Kepada Tuhan kita berserah

“Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan.” Mazmur 20:4

Hari ini adalah hari tahun baru Imlek. Bagi sebagian orang yang merayakannya, hari ini adalah kesempatan untuk berkumpul dengan sanak keluarga dan teman dekat, saling mengucapkan selamat tahun baru disertai dengan harapan agar mereka mendapatkan keuntungan di masa depan. Bagi mereka yang tidak merayakannya, mungkin hari ini kurang mempunyai arti selain kesempatan untuk makan enak dan mengharapkan “hokkie” atau keberuntungan di masa depan. Salahkah jika kita menharapkan nasib baik kita dan mendoakan agar orang lain mendapatkan keberuntungan material?

Pada waktu itu, Daud bersiap untuk berperang. Dia memanjatkan doa dan pengorbanan di tabernakel dan percaya kepada Tuhan untuk kemenangan. Pasukannya siap untuk berperang, dan diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok, masing-masing dengan panjinya. Mereka menyuarakan permohonannya, meminta Tuhan untuk melindungi, membantu, mendukung, dan memberikan kesuksesan kepada Daud. Raja Daud menanggapinya dengan meyakinkan anak buahnya bahwa Tuhan menjawab doa dan akan memberinya kemenangan atas musuh. Ia yakin musuh akan tumbang sementara ia dan anak buahnya tetap bertahan. Akhirnya, anakbuah Daud berseru kepada Tuhan untuk menjawab doa mereka untuk menyelamatkan raja mereka.

Doa di atas bunyinya mirip nadanya dengan uacapan selamat hari tahun baru Imlek. Doa ini melanjutkan doa syafaat atas nama Raja Daud. Bani Israel berdoa agar Tuhan memberikan apa yang baik kepada Daud dan mewujudkan rencana Daud dengan sukses. Tetapi doa ini berbeda dengan ucapan selamat tahun baru Imlek “Gong Xi Fa Cai“”. Dalam bahasa Mandarin, Gong Xi Fa Cai berarti “selamat mendapatkan lebih banyak kekayaan atau kemakmuran”. Sementara, dalam terjemahan bahasa Kantonis, ucapan tersebut berarti “mengharapkan kebahagiaan dan kemakmuran bagimu”. Beda ayat di atas dengan ucapan tahun baru Imlek adalah dalam hal doa kepada Tuhan dan ketergantungan orang Israel kepada-Nya.

Amsal 3:5–6 berjanji jika kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan, dan menerima kehendak-Nya, Dia akan membimbing kita. Daud tidak bergantung pada pemahamannya sendiri ketika dia bersiap untuk berperang. Dia telah menyembah Tuhan dan mencari kehendak-Nya (1 Samuel 23:1–2). Kata “rancangan” yang diterjemahkan di sini berasal dari istilah Ibrani “asāt“, yang juga dapat diterjemahkan sebagai “strategi atau siasat”. Strategi peperangan Daud untuk mengalahkan musuh akan berhasil jika Tuhan menggenapinya. Tuhan adalah kunci kehidupan kita, bukan harta atau kemakmuran.

Rasul Yakobus menasihati kita untuk tidak merencanakan apa yang akan kita lakukan besok tanpa mencari kehendak Tuhan (Yakobus 4:13-15). Tuhan memerintahkan Yosua untuk merenungkan Firman Tuhan dan menaati Firman Tuhan dan kemudian dia akan berhasil (Yosua 1:4–9). Ulangan 20:1–4 menyerukan kepada umat Israel untuk bersandar pada Tuhan ketika mereka pergi berperang. Seperti tu, Mazmur 20:1–5 mengungkapkan doa jemaat di tabernakel untuk Daud saat dia bersiap untuk berperang. Pembukaan mazmur ini menunjukkan respon positif masyarakat terhadap seruan ini. Kata-kata ini mengungkapkan kepercayaan bani Israel kepada Tuhan yang mahakuasa dan kepada-Nya mereka boleh berserah. Apakah Anda berharap kepada Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya atas hidup di masa depan?

Apakah orang tua bertanggungjawab atas kelakuan anaknya?

Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36

“Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati. Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam m kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.” 1 Samuel 2:34-35

Minggu ini ada berita menarik dari Amerika. Dalam keputusan yang diperkirakan memiliki implikasi luas terhadap tanggung jawab pidana orang tua pelaku penembakan massal, pengadilan Michigan pada tanggal 6 Februari 2024, memvonis Jennifer Crumbley ikut bersalah atas perannya dalam kejahatan putranya hampir tiga tahun lalu. Pada bulan Desember 2023, putranya, Ethan Crumbley, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas penembakan pada 30 November 2021, yang menewaskan empat orang dan melukai tujuh lainnya.

Kedua orang tua Ethan sebelumnya mengaku tidak bersalah atas peran mereka. Sekarang, Jennifer Crumbley terancam hukuman penjara maksimal 60 tahun dan denda maksimal US$30.000. Suami Jennifer, James Crumbley, akan diadili atas tuduhan yang sama pada bulan Maret, dan, jika terbukti bersalah, menghadapi hukuman yang serupa. Kejadian ini luar biasa, karena biasanya seorang anak yang sudah dewasa dianggap bertanggungjawab atas kelakuannya. Namun ini bukannya tanpa preseden.

“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN” 1 Samuel 2: 12

Alkitab menyatakan bahwa anak-anak nabi Eli adalah orang-orang jahat. Salah satu kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia yang menarik perhatian saya adalah kata “dursila”. Dalam Alkitab berbahasa Inggris yang banyak versinya, kata dursila ini muncul sebagai kata “wicked“, “scoundrel“, “worthless“, “corrupt” dan sebagainya. Secara umum kata-kata itu menunjukkan karakter dan cara hidup manusia yang sangat buruk. Mungkin, jika ada Alkitab berbahasa Indonesia yang berversi lain, kata durhaka, durkasa dan durjana bisa juga dipakai sebagai kata alternatif.

Pada waktu itu anak-anak Eli adalah orang-orang dewasa yang suka menjarah kurban persembahan untuk Allah. Bukannya mereka menunggu sampai upacara persembahan selesai dan kemudian mengambil bagian daging bakaran yang sesuai dengan hukum yang ada, mereka sebaliknya mengambil apa saja yang mereka mau, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Lebih dari itu mereka juga berzinah dengan perempuan-perempuan Israel yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

Mengapa anak-anak lelaki nabi Eli, Hofni dan Pinehas, disebut sebagai orang dursila? Berbagai kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan sifat dan kelakuan mereka menunjukkan bahwa tidaklah cukup jika kita memakai kata “jahat” atau “amoral”. Mereka adalah orang-orang jahat, kejam, amoral, dan culas, yang tidak peduli akan hukum dan orang lain. Lebih dari pada itu, mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada orang tua dan kepada Tuhan.

