Doa pribadi adalah komunikasi dua arah

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Matius 6:6

Dalam banyak tradisi Kristen, doa seseorang dipahami sebagai cara untuk terlibat dalam percakapan dengan Tuhan, bukan saja melalui ungkapan terima kasih dan permintaan, tetapi juga berbagi pikiran dan perasaan secara formal maupun informal. Doa adalah nafas kehidupan umat Kristen, tetapi terkadang diabaikan karena kesibukan, kelupaan, atau bahkan karena keraguan. Sering kali, doa lebih dianggap sebagai daftar keinginan kepada Tuhan daripada sarana berkomunikasi dengan Bapa Surgawi kita. Namun, yang jelas doa tidak dimaksudkan sebagai komunikasi satu arah, tetapi dua arah.

Bagaimana doa menjadi jalan dua arah? Sederhana. Dengan mendengarkan Tuhan, dan bukannya hanya berbicara atau memohon sesuatu kepada Tuhan. KIta harus menyadari bahwa Tuhan yang berfirman juga Tuhan yang mendengarkan doa kita, karena itu kita harus juga mau mendengarkan Dia yang berfirman. Hal mendengarkan Tuhan tidak sesulit atau seberat yang diduga orang. Dan itu juga tidak selalu membutuhkan waktu yang lama, meskipun terkadang itu bisa terjadi. Bagi setiap orang Kristen, mendengarkan Tuhan berarti menyerahkan diri kepada Dia, meminta-Nya untuk berbicara, dan meminta-Nya untuk menerapkan Firman itu pada berbagai situasi yang dihadapi dalam hidup. Dalam hal ini kita membutuhkan tempat yang baik dan sepi agar kita dapat memusatkan perhatian kita kepada apa yang dikatakan-Nya. Yesus juga sering pergi ke tempat yang sepi untuk berdoa, seperti yang dicatat dalam Lukas 5:16, “Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa”.

Sebenarnya, doa adalah ungkapan iman dan kepercayaan. Mereka yang kurang percaya, pasti mengalami kesulitan untuk berdoa. Pada dasarnya, doa adalah pengakuan bahwa kita bukanlah Tuhan, kita tidak memegang kendali, dan bahwa kita membutuhkan Dia yang lebih besar dari kita. Bahkan Yesus, meskipun sepenuhnya manusia tetapi sepenuhnya Tuhan, tetap mengungkapkan kebutuhan-Nya akan bantuan dan dukungan Bapa. Lukas 6:12 menyatakan bahwa sebelum Yesus memilih kedua belas murid, pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman kepada Allah. Ia berkomunikasi dengan Allah Bapa.

Bagi sebagian pendengar Yesus, ajaran-Nya untuk melakukan hal-hal yang benar secara rahasia mungkin terdengar radikal. Dalam masyarakat yang sangat religius dan bahkan legalistik, mudah untuk berpikir bahwa tujuan dari kegiatan keagamaan adalah untuk dilihat oleh orang lain. Tetapi, percakapan seorang umat dengan Tuhan bukanlah sebuah ritual atau sebuah pertunjukan umum untuk ditonton dan dikagumi banyak orang. Masyarakat yang menekankan kehormatan pribadi menempatkan prioritas tinggi pada rasa “percaya diri”, penampilan yang keren dan doa yang indah, yang dapat diterima oleh anggota keluarga, tetangga, dan komunitas gereja. Yesus membalikkan hal ini dan memperingatkan bahwa jika kita memberi sedekah untuk mengharapkan pujian orang lain, Allah tidak akan memberi pahala atas tindakan tersebut (Matius 6:1-4).

Untuk alasan yang sama, Yesus telah mengatakan bahwa doa rutin kepada Bapa harus dilakukan secara rahasia, di balik pintu tertutup (Matius 6:5). Jika kita berdoa secara demikian, Bapa akan tetap mendengar dan memberi pahala kepada kita, karena Dia adalah satu-satunya pendengar yang penting. Perintah ini tidak boleh dibaca sebagai larangan untuk berdoa syafaat di depan umum di gereja atau di tempat lain. Adalah baik bagi perilaku orang Kristen untuk bersinar seperti terang di dunia (Matius 5:16). Yang Yesus ajarkan, adalah bagi mereka yang berdoa di depan umum—termasuk kebaktian gereja dan acara lainnya—agar mereka menyadari motif mereka. Jika kita ingin berdoa di depan umum tetapi merasa adanya keharusan harus “beraksi” di depan orang lain, kita lebih baik berdoa dalam hati atau dalam suasana pribadi untuk menghindari dosa kesombongan yang dibenci Tuhan.

Matius 6:1–6 berisi peringatan Yesus bahwa tidak ada kebenaran dalam melakukan hal yang benar dengan alasan yang salah. Ini mengalir dari ajaran-Nya dalam bab 5, yang berfokus pada gagasan bahwa pikiran dan sikap merupakan bagian dari kebenaran seperti halnya perilaku. Mereka yang melakukan hal-hal baik, yang hanya dimotivasi oleh persetujuan orang lain, tidak akan diberi pahala oleh Tuhan. Orang munafik bertingkah laku sedemikian rupa agar setiap orang memperhatikan amal serta doa-doa mereka, karena mereka sebagian besar peduli dengan motivasi duniawi. Para penyembah sejati memberi dengan tenang dan berdoa sendirian di balik pintu tertutup karena mereka berkomunikasi dengan Oknum surgawi.

Untuk memahami hakikat komunikasi Tuhan kepada kita dan komunikasi kita kepada-Nya, kita perlu memulai dengan dua prinsip utama.

  • Prinsip pertama adalah bahwa Tuhan hanya mengatakan kebenaran. Dia tidak pernah berdusta, dan Dia tidak pernah menipu. Ayub 34:12 menyatakan, “Sungguh, Allah tidak berlaku curang, Yang Mahakuasa tidak membengkokkan keadilan.”
  • Prinsip kedua adalah bahwa Alkitab adalah firman Tuhan sendiri. Paulus menegaskan dalam 2 Timotius 3:16 bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Mengapa dua prinsip ini relevan dengan pokok bahasan doa? Sekarang setelah kita menetapkan bahwa Allah hanya berbicara kebenaran dan bahwa Alkitab adalah kata-kata Allah sendiri, kita dapat secara logis sampai pada dua kesimpulan berikut tentang komunikasi dengan Allah. Pertama, karena Alkitab mengatakan bahwa Allah mendengar manusia (Mazmur 17:6, 77:1; Yesaya 38:5), manusia dapat percaya bahwa ketika ia berada dalam hubungan yang benar dengan Allah dan ia berbicara kepada Allah, Allah akan mendengarkannya. Kedua, karena Alkitab adalah kata-kata Allah, manusia dapat percaya bahwa ketika ia berada dalam hubungan yang benar dengan Allah dan ia membaca Alkitab, ia benar-benar mendengar firman Allah yang diucapkan. Mereka yang berdoa tetapi tidak mau mendengar suara Roh Kudus adalah orang-orang yang mengabaikan firman Tuhan.

Hubungan yang benar dengan Tuhan yang diperlukan untuk komunikasi yang sehat antara Tuhan dan manusia dibuktikan dalam tiga cara:

  • Yang pertama adalah berpaling dari dosa, atau pertobatan. Mazmur 27:9, misalnya, adalah permohonan Daud agar Tuhan mendengarkannya dan tidak menjauh darinya dalam kemarahan. Dari sini, kita tahu bahwa Tuhan memang memalingkan wajah-Nya dari dosa manusia dan bahwa dosa menghalangi komunikasi antara Tuhan dan manusia. Contoh lain dari hal ini ditemukan dalam Yesaya 59:2, di mana Yesaya memberi tahu orang-orang, “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Jadi, ketika ada dosa yang tidak diakui dan yang disengaja dalam hidup kita, itu akan menghalangi komunikasi dengan Tuhan.
  • Kedua, seperti yang sudah disebutkan di atas, apa yang juga diperlukan untuk komunikasi adalah kerendahan hati. Tuhan mengucapkan kata-kata ini dalam Yesaya 66:2, “… Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku..”
  • Hal ketiga adalah kehidupan yang benar. Bagi orang yang sudah lahir baru, inilah sisi positif dari berpaling dari dosa dan ditandai secara khusus oleh keefektifan dalam doa. Yakobus 5:16 mengatakan, “… Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Ucapan kita kepada Tuhan dapat diucapkan dengan lisan, dalam pikiran, atau tertulis. Dalam hal ini, apa yang penting adalah Tuhan yang di surga mau mendengar doa kita kapan saja, dan karena itu kita bisa berdoa kepada Dia kapan saja dan di mana saja. Kita tidak perlu terikat dengan jadwal doa dua atau tiga kali sehari, tetapi setiap saat kita bisa berbicara dengan Dia. Kita dapat yakin bahwa Dia akan mendengar kita dan bahwa Roh Kudus akan membantu kita untuk berdoa sesuai dengan apa yang seharusnya kita doakan. Roma 8:26 mengatakan, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Mengenai metode Allah untuk berkomunikasi kembali kepada kita, kita harus mencari Allah untuk berbicara kepada kita terutama melalui Kitab Suci, daripada mempercayai bahwa Allah akan selalu menaruh pikiran langsung ke dalam otak kita untuk membimbing kita pada tindakan atau keputusan tertentu. Karena dosa, kita mampu untuk menipu diri sendiri. Karena itu, tidaklah bijaksana untuk menerima gagasan bahwa setiap pikiran yang masuk ke dalam benak kita berasal dari Allah. Begitu juga kita terkadang merasa bahwa hati kita membisikkan sesuatu kepada kita. Ini juga harus diuji kebenarannya dengan firman Tuhan.

Terkadang, mengenai masalah-masalah tertentu dalam hidup kita, Tuhan tidak berbicara kepada kita secara langsung melalui Kitab Suci, dan wajar saja jika kita tergoda untuk mencari wahyu di luar Alkitab dalam situasi seperti itu. Namun, pada saat-saat seperti itu, adalah lebih bijaksana—agar tidak “memasukkan kata-kata itu ke dalam mulut Tuhan” dan/atau membuka diri kita terhadap tipu daya—untuk menemukan jawaban dengan merujuk pada prinsip-prinsip Alkitab yang telah Dia berikan kepada kita. Ini adalah penting untuk menghindari tindakan menipu diri kita sendiri.

Dianjurkan juga untuk berdoa dengan sungguh-sungguh memohon hikmat untuk sampai pada kesimpulan yang benar, karena Dia telah berjanji untuk memberikan hikmat kepada mereka yang memintanya. “Jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia meminta kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tanpa cela, dan itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah bagaimana kita memakai doa kita untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Doa adalah pembicaraan kita dari hati kita kepada Bapa surgawi kita, dan sebagai balasannya, Tuhan berbicara kepada kita melalui Firman-Nya dan membimbing kita dengan tuntunan Roh-Nya. Doa pada hakikatnya bukan hanya berisi permohonan dan pengucapan syukur, tetapi juga kemauan dan jandi kita untuk melaksanakan firman Tuhan. Doa yang benar selalu melibatkan dua hal: berbicara dan mendengar!

Yakinkah Anda akan keselamatan Anda? Bagian 1

19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 19:18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” 19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” 19:25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Matius 19-16-26

Ada sebuah masalah bagi setiap orang yang percaya bahwa keselamatan hanya melalui karunia (by Grace ony atau Sola Gratia) ketika mereka ingin memastikan apakah mereka sudah diselamatkan. Apa tandanya kalau keselamatan itu sudah dikaruniakan kepada mereka? Seseorang yang masih kacau hidupnya mungkin saja percaya bahwa ia tergolong orang pilihan, sedangkan mereka yang mati-matian berusaha taat kepada hukum Tuhan mungkin saja tetap ragu atas keselamatan mereka karena sadar bahwa ketaatan manusia, yang tidak sempurna, tidak dapat menyelamatkan.

Matius 19:16–26 menggambarkan percakapan Yesus dengan seseorang yang bertanya bagaimana cara memperoleh hidup kekal. Ayat 16 mengawali percakapan antara Yesus dan seseorang yang sering disebut “pemimpin muda yang kaya.” Matius menyingkapkan bahwa ia muda dan kaya dalam ayat-ayat berikutnya (Matius 19:20, 22). Catatan Lukas menggambarkan orang itu sebagai seorang pemimpin (Lukas 18:18). Para ahli Alkitab berpendapat bahwa mungkin orang itu memegang jabatan sebagai seorang Farisi atau pemimpin agama lain di Israel.

