Influencer Kristen bukanlah seperti bunglon

“Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” 1 Korintus 9:22

Apa arti kata “inflencer“? Diambil dari kata “influence” yang berarti pengaruh, pekerjaan influencer umumnya berkutat seputar memberikan dampak dan ajakan kepada masyarakat umum. Khususnya dalam dunia bisnis, influencer adalah sosok yang memiliki peran penting dalam hal pemasaran dan promosi produk. Mereka bisa membantu meningkatkan brand awareness, memperluas jangkauan produk, dan mempengaruhi keputusan pembelian seseorang.

Seorang influencer tidak semata-mata hanya bekerja di bidang bisnis. Di dunia, seorang influencer bisa berkecimpung dalam dunia pendidikan, psikologi, agama dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Yang jelas, mereka harus bisa membuat penyajian yang berkualitas, menarik, dan relevan bagi audiens. Dengan demikian, sebenarnya influencer bukan hanya ada setelah adanya Facebook, Tiktok dan YouTube, tetapi sudah ada sejak lama. Dalam pengabaran Injil, Billy Graham terkenal sebagai penginjil besar yang sudah membawa banyak orang ke gereja melalui kebangunan rohani akbarnya.

Satu Korintus 9:19–23 menggambarkan bagaimana Paulus menjadi seorang influencer pada zamannya. Berlainan dengan influencer zaman sekarang yang sering menampilkan diri mereka secara “wah” di tengah masyarakat, Paulus menjadikan dirinya hamba dari semua orang. Dia justru membatasi hak dan kebebasannya sendiri untuk berhubungan dengan orang lain. Dia menjadi “segala sesuatu bagi semua orang” sehingga banyak orang akan dimenangkan untuk beriman kepada Kristus. Ia menjadi orang Yahudi yang berada di bawah hukum untuk memenangkan orang-orang Yahudi yang taat hukum. Menjadi seperti orang yang tidak berada di bawah hukum Taurat untuk memenangkan orang yang belum percaya. Ia bahkan menunjukkan kelemahannya demi yang lemah. Dia melakukan semua ini demi Injil, mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama demi kemuliaan Tuhan.

Apa yang Paulus maksudkan dengan “yang lemah”? Beberapa orang berpendapat bahwa ini adalah gambaran semua orang yang tidak beriman (Roma 5:6), yang berarti bahwa Paulus hidup, dalam arti tertentu, seperti orang yang tidak beriman, agar dapat menjangkau orang-orang yang tidak beriman. Mungkina dia tidak hidup dalam dosa, tapi ikut serta dalam praktik budaya mereka. Benarkah begitu? Benarkah Paulus bisa menjadi “bunglon”? Mengingat semua yang Paulus katakan tentang perlunya menghindari dosa dan munculnya kejahatan (1 Tesalonika 5:22; Efesus 5:27; 1 Timotius 3:2), tentunya tidak mungkin dia melakukan hal itu.

Yang lebih masuk akal dalam konteks ini adalah bahwa “yang lemah” mengacu pada orang-orang Kristen yang tidak sanggup memakan daging yang dipersembahkan kepada berhala (1 Korintus 8:4-7). Orang-orang seperti ini mengalami pembatasan yang tidak perlu karena kurang berkembangnya iman mereka pada kasih karunia Allah. Dengan demikian, ini berarti Paulus memilih untuk tidak memakan daging tersebut demi memenangkan mereka yang lemah. Paulus tidak hanya menyelamatkan mereka dari rasa dosa karena melanggar keyakinan mereka, dia juga menghindari menyinggung perasaan mereka atau menyebabkan kebingungan rohani (1 Korintus 8:12-13). Dia bekerja sama dengan perilaku mereka yang membatasi, untuk menghindari hambatan yang tidak perlu di jalur hidup mereka.

Kesimpulan Paulus dinyatakan dengan jelas. Dia telah menjadi “segala sesuatu bagi semua orang” untuk menyelamatkan sebagian orang dengan memimpin mereka kepada iman kepada Kristus. Dia tidak pernah mengubah isi pesannya tentang menjadi berkenan kepada Allah melalui iman di dalam Kristus saja (Galatia 1:8–9; 2 Timotius 2:14–18; 1 Korintus 16:13). Sebaliknya, Paulus menggambarkan kesediaan untuk terus-menerus menyesuaikan perilakunya, mengesampingkan hak-haknya, untuk memimpin sebanyak mungkin orang kepada Kristus.

Hari ini, Paulus mendorong kita untuk rela menyerahkan “hak” kita demi kebaikan orang-orang yang lemah imannya. Paulus menunjukkan bahwa ia pun telah melepaskan hak-haknya, termasuk hak sebagai rasul untuk menerima dukungan dari orang-orang yang ia layani. Sebaliknya, ia menjelaskan bahwa ia melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Paul menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bersaing memperebutkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan, dan kebaikan orang lain, dengan komitmen seperti itu.

Kita pun dapat menjadi seperti Paulus dalam kehidupan kita. Baik di kantor, di sekolah atau di rumah, seorang Kristen sejadi bukanlah orang yang menuntut penghormatan, penghargaan dan ketaklukan orang lain. Sebaliknya, kita diajak untuk bisa mempunyai rasa empati, rasa hormat dan rasa kasih kepada semua orang, agar makin banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus.

Apakah masih ada hikmat di tengah kesulitan?

“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Yakobus 1:5

Pernahkah Anda mengalami keadaan yang kurang menyenangkan, yang membuat Anda kuatir, sehingga kehilangan akal sehat? Dalam bahasa Inggris, orang yang mengalami hal ini dikatakan senagai orang yang kehilangan kendali atas ketenangan (losing one’s cool). Orang yang sedemikian mungkin saja menjadi marah dan tegang sehingga kehilangan kebijakan atau hikmat. Ini mungkin saja terjadi ketika pencobaan mendatangi hidup seseorang.

Dalam ayat 2 sampai 4, Yakobus meletakkan dasar bagi suratnya. Ia mengungkapkan bahwa kehidupan Kristen adalah tentang menumbuhkan kepercayaan yang lebih dalam kepada Tuhan ketika pencobaan datang kepada kita. Faktanya, pencobaan-pencobaan itulah yang kita perlukan untuk belajar lebih mempercayai Tuhan. Di sini, Yakobus mulai menjelaskan bagaimana rasanya memercayai Tuhan dalam berbagai situasi.

