Memelihara dan mempertahankan iman

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” 2 Timotius 4:7-8

Ada orang yang bertanya apakah yang saya kerjakan sehari-hari sesudah pensiun. Saya menjawab bahwa selain adanya kegiatan menulis artikel, membaca buku/berita dan berolahraga, saya selalu mempunyai berbagai aktivitas untuk memelihara rumah saya. Bukan saja membersihkan rumah, tetapi juga memperbaiki apa yang rusak dan mengganti apa yang sudah tidak dapat diperbaiki. Seperti mobil, rumah perlu “maintenance” alias pemeliharaan karena proses penuaan yang berlangsung terus. Seperti tubuh manusia, ada bagian-bagian rumah yang sakit dan perlu “diobati” sebelum menjadi parah. Dengan demikian saya dapat mempertahankan rumah saya sebagai tempat yang layak ditinggali.

Berbeda dengan benda mati seperti sebuah rumah, tubuh manusia yang berupa jasmani dan rohani itu mengalami perubahan yang dinamis. Dengan berlalunya waktu, keadaan manusia tidak selalu berubah menjadi makin buruk, karena walaupun secara jasmani kita makin tua dan makin lemah, tubuh rohani kita seharusnya berubah makin dewasa dan makin baik jika kita adalah orang-orang yang mau memelihara dan mempertahankan iman kita dengan penyertaan Tuhan.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” 2 Korintus 4:16

Sayang sekali, seperti orang yang merasa bahwa pemeliharaan rutin adalah kurang penting untuk sebuah rumah yang tidak mempunyai bagian-baian yang berputar atau bergerak, banyak orang Kristen yang percaya bahwa “sekali selamat tetap selamat” dan karena itu tidak perlulah mereka berusaha untuk memelihara dan mempertahankan iman mereka supaya tetap kuat dalam segala keadaan. Mereka lupa bahwa tubuh mereka adalah milik Tuhan yang perlu dipelihara.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 1 Korintus 6:19

Dalam suratnya, Paulus “menugaskan” Timotius untuk mempertahankan imannya, terhadap semua kesalahan dan ajaran sesat, setiap saat. Timotius akan menghadapi perlawanan dari dunia dan karena Paulus merasa bahwa hidupnya hampir berakhir, Timotius harus terus berjuang tanpa dia. Ayat-ayat 2 Timotius 4:1–8 berisi instruksi pelayanan terakhir Paulus kepada Timotius. Paulus tahu bahwa ia tidak akan selamat dari pemenjaraannya saat itu. Jadi, ia dengan jelas dan berani memerintahkan Timotius—memerintahkannya—untuk berpegang teguh pada iman yang telah ia lihat dan jalani. Timotius akan dapat melakukan ini dengan mengetahui bahwa Paulus telah melayani Tuhan dengan setia, mengharapkan pahala surgawi yang diberikan kepada semua pengikut Tuhan.

Saat Paulus memandang ke arah kematiannya yang akan datang, ia juga melihat ke belakang dan memberikan tiga pernyataan positif tentang pelayanannya. Pertama, ia menyatakan keyakinannya pada perjuangan hidupnya demi Kristus. Dalam 1 Timotius 6:12, Paulus telah memerintahkan Timotius untuk melakukan hal yang sama, “berjuang dalam pertandingan iman yang benar.”

Kedua, Paulus menyatakan bahwa ia telah menyelesaikan misi yang diberikan kepadanya oleh Allah. Di tempat lain Paulus berbicara tentang iman Kristen sebagai sebuah perlombaan, dengan mengatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! (1 Korintus 9:24). Dalam Ibrani 12:1, penulis juga mencatat, “marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”

Ketiga, Paulus menulis bahwa ia secara khusus berpegang pada kebenaran. Paulus tidak memelihara iman yang samar-samar kepada Allah, tetapi “iman”, satu kepercayaan khusus kepada Yesus sebagai Mesias yang telah bangkit. Perjanjian Baru sering berbicara tentang kepercayaan kepada Yesus sebagai “iman” (Kisah Para Rasul 6:7; 13:8; 14:22; 16:5). Paulus memerintahkan orang-orang Kristen di Korintus untuk “berdiri teguh dalam iman” (1 Korintus 16:13), sesuatu yang ia praktikkan dalam hidupnya sendiri. “Iman” juga telah disebutkan beberapa kali dalam surat ini (2 Timotius 1:13; 3:8).

Karena kesetiaan Paulus kepada Kristus, ia dapat dengan yakin mengharapkan pahala surgawi. Keselamatan adalah karena kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8-9), namun pahala kekal didasarkan pada pelayanan seseorang yang setia kepada Kristus. Ini adalah satu-satunya tempat dalam Perjanjian Baru yang merujuk pada jenis mahkota khusus ini. Mahkota lainnya termasuk mahkota yang tidak dapat binasa (1 Korintus 9:24-25), mahkota sukacita (1 Tesalonika), mahkota kehidupan (Yakobus 1:12; Wahyu 2:10) dan mahkota kemuliaan (1 Petrus 5:4). Mahkota kebenaran ini akan datang dari “hakim yang adil” (Mazmur 7:11).

Paulus berharap untuk memperoleh mahkota ini pada “hari-Nya,” sebuah referensi yang sering diperdebatkan oleh para penafsir Alkitab. Beberapa orang percaya ini akan terjadi ketika Paulus meninggal dan berdiri di hadapan Tuhan, sementara yang lain menafsirkan ini sebagai waktu yang akan datang seperti “Hari Tuhan” pada akhir zaman. Mengingat konteks bagian ini, tampaknya ayat ini lebih mungkin merujuk pada saat Paulus meninggal. Yang sangat menggembirakan bagi orang Kristen adalah kenyataan bahwa Paulus menambahkan bahwa mahkota kebenaran adalah untuknya dan juga “semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Setiap orang percaya yang setia memelihara kemurnian imannya memiliki potensi untuk menerima mahkota khusus ini. Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda benar-benar mengasihi Yesus?

Jawab Yesus: ”Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.” Yohanes 14:23-24

Apakah Anda orang Kristen sejati? Saya yakin bahwa jika Anda mengaku Kristen dan rajin ke gereja, Anda akan menjawab “ya”, atau setidaknya berharap demikian. Tetapi, jika Anda mengaku orang Kristen sejati dalam arti sudah ditebus oleh darah Kristus, apakah Anda mengasihi Dia yang sudah mengaruniai Anda keselamatan?

Pertanyaan ini pernah dilontarkan Yesus kepada Petrus dan bagi Petrus ini merupakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab (baca Yohanes 21:15-25). Mengapa begitu? Petrus pernah mengingkari Yesus tiga kali ketika Yesus sedang diadili pada saat menjelang penyaliban-Nya. Karena itu, tiga kali Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Dia sampai pada akhirnya Petrus sadar bahwa mengasihi Yesus bukan hanya dengan mulut. Seperti itulah, jika kita mengaku mengasihi Dia, kita harus mau berkurban untuk Dia. Kita tahu bahwa Petrus yang sudah menyangkal Yesus tiga kali, pada akhirnya menyatakan kasihnya dengan pengurbanan jiwanya.

Mengasihi Yesus bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Kita tidak dapat mengasihi Dia dengan kekuatan diri sendiri. Yohanes 14:15–31 berisi ramalan tentang Roh Penolong. Yesus menyebutnya sebagai Roh Kebenaran, dan berjanji bahwa Roh Kudus itu akan datang untuk membantu para murid melanjutkan hidup setelah Yesus naik ke surga. Dalam hal ini, kasih seseorang kepada Kristus, ketaatan mereka kepada ajaran-ajaran-Nya, dan tinggalnya Roh Kudus saling terkait. Seperti dalam pernyataan sebelumnya, Yesus berfokus pada penghiburan dan dorongan. Ia akan terus menyoroti perlunya mempertahankan iman, berdasarkan semua yang telah Ia katakan dan lakukan sejauh ini. Kemudian, setelah peringatan sebelumnya tentang apa yang akan dihadapi orang Kristen, Yesus kembali menjelaskan pekerjaan dan tujuan Roh Kudus di bawah perjanjian baru.

