Tuhan menghendaki semua orang berbuat baik

“Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Roma 13:3

Hal “berbuat baik” adalah salah satu pokok pembicaraan yang sering menyebabkan perdebatan di antara golongan Kristen. Apa arti perbuatan baik? Perbuatan baik dalam hidup sehari-hari mungkin saja didefinisikan sebagai segala sesuatu yang kita lakukan, pikirkan, dan katakan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan kaidah moral yang berlaku setempat. Tetapi masalahnya, kaidah moral yang berlaku di satu negara mungkin adaah sesuatu yang tidak bermoral di negara lain. Contohnya: hidup bersama di luar nikah, hubungan antar sejenis, aborsi dll. yang dipandang normal di banyak negara barat.

Perbuatan baik dalam pandangan Kristen berbeda dengan moralitas manusia, sekalipun tidak menolak semua pedoman moralitas dan hukum yang ditetapkan dan dijalankan oleh pemerintah setempat. Roma 13 membahas tiga bidang besar yang harus ditangani oleh umat Kristen yang berkorban hidup. Pertama, karena Allah menempatkan setiap otoritas manusia untuk melaksanakan tujuan-tujuan-Nya, umat Kristiani harus tunduk kepada otoritas tersebut; ide ini hadir dengan konteks tertentu. Kedua, kita harus mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Ketiga, kita dipanggil untuk hidup sebagai terang Kristus dan membuang perbuatan kegelapan seperti mabuk-mabukan, percabulan, dan iri hati. Kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang melawan kegelapan dan, pada kenyataannya, mengenakan Kristus sendiri daripada menuruti keinginan kita sendiri. Semua ini adalah sebagian dari perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan.

Roma 13:1–7 menjelaskan tanggung jawab umat Kristen untuk hidup dalam ketundukan kepada otoritas manusia dalam pemerintahan, tidak peduli apakah itu pemerintah yang dipimpin orang Kristen atau bukan. Alasan yang diberikan adalah bahwa setiap pemimpin pemerintahan pada akhirnya ditetapkan oleh Tuhan untuk tujuan-Nya sendiri. Secara umum, pemerintahan manusia berfungsi untuk mengekang dan menghukum orang yang melakukan kejahatan. Pemerintah melakukan hal ini atas nama Tuhan. Umat ​​Kristen harus membayar pajak untuk mendukung pekerjaan yang dilakukan Tuhan ini. Selain itu, mereka yang berada di dalam Kristus wajib menghormati dan menghormati otoritas yang telah Allah tempatkan. Tulisan lainnya, seperti Kisah Para Rasul 5:27–29, membedakan antara ”tunduk” dan ”ketaatan.”

Paulus telah menjelaskan doktrin Kristen tentang ketundukan kepada otoritas manusia. Karena setiap pemimpin manusia ditetapkan oleh Tuhan, umat Kristiani tidak boleh menolak pekerjaan Tuhan dengan melawan otoritas tersebut. Lalu bagaimana jika pemerintah setempat memerintahkan rakyat setempat untuk melakukan apa yang bertentangan dengan firman Tuhan? Dalam hal ini, perbuatan baik adalah apa yang menempatkan Allah sebagai pedoman utama. Perbuatan baik yang benar-benar baik di mata Tuhan adalah perbuatan baik yang memuliakan-Nya.

Paulus menjelaskan mengapa Allah menetapkan otoritas manusia. Peran otoritas pemerintah yang diberikan Tuhan adalah menjaga ketertiban. Hal ini berlaku terlepas dari apakah otoritas tersebut adalah datang dari orang Kristen atau tidak. Secara umum, pemerintahan manusia adalah salah satu cara Allah mengekang pengaruh kejahatan di dunia (2 Tesalonika 2:7). Umat ​​Kristen tidak boleh menganut anarki – penolakan terhadap segala bentuk pemerintahan – atau tidak menaati otoritas hanya karena mereka tidak setuju. Orang Kristen tidak boleh melawan hukum (antinomian), tapi harus menjadi contoh yang baik untuk orang lain.

Sekalipun tidak ada perbuatan baik dan pelaksanaan hukum apapun yang membawa keselamatan atau iman, Paulus menjelaskan cara hidup tanpa rasa takut terhadap penguasa: Berbuat baiklah. Pihak berwenang bukanlah ancaman bagi mereka yang melakukan hal yang benar. Ajaran ini tentu saja masuk akal jika mereka yang berkuasa berpikiran adil dan bertindak berdasarkan rasa integritas. Tentu saja, kita bisa mengingat momen-momen dalam sejarah di mana mereka yang berkuasa jelas merupakan teror bagi orang-orang yang berbuat baik, atau setidaknya tidak berbuat salah, termasuk terhadap Paulus sendiri! Dalam hal ini, Daniel dan teman-temannya adalah contoh orang-orang yang melawan perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas (Daniel 3:16-18). Tetapi mereka tidak melawan raja dengan kekerasan atau anarki.

Nasihat Paulus di sini hanyalah kasus umum. Dia tidak tertarik – pada bagian ini – untuk membahas pengecualian. Keprihatinan Paulus yang pertama adalah agar orang-orang Kristen dikenal dalam komunitasnya sebagai orang-orang yang tunduk pada otoritas; mereka yang melakukan apa yang baik dalam masyarakat. Orang-orang beriman tidak boleh memiliki reputasi sebagai pelanggar hukum yang hidup dalam konflik yang melawan otoritas. Orang Kristen tidak boleh mengabaikan cara hidup yang baik sebagai warga dunia dan warga surga. Sekalipun kita sudah dijamin untuk menjadi warga surga, selama hidup kita harus melakukan apa yang baik bagi sesama dan bangsa dan mendukung para pemimpin negara yang bersusaha berbuat baik untuk bangsa dan negara tanpa menghakimi motivasinya. Setiap orang bertanggung jawab kepada Tuhan atas apa yang diperbuatnya selama hidup, apakah itu memuliakan Dia atau untuk keuntungan diri sendiri.

Tentu saja, Yesus dan hampir semua rasul, termasuk Paulus, dibunuh oleh penguasa, sering kali karena penolakan mereka untuk menaati hukum yang bertentangan dengan perintah Allah kepada mereka (Kisah 5:27-29). Inilah inti ajaran Paulus yang halus: “tunduk” tidak selalu berarti “taat”. Tak satu pun dari para rasul dibunuh karena melanggar hukum hanya demi menentang otoritas; mereka “tunduk” kepada pemerintah ketika mereka menolak untuk mengikuti hukum yang tidak saleh. Mereka menderita karena taat kepada Tuhan. Daniel dan teman-temannya adalah contoh orang-orang yang melawan perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas (Daniel 3:16-18). Tetapi mereka tidak melawan raja dengan kekerasan atau anarki.

Apa yang membedakan perbuatan baik orang duniawi jika dibandingkan dengan orang Kristen? Dilihat dari sudut pandangan manusia, bedanya hampir tidak ada. Malahan, mereka yang menjadi penyumbang besar dana kemanusiaan biasanya bukan Kristen. Mereka mungkin merasa terbeban untuk berbuat baik untuk sesama, tetapi bukan untuk Tuhan jika mereka tidak mengenal Tuhan. Apakah itu suatu yang buruk? Dari sudut pandangan Tuhan, tidak ada perbuatan manusia yang cukup baik untuk menebus dosa mereka. Walaupun demikian, Tuhan yang menghendaki ketertiban di dunia memberkati mereka yang hidup menurut kaidah moral dan hukum yang baik. Banyak negara yang lemah dalam bidang hukum tidak bisa berkembang karena banyaknya korupsi dalam kegiatan pemerintah dan bisnis.

Apa panggilan umat Kristen dalam hal ini? Apakah kita berhenti untuk menekankan pentingnya moralitas dan hukum? Apakah kita merasa tenteram karena merasa sudah menjadi orang pilihan? Sama sekali tidak! Gereja dan umat Kristen tetap harus menjadi contoh yang baik dalam masyarakat dalam menekankan hidup baik, hidup tertib, hidup jujur, hidup yang bermurah hati kepada sesama. Kita tidak boleh jemu untuk berbuat baik (2 Tesalonika 3:13).

