“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Ayat di atas adalah satu ayat yang paling sering dipakai dalam acara kebangunan rohani, di mana orang yang belum mengenal Kristus diundang untuk percaya kepada-Nya. Salah satu pertanyaan teologis paling umum yang pernah saya terima mengenai ayat ini adalah seperti ini: Apakah Tuhan mengasihi semua orang? Apakah Tuhan yang mahasuci sangat membenci dosa, tetapi mengasihi orang berdosa? Apakah Ia mengasihi mereka yang menolak-Nya sama seperti Ia mengasihi anak-anak tebusan-Nya? Dengan kata lain, apakah Ia mengasihi Adolf Hitler sama seperti Ia mengasihi Billy Graham?
Sering kali juga saya mendengar pesan “Yesus mengasihimu” atau “Tuhan memberkatimu” yang diucapkan oleh orang Kristen kepada sekelompok orang yang mungkin mencakup orang Kristen dan non-Kristen. Apakah alkitabiah untuk mengatakan ungkapan-ungkapan seperti itu kepada sembarang orang?
Terlalu sering saya mendengar jawaban yang terlalu sederhana untuk pertanyaan rumit ini. Secara historis, satu kelompok orang Kristen menjawab dengan “ya” tanpa syarat, sementara beberapa kelompok lain menjawab “tidak” tanpa syarat.
Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah memberikan karunia umum bagi semua orang, yang sering disebut anugerah umum, yang terlihat dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan hati bagi seluruh ciptaan dan umat manusia, seperti matahari dan hujan yang turun bagi orang benar maupun orang fasik. Namun, teologi Reformed juga mengajarkan bahwa Allah memiliki karunia yang khusus atau istimewa, yang secara eksklusif diperuntukkan bagi orang pilihan (mereka yang dipilih Allah untuk keselamatan) dan hanya ditemukan di dalam Kristus. Jadi, ada beda antara kasih-Nya yang umum dan kasih-Nya yang khusus.
Kasih Allah yang umum adalah keinginan yang penuh kemurahan hati untuk kebaikan seluruh umat manusia, bahkan mereka yang tidak percaya. Kasih ini ditunjukkan oleh pemeliharaan-Nya yang penuh kemurahan hati bagi semua orang, menyediakan makanan, tempat tinggal, dan kesempatan umum untuk bertobat dan datang kepada-Nya, seperti matahari dan hujan bagi semua orang, yang bukan hanya untuk orang percaya. Ini tentunya masuk akal karena semua orang di dunia ini hidup bersama dan berinteraksi satu dengan yang lain. Walaupun demikian, kasih umum bagi dunia ini sebenarnya bertalian dengan panggilan Injil, yang mengundang setiap orang untuk berdamai dengan Allah melalui Yesus Kristus. Hal ini tentu sulit diterima oleh mereka yang percaya bahwa alam semesta ada sejal mulanya untuk dinikmati setiap manusia dan segala hasil dalam hidup adalah jerih payah manusia sendiri. Bagi mereka, Tuhan itu tidak ada atau tidak relevan.
Kasih yang khusus atau istimewa adalah kasih Tuhan bagi umat pilihan-Nya saja, yaitu kasih yang unik dan menyelamatkan yang Allah miliki bagi mereka yang dipilih dan diangkat menjadi anak-anak-Nya melalui Kristus. Kasih Allah inilah yang menyelamatkan orang-orang yang tenggelam dalam dosa. Ditemukan di dalam Kristus, kasih yang mendalam dan mengubah cara hidup manusia ini dialami oleh mereka yang ada di dalam Kristus dan beriman kepada-Nya. Karena kekudusan-Nya, Allah tidak dapat mengaruniakan kasih yang menyelamatkan seperti ini bagi mereka yang menolak uluran tangan-Nya, karena Ia membenci dosa dan orang hidup dalam dosa.
Perbedaan utama antara dua jenis kasih ini terletak pada hakikat dan tujuan kasih tersebut. Meskipun Allah menunjukkan kebaikan umum kepada semua orang, hanya umat pilihan yang menerima kasih khusus dan menyelamatkan yang menebus dan mengubah mereka menjadi keluarga rohani-Nya.
Don Carson, dalam bukunya “The Difficult Doctrine of the Love of God” (Crossway, 2000) menjelaskan beberapa bentuk kasih Allah.
Kasih antara Allah Bapa, Putra dan Roh:
Kasih Allah Tritunggal tidak hanya membedakan monoteisme Kristen dari semua monoteisme lainnya, tetapi juga secara mengejutkan terkait erat dengan wahyu dan penebusan. Injil Yohanes khususnya kaya akan tema ini (misalnya, Yohanes 3:35; 5:20). Kasih intra-Trinitarian ini diungkapkan dalam hubungan yang sempurna antara Bapa dan Putra, yang tak ternoda oleh dosa di kedua belah pihak. Kasih intra-Trinitarian ini berfungsi sebagai model kasih antara Yesus dan para pengikut-Nya.