Jika kesalahan anak-anak Eli adalah cukup serius menurut standar kepercayaan umat Israel pada waktu itu, semuanya adalah suatu dosa besar yang membuat Allah sangat murka. Mengapa begitu? Segala kesalahan itu dapat disimpulkan sebagai tidak adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka yang seharusnya mengenal Tuhan yang mahasuci, justru mengabaikan adanya Tuhan dengan berbuat semaunya dan dengan tidak menghiraukan teguran Eli, ayah mereka. Mereka dihukum Tuhan karena kedursilaan mereka dan Nabi Eli juga dihukum Tuhan karena kelakuan anak-anaknya. Jika Hofni dan Pinehas tewas dalam perang, Eli yang sudah sangat tua tewas karena jatuh dan patah tulang lehernya setelah mendengar kabar tentang tabut perjanjian yang dirampas musuh Israel.

Bagi kita, adalah mudah untuk berkata bahwa sudah sepantasnya bahwa Tuhan menghukum anak-anak Eli untuk kedursilaan mereka, dan juga menghukum Eli yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menegur mereka. Dalam hal ini, sungguh menarik perhatian bahwa Eli seakan pasrah kepada Tuhan dan tidak lagi peduli akan kemarahan Tuhan yang merasa terhina atas segala apa yang terjadi (1 Samuel 3: 18). Jelas, mengabaikan dosa anak-anak kita, adalah termasuk dosa juga bagi kita.

Mungkin kita berpikir bahwa anak-anak kita tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat anak-anak Eli. Kita barangkali yakin bahwa perbuatan seperti menjarah, merampok, mencuri, membuli dan berselingkuh tidak pernah mereka lakukan dalam hidup ini. Tetapi, apa yang menjadi penyebab utama kemarahan Tuhan adalah sikap hidup manusia yang mengabaikan-Nya. Perbuatan-perbuatan jahat hanyalah manifestasi hati dan pikiran yang menaruh Tuhan di satu sudut hidup untuk bisa dilupakan.

Mengabaikan Tuhan tidak selalu berupa tindakan dursila yang jelas terlihat. Eli yang tidak merasa terbeban untuk menghentikan kejahatan anak-anaknya, juga melakukan dosa besar dalam pandangan Tuhan yang mahasuci. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika kita mengabaikan cara hidup anak-anak kita yang “normal” untuk ukuran manusia, itu belum tentu merupakan keadaan yang bisa diterima oleh Tuhan. Setiap orang tua tetap bertanggungjawab untuk membimbing anak-anak mereka seumur hidup. Ini bukan berarti bahwa kita bertanggungjawab atas apa yang mereka perbuat secara langsung, tetapi melalui nasihat, bimbingan, dan tindakan kita. Sebagai orang tua, kita harus bisa menjadi teladan bagi anak-anak kita. Sebab jika kita sendiri tidak menghormati Tuhan, kita tidak bisa mengajak mereka untuk menghormati Dia.

Orang yang dursila adalah manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan yang mahasuci di tempat yang tertinggi dalam hidupnya. Mereka mungkin masih sering ke gereja, tetapi mengabaikan firman-Nya, tidak lagi sadar akan kebesaran Tuhan, dan tidak lagi menghormati-Nya dalam setiap segi kehidupan mereka. Sebagai orang tua kita harus mau menegur anak-anak kita yang tidak mau menghormati Tuhan.

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30

Sadarkah Anda bahwa Tuhan ada di mana saja?

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” Mazmur 139:7-10

Seorang nenek ditikam di depan cucunya yang berusia 6 tahun hingga tewas di sebuah pusat perbelanjaan di sebelah barat Brisbane pada hari Sabtu yang baru lalu. Polisi menyatakan bahwa ada lima remaja yang ditangkap. Anak laki-laki tersebut – berusia antara 15 dan 16 tahun – ditangkap pada hari Minggu dan Senin. Seorang anak laki-laki yang berusia 16 tahun telah didakwa atas pembunuhannya, serta penggunaan kendaraan bermotor acurian. Polisi lebih lanjut mengatakan tidak menutup kemungkinan akan ada lebih banyak orang yang akan ditangkap.

Teman-teman nenek itu menggambarkan orang yang dulu pernah menjadi guru agama Kristen itu sebagai wanita yang tidak mementingkan diri sendiri. “Dia mencintai keluarganya, cucu-cucunya, cucu-cucunya dan dia adalah seorang guru yang dicintai masyarakat”, begitu ujar anaknya. Tragisnya, sebelum ia tewas sebenarmya ada rencana keluarga untuk mengadakan pemahaman Alkitab pada sore harinya. Banyak orang terharu atas kejadian ini dan mereka membawa bunga ke tempat di mana perampokan itu terjadi. Sebagian mungkin berpikir: “Di manakah Tuhan jika sesuatu yang jahat terjadi?” JIka Tuhan benar-benar ada, mengapa Ia diam sajaa?

Mazmur 139:7–12 mengikuti bagian yang berfokus pada kemahatahuan Allah. Bagian mazmur ini menggambarkan kemahahadiran-Nya: kemampuan-Nya untuk berada di mana saja pada saat yang bersamaan. Daud menyebutkan beberapa tempat yang mungkin ia kunjungi, hanya untuk mengetahui bahwa Tuhan ada di sana. Pengetahuan akan kehadiran Allah menghibur Daud. Dia tahu Tuhan akan menyertainya kemanapun dia pergi.

Dalam mazmur ini Daud mengagumi sifat-sifat Allah yang menakjubkan. Tuhan mengetahui segalanya tentang dia: ke mana dia pergi, semua pikiran Daud dan segala sesuatu tentang tingkah lakunya. Tuhan mengetahui apa yang akan Daud katakan bahkan sebelum Daud mengatakannya. Tidak ada tempat yang bisa dikunjungi Daud tanpa kehadiran Tuhan. Daud kagum dengan karya kreatif Tuhan di dalam rahim ibunya. Ia bersyukur atas bimbingan Tuhan yang tak terhingga baginya dan atas kehadiran Tuhan siang dan malam. Akhirnya pikiran Daud tertuju pada orang jahat. Dia menganggap mereka musuh Tuhan dan musuhnya, dan rindu Tuhan membunuh mereka. Daud muak dengan orang jahat karena mereka mencela Tuhan dan menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Dia meminta Tuhan untuk menyelidiki hatinya untuk melihat apa dosanya, dan dia meminta Tuhan untuk membimbingnya di jalan yang kekal.

