Orang Farisi adalah orang yang tidak mengerti prinsip humanisme Yesus

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Matius 23:23

Ada berbagai jenis humanisme di dunia, dan karena itu ada baiknya mengetahui perbedaan di antara mereka. Humanisme klasik, yang dikaitkan dengan Renaisans, menekankan estetika, kebebasan, dan studi tentang “humaniora” (sastra, seni, filsafat, dan bahasa klasik Yunani dan Latin). Humanisme sekuler menekankan potensi manusia dan pemenuhan diri sampai mengesampingkan semua kebutuhan akan Tuhan; itu adalah filosofi naturalistik yang didasarkan pada akal, sains, dan pemikiran pembenaran hasil akhir dari cara-cara. Humanisme semacam ini adalah bertentangan dengan iman Kristen.

Secara umum, humanisme adalah sistem pemikiran yang berpusat pada nilai, potensi, dan nilai kemanusiaan; humanisme berkaitan dengan kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia, menekankan nilai intrinsik individu, dan melihat manusia sebagai agen otonom, rasional, dan moral. Sejauh mana sudut pandang yang luas ini diintegrasikan dengan kepercayaan Kristen yang menekankan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang baik akan menentukan apakah humanisme dapat digolongkan sebagai salah satu ajaran Kristen.

Humanisme Kristen yang benar mengajarkan bahwa kebebasan hati nurani individu, dan kebebasan intelektual adalah sesuai dengan prinsip-prinsip Kristen dan bahwa Alkitab sendiri mempromosikan pemenuhan manusia- berdasarkan keselamatan Allah di dalam Kristus, dan tunduk pada kendali kedaulatan Allah atas alam semesta. Humanisme Kristen memberikan pedoman lebih lanjut bagi kita dalam membangun kekristenan kita identitas sebagai warga dunia ini yang berkomitmen untuk mengikuti Yesus Kristus; pedoman yang memungkinkan kita untuk menghindari penerapan iman yang buruk di satu sisi, dan racun sekularisme yang sama buruknya di sisi lain.

Arti humanisme Kristen bagi mereka yang menerima kemanusiaan yang benar dari Kristus, dan berusaha untuk menjadi murid-murid-Nya yang baik di dunia, bisa diperjelas dalam beberapa hal:

  • Kaum humanis Kristen selalu menekankan pentingnya pendidikan, bukan sekadar memperoleh keterampilan tetapi untuk memperoleh kebijaksanaan.
  • Kaum humanis Kristen selalu menghormati perbedaan, namun mereka juga memiliki komitmen yang sama mencari dan mempertahankan kebenaran.
  • Humanis Kristen selalu berkomitmen untuk kesejahteraan negara mereka, tetapi mereka melakukannya telah menjadi orang yang kritis, yang bisa menempatkan keadilan masyarakat di atas kepentingan kelompok sendiiri atau kepentingan politik.
  • Humanis Kristen selalu mendorong kreativitas manusia dan menghargai keindahan.
  • Humanis Kristen selalu peduli untuk memastikan bahwa ilmiah dan teknologi pembangunan melayani kepentingan bersama.
  • Humanis Kristen selalu ingat bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama dalam hal keadilan sosial dan hak azasi.

Jika kita melihat semua itu, sebagai bangsa Indonesia kita harus bersyukur bahwa negara kita mempunyai dasar negara yang menyokong prinsip humanisme yang sesuai dengan iman Kristen. Tetapi, bagi kita orang percaya, semua itu bergantung pada cara pelaksanaannya, bukan seperti yang diyakini orang Farisi.

Yesus mengatakan beberapa hal yang kasar kepada dan tentang orang Farisi. Konfrontasi paling terkenal antara Yesus dan orang Farisi ditemukan dalam Injil dan disebabkan oleh perselisihan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang murni, persepuluhan, dan hukum Sabat (Mat 12:2, 12-14: 15:1-12; Markus 2 :16; Lukas 11:32-54). Jika kita meneliti apa yang dilalkukan orang Farisi pada saat itu adalah bersangkutan dengan “anti humanisme”. Mereka selalu memikirkan hasil akhir, tetapi memakai cara-cara yang tidak benar.

Matius mencatat salah satu contoh Yesus berbicara tentang orang Farisi. Yesus memberi tahu orang banyak itu karena para ahli Taurat dan orang Farisi “telah menduduki kursi Musa” dalam arti kursi kepemimpinan. “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” (Mat 23:3). Intinya, Yesus berkata bahwa beberapa hal yang mereka ajarkan tentang Tuhan dan Kitab Suci adalah baik dan benar. Jadi, dengarkan pengajaran mereka. Tetapi karena orang Farisi tidak hidup secara benar seperti yang mereka khotbahkan, Yesus memperingatkan, jangan hidup seperti mereka.

Apakah semua orang Farisi buruk? Tidak semua orang Farisi adalah fanatik agama munafik, yang menyebabkan kesusahan bagi orang lain. Kita juga melihat dalam Alkitab bukti tentang orang Farisi yang tulus dan tulus dalam iman mereka. Simon orang Farisi mengadakan perjamuan untuk Yesus (Lukas 7:37). Orang-orang Farisi memperingatkan Yesus tentang rencana Herodes untuk membunuhnya (Lukas 13:31). Nikodemus (Yohanes 3) adalah seorang Farisi yang berkuasa dan anggota Sanhedrin. Nikodemus pergi bersama Yusuf dari Arimatea untuk mempersiapkan jenazah Yesus untuk penguburan (Yohanes 19:39). Mereka adalah orang Farisi yang mengenal prinsip humanisme.

Kebanyakan orang Farisi telah menjadi begitu terfokus pada banyak aturan kecil yang telah mereka ciptakan untuk menunjukkan kebaikan pribadi, sehingga mereka justru mengabaikan keinginan Tuhan untuk memiliki hubungan kasih berdasarkan kasih karunia. Ketika agama kita menjadi cara dan aturan, dan lebih terfokus pada apa yang benar dan salah, kita melupakan perintah Yesus untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:36-40). Kita dipanggil untuk menghasilkan buah, bukan menjadi pengawas buah. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35).

Sebagai manusia, kita juga memiliki kecenderungan alami untuk mengabaikan anugerah Tuhan, menjalankan kewajiban agama agar terlihat suci sekalipun tanpa ketulusan, dan terjebak dalam perbedaan teologi kecil yang membuat kita, seperti orang Farisi yang dicela Yesus, lupa untuk mencintai sesama kita dan menolak mentah-mentah prinsip-prinsip humanisme Kristen.

Humanisme Kristen berpendapat bahwa manusia memiliki martabat dan nilai karena manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Sejauh mana manusia adalah agen yang otonom, rasional, dan bermoral itu sendiri merupakan cerminan dari keberadaan mereka yang diciptakan sebagai gambar Allah atau imago Dei. Nilai manusia diasumsikan di banyak tempat dalam Kitab Suci: dalam inkarnasi Yesus (Yohanes 1:14), belas kasihan-Nya kepada orang-orang (Matius 9:36), perintah-Nya untuk “mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri” (Markus 12:31), dan Perumpamaannya tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30–37). Kiasan Paulus terhadap tulisan-tulisan sekuler (Kis. 17:28; Titus 1:12) menunjukkan nilai pendidikan klasik dalam menyampaikan kebenaran.

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Matius 25:35-40

Kaum humanis Kristen memahami bahwa semua harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus (Kolose 2:3) dan berusaha untuk bertumbuh menjadi pengetahuan penuh tentang segala hal yang baik untuk pelayanan Kristus (Filipi 1:9; 4:6; bandingkan Kolose 1 :9). Tidak seperti humanis sekuler yang menolak gagasan tentang kebenaran yang diwahyukan Tuhan, humanis Kristen berpegang pada Firman Tuhan sebagai standar untuk menguji kualitas segala sesuatu.

Humanis Kristen menghargai budaya manusia tetapi mengakui efek intelektual dari sifat kejatuhan manusia (1 Korintus 1:18-25) dan adanya dosa di setiap hati manusia (Yeremia 17:9). Humanisme Kristiani mengatakan bahwa manusia mencapai potensi penuhnya hanya ketika dia masuk ke dalam hubungan yang benar dengan Kristus. Saat diselamatkan, ia menjadi ciptaan baru dan dapat mengalami pertumbuhan di setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:17).

