Apa guna berdisiplin dalam hal seksual?

Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 1 Tesalonika 4:7

Topik apakah yang jarang disampaikan dalam khotbah gereja di zaman ini? Selain masalah kolekte, mungkin masalah kehidupan seksual jemaat. Ini agaknya mengherankan karena cara hidup orang di zaman ini yang sering melibatkan uang dan seks.

Bab 4 dari kitab Tesalonika dimulai dengan dorongan bagi orang-orang percaya di Tesalonika untuk melanjutkan pertumbuhan rohani mereka. Perilaku mereka patut dicontoh, tetapi mereka perlu berusaha untuk berbuat lebih banyak lagi. Paulus secara khusus menekankan pentingnya kemurnian seksual, serta perlunya orang percaya untuk menjalani kehidupan yang damai, sopan, dan produktif. Paulus kemudian mulai membahas pokok bahasan tentang kedatangan Kristus kembali. Ini dimulai dengan suatu kepastian bahwa orang percaya yang telah meninggal sebelum kedatangan Kristus kembali akan menjadi orang-orang pertama yang dibangkitkan ketika Ia datang kembali untuk umat-Nya. Berikutnya adalah mereka yang masih hidup, yang semuanya akan bertemu Yesus ”di udara.” Pengetahuan tentang takdir kekal kita seharusnya memberi semangat, dan bukannya ketidakpedulian karena adanya “jaminan keselamatan”.

Secara khusus, 1 Tesalonika 4:1–8 mendesak orang-orang percaya di Tesalonika untuk mengingat apa yang Paulus katakan ketika ia bersama mereka. Ia telah mengajarkan mereka bagaimana berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka akan menyenangkan Allah. Mereka pada umumnya sudah mengikuti petunjuk-petunjuk ini dengan baik, tetapi Paulus menantang mereka untuk semakin menjadi lebih kudus, karena ini adalah kehendak Allah bagi mereka. Setiap orang percaya berkewajiban untuk menghindari hal-hal yang bersifat cabul (baik dalam perbuatan, perkataan maupun pikiran) dengan mengendalikan diri sendiri, karena mengetahui bahwa Tuhan membalas mereka yang melakukan dosa. Paulus menegaskan bahwa mengabaikan ajaran tentang percabulan ini sama saja dengan menolak Allah.

Memang adalah hal yang normal jika seseorang memiliki libido atau dorongan seks. Ini tidak hanya ada di antara kaum muda, tetapi pada manusia dari segala umur, baik pria maupun wanita. Namun ini bisa mengarah pada sesuatu yang tidak sehat saat dorongan seks jadi tak terkendali hingga mengalami kecanduan. Jika demikian, ini bisa membuat seseorang sulit mengontrol pikiran seks, kebutuhan serta dorongan seks, apalagi jika sudah terjadi sejak muda. Perilaku seksual kompulsif seperti ini bisa membawa konsekuensi mulai dari masalah kesehatan mental, relasi personal hingga berpengaruh pada kualitas hidup. Sudah tentu, hal sedemikian juga sangat mempengaruhi hubungan antar umat Kristen dan membuat nama Tuhan menjadi bahan ejekan.

Pad suratnya kepada jemaat di Tesalonika, Paulus menegaskan bahwa kehendak Allah adalah agar mereka dalam hidup sehari-hari menjauhi percabulan, supaya setiap pasangan hidup dalam kesetiaan dan pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mengapa demikian?

Sebagai alasan pertama, Paulus memperingatkan bahwa kenajisan mendatangkan penghakiman ilahi:

“dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.” 1 Tesalonika 4:6

Dan sebagai alasan kedua adalah bahwa Allah telah memanggil orang Kristen untuk menjalani hidup yang kudus. Allah menyelamatkan kita bukan hanya untuk menyelamatkan kita dari penghakiman kekal. Ia bermaksud menjadikan kita kudus sebagaimana Ia kudus. Proses yang Ia gunakan untuk menjadikan kita kudus disebut pengudusan, dan itu melibatkan sebuah kemitraan. Ia menghendaki kita untuk menjadi mitra kerja-Nya melalui perjuangan.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” 1 Petrus 1:15–16

Allah bekerja di dalam kita untuk menjadikan kita kudus (2 Korintus 3:18; Filipi 2:13); kita memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama dengan-Nya dalam pekerjaan itu. Filipi 2:12 memerintahkan kita untuk mengerjakan—bukan bekerja “untuk”—keselamatan kita sendiri dengan takut dan gentar.

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Pagi ini, Efesus 6:10 memerintahkan kita untuk menjadi kuat di dalam Tuhan, dan ayat berikutnya memerintahkan kita untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Galatia 5 berbicara tentang hidup oleh Roh. Jelas, kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang pasif-fatalis, tetapi kehidupan yang aktif di mana Allah dan umat-Nya menjadi mitra kerja.

Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Efesus 6:10-18

Mengejar kekudusan melalui perdamaian

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12:14

Membaca ayat di atas, mungkin ada pertanyaan mengenai bagaimana kita bisa mengejar kekudusan untuk bisa melihat Tuhan. Bagaimana kita bisa hidup damai dengan semua orang jika ada banyak orang-orang yang membenci kita atau hal-hal yang sering membuat kita marah? Apakah kita dengan demikian tetap harus berusaha keras menjadi orang yang kudus selama hidup di dunia atau haruskan kita berserah sepenuhnya kepada pertolongan Tuhan? Keduanya perlu.

Dalam kitab Kejadian tertulis bahwa setelah Allah menjadikan semua makhluk lainnya, Dia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, dengan jiwa yang berbudi dan tak dapat mati. Mereka diperlengkapi manusia dengan pengetahuan, kebenaran dan kekudusan sejati, menurut gambar-Nya sendiri, dengan isi hukum Allah tertulis dalam hati mereka dan dengan kemampuan memenuhinya. Namun, manusia dalam kebebasannya harus melaksanakan hukum itu dengan keputusan mereka yang dapat berubah-ubah. Di samping hukum ini, yang tertulis dalam hati mereka, manusia diperintahkan untuk tidak makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Selama dengan mematuhi perintah itu, mereka berbahagia oleh persekutuan dengan Allah, dan mereka bisa sepenuhnya berkuasa atas segala makhluk.

Sayang sekali, Adam dan Hawa terbujuk oleh kelicikan dan godaan iblis, dan berdosa dengan memakan buah yang terlarang. Allah berkenan, menurut rencana- Nya yang hikmat dan kudus, membiarkan dosa mereka itu terjadi. Oleh karena Adam dan Hawa adalah cikal bakal seluruh umat manusia maka kesalahan mereka yang disebabkan oleh dosa ini dianggap sebagai kesalahan seluruh keturunannya, dan kematian dalam dosa dan kodrat yang rusak itu diteruskan kepada setiap orang. Kerusakan semula ini membuat kita sama sekali kehilangan kemampuan dan kekuatan kita untuk melawan kejahatan, dan justru dengan senang hati melakukan apa saja yang jahat. Kita mudah membenci orang lain dan mudah marah kepada mereka yang memperlakukan kita dengan sewenang-wenang.

Sesudah Yesus datang ke dunia, dalam diri mereka yang dipanggil dan dilahirkan kembali, diciptakan hati baru dan roh baru, secara perseorangan,oleh kekuatan kematian dan kebangkitan Kristus, melalui Firman dan Roh-Nya yang diam dalam diri mereka. Kuasa dosa dihancurkan dan berbagai hawa nafsunya makin hari makin dilenyapkan. Mereka makin hari makin dihidupkan dan diperkuat dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, menuju ke praktik kekudusan yang sejati, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ini bukan berarti bahwa mereka bisa menjadi orang kudus sepenuhnya selama hidup di dunia. Ini bukan berarti bahwa kita dengan mudah bisa hidup berdamai dengan semua orang.

Selama hidup, kerusakan kodrat itu tetap ada dalam diri mereka yang telah dilahirkan kembali. Meskipun kerusakan itu telah diampuni dan dimatikan melalui Kristus, kerusakan itu sendiri dan semua gerak geriknya sungguh-sungguh merupakan dosa dalam arti yang sebenarnya. Pengudusan itu bersifat menyeluruh dan menyangkut manusia seutuhnya, namun tidak sempurna dalam hidup ini, sebab di semua bagiannya masih tinggal beberapa sisa kerusakan. Dari situlah lahirlah peperangan rohani yang terus menerus dan yang tidak dapat diakhiri dengan penyerahan, sebab keinginan daging berlawanan dengan Roh, dan keinginan Roh berlawanan dengan daging.