Seberapa pentingkah bagi orang Kristen untuk mempercayai Tuhan? Sangat penting, tulis Yakobus, agar kita menyebut momen terburuk kita sebagai hal yang menggembirakan, karena pencobaan membantu kita lebih memercayai Tuhan. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan meminta hikmah dari-Nya—dan kemudian mengambil apa yang Dia berikan. Orang-orang yang beriman kepada Tuhan lebih mementingkan pahala mereka di akhirat dibandingkan kekayaan mereka di kehidupan sekarang. Orang yang percaya kepada Tuhan tidak menyalahkan Dia atas keinginan mereka untuk berbuat dosa; mereka memuji Dia atas semua hal baik dalam hidup mereka. Mereka melihat ke dalam Firman-Nya, dan mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka lihat di sana.

Yakobus 1:2–18 dimulai dengan perintah yang menantang bagi orang Kristen. Kita harus mengklasifikasikan hal-hal sulit dalam hidup kita sebagai hal yang ”berguna”, karena cobaan tersebut membantu kita mengembangkan kepercayaan yang lebih dalam kepada Tuhan. Orang-orang Kristen yang memercayai Tuhan juga mencari hikmat dari-Nya—dan bukan dari sumber-sumber yang tidak saleh. Kita terus memercayai-Nya melalui pengalaman-pengalaman sulit, antara lain untuk menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan kepada mereka yang tidak berhenti. Kita tidak menyalahkan Dia atas keinginan kita untuk berbuat dosa, namun kita memuji Dia atas setiap hal baik dalam hidup kita.

Dalam konteks ini, Yakobus sedang berbicara tentang hikmat pada suatu momen tertentu. Ini adalah referensi pada saat-saat ketika kita tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang bisa kita pilih? Kemana kita harus pergi? Bagaimana kita memutuskan antara dua jalan yang berbeda? Mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan akan meminta hikmah dari-Nya. Meminta hikmat kepada Tuhan adalah bukti bahwa kita percaya kepada-Nya. Percaya kepada Tuhan membuat kita tidak kehilangan pikiran yang sehat.

Yakobus menyatakan bahwa Tuhan memberikan hikmat dengan murah hati. Ia tidak pelit memberikan wawasan kepada mereka yang bertanya bagaimana cara mengambil pilihan terbaik. Faktanya, Tuhan memberikan hikmah tanpa “celaan” atau mencari-cari kesalahan. Dengan kata lain, Dia tidak melihat semua pilihan bodoh kita sebelumnya dan memutuskan bahwa kita tidak layak menerima hikmat dari-Nya. Sungguh sebuah janji yang luar biasa! Tuhan semesta alam siap dan bersedia memberikan hikmah berlimpah kepada mereka yang meminta hanya berdasarkan kepercayaan dan keyakinan mereka kepada-Nya, bukan pada diri mereka sendiri.

Salah satu cara Tuhan mengungkapkan hikmat-Nya kepada kita adalah melalui Firman-Nya, Alkitab. Namun Firman yang tertulis bukanlah satu-satunya cara Allah membekali kita dengan hikmat. Kitab Suci lainnya mendorong kita untuk mencari hikmat Tuhan melalui sahabat yang bijaksana dan saleh (Amsal 11:14) dan melalui pengamatan terhadap ciptaan-Nya (Mazmur 19:1), misalnya. Namun sumber utama segala kebijaksanaan adalah Tuhan sendiri. Apakah umat Tuhan bisa mendapatkan hikmat yang dicari atau tidak, bergantung pada apakah mereka benar-benar mempercayai Tuhan sebagai sumber hikmat terbaik atau tidak. Bagaimana pula dengan diri Anda? Percayalah kepada Tuhan yang murah hati, maka Anda akan menerima hikmat dari-Nya.

Natal mengingatkan hubungan kita dengan Tuhan

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Bagi banyak pekerja di Australia, bulan Desember adalah bulan yang terasa aneh. Maklum, ketika banyak murid sekolah dan universitas sudah memasuki liburan panjang musim panas selama dua bulan, banyak pekerja kantor yang harus bekerja makin keras untuk menyelesaikan tugas mereka untuk tahun ini. Sebelum mereka bisa berlibur, masih ada banyak hal yang harus diselesaikan sesuai dengan target perusahaan. Bagi mereka yang berkeluarga dan mempunyai anak-anak yang sudah berumur belasan tahun, mungkin mulai timbul sedikit ketegangan karena tiap orang mempunyai prioritas dan keinginan yang berlainan. JIka sebagian ingin bebas dan bergembira-ria, sebagian lagi masih sibuk dengan pekerjaan dan pusing memikirkan besarnya pengeluaran.

Orang Kristen yang mempunyai sanak keluarga sebenarnya harus bersyukur. Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang seharusnya disambut dengan rasa gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, suasana Natal yang ada biasanya disambut dengan rasa senang. Tetapi, banyak juga orang yang jika ditanya, menjawab bahwa mereka tidak tertarik untuk merayakan hari Natal. Mungkin karena mereka jauh dari keluarga, tidak mempunyai sanak atau teman, atau sekalipun memiliki sanak keluarga, mereka sedang berada dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Bagi mereka, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan karena Tuhan terasa jauh.

Orang percaya seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaan-Nya. Keselamatan yang direncanakan-Nya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan Anak-Nya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbanan-Nya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umat-Nya. Allah tidak lagi Oknum Ilahi yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikan-Nya kepada semua pengikut-Nya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan  seharusnya makin terasa dalam hati umat-Nya ketika hari Natal mendatangi.

Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang sering diucapkan setiap orang yang merasa bahwa mereka harus menghadapi hidup ini sendirian. Bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasih-Nya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umat-Nya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang belum bisa sepenuhnya membuka hidup dan hati kita untuk Dia.

Yakobus 5:13 mendorong mereka yang percaya kepada Tuhan untuk mempraktikkan imannya. Hal ini paling mudah ditunjukkan dengan berdoa dalam menanggapi setiap keadaan. Kita harus berdoa untuk diri kita sendiri, memuji Tuhan, dan mengundang para pemimpin rohani di gereja kita untuk mendoakan kita ketika pada saat ini kita merasa sakit, atau lemah secara rohani. Rasul Yakobus mendorong para pembacanya untuk menanggapi semua keadaan kehidupan mereka dengan doa. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Ini adalah tema yang konsisten dari surat Yakobus: tindakan seseorang membuktikan apa yang sebenarnya mereka yakini.

