Berkat dan karunia bagi umat Kristen

“Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.” Ulangan 11:26-28

Sering kali, orang menyebut karunia sebagai berkat. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa kita diberkati Tuhan dengan karunia keselamatan, karunia (grace) adalah kebaikan yang tidak layak diterima dari Tuhan, sementara berkat (blessing) lebih sering dipahami sebagai “upah” karena kita sudah berusaha tetap setia kepada Tuhan yang berdiam dalam jiwa kita. Sebuah contoh dari Perjanjian Baru misalnya muncul dalam Khotbah di Bukit:

“Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” Lukas 6:22-23

Berkat Tuhan dimaksudkan untuk mendorong kita untuk terus melakukan tindakan-tindakan baik dalam iman. Berkat dapat berupa berkat rohani yang menumbuhkan kehidupan rohani kita di dunia: pengetahuan, kebijaksanaan, kedamaian, kebahagiaan, ketabahan, dan sebagainya. Berkat jasmani bisa berupa makanan, tempat tinggal, kesehatan, kekuatan, kecukupan, kesuksesan dan sejenisnya. Jika karunia keselamatan diberikan kepada manusia karena keputusan Tuhan dan bukan karena permintaan mereka, mereka yang sudah diselamatkan sadar bahwa Tuhan yang mahapemurah juga memberi berbagai berkat kepada umat-Nya yang memintanya sesuai dengan ketaatan mereka kepada Tuhan.

Bagaimana caranya untuk mendapat berkat Tuhan? Dalam Alkitab, berkat erat kaitannya dengan kasih karunia. Mereka yang telah menerima Yesus sebagai Juruselamat diselamatkan oleh kasih karunia secara cuma-cuma melalui iman (Efesus 2:8-9). Mereka ingin menerima berkat Tuhan selama hidup di dunia. Mereka mengetahui bahwa tanpa iman, mustahil untuk menyenangkan Allah (Ibrani 11:6), tetapi mereka yang memiliki iman yang menyelamatkan kepada Anak Allah dinyatakan benar (Roma 4:5; Filipi 3:9) dan akan berusaha hidup dalam perkenanan Allah. Karena itu, jawaban paling mendasar untuk pertanyaan “bagaimana saya bisa mendapatkan berkat Tuhan” adalah “percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yesus.” Ini juga syarat untuk mendapat perkenan ( favour) Allah untuk hidup kita.

Allah mencari mereka yang mengasihi-Nya dan yang mengasihi perintah-perintah-Nya sehingga Ia dapat memberkati, membimbing, dan melindungi mereka (Mazmur 37:23; Amsal 3:5-6). Ini tidak berarti bahwa setiap orang Kristen yang makmur atau sehat telah mendapatkan berkat Allah (Yeremia 12:1; Mazmur 37:7; 73:16). Ini juga tidak berarti bahwa orang yang diperkenan (disenangi) Tuhan, seperti Ayub, tidak akan pernah mengalami kesulitan. Justru dalam kesulitan hidup, umat Tuhan merasakan berkat-Nya yang luar biasa. Banyak tokoh dalam Alkitab yang berkenan kepada Tuhan tetapi juga mengalami kesulitan (2 Korintus 6:4; Kisah Para Rasul 14:22; 20:23; 1 Petrus 2:19). Tokoh-tokoh seperti Nuh (Kejadian 6:8), Musa (Keluaran 32:11; 33:13), Daniel (Daniel 10:19), dan Maria (Lukas 1:28) berkenan kepada Tuhan dan diberkati-Nya, tetapi mereka juga berjuang menghadapi kesulitan seperti orang lain.

Mereka yang berkenan kepada Tuhan tahu bahwa Tuhan menyertai mereka dan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka (Roma 8:28). Mereka mendengarkan-Nya saat mereka berjalan melalui lembah-lembah yang gelap (Mazmur 34:15) dan tahu bahwa perjuangan mereka untuk tetap setia kepada-Nya tidak akan sia-sia (Matius 10:42; Wahyu 2:10).

Selain bukti-bukti lahiriah, kemurahan hati Tuhan dapat dirasakan dalam roh. Ketika kita memiliki perkenanan Tuhan, kita beristirahat dengan keyakinan yang tenang bahwa dosa-dosa kita diampuni (Roma 4:7), kita berada dalam rencana Allah (Mazmur 86:11), dan bahwa Dia ada untuk kita setiap saat (Yesaya 41:10; Matius 28:20). Ketika kita berjalan dengan Allah seperti dengan teman terdekat kita, kita akan bisa melihat dan menghargai berkat-berkat kecil yang disediakan Allah untuk kenikmatan kita—berkat-berkat yang dulu kita anggap remeh.

Salah satu cara untuk memperoleh berkat dari Tuhan adalah dengan mencari hikmat. Amsal 8:35 mengatakan, “Karena siapa mendapat hikmat, ia mendapat hidup, dan TUHAN berkenan.” Mazmur 5:12 mengatakan, “Sesungguhnya, ya TUHAN, Engkau memberkati orang benar; Engkau melindungi mereka dengan kasih karunia-Mu seperti perisai.” Mendapatkan kasih karunia dari Tuhan menjaga hidup dan pikiran kita tetap murni karena kita lebih ingin menyenangkan-Nya daripada menyenangkan diri kita sendiri. Ibrani 11:25 mengatakan tentang Musa, “Ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” Ketika hal yang sama dapat dikatakan tentang kita, kita tahu bahwa kita telah mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Kesenangan-Nya di dalam kita akan ditunjukkan melalui berkat-Nya, yang diberikan-Nya kepada kita berdasarkan keputusan-Nya dan bukan karena gigihnya doa tuntutan kita.

Malam ini, Tuhan mengundang kita untuk mencari perkenanan-Nya (Mazmur 119:58, 135; 2 Raja-raja 13:4; Yeremia 26:19; Zefanya 2:3). Ketika kita mencari perkenanan-Nya, kita merendahkan hati kita di hadapan-Nya (2 Raja-raja 22:19) karena kita sebenarnya tidak layak di hadapan-Nya. Kita mencari Dia untuk diri-Nya sendiri, bukan hanya untuk berkat-berkat yang Dia berikan (Yeremia 29:13); dan menata hidup kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan kita (Markus 12:30; Lukas 10:27), bukan untuk mengejar berkat-Nya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:23

Bagaimana rasanya jika Tuhan menolong orang yang kita benci?

“Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” Yunus 4:1-4

Kitab Yunus terdiri dari empat pasal. Pasal pertama membahas panggilan Yunus untuk berkhotbah di Niniwe, upayanya untuk melarikan diri dari Tuhan, dan konsekuensi yang diakibatkannya. Tindakan Yunus menggambarkan kesia-siaan pelarian dari Tuhan: pasal ini diakhiri dengan Yunus yang dibuang ke laut dan ditelan ikan besar. Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat dan sekalipun manusia bebas untuk memilih tindakannya. ia tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

Pasal 2 berisi doa Yunus. Dia berseru kepada Tuhan dalam kesusahannya (Yunus 2:2) saat berada di dalam perut ikan. Tuhan kemudian menjawab doanya, berbicara kepada ikan, dan ikan tersebut memuntahkan Yunus ke daratan (Yunus 2:10).

Pasal 3 menceritakan tentang Yunus yang dengan setia menaati Tuhan untuk berkhotbah di Niniwe. Setelah panggilan kedua ini (Yunus 3:1–2), Yunus patuh dan menyatakan kepada warga Ninewe bahwa kehancuran akan terjadi dalam empat puluh hari. Penduduk Niniwe percaya kepada Tuhan, berpuasa, dan berdukacita sebagai tanggapannya (Yunus 3:5). Raja bahkan mengeluarkan keputusan yang tidak boleh dimakan oleh siapa pun atau hewan, melainkan berdoa memohon belas kasihan Tuhan (Yunus 3:6-9). Ketika mereka melakukannya, Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada mereka (Yunus 3:10). Inilah yang bisa terjadi jika manusia menyadari kedudukan mereka di hadapan Tuhan dan mau menyesuaikan kehendak mereka dengan kehendak Tuhan.

