“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Sering kali orang mempertanyakan mengapa jika Tuhan itu mahakasih, Ia tidak meyelamatkan semua orang, baik orang yang terlihat baik maupun orang yang jahat. Tetapi menurut Alkitab, semua orang adalah orang yang jahat, orang yang berdosa, di hadapan kesucian Allah.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23
Ayat pembukaan Yohanes 3:16 adalah salah satu ayat paling terkenal dalam Alkitab. Di dalamnya kita melihat kasih Allah yang besar, pemberian-Nya yang sempurna, dan janji keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Namun, ayat ini juga mengandung dua kebenaran besar yang sering kali harus diseimbangkan dengan hati-hati:
- Respons manusia — “…supaya setiap orang yang percaya…” . Manusia harus percaya untuk bisa menerima hidup yang kekal.
- Kedaulatan Tuhan — “Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”. Allah sendiri yang memilih untuk memberikan Anak-Nya, bukan karena manusia layak, tapi karena kasih-Nya yang bebas dan berdaulat.
Untuk memahami kedalaman kasih dan kedaulatan Allah ini, kita bisa merenungkan kembali cerita anak yang hilang (Lukas 15:11–32), yang menggambarkan relasi antara kasih Allah, respons manusia, dan kedaulatan-Nya.
Pilihan Anak yang Menolak Kasih
Anak bungsu dalam perumpamaan Yesus memilih untuk meninggalkan bapanya. Ia meminta warisan lebih awal—yang seolah berkata: “Aku ingin hidup tanpa engkau.” Sama seperti manusia yang, meskipun telah diberi hidup oleh Tuhan, sering memilih untuk hidup tanpa-Nya. Ini bukan sekadar kebodohan, tapi pemberontakan terhadap kasih.
Tuhan tidak menciptakan manusia seperti robot. Ia memberi kebebasan untuk memilih. Karena itu, setiap pilihan selalu membawa akibat.
Kehancuran Pilihan yang Sesat
Setelah hidup dalam kesenangan dosa, anak itu hancur. Teman-temannya meninggalkannya, hartanya lenyap, dan ia mendapati dirinya di kandang babi—tempat yang hina bagi seorang Yahudi. Saat itulah ia sadar:
“Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapaku.” Lukas 15:18
Inilah titik balik: kesadaran akan dosa adalah awal pertobatan. Apa yang membuat dia sadar ialah adanya kasih sang bapa.
Respons yang Membuka Jalan Pulang
Anak itu memutuskan untuk pulang. Ia tidak tahu apakah akan diterima, tapi ia percaya pada kasih bapanya, meski hanya berharap diterima sebagai hamba. Demikian juga, Tuhan menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang, tapi manusia harus merespons dengan percaya dan bertobat. Tanpa respons, kasih itu tetap tersedia, tapi tidak dialami.
Yohanes 3:16 menyebut “setiap orang yang percaya”. anpa percaya, tidak ada hidup kekal.
Kasih yang Menyambut dan Mengampuni
Bapa melihat anaknya dari kejauhan. Ia berlari menemuinya, memeluk, mencium, dan mengampuninya sebelum anak itu selesai berbicara. Ini bukan sekadar kasih biasa. Ini kasih yang memilih untuk mengampuni, bukan karena anak itu layak, tapi karena bapa itu murah hati dan berdaulat atas keputusannya sendiri.
Kasih Allah tidak menunggu manusia sempurna. Ia sendiri yang mengambil inisiatif, sebagaimana Ia “mengutus Anak-Nya yang tunggal”.
Kedaulatan Kasih dan Keadilan Allah
Anak sulung merasa tidak adil. Tapi bapa menjawab,
“Segala milikku adalah milikmu… Tapi adikmu ini telah mati dan hidup kembali. Layaklah kita bersukacita.” Lukas 15: 31-32
Di sini kita melihat bahwa kasih Allah tidak selalu masuk akal bagi logika manusia. Ia berhak menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang Ia kehendaki (Roma 9:15). Ia berdaulat dalam menerima siapa pun yang bertobat, dan tetap adil dalam memperlakukan yang setia.
Kasih yang Menyelamatkan, Bukan Memaksa
Yohanes 3:16 tidak mengatakan, “Setiap orang akan selamat,” tetapi: “…setiap orang yang percaya…”
Kasih Allah besar, tapi tidak memaksa. Ia mengundang, menunggu, dan memanggil. Tapi respons manusia tetap penting. Dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Dalam kebebasan manusia, ada undangan dari Roh Kudus untuk bertobat dan pulang ke rumah-Nya.
Pertanyaan Reflektif:
- Apakah saya hidup seperti anak bungsu—menjauh dari kasih Allah dan memilih jalan sendiri?
- Apakah saya percaya bahwa Allah tetap menunggu saya bertobat?
- Apakah saya merasa seperti anak sulung—merasa diri lebih layak dan kesal saat orang berdosa bertobat?
- Apakah saya bersedia percaya dan merespons kasih Allah hari ini?
Doa Penutup:
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas kasih-Mu yang besar seperti dalam Yohanes 3:16. Engkau memberi Anak-Mu, bukan karena kami layak, tapi karena Engkau murah hati. Tolong kami untuk merespons dengan percaya dan bertobat, dan tolong kami juga menghormati keputusan-Mu karena Engkau berdaulat dan adil dalam segala hal. Dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.








