Jaminan Tuhan kepada kita

Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Kisah 16: 31-32

Bagi banyak orang non-Kristen, perasaan gundah karena tidak adanya jaminan keselamatan adalah disebabkan oleh pengertian yang keliru, bahwa manusia hanya bisa masuk ke surga setelah dapat sepenuhnya mengubah hidupnya, dari hidup yang mementingkan diri sendiri menjadi hidup untuk kemuliaan Allah. Dalam agama lain memang diajarkan bahwa karena Tuhan itu suci, Ia hanya dapat menerima mereka yang suci hidupnya atau yang telah bersedekah dengan murah hati. Oleh karena itu banyak orang yang tidak dapat yakin kalau mereka akan dinyatakan cukup baik oleh Allah setelah meninggalkan dunia.

Dalam agama Kristen pun ada banyak orang percaya yang tidak yakin akan keselamatan mereka, bukan karena mereka merasa belum cukup suci atau beramal, tetapi karena pikiran Tuhan yang sulit diduga. Apalagi mereka yang sangat menonjolkan aspek kedaulatan Tuhan mungkin percaya bahwa adalah hak Tuhan kalau Ia sudah memutuskan dari awalnya untuk mencampakkan orang-orang tertentu ke neraka. Mereka mungkin percaya bahwa apa pun yang mereka perbuat dalam hidup ini, atau bagaimana pun kuatnya iman mereka, adalah Tuhan yang sudah memutuskan siapa yang akan ke surga. Dengan demikian, Injil bagi sebagian orang Kristen adalah bukan kabar baik, tetapi kabar buruk; dan itu karena mereka tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka. Bukan happy ending, tapi sad ending.

Ayat mas kita di atas sebenarnya adalah sebuah contoh kabar baik dalam Alkitab. Bagaimana seseorang yang tidak mengenal Kristus sudah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat jalan kebenaran. Kepala penjara yang dulunya merasa bahwa hidupnya sudah tamat karena semua tawanan diduganya sudah melarikan diri, kemudian bisa melihat kebesaran Tuhan melalui Paulus dan Silas. Mengapa begitu? Tentunya semua itu terjadi karena Tuhan bermaksud untuk menyelamatkan dia, dan juga keluarganya. Mengapa begitu mudah bagi mereka itu untuk menerima “karcis” ke surga? Semua orang yang percaya kepada Kristus dapat menyadari dosa mereka dan perlunya penebusan dengan darah Kristus, ketika mereka mendapat bimbingan Roh Kudus yang membuat mereka sadar akan adanya satu-satunya jalan menuju keselamatan. Yesus menerima kepala penjara itu dan seisi rumahnya sebagaimana adanya. Mereka tidak dapat membuktikan bahwa mereka sudah layak untuk diselamatkan, tetapi mereka yakin akan keselamatan dari Yesus.

Seperti kepala penjara itu, keselamatan kita bukan tergantung pada pengetahuan alkitab, perbuatan baik dan hidup saleh kita. Tidak ada seorang pun yang baik di hadapan Tuhan, dan tidak ada orang yang bisa diselamatkan jika Tuhan menuntut kesempurnaan hidup kita. Sekalipun kita sudah rajin ke gereja atau mempelajari firman Tuhan, itu tidak akan bisa membuat kita tergolong sebagai umat- Nya jika bukan Tuhan sendiri yang memilih kita dan membimbing kita sehingga kita mempunyai kesadaran bahwa Tuhan adalah mahasuci dan mahakasih. Tidak ada seorang pun yang bisa menjadi cukup layak untuk berdiri di hadapan Tuhan yang mahasuci, tetapi Tuhan yang mahakasih sudah memberikan Yesus sebagai jaminan untuk ganti dosa kita.

Pagi ini, jika kita mengharapkan jaminan keselamatan Tuhan, kita harus bisa berpikir positif – bahwa jika kita benar-benar percaya kepada Yesus, itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa kita adalah milik Tuhan. Tuhanlah yang dengan Roh Kudus-Nya akan membimbing kita dalam menjalani hidup kita dan membuat kita ingat akan kasih-Nya. Dengan itu kita tidak ragu untuk melalui jalan kehidupan kita sebagai umat-Nya, dan pada waktunya menuju tempat tujuan akhir kita, yaitu surga.

Mengapa memberi belum tentu membawa kebaikan

”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ”Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus 10:23

Orang Kristen dianjurkan berulang kali dalam Alkitab untuk memberi. Pemberian kita kepada orang lain bisa menjadi ungkapan kasih kita, karena kita sendiri sudah menerima kasih Allah yang sangat besar. “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”, begitu tulis rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 20 : 35. Dengan demikian, bagi banyak orang Kristen, memberi tentunya merupakan tindakan yang patut dipuji dan ditiru. Pandangan ini ada benarnya, tetapi bukannya selalu benar. Mengapa begitu? Sebab apa yang kita berikan kepada orang lain, belum tentu akan bisa diterima atau dipakai sebagai sesuatu yang baik oleh orang lain. Apa yang kita pandang baik, bisa saja justru membuat orang yang diberi mengalami masalah. Apakah ada ayat yang menjelaskan hal ini?

Kitab 1 Korintus 10:23-11:1 menunjukkan bahwa pertanyaan ”Apakah ini diperbolehkan?” adalah pertanyaan yang menyangkut perbuatan apa saja; dan dalam konteks “memberi”, kita bisa saja bertanya, “Apakah memberi adalah sesuatu hal yang selalu diperbolehkan?” Dari ayat di atas kita tahu bahwa jawabnya adalah “belum tentu”. Dengan demikian, jika kita mengemukakan pertanyaan itu saja, pertanyaan itu adalah keliru. Sebaliknya, kita harus melanjutkan dengan bertanya, ”Apakah itu akan memuliakan Allah?” dan ”Apakah itu akan membina sesama kita?”

Paulus memerintahkan orang Kristen untuk menolak makan daging yang mereka tahu telah dipersembahkan kepada berhala. Alasannya adalah agar tidak membuat orang berpikir bahwa orang Kristen tidak menentang penyembahan berhala. Sebenarnya, mereka bebas memakan daging apa pun jika mereka tidak tahu bahwa itu telah dipersembahkan kepada berhala, dengan hati nurani yang bersih, dan dengan rasa syukur kepada Tuhan. Pesan utama dari Paulus adalah bahwa niat kita, dan dampak tindakan kita terhadap orang lain, lebih penting daripada hal-hal fisik yang terlihat dari apa yang kita anggap sebagai perbuatan yang baik dari hati kita yang tulus. Dalam hal memberi, maksud kita mungkin baik dan pemberian kita terlihat indah, tetapi semua itu belum tentu membawa kebaikan bagi yang menerima.

Menjadi orang Kristen memang berarti menjadi orang yang mengasihi Tuhan dan sesama. Tetapi apa yang kita anggap kasih belum tentu akan berguna untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama kita di masa depan. Terlalu sering orang Kristen melakukan sesuatu secara spontan, dan tanpa berpikir panjang, mengambil tindakan dan keputusan yang bisa merugikan orang lain di masa depan. Misalnya, memberi pinjaman uang kepada orang yang membutuhkan dana memang tindakan yang terlihat baik, tetapi itu benar-benar bermanfaat jika itu bisa digunakan oleh orang yang diberi untuk memperbaiki keadaan ekonominya, dan bukan hanya membuat mereka makin banyak hutangnya. Membantu anak-anak kita dalam mengerjakan tugas sekolah adalah baik, sepanjang itu tidak membuat mereka malas atau kurang mau bertanggung jawab atas masa depan mereka.

