Mengapa Orang Menolak Kristus?

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Korintus 1:18

Pertanyaan terbesar dalam hidup manusia bukanlah soal ekonomi, politik, atau kesehatan, melainkan soal hubungan kita dengan Tuhan. Alkitab jelas menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:27). Namun, realitas di sekitar kita memperlihatkan bahwa banyak orang justru menolak keberadaan-Nya, menutup telinga terhadap suara-Nya, bahkan mengeraskan hati terhadap kasih-Nya yang sudah dinyatakan dalam Yesus Kristus.

Mengapa demikian? Apakah Allah yang salah karena tidak hadir? Ataukah manusia yang salah menafsirkan keberadaan-Nya?

1 Korintus 1:18–31 menggambarkan kebodohan Injil di mata dunia. Baik orang Yahudi maupun orang Yunani menolak gagasan tentang Kristus yang disalibkan. Dewa mana pun yang mati di kayu salib Romawi, terutama sebagai pengorbanan untuk dosa manusia, akan dipandang oleh mata duniawi sebagai dewa yang lemah dan bodoh. Namun, Allah akan mempermalukan orang bijak dan kuat dengan memberikan kemampuan untuk percaya kepada salib Kristus, terutama kepada orang yang lemah dan bodoh di dunia, dalam istilah manusia. Pada akhirnya, tak seorang pun akan bisa menyombongkan diri di hadapan-Nya tentang kekuatan dan kebijaksanaan mereka sendiri.

Dalam 1 Korintus 1:18 Paulus membagi dunia menjadi dua kelompok orang: mereka yang akan binasa dan mereka yang diselamatkan. Mereka yang akan binasa ditakdirkan untuk selamanya terpisah dari Allah, sementara mereka yang diselamatkan ditakdirkan untuk selamanya tinggal dalam kemuliaan Allah.

Bagi kelompok pertama—mereka yang akan binasa—salib Kristus adalah “kebodohan.” Istilah Yunani asli yang digunakan di sini adalah mōria, dari akar kata yang sama yang membentuk kata-kata bahasa Inggris seperti moron. Secara gamblang, Paulus mengatakan bahwa bagi dunia yang belum diselamatkan, mereka yang memberitakan Injil tampak seperti orang bodoh.

Pada zaman Paulus, salib masih digunakan secara luas oleh orang Romawi sebagai alat eksekusi publik. Itu adalah simbol kejahatan yang memalukan dan ketidakberdayaan di hadapan Kekaisaran Romawi yang berkuasa waktu itu. Salib Kristus adalah sesuatu yang bodoh dalam budaya Yunani dan Romawi bukan karena mereka ateis. Mereka percaya pada semua jenis dewa dan mengurutkannya berdasarkan kuasa yang mereka miliki atas alam dan manusia. Tetapi, salib Kristus adalah sesuatu yang bodoh bagi budaya pagan karena Yesus Kristus ditolak oleh umat-Nya sendiri dan disalibkan seperti penjahat biasa lainnya oleh penguasa Romawi. Dari perspektif Yunani dan Romawi, dan juga sampai zaman ini, itu bukanlah Tuhan yang layak disembah.

Dalam Kekristenan, orang fasik adalah orang yang menolak Tuhan, hidup dalam dosa, dan bertindak bertentangan dengan kehendak Allah. Mereka cenderung mengabaikan Firman Tuhan, mengikuti cara hidup duniawi, dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan hukum-Nya. Lebih dari itu, secara umum, orang-orang fasik menganggap orang percaya, dan iman mereka kepada Yesus Kristus adalah kebodohan. Dengan demikian, orang-orang fasik (mungkin orang ateis, agnostik atau orang yang tidak percaya kepda Yesus) sering kali mengejek orang Kristen dan bahkan mengolok-olok Tuhan Yesus yang dipercayai umat-Nya sebagai Juruselamat.

Bagi mereka yang diselamatkan, karena iman mereka kepada Kristus, salib dipahami sebagai tindakan Allah yang paling berkuasa. Putra Allah tidak kalah dalam pertempuran melawan para pemimpin Yahudi atau pemerintah Romawi. Dia tidak dapat dikalahkan atau ditundukkan (Yohanes 10:17-18; 18:6; Matius 26:53). Tetapi, Allah Bapa mengorbankan Putra-Nya, Yesus, untuk dosa manusia. Yesus, meskipun memiliki kuasa dan otoritas Ilahi yang tak terbatas, menyerahkan nyawa-Nya untuk menutupi dosa-dosa mereka yang sedang binasa. Mereka yang percaya kepada Kristus memahami bahwa tanpa tindakan penuh kuasa itu, manusia akan tersesat dan tanpa harapan.

Dari pengalaman hidup dan kesaksian Alkitab, ada tiga alasan utama mengapa manusia dalam kebodohannya menolak Tuhan: (1) merasa tidak dikasihi-Nya, (2) merasa tidak memerlukan Dia, dan (3) merasa Dia tidak ada. Mari kita renungkan satu per satu.

1. Merasa Tidak Dikasihi-Nya

Banyak orang berpaling dari Tuhan karena luka batin yang mereka alami. Ada yang berdoa bertahun-tahun untuk kesembuhan, tetapi penyakitnya tidak juga hilang. Ada yang memohon agar keluarganya dipersatukan kembali, namun perceraian tetap terjadi. Ada pula yang kehilangan orang yang sangat dikasihi, lalu merasa Tuhan tidak peduli.

Seperti Ayub yang pernah berseru:

“Aku berteriak kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri, tetapi Engkau hanya memperhatikan aku saja.” Ayub 30:20

Rasa ditinggalkan ini membuat manusia bertanya: “Kalau Tuhan kasih, mengapa semua ini terjadi padaku?”

Padahal, kasih Allah terbesar sudah nyata dalam salib Kristus. Rasul Paulus berkata:

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5:8

Seringkali, manusia menafsirkan kasih Allah hanya sebatas pada kenyamanan hidup. Ketika doa tidak dikabulkan, mereka merasa Tuhan tidak mengasihi. Namun kasih sejati bukan berarti hidup tanpa penderitaan, melainkan hadirnya pengharapan di tengah penderitaan. Justru melalui salib, kita melihat bahwa Allah sanggup memakai penderitaan sebagai jalan menuju kemuliaan.

2. Merasa Tidak Memerlukan Dia

Alasan kedua datang dari mereka yang hidup berkecukupan. Dengan harta, ilmu, dan jabatan, manusia merasa bisa mengendalikan hidupnya. Tuhan dianggap tidak relevan.

Yesus pernah berkata kepada jemaat di Laodikia:

“Karena engkau berkata: Aku kaya, dan aku telah memperkayakan diriku, dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Wahyu 3:17

Kemandirian yang berlebihan membuat manusia menolak Tuhan. Mereka berpikir: “Mengapa saya perlu Tuhan, jika saya bisa meraih semua ini dengan usaha sendiri?”

Namun, kesombongan ini ibarat rumah megah tanpa fondasi. Saat badai datang—penyakit, kematian, atau krisis yang tak terkendali—baru disadari bahwa semua yang dibanggakan rapuh dan fana.

Seorang filsuf pernah berkata: “Manusia adalah makhluk yang baru menyadari kebutuhan akan Tuhan ketika ia berhadapan dengan kuburan.” Pada saat menghadapi kematian, semua prestasi dan kekayaan tidak bisa menolong, hanya Tuhan yang kekal yang sanggup memberi pengharapan.

3. Merasa Dia Tidak Ada

Ada juga orang yang menolak Tuhan karena mereka meyakini Dia tidak ada. Kaum ateis dan agnostik berkata bahwa Tuhan hanyalah ilusi, hasil ciptaan pikiran manusia. Mereka berpegang pada ilmu pengetahuan atau logika manusia, dan menolak segala sesuatu yang bersifat rohani.

Namun, Alkitab sudah menegaskan:

“Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah.” Mazmur 14:1

Alasan ini seringkali bukan sekadar karena akal budi, tetapi karena keinginan untuk hidup tanpa firman Tuhan. Jika Tuhan tidak ada, maka tidak ada standar kebenaran yang absolut. Manusia bisa merasa bebas melakukan apa saja menurut hati nurani mereka tanpa kekuatiran untuk berbuat dosa.

Tetapi, meski menolak, hati manusia tetap merindukan makna. Seperti kata C.S. Lewis: “Jika saya menemukan dalam diri saya kerinduan yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun di dunia ini, penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa saya diciptakan untuk dunia lain.” Kerinduan akan sesuatu yang lebih besar dari dunia ini adalah tanda bahwa Allah itu ada.

