Nasihat untuk semua orang

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Galatia 6:7

Charles Millhuff, pengarang buku “Thunder Overhead: How a Little Boy Survived Chicago” menulis bahwa banyak situasi kehidupan manusia yang ditentukan oleh tiga pilihan dasar: disiplin yang dipilih untuk dijalani, orang-orang yang dipilih untuk berteman; dan, hukum yang dipilih untuk dipatuhi. Ini adalah kenyataan hidup karena banyak orang yang hidupnya morat-marit karena kurang adanya disiplin kehidupan, karena bergaul dengan orang-orang yang kurang baik, dan karena tidak mau menaati hukum.

Sekalipun catatan Charles Millhnuff di atas adalah pedoman untuk masyarakat umum, itu juga berlaku untuk umat Kristen. Pendeta Wyatt Graham pernah menulis: “Jika saya membuat daftar kebebasan orang-orang berdosa, saya akan berkata: Bebas untuk menyenangkan Tuhan? Tidak. Bebas untuk memilih di antara pilihan-pilihan? Ya. Bebas dalam arti umum, bukan robot? Ya.” Jelas bahwa selaku orang-orang pilihan Tuhan kita harus menggunakan kebebasan kita untuk mengabdi kepada Tuhan dengan cara yag sesuai dengan firman-Nya. Kita harus mempunyai disiplin untuk itu karena kita bukan robot-robot yang bisa secara otomatis dibuat menaati atau menolak firman Tuhan sejak kita dilahirkan.

Galatia 6 memuat petunjuk tentang bagaimana orang-orang yang bebas di dalam Kristus dan berjalan oleh Roh Allah, harus memperlakukan dengan baik satu sama lain. Orang Kristen harus memulihkan mereka yang terperangkap oleh dosa, dan kita harus menanggung beban satu sama lain. Hanya mereka yang menghasikan buah Roh Allah, melalui iman kepada Kristus, yang akan menuai hidup kekal. Orang percaya tidak boleh lelah berbuat baik bagi satu sama lain.

Galatia 6:1–10 berfokus pada bagaimana orang-orang di dalam Kristus harus berinteraksi satu sama lain melalui kuasa Roh Allah. Kita harus menolong mereka yang terperangkap dalam dosa dengan kelembutan dan kerendahan hati, dan kita harus saling membantu dalam menghadapi tantangan hidup. Karena itu, orang Kristen harus jujur ​​kepada diri sendiri tentang apa yang Allah sudah lakukan melalui kita. Kita perlu bertanggung jawab atas apa yang telah Ia minta agar kita mau bertanggung jawab. Karena hidup kekal datang dari penanaman Roh Allah melalui iman kepada Kristus, dan bukan melalui perbuatan daging, kita harus terus berbuat baik. Hasil panen akan menunjukkan bahwa kita telah menanam dengan baik atau tidak.

Paulus telah mendorong orang Kristen untuk menjalani hidup yang ditandai oleh buah Roh (Galatia 5:19-25), dan untuk saling mendukung dalam pergumulan hidup (Galatia 6:1-5). Kekristenan adalah tentang kasih karunia Allah. Dia memberi kita hal-hal baik yang tidak akan pernah bisa kita peroleh dengan usaha kita sendiri. Dalam dosa kita, kita pantas menerima kematian dan penderitaan. Sebaliknya, dalam Kristus, Allah memberi kita hidup dan tujuan. Dalam hukum Kristus kita mengenal pentingnya kasih kepada Tuhan dan kepada sesama kita.

Jawab Yesus kepadanya: ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Matius 22:37-40

Seperti yang dinyatakan Paulus dengan jelas dalam ayat di atas, kasih karunia Allah tidak menghilangkan prinsip-prinsip pilihan dan konsekuensi. Dalam hidup ini, keputusan kita akan membawa serta hasil yang wajar. Kita tidak boleh berbohong kepada diri kita sendiri, bahwa karena kasih karunia Allah dan pengampunan dosa-dosa kita, kita tidak akan menderita kerugian apa pun jika kita terus hidup dalam dosa dan mengabaikan hukum Kristus. Mempercayai hal seperti itu berarti mengejek Allah, meremehkan pengorbanan Yesus untuk dosa kita di kayu salib. Mengajarkan hal seperti itu kepada orang lain berarti menghujat Allah yang mahasuci dan merendahkan firman-Nya.

Sampai sekarang, “tanaman” yang kita hasilkan antara saat hidup dan saat kematian kita juga ditentukan oleh “benih” yang kita tanam di sepanjang jalan. Hukum sebab akibat (JIKA-MAKA) alamiah Allah masih berlaku, baik bagi orang percaya maupun orang yang tidak percaya. Apa yang kita lakukan dalam hidup ini penting, bahkan melampaui pertanyaan apakah kita akan melihat surga atau tidak. Dalam kekekalan, pilihan kita akan tercermin dalam pahala surgawi kita, bagi mereka yang diselamatkan (1 Korintus 3:12–15; 2 Korintus 5:10), atau hukuman kekal bagi mereka yang tidak diselamatkan (Wahyu 20:11–14).

“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Galatia 2:20-21

Tindakan yang harus kita lakukan dengan penyertaan Tuhan

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13

Ayat di atas agaknya cukup populer dan sering dikhotbahkan. Walaupun demikian, mungkin itu dikaikan dengan hal menghadapi kesulitan dan masalah dalam hidup. Ini kurang tepat, karena kesulitan dalam hidup sehari-hari adalah apa yang sudah ditetapkan Tuhan sebagai hukuman atas Adam dan Hawa (dan kita, keturunan mereka) akibat kejatuhan ke dalam dosa (Kejadian 3: 17-19). Kita tidak dapat menghindari hal ini karena sudah ditetapkan Tuhan. Walaupun demikian, ayat di atas berguna untuk mengingatkan bagaimana kita harus bertindak dan memilih apa yang baik selama hidup di dunia yang sudah rusak ini.

Surat Paulus dalam 1 Korintus 10:1–13 menggambarkan bagaimana generasi orang Israel yang lolos dari Mesir dibimbing dan diberkati oleh Allah tetapi berulang kali, karena kesalahan mereka, jatuh ke dalam penyembahan berhala. Tuhan menghukum banyak dari mereka dengan keras, termasuk keharusan bagi sebagian orang Israel untuk mengembara di padang gurun sampai mati. Jemaat Korintus harus membaca contoh mereka sebagai peringatan karena dalam hidup mereka juga jatuh dari jalan Tuhan karena berpartisipasi dengan berhala. Kedudukan mereka di dalam Kristus tidak berarti bahwa mereka akan bebas dari godaan atau merasa bahwaTuhan tidak akan bertindak terhadap ketidaksetiaan kepada-Nya. Namun, godaan seperti itu umum terjadi terutama jika mereka tidak berhati-hati. Dalm hal ini, Tuhan selalu menyediakan anak-anak-Nya jalan untuk membebaskan diri dari dosa. Ini bukan berarti bahwa Tuhan secara langsung akan membebaskan mereka dari dosa.

Penyembahan berhala adalah dosa yang sangat serius. Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus yang dipenuhi berhala tentang hal itu dengan merujuk pada sejarah orang Israel yang mengembara di padang gurun. Meskipun diberkati oleh Tuhan, sebagian dari mereka masih menyembah berhala. Banyak di antara mereka yang meninggal karenanya. Paulus memerintahkan para pembacanya untuk menjauh dari penyembahan berhala. Berpartisipasi dalam dosa dengan cara apa pun berarti berpartisipasi dengan setan. Perlu dicatat, Tuhan selalu menyediakan cara untuk menghindari dosa. Tapi, mereka tidak boleh mengajarkan siapa pun bahwa mereka menyetujui penyembahan berhala, bahkan dengan sengaja memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Pertanyaan pertama bagi mereka sebelum melakukan sesuatu harus selalu, ”Apakah ini akan memuliakan Tuhan?”

Perkataan Paulus dalam ayat sebelumnya mungkin menimbulkan kekhawatiran yang dapat dimengerti, bahkan bagi orang Kristen: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Konteks dari komentar itu adalah menghindari dosa, dan tidak berasumsi bahwa keselamatan memberi kita kekebalan dari konsekuensi duniawi dari perilaku kita sendiri. Jika dikaitkan dengan komentar lain yang dibuat oleh Paulus (2 Korintus 13:5; Galatia 6:3), hal itu juga berfungsi sebagai peringatan bagi mereka yang sombong atau ceroboh tentang kedudukan mereka di dalam Kristus. Kesombongan atau kecerobohan bukan “takdir” yang tidak dapat dihindari manusia, melainkan adalah akibat adanya penyalahgunaan kebebasan yang diberikan Tuhan.

Godaan untuk mengabaikan Tuhan dan firman-Nya adalah bagian rutin dari kehidupan. Ini bisa dialami oleh semua orang, baik tua atau muda, kaya atau miskin, sehat atau sakit, berpendidikan tingi atau tidak. Keinginan kita untuk berbuat dosa sering terasa jauh lebih kuat daripada keinginan kita untuk melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Bagaimana jika kita tidak dapat menolaknya? Bagaimana jika, seperti yang secara keliru dikatakan sebagian orang, bahwa Tuhan menempatkan atau “menakdirkan” kita dalam posisi di mana penolakan tidak mungkin dilakukan: skenario di mana kita tidak punya pilihan lain, selain berbuat dosa? Atau, setidaknya, tidak ada harapan untuk menolak godaan? Apakah dalam keadaan seperti ini Tuhan tetap menuntut tanggung jawab kita?