Orang Kristen tidak hanya harus bisa memberi, tetapi harus juga bisa memikirkan apa yang bakal diterima oleh orang yang kita beri. Apa yang kita beri kepada orang lain, belum tentu sama dengan apa yang mereka terima. Seorang teman saya pernah menemui seorang pengemis di jalan, yang meminta uang untuk membeli makanan. Tetapi, teman saya tahu bahwa pengemis itu adalah seorang peminum miras. Bukannya memberi uang, teman saya menjawab: “Ayuh kita ke warung itu untuk makan, jika memang engkau lapar. Aku akan bayar.” Terhadap jawaban teman saya, pengemis itu hanya diam saja.

Pagi ini, firman Tuhan mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam apa yang kita perbuat, apa yang kita katakan, dan apa yang kita perlihatkan kepada orang lain. Apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang baik dan benar, belum tentu akan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Terlalu sering orang Kristen berusaha menjadi orang yang saleh dari sudut pandangan diri sendiri, tanpa memikirkan bahwa orang lain mungkin bisa salah menggunakan, salah mengartikan dan salah bertindak karena apa yang kita lakukan. Sebagai orang yang mau memberi apa yang baik, kita harus mau memikirkan masak-masak apakah orang yang kita beri pada akhirnya menerima sesuatu yang benar-benar baik.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 50:8

Bolehkah kita mengharapkan balasan Tuhan?

Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Efesus 6: 8

Hal mengharapkan balasan Tuhan atas perbuatan baik adalah sesuatu yang sering dipikirkan orang Kristen, tetapi jarang dinyatakan kepada orang lain. Mengapa begitu? Pertama-tama, jika orang berpikir bahwa ia sudah berbuat baik, itu belum tentu apa yang baik menurut pikiran Tuhan. Adanya perumpamaan tentang orang Farisi yang merasa bahwa ia sudah menjadi orang yang istimewa (Lukas 18:9-14), membuat orang Kristen tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Kedua, semua manusia sudah berdosa dan itu termasuk setiap orang percaya. Tetapi, Tuhan yang mahakasih sudah memberikan hadiah yang paling besar yaitu keselamatan kepada umat-Nya sekalipun mereka tidak berbuat apa-apa untuk itu. Karena itu, bagaimana kita masih mengharapkan pahala dari Tuhan sebagai hamba-Nya yang tidak berguna (Lukas 17:10)?

Banyak juga gereja dan pendeta yang segan untuk membahas hal pahala bagi umat Kristen baik dalam hidup di bumi maupun di surga, karena mereka berusaha menghindari pandangan teologi kemakmuran yang menyatakan bahwa Tuhan memberi berkat berupa kekayaan dan keberhasilan kepada umat-Nya, dan teologi pelagianisme yang menyatakan bahwa perbuatan baik manusia adalah salah satu syarat keselamatan. Walaupun demikian, ayat pembukaan di atas jelas-jelas menyatakan bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Apalagi, dalam Alkitab Perjanjian Lama kelihatannya orang-orang yang dikasihi Tuhan selalu menerima apa yang baik dari Tuhan dalam hidup mereka selama di dunia. Mereka mendapat kekuasaan, kekayaan, kebijaksanaan, banyak keturunan dan sebagainya.

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. Yeremia 17:10

Sebenarnya, apa yang dikatakan dalam Alkitab bahwa Tuhan memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan apa yang dilakukannya adalah benar. Tetapi, apa yang diberikan oleh Tuhan adalah apa yang sesuai dengan kehendak-Nya dan terjadi pada saat yang dipilih-Nya. Manusia tidak dapat menuntut pahala dari Tuhan sekalipun ia boleh mengharapkan dan meminta apa yang baik dari Tuhan karena Ia mahaadil, mahabijaksana dan mahakasih. Ia tahu apa yang baik untuk anak-anak-Nya (Matius 7:11).

Pahala yang akan kita terima belum tentu terjadi selama kita hidup di dunia. Segala sesuatu yang ada di bumi ini akan membusuk dan binasa. Yesus mendorong kita untuk tidak mengumpulkan harta di bumi karena “ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19). Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Paulus tentang untaian daun dari para atlet, yang segera akan berubah menjadi layu dan berguguran. Lain halnya dengan mahkota surgawi; ketekunan dari kesetiaan akan memenangkan pahala surgawi yang merupakan “suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu” (1 Petrus 1:3-5).

Sekalipun kita percaya adanya pahala dari Tuhan, salah satu hal yang sangat penting untuk kita ingat dalam hidup adalah motivasi kita dalam berbuat baik. Kita berbuat baik bukan untuk mendapat pahala, tetapi untuk membalas kasih-Nya yang sudah diberikan kepada kita. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Kita berbuat baik karena Tuhan memerintahkan kita, agar orang lain yang melihat perbuatan kita yang baik akan memuliakan Dia (Matius 5:16). Jelas, berbuat baik pada hakikatnya bukanlah untuk mencari keuntungan atau pahala bagi diri kita sendiri. Jika orang Kristen berlomba-lomba untuk berbuat baik guna keuntungan diri sendiri, itu pasti akan menimbulkan apa yang bertentangan dengan dua hukum yang utama yang mengharuskan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia.

Bagaimana kita bisa berbuat baik untuk Tuhan dan sesama? Perbuatan baik yang bagaimana yang akan membawa pahala bagi kita? Banyak orang yang kagum melihat orang lain yang nampaknya saleh, murah hati, dan mempunyai kemampuan besar untuk menolong orang lain. Apakah perbuatan baik semacam itu yang harus kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan? Alkitab menyatakan hanya satu hal yang berkenan kepada Tuhan dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang Kristen sejati.

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ibrani 11: 6

Pagi ini kita membaca bahwa Allah itu benar dan membenci dosa, namun Ia setia menepati janji-janji-Nya kepada orang-orang yang mengasihi Dia, dan memberikan pahala kepada orang-orang yang taat kepada-Nya. Tanpa iman mustahil kita bisa yakin akan keberadaan-Nya dalam hidup kita, baik dalam suka maupun duka. Tanpa iman kita tidak dapat menyadari dan mengakui bahwa perbuatan yang benar-benar baik bagi Tuhan asalnya dari Tuhan dan untuk Tuhan. Sebab itu, barangsiapa mau hidup baik untuk Tuhan harus yakin bahwa Dia itu ada bersama kita di mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja. Dialah yang pada waktunya akan memberi pahala bagi orang-orang yang tekun dalam iman mereka.

Perlukah kita bermeditasi?

Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Yosua 1:8

Salah satu usaha untuk menenangkan diri yang paling populer namun paling disalahpahami adalah praktik meditasi. Namun, latihan meditasi bukan hanya soal praktik mencari ketenangan hidup. Meditasi adalah disiplin spiritual klasik yang berakar kuat pada Alkitab dan berdasar pada praktik Kristen kuno.