Dari ketiga alasan ini, kita melihat bahwa penolakan manusia terhadap Tuhan berakar pada dosa dan kerapuhan hati. Dosa membuat manusia buta terhadap kasih Allah, sombong dalam apa yang dimilikinya, dan keras hati untuk mengakui keberadaan-Nya.

Perlu diingat, sebagian orang Kristen bisa juga mempunyai kebodohan yang serupa jika mereka membatasi kedaulatan Tuhan atas hidup mereka. Mereka menolak untuk tunduk kepada firman-Nya jika itu bertentangan dengan kemauan sendiri. Mereka ingin menjadi orang Kristen “biasa”, pergi ke gereja tapi di luar gereja hidup seakan Tuhan itu tidak ada.

Namun, kabar baiknya adalah: Allah tidak berhenti mengetuk pintu hati manusia. Yesus berkata:

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.” Wahyu 3:20

Allah tidak memaksa, tetapi dengan kasih-Nya yang lembut Ia mengundang setiap orang untuk kembali. Bahkan ketika manusia menolak, Ia tetap setia menunggu.

Manusia bisa merasa tidak dikasihi, merasa tidak memerlukan, atau bahkan menyangkal keberadaan Tuhan. Namun, Allah tetap Allah yang penuh kasih. Ia tetap hadir, meskipun kita sering tidak menyadarinya. Yesus Kristus datang bukan untuk orang benar, melainkan untuk orang berdosa. Ia datang justru untuk mereka yang menolak, supaya mereka berbalik dan diselamatkan.

Hari ini, mari kita renungkan: apakah dalam hati kita masih ada area tertentu yang menolak Tuhan? Apakah kita pernah merasa ditinggalkan-Nya, atau merasa cukup tanpa Dia, atau meragukan keberadaan-Nya? Mari kita membuka hati, karena kasih-Nya selalu lebih besar daripada penolakan kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengaku bahwa seringkali hati kami keras dan menolak Engkau. Kami merasa tidak dikasihi, padahal kasih-Mu tidak pernah berkurang. Kami merasa tidak memerlukan Engkau, padahal setiap nafas kami adalah anugerah-Mu. Kadang kami meragukan keberadaan-Mu, padahal seluruh ciptaan bersaksi tentang kuasa-Mu. Ampunilah kami, ya Tuhan. Lembutkan hati kami agar senantiasa terbuka kepada-Mu. Tolong kami untuk tetap percaya, sekalipun kami tidak mengerti jalan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Sadarlah dan Berjaga-jagalah!

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8

1 Petrus 5:1–11 memberikan instruksi khusus kepada para penatua tentang cara memimpin kawanan domba Allah dengan rela, penuh semangat, dan melalui teladan mereka sendiri. Seperti mereka, kita semua harus hidup dalam kerendahan hati terhadap satu sama lain dan terhadap Allah yang menentang orang yang sombong. Dalam kerendahan hati, kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Bapa yang memelihara kita. Dalam kesiapan, kita harus tetap berpikiran jernih, waspada terhadap musuh kita, si iblis, yang berusaha menghancurkan kita. Kita tidak boleh berdiam diri, tetapi harus berani melawannya dengan berfokus untuk tetap teguh dalam iman kita dan percaya bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya.

Dalam kenyataanya, bagaimana seharusnya orang percaya hidup, percaya tentang adanya iblis yang nyata: musuh rohani kita yang punya agenda untuk mencelakai mereka? Jawaban Petrus atas pertanyaan itu dimulai dengan ayat ini: Sadarlah. Berjaga-jagalah. Ini adalah ketiga kalinya dalam surat ini Petrus mendesak para pembacanya untuk berpikiran jernih (1 Petrus 1:13; 1 Petrus 4:7). Seperti itulah, penting bagi kita untuk memperhatikan, dengan pikiran yang serius, apa yang terjadi dalam hidup kita dan di dunia di sekitar kita.

Petrus menulis bahwa ada bahaya di balik penganiayaan yang dihadapi beberapa pembacanya. Ada agenda yang mendalam, jauh melampaui agenda orang-orang yang mungkin melakukan penganiayaan itu. Iblis, bukan manusia yang mungkin mencelakai kita, adalah musuh sejati orang percaya Kristen. Iblislah yang sering memakai pria dan wanita, yang kita kenal sebagai musuh atau teman kita, untuk mencelakai kita secara jasmani maupun rohani di zaman ini, melalui berbagai cara, baik di dunia nyata maupun maya.

Kehidupan iman orang percaya memang bukanlah jalan yang selalu mulus. Ada saat-saat kita merasakan sukacita yang besar, karena kasih Tuhan begitu nyata. Namun ada pula waktu di mana kita merasa lelah, lalai, tidak peduli, tergoda, bahkan jatuh dalam dosa. Rasul Petrus menuliskan peringatan yang sangat serius kepada jemaat: ada musuh besar yang selalu mengintai, yaitu Iblis. Ia tidak mungkin nampak seperti sahabat, terapi ia adalah singa lapar yang mengaum dan mencari mangsa.

Musuh kita, iblis, ingin melahap kita, untuk menyebabkan kerusakan yang nyata. Kata Yunani di sini adalah katapiein, yang secara harfiah berarti “menelan,” atau “menenggelamkan.” Petrus telah menjelaskan bahwa tempat kita dalam kekekalan bersama Bapa kita aman. Iblis tidak dapat mengambilnya dari kita, tetapi ia berusaha merusak iman kita sementara kita hidup di dunia. Ia ingin rasa takut menggoyahkan ketundukan kita kepada Bapa, dan berdusta untuk mendistorsi pemahaman kita tentang kebaikan dan kebenaran Allah. Karena ia tidak dapat menyentuh jiwa orang percaya, iblis berusaha membuat kita menjadi orang Kristen yang lemah dan tidak efektif.

Seruan ini bukan sekadar teori. Petrus sendiri pernah mengalami kejatuhan: ia menyangkal Yesus tiga kali pada malam penangkapan. Ia tahu betul bagaimana Iblis bekerja—memanfaatkan kelengahan, ketakutan, dan kelemahan manusia. Maka, peringatan ini datang dari pengalaman pribadi, sekaligus dorongan kasih seorang gembala kepada domba-domba Kristus.

Alkitab tidak pernah menggambarkan Iblis sebagai sekadar simbol kejahatan, melainkan pribadi yang nyata. Ia adalah musuh Tuhan dan umat-Nya. Cara kerjanya sering halus, cerdik dan penuh tipu daya, dan selalu berusaha menjauhkan manusia dari Allah. Dalam pikiran, iblis menabur keraguan, ketakutan, iri hati, atau kebencian. Pikiran negatif yang dibiarkan tumbuh bisa menjadi akar dosa. Dalam perkataan, iblis bisa mendorong lidah manusia untuk menyakiti, memfitnah, atau menyebar gosip dan hoax. Dalam kesempatan lain, iblis membuat manusia menjadi takut, khawatir dan apatis, sehingga lidah manusiamenjadi kelu dan tidak dapat membantah kepalsuan dan fitnah. Padahal Amsal 18:21 berkata, “Hidup dan mati dikuasai oleh lidah, dan siapa yang suka menggemakannya akan memakan buahnya”.

Dalam perbuatan, godaan bisa datang lewat kesenangan sesaat, kompromi kecil, atau dorongan untuk mengikuti arus dunia. Ironisnya, tidak hanya dengan melakukan yang jahat kita jatuh dalam dosa, tetapi juga dengan tidak melakukan yang baik: dan ini termasuk melakukan apa yang tidak baik untuk mendapat hasil yang terlihat baik. Yakobus 4:17 menegaskan, “Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Selain itu, dalam hidup sehari-hari, bersikap diam, pasif, atau acuh ketika kita seharusnya menolong, bersaksi, atau menyatakan kebenaran—semua itu pun membuka celah bagi dosa.

Karena Iblis tidak pernah berhenti bekerja Iblis selalu “berjalan keliling.” Artinya, ia tidak pernah lelah. Ia terus mencari celah sekecil apa pun dalam hidup kita. Jika kita lengah, ia siap menerkam. Karena kita masih lemah Kita bukan manusia sempurna. Ada saat ketika hati kita panas, pikiran kacau, kuatir atau tubuh lemah. Justru di saat-saat itu, pencobaan terasa paling kuat.

