Kita harus bersyukur melalui iman kita

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kolose 2:6-7

Dalam dua ayat singkat ini, Paulus membuat pernyataan besar tentang perjalanan hidup orang percaya dengan Kristus. Jemaat Kolose, seperti semua orang percaya lainnya yang sudah diselamatkan, sudah menerima Kristus dengan iman (Efesus 2:8–9). Nasihat Paulus adalah bahwa mereka yang menerima Kristus dalam iman harus berakar dalam iman juga selama hidup di dunia (Kolose 2:7). Dengan demikian, makin hari kita akan makin bersyukur kepada Yesus yang sudah menebus kita.

Ada banyak orang Efesus yang ingin bersyukur kepada Tuhan. Sayang, ajaran sesat yang mengacau jemaat Kolose pada waktu itu menekankan perbuatan dan pengorbanan pribadi sebagai sarana untuk menyenangkan Allah. Memang benar bahwa perbuatan adalah aspek penting dari kehidupan orang Kristen (1 Yohanes 3:17-18), dan iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26), tetapi perbuatan adalah hasil dari iman yang menyelamatkan, bukan sumbernya. Perjalanan hidup kita dengan Allah harus berakar dalam iman yang dikaruniakan-Nya kepada kita – dan karena itu kita berakar dalam Dia, bukan pada diri kita – sama seperti keselamatan. Kalau tidak, spiritualitas yang didasarkan pada kinerja manusia akan berakhir dengan kegagalan atau kepalsuan.

Ada banyak pekerjaan yang dapat dilakukan manusia tanpa iman. Mereka melakukannya untuk mendapatkan hasil dan penghargaan yang dapat dilihat dan diterima mereka sendiri. Namun, orang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan akan hidup dengan iman, bukan dengan melihat (2 Korintus 5:7).

Meskipun Paulus menjalani kehidupan dan melakukan pelayanan Kristen yang sangat aktif, dia tahu iman adalah satu-satunya cara untuk menyenangkan Tuhan. Iman seperti ini akan menghasilkan banyak perbuatan baik untuk kemuliaan Tuhan. Kita mungkin tidak dapat melihat hasilnya pada saat ini dan tidak menerima penghargaan orang lain, tetapi kita tetap mau melakukan apa yang baik untuk menyenangkan Tuhan. Itu sama sekali bukan usaha untuk mempertahankan keselamatan kita atau menutupi dosa-dosa yang ada. Keselamatan kita tetap ada dalam segala keadaan dan itu tidak bergantung pada perbuatan kita karena sudah didasarkan pada Kristus dan apa yang telah Dia lakukan.

Tuhan ingin kita berfokus pada pertumbuhan, menabur, dan berjalan dalam iman. Pertama, Tuhan ingin agar kita bertumbuh dalam iman. Dia tidak ingin kita menjadi bayi rohani. Alkitab berkata dalam Kolose 2:7: Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Maka iman kita akan tumbuh kuat dalam kebenaran yang diajarkan kepada kita, dan dengan itu kita akan melimpah dengan rasa syukur.

Mengapa begitu penting bagi kita untuk mengembangkan iman kita? Alkitab menjelaskannya berulang kali: Tanpa iman tidak mungkin menyenangkan Allah (Ibrani 11:6 ). Segala sesuatu yang tidak dilakukan dengan iman adalah dosa (Roma 14:23). Segala sesuatu yang Tuhan lakukan dalam hidup kita dilakukan oleh kasih karunia-Nya dan melalui iman kita.

Tuhan juga ingin agar kita menabur perbuatan baik dalam iman. Dia ingin kita belajar menjadi murah hati – karena kita tidak dapat menjadi seperti Kristus tanpa menjadi murah hati. Menabur bukan berarti hanya memberikan uang persembahan kepada gereja, tetapi dalam semua hal yang baik yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan dalam hidup kita.

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” 2 Korintus 9:6-7

Ini adalah hukum menabur dan menuai, dan berlaku di setiap bidang kehidupan. Jika kita menabur kritik, kita akan menuai kritik. Jika kita menabur kasih, kita akan menuai kasih. Jika kita menabur kebaikan, kita akan menuai kebaikan. Dan kita selalu menuai lebih dari yang kita tabur. Saat kita menanam satu biji jagung di tanah, kita tidak akan menuai hanya satu biji.

Kita tahu bahwa perbuatan baik yang didasarkan iman akan diterima Tuhan. Walaupun demikian, dunia ini sering mengecewakan kita. Dunia yang sudah jatuh dan perkerjaan iblis sering kali mengacaukan maksud dan perbuatan baik kita. Terkadang kita melakukan sesuatu dengan maksud baik, tetapi keadaan dan reaksi orang lain mungkin menyebabkan kita menerima hasil yang kurang baik, yang justru merugikan kita. Tetapi, Yesus juga mengalami hal yang sama, Ia harus menderita dan disalibkan karena kasih-Nya kepada umat manusia. Karena itu, dalam hidup, kita harus tetap berjalan dalam iman.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita mau melakukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita? Ketika kita hidup dengan iman, itu mungkin mengharuskan kita untuk melakukan hal-hal yang tidak kita rencanakan sebelumnya: menolong orang yang memusuhi kita, pergi ke tempat yang jauh untuk mengabarkan Injil, menyumbangkan tenaga, waktu dan uang anda untuk gereja dan masyarakat umum dan sebagainya. Semua itu akan memperkuat iman kita kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih.

Mengabaikan dosa artinya mengaku tidak berdosa

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 1 Yohanes 1:8-9

Kitab 1 Yohanes 1 dimulai dengan pernyataan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang kekal. Yohanes menegaskan bahwa dia secara pribadi telah melihat dan mendengar hal-hal yang Yesus ajarkan. Kebenaran Tuhan disajikan sebagai ajaran “terang”, sedangkan ajaran yang lain disajikan sebagai “kegelapan”. Mereka yang berpegang pada kebenaran diselamatkan dari dosa; mereka yang mengaku tidak berdosa adalah menipu diri sendiri.

Ada banyak ajaran yang keliru yang bisa kita dengar di berbagai gereja pada zaman ini. Ajaran yang populer adalan teologi kemakmuran (prosperity theology atau prosperity gospel) yang menjanjikan kesuksesan duniawi kepada setiap orang yang percaya kepada Tuhan. Kasih Allah ini diperoleh sebagai sesuatu takdir (predestinasi), atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat oleh seseorang. Teologi ini meyakini bahwa seorang Kristen yang diberkati adalah mereka yang sukses dalam hidupnya. Dalam kesehatan, seseorang yang diberkati Allah selalu sehat dan sempurna hidupnya, tidak ada cacat, mempunyai kemampuan kesembuhan ilahi. Teologi ini secara sederhana dapat disebut sebagai ajaran yang menekankan bahwa karena Allah adalah Allah yang Mahabesar, kaya, dan penuh berkat, setiap manusia yang beriman pasti akan mengalami kehidupan yang penuh berkat pula, kaya, sukses dan berkelimpahan.

Selain ajaran teologi kemakmuran, ada juga ajaran yang termasuk baru, yang menekankan kasih karunia Allah dengan mengesampingkan ajaran penting lainnya seperti pertobatan dan pengakuan dosa. Ajaran hyper-grace berpendapat bahwa semua dosa, masa lalu, sekarang, dan masa depan, telah diampuni, sehingga orang percaya tidak perlu memikirkannya. Ajaran hyper-grace mengatakan bahwa ketika Tuhan melihat kita, Dia hanya melihat orang-orang yang suci dan benar. Kesimpulan dari pengajaran hyper-grace adalah bahwa kita tidak terikat oleh ajaran Yesus, sama seperti kita tidak berada di bawah Hukum Tuhan; bahwa orang percaya tidak bertanggung jawab atas dosa mereka; dan bahwa siapa pun yang tidak setuju atas ajaran ini adalah seorang Farisi yang legalis. Singkatnya, guru-guru hyper-grace memutarbalikkan kasih karunia Allah kita menjadi lisensi untuk amoralitas (Yudas 1:4) dan bermain-main dengan antinomianisme.