Istilah yang digunakan saat ini untuk “bermeditasi” baru diperkenalkan pada abad ke-12 M, berasal dari kata Latin meditatum. Catatan terdokumentasi paling awal yang menyebutkan meditasi (meditasi timur) melibatkan Vedantisme, yang merupakan tradisi Hindu di India, sekitar tahun 1500 SM. Namun, para sejarawan percaya bahwa meditasi telah dipraktikkan sebelum masa ini, sekitar tahun 3000 SM.

Meskipun sebagian besar bentuk meditasi membantu seseorang bisa menjadi lebih tenang dan berfokus, terdapat perbedaan yang signifikan baik dalam niat maupun praktik bentuk meditasi sekuler, timur, dan Kristen. Tujuan dari perhatian sekuler adalah perawatan diri; tujuannya adalah menjadi lebih membumi dan tidak terlalu reaksioner. Tujuan meditasi timur adalah untuk mengosongkan pikiran dan menyatu dengan alam semesta; ini tentang kehilangan kesadaran akan diri sendiri karena pengosongan dan pelepasan dari diri sendiri, dari orang lain, dan dari penderitaan.

Bagi kita yang dipengaruhi oleh sejarah evangelikalisme Reformasi, pembelajaran ayat-ayat Alkitab secara individu telah menjadi bagian penting dari kehidupan iman kita. Namun karena kita juga merupakan makhluk modern, kemungkinan besar kita kurang mengenali bahwa ini bisa dipakai dalam bentuk meditasi alkitabiah yang seharusnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan rohani kita. Pembelajaran Alkitab dan meditasi Kristiani mengenai Kitab Suci saling terkait erat, dan karena itu ada beberapa aspek unik yang bermanfaat dari meditasi yang hilang jika gereja kita tidak mau mengajarkan praktik tersebut saat ini.

Berbeda dengan meditasi lainnya, meditasi Kristen adalah tentang mengisi pikiran dengan pemikiran tentang Tuhan dan Kitab Suci, sehingga karakter kita bisa berubah untuk bisa menyerupai karakter Kristus. Ini memiliki tujuan yang berlawanan dengan meditasi timur. Meditasi Kristen adalah tentang kemelekatan dan bukannya ketidakterikatan. Ini tentang melekat pada Tuhan dan berfokus pada firman-Nya. Ini tentang menjadi lebih mengasihi Tuhan dan sesama. Perlu dicatat, bahwa meskipun Roh Kudus mendiami umat Kristiani dan mengubah mereka menjadi lebih serupa dengan Yesus, selalu ada perbedaan antara manusia dan Tuhan karena manusia tidaklah sempurna selama hidup di dunia.

Ketika seseorang rajin merenungkan Tuhan dan Kitab Suci, karakter mereka akan berubah. Mereka dipenuhi dengan buah Roh – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Hasilnya, mereka lebih sabar dan puas. Mereka tidak terlalu cemas dan lebih damai. Mereka lebih mampu mengasihi, melayani dan memberi dengan sukacita. Bukan saja untuk kebaikan rohani, dunia kedokteran saat ini menunjuknan bahwa cara meditasi yang menggiatkan kerja mulut, telinga dan pikiran juga bisa mengurangi kepikunan dan sifat-sifat yang kurang baik yang sering muncul pada usia senja.

Praktek meditasi Kristiani seperti yang ditulis dalam kitab Yosua 1:8 di atas membuat orang beriman semakin dalam hubungannya dengan Tuhan, yang pada gilirannya menghasilkan tindakan lahiriah yang lebih penuh kasih terhadap orang lain. Meditasi Kristen bukan hanya tentang perawatan diri. Ini tentang “kepedulian terhadap orang lain” karena hubungan kasih yang lebih dalam dengan Tuhan akan selalu menghasilkan tindakan kasih sayang terhadap orang lain. Meditasi juga mengurangi kegelisahan, kekuatiran dan rasa gundah yang sering kita alami karena perasaan kurang dihargai, kurang dihormati dan kurang dicintai oleh orang lain; karena melalui meditasi kita bisa merasakan bahwa Tuhan mengasihi kita – dulu, sekarang, dan selama-lamanya.

Tidak ada formula atau cara rahasia untuk membuat Tuhan lebih menyukai Anda. Meditasi bukanlah tentang mendapatkan kasih Tuhan atau mengikuti cara-cara dan doa-doa tertentu. Meditasi tidak perlu dilakukan di “tempat-tempat suci” tertentu. Kasih Tuhan kepada kita sudah ada sebelum kita dilahirkan dan Dia ada di mana-mana. Dengan demikian, meditasi Kristiani hanyalah meluangkan waktu di tempat yang tenang bersama Pencipta kita dan mengakui kehadiran-Nya dalam keberadaan kita, menyerahkan perspektif, waktu, dan prioritas kita kepada-Nya.

Perikop hari ini adalah teks kunci tentang arti meditasi dalam konteks alkitabiah. Pada waktu itu, Musa baru saja meninggal dan bani Israel berada di perbatasan Tanah Perjanjian. Dengan semua pertempuran yang akan terjadi, kita mungkin berharap Tuhan memberikan instruksi rinci kepada Yosua mengenai teknik berperang, rencana pertempuran, atau strategi lain untuk menjamin keberhasilan Israel. Namun, meskipun penting, hal-hal tersebut tidak akan menjamin kemenangan umat Tuhan. Sebaliknya, Yosua harus mempunyai “Kitab Taurat” di lidahnya sehingga ia dapat merenungkannya sepanjang waktu.

“Kitab Taurat” identik dengan Kitab Suci, karena hukum yang diberikan di Sinai adalah satu-satunya bagian Kitab Suci yang Yosua miliki pada tahap sejarah penebusan itu. Maka, meditasi sejati bukanlah suatu latihan di mana kita mencoba mengosongkan pikiran kita dan membuang semua keinginan untuk mencapai semacam pengalaman mistik atau menyatu dengan yang transenden. Sebaliknya, dalam pandangan Kristen, meditasi adalah merenungkan dan merenungkan Firman Tuhan. Ini adalah pengulangan teks untuk diri kita sendiri — membaca dan membaca ulang suatu bagian sehingga maknanya dapat mengakar.

Memperkatakan hukum Tuhan mengacu pada pembacaan ayat-ayat Kitab Suci yang dapat didengar, karena masyarakat zaman dahulu selalu mengucapkan teks tersebut secara verbal di hadapan mereka ketika mereka membaca (membaca dalam hati untuk diri sendiri adalah perkembangan terkini). Membaca dan membaca ulang seperti itu membantu memastikan teks tidak terlupakan. Memelajari kedalaman Firman Tuhan memang penting, namun ada kalanya kita lupa apa yang kita baca karena banyaknya teks yang telah kita baca. Mengucapkan dan merenungkan teks tersebut membantu memasukkannya ke dalam jiwa kita sehingga kita tidak akan pernah melupakan apa yang difirmankan Tuhan. Semoga Anda mendapatkan manfaat yang besar dengan meditasi Anda!

Untuk apa kita diciptakan?

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Efesus 2:8–9 adalah bagian Alkitab yang sangat populer dalam pendalaman tentang keselamatan. Karena kedua ayat tersebut sering dikutip, banyak yang melewatkan ayat 10 ketika mencoba memahami keselamatan Allah melalui kasih karunia-Nya yang memberikan kita iman. Namun, pernyataan ayat 10 ini menawarkan wawasan yang luar biasa mengenai apa yang Tuhan inginkan setelah keselamatan. Tuhan menyebut kita karya-Nya atau karya seni-Nya, dari kata Yunani poiēma. Kita adalah sesuatu yang diciptakan, dengan keterampilan dan tujuan ilahi, oleh Tuhan, untuk tujuan-tujuan-Nya.