Dalam peperangan rohani ini, kerusakan batin yang masih tinggal dapat saja untuk sementara waktu berada di atas angin. Namun, karena Roh Kristus yang menguduskan terus- menerus menyediakan kekuatan baru maka bagian yang telah dilahirkan kembali akhirnya menang. Dengan demikian “orang-orang kudus” (orang-orang yang dikuduskan-Nya) bertumbuh dalam kasih karunia dan menyempurnakan kekudusannya dalam takut akan Allah. Mereka kemudian dapat hidup dalam damai dengan orang lain jika mereka mau taat kepada firman-Nya karena sadar bahwa Allah sudah berdamai dengan mereka melalui pengurbanan Yesus. Mereka yang dengan memakai dalih kebebasan Kristen mengumbar kemarahan dan hawa nafsunya, dengan demikian merusak tujuan kebebasan Kristen, yaitu bahwa kita, setelah dilepaskan dari tangan iblis. Pada pihak lain, dalam Alkitab kita bisa menemukan banyak orang-orang yang mengabdi kepada Tuhan dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya di sepanjang hidup mereka dan dengan demikian bisa hidup berdamai dengan orang lain.

Ibrani 12:3-17 dibangun dari deskripsi para pahlawan iman, yang berpuncak pada Yesus Kristus. Mereka yang datang sebelumnya dikasihi oleh Allah dan dihormati oleh Allah, namun mereka menderita kesulitan di dunia ini. Dalam bagian ini, penulis menjelaskan bahwa berbagai penderitaan sering kali merupakan cara Tuhan untuk membangun dan melatih kita, bukan berarti tanda ketidaksenangan-Nya. Orang Kristen yang menanggapi pencobaan dengan mencari Tuhan, dalam iman, dapat terhindar dari nasib orang-orang yang kurang setia, seperti Kain yang dalam kebenciannya membunuh saudaranya, Habel.

Perintah umum yang diberikan dalam Perjanjian Baru adalah agar orang Kristen mencari perdamaian antara diri mereka sendiri dan orang lain (Roma 12:18; 2 Korintus 13:11; 1 Tesalonika 5:13). Bahkan, kemampuan untuk “bergaul” ini terkait erat dengan kedewasaan rohani kita (Yakobus 3:17; 1 Timotius 3:3; Galatia 5:22). Hal ini khususnya penting dalam hal hubungan antara orang Kristen lainnya. Kasih sayang yang saling melengkapi tidak hanya membangun gereja, tetapi juga merupakan tanda utama bagi dunia bahwa kita adalah murid Kristus (Yohanes 13:35; 1 Yohanes 3:14; 4:21).

Bersamaan dengan kedamaian bersama, Paulus mendorong kehidupan yang kudus. Sekali lagi, ini adalah tema umum ajaran Perjanjian Baru. Orang Kristen diberdayakan oleh Roh Kudus untuk menjalani kehidupan yang saleh, benar, dan bermoral (2 Timotius 1:7). Dosa selalu merupakan hasil dari penolakan terhadap kuasa itu, dalam beberapa hal (1 Korintus 10:13). Mereka yang terus-menerus berbuat dosa membuktikan bahwa mereka tidak memiliki pengaruh Roh Kudus dalam hidup mereka (1 Yohanes 1:6).

Pada saat yang sama, ayat ini tidak berarti bahwa kita dimaksudkan untuk diselamatkan berdasarkan “perilaku baik” kita. Mustahil bagi orang berdosa yang tidak sempurna dan tidak kudus untuk berdiri di hadapan Allah (Yesaya 6:5) karena kita harus benar-benar benar untuk berada di hadirat-Nya (Keluaran 33:19–20). Namun, kemampuan untuk berdiri di hadirat Allah itulah yang kita peroleh dari pekerjaan Kristus yang telah selesai bagi kita (Ibrani 9:11-12; 1 Yohanes 3:2). Kekudusan yang kita butuhkan untuk “melihat Tuhan” datang dari Kristus, melalui kasih karunia-Nya, dan melalui iman kita kepada-Nya (2 Korintus 5:21; 1 Petrus 3:18). Berusaha keras untuk hidup sesuai dengan standar itu seharusnya menjadi keinginan alami setiap orang percaya yang telah diselamatkan (Yohanes 14:15). Bersamaan dengan itu, kita harus mempunyai iman bahwa hanyalah Tuhan yang memungkinkan kita untuk bisa menjadi umat-Nya yang taat.

Jangan jemu untuk berdoa dan berbuat baik

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: ”Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: ”Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Lukas 18:1-8

Yesus baru saja menjelaskan kepada para murid seperti apa dunia ini saat Ia kembali. Pada waktu itu, kebanyakan orang-orang sudah tidak pernah memikirkan Tuhan. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari, menikah, sibuk bekerja, berpesta-pora, dan membuat rencana. Seperti orang-orang pada zaman Nuh dan Lot, mereka tidak akan menyadari bahwa penghakiman sudah dekat. Saat Yesus datang, Ia akan memisahkan para pengikut-Nya dari mereka yang menolak-Nya. Bahkan hubungan antar manusia yang paling dekat pun akan hancur (Lukas 17:22–37).

Tetapi, para murid tampaknya putus asa dengan peringatan Yesus. Mengapa demikian? Para murid ragu bahwa penghakiman Tuhan terhadap musuh-musuh mereka akan pernah datang. “Putus asa” berarti kehilangan motivasi terhadap sesuatu yang positif: gagal mempertahankan tekad tentang suatu subjek atau ide. Yesus tahu para pengikut-Nya akan menghadapi lebih banyak kesulitan daripada yang mereka alami sekarang. Sebagian besar dari 12 murid Yesus akan mati sebagai martir. Seperti itu, kita juga melihat keadaan dunia yang sudah bobrok saat ini dan bertanya-tanya apakah Tuhan akan pernah mendatangkan keadilan-Nya. Jawaban Yesus adalah “teruslah berdoa”.

Melihat keraguan muridnya, Yesus memberi perumpamaan tentang janda yang tekun. Perlu dicatat, hanya Lukas yang menulis tentang perumpamaan ini. Yesus membandingkan Allah dengan hakim yang korup yang hanya akan memberikan keadilan kepada seorang janda ketika ia merasa terganggu oleh permintaannya yang tidak kunjung berhenti. Berbeda dengan hakim itu, Tuhan yang mahaadil tentu ingin memberikan keadilan kepada para semua pengikut-Nya, sebagian di saat sekarang dan sepenuhnya ketika Yesus kembali. Tetapi, seperti janda itu kita harus mau meminta dalam doa dengan tekun dan dengan iman. Yesus selanjutnya menunjukkan bahwa iman yang benar itu rendah hati, tidak memuji diri sendiri (Lukas 18:9-14), seperti anak kecil (Lukas 18:15-17), dan membuat kita mmengabaikan hal-hal duniawi tetapi sebaliknya, berpegang teguh kepada jandi Allah (Lukas 18:18-30).

Berdoa untuk kedatangan Yesus kembali dan keadilan yang akan Dia datangkan “selalu” tidak berarti kita perlu berdoa secara aktif setiap detik dalam keadaan terjaga. Itu berarti kita harus tekun berdoa dengan teratur. Yesus memberi kita perintah: “selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Perintah ini penting, terutama saat kita merasa putus asa atau lelah dalam usaha berbuat baik. Kelelahan adalah pergumulan yang umum bagi orang percaya di setiap generasi, terutama jika apa yang benar sudah tidak banyak mendapat perhatian masyarakat. Bagian ini, dengan kontras yang kuat antara janda dan hakim yang tidak adil, memberikan dorongan dan wawasan praktis tentang bagaimana kita dapat terus berbuat baik tanpa menjadi jemu-jemu, sekalipun lingkungan kita mencemooh cara hidup kita. Ini tidak mudah dilakukan dan karena itu kita mendapat tiga pengingat untuk membantu kita tetap pada jalan yang benar.

  1. Doa yang Tekun Menopang Kita

Perumpamaan Yesus tentang janda yang tekun dan hakim yang tidak adil menekankan perlunya doa yang terus-menerus. Tekad sang janda untuk mencari keadilan meskipun ditolak berulang kali menjadi contoh bagi kita untuk terus-menerus membawa beban dan keinginan kita di hadapan Tuhan. Yesus mendorong kita untuk tidak patah semangat saat jawaban tertunda atau saat kita tidak melihat hasil langsung. Doa yang tekun bukanlah tentang membuat Tuhan lelah, tetapi tentang memperdalam kepercayaan kita pada karakter dan waktu-Nya.

