Hal Menyelamatkan Rumah Tangga dari Krisis

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Efesus 5:22-33

Di tengah kemajuan zaman, ironi besar yang kita hadapi adalah kerapuhan dalam hubungan rumah tangga. Angka perceraian meningkat, dan yang lebih memilukan, pelecehan dalam keluarga — baik verbal, emosional, maupun fisik — terus terjadi, bahkan di lingkungan yang tampak religius atau berpendidikan. Ini bukan hanya terjadi di dunia Barat, tetapi juga dalam masyarakat Timur yang dulu menganggap perceraian adalag suatu aib besar.

Banyak pasangan menikah tanpa benar-benar mengenal kepribadian dan gaya komunikasi satu sama lain. Mereka hanya mengandalkan cinta awal, tanpa usaha untuk mendapat pengertian atas sifat pasangannya, dan tanpa kesadaran atas kasih yang harus selalu bertumbuh.

Ayat di atas adalah ayat yang sering kita dengar dalam konteks bagaimana suami dan isteri bisa hidup bersama dalam satu rumah tangga dengan saling mengasihi dan menghormati. Tetapi, ayat ini juga sering diperdebatkan karena adanya kata “tunduk”, yang disalah artikan sebagai istri yang selalu menurut apa saja yang diputuskan suaminya, atau istri yang tidak boleh menentang perbuatan yang jahat atau keliru yang dilakukan suaminya. Dalam keadaan sedemikian, tentu kita harus ingat bahwa hubungan antara suami dan istri seharusnya mencontoh hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya yang berdasarkan kasih dan kesucian. Ini tidak mudah.

Jika hubungan suami dan istri berada keadaan kritis, Tuhan tidak membiarkan umat-Nya berjalan tanpa terang. Selain firman-Nya yang menjadi dasar segala hal, ada juga pendekatan psikologi yang dapat dipakai sebagai sarana pemahaman perilaku, pertobatan, dan pertumbuhan kasih dalam hubungan suami-istri. Pendekatan psikologi bukan sebagai pengganti kasih Kristus, tetapi sebagai alat bantu untuk menerapkannya dengan lebih bijaksana.

DISC adalah model psikologi yang sering digunakan untuk memahami dan mengklasifikasikan perbedaan pola perilaku manusia. Model DISC mengelompokkan sifat manusia ke dalam empat tipe utama:

  • Dominance atau sifat dominan (D): Orang yang tegas, cepat kerjanya, dan berfokus pada hasil.
  • Influence (I) atau sifat ingin memengaruhi: Orang yang ramah, ekspresif, dan suka membangun suasana yang baik.
  • Steadiness (S) atau sifat tekun: Orang yang sabar, konsisten kerjanya, dan suka stabilitas.
  • Conscientiousness (C) atau sifat teliti: Orang yang cenderung analitis, terstruktur kerjanya, dan cenderung perfeksionis.

Dalam konteks pernikahan, perbedaan gaya perilaku ini sering menjadi sumber ketegangan antara suami dan istri jika tidak dipahami dengan kasih. Banyak konflik bermula bukan dari kesalahan besar, tetapi dari hal-hal seperti:

  • Cara berbicara yang terlalu keras atau terlalu pasif.
  • Harapan tidak realistis terhadap cara berpikir pasangan.
  • Ketidaksabaran terhadap proses atau kecepatan pasangan dalam mengambil keputusan.

Tanpa pengertian dan kasih, perbedaan ini bisa menjadi dosa dan alasan untuk saling menyakiti, yang bahkan bisa berkembang menjadi pelecehan emosional atau spiritual. Karena itu, banyak pernikahan yang kandas (sekalipun dirahasiakan) karena:

  • Kurangnya pengenalan diri dan pasangan.
  • Ketidakmampuan berkomunikasi secara sehat.
  • Kecenderungan untuk saling menyalahkan dan memaksakan.
  • Tidak adanya kemauan untuk saling mengasihi dalam ketundukan kepada Kristus.

Bayangkan pasangan berikut:

  • Seorang suami bertipe D (Dominan), selalu ingin cepat, tidak suka detail. Tetapi, istri yang bertipe C (Teliti), perlu waktu untuk memeriksa dan mempertimbangkan. Tanpa pemahaman tentang perbedaan sifat manusia dan perlunya kasih Kristus, suami bisa mulai meremehkan atau merendahkan istri karena dianggap lamban, sedangkan istri merasa tidak aman dan ditekan karena suami yang dirasa ceroboh. Dari sinilah pelecehan verbal atau psikologis bisa mulai tumbuh — bukan karena niat jahat, tapi karena ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk belajar.
  • Seorang suami dengan tipe S (Tekun) mungkin pasif pada saat konflik, tetapi istri dengan tipe D (Dominan) bisa merasa diabaikan. Lewat pengertian DISC, mereka bisa saling mengerti bahwa respons mereka sebagian berasal dari gaya komunikasi, bukan ketidakpedulian.
  • Seorang istri bertipe I (Ingin memengaruhi) mungkin sering bicara dan curhat, sementara suami tipe C (Teliti) lebih suka diam dan berpikir sendiri. DISC membantu mereka belajar bertemu di tengah, memberi ruang, dan menyatakan kasih dengan cara yang bisa dipahami pasangan.

DISC bukan obat mujarab. Tapi dalam tangan yang mau belajar, bertobat, dan melayani dalam kasih, DISC bisa menjadi alat yang menolong pasangan memahami satu sama lain dengan lebih dalam. Ini bukan manipulasi keadaan, tapi penerapan kasih dan pengertian yang bijaksana — seperti yang ditekankan Paulus dalam Filipi 2:3–4:

“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.”

Menghadapi Kekerasan dan Pelecehan

Namun bagaimana jika masalah bukan hanya perbedaan sifat, tetapi sudah masuk ke wilayah pelecehan dan kekerasan?

Kekerasan dalam bentuk apa pun adalah dosa. Entah itu emosional, verbal, fisik, atau seksual. Tidak ada model perilaku atau penjelasan kepribadian yang bisa membenarkannya. Menyalahgunakan kepribadian (“Aku memang seperti ini!”) adalah bentuk pelarian dari pertobatan.

Model psikologi seperti DISC bisa membantu sebagai langkah awal pemahaman, tetapi pertobatan dan kasih sejati hanya bisa lahir dari penyerahan kepada Kristus.

Kasih Kristus: Fondasi Sejati Relasi

Kasih sejati dalam pernikahan tidak hanya bersumber dari kepribadian yang cocok, tetapi dari kesediaan untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi gereja (Efesus 5:25). Itu berarti:

Mengalah demi kedamaian. Belajar sabar meskipun berbeda. Tidak memaksakan kehendak. Tidak memanipulasi secara spiritual (“Kamu harus tunduk karena kamu istri”).

Dengan demikian, pemahaman DISC akan menjadi alat kasih, bukan alat kontrol.

Langkah-Langkah Praktis dalam Pernikahan Kristen

Setiap pasangan harus mengenali kepribadian masing-masing dan mau mendiskusikan gaya komunikasi dan kebutuhan emosional masing-masing. Mereka harus berdoa bersama, agar kasih Allah menjadi sumber kekuatan utama. Mereka harus mau berkomitmen untuk belajar dan bertumbuh, bukan mengubah pasangan. Bila konflik mulai memburuk, mungkin mereka harus mencari bimbingan atau konseling Kristen

Krisis rumah tangga zaman ini — perceraian, kekerasan, pelecehan — tidak bisa diatasi hanya dengan alat psikologi atau teori kepribadian. Namun, Tuhan dalam kasih karunia-Nya menyediakan sarana untuk menolong kita saling mengenal dan mengasihi dengan lebih bijaksana. Pendekatan psikologi dalam rumah tangga hanya membawa perubahan sementara, yang akan pudar jika tidak ada lagi keuntungan yang dirasakan. Tetapi kasih Kristus adalah sesuatu yang dapat mengubah sifat manusia secara permanen karena adanya kesadaran akan firman Tuhan:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Matius 7:12

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” 1 Korintus 13:4-5

Jika setiap suami dan istri bersedia hidup dalam prinsip ini — bukan sekadar memahami kepribadian, tapi hidup dalam kasih yang aktif — maka rumah tangga bisa menjadi tempat perlindungan, bukan penyebab luka dan derita. Tempat pertumbuhan dan ketenangan, bukan tempat penindasan.