Jadi, setiap umat Kristiani yang sedang menderita atau berada dalam kesulitan di saat ini hendaknya rajin untuk berdoa. Jika doa tidak datang secara alami kepada kita, Yakobus mengajak kita untuk tetap melakukannya. Entah itu masih terasa canggung atau sudah senormal bernapas, doa adalah cara utama orang percaya mengekspresikan iman mereka kepada Tuhan. Kurangnya doa dalam menanggapi masalah harus menjadi tanda peringatan rohani. Itu adalah gejala seseorang yang tidak hidup dalam ketergantungan pada Tuhan. Tanda berbahaya lainnya adalah tidak cepat menyanyikan lagu pujian kepada-Nya ketika kita merasa gembira atau bahagia. Doa harus menjadi respons alami terhadap keadaan atau keadaan pikiran apa pun bagi orang-orang yang hidup dalam hubungan saling percaya yang erat dengan Bapa kita.

Hari Natal baru akan datang tiga minggu lagi, karena itu getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiran-Nya mungkin belum terasa. Tetapi mungkin juga hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual. Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk mau berdoa kepada-Nya dalam setiap saat dan keadaan, baik dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.

Menyambut hari Natal dengan keyakinan

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita.” Matius 1: 23

Untuk mereka yang hidup di negara Barat, hiasan-hiasan Natal sudah bermunculan di banyak toserba sejak bulan November. Selain untuk berbelanja, banyak keluarga yang berjalan-jalan di sana untuk menikmati hiasan Natal. Begitu juga, rumah-rumah yang dihiasi dengan lampu berwarna-warni sudah pasti akan dikunjungi oleh banyak orang yang datang untuk menonton dalam minggu-minggu mendatang. Lebih dari itu, sebagian orang juga menaruh hiasan Natal di mobil atau sepeda motor mereka. Hari ini saya menjumpai dua orang yang berpakaian seperti Sinterklas yang mengendarai moge Harley yang dipajang meriah di jalan raya.

Hari Natal umumnya dirayakan bersama teman atau sanak keluarga. Tetapi mereka yang tidak mempunyai siapapun dalam hidup mereka, mungkin merasakan betapa sepinya Natal ini. Mereka yang sedang sakit, mereka yang dalam kekurangan, penderitaan maupun kesusahan, mungkin juga harus melewati Natal dalam kesunyian. Adalah kenyataan bahwa Natal bagi sebagian orang malahan bisa membawa kepedihan.

Pada saat ini banyak orang di Australia yang mencari rumah sewaan. Mereka yang tingkat ekonominya rendah harus bersaing memperebutkan tempat tinggal, Di kota-kota besar, hanya mereka yang bergaji besar dapat membeli atau menyewa tempat kediaman yang layak. Banyak orang yang kurang mampu, sekarang harus hidup dalam mobil mereka atau tinggal dalam tenda, sehingga mereka tidak mempunyai alamat atau tetangga. Hidup sedemikian tentunya adalah sebuah penderitaan.

Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan adanya hubungan dengan orang lain dan adanya orang lain disekitarnya. Setiap manusia membutuhkan suatu status yang bermakna. Dengan tidak adanya rumah atau pekerjaan, banyak orang merasa bahwa statusnya bukanlah seperti yang seharusnya. Mereka merasa kurang dihargai oleh masyarakat dunia yang hanya mementingkan kedudukan dan kekayaan.

Dari awalnya Tuhan Sang Pencipta tahu kebutuhan ciptaan-Nya; Ia tidak menghendaki manusia merasa sorangan wae, sendirian dan kesepian dalam kekurangan. Dengan demikian, dalam hidup di dunia, setiap manusia seharusnya bisa mendapati dukungan dan penyertaan dari orang-orang yang mereka cintai. Namun dukungan manusia adalah terbatas; dan kalaupun ada, belum tentu bisa cukup atau langgeng. Jadi bagaimana manusia bisa memperoleh status yang baik di tengah keadaan yang kurang baik?

Yesus yang datang ke dunia pada hari Natal adalah seorang pendamping manusia yang lebih dari siapapun yang ada disekitar kita. Ia adalah Tuhan dan karena itu tidak mungkin kalau kemampuan-Nya ada batasnya. Yesus sudah membuktikan kesetiaan-Nya sampai mati di kayu salib untuk ganti dosa kita, karena itu tidak mungkin kalau kasih-Nya kurang dari itu. Yesus juga Tuhan yang lahir dalam bentuk manusia biasa, karena itu tidak mungkin kalau Ia tidak tahu dan tidak bisa merasakan penderitaan kita.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Yesus yang lahir pada hari Natal adalah Tuhan yang Mahakuasa, Mahakasih, Mahatahu dan Mahabijaksana. Karena itulah Ia dinamakan Imanuel sebab Ialah Tuhan yang benar-benar bisa mendampingi, menyertai kita dalam setiap keadaan kita. Ia menyertai kita bukan hanya kadang-kadang, dan bukan saja pada saat-saat tertentu, tetapi setiap saat dan untuk selama-lamanya. Jika kita saat ini merasa sendirian dalam hidup dan perjuangan kita, biarlah dengan iman kita percaya bahwa Yesus, Imanuel, tidak pernah meninggalkan kita. Setiap orang percaya adalah anak-anak Allah. Tidak ada yang lebih tinggi dari status itu, yang hanya bisa diperoleh melalui anugerah Allah. Apa yang harus kita lakukan hanyalah menerima Dia sebagai Juruselamat kita dalam perjuangan hidup kita!

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 20b

Untuk apa kita diselamatkan?

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” .Efesus 2:10

Efesus 2:8–9 adalah bagian Alkitab yang sangat populer. Karena kedua ayat tersebut sering dikutip, banyak yang melewatkan ayat 10 ketika mencoba memahami keselamatan Allah melalui kasih karunia melalui iman. Namun, pernyataan penting ini menawarkan wawasan yang luar biasa mengenai apa yang Tuhan inginkan setelah keselamatan. Tuhan menyebut kita karya-Nya atau karya seni-Nya, dari kata Yunani poiēma. Kita adalah sesuatu yang diciptakan, dengan keterampilan dan tujuan, oleh Tuhan, untuk tujuan-tujuan-Nya. Secara khusus, kita “diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.” Perbuatan baik tidak memberi kita keselamatan, namun perbuatan baik memang dimaksudkan sebagai hasil keselamatan.