  1. Kelelahan dalam Berbuat Baik Itu Wajar

Kehilangan semangat adalah salah satu hal yang paling mudah dilakukan dalam kehidupan Kristen. Mengikuti perintah Kristus dan melayani orang lain bisa melelahkan, terutama ketika kita melihat sedikit buah yang terlihat. Sebenarnya, kita tidak perlu kegigihan dalam berdoa jika kita hanya berniat untuk berhenti melakukan hal-hal buruk; tetapi, kita perlu kegigihan dalam berdoa untuk terus melakukan hal-hal baik. Kelelahan dalam berbuat baik bukanlah tanda kegagalan; itu adalah panggilan untuk terus mengandalkan kekuatan Tuhan. Pesan perumpamaan itu mendorong kita untuk bertekun dalam menghadapi keputusasaan, mengingatkan kita bahwa kegigihan adalah kunci ketahanan rohani.

  1. Janji tentang Hadiah di Masa Depan

Yesus meyakinkan kita bahwa kegigihan dalam doa dan perbuatan baik tidak sia-sia. Tuhan itu adil dan penuh belas kasihan, dan Dia akan segera mendatangkan keadilan kepada orang-orang pilihan-Nya. Janji ini mendorong kita untuk bertahan, dengan kesadaran bahwa kesetiaan kita akan diberi pahala pada waktu Tuhan yang sempurna.

Hari ini, jika kita membaca perintah Yesus untuk tetap berdoa, itu berarti bahwa kita tidak boleh cepat patah semangat dalam menghadapi tantangan hidup — bertekunlah dalam doa, teruslah berbuat baik, dan percayalah pada kesetiaan Tuhan untuk menopang hidup kita. Tuhan bukanlah hakim yang tidak adil dan yang hanya mementingkan diri sendiri. Tuhan adalah Hakim yang mahaadil dan mahakasih, yang selalu mau menanggapi doa-doa yang disampaikan kepada-Nya dengan iman.

Apakah Tuhan sudah melupakan kita?

Sion berkata: ”TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.” Yesaya 49:14

Pagi ini, ketika saya membuka berita, saya membaca banyak berita tentang perang, terorisme, kejahatan, dan ketidakadilan. Saya tidak tahu kapan terakhir kali saya mendengar siaran berita yang tidak membuat saya merasa kuatir. Mungkinkah Tuhan telah melupakan seisi dunia yang tidak taat akan firman-Nya? Pertanyaan saya ini sebenarnya bukan saja tentang apa yang Tuhan pikirkan tentang dunia. Saya juga ingin tahu tentang apa yang Tuhan pikirkan tentang saya. Mungkinkah Tuhan melupakan saya jika saya kurang taat kepada-Nya? Apakah Anda pernah merasakan hal seperti itu?

Saya teringat akan doa pengakuan dosa yang sering diucapkan di gereja:

Ya Tuhan, kami telah berbuat salah dan menyimpang dari jalan-Mu seperti domba yang hilang. Kami telah terlalu banyak mengikuti tipu daya dan keinginan hati kami sendiri. Kami telah melanggar hukum-hukum-Mu yang suci. Kami telah mengabaikan hal-hal yang seharusnya kami lakukan; dan kami telah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kami lakukan; dan tidak ada yang baik dalam diri kami. Ya Tuhan, kasihanilah kami, para pelanggar yang malang.

Bagi saya, pengakuan dosa seperti itu sudah terlalu sering dan terasa biasa. Tidak ada yang istimewa. Kecuali jika saya kemudian mengalami kesulitan hidup. Apa yang Tuhan pikirkan tentang saya dan dosa-dosa saya? Mungkinkah Dia tidak peduli lagi kepada saya karena dosa-dosa saya yang besar, seperti yang saya akui? Mungkinkah Dia sudah melupakan saya?

Kadang-kadang kita merasa seperti Tuhan telah meninggalkan kita. Seperti itu juga, Yesaya menulis sebuah krisis yang dialami bani Israel. Umat Israel dan Yehuda percaya bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan telah memilih mereka untuk sebuah perjanjian kekal. Mereka percaya bahwa selama mereka menaati ritual dan perintah yang ditentukan, mereka akan aman. Namun pada tahun 540 SM, Asyur menghancurkan dan mengasingkan Israel. Pada tahun 586 SM, Babel menghancurkan dan mengasingkan Yehuda. Nebukadnezar menghancurkan tembok Yerusalem, Bait Suci, dan rumah-rumah warga negara yang paling penting. Nebukadnezar menangkap putra-putra raja dan para pejabat Yerusalem, dan membunuh mereka di hadapannya. Ia kemudian mencungkil mata raja dan menjebloskannya ke penjara selama sisa hidupnya.

Beberapa orang Yahudi mengira Allah telah melupakan mereka. Itu keliru. Allah lalu menunjukkan bahwa bagi-Nya hal itu mustahil (ayat 14-16). Israel akan kembali dan membangun kembali tanah airnya. Para penentang yang mencoba merusak pekerjaan Israel tidak akan berhasil dan akan pergi dengan malu dan kalah (ayat 17-18). Orang-orang yang lahir di pengasingan akan berbondong-bondong ke Yerusalem yang telah dibangun kembali. Tanah yang sebelumnya tidak berpenghuni dan hancur akan menjadi berpenduduk baik dan makmur lagi (ayat 19-21). Orang-orang Yahudi yang tersebar di negara-negara lain juga akan kembali, dibantu oleh bantuan yang murah hati dari bangsa-bangsa tempat mereka tinggal (ayat 22-23).

Di antara orang Israel itu memang ada beberapa orang yang tampaknya meragukan janji pemulihan nabi, karena Babel tampaknya tidak dapat ditaklukkan. Bagaimana mungkin orang-orang tawanan dibebaskan ketika mereka berada dalam cengkeraman seorang tiran yang begitu kuat (ayat 24)? Allah menjawab bahwa Ia dapat melakukannya. Ia mengingatkan orang-orang buangan yang ragu bahwa Ia adalah Allah yang Mahakuasa dan penebus perjanjian Israel. Ia akan menghancurkan orang Babel dalam penghakiman yang sesuai dengan penindasan kejam yang mereka timpakan kepada korban-korban mereka yang tak berdaya (ayat 25-26).

Orang-orang Yahudi lainnya menyalahkan Allah atas masalah-masalah mereka, seolah-olah Ia telah membuang mereka seperti seorang suami yang menceraikan istrinya atau seorang ayah yang menjual anak-anaknya untuk melunasi utang-utangnya. Bukankah Tuhan yang menentukan nasib malang mereka dari mulanya? Allah menjawab bahwa mereka tidak memiliki bukti untuk mendukung tuduhan tersebut, karena Ia tidak pernah ‘menceraikan’ mereka atau ‘menjual’ mereka. Sebaliknya dosa-dosa merekalah yang menjadi penyebab masalah-masalah mereka (Yesaya 50:1). Merekalah yang mengabaikan Allah ketika Ia berbicara kepada mereka melalui hamba-hamba-Nya, para nabi. Namun, Ia tetap mengasihi mereka dan memiliki kuasa untuk menyelamatkan mereka. Tidak ada satu pun ciptaan yang dapat menahan kuasa-Nya (Yesaya 50:2-3).

Kembali ke kehidupan kita saat ini, Tuhan begitu mengasihi kita sehingga mustahil bagi-Nya untuk melupakan kita semua. Dia begitu mengasihi kita sehingga keterikatan-Nya lebih besar daripada kasih seorang ibu. Kadang-kadang tampaknya Tuhan telah mengabaikan kita, tetapi pada saat-saat itu kita harus tahu bahwa Dia tidak akan pernah melupakan kita. Dia tidak mungkin melupakan kita. Dia mengasihi kita dengan kasih yang paling besar, kasih yang bahkan lebih kuat dan lebih baik daripada kasih seorang ibu kepada anaknya. Dia telah mengukir kita di tangan-Nya. Kita tidak pantas menerimanya, tetapi Dia benar-benar dan tidak dapat ditarik kembali berkomitmen kepada umat-Nya.

Kadang-kadang terasa seperti Tuhan telah meninggalkan kita, tetapi Dia tidak melakukannya. Dia berkomitmen kepada kita dengan kasih yang paling dalam yang dapat kita bayangkan. Tuhan sepenuhnya berkomitmen untuk memenuhi tujuan-Nya bagi kita. Ketika Allah mengingat orang, rencana, dan janji, Ia bekerja dengan cara yang sejalan dengan kesetiaan-Nya. Ia mengingat Nuh ketika ia bertindak sesuai dengan janji untuk melindungi keluarganya (Kejadian 8:1). Dia mengingat Rahel saat dia mandul dan memberinya seorang anak sesuai dengan perjanjian-Nya untuk menjadikan keluarga Abraham sebagai bangsa yang besar (Kejadian 30:22).

