“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. an bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” Roma 8:22-23
Sebagian orang Kristen berharap dan mungkin percaya bahwa anjing atau kucing kesayangan mereka akan masuk ke surga bersama dengan semua orang percaya. Pandangan ini tentunya menimbulkan tanda tanya karena hewan tidak mempunyai jiwa/roh yang bisa diselamatkan, atau dapat mempunyai iman yang menyelamatkan. Keselamatan yang dijanjikan dalam Yohanes 3:16 hanya dijanjikan kepada manusia, yang sudah diciptakan sebagai gambar Tuhan. Sebaliknya, hewan dan tumbuh-tumbuhan diberikan kepada manusia sebagai bahan makanan (Kejadian 9:2-3).
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16
“Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. 3Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.” Kejadian 9:2-3
Walaupun demikian, ayat dari Roma 8:22 sering dipakai untuk menunjang harapan bahwa semua makhluk di dunia sama-sama menunggu saat ke surga. Tetapi, ayat ini sebenarnya tidak secara eksplisit membahas keselamatan hewan dengan cara yang sama seperti keselamatan manusia.
Meskipun berbicara tentang ciptaan yang mengerang di bawah perbudakan kebinasaan dan menunggu penebusan ciptaan Tuhan, ayat ini tampaknya merujuk pada pemulihan dunia alami, termasuk hewan, dan bukan proses iman dan kepercayaan sebagaimana yang berlaku bagi manusia. Bagian ini menyiratkan pemulihan semua ciptaan, mungkin termasuk kerajaan hewan di surga, tetapi tidak harus dengan konsep keselamatan yang sama seperti manusia. Karena itu, sekalipun mungkin ada kucing dan anjing di surga, mereka bukanlah hewan peliharaan yang kita sayangi, tetapi semua hewan ciptaan Tuhan yang akan membuat kita yang sudah diselamatkan dengan sepenuhnya bisa memuliakan kebesaran Sang Pencipta di surga.
“Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8:20-21
Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan tentang keamanan mutlak orang Kristen di hadapan Tuhan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Tuhan. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan sebagai Abba atau Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama seluruh ciptaan sambil menunggu Allah menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan bantuan Roh Kudus, kita yakin bahwa Allah bersama kita dan mengasihi kita di dalam Kristus.
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ”ya Abba, ya Bapa!” Roma 8:15
Secara spesifik, Roma 8:22 berkaitan dengan ayat sebelumnya menggambarkan saat di masa depan ketika anak-anak Allah akan dinyatakan dalam kemuliaan, dan semua ciptaan akan dibebaskan dari perbudakan kebusukan dan kerusakan. Dengan kata lain, semua akan diperbaiki. Semua ciptaan Tuhan akan dikembalikan ke keadaan yang dimiliki mereka saat pertama kali diciptakan, sebelum dosa masuk ke dunia.
Sekarang Paulus menjelaskan bahwa kita belum sampai di sana. Pada saat ini, semua ciptaan terus mengerang bersama dalam kesakitan melahirkan. Jelas, erangan yang datang dari ciptaan saat menderita dalam perbudakan kematian dan kebusukan telah berlangsung sejak dosa masuk ke dunia. Itu masih terjadi. Paulus juga menambahkan gambaran kata yang penuh harapan. Erangan ini seperti kesakitan melahirkan. Dengan kata lain, rasa sakit itu nyata, jelas, dan intens, tetapi itu mengarah ke saat “kelahiran” ketika semua akan diperbaiki dan rasa sakit itu akan dilupakan.
“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Yohanes 16:21–22
Kita melihat bahwa dari bagian dari tulisan Paulus kepada jemaat di Roma, ia tidak melewatkan atau mengabaikan penderitaan manusia dan makhluk lainnya. Mirip dengan apa yang ditulis oleh Yohanes, rasa sakit itu nyata, dan seluruh makhluk mengalami penderitaan dalam hidup ini. Intinya di sini bukanlah bahwa rasa sakit itu harus kita terima dengan rasa senang—sebaliknya, itu adalah hal yang menyedihkan. Yang dapat membantu kita melewati rasa sakit yang sekarang ada, adalah mengetahui apa yang menanti kita di sisi lain.
Paulus telah menggambarkan seluruh ciptaan sebagai ungkapan frustrasi, kesedihan, dan kerinduan ini. Ia menggunakan istilah “keluhan” atau “erangan” yang berasal dari akar kata sustenazo, yang diterapkan pada suara yang dibuat oleh seorang wanita yang sedang bersalin, hendak melahirkan bayi, saat ia menanggung gelombang rasa sakit yang datang dan pergi. Tidak ada wanita yang menginginkan rasa sakit itu sendiri, tetapi dia bersedia menanggungnya karena adanya hasil yang menggembirakan sesudahnya.
Orang percaya yang diselamatkan seperti itu juga mengeluh dalam hati dalam penantian ini. Namun sementara ciptaan sedang menunggu anak-anak Tuhan untuk dinyatakan dalam kemuliaan, kita sedang menunggu sesuatu yang lebih spesifik. Kita menunggu dengan penuh semangat untuk di adopsi, sebagai anak, yaitu penebusan tubuh kita.
Gambaran yang dilukiskan Paulus di sini menghubungkan beberapa hal yang telah ditulisnya dalam Roma 8 sejauh ini. Dia telah mengatakan bahwa Allah telah memberikan kepada kita dalam Roh Kudus apa yang disebutnya “Roh adopsi” (Roma 8:15). Kita telah diadopsi dan telah menjadi anak-anak Allah yang penuh melalui iman kepada Kristus. Jadi, apa yang kita tunggu jika surat adopsi sudah lengkap?
Paulus telah menulis bahwa dengan adanya adopsi, muncullah keterputusan antara roh dan tubuh kita: “Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” (Roma 8:10). Memang benar bahwa kita sepenuhnya adalah anak-anak Allah saat ini melalui iman kepada Kristus, tetapi kita belum bertemu dengan Bapa kita secara langsung. Kita telah dibebaskan dari hukuman kekal atas dosa, tetapi tubuh kita terus mengalami konsekuensi sementara dari dosa: kematian. Itu tidak dapat kita hindari.
“Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” Roma 8:10
Walaupun demikian, sebagai anak-anak angkat Tuhan, kita sedang menunggu tubuh kita untuk ditebus setelah kita mati secara fisik dan kemudian dibangkitkan seperti Kristus. Atau seperti yang dikatakan orang: Pengangkatan kita sudah lengkap; kita hanya menunggu Bapa kita datang dan menjemput kita sehingga kita dapat bersama-Nya.
Di surga, pada akhirnya kita akan hidup sebagai tubuh yang dibangkitkan akan diubah dan dimuliakan, mencerminkan tubuh Kristus yang dibangkitkan. Tubuh yang dimuliakan ini akan mampu memiliki kapasitas baru dan akan disesuaikan dengan lingkungan surgawi, tidak dibatasi oleh batasan tubuh fisik kita saat ini.
Pagi ini, kita mungkin sedang menderita melalui perjalanan kita di bumi ini. Tetapi Paulus mengingatkan kita bahwa dunia ini bukanlah rumah kita (1 Petrus 2:11; Ibrani 11:13). Kerajaan masa depan yang mulia menanti kita, di mana kematian dikalahkan, dan air mata kesedihan, rasa sakit, dan duka akan dihapuskan (Wahyu 21:4). Ketika kita berpegang teguh pada janji Allah ini, kita dapat mulai memandang masalah-masalah kita saat ini sebagai sesuatu yang ringan dan sementara dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar (2 Korintus 4:17).
Allah menjanjikan masa depan yang luar biasa bagi orang percaya, lengkap dengan tubuh yang baru dan mulia. Kita juga bisa melihat keindahan semua ciptaan Tuhan, seperti apa yang ada pada saat penciptaan, di surga. Saat ini, kita hanya merasakan sedikit masa depan kita yang gemilang, melalui kehadiran Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Dia adalah uang muka, atau deposit, yang menjamin pengangkatan penuh kita sebagai anak-anak Allah dan pembebasan tubuh kita dari dosa dan penderitaan. Pujilah Tuhan atas kasih-Nya!
“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.” Kolose2:16-23
Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang secara terang-terangan berusaha mengajak Anda untuk pindah ke gerejanya? Mungkin jarang, kecuali jika Anda merasa kurang nyaman untuk tetap pergi ke gereja Anda, dan Anda sedang menjajagi kemungkinan untuk pindah gereja. Dalam hal ini, mungkin Anda lebih sering menjumpai adanya orang-orang yang berusaha meyakinkan Anda bahwa apa yang Anda mengerti tentang Alkitab adalah kurang benar. Mungkin mereka mengajarkan bahwa ke gereja pada hari Minggu adalah salah, atau bahwa hanya mereka yang ke gereja pada hari Sabtu adalah orang Kristen yang sejati.
Ada juga orang yang dengan bersemangat mencoba menarik Anda untuk berpantang makanan tertentu, atau untuk mendapatkan karunia tertentu, atau untuk mengakui adanya buku lain yang setara dengan Alkitab, dan untuk sadar bahwa hal-hal tertentu adalah tanda akhir zaman yang sudah dekat. Argumen-argumen yang mereka sampaikan mungkin nampak meyakinkan, dan Anda tidak sadar bahwa semua itu mungkin hanyalah usaha iblis untuk mengecoh Anda.
Dalam bagian kitab Kolose di atas, Paulus memperingatkan orang Kristen agar tidak tertipu oleh argumen yang menipu. Klaim-klaim ini menarik, tetapi hanyalah tipuan: kedengarannya benar, tetapi sebenarnya tidak. Mengutarakan hal penyangkalan diri, legalisme, penglihatan, dan praktik-praktik lainnya hanya terlihat baik bagi pengamat. Tetapi, tidak satu pun dari ini adalah sumber pertumbuhan rohani yang sebenarnya. Semua itu hanya adalah hal-hal yang bisa membuat Anda ragu akan keselamatan Anda. Sebaliknya, Paulus menekankan cara Kristus menyelesaikan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk dibenarkan di hadapan Allah. Yesus sudah mati di kayu salib untuk kita. Hanya Kristus yang bisa. Jadi, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk mengejar “bayangan” yang palsu dan dangkal ini. Kita memiliki satu Guru yang benar yaitu Yesus, jadi kita harus mengikuti-Nya dan ajaran-Nya.
Kolose 2:16–23 merupakan penerapan ide yang disebutkan Paulus dalam ayat-ayat sebelumnya. Ayat 6 hingga 15 menjelaskan supremasi Kristus atas pemikiran yang menipu dan yang berdasarkan pikiran manusia. Dalam bagian ini, Paulus secara eksplisit menyatakan bahwa aturan, ritual, dan penyangkalan diri bukanlah jalan menuju pertumbuhan rohani. Berusaha untuk bertumbuh secara rohani melalui upaya-upaya ini sama mustahilnya dengan bagian tubuh yang berusaha tumbuh secara alami saat terputus dari kepala! Hidup di bawah aturan yang keras mungkin terlihat baik bagi orang lain, tetapi bukan seperti itu cara Tuhan memanggil kita untuk berhubungan dengan-Nya sebagai orang percaya.
Kita percaya bahwa manusia dibenarkan hanya melalui anugerah Allah dalam Yesus Kristus, bukan karena “perbuatan baik” atau “ketaatan pada peraturan” menurut ukuran manusia yang berdosa.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3:23-24
Paulus memulai ayat-ayat di atas dengan kata “karena itu.” Ini berarti pikiran-pikiran yang akan disampaikannya adalah hasil dari pernyataan-pernyataannya sebelumnya. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus menjelaskan bahwa hubungan kita dengan Allah adalah melalui Kristus, bukan melalui ritual-ritual fisik seperti sunat. Keselamatan yang kita miliki melalui Kristus, adalah lengkap dan total. Keselamatan itu tidak hanya menghapus hukuman dosa dan memulihkan hubungan kita dengan Allah, tetapi juga mengalahkan kuasa-kuasa jahat yang datang melawan kita setiap saat (Kolose 2:13–15).
