Tuhan menghukum setiap orang menurut perbuatan mereka

“Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” Roma 2: 6-8

Sebagai orang Kristen, apakah Anda masih takut dihukum Tuhan? Pertanyaan ini agaknya tidak sukar dijawab karena hanya dua pilihan jawaban: ya atau tidak. Walaupun demikian, untuk menjawabnya orang harus berhati-hati agar tidak membuat kekeliruan.

Sebagian orang Kristen percaya bahwa jika tidak bisa hidup baik, mereka akan kehilangan keselamatan yang sudah dianugerahkan Tuhan. Mereka mengutarakan bahwa keselamatan memang sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma, tetapi adalah tugas manusia untuk mempertahankannya. Itu seperti karunia Tuhan kepada Adam dan Hawa di taman Eden: semua sudah disediakan dan aturan hidup sudah dijelaskan; tugas Adam dan Hawa hanya untuk memelihara dan menjalankan segala sesuatu sesuai dengan perintah Tuhan. Hukuman Tuhan kepada orang Kristen yang hidupnya tidak taat pada hukum Tuhan adalah sama dengan hukuman Tuhan untuk orang yang tidak beriman: kematian abadi di neraka. Karena itu hukum Tuhan mutlak untuk ditaati.

Pada pihak lain, ada orang Kristen yang percaya bahwa sekali selamat, mereka tetap selamat. Tidak ada dosa apa pun yang bisa menghilangkan anugerah keselamatan Tuhan. Sekali Tuhan sudah memutuskan untuk menyelamatkan seseorang, hal itu tidak bisa dibatalkan. Karena itu, tidak ada lagi yang perlu ditakuti umat percaya. Orang Kristen hanya harus percaya bahwa mereka adalah orang pilihan dan tidak perlu memikirkan pentingnya untuk berjuang mati-matian untuk berbuat kebaikan. Tuhan pasti mengampuni dosa dan kekurangan umat-Nya bagaimana pun besarnya dan apa pun jenisnya, dan karena itu tidak ada lagi hukuman Tuhan yang perlu ditakuti. Mereka menjadi orang-orang yang “anti” hukum Tuhan, dalam arti mengabaikan pentingnya ketaatan pada hukum Tuhan selama hidup di dunia (antinomian).

Kedua posisi di atas adalah keliru, dan masing-masing bisa menyebabkan orang Kristen hidup dalam kegelapan. Marilah kita meneliti apa yang dikatakan Alkitab.

Mengenai posisi pertama, ayat di bawah ini memberi pedoman:

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.” Roma 8:13

Ayat ini dapat dibaca dengan cara yang berbeda dengan implikasi yang sangat berbeda. Tidak semua guru Alkitab atau tradisi Kristen setuju tentang maknanya, dan karena itu bisa menjadikannya contoh tentang pentingnya konteks ketika mempelajari Kitab Suci.

Paulus telah menggambarkan hidup menurut daging sebagai kehidupan di luar Kristus. Ini adalah kehidupan duniawi yang melayani diri sendiri, pertama dan selamanya. Mereka yang hidup menurut daging bukanlah orang Kristen. Mereka tidak dapat tunduk pada hukum Allah dan tidak dapat menyenangkan Allah (Roma 8:7–8).

Sekarang, Paulus menulis bahwa jika Anda hidup menurut daging, Anda akan mati. Ini adalah poin pertama dari ayat di mana konteks menjadi penting. Paulus telah menjelaskan secara eksplisit dalam bagian sebelumnya bahwa mereka yang berada di dalam Kristus tidak dapat, menurut definisi, hidup menurut daging. Itu bukan saran bahwa orang percaya yang diselamatkan tidak dapat berbuat dosa, tetapi jelas ada perbedaan antara orang yang bukan Kristen sejati dengan mereka yang sudah dilahirkan kembali. Mereka yang hidup menurut daging adalah kelompok yang sama dengan mereka yang tidak diselamatkan.

Paulus tampaknya bermaksud bahwa siapa pun yang tidak menaruh iman mereka kepada Kristus dan mengubah arah hidup melalui kuasa Roh akan mati. Ini dapat menyiratkan beberapa konsekuensi dosa dan hukuman Tuhan atas dosa selama kita hidup di dunia (lihat tulisan “Dosa yang membawa kebinasaan” – 30 April 2022), tetapi makna utama Paulus di sini adalah kematian rohani dan kekal.

Pernyataan Paulus berikutnya adalah bahwa jika oleh Roh Kudus Anda mau mematikan perbuatan dosa tubuh, Anda akan hidup. Di sini, sekali lagi, konteks surat kepada jemaat di Roma ini penting. Beberapa orang menganggap ini berarti bahwa seseorang yang tidak berhasil melepaskan semua dosa tidak akan memperoleh hidup kekal. Namun, penjelasan itu tidak sesuai dengan semua hal lain yang diajarkan Paulus tentang pembenaran kita karena apa yang telah Kristus lakukan bagi kita (Roma 5:1–11).

Sebaliknya, pernyataan ini pertama-tama berarti bahwa mereka yang benar-benar ada di dalam Kristus akan, melalui kuasa Roh Allah bersama kita, menemukan kemenangan atas keinginan untuk berbuat berdosa. Kita akan memiliki keberhasilan yang lebih besar dan lebih mampu mematikannya. Barangkali yang kedua, ini berarti kita akan benar-benar hidup, secara rohani, dalam kasih Allah yang berlimpah dengan mematikan dosa-dosa tubuh kita. Kita akan menemukan kedamaian, kebahagiaan dan rasa syukur yang berlimpah.

Karena bimbingan Roh, kita takut untuk berbuat dosa dan karena itu akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Mereka yang tidak takut akan hukuman Tuhan, bukanlah orang Kristen sejati. Pada pihak yang lain, kita harus memahami bahwa untuk memperoleh keselamatan di surga, kita memerlukan penghapusan total dari dosa-dosa kita yang hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Allah. Itu bukan sesuatu yang dapat kita capai sendiri.

Kembali ke ayat pembukaan di atas, kita harus tahu bahwa Roma 2:1–11 juga bisa menimbulkan semacam perangkap bagi setiap pembaca yang mengira bahwa daftar dosa Paulus yang membinasakan di akhir Roma 1 adalah untuk orang lain dan bukan untuk orang Kristen. Sebenarnya, setiap orang sudah bersalah karena dosanya (Roma 3:23). Tidak seorang pun akan luput dari penghakiman Allah atas dosa pribadi, termasuk orang Yahudi dan non-Yahudi yang religius. Allah pasti akan menghakimi setiap orang sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Jika ada orang yang bisa hidup tanpa dosa, dan hanya melakukan kebaikan, ia tentu akan menerima pahala dan hidup kekal. Jika tidak, ia layak mendapatkan murka dan kemarahan. Dalam hal ini. tidak ada manusia yang sempurna, yang suci, yang mampu memenuhi standar Allah. Hal ini menjadi dasar penjelasan Paulus tentang bagaimana kita dapat memperoleh keselamatan: hanya melalui kasih karunia berdasarkan iman.

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Paulus dengan keras mengutuk setiap orang yang bermoral atau religius yang bersalah karena menghakimi orang lain atas dosa mereka (Roma 2:1-3). Paulus dengan demikian mengisyaratkan kebenaran ini: Tidak seorang pun dari kita boleh berasumsi bahwa Allah tidak akan mengungkapkan murka-Nya kepada kita karena dosa kita. Tidak ada orang Kristen sejati yang tidak takut dihukum Tuhan. Hanya orang Kristen munafik yang tidak takut akan hukuman Tuhan.

Paulus menguraikan hukum mutlak tentang siapa yang akan menerima hidup kekal bersama Allah, dan siapa yang akan menerima “murka dan amarah” (Roma 2:8) dari-Nya. Paulus mengutip dari Mazmur 62:12 dan Amsal 24:12 untuk mengartikulasikan kebenaran universal bahwa Allah akan memberikan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Ia menjelaskan perbedaan antara mereka yang akan menerima murka atau pahala dari Allah.