Agak mirip dengan ajaran hyper-grace, ajaran hyper-Calminism adalah kepercayaan bahwa Allah menyelamatkan umat pilihan melalui kehendak-Nya yang berdaulat dengan sedikit atau tanpa menggunakan metode untuk membawa orang ke arah keselamatan (seperti penginjilan, khotbah, dan doa bagi yang terhilang). Untuk kesalahan yang tidak alkitabiah, hyper-Calvinist terlalu menekankan kedaulatan Tuhan dan meremehkan tanggung jawab manusia dalam pekerjaan keselamatan dan hidup baik yang mana juga mengakibatkan timbulnya sikap antinomianisme. Konsekuensi yang jelas dari hyper-Calvinisme adalah bahwa hal itu menekan keinginan untuk menginjili yang terhilang. Kebanyakan gereja atau denominasi yang berpegang pada teologi hiper-Calvinistik ditandai dengan fatalisme, sikap dingin, dan kurangnya kepastian iman. Di gereja seperti ini, jarang ada penekanan pada kasih Tuhan bagi yang terhilang dan umat-Nya sendiri, yang diganti dengan penekanan yang tidak alkitabiah atas kedaulatan Tuhan. Injil hyper-Calvinis adalah deklarasi keselamatan Allah bagi umat pilihan dan kutukan-Nya bagi yang terhilang. Bagi mereka yang sudah merasa terpilih, perlunya buah-buah Roh sebagai bukti keselamatan tidaklah pernah ditekankan.

Ayat di atas menyatakan pentingnya bagi umat Tuhan untuk mengakui dosanya. Adakah orang yang merasa tidak berdosa? Saya kira, setiap orang yang percaya adanya Tuhan dan mengerti beda antara perbuatan baik dan perbuatan buruk tentu percaya adanya dosa. Walaupun demikian, ada orang yang percaya bahwa dosanya sangat kecil jika dibandingkan orang lain. Sebagian lagi orang Kristen mengabaikan dosa mereka karena merasa mereka adalah orang pilihan. Selain itu ada orang yang percaya bahwa dosanya sudah ditebus oleh hidupnya yang saleh dan amal-ibadahnya yang besar.

Bagi orang Kristen, pengertian tentang dosa kepada Tuhan itulah yang membuat kesadaran bahwa tanpa penebusan Kristus, dosa kita akan membawa kematian abadi. Setiap orang Kristen percaya bahwa jika ia sudah diselamatkan, itu adalah karena penebusan oleh Kristus, Karena karunia Tuhan, bukan karena perbuatan baik kita. Oleh karena itu, semua dosa lama kita yang sudah diampuni, dan untuk setiap dosa baru kita terus meminta pengampunan-Nya. Adanya keselamatan bukannya membuat orang Krisen lupa bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya, dan mengabaikan perlunya berusaha hidup dengan cara yang saleh. Adanya kesulsesan pada diri seorang Kristen bukan bukti bahwa Tuhan menyukai segala apa yang diperbuatnya.

Selama hidup di dunia, umat Kristen tidak bisa menghindari dosa, yang terus bermunculan. Umat Kristen bukanlah orang yang sudah sempurna. Untuk itu kita mengakui dosa kita dan meminta pengampuan Tuhan setiap kali kita berdoa. Walaupun demikian, tidak semua orang Kristen menanggapi dosa dengan serius, karena keyakinan bahwa pada akhirnya pengurbanan Kristus adalah cukup untuk melepaskan kita dari hukuman atas semua dosa kita. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen yang merasa bahwa adanya dosa dalam hidup mereka adalh sesuatu yang lumrah dan karena itu tidak perlu dipikirkan.

Apa yang terjadi jika orang Kristen tidak sadar pentingnya untuk mengaku dosa-dosa mereka? Mereka yang mengabaikan dosanya, lambat laun merasa tidak perlu memohon ampun secara spesifik, dan ini pelan-pelan membuat dosa sebagai bagian hidup yang normal sebagai orang Kristen. Mereka tidak perlu berusaha untuk melawan iblis dengan memakai segenap senjata Allah. Dengan demikian, mereka akan menipu diri mereka sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam hidup mereka. Dalam hal ini, ayat diatas menyatakan bahwa pengampunan atas dosa yang tidak diakui itu akan tidak diberikan oleh Tuhan. Mereka yang tidak menggunakan selengkap senjata Allah, bukanlah pengikut-Nya.

Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.” Efesus 6:14-17

Kitab 1 Yohanes 1 menyatakan bahwa Tuhan sepenuhnya adalah kebaikan dan kebenaran, dan mereka yang mengikuti Tuhan tidak bisa tidak harus memusuhi iblis. Perhatikan bahwa meskipun bagian ini ditulis untuk orang percaya, Yohanes menyatakan bahwa mereka yang mengaku dosa diampuni dan dibersihkan. Meskipun setiap orang percaya diampuni pada titik keselamatan, pertempuran kita melawan dosa masih harus tetap berlangsung setiap hari dan untuk itu sebagai orang yang tidak sempurna kita harus mau mengakui dosa-doa kita dan memohon agar Tuhan memampukan kita untuk menghindarinya di masa depan. Siapa yang mengabaikan dosanya adalah orang yang tetap hidup dalam dosa tetapi mengaku tidak berdosa: mereka tidak akan mendapat pengampunan.

Naik pitam, naik darah dan naik palak

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Tahukah Anda arti naik pitam? Pitam artinya pusing kepala (karena darah naik ke kepala). Apabila dipasangkan, naik pitam naik pitam artinya (menjadi) marah sekali (panas hati) sampai-sampai kepala menjadi pusing. Singkatnya, naik pitam memiliki arti atau makna yang sama dengan kata marah. Beberapa ungkapam yang artinya sama dengan naik pitam dan memakai kata ” naik” yaitu naik darah dan naik palak. Kalau naik darah mungkin dihubungkan dengan tekanan darah yang meninggi, naik palak berarti naiknya panas badan. Ketiga ungkapan itu serupa artinya dengan panas hati, murka, geram, geregetan, serangsang, pegal hati, mendidih, mengkal hati, meradang, dan banyak lagi lainnya.

Ayat mengenai naik pitam di atas adalah salah satu ayat yang cukup sering dikhotbahkan. Secara umum, apa yang ditulis rasul Paulus ini adalah nasihat yang baik kepada setiap orang Kristen. Dalam hidup sehari-hari, kita dinasihati bahwa apa yang buruk, seperti kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah, sumpah-serapah dan lain-lainnya seharusnya dihilangkan dari kamus perbendaharaan kata kita. Semua ini belum tentu keluar dari mulut, tetapi sudah pasti berasal dari hati.

“Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” Lukas 6: 45

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan sebelum menjadi kegeraman. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan seringkali membuat orang murka dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen pada hakikatnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada individu atau golongan tertentu, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan atau menguntungkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran bagi masyarakat, terutama bagi saudara-saudara seiman. Kemarahan tidak boleh berkelanjutan, tetapi harus dipadamkan secepatnya sebelum menjadi kebencian, sekalipun masalah yang dipersoalkan belum terselesaikan.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4: 26-27

Kemarahan kita sebaiknya ditujukan kepada apa yang menyebabkan hal itu terjadi, seperti masalah hukum, pendidikan, hak asasi dan keadilan sosial yang merupakan tanggung jawab yang berwenang. Dengan demikian, jika kita tinggal berdiam diri dan tidak mau menyuarakan apa yang baik menurut moralitas Alkitab kepada yang berwenang, kita membiarkan segala faktor yang jelek untuk mempengaruhi banyak orang di masa mendatang.

Dalam dunia orang pengikut Kristus, kita percaya bahwa kita bermoral dengan dapat berbuat baik. Pandangan yang baik mengenai hidup bermoral ialah untuk menyebarkan kasih yang sudah kita terima lebih dulu dari Tuhan Yesus, anak Bapa yang tunggal yang Bapa relakan untuk menggantikan kita dalam menebus dosa yang abadi. Hidup bermoral akan mengarahkan kita menjadi dapat berbuat baik karena kita sudah merasakan kasih-Nya terlebih dahulu

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika sekelompok manusia atau bangsa secara sengaja tidak mau menghormatiNya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau mengabaikan firman Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah terus membenci semua orang yang jahat. Kepada orang yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan juga tersedia untuknya. Sebab itu, adalah kurang tepat jika kita menumpahkan amarah dan kebencian kita kepada individu tertentu, sedangkan penyebabnya tidak kita perhatikan. Kita juga harus ingat bahwa dibalik apa yang jahat, sering kali iblislah yang menjadi biangnya.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari.

Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat. Sungguh berguna nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi agar mereka memusatkan hidup mereka bukan pada diri sendiri, tetapi pada semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini adalah tantangan bagi semua orang Kristen.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Amoral adalah antinomian

Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Roma 13: 4

Minggu lalu, sewaktu saya pergi ke gym dan harus memarkir mobil, saya melihat tempat parkir yang kosong disebelah sebuah mobil yang berwarna puntih. Tetapi saya batal untuk mengambil tempat parkir itu karena mobil itu terlihat menduduki dua tempat parkir. Jika saya memarkir mobil saya di sebelahnya, itu berarti mobil saya harus menduduki dua tempat parkir juga. Garis pembatas tempat parkir sebenarnya adalah perlu untuk ketertiban pemarkir mobil guna kenyamanan mereka sendiri. Saya tidak tahu apakah mobil itu terkena “tilang”, karena sewaktu saya selesai berolahraga, mobil itu sudah tidak disitu.

Say tidak habis berpikir, mengapa orang sering melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan batasan moral. Dalam hal berpakir, pemilik mobil di atas sudah jelas melanggar peraturan. Sengaja atau tidak? Sudah pasti disengaja, karena sekalipun ia melakukan kekeliruan pada awalnya, ia tidak seharusnya membiarkan mobilnya menduduki tempat parkir lain yang disediakan untuk orang lain. Mungkin saja ia kurang mampu mengemudi, tetapi jika itu benar, tentunya ia belum siap untuk mengemudi di jalan raya. Sudah jelas perbuatan semacam ini adalah berlawanan dengan pedoman moral dan bahkan melanggar peraturan. Ini adalah perbuatan tidak sopan yang menggangu orang lain, perbuatan amoral dan juga bersifat antinomian. Perbuatan yang berlawanan dengan kasih.

“Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. ” 1 Korintus 13:5

Antinomianisme (Yunani Kuno: ἀντί [anti] “melawan” dan νόμος [nomos] “hukum”) adalah setiap pandangan yang menolak hukum atau legalisme dan menentang norma moral, baik moral agama atau moral sosial (Latin: mores), atau setidaknya dianggap melakukannya. Istilah ini memiliki makna religius dan sekuler. Dalam beberapa sistem kepercayaan Kristen, seorang antinomian adalah orang yang mengambil prinsip keselamatan dengan iman dan rahmat ilahi sampai menegaskan bahwa orang yang diselamatkan tidak terikat untuk mengikuti hukum moral yang terkandung dalam Sepuluh Perintah Allah. Antinomian percaya bahwa hanya iman yang menjamin keamanan abadi di surga, terlepas dari tindakan seseorang.

Perbedaan antara pandangan antinomian dan pandangan Kristen lainnya tentang hukum moral adalah bahwa para antinomian percaya bahwa kepatuhan terhadap hukum dimotivasi oleh prinsip internal yang mengalir dari kepercayaan dan bukan dari paksaan eksternal. Antinomianisme dianggap mengajarkan bahwa orang percaya memiliki “izin untuk berbuat dosa” dan bahwa dosa di masa depan tidak memerlukan pertobatan. Johann Agricola, seorang teman dan pengikut Martin Luther, adalah orang yang pertama kali dikaitkan dengan Antinomianisme, menyatakan “Jika Anda berdosa, berbahagialah, itu tidak akan ada konsekuensinya bagi orang pilihan”. Karena pendapat antinomiannya, ia kemudian menjadi musuh Martin Luther.

Apa guna moral dan hukum dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen? Di negara demokrasi, rasa hormat kepada orang yang berkuasa atau para pemimpin memang diharapkan dari setiap anggota masyarakat. Tetapi, biasanya penghormatan itu tidak selalu harus berdasarkan hukum. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan kaidah moral. Walaupun demikian, ada kecenderungan akhir-akhir ini bahwa rakyat, terutama kaum muda, kurang puas dengan apa yang diperbuat para pemimpin, dan kemudian melakukan ha-hal yang tidak baik, yang melanggar hukum Tuhan. Dalam keadaan sedemikian, tidak mengherankan adanya orang Kristen yang kemudian tidak peduli akan perlunya berbuat baik, dan tidak sadar bahwa itu adalah dosa.

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4:17

Ayat di atas menyatakan bahwa pemerintah (baik pusat maupun lokal) adalah hamba Allah untuk kebaikan rakyatnya. Tuhan yang menghendaki adanya ketertiban menyuruh  seluruh umat-Nya untuk menghormati etika, peraturan, dan hukum negara dan menghormati mereka yang berkuasa. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Karena itu, kita harus bisa memberi contoh yang nyata bagaimana kita menghormati mereka yang berwenang (authority).

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Sayang sekali bahwa di zaman modern ini, ada kecenderungan manusia di mana saja untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada hukum, moral, orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang seharusnya mempunyai otoritas atas beberapa segi kehidupan mereka. Kecenderungan untuk memberontak mulai muncul sejak saat mereka masih kecil, dan bertambah besar ketika mereka menjadi orang dewasa. Itu mungkin akibat cara mendidik orang tua atau pengaruh teman sebaya, dan juga karena mereka tidak mau tunduk kepada orang-orang yang dianggap “otoriter”.

Alkitab hanya memberi satu kemungkinan bagi umat Kristen untuk melawan otoritas penguasa jika mereka dengan otoriter menghalahgi kita untuk taat kepada firman-Nya. Dalam hal-hal lain, kita harus tunduk kepada otoritas pemimpin dan penguasa. Lebih dari itu, kita harus tunduk kepada kaidah moral orang Kristen:

”Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:36-40

Mengapa kita perlu untuk mengerti implikasi dari hukum yang paling utama ini? Karena semua hukum dan prinsip moral orang Kristen adalah dilandaskan pada kedua hukum ini. Tuhan mengharuskan kita untuk menaatinya untuk kebaikan kita sendiri, untuk hidup damai dalam kasih Tuhan dan dalam kasih antar manusia. Ini berarti, dalam banyak hal kita harus tunduk kepada peraturan pemerintah mengenai pajak, pendidikan, obat-obatan, ketertiban sosial dan sebagainya. Kita harus bisa taat kepada semua peraturan secara obyektif dengan bimbingan Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita.

Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Roma 13: 5

Jika Tuhan menginginkan semua orang diselamatkan, mengapa tidak semua selamat?

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3-6

Semua orang Kristen percaya bahwa keselamatan adalah semata-mata aungerah Tuhan. Mengenai siapa yang akan diselamatkan, Alkitab membuat dua hal yang jelas:

  1. Allah menghendaki agar semua orang berdosa diselamatkan (1 Timotius 2:4; 2 Petrus 3:9; Yehezkiel 18:23; Matius 23:37).
  2. Allah memilih beberapa orang dari mulanya untuk diselamatkan tanpa syarat, dan hanya mereka yang terpilih yang akan benar-benar menanggapi Injil dan diselamatkan (Matius 22:14; Yohanes 6:37, 44, 65; 8:47; 10 :26–29; Roma 8:29–30; 9:6–23; 11:5–10; 1 Korintus 1:26–30; Efesus 1:4–5; 1 Tesalonika 1:4; 2 Tesalonika 2:13 ; Yakobus 2:5).

Tetapi bagaimana kedua kebenaran alkitabiah ini (yang tampaknya bertentangan) benar-benar terjadi, telah membingungkan para teolog dan mempertanyakan pikiran Kristen selama berabad-abad, shingga memicu perdebatan sengit antar umat Kristen.

Sepasang doktrin ini bisa menimbulkan banyak pertanyaan seperti:

  • Bisakah Tuhan benar-benar menginginkan semua diselamatkan (1), namun hanya memilih untuk menyelamatkan hanya beberapa, yang terpilih (2)?
  • Apakah masuk akal untuk berpendapat bahwa Tuhan dapat pada saat yang sama akan menyediakan keselamatan untuk semua (1), dan bukan keselamatan untuk semua (2)?
  • Jika (1) dan (2) benar, apakah Tuhan bingung atau sengaja membuat kita bingung?
  • Atau dapatkah Tuhan yang berdaulat dan mahakuasa yang melakukan apapun yang Dia suka, menyimpan keinginan untuk keselamatan untuk semua orang yang tidak dapat Dia penuhi?
  • Apakah ada kekuatan di alam semesta yang lebih besar dari Tuhan, yang menggagalkan keinginannya untuk menyelamatkan semua orang?
  • Atau bisakah Tuhan memakai cara yang berbeda secara bersamaan?
  • Atau haruskah orang Kristen modern mengabaikan hal pemilihan untuk menonjolkan keinginan Allah akan keselamatan semua orang?
  • Karena jika kita sama-sama berpegang pada pemilihan, bukankah penawaran umum Injil kita kepada semua orang berdosa tidak tulus?
  • Dan bukankah pemilihan akan mengikis semangat dan dorongan untuk misi penginjilan yang harus kita lakukan?
  • Bukankah keyakinan bahwa seseorang sudah terpilih adalah ketidakpastian yang terselubung fatalisme?