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Kolose 3:23-24

Tanggung jawab dan fatalisme orang Kristen

Penjelasan singkat ini adalah tentangi sejauh mana kita bertanggung jawab kepada Tuhan, berdasarkan tulisan Arthur W. Pink

“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12

Sekalipun kebanyakan orang Kristen percaya bahwa mereka harus bertanggung jawab atas cara hidupnya, ada sebagian kecil yang yakin bahwa mereka tidak sanggup untuk bertanggung jawab kepada Tuhan. Kelompok ini menolak iman sebagai kewajiban manusia untuk percaya (duty faith). Sebaliknya, mereka percaya bahwa iman tidak membutuhkan respons manusia karena Tuhan secara sepihak mengampuni semua dosa mereka. Ini bertentangan dengan ayat di atas yang jelas menyatakan bahwa Tuhan menuntut setiap orang Kristen untuk memberi pertanggungan jawab tentang dirinya.

Mungkin, dalam hal ini ada kebingungan antara keharusan bertanggung jawab dan kesanggupan untuk bertanggungjawab. Kedua hal ini jelas berbeda, karena jika seandainya Anda mengemudi mobil, Anda harus bertanggung jawab untuk keselamatan penumpang Anda sekalipun Anda tidak dapat bertanggung jawab jika Anda belum pernah mengemudi mobil. Dalam hal ini, polisi tetap menuntut tanggung jawab Anda jika kecelakaan terjadi. Dalam kitab Kejadian, Allah tetap menuntut tanggung jawab Adam dan Hawa sekalipun Ia tahu bahwa mereka tidak sanggup mempertanggungjawabkan pelanggaran mereka. Itu sebabnya Ia mengirimkan Yesus Kristus untuk ganti kita.

Sekalipun semua dosa di hadapan Tuhan adalah dosa yang membawa hukuman, tidak dapat disangkal bahwa ukuran tanggung jawab yang dituntut Tuhan dari manusia bervariasi dalam berbagai kasus, dan lebih besar atau lebih kecil pada individu tertentu. Standar pengukuran diberikan dalam perkataan Yesus:

“Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Lukas 12:48

Tentu saja Allah tidak menuntut banyak tanggung jawab dari mereka yang hidup pada zaman Perjanjian Lama – jika dibandingkan dengan apa yang Dia minta dari mereka yang dilahirkan sesudah Yesus datang ke dunia. Tentu saja Allah tidak akan meminta banyak hal dari mereka yang hidup di ‘zaman kegelapan’, ketika Alkitab hanya dapat diakses oleh segelintir orang saja – berbeda dengan apa yang Dia inginkan dari generasi ini, ketika hampir setiap keluarga Kristen di negeri ini memiliki Alkitab untuk mereka sendiri.

Allah tidak akan menuntut tanggung jawab yang sama dari orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil – seperti apa yang Dia kehendaki dari umat Kristen. Orang-orang yang benar-benar belum pernah menerima Injil tidak akan binasa karena mereka tidak percaya kepada Kristus – tetapi karena mereka gagal menghidupkan terang yang mereka miliki – kesaksian tentang Allah dalam alam dan hati nurani. Sebaliknya, bagi kita yang sudah lama mengenal Kristus dituntut tanggung jawab yang besar. Mereka yang menjadi pemimpin keluarga dan umat juga harus mau memikul tanggung jawab yang besar.

Fakta bahwa tanggung jawab manusia terletak pada kemampuan alaminya, disaksikan oleh hati nuraninya, dan ditegaskan di seluruh Alkitab. Landasan tanggung jawab manusia adalah bahwa ia adalah makhluk rasional yang mampu mempertimbangkan persoalan-persoalan kekal, dan bahwa ia mempunyai Wahyu tertulis dari Tuhan, yang di dalamnya hubungan dan kewajibannya terhadap Penciptanya didefinisikan dengan jelas. Besarnya tanggung jawab berbeda-beda pada setiap individu, ditentukan oleh tingkat karunia yang diterima masing-masing dari Tuhan.

Masalah tanggung jawab manusia dijelaskan dalam Alkitab, dan karena itu merupakan kewajiban serius kita serta hak istimewa untuk menyelidikinya dengan penuh doa dan kehati-hatian untuk mendapatkan pencerahan lebih lanjut, dengan mengandalkan Roh Kudus untuk membimbing kita “ke dalam seluruh kebenaran”. Ada tertulis, “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mazmur 25:9).

Dengan demikian, perlu ditegaskan bahwa merupakan tanggung jawab setiap manusia untuk menggunakan karunia yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Suatu sikap yang bersifat fatalistis sebagian orang Kristen ialah menolak untuk bertanggung jawab karena alasan bahwa Allah telah menetapkan apa pun yang akan terjadi, termasuk dosa kita, dan itu tidak dapat ditarik kembali. Sikap ini adalah memanfaatkan apa yang telah ditetapkan Allah demi kenyamanan hati mereka yang sengaja mau melanggar perintah Tuhan. Tuhan yang telah menetapkan bahwa suatu tujuan tertentu akan tercapai, juga telah menetapkan bahwa tujuan tersebut akan dicapai melalui dan sebagai akibat dari sarana yang telah ditetapkan-Nya sendiri. Tuhan tidak meremehkan penggunaan sarana – kita juga tidak boleh meremehkannya.

Misalnya: Allah telah menetapkan bahwa “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:22); namun itu tidak berarti bahwa manusia tidak perlu membajak tanah dan menabur benih! Tuhan menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal tersebut, memberkati pekerjaan mereka, dan dengan demikian memenuhi penetapan-Nya sendiri. Dengan cara yang sama, Allah sejak awal telah memilih suatu umat untuk diselamatkan; namun hal ini tidak berarti bahwa para penginjil tidak perlu memberitakan Injil, atau orang-orang berdosa tidak perlu bertobat dan mempercayainya. Melalui sarana inilah nasihat-nasihat kekal-Nya dilaksanakan.

Untuk berargumentasi bahwa karena Allah telah menentukan nasib kekal setiap manusia dan ini tidak dapat ditarik kembali – adalah usaha membebaskan kita dari semua tanggung jawab atas segala kekhawatiran mengenai jiwa kita, atau usaha menolak untuk menggunakan sarana keselamatan dengan tekun; ini sama saja dengan menolak melakukan tugas duniawi kita karena Tuhan telah menentukan nasib kita di dunia. Dan hal ini sudah jelas dari Kisah Para Rasul 17:26, Ayub 7:1; 14:5, dst.

Apa yang telah dipersatukan Allah sebagai penetapan-Nya, tidak boleh kita pisah-pisahkan. Entah kita bisa atau tidak bisa melihat kaitan yang menyatukan yang satu dengan yang lain, tugas kita jelas, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan , Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” (Ulangan 29:29).

Dalam Kisah Para Rasul 27:22 Allah memberitahukan bahwa Dia telah menetapkan pemeliharaan semua orang yang menemani Paulus di kapal; namun sang rasul tidak ragu-ragu mengatakan, “Jika kamu tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.”” (ayat 31); Allah menetapkan sarana itu agar mereka melaksanakan apa yang telah Dia tetapkan. Dari 2 Raja-raja 20 kita belajar bahwa Allah benar-benar bertekad untuk menambahkan lima belas tahun pada kehidupan Hizkia – namun ia harus mengambil segumpal buah ara dan menaruhnya di atas bisul yang mematikan!

Perlu kita sadari, rasul Paulus mengetahui bahwa ia selamanya aman dalam tangan Kristus (Yohanes 10:28) – namun ia “menjaga tubuhnya tetap terkendali” (1 Korintus 9:26). Rasul Yohanes meyakinkan orang-orang yang menerima suratnya, “Kamu harus tinggal di dalam Dia” – namun di ayat berikutnya dia menasihati mereka, “Dan sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Dia” (1 Yohanes 2:27, 28).

Hanya dengan memperhatikan prinsip penting ini – kita bertanggung jawab untuk menggunakan cara-cara yang ditentukan Tuhan, maka kita akan mampu menjaga keseimbangan dalam kebenaran Tuhan, dan diselamatkan dari fatalisme yang melumpuhkan. Setiap orang Kristen bertanggung jawab kepada Tuhan atas apa saja yang dilakukan mereka selama hidup di dunia!

Anda harus mau mengambil keputusan yang baik

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1 Korintus 10:31

Setiap orang tetentu bisa dan pernah mengambil keputusan. Itu tidaklah dapat disangkal, karena dalam hidup ini, manusia yang tidak dapat mengambil keputusan tentunya tidak dapat bertahan untuk hidup (survive). Jika seorang bayi bisa hidup dan tumbuh sekalipun tidak bisa mengambil keputusan, itu karena orang tuanya yang mewakili dia untuk mengambil keputusan. Walaupun demikian, ada orang-orang Kristen yang menentang pandangan bahwa manusia bisa dan harus mengambil keputusan sendiri dalam kebebasannya. Mereka menyatakan bahwa apa yang diputuskan setiap manusia adalah keputusan yang diambil Tuhan. Ini sudah tentu tidak benar karena faham semacam itu adalah faham fatalisme.