Sebagai tanggapan pertama terhadap ketakutan semacam itu, Alkitab memberikan jaminan: mengatasi godaan apa pun sepenuhnya mungkin. Itu berlaku bagi setiap orang Kristen. Pertama, Paulus menunjukkan bahwa tidak seorang pun dari kita yang secara unik tergoda oleh dosa—dalam arti bahwa keinginan kita untuk berbuat dosa, apa pun bentuknya yang unik bagi kita, adalah hal yang umum dan biasa. Hal itu telah dialami oleh banyak orang lain dari generasi ke generasi. Kita tidak lebih rentan atau kurang rentan terhadap godaan daripada mereka yang datang sebelum kita atau berjalan bersama kita saat ini. Pengalaman godaan manusia adalah bagian dari apa yang membuat hubungan Kristus dengan kita menjadi hubungan kepercayaan dan harapan (Ibrani 4:14–16). Itu harus dihadapi oleh semua orang di dunia, tapi bagi orang Kristen bisa membawa keuntungan.

Kedua, Allah kita masih dan selalu bersama kita. Dia mengasihi semua umat-Nya. Dia tidak menunggu kita gagal; Dia siap membantu kita. Salah satu cara Dia membantu orang percaya adalah dengan secara aktif bekerja dalam hidup kita untuk menjauhkan kita dari godaan yang lebih besar dari apa yang dapat kita tolak. Kita mungkin tidak selalu percaya bahwa kita dapat mengatasi godaan, terutama jika kita hidup mengalami masalah hidup. Setan mungkin mendorong kita untuk melihat beberapa godaan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak. Allah berjanji bahwa kita dapat, dengan kuasa Roh Kudus, menanggapi godaan apa pun dengan melawannya. Ini memerlukan kita untuk memilih memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, yaitu perlengkapan yang digunakan dalam peperangan rohani melawan Iblis, seperti yang tercantum dalam Efesus 6.

“Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan.” Efesus 6: 10-18

Akhirnya, Paulus menambahkan janji ini bahwa Allah akan selalu memberikan jalan keluar dari godaan apa pun yang ada di hadapan kita. Jika kita mau mencari jalan untuk mengatakan “tidak” kepada dosa apa pun yang memaksa kita, Allah berjanji kita akan menemukannya. Dalam beberapa kasus, itu mungkin berarti secara harfiah kita harus “melarikan diri” dari suatu situasi, seperti Yusuf yang melarikan diri dari istri tuannya (Kejadian 39:7–12). Pada kesempatan lain, Allah secara aktif bekerja untuk membantu mereka yang ada di dalam Kristus, yang ingin melakukan apa yang benar, agar berhasil. Ini bisa muncul sebagai intervensi-Nya dalam bentuk yang ajaib, yang membawa kemuliaan bagi-Nya.

Tentu saja, dengan kehendak bebas kita, kita dapat menolak bantuan Allah. Dalam menghadapi godaan, kita mungkin merasa “terpaksa” memilih untuk menurutinya dengan sengaja. Atau kita merasa Tuhan sedang mencobai kita melalui takdir-Nya yang tidak bisa ditolak. Jika begitu, pada akhirnya apa yang mungkin terjadi adalah inti dari semua dosa: kita membuat pilihan yang disengaja untuk melakukan sesuatu yang lain daripada yang Allah kehendaki (Roma 3:10). Semoga kita tetap tabah dalam menghadapi tantangan hidup dan bisa, dengan pertolongan Tuhan, mengalahkan semua godaan yang ada!

Perjanjian Bersyarat dan Tanpa Syarat (Lanjutan tulisan tentang JIKA-MAKA)

Pertanyaan
Saya pernah mendengar di kalangan Reformed diajarkan bahwa perjanjian Nuh, Abraham, dan Daud bersifat tanpa syarat, dan bahwa perjanjian Adam dan Musa bersifat bersyarat. Apakah ini benar?

Jawaban

Oleh RA McLaughlin, Wakil Presiden Keuangan dan Administrasi di Third Millennium Ministries

Garis besar tentang kondisionalitas/tanpa syarat dari perjanjian yang Anda sampaikan adalah yang menjadi ciri pemikiran dan ajaran Reformed tradisional. Namun, ini adalah area yang membuat saya berbeda dari para pendahulu Reformed kita. Di Third Millennium kita mengajarkan bahwa semua perjanjian bersifat bersyarat.

Salah satu cara untuk menegaskan hal ini adalah dengan mengacu pada ajaran Reformed tradisional lainnya bahwa ada satu perjanjian kasih karunia di bawah berbagai pelaksanaan. Jika hanya ada satu perjanjian, tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa perjanjian ini berubah-ubah antara bersyarat dan tanpa syarat. Karena pelaksanaan berikutnya mengasumsikan dan membangun ketentuan-ketentuan dari pelaksanaan sebelumnya, ketentuan-ketentuan dari perjanjian sebelumnya juga berlaku untuk perjanjian-perjanjian selanjutnya.

Kitab Suci juga menunjukkan bahwa setiap pelaksanaan perjanjian benar-benar bersyarat. Mungkin cara termudah untuk melihat ini adalah dengan memperhatikan bahwa tidak ada pelaksanaan perjanjian yang benar-benar memberikan berkatnya kepada setiap orang (semua, tanpa perkecualian) yang berada di bawah perjanjian itu:

Adam: Semua umat manusia berada di bawah perjanjian Adam, tetapi tidak semua umat manusia diselamatkan – beberapa orang masuk neraka. Ini tidak mungkin terjadi jika Adam dijanjikan keselamatan tanpa syarat. Jika salah satu berkat dari perjanjian Adam adalah penebusan, dan kalau pelaksanaannya tidak bersyarat, maka semua orang harus diselamatkan.

Nuh: Semua umat manusia berada di bawah perjanjian Nuh, tetapi tidak semua umat manusia diselamatkan. Administrasi perjanjian Nuh mengasumsikan semua ketentuan perjanjian sebelumnya, berkat, kutukan, dll., khususnya perjanjian Adam. Oleh karena itu, ia juga menawarkan penebusan/keselamatan sebagai berkat. Karena tidak semua orang diselamatkan, itu harus bersyarat. Lebih jauh, ada ketentuan dan kutukan yang tercantum dalam penetapan perjanjian Nuh, yaitu bahwa orang yang menumpahkan darah manusia harus mati. Tidak menumpahkan darah manusia adalah syarat yang jelas untuk menerima berkat-berkat perjanjian.

Abraham: Sekali lagi, jika perjanjian itu tidak bersyarat, maka setiap orang yang terikat di dalamnya harus diselamatkan. Namun, jelas tidak semua orang yang terikat dalam perjanjian Abraham telah, sedang, atau akan diselamatkan. Misalnya, banyak orang Israel kuno binasa dalam dosa-dosa mereka. Selain itu, syarat-syarat perjanjian yang jelas tercantum dalam penetapan dan peneguhan perjanjian Abraham. Dalam Kejadian 17:1-2, syarat perjanjiannya adalah: hidup di hadapan Allah dan tidak bercacat. Dalam Kejadian 17:14, kita juga belajar bahwa orang yang tidak disunat jatuh di bawah kutukan perjanjian karena ia telah melanggar perjanjian. Seseorang tidak dapat melanggar perjanjian yang tidak bersyarat; melanggar perjanjian berarti melanggar syarat-syaratnya.

Musa: Sepengetahuan saya, tidak seorang pun yang berpendapat bahwa perjanjian ini tidak bersyarat. Bagaimanapun, syarat-syaratnya dirinci dengan jelas dalam kitab-kitab Hukum, dan pasal-pasal seperti Imamat 26 dengan jelas menunjukkan sifat bersyarat dari berkat dan kutukannya. Dan tentu saja, banyak orang di bawah perjanjian ini belum menerima berkat-berkatnya (misalnya, generasi pertama orang Israel yang meninggalkan Mesir dan binasa di padang gurun).

Daud: 2 Tawarikh 6:16 mencatat bahwa janji yang dibuat kepada Daud mencakup syarat yang jelas: “asal anak-anakmu tetap hidup menurut hukum-Ku sama seperti engkau hidup di hadapan-Ku.”

Akhirnya, puncak dari semua pelaksanaan perjanjian adalah pelaksanaan di bawah Kristus. Kristus sendiri harus mati untuk memenuhi syarat-syarat perjanjian, yang membuat pelaksanaan-Nya tidak diragukan lagi bersyarat. Semua ini tidak berarti bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan usaha kita sendiri; tidak peduli pelaksanaan perjanjian mana yang kita lihat, kita tidak dapat menaati semua syarat-syaratnya. Karena itu, kita selalu mengandalkan kasih karunia dan pengampunan Allah agar dapat menerima berkat-berkat perjanjian-Nya. Tidak ada berkat yang dapat kita klaim jika kita menolak-Nya; dan jika kita menerima-Nya, kita juga menerima berkat-berkat-Nya hanya karena Kristus telah memenuhi persyaratan-persyaratan itu bagi kita.

Pentingnya kata “jika” dan “maka” dalam Alkitab

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9

Kali ini saya tidak akan membahas arti ayat di atas secara langsung. Saya ingin membahas sebuah kata yang sangat penting di seluruh Alkitab. Kata ini adalah salah satu kata yang paling sering diabaikan di seluruh Alkitab. Kata “jika” atau “if” dalam bahasa Inggris adalah salah satu kata penting yang terpendek dalam Alkitab. Sebuah kata yang seimg muncul bersamaan dengan kata itu adalah kata “maka” atau “then” dalam bahasa Inggris.

Ketika belajar pemrograman komputer sekitar 45 tahun yang lalu, saya mempelajari instruksi mengenai pernyataan JIKA-MAKA atau IF-THEN yang akan digunakan dalam program saya. Pernyataan tersebut menciptakan opsi bagi komputer untuk membuat pilihan tergantung pada keadaan apa (input) yang harus dipertimbangkan. JIKA ini kondisinya, MAKA lakukan ini; JIKA itu situasinya, MAKA ini harus dipilih, dan sebagainya. Menurut Alkitab, ternyata Tuhan pun menggunakan pernyataan yang serupa. Ini jelas berlaku di alam semesta, dan tentunya juga berlaku dalam kejadian alami, keadaan lingkungan dan kehidupan semua makhluk di dunia.

