Dari Buta Firman ke Melek Firman

“Kamu menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” (Yohanes 5:39-40)

Bagian Injil Yohanes ini merangkum poin penting tentang perbedaan antara melihat, mendengar dan percaya. Seseorang yang menolak untuk percaya tidak dapat diyakinkan, apa pun bukti yang diberikan (Yohanes 5:40). Yesus mengkritik para pemimpin agama setempat karena tidak mau mendengar suara Allah (Yohanes 5:37-38).

Ayat ini menunjukkan penyebab sebenarnya dari ketidakpercayaan orang-orang munafik religius ini. Masalah mendasarnya sama dengan semua orang yang menolak Yesus Kristus: mereka tidak percaya karena mereka tidak mau percaya. Bagi mereka, bukti sebanyak apa pun tidak akan cukup untuk mengatasi hal itu (Lukas 16:31).

Sebenarnya bukti ada banyak, terutama dalam Kitab Suci. Yesus juga menunjukkan bukti kesaksian manusia (Yohanes 5:33) dan mukjizat-mukjizat-Nya sendiri (Yohanes 5:36). Mereka dapat dikatakan buta, tuli dan bisu terhadap bukti tersebut karena mereka tidak mau percaya kepada Yesus.

Pada zaman sekarang, kita mengenal istilah “buta huruf” sebagai sebutan bagi orang yang tidak bisa membaca. Istilah ini terasa pas, karena sekalipun huruf itu ada di depan mata, orang tersebut tidak dapat menangkap maknanya. Namun, bila dipikirkan lebih dalam, ada juga sisi lain yang bisa kita bayangkan: seseorang bisa saja tahu huruf itu ada, tetapi tidak bisa menyebutkannya — seakan-akan “bisu huruf.” Atau, ada orang yang sudah didiktekan bunyi huruf berulang-ulang, tetapi tidak mampu memahami — seolah-olah “tuli huruf.”

Ketiga gambaran ini — buta, bisu, tuli — bukan hanya cocok untuk dunia literasi, yang bisa dipakai dalam tulisan bernada humor, tetapi juga bisa menjadi cermin rohani yang serius. Banyak orang Kristen hari ini mengalami kondisi serupa: buta terhadap Firman, bisu untuk bersaksi, dan tuli terhadap teguran Allah. Persis seperti keadaan sewaktu Yesus masih ada di dunia.

1. Buta Huruf Rohani: Mata Terbuka, Hati Tertutup

Orang yang buta huruf rohani sebenarnya bisa melihat Alkitab. Mereka bisa memegangnya, membuka halaman demi halaman, bahkan mungkin membacanya. Tetapi mata rohani mereka tertutup: mereka tidak menangkap pesan yang terkandung di balik huruf-huruf itu.

Paulus menuliskan dalam 2 Korintus 3:14 bahwa pikiran orang Israel menjadi tumpul, sehingga mereka tidak mengerti isi Kitab Suci, “karena hanya Kristus sajalah yang dapat menyingkapkannya.”

Banyak orang hari ini rajin membaca Alkitab sebagai rutinitas, tetapi Firman tidak menembus hati mereka. Seperti kaca mata yang buram, mereka hanya melihat huruf, bukan makna. Buta huruf rohani berarti hadir di gereja, mendengar khotbah, tetapi tidak melihat Yesus di balik semua itu.

2. Bisu Huruf Rohani: Tahu Kebenaran, Diam Membisu

Kondisi kedua adalah bisu huruf rohani. Inilah orang Kristen yang tahu Firman, tetapi tidak berani atau tidak mau mengucapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yesus berkata dalam Matius 10:32, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku.” Tetapi betapa banyak dari kita yang memilih diam. Kita tahu apa yang benar, tetapi bibir kita terkunci. Kita malu bersaksi di lingkungan kerja, kita segan menegur dengan kasih, kita takut ditolak bila menyebut nama Yesus.

Bisu huruf rohani juga berarti tidak menghidupi Firman dalam perbuatan. Firman itu tersimpan di kepala, tetapi tidak keluar dalam ucapan dan tindakan. Seperti lilin yang disimpan di bawah gantang, sinarnya tidak terlihat.

3. Tuli Huruf Rohani: Mendengar, Tapi Tidak Mengerti

Jenis ketiga adalah tuli huruf rohani. Orang seperti ini sering mendengar Firman, tetapi tidak pernah menanggapi. Mereka masuk gereja, mendengar khotbah, mungkin bahkan mencatat ayat, tetapi ketika keluar, mereka tidak berubah.

Yesaya 6:9-10 menggambarkan umat yang “mendengar dengan telinga, tetapi tidak mengerti; melihat dengan mata, tetapi tidak menanggap.” Tuhan Yesus pun mengutip nubuat itu dalam pengajarannya.

Tuli huruf rohani sering terjadi karena hati yang keras, kesombongan dan kurangnya kasih. Kita mendengar teguran, tetapi menutup telinga. Kita mendengar perintah untuk mengampuni, tetapi tetap menyimpan dendam. Kita mendengar panggilan untuk melayani, tetapi lebih memilih kenyamanan.

4. Kristus Membuka Mata, Telinga, dan Lidah

Syukur kepada Allah, Yesus datang bukan hanya untuk memberi pengajaran, tetapi untuk menyembuhkan keterbatasan rohani kita. Dalam Injil, Yesus sering menyembuhkan orang buta, orang bisu, dan orang tuli. Itu bukan hanya mujizat jasmani, tetapi juga tanda rohani.

Ia membuka mata yang buta supaya kita melihat kebenaran (Lukas 24:31: “mata mereka terbuka dan mereka mengenal Dia”). Ia melepaskan lidah yang kelu supaya kita berani bersaksi (Markus 7:37: “Ia membuat orang bisu berkata-kata”). Ia membuka telinga yang tuli supaya kita mendengar suara-Nya (Markus 7:35: “terbukalah telinganya”).

Inilah kabar baik Injil: kita yang buta, bisu, dan tuli secara rohani dapat dipulihkan oleh Yesus. Tanpa Yesus, kita tidak berdaya.

5. Dari Buta Firman ke Melek Firman

Ada perbedaan besar antara sekadar mengenal huruf-huruf Firman dengan mengalami hidup dalam Firman. Orang Farisi pada zaman Yesus sangat tekun menyelidiki Kitab Suci. Mereka tahu hukum Taurat, mereka hafal ayat-ayat, tetapi mereka gagal melihat Yesus sebagai pusat dari Kitab itu.

Yesus menegaskan dalam ayat pembukaan dari Yohanes 5:39-40 bahwa huruf-huruf Kitab Suci bersaksi tentang Dia, tetapi orang Yahudi tetap tidak mau datang kepada-Nya. Mereka berhenti pada huruf, tetapi tidak sampai kepada hidup.

Kita pun bisa jatuh pada jebakan yang sama. Kita bisa menjadi “ahli huruf” Alkitab, pandai mengutip ayat, tetapi tidak hidup di dalamnya. Firman seharusnya bukan hanya informasi, tetapi transformasi kehidupan. Hidup lama yang penuh dosa diubah menjadi hidup baru dalam terang-Nya.

Jangan sekadar membaca Alkitab sebagai buku biasa, tetapi mintalah Roh Kudus membuka mata hati kita. Turutlah perintah Tuhan dan janganmengabaikannya dalam ketulian. Janganlah kita bisu, tapi bagikanlah kebenaran, baik lewat kesaksian maupun lewat tindakan kasih. Tapi semua ini tidak mudah jika kita bergantung pada diri sendiri. Kita harus jujur mengakui bahwa seringkali kita ini buta, bisu, dan tuli huruf rohani. Tetapi syukur, Yesus datang untuk menyembuhkan kita. Ia ingin membuka mata kita agar melihat kebenaran, membuka telinga kita agar mendengar suara-Nya, dan membuka mulut kita agar berani mengaku dan bersaksi.

Pertanyaan reflektif:

  • Apakah Anda membaca Alkitab hanya untuk kewajiban, ataukah sungguh-sungguh mencari Kristus di dalamnya?
  • Apakah telinga rohani Anda peka mendengar suara Tuhan, ataukah Anda memilih tuli terhadap perintah-Nya?
  • Apakah Anda hanya tahu Firman, ataukah juga bersuara dan bertindak sesuai Firman?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, ampunilah aku yang sering buta terhadap Firman-Mu, bisu untuk bersaksi, dan tuli terhadap suara-Mu. Bukalah mataku agar aku melihat kemuliaan-Mu. Bukalah telingaku agar aku mendengar panggilan-Mu. Bukalah mulutku agar aku berani menyatakan kasih-Mu. Jadikan aku bukan hanya pembaca huruf, tetapi pelaku Firman yang hidup. Amin.

Mengasihi Semua Orang Bukan Berarti Bersahabat dengan Semua Orang

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15:33

Di zaman ini, banyak orang bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Jika orang bisa memilih dengan siapa ia bergaul dalam alam nyata, seringkali orang kurang peduli dengan siapa ia berkomunikasi dalam alam maya seperti di Facebook atau WhatsApp. Walaupun demikian, semua orang Kristen selayaknya berhati-hati dalam memilih teman dan bergaul, di mana saja dan kapan saja. Mengapa begitu?

Setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup di tengah dunia, bukan mengasingkan diri darinya. Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang (Matius 5:13–16), yang artinya kehadiran kita harus bisa memberi rasa, pengaruh, dan membawa terang Kristus ke dalam lingkungan kita, baik dalam alam nyata maupun maya. Salah satu cara paling nyata adalah melalui sikap kita dalam pergaulan.

Namun, di sinilah letak ketegangan: kita harus ramah kepada semua orang, tetapi tidak semua orang bisa menjadi sahabat dekat kita. Ramah (friendly) kepada semua orang dan bahkan mengasihi semua orang adalah panggilan universal bagi setiap pengikut Kristus, tetapi untuk mendapat sahabat (friends) kita membutuhkan hikmat, batasan, dan kerelaan untuk memilih dengan bijak.