Apakah setelah menjadi Kristen manusia akan kehilangan kebebasannya atau kemampuan untuk memilih apa yang buruk? Sudah tentu tidak. Walaupun demikian, orang yang sudah lahir baru akan tahu bahwa apa yang harus dipilihnya adalah apa yang baik di mata Tuhan. Sebagai orang percaya, kita harus termotivasi untuk memuliakan Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan, tetapi kita masih juga bisa memilih untuk tidak melakukannya. Ini termasuk pilihan kita untuk makan atau minum, atau menolaknya. Paulus menambahkan hal ini ke dalam daftar faktor-faktor yang memotivasi penggunaan kemerdekaan kita di dalam Kristus. Apakah kegiatan ini bermanfaat bagi saya atau malah membuat saya “diperhamba” (1 Korintus 6:12)? Akankah melakukan hal ini membangun orang lain dan bermanfaat bagi sesama saya serta bagi diri saya sendiri? Dan sekarang, apakah pilihan untuk makan atau minum atau melakukan hal lain akan membawa kemuliaan bagi Tuhan?

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”1 Korintus 6:12

Paulus telah memberikan beberapa pedoman khusus dalam ayat-ayat sebelumnya tentang kapan orang Kristen harus makan dan tidak makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Jawaban-jawaban tersebut memberikan kebebasan yang luas kepada mereka yang “kuat” secara rohani dan menyadari bahwa Tuhan memberikan tujuan yang baik atas segala ciptaan-Nya (1 Timotius 4:4). Alkitab juga telah memberikan peringatan hati-hati yang mengatur bagaimana kebebasan intuk memuliakan Tuhan tersebut dapat digunakan. Di sini, Paulus meringkas segalanya menjadi satu prinsip yang seharusnya mengarahkan semua pilihan kita. Kita tidak hanya harus mengasihi Tuhan, tetapi juga mengasihi sesama kita.

Dalam semua kasus, pertanyaan apakah kegiatan ini akan memberi saya kesenangan, keuntungan materi, atau status tidak boleh menjadi faktor penentu bagi mereka yang sudah bebas di dalam Kristus. Sayang, sikap ni masih ada dalam hidup banyak orang Kristen karena mereka percaya bahwa Tuhan menentukan segalanya. Dengan kata lain, banyak orang Kristen yang tidak merasa bersalah jika mereka melakukan apa yang tidak memuliakan Tuhan tetapi membawa kenyamanan pribadi. Mreka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih akan memberi mereka pengampunan. Mereka merasa tidak mampu memuliakan Tuhan. Ini jelas adalah dosa, karena mereka sebenarnya harus percaya bahwa mereka sudah dikaruniai Roh Penolong. Sama seperti segala sesuatu yang dilakukan tanpa keyakinan adalah dosa (Roma 14:23), umat Kristiani juga tidak boleh berpartisipasi dalam apa pun yang mereka rasa tidak membawa kemuliaan bagi Allah.

“Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Roma 14:23

Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan untuk bisa mengambil keputusan dan harus bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya. Memang, jika manusia tidak mengenal Tuhan, segala keputusan yang diambilnya tidaklah akan membawa kemuliaan bagi Sang Pencipta. Dalam hal ini, manusia dalam kebebasannya selalu memilih apa yang baik untuk dirinya sendiri, dan itu adalah memilih salah satu dari banyak alternatif yang bernoda dosa yang ada. Apa pun yang dinilai baik oleh manusia duniawi adalah dosa bagi Tuhan karena itu tidak membawa kenuliaan bagi-Nya. Hanya orang yang sudah dilahirkan kembali akan mengerti bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia. Roh Kudus akan membimbing kita untuk bisa mengambil keputusan yang baik.

Masa depan kita bukan masa lalu atau masa kini

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:13-14

Apa tujuan Anda dalam menjadi orang Kristen? Tujuan utama kita seharusnya adalah sama dengan tujuan Allah menciptakan kita, yaitu memuliakan Dia. Ini bukanlah hal yang mudah karena sekalipun kita sudah memperoleh karunia keselamatan dan karunia Roh Kudus, kita tetap harus berjuang keras untuk taat kepada firman-Nya. Hari demi hari, kita mendisiplinkan diri kita untuk menurut kepada bimbingan Roh Kudus, agar makin lama kita makin sempurna di dalam Kristus.

Tujuan Paulus adalah kesempurnaan, namun ia belum mencapainya. Ia bukannya tanpa cela, dan ia juga tidak berharap mencapai kesempurnaan sebelum kematiannya. Sebaliknya, ia menggunakan analogi seorang pelari dalam suatu perlombaan untuk menggambarkan motivasi kehidupan spiritualnya. Seperti seorang pelari yang berdedikasi, dia memiliki satu tujuan. Sama seperti seorang pelari tidak bisa sukses kecuali mereka berkonsentrasi pada perlombaan, Paulus juga tidak bisa sukses bertumbuh di dalam Kristus jika dia membiarkan tujuan lain, hal-hal duniawi, untuk menghalanginya.

Melanjutkan analogi yang ada, Paul juga memilih untuk hidup dengan prinsip penting: menjaga perhatiannya pada jalan di depannya. Seorang pelari tidak bisa melihat ke belakang dan tetap berfokus pada tujuan di depannya. Kedua gagasan tersebut adalah bertolak belakang. Tujuan seorang pelari adalah berfokus pada langkah selanjutnya menuju tujuannya. Kehidupan rohani Paulus juga sama. Dia tidak akan melihat ke belakang pada langkah-langkah yang pernah dan biasa dilakukannya, namun berfokus pada peningkatan setiap langkah dalam perlombaannya hingga mencapai tujuan bersama dengan Kristus.

Kita bisa belajar dari masa lalu dan mungkin sudah terbiasa dengan apa yang kita lakukan selama ini, tapi kita boleh tidak terikat pada hal-hal yang telah kita lakukan. Kita tidak boleh merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini tidak perlu berubah setelah kita lahir baru. Jika lahir baru tidak membawa perubahan dalam hidup kita, patutlah kita bertanya mengapa itu demikian. Setiap orang yang benar-benar lahir baru pasti akan diberi kemampuan oleh Tuhan untuk melihat apa yang pernah dilakukan pada masa yang lalu, yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita tentu bisa melihat bahwa pada masa lalu, dan bahkan sampai sekarang, apa yang kita lakukan tidak banyak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Kita mungkin bisa menyesali bahwa pada masa yang lalu dan sampai sekarang, apa yang kita perbuat dalam hidup kita tidaklah sesuai dengan tujuan penciptaan Tuhan. Kita hidup untuk diri kita sendiri, menurut cara kita sendiri. Jelas kita sudah menggunakan kehendak bebas kita untuk hidup dalam dosa. Kita melawan Tuhan karena Tuhan tentunya menghendaki kita untuk hidup dalam kesucian. Tetapi, daripada terbelenggu oleh kesalahan yang ada, kita bisa melangkah maju, karena kita tahu bahwa kita bisa menerima pengampunan Kristus melalui pertobatan.

Filipi 3:13-14 menjelaskan sikap yang tepat yang harus dimiliki orang Kristen dalam proses ”pengudusan”. Ini adalah jalan bertahap dan seumur hidup untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus. Tempat kita dalam kekekalan sudah terjamin sejak kita percaya kepada Kristus, namun dibutuhkan waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi seperti Dia. Paulus bukannya sombong, dia mencatat bahwa dia tidak sempurna, namun mendorong kita untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Ini membutuhkan kemauan kita untuk makin mau untuk menurut apa yang dibisikkan oleh Roh Kudus: menanggalkan apa yang buruk, dan memilih apa yang baik dalam hidup kekristenan kita.

Paul menggunakan analogi seorang pelari yang berfokus pada tujuan di depannya. Hal ini mencegah gangguan dan tersandung. Tujuan rohani Paulus dinyatakan secara langsung di sini: “hadiah berupa panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Fokus Paulus adalah pada momentum ke depan, bukan pada kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Seseorang tidak bisa bergerak maju jika pikiran dan pandangannya terfokus pada masa lalu. Seorang pelari tidak bisa memenangkan pertandingan dengan berlari di tempat. Paulus mempunyai tujuan yang jelas: berada di surga bersama Tuhan. Dia menantikan imbalan tertinggi atas pengabdiannya yang setia.