Mereka yang berbuat jahat mungkin merasa Tuhan itu tidak ada. Tetapi, jika seseorang ingin melepaskan diri dari pengetahuan Allah yang menyeluruh, ia tidak akan menemukan tempat untuk bersembunyi. Elia melarikan diri ke padang gurun di selatan Yehuda untuk menghindari murka Izebel, namun dia tidak bisa menjauhkan dirinya dari Tuhan. Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Elia dengan bisikan pelan dan memberinya kesempatan baru untuk melayani Dia (1 Raja-raja 19:9-18). Yunus mencoba melarikan diri dari hadirat Tuhan ketika Tuhan memerintahkan dia untuk pergi ke Niniwe dan berseru menentangnya. Alih-alih pergi ke timur menuju Niniwe, dia menaiki kapal yang menuju ke barat menuju Tarsis (Yunus 1:1–3). Dia segera menyadari bahwa Tuhan hadir, tidak peduli seberapa jauh dia berlari. Tuhan mempersiapkan badai besar yang menyebabkan Yunus dibuang ke laut, dan Tuhan tetap ada di sana (Yunus 1:11-12). Dia telah menetapkan seekor ikan besar untuk menelan Yunus (Yunus 1:17). Di dalam perut ikan, Yunus bertobat dan bersumpah untuk menaati Tuhan (Yunus 2:1).

Lalu dimanakah Tuhan jika sesuatu yang jahat terjadi? Tuhan tetap ada dan Ia melihat apa yang terjadi. Bahkan Ia tahu apa yang bakal terjadi sebelum itu terjadi. Tetapi, apa yang akan dilakukan-Nya tidak ada seorang pun yang tahu. Sebagai Tuhan Ia mahabijaksana, mahakasih, dan mahakuasa, apa pun yang terjadi akan membawa kebaikan kepada umat-Nya. Bagi seorang Kristen yang taat, kemahahadiran Tuhan merupakan suatu penghiburan. Yesus berkata, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Ibrani 13:5 menggemakan janji “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Janji ini berarti kita tidak perlu takut terhadap apa yang dilakukan orang lain terhadap kita karena kita akan tetap bersama Dia, baik di bumi maupun di surga.

Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Ibrani 13:6


Siapakah yang paling penting?

“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.” 1 Korintus 3:6-7

Pada saat itu, jemaat Korintus terlibat dalam konflik dan perselisihan mengenai apa yang bagi kita mungkin tampak sebagai persoalan yang sangat konyol. Mereka telah membagi diri dalam faksi-faksi yang dipimpin oleh orang-orang yang mereka senangi. Mereka membentuk “partai-partai” dalam gereja. Namun sebelum mengkritik orang Korintus, kita harus berhati-hati karena kita pun sering terjebak dalam masalah serupa. Jika ada perpecahan dalam gereja, kebanyakan dari kita mungkin akan gagal melihat betapa tidak masuk akalnya konflik kita dengan orang Kristen lain di tengah situasi yang ada. Meskipun kita lebih menyukai pekerjaan gerejani tertentu atau pemimpin gereja tertentu, kita tidak dapat memecah tubuh Kristus berdasarkan apa yang kita pilih. Tuhanlah yang menetapkan, memilih dan memelihara segala sesuatu yang ada dalam hidup manusia.

Paulus tidak dapat menyebut umat Kristen di Korintus sebagai umat yang “rohani”. Meskipun mereka orang Kristen, mereka tetap hidup dalam daging. Orang Kristen kedagingan atau “carnal Christian“. Perpecahan di antara mereka membuktikan bahwa mereka masih melayani diri mereka sendiri, memihak dalam perdebatan yang tidak masuk akal antara guru-guru Kristen. Paulus menegaskan bahwa dia dan Apolos hanyalah hamba Tuhan dan rekan kerja. Mereka tidak sedang berkompetisi. Mereka tidak mau dianggap berkompetisi. Mereka yang memimpin jemaat Korintus harus membangun dengan hati-hati karena pekerjaan mereka akan diuji pada hari Tuhan. Para pemimpin Kristen yang membangun gereja akan dinilai pekerjaannya oleh Kristus untuk melihat apakah mereka telah membangun di atas dasar Kristus. Semua kebijaksanaan manusia yang mengabaikan peran utama Tuhan akan terbukti sia-sia dan tidak berharga.

Kitab 1 Korintus 3:1–9 menggambarkan teguran Paulus terhadap orang-orang Kristen di Korintus ketika mereka masih bertingkah laku seperti bayi di dalam Kristus. Berbeda dengan orang percaya yang dewasa secara rohani, Paulus menyebut mereka “manusia duniawi”. Orang-orang seperti ini belum siap menerima makanan padat, masih berperilaku sebagai orang percaya yang belum dewasa dan belum berkembang. Daripada mengikuti Paulus atau Apolos, atau manusia lainnya, mereka seharusnya mengikuti Tuhan, penguasa segalanya. Pemimpin yang berbeda mungkin dipanggil untuk tugas yang berbeda sesuai kehendak Tuhan, namun tidak ada yang lebih penting dari yang lain.

Aku menanam – Rasul Paulus di sini membandingkan pendirian gereja di Korintus dengan penanaman tanaman anggur, pohon, atau biji-bijian. Kiasan tersebut diambil dari pertanian, dan maknanya jelas. Paulus mendirikan gereja. Dia adalah pengkhotbah pertama di Korintus; dan jika ada perbedaan antara dia dengan yang lain, maka itu mungkin dalam hal tanggung jawabnya yang berbeda daripada para guru yang kemudian bekerja di sana. Tetapi dia menganggap dirinya tidak layak mendapat kehormatan seperti menjadi ketua partai, karena bukan dirinya sendiri, tapi Tuhan yang memberi pertumbuhan.

Apolos menyiram – Gambaran ini diambil dari praktik menyiram tanaman yang masih muda, atau menyiram taman atau ladang. Hal ini diperlukan secara khusus di negara-negara agraris. Ladang memang bisa menjadi kering akibat kemarau panjang, dan mereka perlu mengairinya dengan sungai buatan. Maksudnya di sini adalah bahwa Paulus telah bekerja keras dalam mendirikan gereja di Korintus; tetapi kemudian Apolos bekerja keras untuk meningkatkannya, dan membangunnya. Yang pasti Apolos baru pergi ke Korintus setelah Paulus meninggalkannya (bandingkan Kisah Para Rasul 18:18; dengan Kisah Para Rasul 18:27).