Ramah kepada Semua Orang

Yesus sendiri memberi teladan yang sempurna. Ia dikenal sebagai “sahabat orang berdosa” (Matius 11:19). Ia makan bersama pemungut cukai, berbincang dengan perempuan Samaria, dan bahkan menyentuh orang kusta yang dianggap najis. Sikap-Nya melampaui batas sosial dan budaya pada zaman itu. Ia mau berkomunikasi dengan semua orang dengan rasa kasih. Ia mau dekat (friendly) kepada semua orang, karena itu kita juga harus friendly kepada semua orang. Menjadi “friendly” berarti: Ramah dalam tutur kata (Kolose 4:6), menghormati semua orang (1 Petrus 2:17), dan mengupayakan damai (Roma 12:18). Dengan kata lain, sikap friendly adalah ekspresi kasih yang bersifat terbuka. Tidak ada alasan bagi orang Kristen untuk bersikap kasar, sombong, atau pilih kasih dalam pergaulan.

Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Sahabat

Di sisi lain, Alkitab dengan tegas memperingatkan tentang pengaruh buruk dari pergaulan yang salah. Amsal 13:20 berkata: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Ada perbedaan besar antara ramah kepada semua orang dan menjadikan semua orang sahabat. Persahabatan melibatkan kepercayaan, pengaruh, dan kesetiaan. Karena itu, sahabat yang salah bisa menarik kita menjauh dari Kristus.

Contoh nyata terlihat dalam kisah Salomo. Walaupun ia raja yang bijak, istri-istrinya yang berasal dari bangsa asing akhirnya mencondongkan hatinya kepada berhala (1 Raja-raja 11:4). Persahabatan yang salah arah bisa menghancurkan iman seseorang.

Yesus dan Lingkaran Persahabatan-Nya

Yesus memang ramah kepada semua orang, tetapi lingkaran sahabat-Nya lebih kecil. Ia memilih 12 murid untuk hidup bersama-Nya. Dari 12 itu, ada 3 murid terdekat (Petrus, Yakobus, Yohanes). Bahkan di antara 3 itu, Yohanes disebut “murid yang dikasihi Yesus”.

Jelas bagi kita bahwa Yesus yang sempurna pun tidak membuka diri secara sama rata kepada semua orang. Ini menjadi teladan bagi kita: ramah kepada semua, tetapi membatasi sahabat dekat hanya kepada mereka yang bersama kita berjalan dalam kebenaran.

Pergaulan Yesus dengan Pelacur dan Pemungut Cukai

Salah satu ciri paling menonjol dari pergaulan Yesus adalah kedekatan-Nya dengan orang-orang yang dipandang hina: pelacur, pemungut cukai, dan mereka yang dikucilkan. Yesus hadir tanpa menghakimi, tetapi menawarkan pertobatan. Seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa datang menangis dan mengurapi kaki-Nya dengan minyak (Lukas 7:36–50). Yesus tidak menolaknya, melainkan mengampuni dan memulihkan hidupnya.

Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah lebih besar daripada dosa, tetapi selalu diiringi panggilan: “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Yesus merangkul pemungut cukai dengan kasih yang mengubahkan. Matius, seorang pemungut cukai, dipanggil menjadi murid-Nya (Matius 9:9–13). Zakheus, kepala pemungut cukai, berubah total setelah Yesus mau singgah di rumahnya. Ia mengembalikan uang hasil penipuan dan memberi separuh hartanya kepada orang miskin (Lukas 19:1–10). Yesus makan bersama mereka sebagai tanda penerimaan.

Dalam budaya Yahudi, makan bersama adalah simbol persekutuan. Dengan melakukan itu, Yesus menunjukkan kasih yang melampaui tembok pemisah. Namun, Ia tidak pernah kompromi dengan dosa. Ia tidak membiarkan mereka untuk tetap hidup dalam dosa. Ia tidak menganggap bahwa cara hidup mereka adalah “normal”. Kehadiran-Nya justru menantang mereka untuk bertobat dan hidup baru.

Prinsip bagi kita:

Friendly atau ramah kepada semua orang, termasuk mereka yang dianggap hina. Tetap menjaga kekudusan, tidak ikut larut dalam dosa atau menerima dosa sebagai hal yang normal atau netral. Mengharapkan pertobatan, bukan sekadar menjalin relasi sosial.

Prinsip Bijak dalam Memilih Sahabat

Beberapa prinsip Alkitabiah:

  • Carilah sahabat yang takut akan Tuhan (Mazmur 119:63).
  • Ujilah kesetiaan sahabat (Amsal 17:17).
  • Jangan berkompromi dengan dosa (2 Korintus 6:14).

Aplikasi bagi Hidup Kita

Di lingkungan kerja, kita harus ramah kepada semua, tetapi tetap berhati-hati untuk tidak kompromi dengan ketidakjujuran dan dosa. Di keluarga besar, kita harus menebar kasih, tetapi menjaga diri dari kebiasaan buruk. Di komunitas, kita mau berkomunikasi dengan mereka yang hidup dalam dosa tetapi tidak mengangap mereka sebagai sahabat kita, dan bahwa dosa mereka adalah masalah pribadi yang tidak mempengaruhi iman kita. Dengan demikian, pergaulan kita harus menjadi cermin kasih Kristus, dan sahabat-sahabat yang kita pilih menjadi penolong dalam perjalanan iman kita dan keluarga kita.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya sudah menunjukkan keramahan dan kasih Kristus kepada semua orang?
  • Apakah saya terlalu membuka diri kepada orang yang bisa menjauhkan orang lain dari Tuhan?
  • Siapa saja sahabat dekat saya saat ini, dan apakah mereka menolong saya untuk bertumbuh dalam iman dan untuk hidup dalam kekudusan?
  • Apakah persahabatan saya saat ini sudah memuliakan Kristus?

Doa Penutup:

“Tuhan Yesus, terima kasih karena darah-Mu telah membersihkan aku dari dosa dan menjadikanku anak Allah. Tolong aku agar hidupku selalu memuliakan Engkau, termasuk dalam pergaulan dan persahabatan. Ajarlah aku untuk ramah kepada semua orang, tetapi juga bijak memilih sahabat yang sejati. Biarlah persahabatan yang aku bangun membawa aku semakin dekat kepada-Mu dan menjadi kesaksian tentang kasih-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa, Amin.”

Memimpin dengan Memberdayakan, Bukan Mengontrol

“Dan aku mau sangat rela mengorbankan kepunyaanku, bahkan mengorbankan diriku sendiri bagi kamu.” 2 Korintus 12:15

Hari ini hari Minggu dan saya seperti biasa pergi ke gereja. Gereja yang kita kenal sekarang adalah sebuah persekutuan orang Kristen. Setiap organisasi, termasuk gereja, memerlukan kepemimpinan. Namun gaya kepemimpinan yang digunakan sangat menentukan arah pertumbuhan jemaat dan kualitas pelayanan. Dalam dunia kerja sekuler, kita mengenal berbagai gaya kepemimpinan, seperti gaya otokratis, demokratis, partisipatif, dan sebagainya. Sebagian gaya kepemimpinan kadang diperlukan dalam situasi tertentu, namun ada pula gaya yang hampir selalu merusak.

Di antara gaya kepemimpinan itu, micromanagement dikenal sebagai gaya yang paling tidak sehat. Micromanagement adalah pola memimpin dengan mengawasi secara berlebihan, mencampuri hal-hal kecil, dan menolak memberi ruang kepercayaan kepada orang lain. Di permukaan, gaya ini bisa terlihat seperti “perhatian”, tetapi sesungguhnya micromanagement adalah bentuk merendahkan orang lain secara terselubung.

Sebaliknya, kepemimpinan Kristen seharusnya berakar pada teladan Yesus Kristus dan juga para rasul. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus berkata: “Dan aku mau sangat rela mengorbankan kepunyaanku, bahkan mengorbankan diriku sendiri bagi kamu” (2 Kor. 12:15). Inilah prinsip dasar kepemimpinan rohani: rela berkorban untuk membesarkan orang lain, bukan mengendalikan demi kepentingan diri sendiri.

Paulus: Pemimpin yang Rela Mengorbankan Diri

Ayat 2 Korintus 12:15 lahir dari hati seorang gembala yang tulus. Paulus tidak mencari keuntungan dari jemaat, ia tidak menuntut penghargaan, dan ia tidak merasa harus “memegang kendali” atas segala hal. Ia rela mengorbankan apa yang ia miliki, bahkan dirinya sendiri, demi satu hal: pertumbuhan rohani jemaat.

Inilah sikap yang kontras dengan gaya micromanagement. Pemimpin yang micromanage takut kehilangan kontrol, sehingga ia menahan pertumbuhan orang lain. Paulus justru sebaliknya: ia rela kehilangan kenyamanan, relanya “berkurang”, agar jemaat bertumbuh semakin dewasa di dalam Kristus.

Seorang pemimpin rohani sejati tidak menempatkan dirinya sebagai pusat, melainkan menempatkan jemaat sebagai fokus kasih dan pengorbanannya.

Yesus: Pemimpin yang Melayani

Yesus Kristus sendiri adalah teladan utama dari kepemimpinan yang membesarkan orang lain. Ia berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).

Yesus bisa saja memilih untuk terus mengontrol murid-murid-Nya dengan ketat. Namun, Ia tidak melakukannya. Sebaliknya, Yesus justru mempercayakan misi besar kepada mereka:
• Memberi kuasa kepada murid-murid untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit (Markus 6:7).
• Mengutus mereka berdua-dua untuk memberitakan Injil (Lukas 10:1).
• Memberikan Amanat Agung untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Matius 28:19–20).