Dan jika Anda adalah seseorang yang pernah atau sedang mengalami luka dalam pernikahan, ingatlah: Kasih Kristus menyembuhkan, memperbarui, dan membebaskan. Anda tidak sendirian!

Puji Tuhan Setiap Pagi dan Lihatlah Kemuliaan-Nya

“Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam.” Mazmur 92:1–2

Setiap hari adalah anugerah. Setiap matahari terbit adalah mujizat. Dan setiap napas yang Anda ambil adalah bukti bahwa ada Pencipta yang menopang dunia ini dengan tangan-Nya. Namun, di tengah kesibukan hidup sehari-hari, kita sering lupa kepada Dia yang membuat segalanya mungkin. Itulah sebabnya pemazmur berkata, “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN.” Mengapa? Karena dalam pujian, kita melihat. Dalam pujian, jiwa kita terbangun. Dan dalam pujian, kita mulai menyadari sidik jari Allah dalam segala hal di sekitar kita.

Pujian di Pagi Hari: Lebih dari Sekadar Rutinitas

Pemazmur mendorong kita untuk memberitakan kasih setia Allah di waktu pagi. Saat pertama kali mata Anda terbuka, saat kaki Anda menginjak lantai, itu bukan hanya awal dari rutinitas—itu adalah kesempatan ilahi. Kesempatan untuk kembali terhubung dengan Tuhan. Kesempatan untuk mengingat siapa diri Anda dan siapa Tuhan Anda. Kesempatan untuk menyaksikan kemuliaan-Nya.

Pujian pagi bukan soal penampilan. Bukan soal indahnya kata-kata atau lamanya waktu doa. Ini tentang sikap hati yang mau menerima. Ini tentang membuka mata rohani untuk melihat bahwa dunia ini bukan terjadi secara kebetulan. Matahari tidak terbit dengan sendirinya. Udara yang Anda hirup tidak muncul begitu saja. Keindahan alam, keteraturan alam semesta, cinta kasih, dan keberadaan hidup manusia semuanya menunjuk kepada Pencipta yang penuh kuasa.

Namun hanya hati yang rendah hati yang dapat melihatnya.

Hanya Orang yang Rendah Hati Dapat Melihat Allah

Banyak orang berjalan dalam hidup ini dengan mata rohani yang buta. Mereka dikelilingi oleh keajaiban, tetapi tidak pernah merasa takjub. Mereka diberkati, tetapi tidak pernah bersyukur. Mereka menganggap hidup adalah hasil dari keberuntungan atau kebetulan. Mengapa? Bukan karena kurangnya bukti akan keberadaan Allah, tetapi karena hati mereka tertutup.

Orang yang sombong berkata, “Saya tidak butuh siapa-siapa. Saya adalah orang yang baik”
Orang yang rendah hati berkata, “Tanpa Tuhan, saya tidak bisa hidup. Saya adalah orang yang berdosa”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Kesucian hati ini bukan berasal dari kesempurnaan moral, tetapi dari kerendahan hati dan keterbukaan untuk melihat Tuhan dalam segala sesuatu. Karena kesadaran bahwa tidak ada manusia yang baik di mata Tuhan, orang yang rendah hati selalu memuji Tuhan atas belas kasihan-Nya.

Kerendahan hati adalah lensa untuk melihat dengan jelas. Tanpa kerendahan hati, bahkan mujizat pun terlihat biasa. Tapi dengan kerendahan hati, hal-hal biasa pun menjadi mujizat.

Orang yang rendah hati melihat langit dan berkata, “Terima kasih, Tuhan.”
Mereka menggendong bayi dan berkata, “Engkau sungguh ajaib.”
Mereka melewati cobaan hidup dan berbisik, “Besar setia-Mu, Tuhan.”

Hanya orang yang rendah hati yang benar-benar bisa memuji Tuhan, karena mereka sadar bahwa semua yang mereka miliki berasal dari kasih karunia (Sola Gratia).

Ucapan Syukur Adalah Kesaksian Kita

Mazmur 92 berkata bahwa “adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN.” Bukan hanya karena Tuhan layak dipuji—yang memang benar—tetapi karena ucapan syukur itu mengubah diri kita. Bersyukur mengalihkan fokus kita dari kekurangan kepada kelimpahan. Bersyukur membungkam iri hati dan membangkitkan sukacita. Bersyukur membungkus penderitaan dengan sukacita dalam Tuhan. Dan yang terpenting, bersyukur adalah kesaksian bagi dunia bahwa Allah hidup dan hadir, karena manusia diciptakan untuk kemuliaan-Nya.

Ketika Anda memulai hari dengan pujian, Anda tidak hanya memuliakan Tuhan—Anda juga mempersiapkan hati untuk menjadi berkat bagi orang lain. Hati yang bersyukur akan berbicara dengan penuh damai. Jiwa yang menyembah akan berjalan dengan bijaksana. Orang yang tahu bagaimana memuji Tuhan di pagi hari, akan lebih kuat menghadapi malam yang gelap.

Mazmur berkata: “memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam.” Inilah ritme kehidupan yang tertanam dalam penyembahan. Pujian di pagi hari menjadi bahan bakar, dan refleksi di malam hari menjadi jangkar. Kita melihat ke belakang dan berkata, “Walau hari ini sulit, Tuhan tetap setia.”

Dunia Ini Bukan Kebetulan

Lihatlah sekeliling. Sayap kupu-kupu yang halus, debur ombak di lautan, tangisan bayi yang baru lahir, struktur otak manusia, pergantian musim—semuanya adalah tanda-tanda dari Pencipta yang agung dan berkuasa.

Paulus menulis dalam Roma 1:20 bahwa “segala sifat-Nya yang tidak terlihat, yaitu kekekalan dan keilahian-Nya, nyata kelihatan dari ciptaan-Nya.” Artinya, ciptaan itu sendiri menjadi kesaksian bahwa Allah benar-benar ada.

Namun banyak orang tidak melihatnya—bukan karena bukti itu tersembunyi, tetapi karena hati mereka tertutup.

Jika Anda ingin melihat kemuliaan Allah, Anda harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa Anda bukan pusat dari segalanya. Anda perlu diam dan tahu bahwa Dialah Allah. Anda perlu membuka tangan, melepaskan kesombongan, dan berserah kepada Dia yang menciptakan Anda.

Mulailah dengan Pujian, Akhiri dengan Percaya

Jadikanlah kebiasaan untuk memulai setiap hari dengan pujian. Jangan menunggu situasi menjadi sempurna. Jangan menunggu hati merasa nyaman. Pujilah Tuhan bahkan saat hati Anda berat. Pujilah Dia saat masa depan tidak pasti. Pujilah Dia karena Dia baik—bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena kasih-Nya tidak pernah berubah.

Ketika Anda bangun esok pagi, ambillah satu menit sebelum melihat ponsel atau daftar tugas Anda. Lihatlah pohon-pohon dan langit melalui jendela kamar Anda dan ucapkan doa sederhana:

“Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Saya memuji Engkau karena Engkau setia. Bukalah mata saya untuk melihat semua kemuliaan-Mu hari ini.”

Lakukan ini setiap hari, dan lihatlah apa yang akan terjadi. Anda akan mulai melihat Dia dengan lebih jelas—dalam hal-hal kecil, dalam momen besar, dalam berkat tak terduga, bahkan dalam pencobaan. Bagi orang yang rendah hati, setiap hari penuh dengan mukjizat Ilahi.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Apa yang biasanya menjadi pikiran pertama Anda saat bangun pagi? Bagaimana Anda dapat memulai hari dengan pujian?
  2. Apakah Anda sering menyadari keindahan ciptaan di sekitar? Momen apa yang terakhir mengingatkan Anda akan kemuliaan Tuhan?
  3. Bagaimana kesombongan atau kesibukan bisa menghalangi Anda dari memuji Tuhan?
  4. Dalam hal apa Anda melihat kesetiaan Tuhan baru-baru ini—baik di pagi hari maupun di malam hari?