Ayat ini menggunakan pikiran-pikiran sebelumnya untuk membantah pernyataan yang dibuat oleh guru-guru palsu. Para penipu ini memberi tahu orang-orang Kristen di Kolose bahwa mereka harus mengikuti ritual-ritual, aturan-aturan, dan tata tertib-tata tertib tertentu agar dapat diselamatkan. Dalam ayat berikutnya, Paulus akan menyebut konsep-konsep ini sebagai “bayangan dari apa yang akan datang,” atau sesuatu yang secara keliru, dianggap lebih penting daripada Kristus sendiri. Sebaliknya, Paulus menulis, “janganlah seorang pun menghakimi kamu,” berkenaan dengan empat hal tertentu.
Pertama, Paulus mencatat pantangan-pantangan makanan. Hukum Musa mencakup banyak aspek makanan, seperti tidak makan daging babi, makanan yang haram bagi orang Yahudi.
Kedua, Paulus menyebutkan hari raya. Hukum Yahudi mencakup banyak perayaan khusus seperti Paskah dan Hari Penebusan Dosa, yang disebut sebagai “perayaan.”
Ketiga, “bulan baru” mengacu pada perayaan bulan baru dalam hukum Musa (Bilangan 29:6).
Keempat, Paulus menyebutkan hari Sabat. Dalam Yudaisme, Sabtu, hari ketujuh, adalah hari suci – dari matahari terbenam pada hari Jumat hingga matahari terbenam pada hari Sabtu – di mana tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan (Keluaran 20:8–11).
Paulus dengan jelas menyatakan, dalam ayat ini, bahwa aturan-aturan semacam ini bukanlah persyaratan bagi orang percaya yang telah diselamatkan. Orang boleh saja melakukannya karena alasan atau pilihan pribadi; tetapi, jika itu dikakukan untuk memperoleh jaminan keselamatan, orang itu adalah orang yang malang karena tidak ada perbuatan manusia yang cukup baik di mata Tuhan.
Bagian sebelum ayat ini menjelaskan bahwa Kristus menghapus semua dosa dan hukuman melalui pengorbanan-Nya. Akibatnya, tidak ada pekerjaan yang mungkin dapat kita lakukan, atau perlu lakukan, untuk bisa dibenarkan di hadapan Allah.Keselamatan manusia semata-mata adalah anugerah Tuhan. Sola Gratia.
Paulus merujuk pada persyaratan hukum Perjanjian Lama, dari ayat 16, dan menyebutnya sebagai “bayangan dari apa yang harus datang.” Kata Yunani skia, yang diterjemahkan sebagai “bayangan,” juga dapat merujuk pada “bayangan, sketsa, atau garis besar.” Inilah alasannya mengapa kepatuhan terhadap hukum Taurat dan peraturan gereja bukanlah suatu persyaratan: hukum hanyalah garis besar; itu adalah bayangan, atau petunjuk tentang apa yang akan datang. Kristus adalah hakikat yang sebenarnya. Dalam membuat pernyataan ini, Paulus tidak menentang hukum, tetapi berbicara tentang Yesus sebagai yang lebih unggul daripada hukum Musa. Itulah perbedaan antara sebuah kitab dan penulis sebuah kitab. Hukum tidak dapat ada tanpa Penulisnya. Yesus bertindak sebagai penulis kehidupan (Kisah Para Rasul 3:15). Dia menggenapi Hukum tanpa menentangnya. Yesus mengajarkan, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17).
Selanjutnya, Paulus beralih ke referensi atletik dengan menyatakan, “Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan.” Dalam atletik, juri yang berada di luar arena, yang tidak ikut berlari, dapat menyatakan orang-orang tertentu tidak layak atau tidak mampu berkompetisi, karena mereka melanggar beberapa aturan tertentu. Maksud Paulus di sini bukanlah bahwa hal-hal seperti itu pada dasarnya salah, tetapi ia menyatakan bahwa mereka yang memakai hukum Perjanjian Lama sebagai alasan untuk “mendiskualifikasi” orang Kristen dari anugerah keselamatan adalah orang-orang yang mempunyai pengertian yang salah. Karena itu, kita tidak perlu meragukan keselamatan yang sudah kita terima dari Allah.
Dalam hal ini, pertlu kita catat bahwa meskipun ketaatan pada hukum Perjanjian Lama tidak membawa keselamatan, ada batasan moral dan spiritual yang perlu untuk diingat dan dipegang oleh orang Kristen. Melanggar batasan-batasan ini, pada dasarnya akan “mendiskualifikasi” seseorang dari hadiah surgawi yang ingin mereka menangkan melalui usaha mereka. Paulus secara pribadi bekerja keras untuk tetap setia untuk hidup baik dan tidak mendiskualifikasi dirinya dari pelayanan (1 Korintus 9:27), tetapi ini bukan usaha untuk memperoleh keselamatan atau untuk memperbesar karunia keselamatan dari Tuhan yang sudah genap dan sempurna.
Paulus kemudian mendorong orang-orang Kristen di Kolose agar tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran palsu dari mereka yang menganut praktik-praktik mistis yang bertentangan dengan kebenaran Allah. Daftar Paulus mencakup empat bidang yang digunakan sebagai pengalih perhatian dari kehidupan Kristen yang sejati, sebagaimana yang dipromosikan oleh para guru palsu.
Pertama, Paulus memperingatkan terhadap “asketisme,” sebuah istilah yang merujuk pada penyangkalan diri. Gagasan umumnya mencakup praktik-praktik ekstrem yang tampak mulia tetapi tidak dituntut oleh Allah, seperti sumpah untuk “nyepi”, berpuasa dalam waktu lama, atau hidup selibat seumur hidup. Praktik-praktik ini tidak selalu salah, tetapi sama sekali bukan persyaratan untuk mengikuti Kristus. Gnostisisme, ajaran sesat yang pernah dihadapi orang-orang Kristen, mengajarkan bahwa tubuh itu jahat, sehingga semua keinginan fisik perlu dipadamkan.
Kedua, Paulus mencatat “penyembahan malaikat.” Yesus mengajarkan bahwa kita harus menyembah Allah saja (Matius 4:10), bukan orang-orang yang dianggap suci. Jika kita ingin berdoa, cukup kita masuk ke kamar; tidak perlu kita pergi ke tempat mistis tertentu atau mengucapkan doa tertentu yang dianggap berkhasiat. Penipuan ini sejalan dengan peringatan Paulus agar tidak tertipu oleh argumen-argumen yang menyesatkan (Kolose 2:8). Banyak guru palsu pada zaman itu mengajarkan bahwa mistisisme dan filsafat adalah kunci pengetahuan, dan bahwa penglihatan khusus dari malaikat kepada seseorang adalah bagian penting dari kebenaran. Ini, seperti yang dinyatakan Paulus dengan jelas, tidaklah benar adanya.
Ketiga, Paulus mencatat penglihatan mistis dan nubuat. Menariknya, hal-hal itu sendiri bukanlah hal yang ditentang Paulus di sini. Paulus secara pribadi pernah mengalami penglihatan. Sebaliknya, ia tampaknya menolak penggunaan penglihatan dan nubuat sebagai cara untuk menarik perhatian pada diri sendiri. Atau, sebagai cara untuk mengklaim pengetahuan khusus, sebagai pelengkap Alkitab. Di zaman ini, masih banyak “aliran Kristen” yang mengajarkan “injil tambahan” yang diperoleh seseorang (yang mungkin dianggap utusan Allah atau nabi), sebagai kebenaran. Begitu juga, ada aliran-aliran Kristen yang percay abahwa mereka adalah orang Kristen sejati karena mereka sudah menerima pengetahuan khusus tentang akhir zaman, hakikat Kristus yang sejati, dan sebagainya.
Keempat, Paulus mencatat mereka yang membiarkan argumen-argumen yang menyesatkan dan penglihatan pribadi mereka menguasai diri mereka sendiri. Kesombongan merupakan akar dari mereka yang mempromosikan ajaran-ajaran mistis atau asketis. Faktanya, keempat kesalahan ini membutuhkan tingkat egoisme tertentu; semuanya mengklaim bahwa mereka lebih baik daripada yang lain sebagai hasil dari kemampuan pribadi mereka. Sekalipun mereka tidak pernah mengklaim bahwa mereka adalah “anak mas” Tuhan, jika mereka membiarkan atau menyebabkan orang lain mendewakan mereka, itu juga berarti menyaingi Allah. Pada akhirnya, pengikut ajaran ini lebih mengenal dan lebih taat kepada pemimpin mereka dari pada kepada Yesus.
Selanjutnya, Paulus beralih ke gambaran tubuh manusia. Kumpulan semua orang Kristen yang percaya adalah apa yang Alkitab sebut sebagai gereja. Jika gereja itu dibayangkan sebagai tubuh fisik, maka Kristus adalah Kepala. Mereka yang Paulus sebut sebagai “sombong” (Kolose 2:18) tidak terhubung dengan Kepala—mereka bukan bagian dari tubuh yang sebenarnya bersama Kristus. Para guru palsu ini berpikir bahwa mereka masih dapat bertumbuh secara rohani ketika mereka terpisah dari Yesus. Ini sama mustahilnya dengan bagian tubuh yang tumbuh atau berkembang ketika benar-benar terpisah dari kepala!
Paulus juga mengingatkan orang percaya di Kolose bahwa Allah menyediakan dua elemen penting bagi kehidupan Kristen kita. Pertama, Allah adalah satu-satunya yang menyebabkan pertumbuhan. Kemajuan rohani sejati tidak terjadi melalui praktik pertapaan (Kolose 2:18), atau ritual (Kolose 2:16), tetapi dalam mengikuti Kristus. Semakin kita mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, semakin sedikit kita membiarkan Kristus menggunakan kuasa-Nya di dalam kita. Inilah masalah dengan mistisisme dan penyangkalan diri: keduanya mengandalkan kekuatan kita sendiri, bukan kuasa Kristus.
Kedua, Paulus menjelaskan bahwa ketergantungan kita kepada Kristus menghasilkan pertumbuhan dan kesatuan. Kesatuan harus dibangun di atas Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya agar menjadi asli. Gagasan “diikat menjadi satu” juga disebutkan dalam Kolose 2:2 dalam kaitannya dengan Tuhan yang menyediakan kesatuan dalam kasih.
Paulus kemudian mengajukan pernyataan bersyarat, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia”. Ada dua kemungkinan arti untuk frasa ini. Pertama, Paulus mungkin memikirkan asumsi-asumsi mendasar yang digunakan oleh para guru palsu yang disebutkan di seluruh bab ini. Gagasan tentang “roh-roh dunia” juga disebutkan dalam Kolose 2:8. Di sana, ia berbicara tentang teori-teori mendasar tentang dunia yang jatuh, yang bukan ajaran Kristen. Kemungkinan kedua adalah bahwa “roh-roh dunia” mengacu pada roh-roh jahat. Paulus dengan jelas berbicara tentang peperangan rohani (Efesus 6:12) dan mungkin memikirkan hal ini untuk mengakhiri ayat-ayat terakhir dari bab ini.
Sampai di sini, apa yang diajarkan Paulus cukup mudah dimengerti. Jika seseorang benar-benar percaya bahwa Kristus adalah fokus kehidupan mereka, mengapa mereka terus terobsesi dengan hukum dan peraturan manusia? Dengan kata lain, Paulus mempertanyakan mengapa orang-orang percaya di Kolose masih bertindak seperti orang-orang yang tidak percaya di beberapa bidang. Alih-alih hidup dengan iman atas kemampuan mereka sendiri, mereka sebenarnya harus berjalan dengan iman kepada Kristus (Kolose 2:6). Ajaran-ajaran menyepi, mengunjungi “tempat suci”, mengharuskan hari Sabat, atau aturan-aturan guru-guru agama tidak mengikat mereka dan tidak memberikan keuntungan apa pun. Selain itu, banyak tradisi keagamaan yang membatasi apa yang boleh atau tidak boleh dimakan seseorang. Hukum Musa memuat berbagai hukum tentang makanan, tetapi Paulus mencatat, “Janganlah kamu merusakkan pekerjaan Allah karena makanan; sebab semuanya halal” (Roma 14:20). Sudah tentu kita harus menghindari makanan yang kurang sehat, tetapi kita bukanlah budak dari hukum makanan dari hukum Musa atau ajaran agama lainnya.