Roh Kudus hanya tersedia bagi orang percaya, dan Penolong ini bertindak untuk membimbing, mengajar, dan mengingatkan kita. Baik bagi para pengikut Kristus maupun bagi orang Kristen di masa mendatang, kata-kata ini dimaksudkan untuk menghibur di masa-masa sulit. Menjadi orang Kristen yang baik bukanlah sebuah takdir Ilahi dan itu memerlukan perjuangan dan ketaatan kita untuk bisa mengasihi Dia. Tetapi, karena Kristus sudah tahu sebelumnya apa yang akan terjadi, kita dapat lebih yakin untuk percaya kepada-Nya bahwa Ia akan menolong kita untuk bisa mengasihi-Nya.

Salah seorang murid bertanya kepada Yesus apa artinya bahwa Ia akan “menyatakan” diri-Nya kepada mereka, dan bukan kepada dunia (Yohanes 14:22). Sebelumnya, Yesus telah menyebutkan bagaimana dunia tidak akan melihat-Nya lagi (Yohanes 14:19-21). Dalam pernyataan itu, Yesus menggabungkan gagasan tentang kasih dan ketaatan. Pernyataan pentingnya adalah bahwa mereka yang mengasihi Kristus menaati Kristus (Yohanes 14:15). Orang percaya mengasihi Kristus, dan memiliki Roh Kudus, oleh karena itu mereka menaati perintah-perintah-Nya (Yohanes 14:16-18). Inilah yang memungkinkan mereka untuk “melihat” Allah, dan mengenal Kristus (Yohanes 14:19-21), ini berbeda dari orang dunia. Kasih yang lebih dalam kepada Kristus membuka kita untuk pemahaman yang lebih dalam tentang Dia dan kehendak-Nya (Yohanes 14:28).

Ayat-ayat di atas juga memperdalam gagasan tentang Roh Kudus yang “tinggal di dalam” seseorang. Ia juga menegaskan kembali gagasan Tritunggal: bahwa Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah sama-sama Allah dan identik dalam kodrat. Ini mengikuti pernyataan sebelumnya di mana Yesus mengklaim sebagai “kebenaran” (Yohanes 14:6), dan menyebut Roh Kudus sebagai “Roh kebenaran” (Yohanes 14:17). Ia juga mengklaim bahwa melihat-Nya berarti melihat Allah (Yohanes 14:9) dan bahwa Ia dan Bapa bersatu (Yohanes 14:11). Dalam pernyataan ini, Yesus secara eksplisit mengatakan “Kami akan datang…diam bersama-sama” di dalam diri orang percaya. Ini juga menggemakan gagasan tentang Allah sebagai tiga pribadi dalam satu keberadaan. Yesus menyertakan kata “diam” yang dihubungkan dengan kata “rumah,” yang merupakan kata yang sama yang digunakan dalam Yohanes 14:2, yang merujuk pada “tempat tinggal” atau “kamar.”

Kitab Suci tidak mengajarkan bahwa “perilaku baik” menghasilkan atau mempertahankan keselamatan (Titus 3:5; Roma 11:6). Tidak ada argumen Alkitab yang valid bahwa orang harus bertindak dengan cara tertentu untuk mendapatkan tiket ke surga (Yesaya 64:6; Galatia 2:21). Alkitab juga menolak gagasan bahwa orang Kristen dapat berharap untuk hidup tanpa dosa sepenuhnya (1 Yohanes 1:9-10). Kita akan gagal, kadang-kadang (Yakobus 3:2). Namun, Kitab Suci juga jelas bahwa mereka yang diselamatkan melalui iman kepada Kristus akan menunjukkan keselamatan itu dalam hidup mereka (Yohanes 14:15, 21, 23). Klaim bahwa seseorang adalah “Kristen sejati” tidak cocok dengan cara hidup yang menentang ajaran-ajaran-Nya (1 Yohanes 2:4-6). Perbuatan tidak dituntut untuk keselamatan, tetapi keselamatan sejati menghasilkan perbuatan yang sesuai (Yakobus 2:14-18).

Hari ini kita belajar bahwa Yesus adalah Tuhan (Yohanes 14:9). Mengasihi Yesus berarti menaati Firman-Nya. Menolak Yesus berarti menolak Tuhan (Yohanes 5:30; 12:49). Mereka yang menolak Tuhan berarti menolak Roh Kudus (Yohanes 14:16–17), dan itu berarti mereka akan sengaja melanggar perintah-perintah yang diajarkan oleh Yesus. Sekarang, pertanyaan untuk Anda adalah: apakah Anda benar-benar mengasihi Yesus?

Peran manusia dalam keselamatan: kebenaran yang sering dipandang sebagai kontradiksi

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”Filipi 2:12-13

Ada beberapa hal dalam teologi kita yang kita ketahui. Kita mengetahui satu kebenaran dan kita mengetahui kebenaran lain dan kita memahami bahwa kebenaran-kebenaran ini hidup berdampingan, meskipun kebenaran-kebenaran itu agak misterius bagi kita. Kita tidak sepenuhnya memahami bagaimana kedua kebenaran ini bekerja sama dalam setiap hal, tetapi mengenali aspek yang misterius tidak serta-merta berarti bahwa hal itu merupakan kontradiksi. Apakah kontrdiksi yang diperdebatkan di kalangan umat Kristen?

Tuhan memberi tahu kita dengan jelas bahwa Dia berdaulat, dan Dia juga memberi tahu kita bahwa kita memiliki tanggung jawab. Kita harus memastikan bahwa kita memenuhi syarat hal-hal tersebut sebagaimana Tuhan memenuhi syarat bagi kita. Kita harus memahami bahwa Tuhan berdaulat atas segalanya. Dia mengatur segala sesuatu. Dia telah menetapkan sebelumnya semua hal yang akan terjadi. Namun, Dia juga memberi tahu kita bahwa Dia bukanlah pencipta atau penyetuju dosa. Tuhan mahakuasa atas segalanya dan berdaulat atas segalanya, tetapi Tuhan tidak mencobai kita (membuat kita jatuh).

Kita harus memahami sejak awal bahwa kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia bukanlah kontradiksi yang nyata. Keduanya tidak saling bertentangan. Saya bahkan tidak akan mengatakan bahwa keduanya saling bertentangan, karena Tuhan menetapkan tujuan dari segala sesuatu dan juga cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dia menetapkan doa. Dia menetapkan penginjilan. Dia menetapkan pekerjaan kita, perbuatan kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, apa yang kita percayai, dan tujuan dari semua hal tersebut. Dia menetapkan keduanya. Itu bukanlah kontradiksi. Semua hal ini bekerja bersama sesuai dengan rencana Tuhan yang sempurna untuk kemuliaan-Nya dan sesuai dengan kehendak baik-Nya.

Beberapa orang mungkin berkata, “Kedengarannya terlalu sederhana.” Sejujurnya, Tuhan membuatnya sesederhana itu. Itu tidak rumit, tetapi selama bertahun-tahun saya harus memahami gagasan bahwa kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia menciptakan kontradiksi atau pertentangan yang nyata dalam Kitab Suci. Namun, saya tidak percaya bahwa begitulah cara Tuhan memberikannya kepada kita. Dia berdaulat. Kita bertanggung jawab. Dia pada akhirnya berdaulat atas segala sesuatu. Kita pada akhirnya bertanggung jawab atas apa yang Dia panggil untuk kita pertanggungjawabkan. Lalu, dapatkah manusia bertanggung jawab kepada Tuhan? Jika ya, sampai taraf apa?

Paulus berkata dalam Filipi, “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:12–13). Jelas, ada sesuatu yang disebut “kedaulatan ilahi” dan ada sesuatu yang disebut “kebebasan bertindak manusia.” Kita bukanlah robot. Kita bukanlah boneka. Kita adalah makhluk yang bertanggung jawab yang membuat pilihan moral. Kita tidak memiliki kehendak bebas dalam artian bahwa kita dapat memilih semua kebaikan yang ada di luar sana. Secara alami, kita benar-benar bejat, tetapi kita memiliki kebebasan bertindak yang menjadi tanggung jawab moral kita.

Ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah dan kebebasan bertindak manusia, kita tidak berbicara tentang hal yang sama. Kedaulatan Allah yang mahakuasa berbeda dengan pilihan kebebasan bertindak yang dibuat manusia. Kedaulatan itu tidak menyatukan dua hal yang setara. Akan tetapi, penting bagi teologi Reformed untuk menekankan kebebasan bertindak dan tanggung jawab moral sehingga kita bertanggung jawab atas pengudusan, atas pertumbuhan dan kemajuan dalam kehidupan Kristen, dan menerima tawaran Injil secara cuma-cuma, tetapi kita tidak dapat melakukannya tanpa anugerah Allah yang berdaulat dan mendahului di dalam diri kita.

Di gereja, ada orang-orang dari berbagai latar belakang. Ada sejumlah orang Kristen baru dan banyak orang yang baru pertama kali mengenal teologi Reformed. Salah satu hal yang saya perhatikan selama bertahun-tahun adalah bahwa ketika pria dan wanita, muda dan tua, mulai memahami kedaulatan Allah, terkadang mereka terjebak. Ini sering terjadi setelah mereka banyak mengalami jatuh-bangun dalam hidup. Mereka merasa tak berdaya.

Hal itu terjadi seperti ini: mereka memahami bahwa pada akhirnya Allah adalah Yang Maha Mengatur segala sesuatu. Ia mengizinkan, tetapi Ia mengizinkan “bukan dengan izin semata” sebagaimana dinyatakan dalam Pengakuan Iman Westminster. Allah bekerja di dalam dan mengatur melalui berbagai sebab, tetapi terkadang orang mengembangkan teologi yang buruk di mana mereka seolah-olah menyalahkan Allah atas dosa mereka sendiri. Kita dapat jatuh ke dalam perangkap itu, dan itulah perangkap iblis bagi kita. Kadang-kadang kita dapat berpikir bahwa Tuhan bertanggung jawab atas dosa kita dan bahwa Dialah yang harus disalahkan untuk itu.

Kita harus memahami dengan sangat jelas bahwa Tuhan tidak menyetujui dosa kita. Apakah Tuhan secara berdaulat, dengan cara yang misterius, mengizinkan kita untuk berbuat dosa (meskipun tidak dengan izin semata)? Tentu saja. Itu tidak berarti Dia adalah pembuat atau pembenaran dosa. Kita tidak dapat menyalahkan-Nya atas dosa-dosa kita karena kelalaian atau kesalahan, apa yang kita lakukan atau apa yang tidak kita lakukan. Saya tahu itu terdengar jelas, tetapi itu adalah perangkap yang banyak orang jatuh ke dalamnya, terutama ketika mereka baru mengenal teologi Reformed. Walaupun demikian, sebagian orang yang sudah lama mengikuti ajaran Reformed masih saja berpandangan seperti itu.

Saya pikir sejumlah orang Reformed bersalah karena mengambil satu prinsip teologis dan secara logis memaksakan segala sesuatu yang lain untuk menyesuaikan diri dengan satu prinsip teologis itu. Misalnya, menurut mereka, jika kita secara manusiawi bertanggung jawab atas keselamatan kita, maka itu pasti membatasi kedaulatan Tuhan. Itu hanya argumen yang logis; bukan argumen alkitabiah. Dalam hal ini, teologi Reformed telah mencoba mengambil semua unsur wahyu ilahi untuk melihat bagaimana mereka saling terkait dan membentuk sebuah sistem, tetapi justru dengan cara yang memungkinkan setiap unsur sistem memiliki integritas dan kebenarannya sendiri daripada didorong oleh semacam logika.

Paulus dalam Efesus 2 berbicara tentang bagaimana kita akan dihakimi berdasarkan perbuatan seperti yang dibicarakan di akhir Mazmur 62. Kita diciptakan oleh Tuhan untuk melakukan perbuatan baik, dan perbuatan baik adalah bukti bahwa Tuhan telah berdaulat bekerja di dalam kita. Lebih jauh, Tuhan dapat menggunakan perbuatan-perbuatan itu sebagai bukti untuk menunjukkan bahwa Dia telah bekerja di dalam kita. Hal-hal itu dapat dipertentangkan satu sama lain, dan beberapa teologi Reformed ekstrem akan mempertentangkannya satu sama lain. Namun, kaum Reformed sejati mencoba memberikan setiap unsur wahyu alkitabiah bobot dan haknya yang tepat. Bagaimana pula dengan pandangan Anda?

Ini adalah transkrip jawaban Derek Thomas, Burk Parsons, dan W. Robert Godfrey yang diberikan selama Konferensi If the Foundations Are Destroyed: Escondido 2022 dan telah disunting secara singkat agar mudah dibaca.

Apakah Anda orang Kristen sejati?

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Matius 7:16-20

Matius 7 adalah bab terakhir dari tiga bab yang mencatat apa yang sekarang dikenal sebagai Khotbah di Bukit. Yesus memerintahkan para pendengar-Nya untuk tidak memberi penilaian atas orang lain dengan cara yang dangkal atau munafik. Ia menggambarkan Tuhan sebagai Bapa yang murah hati yang ingin memberikan hal-hal baik kepada anak-anak-Nya ketika mereka meminta. Ia memerintahkan para pengikut-Nya untuk memasuki pintu gerbang yang sempit dan berjalan di jalan yang sulit menuju kehidupan. Nabi-nabi palsu dapat dikenali dari buahnya, yang berarti tindakan dan pilihan mereka. Pada saat yang sama, perbuatan baik bukanlah bukti mutlak bahwa seseorang memiliki iman sejati. Hidup menurut ajaran Yesus seperti membangun rumah kehidupan Anda di atas fondasi yang kokoh alih-alih memindahkan pasir.

Matius 7:15–23 berisi peringatan dua sisi tentang orang percaya palsu. Seorang pemimpin agama mungkin tampak terhormat dan bijaksana, tetapi Anda harus melihat buah hidupnya untuk mengetahui apakah ia benar-benar mewakili Tuhan. Dengan cara yang sama, mungkin saja seseorang mengaku mengikuti Yesus, menyebut-Nya sebagai “Tuhan”, padahal mereka bukanlah orang percaya sejati. Hanya mereka yang melakukan kehendak Bapa yang akan diizinkan masuk ke dalam kerajaan surga—yang Yesus definisikan sebagai dimulai dengan iman sejati (Yohanes 6:28–29). Perbuatan baik kita mungkin menipu orang lain, dan bahkan mungkin menipu diri kita sendiri, tetapi perbuatan baik tidak dapat menipu Tuhan. Perbuatan baik mungkin memang baik menurut standar manusia, tetapi tidak ada perbuatan baik yang bisa diterima Tuhan sebagai ganti dosa.

Pada saat itu, Yesus telah memperingatkan bahwa nabi-nabi palsu mungkin menyamarkan diri mereka agar tampak seperti domba padahal sebenarnya mereka adalah serigala yang rakus (Matius 7:15). Ini adalah contoh lain tentang bagaimana Alkitab memanggil orang percaya untuk beriman dengan akal sehat, berpengetahuan, dan dewasa (Kisah Para Rasul 17:11; 1 Yohanes 4:1). Anda tidak dapat menilai seorang Kristen yang menyatakan dirinya sendiri dari penampilan luarnya. Tampil cerdas, berwibawa, bermoral, atau “baik” tidak berarti apa yang mereka katakan itu benar. Hidup yang serba mewah dan keberhasilan anak cucu tidak berarti bahwa mereka diberkati Tuhan karena iman mereka. Daripada menilai hidup mereka dengan dangkal, Yesus memerintahkan orang percaya untuk menggunakan cara yang benar (Yohanes 7:24). Ketika ada orang-orang yang mengaku guru atau nabi, itu berarti bahwa kita bisa melihat apa yang berasal dari ajaran dan kehidupan mereka. Begitu juga, setiap orang yang mengaku Kristen sejati bisa dilihat dari cara hidup mereka.