Jika diambil di luar konteks, ini adalah pernyataan yang meresahkan. Paulus tampaknya menunjukkan bahwa Allah menghakimi semua orang berdasarkan perilaku mereka. Tetapi, ini adalah gagasan yang sama yang diungkapkan oleh Yesus sendiri (Matius 16:27). Dalam hal pahala, ini benar adanya; setiap orang dihakimi berdasarkan perbuatan mereka (Roma 14:10–12; 2 Korintus 5:10). Tuhan yang mahakasih menuntut umat-Nya untuk taat kepada-Nya, dan setiap kali kita jatuh dalam dosa kita harus meminta ampun dan bertobat, agar dosa-dosa kita tidak menjadi penghalang akan berkat-Nya.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:8-9

Namun, seperti yang akan dijelaskan Paulus dalam surat ini, pada akhirnya tidak seorang pun dapat diselamatkan oleh perbuatan baik mereka (Roma 3:23). Satu-satunya harapan kita untuk keselamatan—untuk diselamatkan dari hukuman dosa kita—adalah kasih karunia, melalui iman kepada Yesus Kristus.

Pagi ini, jika kita mengaku Kristen sejati, kita tetap takut untuk melanggar hukum Tuhan. Pada pihak lain, kita tidak takut kehilangan keselamatan jika kita tetap mau berjuang sekuat tenaga untuk taat kepada hukum-Nya (pronomian dan bukan antinomian). Kita mengerti bahwa adanya hukum Tuhan adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan kita di bumi maupun di surga. Pesan ini harus kita sampaikan kepada semua saudara seiman tanpa keraguan untuk memuliakan Allah yang sudah memberikan hukum-Nya.

Memberkati untuk bisa diberkati?

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. ” 1 Petrus 3:8-9

1 Petrus 3:8–22 ditujukan kepada semua orang percaya, memerintahkan orang Kristen untuk bersatu dan menolak untuk membalas dendam ketika disakiti. Petrus mengutip dari Daud dan Yesaya untuk menunjukkan bahwa umat Allah selalu dipanggil untuk menolak kejahatan dan melakukan kebaikan. Ini benar bahkan ketika kita menderita karena perlakuan orang lain kepada kita. Kita harus sadar bahwa mungkin adalah kehendak Allah bagi umat-Nya untuk menderita, sebagian untuk menunjukkan kuasa-Nya. Teladan kita yang baik juga dapat membawa orang lain kepada Kristus agar bertobat.

Apa arti 1 Petrus 3:8? Ayat ini memulai bagian baru dari surat Petrus. Surat ini ditulis untuk orang Kristen secara umum. Bagian-bagian sebelumnya berfokus pada isu-isu yang unik bagi berbagai kelompok, seperti budak, istri, dan suami. Tetapi di sini, Petrus menulis kepada “kamu semua”, yaitu semua orang Kristen. Setiap orang Kristen dipanggil untuk menaati perintah ini saat kita hidup dalam hubungan satu sama lain. Ini menuntut kita untuk mengakui bahwa semua orang percaya mempunyai derajat yang sama di hadapan Tuhan dan karena itu tidak boleh menempatkan diri kitai di atas orang lain. Bagaimana kita bisa melaksanakan perintah ini?

Pertama, kita harus mau untuk “harmonis,” atau berpikiran sama. Allah menghendaki agar komunitas orang Kristen bersatu dalam satu cara berpikir: cara Yesus. Kemudian, orang Kristen harus mempunyai perasaan empati satu dengan yang lain. Kita harus tergerak secara emosional, dengan tulus hati mencoba untuk mengerti akan perasaan dan keadaan orang lain. Kita harus bisa menempatkan diri kita dalam posisi mereka.

Kemudian, Petrus memerintahkan kita untuk mengasihi, seperti saudara saling mengasihi. Dengan kata lain, kasih seperti “keluarga”. Tentu saja, saudara kandung tidak selalu menyukai satu sama lain. Namun, sebagian besar bisa berkomitmen satu sama lain di atas mereka yang berada di luar keluarga. Mereka tidak saling berhantam dalam keluarga atau suka mencari kesalahan orang lain. Mengapa demikian? Karena mereka berada dalam satu marga yang dipersatukan dalam Kristus. Orang Kristen harus memiliki komitmen terhadap orang Kristen lainnya.

Selanjutnya, kita harus menyayangi atau baik hati. Ini mirip dengan bersikap simpati, tetapi ini menyiratkan bahwa kita siap untuk saling menunjukkan kebaikan, dengan keinginan untuk berbuat sesuatu demi kebaikan orang lain.

Terakhir, orang Kristen harus rendah hati dalam roh atau memiliki “pikiran yang rendah hati.” Kita harus siap untuk mengesampingkan kepentingan diri atau ego kita sendiri. Kita harus berusaha menjadikan orang lain sebagai fokus perhatian kita. Orang Kristen harus saling mengangkat, tidak menonjolkan diri dalam upaya kita untuk saling mendukung demi kemuliaan Kristus.

Bagi orang Kristen, balas dendam dan usaha untuk menhukum saudara seiman bukanlah pilihan yang tepat. Petrus menggemakan ajaran Yesus, dan juga Paulus, dengan menjelaskan dengan sangat jelas bahwa mereka yang ada di dalam Kristus—mereka yang dipisahkan untuk tujuan yang baru—tidak diperbolehkan untuk “membalas dendam.” Bayangkan jika Allah berubah pikiran, menolak kita, dan kemudian ingin menghukum kita atas semua dosa-dosa kita!

Petrus menulis kepada orang-orang percaya yang mungkin mengalami baik kekerasan fisik maupun “cacian” (atau penghinaan). Cara dunia dan dorongan manusia normal kita adalah membalas dengan perlakuan menyakitkan yang sama dengan yang kita terima. Petrus memerintahkan kita untuk sepenuhnya menolak naluri duniawi itu. Itu seharusnya ada dalam kemampuan kita yang sudah menerima kasih Kristus yang luar biasa besarnya dan dianugerahi dengan Roh Kudus yang selalu siap menolong kita.

Alih-alih membalas kejahatan dengan kejahatan atau penghinaan dengan penghinaan, Petrus memerintahkan mereka yang ada di dalam Kristus untuk “memberkati,” atau memberikan berkat. Berkat adalah pernyataan positif atas kemauan kita untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6:14-15

Bagi orang Kristen, permintaan kita adalah agar Tuhan menolong orang lain untuk berhasil dalam hal yang baik, dan agar orang itu menerima pertolonganTuhan. Mengapa kita harus melakukan hal seperti itu untuk seseorang yang telah menyakiti atau menghina kita? Petrus menjawab pertanyaan itu dalam 1 Petrus 2:21–25. Kita menanggapi dengan berkat ketika diberi hal yang jahat karena itulah yang Yesus lakukan untuk kita, dan Dialah yang kita ikuti. Kita berjalan mengikuti jejak langkah-Nya.

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” 1 Petrus 2:21-25

Petrus menambahkan dua gagasan dalam 1 Petrus 3:9. Pertama, sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan memberi berkat sebagai ganti kejahatan dan hinaan. Sebagai manusia dan bukan robot, kita bisa menolak untuk menjalankan perintah Tuhan ini. Tetapi, kita harus ingat bahwa itu adalah bagian dari tugas kita sebagai umat pilihan di bumi. Ini adalah alat yang ampuh untuk perubahan sosial, karena hanya pengampunan yang dapat memutus siklus kebencian dan balas dendam. Karena adanya damai dalam keluarga Tuhan, orang yang belum percaya bisa tertarik untuk beegabung.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Kedua dan yang lebih misterius, saat kita memberi berkat untuk orang yang memberi hinaan dan kejahatan kepada kita, kita akan memperoleh atau “mewarisi” berkat untuk diri kita sendiri. Berkat ini mungkin pernah ditafsirkan sebagai kehidupan kekal yang telah dijanjikan kepada kita di dalam Kristus tetapi, yang lebih tepat, berkat ini menunjuk pada pahala tambahan dari Allah dalam kehidupan ini dan/atau kehidupan yang akan datang.

Sebagian orang Kristen jarang memikirkan atau membicarakan hal pahala di surga. Mereka seolah berpikir bahwa mengharapkan pahala adalah dosa dan karena itu mereka tidak mau memikirkan pentingnya berbuat kebaikan. Berbuat baik bagi mereka bukanlah tugas orang percaya, tetapi anugerah Tuhan. Lagi pula, apa gunanya pahala? Bukankah tinggal di surga dengan Allah sudah cukup baik? Mengenal-Nya, melihat kemuliaan-Nya, menikmati surga – sulit dipahami mengapa pahala lainnya perlu diberikan sama sekali. Dan juga, karena iman kita mengandalkan kebenaran Kristus bukan kebenaran pribadi kita (Roma 3:21-26), rupanya agak aneh jika perbuatan pribadi kita diberi penghargaan. Alih-alih mengharapkan pahala surgawi, mereka seolah merasa bahwa semua orang adalah munafik dan sombong jika berusaha berbuat baik karena manusia tidak mampu untuk menyenangkan Allah. Pandangan negatif ini harus kita tolak berdasarkan ayat 1 Petrus 3:8-9 di atas.

