Pemikiran Tahun Baru: Apakah kita sudah termasuk orang baik-baik?

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7:19

Bagi Anda yang mengemudi kendaraan bermotor, saya ingin bertanya apakah Anda pernah mendapat “tilang” pada tahun 2024? Kalau ya, tentu Anda berharap untuk tidak ditilang lagi pada tahun yang baru ini. Tilang merupakan singkatan dari Bukti Pelanggaran Lalu Lintas. Tilang adalah sanksi administratif yang diberikan kepada pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas. Tilang merupakan bentuk penindakan yang dilakukan oleh polisi lalu lintas (Polantas). Tilang resmi adalah sebuah surat yang berisi informasi mengenai pelanggaran si pengendara.

Di Australia, pemerintah memberikan tilang berdasarkan tingkat kesalahan dan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh pelanggaran. Bukan saja orang bisa terkena denda resmi polisi, tetapi mungkin juga kehilangan SIM jika pelanggarannya cukup serius. Di negara bagian Queensland, denda tilang menurut daftar polisi bervariasi antara $200 sampai lebih dari $1500. Sebagian orang berpendapat bahwa tilang hanya merupakan sumber pemasukan dana pemerintah, karena itu mereka sangat anti tilang. Tetapi, tanpa adanya tilang mungkin banyak orang akan mengabaikan cara mengemudi yang baik dan peraturan lalu lintas. Sekalipun kelihatannya ada banyak orang yang terkena tilang setiap hari, menurut data survey 90% pengemudi di Australia tidak pernah mendapat tilang selama setahun yang lalu.

Tentu saja, jika kita ditilang polisi ada perasaan kurang nyaman di hati kita. Bagi sebagian pengemudi, mungkin ada rasa malu kepada teman atau sanak. Sebagian lagi mungkin merasa menyesal karena kesalahan yang tidak disengaja telah berakibat denda. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa geram karena merasa bahwa kesalahan yang dianggap kecil sudah berakibat hukuman yang dirasa sangat merugikan. Karena itu, bagi orang yang sering terkena tilang, mungkin ada pemikiran betapa enaknya jika tilang ditiadakan. Sudah tentu itu tidak mungkin terjadi, karena adanya hukum selalu disertai dengan hukuman yang berupa denda dan bahkan penjara bagi mereka yang melanggarnya. Di mana pun, adanya hukum adalah berguna untuk menunjukkan kesalahan seseorang dan mengajarnya untuk tidak berbuat apa yang keliru di masa depan.

Jika orang bisa menaati peraturan lalu lintas dan berhati-hati dalam mengemudi sehingga tidak pernah mendapat tilang, lain halnya dengan hukum Tuhan. Roma 7:7–25 menyelidiki hubungan antara hukum Musa dan dosa manusia. Paulus menegaskan bahwa hukum adalah cara ia mengetahui dan memahami dosa, secara umum, dan dosanya sendiri secara khusus. Ia juga menjelaskan bagaimana mengetahui hukum Taurat tidak bisa membuat seseorang lebih suci; hukum justru dapat menggoda kita untuk berbuat dosa lebih banyak lagi karena godaan dosa lebih besar dari ancaman hukuman Tuhan yang mungkin tidak segera harus dialami. Itu karena banyak orang yang merasa senang jika bisa mengelabui hukum Tuhan. Paulus sebagai seorang Kristen sebenarnya ingin melakukan apa yang benar, tetapi mendapati dirinya justru melakukan apa yang berdosa. Paulus menyadari ketidakmampuan alaminya untuk melakukan yang benar dan menyadari kebutuhannya untuk dibebaskan dari dosa oleh Allah melalui Yesus.

Mengenai hukum Taurat, Paulus menegaskan bahwa hukum itu kudus dan baik dalam arti bahwa hukum itu menyingkapkan kepada semua orang yang mencoba mengikutinya betapa lemahnya kita terhadap godaan dosa dan begitu berdosanya kita. Hukum itu menunjukkan kepada kita bahwa tidak peduli seberapa baik niat kita, kita tetap akan berdosa dan membutuhkan pembebasan yang hanya tersedia melalui iman kepada Yesus. Kita sendiri tidak akan mampu untuk sepenuhnya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karena itu tidak mungkin bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian di hadapan Allah yang mahasuci.

Dalam ayat sebelumnya, Paulus menyatakan bahwa tidak ada yang baik yang tinggal dalam dagingnya. Dengan daging, ia merujuk pada dirinya sendiri, tubuhnya. Tahun demi tahun, ia mengulangi pola yang telah ia amati berulang kali dalam hidupnya: Ia tidak melakukan kebaikan yang ingin ia lakukan, tetapi ia terus melakukan kejahatan yang tidak ingin ia lakukan. Paulus menggambarkan pertikaian yang tak berkesudahan antara niat baik dan tindakan nyata.

Apakah ia menggambarkan dirinya sebagaimana adanya sebelum ia mengenal Kristus? Saat itu, ia berusaha mengikuti hukum Musa. Beberapa teolog percaya bahwa Paulus menggambarkan gambaran tentang bagaimana rasanya hidup di bawah hukum tanpa kemampuan untuk menaati hukum. Teolog lainnya berpikir bahwa Paulus menggambarkan pengalaman semua orang Kristen yang berjuang untuk berhenti berbuat dosa dan melakukan kebaikan yang mampu mereka lakukan dalam kuasa Roh Kudus sekarang karena mereka tidak lagi menjadi budak dosa. Kedua pendapat itu selaras dengan pengalaman orang percaya dan informasi yang disajikan dalam ayat-ayat Perjanjian Baru lainnya. Walaupun demikian, berdasarkan analisa bahasa Yunani dari ayat di atas, tampaknya Paulus berbicara tentang pengalamannya saat ini. Orang Kristen mana pun tidak mungkin menjadi “orang baik” yang bisa menaati 100% hukum Taurat. Jika demikian, mengapa kita harus berusaha untuk menaati firman Tuhan?

Sewaktu saya masih kecil, memang saya sering mendengar bahwa harapan orang tua untuk anak-anaknya adalah agar mereka menjadi “orang baik-baik”. Dalam soal mencari menantu pun mereka ingin mendapat orang baik-baik, biarpun tidak kaya atau pandai. Di zaman sekarang, jarang saya temui orang tua yang membanggakan anak menantunya karena mereka adalah orang baik-baik. Mungkin saja, jika orang tidak pernah dipenjara dan bersal dari keluarga terpandang, ia sudah termasuk orang baik-baik. Biasanya orang sekarang senang menceritakan keberhasilan anak menantu dalam karir dan keuangan. Malahan di beberapa gereja pun, hal kesuksesan lebih didengung-dengungkan daripada hal menjadi orang yang taat kepada Tuhan. Keberhasilan dianggap sama dengan, atau tanda dari, “kebaikan” seseorang. Bukankah itu karena Tuhan memberkati orang yang baik?

Jika masyarakat umum sekarang sudah mengabaikan hal menjadi orang baik yang talut akan Tuhan, mungkin ada beberapa alasan orang Kristen yang menyebabkan mereka bersikap acuh tak acuh akan perlunya hidup baik:

  • Semua orang pada waktunya akan menjadi orang baik.
  • Baik atau buruk kita tidak bisa memilih karena sudah ditentukan Tuhan.
  • Orang yang terlalu baik biasanya tidak bisa sukses.
  • Orang yang benar-benar baik itu tidak ada.
  • Kebaikan itu tidak bisa dibanggakan.
  • Baik atau buruk itu berubah menurut keadaan zaman.
  • Baik atau buruk itu adalah penilaian pribadi.
  • Semua orang juga berbuat hal yang sama.
  • Kita masih lebih baik dari orang lain.
  • Hanya Tuhan yang benar-benar baik.

Jika kita yakin bahwa dalam tahun 2024 hidup kita cukup baik, dan akan menjadi lebih baik di tahun 2025, baiklah kita melihat apa yang dikatakan Alkitab. Kebaikan (bahasa Yunani agathosune) berarti watak atau sifat moral yang baik, yang berusaha tanpa pamrih untuk membuang apa yang jelek dan menggantinya dengan apa yang baik, baik dalam diri sendiri, orang lain dan juga dalam masyarakat, negara atau dunia. Tetapi, biarpun kesadaran moral itu penting, manusia di jaman ini bisa bersembunyi dibalik penampilan sopan atau tindakan sosial yang bisa mempengaruhi pandangan orang di sekitarnya. Pada pihak yang lain, mereka yang punya sarana, kedudukan, dan kemampuan, cenderung memakainya untuk mengejar kesuksesan dan kepuasan untuk diri sendiri dan anak-cucunya tanpa memikirkan hukum Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan tidak bisa kita tipu karena Ia melihat apa yang ada dalam hati kita.