Poin-poin di atas hanya beberapa dari banyak pertanyaan sulit tentang keselamatan yang tidak mudah dijawab. Memang, sehubungan dengan kemungkinan (2) di atas, ada pertanyaan apakah kita tetap harus berusaha keras untuk menginjil. Alkitab menyatakan bahwa kita harus berdoa sebagai utusan Kristus, yang tugasnya adalah untuk memohon pria dan wanita atas nama-Nya untuk diperdamaikan dengan Allah. Dengan demikian, kita tidak mencoba untuk membatasi penginjilan hanya untuk orang-orang pilihan.

“Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” 2 Korintus 5:20

Ada dua alasan untuk ini. Pertama, ketetapan pemilihan Allah bersifat rahasia. Kita tidak mengetahui siapa orang-orang pilihan itu dan tidak memiliki cara untuk mengetahunyai sampai mereka menanggapi Injil. Kedua, cakupan tujuan penginjilan Allah lebih luas daripada pemilihan. “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”” (Matius 22:14).

Tidak ada teologi alkitabiah yang benar yang mengajarkan bahwa hakiki Allah adalah senang mengutuki orang jahat. Tetapi, bagaimana kasih karunia-Nya kepada orang pilihan dapat berdiri di samping kasih-Nya bagi seisi dunia, dan keinginan-Nya agar Injil diberitakan kepada semua orang, sementara Dia tetap menganggap mereka bertanggung jawab atas penolakan mereka sendiri, adalah misteri pikiran ilahi.

Kitab Suci sebaliknya mengajarkan kasih Allah bagi dunia, ketidaksenangan-Nya dalam menghakimi orang berdosa, keinginan-Nya agar semua orang mendengar Injil dan diselamatkan. Alkitab juga mengajarkan bahwa setiap orang berdosa tidak mampu dengan usaha sendiri untuk percaya, namun bertanggung jawab untuk percaya, dan akan dikutuk jika dia tidak percaya.

”Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Matius 23:37

Tuhan dengan tulus menginginkan semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Namun dalam keinginan-Nya, Dia memutuskan untuk hanya memilih orang-orang pilihan dan melewati sisanya, meninggalkan mereka pada konsekuensi serius dari dosa mereka. Kutukan atas mereka sepenuhnya terletak pada diri mereka, karena dosa dan penolakan mereka terhadap Tuhan. Tuhan tidak bisa disalahkan atas ketidakpercayaan mereka.

Ketika Tuhan menginginkan semua manusia untuk diselamatkan, Dia benar-benar konsisten dengan hakiki-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Petrus menulis,

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Beberapa berpendapat bahwa ayat ini mengajarkan universalisme. Jika Tuhan menginginkan keselamatan untuk semua, kata mereka, maka semua orang akan diselamatkan, atau Tuhan tidak akan mendapatkan apa yang Dia inginkan. Yang lain berpendapat bahwa apa yang Tuhan kehendaki terjadi, karena semua orang berarti semua golongan manusia, bukan setiap individu. Namun, tidak satu pun dari posisi itu yang bisa dipilih. Jadi, kita harus membedakan antara kehendak-Nya yang berupa keinginan, dan kehendak-Nya yang dinyatakan sebagai keputusan (tujuan kekal-Nya).

Pagi ini, apakah Anda memikirkan apa yang akan terjadi pada teman, sanak atau saudara anda di masa depan? Akankah mereka diselamatkan? Percayalah bahwa Tuhan menginginkan semua orang untuk mengenal Dia. Anda tidak perlu ragu untuk mendoakan mereka, untuk mengabarkan Injil kepada mereka melalui pengajaran Alkitab dan cara hidup kita. Percayalah bahwa Tuhan yang mengingini semua orang untuk diselamatkan, adalah Tuhan yang dengan kehendak-Nya bisa menolong mereka untuk memperoleh iman dan pertobatan demi keselamatan.

Antara kasih dan moralitas dunia

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13:4-7

Kasih secara historis memainkan peran besar dalam cara kita memahami tugas memperlakukan orang lain dengan baik. Banyak sistem etika atau moral berpendapat bahwa kasih adalah dasar untuk melakukan yang benar. Alkitab, misalnya, memerintahkan kita untuk “mengasihi sesamamu” – tidak hanya menghormati atau menghargai orang yang kita kenal, tetapi juga mengasihi mereka yang membenci kita. Ribuan tahun kemudian, filsuf dan novelis Iris Murdoch menulis bahwa “perhatian yang penuh kasih” adalah inti dari moralitas manusia.

Jika kasih adalah initi dari moralitas kita, itu tidaklah mudah dilaksanakan. Mengapa? Dalam pengertian Kristen tentang kata itu, kasih tampaknya melibatkan keberpihakan. Dalam semua jenis cinta, dari cinta romantis (eros) hingga cinta dalam persahabatan (philia) atau cinta keluarga (agape), mencintai seseorang tampaknya berarti tidak mencintai orang lain. Kita mencintai istri kita, bukan istri tetangga kita. Kita mencintai teman dan orang tua kita, bukan teman bos kita atau ayah sopir bus kita. Bagaimana pula dengan mengasihi Tuhan? Itu lebih sulit lagi, untuk tidak dikatakan mustahil jika kita memegang moral dunia sebagai pedoman.

“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10:37

Faktanya, kita mungkin berpikir bahwa seseorang tidak mencintai pasangannya dalam arti kata yang benar, jika mereka juga mengatakan bahwa mereka mencintai semua orang secara setara. Tetapi, Alkitab menyatakan bahwa kita harus mengasihi semua orang. Bagaimana ini bisa dilakukan? Dalam kenyataan hidup, keberpihakan kasih kita mau tidak mau memengaruhi tindakan kita serta emosi kita. Orang tua, teman, dan pasangan kita menerima lebih banyak prioritas, hadiah, dan perhatian emosional dari kita daripada orang lain. Ini adalah fitur kehidupan manusia di dunia yang dihargai dan menyenangkan.

Moralitas, pada hihak yang lain, sering dianggap pada dasarnya netral. Artinya, pandangan moral memandang setiap orang sebagai sederajat; tidak memihak satu orang atas yang lain hanya karena hubungan kita dengan mereka. Filsuf Immanuel Kant, misalnya, berpendapat bahwa semua orang berhak mendapatkan perlakuan moral hanya karena mereka adalah manusia. Siapa pun yang adalah manusia menuntut agar orang lain tidak membohongi mereka, menghormati mereka, tidak memperbudak tubuh mereka atau merampas harta benda dan hak mereka. Jadi, satu-satunya hal yang diperhatikan oleh pandangan moral adalah kesetaraan manusia. Karena semua orang adalah orang, pandangan moral dunia memandang setiap manusia secara sederajat. Itu sebabnya pada zaman ini persamaan derajat antar umat manusia selalu didengung-dengungkan dalam masyarakat, dan karena itu sebagian orang menuduh orang Kristen mengingkari hukum kasih dari Tuhan.