Karena waktu kita singkat, setiap hari sebenarnya adalah kesempatan untuk hidup benar. Tetapi, dalam pergaulan masyarakat, ada banyak orang yang berusaha menyerang iman kita. Mereka mengkritik iman kita, menmbuat kita terlihat bodoh di hadapan orang lain karena kepercayaan kita, memfintah atau menyerang kita dengan apa yang tidak senonoh. Jika kita berdiam diri dan menyia-nyiakan waktu dengan tidur rohani, kita makin lama akan makin khawatir dan lemah sehingga kita kehilangan kesempatan untuk memuliakan Tuhan.

Seruan Paulus agar kita sadar (be sober-minded) berarti menjaga pikiran tetap jernih. Jangan biarkan diri dikuasai oleh hawa nafsu, dendam, ambisi atau rasa takut dan kekhawatiran. Kesadaran rohani membuat kita mampu melihat bahaya sejak awal. Paulus juga menyuruh kita untuk berjaga-jaga (be watchful), agar kita, sama seperti prajurit yang berjaga di malam hari, bisa berwaspada terus-menerus. Setiap keputusan kecil bisa membuka jalan menuju dosa atau ketaatan.

Berpegang pada firman Mazmur 119:11 berkata, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Firman Tuhan adalah pelita yang menuntun langkah kita di tengah kegelapan dunia. Hidup dalam doa, Yesus sendiri mengajarkan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Matius 26:41). Doa bukan sekadar rutinitas, melainkan saluran kuasa Allah yang meneguhkan kita. Bersandarlah pada Roh Kudus, karena kita tidak mampu melawan dengan kekuatan sendiri. Roh Kudus memberi kuasa untuk berkata “tidak” pada dosa dalam bentuk apa pun (Roma 8:13). Hiduplah dalam persekutuan (Ibrani 10:25) supaya kita bisa saling menguatkan, menegur, dan menopang dalam iman jika kita dihadapkan pada serangan jasmani maupun rohani dari mereka yang membenci umat Tuhan.

Banyak orang Kristen (termasuk saya sendiri) menyadari bahwa tidak jarang jatuh dalam perangkap Iblis. Kadang bukan karena ingin berbuat jahat, melainkan karena lalai. Saat diserang orang lain, mudah sekali marah. Saat pikiran kosong, mudah sekali melakukan kekeliruan. Saat takut dikritik atau takut kehilangan teman, memilih untuk diam padahal seharusnya bersuara.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk mendorong kita kembali kepada Tuhan. Sebab firman-Nya berkata, “Tetapi Allah setia dan Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1 Korintus 10:13).

Hidup orang Kristen adalah perjalanan penuh perjuangan. Iblis memang nyata, tetapi kemenangan kita pun nyata dalam Kristus. Kuncinya adalah sadar, berjaga-jaga, dan selalu melekat pada Tuhan. Jangan memberi kesempatan kepada si jahat, sekecil apa pun.

Pertanyaan Reflektif:

  • Apakah kita sedang lengah terhadap tipu daya duniawi?
  • Apakah ada area hidup kita yang sengaja kita biarkan bebas tanpa pengawasan rohani?
  • Apakah kita memilih diam, padahal seharusnya bertindak dalam kasih dan kebenaran?

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Engkau mengingatkan kami bahwa musuh kami, si Iblis, terus mengintai seperti singa yang lapar. Ampunilah kami bila sering lengah, bila kami jatuh dalam dosa karena pikiran, perkataan, atau perbuatan kami. Bahkan ketika kami memilih diam, kami sadar itu pun bisa menjadi dosa.

Tolonglah kami, ya Roh Kudus, untuk selalu sadar dan berjaga-jaga. Ajari kami hidup dalam firman, dalam doa, dan dalam persekutuan dengan sesama. Tuntunlah langkah kami supaya kami tidak jatuh ke dalam pencobaan. Kami percaya, bersama-Mu, kami lebih dari pemenang.

Dalam nama Yesus Kristus, Sang Pemenang, kami berdoa. Amin.

Ukuran Kesuksesan Anak dalam Terang Firman Tuhan

“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” Matius 4:4

Di dunia modern ini, ukuran kesuksesan sering kali ditentukan oleh pencapaian yang dapat dilihat dengan mata: nilai rapor yang tinggi, gelar pendidikan, jabatan penting, gaji besar, atau harta berlimpah. Banyak orang tua merasa bangga bila anaknya mencapai hal-hal tersebut. Namun, Alkitab mengingatkan kita bahwa standar Allah berbeda dari standar manusia.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk melihat kesuksesan anak bukan dari apa yang mereka miliki, tetapi dari bagaimana mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah ukuran kesuksesan sejati yang tidak lekang oleh waktu.

Alkitab menegaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan berlalu. Amsal 23:4–5 berkata: “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkanlah niatmu ini. Apabila engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia membuat sayap bagi dirinya, seperti rajawali yang terbang ke angkasa.” Artinya, harta, gelar, dan jabatan bukanlah dasar yang kokoh untuk mengukur kesuksesan. Dunia bisa memberi penghargaan sementara, tetapi hanya Tuhan yang dapat memberikan mahkota kehidupan yang kekal.

Kesuksesan sejati adalah ketika hidup anak-anak kita berakar dalam firman Tuhan, menghasilkan buah yang baik, dan menjadi berkat bagi sesama.

Yesus mengutip Ulangan 8:3 ketika berkata bahwa manusia hidup dari firman Tuhan. Roti memang penting untuk tubuh, tetapi firman Tuhan lebih penting untuk jiwa. Anak-anak yang dibekali dengan firman sejak kecil akan memiliki dasar yang kuat menghadapi tantangan hidup. Paulus mengingatkan Timotius: “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Timotius 3:15).

Kesuksesan anak tidak lepas dari peran orang tua. Firman Tuhan di Ulangan 6:6–7 menegaskan bahwa firman harus diajarkan kepada anak-anak, dibicarakan di rumah, di jalan, waktu berbaring, dan bangun. Itu berarti, orang tua bukan hanya pengajar, tetapi juga teladan dalam hidup sehari-hari. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat pada orang tuanya ketimbang dari apa yang mereka dengar. Amsal 22:6 berkata: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Kesuksesan rohani adalah investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada warisan materi. Anak yang belajar dari orang tuanya dalam hidup takut akan Tuhan, sekalipun sederhana, tetap lebih mulia di mata Allah daripada anak yang kaya raya tetapi hidup menjauh dari-Nya.

Kesuksesan yang sejati bukanlah soal “apa yang mereka miliki,” tetapi “siapa yang mereka ikuti.” Jika mereka mengikuti Kristus, hidup mereka sudah mencapai ukuran keberhasilan sejati.

Kesuksesan sejati anak-anak kita adalah bila mereka bisa dan mau hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dunia mungkin menilai mereka rendah bila tidak memiliki kekayaan atau jabatan tinggi. Namun, di mata Allah, seorang anak yang hidup dalam ketaatan adalah berharga dan mulia.

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33

Pertanyaan Reflektif:

  • Ketika melihat anak-anak kita, apa yang membuat kita merasa bangga? Apakah karena mereka berhasil dalam karier, atau karena mereka setia dalam iman?
  • Apakah anak-anak kita sudah mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi? Apakah mereka hidup sesuai dengan firman Tuhan? Apakah mereka mau menjadi berkat di manapun Tuhan tempatkan?

Doa Penutup:

Bapa di surga, kami bersyukur untuk anak-anak dan cucu yang Engkau percayakan kepada kami. Ampuni bila selama ini kami sering menilai kesuksesan mereka berdasarkan ukuran dunia. Ajarlah kami untuk menanamkan firman-Mu dalam hati mereka sejak kecil, dan jadikanlah kami teladan yang hidup bagi mereka. Kiranya mereka tumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan, hidup sesuai kehendak-Mu, dan menjadi berkat bagi banyak orang. Kami percaya, inilah ukuran kesuksesan sejati di mata-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin.

Mengenal Tuhan, Melihat Alam,dan Hidup dalam Syukur

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Mazmur 19:2

Saya teringat bahwa pada waktu saya masih kecil, saya bertanya kepada ayah saya bagaimana beliau bisa yakin bahwa dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Beliau menjawab bahwa karena segala benda yang kita gunakan sehari-hari pasti ada penciptanya, begitu pula alam semesta yang indah ini pasti ada Penciptanya. Jawaban ayah saya ini terdengar cukup masuk akal pada saat itu, tetapi sesudah saya dewasa terasa kurang memuaskan. Mengapa? Karena saya melihat bahwa ada banyak orang yang kagum atas keindahan alam dan sadar betapa besarnya alam semesta ini, tetapi mereka tidak percaya bahwa semua itu diciptakan oleh Tuhan. Bahkan ada agama tertentu yang mengajarkan adanya Tuhan, tetapi menyatakan bahwa alam semesta ini ada begitu saja dari awal sampai akhirnya.