Pasal 4 menawarkan tanggapan Yunus terhadap pertobatan Niniwe dan pengampunan Tuhan. Daripada bersukacita, dia malah ingin mati (Yunus 4:3). Yunus kemudian beristirahat di luar kota di bawah tanaman yang telah disediakan Tuhan. Keesokan harinya, tanaman itu hilang dan Yunus sangat marah hingga ingin mati lagi (Yunus 4:8). Tuhan mengingatkan Yunus bahwa penduduk Niniwe jauh lebih penting daripada tanaman yang telah mati. Tuhan memilih untuk berbelas kasihan kepada mereka dan lebih memedulikan mereka daripada Yunus memedulikan tanaman yang menghasilkan keteduhan. Kasih Tuhan jelas ditunjukkan kepada semua orang yang menyambut Dia.

Tuhan menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya (Roma 9:18). Jadi, tampaknya aneh jika seorang pengkhotbah seperti Yunus marah karena pendengarnya bertobat dari dosa mereka, namun itulah reaksi Yunus terhadap pertobatan orang Niniwe. Yunus 4:2 memberi tahu kita alasannya. Yunus berdoa kepada Tuhan , katanya: ”Ya Tuhan , bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.” Yunus tahu sejak awal bahwa Tuhan itu pengasih dan penyayang. Ia menyadari bahwa jika penduduk Niniwe bertobat, Tuhan akan mengampuni mereka. Yunus marah atas pertobatan mereka karena dia lebih suka melihat Niniwe dihancurkan!

Di zaman ini, masih banyak pemimpin gereja dan orang Kristen yang seperti Yunus. Mereka memusuhi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sesat yang ditakdirlan untuk ke neraka. Apa yang seharusnya diberitakan kepada orang lain adalah kabar baik dan kabar kasih tentang Tuhan yang mau mengampuni semua orang yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya. Tetapi, dalam kenyataannya sikap orang-orang Kristen seperti itu kebanyakan menunjukkan kebencian mereka kepada orang lain yang tidak sefaham dengan mereka.

Mengapa ada orang Kristen yang mengharapkan Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya dan bukan kasih-Nya? Kita dapat belajar dari kasus Yunus. Ada beberapa kemungkinan alasan Yunus ingin melihat Niniwe dihancurkan. Pertama, Niniwe adalah ibu kota Asyur, bangsa yang kejam dan suka berperang yang merupakan musuh Israel. Kehancuran Niniwe bisa dilihat sebagai kemenangan bagi Israel. Kedua, Yunus mungkin ingin melihat kejatuhan Niniwe untuk memuaskan rasa keadilannya. Bagaimanapun, Niniwe layak menerima penghakiman Tuhan. Ketiga, tidak adanya penghakiman oleh Allah atas Niniwe dapat membuat perkataan Yunus tampak tidak benar, karena ia telah meramalkan kehancuran kota tersebut.

Kita juga dapat belajar untuk menolak contoh negatif dari Yunus yang tidak memuji Tuhan atas kebaikan-Nya.

Pertama, Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, bersedia mengampuni semua orang yang bertobat (lihat 2 Petrus 3:9). Penduduk Niniwe adalah bangsa bukan Yahudi, namun Tuhan tetap memberikan keselamatan-Nya kepada mereka. Dalam kebaikan-Nya, Tuhan memperingatkan bangsa Asyur sebelum mengirimkan penghakiman, memberi mereka kesempatan untuk bertobat.

Kedua, Tuhan peduli terhadap manusia di setiap bangsa. Dia, pada dasarnya, adalah Juruselamat. Seperti yang diungkapkan Lukas 15 dalam perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang, hati Tuhan adalah untuk penebusan semua orang yang mau datang kepada-Nya. Lebih lanjut, Amanat Agung dalam Matius 28:18-20 menekankan panggilan Allah untuk menyampaikan pesan “kabar baik” Allah kepada semua bangsa. Roma 1:16 juga menekankan pentingnya memberitakan Injil baik kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi.

Ketiga, Tuhan prihatin terhadap mereka yang belum pernah mendengar pesan keselamatan-Nya. Penyebutan “lebih dari 120.000 orang yang tidak dapat membedakan tangan kanan dan kirinya” (Yunus 4:11) kemungkinan besar merujuk pada mereka yang tidak mengetahui apa pun tentang kebenaran rohani. Mengenai hal-hal tentang Tuhan, mereka tidak bisa membedakan atas dari bawah atau kanan dari kiri. Tuhan kasihan pada kebutaan rohani orang-orang kafir. Tuhan ingin memperluas keselamatan-Nya kepada semua orang yang mau bertobat dan berpaling kepada-Nya.

Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang tidak kita sukai? Mungkin kita menganggap mereka sebagai musuh kita, musuh golongan kita. Karena itu kita mungin merasa berhak untuk membenci mereka, seperti Tuhan membenci mereka (dalam bayangan kita). Tetapi ini adalah kesalahan total! Tuhan mengasihi segala bangsa, dan karena itu kita harus mengasihi sesama kita.

Hanya Tuhan yang tahu siapakah manusia yang diselamatkan di antara semua orang yang sudah diberkati-Nya dengan berbagai apa yang baik di dunia. Kita harus bersyukur jika ada orang yang takut akan Tuhan sekalipun mereka nampaknya adalah orang-orang yang patut dihukum Tuhan. Tuhan yang berdaulat berhak memutuskan siapa yang diselamatkan-Nya dan kita harus menerima semua keputusan-Nya dengan sukacita sebab kita sudah diselamatkan bukan karena kita orang yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5:43-45

Kemunafikan orang Kristen zaman ini

Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas d di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” Galatia 2:14

Apa arti munafik? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa munafik adalah berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua. Dengan demikian kemunafikan adalah ketidakjujuran. Biasanya ini berarti seseorang yang melakukan apa yang buruk tapi mengaku melakukan apa yang baik. Kebalikan dari hal ini bisa saja terjadi: adanya seseorang melakukan apa yang baik, tetapi kemudian berpura-pura melakukan hal lain agar bisa diterima oleh golongannya. Apakah ini munafik? Paulus menyebutnya demikian.

Ketika itu Petrus lagi makan bersama dengan orang-orang Kristen bukan Yahudi. Ini adalah hal yang baik. Tetapi Petrus kemudian mengubah sikap dan perilakunya terhadap orang Kristen non-Yahudi setelah kunjungan “kalangan Yakobus”. Alasan Petrus menarik diri dari persekutuan meja adalah ketakutan dari pihak yang bersunat, yaitu orang-orang Yahudi yang bersikeras untuk menyunat orang bukan Yahudi. Setidaknya ada kemungkinan (berdasarkan Galatia 6:12) bahwa beberapa orang Yahudi, seperti kaum Zelot, bersedia menggunakan kekerasan untuk memastikan tradisi Yahudi dipatuhi.

Jika ini masalahnya, maka mungkin ketakutan Petrus adalah ketakutan nyata akan penganiayaan yang dilakukan oleh kelompok gereja Yerusalem yang lebih bersemangat. Petrus dan Barnabas mungkin menarik diri dari persekutuan untuk menghindari potensi pembalasan kekerasan dari “orang-orang fanatik” dalam agama Kristen Yahudi.

Paulus berkata bahwa tindakan Petrus hanyalah sebuah kemunafikan. Petrus dan Barnabas pada mulanya berbuat baik dengan menerima orang non-Yahudi sebagai orang seiman, tetapi kemudian memisahkan diri dari orang-orang non-Yahudi agar bisa diterima oleh orang Yahudi yang ekstrim. Oleh karena itu, tindakan Petrus tidak sesuai dengan karakternya dan tidak sejalan dengan keyakinannya atau kesepakatan yang ia capai dengan Paulus dalam Galatia 2:1-10. Paulus berpendapat bahwa Petrus dan Barnabas telah “mundur” karena takut dan karena itu perlu dikoreksi. Jika Petrus dianggap seorang munafik, Paulus menggambarkan Barnabas sebagai orang yang “disesatkan”.