Dua hal yang perlu kita catat:

  • Pertama, pertanyaan orang kaya itu menunjukkan bahwa ia tidak berpuas diri dengan percaya bahwa sekadar menjadi orang Yahudi yang taat kepada hukum Taurat akan menjaminnya mendapat tempat di surga. Banyak orang Yahudi pada masa itu tampaknya mempercayai hal ini, dan Yesus secara langsung menentang gagasan itu.
  • Kedua, ia percaya bahwa ia harus membuktikan dirinya layak bagi Tuhan. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang Yesus baru saja ajarkan dalam bagian sebelumnya bahwa kerajaan surga adalah milik mereka yang memiliki iman dan kerendahan hati seperti anak-anak. Mengakui kebutuhan dan ketergantungan seseorang kepada Tuhan adalah aspek kunci dari iman yang menyelamatkan.

Orang itu mendekati Yesus dengan pertanyaan yang sangat tajam tapi keliru. Sebenarnya, pertanyaan yang harus ditanyakan oleh setiap orang beragama dalam satu bentuk atau lainnya selama hidup mereka adalah: Bagaimana saya bisa diselamatkan? Tetapi, adalah keliru jika kita bertanya bagaimana kita harus berbuat baik untuk bisa diselamatkan.

Cara orang ini mengajukan pertanyaan itu menyingkapkan asumsi-asumsi yang dimilikinya.

  • Pertama, ia mengajukan pertanyaan itu kepada Yesus, yang ia sebut “guru” atau “rabi.” Ia telah cukup banyak mendengar dan melihat tentang Yesus dan Yudaisme untuk percaya bahwa Yesus mungkin akhirnya menjadi orang yang memberikan jawaban yang berarti untuk pertanyaan ini. Ia memulai dari tempat yang tepat.
  • Kedua, orang itu berasumsi bahwa memiliki hidup kekal bergantung pada tindakan manusia. Ia bertanya kepada Yesus “perbuatan baik” apa yang harus ia lakukan untuk memperoleh atau memperoleh jaminan hidup kekal (Yohanes 6:28). Ini adalah penggunaan pertama frasa “hidup kekal” dalam Matius. Ini sama saja dengan mengatakan, “Bagaimana saya dapat mengetahui dengan pasti bahwa saya akan diterima ke dalam kerajaan surga ketika saatnya tiba?”

Tampaknya, banyak orang pada zaman Yesus (dan juga di zaman sekarang) percaya bahwa melakukan satu perbuatan baik saja, mungkin berulang kali, sudah cukup untuk menjamin hidup kekal. Orang muda ini (dan banyak orang lain) ingin mengetahui ciri-ciri perbuatan baik itu sehingga ia dapat melakukannya dan yakin bahwa ia akan masuk ke dalam kerajaan surga. Sudah tentu, orang-orang seperti itu mempunyai pengertian yang keliru tentang keselamatan.

Jawaban Yesus terhadap pertanyaan orang itu dan percakapan yang terjadi setelahnya akan menunjukkan mengapa tidak seorang pun dapat melakukan cukup banyak perbuatan baik untuk menjamin dirinya memperoleh hidup kekal. Hanya Allah yang baik dan mampu. Kita semua bergantung pada kasih karunia-Nya untuk menyelamatkan kita melalui iman kepada Yesus (Efesus 2:1–10). Tetapi, dengan pengertian ini, banyak orang Kristen yang masih tidak yakin apakah mereka akan diselamatkan. Mereka memerlukan dan mencari bukti dan jaminan keselamatan.

Orang muda ini tidak tahu apakah ia akan diselamatkan sekalipun ia sudah berusaha keras untuk hidup baik. Yesus memulai jawaban-Nya dengan menyebutkan adanya standar kebaikan, menyarankan orang itu untuk menaati semua perintah Tuhan. Ketika orang itu berkata bahwa ia telah melakukan ini, Yesus menyarankan agar ia menyerahkan kekayaannya untuk mengikuti-Nya. Orang muda itu tidak mau melakukannya; ia pergi dengan susah hati. Reaksi orang itu membuktikan bahwa ia tidak mau menjadikan Allah sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

Yesus memerintahkan agar orang itu menaati seluruh perintah-perintah Tuhan agar memperoleh keselamatan. Namun, Yesus tidak mengajarkan bahwa orang itu cukup untuk “menjadi orang baik saja” karena itu tidak mungkin terjadi. Ketaatan yang sempurna memang dibutuhkan jika kita ingin diselamatkan berdasarkan usaha kita sendiri, tetapi itu tidak mungkin tercapai. Tujuan dari pernyataan ini adalah untuk menunjukkan bahwa kebaikan orang itu tidak sempurna. Pada akhirnya, tanggapan orang itu menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak benar-benar bersedia mengikuti Tuhan (Matius 19:22).

Penolakan orang itu menunjukkan betapa mudahnya lebih memilih kekayaan atau kenyamanan hidup daripada bergantung pada Tuhan. Dengan menggunakan ini sebagai contoh, Yesus memperingatkan bahwa kekayaan duniawi dalam bentuk apa pun dapat menyulitkan seseorang untuk menerima keselamatan. Lalu, bagaimana manusia bisa selamat? Siapa yang bisa diselamatkan? Menanggapi pertanyaan para murid itu, Yesus berkata bahwa keselamatan tidak mungkin bagi manusia, tetapi tidak bagi Tuhan.

Jika demikian, mengapa Yesus perlu menyuruh orang itu untuk menaati hukukum-hukum Tuhan agar diselamatkan? Seperti banyak komentar lain yang dibuat oleh Kristus, ini dimaksudkan untuk dipahami dalam konteks percakapan dan alur pemikiran. Ini bukan pernyataan sederhana bahwa kita diselamatkan karena berbuat baik. Ini adalah pernyataan yang tajam, yang mendorong orang kaya itu (dan kita juga) untuk memeriksa tindakan dan motivasi kita dalam hidup.

Tanggapan Yesus (Matius 19:17) tidak dimaksudkan untuk diambil di luar konteks. Maksud-Nya adalah untuk membahas pertanyaan itu dengan orang kaya dari sudut pandang Yudaisme. Dia memberi tahu orang itu untuk menaati seluruh perintah-perintah Tuhan jika dia ingin masuk ke dalam hidup. Dengan kata lain, tidak berbuat dosa sama sekali. Yesus tidak mengatakan bahwa jika seseorang dapat menaati perintah Allah dengan sempurna, mereka akan menerima hidup kekal. Sebaliknya, Ia menyingkapkan kepada pria ini bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya menaati perintah Tuhan. Yesus ingin penguasa muda yang kaya ini tahu bahwa ia tidak benar-benar baik. Tidak ada satu manusia yang tidak berdosa.

Yang lebih penting, alur pemikiran ini menghasilkan kesempatan bagi Yesus untuk menunjukkan apa yang benar-benar menyelamatkan, yaitu iman yang taat dan bertobat. Orang kaya itu mungkin mengaku telah “baik” dalam perilakunya, tetapi ia tidak mau mengikuti Tuhan menurut ketentuan-ketentuan Tuhan (Matius 19:21–22). Seperti itu juga, kita mungkin merasa “sudah dipilih Tuhan”, tetapi tidak mau berusaha untuk menaati perintah-perintah-Nya. Bagaimana itu mungkin?

Memahami bahwa kita tidak baik, bahwa kita berdosa, adalah langkah pertama untuk memahami Injil Yesus: Kita membutuhkan kebaikan-Nya untuk diselamatkan. Kerendahan hati yang percaya dan bergantung itu adalah sesuatu yang baru-baru ini disoroti oleh Yesus (Matius 19:13–15). Ia datang untuk mati di kayu salib di Yerusalem untuk membayar dosa kita. Allah memberikan pujian kepada mereka yang datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus atas kebaikan Yesus, bukannya menghakimi kita berdasarkan kebaikan kita sendiri. Iman yang rendah hati kepada Kristus adalah satu-satunya jalan menuju kehidupan kekal (Yohanes 14:6; Efesus 2:1–10).

Pelajaran inilah yang Yesus sampaikan kepada kita yang menanyakan keselamatan kita. Keselamatan datang kepada mereka yang mengakui kebutuhan mereka dan bersedia mengikuti Tuhan, apa pun yang diminta-Nya dari mereka. Mereka yang datang kepada Yesus untuk mendapatkan keselamatan melalui kasih karunia Tuhan melakukannya dengan memahami bahwa mereka tidak benar-benar baik dan membutuhkan kebaikan Yesus, bukan kebaikan mereka sendiri. Mereka yang bersikeras pada kebaikan mereka sendiri, atau tidak mau mengikuti ketika kehendak Tuhan tidak menyenangkan, tidak akan diselamatkan (Matius 19:21–22). Pada pihak yang lain, mereka yang merasa sudah mengikut Tuhan tetapi tidak memiliki motivasi yang benar, juga akan ditolak Tuhan.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7:21-23

Di permukaan, Yesus memberi orang muda itu tugas yang harus diselesaikannya agar menjadi orang baik yang sempurna. Ia memberi tahu orang kaya itu untuk menyerahkan semua kekayaannya dan menjual semua yang dimilikinya dan memberikan uangnya kepada orang miskin dan datang untuk mengikuti-Nya. Dengan cara ini, Yesus berkata, kamu akan memiliki harta di surga. Tujuan dari komentar ini adalah untuk menyingkapkan kebutaan pemuda kaya ini, dan kurangnya ketulusan hatinya. Orang itu percaya—atau ingin percaya—bahwa ia telah mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Yesus menunjukkan bahwa itu tidak benar karena orang itu masih memiliki banyak kekayaan, dan tetangganya masih miskin. Bagaimanapun, pemuda itu tidak sepenuhnya baik. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen sejati kita tidak boleh merasa bahwa kita adalah “orang baik”.

Ada dua hal dalam komentar Yesus ini. Yang pertama langsung jelas, yang kedua terungkap ketika orang kaya itu bereaksi terhadap nasihat Yesus. Pertama, ini menunjukkan bahwa tidak seorang pun cukup baik untuk dijamin hidup kekal bersama Tuhan di surga. Injil Yesus Kristus menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang cukup baik untuk mati demi menebus dosa kita dan menutupi kekurangan kebaikan kita dengan kebaikan-Nya yang sempurna. Hanya melalui iman kepada Yesus dan melalui kasih karunia serta kuasa Allah, seseorang dapat diselamatkan (Efesus 2:1–10). Sebesar apa pun harapan kita untuk menjadi “cukup baik,” kita tidak dapat memenuhi standar kesempurnaan Allah.

Tujuan kedua dan yang paling langsung dari perkataan Yesus dalam ayat ini ditunjukkan dalam ayat berikut. Ketika didesak untuk mengikuti Allah—untuk mengejar “kebaikan”—orang kaya itu menolak. Reaksinya membuktikan bahwa ia pada akhirnya tidak mau mengikuti Allah (Matius 19:22). Perintah Kristus adalah agar orang itu menyerahkan semua kekayaannya yang besar. Orang muda itu tidak senang mengetahui bahwa ia dapat memperoleh hidup kekal—ia sedih karena ia tidak ingin menaati Allah ketika ketaatan itu terlalu sulit. Ia ingin melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri dan dijamin memperoleh hidup kekal pada saat yang sama. Seperti itu juga, banyak orang Kristen yang sengaja ingin hidup dengan cara mereka sendiri tetapi juga ingin mendapat kepastian akan keselamatan mereka. Ini adalah harapan hampa. Mengapa demikian?

Yesus telah membuktikan bahwa orang kaya itu tidak sebaik yang ia kira. Pemuda itu percaya bahwa ia telah menaati semua perintah. Yesus menunjukkan kepadanya cara khusus untuk mengasihi sesamanya seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Orang itu melihat dengan jelas bahwa ia lebih mengasihi dirinya sendiri daripada sesamanya yang miskin. Dan, pada saat ini, ia membuat keputusan yang jelas bahwa ia lebih suka menyimpan kekayaannya, daripada mengikuti Kristus. Perintah Yesus bagi orang muda ini untuk menyerahkan uangnya bukanlah pernyataan bagi semua orang percaya—itu merupakan tantangan bagi dia untuk menunjukkan ketidaktulusannya yang mendalam.

Yesus menyatakan bahwa hanya dengan susah payah orang kaya (orang yang bergantung pada diri sendiri) akan masuk ke dalam kerajaan surga. Ia baru saja menjanjikan kehidupan kekal kepada seorang pemuda jika ia menjual semua miliknya, memberikan uangnya kepada orang miskin, dan mengikuti-Nya. Tantangan itu hanya ditujukan kepada orang itu—bukan semua orang—dan membuktikan bahwa orang kaya itu tidak benar-benar bersedia menaati Allah. Orang itu tidak dapat dan tidak mau melakukannya.