Efesus 2:1–10 dengan jelas menjelaskan hubungan antara kurangnya ketaatan, kasih karunia Allah, dan keselamatan kita. Mereka yang diselamatkan oleh Kristus tidak layak menerima keselamatan ini. Hanya karena belas kasihan dan kasih karunia, Allah memilih untuk mengampuni. Pada bagian ini, Paulus akan mengulangi pernyataan bahwa usaha manusia tidak mempunyai dampak apa pun terhadap keselamatan. Tidak ada orang Kristen yang bisa menyombongkan “kebaikan” mereka, karena kita diselamatkan sepenuhnya karena kasih karunia Allah, bukan karena perbuatan baik kita sendiri. Dengan kata lain, kita sepenuhnya merupakan hasil karya Tuhan yang mencipta, menebus, dan menguduskan, dan kita adalah milik-Nya.

Paulus berulang kali menekankan bahwa keselamatan dicapai atas dasar kasih karunia, melalui iman. Perbuatan baik, usaha manusia, dan niat terbaik kita tidak akan pernah cukup untuk memperoleh keselamatan. Setiap orang ditandai dengan dosa, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, dan oleh karena itu kita layak dipisahkan dari Tuhan. Hanya melalui kemurahan dan kasih karunia-Nya kita dapat diselamatkan, sehingga tidak ada ruang untuk menyombongkan diri. Ini juga berarti bahwa semua orang yang diselamatkan, baik Yahudi maupun non-Yahudi, adalah bagian dari keluarga rohani yang sama. Tidak ada alasan untuk permusuhan di antara orang-orang beriman; tidak perlu ada kesombongan atas aliran gereja atau pengerian teologis kita. Kita semua tidak layak, dan semua diselamatkan oleh kebaikan Tuhan yang sama.

Menariknya, Tuhan telah mempersiapkan apa yang Dia ingin kita lakukan bagi-Nya sejak lama. Dia telah merencanakan apa yang Dia ingin kita lakukan dalam hidup kita. Kita tidak perlu meniru apa yang sudah atau sedang dilakukan orang lain. Kita tidak perlu serupa dengan golongan gereja lain. Dia mempunyai rencana unik bagi kita masing-masing untuk melayani Dia di dunia ini. Ini mencakup karunia rohani tertentu dan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita untuk memimpin kita dalam pelayanan kepada-Nya.

Pengerjaan mengacu pada lebih dari sekedar produk ciptaan; ini juga mengacu pada tingkat keterampilan pembuatan produk. Tingkat keterampilan itu memberi nilai pada benda yang dibuat. Misalnya, kita dapat berkata, “Vas itu dibuat dengan sangat baik.” Vas itu sendiri indah, tetapi nilainya ditentukan oleh bakat orang yang merancang dan memproduksinya. Dengan mengingat definisi tersebut, pengerjaan mungkin merupakan istilah yang lebih tepat daripada mahakarya atau hasil karya tangan karena penekanannya pada Pencipta daripada ciptaan.

Kita adalah karya Tuhan saat Dia menciptakan kita. Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan bernilai, namun tidak ada ciptaan yang sebanding dengan pekerjaan-Nya dalam menciptakan manusia (Kejadian 2:7). Dari langit, sungai, hingga katak, Tuhan hanya berfirman dan semuanya ada (Kejadian 1). Selama enam hari, Tuhan berkata, “Jadilah,” dan jadilah demikian. Namun pada hari keenam, Dia melakukan sesuatu yang berbeda. Tuhan menjangkau ke dalam lumpur dan membentuk manusia. Dia kemudian meniupkan “nafas hidup ke dalam hidung manusia, sehingga manusia menjadi makhluk hidup” (Kejadian 2:7). Nafas itu membawa kehidupan Tuhan ke dalam karya-Nya. Manusia sekarang memiliki roh yang berbeda dengan kehidupan hewan dan tumbuhan. Mazmur 139:13–16 memberi kita gambaran tentang bengkel kerja Tuhan, yang menunjukkan kepada kita bahwa Dia terlibat erat dalam penciptaan setiap manusia.

Kita adalah karya Tuhan di mana Dia menebus kita. Sebagaimana Tuhan tahu bahwa mereka akan melakukannya, umat manusia memberontak melawan otoritas-Nya. Mereka menajiskan karya Allah dan memasukkan dosa ke dalam dunia-Nya yang sempurna (Kejadian 3:11; Roma 5:12). Sejak saat itu juga, Allah menjalankan rencana-Nya untuk menebus mereka dan mengembalikan mereka ke rancangan semula (Kejadian 3:21-23). Sebelum dunia dijadikan, Allah telah merencanakan penebusan ini, yang pada akhirnya akan menghasilkan penyaliban Anak-Nya sebagai korban terakhir untuk dosa (2 Korintus 5:21; Efesus 1:4; Wahyu 13:8). Pengerjaan-Nya menuntut biaya yang luar biasa besarmya, karena kita ditebus “dengan darah Kristus yang mahal” (1 Petrus 1:18–19).

Kita adalah hasil karya Tuhan di mana Dia menguduskan kita dan menjadikan kita layak di hadapan-Nya. Dia membentuk kita sesuai keinginan dan tujuan-Nya (Filipi 2:13; Kolose 1:16). Meskipun ada ketidaksempurnaan yang masih kita temukan dalam diri kita, sebagai tanah liat kita tidak dapat berkata kepada tukang periuk, “Mengapa engkau menjadikan aku seperti ini?” (Roma 9:20; Yeremia 18:5). Tuhan tahu apa yang Dia lakukan. Dia menggunakan penderitaan, kesulitan, dan tantangan dalam hidup kita, untuk membentuk kita agar menjadi serupa dengan Kristus yang sudah mengalami semuanya (Roma 8:28). Dan Dia berjanji untuk menyelesaikan apa yang Dia mulai (Filipi 1:6). Bertahanlah, maka kita akan menerima sukacita yang besar pada akhirnya!

Sudahkah Anda memberikan yang terbaik?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

“The Little Drummer Boy” (awalnya dikenal sebagai “Carol of the Drum“) adalah lagu Natal populer yang ditulis oleh komposer Amerika Katherine Kennicott Davis pada tahun 1941. Pertama kali direkam pada tahun 1951 oleh keluarga Trapp, lagu ini selanjutnya dipopulerkan melalui rekaman tahun 1958 oleh Harry Simeone Chorale; versi Simeone berhasil dirilis ulang selama beberapa tahun, dan lagu tersebut telah direkam berkali-kali sejak saat itu. Dalam liriknya, penyanyi tersebut menceritakan bagaimana, sebagai seorang anak muda yang miskin, dia dipanggil oleh orang Majus ke tempat kelahiran Yesus. Tanpa hadiah untuk Bayi tersebut, anak laki-laki penabuh drum kecil itu memainkan drumnya dengan persetujuan ibu Yesus, Maria, sambil berpikir, “Aku memainkan yang terbaik untuk-Nya”.