Jika moral menuntut kita memperlakukan semua orang dengan adil, apakah kasih sebenarnya tidak bermoral (amoral)? Mungkinkah bersikap penuh kasih dan berperilaku etis menjadi dua tugas yang terpisah dan yang sering menimbulkan konflik? Jika moralitas mengandung komitmen terhadap netralitas – dan jika kasih mengandung komitmen terhadap keberpihakan – maka pandangan moral dan pandangan kasih adalah bertentangan. Apakah kasih dan moralitas meminta kita melakukan hal yang berbeda? Bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Pertama, harus dikatakan dengan tegas bahwa umat Kristiani harus menjadi orang yang penuh kasih, orang yang mengasihi, orang yang menunjukkan kasih, orang yang memancarkan kasih, orang yang membangkitkan kasih, orang yang mengkomunikasikan kasih, dan orang yang mengasihi dengan berkorban. Mengapa? Karena Allah adalah kasih dan kita dapat mengasihi Allah karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:18-19) dan menyerahkan diri-Nya untuk kita di kayu salib. Kita memiliki banyak alasan untuk mencintai manusia, memberikan uang, waktu, tenaga kita kepada orang lain agar mereka dapat melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa kita di surga. Setidaknya itu yang bisa kita lakukan mengingat kasih-Nya yang luar biasa yang ditunjukkan kepada kita, meskipun kita dulunya adalah orang berdosa yang harus menemui kematian di neraka. Memang, “Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5:8). Orang akan mengetahui bahwa kita adalah murid Kristus melalui cara kita saling mengasihi (Yohanes 13:35). Sayangnya, sebagai manusia yang tidak sempurna, kita gagal meniru kasih Juruselamat kita dan melakukannya berulang kali dalam dosa kita. Semoga Tuhan memberi kita rahmat untuk mengatasi prasangka dan pembenaran diri yang merampas kasih alkitabiah kita untuk orang lain.

Terkadang pandangan umum bisa menggantikan firman Tuhan. Pepatah “agama” yang populer bisa memperoleh pengaruh dan menjadi dogma sekalipun tanpa dukungan Alkitab. Pepatah “Tuhan membantu mereka yang membantu diri mereka sendiri” tidak ditemukan dalam kitab suci. Hal yang sama dapat dikatakan tentang gagasan bahwa orang Kristen harus mengasihi semua orang secara setara tanpa perbedaan.

Dalam arti apa pun orang Kristen harus mengasihi orang secara umum; tetapi, ada perbedaan dalam kasih yang tidak berdosa itu, yang sebenarnya mencerminkan karakter dan perilaku Tuhan. Kita harus mengasihi musuh dan penyiksa kita, seperti yang Yesus katakan (Matius 5:43-48), dan kita harus menunjukkan kebaikan kepada semua orang (ingat kisah orang Samaria yang baik hati), tetapi tidak dengan cara yang sama seperti kita mengasihi dan memerlakukan pasangan kita, anak-anak, keluarga gereja, dan bahkan mungkin orang sebangsa. Lebih dari itu, secara logis kita tidak dapat mengasihi mereka yang membenci Tuhan seperti kita mengasihi mereka yang mengasihi Tuhan.

Ada lingkaran pembatas yang berbeda ukuran, yang secara alami dan benar dan alkitabiah mengatur pernyataan kasih kita. Misalnya, kasih yang saya miliki untuk pasangan saya seharusnya mencerminkan kasih Kristus untuk gereja-Nya (Efesus 5:25). Dia mengasihi gereja-Nya dengan cara Dia tidak mengasihi orang lain. Dia mencintai umat-Nya lebih intim dan intens. Bagaimanapun, mereka adalah domba-domba-Nya dan Dia mengenal mereka secara dekat dan mengasihi mereka dengan cara yang tidak sama dengan pengenalan-Nya atas serigala atau kambing (Yohanes 10:11-16).

Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk gereja (Efesus 5:25; Yohanes 10:15) dan tidak ada kasih yang lebih besar dari apa yang diberikan-Nya kepada manusia (Yohanes 15:13). Demikian juga, kita harus mengasihi Kristus, pasangan kita, dan sesama saudara dan saudari dalam Kristus dengan cara yang khusus pula. Dengan demikian, kita harus membeda-bedakan, mengasihi dengan pembedaan yang tepat, seperti yang dilakukan Kristus. Kita mungkin dituntut untuk mengasihi semua orang, berbuat baik kepada semua orang, tetapi tidak dengan cara yang sama atau tidak dapat dibedakan.

Paulus menyurati gereja di Galatia dan menyuruh mereka berbuat baik kepada semua orang, tetapi khususnya gereja (Galatia 6:10). Jadi kita harus membedakan, bukan berdasarkan ras atau jenis kelamin atau kelas (dihapuskan dalam Galatia 3:8), tetapi berdasarkan kedekatan dalam hubungan keluarga (Tuhan, keluarga, gereja, dll). Itu alami dan alkitabiah.

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6:10

Orang yang baik kepada orang lain tetapi mengabaikan anak-anaknya, adalah lebih buruk daripada orang yang baik kepada anak-anaknya tetapi mengabaikan orang lain. Mengapa? Dia memiliki kewajiban moral yang diberikan Tuhan kepada anak-anaknya yang lebih besar dari itu terhadap orang lain. Dengan kata lain, kasih kita kepada orang lain dilemahkan oleh tingkat kewajiban moral kita terhadap mereka.

Tuhan sendiri mencintai Yakub dan membenci Esau (Roma 9:13), Dia mencintai Israel secara khusus atas semua bangsa lain di bumi, tentu saja bukan Mesir (anak sulung laki-laki yang langsung dibantainya), Tuhan menetapkan cinta abadi perjanjian dengan Ishak dan bukan Ismael (Kejadian 17:18-21), dan Dia mengasihi umat-Nya, anak-anak-Nya (1 Yohanes 3:1), secara eksklusif disebut “anak-anak Allah”, dengan cara khusus di atas semua orang lain di bumi. Memang, di akhir zaman, Tuhan akan memisahkan domba dari kambing dan menunjukkan kasih yang istimewa kepada umat-Nya sendiri (Wahyu 7:13-17).

Pagi ini, kita harus sadar bahwa kasih yang alkitabiah tidaklah sama dengan etika dan moralitas yang dituntut dunia. Moralitas dunia hanya mencerminkan kasih Tuhan secara umum, yang memberikan sinar matahari kepada semua orang (Matius 5:45). Tetapi, kasih yang sejati (agape) adalah satu dengan moralitas yang dituntut oleh Alkitab. Tuhan membedakan mereka yang menjadi domba-Nya dari domba lain atau serigala. Dia memberikan perhatian khusus kepada mereka yang mengasihi Dia. Moralitas dunia adalah baik sepanjang itu dibimbing oleh ajaran kasih berdasarkan Alkitab. Moralitas yang membuta pada akhirnya akan mengabaikan adanya Tuhan dan kasih-Nya yang istimewa kepada orang-orang yang mau mendengar panggilan keselamatan-Nya.

Mengenali doktrin predestinasi

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” Efesus 1: 3-8

Doktrin predestinasi secara khusus berkaitan dengan pertanyaan tentang tujuan akhir kita. Hanya ada dua tujuan yang terbuka bagi kita sebagai manusia. Pada akhirnya, tujuan itu adalah surga atau neraka, yaitu berada dalam keadaan selamat atau berada dalam keadaan terkutuk. Predestinasi berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sebelum (“pre”) kita tiba di tempat tujuan (“destinasi”) itu. Itu berkaitan dengan keterlibatan Tuhan dalam hasil akhir hidup kita.

Ketika kita berbicara tentang doktrin predestinasi, kita tidak berbicara secara khusus tentang pertanyaan apakah Tuhan secara langsung menyebabkan terjadinya kecelakaan mobil, atau apakah Anda telah ditentukan sebelumnya untuk duduk di kursi yang Anda duduki saat ini. Memang ada orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan secara langsung menetapkan ha-hal seperti di atas karena mereka mempunyai pandangan fatalis. Mereka menafsirkan ayat dibawah ini sebagai pernyataan bahwaTuhan adalah penyebab langsung dari setiap kejadian di alam semesta.

“Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Matius 10:29-31

Predestinasi tidak berkaitan dengan pertanyaan sehari-hari tentang apakah saya ditakdirkan untuk menyapu lantai hari ini atau tidak. Itu akan jatuh di bawah tajuk teologis pemeliharaan (providence) yang pada prinsipnya menyatakan bahwa Tuhanlah yang memberi kemungkinan untuk terjadinya suatu hal. Pertanyaan-pertanyaan mengenai perbuatan kita dalam hidup di dunia adalah pertanyaan yang sah untuk teologi, tentang seberapa banyak kedaulatan Allah terlibat dalam tindakan dan aktivitas kita sehari-hari dan seterusnya. Tetapi doktrin predestinasi adalah berkaitan dengan pertanyaan tentang keselamatan di surga.