Hadiah tertinggi yang disebutkan Paulus ini adalah untuk bersama Kristus, tetapi ada beberapa ketidakpastian mengenai apa yang secara spesifik ia maksudkan, dalam konteks pernyataan ini. Apakah “panggilan ke atas” ini mengacu pada pengangkatan ke surga, atau kematian-Nya? Paulus tampaknya tidak membedakan kedua gagasan ini, setidaknya dalam konteks ini. Dia hanya menulis tentang tujuan mengejar Kristus sampai dia bertemu dengan-Nya setelah kehidupan ini. Ini juga merupakan fokus yang berguna bagi orang percaya saat ini. Intinya adalah jangan terlalu khawatir tentang apakah kita akan mati terlebih dahulu, atau apakah Kristus akan datang kembali. Sebaliknya, kita harus bersiap kapan pun dan bagaimana pun kita bertemu dengan Kristus. Ini berarti bahwa kita harus mengarahkan fokus hidup kita sekarang juga. Ajaran Paulus adalah untuk tidak melihat ke belakang ke masa lalu, namun fokus pada apa yang bisa kita lakukan hari ini dan di hari-hari mendatang untuk hidup bagi Kristus sampai kita bertemu dengan-Nya. Daripada melihat ke masa lalu, tinggal dalam kenyamanan saat ini, atau memusatkan perhatian kepada diri kita sendiri, kita harus melihat ke depan, menuju kekekalan bersama Tuhan.

Apakah kita pasti ke surga?

“Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, ssupaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis supaya jera mereka menghujat.” 1 Timotius 1:18–20

Kita mungkin seing mendengar ajaran baik Kristen atau lainnya, yang percaya bahwa setiap orang saleh akan diselamatkan, bahwa kita “dibenarkan melalui kematian” dan yang perlu kita lakukan untuk masuk surga hanyalah mati. Namun Firman Tuhan tentu saja tidak memberi kita kemudahan untuk memercayai hal itu. Pembacaan Perjanjian Baru yang cepat dan jujur menunjukkan bahwa para Rasul yakin bahwa tidak seorang pun dapat masuk surga kecuali mereka yang benar-benar percaya kepada Kristus saja yang menyelamatkan mereka (Yohanes 14:6; Roma 10:9-10).

Secara historis, sebagian besar umat Kristen Evangelis telah menyetujui bahwa hanya darah Kristus yang menyelamatkan. Walaupun demikian, perbedaan pendapat yang ada adalah mengenai kepastian adanya keselamatan. Orang-orang yang sebelumnya setuju bahwa hanya mereka yang percaya kepada Yesus yang akan diselamatkan, tidak sepakat mengenai apakah seseorang yang benar-benar percaya kepada Kristus dapat kehilangan keselamatannya. Dalam hal ini, ada sebagian kelompok Kristen yang mengajarkan bahwa bukan saja kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk diselamatkan, tetapi juga tidak perlu berbuat apa-apa karena sudah diselamatkan. Mereka juga mengajarkan bahwa orang Kristen tidak dapat berbuat apa yang baik di hadapan Tuhan, dan semua usaha untuk menaati Firman Tuhan tidak perlu dipikirkan karena apa yang penting adalah keyakinan akan kedaulatan Tuhan yang memilih orang untuk ke surga atau ke neraka dari awalnya.

Sebagian besar umat Kristen, baik itu golongan Arminian, Reformed maupun Katolik percaya pentingnya hidup baik dan ketaatan kepada Firman. Memang manusia tidak sempurna, tetapi mereka harus berjuang sekuat tenaga dengan pertolongan Roh Kudus untuk menjadi orang-orang yang saleh. Mereka juga percaya bahwa ada orang -orang yang akan ditolak oleh Kristus sekalipun mereka mengaku percaya. Tetapi, apakah orang-orang yang ditolak ini hanya adalah orang-orang yang bukan orang Kristen sejati alias orang-orang yang tidak terpilih?

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Secara teologis, yang kita bicarakan saat ini adalah konsep kemurtadan. Istilah ini berasal dari kata Yunani apostasia yang berarti “menjauhi”. Ketika kita berbicara tentang mereka yang murtad atau telah melakukan kemurtadan, yang kita maksud adalah mereka yang telah meninggalkan atau setidaknya menjauhi dari pengakuan iman mereka kepada Kristus yang pernah mereka buat. Dalam hal ini, banyak orang percaya berpendapat bahwa orang Kristen sejati bisa kehilangan keselamatan karena ada beberapa teks Perjanjian Baru yang sepertinya menunjukkan bahwa hal ini bisa terjadi. Saya memikirkan, misalnya, kata-kata Paulus dalam 1 Timotius 1:18–20 di atas.

Di sini, di tengah-tengah instruksi dan teguran yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Timotius, Paulus memperingatkan Timotius untuk menjaga iman dan menjaga hati nurani yang baik, dan untuk diingatkan kepada mereka yang tidak melakukannya. Rasul Paulus mengacu pada orang-orang yang membuat “iman mereka kandas,” yaitu orang-orang yang “diserahkannya kepada Iblis agar mereka belajar berhenti menghujat.” Poin kedua ini mengacu pada pengucilan Paulus terhadap orang-orang ini, dan seluruh bagian ini menggabungkan peringatan serius dengan contoh nyata tentang mereka yang sangat murtad dari pengakuan Kristen mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mengaku percaya bisa jatuh dan terjatuh secara radikal. Kita memikirkan orang-orang seperti Petrus, misalnya, yang menyangkal Kristus. Namun fakta bahwa ia dipulihkan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya dan kemudian jatuh, tidak dapat kembali lagi ke jalan yang benar. Pada titik ini, kita harus membedakan kejatuhan yang serius dan radikal dari kejatuhan yang total dan final. Para teolog Reformed secara umum mencatat bahwa Alkitab penuh dengan contoh orang percaya sejati yang jatuh ke dalam dosa besar dan bahkan tidak bertobat dalam waktu lama. Jadi, umat Kristiani memang bisa jatuh dan terjatuh secara radikal. Apa yang lebih serius daripada apa yang dilakukan Petrus, sebagai murid Kristus yang sudah mengikut Dia selama tiga tahun, sebagai penyangkalan iman di muka umum terhadap Yesus Kristus?

Penyangkalan akan iman tidak perlu berbentuk penolakan secara nyata. Banyak orang Kristen yang setia melayani, menginjil, dan rajin ke gereja, menolak Firman Tuhan dan eksistensi Tuhan dalam hidup sehari-hari. Mereka tidak mau melaksanakan fukum Tuhan dan tidak memandang perlu untuk hidup dalam terang-Nya. Dalam hidup sehari-hari mereka tidak ada bedanya dengan orang yang belum beriman. Mereka mungkin, seperti Petrus, menyamar sebagai orang-orang dunia. Merka secara efektif menolak pentingnya hukum Tuhan dan moralitas serta etika Alkitabiah. Apakah penolakan ini adalah lebih ringan dari penolakan Petrus? Apakah mereka bukannya sudah jatuh dari iman mereka?

Di sini pertanyaannya adalah, apakah orang-orang yang benar-benar bersalah atas kejatuhan ini sudah terjatuh dan hilang selamanya, atau apakah kejatuhan ini hanya sebuah kondisi sementara yang, pada analisa akhir, akan diperbaiki dengan pemulihan mereka? Dalam kasus orang seperti Petrus, kita melihat bahwa kejatuhannya dapat diatasi melalui pertobatannya. Namun, bagaimana dengan mereka yang sampai akhir hidupnya tetap murtad? Apakah mereka benar-benar beriman? Jawaban kita terhadap pertanyaan ini adalah tidak. Mereka bukan orang Kristen sejati. Ayat 1 Yohanes 2:19 berbicara tentang guru-guru palsu yang keluar dari gereja karena tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari gereja. Yohanes menggambarkan kemurtadan orang-orang yang telah membuat pengakuan iman namun tidak pernah sungguh-sungguh bertobat. Tidaklah mengherankan bahwa mereka adalah orang-orang yang dengan sengaja tetap hidup dalam dosa yang disadari mereka. Orang- orang yang mungkin tidak pernah merasakan peringatan atau hajaran Tuhan. Orang-orang yang berbeda dari Petrus, yang tidak pernah menyesali atau menangisi dosa mereka.