Barnabas berada dalam posisi yang buruk karena dia awalnya dikirim ke Antiokhia oleh Yerusalem, dia tidak bisa melawan “perintah” gereja yang mengirimnya ke Antiokhia (Galatia, 157). Kesetiaannya adalah kepada Yerusalem, kelompok yang dengannya dia bergabung sejak awal (Kisah Para Rasul 4), dan bukan kepada Paulus dan misi non-Yahudi. Misi orang non-Yahudi bukanlah tugas Barnabas, melainkan tugas Paulus. Semua orang Yahudi di gereja Antiokhia bergabung dengan Petrus dan Barnabas dalam menarik diri dari persekutuan dengan orang percaya non-Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa ada perpecahan di seluruh gereja yang disebabkan oleh “pengikut Yakobus.”

Paulus secara terbuka mengonfrontasi Petrus karena “perilakunya tidak sejalan dengan kebenaran”. Konfrontasi ini terjadi “di hadapan mereka semua,” yang mungkin berarti bahwa Paulus menunggu sampai gereja berkumpul. Sejalan dengan pertemuan pribadi di Yerusalem, Paulus memilih untuk membawa masalah ini ke seluruh jemaat. Tuduhan terhadap Petrus bahwa ia tidak hidup sesuai dengan apa yang diketahuinya adalah benar, sesuai dengan Galatia 2:1-10, misalnya.

Maksud Paulus adalah jika Petrus dan orang-orang Kristen Yahudi menarik diri dari orang-orang Kristen non-Yahudi, maka tidak ada kesatuan dalam tubuh Kristus. Seperti yang akan Paulus tunjukkan nanti, tidak ada orang Yahudi atau Yunani di dalam Tubuh Kristus, kita semua adalah anggota bersama “di dalam Kristus.” Memisahkan menjadi dua tubuh, yang Yahudi dan yang bukan Yahudi, sama sekali tidak memahami inti dari “satu tubuh” seperti yang dijelaskan Paulus dalam Efesus 2. Yang dipertaruhkan di sini adalah sifat Injil. Jika Paulus kalah dalam argumentasi ini, maka orang non-Yahudi akan terus menjadi “orang percaya kelas dua” di mata sebagian orang percaya Yahudi yang konservatif.

Meskipun permasalahannya berbeda, bagaimana gereja-gereja masa kini menciptakan batasan-batasan yang mendorong sebagian orang Kristen keluar dari persekutuan, atau menganggap mereka sebagai orang Kristen kelas dua? Bagaimana kita bisa berbeda pendapat mengenai batasan-batasan tanpa mengkompromikan kesatuan Tubuh Kristus?

Mungkin apa yang mirip dengan masalah sunat adalah masalah perbuatan baik. Di zaman ini ada golongan Kristen yang segan menekankan pentingnya perbuatan baik karena kuatir bahwa jemaat akan memandang bahwa keselamatan datang melalui perbuatan baik manusia. Pada pikak yang lain, ada golongan yang menekankan perbuatan baik karena pandangan bahwa itu adalah syarat untuk bisa menjadi orang yang beriman. Kemunafikan bisa saja terjadi dalam dua golongan ini karena masing-masing berusaha mempertahankan pendapat mereka sendiri. Dengan usaha itu tiap golongan membuat teologi mereka tidak konsisten.

Orang Kristen yang menentang penekanan hal berbuat baik sebenarnya berusaha menghindari kejahatan. Bahkan, mereka juga berusaha untuk hidup baik. Pada pihak yang lain, mereka yang menekankan perbuatan baik sebagai bukti keselamatan, sebenarnya juga percaya bahwa keselamatan datang dari Tuhan sebagai karunia dan bukan karena perbuatan baik manusia. Dengan demikian, boleh dikatakan kedua golongan Kristen ini adalah sama-sama munafik – mengaku apa yang tidak benar-benar terjadi, hanya demi mempertahankan penekanan teologi masing-masing. Mirip dengan golongan Yahudi dan golongan non-Yahudi pada zaman Paulus, kedua golongan masa kini ini sering bertentangan sekalipun mereka adalah sama-sama orang beriman.

Pada waktu yang silam Paulus menegur Petrus: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang bukan Yahudi untuk hidup secara Yahudi?” Mungkin Paulus akan berkata pada orang Kristen di zaman ini: “Jika engkau, seorang Kristen, tidak hidup secara Kristen yang menekankan kasih, bagaimanakah engkau dapat mengajak saudara-saudara seiman untuk hidup secara Kristen?”

Alkitab jelas menulis bahwa hidup secara Kristen berarti hidup berlandaskan karunia keselamatan yang membuahkan berbagai hal yang baik. Setiap orang Kristen sejati, dari denominasi apa pun, selalu percaya akan kedua hal ini. Kita tidak boleh menjadi orang munafik dengan mengamini keduanya dalam hidup pribadi, tetapi hanya menekankan salah satu saja dalam pengajaran agar kita tidak dianggap menyimpang dari ajaran golongan kita. Kita harus yakin bahwa kasih Kristus sudah dicurahkan untuk keselamatan seluruh orang percaya dan bukan hanya untuk golongan tertentu. Inilah sebuah teologi yang benar seperti yang pernah diajarkan oleh Paulus.

Tanda kehidupan iman adaah adanya kemauan untuk memuliakan Tuhan dengan tubuh kita

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6:20

Beberapa dari kita mungkin membayangkan kehidupan Kristen sebagai kehidupan yang tidak banyak membuhkan tenaga. Cukup dengan ke gereja sekali seminggu, dan memberi persemvahan. Bukankah keselamatan datang bukan karena usaha kita? Memang, adakah perlunya bagi orang yang sudah diselamatkan untuk menambah anugerah keselamatan Tuhan itu dengan berbagai perbuatan? Pendapat semacam ini adalah kekeliruan total, karena Alkitab penuh dengan seruan untuk memuliakan Tuhan dengan hidup kita yang sudah diselamatkan. JIka Anda biasa berbakti ke sebuah gereja di mana Anda tidak pernah atau jarang mendengar khotbah untuk membaktikan hidup Anda untuk Tuhan, ada kemungkinan Anda sudah menghadiri kebaktian sebuah gereja yang mati.

Gereja yang mati dapat merugikan pertumbuhan rohani Anda, jadi hindarilah gereja tersebut dengan cara apa pun. Para pemimpin gereja juga harus mengenali tanda-tanda gereja yang sedang sakit dan mengambil tindakan yang sesuai. Meskipun persekutuan Kristen sangat penting (Ibrani 10:25), kita dipanggil untuk mengenali guru-guru palsu yang siap menipu (Matius 7:5; 1 Yohanes 4:1; 2 Petrus 2:1). Sedihnya, beberapa gereja mengalami kelemahan rohani dan dapat dikatakan mati sekalipun masih banyak pengunjungnya.

Orang mungkin mengira gereja yang mati adalah gereja yang hanya didatangi oleh segelintir orang atau sudah ditutup secara fisik. Namun, sebuah gereja dapat saja berkembang secara jumlah dan sibuk secara sosial namun tetap seperti mayat secara rohani. Dalam kitab Wahyu, gereja Sardis digambarkan mempunyai aktivitas dan terlihat hidup, padahal sebenarnya mati (Wahyu 3:1). Ini adalah kata-kata yang memperingatkan kita. Berhati-hatilah untuk tidak mengukur kesehatan sebuah gereja dari jumlah anggotanya, kemewahan gedungnya, ketangguhan bahasan teologinya. keberhasilan jemaatnya, atau hasil duniawi lainnya. Gereja yang mati mempunyai permasalahan yang lebih dalam.

Gereja yang mati mungkin memberitakan Injil palsu atau tidak memberitakan Injil sama sekali. Injil palsu mencakup Injil kemakmuran (Yesus mati agar Anda bisa kaya dan sehat), Injil harga diri (Yesus datang untuk meningkatkan kepercayaan diri kita), dan Injil keadilan sosial (Yesus datang untuk mengatasi masalah-masalah sosial). Selain itu ada gereja yang pesan injilnya adalah Injil kebencian karena selalu sibuk menyerang teologi atau gereja lain. Ini bisa kita lihat dalam khotbah, renungan dan pembahasan yang tidak berpusat pada firman Tuhan tetapi pada pendapat manusia.