Alkitab menunjukkan bahwa sekadar melihat keindahan alam tidak serta merta menuntun setiap orang kepada Tuhan. Sebaliknya, banyak orang berhenti pada kekaguman kepada alam itu sendiri, tanpa pernah mengenal Pencipta yang sejati. Bahkan, ada yang menjadikan alam sebagai objek penyembahan. Inilah yang Paulus tegaskan dalam Roma 1:25: “Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk dengan melupakan Sang Pencipta yang harus dipuji selama-lamanya.”

Oleh karena itu, lebih tepat bila kita berkata: “Jika kita percaya kepada Tuhan, kita akan selalu bersyukur atas keindahan ciptaan-Nya.” Iman mendahului syukur. Tanpa iman, keindahan alam bisa membuat orang terpesona tetapi tetap kosong secara rohani. Dengan iman, kita melihat keindahan itu sebagai bukti kasih setia Allah, dan hati kita terdorong untuk bersyukur. Jadi yang paling penting adalah pernyataan Alkitab: Iman datang dari Tuhan.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Mazmur 19:2 di atas berkata: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Pemazmur yang percaya kepada Allah melihat langit sebagai saksi bisu yang berkhotbah tanpa suara, namun menyampaikan pesan yang sangat kuat tentang kebesaran Allah.

Keindahan alam memang seperti sebuah “kitab terbuka” yang dapat dibaca siapa saja. Daun yang berfotosintesis, burung yang bernyanyi di pagi hari, atau pelangi yang muncul setelah hujan—semuanya adalah tanda kebesaran Pencipta. Bahkan Yesus sendiri mengajak murid-murid-Nya untuk belajar dari alam: “Perhatikanlah bunga bakung di ladang, … perhatikanlah burung di udara” (Matius 6:26–28). Namun, masalahnya bukan pada “kitab alam”, melainkan pada “pembacanya”. Tanpa iman, manusia bisa salah membaca. Alam yang seharusnya menunjuk kepada Tuhan, malah dipandang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Inilah yang terjadi dalam penyembahan berhala di sepanjang sejarah manusia. Alam dipuja, tetapi Sang Pencipta dilupakan.

Banyak orang modern yang kagum akan alam, tetapi tidak mengenal Tuhan. Mereka bisa mengagumi matahari terbenam di Bali, pegunungan Alpen yang megah, atau terumbu karang di Raja Ampat. Mereka bahkan bisa menulis puisi dan melukis karya seni dari kekaguman itu. Namun, kekaguman semacam ini belum tentu membawa mereka kepada Allah.

Seorang ilmuwan astronomi bisa mempelajari jutaan galaksi dan mengagumi keteraturannya, tetapi tetap berkata, “Semua ini terjadi karena kebetulan kosmik.” Seorang naturalis bisa menulis tentang keindahan hutan tropis, tetapi tetap percaya bahwa kehidupan hanyalah hasil evolusi buta. Tanpa iman, keindahan alam memang bisa disalahartikan. Alam dilihat hanya sebagai objek eksploitasi, atau malah dipuja sebagai “ibu bumi”. Akibatnya, manusia berhenti pada ciptaan dan peran manusia, bukan Sang Pencipta.

Sebaliknya, orang yang percaya kepada Tuhan memandang alam dengan kacamata yang berbeda. Ia tidak hanya melihat pohon, laut, atau gunung sebagai fenomena alamiah, melainkan sebagai karya kasih Allah. Keindahan alam bukan tujuan akhir, tetapi jendela yang menyingkapkan wajah Sang Pencipta. Ketika seorang percaya melihat matahari terbit, ia berkata dalam hatinya: “Inilah karya Allah yang setia, yang membuat matahari terbit bagi orang baik maupun orang jahat.” (Matius 5:45). Ketika ia mendengar kicau burung, ia teringat akan janji Allah: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.” (Matius 10:29).

Iman menuntun kita untuk menghubungkan setiap keindahan dengan Allah. Dari sinilah lahir syukur yang sejati. Syukur bukan hanya karena “indahnya pemandangan”, tetapi karena “Allah yang setia” yang mengizinkan kita menikmatinya. Rasa syukur bukan sekadar ucapan spontan ketika kita melihat sesuatu yang indah. Syukur adalah sikap hidup yang terus-menerus. Paulus berkata: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Artinya, syukur tidak hanya muncul ketika langit cerah atau bunga bermekaran, tetapi juga ketika hidup menghadapi badai. Orang percaya tetap dapat bersyukur, sebab ia tahu bahwa di balik segala sesuatu, ada Allah yang berdaulat. Orang yang percaya kepada Tuhan dapat tetap bersyukur, karena ia yakin Allah hadir di tengah kekacauan itu. Syukur tidak bergantung pada situasi, tetapi pada iman akan kasih Allah.

Bagaimana kita bisa melatih diri untuk melihat alam dengan iman? Kita harus merenungkan Firman ketika melihat alam. Misalnya, saat melihat langit malam, bacalah Mazmur 8:4: “Jika aku melihat langit-Mu, … apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya?” Kita juga bisa berdoa singkat di tengah kekaguman. Saat melihat pelangi, ucapkan doa singkat: “Terima kasih Tuhan, Engkau setia pada janji-Mu.” Kita juga harus tetap mengajarkan Firman kepada anak-cucu. Ketika bersama cucu di taman, ajak mereka berkata: “Tuhan yang menciptakan bunga ini begitu indah.” Dengan demikian, generasi berikutnya belajar menghubungkan alam dengan Tuhan.

Keindahan alam memang mempesona, tetapi tidak otomatis membawa orang kepada Tuhan. Tanpa iman, kekaguman kepada alam bisa berhenti pada ciptaan, atau bahkan berubah menjadi penyembahan berhala atau kesombongan atas kemampuan manusia. Karena itu, mari kita terus melatih diri melihat alam dengan mata iman. Mari kita bersyukur bukan hanya karena alam itu indah, tetapi karena Allah yang penuh kasih hadir melalui ciptaan-Nya. Sehingga setiap kali kita melihat langit biru, bunga mekar, atau matahari terbit, hati kita berkata: “Terima kasih Tuhan, Engkau baik, dan kasih setia-Mu nyata dalam segala ciptaan.”

Doa Penutup:

Tuhan, ajarilah kami untuk melihat alam dengan mata iman. Jangan biarkan kami berhenti hanya pada kekaguman, tetapi tuntunlah kami kepada syukur dan pujian bagi-Mu. Terima kasih atas keindahan ciptaan-Mu yang mengingatkan kami pada kasih setia-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.

Apakah tujuan boleh menghalalkan cara?

“Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: ”Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” Roma 3:8

Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya bergantung pada apa tujuan atau sasarannya dan cara apa yang digunakan untuk mencapainya. Jika tujuannya baik dan mulia, dan cara yang kita gunakan untuk mencapainya juga baik dan mulia, maka tujuan memang menghalalkan cara tersebut. Namun bukan itu yang dimaksudkan kebanyakan orang ketika mereka menggunakan ungkapan tersebut.

Kebanyakan orang menggunakan frasa itu sebagai alasan untuk mencapai tujuan mereka melalui cara apa pun yang diperlukan, tidak peduli betapa tidak bermoral, ilegal, atau tidak menyenangkannya cara tersebut. Arti dari ungkapan tersebut biasanya seperti: “Tidak masalah bagaimana Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan, selama Anda mendapatkannya.”

Ajaran ini bukan saja ada dalam masyarakat, tapi juga dalam agama tertentu yang mengajarkan bahwa setiap orang memetik apa yang diperbuatnya. Ini prinsip alami. Jika seseorang berbuat apa yang baik – yang mengurangi penderitaan sesamanya atau memperbaiki keadaan orang lain – ia akan mendapat pahala. Masalahnya, umtuk mencapai apa yang “baik” itu, tidak ada keharusan untuk menggunakan cara yang baik. Karena itu, orang mungkin melakukan kebohongan “kecil”, menyuap, dan hal-hal lain yang bisa dikatakan dosa, untuk bisa memperoleh apa yang bermanfaat bagi orang lain. Ini bisa terjadi karena dalam ajaran agama itu, Tuhan tidak ikut campur tangan dalam kehidupan manusia.