“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12:6

Sementara itu, kalau ada orang yang terjatuh masih hidup, bagaimana kita tahu kalau dia sudah murtad? Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun di antara kita adalah membaca hati orang lain. Ketika saya melihat seseorang yang telah membuat pengakuan iman dan kemudian menolak untuk hidup baru, saya tidak tahu apakah dia benar-benar orang yang sudah dilahirkan kembali, yang berada di tengah-tengah kejatuhan yang serius dan radikal, namun pada suatu saat di masa depan akan mengalami perubahan. Kita tidak bisa menghakimi orang lain. Saya tidak akan tahu apakah dia akan pulih; atau apakah dia adalah orang yang belum pernah benar-benar bertobat, yang pengakuan imannya sudah salah sejak awal. Tetapi kita tahu bahwa Allah memuliakan semua orang yang dibenarkan-Nya (Roma 8:29-30). Jika seseorang mempunyai iman sejati yang menyelamatkan dan dibenarkan, maka Tuhan akan memelihara orang tersebut. Mereka yang benar-benar diselamatkan akan sadar bahwa lahir baru selalu disertai dengan hidup baru yang berjuang untuk menaati seluruh firman Tuhan, terutama kedua hukum yang utama:

”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:36-40

Pertanyaan apakah seseorang bisa kehilangan keselamatannya bukanlah pertanyaan abstrak. Ini bukan persoalan golongan Kristen tertentu. Hal ini menyentuh kita pada inti kehidupan Kristiani kita, tidak hanya berkaitan dengan kepedulian kita terhadap ketekunan kita sendiri, namun juga berkaitan dengan kepedulian kita terhadap keluarga dan teman-teman kita, khususnya mereka yang tampaknya, secara lahiriah, telah hidup baik dan memiliki pengakuan iman yang sejati. Kita mengira pengakuan mereka dapat dipercaya, kita menganggap mereka sebagai saudara, namun kita tidak tahu jika mereka menolak keyakinan tersebut dengan bersikap antinomian dengan menolak pentingnya pelaksabaan hukum Tuhan dalm hidup sehari-hari.

Secara praktis, apa yang Anda lakukan dalam situasi seperti itu? Pertama, Anda berdoa, Anda menasihati, dan kemudian, Anda menunggu. Tuhan bekerja sesuai dengan rencana-Nya dan kita tidak dapat memaksa Dia. Kita tidak tahu hasil akhir dari situasi ini, dan saya yakin akan ada kejutan ketika hal itu terjadi saat kita sampai ke surga. Kita akan terkejut melihat orang-orang di sana yang kita pikir tidak akan ada di sana, dan kita akan terkejut bahwa kita tidak melihat orang-orang yang kita yakini akan ada di sana. Saat ini kita tidak mengetahui status batin hati manusia atau jiwa manusia. Hanya Tuhan yang dapat melihat jiwa. mengubah jiwa, dan memelihara jiwa umat-Nya.

Saduran bebas dari “Can a Christian Lose Their Salvation?”, R.C. Sproul, Ligonier Ministries (2020)

Tujuan penciptaan kita adalah tujuan hidup kita

“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1:16

Secara umum, Alkitab mengajarkan kita bahwa Allah menciptakan dunia dan segala isinya demi kemuliaan-Nya. Wahyu 4:11 mengatakan: ”Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

Ayat Kolose 1:16 di atas menegaskan kembali poin ini: “Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Diciptakan demi kemuliaan Tuhan bukan berarti umat manusia diciptakan sebagai boneka penghibur Tuhan. Tuhan menciptakan manusia bukan karena Dia membutuhkan mereka. Sebagai Tuhan, Dia tidak membutuhkan apa pun. Sebelum penciptaan alam semesta, Tuhan tidak merasakan kesepian, jadi Dia tidak mencari “teman.” Tuhan adalah Wujud yang berpribadi, dan Ia senang memiliki makhluk lain dengan sukacita – tanpa paksaan – dapat menjalin hubungan yang tulus dengan-Nya.

Karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27), manusia mempunyai kemampuan untuk mengenal Allah dan karena itu bisa mengasihi Dia, menyembah Dia, mengabdi kepada-Nya, dan bersekutu dengan-Nya. Dia mengasihi kita, namun ini tidak sama dengan membutuhkan kita. Sekiranya kita tidak pernah ada, Allah tetaplah Allah – yang tidak berubah (Maleakhi 3:6). Tuhan. Tuhan adalah Makhluk Ilahi yang kreatif, dan Dia senang mencipta. Ketika Dia menciptakan alam semesta, Dia melakukan apa yang menyenangkan diri-Nya, dan karena Tuhan itu sempurna, maka tindakan-Nya juga sempurna. “Sungguh amat baik” (Kejadian 1:31).

Tuhan tidak menciptakan “rekan” atau makhluk yang setara dengan diri-Nya. Jika Tuhan menciptakan makhluk lain yang memiliki kekuatan, kecerdasan, dan kesempurnaan yang setara, maka Dia tidak akan lagi menjadi satu-satunya Tuhan yang sejati. “TUHAN adalah Allah; selain Dia tidak ada yang lain” (Ulangan 4:35). Apa pun yang Tuhan ciptakan pastilah lebih rendah daripada Dia. Sesuatu yang diciptakan tidak akan pernah lebih besar atau lebih besar dari Dia yang menciptakannya. Walaupun demikian, manusia adalah makhluk yang sangat dikasihi-Nya.

Menyadari kedaulatan penuh dan kekudusan Allah, kita takjub bahwa Ia mengingat dan mengindahkan manusia (Mazmur 8:5) dan bahwa Dia akan dengan senang hati menyebut kita “sahabat” (Yohanes 15:14-15 ). Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya dan agar kita, sebagai ciptaan-Nya, merasa senang untuk mengenal-Nya. Jika demikian, apakah tujuan hidup kita?

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” Yohanes 13:14-15

Alkitab sangat jelas menjelaskan apa tujuan hidup kita yang seharusnya. Dari kitab Kejadian, kita tahu bahwa tujuan hidup kita, sebagaimana Tuhan mula-mula menciptakan manusia, adalah memuliakan Tuhan dalam hidup kita. Namun karena dosa, hal ini menjadi suatu kewajiban yang tidak dapat kita sadari dan laksanakan. Hanya dengan memulihkan persekutuan dengan Allah, melalui iman kepada Yesus Kristus, tujuan hidup kita dapat ditemukan kembali melalui kelahiran baru.

Rasul Paulus berbicara tentang semua yang telah ia capai secara keagamaan sebelum dihadapkan pada Kristus yang bangkit, dan ia menyimpulkan bahwa semua itu ibarat tumpukan sampah dibandingkan dengan nikmatnya hidup yang mengenal Kristus Yesus (Filipi 3:8). Selanjutnya, dalam Filipi 3:9-10, Paulus berkata bahwa yang ia inginkan hanyalah mengenal Kristus dan “berada di dalam Dia”, mendapatkan kebenaran-Nya dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya, meskipun itu berarti perjuangan, penderitaan, dan pengurbanan.

Pagi ini kita dingatkan bahwa tujuan hidup orang Kristen yang terpenting adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati hubungan kasih dengan Dia selamanya. Tidak ada orang beriman yang sengaja memilih hidup dalam dosa dan ketidaktaatan. Baiklah kita memuliakan Tuhan dengan rasa takut dan taat, dan mengenal Dia secara intim. Kita menikmati Tuhan dengan mengikuti tujuan-Nya dalam hidup kita, yang memungkinkan kita mengalami sukacita sejati dan abadi – kehidupan berkelimpahan yang Dia inginkan bagi kita.

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” Efesus 5:1-2

Lahir baru dan dicelikkan

Kata Nikodemus kepada-Nya: ”Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Nikodemus menjawab, katanya: ”Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus: ”Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? Yohanes 3: 4-12

Yesus mengatakan kalimat yang keras di ayat 11-12: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya…”. Nikodemus dikatakan belum percaya di bagian ini; yang mengatakannya adalah Yesus dan Yesus tidak mungkin salah melihat hati manusia. Tapi ‘belum percaya’ bukan berarti menolak mentah-mentah sejak awal. Manusia memang totally depraved atau rusak di hadapan Tuhan, tapi bukanlah bobrol sebobrok-bobroknya.