Allah akan membagikan pahala di surga pada takhta penghakiman Kristus, berdasarkan kesetiaan kita dalam melayani-Nya (2 Korintus 5:10). Pahala ini mencerminkan realita bahwa kita telah diangkat sebagai anak (Galatia 4:7), serta keadilan Allah (Ibrani 6:10). Allah akan memberi pahala di surga guna memenuhi hukum tabur tuai (Galatia 6:7-9) dan memenuhi janji-Nya bahwa jerih payah kita bagi-Nya tidak sia-sia (1 Korintus 15:58).

Pahala yang kita peroleh di surga bukan seperti imbalan yang kita peroleh di bumi. Kita sering membandingkannya dengan hal-hal materi – istana, batu dan logam mulia, dsb. Namun semua hal ini hanya berupa bayangan terhadap pahala yang sejati yang akan kita peroleh di surga. Seorang anak yang memenangkan lomba senang memperoleh piagam bukan demi piagamnya melainkan makna di balik piagamnya. Sama-halnya, pahala dan kehormatan yang kita peroleh di surga begitu berharga karena mencerminkan hubungan kita dengan Allah – dan semuanya mengingatkan kita akan karya yang Ia lakukan melalui diri kita di bumi.

Pagi ini kita belajar bahwa untuk diberkati Tuhan kita harus mau memberkati orang lain. Dengan cara ini, pahala kita tidak saja akan kita terima di surga, tetapi juga akan memberi kita sukacita, damai, dan pengaharapan selama kita hidup, mengingat karya Allah yang terus bekerja dalam kehidupan kita dan melalui hidup kita. Semakin dekat kehidupan kita dengan Allah, semakin kita berpusat pada-Nya dan menyadari-Nya, semakin kita mengandalkan-Nya, semakin kita menginginkan rahmat-Nya, dan semakin banyak yang dapat kita syukuri.

Umur kita selalu bertambah

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” Mazmur 90:10

Mazmur 90, yang mungkin merupakan mazmur tertua, dibuka dengan pernyataan Musa tentang Tuhan sebagai tempat tinggal Israel yang kekal, tetapi dengan cepat beralih ke pengakuan tentang kehidupan manusia yang singkat di bumi.

Mazmur 90:3–10 merefleksikan singkatnya hidup manusia dan adanya murka Allah. Kejahatan manusia adalah alasan mengapa Tuhan mengarahkan murka-Nya sehingga umur manusia menjadi terbatas.

Angka tujuh puluh sebenarnya memiliki makna sakral dalam Alkitab yang terdiri dari faktor-faktor dari dua angka sempurna, tujuh (mewakili kesempurnaan) dan sepuluh (mewakili kelengkapan dan hukum Allah). Dengan demikian, angka tersebut melambangkan tatanan rohani yang sempurna yang dilaksanakan dengan segala kuasa. Angka tersebut juga dapat mewakili periode penghakiman.

Dalam hal umur, seseorang memang dapat hidup sekitar 70 atau 80 tahun, kecuali jika ada penyakit atau kemalangan. Ini bisa dibilang panjang jika dibandingkan dengan umur kucing, tapi pendek jika dibandingkan dengan umur kura-kura dari Galapagos.

Pendek atau panjang, hidup manusia penuh dengan kerja keras dan masalah. Mengingat singkatnya hidup, Musa meminta Tuhan untuk memenuhi umat-Nya dengan hikmat. Ia juga meminta Tuhan untuk menyatakan karya-Nya, menunjukkan kuasa-Nya, memberikan kebaikan-Nya, dan memberkati bani Israel.

Alkitab tidak secara langsung menyatakan bahwa Tuhan telah membatasi rentang hidup manusia. Orang-orang zaman dahulu bisa mencapai umur yang sangat panjang, menurut standar saat ini. Beberapa orang menafsirkan Kejadian 6:3 sebagai perkiraan umur maksimum manusia setelah banjir di zaman Nuh adalah 120 tahun. Hal ini didukung oleh sejarah—pria tertua yang terverifikasi, Jiroemon Kimura (1897–2013), mencapai usia 116 tahun. Wanita tertua yang terverifikasi, Jeanne Calment (1875–1997), meninggal pada usia 122 tahun. Umur-umur yang tidak biasa tersebut mewakili mereka yang cukup beruntung karena adanya faktor-faktor pendukung. Namun, bagi kebanyakan orang, umur rata-rata secara global adalah 72 tahun.

Ungkapan Musa tentang singkatnya hidup dalam ayat di atas sangat menyentuh karena apa yang ia lihat selama pengembaraan Israel di padang gurun. Mereka yang melakukan perjalanan melalui padang gurun mengalami cobaan berat dan akhirnya meninggal sebelum usia tua. Banyak dari mereka meninggal tanpa pernah melihat Tanah Perjanjian yang mereka harapkan (Bilangan 14:33–35).

Pernyataan yang berulang dalam silsilah Kejadian 5 adalah “lalu ia mati.” Adam, manusia pertama, kehilangan nyawanya setelah jatuh dalam dosa, dan ia juga kehilangan kehidupan yang damai di Taman Eden. Ia tidak langsung mati secara fisik, tetapi ia benar-benar mati. Terlepas dari berapa lama seseorang hidup di bumi, kematian akan datang “segera,” dari sudut pandang sejarah.

Ayat di atas menggemakan sentimen yang ditemukan di bagian lain Kitab Suci, bahwa kehidupan manusia pada dasarnya pendek dan rapuh (Yakobus 4:14; Lukas 12:19–20). Dalam tradisi Yahudi, 70 tahun melambangkan seumur hidup. Pada usia 70 tahun, seseorang mencapai seivah, yang berarti usia tua, tetapi kata tersebut juga dikaitkan dengan kebijaksanaan. Namun, Tuhan tidak menjanjikan bahwa setiap orang akan hidup sampai tujuh puluh atau delapan puluh tahun.

Waktu kita ada di tangan Tuhan, dan bagi sebagian orang perjalanan mereka di bumi jauh lebih singkat. Yesus disalibkan ketika Dia masih berusia 30-an; martir pertama, Stefanus, juga mungkin masih muda ketika dia dihukum mati karena imannya (lihat Kisah Para Rasul 7).

Poin sebenarnya yang ingin disampaikan pemazmur adalah bahwa tidak peduli siapa kita, waktu kita di bumi terbatas, dan suatu hari kematian akan menjemput kita. Kematian adalah kenyataan, dan tidak seorang pun menghindarinya—tidak peduli seberapa kuat mereka atau berapa tahun mereka hidup:

“Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” Mazmur 90:5

Pagi ini, ayat di atas membawa kita pada dua pertanyaan yang sangat penting. Pertama, bagaimana kita harus mempersiapkan diri menghadapi kematian? Banyak orang yang mungkin menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan karier atau menimbun harta mereka—namun tidak pernah meluangkan waktu lima menit untuk memikirkan tentang apa yang akan terjadi pada mereka ketika mereka meninggal. Mereka terlalu sibuk untuk bisa merenungkan firman Tuhan.

Jika kita mengenal Kristus, kita tahu bahwa hidup ini bukanlah segalanya, dan di depan kita ada surga. Pertanyaan lainnya adalah: Bagaimana seharusnya kita menjalani hari-hari yang Tuhan berikan kepada kita? Akankah kita hidup untuk diri kita sendiri—atau akankah kita hidup untuk kemuliaan Tuhan?

Perintah Tuhan untuk hidup damai

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” Kolose 3:15

Anda tentu setuju dengan pendapat umum bahwa tidaklah mudah bagi kita untuk hidup dengan orang lain. Sekalipun seseorang sudah hidup bersama orang lain selama bertahun-tahun, berbagai masalah tetap bisa timbul karena setiap orang mempunyai karakter dan kemauan yang berbeda. Tidak ada dua orang yang bisa persis sama secara lahir dan batin, sekalipun mereka bisa dilahirkan sebagai kembar identik.

Karena hubungan yang baik antar manusia tidaklah mudah dilakukan, demi kedamaian hidup ada orang-orang yang mencoba hidup menyendiri. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian tanpa berinteraksi dengan orang lain. Orang bisa menjadi gila jika dipaksa untuk hidup terasing dari orang lain. Tuhan mengerti akan kelemahan manusia ini, dan karena itu Ia menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam (Kejadian 2:28).