Yesus tidak micromanage. Ia tidak mengikuti mereka satu per satu, tidak mengontrol semua detail kecil, bahkan ketika Ia tahu murid-murid itu masih lemah dan sering gagal. Ia memberi mereka kesempatan untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bertumbuh. Itulah empowerment atau pemberian tanggung jawab dan wewenang yang sejati.

Micromanagement: Belittling yang Terselubung

Mengapa micromanagement berbahaya, apalagi dalam gereja? Karena micromanagement adalah belittling terselubung—merendahkan orang lain dengan bungkus “perhatian”.

Arti “belittling” adalah tindakan merendahkan atau mengecilkan seseorang atau sesuatu, membuat mereka tampak kurang penting, kurang berharga, atau tidak berarti. Ini bisa dilakukan secara verbal, dengan perkataan yang menyakitkan, atau bahkan melalui tindakan yang membuat orang lain merasa kecil dan tidak signifikan.

Dalam pelayanan, micromanagement bisa muncul ketika seorang pemimpin:
• Tidak mau mendelegasikan tugas, takut orang lain salah.
• Selalu mencampuri hal-hal kecil, seolah-olah hanya dia yang tahu cara terbaik.
• Menekan rekan pelayanan agar mengikuti cara dan gayanya saja.
• Tidak memberi kesempatan bagi orang baru untuk belajar dan berkembang.

Akibatnya, jemaat atau rekan pelayanan akan merasa tidak dipercaya, tidak dihargai, bahkan tidak dibutuhkan. Potensi mereka terhenti, kreativitas mereka tumpul, dan semangat mereka padam. Gereja pun menjadi organisasi yang stagnan, sibuk menjaga “aturan kecil” tetapi kehilangan kuasa Injil yang membebaskan.

Empowerment: Prinsip Kepemimpinan Kristen

Berbeda dengan micromanagement, prinsip empowerment adalah memberi ruang, kepercayaan, dan tanggung jawab. Pemimpin yang memberdayakan tidak takut kehilangan kontrol, karena ia tahu bahwa Roh Kudus yang memimpin gereja, bukan dirinya sendiri.

Yesus memberi empowerment kepada murid-murid-Nya. Paulus juga memberdayakan rekan-rekan pelayanannya, seperti Timotius, Titus, Apolos, bahkan perempuan-perempuan yang melayani Injil bersamanya. Mereka semua diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin rohani, bukan hanya pelaksana.

Prinsip empowerment dalam pelayanan gereja berarti:
• Memberi kesempatan kepada anggota baru untuk memimpin doa atau memimpin ibadah kecil.
• Mempercayai tim untuk mengelola proyek pelayanan tanpa harus dikontrol setiap detail.
• Mendorong ide-ide baru dari jemaat muda, sekalipun tidak sempurna.
• Menjadi mentor yang mendukung, bukan bos yang mengendalikan.

Mengapa Empowerment Penting dalam Gereja

Ada tiga alasan utama mengapa gereja harus mengutamakan empowerment, bukan micromanagement:
1. Sesuai teladan Kristus. Gereja dipanggil untuk mengikuti pola kepemimpinan Yesus—pemimpin yang melayani, bukan yang menguasai.
2. Membesarkan tubuh Kristus. Gereja bukan hanya panggung bagi segelintir pemimpin, tetapi tempat di mana setiap anggota tubuh Kristus berfungsi sesuai karunia masing-masing (1 Kor. 12:12–27).
3. Menyiapkan pemimpin masa depan. Gereja yang micromanage hanya melahirkan pengikut yang takut salah. Gereja yang memberdayakan akan melahirkan pemimpin rohani baru yang siap melanjutkan misi Kristus.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah Anda sebagai pemimpin pelayanan lebih suka mengontrol, ataukah saya memberi ruang bagi rekan pelayanan untuk berkembang?
  • Apakah Anda rela mengorbankan kenyamanan dan ego saya, supaya orang lain di sekitar saya bisa bertumbuh?
  • Apakah Anda mengikuti teladan Yesus dan Paulus yang mempercayai orang lain, sekalipun mereka belum sempurna?
  • Apakah ada orang lain yang perlu didoakan dalam pelayanan gereja Anda agar mereka bisa menyadari bahaya micromanagement?

Doa Penutup:

“Tuhan Yesus, Engkau adalah Pemimpin yang melayani dan rela mengorbankan diri bagi kami. Ampunilah kami jika dalam pelayanan sering kali kami lebih suka mengontrol daripada mempercayai. Ajari kami untuk rela ‘berkurang’ supaya orang lain bertumbuh. Seperti Paulus, ajari kami rela mengorbankan kepunyaan kami, bahkan diri kami sendiri, demi jemaat-Mu. Roh Kudus, tuntunlah kami untuk membesarkan, bukan mengecilkan; untuk memberdayakan, bukan mematikan. Jadikan gereja-Mu tempat di mana setiap orang diperlengkapi menjadi saksi Kristus. Amin.”

Doa untuk Orang Ateis dan Agnostik

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1:2

Pendahuluan:

Kejadian 1:26-27 adalah satu-satunya tempat di dalam permulaan penciptaan yang membicarakan tentang manusia diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Apa arti peta dan teladan Allah? Tidak ada ciptaan lain, yang kepadanya Tuhan menyatakan istilah penting ini. Mungkin ada orang yang memikirkan malaikat mempunyai peta dan teladan Allah, tetapi itu tidak ditulis di dalam Alkitab. Malaikat berada di dunia roh, berbeda dengan penciptaan manusia di dalam dunia materi.

Ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi, di dalam dunia materi, segala sesuatu yang kelihatan, diakhiri dengan penciptaan manusia yang mempunyai peta dan teladan Allah. Manusia mempunyai peta teladan Allah, berati manusia mirip dengan Sang Penciptanya. Kemiripan ini dalam aspek yang bagaimana?

Karena Tuhan itu Roh adanya, maka kita harus mengerti dari sifat rohaniah bukan sifat materi. Allah itu bukan materi, Allah itu Roh adanya. Kalimat yang paling penting ini dimunculkan di dalam Yohanes 4:24, “Allah itu Roh adanya, karena itu barangsiapa yang datang menyembah Dia, harus menyembah di dalam Roh dan kebenaran.” Pengertian ini bukan dinyatakan oleh nabi atau rasul, tetapi oleh Tuhan Yesus sendiri. Allah itu bukan materi dan tidak bersifat material, maka kita mengerti sifat peta teladan dari aspek rohaniah. Manusia dicipta dengan adanya sifat rohani yang tidak ada pada makhluk yang lain.

Ateis dan Konsep Roh

Umumnya, seorang ateis tidak mengakui adanya roh dalam pengertian spiritual, karena mereka berpijak pada pandangan materialistis atau naturalistis: manusia hanyalah hasil proses biologis dan kimia. Namun, pengalaman manusia tentang kesadaran, nurani, cinta, rasa keindahan, dan kerinduan akan makna, sering kali menyentuh ranah yang sulit dijelaskan hanya dengan materi. Di sinilah bisa ditunjukkan bahwa roh bukan sekadar konsep religius, tetapi realitas eksistensial.

    Walaupun tidak percaya pada Tuhan, banyak orang ateis dan agnostik tetap mengembangkan “spiritualitas” dalam bentuk lain: keindahan seni, keterhubungan dengan alam, atau keterikatan pada nilai kemanusiaan. Kerohanian mereka sering dibangun di luar agama, misalnya melalui filsafat humanisme sekuler. Tulisan dan cara berpikir mereka yang menyoroti kerohanian tanpa Tuhan ibarat “matahari yang disaksikan tanpa menyadari siapa Sang Pencipta terang itu.”

    Orang ateis biasanya menolak keberadaan Tuhan dengan alasan rasional: Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Kehadiran kejahatan dan penderitaan dianggap kontradiksi dengan Tuhan yang mahabaik. Mereka menilai agama sebagai konstruksi sosial, bukan wahyu. Dari sisi apologetika Kristen, kita bisa menanggapi: Alam semesta yang teratur dan berawal menunjuk pada Sang Pencipta (Kejadian 1:1, Mazmur 19:2). Kesadaran moral yang universal menunjukkan adanya Sumber moral (Roma 2:14-15). Kerinduan batin akan keabadian adalah jejak Allah dalam hati nurani manusia (Pengkhotbah 3:11).

    Bukan Tubuh dan Hati Nurani, tapi Tubuh dan Roh

    Setiap kali kita membaca doa Rasul Yohanes ini, hati kita hangat. Ada perhatian yang indah: Yohanes tidak hanya mendoakan Gayus sehat secara jasmani, tetapi juga sehat secara rohani. Dalam kebenaran Tuhan, jasmani dan rohani tidak bisa dipisahkan. Tuhan menciptakan manusia sebagai satu kesatuan yang utuh: tubuh dan roh. Keduanya perlu makanan.

    Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  Matius 4:4

    Namun, bagaimana jika kita menyinggung orang yang menyebut dirinya ateis? Mereka menolak keberadaan Tuhan, dan dengan itu mereka juga menolak roh serta kerohanian dalam arti iman Kristen. Bagi mereka, manusia hanyalah hasil proses biologi. Tidak ada roh yang kekal. Yang ada adalah tubuh dan hati nurani, yang akan lenyap setelah mati.

    Pertanyaannya: apakah manusia sungguh dapat hidup hanya berdasarkan jasmani dan hati nurani? Apakah kerohanian bisa dijelaskan hanya dengan fungsi otak atau kesadaran sosial? Renungan pagi ini ini mengajak kita memikirkan hal itu, dan sekaligus melihat bagaimana firman Tuhan menolong kita memahami hubungan antara jasmani, rohani, hati nurani dan Tuhan.

