Kasih yang Menanti dan Memilih

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Sering kali orang mempertanyakan mengapa jika Tuhan itu mahakasih, Ia tidak meyelamatkan semua orang, baik orang yang terlihat baik maupun orang yang jahat. Tetapi menurut Alkitab, semua orang adalah orang yang jahat, orang yang berdosa, di hadapan kesucian Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Ayat pembukaan Yohanes 3:16 adalah salah satu ayat paling terkenal dalam Alkitab. Di dalamnya kita melihat kasih Allah yang besar, pemberian-Nya yang sempurna, dan janji keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Namun, ayat ini juga mengandung dua kebenaran besar yang sering kali harus diseimbangkan dengan hati-hati:

  • Respons manusia — “…supaya setiap orang yang percaya…” . Manusia harus percaya untuk bisa menerima hidup yang kekal.
  • Kedaulatan Tuhan — “Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”. Allah sendiri yang memilih untuk memberikan Anak-Nya, bukan karena manusia layak, tapi karena kasih-Nya yang bebas dan berdaulat.

Untuk memahami kedalaman kasih dan kedaulatan Allah ini, kita bisa merenungkan kembali cerita anak yang hilang (Lukas 15:11–32), yang menggambarkan relasi antara kasih Allah, respons manusia, dan kedaulatan-Nya.

Pilihan Anak yang Menolak Kasih

Anak bungsu dalam perumpamaan Yesus memilih untuk meninggalkan bapanya. Ia meminta warisan lebih awal—yang seolah berkata: “Aku ingin hidup tanpa engkau.” Sama seperti manusia yang, meskipun telah diberi hidup oleh Tuhan, sering memilih untuk hidup tanpa-Nya. Ini bukan sekadar kebodohan, tapi pemberontakan terhadap kasih.

Tuhan tidak menciptakan manusia seperti robot. Ia memberi kebebasan untuk memilih. Karena itu, setiap pilihan selalu membawa akibat.

Kehancuran Pilihan yang Sesat

Setelah hidup dalam kesenangan dosa, anak itu hancur. Teman-temannya meninggalkannya, hartanya lenyap, dan ia mendapati dirinya di kandang babi—tempat yang hina bagi seorang Yahudi. Saat itulah ia sadar:

“Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapaku.” Lukas 15:18

Inilah titik balik: kesadaran akan dosa adalah awal pertobatan. Apa yang membuat dia sadar ialah adanya kasih sang bapa.

Respons yang Membuka Jalan Pulang

Anak itu memutuskan untuk pulang. Ia tidak tahu apakah akan diterima, tapi ia percaya pada kasih bapanya, meski hanya berharap diterima sebagai hamba. Demikian juga, Tuhan menawarkan kasih-Nya kepada setiap orang, tapi manusia harus merespons dengan percaya dan bertobat. Tanpa respons, kasih itu tetap tersedia, tapi tidak dialami.

Yohanes 3:16 menyebut “setiap orang yang percaya”. anpa percaya, tidak ada hidup kekal.

Kasih yang Menyambut dan Mengampuni

Bapa melihat anaknya dari kejauhan. Ia berlari menemuinya, memeluk, mencium, dan mengampuninya sebelum anak itu selesai berbicara. Ini bukan sekadar kasih biasa. Ini kasih yang memilih untuk mengampuni, bukan karena anak itu layak, tapi karena bapa itu murah hati dan berdaulat atas keputusannya sendiri.

Kasih Allah tidak menunggu manusia sempurna. Ia sendiri yang mengambil inisiatif, sebagaimana Ia “mengutus Anak-Nya yang tunggal”.

Kedaulatan Kasih dan Keadilan Allah

Anak sulung merasa tidak adil. Tapi bapa menjawab,

“Segala milikku adalah milikmu… Tapi adikmu ini telah mati dan hidup kembali. Layaklah kita bersukacita.” Lukas 15: 31-32

Di sini kita melihat bahwa kasih Allah tidak selalu masuk akal bagi logika manusia. Ia berhak menunjukkan belas kasihan kepada siapa pun yang Ia kehendaki (Roma 9:15). Ia berdaulat dalam menerima siapa pun yang bertobat, dan tetap adil dalam memperlakukan yang setia.

Kasih yang Menyelamatkan, Bukan Memaksa

Yohanes 3:16 tidak mengatakan, “Setiap orang akan selamat,” tetapi: “…setiap orang yang percaya…”

Kasih Allah besar, tapi tidak memaksa. Ia mengundang, menunggu, dan memanggil. Tapi respons manusia tetap penting. Dalam kedaulatan-Nya, Allah memilih untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Dalam kebebasan manusia, ada undangan dari Roh Kudus untuk bertobat dan pulang ke rumah-Nya.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya hidup seperti anak bungsu—menjauh dari kasih Allah dan memilih jalan sendiri?
  • Apakah saya percaya bahwa Allah tetap menunggu saya bertobat?
  • Apakah saya merasa seperti anak sulung—merasa diri lebih layak dan kesal saat orang berdosa bertobat?
  • Apakah saya bersedia percaya dan merespons kasih Allah hari ini?

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas kasih-Mu yang besar seperti dalam Yohanes 3:16. Engkau memberi Anak-Mu, bukan karena kami layak, tapi karena Engkau murah hati. Tolong kami untuk merespons dengan percaya dan bertobat, dan tolong kami juga menghormati keputusan-Mu karena Engkau berdaulat dan adil dalam segala hal. Dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.

Tenang, Sabar, Bijaksana: Hikmat dari Tuhan

“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa yang cepat marah membesarkan kebodohan.” Amsal 14:29

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dihadapkan pada berbagai jenis keputusan—ada yang harus segera diambil, ada yang membutuhkan waktu dan perenungan, dan ada pula yang menentukan arah hidup kita secara keseluruhan. Dalam Amsal 14:29, kita diingatkan bahwa kesabaran adalah tanda dari orang yang memiliki pengertian yang besar. Sebaliknya, ketidaksabaran dan kemarahan yang cepat justru menunjukkan kebodohan.

Renungan hari ini mengajak kita untuk merenungkan tiga kata: tenang, sabar, dan bijaksana. Ketiganya bukan sekadar sifat baik, melainkan buah dari hidup yang takut akan Tuhan.

  1. Tenang untuk Keputusan Jangka Pendek

Sering kali keputusan jangka pendek datang dalam situasi yang menegangkan: ketika terjadi konflik, ketika harus merespons secara cepat, atau ketika emosi sedang memuncak. Dalam momen seperti itu, kemampuan untuk tetap tenang adalah anugerah. Ketika kita tenang, kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk menuntun pikiran dan hati kita agar tidak terjebak dalam reaksi spontan yang merugikan.

Menjadi tenang tidak berarti pasif. Justru, itu menunjukkan kekuatan dalam pengendalian diri. Dalam ketenangan, kita bisa melihat situasi dengan lebih jernih dan membuat keputusan yang tidak didasarkan pada kemarahan atau ketakutan.

  1. Sabar untuk Keputusan Jangka Panjang

Keputusan jangka panjang, seperti memilih pasangan hidup, pekerjaan, tempat tinggal, atau bahkan keputusan pelayanan, membutuhkan kesabaran. Kesabaran adalah bentuk kepercayaan bahwa Tuhan bekerja dalam waktu-Nya. Banyak orang kehilangan arah karena mengambil jalan pintas dan tidak bersedia menunggu waktu Tuhan.

Amsal mengajarkan bahwa orang yang sabar memiliki pengertian. Ia bisa melihat lebih jauh, tidak hanya terpaku pada apa yang ada di depan mata. Ia belajar untuk menunggu, merenung, dan mendengarkan suara Tuhan sebelum bertindak. Ini adalah bukti bahwa hikmat sedang bekerja dalam dirinya.

  1. Bijaksana untuk Semua Keputusan

Hikmat bukan hanya dibutuhkan dalam keputusan besar. Bahkan keputusan kecil setiap hari—apa yang kita katakan, bagaimana kita bersikap, bagaimana kita mengatur waktu—semuanya memerlukan hikmat. Namun, hikmat bukanlah sesuatu yang kita miliki secara alami. Alkitab berkata bahwa permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan!

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9:10

Ini berarti bahwa hanya ketika kita hidup dalam relasi yang benar dengan Tuhan—menghormati, tunduk, dan mencari kehendak-Nya—kita bisa menerima hikmat yang sejati. Hikmat bukan hasil dari banyak pengalaman saja, tetapi hasil dari hati yang melekat pada Tuhan. Hikmat yang sesuai dengan kehendak Tuhan hanya dapat dimiliki mereka yang dekat dengan Tuhan. Hikmat yang benar selalu berdasarkan kasih.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”1 Korintus 13:4

Maka, jika kita ingin menjadi orang yang bijaksana, langkah pertama adalah membangun hidup yang berakar pada Firman Tuhan dan dipenuhi oleh doa. Kita belajar mendengar, bukan hanya berbicara. Kita belajar mengerti, bukan hanya menilai. Dan kita harus selalu mau bertanya kepada Tuhan yang mahakasih sebelum mengambil tindakan.