Tidak semua kaum Kristen memandang humanisme Kristen sebagai sesuatu yang baik, karena istilah humanisme sering berkaitan dengan usaha manusia untuk mencapai apa yang dingini menurut cara manusia dan berpusat pada manusia. Tetapi, humanisme Kristen yang benar harus mengakui bahwa setiap usaha dan pencapaian manusia harus berpusat pada Kristus. Kita harus menghindari sikap orang Farisi, dan karena itu segala sesuatu harus kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kesombongan atau promosi diri (1 Korintus 10:31). Kita harus berusaha untuk melakukan yang terbaik secara fisik, mental, dan rohani dalam segala hal yang Tuhan ingin kita lakukan agar kita menjadi umat-nya yang setia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai orang Kristen tita tidak boleh menjadi orang yang mengerti dan mengajarkan apa yang ada dalam Alkitab, tetapi enggan untuk melaksanakannya. Sebaliknya, kita harus harus menggunakan Alkitab sebagai pedoman untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan yang berguna untuk masyarakat dan menjadi suara yang menegaskan nilai dan martabat kemanusiaan sebagai gambar Allah dalam usaha melawan semua pengaruh yang tidak baik di dunia.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Iman tanpa perbuatan adalah bukan iman

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

Yakobus membahas topik kerja secara mendetail di bagian kedua dari pasal 2. Saat membahas perbuatan, dia selalu menggunakan bentuk jamak “perbuatan-perbuatan (Yunani erga) daripada “perbuatan” yang berbentuk tunggal (Yunani ergon). Hal ini membuat beberapa orang beranggapan bahwa Yakobus menggunakan kata “perbuatan-perbuatan” untuk mengartikan sesuatu yang berbeda dari “perbuatan”. Namun, erga dan ergon hanyalah bentuk jamak dan tunggal dari kata yang sama. Yakobus menggambarkan segala jenis perbuatan orang Kristen, mulai dari amal ibadah, seperti memberi makan kepada seseorang yang lapar, hingga pekerjaan yang berguna untuk masyarakat, seperti usaha meningkatkan hasil sawah yang berkelanjutan. Penggunaan jamaknya menunjukkan bahwa dia mengharapkan perbuatan baik orang Kristen selama hidup di dunia bisa berlangsung terus-menerus.

Fokus Yakobus pada perbuatan telah menimbulkan kontroversi mendalam tentang surat itu. Luther dikenal tidak menyukai kitab Yakobus karena dia membaca Yakobus 2:24 (“Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”) sebagai kontradiksi dari Galatia 2:16 (“Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.”). Para pemimpin Reformasi Protestan lainnya tidak sependapat dengan pandangan ini, tetapi keberatan Luther mendominasi pengertian atas tulisan Yakobus di antara sebagian golongan Kristen. Meskipun kita tidak dapat membahas perdebatan panjang tentang Luther dan kitab Yakobus di sini, kita dapat mempelajari secara singkat apakah penekanan Yakobus pada perbuatan bertentangan dengan penekanan golongan tertentu pada “pembenaran oleh iman”.

Apa yang Yakobus sendiri katakan? Yakobus 2:14 bisa dibilang merupakan inti dari argumennya, jadi kita akan mempertimbangkan bagian ini sebelum melanjutkan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia??” Yakobus secara blak-blakan menjawab pertanyaannya sendiri dengan menyatakan, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17). Matinya iman (seperti yang dia catat dalam contoh yang dipilih dengan cermat) adalah seperti seseorang yang sangat membutuhkan makanan, yang hanya menerima kata-kata harapan kosong dari sesamanya (Yakobus 2:15-16). James menekankan bahwa iman kepada Kristus pasti akan menggerakkan kita untuk merasakan belas kasihan, dan bertindak secara nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Inilah inti dari kitab Yakobus. Yakobus tidak membayangkan bahwa perbuatan bertentangan dengan iman. Tidak ada “pembenaran karena perbuatan” karena tidak akan ada perbuatan baik kecuali sudah ada iman (kepercayaan) kepada Tuhan. Yakobus tidak bermaksud bahwa iman dapat ada tanpa perbuatan namun tidak cukup untuk keselamatan. Maksudnya adalah bahwa setiap “iman” yang tidak mengarah pada perbuatan adalah mati; dengan kata lain, itu sama sekali bukan iman. Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian juga iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus tidak memerintahkan orang Kristen untuk berbuat baik agar mereka bisa beriman, atau sebagai tambahan dari iman kepada Kristus. Ia mengharapkan agar umat Kristiani bekerja untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan sebagai hasil dari menaruh iman kepada Kristus.

Wawasan bahwa iman Kristiani selalu mengarah pada tindakan praktis dengan sendirinya menjadi pelajaran bagi kita dalam hidup sehari-hari. Kita tidak dapat membagi dunia menjadi dua: yang rohani dan yang praktis, karena yang rohani seharusnya juga adalah yang praktis atau yang bisa dijalankan. “Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya,” kata Yakobus (Yakobus 2:21). Oleh karena itu kita tidak pernah dapat mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus dan saya pergi ke gereja, tetapi saya memisahkan iman pribadi saya dari pekerjaan saya.” Iman seperti itu sudah mati. Kata-kata Yakobus “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” (Yakobus 2:24) menantang kita untuk mewujudkan komitmen kita kepada Kristus dalam aktivitas kita sehari-hari.

Banyak orang mengaku sebagai Kristen, namun kehidupan dan prioritas mereka menunjukkan kenyataan yang sesungguhnya. Yesus mengutarakannya demikian:

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:16-23.

Bagaimana orang bisa beriman adalah disebabkan oleh tindakan berdaulat Allah dimana seseorang berdosa mengalami “permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” yang dicurahkan di atasnya sehingga ia lahir kembali. Ketika hal ini terjadi, Allah memberi orang berdosa yang telah diampuni sebuah hati baru dan menaruh roh yang baru di dalamnya. Allah mencabut hatinya yang telah dikeraskan oleh dosa dan mengisinya dengan Roh Kudus. Roh ini menyebabkan orang yang diselamatkan bisa berjalan dalam ketaatan kepada Firman Allah.

Iman tanpa perbuatan disebut mati karena yang terungkap ialah fakta bahwa hati orang itu belum diubah oleh Allah. Ketika kita diperbarui oleh Roh Kudus, kehidupan kita pasti akan menyaksikan kehidupan baru itu. Perbuatan kita akan terlihat dari ketaatan kita kepada Allah. Iman yang tidak terlihat, dapat disaksikan secara nyata oleh kehadiran buah-buah Roh yang menghiasi kehidupan kita (Galatia 5:22). Orang Kristen adalah milik Kristus, Sang Gembala yang Baik. Sebagai domba-Nya kita mau mendengar suara-Nya dan mengikuti Dia (Yohanes 10:26-30). Inilah yang harus kita sadari pagi ini.

Kemunduran setelah kemajuan

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.” Ibrani 10: 26

Dengan kemajuan teknologi, di Australia banyak lowongan jabatan yang diiklankan lewat internet. Untuk itu ada beberapa website yang khusus menerima iklan lowongan kerja dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Sebagai syarat mengajukan lamaran, biasanya pelamar harus mengirimkan surat pengantar, riwayat hidup dan jawaban untuk kriteria seleksi lewat website itu. Untuk melakukan hal itu, tentu saja si pelamar harus membaca dengan teliti iklan lowongan kerja dan berbagai syarat yang diminta. Dengan berbekal pengetahuan tentang lowongan pekerjaan itu, barulah sang pelamar bisa memberi respons yang sesuai dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan oleh pemasang iklan. Mereka yang kemudian memutuskan untuk tidak mengajukan lamaran karena berbagai alasan, dengan sendirinya tidak mungkin memperoleh pekerjaan itu. Mereka sudah memilih untuk mundur.