Tuhan memberikan pertumbuhan – Tuhan membuat benih yang ditabur berakar dan bertunas; dan Allah memberkati pengairan pada tanaman-tanaman yang masih muda ketika mereka tumbuh, dan membuat tanaman-tanaman itu bertumbuh. Ide ini masih diambil dari petani. Sia-sia saja petani menabur benihnya kecuali Allah memberikan kehidupan. Tidak ada kehidupan di dalam benih, dan tidak ada kuasa yang melekat di bumi untuk membuatnya bertumbuh. Hanya Tuhan, Pemberi segala kehidupan, yang dapat menghidupkan benih di dalam benih dan menghidupkannya. Maka sia-sialah petani menyirami tanamannya kecuali Tuhan memberkatinya.

Tidak ada zat pembawa hidup di dalam air; tidak ada kekuatan bawaan dalam air hujan untuk membuat tanaman itu tumbuh. Air adalah benda mati. Memang benar, Tuhan sudah menetapkan bahwa benih tidak akan berkecambah jika tidak ditanam, dan tidak akan tumbuh jika tidak disiram; tapi benih itu tidak akan hidup tanpaTuhan. Dia mengatur cara-cara ini, dan Dia menghidupkan tunas yang lembut itu, dan memeliharanya. Demikian pula halnya dengan program-program gereja, semua itu tidak memiliki kekuatan bawaan untuk menghasilkan efek dengan sendirinya. Munculnya iman dan kekuatan iman orang percaya bukan tergantung pada perkataan indah dan kewibawaan para pendeta, atau pada para pengerja gereja yang giat, atau pada para diaken yang memelihara jemaat, atau pada hati orang Kristen yang menabur kasih, tetapi pada Allah yang menciptakan kehidupan jasmani dan rohani.

Di dalam rencana Allah ada kesesuaian sarana untuk mencapai tujuan. Benih itu harus disemai, kalau tidak benih itu tidak akan berkecambah. Kebenaran harus ditaburkan di dalam hati, dan hati harus dipersiapkan untuk itu – seperti bumi harus dibajak dan dibuat lembut, atau bumi tidak akan tumbuh. Tanaman ini harus dibudidayakan dengan tekun, kalau tidak tanaman ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Namun tetap saja itu semua adalah dari Tuhan – seperti halnya hasil panen di ladang, bagaimanapun juga, jerih payah para petani adalah dari Tuhan. Dan seperti petani yang mempunyai pandangan yang bijak, orang Kristen yang bijak akan selalu bersyukur kepada Tuhan. Mereka tidak akan memuji dirinya sendiri karena biji-bijian dan tanaman anggurnya mulai bertunas dan bertumbuh setelah semua perawatannya, namun akan menganggap semua itu berasal dari kemurahan hati dan kasih Allah yang tak henti-hentinya.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10

Jika kita mengalami kesedihan

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah tulangnya.” Mazmur 34:18-20

Siapakah orang yang tidak pernah bersedih? Orang bisa bersedih karena ditinggal kekasih, kehilangan pekerjaan, jatuh sakit ataupun pailit. Kesedihan manusia jelas bisa membuatnya lemah, putus asa ataupun depresi. Apalagi, jika ada masalah yang besar yang kelihatannya tidak mungkin bisa diatasi. Sudah tentu, penderitaan mereka bukan hanya dalam hal fisik dan materi, tetapi yang lebih sukar ditangani adalah penderitaan moril atau rohani.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan dapat melihat apa yang terjadi pada diri manusia, mungkin membuat mereka bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa merasa sedih seperti manusia. Jika Tuhan memang bisa merasa sedih, apakah Ia bisa berbelas kasihan kepada mereka yang mengalami kesusahan dan kemudian berbuat sesuatu untuk mereka?

Dalam ayat di atas Daud menulis bagaimana Tuhan memahami perasaan kita dan membantu kita menanggung beban kesedihan. Berbeda dengan dewa-dewa kafir, atau benda pujaan ateisme yang tidak berperasaan, Allah yang alkitabiah sangat peduli terhadap penderitaan kita. Daud memuji Tuhan karena telah melepaskan dia dari orang Filistin, dan dia mengundang orang lain untuk ikut bernyanyi bersama dengan sukacita bagi Tuhan. Dia mengagungkan pentingnya takut akan Tuhan dan mengingat kebaikan-Nya. Dia mendorong umat Tuhan untuk menghormati Tuhan dan menawarkan kebijaksanaan yang menuntun pada kehidupan yang bahagia.

Mazmur 34:15–22 membandingkan apa yang Tuhan lakukan bagi mereka yang takut akan Dia dengan apa yang menimpa orang jahat. Tuhan mengawasi orang-orang benar dan menjawab seruan minta tolong mereka. Kemalangan orang benar memang banyak, tetapi Dia melepaskan mereka dari kesusahan mereka dan mendekatkan diri kepada mereka. Dia melindungi orang benar dan menebus mereka. Di sisi lain, Dia menentang orang jahat dan mengutuk mereka.

Meskipun Daud mengalami kemenangan dalam hidupnya, dia juga memahami bahwa kasih dan pemeliharaan Tuhan mempunyai perspektif kekal (Roma 8:28-30). Ayat 20 “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah tulangnya” memuat referensi yang Injil Yohanes kaitkan dengan peran Yesus sebagai Mesias: Yesus mengalami apa yang terburuk yang bisa terjadi pada manusia, tetapi Allah Bapa mememberi Dia perlindungan dan kekuatan. Dia tahu bagaimana perasaan manusia yang mengalami penderitaan.

Benarkah Yesus Anak Allah bisa merasakan kepedihan hati kita? Tentu! Ketika Yesus mengetahui sahabat-Nya Lazarus telah meninggal, Dia pergi ke rumah saudara perempuan Lazarus yang berduka dan menghibur mereka. Ketika Dia melihat air mata Maria, “masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yohanes 11:33). Ketika Dia mendekati makam Lazarus, Dia menangis (Yohanes 11:35) dan “sangat terharu lagi” (Yohanes 11:38). Yesus mengalami semua ini, meskipun Ia tahu bahwa Ia akan membangkitkan sahabat-Nya dari kematian (Yohanes 11:11).

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4:15

Ibrani 4:15 juga meyakinkan kita bahwa Yesus, Imam Besar Agung kita, bersimpati dengan kelemahan kita. Hal ini mencakup makna penderitaan manusia dan perjuangan melawan dosa. Dia dicobai seperti manusia lainnya namun tetap tidak berdosa. Mengetahui bahwa Dia memahami dan peduli, kita dapat mengerti ajakan Paulus: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16).