Dalam konteksnya, maksud perkataan Paulus jelas. Orang Kristen tidak seharusnya merasa wajib mengikuti aturan dan tata tertib Yudaisme dan adat istiadat demi menyenangkan Allah. Makanan atau barang duniawi lain yang dianggap penting oleh guru-guru palsu hanyalah bersifat sementara. Ini adalah ide yang juga dijelaskan Paulus secara rinci dalam Roma pasal 14.
Apakah kita menggunakannya, atau menghindarinya, hal-hal fisik dan hukum manusia hanyalah bayangan dari hal-hal yang akan datang, berbeda dengan kebesaran Kristus yang kekal (Kolose 2:17). Selain itu, ajaran-ajaran ini tidak didasarkan pada pemikiran ilahi, tetapi pada asumsi manusia yang bodoh. Ini sangat mirip dengan peringatan yang Paulus berikan dalam Kolose 2:8 agar tidak tertipu oleh argumen-argumen palsu. Meskipun Taurat sendiri adalah dari Tuhan, penafsiran yang salah dari guru-guru palsu ini didasarkan pada otoritas seseorang atau organisasi yang bisa membuat orang Kristen meragukan keselamatannya.
Paulus membuat perbedaan yang jelas antara Firman Tuhan yang sempurna dan ketidaksempurnaan orang-orang yang mengajarkannya. Tidak semua penafsiran Kitab Suci itu benar karena keterbatasan manusia, tapi kesalahan seorang penafsir Alkitab atau tokoh agama bukanlah kesalahan Alkitab. Itulah sebabnya Paulus memberi tahu Timotius untuk belajar agar dapat menunjukkan bahwa dirinya layak (2 Timotius 2:15). Kemampuan untuk mengajarkan kebenaran Allah secara akurat merupakan persyaratan bagi mereka yang memimpin gereja lokal sebagai penatua (1 Timotius 3:2; Titus 1:9).
Paulus mengakhiri pengajarannya terhadap guru-guru palsu dengan sekali lagi mencatat betapa menipunya pendekatan mereka. Mengikuti aturan agama yang membatasi, bisa membuat seseorang tampak suci bagi orang lain. Banyak agama dunia yang memiliki pemimpin yang tampak sangat bermoral dan cukup berdedikasi, dan karena itu dianggap sebagai orang-orang suci yang istimewa. Namun, ini hanyalah berdasarkan ukuran manusia yang bergantung pada prinsip-prinsip yang tidak berasal dari Kristus sendiri. Jika itu terjadi di antara orang Kristen, pada dasarnya mereka mempunyai berhala.
Paulus secara khusus mengatakan bahwa ajaran-ajaran semacam ini dibuat manusia sendiri; ajaran-ajaran ini sebenarnya bukan sesuatu yang berasal dari Tuhan. Paulus menyoroti kesia-siaan ajaran-ajaran ini. Upaya-upaya untuk mecapai kesucian melalui usaha manusia, tidak benar-benar menghentikan keinginan dosa. Sebaliknya, usaha-usaha ini dapat menjadi kecanduan dan fanatisme! Dalam kedua kasus tersebut, seseorang bertindak dengan asumsi bahwa apa yang mereka lakukan dengan tubuh mereka, dengan kekuatan mereka sendiri, adalah apa yang akan membuat mereka bahagia dan sempurna.
Pagi ini, kita disadarkan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa orang percaya diberikan pengampunan dosa hanya melalui Kristus. Lebih jauh, bahkan orang percaya terus berjuang melawan dosa (Roma 7:14–20), yang membutuhkan kuasa Roh Allah untuk mengatasi godaan hari lepas hari. Marilah kita memusatkan perhatian kita kepada hal-hal surgawi dari pada membuang waktu untuk melakukan hal yang sia-sia!
“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38-39
“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Yakobus 1:13-15
Banyak orang berpikir bahwa pendapat orang Kristen tentang ada atau tidaknya kehendak bebas (free will) secara umum terbagi dua. Ada satu golongan Kristen yang percaya bahwa kehendak bebas sepenuhnya dimiliki semua manusia, dan ada satu golongan lain yang berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kehendak bebas sama sekali. Pengelompokan ini sebenarnya kurang benar, karena sebenarnya ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa bahwa kehendak bebas memang ada. tapi tidak untuk semua hal. Saya sendiri percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas dalam semua hal, kecuali dalam usaha mencari kebenaran dan keselamatan. Tuhan tidak menetapkan kita jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan tidak memberi kita kemampuan untuk bisa memilih apa yang baik. Kita bebas untuk memilih apa saja yang ada di dunia dan itu termasuk berbagai dosa, tetapi kita sendiri tidak bisa memilih apa yang benar-benar baik. Aneh bukan?
Yakobus mengawali suratnya dengan memerintahkan orang Kristen untuk melihat pencobaan dalam hidup kita sebagai hal yang bermakna dan pada akhirnya bermanfaat. Pergumulan selama hidup kita di dunia adalah kesempatan untuk memercayai Tuhan pada tingkat yang lebih dalam. Yakobus berbicara tentang bagaimana kita mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sifat Tuhan pada hari-hari terburuk kita.
Memang pergumulan hidup bisa menjadi perangkap bagi orang Kristen—alasan yang digunakan untuk membenarkan keputusan seseorang untuk berontak dan berhenti memercayai-Nya. Godaan iblis kepada Adam dan Hawa adalah untuk kurang memercayai Tuhan. Dengan kehendak bebas, kita mungkin memutuskan bahwa Dia tidak cukup kuat untuk menyediakan kebutuhan kita, tidak setia dalam memenuhi kebutuhan kita, tidak berbelas kasih terhadap rasa sakit dan kesedihan kita. Dengan itu, mungkin kita memilih dengan kehendak sendiri, untuk meninggalkan iman.
Yakobus menjelaskan bahwa menyalahkan Tuhan karena menggoda kita untuk menolak-Nya, dengan membiarkan pencobaan datang ke dalam hidup kita, bukanlah respons yang benar. Tuhan tidak pernah menetapkan kejadian-kejadian dalam hidup kita dengan maksud jahat, untuk menjauhkan kita dari-Nya. Dia selalu menghendaki seluruh umat-Nya untuk dekat kepada-Nya. Itulah jati diri-Nya. Tujuan dari pencobaan bukanlah untuk menjatuhkan kita, tetapi untuk lebih bergantung kepada-Nya. Kita harus menyadari bahwa hanya Dia yang bisa membuat kita taat. Tidak ada pilihan lain.
Orang Kristen tidak pernah dijamin hidupnya untuk lebih mudah daripada orang yang tidak percaya. Justru sebaliknya: menjadi sahabat Tuhan berarti menjadi musuh bagi dunia yang telah jatuh (Yohanes 16:1-4). Jadi, pencobaan akan datang (Yohanes 15:18-20). Pencobaan akan menguji iman kita. Namun godaan untuk tidak setia kepada Tuhan selama masa sulit bukanlah dari Tuhan yang mahabaik. Dia tidak dapat digoda oleh kejahatan; Dia tidak mencobai siapa pun dengan kejahatan. Kejahatan adalah hasil pilihan kita, produk kehendak bebas kita.
Tidak diragukan lagi bahwa godaan untuk putus asa itu ada. Terutama di tengah masa-masa sulit, kita merasakan tarikan untuk tidak menaati Allah, untuk tidak setia, untuk menjauh dari-Nya. Dari mana datangnya godaan itu? Di sini Yakobus menyingkapkan jawabannya: Panggilan itu datang dari dalam diri kita sendiri! Dengan kata lain, kita dibujuk untuk menjauh dari Allah di tengah-tengah pencobaan oleh keputusan kita sendiri. Itu adalah free will kita: tidak ada yang memaksa.
Di satu sisi, dari awalnya dan dalam kebebasannya, semua manusia hanya ingin berbuat dosa, ingin merdeka dari Tuhan. Sekalipun kita mungkin merasa bahwa ada banyak orang yang berbuat baik, kebaikan apa pun selalu mengandung motif dosa seperti kebanggaan, keinginan untuk dilihat orang lain, dan bahkan keinginan untuk dipuji Tuhan. Memang orang Kristen telah dibebaskan dari perbudakan dosa (Roma 6), tetapi keinginan untuk berbuat dosa tetap ada. Kehendak bebas kita untuk memilih jalan pintas yang termudah selalu ada.
Yakobus menjelaskan bahwa Allah tidak bertanggung jawab atas godaan-godaan yang bisa menjauhkan kita dari-Nya. Segala sesuatu terjadi dengan seizin Tuhan, tetapi ketika Ia mengizinkan cobaan berat datang dalam hidup kita, kita tidak boleh mengatakan bahwa Ia bermaksud untuk memprovokasi kita agar tidak menaati-Nya. Yakobus memberi tahu kita untuk mengakui bahwa kita mempunyai kehendak bebas untuk berbuat dosa. Kita perlu bertanggung jawab atas diri kita sendiri dan tidak mempersalahkan Tuhan atau takdir.
Yakobus menjelaskan bahwa godaan untuk berbuat dosa selalu datang dari dalam diri kita sendiri. Itu bukan salah Tuhan. Betapapun buruknya keadaan kita, keinginan untuk berbuat dosa tetap ada dalam diri kita. Kitalah yang membuat diri kita untuk berbuat dosa. Tuhan menyediakan cobaan dan ujian sebagai cara untuk “melatih” iman kita, agar iman kita menjadi lebih kuat. Tetapi, daya tarik untuk menyerah, untuk berbuat dosa, dan menentang Tuhan bukanlah tujuan kehendak-Nya.
Di sini Yakobus memperingatkan kita tentang akibat dari menyerah pada keinginan kita, yaitu jatuh ke dalam dosa. Ketika kita berkata “ya” pada keinginan untuk melakukan apa yang kita inginkan, alih-alih memercayai Tuhan dan menaati-Nya, dosa pun lahir. Kemudian dosa bertumbuh dan menghasilkan kematian.
Dosa selalu menuntun kepada kematian. Bagi mereka yang tidak berada di dalam Kristus—yang belum menerima anugerah cuma-cuma dari Tuhan berupa pengampunan dosa, yang belum dilahirkan kembali ke dalam hidup yang baru—kematian itu bersifat permanen dan kekal. Namun, bagi orang Kristen, dosa membawa hal-hal yang sangat buruk selama kita hidup di dunia. Karena itu kita harus selalu ingat bahwa Tuhan sudah dari awalnya menetapkan apa yang baik untuk kita terima. Untuk mendapatkan apa yang benar-benar baik, kita tidak mempunyai pilihan lain, selain Yesus.
“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Efesus 4:21-24
Sebagian di antara kita mungkin masih mencoba menyalahkan Tuhan untuk adanya pencobaan dalam hidup kita. Jika Tuhan mahatahu, dan Ia tahu bagaimana dan kapan kita bisa jatuh dalam dosa, mengapa Ia tidak menghentikan kebebasan kita sehingga kita tidak bisa memilih dosa? Dalam hal ini, sifat Tuhan yang dibatasi oleh waktu dan tatanan keberadaan yang berbeda membantu kita memahami bagaimana Tuhan dapat mengatur segala sesuatu sementara kita tetap membuat pilihan yang bebas dan bermakna. Tuhan, dalam kehadiran-Nya yang kekal, adalah penyebab pertama segala sesuatu atau yang membuka kemungkinan terjadinya sesuatu. Namun sebagai penyebab pertama segala sesuatu, Tuhan—yang memiliki tatanan yang berbeda dari manusia—memberikan kebebasan sejati bagi manusia sebagai penyebab sekunder.
Tuhan adalah penyebab utama atau pertama, tetapi Dia juga menggunakan penyebab sekunder dalam tatanan ciptaan untuk mencapai tujuan-Nya. Kerangka kerja ini tidak menyiratkan urutan kejadian yang linier dengan penyebab primer yang selalu terjadi sebelum penyebab sekunder pada waktunya, tetapi lebih merupakan “kerja sama” di mana Tuhan bekerja melalui dan dengan ciptaan-Nya untuk mencapai tujuan-Nya. Tuhan tidak menentukan kita jatuh, tetapi Ia mempunyai maksud dan rencana baik yang tidak dapat kita tolak pada waktu kita jatuh dalam memakai kebebasan kita.