Apa yang terjadi di dunia pada ciptaan Tuhan selalu ada penyebabnya yang disebut “penyebab sekunder”, dan semuanya terjadi dengan seizin Tuhan sebagai “penyebab primer”. Gunung meletus karena tekanan magma yang menembus muka bumi, gempa bumi terjadi gerakan-gerakan batu dalam bumi, pemanasan global dan musnahnya flora dan fauna terjadi karena polusi manusia, dan sebagainya. Dalam hal ini, sebagian orang secara mudah menyatakan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan yang menghendaki.

Dalam banyak hal manusia bertanggung jawab atas apa yang terjadi di bumi karena Tuhan sudah mengutus manusia sebagai wakil-Nya (Kejadian 2:19-20). Manusia seharusnya mengerti bahwa prinsip JIKA-MAKA berlaku di dunia sesuai dengan kehendak Tuhan yang menetapkan bahwa segala sesuatu berjalan secara teratur sesuai dengan aturan tertetu, sekalipun Tuhan yang berdaulat dan mahakuasa terkadang melalukan keajaiban untuk mencapai maksud-maksud dan rancangan-Nya.

Seberapa pentingkah kata “IF” dalam Alkitab? Kata ini muncul dalam Alkitab berbahasa Inggris sekitar 1.637 kali. Anda akan menemukannya 993 kali dalam Perjanjian Lama dan 602 kali dalam Perjanjian Baru. Dua puluh empat kali dalam surat-surat Yohanes.

Menariknya, dalam hal rohani banyak orang Kristen tahu adanya pernyataan JIKA-MAKA dari Tuhan, tetapi mereka seakan mengabaikannya. Ini mungkin karena dalam Alkitab pernyataan JIKA-MAKA sering kurang jelas, tidak seperti kata IF-THEN dalam terjemahan bahasa Inggris. Ayat di 1 Yohanes 1:9 adalah perkecualian. Pernyataan-pernyataan JIKA-MAKA ini diberikan kepada kita agar kita dapat menggunakan penalaran, menghasilkan pemahaman, dan kemudian penerapan, untuk ‘membuat pilihan yang tepat’ dengan aktivitas hidup kita. Pernyataan JIKA-MAKA membantu kita secara logis untuk memahami kehendak Tuhan.

Jika Alkitab penuh dengan pernyataan JIKA-MAKA, mengapa konsep kausalitas ini jarang dibahas dalam khotbah? Kausalitas ini menyangkut hubungan sebab-akibat (kausal) antara dua atau lebih peristiwa. Secara umum pengetahuan tentang hubungan sebab akibat sangat penting dalam mempelajari sejarah terutama untuk menjawab pertanyaan mengapa suatu peristiwa itu terjadi. Salah satu di antara penyebab keseganan orang Kristen untuk mendalami arti ayat-ayat yang mengandung pernyataan kausalitas adalah keyakinan yang keliru bahwa semua yang terjadi di dunia sudah ditentukan Tuhan dan tidak ada pilihan lain untuk manusia yang diutus-Nya untuk menjadi seperti Dia.

Berikut ini adalah beberapa contoh kausalitas JIKA-MAKA dalam Kitab Suci yang menyatakan adanya opsi manusia:

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga (maka) Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Markus 11:25

Perlu dicatat bahwa sekalipun kata JIKA-MAKA itu tidak ditemui, bentuk kausalitas itu tetap ada:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya (jika) setiap orang yang percaya kepada-Nya (maka) tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16

Jawab Yesus, “Jika seorang mengasihi Aku, (maka) ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Yohanes 14:23

Apa yang harus kita sadari adalah bahwa begitu banyak hal yang kita harapkan dari hubungan kita dengan Tuhan bersifat bersyarat, dan bukan sudah ditentukan Tuhan. Tuhan seakan berjamji, “JIKA kamu mau, MAKA Aku akan melakukannya; dan JIKA kamu tidak mau, MAKA Aku tidak akan melakukannya.” Apa yang lebih sering didengungkan oleh mereka yang fatalis adalah: JIKA Aku mau, Aku akan melakukannya, MAKA tidak ada hal apa pun yang bisa mengubah keputusan-Ku”. Inilah yang menyebabkan keraguan orang Kristen untuk berdoa guna memohon belas kasihan dan pertolongan Tuhan dan keseganan mereka untuk berbuat baik. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan yang mahatahu sudah mempertimbangkan semua jalan manusia dan ikut bekerja dalam segala seuatu untuk mencapai rencana-Nya. Manusia harus berusaha sekalipun pada akhirnya (ultimately) rencana Tuhanlah yang terjadi.

Tentu saja ada Perjanjian-Perjanjian yang dibuat Tuhan yang tidak ada hubungannya dengan tanggapan kita, seperti pelangi di langit dan janji Tuhan untuk tidak pernah lagi menghancurkan seluruh bumi dengan air. Itu adalah Perjanjian Tuhan yang ‘berdiri sendiri’, dan apa yang kita lakukan atau tidak lakukan tidak akan mengubah apa yang akan Tuhan lakukan terhadap janji itu.

Saya harap Anda akan tertantang untuk melakukan studi pembacaan Kitab Suci dengan memperhatikan pernyataan kausalitas JIKA-MAKA yang bisa membantu Anda untuk menjadi dewasa secara spiritual. Pernyataan ini dapat membuat perbedaan antara kebenaran dan kesalahan, menaati Allah dan tidak menaati Allah, diselamatkan dan tersesat, berada di Surga atau berada di neraka.

Pemahaman yang tepat tentang hal ini bisa mencegah timbulnya dua masalah serius. Salah satunya adalah otomatisme – gagasan bahwa keanggotaan keluarga Tuhan adalah tiket sekali jalan otomatis ke surga yang tidak melibatkan tanggung jawab pribadi untuk mempercayai Injil. Pandangan seperti ini muncul dalam betuk ajaran hyper grace. Ini keliru karena Anda tidak dapat berada dalam hubungan yang hidup dan vital dengan Tuhan tanpa benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Masalah lainnya adalah fatalisme – gagasan bahwa, karena Tuhan berdaulat, tidak ada yang perlu saya lakukan atau dapat saya lakukan dalam hubungan saya dengan-Nya. Ini muncul dalam bentuk hyper Calvinism. Namun, Kitab Suci jelas: Tuhan berdaulat dan Anda bertanggung jawab. Anda bertanggung jawab untuk percaya kepada Kristus, dan juga untuk bertobat serta menjalani kehidupan saleh sebagai tanggapan atas anugerah keselamatan yang cuma-cuma.

Ketika Anda memikirkan hampir setiap janji sepanjang sejarah yang telah diberikan Allah, itu semuanya bersyarat – termasuk janji keselamatan. Itu dikondisikan pada kata JIKA. Bangsa Israel akan memiliki tanah perjanjian, JIKA mereka tetap tinggal di tanah perjanjian, JIKA mereka tetap berada di jalan Tuhan dan menaati perintah Tuhan. Mereka diberi tahu bahwa JIKA mereka melanggar, mereka akan diusir, dan itulah yang sebenarnya terjadi.

Kita memiliki terlalu banyak orang Kristen yang mencoba hidup menurut cara dunia dan di dalam Kristus pada saat yang sama. Kadang-kadang, kita semua bersalah akan hal ini. Kita mencoba untuk mengabdi kepada keduanya, untuk hidup dengan dua cara. Kita tidak dapat menyenangkan Tuhan ketika kita melakukan ini. Kita menipu diri sendiri ketika kita percaya bahwa kebenaran Tuhan tidak mutlak atau tidak dapat dicapai. Atau, ketika kita mencoba mengubah hukum Tuhan agar sesuai dengan situasi kita (dalam hal pernikahan, gender, pekerjaan, perceraian, koripsi, kemarahan, mabuk, mencuri, bergosip, kebohongan putih dan sebagainya).

Ayat pembukaan di atas menyatakan bahwa JIKA kita mengaku dosa kita, MAKA Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Mengaku atau tidak mengakui adalah pilihan kita yang membawa hasil yang berbeda. Jika kita menolak untuk mengakui dosa kita dan bertobat, maka Allah tidak dapat mengampuni.

Jika kita hidup dalam terang, maka darah Kristus membersihkan kita dari dosa-dosa kita. Tetapi hidup dalam terang berarti bahwa jika kita berbuat dosa, maka kitaa segera mengakuinya, sehingga Ia dapat terus-menerus membersihkan kita. Itulah bagian yang bersyarat (kausal). Kita harus mengakui dosa-dosa kita untuk menerima pembersihan yang terus-menerus itu. Kita harus mau mengubah hidup kita sesuai dengan bimbingan Roh Kudus untuk menjadi umat Tuhan yang sejati. Jika kita mau sadar dan bertobat, maka dosa kita akan dihapuskan.

“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” Kisah Para Rasul 3:19

Apakah Tuhan membuat Simson jatuh cinta kepada Delila?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1:13-4

Anda tentu tahu kisah Simson dan Delila yang sudah ditampilkan di layar perak Amerika Serikat pada tahun 1949, yang diproduksi dan disutradarai oleh Cecil B. DeMille dan dirilis oleh Paramount Pictures. Film ini menggambarkan kisah Alkitab dalam kitab Hakim-hakim 16:4-22 tentang Simson, seorang pria kuat yang rahasianya terletak pada rambutnya yang tidak dipotong, dan cintanya kepada Delilah, wanita yang merayunya, menemukan rahasianya, dan kemudian mengkhianatinya kepada orang Filistin.