    Ateis dan Pandangan Tentang Roh

    Ateis biasanya menganggap roh hanyalah ilusi. Kesadaran, cinta, nurani, bahkan kerinduan akan makna hidup dianggap sebagai hasil evolusi atau reaksi kimia dalam otak. Dengan kata lain: tidak ada roh, tidak ada keabadian, tidak ada Tuhan yang menunggu kita di surga.

    Tetapi mari kita jujur. Ada banyak pengalaman manusia yang sulit dijelaskan hanya dengan sains:

    Rasa rindu akan keadilan yang sempurna dalam hati nurani, padahal dunia ini penuh ketidakadilan. Kerinduan akan keabadian, padahal tubuh fana. Keindahan seni, kasih, dan pengorbanan, yang sulit dipahami hanya sebagai insting untuk bertahan hidup.

    Semua itu mengungkapkan bahwa manusia lebih dari sekadar materi. Ada sesuatu yang melampaui tubuh—sesuatu yang Alkitab sebut roh. Roh inilah yang memberi makna sejati, karena roh manusia berasal dari Allah sendiri (Kejadian 2:7).

    Alkitab Tentang Roh dan Tubuh

    Firman Tuhan memandang manusia sebagai satu kesatuan jasmani dan rohani. Tubuh berasal dari tanah, tetapi hidup baru ada setelah Allah menghembuskan napas-Nya. Tanpa roh, tubuh hanyalah debu.

    Itulah sebabnya Yohanes mendoakan agar Gayus sehat jasmani dan rohani (3 Yohanes 1:2). Tubuh yang sehat penting untuk melayani Tuhan, tetapi roh yang hidup jauh lebih penting, sebab roh yang menentukan arah kehidupan kekal.

    Kalau tubuh sehat tapi roh kering, hidup kehilangan arah. Sekalipun kita mempunyai hati nurani, itu tidak bisa mengarahkan kita kepada apa yang benar-benar baik dan kekal. Sebaliknya, kalau roh sehat tetapi tubuh diabaikan, fungsi hidup kita di dunia menjadi terhambat. Tuhan mau keduanya selaras. Jasmani dan rohani sama-sama penting, tetapi rohani (kesadaran hati nurani akan kehendak Tuhan) menjadi dasar bagi semuanya.

    Kerohanian Tanpa Tuhan: Kekosongan yang Halus

    Menariknya, banyak ateis tetap mengembangkan sesuatu yang mereka sebut spiritualitas. Mereka merasakannya lewat seni, meditasi, pemikiran atau keterhubungan dengan alam. Mereka mengaku bisa hidup rohani tanpa Tuhan. Mereka mempunyai hati nurani.

    Tetapi hati nurani saja tanpa menerima adanya Tuhan ibarat menikmati cahaya matahari tanpa pernah tahu siapa yang menciptakan terang itu. Ada rasa hangat, ada keindahan, tetapi tujuan akhirnya kosong. Sebab tanpa Allah, semua pencarian hati nurani berakhir pada kebingungan dan kehampaan.

    Yesus berkata: “Roh adalah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” (Yohanes 6:63). Kerohanian yang sejati hanya ada bila roh manusia berjumpa dengan Roh Allah. Inilah inti kehidupan Kristen.

    Ateis, Hati Nurani, dan Dosa

    Memang banyak orang ateis percaya bahwa manusia memiliki conscience atau hati nurani. Mereka mengakui adanya “suara batin” yang menegur kalau berbuat jahat, dan menuntun untuk berbuat baik. Namun, mereka sering menjelaskan hati nurani hanya sebagai produk evolusi sosial, bukan apa yang benar menurut Allah. Menurut mereka, nurani ada supaya manusia bisa hidup berdampingan di dunia, bukan agar manusia bisa hidup berdampingan dengan Tuhan di dunia dan di surga.

    Alkitab memberi perspektif berbeda. Paulus menulis bahwa bangsa-bangsa yang tidak memiliki Taurat tetap menunjukkan “hukum itu tertulis dalam hati mereka, dan suara hati nurani mereka turut bersaksi” (Roma 2:14–15). Hati nurani adalah bukti bahwa Allah menaruh standar moral-Nya dalam diri manusia sejak awal.

    Tetapi, hati nurani manusia tidak sempurna. Dosa telah merusaknya. Paulus berkata ada orang yang “hati nuraninya mati rasa” (1 Timotius 4:2). Nurani bisa tumpul, bisa dibungkam, bisa disesatkan. Itu sebabnya hati nurani tanpa firman Tuhan dan Roh Kudus ibarat kompas yang rusak—tetap berputar, tetapi tidak lagi menunjuk arah yang benar. Hati nurani memerlukan Roh Tuhan untuk menyadari bahwa manusia berdosa memerlukan Tuhan untuk menyelamatkan manusia.

    Bagi orang ateis, hati nurani adalah pedoman tertinggi. Tetapi bagi kita orang percaya, hati nurani harus disucikan oleh darah Kristus (Ibrani 9:14). Tanpa Kristus, nurani tetap tidak bisa menyelamatkan. Kebenaran hanya ada dalam terang Tuhan.

    Tubuh dan Roh dalam Kasih Karunia

    Iman Kristen menempatkan tubuh dan roh dalam perspektif keselamatan. Yesus mati dan bangkit bukan hanya untuk roh, tetapi juga untuk tubuh. Kebangkitan-Nya menjamin bahwa suatu hari tubuh kita akan dibangkitkan dalam kemuliaan (1 Korintus 15:42–44).

    Di sinilah perbedaan paling tajam dengan pandangan ateis. Bagi mereka, kematian adalah akhir, baik untuk tubuh maupun hati nurani. Bagi kita, kematian hanyalah pintu menuju kehidupan kekal. Roh kita yang telah dipulihkan akan berdiam dalam tubuh yang dimuliakan.

    Doa Yohanes menjadi sangat relevan: “semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” Tuhan peduli pada kesehatan jasmani kita sekarang, tetapi yang terpenting adalah kesehatan rohani kita—karena roh yang hidup akan bertahan sampai kekekalan.

    Menghadapi Mereka yang Tidak Percaya

    Kita harus ingat: orang ateis dan agnostik bukan musuh orang beriman, melainkan sesama manusia yang juga sedang mencari makna kehidupan. Banyak yang menjadi ateis ataupun agnostik bukan semata karena argumen intelektual, melainkan karena pengalaman pahit seperti:

    • Kehilangan orang yang dikasihi dan kemudian kecewa pada Tuhan.
    • Kemarahan atas penderitaan masa lalu.
    • Melihat kemunafikan orang beragama.
    • Tidak puas dengan jawaban yang dangkal atas pertanyaan hidup yang mendalam.

    Itulah sebabnya kita dipanggil untuk mengasihi, bukan menghakimi. Yohanes menuliskan doa kasih untuk Gayus. Kita pun dipanggil untuk mendoakan orang-orang yang menolak Tuhan. Kita tahu Kristus memanggil setiap orang untuk kembali ke jalan yang benar. Siapa tahu doa dan pelayanan kita menjadi jalan bagi hati nurani mereka agar bisa terbuka pada kasih Kristus?

    Pertanyaan Reflektif:

    • Apakah saya menjaga keseimbangan antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani?
    • Apakah saya terlalu mengandalkan hati nurani saya sendiri, ataukah saya membiarkan Roh Kudus membentuknya lewat firman Tuhan?
    • Bagaimana saya bisa menjelaskan dengan kasih bahwa nurani manusia adalah jejak Allah dalam hati, tetapi sudah rusak oleh dosa dan butuh Kristus?
    • Apakah saya pernah berjumpa dengan orang ateis yang sebenarnya “lapar” akan makna hidup? Bagaimana saya merespons dengan kasih dan kesaksian nyata?

    Doa Penutup:

    Tuhan yang Mahakasih, Terima kasih karena Engkau menciptakan kami sebagai manusia yang utuh—dengan tubuh dan roh. Engkau peduli pada kesehatan jasmani kami, tetapi lebih dari itu, Engkau rindu roh kami hidup dalam kebenaran. Kami bersyukur karena Engkau menaruh hati nurani dalam diri setiap manusia. Tetapi kami juga mengakui bahwa hati nurani kami telah tercemar dosa, dan tidak dapat menyelamatkan kami. Kami butuh pembaruan dari Engkau, ya Kristus. Kami berdoa bagi mereka yang menolak Engkau, bahkan yang mengaku ateis adan agnostik. Sentuhlah hati mereka, ya Tuhan, agar kerinduan terdalam mereka menemukan jawaban hanya di dalam Engkau. Tolong kami, supaya hidup kami menjadi kesaksian kasih-Mu—tidak dengan kata-kata kasar, tetapi dengan perbuatan penuh kasih dan kerendahan hati. Biarlah kesehatan jasmani kami dipakai untuk melayani, dan kerohanian kami dipenuhi oleh Roh Kudus. Sampai akhirnya kami boleh berjumpa dengan-Mu dalam tubuh kemuliaan di kekekalan. Dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa. Amin.

    Dulu Aku Bilang Kurang, Sekarang Aku Bilang Cukup

    “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6:6-9

    Kalimat “dulu aku bilang kurang, sekarang aku bilang cukup” sesungguhnya adalah perjalanan rohani orang Kristen yang panjang. Setiap kita pernah mengalami masa di mana rasanya semua yang ada tidak pernah cukup. Gaji terasa kurang, rumah terasa kecil, tabungan menipis, tubuh kurang sehat, atau bahkan perhatian orang lain terasa kurang.

    Tetapi Alkitab mengingatkan kita, rasa “kurang” seringkali bukan karena kebutuhan nyata, melainkan karena keinginan hati yang tidak pernah puas. Dunia modern mendorong kita untuk terus merasa tidak cukup. Iklan, media sosial, bahkan budaya konsumerisme selalu berbisik: “Kamu butuh lebih banyak. Kamu pantas mendapatkan lebih.” Tanpa sadar, kita menjadi budak dari rasa kurang itu.