Frasa “tujuan menghalalkan cara” biasanya melibatkan tindakan yang salah untuk mencapai tujuan yang positif dan membenarkan tindakan yang salah dengan menunjukkan hasil yang baik. Contohnya adalah berbohong dalam resume untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dan membenarkan kebohongannya dengan mengatakan bahwa penghasilan yang lebih besar akan memungkinkan si pembohong untuk menafkahi keluarganya dengan lebih baik. Alasan lain mungkin membenarkan aborsi bayi demi kebebasan ibunya. Berbohong dan menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah keduanya salah secara moral, namun menafkahi keluarga dan menyelamatkan nyawa seorang wanita adalah benar secara moral. Lalu, bagaimana ajaran Kristen tentang hal ini?

Dalam ayat di atas, Paulus menjawab tuduhan fitnah dari beberapa penuduhnya yang mengatakan bahwa hasil logis dari ajaran Paulus adalah untuk memprovokasi orang agar berbuat dosa lebih banyak demi menghasilkan lebih banyak kebaikan: “Mengapa tidak berbuat jahat, supaya kebaikan datang?” Paulus menggambarkan hal ini sebagai argumen manusiawi (Roma 3:5). Argumen yang jelas tidak masuk akal.

Sesuai dengan ajaran Paulus, orang Kristen percaya bahwa mereka diselamatkan bukan karena perbuatan mereka, tetapi semata-mata karena kemurahan Tuhan. Hal ini, sampai sekarang, sering menimbulkan kesan kepada banyak orang bahwa orang Kristen tidak perlu menjalani hidup yang baik, karena anugerah Tuhan pasti lebih besar dari dosa orang percaya. Lebih ekstrem lagi, mereka menuduh bahwa orang Kristen bebas untuk berbuat jahat karena mereka percaya bahwa kasih Tuhan adalah mahabesar.

Sebenarnya, ini adalah ide yang begitu bodoh sehingga Paulus bahkan tidak mau repot-repot memperdebatkannya, setidaknya tidak sekarang. Fakta bahwa Allah tetap adil dan setia dalam menghadapi keberdosaan manusia tidak berarti bahwa Allah ingin manusia semakin berdosa. Ini berarti bahwa Ia konsisten dengan natur-Nya sendiri.

Alih-alih memperdebatkan hal ini lebih lanjut, Paulus hanya mengatakan hal ini tentang mereka yang menuduhnya menyuruh orang untuk terus berbuat dosa: “Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.” Dengan kata lain, mereka yang menghalalkan segala cara pantas menerima murka Allah. Ia akan kembali membahas tantangan ini secara lebih rinci dalam Roma 6:

“Jadi, sekarang, apa yang akan kita katakan? Apakah kita akan terus berbuat dosa supaya Allah semakin memberikan kita anugerah?” ‭‭Roma‬ ‭6‬:‭1‬‬

Dilema tujuan dan cara adalah skenario yang populer dalam diskusi etika. Biasanya, pertanyaannya seperti ini: “Jika Anda bisa menyelamatkan dunia dengan membunuh seseorang, apakah Anda akan melakukannya?” Jika jawabannya adalah “ya”, maka hasil yang benar secara moral membenarkan penggunaan cara-cara yang tidak bermoral untuk mencapainya. Namun ada tiga hal berbeda yang perlu dipertimbangkan dalam situasi seperti ini: moralitas tindakan, moralitas hasil, dan moralitas orang yang melakukan tindakan. Orang Kristen bukannya orang yang tidak mementingkan hal moral, tetapi justru sangat berhati-hati dalam melangkah dalam hidup.

Tentu saja dari sudut pandang alkitabiah, yang diabaikan dari pembahasan ini adalah karakter Tuhan, hukum Tuhan, dan pemeliharaan Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, adil, penyayang dan benar, maka siapa pun yang menyandang nama-Nya harus mencerminkan tabiat-Nya (1 Petrus 1:15-16). Pembunuhan, kebohongan, pencurian, dan segala bentuk perilaku berdosa adalah ekspresi dari sifat dosa manusia, bukan sifat Tuhan. Bagi orang Kristen yang sifatnya telah diubah oleh Kristus (2 Korintus 5:17), tidak ada pembenaran atas perilaku tidak bermoral, tidak peduli motivasi atau akibat yang ditimbulkannya. Memang kita tidak diselamatkan karena bermoral baik, tetapi jika kita sudah diselamatkan, tentunya kita mengerti mengapa kita harus taat kepada hulum-Nya.

Dari Tuhan yang kudus dan sempurna ini, kita mendapatkan hukum yang mencerminkan sifat-sifat-Nya (Mazmur 19:7; Roma 7:12). Sepuluh Perintah Allah memperjelas bahwa pembunuhan, perzinahan, pencurian, kebohongan dan keserakahan tidak dapat diterima di mata Tuhan dan Dia tidak membuat “klausa pelarian” untuk motivasi atau rasionalisasi. Perhatikan bahwa Dia tidak berkata, “Jangan membunuh, kecuali dengan melakukan hal itu kamu akan menghasilkan sesuatu yang baik”. Ini disebut “etika situasional”, dan hal ini tidak terdapat dalam hukum Tuhan. Jadi, jelas sekali, dari sudut pandang Allah tidak ada tujuan yang menghalalkan cara untuk melanggar hukum-Nya.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang siap melakukan hal-hal yang kurang baik dengan alasan “demi kemuliaan Tuhan”. Untuk mencapai tujuan gereja, mungkin orang bersedia untuk berbohong. Mungkin, orang berkata: “Jika kita jujur, tidak ada gereja baru yang bisa didirikan”. Atau, “jika kita tidak berani mengambil jalan pintas, kita tidak akan memcapai tujuan”. Dalam diskusi mengenai hal-hal semacam ini, kita harus sadar akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak sekadar menciptakan dunia, mengisinya dengan manusia, dan kemudian membiarkan mereka bekerja sendiri tanpa pengawasan dari-Nya. Sebaliknya, Tuhan mempunyai rencana dan tujuan bagi umat manusia yang telah Dia wujudkan selama berabad-abad.

Hari ini kita belajar bahwa mereka yang tidak mengenal Tuhan atau percaya kepada tuhan yang keliru, mungkin mau menghalalkan segala cara mereka untuk mencapai tujuan mereka. Wlaupun demikian, mereka yang mengaku sebagai anak-anak Tuhan tidak punya alasan apa pun untuk melanggar perintah Tuhan dalam usaha untuk mencapai tujuan mereka.

Hal berdebat dengan orang yang menentang Tuhan

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak.” Amsal 26:4-5

Amsal 26:1–12 sebagian besar merupakan serangkaian pernyataan negatif yang blak-blakan tentang “orang bebal”; kata tersebut muncul di semua ayat kecuali satu. Amsal 26 sebenarnya mencakup tiga bagian utama. Bagian pertama berulang kali merujuk pada “orang bebal,” yang berarti seseorang yang tidak memiliki hikmat ilahi (Amsal 1:7). Bagian kedua memperingatkan agar tidak bermalas-malasan. Bagian ketiga mengutuk konflik yang ceroboh, kebohongan, dan memperingatkan tentang mereka yang menutupi kebencian mereka dengan kata-kata. Beberapa pernyataan dalam bagian ini mengulangi atau menggemakan pernyataan lain dalam kitab Amsal.

Apa arti Amsal 26:4? Bagian dari dua bagian pelajaran ini (Amsal 26:5) menggunakan frasa “menurut” yang berarti “dengan cara”. Meniru sikap, tingkah laku, atau pendekatan orang yang bebal tidaklah bijaksana. Sebuah peribahasa Inggris modern yang terkait menasihati, “don’t wrestle with pigs, since you only get dirty and the pig enjoys it“yang bisa diterjemahkan “jangan bergulat dengan babi, karena engkau hanya akan menjadi kotor dan babi menikmati hal itu.”

Dalam kitab Amsal, “kebebalan” bukan sekadar kebodohan, tetapi berarti penolakan terhadap Allah dan kebenaran-Nya (Amsal 1:7). Hinaan, kebohongan, tipu daya, amarah, kepicikan, dan hal-hal lainnya adalah kebodohan manusia zaman ini yang sering muncul dalam berbagai media dan pergaulan sehari-hari dan ini tidak boleh ditiru. Jika kita membiarkan diri kita diseret ke tingkat itu, kita melakukan hal yang tidak bijaksana, dan juga tidak saleh.