Kita tahu bahwa ada dua perintah utama dari Tuhan kepada kita dalam hidup di dunia. Sebagai orang Kristen kita terus berusaha untuk bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita. Jika mengasihi Tuhan seperti itu adalah sulit, mengasihi sesama kita tidaklah mudah. Kita tahu bahwa kita juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada saudara seiman, tetapi untuk mempertahankan hubungan kita dengan sesama orang Kristen terkadang sulitnya bukan main.

Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. ” Galatia 6:10

Mungkin lebih mudah bagi kita untuk berinteraksi dengan orang yang bukan Kristen. Hal ini bisa disebabkan karena harapan kita kepada saudara seiman adalah berbeda dengan harapan kita terhadap orang lain yang tidak seiman. Mungkin kita lebih bisa memahami mengapa seseorang tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan jika mereka bukan orang Kristen. Kita bisa menerima kenyataan bahwa orang yang tidak seiman bukanlah saudara kita. Mereka mungkin memusuhi kita. Pada pihak yang lain kita sering merasa kecewa, sedih dan bahkan marah jika diperlakukan secara kurang baik oleh saudara seiman. Bagaimana kita sebagai orang Kristen harus bertindak dalam suasana demikian?

Kolose 3:12–17 mengikuti nasihat Paulus tentang dosa-dosa yang harus dihindari dengan mencantumkan sifat-sifat positif yang harus ditiru oleh orang Kristen dalam hidup bermasyarakat. Di antaranya adalah hidup yang memiliki belas kasihan, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan. Yang lebih penting daripada yang lainnya adalah kasih, yang tidak hanya mengilhami sifat-sifat lainnya, tetapi juga yang mengikat orang Kristen bersama-sama sebagai satu keluarga, di bawah Kristus.

Paulus kemudian membuka gagasan tentang mengikuti Kristus yang mencakup setiap aspek kehidupan kita: apa pun yang kita pikirkan atau lakukan, sebagai orang percaya, harus sesuai dengan teladan Tuhan kita Yesus Kristus (Kolose 3:17). Hal ini menuntut kita untuk mengambil keputusan untuk hidup baik seperti apa yang dikehendaki Tuhan. Apa yang baik tidaklah terjadi atau muncul secara otomatis dalam hidup kita tanpa usaha kita setelah kita menjadi orang Kristen.

Dalam Kolose 3, Paulus memberikan petunjuk yang jelas kepada orang Kristen tentang menjalani iman kepada Kristus. Karena orang percaya telah diselamatkan oleh Kristus, mereka seharusnya tidak berpartisipasi dalam dosa yang menjebak orang yang tidak percaya. Percabulan, kecemburuan, fitnah, dan balas dendam tidak boleh menjadi bagian dari kehidupan orang Kristen. Sebaliknya, orang percaya harus berpartisipasi dalam kesalehan dengan menunjukkan belas kasihan, kerendahan hati, kesabaran, dan pengampunan. Di atas segalanya, para pengikut Kristus harus menunjukkan kasih. Paulus juga memberikan petunjuk khusus bagi mereka yang tinggal di rumah tangga Kristen, termasuk suami, istri, anak-anak, dan pembantu.

Dalam Kolese 3 ayat 12 hingga 14, Paulus telah memberikan delapan sifat positif yang harus ditiru atau dilakukan oleh orang Kristen. Di ayat 13, ia menulis tentang dua cita-cita tambahan bagi orang percaya untuk dikejar.

Pertama, ia memanggil orang percaya untuk hidup dalam damai. Damai, bagian dari buah Roh (Galatia 5:22–23), dicatat dalam surat ini sebagai sesuatu yang berasal dari Allah Bapa kita (Kolose 1:2). Kita menerima damai dengan Allah melalui darah salib (Kolose 1:20). Damai berarti “memerintah” dalam hati kita, artinya hati harus mengatur cara hidup kita. Orang percaya tidak dipanggil untuk hidup dalam kekerasan atau pertengkaran satu sama lain, tetapi untuk hidup dalam damai. Ini membuuhkan kemauan kita untuk tunduk kepada bimbingan Roh Kudus.

Penting untuk mengingat konteks pernyataan ini. Paulus tidak merujuk pada damai dalam arti “perasaan bahagia.” Dalam ayat-ayat sebelumnya, ia membahas perlunya orang Kristen untuk bertoleransi, mengasihi, dan saling mendukung. Dalam ayat ini, setelah menyebutkan damai, Paulus kembali berbicara tentang persatuan yang dimiliki orang Kristen. Dengan Kristus sebagai kepala, kita semua adalah bagian dari “tubuh” rohani, yaitu gereja. Kedamaian di dalam tubuh membutuhkan kedamaian di antara bagian-bagiannya. Setiap kelompok orang percaya akan mengalami konflik internal pada waktu-waktu tertentu, tetapi mencari kedamaian secara terus-menerus akan membantu kita menyelesaikan masalah dalam konteks kasih Kristen.

Sifat kedua yang disebutkan Paulus dalam ayat ini nampak sederhana: sikap bersyukur. Paulus menyebutkan rasa syukur beberapa kali dalam surat ini, yang menunjukkan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan Kristen (Kolose 1:3; 2:7; 3:16–17; 4:2). Rasa syukur dalam segala keadaan membuat pikiran kita bisa menjadi cerah dalam setiap keadaan. Sekalipun ada masalah yang kita alami dalam hubungan kita dengan orang lain, adanya rasa syukur membuat kita dapat melihat apa yang baik yang sudah kita alami, bukan apa yang buruk saja, dalam hubungan kita dengan orang lain. Rasa bersyukur membuat pikiran yang baik selalu menang atas pikiran yang jelek terhadap orang lain.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita harus berusaha untuk membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita dalam segala keadaan, dan tidak melawan pekerjaan Roh Kudus yang telah memanggil seluruh umat Tuhan untuk menjadi satu tubuh. Kira juga diperintahkan untuk selalu bersyukur, karena itu akan meneguhkan iman kita dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup bersama orang lain.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3:17

Hal yang sia-sia

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” 2 Timotius 2: 23

Istilah “membuang waktu” bagi saya agak bernada lucu. Kita tidak dapat melihat waktu, tidak dapat membelinya, atau menyimpannya; dan setiap orang tentunya membunyai 24 jam dalam sehari. Dengan demikian, bagaimana waktu itu bisa dibuang? Tentunya membuang waktu seharusnya diartikan menyia-nyiakan waktu atau “wasting time“. Waktu itu berharga dan karena itu tidak boleh disia-siakan. 

Memang setiap orang dalam hidup ini pernah menghabiskan waktu tanpa hasil. Sesudah berusaha seharian, ternyata hasilnya tidak ada. Itu mungkin sesuatu yang terasa menyebalkan, terutama jika waktu kita habis untuk menghadapi orang yang sukar. Orang yang sukar? Sukar apanya?  Orang yang sukar atau difficult person adalah orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi atau diajak untuk bekerja sama. Orang yang  sedemikian biasanya cenderung semaunya sendiri, defensif, mudah tersinggung, mudah marah, ingin mengontrol orang lain, ingin menang sendiri dan mungkin merasa paling pandai dalam segala hal. Dalam suatu organisasi, orang yang sukar bisa membuat orang lain menjadi segan untuk mendekati. Ini bisa menimbulkan masalah, dan karena itu biasanya ada cara-cara tertentu yang harus dipakai untuk bisa mengatasinya.

Orang yang sukar biasanya juga orang yang sukar untuk berubah. Mereka yang kurang tahan menghadapi  orang yang sukar misalnya, bisa mendapat kursus untuk mengatasi persoalan ini, misalnya dengan mengikuti kursus “How to handle difficult people“. Walaupun demikian, sering tidak kita sadari bahwa dalam situasi tertentu kita sendiri adalah orang-orang yang sukar untuk mengubah pendekatan kita terhadap orang lain.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang semestinya sudah mengalami perubahan cara dan ciri hidup, masih bisa digolongkan ke dalam kelompok orang yang sukar, baik dalam rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan bahkan di gereja. Dalam pertemuan antar umat Kristen misalnya, selalu ada orang yang tidak mau atau tidak bisa berkompromi. Orang yang sedemikian tidak mudah dikritik karena mereka akan berusaha menyerang balik dengan kata-kata yang tajam.