    Paulus mengingatkan Timotius bahwa cara berpikir seperti itu sangat berbahaya. Akar segala kejahatan adalah cinta uang, bukan uang itu sendiri. Uang adalah alat yang netral, tetapi cinta uang akan menyeret orang pada berbagai dosa: ketidakjujuran, iri hati, keserakahan, bahkan kerusakan relasi.

    Bahaya Teologi Kemakmuran

    Paulus tidak hanya berbicara tentang sikap pribadi, tetapi juga tentang ajaran yang salah. Salah satunya adalah apa yang sekarang kita kenal dengan istilah teologi kemakmuran. Teologi ini mengajarkan bahwa berkat Allah diukur dari keberhasilan materi: semakin kaya dan sehat seseorang, semakin besar kasih Allah baginya.

    Padahal, ajaran ini jelas menyimpang. Penebusan Kristus bukan untuk membuat kita kaya raya secara materi, melainkan untuk menyelamatkan kita dari dosa dan memberi kita hidup kekal. Kekayaan bisa saja ada, bisa juga tidak—tetapi kasih Allah tidak pernah berkurang.

    Banyak orang Kristen terseret dalam jebakan ini. Bahkan ada banyak hamba Tuhan yang hidup dalam kemewahan luar biasa yang jauh berbeda dari teladan Kristus. Jika kekayaan dipakai untuk memperbesar pelayanan, memberdayakan jemaat, atau menolong orang miskin, tentu itu menjadi alat berkat. Tetapi jika hanya untuk menimbun harta pribadi atau keluarga, maka justru menjadi batu sandungan.

    Paulus dan Rasa Cukup

    Sebaliknya, Paulus mengajarkan: “Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Apa maksudnya?

    Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menulis:
    “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” (Filipi 4:11).

    Paulus tidak menulis ini dari rumah yang nyaman atau hidup yang makmur. Ia menulisnya dari penjara! Tetapi di sanalah ia belajar bahwa rasa cukup bukan soal keadaan luar, melainkan soal hati yang percaya bahwa Allah memelihara.

    Rasa cukup adalah sikap hati yang berkata: “Tuhan, apa yang Engkau berikan sudah cukup, karena Engkau sendiri adalah bagian yang terbaik bagiku.”

    Ilustrasi Kehidupan

    Ada seorang petani sederhana di sebuah desa. Setiap kali ditanya tentang keadaannya, ia selalu menjawab: “Puji Tuhan, cukup.” Suatu kali seorang sahabatnya bertanya, “Apakah hasil panenmu banyak tahun ini?” Ia menjawab, “Tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk keluarga.” Tahun berikutnya, panennya melimpah. Ia tetap menjawab, “Puji Tuhan, cukup. Karena ada lebih, saya bisa berbagi dengan tetangga.”

    Hidup petani itu tidak kaya raya, tetapi hatinya penuh damai. Ia belajar rahasia yang Paulus maksud: ibadah yang disertai rasa cukup mendatangkan keuntungan besar—keuntungan bukan dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk sukacita, kedamaian, dan hati yang ringan.

    Sebaliknya, kita sering melihat orang yang punya banyak harta tetapi tidak pernah puas. Ada rumah besar, ingin lebih besar. Ada mobil mewah, ingin yang lebih baru. Ada tabungan banyak, tetap takut kurang. Semakin kaya, semakin mereka kuatir atas besarnya pajak. Kekayaan tidak menjamin rasa cukup. Justru banyak orang kaya yang hidupnya gelisah, hubungannya hancur, bahkan jiwanya hampa.

    Aplikasi Praktis

    Apa artinya bagi kita hari ini?

    1. Belajar menghitung berkat – Alih-alih mengeluh tentang apa yang tidak ada, mari hitung apa yang sudah Tuhan berikan: kesehatan, keluarga, pekerjaan, komunitas iman, bahkan nafas hidup.
    2. Membedakan kebutuhan dan keinginan – Tidak semua yang kita maui adalah kebutuhan. Paulus menulis: “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Itu bukan berarti kita tidak boleh memiliki lebih, tetapi jangan sampai keinginan menjadi tuan yang memperbudak kita.
    3. Menggunakan harta untuk memuliakan Allah – Apapun yang kita miliki hanyalah titipan. Jika kita diberi lebih, pakailah untuk menolong sesama, memperluas pelayanan, dan membawa kemuliaan bagi Tuhan.
    4. Sadar bahwa harta kita hanya untuk sementara – Apapun yang kita punyai saat ini akan hilang seperti asap jika kita meninggalkan dunia ini. Kita lahir tanpa memakai apa-apa, kita akan mati tanpa membawa apa-apa.
    5. Melatih hati untuk bersyukur setiap hari – Rasa cukup bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil latihan rohani. Seperti Paulus, kita belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

    Firman yang Meneguhkan

    • “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’” (Ibrani 13:5)
    • “Karena itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Matius 6:34)

    Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa rasa cukup lahir dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita.

    Pertanyaan Reflektif:

    1. Dalam hal apa saya paling sering merasa “kurang” dalam hidup saya?
    2. Apakah saya sudah membedakan dengan jelas antara kebutuhan dan keinginan?
    3. Bagaimana saya bisa melatih diri untuk bersyukur setiap hari?
    4. Apakah ada berkat yang Tuhan titipkan pada saya yang seharusnya bisa saya bagikan kepada orang lain?

    Doa Penutup:

    Ya Bapa di surga, terima kasih atas firman-Mu hari ini yang mengingatkan kami bahwa hidup yang disertai rasa cukup mendatangkan keuntungan besar. Ampunilah kami, ya Tuhan, jika sering kali kami merasa kurang, padahal Engkau sudah mencukupkan kami dengan kasih karunia-Mu. Ajarlah kami untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, untuk tidak terjebak pada keserakahan, dan untuk selalu menghitung berkat yang Engkau berikan. Tolonglah kami agar hidup kami sederhana, tetapi kaya dalam kasih, murah hati, dan penuh rasa syukur. Biarlah kami dapat berkata bersama Paulus: “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

    Mengapa Orang Fasik Makmur?

    “Mengapakah orang-orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan bertambah-tambah kuat?” Ayub 21:7

    Dalam Alkitab, orang fasik merujuk pada individu yang hidup dalam dosa, menolak kebenaran Tuhan, dan seringkali menentang kehendak-Nya. Mereka digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan, melakukan kejahatan, dan hidup dalam pemberontakan terhadap Allah. 

    Pertanyaan Ayub tentang kejayaan orang fasik adalah pertanyaan kita semua. Di zaman modern, pertanyaan itu bisa berbunyi: “Mengapa koruptor hidup kaya raya, sementara rakyat kecil yang jujur harus bekerja keras hanya untuk bertahan hidup?”

    Kita sering membaca berita tentang pejabat atau pengusaha yang menumpuk kekayaan lewat cara-cara tidak sah. Ada kasus korupsi triliunan rupiah yang dibongkar, tetapi para pelakunya tetap bisa hidup nyaman, bahkan kadang masih dihormati. Sementara itu, rakyat jelata harus antre berjam-jam demi mendapatkan beras murah, atau bekerja dari pagi hingga malam untuk upah yang nyaris tak cukup untuk biaya hidup.

    Tidak hanya di pusat pemerintahan, ketidakadilan ini terlihat sampai ke tingkat paling bawah. Misalnya, seorang ibu penjual sayur yang berjuang keras setiap hari bisa saja ditindas oleh aparat kecil yang meminta pungutan liar. Di sisi lain, orang kaya yang jelas-jelas bersalah bisa lolos karena punya “akses” dan “orang dalam.”

    Kadang hati kita berteriak: “Tuhan, apakah Engkau tidak melihat semua ini? Jika Engkau adil, mengapa orang jahat tidak segera dihukum?”

    Kebingungan ini bukan hanya milik kita. Pemazmur Asaf juga menuliskan keluhannya:

    “Sungguh, sia-sialah aku mempertahankan hati yang bersih… sebab sepanjang hari aku kena tulah, dan setiap pagi kena hajaran.” Mazmur 73:13-14

    Orang benar sering merasa dirugikan, sementara orang fasik tampak bebas dan sejahtera. Lalu, di manakah keadilan Tuhan?

    Perspektif Kekekalan

    Jawaban Alkitab jelas: kemakmuran orang fasik hanyalah sementara. Mereka mungkin tampak berjaya di dunia, tetapi ujung jalan mereka adalah kebinasaan. Asaf akhirnya berkata:

    “Tetapi waktu aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, maka mengertilah aku kesudahan mereka.” Mazmur 73:17

    Di hadapan Tuhan, tidak ada satu pun kejahatan yang luput dari penghakiman. Mungkin hukuman itu tidak langsung terjadi di dunia ini, tetapi pada akhirnya setiap orang akan memberi pertanggungjawaban di hadapan takhta-Nya.

    Bagi orang percaya, penderitaan di dunia hanyalah sementara. Rasul Paulus mengingatkan:

    “Sebab penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Roma 8:18

    Kita Juga Tidak Benar di Hadapan Allah

    Namun ada satu hal penting yang sering kita lupakan: kita sendiri pun tidak lebih baik di hadapan Allah. Jika ukuran keadilan Allah diterapkan tanpa belas kasihan, tidak seorang pun dapat bertahan. Firman Tuhan berkata:

    “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

    Kita mungkin tidak merampok uang negara atau menipu jutaan orang, tetapi dalam pandangan Tuhan semua dosa membawa konsekuensi yang sama: kematian kekal. Jadi ketika kita bertanya mengapa orang fasik tidak segera dihukum, sebenarnya kita sedang melupakan fakta bahwa kita pun seharusnya binasa.