Kisah Yusuf dalam Kitab Kejadian sering digunakan sebagai contoh untuk hal ini. Sementara saudara-saudara Yusuf menjualnya sebagai budak, Tuhan akhirnya menggunakan tindakan berdosa mereka untuk menyelamatkan hidup Yusuf dan membangun bangsa yang besar melalui dirinya. Ini menggambarkan bagaimana Tuhan dapat menggunakan sebab-sebab sekunder (tindakan manusia) untuk memenuhi ketetapan primer-Nya (menyelamatkan Yusuf dan membangun bangsa).
Hari ini, jika kita mengalami pencobaan dan jatuh ke dalam dosa, sadarilah bahwa itu bukanlah karena ulah Tuhan. Kita harus mau mengakui bahwa kita bebas untuk memilih segala sesuatu, tetapi pilihan kita sendiri akan berakhir dengan dosa. Kita bebas memilih di antara berbagai hal yang mengandung dosa, tetapi tidak bebas untuk bisa memilih apa yang kita pandang baik. Jika kita mengendaki apa yang benar-benar baik, hanya ada satu cara yaitu taat kepada Dia. Jika kita mau hidup bahagia, kita harus mau berjalan di dalam terang-Nya. Jika Yesus sudah memanggil kita untuk menjadi domba-Nya, kita tidak boleh menolak. Jika kita ingin selamat, kita harus mau menerima uluran tangan Yesus. Kita tidak punya pilihan lain.
“Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Roma 7:21-25
“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” 1 Korintus 13:12-13
Tentu Anda pernah mendengar atau menyanyikan lagu Amazing Grace (Ajaib benar anugerah), yaitu sebuah himne Kristen yang ditulis oleh John Newton pada tahun 1772 dan dipublikasikan dalam buku Olney Hymns pada tahun 1779. Lirik lagu ini menceritakan pengalaman pribadi Newton tentang kasih karunia Tuhan, yang menyelamatkan dan mengubah hidupnya.
Ajaib benar anugerah. pembaru hidupku kuhilang, buta, bercela, oleh Nya kusembuh.
Bahwa semua manusia adalah buta pengertian akan Tuhan sampai Tuhan memberi karunia kepada mereka, adalah apa yang dipercayai oleh semua orang Kristem. Manusia tidak dapat mengenal Allah tanpa petunjuk dan bimbingan Allah sendiri, yang membuka mata hati orang tersebut. Dengan demikian, setiap orang Kristen adalah bagaikan seorang buta yang kemudian bisa melihat kebesaran Tuhan karena berkat Tuhan semata-mata, bukan karena usaha manusia. Ini mungkin bisa dikatakan sebagai “si buta baru melek”.
Istilah “si buta baru melek” dalam bahasa Indonesia berarti seseorang yang awalnya tidak tahu atau tidak menyadari sesuatu, kemudian tiba-tiba menjadi sangat sadar dan bahkan bersemangat.
Pepatah ini bisa dihubungkan dengan keadaan orang yang bersangkutan setelah bisa melihat:
Sangat gembira atau bersemangat: Ketika seseorang baru menyadari sesuatu yang penting, mereka bisa sangat gembira dan bersemangat untuk mengejar atau melakukan hal-hal terkait dengan kesadaran baru tersebut.
Masih harus belajar: ketika seseorang baru mulai bisa melihat, apa yang dilihatnya mungin masih remang-remang, dan sebagian diantaranya muncul dalam bentuk yang kurang bisa dimengertinya. Dengan demikian ia harus tetap mau belajar untuk mengnali apa yang dilihatnya.
Banyak tuntutan yang tidak perlu: Kadang, kesadaran baru juga bisa memunculkan banyak tuntutan yang tidak perlu atau bahkan tidak realistis. Seseorang yang baru saja “melek” bisa menjadi terlalu ambisius atau menuntut hal-hal yang belum tentu sesuai dengan kemampuan atau situasi mereka.
Keyakinan yang berlebihan: Orang yang baru bisa melihat bisa saja merasa bahwa apa yang sudah dilihatnya adalah semua yang pernah dilihat orang lain. Mungkin ia tidak sadar bahwa hari demi hari, ia akan melihat hal-hal baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Singkatnya, “si buta baru melek” menggambarkan perubahan mendadak dalam kesadaran seseorang yang bisa membawa dampak positif (semangat, mau belajar) maupun negatif (tuntutan berlebihan, keyakinan berlebihan). Inilah sesuatu yang sering dialami oleh setiap orang Kristen, yang bisa membawa hal yang baik atau yang buruk terhadap Gereja-Nya, tergantung pada sikap mereka masing-masing.
Keadaan seperti di atas tidak hanya bisa terjadi pada orang yang baru menjadi Kristen. Dalam kehidupan di gereja mana pun, selalu ada individu-individu yang memiliki pengetahuan dan keyakinan kuat terhadap doktrin gerejanya, tetapi menunjukkan perilaku tertentu yang dianggap tidak dewasa atau terlalu berlebihan dalam upaya penginjilan mereka. Perilaku ini dapat mencakup mengubah setiap percakapan menjadi diskusi tentang doktrin, mengkritik orang Kristen lain yang tidak memiliki pandangan yang sama, dan terlibat dalam diskusi yang konfrontatif atau argumentatif. Bagi orang-orang semacam ini, teologi mungkin lebih penting untuk didiskusikan dari pada dari ajaran Kristus.
Sebenarnya, setiap orang Kristen harus mengakui dengan rendah hati bahwa mereka adalah orang buta yang baru dicelikkan, tapi tidak bertindak seperti “si buta baru melek”. Tetapi, ini mungkin sulit dipraktikkan. Mungkin kita merasa bahwa pengetahuan kita tentang Tuhan adalah lebih baik dari apa yang diketahui orang lain. Mungkin juga kita merasa bahwa apa yang diajarkan pendeta kita adalah lebih baik dan lebih benar dari ajaran pendeta lain. Atau barangkali kita merasa yakin bahwa gereja dan denominasi yang kita anut adalah satu-satunya yang baik dan benar.
Jika kita dengan bersemangat berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang diajarkan di gereja kita adalah yang paling benar, kita akan menuntut orang lain untuk melakukan hal yang sama. Lebih-lebih lagi jika pendeta kita menyatakan bahwa gereja kita adalah satu-satunya gereja Tuhan yang asli karena beliau sering menerima wahyu langsung dari Tuhan.
Sebagian jemaat di Korintus mungkin adalah seperti orang buta yang baru bisa melihat, dan karena itu sering timbul berbagai pertentangan. Paulus menanggapi penekanan berlebihan jemaat Korintus pada karunia-karunia rohani tertentu dengan menunjukkan kepada mereka bahwa semua karunia tidak ada nilainya jika tidak dipraktikkan melalui kasih ilahi. Paulus memberikan 14 deskripsi kasih, semua kata kerja tindakan, semua pilihan yang dibuat berdasarkan komitmen untuk mengesampingkan diri sendiri dan melayani orang lain.
Memilih untuk saling mengasihi dengan cara ini akan menyelesaikan banyak masalah yang dihadapi Paulus dalam surat ini. Karunia-karunia rohani memberikan sekilas tentang apa yang dapat diketahui, tetapi ketika yang sempurna datang, kita akan mengetahui semuanya. Mereka harus sadar bahwa pada saat ini, kasih adalah yang terbesar dari semua kebajikan yang dapat mereka lakukan.
Memang, 1 Korintus 13:1–13 adalah salah satu bagian yang paling disukai dan terkenal dalam Alkitab, tetapi Paulus menempatkannya setelah pengajarannya tentang karunia-karunia rohani karena alasan tertentu. Beberapa karunia mungkin tampak mengesankan, tetapi jika dicoba tanpa kasih yang rela berkorban bagi orang lain, karunia-karunia itu menjadi tidak berarti, bahkan merusak. Paulus menggunakan banyak kata kerja untuk menggambarkan apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh kasih.
Paulus telah menggambarkan pengetahuan kita tentang Allah dan jalan-jalan-Nya sebagai pengetahuan yang tidak lengkap atau parsial. Penggunaan karunia-karunia rohani, khususnya karunia-karunia seperti bahasa roh, nubuat, dan pengetahuan, hanya memberikan gambaran sekilas tentang apa yang dapat diketahui tentang Allah. Seperti yang Paulus tulis dalam kitab Roma:
“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Roma 11:33–34
Paulus menggambarkan pengetahuan parsial tentang Allah ini seperti melihat pantulan dalam cermin yang redup. Beberapa peneliti Alkitab berpendapat bahwa yang ada dalam pikirannya adalah cermin perunggu terkenal di Korintus, yang dikenal karena pantulannya yang tidak sempurna. Namun, setelah kedatangan Kristus, ketika gereja sudah sepenuhnya matang seperti Dia, kita akan melihat Allah secara langsung, mengenal-Nya secara pribadi, bukan melalui wahyu parsial.
Manusia adalah makhluk terbatas, tetapi Allah tidak pernah terbatas dalam pengetahuan-Nya. Pada saat ini Dia mengetahui segala sesuatu yang perlu diketahui tentang kita. Sebaliknya, kita hanya tahu sebagian kecil tentang Allah, bahkan ada banyak hal yang tidak kita lihat atau pahami tentang diri kita sendiri. Walaupun demikian, ketika Allah datang untuk tinggal di antara kita (Wahyu 21:1–5), kita akan mengetahui Dia sepenuhnya, sebagaimana Dia mengenal kita sepenuhnya pada saat ini. Dengan demikian, selama kita hidup di dunia sebagai orang buta yang sudah dicelikkan Tuhan, kita harus menjadi orang yang sabar, rendah hati, dan murah hati kepada setiap orang, dan terutama kepada seudara-saudara seiman (Galatia 6:10).
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” 1 Korintus 13:4
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20
Ayat di atas adalah ayat yang cukup dikenal orang Kristen yang rajin ke gereja. Pada umumnya, pesan itu disampaikan berkenaan dengan adanya tindakan jasmani yang kurang baik yang dilakukan oleh orang Kristen. Isi khotbah biasanya tentang panggialn untuk memilih hidup yang baik, yang bermoral dan yang mencerminkan kesucian yang diharapkan Tuhan dari umat-Nya. Walaupun demikian, pesan ayat di atas bukan saja tentang menghindari apa yang jahat, tetapi juga tentang melakukan apa yang baik terhadap jasmani kita.
1 Korintus 6:12–20 menjelaskan keberatan Paulus terhadap mereka di gereja Korintus yang bersikap acuh tak acuh terhadap amoralitas seksual. Di luar hukum formal dan harfiah, Paulus menegaskan bahwa standar perilaku Kristen haruslah apakah suatu praktik kehidupan bisa bermanfaat atau memperbudak manusia. Paulus menulis bahwa seks lebih dari sekadar fungsi tubuh; Allah merancangnya untuk menyatukan dua orang menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Persatuan antara dua orang itu menarik Kristus, yang sudah mempersatukan mereka, ke dalam persatuan dengan mereka.
Paulus memang menegur orang-orang Kristen di gereja Korintus karena ada beberapa orang berpendapat bahwa karena tubuh kita pada akhirnya akan mati dan membusuk, tidak masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Yang penting hanyalah roh di dalam diri kita, kata mereka. Demikian pula, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas untuk melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka suka (1 Korintus 6:12–13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran sesat ini.
Dengan mengingat hal itu, Paulus sekarang menambahkan, tubuh kita sebenarnya bukanlah tubuh kita. Dia akan menulis dalam ayat berikut bahwa Allah telah membeli kita. Dia telah membayar penebusan dosa kita dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus telah menebus kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi kutukan bagi diri-Nya sendiri (Galatia 3:13).
Anggapan bahwa tubuh duniawi kita tidak penting pada dasarnya salah. Tubuh orang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat sebagai bait suci, tempat suci, yang ditinggali oleh Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13–14). Secara misterius, setiap umat Kristen membawa Roh-Nya di dalam tubuhnya. Tubuh kita akan dibangkitkan Allah dan dimaksudkan bahkan sekarang ini untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah.
Dalam pengertian itu, kita mau menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Itulah sebabnya tubuh kita bukanlah milik kita sendiri untuk kita perlakukan sesuka hati kita. Selain menghindari penggunaan tubuh untuk hal yang jahat, umat Kristen harus memelihara tubuh mereka, yang dianggap sebagai bait Roh Kudus. Merawat kesehatan tubuh dan pikiran mereka adalah cara untuk menghormati Tuhan dan menjalani kehidupan yang lebih bersemangat dan memuaskan, yang memungkinkan mereka untuk melayani dan mengikuti Kristus dengan lebih baik.