” ….. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Apahah kita mau menjadi lebih baik di tahun 2025? Roma 7:19 menyatakan bahwa kita tidak bisa menaati hukum Tuhan dengan usaha sendiri. Walaupun demikian, Tuhan menghendaki kita untuk menjadi kudus, dalam arti terus berusaha untuk hidup kudus. Itu hanya bisa dijalani dengan perjuangan berat, dan untuk itu kita harus mau untuk selalu dekat dengan Tuhan dan mendengarkan bimbingan Roh Kudus-Nya.

tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. 1 Petrus 1:15-16

Penderitaan kita ada artinya

“Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 18-19

Mungkin Anda pernah membaca bahwa pandemi Covid-19 yang lalu tidak hanya membawa sakit jasmani, tetapi juga sudah membuat banyak orang mengalami berbagai masalah kejiwaan. Memang, dalam kasus long Covid ada sejumlah penderita yang tetap memiliki keluhan fisik atau mental selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah gejala awal muncul.

Mengenai gangguan mental, itu bukan hanya bisa disebabkan oleh Covid-19, tetapi adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang bisa dialami masyarakat di negara mana pun, yang bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat, merasa tertekan dan bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan pertanyaan itu adalah wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami karena tindakan orang lain. Dan mereka yang sudah bekerja keras tetapi tetap mengalami kesulitan ekonomi sering merasa bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup seperti ini, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Dalam ayat 18, rasul Petrus menulis bahwa budak-budak Kristen harus tunduk kepada tuan mereka. Perlu dicatat, perbudakan” di era Alkitab bukanlah konsep perbudakan dengan penindasan seperti yang mungkin sering kita lihat di layar perak. Para budak di Alkitab pada umumnya sudah dianggap sebagai pembantu rumah tangga dan sering mendapat kepercayaan dari majikan mereka. Walaupun demikian, tentu ada budak-budak yang merasa bahwa mereka tidak mendapat perlakuan yang baik dari majikan mereka.

Penting untuk diingat bahwa banyak pembaca Kristen Petrus adalah budak, dan sangat mungkin menghadapi perlakuan buruk dari tuan mereka. Petrus sangat menyadari hal ini. Di sini, ia mengakui bahwa penderitaan yang tidak adil akan mendatangkan rasa sakit dan/atau kesedihan bagi mereka. Ia tidak menyebut itu hal yang baik. Yang ia sebut hal yang baik adalah dengan sengaja menanggung rasa sakit dan kesedihan itu karena kesadaran akan adanya Tuhan yang berdaulat. Atau, bisa dikatakan, karena kepercayaan dan ketundukan kepada Tuhan.

Sampai sekarang banyak orang yang merasa sudah “diperbudak” oleh atasan. Perasaan tertekan, sedih, dan marah mungkin muncul bersama keinginan untuk memberontak dan membalas dendam. Tetapi, menurut ayat di atas, semua orang Kristen harus tunduk kepada setiap orang yang memiliki otoritas dalam hidup mereka. Ini seperti apa yang dilakukan oleh Yesus.

“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” 1 Petrus 2:23

Dalam ayat 23, Petrus mengingatkan kita bahwa Yesus menanggung rasa sakit dan kesedihan saat diperlakukan tidak adil. Yesus membuat pilihan yang disengaja untuk mempercayakan Diri-Nya kepada hakim yang adil, yaitu Allah Bapa. Jadi, kemampuan untuk menanggung rasa sakit dan kesedihan itu adalah suatu kasih karunia dari Tuhan. Dengan kemampuan itu, kita sadar bahwa Allah kita adalah satu-satunya yang akan menghakimi semua tindakan tersebut pada akhirnya. Dia juga satu-satunya yang memenuhi kebutuhan terdalam kita saat ini.

Secara keseluruhan, 1 Petrus 2:13–25 mengungkapkan kehendak Allah bagi mereka yang merdeka di dalam Kristus: untuk dengan rela tunduk kepada setiap otoritas manusia demi Allah. Ini termasuk kaisar, gubernur, raja, dan bahkan atasan dan majikan. Petrus tidak mendukung perbudakan, tetapi ia memerintahkan “budak-budak Kristen” untuk menanggung penderitaan yang tidak adil, seperti yang Yesus lakukan demi kita di kayu salib.

Petrus menjelaskan secara spesifik tentang apa artinya hidup sebagai umat pilihan Allah. Kristus adalah batu fondasi rumah rohani yang sedang dibangun Allah. Kita harus terlibat dalam pertempuran melawan keegoisan dan keinginan untuk berbuat dosa. Ini termasuk tunduk kepada otoritas manusia, tidak peduli seberapa bengis atau kasarnya. Walaupun demikian, Paulus tidak mengharapkan kita untuk ”taat” ketika perintah itu untuk berbuat dosa. Sebaliknya, orang Kristen dipanggil untuk meniru Kristus dengan menderita karena memilih apa yang baik. Itu berarti siap untuk menanggung penderitaan, seperti yang Kristus lakukan demi kita ketika Dia mati di kayu salib. Peran kita bukanlah untuk berperang secara fisik demi keadilan di dunia, tetapi kita harus sadar bahwa penderitaan kita adalah untuk sementara.

Mengapa kuasa Tuhan agaknya tidak melakukan sesuatu ketika kita menderita dan tertindas? Mungkin pelajaran terbesar yang kita pelajari dari pengalaman Ayub adalah bahwa Tuhan tidak harus menjawab siapa pun atas apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan. Pengalaman Ayub mengajarkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah tahu alasan spesifik dari penderitaan seseorang, tetapi kita harus percaya kepada Allah kita yang berdaulat, kudus, dan adil.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang sudah terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman. Tuhan bukanlah Tuhan yang membiarkan umat-Nya menderita tanpa suatu alasan yang baik.

Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Mazmur 18: 31

Pagi ini, kita harus sadar bahwa adalah tanggung jawab dan pilihan kita untuk menaati-Nya, memercayai-Nya, dan tunduk pada kehendak-Nya, baik kita bisa memahaminya atau tidak. Karena jalan Tuhan sempurna, kita dapat percaya bahwa apa pun yang Dia lakukan—dan apa pun yang Dia izinkan—juga sempurna.

“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.” Ibrani 12:3-4

Rencana belum tentu menjadi kenyataan

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4: 13-14

Apa yang menyebabkan perdebatan dan pertikaian di antara orang-orang Kristen kepada siapa Yakobus menulis suratnya? Mereka hidup dengan hikmat duniawi. Pandangan yang salah ini mengatakan bahwa manusia harus melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hidup ini, bahkan jika itu menyakiti atau merugikan orang lain. Yakobus mengatakan bahwa hidup seperti itu adalah seperti perzinahan, karena menolak hikmat Tuhan dan merangkul hikmat dunia.

Yakobus 4:13-17 berfokus pada kesombongan dalam merencanakan kesuksesan kita sendiri tanpa mengakui bahwa kita bergantung pada Allah. Adalah sangat bodoh untuk mengabaikan fakta bahwa kita tidak dapat melihat masa depan. Hidup kita pendek dan rapuh. Ini tidak berarti tidak pernah membuat rencana. Sebaliknya, kita harus selalu membuat rencana dengan kesadaran bahwa rencana itu hanya dapat berhasil jika Allah mengizinkannya. Sikap lain apa pun adalah berdosa, sombong, dan picik.

Memang, pada umumnya orang selalu mempunyai keinginan untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu di masa depan. Hal ini lebih umum di kalangan orang yang belum mencapai usia uzur, tetapi sekalipun mereka yang sudah pensiun tidaklah jarang ditemui mereka yang mempunyai rencana masa depan sebelum mereka meninggalkan dunia ini. Masa depan adalah relatif, buat mereka yang masih anak-anak menjadi orang dewasa barangkali tidak atau belum pernah terpikirkan, tetapi mereka yang sudah termasuk dewasa tetapi masih tergolong muda mungkin mempunyai berbagai cita-cita dan rencana hidup yang diharapkan untuk tercapai sebelum datangnya usia tua. “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”, begitulah nasihat yang sering diberikan kepada orang muda; tetapi bagi yang sudah pensiun mungkin pandangan hidup sudah berubah untuk menerima apa yang ada.

Ayat-ayat di atas menetapkan apa yang harus dilakukan orang Kristen dalam hidup sehari-hari, dalam hal rencana bisnis/kegiatan sehari-hari. Masalahnya di sini bukan pada pembuatan rencana—Yakobus tidak mengatakan bahwa perencanaan adalah dosa, atau bodoh. Masalah yang Yakobus ceritakan, dengan menggunakan contoh ini, adalah sikap mengandalkan diri sendiri. “Besok, aku akan melakukan ini atau itu.” Ayat 16 menunjukkan sikap sombong yang dimaksudkan Yakobus di balik kata-kata ayat ini. Membuat pernyataan seperti itu, karena percaya diri pada kemampuan sendiri, dan tanpa kerendahan hati, adalah tidak bijaksana untuk tidak dikatakan mengundang bencana.