Di antara murid-murid Yesus, mungkin Yudas bisa digolongkan orang yang sukar karena cara berpikirnya mengenai soal uang. Petrus dengan sifat kepala batunya, mungkin juga termasuk orang yang sukar. Bagaimana murid-murid yang lain bisa bergaul dengan Yudas dan Petrus selama tiga tahun dan mengembara bersama Yesus tentunya sulit untuk kita bayangkan. Bagaimana Yesus bisa mengendalikan kedua murid ini dan bisa menghadapi orang-orang yang sukar yang dijumpai-Nya pada waktu itu?

Dalam menghadapi orang yang sukar, prinsip pertama yang harus kita punyai adalah kasih. Tanpa kasih, kita tidak akan mempunyai minat untuk berkomunikasi dengan orang yang sedemikian. Yesus tidak pernah menutup diri-Nya dari orang lain. Ia tidak pernah memutuskan hubungan dengan orang-orang yang sukar, yang selalu mempersukar misi-Nya. Sekalipun ada orang-orang yang sukar seperti para ahli taurat dan orang Farisi, Yesus tidak menutup kabar keselamatan bagi mereka. Ia mengasihi semua orang sekalipun Ia tidak menyukai semua orang. Misi keselamatan-Nya ditujukan kepada semua orang, agar barang siapa yang percaya kepada-Nya bisa beroleh hidup yang kekal. Seperti itu jugalah, kita harus menghadapi semua orang, termasuk orang-orang yang tidak kita sukai, dengan kasih yang asalnya dari Yesus. Jika mereka melakukan suatu tindakan yang menyakiti, merugikan atau mempermalukan kita, sebagai umat Tuhan kita harus siap untuk mengampuni, karena kita juga sudah  diampuni Tuhan.

Prinsip kedua juga bisa kita pelajari dari Yesus, yaitu berdiam diri. Yesus tidak pernah mengabaikan apa pun yang diucapkan atau diperlihatkan oleh orang lain. Walaupun demikian, Ia tidak selalu bereaksi. Ada saat-saat tertentu di mana Yesus tidak menunjukkan reaksi-Nya karena Ia tahu bahwa pada saat itu orang-orang yang sukar tidak akan bisa menerima apa pun yang diucapkan-Nya. Dengan kebijaksanaan Nya, Yesus bisa memutuskan kapan dan untuk berapa lama Ia harus berdiam diri. Memang dalam kediaman, sering masalah yang rumit bisa diatasi sekalipun untuk itu kita harus bisa bersabar. Silence is golden, tetapi berdiam diri bukan untuk selamanya; pada saat yang tepat kita harus mau memberi penjelasan atau bimbingan lebih lanjut. Kebijaksanaan dan kesabaran seperti inilah yang harus kita minta dari Tuhan.

Hal yang ketiga yang penting dalam menghadapi orang yang sukar adalah berdoa. Seperti Yesus yang mendoakan murid-murid-Nya agar mereka dapat tahan menghadapi semua tantangan hidup, kita pun harus mau mendoakan mereka yang mempersulit hidup kita. Sekalipun ada orang-orang yang memperlakukan kita sebagai musuh mereka, kita tetap harus mau mendoakan mereka. Kita harus sadar bahwa manusia tidak akan dapat mengubah cara hidup orang lain jika Tuhan tidak menghendakinya. Hanya dengan kuasa-Nya hidup kita bisa diubah, dan dengan kuasa yang sama Ia bisa mengubah orang yang bagaimanapun sukarnya untuk menjadi hamba-Nya yang setia – seperti Paulus.

Prinsip keempat yang harus kita pegang adalah  menghindari hal-hal yang sia-sia. Paulus adalah orang yang dulunya termasuk orang yang sangat sukar, tetapi yang sudah berubah karena pekerjaan Tuhan. Dalam ayat di atas, ia menasihati Timotius yang masih muda pada saat itu agar mau menghindari soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Timotius juga diingatkan bahwa soal-soal semacam itu hanya menimbulkan pertengkaran. Prinsip yang sama haruslah kita pegang dalam menghadapi orang yang sukar di masa ini. Perang mulut, tuduh-menuduh, perang tulisan, saling mengejek melalui media dan sejenisnya, bisa membuat satu orang sukar  menjadi dua orang sukar, dan bahkan kemudian tumbuh menjadi banyak orang sukar. Semua ini bisa memperkeruh suasana dan menghilangkan rasa damai.

Prinsip kelima yang perlu kita ingat ialah untuk menjadi “pelayan” orang lain agar kita memperoleh pujian dan berkat dari Tuhan. Banyak pertengkaran muncul karena ego manusia yang ingin dilayani atau diturut orang lain. Adalah bukan naluri manusia untuk mau tunduk kepada siapa saja, termasuk kepada Tuhan. Tanpa pertolongan Roh Kudus kita tidak akan mau menerima Yesus sebagai Juruselamat kita agar kita menerima perdamaian dengan Tuhan. Tanpa Roh Kudus, kita tidak mungkin memperoleh perdamaian dengan sesama.

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:43-45

Inginkah anda untuk mendapat kedamaian hidup? Inginkah anda untuk bisa menghadapi orang-orang yang sukar  dengan tetap mempunyai rasa damai dalam hati dan pikiran anda? Itu tidak mudah, tetapi bisa dicapai jika kita mau belajar dari firman Tuhan dan mendengarkan suara Roh Kudus.

Bolehkah kita marah?

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan yang kurang baik? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan sering kali membuat orang geram dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen sebenarnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada sesama manusia, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran.

Kemarahan juga sering terjadi pada umat Kristen yang merasa tidak setuju atas pengertian atau cara hidup orang Kristen yang lain. Sering kali ini disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat, terutama dalam hal teologi atau pengajaran. Selain itu, perbedaan cara berpikir dan bertindak bisa juga menimbulkan pertengkaran. Hal ini bisa menimbulkan berbagai debat, polemik dan tindakan lainnya. Dalam hal ini, setiap pihak merasa yakin bahwa pihak yang lain adalah salah dan mereka sendiri yang benar. Setiap pihak merasa bahwa mereka harus membela kebenaran yang mereka kenal. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan seluruh umat Kristen adalah satu adanya dan Ia mengasihi seluruh umat manusia.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika manusia secara sengaja tidak menghormati-Nya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau menipu Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah membenci semua orang yang jahat. Mengapa begitu? Semua orang pada hakikatnya adalah orang yang jahat, orang yang tidak benar, yang seharusnya menerima kebinasaan; tetapi, kepada mereka yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan tersedia untuk mereka.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Ketika Yesus membersihkan bait suci dari para penukar uang dan penjual hewan, Dia menunjukkan emosi dan kemarahan yang besar (Matius 21:12-13; Markus 11:15-18; Yohanes 2:13-22). Emosi Yesus digambarkan sebagai “cinta” untuk rumah Tuhan (Yohanes 2:17). Kemarahannya murni dan sepenuhnya dibenarkan karena pada akarnya adalah kepedulian terhadap kekudusan dan penyembahan Tuhan. Karena ini dipertaruhkan, Yesus mengambil tindakan cepat dan tegas. Ini berbeda dengan saat Yesus menunjukkan kemarahan di sinagoga Kapernaum. Ketika orang-orang Farisi menolak untuk menjawab pertanyaan Yesus, Ia memandang ke sekeliling mereka dengan amarah, sangat tertekan oleh hati mereka yang keras kepala (Markus 3:5).

Sering kali, kita menganggap kemarahan sebagai emosi yang egois dan merusak, yang harus kita hilangkan dari kehidupan kita sama sekali. Namun, fakta bahwa Yesus terkadang menjadi marah menunjukkan bahwa kemarahan itu sendiri adalah normal. Ini dibuktikan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Efesus 4:26 menginstruksikan kita “janganlah berbuat dosa” dan “janganlah matahari terbenam” atas amarah kita. Perintah-Nya bukan untuk menghindari kemarahan (atau menekannya atau mengabaikannya) tetapi untuk menghadapinya dengan benar, pada dan untuk waktu yang tepat.

Hari ini, kita disadarkan bahwa adalah fakta jika kita marah, terlalu sering kita memiliki kendali yang tidak tepat atau fokus yang tidak tepat. Sering kali kemarahan kita seakan menghancurkan orang lain dan bahkan sesama orang beriman. Inilah murka manusia, yang tentangnya kita diberitahu:

“Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” Yakobus 1:19-20

Kita harus ingat bahwa Yesus tidak pernah menunjukkan kemarahan manusia yang membawa kehancuran, tetapi kemarahan Allah yang adil yang bisa membawa manusia ke arah pertobatan.