Secara khusus, kita “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik.” Perbuatan baik tidak memberi kita keselamatan, namun perbuatan baik memang dimaksudkan sebagai hasil keselamatan. Ayart 10 ini jarang dibahas dalam khotbah-khotbah pada gereja-gereja beraliran Reformed tinggi, karena adanya kekuatiran bahwa jemaat mereka akan merasa bahwa perbuatan baik adalah penting untuk memperoleh keselamatan.

Menariknya, dalam ayat di atas kita bisa membaca bahwa Tuhan telah mempersiapkan apa yang Dia ingin kita lakukan bagi-Nya sejak lama. Dia telah merencanakan apa yang Dia ingin kita lakukan dalam hidup kita. Kita tidak perlu meniru apa yang sudah atau sedang dilakukan orang lain. Dia mempunyai rencana unik bagi kita masing-masing untuk melayani Dia di dunia ini. Ini mencakup karunia rohani tertentu dan pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita untuk memimpin kita dalam pelayanan kepada-Nya. Apa yang harus kita lakukan hanyalah mendengarkan suara Roh Kudus dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Kita tidak boleh mendukakan Roh Kudus atau membungkam suara-Nya (Efesus 4:30).

Efesus 2:1–10 dengan jelas menjelaskan hubungan antara kurangnya ketaatan manusia, kasih karunia Allah, dan keselamatan kita. Mereka yang diselamatkan oleh Kristus sebenarnya tidak layak menerima keselamatan ini. Hanya karena belas kasihan dan kasih karunia, Allah memilih mereka untuk diampuni. Pada bagian ini, Paulus mengulangi pernyataan bahwa usaha manusia tidak mempunyai dampak apa pun terhadap keselamatan. Tidak ada orang Kristen yang bisa menyombongkan “kebaikan” mereka, karena kita diselamatkan sepenuhnya karena kasih karunia Allah, bukan karena perbuatan baik kita sendiri.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8-9

Paulus berulang kali menekankan bahwa keselamatan dicapai atas dasar kasih karunia, melalui iman. Perbuatan baik, usaha manusia, dan niat terbaik kita tidak akan pernah cukup untuk memperoleh keselamatan. Setiap orang ditandai dengan dosa, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, dan oleh karena itu kita layak dipisahkan dari Tuhan. Hanya melalui kemurahan dan kasih karunia-Nya kita dapat diselamatkan, sehingga tidak ada ruang untuk menyombongkan diri. Ini juga berarti bahwa semua orang yang diselamatkan, baik Yahudi maupun non-Yahudi, adalah bagian dari keluarga rohani yang sama. Tidak ada alasan untuk permusuhan di antara orang-orang beriman; kita semua tidak layak, dan semua diselamatkan oleh kebaikan Tuhan yang sama sekalipun kita berbeda pengertian.

Kasih karunia, yang rasul Paulus katakan kepada kita dengan segala cara dalam Efesus 2:1-9, adalah satu-satunya alasan keselamatan kita. Tidak ada apa pun yang dapat kita lakukan untuk membuat Tuhan menyelamatkan kita, tidak ada tindakan yang cukup baik sehingga pantas untuk dikaruniai-Nya, dan tidak ada cara yang dapat kita lakukan untuk menebus dosa-dosa kita. Kita harus bergantung pada kasih karunia – kebaikan yang ditunjukkan Sang Pencipta kepada umat-Nya terlepas dari apa yang telah kita lakukan – untuk penebusan. Yang dapat kita lakukan hanyalah menaruh iman yang Allah berikan kepada kita kepada Kristus, dan semua orang yang telah diberi iman pada akhirnya akan menerapkannya untuk keselamatan.

Ini tidak berarti bahwa perbuatan dan cara hidup kita adalah berada dalam pilihan kita. Bagaimanapun juga, Pencipta kita menciptakan umat manusia untuk melakukan perbuatan baik dan menjalankan pemerintahan yang bijaksana atas bumi demi kemuliaan-Nya (Kejadian 1:26-28). Bagian dari penebusan adalah pemulihan kemampuan kita untuk memenuhi tujuan awal kita, jadi Tuhan memang bermaksud agar umat-Nya melakukan perbuatan baik. Perbuatan-perbuatan ini tidak boleh dipandang sebagai dasar keselamatan kita, namun sebagai hasil penting dari pemulihan Tuhan terhadap kita menuju hubungan yang benar dengan-Nya (Yakobus 2:14-26). Kita perhatikan bahwa perbuatan baik kita mengikuti pembenaran kita sebagai hasilnya; pernuatan baik tidak mendahuluinya sebagai penyebabnya.

Bahwa keselamatan hanya karena anugerah melalui iman saja tidak membatalkan seruan kita untuk melakukan perbuatan baik terlihat dalam bacaan hari ini, karena setelah memberi kita landasan dan sarana keselamatan kita dalam Efesus 2:8-9, rasul Paulus memberi tahu kita secara eksplisit di ayat 10 bahwa kita diciptakan di dalam Kristus untuk melakukan perbuatan baik. Hal ini sesuai dengan ajaran Paulus dalam ayat-ayat seperti 2 Korintus 9:8 dan Galatia 6:10. Jika kita tidak mau melakukan perbuatan baik, maka kita tidak memenuhi tujuan Tuhan bagi kita. Itu berarti bahwa kita sengaja untuk berbuat dosa. Terlebih lagi, jika kita terus melakukan hal ini tanpa penyesalan, kita akan membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah membawa kita kepada kehidupan rohani yang baru melalui kasih karunia-Nya.

Apa yang dapat kita manfaatkan dari perbuatan baik kita? Apakah itu berarti kita sempurna? Apakah kita harus menganggap kita cukup baik menurut standar Allah? Jawabannya tentu saja tidak – karena dosa kita yang masih tersisa. Namun Tuhan menganggap pantas untuk menerimanya sebagai hal yang baik, bukan sebagai dasar keselamatan kita tetapi sebagai buahnya.

Bila Allah membuat orang berdosa bertobat dan memindahkan dia ke kedudukan seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskannya dari perhambaan kodratnya di bawah dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan dia mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, caranya begitu rupa sehingga, disebabkan kerusakan yang masih tinggal padanya, ia tidak menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, dan hanya itu saja, tetapi menghendaki juga apa yang jahat. Pengakuan Westmister Bab 9 Poin 4.

Hari ini, dengan menyadari bahwa kita dibenarkan oleh iman saja menghilangkan tekanan dalam diri kita ketika kita berupaya untuk menyenangkan Allah. Bisa jadi terkadang kita tidak berbuat baik karena takut akan gagal, atau kuatir kalau-kalau orang menuduh kita berusaha mencapai keselamatan dengan usaha sendiri. Namun karena Bapa sudah menyatakan kita benar di dalam Kristus, kita tidak perlu khawatir bahwa usaha kita yang lemah dalam melakukan kebaikan akan sia-sia. Jika ada satu oknum yang tidak senang jika kita ingin berbuat baik untuk Tuhan, oknum itu adalah iblis. Kita tidak juga perlu memikirkan pendapat orang lain yang kurang mengerti akan arti firman Tuhan di atas. Kita sendiri memahami bahwa perbuatan baik memang merupakan hasil dari keselamatan kita dan sudah direncanakan Tuhan dari awalnya.