Hidup dalam Kesederhanaan Agar Yesus yang Bersinar

“Ingatlah akan orang-orang miskin.” Galatia 2:10

“Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Matius 5:16

“Crazy Rich Asians” adalah film komedi romantis yang penuh warna, lucu, dan menampilkan kemewahan serta dinamika keluarga Asia di Singaupra yang menarik. Namun di balik semua kemewahan dan hiburan tersebut, film ini justru lebih merayakan gaya hidup ultra-kaya daripada mengkritisinya. Padahal, perilaku yang ditampilkan dalam film sering kali bertentangan dengan nilai-nilai umum masyarakat, seperti kesederhanaan, kesetaraan, dan kebersamaan.

Meskipun film ini menonjolkan budaya Asia dan ketegangan antara nilai-nilai Timur dan Barat, ia tidak benar-benar mempertanyakan atau mengkritik gaya hidup mewah yang berlebihan. Sebaliknya, kekayaan dan status sosial justru digambarkan sebagai kebanggaan. Alih-alih mempertanyakan nilai-nilai status dan penampilan luar, film ini justru menormalkan atau bahkan merayakan gaya hidup tersebut. Padahal dalam kenyataannya, gaya hidup seperti ini bisa menciptakan jurang sosial, memperkuat elitisme, dan menjauhkan diri dari nilai-nilai masyarakat luas seperti kerendahan hati dan kepedulian sosial.

Dalam masyarakat multikultural seperti Singapura (latar cerita film ini) atau banyak negara-negara lain (tempat sebagian besar penonton berasal), ada harapan sosial akan kesederhanaan, kesetaraan, dan keterbukaan. Gambaran tentang kelompok ultra-kaya yang eksklusif dan penuh gengsi ini — meskipun mungkin berdasarkan kenyataan — terasa berseberangan dengan semangat inklusif dan kebersamaan masyarakat umum. Oleh sebab itu, ilmuwan politik Universitas Nasional Singapura, Ian Chong, memberi komentar bahwa film ini mewakili apa yang terburuk dari Singapura dengan menghilangkan aspek orang miskin dan yang terpinggirkan, sehingga murni menampilkan orang-orang Tionghoa yang kaya semata.

Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk hidup lebih mewah, lebih hebat, dan lebih menonjol, suara lembut Yesus memanggil kita ke jalan yang sebaliknya: jalan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kasih terhadap sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita.

Yesus tidak hidup di istana, tidak menunggangi kuda kerajaan, dan tidak memakai jubah yang berkilau. Ia lahir di kandang yang hina, dibesarkan di kota kecil yang dianggap rendah (Nazaret), dan selama pelayanannya, Ia seringkali tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Lukas 9:58). Namun justru dari hidup yang sederhana itulah kemuliaan Allah dinyatakan — bukan melalui harta atau status, tetapi melalui kasih, pengorbanan, dan kebenaran.

Kasih yang Terlihat dalam Perhatian kepada yang Lemah

Dalam Galatia 2:10, Paulus mengingatkan bahwa ketika ia diterima oleh para pemimpin gereja di Yerusalem, satu hal yang mereka tekankan kepadanya adalah: “Ingatlah akan orang-orang miskin.” Ini bukan sekadar saran sosial, tapi sebuah panggilan spiritual. Orang miskin adalah gambaran nyata dari dunia yang telah jatuh — dunia yang penuh ketimpangan dan penderitaan. Ketika kita mengingat mereka, kita tidak hanya sedang membantu secara sosial, tetapi kita sedang membawa terang Kristus masuk ke dalam kegelapan dunia.

Yesus sendiri menjadikan pelayanan kepada orang miskin sebagai bagian inti dari misi-Nya:

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin…” Lukas 4:18

Melalui perhatian kita kepada orang-orang yang kesulitan — entah itu yang secara ekonomi miskin, secara mental terbebani, atau secara rohani tersesat — kita sedang melanjutkan karya Kristus di dunia ini.

Bahaya Kemewahan Tanpa Belas Kasih dan Kepedulian

Kekristenan bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta. Alkitab tidak melarang kekayaan. Namun, Yesus dengan jelas memperingatkan bahwa kekayaan bisa menjadi batu sandungan bagi iman kita jika tidak dibarengi dengan hati yang tunduk kepada Tuhan. Ketika hidup kita berpusat pada pencapaian materi, kita bisa kehilangan fokus pada hal yang lebih penting: kasih kepada Allah dan kepada sesama.

“Sebab di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Matius 6:21

Kemewahan bisa membuat kita lupa. Lupa bahwa di luar tembok rumah kita ada orang-orang yang tidak bisa makan tiga kali sehari. Lupa bahwa kemuliaan hidup bukan diukur dari merek pakaian, tetapi dari seberapa dalam kita mengasihi. Lupa bahwa kita dipanggil bukan untuk mengangkat diri sendiri, tetapi untuk membiarkan Yesus bersinar melalui hidup kita.

Kemewahan juga bisa menciptakan dinding sosial yang tinggi, membuat kita hidup dalam dunia sendiri yang jauh dari realitas penderitaan orang lain. Tanpa sadar, kita menjadi seperti orang kaya dalam perumpamaan Yesus, yang berpesta setiap hari, sementara Lazarus tergeletak di pintu rumahnya (Lukas 16:19–31).

Kesederhanaan sebagai Cermin Kristus

Kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup hemat. Kesederhanaan dalam iman Kristen adalah bentuk ketaatan dan penyembahan. Hidup sederhana membuka ruang bagi Kristus untuk bersinar — karena ketika kita tidak sibuk menonjolkan diri, maka cahaya-Nya bisa bersinar tanpa halangan.

Yesus berkata:

“Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” Matius 5:16

Apa arti terang kita? Terang yang benar tidak akan pernah pudar. Bukan rumah besar, bukan mobil mahal, bukan status di media sosial. Terang itu adalah kasih, kebaikan, kesetiaan, dan kerendahan hati. Ketika kita hidup tidak untuk kemuliaan diri, tetapi untuk kemuliaan Kristus, maka orang akan melihat sesuatu yang berbeda — dan itu akan menarik mereka kepada Tuhan.

Contoh Hidup: Gereja yang Memberi Hidup

Gereja mula-mula di Kisah Para Rasul 2 adalah contoh luar biasa dari kesederhanaan dan kasih. Mereka hidup bersama, saling berbagi, tidak ada yang berkekurangan. Mereka bukan sekadar jemaat yang rajin ibadah, tapi juga komunitas yang hidup dalam kasih dan keterbukaan.

Hari ini, dunia sangat membutuhkan gereja seperti itu — bukan gereja yang hanya sibuk membangun gedung megah dan mewah seperti di negara kita, tetapi yang benar-benar peduli pada orang-orang yang kesulitan. Kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus, dan setiap dari kita bisa memilih untuk hidup dalam kesederhanaan, agar Kristus dikenal — bukan karena penampilan kita, tapi karena hati kita.

Mengapa Yesus Yang Harus Bersinar, Bukan Kita

Kita semua, jika jujur, punya keinginan untuk dikenali, dipuji, dan dihormati. Tapi dalam terang Injil, kita diajak untuk merendahkan diri:

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30

Ketika Yesus bersinar melalui kita, hidup kita menjadi berkat sejati. Kita mungkin tidak viral, tidak terkenal, tidak menonjol — tapi kita membawa perubahan yang kekal. Dunia tidak butuh lebih banyak selebritas; dunia butuh lebih banyak orang yang seperti Kristus.

Pertanyaan Refleksi:

  • Apakah aku hidup dengan tujuan agar Yesus dikenal, atau agar diriku dihormati?
  • Seberapa besar kepedulianku terhadap orang miskin dan yang sedang dalam kesulitan?
  • Apakah aku bersedia mengubah gaya hidupku demi membagikan lebih banyak kasih dan berkat kepada orang lain?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, Engkau hidup dalam kesederhanaan namun penuh kemuliaan. Ajarku untuk hidup tidak demi kemuliaan diri, tapi agar Engkau bersinar melalui hidupku. Bukalah mataku untuk melihat mereka yang menderita, dan berikan hatiku belas kasihan seperti hati-Mu. Aku serahkan hidupku untuk menjadi saluran kasih dan terang-Mu. Dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.