Kehidupan Simson adalah sebuah kehidupan yang penuh kontradiksi. Ia adalah pria yang memiliki kekuatan jasmani yang hebat namun moralitas yang lemah. Ia adalah seorang hakim selama 20 tahun dan seorang yang “sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah” (Hakim-Hakim 13:5), namun berulang kali ia gagal memelihara peraturan nazir. Kelemahan moral Simson adalah penyebab kejatuhannya. Kelemahan Simson ini bukanlah sesuatu yang dibuar oleh Tuhan, tetapi adalah kesalahannya sendiri. Sebaliknya, adalah menarik bahwa Roh Allah datang menguasai Simson dan memberinya kekuatan yang besar untuk melawan kaum Filistin, kaum penindas umat Israel. Hal ini dilakukan meskipun Simson mata keranjang dan pendendam.

Kehidupan Simson mengajar bahwa:

  • Allah bukan penyebab dosa,
  • memelihara moralitas yang baik, kita harus berkata “tidak” pada godaan jasmani,
  • Allah dapat menggunakan manusia yang berdosa untuk menggenapi rancangan-Nya,
  • setiap dosa selalu ada akibatnya, dan
  • Allah bisa berbelas kasihan.

Kitab Hakim-Hakim 16 menceritakan kejadiannya ketika Simson hendak mencari istri. Ia ingin menikahi seorang wanita Filistin meskipun orang tuanya menentang, dan bertolak belakang dengan hukum Allah yang melarang perkawinan dengan kaum berhala. Sekalipun Simson menikahi Delila atas kehendaknya sendiri, peristiwa buruk ini digunakan oleh Allah untuk melaksanakan rencana-Nya: “…hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel.” (ayat 4).

Dengan kehendak sendiri, secara sukarela Simson memasuki situasi yang berujung pada dosa, namun, tiap kali, Allah menggunakan Simson bagi kemuliaan-Nya. Dosa kita tidak dapat membendung kehendak berdaulat Allah terjadi. Simson, penuh dengan amarah dan dendam, bersumpah mencelakai kaum Filistin karena telah mencuri istrinya (Hakim-Hakim 15:3). Ia membakar ladang pertanian kaum Filistin (ayat 4-5) dan, kemudian, setelah kaum Filistin membunuh istrinya, “dengan pukulan yang hebat ia meremukkan tulang-tulang mereka” (ayat 8).

Kehendak Allah menaklukkan bangsa Filistin dilakukan melalui Simson, namun Simson juga dituntut pertanggung-jawabannya atas dosanya, dan ia mengalami akibat dari ketidak-taatannya dan kebodohannya. Pelanggaran Simson yang terus-menerus dilakukan telah mencapai titik akhirnya. Ia terlalu yakin pada kekuatannya sehingga ia merasa dirinya dapat mengabaikan hukum apapun juga; tampaknya ia merasa ia sudah tidak lagi membutuhkan Allah. Sebagai akibatnya, ” Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling” (Hakim-Hakim 16:21). Simson akhirnya menghadapi akibat dari tindakannya.

Para Filistin ingin merayakan kemenangan mereka atas Simson, dan para penguasa berkumpul di kuil Dagon, dewa mereka, untuk memujinya karena telah menyerahkan Simson pada mereka (Hakim-Hakim 16:23). Pada pesta itu, mereka mengeluarkan Simson dari penjara untuk mengoloknya. Dengan bersandar pada tiang-tiang penyangga kuil itu, “berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: ‘Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin'” (ayat 28). Allah mengabulkan permintaan Simson. “Membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (ayat 30). Simson membunuh lebih banyak kaum Filistin pada waktu itu — sekitar 3,000 orang Filistin — dibanding ketika ia masih hidup.

Jangan sampai Anda berpikir bahwa Simson adalah orang tidak mengenal Tuhan. Simson adalah pria beriman — namanya dikutip dalam pasal peringatan tokoh-tokoh beriman (Ibrani 11:32). Pada waktu yang sama, ia mungkin bisa digolongkan orang Kristen duniawi atau kedagingan jika ia hidup di zaman sekarang, dan berbagai kesalahannya seharusnya menjadi himbauan bagi kita yang bermain dengan api dan beranggapan tidak akan terbakar. Juga sebuah pringatan bagi mereka yang percaya bahwa semua tidakan manusia, baik atau buruk, sudah ditentukan Tuhan. Kehidupan Simson mengajar kita akan pentingnya mengandalkan kekuatan Allah, bukan kekuatan pribadi kita; mengikuti kehendak Allah, bukan sengaja melanggar hukum Allah dengan kemauan kita yang keras kepala; dan mencari hikmat Tuhan, bukan pengertian pribadi kita.

Karena kita adalah orang berdosa, kita mungkin tidak menghadapi ujian dengan baik. Terkadang kita terjebak dalam pikiran bahwa Allah mungkin menggoda kita untuk berbuat dosa di tengah kesulitan. Kita harus mengerti bahwa Tuhan tidaklah memunculkan Delila untuk menggoda dan menjatuhkan Simpson. Ketika Tuhan mengizinkan masa kesulitan keuangan dalam hidup kita, kita mungkin berpikir Dia menggoda kita untuk mencari keuntungan yang tidak sah. Kesulitan dalam pernikahan kita mungkin membuat kita merasa bahwa Tuhan menggoda kita untuk mencari teman kencan atau memilih perceraian. I

Namun, ayat bacaan hari ini menyatakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Tuhan memang mengizinkan iman kita diuji, tetapi jika kita tergoda untuk melakukan kejahatan sebagai akibatnya, maka Dia tidak pernah menjadi sumbernya. Seseorang yang menunjukkan iman yang sejati melihat keadaannya, dan, di tengah godaan, menyadari bahwa meskipun Tuhan mungkin telah mengizinkan pencobaan datang, keinginan untuk melanggar hukum-Nya bukanlah dari-Nya. Rendahnya moral Simpson dan ketundukannya kepada hawa nafsu bukanlah dibuat Tuhan. Itu karena Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia tidak mencobai seorang pun untuk berbuat dosa (Yakobus 1:13).

Kesalahpahaman tentang posisi Reformed tentang kedaulatan Allah dapat membuat hal ini sulit diterima. Beberapa penganut hiper-Calvinis, misalnya, mengatakan bahwa Allah bertanggung jawab atas kejahatan dan menggoda orang untuk berbuat dosa.

Hubungan Allah yang tepat dengan dosa adalah misterius. Allah telah menetapkan segala sesuatu yang pernah terjadi, termasuk kejahatan. Namun, bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa Allah bukanlah pencetus kejahatan atau bahkan godaan yang mengarah kepada kejahatan. Kita tidak boleh menyalahkan Allah atas dosa atau godaan yang kita alami. Sebaliknya, seperti yang dicatat dengan tepat dalam ayat 13-14, godaan untuk berbuat dosa berasal dari sifat jahat kita sendiri, pilihan kita dan tidak pernah berasal dari Tuhan.

Allah tidak pernah bertanggung jawab atas kejahatan di dunia ini atau godaan yang mungkin ditimbulkan oleh iblis. Dia mungkin mengizinkan adanya kejahatan untuk tujuan rencana-Nya yang baik, tetapi semua kejahatan yang terjadi berasal dari kecenderungan jahat dari pelaku sekunder (manusia) dan tidak disebabkan oleh Allah. Hari ini, lihatlah pergumulan yang Anda hadapi, dan tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda menyalahkan Allah atas kejahatan, pilihan atau pengalaman yang terjadi dalam hidup Anda atau apakah Anda pikir Dia menggoda Anda untuk berbuat dosa. Jika demikian, bertobatlah dari sikap seperti itu saat Anda merenungkan ayat-ayat hari ini.

Pentingnya berdoa sambil mengakui kedaulatan Tuhan

“datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Yesus mengajarkan para pengikut-Nya cara berdoa kepada Bapa dengan memberi contoh doa bagi mereka (Matius 6:9-13). Doa ini dikenal di seluruh dunia sebagai Doa Bapa Kami. Bahkan banyak orang yang tidak percaya pun familier dengan doa ini (setiap sidang parlemen Australia dimulai dengan doa ini walau mungkin hanya 10% dari anggota parlemen adalah orang Kristen). Meskipun tidak ada yang salah dengan doa ini, Yesus pada dasarnya memaksudkan kata-kata ini sebagai teladan atau pedoman. Bagian ini bukanlah mantra ajaib, atau nyanyian wajib: ini adalah sesuatu yang dapat ditiru atau dijadikan pedoman oleh orang Kristen dalam doa pribadi mereka sendiri (Matius 6:5-8).

Dalam Alkitab, Kristus selalu menekankan pentingnya ketundukan umat kepada kehendak Tuhan, agar mereka berbicara kepada-Nya dengan cara yang mengakuinya. Bahkan Ia sendiri tunduk kepada kehendak Allah Bapa di taman Getsemani. Berdoa agar apa yang Tuhan inginkan terjadi berarti menerima bahwa rencana-Nya benar dan baik bagi semua orang. Yesus menyiratkan bahwa ini mencakup segala waktu dan tempat. Ia berdoa agar kerajaan Tuhan datang dan penggenapan kehendak-Nya, di semua tempat dan sepanjang masa. Berdoa dengan tulus juga berarti meminta kepada Tuhan hal yang akan Yesus capai: mendatangkan kerajaan surga ke bumi di masa mendatang.

Doa adalah ekspresi iman yang benar dan alkitabiah, namun terkadang pengertian teologi kita dapat membengkokkan iman kita. Ini bukan karena kesalahan kebenaran Alkitab, tetapi merupakan kecenderungan manusia yang telah jatuh. Pikiran kita jahat (Kejadian 6:5) dan pengalaman hidup kita sering membuat kita salah memahami atau salah menerapkan kebenaran Allah. Jika sebagian orang Kristen merasa bahwa dengan “doa yang bersemangat” mereka dapat mengubah kehendak Tuhan, sebagian lagi merasa bahwa doa hanyalah formalitas yang diminta Tuhan. Dalam kelompok yang kedua, pertanyaan ini sering muncul: Jika Allah telah menetapkan dan mengendalikan segala sesuatu, mengapa saya harus berdoa untuk apa pun? Akankah Allah mengubah rencana-Nya untuk memenuhi kebutuhan saya? Mengapa saya harus memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan teman-teman dan tetangga saya jika mereka telah dipilih atau ditolak sejak kekekalan?