Barangkali Tuhan bisa dibayangkan seperti pemilik sebuah perusahaan besar yang ingin mempekerjakan sebanyak mungkin orang yang ingin mempunyai pekerjaan. Ia kemudian memasang iklan tentang lowongan yang ada, yang menjelaskan bahwa perusahaan-Nya adalah sebuah tempat yang besar dimana semua pekerja akan merasakan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Melalui firman-Nya, Tuhan menjanjikan bahwa mereka yang percaya kepada-Nya dan kemudian mau mengikut Dia, akan memperoleh hidup yang abadi di surga. Tuhan juga menjelaskan bahwa untuk menjadi pekerja-Nya, tidak ada persyaratan pendidikan, pungutan biaya, atau hal-hal lain yang perlu dilakukan oleh manusia. Keselamatan hanya membutuhkan pertobatan dan penyerahan hidup kepada-Nya selama waktu masih ada.

Manusia membaca atau mendengar firman Tuhan itu dan mempelajari apa yang dimaksudkan Tuhan dengan posisi sebagai anak Tuhan di surga. Memang tidak mudah bagi manusia untuk memahami betapa besar karunia keselamatan Tuhan melalui darah Yesus yang memungkinkan setiap orang  untuk menjadi bagian dari kerajaan Tuhan secara cuma-cuma. Tuhan melalui Roh Kudus bekerja dengan segala cara untuk meyakinkan semua calon pekerja Tuhan bahwa lowongan itu benar-benar  ada karena Tuhan Yesus yang membuka jalan bagi manusia untuk memasuki surga. Keselamatan di surga hanya karena karunia Tuhan semata-mata. Apa yang ditawarkan Tuhan hanya memerlukan manusia untuk meresponinya.

Dalam perumpamaan penabur (Matius 13: 3 – 16), Yesus menggambarkan bagaimana firman Tuhan adalah seperti biji yang jatuh ke berbagai jenis tanah. Sebagian manusia yang membaca dan mendengar tentang adanya posisi dalam kerajaan surga itu mungkin menganggapnya sebagai khayalan belaka. Terlalu indah untuk dapat dipercaya! Bagaimana mungkin manusia bisa diterima untuk ke surga tanpa harus mengurbankan apa-apa? Sebagian lagi mungkin percaya tetapi kemudian lupa karena terlalu sibuk dengan hidupnya. Sebagian meneliti kabar baik itu dengan entusias dan kemudian ingin untuk menyambut tawaran itu. Mereka kemudian untuk sementara waktu berusaha untuk membuat respons yang positif dengan bertobat dari hidup lamanya dan menempuh hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Tetapi, tidak lama kemudian respons mereka terhenti karena berbagai sebab. Mereka itu mungkin saja belum sempat menjadi pekerja Kristus yang sepenuhnya!

Ayat pembukaan diatas memang adalah ayat yang sering didiskusikan oleh berbagai golongan Kristen. Pada intinya, ada beberapa hal yang mungkin dipertanyakan:

  1. Apakah respons manusia diperlukan atas karunia keselamatan Tuhan?
  2. Apakah mereka yang sudah menerima karunia itu bisa kehilangan keselamatan melalui perbuatan dosa?

Pertanyaan-pertanyaan diatas tidaklah mudah dijawab. Walaupun demikian, terlihat bahwa mereka yang sudah mendapat pengetahuan tentang adanya keselamatan di surga dan ingin untuk mendapatkannya haruslah dengan percaya, berubah dari hidup lamanya. Ini adalah respons yang diminta Tuhan kepada setiap manusia yang ingin menjadi umat-Nya. Pengetahuan tentang adanya lowongan di surga harus diikuti dengan kemauan untuk meyambut tawaran Tuhan dengan komitmen hidup baru. Jika manusia sudah memperoleh pengetahuan akan kemahasucian Tuhan tetapi tetap memilih hidup dalam dosa,  itu menandakan bahwa mereka belum betul-betul mengenal Kristus. Mereka mungkin dulunya ingin maju tetapi kemudian memilih untuk mundur. Sebaliknya, mereka yang sudah benar-benar menjadi pekerja Kristus dan yang sudah bisa merasakan kasih dan kebesaran Tuhan, tentu tidak mungkin memilih untuk mundur.

Pagi ini kita belajar untuk bisa mengerti bahwa walaupun keselamatan adalah anugerah Tuhan, kita juga memiliki bagian dalam rencana keselamatan-Nya, yaitu tanggung jawab untuk meresponi, itulah langkah pertama dari keyakinan yang menyelamatkan jiwa. Dan lebih dari itu, kita memiliki tanggung jawab untuk tetap setia sampai akhir dan mengalahkan kehendak sendiri melalui bimbingan Roh Kudus. Itu agar kita bisa mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, yang bisa ditunjukkan dengan ketaatan (Yohanes 14:21) dan persekutuan yang berkesinambungan dengan-Nya.

“Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak” 2 Yohanes 1: 8-9

Apakah iman saja cukup tanpa pengetahuan?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5-7

Untuk menjadi anggota sebuah gereja, pada umumnya seseorang harus menerima semacam kursus dasar teologi yang dinamakan katekese atau catechesis. Katekese suatu bentuk pengajaran agama yang biasanya melibatkan pembacaan informasi dalam bentuk lisan. Instruksi biasanya didasarkan pada buku atau dokumen yang dikenal sebagai katekismus, yang berisi ringkasan prinsip-prinsip, terutama ajaran agama, seringkali dalam bentuk tanya jawab. Sementara katekismus adalah isi pengajaran, orang yang diajar disebut katekumen (dari bahasa Yunani untuk “orang yang diinstruksikan”) dan katekis adalah orang yang melakukan pengajaran. Jika instruksi itu disebut katekese, prosesnya disebut katekisasi.

Katekese merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tugas mewartakan Injil yang diamanatkan Yesus Kristus (Matius 28:19-20; Markus 16:15). Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara sistemastis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen. Diambil dalam arti “tindakan pengajaran” dan “pengetahuan yang diberikan oleh pengajar”, istilah ini identik dengan katekismus.

Hampir semua katekismus mengandung empat unsur utama yang sama. Sekalipun isi doktrin katekismus sangat bervariasi dari gereja mula-mula hingga hari ini, sebagian besar katekese memasukkan empat pokok: Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah, dan ajaran tentang sakramen misalnya, Perjamuan Kudus dan baptisan. Dalam aliran Reformed, bahan katekisasi yang paling sering dipakai adalah singkatan dari Pengakuan Westminster (dari abad 17). Sayang sekali, apa yang disampaikan dalam program katekisasi gereja di Indonesia agaknya tidak mencakup keseluruhan pengakuan ini.

Orang Kristen sering mendefinisikan iman hanya sebatas yakin atau percaya kepada Tuhan dan firman-Nya. Jika ada orang yang kenal atau hafal beberapa ayat-ayat Alkitab di luar kepala, itu mungkin sudah dianggap beriman. Tetapi Rasul Yakobus sangat tidak setuju dengan definisi yang demikian. Melalui Ilham Roh, dengan keras Rasul Yakobus mengingatkan keduabelas suku Israel di perantauan lewat suratnya dalam Yakobus 2:19:

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”

Iman ternyata tidak hanya sekedar “perasaan” percaya atau yakin saja. Hal tersebut terlalu abstrak dan sangat bias. Yang terpenting adalah bukti nyata yang dapat dilihat dari pengertian dan pelaksanaan yang benar, yang menggambarkan iman yang sesungguhnya. Tetapi, bagaimana kita tahu apa yang benar dan apa yang salah? Tentu kita memerlukan pengetahuan, seperti yang diingatkan oleh rasul Petrus dalam 2 Petrus 1:5-7:

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”

Dengan demikian, sebagai orang Kristen kta harus tetap mau belajar teologi dengan tujuan berikut ini:

  1. Perdalam Pengetahuan Anda tentang Tuhan
    Pengejaran utama teologi adalah untuk lebih memahami sifat Allah dan bagaimana Dia bekerja di dunia. Yesus memanggil kita untuk “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37). Anda tidak dapat benar-benar mencintai seseorang tanpa mengenalnya, sehingga proses belajar teologi akan memperdalam cinta Anda kepada Tuhan dan mempererat hubungan Anda dengan-Nya.
  2. Pertahankan Iman Anda
    Setiap hari, di seluruh dunia, orang Kristen ditantang oleh orang lain untuk membela iman mereka. Inilah mengapa sangat penting bagi orang Kristen untuk mengetahui tidak hanya apa yang mereka percayai, tetapi juga mengapa mereka mempercayainya. Teologi berusaha untuk memahami kepercayaan sentral Kekristenan dari semua sudut, menggunakan contoh-contoh dunia nyata dan mempersiapkan Anda untuk secara cerdas mempertahankan kepercayaan Anda ketika diperlukan.
  3. Dapatkan Pengetahuan tentang Disiplin Lain
    Untuk menjawab pertanyaan sulit tentang keberadaan dan sifat Tuhan, teologi harus menggunakan disiplin ilmu lain seperti sejarah dan filsafat. Ini mungkin sering ditentang oleh golongan tertentu karena dianggap antroposentris. Antroposentris adalah sebuah pandangan bahwa manusia sebagai pusat dari semuanya. Tetapi ini bukanlah apa yang benar. Mempelajari teologi justru memberikan kesempatan untuk mempelajari sejarah Yesus dan kekristenan mula-mula serta filosofi di balik apologetika, yaitu cabang teologi yang membela kebenaran Alkitab dari penolakan orang lain.
  4. Memperkuat Ikatan Komunitas
    Anda tidak dapat mempelajari teologi dalam ruang hampa. Anda membutuhkan guru dan mentor yang berpengalaman untuk membantu membimbing Anda sepanjang jalan. Mempelajari teologi dengan orang lain dalam kelompok atau lingkungan akademis akan membantu Anda menjalin hubungan jangka panjang dengan sesama orang Kristen. Dalam hal ini ada banyak ulasan teologi di berbagai situs internet di Indonesia; dan jika Anda bisa berbahasa Inggris, beberapa situs ini bisa saya rekomendasikan: Monergism, Desiring God, The Gospel Coalition, GotQuestions, dan Ligonier Ministries.
  5. Belajarlah untuk Menjalankan Iman Anda
    Karena teologi akan memperdalam pengetahuan Anda tentang iman Kristen dan menerapkannya pada situasi dunia nyata, itu akan mempersiapkan Anda untuk mengikuti jalan yang lebih berpusat pada Kristus. Perspektif filosofis dan historis yang ditawarkannya akan membantu menumbuhkan kepercayaan Anda pada Tuhan dan rencana-Nya bagi Anda. Jadi, Anda harus berhati-hati jika ada orang yang selalu mengumandangkan istilah “kembali ke Alkitab” atau “back to the Bible“, karena ada kemungkinan bahwa apa yang mereka sampaikan justru kurang benar. Mereka yang belajar teologi di seminari, bukan saja belajar ayat-ayat Alkitab, tetapi juga latar belakang kebudayaan, filsafat, humanisme dan sejarah manusia. Itu karena pelaksanaan iman kita selama hidup di dunia selalu bersangkutan dengan manusia dari berbagai latar belakang (Roma 3: 29).

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa tanpa mempunyai pengetahuan yang benar, kita tidak akan tahu bagaimana kita dapat melakukan perbuatan baik yang menjadi ciri iman yang benar: penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara seiman, dan kepada kasih akan semua orang. Semoga Anda selalu mau belajar teologi selama masih bisa!

Pandangan kita atas sifat Tuhan mempengaruhi sikap kita

“Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri.” Lukas 19: 20-22

Mengapa penting bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat Allah? Penginjil A.W. Tozer, dalam buku klasiknya, The Knowledge of the Holy, mengatakannya sebagai berikut: “Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika kita berpikir tentang Tuhan adalah hal terpenting tentang kita.” Tozer mengatakan bahwa jika kita ingin benar-benar mengalami kekuatan rohani yang mengubah hidup, kita setidaknya harus memegang pandangan bahwa Tuhan itu mahakuasa, berdaulat, mahasuci, mahaadil, dan mahakasih. Jika kita hanya mengenal Dia dari satu sudut saja, kita akan mudah membuat kekeliruan dalam hidup dalam fatalisme seperti hamba ketiga dalam ayat di atas.

Alkitab penuh dengan perincian tentang apa yang penting bagi Allah. Secara garis besar, Alkitab memberitahu kita apa yang Dia kasihi (yaitu kita), dan apa yang Dia benci (yaitu dosa). Itu menjadi seluk-beluk tentang pedoman-Nya tentang bagaimana kita harus mencintai dan mengampuni orang lain, dan pendirian-Nya tentang apa yang kita anggap sebagai “dosa kecil” (yang kita anggap lumrah) dan “dosa besar” (yang harus dihindari kalau bisa). Secara keseluruhan, itu memberi tahu kita bagaimana kita harus hidup sebagai umat-Nya.

Apakah Anda memiliki pemikiran “tinggi” atau “rendah” tentang Tuhan? Apakah Anda mengenal Dia sebagai Pencipta Anda yang mahakasih – atau hanya sebagai Oknum yang mahakuasa? Apakah Anda memiliki hubungan setiap hari dengan Tuhan – atau hanyamencari Dia ketika Anda memiliki masalah? Apakah Anda berpendapat bahwa Tuhan yang mahakasih ingin agar semua manusia yang bertobat untuk diselamatkan atau Dia ingin agar sebagian manusia untuk dilemparkan ke neraka? Apakah Anda yakin bahwa Tuhan menyelamatkan umat-Nya tanpa mengharuskan mereka untuk hidup kudus? Masing-masing dari atribut berikut ini mengarahkan kita untuk melihat Tuhan dengan benar: sebagai Oknum Ilahi yang mahasuci, mahaadil, mahakuasa, dan mahakasih.

ALLAH ITU MAHASUCI DAN MAHAADIL

“Tetapi TUHAN semesta alam akan ternyata maha tinggi dalam keadilan-Nya, dan Allah yang maha kudus akan menyatakan kekudusan-Nya dalam kebenaran-Nya.” Yesaya 5: 16

Allah itu kudus dan sempurna. Ini adalah satu atribut Tuhan yang harus kita utamakan. Jadi kehadiran-Nya yang kudus menyebabkan Dia menolak dosa kita. Kekudusan-Nya adalah penyebab kematian bagi orang yang hidup dalam dosa. Tetapi karena Dia sangat mengasihi kita, Dia mengorbankan Anak-Nya di kayu salib agar kita dapat berdiri dalam hubungan yang benar dengan-Nya. Hanya kekudusan Allah yang dapat menutupi kekotoran dosa kita. Dia memberi semua orang kesempatan, apakah mereka akan menurut ajakan Roh-Nya agar mereka menerima Dia sebagai Juruselamat atau menolak-Nya dengan sengaja secara terus menerus. Itu adalah Tuhan yang murah hati. Karena Allah itu kudus, kasih-Nya adalah murni dan tidak tersembunyi.

“Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: ”Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Yesaya 57:15

ALLAH ITU MAHAKUASA DAN BERDAULAT

Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu! Yeremia 32:17

Tuhan menikmati kekuatan tak terbatas; tidak ada yang terlalu sulit bagi-Nya. Tuhan dapat dengan mudah mengucapkan sesuatu menjadi ada. Segala sesuatu yang Tuhan inginkan terjadi, akan terjadi; tidak ada yang dapat menggagalkan atau mencegah rencana-Nya. Tuhan bahkan berkuasa atas hidup dan mati. Tidak ada yang bisa menentang Dia atau rencana-Nya. Tetapi, semua itu bukan menunjukkan bahwa Tuhan adalah kejam dan semena-mena. Karena Tuhan itu baik, kuasa-Nya mencerminkan karakter-Nya yang baik. Kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak hanya memegang seisi alam semesta di telapak tangan-Nya, tetapi juga berkuasa atas rasa sakit, ketakutan, dan kebutuhan kita. Lebih dari itu, Dia tahu siapa yang benar-benar ingin menjadi domba-Nya.

Tuhan mengetahui secara instan dan tanpa susah payah semua materi dan semua hal, semua pikiran dan setiap pikiran, semua roh dan setiap roh, semua makhluk dan setiap makhluk, semua ciptaan dan stiap makhluk, semua hukum dan setiap hukum, semua hubungan, semua sebab, semua pikiran, semua misteri, semua perasaan, semua keinginan, setiap rahasia yang tak terucapkan, semua singgasana dan kekuasaan, semua kepribadian, semua hal yang terlihat dan tidak terlihat di surga dan di bumi. Allah itu mahakuasa dan karena itu Dia berdaulat.

Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: ”Apa yang Kaubuat?” Daniel 4:35

Tuhan itu berdaulat dan mandiri. Dia tidak membutuhkan apa pun, termasuk diri kita. Walaupun demikian, Dia bekerja melalui kita untuk mencapai rencana-Nya. Jadi mengapa kita terlalu sering mencoba mendefinisikan Tuhan, memasukkan Dia ke dalam kotak yang kita beri label dan kita kendalikan? Jangan menipu diri sendiri. Tuhan tidak perlu membuat kita menjadi robot-Nya. Kuasa Tuhan bisa mengatasi apapun yang kita pikirkan dan kita miliki.

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46:9-10

ALLAH ITU MAHAKASIH

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:37-39

Kebaikan Allah berasal dari sifat kasih-Nya. Bahkan dosa sebesar apa pun tidak dapat mengecilkan kasih Allah bagi kita. Tuhan memisahkan “siapa” kita dari “perbuatan” kita. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, kita mungkin mengalami saat-saat buruk, tetapi itu tidak membuat kita menjadi orang jahat di mata Tuhan. Bukankah itu menakjubkan? Dia mau mengampuni kita ketika kita meminta, dan tidak lagi mengingat dosa kita yang muncul akibat ketidakberdayaan kita. Dia bahkan mendengar suara bisikan penyesalan kita yang paling sering kita ucapkan. Karena Tuhan penuh kasih, Dia mengulurkan belas kasihan yang tak terukur kepada orang yang takut akan Dia (dalam pengertian yang benar).

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14: 21

Memang, jika sifat mahakasih Allah terlalu ditekankan, kita cenderung segera mereduksi Tuhan menjadi sesuatu yang dapat diatur, catat Tozer. “Kita ingin mendapatkan Dia di mana kita dapat menggunakan Dia, atau setidaknya tahu di mana Dia berada saat kita membutuhkan Dia. Kita menginginkan Tuhan yang dalam beberapa hal dapat kita kendalikan.” Padahal, Alkitab menyatakan bahwa siapa yang dikasihi Allah adalah orang-orang yang tunduk kepada perintah-Nya.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa pandangan kita tentang Tuhan akan mempengaruhi sikap kita selama hidup di dunia. Apa yang kita anggap sebagai sifat seorang Bapa, mudah akan kita tiru sebagai anak. Karena itu kita harus mengenal Dia seperti apa yang dinyatakan dalam Alkitab. Kita tidak boleh memisah-misahkan atribut Allah, atau hanya terpukau dalam salah satu atribut-Nya. Setiap orang pada akhirnya akan akan dihakimi menurut keyakinannya sendiri.

Apa yang Anda persembahkan?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Ada ajaran agama yang menyatakan bahwa persembahan untuk Tuhan dan sesama manusia adalah perlu untuk mendapatkan tempat yang baik di surga. Dengan demikian, jika ada sesorang yang meninggal dunia, mereka yang ditinggalkan akan mendoakan agar Tuhan memertimbangkan amal ibadah si almarhum semasa hidupnya, dan memberikan apa yang baik baginya di dunia akhirat. Ini bukanlah apa yang diajarkan dalam agama Kristen.

Agama Kristen mengajarkan bahwa tidak ada apa pun yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan untuk membeli keselamatan kita ataupun memilih tempat yang baik di surga. Keselamatan hanya datang melalui penebusan Yesus, dan apa yang kita terima di surga adalah sepenuhnya menurut kehendak Tuhan. Kalau begitu, apakah ada insentif bagi umat Kristen untuk memberi persembahan dan melalukan amal ibadah? Ada, karena umat Kristen percaya bahwa di bumi maupun di surga, Tuhan akan memberi apa yang sesuai dengan jerih payah mereka dalam melayani Tuhan. Tetapi, umat Kristen umumnya tidak menganggapnya sebagai sesuatu pendorong utama untuk melakukan amal ibadah, karena persembahan umat Kristen adalah pernyataan syukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan kepada umat-Nya.

Bagaimana dengan prosedur memberi persembahan dalam agama Kristen? Jika dulu persembahan berupa uang dimasukkan kedalam kantung kolekte atau amplop khusus di gereja, sekarang persembahan dapat dilakukan dengan cara elektronik atau bank transfer. Umumnya, gereja-gereja yang besar mempunyai jemaat yang loyal dan mampu memberi persembahan yang banyak. Terlepas dari jenis gereja, aliran teologi maupun tingkat ekonomi jemaat, persembahan harus diberikan dengan motif yang benar, melalui cara yang benar dan digunakan untuk tujuan yang benar.

Apa prinsip-prinsip utama dalam persembahan umat Kristen?

Kita memberi karena Tuhan lebih dulu memberi pemberian yang terbesar.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Persembahan kita merupakan pernyataan kasih dan syukur kita secara pribadi kepada Tuhan kita.

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6: 4

Melalui persembahan kita memuliakan nama Tuhan.

“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku” Mazmur 50: 23

Persembahan kita dapat menjadi penyaluran kasih Tuhan kepada sesama manusia.

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3: 17

Dengan persembahan kita memperkuat iman kita.

“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22

Apa yang keliru:

Tuhan membutuhkan persembahan kita: Ini adalah kesalahan besar. Tuhan adalah pemilik segala sesuatu (Mazmur 50:7-15), termasuk pemilik harta yang ada di tangan kita. Tuhan adalah sumber dan pemberi berkat (Mazmur 127:2; Amsal 10:22; Ulangan 8:17-18; 2 Korintus 4:7).

Persembahan materi, perbuatan baik, dll. hanya menunjukkan manusia yang kuang yakin akan keselamatannya: Ini juga kesalahan yang sering terjadi di beberapa gereja, karena penekanan atas kedaulatan Tuhan yang terlalu ekstrem sehingga ada perasaan bahwa jika orang sudah yakin diselamatkan, tidak perlu lagi berusaha keras untuk melakukan amal ibadah.

Kesombongan: Kalau pemberian kita didasari keinginan untuk dihormati orang, jelas motif kita keliru. Bagaimana kalau pemberian seseorang membuat seisi gereja bangga? Sama saja. Jika bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, itulah kesombongan. Persembahan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan hasil persembahan jemaat sebaiknya tidak dijadikan simbol kesuksesan gereja. Memberi bukan untuk mendapatkan penghargaan manusia. Pemberian juga tidak boleh dijadikan usaha mempengaruhi gereja.

Ketamakan: Memberi dengan mengharapkan balasan Tuhan yang berupa materi yang berlipat ganda adalah kekeliruan besar. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, karena itu jika kita memberikan sebagian kepada-Nya kita tidak boleh mengharapkan bahwa Ia akan mengembalikan dengan bonus. Begitu juga dengan ajakan agar jemaat memberi yang disertai “janji” bahwa Tuhan akan mengembalikan “hutangNya” dengan “bunga” yang besar. Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dulu memberi dan bukan karena menginginkan balasan. Dalam hal ini, Tuhan menghargai persembahan yang sekalipun kecil tapi sesuai dengan kemampuan kita. Bagaimana kalau gereja hanya menghargai jemaat yang mampu dan persembahan yang besar saja? Bacalah Yakobus 2:1-9.

Rasa bersalah: Ada orang yang memberi karena merasa kuatir. Apalagi jika ada nazar yang pernah diucapkan di masa lalu. Walau ini kelihatannya baik, Tuhan mengingini persembahan nazar yang disertai syukur dan kerelaan, bukannya dengan rasa takut atau bersalah. Bagaimana kalau gereja menganjurkan jemaat untuk memberi dengan cara menakut-nakuti mereka? Jelas itu keliru. Bacalah 2 Korintus 9:7.

Persembahan harus berupa uang: Uang adalah salah satu bentuk persembahan. Yang lain bisa berupa barang, tenaga, waktu, pelayanan, perhatian, dll. Memang kita ingin untuk menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita, tetapi kita harus sadar bahwa kasih mempunyai banyak ragam.

Hanya untuk orang seiman: Banyak orang berpikir bahwa Tuhan hanya mengasihi anak-anak-Nya dan karena itu persembahan kita hanya untuk kalangan sendiri. Ini keliru. Yang benar adalah Tuhan mengasihi seisi dunia. Karena itu kita wajib menolong siapa pun yang memerlukan bantuan.

