Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 3

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22:14

Manakah yang lebih banyak penghuninya, surga atau neraka? Manakah yang lebih populer, surga atau neraka? Pertanyaan ini dijawab oleh Yesus sendiri: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Matius 7:13–14).

Hanya mereka yang menerima Yesus Kristus dengan iman sejatilah yang diberi hak untuk menjadi anak-anak Allah: ” Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”(Yohanes 1:12). Yesus pernah berkata: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Kita tidak dapat masuk surga melalui Muhammad, Buddha, atau dewa-dewa palsu buatan manusia lainnya. Kita juga tidak dapat ke surga melalui amal-sedekah. Kehidupan kekal bukanlah untuk mereka yang menginginkan jalan yang bisa dibeli dan mudah dicapai, menuju surga sambil terus menjalani kehidupan mereka yang egois dan duniawi. Yesus hanya menyelamatkan mereka yang sepenuhnya percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 4:12). Apakah Anda termasuk dalam kelompok ini? Marilah kita meneliti pilihan kita.

Ada dua pintu gerbang dalam Matius 7:13–14? Keduanya adalah pintu masuk ke dua “jalan” yang berbeda. Gerbang yang lebar mengarah ke jalan atau jalan yang lebar. Gerbang yang kecil dan sempit mengarah ke jalan yang sempit. Jalan yang sempit adalah jalan orang saleh, dan jalan yang lebar adalah jalan orang fasik. Jalan yang lebar adalah jalan yang mudah. ​​Jalan itu menarik dan memanjakan diri sendiri. Jalan itu permisif. Jalan itu adalah jalan dunia yang inklusif, dengan sedikit aturan, sedikit batasan, dan lebih sedikit persyaratan.

Toleransi terhadap dosa adalah norma di mana Firman Tuhan tidak dipelajari dan standar-Nya tidak diikuti. Jalan ini tidak mengembangkan atau memperjuangkan kedewasaan rohani, karakter moral, komitmen, atau pengorbanan. Jalan ini melibatkan ketaatan kepada “penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Efesus 2:2). Jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12).

Mereka yang mengkhotbahkan injil inklusivitas di mana “semua jalan menuju surga” mengkhotbahkan injil yang sama sekali berbeda dari yang dikhotbahkan Yesus. Gerbang penipuan, keegoisan, dan kesombongan adalah gerbang dunia yang lebar yang menuju neraka, bukan gerbang sempit yang menuju kehidupan kekal. Kebanyakan orang menghabiskan hidup mereka mengikuti orang banyak yang berada di jalan yang lebar, melakukan apa yang dilakukan orang lain, dan mempercayai apa yang diyakini orang lain.

Mereka yang mengkhotbahkan injil ekslusivitas di mana “asal terpilih akan ke surga” juga menyampaikan pesan yang keliru karena pertimbangan akan hidup suci dan ketaatan kepada firman Tuhan dinomer-duakan atau diabaikan. Mereka yang tidak mempunyai moral yang baik dan hidup dalam dosa adalah orang yang memilih jalan yang lebar, yang menju ke arah kebinasaan.

Jalan yang sempit adalah jalan yang sulit, jalan yang penuh tuntutan. Itu adalah jalan yang rendah hati, dan mereka yang menjalaninya menyadari bahwa mereka tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan harus bergantung pada Yesus Kristus saja. Itu adalah jalan penyangkalan diri dan salib. Fakta bahwa sedikit yang menemukan jalan Tuhan menyiratkan bahwa tidak banyak yang berusaha menemukannya. Namun, Tuhan berjanji bahwa semua yang mencarinya dengan tekun akan menemukannya: “Kamu akan mencari Aku dan menemukan Aku, apabila kamu mencari Aku dengan segenap hatimu” (Yeremia 29:13).

Tidak seorang pun akan tersandung ke dalam kerajaan surga atau berjalan melalui pintu gerbang yang sempit secara kebetulan atau tanpa kesadaran dan kemauan. Seseorang pernah bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: ”Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Lukas 13:23–24).

Banyak orang akan ingin masuk dari pintu yang sempit itu, pintu keselamatan, tetapi “tidak akan dapat.” Mengapa? Mereka tidak mau percaya kepada Yesus saja. Mereka tidak mau meninggalkan dunia dan daya tariknya. Jalan Kristus adalah jalan salib, dan jalan salib adalah jalan penyangkalan diri. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 9:23–24). Ini adalah perintah Tuhan yang mutlak tapi sulit untuk dilakukan. Apakah Anda sudah pernah berusaha?

Yesus tahu bahwa banyak orang akan memilih pintu yang lebar dan jalan yang lebar yang menuju kebinasaan dan neraka. Dan Ia berkata bahwa hanya sedikit yang akan memilih pintu yang sempit. Dengan demikian, menurut Matius 7:13–14, tidak diragukan lagi bahwa lebih banyak orang akan masuk neraka daripada ke surga. Masalahnya, bagaimana orang bisa masuk melalui pintu yang sempit untuk ke surga? Bagaimana kita bisa terhitung dalam kelompaok yang lebih kecil? Ataukah Anda sudah yakin bahwa Anda termasuk dalam kelompok ini?

Matius 22, khususnya ayat ini, menimbulkan ketegangan antara dua gagasan. Kitab Suci tampaknya menyeimbangkan dua konsep yang tidak saling bertentangan, tetapi tumpang tindih dalam cara yang rumit. Di satu sisi adalah pilihan Allah atas mereka yang akan masuk ke dalam kerajaan surga. Di sisi lain adalah perintah bagi orang-orang untuk menerima undangan dan menerima anugerah kasih karunia. Allah memanggil setiap orang untuk datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Tetapi, hanya mereka yang dipilih oleh Allah yang akan percaya, dan mereka yang dipilih akan percaya atas pilihan mereka sendiri. Hanya mereka yang benar-benar percaya (Yohanes 3:16-18), mereka yang dengan tulus dan sungguh-sungguh mau menaati panggilan, adalah orang-orang pilihan.

Perlu kita ketahui, ada banyak yang dipanggil atau diundang ke dalam kerajaan, tetapi tidak ada yang dapat datang sendiri. Tuhan harus menarik hati mereka yang datang; jika tidak, mereka tidak akan datang karena tidak mampu.

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Yohanes 6:44

Pola ini membantu kita memahami hakikat panggilan dalam perumpamaan ini. Itu adalah panggilan atau undangan Allah melalui hamba-hamba-Nya—nabi dalam Perjanjian Lama, pendeta dalam Perjanjian Baru. Panggilan ini meminta para pendengar untuk bertobat dan percaya pada kabar baik yang diberitakan oleh para hamba. Adalah mungkin untuk menolak, seperti yang dilakukan banyak orang Yahudi dan juga orang zaman sekarang. Yesus mengajarkan bahwa mereka yang menolak panggilan itu bersalah karena menolaknya.

Tidak semua orang yang mendengar Injil menerimanya, tetapi hanya “sedikit” yang memiliki telinga untuk mendengar dan menerimanya. Banyak orang yang mendengar, tetapi tidak ada minat atau ada pertentangan langsung terhadap Tuhan. Banyak orang yang mendengar dan mau berusaha untuk ikut Yesus, tetai mereka masih ingin untuk menikmati hidup duniawi (Matius 19:16-26). Pada pihak yang lain, semua “orang pilihan” Allah akan diselamatkan tanpa kecuali; mereka akan mendengar dan menanggapi karena mereka memiliki telinga rohani untuk mendengar kebenaran. Menurut pikiran manusia, hal seperti ini adalah tidak mungkin, seperti onta yang ingin melewati lunang jarum (Matius 19:25). Tetapi, kuasa Allah memastikan hal ini (Matius 19:26; Roma 8:28-30).

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8:28-30:

Siapakah mereka yang dengan tulus menanggapi panggilan dan menerima Kristus dengan iman? Yesus menyebut mereka sebagai “orang-orang terpilih” atau, sebagaimana kata Yunani tersebut dapat diterjemahkan, orang-orang pilihan. Mereka semua adalah orang-orang yang telah dipilih Bapa di dalam Kristus sejak sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4). Hanya orang-orang pilihan inilah yang akan menjadi bagian dari orang-orang tebusan ketika Kristus kembali dalam kemuliaan. Pilihan kekal Allah memastikan bahwa mereka akan menanggapi panggilan tersebut dengan tulus. Panggilan eksternal ditujukan kepada semua orang. Itu adalah panggilan Allah melalui pesan Injil. Panggilan ini memanggil pria dan wanita untuk datang kepada Kristus melalui pertobatan dan iman. Namun, hanya orang pilihan yang mengalami panggilan internal. Bagi mereka, Injil memang kekuatan Allah yang menyelamatkan.

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Roma 1:16

Semoga Anda yakin akan keselamatan Anda.

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 2

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5:11-13

Jaminan keselamatan, secara sederhana, adalah mengetahui dengan pasti bahwa Anda diselamatkan. Banyak orang Kristen sepanjang sejarah telah menulis tentang pergumulan mereka dalam usaha untuk memperoleh kepastian keselamatan. Hal ini sering membuat mereka sedih dan menderita, karena sekalipun mereka sudah berusaha menjalani hidup sebagai orang Kristen, mereka tidak yakin kalau Tuhan mau memilih mereka. Bagaimana dengan Anda?

Dalam teologi Reformed, kepastian keselamatan merupakan topik yang masih sering diperdebatkan, sekalipun penganutnya percaya bahwa Tuhan sudah memilih umat-Nya hanya berdasarkan pilihan-Nya dan keselamatan yang di karuniakan-Nya tidak akan bisa hilang. Ada yang berpendapat bahwa Allah memberikan kepastian tentang keselamatan kepada anak-anak-Nya melalui Roh Kudus, yang memungkinkan mereka mengetahui bahwa mereka telah diselamatkan. Yang lain, seperti yang dinyatakan dalam Konsili Trente, berpendapat bahwa seseorang memang belum tentu bisa yakin bahwa mereka telah ditakdirkan untuk selamat. Tidak ada orang yang tahu tentang nasib akhirnya kecuali Tuhan sendiri. Jika ini benar, sungguh malang nasib orang Kristen selama hidup di dunia, seperti seorang anak yang tidak yakin kalau ia dikasihi orang tuanya.

Kita cenderung mencari kepastian keselamatan dalam hal-hal yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam pertumbuhan rohani kita, dalam perbuatan baik dan ketaatan kepada Firman Tuhan yang nyata dalam perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen. Meskipun hal-hal ini dapat menjadi bukti keselamatan, hal-hal tersebut bukanlah yang seharusnya menjadi dasar kepastian keselamatan kita. Sebaliknya, kita harus menemukan kepastian keselamatan kita dalam kebenaran objektif Firman Tuhan. Kita harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa kita diselamatkan berdasarkan janji-janji yang telah Tuhan nyatakan, bukan karena pengalaman subjektif kita.