    Di sinilah kabar baik Injil menjadi begitu indah: Allah yang adil juga adalah Allah yang penuh kasih. Ia memberikan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk menanggung hukuman yang seharusnya jatuh atas kita. Keadilan Allah dipuaskan di salib, dan kasih-Nya dinyatakan melalui pengampunan bagi mereka yang percaya.

    Karunia Tuhan Lebih Besar daripada Kekayaan

    Menjadi anak Tuhan adalah anugerah yang luar biasa. Tidak semua orang diberikan hati yang takut akan Tuhan. Ini bukan hasil usaha kita, melainkan murni karya Roh Kudus yang menaruh iman di dalam hati kita. Dan inilah berkat yang jauh lebih besar daripada segala kekayaan dunia:

    Orang fasik mungkin memiliki harta, tetapi mereka tidak memiliki damai sejahtera sejati. Orang fasik mungkin memiliki kuasa, tetapi mereka tidak memiliki pengharapan kekal. Orang fasik mungkin dihormati manusia, tetapi mereka tidak dikenal oleh Allah.

    Sebaliknya, anak-anak Tuhan mungkin miskin, menderita, bahkan ditolak dunia. Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli: kepastian akan kasih Allah, damai sejahtera yang melampaui pengertian, serta warisan kekal di surga.

    Yesus sendiri pernah berkata:

    “Apakah gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” Markus 8:36

    Hidup dengan Perspektif Iman

    Jadi, bagaimana seharusnya kita hidup ketika melihat ketidakadilan dunia?

    Jangan iri kepada orang fasik. Di Indonesia, kita sering mendengar pepatah sinis: “Hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah.” Namun Alkitab mengingatkan, “Jangan iri hati kepada orang yang berbuat jahat.” (Mazmur 37:1) Kekayaan mereka tidak akan bertahan. Percaya pada kedaulatan Tuhan. Ia berdaulat atas segala sesuatu. Jika Ia menunda hukuman, itu karena kesabaran-Nya, memberi kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat. Banyak mantan kriminal, pecandu, bahkan eks-koruptor yang akhirnya bertobat sungguh-sungguh dan dipakai Tuhan untuk melayani. Hiduplah dalam syukur. Anugerah keselamatan jauh lebih berharga daripada harta dunia. Seorang petani sederhana yang takut akan Tuhan lebih kaya secara rohani daripada pejabat yang memiliki istana, tetapi hatinya kosong.

    Kita harus berfokus pada panggilan kita. Alih-alih sibuk mengamati nasib orang lain, mari kita setia melakukan bagian kita: hidup benar, bekerja jujur, melayani dengan kasih. Seperti garam dan terang, kita dipanggil untuk memberi pengaruh kecil tetapi nyata dalam masyarakat kita. Pandangan kita harus ke kekekalan. Dunia ini sementara. Rumah kita yang sejati ada di surga. Dengan perspektif kekal, penderitaan kita di bumi akan terasa ringan.

    Pertanyaan Reflektif:

    • Pernahkah saya merasa iri atau pahit ketika melihat orang jahat hidup makmur?
    • Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa keadilan Tuhan akan ditegakkan pada waktunya?
    • Apakah saya lebih menghargai berkat duniawi (uang, kesehatan, kenyamanan) dibandingkan anugerah keselamatan?
    • Bagaimana saya bisa menumbuhkan rasa syukur setiap hari, meskipun keadaan hidup tidak ideal?
    • Apakah saya hidup dengan pandangan kekal, ataukah saya masih terlalu melekat pada hal-hal fana?

    Doa Penutup:

    Ya Tuhan, Engkau Allah yang adil dan penuh kasih. Ampunilah aku ketika hatiku iri kepada orang fasik dan meragukan keadilan-Mu. Ingatkan aku bahwa tanpa anugerah-Mu, aku pun binasa. Terima kasih karena di dalam Kristus aku menerima hidup yang kekal dan damai yang sejati. Tolong aku untuk hidup bersyukur, setia, dan berharap hanya kepada-Mu, sambil menantikan penggenapan keadilan-Mu yang sempurna. Dalam nama Yesus Kristus aku berdoa. Amin.

    Ketika Dunia Menganggap Tuhan Tidak Lagi Perlu

    “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”Matius 24:12

    Data sedunia cukup jelas: di banyak negara Barat, kekristenan merosot. Gereja ditinggalkan, Alkitab jarang dibaca, dan generasi muda merasa iman itu kuno. Tapi Alkitab sudah lama memperingatkan tentang hal itu. Yesus berkata, “Kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”. Juga, Paulus menulis bahwa orang akan “memalingkan telinganya dari kebenaran” (2 Timotius 4:4).

    Sebagian orang mengira ini tanda manusia makin pintar. Ilmu dan teknologi membuat mereka merasa tak perlu Tuhan. Tuhan itu tidak relevan, kata mereka. Tapi Firman berkata: “Mereka menyangka bahwa mereka bijaksana, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22). Penolakan terhadap Allah bukanlah buah kecerdasan, melainkan hati yang sombong dan keras, dan itu sudah dinyatakan oleh Yesus.

    Yesus sudah menjelaskan kepada para murid kenyataan pahit yang menanti mereka setelah Ia pergi (Yohanes 16:5-7) dan sebelum akhir zaman ketika Ia kembali (Wahyu 19:11-15). Ia telah berfirman bahwa mereka akan dibenci karena persekutuan mereka dengan-Nya, bahwa mereka akan dianiaya dan dibunuh (Matius 24:9). Banyak orang yang tampaknya mengikuti Yesus akan murtad karena tekanan itu, dan beberapa bahkan akan mengkhianati yang lain. Nabi-nabi palsu akan muncul untuk mengajarkan kesesatan dan menyesatkan banyak orang dari kebenaran Yesus (Matius 24:10-11). Nabi-nabi palsu ini bukan hanya ada dalam gereja, tetapi juga bisa ditemukan dalam masyarakat dan bahkan dalam keluarga.

    Yesus menambahkan bahwa salah satu akibat dari ajaran sesat ini adalah kekacauan: penolakan terhadap standar kebaikan dan moralitas dari Tuhan. Itu bisa juga kita lihat di zaman ini, di mana banyak orang, Kristen maupun bukan Kristen, tidak lagi menganggap bahwa moralitas itu penting. Mereka yang mengikuti visi menyimpang yang ditawarkan oleh nabi-nabi palsu akan meninggalkan kebenaran. Mereka akan memberontak terhadap kebajikan dan tidak mau tunduk kepada Allah. Akibat akhir dari pelanggaran hukum yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti diri sendiri itu adalah hilangnya kasih. Citra kasih yang menjadi “dingin” mengingatkan kita pada mayat: bukan sekadar tak bergerak, melainkan mati dan tak bernyawa. Semakin jauh manusia dari ajaran Kristus, kasih mereka pun akan semakin berkurang. Mereka akan mementingkan diri sendiri dan hidup untuk kenyamanan.

    Banyak orang tahu bahwa Yesus mengajarkan bahwa seluruh pesan Allah kepada umat manusia bergantung pada dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segala keberadaannya dan mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri (Matius 22:37-40). Tidak mengherankan jika penolakan terhadap hukum Allah berkorelasi dengan hilangnya kasih kepada Allah dan sesama.

    Tidaklah mengherankan bahwa dunia yang katanya “makin maju” ini justru makin menderita secara rohani. Kasus gangguan kejiwaan, depresi, dan kehilangan arah hidup melonjak, terutama di kalangan kaum muda. Banyak yang merasa hampa, cemas, dan putus asa, walau dikelilingi kemudahan teknologi dan hiburan tanpa batas. Mereka mencari arti hidup di tempat yang salah, sementara Sumber Hidup yang sejati diabaikan. Mereka kemudian tenggelam dalam air yang keruh.

    Bahaya terbesar adalah kita merasa aman karena dunia memuji “kemajuan” ini, mendewakan cara pemikiran manusiawi, padahal kita sedang berjalan menuju kebinasaan. Iblis tidak selalu menghancurkan iman dengan kekerasan; kadang ia melakukannya dengan kenyamanan dan kesibukan yang membuat kita lupa Tuhan. Hal ini sangat berbahaya, karena bukan saja kita hancur secara rohani, anak cucu kita pun akan mengalami masa depan yang suram dalam kehidupan spiritual mereka.

    Mereka yang jauh dari Tuhan bukan saja kehilangan berkat-Nya, tetapi mungkin juga kehilangan kesempatan untuk hidup bahagia di masa depan. Pertanyaannya: Apakah kasih kita kepada Tuhan hari ini lebih hangat daripada tahun lalu? Atau malah semakin dingin? Semua itu ada dalam tanggung jawab kita. Kiranya kita sadar, kembali merendahkan hati, dan setia berpegang pada Kristus — sebelum pintu kasih karunia tertutup.

    Doa Penutup:

    Tuhan Yesus, kami mengaku bahwa hati kami sering menjadi dingin di tengah kesibukan dan kenyamanan dunia ini. Ampuni kami jika kami pernah mengabaikan Engkau. Pulihkan kasih kami kepada-Mu, hangatkan iman kami, dan berikan keberanian untuk tetap setia sampai akhir. Tolonglah generasi muda yang tersesat dan terluka secara batin, agar mereka menemukan pengharapan hanya di dalam Engkau. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

    Jangan Jadi Batu Sandungan

    “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Matius 10:16

    Matius 10:16-25 menjelaskan instruksi Yesus kepada kedua belas rasul-Nya, memberi mereka bimbingan untuk perjalanan misi mereka yang akan datang. Di sini, Dia mulai menggambarkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah kebangkitan-Nya sendiri dan kembali ke surga. Ketika saat itu tiba, para rasul akan ditangkap dan diseret ke hadapan berbagai pengadilan dan pejabat karena mereka mewakili Kristus dan bersikeras bahwa Dia adalah Anak Allah. Roh Kudus akan berbicara melalui mereka tentang Yesus. Mereka akan berlari dari satu kota ke kota lain untuk menghindari penganiayaan, menyebarkan kabar baik tentang Kristus di sepanjang perjalanan mereka. Yesus dianiaya, demikian pula mereka.