Yakobus telah membahas masalah mengikuti proses berpikir dunia, yang berbeda dengan hikmat Tuhan. Di sini, Yakobus membayangkan seorang pengusaha yang menyatakan bagaimana ia akan menghasilkan lebih banyak uang, bagaimana ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidup. Dalam konteksnya, ini dimaksudkan sebagai orang yang membuat rencana sesuai dengan pola dunia. Apa yang halal dan lazim di dunia dianggap tidak salah. Sekalipun mereka sadar bahwa itu bukan yang disenangi Tuhan, mereka membuat rencana dan bertekad untuk menaatinya dengan kekuatannya sendiri dan dengan kekuatan kehendaknya sendiri. Sekalipun tidak mengatakannya dengan terang-terangan, mereka pada hakikatnya percaya bahwa itu adalah free will atau kehendak bebas manusia yang diberikan Tuhan. Itu bukanlah kehidupan ketergantungan yang Allah panggil untuk dijalani oleh anak-anak-Nya.

Berlainan dengan pandangan atau kebiasaan umum, buat orang Kristen tujuan hidup bukanlah hanya untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit dan berusaha mencapainya, dan juga bukan untuk hidup pasif dan tidak berbuat apa-apa – tetapi untuk memuliakan Tuhan, karena itulah tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia. Manusia dari segala bangsa, jenis, status sosial dan umur seharusnya mengabdikan diri mereka selama hidup di dunia untuk kemuliaan Tuhan.

“Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Yesaya 43: 7

Tambahan pula, Yesus mengatakan bahwa dua hukum utama yang harus dijalankan manusia seumur hidup adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22: 37-40).

Jika tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan, itu bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencapai apa yang bisa dicapai dalam hidup kita, karena Alkitab mengatakan bahwa apapun yang kita perbuat dalam hidup ini, kita harus melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Ini berarti bahwa apa yang kita pikirkan dan rencanakan haruslah mempunyai tujuan agar nama Tuhan dibesarkan. Dengan tidak bersemangat untuk mencapai hasil yang baik atau dengan kepuasan untuk tidak berbuat apa-apa, manusia tidak dapat memuliakan Tuhan.

“Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” 1 Korintus 10: 31

Dalam kenyataannya, kebanyakan manusia memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk dirinya sendiri atau demi anak-cucu. Bukan saja mereka yang muda ingin untuk memperoleh segala kenikmatan duniawi yang ada, mereka yang sudah tua pun jarang memikirkan apa yang harus diperbuat untuk kemuliaan Tuhan dalam sisa hidup mereka. Manusia tidak tahu apa yang terjadi esok hari, tetapi seolah merasa bahwa mereka harus dan akan hidup  untuk mencapai apa yang mereka senangi.

Pagi ini, kita harus menyadari bahwa hidup mati kita bukannya ada di tangan kita, dan karena itu dalam merencanakan segala sesuatu seharusnya kita melakukannya dengan rasa rendah hati dan penyerahan kepada Tuhan. Orang Kristen harus bertobat dan mendekatkan diri kepada Tuhan lagi. Tuhan akan memberikan kasih karunia kepada mereka yang sadar. Kita harus percaya kepada-Nya untuk menyediakan apa yang kita butuhkan, menjadi Hakim kita, dan mengangkat kita pada waktu-Nya.

Dengan rendah hati, kita harus mengakui bahwa semua rencana kita bergantung pada-Nya, dan Dia dapat mengubahnya kapan saja. Manusia memang bisa merencanakan segala sesuatu, tetapi jika itu bukan untuk kemuliaan Tuhan, pada akhirnya semua itu tidak ada gunanya sesudah hidup kita berakhir di dunia ini. Semoga kita bisa mengarahkan hidup kita ke arah yang benar dan mau menyerahkan semua rencana hidup kita ke tangan Tuhan di tahun yang akan datang!

Adakah sesuatu yang pasti di dunia?

“Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak! Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.” Yesaya 46:8-11

Hari Natal sudah berlalu, dan beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru. Hari Natal yang kedatangannya dinantikan setidaknya selama beberapa minggu, ternyata lewat dengan cepat. Tidak demikian dengan tahun baru. Jika hari Natal hanya sehari, tentu kita tahu bahwa tahun 2025 akan datang dan bersama kita selama 365 hari. Oleh karena itu banyak orang yang sudah memikirkan apa yang harus dilakukan pada tahun itu.

Apa yang berjalan kurang lancar di tahun 2024, diharapkan dapat diperbaiki sehingga bisa berjalan lebih baik di tahun yang baru. Pada pihak yang lain, banyak orang yang akan melakukan hal yang sama di tahun 2025 karena sudah terbiasa melakukannya pada tahun 2024. Ini bisa termasuk segala dosa, kebiasaan yang salah, cara bekerja yang kurang jujur, dan cara hidup yang melupakan Tuhan. Jika semua itu sudah dijalani tanpa masalah di tahun 2024, mengapa tidak melakukannya pada tahun 2025? Ini tentu akan membawa sukses di tahun yang baru!

Nabi Yesaya menggambarkan para pengungsi Babel saat mereka melarikan diri dari pasukan Kores, membawa serta harta benda pribadi apa pun yang dapat mereka bawa. Dewa-dewa Babel (dua di antaranya yang paling penting adalah Bel dan Nebo), alih-alih menyelamatkan orang-orang, harus diselamatkan oleh mereka. Jauh dari membantu orang-orang, mereka hanya menjadi penghalang dan beban, menyebabkan keledai dan lembu mengerang karena beban tambahan yang harus mereka bawa (Yesaya 46:1-2). Sebaliknya, keturunan Yakub digendong oleh-Nya. Allah yang menciptakan mereka memelihara mereka, dan akan terus memelihara mereka sampai akhir (Yesaya 46: 3-4). Dewa-dewa dari perak dan emas menghabiskan banyak uang, waktu, dan tenaga para penyembahnya, tetapi mereka tidak dapat melakukan apa pun untuk menyelamatkan para penyembahnya dari masalah (Yesaya 46: 5-7).

Penaklukan Babel oleh Koresh membuktikan kepada orang Babel yang selamat bahwa mengandalkan berhala untuk menang adalah sia-sia. Dewa-dewa kayu tidak dapat meramalkan penaklukan Koresh, tetapi Yahweh, satu-satunya Allah yang benar, telah meramalkannya sejak lama (Yesaya 45: 20-21). Orang-orang dari bangsa-bangsa sekitar mungkin sebelumnya telah berperang melawan Yahweh dengan mengandalkan berhala, tetapi sekarang mereka harus meninggalkan berhala-berhala itu dan tunduk kepada Allah yang hidup. Maka mereka akan menemukan kemenangan, kebenaran dan kekuatan, dan akan bergabung dengan semua umat Allah yang benar dalam mendatangkan pujian kepada-Nya (Yesaya 45: 22-25).

Kota Yerusalem pada masa pemerintahan Manasye merupakan latar belakang dari semua bagian yang menentang penyembahan berhala ini. Yesaya 40:8 mengingatkan kita pada masa Manasye ketika orang Israel sangat menyembah berhala; dan ayat-ayaet di atas harus dianggap ditujukan kepada mereka dan dimaksudkan untuk mengingatkan mereka agar menyembah Allah yang benar.

Seperti itu juga, mungkin kita mempunyai banyak “berhala” dalam hidup kita. Hal mempertahankan kenyamanan hidup, kesehatan, harta, posisi dan kuasa bisa menjadi sesuatu yang menuntut dedikasi penuh kita. Kita mungkin percaya itu adalah kunci keberhasilan kita. Kita mungkin juga percaya selama keluarga kita bersatu, semua persoalan hidup bisa diatasi. Kita lupa bahwa tidak ada satu pun yang pasti dalam hidup ini.

Kita harus sadar bahwa selama hidup di Babel, banyak orang Yahudi pernah tergoda untuk mengikuti cara-cara penyembahan berhala orang Babilonia. Tetapi, mereka diingatkan bahwa hanya Yahweh yang adalah Allah (Yesaya 46:8-9). Masa depan berada di bawah kendali-Nya, dan pada saat yang tepat Ia akan memanggil Koresh untuk datang dan menghancurkan Babilonia serta membebaskan orang-orang Yahudi (Yesaya 46:10-11). Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang dengan keras kepala menolak untuk percaya kepada Allah harus mengubah cara-cara mereka, jika mereka ingin ikut menikmati berkat-berkat Israel yang baru (Yesaya 46:12-13). Kita harus sadar bahwa segala bentuk berhala manusia adalah seperti rumput kering.

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” Yesaya 40:8

Yesaya 40:8 memiliki makna agar kita ingat dan berdiri teguh, dan tidak bimbang antara penyembahan berhala dan penyembahan kepada Allah. Biarlah kita makin dekat kepada Tuhan dan makin taat kepada firman-Nya di tahun 2025. Kasih Tuhan kepada kita adalah satu-satunya yang bisa kita harapkan sebagai kepastian.

Natal: Janji Allah sudah ditepati

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Kejadian 3:15

Hari ini adalah hari Natal, hari di mana kita merayakan kelahiran Yesus ke dunia. Ini adalah hari yang sangat signifikan dalam sejarah manusia. Mengapa demikian?