Apakah orang Kristen selalu berwajah cerah?

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 12

Apakah orang Kristen selalu berwajah cerah dan murah senyum? Pertanyaan ini terdengar aneh, tetapi berhubungan dengan kritik atau pergunjingan yang muncul di belakang orang Kristen yang selalu atau sering terlihat murung. Katanya sudah mendapat anugerah keselamatan, mengapa wajahnya selalu muram? Jika anugerah Tuhan sudah cukup bagi orang itu, mengapa kelihatannya hidupnya masih terlihat merana? Mungkin ia belum benar-benar beriman?

Mungkin orang sering tidak sadar bahwa selama hidup di dunia, orang beriman belum tentu orang yang berkecukupan atau berkelebihan, sekalipun ada pendeta Kristen yang mengajarkan bahwa orang Kristen sejati akan menerima berkat Tuhan yang berkelimpahan karena Tuhan mahakaya dan mahapemurah. Dalam kenyataaannya raul-rasul pada zaman Perjanjian Baru kebanyakan adalah orang yang miskin yang menerima sumbangan dari jemaat gereja untuk bisa hidup. Mereka seudah tentu tidak selalu bisa merasa nyaman dan senang dalam hidup sehari-hari. Mereka merasa lapar dan haus, telanjang, dipukuli dan hidup mengembara (1 Korintus 4:11). Jelas, mereka tidak selalu berwajah cerah dan murah senyum. Tuhan Yesus sendiri ketika mengalami penderitaan di taman Getsemani dan di bukit Golgota tentunya berwajah muram dan sedih.

Ada pula orang yang mengira bahwa iman Kristen yang benar bisa membuat orang menjadi stoik. Stoikisme adalah ketahanan di tengah rasa sakit dan kesulitan tanpa menunjukkan keluhan. Dalam istilah awam, makna stoikisme adalah kemampuan menderita dalam kesunyian. Stoikisme populer hingga kurang lebih lima abad (3 SM-3 M), selanjutnya mempengaruhi banyak pemikir Kristen, baik dalam dunia akademis maupun sikap hidup. Stoikisme berbeda dengan iman Kristen karena tidak mempunyai iman untuk apa yang akan terjadi di masa depan, sesudah manusia meninggalkan dunia ini. Stoikisme berpusat pada diri manusia, sedangkan iman Kristen berpusat pada Tuhan. Jika orang Stoik diharapkan tetap membisu dalam penderitaan, orang Kristen justru berseru kepada Tuhan untuk memohon pertolongan.

Mengapa ada anggapan bahwa orang Kristen seharusnya adalah orang yang selalu terlihat cerah? Apakah orang Kristen tidak bisa menangis? Beberapa kata dipakai dalam Alkitab untuk menyatakan rasa senang. Kata-kata seperti girang, gembira, senang dan sukacita dapat ditemukan dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru. Diantara kata-kata itu, kata sukacita (joy) adalah yang paling sering dipakai, sebanyak 87 dalam kedua kitab.  Sekalipun semua kata-kata ini menyatakan keadaan emosi seseorang, kata sukacita berbeda artinya dengan kata gembira (happy) atau kata-kata yang lain. Biasanya kata sukacita dihubungkan dengan keadaan damai dan bahagia yang muncul dari dalam hati, sedangkan kata-kata yang lain dihubungkan dengan reaksi manusia atas apa yang terlihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Walaupun demikian, dalam Alkitab kata-kata diatas sering dipakai secara silih berganti untuk menunjukkan hal yang serupa.

Sudah tentu orang bisa saja merasa girang, gembira, senang atau bersukacita karena berhasil memperoleh sesuatu yang berharga seperti mobil baru, rumah ataupun ijazah, sekalipun rasa senang itu mungkin tidak berlangsung lama. Orang juga bisa merasakan adanya rasa senang yang dicapai dengan melakukan perbuatan tercela seperti mencuri, pesta-pora ataupun menggunakan narkoba, sekalipun rasa senang itu hanya untuk sementara, sebelum akibat buruknya terasa. Selain itu, orang juga bisa bersukaria karena adanya keberhasilan dalam mencapai suatu target, sekalipun itu akan disusul dengan munculnya berbagai keluhan karena tugas kewajiban yang semakin berat. Jika semua itu bukanlah sesuatu yang abadi, adakah rasa gembira atau sukacita yang langgeng dan tidak bisa hilang? Yang bisa terlihat selama orang Kristen hidup di dunia?

Bagi umat Kristen, rasa sukacita yang pasti bisa dirasakan adalah karena kita yang berdosa dan seharusnya menemui kebinasaan, telah ditebus dengan darah Kristus dan menjadi anak-anak Allah. Ini bukan sekedar rasa gembira karena kita yang berhasil memperoleh sesuatu, tetapi rasa sukacita yang luar biasa karena kasih Tuhan yang luar biasa yang sudah dilimpahkan kepada kita. Bahwa dengan kemurahan Tuhan kita menerima keselamatan. Ini adalah hadiah yang sebenarnya tidak pantas kita terima tetapi kita peroleh secara cuma-cuma melalui karuniaNya semata-mata. Apa saja yang kita punyai dan alami di dunia tidak akan kekal, tetapi keselamatan yang kita terima adalah kekal dan tidak dapat dicuri oleh siapapun dan apapun.

Jika sukacita kita adalah karena kita menjadi anak-anak Allah, adalah suatu kenyataan bahwa selama hidup di dunia kita sering mengalami penderitaan dan masalah. Bagaimana kita bisa tetap bersukacita jika apa yang kita alami terasa begitu berat? Tentu saja jika kita mengalami hal-hal itu, sebagai manusia kita akan terlihat dari luar sebagai orang yang menderita. Sebagai orang percaya kita yakin bahwa jika kita harus menderita, penderitaan jasmani kita hanyalah untuk sementara. Lebih dari itu, dalam kesusahan kita justru bisa merasakan adanya penyertaan Tuhan dan kedamaian dalam segi rohani. Kita bersyukur bahwa Tuhan memberikan kita kemampuan untuk menyatakan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan kepada-Nya melalui pertolongan Roh Kudus.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” Roma 8:26-27

Kita harus bersyukur bahwa sebagai umat Tuhan kita bisa merasakan penderitaan sesama kita yang dicerminkan pada wajah dan tubuh mereka. Adalah panggilan setiap orang Kristen untuk bisa memiliki mata dan hati yang peduli akan keadaan orang lain.

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Roma 12:15

Pagi ini kita belajar bahwa kita bersukacita karena kasih Tuhan kepada kita selalu ada dalam situasi bagaimanapun, dari dulu, sampai sekarang dan untuk selamanya. Kita diingatkan bahwa selama hidup di dunia kita boleh dan wajar untuk bisa mengeluh dan menangis. Pada pihak yang lain, kita harus sadar bahwa di dunia ini, wajah gembira belum tentu menunjukkan hati yang berbahagia, tetapi hati yang bahagia dalam Kristus tidak akan dapat dipengaruhi oleh tubuh yang lelah dan menderita.

Karena itu, kita tentunya dapat memahami ayat pembukaan di atas yang mengatakan bahwa dalam semua keadaan, kita harus bisa bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 16 – 18

Memuji Tuhan adalah suatu keharusan

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Ada banyak orang yang percaya bahwa sebagai orang Kristen mereka adalah anak-anak Tuhan yang diberkati. Itu ada benarnya, karena kita tahu bahwa Yesus sudah mati untuk menebus kita dari hukuman yang berupa kematian akibat dosa. Kita adalah umat pilihan Tuhan yang harus bersyukur setiap hari atas kasih-Nya yang sungguh besar.

Pada pihak yang lain, ada juga orang Kristen yang percaya bahwa sebagai umat Tuhan, mereka akan diberkati selama hidup di dunia dengan berbagai kenyamanan seperti keberhasilan, kekayaan, kepandaian dan kesehatan. Mereka juga percaya bahwa iman yang besar akan membawa kenyamanan hidup yang makin besar. Karena itu, mereka sering bersyukur dan bahkan bangga menjadi umat Tuhan karena berkat-berkat jasmani yang mereka terima.

Adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang hidup di dunia tanpa mengalami kegagalan atau persoalan. Bagaimana sikap kita jika itu terjadi? Bolehkah kita bersyukur kepada Tuhan untuk hari-hari yang cerah, tetapi bersungut-sungut untuk hari-hari hujan? Memang dalam hidup ini selalu ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan, yang muncul pada saat yang kurang tepat, yang membuat kita berpikir “hidup akan lebih enak seandainya itu tidak ada”. Tetapi ayat diatas menyatakan bahwa kita harus menerima semuanya dan tetap bisa memuliakan Tuhan. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.

Mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang indah dan juga membiarkan munculnya hal-hal yang kurang bisa dinikmati? Banyak orang yang menghubungkan ini dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dosa seolah membuat segala sesuatu yang tidak baik muncul di dunia, baik itu berupa keadaan, benda mati maupun makhluk hidup. Benarkah begitu?

Memang menurut Alkitab, sebagian hal-hal yang terlihat kurang baik terjadi karena manusia jatuh dalam dosa dan kemudian diusir dari taman Eden. Tetapi segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik benda mati maupun makhluk hidup, selalu mempunyai fungsi dan keindahan yang tersendiri. Demikian juga, sekalipun rasa sakit dan penderitaan adalah salah satu akibat kejatuhan dalam dosa, hal-hal semacam itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam hidup dan lebih percaya akan pemeliharaan Tuhan. Hal semacam itu juga bisa datang sebagai pelajaran dari Tuhan untuk umat-Nya.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2-3

Sebagai manusia, menikmati apa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera kita adalah sesuatu yang kita dambakan. Hidup ini serasa nikmat jika kita bisa mengatur segalanya dan mendapat hasil yang baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan harapkan belum tentu terjadi. Jika harapan kita terjadi, itu belum tentu untuk selamanya.

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Ayub 1:21

Semua itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dan bukan kehendak kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8

Pagi ini Tuhan berfirman bahwa sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Tuhan tetap menyertai kita. Bagi setiap orang yang benar-benar percaya, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan izin Tuhan. Lebih-lebih lagi, Yesus sudah turun ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita dan membawa kita keluar dari kematian yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan demikian kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh lagi ke dalam dosa dan keputusasaan, karena Ia mengasihi semua anak-anak-Nya. Di dalam kasih-Nya selalu ada pengharapan akan berkat dan penyertaan-Nya. Karena itulah. sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan, kita harus memuji dan memuliakan Dia dalam segala keadaan.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Antara bangga dan sombong

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Roma 12:16 Alkitab Terjemahan Baru (TB)

“Hiduplah rukun satu sama lain. Janganlah bersikap tinggi hati, tetapi sesuaikanlah dirimu dengan orang yang rendah kedudukannya. Jangan menganggap diri lebih pandai daripada yang sebenarnya.” Roma 12:16 Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK)

“Live in harmony with one another. Do not be proud, but be willing to associate with people of low position. Do not be conceited.” Romans 12:16 NIV

Menurut penjelasan Kecerdasan Buatan (AI), rasa bangga (pround) merupakan perasaan positif yang menghargai usaha, energi, dan pengalaman yang diraih sendiri. Sementara sombong (arrogant) merupakan perasaan negatif yang merendahkan orang lain untuk terlihat lebih baik. Berikut ini adalah perbedaan bangga dan sombong:

  • Mengenai Perasaan: Bangga merupakan perasaan positif yang memotivasi, sedangkan sombong merupakan perasaan negatif yang cenderung menyakiti diri sendiri dan orang lain.
  • Mengenai Sikap: Orang yang bangga biasanya menghargai usaha orang lain, sedangkan orang yang sombong cenderung meremehkan hasil orang lain.
  • Mengenai Hubungan sosial: Bangga menandakan hubungan yang baik dan saling dukung, sedangkan sombong mengindikasikan hubungan defensif dan diktatorial.
  • Mengenai Perilaku: Orang yang bangga biasanya tidak banyak bicara atas prestasi yang diraih, sedangkan orang yang sombong sibuk membicarakan prestasinya.

Beberapa contoh sikap sombong:

  • Merasa lebih baik dari orang lain
  • Menyepelekan orang lain
  • Iri dengan kelebihan yang dimiliki orang lain
  • Tidak suka jika diberi nasehat
  • Suka dipuja
  • Bersikap kasar terhadap orang lain
  • Suka pamer
  • Merasa diri lebih baik dari kenyataannya

Walaupun ada beda yang jelas antara rasa bangga dan sombong, sering kali rasa bangga yang besar bisa berbentuk kesombongan. Seseorang bisa merasa bangga atas hasi jerih payahnya, atas keuletannya dan menyatakan hal itu kepada orang lain untuk memberi teladan. Itu baik jika tidak berbau sombong. Tetapi kebanggan yang besar atas keberhasilan diri sendiri, anak cucu, ras, gereja, dan bangsa yang tidak terkontrol pasti akan menuju ke arah kesembongan. Mengapa demikian?

Dalam Alkitab, Allah membanggakan Ayub sebagai manusia yang hidup sesuai kehendak-Nya. Ayub hidup saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Allah menghargai umat-Nya yang taat kepada-Nya. Walaupun demikian, Allah kita bukan Allah yang sombong, yang mengira Dia lebih besar dari hakikat-Nya; dan yang memaksalan ketundukan manusia kepada-Nya. Allah memang mahakuasa dan mahabesar dan tentu saja semua ciptaan-Nya harus memuiakan Dia dan tunduk kepada Dia. Pada pihak yang lain, semua yang dimiliki manusia adalah berasal dari Tuhan dan sama sekali tidak pantas untuk ditonjolkan. Tidak mengherankan, Alkitab mengajarkan bahwa Allah menentang orang yang sombong dan mengasihani orang yang rendah hati.

Dalam Alkitab, selain kata “bangga” dan “sombong”, kata “bermegah” juga dipakai. Apakah “bermegah” bernada positif atau negatif? Paulus menyatakan:

”Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan. 2 Korintus 10:17-18 TB

Dengan demikian, satu-satunya kesempatan yang ada bagi kita adalah untuk membanggakan dan bermegah untuk Tuhan. Motivasi lain untuk merasa bangga yang tidak ditujukan untuk kemuliaan Tuhan adalah dosa. Ini bertentangan dengan motivasi orang dalam memberi update tentang hidupnya melalui berbagai medsos seperti Facebook, TikTok dan WhastApp, yang cenderung membanggakan diri sendiri.

Roma 12:9–21 adalah daftar sejumlah perintah singkat yang berisi poin-poin penting. Jika digabungkan, perintah-perintah tersebut menggambarkan gambaran tentang seperti apa seharusnya kehidupan Kristen yang berkorban dan hidup. Tema yang menyatukan daftar tersebut adalah mengesampingkan diri kita sendiri, untuk mengasihi dan melayani Tuhan, satu sama lain, dan bahkan musuh kita secara efektif. Kita harus melayani dengan antusiasme dan fokus, menguasai emosi kita untuk bersukacita atas masa depan kita dan bersabar di masa kini. Kita harus menolak untuk tenggelam ke level kejahatan dalam membalas dendam dan sebaliknya mengatasi kejahatan dengan berbuat baik kepada mereka yang menyakiti kita.

Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Tuhan kita sebagai persembahan yang hidup bagi Tuhan kita, berhenti mencari apa yang kita inginkan dari kehidupan dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Tuhan inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri kita sendiri. Tujuan kita sebagai orang Kristen adalah untuk mengasihi dan mengangkat satu sama lain. Kita harus memfokuskan harapan kita pada kekekalan dan menunggu dengan kesabaran dan doa agar Bapa kita menyediakan apa yang terbaik menurut hikmat-Nya.

Paulus telah memerintahkan orang Kristen untuk saling mengasihi dan menghormati. Perintah dalam ayat ini mengandung sedikit ide yang berbeda. Harmonisasi dengan orang lain secara musikal mengharuskan setiap orang untuk menyesuaikan “nada” sendiri, bukan untuk benar-benar sama dengan yang lain tetapi agar selaras dan menyenangkan saat disatukan. Kebanggan, kesombongan dan kemegahan pribadi sesorang bisa saja merusak harmoni dalam masyarakat Kristen yang terdiri dari berbagai bangsa, suku dam ras.

Dalam gereja tidak ada tempat bagi kita untuk membanggakan keunggulan ras. Paulus menekankan hal ini dalam beberapa bagian seperti Galatia 3:28, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Gagasan sekecil apa pun tentang keunggulan etnis merupakan penyangkalan terhadap realitas teologis pembenaran. Lebih jauh, penekanan Paulus bukan hanya pada kesetaraan, tetapi pada kesatuan.