Kesimpulan:

Ketika kita hidup dalam takut akan Tuhan, kita akan menerima hikmat dari-Nya. Hikmat itu akan memampukan kita untuk:

  • Tenang dalam menghadapi tekanan keputusan jangka pendek
  • Sabar dalam menanti jawaban atas keputusan jangka panjang
  • Bijaksana dalam setiap keputusan yang kita ambil

Ketiga sikap ini tidak muncul secara otomatis, tetapi tumbuh seiring kita berjalan bersama Tuhan setiap hari.

Pertanyaan Reflektif:

  1. Dalam situasi seperti apa Anda paling mudah kehilangan ketenangan? Apa yang bisa Anda lakukan untuk lebih tenang?
  2. Apakah ada keputusan besar dalam hidup Anda yang sedang menunggu jawaban? Sudahkah Anda bersabar dan menantikan Tuhan?
  3. Bagaimana Anda membangun hidup yang takut akan Tuhan agar Anda bisa bertumbuh dalam hikmat?

Doa Penutup:

Tuhan, terima kasih untuk Firman-Mu hari ini. Ajarlah aku untuk menjadi pribadi yang tenang, sabar, dan bijaksana. Tolong aku untuk tidak cepat marah, tidak gegabah dalam mengambil keputusan, dan selalu mengandalkan Engkau dalam setiap langkah hidupku. Tanamkanlah dalam hatiku rasa takut akan Engkau, agar hikmat-Mu memenuhi hidupku. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Tertekan Tapi Tidak Terhimpit: Belajar Percaya di Tengah Krisis Dunia

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” 2 Korintus 4:8–10

Berita tentang dunia tidak pernah berhenti menimbulkan kecemasan. Pagi ini kita bisa membaca prediksi resesi global, sore harinya muncul kabar tentang potensi konflik bersenjata di satu wilayah dunia, malamnya kita mendengar tentang krisis pangan atau perubahan iklim. Setiap hari, kita dibanjiri informasi yang berpotensi membuat hati gelisah. Di era digital, berita buruk bisa menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada sebelumnya; dan jika berita buruk itu menyangkut negara kita, itu bisa menumbuhkan rasa takut kolektif di masyarakat.

Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil untuk menghindari realitas. Kita juga tidak diajarkan untuk mengabaikan berita yang terjadi di sekitar kita, seolah-olah iman membuat kita kebal dari fakta. Paulus dalam 2 Korintus 4 dengan sangat terbuka mengakui bahwa hidup ini memang penuh tekanan: “Dalam segala hal kami ditindas… habis akal… dianiaya… dihempaskan…” — kata-kata yang sangat manusiawi, dan mungkin sangat kita rasakan ketika melihat kekacauan yang terjadi di dunia.

Penderitaan Paulus dan rekan-rekannya sangat besar, tetapi Allah menjaga mereka agar tidak binasa. Mereka tidak menyerah dan dalam menghadapi bahaya kematian mereka masih bisa bersyukur, karena mereka tahu mereka akan dibangkitkan, seperti Kristus. Kemudian mereka akan menghabiskan kekekalan bersama-Nya dalam kemuliaan yang jauh lebih besar dan bertahan lebih lama daripada penderitaan hidup ini yang relatif ringan dan sementara.

Paulus menggambarkan pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Kristus sebagai harta dan terang (2 Korintus 4:6-7). Allah telah menyinari terang ini ke dalam hatinya dan memberinya misi untuk membawa Injil ini ke seluruh dunia. Namun, Paulus mengatakan bahwa sebagai orang-orang yang membawa kabar baik ini, dirinya dan rekan-rekannya, adalah seperti bejana tanah liat yang rapuh. Dengan ini, Paulus memaksudkan bahwa ia dan teman-temannya menghadapi banyak kesulitan dan ancaman dalam pelayanan mereka dan kekuatan mereka sendiri terbatas. Hanya kuasa Allah yang membuat mereka terus bertahan.

Kemudian Paulus mulai menggambarkan kesulitan mereka. Mereka menderita atau tertekan dalam segala hal. Paulus memulai surat ini dengan menggambarkan sebuah episode trauma yang hebat, di mana ia dan timnya yakin mereka akan mati. Ajaib, mereka akhirnya diselamatkan oleh kuasa Allah melalui doa orang lain. Kuasa Allah adalah alasan mengapa tekanan yang berat tidak membuat mereka hancur. Itulah juga alasan mengapa kebingungan atau kekuatiran tidak mengakibatkan mereka “putus harapan” atau “benar-benar putus asa”.

Beberapa penuduh Paulus di Korintus mungkin mengatakan bahwa seorang rasul yang benar-benar terhubung dengan Tuhan seharusnya tidak mengalami begitu banyak penderitaan. Asumsi keliru yang sama masih berlanjut hingga saat ini, di kalangan beberapa pendeta yang mengklaim bahwa iman dapat menghilangkan kesulitan apa pun yang mungkin dihadapi seseorang. Paulus menunjukkan bahwa hal itu sama sekali tidak benar. Mereka yang diutus oleh Tuhan justru bisa mengalami penderitaan yang hebat. Tuhan mengizinkan mereka menderita dan takut, tetapi Dia selalu menyediakan jalan keluar, jalan untuk terus maju.

Perhatikan satu hal penting: bagi Paulus, tekanan hidup tidak identik dengan kehancuran. Setiap kalimat keluh kesahnya selalu diimbangi dengan janji: “namun tidak terjepit… namun tidak putus asa… namun tidak ditinggalkan… namun tidak binasa.” Inilah paradoks orang percaya: boleh waspada terhadap dunia, namun tidak perlu hidup dalam kekuatiran yang menguasai, sekalipun harus menghadapi risiko kematian badani.

Mengapa kita bisa memiliki keyakinan seperti ini?

Pertama, kita memiliki penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Paulus tidak berkata bahwa penderitaan itu menyenangkan atau mudah dihadapi. Tetapi ia mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan, Yesus sendiri hadir. Bahkan ketika manusia meninggalkan kita, ketika kita merasa sendirian menghadapi badai hidup, Tuhan tetap setia. Ini menjadi dasar mengapa kita tidak putus asa di tengah ancaman apa pun, termasuk ancaman perang besar atau kehancuran ekonomi.

Kedua, penderitaan justru menjadi kesempatan untuk menampakkan hidup Yesus. Paulus menulis: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Artinya, ketika kita tetap bertahan dalam iman di tengah tekanan, kita sedang memberitakan Injil dengan hidup kita sendiri. Dunia bisa melihat bagaimana orang Kristen memiliki damai yang tidak bergantung pada stabilitas politik, ekonomi, atau sosial. Hidup kita bergantung pada Tuhan, bukan pada hubungan antara negara-negara besar di dunia.

Ketiga, iman memberi kita perspektif yang berbeda tentang krisis. Berita dunia hanya menyoroti apa yang kelihatan: konflik, statistik korban, nilai tukar yang jatuh, harga pangan yang naik. Tetapi iman mengingatkan kita bahwa Allah tetap memegang kendali atas sejarah. Tidak ada satu pun kejadian yang di luar pengetahuan-Nya. Apa yang menakutkan bagi dunia, bisa menjadi kesempatan bagi umat-Nya untuk semakin bersandar pada Tuhan dan menunjukkan kasih-Nya.

Bagaimana kita menerapkan ini dalam hidup sehari-hari?

Tetap mengikuti berita, tapi tidak terlarut. Kita boleh membaca berita untuk mengetahui perkembangan dunia, tetapi jangan membiarkan diri kita terseret dalam spiral ketakutan atau teori konspirasi yang justru membuat kita semakin jauh dari damai sejahtera Allah. Perkuat komunitas iman. Salah satu cara Allah menguatkan kita adalah melalui sesama orang percaya. Diskusi di persekutuan, kelompok doa, atau percakapan rohani dengan teman seiman bisa membantu kita saling mengingatkan bahwa Tuhan tetap berdaulat. Bangun kehidupan doa yang konsisten. Daripada hanya membaca berita dan mengeluh, gunakan berita itu sebagai bahan doa.

Ketika dunia menawarkan berbagai alasan untuk takut, Tuhan memberikan satu alasan untuk tetap berharap: Dia hidup, dan Dia beserta kita. Jika Paulus, dengan segala penderitaannya, bisa berkata “namun tidak terjepit,” kita pun, dalam kasih karunia-Nya, bisa tetap berdiri teguh meski di tengah badai.

Ketika kita mendengar tentang adanya negara-negara yang sedang berkonflik, doakan para pemimpinnya. Ketika membaca kabar krisis ekonomi, doakan orang-orang yang paling terdampak. Dengan demikian, kita mengubah rasa cemas menjadi kesempatan mendekat kepada Allah. Hidup sebagai pembawa damai.