Menilai: Bukan Menghakimi

“Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus?” 1 Korintus 6:1

Di zaman ini, kasus dituntut dan menuntut adalah biasa. Karena tersinggung, seseorang bisa menuntut orang lain. Karena merasa dirugikan orang memperkarakan orang lain, dan ini juga terjadi di antara orang-orang percaya. 1 Korintus 6:1–11 merinci keberatan Paulus terhadap orang Kristen yang membawa saudara seiman ke pengadilan sekuler atas masalah-masalah kecil. Mengapa begitu? Mereka seharusnya mampu menghakimi perselisihan kecil di antara mereka sendiri. Akan lebih baik bagi orang percaya untuk mengalah daripada meminta orang yang tidak percaya untuk menyelesaikan perselisihan di antara saudara-saudara di dalam Kristus.

Memang melakukan gugatan hulum merupakan praktik yang umum dan sering terjadi pada segala masa. Hal itu tidak selalu adil. Pada umumnya, orang kaya atau yang memiliki koneksi baik di masyarakat memiliki keuntungan dibandingkan yang lain. Penyuapan hakim dan juri merupakan hal yang umum di berbagai negara. Dalam hampir semua kasus, kedua belah pihak akan saling menyerang karakter masing-masing serta memperjuangkan kebenaran posisi mereka. Tak pelak, mereka yang menggugat dan yang digugat bisa menjadi musuh besar.

Paulus tidak mengajarkan bahwa seorang Kristen tidak boleh tunduk pada otoritas pengadilan manusia. Ia mengajarkan kebalikan dari hal itu dalam Roma 13:1. Orang Kristen hidup di bawah hukum negara. Tetapi, ayat-ayat di atas membahas gugatan perdata, bukan kasus pidana. Ia juga tidak bermaksud bahwa orang Kristen tidak boleh, dalam keadaan apa pun, mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap seseorang yang mengaku sebagai orang percaya, Pernyataannya tentang “kasus-kasus sepele” di ayat berikutnya menyiratkan bahwa beberapa masalah lain, seperti masalah pidana, mungkin memerlukan keterlibatan pengadilan.

Paulus menganggapnya sebagai tragedi bahwa rekan seiman di dalam Kristus menempatkan diri mereka dalam posisi seperti itu. Sungguh memalukan bagi saudara-saudari di dalam Kristus untuk mengajukan banding kepada hakim yang tidak benar dan tidak percaya, alih-alih kepada sesama orang Kristen yang telah lahir baru. Lebih lagi, sangat mennyedihkan jika sesama orang percaya menjadi orang-orang yang saling membenci dan bukannya orang-orang yang saling mengasihi.

Seperti yang dilakukannya di seluruh surat ini, Paulus akan mendesak orang-orang Kristen ini untuk berhenti hidup seolah-olah mereka hanyalah warga negara dari budaya mereka sendiri, dan sebaliknya untuk hidup sesuai dengan siapa mereka di dalam Kristus saat ini dan siapa mereka nantinya di dalam Kristus di surga.

Lalu bagaimana jika kita merasa bahwa orang lain telah melakukan hal yang buruk kepada kita atau orang lain? Sebagai orang Kristen, kita memang sering berada di antara dua kutub yang kelihatannya berlawanan. Di satu sisi, kita dipanggil untuk memiliki hikmat, menilai dengan benar, dan membedakan antara yang benar dan yang salah. Di sisi lain, kita juga dipanggil untuk tidak menghakimi, tidak merasa diri lebih benar, dan tidak cepat-cepat mencela orang lain atau berusaha membalas dendam.

Namun, sering kali garis pemisah antara “menilai dengan hikmat” dan “menghakimi dengan sikap menghakimi” sangat tipis dan kabur. Apa yang membuat kita mudah jatuh ke dalam sikap yang salah? Bagaimana kita bisa menilai dengan bijak tanpa menjadi orang yang suka menghakimi?

1. Yesus Melarang Penghakiman yang Munafik

Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Matius 7:1)

Tapi di bagian lain, Ia juga berkata, “Hakimilah dengan adil dan benar, bukan menurut apa yang tampak di depan mata.” (Yohanes 7:24)

Apa maksudnya?

Yesus bukan melarang kita menggunakan akal budi atau membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Ia melarang sikap menghakimi — yaitu kecenderungan untuk merasa diri lebih benar, mencela orang lain tanpa kasih, dan menempatkan diri sebagai hakim yang berhak menjatuhkan vonis.

Orang Farisi di zaman Yesus senang mencari-cari kesalahan orang lain, sambil mengabaikan dosa mereka sendiri. Mereka bukan hanya menilai perbuatan; mereka menghakimi hati orang lain dan mempermalukan mereka di hadapan publik.

Yesus tidak membenarkan sikap seperti itu.

2. Mengapa Kita Harus Menilai Dengan Hikmat?

Dalam dunia yang semakin kabur batas antara benar dan salah, kita tidak bisa menutup mata dan tidak peduli, serta berkata, “Aku tidak mau menilai.”

Kita harus menilai dengan doktrin dan ajaran Kristen, supaya kita tidak tersesat. Kita harus menilai tindakan orang lain, supaya kita bisa menegur dalam kasih. Kita harus menilai keputusan kita, supaya kita tidak jatuh dalam dosa.

Rasul Paulus berkata, “Orang rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” (1 Korintus 2:15)

Artinya, kita memang dipanggil untuk memiliki penilaian yang bijak. Tapi ada caranya.

3. Apa Bedanya Menilai Dengan Menghakimi?

Menilai dilakukan dengan hikmat:

  • berdasarkan kasih dan kebenaran;
  • bertujuan memperbaiki dan membangun;
  • memeriksa diri sendiri terlebih dahulu;
  • melihat fakta dan kebenaran; dan
  • bersedia mengampuni.

Menghakimi dengan sikap menghakimi:

  • berdasarkan kebencian atau kesombongan;
  • bertujuan merendahkan dan mencela;
  • cepat menuduh tanpa refleksi diri;
  • berdasarkan prasangka dan asumsi,
  • enggan mengampuni; dan
  • menyimpan dendam.

Yesus mengajarkan bahwa sebelum kita menegur orang lain, kita harus memeriksa diri kita sendiri. “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3)

Sikap menghakimi seringkali berakar pada kebutaan rohani — kita begitu sibuk melihat dosa orang lain, tetapi buta terhadap kelemahan kita sendiri.

4. Bagaimana Menilai Tanpa Menghakimi?

a) Mulailah Dengan Doa

Mintalah hikmat dari Tuhan sebelum Anda menilai atau berbicara. Jangan terburu-buru. Yakobus 1:5 berkata, “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah.”

b) Periksa Hati Anda

Apa motivasi Anda? Apakah Anda ingin menolong atau sekadar menunjukkan kesalahan orang lain?

c) Bersedia Ditegur

Sebelum Anda menegur orang lain, tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya juga siap menerima teguran? Orang yang menilai dengan bijak tidak takut dikoreksi.

d) Bicaralah Dengan Kasih

Efesus 4:15 berkata, “Katakanlah kebenaran dalam kasih.” Kebenaran tanpa kasih bisa menjadi pedang yang melukai. Tetapi kasih tanpa kebenaran bisa menjadi racun yang menyesatkan.

e) Fokus Pada Pemulihan, Bukan Penghukuman

Galatia 6:1 berkata, “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut.”

5. Yesus: Hakim Yang Adil Dan Penuh Kasih

Yesus adalah teladan sempurna dalam menilai tanpa menghakimi.

Ia menegur dosa wanita yang berzinah, tetapi juga berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11) Ia menegur keras orang Farisi, tetapi dengan tujuan supaya mereka bertobat. Ia menilai hati manusia, tetapi Ia datang bukan untuk menghukum dunia, melainkan untuk menyelamatkannya (Yohanes 3:17).

Jika Yesus, Hakim yang paling berhak, bersikap seperti itu, bagaimana dengan kita?

Renungan Refleksi:

  • Apakah saya sering menilai orang lain dengan cepat tanpa memeriksa hati saya sendiri?
  • Apakah saya lebih suka mengkritik daripada membangun?
  • Apakah saya berani berkata benar dalam kasih, bukan karena kesombongan?
  • Apakah saya meminta hikmat Tuhan sebelum saya berbicara atau menilai sesuatu?