Untuk memahami kisah Natal, kita harus kembali ke masa lampau. Bukan hanya beberapa ribu tahun yang lalu ke saat kelahiran Yesus, tetapi jauh ke masa lampau, kembali ke masa orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Pada mulanya Tuhan menempatkan mereka di taman Eden yang indah. Mereka memiliki semua yang mereka butuhkan. Taman itu sempurna. Kemudian mereka jatuh dalam dosa dan Tuhan mengusir mereka. Sekarang Adam dan Hawa hidup di bawah kutukan. Namun, saat Tuhan mengumumkan kutukan itu, yang menggelegar dari surga, Dia juga memberi mereka sebuah janji.

Kejadian 3 menceritakan kisah tentang surga yang hilang karena kesengajaan manusia berdosa. Manusia pada awalnya diberi setiap hal sempurna yang mereka butuhkan atau inginkan, dan hampir tidak ada batasan. Meskipun demikian, Adam dan Hawa hanya membutuhkan sedikit dorongan dari ular yang berbicara untuk tidak menaati Pencipta mereka yang baik. Dengan munculnya rasa malu dan adanya kutukan Tuhan kepada mereka, kisah yang menyedihkan dari sejarah manusia dimulai dengan keluarnya mereka dari Taman Eden.

Setelah jatuh ke dalam godaan, manusia merasa malu dan dengan bodohnya berusaha bersembunyi dari Tuhan. Ketika dihadapkan dengan dosa mereka, pria dan wanita itu mengaku, tetapi juga berusaha mengalihkan kesalahan kepada orang lain. Adam bahkan menyalahkan Tuhan. Sebagai tanggapan, Tuhan mengeluarkan tiga kutukan yang memengaruhi manusia hingga hari ini. Umat manusia tidak dapat lagi tinggal di taman Eden.

Allah memulai kutukan-Nya kepada iblis, yang mengambil bentuk tubuh ular. Allah berjanji untuk menjadikan iblis dan perempuan itu musuh. Bahkan, keturunan mereka—atau “benih”—akan tetap menjadi musuh sepanjang semua generasi.

Kepada Adam dan Hawa, yang sebelumnya hanya mengenal ketenangan, datang kutukan yang membuat mereka terkunci dalam pengalaman yang pahit. Bahkan bumi pun akan menjadi tantangan. Adanya semak duri, penderitaan hidup di dunia, akan menjadi peringatan yang terus-menerus bagi manusia atas dosa mereka. Meskipun demikian, Tuhan yang mahakasih terus menyediakan apa yang perlu bagi ciptaan-Nya.

Keturunan Hawa, tentu saja, mencakup seluruh umat manusia, yang lahir dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini. Namun, siapakah keturunan Setan? Tentu ini bukan anak-anak biologis Iblis. Keturunan Setan mungkin mencakup semua malaikat yang jatuh, yang akan mengikutinya. Ini juga mencakup manusia-manusia yang memilih untuk menghamba kepada iblis dan mempraktikkan kebohongannya.

Yesus, yang menegur para pemimpin agama Yahudi dalam Yohanes 8:44, berkata demikian: “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”

Inti dari kutukan Allah atas iblis adalah ini: ia telah menjadi musuh umat manusia sejak awal. Ia tidak akan pernah dapat dipercaya. Seperti yang Petrus tulis, iblis terus memburu dan berusaha melahap manusia hingga hari ini (1 Petrus 5:8), meskipun ia tidak akan diizinkan melakukannya selamanya.

Kutukan atau nubuat terakhir Allah kepada ular adalah bahwa keturunan perempuan itu akan meremukkan, atau melukai, kepala iblis, dan iblis akan memukul atau melukai tumit-Nya. Hal ini merujuk kepada Kristus, Anak Allah, dan juga keturunan Hawa. Setan akan merusak Kristus, tetapi Ia akan memperoleh kemenangan akhir atas nama umat manusia. Mereka yang ada di dalam Kristus akan merayakan kemenangan bersama-Nya untuk selamanya.

Berkenaan dengan hari Natal, kita harus sadar bahwa yang paling penting bagi umat manusia adalah bahwa Tuhan memberi Adam dan Hawa janji tentang sebuah Benih. Benih yang akan lahir dari seorang perempuan. Benih itu akan membuat semua yang salah menjadi benar. Dia akan membuat semua yang rusak menjadi utuh. Benih yang dijanjikan akan memasuki konflik ini, bertarung dengan ular, yaitu iblis, si pengacau besar. Benih ini akan membawa kedamaian dan keharmonisan di mana pertikaian dan konflik berkecamuk seperti lautan yang diterjang badai. Kejadian 3 menjanjikan bahwa Benih itu akan mengalahkan ular, memastikan kemenangan akhir dan mengantar datangnya gelombang demi gelombang perdamaian. Namun, Benih itu akan datang dalam waktu yang lama.

Adam dan Hawa memiliki Kain dan Habel, dan keduanya ternyata bukan Benih. Ketika Kain membunuh Habel, Tuhan memberi Adam dan Hawa Set, sedikit kasih karunia di dunia yang sangat bermasalah. Namun, Set juga bukan Benih. Lebih banyak putra menyusul. Generasi demi generasi datang dan generasi demi generasi berlalu.

Kemudian Abraham muncul di panggung dunia. Tuhan memanggil pria ini dari mulanya untuk menjadikan dari dirinya dan istrinya, Sarah, sebuah bangsa baru yang besar yang akan menjadi mercusuar terang bagi dunia yang terhilang dan tanpa harapan. Sekali lagi, Tuhan berjanji kepada pasangan ini tentang Benih, seorang putra. Mereka mengira itu adalah Ishak. Namun, Ishak meninggal.

Kisah ini diulang dari generasi ke generasi, membangun antisipasi akan Dia yang akan datang yang akan membuat semua hal menjadi benar, yang akan membawa kedamaian. Seorang janda bernama Naomi dan menantu perempuannya yang janda, Rut, bahkan masuk ke dalam kisah ini. Mereka berada dalam keadaan putus asa. Tidak ada jaring sosial untuk menangkap kejatuhan orang-orang yang terpinggirkan seperti itu di dunia kuno.

Tanpa suami dan anak laki-laki, tanpa hak dan sarana, para janda hidup dari hari ke hari dengan seutas harapan. Kemudian datanglah Boas yang menikahi Rut. Tak lama kemudian, tepat saat tirai ditutup pada kisah Alkitab tentang Rut, seorang anak laki-laki, benih, lahir bagi Rut. Anak laki-laki ini akan menjadi pemulih kehidupan, seorang penebus. Namun, ia hanyalah bayangan dari Benih yang akan datang. Ia juga meninggal.

Anak laki-laki yang lahir dari Rut dan Boas bernama Obed. Obed memiliki seorang anak laki-laki bernama Isai. Isai memiliki banyak anak laki-laki, dan salah satunya adalah seorang gembala yang kecil tubuhnya. Suatu kali gembala ini melemparkan sebuah batu dan menjatuhkan seorang raksasa. Ia menghadapi singa-singa. Ia juga seorang musisi yang hebat. Yang mengejutkan semua orang—bahkan ayahnya—putra Isai ini, cicit Rut dan Boas, diurapi menjadi raja Israel.

Ketika Daud berada di atas takhta, Allah memberikan janji lain langsung kepadanya. Ini adalah janji lain tentang seorang putra. Allah berkata bahwa putra Daud akan menjadi raja selamanya dan kerajaannya tidak akan berakhir. Itulah janji Allah, bahwa putra Daud adalah Juruselamat manusia. Mesias.

Tujuh belas ayat dalam Perjanjian Baru menyatakan Yesus sebagai “anak Daud.” Kristus (Mesias) merupakan penggenapan nubuatan dari keturunan Daud (2 Samuel 7:12-16). Matius pasal 1 menjabarkan bukti silsilah Yesus, yang dari sisi kemanusiaannya merupakan keturunan langsung dari Daud melalui Yusuf, ayah Yesus yang tercatat secara hukum. Silsilah dalam Lukas pasal 3 menjabarkan silsilah Yesus dari garis keturunan ibu-Nya, Maria. Yesus merupakan keturunan Daud, melalui adopsi oleh Yusuf, dan melalui darah oleh Maria. Namun yang terutama, ketika Kristus disebut sebagai anak Daud, hal itu merujuk kepada gelar Mesias-Nya seperti yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama.

Yesus beberapa kali dipanggil sebagai “Allah, anak Daud” oleh orang-orang yang, dengan iman, mencari belas kasih atau penyembuhan. Perempuan yang anaknya menderita karena kerasukan setan (Matius 15:22), dua orang buta di pinggir jalan (Matius 20:30), dan Bartimeus yang buta (Markus 10:47), semuanya berseru meminta pertolongan kepada “anak Daud.” Gelar kehormatan yang mereka nyatakan ini menunjukkan iman mereka kepada Dia. Dengan memanggil Dia “Allah” menyatakan pemahaman mereka akan keilahian-Nya, kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya. Dengan memanggil-Nya “anak Daud,” maka mereka juga telah mengakui-Nya sebagai Mesias.