Anggur dan ara adalah buah yang umum dalam makanan para pendengar Yesus. Orang-orang belajar sejak awal untuk mengenali bahwa buah beri kecil pada semak berduri bukanlah anggur pada tanaman anggur; bunga pada rumput duri berbeda dari kelopak pada pohon ara. Sejalan dengan ini, orang mungkin tampak mengesankan pada pandangan pertama. Mereka mungkin tampak sangat religius dan suci. Akan tetapi, berjalannya waktu akan menyingkapkan karakter orang tersebut. Apakah tindakan mereka sesuai dengan ajaran mereka? Apakah mereka peduli kepada orang lain saat tidak ada yang melihat? Apakah mereka yang mengikuti ajaran mereka adalah orang-orang yang memiliki reputasi baik? Dalam kasus seorang nabi, apakah nubuat mereka menjadi kenyataan? Apakah sesuai dengan apa yang diketahui dari Kitab Suci?

Jika tanaman tidak menghasilkan buah anggur, itu bukanlah pokok anggur. Atau, tanaman yang sakit, menurut Yesus tidak akan menghasilkan buah yang baik. Lalu, apa tanda orang Kristen sejati?

  1. Hati orang percaya sejati berubah selamanya. Dalam Yeremia 32:39 Tuhan berkata, “Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian.” Orang munafik tidak pernah memiliki sifat yang berubah. Orang munafik menginginkan Kristus demi kebaikan yang dapat Ia lakukan bagi mereka di dunia. Namun, hati orang percaya sejati mengasihi Kristus sebagai harta yang memuaskan dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya.
  2. Perubahan hidup orang percaya sejati berasal dari hati yang mengasihi Kristus. Orang munafik dapat membersihkan perilaku lahiriah mereka agar dapat dilihat oleh manusia, untuk menenangkan hati nurani mereka yang gelisah, atau untuk menjaga diri mereka dari akibat dosa-dosa mereka. Namun, orang percaya sejati mengasihi Kristus dan menaati perintah-perintah-Nya demi Dia, untuk melayani Dia, untuk mengenal Dia, dan untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Mazmur 119:6).
  3. Orang percaya sejati mencari Kristus dan kerajaan-Nya di atas segalanya. Inilah satu hal yang diperlukan: persahabatan dan persekutuan dengan Kristus. Tetapi itu bukanlah “satu hal” dan pilihan yang memuaskan hati orang-orang munafik. Sebaliknya, orang-orang percaya sejati menginginkan agar “bagian yang lebih baik ini tidak akan pernah diambil dari mereka” (Lukas10:42).
  4. Orang percaya sejati tunduk kepada kebenaran Allah. Ia meninggalkan semua harapan pada dirinya sendiri dan kebenarannya sendiri, dan bersandar sepenuhnya pada kebenaran Kristus agar ia diterima di hadapan Allah. Orang percaya sejati bersandar pada Kristus dan Dia hanya sebagai Juruselamatnya. Orang-orang munafik tidak melakukan ini (Roma10:3). Mereka bergantung, dalam beberapa hal, pada kebenaran mereka sendiri.
  5. Orang percaya sejati percaya bahwa dirinya tidak berarti di hadapan Tuhan. Pertama, ia hancur hatinya dan dikosongkan dari kebenarannya sendiri sehingga membenci dirinya sendiri (Lukas 19:10). Kedua, ia menerima Kristus Yesus sebagai satu-satunya harta dan permata yang dapat memperkaya dan memuaskan (Matius 13:44). Ketiga, ia dengan tulus berusaha menaati seluruh perintah Kristus tanpa kecuali, menilai semua kehendak-Nya sebagai “kudus, benar dan baik” (Roma 7:12). Seorang munafik tidak mau melakukan hal-hal di atas dan mempunyai banyak alasan yang nampaknya rohani untuk tidak taat kepada-Nya.

Bila deru peperangan terdengar

“Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.” Markus 13:7

Mulai kemarin saya menjadi was-was membaca berita di media mengenai keadaan di Timur Tengah. Jika pertempuran di Gaza belum selesai, sekarang tentara Israel malah menyerbu Lebanon. Keadaan sekarang cukup prihatin karena ada kemungkinan bahwa perang ini akan menjadi makin besar dan melibatkan negara-negara lain termasuk negara-negara nuklir seperti Amerika, Rusia dan China. Sebagai orang Kristen saya percaya bahwa semua ini bukanlah kebetulan, tetapi apa yang bisa dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Walaupun demikian, sebagai manusia yang lemah saya tentu saya khawatir kalau-kalau ini merupakan awal perang dunia ke tiga. Untunglah, Alkitab memberi nasihat kepada saya untuk tetap percaya bahwa tangan Tuhan tetap memegang kontrol.

Markus 13:3–13 terjadi kurang dari seminggu setelah orang banyak berseru “Hosana!” dan mengelu-elukan Yesus sebagai Anak Daud, yang datang untuk memulihkan Israel dari para penindas Romawi (Markus 11:10). Sampai saat itu, para murid mengira Yesus menghabiskan tiga tahun terakhir mempersiapkan mereka untuk memerintah di istana kerajaan-Nya (Markus 10:35–45). Memang beberapa saat yang sebelumnya, Yesus menubuatkan bahwa bait suci dan Yerusalemlah yang akan dihancurkan, bukan orang Romawi (Markus 13:1–2). Para murid tentu saja bingung, bahkan saat Ia melanjutkan pesan-Nya dengan ramalan-ramalan lain yang mengerikan. Peringatan-peringatan Yesus juga dicatat dalam Matius 24:4–14 dan Lukas 21:8–19.

Hanya beberapa hari sebelum penyaliban, para murid memuji kemuliaan bait suci. Ketika Yesus memberi tahu mereka bahwa bait suci akan dihancurkan, mereka meminta tanda-tanda kehancuran yang akan datang itu dan kedatangan-Nya kembali (Matius 24:3). Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan informasi yang penting bagi orang percaya di akhir zaman, dan kapan pun. Kesusahan Umat Kristen akan menghadapi kesulitan dan kekerasan yang mengerikan, seperti halnya umat beriman di era mana pun, tetapi mereka harus ingat bahwa kesulitan itu tidak akan berlangsung lama. Yesus akan kembali begitu cepat, dan dengan itu setiap upaya untuk hidup sesuai aturan dunia akan sia-sia.

Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas telah bertanya kepada Yesus tentang tanda-tanda apa yang akan mendahului kehancuran Bait Suci (Markus 13:4) serta kedatangan-Nya kembali dan akhir zaman (Matius 24:3). Yesus memulai dengan peristiwa-peristiwa yang bukan merupakan tanda-tanda tersebut: Ia menjelaskan peristiwa-peristiwa buruk di dunia yang tidak menyiratkan bahwa akhir zaman sudah dekat. Kristus menjelaskan bahwa hanya karena dunia menjadi berbahaya, atau “lebih buruk,” tidak secara otomatis berarti akhir zaman sudah dekat. Sekalipun kita merasa harinya sudah dekat, tetapi kita tahu bahwa kita tetap harus berjuang untuk menjadi umat Tuhan yang baik dan setia dalam hidup kita.

“Perang” berarti pertempuran aktif di tempat tinggal Anda sementara “desas-desus tentang perang” mengacu pada pertempuran yang Anda dengar tetapi tidak secara langsung memengaruhi Anda. Perang yang tak terhitung jumlahnya telah terjadi dalam dua ribu tahun terakhir. Diperkirakan 123 juta orang telah tewas dalam sekitar tiga puluh perang di abad ke-20. Tetapi bahkan jika perang nuklir di seluruh dunia terjadi besok, itu belum tentu berarti bahwa Yesus akan segera kembali.