Yesus menjawab banyak pertanyaan, terkadang mencerminkan gaya orang yang bertanya (Matius 12:1–8; 19:21; Yohanes 3:10; 4:16). Namun, Yesus tidak menanggapi hinaan dengan hinaan, atau kebohongan dengan kebohongan. Ketika para pengkritik-Nya bersikap tidak adil atau tidak baik, Yesus bisa bersikap tegas—bahkan keras (Yohanes 9:40-41; Matius 22:18). Namun, Ia tidak menggunakan taktik bodoh yang sama seperti mereka yang menyerang-Nya. Ia juga tidak repot-repot menjawab ketika pertanyaan itu sendiri tidak tulus. Ketika Herodes mencoba memaksa Yesus untuk melakukan mukjizat, Yesus menolak untuk menjawab sama sekali (Lukas 23:8-9). Herodes tidak membutuhkan tanda untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pertanyaan Herodes adalah dangkal dan mengejek, dan karena itu tidak perlu ditanggapi.

Ayat 4 dan 5 tampak seperti pernyataan yang kontradiktif. Dan, pada kenyataannya, keduanya memang menyarankan tindakan yang berlawanan. Namun, konteks masing-masing sedikit berbeda; pelajaran yang dimaksudkan adalah tentang kapan harus diam dan kapan harus berbicara. Bahkan, kita dapat menganggapnya sebagai dua bagian dari satu peribahasa. Sepasang pernyataan ini memberikan contoh yang sangat baik tentang Kitab Suci yang menyajikan ketegangan di antara dua ekstrem. Pembacaan yang ceroboh—terutama di luar konteks—dapat mengartikan hal ini sebagai kontradiksi. Di sini, tentu saja, frasa-frasa tersebut ditulis bersama, sehingga makna yang dimaksudkan lebih mudah dipahami.

Cara lain untuk membedakan ayat 4 dan 5 adalah dengan memperhatikan bahwa ada perbedaan antara memberikan jawaban “dalam” kebodohan, dibandingkan dengan memberikan jawaban “untuk” kebodohan. Meniru sesuatu yang tidak bijaksana itu tidak baik, tapi mengoreksi sesuatu dengan hikmat itu baik.

Hikmat dan pengetahuan menjadikan seseorang bijaksana. Hal ini sebagian berarti seseorang dapat mencapai lebih banyak hal melalui hikmat dan pemikiran yang cermat, dibandingkan dengan hanya menggunakan kekuatan atau usaha yang kasar. Seseorang yang teguh dalam kebenaran dan hikmat (Amsal 2:1-13) lebih siap untuk mengambil keputusan yang terbaik (Amsal 3:21-23). ​​Demikian pula, orang yang mengumpulkan hikmat banyak orang lebih mungkin menemukan solusi yang tepat untuk masalah mereka (Amsal 15:22).

Orang yang benar-benar bijaksana tidak mengandalkan kekuatannya sendiri untuk meraih kemenangan atas tantangan dari mereka yang melawan Tuhan. Ia percaya kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan. Pemazmur bertanya, “Dari manakah datangnya pertolonganku?” (Mazmur 121:1). Ia menjawab, “Pertolonganku datangnya dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mazmur 121:2).

Sampai di manakah kita harus berjuag untuk menginsafkan mereka yang bebal? Dalam hal ini, dalam Markus 6:11, Yesus berkata, “Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Mengibaskan debu dari kaki seseorang menyampaikan ide yang sama dengan frasa modern kita “Saya mencuci tangan saya darinya.” Mengibaskan debu dari kaki adalah indikasi simbolis bahwa seseorang telah melakukan semua yang dapat dilakukan berdasarkan kebijakan dalam suatu situasi dan oleh karena itu tidak memiliki tanggung jawab lebih lanjut untuk itu.

Dalam contoh-contoh alkitabiah, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka harus memberitakan Injil kepada semua orang. Di mana mereka diterima dengan sukacita, mereka harus tinggal dan mengajar. Namun, jika pesan mereka ditentang oleh mereka yang bebal, mereka tidak memiliki tanggung jawab lebih lanjut. Mereka bebas untuk pergi dengan hati nurani yang bersih, mengetahui bahwa mereka telah melakukan semua yang dapat mereka lakukan. Ini adalah hal yang bijaksana,

Mengibaskan debu dari kaki mereka, pada dasarnya, mengatakan bahwa mereka yang menolak kebenaran Tuhan tidak akan diizinkan untuk terus menerus menghalangi kemajuan Injil. Makna spiritual dari seorang murid Yesus yang mengibaskan debu dari kakinya adalah pernyataan final kepada orang-orang yang telah diberi kebenaran dan yang telah menolaknya. Sebagai murid Tuhan yang bijaksana, mereka tidak terjebak kedalam pertikaian atau perbantahan yang berkelanjutan dan tidak ada gunanya.

Ada situasi-situasi dalam hidup kita di mana Tuhan memanggil kita untuk berdiri teguh, memberitakan kebenaran, dan memberikan kesaksian yang sabar agar mereka menyadari kebebalan mereka. Terkadang kita harus melanjutkannya dengan cara yang baik sampai kita melihat hasil dari kesaksian tersebut. Di saat yang lain, Tuhan memberi kita kebebasan untuk menyerahkan orang-orang itu kepada Tuhan dan secara emosional melepaskannya. Kemudian kita memiliki kebebasan untuk melangkah ke tahap pelayanan berikutnya. Perintah Yesus untuk “mengebaskan debu dari kaki kita” mengingatkan kita bahwa kita hanya bertanggung jawab atas ketaatan kita kepada Tuhan, bukan atas hasil dari ketaatan tersebut. Kita tidak perlu menjawab orang yang mau hidup dalam kebodohannya. Setiap orang pada akhirnya harus mempertanggungjawabkan hidup mereka kepada Tuhan.

Apa Tujuan Hidup Anda?

“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.” Mazmur 146: 2

Alkitab mengatakan bahwa Allah menjadikan manusia ‘menurut gambar-Nya’. Itu bukan tentang keserupaan fisik – ini mengacu pada kualitas lain seperti memiliki hati nurani dan mengetahui perbedaan antara benar dan salah; memiliki kapasitas untuk mencintai; memiliki keinginan akan keadilan; dan memiliki kreativitas yang luar biasa. Kemampuan lain yang membedakan kita dari ciptaan alam semesta lainnya adalah bahwa kita mampu menjalin hubungan dengan Tuhan sendiri.

Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia memiliki kebebasan dan kuasa yang membuatnya mampu menghendaki dan melakukan apa yang baik dan berkenan dan kepada Allah. Tetapi karena dosa, manusia sama sekali kehilangan kemampuan menghendaki apa yang baik. Kita bisa melihat bahwa dunia ini sekarang penuh dengan hal-hal yang buruk: korupsi, penistaan, penganiayaan, pembunuhan dan sebagainya. Manusia sendiri tidak berdaya untuk mengubah semua yang jahat menjadi apa yang baik.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Allahlah membuat kita bertobat dan memindahkan kita ke kedudukan sebagai seorang yang telah beroleh rahmat, Dia membebaskan kita dari perhambaan dosa dan oleh rahmat-Nya semata-mata menjadikan kita mampu lagi untuk menghendaki dan melakukan apa yang baik secara rohani. Akan tetapi, karena kerusakan yang masih tinggal pada diri kita, kita tidak selalu menghendaki apa yang baik itu secara sempurna, tetapi sering juga menghendaki apa yang jahat. Itu berarti bahwa dalam hidup kita harus selalu berjuang untuk menjalani hidup baru dengan bimbingan Roh Kudus. Itu karena sebagai orang yang sudah diselamatkan, tujuan hidup kita harus berubah dari apa yang kita punyai sebelum bertobat.

Jika demikian, apakah tujuan hidup atau purpose of life Anda? Tujuan utama hidup manusia, menurut Alkitab, adalah memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya, yang mencakup bertumbuh dalam hubungan dengan-Nya melalui iman kepada Yesus Kristus, mencerminkan kasih-Nya kepada sesama, dan menemukan pemenuhan tujuan-Nya bagi hidup seseorang. Ini mencakup hidup untuk meninggikan dan menyembah Allah, menikmati Dia sebagai harta, dan berpartisipasi dalam rencana-Nya untuk mewujudkan Kerajaan Allah dan mengubah hidup melalui kasih karunia-Nya.