Injil yang sejati adalah tentang bagaimana Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya melalui pengorbanan Kristus untuk dosa-dosa kita. Injil mencakup pemahaman tentang dosa, murka Allah, kematian Kristus, dan arti kebangkitan-Nya, bagi manusia yang masih di dunia. Gereja yang mengabaikan atau meremehkan pesan kabar baik ini dan menggantinya dengan pesan-pesan lain adalah gereja yang sedang sakit atau sudah mati.

Gereja yang mati condong ke arah legalisme atau ke arah antinomianisme. Gereja yang mati selalu condong ke salah satu dari dua ekstrem di atas. Kaum legalis percaya bahwa mereka diterima oleh Tuhan karena mengikuti aturan yang ditetapkan. Beberapa peraturan ini tidak alkitabiah, seperti larangan berolahraga atau menonton film. Aturan-aturan alkitabiah diubah menjadi hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan, padahal hal itu tidak seharusnya terjadi. Misalnya, para legalis mungkin berkhotbah bahwa tidak memberikan persepuluhan dapat membawa seseorang ke neraka. Legalisme adalah apa yang Paulus hadapi dengan jemaat Galatia (lihat Galatia 5:2–4).

Orang Kristen sejati bisa jatuh ke dalam perangkap legalisme jika mereka menjadikan keyakinan dan teologi mereka sebagai isu utama. Membenci orang yang tidak setuju dengan mereka mengenai doktrin-doktrin yang tidak penting adalah salah satu gejala legalisme. Memiliki beberapa orang Kristen yang legalistik tidak serta merta mengklasifikasikan sebuah gereja sebagai gereja mati. Masalah baru muncul ketika ajaran dan kebiasaan gereja menunjukkan ciri-ciri tersebut, misalnya ajaran-ajaran yang berpusat pada Perjanjian Lama dan hukum Taurat.

Gereja ekstrem lainnya adalah gereja antinomianisme yang tidak mementingkan moral, yang dijelaskan dalam Yudas 1:3-4. Orang-orang sedemikian merasa bahwa sebagai orang pilihan bukanlah masalah jika mereka menuruti setiap keinginan berdosa. Kitab Suci menentang pandangan ini. Anugerah Allah memaksa kita untuk menolak kefasikan (Titus 2:11-14). Kita bebas dari hukuman dosa, bukan dari dosa (Roma 6:14–18; Yohanes 8:34–36; Galatia 5:13). Kita tidak boleh hidup dalam dosa tetapi hidup untuk Tuhan (Roma 6:11). Perbuatan amoral merupakan hal yang sering terjadi di gereja yang sudah mati, yang tidak mengerti pentingnya moralitas Kristen, seperti yang terjadi di Korintus (1 Korintus 5:1).

Dalam ayat pembukaan di atas, Paulus menyatakan bahwa orang Kristen harus memuliakanlah Allah dengan tubuh mereka. Ini bertentangan dengan asumsi bahwa kehidupan umat Kristen yang mula-mula hanya duduk-duduk merenungkan firman Tuhan sepanjang waktu. Meskipun kita menyambut baik tuntutan untuk bermeditasi, belajar, dan tetap berada dalam hadirat Allah, kita juga menjumpai ajaran-ajaran Yesus, Petrus, Yakobus, dan Paulus, satu demi satu, yang mengantarkan kita menuju kehidupan nyata yang berdasarkan informasi Injil dan didorong oleh iman, dengan aktivitas yang bermakna. Berbakti kepada Tuhan adalah untuk secara aktif berbuat baik untuk sesama, demi kemuliaan Tuhan.

Sebagai contoh, mari kita perhatikan apa yang rasul Paulus katakan kepada rekan-rekannya yang masih muda, Timotius dan Titus. Orang kaya di zaman sekarang ini, tulisnya, tidak boleh berpuas diri pada kekayaannya tetapi “berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, murah hati dan mau berbagi” (1 Timotius 6:18). Dan Titus juga harus aktif: jangan hanya mengajar tetapi “tunjukkanlah dirimu dalam segala hal sebagai teladan dalam perbuatan baik” (Titus 2:7). Bukan sekadar menjadi teladan melalui apa yang tidak Anda lakukan, melainkan melalui perbuatan baik yang Anda lakukan.

Paulus mengharapkan perkataan yang baik dan perbuatan baik dari anak didiknya. Dan dia berharap semua orang Kristen tidak hanya bersedia berbuat baik tetapi juga “bersemangat untuk melakukan pekerjaan baik” (Titus 2:14). Ia ingin memastikan bahwa mereka yang mengaku beriman “berhati-hati dalam melakukan perbuatan baik” (Titus 3:8). Permasalahan yang dihadapi para guru palsu di Kreta adalah: “mereka mengaku mengenal Allah, namun mereka menyangkal Dia melalui perbuatan mereka. Mereka menjijikkan, tidak taat, dan tidak layak melakukan pekerjaan baik apa pun” (Titus 1:16). Sebaliknya, Paulus mengatakan, “Hendaklah umat kita belajar untuk mengabdikan diri mereka pada perbuatan baik, sehingga dapat membantu kasus-kasus yang sangat mendesak, dan jangan sampai tidak menghasilkan buah” (Titus 3:14).

Kesiapan untuk berbuat baik mungkin terdengar cukup mudah secara teori, namun dalam praktiknya hal ini merupakan sebuah panggilan yang sulit dilakukan di zaman kita. Kita lebih suka memakai tubuh kita untuk mencari apa yang kita inginkan, bukan apa yang Tuhan inginkan. Sebagai orang yang dibebaskan dati hukuman dosa kita mungkin merasa merdeka. Padahal, tubuh kita adalah anugerah yang berharga, diciptakan dan dipelihara oleh Tuhan, untuk memampukan kita hidup dan berbuat baik, demi kemuliaan-Nya, di dunia kita. Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Tubuh kita bukan hanya “tidak dimaksudkan untuk melakukan percabulan,” seperti yang Paulus tulis dalam 1 Korintus 6:13, namun secara aktif-positif, tubuh kita “untuk Tuhan” – dan ditambah lagi, “Tuhan untuk tubuh.” Tuhan itu pro-tubuh, bagi tubuh, bukan anti-tubuh, tidak curiga terhadap tubuh. Dia memberikan tubuh manusia kepada Putranya sendiri — mengapa? Sebagai wadah untuk melakukan kehendak-Nya di dunia. Kitab Ibrani menempatkan kata-kata Mazmur 40 di bibir Yesus, yang berkata kepada Bapa-Nya, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiku,” dan kemudian, “Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibrani 10: 5–7).

Jadi selama hidup di dunia kita mempunyai tubuh, yang dipersiapkan bagi kita oleh Bapa kita, untuk melaksanakan kehendak-Nya, untuk berbuat baik dengan tubuh kita, untuk menggunakannya untuk memajukan kerajaan dan kemuliaan Kristus dalam tindakan tubuh yang didorong oleh iman, dan perkataan yang memberi makna untuk tindakan kita. Kita tidak hanya mempunyai hal-hal negatif yang harus dihindari, namun ada hal positif yang harus kita kejar: “muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1 Korintus 6:20). Dengan demikian, gereja yang hidup tidak hanya wajib mengajarkan jemaat untuk menghindari hal-hal yang buruk, tetapi harus juga mengajarkan apa yang baik untuk dilakukan oleh jemaatnya. Gereja yang mati tidak mengajarkan jemaat untuk memerangi apa yang jahat dengan melakukan apa yang baik. Ini seperti orang yang mati.

Kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup (Roma 12:1) — dan menjadikan anggota tubuh kita bukan sebagai alat dosa tetapi sebagai alat kebenaran (Roma 6:13). Apakah itu aktif atau pasif? Kita mengerahkan anggota tubuh dan otot kita untuk bergerak di dunia, kaki melangkah menuju kebutuhan, dalam panggilan kasih, tangan terulur untuk menolong orang lain.