Apakah memiliki hidup baru di dalam Kristus berarti saya harus mengharapkan dan berjuang untuk kesehatan fisik yang lebih baik? Seberapa besar Tuhan ingin saya merawat tubuh fisik saya? Ayat di atas menekankan pengendalian diri secara seksual; tetapi itu juga menyangkut apa saja yang bisa membuat tubuh fisik kita terlantar. Jadi, kita harus melawan apa pun yang membuat kita tidak sehat. Untuk itu kita perly meminta pertolongan Roh Kudus. Jika makanan yang membuat kita tidak sehat, lawanlah dengan Roh. Jika kemalasan dan kurangnya kegiatan fisik membuat kita tidak sehat, lawanlah dengan kuasa Roh Kudus. Dan jika kita bekerja terlalu berat dan kurang bisa beristirahat, lawanlah juga dengan Roh Kudus.
Menjaga kesehatan tubuh memungkinkan orang Kristen untuk menggunakan fisik mereka untuk memuliakan Tuhan, baik melalui pekerjaan, pelayanan, atau kegiatan lainnya. Tubuh dan pikiran yang sehat memungkinkan orang Kristen untuk melayani orang lain dengan lebih baik, baik secara fisik maupun rohani, karena mereka memiliki lebih banyak energi dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam tindakan kasih dan belas kasih. Selain itu, kesehatan fisik dapat berkontribusi pada pikiran dan jiwa yang lebih kuat, sehingga lebih mudah untuk menolak godaan dan mengikuti kehendak Tuhan. Secara umum. menjaga kesehatan memungkinkan orang Kristen untuk menikmati kehidupan yang lebih bersemangat dan penuh, baik sekarang maupun di masa depan.
Pagi ini kita harus sadar bahwa selama hidup di dunia, tubuh jasmani kita sama pentingnya dengan kerohanian kita. Dia peduli dengan tubuh kita. Tuhan memberikannya kepada kita. Ia ingin agar mereka tetap sehat dan bertahan lama, sampai Ia mengambilnya.
“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ”Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.” Markus 3:5
Markus 3:1–6 menceritakan kisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang pria dengan tangan yang lumpuh pada hari Sabat. Peristiwa ini secara khusus menegaskan kedaulatan-Nya atas hari Sabat. Pada saat yang sama, peristiwa ini juga dapat dianggap sebagai yang pertama dari lima kisah tentang berbagai reaksi orang terhadap pelayanan awal Yesus, yang terlihat di bab 3. Sejak awal pelayanan Yesus, permusuhan orang Farisi perlahan-lahan tumbuh. Kini, tindakan provokatif Yesus membuat para guru agama menganggapnya melampaui batas, dan karena itu orang Farisi bersekutu dengan orang Herodian untuk merencanakan kejahatan terhadap Yesus.
Inti dari Sepuluh Perintah Allah adalah untuk menghormati Tuhan dan manusia. Hukum Musa menjelaskan cara menyembah Tuhan dan menghormati orang lain. Namun, alih-alih mengutamakan Tuhan dan orang lain, orang Farisi mengutamakan hukum demi hukum itu sendiri. Mereka membangun pagar peraturan tambahan di sekeliling ketetapan Tuhan. Mereka berusaha memastikan tidak seorang pun akan melanggar hukum Taurat. Dalam semangat mereka terhadap hukum, mereka melupakan tujuan hukum. Ini mirip orang Kristen di zaman ini yang lebih mementingkan peraturan gereja dan ajaran teologi dari pada firman dan perintah Tuhan untuk mengasihi Dia dan sesama nanusia.
Hari Sabat merupakan contoh ideal tentang perbedaan antara kedua konsep ini. Tuhan memberikan hari Sabat kepada manusia sebagai waktu istirahat dari pekerjaan, yang dimaksudkan untuk memuliakan-Nya dan menyegarkan para pengikut-Nya. Sebaliknya, legalisme orang Farisi mengikat orang-orang. Pendekatan mereka atas hukum mencekik manusia dengan larangan-larangan yang terlalu rinci, yang merusak sukacita dan istirahat yang seharusnya disediakan oleh hari Sabat. Akibatnya, dan khususnya dalam Markus 3, orang Farisi menolak karunia Tuhan dan menuntun orang lain untuk menolaknya juga.
Sikap orang Farisi ini membuat Yesus marah sekaligus berduka. Ia digambarkan dengan kata Yunani orgēs dan syllypoumenos. Kata pertama adalah kata umum yang merujuk pada murka atau kemarahan. Kata kedua didasarkan pada istilah yang kurang umum yang menyiratkan “memberi” atau “berbagi” kesedihan. Yesus marah sekaligus sedih, demi orang-orang di sekitar-Nya, karena reaksi orang-orang Farisi kepada pelayanan Yesus kepada masyarakat.
Kata “degil” atau “keras kepala” berasal dari akar kata Yunani porosis, dan berarti “sangat keras kepala sehingga pikiran menjadi tumpul, keras hati, atau mati rasa. Perlu dicatat bahwa kata “hati” dalam bahasa Yunani memiliki akar kata kardia, dan melambangkan sumber kehidupan, kebijaksanaan, dan kemauan batiniah. Kebijaksanaan orang-orang Farisi ditutupi dengan kekerasan hati yang menjadi penghalang hubungan antara mereka dan Tuhan. Karena kedegilan orang Farisi, Yesus menjadi marah.
Kemarahan memang tidak selalu merupakan dosa. Ada jenis kemarahan yang disetujui Alkitab, yang sering disebut “kemarahan yang benar.” Allah marah (Mazmur 7:11), dan kemarahan orang percaya dapat diterima (Efesus 4:26). Memang aua kata Yunani dalam Perjanjian Baru yang bisa diterjemahkan sebagai “kemarahan.” Yang satu berarti “gairah, energi” dan yang lainnya berarti “gelisah, mendidih.” Secara alkitabiah, kemarahan adalah energi yang diberikan Allah yang dimaksudkan untuk membantu kita memecahkan masalah. Kemarahan semacam ini ada gunanya.
Contoh kemarahan yang benar termasuk kemarahan Daud karena mendengar nabi Natan menceritakan ketidakadilan (2 Samuel 12) dan kemarahan Yesus atas bagaimana beberapa orang Yahudi telah menajiskan ibadah di bait Allah di Yerusalem (Yohanes 2:13-18). Perhatikan bahwa tidak satu pun dari contoh kemarahan ini melibatkan pembelaan diri, tetapi pembelaan terhadap orang lain atau terhadap suatu prinsip.
Belajar dari perilaku Yesus, kita harus mau belajar untuk marah dalam menegakkan kebenaran dan dengan cara benar. Sekalipun kemarahan itu sendiri pada dasarnya bukanlah dosa, tetapi dapat menjadi dosa jika kemarahan tersebut mengarah pada tindakan, perkataan, atau pikiran yang merugikan, atau jika kemarahan tersebut berkembang menjadi kebencian dan kepahitan. Kemarahan menjadi dosa jika tidak ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, tetapi untuk ego atau kepentingan diri sendiri.
Kemarahan sementara sebagai respons terhadap situasi yang sulit, jika ditangani dengan cara yang sehat dan tidak dibiarkan berlarut-larut, pada dasarnya bukanlah dosa. Mengekspresikan amarah dengan tepat, seperti mengomunikasikan perasaan kita dengan tenang dan sopan, bukanlah dosa. Kemarahan yang ditujukan pada ketidakadilan atau kesalahan, didorong oleh keinginan akan kebenaran dan keadilan, dapat menjadi emosi yang positif.
Alkitab menganjurkan kita untuk marah tetapi tidak berbuat dosa, memperingatkan agar tidak membiarkan amarah menguasai dan mengarah pada tindakan atau pikiran yang merugikan. Alkitab tidak mengutuk semua kemarahan, karena Yesus juga menunjukkan kemarahan di Bait Suci. Akan tetapi, Alkitab memperingatkan agar tidak membiarkan kemarahan mengendalikan kita ke arah dosa, dan karena itu menekankan pentingnya pengampunan dan rekonsiliasi.
Membiarkan kemarahan berkembang menjadi kebencian dan keinginan untuk membalas dendam dapat menyebabkan hubungan yang rusak dan hati yang selalu dipenuhi dengan hal-hal yang negatif tentang orang lain. Ketika kemarahan mengarah pada tindakan yang kemudian bisa menimbulkan rasa sesal, seperti berteriak, memukul, atau mengatakan hal-hal yang menyakitkan, kemarahan tersebut bukan lagi sekadar emosi, tetapi tindakan yang berdosa.
Menggunakan bahasa atau nada yang keras atau kasar, dapat menjadi dosa, terutama jika dimaksudkan untuk menyakiti atau merendahkan seseorang. Memendam amarah secara berkelanjutan dan menolak mengampuni orang lain dapat menghambat pekerjaan Roh Kudus dan menghambat pertumbuhan rohani. Mengingat-ingat kesalahan orang lain di masa lalu, selalu berakhir dengan mudahnya untuk menjadi marah lagi di masa depan.
Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan (Kejadian 50:21; Roma 12:21). Ini adalah kunci untuk mengubah kemarahan kita menjadi kasih. Sebagaimana tindakan kita mengalir dari hati kita, demikian pula hati kita dapat diubah oleh tindakan kita (Matius 5:43-48). Dengan kata lain, kita dapat mengubah perasaan kita terhadap orang lain dengan mengubah cara kita bertindak terhadap orang tersebut.
Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan berkomunikasi dalam kasih untuk menyelesaikan masalah. Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan mengenali dan mengakui kemarahan kita yang sombong dan/atau penanganan kemarahan kita yang salah sebagai dosa (Amsal 28:13; 1 Yohanes 1:9). Pengakuan ini harus ditujukan kepada Tuhan dan kepada mereka yang telah terluka oleh kemarahan kita. Kita tidak boleh meremehkan dosa dengan memaafkannya atau menyalahkan orang lain.
Kita dapat menangani kemarahan secara alkitabiah dengan membalas kejahatan dengan kebaikan (Kejadian 50:21; Roma 12:21). Ini adalah kunci untuk mengubah kemarahan kita menjadi kasih. Sebagaimana tindakan kita mengalir dari hati kita, demikian pula hati kita dapat diubah oleh tindakan kita (Matius 5:43-48). Yaitu, kita dapat mengubah perasaan kita terhadap orang lain dengan mengubah cara kita memilih untuk bertindak terhadap orang tersebut. Kita harus bertindak untuk menyelesaikan bagian kita dari masalah tersebut (Roma 12:18). Kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain bertindak atau menanggapi, tetapi kita dapat membuat perubahan yang perlu dan bisa dilakukan di pihak kita.
Amarah seharusnya dipadamkan dalam semalam (Efesus 4:26), tetapi mengatasi penyebab amarah tidak dapat dilakukan dalam semalam. Namun melalui doa, pelajaran Alkitab, dan mengandalkan Roh Kudus Tuhan, kecenderungan munculnya amarah yang tidak benar dapat diatasi. Kita mungkin sudah lama membiarkan amarah mengakar dalam kehidupan kita melalui kebiasaan dan karena adanya lingkungan yang kurang baik, tetapi kita juga dapat berlatih menanggapi dengan benar hingga hal itu juga menjadi kebiasaan baru dan Tuhan bisa dimuliakan melalui usaha kita.
Pagi ini kita harus mau belajar untuk bisa marah demi kebenaran Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan, dengan tujuan dan cara yang benar. Tujuan tidak boleh menghalalkan cara. Kita harus bisa memahami situasi atau pikiran apa yang cenderung memicu amarah kita. Kita harus sadar bahwa tiap orang mempunyai kelemahan dalam hal tertentu. Kita harus siap untuk mengampuni, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, karena hal itu dapat membantu melepaskan kepahitan yang memicu amarah. Kita harus beralih cara, dengan mementingkan doa dan iman untuk mencari bimbingan dan kekuatan untuk mengelola amarah dan untuk membuat pilihan yang bijaksana, dengan selalu bertujuan untuk mencapai rekonsiliasi.