Persembahan yang terbaik:

Seandainya kita diundang ke acara perjamuan pesta makan malam di istana kepresidenan saat presiden berulang tahun, kira-kira hadiah apa yang hendak kita berikan? Tentu saja, kita tidak akan memberikan hadiah yang sembarangan, melainkan kita pasti akan memikirkan dan berusaha memberikan yang terbaik. Jika untuk seorang presiden kita bisa memberikan yang terbaik, bukankah sudah semestinya bila kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan?

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah karena itu adalah ibadah kita yang sejati. Dengan kata lain, jika kita benar-benar ingin membawa persembahan untuk Allah, kita harus memakai seluruh hidup kita sebagai persembahan yang membawa kemuliaan bagi Allah dan bukannya untuk kemuliaan diri sendiri.

Persembahan bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap orang percaya. Memberi persembahan bukan berarti bahwa kita memberi sumbangan kepada Tuhan atau gereja. Memberi persembahan juga bukan bertransaksi atau berdagang dengan Allah, sehingga kita harus menghindari sikap seperti pedagang atau penagih hutang, debt collector. Apakah Anda telah bertekad untuk mendedikasikan hidup Anda sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, termasuk mendedikasikan harta dan kemampuan jasmani yang Anda miliki?

Haruskah kita memikirkan dosa-dosa kita?

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Di kalangan Kristen injili dewasa ini, sudah menjadi hal yang lumrah bagi kita untuk menyatakan bahwa adanya dosa membuat setiap manusia tidak berbeda di hadapan Allah. Semua orang sudah berdosa adalah kehilangan kemuliaan Allah.

Jika ada kebenaran dan ketidakbenaran, kebenaran (kesempurnaan) bagi Allah adalah mutlak. Dengan demikian, secara umum semua dosa adalah sama di hadapan Allah, dalam arti bahwa semua dosa menurut definisinya “tidak benar” dan “tidak sempurna”. Segala sesuatu yang kurang suci adalah tidaklah kudus bagi Allah yang mahakudus. Karena itu, banyak orang yang menolak perlunya penekanan moralitas dalam iman Kristen, sebab tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan karena kesucian hidupnya.

Kita dapat membayangkan upaya manusia untuk mencapai kebenaran sebagai sekelompok orang yang mencoba melompati jurang. Beberapa mulai berlari; beberapa mencoba lompat galah; yang lain mencoba untuk terbang dengan mengepakkan tangan mereka untuk menyeberang – tetapi tidak ada yang bisa mencapai sisi lain. Tidaklah ada bedanya jika mereka jatuh pada jarak dua centimeter, dua meter, atau dua kilometer dari sisi lain, mereka semua jatuh ke jurang. Serupa dengan itu, semua dosa adalah sama bagi Tuhan. Tidak ada bedanya berapa besar dosa kita, kita semua akan jatuh ke dalam kematian kekal jika tidak ditebus oleh darah Kristus.

Sekarang, setelah kita menetapkan bahwa secara umum semua dosa pada dasarnya sama di hadapan Tuhan, kita perlu menambahkan beberapa detil yang membuat dosa berbeda. Bukan dari segi hukum dunia atau etika sosial, tapi menurut pandangan Alkitab.

Kita tahu bahwa nafsu dan perzinahan adalah dosa (Matius 5: 28), ini bukan berarti keduanya sama dalam segala hal. Memiliki nafsu seksual di dalam hati akan mempunyai konsekuensi di dunia ini, tetapi konsekuensi itu tidak akan separah melakukan perbuatan zina secara fisik. Melakukan satu perzinahan tidaklah sama dengan berkali-kali berzinah. Hal yang sama berlaku untuk menyimpan dendam jika dibandingkan melakukan pembunuhan. Mengingini sesuatu memiliki efek yang lebih rendah daripada mencuri. Dosa adalah dosa, tetapi tidak semua dosa menanggung hukuman atau menyebabkan akibat yang sama dialam kehidupan orang Kristen selama di dunia. Dalam pengertian ini, beberapa dosa lebih buruk daripada yang lain karena bertalian dengan apa yang kemudian terjadi sebagai buahnya.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen merasa segan untuk mengutik-utik masalah dosa, apalagi dosa lama, dalam hidupnya. Mereka lebih senang untuk tidak memikirkannya. Mungkin mereka pernah merasa tersinggung dengan kecenderungan generasi sebelumnya untuk mengidentifikasi satu atau dua dosa sebagai dosa yang sangat berat. Karena itu, sebagian gereja ingin mencari cara yang lunak untuk menarik anggota baru yang mungkin alergi terhadap gagasan dosa. Dengan demikian, banyak pendeta yang hanya menekankan kutukan universal Alkitab atas keberdosaan manusia. “Semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Namun mereka tidak menyerukan perlunya pertobatan seperti apa yang dikumandangkan para penginjil dari abad yang lalu.

Semua dosa sama di hadapan Allah dan setiap dosa akan menjauhkan seseorang dari surga. Alkitab menyebutkan bahwa mereka yang hidup dalam kekudusan akan masuk ke surga. “Tetapi anjing-anjing dan tukang-tukang sihir, orang-orang sundal, orang-orang pembunuh, penyembah-penyembah berhala dan setiap orang yang mencintai dusta dan yang melakukannya, tinggal di luar.” (Wahyu 22:15). Pada saat penghakiman terakhir, tampaknya ada tingkat hukuman di antara para “anjing”, yaitu orang yang tidak diselamatkan: “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”” (Lukas 12:48). Jadi tidak semua dosa manusia memiliki bobot hukuman yang sama di neraka.

Kita tentu ingat bahwa Yesus pernah menjungkir balikkan begitu banyak meja di pelataran bait suci. Dia juga membalikkan pandangan kita bahwa semua dosa adalah sederajat. Meskipun Yesus memperingatkan kita untuk tidak membuat kesimpulan yang tergesa-gesa dan sederhana tentang siapa “orang-orang berdosa yang lebih buruk” (Lukas 13:1–5), dia juga memperingatkan kita bahwa beberapa orang berdosa, jika mereka tidak bertobat, akan menghadapi “hukuman yang lebih besar” ( Lukas 20:47). Dia mengajarkan bahwa sebagian orang akan menerima “pukulan ringan” pada hari terakhir sementara yang lain akan menerima “pukulan hebat” (Lukas 12:47–48). Dia berbicara tentang penghakiman terakhir yang “lebih dapat ditoleransi” untuk beberapa kelompok daripada yang lain, meskipun keduanya menuju ke neraka. Singkatnya, dia memberi tahu kita bahwa tidak semua dosa itu sama, dan neraka akan lebih buruk bagi sebagian orang.

Mungkin Anda berpendapat bahwa semua perbedaan derajat dosa hanya relevan untuk orang yang tidak dipilih Allah untuk ke surga. Itu benar. Dan untuk orang percaya, ada satu segi lain di mana semua dosa sama di mata Allah: semua dosa, tidak peduli seberapa besar atau kecilnya, dapat diampuni di dalam Kristus. Kitab Suci mengatakan bahwa “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20). Tidak ada satu dosa pun yang bisa mengalahkan anugerah Tuhan. Kita semua sama-sama berdosa di hadapan Allah. Tetapi, di dalam Kristus, kita dijadikan benar. Kita “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus ” (Roma 3:24–25). Dengan iman kepada Kristus, kita dilahirkan kembali dan karena itu menang atas dosa: “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yohanes 5:4). Masalahnya, siapakah orang yang sudah lahir dari Allah? Mereka yang benar-benar sudah lahir baru, pasti tidak akan tetap hidup dalam dosa yang lama, apa pun bentuknya.

Alkitab menyatakan dosa seksual sebagai apa yang memiliki konsekuensi yang lebih buruk daripada jenis dosa lainnya: “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.” (1 Korintus 6:18). Dalam hal ini, perbuatan maksiat dianggap terpisah dari dosa lain seperti ketidakjujuran, kesombongan, iri hati, dll. Semua dosa akan berdampak negatif pada pikiran dan jiwa seseorang, tetapi maksiat seksual akan segera dan langsung memengaruhi cara hidup seseorang. Jika tubuh umat percaya adalah rumah Roh Kudus, kehancuran yang ditimbulkan oleh percabulan akan berdampak secara nyata. Peringatan Tuhan terhadap dosa seksual dipeluas dalam peringatan ini: “Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri.” (Amsal 6: 32). Tidak mengherankan, perzinahan bisa mengakibatkan timbulnya banyak dosa lain, seperti yang terjadi pada raja Daud yang menyebabkan kematian suami Batsyeba. Kehancuran seperti ini bisa terjadi pada hidup setiap orang Kristen.