Perang dan desas-desus ini perlu. Sebagian besar dari kita tidak tahu mengapa Tuhan menggunakan tragedi perang untuk menyiapkan rencana-Nya. Kita tahu bahwa Perang Dunia II mengakibatkan terbentuknya kembali bangsa Israel. Tentu saja, kita sulit memahami bagaimana Tuhan dapat mengizinkan kekejaman seperti Holocaust atau perang parit di Perang Dunia I untuk rencana-Nya. Namun, kecenderungan kita sebagai manusia berdosa adalah bersikap kasar dan kejam terhadap satu sama lain. Sudah menjadi sifat Tuhan untuk memberikan kesempatan bagi penebusan manusia. Dia melakukan ini meskipun dan melalui dosa-dosa manusia sendiri. Sama seperti kekejaman manusia yang menyalibkan Yesus, kekejaman manusia di zaman sekarang pun akan mempersiapkan dunia bagi kedatangan Yesus kembali. Semua kejadian di dunia tidak akan terjadi tanpa sepengetahuan dan seizin-Nya, sekalipun belum tentu Tuhan yang menyebabkannya. Karena itu janganlah kita gelisah, tetapi makin giatlah kita berdoa: “…datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Mengapa sulit untuk berbahagia?

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya.” Mazmur 119:1-3

Bagi saya yang sudah memasuki usia senja, ada satu perjuangan berat yang harus tetap saya lakukan, yaitu berusaha berbahagia sampai akhir hayat. Itu tidak mudah, sekalipun kita mungkin melihat bahwa banyak orang yang saat ini terlihat berbahagia karena sudah mendapat kesuksesan dalam usaha, keluarga dan berbagai hal lain. Tetapi, tidak ada yang tahu apakah seseorang akan tetap bisa berbahagia terutama jika ada berbagai masalah di masa mendatang.

Bapa surgawi kita yang pengasih ingin anak-anak-Nya menjadi umat yang bersukacita. Namun, terkadang kita mencari sukacita dan kepuasan di tempat yang keliru sehingga kebahagiaan itu tidak pernah dapat ditemukan atau tidak bisa permanen. Selain itu, pada saat tertentu kita mungkin masih merasa kurang puas dalam apa yang kita punyai, atau kurang dapat menerima apa yang terjadi, sehingga kita tidak bisa berbahagia. Karena itu, kita harus terus belajar dan bekerja untuk bisa berbahagia.

Alkitab memang berbicara tentang kita yang bahagia. Sama seperti keinginan setiap ayah di dunia agar anak-anaknya bahagia, tentu saja hal itu lebih berlaku bagi Bapa surgawi kita. Sebagian dari kita bergumul, bukan, dengan gambaran tentang Tuhan yang ingin kita bahagia—mungkin karena pengalaman kita sendiri sebagai seorang orang tua, mungkin karena keraguan dan ketakutan di hati kita sendiri. Itulah sebabnya Roh Kudus telah diutus kepada kita, sehingga setelah kita diangkat ke dalam keluarga Allah, kita dapat yakin bahwa Dia adalah Bapa surgawi kita yang pengasih. Meskipun kita tidak dapat sepenuhnya memahami cara-cara yang Dia gunakan untuk mengarahkan kita, Dia ingin kita pada akhirnya untuk berbahagia, dan berbahagia bersama-Nya untuk selamanya.

Mazmur 119 berdiri sendiri, tidak seperti mazmur lainnya; mazmur ini mengungguli semuanya, dan bersinar paling terang dalam konstelasi ini. Mazmur ini jauh lebih panjang daripada mazmur-mazmur lainnya, lebih dari dua kali lebih panjang daripada mazmur-mazmur lainnya. Kristus tidak mengecam doa-doa yang panjang, tetapi membuatnya sebagai kepura-puraan, yang menyiratkan bahwa mazmur-mazmur itu sendiri baik dan terpuji. Mazmur ini menentang pengertian yang salah tentang hukum Tuhan ketika ada orang Kristen yang merasa bahwa jika keselamatan sudah dianugerahkan, mereka tidak perlu memikirkan untuk hidup baik dengan menaati hukum dan firman-Nya,

Mazmur 119 merupakan kumpulan seruan Daud yang saleh dan taat, yang karena lantunan jiwanya kepada Tuhan, ditulisnya pada saat menjelang akhir hidupnya. Kita tidak hanya dapat belajar, melalui contoh pemazmur, untuk membiasakan diri dengan seruan saleh seperti itu, yang merupakan cara yang sangat baik untuk menjaga persekutuan yang terus-menerus dengan Tuhan, dan menjaga hati agar siap untuk menjalankan ibadah yang lebih khidmat. Kita harus memanfaatkan kata-kata pemazmur, baik untuk membangkitkan maupun untuk mengungkapkan kasih sayang kita yang saleh kepada Tuhan; apa yang dikatakan beberapa orang tentang mazmur ini benar, “Barangsiapa membacanya dengan saksama, mazmur ini akan menghangatkannya atau mempermalukannya.”

Komposisi Mazmur ini unik dan sangat tepat. Cakupan dan tujuan umum dari hal itu adalah untuk mengagungkan hukum dan perintah Tuhan, dan menghormatinya; melalui contoh pemazmur sendiri, yang berbicara melalui pengalaman tentang manfaatnya, dan kesan baik yang diberikan kepadanya olehnya, yang karenanya ia memuji Tuhan, dan dengan sungguh-sungguh berdoa, dari awal sampai akhir, agar kasih karunia Tuhan terus menyertainya, untuk mengarahkan dan menghidupkannya di jalan tugasnya. Bagi pemazmur, ketaatan kepada perintah Tuhan adalah kebahagiaan, dan Tuhan menghendaki kita kudus dan berbahagia. Mengapa begitu?

Sebagai umat Tuhan, kita bisa berbahagia jika kita yakin sepenuhnya sampai akhir hayat bahwa Dia milik kita dan kita milik-Nya. Bagaimana kita bisa yakin akan hal itu? Apakah sarananya?

  1. Hukum Tuhan, karena semuanya ditetapkan oleh-Nya sebagai Penguasa kita.
  2. Jalan-Nya, karena jalan-Nya adalah aturan pemeliharaan-Nya dan ketaatan kita.
  3. Pernyataan-Nya, karena dideklarasikan dengan khidmat kepada dunia dan dibuktikan tanpa pertentangan.
  4. Perintah-perintah-Nya, karena diberikan dengan wewenang, dan dipercayakan kepada kita sebagai suatu amanah.
  5. Perintah-perintah-Nya, karena ditetapkan bagi kita dan tidak dibiarkan begitu saja.
  6. Firman-Nya, atau perkataan-Nya, karena merupakan pernyataan pikiran-Nya, dan Kristus, Firman kekal yang hakiki, adalah segalanya di dalam semuanya.
  7. Penghakiman-Nya, karena dibentuk dalam hikmat yang tak terbatas, dan karena melalui penghakiman-Nya kita melihat keadilan-Nya.
  8. Kebenaran-Nya, karena semuanya kudus, adil, dan baik, dan merupakan aturan dan standar kebenaran Ilahi.
  9. Ketetapan-ketetapan-Nya, karena ketetapan-ketetapan itu ditetapkan dan bersifat mengikat secara kekal.

Tentu saja, kita hanya akan mengetahui kebahagiaan yang sempurna ketika kita bersama orang-orang kudus itu dalam kemuliaan dan ketika kita benar-benar kudus—ketika kita bersama roh-roh orang benar yang dikuduskan, seperti yang dikatakan orang Ibrani, dan di hadirat Yesus. Di situlah kehidupan kita akan menuju, untuk menjadi serupa dengan gambar Anak Allah. Namun, jika kita sekarang yakin bahwa lita adalah milik-Nya, kita sudah dapat berbahagia. Berbahagia di dalam Yesus dan belajar terkadang melalui pengalaman-pengalaman yang sulit, seperti yang akan kita ketahui dari tahun ke tahun, bahwa kebahagiaan kita yang sejati tidak terletak pada hal-hal duniawi, tetapi dalam persekutuan kita dan ketaatan yang sejati dalam Yesus Kristus.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yohanes 14:15, 21

Apa gunanya mendoakan keselamatan orang lain?

“Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.” Roma 10:1-3

Tuhan mendengar doa kita. Saya tahu itu salah satu konsep dasar iman kita, tetapi banyak orang Kristen yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Tuhan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Karena itu mereka mungkin berdoa sebagai kebiasaan, tetapi tidak sungguh-sunguh percaya bahwa Tuhan akan bertindak sesudah mendengarkan doa mereka. Jika pun Tuhan nampaknya bertindak, maka itu adalah atas keputusan-Nya yang tidak dipengaruhi oleh doa kita. Bukankah Ia mahatahu dan mahabijaksana? Jika pun doa kita nampaknya terkabul, itu pun karena Tuhan memang menghendakinya dari mulanya dan membuat kita memohon apa yang akan dilakukan-Nya. Begitu pendapat sebagian orang Kristen.

Jika Tuhan menetapkan segalanya dan doa kita tidak ada pengaruhnya, dalam hal keselamatan kita tahu bahwa manusia tidak mempunyai andil dalam hal anugerah keselamatan Tuhan. Anugerah itu diberikan kepada mereka yang sudah dipilih-Nya sejak semula, dan itu bukan karena kebaikan mereka atau usaha sesama manusia. Kita tidak dapat mengubah kehendak Tuhan melalui doa kita. Tetapi mengapa Paulus ingin mendoakan mereka yang belum diselamatkan?

Dalam kitab Roma, Paulus menggunakan nada baru saat bab 10 dimulai. Ia secara langsung menyapa saudara-saudarinya: orang-orang Kristen di Roma yang kepada mereka ia menulis surat ini. Ia menyebut mereka saudara kandung karena mereka semua adalah orang Kristen. Paulus sebenarnya berbicara tentang orang Israel. Selain seorang Kristen dan warga negara Romawi, Paulus juga seorang Yahudi. Ia menulis bahwa keinginan hatinya dan doanya adalah agar semua orang-orang Yahudi diselamatkan.

Beberapa orang Yahudi telah beriman kepada Kristus melalui khotbah Paulus dan para rasul lainnya. Namun, bangsa itu secara keseluruhan telah menolak Mesias, termasuk para pemimpin agama Yahudi. Sayangnya, hal ini masih terjadi di era modern. Lebih jauh, orang-orang Yahudi pada zaman Paulus tidak hanya menolak Kristus, mereka juga mencoba membungkam Paulus dan orang lain yang berkhotbah tentang Dia. Namun, hal itu tidak mengubah keinginan Paulus untuk melihat orang-orang yang sama itu datang kepada Kristus selama masih ada kesempatan dalam hidup mereka.

Roma 10:1–4 menggambarkan keinginan dan doa Paulus yang jujur ​​agar orang-orang Israel diselamatkan melalui iman kepada Kristus. Ia mengakui antusiasme mereka terhadap Tuhan, tetapi itu tidak dapat mengatasi ketidaktahuan mereka tentang cara mencapai kebenaran Tuhan. Itu tidak mungkin dilakukan dengan menaati hukum; itu tidak mungkin. Hanya melalui Kristus saja seseorang dapat menerima kebenaran Tuhan.

Paulus menyebut mereka tidak tahu tentang kebenaran Allah. Ia mungkin bermaksud bahwa mereka tidak mengerti bahwa Allah menuntut kebenaran yang benar-benar sempurna agar seseorang dapat diterima oleh-Nya dan bukan berdasarkan jasa mereka sendiri. Mereka tidak mengerti bahwa tidak ada manusia yang mampu mencapai tingkat kebenaran itu (Roma 3:23). Atau, mungkin Paulus bermaksud bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah menawarkan kebenaran-Nya kepada semua orang yang datang kepada-Nya melalui iman kepada Kristus. Dalam kedua kasus tersebut, orang Israel kehilangan kunci untuk diterima oleh Allah dan diselamatkan dari murka-Nya.

Hati Paulus hancur untuk umatnya, Israel. Ia berdoa agar mereka diselamatkan melalui iman kepada Kristus. Antusiasme mereka terhadap Tuhan menjadi sia-sia karena upaya mereka untuk dibenarkan melalui menaati hukum Taurat dan bukan melalui iman kepada Kristus. Lalu, apa yang mereka harus mereka lakukan untuk diselamatkan?

Kita tentu ingat bahwa sekalipun kita sudah diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita, untuk dapat menerima keselamatan itu kita harus mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya bahwa Tuhan telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Hal yang sama berlaku bagi orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Tuhan menunggu dengan sabar sampai Israel berbalik dan percaya dan Tuhan mendengar doa kita.

Kitab Suci memiliki banyak ayat yang menunjukkan telinga Tuhan terhadap doa kita:

“Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” (1 Petrus 3:12).

“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.” (Amsal 15:29).

“Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (Mazmur 34:167).

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” (Mazmur 18:7)

“Ketahuilah, bahwa Tuhan telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; Tuhan mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya.” (Mazmur 4:4).

Malam ini, tahukah Anda bahwa Tuhan mendengar doa Anda? Lebih baik lagi, percayakah Anda bahwa Dia akan bertindak? Sering kali, kita tahu bahwa segala sesuatu itu benar tetapi gagal mempercayainya saat itu juga. Saya tahu istri saya mencintai saya karena dia mengucapkan sumpahnya di pernikahan kami, tetapi ketika kami bertengkar, saya cenderung lupa. Dan itu tidak ada hubungannya dengan dia, tetapi semuanya berkaitan dengan hati saya.

Hal yang sama berlaku untuk Tuhan. Kita tahu Dia mendengar kita karena Alkitab sangat jelas dalam hal itu. Tetapi ketika hidup menjadi sulit, ketika kehidupan melawan arus, ketika ombak menghantam kita, apakah kita tetap mempercayai Dia? Ketika kita melihat adanya sanak atau teman yang sampai sekarang belum mau bertobat, apakah kita percaya bahwa Tuhan tidak melupakan mereka?

Saya membayangkan orang Kristen terkadang menuduh Tuhan tidak mendengarkan mereka—atau setidaknya mempertanyakan apakah Dia mendengarkan. Apa pun itu, kita salah. Tuhan mendengar Anda. Ia ada di sana. Ia “mendengar segala doa.” Anda hanya perlu melakukan dua hal. Pertama, Anda perlu berdoa. Berserulah kepada-Nya; datanglah kepada-Nya sesering mungkin—untuk apa pun. Terkadang kita berpikir Ia tidak mendengar permohonan kita karena . . . kita tidak sunguh-sungguh berdoa dengan iman. Kedua, bukalah Alkitab Anda dan biarkan Ia berbicara. Anda mungkin telah mengucapkan doa Anda tetapi Anda tidak akan mendengar apa yang dikehendaki-Nya jika Alkitab Anda tertutup.

Semoga Anda tetap rajin berdoa!

Satu hari demi satu hari

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6:34

Siapa yang belum kenal lagu “One Day at a Time“? Lagu ini adalah lagu Kristen populer bergaya country dan western yang ditulis oleh Marijohn Wilkin dan Kris Kristofferson. Lagu ini telah direkam oleh lebih dari 200 artis dan telah mencapai No. 1 di beberapa wilayah dunia. Penyanyi Skotlandia Lena Martell berhasil menduduki peringkat pertama di UK Singles Chart dengan versinya pada tahun 1979. Lagu ini pertama kali direkam oleh penyanyi country Amerika Marilyn Sellars pada tahun 1974. Versi ini menjadi hit top 40 AS dan hit top 20 di tangga lagu Country. Di Indonesia, lagu Kristen ini pernah dinyanyikan oleh artis Meriam Bellina. Perlu diketahui, lagu ini mempunyai versi non-kristen yang berupa lagu romantis.

