, dalam iman, dapat terhindar dari nasib orang-orang yang kurang setia, seperti Esau.

Lalu apa arti Ibrani 12:11? Dalam ayat ini, penulis Ibrani menunjukkan bahwa sekadar mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan tidak berarti kita sedang dihukum oleh Tuhan, atau telah ditinggalkan oleh-Nya. Ada kalanya Tuhan menggunakan pergumulan dan kesulitan untuk mengoreksi kita agar menjauh dari dosa (Ibrani 6:7–8). Dan, ada kalanya kita hanya diberi kesempatan untuk bertumbuh—dilatih untuk memiliki iman yang lebih dalam. Hal ini terlihat jelas dalam hubungan antara orang tua dan anak, di mana orang tua yang penuh kasih “mendisiplinkan” anaknya. Selang waktu, ketika menoleh ke belakang, anak tersebut menyadari makna dan guna dari bimbingan itu dan karena itu menghormati orang tuanya.

Di sini, penulis Ibrani juga menunjukkan bahwa tidak seorang pun suka didisiplinkan. Saat berada di tengah-tengah suatu pergumulan, pikiran kita sebagian besar tertuju pada betapa tidak menyenangkannya situasi tersebut. Namun, setelah itu, kita dapat lebih mudah melihat bagaimana Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman itu untuk menumbuhkan iman kita. Kita dapat melihat adanya proses kedewasaan dan pengudusan, yang didorong oleh disiplin kita.

Itulah sebabnya penulis Kitab Ibrani merujuk pada gagasan tentang “dilatih,” dari kata Yunani gegymnasmenois, yang secara harfiah berarti “latihan yang berat.” Penggunaan disiplin oleh Allah, meskipun tidak menyenangkan pada saat itu, sangat mirip dengan pelatihan seorang atlet. Latihan atlet “tampaknya menyakitkan daripada menyenangkan” saat dilakukan. Namun, setelah itu, atlet melihat pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil dari pengalaman tersebut. Iman, dengan cara itu, juga bertumbuh saat kita menanggung disiplin Allah, membantu kita menghasilkan “buah kebenaran.”

Jika Tuhan bermaksud baik dalam melatih kita dalam hidup, itu tidak mudah dimengerti. Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, berdasarkan Firman Tuhan, apakah Tuhan sebenarnya ingin kita bahagia dalam hidup di dunia? Apakah Dia peduli tentang itu? Apakah hal-hal kecil dalam hidup kita penting bagi-Nya, atau apakah Dia lebih peduli untuk membawa kita ke surga?

Di seluruh dunia, dalam setiap budaya, orang mencari kebahagiaan. Orang mencari ke berbagai tempat untuk membantu mereka menutupi, atau menghilangkan rasa sakit dalam hidup ini. Saya mendengar banyak orang Kristen yang bermaksud baik berkata, “Tuhan tidak ingin Anda bahagia. Dia ingin Anda menjadi kudus.” Jawaban ini terdengar alkitabiah dan intens, jadi pasti benar, bukan? Bukankah Tuhan lebih peduli dengan kita yang menaati semua aturan-Nya, daripada tersenyum sepanjang hidup?

Apakah Tuhan ingin kita bahagia? Ya, Tuhan ingin kita bahagia – selalu dan pada akhirnya dan selamanya. Tetapi, bukankah Tuhan ingin kita menjadi kudus? Ya, tentu saja, selalu dan pada akhirnya dan selamanya. Kedua hal ini sebenarnya saling terkait. Tuhan ingin kita menjadi kudus, karena Ia ingin kita bahagia lebih dari sekadar sesaat. Tuhan menciptakan kita, Ia tahu bagaimana kita diciptakan untuk hidup dan apa yang akan memberi makna pada hidup kita. Yang terpenting, Tuhan tahu bahwa semakin dekat kita dengan-Nya, semakin bahagia dan puas kita nantinya. Jadi, Ia dengan penuh kasih memanggil kita untuk taat dan mendekat kepada-Nya.

Seperti orang tua yang memberi tahu anaknya, jangan berlari di depan mobil itu, atau jangan minum air kotor itu, atau menjauhlah dari tepi jurang itu, Tuhan memperingatkan dan menegur kita untuk melindungi dan merawat kita. Ibrani 12:5-7 menjelaskan lebih lanjut agar kita tidak melupakan bahwa Tuhan berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?”

Saat ini, jika kita mengalami masalah yang bukan akibat dosa kita, Allah mungkin sedang mendidik kita; karena itu janganlah kita putus asa. Ia memperlakukan kita seperti anak-anak-Nya yang terkasih. Masalah yang kita alami dalam hidup tidak selalu merupakan bagian hukuman Tuhan kepada keturunan Adam dan Hawa; melainkan bisa menjadi pelatihan, pengalaman normal anak-anak Tuhan di dunia. Hanya orang tua yang tidak bertanggung jawab yang membiarkan anak-anak berjuang sendiri.