Komentar Kristus ini menantang asumsi yang dipegang oleh orang-orang pada zaman-Nya tentang kekayaan. Itu juga menantang asumsi banyak orang Kristen di zaman ini. Banyak orang percaya bahwa orang kaya menjadi kaya karena Allah telah memberkati mereka. Mereka berasumsi bahwa kekayaan dan kesuksesan berarti Allah melihat orang-orang itu lebih baik, lebih unggul, atau lebih setia daripada orang miskin biasa. Karena Tuhan sudah menyukai orang kaya, pasti lebih mudah bagi mereka untuk masuk ke dalam kerajaan surga, begitulah pemikirannya.

Pernyataan Yesus menunjukkan bahwa ini tidaklah benar. Pertama-tama, orang kaya tidak menjadi kaya karena mereka adalah orang yang lebih baik daripada orang miskin. Kekayaan dan kesuksesan tentu saja dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang baik (Amsal 3:1-4), tetapi itu juga bisa jadi merupakan hasil dari ketidakjujuran atau kedengkian (Amsal 20:17). Namun, yang lebih penting, tidak seorang pun akan masuk ke dalam kerajaan surga dengan menjadi cukup baik, dengan menjadi lebih baik daripada orang lain. Yesus sebelumnya memberi tahu murid-murid-Nya sendiri bahwa, “.. sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3).

Orang kaya, yang mandiri dan berkecukupan, jauh lebih sulit merendahkan diri dan mengakui kebutuhan mereka, bahkan kepada Tuhan, daripada mereka yang miskin. Itulah sebabnya mengapa sangat sulit bagi mereka untuk masuk ke dalam kerajaan dengan kerendahan hati yang dituntut dari iman kepada Yesus. Prinsip yang sama ini dapat diterapkan kepada mereka yang mengandalkan kecerdasannya, keberuntungan, atau sifat-sifat lainnya daripada Tuhan. Mereka adalah seperti hewan besar seperti seekor unta yang ingin melewati lubang terkecil yang bisa dibayangkan kebanyakan orang.

Yesus menegaskan kembali apa yang telah Ia katakan kepada para murid tentang anak-anak kecil (Matius 19:13–15). Kecuali seseorang berbalik dan menjadi rendah hati serta percaya seperti anak kecil, orang itu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Kerendahan hati dan kepercayaan bukanlah sifat alami orang-orang yang memiliki kekayaan dan kenyamanan yang besar. Secara rohani, mereka yang bangga karena mereka adalah “orang pilihan” atau “orang saleh” juga salah tentang hubungan mereka dengan Tuhan (Matius 5:3).

Ini juga menetapkan bahwa mustahil bagi siapa pun, kaya atau miskin, untuk masuk ke dalam kerajaan surga berdasarkan jasa mereka sendiri, kebaikan mereka sendiri, kelayakan mereka sendiri (Titus 3:5). Ia menetapkan kebenaran yang akan dinyatakan Paulus dengan sangat jelas dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”

Orang kaya tidak lebih atau kurang mungkin menjadi orang baik daripada orang lain. Uang bukanlah indikator kemurahan hati Tuhan. Maksud Yesus adalah bahwa kerendahan hati dari iman yang sederhana diperlukan untuk memasuki kerajaan surga. Orang kaya—mereka yang merasa mudah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan menyelesaikan masalah duniawi dengan uang—akan merasa lebih sulit untuk merendahkan diri. Mengakui bahwa mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka adalah pengalaman yang tidak wajar. Ini dapat berlaku untuk lebih dari sekadar uang. Mereka yang mengandalkan kecerdasan, penampilan, atau kekuasaan mereka, dapat jatuh ke dalam perangkap yang sama.

Ketika Yesus berkata orang kaya tidak dapat mencapai surga, mereka akan bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang dapat berharap untuk memperoleh keselamatan. Kristus menanggapi dengan pernyataan mengejutkan lainnya, yang mungkin membingungkan pada awalnya. Murid-murid mungkin berharap Yesus akan berkata bahwa hanya mereka yang benar-benar rendah hati atau miskin dalam roh yang dapat diselamatkan (Matius 5:3). Atau, bahwa hanya mereka yang memiliki iman seperti anak kecil dan bergantung pada Allah yang dapat diselamatkan (Matius 19:13–15). Ia tidak juga mengatakan semua itu. Sebaliknya, Yesus setuju dengan murid-murid bahwa mustahil—”bagi manusia”—bagi siapa pun untuk diselamatkan.

Namun, itu bukanlah akhir dari pernyataan Yesus. Ia mengatakan bahwa bersama Tuhan segala sesuatu mungkin terjadi. Ia tidak menutup pintu bagi keselamatan manusia, tetapi Ia menyatakan bahwa Tuhan harus mewujudkannya. Pada saat ini, Ia tidak menjelaskan bagaimana Tuhan akan mewujudkannya: melalui kematian-Nya di kayu salib untuk dosa-dosa manusia.

Doktrin pengajaran iman Kristen menyatakan bahwa keselamatan hanya datang dari Tuhan sebagai karunia. Karunia adalah suatu pemberian kasih Allah, karena itu tidak dapat dibeli (Yohanes 3:16). Dalam hal ini, Tuhan memilih orang-orang yang akan diberi karunia menurut kebijaksanaan-Nya sendiri, dan karena itu tidak ada seorang pun yang dengan perbuatannya bisa memengaruhi keputusan Tuhan yang berdaulat.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2:8-9

Alkitab menyatakan bahwa tidak ada manusia yang suci dan tidak berdosa (Roma 3:23). Karena itu, tidak ada manusia yang bisa diselamatkan dengan usahanya sendiri. Adanya hukum Tuhan bukanlah untuk memastikan siapa yang taat dan diselamatkan, dan siapa yang tidak taat dan yang akan dihukum.

Adanya hukum Tuhan adalah berguna sebagai peringatan bagi manusia akan apa yang jahat, yang tidak disenangi Tuhan, sehingga umat Kristen bisa berusaha untuk menghindarinya jika mereka memang mau tunduk dan bersyukur kepada Allah yang sudah menyelamatkan mereka. Keyakinan Anda akan keselamatan Anda akan muncul jika Anda, dengan bimbingan Roh Kudus, mau berusaha untuk selalu taat kepada perintah-perintah-Nya.

Mencari kesuksesan hidup

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Matius 16:26

Siapa orang terkaya di dunia? Sebagian orang mungkin mengira itu adalah Bill Gates, pendiri perusahaan perangkat lunak Microsoft. Tetapi itu kurang tepat. Bill Gates memang pernah menduduki posisi pertama selama 18 tahun dari 24 tahun sebelum tahun 2018. Pada tahun 2018, pendiri Amazon (perusahaan teknologi multinasional Amerika Serikat yang bergerak di berbagai bidang), yang bernama Jeff Bezos menduduki peringkat nomer satu sedunia. Pada tahun 2022, setelah menduduki puncak daftar selama empat tahun, Bezos dikalahkan oleh Elon Musk. Ketiga orang di atas adalah orang Amerika, yang bersama 6 orang Amerika lain sekarang termasuk dalam 10 besar di dunia (9 dari 10 orang terkaya di dunia adalah orang Amerika).

Elon Reeve Musk (lahir 28 Juni 1971) adalah orang terkaya di dunia sejak Maret 2025; majalah Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai US$345 miliar. Kekayaan Elon Musk ludes US$52 miliar atau sekitar Rp852 triliun sejak awal 2025, antara kain karena anjloknya penjualan mobil listrik Tesla. Namun, dia tetap menyandang status orang terkaya di dunia saat ini. Pada tahun 2025, Elon Musk dipilih presiden Donald Trump untuk memimpin usaha meningkatan efisiensi badan-badan pemerintahan Amerika.

Sekalipun Musk adalah seorang businessman yang sangat sukses, ia kurang sukses dalam kehidupan berumah tangga. Musk pernah menikah dengan dua wanita dan dilaporkan memiliki 14 anak dengan empat wanita berbeda. Elon bukan orang Kristen, sekalipun ia menhargai budaya Kristen. Pertanyaan saya: Apakan Anda ingin sukses seperti Elon Musk dan tetap menjadi orang Kristen? Anda harus berhati-hati karena definisi kesuksesan menurut Alkitab adalah berbeda jauh dengan definisi dunia.

Dalam hal ini, saya ingin memberi Anda pilihan lain. Mungkin Anda pernah mendengar nama Norman Vincent Peale yang pernah menulis buku penuntun hidup sukses yang berjudul “Bible Power for Successful Living: Helping You Solve Your Everyday Problems” yang berarti “Kekuatan Alkitab untuk Hidup Sukses: Membantu Anda Memecahkan Masalah Sehari-hari“.

Norman Vincent Peale (lahir 31 May 1898) adalah putra seorang dokter yang beralih menjadi pendeta Metodis. Ia tumbuh menjadi penulis 46 buku, termasuk buku terlaris yang menginspirasi sepanjang masa yang berjudul “The Power of Positive Thinking” (Kekuatan dari Pikiran Positif). Setelah ditahbiskan, Dr. Peale memperoleh reputasi sebagai pendeta yang dinamis yang gerejanya bertumbuh. Di University Methodist Church di Syracuse, N.Y., ia bertemu dan menikah dengan Ruth Stafford, pasangan hidupnya selama 63 tahun.

Pada usia 34 tahun, Dr. Peale menerima panggilan ke Marble Collegiate Church. Kesan umum selama bertahun-tahun di gereja itu adalah banyaknya turis yang mengantre di sekitar blok untuk mendengarkannya. Pada tahun 1933, ia memulai siaran radio mingguan yang berlanjut selama 54 tahun yang memecahkan rekor. Pada tahun 1984, Dr. Peale dianugerahi Presidential Medal of Freedom oleh presiden Ronald Reagan.

Pertanyaan saya: Apakah Anda ingin sukses seperti Vincent Peale? Anda harus berhati-hati karena definisi kesuksesan dan kekristenan menurut Alkitab adalah berbeda jauh dengan definisi dunia.

Menurut Alkitab, ukuran kesuksesan adalah apakah Anda pada akhirnya akan masuk ke surga. Sebagian orang Kristen berpandangan bahwa hal masuk ke surga adalah urusan Tuhan semata-mata. Tuhan memilih orang baik atau orang jahat sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi, ayat di atas menyatakan hal yang berbeda. Tuhan memberi kesempatan, tetapi Anda yang harus memilih. Sebagai pilihan, Anda mau mempertahankan kepentingan duniawi Anda, atau Anda mau menyelamatkan jiwa Anda. Itulah pernyataan inti Yesus dalam bagian Matius 16:24–26.

Dalam bentuk dua pertanyaan, Yesus meninggalkan mereka yang mau mendengar-Nya dengan hanya dua alternatif saja. Apa manfaat utama bagi seseorang yang memperoleh segala sesuatu yang mungkin ditawarkan dunia, hanya untuk menghabiskan kekekalan dengan menderita terpisah dari Tuhan? Berapa nilai jiwa? Apa yang harus diberikan seseorang sebagai imbalan atas keselamatan jiwanya? Ini adalah pertanyaan utama jika Anda mau menjadi orang Kristen yang sukses.

Yesus telah berkata bahwa mereka yang mengikuti-Nya harus rela mengorbankan diri mereka dalam segala hal. Mereka harus rela menyangkal keinginan dan pilihan mereka sendiri, memikul salib mereka seperti yang Dia lakukan, dan akan segera melakukannya dalam arti yang sangat harfiah. Dengan kata lain, mereka harus menyerahkan setiap agenda mereka sendiri untuk sepenuhnya tunduk pada kehendak Tuhan dan tujuan-Nya. Itu sepertinya “mengorbankan” segalanya bagi mereka, tetapi apa yang diserahkan adalah sesuatu yang bersifat sementara dan relatif tidak berharga.

Mereka yang menolak pengorbanan diri dapat hidup untuk diri mereka sendiri. Mereka boleh membanggakan kesuksesan duniawi mereka kepada seisi dunia. Mungkin mereka bahkan akan mendapatkan seluruh dunia untuk diri mereka sendiri. Masalahnya adalah bahwa kesuksesan duniawi seperti itu hanya dapat bertahan sampai kematian datang dan menimbulkan pertanyaan tentang jiwa yang tertinggal yang akan memasuki kematian kekal.