Bagaimana Anda dapat memperoleh kepastian keselamatan? Pertimbangkan ayat di atas. Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup. Fakta ini ditulis rasul Yohanes agar mereka yang percaya kepada Yesus, tahu bahwa mereka memiliki hidup yang kekal. Dengan demikian, jika Anda memiliki Yesus, Anda memiliki hidup. Bukan hidup sementara, tetapi hidup kekal.

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5:13

Allah ingin kita memiliki kepastian keselamatan kita. Kita seharusnya tidak menjalani kehidupan Kristen kita dengan bertanya-tanya dan khawatir setiap hari apakah kita benar-benar diselamatkan. Itulah sebabnya Alkitab membuat rencana keselamatan begitu jelas. Dengan menghayati Firman Tuhan, Anda tidak akan meragukan kenyataan keselamatan kekal Anda.

Kepastian datang melalui bukti kehidupan yang berubah. Kepastian diteguhkan di dalam diri kita saat kita melihat Allah membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Yesus Kristus. Semua orang yang telah dilahirkan kembali akan melihat bukti yang jelas tentang kehidupan baru di dalam Kristus. Meskipun kita tidak akan pernah menjadi sempurna dalam hidup ini, kita akan mengalami kehidupan yang berubah. Transformasi batin inilah yang memberikan peneguhan yang kuat tentang keselamatan kita.

Rasul Yohanes menulis dalam 1 Yohanes 2:3: “Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.” Dengan kata lain, kita dapat yakin bahwa kita mengenal Kristus saat kita melihat di dalam diri kita ada ketaatan yang diinginkan Allah. Ketika kita melihat buah rohani ini dihasilkan oleh Roh Kudus dalam hidup kita, kita dapat yakin bahwa Kristus hidup di dalam kita. Dalam Yesus kita harus juga yakin bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang ditawarkan kepada semua orang dan diberikan kepada mereka yang percaya melalui pekerjaan Roh Kudus.

Namun, ada hal lain yang membuat banyak orang Kristen khawatir. Paulus menulis dalam Kolose 1:21-23: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”

Teks ini tampaknya menyatakan bahwa keselamatan dapat hilang karena itu bergantung pada ketekunan atau kelanjutan iman kita. Itu bukan kesimpulan yang sepenuhnya benar dari teks ini. Namun ayat itu tidak salah karena kita memang harus bertekun.

Teks tersebut mengatakan kita telah diperdamaikan jika kita terus bertekun dalam iman. Itu syarat yang nyata. Jika kita tidak terus bertekun dalam iman — yaitu, jika kita membuang iman, meninggalkan Yesus Kristus, menentang Dia dan kebenaran-Nya, tidak pernah bertobat — kita akan binasa. Itulah yang dikatakan dalam 1 Yohanes 2:19 tentang mereka yang murtad: “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

Dua hal penting dijelaskan dengan jelas dalam teks itu. Pertama, jika kita tidak bertekun dalam iman, kita tidak pernah benar-benar berasal dari Allah dan umat Allah — tidak pernah dilahirkan dari Allah. “Mereka keluar, supaya menjadi jelas, bahwa tidak semua dari mereka termasuk kita” . Artinya, mereka tidak pernah dilahirkan dari Allah.

Kedua, jika kita dilahirkan dari Allah, katanya, kita akan bertekun. Mereka akan bertekun. “Jika mereka termasuk kita” — yaitu, di antara mereka yang dilahirkan dari Allah — “mereka akan tetap bersama-sama dengan kita.” Jadi tidak perlu ada pemikiran tentang kehilangan keselamatan: tidak perlu ada pemikiran tentang dilahirkan kembali dan kemudian ternyata tidak dilahirkan kembali, dibenarkan dan kemudian ternyata tidak dibenarkan, memiliki hidup kekal dan kemudian ternyata itu tidak kekal sama sekali.

Mungkin Anda masih bertanya bagaimana mungkin ada syarat dalam Kolose 1: 23 jika Anda tidak dapat kehilangan rekonsiliasi Anda dengan Allah?

“Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman , tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Kolose 1:23

Dan jawabannya adalah bahwa Allah menggunakan peringatan tersebut untuk membuat anak-anak-Nya bertekun, dan Dia mengamankan ketekunan mereka, Dia menjaminnya, dengan kesetiaan-Nya untuk menjaga kita dalam iman. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa semua orang yang benar-benar dilahirkan kembali pada kenyataannya akan diselamatkan. Mereka akan memenuhi syarat tersebut karena pertolongan Allah.

Jaminan keselamatan dinyatakan dengan tegas dalam Roma 8:30. “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ini adalah rantai keselamatan yang tidak terputus. Semua yang dipilih dipanggil, dan semua yang dipanggil dibenarkan, lalu semua yang dibenarkan dimuliakan — tidak ada yang putus sekolah. Ia yang mahatahu sudah memilih umat-Nya dari semula hanya karena kehendak-Nya. Karena itu, keamanan kekal dari orang-orang yang suah dipilih Allah adalah kebenaran alkitabiah.

Pagi ini kita belajar bahwa keselamatan adalah sebuah peristiwa dan sebuah proses. Keselamatan memang ada kaitannya dengan ketekunan. Meskipun demikian — dan ini adalah sesuatu yang sangat mulia — keselamatan sepenuhnya pasti bagi anak-anak Allah yang telah dipilih, dipanggil, dibenarkan, dan percaya. Oleh karena itu, semua peringatan untuk bertekun, semua peringatan dalam Perjanjian Baru, harus ditanggapi dengan serius karena Allah menggunakannya untuk menjaga anak-anak-Nya tetap teguh dalam perjuangan iman. Kita akan diberi-Nya keyakinan akan keselamatan jika kita benar-benar serius dalam menanggapi semua janji-janji dan semua peringatan Kitab Suci. Kita akan hidup bahagia sekarang dan selamanya dalam ketekunan dan kesetian kita kepada Tuhan.

Menghadapi masa depan dengan keyakinan

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23:4

Pernahkah Anda merasa takut? Adalah normal jika orang merasa takut ketika menghadapi situasi tertentu. Rasa takut adalah kemampuan yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia agar manusia menyadari adanya bahaya dan mengerti akan batas-batas kemampuannya. Orang yang tidak mengenal takut mempunyai risiko untuk tidak menyadari adanya situasi yang mengancam jiwanya – itu tentu saja bisa membawa bahaya besar.

Dalam bidang medis, situasi yang mengancam jiwa adalah situasi yang memiliki kemungkinan besar menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Situasi ini memerlukan perhatian medis segera dan dapat mencakup kondisi seperti pendarahan berat, kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, atau cedera serius. Walaupun demikian, seseorang yang selalu memikirkan adanya bahaya dan risiko yang mengancan kesehatannya tentu akan hidup dalam tekanan jiwa karena rasa tahut yang terus menerus (phobia).

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa mendatangkan situasi yang bisa mengancam jiwa kita. Hidup memang tidak pernah tanpa tantangan, tetapi keberanian untuk menghadapi tantangan hidup sebenarnya baik untuk kita. Jika kita selalu berusaha menghindari ancaman dan tantangan, mungkin kita harus mengurung diri dalam kandang yang steril. Betapa membosankan dan terbatasnya hidup ini jika kita tidak pernah mau menghadapi tantangan!

Ada orang-orang yang menyebut rasa takut dan kuatir sebagai berkat bagi orang beriman. Saya setuju. Rasa takut kepada Tuhan hanya dimiliki oleh orang percaya. Rasa takut atas hukuman Tuhan hanya dimiliki oleh mereka yang sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu dan mahaadil. Dengan demikian, setiap orang percaya tentunya berusaha untuk menaati firman Tuhan. Walaupun demikian, setiap orang yang takut akan Tuhan tidak dijanjikan untuk mengalami hidup tanpa bahaya. Justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita akan dimusuhi oleh orang dunia dan bisa mengalami banyak tantangan kehidupan.

Beberapa ayat Alkitab membahas konsep ancaman untuk orang percaya. Salah satu yang menonjol adalah Matius 5:11, yang menyatakan, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.”. Selain itu, Matius 10:22 mengatakan, “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.”. Ayat-ayat ini, bersama dengan ayat-ayat lainnya, menunjukkan bahwa penganiayaan dapat menjadi pengalaman umum bagi mereka yang mengikuti Kristus atau menjalani kehidupan yang benar.

Adanya situasi yang mencengkam bisa menjadi sarana penyempurnaan yang berkelanjutan dalam wadah pengudusan Tuhan, sehingga orang Kristen dapat merasakan bahwa ia dijadikan alat yang lebih baik untuk tujuan-Nya. Selain itu, melalui rasa sakit dan penderitaan, seseorang bisa tumbuh dalam karunia rohani tertentu. Misalnya, orang bisa dikaruniai dengan empati yang lebih besar terhadap orang lain serta kemampuan untuk benar-benar mendengarkan hati seseorang yang bermasalah. Berkat lain dari rasa takut adalah bahwa pengalaman seseorang dapat menjadi mercusuar harapan bagi orang lain yang perlu melakukan perjalanan berbahaya melalui “lembah kekelaman” seperti yang tertulis dalam ayat pembukaan di atas.

Dengan 6 ayat, Mazmur 23 termasuk dalam daftar mazmur yang sedikit jumlah ayatnya. Mazmur terpendek dalam Alkitab adalah Mazmur 117, yang hanya terdiri dari dua ayat. Mazmur 117 juga merupakan bab terpendek dalam seluruh Alkitab. Mazmur 23, yang juga cukup pendek, dikenal karena pesannya yang sederhana dan universal tentang kepercayaan kepada Tuhan. Ayat 4 dari Mazmur 23 ini sering dibacakan ketika keadaan yang kurang baik terjadi.

Mazmur 23:4–6 berubah dari suasana dari ketenangan yang digambarkan dalam ayat 1–3. Bagian ini muram, tetapi mengandung kepastian bahwa Tuhan melindungi domba-domba-Nya dan memenuhi hari-hari mereka dengan berkat-Nya. Bagian ini berbeda dari tiga ayat pertama karena berbicara langsung kepada Tuhan, gembala Daud. Dalam ayat 1–3 Daud berbicara tentang Tuhan, tetapi dalam ayat 4–6 ia berbicara kepada Tuhan.

Daud bersyukur atas perlindungan dan bimbingan Tuhan. Domba-domba yang dijaga oleh seorang gembala yang terampil dituntun ke makanan dan air, serta dilindungi dari bahaya. Dengan cara yang sama, Daud memuji Tuhan karena memberinya kedamaian. Pengetahuan tentang perlindungan dan pemeliharaan Tuhan merupakan penghiburan yang luar biasa. Mazmur ini menggabungkan tema-tema tentang berkat, pembelaan, kepastian, dan pemeliharaan dari Tuhan.