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:29-32
“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya,sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:3-36
Kehidupan kita sebagai orang Kristen sering terasa berat, yang harus dijalani dengan mengetahui bahwa setan itu nyata, aktif, dan jahat. Kita sendiri tidak berdaya melawan setan. Namun, Tuhan kita berkuasa. Apa pun yang ingin dilakukan setan, harus dengan seizin Tuhan, atau setan tidak dapat melakukannya. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak mudah untuk menanggung apa yang setan lemparkan kepada kita, kita harus tetap percaya bahwa jika kita bersandar pada Tuhan yang mengizinkannya dalam hidup kita, pada saat yang tepat kita akan menang bersama Dia. Inilah yang disebut pengertian theodicy atau teodisi.
Teodisi adalah pandangan filosofis untuk menjawab alasan dari Tuhan yang Mahabaik mengizinkan adanya kejahatan di dunia, sehingga mampu menyelesaikan isu dari masalah kejahatan. Beberapa ilmu teodisi juga membahas masalah pembuktian kejahatan dengan mencoba untuk “menyelaraskan keberadaan Tuhan yang Mahapengampun, Mahakuasa, dan Mahatahu dengan keberadaan kejahatan atau penderitaan di dunia”. Istilah ini dicetuskan pada tahun 1710 oleh filsuf Jerman Gottfried Leibniz dalam karyanya yang berjudul Théodicée, walaupun sebelumnya berbagai solusi untuk masalah kejahatan telah diajukan.
Ada pertanyaan alami yang muncul begitu Anda mulai merenungkan hal-hal ini: Mengapa Tuhan tidak menghancurkan setan saja? Mengapa Tuhan mengizinkan setan berkeliaran di bumi sampai sekarang? Mengapa Tuhan menciptakan setan jika Dia tahu ia akan memberontak? Alasan apa yang mungkin dimiliki Tuhan dalam mengizinkan setan mendatangkan rasa sakit, kesengsaraan, kehancuran, dan penderitaan di dunia?
Barangkali, dalam kesusahan kita ada saudara seiman ata pendeta yang debgan maksud baik berusaha menghibur kita. Mereka mungkin mengajak kita berdoa meminta pertolongan dari Tuhan. Mereka mengajak kita membaca ayat-ayat Alkitab yang sering dipakai untuk menguatkan mereka yang tertimpa malapetaka, seperti:
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
Tetapi, mendengar bunyi Roma 8:28 hati kita mungkin bertambah sedih. Bagaimana Tuhan bisa berkata bahwa dengan pengalaman yang pedih saat ini Tuhan bisa mendatangkan kebaikan bagi kita? Seperti itu juga, orang tua saya merasa Tuhan itu kejam karena membiarkan kakak saya meninggal dunia ketika ia berumur 6 tahun. Tapi pada saat itu orang tua saya belum sadar bahwa justru setelah datangnya malapetaka itu mereka kemudian mendapat panggilan Kristus untuk menjadi orang percaya!
Pertanyaan yang harus kita jawab di hati kita pada hari ini adalah: akankah kita percaya kepada Tuhan dalam keadaan yang tidak baik? Apakah kita percaya bahwa hikmat, kuasa, dan kasih Tuhan membuat rencana-rencana-Nya dapat dipercaya bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya?
Roma 11:33–36 adalah pujian Paulus yang puitis dan seperti himne tentang Tuhan dan hikmat-Nya yang luar biasa. Ia mengutip teks-teks Perjanjian Lama seperti Yesaya dan Ayub. Bagian sebelumnya menjelaskan bagaimana maksud Tuhan bagi Israel disertai dengan beberapa tingkat misteri.
Paulus baru saja menyimpulkan pembahasan yang panjang dan rumit tentang hubungan unik Allah dengan Israel sebagai suatu bangsa dan dengan umatnya sebagai individu. Ia telah membandingkan dan mengontraskan tindakan Allah terhadap Israel dengan tindakan-Nya terhadap orang-orang bukan Yahudi. Ia menyimpulkannya dalam ayat sebelumnya dengan menyatakan, pada intinya, bahwa kedua kelompok tersebut telah hidup dalam ketidaktaatan dan bahwa Allah akan menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang dari kedua kelompok tersebut sebagai tanggapan atas iman mereka kepada Kristus.
Dalam Roma 11:33–36, Paulus menyampaikan sebuah puisi, yang terstruktur seperti himne, yang mengungkapkan reaksinya yang mendalam baik terhadap jalan-jalan Allah maupun belas kasihan-Nya kepada manusia yang berdosa.
Paulus memulai dengan mengagumi kedalaman tiga karakteristik Allah. Tuhan adalah mahakaya. Sebelumnya dalam Kitab Roma, Paulus telah menulis tentang kekayaan kasih karunia dan kesabaran Allah (Roma 2:4), kekayaan kemuliaan-Nya (Roma 9:23), dan kekayaan-Nya—dari belas kasihan—bagi dunia (Roma 11:12). Dalam setiap kasus, kekayaan Allah digambarkan sebagai sesuatu yang dibagikan-Nya kepada umat-Nya dengan murah hati dan hal ini tidak pernah berakhir.
Selanjutnya, Paulus terpesona oleh kedalaman hikmat Allah, kemungkinan dalam ungkapan kasih dan kuasa-Nya dalam menyediakan belas kasihan bagi semua orang melalui iman kepada Kristus. Ini diikuti oleh pengetahuan Allah yang mendalam, mungkin sebuah referensi kepada “pengetahuan-Nya sebelumnya” tentang semua orang yang akan datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Roma 8:29; 11:2).
Dua baris berikutnya Paulus dimulai dengan “siapakah yang (bisa) …” Betapa tidak terselami atau tidak terduganya penghakiman Allah, Paulus bertanya-tanya. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki kapasitas untuk memahami mengapa Allah memutuskan apa yang Dia lakukan. Jalan-jalan Allah dikatakan tidak dapat dipahami, seperti kode rahasia yang tidak dapat kita pecahkan. Inilah yang disebut “uncsrutability of God“.
“Inscrutability” dalam bahasa Indonesia berarti kualitas atau keadaan yang sulit atau bahkan tidak dapat dipahami atau dipahami secara mendalam. Ini merujuk pada sifat seseorang atau sesuatu yang tidak menunjukkan emosi atau pikiran secara jelas, sehingga membuatnya sulit untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Dengan kata lain, “inscrutability” adalah kesulitan untuk menembus atau memahami rahasia seseorang.
Salah satu alasan Allah tetap memiliki hak untuk melakukan apa yang Dia inginkan tanpa harus menunjukkan belas kasihan atau alasan kepada manusia adalah karena kita tidak memiliki kapasitas untuk memahami pilihan-pilihan-Nya. Pikiran-pikiran-Nya, jalan-jalan-Nya, keputusan-keputusan-Nya berada di luar jangkauan kita. Kita hanya perlu berserah kepada-Nya dan menyembah-Nya.
Paulus mengajukan beberapa pertanyaan, yang dikutip dari Yesaya 40:13, untuk menggambarkan betapa sedikit yang Tuhan butuhkan dari kita.
Pertama, siapa yang mengetahui pikiran Tuhan? Jawabannya begitu jelas sehingga Paulus tidak mau repot-repot menjawabnya. Tidak seorang pun pernah mengetahui pikiran Tuhan. Sebagai makhluk yang diciptakan oleh-Nya, kita tidak memiliki kapasitas untuk sepenuhnya memahami pikiran-Nya (Yesaya 55:8–9). Menganggap bahwa kita mungkin mengetahui sesuatu tentang proses berpikir Tuhan di luar apa yang telah Dia ungkapkan dalam Firman-Nya adalah kesombongan yang bodoh. Mengakui pikiran-Nya sebagai sesuatu yang tidak dapat kita ketahui adalah alasan untuk menyembah-Nya.
Pertanyaan kedua serupa dengan pertanyaan pertama. Siapa yang pernah menjadi penasihat Tuhan? Kepada siapa Tuhan meminta konseling, atau dukungan moral, atau nasihat tentang hubungan? Kepada siapa Dia meminta ide tentang ciptaan atau pemeliharaan makhluk-makhluk-Nya? Tuhan tidak membutuhkan kita untuk membantu-Nya memikirkan segala sesuatunya, tidak peduli seberapa bersemangatnya kita terkadang untuk melakukan hal itu. Saat kita mulai memahami perbedaan antara pikiran-Nya yang luas dan pikiran kita sendiri, satu-satunya respons yang masuk akal adalah menyembah-Nya dan menerima keputusan-Nya sebagai benar dan tepat.
Kemudian Paulus bertanya, siapakah yang telah memberikan sesuatu kepada Tuhan yang begitu berharga sehingga Tuhan berutang sesuatu kepadanya? Jawabannya adalah tidak seorang pun. Tuhan tidak berutang apa pun kepada kita. Dalam ayat ini, Paulus menjelaskan alasannya. Segala sesuatu yang ada di alam semesta berasal dari Tuhan. Dia adalah Sang Pencipta dan sumber segala sesuatu yang baik. Bagaimana mungkin kita dapat memberikan sesuatu yang belum Dia miliki?
Hari ini kita membaca bahwa Paulus menyatakan dengan tegas bahwa alam semesta adalah milik Tuhan, dan kita hanya hidup di dalamnya, dan menjadi bagian darinya. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, bagi Allah kemuliaan ada sampai selama-lamanya. Ini adalah pernyataan fakta sekaligus doa untuk pemenuhannya, dan itulah yang juga bisa kita sampaikan dalam nyanyian pujian kita (NKI 118 Kehendakmu Jadilah, My Jesus, As Thou Wilt):
Kehendak-Mu jadi di atas dunia Kuserahkan diri dalam karunia Dalam suka duka kujadi milik-Mu Tolong ku berkata, “jadi kehendak-Mu”.
Kehendak-Mu jadi walau dengan duka B’ri kuat dengan imanku terang bercahaya Tuhan t’lah mend’rita dengan tangis Seduh ku juga mau serta “jadi kehendak-Mu”.
Kehendak-Mu jadi lenyapkan musuhku Masa pancaroba terserah pada-Mu Ku mau t’rus mendaki menuju rumah-Mu Nyanyi sen’tiasa, “jadi kehendak-Mu”.
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5:8
Anda dan saya memiliki musuh bernama setan atau iblis yang berkeliaran di bumi dengan misi melahap siapa pun yang dapat ditelannya. Alkitab juga mengatakan hal itu dalam Wahyu 2:10.
“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” Wahyu 2:10
Dalam Alkitab, kita melihat iblis dan anak buahnya mendatangkan malapetaka dan penderitaan di bumi dan dalam kehidupan manusia. Kita tahu bahwa Adam dan Hawa digoda dan ditipu iblis (Kejadian 3:1-5), yang mengakibatkan kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa. Ini merupakan masalah besar seluruh umat manusia sampai sekarang karena kita mewarisi dosa mereka.
Di kitab Tawarikh dikatakan bahwa yang mendorong Daud untuk sombong adalah iblis, “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” (1Tawarich 21:1). Tetapi, dalam kitab Samuel, dikatakan bahwa yang mendorong Daud melakukan sensus adalah Allah: “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” (2 Samuel 24:1). Dari kedua ayat ini dapat disimpulkan bahwa Iblis-lah yang membujuk Daud untuk melakukan sensus, namun Allah mengizinkan hal tersebut. Atau, Allah membuka pintu/ mengizinkan Iblis mencobai Daud, sebagaimana Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus menghadapi kekuatan kegelapan di setiap sudut dalam diri orang-orang yang sakit, lumpuh, dan dirasuki oleh kekuatan iblis. Petrus dalam ayat di atas memperingatkan kita bahwa Setan terus bergerak. Ia mencari yang lemah, terisolasi, dan rentan untuk dilahap. Ia tidak pernah menghargai keadilan. Ia tidak pernah libur, atau merasa kasihan kepada siapa pun. Lalu, apakah peringatan Petrus itu menyangkut kemungkinan bahwa orang Kristen, domba Yesus, bisa dirasuki setan?
Meskipun Alkitab tidak secara eksplisit menyatakan apakah seorang Kristen dapat dirasuki setan, kebenaran Alkitab yang terkait menjelaskan dengan sangat jelas bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki setan. Ada perbedaan yang jelas antara dirasuki setan dan ditindas atau dipengaruhi oleh setan. Kerasukan setan melibatkan setan yang memiliki kendali langsung/penuh atas pikiran dan/atau tindakan seseorang (Matius 17:14-18; Lukas 4:33-35; 8:27-33). Tetapi, untuk orang Kristen penindasan atau pengaruh setan menyangkut serangan rohani dan/atau mendorongnya ke dalam perilaku berdosa.