Kasih Allah yang Maha Pemurah atas semua ciptaan-Nya:
Meskipun Alkitab sebagian besar menghindari penggunaan kata “kasih” dalam konteks ini, temanya tidak sulit ditemukan. Allah menciptakan segala sesuatu, dan sebelum tercium sedikit pun dosa, Ia menyatakan segala sesuatu yang telah Ia ciptakan “baik” (Kejadian 1). Ini adalah hasil karya Pencipta yang penuh kasih. Yesus menggambarkan sebuah dunia di mana Allah menghiasi rumput di ladang dengan keindahan bunga-bunga liar yang mungkin tak disadari manusia, tetapi dinikmati oleh Allah.
Kasih Allah yang menebus dunia-Nya yang telah jatuh:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya (Yohanes 3:16). Beberapa orang mencoba mengartikan kosmos (“dunia”) di sini untuk merujuk pada orang-orang pilihan, tetapi itu sebenarnya tidak tepat. Semua bukti penggunaan kata tersebut dalam Injil Yohanes bertentangan dengan anggapan tersebut. “Dunia” dalam Injil Yohanes lebih merujuk pada kejahatan daripada kebesaran. Ini terutama merupakan tatanan moral dalam pemberontakan yang disengaja terhadap Allah. Dalam Yohanes 3:16, kasih karunia Allah patut dikagumi bukan karena ditujukan kepada hal sebesar dunia, melainkan kepada hal yang begitu buruk; bukan kepada begitu banyak orang, melainkan kepada orang berdosa, yaitu semua orang tanpa terkecuali.
Kasih Allah yang khusus, efektif, dan selektif terhadap umat pilihan-Nya:
Umat pilihan bisa berupa bangsa Israel dalam Perjanjian Lama atau gereja sebagai suatu badan atau individu. Dalam setiap kasus, Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada umat pilihan-Nya dengan cara yang tidak Ia berikan kepada orang lain.
Hal yang mencolok dari ayat-ayat seperti Ulangan 7:7-8 adalah ketika Israel dikontraskan dengan bangsa-bangsa lain, ciri pembedanya tidak mencakup apa pun yang berkaitan dengan jasa pribadi atau nasional; itu tidak lain adalah kasih Allah. Kasih Allah ditujukan kepada Israel dengan cara yang tidak ditujukan kepada bangsa-bangsa lain. Dan ciri pembeda dari kasih Allah ini sering muncul dalam Alkitab. “Aku mengasihi Yakub, tetapi Aku membenci Esau,” firman Allah (Maleakh 1:2-3).
Demikian pula, dalam Perjanjian Baru kita membaca Kristus “mengasihi jemaat” (Efesus 5:25). Berulang kali Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa kasih yang khusus dari Allah ditujukan kepada mereka yang ada sebagai jemaat. Pilihan Allah ini adalah hak-Nya dan tidak dapat dibantah siapa pun.
Kasih Allah bagi umat-Nya ada dengan syarat ketaatan:
Ketaatan adalah bagian dari struktur rasional pengenalan akan Allah; hal ini tidak berkaitan dengan bagaimana kita mengenal-Nya, melainkan dengan hubungan kita dengan-Nya setelah kita mengenal-Nya. Yudas menasihati para pembacanya, “Jagalah dirimu tetap berada dalam kasih Allah” (Yudas 21), meninggalkan kesan yang jelas bahwa seseorang yang mengaku Kristen mungkin saja tidak tetap berada dalam kasih Allah karena kesalahannya sendiri.
Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk tetap berada dalam kasih-Nya (Yohanes 15:9), dan menambahkan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tetap berada dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tetap berada dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:10).
Peringatan Penting
Kita harus menghindari penekanan eksklusif pada kasih Allah yang memilih umat-Nya dan yang mengabaikan orang lain, yang dapat mengarahkan kita pada hiper-Calvinisme yang dingin. Mereka yang merasa terpilih juga bisa merasa bahwa ia tidak perlu berbuat baik atau taat kepada Tuhan.
Pada pihak lain, kita harus meneliti klise-klise Injili yang sudah usang dengan pertimbangan Alkitab. Ajaran Kitab Suci yang lengkap tentang kasih Allah memberikan pencerahan yang dibutuhkan pada ungkapan seperti “Allah mengasihi semua orang dengan cara yang sama,” atau “Allah mengasihi kita tanpa syarat.” Mengapa? Di banyak bagian, Alkitab menggambarkan kasih Allah sebagai sesuatu yang dikondisikan oleh ketaatan. Di sisi lain, kasih Allah bagi umat-Nya tidak bersyarat—berkat karya Kristus.
Alasan bagi kita untuk bersukacita
Kasih Allah bagi orang berdosa seharusnya selalu mencengangkan dan merendahkan hati kita. Kasih Allah itu tidak boleh diperkecil menjadi sekadar hal yang selazimnya bagi Dia yang mahakasih. Pemazmur bertanya-tanya dengan tepat, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:4).
Pagi ini kita belajar bahwa Allah mengasihi umat-Nya, ciptaan-Nya, dan kosmos yang telah jatuh ini. Kebenaran yang tak terselami itu seharusnya menuntun kita untuk menyembah-Nya dengan sungguh-sungguh, berseru bersama rasul agung itu, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (Roma 11:36).