Paulus tidak memerintahkan orang Kristen untuk bersikap sama persis dalam setiap perilaku dan pendapat. Dalam Roma bab 14, ia membahas fakta bahwa orang Kristen pasti akan memiliki masalah pendapat yang berbeda. Sebaliknya, ia memerintahkan orang percaya untuk menyesuaikan diri satu sama lain dengan cara yang menghasilkan kesenangan dan ketertiban. Ini membutuhkan tingkat kepatuhan bersama: kemauan untuk membuat pilihan yang berbeda yang akan memungkinkan kita semua untuk rukun bersama dan saling menghargai. Ini tidak mudah dilakukan.

Untuk hidup dalam harmoni membutuhkan kerendahan hati dari setiap orang yang terlibat. Maka, tidak mengherankan bahwa instruksi Paulus berikutnya adalah agar kita tidak sombong atau angkuh dan keras hati. Ia menjelaskan apa yang ia maksud dengan perintah lanjutan: bergaul dengan orang yang rendah hati. Dengan kata lain, jangan menganggap diri Anda terlalu baik untuk bergaul dengan orang lain yang Anda anggap tidak setara dalam kepandaian atau status sosial dengan Anda.

Salah satu alasan mengapa Kekristenan menarik begitu banyak pengikut pada masa-masa awalnya adalah karena wanita, budak, dan orang-orang dari status sosial rendah dipersilakan untuk beriman kepada Kristus. Hasilnya adalah orang-orang yang tidak akan pernah bergaul di tempat lain dalam budaya Romawi menemukan diri mereka dalam hubungan satu sama lain di gereja. Paulus memerintahkan mereka yang berada di tingkat atas masyarakat untuk menyingkirkan persaingan kelas apa pun dari gereja. Ini sulit dilaksanakan jika gereja selalu mengumandangkan pesan bahwa kemakmuran seseorang adalah hasil dari iman.

Perintah terakhirnya dalam ayat ini adalah bahwa orang Kristen tidak boleh bersikap bijak menurut pandangan kita sendiri. Ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kita tidak pernah bijak. Idenya adalah bahwa kita tidak boleh menerima pendapat kita sendiri sebagai keputusan akhir. Kita harus tunduk pada firman Tuhan, serta mau mempertimbangkan masukan dan gagasan orang lain. Kita harus mau untuk selalu rendah hati, di mana saja, kapan saja.

Hal identitas diri orang Kristen

“Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Filipi 3:20-21

Sebagai orang yang sering ke luar negeri, saya sering mendapat pertanyaan dari penduduk lokal negara yang saya kunjungi: Anda orang dari mana? Yang lucu, ada orang-orang yang agaknya mengalami kesulitan untuk menerka dari mana saya datang, kemudian asal menerka saja. Saya masih ingat ketika saya berjalan-jalan di Beijing, penduduk lokal menyangka saya dari Taiwan!

Ketika saya jawab bahwa saya dari Australia, ada orang yang heran karena saya bukan orang kulit putih dan bahasa Inggris saya agaknya masih berlogat Indonesia. Saya yang sudah menetap di Australia selama lebih dari 40 tahun merasa bahwa saya boleh menyatakan bahwa saya orang Australia, tetapi sebaliknya orang lain mungkin menyangka bahwa saya adalah turis asal Indonesia. Itu tidaklah mengherankan. Karena saya lahir di Surabaya dan tinggal di Indonesia selama 30 tahun, banyak orang masih bisa menerka bahwa saya adalah orang Indonesia. Semua kebingungan itu terjadi karena adanya persepsi tentang identitas Persepsi saya dan persepsi orang lain.

Mungkin Anda pernah mendengar berita bahwa pada minggu lalu Madison Keys, petenis putri asal Amerika telah menjadi juara tenis putri Australian Open 2025. Madion adalah orang dengan ras campuran karena ayahnya Rick berkulit hitam dan ibunya Christine berkulit putih. Walaupun demikian, pemain nomor 14 dunia itu dalam sebuah wawancara menegaskan bahwa dia tidak memikirkan ras dan malah mengidentifikasi dirinya sebagai “Madison”. Ia agaknya menyatakan bahwa orang apa dan ras bukanlah sesuatu yang perlu dipertanyakan, karena siapa dan orang yang bagaimana adalah hal lebih penting untuk diketahui orang lain.

Dalam Alkitab, Paulus merinci riwayat hidupnya sebagai orang Yahudi yang mengesankan. Paulus adalah orang Yahudi asli. Tak seorang pun dari para pengkritik atau penantangnya dapat membanggakan silsilah yang dimiliki Paulus. Tetapi, Paulus menyebutkan hal ini justru untuk menekankan betapa kecilnya arti hal-hal tersebut, dibandingkan dengan iman kepada Kristus. Bahasa Paulus di sini tajam dan langsung ke intinya. Ia kemudian menjelaskan bagaimana fokus seorang Kristen seharusnya murni pada Kristus, sama seperti seorang pelari berkonsentrasi pada tujuannya agar dapat berlari dengan efektif. Daripada melihat ke masa lalu, atau pada diri kita sendiri, kita seharusnya melihat ke depan, ke kekekalan bersama Tuhan. Daripada bangga akan hal yang sementara, lebih baik bersyukur akan hal yang abadi.

Filipi 3:12—4:1 menjelaskan sikap yang tepat yang seharusnya dimiliki orang Kristen terhadap proses ”pengudusan.” Ini adalah jalan bertahap seumur hidup untuk menjadi semakin seperti Yesus. Tempat kita dalam kekekalan aman sejak kita percaya kepada Kristus, tetapi butuh waktu untuk melihat tindakan dan sikap kita berubah menjadi seperti-Nya. Paulus mencatat bahwa dia tidak sempurna selama hidup di dunia, tetapi mendorong orang Kristen untuk meniru fokus tunggalnya dalam mengejar Yesus. Paulus juga menangisi mereka yang menolak Injil, sebuah pilihan yang akan mengakibatkan kehancuran mereka.

Berbeda dengan guru-guru palsu yang berfokus pada “hal-hal duniawi” (Filipi 3:19), orang percaya seharusnya memiliki perspektif yang jauh berbeda tentang kehidupan. Seperti yang Paulus catat, sekali lagi, tanah air kita adalah di surga, bukan di bumi ini. Kewarganegaraan yang bertanggung jawab itu penting di dunia, tetapi tujuan akhir kita bukanlah di dunia ini, melainkan bersama Tuhan di surga. Yesus juga mengajarkan bahwa Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36) dan bahwa Dia bukan dari dunia ini (Yohanes 8:23).

Daripada berfokus pada hal-hal yang bersifat sementara di bumi, pusat perhatian orang percaya adalah pada Kristus dan kedatangan-Nya kembali. Kita seharusnya tidak berfokus pada keserakahan, dosa, kesuksesan, harta, dan hal-hal duniawi. Apalagi mempersoalkan keunggulan marga, suku atau bangsa kita, padahal kita tahu semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Sebaliknya, perhatian kita seharusnya pada apa yang menyenangkan Tuhan. Para rasul percaya bahwa Yesus dapat datang kembali kapan saja, mengajarkan bahwa Kristus akan datang seperti yang dijanjikan-Nya.

Orang percaya harus menjalani hidup yang kudus, siap untuk kedatangan-Nya kembali. Kita harus mengasihi dan menghargai sesama tanpa memandang bulu. Lebih jauh, kita harus membantu menjadikan semua bangsa murid-Nya, membagikan kabar baik kepada orang lain sehingga mereka juga dapat menghabiskan kekekalan bersama Tuhan sebagai orang pilihan (Matius 28:18–20).

Bagaimana kita bisa hidup di dunia tetapi berfokus ke surga? Itu tidak mudah, apalagi jika kita mengalami penderitaan atau masalah. Sekalipun ada rumput di lahan yang kita diami, rumput di lahan tetangga selalu terlihat lebih hijau. Dalam hal ini, orang percaya dapat menantikan saat ketika setiap rasa sakit dan masalah yang kita alami dengan tubuh duniawi kita akan ditukar dengan tubuh yang baru dan lebih baik, yang akan bertahan selamanya bersama Tuhan.

Pagi ini, Paulus mengingatkan para pembaca bahwa Allah yang sempurna ini, dengan tubuh kebangkitan yang sempurna, tentu memiliki kuasa untuk kembali dan menyediakan tubuh yang dimuliakan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Orang-orang percaya yang adalah warga surgawi dari berbagai bangsa yang dapat merasa terhibur dengan masa depan mereka, mengetahui bahwa Allah memiliki kuasa untuk mengubah tubuh kita dan menjaga kita tetap aman bersama-Nya dalam kerajaan-Nya yang akan datang.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3:1-2