Dunia sudah cukup penuh dengan berita yang memecah belah. Jangan menambah kepanikan dengan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi atau menakut-nakuti orang lain dengan prediksi manusia tentang keadaan buruk yang akan mendatangi. Sebaliknya, jadilah pembawa harapan dengan mengingatkan orang di sekitar Anda bahwa Tuhan tetap memegang kendali. God is in control.

Pertanyaan Reflektif:

  • Ketika membaca berita dunia, apakah yang paling sering muncul dalam hati Anda: rasa takut, amarah, atau rasa percaya pada Allah?
  • Apa yang bisa Anda ubah dalam kebiasaan membaca berita, agar tidak hanya menjadi sumber kekuatiran dan kemarahan, tetapi bisa menjadi dorongan untuk semakin bergantung pada Tuhan?
  • Siapa orang di sekitar Anda yang sedang cemas karena berita-berita global dan lokal? Bagaimana Anda bisa menolongnya untuk menemukan damai di dalam Kristus?

Doa Penutup:

Tuhan, Engkau tahu betapa mudahnya hatiku gelisah melihat keadaan dunia ini. Aku sering lupa bahwa Engkau tetap berdaulat, bahwa tidak ada yang luput dari kendali-Mu. Tolong aku agar bisa melihat situasi dunia dengan mata iman, bukan hanya mata manusia. Ajari aku untuk menjadi pembawa damai, bukan pembawa ketakutan. Pakai hidupku untuk menampilkan kasih dan kuasa-Mu, supaya orang lain pun melihat bahwa Engkau tetap Allah yang setia. Di dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.

Bertobat Tapi Masih Berdosa?

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Roma 6:18

Apakah saya sungguh-sungguh bertobat jika saya terus jatuh ke dalam dosa yang sama? Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling jujur dan penting yang harus ditanyakan oleh seorang Kristen yang serius dalam imannya. Ini juga pertanyaan orang lain yang ingin tahu mengapa orang Kristen masih berbuat dosa.

Di satu sisi, kita mendengar janji-janji tentang kasih karunia Allah. Di sisi lain, Alkitab juga penuh dengan panggilan untuk hidup kudus dan meninggalkan dosa.

Beberapa ayat yang bisa menggelisahkan hati kita adalah:

“Iman tanpa perbuatan adalah mati” Yakobus 2:17

Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” Ibrani 12:14

“Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku” Yohanes 14:15

“Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan” Matius 7:23

Bahkan Paulus berkata, “Bagaimana kita yang telah mati terhadap dosa, masih dapat hidup di dalamnya?” (Roma 6:2). Yesus sendiri berkata kepada wanita yang berzinah: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11)

Dosa dan Pertobatan: Lebih Dari Sekadar Minta Maaf

Pertobatan sejati dalam Perjanjian Baru bukan sekadar rasa bersalah atau sekadar berkata “maaf.” Kata pertobatan (metanoia) berarti perubahan pikiran dan arah hidup — bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk selamanya. Pertobatan sejati mengubah tujuan dan hasrat hati kita. Namun setelah pertobatan itu, kenyataannya kita masih bisa jatuh dalam dosa. Apa yang harus kita lakukan ketika itu terjadi?

Jawabannya bukan “bertobat lagi” dalam pengertian awal, tetapi mengakui dosa (1 Yohanes 1:9), dan terus berjalan dalam kekudusan dengan kekuatan Roh Kudus. Ada perbedaan antara pengakuan dosa dalam perjalanan kekudusan dan pertobatan awal dari kehidupan lama kita.

Dua Jenis Pengakuan

Pengakuan yang penuh keputusasaan Ini terjadi ketika seseorang merasa bersalah, tetapi sudah pasrah dengan dosa yang berulang. Misalnya: “Saya mungkin akan menonton pornografi lagi minggu ini.” “Saya mungkin akan marah lagi besok pagi.” Ini bukan pertobatan sejati, melainkan bentuk kompromi rohani. Kita seakan-akan berdamai dengan dosa dan menyalahgunakan kasih karunia Allah. Dalam hati kecil kita, kita tahu kita tidak sedang berjuang melawan dosa itu. Pengakuan yang berjuang Ini adalah sikap yang jujur: kita tahu kita jatuh, tetapi kita benci dosa itu. Kita bertekad untuk melawannya dengan sungguh-sungguh. Kita mencari pertolongan Tuhan, membatasi peluang jatuh, dan bahkan mencari dukungan sesama saudara seiman. Ini bukan kemunafikan. Ini adalah peperangan rohani yang nyata.

Dua Jenis Dosa

Dosa karena kelemahan spontan: Terkadang kita tergelincir sebelum sempat berpikir. Amarah meledak, lidah terpeleset, atau pikiran kotor muncul tiba-tiba. Kita menyesal seketika, dan langsung menyadari bahwa itu adalah dosa.

Dosa yang direncanakan: Ini jauh lebih berbahaya. Kita tahu kita sedang tergoda, kita berpikir cukup lama, menimbang-nimbang, lalu memutuskan untuk melakukannya. Ini adalah dosa yang penuh perhitungan. Ini menunjukkan bahwa kita sedang bermain-main dengan kekudusan.

Kedua jenis dosa ini harus diakui, tetapi dosa yang disengaja dan pengakuan yang penuh fatalisme (“ini sudah ditetapkan Tuhan”) bisa menjadi indikator bahwa kita sedang berjalan menuju kehancuran rohani. Ketika kita berhenti berperang melawan dosa, ketika kita mulai berdamai dengan dosa, saat itulah kita dalam bahaya besar.

Keselamatan dan Ketekunan

Apakah kita kehilangan keselamatan setiap kali berdosa? Tidak. Tetapi setiap dosa melemahkan relasi rohani kita dengan Tuhan. Dosa juga bisa membawa hidup kita di dunia ini ke arah kehancuran secara jasmani. Keselamatan sejati tidak hanya ditandai dengan iman awal, tetapi juga dengan ketekunan dalam kasih dan ketaatan kepada Kristus.

Bahkan Paulus berkata: “Aku ini manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Tetapi ia tidak berhenti di sana. Ia melanjutkan: “Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Roma 7:25)

Kita tidak diselamatkan oleh kekuatan kita sendiri. Tetapi jika kita benar-benar telah lahir baru, maka Roh Kudus akan terus memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran dan menolong kita melawan dosa. Ini membutuhkan respons kita untuk tidak menolak Roh Kudus (Efesus 4:30).

Berapa Kali Saya Boleh Bertobat?

Yesus berkata kepada Petrus bahwa kita harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Itu juga menunjukkan bagaimana Allah memandang kita. Tidak ada batas angka bagi orang yang sungguh-sungguh bertobat dan terus mengaku dosa dengan hati yang bertobat.

Tetapi pengampunan bukan izin untuk berdosa lagi. Pengampunan adalah dorongan untuk berubah. Kita mengaku bukan untuk mendapatkan izin berdosa, melainkan karena kita ingin disucikan dan menang.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya mengaku dosa hanya karena rasa bersalah, atau karena saya benar-benar ingin berubah?
  • Apakah saya sedang “berdamai” dengan dosa tertentu dalam hidup saya?
  • Apakah saya sengaja menyimpan kesempatan untuk jatuh ke dalam dosa?
  • Apakah saya percaya bahwa Roh Kudus dapat memberi kekuatan untuk menang atas dosa?
  • Apakah saya hidup dengan penuh pertobatan, atau hanya hidup dalam siklus rasa bersalah?

Doa Penutup:

Tuhan yang Mahakudus, aku datang di hadapan-Mu dengan hati yang hancur karena dosa-dosaku. Aku tidak ingin hidup dalam kebohongan atau damai dengan dosa yang kutahu menyakiti-Mu. Tolong aku, ya Roh Kudus, untuk membenci dosa dan mencintai kekudusan. Berikan aku kekuatan untuk bangkit setiap kali jatuh, dan keberanian untuk mengambil langkah nyata dalam meninggalkan kebiasaan buruk. Terima kasih karena Engkau panjang sabar dan penuh kasih. Bentuklah aku menjadi hamba kebenaran, seperti yang Kau kehendaki. Di dalam nama Yesus Kristus, aku berdoa. Amin.

Bermegah dalam Salib, Bukan dalam Diri Sendiri

“Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11:30

Di zaman sekarang mungkin Anda merasa bahwa adalah umum jika orang merasa bangga atas apa yang sudah dicapainya dalam hidup, entah itu berupa kekayaan, ketenaran, kepandaian atau hal lain. Lebih dari itu malahan ada orang yang bangga sekalipun tidak melakukan hal apa pun untuk mencapai sesuatu, misalnya bangga karena mempunyai wajah yang rupawan, tubuh yang sehat, lahir dalam keluarga ningrat, atau terhitung sebagai keturunan bangsa yang unggul di dunia. Memang rasanya puas jika orang bisa membanggakan sesuatu dan membuat diri lebih tinggi dari yang lain.