Mengakui kedaulatan Tuhan dan berdoa “Jadilah kehendak-Mu”

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6:9-10

Apakah Anda masih sering berdoa “Doa Bapa Kami”? Doa ini (The Lord’s Prayer) sudah jarang dipakai dalam acara kebaktian gereja Australia. Mungkin sudah dianggap “kuno”, banyak gereja Protestan yang tidak lagi memakai doa ini dan Pengakuan Iman Rasuli dalam acara kebaktian mereka. Pada pembukaan rapat Parlemen Australia doa ini masih dibacakan, tetapi sudah banyak orang yang menentang kebiasaan itu karena penduduk Australia sekarang tidak lagi bermayoritas orang Kristen. Walaupun demikian, sebagai orang Kristen kita harus mengerti apa isi doa ini.

“Jadilah kehendak-Mu” adalah salah satu permohonan yang utama dalam Doa Bapa Kami. Yesus sendiri memohon agar kehendak Tuhan terjadi di Taman Getsemani. Sebelum penyaliban-Nya, Dia berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”” (Matius 26:39). Yesus berkomitmen untuk melihat kehendak Allah terlaksana, dan doa “Jadilah kehendak-Mu” adalah tema kehidupan-Nya.

Sederhananya, jika kita berdoa “Jadilah kehendak-Mu,” kita meminta Tuhan agar melakukan apa yang Dia inginkan. Tentu saja, kita berdoa kepada Tuhan yang pernah bersabda, “Jadilah terang,” dan terang itu kemudian terjadi (Kejadian 1:3). Dengan demikian, kita tahu bahwa keputusan dalam kedaulatan-Nya akan digenapi, baik kita mendoakannya atau tidak. Walaupun demikian, kehendak Tuhan bukan hanya dalam arti kehendak mutlak.

Untuk pengertian kita, sebenarnya kehedak Tuhan itu bisa dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya. Ini pun sesuatu yang bisa diaabaikan orang.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa. Banyak contoh di Alkitab yang menunjukkan manusia yang mengalami berbagai masalah karena tidak mau melaksanakan apa yang dituntut oleh kehendak Tuhan dalam bentuk (b) dan (c). Ini jelas terlihat dalam perbuatan Adam dan Hawa di taman Firdaus, ketika mereka melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buan terlarang (Kejadian 3: 3). Dengan demikian, ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita memohon kepada Tuhan untuk meningkatkan kebenaran di dunia, membawa lebih banyak orang kepada pertobatan, dan memajukan kerajaan Putra-Nya. Ini juga menyangkut penyerahan hidup kita kepada-Nya.

Ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” kita mengakui hak Allah untuk memerintah hidup kita. Kita tidak berdoa “Terjadilah kehendak-Ku”; tetapi kita berdoa, “Jadilah kehendak-Mu.” Permohonan kita agar kehendak Tuhan untuk dilakukan-Nya merupakan bukti kepercayaan kita bahwa Dia tahu yang terbaik. Ini adalah pernyataan ketundukan pada jalan dan rencana Tuhan. Kita mohon agar kehendak kita selaras dengan kehendak-Nya, dan mengakui bahwa kehendak kita tidak dapat dibandingkan dengan kehendak-Nya yang sempurna.

Bahwa kehendak Allah dimohonlan untuk terjadi sebagai “di bumi seperti di surga” (Matius 6:10) adalah suatu perbandingan antara hidup kita di dunia dan hidup semua makhluk di surga. Di surga, para malaikat melaksanakan keinginan Tuhan dengan lengkap, penuh sukacita, dan segera. Karena itu, di surga ada sukacita dan kedamaian – betapa jadinya dunia ini jika semua manusia di dunia bertindak seperti itu!

Perlu dicatat, “Jadilah kehendak-Mu” bukanlah doa penyerahan diri yang tanpa ekspresi. Doa Yesus di Getsemani sama sekali tidak bersifat pasif atau fatalistik. Yesus memperlihatkan isi hati-Nya di hadapan Bapa dan mengungkapkan keinginan utama-Nya: agar kehendak Tuhan terlaksana. Berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” berarti mengakui bahwa Tuhan memiliki lebih banyak pengetahuan daripada kita dan bahwa kita percaya bahwa jalan-Nya adalah yang terbaik. Dan ini merupakan komitmen kita untuk bekerja secara aktif guna memajukan pelaksanaan kehendak Tuhan, dan bukannya tidak peduli lagi atas hidup kita.

Memahami siapa Tuhan itu, kita harus menyerahkan diri kita kepada-Nya dan membiarkan Dia mengubah kita. Semakin kita mengenal Tuhan, semakin mudah doa kita selaras dengan kehendak-Nya dan kita dapat dengan sungguh-sungguh berdoa, “Jadilah kehendak-Mu.” Kita dapat menghampiri Allah dengan keyakinan bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, maka Ia mendengarkan kita. Dengan iman, kita tahu bahwa berdoa, “Jadilah kehendak-Mu,” adalah hal terbaik yang bisa kita minta.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. ” 1 Yohanes 5:14–15.

Sekali dimulai, pasti akan diselesaikan

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6

Ayat di atas adalah salah satu ayat yang bisa membingungkan umat Kristen karena aplikasinya. Dalam Filipi 1, Paulus berterima kasih kepada jemaat di Filipi yang telah mendukung pelayanannya. Bahkan ketika Paulus dipenjara, atau dianiaya, mereka murah hati dan setia. Paulus menyemangati orang-orang Kristen ini dengan menjelaskan bahwa semua penderitaannya adalah untuk tujuan yang baik. Bahkan yang lebih baik lagi, upaya-upaya untuk menganiaya Paulus ini sebenarnya telah menyebabkan Injil menyebar keman-mana. Untuk itu, Paulus berterima kasih kepada Tuhan. Walaupun demikian, Paulus tentunya berharap untuk dibebaskan, dan bisa bertemu kembali dengan orang-orang percaya di Filipi. Pada saat yang sama, Paulus menaruh harapan besar agar gereja Filipi terus mendewasakan diri dan mempererat hubungan mereka dengan Kristus.

Kemudian, ketika Paulus berkata bahwa jemaat Filipi adalah mitra sejak hari pertama sampai sekarang, kata “sekarang” (Filipi 1:5) merujuk secara spesifik pada pembelaan dan peneguhan Injil oleh Paulus di Roma (Filipi 1:7). Setelah berdiri bersama Paulus sejak awal di Filipi dan sampai ke Roma, jemaat Filipi mengambil bagian dalam kasih karunia yang diterima Paulus. Mereka ikut serta dalam pekerjaan supranatural dalam pelayanan kerasulannya dengan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pekerjaan yang Tuhan mulai berlanjut hingga sekarang dan bergerak menuju akhir yang gemilang.