Kita menghormati orang tua kita sendiri karena telah mendidik dan tidak memanjakan kita, jadi mengapa tidak menerima pelatihan Tuhan agar kita dapat benar-benar hidup? Ketika kita masih anak-anak, orang tua kita melakukan apa yang menurut mereka terbaik. Tetapi Tuhan melakukan apa yang terbaik bagi kita, melatih kita untuk menjalani kehidupan yang terbaik dari Tuhan. Pada saat itu, disiplin tidaklah menyenangkan dan terasa tidak enak. Tetapi,, hal itu akan membuahkan hasil yang besar, karena orang-orang yang terlatih dengan baiklah yang akan menemukan diri mereka dewasa dalam hubungan mereka dengan Tuhan.

Jadi, apakah Tuhan ingin kita bahagia? Tentu saja. Dia memberi kita segalanya melalui Putra-Nya. Dia peduli dengan detail kehidupan kita. Seperti orang tua yang baik, Tuhan peduli pada kita dan ingin kita menjalani kehidupan yang bahagia, terpenuhi, dan sangat bermakna di bumi ini, serta bersama-Nya selamanya dalam sukacita kekal dari hadirat dan kemuliaan-Nya. Walaupun demikian, ada kalanya Tuhan, dalam hikmat dan perlindungan-Nya yang tak terbatas, meminta kita untuk melepaskan keinginan kita untuk mendapat kebahagiaan sementara yang ada di dunia ini agar kita dapat mengejar sukacita yang jauh lebih besar, lebih dalam, dan abadi. Tuhan ingin kita bahagia lebih dari sekadar sesaat!

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” Mazmur 37:23-24

Bersyukurlah sekalipun hidup ini berat

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 16-18

Pernahkah Anda menggunakan AI (Artificial Intellegence) atau Kecerdasan Buatan dalam pekerjaan Anda? Kecerdasan buatan adalah teknologi yang memiliki kemampuan pemecahan masalah layaknya seperti manusia. AI dalam tindakannya tampak seperti meniru kecerdasan manusia—teknologi ini dapat mengenali gambar, menulis puisi, dan membuat prediksi berbasis data yang ada sekalipun dalam batas-batas tertentu.

Saya baru-baru ini mencoba kemampuan AI untuk menjawab pertanyaan penting: Apa yang harus kita lakukan untuk hidup bahagia? Di luar dugaan saya, AI memberi beberapa cara yang nampaknya masuk akal untuk tetap optimis selama masa-masa sulit:

  • Berlatihlah bersyukur: Mengekspresikan rasa syukur secara teratur dapat membantu Anda menjadi lebih optimis dan tangguh.
  • Tantang pikiran negatif: Daripada terus-menerus memikirkan hal-hal negatif, cobalah untuk mengubahnya menjadi pikiran positif.
  • Fokus pada hal-hal positif: Carilah hal-hal baik dalam berbagai hal, rayakan pencapaian Anda, dan ubahlah pikiran negatif.
  • Luangkan waktu dengan orang-orang yang positif: Orang-orang yang positif dapat membantu Anda melihat sisi positif kehidupan dan menginspirasi Anda untuk mencapai tujuan Anda.
  • Berlatihlah untuk tetap sadar: Kesadaran melibatkan pemusatan perhatian pada saat ini tanpa mencari kesalahan. Ini dapat membantu Anda menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan dan berdamai dengannya.
  • Tetapkan tujuan-tujuan kecil: Tetapkan tujuan-tujuan kecil yang dapat dicapai untuk membantu Anda tetap termotivasi.
  • Lakukan perawatan diri: Pastikan untuk merawat diri sendiri secara teratur.
  • Pertahankan omunikasi: Tetap terhubung dengan orang-orang terkasih dan carilah dukungan.

Yang membuat saya heran ialah bahwa AI menempatkan “berlatih bersyukur” pada urutan pertama. Itu berarti tindakan “bersyukur” adalah sangat penting. Tetapi, saya rasa ini tidak akan bisa dilaksanakan oleh semua orang. Bagaimana orang bisa bersyukur dalam keadaan sulit dan kepada siapa mereka harus bersyukur? Ini tidak dijelaskan. Tidak semua orang mengenal Tuhan yang sudah menyertai setiap orang dalam keadaan apa pun.

Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:45

Hanya orang percaya yang tahu bahwa Tuhan sudah memberkati semua manusia, baik yang mengenal Dia atau yang tidak mengenal-Nya. Dalam hal ini, hanya orang Kristen yang tahu bahwa karunia terbesar yang sudah diterimanya adalah keselamatan kekal. Pada pihak lain, banyak orang Kristen yang lupa untuk bersyukur kepada-Nya pada setiap waktu dan dalam keadaan apa pun.