Yesus Kristus, satu-satunya Anak Allah dan satu-satunya jalan keselamatan bagi semua manusia di bawah kolong langit (Kis 4:12), sungguh-sungguh adalah anak Daud, baik secara fisik maupun spiritual. Ia sudah lahir di Betlehem dan kita merayakan kelahirannya pada hari ini. Itu karrena Allah sudah menepati janji-Nya. Segala kemuliaan adalah bagi Allah di tempat yang mahatinggi. Gloria in excelsis Deo.

Natal seharusnya membuat kita rendah hati

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:45

Penulis Kristen terkenal, C. S. Lewis, dalam bukunya “Mere Christianity” mencatat bahwa kesombongan adalah keadaan “anti-Tuhan”, posisi di mana ego dan pendirian manusia secara langsung menentang kebesaran Tuhan. Jika ketidaksucian, kemarahan, keserakahan, kemabukan, adalah jahat di mata Tuhan, semua itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kesombongan. Melalui kesombonganlah iblis menjadi jahat, dan hal itu menuntun dia kepada setiap kejahatan lainnya. Keseombongan adalah keadaan pikiran yang sepenuhnya anti-Tuhan. Kesombongan dipahami sebagai sesuatu yang memisahkan roh kita dari Tuhan yang sudah memberi kita hidup dan kasih karunia.

Kesombongan umat Kristen, mungkin paling mencolok pada saat kita merayakan hari Natal. Sebagian orang Kristen menyambut hari Natal sebagai satu kesempatan untuk bersuka-cita dan berpesta pora, baik di gereja, di rumah, maupun di tempat lain. Mereka bisa merasa bangga karena banyak orang yang bukan Kristen juga merayakan Natal. Suasana Natal dengan lagu-lagu Natal, hiasan Natal yang berkerlap-kerlip, dan banyaknya pengunjung gereja yang datang untuk merayakan Natal adalah satu tanda bahwa agama Kristen adalah agama yang hebat. Natal adalah kesempatan untuk berlomba untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa gereja kita adalah yang terbesar, terbaik, dan terkaya. Begitu mungkin perasaan mereka. Mereka lupa bahwa panggilan Natal adalah agar umat Tuhan untuk menjadi orang yang rendah hati.

Markus 10:35-45 menggambarkan permintaan arogan Yakobus dan Yohanes untuk memiliki posisi berkuasa dan berwenang dalam kerajaan Yesus yang akan datang. Ini terjadi setelah mengetahui bahwa Yesus menghargai orang-orang yang tidak berdaya seperti wanita dan anak-anak (Markus 10:1-16). Yesus juga menyatakan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan duniawi sering mengalami kesulitan mengikuti Tuhan karena mereka cenderung lebih menghargai harta benda mereka (Markus 10:17-22).

Dalam ayat di atas, Yesus yang kelahiran-Nya akan kita rayakan esok hari. datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Seperti Dia yang sudah merendahkan diri-Nya untuk menjadi manusia. Yesus memanggil kita untuk menjadi hamba (Markus 10:43) dan budak (Markus 10:44). Sikap kita harus seperti Dia, di mana kita secara harfiah harus menempatkan diri kita dalam posisi hamba atau budak bagi orang lain.

Yesus mengambil “rupa seorang hamba” bagi Allah, bukan bagi kita (Filipi 2:7–8). Agar kita dapat menyambut dan menjadi bagian dari kerajaan Allah, kita harus menjalani pemahaman kita bahwa pada dasarnya kita adalah makhluk yang tidak berdaya (Markus 10:14–15). Allah yang berdaulat adalah Tuhan yang memiliki kuasa yang nyata, dan harus kita muliakan terlepas dari posisi kita dalam hidup di dunia. Bahkan jika kita diakui sebagai pemimpin di gereja, peran kita pada hakikatnya tetaplah seorang hamba. Kita wajib melayani dan bukan menuntut untuk dilayani orang lain.

Kata “tebusan” dalam ayat di atas berasal dari akar kata Yunani lutron dan merujuk pada harga yang dibayarkan untuk menebus seorang budak atau tawanan (Imamat 25:51–52) atau anak sulung (Bilangan 18:15), atau ganti rugi atas kejahatan (Bilangan 35:31–32) atau cedera (Keluaran 21:30). Yesus mampu “memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kelepasan dari penjara bagi mereka yang terkurung” (Yesaya 61:1; lih. Lukas 4:18–19) karena Dia adalah Hamba yang Menderita dari Yesaya 53 yang datang untuk menanggung kejahatan banyak orang, sehingga mereka dapat dianggap benar (Yesaya 53:11).

Mendengar kata-kata ini untuk pertama kalinya, para murid berpikir bahwa yang akan ditebus adalah “tawanan”, yaitu orang-orang Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Romawi. Yesus mengatakan bahwa tawanan sejati adalah mereka yang menjadi budak dosa (Yohanes 8:34). Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita dapat dibebaskan dari sifat dan akibat dosa yang memisahkan kita dari Allah (Roma 6:18). Kebebasan dari dosa ini bersifat penuh (Yohanes 8:36), tetapi kemerdekaan ini mengalihkan perbudakan kita dari dosa kepada kebenaran Allah (Roma 6:16–18). Kebebasan kita yang datang dari Tuhan, seharusnya memerdekakan kita dari keegoisan, kesombongan, dan keinginan untuk mengendalikan segala seuatu menurut kemauan kita. Perbudakan kita kepada Allah memberikan kita kemerdekaan untuk bisa mengasihi orang lain dan menerima hidup kekal (Roma 6:23).

Kebebasan ini adalah manifestasi kerajaan Allah di dalam diri kita. Namun, ini juga merupakan konsep yang sangat asing bagi orang Yahudi yang misinya adalah kemerdekaan duniawi dari jajahan Romawi, bukan kemerdekaan surgawi dari dosa. Dalam sejarah Yahudi, para pemimpin besar adalah mereka yang membawa kutuk kepada rakyatnya karena penyembahan berhala dan memimpin pasukan mereka untuk mempertahankan perbatasan daerah mereka. Kepemimpinan Yesus mengurapi zaman baru. Itu dibangun di atas ketundukan kepada Allah dan pengorbanan bagi orang lain. Sering kali, “orang lain” itu adalah gereja-gereja yang miskin, orang-orang buangan dunia, wanita-wanita yang tidak berdaya (Markus 10:1-12), anak-anak yang berkekurangan (Markus 10:13-16), dan orang-orang yang tidak berdaya serta patah semangat (Markus 10:46-52), bukan para pemimpin kaya atau berkuasa yang dianggap perlu dihormati (Markus 10:17-31).

Hari ini, marilah kita mengingat bahwa Yesus datang membawa karunia keselamatan bagi mereka yang percaya. Karunia yang tidak perlu kita beli, karunia yang tidak dapat kita bayar, karena karunia itu adalah karunia pengampunan dosa kita dari Allah yang mahasuci. Kita harus merasakan betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita yang tidak layak di hadapan-Nya. Hanya karena kasih-Nya kita diselamatkan dan itu bukat karena hasil jerih payah kita.

Sebagai orang-orang percaya, seharusnya kita menempatkan diri kita sebagai hamba yang dimeredekakan dan bukannya orang-orang pilihan Allah yang lebih baik dari orang lain. Kita bukan juga orang Kristen yang merasa lebih baik dari orang Kristen lain karena teologi, kekayaan gereja atau kemasyhuran pendeta kita. Adalah panggilan bagi kita untuk menjadi seperti Yesus yang lahir di palungan, yang tidak membanggakan kemegahan diri-Nya sebagai Anak Allah. Hari Natal adalah panggilan bagi kita untuk selalu siap untuk merendahkan diri di hadapan orang lain dan siap melayani mereka yang membutuhkan pertolongan sambil mengaku bahwa kita semua adalah orang-orang berdosa yang sudah menerima belas kasihan Allah!

Selamat Hari Natal 2024

Gloria in excelsis Deo belum tentu dapat diucapkan semua orang Kristen

”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14

Gloria in excelsis Deo (bahasa Latin dengan arti harafiah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi”) adalah reffrain dari sebuah himne Natal terkenal “Angels we have heard on high” atau “Para Malaikat Bernyanyi”. Lagu ini juga dikenal dengan judul lain seperti “Alam Raya Berkumandang” dengan lirik karya James Chadwick, dan nada kidung “Gloria” dari lagu Prancis tradisional dengan asal usul yang tidak diketahui yang berjudul Les Anges dans nos campagnes. Lirik Chadwick diambil dan terinspirasi, dan sebagian diterjemahkan, dari karya Prancis asli tersebut. Tema lagu tersebut adalah kelahiran Yesus yang dikisahkan dalam Injil Lukas, khususnya peristiwa dimana para gembala dari luar Betlehem dihampiri para malaikat yang bernyanyi dan memuji anak yang baru lahir tersebut, seperti yang ditampilkan dalam ayat di atas dan tertulis dalam sayir lagu di bawah ini:

Angels we have heard on high,
Sweetly singing o’er the plains,
And the mountains in reply
Echoing their joyous strains.