Ada yang mengatakan bahwa “doa adalah tempat memindahkan beban dari pundak kita”. Bahu Tuhan kita dapat memikul beban kita ketika kita patah hati dan roh kita remuk (Matius 11:28–30; 1 Petrus 5:7). Karena itu, jika kita mengalami kesedihan saat ini, biarlah Roh Kudus menggerakkan kita untuk mau menyampaikan doa kita kepada Tuhan untuk mendapatkan kekuatan dan pengihiburan. Tuhan beserta kita.

Mengapa aku ada?

“Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43:6-7

Kenapa saya ada? Ini adalah pertanyaan abadi, yang pasti terkait dengan pertanyaan tentang tujuan hidup dan nilai pribadi. Ini adalah pertanyaan penting untuk ditanyakan, dan jawaban yang diperoleh seseorang menentukan cara seseorang berpikir tentang dirinya sendiri dan berinteraksi dengan dunia.

Beberapa orang mendukung gagasan bahwa manusia muncul melalui proses evolusi yang tidak ada kaitannya dengan penciptaan dan bahwa kehidupan hanyalah sebuah kebetulan. Jika itu masalahnya, maka tidak ada alasan nyata mengapa kita ada di sini, karena kehidupan tidak memiliki tujuan akhir. Alkitab mengatakan sebaliknya. Kejadian 1:1–27 menjelaskan bagaimana Pencipta yang mahabijaksana dengan sengaja menciptakan segala sesuatu dalam enam hari, termasuk pria dan wanita yang pertama. Tuhan menciptakan umat manusia untuk memiliki gambar-Nya dan memerintah ciptaan-Nya, namun manusia pertama memilih untuk tidak menaati Allah dan membawa dosa dan kematian ke dalam dunia. Sejak saat itu, umat manusia telah terasing dari Tuhan. Tanpa hubungan yang mengikat dengan Sang Pencipta, kita akan bertanya-tanya siapa diri kita, mengapa kita ada di sini, dan apa tujuan kita.

Dari ayat Yesaya 43:6–7 kita akan tahu tanpa keraguan mengapa kita diciptakan. Kita diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Bukankah menakjubkan jika kita bisa berdiri di depan orang-orang dan berkata, “Saya tahu sepenuhnya dengan yakin mengapa Anda semua di ruangan ini diciptakan. Anda diciptakan untuk kemuliaan Tuhan”? Namun, itu adalah pernyataan yang ambigu di telinga orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Siapa Tuhan yang tidak kelihatan itu, dan mengapa Ia ingin dimuliakan? Apakah Ia gila hormat sehingga menciptakan boneka-boneka untuk menyembah-Nya? Tentu tidak!

Allah justru melakukan semua yang Dia lakukan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya demi kenikmatan penuh dan kekal bagi semua orang yang menerima Kristus sebagai harta tertinggi mereka. Allah melakukan segala sesuatu yang Dia lakukan – segala sesuatu yang Dia lakukan – untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya demi kenikmatan semua orang yang menemukan harta tertinggi mereka di dalam Kristus.

Sekarang, ke arah mana Anda dipanggil untuk mengagungkan Tuhan? Jawabannya seperti apa yang terlihat dari teleskop, bukan dari mikroskop. Merupakan penghujatan jika kita membayangkan Tuhan seperti Ia terlihat melalui mikroskop: “Ya Tuhan, kasihan sekali. Dia sangat kecil, dan sangat kecil, sekarang saya harus membuatnya terlihat lebih besar dari dirinya.” Itu adalah penghujatan. Namun faktanya, di dunia setelah kejatuhan ini, Tuhan bagi sebagian besar orang tidak ada dalam radar mereka sama sekali, atau hanya sebuah titik kecil yang mungkin muncul di tengah kabut dosa – setiap dua atau tiga minggu hanya dengan sekejap saja. Mungkin dikatakan ada – tetapi tidak ada signifikansinya. Seperti itu juga, orang yang hanya pergi ke gereja sekali setahun dan hanya kadang-kadang berdoa. Tuhan sangat kecil dan tidak berarti bagi mereka.

Panggilan kita adalah untuk memasang teleskop rohani. Agar kita menyadari bahwa apa yang terlihat jauh itu adalah sangat besar. Bahwa apa yang mahabesar itu tidak akan dapat kita lihat dengan mata kita, kecuali mata kita sudah dicelikkan oleh Yesus.

Kenapa saya disini? Untuk memuliakan Tuhan. Pada akhirnya, Tuhan menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya; tujuan kita adalah untuk memuliakan Dia dan, di dunia yang berdosa ini, untuk memperkenalkan Dia kepada orang lain. Manusia bukanlah sebuah kebetulan; keberadaan kita di sini bukan tidak direncanakan. Banyak ayat dalam Alkitab yang memperjelas bahwa tujuan manusia adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan, karena Dia menciptakan kita dan memberi kita kehidupan.

Alasan umum mengapa kita berada di sini – untuk memuliakan Allah – memiliki cakupan yang lebih spesifik bagi kita masing-masing. Mazmur 139:16 menunjukkan bahwa tujuan Allah bagi kita sama persis dan bersifat pribadi: “..mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya”. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak bahwa Tuhan mengenal kita secara pribadi, karena Dia menciptakan kita secara pribadi. Anda dapat mengenal Dia secara pribadi dan mengerti mengapa Anda ada di sini jika Anda percaya akan kuasa dan kasih-Nya.

Berjuang melawan iblis

“dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6:`13

Sebagaimana dicatat dalam Injil menurut Matius, kata-kata terakhir dari Doa Bapa Kami adalah “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”. Namun bagaimana Yesus dapat mengucapkan kata-kata seperti itu? Bukankah Alkitab memberitahu kita bahwa Allah tidak mencobai siapa pun (Yakobus 1:13)?

Ayat ini berpotensi membuat kita sangat khawatir, namun melihat beberapa pertimbangan tata bahasa yang berbeda akan membantu kita memahami dengan tepat apa yang Yesus doakan dalam bacaan hari ini. Pertama, Matius 6:13 tidak perlu mengacu pada godaan langsung untuk berbuat dosa yang biasanya kita kaitkan dengan kata godaan. Jika Juruselamat kita menyiratkan bahwa Bapa dapat memikat kita ke dalam dosa, maka Ia bertentangan dengan kesaksian Kitab Suci. Namun, bukan ini yang Dia katakan.