Doa Penutup:

Ya Tuhan, ajarilah aku menilai dengan bijak tanpa menjadi orang yang menghakimi. Berilah aku hati yang penuh kasih, mata yang jernih, dan keberanian untuk berkata benar dalam kasih.bLindungilah aku dari kesombongan yang suka mencela, dan tuntunlah aku menjadi pembawa damai dan kebenaran. Dalam nama Yesus, Amin.

Ketika Tuhan Berkata “Tidak” — Tetaplah Percaya di Tengah Kekecewaan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Saat saya menempuh studi sarjana, saya selalu mendapatkan hasil yang baik setiap tahun. Namun, di luar dugaan, saya gagal di salah satu mata kuliah pada ujian akhir. Saya sangat terpukul. Waktu itu saya sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa pascasarjana ke luar negeri, dan tiba-tiba semuanya terasa seperti hancur berantakan. Saya sedih, kecewa, bahkan marah kepada Tuhan — mengapa hal ini harus terjadi sekarang?

Saya pikir, saya harus menunda rencana studi saya. Tapi ternyata, komite beasiswa tetap menerima saya, walaupun saya masih punya satu mata kuliah yang harus diselesaikan. Saya menyelesaikan mata kuliah itu dan melangkah maju. Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa Tuhan sedang mengajarkan saya sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar keberhasilan akademik. Tuhan ingin saya belajar untuk rendah hati — menyadari bahwa setiap keberhasilan hanyalah karena anugerah-Nya, dan supaya saya selalu bergantung kepada-Nya, bukan pada kekuatan diri sendiri.

Dalam hidup, memang kita sering mengalami saat-saat ketika kita merasa dikecewakan — oleh orang lain, oleh keadaan, bahkan oleh Tuhan. Kita sudah berdoa, percaya, dan berharap… tapi jawaban yang datang ternyata berbeda, atau bahkan berupa “Tidak.”

Di tengah kekecewaan seperti itu, sering muncul pertanyaan dalam hati:

“Masih bisakah aku percaya kepada Tuhan?”

Jawabannya yang jujur adalah — Bisa. Tapi bukan karena segala sesuatu terasa baik. Kita bisa percaya kepada Tuhan karena Dia melihat lebih jauh dari apa yang kita lihat. Hikmat-Nya lebih tinggi. Kasih-Nya lebih dalam. Rencana-Nya lebih besar.

Kadang Dia berkata, “Tidak,” untuk melindungi kita dari jalan yang justru akan menyakiti kita.

Kadang Dia berkata, “Tunggu,” karena waktunya belum tiba.

Kadang Dia berkata, “Ya,” tetapi dengan cara yang sama sekali berbeda dari apa yang kita bayangkan.

Alkitab tidak pernah menjanjikan hidup yang bebas dari kesedihan, kekecewaan, atau depresi. Bahkan Yesus sendiri, Anak Allah, pernah menangis (Yohanes 11:35). Dia mengerti rasa sakit hatimu. Dia memahami air matamu. Dan Dia berjanji: “Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Saat Anda tidak melihat jawabannya, percayalah pada hati-Nya.

Saat Anda tidak memahami jalan-Nya, berpeganglah pada janji-Nya.

Saat Anda merasa ingin menyerah, ingatlah: Tuhan tetap bekerja — bahkan di tengah luka Anda.

Roma 8:28 tidak berkata bahwa segala sesuatu akan terasa baik. Tapi firman itu menegaskan bahwa segala sesuatu akan Tuhan pakai untuk mendatangkan kebaikan bagi hidup kita. Itu termasuk kekecewaan, penundaan, dan patah hati. Tuhan sedang menenun sebuah kisah pengharapan dan penebusan yang jauh lebih besar dari apa yang dapat kamu bayangkan.

Anda tidak dilupakan. Anda tidak ditinggalkan. Dan Anda sungguh dikasihi -Nya.

Pertanyaan Refleksi:

  • Apa kekecewaan yang selama ini Anda simpan di dalam hati?
  • Bagaimana pengenalan akan hikmat dan kasih Tuhan dapat mengubah cara pandang Anda terhadap kekecewaan itu?
  • Janji Tuhan yang mana yang ingin Anda pegang hari ini?

Doa Penutup:

Bapa, aku datang kepada-Mu dengan segala kesedihan dan kekecewaanku. Aku tidak selalu mengerti mengapa semua ini terjadi, tetapi aku ingin tetap percaya kepada-Mu. Ingatkan aku bahwa Engkau selalu bekerja, bahkan saat aku tidak melihatnya. Ajarkan aku untuk berserah pada hikmat-Mu, waktu-Mu, dan kasih-Mu yang sempurna. Dekap aku saat aku merasa lemah. Terima kasih karena Engkau tidak pernah meninggalkanku. Di dalam nama Yesus, aku berdoa. Amin.

Ketika Dunia Maju — Tetapi Menjauh dari Allah

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri… lebih menyukai kesenangan daripada mengasihi Allah. Mereka beribadah secara lahiriah, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya.” 2 Timotius 3:1–5

Kita hidup di zaman yang ditandai oleh pertumbuhan teknologi yang pesat, terobosan ilmiah, dan konektivitas global. Harapan hidup bertambah panjang, berbagai penyakit telah ditemukan obatnya, dan informasi tersebar luas. Jika dilihat dari luar, manusia tampak semakin maju.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada sesuatu yang rusak. Di saat masyarakat berkembang dalam pengetahuan dan kemakmuran, mereka justru semakin menjauh dari Allah. Nilai moral yang dahulu menjadi dasar kehidupan bersama perlahan-lahan terkikis. Kemajuan teknologi tidak mampu memperbaiki hati manusia.

Apakah dunia ini semakin baik?

Dalam beberapa hal — ya. Hidup menjadi lebih nyaman, mudah, dan praktis.

Tetapi dalam hal yang paling penting — hati, relasi, dan iman — jawabannya sering kali adalah tidak.

Tanda-Tanda Dunia yang Menjauh dari Allah

Rasul Paulus mengingatkan Timotius bahwa di hari-hari terakhir, manusia akan lebih mencintai dirinya sendiri daripada Allah. Mereka akan menjadi hamba kesenangan, sombong, arogan, suka kekerasan, tidak tahu berterima kasih, dan tidak mampu mengendalikan diri (2 Timotius 3:1–5). Ini bukan hanya gambaran masa depan yang jauh — ini adalah realita yang kita lihat hari ini.

1. Meningkatnya Kejahatan Remaja

Di berbagai negara, kekerasan dan kejahatan di kalangan remaja semakin meningkat. Remaja yang dahulu dibesarkan dengan didikan, nilai-nilai moral, dan bimbingan orang tua, kini sering kali harus menjalani hidup tanpa arahan yang jelas. Keluarga yang hancur, ayah yang absen, dan nilai masyarakat yang menurun membuat banyak anak muda terjerumus ke pergaulan bebas, geng, narkoba, dan kekerasan.

Tanpa dasar kebenaran Allah, hati muda mudah terseret ke dalam pemberontakan dan kenakalan. Amsal 22:6 berkata, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya.” Namun, ketika iman ditinggalkan, didikan itu pun hilang — dan dampaknya nyata di mana-mana.

2. Hubungan yang Rusak dan Penuh Kekerasan

Allah merancang hubungan untuk mencerminkan kasih-Nya — terutama dalam pernikahan, yang menjadi gambaran hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Namun saat ini, banyak hubungan dirusak oleh kekerasan, manipulasi, dan egoisme.

Alih-alih komitmen, banyak orang mencari kekuasaan. Alih-alih kasih, yang dicari adalah kendali atas orang lain. Kekerasan dalam rumah tangga, manipulasi emosional, dan hubungan yang beracun menjadi hal yang biasa — bahkan di antara orang yang tampak rohani. Seperti yang Paulus katakan, mereka “beribadah secara lahiriah, tetapi memungkiri kekuatannya.” (2 Timotius 3:5)

Ketika rancangan Allah dalam hubungan diabaikan, yang muncul adalah luka dan kehancuran. Kasih tanpa pengorbanan berubah menjadi nafsu. Wewenang tanpa kerendahan hati berubah menjadi kekerasan.

3. Pernikahan Sejenis dan Etika Seksual yang Melenceng

Salah satu perubahan terbesar di zaman ini adalah redefinisi pernikahan dan etika seksual. Apa yang Allah tetapkan sebagai perjanjian antara pria dan wanita kini dianggap kuno, intoleran, bahkan dianggap membenci sesama. Pernikahan sejenis dilegalkan di banyak negara, dan ideologi gender menantang desain penciptaan Allah.