Refrain:
Gloria in excelsis Deo.
Gloria in excelsis Deo.

M’laikat t’lah kami dengar,
Nyanyi merdu di lembah,
Dan gunung pun membalas
Gemakan lagu ria

Reffrain:
Gloria in excelsis Deo.
Gloria in excelsis Deo.

Lukas 2:8–21 menggambarkan para gembala yang dikunjungi oleh banyak malaikat. Bagian kitab Lukas ini biasanya dibacakan pada hari Natal, saat merayakan kelahiran Yesus. Makhluk-makhluk surgawi ini memberitakan kelahiran Kristus dan menjelaskan di mana Dia dapat ditemukan. Para gembala kemudian mengikuti arahan mereka dan menemukan Yesus, Yusuf, dan Maria.

Sebagian besar terjemahan ayat di atas menghubungkan “damai” yang diberitakan dengan kesenangan Tuhan terhadap suatu kelompok tertentu. Ini secara bergantian diungkapkan sebagai “mereka yang berkenan kepada-Nya,” atau “orang-orang yang berkenan kepada-Nya.” Ini menggambarkan Tuhan selalu menggunakan orang-orang sederhana untuk memberitakan kebenaran-Nya yang paling penting. Tuhan selalu memilih orang yang rendah hati, bukan mereka yang suka bermegah dan sombong.

Sementara Injil Yesus Kristus adalah pesan rekonsiliasi dan harapan (Yohanes 3:16–17), harapan itu hanya dapat diakses oleh mereka yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:18, 36). Jika diterjemahkan secara akurat, para malaikat tidak menyatakan kebaikan hati Tuhan kepada seluruh umat manusia; mereka merayakan belas kasihan-Nya kepada mereka yang mengikuti kehendak-Nya dengan menerima Putra-Nya (Yohanes 6:28–29; Ibrani 11:6).

Ketika para malaikat sudah pergi, para gembala bergegas ke Betlehem untuk melihat sendiri Kristus yang baru lahir (Lukas 2:15–16). Seperti itu juga, orang Kristen sejati akan berusaha untuk melaksanakan perintah Tuhan dalam hidup mereka. Mereka tidak menunda kesempatan untuk memuliakan Tuhan dengan cara melaksanakan firman Tuhan secepat mungkin. Mereka sadar bahwa Tuhan sudah berbelas kasihan kepada mereka yang sudah dipilih Tuhan sebagai orang-orang yang sederhana di mata Tuhan.

Jika ada orang yang mengaku Kristen, tetapi mempunyai rasa sombong yang sering tidak terkontrol, saat menjelang hari Natal ini adalah kesempatan untuk mengingat bahwa hanya orang yang merendahkan dirinya di hadapan Tuhan adalah orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Dalam Matius Yesus pernah berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 19:14).

Yesus mengizinkan anak-anak kecil untuk datang kepada-Nya. Ia memberi tahu para pengikut untuk tidak menghalangi mereka karena kerajaan surga adalah milik mereka yang seperti anak-anak. Itu adalah gambaran yang lembut, sekalipun Ia tidak mengatakan bahwa kerajaan surga adalah milik anak-anak kecil. Sebaliknya, Ia mengingatkan para pengikut tentang perlunya iman dan kerendahan hati seperti anak kecil. Orang Kristen tidak dapat memuji Tuhan dengan sepenuh hati jika mereka menempatkan kesombongan dalam hati mereka.

Pada hari Ini, menjelang datangnya hari Natal, baiklah kita mendengar gema dari ajaran yang Yesus berikan kepada para pengikut-Nya:

“Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, kecuali kamu bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” Matius 18:3–4

Yesus adalah Juruselamat semua bangsa

“Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Roma 3:28

Hari Natal dan Tahun Baru akan segera datang, tetapi agaknya tidak semua orang menyambutnya dengan hati riang. Adanya perang di Timur Tengah membuat suasana Natal tahun ini agak kurang nyaman di Australia karena timbulnya gesekan antara etnik Muslim Arab dan etnik Yahudi. Walaupun demikian, hal itu tidaklah sebanding dengan suasana di beberapa negara di mana hari Natal tidak bisa dirayakan. Di beberapa negara, saat ini perayaan Natal harus dilakukan secara “sepi-sepian” karena masyarakat setempat tidak menyukainya dan bahkan pemerintah melarangnya.

Natal tidak diakui sebagai hari libur umum di beberapa negara, termasuk: Afghanistan, Aljazair, Bhutan, Korea Utara, Libya, Mauritania, Republik Demokratik Arab Sahrawi, Arab Saudi, Somalia, dan Tajikistan. Bagaimana dengan Tiongkok? Pemerintah Tiongkok sudah menutup gereja-gereja yang bukan gereja pemerintah dan menangkapi pendetanya. Saat ini jutaan penduduk Kristennya mungkin ingin merayakan Natal, namun perayaan Natal telah berulang kali dikecam oleh pemerintah. Mungkinkah bangsa-bangsa di atas sudah ditetapkan Tuhan untuk tidak bisa ke surga?

Sebagai orang Kristen, kita yakin, bahwa orang dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Dengan kata lain, fakta bahwa ada satu Allah yang membenarkan manusia di pengadilan-Nya dengan satu cara – hanya oleh iman – dijadikan pengajaran ras oleh Paulus. Pembenaran oleh iman saja, kata Paulus, justru untuk meniadakan keuntungan etnis dan perasaan superioritas bangsa-bangsa tertentu atau pengucilan bangsa-bangsa lain. Tuhan kita adalah Allah bangsa-bangsa, dan Ia akan membenarkan umat-Nya hanya dengan satu cara – cara yang menjelaskan bahwa perbedaan etnis tidak menciptakan keuntungan atau kerugian. Perbedaan etnis tidak menyelamatkan dan tidak mengutuk. Pada lain pihak, Kristus menyelamatkan dan dosa mengutuk manusia, dan setiap orang dibenarkan hanya oleh iman. Karena itu, adalah keliru jika kita berpikir bahwa bangsa-bangsa tertentu sudah ditakdirkan untuk tidak diselamatkan.

Apakah orang Yahudi saja yang dipilih sebagai umat Tuhan? Tentu saja tidak. Apakah orang-orang tertentu akan ditolak-Nya? Tidak juga. Coba kita lihat keturunan Ismael, putra Abram dari hamba perempuannya, Hagar (Kejadian 16:1-12). Dari jumlah yang sedikit, bangsa Ismael menjadi bangsa yang besar dan kuat, yang hidup di Timur Tengah bertetangga degan bangsa Israel. Di kemudian hari dalam sejarah Israel, orang Ismael juga disebut sebagai orang Midian (meskipun tidak semua orang Midian adalah keturunan Ismael), dan mereka terlibat dalam jual-beli budak (Kejadian 37:28; 39:1). Hakim-hakim 8:24 mengatakan bahwa orang Ismael memiliki kebiasaan memakai anting-anting emas. Suku Midian adalah suku Arab nomaden yang tinggal di Hijaz barat laut, yang sekarang menjadi Arab Saudi.

Pada masa pemerintahan Raja Daud, orang Ismael bergabung dalam sebuah persekutuan untuk melawan Tuhan dan umat-Nya, Israel (Mazmur 83:6-7). Tujuan mereka adalah untuk “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga nama Israel tidak diingat lagi!” (ayat 5). Melihat kekacauan yang terjadi di Timur Tengah saat ini dan kebencian yang sering ditujukan kepada Israel melalui semboyan yang serupa oleh negara-negara tetangganya, nubuat-nubuat mengenai keturunan Ismael terbukti benar.

“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” Kejadian 16:12

Deskripsi nubuat tentang Ismael seperti ‘keledai liar’ cukup menarik. Hewan yang dimaksud adalah tidak jinak, yang berkeliaran di padang pasir sesuka hati. Kiasan ini menggambarkan dengan sangat akurat orang Badui yang mencintai kebebasan yang bergerak melintasi hamparan tanah yang luas. Nubuat ini bukanlah penghinaan untuk orang Badui atau kutukan dari Tuhan. Ismael akan menikmati kebebasan yang dicari ibunya. Tuhan menamai Ismael (Kejadian 16:11), yang namanya berarti “Tuhan mendengar,” dan Hagar menamai Tuhan (Kejadian 16:13) “Dia yang melihat.” Kedua nama ini merupakan wahyu utama tentang Tuhan: Dia mendengar dan Dia melihat.

Alkitab mengajarkan bahwa, sejak dosa asal Adam, semua manusia mati secara rohani dan secara moral tidak mampu tunduk kepada Tuhan dalam iman dan ketaatan. Kita memiliki pola pikir yang “tidak dapat tunduk kepada Allah.” Roma 8:7-8, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; memang hal itu tidak mungkin. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Alasan ketidakmampuan moral ini diberikan dalam Efesus 2:1, “Kamu dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Orang duniawi – sebagaimana kita secara alami – terlepas dari pekerjaan Roh Kudus, tidak melihat kebenaran sebagai sesuatu yang benar dan diinginkan, tetapi menganggapnya sebagai kebodohan. Jadi, kita semua adalah seperti keledai liar sebelum dilahirkan kembali.