Pada akhirnya, setiap orang harus memilih satu dari hanya dua pilihan (Yohanes 14:6). Kehilangan semua yang kita miliki di dunia, untuk mengikuti Yesus dan diselamatkan selamanya, atau mempertahankan semua yang kita miliki di dunia, untuk melayani diri kita sendiri, dan kehilangan jiwa kita sendiri selamanya pada akhirnya. Itulah satu-satunya pilihan yang Yesus tawarkan dalam bagian ini, dan hanya dua pilihan yang disajikan dalam seluruh Alkitab.

Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6

Konsep “hidup sukses” dalam kerangka teologi Kristen yang benar selalu menekankan hal menjalani hidup yang memuliakan Tuhan dan mencerminkan karakter-Nya, daripada hanya berfokus pada kesuksesan atau pencapaian duniawi. Lebih dari sekadar pengertian teologi yang hebat, konsep ini melibatkan kerendahan hati, mencari kemuliaan Tuhan, dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, bahkan di tengah tantangan dan pencobaan.

Dalam konteks ini, kesuksesan tidak didefinisikan terutama oleh kekayaan, ketenaran, atau pencapaian duniawi, melainkan oleh kesetiaan kepada Tuhan dan menjalani hidup yang mencerminkan karakter-Nya. Orang Kristen didorong untuk mencari kemuliaan Tuhan di atas kemuliaan mereka sendiri, dan menggunakan bakat dan kemampuan mereka untuk tujuan-Nya. Berikut ini adalah ringkasan dari apa yang bisa kita mengerti:

Prinsip-prinsip Utama Hidup Sukses:

  • Kerendahan hati: Mengenali ketergantungan seseorang pada Tuhan dan menghindari kesombongan atau mengandalkan diri sendiri.
  • Mencari Kemuliaan Tuhan: Mengutamakan kehormatan dan tujuan Tuhan di atas ambisi pribadi.
  • Kesetiaan: Tetap setia pada Firman Tuhan dan mengikuti perintah-perintah-Nya.
  • Pelayanan: Menggunakan karunia dan kemampuan seseorang untuk melayani orang lain dan memajukan kerajaan Tuhan.
  • Ketahanan: Mengatasi tantangan dan cobaan dengan kasih karunia dan ketekunan, mengetahui bahwa Tuhan menyertai mereka.

Contoh Alkitabiah:

  • Kehidupan Yesus: Kehidupan Yesus, yang dicirikan oleh kerendahan hati dan ketaatan, menjadi model untuk kehidupan yang sukses.
  • Tokoh Alkitab: Contoh individu yang menjalani kehidupan yang sukses, seperti Abraham, Daud, dan Daniel, menunjukkan prinsip-prinsip iman, ketaatan, dan pelayanan.
  • Rasul Paulus: Penekanan Paulus pada kerendahan hati dan pelayanan dalam surat-suratnya kepada gereja-gereja memberikan bimbingan lebih lanjut.

Aplikasi Praktis:

  • Pekerjaan dan Panggilan: Orang Kristen didorong untuk mengejar panggilan mereka dengan tekun dan integritas, berusaha untuk memuliakan Tuhan dalam pekerjaan mereka.
  • Keluarga dan Hubungan Sosial: Membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih dalam keluarga dan masyarakat sangat penting untuk kehidupan yang memuaskan.
  • Pelayanan dan Misi: Berpartisipasi dalam tindakan pelayanan dan membagikan Injil kepada orang lain merupakan cara penting untuk menjalankan iman seseorang.

Pagi ini, kita bisa melihat bahwa berbeda dari gagasan umum tentang kesuksesan yang sering kali berfokus pada harta benda, ketenaran, dan kekuasaan, umat Kristen didorong untuk mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dengan mengetahui bahwa Dia akan memenuhi kebutuhan mereka. Bagaimana dengan Anda?

Jangan mudah dibodohi orang

(6) Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. (7) Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. (8) Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, (9) karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, (10) dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Efesus 5:6-10

Seorang influencer adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini, perilaku, dan keputusan pembelian orang lain melalui konten yang mereka bagikan di platform media sosial. Mereka adalah orang-orang yang memiliki banyak pengikut (follower) dan mampu mempengaruhi orang lain berasal dari keahlian, pengetahuan, atau gaya hidup yang mereka tunjukkan. Sebagai contohnya, berbagai selebriti, blogger, YouTuber, tokoh publik dan bahkan tokoh gereja yang sering menerbitkan berbagai ulasan, pendapat, ajaran dan kupasan di media sosial.

Para influencer media sosial memiliki efek yang luas, baik positif maupun negatif, yang mencakup peningkatan penjualan, pengaruh terhadap gaya hidup, dan bahkan dampak psikologis pada pengikut. Selain itu mereka mungkin juga mempunyai peran dalam membentuk pandangan sosial, agama, politik dan budaya orang lain. Tidaklah mengherankan bahwa dalam suasana globalisasi abad ini, negara-negara tertentu memakai banyak influencer untuk mengabarkan apa yang baik tentang negara itu sambil menjelek-jelekkan negara lain. Bahkan, dalam bidang keagamaan, banyak tokoh-tokoh agama/gereja yang melakukan hal yang serupa dalam hal kerohanian.

Pengikut influencer mungkin salah menganggap konten yang dipromosikan oleh influencer sebagai fakta atau saran yang valid, yang dapat menyebabkan keputusan yang salah atau berbahaya. Dalam kenyataannya, banyak influencer menampilkan berita bohong atau hoax yang dapat menimbulkan keresahan, kerugian finansial, dan merusak reputasi orang/golongan lain. Hoax seringkali juga digunakan untuk menyulut kebencian, kemarahan, dan hasutan yang dapat mengganggu kestabilan politik dan keamanan negara.

Jika istilah influencer media sosial baru dikenal pada abad 21, kata influencer seharusnya bisa dipakai sejak zaman Adam dan Hawa, yang ditipu oleh influencer besar: iblis. Untuk melawan pengaruh iblis, dalam Efesus 5 Paulus memberi nasihat kepada jemaat Efesus untuk meniru Kristus. Paulus berpesan bahwa orang Kristen harus menghindari amoralitas seksual, bahasa vulgar, kebodohan, dan sikap tidak pantas lainnya yang mungkin disampaikan oleh para “influencer” di Efesus. Paulus memperingatkan bahwa mereka yang terus-menerus melakukan dan mengajarkan perilaku ini bukanlah bagian dari kerajaan Allah.

Efesus 5:1–21 melanjutkan petunjuk Paulus yang sangat berharga tentang bagaimana orang Kristen harus menjalankan iman mereka. Daripada meniru dunia, atau dikendalikan oleh hal-hal duniawi, orang Kristen harus dipenuhi dengan Roh. Cacat-cacat tertentu seperti amoralitas seksual, ucapan kasar, dan pemborosan waktu tidak dianjurkan, dan bahkan harus dihindari. Orang percaya harus tunduk satu sama lain karena menghormati Kristus, dan mau memberikan kesaksian yang kuat kepada dunia tentang apa yang baik di mata Allah.

Paulus memperingatkan orang-orang Kristen agar tidak disesatkan oleh pengaruh duniawi. Ada banyak orang (di luar dan di dalam lingkungan gereja) yang dapat menjadi influencer yang menipu orang-orang Kristen untuk merasa “aman” dalam melakukan amoralitas seksual; atau berbicara secara bodoh, biasanya dengan menyarankan bahwa tidak ada salahnya melakukan hal ini dan itu jika mereka adalah orang pilihan. Dalam hal ini, orang-orang Kristen sejati tidak kebal terhadap godaan seksual (Ibrani 4:15), tetapi sebenarnya sudah diberdayakan Tuhan untuk mengenalinya, menolaknya, dan menggantinya dengan tindakan-tindakan saleh (1 Korintus 10:13).

Paulus kemudian mengingatkan para pembacanya tentang masa depan orang-orang yang berusaha menipu mereka: penghakiman Allah. “Murka Allah” disebutkan oleh Yesus (Yohanes 3:36), dan sering kali oleh Paulus (Roma 1:18; 5:9; 12:19; Kolose 3:6), serta rasul Yohanes (Wahyu 14:19; 15:1, 7; 16:1; 19:15). Penghakiman ini sekali lagi mencerminkan keyakinan Paulus bahwa mereka yang tidak mau berusaha meniru Allah adalah orang-orang yang tidak percaya dan yang akan mengalami murka Allah. Sebaliknya, orang-orang percaya diselamatkan dari murka Allah oleh darah Kristus (Roma 5:9). Sekali lagi, ini bukan merujuk pada dosa-dosa yang terjadi sesekali, tetapi kepada mereka yang “berjalan dalam kegelapan,” atau menjadikan perilaku seperti itu sebagai kebiasaan.

Kata-kata Paulus dalam ayat 7 memberikan instruksi yang singkat namun kuat. “Rekan sekerja” adalah mereka yang bekerja sama dalam suatu hubungan yang saling terhubung. Orang percaya dan orang yang tidak percaya tidak boleh berhubungan dekat. Segala perbuatan orang yang mengaku Kristen tetapi hidup dalam dosa dapat menodai orang percaya dan dapat merusak reputasi gereja (Efesus 5:3-4).

Tentu saja, ini tidak berarti orang Kristen harus menghindari semua kontak atau pergaulan dengan orang yang bukan Kristen. Dunia ini dihuni oleh anak-anak terang dan anak-anak gelap (Matius 5:45). Yesus adalah sahabat orang berdosa (Matius 11:19). Meniru Dia mengharuskan kita untuk menunjukkan kasih dan teladan yang baik kepada orang yang belum diselamatkan di saat kita menginjili mereka. Namun, ada batasan tertentu dalam Alkitab. Jika kita melanggar batas-batas firman Tuhan, kita dapat memberi kesan pada orang lain bahwa kita menyetujui apa yang Tuhan sebut dosa.

Orang percaya harus dikenal karena kehidupan mereka yang kudus (Efesus 5:3-4) yang berbeda dari dunia (Efesus 5:5-6). Ini bukan cara hidup orang Farisi yang munafik. Gereja, termasuk semua orang percaya di dalam Kristus, adalah mempelai Kristus (Efesus 5:25-33) dan tiang kebenaran (1 Timotius 3:15-16). Orang percaya tidak dapat lagi hidup seperti sebelum mengenal Kristus (Efesus 5:8), tetapi harus melakukan apa yang menyenangkan Allah (Efesus 5:9). Instruksi Paulus dalam Efesus 5:8-21 terus menekankan tema-tema ini, yang membedakan kehidupan orang percaya dan orang yang tidak percaya. Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen sejati, kita tidak boleh ragu dalam melaksanakan firman Tuhan untuk hidup kudus. Kehidupan orang percaya harus terlihat sangat berbeda dari orang yang tidak percaya. Ini memerlukan usaha kita. Bukan Que Sera Sera (apa yang akan terjadi biarlah terjadi). Dalam banyak kasus, ini berarti kita sengaja menjaga jarak hidup kerohanian dan moralitas antara kita yang diselamatkan dan mereka yang tidak diselamatkan. Jangan sampai kita dipengaruhi oleh mereka yang mungkin mengaku Kristen atau simpatisan Kristen, dan mungkin juga tokoh gereja, tetapi hidup mereka tidak menunjukkan ciri-ciri kekristenan.

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” 2 Korintus‬ ‭6‬:‭14‬‬

Dalam Efesus 5:8, Paulus membandingkan masa lalu para pembacanya dengan status mereka saat ini. Setiap orang Kristen sejati pasti dapat melihat adanya perbedaan antara cara hidup di masa lalu dan cara hidup sekarang. Perbedaan prinsip moralitas ini adalah hasil pekerjaan Roh Kudus. Sebelum mengenal Kristus, semua manusia berada dalam “kegelapan.” Sebagai orang percaya, mereka adalah “terang di dalam Tuhan.” Kontras antara gelap/terang sudah ada sejak Kejadian 1 dan umumnya dikaitkan dengan kejahatan versus kebaikan, persis seperti yang Paulus gunakan dalam konteks ini.

Berdasarkan status baru mereka, Paulus memerintahkan para pembacanya untuk, “Hiduplah sebagai anak-anak terang.” Paulus menggunakan frasa ini dalam satu bagian lain, 1 Tesalonika 5:5, di mana ia menggambarkan orang Kristen sebagai “anak-anak terang, anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.” Dalam bagian itu, penekanannya adalah pada hidup “terjaga,” waspada untuk menaati Tuhan. Ini adalah tema yang Paulus catat lagi dalam Efesus 5:14. Penerapan serupa Paulus di sini adalah hidup dalam ketaatan sebagai orang percaya. Orang Kristen harus meniru Allah (Efesus 5:1), hidup dalam kasih (Efesus 5:2), dan menjauhi tindakan berdosa (Efesus 5:3-6). Mereka tidak boleh hidup seperti orang yang tidak percaya atau menjadi “mitra” dengan mereka (Efesus 5:7).