Roma 1:25 memperingatkan bahwa manusia akan “menukar kebenaran Allah dengan dusta.” Itulah yang terjadi — dunia menukar rancangan Allah dengan keinginan pribadi.

Penting untuk disadari: ini bukan soal membenci atau menghakimi. Setiap orang, tanpa kecuali, dikasihi Allah dan butuh anugerah-Nya. Namun sebagai pengikut Kristus, kita harus memahami bahwa merayakan sesuatu yang disebut dosa oleh Allah bukanlah kasih — itu justru menjerumuskan orang semakin jauh dari-Nya.

Masalah Utamanya: Hati Manusia

Masalah ini bukan sekadar perbedaan budaya atau pandangan politik — ini masalah hati manusia yang berdosa.

Yeremia 17:9 berkata bahwa hati manusia itu licik dan sangat jahat. Ketika manusia menolak Allah, mereka akan mencari pembenaran sendiri dan mengubah kebenaran menjadi kebohongan.

Yesus berkata dalam Matius 24:12:

“Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.”

Bukankah itu yang kita lihat? Ketika dosa menjadi biasa, kasih menjadi dingin. Belas kasih tergantikan oleh egoisme. Kebenaran dikorbankan demi toleransi palsu.

Namun, di tengah semua itu, masih ada harapan.

Misi Allah Tidak Pernah Berubah

Yesus berjanji:

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” — Matius 24:14

Di tengah dunia yang gelap, misi Allah tetap berjalan. Injil tetap menjadi kuasa Allah yang menyelamatkan (Roma 1:16). Hati masih bisa diubahkan, hidup masih bisa dipulihkan, dan harapan tetap ada.

Peran kita bukanlah berputus asa, tetapi tetap berdiri teguh — hidup dan memberitakan kebenaran dalam kasih (Efesus 4:15), berdoa bagi yang terhilang, dan menjadi saksi yang setia.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Tetap Berpegang pada Kebenaran — Jangan biarkan budaya mendikte iman kita. Berdirilah teguh di atas Firman Allah. Mengasihi Tanpa Kompromi — Sampaikan kebenaran dengan kasih. Kita dipanggil bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan jiwa. Berdoa bagi Remaja dan Keluarga — Mereka berada di garis depan peperangan rohani. Doakan perlindungan, hati mereka, dan masa depan mereka. Hidup sebagai Terang di Tengah Kegelapan — Biarlah hidup kita mencerminkan kasih, integritas, dan pengharapan Kristus, meski dunia menolak kita.

Pertanyaan Refleksi:

  • Dalam hal apa saja saya mulai tergoda untuk mengikuti cara berpikir dunia?
  • Bagaimana saya bisa menyampaikan kebenaran Allah dengan kasih tanpa kompromi?
  • Langkah apa yang bisa saya lakukan untuk berdoa dan mendukung kaum muda, keluarga, dan orang-orang yang terjebak di dalam budaya zaman ini?

Doa Penutup;

Tuhan, ketika aku melihat dunia ini semakin mengejar keinginannya sendiri, tolong aku agar tidak tawar hati. Ajarku untuk tetap teguh dalam kebenaran-Mu, mengasihi dengan berani, dan setia di tengah budaya yang menolak Engkau. Aku berdoa bagi para remaja — lindungi mereka dari kekerasan, kebohongan, dan keputusasaan. Pulihkan hubungan yang rusak dan bebaskan mereka yang terikat dalam dosa dan tipu daya dunia. Bukalah mata mereka yang tersesat agar mengenal kasih dan kebenaran-Mu. Pakailah aku sebagai bejana kasih dan kebenaran-Mu, agar cahayaku tetap bersinar di dunia yang semakin gelap ini. Dalam nama Yesus, Amin.

Diselamatkan oleh Anugerah: Agar Tidak Ada yang Memegahkan Diri

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8–9

Pertanyaan untuk Anda pagi hari ini: Mengapa Anda bisa menjadi orang percaya, sedangkan orang lain tidak? Apakah Tuhan tidak memanggil mereka? Anda mungkin menjawab; “Itu karena saya menjawab panggilan Tuhan, sedang mereka tidak demikian”. Jawaban ini mungkin bernada jujur, tapi menunjukkan bahwa Anda lebih baik dari mereka. Benarkah jawaban sedemikian?

Ayat di atas menyingkapkan kebenaran paling mendasar dalam keselamatan Kristen: kita tidak menyelamatkan diri kita sendiri. Kehendak bebas kita tidak bisa memilih apa yang baik. Bahkan iman yang kita miliki bukanlah hasil usaha kita, melainkan pemberian Allah. Inilah inti dari monergisme—bahwa keselamatan adalah pekerjaan Allah dari awal sampai akhir. Kita tidak menyumbangkan apa pun kecuali kebutuhan kita akan kasih karunia.

Paulus menyatakan dengan tegas bahwa kasih karunia dan iman adalah pemberian. Itu berarti bukan hasil pilihan manusia yang baik, bukan keputusan moral yang bijaksana, bahkan bukan respons positif terhadap Injil yang berasal dari kekuatan kita sendiri. Kita diselamatkan karena Allah mengasihi kita terlebih dahulu, bukan karena kita layak dikasihi.

Alkitab menggambarkan kondisi kita sebelum diselamatkan sebagai mati karena pelanggaran dan dosa-dosa kita (Efesus 2:1). Orang yang belum diselamatkan adalah orang mati rohani yang tidak bisa merespons, tidak bisa memilih, dan tidak bisa bertobat dengan kekuatan sendiri. Tetapi justru dalam kondisi mati itulah, Allah bertindak. Dia tidak menunggu kita bangkit. Dia membangkitkan kita bersama Kristus (Efesus 2:5).

Itulah sebabnya keselamatan adalah alasan untuk pujian dan penyembahan, bukan kebanggaan. Kita adalah bukan siapa-siapa, tetapi Allah memilih untuk mengasihi kita. Inilah kasih karunia yang sejati: Allah yang Mahasuci memilih menyelamatkan orang berdosa yang tidak berdaya, dan memberikan kepada mereka iman sebagai alat untuk menerima keselamatan itu.

Monergisme: Menyembah Allah yang Berdaulat

Banyak orang mengira bahwa doktrin seperti monergisme membuat manusia menjadi pasif atau tidak bertanggung jawab. Tetapi justru sebaliknya. Bila kita memahami bahwa semua berasal dari Allah, kita tidak akan lagi memegahkan diri. Kita tidak akan lagi membandingkan diri dengan orang lain atau merasa lebih rohani karena pilihan kita.

Sebaliknya, kita akan sujud dan bersyukur. Kita akan menyadari bahwa satu-satunya alasan kita percaya kepada Yesus adalah karena Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Keselamatan bukan tentang kehendak manusia, tetapi tentang kehendak Allah yang mengasihi dan memilih.

Monergisme bukan hanya doktrin kering; ini adalah dasar untuk menyembah Allah dengan segenap hati. Kita tidak menyanyi karena kita berhasil menyelamatkan diri. Kita menyanyi karena Allah telah menyelamatkan kita meski kita tidak layak.

Iman yang Tidak Sendirian

Namun, walau kita diselamatkan oleh iman saja (sola fide), iman itu tidak pernah sendirian. Iman sejati selalu membuahkan ketaatan, kasih, dan pertumbuhan rohani. Iman yang hidup selalu mendengarkan suara Roh Kudus.

Roh Kudus bukan hanya menginsafkan kita akan dosa dan memimpin kita kepada Kristus, tetapi juga terus membimbing, mengingatkan, dan menguduskan kita setiap hari. Orang percaya dipanggil untuk berjalan dalam terang, bukan karena ingin memperoleh keselamatan, tetapi karena telah diselamatkan.

Inilah kerja sama dalam kekudusan (sanctification). Bukan kerja sama dalam menyelamatkan diri, tetapi dalam merespons anugerah dengan ketaatan. Kita tidak lagi berjalan dalam daging, tetapi dalam Roh. Dan dari kehidupan yang dipimpin Roh, muncul buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, dan seterusnya (Galatia 5:22–23).