Daud dapat berjalan melewati jurang yang gelap, bahkan mungkin kematian, tanpa rasa takut, karena Tuhan berjalan bersamanya. Daud menjelaskan bahwa ia tidak takut karena “Engkau besertaku.” Menarik untuk mengamati bahwa “dalam lembah kekelaman” mendekatkan Daud kepada Tuhan. Ia memanggil Tuhan dengan sebutan “Engkau,” sedangkan di tempat-tempat yang damai ia memanggil Tuhan dengan sebutan “ia.”

Seorang gembala pada zaman Alkitab membawa gada dan tongkat untuk melindungi domba-dombanya. Gada adalah tongkat yang pendek, tebal, dan berat, mirip dengan apa yang orang modern sebut sebagai tongkat pemukul, seperti yang dipakai polisi. Gada ini digantung pada ikat pinggang gembala. Tongkat adalah galah yang panjang dan ringan dengan ujung yang melengkung, yang digunakan gembala untuk memindahkan, menghitung, dan memeriksa domba-dombanya di malam hari ketika mereka kembali ke kandang.

Daud percaya bahwa Tuhan akan melindunginya, sama seperti seorang gembala melindungi domba-dombanya dari binatang yang menyerang. Yesus, Sang Gembala yang Baik, selalu menyertai orang percaya (Yohanes 10:11, 14). Ia berjanji akan selalu menyertai kita (Matius 28:20). Ia menyertai kita saat kita berjalan “dalam lembah kematian” sama pastinya seperti Ia menyertai kita “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2). Yesus berkata, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yohanes 10:28).

Pagi ini kita diingatkan bahwa hidup sebagai orang Kristen bukanlah berarti hidup yang penuh kenyamanan. Sebaliknya, hidup kita penuh dengan tantangan karena kita harus berusaha hidup menurut firman Tuhan. Dunia membenci kita, iblis berusaha menjatuhkan kita. Tetapi, satu hal yang kita tahu, seperti Daud yang mempunyai seorang Gembala yang setia, kita pun memiliki Gembala yang sama. Gembala yang tidak penah berubah. Ia mahakuasa dan mahakasih. Ia senantiasa menyertai kita dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, adanya rasa takut dan rasa kuatir justru aan membuat kita makin bergantung kepada-Nya.

Kepada Allah pengharapanku
Di darat, laut, di waktu manapun
KepadaNya ‘ku percaya
Bapa di Surga sumber hidupku

Walaupun badai, ombak menderu
Aku berharap pada Allahku
‘Ku tak gentar, kar’na ‘ku tau
Tuhan s’lalu menjaga hidupku

Mengapa aku harus menderita?

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12:9

Hanya sedikit kebohongan yang lebih memikat dan beracun dari klaim bahwa mengikuti Tuhan adalah sarana untuk meraih kesuksesan duniawi (1 Timotius 6:3–5). Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa kehidupan setiap manusia di dunia dapat melibatkan kesulitan, bahkan suatu kepastian bagi umat Kristen yang setia (Yohanes 15:19; 2 Korintus 5:2–6). Karena itu, ajaran eksplisit Yesus adalah bahwa orang Kristen harus siap menghadapi kesulitan, sebuah peringatan yang Ia berikan secara khusus untuk mencegah keputusasaan dalam menghadapi masa-masa sulit (Yohanes 16:33). Mereka yang mengajarkan bahwa kekayaan, penyembuhan, kemakmuran, atau keuntungan lainnya sedang menunggu siapa pun dengan iman yang “cukup”, bukan saja tidak alkitabiah, tetapi berpotensial untuk menghancurkan iman yang ada pada diri seseorang. Pengalaman Paulus dalam merupakan salah satu bukti paling kuat dalam Kitab Suci bahwa “kenyamanan adalah tanda iman” dan bentuk-bentuk lain dari teologi kemakmuran adalah palsu.

Ayat-ayat dalam 2 Krintus 12 mencakup pengalaman surgawi Paulus yang luar biasa (2 Korintus 12:1–3). Momen ini memberinya wawasan yang harus dirahasiakan (2 Korintus 12:4). Karena itu, dengan kerendahan hati semaksimal mungkin, Paulus menggambarkan pengalaman yang mencengangkan. Ia diangkat ke ”surga tingkat ketiga” dan menerima wahyu dari Allah yang tidak dapat ia ungkapkan di bumi. Ia menolak untuk menyombongkannya, tetapi menyebutkannya untuk menjelaskan konsekuensi dari pengalaman itu. Konsekuensi yang serupa bisa dialami oleh setiap orang Kristen, untuk mencegah orang Kristen menjadi sombong.

Untuk mencegah Paulus menjadi sombong tentang wawasan ilahi yang diperolehnya, Allah mengirimkan Paulus sebuah “duri dalam daging” yang tidak disebutkan secara spesifik. Alkitab tidak menjelaskan apakah ini suatu penderitaan yang bersifat fisik atau mental. Yang diceritakan kepada kita hanyalah bahwa seorang yang beriman dan berkomitmen kuat bisa saja terserang penyakit atau menderita, yang menyebabkannya berseru kepada Allah berulang kali memohon keringanan (2 Korintus 12:7–8).

Entah bagaimana, Paulus kemudian memahami bahwa jawaban Allah atas permintaannya adalah “tidak”, dan penolakan ini bersifat permanen alias tidak dapat ditawar. Seperti yang ditunjukkan ayat-ayat sebelumnya, Paulus kemudian menyadari tujuan dari penyakit itu adalah untuk mempertahankan kerendahan hati. “Kelemahan” yang terus-menerus dalam kehidupan Paulus ini membantunya untuk tidak menjadi sombong, dan mengerti bahwa apa yang menjadi kehendak Allah tidak dapat dibantah.

Allah menyatakan bahwa kasih karunia-Nya sepenuhnya mampu menyediakan segala sesuatu yang Paulus butuhkan untuk menanggung penderitaan ini. Allah memberi tahu Paulus bahwa kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan Paulus. Kata Yunani untuk “cukup” di sini adalah arkei, yang menyiratkan ketahanan, kekuatan, atau kepuasan. Paulus telah menulis bahwa ia hanya akan bermegah dalam kelemahannya (2 Korintus 12:5), dan sekarang ia menunjukan antusiasmenya. Ia akan bermegah dengan senang hati tentang kelemahannya, termasuk duri dalam daging ini. Seperti itu, sebagai orang Kristen kita tidak perlu malu atau merasa sedih jika kita mengalami sakit atau penderitaan dalam hidup.

Mengapa seseorang seperti Paulus “merayakan” keadaan yang membebani dia selamanya dengan beberapa pergumulan yang menyakitkan? Karena kuasa Kristus menjadi paling jelas dalam situasi di mana orang percaya merasa paling lemah. Kata yang diterjemahkan sebagai “sempurna” di sini adalah teleitai, yang sebagian besar mengacu pada penyelesaian atau pencapaian. Fokusnya adalah pada sesuatu yang dicapai, bukan pada kekurangan yang disingkirkan. Ini adalah akar kata yang sama yang digunakan oleh Kristus ketika menyatakan “sudah selesai” pada waktu Ia di salib.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ”Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Yohanes 19:30

Ayat pembukaan di atas mengungkapkan beberapa kebenaran tentang bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan duniawi orang Kristen:

  • Pertama, Allah bisa menggunakan iblis dan orang-orang jahat di dunia untuk mencapai tujuan-Nya. Sekalipun Allah bukan pembuat kejahatan dan malapetaka, hal-hal yang jahat yang dapat mengganggu umat Tuhan dapat menjadi bagian dari strategi Allah untuk mencapai tujuan-Nya yang tepat di dunia.
  • Kedua, jawaban Tuhan atas doa selalu bergantung pada kehendak-Nya secara keseluruhan. Ia mungkin menjawab “tidak” atas permintaan untuk meringankan beban orang percaya, terlepas dari apakah beban itu berasal dari iblis atau tidak. Jika penderitaan itu membantu orang Kristen untuk lebih taat dan bergantung pada Tuhan, penderitaan itu mungkin sedang menggenapi apa yang Ia inginkan di dalam diri kita.
  • Ketiga, penderitaan itu menunjukkan kepada kita bahwa perhatian utama Tuhan bagi anak-anak-Nya bukanlah untuk membuat kehidupan mereka terasa mudah dan nyaman. Seperti apa yang dialami murid-murid Yesus, tujuan pertama-Nya adalah agar mereka percaya dengan sepenuhnya kepada-Nya. Itu berarti membiarkan Kristus menjadi kuat di tempat-tempat yang membuat kita lemah, dan seperti Ayub, kita tidak membenci-Nya jika Ia membiarkan kita mengalami kelemahan itu.

Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2:9-10

Mungkin Anda pernah membaca the Serenity Prayer atau Doa Ketenangan ditulis oleh Reinhold Niebuhr, seorang teolog Amerika, pada tahun 1930-an. Ia menulisnya sebagai bagian dari sebuah khotbah dan kemudian menyusunnya kembali menjadi versi yang kita kenal sekarang. Tujuan doa tersebut adalah untuk menawarkan suatu kerangka kerja dalam menghadapi kenyataan hidup, mendorong penerimaan terhadap apa yang tidak dapat diubah, keberanian untuk menghadapi apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya.

O God and Heavenly Father, Grant to us the serenity of mind to accept that which cannot be changed; courage to change that which can be changed, and wisdom to know the one from the other, through Jesus Christ our Lord, Amen.

Ya Tuhan dan Bapa Surgawi, berikanlah kepada kami ketenangan pikiran untuk menerima apa yang tidak dapat diubah; keberanian untuk mengubah apa yang dapat diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan yang satu dari yang lain, melalui Yesus Kristus Tuhan kami, Amin.

Semoga Tuhan memberi kita ketenangan pikiran dan kedamaian!

Apa arti kematian dan kebangkitan Yesus?

“Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” 1 Yohanes 5:12

Kemarin kita memperingati hari kematian Yesus di kayu salib. Besok pagi, kita akan memperingati hari kebangkitan-Nya. Jika kita mengerti bahwa kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, kita mungkin kurang megerti mengapa Yesus harus mati secara mengenaskan. Mengapa Yesus harus mati? Mengapa Anak Allak bisa ditaklukkan kematian?

Pandangan naturalistik adalah bahwa manusia hanyalah makhluk biologis dan kematian fisik menandai akhir dari keberadaan seseorang. Dalam kematian, eksistensi Anda tidak ada lagi. Iklan bir lama mengungkapkan sentimen yang mengalir dari pandangan ini: “Anda hanya hidup sekali dalam hidup, jadi raihlah semua kesenangan yang bisa Anda nikmati.” Nasihat lain yang senada adalah: “Makan, minum, dan bergembiralah karena besok kita akan mati.” (1 Korintus 15:32).