Predestinasi berkaitan dengan pilihan Tuhan terkait keselamatan manusia. Barangkali tampak aneh bagi Anda, tetapi semua orang Kristen di zaman ini setuju bahwa predestinasi adalah sesuatu yang Tuhan lakukan. Mungkin juga mengejutkan Anda bahwa dua aliran teologi Protestan terbesar, Arminian dan Reformed, setuju bahwa Tuhan membuat pilihan ini tentang tujuan akhir kita bahkan sebelum kita dilahirkan, seperti apa yang tertulis dalam ayat-ayat Efesus 1: 3-8 di atas.

Pandangan pertama: Pilihan Tuhan untuk menyelamatkan Anda adalah berdasarkan pengetahuan-Nya sebelumnya tentang sesuatu yang Dia lihat di koridor waktu dan melihat bahwa Anda akan melakukannya. Misalnya, melihat ke bawah koridor waktu, Dia tahu bahwa Anda akan menanggapi Injil secara positif, bahwa Anda akan memilih Kristus ketika ada kesempatan bagi Anda, dan kemudian, karena mengetahui bahwa Anda akan memilih Kristus, Allah memilih Anda untuk diselamatkan. Tetapi Dia mendasarkan pilihan itu pada pengetahuan-Nya sebelumnya tentang keputusan Anda. Jadi Tuhan memilih Anda untuk diselamatkan, tetapi Dia memilih Anda karena sesuatu yang Dia lihat sebelumnya dalam hidup Anda. Keputusan Anda untuk memilih Kristus adalah hal yang menyelamatkan Anda.

Pandangan kedua: Apa yang Tuhan lihat sebelumnya dalam hidup Anda tidak ada hubungannya dengan pilihan-Nya atas Anda. Pilihan-Nya semata-mata karena kesenangan kehendak-Nya tanpa mempertimbangkan apa pun yang mungkin atau tidak mungkin Anda lakukan di masa depan. Walaupun demikian, respon Anda tetap diperlukan atas tawaran keselamatan yang datang dari Allah. Allah sudah memberikan karunia-Nya yang berupa iman, yang membuahkan pertobatan, kepada mereka yang dipilih-Nya. Untuk itu Anda harus memelihara iman Anda dengan kesetiaan seumur hidup seperti apa yang ditulis rasul Paulus.

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4:7-8

Gereja Katolik mengizinkan berbagai pandangan tentang predestinasi, tetapi ada poin-poin tertentu yang tegas: “Allah tidak menakdirkan siapa pun untuk pergi ke neraka; untuk dibuang ke neraka, diperlukan penolakan yang disengaja terhadap Allah (dosa moral yang berat), dan ketekunan di dalam dosa sampai akhir” (KGK 1037). Itu juga menolak gagasan pemilihan oleh Allah tanpa syarat, dan sebaliknya menyatakan bahwa ketika Allah “menetapkan rencana kekal-Nya, Allah memasukkan di dalamnya unsur kehendak bebas setiap orang terhadap kasih karunia-Nya” (KGK 600).

Dengan adanya perbedaan pandangan teologis di atas, terjadilah perdebatan yang cukup sering antar golongan. Tetapi, apa yang disetujui oleh setiap orang Kristen adalah bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang berdaulat. Bagaimana kedaulatan Allah bekerja dalam masalah keselamatan adalah apa yang memisahkan pandangan-pandangan di atas. Paulus menjelaskan hal ini dalam kitab Roma 9.

Sebab Ia berfirman kepada Musa: ”Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Roma 9:15

Roma 9 dimulai dengan Paulus menggambarkan penderitaannya bagi bangsanya Israel dalam penolakan mereka terhadap Kristus. Setelah menggambarkan semua keistimewaan yang diberikan Allah kepada bangsa Yahudi sebagai suatu bangsa, Paulus menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-janji itu. Namun, tidak setiap orang yang lahir di Israel adalah milik Israel, tulisnya. Tuhan berhak untuk menunjukkan belas kasihan kepada beberapa dan bukan yang lain, seperti yang ditunjukkan Paulus dari Kitab Suci. Tuhan itu seperti tukang tembikar yang menciptakan beberapa bejana untuk kehancuran dan yang lainnya untuk kemuliaan. Allah telah memanggil umat-Nya baik dari bangsa lain maupun Yahudi untuk beriman kepada Kristus.

Roma 9:1–18 mendapati Paulus patah hati atas penolakan terhadap Kristus oleh bangsanya, orang Yahudi. Mereka telah diberi begitu banyak berkat sebagai umat pilihan Allah, dan Paulus menegaskan bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya kepada Israel. Namun, tidak semua orang yang lahir di Israel adalah benar-benar bani pilihan-Nya, tulis Paulus. Demikian juga, tidak semua orang mengaku Kristen adalah benar-benar orang pilihan-Nya. Contoh-contoh khusus dari bani Israel diberikan untuk menunjukkan bahwa Allah memang memilih mereka yang akan menerima karunia-Nya. Ia kemudian juga mempertimbangkan apakah pilihan ini, menurut kebijakan-Nya, adalah adil. Dengan demikian, pada saat penghakiman akhir, tidak ada seorang pun yang dapat berdalih dan menyatakan bahwa Allah tidak adil.

Sebelumnya, Paulus telah menolak gagasan bahwa Allah tidak adil dalam memilih Yakub dan bukan Esau untuk menerima janji-janji perjanjian-Nya bahkan sebelum anak laki-laki kembar itu lahir (Roma 9:12-14). Kemudian Paulus mengutip perkataan Tuhan kepada Musa dari Keluaran 33:19. Tuhan memberikan kepastian bahwa Dia akan bersama Musa saat memimpin anak-anak Israel. Nyatanya, Tuhan sedang bersiap untuk menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan membiarkan Musa melihat sekilas kemuliaan-Nya. Dia telah setuju untuk menunjukkan kepada Musa manifestasi fisik dari sifat sejati-Nya (Keluaran 33:21–23).

Dalam konteks itu, Tuhan berkata bahwa Dia akan menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang kepada siapa pun yang Dia pilih. Hak untuk memutuskan siapa yang menerima karunia (karunia apa pun, bukan hanya keselamatan) dari Tuhan adalah keputusan yang diberikan secara tepat oleh Tuhan sendiri. Paulus menawarkan kutipan ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan tetap berhak memilih untuk diri-Nya sendiri, hanya berdasarkan diri-Nya sendiri, kepada siapa Dia akan memberikan perkenanan-Nya. Tuhan tidak harus mengandalkan kriteria lain atau memakai satu standar “baik dan buruk” untuk membuat pilihan seperti itu karena setiap orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 4:23).

Mungkin itu bukan argumen yang sangat meyakinkan bahwa Tuhan adalah adil dalam memilih satu dari yang lain. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh perikop ini, Paulus belum selesai membuat kasusnya. Ayat berikutnya berbunyi:

“Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” Roma 9:16

Jelas bahwa manusia menerima keselamatan berdasarkan kedaulatan Allah untuk memilih, dan itu adalah bergantung kepada kemurahan hati Allah, yaitu kepada kasih-Nya. Kasih Allah yang sangat besar kepada seluruh umat manusia memungkinkan semua umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan seharusnya binasa, untuk bisa mendapatkan pengampunan dan menerima keselamatan. Itu jika mereka mempunyai iman kepada-Nya dan bertobat dari hidup lamanya, karena keselamatan hanya datang melalui iman dan pertobatan yang dimungkinkan oleh Allah sendiri.

Pagi ini, sebagai orang percaya, kita tidak hanya yakin atas kedaulatan Tuhan, tetapi juga kepada kemurahan dan kasih-Nya. Jika kita terlau terpukau pada kedaulatan Tuhan kita akan meremehkan kasih-Nya kepada setiap ciptaan-Nya dan mengabaikan respon manusia kepada panggilan-Nya. Sebaliknya, jika kita terlalu menekankan kasih-Nya, kita akan lupa bahwa Tuhan berhak memutuskan apa saja, menurut apa yang disenangi-Nya, dan tidak dapat dipengaruhi oleh tindakan manusia. Teologi Predestinasi tidaklah menentukan apakah kita diselamatkan atau tidak, tetapi akan memengaruhi bagaimana kita hidup di dunia sebagai orang Kristen.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Peran manusia dalam rencana keselamatan Allah

“Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Yohanes 5:39-40

Anda ingat lagu “Mengikut Yesus keputusanku?” Lagu yang dipopulerkan oleh penginjil terkenal Billy Graham itu sering dinyanyikan pada saat ada kebaktian kebangunan rohani. Tetapi, sebagian orang Kristen tidak mau menyanyikan lagu ini karena menolak pernyataan bahwa seseorang dapat mengambil keputusan untuk datang kepada Yesus. Mereka dengan kata lain, mempunyai pengertian yang berlainan dari apa yang dikatakan Yesus dalam ayat di atas.