Persembahan apakah yang akan Anda berikan kepada Yesus pada hari Natal yang akan datang? Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin membawa persembahan untuk Tuhan, kita harus memakai seluruh hidup kita sebagai persembahan yang membawa kemuliaan bagi Dia setiap hari dan bukannya untuk kemuliaan diri sendiri. Ini berarti bahwa sebagai orang Kristen kita harus peduli akan cara hidup kita, sekalipun kita sudah ditebus dari hukuman dosa oleh darah Kristus.

Memberi kepada orang lain adalah sesuatu yang dilakukan sebagian orang secara teratur. Sering kali terlihat baik dan bahwa mereka sangat murah hati, sampai apa yang mereka berikan terlihat oleh banyak orang. Tetapi ada banyak orang yang membawa barang-barang ke badan sosial apa yang tidak layak diberikan. Mereka sering memberi pakaian usang atau barang-barang rusak kepada mereka yang membutuhkan. Jarang, dan bahkan tidak pernah, orang memberikan apa yang terbaik kepada mereka yang membutuhkan. Biasanya, hanya yang tersisa atau diapkir yang diberikan.

Ini sering terjadi di gereja dengan cara yang sama. Ada banyak orang yang memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi mereka hanya memberikan yang apa yang tersisa atau yang tidak pantas kepada Tuhan. Mereka tidak memberikan yang terbaik. Ada juga yang memberi gereja uang yang berlimpah dari apa yang diperoleh dengan cara yang tidak benar. Mempersembahkan sesuatu yang tidak harum bagi Tuhan sudah menjadi larangan untuk umat Israel pada zaman Perjanjian Lama, dan prinsipnya tetap berlaku hingga sekarang.

“Janganlah engkau mempersembahkan bagi TUHAN, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” Ulangan 17: 1

Pada waktu itu, Tuhan telah memberi tahu orang Israel untuk tidak mempersembahkan hewan yang cacat. Selama waktu itu, mereka mempersembahkan hewan kurban secara fisik. Jika ada yang mempersembahkan domba atau lembu yang cacat kepada Tuhan, Ia akan menganggap itu menjijikkan, karena mereka memberi apa yang patut dibuang, bukan apa yang bisa menunjukkan kemauan mereka untuk menghormati dan memuliakan Tuhan.

Bagaimana dengan konsep memberi persembahan di zaman sekarang? Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar. Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi kita apa yang terbesar, yaitu keselamatan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Persembahan ini bukan hanya persembahan uang tunai, tetapi bisa berupa waktu dan tenaga. Dalam hal ini, sering kali waktu dan pikiran manusia tidak digunakan untuk kemuliaan Tuhan. Fokus banyak orang adalah diri sendiri atau dunia ini, bukan pada Tuhan dan kerajaan-Nya. Kesibukan dunia ini seringkali membuat orang memberikan yang seadanya, dan bukan yang terbaik. Mreka mungkin merasa bahwa gereja sudah senang dengan persembahan apa pun dari jemaatnya. Mungkin sebagian merasa bahwa gereja tidak akan berkembang tanpa sumbangan uang dan tenaga mereka. Mereka juga merasa bahwa seharusnya pengurus gereja menghargai semua sumbangan mereka. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak membutuhkan apa yang dihasilkan manusia, karena semua yang ada di bumi berasal dari Dia.

Setiap orang percaya perlu memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan mempercayai Tuhan untuk memimpin kita dalam menggunakan sisanya. Berikan waktu, uang, dan tenaga yang terbaik. Luangkan waktu hari ini untuk difokuskan pada apa yang Anda akan berikan kepada Tuhan. Ijinkan Tuhan untuk memiliki yang pertama dan terbaik dari semua yang Anda miliki, waktu, energi, kemampuan, dan uang anda. Jangan berikan hanya sisa hidup Anda atau apa yang sebenarnya tidak Anda inginkan, karena itu adalah dosa.

Bagaimana pemberian Anda kepada Tuhan hari ini? Semoga Anda mau memberi kepada Tuhan dengan hati yang rela; bahwa Anda akan memberikan diri Anda sendiri kepada Tuhan; bahwa Anda akan memberikan yang masa hidup yang terbaik kepada Tuhan; dan bahwa Anda akan menghormati Tuhan dalam semua pemberian Anda.

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30

Mengapa ada perubahan iklim di dunia?

“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” Roma 8:22

Ingatkah saat kita masih kecil dan naif? Ingatkah saat ketika kita mendengar adanya bencana alam, baik banjir atau kelaparan, dan menghubungkannya dengan penyebab supernatural? Manusia dari ribuan tahun yang silam, baik dari Afrika ataupun dari Asia, dan yang tinggal di hutan Amazon maupun yang hidup di padang gurun Australia, semuanya percaya bahwa bencana di dunia dikirim oleh para dewa. Baik itu masalah besar atau penderitaan manusia, mereka tahu siapa yang harus disalahkan: Tuhan. Itu adalah dasar ajaran fatalisme.

Tentu saja, manusia modern seperti kita sekarang telah berubah. Pendidikan kita dan ilmu pengetahuan modern telah secara efektif melenyapkan penafsiran-penafsiran khayalan di atas, dan memberikan pencerahan kepada kita mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kita sekarang tahu apa yang menyebabkan perubahan iklim dan kehancuran flora dan fauna. Kebakaran hutan, angin topan, tanah longsor, mencairnya lapisan es, dan tipisnya lapisan ozon, semuanya mempunyai sumber yang sama. Sebagian dari kita yakin siapa yang bersalah: manusia. Walaupun demikian, masih ada orang yang percaya bahwa semua itu terjadi semata-mata karena kehendak Tuhan. Itu karena manusia tidak mampu mengambil keputusan dan tindakan yang mengubah ciptaan Tuhan. Mana yang benar?

Sudah tentu kita tidak dapat melepaskan manusia dari panggilan yang diberikan Tuhan untuk secara bertanggung jawab menjaga dan mengembangkan ciptaan baik Sang Pencipta. Kita tidak dapat membantah ilmu pengetahuan seputar perubahan iklim. Tetapi, masalahnya adalah jika kita hanya memilih satu cara untuk menceritakan hal ini: bahwa manusia bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang terjadi di dunia. Jika itu benar, manusia tidak akan mempunyai harapan di saat adanya malapetaka.

Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika dunia sedang terguncang akibat epidemi AIDS, banyak pendeta dikecam karena kata-kata mereka yang menyatakan bahwa bencana mengerikan tersebut bisa jadi merupakan penghakiman dari Tuhan. Sesudah itu, ada pengkhotbah yang menyalahkan dosa manusia atas terjadinya COVID-19 dan munculnya serangan teroris. Ketika mereka menyalahkan manusia atas datangnya bencana seperti itu, mereka ditertawakan. Namun saat ini, para ilmuwan, pakar, dan politisi tampaknya menyalahkan kita (dan satu sama lain) atas perubahan iklim!

Entah pilihan pribadi atau kebijakan publik yang harus disalahkan, satu hal yang kita semua sepakati adalah bahwa perubahan iklim adalah permasalahan manusia yang disebabkan oleh alam. Setiap hari dalam siklus berita 24/7, para pakar ilmiah dan politik yang mengubur kita dengan rasa malu dan bersalah, lalu memberi tahu kita bagaimana kita menyebabkan segala apa yang terjadi. Mereka juga menyatakan bahwa hanya manusia yang bisa bertindak untuk menghindari bencana yang lebih besar.

Tentu saja kita tidak boleh mengabaikan semua yang telah diperoleh melalui sains. Namun pertanyaannya adalah apa yang bisa kita peroleh dengan menyatakan sebagian dari kepastian ilmiah yang tampaknya hanya membebani semua orang. Bagaimana jika, sebaliknya, kita mengizinkan beberapa saksi supernatural untuk memberikan kesaksian dan berbagi sedikit misteri Ilahi?

Menurut kesaksian Kristen, dalam semua bencana selalu ada kabar baik. Kabar terbaiknya adalah Tuhan bersedia menanggung semua masalah kita. Alkitab secara jelas menyatakan kegagalan manusia di sepanjang zaman. Banyak catatan kuno tentang penyakit, bencana, dan kematian yang berasal dari pilihan manusia. Namun Injil Kristen, kabar baik dari Tuhan, adalah bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan baik, dan memberi kita semua kebaikan yang kita nikmati, sudah menjadi manusia Yesus untuk menyerap badai dan penyakit yang terjadi karena dosa manusia. Salib Yesus adalah tindakan ilahi ketika Tuhan mengangkat tangan-Nya untuk menanggung kesalahan atas kegagalan manusia.

Ada cara lain di mana Allah memikul tanggung jawab atas seluruh bencana yang terjadi di bumi. Menurut Alkitab, penyakit dan bencana alam bukanlah akibat yang buta dan penyebabnya tidak terlihat. Semua itu adalah alat bantu visual yang diilhami ilahi untuk membantu kita melihat realitas hakiki kita. Itu adalah lampu yang dirancang untuk mengingatkan manusia dari bencana yang lebih besar. Dengan demikian, itu sebenarnya adalah kebaikan Tuhan. Itu seperti sistem peringatan dini yang memberitahu Anda untuk mencari tempat yang lebih tinggi dan menghindari gelombang tsunami. Untuk mencari apa yang abadi dan bukan apa yang mudah rusak.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan orang Kristen mengklaim berkuasa atas seluruh ciptaan. Semua peristiwa alam tidak berada di luar kendali-Nya. Dia bahkan mengizinkan terjadinya bencana yang mengerikan dalam rancangan-Nya demi kebaikan umat manusia. Kita harus percaya bahwa perubahan iklim bukan hanya konsekuensi dosa manusia atau semata-mata penderitaan yang dibuat Tuhan.

Ayat di atas mengajarkan bahwa ciptaan Allah mengerang seperti saat melahirkan. Bumi yang penuh bencana ini sedang menunggu sesuatu yang lebih baik. Sebuah hidup baru. Sebuah ciptaan baru. Iklim baru. Dunia baru di mana tidak akan ada lagi kesedihan, tangisan, atau kesakitan. Dunia ini hanya mungkin terjadi karena Allah di dalam Kristus bersedia menanggung kesalahan dan dosa kita.

Apa yang menyebabkan kita menjadi seperti ini?

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Yohanes 1:12-13

Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana jadinya jika Anda dilahirkan di negara yang berbeda, mungkin dengan orang tua yang berbeda, atau bahkan pada waktu yang berbeda dalam sejarah? Banyak dari kita yang berfantasi tentang hal ini dan bahkan mungkin merasa bahwa keadaan akan jauh lebih baik bagi kita jika kita tinggal di negara lain dengan orang tua yang berbeda. Tetapi, mungkin Anda merasa beruntung tidak dilahirkan di Timur Tengah, sebagai anak dari keluarga bukan Kristen, sekalipun Anda mungkin menjadi Pangeran Ali Baba atau Puteri Sultan raja minyak yang kaya raya!

Mengapa kita harus merasa beruntung menjadi orang Kristen, tentunya bisa kita mengerti. Itu karena orang Kristen yang mempunyai Yesus yang menebus kita dari hukuman dosa, dan yang juga adalah Tuhan sendiri. Keselamatan kita di surga sudah dipastikan dan dijamin oleh Tuhan sendiri. Lalu, apa yang menyebabkan kita menjadi orang Kristen? Sebagian orang merasa beruntung karena dilahirkan dalam keluarga Kristen, menerima pendidikan dari sekolah Kristen, atau diinsafkan oleh khotbah atau pesan orang Kristen. Semua itu adalah faktor-dafktor yang mempengaruhi kapan, bagaimana dan di mana kita mau menerima tawaran kasih Kristus, tetapi bukanlah penyebab kita menjadi orang Kristen.

Ada banyak keluarga Kristen yang justru mempunyai anak-anak yang menolak untuk menjadi orang Kristen. Jika ada beberapa anak yang dilahirkan dalam satu keluarga, tidak semuanya akan menjadi orang Kristen. Bahkan salah satu anak dari seorang pendeta terkenal di Amerika, justru bukan orang Kristen sekalipun saudaranya menjadi seorang pendeta terkenal. Apa yang menyebabkan sebagian orang menjadi orang Kristen dan sebagian lagi menolak atau acuh tak acuh akan Injil?

Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Tuhanlah yang menentukan kapan kita akan dilahirkan, siapa orang tua kita, dan di mana kita akan tinggal. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita pilih atau tolak. Sebagai Tuhan, Ia tidak membuat kesalahan, karena Dialah Mahabijaksana. Dia menentukan hidup kita dan menempatkan kita dalam keluarga kita. Meskipun wajar jika sebagian orang merasa Tuhan tidak adil karena tidak memberi mereka lingkungan, tempat, dan saat kelahiran yang lebih baik, kenyataannya setiap otang dilahirkan pada tempat dan waktu yang tepat sesuai rencana Tuhan.

Yohanes 1: 12-13 menunjukkan bahwa lebih dari menentukan kelahiran jasmani kita, Tuhan juga menentukan kelahiran rohani kita. Ayat 13 adalah penyebutan pertama dalam Injil ini tentang “dilahirkan” ke dalam Kerajaan Allah. Istilah “dilahirkan kembali” telah menjadi klise dan banyak orang salah memahaminya. Namun, ini merupakan ide yang penting, karena apa yang tersirat di dalamnya. Saat seorang anak lahir, segala usaha, tenaga, dan rasa sakit ditanggung oleh ibu. Namun, anaklah yang paling banyak mengalami perubahan dalam hidup seterusnya.

Keselamatan rohani kita adalah serupa: penderitaan dan usaha Tuhan untuk memberikan kita hidup baru, membuahkan manfaat bagi kita. Mengatakan bahwa hal ini tidak terjadi “melalui darah atau daging” berarti ini bukan kejadian alami. Mengatakan bahwa ini bukan “kehendak daging” berarti ini bukan soal keputusan manusia. Kelahiran kembali ini sepenuhnya merupakan pekerjaan Tuhan, dan sesuai dengan kehendak-Nya. Keselamatan kita tidak bergantung pada apa pun dalam sifat kemanusiaan kita. Ini bagus, karena jika tidak demikian, kita semua akan tersesat untuk selamanya!

Lalu mengapa ada orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Kristen, tetapi tidak pernah menjadi orang yang secara setia dan teratur beribadah? Seringkali penyebabnya adalah kepahitan hidup. Karena mereka merasa Tuhan kurang mengasihi mereka, mereka merasa kecewa. Karena kelakuan orang-orang Kristen disekitar mereka, mereka merasa mual atas apa yang mereka lihat. Mereka kemudian menolak tawaran kasih Tuhan. Bagi mereka, semua Kristen adalah munafik. Mereka merasa lebih berbahagia di antara orang-orang yang bukan Kristen, yang bebas untuk menjalani hidup mereka tanpa menunaikan kewajiban iman.

Malam ini, Alkitab mengingatkan kita bahwa kasih-Nya akan mengalahkan keadaan yang paling buruk dalam hidup kita, dan kasih karunia-Nya dapat memulihkan tahun-tahun terbuang yang seolah telah dimakan belalang. Daripada merasa ingin untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari apa yang ada sekarang, mulailah bersyukur kepada Tuhan atas tujuan luar biasa-Nya dalam kehidupan yang Anda jalani saat ini. Dia menempatkan Anda dalam keluarga tempat Anda berada, dan Dia memilih dengan tepat waktu kelahiran Anda dan di mana Anda akan tinggal. Rencana-Nya bagi kita masing-masing adalah agar segala sesuatu bekerja sama demi kebaikan Anda sesuai dengan tujuan baik-Nya jika kita mengasihi Dia!

Doa:

Bapa, bantulah aku untuk menyadari bahwa Engkaulah yang memilih orang tuaku, waktu kelahiranku, dan di mana aku akan tinggal. Aku bersyukur Engkau tidak pernah melakukan kesalahan. Bantulah aku untuk menyadari bahwa kasih-Mu dapat menaklukkan segala situasi atau keadaan yang aku alami dan Engkau ingin membuat segala sesuatu bekerja sama demi kebaikanku sesuai dengan tujuan baik-Mu! Dalam nama PutraMu yang terkasih Yesus, aku berdoa, AMIN.

Jangan berharap pada kekuatan sendiri

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Efesus 6:10

Apakah Anda bisa melihat bagaimana orang Kristen hidup dan bekerja di dunia? Banyak orang Kristen yang hidupnya tidak berbeda dengan orang bukan Kristen. Bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa orang Kristen hanya terlihat seperti orang yang jujur dan saleh pada hari Minggu saja, selama berada di gereja. Begitu keluar dari gedung gereja, mereka sama saja dengan orang lainnya. Sebagai orang yang mengaku Kristen, mereka mungkin belum pernah belajar dari Efesus 6 tentang cara hidup di dunia.

Paulus memulai surat Efesus 6 dengan memberikan instruksi khusus kepada anak-anak dan ayah, masing-masing menekankan kepatuhan dan kesabaran. Ia juga mengarahkan para pelayan untuk melayani dengan keikhlasan dan niat baik, seolah-olah bekerja untuk Kristus. Para majikan diperingatkan untuk tidak bersikap kasar karena Tuhan yang sama yang menghakimi semua orang tanpa pilih kasih. Paulus kemudian menyatakan bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk menggunakan alat yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertahan dari serangan iblis dan menolak godaan dunia. Ini dibayangkan sebagai bagian perlengkapan perang seorang prajurit.

Paulus mengingatkan orang-orang percaya bahwa kehidupan Kristen berarti ikut serta dalam peperangan rohani. Dari pengalamannya sendiri, sang rasul mengetahui bahwa pertentangan itu nyata dan peperangannya sangat sengit: “Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Efesus 6:12–13).

Efesua 6 ayat 10 sampai 18 adalah bagian Alkitab yang terkenal dan banyak digunakan. Ayat-ayat ini memberikan garis besar setiap bagian dari perlengkapan senjata Allah yang bersifat metaforis. Masing-masing bagian berhubungan dengan bidang kehidupan spiritual yang penting untuk bersandar pada kekuatan Tuhan. Penggambaran Paulus mengenai komponen-komponen ini akan diakhiri dengan fokus pada doa (Efesus 6:18-20), sekali lagi memohon kekuatan dan kesuksesan kepada Tuhan dalam pertempuran. Hanya dengan mengandalkan Tuhan, melalui alat spiritual ini, kita dapat mengatasi kejahatan spiritual dan berhasil mewujudkan kehendak Tuhan.

Ayat 10 di atas memperkenalkan dasar dari keseluruhan dari instruksi Paulus. Yakni kekuatan, melalui Tuhan, dan dari Tuhan. Karena orang-orang percaya terlibat dalam peperangan rohani yang terus-menerus melawan kuasa kegelapan, mereka tidak dapat bertahan tanpa kuasa Allah. Menjadi kuat di dalam Tuhan dan kuasa kuasa-Nya sangat penting untuk menjalani kehidupan Kristen yang menang atas godaan dosa.