Mengapa lagu “One Day at a Time” atau Satu hari demi satu hari” ini menjadi lagu yang sangat populer di kalangan orang Kristen? Menurut kamus Inggris Merriam-Webster, menjalani hidup sehari demi sehari berarti, “menangani masalah yang muncul setiap hari alih-alih mengkhawatirkan masa depan. Frasa ini umumnya digunakan sebagai nasihat ketika seseorang berpikir terlalu jauh ke depan atau mengharapkan masalah atau perubahan terjadi dalam semalam. Sebenarnya, Yesuslah yang mengajarkan hal ini dalam khotbah-Nya di bukit.

Matius 6:25–34 menyimpulkan bagian Khotbah di Bukit ini dengan ajaran Yesus tentang kecemasan. Bahkan kepada orang yang sangat miskin, Yesus berkata untuk tidak khawatir tentang makanan atau pakaian. Tuhan memberi makan burung-burung dan mendandani bunga bakung dengan indah, dan anak-anak-Nya jauh lebih berharga daripada burung. Perasaan cemas tidak dapat menambah satu jam pun dalam kehidupan seseorang. Sebaliknya, Yesus memberi tahu para pengikut-Nya untuk percaya kepada Tuhan untuk menyediakan apa yang benar-benar mereka butuhkan. Akan tetapi, konteks dari apa yang kita ”butuhkan” adalah kehendak Tuhan—yang mungkin terlihat sangat berbeda dari apa yang kita inginkan (Matius 5:3–12).

Khotbah di Bukit berlanjut di bab 6, yang seluruhnya terdiri dari perkataan Kristus. Yesus mengajarkan bahwa Tuhan memberi pahala atas perbuatan yang dimotivasi oleh pengabdian yang tulus kepada-Nya, bukan oleh persetujuan dari orang lain. Ia mengajarkan contoh doa yang sederhana dan autentik. Kristus memperingatkan agar tidak menimbun uang dan harta benda di bumi. Sebaliknya, orang percaya harus membuat pilihan yang menyimpan harta di surga. Prioritas utama seseorang dapat berupa Tuhan, atau uang, tetapi tidak dapat keduanya. Bersamaan dengan itu, Yesus mengatakan orang percaya harus berjuang melawan kecemasan tentang kebutuhan sehari-hari. Bapa surgawi tahu apa yang kita butuhkan. Yang perlu kita lakukan adalah mengejar kerajaan dan kebenaran-Nya; Ia akan memenuhi kebutuhan kita, satu hari demi satu hari.

Barangkali kita harus belajar untuk hidup sehari demi sehari seperti seorang pecandu obat bius. Mereka yang berjuang melawan kecanduan, saat dalam pemulihan, sering kali berpegang teguh pada serangkaian pernyataan panduan saat mereka berusaha untuk tetap sadar. Mantra umum yang digunakan dalam situasi tersebut adalah “satu hari pada satu waktu.” Tidak ada gunanya bagi orang tersebut untuk khawatir apakah mereka akan jatuh ke dalam godaan besok. Kecanduan mereka harus diperangi hari ini. Perjuangan besok akan terjadi besok. Dalam mengatasi kecanduan secara efektif, orang-orang seperti itu diajarkan untuk berfokus pada memenangkan pertempuran hari ini.

Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditemukan dalam perintah Yesus ini. Ia memberi tahu para pengikut-Nya untuk tidak khawatir tentang hari esok. Seperti yang telah Ia katakan, khawatir tidak memperbaiki apa pun. Kecemasan atas hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan, atau di luar jangkauan kita, tidak masuk akal (Matius 6:27). Allah mengasihi kita dan sudah tahu bukan hanya apa yang ingin Ia capai, tetapi apa yang kita butuhkan untuk mewujudkannya (Matius 6:33).

Pagi ini, Yesus berkata bahwa orang percaya yang telah lahir baru harus membiarkan hari esok mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak dapat atau tidak boleh membuat rencana yang bijaksana. Orang Kristen bukan orang yang fatalis, apatis atau malas. Ia juga tidak mengatakan bahwa orang percaya harus benar-benar mengabaikan apa pun kecuali pertanyaan yang paling mendesak. Konteksnya di sini adalah tentang emosi ketakutan dan kecemasan yang bisa membuat kita merasa lemah dan bahkan jatuh dalam berbagai dosa.

Mereka yang percaya kepada Tuhan seharusnya tidak membiarkan diri mereka berkubang dalam kekhawatiran yang tidak berguna tentang masa depan. Perjuangan untuk mempercayai Tuhan akan terjadi besok. Perjuangan untuk mempercayai Tuhan selalu terjadi di masa sekarang. Hari ini ada banyak masalah yang harus kita percayai. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk berfokus pada kepercayaan kepada Tuhan setiap saat. Kita seharusnya tidak mencoba menyelesaikan semua masalah kita, untuk selamanya, sekaligus. Biarkan Tuhan menyediakan apa yang dibutuhkan hari demi hari.

Mana yang Anda pilih: cukup atau berlebihan?

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6:6-9

Saya masih ingat di zaman saya masih di universitas, ketika seseorang menyapa teman setelah lama tidak berjumpa, terkadang muncul sapaan “wah tambah makmur ya?”. Ini mungkin bukan dimaksudkan bahwa sang teman terlihat kaya, tetapi telihat lebih gemuk. Ada beda besar di antara arti kata “makmur” dan “gemuk”, tetapi kesan banyak orang pada waktu itu adalah bahwa kemakmuran sering membuat orang gemuk karena adanya kesempatan dan kemampuan untuk sering membeli makanan yang serba enak.

Apakah kebanyakan orang ingin makmur? Mungkin saja! Siapa pula yang tidak ingin makmur, jika kemakmuran bisa membuka kemungkinan untuk hidup sehat? Dengan kemampuan finansiil kita bisa mengkonsumsi makanan “empat sehat lima sempurna”, hidup di rumah yang sehat, berolahraga di gym secara teratur dan pergi ke dokter untuk check up secara teratur. Lain halnya kalau orang sengaja memakai uangnya untuk sering makan enak, berpesta pora dan pergi ke tempat minum, karena semua itu akan membuat mereka sering ke dokter untuk berobat. Walaupun demikian, banyak orang Kristen yang memilih kecukupan daripada kemakmuran karena sadar akan dampak negatif kemakmuran. Kekayaan memang tidak menjamin bahwa orang merasa puas dan cukup, tetapi orang bisa merasa cukup tanpa menjadi kaya raya.

Bab 1 Timotius 6 melengkapi instruksi Paulus yang sangat praktis kepada teman dan muridnya, Timotius. Fokus utama dari bagian ini adalah perilaku Kristen yang tepat, dan menghindari kejahatan. Paulus memberikan beberapa kelemahan karakter yang umum pada mereka yang mengajarkan doktrin Kristen palsu. Ia juga memberikan peringatan keras tentang bahaya keserakahan dan materialisme. Mereka yang terobsesi dengan kekayaan membuka diri terhadap hampir semua dosa lain yang dapat dibayangkan. Timotius diberi amanat yang jelas untuk menjunjung tinggi iman dan kesaksiannya, disertai berkat dan dorongan dari Paulus.

Ayat 1 Timotius 6:3–10 menggambarkan kelemahan karakter yang umum di antara para guru palsu. Mereka yang menolak untuk menerima doktrin yang benar sering kali dicirikan oleh sifat-sifat seperti keras kepala, keserakahan, fitnah, dan pertengkaran. Penyebab utama dari kesalahan-kesalahan ini adalah keengganan untuk menerima kebenaran, dan desakan untuk berpegang teguh pada ajaran-ajaran palsu yang mengajarkan bahwa mengejar kekayaan adalah baik karena sebagai anak-anak Tuhan yang mahakaya kita harus bisa kaya, dan dengan kekayaan kita akan lebih bisa memuliakan Tuhan. Paulus juga memberikan penjelasan yang lebih luas tentang bagaimana dan mengapa keserakahan dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Tidak adanya rasa cukup dan puas bisa menyebabkan berbagai dosa.