Dalam semua bagian Perjanjian Baru yang membahas peperangan rohani, tidak ada instruksi untuk mengusir setan dari orang percaya (Efesus 6:10-18). Orang percaya diperintahkan untuk melawan iblis (Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8-9), bukan menengking iblis dari saudara seiman. Orang Kristen didiami oleh Roh Kudus (Roma 8:9-11; 1 Korintus 3:16; 6:19). Tentunya Roh Kudus tidak akan membiarkan setan merasuki orang yang sama yang didiami-Nya. Tentunya tidak mungkinl bahwa Allah akan membiarkan salah satu anak-Nya, yang telah Ia beli dengan darah Kristus (1 Petrus 1:18-19) dan dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17), untuk dirasuki dan dikendalikan oleh setan. Allah sudah tentu jauh lebih berkuasa dari pada setan!
Sebagai orang percaya, kita memang berperang melawan setan dan roh-roh jahatnya, tetapi bukan setan yang berdiam dalam diri kita sendiri. Rasul Yohanes menyatakan, “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu, sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Siapakah Roh yang ada di dalam kita? Roh Kudus. Siapakah Roh yang ada di dalam dunia? Setan dan roh-roh jahatnya. Siapakah yang mengalahkan kuasa setan di kayu salib? Yesus dengan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Oleh karena itu, dengan adanya kuasa Yesus yang telah mengalahkan dunia roh jahat, kasus kerasukan setan pada orang percaya tidak dapat dijelaskan secara alkitabiah. Jadi, jika ada orang yang kerasukan setan, orang itu pasti bukan atau belum menjadi domba Yesus.
Dengan bukti Alkitab yang kuat bahwa seorang Kristen tidak dapat dirasuki setan, beberapa tokoh gereja menggunakan istilah “demonisasi” untuk merujuk pada setan yang menguasai seorang Kristen. Kisah demonisasi malah sering muncul dalam film di layar putih maupun TV. Beberapa berpendapat bahwa meskipun seorang Kristen tidak dapat dirasuki setan, seorang Kristen dapat dimasuki setan. Biasanya, deskripsi tentang dimasuki setan hampir identik dengan deskripsi tentang kerasukan setan. Jadi, hasilnya adalah masalah yang sama. Mengubah terminologi tidak mengubah fakta bahwa setan tidak dapat menghuni atau menguasai sepenuhnya seorang Kristen. Pengaruh dan penindasan setan adalah kenyataan bagi orang Kristen yang tidak dapat diragukan, tetapi tidaklah alkitabiah untuk mengatakan bahwa seorang Kristen dapat dimasuki setan atau dirasuki setan.
Melihat seseorang yang kita kira orang Kristen menunjukkan perilaku kerasukan setan seharusnya membuat kita mempertanyakan keaslian imannya. Hal itu seharusnya tidak membuat kita mengubah sudut pandang kita tentang pengaruh setan. Mungkin orang itu benar-benar orang Kristen tetapi sangat ditindas setan dan/atau menderita masalah psikologis yang parah. Namun sekali lagi, pengalaman kita harus menaati kata Alkitab, bukan kata hati atau pikiran kita. Tidak ada orang Kristen sejati yang bisa dikuasai setan.
Namun, apa yang telah kita katakan sejauh ini seharusnya menimbulkan pertanyaan: Bagaimana kita bisa hidup di dunia yang diperintah oleh Tuhan, diatur oleh Tuhan, dan sepenuhnya bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan-Nya, tetapi Tuhan membiarkan setan menimbulkan berbagai malapetaka di bumi? Bagaimana Tuhan membiarkan kita diserang setan tanpa kita menyadarinya? Di manaka perlindungan Tuhan untuk umat-Nya?
Jawaban singkat yang sesuai dengan teologi Kristen adalah: Tuhan mengizinkan peran setan di bumi dan penderitaan manusia karena semua itu adalah bagian dari rencana kekal-Nya. Salah satu cuplikan terbesar mengenai misteri Tuhan yang mengizinkan aktivitas dan penderitaan setan yang dibawanya, diungkapkan dalam kitab Ayub. Di dalamnya, kita melihat setan masuk ke hadirat Tuhan. Tuhan bertanya kepadanya di mana dia berada, dan setan berkata bahwa dia telah berkeliaran ke sana kemari. Terjadilah perdebatan antara Tuhan dan setan tentang Ayub, seorang pria yang makmur dan takut akan Tuhan di bumi.
Tuhan memberi tahu setan bahwa dia dapat menyiksa hidup Ayub. Dan setan dengan senang hati melakukannya. Ayub kehilangan harta benda dan anak-anaknya, tetapi Ayub tidak kehilangan imannya. Setan kecewa dan berkata kepada Tuhan bahwa jika Ayub secara pribadi disiksa, dia akan mengutuk Tuhan. Tuhan lagi-lagi mengizinkan setan menyiksa Ayub, tetapi Dia menetapkan syarat tentang apa yang dapat atau tidak dapat dia lakukan. Kali ini Setan tidak diizinkan untuk mengambil nyawanya, tetapi semua hal lainnya masih bisa terjadi. Ayub kemudian menderita penyakit fisik dan kesengsaraan sebagai akibatnya. Banyak orang percaya bahwa Ayub telah tidak menaati Tuhan dan sedang dihukum. Yang lain percaya bahwa ia harus mengutuk Tuhan dan berpaling dari-Nya. Ayub tidak melakukannya. Ayub tetap percaya kepada kasih Tuhan.
Ada banyak sudut pandang untuk membahas kisah Ayub ini, tetapi jelas bahwa kemampuan setan untuk bertindak di bumi adalah dengan seizin Tuhan. Setan tidak berdaulat. Setan tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Hanya Tuhan yang berdaulat, dan hanya Tuhan yang dapat melakukan semua yang Ia inginkan (Mazmur 115:3).
Ada pertanyaan alami yang muncul begitu Anda mulai merenungkan hal-hal ini: Mengapa Tuhan tidak menghancurkan setan saja? Mengapa Tuhan mengizinkan setan berkeliaran di bumi sampai sekarang? Mengapa Tuhan menciptakan setan jika Dia tahu ia akan memberontak? Alasan apa yang mungkin dimiliki Tuhan dalam mengizinkan setan mendatangkan rasa sakit, kesengsaraan, kehancuran, dan penderitaan di dunia?
Ada beberapa jawaban yang bisa kita pelajari:
Pertama, Tuhan dapat menggunakan setan sebagai alat penghakiman atas dunia. Kita tidak boleh lupa bahwa semua manusia adalah anak-anak murka sebagai akibat dari dosa (Efesus 2:3). Allah tidak harus menunda penghakiman sampai kita mati, tetapi bebas untuk memberikan keadilan atas pemberontakan di bumi saat ini.
Kedua, Allah dapat menggunakan setan sebagai alat untuk mewujudkan tujuan-tujuan-Nya yang baik. Kedengarannya aneh untuk menghubungkan apa pun yang dilakukan iblis dengan tujuan-tujuan baik Allah, tetapi kisah penyaliban Yesus adalah secuah contoh yang baik. Setan menuntun Yudas untuk mengkhianati Yesus, yang akhirnya mengakibatkan penyalibannya di kayu salib. Tanpa salib tidak ada keselamatan. Setan bermain tepat sesuai rencana Allah. Itu karena Allah memberi setan kesempatan. Dan kita harus menyadari ada 1001 cara lain yang Allah lakukan yang tidak selalu bisa kita mengerti.
Ketiga, Allah dapat menggunakan setan sebagai alat untuk memperlihatkan kemuliaan Kristus yang tak terukur. Bagaimana caranya? Ketika Yesus kembali dalam kemuliaan di atas awan, dan mata-Nya menyala-nyala dengan api dan pedang ada di tangan-Nya, setan akan menemui kekalahan terakhirnya. Kristus akan menerima kemuliaan yang lebih besar dalam kekalahan setan pada akhirnya daripada yang akan diterimanya jika setan dikalahkan secara langsung. Kedatangan Yesus kembali akan mengakhiri pekerjaan setan yang merusak di dunia, dan pemberontakannya akan dipadamkan saat ia dilemparkan ke dalam lautan api (Wahyu 20:10), tidak pernah untuk bisa bangkit kembali. Pada saat itu, kita akan merayakan kemenangan Raja kita, yang menang atas semua musuh-Nya dan musuh kita. Haleluya!
Pertanyaan yang harus kita jawab di hati kita pada hari ini adalah: akankah kita percaya kepada Tuhan? Apakah kita percaya bahwa hikmat, kuasa, dan kasih Tuhan membuat rencana-rencana-Nya dapat dipercaya bahkan ketika kita tidak dapat memahaminya?
Kehidupan kita sebagai orang Kristen sering terasa berat, yang harus dijalani dengan mengetahui bahwa setan itu nyata, aktif, dan jahat. Kita sendiri tidak berdaya melawan setan. Namun, Tuhan kita berkuasa. Apa pun yang ingin dilakukan setan, harus dengan seizin Tuhan, atau setan tidak dapat melakukannya. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak mudah untuk menanggung apa yang setan lemparkan kepada kita, kita harus tetap percaya bahwa jika kita bersandar pada Tuhan yang mengizinkannya dalam hidup kita, pada saat yang tepat kita akan menang bersama Dia.
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 16:33
Adakah orang yang tidak pernah kecewa? Saya yakin tidak ada, termasuk di antara umat percaya. Ada banyak hal yang bisa membuat orang Kristen kecewa. Orang tua membesarkan anak mereka di dalam Tuhan, tetapi sang anak kemudian berperilaku dengan cara yang menghancurkan hati mereka. Seorang menikahi pasangannya di gereja, yang berjanji untuk mencintai, menghormati, dan menghargainya sampai maut memisahkan mereka, tetapi selang beberapa bulan sang pasangan bertindak seolah-olah dia lebih mencintai pekerjaannya. Anda mungkin saja bergabung dengan sebuah gereja dan yakin bahwa itu adalah pilihan yang dibuat Tuhan di surga, tetapi kemudian Anada menemukan bahwa gereja itu dipimpin oleh orang-orang yang tidak sempurna dan lemah seperti di gereja yang Anda tinggalkan.
Agaknya keadaan, pekerjaan, keuangan, kesehatan, rumah, mobil, orang-orang, dan segala sesuatu yang ada di dunia memiliki kemampuan untuk membuat kita kecewa. Benarkah begitu? Ataukah kita yang justru memiliki kelemahan dalam hal bisa dikecewakan oleh apapun yang ada dan yang terjadi di dunia? Sudah tentu di luar sesama manusia, tidak ada yang mampu mengewakan kita. Benda mati, tumbuhan dan hewan tidak mampu, tidak bisa, melakukan sesuatu untuk mengecewakan manusia. Tetapi manusia mana pun bisa merasa kecewa atas apa yang terjadi di dunia jika itu tidak sesuai dengan keinginannya. Jika seseorang merasa adanya kekecewaan, itu berasal dari diri (pikiran) sendiri.
Sering orang kecewa atas apa yang dipandang tidak adil. Orang Kristen juga bisa kecewa kepada Tuhan jika harapannya tidak terpenuhi. Mengapa Tuhan tidak adil? Kisah nabi Yunus yang kecewa karena Tuhan batal menghukum orang-orang Niniwe, dan juga karena matinya pohon jarak yang ditumbuhkan Tuhan, menunjukkan bahwa orang percaya bisa terpuruk dalam kekecewaan. Seperti Yunus, kita mudah putus asa dan marah atas apa yang dianggap tidak adil, yang terjadi pada diri kita.
Sepanjang pengajaran-Nya dalam perjamuan terakhir (Yohanes 13:1–5), Yesus sering mengemukakan fakta bahwa Ia memberikan peringatan dini kepada para pengikut-Nya (Yohanes 13:19; 14:25). Maksud-Nya adalah untuk memberikan semangat dalam menghadapi penganiayaan sebagai akibat dari iman mereka tidak dapat dihindari. Sesuai dengan kepastian akan adanya penderitaan itu, Yesus kembali menjanjikan kedatangan Roh Kudus. Ia menjelaskan bahwa setelah masa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam, para pengikut-Nya akan mengalami sukacita dan kejelasan yang besar. Ini diakhiri dengan janji yang sangat dikasihi bahwa Kristus telah “mengalahkan dunia.”