Demikian pula, Allah tidak lagi mengingat dosa kita yang kita akui. Dalam belas kasihan-Nya, Dia tidak bertindak terhadap kita sesuai dengan dosa kita. Ketika Tuhan mengampuni, Dia tidak mengingat dosa-dosa kita untuk menghukum atau mencaci kita. Sebaliknya, Allah menyingkirkan dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12). “Aku tidak akan mengingat dosa-dosa mereka lagi” tidak berarti dosa kita luput dari pikiran-Nya, tetapi Dia tidak menyimpannya dalam hati kita (Ibrani 8:12). Dia memperlakukan kita seolah-olah kita tidak pernah berdosa.

JIka kita mengaku dosa kita, Tuhan tidak lagi mengingat dosa kita (1 Yohanes 1:9). Dia memperlakukan kita seolah-olah kita tidak pernah berbuat dosa. Allah tidak lagi mengingat kita menurut dosa kita, tetapi menurut kesempurnaan Kristus. Allah tentu saja menghukum semua dosa, tetapi jika kita berada di dalam Kristus, murka itu tidak akan menimpa kita. Salib dengan jelas memperlihatkan, dalam harmoni, aspek-aspek karakter ilahi yang mungkin tampak tidak dapat didamaikan. Betapa keadilan yang tak kenal ampun dan belas kasihan yang melimpah!

Saat ini, jika Anda mengalami kemalangan atau kesulitan hidup, janganlah Anda putus asa. Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tidak pernah lupa akan umat-Nya. Selama kita jujur akan cara hidup kita di hadapan-Nya, kasih-Nya selalu tersedia. Ia adalah Tuhan yang setia dan adil dan mau mengampuni kita serta menyertai kita dalam menghadapi berbagai badai kehidupan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9

Bagaimana kebajikan kita harus melebihi orang Farisi

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:20

Ungkapan “seperi orang Farisi” sering dipakai oleh orang Kristen dan orang yang bukan Kristen untuk menuduh orang lain yang sok alim, sok benar, tetapi yang hidupnya jauh dari kebenaran. Orang Farisi memang – pada waktu Yesus masih di bumi – di kenal sebagai guru agama yang mengharuskan orang Israel untuk menaati hukum Taurat dengan menambahkan berbagai peraturan yang sangat membebani, tetapi membuka kesempatan untuk sebagian orang agar bisa melanggarnya dengan cara-cara tertentu.

Dalam Roma 7, sebagai orang Farisi yang sudah menerima hidup baru, Paulus menggambarkan dirinya sebagai seorang Kristen yang jujur tentang pergumulannya yang terus-menerus dengan dosa. Seperti Paulus, meskipun sebagai orang Kristen kita telah dibebaskan dari kuasa dosa, kita terus hidup di bawah pengaruhnya yang kuat. Terkadang kita mungkin merasa persis seperti yang dijelaskan Paulus. Kita terus melakukan apa yang kita benci—kita berdosa—bahkan ketika kita bermaksud melakukan apa yang benar. Bukan berarti kita masih menjadi budak dosa, tetapi kita terbagi oleh keinginan kita sendiri yang saling bersaing. Karena itu, kita cenderung memakai berbagai alasan untuk menghindari ketaatan kepada firman Tuhan. Jadi bagaimana kita bisa menjadi umat Kristen yang baik tanpa menjadi seperti orang Farisi?

“Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Roma 7:21-25

Mungkin Anda bertanya apa guna ketaatan kita kepada hukum dan firman Tuhan. Yesus telah tegas dan jelas tentang suatu hal yang mungkin sulit dipahami: Ia datang bukan untuk menghapuskan hukum Musa, tetapi untuk menggenapinya. Hukum itu tidak akan berlalu sampai semuanya telah digenapi. Mereka yang mendengar pesan Yesus tidak boleh bersikap lunak terhadap diri mereka sendiri atau murid-murid mereka dalam hal menaati perintah-perintah hukum. Mereka yang menaati hukum akan disebut besar di kerajaan surga; mereka yang tidak menaatinya dengan saksama akan disebut yang paling rendah. Ini tidak berarti bahwa perbuatan baik akan mendatangkan keselamatan, tetapi ini menunjukkan poin penting tentang maksud Allah dalam pesan-pesan sebelumnya (Matius 5:17–19).

Kemudian Yesus menuntut suatu standar yang kedengarannya mustahil bagi para pendengar-Nya—persis seperti yang seharusnya. Ahli Taurat adalah ahli Kitab Suci yang “profesional”. Orang Farisi adalah sekte yang terkenal karena sangat taat menaati hukum Musa. Orang Farisi sangat ketat terhadap murid-murid mereka dan terhadap orang-orang yang pergi ke sinagoge tentang apa yang diperlukan untuk menaati hukum agar menjadi orang benar. Mereka begitu taat, bahkan mereka menambahkan lapisan-lapisan detail, aturan, dan peraturan di atas hukum sehingga mereka tidak akan pernah melanggarnya. Pelaksanaan Hukum Taurat dengan demikian menjadi syarat untuk mendapat keselamatan.

Apakah hukum Taurat dengan demikian adalah sesuatu yang buruk, yang tidak berlaku untuk kita setelah Yesus datang ke dunia? Tidal! Paulus jelas menegaskan bahwa ia suka hukum Turat yang membawa kesadaran bahwa ia adalah orang berdosa yang tidak dapat memenuhi syarat kebajikan yang dituntut Allah. Walaupun demikian, ia sadar bahwa karena tidak dapat memenuhi syarat kebajikan Tuhan, umat manusia membutuhkan penebusan darah Kristus.

Yesus mengemukakan dua poin yang berbeda di sini. Matius telah menunjukkan bahwa kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi adalah palsu. Yohanes Pembaptis menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” yang membutuhkan pertobatan yang benar-benar akan “menghasilkan buah” alih-alih hanya terlihat baik di mata orang lain (Matius 3:7–8). Yesus juga akan berselisih dengan orang Farisi mengenai cara mereka bekerja keras untuk penampilan luar sementara dosa merusak hati mereka. Seperti yang akan Yesus tekankan dalam sisa khotbah ini, Tuhan jauh lebih peduli tentang apa yang ada di dalam hati seseorang daripada bagaimana orang lain memandangnya. Tuhan lebih menghargai kemurnian sejati yang dimotivasi oleh kasih sejati daripada kepatuhan terhadap aturan teknis yang dimotivasi oleh kesombongan rohani. Jadi, “kebenaran” sejati adalah sesuatu yang lebih baik daripada versi busuk yang diarak-arakan oleh orang-orang munafik religius.

Matius 5:17–20 mengemukakan poin penting tentang hakikat dosa. Untuk melakukannya, Yesus pertama-tama menyatakan bahwa standar kebenaran surga berada di luar kemampuan manusia. Tujuan-Nya bukanlah untuk membuang hukum Musa, tetapi untuk mencapai tujuan pemberian hukum tersebut. Landasan ajaran Yesus adalah bahwa manusia tidak dapat memperoleh keselamatan, karena kita tidak dapat berharap untuk menjadi cukup baik. Untuk memperoleh kerajaan surga, seseorang harus lebih saleh daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi—standar utama budaya itu untuk ”perilaku baik.” Dalam bagian-bagian selanjutnya, Kristus akan menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana dosa tidak hanya melibatkan apa yang kita lakukan, secara fisik, tetapi juga pikiran dan motivasi kita.

Poin lain yang dikemukakan, yang didukung oleh ajaran gereja saat ini, adalah bahwa tidak seorang pun dapat benar-benar, benar-benar benar. Tidak seorang pun dapat menjalani kehidupan yang murni secara moral yang layak untuk surga. Seperti yang akan ditulis Paulus dalam Roma 3:23, “karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, ia akan menambahkan, dalam ayat berikut apa yang akan dipahami oleh para pendengar Yesus nanti, bahwa mereka yang beriman kepada Kristus “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.s” (Roma 3:24). Yesus pada waktu itu sedang mempersiapkan para pendengar-Nya untuk memahami bahwa mereka membutuhkan kebenaran yang hanya Dia yang dapat memberikan kepada kita. Sekarang, kita yang sudah disadarkan, harus benar-benar beriman kepada Kristus dan senantiasa berusaha untuk mengasihi Dia dan sesama kita. Bagaimana dengan respon Anda?