Ayat-ayat 1 Tesalonika 5:12-22 memberikan serangkaian nasihat kepada jemaat di Tesalonika. Sebagai anak-anak zaman itu, yang menantikan kedatangan Tuhan kembali, mereka perlu hidup benar. Sebagai jemaat, mereka perlu berhubungan baik dengan para pemimpin mereka. Paulus meminta mereka untuk memperlakukan semua rekan seiman mereka dengan baik dan sabar serta berbuat baik satu sama lain. Paulus menasihati jemaat untuk selalu bersukacita dan terus berdoa. Ucapan syukur yang terus-menerus harus menandai kehidupan mereka. Lebih jauh, Paulus memberi tahu para pembacanya untuk tidak memadamkan Roh Kudus atau bersikap negatif terhadap pelayanan gereja yang ada. Sebaliknya, mereka diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran yang telah mereka uji dan temukan kebenarannya. Terakhir, Paulus mengarahkan para pembacanya untuk menghindari segala jenis kejahatan.

Menurut 1 Tesalonika 5:16, orang Kristen harus bersukacita setiap saat. Mempraktikkan karunia pengampunan Tuhan tanpa syarat memungkinkan kita untuk menaati perintah untuk “bersukacita senantiasa.” Pikiran yang pahit dan tidak mau mengampuni menghalangi sukacita sebagaimana halnya balok kayu menghalangi aliran sungai. Kitab Suci mengakui bahwa keadaan hidup kita dan perlakuan orang lain kepada kita mungkin tidak selalu menghasilkan “kebahagiaan,” tetapi kebahagiaan tidak sama dengan sukacita. Sukacita, dalam Alkitab, melibatkan harapan yang penuh kepercayaan kepada Kristus, yang menuntun kepada hidup kekal (Yakobus 1:2-3; Ibrani 12:2).

Paulus mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Ketika ia menulis kepada jemaat Filipi dari penjara, ia tidak hidup dalam keadaannya, sebaliknya ia bangkit mengatasinya. Meskipun ia dibelenggu, ia bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 1:17-18; 4:10). Sukacita Paulus mengalahkan pencobaannya. Meskipun mengalami perlakuan buruk, sering kali berhadapan dengan kematian, kesedihan, dan kemiskinan, ia selalu bersukacita (2 Korintus 6:8-10). Dengan demikian, sekalipun keadaan jemaat Tesalonika sulit, mereka juga dapat bersukacita “di dalam Tuhan.”

Yesus menghubungkan sukacita dengan ketaatan. Ia berkata,

“Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Yohanes 15:10-11

Dalam ayat 17 Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk berdoa terus-menerus. Tentu saja, ini tidak berarti berdoa setiap saat. KIta tetap harus mengerjakan apa yang perlu dalam hidup kita. Sebaliknya, kita harus rajin berdoa, dan sering berbicara kepada Tuhan dalam doa yang sungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Bahkan di tengah-tengah pencobaan, orang percaya harus menyadari nilai yang tak terukur dari memelihara persekutuan dengan Tuhan melalui doa yang sering.

Yesus adalah contoh terbaik tentang apa artinya berdoa terus-menerus. Ia mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (Matius 6:5–13). Ia berdoa sebelum memberi makan lima ribu orang (Matius 14:19–21). Ia berdoa ketika Ia memberkati anak-anak (Matius 19:13). Ia berdoa di pagi hari (Markus 1:35) dan di malam hari (Markus 6:45–47). Ia berdoa untuk murid-murid-Nya dan untuk semua orang percaya berikutnya (Yohanes 17). Ia berdoa di Taman Getsemani (Matius 26:36-42). Ia berdoa dari kayu salib (Lukas 23:34).

Rasul Paulus juga berdoa terus-menerus. Ia berdoa dari penjara pada tengah malam (Kisah Para Rasul 16:25). Ia berdoa setelah memberikan perintah kepada para penatua gereja di Efesus (Kisah Para Rasul 20:36). Ia berdoa di Malta (Kisah Para Rasul 28:8). Ia berdoa untuk Israel (Roma 10:1). Ia berdoa untuk gereja-gereja (Roma 1:9; Efesus 1:16; Filipi 1:4; Kolose 1:3-12).

Pagi ini kita belajar dari Paulus bahwa sukacita tidak datang secara otomatis dari Tuhan. Sukacita dan dukacita bukanlah takdir. Untuk bersukcita kita harus mempunyai kesadaran dan kemauan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah mengasihi kita dari awalnya dan mau untuk rajin berdoa serta bersyukur kepada Dia yang merupakan sumber kekuatan kita.