Sebenarnya, rasa ingin bangga, bermegah, atau sombong itu sudah ada sejak zaman Adam dan Hawa yang melanggar perintah Tuhan karena merasa tidak perlu taat kepada Tuhan. Kemudian, di Perjanjian Baru kita membaca tentang adanya rasul-rasul palsu yang sombong atas posisi dan kemampuan mereka. Tugas Paulus sebagai bapa rohani dari jemaat di Korintus adalah melindungi mereka dari dusta para rasul palsu.

Para penipu ini menyamar sebagai hamba kebenaran, sama seperti iblis menyamar sebagai malaikat terang. Paulus menyindir mereka yang sombong atas kemampuan duniawi yang mereka miliki. Berbeda dengan mereka, Paulus lebih banyak membanggakan cara ia menanggung penderitaan dalam pelayanannya kepada Kristus. 2 Korintus 11:16–33 memuat daftar panjang penderitaan yang dialami Paulus dalam pelayanannya kepada Kristus.

Paulus menyatakan sebelumnya di bagian ini bahwa ia akan “bermegah” sebagaimana lawan-lawannya, para rasul palsu di Korintus, akan bermegah untuk memuliakan diri mereka sendiri. Namun, “bermegah” Paulus hanya berupa daftar penderitaan yang telah ia alami dalam misinya untuk membawa Injil kepada orang-orang di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk mengejek para rasul palsu dengan nada sarkastis (2 Korintus 11:21, 23), dan itupun tidak bermaksud untuk mempromosikan diri. Karena budaya Korintus menghargai kekuatan dan kesuksesan di atas segalanya, kemegahan Paulus kemungkinan besar terdengar sangat aneh atau sebagai ejekan terhadap kemegahan sejati.

Sekarang ia mengklarifikasi apa yang telah ia lakukan. Jika ia akan bermegah, tulis Paulus, ia hanya akan bermegah atas hal-hal yang menunjukkan betapa lemahnya ia sebenarnya. Hal ini mungkin justru bertolak belakang dengan apa yang diharapkan oleh jemaat Korintus. Mereka menginginkan seorang rasul yang, seperti para guru dusta yang tinggal di dekat mereka, tampak kuat, cakap, dan percaya diri. Sebaliknya, Paulus menggambarkan semua kelemahannya. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan betapa kuatnya Allah melalui dirinya.

Dalam pengertian penduduk Korintus, penderitaan apa pun alasannya merupakan tanda kelemahan. Tetapi, dalam istilah Kristen, penderitaan adalah salah satu cara orang percaya mengidentifikasi diri dengan Kristus dan belajar bertumbuh dalam ketergantungan mereka kepada-Nya. Paulus telah mengatakan hal yang sama di awal suratnya kepada mereka, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk mempermalukan apa yang kuat, dan apa yang hina dan terhina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang pun yang dapat memegahkan diri di hadapan Allah” (1 Korintus 1:27–29).

Dalam dunia yang semakin menekankan pencapaian, kesuksesan, dan pengakuan diri, tidak jarang orang Kristen pun tergoda untuk berpikir bahwa iman adalah jalan menuju kenyamanan hidup. Ketika doa-doa dijawab, bisnis berjalan lancar, atau kesehatan terjaga, kita mungkin mulai merasa bahwa semua itu adalah ‘buah iman’ yang patut dibanggakan. Namun, kita harus berhati-hati. Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk bermegah dalam keberhasilan pribadi. Sebaliknya, segala sesuatu yang baik adalah pemberian Tuhan, bukan hasil usaha kita sendiri.

Bangga adalah perasaan yang muncul ketika seseorang merasa berhasil karena kekuatan atau usahanya sendiri. Namun sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa tidak ada yang benar-benar baik yang bisa kita capai tanpa Tuhan. Yesus sendiri berkata, “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Iman yang sejati justru membawa kita kepada kerendahan hati—pengakuan bahwa semua berasal dari Allah dan untuk kemuliaan-Nya.

Rasul Paulus adalah contoh luar biasa dari kehidupan yang tidak membanggakan diri. Meski ia adalah rasul besar, berpendidikan tinggi, dan telah melakukan banyak pelayanan, Paulus dalam ayat di atas justru menyatakan bahwa jika ia harus bermegah, maka ia akan bermegah atas kelemahanku” Mengapa? Karena justru dalam kelemahan dan penderitaan, kasih karunia Tuhan menjadi nyata.

Dalam 2 Korintus 12, Paulus menceritakan tentang ‘duri dalam dagingnya’. Ia memohon tiga kali agar Tuhan mengambilnya, tetapi Tuhan menjawab: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Respon Paulus sangat menginspirasi: “Sebab itu aku senang di dalam kelemahan… Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Inilah kebenaran yang paradoksal dalam kekristenan: kita kuat bukan saat merasa mampu, tapi saat bersandar sepenuhnya pada Kristus.

Jika kita menderita karena iman, Alkitab berkata kita tidak perlu malu. 1 Petrus 4:16 menulis, “Tetapi jika ia menderita sebagai orang Kristen, janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” Kita dipanggil bukan untuk mencari kenyamanan dunia, melainkan untuk setia memikul salib. Yesus tidak menjanjikan jalan mudah, tetapi janji-Nya adalah penyertaan dalam setiap penderitaan.

Orang Kristen sejati tidak hidup dalam kebanggaan diri, tapi dalam ucapan syukur dan ketergantungan. Segala keberhasilan, baik jasmani maupun rohani, adalah anugerah. Karena itu, kita tidak membanggakan iman kita sebagai pencapaian pribadi. Kita tidak merasa lebih tinggi dari orang lain karena kita percaya. Justru sebaliknya, kita sadar bahwa iman adalah pemberian, bukan hasil kerja kita (Efesus 2:8–9).

Kita hanya boleh bermegah dalam salib Kristus. Galatia 6:14 berkata, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus.” Salib adalah lambang kasih, pengorbanan, dan ketaatan total. Salib mengingatkan kita bahwa segala berkat rohani dan keselamatan kita adalah karena darah Yesus, bukan karena kehebatan kita.

Jadi, daripada membanggakan kenyamanan hidup yang kita miliki karena iman, mari kita belajar untuk bersyukur dalam segala keadaan. Dalam kelimpahan, kita bersyukur kepada Tuhan. Dalam kekurangan, kita tetap memuliakan Dia. Dalam penderitaan, kita tidak malu, tetapi kita tetap berdiri teguh sebagai saksi Kristus yang setia.

Pertanyaan Reflektif:

1. Apakah saya secara tidak sadar mulai membanggakan berkat atau kenyamanan hidup saya sebagai hasil iman saya?

2. Apakah saya menyadari bahwa segala yang baik berasal dari Tuhan dan bukan karena kekuatan saya sendiri?

3. Apakah saya bersedia memikul salib, bahkan ketika iman membawa pada kesulitan atau penderitaan?

4. Apakah saya bermegah dalam salib Kristus, atau dalam pencapaian saya sendiri?

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, ampuni aku jika aku pernah merasa bangga karena berkat yang Engkau beri. Ingatkan aku bahwa semua yang baik berasal dari-Mu. Ajarku untuk tidak mengandalkan kekuatanku sendiri, tetapi selalu bersandar pada kasih karunia-Mu. Tolong aku untuk tidak malu ketika harus menderita karena iman, tetapi justru bermegah dalam salib-Mu. Jadikan aku saksi yang rendah hati, setia, dan selalu memuliakan Engkau, baik dalam suka maupun duka. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Lebih Kejam dari Burung Nazar: Singa yang Mengintai

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

Pada awal tahun 1990-an, sebuah foto menyayat hati mengguncang dunia. Foto itu menampilkan seorang anak Sudan yang kelaparan, tergeletak di tanah dalam posisi meringkuk, terlalu lemah untuk bergerak. Di belakangnya berdiri seekor burung nazar—diam, menunggu. Menunggu saat anak itu mati agar bisa disantap. Foto yang dibuat oleh Kevin Carter ini memenangkan Penghargaan Pulitzer karena kejujurannya yang brutal, tetapi bagi banyak orang, itu adalah gambaran dari keputusasaan dunia.

Fotografer Kevin Carter meninggal pada umur 33 akibat bunuh diri karena kombinasi faktor, termasuk trauma menyaksikan kekerasan dan penderitaan sebagai jurnalis foto, dan juga kritik seputar foto di atas. Tekanan batin yang luar biasa, terutama setelah temannya meninggal, dan dampak emosional dari pekerjaannya, pada akhirnya berkontribusi pada depresi dan keputusannya untuk mengakhiri hidupnya.

Foto di atas telah memengaruhi perasaan banyak orang, sekalipun kabarnya anak Sudan itu bisa diselamatkan. Dunia ini kejam dan Tuhan mungkin juga terasa begitu. Bagi Charles Templeton, mantan penginjil yang dulunya sangat dekat dengan Billy Graham, foto itu menjadi titik balik dalam imannya. Dalam bukunya Farewell to God (Selamat Tinggal kepada Tuhan) ia menulis bahwa saat melihat foto itu, ia tidak lagi bisa mempercayai keberadaan Allah yang penuh kasih. Penderitaan itu terlalu dalam, dan suara Tuhan terlalu sunyi.