Dalam ayat 9, Paulus menyisipkan penjelasan tambahan tentang apa artinya hidup sebagai anak-anak terang. Paulus menyebutkan “buah terang” sebagai rujukan kepada “hasil” kehidupan. Dengan kata lain, ketaatan Kristen ditemukan dalam “segala yang baik, adil dan benar.” Ketiga kata tersebut mengungkapkan konsep yang sama tentang tindakan yang mulia dan menyenangkan Allah.

Dua tema dicatat dalam ayat 10. Pertama, orang percaya harus memiliki kebijaksanaan. Paulus mencatat di tempat lain hubungan antara kebijaksanaan dan menyenangkan Tuhan, dalam Roma 12:2: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kedua, orang percaya harus menyenangkan Tuhan. Orang percaya tidak boleh hidup hanya untuk menyenangkan orang lain (Efesus 6:6) sekalipun ketika kita bekerja untuk orang lain, kita harus melayani dia dengan baik. Namun, tujuan utama orang percaya adalah untuk menyenangkan Tuhan, bukan manusia (1 Tesalonika 2:4).

Pagi ini, kita harus sadar bahwa di dunia ini ada banyak influencer yang ingin memengaruhi kita. Iblis adalah bapa semua influencer, baik yang ada di luar gereja maupun di dalam gereja. yang berusaha membuat cara hidup kita jauh dari apa yang dikehendaki Allah. Iblis, dalam konteks Alkitab, dikenal sebagai “bapa segala dusta” (Yohanes 8:44) karena ia adalah sumber kebohongan dan penentang kebenaran. Biarlah kita tetap waspada selama hidup di dunia dan rajin memelajari serta melaksanakan firman Tuhan!

“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” 1 Tesalonika 4:1

Semua orang sudah berdosa dan tidak layak di hadapan Tuhan

“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13:4-5

Bagi sebagian orang, malapetaka seperti adanya gempa bumi di Myanmar dan Thailand beberapa hari yang lalu bisa menimbulkan tanda tanya. Apakah yang terjadi di kedua negara itu sehingga ada banyak orang yang mengalami kematian yang tragis? Jika orang tewas karena mengalami kecelakaan ketika mengebut, itu dapat dimengerti. Jika seseorang tewas karena ditabrak oleh orang lain yang mengebut, itu pun bisa diterimai sebagai nasib malang. Walaupun demikian, ada yang berpendapat bahwa adanya kematian yang tidak “normal” adalah karena adanya kesalahan besar atau dosa yang diperbuat manusia kepada Tuhan. Benarkah begitu?

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca berita media tentang seorang pengemudi mobil di Jawa Timur yang meninggal ketika sebuah kotak kontainer pengangkut barang dari kapal (shipping container) terguling jatuh dari truk yang mengangkutnya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana hal seperti itu bisa terjadi karena setiap kontainer seharusnya dikunci dengan alat khusus ke bak truk pengangkutnya. Tetapi malang tak dapat ditolak, pengemudi mobil di sebelah truk tidak sempat melarikan diri ketika kontainer besi yang beratnya beberapa ton itu kemudian jatuh terguling secara tiba-tiba. Apakah pengendara mobil itu tewas secara mengenaskan karena dihukum Tuhan?

Alkisah, pada waktu itu berita tersebar bahwa Pilatus membunuh beberapa orang Yahudi dari Galilea. Rupanya, orang-orang itu pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban, mungkin untuk Paskah. Mereka bermaksud baik, tetapi tewas secara menyedihkan. Yesus menunjukkan bahwa tragedi ini tidak membuktikan bahwa orang yang mati secara tidak “normal” sudah melakukan kesalahan besar kepada Tuhan. Kematian orang-orang itu adalah akibat dari kekerasan yang mengerikan dan tidak adil, tetapi itu bukannya sesuatu hal yang harus dihunungkan dengan murka Tuhan. Kemudian dalam ayat 4 dan 5, Yesus menyebut sebuah contoh lain tentang kematian yang tidak “normal”. Sebuah menara di waduk di Yerusalem telah runtuh, menewaskan delapan belas orang. Seperti korban Pilatus, mereka yang terbunuh oleh menara itu tidak melakukan dosa tertentu untuk pantas menerima hukuman ini. Mengapa begitu?

“Pelanggar hukum” mengacu pada seseorang yang berutang besar. Tetapi, malapetaka di atas bukan hukuman langsung dari Allah atas dosa mereka. Allah tidak mengurung orang-orang yang paling berdosa di Yerusalem di bawah menara dan kemudian menggunakan jari-Nya untuk menjatuhkan menara. Meskipun Tuhan memegang kendali atas segala sesuatu, tidak semua yang terjadi pada seseorang merupakan respons langsung dari Tuhan atas dosa pribadinya. Runtuhnya menara adalah tragedi fisik secara spontan yang terjadi dengan izin Tuhan.

Runtuhnya menara Siloam tidak disebutkan dalam catatan sejarah lainnya, dan, karena Alkitab tidak memberikan perincian lebih lanjut tentang keruntuhan bangunan itu, kita tidak dapat memastikan untuk apa menara itu dibangun atau mengapa runtuh. Tragedi itu jelas diketahui oleh para pendengar Yesus. Siloam adalah daerah di luar tembok Yerusalem di sisi tenggara kota. Ada sebuah kolam yang dialiri mata air di sana, yang menjadi tempat terjadinya salah satu mukjizat Kristus (Yohanes 9). Menara Siloam mungkin merupakan bagian dari sistem saluran air atau proyek konstruksi yang dimulai oleh Pilatus. Bagaimanapun, menara itu runtuh, dan delapan belas orang tewas dalam bencana itu.

Baik Alkitab maupun tulisan-tulisan di luar Alkitab tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kekerasan Pilatus terhadap orang-orang Galilea atau runtuhnya menara Siloam. Itu tidak berarti bahwa peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi, hanya saja dalam konteks Kekaisaran Romawi yang lebih besar, peristiwa-peristiwa itu adalah peristiwa-peristiwa kecil. Sayang bahwa sebagian orang Kristen membesar-besarkan peristiwa-peristiwa itu dan memakainya untuk mengajarkan bahwa kematian yang tragis adalah berasal dari dosa yang besar.

Ketika tragedi menimpa, seperti yang terjadi di menara Siloam, wajar saja jika orang-orang mulai bertanya mengapa. Pikiran-pikiran muncul seperti mungkin para korban memang pantas menerimanya. Mungkin mereka orang jahat, dan mungkin juga mereka berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan, dan itulah sebabnya hal-hal buruk terjadi pada mereka. Namun, terkadang orang-orang yang terdampak tragedi tampaknya bukan orang jahat. Terutama ketika korbannya adalah anak-anak. Mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang baik? Mengapa Lukas menyebutkan kedua kejadian di atas?

Dalam mengomentari kejatuhan menara Siloam, Yesus menolak empat asumsi yang sering dibuat orang:

  • Penderitaan sebanding dengan dosa.
  • Tragedi adalah tanda pasti penghakiman Allah.
  • Hal-hal buruk hanya terjadi pada orang jahat.
  • Kita berhak membuat penghakiman seperti itu.

Untuk setiap asumsi ini, Yesus menolaknya.

Lukas rupanya ingin mengajar kita bahwa maksud Yesus dalam ayat-ayat di atas adalah bahwa orang-orang meninggal secara tiba-tiba setiap hari. Anda tidak dapat menghindari kematian. Yang dapat Anda lakukan adalah memastikan bahwa Anda dibenarkan di hadapan Tuhan sehingga setelah kematian fisik, Ia akan membawa Anda pulang kepada-Nya. Suatu hari nanti tidak akan ada lagi air mata, kekerasan, atau tragedi yang tidak masuk akal (Wahyu 21:4).

Lukas 13:1–5 menguraikan pelajaran yang baru saja diajarkan Yesus. Dalam Lukas 12:57–59, Yesus memberi tahu orang banyak untuk berdamai dengan orang lain yang telah mereka sakiti. Sekarang, Yesus memakai tragedi dunia nyata untuk menunjukkan bahwa menjadi “orang saleh” tidak akan melindungi kita dari kematian fisik. Namun, pertobatan kepada Tuhan akan melindungi kita dari kematian kekal.

Yesus menggunakan contoh-contoh dunia nyata untuk menunjukkan bahwa tragedi dan kematian dapat menimpa siapa saja, bahkan orang benar. Karena itu, tidak seorang pun boleh menunda saat untuk berdamai dengan Tuhan karena waktu hampir habis. Yesus menyembuhkan seorang wanita di sinagoge, pada hari Sabat, yang memicu respons marah. Yesus menegur pemimpin sinagoge, lalu berkhotbah tentang penyebaran Injil yang tak terelakkan ke seluruh dunia. Namun, Ia juga mencatat bahwa kebanyakan orang akan menolak pesan ini, termasuk orang-orang Israel. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa waktu yang ada masih panjang.

Yesus mengulangi peringatan-Nya. Ia mengajar orang banyak tentang prioritas dalam hidup. Ia memulai dengan perumpamaan tentang seorang petani kaya yang menuai panen yang sangat banyak sehingga ia bisa pensiun. Namun, ia meninggal malam itu. Dalam kematian, ia tidak membutuhkan lumbung-lumbungnya yang penuh dengan gandum dan ia tidak mencurahkan usaha apa pun untuk membangun hubungannya dengan Tuhan. Ia menghargai harta duniawi yang tidak berarti dengan mengorbankan jiwanya yang kekal (Lukas 12:15-21).

Maksud Yesus adalah bahwa kematian menimpa semua orang, dan terkadang kematian itu datang secara tiba-tiba dan tidak adil. Inilah alasan lebih lanjut mengapa orang perlu bertobat dari dosa-dosa mereka dan berdamai dengan Tuhan sekarang. Pesannya sama bagi kita. Kita memiliki waktu yang terbatas di bumi dan kita tidak tahu kapan itu akan berakhir (Yakobus 4:14; 2 Korintus 6:2). Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengalami “pertobatan menjelang ajal.” Jauh lebih baik untuk memanfaatkan waktu yang kita miliki, mengakui dosa-dosa kita, menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, dan memastikan kita akan hidup selamanya di surga bersama Tuhan.

Apakah Anda berasal dari Galilea atau Yerusalem, dari Jakarta atau Surabayaa, dari desa atau kota; apakah Anda kaya atau miskin, muda atau tua; apakah Anda menganggap diri Anda sebagai orang berdosa atau orang suci; dan apakah Anda ingin memikirkan hal-hal rohani atau tidak—faktanya adalah Anda berada di bawah penghakiman Tuhan kecuali Anda bertobat dan beriman kepada Yesus.

Mengapa hidup ini begitu sulit?

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5:3-5

Bagaimana Anda menilai kehidupan Anda saat ini? Mudah-mudahan Anda baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa. Hidup bahagia tidak mudah dicapai, karena itu Anda harus bersyukur kepada Tuhan jika Anda mengalaminya. Anda termasuk dalam kelompok kecil yang beruntung!

Bagi banyak penduduk Australia saat ini, hidup ini terasa berat. Terutama sejak COVID-19, keadaan perekonomian terasa merosot dan karena itu banyak orang merasakan bahwa hidup makin sulit. Bagaimana tidak? Mereka yang belum bisa memiliki rumah sendiri, sekarang sulit mencari rumah sewa. Karena itu, makin banyak orang yang kemudian tidak bisa tinggal di rumah (homeless), yang kemudian harus tinggal di mobil atau dalam tenda di taman umum. Ini mirip keadaan di Amerika, walaupun masih dalam skala yang lebih kecil.

Jika kita termasuk dalam kelompok yang mengalami kesulitan hidup saat ini, mungkin kita mencari jawaban mengapa kita harus menderita. Kita mungkin heran jika Alkitab menyatakan bahwa kerumitan dan cobaan hidup merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk pertumbuhan, ketahanan, dan pengembangan karakter, sekaligus mengakui bahwa dunia akan menghadirkan tantangan, tetapi orang yang percaya dapat menemukan kedamaian dan harapan di dalam Kristus. Alkitab tidak menyangkal adanya kesulitan atau penderitaan, tetapi Alkitab membingkai pengalaman-pengalaman ini dalam konteks yang lebih luas tentang tujuan dan kasih Allah.