Ayat-ayat sebelumnya memang menggambarkan kelemahan yang umum pada guru-guru palsu. Ini termasuk aspek-aspek seperti pertengkaran, keserakahan, dan keras kepala. Iri hati juga disebutkan; guru palsu sering kali berusaha mendapatkan apa yang dimiliki orang lain. Ayat 6 sampai 10 adalah penjelasan singkat tentang pandangan Kristen yang benar tentang kekayaan. Berbeda dengan kehidupan yang penuh dosa dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan oleh guru-guru palsu, “ibadah dengan rasa cukup memberi keuntungan besar.” Kesalehan dan ibadah adalah tema di seluruh 1 Timotius, dan dinyatakan beberapa kali dalam surat pendek ini.

Kepuasan/kecukupan adalah tema yang juga dikembangkan Paulus di tempat lain. Misalnya, Filipi 4:11 menyatakan, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Dia bisa hidup baik dengan sedikit atau berkelimpahan karena dia tahu Tuhan dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi bagaimana ibadah dengan rasa cukup bisa menjadi keuntungan besar? Idenya secara harfiah adalah keuntungan atau keuntungan yang besar atau luar biasa. Mereka yang hidup dengan cara yang menghormati Tuhan, dan yang merasa puas dengan apa pun yang mereka miliki, memiliki kehidupan rohani yang kuat. Ini dapat membantu mereka melewati kesulitan hidup apa pun.

Ajaran ini menggemakan ayat-ayat Perjanjian Lama seperti Amsal 15:16 dan Mazmur 37:16.

Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.” Amsal 15:16

“Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik.” Mazmur 37:16

Pagi ini, adalah panggilan bagi kita untuk tidak merasa terbebani oleh harta benda selama hidup di dunia, yaitu dengan memilih untuk memiliki hati yang ceria dengan menghitung berkat Tuhan yang sudah kita terima, terutama karunia keselamatan.

“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” Amsal 15:15

Menjadi layak, tetapi tidak sombong

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu. 2 Timotius 2:15

Dapatkah kita menjadi layak di hadapan Allah? Bagi sebagian orang Kristen, menjadi “worthy” di hadapan Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci adalah suatu kemustahilan. Bagaimana kita, manusia yang berdosa, bisa dipandang layak oleh Tuhan? Layak dalam hal apa? Itu adalah kesombongan, begitu kata mereka. Tetapi dalam hal ini, mereka lupa apa yang terjadi pada anak yang hilang ketika ia pulang kerumah bapanya:

“Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.” Lukas 15:21-23

Orang Kristen adalah seperti anak yang hilang yang sadar bahwa sebenarnya mereka tidak layak untuk diterima sebagai anak-anak Allah karena dosa mereka. Tetapi, karena kemurahan Allah Bapa semata-mata, mereka sudah dilayakkan; dan karena itu boleh merasa layak dan bahkan harus berusaha untuk hidup dan bekerja sebagai anak yang sama haknya dengan anak yang sulung. Orang Kristen tidak boleh merasa bahwa makin lama ia adalah orang yang makin tidak layak di hadapan Tuhan, tetapi harus berusaha untuk makin lama makin taat kepada perintah Bapa.

Ayat-ayat dari 2 Timotius 2:14–26 berisi instruksi Paulus kepada Timotius tentang memimpin orang percaya lainnya. Dua tema penting di sini adalah menghindari pertengkaran yang tidak ada gunanya dan berpegang pada ajaran Alkitab yang benar. Perdebatan tentang masalah yang tidak penting dengan cepat berubah menjadi perseteruan, meracuni tubuh Kristus seperti gangren menyerang tubuh fisik. Paulus menyebutkan guru-guru palsu tertentu, tetapi menyampaikan nada belas kasihan. Di sini, ia mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah kuncinya. Bagaimanapun, mereka yang tidak percaya bukanlah musuh kita: mereka adalah orang-orang yang sedang kita coba selamatkan dari kendali Iblis!

Paulus memberi Timotius mandat yang jelas untuk membela kebenaran. Ini termasuk menegakkan Injil dengan akurat, dan menyampaikan pembelaan itu dengan cara yang lembut dan penuh kasih. Meskipun kebenaran itu penting, Paulus juga mencatat bahwa ada beberapa masalah yang hanya merupakan gangguan. Ia menganggap “omong kosong” dan perdebatan tentang hal itu sebagai bentuk penyakit rohani. Seperti gangren, pertengkaran ini hanya menyebar dan menyebar hingga menjadi bencana besar. Tujuan akhir dari penginjilan kita bukanlah untuk “memenangkan” sebuah perdebatan, tetapi untuk menyelamatkan orang-orang yang terhilang. Ini seringkali memang terjadi di kalangan umat Reformed di mana, karena perasaan bahwa teologi kita sangat sistematik dan sempurna, kita merasa senang dan bahkan ingin berdebat dengan golongan lain.

Setelah mengomentari tentang guru-guru palsu di ayat sebelumnya, Paulus mendesak Timotius untuk memandang dirinya sebagai seorang pekerja yang berusaha menyenangkan Tuhan, bukan untuk mencari kepuasan diri atau golongan sendiri. Setiap pekerja atau hamba harus berhasrat untuk memenuhi harapan atasannya. Timotius harus memandang pekerjaannya bagi Tuhan dengan cara yang sama. Ia tidak melayani untuk menyenangkan orang lain, tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Paulus tahu betul banyak cara dunia dapat mengalihkan fokus orang Kristen. Kekuatan-kekuatan duniawi ini akan berusaha menarik perhatian Timotius untuk membuat orang lain atau diri sendiri bangga dan bahagia, daripada memandang Tuhan sebagai pribadi yang harus disenangkan.

Tantangan Timotius bukan hanya untuk disetujui, tetapi untuk menjadi seorang pekerja “yang tidak perlu malu.” Paulus telah berbicara tentang tidak malu pada tiga kesempatan di pasal sebelumnya (2 Timotius 1:8, 12, 16). Selama masa-masa penderitaan, Paulus merasa perlu untuk menekankan keberanian dalam iman kepada mereka yang tergoda untuk menghindari kesulitan dan penganiayaan. Keberaniannya juga melibatkan “menangani firman kebenaran dengan benar.” Berbeda dengan guru-guru palsu yang berdebat tentang perkataan, Timotius telah mempelajari Kitab Suci sejak masa mudanya dan harus menanganinya dengan tepat.

Perbedaan yang disajikan di sini penting. Dalam ayat sebelumnya, Paulus mengutuk pertengkaran yang tidak ada gunanya. Di sini, ia memuji pembelajaran yang lebih mendalam. Menggabungkan kedua gagasan ini memberi kita gambaran yang akurat tentang seperti apa seharusnya kebijaksanaan Kristen. Ada beberapa masalah yang melibatkan “kebenaran” pesan Injil, dan yang lainnya tidak. Kita perlu belajar dengan tekun, tidak hanya untuk mempertahankan iman, tetapi juga untuk mengetahui perbedaan antara sesuatu yang layak diperdebatkan, dan sesuatu yang hanya merupakan argumen yang mengganggu.

Hari ini kita belajar bahwa seorang pekerja yang layak adalah orang yang tidak ragu-ragu dalam melaksanakan perintah tuannya. Ia akan berusaha keras untuk menghasilkan apa yang baik untuk tuannya. Seorang pekerja yang baik tidak membuang waktu dengan melakukan yang kurang berguna. Seorang pekerja yang baik tidak hidup secara sembarangan sehingga mempermalukan tuannya, tetapi akan berusaha keras untuk nama tuannya dikenal dan disegani oleh orang lain. Segala apa yang dikerjakannya adalah sesuai dengan apa yang diperintahkan tuannya, tidak bisa lebih dan bisa tidak kurang. Seorang pekerja yang baik tetap akan rendah hati sekalipun ia berhasil melaksanakan tugasnya karena semua itu dimungkinkan oleh bimbingan dan kesempatan yang diberikan tuannya.

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17:10