Aspek-Aspek Utama Tujuan Hidup:

  • Memuliakan Allah:
    Manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah, artinya meninggikan, mengagungkan, dan menyembah-Nya dengan segala yang mereka lakukan.
  • Menikmati Allah:
    Menikmati Allah dicapai dengan memandang-Nya sebagai sumber sukacita tertinggi, menyadari pentingnya Dia dalam segala aspek kehidupan.
  • Hidup dalam Hubungan dengan Allah:
    Tujuan utamanya adalah bertumbuh dalam persekutuan yang intim dengan Allah, yang dipulihkan melalui iman kepada Yesus Kristus.
  • Merefleksikan Karakter Allah:
    Dengan mengenal dan menikmati Allah, setiap individu dapat mencerminkan terang dan karakter kasih-Nya kepada sesama di dunia.
  • Melayani Sesama:
    Dengan mengasihi dan melayani sesama, kita menunjukkan kebaikan dan pengampunan sebagaimana yang telah Allah tunjukkan kepada kita.
  • Mencari Kerajaan Allah:
    Alkitab mendorong kita untuk berfokus menaati Firman Tuhan dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsipnya, yang menuntun pada kepuasan rohani dan transformasi hidup.

Apakah Anda sudah mencapai tujuan hidup Anda? Hanya Anda yang bisa menjawab. Anda bisa memeriksa hidup Anda sendiri. Reality check untuk apa yang sudah Anda capai secara jasmani mudah dilakukan, tetapi bukan itu saja yang dituju dalam hidup manusia. Penulis Mazmur di atas menyatakan keinginannya untuk memuliakan Tuhan selama ia hidup, dan bermazmur bagi Dia selagi  masih bisa. Memuliakan Tuhan dan memuji Dia adalah suatu sikap yang harus diambil setiap orang Kristen dan seharusnya menjadi tujuan hidup kita juga. Tujuan hidup yang indah  ini seringkali lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan dalam kesibukan sehari-hari. Sekalipun sebagai orang percaya kita mungkin ingin hidup seperti pemazmur, bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan bermazmur untuk Dia sepanjang waktu dalam hidup kita?

Untuk bisa mempunyai hidup yang memuliakan dan memuji Tuhan, tidaklah cukup dengan pergi ke gereja setiap minggu, atau aktif dalam kegiatan gereja. Jika itu adalah tujuan hidup kita, kita harus bisa melakukannya setiap saat. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat mencapai tujuan ini secara rohani, melalui perenungan, pemikiran, dan perasaan. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya. Jika kita memang ingin untuk memuliakan dan memuji Tuhan di setiap waktu, itu berarti bahwa apa  saja yang kita kerjakan sehari-hari harus bisa menyatakan hal itu. Tujuan hidup orang Kristen bukan sekedar konsep rohani, tetapi sesuatu yang nyata.

Pagi ini, ayat di atas menantang kita untuk berpikir dalam-dalam. Jika kita memang mengasihi Tuhan dan sesama kita, apakah yang kita kerjakan hari ini yang bisa membuktikan hal itu? Jika kita ingin memuliakan dan memuji Tuhan, apakah yang bisa kita lakukan pada setiap saat dalam hidup kita? Mungkin kita berpikir bahwa tidak ada hal-hal yang signifikan yang bisa kita lakukan dalam hidup kita saat ini. Mungkin karena umur, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau lingkungan, kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal-hal yang “besar”. Tetapi, memuji Tuhan dan memuliakan-Nya tidak harus berarti berbuat sesuatu yang hebat dalam pandangan manusia. Tujuan hidup kita ini bisa dicapai dalam keadaan apa pun kalau saja kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, kita bisa melakukannya untuk memuji-Nya.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Setiap Orang Pernah Korupsi

“Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” Keluaran 23:8

Masalah korupsi baru-baru ini hangat dibicarakan di media. Ada berbagai berita yang muncul mengenai tertangkapnya si A atau si B karena menggelapkan uang negara, tetapi berita semacam ini sudah bukan berita yang mengejutkan. Walaupun demikian, yang membuat prihatin adalah perkiraan publik bahwa koruptor yang belum ditemukan adalah jauh lebih banyak jumlahnya dari apa yang bisa ditemukan.

Di zaman ini, korupsi bisa berupa penyalahgunaan uang, waktu, posisi, wewenang, dan berbagai sumber daya untuk keuntungan pribadi. Tetapi, secara umum korupsi adalah melakukan apa yang tidak benar. Lebih dari itu, korupsi dalam Alkitab adalah keadaan kontaminasi moral dan pembusukan rohani yang diungkapkan melalui ketidaktaatan kepada Allah.

Dalam kitab Kejadian, Allah berfirman kepada Adam bahwa, jika ia memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ia “pasti akan mati” (Kejadian 2:17). Sebagai hukuman, Adam tidak mati secara jasmani pada hari itu, melainkan secara rohani yang melibatkan keterpisahan dari Allah (Efesus 2:1-3). Dosa yang membawa pencemaran dan pembusukan bagi Adam dan Hawa, juga mempengaruhi kodrat manusia setiap orang yang lahir setelahnya (Roma 5:12).

Korupsi mungkin sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Dari pungutan kecil di jalan, “uang rokok” untuk memperlancar urusan, “uang pelicin” untuk proyek kecil, hingga proyek besar bernilai triliunan rupiah. Banyak yang menganggapnya wajar dan praktis. Bahkan ada yang merasa tidak bisa hidup tanpa itu. Namun bagi orang Kristen, inilah tantangan iman yang nyata: berani hidup tanpa korupsi di tengah budaya korupsi. Ini termasuk cara orang tua Kristen mendidik anak-anaknya untuk menghindari korupsi dalam segala bentuknya, karena segala bentuk korupsi membutakan mata manusia dan memutarbalikkan kebenaran.

Hidup tanpa korupsi berarti hidup dengan integritas. Itu artinya menolak penggunaan uang pelicin dan hal-hal yang tidak etis atau tidak bermoral baik, meskipun dianggap “aneh” atau bahkan “bodoh” oleh orang lain. Itu artinya bersaksi melalui perbuatan, menunjukkan bahwa berkat sejati tidak datang dari kecurangan, melainkan dari Allah yang mencukupkan. Itu juga menunjukkan kerelaan untuk “kalah” daripada “menang” melalui cara yang tidak juur. Ini tidaklah mudah untuk diterapkan.

Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Itu menyatakan bahwa setiap orang pernah melakukan korupsi dalam hidupnya. Mungkin kita belum pernah menyalahhgunakan atau mencuri dana perusahaan atau melakukan penyuapan; tetapi seperti yang kita pelajari di atas, korupsi adalah segala tindakan yang menyalahgunakan berkat Tuhan dan melawan apa yang dikehendaki-Nya. Seperti apa yang ditulis ayat pembukaan dalam Keluaran 23:8, segala bentuk korupsi akan membuat mata manusia buta akan keadilan Tuhan.

Kita harus berani mengaku salah, dan mau bertobat. Kita harus menjalani hidup baru yang berlandaskan integritas dalam Kristus. Integritas bukanlah kemewahan, melainkan panggilan. Yesus sendiri hidup tanpa kompromi meski harus menanggung salib. Tidak semua rejeki itu berkat. Kalau didapat dari korupsi, itu adalah jerat. Alkitab berkata: “Pencuri tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus” (Efesus 5:5). Kesaksian lebih lantang daripada kata-kata. Hidup tanpa korupsi memang bisa lebih sulit di dunia ini, tapi janji Tuhan jelas: “Carilah dahulu Kerajaan Allah… maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Ketika kita mengenal Yesus Kristus, kita memulai hubungan pribadi dengan-Nya. Semakin bertumbuh hubungan itu, semakin baik kita memahami siapa Yesus dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Kita mulai memahami apa yang telah dicapai oleh kuasa ilahi-Nya bagi kita. Salah satu janji Yesus kepada kita adalah pelayanan Roh Kudus yang memberdayakan dan menyucikan dalam kehidupan setiap orang percaya (Yohanes 14:15-17). Roh Kudus memberi kita kuasa untuk menaati Allah, membalikkan kutukan kebinasaan, dan menjadikan kita pengambil bagian dalam kodrat ilahi Allah.