    Yesus mengutus kedua belas murid pilihan-Nya untuk menjadi rasul; kata ini secara harfiah berarti “orang-orang yang diutus.” Mereka memiliki misi khusus: memberitakan kedatangan Kerajaan Surga dari kota ke kota di wilayah Galilea (Matius 10:5-8). Di sini, Yesus mulai menggambarkan misi jangka panjang. Kemungkinan besar, pada saat itu, para murid belum sepenuhnya memahami keadaan yang akan terjadi. Apa yang Kristus maksud di sini sebagian besar akan terjadi setelah kematian, kebangkitan, dan kedatangan-Nya kembali ke surga.

    Metafora yang digunakan Kristus di sini merupakan gambaran yang mencolok. Di tempat lain, Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai “Gembala yang Baik” yang akan mati untuk melindungi kawanan domba-Nya (Yohanes 10:11), khususnya dari serangan serigala (Yohanes 10:12-14). Perbedaan radikal antara orang percaya kepada Kristus dan seluruh dunia tercermin dalam simbolisme menjadi domba yang “diutus” ke tengah-tengah serigala”. Orang Yahudi terbiasa menganggap diri mereka sebagai domba yang dikelilingi serigala non-Yahudi. Namun, Yesus mengklaim metafora ini bagi para pengikut-Nya. Mereka akan menghadapi serigala Yahudi maupun non-Yahudi saat mereka melakukan pekerjaan berbahaya untuk mewartakan Yesus dan kerajaan-Nya kepada dunia. Mereka harus siap.

    Dalam budaya masa itu, ular melambangkan kcerdikan dan kelicikan. Merpati begitu polos sehingga seringkali tampak sama sekali tidak menyadari bahaya. Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk menggunakan kecerdikan sebisa mungkin guna menghindari konflik dan bahaya tanpa kehilangan kepolosan seperti merpati yang akan memungkinkan mereka untuk terus mewartakan kebenaran tanpa rasa takut. Keseimbangan ini akan sulit dipertahankan, tetapi penting agar misi ini berhasil.

    Meskipun kata-kata ini ditujukan kepada sekelompok pria yang unik, kata-kata ini tetap bermakna bagi semuaumat Kristen saat ini. Yesus tidak mendukung keyakinan iman yang naif dan dangkal. Dia juga tidak mengizinkan orang percaya menjadi sinis yang getir atau senang melakukan pertikaian rohani. Ayat-ayat lain dalam Alkitab juga menekankan perlunya orang Kristen untuk memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan dalam kehidupan rohani mereka (1 Petrus 3:15-16; Kolose 2:8).

    Yesus memberi dua kualitas penting yang harus dimiliki para utusan-Nya: cerdik dan tulus. Cerdik seperti ular berarti mampu membaca situasi, bijaksana dalam mengambil langkah, dan berhati-hati terhadap tipu daya. Tulus seperti merpati berarti murni hati, jujur, dan tanpa niat jahat. Dua kualitas ini harus berjalan bersama; cerdik tanpa tulus bisa menjadi licik, sementara tulus tanpa cerdik bisa menjadi naif.

    Sayangnya, dalam perjalanan pelayanan gereja di dunia, kita sering melihat kebalikannya: orang Kristen yang tidak bijak dan orang Kristen yang tidak tulus. Keduanya sama-sama bisa menjadi batu sandungan bagi orang yang sedang mencari kebenaran.

    1. Ketika Kekristenan Kehilangan Kebijaksanaan

    Kebijaksanaan rohani adalah kemampuan untuk menghubungkan kebenaran Allah dengan situasi hidup secara tepat. Rasul Paulus berkata, “Hendaklah perkataanmu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:6).

    Namun, banyak orang Kristen jatuh dalam ekstrem: membawakan kesaksian tanpa mengerti artinya, berbicara terlalu cepat, menghakimi tanpa mendengar, atau memaksakan pendapat dengan nada yang keras. Kita bisa benar secara tujuan atau isi, tapi salah secara cara. Kita bisa menyampaikan Injil dengan bersemangat, tapi dengan sikap dan cara yang membuat orang menutup hati. Akibatnya, Injil yang seharusnya menjadi kabar baik terasa kosong, konyol atau dingin. Bukan karena Yesus yang salah, tapi karena kita menyampaikannya tanpa kebijaksanaan.

    2. Ketika Kekristenan Kehilangan Ketulusan

    Ketulusan adalah integritas hati: kesesuaian antara perkataan, perbuatan, dan motivasi. Orang Kristen kehilangan ketulusan ketika mereka mengatakan “Yesus adalah kebenaran,” tapi hidup dalam kebohongan. Mengajar kasih, tapi menyimpan dendam dan kepahitan. Mengutip ayat tentang kejujuran, tapi berbisnis dengan cara culas. Menyampaikan berita yang tidak jelas arti dan tujuannya.

    Orang di luar gereja sering lebih peka terhadap kemunafikan daripada kita sadari. Satu saja perilaku yang tidak konsisten bisa menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Inilah yang membuat Yesus sangat keras terhadap orang Farisi: bukan karena mereka tidak tahu Firman, tapi karena mereka tidak hidup sesuai Firman.

    3. Bahaya Menjadi Batu Sandungan

    Yesus berkata dalam Matius 18:6, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”

    Batu sandungan berarti penghalang yang membuat orang lain tersandung secara rohani. Kita menjadi batu sandungan ketika perkataan, perbuatan, cara kerja dan hidup kita sembarangan dan tanpa hikmat, sehingga orang menutup hati terhadap Injil. Kehidupan dan kesaksian kita tidak mencerminkan ajaran Kristus, sehingga orang meragukan kebenaran-Nya. Prioritas kita di dunia mungkin sama sekali tidak berbeda dari orang yang belum percaya, sehingga kesaksian kita kehilangan bobot. Yang mengerikan adalah: kita bisa menghalangi orang mengenal Yesus tanpa kita sadari, hanya karena kita tidak berjaga-jaga. Tanpa kita sadari, kita menjadi musuh penginjilan.

    4. Panggilan untuk Menjadi Jembatan, Bukan Penghalang

    Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi-Nya, bukan sekadar pengkritik dunia. Saksi bukan hanya bicara, tapi menunjukkan bukti melalui kehidupan. Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan strategi:

    • Cerdik agar tidak terjebak dalam tipu daya dunia dan mampu menjawab tantangan zaman.
    • Tulus agar orang melihat kemurnian hati dan tidak menemukan alasan untuk menolak Injil karena perbuatan dan perilaku kita.

    Bayangkan jika setiap orang Kristen memegang prinsip ini dengan serius. Dunia mungkin tetap menolak Injil karena alasan teologis, tapi mereka tidak akan menolaknya karena perilaku buruk orang Kristen.

    5. Langkah Praktis Menjaga Diri dari Menjadi Batu Sandungan

    Kita wajib memeiksa hati kita setiap hari. Tanyakan: “Apakah motivasi dan pesan saya murni di hadapan Tuhan?” Latih lidah untuk penuh kasih. Kadang, bukan kata-kata yang salah, tapi nada dan sikap kita yang melukai. Kadang-kadang kita menyampaikan berita yang tidak benar. Tunjukkan integritas dalam hal kecil. Orang menilai kesaksian kita dari keseharian, bukan hanya di gereja. Bersedia dikoreksi. Orang yang mau belajar dari kritik akan semakin bijak dan tulus. Ingat tujuan utama. Kita bukan ingin menang debat, tapi membawa orang kepada Yesus.

    Pertanyaan Reflektif:

    • Apakah saya pernah secara tidak sadar menjadi batu sandungan bagi orang lain? Apa bentuknya?
    • Dalam hal kebijaksanaan, apakah saya cenderung terlalu cepat berbicara atau terlalu lambat bertindak?
    • Apakah hidup saya konsisten antara iman yang saya akui dan perilaku sehari-hari?
    • Siapa orang yang sedang mengamati hidup saya sebagai teladan? Apa yang mereka lihat?
    • Bagaimana saya bisa lebih cerdik dan lebih tulus dalam pelayanan, pekerjaan, dan relasi saya?

    Doa Penutup:

    Tuhan Yesus, Engkau mengutus kami ke tengah dunia yang penuh tantangan. Engkau memanggil kami untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Ampunilah ketika kami kurang bijak dan kurang tulus, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang yang ingin mengenal-Mu.

    Ajarlah kami berbicara dengan kasih, bertindak dengan hikmat, dan hidup dengan integritas. Jadikan kami jembatan yang menuntun orang kepada-Mu, bukan penghalang yang membuat mereka menjauh.

    Tolong kami untuk setiap hari memeriksa hati, menjaga lidah, dan berjalan setia dalam terang Firman-Mu. Demi nama-Mu yang kudus kami berdoa. Amin.

    Kasih yang Menanti dan Memilih

    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

    Sering kali orang mempertanyakan mengapa jika Tuhan itu mahakasih, Ia tidak meyelamatkan semua orang, baik orang yang terlihat baik maupun orang yang jahat. Tetapi menurut Alkitab, semua orang adalah orang yang jahat, orang yang berdosa, di hadapan kesucian Allah.

    “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

    Ayat pembukaan Yohanes 3:16 adalah salah satu ayat paling terkenal dalam Alkitab. Di dalamnya kita melihat kasih Allah yang besar, pemberian-Nya yang sempurna, dan janji keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Namun, ayat ini juga mengandung dua kebenaran besar yang sering kali harus diseimbangkan dengan hati-hati:

    • Respons manusia — “…supaya setiap orang yang percaya…” . Manusia harus percaya untuk bisa menerima hidup yang kekal.
    • Kedaulatan Tuhan — “Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”. Allah sendiri yang memilih untuk memberikan Anak-Nya, bukan karena manusia layak, tapi karena kasih-Nya yang bebas dan berdaulat.