Setiap manusia sudah dikaruniai Tuhan kesadaran akan sesuatu yang lebih berkuasa darinya. Jika ada sesuatu yang di luar dugaan terjadi, orang mungkin berkata bahwa itu adalah nasib, tindakan alam atau karena keputusan Tuhan. Walaupun demikian, tidak semua orang mau mengakui adanya Tuhan, atau terbuka atas kenyataan itu. Di sini karena keterbukaan Nikodemus, Yesus segera memberitahukan kebutuhannya, yaitu kebutuhan dilahirkan kembali.

Apa itu lahir baru? Seorang pendeta dan penginjil terkenal yang baru-baru ini meninggal dunia, Tim Keller, pernah mempertanyakan ‘bagaimana bisa mengetahui apakah kita ini betul-betul sudah percaya –lahir baru – ataukah kita ini adalah orang Kristen KTP yang tidak betul-betul lahir baru?’ Lalu Tim Keller memberikan beberapa pertanyaan yang bisa kita tanyakan kepada diri kita sendiri.

Pertanyaan pertama: Bagaimana kehadiran Tuhan secara riil dalam kehidupan saya?

Ada perasaan kuat tentang hadirnya Tuhan dalam setiap segi kehidupan orang yang sudah dilahirkan kembali. Orang Kristen KTP tidak bisa menjawab ini karena bagi mereka kehadiran Tuhan itu abstrak, dia tidak pernah berurusan dengan kehadiran Tuhan, Tuhan hadir atau tidak hadir bagi dia tidak relevan, tidak ada juga pengalamannya. Mungkin dia rajin ke gereja, tetapi di luar gereja dia jampir tidak berbeda dengan orang lain, baik dalam bisnis, pekerjaan, bersekolah dan hidup sehari-harinya. Mungkin orang Kristen KTP bisa berkata: “Saya tahu Tuhan itu mahahadir, saya membaca Alkitab setiap hari”. Tapi kita bukan hanya membicarakan keadaaan Tuhan yang mahahadir melainkan kehadiran Tuhan secara khusus dalam setiap keadaan seseorang secara sepenuhnya.

Pertanyaan kedua: Di dalam pergumulan mengikut Tuhan, bagian Firman Tuhan mana yang mengubah kehidupan saya, yang dulunya saya begini lalu setelah belajar Firman Tuhan saya diubahkan oleh kuasa Firman Tuhan?

Poinnya bukan soal hafalan ayat Alkitab, tapi Firman Tuhan yang mana, mengubah kehidupan kita yang mana. Orang Kristen KTP tidak bisa menjawab, karena memang tidak pernah diubahkan oleh Tuhan. Dia mungkin selalu berharap-harap agar Tuhan mengubah dia secara ajaib, tetapi tidak menyadari bahwa keajaiban seharusnya sudah ada dalam diri orang yang benar-benar lahir baru. Mungkin saja dia memperlakukan Firman Tuhan sebagai wejangan-wejangan moral di antara wejangan-wejangan moral lainnya, jadi orang Kristen yang adat istiadatnya bagus, tahu tata krama, yang semua perbuatannya sebatas moral. Tetapi dia tidak menyadari bahwa segala sesuatu harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Orang Kristen KTP tidak sadar bahwa perbuatan baik apa pun tidak ada gunanya jika kebesaran Tuhan bukan tujuannya. Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang tidak peduli akan pentingnya hidup baik karena keyakinan bahwa sebagai manusia ia rusak total di hadapan Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa kelahiran baru memungkinkan adanya hidup baru.

Pertanyaan ketiga: Apa tanda seseorang sudah dilahirkan kembali?

Pengakuan Westminster Bab XIII menyatakan:

“Orang-orang yang telah dipanggil secara efektif dan dilahirbarukan, sehingga memiliki hati yang baru dan roh yang baru yang diciptakan di dalam diri mereka, selanjutnya dikuduskan secara riil dan pribadi, melalui manfaat kematian dan kebangkitan Kristus, oleh firman dan Roh-Nya yang tinggal di dalam mereka. Kuasa dosa atas segenap tubuh dihancurkan dan beberapa nafsu semakin diperlemah dan dimatikan, dan orang-orang yang dipanggil ini semakin dihidupkan dan dikuatkan di dalam semua anugerah yang menyelamatkan untuk melakukan kekudusan sejati, yang tanpanya manusia tidak akan dapat melihat Allah.

Pengudusan ini bersifat menyeleruh di dalam keseluruhan diri manusia, akan tetapi tidak sempurna di dalam kehidupan ini. Masih terdapat sisa kerusakan di setiap bagian, dan dari sanalah timbul perang yang terus menerus dan yang tidak dapat didamaikan: daging bernafsu melawan Roh, dan Roh melawan daging.

Di dalam perang ini, meskipun kerusakan yang tersisa bisa lebih unggul untuk waktu tertentu, akan tetapi, melalui pemberian kekuatan secara terus-menerus dari Roh Kristus yang menguduskan, bagian yang telah lahir baru pasti menang, dan dengan demikian, orang-orang kudus bertumbuh di dalam anugerah, menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Allah.”

Secara sederhana: Orang yang lahir baru dapat melihat Kerajaan Allah. Apa itu ‘melihat Kerajaan Allah’? Melihat Kerajaan Allah berarti bukan cuma melihat kerajaan dunia. Dunia dan daya pemikatnya. Kerajaan dunia itu terlihat mata, menurut prinsip-prinsip dunia. Kerajaan Allah itu tidak terlihat, menurut prinsip-prinsip Kerajaan Allah yaitu prinsip-prinsip Alkitab.

Saya tambahkan dua pertanyaan lagi.

Pertanyaan keempat: Bagaimana kita seharusnya memegang prinsip-prinsip kerajaan Tuhan?

Dunia punya kerajaannya sendiri, punya peraturannya sendiri, punya model kewargaan-nya sendiri, punya konsep keberhasilannya sendiri, konsep kemakmuran-nya sendiri, dst. Contohnya, orang yang berkuasa itu siapa, ada perhitungannya sendiri, misalnya mereka yang punya pangkat, mereka yang punya uang, yang punya koneksi dengan orang besar, yang punya anak-cucu yang berhasil; dst.

Kalau boleh dikaitkan sedikit dengan perayaan Imlek, biasanya kita banyak terima ucapan dari teman, dan yang dikirim orang Kristen mungkin juga ada ayat Alkitabnya. Ada sebagian orang yang mungkin kurang kritis, asal kirim, yang menurutnya ada kaitan dengan Chinese New Year yaitu “Chinese dream”; prosperity/ kekayaan, long life/ hidup panjang, dan health/ kesehatan. Tiga hal ini membuat saya kuatir karena dengan adanya pandangan duniawi seperti itu, tidak akan ada perubahan hidup karena meski mengaku Kristen pun masih materialistis.

Kembali ke bagian ini. Kerajaan Allah punya konsep keberhasilan/ prosperity sendiri yang berbeda dengan konsep kerajaan dunia, entah itu Chinese Empire ataupun Roman Empire, Babilonia, Mesopotamia, dsb. Kerajaan Allah punya prinsipnya sendiri. Apa itu Kerajaan Allah? Waktu kita berdoa “datanglah Kerajaan-Mu”, waktu kita mengatakan “Kerajaan Allah”, apa ‘spektrum arti’-nya di dalam kepala kita? Yesus datang, meng-inisiasi Kerajaan Allah. Apa yang dilakukan Yesus? Bagaimana kita mengerti Kerajaan Allah?

Kalau kita membaca dalam kitab Perjanjian Lama, di situ Kerajaan Allah seringkali dikaitkan dengan kesalehan dan keadilan. Allah itu memerintah, memerintah dengan adil. Kerajaan dunia memerintah dengan tangan besi, dengan kejam, tidak ada keadilan. Apa itu keadilan? Beberapa aspek sederhana, misalnya dalam bidang pekerjaan, keadilan berarti memberikan kepada orang yang memang mereka berhak mendapatkannya. Pemerasan tidak cocok sama sekali dengan Kerajaan Allah karena itu bukan keadilan. Ada orang menggaji pegawai semurah mungkin supaya untungnya lebih banyak, lalu berdoa “datanglah Kerajaan-Mu”, kerajaan yang mana?? Tidak ada urusannya dengan “datanglah Kerajaan-Mu” bahkan bentur 180º. Orang Israel dibebaskan dari Mesir karena ada perbudakan di sana, ada penjajahan tapi jangan-jangan orang Kristen juga menjajah orang lain lalu berdoa “Kerajaan Allah, Kerajaan Allah”.