Apakah Anda punya rasa takut akan Tuhan?

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” Roma 3:12-18

Kejadian yang saya ungkapkan kemarin, yaitu mengenai seorang tokoh gereja yang baru-baru ini mengakui bahwa ia sudah memlakukan hubungan yang tidak pantas dengan seorang wanita yang bukan istrinya selama lima tahun masih terbayang dalam pikiran saya. Bagaimana itu terjadi pada awalnya, tidaklah ada yang tahu. Namun kita tentu percaya bahwa Tuhan tahu segalanya, bahkan sebelum dosa itu terjadi. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa Tuhan juga tahu segala apa yang kita perbuat, katakan atau pikirkan sekalipun kita berusaha menyembunyikannya.

Roma 3:9–20 memuat serangkaian kutipan dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Paulus menggunakan kutipan-kutipan ini untuk menunjukkan bahwa baik orang Yahudi maupun orang Yunani sama-sama berada di bawah dosa. Apakah itu termasuk diri kita? Tentu! Setelah menetapkan bahwa ”tidak ada seorang pun yang berbuat baik” dari Mazmur 14:1, Paulus menggunakan kutipan dari Mazmur dan Yesaya untuk menunjukkan bagaimana kita dengan sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, selalu menggunakan tubuh kita—tenggorokan, lidah, bibir, kaki, dan mata—untuk mengekspresikan keberdosaan kita. Ia menyimpulkan bagian itu dengan pernyataannya yang paling kuat, yaitu bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan di hadapan Allah dengan mengikuti hukum Taurat. Hukum Taurat hanya dapat menunjukkan dosa kita, bukan menyelamatkan kita darinya.

Dengan demikian,semua orang Kristen seharusnya tahu bahwa tidak ada orang, tidak seorang pun di dunia ini, yang layak disebut orang benar. Paulus menyatakan dengan tegas bahwa tidak seorang pun akan dibenarkan dengan mengikuti hukum Taurat. Namun, akhirnya, ia sampai pada kabar baik: kebenaran di hadapan Allah ada tersedia terlepas dari hukum Taurat melalui iman dalam kematian Kristus untuk dosa kita di kayu salib.

Paulus mengingatkan bagaimana kita menggunakan tubuh kita untuk mengekspresikan sifat hakiki kita. Ketika kita berbicara, dosa keluar. Ke mana pun kita berjalan, kita meninggalkan dosa. Dan sekarang, ia menunjukkan bahwa kita tidak pernah menggunakan mata rohani kita untuk bisa mempunyai rasa takut—atau “rasa hormat”—kepada Tuhan. Karena kita tidak dapat melihat Tuhan yang roh, sering kita mengabaikan-Nya dalam hidup sehati-hari. Tuhan agaknya “jauh di mata, jauh di hati”.

Kutipan terakhir ini (Roma 3:18) berasal dari Mazmur 36:2-3, di mana Daud menggambarkan “orang fasik” sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan di depan mata mereka. Mereka juga berusaha menutupi kesalahannya dari orang lain sampai terbongkar rahasianya.

“Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya.” Mazmur 36:2-3

Paulus menegaskan bahwa kita semua, setiap manusia, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, memenuhi gambaran ini (Roma 3:10). Kita pada mulanya tergolong orang fasik. Kita masing-masing pantas menerima penghakiman murka Tuhan atas dosa-dosa kita. Dosa kita, dalam hal ini, adalah bahwa kita mengabaikan atau meremehkan Tuhan. Kita merendahkan-Nya sesuai dengan ukuran kita di dalam hati kita. Mungkin kita berpura-pura bahwa Dia tidak ada, terlepas dari kenyataan bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya dan sifat-Nya melalui apa yang telah Dia ciptakan (Roma 1:20). Atau kita mungkin menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa Allah dan orang lain tidak dapat menemukan dosa kita (Mazmur 36:2), atau bahwa Ia tidak akan menghakimi kita karenanya.

Pernyataan ini selalu berlaku bagi orang berdosa yang secara terbuka menyangkal Kristus, namun, pernyataan ini juga semakin berlaku bagi banyak orang Kristen yang menyadari dan mengakuinya. Hal ini sebagian terjadi karena banyak pendeta di zaman sekarang tidak hanya menghindari pembicaraan tentang takut kepada Allah, tetapi mereka juga menghindari pembicaraan tentang apa pun yang akan memberi orang alasan untuk takut kepada Allah. Mereka menghindari penyebutan tentang dosa, neraka, dan kutukan. Terlebih lagi, mereka menghindari semua pembicaraan tentang kekudusan yang diharapkan Tuhan kepada umat-Nya.

“tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”1 Petrus 1:15-16

Jemaat di zaman ini tidak menginginkan Tuhan yang kudus dan bisa murka, mereka hanya menginginkan Tuhan yang penuh kasih dan damai. Mereka tidak menginginkan Tuhan yang membenci dosa mereka, mereka menginginkan Tuhan yang lembut yang akan menjadi sahabat karib mereka. Mereka juga merasa sangat yakin bahwa Tuhan sudah menetapkan mereka dari awalnya untuk diselamatkan. Kenyataannya adalah bahwa orang tidak ingin takut kepada Tuhan karena mereka tidak menginginkan Tuhan ikut campur dalam hidup mereka. Beberapa orang Kristen mengaku tidak takut kepada-Nya karena mereka tidak benar-benar mengenal Tuhan dalam Kitab Suci, sementara mereka menganggap enteng kasih karunia-Nya melalui pengurbanan Yesus Kristus untuk menyelamatkan diri mereka. Mungkin saja mereka bukan orang yang benar-benar Kristen!

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah jika kita mengaku kenal Tuhan, kita takut kepada-Nya, karena Dia telah menaruh takut kepada diri-Nya ke dalam hati kita (Yeremia 32:40). Sebagai orang Kristen, kita tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan seperti budak kepada majikannya. Sebaliknya, kita memiliki rasa takut kepada Tuhan yang seperti anak, hormat, dan rendah hati. Injil adalah perbedaan antara takut kepada Tuhan dan hormat kepada Tuhan. Hanya ketika kita takut kepada Tuhan, Tuhan memberi tahu kita untuk tidak takut. Sebab ketika kita mengenal kasih Allah di dalam Kristus, Roh Kudus mengusir segala ketakutan dan menanamkan di dalam kita kasih dan penyembahan, sehingga kita makin lama makin bisa taat kepada firman-Nya (mengerjakan keselamatan kita) dengan sunguh-sungguh (dengan takut dan gentar).

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentarbukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” Filipi 2:12

Kita bukan budak, tetapi anak yang hilang yang sudah pulang ke rumah

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ”ya Abba, ya Bapa!” Roma 8:15

Roma 8:15 adalah salah satu ayat Kitab Suci yang paling indah tentang hubungan kita dengan Tuhan melalui iman kepada Kristus. Ayat ini menggambarkan bagaimana Tuhan telah mengubah hubungan setiap orang Kristen dengan-Nya melalui kuasa Roh Kudus. Kita tidak lagi perlu kuatir atau takut menghadapi perjuangan dan penderitaan dalam hidup karena itu tidak ada bandingnya dengan kasih Bapa dan kemuliaan yang akan kita terima sebagai anak-anak-Nya.

Roma 8 dimulai dan diakhiri dengan pernyataan tentang keamanan mutlak orang Kristen di hadapan Allah. Ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Yesus dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15: 11-24). Sebagai anak yang hilang kita sudah mengambil keputusan untuk pulang kembali ke rumah setelah mengembara dan hidup dalam dosa. Kita merasa bersyukur karena Bapa yang telah menunggu kita sejak lama, ternyata menyambut kita dengan tangan terbuka.

Tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, dan tidak ada yang akan pernah dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Setelah percaya kepada Injil, kita sekarang hidup dalam Roh Allah. Itu memungkinkan kita untuk memanggil Allah Abba Bapa. Kita menderita bersama Kristus, dan kita menderita bersama seluruh ciptaan sambil menunggu Allah menyatakan kita sebagai anak-anak-Nya (Roma 8:19). Dengan bantuan Roh Kudus, kita yakin bahwa Allah bersama kita selama kita masih hidup di dunia dan mengasihi kita di dalam Kristus.