Paulus menjelaskan bagaimana mereka yang melalui iman kepada Kristus, telah dibenarkan dan dibenarkan di hadapan Allah dengan pengampunan dosa-dosa kita. Manfaat-manfaat ini hanya tersedia bagi orang percaya—kata “kita” yang Paulus gunakan di sini menunjukkan orang-orang Kristen yang diselamatkan, bukan seluruh umat manusia. Sejauh ini, Paulus telah menunjukkan bahwa kita hidup dalam keadaan damai dengan Allah selamanya, tidak lagi dalam bahaya menerima keadilan-Nya yang murka atas dosa-dosa kita yang sekarang telah diampuni. Selain itu, melalui iman, kita telah memperoleh akses kepada kasih karunia Allah dan bahkan sekarang menerimanya. Akhirnya, kita memiliki sukacita yang datang dari memiliki harapan yang benar-benar pasti untuk mengalami kemuliaan Allah untuk selamanya.

Mungkin Anda kurang bisa menerima bahwa penderitaan bisa membawa keuntungan. Apakah Paulus mengada-ada? Perlu dicatat, bahwa Rasul Yakobus mengawali suratnya dengan gagasan yang sama persis ketika ia berkata, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:2–3). Jadi Paulus dan Yakobus sama-sama melihat kenyataan ini sebagai alasan umat Tuhan untuk bersukacita. Kita harus memahami “bersukacita” sebagai pilihan yang kita untuk menyatakan bahkan keadaan tersulit kita justru merasakan kebaikan Tuhan bagi kita, dalam arti bahwa Dia memanggil kita lebih dekat, dan untuk percaya kepada-Nya lebih dalam.

Roma 5 dimulai dengan menggambarkan beberapa manfaat yang datang dengan dinyatakan benar oleh Tuhan karena iman kita kepada Kristus. Kita memiliki kedamaian dengan Tuhan, dan kita berdiri dalam kasih karunia-Nya. Kita bersukacita baik dalam harapan akan kemuliaan Tuhan maupun dalam penderitaan sementara kita. Kita memiliki harapan yang tidak akan mengecewakan, karena Allah telah membuktikan kasih-Nya kepada kita. Paulus kemudian membandingkan pekerjaan Adam dalam mendatangkan dosa dan kematian ke dunia dengan pekerjaan Kristus dalam mati menebus dosa agar dapat menawarkan anugerah kasih karunia Allah yang cuma-cuma kepada semua orang yang percaya.

Jika kita selanjutnya membaca Roma 5:1–11, kita akan mengerti adanya manfaat luar biasa yang datang dengan dinyatakan benar di hadapan Tuhan melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita. Ini hanya bisa dimengerti oleh orang percaya. Mereka yang belum menjadi orang Kristen mungkin merasa bahwa jika mereka tidak menjahati sesama, itu sudah cukup untuk bisa ke surga. Mereka tidak takut akan murka Allah yang mahasuci. Sebaliknya, kita mengerti bahwa Tuhan perlu berdamai dengan kita melalui pengrbanan Anak-Nya. Kita sekarang bisa berdiri dalam kasih karunia-Nya, dan kita bersukacita dalam harapan yang pasti bahwa kita akan berbagi dalam kemuliaan-Nya. Penderitaan kita membawa pertumbuhan, yang mengarah pada harapan yang lebih kuat. Tuhan telah membuktikan kasih-Nya bagi kita dengan fakta bahwa ketika kita masih berdosa, Kristus mati untuk kita. Kita diselamatkan dari murka Tuhan dan didamaikan dengan Tuhan di dalam Kristus.

Roma 5:3 menggambarkan manfaat fantastis yang datang dengan dibenarkan oleh kasih karunia Allah melalui iman kita kepada Kristus, Paulus memulai ayat sebelumnya dengan mengatakan bahwa kita “bermegah dalam kesengsaraan kita.” Yang ia maksud bukanlah “kita” dalam pengertian seluruh umat manusia, tetapi dalam konteks mereka yang menyatakan iman kepada Allah, sebagaimana dicontohkan oleh Abraham. Paulus juga tidak bermaksud bahwa kita merasa senang ketika keadaan sulit. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa, bagi mereka yang ada di dalam Kristus, penderitaan adalah kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah dan bertumbuh dalam iman kita. Penderitaan bagi orang percaya, tulis Paulus, menghasilkan ketahanan, kemampuan untuk terus mempercayai Allah untuk jangka waktu yang lebih lama dan melalui keadaan yang lebih sulit.

Dalam Roma 5:4, Paulus menambahkan bahwa iman ketahanan yang teruji dalam pertempuran ini menghasilkan kualitas karakter dalam diri orang Kristen. Orang Kristen yang berkarakter baik memilih untuk terus melakukan hal-hal yang benar secara konsisten. Polanya adalah bahwa penderitaan menyebabkan kita mempercayai Allah pada tingkat yang lebih dalam, dan semakin kita mempercayai Allah, semakin besar kemungkinan kita untuk secara konsisten membuat pilihan yang benar. Kita menjadi orang Kristen yang karakternya terbukti.

Karakter juga menghasilkan kualitas baru dalam diri kita: harapan. Dalam konteks Kitab Roma dan Perjanjian Baru, “harapan” adalah keyakinan bahwa Allah akan memberikan apa yang dijanjikan-Nya. Harapan menyiratkan tingkat kepastian tertentu bahwa kita akan menerima kebaikan Allah selamanya. Harapan mendefinisikan dasar atau “garis bawah” bagi pikiran dan emosi seorang Kristen. Apa pun yang terjadi, kita sepenuhnya yakin bahwa tujuan akhir kita adalah berbagi kemuliaan Allah selamanya.

Dalam Roma 5:5, Paulus memperkenalkan gagasan yang menantang dalam ayat-ayat sebelumnya: bahwa orang Kristen dapat melihat penderitaan sebagai alasan untuk bersukacita. Ia tidak bermaksud bahwa setiap orang harus merasa senang atau antusias dengan keadaan yang sulit. Sebaliknya, mereka yang diselamatkan—yang telah menyatakan iman kepada Kristus—dapat menyatakan kepada diri mereka sendiri bahwa penderitaan ini berharga. Penderitaan memberikan kesempatan untuk bertumbuh menjadi orang-orang yang dipanggil untuk menjadi seperti Kristus yang sudah pernah menderita dan kemudian menereima kemuliaan dari Bapa. Paulus menyimpulkan bahwa harapan kita tidak akan pernah mempermalukan kita. Dengan itu, Paulus berarti harapan kita akan sepenuhnya dibenarkan. Pada akhirnya, kita tidak akan pernah kecewa karena berharap untuk menerima kebaikan Tuhan selamanya.

Mengapa orang percaya dapat begitu yakin tentang tujuan akhir kita? Jawaban Paulus mengungkapkan emosi Allah terhadap kita. Kasih-Nya telah dicurahkan di dalam hati kita. Dengan kata lain, Allah akan selalu, selalu menepati janji-janji-Nya kepada kita karena Ia mengasihi kita. Bukan hanya karena Allah mampu dengan penuh kuasa untuk melakukan apa yang telah Ia janjikan. Bukan hanya karena Allah itu baik. Itu karena Ia peduli terhadap kita, mengasihi kita, begitu dalam sehingga masing-masing dari kita benar-benar membawa kasih-Nya di dalam diri kita, melalui Roh Kudus.

Dengan petunjuk Roh Kudus kita bisa mengerti bahwa perspektif Allah bukanlah bahwa hidup kita dimaksudkan untuk menjadi mudah, tetapi bahwa bahkan melalui kesulitan, Dia bekerja untuk kebaikan orang percaya dan untuk kemuliaan-Nya. Alkitab menawarkan harapan dan kepastian bahwa orang percaya dapat menemukan kekuatan dan penghiburan dalam Kristus, bahkan dalam menghadapi kesulitan. Yesus mengakui bahwa kehidupan Kristen tidak akan mudah, tetapi Dia juga berjanji bahwa kita memiliki harapan yang lebih besar di dunia yang akan datang!

Mengapa peduli atas nasib orang lain?

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6:10

Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa ada seorang teman di Indonesia yang meninggal dunia secara tidak terduga. Tidak mengalami gejala sakit yang jelas, namun tiba-tiba mengalami kesulitan bernafas. Tidak sempat ke rumah sakit, beliau meninggal agaknya karena kekurangan oksigen. Bagaimana persisnya proses kejadiannya, saya kurang tahu. Namun gejala sulit bernafas secara tiba-tiba itu mungkin ada hubungannya dengan anafilaksis. Anafilaksis adalah reaksi alergi yang sangat berat dan bisa mengancam nyawa, yang harus ditangani sebagai keadaan darurat medis karena dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan dan penurunan tekanan darah drastis.

Sebagai orang awam dalam hal medis, saya kurang mengerti apakah anafilaksis sering terjadi di Indonesia. Tetapi, sepengetahuan saya banyak orang di Indonesia yang belum pernah mendengar hal itu. Dalam hati saya timbul pertanyaan apakah saya harus peduli akan hal itu? Adakah yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki keadaan? Bukankah Tuhan yang menentukan hidup-mati seluruh umat manusia? Kemudian saya teringat bahwa sebenarnya, saya dapat memberi info tentang antifilaksis kepada teman-teman WA saya. Jadi, saya mengirim beberapa artikel terpercaya dari internet tentang anafilaksis, dengan harapan bahwa teman-teman saya bisa meneruskannya ke orang lain. Saya berpikir bahwa sudah sewajarnya saya peduli akan nasib orang lain, karena pujii Tuhan, banyak teman saya yang mengingatkan saya tentang berbagai hal yang penting di masa lalu.

Galatia 6 memuat petunjuk tentang bagaimana orang percaya tidak boleh lelah berbuat baik kepada satu sama lain. Kita tidak boleh segan untuk berbuat baik sekalipun ada orang yang menuduh kita “sok” atau “ragu atas karunia keselamatan kita”. Kita harus mengerti bahwa Galatia 6:1–10 berfokus pada bagaimana orang-orang di dalam Kristus harus memperlakukan satu sama lain melalui kuasa Roh Allah.

Kita harus memulihkan mereka yang terperangkap dalam dosa dengan kelembutan dan kerendahan hati, dan kita harus saling membantu menanggung beban jasmani dan rohani satu sama lain. Karena itu, orang Kristen harus jujur kepada diri sendiri tentang apa yang Allah lakukan melalui kita. Kita harus bersyukur atas berkat-Nya dalam hidup jasmani maupun rohani kita. Dan karena itu kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah Ia minta kita lakukan. Justru karena hidup kekal kita datang dari penanaman Roh Allah melalui iman kepada Kristus dan bukan melalui perbuatan daging, kita harus terus berbuat baik sebagai pernyataan syukur kita.

Paulus telah mendesak orang-orang Kristen di Galatia agar tidak jemu-jemu berbuat baik, melalui kuasa Roh Allah. Itu akan membuahkan hasil ketika “tanaman” datang, Paulus meyakinkan mereka tentang hal itu. Tanaman apa? Tanaman yang paling jelas adalah kehidupan kekal mereka sendiri di dalam Kristus. Selain itu, Paulus mungkin juga memiliki hasil positif lainnya dalam pikirannya, termasuk kehidupan kekal orang lain yang akan datang kepada Kristus. Selain itu, Paulus memikirkan pahala yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang Kristen yang melayani dengan baik dalam hidup ini (Matius 6:19-20). Karena itu adalah perintah Tuhan, kita harus peduli atas nasib orang lain.

Paulus menggambarkan kita semua yang ada di dalam Kristus sebagai bagian dari “keluarga iman.” Di dalam Kristus, kita adalah saudara kandung, dan Allah adalah Bapa kita. Berbuat baik kepada orang lain dalam keluarga kita adalah investasi yang akan membuahkan hasil bagi mereka dan bagi kita baik sekarang maupun selamanya agar nama Tuhan dipermuliakan. Berbuat baik adalah jawaban yang berlawanan dari apa yang dikatakan Kain kepada Tuhan:

Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Kejadian 4:9

Dalam kasus apa pun, musim tanam hanya berlangsung sebentar. Itu pada akhirnya harus berakhir. Paulus mengatakan ini, secara rohani, selagi kita hidup waktu yang ada adalah waktu menanam. Selama kita memiliki kesempatan untuk berbuat baik, untuk menginvestasikan hidup kita dengan kuasa Roh Allah dalam melakukan apa yang benar, kita harus menggunakannya. Ini termasuk berbuat baik dalam hal jasmani maupun rohani kepada semua orang tetapi secara khusus kepada sesama orang percaya.