Di segala zaman, banyak orang mengalami hal serupa—terhantui oleh gambar penderitaan, tragedi perang, atau rasa sakit pribadi—dan bertanya: Di mana Tuhan? Jika Ia baik, mengapa Ia tidak menghentikan semua ini? Namun iman Kristen justru mengajak kita menyelami kenyataan yang lebih dalam. Iman Kristen tidak menyangkal penderitaan atau menutup mata terhadap kejahatan. Alkitab justru mengungkapkan kebenaran yang lebih gelap: ada musuh sejati di balik penderitaan ini—makhluk yang lebih mengerikan daripada burung nazar yang menunggu. Ia adalah iblis, perusak badan dan pembinasa jiwa kita.

Pemangsa yang Tak Terlihat

Rasul Petrus menulis bahwa iblis itu seperti singa yang mengaum—bukan hanya menonton penderitaan, tapi aktif mengincar mangsa. Ia tidak hanya menunggu kita jatuh. Ia berputar-putar, menyusun jebakan, membisikkan kebohongan, dan menyerang ketika kita paling lemah. Kadang serangannya langsung—melalui kelaparan, penyakit, perang, dan penganiayaan. Namun sering juga ia menyerang secara halus—melalui keraguan, keputusasaan, kecemasan, dan kemarahan terhadap Tuhan. Dan kita tahu bahwa ada banyak orang Kristen yang seperti Ayub, mengalami serangan fisik dan serangan batin dari iblis.

Iblis bukan hanya ingin tubuh kita menderita. Ia ingin jiwa kita binasa.

Di foto anak Sudan itu, dunia melihat burung nazar. Tapi Alkitab mengungkapkan bayangan yang lebih gelap di baliknya—seekor singa yang menunggu jiwa manusia kehilangan harapan. Iblis mencuri sukacita. Ia tidak menyerang tubuh kita saja, ia mau membunuh pengharapan. Ia ingin membinasakan iman kita. Dan ia memakai penderitaan badani sebagai senjata utamanya. Ia ingin menelan kita hidup-hidup.

Singa yang Dihadapi oleh Anak Domba

Mengapa Tuhan membiarkan iblis terus berkeliaran? Mengapa Ia tidak langsung menghentikannya? Saya tidak bisa menjawabnya.

Alkitab mungkin tidak memberikan semua jawaban logis seperti yang kita inginkan, tetapi Alkitab menyatakan adanya pribadi yang datang turun tangan. Ia adalah Yesus. Dan ketika Ia datang, Ia tidak datang sebagai filsuf atau pemimpin politik. Ia datang sebagai Hamba yang menderita, sebagai Anak Domba, untuk menghadapi si singa.

Di kayu salib, Yesus masuk ke dalam penderitaan dunia sepenuhnya—ditolak, disiksa, disalibkan. Ia tidak hanya menyaksikan penderitaan manusia, tetapi menanggungnya. Jadi, dalam penderitaan apa pun kita tidak akan sendirian.

Tuhan Semesta Alam telah datang menanggung penderitaan umat manusia, untuk mengalahkan musuh terbesar kita. Di salib, Anak Domba melawan Singa. Dan meski singa mengaum, Anak Domba menang.

Pengharapan di Tengah Medan Perang

Ya, dunia ini gelap. Sangat gelap. Sampai sekarang, anak-anak masih mati karena kelaparan. Ya, burung-burung nazar masih menunggu. Di balik setiap burung nazar, mungkin ada singa. Tetapi di atas singa, ada takhta, dan pada takhta itu duduk Kristus yang bangkit.

Tuhan tidak meninggalkan kita. Ia memanggil kita untuk tetap sadar, berjaga-jaga, dan melawan Iblis. Ia memberikan kita Roh Kudus, Firman-Nya, dan komunitas umat percaya sebagai perlengkapan rohani dalam peperangan ini. Perjuangan ini berat, tapi kemenangan sudah dijamin. Ia sudah menjanjikan hari di mana burung nazar tidak lagi mengitari korban, air mata akan dihapus, dan kematian akan dikalahkan

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Wahyu 21:4

Dari Keputusasaan Menuju Doa

Mungkin seperti Carter dan Templeton, Anda pernah merasa goyah oleh penderitaan dunia. Mungkin Anda sendiri sedang dalam pergumulan berat. Jika demikian, Anda tidak sendirian. Tetapi jangan biarkan singa itu mencuri pengharapan Anda.

Berserulah kepada Tuhan. Bawa pertanyaan Anda kepada-Nya. Bergumul dalam doa. Jangan berhenti hanya pada kekecewaan. Pandanglah salib. Di sanalah jawaban Allah dimulai—bukan dengan penjelasan, tapi dengan pengorbanan.

Dan jika saat ini Anda sedang diserang oleh Iblis, ingatlah: Anda bukan korban tak berdaya. Anda adalah anak Allah, yang dijaga oleh Gembala Agung, yang rela mati agar Anda tidak bisa ditelan oleh singa.

Pertanyaan Reflektif:

  • Pernahkah Anda mengalami momen di mana penderitaan membuat Anda meragukan kasih atau keadilan Allah? Bagaimana Anda meresponsnya?
  • Apa arti peringatan bahwa Iblis “seperti singa yang mengaum”?
  • Di bagian mana dari hidup Anda Anda merasa paling rentan?
  • Bagaimana salib Kristus membantu Anda menghadapi kejahatan dan penderitaan dengan iman, bukan dengan keputusasaan?
  • Siapa di sekitar Anda yang mungkin sedang bergumul dalam diam karena kehilangan pengharapan? Bagaimana Anda bisa mendampingi mereka?

Doa Penutup:

Tuhan, kadang kami tidak kuat melihat penderitaan di dunia ini. Kami melihat anak-anak mati kelaparan, perang, dan kejahatan, dan rasanya seperti Engkau diam. Tapi Engkau telah datang—bukan hanya untuk melihat, tapi untuk menderita bersama kami dan mengalahkan musuh kami. Tolong kami tetap sadar, berjaga, dan melawan Iblis dengan kekuatan dari-Mu. Ajar kami menaruh pengharapan pada salib dan kebangkitan-Mu. Jadikan kami pembawa terang dan kasih-Mu di dunia yang gelap ini. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Doktrin yang Sistematik Membentuk Struktur Iman yang Baik

”… supaya kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran… tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Efesus 4:14–15

Efesus 4:11–16 membahas tentang karunia pemimpin rohani dan pentingnya Kekristenan yang dewasa, penuh kasih, dan bersatu. Salah satu hasil positif dari kedewasaan orang percaya adalah tidak tertipu oleh ajaran sesat. Mereka yang “bukan lagi anak-anak” dapat melawan dusta dan tipu daya. Ajaran sesat terus berubah. Mereka yang belum dewasa dapat dengan mudah tertipu untuk berpikir bahwa semua ajaran tentang moralitas misalnya, bisa menjadikan manusia cukup baik bagi Tuhan.

Orang Kristen dapat tertipu dalam dua cara. Pertama, mereka dapat tertipu oleh “kelicikan manusia.” Inilah kekuatan persuasi manusia; seorang yang pandai bicara dapat menggunakan pengaruhnya atas orang lain. Kedua, seseorang dapat tertipu oleh “kelicikan dalam tipu daya.” Ini adalah rencana jahat yang mungkin tampak baik tetapi sebenarnya mempromosikan sesuatu yang salah. Karena itu, dalam Efesus 6:11 Paulus menyatakan bahwa orang percaya perlu “Mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya mereka dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.”

Menariknya, kemampuan manusia untuk memperjuangkan apa yang benar dengan sikap yang benar secara dalam hidup di dunia, langsung dikontraskan dengan menjadi keadaan manusia yang tidak dewasa dan mudah tertipu. Dalam hal ini, orang percaya yang tidak dewasa dapat menjadi mangsa pilihan yang salah, yaitu mengatakan kebenaran tanpa kasih, atau mengatakan kasih tanpa kebenaran. Perintah Allah adalah untuk bertumbuh dalam kedewasaan, suatu perkembangan yang mencakup tindakan dan informasi (Efesus 4:11-12). Untuk itulah kita perlu belajar tetang apa yang harus kita percayai, iman Kristen, secara sistimatis.

Iman yang Berakar, Bukan Di Awang-awang

Banyak orang saat ini merasa cukup dengan berkata, “Saya percaya Yesus,” tanpa benar-benar memahami apa artinya percaya kepada Yesus. Memang Yesus secara historis ada, tetapi percaya bahwa Ia pernah hidup di dunia belum berarti percaya bahwa Ia Anak Allah. Iman dengan demikian bisa menjadi sesuatu yang kabur, hanya berdasarkan pengalaman pribadi atau ajaran yang populer. Jadi, iman sejati tidak boleh dibangun di atas perasaan atau kebiasaan, melainkan di atas kebenaran yang dapat dijelaskan, dipelajari, dan diterapkan secara terpeinci.