Roma 8:12–17 menggambarkan posisi kita di dalam Kristus sebagai anak-anak Allah; mereka yang telah diselamatkan melalui iman kepada Kristus. Namun, pertama-tama, Paulus memperingatkan kita bahwa jika kita ingin menjadi anak-anak Allah, kita tidak boleh terikat pada kehidupan lama kita dalam daging. Itu bukan lagi jati diri kita. Allah tidak memberikan kepada kita roh perbudakan, tetapi roh adopsi ke dalam keluarga-Nya. Oleh Roh Allah, kita berseru kepada-Nya sebagai ”Abba” kita, yang merupakan istilah informal untuk ”Bapa.” Dia juga menegaskan dalam roh kita bahwa kita adalah anak-anak-Nya.

Dalam ayat sebelumnya, Paulus menulis bahwa semua orang yang dipimpin oleh Roh Tuhan adalah anak-anak-Nya. Sekarang dia menjelaskannya lebih spesifik. Sebelumnya dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menulis bahwa melalui iman kepada Kristus kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan kita menjadi “hamba kebenaran” (Roma 6:18) atau “hamba Allah” (Roma 6:22). Paulus tidak mengabaikan hal itu dalam ayat ini. Kata yang digunakan untuk hamba—doulos—menggambarkan apa yang dulu dikenal sebagai kontrak untuk menjadi budak: ketika seseorang bersumpah setia untuk melayani tuan tertentu.

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 8:22

Paulus meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak memandang kita sebagai budak-Nya atau bahkan sekadar hamba yang baik. Dia tidak membebaskan kita dari perbudakan dosa hanya untuk menambahkan kita ke dalam tim-Nya. Dia menyelamatkan kita dari dosa untuk menjadikan kita anak-anak-Nya. Itu melibatkan Roh Kudus.

Jika dulu, sebagai anak yang hilang, kita ingin mengisi perut kita dengan ampas yang menjadi makanan babi (Lukas 15:16), sekarang Bapa kita telah memberi apa yang pantas untuk seorang anak yang terkasih. Allah tidak memberi kita roh perbudakan, dengan memberi kita Roh Kudus. Para budak yang dianiaya sering kali hidup dalam ketakutan terhadap tuan mereka, dan itu bukanlah hubungan yang Allah inginkan dari kita. Tidak, Paulus menegaskan, Allah memberi kita Roh adopsi sebagai anak-anak-Nya. Dengan kata lain, Allah secara hukum mengubah status mereka yang datang kepada-Nya melalui iman di dalam Kristus menjadi anak laki-laki dan perempuan.

Pagi ini, jika kita mengalami berbagai persoalan, perjuangan dan penderitaan, biarlah kita ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Roh Kudus memungkinkan kita untuk berseru kepada Allah seperti anak-anak kecil memanggil ayah yang penuh kasih. Kata Abba adalah adaptasi bahasa Yunani dan Inggris dari kata bahasa Aram untuk ayah. Itu sering kali merupakan kata yang digunakan oleh anak-anak kecil untuk “papa” atau “ayah.” Itulah hubungan yang Allah inginkan dengan kita, dan Dia telah memungkinkannya melalui Roh. Kita tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan karena Dialah yang akan memberi kekuatan dan penghiburan.

Tuhan bisa memakai siapa saja yang mau dipakai-Nya

“Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku. Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.” 1 Timotius 1:12-14

Pada akhir bulan September 2024 ada berita besar yang menyedihkan di kalangan gereja Reformed. Seorang pendeta terkenal dan dekan sekolah teologi di Amerika ternyata mempunyai hubungan di luar nikah dengan seorang wanita yang pantas menjadi cucunya. Hubungan yang sudah berlangsung sekitar 5 tahun itu akhirnya terbongkar dan sebagai akibatnya pendeta itu dipecat dari jabatan-jabatannya. Hal ini sangat mengejutkan karena pendeta sangat aktif mengabarkan injil dan bahkan sudah menulis banyak buku teologi. Saya yakin bahwa selama ini banyak orang yang menjadi Kristen karena Injil yang pernah dikabarkan pendeta ini.

Saat ini banyak pembahasan di kalangan tokoh Reformed mengenai bagaimana kejadian di atas bisa mempengaruhi umat percaya. Mungkinkah mereka yang merasa dikecewakan oleh cara hidup pendeta ini kemudian mundur dari iman mereka? Akankah pemberitaan Injil melalui berbagai media kemudian menjadi kacau karena besarnya kontribusi yang dulunya pernah disampaikan oleh pendeta ini? Apakah buku-buku dan tulisan pendeta ini harus dicabut dari peredaran? Mengapa Tuhan mengizinkan pendeta itu untuk melakukan apa yang jahat jika Ia memakainya untuk memberitakan Injil? Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu saja ada orang yang mempertanyakan apakah pendeta munafik itu akan masuk ke surga.

Sebenarnya, Alkitab penuh dengan contoh-contoh orang pilihan Allah yang ternyata bukan orang yang benar-benar baik cara hidupnya. Misalnya saja Simson, Daud, Solomo, Petrus, dan Paulus, yang sekalipun bukan orang-orang yang tidak bercela, tetap digunakan Tuhan untuk memenuhi rancangan-Nya. Karena itu, saya yakin bahwa kejadian yang baru terjadi di atas juga termasuk dalam rancangan Tuhan dan bisa digunakan-Nya untuk maksud-maksud yang tidak atau belum kita ketahui.

Ayat 1 Timotius 1:12-14 memberikan gambaran sekilas tentang latar belakang pribadi Paulus sendiri. Dalam bagian sebelumnya, Paulus menjelaskan bagaimana Hukum Tuhan dimaksudkan untuk menghukum orang-orang atas dosa mereka. Dia memberikan daftar tindakan tidak bermoral yang sejajar dengan Sepuluh Perintah. Namun, di sini, Paulus membuktikan kerendahan hatinya secara rohani. Ia menyadari bahwa dosa-dosanya sendiri berat dan bahwa ia hanya dapat mengandalkan kasih karunia Allah yang menyelamatkannya. Perubahan hidup Paulus bukan karena usahanya sendiri, tetapi merupakan hasil dari pekerjaan Kristus yang ajaib.

Bagian pertama dari ayat-ayat di atas berfokus pada pengalaman pribadi Paulus: kesaksiannya. Ia mulai dengan bersyukur kepada Tuhan atas kuasa rohani yang dibutuhkan untuk pelayanannya. Paulus sepenuhnya menerima ajaran Kristus bahwa “… di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Kuasa Paulus berasal dari Kristus, bukan dari kemampuan manusianya sendiri. Ia tampaknya menggunakan frasa tersebut untuk menekankan iman yang sama kepada Yesus Kristus dengan para pembacanya.

Bagian kedua dari ayat ini memberikan dua aspek penting dari pelayanan Paulus. Pertama, Paulus mencatat bahwa Tuhan menyatakan dia setia—ia tidak mengatakan bahwa ia setia dan Tuhan mengakuinya, tetapi lebih tepatnya bahwa Tuhan “menganggap aku setia.” Paulus, yang sebelumnya bernama Saulus, dan seorang penganiaya gereja yang penuh kebencian (1 Timotius 1:13) tidak cukup baik untuk melayani Tuhan. Namun, Tuhan menghakimi atau memutuskan Paulus akan setia dalam melayani-Nya. Dengan kata lain, Tuhanlah yang membuat Paulus setia, karakteristik yang menentukan dari pelayanannya.

Selanjutnya, Paulus menyadari peran Tuhan dalam memilihnya untuk perannya sebagai rasul. Dia tidak layak mendapatkannya atau mendapatkannya (Efesus 2:8-10). Gagasan tentang “pelayanannya” mirip dengan seorang hamba kepada raja atau tuannya. Paulus melihat dirinya sebagai “hamba” Tuhan, yang menawarkan contoh bagi orang Kristen saat ini.

Dalam ayat 13, Paulus menjelaskan kesaksiannya sendiri. Ini penting, karena menunjukkan bahwa Paulus tidak menganggap dirinya lebih baik daripada orang-orang yang dikritiknya. Ia mengakui dosanya sendiri. Setelah berterima kasih kepada Yesus dalam ayat sebelumnya, Paulus berbicara dengan gamblang tentang dirinya yang dulu. Ini terjadi sebelum pertobatannya yang ajaib (Kisah Para Rasul 9:1–22).

Paulus merujuk pada tiga area khusus: penghujatan, agresi, dan kesombongan. Paulus berbicara menentang Yesus, menganiaya para pengikut-Nya, dan menentang gereja. Ketika Yesus menampakkan diri kepada Paulus di jalan menuju Damaskus, kata-kata pertama-Nya adalah, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kisah Para Rasul 9:4).