Bagi sebagian orang Kristen, manusia tidak mempunyai andil apa pun dalam keselamatan. Memang firman Tuhan menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata karunia Tuhan, dan karena itu tidak ada orang yang bisa berkata bahwa itu adalah karena usahanya dan merasa sombong (Efesus 2:8-9). Walaupun demikian, ada perbedaan antara tidak dapat berupaya dan dan tidak mempunyai peran. Jelas karena Allah yang berperan sebagai Bapa yang mau memberi pengampunan, manusia harus menyadari perannya sebagai anak yang terhilang yang sudah berdosa kepada-Nya. Jika anak yang hilang harus mau pergi menghadap bapanya, manusia yang berdosa harus datang kepada Allah untuk menerima karunia keselamatan-Nya.

Sebagai anak yang hilang, setiap orang bebas untuk melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan, tetapi di situlah letak masalahnya: kehendak bebas anak yang terhilang adalah untuk menikmati hidupnya dalam dosa dan karena itu tidak mau menaanti perintah Allah. “Ketidakmampuan” orang terhilang untuk menanggapi Injil terletak pada kehendak mereka sendiri – jika mereka tidak datang kepada Kristus, itu hanya karena mereka tidak mau. Dan karena mereka “menolak untuk datang kepada-Ku” mereka dimintai pertanggungjawaban (Yohanes 5:40). Secara ringkas, kebobrokan dan ketidakmampuan manusia tidak menghalangi tanggung jawab untuk datang kepada Yesus. Tanggung jawab universal yang berlaku untuk setiap manusia untuk percaya dan bertobat tetap ada sekalipun iman dan pertobatan adalah inisiatif Allah.

Tidak ada orang berdosa yang dapat mengetahui bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali dengan mencoba untuk kembali menjumpai sang Bapa. Anak yang hilang memutuskan untuk kembali pulang tanpa mengetahui bagaimana sambutan bapanya. Tetapi, ia pulang karena percaya bahwa bapanya bukanlah bapa yang kejam. Dan ia diterima kembali menjadi anak hanya karena keputusan bapanya. Dengan demikian, doktrin ketidakmampuan total (total depravity) bukanlah, “Kamu tidak bisa datang”; melainkan, “Kamu tidak dapat datang terlepas dari bantuan ilahi.”

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan uAllah.” Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” (Markus 10:25–27).

Sayang sekali, sebagian orang Kristen yang memandang bahwa manusia tidak mampu bertanggung jawab atas perannya dalam panggilan Allah, dan bahkan atas cara hidupnya di dunia sekalipun sudah dicelikkan mata rohaninya oleh Allah. Itu karena mereka terlalu menekankan kedaulatan Allah sedemikian rupa sehingga manusia dianggap tidak dapat mempunyai kehendak. Ini tentunya adalah sebuah pengertian yang keliru. Beginilah cara Yesus menjelaskan masalah ini:

“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”. Yohanes 6:37

Tanggung jawab tetap ada: seseorang yang peduli akan jiwanya tidak disuruh “menunggu untuk diselamatkan” tetapi “datang untuk mendapat keselamatan”. Pengakuan akan ketidakberdayaan bukanlah alasan untuk melanjutkan ketidakpercayaan, juga bukan penghalang untuk menerima tawaran keselamatan universal (anugerah umum).

Sebagian orang Kristen mungkin berpendapat bahwa tidak perlu bagi Tuhan dengan keagungan yang tak terbatas untuk memberikan anugerah kepada mereka yang hanya akan terus memberontak. Lebih dari itu, ada yang percaya bahwa Tuhan sudah membuat orang-orang tertentu untuk menjadi anak yang hilang untuk selamanya. Oleh karena itu Tuhan tidak perlu untuk memanggil mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Sebaliknya, kita juga dapat mengatakan bahwa adalah di bawah kedaulatan Tuhan yang mahakasih untuk menawarkan keselamatan kepada siapa pun, terlepas dari tanggapan mereka pada akhirnya. Alkitab jelas menyatakan bahwa Dia memberikan anugerah-Nya, dan Dia memanggil setiap manusia dan berulang kali mengatakan bahwa Dia mau memberi karunia iman dan pertobatan kepada siapa pun.

“Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Lukas 5:32

Sebagai bapa yang menantikan anaknya yang hilang untuk pulang kembali, dalam Alkitab kita membaca bahwa Tuhan menyuruh, Dia meminta, Dia memohon, Dia berdiri penuh kerinduan dengan tangan terulur – semua ini adalah bahasa alkitabiah yang menyatakan kebesaran kasih Allah. Lebih tepatnya, kita harus menyadari bahwa sikap welas asih ini adalah bagian dari penyataan diri Tuhan untuk dipahami sebagai salah satu aspek dari kemuliaan-Nya. Kita tidak memuja Tuhan dengan benar sampai kita mengenali kasih-Nya yang mahabesar. Dan kita tidak memberitakan Injil dengan benar sampai kita mencerminkan sikap ini sendiri kepada orang lain. Panggilan keselamatan Allah kepada umat manusia adalah panggilan kasih dan bukannya paksaan ilahi (Yohanes 3:16).

Seruan tanpa pandang bulu dan tawaran Injil yang cuma-cuma yang memiliki jaminan alkitabiah yang kuat dan eksplisit adalah posisi tradisional gereja Reformed sejak dulu. Kekhawatiran beberapa orang Kristen bahwa tawaran Injil secara cuma-cuma menyiratkan kurangnya kedaulatan Tuhan adalah keliru. Tuhan memposisikan diri-Nya terhadap orang fasik sebagai Tuhan yang mahakasih yang bersedia untuk menyelamatkan, dan Dia memohon kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar melalui juru bicaranya di sepanjang zaman. Seruan universal Injil ini adalah sarana eksternal yang dengannya Allah, pada waktu-Nya sendiri, secara berdaulat memanggil orang-orang pilihan-Nya secara individu ke dalam persekutuan Kristus.

Jika dalam Injil Allah dengan cuma-cuma mengurbankan Kristus kepada dunia, orang Kristen harus membuat tawaran yang sama. Jika kewajiban dan peran semua orang adalah untuk menjadi orang percaya, maka adalah kewajiban dan peran orang Kristen untuk memberitakan Kristus agar orang lain mau menerima perannya. Kita dapat berkata kepada siapa pun, di mana pun – dan kita tidak boleh ragu -“Jika Anda mau datang kepada Yesus Kristus, Dia akan menyelamatkan Anda dan menberi Anda peran sebagaii orang percaya yang bertobat dari dosa dan bertumbuh dalam kekudusan”. Mereka yang mengaku Kristen tetapi menolak adanya peran manusia dalam rancangan keselamatan Allah adalah otang-orang fatalis yang tidak mengenal kasih Allah.

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” Lukas 15:7

Tanpa iman, kita tidak mungkin memuliakan Dia

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ibrani 11:6

Ayat di atas adalah ayat populer dari kitab Ibrani, dan juga mudah disalahpahami di luar konteks. Dengan sendirinya, ayat tersebut menyajikan sebuah kebenaran yang cukup mudah untuk dipahami. Yakni, perhatian Allah yang pertama dan utama adalah pada iman kita – sikap kita terhadap-Nya dan percaya kepada-Nya – bukan pada perbuatan kita. Ini tidak membuat perilaku dan moral kita menjadi tidak penting. Sebaliknya: apa yang kita lakukan mencerminkan apa yang benar-benar kita percayai (Yakobus 2:14-17). Namun, seperti yang ditunjukkan oleh ayat ini, sekadar “melakukan perbuatan baik” bukanlah yang Allah cari. Mereka yang ingin menyenangkan Tuhan perlu memiliki iman, bukan kesepakatan sederhana untuk bekerja bagi Dia, dan bukan kerja sama dengan Dia karena terpaksa.