    Untuk memahami kedalaman kasih dan kedaulatan Allah ini, kita bisa merenungkan kembali cerita anak yang hilang (Lukas 15:11–32), yang menggambarkan relasi antara kasih Allah, respons manusia, dan kedaulatan-Nya.

    Pilihan Anak yang Menolak Kasih

    Anak bungsu dalam perumpamaan Yesus memilih untuk meninggalkan bapanya. Ia meminta warisan lebih awal—yang seolah berkata: “Aku ingin hidup tanpa engkau.” Sama seperti manusia yang, meskipun telah diberi hidup oleh Tuhan, sering memilih untuk hidup tanpa-Nya. Ini bukan sekadar kebodohan, tapi pemberontakan terhadap kasih.

    Tuhan tidak menciptakan manusia seperti robot. Ia memberi kebebasan untuk memilih. Karena itu, setiap pilihan selalu membawa akibat.

    Kehancuran Pilihan yang Sesat

    Setelah hidup dalam kesenangan dosa, anak itu hancur. Teman-temannya meninggalkannya, hartanya lenyap, dan ia mendapati dirinya di kandang babi—tempat yang hina bagi seorang Yahudi. Saat itulah ia sadar:

    “Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapaku.” Lukas 15:18

    Inilah titik balik: kesadaran akan dosa adalah awal pertobatan. Apa yang membuat dia sadar ialah adanya kasih sang bapa.

    Respons yang Membuka Jalan Pulang

    Anak itu memutuskan untuk pulang. Ia tidak tahu apakah akan diterima, tapi ia percaya pada kasih bapanya, meski hanya berharap diterima sebagai hamba. Demikian juga, Tuhan menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang, tapi manusia harus merespons dengan percaya dan bertobat. Tanpa respons, kasih itu tetap tersedia, tapi tidak dialami.

    Yohanes 3:16 menyebut “setiap orang yang percaya”. anpa percaya, tidak ada hidup kekal.

    Kasih yang Menyambut dan Mengampuni

    Bapa melihat anaknya dari kejauhan. Ia berlari menemuinya, memeluk, mencium, dan mengampuninya sebelum anak itu selesai berbicara. Ini bukan sekadar kasih biasa. Ini kasih yang memilih untuk mengampuni, bukan karena anak itu layak, tapi karena bapa itu murah hati dan berdaulat atas keputusannya sendiri.

    Kasih Allah tidak menunggu manusia sempurna. Ia sendiri yang mengambil inisiatif, sebagaimana Ia “mengutus Anak-Nya yang tunggal”.

    Kedaulatan Kasih dan Keadilan Allah

    Anak sulung merasa tidak adil. Tapi bapa menjawab,

    “Segala milikku adalah milikmu… Tapi adikmu ini telah mati dan hidup kembali. Layaklah kita bersukacita.” Lukas 15: 31-32

    Di sini kita melihat bahwa kasih Allah tidak selalu masuk akal bagi logika manusia. Ia berhak menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang Ia kehendaki (Roma 9:15). Ia berdaulat dalam menerima siapa pun yang bertobat, dan tetap adil dalam memperlakukan yang setia.

    Kasih yang Menyelamatkan, Bukan Memaksa

    Yohanes 3:16 tidak mengatakan, “Setiap orang akan selamat,” tetapi: “…setiap orang yang percaya…”

    Kasih Allah besar, tapi tidak memaksa. Ia mengundang, menunggu, dan memanggil. Tapi respons manusia tetap penting. Dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Dalam kebebasan manusia, ada undangan dari Roh Kudus untuk bertobat dan pulang ke rumah-Nya.

    Pertanyaan Reflektif:

    • Apakah saya hidup seperti anak bungsu—menjauh dari kasih Allah dan memilih jalan sendiri?
    • Apakah saya percaya bahwa Allah tetap menunggu saya bertobat?
    • Apakah saya merasa seperti anak sulung—merasa diri lebih layak dan kesal saat orang berdosa bertobat?
    • Apakah saya bersedia percaya dan merespons kasih Allah hari ini?

    Doa Penutup:

    Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas kasih-Mu yang besar seperti dalam Yohanes 3:16. Engkau memberi Anak-Mu, bukan karena kami layak, tapi karena Engkau murah hati. Tolong kami untuk merespons dengan percaya dan bertobat, dan tolong kami juga menghormati keputusan-Mu karena Engkau berdaulat dan adil dalam segala hal. Dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.

    Tenang, Sabar, Bijaksana: Hikmat dari Tuhan

    “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa yang cepat marah membesarkan kebodohan.” Amsal 14:29

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai jenis keputusan—ada yang harus segera diambil, ada yang membutuhkan waktu dan perenungan, dan ada pula yang menentukan arah hidup kita secara keseluruhan. Dalam Amsal 14:29, kita diingatkan bahwa kesabaran adalah tanda dari orang yang memiliki pengertian yang besar. Sebaliknya, ketidaksabaran dan kemarahan yang cepat justru menunjukkan kebodohan.

    Renungan hari ini mengajak kita untuk merenungkan tiga kata: tenang, sabar, dan bijaksana. Ketiganya bukan sekadar sifat baik, melainkan buah dari hidup yang takut akan Tuhan.

    1. Tenang untuk Keputusan Jangka Pendek

    Sering kali keputusan jangka pendek datang dalam situasi yang menegangkan: ketika terjadi konflik, ketika harus merespons secara cepat, atau ketika emosi sedang memuncak. Dalam momen seperti itu, kemampuan untuk tetap tenang adalah anugerah. Ketika kita tenang, kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk menuntun pikiran dan hati kita agar tidak terjebak dalam reaksi spontan yang merugikan.

    Menjadi tenang tidak berarti pasif. Justru, itu menunjukkan kekuatan dalam pengendalian diri. Dalam ketenangan, kita bisa melihat situasi dengan lebih jernih dan membuat keputusan yang tidak didasarkan pada kemarahan atau ketakutan.

    1. Sabar untuk Keputusan Jangka Panjang

    Keputusan jangka panjang, seperti memilih pasangan hidup, pekerjaan, tempat tinggal, atau bahkan keputusan pelayanan, membutuhkan kesabaran. Kesabaran adalah bentuk kepercayaan bahwa Tuhan bekerja dalam waktu-Nya. Banyak orang kehilangan arah karena mengambil jalan pintas dan tidak bersedia menunggu waktu Tuhan.

    Amsal mengajarkan bahwa orang yang sabar memiliki pengertian. Ia bisa melihat lebih jauh, tidak hanya terpaku pada apa yang ada di depan mata. Ia belajar untuk menunggu, merenung, dan mendengarkan suara Tuhan sebelum bertindak. Ini adalah bukti bahwa hikmat sedang bekerja dalam dirinya.

    1. Bijaksana untuk Semua Keputusan

    Hikmat bukan hanya dibutuhkan dalam keputusan besar. Bahkan keputusan kecil setiap hari—apa yang kita katakan, bagaimana kita bersikap, bagaimana kita mengatur waktu—semuanya memerlukan hikmat. Namun, hikmat bukanlah sesuatu yang kita miliki secara alami. Alkitab berkata bahwa permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan!

    “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9:10

    Ini berarti bahwa hanya ketika kita hidup dalam relasi yang benar dengan Tuhan—menghormati, tunduk, dan mencari kehendak-Nya—kita bisa menerima hikmat yang sejati. Hikmat bukan hasil dari banyak pengalaman saja, tetapi hasil dari hati yang melekat pada Tuhan. Hikmat yang sesuai dengan kehendak Tuhan hanya dapat dimiliki mereka yang dekat dengan Tuhan. Hikmat yang benar selalu berdasarkan kasih.

    “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”1 Korintus 13:4

    Maka, jika kita ingin menjadi orang yang bijaksana, langkah pertama adalah membangun hidup yang berakar pada Firman Tuhan dan dipenuhi oleh doa. Kita belajar mendengar, bukan hanya berbicara. Kita belajar mengerti, bukan hanya menilai. Dan kita harus selalu mau bertanya kepada Tuhan yang mahakasih sebelum mengambil tindakan.

    Kesimpulan:

    Ketika kita hidup dalam takut akan Tuhan, kita akan menerima hikmat dari-Nya. Hikmat itu akan memampukan kita untuk:

    • Tenang dalam menghadapi tekanan keputusan jangka pendek
    • Sabar dalam menanti jawaban atas keputusan jangka panjang
    • Bijaksana dalam setiap keputusan yang kita ambil

    Ketiga sikap ini tidak muncul secara otomatis, tetapi tumbuh seiring kita berjalan bersama Tuhan setiap hari.

    Pertanyaan Reflektif:

    1. Dalam situasi seperti apa Anda paling mudah kehilangan ketenangan? Apa yang bisa Anda lakukan untuk lebih tenang?
    2. Apakah ada keputusan besar dalam hidup Anda yang sedang menunggu jawaban? Sudahkah Anda bersabar dan menantikan Tuhan?
    3. Bagaimana Anda membangun hidup yang takut akan Tuhan agar Anda bisa bertumbuh dalam hikmat?

    Doa Penutup:

    Tuhan, terima kasih untuk Firman-Mu hari ini. Ajarlah aku untuk menjadi pribadi yang tenang, sabar, dan bijaksana. Tolong aku untuk tidak cepat marah, tidak gegabah dalam mengambil keputusan, dan selalu mengandalkan Engkau dalam setiap langkah hidupku. Tanamkanlah dalam hatiku rasa takut akan Engkau, agar hikmat-Mu memenuhi hidupku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.