Di satu sisi, kehendak Allah tidak dapat diubah. Di sisi lain, Alkitab memerintahkan kita untuk berdoa. Di seluruh Kitab Suci, orang-orang saleh menyampaikan permohonan mereka di hadapan Tuhan. Sebagian berdoa untuk kesehatan (Kejadian 20:17; 2 Raja-raja 20:1-5). Paulus berdoa agar “atas kehendak Tuhan” ia dapat mengunjungi Roma (Roma 15:30-32). Mengapa menyampaikan permohonan seperti itu kepada Tuhan yang sudah menetapkan segala sesuatu?

Kita dapat membahas pertanyaan teologis ini dari tiga perspektif:

Pertama, Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa. Alkitab sangat jelas menyatakan bahwa Tuhan ingin kita berdoa. Bahkan, kita mengetahui beberapa bagian Kitab Suci yang memberi tahu kita untuk berdoa tanpa henti. Ini adalah masalah ketaatan ketika kita terlibat dalam praktik berdoa.

Kedua, sebagai orang Kristen, berdoa adalah napas kehidupan. Sudah menjadi hal yang otomatis jika ada kehidupan baru di dalam diri kita, kehidupan baru itu menemukan ungkapannya dalam doa. Kita tahu bahwa kehidupan fisik itu ada karena kita bernapas. Dengan cara yang sama, kita tahu bahwa kehidupan rohani itu ada karena kita berdoa.

Ketiga, kita berdoa karena Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang memiliki dan bisa memakai berbagai sarana. Tuhan mampu melakukan apa pun yang Dia inginkan, kapan pun Dia ingin melakukannya, dan dengan cara apa pun Dia ingin melakukannya. Dia dapat bekerja secara seketika, dan Dia dapat bekerja tanpa sarana, tetapi Tuhan hanya melakukan itu dalam keadaan yang luar biasa. Yang lebih umum, Tuhan bekerja di dalam dan melalui doa dan tindakan umat-Nya.

Jadi, kita berdoa karena Tuhan bisa mengubah kita, Dia bisa mengubah banyak hal, dan Dia bisa mengubah jalannya peristiwa dalam mencapai apa yang menjadi rencana akhir-Nya. Tuhan tidak perlu harus mempersiapkan segala sesuatu dari awalnya, karena Dia yang mahakuasa mengizinkan banyak hal untuk berubah di sepanjang zaman, untuk mana umat Kristen harus selalu berusaha untuk mencari kehendak-Nya.

Sungguh menakjubkan betapa banyak peristiwa besar dalam Alkitab bisa terjadi sebagai respons Tuhan terhadap doa manusia. Kita dapat memikirkan tentang tulah-tulah di Mesir dan berapa banyak dari tulah-tulah itu yang datang atau diangkat sebagai respons atas doa-doa Musa. Jika kita membaca Kitab Suci, kita akan melihat berulang kali bahwa Allah menggunakan doa dan tindakan umat-Nya untuk mewujudkan tujuan-Nya yang sempurna.

Kita semua sebagai orang Kristen dengan mudah mengakui pentingnya doa—terutama doa bagi mereka yang kita kasihi. Namun, sebagian besar, jika tidak semua, dari kita harus berjuang untuk benar-benar bisa mempraktikkan keyakinan ini. Kita tahu bahwa kita harus berdoa lebih sering daripada yang kita biasa lakukan, tetapi kita gagal melakukannya. Mungkin itu karena kita merasa bahwa Tuhan yang berdaulat tidak akan mendengarkan kita karena apa pun yang terjadi di alam semesta adalah tujuan akhir-Nya.

Martin Luther pernah mengeluh bahwa setiap kali ia mencoba berdoa, seolah-olah “seratus ribu rintangan sekaligus menghalangi” dan iblis sendiri berusaha memberikan segala macam alasan agar ia tidak berdoa. Terlalu sering, bahwa sekalipun saya berjuang untuk mengatasi banyak masalah yang muncul dalam hidup saya, dan saya membiarkan “alasan teologi” menghalangi saya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya harus mengakui bahwa saya sering bertindak seperti orang fatalis yang percaya kepada “takdir”. Dan saya kira banyak orang Kristen yang merasa seperti saya dalam hal ini.

Hal pertama yang perlu kita ingat adalah bahwa doa itu penting karena Tuhan berdaulat untuk menjawab doa kita menurut kebijaksanaan-Nya. Yesus Sendiri memberi tahu kita bahwa ini benar sekitar 9 kali dalam catatan Injil (lihat, misalnya, Matius 7:7-11; 18:19; 21:22; Markus 11:24; Lukas 11:1-13; Yohanes 14:13-14; 15:7; 15:16; dan 16:23); dan teladan-Nya sendiri dalam doa menunjukkannya berulang kali juga. Di luar Injil, kita melihat Yakobus dengan gamblang menyatakan bahwa alasan orang Kristen kekurangan secara langsung terkait dengan fakta bahwa mereka tidak berdoa (Yakobus 4:2); dan kita melihat Yohanes bersikeras bahwa “Tuhan mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14-15). Yang pasti, dalam setiap bagian ini, ada kualifikasi atau ketentuan yang diberikan: kita harus meminta “menurut kehendak-Nya” atau dalam nama Yesus, dan kita tidak boleh meminta “dengan cara yang salah, menghabiskannya untuk keegoisan kita.” Ketentuan ini seharusnya cukup untuk mencegah kita berasumsi bahwa doa kita akan selalu dijawab dengan “ya” terlepas dari apa yang kita minta.

Pada pihak yang lain, doa bukanlah lampu jin yang dapat kita gosok untuk memperoleh apa saja yang kita ingini. Namun, kita tidak boleh membiarkan pengertian ini membuat kita mati rasa dan mencegah kita untuk merasakan apa yang sebenarnya dikatakan Alkitab, yaitu bahwa Tuhan menjawab doa yang disampaikan dengan iman.

Hal kedua yang perlu kita ingat adalah bahwa doa itu penting karena kita semua menjalani kehidupan yang sibuk. Sering, karena kita sibuk, kita tidak berdoa sesering yang seharusnya. Kita mungkin merasa terlalu sibuk untuk berdoa. Namun, kita perlu diingatkan bahwa hidup kita sebenarnya terlalu sibuk, terlalu berat, untuk tidak berdoa. Hidup tanpa doa adalah hidup penuh risiko, semakin sibuk diri kita semakin perlu kita berdoa. Kita perlu mengingat bahwa Tuhan adalah Tuhan dan kita bukan. Dan kita perlu membawa kesibukan dan masalah kita—dan kesibukan serta masalah keluarga kita—kepada Tuhan dalam doa.

Hal ketiga yang perlu kita ingat adalah bahwa doa itu penting karena kita begitu mudah kehilangan fokus dalam hidup kita. Kita tidak dapat melihat puncak gunung karena melihat pepohonan di sekitarnya. Kita terjebak dalam kesibukan usaha dan kegiatan. Kita bahkan terjebak dalam pekerjaan yang nampaknya baik, seperti mempersiapkan khotbah. Mungkin kita terus-menerus berada dalam kesibukan, dan mungkin ketegangan, untuk merancang metode baru, rencana baru, organisasi baru untuk memajukan gereja dan mengamankan perluasan dan efisiensi kegiatan gereja.

Saat ini mungkin kita perlu diingatkan terus-menerus bahwa doa lebih penting daripada rencana, metode, program, dan kegiatan ini dan itu. Itu lebih penting karena Tuhan benar-benar menjawab doa, karena kita semua sibuk dan menderita selama hidup di dunia, dan karena Tuhan bekerja terutama di dalam dan melalui umat-Nya.

Jalan manusia belum tentu jalan Tuhan

“Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap.” Yohanes 7:8

Sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mengatur semua hal di dunia sehingga semua hal terjadi persis seperti apa yang dikehendaki-Nya. Pendapat semacam ini agak membingungkan karena jika ada hal yang jahat terjadi, tentunya itu juga apa yang dikehendaki-Nya sekalipun mungkin bukan Dia yang secara langsung melakukannya. Anak yang lahir cacat, orang yang mengalami kecelakaan dan berbagai hal yang mengerikan, semuanya adalah apa dikehendaki Tuhan yang tidak mau “kaget” jika itu terjadi. Pendapat seperti ini membuat Tuhan seakan monster yang bodoh, yang takut kehilangan kontrol jika sesuatu terjadi di luar kehendak-Nya.

Pada pihak lain, dapatkah manusia berbuat sesuatu yang berbeda dengan apa yang dikehendaki Tuhan? Sudah tentu! Dalam Alkitab ada banyak kisah tentang manusia yang melanggar perintah dan firman-Nya sedemikian rupa sehingga Tuhan marah dan menjatuhkan hukuman-Nya. Tuhan yang mahasuci tidak membuat manusia memilih apa yang jahat; sebaliknya, manusialah yang bersalah atas dosanya. Karena itu dosa bisa dibayangkan sebagai anak panah yang meleset dari sasaran yang dikehendaki Tuhah.

Memang tanpa bimbingan Tuhan, manusia cenderung untuk merencanakan dan melakukan apa yang jahat atau yang tidak baik, yang menyimpang dari rancangan dan jalan Tuhan. Walaupun demikian, Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa tidak akan kaget melihat semua itu karena Ia sudah tahu sebelum hal itu terjadi, dan Ia sanggup mengatasi semuanya agar rencana-Nya akhirnya akan terjadi. Bagi orang durhaka, ini juga memberi Tuhan alasan untuk menghukum mereka. Sebaliknya, bagi umat percaya, ini berarti bahwa Tuhan bisa memakai apa saja yang terjadi untuk kebaikan mereka.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Dari Alkitab kita bisa melihat bahwa apa yang signifikan dan krusial dalam rencana-Nya, Tuhan selalu memakai rencana dan penetapan tertentu dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak dapat dibantah manusia. Pada pihak lain, ada banyak perbuatan manusia yang tidak signifikan dan bahkan bisa dikatakan sia-sia, untuk mana Tuhan mengizinkannya terjadi sesuai dengan kebebasan yang diberikan-Nya kepada setiap insan. Itu juga merupakan bagian rencana-Nya dan keputusan yang diambil-Nya.