Masalah dengan mengutip atau membaca ayat ini di luar konteksnya adalah momok “keyakinan buta”, atau angan-angan. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian sebelumnya, penulis Ibrani tidak menganjurkan sikap yang mudah tertipu dan berangan-angan. Sebaliknya, seluruh surat ini merupakan latihan bukti dan logika. Maksud penulis dimaksudkan untuk menekankan keutamaan iman yang sejati karena perbuatan yang tidak tulus dan kepatuhan robotik tanpa kepercayaan yang benar kepada Tuhan tidaklah ada artinya. Pelajaran ini diberikan sebagai bagian dari penjelasan tokoh-tokoh Perjanjian Lama yang tindakannya membuktikan iman mereka sekalipun mereka bukan orang yang sempurna. Tokoh-tokoh seperti Abraham dan Daud pernah dan sering melanggar perintah Tuhan dan mereka telah melakukan pelanggaran moral dalam hidup mereka; tetapi karena iman, mereka dibenarkan.

Begitu banyak di dalam surat-surat Perjanjian Baru yang secara keliru dianggap ditujukan kepada orang yang tidak percaya, padahal surat itu ditulis untuk orang Kristen. Surat Ibrani adalah contoh Kitab Suci yang memberikan bimbingan kepada orang percaya yang dewasa tentang bagaimana hidup dengan iman – bagaimana menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Sementara langkah pertama yang jelas untuk menyenangkan Tuhan adalah diselamatkan dengan percaya pada karya penebusan Kristus, adalah iman yang terus-menerus dan hidup dari orang percaya yang mengasihi Tuhan dan sesama.

Hanya orang percaya yang bisa menyenangkan Tuhan. Kita menyenangkan Tuhan ketika kita dibenarkan (keselamatan awal), tetapi kita juga menyenangkan Tuhan melalui kehidupan yang dikuduskan (keselamatan yang berkelanjutan). Hanya melalui kebenaran Kristus yang kita yakini kita dapat menyenangkan Allah, “karena tanpa iman tidak mungkin menyenangkan Dia.” Tetapi begitu kita diselamatkan, kita harus menyenangkan Dia dengan hidup oleh iman. Begitu kita percaya kepada-Nya, kita harus, “percaya bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia.” Setelah diselamatkan melalui iman yang membenarkan, orang percaya harus terus mempercayai Dia, dengan mempercayai Firman-Nya, hidup dengan iman, dan dengan rajin mencari wajah-Nya hari demi hari.

Setelah kita percaya pada kasih karunia Allah yang menyelamatkan melalui iman kepada Kristus, kita juga harus percaya bahwa, “Ia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia,” sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci. Ada sukacita di surga ketika seorang berdosa percaya, tetapi kita benar-benar menyenangkan Dia ketika kita hidup dengan iman. Kita menyenangkan Dia ketika kita tidak dipengaruhi oleh berbagai masalah dan godaan dalam hidup. Jika kita berhasrat untuk menyenangkan Bapa Surgawi kita, kita harus hidup dengan iman dan bukan dengan melihat. Kita percaya bahwa Tuhan melihat apa yang kita perbuat sekalipun kita tidak dapat melihat Dia. Kita harus percaya bahwa jika kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan standar kecucian dan moral Allah, yaitu dengan mengabaikan suara Roh Kudus, kita akan mendukakan Dia.

Terlalu sering, mereka yang memulai kehidupan Kristennya dengan iman, berhenti bersandar pada kebenaran Kitab Suci. Mereka mengalihkan pandangan dari Yesus dan mulai meragukan firman Tuhan dan pentingnya hukum dan perintah Tuhan. Mereka sering lalai dalam mencari Tuhan, bahkan ada yang meninggalkan cinta pertamanya. Ada beberapa orang yang kembali kepada kedagingan, menuruti kehidupan daging. Beberapa mencoba untuk menyenangkan Tuhan melalui perbuatan yang dipandang baik oleh manusia, atau mencapai hasil yang membawa nama baik bagi gereja. Tetapi semua itu akan sia-sian jika dilakukan bukan untuk kemuliaan Tuhan. Pada pihak yang lain, ada orang yang mengadopsi budaya umat Israel dan melakukan perbuatan-perbuatan menurut hukum Taurat, hanya untuk merasa yakin bahwa mereka adalah orang yang terpilih.

Orang Kristen yang mencoba untuk hidup dengan kekuatan mereka sendiri atau mengandalkan perbuatan baik mereka sendiri tidak akan menyenangkan Tuhan, karena mereka tidak mempercayai Firman-Nya – karena iman adalah bukti dari hal-hal yang tidak terlihat. Iman pada firman Tuhan adalah apa yang menyenangkan Dia. Kita menyenangkan Dia ketika kita diselamatkan, tetapi kita harus menyenangkan Dia sepanjang kehidupan Kristen kita, dengan percaya bahwa janji-janji-Nya adalah benar dan dengan percaya bahwa Dia memberi upah kepada mereka yang mencari Dia – dengan iman.

Meskipun persatuan kita dengan Tuhan tidak akan pernah putus setelah kita dilahirkan ke dalam keluarga-Nya, persekutuan kita dengan-Nya bisa rusak ketika kita meninggalkan kehidupan yang mempercayai Tuhan dan ketergantungan pada Firman-Nya dan mulai mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tuhan tahu bahwa tanpa pertolongan dan bimbingan Kristus, kita pada akhirnya akan gagal karena Dia berkata, “tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Namun terlalu sering kita mencoba setiap cara yang mungkin sebelum akhirnya kita harus mengakui ketidakmampuan kita dan kemudian mencari pertolongan-Nya.

Terlalu sering kita lupa bahwa mereka yang rajin mencari Dia, dibalas dengan anugerah-Nya yang cukup untuk menghadapi masalah hidup. Mereka yang dengan tekun mencari Dia, menghasilkan buah Roh yang indah, sehingga mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dewasa dalam iman, yang menyenangkan Bapa Surgawi kita. Ketika kita beristirahat dalam kekuatan-Nya yang cukup dalam hidup kita, kita selalu menemukan bahwa hanya itu yang kita butuhkan; tetapi seberapa sering kita melupakan kedamaian sempurna yang Dia janjikan, hanya karena kita mengandalkan diri sendiri di hadapan Juruselamat kita, atau karena memilih hidup sesuai dengan standar dunia daripada apa yang telah Allah firmankan dan janjikan.

Pagi ini kita harus percaya bahwa semakin kita mempercayai firman Tuhan, percaya semua yang Dia katakan, beriman pada janji-janji-Nya, percaya Dia adalah pemberi upah bagi orang yang dengan sungguh-sungguh berusaha mengenal Dia, semakin kita akan bertumbuh dalam kasih karunia, dewasa dalam iman, berjalan dalam roh dan kebenaran dan menyenangkan Dia – karena barangsiapa yang memiliki banyak, lebih banyak lagi yang akan diberikan. Mereka yang mengabaikan firman dan perintah Tuhan akan mengalami kekeringan rohani yang pada akhirnya membawa kesengsaraan selama hidup di dunia akibat dosa yang makin menguasai hidup mereka.

Hiper-Calvinisme

Menurut situs Monergism, berikut ini adalah contoh dari beberapa keyakinan yang mungkin dianut oleh para hiper-calvinis. Sebagian besar Calvinis klasik menolak keyakinan yang bersifat destruktif berikut ini dan menyatakannya sebagai hal yang menyedihkan:

  • bahwa Tuhan adalah penyebab pertama dan pencipta dosa dan kejahatan
  • bahwa manusia tidak memiliki keinginan sendiri, dan penyebab sekunder tidak berpengaruh
  • bahwa jumlah orang pilihan setiap saat dapat diketahui oleh manusia
  • bahwa menginjili itu salah
  • bahwa kepastian pemilihan harus dicari sebelum pertobatan dan iman
  • bahwa orang-orang yang pernah “dengan tulus” menyatakan kepercayaan akan diselamatkan terlepas dari apa yang kemudian mereka lakukan
  • bahwa Tuhan telah memilih beberapa ras manusia dan menolak yang lain
  • bahwa Tuhan tidak memerintahkan semua orang untuk bertobat
  • bahwa sakramen-sakramen bukanlah sarana rahmat, tetapi penghalang keselamatan hanya oleh iman.
  • bahwa iman yang menyelamatkan sama dengan percaya pada doktrin predestinasi
  • bahwa hanya Calvinis yang beragama Kristen (Kalvinisme Neo-gnostik)

https://www.monergism.com/topics/hyper-calvinism