Kekristenan tidak setuju dengan pandangan di atas. Kekristenan menganggap keberadaan manusia adalah untuk selamanya. Kehidupan memiliki awal pada saat pembuahan tetapi tidak memiliki akhir. Kematian fisik hanyalah sebuah perjalanan menuju alam keberadaan lain di luar kubur. Keberadaan itu mungkin sangat indah atau mimpi buruk yang nyata tergantung pada bagaimana Anda berhubungan dengan pencipta Anda, penulis buku kehidupan dan kematian.

Memang manusia menggunakan istilah “kematian” dalam pengertian populer tentang berakhirnya kehidupan fisik seperti dalam laporan, “Yusuf mati pada usia 110 tahun” (Kejadian 50:26). Sebagai hukuman atas dosa Adam, Allah mengutuk tanah dan segala sesuatu yang berasal darinya: “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”(Kejadian 3:19).

Dalam ayat pembukaan di atas, Yohanes menggemakan ajaran Yesus yang ditemukan dalam Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yesus yang memiliki hidup dan adalah hidup bagi kita, baik hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10) maupun hidup kekal (Yohanes 3:16). Salah satu tujuan Yohanes menulis surat ini adalah untuk melawan keputusasaan banyak orang yang takut menghadapi kematian tubuh. Guru-guru palsu, seperti banyak manusia modern, tampaknya, memberi tahu orang-orang percaya bahwa semua manusia tidak bisa memiliki hidup yang kekal (1 Yohanes 2:25–26). Tetapi ini tidak benar, karena mereka yang percaya kepada Yesus adalah orang-orang yang sudah diselamatkan.

Dalam memperingati Jumat Agung dan Paskah, kita mendapat kabar baik bahwa dalam pengertian kematian yang lebih mendalam kita bisa diyakinkan bahwa kita dibenarkan Allah karena Yesus sudah mati menggantikan kita. “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23), yang berarti pemisahan dan keterasingan dari Allah. Inilah yang dialami Yesus di kayu salib sekitar jam kesembilan ketika ia mengutip Mazmur 22:1: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Tetapi, Rasul Paulus menjelaskan lagi, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21). Inilah tujuan kematian Yesus.

Dari kematian yang Yesus alami terhadap dosa yang kita peringati pada Hari Jumat Agung, kita telah menerima hidup melalui iman kepada-Nya. Hidup, dalam pengertian ini, berarti persekutuan yang penuh kasih yang dipulihkan dengan Pencipta dan Penebus kita. Rasul Yohanes menyatakan: “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:12).

Hari-hari kita di dunia yang telah jatuh ini dihitung oleh sang pencipta kehidupan dan kematian. Ia memberi kehidupan, dan Ia mengambilnya kembali (Ayub 1:21). Ini adalah hukuman atas dosa dan tindakan belas kasihan dari Sang Pencipta dan Penebus kita. Kita yang beriman tidak harus menanggung rasa sakit dan penderitaan dari keberadaan kita selamanya, tetapi hanya untuk sementara waktu. Yesus tidak berada di kubur untuk selamanya, tetapi bangkit pada hari yang ketiga agar kita ikut dibangkitkan.

Selama hidup di dunia, kita dapat meratap bersama rasul Paulus: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Namun, kita juga dapat bersukacita bersama-Nya: “Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!…Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 7:25a, 8:1). Tidak ada kemungkinan lain, dan kita harus yakin akan hal itu.

Siapa yang membunuh Yesus?

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:39

Hari ini adalah hari Jumat Agung. Pada hari ini banyak orang pasti mendengarkan khotbah tentang kematian Kristus di gereja; dan karena itu, ada dua fakta teologis yang sangat penting yang harus selalu kita ingat ketika kita merenungkan kematian-Nya di kayu salib.

  • Yesus dengan suka rela mati bagi kita.
  • Kematian Yesus disebabkan oleh kehendak Allah dan tindakan manusia.

Yesus dengan suka rela mati bagi kita.

Ayat di atas sudah sering kita baca. Tetapi, jika kita tidak memahami kematian Kristus sebagai sesuatu yang sukarela, maka kita tidak memahami intisari kematian-Nya. Jika kita berpendapat bahwa kematian Yesus hanya karena sudah ditetapkan oleh Allah Bapa saja, maka kita masih belum bisa membayangkan betapa besar kasih-Nya.

Yesus sendiri bersaksi tentang pengorbanan-Nya yang sukarela: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).

Yesus, sang gembala yang baik, menyerahkan diri-Nya sendiri, tapa paksaan, untuk keselamatan kita. Seperti itu juga, kita seharusnya ingin untuk melakukan hal yang sama: “dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2).

Kesediaan Kristus tidak hanya mencakup kematian sukarela-Nya di kayu salib. Sebaliknya, seluruh hidup-Nya merupakan persembahan dan ketaatan yang sukarela kepada kehendak Allah. Dari palungan sampai ke kubur, Yesus bertindak atas dasar kasih melalui kehendak suci-Nya, yang membuat ketaatan-Nya dapat diterima oleh Allah. Seperti itu juga, kita harus persembahkan diri kita secara sukarela untuk menjadi persembahan hidup yang kudus.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu: persembahkanlah dirimu sebagai persembahan hidup yang kudus, yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12:1

Kematian Yesus disebabkan oleh kehendak Allah dan tindakan manusia.

Banyak peristiwa yang membawa ke arah penyaliban Yesus, dan ada orang-orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kematian-Nya. “..Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.” (Matius 20:18). Petrus juga menjelaskan hal ini dengan tegas dalam khotbahnya pada hari Pentakosta kepada orang-orang Yahudi, “telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka Yesus ini, …..yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” (Kisah Para Rasul 2:23, 36). Namun, pada saat yang sama, Petrus memberi tahu kita bahwa Yesus adalah “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya” (Kisah Para Rasul 2:23). Dalam satu ayat, Petrus menempatkan kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusia secara berdampingan dan tanpa pertentangan, seolah-olah berkata, “Kamu orang Yahudi telah membunuh Yesus yang disalibkan Allah.”

Dalam hal ini, ada 2 pertanyaan yang mungkin sulit dijawab.

  • Bagaimana manusia harus bertanggung jawab, jika semua yang terjadi sudah ditetapkan Allah?
  • Siapakah yang sebenarnya menyebabkan kematian Yesus di kayu salib?

Ini adalah pertanyaan yang sering didiskusikan banyak orang Kristen karena nampaknya kebebasan manusia dan kedaulatan Allah tidak kompatibel. Untuk itu, kita perlu mengenal prinsip kompatibilisme.

Kompatibilisme adalah upaya untuk menyelaraskan proposisi teologis bahwa setiap peristiwa ditentukan, ditahbiskan, dan/atau ditetapkan oleh Tuhan secara kausal, dalam arti segala sesuatu ada alasan atau penyebabnya (ini disebut faham determinisme lunak) – dengan adanya kehendak Tuhan dan kehendak bebas manusia. Determinisme berbeda dengan fatalisme yang menyatakan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan tanpa membutuhkan alasan atau sebab, dan tanpa peranan manusia (ini disebut faham determinisme keras).

Landasan konsep kompatibilisme adalah cara mendefinisikan “kehendak bebas” manusia. Dari sudut pandang teologis, definisi kehendak bebas harus dikaitkan dengan dosa asal dan kerusakan rohani manusia. Kedua kebenaran Alkitab ini memberikan definisi “kehendak bebas” dalam kaitannya dengan manusia yang telah jatuh sebagai “tawanan dosa” (Kisah Para Rasul 8:23), “hamba dosa” (Yohanes 8:34; Roma 6:16-17) dan hanya tunduk kepada “tuannya,” yaitu dosa (Roma 6:14). Apa arti semua ini?

Meskipun manusia “bebas” untuk melakukan apa yang diinginkannya, ia ingin bertindak sesuai dengan sifatnya. Karena sifat manusia yang telah jatuh adalah berdosa, setiap maksud dari pikiran hati manusia yang telah jatuh adalah “selalu jahat” (Kejadian 6:5, Kejadian 8:21). Manusia secara alami memberontak terhadap apa yang baik secara rohani (Roma 8:7-8; 1 Korintus 2:14), dan “hanya cenderung memberontak” (Amsal 17:11). Jika manusia berbuat jahat, itu adalah hasil pilihannya sendiri, bukan karena Tuhan yang membuatnya.

“Janganlah seorang berkata, waktu ia tergoda, ia tergoda dari Allah, karena Allah tidak dapat tergoda oleh yang jahat dan Ia juga tidak menyesatkan orang lain. Tetapi setiap orang tergoda oleh keinginannya sendiri, yang ditarik dan yang diikat oleh dosa itu.” Yakobus 1:13-14

Jadi, pada hakikatnya, manusia “bebas” untuk melakukan apa yang diinginkannya, dan ia dapat melakukan hal itu, tetapi manusia tidak dapat melakukan tindakan yang bertentangan dengan sifatnya. Apa yang “diinginkan” manusia untuk dilakukan tunduk pada, dan ditentukan semata-mata oleh kodratnya, yaitu dosa.

Secara teologis, meskipun manusia alami tidak dapat menundukkan dirinya kepada hukum Allah (Roma 8:7-8) dan tidak dapat datang kepada Kristus kecuali Bapa menariknya kepada-Nya (Yohanes 6:44), manusia alami tetap bisa bertindak bebas sehubungan dengan kodratnya. Dia dengan bebas dan aktif menolak kebenaran dan memilih ketidakbenaran (Roma 1:18) karena sifatnya yang membuatn dia tidak mampu melakukan yang sebaliknya (Roma 3:10-11).

Seperti yang tertulis di atas dan diungkapkan dalam Kisah Para Rasul 2:23-25, kematian Kristus di kayu salib dilaksanakan oleh “rencana yang telah ditentukan sebelumnya dan pengetahuan Allah sebelumnya.” Kisah Para Rasul 4:27-28 selanjutnya mengungkapkan bahwa tindakan Herodes, Pontius Pilatus, orang-orang bukan Yahudi, dan orang-orang Israel telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah sendiri untuk terjadi saat mereka “berkumpul bersama melawan” Yesus dan melakukan “apa yang telah diputuskan sebelumnya oleh kuasa dan kehendak Allah untuk terjadi.”

Jadi, meskipun Allah telah menetapkan bahwa Kristus harus mati, mereka yang bertanggung jawab atas kematian-Nya tetap dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka. Kristus dibunuh oleh orang-orang jahat, “tetapi TUHAN berkehendak meremukkan Dia dan membuat-Nya menderita” (Yesaya 53:10).