Pertanyaannya bukanlah apakah kita umat Kristiani membutuhkan tubuh kita untuk melaksanakan panggilan yang diberikan Tuhan di dunia fisik ini, namun apakah kita siap menggunakannya karena setiap hari memberi kita peluang baru? Atau akankah kita membiarkan usia mengrogoti tubuh kita untuk memperlambat kita, membuat kita tetap diam, merasa hidup seperti beban dan bukannya aset dalam panggilan Kristus?

Apakah kita akan “menjadi serupa dengan dunia ini” dan membiarkan dunia ini memadamkan iman dan panggilan kita, atau akankah kita “diubah oleh pembaharuan pikiranmu” sehingga kita tidak hanya mampu “mencermati apa yang sebenarnya kehendak Allah” (Roma 12:2) namun juga siap dan mampu mempersembahkan tubuh kita dan melakukannya?

Di dalam Kristus, kita memiliki jawaban atas panggialn Tuhan. Salah satunya, seperti yang ditulis Paulus kepada anak-anak didiknya, kita ingin “siap sedia untuk setiap pekerjaan baik” (2 Timotius 2:21; Titus 3:1). Kita ingin siap bergerak dan menampilkan Tuhan di dunia-Nya. Siap dengan tangan dan lengan, dengan kaki dan tungkai, yang berdenyut dengan energi dan semangat, dan merasakan kehidupan, bukan kelelahan, dengan setiap gerakan. Siap dengan pikiran, hati, dan kemauan yang lebih memilih bergerak daripada bermalas-malasan, lebih memilih bangun dan pergi dan melakukan sesuatu daripada hanya mengutik-utik teologi, lebih memilih terjun bekerja untuk membantu orang lain, baik yang Kristen maupun yang non- Kristen.

Di dalam Kristus, dalam pelayanan kasih, kita ingin mendapatkan (dan menjaga) tubuh kita, dalam berbagai musim kehidupannya, dalam kondisi sederhana yang diperlukan untuk melayani panggilan Tuhan dalam hidup kita untuk mengasihi sesama. Kita ingin menjadi tipe orang yang ingin berbuat baik bagi orang lain, dan mempunyai kemampuan untuk melakukannya dengan senang hati, mengetahui bahwa kebaikan seperti itu sering kali memerlukan pengerahan tubuh kita dengan cara yang tidak nyaman, dan penuh pengurbanan, seperti seorang atlit yang berlomba. Tetapi itu adalah tanda adanya kehidupan, karena orang mati tidak dapat merasa pegal atau bisa menggerakkan tubuhnya. Apakah Anda benar-benar memiliki kehidupan dalam Kristus saat ini?

Perlunya moralitas di kalangan umat Kristen zaman ini

“Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.” 1 Korintus 5: 9-13

Orang Kristen bukan orang tidak bermoral

Apakah agama Kristen adalah agama yang menekankan pentingnya prinsip moralitas? Sebagian kecil orang Kristen menjawabnya dengan “tidak” karena setiap orang sebaik apa pun adalah orang yang tidak bermoral di hadapan Allah yang mahasuci. Memang Raul Paulus pernah menulis dalam surat Roma 3:9-12: Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: ”Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka,dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”.

Tidak mengherankan, mereka yang memandang bahwa semua orang tidak ada bedanya dalam hal dosa kemudian mungkin menyatakan bahwa beda antara orang Kristen dan bukan Kristen adalah dalam hal pilihan Allah: Orang Kristen adalah orang pilihan Allah bagaimanapun jeleknya moral mereka, sedangkan orang bukan Kristen adalah orang yang ditolak Allah bagiamanapun baiknya moral mereka. Pandangan di atas, sekalipun ada benarnya, adalah pandangan yang bisa menjerumuskan orang Kristen lebih jauh ke dalam dosa. Mengapa? Karena agama Kristen yang berkembang dari agama Yudaisme sebenarnya mengajarkan pentingnya menjunjung nilai moral yang tinggi sesuai dengan Alkitab dan perlunya berjuang untuk hidup kudus.

Orang Kristen memang harus sadar bahwa mereka tidak dapat mengharuskan orang bukan Kristen untuk menaati hukum Tuhan. Tetapi, setiap orang beriman tentu tahu bahwa Tuhan mengharuskan kita taat kepada prinsip-prinsip kesucian hidup yang diharuskan bagi anak Tuhan. Karena itu, sebagai orang yang dipilih Tuhan, kita mempunyai kewajiban untuk menjalankan perintah Tuhan dan karena itu harus mengajarkan hal itu kepada sesama orang beriman. Paulus dalam ayat-ayat dari 1 Korintus di atas memperingatkan jemaat untuk menegur mereka yang mengaki Kristen tetapi gaya hidupnya mendunia. Orang semacam itu disebut orang Kristen duniawi (orang Kristen kedagingan) atau carnal Christians.

Bisakah seorang Kristen sejati menjadi orang Kristen duniawi? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama mari kita definisikan istilah “duniawi”. Kata “duniawi” diterjemahkan dari kata Yunani sarkikos, yang secara harafiah berarti “daging.” Kata deskriptif ini terlihat dalam konteks orang Kristen dalam 1 Korintus 3:1-3. Dalam ayat ini, rasul Paulus menyebut para pembacanya sebagai “saudara,” sebuah istilah yang ia gunakan hampir secara eksklusif untuk menyebut orang-orang Kristen lainnya; dia kemudian menggambarkan mereka sebagai “duniawi.” Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa orang Kristen bisa bersifat duniawi. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa tidak seorang pun tidak berdosa (1 Yohanes 1:8). Setiap kali kita berbuat dosa, kita bertindak secara kedagingan. Orang Kristen yang masih terus bergelimang dalam dosa adalah carnal Christians.

Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa meskipun seorang Kristen bisa bersifat duniawi untuk sementara waktu, seorang Kristen sejati tidak akan tetap bersifat duniawi seumur hidupnya. Beberapa orang telah menyalahgunakan gagasan tentang “Kristen duniawi” dengan mengatakan bahwa ada kemungkinan orang beriman kepada Kristus dan kemudian menjalani sisa hidup mereka dengan cara yang sepenuhnya duniawi, tanpa ada bukti bahwa mereka telah dilahirkan kembali atau mengalami kematian dari hidup lama dan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Konsep seperti ini sama sekali tidak alkitabiah. Yakobus 2 memperjelas bahwa iman yang sejati akan selalu menghasilkan perbuatan atau hidup baik. Efesus 2:8-10 menyatakan bahwa meskipun kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman saja, keselamatan itu akan ditunjukkan melalui perbuatan. Dapatkah seorang Kristen, ketika mengalami kegagalan dalam memerangi dosa dan/atau memberontak terhadap pimpinan Tuhan, tampak bersifat duniawi? YA. Apakah orang Kristen sejati akan tetap bersifat duniawi sampai mati? TIDAK.

Karena jaminan keselamatan Tuhan adalah kekal, bahkan orang Kristen yang duniawi pun tetap diselamatkan. Keselamatan tidak bisa hilang, karena keselamatan adalah anugerah Allah yang tidak akan diambil-Nya (lihat Yohanes 10:28; Roma 8:37-39; 1 Yohanes 5:13). Bahkan dalam 1 Korintus 3:15, orang Kristen yang duniawi mendapat jaminan keselamatan: “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Pertanyaannya bukanlah apakah seseorang yang mengaku Kristen tetapi hidup secara duniawi telah kehilangan keselamatannya, namun apakah orang yang mengaku Kristen tersebut benar-benar sudah diselamatkan (1 Yohanes 2:19).