Di sinilah peran doktrin sistematik: menyusun kebenaran Alkitab secara teratur, sehingga kita dapat membangun struktur iman yang kuat dan tahan guncangan.

1. Apa Itu Doktrin Sistematik?

Doktrin sistematik adalah cara kita memahami seluruh isi Alkitab secara tematik dan terintegrasi. Bayangkan Alkitab sebagai perpustakaan kebenaran yang besar—doktrin sistematik membantu kita menyusunnya seperti rak buku yang rapi dalam pikiran dan hati kita.

Beberapa tema penting dalam doktrin sistematik meliputi:

  • Teologi: Siapa Allah dan bagaimana sifat-sifat-Nya
  • Kristologi: Siapa Yesus dan apa yang telah Ia kerjakan
  • Soteriologi: Bagaimana manusia diselamatkan
  • Eklesiologi: Apa itu gereja dan misinya
  • Eskatologi: Apa yang akan terjadi di akhir zaman

Doktrin ini bukan sekadar teori. Ia adalah peta rohani agar kita tidak tersesat dalam dunia yang penuh ajaran menyesatkan.

2. Doktrin Membangun Struktur, Bukan Menghambat Kasih

Ada anggapan bahwa berbicara soal doktrin bisa membuat orang menjadi kaku, sombong, dan kehilangan kasih. Tapi sesungguhnya, doktrin yang benar justru membentuk kasih yang murni. Pengenalan atas doktrin yang sistimatik akan membuat orang Kristen makin sadar bahwa ia adalah orang berdosa yang sudah diselamatkan hanya melalui anugerah Allah. Tanpa pengertian yang benar tentang siapa Allah itu, bagaimana kita kemudian bisa bersyukur atas kasih-Nya dan mengasihi-Nya dengan sungguh-sungguh?

Bayangkan seseorang mengatakan dia mencintai seseorang yang ia tidak kenal—itu bukan cinta, itu ilusi. Demikian juga, mengasihi Tuhan dimulai dengan mengenal-Nya melalui firman dan doktrin yang benar.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap akal budimu…” (Mat. 22:37)

Kasih yang benar harus melibatkan akal budi—pemahaman yang sehat dan benar tentang siapa yang kita sembah.

3. Doktrin Menjaga Kita dari Tipu Daya

Efesus 4:14 memperingatkan kita agar tidak diombang-ambingkan oleh “rupa-rupa angin pengajaran.” Dunia ini penuh dengan “Yesus palsu”, “Injil palsu”, dan “pengharapan palsu.”

Tanpa fondasi doktrinal, kita akan mudah tertipu oleh:

  • Injil kemakmuran: seolah-olah iman itu jaminan untuk jadi kaya
  • Legalisme: mengandalkan perbuatan untuk diselamatkan
  • Relativisme: semua agama dianggap sama saja
  • Mistisisme tanpa dasar Alkitab: merasa adanya pengalaman spiritual pribadi tanpa menyadari kebenaran

Doktrin menolong kita menguji segala hal (1 Tesalonika 5:21), dan tetap setia pada Injil yang benar (Galatia 1:6–9).

4. Doktrin Mendorong Pertumbuhan Rohani

Doktrin bukan penghambat pertumbuhan—justru bahan bakar bagi pertumbuhan rohani. Seorang Kristen yang terus belajar dan memahami doktrin akan:

  • Lebih menghargai kasih karunia Allah
  • Lebih sadar akan kelemahan diri sendiri
  • Lebih rendah hati dalam pelayanan
  • Lebih kuat dalam pengharapan
  • Lebih bijak dalam menasihati dan membina orang lain

Kekristenan yang dangkal membuat jemaat puas dengan “susu rohani.” Tapi Ibrani 5:14 berkata:

“… makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih…”

Doktrin adalah makanan keras yang melatih kedewasaan rohani.

5. Doktrin Menjaga Kesatuan Tubuh Kristus

Ironisnya, banyak orang mengira bahwa menghindari doktrin akan menciptakan persatuan. Padahal justru sebaliknya. Kesatuan sejati dalam gereja hanya mungkin terjadi jika kita berdiri di atas kebenaran yang sama. Kesadaran akan kebenaran yang sama membuat orang menghindari perdebatan yang sia-sia tentang apa yang tidak penting atau kurang penting.

Pada pihak yang lain, semua itu bukan sekadar “kita saling suka,” tapi “kita percaya hal yang sama tentang Injil.” Maka Paulus berkata,

“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh dan satu Roh… satu iman…” Efesus 4:3–5

Tanpa “satu iman” (satu sistem kepercayaan yang benar), persatuan hanya akan menjadi kompromi yang rapuh.

Mari Bangun Iman dengan Dasar yang Kuat

Jangan puas hanya dengan mengatakan “saya percaya.” Tanyakan juga: Apa yang saya percayai? Mengapa saya percaya itu? Apakah iman saya berdiri di atas ajaran yang benar?

Kita tidak dipanggil untuk menjadi teolog profesional, tapi kita semua dipanggil untuk mengenal Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran. Dan itu berarti kita perlu belajar, bertanya, dan membangun iman berdasarkan doktrin yang sehat dan setia pada firman Tuhan.

Pertanyaan Reflektif:

  • Sejauh mana saya memahami dasar-dasar iman Kristen secara sistematik?
  • Pernahkah saya menguji pengajaran yang saya terima—apakah sesuai dengan Alkitab?
  • Bagaimana saya bisa bertumbuh dalam pemahaman doktrin, baik secara pribadi maupun bersama jemaat?
  • Apakah saya pernah menghindari pembicaraan doktrin karena takut memecah-belah, padahal seharusnya kita berdiri pada kebenaran dalam kasih?

Doa Penutup:

Tuhan yang Mahakuasa, terima kasih karena Engkau menyatakan diri-Mu melalui firman-Mu yang kudus. Tolonglah aku untuk semakin mengenal Engkau, bukan hanya dengan hati, tetapi juga dengan pikiran yang diperbarui. Bentuklah imanku di atas dasar yang benar, agar aku tidak mudah disesatkan, tetapi tetap teguh dalam kasih dan kebenaran. Ajarlah aku untuk mencintai doktrin yang sehat, karena di sanalah Engkau menyatakan kehendak dan kasih-Mu. Dalam nama Yesus Kristus aku berdoa. Amin.

Dari Bodoh Menjadi Terang: Kisah Setiap Orang Percaya

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).

Setiap orang Kristen yang benar-benar lahir baru pasti akan mengakui satu hal penting: dulu kami bodoh. Bukan karena kekurangan intelektual, melainkan karena tidak mengenal siapa Tuhan yang sejati.

Kita dulu hidup dengan hikmat dunia, mengikuti arus zaman, dan percaya pada kekuatan sendiri. Namun, semuanya itu tidak membawa kita pada pengenalan akan Allah. Seperti tertulis dalam Efesus 4:18: “Pikiran mereka gelap, dan mereka jauh dari hidup yang berasal dari Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.”

Inilah realita manusia tanpa Tuhan—terputus dari sumber hikmat sejati. Mereka bisa cerdas secara akademis, sukses dalam karier, bahkan menjadi tokoh masyarakat. Tetapi selama mereka belum mengenal Kristus, mereka tetap berada dalam kegelapan rohani. Paulus menyebut ini sebagai kebodohan rohani, karena mereka tidak tahu jalan hidup yang benar, dan tidak mampu menyenangkan Tuhan (Roma 8:7–8).

Namun, kasih karunia Allah begitu besar. Ia tidak membiarkan kita tinggal dalam kebodohan itu. Melalui firman-Nya dan karya Roh Kudus, Tuhan membuka mata kita. Ia menanamkan kerinduan dalam hati untuk mencari kebenaran. Firman Tuhan menjadi alat utama dalam transformasi ini. Seperti yang dikatakan pemazmur di atas: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105).

Hanya dengan membaca dan menyelami firman Tuhan, dan dengan pertolongan Roh Kudus, kita mulai memahami siapa Tuhan yang Mahabesar itu. Pengertian itu bukan hanya pengetahuan, tetapi pengenalan pribadi akan Allah. Hikmat sejati bukan soal tahu banyak hal, tetapi mengenal Dia yang menciptakan dan menebus kita. Itulah awal dari kebijaksanaan sejati: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN” (Amsal 9:10).

Kini orang percaya yang dulunya bodoh secara rohani, dipanggil menjadi terang dunia. Bukan karena mereka pintar atau hebat, melainkan karena mereka membawa terang Kristus. Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi” (Matius 5:14). Dengan hidup yang diubahkan, mereka menjadi saksi tentang kasih, pengampunan, dan kebenaran Allah.