Kalau kita melihat kitab nabi-nabi kecil –dan juga ada bagian tertentu di kitab nabi-nabi besar– Mikha, Hosea, melakukan kritik sosial yang begitu tajam karena bagi mereka ketidak-adilan sosial dan humanisme tidak sesuai dengan ibadah yang sejati; yang vertikal dan horisontal itu satu paket, tidak bisa di-dualisme-kan. Nabi-nabi itu berkata: “Kamu datang beribadah kepada Tuhan, tapi di rumah kamu pakai dua macam timbangan; itukah namanya beribadah kepada Tuhan? Kamu menahan gaji orang-orang yang kekurangan, kamu menunda-nunda, dsb. dan kamu beribadah kepada Tuhan; itukah namanya beribadah kepada Tuhan?” Mereka jelas sekali dalam hal integrated Christian living atau hidup Kristen yang utuh secara jasmani dan rohani.

Pertanyaan kelima: Bagaimana hidup sebagai orang yang sudah lahir baru?

Waktu kita membicarakan Kerajaan Allah, itu bukan cuma soal lahir baru, angkat tangan terima Yesus, mati masuk surga. Itu bukan hanya soal dosa yang diampuni karena sudah yakin menjadi manusia pilihan. Memang itu betul, tapi kadang-kadang ini terlalu simplistik dan bahkan mengabaikan semua yang lain. Tidaklah mengherankan, ada banyak orang Kristen yang katanya percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, tapi tidak ada perubahan apa-apa dalam kehidupannya; tidak mempengaruhi kehidupannya di pekerjaan, tidak berubah dalam perdagangan, keluarga, tanggung jawab kewarganegaraan dan kemanusiaan, semua tidak berubah. Apakah itu namanya Kekristenan dan lahir baru?

Berbicara Kerajaan Allah, tadi kita sudah menyinggung perlakuan orang atasan ke bawahan, jangan menekan. Pada pihak lain, sikap orang bawahan ke atasan sama juga. Ada pegawai-pegawai yang sersikap begitu oportunistis tapi tetap bicara “datanglah Kerajaan-Mu”. Pandangan oportunistis itu tidak sesuai dengan prinsip kesetiaan dan kejujuran. Pokoknya di sini saya datang terima gaji, perusahaan ambruk atau apa tidak bukanlah urusan saya, tapi urusannya direktur. Saya kan bukan direktur jadi saya tidak tanggung jawab, saya kerja, saya terima uang, selesai.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Kolose 3:23-24

Pagi ini baiklah kita renungkan: Apa artinya melihat Kerajaan Allah? Jawabnya: melihat penguasaan Allah, Kerajaan Allah, dalam kehidupan kita. Kita menjadi hamba, Dia menjadi Raja. Dalam versi Matius orang-orang yang melakukan kehendak Allah, melihat Kerajaan Allah. Orang tidak bisa melihat ini karena memang dia belum lahir baru, sehingga tidak ada kepekaan, dia buta terhadap ketidak-adilan seperti dalam kegelapan. Orang yang tidak melihat Kerajaan Allah, dia cuma melihat dunia yang kelihatan oleh mata jasmani, mata rohaninya buta seperti orang yang melihat di dalam kegelapan. Seperti Nikodemus pada saat menjumpai Yesus di malam hari.

Janganlah memusuhi Tuhan

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Yakobus 4:4

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Yakobus berterus terang: Para pembacanya (orang Kristen!) hidup berdasarkan kebijaksanaan duniawi. Bagaimana bisa? Jangan heran, kebijaksanaan dunia mengatakan bahwa untuk menjadi sukses, kita harus melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup. Kita harus memenuhi kebutuhan diri kita sendiri; tidak ada orang lain yang akan melakukannya. Kita harus bersedia memperjuangkan apa yang kita inginkan. Kita harus bisa menikmati segala sesuatu selagi masih bisa. Kita harus mengasihi diri sendiri dan bukan orang lain.

Kebijaksanaan surga memanggil kita untuk melakukan pendekatan yang jauh berbeda: umat Kristiani harus percaya bahwa Tuhan akan menyediakan semua hal baik yang kita perlukan. Itulah yang Dia lakukan (Yakobus 1:17). Dan karena kita memercayai kasih, kebaikan, dan kuasa-Nya untuk memberi rezeki, kita tidak perlu saling menyalahgunakan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, kita bebas untuk menaati-Nya. Artinya saling melayani. Artinya memenuhi kebutuhan satu sama lain. Hidup dalam kasih. Hidup dalam ketaatan kepada Firman Tuhan.

Karena para pembaca Yakobus tidak mau memercayai Allah dengan cara seperti ini, ia sekarang menyebut mereka “para pezina.” Bahasa Yunani aslinya menggunakan terminologi perempuan, yang menggemakan metafora alkitabiah lainnya tentang godaan untuk menyimpang dari Tuhan (Amsal 2:16; Yesaya 1:21). Namun jelas bahwa Yakobus tidak hanya mengkhususkan perempuan karena gender bukanlah inti pelajarannya. Itulah sebabnya banyak terjemahan menggunakan bahasa yang lebih luas. Ia menyamakan pilihan mereka untuk terus mengikuti kebijaksanaan duniawi dengan dosa pasangan yang melakukan hubungan seks di luar nikah. Secara rohani, orang-orang Kristen ini menipu Tuhan dengan berhubungan “cinta birahi” dengan dunia. Ini bukan hanya soal dosa seksual atau perbuatan jahat, tetapi mencakup dosa pengkhianatan yang membuat Tuhan marah besar. Mereka yang melupakan kasih Tuhan yang sudah diterima dan kemudian hidup secara seenaknya. Atau mereka yang merasa Tuhan yang memilih mereka pasti membiarkan mereka berbuat dosa apa saja.

Yakobus mengatakan sesuatu yang seharusnya jelas bagi kita, namun sebenarnya tidak demikian: Kita tidak bisa berteman baik dengan dunia maupun dengan Tuhan. Yang lebih buruk lagi, siapapun yang sengaja terus berteman dengan dunia sedang hidup sebagai musuh Tuhan. Penting untuk memahami apa yang tidak dikatakan Yakobus di sini: Ia tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh berteman dengan orang non-Kristen. Tuhan tidak menganjurkan kita memusuhi mereka yang berlainan denominasi. Ia juga tidak mengatakan bahwa umat Kristiani tidak boleh berhubungan dengan budaya mereka, atau berteman dengan orang-orang yang mereka temui. Bukan itu maksud dari bagian ini.

Yakobus menjelaskan dengan jelas: Orang-orang Kristen yang memilih untuk terus hidup sesuai dengan kebijaksanaan dunia, didorong oleh rasa iri dan ambisi, yang mengutamakan apa yang mereka inginkan di atas segalanya, tidak hidup sebagai sahabat Tuhan. Mereka hidup dalam perzinahan sebagai musuh Tuhan. Yakobus 4:1–12 merupakan kelanjutan dari akhir pasal 3, yang menjelaskan bagaimana hidup menurut hikmat dunia telah menimbulkan konflik besar di kalangan umat Kristen di zaman Yakobus. Mereka bertengkar satu sama lain karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka saring menyerang karena ingin menang sendiri. Yakobus mengatakan bahwa hidup seperti itu adalah perzinahan. Itu adalah ”menipu” Tuhan. Dia memanggil mereka untuk meninggalkan persahabatan mereka dengan dunia, merendahkan diri, bertobat dari dosa mereka, dan menerima rahmat Tuhan. Tuhan adalah Pemberi Hukum dan Hakim, bukan manusia.

Apa yang menyebabkan pertengkaran dan pertengkaran di antara orang-orang Kristen yang menerima surat Yakobus? Mereka hidup dengan kebijaksanaan dunia. Perspektif salah ini mengatakan bahwa manusia harus melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup ini, harus memaksakan kehendak sendiri meskipun itu menyakiti orang lain. Yakobus mengatakan bahwa hidup seperti itu adalah kesesatan, tetapi Tuhan memberikan kasih karunia. Umat ​​Kristen harus bertobat dan kembali mendekat kepada Tuhan. Umat Kristen tidak boleh merasa yakin bahwa dosa apa pun tidak akan mengalahkan kesabaran Tuhan. Kita harus memercayai Dia untuk menyediakan segala apa yang baik, dan tidak menyebabkan kita berdosa. Ialah yang akanmenjadi Hakim, dan mengangkat kita pada waktu-Nya. Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa semua rencana hidup kita bergantung pada-Nya, dan Dia dapat mengubahnya kapan saja. Jika kita ingin hidup bahagia, baiklah kita tidak membuat Dia menjadi musuh kita!