Meskipun Tuhan tidak memikat kita dengan dosa, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Dia mengizinkan umat-Nya melewati masa-masa pencobaan. Misalnya, Yesus sendiri diuji di padang gurun oleh iblis sebagai sarana untuk memenuhi panggilan-Nya sebagai Adam kedua (Matius 4:1–11). Dalam hal ini, Sang Pencipta mengijinkan Iblis membujuk Mesias untuk berbuat dosa, namun Allah sendiri bukanlah pelaku godaan tersebut. Ketika Yesus meminta Bapa untuk tidak membawa kita ke dalam pencobaan, Dia memohon agar Dia tidak membiarkan umat-Nya menghadapi ujian yang tidak dapat diatasi dimana musuh kita menggoda kita untuk berbuat dosa.

Klausa paralel “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” lebih lanjut menunjukkan kebenarannya. Poneros adalah istilah Yunani yang berada di belakang kata “jahat” dalam ayat ini, namun kata ini lebih baik diterjemahkan sebagai “si jahat.” Oleh karena itu Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kita hendaknya berdoa memohon perlindungan terhadap iblis. Oleh karena itu, kita dapat berdoa: “Tuhan, mohon jangan biarkan aku dihadapkan pada masa ujian yang mana aku akan menghadapi keganasan serangan iblis. Lindungi aku dari musuh dan bebaskan aku dari tangannya.”

Makna “bebaskan kami dari pada yang jahat” tidak ditujukan pada dosa-dosa tertentu, tapi pada semua dosa. Iblis pada dasarnya adalah dalang di balik semua kejahatan, jadi tidak ada bedanya apakah kita meminta pembebasan dari kejahatan secara umum (dosa) atau dari kejahatan secara khusus, karena keduanya berkaitan. Demikian pula, setiap saat “ujian yang berat” adalah sebuah kesempatan untuk mempercayai Tuhan atau untuk berkompromi dan menyerah pada godaan dosa dan dengan demikian sampai batas tertentu berada di bawah kendali dosa dan iblis. Dalam Doa Bapa Kami, kita diperintahkan untuk berdoa agar Tuhan melindungi kita dari situasi yang menggoda kita untuk berbuat dosa. Ini adalah permohonan agar dosa tidak pernah mendapat pijakan dalam hidup kita.

Yesus mengajar para pengikut-Nya untuk berdoa “bebaskan kami dari iblis”, karena kita tidak dapat melawan iblis dengan kekuatan kita sendiri. Orang yang percaya kepada Kristus telah dibebaskan dari hukuman dosa (Roma 8:1), namun kita masih berjuang setiap hari melawan dosa dan iblis. Kita perlu mengandalkan Roh Kudus untuk membantu kita melawan godaan dan mengatasi dosa dalam hidup kita. Berdoa untuk “pembebasan dari kejahatan” adalah pengakuan atas keterbatasan kemampuan kita dan merupakan sarana untuk meminta Tuhan turun tangan dan membantu kita. Meskipun kita dapat berdoa memohon bantuan untuk mengatasi godaan dan dosa, kita juga dapat berdoa dan berusaha agar kita tidak berada dalam posisi di mana kita akan menghadapi godaan yang berat. Seorang pria yang berjuang melawan alkohol harus menghindari tempat-tempat di mana minuman beralkohol akan disajikan, namun ia juga harus berdoa agar ia tidak menemui undangan minum yang tidak terduga sepanjang harinya. Seseorang yang sedang bergelut dengan hawa nafsu tentunya harus menghindari tempat dan aktivitas tertentu, namun ia juga dapat berdoa agar situasi di luar kendalinya tidak muncul di hadapannya. Semua dosa harus dihadapi dengan kesadaran akan bahayanya sehingga kita mau berdoa dan berjuang.

Sebagai orang yang sepenuhnya bergantung pada Roh (Galatia 5:16), kita harus berdoa setiap hari agar dibebaskan dari serangan iblis. Bapa mungkin mengijinkan kita menghadapi ujian, namun Dia berjanji untuk menopang kita dan menolong kita untuk setia kepada-Nya (1 Koritus 10:13). Yang harus kita lakukan, seperti yang ditunjukkan oleh doa ini, adalah meminta pertolongan-Nya. Ketika kita dihadapkan pada serangan godaan dan kejahatan, marilah kita memohon pertolongan Tuhan dalam perjuangan kita.

Pada pihak yang lain, kita harus ingat bahwa iblis disebut sebagai penuduh orang percaya (Wahyu 12:10) karena dia suka membuat kita merasa seolah-olah Tuhan belum mengampuni kita. Ini adalah beban berat dalam hidup yang bisa menghancurkan iman kita. Sekalipun rasa bersalah adalah sebuah realitas, jika kita berpaling kepada Yesus, kita telah diampuni dan disucikan – secara objektif, nyata, dan memang terjadi. Jika Anda berpikir Tuhan menyimpan masa lalu Anda terhadap Anda, berdoalah memohon pembebasan dari si jahat dan ketahuilah bahwa Anda telah diampuni.

Doa agar Tuhan melepaskan kita dari kejahatan memiliki padanannya dalam perintah dan janji Yakobus 4:7: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”.” Jika kita menghadapi iblis dengan kekuatan kita sendiri, kita akan kewalahan. Kita hanya dapat menolak godaan, menghindari dosa, dan mengalahkan iblis dengan secara sadar bersandar pada kuasa Allah. Sama seperti kita perlu meminta “roti sehari-hari” untuk kebutuhan jasmani kita, kita juga perlu meminta “pembebasan setiap hari” untuk kebutuhan rohani kita. Doakan juga bagi saudara-saudari Kristiani yang masih mengalami kesulitan untuk memohon dan menerima belas kasihan Bapa.

Membina rasa percaya diri

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ”Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Ibrani 13: 5

Anda tentu mengerti istilah PD yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Menurut psikolog, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis seseorang di mana individu bisa mengevaluasi dirinya sehingga menghasilkan keyakinan kuat pada kemampuan dirinya dan optimis pada segala sesuatu. Dengan demikian, percaya diri merupakan modal dasar untuk penyataan eksistensinya. Dengan percaya diri, seseorang merasa mampu untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Sebaliknya, orang yang tidak percaya diri akan terhambat dalam potensi diri untuk berkembang.

Bagaimana orang berusaha meningkatkan rasa percaya diri mereka? Biasanya, melalui pendidikan, kedudukan, penampilan dan kekayaan. Mereka yang pandai berbicara dengan kata-kata bijak, atau yang memakai pakaian dan perhiasan mahal, dan mereka yang mengendarai mobil mewah atau yang tinggal di rumah gedongan, sering dianggap orang yang besar PD nya. Sebaliknya, orang biasa yang tidak mempunyai keistimewaan apa-apa sering kali disangka kurang memiliki percaya diri. Benarkah begitu?