Aibnya bergaul dengan penjahat yang sedang dipenjara dapat dengan mudah mengancam kesediaan jemaat Filipi untuk tetap setia kepada Paulus. Jadi dia menulis surat untuk mengucapkan terima kasih atas pemberian mereka dan mendorong mereka untuk bertahan dalam kemitraan mereka. Inilah sebabnya Paulus menyoroti peran mereka dalam pekerjaannya (Filipi 1:7). Berdasarkan persekutuan saudara seiman, apa pun yang terjadi di dalam dan melalui Paulus juga terjadi di dalam dan melalui mereka. Jadi, ketika mereka bermitra dengan rasul yang dipenjarakan itu, mereka ikut menderita. Namun, dengan cara yang sama, mereka juga mempunyai persekutuan dalam kemuliaan penyebaran Injil yang tak terbayangkan di kalangan pengawal istana (Filipi 1:12-13).

Pada pihak yang lain, beberapa penafsir Alkitab menolak gagasan bahwa Filipi 1:6 merupakan janji Tuhan bagi mereka yang bermitra dalam upaya penginjilan. Mengapa? Pertama, Paulus menulis bahwa pekerjaan Tuhan terjadi di antara jemaat Filipi (bukan melalui mereka). Selanjutnya, pekerjaan itu selesai (atau sampai)pada hari Kristus Yesus. Tentu saja, menurut mereka, Paulus tidak berasumsi bahwa jemaat Filipi akan memenuhi kebutuhan fisiknya sampai akhir zaman. Sebaliknya, banyak orang percaya bahwa ayat ini paling baik dipahami sebagai pengudusan pribadi, yaitu untuk setiap umat Kristen yang menghasilkan buah kebenaran ketika mereka berdiri di hadapan Tuhan (Filipi 1:11). Hal ini masuk akal karena isi doa Paulus dengan jelas memuat aspirasi untuk pertumbuhan rohani mereka (Filipi 1:9).

Paulus memang memulai ayat ini dengan pernyataan keyakinannya yang besar terhadap orang Kristen Filipi. Meskipun keselamatan dari hukuman dosa terjadi pada saat seseorang menerima Kristus, perubahan untuk menjadi lebih serupa dengan Kristus adalah sebuah proses yang diperlukan. Paulus sangat yakin bahwa “pengudusan” ini akan berlanjut terus dalam kehidupan orang-orang percaya di Filipi. Secara khusus, kepastian ini didasarkan pada pekerjaan Yesus Kristus. Baik keselamatan dan pengudusan adalah karena anugerah Kristus. Dengan kata lain, Paulus tidak meragukan keselamatan mereka dan pelayanan mereka kepada Kristus.

Pekerjaan Allah di dalam kita seperti yang dijelaskan dalam Filipi 1:6 dapat mengacu pada pengudusan pribadi dan tugas penginjilan. Mungkin saja, jika tidak sepenuhnya mungkin, bahwa Paulus memaksudkan kedua arti tersebut. Di bagian lain surat yang sama, sang rasul dengan jelas menyatakan bahwa pekerjaan Allah yang efektif di jemaat Filipi melampaui kemitraan penginjilan mereka dan melibatkan upaya aktif mereka untuk mencapai kekudusan (Filipi 2:12-13, 16). Pekerjaan keselamatan – seperti pekerjaan misi – adalah milik Allah dari awal hingga akhir. Tapi itu pasti melibatkan usaha dan pengorbanan kita.

Pagi ini, firman Tuhan mengajak kita berpikir dalam-dalam. Tuhan sudah memulai pekerjaan-Nya dalam diri kita. Dari memperkenalkan diri-Nya kepada kita sampai membimbing kita ke arah keselamatan, Ia selalu mendampingi kita. Kita yang sudah menyambut tawaran-Nya agar kita bertobat dan percaya kepada-Nya, sudah menerima karunia keselamatan yang abadi. Pada pihak yang lain, Dia yang sudah memulai pekerjaan pengudusan-Nya atas diri kita, juga mengajak kita untuk hidup kudus guna memuliakan Dia. Jika kita memang bersyukur atas anugerah keselamatan-Nya, seharusnya kita mau untuk menyambut panggilan-Nya dengan mau berusaha dan berkorban dalam hidup kita agar makin banyak orang yang mengenal Dia. Tuhan yang sudah memulai, Tuhan juga yang akan menyelesaikan perjuangan kita jika kita tunduk kepada Dia.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16




Upah dosa adalah kematian

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 6:23

Ayat terkenal ini sering digunakan ketika mengabarkan Injil untuk menunjukkan bahwa orang berdosa yang belum diselamatkan akan membayar dosa mereka dengan pemisahan kekal dari Allah, dan bahwa mereka dapat lolos dari takdir itu melalui karunia hidup kekal yang disediakan Yesus Kristus. Begitukah seharusnya ayat ini ditafsirkan dan diterapkan?

Jika kita membahas kitab Roma 6 dari awal, terlihat jelas bahwa konteks Roma 6 adalah pembahasan tentang kehidupan orang Kristen. Ayat 23 merupakan kesimpulan atau rangkuman dari pemikiran sebelumnya dalam 6:1-22. Pasal ini dengan jelas ditulis untuk orang percaya yang dibaptis ke dalam atau dipersatukan dengan Kristus (6:3-5), yang telah mati dengan Kristus, dan sekarang hidup dengan Dia (6:6-11). Nasihat bagi orang-orang percaya ini adalah untuk tidak mengabdi kepada dosa, melainkan kepada Allah, karena mereka tidak lagi berada di bawah kekuasaan dosa, melainkan di bawah kasih karunia (6:12-14).

Dalam ayat 15, muncul penolakan terhadap pertanyaan apakah hidup di bawah kasih karunia dapat mendorong orang percaya untuk berbuat dosa. Meskipun 6:16-23 memberikan kemungkinan bahwa orang percaya dapat memilih untuk berbuat dosa, ayat ini juga memberikan alasan mengapa orang percaya tidak boleh melakukan dosa. Ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Rasul Yakobus, yang mengingatkan orang percaya untuk berhati-hati dalam menjalani hidupnya, karena keinginan jahat ada pada setiap orang.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus‬ ‭1‬:‭14‬ ‭


Adalah alkitabiah dan penting untuk memahami kematian (maut) dalam Roma 6:23 dalam pengertian pemisahan daripada penghentian. Seseorang yang mati secara fisik tidak berhenti ada; mereka baru saja dipisahkan dari tubuh duniawi mereka. Pada tingkat spiritual, kematian bagi orang yang tidak percaya berarti mereka terpisah dari kehidupan Tuhan sekarang dan mungkin selamanya. Misalnya, Adam diberi tahu bahwa pada hari ia memakan buah dari pohon terlarang ia akan mati (Kejadian 2:17). Ketika dia makan buah itu, dia memang mati, tetapi dia tidak mati secara fisik atau lenyap. Dia mati secara rohani dalam arti bahwa dia terpisah dari kehidupan kekal Allah dalam pengalamannya saat itu dan berpotensi selamanya.

Tetapi, karena ayat 23 ditulis untuk mereka yang percaya, kita harus mengerti mengapa mereka diberitahu bahwa dosa menyebabkan kematian, atau lebih tepatnya, bahwa dosa membayar (“upah”) dalam kematian. Hal dosa yang membawa kematian ini sudah pernah ditampilkan dalam renungan sebelumnya. Mengingat penegasan lain tentang karunia keselamatan yang kekal di kitab Roma, ini tidak berarti bahwa orang percaya yang berdosa akan kehilangan keselamatan mereka dan dipisahkan dari Allah di neraka (lih. 4:16; 8:18-39). Lalu apa arti kematian bagi orang percaya?