Pada hari Jumat Agung ini, kita menemukan jawaban atas pertanyaan “siapa yang membunuh Yesus?” adalah Allah dan orang-orang jahat—dua tujuan berbeda yang dilaksanakan oleh dua entitas dalam satu tindakan. Manusia yang membunuh Yesus karena dosa mereka, dan Allah yang mengurbankan Anak-Nya di kayu saib untuk menebus umat manusia.

Kita yang sudah menjadi manusia baru dalam Yesus Kristus, seharusnya sudah mempunyai sifat yang baru yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kita sudah diberi kemampuan untuk membedakan apa yang jahat dan apa yang berkenan kepada Tuhan. Seperti Yesus, kita harus mau dengan sukarela untuk selalu menaati Firman Tuhan. Sebagai ciptaan baru, kehendak bebas yang kita miliki sekarang bisa membuahkan tindakan yang memuliakan Tuhan, yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Pujilah Allah Bapa yang mahakasih dan mahasetia kepada umat-Nya! Pujilah Yesus yang mahakasih dan rela berkurban bagi domba-Nya!

Bagai makan buah simalakama

Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar, dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: “Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.” Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: “Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud.” Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam). Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: “Orang ini adalah salah seorang dari mereka.” Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: “Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!”  Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: “Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!” Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu menangislah ia tersedu-sedu. Markus 14: 66-72

Pernahkah Anda memakan buah simalakama? Saya harap Anda tidak mencoba memakan buah ini. Yang disebut “buah simalakama” adalah buah mahkota dewa (phaleria macrocarpa), yang memiliki rasa pahit dan beracun jika dimakan mentah, tetapi mngkin memiliki manfaat medis jika dikelola dengan benar. Dalam bahasa Indonesia, pepatah “bagai makan buah simalakama” menggambarkan situasi sulit di mana tidak ada pilihan yang baik, dan setiap keputusan bisa membawa dampak negatif.

Sering kali dalam hidup ini kita mengalami keadaan sulit di mana kita harus mengambil tindakan yang akan membawa rasa sakit atau penderitaan, tetapi jika kita tidak mengambil tindakan ada konsekuesi yang juga membawa rasa sakit atau penderitaan. Dalam hal ini, kita akan merasa bahwa keadaan yang kita alami adalah seperti makan buah simalakama. Itu juga yang dialami Petrus ketika Yesus sedang diadili menjelang penyaliban-Nya. Kepahitan yang dialami Petrus karena tindakan penyangkalannya, kemudian menyebabkan kepahitan yang sangat besar yang tidak pernah bisa dilupakannya (Yohanes 21:17),

Setiap hari kita kita harus mengambil tindakan besar dan kecil, di mana setiap tindakan akan membawa akibat yang berbeda. Jika suatu tindakan tidak akan membawa konsekuensi yang serius, mungkin kita bisa melakukannya tanpa berpikir panjang. Ini adalah logis. Walaupun demikian, sering kali kita mengambil tindakan yang tidak logis. Misalnya, jika dokter menyuruh kita untuk menjalani operasi. Kita mungkin merasa bahwa tindakan kita untuk mau dioperasi mempunyai risiko yang tidak menyenangkan. Walaupun demikian, kita mungkin kita tidak sadar bahwa jika kita memilih untuk tidak menjalani operasi, risiko akan menjadi jauh lebih besar dan mungkin saja fatal. Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali karena takut dianggap pengikut Yesus, adalah Petrus yang kemudian secara mendalam menyesali tindakannya. Sesudah Yesus bangkit, Petrus tiga kali mengaku bahwa ia mengasihi Yesus, tetapi ia tidak tahu bahwa ia akan mati dibunuh sebagai seorang martir karena pilihannya (Yohanes 21:18-19).

“Rasa sakit karena tindakan” mengacu pada ketidaknyamanan atau tantangan yang dialami saat mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan atau membuat perubahan, sementara “rasa sakit karena akibat” mengacu pada hasil negatif atau penyesalan akibat kelambanan atau pilihan yang buruk. Rasa sakit akibat tindakan seringkali bersifat sementara, tetapi rasa sakit karena konsekuensi/akibat bisa kronis dan berbahaya. Pada umumnya, rasa sakit akibat tindakan seringkali kurang intens dan lebih mudah dikelola daripada rasa sakit karena akibat yang tidak mudah hilang.

Perlu kita ketahui bahwa kekuatiran atas kemungkinan munculnya rasa sakit karena tindakan (misalnya, karena hidup berdisiplin) adalah normal. Dalam banyak hal, kemungkinan rasa sakit ini justru sering dikaitkan dengan keputusan untuk mendorong diri melampaui zona nyaman, terlibat dalam kerja keras, atau membuat keputusan yang sulit. Contoh: Ketidaknyamanan belajar untuk ujian, mengerjakan proyek yang menantang, atau mengubah kebiasaan. Biasanya rasa sakit ini ada dalam jangka pendek dan dapat dikelola seiring dengan waktu dan usaha. Penderitaan semacam ini sering mengarah pada hasil positif, perbahan, pertumbuhan, dan kesuksesan.

Pada pihak yang lain, rasa sakit karena akibat adalah berupa penyesalan. Rasa sakit ini muncul dari kelambanan, kesempatan yang terlewatkan, atau pilihan yang tidak selaras dengan nilai atau aspirasi seseorang. Contoh: Menyesal karena tidak mengejar cita-cita, tidak mengambil kesempatan, atau tidak belajar dari kesalahan. Untuk orang Kristen, mungkin ini terjadi jika kita ditegur Roh Kudus ketika kita mengabaikan firman Tuhan. Hal ini bisa berlangsung lama dan karena itu sering kali membebani pikiran dan emosi seseorang. Seperti yang dialami Petrus pada setelah ia menyangkali Yesus tiga kali, penderitaanmya berlangsung terus sampai ia mendapat perintah Yesus yang sudah bangkit, untuk ketiga kalinya, untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:17).

Rasa sakit mana yang lebih baik , dalam mengambil tindakan atau dalam mengalami akabibat tindakan kita? Meskipun kedua jenis rasa sakit bisa terasa perih, rasa sakit akibat tindakan umumnya dianggap sebagai pilihan yang lebih ringan. Rasa sakit karena tindakan seringkali merupakan langkah yang diperlukan menuju kemajuan dan kesuksesan, sementara rasa sakit karena akibat dapat menjadi pengingat konstan dan penyesalan yang kronis. Dalam hal mengikut Yesus, merangkul ketidaknyamanan atas tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan, bahkan ketika itu menantang iman kita, dapat mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan karena adanya manfaat yang kekal.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:29

Pada saat menjelang hari Paskah 2025, jika kita ingat bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai umat-Nya, kita dapat berdiri dengan aman dalam mengambil tindakan dalam hidup. Roh Kudus akan memimpin kita dalam keadaan apa pun, sehingga kita tidak khawatir akan rasa sakit yang akan kita alami jika kita hidup dalam terang-Nya. Sekalipun kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi sesudah mengambil tindakan, kita dapat mengetahui, sebagai orang percaya, bahwa tujuan Allah bagi kita selalu agar kita menjadi seperti Kristus.

Apa pun yang kita alami dan rasakan saat ini, ada keamanan mutlak di hadapan Tuhan. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Tuhan. Sekalipun kita pernah mengambil tindakan yang salah, dan saat ini kita menderita karenanya, kita bisa memohon kepada Tuhan akan pengampunan-Nya. Kasih Kristus memungkinkan kita untuk memanggil Tuhan Abba Bapa. Dalam mengambil tindakan, kita siap menderita bersama Kristus bersama dengan seluruh umat Kristen, sambil menunggu Tuhan menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan pertolongan Roh, kita yakin bahwa Allah bersama kita dalam setiap tantangan kehidupan.

Allah telah menjadwalkan masuknya kita ke dalam keluarga-Nya jauh sebelum kita dilahirkan. Jika Allah mengetahui tentang kita sebelum kita dilahirkan, Ia juga yang mengatur keselamatan kita. Apa yang di alami Petrus ketika ia menyangkal Yesus tiga kali, sudah diramalkan oleh Yesus sebelumnya. Dengan demikian, Dia pasti mengetahui tentang pencobaan dan penderitaan kita sekarang, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Itu seharusnya memberi kita penghiburan yang besar saat kita menunggu untuk bersama Bapa kita selamanya. Kita percaya bahwa Tuhan menggunakan setiap keadaan dalam hidup kita untuk tujuan-Nya. Bagi orang Kristen yang taat kepada Yesus, tidaklah ada istilah “bagai makan buah simalakama”. Marilah kita dengan teguh melangkah bersama Yesus sekalipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari mendatang. Selamat menyambut hari Paskah!

Mengapa harus belajar bermanis budi?

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” 2 Timotius 2:23-26

“Bermanis budi” secara harfiah berarti “bersikap manis hati” atau “bersikap baik hati”. Dalam konteks peribahasa, ini berarti bersikap ramah, lembut, dan menyenangkan bagi orang lain. Ini bisa mencakup tindakan seperti bersikap sopan, murah senyum, dan bersedia membantu/menuntun orang lain.

Dalam sejarah gereja, mungkin Anda setuju bahwa tidak semua orang Kristen adalah orang yang manis budi. Bahkan pendeta pun ada yang manis budi, tetapi ada juga yang “garang” dan suka menyerang orang lain. Memang setiap manusia mempunyai sifat yang belainan, dan dengan itu ada orang yang sejak kecil bersifat lemah lembut, sabar dan murah senyum; sedangkan orang yang lain mungkin bersifat keras, kurang sabar dan mudah marah. Semua itu mungkin berhubungan dengan faktor genetika, pendidikan, pengalaman, dan lingkungan. Contoh dalam Alkitab yang tidak bisa kita lupakan adalah perbedaan antara sifat dan fisik antara si kembar Yakub dan Esau.

Walaupun setiap orang berbeda sifatnya, ayat di atas adalah perintah Tuhan kepada semua umat Tuhan, terlepas dari sifat pembawaan mereka. Sebagai umat Tuhan, kita harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan; tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Mengapa demikian? Sebab keramahan kita mungkin bisa membantu orang yang belum percaya untuk bisa melihat kebaikan Kristus di dalam diri kita, agar mereka kemudian mau menjadi orang beriman dengan pertolongan Tuhan.

Bermanis budi sebenarnya bukan hal yang mudah dilakukan. Karena hakikat setiap orang adalah manusia berdosa, sekalipun orang yang nampaknya bisa bermanis budi dan lemah lembut sebenarnya tidak bisa menjadi orang yang benar-benar mempunyai kasih yang jujur, tanpa pamrih dan tidak pilih kasih. Ini seperti apa yang kita baca tentang Yakub. Karena itu, setiap umat Kristen harus belajar kepada Yesus dan berusaha dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi orang yang manis budi. Inilah sebabnya Paulus menulis ayat-ayat di atas.