Ini adalah transformasi yang luar biasa. Dari orang berdosa yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, menjadi duta besar Kristus (2 Korintus 5:20). Hidup kita bukan lagi untuk diri sendiri, melainkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Bahkan meski dunia tetap menganggap kita ‘bodoh’ karena iman dan ketergantungan kita kepada Tuhan, kita tahu bahwa dalam Kristus, kita telah menerima hikmat sejati (1 Korintus 1:30).

Pertanyaan Reflektif:

1. Apakah saya masih mengandalkan hikmat dunia, atau saya sungguh-sungguh mencari hikmat dari firman Tuhan?

2. Apakah saya membiarkan Roh Kudus bekerja mengubahkan hati dan pola pikir saya setiap hari?

3. Apakah hidup saya menjadi terang yang mencerminkan Kristus di tengah dunia yang gelap?

Doa Penutup;

Tuhan, aku mengakui bahwa dulu aku hidup dalam kebodohan rohani. Aku tidak mengenal Engkau, dan pikiranku gelap oleh dosa dan kesombongan. Terima kasih karena Engkau tidak membiarkanku tinggal dalam keadaan itu. Melalui firman-Mu dan karya Roh Kudus, Engkau membuka mataku dan mengajarkanku tentang kasih dan kebenaran-Mu. Tolong aku untuk terus hidup dalam terang-Mu, menjadi saksi bagi dunia, dan memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa, Amin.

Tuhan Tidak Akan Pernah Menjadi Tidak Relevan

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri… lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Mereka akan menjalankan ibadah secara lahiriah, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya.” 2 Timotius 3:1–5

Di Australia, dan di banyak negara barat lainnya gereja mengalami kemunduran. Jumlah orang yang mengaku Kristen berkurang secara signifikan, dan jumlah pengunjung banyak gereja sudah menyusut. Sampai-sampai, banyak gedung gereja yang dijual untuk digunakan sebagai rumah biasa atau bahkan sebagai masjid karena tidak lagi membutuhkan surat izin pendirian rumah ibadah. Bagi setiap orang Kristen, keadaan ini memang cukup menyedihkan. Tetapi, saya merasa paling prihatin ketika ada orang yang berkata bahwa kemajuan teknologi akan membuat Allah menjadi tidak relevan, atau bahkan membuktikan bahwa Dia tidak ada.

Kekhawatiran seperti ini bukan hanya emosional, tetapi juga spiritual. Sebab hari-hari ini kita memang sedang hidup dalam zaman di mana iman dianggap lelucon, dan teknologi dianggap Tuhan baru. Manusia semakin mengandalkan kecerdasan buatan, data besar, dan algoritma untuk mengambil keputusan — seolah-olah semua masalah dapat diselesaikan tanpa campur tangan Allah. Namun kenyataan ini sudah diprediksi dalam Alkitab. Sebagian orang bahkan mengatakan, “Kita tidak perlu Tuhan lagi. Kita punya ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi.” Ini bukan sekadar pandangan akademis — ini adalah kesombongan rohani yang telah dinubuatkan dalam Kitab Suci sejak lama.

1. Nubuat Alkitab: Manusia Akan Menjadi Sombong

Teks di atas menubuatkan bahwa manusia di akhir zaman akan menjadi pecinta diri sendiri, congkak, dan merasa tidak memerlukan Tuhan. Mereka bisa saja masih “beragama”, tetapi hanya pengakuan secara formal untuk keuntungan pribadi. Dalam praktiknya, mereka mengandalkan logika, keuangan, dan teknologi — bukan iman, doa, dan ketundukan kepada kehendak Tuhan. Mereka merasa sudah cukup baik dengan keberadaan yang ada.

2. Teknologi Tidak Akan Pernah Mampu Menggantikan Tuhan

Teknologi adalah alat, bukan makhluk ilahi. Ia hanya bisa bekerja berdasarkan hukum-hukum alam yang sudah diciptakan Tuhan sejak semula. Semakin maju teknologi, seharusnya kita semakin kagum pada keteraturan dan kebesaran Sang Pencipta. Sayangnya, banyak orang justru semakin jauh dari Tuhan karena merasa bisa mengendalikan dunia sendiri.

Namun, tak satu pun teknologi dapat menjawab pertanyaan terdalam manusia:

  • Siapa saya sebenarnya?
  • Apa arti penderitaan?
  • Apakah ada kehidupan setelah kematian?
  • Siapa yang menciptakan hati nurani?

Hanya firman Tuhan yang bisa menjelaskan.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Mazmur 19:1

“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Kolose 1:17

Semua hukum fisika, biologi, dan logika tidak akan pernah bisa menjelaskan kenapa kita memiliki jiwa, kasih, dan keinginan untuk mencari kebenaran. Hanya Tuhan yang bisa menjawab itu.

3. BerTuhan Tanpa Ketaatan: Teori Tanpa Praktik

Banyak orang mengatakan mereka percaya kepada Tuhan, tetapi hidup seolah Tuhan tidak ada. Ini adalah bentuk keimanan yang mati. BerTuhan tanpa ketaatan sama seperti punya teori tanpa pernah mempraktikkannya. Sebaliknya, ada juga yang hanya mempraktikkan bagian agama yang nyaman saja — ketaatan yang dikurung oleh selera pribadi.

“Mengapa kamu menyebut Aku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Lukas 6:46

“Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2:17

Iman yang sejati bukan sekadar pernyataan, tetapi tindakan. Bukan hanya berdoa saat susah, tetapi hidup untuk menyenangkan Tuhan setiap hari — bahkan ketika itu akan membuat kita tidak populer.

4. Kemajuan Tanpa Arah: Dunia yang Kehilangan Moral

Ketika Tuhan dianggap tidak relevan, manusia mulai menentukan standar moralnya sendiri. Apa yang dulu disebut dosa, kini disebut pilihan pribadi. Apa yang dulu disebut najis, kini disebut hak asasi. Ketika agama kehilangan tempatnya, nilai-nilai pun mulai runtuh.

Kita melihatnya dalam banyak bentuk:

  • Narkoba sebagai pelarian dari kekosongan jiwa.
  • Perubahan jenis kelamin sebagai krisis identitas mendalam.
  • Hubungan sesama jenis yang bukan lagi hanya ada, tapi dipromosikan secara sistematis.
  • Kebebasan tanpa arah yang akhirnya merusak diri sendiri dan sesama.
  • Pamer kekayaan yang dianggap sebagai tanda kesuksesan.

Semua ini bukan hanya soal individu — ini adalah gejala bahwa masyarakat sedang kehilangan Tuhan.

5. Iman dalam Zaman Digital

Bagaimana kita sebagai orang percaya menyikapi ini?

Pertama, kita tidak boleh takut pada kemajuan. Tuhan bukan musuh sains. Justru, banyak ilmuwan besar seperti Isaac Newton, Blaise Pascal, dan Johannes Kepler adalah orang-orang yang takut akan Tuhan.

Kedua, kita harus berakar semakin dalam. Dunia sedang berubah cepat, tetapi Firman Tuhan tetap. Kita perlu membaca Kitab Suci bukan hanya sebagai sejarah, tapi sebagai pegangan hidup. Kita perlu berdoa, bukan sebagai rutinitas, tapi sebagai nafas jiwa.

Ketiga, kita harus menjadi saksi yang bijaksana. Jangan menghakimi mereka yang tersesat, tetapi tunjukkan kasih dan kebenaran. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak suara bising — dunia butuh terang.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Roma 12:2

Tuhan Tidak Pernah Tidak Relevan

Dunia boleh berubah. Nilai boleh bergeser. Teknologi boleh berkembang. Tapi Tuhan tetap sama.

“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Ibrani 13:8

Iman kita bukan sisa masa lalu. Iman kita adalah kebutuhan terdalam manusia di masa depan. Di dunia yang semakin bingung mencari jati diri, Tuhan tetap menjadi sumber kebenaran, kasih, dan pengharapan.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah saya sedang tergoda untuk menggantikan Tuhan dengan logika dan teknologi?
  • Apakah saya masih membaca Firman Tuhan dan merenungkannya secara pribadi?
  • Apakah saya berani berdiri di atas kebenaran, meskipun dunia mengatakan sebaliknya?

Doa Penutup;

Ya Tuhan yang Mahakuasa, Engkaulah Pencipta langit dan bumi, Sumber segala hikmat dan kebenaran. Di tengah dunia yang terus berubah, di tengah arus zaman yang menggantikan Engkau dengan teknologi dan logika, kami datang berserah kepada-Mu.

Ampunilah kami jika kami pernah menjauh dari Firman-Mu,lebih percaya pada kekuatan manusia daripada kuasa-Mu. Bangkitkan kembali hati yang lapar akan kebenaran,jiwa yang rindu taat, dan iman yang teguh walau tak populer.