Yohanes 16:25-33 melengkapi kombinasi dorongan dan peringatan Kristus saat Ia mempersiapkan para murid untuk penangkapan-Nya yang akan datang (Yohanes 18:1-3). Bagian ini merangkum pesan umum dari wacana itu: bahwa kesulitan dan penganiayaan akan datang, tetapi orang percaya harus tetap setia, mengetahui bahwa ini semua adalah bagian dari pengetahuan Allah dan kehendak-Nya. Alih-alih bereaksi dengan panik atau ragu, para pengikut Kristus harus merasakan kedamaian. Keyakinan ini diilhami oleh pengetahuan bahwa tidak ada yang mereka alami yang mengejutkan Allah. Ungkapan “kuatkan hatimu” menyiratkan keberanian: mengetahui kemenangan Kristus akan mengatasi semua masalah itu.
Perkataan Kristus, yang dicatat di sini, termasuk yang paling dihargai dalam Injil Yohanes. Pernyataan ini menggabungkan pengajaran, peringatan, dan dorongan. Menjadi seorang Kristen tidak menjamin kehidupan yang mudah. Bahkan, Yesus telah menjelaskan dengan jelas bahwa mengikuti-Nya dapat menuntun pada penganiayaan (Yohanes 16:1-4). Sukacita yang dimiliki oleh orang percaya yang lahir baru berasal dari pengetahuan bahwa Kristus telah memperoleh kemenangan akhir, dan tidak ada apa pun di dunia ini yang dapat membatalkannya (Roma 8:38-39). Bahwa Kristus menjelaskan, sebelumnya, bahwa masa-masa sulit akan datang (Yohanes 15:20-21) seharusnya meyakinkan semua orang percaya: situasi-situasi yang kita hadapi saat ini tidak mengejutkan Tuhan. Tuhan selalu memegang kontrol. God is always in control.
Bukannya bereaksi dalam ketakutan atau kebingungan, semua orang Kristen harus menyadari bahwa pengalaman pahit mereka merupakan bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi di dunia jika Tuhan tidak mengizinkannya. Kitab Ibrani, khususnya pasal 11, merayakan para pahlawan iman yang memilih untuk “berpegang teguh” dan percaya kepada Allah. Kepercayaan itu, sebagaimana ditunjukkan oleh Alkitab, harus dipelihara dengan baik, bahkan jika pemenuhan janji-janji Allah belum terjadi sampai saat orang-orang percaya itu meninggal. Itu karena segala sesuatu pasti terjadi pada saat yang ditetapkan Tuhan. Yesus sudah menang atas kematian, kubur dan neraka. Dia akan menghapus air mata kekecewaan dari wajah kita untuk terakhir kalinya dan menunjukkan kepada kita bagaimana penderitaan kita saat ini tidak sebanding dengan sukacita surgawi yang akan kita terima.
“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” 2 Korintus 4:17
Sampai saat kita datang, kekecewaan akan menjadi bagian dari pengalaman manusiawi kita. Ketika kita mengalaminya, dan karena itu kita boleh saja menangis. Dengan bantuan Roh Kudus, kita dapat dengan sungguh hati menyatakan harapan-harapan kita, memperoleh penghiburan dalam janji-janji Tuhan, membawa keinginan-keinginan kita kepada-Nya, dan berserah kepada kehendak-Nya. Dengan kekuatan kita sendiri, ini tidak mungkin, tetapi dengan bantuan Tuhan kita dapat melakukannya. Setiap kekecewaan baru membawa kesempatan lain untuk memercayai-Nya. Ketika kita melakukannya, Dia menghibur hati kita dan menumbuhkan iman kita. Semoga Tuhan memberi kita ketabahan yang makin besar dalam menghadapi hidup ini.
“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22:14
Manakah yang lebih banyak penghuninya, surga atau neraka? Manakah yang lebih populer, surga atau neraka? Pertanyaan ini dijawab oleh Yesus sendiri: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13–14).
Hanya mereka yang menerima Yesus Kristus dengan iman sejatilah yang diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah: ” Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”(Yohanes 1:12). Yesus pernah berkata: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Kita tidak dapat masuk surga melalui Muhammad, Buddha, atau dewa-dewa palsu buatan manusia lainnya. Kita juga tidak dapat ke surga melalui amal-sedekah. Kehidupan kekal bukanlah untuk mereka yang menginginkan jalan yang bisa dibeli dan mudah dicapai, menuju surga sambil terus menjalani kehidupan mereka yang egois dan duniawi. Yesus hanya menyelamatkan mereka yang sepenuhnya percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 4:12). Apakah Anda termasuk dalam kelompok ini? Marilah kita meneliti pilihan kita.
Ada dua pintu gerbang dalam Matius 7:13–14? Keduanya adalah pintu masuk ke dua “jalan” yang berbeda. Gerbang yang lebar mengarah ke jalan atau jalan yang lebar. Gerbang yang kecil dan sempit mengarah ke jalan yang sempit. Jalan yang sempit adalah jalan orang saleh, dan jalan yang lebar adalah jalan orang fasik. Jalan yang lebar adalah jalan yang mudah. Jalan itu menarik dan memanjakan diri sendiri. Jalan itu permisif. Jalan itu adalah jalan dunia yang inklusif, dengan sedikit aturan, sedikit batasan, dan lebih sedikit persyaratan.
Toleransi terhadap dosa adalah norma di mana Firman Tuhan tidak dipelajari dan standar-Nya tidak diikuti. Jalan ini tidak mengembangkan atau memperjuangkan kedewasaan rohani, karakter moral, komitmen, atau pengorbanan. Jalan ini melibatkan ketaatan kepada “penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Efesus 2:2). Jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).
Mereka yang mengkhotbahkan injil inklusivitas di mana “semua jalan menuju surga” mengkhotbahkan injil yang sama sekali berbeda dari yang dikhotbahkan Yesus. Gerbang penipuan, keegoisan, dan kesombongan adalah gerbang dunia yang lebar yang menuju neraka, bukan gerbang sempit yang menuju kehidupan kekal. Kebanyakan orang menghabiskan hidup mereka mengikuti orang banyak yang berada di jalan yang lebar, melakukan apa yang dilakukan orang lain, dan mempercayai apa yang diyakini orang lain.
Mereka yang mengkhotbahkan injil ekslusivitas di mana “asal terpilih akan ke surga” juga menyampaikan pesan yang keliru karena pertimbangan akan hidup suci dan ketaatan kepada firman Tuhan dinomer-duakan atau diabaikan. Mereka yang tidak mempunyai moral yang baik dan hidup dalam dosa adalah orang yang memilih jalan yang lebar, yang menju ke arah kebinasaan.
Jalan yang sempit adalah jalan yang sulit, jalan yang penuh tuntutan. Itu adalah jalan yang rendah hati, dan mereka yang menjalaninya menyadari bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan harus bergantung pada Yesus Kristus saja. Itu adalah jalan penyangkalan diri dan salib. Fakta bahwa sedikit yang menemukan jalan Tuhan menyiratkan bahwa tidak banyak yang berusaha menemukannya. Namun, Tuhan berjanji bahwa semua yang mencarinya dengan tekun akan menemukannya: “Kamu akan mencari Aku dan menemukan Aku, apabila kamu mencari Aku dengan segenap hatimu” (Yeremia 29:13).
Tidak seorang pun akan tersandung ke dalam kerajaan surga atau berjalan melalui pintu gerbang yang sempit secara kebetulan atau tanpa kesadaran dan kemauan. Seseorang pernah bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Lukas 13:23–24).
Banyak orang akan ingin masuk dari pintu yang sempit itu, pintu keselamatan, tetapi “tidak akan dapat.” Mengapa? Mereka tidak mau percaya kepada Yesus saja. Mereka tidak mau meninggalkan dunia dan daya tariknya. Jalan Kristus adalah jalan salib, dan jalan salib adalah jalan penyangkalan diri. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 9:23–24). Ini adalah perintah Tuhan yang mutlak tapi sulit untuk dilakukan. Apakah Anda sudah pernah berusaha?
Yesus tahu bahwa banyak orang akan memilih pintu yang lebar dan jalan yang lebar yang menuju kebinasaan dan neraka. Dan Ia berkata bahwa hanya sedikit yang akan memilih pintu yang sempit. Dengan demikian, menurut Matius 7:13–14, tidak diragukan lagi bahwa lebih banyak orang akan masuk neraka daripada ke surga. Masalahnya, bagaimana orang bisa masuk melalui pintu yang sempit untuk ke surga? Bagaimana kita bisa terhitung dalam kelompaok yang lebih kecil? Ataukah Anda sudah yakin bahwa Anda termasuk dalam kelompok ini?
Matius 22, khususnya ayat ini, menimbulkan ketegangan antara dua gagasan. Kitab Suci tampaknya menyeimbangkan dua konsep yang tidak saling bertentangan, tetapi tumpang tindih dalam cara yang rumit. Di satu sisi adalah pilihan Allah atas mereka yang akan masuk ke dalam kerajaan surga. Di sisi lain adalah perintah bagi orang-orang untuk menerima undangan dan menerima anugerah kasih karunia. Allah memanggil setiap orang untuk datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Tetapi, hanya mereka yang dipilih oleh Allah yang akan percaya, dan mereka yang dipilih akan percaya atas pilihan mereka sendiri. Hanya mereka yang benar-benar percaya (Yohanes 3:16-18), mereka yang dengan tulus dan sungguh-sungguh mau menaati panggilan, adalah orang-orang pilihan.
Perlu kita ketahui, ada banyak yang dipanggil atau diundang ke dalam kerajaan, tetapi tidak ada yang dapat datang sendiri. Tuhan harus menarik hati mereka yang datang; jika tidak, mereka tidak akan datang karena tidak mampu.
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yohanes 6:44
Pola ini membantu kita memahami hakikat panggilan dalam perumpamaan ini. Itu adalah panggilan atau undangan Allah melalui hamba-hamba-Nya—nabi dalam Perjanjian Lama, pendeta dalam Perjanjian Baru. Panggilan ini meminta para pendengar untuk bertobat dan percaya pada kabar baik yang diberitakan oleh para hamba. Adalah mungkin untuk menolak, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi dan juga orang zaman sekarang. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang menolak panggilan itu bersalah karena menolaknya.
Tidak semua orang yang mendengar Injil menerimanya, tetapi hanya “sedikit” yang memiliki telinga untuk mendengar dan menerimanya. Banyak orang yang mendengar, tetapi tidak ada minat atau ada pertentangan langsung terhadap Tuhan. Banyak orang yang mendengar dan mau berusaha untuk ikut Yesus, tetai mereka masih ingin untuk menikmati hidup duniawi (Matius 19:16-26). Pada pihak yang lain, semua “orang pilihan” Allah akan diselamatkan tanpa kecuali; mereka akan mendengar dan menanggapi karena mereka memiliki telinga rohani untuk mendengar kebenaran. Menurut pikiran manusia, hal seperti ini adalah tidak mungkin, seperti onta yang ingin melewati lunang jarum (Matius 19:25). Tetapi, kuasa Allah memastikan hal ini (Matius 19:26; Roma 8:28-30).
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:28-30:
Siapakah mereka yang dengan tulus menanggapi panggilan dan menerima Kristus dengan iman? Yesus menyebut mereka sebagai “orang-orang terpilih” atau, sebagaimana kata Yunani tersebut dapat diterjemahkan, orang-orang pilihan. Mereka semua adalah orang-orang yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4). Hanya orang-orang pilihan inilah yang akan menjadi bagian dari orang-orang tebusan ketika Kristus kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan bahwa mereka akan menanggapi panggilan tersebut dengan tulus. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang. Itu adalah panggilan Allah melalui pesan Injil. Panggilan ini memanggil pria dan wanita untuk datang kepada Kristus melalui pertobatan dan iman. Namun, hanya orang pilihan yang mengalami panggilan internal. Bagi mereka, Injil memang kekuatan Allah yang menyelamatkan.
“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Roma 1:16