2 Timotius 2:14–26 berisi instruksi Paulus kepada Timotius tentang memimpin orang percaya lainnya. Dua tema penting di sini adalah menghindari pertengkaran yang tidak ada gunanya dan berpegang pada ajaran Alkitab yang sehat. Perdebatan tentang masalah yang tidak penting dengan cepat bisa berubah menjadi kemarahan dan perseteruan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik. Paulus menyebutkan adanya guru-guru palsu tertentu, tetapi ia menyampaikan hal ini dengan nada belas kasihan. Di sini, ia mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah kuncinya. Bagaimanapun, kita tidak boleh menganggap mereka yang belum percaya sebagai musuh kita: mereka adalah orang-orang yang sedang kita coba selamatkan dari kendali Iblis!

Mungkin sebagian orang Kristen merasa heran mengapa kita harus bermanis budi kepada semua orang. Bukankah tidak semua orang akan diselamatkan? Bukankah Tuhan sudah menentukan orang-orang tertentu untuk ke neraka? Bukankah Tuhan tidak memerlukan bantuan kita? Bukankah jerih payah kita akan sia-sia jika mereka memang tidak tergolong “orang pilihan” Tuhan?

Dalam membaca ayat di atas, kita perlu meneliti kalimat “sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran”. Kita tidak tahu siapa yang akan dipilih dan siapa yang tidak dipilih oleh Tuhan, tetapi mungkin Tuhan akan memberikan kesempatan bagi sebagian orang untuk bertobat. Tugas kita yang dari Tuhan adalah untuk mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang yang suka melawan ajaran Kristus agar mereka menjadi sadar dan akhirnya bertobat. Tuhan mau agar kita ikut bekerja sesuai dengan rencana-Nya dan demi kemuliaan-Nya.

Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lemah lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran itu penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan dan bukannya bahaya. Sebagian dari masalah yang didebatkan mungkin bukan hal yang krusial, dan sebagian lagi mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab. Ia menganggap “omong kosong” dan perdebatan tentang hal itu sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti penyakit jasmani, pertengkaran ini hanya menyebar dan bertambah parah hingga menjadi bencana besar dalam kehidupan semua orang percaya. Tujuan akhir penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” suatu perdebatan atau teologi kita atas mereka yang menolaknya, tetapi untuk menyelamatkan semua anak-anak yang hilang.

Dalam 2 Timotius 2:23, Paulus melanjutkan pembahasannya tentang pertengkaran dari ayat sebelumnya dan menambahkan, “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar.” Paulus sebelumnya telah memanggil Timotius untuk menjadi “hamba Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan “hamba” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti seorang hamba atau budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai budak Tuhan, yang tidak suka bertengkar dalam melaksanakan tugasnya. Seperti Timotius, kita pun budak-budak Tuhan yang sudah dibebaskan dari kungkungan dosa.

Sebagai petunjuk, Paulus memberikan beberapa sifat positif yang harus diikuti oleh Timotius. Tiga sifat pertama ditemukan dalam ayat ini. Pertama, Timotius harus “baik kepada semua orang.” Tuhan itu baik (Lukas 6:35) dan mengharapkan hal yang sama dari para hamba-Nya. Kasih itu “sabar dan murah hati” (1 Korintus 13:4). Orang percaya harus “baik satu sama lain” (Efesus 4:32). Kebaikan hati dapat ditunjukkan bahkan oleh orang-orang yang tidak percaya (Kisah Para Rasul 28:2), tetapi merupakan bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23) yang seharusnya berlaku bagi setiap hamba Kristus. Para hamba juga harus “mampu mengajar” (1 Timotius 3:1–7; Titus 1:5–9), dan “sabar menanggung kejahatan” (2 Timotius 2:10, 12; 3:11; 4:3, 5).

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” Galatia 5:22-23

Dalam 2 Timotius 2:25, Paulus menambahkan atribut positif keempat ke dalam daftarnya dari ayat sebelumnya. Kemampuan untuk memberikan jawaban yang dewasa, penuh kasih, dan efektif sangat penting bagi kepemimpinan Kristen. Petrus juga menyebutkan pentingnya sifat ini, dengan menyatakan, “Hormatilah Kristus sebagai Tuhan yang kudus di dalam hatimu! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada padamu. Tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15). Apologetika, atau membela iman Kristen, melibatkan kemampuan untuk mengajar (2 Timotius 2:24) dan sikap lemah lembut dalam mengajar orang lain.

Tujuan dari kebaikan hati, pengajaran, menanggung kejahatan, dan mengoreksi lawan dengan kelembutan adalah untuk pertobatan orang-orang yang terhilang. Tujuan dari pengetahuan dan percakapan Kristen bukanlah untuk memenangkan argumen demi ego, tetapi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. Mereka yang memperhatikan cara hidup dan doktrin mereka dengan saksama (1 Timotius 4:16) akan menemukan pelayanan yang efektif di antara orang-orang yang tidak percaya yang mereka layani.

Dalam2 Timotius 2:26, selain pertobatan, tujuan lain bagi mereka yang dilayani Timotius adalah agar mereka cukup menyadari pengaruh Iblis atas manusia untuk berontak. Ayat ini menunjukkan bahwa serangan Iblis sering kali diarahkan ke pikiran. Iblis selalu berusaha membuat sesuatu yang salah tampak benar. Tetapi, orang yang mendengar kebenaran dan bertobat akan “terlepas” dari jeratnya. Jenis jerat yang Paulus maksudkan kemungkinan adalah jerat binatang yang umum pada zamannya. Jerat ini sering kali melibatkan tali atau batu yang akan jatuh ke binatang yang dipancing dengan makanan sebagai umpan. Demikian pula, iblis menggoda orang-orang yang tidak percaya dengan “umpan” untuk membuat mereka tetap terjebak dalam perangkapnya dan menjauh dari kebebasan yang dibawa Kristus.

Orang-orang yang tidak percaya di sini disebut bukan sebagai musuh, tetapi sebagai tawanan. Orang yang tidak percaya tidak memiliki kuasa rohani atas Iblis dan karena itu “tertawan”. Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti tipu daya Iblis kecuali kasih karunia Allah campur tangan (Efesus 2:8–9). Dalam hal ini, orang percaya harus membagikan Injil dan menunjukkan kebaikan, karena tahu bahwa Allah dapat mengubah keadaan seseorang dari kematian menjadi kehidupan (Yohanes 10:10) dan yakin bahwa Allah menyediakan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya (Yohanes 3:16).

Mereka yang mengaku Kristus sebagai Tuhan dikenali dari buah mereka. Tentu saja, beberapa orang akan lebih baik daripada yang lain dalam hal kualitas tertentu. Beberapa orang lebih mampu mengendalikan diri, sementara yang lain lebih baik dalam hal kesabaran, beberapa orang jauh lebih baik, dan seterusnya. Kita perlu, melalui kasih karunia Allah dan pertolongan Roh Kudus untuk menjadi makin menyerupai Kristus setiap hari dengan mengembangkan kualitas-kualitas ini. Kekudusan adalah tujuan utama dari kehidupan Kristen. Kita diselamatkan untuk menjadi umat yang kudus. Kita sedang dipersiapkan untuk hari ketika Allah akan memulihkan segala sesuatu.

Tuhan Yesus Kristus tidak pernah kekurangan dalam kualitas-kualitas ini. Dia sempurna (tidak dapat berbuat dosa), tidak berubah (tidak dapat berubah) dan sempurna dalam segala hal. Apa yang kita kurang, Dia gantikan. Dosa kita mati bersama-Nya dan kebenaran-Nya diperhitungkan sebagai milik kita, tetapi itu belum semuanya, sebelum pemuliaan kita di Surga, kita membutuhkan pengudusan terus-menerus di bumi. Saat kita maju dalam proses pengudusan, setiap kualitas buah Roh harus meningkat.

Menjadi orang Kristen yang lembut tidak berarti Anda harus menjadi pengecut, menoleransi dosa, menghindari kontroversi dan mengkompromikan Injil karena Anda khawatir menyinggung seseorang. Sebaliknya, itu berarti Anda mengomunikasikan kebenaran Injil dengan kasih, belas kasihan dan perhatian yang nyata bagi jiwa orang lain.

Injil pada awalnya secara alami menyinggung karena pesannya mendatangkan kutukan atas orang berdosa, tetapi dengan cepat memberikan harapan karena Yesus dikutuk menggantikan orang berdosa. Injil itu sederhana dan mudah dipahami, tetapi tetap sama dan sangat kontroversial karena menantang pandangan dunia budaya dan masyarakat sekuler.

Hari ini kita belajar bahwa apa yang harus kita lakukan saat mengomunikasikan Injil adalah menghindari bersikap kasar. Kekasaran dapat tampak sombong, bodoh, pahit, dan jahat. Seseorang pernah berkata salah kepada saya, “Tidak masalah bagaimana Anda mengomunikasikan kebenaran; kebenaran tetaplah kebenaran terlepas dari bagaimana perasaan orang.” Ini menggelikan. Injil adalah kebenaran dan tetap benar apa pun yang terjadi, tetapi ada cara untuk mengomunikasikan Injil secara salah dan ada cara untuk mengomunikasikannya dengan benar.

Bersikap kasar, keras kepala, dan tidak sabar terhadap orang yang tidak setuju dengan Anda akan membuat Anda mengomunikasikan Injil secara salah. Namun, kelembutan membantu Anda mengomunikasikan Injil dengan benar dan efektif. Kita dapat bersikap lembut dan berani dalam penginjilan tanpa bersikap kasar.

Bersikap lembut kepada orang lain akan membantu Anda menginjili dengan lebih efektif karena orang lain akan lebih siap mendengarkan Anda. Orang lain dapat memiliki masalah hidup yang nyata dan serius yang disebabkan oleh dosa mereka atau hanya karena kita hidup di dunia yang penuh dosa dan hal-hal buruk terjadi. Jadi, dengan berbicara dengan lembut kepada orang lain, kita berharap untuk mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat mereka yang mungkin memberi Anda kesempatan untuk berbicara. Anda mungkin perlu jujur, menghadapi dosa mereka dan memberi tahu mereka sesuatu yang mungkin menyakiti perasaan mereka, tetapi kelembutan tidak menghalangi Anda untuk melakukan ini. Sebaliknya, kelembutan membantu Anda melakukannya dengan penuh kasih. Kelembutan akan membuat Anda lebih mudah didekati dengan menjadi penolong, pemimpin, dan teman yang lebih baik. Selain itu, adalah penting bagi Anda untuk mempunyai cara hidup yang baik, yang bisa dijadikan contoh bagi orang lain. Tidak ada gunanya jika teori Anda hebat, tetapi praktik kehidupan Anda minim.