Berikan kami keberanian untuk berdiri di atas kebenaran-Mu, dan kasih yang dalam untuk menjangkau mereka yang tersesat. Jadikan hidup kami terang di tengah kegelapan, dan suara yang membawa damai, bukan kebingungan. Teguhkan kami agar tidak goyah,meski dunia berkata Engkau tidak lagi relevan. Sebab kami percaya bahwa Engkau tetap Allah yang hidup, yang berkuasa, dari dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Dalam nama Yesus Kristus,Tuhan dan Juruselamat kami, kami berdoa.

Amin.

Hal Menyelamatkan Rumah Tangga dari Krisis

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Efesus 5:22-33

Di tengah kemajuan zaman, ironi besar yang kita hadapi adalah kerapuhan dalam hubungan rumah tangga. Angka perceraian meningkat, dan yang lebih memilukan, pelecehan dalam keluarga — baik verbal, emosional, maupun fisik — terus terjadi, bahkan di lingkungan yang tampak religius atau berpendidikan. Ini bukan hanya terjadi di dunia Barat, tetapi juga dalam masyarakat Timur yang dulu menganggap perceraian adalag suatu aib besar.

Banyak pasangan menikah tanpa benar-benar mengenal kepribadian dan gaya komunikasi satu sama lain. Mereka hanya mengandalkan cinta awal, tanpa usaha untuk mendapat pengertian atas sifat pasangannya, dan tanpa kesadaran atas kasih yang harus selalu bertumbuh.

Ayat di atas adalah ayat yang sering kita dengar dalam konteks bagaimana suami dan isteri bisa hidup bersama dalam satu rumah tangga dengan saling mengasihi dan menghormati. Tetapi, ayat ini juga sering diperdebatkan karena adanya kata “tunduk”, yang disalah artikan sebagai istri yang selalu menurut apa saja yang diputuskan suaminya, atau istri yang tidak boleh menentang perbuatan yang jahat atau keliru yang dilakukan suaminya. Dalam keadaan sedemikian, tentu kita harus ingat bahwa hubungan antara suami dan istri seharusnya mencontoh hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya yang berdasarkan kasih dan kesucian. Ini tidak mudah.

Jika hubungan suami dan istri berada keadaan kritis, Tuhan tidak membiarkan umat-Nya berjalan tanpa terang. Selain firman-Nya yang menjadi dasar segala hal, ada juga pendekatan psikologi yang dapat dipakai sebagai sarana pemahaman perilaku, pertobatan, dan pertumbuhan kasih dalam hubungan suami-istri. Pendekatan psikologi bukan sebagai pengganti kasih Kristus, tetapi sebagai alat bantu untuk menerapkannya dengan lebih bijaksana.

DISC adalah model psikologi yang sering digunakan untuk memahami dan mengklasifikasikan perbedaan pola perilaku manusia. Model DISC mengelompokkan sifat manusia ke dalam empat tipe utama:

  • Dominance atau sifat dominan (D): Orang yang tegas, cepat kerjanya, dan berfokus pada hasil.
  • Influence (I) atau sifat ingin memengaruhi: Orang yang ramah, ekspresif, dan suka membangun suasana yang baik.
  • Steadiness (S) atau sifat tekun: Orang yang sabar, konsisten kerjanya, dan suka stabilitas.
  • Conscientiousness (C) atau sifat teliti: Orang yang cenderung analitis, terstruktur kerjanya, dan cenderung perfeksionis.

Dalam konteks pernikahan, perbedaan gaya perilaku ini sering menjadi sumber ketegangan antara suami dan istri jika tidak dipahami dengan kasih. Banyak konflik bermula bukan dari kesalahan besar, tetapi dari hal-hal seperti:

  • Cara berbicara yang terlalu keras atau terlalu pasif.
  • Harapan tidak realistis terhadap cara berpikir pasangan.
  • Ketidaksabaran terhadap proses atau kecepatan pasangan dalam mengambil keputusan.

Tanpa pengertian dan kasih, perbedaan ini bisa menjadi dosa dan alasan untuk saling menyakiti, yang bahkan bisa berkembang menjadi pelecehan emosional atau spiritual. Karena itu, banyak pernikahan yang kandas (sekalipun dirahasiakan) karena:

  • Kurangnya pengenalan diri dan pasangan.
  • Ketidakmampuan berkomunikasi secara sehat.
  • Kecenderungan untuk saling menyalahkan dan memaksakan.
  • Tidak adanya kemauan untuk saling mengasihi dalam ketundukan kepada Kristus.

Bayangkan pasangan berikut:

  • Seorang suami bertipe D (Dominan), selalu ingin cepat, tidak suka detail. Tetapi, istri yang bertipe C (Teliti), perlu waktu untuk memeriksa dan mempertimbangkan. Tanpa pemahaman tentang perbedaan sifat manusia dan perlunya kasih Kristus, suami bisa mulai meremehkan atau merendahkan istri karena dianggap lamban, sedangkan istri merasa tidak aman dan ditekan karena suami yang dirasa ceroboh. Dari sinilah pelecehan verbal atau psikologis bisa mulai tumbuh — bukan karena niat jahat, tapi karena ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk belajar.
  • Seorang suami dengan tipe S (Tekun) mungkin pasif pada saat konflik, tetapi istri dengan tipe D (Dominan) bisa merasa diabaikan. Lewat pengertian DISC, mereka bisa saling mengerti bahwa respons mereka sebagian berasal dari gaya komunikasi, bukan ketidakpedulian.
  • Seorang istri bertipe I (Ingin memengaruhi) mungkin sering bicara dan curhat, sementara suami tipe C (Teliti) lebih suka diam dan berpikir sendiri. DISC membantu mereka belajar bertemu di tengah, memberi ruang, dan menyatakan kasih dengan cara yang bisa dipahami pasangan.

DISC bukan obat mujarab. Tapi dalam tangan yang mau belajar, bertobat, dan melayani dalam kasih, DISC bisa menjadi alat yang menolong pasangan memahami satu sama lain dengan lebih dalam. Ini bukan manipulasi keadaan, tapi penerapan kasih dan pengertian yang bijaksana — seperti yang ditekankan Paulus dalam Filipi 2:3–4:

“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.”

Menghadapi Kekerasan dan Pelecehan

Namun bagaimana jika masalah bukan hanya perbedaan sifat, tetapi sudah masuk ke wilayah pelecehan dan kekerasan?

Kekerasan dalam bentuk apa pun adalah dosa. Entah itu emosional, verbal, fisik, atau seksual. Tidak ada model perilaku atau penjelasan kepribadian yang bisa membenarkannya. Menyalahgunakan kepribadian (“Aku memang seperti ini!”) adalah bentuk pelarian dari pertobatan.

Model psikologi seperti DISC bisa membantu sebagai langkah awal pemahaman, tetapi pertobatan dan kasih sejati hanya bisa lahir dari penyerahan kepada Kristus.

Kasih Kristus: Fondasi Sejati Relasi

Kasih sejati dalam pernikahan tidak hanya bersumber dari kepribadian yang cocok, tetapi dari kesediaan untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi gereja (Efesus 5:25). Itu berarti:

Mengalah demi kedamaian. Belajar sabar meskipun berbeda. Tidak memaksakan kehendak. Tidak memanipulasi secara spiritual (“Kamu harus tunduk karena kamu istri”).

Dengan demikian, pemahaman DISC akan menjadi alat kasih, bukan alat kontrol.

Langkah-Langkah Praktis dalam Pernikahan Kristen

Setiap pasangan harus mengenali kepribadian masing-masing dan mau mendiskusikan gaya komunikasi dan kebutuhan emosional masing-masing. Mereka harus berdoa bersama, agar kasih Allah menjadi sumber kekuatan utama. Mereka harus mau berkomitmen untuk belajar dan bertumbuh, bukan mengubah pasangan. Bila konflik mulai memburuk, mungkin mereka harus mencari bimbingan atau konseling Kristen

Krisis rumah tangga zaman ini — perceraian, kekerasan, pelecehan — tidak bisa diatasi hanya dengan alat psikologi atau teori kepribadian. Namun, Tuhan dalam kasih karunia-Nya menyediakan sarana untuk menolong kita saling mengenal dan mengasihi dengan lebih bijaksana. Pendekatan psikologi dalam rumah tangga hanya membawa perubahan sementara, yang akan pudar jika tidak ada lagi keuntungan yang dirasakan. Tetapi kasih Kristus adalah sesuatu yang dapat mengubah sifat manusia secara permanen karena adanya kesadaran akan firman Tuhan:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Matius 7:12

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” 1 Korintus 13:4-5

Jika setiap suami dan istri bersedia hidup dalam prinsip ini — bukan sekadar memahami kepribadian, tapi hidup dalam kasih yang aktif — maka rumah tangga bisa menjadi tempat perlindungan, bukan penyebab luka dan derita. Tempat pertumbuhan dan ketenangan, bukan tempat penindasan.

Dan jika Anda adalah seseorang yang pernah atau sedang mengalami luka dalam pernikahan, ingatlah: Kasih Kristus menyembuhkan, memperbarui, dan membebaskan. Anda tidak sendirian!