Cara manusia mencapai percaya diri sangat berbeda dengan apa yang diajarkan Alkitab agar umat Kristen tidak gentar dalam menghadapi persoalan hidup. Kitab Ibrani pasal 1-9 menjelaskan bagaimana dalam Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus kita lebih dapat merasakan kedamaian dalam Tuhan jika dibandingkan mereka yang hidup dalam Perjanjian Lama yang harus memakai pengorbanan hewan. Bagi umat Kristen, percaya diri adalah berasal dari iman bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

Pasal 10-12 memakai pengurbanan Kristus untuk mendorong umat Kristen agar ”berpegang teguh” meskipun ada penganiayaan. Kesimpulan dari penerapan ini adalah bahwa orang percaya harus percaya pada iman mereka, dan memilih untuk menaati Tuhan, pada saat-saat sulit. Dalam Kristus kita sudah menang. Pasal 13 menambahkan beberapa pengingat khusus mengenai tingkah laku orang yang sudah diselamatkan. Bagian ini juga menegaskan kembali gagasan bahwa Kristus dimaksudkan untuk menjadi teladan utama kita. Surat itu diakhiri dengan permohonan doa dan kata-kata berkah.

Pasal 13 ini mencantumkan poin-poin tertentu yang dinyatakn Paulus untuk mendorong umat Kristen untuk berperilaku baik. Hal ini mencakup kasih persaudaraan (Ibrani 13:1), keramahtamahan (Ibrani 13:2), dukungan terhadap orang yang dianiaya dan dipenjarakan (Ibrani 13:3), dan penekanan pada moralitas seksual (Ibrani 13:4). Bagian lain dalam Perjanjian Baru menggemakan pentingnya menghindari dosa seksual, mengingat daya tarik dan kuasanya (Roma 1:24-27). Konsekuensi dari melakukan hal-hal yang dibenci Tuhan adalah berkurangnya rasa yakin bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih dan dikasihi Tuhan. Sekalipun orang bisa memiliki segala sesuatu, pada suatu saat ia akan sadar bahwa pada akhirnya semua itu akan lenyap bersama dengan dirinya.

Ibrani 13:1–6 berisi petunjuk praktis dan nyata bagi umat Kristen yang ingin untuk percaya diri. Hal ini mencerminkan beberapa tema umum dalam Perjanjian Baru. Kasih persaudaraan, keramahtamahan, kepedulian terhadap orang yang dianiaya, moralitas seksual, dan rasa puas diri semuanya dipuji. Paulus menghubungkan kemampuan untuk merasa puas dan setia, dengan kepercayaan kita kepada Kristus untuk selalu ada bersama kita dan untuk kita dalam semua keadaan.

Ayat di atas secara khusus menyebutkan satu bahaya besar yang bisa menghancurkan rasa percaya diri: keserakahan. Perlu dicatat bahwa ungkapan “uang adalah akar segala kejahatan” sebenarnya tidak alkitabiah, karena kekayaan dapat digunakan dan dinikmati dengan baik (Roma 14:14). Apa yang Alkitab katakan, dalam 1 Timotius 6:10, adalah bahwa “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” Ayat tersebut mencatat bahwa keinginan yang tidak sehat akan kekayaan telah menyebabkan kehancuran banyak kehidupan. Manusia yang kehilangan percaya diri karena tidak adanya uang, dan manusia yang lupa harga diri karena banyaknya uang.

Obsesi yang tidak sehat terhadap uang erat kaitannya dengan ketidakpuasan. Ini adalah sesuatu yang Alkitab nyatakan dengan menggunakan kata-kata seperti “mengingini” (Keluaran 20:17; Yakobus 4:2) dan “cemburu” (Yakobus 3:16). Daripada merasa sedih atas apa yang tidak kita miliki, orang-orang Kristen seharusnya bersyukur atas apa yang kita miliki dan berharap atas tanah air surgawi yang suatu hari akan kita peroleh (Ibrani 11:14-16). Kita akan memiliki rasa percaya diri jika kita sadar bahwa kita adalh warga surgawi. Hamba Tuhan, bukan hamba kesuksesan.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa fondasi dari perspektif yang penuh rasa percaya, puas, dan berwawasan ke depan ini adalah hubungan setiap orang percaya dengan Kristus (Ibrani 12:2). Ungkapan di sini mungkin merujuk pada janji Tuhan kepada Yosua, yang akan memperkuat kepercayaan diri kita karena keamanan yang kita miliki di dalam Tuhan:

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ulangan 31:6

Keselamatan adalah anugerah, kasih adalah buahnya

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Kolose 2:6

Jika Anda menelusuri berbagai ajaran keagamaan di Indonesia, tentu Anda pernah membaca hal amal ibadah: “Orang-orang yang beriman tentu berharap kelak Tuhan akan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Surga adalah tempat indah, mewah dan menyenangkan di akhirat. Karena itu, mereka berupaya melakukan amal-amal terbaik dan sungguh dala beribadah kepada Tuhan. Karena Tuhan hanya akan memasukkan hamba-hamba-Nya ke dalam surga bila mereka mampu mempersembahkan amal terbaik selama hidupnya.” Ajaran seperti ini sayangnya sering ditemui dalam masyarakat kita, yang membuat orang Kristen ikut-ikutan terpengaruh.

Seperti itulah ajaran palsu yang dihadapi jemaat Kristen di Kolose pada waktu itu. Ajaran yang menekankan kerja keras dan pengorbanan pribadi sebagai sarana untuk menyenangkan Tuhan. Memang benar bahwa perbuatan merupakan aspek penting dalam kehidupan orang Kristen (1 Yohanes 3:17-18), namun hal ini merupakan hasil dari iman yang menyelamatkan, bukan sumbernya. Perjalanan hidup kita dengan Tuhan harus berakar pada iman – dan karena itu berakar pada Dia, bukan diri kita sendiri – seperti halnya keselamatan. Jika tidak, spiritualitas kita didasarkan pada kinerja manusia dan ditakdirkan untuk gagal.

Dalam ayat ini, Paulus memperingatkan umat Kristiani agar tidak terpengaruh oleh argumen-argumen yang menyesatkan. Klaim-klaim ini menarik, namun hanyalah tipuan: kedengarannya benar, namun sebenarnya tidak. Ajaran tentang pengenalan diri, berpikir positif, melaksanakan ritual suci terentu, mengagumi pengelihatan ajaib, dan praktik lainnya hanya terlihat bagus bagi para pengamat. Tak satu pun dari hal-hal tersebut yang merupakan sumber pertumbuhan rohani yang sesungguhnya. Paulus menekankan cara Kristus menggenapi segala sesuatu yang kita perlukan untuk dibenarkan di hadapan Allah. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk mengejar “bayangan” palsu dan dangkal ini. Kita mempunyai hakikat yang sebenarnya: Yesus, maka kita harus mengikuti Dia. Hidup dalam Dia.