Siapkan diri Anda, jika Anda bisa, sebelum memasuki percakapan dengan orang lain. Siapa orang yang Anda ajak bicara? Apa yang kita ketahui tentang prasangka mereka? Dari mana mereka berasal? Apakah mereka mungkin mengalami benturan budaya? Apakah mereka seorang Muslim, Hindu, ateis, atau apakah mereka menganut kepercayaan lain? Apakah mereka hidup sebagai orang-orang yang dibenci masyarakat? Bersikaplah peka terhadap orang tersebut sehingga kelembutan Anda dapat terlihat jelas. Tujuan kita seharusnya adalah memahami pandangan dunia orang lain dengan sangat baik sehingga kita dapat mengomunikasikannya kembali kepada mereka dengan lebih baik daripada mereka dapat menjelaskannya kepada kita. Ini membutuhkan banyak kesabaran dan banyak kelembutan. Terkadang sulit untuk tetap diam ketika kita memiliki begitu banyak hal untuk dikatakan, tetapi itulah mengapa sangat penting untuk merencanakan dan mempersiapkan diri Anda – untuk memperhatikan perilaku dan cara hidup Anda.

Menginjili bukanlah tugas yang mudah. Mengenal diri sendiri sangat penting untuk tugas penginjilan. Apakah Anda pendengar yang baik atau apakah Anda cenderung menyela ketika orang lain berbicara? Apakah Anda siap untuk mendengarkan atau apakah Anda selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan? Apakah Anda benar-benar ingin belajar tentang orang yang Anda ajak bicara, atau apakah Anda hanya ingin menyampaikan maksud Anda? Jika Anda bukan pendengar yang baik, kemungkinan besar Anda suka memaksa dan tidak terlalu lembut dalam presentasi Anda.

Jika Anda ingin tahu seperti apa sebenarnya Anda sebagai pendengar, penginjil, dan komunikator, undanglah seseorang yang mengenal Anda dengan baik untuk jujur kepada Anda. Buka diri Anda terhadap kritik sehingga Anda dapat memperbaiki kelemahan dan kesalahan Anda. Orang Kristen perlu mau diajar – sebagai pelajar firman yang selalu berusaha untuk menjadi penginjil yang lebih baik. Kita harus sadar bahwa tidak ada orang yang sudah sempurna.

Perlu dicatat bahwa kita sering kali lebih peduli tentang apa yang harus kita katakan daripada bagaimana kita harus bersikap. Kita harus meluangkan waktu untuk meminta Tuhan mengembangkan karakter saleh kita sebanyak waktu yang kita luangkan untuk meminta Tuhan memberi kita kata-kata yang tepat untuk diucapkan ketika kita menginjili orang-orang non-Kristen. Kita juga harus mau untuk mengampuni mereka yang sudah menyebabkan penderitaan kita, seperti sikap Yesus di kayu salib:

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34

Pada pihak lain, jebakan bagi banyak orang Kristen adalah bersikap terlalu kritis terhadap diri mereka sendiri setelah berbicara dengan orang non-Kristen (“Saya seharusnya mengatakan ini”, “Saya seharusnya tidak mengatakan itu”, “Mengapa saya tidak berpikir untuk mengatakan kebenaran ini?”). Jangan terlalu sering melakukannya karena hal itu bisa membuat kita mundur karena rasa tidak mampu. Tuhan tidak membutuhkan kita untuk memiliki gelar doktor dalam penginjilan agar dapat membawa seseorang kepada Tuhan Yesus Kristus dalam pertobatan dan iman. Ingat bahwa dibalik semua usaha kita, adalah Tuhan yang bekerja. Dia tidak peduli dengan kemampuan kita, Dia peduli dengan hati dan ketaatan kita.

Ambillah setiap kesempatan untuk membagikan Injil kepada orang-orang dalam ketaatan kepada-Nya – Dia akan memberkati ketaatan Anda, bukan kemampuan Anda. Namun, kita harus tetap bercita-cita untuk meningkatkan kemampuan penginjilan kita karena itu juga merupakan ketaatan. Saat kita bertumbuh dalam ketaatan, saat kita membaca firman Tuhan, dan saat kita bertumbuh dalam iman, kemampuan penginjilan kita pasti akan meningkat. Perhatikan karakter saleh Anda, dan komunikasikan apa yang Anda praktikkan dalam hidup dengan roh yang lembut. Tuhan memberkati kita sekalian!

Kelelahan dalam usaha untuk taat

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 26-27

Screenshot

Dalam pengertian yang paling umum, “menginjili” berarti mengabarkan Injil Kristen dan mencoba untuk mengajak orang lain untuk menjadi Kristen. Istilah ini berasal dari kata Yunani “euangelion,” yang berarti “kabar baik”.

Sebagai orang Kristen, kita mendapat perintah dari Tuhan untuk mengabarkan Injil, Ini tidak selalu harus melalui penyampaian pesan atau renungan Kristen, karena tidak semua orang diberi karunia untuk itu. Tidak semua orang bisa menjadi guru, penginjil atau pendeta (1 Korintus 12:29). Pada pihak lain, setiap orang diberi berbagai karunia untuk berbuat baik, yang dapat membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan yang dapat membawa orang lain ke arah pengenalan akan Tuhan yang mahakasih.

“Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”. 2 Timotius 3:17

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Apa pun bentuk usaha penginjilan kita, semua kegiatan untuk itu membutuhkan komitmen dan perjuangan. Ini tidak mudah dilakukan jika kita memang mau dengan secara serius mejadi pelaksana dari mandat Tuhan untuk menginjil yang sering disebut “Amanat Agung”, yang adalah perintah bagi pengikut Kristus untuk pergi ke seluruh dunia dan membuat semua bangsa menjadi murid-Nya, membaptis mereka dan mengajarkan mereka untuk menuruti segala sesuatu yang telah diperintahkan kepada mereka.

Dengan demikian, di mana pun kita berada kita harus berusaha hidup dalam terang-Nya. Ini bukanlah hal yang gampang, tetapi sering dirasakan sebagai beban berat yang melelahkan. Karena itu banyak orang Kristen yang kemudian memilih untuk hidup santai dan bebas tanpa tujuan rohani yang jelas. Mungkin mereka menghibur diri dengan keyakinan bahwa keselamatan semua orang Kristen sudah terjamin.

Thema renungan kita kali ini adalah hal kelelahan menjadi orang yang taat. Secara alkitabiah, kelelahan jasmani dan rohani dapat dikaitkan dengan konsekuensi kejatuhan Adam dan Hawa, adanya beban hidup, dan pergumulan yang terus-menerus dengan dosa dan godaan, tetapi juga sebagai pengingatan akan kebutuhan kita akan bimbingan, kekuatan dan istirahat dari Tuhan. Kelelahan mudah terjadi mngkin karena hidup kita yang tidak cukup terlatih sebagai murid Yesus, karena kita sering membuang waktu dan kesempatan untuk menaati firman-Nya.

Ayat 1 Korintus 9:24-27 berisi sebuah metafora yang membandingkan keinginan Paulus untuk memenangkan orang-orang agar beriman kepada Kristus, dengan tekad seorang atlet yang berlatih untuk memenangkan hadiah. Keduanya secara sukarela melupakan hal-hal yang seharusnya menjadi hak mereka untuk hidup santai dan nyaman. Itu membutuhkan pengorbanan diri dan pembatasan ketat terhadap keinginan diri sendiri. Paulus dan seorang atlet mau melakukan ini demi kemenangan. Namun, jika atlet hanya dapat memenangkan karangan bunga yang akan cepat layu, Paulus bertujuan untuk memenangkan hadiah yang akan bertahan selamanya. Ia juga melatih dirinya dengan cara ini agar tidak didiskualifikasi sebelum melewati garis finis. Paulus melatih tubuhnya agar tidak mudah lelah dalam menjalani hidup sebagai orang percaya yang taat kepada Tuhan.

Dalam 1 Korintus 9:26 Paulus telah menjadikan dirinya sebagai fokus. Ia telah menjelaskan apa yang harus dilakukan seorang atlet untuk memenangkan perlombaan, termasuk latihan pengendalian diri yang hebat. Program pelatihan bagi para atlet pada zaman Paulus mencakup komitmen untuk menjauhi makanan, minuman, dan pengalaman sensual tertentu agar siap berkompetisi di level tertinggi. Dalam ayat sebelumnya, Paulus melihat dirinya sebagai orang yang berkompetisi untuk memenangkan jiwa bagi Kristus dan untuk menerima pengakuan kekal atas usahanya itu. “Mahkota” seperti itu akan jauh lebih berharga dari kenikmatan dan kenyamanan duniawi.

Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang atlet yang bekerja keras, bersaing untuk mendapatkan hadiah mahkota dalam kekekalan. Maksudnya adalah agar orang percaya mengejar kesalehan, dan kebaikan untuk orang lain, dengan komitmen yang besar. Karena itu, Paulus mendorong orang Kristen untuk rela menyerahkan ”hak” duniawi mereka demi kebaikan orang-orang yang lemah imannya. Paulus menunjukkan bahwa ia juga telah menyerahkan hak-haknya, termasuk hak sebagai rasul untuk menerima dukungan finansial dari orang-orang yang dilayaninya. Sebaliknya, ia membanggakan bahwa ia melayani jemaat Korintus tanpa imbalan apa pun, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Paulus kemudian mengarahkan perhatian pada pelatihannya sendiri untuk hadiah ini. Ia menegaskan bahwa ia tidak berlari tanpa tujuan. ebagai orang Kristen, ia tidak hidup tanpa tujuan dan dan tanpa rencana. Ia tidak hidup santai dan membuang waktu. Apa yang dilakukannya sangat disengaja, demi kemuliaan Tuhan. Kemudian ia memakai analogi kompetisi yang umum pada saat itu, tinju. Paulus menulis bahwa ia sering menggunakan teknik yang dipakai para petinju di mana mereka berlatih menyerang dan bertahan dalam menghadapi lawan yang dibayangkan (teknik ‘tinju bayangan” atau “shadow boxing“). Paulus berencana untuk memenangkan pertarungan, untuk mendaratkan beberapa pukulan serius pada lawannya. Ia mendisiplinkan dirinya untuk kompetisi yang sebenarnya.

Komitmen Paulus untuk mengesampingkan kebebasan dan hak-hak duniawinya bukanlah paksaan atau takdir. Itu adalah pilihan bebasnya. Ia mau berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari Kristus atas seberapa baik ia berjuang untuk memenangkan orang-orang agar percaya kepada Yesus. Ia menjalani hidup dengan cara ini dengan tekad sepenuhnya. Hal ini sesuai dengan tema utama metaforanya: bahwa semua orang Kristen sejati harus berkomitmen pada iman seperti halnya seorang atlet yang berdedikasi pada olahraga mereka.