Kematian bagi orang beriman berarti mereka terpisah dari berkat Tuhan dalam hidup mereka saat ini. Inilah sebabnya ada dosa-dosa utama yang bisa membinasakan kebahagiaan orang Kristen selama hidup di dunia. Orang percaya memiliki hidup yang kekal sebagai milik sekarang dan janji masa depan. Mereka tidak dapat dipisahkan dari kepemilikan hidup yang kekal baik di masa kini atau masa depan, tetapi mereka dapat dipisahkan dari manfaat karunia itu dalam hidup di dunia (misalnya kedamaian, kebahagiaan, kuasa atas dosa, dll.). Ini bukan saja bisa menyangkut hidup pribadi mereka, tetapi juga keluarga mereka dan orang disekitar mereka.

Ketika orang percaya berdosa, mereka hidup dalam pengaruh pengalaman duniawi yang sama seperti yang dihasilkan oleh dosa ketika mereka belum diselamatkan (6:19-21), pengalaman pahit, penderitaan, kehancuran hidup dan sebagainya. Pada pihak yang lain, keyakinan akan hidup kekal datang pada saat pembenaran melalui iman kepada Kristus (3:24; 5:18), dan kesabaran, kedamaian atau pengalaman hidup yang penuh ketabahan adalah buah dari kehidupan yang saleh.

Penafsiran yang benar dari ayat ini dalam konteksnya mengakui bahwa itu ditulis untuk orang percaya untuk menasihati mereka agar tidak melayani dosa, tetapi melayani Tuhan. Walaupun demikian, ayat di atas dinyatakan sebagai prinsip umum yang dapat diterapkan pada semua orang baik yang diselamatkan maupun yang tidak diselamatkan.

Ayat ini juga berlaku untuk orang-orang kafir dalam arti bahwa mereka, dalam dosa mereka, telah mati bagi Allah. Solusi bagi keterpisahan mereka dari Allah adalah pemberian cuma-cuma berupa hidup kekal yang datang melalui iman kepada Yesus Kristus (bdk. 3:22-26). Semua orang sudah berdosa dan dapat mengalami kematian, dan satu-satunya solusi bagi mereka adalah pemberian hidup kekal secara cuma-cuma melalui Yesus Kristus.

Meskipun Roma 6:23 ditulis khusus untuk orang-orang percaya sebagai kesimpulan argumen agar mereka hidup untuk Tuhan dan bukan dosa, prinsip ringkasannya dinyatakan cukup luas untuk memberi tahu orang-orang tidak percaya yang masih berada dalam dosa bahwa satu-satunya hasil hidup mereka adalah pemisahan total dari Tuhan, sekarang dan selamanya.

Pagi ini kita belajar dari ayat yang dapat digunakan secara efektif dalam pemberitaan Injil untuk menunjukkan akibat dari tidak percaya kepada Kristus. Namun, orang percaya tidak boleh mengabaikan tujuan utama dari pernyataan ayat tersebut, yaitu untuk menggerakkan mereka untuk melayani Tuhan dan menghindari dosa. Orang-orang percaya telah diberi karunia hidup Allah yang luar biasa yang hanya dapat mereka nikmati ketika mereka hidup kudus untuk Dia.

Kita harus menguji iman kita

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” 2 Korintus 13:5

Bagaimana Anda mengetahui kekuatan iman Anda? Banyak orang berpikir bahwa iman seseorang akan diuji dengan adanya masalah kehidupan. Tetapi, ayat di atas menyuruh kita menguji iman kita sendiri. Apakah ini berarti kita harus mencobai diri kita sendiri dengan cara mencari gara-gara? Ataukah kita harus membayangkan bagaimana reaksi kita terhadap pencobaan dengan memikirkan hal-hal yang menggoda?

Pada zaman kuno, pembuat senjata akan menguji senjata yang mereka buat untuk memverifikasi kekuatan dan daya tahannya sebelum prajurit membawanya ke medan perang. Pedang akan diuji dengan berbagai tes selama masa damai sehingga para prajurit akan memiliki kepercayaan pada kekuatan pedangnya selama pertempuran. Mereka menguji pedang itu dengan mengadu pedang itu dengan benda-benda yang keras maupun yang ulet sehingga mereka tahu bahwa pedang itu memang kuat dan tajam, bukan dengan cara menebak atau berharap bahwa pedang itu cukup kuat.

Penghuni gedung-gedung perkantoran mengadakan latihan menghadapi kemungkinan kebakaran dan adanya situasi berbahaya pada saat tidak ada bahaya, sehingga semua orang tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Di lapangan sepakbola, melalui latihan dan pertandingan persahabatan para pemain menyadari seberapa kuat atau lemahnya mereka, menemukan apa yang perlu mereka perbaiki sebelum pertandingan yang sesungguhnya, dengan melatih dan mencoba teknik permainan sampai mereka bisa melakukannya secara otomatis.

Seperti itu juga, sebagai orang Kristen kita harus melatih iman kita. Jauh lebih penting dari apa pun, dalam hidup kita memerlukan iman yang kuat. Latihan itu diperlukan setiap hari sepanjang hidup kita, untuk membantu kita tetap berfokus pada apa yang penting selama masa kemakmuran dan pencobaan, dan menjaga kita sampai akhir hidup kita. Seperti halnya pedang, kita perlu menguji iman kita ketika keadaan damai sehingga kuat dalam menghadapi kesulitan yang sebebarnya dan bisa bertahan sampai akhir.

Ada beberapa tes yang harus kita hadapi untuk menguji iman kita.

Tes 1: Apakah Anda taat pada iman?
Pertanyaan pertama sederhana: apakah Anda menaati Tuhan? Sudahkah Anda datang kepada Bapa melalui Yesus Kristus untuk pengampunan dosa dan menyerahkan hidup Anda pada pemerintahan Raja dari segala raja dengan memercayai pesan Injil, berbalik dari kehidupan duniawi dan pemikiran yang tidak kudus, mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan mau diadopsi sebagai Anak-Nya dan menikmati penyucian dosa melalui baptisan (Roma 10:6-15; Galatia 3:26-27)? Semua itu adalah langkah pertama agar orang bisa menjadi anak Tuhan.

Tes 2: Apakah Anda hidup dalam iman?
Ketika anak-anak saya belajar bersepeda, saya berdiri di sisi mereka dan menyuruh mereka mengayuh pedal sepeda untuk maju ke depan. Saya memberi mereka jaminan bahwa saya akan berada di sana ketika mereka maju dan saya dapat menolong mereka untuk tidak jatuh. Saya tahu mereka mencintai saya dan mematuhi saya, tetapi saya membutuhkan mereka untuk mempercayai saya. Mereka harus percaya bahwa saya akan menjaga dan melindungi mereka dan bahwa saya mengutamakan kepentingan mereka. Kita dapat mengasihi Tuhan dan menaati-Nya, tetapi kita juga harus mempercayakan hidup kita kepada-Nya.