Adanya keragaman etnis di neraka adalah doktrin gereja yang penting. Roma 2:9 menuliskannya seperti ini: “Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani”. Tuhan tidak memandang bulu dalam keselamatan atau kutukan. Umat manusia – dan setiap kelompok etnis di dalamnya – bersatu dalam kenyataan besar ini: kita semua bejat dan terkutuk. Kita semua tersesat di hutan bersama-sama, tenggelam di perahu yang sama, mati karena penyakit yang sama.

Ini berarti bahwa Allah tidak memilih umat-Nya atas dasar warna kulit atau ciri khas etnis lainnya. Tidak ada kelompok etnis yang dapat mengatakan bahwa mereka diselamatkan karena pilihan Tuhan karena tempat mereka dilahirkan, kualitas fisik, faktor psikologis, atau spiritual mereka. Sebaliknya, tidak ada kelompok etnis yang dapat mengatakan bahwa mereka tidak dipilih Tuhan karena kualitas fisik atau tempat di mana mereka dilahirkan. Pilihan Tuhan tidak bersyarat. Itu tidak didasarkan pada apa pun di dalam diri kita. Tuhan benar-benar bebas dan tidak bisa dibatasi. Ini adalah kemuliaan-Nya, demi nama-Nya. Dan bertindak dengan cara ini adalah kebenaran-Nya.

Oleh karena itu, cara Tuhan memilih umat-Nya memutuskan akar terdalam dari semua rasisme dan semua etnosentrisme. Jika saya termasuk di antara orang-orang pilihan Tuhan, itu sepenuhnya karena kasih karunia Tuhan yang cuma-cuma, bukan keistimewaan saya atau kelompok saya. Oleh karena itu, tidak ada dasar dalam pemilihan Tuhan untuk kesombongan. Dan tidak ada dasar dalam pemilihan Tuhan untuk keputusasaan karena merasa tidak terpilih. Tidak ada apa pun dalam diri saya yang menyebabkan Dia memilih saya. Dan tidak ada apa pun dalam diri Anda yang dapat menghentikan Dia untuk memilih Anda. Dalam hal pemilihan, kita berada pada bidang belas kasihan tanpa syarat yang mutlak: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Roma 9:15).

Kristus mati untuk semua orang dalam pengertian yang dikatakan Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Itu benar adanya: Kristus mati supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Kematian Kristus cukup untuk semua orang, dan harus dipersembahkan kepada semua orang sebagai kecukupan yang mulia untuk menyelamatkan mereka jika mereka mau percaya.

Ini berarti bahwa tidak seorang pun, tidak peduli kelompok etnis apa pun, pernah memberikan kontribusi apa pun untuk tebusan yang membebaskannya dari perbudakan dosa. Keselamatan kita juga tidak bergantung pada tempat di mana kita dilahirkan sebagai etnis tertentu. Kita semua sama-sama menjadi budak dosa dan kerusakan dan kesia-siaan dan kematian dan kutukan karena kebejatan kita. Itulah perbudakan kita bersama. Sekarang kita melihat bahwa pembayaran untuk pembebasan kita – darah dan kebenaran Kristus – begitu lengkap sehingga kita tidak dapat memberikan kontribusi apa pun untuk itu – baik dengan kemauan kita, atau dengan ketaatan, atau dengan keistimewaan etnis kita. Ketika Kristus mati menggantikan kita dan untuk dosa-dosa kita, seluruh tebusan telah dibayarkan. Begitu lunasnya, pada kenyataannya, kebebasan kita tidak hanya ditawarkan tetapi juga dijamin.

Salib Kristus adalah penyamarataan yang luar biasa bagi manusia bukan hanya karena salib itu menunjukkan bahwa kita semua adalah orang berdosa yang tidak memiliki harapan, dan bukan hanya karena salib itu hanya dapat diterima melalui iman, tetapi juga karena salib itu adalah tebusan yang begitu penuh dan efektif bagi orang-orang pilihan sehingga tidak ada anak Tuhan yang berani berpikir bahwa mereka lebih berhak dari orang lain dan telah memberikan kontribusi besar untuk menebus dosa mereka. Tidak ada warna kulit, suku bangsa, kecerdasan, keterampilan, kekayaan atau kekuasaan manusia yang dapat menambah apa pun pada pengorbanan Kristus yang mahacukup dan mahaefektif. Kita adalah satu dalam ketergantungan kita sepenuhnya pada darah dan kebenaran-Nya.

Ini berarti bahwa mereka yang dipanggil Tuhan, Dia jaga. Jika Anda adalah orang percaya sejati, Anda akan bertekun dalam iman dan ketaatan (bukan kesempurnaan, karena kita bukan orang yang sudah sempurna) di mana pun Anda berada sampai saat akhir untuk diselamatkan. Tuhan akan memastikannya. “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). “

Pertanyaan saya untuk Anda menjelang hari Natal: Apakah ada sesuatu yang lebih penting dari pernyataan Alkitab bahwa Yesus, Anak Allah, telah lahir di dunia agar semua orang yang percaya boleh diselamatkan (Yohanes 3:16)? Apakah Anda bisa benar-benar bersukacita karena manusia dari bangsa atau suku mana pun bisa dibenarkan karena iman, sekalipun Anda merasa bahwa mereka tidak mungkin menjadi umat Tuhan karena cara hidup mereka di saat ini?

Natal seharusnya diperingati setiap hari

“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Matius 25: 13

Sebentar lagi hari Natal. Toko-toko dan banyak rumah di Australia sudah memperlihatkan dekorasi Natal, seperti palungan dan pohon Natal; dan lagu Natal pun mulai bergema dimana-mana. Orang mulai mengucapkan pesan-pesan Natal kepada rekan-rekan yang akan memulai liburan mereka. Selamat hari Natal! Semoga anda mendapat Natal yang indah!

Ucapan selamat hari Natal sebelum tibanya hari itu, agaknya janggal di Indonesia. Biasanya, mereka yang hidup di Indonesia mengucapkannya setelah memasuki hari bertanggal 25 Desember. Malahan, beberapa gereja menganjurkan untuk tidak merayakan Natal sebelum tanggal itu. Hari Natal dipastikan sebagai tanggal 25 Desember, sekalipun Alkitab tidak pernah menyebutkan adanya orang yang merayakan hari yang dianggap hari ulang tahun kelahiran Yesus. Memang tanggal itu hanyalah berdasarkan perkiraan atau rekaan manusia saja karena pada waktu itu surat kelahiran bayi tidaklah lazim.

Hari kelahiran Yesus memang tidak sepenting kelahiran-Nya. Kelahiran Anak Allah adalah lebih penting dari saat dan tempat dimana Ia lahir, karena kelahiran-Nya sebagai manusialah yang memungkinkan Yesus untuk menebus dosa manusia. Manusia tidak dapat mencapai surga, hanya Allah yang bisa mencapai manusia. Dengan demikian, kedatangan Yesus itu sebenarnya harus dirasakan oleh setiap umat Kristen sebagai karunia yang terbesar dalam hidup mereka. Suatu hal yang harus selalu diingat setiap hari: bahwa kita sudah menerima Hadiah Natal yang tidak bisa dibeli.

Perayaan hari Natal sering kali didahului dengan 4 minggu adven, sebagai minggu penantian, dimana umat Kristen mempersiapkan diri untuk merayakan hari kedatangan Yesus ke dunia. Dalam minggu-minggu itu, hati dan pikiran mereka dipusatkan pada keajaiban kasih Allah kepada manusia. Tetapi, bagi kita yang hidup setelah Yesus dilahirkan, minggu adven itu mungkin kurang relevan; kecuali jika masih ada yang kita nantikan. Sesuatu yang besar yang mendatangi, yang harus kita hadapi dengan persiapan yang benar-benar khusyuk.

Apa yang akan terjadi sesudah kelahiran Kristus di Betlehem adalah kedatangan-Nya yang kedua kalinya dengan segala kemegahan-Nya. Kapankah itu akan terjadi? Tidak ada seorangpun yang tahu! Karena itu, kita tidak perlu mereka-reka. Memang banyak orang Kristen yang berusaha untuk menafsirkan apa saja yang terjadi di dunia, guna menebak kapan Yesus datang lagi. Tetapi semua itu adalah sia-sia.

Matius 5: 1 – 12 menggambarkan adanya sepuluh gadis yang menantikan kedatangan pengantin pria. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Hanya mereka yang bijaksana, yang menantikan pengantin pria dengan persiapan yang baik, akhirnya bisa masuk ke ruang pesta kawin. Seperti itulah kita harus selalu berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu akan hari maupun akan saatnya Yesus akan datang lagi.