Segala apa yang tidak mengganggu rencana-Nya akan dibiarkan-Nya terjadi sepengetahuan-Nya dan sesuai dengan kesabaran-Nya, sampai saat yang tepat di mana Ia akan menyatakan apa yang harus terjadi.

Untuk bisa sepenuhnya memahami cara Tuhan bekerja, tidak seorang pun yang bisa. Tetapi kita bisa belajar dari kitab Yohanes bab 7 saat saudara-saudara Yesus merencanakan sesuatu yang berbeda dengan kehendak Yesus.

Dalam ayat 1-9 kita membaca tentang rencana saudara-saudara Yesus untuk menghadiri perayaan besar di Yerusalem. Pria Yahudi diwajibkan menghadiri beberapa perayaan di Yerusalem setiap tahun (Ulangan 16:16). Perayaan terbesar adalah Perayaan Pondok Daun selama tujuh hari, yang juga dikenal sebagai Perayaan Pondok Daun (Imamat 23:34). Selama waktu tersebut, Yerusalem akan dipenuhi oleh para peziarah, pengunjung, dan pelancong.

Alih-alih pergi ke perayaan itu bersama saudara-saudara-Nya, Yesus bermaksud untuk datang sendiri, agar kedatangan-Nya lebih tenang (Yohanes 7:10). Meskipun didorong oleh saudara-saudara-Nya (Yohanes 7:1-5), Yesus tidak mau mencari publisitas atau popularitas (Yohanes 6:25-29). Sebaliknya, Ia tahu bahwa orang-orang akan menentang-Nya karena tidak suka diingatkan tentang dosa mereka (Yohanes 7:7; 15:24-25). Yesus yang peka terhadap kehendak Allah Bapa, tahu bahwa pekerjaan-Nya di bumi harus mengikuti rencana Allah.

Saudara-saudara Yesus mendesaknya untuk pergi ke Yerusalem agar para pengikutnya dan dunia dapat melihat pekerjaan yang dilakukannya, tampaknya dengan asumsi bahwa ia “berusaha untuk dikenal secara terbuka” (Yohanes 7:4). Sekalipun ini seperti maksud yang baik, Yohanes menyatakan bahwa saudara-saudara Yesus belum percaya kepada-Nya.

Pernyataan saudara-saudara Yesus sebenarnya dapat dipahami setidaknya dalam dua cara. Mereka bisa saja mencemooh dan mengejek Yesus dalam permusuhan terbuka terhadapnya. Atau, mereka mungkin dapat menanggapi mukjizat Yesus secara positif tanpa memahami rencana-Nya. Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukan-Nya, dan mereka agaknya memahami bahwa Yesus adalah Mesias, dan karena itu mereka berasumsi bahwa Ia harus tampil di depan umum, sebagaimana tercermin ketika mereka menasihati, “Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia.” (Yohanes 7:4).

Menuruti penikiran mereka sendiri, saudara-saudara Yesus memanggil-Nya untuk tampil di depan umum, agar Dia pergi ke pesta itu sehingga para pengikut-Nya dan dunia dapat melihat apa yang sedang Dia lakukan (Yohanes 7:4-5). Yesus menegaskan bahwa Dia tidak pergi ke pesta itu dengan cara itu untuk tujuan itu (Yohanes 7:8). Daripada bergabung dengan gerombolan orang yang menyerbu Yerusalem agar semua orang dapat melihatnya (Yohanes 7:9), Yesus pergi ke pesta itu secara pribadi (Yohanes 7:10), menghindari orang-orang yang ingin menemukan-Nya (Yohanes 7:11).

Saudara-saudara Yesus tampaknya menyarankan agar ia pergi ke pesta itu dan memasuki Yerusalem dengan cara yang sama seperti yang akan Ia lakukan ketika saatnya tiba, ketika orang banyak melambaikan daun palem dan berseru, “Hosana!” (lihat Yohanes 12:12–15). Saudara-saudara Yesus tidak sekadar menyarankan agar Yesus pergi ke pesta itu; mereka menyarankan agar ia berparade dengan orang banyak yang berbondong-bondong untuk dirayakan sehingga gerakan itu dapat membangun momentum.

Pemahaman tentang apa yang disarankan oleh saudara-saudara Yesus ini menjelaskan mengapa Yesus menjawab bahwa waktunya belum tiba (Yohanes 7:6). Yesus tidak pergi ke pesta itu seperti yang didesak oleh saudara-saudara-Nya. Mereka tidak percaya karena mereka tidak bisa, dan mereka tidak bisa percaya karena mereka tidak memahami misi-Nya. Sekalipun demikian, Yesus tidak membuat mereka batal untuk berangkat. Ia tidak melarang mereka pergi. Ia tidak marah. Sebaliknya, Ia menganjurkan mereka untuk pergi ke sana, sesuai dengan keinginan mereka. Kehadiran saudara Yesus tidak akan membawa masalah bagi Yesus, tetapi Ia tidak mau pergi bersama mereka.

Kehendak dan pilihan manusia secara umum bukanlah hal yang signifikan bagi Tuhan jika tidak menghalangi rencana-Nya. Kehendak dan pilihan saudara-saudara Yesus adalah kehendak asli manusiawi karena kemampuan mereka yang terbatas, bukan buatan Tuhan tapi dengan seizin-Nya.

Orang-orang Yahudi berusaha membunuh Yesus (Yohanes 7:1), dan saudara-saudara-Nya tidak memahami tujuan-Nya (Yohanes 7:5). Yesus menjelaskan dirinya sendiri dan menjawab saudara-saudaranya dalam ayat 6-8. Ia menyatakan bahwa ia tidak akan menerima nasihat dari saudara-saudaranya dan pergi ke Yerusalem karena waktunya belum tiba.

Pagi ini kita menyadari bahwa jalan yang diambil orang Kristen belum tentu jalan Tuhan. Tetapi, seperti saudara-saudara Yesus, cara hidup kita saat ini adalah sepenuhnya tanggung jawab dan pilihan kita selama Tuhan mengizinkannya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh merasa bahwa Tuhan sudah membuat kita hidup dan mengambil keputusan yang bisa menyebabkan adanya suka atau duka karena kehendak-Nya semata-mata. Baiklah kita memohon agar kita dibimbing-Nya untuk bisa melihat rancangan dan kehendak-Nya, agar kita bisa mengambil tindakan yang memuliakan Dia.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55:8

Rambut kepala kita terhitung semuanya

“bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12:7

Ayat di atas adalah ayat yang cukup terkenal, terutama karena sebagian orang Kristen mengartikannya secara literal dalam konteks Tuhan menentukan segala seuatu, termasuk jatuhnya sehelai rambut dari kepala manusia. Bagi orang-orang ini, ayat di atas mendukung pandangan bahwa manusia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua hal terjadi karena sudah ditentukan oleh Tuhan. Tetapi, pengertian literal seperti itu adalah pengertian religius fatalis yang keliru karena ayat itu sebenarnya mengandung simbolisme yang dalam.

Yesus pada waktu itu menggambarkan penganiayaan yang akan dihadapi para pengikut-Nya, khususnya sebelum bait suci dihancurkan pada tahun 70 M. Mereka akan diburu dan ditangkap oleh para pemimpin agama. Sahabat dan keluarga akan mengkhianati mereka, bahkan sampai mati (Lukas 21:16). Sekarang, Yesus memberi para pengikut-Nya harapan. Meskipun orang-orang Yahudi dan Romawi, sebagai suatu kelompok, akan membenci mereka, Allah akan melindungi mereka (Lukas 21:17–19).

Perlu dicatat bahwa ayat di atas dan Lukas 21:18 sulit ditafsirkan, khususnya dalam budaya Barat modern yang sangat harfiah. Frasa “rambut kepalamu” mungkin merupakan teknik sastra synecdoche: sesuatu disebutkan untuk mewakili sesuatu yang lain, khususnya dengan menggunakan sebagian untuk mewakili keseluruhan. Jika Yesus merujuk pada kehidupan duniawi mereka, janji itu bermasalah. Apakah Yesus mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan menghadapi penganiayaan, tetapi mereka tidak akan disakiti? Apakah kita akan mengalami berbagai masalah hidup yang sudah ditetapkan Tuhan tetapi akan bisa mengatasinya? Bukan begitu!

Para pengikut Yesus tahu apa yang Yesus bicarakan; atau, setidaknya, mereka akan segera tahu (Yohanes 16:13). Mereka ada di sana ketika Dia menyuruh mereka memikul salib mereka dan bahwa mereka akan menyelamatkan hidup mereka dengan bersedia menyerahkannya. Itu berarti mereka akan mati bagi dunia tetapi memperoleh hidup kekal (Matius 16:24; Lukas 9:24–25). Dia juga mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi kepada Dia yang dapat mengirim jiwa ke neraka (Lukas 12:4–5). Yang dilindungi adalah kehidupan rohani dan kekal, bukan kehidupan fisik mereka—dan tentu saja bukan rambut mereka!

Lukas 12:4–7 menyatakan peringatan Yesus kepada para murid untuk menolak jalan orang Farisi (Lukas 12:1–3). Para murid akan menghadapi penganiayaan yang hebat, yang dimulai dengan tindakan para pemimpin agama Yahudi, khususnya seorang Farisi bernama Saulus (Kisah Para Rasul 8:1–3; 9:1–2). Banyak pengikut Yesus akan kehilangan nyawa mereka. Meskipun demikian, mereka yang termasuk dalam kerajaan Allah akan menerima hidup kekal. Yesus melanjutkan dengan mengatakan bahwa ketika dihakimi orang-orang yang dapat menyakiti mereka, mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan. Roh Kudus akan membimbing mereka (Lukas 12:8–12).