Orang Kristen dan hidup sehat

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” 1 Korintus 6:19-20:

Dari sudut pandang Kristen, olahraga umumnya dipandang sebagai cara merawat tubuh, yang merupakan ciptaan Tuhan, dan sarana pengelolaan – bukan sebagai persyaratan agama atau jalan menuju keselamatan. Walaupun demikian, ayat di atas menyoroti pentingnya memperlakukan tubuh kita dengan rasa hormat dan perhatian, karena tubuh adalah tempat tinggal bagi Roh Kudus.

Umat Kristen sering kali memandang tubuh mereka sebagai anugerah dari Allah, terkadang disebut sebagai “bait Roh Kudus”. Sudut pandang ini menekankan pentingnya hidup sehat, termasuk merawat tubuh dan berolahraga. Umat Kristen didorong untuk menjadi pengelola (manager) yang baik atas semua yang telah diberikan Allah kepada mereka, termasuk tubuh mereka. Berolahraga dan menjaga gaya hidup sehat dipandang sebagai cara untuk memenuhi perintah Tuhan.

Sebagian umat Kristen menganjurkan pandangan holistik terhadap manusia, dengan mengakui keterkaitan antara tubuh dan jiwa. Sudut pandang ini menunjukkan bahwa merawat tubuh dapat berdampak positif terhadap jiwa dan sebaliknya. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada ayat Alkitab yang mengharuskan atau menentang olahraga.

Apakah seseorang memilih untuk berolahraga atau tidak adalah keputusan pribadi berdasarkan tujuan dan preferensi individu. Dengan kata lain, keputusan untuk berolahraga atau tidak adalah sesuatu yang berkenaan dengan kehendak bebas manusia, bukan karena penetapan Tuhan. Jika Anda tidak mau atau tidak suka berolahraga, Anda tidak dapat mengatakan bahwa itu sudah ditakdirkan Tuhan. Jelas, jika Anda tahu apa yang baik tetapi memilih untuk tidak melakukannya, itu adalah tanggung jawab Anda sendiri dan bukan tanggung jawab Tuhan.

Meskipun kebugaran fisik dapat menjadi aspek positif dari kehidupan seorang Kristen, fokus utamanya haruslah pada menghormati Tuhan dalam semua hal, termasuk bagaimana seseorang menggunakan dan merawat tubuhnya. Itu karena tubuh dan hidup kita adalah milik Tuhan.

Beberapa orang Kristen menunjukkan contoh-contoh dalam Alkitab tentang orang-orang yang menjalani kehidupan yang aktif dan terlibat dalam pekerjaan fisik sebagai bukti bahwa Tuhan menghargai kesejahteraan fisik. Ayat-ayat berikut ini menekankan pentingnya merawat tubuh kita sebagai bait Roh Kudus, yang menunjukkan bahwa menjaga kesehatan fisik kita adalah cara untuk menghormati Tuhan.

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu berlarilah begitu rupa, sehingga kamu menang! Setiap orang yang turut serta dalam pertandingan, menguasai dirinya, supaya ia memperoleh mahkota yang tidak dapat binasa, tetapi kita tidak. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku tidak memukul angin. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9:24-27:

Ayat ini menggunakan metafora perlombaan untuk menggambarkan perlunya disiplin dan pengendalian diri, yang dapat diterapkan pada tujuan kesehatan dan kebugaran fisik kita.

“Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:8

Ayat ini mengakui pentingnya latihan fisik, tetapi menekankan bahwa ibadah dan kesejahteraan rohani jauh lebih penting.

Sebagai orang Kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang Kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat pembukaan di atas mengajarkan bahwa kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh kita, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaan-Nya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau berusaha untuk memuliakan Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik akan hilang, hanya untuk diganti dengan apa yang buruk. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa lama-lama tidak bisa berdoa, dan orang yang tidak pernah bergumul dalam imannya lama kelamaan menjadi orang yang lemah. Itu adalah prinsip hukum Tuhan.

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Roh Kudus memperlengkapi kita semua dengan karunia, talenta, kemampuan, dan pekerjaan yang telah Tuhan tetapkan sebelumnya untuk kita lakukan. Roh Kudus memilih untuk memberdayakan semua orang percaya dengan cara yang unik dan khusus untuk setiap orang. Dia memperlengkapi kita untuk melaksanakan kehendak-Nya yang sempurna dalam setiap kehidupan kita jika dan ketika kita bersedia untuk tunduk pada bimbingan-Nya, saat kita berjalan dalam roh dan kebenaran, saat kita tinggal di dalam Kristus, dan membiarkan Dia menjalani hidup baru-Nya yang sempurna di dalam Kristus di dalam kita.

Semakin kita hidup, bergerak, dan berada di dalam Kristus, semakin berbuah hidup kita nantinya. Semakin kita memanfaatkan karunia, talenta, kemampuan, dan pekerjaan yang telah Tuhan persiapkan untuk kita lakukan, semakin banyak mereka akan bertambah dan membesar, dan semakin banyak mereka akan melimpah dalam kelimpahan.

Pagi ini, marilah kita kembali kepada prinsip-prinsip hidup sehat menurut Alkitab. Paulus mengajak kita untuk tidak melupakan kemurahan Tuhan dan mau mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Baik jasmani maupun rohani kita, keduanya adalah penting untuk dipelihara dan digunakan untuk kemuliaan Tuhan.

Jangan cari masalah

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Sudah lama saya meninggalkan Indonesia, tetapi saya masih ingat beberapa ungkapan dalam bahasa Jawa. Salah satu di antaranya yang cukup berkesan adalah: “”Urip iku mung sedelo, molo ojo seneng golek molo” yang berarti “Hidup ituhanya sebentar, karena itu jangan senang mencari musibah”. Karena itu, jika seseorang mengucapkan “ojo golek molo” kepada kita, itu mungkin dimaksudkan agar kita tidak berbuat sesuatu yang bisa menyebabkan masalah.

Alkitab sebenarnya mempunyai banyak ayat yang menyatakan hal yang serupa. Mungkin Anda ingat akan kalimat “Jangan mencobai Tuhan, Allahmu” (atau variasi serupa) muncul di beberapa tempat dalam Alkitab, seperti dalam Matius 4:7 dan Ulangan 6:16. Peringatan dari Tuhan ini sering di jumpai dalam Perjanjian Lama agar bani Israel tidak melakukan hal-hal yang menimbulkan murka Allah. Berkali-kali umat Israel diperingatkan, namum mereka tidak jera-jeranya “golek molo”.

Di Perjanjian Baru, ayat-ayat dari 1 Korintus 10:1–13 menjelaskan bagaimana generasi orang Israel yang melarikan diri dari Mesir diberkati oleh Allah tetapi berulang kali jatuh ke dalam penyembahan berhala. Allah menghukum banyak dari mereka dengan keras, termasuk nasib mengembara di padang gurun sampai mati.

Penyembahan berhala adalah dosa yang sangat serius. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus yang dipenuhi berhala tentang hal itu dengan merujuk pada sejarah orang Israel yang mengembara di padang gurun. Meskipun diberkati oleh Allah, mereka menyembah berhala palsu. Allah membinasakan banyak dari mereka karenanya.

Paulus menasihati jemaat Korintus agar membaca apa yang terjadi pada bani Israel sebagai peringatan karena mereka bisa juga jatuh di hadapan Allah karena berpartisipasi dengan berhala. Kedudukan mereka di dalam Kristus tidak berarti bahwa Allah tidak akan bertindak terhadap ketidaksetiaan kepada-Nya dengan adanya penyembahan dewa-dewa palsu. Bagi jemaat Korintus, godaan seperti itu sering terjadi, dan Allah selalu menyediakan anak-anak-Nya jalan untuk terbebas dari dosa jika mereka memang mau menghindarinya.

Paulus memerintahkan para pembacanya untuk menjauh dari penyembahan berhala. Berpartisipasi dalam penyembahan berhala dengan cara apa pun berarti berpartisipasi dengan setan. Allah selalu menyediakan cara untuk menghindari dosa. Jadi, mereka tidak boleh menyatakan kepada siapa pun bahwa mereka menyetujui penyembahan berhala. Memang, sekalipun kita mungkin merasa tidak mempunyai berhala, tetapi kita mempunyai banyak kegiatan, harta, benda dan orang yang sangat kita sukai, untuk tidak dikatakan kita puja, dalam hidup kita. Pertanyaan pertama mereka harus selalu, ”Apakah kebiasaan ini akan memuliakan Allah?” Jika tidak, ada bahaya bahwa kita sudah mempunyai berhala.

Perkataan Paulus dalam ayat sebelumnya mungkin menimbulkan kekhawatiran yang dapat dimengerti, bahkan bagi orang Kristen: “Barangsiapa menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Konteks dari komentar itu adalah menghindari dosa, dan tidak berasumsi bahwa keselamatan memberi kita kekebalan dari konsekuensi duniawi dari perilaku kita sendiri. Jika dikaitkan dengan komentar lain yang dibuat oleh Paulus (2 Korintus 13:5; Galatia 6:3), hal itu juga berfungsi sebagai peringatan bagi mereka yang sombong atau ceroboh tentang kedudukan mereka di dalam Kristus, sebab kita mungkin sangat senang dipanggil orang Kristen, tetapi bukan senang untuk mengikut perintah Kristus. Kita mungkin senang belajar teologi, tetapi kurang senang melaksanakan firman Tuhan. Kita lebih senang berkat Tuhan daripada Tuhan yang memberi berkat.

Godaan adalah bagian rutin dari kehidupan. Apalagi godaan untuk melupakan adanya Tuhan yang mengawasi kita. Keinginan kita untuk berbuat dosa terkadang terasa jauh lebih kuat daripada keinginan kita untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Bagaimana jika kita tidak dapat menolak godaan-godaan itu? Bagaimana jika, seperti yang dikatakan sebagian orang, Tuhan menempatkan kita dalam posisi di mana penolakan atas dosa tidak mungkin dilakukan: skenario di mana kita tidak punya pilihan lain, selain berbuat dosa? Atau, setidaknya, tidak ada harapan untuk menolak godaan itu? Bolehkah kita menganggap bahwa semua itu sidah dalam penetapan Tuhan? Tidak!

Sebagai tanggapan terhadap ketakutan dan kebodohan semacam itu, Alkitab memberikan jaminan: mengatasi godaan apa pun sepenuhnya mungkin. Itu berlaku bagi setiap orang Kristen. Pertama, Paulus menunjukkan bahwa tidak seorang pun dari kita secara unik tergoda oleh dosa—dalam arti bahwa keinginan kita untuk berbuat dosa, apa pun bentuknya yang unik bagi kita, adalah hal yang umum dan biasa. Hal itu telah dialami oleh banyak orang lain dari generasi ke generasi. Kita tidak lebih atau kurang rentan terhadap godaan daripada mereka yang datang sebelum kita atau berjalan bersama kita. Pengalaman godaan manusia adalah bagian dari apa yang membuat hubungan Kristus dengan kita menjadi hubungan kepercayaan dan harapan (Ibrani 4:14–16). Adanya godaan seharusnya membuat kita lebih sadar bahwa kita harus dekat dan bergantung kepada-Nya.

Kedua, Allah kita masih bersama kita. Dia mengasihi kita. Dia tidak menunggu atau menakdiirkan kita gagal; Dia siap membantu kita. Salah satu cara Dia membantu orang percaya adalah dengan secara aktif bekerja dalam hidup kita untuk menjauhkan kita dari godaan yang melampaui apa yang dapat kita tolak. Kita mungkin tidak selalu percaya bahwa kita dapat mengatasi godaan. Setan mungkin mendorong kita untuk melihat beberapa godaan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak. Tetapi, Allah berjanji bahwa kita dapat, dengan kuasa Roh Kudus, menanggapi godaan apa pun dengan melawannya.

Akhirnya, Paulus menambahkan janji ini bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dari godaan apa pun yang ada di hadapan kita. Jika kita mencari jalan untuk mengatakan “tidak” kepada dosa apa pun yang memaksa kita, Allah berjanji kita akan menemukannya. Dalam beberapa kasus, itu mungkin berarti secara harfiah “melarikan diri” dari suatu situasi, seperti Yusuf yang melarikan diri dari istri tuannya (Kejadian 39:7–12). Allah secara aktif bekerja untuk membantu mereka yang ada di dalam Kristus, yang ingin melakukan apa yang benar, agar berhasil.