Frasa berikutnya mengidentifikasi apa yang mengubah Paulus: belas kasihan Allah. Paulus akan menggunakan frasa serupa dalam ayat 16. Kata Yunani yang digunakan di sini adalah ēleēthēn, yang diterjemahkan sebagai “menerima belas kasihan.” Istilah ini pasif: Paulus tidak keluar dan memperoleh belas kasihan, Allah menyediakannya tanpa kontribusi apa pun dari pihak Paulus. Hukum Perjanjian Lama membedakan antara dosa yang disengaja dan tidak disengaja (Bilangan 15:22–31). Paulus tahu hatinya sebelum pertobatan itu tulus, tetapi tulus salah. Paulus melihat dirinya sebagai orang yang berdosa tanpa pengetahuan sampai Allah mencurahkan belas kasihan-Nya kepadanya.

Kesaksian Paulus, yang diberikan dalam ayat-ayat sebelumnya, mencakup dosa-dosa besar terhadap Tuhan. Meskipun ia tulus, Paulus pada suatu waktu dengan tulus secara salah dan menentang Tuhan (1 Timotius 1:12-13). Obat untuk ini adalah belas kasihan Tuhan. Keselamatan adalah oleh kasih karunia Allah saja melalui iman saja kepada Yesus Kristus saja (Efesus 2:8-9). Ketiga unsur ini disebutkan di sini: kasih karunia Allah, Tuhan Yesus, dan iman Paulus. Bahkan, Paulus merujuk pada kasih karunia ini “melimpah” baginya. Untuk semua dosa yang telah dilakukan Paulus, kasih karunia yang diberikan kepadanya oleh Tuhan lebih dari cukup untuk membawa keselamatan.

Di seluruh halaman Kitab Suci, kita melihat bagaimana Tuhan menggunakan orang-orang yang paling tidak terduga. Musa yang lambat bicara. Rahab yang bekerja sebagai pelacur. Daud yang berzinah. Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Paulus yang menganiaya gereja. Jika Tuhan dapat memulihkan orang-orang seperti itu dan menggunakan mereka untuk kemuliaan-Nya dan untuk kemajuan Kerajaan-Nya, maka Tuhan dapat menggunakan Anda atau orang lain secara tak terduga.

Kita memang pantas dihakimi dan dihukum oleh Tuhan. Kita memang pantas dihukum atas dosa-dosa kita. Namun, Tuhan memberi Paulus belas kasihan. Anda dan saya berada di perahu yang sama. Tidak seorang pun dari kita yang pantas diselamatkan. Tidak seorang pun dari kita yang pantas masuk Surga. Kita semua adalah orang berdosa yang bejat yang pantas menerima murka Tuhan. Namun, Dia memberikan belas kasihan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Panggilan Tuhan untuk keselamatan juga melibatkan kasih karunia Tuhan. Panggilan Tuhan untuk mengabarkan Injil bukanlah untuk orang-orang yang sempurna, tetapi untuk mereka yang mau dipakai-Nya. Jika belas kasihan adalah Tuhan tidak memberi kita apa yang seharusnya kita terima (hukuman), kasih karunia adalah Tuhan memberi kita apa yang tidak seharusnya kita terima (pengampunan).

Pagi ini, pikirkan semua hal yang Tuhan berikan kepada kita ketika kita beriman kepada-Nya. Dia memberi kita kedamaian. Dia memberi kita kehidupan yang berkelimpahan. Dia memberi kita pengampunan. Dia memberikan Roh Kudus. Dia memberi kita karunia rohani. Dia memenuhi kebutuhan kita. Dan yang terpenting, Dia memberi kita rumah kekal di dalam Kemuliaan! Puji Tuhan atas belas kasihan dan kasih karunia-Nya! Ketika kita memikirkan panggilan Tuhan untuk keselamatan, itu tidak hanya melibatkan belas kasihan dan kasih karunia-Nya, tetapi juga melibatkan tujuan Tuhan. Tujuan Tuhan adalah agar kita diselamatkan sekalipun kita masih bisa jatuh dalam dosa.

Saya suka apa yang dikatakan 2 Petrus 3:9, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Hati Tuhanlah yang paling utama agar semua orang mengenal Dia. Yesus datang ke bumi ini untuk membayar harga dosa bagi seluruh dunia. Jika Anda merasa sudah mengecewakan Tuhan, Tuhan memanggil Anda untuk kembali kepada-Nya. Mengapa? Karena Dia mengasihi Anda dan merupakan kehendak-Nya agar dosa-dosa Anda diampuni dan diberi rumah di Surga. Kedua, Tuhan memanggil Anda untuk melayani. Setiap orang yang menaruh iman dan kepercayaannya kepada Yesus dan dilahirkan kembali, mereka juga dipanggil untuk melayani Tuhan. Dalam ayat 12 kita melihat Paulus bersyukur kepada Tuhan karena telah menempatkan Dia dalam pelayanan. Jika Anda mau bertobat dan melayani, Tuhan akan membimbing Anda melalui jatuh bangunnya perjalanan hidup Anda untuk menuju ke arah kesempurnaan yang dikehedaki-Nya.

Hal menjadi garam dan terang dunia

”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Matius 5:13-14

Matius mencatat Khotbah Yesus di Bukit. Bagian sebelumnya mencatat Ucapan Bahagia, dan sekarang Kristus beralih ke serangkaian ajaran singkat tentang berbagai topik. Pertama, Yesus membahas perlunya para pengikut-Nya untuk hidup sesuai dengan kebajikan yang dijelaskan dalam Ucapan Bahagia. Ini diperlukan untuk menjadi “garam” dan “terang” di dunia.

Matius 5:13–20 menggambarkan peran penting yang dilayani oleh para murid dan pengikut Yesus di bumi. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Metafora-metafora ini menggambarkan dampak yang seharusnya dimiliki orang Kristen di dunia. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi mereka untuk melakukan pekerjaan baik yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika tidak, mereka tidak akan lagi berguna sebagai garam dan terang. Sebaliknya, mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu, membiarkan terang mereka bersinar di dunia yang gelap agar semua yang melihat akan memuliakan Tuhan. Ini adalah peran umat Tuhan selama hidup di dunia: bahwa mereka harus mengambil keputusan untuk menaati perintan Yesus tersebut.

Yesus berkata kepada para pengikut-Nya, “Kamu adalah garam dunia.” Dulu, seperti sekarang, garam memiliki berbagai fungsi. Sebelum zaman pendinginan, garam digunakan secara luas sebagai bahan pengawet dengan menggosokkannya ke daging. Dalam beberapa kasus, garam dapat digunakan sebagai semacam pupuk. Tentu saja, garam juga digunakan untuk memberi rasa pada makanan. Panggilan Yesus bagi para pengikut untuk menjadi “garam dunia” membawa manfaat tersebut, secara simbolis, ke dalam kehidupan rohani kita.

Seperti garam yang mengawetkan daging agar tidak membusuk, orang-orang yang percaya kepada Yesus, yang tersebar di seluruh dunia, membantu menjaga manusia agar tidak jatuh ke dalam ketidakbertuhanan, amoralitas, kekacauan, dan penghakiman yang diakibatkannya. Garam mengubah rasa makanan secara permanen, sama seperti pengaruh orang-orang saleh dapat mengubah suatu budaya. Inti utamanya adalah bahwa orang Kristen melayani tujuan ilahi di dunia hanya dengan menjalani apa yang kita yakini tentang Yesus.

Orang Kristen berhenti melayani tujuan itu ketika kita berhenti hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan. Mungkin mereka sudah puas dengan karunia keselamatan yang mereka terima. Mungkin mereka merasa bahwa semua yang terjadi dalam hidup mereka, baik itu hal yang baik dan benar maupun hal yang jahat dan penuh dosa adalah sesuai dengan apa yang sudah ditentukan Tuhan. Ucapan Bahagia menempatkan tujuan hidup orang Kristen itu dalam konteksnya. Ketika para pengikut Yesus berhenti menjadi miskin dalam roh, hidup dalam pertobatan dan kelembutan, memiliki keinginan untuk kebenaran, dan berbelas kasih, mereka berhenti melayani Tuhan di bumi. Ini sama dahsyatnya, dan tidak terpikirkan, seperti jika garam kehilangan rasanya.