Orang Farisi dan ahli Taurat menggunakan praktik-praktik yang secara rohani menyiksa, yang dikutuk Yesus tanpa rasa takut (Lukas 11:37-52). Orang-orang ini adalah tokoh pujaan orang banyak; orang Farisi ditakuti oleh para imam dan orang Saduki dari Sanhedrin karena praktik keagamaan populis mereka. Orang Farisi bersekongkol untuk menghancurkan Yesus (Lukas 11:53-54) dan setelah kenaikan-Nya akan memburu para pengikut-Nya, memenjarakan dan bahkan membunuh beberapa orang Kristen (Kisah Para Rasul 8:3; 9:1-2; 26:10).

Namun, Yesus telah memberi tahu orang-orang percaya untuk tidak takut kepada orang-orang munafik ini. Dalam keadaan terburuk mereka, mereka hanya dapat membunuh tubuh. Sebaliknya, mereka seharusnya takut kepada Allah yang akan menjatuhkan kematian kekal kepada mereka yang menolak untuk bertobat. Allahlah yang akan mengirim orang berdosa ke neraka, dan Allahlah yang mengenal setiap burung pipit (Lukas 12:1-6).

Ayat di atas memunculkan dua tema yang saling bertentangan. Para pengikut Kristus begitu berharga bagi Tuhan sehingga Dia yahu apa pun keadaan mereka. Kepemilikan-Nya yang mahatahu atas fakta-fakta diterjemahkan menjadi kasih: bekerja atas nama mereka yang menjadi milik-Nya. Kita sepenuhnya aman di dalam Dia. Namun, keamanan itu tidak berarti kita akan terbebas dari kesulitan atau bahkan kematian dalam pelayanan-Nya. Sama seperti Tuhan memperhatikan ketika burung pipit jatuh, Dia memperhatikan ketika kita menderita dan mati secara fisik (Matius 10:29).

Simbolisme dalam ayat di atas adalah kaya dan sangat bermakna. Gambaran Tuhan yang mengetahui setiap helai rambut di kepala kita melambangkan pengetahuan dan kepedulian-Nya yang mendalam terhadap setiap aspek kehidupan kita, tak terkecuali hal-hal yang kecil. Gambaran itu juga melambangkan gagasan tentang kedaulatan dan kendali ilahi, karena tidak ada satu pun dalam kehidupan kita yang luput dari perhatian-Nya.

Sebagai kesimpulan, Lukas 12:7 adalah bagian yang menyampaikan pesan tentang penghiburan, kepastian, dan nilai yang mendalam. Bagian itu berbicara tentang kepedulian dan pengetahuan yang mendalam yang Tuhan miliki bagi anak-anak-Nya dan menekankan nilai dan harga diri yang sangat besar yang Dia berikan kepada setiap individu. Ayat itu juga menyampaikan tema-tema penting tentang kepercayaan terhadap pemeliharaan Tuhan, pemeliharaan ilahi, dan nilai manusia. Simbolismenya berfungsi untuk semakin memperkuat tema-tema ini, menjadikannya ayat yang memiliki makna dan arti penting yang dalam bagi orang percaya. Percayalah kepada Dia yang mahatahu dan mahakasih!

Adakah yang kita banggakan sebagai umat pilihan Tuhan?

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8:29

Sepanjang ingatan saya, sejak adanya medsos selalu ada berita tentang orang-orang yang hebat, negara-negara yang hebat, penemuan-penemuan yang luar biasa di negara tertentu. Seiring dengan itu, selalu ada penonjolan keunggulan yang dimiliki suatu sistim, orang, ras, negara dan bahkan, agama tertentu. Dengan demikian, timbul potensi atau kecenderungan untuk merendahkan orang, golongan atau bangsa lain.

Sebenarnya, pandangan atau tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas diri itu juga terjadi di kalangan orang Kristen. Dalam masyarakat, banyak orang Kristen yang masih membanggakan keturunan, bangsa dan golongan sendiri dan dengan demikian merasa bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Dalam hal kerohanian, banyak orang Kristen yang merasa dirinya lebih mengenal Tuhan dan lebih dikenal oleh Tuhan, dan mungkin lebih benar atau lebih baik dari orang Kristen yang lain. Sekalipun ada yang percaya bahwa semua orang percaya adalah orang pilihan Tuhan, mereka mungkin merasa seperti orang pilihan Tuhan yang nomer satu.

Istilah “orang-orang pilihan” mengandung arti orang-orang yang ditentukan Allah untuk dianugerahi keselamatan. Mereka disebut “yang dipilih” karena kata itu mengandung makna kalau ada pihak yang memilih. dalam hal ini, Allah sendiri yang memilih siapa-siapa saja yang akan diselamatkan. Mereka inilah yang disebut orang-orang pilihan Allah.

Mengenai konsep Allah memilih siapa yang akan diselamatkan tidaklah menimbulkan perdebatan. Tapi, bagaimana dan mengapa Allah memilih yang menjadi perdebatan selama ini. Selama sejarah Gereja, ada dua pandangan utama terkait doktrin pemilihan (atau predestinasi) ini.

Pandangan pertama, yang lebih sering dikenal dengan istilah pandangan pra-pengetahuan, menyatakan kalau Allah, karena kemahatahuan-Nya, akan mengetahui siapa-siapa saja yang pada akhirnya akan memilih beriman-percaya kepada Yesus Kristus. Karena pra-pengetahuan tentang iman orang-orang ini, Allah memilih mereka untuk diselamatkan “bahkan sebelum dunia dijadikan” (Efesus 1:4). Pandangan ini diyakini sebagian besar kaum Kristen.

Pandangan kedua, yang juga dikenal dengan pandangan para pengikut Agustinus, menyatakan kalau Allah tidak hanya memilih siapa-siapa saja yang akan beriman-percaya kepada Yesus Kristus, tetapi juga memilih untuk menganugerahi orang-orang ini iman supaya bisa beriman-percaya kepada Kristus. Allah memilih tidak berdasarkan pra-pengetahuan mengenai iman seseorang, tapi hanya berdasarkan kedaulatan-Nya, kasih karunia dari Allah Yang Mahakuasa. Allah memilih siapa-siapa saja yang akan diselamatkan. Mereka bisa beriman-percaya, karena Allah telah memilih mereka. Pandangan ini umumnya dipegang kaum Reformed.

Yang menjadi bahan perdebatan yang sengit adalah: siapa yang sebenarnya menjadi pihak yang menentukan anugerah keselamatan ini – Allah atau manusia? Bagi pandangan pertama, manusia yang memiliki kontrol; kehendak bebasnya menjadi faktor penentu terkait apa yang dipilih Allah. Allah memang menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus dan kemampuan untuk memilih, tetapi manusia sendiri yang harus memilih bersedia tidaknya untuk tunduk kepada Kristus supaya bisa diselamatkan.

Pandangan ini membuat Allah seolah-olah tidak berdaulat karena Pencipta yang harus bergantung pada keputusan ciptaan-Nya. Jika Allah menginginkan seseorang ada di surga, Dia harus berharap supaya orang itu, dengan kehendak bebasnya, memilih jalan keselamatan yang telah Ia sediakan. Sebenarnya, pandangan ini agaknya tidak lagi bisa sepenuhnya menyatakan bahwa “Allah memilih,” karena Allah tidak benar-benar memilih – Dia hanya bisa memberi kemampuan memilih kepada manusia dan mendukung usaha mereka serta menolong mereka untuk tetap bertekad untuk mempertahankan apa yang baik. Pada akhirnya, manusialah yang menentukan apa keputusannya.

Menurut para pengikut Agustinus, Allah yang memiliki kontrol. Dia yang berkuasa. Dengan kedaulatan-Nya, Ia dengan bebas memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan-Nya. Dia tidak hanya memilih, tetapi juga memastikan keselamatan mereka. Bukan hanya menyediakan jalan keselamatan, Allah juga memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan-Nya, dan kemudian menyelamatkannya. Pandangan ini menempatkan Allah sebagai Pencipta yang sepenuhnya berdaulat, dan manusia tidak bisa nenolak.

Pandangan ini memiliki kelemahannya sendiri. Para kritikus memandang pandangan ini meniadakan kehendak bebas manusia. Jika sejak awal Allah sudah memilih siapa yang ingin diselamatkan-Nya, mengapa manusia masih perlu beriman-percaya? Mengapa perlu memberitakan Injil? Apalagi, jika Allah memilih berdasarkan kedaulatan-Nya, bagaimana mungkin kita bisa dianggap bertanggungjawab atas pilihan kita? Bukankah ini seperti “nasib”?

Di Roma pasal 9, Paulus secara sistematis menjelaskan kedaulatan Allah dalam memilih siapa-siapa saja yang ingin diselamatkan, bahkan sejak dari kekekalan. Dia memulai dengan pernyataan yang penting: “Tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Roma 9:6). Ini berarti bahwa tidak semua keturunan dari Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Israel sejati (orang pilihan Allah).

Mengulas kembali sejarah bangsa Israel, Paulus mengingatkan kalau Allah memilih Ishak ketimbang Ismael; memilih Yakub ketimbang Esau. Sebelum orang-orang mengira kalau pemilihan ini berdasarkan iman atau perbuatan baik di masa depan, Paulus langsung menyatakan, “Sebab waktu anak-anak (Yakub dan Esau) itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat- supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” (Rom 9:11). Oleh sebab itu, Paulus menyatakan bahwa siapa pun bisa menjadi anak-anak Allah melalui iman dalam Kristus Yesus.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28

Di titik ini, kita mungkin tergoda berpikir kalau Allah tidak adil. Paulus mengantisipasinya dengan menjawab di Roma 9:14, dengan menyatakan kalau Allah tidak mungkin tidak adil. “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Roma 9:15). Jika kita betul-betul menghendaki Allah yang adil menurut pengertian kita, kita harus mau menerima hukuman mati karena dosa kita!