Paulus berkata bahwa inilah sebabnya ia mampu tetap termotivasi sekalipun hidupnya penuh tantangan. Ia bisa mempertahankan semangat dan kekuatannya sekalipun bisa merasa lelah dari waktu ke waktu. Ia mempraktikkan pengendalian diri dengan cara yang sama seperti seorang atlet yang sedang berlatih terus – mendisiplinkan tubuhnya dengan pengendalian diri yang ketat atas pola makan, olahraga, tidur, dan perilaku lainnya. Istilah Yunani yang Paulus gunakan untuk “disiplin” di sini adalah hypōpiazō, yang secara harfiah mengacu pada pemukulan terhadap sesuatu yang hitam dan biru. Dalam penggunaan umum, istilah ini menyiratkan membuat mata seseorang lebam! Paulus berkata bahwa ia “memukul” tubuhnya, seperti seorang petinju, untuk menguatkan dirinya demi stamina rohaninya agar tidak mudah lelah. Dengan demikian, setiap orang Kristen sejati juga harus dapat mengendalikan diri atas cara dan pola hidupnya dan berusaha mati-matian untuk menjadi umat yang taat.

Paulus tetap dalam kondisi latihan yang terus-menerus ini karena ia tidak ingin didiskualifikasi. Ia tidak berbicara tentang kehilangan keselamatannya sebagai akibat dari dosa. Ajaran Paulus sendiri sangat jelas bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan sesuatu yang datang sebagai hasil dari usaha keras (Efesus 2:8–9). Hadiah yang diperjuangkannya adalah mahkota pengakuan dari Kristus bahwa ia telah melayani dengan baik. Dalam kasusnya, ini akan mencakup kehidupan semua orang yang telah percaya kepada Yesus sebagai hasil dari khotbahnya. Konteksnya adalah Paulus tidak mau gagal mencapai tujuannya untuk memenangkan hati orang lain, bukan memperoleh keselamatan.

Paulus menyatakan bahwa kita pun dapat didiskualifikasi dari hadiah kita. Pelari dalam suatu perlombaan didiskualifikasi karena keluar jalur, baik secara sengaja maupun karena ketidaktahuannya. Petinju juga didiskualifikasi karena melanggar peraturan. Paulus mengajar kita agar memahami bahwa tidak ada jaminan bahwa kita akan menyelesaikan perlombaan dengan baik. Kita tidak dijamin akan memperoleh pelayanan yang berhasil. Kita juga tidak dijanjikan akan menjadi saksi yang efektif bagi orang lain. Semua itu ada dalam kuasa dan kontrol Tuhan. Walaupun demikian, semua itu harus kita usahakan melalui hidup yang beriman dan bersyukur karena itulah tujuan Tuhan menciptakan dan memilih kita sebagai umat-Nya. Semoga Anda tidak mudah lelah untuk hidup sebagai atlet Tuhan yang sejati!

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10

Jangan takut sekalipun menghadapi bahaya

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8:38-39

Media CNBC Indonesia kemarin melaporkan bahwa presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berhasil membuat gaduh dunia pekan lalu lewat penetapan tarif tinggi untuk setiap negara, termasuk Indonesia. Ekspor RI akan dikenai tarif atau pajak hingga 32% akibat besarnya defisit dagang AS ke Indonesia. Kebijakan tarif Trump memicu ketidakpastian global hingga timbul tarif balasan dari negara lain sebagai usaha saling menyerang dalam dunia perdagangan internasional. Dampak yang dapat dirasakan rupiah diperkirakan akan besar, dimulai dengan kaburnya investor asing di pasar keuangan Indonesia hingga timbulnya gejolak eksternal yang tinggi.

Ketidakpastian dalam dunia ekonomi bukan saja akan dialami Indonesia, tetapi juga hampir semua negara di dunia. Di Asia Tenggara, negara yang dikenai kenaikan tarif baru Amerika termasuk Kamboja 49 persen, Vietnam 46 persen, Myanmar 44 persen, Thailand 36 persen, Indonesia 32 persen, Malaysia 24 persen, Filipina 17 persen, dan Singapura 10 persen. Kenaikan tarif ini kemungkinan membuat makin sulitnya negara-negara lain untuk mengambil keuntungan melalui expor barang ke Amerika, sehubungan dengan naiknya harga barang impor di AS yang akan memperkecil omset penjualan negara lain. Tidaklah mengherankan bahwa harga saham di seluruh dunia mengalami penurunan besar dalam dua hari terakhir gara-gara keputusan yang dibuat presiden Trump. Keputusan satu orang sudah cukup untuk mengguncang seluruh dunia.

Situasi saat ini jelas membuat kuatir para pedagang, pemilik pabrik dan pemilik saham perusahaan. Besar kemungkinan bahwa akan ada banyak perusahaan yang bangkrut karena penghasilan yang menurun. Selain itu, rakyat jelata juga kuatir kalau-kalau harga barang-barang akan naik dan memperkecil daya beli mereka. Banyak negara juga kuatir akan timbulnya inflasi karena harga barang yang naik dan daya beli rakyat yang menurun. Rakyat yang penghasilannya bergantung pada harga saham, sudah tentu merasa kuatir kalau-kalau uang simpanan mereka yang berbentuk saham akan ludes karena harga saham yang terus menurun. Rasa kuatir akan gebrakan pemerintah AS saat ini mungkin akan terus berlangsung di banyak negara paling tidak sampai akhir tahun ini. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi masa depan yang suram ini?

Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan tentang keamanan mutlak orang Kristen di hadapan Allah. Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Allah. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Allah sebagai Abba atau Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama dengan semua ciptaan sementara kita menunggu Allah untuk menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan bantuan Roh, kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita dan mengasihi kita di dalam Kristus.

Roma 8:31-39 adalah salah satu bagian yang paling menguatkan dan meneguhkan dalam seluruh Firman Tuhan. Paulus telah menetapkan bahwa Tuhan ada untuk kita semua yang ada di dalam Kristus; bagi mereka yang telah diselamatkan oleh iman mereka. Tidak ada tuduhan atau dakwaan yang ditujukan kepada kita yang dapat diterima, karena Allah telah menyediakan pembenaran bagi kita dan Kristus menjadi perantara bagi kita. Paulus membuat dua daftar tentang semua hal di alam semesta yang tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah bagi kita di dalam Kristus. Hal-hal yang sulit memang akan terjadi. Namun, tidak satu pun dari hal-hal tersebut akan menyebabkan Bapa kita berhenti mengasihi kita, dan tidak satu pun dari hal-hal tersebut merupakan tanda-tanda bahwa Ia telah meninggalkan kita. Keselamatan kita sepenuhnya, mutlak aman karena kasih-Nya yang besar.

Paulus tidak ingin pembacanya merasa sedikit pun tidak yakin akan kasih Allah bagi mereka di dalam Kristus. Ia telah membangun alasan mengapa Allah menyertai kita sebagai orang Kristen. Ia telah membuat daftar hal-hal terburuk yang dapat terjadi dalam hidup ini untuk menegaskan bahwa tidak satu pun dari hal-hal tersebut yang bisa menunjukkan hilangnya kasih Kristus dari kita (Roma 8:31-37). Hal-hal tersebut mungkin terjadi, tetapi seperti yang ia tulis di ayat sebelumnya, hal-hal tersebut tidak dapat menaklukkan kita dengan cara apa pun yang berarti. Mereka yang diselamatkan oleh iman kepada Kristus (Roma 3:23-26; Yohanes 3:16-18) dapat terus bertahan, dalam kuasa Roh-Nya.

Paulus memuat daftar yang mencakup hampir semua hal yang mungkin dipikirkan siapa pun untuk menantang kasih Allah bagi orang-orang pilihan-Nya (Roma 8:29-30). Paulus memulai dengan kematian, yang bagi orang percaya di dalam Kristus hanya dapat membawa kita ke dalam kemuliaan Allah dengan lebih cepat (2 Korintus 5:8). Ia terus memasukkan kehidupan, malaikat, dan penguasa.

Paulus melanjutkan daftarnya dengan masa kini dan masa depan. Tidak ada hal yang dapat terjadi sekarang atau besok atau seribu tahun dari sekarang yang dapat mengubah komitmen Tuhan untuk mengasihi kita di dalam Kristus. Selanjutnya ia mencantumkan “kuasa-kuasa,” yang merujuk pada kuasa-kuasa supernatural seperti Setan dan iblis-iblisnya atau pemerintahan duniawi seperti Roma. Konsep terakhir ini berasal dari kata Yunani archai, yang biasanya digunakan untuk pemimpin politik atau hakim, dan yang juga sering diterapkan pada iblis. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada hal, baik yang alami di bumi ini, maupun yang dari surga atau neraka, yang dapat menyebabkan Tuhan berhenti mengasihi kita.

Kita tahu bahwa Paulus sendiri akhirnya dibunuh, sejauh yang kita ketahui, oleh “kuasa-kuasa” pemerintahan Romawi. Namun, mereka tidak bisa menaklukkannya. Mereka juga tidak memisahkannya dari kasih Tuhan kepadanya, di dalam Kristus. Buktinya? Tulisan Paulus sekarang adalah bagian dari Alkitab yang menyatakan kasih dan perlindungan Allah kepada umat-Nya.

Roma 8:39 terus mencantumkan segala sesuatu, setiap wilayah, dan setiap kategori yang mungkin dibayangkan siapa pun tidak dapat mengendurkan komitmen atau kemampuan Allah untuk mengasihi kita di dalam Kristus (Roma 3:23–26; Yohanes 3:16–18). Kesulitan mungkin menguji kita (Ibrani 12:3–11), dan penganiayaan mungkin menimpa kita (Yohanes 16:33). Kadang-kadang kita akan gagal untuk taat (1 Yohanes 1:9–10). Namun, penjelasan Paulus sejauh ini telah mencakup segala sesuatu mulai dari pengalaman kita, hingga kekuatan yang dahsyat, dan bahkan dunia alamiah dan supranatural. Ia telah mencantumkan masa kini dan masa depan. Ia telah mencantumkan kekuatan, yang mungkin berarti pemerintahan yang bermusuhan.

Pada ayat 39, ia mencantumkan ketinggian dan kedalaman, yang berarti segala sesuatu yang mungkin turun dari atas atau naik dari bawah. Akhirnya, ia menyebutkan secara menyeluruh segala sesuatu yang lain dalam semua ciptaan. Paulus bersikap absolut tentang hal ini. Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita yang ada di dalam Kristus dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Mereka yang diselamatkan, melalui iman kepada Kristus, diselamatkan selamanya dan selamanya (Yohanes 10:28–29). Kita selalu dikasihi oleh Allah. Apa pun yang terjadi di dunia, Ia melindungi kita selamanya!