Haruskah kita bersikeras bahwa beberapa orang yang kita kenal telah berbuat dosa lebih buruk dan jatuh lebih dalam? Dalam kenyataannya, semua orang memiliki tendensi untuk berpikir bahwa orang-orang tertentu “tidak pantas” untuk ke gereja mereka. Ini ada benarnya, dan karena itu banyak gereja mempunyai peraturan ekskomunikasi dan peringatan untuk jemaat yang hidup dalam dosa. Tetapi orang-orang yang bagaimana? Dan siapa yang ada dalam pikiran Yesus ketika dia memperingatkan tentang tingkat terendah di neraka? Mungkin kita berpikir tentang orang-orang yang kejam di abad-abad pertama atau pemimpin negara seperti Hitler dan Stalin. Tetapi, kita akan heran jika menyadari bahwa Yesus menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang religius yang terhormat. Pada zaman sekarang, orang-orang sedemikian mungkin menyukai kita dan kita berteman dengan mereka.

Di suatu tempat di tengah-tengah pelayanan-Nya, Yesus melihat kembali ke kota-kota Galilea “di mana sebagian besar pekerjaan hebat-Nya telah dilakukan” (Matius 11:20) – dan mulai mencela mereka. Mengapa begitu? Sejauh yang kita tahu, Khorazin, Betsaida, dan Kapernaum tidak terkenal karena kejahatannya. Ini adalah kota-kota kecil di Galilea, bertetangga dengan Nazaret. Kapernaum bahkan adalah “kota sendiri” Yesus selama pelayanannya (Matius 4:13; 9:1). Penduduk tempat-tempat ini kemungkinan besar adalah orang-orang Yahudi yang menghadiri sinagoga, menghafal Taurat, dan memelihara Sabat. Bagaimana mungkin mereka mengalahkan Sodom dalam hal dosa?

Para pendengar Yesus di Galilea memiliki rasa bersalah yang lebih besar bukan karena dosa-dosa mereka yang dianggap sangat keji. Orang-orang berdosa yang paling buruk di dunia ini, bukanlah mereka yang hidup dalam pesta pora, tetapi mereka yang terus berbuat dosa ketika mereka memiliki alasan dan kesempatan untuk bertobat. Tirus, Sidon, dan Sodom, dengan segala kejahatan mereka, hidup dan mati dalam kegelapan Injil. Chorazin, Bethsaida, dan Kapernaum melihat cahaya Injil yang menyala-nyala, tetapi mereka diam-diam menutupi dosa mereka. Para pendosa terburuk di dunia ini adalah mereka yang terus berbuat dosa ketika mereka memiliki alasan dan kesempatan untuk bertobat.

Tidak akan ada masalah pada hari terakhir jika kita telah hidup dekat Yesus sepanjang hidup kita. Warga Galilea dapat mengklaim hal yang sama: ” Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami”. Tetapi Yesus akan berkata kepada mereka: “Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Lukas 13:26–27). Pertobatan, bukan kedekatan, akan menjadi tanda para pengikut Yesus pada hari penghakiman.

Di sini Yesus tidak berbicara tentang orang-orang yang benar-benar percaya, benar-benar bertobat, namun iman mereka kecil, kekuatan mereka lemah, dan kebutuhan mereka akan belas kasihan sangat besar. Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai seperti itu, ataupun memadamkan sumbu yang padam seperti itu (Matius 12:18-21). Dia berbicara tentang orang yang mengaku Kristen yang, meskipun akrab dengan Kristus dan mengenal Injil-Nya, belum mengikuti Yesus dengan sepenuh hati, belum membenci kejahatan mereka, belum meninggalkan dosa-dosa mereka yang tersembunyi.

Pagi ini, kita harus merenungkan sebuah pertanyaan penting. Apakah ada kemungkinan bahwa kita yang mendengar Injil Kristus, dan menyaksikan karya agung-Nya dalam kehidupan baru orang-orang di sekitar kita, dan mengucapkan pengakuan iman, dan dibasuh dalam air pembaptisan, dan mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan, dan menghadiri gereja sepanjang hidup kita – tetapi tidak benar-benar bertobat?

Iman yang suam-suam kuku, tanggapan setengah-setengah terhadap perintah Yesus akan memperburuk, bukan meredakan, murka Allah pada hari terakhir. Yesus sudah berkata bahwa lebih baik kita tersesat dalam api Sodom daripada mendengar, dan menyaksikan, dan mengulangi, dan mengambil bagian dalam hal-hal yang terlihat Kristen sepanjang hidup kita, namun tanpa pertobatan.

Mungkin beberapa dari kita membutuhkan dorongan untuk akhirnya bertobat dengan tulus, sementara yang lain membutuhkan bantuan untuk terus bertobat setiap hari. Jika demikian, kita hanya perlu terus percaya akan kasih Yesus. Kemarahan Yesus terhadap Khorazin, Betsaida, dan Kapernaum segera digantikan oleh salah satu undangan terhangat yang pernah Ia ucapkan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Matius 11:28–30

Datanglah padaku. Tidak peduli berapa tahun seseorang hanya mencoba-coba Injil, tidak peduli berapa banyak kesempatan untuk bertobat yang telah mereka injak-injak, tidak peduli berapa banyak khotbah dan nasihat yang mereka hina, Yesus berkata, “Datanglah kepadaku.” Dia mengundang mereka yang terang-terangan membencinya sepanjang hidup mereka, dan Dia juga mengundang mereka yang secara diam-diam menolaknya. Yesus lemah lembut dan penuh kasih. Dia tidak senang dengan kematian orang fasik (Yehezkiel 33:11). Sebaliknya, Dia senang ketika orang jahat, setelah bertahun-tahun menolak dia, akhirnya datang, siap untuk bertobat dan menemukan peristirahatan mereka di dalam Dia.

Tidak semua dosa, dan tidak semua pendosa, adalah sama. Tetapi semua pendosa seperti kita memiliki obat yang sama: Juruselamat kita sudah datang, mati, dan bangkit sehingga tidak seorang pun yang mengakui dosa mereka dan bertobat akhirnya harus pergi ke neraka.

Aku akan memberi kelegaan kepadamu

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11:28 

Obat penenang secara umum digunakan untuk mengurangi gangguan kecemasan atau stres yang berlebihan. Jika seseorang mengalami susah tidur yang disebabkan oleh depresi atau gangguan kecemasan, dokter mungkin akan meresepkan obat antidepresan yang memiliki efek penenang. Meski demikian, obat jenis ini tidak semata-mata langsung dapat digunakan untuk mengobati gangguan tidur, seperti insomnia atau susah tidur. Beberapa obat penenang dalam dosis rendah dimanfaatkan sebagai perangsang kantuk (hipnotik sedatif) yang dapat membuat seseorang tertidur. Namun, tidak berarti semua jenis obat penenang dapat dimanfaatkan sebagai obat tidur.

Setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu, obat penenang dapat menyebabkan ketergantungan obat. Upaya menghentikan penggunaan obat penenang pada kondisi tersebut dapat menyebabkan susah tidur, gelisah, kejang, dan perubahan suasana hati atau mood. Selain itu, ketergantungan secara psikologis dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya tanpa obat penenang yang dikonsumsi. Banyak pecandu obat semacam ini adalah orang-orang yang terkenal, yang pada mulanya mungkin ingin mengurangi kelelahan hidup yang dideritanya. Tetapi, karena sering dipakai, lambat laun dosis obat ini makin meningkat karena tubuh menjadi kebal, dan tanpa disadari mereka menjadi pecandu obat keras.

Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia yang tidak menentu, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Sebagai manusia, naluri manusia mungkin mengingatkan bahwa saat ini nasib mereka ada di tangan sendiri. Mereka mau berusaha untuk mengatasi persoalan yang ada. Dalam keadaan terdesak, pikiran sehat diganti dengan segala usaha (legal atau tidak, terbukti efektif atau tidak) untuk mempertahankan eksistensi. Mereka mungkin siap dan bersedia untuk ikut mencoba obat-obatan yang ada.