Selama hidup di dunia, kita dituntut untuk setia kepada firman-Nya. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tetapi makin hari kita harus makin menyerupai Yesus. Suatu hari yang mulia di masa depan, kutukan kerusakan dan pembusukan akan diangkat untuk selama-lamanya:

“Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” Roma 8:19-21

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, berikanlah kami keberanian untuk hidup dengan integritas. Tolong kami menolak korupsi, meskipun kecil, meskipun dianggap biasa. Jadikan kami garam dan terang di tengah bangsa yang terluka karena korupsi. Dan mampukan kami percaya, bahwa Engkaulah yang mencukupkan kebutuhan kami. Amin.

Anugerah dan Moralitas: Panggilan Umat Kristen di Tengah Bangsa yang Lemah Hukum

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” Roma 6:1-2

Beberapa hari belakangan ini kita menyaksikan riuhnya suara rakyat—bukan sekadar teriakan, tapi jeritan hati yang telah lama dipendam. Demonstrasi berbagai kelompok masyarakat merebak di Jakarta dan berbagai kota lainnya adalah respon rakyat terhadap kebijakan dan perilaku pemerintah dan badan legislatif yang dirasa tidak berpihak pada masyarakat, korupsi yang semakin merajalela, pajak yang memberatkan, anggota legislatif yang sibuk dengan kepentingan pribadi dan tidak memperjuangkan kepentingan rakyat. Sayang sekali, di beberapa tempat demonstrasi berubah menjadi tindakan anarki,

Para tokoh lintas agama sudah menyampaikan sembilan poin pernyataan sikap tentang situasi politik di Indonesia yang menyebabkan terjadinya demonstrasi berujung kericuhan di sejumlah daerah. Dalam poin ke 5, mereka menolak segala bentuk kekerasan dan anarkisme, adu domba di media sosial, juga perusakan fasilitas umum, maupun tindakan kekerasan yang mencederai ajaran agama dan nilai luhur bangsa. Hak menyampaikan pendapat memang dijamin oleh konstitusi, namun harus diwujudkan dengan cara damai, bermartabat, dan beradab demi menjaga kehormatan rakyat dan bangsa. Dengan kata lain, bagaimana pun situasinya, moralitas yang baik haruslah dipertahankan.

Ada orang yang berpendapat bahwa “tujuan menghalalkan cara”, karena itu kita tidak perlu mempersoalkan prinsip moralitas jika kita ingin melawan apa yang dipandang masyarakat sebagai hal yang sangat buruk. Dalam hal ini, ada sebagian orang Kristen yang berkata: “keselamatan adalah anugerah, jadi moralitas tidak penting.” Pernyataan ini terdengar rohani, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Memang benar, Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan tidak diperoleh melalui perbuatan baik, melainkan semata-mata oleh kasih karunia Allah melalui iman (Efesus 2:8–9). Namun, di dalam Kristus, hidup yang sudah diselamatkan akan menghasilkan buah ketaatan, moralitas, dan kesalehan. Mengabaikan moralitas berarti salah memahami Injil, dan bagi umat Kristen tujuan tidak menghalalkan cara.

Kesalahan ini bukan sekadar masalah teologi pribadi, melainkan punya dampak besar bagi bangsa. Jika umat Kristen tumbuh dengan pemahaman bahwa moralitas tidak penting, maka mereka tidak akan menjadi teladan dalam masyarakat. Padahal, di tengah bangsa seperti Indonesia yang hukum dan moralitasnya sering diabaikan, kehadiran orang Kristen seharusnya membawa perubahan.

Alkitab sangat jelas: manusia berdosa tidak bisa menyelamatkan dirinya dengan moralitas atau perbuatan baik. Roma 3:23 berkata: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Oleh sebab itu, Kristus mati di salib menggantikan kita. Iman hanyalah sarana menerima kasih karunia itu. Tidak ada jasa manusia sedikit pun yang bisa menambah atau mengurangi karya keselamatan itu. Di sinilah Injil membawa kabar baik: kita diselamatkan bukan karena layak, tetapi karena anugerah Allah.

Anugerah Allah selalu melahirkan hidup baru dan tidak pernah berhenti pada status “diselamatkan”. Efesus 2:10 menegaskan:

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”

Artinya: orang yang diselamatkan akan menunjukkan buah pertobatan dalam moralitas hidup. Paulus bahkan menegur jemaat di Roma yang berpikir anugerah memberi kebebasan untuk hidup seenaknya:

“Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:1–2).

Jadi, anugerah tidak membebaskan kita untuk hidup sembarangan, melainkan membebaskan kita untuk hidup benar.

Perlu kita sadari bahwa moralitas adalah buah keselamatan. Yesus berkata:

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15)

Kasih kepada Kristus diwujudkan dalam ketaatan moral. Itu sebabnya Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17). Moralitas bukan dasar keselamatan, tetapi bukti bahwa iman itu hidup. Jika seseorang mengaku Kristen tetapi menipu, korup, atau tidak peduli hukum, maka imannya diragukan. Dengan kata lain: ajaran yang memisahkan anugerah dari moralitas adalah ajaran palsu.

Anugerah, moralitas, dan hukum adalah bagian hidup orang Kristen. Mengapa ini penting bagi Indonesia? Karena bangsa kita sedang menghadapi krisis hukum dan moralitas. Hukum sering dipermainkan oleh elite politik. Korupsi merajalela. Rakyat sendiri terbiasa melanggar aturan kecil sejak kecil: buang sampah sembarangan, melanggar lalu lintas, memberi uang pelicin, mencontek di sekolah. Jika orang Kristen juga hidup dengan pola yang sama, apa bedanya dengan dunia? Bagaimana mungkin kita bisa menjadi garam dan terang (Matius 5:13–14)? Justru karena keselamatan adalah anugerah, kita dipanggil untuk hidup sebagai saksi Kristus. Dan kesaksian itu harus nyata dalam ketaatan pada hukum, kejujuran, dan integritas.

Pentingnya Pendidikan Moral Sejak Dini

Jika sejak kecil orang terbiasa mengabaikan ajaran moral, maka reformasi hukum jadi makin berat.

Amsal 22:6 berkata: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari padanya.”

Artinya, pendidikan moral harus dimulai sejak dini. Di rumah, orang tua harus memberi teladan dalam hal kecil. Kalau orang tua menyuruh anak taat, tetapi dirinya sendiri melanggar aturan, anak akan belajar bahwa hukum bisa diabaikan. Di sekolah, guru tidak boleh menoleransi kecurangan atau suap. Pendidikan karakter harus menjadi bagian dari kurikulum. Di gereja, pengajaran tentang anugerah harus selalu diikuti dengan pengajaran tentang hidup kudus. Jika ini dilakukan secara konsisten, akan lahir generasi yang lebih menghargai hukum.

Moralitas Kristen sebagai kesaksian untuk publik

Hidup bermoral bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kesaksian publik. Yesus berkata:

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Bayangkan jika orang Kristen konsisten: tidak mencontek, tidak menyogok, tidak melanggar aturan lalu lintas, membayar pajak dengan benar, jujur dalam bisnis. Itu pasti akan menjadi kesaksian besar di tengah masyarakat yang terbiasa kompromi. Dengan begitu, orang Kristen dapat menjadi motor kecil bagi reformasi hukum dan moral bangsa. Tentu saja ini tidak mudah. Hidup bermoral di tengah budaya yang permisif sering dianggap “bodoh” atau “tidak praktis”. Orang yang menolak menyogok bisa kalah dalam persaingan. Anak yang jujur kadang dikucilkan. Namun, di sinilah iman diuji. Paulus berkata: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2).

Harapan kita bukan pada perubahan instan, tetapi pada kesetiaan kecil yang akhirnya menular dan membentuk budaya baru. Reformasi hukum memang jalan yang panjang, tetapi harus dimulai dari reformasi moral kita. Maka jelaslah bahwa ajaran yang menyepelekan moralitas karena keselamatan adalah anugerah adalah ajaran yang salah. Anugerah bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan dasar untuk hidup kudus.

Jika sejak kecil orang Kristen dibentuk dalam ketaatan moral, maka kita tidak hanya hidup benar di hadapan Allah, tetapi juga memberi sumbangan nyata bagi bangsa. Di tengah masyarakat yang sering mengabaikan hukum, orang Kristen dipanggil untuk menjadi teladan. Kita tidak bisa mengubah seluruh bangsa sekaligus. Tetapi kita bisa mulai dari rumah, sekolah, gereja, dan komunitas kecil kita. Dan dari situ, terang akan memancar. Pada akhirnya, kesaksian hidup yang benar adalah cara paling kuat untuk memberitakan Injil. Dengan hidup bermoral, kita menunjukkan bahwa kasih karunia bukan hanya kata-kata, tetapi kuasa Allah yang mengubahkan hidup.