Kitab 1 Korintus 5:9–13 memperkenalkan ajaran Kristen tentang disiplin gereja, penyelesaian konflik, dan kuasa Allah untuk menyucikan kita dari dosa. Setelah menuntut gereja di Korintus mengucilkan seseorang karena dosa yang mencolok, Paulus mengingatkan mereka bahwa mereka yang mengaku Kristen harus diberi standar moral yang lebih tinggi. Secara khusus, gereja tidak boleh menerima persekutuan dari mereka yang terus-menerus melakukan dosa yang terang-terangan dan keras kepala. Paulus menekankan bahwa umat Kristiani bahkan tidak boleh berbagi makanan dengan seseorang yang mengaku sebagai umat Kristiani namun menolak untuk berhenti hidup dalam dosa. Dengan demikian, orang-orang Kristen kedagingan itu terkadang harus dikucilkan dari gereja sampai mereka mau bertobat untuk tidak memberi pengaruh yang buruk pada orang lain.

Paulus menyatakannya hal serupa dalam 2 Tesalonika 3:14-15: “Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.”

Umat Kristiani harus menerima tanggung jawab untuk membimbing dan menegur satu sama lain ketika ada orang yang mengaku berada di dalam Kristus tetapi ikut serta dalam dosa yang terus-menerus dan tidak kunjung bertobat. Kata “pertobatan” tampaknya menjadi kunci dalam percakapan ini. Dalam contoh spesifik dalam ayat-ayat ini, laki-laki yang berselingkuh dengan istri ayahnya terus berbuat dosa (1 Korintus 5:1-5). Dia tidak mengakuinya sebagai dosa atau berpaling darinya. Dia bahkan tidak berusaha untuk melepaskan kelakuan yang dia tahu salah. Dia terus melakukan dosa yang nyata dan terus-menerus, secara terang-terangan dan disengaja.

Paulus bersikeras bahwa mereka harus mengeluarkan pria tersebut dari komunitas mereka—untuk menolak partisipasinya dalam gereja—yang di sini disebut sebagai menyerahkan dia kepada setan. Seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi pada saat Paskah, mereka harus membuang ragi orang tersebut dan dosanya dari antara mereka, untuk mencegah penyebarannya ke seluruh gereja. Jemaat Kristen tidak boleh bergaul dengan mereka yang mengaku beriman, namun tetap memamerkan dosa-dosa mereka. Sekalipun semua dosa adalah sama di hadapan Tuhan, ada dosa-dosa yang dianggap signifikan oleh Paulus seperti dosa percabulan, kekikiran, penyembahan berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu, yang bisa menyebabkan kegoncangan di antara pengunjung gereja dan masyarakat di sekitarnya.

Orang Kristen yang perilakunya masih bersifat duniawi seharusnya mengerti bahwa Tuhan akan mendisiplin atau menghajar mereka dengan penuh kasih (Ibrani 12:5-11) sehingga mereka dapat kembali menjalin persekutuan yang erat dengan-Nya dan dilatih untuk menaati-Nya. Ini bisa terasa sangat menyakitkan, tetapi perlu untuk menyadarkan mereka yang tersesat. Keinginan Tuhan dalam menyelamatkan kita adalah agar kita semakin dekat dengan gambar Kristus (Roma 12:1-2), menjadi semakin rohani dan semakin berkurang keduniawian, sebuah proses yang dikenal sebagai pengudusan.

Sampai kita dibebaskan dari tubuh kedagingan kita yang berdosa, akan selalu ada wabah kedagingan. Namun, bagi orang yang benar-benar percaya kepada Kristus, ledakan sifat kedagingan ini merupakan pengecualian, bukan suatu normalitas. Artinya adalah bukan setiap orang Kristen akan dijangkiti wabah dosa – ini bukan hidup “memikul salib Kristus” yang diharuskan, tetapi hidup “memikul iblis” yang harus dibasmi.

Paulus menerapkan ungkapan umum dari hukum Musa dalam Ulangan: “Usirlah orang jahat dari tengah-tengah kamu.” Gereja-gereja Kristen tidak boleh membiarkan dosa yang terus berlanjut ini tidak terselesaikan di masyarakat. Para pemimpn gereja tidak boleh meremehkan gejala “penyakit rohani” ini dengan menganggap bahwa semua ada dalam penetapan Tuhan. Melakukan hal tersebut akan meracuni kesehatan rohani jemaat (Yudas 1:12; 2 Petrus 2:1) dan mengundang kecurigaan dari dunia yang tidak percaya (1 Petrus 2:12; 2 Petrus 2:2). Jelaslah bahwa prinsip moralitas dari Tuhan adalah penting selama hidup di dunia, dan semua orang percaya harus mau belajar untuk menaatinya.

Untuk apa hidup ini?

Semua orang agaknya hidup untuk:

1. Bisa hidup.

2. Membiayai keluarga.

3. Mendukung masyarakat, bangsa dan negara.

4. Menggunakan bakat.

5. Mencapai cita-cita.

Banyak orang Kristen yang mengira bahwa semua yang di atas adalah sia-sia, tetapi terpaksa untuk bekerja untuk tetap bisa hidup. Ini adalah kekeliruan. Tuhan tahu bahwa kita membutuhkan semua yang di atas, tetapi itu bukan sebagai priotitas utama.

“Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6:32-34.

Banyak orang Kristen bekerja untuk tujuan di atas, dan bahkan merasa bahwa “hidup adalah untuk bekeja” dan “harta bisa dipakai untuk mendukung pekerjaan Tuhan”. Ini adalah pandangan yang juga keliru. Tuhan adalah mahakaya dan Dialah sumber berkat bagi manusia. Ia tidak membutuhkan kekayaan dan sedekah dari manusia.

“Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).

“Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” Mazmur 51:16-17

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Hosea 6:6

Dengan demikian, orang Kristen yang mementingkan kekayaan sebenarnya hanya mencari alasan untuk menikmatinya. Ini adalah gaya hidup yang penuh risiko.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6:9

Pada pihak yang lain, sebagian orang Kristen merasa bahwa jika mereka percaya pada pemeliharaan Tuhan, mereka tidak perlu memikirkan poin 1-5 di atas. Lebih dari itu, ada orang yang percaya bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan Tuhan dari awalnya. Ini adalah pandangan keliru, apalagi jika dilandasi kemalasan atau ketidakpedulian atas panggilan Tuhan untuk memakai talenta masing-masing.

“Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring, maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” Amsal 6: 9-11

“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” 2 Tesalonika 3: 10-12

“Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah 20:33-35

Lalu bagaimana seharusnya kita hidup dan untuk apa kita bekerja? Kita hidup untuk poin 1-5 di atas, tidak berbeda dengan orang lain. Tetapi, lebih itu kita harus hidup untuk memuliakan Tuhan. Ini berarti bahwa kita harus bekerja dengan melaksanakan kedua hukum utama: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3:17

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Kolose 3:23

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.” 1 Korintus 10:31-33

Pagi ini kita belajar bahwa selama hidup ini ada hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang. Dalam hal ini, orang Kristen harus tahu apa yang tidak boleh ditiru. Pada pihak yang lain, ada hal-hal yang tidak perlu dihindari sekalipun itu tidak boleh menjadi fokus hidup kita. Fokus hidup kita adalah untuk memuliakan Tuhan. Jika kita memperoleh apa yang baik dalam hidup, biarlah kita ingat bahwa semua itu karunia Tuhan yang harus kita pakai untuk menolong sesama kita. Biarlah pekerjaan kita juga berguna untuk membawa orang lain kepada pengenalan akan Yesus Kristus!

Untuk apa Tuhan menciptakan manusia?

  1. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai korban untuk melampiaskan amarah-Nya. Ia senang setelah menciptakan manusia sebagai gambar-Nya. Ia tidak marah sebelum adanya dosa. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.” (Kejadian 1:31).
  2. Sesudah kejatuhan, semua orang sudah berdosa, tidak ada yang baik. Tetapi Ia tidak memndorong siapa pun ke neraka. Sebaliknya, Tuhan memanggil setiap orang berdosa untuk kembali ke jalan yang benar. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:32).
  3. Tuhan menciptakan semua manusia karena Ia ingin agar Dia dapat mengasihi mereka, dan agar manusia mau memuliakan Dia dan taat kepada firman-Nya. Dalam hal ini Dia tahu bahwa sebagian manusia menolak Dia dan memilih dosa. Tapi Tuhan tetap mengasihi semua manusia dan tidak berhenti mencari dan memanggil mereka yang terseat untuk bertobat.
  4. Inilah rencana keselamatan Tuhan yang ada sejak mulanya karena Ia tahu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
  5. Karena kasih-Nya, Tuhan mau menolong umat manusia. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:17).
  6. Siapa yang dipilih-Nya diberi-Nya kesempatan yang tidak terbatas selama hidup untuk mengenal Dia, karena Ia panjang sabar kepada umat-Nya. “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yohanes 3:18).
  7. Walaupun demikian, Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk istimewa, yang mengerti apa yang baik dan buruk dalam hidup di dunia. Lebih dari itu, kepada umat-Nya, Tuhan memberi Roh Kudus. Karena itu, umat Tuhan sejati seharusnya mengerti apa yang baik dan apa yang buruk dan membenci kejahatan – seperti Tuhan yang membenci dosa manusia. “Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah” (Yohanes 3: 20-21).