Dalam suasana chaos, manusia mudah lupa bahwa Tuhan tetap memegang kontrol atas kehidupan seluruh umat manusia di dunia.Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah meminum obat-obatan yang bisa, untuk sementara, menghilangkan rasa sakit dan memberi ketenangan. Bagi orang beriman, mungkin doa permohonan kepada Tuhan masih bisa membawa sebuah harapan. Tetapi doa yang bagaimana?

Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia mana pun tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan Yesus adalah Tuhan yang selalu ada beserta kita dan tahu apa yang terjadi dalam hidup kita. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia mau mendengarkan doa kita dan memberi kita ketabahan dan kekuatan.

Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa ketenangan dan kedamaian? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan dan kekuatiran yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita. 

Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Yesus yang penuh kasih akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan Yesus adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran.

Rasul Paulus adalah salah satu rasul yang pernah mengalami pergumulan hidup yang berat di masa tuanya. Kita tidak tahu pasti apa yang dideritanya, tetapi itu adalah suatu masalah yang sering membuat dia merasa sangat lemah. Walaupun demikian, Paulus justru merasakan bahwa Tuhan itu dekat ketika ia mengalami kesengsaraan. Ia tetap berdoa, tetap berharap, tetapi ia juga mau menerima apa yang sudah ditetapkan Tuhan. Seperti rasul Paulus, kita pun bisa merasakan kekuatan yang datang dari Tuhan jika kita bertekun dan berserah di dalam Dia.

Aku memohon kepada Tuhan tiga kali untuk mengambil masalah itu dari aku. Tetapi Tuhan berkata kepadaku, “Anugerah-Ku cukup bagimu. Apabila engkau lemah, kuasa-Ku menjadi sempurna di dalam engkau.” Jadi, aku sangat senang atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus hidup di dalam aku. Aku senang di dalam kelemahan, di dalam hinaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan, dan di dalam kesengsaraan karena Kristus. Dan aku senang dengan hal itu sebab apabila aku lemah, aku sungguh-sungguh kuat. 2 Korerintus 12: 8-10

Apakah Tuhan penyebab dosa kita?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1: 13-15

Dari manakah datangnya dosa manusia? Apakah Adam dan Hawa dibuat jatuh oleh Tuhan? Pengakuan Westminster Bab 3 Poin 1 menyatakan:

Allah, dari kekal, telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi, melalui rencana kehendak-Nya sendiri yang berhikmat sempurna dan mahakudus, dengan bebas dan tidak dapat diubah-ubah. Namun, dengan demikian Allah tidak menjadi Penyebab dosa, kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder tidak dihapuskan, malah diteguhkan.

Dosa terjadi karena manusia mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk memilih. Dosa terjadi bukan karena Tuhan yang membuat manusia jatuh. Hal ini karena Tuhan tidak mau melanggar kebebasan makhluk-Nya yang merupakan agen bebas. Tuhan tidak mau memanipulasi hati atau kehendak manusia. Manusia mempunyai tanggung jawab moral atas pilihan dan kehendaknya. Keputusan dan tindakan agen bebas tersebut bergantung pada penyebab sekunder, yang terkadang terlihat kebetulan, yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Kehendak manusia tergantung pada penyebab sekunder yang ada di sekelilingnya, yang menentukan untuk menjadi apa yang paling menarik dan menentukan pada saat manusia mengambil keputusan. Tuhan tidak melanggar kehendak bebas manusia. Jadi, ketika seorang manusia bertindak sebagai agen bebas yang secara rasional berbuat dosa, dia bertanggung jawab penuh atas dosanya. Pengakuan Westminster ungkapkan gagasan ini dengan indah: “Allah tidak menjadi Penyebab dosa, kehendak makhluk tidak diperkosa, dan kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder tidak dihapuskan, malah diteguhkan”.

Tuhan menetapkan segala sesuatu melalui rencana dan kehendak-Nya. Itu adalah sebuah kebenaran. Namun, pengakuan Westminster berhati-hati untuk memagari doktrin ini dari segala jenis fatalisme. Kita harus yakin bahwa Allah itu kudus dan suci pada saat memungkinkan adanya dosa. Dia yang mahasuci tidak bisa menciptakan dosa, berbuat dosa, juga tidak membujuk siapa pun untuk berbuat dosa (Yakobus 1:13). Tetapi Allah menggunakan orang-orang berdosa sebagai alat di tangan-Nya yang berdaulat untuk mencapai tujuan-Nya yang baik dan benar (Yesaya 10:5-7, 15).

Seperti yang tertulis di atas, penetapan mutlak Tuhan tidak berarti bahwa “kebebasan atau sifat kebetulan sebab-sebab sekunder dihapuskan, tetapi justru diteguhkan.” Apakah penyebab sekunder itu? Penyebab sekunder adalah ‘sarana’ atau kejadian-kejadian lain di dunia untuk mencapai suatu tujuan. Allah telah menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi. Tapi secara umum, apalagi di alam fisik, Dia tidak langsung mewujudkan apa yang ditetapkan-Nya secara langsung melalui intervensi.

Pengakuan Westminster juga mengajarkan bahwa meskipun ketetapan Tuhan adalah penyebab primer atau utama mengapa segala sesuatu terjadi, masih ada penyebab sekunder atau kedua yang Tuhan gunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-Nya. Allah memutuskan bahwa Putra-Nya akan mati, namun Ia melakukannya melalui tangan orang-orang jahat. Bahkan dalam beberapa hal seperti hasil lemparan dadu yang benar-benar acak atau prediksi super komputer yang bergantung pada kemampuan manusia, Tuhan masih mengontrol hasilnya (Amsal 16:33).

Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak mau melakukan intervensi? Sesungguhnya mujizat adalah peristiwa atau perbuatan yang ditimbulkan langsung oleh kuasa Tuhan, yang bertentangan dengan hukum alam dan di luar pengaruh penyebab sekunder. Ini masih bisa terjadi sampai sekarang. Tetapi keajaiban yang asli jarang terjadi, karena Tuhan secara umum memilih untuk mewujudkan apa yang Dia kehendaki melalui sarana atau penyebab sekunder. Allah melakukan intervensi di alam spiritual dalam tindakan seperti kelahiran baru; tetapi secara fisik dan alami itu jarang dilakukan kecuali selama periode ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya melalui mukjizat, seperti selama pelayanan Tuhan Yesus di bumi. Meskipun adanya penyebab sekunder juga telah ditetapkan Tuhan, kita harus melihat itu telah ditetapkan menurut kodratnya.

Pengakuan Westminster mengajarkan bahwa ketetapan Tuhan tidak meniadakan realitas kehendak manusia. Tuhan telah menentukan peristiwa sebelum terjadi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan mereka (Lukas 22:22). Pilihan manusia mengalir dari hati mereka sendiri (Amsal 4:23; Markus 7:21). Tetapi Alkitab juga menyatakan bahwa kehendak Tuhan bisa mengatasi hati manusia sehingga pilihan mereka, baik apa yang baik maupun apa yang jahat, bisa dipakai-Nya untuk memenuhi tujuan-Nya. “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.” (Amsal 21: 1). “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21).

Rencana Allah selalu konsisten dengan hikmat dan kekudusan-Nya yang tak terbatas. Ini adalah seperti yang dikatakan dalam Alkitab “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Maka Yusuf menjelaskan kepada saudara-saudaranya: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20).

Hari ini, kesadaran kita bahwa ketetapan Allah adalah kekal tidak boleh mendorong kita untuk malas dan ceroboh dalam menggunakan sarana yang tepat untuk berbuat baik. Penetapan mutlak Tuhan atas segala sesuatu yang terjadi tidak melanggar kebebasan dan tanggung jawab makhluk-Nya. Karena itu Yakobus berkata, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Begitu pula Yudas dikutuk meskipun telah ditetapkan bahwa Kristus akan diserahkan olehnya: “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”” (Matius 26:24). Petrus, dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, dengan cara yang sama menuduh orang-orang Yahudi atas kejahatan mereka dalam membunuh Tuhan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” (Kisah 2 :23). Setiap orang percaya harus mau bertanggung jawab atas cara hidupnya.