Tes 3: Apakah iman Anda bertumbuh?
Dengan segala sesuatu yang pernah menggairahkan kita, ada ancaman bahwa itu akan menjadi rutinitas. Kelahiran baru kita harus menghasilkan pertumbuhan yang terus-menerus tetapi jika kita tidak memelihara kehidupan rohani kita, itu bisa mandek. Salah satu alasan iman banyak orang menjadi dingin adalah karena mereka berhenti bertumbuh dalam pengetahuan dan menjalankan iman mereka. Mereka menemukan tempat yang nyaman dan berhenti tumbuh. Dalam hal iman, jika Anda tidak bertumbuh, Anda sedang mendekati kematian iman.

Tes 4: Apakah iman Anda nyata bagi orang lain?
Iman Anda seharusnya tidak menjadi rahasia terbaik dalam hidup Anda. Seharusnya jelas bagi orang lain bahwa Anda adalah murid Kristus. Paulus memberi tahu pengkhotbah muda Timotius bahwa imannya harus nyata bagi semua orang, 1 Timotius 4:11-16. Dengan mempraktekkan dan “membenamkan dirinya” dalam apa yang Paulus ajarkan kepadanya, dia akan menjadi teladan yang baik dalam ucapan, tingkah laku, kasih, iman, dan kemurniannya sehingga kemuridannya menjadi jelas bagi semua orang. Orang Kristen harus hidup seperti Yesus sehingga musuh mereka pun akan memperhatikan dan memuliakan Tuhan.

Tes 5: Apakah Anda membagikan iman Anda kepada orang lain?
Jika Anda tahu bahwa Injil itu benar dan bahwa iman Anda sedang diubah, Anda tidak perlu ragu untuk membagikannya kepada orang lain. Paulus memberi tahu Timotius untuk mengajar orang lain apa yang dia pelajari. Injil mereka dimaksudkan untuk diajarkan kepada orang lain untuk membawa mereka kepada Kristus.

Pagi ini, pertanyaan kepada Anda adalah apakah Anda pernah menguji iman Anda. Selidikilah cara hidup Anda, di setiap waktu dan keadaan, dan bukannya hanya merasa yakin bahwa Anda adalah orang pilihan yang tidak berdaya, yang hanya bisa menantikan iman siap pakai dari Tuhan. Ada banyak ujian lain yang bisa digunakan seseorang untuk melihat di mana posisi kita dalam iman, tetapi lima ujian ini akan memberi kita indikasi yang baik tentang di mana kita berada dan di mana kita perlu bertumbuh.

Pertumbuhan adalah tanda kehidupan (Bagian 2)

“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” 2 Petrus 3:18

Bertumbuh secara rohani pertama-tama berarti kita bertumbuh dalam pengetahuan akan dosa-dosa kita, pengetahuan bahwa kita di dalam diri kita sendiri adalah orang-orang berdosa yang terhilang tanpa harapan dan tak berdaya. Pada usia 50 tahun, misalnya, kita harus mengetahui hal ini lebih dari pada usia 20 tahun. Indikator yang baik dari pertumbuhan (growth) Kristen (bedakan dengan perbuatan baik, good works, dari orang Kristen) adalah kesadaran bahwa dosa-dosa kita membawa dukacita, dan bukannya sukacita.

Indikator pertumbuhan rohan yang kedua adalah meningkatnya kesadaran akan fakta bahwa kita diselamatkan dan diperbarui hari demi hari hanya oleh kasih karunia Allah — bahwa darah dan Roh Kudus adalah satu-satunya pengharapan kita. “Tidak ada apa pun di tangan saya kecuali salib Kristus yang saya pegang.” Dalam hal ini, Kitab Suci berbicara banyak tentang kesetiaan Allah kepada kita sebagai orang Kristen yang “gagal”.

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23 TB

Kata-kata, “rahmat-Nya selalu baru setiap pagi” menjadi lebih bermakna bagi kita jika kita sadar bahwa kita hanya bisa bergantung kepada Tuhan. Jadi doktrin Alkitab, tentang kerusakan diri kita akibat dosa kita dan bahwa kita diselamatkan hanya oleh kasih karunia, menjadi kenyataan yang hidup bagi kita. Jika kita bertumbuh, kita akan bisa belajar menghargai janji-janji besar Allah.

Hal ketiga mengenai pertumbuhan adalah tentang rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan kita, sebagai buah iman, yaitu “buah Roh”. Itu mengacu pada kehidupan Kristen kita sebagaimana digariskan dalam Kitab Suci. Tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa kita telah diselamatkan atau bahwa kita pernah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. “Buah” juga harus jelas. Secara negatif, ini menyiratkan bahwa anak-anak Allah yang bertumbuh, akan menjadi kurang peduli terhadap dunia dan semua yang ditawarkannya. Rasa cinta untuk hal-hal materi dan bagi kepentingan diri sendiri harus berkurang, dan bukannya tidak berubah. Bertumbuh dalam Kristus berarti kita berjuang melawan dosa-dosa, seperti cinta dunia, cinta uang dan cinta diri.

Secara positif, bertumbuh dalam Kristus berarti kita bertumbuh dalam kasih kita kepada Tuhan, Firman-Nya dan gereja-Nya dan sesama kita. Ini juga menyiratkan bahwa kita menjadi lebih rendah hati dan lebih tulus di hadapan Tuhan dan manusia. Mungkin cara terbaik untuk mengatakannya adalah kita menjadi seperti Kristus.

Betapa menakjubkannya, bahwa kita sebagai orang berdosa yang telah diselamatkan dipanggil untuk menjadi orang kudus dan hidup seperti Tuhan! Kitab Suci juga menunjukkan bahwa ini menjadikan kita pengabar Injil-Nya dalam hidup kita. Jika kasih Tuhan bertambah dalam hati kita seiring bertambahnya usia, kita harus menunjukkannya dalam kesaksian kita kepada dunia. Apa yang sehat dan masih bertumbuh akan berbau harum untuk Tuhan.

Pagi ini kita mungkin bertanya bagaimana kitai dapat bertumbuh di dalam Kristus. Bisakah kita sendiri membuat diri kita tumbuh? Kita dapat melakukan ini tidak lebih dari yang dapat kita lakukan dengan tubuh kita. Kita dapat tumbuh secara fisik hanya dengan menggunakan karunia yang diberikan Tuhan, terutama makanan yang baik. Demikian juga, pertumbuhan rohani hanya dimungkinkan dengan menggunakan Firman Allah yang sempurna (1 Petrus 2:2). Betapa kita semua membutuhkan Firman itu setiap hari dan juga pada hari Minggu di gereja. Di dalam Firman dan di dalam doa kita diberikan sarana untuk bertumbuh di dalam Kristus.

Sampai sejauh mana kesadaran akan pentingnya pertumbuhan rohani ini akan membawa kita? Jika kita jujur, kita akan menyadari bahwa bagaimana pun kita berusaha, pertumbuhan kita akan jauh dari sempurna. Tetapi kepada anak-anak-Nya yang tidak sempurna, Tuhan memberikan kepastian bahwa apa yang telah Dia mulai dalam diri kita, akan diselesaikan-Nya pada saat kita menjumpai Dia. Dan pertumbuhan yang kita alami sepanjang hidup kita akan tampak tidak signifikan jika dibandingkan dengan perubahan yang akan terjadi pada saat itu, dalam sekejap mata, oleh kuasa mujizat dari Kristus yang telah bangkit dan dimuliakan. Betapa menghiburnya hal ini bagi anak Allah yang mau hidup, bertumbuh, dan bergumul demi kemuliaan-Nya!