Hidup sebagai ciptaan baru

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

“Kamu harus dilahirkan kembali.” Pemimpin agama yang mendengar kata-kata ini pertama kali diucapkan 2.000 tahun yang lalu tampak tercengang mendengarnya. Karena hal ini, Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin Yahudi, telah mengakui keyakinannya bahwa Yesus Kristus datang dari Tuhan, “sebab tidak seorang pun dapat melakukan tanda-tanda yang Dia lakukan ini, kecuali Tuhan menyertai Dia.” Pasal tiga Injil Yohanes mencatat percakapan menarik antara Yesus dan Nikodemus, yang memberi kita kunci penting menuju kerajaan Allah.

Baik orang percaya maupun orang tidak percaya menggunakan kata-kata Yesus “dilahirkan kembali,” (born again) dan banyak orang, seperti Nikodemus, masih bingung dengan kata-kata tersebut.

Nikodemus bertanya kepada Yesus, “Bagaimana mungkin manusia dilahirkan, kalau ia sudah tua? Tidak mungkin ia masuk ke dalam rahim ibunya untuk kedua kalinya dan dilahirkan kembali, bukan?”

Nikodemus berpikir dalam kerangka jasmani. Yesus harus menjelaskan kepadanya, “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging; dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Jangan heran aku berkata kepadamu, ‘kamu harus dilahirkan kembali.'” Yesus juga menjelaskan kepadanya. bahwa kecuali seseorang dilahirkan kembali, dia tidak dapat melihat atau memasuki kerajaan Allah. Tentu saja, pengalaman dilahirkan kembali ini, apa pun itu, mutlak diperlukan dan paling penting. Kita tidak bisa menganggap enteng hal ini, karena Yesus berkata dengan tegas, “Kamu harus” – sebuah keharusan dari Tuhan. Kata “kamu” juga menunjukkan sifat individu dalam kelahiran baru, yaitu untuk tiap orang agar menyambut uluran tangan Tuhan dan hidup dalam terang-Nya.

Anda dapat membayangkan ekspresi tidak percaya pada wajah Nikodemus. Dia tidak percaya hal seperti itu. Sepanjang hidupnya dia diajari bahwa perbuatan baik adalah kunci menuju surga—bahwa jika seseorang mematuhi semua hukum dan persyaratan Tuhan, dia akan masuk ke surga. Dia berkata kepada Yesus, “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”

Anda lihat, Yesus berbicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan roh. Dia membandingkan roh dengan angin. Anda tidak dapat melihatnya; Anda tidak tahu dari mana datangnya atau ke mana tujuannya. Tapi ini nyata, dan Anda bisa melihat dampaknya. Anda lihat apa pengaruhnya terhadap pepohonan. Anda melihat dedaunan yang terbawa angin. Anda melihat pusaran debu kecil. Anda merasakan angin di wajah Anda. Yesus berkata, “Demikian pula setiap orang yang dilahirkan dari Roh.”

Masalahnya adalah Nikodemus, seperti semua umat manusia, adalah makhluk jasmani. Dia berasal dari bumi. Jasmani atau daging itu fana. Ia tunduk pada kematian, pembusukan, dan korupsi. Itu dipenuhi dengan rasa kasihan pada diri sendiri, kebanggaan pada diri sendiri, cinta pada diri sendiri.

Ada fakta menakjubkan mengenai jasmani: semua yang kita lihat, semua yang terlihat, bahkan tubuh kita sendiri, sedang mengalami kebinasaan. Banyak orang mencoba segala cara untuk mengabaikan atau melupakan hal ini, namun faktanya tetap ada. Alkitab mengatakan bahwa hal-hal yang terlihat bersifat sementara, tetapi hal-hal yang tidak terlihat adalah kekal (lihat 2 Korintus 4:18). Kenyataannya adalah bahwa kita tinggal di dalam tubuh fana yang akan kembali menjadi debu.

Keadaan kita yang lama, sifat kita yang lama, dan bahkan segala perbuatan baik kita tidaklah cukup untuk mendatangi Tuhan. Tuhan itu benar-benar kudus dan suci. Dia sempurna. Kita tidak dapat bersekutu dengan-Nya saat ini atau di kehidupan mendatang jika sifat kita saat in tidak ingin menjadi sempurna di dalam Dia. Kesempurnaan dan ketidaksempurnaan tidak sejalan.

“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Karena sifat kita yang mementingkan diri sendiri, kita berdosa dan tidak sempurna. Dan dosa mengakibatkan kematian, dan keterpisahan abadi dari Tuhan. Ini adalah akibat dari sifat duniawi kita. Jelaslah bahwa kita membutuhkan sifat yang baru, sifat yang dapat diterima oleh Tuhan. Sifat yang dibenarkan di hadapan-Nya. Kita memerlukan kelahiran baru. Anda harus dilahirkan kembali melalui Kristus. Dan setelah itu Anda akan dapat meninggalkan hidup lama yang bersifat kedagingan dan menjalani hidup baru untuk menuju ke arah kekudusan.

Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua, Yesus Kristus, berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi (1 Korintus 15:445-49).

Sekarang, jika Anda sudah lahir baru tentu ada perubahan dalam hidup Anda. Anda tidak dapat merasa yakin sudah dipilih Tuhan untuk diselamatkan, jika tidak yakin bahwa Anda sudah diberi oleh-Nya kemampuan untuk hidup dalam kekudusan. Paulus menginngatkan kita pagi ini:

“Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” (1 Korintus 15:50).

Mengapa kita berusaha untuk menyenangkan Kristus?

“Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” 2 Korintus 5:9-10

Dalam 2 Korintus 5:1–10 Paulus melanjutkan ajaran yang ada pada pasal sebelumnya. Ia menyatakan bahwa kemuliaan kekekalan bersama Kristus jauh lebih berharga dari segala penderitaan yang dialaminya dalam hidup ini. Paulus rindu untuk menempati tubuhnya yang kekal, yang digambarkan sebagai rumah megah yang dibangun oleh Tuhan sendiri.

Memang Paulus menanggung banyak penderitaan karena melayani Kristus. Dalam 2 Korintus 5 dia melanjutkan pembahasannya tentang kekekalan, membayahgkan hidup dalam tubuh duniawi seperti hidup dalam kemah. Paulus lebih memilih hidup dalam tubuh kekal yang Tuhan persiapkan bagi mereka yang percaya kepada Kristus, bebas dari keluh kesah dan beban yang menimpa semua orang di dunia. Dengan harapan tersebut, ia berkhotbah dengan berani bahwa semua yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Di dalam Kristus, Allah mendamaikan manusia dengan diri-Nya, tidak memperhitungkan dosa mereka. Paulus memohon agar semua orang hidup dalam kedamaian melalui iman di dalam Kristus. Bagaimana caranya?

Paulus menulis dengan jujur ​​dan transparan bahwa ia lebih memilih berada di rumah bersama Tuhan dalam kekekalan daripada terus melalui penderitaan dan kesakitan hidup ini (2 Korintus 5:8). Tapi dia tidak ingin bunuh diri. Maksudnya bukanlah bahwa ia secara aktif mencari kematian, atau bahwa ia mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia tidak ingin mati secepatnya. Dia hanya percaya Injil dan memahami betapa jauh lebih baik kehidupan surgawi daripada kehidupan sementara dalam tubuh sementara ini. Namun, sampai tiba saatnya untuk ke sana, dia dengan tulus hati dan penuh kerelaan akan terus menjalankan misi yang Tuhan berikan kepadanya di dunia ini. Misi apa?