Janji dan Tujuan: Kemuliaan bagi Allah

Efesus 2:10 melanjutkan bahwa kita adalah ciptaan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. Itu berarti, keselamatan bukan hanya tentang tidak masuk neraka. Keselamatan adalah transformasi total—dari mati menjadi hidup, dari pemberontak menjadi penyembah.

Allah menyelamatkan kita bukan karena kita berguna bagi-Nya, melainkan karena Dia ingin memuliakan nama-Nya melalui kita. Dan melalui kehidupan kita yang berubah, dunia bisa melihat siapa Allah itu.

Inilah tujuan akhir dari monergisme: Soli Deo Gloria—kemuliaan hanya bagi Allah. Karena bila Allah yang menyelamatkan, Allah pula yang harus dimuliakan. Tidak ada tempat untuk kebanggaan pribadi.

Pertanyaan Refleksi:

  • Apakah selama ini Anda pernah merasa bahwa Anda layak diselamatkan karena keputusan atau usaha pribadi?
  • Bagaimana pemahaman tentang monergisme mengubah cara Anda menyembah dan bersyukur?
  • Dalam aspek mana Roh Kudus sedang mengingatkan Anda untuk bertumbuh dan berbuah hari ini?

Doa Penutup:

Tuhan yang penuh kasih, aku bersyukur karena Engkau menyelamatkanku bukan karena kebaikanku, tetapi karena kasih karunia-Mu. Aku sadar bahwa bahkan imanku adalah pemberian-Mu. Ajarlah aku untuk tidak memegahkan diri, melainkan menyembah-Mu dalam kerendahan hati. Tolong aku untuk mendengarkan Roh Kudus setiap hari dan menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Perangkap Orang Farisi: Ketika Ketaatan Menjadi Klaim Kebenaran

” Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain…” Lukas 18:11

Baru-baru ini, seorang teman saya mengirim pesan ini:

“Perbedaan pandangan teologi kita bukanlah tentang siapa yang benar. Ini tentang apakah Anda bisa menaruh iman dan ketaatan pada Firman Tuhan.”

Sepintas, ini terdengar rendah hati dan rohani. Tapi, pernyataan ini mungkin membawa implikasi tersembunyi:

“Akulah yang taat. Akulah yang menaruh iman dengan benar. Yang lain belum tentu.”

Mengapa begitu?

Dalam perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai, kita melihat dua orang yang datang ke Bait Allah. Yang satu taat secara lahiriah, mengenal Kitab Suci dengan baik, dan yakin akan kebenarannya. Yang lain hancur, tidak yakin, dan hanya memohon belas kasihan. Hanya satu dari mereka yang pulang dibenarkan — dan itu bukan orang yang “taat.”

Pelajaran ini seharusnya membuat kita merenung, terutama ketika kita berbicara tentang ketaatan kepada Firman Tuhan.

Ketaatan Memerlukan Penafsiran

Untuk “taat pada Firman Tuhan,” seseorang harus terlebih dahulu yakin bahwa ia memahami Firman itu dengan benar. Artinya, secara tidak langsung — atau bahkan langsung — kita membuat penilaian:

“Saya tahu apa yang Tuhan kehendaki.”

Dan jika kita berpikir orang lain tidak setia atau sesat, kita juga mengklaim — secara halus — bahwa kita lebih benar. Maka pernyataan seperti “bukan soal siapa yang benar” menjadi kontradiktif. Seolah-olah merendah, tapi berdiri di atas keyakinan teologis yang kokoh.

Itulah yang dilakukan oleh orang Farisi. Ia bersyukur kepada Allah — tetapi untuk apa?

“Bahwa saya tidak seperti orang lain.”

“Bahwa saya berpuasa, membayar perpuluhan, menaati hukum…”

Dalam pikirannya, ketaatan adalah bukti bahwa dia benar.

Kasih Karunia Tidak Dimulai dari Kita

Injil membalik logika ini. Pemungut cukai tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan. Tidak ada klaim ketaatan, tidak ada kepercayaan pada pemahamannya akan Taurat, tidak ada pembenaran diri.

Hanya ini:

“Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.”

Yesus berkata, orang inilah yang pulang dibenarkan.

Injil tidak berkata, “Engkau dibenarkan karena taat dengan benar.”

Melainkan: “Engkau taat karena telah dibenarkan oleh kasih karunia.”

Memang iman itu penting. Ketaatan itu juga penting. Tapi besarnya iman dan ketaatan bukanlah dasar keselamatan — dan tidak pernah menjadi alasan untuk membanggakan diri. Dasar keselamatan adalah karunia Allah – Sola Gratia.

Perangkap Farisi di Masa Kini

Sangat mudah terjebak dalam perangkap orang Farisi, terutama dalam diskusi teologi. Kita mungkin berbicara tentang “iman dan ketaatan” sambil diam-diam merasa lebih unggul. Kita mungkin berkata, “Bukan soal siapa yang benar,” tapi dalam hati kita percaya bahwa kitalah yang benar.

Ini bukan soal satu denominasi saja. Orang Reformed, Pentakosta, Katolik, dan lainnya — semua bisa tergoda menjadikan pemahaman mereka sebagai sumber kesombongan rohani. Tapi Injil memanggil kita kembali pada kerendahan hati — bukan kebodohan, tapi ketergantungan pada kasih karunia.

Pertanyaan Refleksi:

  • Apakah saya pernah memakai istilah “iman dan ketaatan” untuk menyiratkan bahwa saya lebih benar dari orang lain?
  • Apakah saya benar-benar percaya pada belas kasihan Kristus — atau pada keakuratan doktrin dan gaya hidup saya?
  • Bagaimana saya bisa membicarakan kebenaran dan ketaatan tanpa terjebak dalam kesombongan rohani?

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Efesus 2:8

Doa Penutup:

Ya Tuhan. Aku percaya dan berusaha untuk taat kepada-Mu. Tetapi, aku mengaku bahwa aku sebenarnya adalah orang yang berdosa yang tidak layak menerima keselamatan dari-Mu.

Hanya karena karunia-Mu aku dibenarkan, dan itu tidak ada hubungannya dengan usahaku untuk taat kepada-Mu. Aku berusaha taat bukan untuk bisa selamat, tetapi karena aku bersyukur atas kasih dan karunia-Mu. Ajarlah aku agar tetap bisa rendah hati sekalipun Engkau sudah memilih aku untuk menjadi umat-Mu.

Dalam nama Yesus Kristus. Amin.

Dua Kitab, Satu Kebenaran: Ketika Alkitab dan Sains Tidak Bersaing

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Mazmur 19:1

Pada awal tahun 1980-an, ketika saya memulai karier sebagai insinyur dan ilmuwan material, saya sampai pada satu keyakinan: Alkitab bukan buku sains—dan itu bukan masalah. Tuhan tidak pernah bermaksud menjadikannya buku sains. Sejak halaman pertamanya, Alkitab berbicara tentang kebenaran yang jauh lebih dalam daripada rumus atau garis waktu. Alkitab berbicara tentang tujuan, perjanjian, dosa dan anugerah, dan tentang Allah yang menciptakan segala sesuatu bukan hanya dengan kuasa, tetapi juga dengan kasih. Keyakinan ini semakin menguat seiring waktu.

Namun saya menyadari bahwa tidak semua orang Kristen melihat hal ini sama. Beberapa orang tidak akan pernah menerima pemisahan antara Alkitab dan sains. Mereka merasa bahwa jika Alkitab adalah Firman Allah, maka harus akurat dalam semua bidang—rohani, sejarah, dan ilmiah. Kisah penciptaan dalam kitab Kejadian misalnya, mereka percaya terjadi dalam 6 hari, 6 x 24 jam. Bagi mereka, menyatakan bahwa sains bisa berdiri berdampingan dengan Kitab Suci sebagai sumber pengetahuan yang sah terdengar seperti kompromi. Seperti menyerah pada sekularisme. Tapi saya percaya itu bukan kompromi.

Pada tahun 1997, seorang paleontolog bernama Stephen Jay Gould mempopulerkan model yang ia sebut NOMA—Non-Overlapping Magisteria. Menurut NOMA, sains dan agama bekerja di ranah otoritas yang berbeda: sains menjelaskan dunia alam, agama menyampaikan makna, nilai, dan kebenaran moral. Menariknya, Gould mengaku terinspirasi sebagian oleh Kurt Wise, seorang kreasionis muda yang, meskipun menolak evolusi, menghargai metode ilmiah dan wilayahnya sendiri.