Perbuatan baik adalah perintah Tuhan

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 9-10

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa kita diselamatkan hanya karena karunia Allah (Sola Gratia) dan hanya melalui iman (Sola Fide). Karena itu, perbuatan baik apa pun tidak mempunyai andil dalam keselamatan kita. Pesan ini begitu sering dikumandangkan di gereja tertentu sampai-sampai orang menjadi canggung untuk memakai kata “perbuatan baik” atau mengajak orang untuk berbuat baik.

Jadi mengapa kita melakukan perbuatan baik? Apakah ada gunanya? Tentu! Kita berusaha untuk menaati Tuhan demi kesenangan dan kemuliaan-Nya. Namun, kita tidak lebih diterima oleh-Nya karena kita berpuasa, berdoa, mengasihi, dan melayani. Seperti yang dikatakan Martin Luther dalam komentarnya mengenai Surat Galatia, “Perbuatan memang baik, dan Allah dengan tegas menuntutnya dari kita, namun hal itu tidak menjadikan kita suci.”

Perbuatan baik (good works) kita adalah sarana untuk lebih mencerminkan kebesaran Tuhan kepada dunia di sekitar kita. Seperti yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Sesungguhnya, ketika kita membaca Alkitab dengan teliti, kita bisa melihat bahwa perbuatan baik itu penting. Tetapi, ada beberapa poin yang perlu kita ingat.

1. PERBUATAN BAIK KITA SENDIRI TIDAK BERHARGA DI MATA ALLAH

Bahkan saat memikirkan “perbuatan terbaik” yang pernah saya lakukan, saya sadar melihat betapa lemahnya perbuatan baik itu; betapa lemah dan rusaknya kepatuhan saya. Sebagaimana dikatakan dalam Pengakuan Iman London Kedua:

Melalui perbuatan terbaik kita, kita tidak dapat memperoleh pengampunan dosa atau kehidupan kekal di tangan Allah, karena besarnya kesenjangan antara kedua hal tersebut dengan kemuliaan yang akan datang, dan jarak yang tak terhingga antara kita dan Allah, yang melalui perbuatan-perbuatan yang dilakukan kita tidak dapat memperoleh pengampunan, tidak dapat mengambil untung atau melunasi hutang dosa-dosa kita sebelumnya. Karena itu, dalam melakukan semua yang kita bisa, kita hanya melakukan tugas kita, dan menjadi hamba yang tidak berguna; dan karena semua hal-hal baik berasal dari Roh-Nya, dan ketika hal-hal tersebut dilakukan oleh kita, hal-hal tersebut tercemar dan bercampur dengan begitu banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat menanggung beratnya hukuman Tuhan.

2. PERBUATAN BAIK KITA DI DALAM KRISTUS DIBENARKAN OLEH KRISTUS SENDIRI

Adanya kelemahan perbuatan kita tidak boleh membuat kita berhenti berkarya. Ketidakmampuan perbuatan kita untuk menyenangkan Tuhan tidak membuat kita mengesampingkan hukum-Nya sebagai aturan untuk hidup saleh, karena kita tidak bekerja sendirian. Perbuatan kita tidak bisa dipersembahkan kepada Tuhan tanpa Yesus. Adanya Yesus yang akan membenarkan perbuatan kita tidak dapat membuat kita menolak perintah-Nya untuk berbuat baik.

Bukan saja orang percaya diterima melalui Kristus, perbuatan baik mereka juga diterima di dalam Dia; Bukan seolah-olah mereka dalam hidup ini sama sekali tidak tercela dan tidak dapat dicela di mata Allah, melainkan bahwa Ia, ketika memandang mereka dalam Putra-Nya, berkenan menerima dan menghargai apa yang tulus, meskipun disertai dengan banyak kelemahan dan ketidaksempurnaan.

Pembenaran kita bukan hanya pengharapan untuk berdiri di hadapan Tuhan, tetapi juga pengharapan atas perbuatan kita yang berada di hadapan Tuhan. Dia tidak hanya menerima kita, tetapi Dia juga menerima pekerjaan kita dan menyukainya, betapapun cacatnya pekerjaan itu, karena Kristus yang menyempurnakan semuanya.

3. PERBUATAN BAIK KITA DI DALAM KRISTUS ADALAH PEKERJAAN TUHAN

Perbuatan kita sangat berarti bagi Allah, dan jika dipersembahkan dengan iman, maka perbuatan kita menyenangkan Dia. Dan hal ini tidak perlu dibanggakan, karena semua perbuatan baik kita adalah hasil karya Roh-Nya.

Kemampuan kita untuk melakukan perbuatan baik sama sekali bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan sepenuhnya berasal dari Roh Kristus. Agar kita dapat dimampukan untuk melakukan hal tersebut, selain rahmat yang telah mereka terima, diperlukan pengaruh nyata dari Roh Kudus yang sama, untuk mengerjakan di dalam diri kita kemauan dan perbuatan yang dikehendaki-Nya; namun kita tidak boleh menjadi lalai, mengabaikannya, menolaknya, seolah-olah kita tidak diwajibkan untuk melakukan tugas apa pun. Sebaliknya, kita harus rajin membangkitkan kasih karunia Allah yang ada di dalam diri kita. Perbuatan baik iti tidak muncul secara otomatis tanpa adanya kemauan kita.

Biarlah hari ini kita sadar bahwa kita harus bekerja keras dalam perbuatan baik kita, menyadari bahwa Tuhan bukan hanya Tuhan yang menerima, namun Dia juga sumber dari perbuatan baik kita dan yang menjadikannya dapat diterima. Kita harus mengerjakan keselamatan kita, namun bersandar pada kasih karunia-Nya.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12-13

Apa yang harus Anda perbuat agar diselamatkan?

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3:17-18

Yesus mau menolong Anda

Dari ayat di atas, jelas iman adalah kunci keselamatan. Lalu apakah iman itu? Tidak semua orang Kristen memiliki iman yang sejati:

  • Iman adalah penghubung kita dengan kasih Allah yang menyelamatkan. Tidak ada penyelamatan tanpanya.
  • Iman merupakan kondisi hati yang berkelanjutan, bukan sekedar tindakan yang dilakukan satu kali saja.
  • Objek atau fokus iman adalah Yesus Kristus sebagaimana diberikan oleh Bapa.
  • Iman mencakup persetujuan mental dengan kebenaran obyektif tentang Kristus.
  • Iman mencakup kepuasan sepenuh hati terhadap semua keberadaan Allah bagi kita di dalam Yesus.
  • Iman adalah karunia Tuhan, bukan sekadar inisiatif manusia

Sebagai karunia Tuhan, iman tidak membatalkan kenyataaan bahwa iman mencakup tindakan pikiran manusia yang menyetujui kebenaran dan sikap hati manusia yang merasa puas dengan Kristus. Itu benar. Namun Alkitab mengajarkan bahwa pikiran manusia buta terhadap kebenaran rohani; dan hati manusia sulit terhadap kenikmatan rohani. Jadi bagaimana seseorang bisa diselamatkan?

Jawaban Yesus diberikan dalam Yohanes 6:44, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaku, jikalau dia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” Dalam Yohanes 6:37 ia berkata, “Semua yang Bapa berikan kepadaku akan datang kepadaku, dan barangsiapa datang kepadaku, pasti tidak akan kubuang.” Dalam Yohanes 6:65 ia berkata, “Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

Dengan kata lain jawaban Yesus terhadap kebutaan rohani pikiran manusia dan kekerasan rohani hati manusia adalah Bapa yang menarik mereka. Dia menghilangkan kebutaan pikiran dan menggantikan hati kita yang membatu. Dia memberi kita kesempatan untuk melihat kebenaran kemuliaan Kristus yang nyata dan memberi kita rasa akan keindahan Tuhan yang memuaskan. Dan Dia melakukan ini dengan sangat sederhana melalui perkataan kebenaran—seperti Yohanes 3:16:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Saat ini Tuhan sedang bekerja mengangkat tabir pikiran dan melembutkan hati mereka yang belum petcaya. Permohonan setiap orang Kristen kepada mereka yang belum percaya adalah: jangan mengeraskan hati Anda. Jangan membuat hati Anda dingin. Menyerahlah pada firman Tuhan pagi ini. Percayalah kepada Yesus dan Anda tidak akan binasa tetapi memiliki hidup yang kekal.