Tentu saja, kita dapat menolak bantuan Allah dalam mengatasi godaan, jika kita memilih untuk menuruti keinginannya dengan sengaja. Dan pada akhirnya, itulah inti dari semua dosa: pilihan yang disengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah (Roma 3:10), yang pada hakikatnya menyatakan bahwa kita tidak pernah mau bertobat. Sebagian orang mungkin berkata bahwa mereka tidak mampu melawan takdir Allah. Sebagian lagi percaya bahwa Allah panjang sabar dan mahapengampun. Dan ada juga yang berkata segala sesuatu akan terjadi pada waktunya. Apa pun alasannya, jika Anda tidak mempunyai kemauan untuk bertobat saat ini, pesan firman Tuhan adalah: Ojo golek molo!

Orang Kristen dan moralitas seksual

“Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6: 18-20

Hubungan seksual adalah bagian hidup manusia yang sebenarnya merupakan berkat dari Tuhan yang menciptakan pria dan wanita. Walaupun demikian, selama sejarah manusia hal ini bisa menjadi berkat atau kutukan, tergantung pada mereka yang memakainya. Raja Dayd misalnya, jatuh ke dalam berbagai masalah karena tergiur kepada Betsyeba.

Kisah Daud dan Batsyeba adalah salah satu kisah paling dramatis dalam Perjanjian Lama. Suatu malam di Yerusalem, Raja Daud sedang berjalan di atas atap istananya ketika ia melihat seorang wanita cantik sedang mandi di dekatnya (2 Samuel 11:2). Daud bertanya kepada para pelayannya tentang wanita itu dan diberitahukan bahwa wanita itu adalah Batsyeba, istri Uria, orang Het, salah satu pahlawan Daud (2 Samuel 23:39). Dosa Daud bermula dari matanya dan berlanjut dengan berbagai dosa lain. Terlepas dari status pernikahannya, Daud memanggil Batsyeba ke istana, dan mereka tidur bersama.

Batsyeba kemudian mengetahui bahwa ia hamil (2 Samuel 11:5), dan ia memberitahukannya kepada Daud. Reaksi raja Daud adalah berusaha menyembunyikan dosanya. Daud memerintahkan Uria untuk melaporkan kepadanya dari medan perang. Suami Batsyeba itu dengan patuh memenuhi panggilan Daud, dan Daud menyuruhnya pulang, dengan harapan Uria akan tidur dengan Batsyeba dan dengan demikian menutupi kehamilannya. Alih-alih mematuhi perintah Daud, Uria malah tidur di kamar para pelayan istana, menolak untuk menikmati waktu istirahat dengan Batsyeba sementara anak buahnya di medan perang masih dalam bahaya (2 Samuel 11:9-11). Uria juga melakukan hal yang sama pada malam berikutnya, menunjukkan integritas yang sangat kontras dengan Daud yang tidak memilikinya.

Daud adalah orang yang bersalah atas dosa seksual ini, dan penghakiman akan ditimpakan ke atas keluarganya dalam bentuk kekerasan yang berkelanjutan. Daud dihukum Tuhan. Anak Daud meninggal seminggu sesudah lahir, dan rumah tangga Daud mengalami kesulitan lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya. Secara keseluruhan, empat anak Daud mengalami kematian yang terlalu cepat – penghakiman “empat kali lipat” yang diucapkan Daud kepada dirinya sendiri.

Dalam kisah Daud dan Batsyeba, kita menemukan banyak pelajaran. Pertama, dosa yang tersembunyi akan ketahuan. Kedua, Tuhan akan mengampuni siapa saja yang bertobat. Ketiga, konsekuensi dosa tetap ada meskipun dosa itu telah diampuni. Keempat, Tuhan dapat bekerja bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Anak Daud dan Batsyeba yang berikutnya, Salomo, menjadi pewaris takhta. Bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun, Tuhan memiliki rencana yang sesuai dengan tujuan-Nya yang berdaulat. Tetapi ini bukan berarti bahwa Tuhan merencanakan kejatuhan Daud agar Ia mencapai tujuan-Nya. Setiap umat Tuhan mempunyai pilihan atas apa yang baik dan apa yang buruk. Adalah kewajiban kita untuk taat kepada Tuhan dan menghindari dosa apa pun.

Kitab 1 Korintus 6 melanjutkan konfrontasi Paulus dengan orang-orang Kristen Korintus mengenai berbagai masalah di gereja. Bagian-bagian sebelumnya membahas masalah perpecahan menjadi beberapa golongan, dan toleransi terhadap dosa seksual yang merajarela di sana. Paulus juga marah karena mereka akan membawa satu sama lain ke pengadilan dalam gugatan atas masalah-masalah kecil. Daripada saling menuntut di hadapan orang-orang yang tidak percaya, mereka seharusnya menyelesaikan masalah-masalah sepele di gereja. Kedua, Paulus mendesak mereka untuk hidup sesuai dengan identitas baru mereka di dalam Kristus daripada hidup sesuai dengan standar-standar budaya yang tidak bermoral secara seksual. Hal ini memicu diskusi tentang pernikahan di bab 7.

Ayat 1 Korintus 6:12–20 menggambarkan keberatan Paulus kepada mereka di gereja Korintus yang memiliki sikap acuh tak acuh terhadap amoralitas seksual. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota di mana penduduknya menikmati berbagai dosa seksual. Ini mungkin sering dibayangkan orang secara berlebihan, tetapi kota-kota modern seperti Bangkok dan Jakarta mungkin tidak banyak berbeda.

Dalam budaya penyembah berhala Yunani-Romawi pada zaman Paulus, seks dalam bentuk apa pun telah menjadi hal yang normal bagi hampir semua orang. Itu termasuk pelacuran, perzinahan, pedofilia, homoseksualitas, dan sebagainya. Tumbuh dalam lingkungan ini, tidak mengherankan jika beberapa orang Kristen di Korintus merasa kesulitan untuk melihat seks di luar nikah sebagai masalah besar. Paulus telah menghabiskan bab ini untuk menunjukkan mengapa menghindari amoralitas seksual sangat penting bagi orang percaya. Dengan kata lain, sekalipun keselamatan kita bukan berdasarkan kesucian, kesucian adalah tujuan hidup kita karena itu adalah perintah Tuhan kepada setiap umat-Nya.

Di luar hukum formal dan harfiah, Paulus menegaskan standar untuk perilaku Kristen merupakan jawab atas pertanyaan apakah suatu tindakan akan bermanfaat atau memperbudak. Seks lebih dari sekadar fungsi tubuh; Allah merancangnya untuk menyatukan dua orang menjadi satu tubuh dalam pernikahan. Persatuan dengan orang lain itu menggambarkan Kristus, yang juga mempersatukan kita dengan Dia, ke dalam persatuan abadi. Di masa depan tubuh kita akan dibangkitkan, tetapi pada saat ini hidup kita dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Allah. Sayang sekali, pesan Paulus ini jarang diucapkan di mimbar gereja sekalipun bentuk penyelewengan seksual di zaman ini ada berbagai macam, seperti hubungan seksual antar sejenis, hubungan seksual antara manusia dan hewan, dan hubungan seksual dengan anak dibawah umur. Lebih dari itu, ada banyak penyelewengan seksual yang dilakukan oleh pimpinan gereja.

Paulus memberi mereka strategi untuk menghadapinya: lari. Ia memberi tahu mereka untuk menjauh dari amoralitas seksual. Tindakan defensif yang paling baik dalam menghadapi musuh yang kuat adalah lari untuk menjauhkan diri. Larilah seolah-olah Anda sedang melarikan diri dari sesuatu yang mungkin akan menyakiti Anda, karena itu akan terjadi. Bahkan jika budaya zaman sekarang membenci Anda karenanya, lebih baik melarikan diri dari dosa seksual daripada ditaklukkan olehnya (Kejadian 39:7–12).

Banyak orang Kristen yang menganggap semua dosa adalah sama. Itu benar dalam hal kontras dengan kemahasucian Tuhan. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa amoralitas seksual berbeda dari jenis dosa lainnya karena itu adalah bentuk menyakiti diri sendiri. Kita mungkin melakukan dosa-dosa lain dengan tubuh kita, tetapi amoralitas seksual menyatukan kita dengan orang lain secara berdosa. Ini terjadi pada tingkat fisik dan spiritual yang mendalam. Kita akan mengalami konsekuensi alami dari dosa itu pada tingkat yang mendalam juga. Dosa seksual (nafsu birahi, lust) adalah salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan.

Penting untuk dicatat bahwa Paulus tidak menulis bahwa amoralitas seksual adalah dosa terburuk dari semua dosa, seperti yang kadang-kadang kita simpulkan. Sebaliknya, ia memerangi sikap acuh tak acuh terhadap dosa seksual yang dimiliki oleh beberapa orang Kristen dalam budaya dan pengertian teologis tertentu. Selain menyakiti orang lain, amoralitas seksual berkontribusi pada rasa sakit kita sendiri yang mendalam. Itu tidak lebih atau kurang dibandingkan dengan dosa-dosa yang lain, tetapi budaya manusia zaman sekarang (dan gereja juga) cenderung memperlakukannya lebih acuh tak acuh daripada kesalahan lainnya.

Paulus menegur orang-orang Kristen di gereja Korintus tentang amoralitas seksual. Tegurannya berlaku untuk kita juga. Rupanya, beberapa orang berpendapat bahwa karena tubuh kita akan mati dan membusuk, tidak masalah apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Yang penting hanyalah roh di dalam diri kita, kata mereka. Yang penting adalah sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, kata beberapa orang Kristen zaman sekarang. Dengan demikian, mereka mungkin berpendapat bahwa mereka bebas untuk melakukan ekspresi seksual apa pun yang mereka suka (1 Korintus 6:12–13). Paulus telah menolak ajaran-ajaran sesat ini.

Anggapan bahwa tubuh kita tidak penting pada dasarnya salah. Tubuh orang Kristen adalah tempat tinggal Roh Kudus. Dalam arti tertentu, Paulus mengangkat tubuh kita ke tingkat sebagai bait suci, tempat kudus, yang menampung Roh Allah. Allah memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan (Efesus 1:13–14). Secara misterius, kita membawa Roh-Nya di dalam tubuh kita.

Dengan mengingat hal itu, Paulus menambahkan bahwa tubuh kita sebenarnya bukan lagi tubuh kita karena Allah telah membeli kita. Dia telah membayar penebusan dosa kita dengan darah Yesus (Efesus 1:7). Kristus telah menebus kita dari kutukan hidup di bawah hukum Musa dengan menjadi kutukan bagi diri-Nya sendiri (Galatia 3:13). Dalam pengertian itu, kita menjadi milik Allah ketika kita datang kepada-Nya melalui iman kepada Yesus. Semua orang pilihan adalah orang yang tunduk kepada Yesus. Itulah sebabnya kita tidak boleh menggunakan tubuh dan pikiran sesuka hati kita.

Jika kita benar-benar di dalam Kristus, kita akan sadar benar-benar bukan milik kita sendiri. Hidup kita, termasuk tubuh kita, adalah milik Allah. Ini berarti memberi Roh Kudus otoritas tertinggi untuk memberi tahu kita apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dengan tubuh kita. Orang kristen yang sejati seharusnya sadar untuk tidak mendukakan Roh Kudus.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30

Penting untuk memperhatikan sesuatu tentang argumen terakhir terhadap amoralitas seksual ini. Ini hanya berlaku bagi orang percaya. Hanya mereka yang ada di dalam Kristus yang telah ditebus oleh darah-Nya dan dibawa dari kegelapan kepada terang (1 Korintus 1:12–13). Kata-kata ini bukan untuk mereka yang tetap berada dalam kegelapan. Paulus tidak memerintahkan mereka yang berada di luar gereja, orang-orang yang tidak percaya, untuk hidup sesuai dengan standar-standar Allah mengenai moralitas seksual (1 Korintus 5:12). Dosa mereka tetaplah dosa, tetapi kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk mengenalinya sebagai dosa (1 Korintus 2:14). Karena itu, kita tidak dapat memakai dalih bahwa kita melakukan suatu dosa karena semua orang juga melakukan hal yang serupa, yang mungkin tidak melawan hukum dunia.

Sebaliknya, mereka yang menjadi milik Allah diperintahkan untuk memuliakan Allah dengan tubuh mereka. Kita wajib taat kepada perintah-Nya. Hanya mereka yang berada di dalam Kristus yang wajib dan dimampukan untuk menggunakan tubuh mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Karena dosa seksual juga bisa melibatkan mata, pikiran, dan perkataan kita, kita harus menjaga kebersihan semua anggota tubuh kita. Jangan sampai kita terlena, karena itu adalah tujuan hidup kita saat ini. Keterlibatan diri dalam dosa seksual secara egois menghalangi kita sebagai orang Kristen untuk memenuhi tujuan penciptaan dan penyelamatan kita.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Matius 6:22-23