Namun, NOMA bukan gagasan baru. Jauh sebelum Gould, para pemikir Kristen besar sudah menyuarakan prinsip yang sama:

  • Agustinus, pada abad ke-4, memperingatkan orang percaya agar tidak mempermalukan Kitab Suci dengan memaksanya bertentangan dengan fakta nyata.
  • Galileo terkenal berkata, “Alkitab mengajarkan kita bagaimana menuju surga, bukan bagaimana langit bergerak.”
  • John Calvin mengajarkan bahwa Allah menyampaikan wahyu-Nya dengan cara yang “diakomodasi” pada keterbatasan manusia—berbicara bukan dalam detail ilmiah, tetapi dalam bahasa yang bisa kita pahami.

Singkatnya, banyak orang Kristen telah lama percaya bahwa Allah berbicara melalui dua kitab: Kitab Wahyu Allah dan Kitab Alam Ciptaan Allah. Keduanya tidak bertentangan—tetapi tidak dalam genre yang sama.

Otoritas Alkitab Terletak pada Pesannya, Bukan pada Mekanismenya

Alkitab menyatakan rencana penebusan Allah. Alkitab adalah firman yang diilhami, berotoritas, dan dapat dipercaya—tetapi kita harus bertanya: Jenis kebenaran apa yang disampaikan Allah? Kejadian 1 tidak menjelaskan astrofisika; itu menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta. Mazmur 104 bukanlah biologi; itu adalah pujian. Injil bukan jurnal medis; melainkan pengumuman bahwa kerajaan Allah telah datang di dalam Yesus Kristus.

Sementara itu, sains adalah anugerah Tuhan. Sains mempelajari bagaimana ciptaan Allah bekerja menurut hukum tertentu, sedangkan Alkitab mengungkapkan mengapa semua itu ada.

Saya percaya bahwa mencoba memaksa Alkitab menjadi buku sains justru merugikan iman maupun sains. Itu membebani ayat dengan tugas yang bukan miliknya, dan memperlakukan dunia ciptaan Tuhan seolah tidak mampu bersuara sendiri.

Mengapa Sebagian Orang Kristen Menolak Ini

Banyak orang percaya takut bahwa mengakui independensi sains akan melemahkan otoritas Alkitab. Tapi ironisnya, mempertahankan Kitab Suci dengan mengikatnya pada klaim ilmiah yang diperdebatkan justru membuatnya lebih rentan—bukan lebih kuat. Ketika model ilmiah berubah (sebagaimana biasanya), iman yang dibangun di atas model itu bisa runtuh.

Orang yang lain mungkin didorong oleh kasih yang tulus pada Firman Tuhan. Mereka ingin membela kebenarannya dengan segala cara. Keinginan itu mulia. Tapi kita harus ingat: Kebenaran tidak takut diselidiki. Jika Tuhan menciptakan dunia alam, maka eksplorasi ilmiah yang jujur tidak akan pernah menghancurkan kenyataan bahwa Dialah Penciptanya.

Sains Bukan Musuh. Sains adalah Pelayan.

Sebagai insinyur, saya telah menghabiskan puluhan tahun di berbagai negara mengamati kompleksitas, keindahan, dan keteraturan dalam material, proses, dan sistem. Tak satu pun dari itu mengurangi kekaguman saya kepada Allah—justru memperdalamnya. Sains tidak menjelaskan pencipta sebagai pengganti Allah; ia memberi kita bahasa untuk menghargai karya tangan-Nya.

Meminjam dari Mazmur 19:

“Langit menceritakan kemuliaan Allah… hari yang satu mengisahkan kepada hari yang lain.”

Alam tidak diam. Ia bersaksi tentang kebesaran Allah.

Ilmuwan bukan pengganti nabi. Tapi nabi juga tidak boleh membungkam ilmuwan. Mereka bukan musuh, melainkan saksi bersama—masing-masing bersaksi dengan suaranya sendiri tentang kebesaran Allah.

Pertanyaan Refleksi:

  • Pernahkah saya merasa ada ketegangan antara sains dan iman saya?
  • Dari mana ketegangan itu berasal?
  • Apakah saya pernah berharap Alkitab menjawab pertanyaan yang sebenarnya bukan tujuannya?
  • Bagaimana saya bisa menghormati baik Kitab Suci maupun kebenaran ilmiah dalam percakapan saya—terutama dengan orang-orang skeptis?

Doa Penutup:

Tuhan, Engkaulah pencipta Firman dan dunia. Tolong aku menerima keduanya dengan kerendahan hati, kekaguman, dan iman.

Berikan aku hikmat untuk mengerti apa yang sungguh-sungguh ingin Engkau sampaikan—dan keberanian untuk menerima kebenaran di mana pun aku menemukannya, karena semua kebenaran berasal dari-Mu. Amin.

Hidup di Masa Pengujian

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu.” Matius 24:4

Hari-hari ini, banyak orang berkata bahwa kita sedang hidup di “akhir zaman.” Ada yang menunjuk pada perang, bencana alam, krisis politik, atau teknologi aneh sebagai tanda-tandanya. Ada pula yang menyebarkan mimpi, ramalan, atau peringatan lewat media sosial. Tapi kalau kita jujur, mungkin kita tidak terlalu yakin apa yang benar-benar merupakan tanda zaman.

Beberapa waktu lalu, ada sebaran video dari seorang penginjil yang berkata bahwa tanda akhir zaman sudah terlihat karena “chip komputer sudah dipasang di otak manusia.” Banyak orang mungkin langsung merasa takut atau bingung saat mendengar hal semacam itu. Tapi sebenarnya, apakah benar chip di otak adalah tanda akhir zaman? Atau, seperti yang lebih tepat, justru orang-orang yang menyebarkan berita itu yang menjadi tandanya?

Yesus sudah memperingatkan murid-murid-Nya tentang hal ini:

“Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” Matius 24:4–5

Perhatikan bahwa peringatan pertama bukan tentang perang, bencana, atau teknologi — tetapi tentang orang-orang yang menyesatkan. Dalam zaman sekarang, hal ini bisa datang melalui media sosial, mimbar gereja, atau bahkan video TikTok.

Di tengah semua kabar yang menakutkan, kita perlu bertanya:
Apakah ini membawa orang lebih dekat kepada Kristus atau justru menjauhkan mereka dengan rasa takut?

Kitab Wahyu berbicara tentang “tanda binatang” (mark of the beast), tapi tidak pernah menyebut chip atau alat teknologi. Tanda itu berhubungan dengan penyembahan dan kesetiaan hati, bukan apa yang ditanamkan secara fisik. Allah melihat iman kita, bukan sistem elektronik di tubuh kita.

Rasul Paulus juga mengingatkan:

“Akan datang waktunya, orang tidak lagi menerima ajaran sehat… mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendak mereka untuk memuaskan telinga mereka.” (2 Timotius 4:3)

Jadi, siapa sebenarnya yang menjadi tanda zaman akhir? Bukan chip di otak — tetapi orang-orang yang menyebarkan ajaran tanpa dasar Alkitab, dengan rasa panik dan sensasi.

Yesus sendiri berkata bahwa tidak seorang pun tahu hari atau saat kedatangan-Nya—bahkan malaikat pun tidak (Matius 24:36). Yang Yesus minta bukanlah agar murid-murid-Nya sibuk menebak waktu, melainkan agar mereka tetap berjaga-jaga, tetap setia, dan tetap percaya kepada-Nya dalam segala keadaan.

Pertanyaan Refleksi:

Daripada takut pada teori konspirasi, marilah kita:
• Berpegang pada kebenaran firman Tuhan
• Membedakan roh di balik setiap pesan (apakah itu memuliakan Kristus?)
• Menyebarkan damai dan kasih, bukan ketakutan dan kepanikan

Doa Penutup:

Tuhan, ajar kami untuk tidak mudah terombang-ambing oleh ajaran yang menakutkan atau menyesatkan. Berikan kami roh pengertian, supaya kami dapat tetap berdiri teguh di dalam kasih dan kebenaran-Mu. Amin.