Allah berdaulat penuh atas ciptaan-Nya. Dia berdaulat penuh memilih siapa-siapa saja yang ingin dipilih-Nya, dan membiarkan siapa-siapa saja yang ingin dibiarkan-Nya. Ciptaan tidak punya hak untuk menuduh Penciptanya bertindak tidak adil. Pikiran bahwa ciptaan bisa berbantahan dengan Penciptanya tidak bisa diterima oleh Paulus. Begitu pula bagi setiap orang Kristen. Keselamatan mereka bersifat pasti hanya di dalam Kristus.

Terlepas dari cara bagaimana Allah memilih umat-Nya, apa yang Paulus nyatakan adalah kebenaran: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rom 8:29-30).

Dengan demikian, pada akhirnya, adakah yang bisa kita banggakan sebagai orang pilihan? Apakah kita bangga karena merasa Tuhan memilih kita karena kita lebih benar dari orang lain? Apakah golongan, ras, bangsa kita lebih baik dari yang lain? Semua kebanggaan seperti ini adalah hampa karena Tuhan tidak memilih kita karena kita lebih baik atau lebih benar dari yang lain. Apa yang bisa kita banggakan adalah kasih dan kemurahan Tuhan kepada setiap manusia dari awalnya, yang sudah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan-Nya dan memisahkan mereka dari orang-orang lain, bukan karena mereka lebih baik atau lebih unggul, tapi karena keputusan-Nya.

“Karena itu seperti ada tertulis: ”Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” 1 Korintus 1:31

Mau mendengar, lambat untuk marah

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Yakobus 1: 19-20

Sudah tentu setiap orang pernah marah. Tetapi, pernahkah Anda naik pitam? “Naik pitam” adalah idiom dalam bahasa Indonesia yang memiliki dua makna, yaitu: marah atau panas hati, dan pusing atau pening. Biasanya, idiom ini digunakan untuk menggambarkan perasaan marah besar yang mungkin bisa disertai dengan rasa pusing atau sakit kepala. Memang marah-marah bisa menyebabkan sakit kepala. Hal ini terjadi karena kemarahan dapat menyebabkan perubahan fisiologis di dalam tubuh, seperti:

  • Penegangan otot-otot di leher, kepala dan dada
  • Tarikan pada otot-otot wajah
  • Pelepasan hormon stres: adrenalin dan kortisol
  • Perubahan aliran darah ke otot sebagai tanda kesiapan untuk melawan

Selain itu, menahan emosi marah juga dapat menyebabkan ketegangan mental yang dapat memperburuk rasa sakit di bagian belakang kepala.

Dari segi medis, pada saat marah pembuluh darah di sekitar jantung mengkerut sehingga aliran darah tidak lancar. Hal ini dapat menyebabkan jantung kekurangan oksigen dan menimbulkan nyeri dada. Kemarahan juga dapat memperburuk kondisi disfungsi mikrovaskuler koroner, yaitu penyumbatan di pembuluh darah kecil di sekitar jantung. Saat marah, tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang dapat mempercepat detak jantung dan pernapasan. Selain serangan jantung, kemarahan juga dapat meningkatkan risiko stroke dalam beberapa jam setelah marah. Semakin sering seseorang marah, semakin besar risikonya untuk terkena penyakit kardiovaskular.

Umumnya kita marah karena adanya keadaan yang sulit diterima atau orang yang sulit diajak bicara. Dalam hal ini, bagian pembukaan kitab Yakobus memerintahkan orang Kristen untuk tetap percaya kepada Tuhan, bahkan selama masa-masa sulit. Bahkan, orang percaya harus menganggap kesulitan mereka sebagai “sukacita,” karena adanya tes kehidupan adalah cara Tuhan memperkuat iman. Hal ini memberikan penegasan tentang apa artinya tetap setia kepada Tuhan—terus percaya kepada-Nya—bahkan ketika tantangan hidup menghampiri kita. Salah satu alasannya, mereka yang percaya kepada Tuhan akan terus menaati-Nya. Dimulai dari ayat 19, Yakobus mulai menjelaskan seperti apa ketaatan itu.

Mereka yang percaya dan menaati Tuhan belajar untuk menyesuaikan kecepatan mendengar dan berbicara mereka. Jika Tuhan benar-benar memegang kendali, kita mampu meluangkan waktu untuk memahami. Itu memerlukan waktu dan kesabaran. Daripada bertindak gegabah, kita dapat menanggapi dengan cara yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Jika kita gegabah itu adalah karena kesalahan kita sendiri, karena Tuhan bukanlah yang mempercepat mulut atau reaksi kita dan bukan juga memperlambat atau menghambat pikiran sehat kita.

Sebagai orang percaya, kita tidak boleh terobsesi untuk memastikan bahwa kita harus didengar dan dipahami orang lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita bertindak sesuai dengan keinginan langsung kita dan reaksi langsung kita, kita akan mudah kehilangan kendali. Dan ketika kita merasa kehilangan kendali, kita akan marah. Dengan kemarahan yang tidak terkendali, kita bisa menjadi “mata gelap” atau melakukan apa yang jahat.

Perhatikan bahwa ini bukanlah perintah untuk tidak pernah merasa marah. Kemarahan adalah emosi manusia yang dialami setiap orang, dan itu dapat dibenarkan. Namun, instruksi Yakobus di sini menjelaskan dengan jelas bahwa kita dapat belajar untuk mengendalikan—atau setidaknya memperlambat—respons kemarahan kita. Bahkan, jika kita menolak untuk membiarkan kemarahan mengendalikan kita , itu merupakan tindakan iman. Merupakan pilihan kita untuk percaya bahwa Bapa memegang kendali, bahwa Dia mengasihi kita, dan bahwa Dia baik.

Mengapa kita, sebagai anak-anak Tuhan melalui iman kepada Kristus, harus belajar mengendalikan amarah kita, memperlambatnya, dan mengendalikannya? Bagi Yakobus, intinya adalah ini: Amarah tidak akan menghasilkan apa yang baik. Mengapa begitu? Secara praktis, kemarahan manusia yang berdosa adalah alat yang tidak efektif untuk berkontribusi pada kebenaran Allah. Membiarkan kemarahan meluap mungkin dianggap sebagai alat yang tangguh untuk mencapai keinginan kita sendiri, tetapi bukan untuk melakukan kebajikan yang diminta Allah.

Dunia memberi tahu kita bahwa kemarahan dapat memanipulasi atau mengintimidasi orang-orang di sekitar kita. Kemarahan memberi kita perasaan bahwa kita mengendalikan orang-orang dalam hidup kita, bahkan membuat diri kita merasa lebih baik untuk beberapa saat. Karena itu, secara sengaja kita sering memilih untuk marah. Namun, bahkan dari sudut pandang non-spiritual, hal ini biasanya harus dibayar dengan harga yang mahal. Kita akan kehilangan integritas, kepercayaan orang lain, rasa hormat dan kasih orang lain dan pengendalian diri kita ketika kita hidup dalam kemarahan.

Ajaran Yakobus di sini mengungkapkan sebuah gagasan yang sangat besar: Kita diciptakan untuk lebih dari sekadar menyingkirkan hal-hal yang dangkal dari kehidupan. Bagian dari tujuan kita sebagai orang percaya adalah untuk digunakan oleh Allah untuk membantu berkontribusi pada kebenaran-Nya, untuk membantu mencapai tujuan-Nya di dunia. Kita memiliki tujuan yang mulia dan kekal, jauh lebih besar daripada apa yang dapat kita capai melalui kemarahan atau dosa.

Seberapa penting bagi orang Kristen untuk memercayai Tuhan? Yakobus menulis, sangatlah penting bagi kita untuk menyebut saat-saat terburuk kita sebagai saat-saat yang menyenangkan, karena pencobaan membantu kita untuk lebih memercayai Tuhan. Orang yang memercayai Tuhan meminta hikmat kepada-Nya—dan kemudian menerima apa yang Dia berikan. Orang yang memercayai Tuhan menganggap pahala mereka di kehidupan berikutnya lebih penting daripada kekayaan mereka di kehidupan ini. Orang yang memercayai Tuhan tidak menyalahkan-Nya atas keinginan mereka untuk berbuat dosa; sebaliknya, mereka memuji-Nya atas semua hal baik dalam hidup mereka. Mereka menyelidiki Firman-Nya, dan mereka bertindak berdasarkan apa yang mereka lihat di sana.

Yakobus membedakan antara kemarahan manusia dan kemarahan Allah. Segala sesuatu yang Allah rasakan dan ungkapkan adalah benar, termasuk kemarahan-Nya. Sebaliknya, kemarahan manusia hampir selalu merupakan ekspresi keegoisan manusia, ketakutan, atau keinginan untuk mengendalikan dunia dan manusia di sekitar kita. Mereka yang percaya kepada Bapa untuk memegang kendali, menyediakan apa yang dibutuhkan, dan menegakkan keadilan pada saat yang tepat, mampu melepaskan kemarahan manusia.

Yakobus 1:19–27 menekankan bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak puas hanya dengan tampil religius. Mereka berhenti mencoba mengendalikan dunia dengan kata-kata dan kemarahan mereka. Mereka dengan rendah hati menerima Firman yang telah ditanamkan Tuhan di dalam diri mereka, mendengarkannya, dan melanjutkan untuk melakukan apa yang dikatakannya. Bagian dari apa yang Firman katakan kepada kita adalah bahwa kita harus mengendalikan perkataan kita, memperhatikan mereka yang lemah dan menderita, dan menjaga diri kita agar tidak tercemar oleh dunia di sekitar kita.

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Efesus 4:26-27