Penting bagi kita untuk memahami apa yang dimaksud dengan “menjadi kuat di dalam Tuhan”. Dalam bahasa Yunani aslinya, istilah ini merupakan kata kerja kalimat pasif yang berarti “dibuat (lebih) mampu atau mampu melakukan suatu tugas.” Menjadi kuat di dalam Tuhan tidak berarti membangun kekuatan Anda sendiri. Orang percaya tidak dapat menguatkan dirinya sendiri; sebaliknya, mereka harus diberdayakan atau diperkuat oleh Tuhan.

Hanya ketika hidup kita diposisikan di dalam Tuhan, dalam kesatuan dengan Dia, barulah kita memiliki kekuatan yang tepat untuk mengalahkan musuh. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4–5).

Pemberdayaan orang percaya datang dari keberadaannya di dalam Yesus. Di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi di dalam Kristus kita mempunyai segenap kekuatan kuasa-Nya. Melalui panggilan tinggi Allah dalam Kristus Yesus, kuasa Tuhan membuat kita mampu berjuang. Dia menguatkan kita dengan segala yang kita butuhkan untuk tugas apa pun.

Ketika Paulus mendorong orang percaya untuk “menjadi kuat di dalam Tuhan,” dia memanggil mereka untuk setia—untuk tinggal di dalam Kristus dan percaya pada kuasa Tuhan dalam segala hal dalam hidup. Kekuatan Kristen sejati datang dari kesadaran kita akan ketergantungan sepenuhnya pada Tuhan. Inilah yang Paulus maksudkan ketika ia menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Adakah kekuatiran di hati anda?

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa, dunia menjadi satu tempat yang penuh dengan semak duri (Kejadian 3: 17 – 19). Walaupun demikian, manusia eksis selama berabad-abad dan hidup sampai sekarang sekalipun banyak makhluk lain yang musnah. Jelas bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan yang istimewa memang diberi kemampuan yang khusus untuk survive oleh Tuhan. Sekalipun begitu, ada banyak hal yang bisa membuat kita kuatir, dan bahkan ketakutan.

Populasi dunia mengalami penuaan, hampir setiap negara di dunia mengalami pertumbuhan jumlah dan proporsi lansia dalam populasinya. Jumlah penduduk lanjut usia, yaitu mereka yang berusia 60 tahun atau lebih, telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir di sebagian besar negara dan wilayah, dan pertumbuhan tersebut diperkirakan akan meningkat pesat dalam beberapa dekade mendatang. Bagaimana masa depan kaum muda yang pada akhirnya harus mendukung mereka yang lanjut usia? Dan bagaimana mereka yang sudah berumur tetapi tidak memiliki sanak yang bisa membantu mereka dalam menghadapi hari tua?

Perubahan iklim juga merupakan salah satu tantangan besar di zaman kita. Mulai dari perubahan pola cuaca yang mengancam produksi pangan, hingga kenaikan permukaan air laut yang meningkatkan risiko bencana banjir, dampak perubahan iklim memiliki cakupan global dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak penduduk dunia yang harus mengungsi dari daerahnya untuk menghindari dampak perubahan iklim.

Bagaimana dengan pertentangan antar bangsa dan antar manusia? Memang benar bahwa dengan majunya peradaban dan ilmu pengetahuan, manusia makin bisa mengelola bumi dan isinya. Tetapi, seiring dengan kemajuan itu, manusia juga makin mampu untuk mencelakai sesamanya dan makin mampu untuk membuat orang lain menderita dengan berbagai cara.

Apa yang terjadi pada Yesus pada akhir hidup-Nya adalah sebuah contoh bahwa manusia tidak segan-segan menggunakan segala cara yang kejam untuk mencapai maksud mereka. Para murid Yesus pun mengalami berbagai penderitaan. Diantara apa yang tercatat dalam sejarah gereja, Matius dibunuh dengan pedang setelah disiksa terlebih dahulu. Yakobus anak Zebedeus, meninggal karena dipenggal di Jerusalem. Bagaimana dengan Petrus? Ia meninggal dengan cara disalibkan terbalik dengan kepala menghadap kebawah. Andreas juga meninggal dengan cara disalib seperti Petrus di Yunani. Thomas meninggal karena dihujani tombak, dan sebelumnya dia sempat dilempar kedalam perapian, tetapi tidak meninggal. Matias, yang merupakan Rasul pengganti Yudas Iskariot, meninggal karena dihukum rajam dan akhirnya dipenggal kepalanya.

Apa yang membuat umat Kristen bertahan dalam menghadapi tantangan kehidupan dan bahaya dan lebih tabah dari yang lain? Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma menyebutkan kunci kekuatan umat Kristen yaitu kasih Allah. Bahwa tidak ada kuasa atau keadaan yang akan dapat memisahkan umat Kristen dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus. Rasul Paulus sendiri disiksa dengan kejam dan dipenggal kepalanya oleh Kaisar Nero pada abad pertama. Ia adalah rasul yang paling lama mengalami penyiksaan di penjara dan karena itu kebanyakan suratnya dibuat dan dikirim dari penjara.

Kunci keberanian orang Kristen adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dalam keadaan apa pun. Bagi umat Kristen yang mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan, kasih-Nya yang mereka rasakan hari demi hari dalam hidup mereka membuat mereka selalu tabah dan tidak takut menghadapi goncangan dalam hidup. Sekalipun keadaan di dunia mungkin mencekam, mereka sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebagian kecil dari hidup keseluruhan. Bagi mereka, hidup yang ada sesudah hidup di dunia adalah yang paling penting. Itulah yang dinamakan iman, percaya sekalipun tidak bisa melihat.

Hari ini, suasana disekitar kita mungkin terasa suram dan kekuatiran mulai muncul dalam pikran kita. Apa yang akan terjadi pada diri kita, dan apa pula yang akan dihari-hari mendatang? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan Tuhan tidak selalu memberikan kita petunjuk yang jelas akan masa depan kita. Tetapi, apa yang pasti adalah kasih dan kuasa-Nya. Tuhan yang mahakasih selalu memberi kita kekuatan dan Ia yang mahakuasa pasti memberi apa yang terbaik untuk kita. Dengan itu kita boleh yakin bahwa pada akhirnya rencana agung Tuhan akan terjadi dan itu adalah baik untuk kita.