Kini Paulus meringkas tujuannya—”tekad” atau niatnya—ke dalam satu hal. Dia ingin menyenangkan Kristus. Entah sekarang, dalam kehidupan duniawi yang sulit, atau besok di surga bersama Kristus dalam kekekalan yang mulia, ia ingin menyenangkan Kristus sebagai kekasih. Itu mencakup cara dia hidup, apa yang dia katakan, dan segala hal lainnya. Itulah tujuan utama Paulus sekalipun ia sudah mendapatkan “karcis” ke surga. Ia ingin hidup damai dengan Allah bukan saja nanti di surga, tetapi juga sekarang di dunia.

Mengetahui bahwa kepindahan ke surga akan terjadi, Paulus justru mempunyai keberanian untuk mengambil risiko penderitaan yang lebih besar lagi demi melanjutkan misi memberitakan Injil. Satu-satunya tujuannya dalam hidup ini adalah untuk menyenangkan Kristus sekalipun banyak otang yang tidak menyenanginya. Ia tahu bahwa setiap orang Kristen akan menghadapi penghakiman oleh Kristus, bukan oleh manusia. Pengadilan Kristus untuk orang pilihan bukan untuk menentukan nasib kekal mereka, melainkan untuk menerima apa yang menjadi hak mereka atas perbuatan selama hidup dalam tubuh sementara ini. Mengapa Paulus demikian ingin untuk menerima “hadiah” dari Kristus sekalipun ia sudah mendapat jaminan untuk masuk ke surga?

Banyak orang Kristen yang setelah dengan iman meyakini bahwa mereka sudah diperkenan Tuhan untuk memperoleh hidup yang kekal sesudah meninggalkan dunia ini, tidak lagi peduli bahwa mereka harus menempuh kehidupan di dunia yang juga diperkenan oleh Tuhan. Sikap yang demikian sangat ditentang oleh Rasul Paulus yang selalu mengajarkan bahwa kita adalah anak Tuhan bukan saja di surga tetapi juga di dunia. Sebab itu ia berusaha, baik selama hidup di dunia, maupun sesudah ia di surga , agar ia berkenan kepada-Nya. Paulus tentu berharap bahwa Yesus sendiri akan berkata kepadanya: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).

Hari ini, jika kita mengaku percaya kepada Yesus dan benar-benar mengasihi-Nya, kita akan mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang harum selama hidup di dunia. Kita akan memiliki hidup yang berbeda jika dibandingkan dengan orang lain, baik Kristen maupun bukan Kristen; dan semua itu karena kita bertekad untuk menyatakan rasa syukur kita yang sebesar-besarnya atas kasih-Nya yang sudah lebih dulu dinyatakan kepada kita.

“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.” 2 Korintus 2:15

Ingatlah akan pilihan dan panggilan Allah

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. ” 2 Petrus 1: 5-10

Apakah tujuan hidup orang Kristen? Sudah tentu itu untuk memuliakan Tuhan yang sudah memilih mereka untuk diselamatkan. Petrus memulai surat singkatnya kepada umat Kristiani dengan mengingatkan agar mereka tidak melewatkan apa pun yang mereka perlukan untuk menjalani kehidupan yang baik dan saleh yang menjadi panggilan mereka. Maka itu, mereka harus bekerja untuk menambah iman mereka dengan kebaikan dan sifat-sifat Yesus. Jika Guru kita adalah orang yang saleh, sebagai murid-Nya kita harus mau belajar untuk menjadi seperti Dia.

Untuk menjadi seperti manusia Yesus, diperlukan adanya usaha, tidak seperti keselamatan kekal yang tidak didasarkan pada manusia. Mereka yang tidak memiliki sifat-sifat positif ini akan hidup sebagai hamba Tuhan yang tidak produktif dan tidak efektif, hampir sama butanya dengan orang yang tidak beriman dan lupa bahwa dosanya sudah diampuni. Petrus, yang hampir meninggal, menegaskan bahwa nubuatan tentang Mesias adalah benar. Yesus akan datang kembali dan kita harus memakai waktu yang masih ada untuk bekerja makin giat.

Dalam ayat-ayat di atas, Petrus menjelaskan manfaat luar biasa yang kita terima dalam mengenal Tuhan melalui iman di dalam Kristus. Kita yang telah dibebaskan dari kungkungan dosa, telah diperlengkapi untuk mengikuti teladan kemuliaan dan kebaikan Yesus. Kita dipilih Tuhan bukan hanya untuk diselanatkan, tetapi juga untuk dikuduskan. Kita tidak boleh melewatkan apa pun yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan yang Dia kehendaki untuk kita. Terlebih lagi, melalui iman kepada Yesus, kita telah diberikan hak untuk berpartisipasi, saat ini, dalam rencana Allah. Kita dapat bermitra dengan Kristus dalam menggenapi tujuan Allah di bumi.

Kedengarannya luar biasa, tapi apa artinya bagi kita saat ini? Mengapa tampaknya banyak orang Kristen yang begitu jauh dari berpartisipasi dalam karunia Allah, tidak hidup sesuai dengan tujuan, sukacita, dan kasih dalam Kristus? Apakah mereka tidak yakin bshwa Tuhan sudah memberi mereka kemampuan untuk taat? Mengapa ada orang-orang yang terus hidup dalam dosa yang seharusnya sudah lama hilang? Apakah justru karena mereka sudah yakin terpilih lalu tidak lagi merasa perlu untuk hidup menurut firman-Nya?

Ayat-ayat di atas memberi kita petunjuk yang jelas. Tuhan telah memberi kita semua yang kita perlukan untuk hidup seperti Yesus, namun sekarang kita harus benar-benar mau menggunakan karunia itu. Kita harus mau mengambil keputusan, dan itu berarti bersedia untuk bekerja. Sebelum kita menerima anugerah kasih karunia Allah, kita tidak memiliki kemampuan dan keinginan untuk hidup dalam kemuliaan dan kebaikan Yesus. Kini setelah kita diberdayakan untuk melakukan hal tersebut, kita harus “berusaha keras” untuk menambahkan sifat-sifat yang terpuji, secara “bersamaan”, dengan pertumbuhan iman kita. Dengan kata lain, kita harus mulai hidup benar seperti apa yang kita yakini itu benar.

Dengan iman, kita datang kepada Kristus. Kini, dengan kuasa Kristus, kita harus berupaya menambah kebaikan pada iman kita, dan menambah pengetahuan kita tentang kehendak Tuhan. Ayat-ayat di atas menelusuri gagasan-gagasan tambahan mengenai rantai sifat yang harus kita bangun sebagai orang Kristen dalam kehidupan kita.

Dalam 2 Petrus 1:3–15 Petrus mendorong kita untuk memahami bahwa kita, saat ini, diperlengkapi sepenuhnya untuk menjalani kehidupan yang Allah telah panggil bagi kita. Karena kita sudah diperlengkapi, kita harus menggunakan alat-alat itu melalui upaya pribadi. Kita tidak bisa bergantung pada usaha orang lain, atau menantikan Tuhan untuk melakukannya bagi kita. Kita harus berusaha untuk menambahkan kebaikan Kristus dan sifat-sifat kuat lainnya ke dalam kehidupan iman kita. Bertumbuh dalam kualitas-kualitas tersebut menuntun kita kepada kehidupan yang produktif dan efektif dalam mengenal Tuhan. Kurangnya sifat-sifat Kristus menyebabkan hal yang sebaliknya.

Petrus terus mengingatkan pembaca tentang apa yang telah mereka ketahui, untuk terus menggugah mereka, untuk memastikan mereka mengingat semua ini setelah dia meninggal (yang akan segera terjadi) dan untuk mengajar orang Kristen yang lain (selagi kita masih bisa). Maukah Anda menuruti panggilan Petrus?