Beberapa orang menolak metafora ini dengan mengatakan bahwa garam tidak pernah kehilangan rasa asinnya, menurut ilmu kimia. Menurut mereka, ketika kita menjadi umat Tuhan kita menjadi garam dalam arti berbeda dengan orang lain karena adanya karunia Tuhan. Ini tidak tepat sasaran dan tidak benar dalam arti praktis. Ajaran Yesus dapat diartikan, sebagian, bahwa kualitas-kualitas tertentu sama bawaannya bagi orang percaya yang telah lahir baru seperti rasa asin bagi garam. Gagasan kehilangan sifat-sifat tersebut tidak terpikirkan. Dalam pengertian yang lebih praktis, garam yang digunakan orang setiap hari tidak murni secara kimiawi. Garam tersebut dapat diencerkan, atau bahkan terkontaminasi. Itu akan menghasilkan sesuatu yang seharusnya menjadi garam tetapi tidak terasa atau bertindak seperti garam lagi. Itu membuatnya tidak berguna, dan harus dibuang. Yesus menunjukkan hal yang sama dapat terjadi pada seorang murid yang berhenti hidup setia kepada Kristus di dunia. Intinya di sini bukanlah tentang hilangnya keselamatan, tetapi hilangnya tujuan. “Garam yang buruk” tidak dihancurkan atau dibakar, itu hanya diabaikan bersama dengan debu tanah.

Selanjutnya, Yesus membandingkan mereka dengan terang. Ia menyebut mereka “terang dunia,” bahkan. Terang merupakan simbol penting dalam pandangan dunia Yahudi. Sama seperti budaya Yunani yang menghargai pengetahuan, atau budaya Romawi yang menghargai kemuliaan, atau budaya Barat modern yang menggembar-gemborkan kebebasan, standar ideal budaya Ibrani adalah terang. Konsep ini sangat berperan dalam penjelasan Alkitab tentang kesalehan dan kebenaran (Amsal 4:18–19; Matius 4:16; Yohanes 8:12; 2 Korintus 4:6).

Secara rohani, tidak ada terang sejati di dunia ini selain Yesus Kristus. Namun, terang-Nya bersinar melalui setiap orang yang menjadi milik-Nya. Dengan cara ini, terang Kristus disebarkan ke dalam kegelapan di setiap sudut umat manusia. Bahwa terang ini dimaksudkan untuk terlihat oleh dunia juga penting. Yesus menambahkan metafora ini dengan merujuk pada sebuah kota yang terletak di atas bukit. Kota itu tidak dimaksudkan untuk disembunyikan; kota di atas bukit dimaksudkan untuk dilihat dan ditemukan bahkan dalam kegelapan malam. Pada zaman Kristus, tembok-tembok di sekeliling kota di atas bukit sering kali terbuat dari batu kapur putih, yang relatif mudah dilihat, bahkan pada malam yang redup.

Dengan cara yang sama, terang Kristus tidak dimaksudkan untuk disembunyikan di bumi. Terang itu dimaksudkan untuk bersinar terang dari semua orang yang menjadi milik Kristus. Terang itu dimaksudkan untuk ditemukan, dengan cara ini, oleh mereka yang masih berada dalam kegelapan. Yesus akan menambahkan poin ini dalam ayat berikutnya bahwa terang Kristus tidak boleh ditutupi dalam kehidupan para pengikut-Nya. Terang itu dimaksudkan untuk dilihat dan bukannya ditutupi dengan berbagai hal duniawi.

Hari ini, pertanyaan kepada kita semua: apakah kita sudah berupaya untuk menjadi garam dan terang dunia? Ataukan kita mengabaikan pentingnya untuk membagikan garam dan terang itu kepada seisi dunia? Kita harus sadar bahwa jika Tuhan sudah memungkinkan kita untuk menjadi garam dan terang dunia, kita harus mengambil keputusan untuk mau menggunakan hidup kita guna membawa orang lain kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita.

“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah , yang telah kamu terima.” 2 Korintus 6:1

Berapa besar iman yang Anda miliki?

Ia berkata kepada mereka: ”Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17:20

Pada waktu itu, Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi. Di sana, mereka melihat-Nya “berubah rupa” menjadi bentuk ilahi yang bersinar. Mereka juga melihat Kristus berbicara dengan Musa dan Elia tetapi diperintahkan untuk tidak membicarakan peristiwa ini sampai saatnya tiba.

Pada saat itu, seorang ayah yang putus asa memohon pertolongan kepada sembilan murid yang tertinggal ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke atas gunung. Putra ayah itu sedang dirasuki setan, dan mengalami kejang-kejang epilepsi serta sering jatuh ke dalam air atau api. Murid-murid itu tidak dapat mengusir setan itu (Markus 9:14–29). Mereka telah gagal dalam tugas yang sangat penting. Yesus, yang jengkel dengan keraguan para murid-Nya, menegur setan itu dan menyembuhkan anak laki-laki itu.

Para murid benar-benar ingin memahami apa yang salah (Matius 17:18–19). Mereka telah bertanya kepada-Nya secara pribadi, jauh dari orang banyak, mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu. Yesus menanggapi mereka secara langsung, tetapi relatif ramah dalam ayat ini. Inti dari kegagalan mereka adalah “iman mereka yang kecil.” Mereka tidak mempercayai kuasa yang sebelumnya diberikan kepada mereka oleh Yesus (Matius 10:8) atau mereka tidak percaya kuasa seperti itu dapat dijalankan melalui mereka. Mungkin mereka melihat kasus khusus ini terlalu sulit. Bahwa mereka dapat melakukan mukjizat dengan menggunakan kuasa Kristus, merupakan kenyataan yang mencengangkan. Di sini Yesus menyingkapkan bahwa kunci kuasa itu adalah iman kepada-Nya.

Bagian dari pelajaran di sini adalah potensi iman yang sejati. Dalam memberikan peringatan ini, Kristus sekali lagi menyebutkan biji sesawi kecil sebagai metafora untuk iman yang hidup dan aktif (Matius 13:31–32). Bahkan dengan jumlah iman sekecil itu, Yesus berkata, mereka akan dapat menyuruh gunung untuk pindah dan gunung itu akan melakukannya. Bahkan dengan sedikit iman pada kuasa dan otoritas-Nya, tidak ada yang mustahil bagi mereka. Kita tidak tahu sejauh mana iman para murid itu kurang; mungkin kejang epilepsi telah mengejutkan mereka dan menyebabkan iman mereka goyah.

Yesus menggunakan momen itu untuk menekankan kuasa iman, tidak peduli seberapa besarnya (ayat 20). Bahwa iman dapat memindahkan gunung bukanlah ungkapan harfiah, itu adalah metafora yang berarti iman dapat melakukan hal yang mustahil (lihat 1 Kor. 13:2). Tentu saja, kuasa tidak melekat dalam iman itu sendiri; iman bukanlah cara ajaib untuk memanipulasi kenyataan. Sebaliknya, iman itu efektif karena iman adalah sarana yang dengannya kita memperoleh bantuan dari Allah sendiri, yang bersama-Nya segala sesuatu mungkin terjadi (Matius 19:26). Iman adalah keyakinan, seperti komentar John Calvin, bahwa “Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, jika kita tetap membuka pintu untuk menerima kasih karunia-Nya”.

Hal di atas adalah pelajaran yang penting dan kuat bagi para murid dan kita sendiri. Dalam keadaan yang tidak terilhat kritis, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Tetapi, jika ada hal yang sangat mengejutkan atau menguatirkan, kita mungkin menjadi sangat kuatir dan takut. Jika demikian, pagi ini kita ditegur oleh Yesus seperti apa yang terjadi pada murid-murid Yesus. Teguran Yesus adalah untuk memulihkan kembali iman kita.

Kita bisa melihat bahwa para murid yang sudah ditegur Yesus itu pada akhirnya akan melakukan banyak mukjizat yang tampaknya mustahil selama sisa hidup mereka di bumi. Kuasa untuk melakukannya tidak akan pernah datang dari kemampuan atau kebaikan atau status mereka sendiri. Itu akan selalu datang melalui anugerah khusus mereka, yang dimungkinkan oleh iman mereka kepada Yesus yang mereka pelihara.

Perlu diingat, ayat di atas tidak mendefinisikan iman secara menyeluruh; dengan demikian, bacaan ini harus dibaca bersama dengan bacaan lain seperti 1 Yohanes 5:14, yang menekankan pentingnya kehendak Allah ketika kita berdoa. Seperti yang ditulis Dr. John MacArthur: “Iman sejati, menurut definisi Kristus, selalu melibatkan penyerahan diri kepada kehendak Allah” (The MacArthur Bible Commentary). Dengan iIman kita percaya bahwa Allah dapat melakukan apa saja, tetapi dengan iman kita juga mengantisipasi hanya hal-hal yang telah Ia janjikan, dan bukannya mengharapkan apa yang di luar kehendak-Nya.