Kolose 2:6-15 menggambarkan keunggulan Kristus dalam mengalahkan dosa. Hal ini sangat kontras dengan kegagalan dunia yang tidak percaya. Paulus mendorong jemaat Kolose untuk tidak tertipu oleh argumen-argumen yang menipu. Bagian ini juga menjelaskan sifat drastis dari keselamatan. Mereka yang beriman kepada Kristus disunat secara “rohani” dan diidentifikasikan dengan Allah melalui iman mereka. Tindakan pengampunan dari Allah ini membebaskan kita dari hukuman dosa yang kekal, memulihkan hubungan kita, dan mengalahkan kekuatan jahat yang melawan kita.

Dalam ayat singkat ini, Paulus membuat pernyataan besar tentang perjalanan orang percaya bersama Kristus. Jemaat Kolose, seperti semua orang percaya lainnya yang telah diselamatkan, menerima Kristus dengan iman (Kisah Para Rasul 4:12; Roma 10:9; Efesus 2:8-9). Implikasi Paulus adalah bahwa mereka yang menerima Kristus dalam iman juga harus tetap di dalam Dia atau “berjalan” – hidup dan berpikir – dengan iman (Kolose 2:7).

Pagi ini kita harus sadar bahwa meskipun Paulus menjalani kehidupan Kristen yang penuh motivasi, dia tahu bahwa iman adalah satu-satunya cara untuk menyenangkan Tuhan. Suatu jenis pekerjaan tertentu tanpa iman dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman. Namun, seseorang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan akan hidup karena iman, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7). Iman seperti ini akan menghasilkan banyak perbuatan baik, namun status keselamatan kita tidak akan berubah, meskipun kita melakukan tindakan karena didasarkan pada Kristus dan apa yang telah dilakukan-Nya.

Jika Tuhan itu baik kepada kita, apa buktinya?

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.”2 Korintus 9:8

Mengapa seseorang ragu memberi atau menolong orang lain dalam hal kebutuhan mereka? Salah satu kekhawatiran yang masuk akal mungkin adalah ketakutan bahwa kita tidak mempunyai sisa yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Tetapi bagi orang Kristen, seharusnya memberi adalah lebih baik dari menerima (Kisah Para Rasul 20:35) . Memberi bagi umat Kristiani menjadi suatu tindakan iman, memercayai Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kita sekaligus menjadi metode yang digunakan-Nya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Mengapa sebagian orang Kristen percaya bahwa mengikut Tuhan berarti mendapat jaminan bahwa mereka akan menjadi orang yang sukses dan kaya raya? Salah satu alasannya adalah karena Tuhan yang mahakaya adalah Tuhan yang mahabaik. Ia akan memberi kelimpahan kepada orang beriman agar mereka dapat menjadi orang yang mampu untuk menolong orang lain dan menyokong pekerjaan Tuhan di dunia. Benarkah begitu?

Ayat di atas mengajarkan bahwa orang Kristen harus mampu mempercayai Tuhan yang mengasihi kita. Dia telah membuktikan diri-Nya setia dengan memberikan rahmat-Nya kepada kita melalui iman kita kepada Yesus. Dia telah memberi kita keselamatan abadi di dalam Kristus. Pengetahuan tersebut seharusnya membantu umat Kristiani untuk yakin bahwa Dia dapat diandalkan untuk terus melimpahkan segala rahmat kepada kita. Dia akan membuat kita memiliki segala sesuatu yang “cukup” setiap saat sehingga kita dapat mencapai perbuatan baik yang Dia ingin lihat dari kita. Rasa cukup di dalam TUhan bukan kelimpahan duniawi yang justru bisa membuat kita lupa akan Tuhan dan firman-Nya kepada kita untuk mengasihi Dia dan sesama kita.

Umat Kristiani yang memberi dengan murah hati yakin bahwa sumber rezeki mereka tidak akan habis, karena sumbernya adalah Tuhan sendiri. Orang Kristen yang sejati tidak pernah berpikir bahwa Tuhan membutuhkan donasi kita untuk Dia yang mahakaya.

Ayat 2 Korintus 9:6–15 memuat penjelasan Paulus tentang manfaat dan peluang yang terkait dengan memberi dengan murah hati. Poin kuncinya adalah bahwa pemberian yang saleh adalah tindakan kasih karunia yang serupa dengan Kristus. Tuhan tidak bermaksud memberi untuk kita lakukan sebagai suatu paksaan, atau di bawah naungan legalisme. Sebaliknya, hal itu harus diilhami dan didorong oleh hati yang rela dan gembira. Memberi adalah kesempatan bagi orang percaya untuk berpartisipasi bersama Tuhan dalam memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan. Allah meningkatkan kemampuan orang beriman yang memberi dengan murah hati untuk memberi lebih banyak lagi. Hal ini mengakibatkan bertambahnya ketakwaan-Nya di muka bumi, sekaligus membuat rasa syukur kepada-Nya melimpah. Dia akan dimuliakan oleh orang yang menerima pemberian dan mendoakan orang yang memberi.

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Paulus terus mendesak jemaat Korintus untuk menepati komitmen mereka. Mereka sepakat untuk berkontribusi pada pengumpulan dana untuk umat Kristen yang menderita di Yerusalem. Mereka harus memberi dengan sukarela, bahkan dengan senang hati, sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya. Mereka tidak hanya akan berpartisipasi dengan Tuhan dalam memenuhi kebutuhan fisik orang lain, mereka juga akan berkontribusi pada rasa syukur yang melimpah kepada Tuhan. Mereka akan membangun hubungan dengan saudara mereka yang menderita di dalam Kristus yang juga akan membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Apa bukti bahwa orang Kristen percaya bahwa Tuhan itu baik? Mereka yang percya bahwa Tuhan itu baik dapat merasakan berkat Tuhan dalam hidup mereka, sehingga dalam keadaan apa pun rasa cukup ada dalam hidup mereka. Mereka tidak meminta Tuhan memberikan kelimpahan dan kenyamanan dalam hidup, tetapi kemampuan untuk bisa berbuat baik bagi orang lain. Bukti kebaikan Tuahn kepada mereka adalah ketika mereka senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.