Pagi ini kita diingatkan bahwa minggu adven seharusnya dijalani setiap minggu karena kita harus selalu berjaga-jaga; itu bukan untuk memperingati hari-hari tertentu saja. Lebih dari itu, hari Natal seharusnya diperingati oleh orang Kristen setiap hari, karena kita harus sadar bahwa Ia yang sudah datang ke dunia untuk menebus dosa kita, Ia jugalah yang akan datang lagi sebagai Raja diatas segala raja.

Hidup orang Kristen bukan biasa-biasa saja

“Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 10-12

Sudah berapa lama Anda menjadi orang Kristen? Bagaimana kemajuan rohani yang Anda rasakan selama ini? Atau, apakah Anda kmasih mengharapkan sesuatu dari Tuhan di Tahun Baru yang mendatang? Seperti seorang anak yang mengharapkan hadiah Natal dari orang tuanya, mungkin kita mengharapkan adanya kemajuan rohani dari Tuhan. Tetapi, sebelum mengharapkan sesuatu, baiknya kita memahami apa arti harapan itu.

Kita bisa menggunakan kata harapan setidaknya dalam tiga cara berbeda:

  • Harapan adalah keinginan untuk sesuatu yang baik di masa depan. Anak-anak mungkin berkata, “Saya harap ayah pulang lebih awal malam ini sehingga kita bisa bermain bola setelah makan malam sebelum rapatnya.” Dengan kata lain, mereka menginginkannya pulang lebih awal sehingga mereka dapat mengalami hal yang baik ini, yaitu bermain bersama setelah makan malam.
  • Harapan adalah hal baik di masa depan yang kita dambakan. Kita berkata, “Harapan kita adalah Jim akan tiba dengan selamat.” Dengan kata lain, kedatangan Jim dengan selamat adalah tujuan dari harapan kita.
  • Harapan adalah alasan mengapa keinginan kita benar-benar dapat terwujud. Kita berkata, “Angin yang baik adalah satu-satunya harapan kita untuk tiba tepat waktu.” Dengan kata lain, angin yang baik adalah alasan kita dapat, pada kenyataannya, untuk mencapai kebaikan di masa depan yang kita dambakan. Itulah satu-satunya harapan kita.

Jadi harapan bisa digunakan dalam tiga pengertian:

  • Keinginan akan sesuatu yang baik di masa depan,
  • Hal di masa depan yang kita inginkan, dan
  • Dasar atau alasan untuk berpikir bahwa keinginan kita memang dapat terpenuhi.

Ketiga pengertian di atas bersangkutan dengan Ibrani 6:10-12.

Ibrani 6 menguraikan bahaya iman yang dangkal dan belum dewasa. Iman yang dangkal yang tidak mempunyai harapan yang kuat bisa memunculkan risiko keraguan, keputusasaan, dan ketidaktaatan dalam hidup orang Kristen. Hal ini mengarah pada situasi di mana satu-satunya harapan seseorang untuk pemulihan posisinya di hadapan Tuhan yang mahasuci adalah melalui penghakiman, seperti yang dialami Israel selama empat puluh tahun di padang gurun. Orang yang sedemikian hanya bisa berharap bahwa Tuhan akan berbelaskasihan kepadanya ketika ia menghadap Dia. Hidup tanpa harapan tentunya adalah hidup yang tidak berbahagia, dan karena itu banyak orang Kristen yang tidak mau memikirkan konsekuensi cara hidupnya. Hidup sekarang untuk dinikmati, hidup yang berikutnya terserah pada Tuhan.

Penulis Ibrani telah mengkritik orang Kristen Ibrani karena kurangnya kedewasaan rohani mereka, dan memperingatkan mereka tentang bahaya serius yang ditimbulkan oleh iman yang dangkal seperti itu. Hidup kerohanian mereka pada saat itu tidak boleh dianggap sudah maksimal atau optimal. Penulis di sini adalah untuk mendorong mereka agar terus bertumbuh—bukan untuk menakut-nakuti atau mengintimidasi mereka. Ayat-ayat berikutnya memang menyoroti alasan semua orang Kristen dapat memakai iman mereka dengan percaya diri. Karena harapan kita berlabuh pada sifat Allah yang terbukti, tidak berubah, sempurna, dan mutlak, kita seharusnya percaya diri dan tekun, daripada takut atau menjauhkan diri. Allah tidak akan melupakan mereka yang senantiasa berharap kepada-Nya.

Gagasan bahwa Allah benar-benar adil dalam sikap-Nya terhadap perbuatan baik orang Ibrani merupakan pratinjau dari bagian selanjutnya. Orang-orang yang dikritik karena tidak dewasa secara rohani, dan dalam bahaya “murtad,” pada saat yang sama menerima kasih yang sangat besar seperti kasih Kristus bagi orang lain. Ini adalah poin yang berguna untuk diingat ketika membahas kedewasaan rohani. Menurut bagian ini, seseorang dapat menjadi Kristen, melayani Allah, mengasihi orang lain dengan perbuatan baik, namun masih mengalami berbagai masalah kerohanian karena pendekatan yang tidak dewasa terhadap kebenaran Kristen. Maksud penulis di sini tentu saja bukan untuk mengabaikan kasih dan pelayanan, tetapi juga tidak dimaksudkan untuk meredakan ancaman “kemurtadan.” Pelayanan kepada Tuhan adalah hal yang baik, dan tanda ketulusan. Namun, penting untuk mengasihi kebenaran, dan bertumbuh dalam hikmat, sama pentingnya dengan menjalankan kasih kita kepada orang lain.

Seperti dalam semua contoh Perjanjian Baru lainnya, istilah “orang kudus” adalah referensi umum untuk semua orang Kristen yang diselamatkan. Ini bukan kategori khusus pahlawan agama. Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa kita tidak dapat memperoleh keselamatan melalui perbuatan baik (Titus 3:5; Roma 11:6), tetapi kita dipanggil untuk mengusahakannya (Matius 5:16; Ibrani 10:24; Yakobus 3:13). Demikian pula, kita tidak dapat kehilangan keselamatan kita (Yohanes 10:28–30), tetapi kita tetap diperingatkan terhadap bahaya “jatuh” ke dalam keraguan atau ketidaktaatan (Ibrani 6:1–8) yang bisa membawa penderitaan dan masalah bagi kita dan sesama.

Tujuan ayat-ayat di atas bukanlah agar kita membayar penebusan kita sendiri, atau berusaha menghindari kehilangan keselamatan. Sebaliknya, ayat-ayat seperti ini adalah tentang bagaimana kita, sebagai orang yang tidak sempurna, memahami iman kita sendiri. Bertumbuh dalam pelayanan, seperti bertumbuh dalam kebenaran, memberi kita bukti yang meyakinkan bahwa kita mengikuti kehendak Tuhan. Ayat 10 juga mengaitkan keyakinan ini dengan karakter Tuhan. Karena Tuhan benar-benar adil—atau “adil”—tidak diragukan lagi bahwa Dia akan mengakui perbuatan baik dan kerja keras umat-Nya. Pengingat ini menetapkan tema ayat-ayat terakhir dalam pasal 6: bahwa kepercayaan kita kepada Tuhan aman karena Dia tidak berubah dan tidak mungkin berdusta.

Ibrani 6:12 mengubah nada dari peringatan yang tidak menyenangkan di ayat 6-8 menjadi pandangan yang lebih meyakinkan. Perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Yahudi yang dianiaya ini merupakan bukti yang baik bahwa mereka memiliki iman yang tulus dan hidup. Namun, bahkan dalam kepastian itu, masih ada ruang untuk perbaikan dan pengajaran. Secara khusus, para pembaca perlu mengejar pertumbuhan dalam rasa harapan mereka—kepercayaan, ketergantungan, dan keyakinan mereka—untuk sepenuhnya memenuhi panggilan mereka.

Hari ini kita mendapat peringatan tentang kemalasan dalam pendekatan kita terhadap kebenaran Kristen. Hari Natal dan Tahun Baru adalah kesempatan baik untuk mengingatkan kita akan adanya harapan masa depan. Kesempatan bagi kita untuk menjalani hidup dalam Kristus. Peringatan Kristus adalah tentang kemalasan dalam pendekatan kita terhadap harapan kita sendiri. Anda memang yakin mempunyai harapan? Jika betul, apakah yang selama ini sudah Anda usahakan untuk Tuhan, sesama dan diri Anda sendiri?

Kita perlu menjaga kepercayaan kita kepada Kristus, khususnya di dunia yang menyerangnya dan menganiaya orang percaya. Daripada menempatkan diri kita pada risiko “murtad,” dalam arti menjadi orang Kristen duniawi, kita perlu tekun berpegang pada man kita. Hidup kerohanian yang baik tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan kita, tetapi untuk mempertahankan keyakinan kita bahwa kita mengikuti kehendak Tuhan. Itulah kunci pengharapan kita akan masa depan yang akan kita lewatkan bersama Kristus dan orang-orang percaya lainnya di surga. Itulah kunci kebahagiaan selama hidup di dunia.